Sejarah dan Teori Gender (Evi Nurleni, M.Si)

KONSEP SOSIOLOGI TENTANG PERKEMBANGAN
RELASI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
A. PERK...
Sejarah dan Teori Gender (Evi Nurleni, M.Si)

22

Dalam struktur keluarga yang demikian, laki-laki dan
perempuan dalam rel...
Sejarah dan Teori Gender (Evi Nurleni, M.Si)

23

ganda, di dalam dan luar rumah, jam kerja menjadi 16 jam, sementara
laki...
Sejarah dan Teori Gender (Evi Nurleni, M.Si)
2. Peran-peran
Perempuan)

Jenis

kelamin

(Fokus

24
dalam

Sosiologi

Ciri ...
Sejarah dan Teori Gender (Evi Nurleni, M.Si)

25

C. PEMBENTUKAN TEORI SEBAGAI SUATU PROSES
FEMINIS
Tiga pendekatan di ata...
Sejarah dan Teori Gender (Evi Nurleni, M.Si)

26

konsep patriaki dan modernisasi maka nilai guna dan nilai tukar
menjadi ...
Sejarah dan Teori Gender (Evi Nurleni, M.Si)

26

konsep patriaki dan modernisasi maka nilai guna dan nilai tukar
menjadi ...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Bab iv

173 views
95 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
173
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
5
Actions
Shares
0
Downloads
4
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Bab iv

  1. 1. Sejarah dan Teori Gender (Evi Nurleni, M.Si) KONSEP SOSIOLOGI TENTANG PERKEMBANGAN RELASI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN A. PERKEMBANGAN RELASI LAKI-LAKI PEREMPUAN DALAM KELUARGA DAN Sebagaimana disebutkan di atas, konsep pernikahan dan keluarga merupakan fakta sejarah awal di mana perempuan mengalami “perumahan” (domestikasi). Pembagiana peran gender mengalami “patenisasi”; dimana laki-laki bertanggung jawab di lingkup publik dan perempuan di lingkup domestik. Atau dengan kata lain, perempuan menjalankan fungsi sebagai pengasuh anak (suami), pemelihara rumah dan pengolah makanan produksi rumah tangga. Dalam konsep patriakal, keluarga dibangun dalam kepentingan kaum laki-laki, dimana seluruh kepentingan keluarga diarahkan pada laki-laki sebagai kepala dan anak laki-laki sebagai calon kepala keluarga. Sehingga perempuan menjadi the second sex yang kepentingannya selalu nomor dua. Bahkan karena konsep “hak milik” perempuan selanjutnya disebut hak suami dan hak ayahnya. Sehingga, banyak ketidakadilan yang terjadi atas perempuan karena konsep hak milik ini. Misalnya, perempuan dijodohkan atas dasar kepentingan orang tua terhadap ekonomi keluarga. Atau perempuan “dijual” demi kepentingan nafkah keluarga. Bahkan perempuan, mengalami KDRT dan tidak mendapat rehabilitasi hukum, karena dianggap hak suami atau ayah untuk “mengganjar” perempuan dalam rumahnya. Dalam relasi yang demikian, muncul masalah sosial yakni tindakan kekerasan terhadap perempuan. Jika disimak dalam gambar, seperti berikut ini:
  2. 2. Sejarah dan Teori Gender (Evi Nurleni, M.Si) 22 Dalam struktur keluarga yang demikian, laki-laki dan perempuan dalam relasi yang tarik menarik bahkan “saling menguasai”. Oleh sebab itu, gender merupakan sebuah konsep untuk memaparkan realitas relasi laki-laki dan perempuan yang sudah tidak setara. Bahwa ada pihak tertentu dalam relasi yang demikian sudah mengalami penindasandan ketidakadilan bahkan kekerasan. Oleh sebab itu, konsep kesetaraan dan pemberdayaan merupakan sebuah konsep sosiologis yang juga dapat diterapkan dalam relasi gender yang timpang ini. Perlu dicatat, bahwa sejauh tidak memunculkan ketidakadilan, maka relasi gender bukan masalah. Tetapi dalam kenyataannya, relasi gender yang timpang menyebabkan banyak ketidakadilan. Dan dalam hal ini, perempuan ternyata seringkali menjadi “korban” ketidakadilan peran gender dalam masyarakat tersebut. Selain itu, dalam keluarga dikenal juga dengan istilah peran ganda perempuan. Di mana peran domestik perempuan tidak dianggap sebagai “kerja” karena tidak menghasilkan uang, tetapi diperhitungkan sebagai kewajiban. Sementara laki-laki tidak memiliki kewajiban yang sama di ranah domestik. Ketika arus modernisasi membawa perempuan sebagai pekerja publik, perempuan mengalami beban
  3. 3. Sejarah dan Teori Gender (Evi Nurleni, M.Si) 23 ganda, di dalam dan luar rumah, jam kerja menjadi 16 jam, sementara laki-laki rata-rata hanya 8-12 jam saja. B. PENDEKATAN PEREMPUAN SOSIOLOGI DALAM KAJIAN TTG Ada 3 (tiga) pendekatan kontemporer untuk melakukan kajian terhadap relasi gender dalam masyarakat, yakni: 1. Pendekatan Fungsional (Studi tentang budaya laki-laki) Ciri pendekatan ini ialah menekankan pada stabilitas sosial atau harmonisasi sosial, yang menyumbangkan pada pemeliharaan harmoni masyarakat dengan perubahan yang bertahap (evolusi alamiah). Dalam hal ini, perempuan hanya akan dilihat dalam fungsifungsi dan peran-perannya, “sejauh” menyumbangkan stabilitas sosial atau dianggap fungsional, sementara tuntutan peran publik perempuan dianggap sebagai dis-fungsional. Dalam kritik terhadap konsep di atas, ternyata realitasnya, masyarakat memandang perempuan sebagai pelayan dalam “budaya laki-laki”. Dalam kajian Kingsley Davis, bahkan secara ekstrim mengatakan bahwa secara klasik, perempuan sudah menjadi “pelacur” dalam rumahnya (pelayan laki-laki) dan dalam kehidupan sehari-hari mengalami penindasan, kekerasan dan korban kejahatan. Ia berasumsi bahwa perempuan sebagai pelayanan kebutuhan laki-laki (seksual, konsumsi dan perumahan). Dalam hal ini, masyarakat sudah melakukan dis-fungsi terhadap perempuan sebagai individu dan mahluk sosial, sebagaimana kaum laki-laki.
  4. 4. Sejarah dan Teori Gender (Evi Nurleni, M.Si) 2. Peran-peran Perempuan) Jenis kelamin (Fokus 24 dalam Sosiologi Ciri pendekatan ini ialah menekankan pada deskripsi pembagian peran gender dalam masyarakat, yakni perbedaanperbedaan jenis kelamin yang menyebabkan pembagian peran dan fungsi yang berbeda antara perempuan dan laki-laki dalam masyarakat. Dalam karya Talcott Parsons, membuktikan bahwa dalam masyarakat memang terdapat pembedaan peran perempuan dan lakilaki, bahkan terdapat norma juga yang membatasi peran-peran tersebut. Dalam hal ini, perempuan merupakan kelompok minoritas yang perannya selalu “setelah laki-laki”. 3. Teori Konflik antar Peran Jenis Kelamin Ciri pendekatan ini ialah menekankan pada deskripsi konflik peran antara laki-laki dan perempuan dalam dunia kerja. Teori ini berkonsentrasi pada kenyataan posisi perempuan di dalam pasar tenaga kerja (lingkup publik). Dalam hal ini, perempuan dianggap sebagai harta laki-laki, yang selanjutnya menimbulkan konflik peran antara laki-laki dan perempuan. Konflik peran ini sendiri muncul akibat penolakan perempuan secara terstruktur atas penindasan budaya-sosial terhadap perempuan yang tidak memberikan ruang publik bagi perempuan untuk mengekspresikan dirinya. Menurut Rendall Collins, perempuan dianggap sebagai “harta seksual” milik keluarga dan suami yang mendapat legitimasi secara hukum dalam masyarakat dan pasar kerja. Konflik peran ini nyata terlihat dalam konsep bahwa perempuan yang berkerja hanya dianggap sebagai pekerja tambahan untuk membantu nafkah kelurga. Jika penghasilan keluarga cukup maka perempuan tidak akan “diijinkan” bekerja.
  5. 5. Sejarah dan Teori Gender (Evi Nurleni, M.Si) 25 C. PEMBENTUKAN TEORI SEBAGAI SUATU PROSES FEMINIS Tiga pendekatan di atas bermuara pada pembentukan konsep. Konsep merupakan sistem peristilahan yang memberi kemungkinan untuk dapat memahami topik yang dipelajari. Konsep merupakan istilah abstrak dan konkrit yang diungkapkan dalam bahasa yang dapat diterima oleh masyarakat. Dan seringkali bahasa yang disampaikan merupakan sebuah bentuk kritik terhadap masyarakat dan kondisi sosial yang tidak adil. Konsep merupakan sebuah usaha juga untuk menamakan fenomena yag terjadi dalam masyarakat sekaligus juga membandingkannya dengan konsep idealnya. Itu sebabnya proses pembentukan teori dapat dikatakan merupakan sebuah proses feminis. Sebagaimana pendekatan Max Weber dalam verstehen (pemahaman) ada usaha untuk memahami kenyataan sosial dan kemudian membahasakannya, selanjutnya menemukan cara untuk mengurangi bias atau disfungsi dalam masyarakat. Dorothy Smith menganjutkan agar dalam kajian tentang perempuan harus dimulai dengan pengalaman dan perasaan perempuan sendiri, baru kemudian mengaitkannya dengan kepentingan institusi, organisasi sosial lainnya. Sehingga akan terlihat, bagaimana posisi perempuan dalam budaya dan masyarakat? Sehingga, pendekatan feminisme sangat kental dengan istilah keberpihakan pada perempuan. Selanjutnya, pembentukan teori feminisme akan dibicarakan dalam BAB V. D. AKSIOMA-AKSIOMA UNTUK SOSIOLOGI PEREMPUAN Konsep sentral dalam memahami kondisi ketertindasan perempuan dalam masyarakat ialah dalam konsep nilai guna dan nilai tukar dalam konsep ekonomi. Ketika masyarakat digerakan oleh
  6. 6. Sejarah dan Teori Gender (Evi Nurleni, M.Si) 26 konsep patriaki dan modernisasi maka nilai guna dan nilai tukar menjadi konsep yang amat dipentingkan. Dalam hal ini, kerja dinilai dalam nilai tukar secara ekonomis, sehingga yang tidak menghasilkan secara ekonomi (uang) tidak dianggap berguna. Akibatnya, pekerjaan perempuan dalam rumah dianggap bukan kerja karena tidak bernilai secara ekonomis. Sehingga tidak dihargai sebagai kerja, yang selanjutnya dapat dijadikan alasan menganggap perempuan remeh dan dilecehkan. Karena dianggap “menumpang” hidup dari penghasilan laki-laki. Ketika perempuan menuntut persamaan hak, perempuan juga menuntut persamaan nilai guna dan nilai tukar. Bahwa sebagai individu, perempuan mempunyai keahlian dan kemampuan yang sama dengan kaum laki-laki, sehingga ia juga dapat menghasilkan secara ekonomi. Sayangnya, hal ini menyebabkan masalah sosial baru, karena tidak diimbangi dengan perbaikan di ramah domestik. Artinya, pekerjaan domestik tidak mendapat perhatian serius lagi, yang menyebabkan dis-harmonisasi keluarga. Sementara dalam diri perempuan sendiri terdapat “retak jiwa” akibat beban ganda yang harus ditanggungnya.
  7. 7. Sejarah dan Teori Gender (Evi Nurleni, M.Si) 26 konsep patriaki dan modernisasi maka nilai guna dan nilai tukar menjadi konsep yang amat dipentingkan. Dalam hal ini, kerja dinilai dalam nilai tukar secara ekonomis, sehingga yang tidak menghasilkan secara ekonomi (uang) tidak dianggap berguna. Akibatnya, pekerjaan perempuan dalam rumah dianggap bukan kerja karena tidak bernilai secara ekonomis. Sehingga tidak dihargai sebagai kerja, yang selanjutnya dapat dijadikan alasan menganggap perempuan remeh dan dilecehkan. Karena dianggap “menumpang” hidup dari penghasilan laki-laki. Ketika perempuan menuntut persamaan hak, perempuan juga menuntut persamaan nilai guna dan nilai tukar. Bahwa sebagai individu, perempuan mempunyai keahlian dan kemampuan yang sama dengan kaum laki-laki, sehingga ia juga dapat menghasilkan secara ekonomi. Sayangnya, hal ini menyebabkan masalah sosial baru, karena tidak diimbangi dengan perbaikan di ramah domestik. Artinya, pekerjaan domestik tidak mendapat perhatian serius lagi, yang menyebabkan dis-harmonisasi keluarga. Sementara dalam diri perempuan sendiri terdapat “retak jiwa” akibat beban ganda yang harus ditanggungnya.

×