• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Pb 4. perspektif ekologi dalam p&g edit
 

Pb 4. perspektif ekologi dalam p&g edit

on

  • 2,177 views

 

Statistics

Views

Total Views
2,177
Views on SlideShare
1,547
Embed Views
630

Actions

Likes
0
Downloads
18
Comments
0

6 Embeds 630

http://kantinspirasi.blogspot.com 487
http://www.febrikasetiyawan.com 91
http://fsetiyawan.wordpress.com 48
https://www.google.com 2
http://kantinspirasi.blogspot.ca 1
http://translate.googleusercontent.com 1

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Pb 4. perspektif ekologi dalam p&g edit Pb 4. perspektif ekologi dalam p&g edit Presentation Transcript

    • M.K. Ekologi Pangan & Giz (PB 4) DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FEMA IPB 2013
    • Agenda :1. Konsep bio-eco-culture dalam pangan-gizi : a. pengertian bio-eco-culture b. ketahanan, kemandirian dan kedaulatan pangan2. Konsep dan prinsip ekosistem : a. berbagai konsep terkait lingkungan hidup dan pangan b. prinsip dan azas ekosistem c. sistem pangan & gizi d. daya dukung gizi (nutrition carrying capacity) e. efisiensi ekologi f. indikator ekologi g. adaptasi
    • 1. Konsep bio-eco-culture dalam pangan-gizi a.pengertian bio-eco-culture • Identitas budaya, • Kebijakan • simbol pemerintah Dimensi Dimensi keagamaan Politis, Sosial • nilai sosial, hankam budaya • nilai ekonomi ekonomi • hospitality PANGAN Dimensi Dimensi biologis Ekologis • Fungsi & Kebutuhan Gizi untuk kualitas hidup • Pelestarian • ketahanan, kemandirian fungsi & & kedaulatan pangan kualitas SDALGambar 1 Pangan dalam dimensi ‘bio-eco-culture’ (Baliwati, 2009 dikembangkan dari Sanjur, 1998)
    • 1. Konsep bio-eco-culture dalam pangan-giziKeterangan Gambar 1 : Sanjur (1982) = dimensi biologi maupun budaya – Bio : pangan atau zat gizi mengalami proses biologi setelah masuk dalam tubuh dan mempunyai pengaruh pada fungsi organ tubuh untuk tumbuh kembang & kesehatan optimal, sehingga produktif – Culture : faktor kultur atau budaya yang menyangkut aspek sosial, ekonomi, politik dan proses budaya, mempengaruhi jenis pangan yang dikonsumsi, bagaimana mengolahnya, bagaimana cara mengkonsumsinya, kapan dan dimana mereka makan (Suhardjo 1989).
    • 1. Konsep bio-eco-culture dalam pangan-gizi Bio-eco-culture  Pangan sebagai pelestari fungsi & kualitas SDAL (sumberdaya alam & lingkungan) : A.pangan lokal/etnis → lower food miles {kesegaran, kualitas, rasa pangan, mengurangi emisi CO2 (emisi premium = 2,3 gram CO2/liter; emisi solar = 2,7 gram CO2/liter) }→ kualitas udara B.anekaragam produksi/penyediaan pangan → kestabilan ekosistem (fungsi ekosistem berjalan dengan optimal) produksi/penyediaan pangan → ciri pemantapan/ keberlanjutan ketahanan pangan C.kesempatan memperoleh pangan yang beragam & keseimbangan gizi → ketahanan pangan individu → ciri kestabilan/ keberlanjutan masyarakat A, B & C = analisis dampak ekologis keanekaragaman pangan berbasis sumberdaya lokal perspektif komprehensif untuk memahami pangan & gizi sebagai dasar pemenuhan kebutuhan pangan penduduk
    • 1. Konsep bio-eco-culture dalam pangan-gizi b. Ketahanan panganWorld Food Security, 1996 (SCN UU No 18 th 2012 : PanganNews No 38, 2010) : kondisi terpenuhinya pangan bagi“food security exists when all negara sampai denganpeople in a community or other perseorangan, yang tercerminspatial unit, at all times, have dari tersedianya Pangan yangphysical and economis access to cukup, baik jumlah maupunsafe and nutritious food (and mutunya, aman, beragam, bergizi,food preference) that is sufficient merata, dan terjangkau serta tidakto meet their dietary needs fon bertentangan dgn agama,an active and healthy life, and is keyakinanan dan budayaobtained in a socially acceptable masyarakat, untuk dapat hidupand ecologically sustainable sehat, aktif, dan produktif secaramanner” berkelanjutan BOX 1
    • BOX 1 Prinsip Keseimbangan Bahan dalam Ekologi Pangan dan Gizi untuk keberlanjutan ketahanan pangan Lingkungan alam Lingkungan sosial Ketersediaan pangan Penduduk Konsumsi Produksi pangan Status gizi pangan di Distribusi berbagai Sumberday pangan ekosistem a pangan (on & off dan kualitas farm) Limbah kesehatan lingkungan1.Bagaimana pengaruh lingkungan 2.Bagaimana pengaruhterhadap kecukupan pangan? pemenuhan pangan(nutritional carrying capacity) terhadap fungsi lingkungan? Keberlanjutan ketahanan pangan
    • 1. Konsep bio-eco-culture dalam pangan-gizi Ketahanan VS Swasembada pangan BERBEDAOrienstasi Ketahanan Orientasi Swasembada pangan Pangan (“beras, daging sapi”) MANUSIA KOMODITI
    • 1. Konsep bio-eco-culture dalam pangan-gizi b. Kemandirian panganUU No 41 Th 2009 = UU No 18 th 2012 : PanganPerlindungan Lahan Pertanian “kemampuan negara dan bangsaPangan Berkelanjutan dalam memproduksi Pangan yang“kemampuan produksi pangan beraneka ragam dari dalamdalam negeri yang didukungkelembagaan ketahanan pangan negeri yang dapat menjaminyang mampu menjamin pemenuhan kebutuhan Panganpemenuhan kebutuhan pangan yang cukup sampai di tingkatyang cukup di tingkat rumah perseorangan dengantangga, baik dalam jumlah, mutu, memanfaatkan potensi sumberkeamanan, maupun harga yang daya alam, manusia, sosial,terjangkau, yang didukung oleh ekonomi, dan kearifan lokalsumber yang beragam sesuai secara bermartabat”.dengan keragaman lokal”.
    • 1. Konsep bio-eco-culture dalam pangan-gizi b. Kedaulatan panganUU 41/2009 : Perlindungan Lahan UU No 18 th 2012 : PanganPertanian Pangan Berkelanjutan“hak negara dan bangsa yang “hak negara dan bangsasecara mandiri dapat yang secara mandirimenentukan kebijakan menentukan kebijakanpangannya, yang menjamin Pangan yang menjamin hakhak atas pangan bagi rakyat atas Pangan bagi rakyat dannya, serta memberikan hak yang memberikan hak bagibagi masyarakat nya untuk masyarakat untukmenentukan sistem pertanian menentukan sistem Panganpangan yang sesuai dengan yang sesuai dengan potensipotensi sumber daya lokal”. sumber daya lokal”.
    • 2. Konsep dan prinsip ekosistema. Berbagai konsep terkait lingkungan hidup & pangan Lingkungan Hidup (LH) : sistem yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang menentukan perikehidupan serta kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lainnya (UU No 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup). Ilmu lingkungan : mempelajari hubungan manusia dengan lingkungan hidup (alami, sosial, binaan) untuk memperoleh manfaat dengan upaya & biaya tertentu
    • Klasifikasi LH berdasarkan konsep ekologi manusia1. Lingkungan alam (habitat & niche) Habitat manusia :2. Lingkungan sosial (community • natural area/ interactions : competition; territorial predation; parasitism; coevolution; • cultural area/ succession and climax medan sosial communities) (Barnes 1950)3. Lingkungan budaya (a. Materi : bangunan, pakaian, senjata dll; b. non-materi : tata nilai, peraturan dan hukum; sistem pemerintahan dll)4. Lingkungan buatan
    • Klasifikasi LH berdasarkan konsep ekologi manusia1. Lingkungan abiotik : tanah, air, udara, sinar matahari2. Lingkungan biotik : flora, fauna.Fungsi Lingkungan Hidup (lihat Gambar 2)1. Sebagai sumberdaya (barang dan jasa : udara segar, papan, sandang, pemandangan)2. Tempat kembalinya limbah (gas → udara; padat/sampah dan cair → tanah dan perairan)3. Sebagai sumber kesenangan dan rekreasi.
    • Lingkungan Pembinaan, konservasi Pendidikan, latihan S rehabilitasi Tenaga U kerja M M B input A E input S eksploitasi Y R D A A Produksi Konsumsi R Y p A s o A i K t s o A A a T n L & g A a M nGambar 2. Hubungan SDA dan Masyarakat dalam suatu ekosistem (Soerianegara, 1977)
    • Konsep dan Asas Ekositem • Ilmu tentang tempat hidup atau tempat tinggal Ekologi dari makhluk hidup atau organisme (Review). • Tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan Ekosistem saling mempengaruhi dalam membentuk hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup yang lain (Review).
    • Istilah Ekosistem (Review)Ekosistem dipandang sebagai sistem keterlibatan antara kompleksorganisme dan faktor fisik. Tansley (Ekolog Inggris) - 1935Ekosistem adalah berbagai sistem terdiri atas proses aktif fisika,kimia dan biologis di dalam suatu unit ruang dan waktu. Lindeman (Ekolog Amerika) - 1942Dengan demikian, ekosistem adalah tatanan kesatuan secara utuhmenyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup, baik hayati(organisme) dan unsur-unsur non hayati ( zat-zat tak hidup) yangsaling mempengaruhi secara timbal balik dalam suatu kesatuanyang teratur.
    • Lanjutan, Ekosistem : Suatu kawasan alam yang di dalamnya tercakup unsur-unsur hayati (organisme) dan unsur-unsur non hayati (zat tak hidup) serta antara unsur-unsur tersebut terjadi hubungan timbal-balik → sistem ekologi atau ekosistem → Bio-geo-sistem → interaksi antar komponen (Box 2, Gambar 3 & 4)
    • Box 2 Komponen penyusun ekositem Komponen Komponen Tak Bio-geo-sistem Hidup Hidup- Gen - Materi - Sistem gen- Sel - Energi - Sistem sel- Organ - Ruang - Sistem organ- Individu / organ - Waktu - Sistem organisme- Populasi - Keanekaragaman - Sistem populasi- Kumunitas - Persekutuan hidup - Ekosistem • Dilihat dari fungsinya, komponen ekosistem : a. Komponen autotrofik : produsen b. Komponen heterotrofik : konsumen.
    • Gambar 3 Konsep ekosistem
    • Gambar 4 Perspektif ekologi dalam pangan dan gizi (berdasarkan pendekatan/ model sistem oleh Rambo, 1981)
    • → Hubungan timbal balik di dalam ekosistem = persaingan, kerjasama, pertumbuhan & pertambahan komponen : a.hukum alam yaitu aliran/sistem materi, aliran/sistem energi (hukum termodinamika I & II) b.hukum sosial = sistem infomasi, sebagai dasar : - manajemen individu : perilaku individu dan institusi dalam berinteraksi dengan lingkungan - pengambilan keputusan : meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kebijakan pembangunan
    • Pengelolaan Lingkungan Hidup : upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup.Sumberdaya alam : →asset didalam pembanguanan yang diperlukan untuk kesejahteraan manusian yang pemanfaatannya perlu lestari dan tidak menimbulkan degradasi lingkungan (Soerianegara 1977). →unsur bentang alam yang memiliki komponen biotik dan abiotik tersedia untuk memenuhi kebutuhan manusia secara lestari (Zonneveld 1979).
    • b. Prinsip dan azas ekosistem Prinsip ekosistem 1. Keanekaragaman 2. Keterkaitan & ketergantungan 3. Keteraturan & keseimbangan dinamis 4. Harmonisasi & stabilitas 5. Manfaat & produktivitas
    • Azas ekosistem (Sumaatmadja 1989) :1. Keanekaragaman : Setiap makhluk memiliki fungsi dan peranan masing-masing (produsen, konsumen, pengontrol atau dikontrol oleh makhluk lainnya) sehingga suatu ekosistem akan mengalami keseimbangan yang stabil & dinamis.2. Kerjasama : karena adanya keanekaragaman3. Persaingan : untuk mengontrol pertumbuhan suatu komponen yang terlalu cepat sehingga dapat mengganggu keseimbangan ekosistem (dinamika dalam menjaga keseimbangan dan stabilitas)4. Interaksi : hubungan timbal balik antar komponen maupun dengan lingkungan sebagai penyedia sumberdaya.5. Kesinambungan
    • c. Sistem Pangan dan Gizi (SPG)Ketahanan pangan “melibatkan banyak pelaku dari berbagai aspek dan mencakup interaksi antar wilayah, sehingga memerlukan penekatan SISTEM, yang disebut sistem ketahanan pangan”Sistem pangan dan gizi sebagai model interaksi manusia dengan SDAL (Gambar 5) untuk keberlanjutan ketahanan pangan.
    • Gambar 5. Model sistem ketahanan pangan dan gizi (Badan Ketahanan Pangan-Deptan 2004) INPUT NASIONAL, PROVINSI, RUMAH TANGGA INDIVIDU KABUPATENKebijakan danKinerja SektorEkonomi, Sosialdan Politk : KONSUMSI PENDAPATAN• Ekonomi SESUAI DAN AKSES - Pertanian, KEBUTUHAN O U T P U T PANGAN S Perikanan dan KETERSEDIAA GIZI Kehutanan N T • Pemenuhan Prasarana/ A Hak Atas Sarana T Pangan - Lahan/Pertanah PENGELOLAA U an N KONSUMSI S  Sumber - Sumberdaya & POLA ASUH Daya DISTRIBUSI KELUARGA Air/Irigasi Manusia G - Perhubungan/ Berkualitas I Transportasi Z - Permodalan  Ketahanan I Nasional Kesra PEMANFAATA SANITASI & - Kependudukan N OLEH KESEHATAN - Pendidikan TUBUH KONSUMSI - Kesehatan Stabilitas dan Keamanan Nasional
    • d. Daya dukung giziDaya dukung• Suatu daerah mempunyai kapasitas untuk mendukungsuatu komunitas → daya dukung (carrying capacity)• Daya dukung ekosistem : jumlah maksimum populasi dari suatu spesies yang dapat didukung oleh suatu wilayah tanpa mengurangi wilayah tersebut untuk mendukung spesies yang sama pada masa yang akan datang.• Daya dukung lahan (DDL) – Jumlah individu yang dapat didukung oleh suatu habitat – Daya dukung terkait dengan kebutuhan pangan = kebutuhan tanah /kapita (land man ratio- Tabel 1, Box 3) – Pendekatan perhitungan DDL : demand dan supply sumberdaya dan jasa lingkungan
    • Tabel 1. Land man ratio beberapa negara di Asia tahun 1980-2000 Tahun : Land man ratio (m2/org) Negara 1980 1990 2000Banglades 1046 835 586China 965 1065 1030Filipina 1087 897 746India 2365 1923 1576Indonesia 1199 1112 969Jepang 417 386 352Malaysia 726 952 791Myanmar 1357 2362 2084Pakistan 2473 1848 1493Thailan 3565 3217 2604Vietnam 2124 1767 1427
    • Box 3Penelitian Ilunanwati (2011) :– Dalam rangka perbaikan pola konsumsi pangan dan memperhatikan laju pertumbuhan penduduk, maka land-man ratio lahan sawah yang dibutuhkan di Muara Enim = 471 m2/kapita; land-man ratio lahan kering yang ideal = 1025 m2/kapita.– Dengan demikian luas lahan pertanian pangan yang harus dipertahankan untuk dapat memenuhi kebutuhan konsumsi pangan ideal penduduk = 116910 ha dengan land-man ratio 1423 m2/kapita.
    • Daya dukung gizi• Nutritional Carrying Capacity : jumlah maksimum manusia atau penduduk yang dapat dipenuhi kebutuhan pangannya pada saat tertentu tanpa menyebabkan berkurangnya kemampuan wilayah tersebut untuk mendukung manusia atau penduduk pada masa yang akan datang.• Daya dukung gizi = kebutuhan tanah/kapita untuk memenuhi kebutuhan pangan K = A s1. Ys1 + As2. Ys2 : R Cs1 + Cs2 K = daya dukung tanah As1, As2 = luas tanah yang ditanami dengan jenis tanaman pangan s1 & s2 (ha) Ys1, Ys2 = produktivitas jenis tanaman pangan s1, s2 (kkal/ha/th) Cs1, Cs2 = tingkat konsumsi minimum untuk jenis tanaman pangan s1, s2 dalam menu penduduk (% dari kkal total) R = kebutuhan energi rata-rata/orang (kkal/th)Tabel 2, Box-4
    • Tabel 2. Luas lahan (ha) yang diperlukan keluarga untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup minimal menurut besar keluarga (Suhardianto, 2007) Klasifikasi jumlah Jumlah anggota Luas lahan yanganggota rumah tangga rumah tangga (n) diperlukan (n x 0.17 ha) 2 0.34 Kecil 2 - 3 3 0.51 4 0.68 Sedang 4 - 5 5 0.85 6 1.02 7 1.19 8 1.36 Besar 6-12 9 1.53 10 1.70 11 1.87 12 2.04
    • Box 4. Contoh Perhitungan daya dukung gizi• Daya dukung gizi hutan kemasyarakatan dinilai dengan menghitung jumlah total pangan nabati maupun hewani serta hasil non pangan yang disetarakan pangan pokok beras yang dihasilkan oleh lahan hutan kemasyarakatan dengan menggunakan satuan energi (kkal/org/hari) kemudian dibandingkan dengan angka kecukupan energi.• Daya dukung hutan kemasyarakatan di Kabupaten Lampung Barat sebesar 2754 kkal/kap/hr. untuk mencapai tingkat ketersediaan energi ≥ 90% diperlukan luas lahan 1.5-3 ha dengan tingkat keanearagaman jenis komoditas sedang (13-24 jenis).(....., 2009)
    • e. Indikator Ekologi• Indikator ekologi : Keberadaan suatu organisme atau beberapa organisme yang berada pada suatu ekosistem tertentu dan menentukan keadaan fisik-sosekbud wilayah tersebut.• Hukum Minimum Leibig dan Hukum toleransi Shelford – Hukum Leibig : kebutuhan dasar yang terdapat di lingkungan tidak semuanya tersedia secara mencukupi (jumlahnya terbatas), sehingga manusia hanya dapat bertahan hidup pada faktor tertentu di lingkungannya dalam keadaan minimum – Hukum toleransi Shelford : manusia dapat bertahan hidup tidak hanya ditentukan oleh faktor pembatas minimum saja, tetapi ditentukan oleh faktor pembatas maksimum.
    • Box 4. Contoh : komoditas sagu menjadi indikatorekologi (berdasarkan konsep bio-eco-culture) untukwilayah Indonesia bagian timur.• sumber pangan : pati sagu digunakan sebagai makanan pokok dan cadangan pangan.• sumber energi : sumber bahan baku bioetanol.• kekuatan nilai budaya: ”lumbung” makanan untuk kelompok kerabat maupun keluarga.• aspek ekologis : lahan sagu dapat melindungi air tanah, dapat menciptakan air pada habitatnya, berfungsi sebagai zona di pesisir, sebagai buffer intrusi air laut dan penyerap O2.
    • f. Efisiensi Ekologi• Efisiensi ekologi : rasio atau perbandingan antara laju aliran energi pada berbagai mata rantai dalam rantai makanan. Organisme yang menempati posisi tertinggi dalam rantai makanan akan lebih efisien dalam menangkap energi (Rizal & Utomo 2006).• efisiensi penangkapan energi → produktivitas primer (aras produsen) dan produktivitas sekunder (aras konsumen).• Konsep produktivitas digunakan dalam pemuliaan tanaman untuk memaksimalkan hasi panen.• Efisiansi ekologi dalam sistem kemasyarakatan dapat dipahami dengan melihat Konsep rantai pangan – Gambar 1 s/d 4
    • Gambar 1. Skema sistem distribusi pangan Pasar GrosirMekanisme Pasar Pasar di R Pasar Eceran Pemukiman Pendapatan U T / M R Akses A Penyalur A Ekonomi H Raskin Desa/Kelurahan N S Bantuan AMekanisme Penyalur Khusus Pangan Desa/Kelurahan K Darurat S I Akses Fisik T Pasar di A Operasi Pasar N Pemukiman G GMekanisme ALangsung
    • Gambar 2. Contoh saluran tataniaga komoditi beras Petani Produsen KUD Satgas Pengadaan Huller Swasta Penggilingan Padi KUD Sub Dolog Dolog / Pedagang Besar Kantor Pemerintah/Sub Dolog Lain Perusahaan Negara/ABRI Pengecer Konsumen
    • Gambar 3. Contoh pola distribusi beras di Jawa TimurPROPINSI Luar Propinsi Luar Propinsi Pedagang Besar Pengecer PengecerKABUPATEN Konsumen Pengecer Kios/Toko Pengecer Kios/Toko Bulog RMU DESA Keompok Tani Petani
    • Gambar 4. Contoh pola distribusi ayam ras di Sulawesi Tengah Produsen Peternak Pedagang Pedagang kabupaten antar Pulau/ Pedagang Besar Propinsi Pengecer Konsumen
    • g. AdaptasiParadigma Ekologi Budaya (cultural ecology)• Julian Steward (1968): Ekologi budaya adalah studi yang mempelajari bagaimana suatu masyarakat beradaptasi dengan lingkungannya.• Adaptasi lingkungan hanya berlangsung di unsur budaya tertentu, a.l penduduk (termasuk kebiasaan makan), dan merupakan inti kebudayaan (cultural core)• Di inti kebudayaan inilah berlangsung interaksi antara kebudayaan dengan lingkungan hidup di sekitarnya
    •  Kebiasaan makan yang tumbuh dan berkembang tidak terlepas dari pengaruh faktor luar (faktor lingkungan : ciri tanaman pangan, ternak dan ikan yang tersedia dan dapat dibudidayakan), faktor budaya dan sistem sosial ekonomi. Kebiasaan makan yang BAIK dapat diciptakan.Pengembangan kebiasaan makan (pengendalian kenaikan konsumsi pangan tertentu, mis beras, terigu ke arah keseimbangan gizi dan keanekaragam konsumsi pangan (3b,PPH.)  a.l melalui pengembangan pangan lokal/tradisional) Keseimbangan antara pola konsumsi pangan dengan daya dukung lingkungan  kelestarian fungsi lingkungan
    • Adaptasi : a.l dalam bentuk• Food coping stategy : suatu respon jangka pendek dan segera terhadap menurunnya akses terhadap pangan (Davies 1993, diacu dalam Usfar 2002).• Tujuan : mempertahankan berbagai tujuan termasuk pemenuhan konsumsi pangan, kesehatan, status dan mata pencaharian.
    • Bentuk food coping stategy (Maxwell 2001) :(1) mengurangi makanan kesukaan;(2) membeli makanan yang lebih murah;(3) meminjam makanan atau uang untuk membeli pangan;(4) membeli makanan dengan berhutang;(5) meminta bantuan kepada teman;(6) membatasi dan membagi makanan;(7) membatasi konsumsi makan pribadi untuk memastikan anak cukup makan;(8) mengurangi satu jenis makanan pada satu hari;(9) menjalani hari tanpa makan.→Box 5
    • Box 5. Contoh perilaku food copingstategy (Mangkoeto 2009)• Rumah tangga petani di Kabupaten Lebak Banten : beralih pada pangan yang lebih murah.• Rumah tangga di wilayah rawan pangan dan gizi di Kabupaten Banjarnegara : meminjam uang kepada saudara dan meminjam uang kepada orang lain.