Your SlideShare is downloading. ×
Fadh Ahmad - Kajian sirah Nabi saw Menurut ilmuwan Muslim dan Orientalis
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Introducing the official SlideShare app

Stunning, full-screen experience for iPhone and Android

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply

Fadh Ahmad - Kajian sirah Nabi saw Menurut ilmuwan Muslim dan Orientalis

1,231
views

Published on

Penulisan sirah Nabi Muhammad menduduki urutan kedua setelah penulisan sunnah beliau (baca: hadist Rasulullah). Orang yang pertama memberikan perhatian besar penulisan riwayat hidup nabi dan berbagai …

Penulisan sirah Nabi Muhammad menduduki urutan kedua setelah penulisan sunnah beliau (baca: hadist Rasulullah). Orang yang pertama memberikan perhatian besar penulisan riwayat hidup nabi dan berbagai peperangan yang diikuti Nabi adalah Urwah bin zubair, Abban ibn Utsman, Wahab bin Munabih, Syarhabil Ibn Sa’d dan Ibn syihab az-zuhri. Sayangnya, tulisan yang disusun oleh kelima tokoh itu musnah ditelan waktu. Yang sampai ke tangan kita hanyalah fragmen-fragmen kecil yang berserakan di sana sini yang berhasil dihimpun oleh Ibn ishaq walau tak semuanya

Published in: Spiritual

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,231
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
24
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. 1 Kajian Sirah Nabi saw Menurut Ilmuwan Muslim dan Orientalis 1 Oleh: Fadh Ahmad Arifan “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al-Ahzab: 21) Di dalam al-Qur‟an disebutkan Nabi Muhammad saw adalah suri tauladan tiada duanya.Tidak mungkin kita mengetahui suri tauladannya jika tidak membaca dan menghayatiriwayat kehidupan Nabi Muhammad saw. Berbeda dengan Nabi-nabi yang lain, Nabi sawlahir dalam sorotan sejarah yang terang. Beliau adalah tokoh historis yang eksisstensinyajelas ada. Orang mencatat riwayat hidupnya secara rinci, mulai dari siapa yang membantukelahirannya, berapa utas uban dihari tuanya, hingga bagaimana dia menghembuskannafasnya yang terakhir.2 Sudah tak terhitung banyaknya buku-buku yang membahas sejarah Nabi saw. Dari IbnIshaq, Ibn Hisyam hingga tulisan sarjana-sarjana di abad modern baik orientalis maupunilmuwan Muslim. Boleh dibilang kajian sirah nabawiyah, biografi tentang Nabi terakhir Ini,adalah kajian biografi yang paling banyak dilakukan para ilmuwan. Dari ilmuwan Muslim misalnya, kajian ilmiah sejarah nabi dilakukan oleh MuhammadHusain Haykal yang menulis buku Hayat Muhammad. Dr. Abdul Radhi Muhammad, SyekhAkram Dhiya‟ Al-Umri, Mustafa as-Sibai, Shafiyur Rahman Al-Mubarakfuri, Dr. SaidRamadhan al-Buthi, Syauqi Abu Khalil dengan karya Monumentalnya Atlas Siroh an-Nabawiyyah, Abul Hasan Ali An Nadwi dari India, Muhammad bin Alwi al-Maliki, MartinLings alias Abu Bakar Sirajuddin (w. 2005) hingga Fethullah gulen asal Turki. Sedangkan diIndonesia, terdapat KH Moenawar Chalil yang menulis Kelengkapan Tarikh NabiMuhammad (6 jilid), H. Al-Hamid al-Husaini dengan judul „Riwayat Kehidupan nabi besarMuhammad‟ (yayasan al-Hamidiy, 1991). Buku ini cukup impresif karena sumber-sumberpenulisannya tidak menggunakan buku-buku yang ditulis oleh para orientalis sebagai rujukan1 Alumni MAN 3 Malang dan telah menyelesaikan S2 Studi Islam, Sekolah Pascasarjana UIN Malang2 Fuad Hashem, Sirah Muhammad Rasulullah: Kurun Makkah, suatu Penafsiran Baru (Jakarta: TamaPublisher, 2005), hal 4
  • 2. 2dalam daftar pustakanya. Hal serupa bisa kita temukan pada karya Martin Lings. Dan yangterbaru adalah karya Quraish shihab „Membaca sirah Nabi Muhammad saw‟ (Lentera hati,2011). Selain dalam bentuk buku ilmiah. Ada juga penulis seperti Andy wasis yang menulisbuku berjudul „Rasul‟ dalam format Novel sejarah. Dari kalangan orientalis, penulisan sejarah hidup Nabi saw dirintis oleh Thomas Carlyle(1795-1881). Thomas pernah menulis buku yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Araboleh Ali Adham dengan judul Al-Abthâl dimana orientalis asal Inggris itu menulis satu pasaltentang Nabi Muhammad saw yang isinya cukup simpatik.3 Selain Thomas, ada MarshalHodgson dengan bukunya The Venture of Islam dan tentu saja yang tidak boleh dilupakanadalah Karen Amstrong. Akan tetapi jika kita cermati bersama mengenai karya-karyaorientalis tentang sirah Nabi saw, lebih banyak yang ngawur, penuh kebencian dantendensius ketimbang yang obyektif, memberi penghargaan dan simpatik kepada Nabi saw.Oraeintalis yang penulis maksudkan diantaranya: Philip K. Hitti, William Montgomery Watt,H.A.R. Gibb, William Muir dan Emile Dermenghem. Metodologi orientalis (baca: filologi,deduksi individu, metode kritik sejarah dll) tentu tidak ada ada apa-apanya jika dibandingkandengan metodologi ilmuwan Muslim yang menggunakan sanad, riwayat, kaidah jarh wata’dil dan prinsip periwayatan hadist sebagai alat pengukur kebenaran. Pakar Sejarah, Prof. Azyumardi Azra berpendapat penulisan sîrah Nabi bukan berasal daripengaruh tradisi Yahudi, Kristen, atau Persia; justru akar penulisan Sîrah Nabi berasal daridari ajaran Islam sendiri. Akan tetapi, Nabi tidak pernah menulis atau memerintahkan untukmenulis biografinya sendiri.4 Meski begitu, penulisan sirah Nabi menduduki urutan keduasetelah penulisan sunnah beliau (baca: hadist Rasulullah). Orang yang pertama memberikanperhatian besar penulisan riwayat hidup nabi dan berbagai peperangan yang diikuti Nabiadalah Urwah bin zubair (93 H), Abban ibn Utsman, Wahab bin Munabih, Syarhabil Ibn Sa‟ddan Ibn syihab az-zuhri. Sayangnya, tulisan yang disusun oleh kelima tokoh itu musnahditelan waktu. Yang sampai ke tangan kita hanyalah fragmen-fragmen kecil yang berserakandi sana sini yang berhasil dihimpun oleh Ibn ishaq walau tak semuanya.53 Quraish shihab, Orientalisme, dalam http://www.psq.or.id (diakses pada 29/5/2012 pk 18.05)4 Kata Pengantar Azyumardi Azra, dalam buku Versi Terdalam: Kehidupan Rasul Allah Muhammad SAW(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002)5 Lihat Mustafa as-Siba’ie, The Life of Prophet Muhammad: Hightlight and Lesson (Riyadh: InternationalIslamic Pblishing House, 2003), hal 33; Said Ramadhan al-Buthi, Fikih Sirah: Hikmah Tersirat DalamLintas Sejarah Hidup Rasulullah saw, (Hikmah, 2010), hal 6
  • 3. 3 Secara garis besar, kajian sirah Nabawiyyah bisa di bagi menjadi 4 macam, yaitu: sîrahNabi dengan gaya penulisan versi tradisional, penulisan versi modern, penulisan versitematik dan versi ringkasannya (Mukhthasar). Versi tradisional mengacu pada pendekatankronologis yang ditulis secara berurutan dan rinci dimulai dari pra-Islam/Jahillyah, nasab,kelahirannya hingga wafatnya Nabi. Kemudian penulisan sirah nabi versi modern, sebetulnyarujukannya mengacu pada kitab-kitab klasik tetapi ditulis dengan metode ilmiah yang salahsatu tujuannya mengcounter karya-karya orientalis yang tidak obyektif. Adapun versi yangtematik, metode penulisannya sama dengan versi tradisional dan modern. Bedanya parailmuwan yang memilih versi tematik biasanya mengkhususkan pada tema-tema yang sesuaidengan masalah kekinian.6 Di era sekarang, terdapat dua versi sirah Nabi yakni versi ilmuwan Sunni dan Syiah. Apaperbedaan diantara keduanya? Kalau kita baca karya-karya seperti Muhammad HusainHaykal, Shafiyur Rahman Al-Mubarakfuri dan Said Ramadhan al-Buthi, sisi nabi sebagaimanusia biasa akan nampak. Maksudnya jika sebagai manusia biasa, beliau pernahmerasakan “takut” ketika menerima wahyu, mencuekin orang buta (Ummi maktum). Bahkansoal penyerbukan kurma yang gagal hingga berbuat “khilaf” sehingga oleh Allah swt beliauditegur. Misalnya Nabi pernah mengharamkan dirinya atas madu. Sumber-sumber referensiyang digunakan sejahrawan sunni diantaranya: al-Qur‟an, kitab-kitab hadist, para perawiyang memiliki perhatian besar terhadap sirah Nabi saw.7 Terakhir, kita bahas bagaimana versi kalangan Syiah. Ada beberapa yang menulis sejarahnabi diantaranya: Syed Amer Ali, Murtadha Mutahari yang karyanya telah diterjemahkan kedalam bahasa indonesia dengan judul Sirah Sang Nabi. Kemudian ada Ali Syari‟ati, Ja‟farSubhani dengan bukunya berjudul The Message dan Sayid Ali Asgher Razwy. Dalam versikalangan Syiah, Sisi nabi sebagai manusia tidak akan dinampakkan. Menurut pandanganmereka Nabi saw itu maksum, bersih dari kesalahan dan sempurna perilakunya.8 Kalangansyiah referensinya mengacu pada Nahjul balaghah, Kanzul Fawaid, Biharul anwar,9 al-Kafiserta dilengkapi dengan referensi dari kalangan Sunni dan orientalis.6 Kata pengantar Azyumardi Azra, Op.Cit. hal XII7 Said Ramadhan, Fikih Sirah... hal 78 Lihat Ja`far Subhani, The Message (Pakistan: Islamic Seminary Publications, tt)9 Biharul anwar adalah kitab terbesar mazhab Syiah yang memuat hadits dari kitab-kitab rujukan syiahkarya Muhammad Baqir Al Majlisi. Syiah menganggap Majlisi sebagai salah satu ulama yang dihormatidan diagungkan. Dia dianggap sebagai salah satu ulama yang menguasai dan menjaga mazhab syiah.
  • 4. 4 Sudah barang tentu mereka akan menonjolkan peranan Ali bin abi Thalib. Contohnyadalam buku Ali Asgher Razwy, ada sub bab mengenai kelahiran Ali, peranan Ali dalamPerang Uhud dan perang Hunain bahkan saat detik-detik wafatnya nabi dan upacarapemakaman nabi.10 Kalangan Syiah meragukan nabi Muhammad wafat di pangkuan sitiAisyah, mereka hanya meyakini beliau wafat di pangkuannya Ali. Mengenai prosesipemakaman nabi, Masih menurut versi syiah, ketika Ali dan bani Hasyim sedang sibukmemakamkan nabi, justru abu bakar, Umar bin Khattab dan beberapa orang lainnya sibukmembicarakan dan salin mengklaim tampuk kekhalifahan.11 Wallahu’allam bishowab10 Tentang Ali sibuk mengurus pemakaman Nabi saw, bisa dibandingkan dengan Barnaby Rogerson,Muhammad Biografi singkat (Yogjakarta: Mitra buku, 2012), hal 273-27411 Ali Asgher Razwy, Muhammad Rasulullah saw: Sejarah lengkap Kehidupan dan Perjuangan NabiIslam Menurut Sejahrawan Timur dan Barat, (Zahrah, 2004), hal. 400