0
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
MEMBANGUN
BERANDA DEPAN INDONESIA
Penulis:
SUHADI
Rembang, 2013
1
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
KEPADA
Masyarakat Aru dan Masyarakat Rembang Tercinta
2
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
KATA PENGANTAR
Kepulauan Aru merupakan daerah perbatasan Indonesia bagian sel...
3
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
Enam tulisan dalam rangka sumbangsih pembangunan untuk daerah asal
penulis, k...
4
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ......................................................
5
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
KONTEKSTUALISASI KEKUATAN SOSIAL
DI DAERAH PERBATASAN
Tulisan ini menitikbera...
6
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
2004) dengan ibu kota Aru berkedudukan di Dobo. Secara administratif,
sebelah...
7
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
hingga sekarang memiliki empat dialeg. Sebagai masyarakat nelayan,
Orang Ayu ...
8
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
ketidaksiapan dan kepanikan yang luar biasa dalam merespon gempa.
Kompas mela...
9
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
Gerakan Mengajar di Perbatasan
Kontekstualisasi penguatan di bidang pendidika...
10
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
Program Pengalengan Ikan
Selanjutnya penguatan bidang ekonomi dapat dilakuka...
11
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
ini tidak dijajah oleh budaya bangsa luar. Telerbih secara sosiohistoris
mas...
12
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
Pembangunan Laboratorium Nasionalisme
Selanjutnya di bidang pertahanan dan k...
13
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
perumahan tanggap kebencanaan, keselamatan penduduk di pemukiman
pesisir men...
14
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
Heterogenitas potensi masyarakat Kepualuan Aru sudah saatnya
dikontekstualis...
15
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
Rujukan Tulisan
Amandadj. 2012. Batas Wilayah Negara Republik Indonesia. Dal...
16
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
internasional/526-pekerjaan-rumah-perbatasan-indonesia-malaysia.
Diunduh pad...
17
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
Kontekstualisasi Etnisitas di Perbatasan
Tulisan singkat ini merupakan hasil...
18
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
Dalam kepemilikan tanah, Orang Aru cenderung memiliki tanah yang tidak
strat...
19
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
Sistem Pertahanan Perbatasan
Penelitian tentang sistem pertahanan perbatasan...
20
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
Membangun Perikanan Untuk Bangsa?
Dahulu adalah PT Daya Guna Samudra 1970-20...
21
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
masyarakat. Masyarakat juga berharap, perihal kompensasi, perlu ada
perda kh...
22
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
Pasar Apung Jargaria
Permasalahan para pedagang ikan di Pasar Apung Jagaria ...
23
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
Sekolah di Perbatasan
Berikut ini merupakan hasil studi tentang gambaran umu...
24
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
Ketiga adalah SMP Negeri 1 Pulau-Pulau Aru. Sekolahan ini berdiri sejak
tahu...
25
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
PELABUHAN DAN KEBANGKITAN
EKONOMI REMBANG
Kebijakan struktural
pemerintah In...
26
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
besar yang nantinya mampu memberi sumbangan dalam menyelesaikan
masalah tran...
27
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
Lihat saja aksi demo para supir truk dan kereta api. Tuntutan para
pengguna ...
28
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
latarbelakang darat, disebut-sebut cenderung dalam kepemimpinannya
memilih m...
29
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
subur, ternyata Rembang memiliki kekayaan tambang yang jumlahnya
luar biasa....
30
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
yang akan muncul dikemudian hari sejalan dengan hadirnya pelabuhan
besar di ...
31
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
menjadi penting untuk saling tahu akan posisi dan perannya, sehingga
kebangk...
32
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
tukarnya. Jasa distribusi barang akan terbuka lebar dengan hadirnya
pelabuha...
33
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
(Mimpi Memiliki)
Balai Riset Perhubungan Rembang
Dalam pikiran saya, rembang...
34
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
yang ada di sepanjang bibir pantai, pabrik pengolahan ikan yang berdiri
koko...
35
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
rembang mendapatkan kemudahan dalam akses isi dari perkembangan
rembang.
Unt...
36
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
dilakukan, saya yakin dinas perhubungan rembang akan sangat mulia
dalam pera...
37
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
Untuk lembaga video online rembang, secara teknis, persiapan dan
penggunaann...
38
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
dikembangkan dengan fasilitas facebook online, twitter online, bbm online,
d...
39
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
kompleks dan berkelanjutan, dokumen-dokumen digital yang ada di
dalamnya, da...
40
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
Hutan Mangrove Rembang:
Sebuah Desain Bebas
Tulisan bebas ini penulis tujuka...
41
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
studi Suhadi (2010) tentang ledakan penduduk yang memaksa pasangan
baru mend...
42
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
Hutan Mangrove di kawasan Desa Banggi Rembang
Hal-hal yang dapat dilakukan u...
43
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
Beberapa ikon yang dapat dikategorikan dalam maket hutan mangrove
Rembang di...
44
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
Galangan Kapal Rembang
Literatur tentang galangan kapal rembang, dapat dilac...
45
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
penggalang kapal di wilayah tersebut telah melayani pesanan pembuatan
kapal....
46
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
Berangkat dari dua ulasan peneliti di atas, rembang terbukti memiliki
modal ...
47
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
menurut saya. Karena saya harus membaca beberapa hasil studi
penelitian pend...
48
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
Memanen Kekeringan
Kearifan lokal tentang pemuliaan air sungguh cukup untuk ...
49
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
sulitnya dapatkan akses bahan pangan, dan semakin tidak berdaya dalam
mengat...
50
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
adalah membangun masyarakat yang penuh dengan kemakmuran dan
keberkahan.
Rem...
51
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
Perubahan Makna Tanah yang Melampaui Batas
Masyarakat Rembang saat ini telah...
52
Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia
gunung, meraup uang terlampau batas. Sedangkan yang melakukan
kegiatan produ...
Membangun beranda depan indonesia
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Membangun beranda depan indonesia

764 views
602 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
764
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
24
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Membangun beranda depan indonesia

  1. 1. 0 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia MEMBANGUN BERANDA DEPAN INDONESIA Penulis: SUHADI Rembang, 2013
  2. 2. 1 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia KEPADA Masyarakat Aru dan Masyarakat Rembang Tercinta
  3. 3. 2 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia KATA PENGANTAR Kepulauan Aru merupakan daerah perbatasan Indonesia bagian selatan yang masih tertinggal di bidang pembangunan. Ketertinggalan pembangunan pada kawasan perbatasan ini dihawatirkan akan berimbas pada kedaulatan negara kesatuan. Dalam rangka membangun ketertinggalan di kawasan perbatasan ini diperlukan identifikasi potensi lokal yang integratif guna menjadi modal sosial dalam pembangunan. Kontekstualisasi kekuatan sosial di era kekinian dalam berbagai bidang mulai dari bidang pendidikan, politik, gender, ekonomi, sosial, budaya dan kesenian, lingkungan hidup, teknologi, hukum, sejarah, pertahanan dan keamanan, bahasa, transportasi, olahraga, pemukiman, kesehatan, pariwisata, hingga pangan sudah saatnya mulai ditawarkan. Dengan pendekatan tersebut, diharapkan terwujudnya pembangunan sosial yang partisipatif yang berorientasi perubahan sosial ke arah kemajuan. Sehingga daerah perbatasan akan menjadi kekuatan dari barisan nasional yang mampu menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Replublik Indonesia. Dalam buku dengan judul “Membangun Beranda Depan Indonesia” merupakan bongkahan ide tentang bagaimana membangun kawasan perbatasan Indonesia. Secara umum tulisan dalam buku ini terbagi dalam dua hal. Pertama, tulisan yang membahas tentang hasil penelitian Kepulauan Aru dari kegiatan Kemah di Wilayah Perbatasan (KAWASAN) Tingkat Nasional. Sebagai salah satu peserta yang mewakili Provinsi Jawa Tengah dengan bersama-sama dengan 33 peserta guru SMA dari seluruh bidang studi yang berprestasi ini, penulis menghadirkan satu artikel utama sebagai gagasan besar dalam membangun daerah tertinggal sekaligus lima tulisan sebagai hasil penelitian lapangan. Enam tulisan dalam rangka sumbangsih untuk mengembangan wilayah Kepulauan Aru maluku diantaranya; Kontekstualisasi Kekuatan Sosial di Daerah Perbatasan, Kontekstualisasi Etnisitas di Perbatasan, Sistem Pertahanan Perbatasan, Membangun Perikanan Untuk Bangsa, Permasalahan Pedagang Ikan di Pasar Apung Jargaria, dan Gambaran Umum Lembaga Pendidikan. Bagian kedua merupakan kumpulan tulisan penulis sebagaimana rencana tindak lanjut tentang beberapa hal yang perlu dilakukan di daerah provinsi penulis setelah mengikti kegiatan KAWASAN. Tulisan bagian kedua ini merupakan masukan gagasan untuk pembangunan pada daerah asal penulis.
  4. 4. 3 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia Enam tulisan dalam rangka sumbangsih pembangunan untuk daerah asal penulis, khususnya daerah Kabupaten Rembang Provinsi Jawa Tengah diantaranya adalah Pelabuhan dan Kebangkitan Ekonomi Rembang, (Mimpi Memiliki) Balai Riset Perhubungan Rembang, Hutan Mangrove Rembang: Sebuah Desain Bebas, Galangan Kapal Rembang, Memanen Kekeringan, dan Perubahan Makna Tanah yang Melampaui Batas. Penulis ucapkan terimakasih kepada Direktur Sejarah dan Nilai Budaya tingkat nasional, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Rembang, serta Kepala SMA Negeri 1 Pamotan yang telah memberi kesempatan kepada penulis dalam mengikuti kegiatan KAWASAN tahun 2012. Penulis juga ucapkan terimakasih kepada semua sahabat KAWASAN guru SMA dari 33 Provinsi se Indonesia. Buku ini penulis persembahkan kepada kalian semua. Semoga bermanfaat. Rembang, 23 Juli 2013
  5. 5. 4 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia DAFTAR ISI Kata Pengantar .......................................................................................... 2 Daftar Isi ..................................................................................................... 4 Kontekstualisasi Kekuatan Sosial di Daerah Perbatasan .......................... 5 Kontekstualisasi Etnisitas di Perbatasan ...................................................17 Sistem Pertahanan Perbatasan .................................................................19 Membangun Perikanan Untuk Bangsa ......................................................20 Pasar Apung Jargaria ................................................................................22 Sekolah di Perbatasan ...............................................................................23 Pelabuhan dan Kebangkitan Ekonomi Rembang ......................................25 (Mimpi Memiliki) Balai Riset Perhubungan Rembang .............................. 33 Hutan Mangrove Rembang: Sebuah Desain Bebas ..................................40 Galangan Kapal Rembang ........................................................................44 Memanen Kekeringan................................................................................48 Perubahan Makna Tanah yang Melampaui Batas ....................................51
  6. 6. 5 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia KONTEKSTUALISASI KEKUATAN SOSIAL DI DAERAH PERBATASAN Tulisan ini menitikberatkan pada penguatan masyarakat di daerah perbatasan, tepatnya di kabupaten Kepulauan Aru Maluku. Gagasan dalam memperkuat masyarakat di daerah perbatasan dengan perspektif sosiologis ini, berangkat dari kenyataan saat ini bahwa ikatan kekuatan sosial pada masyarakat daerah perbatasan dalam keadaan tertinggal (SIS PDT, 2012). Ketertinggalan dalam hal pembangunan merupakan bukti nyata bahwa selama ini kawasan perbatasan dipandang sebagai halaman belakang yang sangat sedikit mendapat perhatian akan sentuhan pembangunan. Lemahnya kekuatan sosial pada kawasan perbatasan inilah yang kemudian dihawatirkan akan pemicu disintegrasi dengan ditandai terlepasnya pulau-pulau terluar. Dalam tulisan ini memuat tentang tiga hal. Pertama, masalah yang ada di daerah perbatasan Kepulauan Aru. Kedua, potensi yang dimiliki oleh daerah perbatasan Kepulauan Aru. Ketiga, kontekstualisasi kekuatasan sosial di daerah perbatasan Kepualuan Aru. Bagian pertama tulisan ini menggunakan sumber data dari penelitian terdahulu tentang berbagai masalah yang ada pada kawasan perbatasan di Kepulauan Aru. Bagian kedua tulisan ini mengunakan sumber data statistik dari BPS dan Kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia dan beberapa sumber lain yang memuat tentang potensi di Kepulauan Aru. Selanjutnya pada bagian ketiga merupakan gagasan kreatif penulis dalam merespon masalah dan potensi yang ada pada kawasan perbatasan di Kepualan Aru. Masalah di Kawasan Perbatasan Studi terdahulu perihal masalah di daerah Kepulaun Aru Maluku Indonesia diantaranya; kejahatan lintas negara (Irewati, 2004), politik isu (Elisabeth, 2006), pertarungan sosial, ekonomi dan politik (Nainggolan, 2008), perdagangan gelap (Sitohang, 2009), beda hitung tapal batas (Priswari, 2010), dan konflik garis batas wilayah dan wilayah berbatasan (Raharjo, 2011) tentu tidak serta merta dibiarkan begitu saja. Kompleksitas permasalah yang ada di kawasan perbatasan Kepulauan Aru ini tentu saja perlu dipahami dengan pendekatan integratif. Dengan pendekatan tersebut, diharapkan mendapatkan racikan yang matang dalam memahami dinamika masyarakat di kawasan perbatasan dan bagaimana mestinya strategi pembangunan di wilayah perbatasan di rancang. Potensi di Kawasan Perbatasan Kabupaten Kepulauan Aru terbentuk berdasar Undang-Undang Nomor 30 tahun 2003. Kabupaten ini memiliki luas wilayah ± 6.325 km2 dengan tujuh buah kecamatan (BPS, 2011), serta 187 pulau (Kompas,
  7. 7. 6 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia 2004) dengan ibu kota Aru berkedudukan di Dobo. Secara administratif, sebelah utara kepulauan ini berbatasan dengan Laut Aru, sebelah timur berbatasan dengan Laut Aru, sebelah selatan berbatasan dengan Laut Arafura, dan sebelah barat berbatasan dengan Laut Arafura (BPS, 2011). Menurut Litbang Kompas (2004), tepatnya pada zaman es di saat permukaan laut lebih rendah, daerah ini bersambungan dengan Papua dan Australia menjadi daratan yang sangat luas. Ratusan juta tahun setelah zaman es berakhir, Australia telah menjadi benua di selatan, Papua menjadi pulau besar tersendiri, adapun Aru berserakan menjadi pulau-pulau kecil yang mengapung di laut biru. Gambar. Peta Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku Sumber: Lampiran III UU RI No. 40 tahun 2003 (Peta di snapshot dari file PDF tanpa memperhatikan skala) Dalam laporan etnografi Melalatoa (1995) permukaan kepulauan ini tidak bergunung-gunung dan tidak ada pula dataran tinggi. Tanahnya subur dengan ditutupi hutan primer. Dahulu padang ilalang yang terhampar luas digunakan hidup kawanan rusa. Melalatoa melaporkan, Orang Aru memiliki 10 bahasa besar, salah satu diantaranya adalah bahasa Siwalima. Bahasa Siwalima adalah rumpun bahasa Maluku yang
  8. 8. 7 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia hingga sekarang memiliki empat dialeg. Sebagai masyarakat nelayan, Orang Ayu piawai dalam mengarungi laut Banda dan laut Arafuru. Ragam pekerjaan yang dikuasai adalah budidaya rumput laut, beternak kerang mutiara, dan sebagian kecil sebagai petani dan peramu sagu. Makanan khas Orang Aru adalah sagu dan umbi-umbian. Adapun agama yang dipeluknya adalah agama Islam, dan sebagian memeluk agama Kristen, serta sistem kepercayaan leluhur masih terwujud dalam kehidupan mereka. Masyarakat dikepualuan Aru merupakan masyarakat yang secara ekonomi adalah kategori kawasan kepulauan perbatasan tertinggal (SIS PDT, 2011). Tercatat jumlah penduduk miskin sejumlah 29.400 orang (SIS PDT, 2012) dan jumlah keluarga sebanyak 19.736 KK (Podes, BPS, 2012) dari 83.269 jiwa jumlah penduduknya (BPS, 2011). PDRB tahun 2009 sejumlah 197,28 milyar, namun pada tahun 2010 hanya sejumlah 34, 996 milyar (BPS, 2011). Penjelasan tentang kenapa fluktuasi PDRB terjadi, belum penulis temukan. Jumlah Puskesmas Utama dan Pembantu yaitu sejumlah 40 unit (Podes BPS, 2011). Tercatat terdapat 32.414 penduduk angkatan kerja (Sakernas, BPS, 2009), menganggur mencapai 1.905 jiwa (Sakernas, BPS, 2009), 99,05 % melek huruf (Susenas BPS, 2010), dan angka partisipasi sekolah mencapai 90 indeks (SIS PDT, 2012). Pada tahun 2010, hanya empat desa yang dapat dilalui mobil. Kemudian pada tahun 2011, terdapat tujuh desa yang beraspal dari 119 desa secara keseluruan (Podes BPS, 2011). Prosentase keluarga yang menggunakan listrik adalah 44,22% (Podes BPS, 2010), pengguna telepon sebanyak 2,74 % (Podes BPS, 2010), 99 buah bank umum dan dua bank perkreditan rakyat (Podes BPS, 2011). Adapun fasilitas pasar dengan bangunan permanen terdapat di 44 desa, selebihnya adalah pasar dengan bangunan non permanen (Pode BPS, 2011). Dalam hal kapasitas daerah Aru, terdapat dua hal yang menjadi indikator yaitu celah fiskal dan pendaptan asli daerah. Menurut Departemen Keungaan (2010), celah fiskal di Kepulauan Aru mencapai 228.7744 juta rupiah. Adapun pendapatan asli daerah kepulauan ini (Pemda, 2010) mencapai 12.909.499 juta rupiah. Dalam hal aksesibilitas, Kepuluan Aru cukup terbilang sulit. Hal ini dapat dilihat rata-rata jarak dari kantor desa ke kantor kabupaten yang membawahi rata-rata berjarak 96,18 km (Podes BPS, 2011). Adapun waktu tempuh ke pusat pelayanan pemerintahan adalah 449,92 menit (Podes BPS 2008). Kepuluan Aru memiliki karakteristik sebagai daerah pesisir dengan prosentase mencapai 98,32%. Sepanjang tahun 2011 tidak ada catatan seius tentang bencana alam yang menimpa pemukiman di desa Kepulauan Aru. Tercatat 14,29% dengan desa yang berpotensi konflik (Podes BPS, 2011), 1.68% desa berpotensi tanah longsor, dan 0,84 desa berpotensi banjir (SIS PDT 2012). Berbeda dengan Kompas (2012) telah melaporkan terjadi gempa berkuatan 7 skala Richter yang mengguncang perairan Kepulauan Aru. Kompas menuding, BMKG terlambat menginformasikan gempa, sehingga masyarakat Aru mengalami
  9. 9. 8 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia ketidaksiapan dan kepanikan yang luar biasa dalam merespon gempa. Kompas melaporkan, keterlambatan itu dikaenakan pihak BMKG salah menekan tombol gempa berpotensi tsunami, padahal tidak. Dalam hal ikon daerah, mutiara dan burung Cenderawasih (BPS, 2011) telah menjadi ikon kepulauan ini. Potensi yang Aru juga didukung dengan perairan laut dalam yang telah menjadi penyumbang tangkap ikan tuna dan jenis makanan laut lainnya, dalam tahun 2010 saja terhitung sebanyak 519.006 ton (BPS, 2011), serta terdapat 57 titik potensi benda berharga muatan kapal tenggelam (Dinas Kelautan dan Perikanan, 2011). Hingga sekarang, hanya 4 titik saja telah mendapatkan ijin pengangkatan, itupun belum satupun benda berharga muatan tenggelam yang telah di angkat dari peraian laut dalam ini. Beragam potensi yang dimiliki Aru, sudah saatnya perlu dikontekstualisasikan di era kekinian. Sehingga ekonomi lokal menguat dan akhirnya kawasan perbatasan di Kapulauan Aru menjadi garda terdepan dalam mengaktualisasi integrasi nasional. Kontekstualisasi Kekuatasan Sosial di Kawasan Perbatasan Pengelolaan sumber daya alam di pulau-pulau kecil telah menjadi dambaan dalam penumbuhan kekuatan ekonomi lokal yang dikelola pada masyarakat di wilayah perbatasan. Namun menurut Georgi (2003 dalam Subejo, 2008) kekuatan alam yang melimpah, akan sulit memberikan kontribusi yang nyata dalam pertumbuhan dan pembangunan ekonomi masyarakat, jika tanpa dibarengi dengan kekuatan sosial. Menurut Subejo (2008) elemen utama kekuatan sosial itu mencakup norms, reciprocity, trust, dan network. Subejo menegaskan, keempat elemen tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku kerjasama untuk mencapai hasil yang diinginkan. Berangkat dari konsep social capital di atas, dalam mendapatkan kontribusi nyata pada pertumbuhan dan pembangunan ekonomi masyarakat, maka penguatan akan social capital yang dimiliki masyarakat di kawasan perbatasan adalah hal mutlak yang perlu diwujudkan. Hambatan dalam mewujudkan penguatan social capital pada masyarakat diperbatasan adalah tentang kontekstualisasi program kegiatan yang ada di berbagai bidang di era kekinian. Menurut penulis, terdapat delapan belas bidang kekautan sosial di Kepuluan Aru yang perlu dikontekstualisasikan agar ekonomi lokal menguat dan akhirnya kawasan perbatasan di Kapulauan Aru menjadi garda terdepan dalam mengaktualisasi integrasi nasional. Sembilan belas bidang yang perlu digarap itu diantaranya; bidang pendidikan, politik, gender, ekonomi, sosial, budaya dan seni, lingkungan hidup, teknologi, hukum, sejarah, pertahanan dan keamanan, bahasa, transportasi, olahraga, pemukiman, kesehatan, pariwisata, dan pangan.
  10. 10. 9 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia Gerakan Mengajar di Perbatasan Kontekstualisasi penguatan di bidang pendidikan dapat dilakukan dengan gerakan mengajar di perbatasan. Gerakan mengajar dapat mencerdaskan masyarakat Aru dalam menemukan solusi hidup yang ramah lingkungan. Rendahnya indek pembangunan manusia masyarakat Aru yang hanya mencapai 69,93 indeks, jumlah SD dan SMP per 1000 penduduk hanya dua buah, jauhnya jarak pemukiman dengan SD dan SMP mencapai 16,66 km dan SMA mencapai 27,20 Km (SIS PDT, 2012), program gerakan mengajar menjadi pilihan tepat untuk realisasikan. Dalam melaksanakan progaram ini, pihak Pemda Kepulauan Aru dapat bekerjasama dengan Kemendikbud, Perguruan Tinggi, hingga LSM Pendidikan, untuk mengajar di masyarakat kepaluan. Pemda diharapkan memiliki desain kurikulum berbasis keunggulan lokal agar pascaprogram pengajaran, terdapat tindaklanjut dan kesinambungan yang dapat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat diperbatasan. Gerakan Cinta Produk Lokal Penguatan bidang politik dapat dilakukan dengan cara gerakan cinta produk lokal. Program ini nantinya dapat menumbuhsuburkan pertumbuhan home industri yang mana sebagai rantai ekonomi dengan siklus yang mapan dan matang. Belajar dari temuan studi yang dilakukan Sitohang (2009) tentang perdagangan gelap yang kerap terjadi kawasan perbatasan, karena tidak adanya rasa cinta terhadap produk dalam negeri, perlahan akan teratasi. Pembangunan Berbasis Gender Penguatan akan kekuatan sosial masyarakat diperbatasan Aru juga dapat dilakukan pada bidang gender dengan program pembangunan daerah tertinggal berbasis gender. Program ini dilakukan dengan mengikutsertakan peran serta perempuan dan laki-laki dalam pembangunan. Kerja keras (maskulinis) dan keuletan (feminis) (Astuti, 2008) dapat digabung dalam penguatan ekonomi lokal. Sosiostruktur pada masyarakat pesisir, dimana perempuan hanya sebatas menunggu hasil tangkapan, sudah saatnya diredefinisi. Perempuan dapat menjadi pelopor dalam membangkitkan ekonomi keluarga. Hanyalah perbedaan jenis kelamin tentang perempuan dan laki-laki saja, selebihnya dalam membangkitkan ekonomi dalam keluarga, keduanya perlu dikonstruksikan sejajar dalam rangka mempercepat proses dan efesiensi produksi dengan nilai profit yang tinggi. Terlebih tren demografi, jumlah perempuan di masyarakat Aru lebih banyak dari pada jumlah laki-lakinya (BPS, 2011).
  11. 11. 10 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia Program Pengalengan Ikan Selanjutnya penguatan bidang ekonomi dapat dilakukan dengan program pengalengan ikan secara masal. Tercatat penangkapan hasil laut di Teluk Aru dan Perairan Arafuru, pada tahun 2010 telah menyumbang angka 537.964 ton atau meningkat hingga 65,75% (Dinas Kelautan dan Perikanan, 2011). Wajar jika terjadi tindakan illegal fishing (Nainggolan, 2008) yang dilakukan oleh orang luar cukup marak terjadi. Kasus illegal fishing dan data tangkap ikan diatas sudah saatnya disambut dengan persaingan mendirikan industri pengalengan ikan masal agar bahan baku ikan yang berkualitas dan melimpah ini, keuntungannya dapat dinikmati oleh masyarakat lokal. Dengan penciptaan lapangan pekerjaan maka nantinya akan mamacu ketercukupan standar kualitas hidup masyarakat. Ketersediaan lembaga kerja ini pula akan memacu dinamika masyarakat Aru yang lebih progresif. Gemar Menolong Kontekstualisasi penguatan di bidang sosial dapat dilakukan dengan program gemar menolong. Gemar menolong merupakan kerjasama untuk menyelesaikan proyek guna kepentingan bersama, atau yang dalam Marzali (2005) disebutnya dengan istilahh gotong-royong. Mengangkat anggota masyarakat yang lemah hingga menjadi kuat adalah suatu pemberdayaan dalam membangun kemandirian yang tidak tergantung pada kekuatan uang. Membangun kewirausahaan sosial atau sociopreneur (Winartoi, 2008) dapat diaktualsiasikan di kawasan perbatasan ini. Dengan ideologi sociopreneur ini, biaya pembangunan akan lebih irit, mengingat Product Domestic Regional Bruto (PDRB) kepulauan ini hanya sejumlah 34, 996 milyar (BPS, 2011). Pelestarian Tradisi Lokal Selanjutnya bidang budaya dan seni dapat dilakukan dengan melestarikan dan mengembangkan tradisi lokal yang memiliki keperpihakan akan ketercukupan kebutuhan lokal. Identitas dan karakter masyarakat Aru akan menjadi mantap di kemudian dengan pendekatan pembangunan identitas karekter budaya masyarakat. Pengembangan pentas seni berbasis lingkungan, seperti yang dipaparkan Melalatoa (1995) tentang keanekaragaman sistem matapencaharian dan ikon Orang Aru, mutiara dan bulu cenderawasih, sudah saatnya menjadi karakter seni Orang Aru. Pentas tari terkenal Orang Aru adalah tarian Cukelele. Dalam tarian tersebut, Orang Aru sangat mengagungkan burung Cenderawasih yang replikanya ditaruh di kepala sang penari. Menggelar pentas kesenian lokal berbasis potensi pesisir akan menjadi penyejuk dan penyemangat etos kerja keseharian masyarakat Aru itu sendiri. Langkah pengumpulan dan kepemilikan identitas budaya masyarakat Aru mendesak untuk dilakukan agar masyarakat diperbatasan
  12. 12. 11 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia ini tidak dijajah oleh budaya bangsa luar. Telerbih secara sosiohistoris masyarakat Aru memiliki hubungan dengan budaya bangsa Australia (Kompas, 2004). Terbukti hingga saat ini Australia menggunakan pendekatan budaya dalam berinteraksi dengan masyarakat tetangga batas geografisnya (Elisabeth, 2006). Gerakan Menanam Pohon Peguatan bidang lingkungan hidup dapat dilakukan dengan program menanam pohon. Gerakan menanam pohon dan menggunakan sekedarnya akan kekayaan lingkungan agar dapat diwariskan hingga anak cucu Aru dikemudian hari. Menanam pohon juga telah menjadi isu global yang cukup strategis untuk dilakukan di kawasan perbatasan Aru karena sejalan dengan isi dari Protokol Kyoto (Wikipedia, 2012). Kawasan Aru menjadi potensial karena dikawasan ini terdapat kawasan lindung yang menyatu dengan pemukiman masyarakat dengan prosentase 92,44% (SIS PDT, 2012). Tindakan nyata yang dapat dilakukan adalan penanaman pohon bakau disepanjang pantai Aru serta gerakan menanam pohon sebelum menebangnya yang memiliki nilai ekologi sekaligus bernilai ekonomi tinggi. Penciptaan Teknologi Terapan Dalam bidang teknologi, menciptakan alat untuk penguatan produksi dan prinsip efesiensi mutlak dilakukan. Penciptaan teknologi terapan hendaknya diselaraskan dengan potensi alam dan sosial yang ada di kepulauan ini. Tanpa alat berteknologi tinggi, masyarakat diperbatasan akan mengalami proses ketertinggalan yang tak terkendali. Penamaan Pulau-pulau di Aru Bidang hukum pun demikian, dengan memberi nama di sepanjang pulau menjadi petanda bahwa mereka hidup dalam pangkuan ibu pertiwi, bukan dalam kendali para cukong luar negeri yang selalu membingungkan posisi dan peran anak negeri di kawasan perbatasan ini. Penulisan Sejarah Lokal Menulis sejarah lokal menjadi garapan yang perlu dikontekstualisakan di bidang sejarah. Sebagai bagian dari entitas masyarakat global, sudah saatnya mereka memegang kendali akan sejarahnya sendiri, bukan sebaliknya sejarahnya dikontruksikan orang luar yang belum tentu memihak kepentingan masyarakat di kawasan perbatasan negeri.
  13. 13. 12 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia Pembangunan Laboratorium Nasionalisme Selanjutnya di bidang pertahanan dan keamanan, kawasan perbatasan hendaknya dibangun sebuah laboratorium nasinalisme. Laborat ini akan berfungsi sebagai penguatan karakter nasionalis. Berbagai kegiatan dan pembangunan simbol-simbol kepahlawanan, serta menggali nilai-nilai kepahlawanan di tingkat lokal, akan mampu menjaga kedaulatan negeri ini. Dalam konteks geografi politik, episentrum dari kedaulatan ada dikawasan perbatasan, bukan dipusat perkotaan. Membumikan Bahasa Ibu Dalam bidang bahasa, melestarikan dan menggunakan bahasa ibu setelah bahasa nasional adalah tanda kemenangan akan kedaulatan politik teritorial di negeri ini. UNESCO-pun telah memberi apresiasi setinggi-tingginya karena bahasa ibu telah berperan sebagai alat sosialisasi mengenalkan norma dan perilaku sosial dalam mewujudkan suatu tatanan sosial yang diidam-idamkan. Dengan 10 bahasa besar yang dimiliki Orang Aru dan ragam dialeg yang begitu berlimpah (Melalatoa, 1995) sudah saatnya digunakan baik sebagai bahasa ibu, menjadi alat komunikasi dalam proses pembangunan di kawasan perbatasan ini. Kasus yang diceritakan Suhana (2007) tentang fenomena di Miangas tentang penggunaan bahasa Tagalog mata uang Peso, menjadi hal menarik untuk dijadikan pelajaran akan eksisten bahasa ibu di masa depan nanti. Revitalisiasi Transportasi Air Bidang transportasi dapat digarap dengan melakukan revitalisiasi transportasi air. Dominasi pesisir sebagai karakteristik di pulau Aru, maka yang paling efektif dan efesien adalah meremajakan dan mengembangkan alat transportasi berbasis air. Keberadaan transportasi air ini akan memutus keterasingan dan keterpencilan kepulauan aru dengan kepulauan yang lainnya sekaligus memompa derajat kebangkitan ekonomi masyarakat Aru ini. Perlombaan Olahraga Unggulan Bidang olahraga dapat dikembangkan dengan perlombaan olahraga unggulan lokal. Sebagai kawasan kepulaun, olahragawan dan olahragawati renang dan selam, dapat didik di pulau ini. Sehingga nantinya kepulauan Aru dapat memberi sumbangan prestasi nasional dalam cabang olahraga yang dilombakan baik ditingkat nasional maupun internasional. Perumahan Tahan Kebencanaan Penguatan di bidang pemukiman dapat dilakukan dengan model perumahan tahan kebencanaan. Banjir, tanah longsor, dan gempa yang berpotensi mengakibatkan Tsunami menjadi kehawatiran bagi semua penduduk yang bermukim di sepanjang pesisir pantai Aru. Dengan desain
  14. 14. 13 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia perumahan tanggap kebencanaan, keselamatan penduduk di pemukiman pesisir menjadi harapan bagi setiap orang. Pengobatan Tradisional Kemudian penguatan di bidang kesehatan dapat dilakukan dengan cara menggali perilaku dan bahan medis yang cukup terbukti digunakan dalam mengobati penyakit endemik. Keterbatasan aksesibilitas infrastruktur kesehatan tidak lagi menjadi kendala, karena masyarakat setempat telah piawai dalam melakukan tindakan preventif dan tindakan medis. Dengan demikian maka kesehatan fisik sebagai pendukung produktivitas ekonomi akan segera tercapai. Wisata Tapal Batas Program wisata tapal batas merupakan program pariwisata dengan menyuguhkan panorama alam dan sosial yang ada di kawasan perbatasan yang didalamnya terdapat tujuan melibatkan masyakat luas dalam memperkuat tapal batas Indonesia. Secara teknis, wisatawan diperkenankan memberikan simbol secara bebas tentang tanda bahwa kawasan yang dikunjungi adalah kawasan perbatasan. Program wisata tapal batas ini berangkat dari konflik perbatasan yang belum selesai semenjak Timor Leste menjadi negara tersendiri. Ada perjanjian (timor gap treaty) yang menjadi batal dan batas-batas laut yang ada harus dirundingkan kembali secara trilateral antara Indonesia - Timor Leste - Australia. Program wisata ini menjadi sesuatu yang menarik untuk dikembangkan pada kawasan di perbatasan. Budidaya Pangan Berbasis Lokal Adapun penguatan di bidang pangan dapat dilakukan dengan melakukan budidaya pangan berbasis lokal. Pangan merupakan hal penting dalam unsur kehidupan, karena ketiadaan pangan akan melahirkan sikap radikal dan pemberontakan (Herdiawan, 2012) yang berujung pada perusakan hasil-hasil pembangunan. Kuliner lokal menjadi alternatif dalam pengembangan perwisataan para pelancong yang tertarik mengunjungi kawasan perbatasan di Kepulauan Aru ini sekaligus menjadi kazanah kuliner nusantara yang penting di jaga sebagai identitas bangsa dalam bidang ketahanan dan kedaulatan akan kuliner nusantara. Kebangkitan Kekuatasan Sosial Berorientasi Perubahan Sosial Membangun kekuatan sosial masyarakat di Kepulauan Aru merupakan bagian penting dalam membangun mental pembangunan nasional. Berbagai sisi kehidupan ditata sedemian rupa untuk membangkitkan sikap yang tangguh dalam misi membangkitkan kebudayaan pembangunan, bukan kebudayaan kemiskinan (Lewis dalam Saifuddin, 2011), hingga konsep stereotip mental pembangunan menurut Kolonial Belanda (Marzali, 2005) yang penuh dengan siasat pelemahan mentalitas pembangunan.
  15. 15. 14 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia Heterogenitas potensi masyarakat Kepualuan Aru sudah saatnya dikontekstualisasikan. Berbagai potensi mulai dari bidang pendidikan, politik, gender, ekonomi, sosial, budaya dan kesenian, lingkungan hidup, teknologi, hukum, sejarah, pertahanan dan keamanan, bahasa, transportasi, olahraga, pemukiman, kesehatan, wisata, dan pangan, sudah saatnya diaktualisasikan oleh masyarakat lokal. Dengan demikian maka akan tercipta pembangunan masyarakat perbatasan yang berorientasi perubahan sosial. Dalam memujudkan masyarakat di kepulaun Aru yang adil dan makmur, dalam perspektif sosiologis, hal yang perlu dilakukan adalah kontekstualisasi kekuatan sosial. Berbagai bidang kehidupan perlu dikuatkan dengan merancang dan melaksanakan program kegiatan yang sifatnya kekinian.
  16. 16. 15 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia Rujukan Tulisan Amandadj. 2012. Batas Wilayah Negara Republik Indonesia. Dalam (http://amandadj.blogspot.com/2012/01/batas-wilayah-negara- republik-indonesia.html), diunduh pada tanggal 09 Agustus 2012. Astuti, Tri Marheni Pudji. 2011. Kontruksi Gender Dalam Realitas Sosial. Semarang: Unnes Press. BPS. 2009. Pedoman Pencacah Sakernas 2009. BPS: Jakarta. BPS. 2010. Pedoman Pencacahan Susenas Kor 2010. BPS. Jakarta.BPS. 2012. Laporan PODES 2011. BPS Kabupaten Kepulauan Aru: Dobo. BPS. 2009. Laporan PODES 2008. BPS Kabupaten Kepulauan Aru: Dobo. Depkue RI .2010. Data Pokok APBN 2005-2010. Dalam http://www.fiskal.depkeu.go.id/ webbkf/download/datapokok- ind2010.pdf. Diunduh pada tanggal 09 Agustus 2012. Dinas Kelautan dan Perikanan. 2011. Kelautan dan Perikanan Dalam Angka Tahun 2012. Jakarta: Kementrian Kelautan dan Perikanan. Jakarta. Elisabeth. 2006. Isu-Isu Strategis dalam Hubungan Australia-Asia Timur (1997-2005). Jakarta: LIPI Press. Herdiawan, Didit. 2012. Ketahanan Pangan dan Radikalisme. Jakarta: Republika. Kompas. 2004. Kapupaten Kepulauan Aru. Terbit pada tahun 2004 (hari dan tanggal terbit tidak tertera). Kompas. 2012. BMKG Terlambaar Siarkan Gempa Aru. Terbit Sabtu, 13 Oktober 2012. Irewati. 2004. Kebijakan Indonesia Dalam Menghadapi Kejahatan Lintas Negara: Kasus Illegal Logging di Kalbar dan Kaltim. Jakarta: LIPI Press Melalatoa, M Junus. 1995. Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Marzali, Amri. 2005. Antropologi dan Pembangunan Indonesia. Jakarta: Kencana. Nainngolan, Poltak Partogi. 2008. Masalah Perbatasan Indonesia-Papua New Guinea. Perspektif Keamaan. P3D1 DPR RI. Jakarta. Laporan Penelitian. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Badan Nasional Pengelola Perbatasan. Priswari, Inti. 2010. Analisis Sengketa Perbatasan Wilayah Kedaulatan Blok Ambalat Antara Indonesia - Malaysia Serta Upaya Penyelesaiannya. Undergraduate Thesis, Universitas Diponegoro. Raharjo. 2011. Pekerjaan Rumah Perbatasan Indonesia-Malaysia. Dalam http://www.politik.lipi.go.id/index.php/in/kolom/politik-
  17. 17. 16 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia internasional/526-pekerjaan-rumah-perbatasan-indonesia-malaysia. Diunduh pada tanggal 09 Agustus 2012. Sitohang, dkk. 2009. Masalah Perbatasan Wilayah Laut Indonesia di Laut Arafura dan Laut Timor. Jakarta: LIPI Press. Subejo. 2008. Peranan Social Capital Dalam Pembangunan Ekonomi: Suatu Pengantar untuk Studi Social Capital di Pedesaan Indonesia. Fakultas Pertanian UGM. Dalam http://pustaka.uns.ac.id/?menu=news&nid=38&option=detail. Diunduh pada tanggal 09 Agustus 2012. Suhana. 2007. Benarkah Pulau-pulau Perbatasan Terancam Hilang? UU No. 30 tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Kepulauan Aru Maluku. Wikipedia. 2012. Protokol Kyoto. Dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Protokol_Kyoto. Diunduh pada tanggal 09 Agustus 2012. Winartoi. 20008. Membangun Kewirausahaan Sosial: Meruntuhkan dan Menciptakan Sistem Secara Kreatif. Yogjakarta: API.
  18. 18. 17 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia Kontekstualisasi Etnisitas di Perbatasan Tulisan singkat ini merupakan hasil wawancara dengan Karel Duganata. Karel merupakan tokoh muda Aru alumni Fakultas Hukum Universitas Patimura. Wawancara dilaksanakan di lokasi Penginapan Kemah Kawasan. Waktu wawancara dilakukan tepatnya pada hari Selasa tanggal 16 bulan Oktober 2012 pukul 18.00 WIT. Falsafah Orang Aru adalah “Jarjaban Jartama”. Arti dari falsafah tersebut adalah “Aku peri menimba ilmu diluar, lalu kembali membangun aru”. Terdapat 17 etnis di Kepulauan Aru. Etnis Aru sendiri dikenal setelah Alferld Walace, seorang peneliti Belanda melakukan penelitian tentang bulu burung. Walace tertarik dengan burung cenderawasih. Bulu cenderawasih konon digunakan raja-raja dari Persia. Orang Aru juga disebut sebagai Orang Jarjui atau sering dipanggil Orang Jar. Beberapa etnis yang tinggal di Kepulauan Aru diantaranya; etnis key, etnis tanimbar, etnis ambon, etnis manado, etnis seram, etnis pandawa, etnis buton, etnis bugis, etnis makasar, etnis aceh, etnis tepa, etnis teon nila serwa, etnis ternate tidore, etnis flores, etnis papua, tenis kalimantan, dan etnis cina. Orang Aru berpandangan bahwa manusia itu saling membutuhkan. Keberadaan satu dengan yang lain turut membangun. Ada keyakinan, bersama, membangun lebih cepat berhasil. Pada dinamika politik di Aru, orang Aru mendapatkan perlakuan khusus. Posisi untuk Bupati, Wakil Bupati, dan Setda hanya diperuntukkan dari suku asli Aru. Adapun di posisi politik pemerintahan bawahnya untuk etnis lain. Pemilik tanah Aru namanya Petuanan. Marga Barends adalah marga yang berperan dalam hal jasa tanah. Semua orang yang akan memiliki tanah di Aru, harus mendapatkan surat ijin dari marga Barends. Setelah mendapatkan surat ijin, kemudian tanah akan dilepaskan. Proses selanjutnya adalah penyelesaikan sertifikat tanah. Tanah yang berlokasi strategi saat ini dimiliki oleh etnis Cina dan Pemda. Dengan mampu membeli harga tanah yang mahal, etnis Cina memiliki tanah di kepulauan ini. Selain etnis Cina, tanah yang strategis dimiliki oleh Pemda dengan harga relatif murah dengan alasan untuk kepentingan negara.
  19. 19. 18 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia Dalam kepemilikan tanah, Orang Aru cenderung memiliki tanah yang tidak strategis. Mereka menempati tanah jauh dari pusat keramaian dengan alasan harga tanah relatif terjangkau. Cara berbusana orang aru menggunakan slepang. Orang Aru laki-laki menggunakan ikat kepala merah. Selanjutnya orang aru perempuan menggunakan manik-manik dikepala dari bulu burung cenderawasih. Adapun sasajen orang Aru terdiri dari buah pinang dan rokok yang dikemas di atas piring. Dobo, Oktober 2012
  20. 20. 19 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia Sistem Pertahanan Perbatasan Penelitian tentang sistem pertahanan perbatasan dilakukan dilokasi di desa kalar-kalar. Menuju lokasi tersebut, peneliti mengenakan speedbood dengan waktu 3 jam dari kota Dobo. Speedbood yang digunakan adalah milik Bupati. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik wawancaran dan observasi. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober tahun 2012. Tugas Lanal Aru yaitu menjelenggarakan operasi intelejen maritim guna mendukung perlaksanaan ora laut di Aru, menyelenggarakan operasi tempur, dan menyelenggarakan OMSP. Lanal di lokasi mirip sebagai kos- kosan. Lanal di kalar-kalar tidak ada garis administrasi dan tupoksi. Lanal di Aru memiliki satu buah kapal sedang dan kecil dengan tahun buatan 2005. Persenjataan yang digunakan adalah alutsisra bekas Perang Dunia II. Adapun alat komunikasi yang digunakan adalah radio. Hasil wawancara dengan komandan, dengan diwakili dan konlanal, prajurit lanal, dan aparat setempat, diantaranya sebagia berikut. Menurut Bapak Doni, fasilitas keamaan yang tidak memadai. Mereka akan beraksi ketika mendapatkan informasi dar i intelejen. Parkir perugas tidak di lanal, tapi di Dobo dengan jarak tempuh ke lanah dengan waktu 3 jam. Saat ada insiden, dimungkinkan akan terlambat. Jika ada sesuatu kejadian yang luar biasa, pihak lanal menghubungi pusat. Pada saat ini komunikasi kurang lancar, penempatan pasukan cenderung tidak sesuai dengan spesifikasi, serta tidak ada retribusi untuk kapal-kapal yang masuk wilayah Aru. Mehurut penuturannya, konflik tanah Lanal Aru kerap terjadi. Menurut Ketua Adat setempat, tanah untuk lanal adalah tanah adat yang belum selesai. Dermaga saat ini dalam kondisi yang tidak memadai. keterbatasan dalam suplay bahan bakar juga kerap terjadi. Terlebih instalasi listrik belum tersedia hingga saat ini. Saat ini penerangan didermaga menggunakan genset. Adapun desa sekitar, tak satupun yang teraliri jaringan listrik. Berdasarkan gambaran diatas dapat disimpulkan bahwa impian angkatan laut untuk garis terdepan dalam keamanan, jauh dari harapan. Pengamanan terhadap perbatasan Aru sangat lemah dan belum ada kesejahteraan untuk Personel Lanal. Dobo, Oktober 2012
  21. 21. 20 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia Membangun Perikanan Untuk Bangsa? Dahulu adalah PT Daya Guna Samudra 1970-2000 kemudian diambil alih oleh PT. Pusaka Benjina Resources. Perusahaan perikanan yang tampak seperti dermaga sederhana ini dibangun sejak tahun 2007. Perusahaan ini bergerak dalam bidang perikanan khususnya dalam hal penangkapan ikan, pengemasan, dan penjualan es ikan. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi pada bulan Oktober 2012, masyarakat sekitar PT Pusaka Benjina Resources Dobo ini masih menggunakan sistem penangkapan ikan dari nelayan tradisional. PT Pusaka Benjina Resources Dobo merupakan perusahan penangkap ikan yang kemudian di jual pada nelayan Thailand. Tiap sekali penjualan hasl laut, sedikitnya adalah 200 ton ikan. Selain bergerak dalam bisnis perikanan, perusaan ini menjual balok es yang dipasarkan dan dibeli kepada dan oleh nelayan lokal. Menurut hasil wawancara, PT Pusaka Benjina Resources Dobo tiap bulan memberikan kompensasi sebesar 400 juta. Namun sayangya masyarakat Aru tidak mendapatkannya. PT. Pusaka Benjina Resources merupakan perusahaan ikan terbesar di Kepulauan Aru. Karyawan PT. Pusaka Benjina Resources sejumlah 300 karyawan. Adapun prosentasi tenaga kerjanya adalah 85% karyawan lokal 15 % karyawan luar. Ikan-ikan yang berkualitas di jual di Thailand. Adapun ikan yang berkualitas buruk dijual di dalam. Menurut pengamatan dan pengakuan informan, di dalam kapal-kapal yang karyawannya besar, terdapat ribuan pekerja dari asing. Pekerja lokal tidak mampu bersaing dalam hal kualifikasi menjadi pekerja pabrik profesional. Suatu ketika, pernah pelatihan sejumlah 100 orang yang dipandu oleh ILO. Namun pascapelatihan, tidak seorangpun yang diterima dan menerima di pabrik ikan besar. Orang asli Aru cenderung ingin kerja di darat dengan gaji besar. Menurut pengakuan masyarakat setempat, sumbangsih pendidikan dari perusahaan kepada masyarkaat cenderung sangat kecil. Pihak perusahaan hanya memfasilitasi dua perahu dan TK, dan mengelola tiga SD untuk kelas jauh dengan kerjasama dengan Dinas Pendidikan Pemerintah Daerah setempat. Walapun demikian, pada acara-acara adat pabrik memberi ikan. Masyarakat berharap, kendala berupa transportasi, komunikasi, sumber daya yang renah, cepat segera terselesaikan di Kepulauan Aru. Sehingga terdapatnya perusahaan ikan besar, mampu mensejahterakan
  22. 22. 21 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia masyarakat. Masyarakat juga berharap, perihal kompensasi, perlu ada perda khusus untuk kompensasi daerah Aru. Dobo, Oktober 2012
  23. 23. 22 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia Pasar Apung Jargaria Permasalahan para pedagang ikan di Pasar Apung Jagaria ini didapatkan melalui kunjungan lapangan pada bulan Oktober tahun 2012. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi. Aru memiliki potensi ikan yang melimpah. Namun pedagang belum optimal dalam memanfaatkan ikan. Permasalhan yang dihadapi dan solusinya sebagai berikut. Pedagang ikan di Pasar Apung berlatar belakang multietinis. Beberapa latar belakang etnis pedagang ikan di pasar Jagaria ini diantaranya dari atnis aru, bugis, buton, dan batak. Permasalahan saat ini yang menghinggapi pedangan ikan diataranya; ketakutan bunga pinjaman di Bank. Permasalahan akan terpenuhinya permodalan, sangat diharapkan pada pedagang ikan. Pada Pasar Apung Jagaria, jumlah pedagan ikan sebanya tiga puluh pedagang. Jumlah lapak ikan di pasar tersebut sejumlah dua belas lapak ikan. Coolbox menjadi alat penyimpanan para pedagang ketika ikannya tidak laku terjual. Pada pasar Apung terdapat tujuh coolbox. Sisa ikan yang tidak habis terjual dibuang begitu saja. Bahan bakar minyak masih menjadi masalah nelayan. Nelayan hanya diberi lima liter yang berdampak pada keterbatasan nelayan. Higinitas dipasar ikan tampaknya belum memenuhi standar. Hal ini dapat dilihat temua di lapangan bahwa beragam sampah ikan dan kulit kerang berserakan. Kebutuhan pompa ikan dibutuhkan untuk membersihkan sampah. Kondisi pasar yang mulai sesak berjejalan. Kondisi pasar yang sempit namun pembeli dan pedagang bertambah. Kondisi pasar apung tersebut seiring dengan limbah ikan busuk yang berserakan. Dobo, Oktober 2012
  24. 24. 23 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia Sekolah di Perbatasan Berikut ini merupakan hasil studi tentang gambaran umum lembaga pendidikan di perbatasan. Lembaga pendidikan yang dileliti sebanyak empat sekolah. Beberapa sekolah tersebut di SMA Katolik Yos Sudarso, Sd Kristen Dabo, dan MTs Al-Hilal Dobo, dan SMP Negeri 1 Pulau-Pulau. Pengumpulan data lapangan dilakukan dengan teknik wawancan, observasi, dan dokumentasi. Adapun analisisnya mengenakan pendekatan analisis deskriptif. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober tahun 2012. Berikut ini merupakan gambaran umum dari empat lembaga pendidikan di Kepulauan Aru. Pertama, SMA Katolik Yos Sudarso berdiri tahun 15 Juli 1991. Pendirian SMA ini diprakarsai dengan semangat Yos Sudarso. Adapun aktor utama dalam pendirian SMA tersebut adalah seorang Pendeta dua orang pribumi. Kedua, MTs Al-Hilal berdiri sejak tahun 1996. Saat ini sekolah tersebut mendapatkan peringkat Akreditasi C . Kegiatan belajar mengajar dimulai sejak pukul 07.30 dan pulang jam 11.30 WIT. Hingga sekarang ini, MTs Al-Hilal masih gantian dalam penggunaan gedungnya dengan Madrasah Ibtidaiyah setempat. Gbr. Tampak siswa kepulauan aru sedang menaiki sampan untuk menuju sekolah di kota Dobo (Foto Koleksi: Suhadi, 2012)
  25. 25. 24 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia Ketiga adalah SMP Negeri 1 Pulau-Pulau Aru. Sekolahan ini berdiri sejak tahun 1957. SMP Negeri 1 Pulau-Pulau Aru mendapatkan Akreditasi B. Keempat selanjutnya adalah SD Kristen Dobo. SD Kristen Dobo berdiri sejak tahun 2000 dengan akreditasii B. SD Kristen Dobo merupakan salah satu lembaga pendidikan SD unggulan yang kualitasnya terpercaaya menurut ukuran masyarakat Dobo. Gambar. Tampak siswa dengan perahu kecil, bersandar di pelabuhan Dobo untuk sekolah (Foto Koleksi: Suhadi, tahun 2012) Berdasarkan temuan umum dilapangan, terdapat dua temuan penting. Pertama, dari keemapt sekolah yang ada, terdapat keterbatasan SDM, sarana, dan keungan, dan semua standar mengalami keterbatasan. Kedua, Guru belum memanfaatkan sumber daya yang ada sebagai sumber belajar berbasis lingkungan. Dobo, Oktober 2012
  26. 26. 25 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia PELABUHAN DAN KEBANGKITAN EKONOMI REMBANG Kebijakan struktural pemerintah Indonesia terlihat lebih menekankan pembangunan infrastruktur darat. Hal ini dapat dilihat, kebijakan sejak orde baru hingga sekarang, pembangunan infrastruktur kelautan cenderung tidak menjadi pilihan. Kenyataan ini terkesan aneh kemudian, padahal Indonesia merupakan negara kepulauan. Harusnya infrastuktur laut lebih memadahi dan diunggulkan, namun kenyataannya sebaliknya. Problem Transportasi Kelautan Kebijakan struktural yang demikian tanpa disadari, telah merugikan Indonesia dalam jangka panjang. Sangat terasa hal ini dapat kita lihat ketidakseimbangan nilai tukar barang. Harga barang dikawasan timur Indonesia lebih mahal dibandingkan harga barang dikawasan barat Indonesia. Biaya transportasi yang dikeluarkan disebut-sebut sebagai faktor penentu mengapa harga barang dikawasan timur lebih mahal. Ironisnya lagi, suplai logistik pada masyarakat perbatasan, cenderung dipasok negara tetangga karena alasan harga lebih terjangkau. Tentu saja keadaan yang demikian tidak elok jika dibiarkan atau bahkan terkesan pemerintah melakukan pembiaran. Karena pembiaran kelogistikan yang masuk dari luar, selalu dibarengi dengan pemaksaan akan gaya hidup yang jauh lebih mahal untuk dikembalikan. Pada dasarnya, problem transportasi kepualaun tidak hanya berimbas pada pemerataan ekonomi yang tidak seimbang. Namun jauh dari itu, kekosongan pembangunan transportasi kelautan, akan berkontribusi besar dalam eksistensi kewilayahan Indonesia yang sarat dengan kepulauan. Masyarakat Rembang saat ini patut bangga memiliki Kepala Daerah yang memihak pembangunan infrastruktur laut. Terlepas dari kekurangan yang menimpa Kepala Daerah di kawasan timur Jawa Tengah ini, terbukti yang bersangkutan mampu membaca masa depan Indonesia yang sedang dibelenggu masalah transportasi laut. Terbukti telah berdiri pelabuhan
  27. 27. 26 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia besar yang nantinya mampu memberi sumbangan dalam menyelesaikan masalah transportasi kepulauan yang tak jelas ujung hingga pangkal. Ide menarik ini tentunya tidak berlebihan jika dicontoh oleh Kepala Daerah lainnya yang secara geografis daerahnya berbatasan langsung dengan kelautan. Sebelum membahas kebangkitan ekonomi Rembang, terlebih dahulu, elok kiranya membahas tentang problem transportsi kelogistikan di negara kepulauan. Banyak ahli meyakini, 2/3 keberlangsungan logistik itu dipengaruhi oleh ke-andalan transportasi. Logistik sebagai pemain kunci dalam menghubungkan supplay dan demand. Kalau tidak salah, transportasi kelautan kita bertengger diurutan 59 dari transportasi kelautan internasional. Anjloknya nomor 25 menjadi 59 ini, patut diduga karena pemerintah kita hanya rajin membangun transportasi daratan, bukan lautan. Sepi Penumpang Saat ini, transportasi laut tidak menjadi pilihan, tentunya ada beberapa sebab. Pertama, durasi berlayar tidak tentu, telah mengalihkan para pengirim barang menggunakan jasa angkutan darat, menjadi pilihan. Padahal pengirim barang memerlukan kepastian dalam mengirimkan barang. Kedua, angkutan laut itu mengirim barangnya dari titik ke titik, sedangkan angkutan darat itu pengirimannya dikenal dengan pengiriman dari pintu ke pintu. Hal demikian juga telah menjadi pilihan para pengguna jasa darat, karena angkutan darat telah memberikan fasilitas antar barang hingga ke pintu pemesan. Terlebih-lebih pengiriman barang dengan angkutan laut, masih menggunakan angkutan darat lagi. Hal tersebut tidak berlaku untuk angkutan darat. Angkutan darat cenderung tidak menggunakan angkutan laut. Perbedaan inilah telah menjadi penguat kenapa masyarakat lebih suka menggunakan angkutan darat. Ketiga, perihal birokrasi pelabuhan pun demikian. Birokrasi pelabuhan kita lebih kompleks dan berbelit-belit. Barang yang ada di pelabuhan dapat tertahan hingga berhari-hari. Sudah lama dalam perjalanan, masih ditambah lagi lama di pelabuhan, belum lagi ditambah lamanya pengiriman barang ke tempat tujuan. Lamanya layanan dipelabuhan diduga kuat karena minimnya fasilitas pelabuhan. Selain minim, fasilitas pelabuhan yang ada juga dalam keadaan usang. Sudah minim, usang, masih lagi banyak dugaan terjadi pungutan liar. Sungguh lengkap buruknya birokrasi di pelabuhan. Keempat, biaya transportasi laut juga dalam tergolong mahal. Hal ini dikarenakan bahan bakar angkutan laut tidak mendapatkan subsidi. Persatuan angkutan laut tidak semilitan persatuan pada angkutan darat.
  28. 28. 27 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia Lihat saja aksi demo para supir truk dan kereta api. Tuntutan para pengguna jalan darat ini kerap direspon yang kemudian mereka mendapatkan banyak subsidi. Ada subsidi bahan bakar hingga subsidi perkakas. Namun fasilitas subsidi angkutan darat ini tidak berlaku untuk angkutan laut. Namun tanpa disadari, subsidi BBM telah menahan pemerataan pembangunan. Sungguh subsidi sektoral yang harus dipikul orang jauh yang harusnya tidak terbebankan. Kelima, kosongnya angkutan laut sekembali dari daerah tujuan. Angkutan laut sekembali dari tempat tujuan, tidak membawa barang. Sehingga beban kerugian itu harus dipikul para penumbang dengan imbas harga tiket angkutan laut yang tergolong mahal. Keenam, adanya rasa was-was penumpang akan keamanan yang saat melaut di atas kapal dan angkutan laut. Fasilitas informasi cuaca sering tertutup, layanan lalulintas laut hampir minim – hal ini dapat dilihat tidak ada polisi lalulintas laut yang bertugas di tengah laut –, program penelitian pengembangan transportasi laut hampir jarang didengar, serta tidak responsifnya pemerintah ketika ada kecelakaan di laut. Beberapa sebab di atas semakin menambah sepinya peminat penumpang menggunakan angkutan laut. Sebab kebijakan struktural, kepemimpinan, dan politik menjadi marak, ketika persoalan tentang mengapa infrastruktur transportasi laut tidak sebaik di darat. Padahal secara geografis, asas pemerataan ekonomi dan asas kesatuan kewilayahan nusantara, pembangunan transportasi kelautan menjadi hal yang penting untuk didahulukan. Subsidi Itu Bukan Gratis Kebijakan struktural yang sungguh mencengangkan adalah subsidi lebih dari 305 trilyun untuk BBM ditumpahkan darat. Terlepas dari populis dan tidak populisnya kebijakan dalam menaikkan harga BBM, jelas dengan subsidi BBM, penikmat dari subsidi BBM adalah angkutan darat, dan jelas pula daratan yang menghabiskan BBM adalah daratan Jawa. Suka tidak suka, mau tidak mau, menaikkan harga BBM menjadi wacana menarik dalam mengembangkan potensi transportasi kelautan, karena angkutan laut tidak mendapatkan BBM. Ketika biaya transportasi darat dan laut sama, atau hampir sama, jelas akan menumbuhkan semangat investasi lintas kepulauan. Dengan bangkitnya derajat ekonomi antar pulau, maka akan tercipta pemerataan ekonomi nasional. Tentu tidak semudah itu, masih banyak hal menjadi faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional yang berasas pemerataan dan berkeadilan. Dari Mana Mau Kemana Latar belakang pemimpin juga disebut-sebut memiliki peranan penting dalam keberadaan transportasi kelautan. Pemimpin yang memiliki
  29. 29. 28 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia latarbelakang darat, disebut-sebut cenderung dalam kepemimpinannya memilih memanjukan darat. Hal ini dapat dilihat jaman Orde Baru yang pemimpin nasionalnya berlatar belakang dari darat. Dugaan ini memang belum bentu benar. Namun perhatian dan kepekaan seorang pemimpin dalam mengambil kebijakan pembangunan, sedikit banyak dipengaruhi lingkungannya. Hampir tidak ada, pemimpin nasional kita memiliki latar belakang kelautan. Kepala Daerah Rembang saat ini yang membangun pelabuhan besar di daerah tersebut, disebut-sebut memiliki latar belakang kelautan. Selain dibesarkan dari lingkungan ekonomi nelayan, juga secara akademik juga telah menyelesaikan akademik di pascasarjana program studi sejarah kelautan. Memang latarbelakang pemimpin tidak menjadi syarat penentu dalam memimpin masyarakat kepulauan. Namun, latarbelakang sosial, geografis, ekonomi, dan akademis, memiliki peranan penting dalam memberi warna akan program-program yang populis untuk memimpin di wilayah kepulauan. Alasan Melanggengkan Kekuasaan Hal yang tidak kalah pentingnya dalam menimbang keberadaan transportasi laut kita adalah semangat politik. Mulai Wakil Rakyat kita hingga Kepada Daerah yang terpilih, termasuk PNS, Tentara dan Polisi, sebagian besar mereka adalah berasal dari kota atau mereka urbanisasi dari desa ke kota, atau setelah menjadi menjadi politisi, birokrat, hingga PNS, Tentara, Polisi, mereka cenderung pindah ke kota. Dan secara kebetulan, tidak ada kota yang tempatnya di tengah laut. Yang ada adalah kota yang ada di darat. Dengan demikian, mau tidak mau, suka tidak suka, mereka selalu memperkuat gagasan dan pembangunannya di daratan, agar kekuasaannya tetap langgeng. Terlebih-lebih, hal ini didukung oleh pedagang dan pemilik saham yang menawarkan barangnya untuk penduduk yang tinggal di darat. Sehingga semua orang yang berkuasa, baik secara politik, ekonomi, dan sosial, selalu berdaya-upaya untuk membangun infratstruktur di darat, bukan dilaut. Lantas bagaimana dengan Rembang? Apa hubungan pelabuhan terhadap kebangkitan ekonomi Rembang? Dan bagaimana model rekayasa ekonomi yang kemudian mampu melahirkan raksasa ekonomi kelautan dikawasan pantura raya ini? Bagkitkan Harapan Masa Depan Secara kebetulan Rembang itu merupakan kawasan yang memiliki pantai terpanjang se Jawa Tengah. Secara kebetulan juga, disepanjang tepi pantai Rembang telah menjadi akses perjalanan darat penghubung kota Surabaya dan Jakarta. Walau dikarunia tanah yang tidak begitu amat
  30. 30. 29 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia subur, ternyata Rembang memiliki kekayaan tambang yang jumlahnya luar biasa. Daerah ini menjadi lumbung bahan baku semen yang lokasinya ada di deretan pegunungan Kendeng. Sejak dahulu, kawasan ini terkenal dengan produsen minyak jarak, gula tebu, dan tenun kapas. Namun produk agro ini tidak lagi menjadi andalan lagi. Terlihat hanya budidaya gula tebu yang masih menjadi hasil tani andalan, itupun tidak dibarengi nasip pemulian gula tebu tidak kunjung membaik. Saat panen tebu tiba, mereka harus gigit jari karena biaya makan dan tanam tebu telah hutang duluan. Saat ini, agro Rembang sedang gencar-gencarnya mengembangkan perkebunan tembakau, sekaligus program nasional penanaman 1 milyar pohon yang dibarengi dengan gencarnya peremajaan infrastruktur pengadaan air tanah yang selama ini menjadi kendala dari keberadaan industri di kawasan pantura ini. Tentu masih banyak potensi lagi, baik yang sifatnya ekonomi kreatif mandiri seperti nelayan dan batik tulis, dan yang sifatnya ekonomi kreatif tidak mandiri seperti jasa transportasi (karena masih disubsidi). Potensi yang luar biasa ini tidak akan menjadi pendukung infrastruktur kebangkitan ekonomi Rembang, jika potensi tersebut tidak digunakan. Dalam menggunakan potensi yang ada, tentu perlu dengan laras konservasi, bukan langgam optimalisasi atau pungpungkeh alis mumpung akeh. Potensi yang didekati dengan strategi aji mumpung, akhir kemudian akan tercipta bias, ketidakseimbangan, hingga putus di tengah jalan atau gagal dipersimpangan kemajuan. Ujung-ujungnya kemudian adalah kemiskinan dan ketertinggalan. Menurut data Kementrian PDT tahun ini, salah satu daerah di kabupaten ini juga masuk dalam kategori daerah tertinggal, tapi bukan terpencil. Kado akan label tertinggal sudah saatnya hengkang dari bumi pelabuhan nusantara ini. Potensi Rembang yang nantinya akan memiliki nilai tawar lebih dibandingkan daerah sejawatnya, tentu saja tidak lepas dari keberadaan pelabuhan yang sedang dibangun baru-baru ini. Pelabuhan yang menjadi akses transportasi barang, tentu saja memiliki daya magned ekonomi yang tidak kunjung padam. Hanya saja, yang perlu dipersiapkan adalah sumber daya manusia Rembang dalam menyapa kehadiran akses raksasa logistik nasional hingga di kancah internasional. Apa yang Disiapkan Dua hal yang perlu diperhatikan dalam menyambut tamu raksasa piranti logistik nasional ini adalah prinsip pengolahan bahan baku atau sumber daya alam serta hasil alam dan kelautan yang dimiliki. Kedua adalah mempersiapkan tenaga ahli lokal untuk mengisi kantong-kantong industri
  31. 31. 30 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia yang akan muncul dikemudian hari sejalan dengan hadirnya pelabuhan besar di Rembang ini. Bahan baku yang berlimpah seperti tambang, hasil hutan, hasil air, hasil tani, dan hasil laut, sudah saatnya untuk diolah sendiri. Penjualan secara besar-besaran dalam bentuk bahan baku, apalagi penjualan itu tanpa dikawal pemerintah dengan prinsip konservasi, tentu saja, lagi-lagi yang kalah adalah pemilik bahan baku. Tren ini terjadi biasanya pada daerah yang kepala daerahnya memiliki hutang banyak pada saat pencalonan menjadi Kepala Daerah. Sehingga ketika sang calon kepala daerah itu terpilih menjadi Kepala Daerah, mereka yang memberi modal pada saat pencalonan, merekalah mengatur eksplorasi bahan baku yang dimiliki daerah tersebut. Mudah-mudahan Rembang tidak dalam jeratan setan politik yang demikian jahat itu. Ujung Tombak Akses Informasi Kendala yang menimpa pemilik bahan baku biasanya terbelit akan informasi yang benar dan kreatifitas dalam mengolah bahan baku menjadi bahan setengah jadi, hingga menjadi bahan jadi, yang bercitarasa tinggi berkualitas. Kendala ini tentu saja menjadi tugas pemerintah daerah yang bersangkutan, dalam membuka akses informasi dan membangkitkan kreatifitas yang ada. Bukan sebaliknya, oknum pemerintah malah mengambil kesempatan dalam kesempitan. Jika yang sebaliknya itu yang terjadi, maka pemerintah yang bersangkutan itu telah berdosa secara etika dan moral, walaupun secara hitung-hitungan di atas kertas, pemerintah yang bersangkutan telah menyulap pendapatan daerah yang sungguh menggembirakan. Ciptakan Para Kreator Membangkitkan kreatifitas untuk mengolah bahan baku menjadi bahan setengah jadi, atau hingga barang jadi, dapat dilakukan dengan membuka pelatihan-pelatihan yang tepat sasaran tindaklanjutnya. Pemerintah yang bersangkutan dapat melatih kelompok inti untuk menjadi ahli. Kemudian mereka yang telah piawai memiliki kratifitas, kuajiban etika dan moral adalah memberi pelatihan kepada yang telah siap membutuhkan kepelatihanan. Etika para ahli kreatif ini harus benar-benar memiliki kepekaan dalam mengembangkan calon-calon tenaga ahli lokal. Bukan sebaliknya, setelah dilatih malah memanfaatkan kebodohan masyarakat lokal, agar yang terlatih itu mampu menyulap kekayaan dan kekuasaan untuk diri dan kelompoknya sendiri. Begitu halnya yang memiliki bahan baku. Pemilik bahan baku juga tidak serta-merta hanya ingin cepat kaya secara instan, yaitu dengan menjual bahan baku yang ada tanpa peduli dampak kehidupan yang keberlanjutan. Keterkaitan antara pemerintah, ahli kreatif, dan pemilik bahan baku, serta penghasil bahan baku ini
  32. 32. 31 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia menjadi penting untuk saling tahu akan posisi dan perannya, sehingga kebangkitan ekonomi Rembang itu tidak hanya menjadi mimpi belaka. Pelabuhan, Media Transaksi Global Melahirkan raksasa ekonomi kelautan dikawasan pantura Rembang sudah di ujung mata. Sebentar lagi pelabuhan akan berfungsi. Fungsi transportasi logistik menjadi dominan kemudian di kawasan Rembang ini. Rembang ada dibelahan Surabaya dan Jakarta, serta disebelah selatannya adalah Yogjakarta, tentu saja menjadi daya tarik sendiri dalam menjadikan pilihan para pemain usaha dalam menggunakan pelabuhan menjadi kawasan transit dan distribusi barang. Bukan hanya Surabaya, Jakarta, dan Yogyakarta, transportasi barang antar pulau, telah siap ditabuh genderangnya. Tak hanya barang antar pulau, bahkan barang antar negara akan bersandar di pelabuhan Rembang ini. Lantas bagaimana pemerintah Rembang dalam mempersiapkan kado spesial dinamika ekonomi yang siap di gelar ini, menjadi penting dan mendesak untuk dibicarakan dengan serius yang sekaligus memihak kepentingan masyarakat Rembang. Tantangan Utama Dikemudian Tantangan beratnya adalah ketika bahan jadi dari luar lebih murah daripada barang jadi lokal. Pemain lokal semakin terpinggirkan dan ambruk, seiring serbuan barang dari luar yang lebih murah. Tidak jarang, entitas lokal kemudian memilih beralih di bidang jasa ditribusi sekaligus konsumsi. Saat itulah Rembang akan menjadi kawasan yang tergadaikan, tidak memiliki kemandirian, apalagi kedaulatan. Namun jika dipikir ulang, barang dari luar harusnya mahal harganya daripada barang lokal. Anggap saja kualitasnya sama, tentunya barang dari luar yang memerlukan biaya transportasi, harusnya lebih mahal. Namun karena produksi barang dari luar itu menggunakan pendekatan teknologi industri yang relatif konsisten akan jumlah produksinya, jelas saja barang dari luar lebih murah, jika dibanding barang dari lokal yang pengerjannya boros tenaga dan sarat dengan biaya birokrasi yang tidak jelas pangkal-ujungnya. Untuk itu, pemerintah berkuajiban memfasilitasi industri dan meringankan, kalau perlu membebaskan beaya birokrasi dan dapat menikmati akses transportasi pelabuhan, sehingga tenaga terampil lokal dapat bersaing dengan produk hasil luar. Maju Tanpa Ragu Bagi mereka yang tidak memiliki bahan baku dan tidak memiliki keahlian dalam memproses bahan baku menjadi bahan jadi, mereka dapat bergerak di jasa distribusi produk lokal dan produk luar yang sejajar nilai
  33. 33. 32 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia tukarnya. Jasa distribusi barang akan terbuka lebar dengan hadirnya pelabuhan besar di Rembang. Selain itu, produk jadi dari lokal Rembang juga dapat dipasarkan di luar negeri dengan harga yang cukup bersaing dengan harga pada produk-produk luar. Hal tersebut dapat terjadi karena Rembang memiliki infrastruktur transportasi pelabuhan yang tentunya diharapkan dapat memihak pemain lokal. Logistik lokal dapat lebih murah, karena biaya 2/3 adalah dari transportasi, adapun biaya transportasi dapat ditekan sedemikian rupa atas asas kesejahteraan masyarakat lokal. Transportasi Terintegrasi Jalur transportasi laut dapat dikembangkan hingga menusuk pada jalur- jalur pedalaman kawasan Rembang. Kabarnya, era kerajaan Majapahit, Rembang melalui Lasem, menjadi sentra galang kapal perang sekaligus pusat barter para pedagang antar pulau. Namun cerita ini hanya menjadi usang. Walaupun telah menjadi usang, namun dalam cerita itu terdapat ide tentang integrasi transportasi laut-pedalaman dapat dibangkitkan lagi menjadi alternatif transportasi barang untuk pemerataan pembangunan Rembang. Melalui empat sungai besar di Rembang, diantaranya ada sungai Kalipang, sungai karanggeneng, sungai randu gunting, hingga sungai Bagan, dapat diaktifkan kembali menjadi daerah aliran sungai Rembang yang dapat dijadikan sarana transportasi ekonomi, sekaligus membangunkan raksasa agroekonomi Rembang. Secara teknis, kondisi sungai ini dapat didesain sedemikian rupa sehingga dapat difungsikan. Ingin fokus di bidang penjualan bahan baku, fokus pada penjualan jasa, hingga fokus di bidang produksi hasil olahan bahan jadi, tentu semua itu menjadi pilihan jika pemerintah dan masyarakat Rembang ingin membangkitkan ekonomi Rembang. Kuat di tingkat lokal, dan eksis dalam perdagangan global, tentu menjadi slogan seperti halnya motto Rembang “bangkit”. Perihal motto “bangkit”, harusnya tidak berhenti pada gerakan “bangkit” dari kemunduran dan ketertinggal. Perlu adanya motto lanjutan, misalnya; mandiri, dan jaya. Jika digabung, maka motto Rembang menjadi “Rembang Bangkit, Mandiri, dan Jaya”. Pamotan, 18 November 2012
  34. 34. 33 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia (Mimpi Memiliki) Balai Riset Perhubungan Rembang Dalam pikiran saya, rembang sudah saatnya memiliki balai riset perhubungan, walaupun daerah lain belum. Balai riset ini merupakan salah satu dari jawaban dalam menyongsong kebutuhan komunikasi dan informasi, seiring dengan bangkitnya ekonomi rembang. Dalam bayangan saya, balai riset perhubungan ini, terdapat aktifitas layanan komunikasi dan informasi, sekaligus menjadi pusat dokumen digital yang memiliki nilai manfaat untuk aktifitas penelitian hingga penyusunan sejarah rembang yang apik, dalam rangka mengantarkan visi terwujudnya gerakan pengembangan ekonomi lokal yang bangkit, mandiri, dan jaya. Ada hal serius yang meyakinkan saya, kenapa rembang perlu memiliki balai riset perhubungan. Setidaknya ada tiga tanda akan pentingnya balai riset perhubungan rembang. Pertama, literatur terdahulu tentang rembang masa lalu. Kedua, fakta dilapangan rembang masa kini. Ketiga, mozaik ide-ide yang terbentang di rembang. Lantas apa yang ada di dalamnya, dan apa hubungannya dengan mimpi memiliki balai riset perhubungan di rembang, berikut ini ulasannya. Literatur terdahulu tentang rembang dapat ditemukan pada studi salim (2010) yang menemukan karakter orang rembang sebagai masyarakat pemulia laut yang gagah berani, studi slamet (2010) yang menemukan hebatnya iptek transportasi kelautan, studi warto (2007) yang menemukan bahwa masyarakat rembang adalah masyarakat pemulia dan pengendali ekosistem hutan, serta studi Sukendar (1981) yang meneguhkan masyarakat rembang itu memiliki kemandirian budaya dengan ditemukannya situs megalitikum terjan pada masa akhir prasejarah dan melanjut hingga akhir masa klasik atau masa megalitik muda. Berdasarkan studi ilmiah di atas, ternyata masyarakat rembang itu bukan masyarakat kemarin sore. Saya kira tidak berlebihan, kalau saya menyatakan bahwa masyarakat rembang itu sebuah masyarakat yang mengalami perkembangan secara kompleks, serius, dan akan sempurna. Karakter dan keyakinan inilah, sangat penting untuk dihadirkan dan dimililiki generasi muda rembang, agar dalam menjadi aktor ataupun agen pembangunan di rembang, selalu bervisi ke depan, tidak memutus apa yang sudah ada, serta tidak terlalu sombong apa yang dicapainya. Dalam fakta lapangan pun demikian. Rembang saat ini memiliki infrastruktur pelabuhan yang besar, keberadaan pltu sebagai sumber energi primer di bidang perindustrian, rangkaian pusat pelelangan ikan
  35. 35. 34 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia yang ada di sepanjang bibir pantai, pabrik pengolahan ikan yang berdiri kokoh, program pengadaan air tanah yang berkelanjutan, gerakan menanam pohon tanpa henti, hingga produk unggulan daerah yang tersebut dan terkenal, diantaranya seperti material tambang, tebu, tembakau, padi, jagung, mangga, kawis, handycraf, batik tulis, hingga produk olahan ikan, sebagai bukti bahwa rembang kian hari kian bangkit dan berlimpah kabar baik. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah pemikiran para tokoh rembang sekarang. Deretan tokoh rembang diantaranya, gus mus yang selalu mengkampanyekan kehidupan beragama yang inklusif dan musyawarah, mas sinarman yang selalu kokoh dalam membasahi rembang dengan ketersediaan air tanah, mas yadi yang selalu ngotot untuk menyelamatkan abrasi pantai dengan memberi sabuk pantai rembang dengan hutan mangrove-nya, dan mas salim yang dengan keberaniannya telah menawarkan konsep kebijakan kelautan dan perikanan, sekaligus menjadi eksekutor dalam program gerbang elok-nya. Sungguh ini sebuah tanda bahwa rembang ini bukanlah masyarakat kemarin sore. Bagi saya, rembang itu menarik. Menariknya dalam hal keberadaan karakter masyarakatnya yang sabar, namun pasti dalam langkah-langkah pembangunan. Hanya saja, karakter mutiara pembangunan ini belum banyak ditemukan dalam konteks penelitian, terlebih-lebih disosialsiasikan di tingkat keluarga dan sekolah formal. Menstransformasikan nilai-nilai pembangunan yang dimiliki masyarakat rembang akan menjadi kewajikan kita bersama, agar pikiran, sikap, dan perilaku keseharian masyarakat rembang, tidak sia-sia. Bagaimana kita merespon akan tiga kekuatan di atas, memang itu tergantung selera kita. Namun bagi saya, yang terpenting adalah bagaimana kita menghubungkan tiga kekuatan tersebut. Jawaban saya adalah membangun media yang mampu menghubungkan tiga hal di atas, misalnya membangun balai riset perhubungan rembang. Dalam benak saya, balai riset ini merupakan pertemuan antara produk layanan komunikasi dan informasi yang menghasilkan dokumen digital, dan dokumen digital ini dapat menghasilkan produk layanan komunikasi dan informasi dalam membangun kearifan masa depan rembang. Dalam pikiran saya, balai riset perhubungan rembang itu dapat eksis, jika ada kontributornya. Empat kontributor balai riset perhubungan rembang itu misalnya dapat berupa instrumen foto, instrumen suara, instrumen video, dan instrumen tulisan. Empat instrumen inilah yang nantinya akan menjadi penghubung tiga kekuatan di atas. Karena pada saat ini adalah era global, maka instrumen itu perlu didesain secara online, agar masyarakat
  36. 36. 35 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia rembang mendapatkan kemudahan dalam akses isi dari perkembangan rembang. Untuk itu, balai riset perhubungan rembang perlu didukung oleh lembaga yang perannya mengumpulkan foto, suara, video, dan tulisan-tulisan tentang apa yang sedang terjadi di rembang. Pembentukan empat lembaga penopang balai riset perhubungan rembang itu dapat dinamakan misalnya lembaga picutre online rembang, lembaga call online rembang, lembaga video oline rembang, dan lembaga berita online rembang. Hadirnya empat lembaga kontributor balai riset perhubungan ini, secara teknis akan menjawab kemudahan dalam mengakses informasi dan komunikasi yang bisa didapatkan oleh masyarakat rembang. Kita bisa mengujicoba kegunaan empat lembaga di atas, dengan suatu kasus kecil misalnya keadaan jalan raya pantura rembang. Misalnya saja kita akan pergi ke semarang. Untuk melakukan perjalanan ke semarang, maka perlu tahu tentang keadaan jalan raya terkini. Selama ini, untuk mengetahui keadaan jalan raya, macet atau lancar, biasanya dengan cara menelpon teman kita yang ada di sekitar jalan raya yang akan kita lalui. Kebiasaan ini bisa dilihat perilaku sopir bus yang selalu memantau keadaan jalan raya yang akan dilaluinya. Dengan demikian, menghadirkan data tentang kebutuhan informasi dan komunikasi masyarakat rembang saat ini, menjadi kebutuhan untuk segera direalisasikan. Saya membayangkan, dengan hadirnya empat lembaga online diatas, masyarakat pengguna lalu lintas pantura, akan mudah mendapatkan informasi. Apalagi pada saat ini, masyarakat telah memiliki perangkat akses informasi internet di handphone-nya masing-masing. Sehingga pengguna lalulintas, dapat menikmati perjalannya dengan nyaman, tanpa terjebak macet. Secara teknis, mereka dapat melihat gambar jalan raya melalu website picture online rembang, melihat video jalan raya melalui website video online rembang, membaca berita jalan raya melalui website tulisan online rembang, atau kalau kurang puas, bisa berbicara langsung dengan menghubungi lembaga call online rembang. Model layanan komunikasi dan informasi ini bisa menjadi terobosan baru pada dinas perhubungan di rembang. Tentu fungsi dari empat lembaga kontributor balai riset perhubungan ini tidak hanya sebatas informasi tentang jalan raya. Fungsi empat lembaga tersebut bisa digunakan untuk layanan informasi pemerintahan, layanan informasi transportasi, layanan informasi wisata, layanan informasi kuliner, layanan informasi pertambangan, layanan informasi pelabuhan, layanan informasi ekologi, layanan informasi kelautan, layanan informasi perikanan, layanan informasi musim dan cuaca, layanan informasi produk unggulan rembang, bahkan layanan informasi politik, dan berbagai layanan yang sifatnya terkini, benar, memuaskan, dan tidak mengecewakan. Jika model ini
  37. 37. 36 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia dilakukan, saya yakin dinas perhubungan rembang akan sangat mulia dalam peran dan fungsinya dalam melayani komunikasi dan informasi yang dibutuhkan masyarakat rembang. Model ini juga akan mengundang elemen masyarakat luar rembang, yang tertarik bekerjasama di berbagai bidang. Berbicara tentang mewujudkan empat lembaga di atas memang tidak mudah. Beberapa alat yang dibutuhkan sarat bersentuhan dengan teknologi tinggi. Begitu halnya dengan sumber daya pegawainya, juga dibutuhkan dengan pegawai yang berkualitas tinggi juga. Konsekwensinya, dana yang diperlukan adalah mahal. Namun ada solusi tentang bagaimana keberadaan empat lembaga penopang balai riset perhubungan rembang ini terealiasai dengan murah biaya. Ada kekuatan sosial yang luar biasa yang belum dimanfaatkan oleh dinas perhubungan. Kekuatan itu adalah kepemilikan masyarakat rembang akan alat komunikasi online, yaitu handphone yang telah terhubung dengan internet. Handphone multimedia ini tidak menjadi barang yang langka di masyarakat rembang. Terlebih-lebih, anak muda rembang yang masih duduk di bangku sekolah dan kuliah. Kekuatan kedua, masyarakat sekarang ini ada kebutuhan untuk eksis di media maya. Tren hari ini, kalau belum berhubungan dengan media maya, perasaannya mereka belum ada. Bahasa simpelnya, aku ada karena aku update di dunia maya. Kekuatan ketiga adalah adanya keinginan daerahnya untuk dikenal hingga terkenal. Sehingga secara sadar dan tidak sadar, mereka merasa punya kewajiban untuk mengabarkan kondisi daerahnya untuk muncul di media. Dengan tiga kekuatan sosial tersebut, dinas perhubungan rembang sudah saatnya, mewadahi gaya hidup global ini. Dengan membuat lembaga online, menyediakan tim ahli secukupnya, serta ditambah dengan tim teknis di dalamnya, maka akan didapatkan keberlimpahan informasi dan komunikasi dalam bentuk foto, video, suara, serta tulisan yang informatif dan tepat guna. Secara teknis, aturan main dari tiap-tiap lembaga online perhubungan di rembang, dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut. Untuk lembaga picture online rembang, lembaga ini perlu menyiapkan fotografer, menggandeng fotografer profesional, menggandeng kontributor foto handphone, dan memasang foto online yang ada di jantung perhubungan rembang, misalnya terminal bus, pelabuhan, dan jalan raya. Untuk foto yang berasal dari luar dinas perhubungan, pihak dinas perhubungan dapat memberikan apresiasi para kontributor. Setelah foto terkumpul, foto segera diolah berdasarkan klasifikasi atau bidangnya. Kemudian foto yang sudah diolah itu, dapat diunggah pada website picture online rembang. Adapun website picture online ini dapat didesain sedemikian rupa, agar pengunjung website ini mendapatkan informasi terbaru.
  38. 38. 37 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia Untuk lembaga video online rembang, secara teknis, persiapan dan penggunaannya dapat dilakukan mirip seperti lembaga picture online rembang. Dinas perhubungan dapat menyediakan kameramen profesional, menggandeng kameramen yang ada di luar, menggandeng kameramen handphone, menggandeng kontributor film dokumenter, serta memasang campcorder atau cctv di jantung perhubungan rembang. Video terpilih, selanjutnya dapat diunggah pada website video online rembang. Predisksi saya, lembaga video online rembang ini akan mendapatkan banyak tamu dari para pengunjung yang datang. Hal ini disebabkan, selera masyarakat saat ini cenderung ke arah visual gerak atau video. Pengunjung akan mendapatkan gambar serta latar suara secara langsung tentang kebutuhan informasi di bidang apa yang diinginkan. Selanjutnya untuk lembaga tulisan online rembang, dinas perhubungan dapat melakukan kerjasama dengan para jurnalis di sekolahan dan sekretaris desa yang ada di tiap-tiap desa di seluruh perdesaan rembang. Menyinggung tentang sekretaris desa atau carik, selama ini kayaknya belum memiliki profesi dalam menulis. Namanya saja sekretaris atau juru tulis, maka idealnya juga mampu menulis. Jika memang belum mampu menulis, pemerintah rembang dapat melakukan pelatihan jurnalistik para carik di seluruh desa di kabupaten rembang ini. Adapun untuk jurnalis yang ada di sekolahan, saya kira sudah memiliki keahlian dalam menulis. Hanya saja perlu adanya wadah untuk publikasi tulisan yang memuat tentang kondisi terkini suatu daerah yang ada disekitar sekolahan masing- masing. Dinas perhubungan juga perlu memiliki jurnalis profesional dalam melakukan liputan tentang hal ihwal kondisi perhubungan. Selain itu, dinas perhubungan juga dapat menggandeng kontributor jurnalis, serta kontributor sms dan surat kertas. Adapun tulisan yang telah terkumpul dan terverifikasi, selanjutnya di olah berdasarkan muatan isi dan diunggah di website tulisan online rembang. Selanjutnya para pengunjung website dapat mengakses bagaimana kondisi suatu daerah atau kondisi suatu objek, sehingga para pengunjung mendapatkan informasi yang akurat dan terpercaya. Adapun lembaga call online rembang, dinas perhubungan dapat menyiapkan staf khusus yang memantau data yang ada pada lembaga picture online, video online, serta tulisan online. Keberadaan staf call online ini sebisa mungkin selalu online selama 24 jam. Para pengguna call online dapat menghubungi kapan saja dan dimana saja berada melalui jaringan komunikasi. Dinas perhubungan juga dapat menggandeng kontributor call online di beberapa titik perhubungan rembang. Hal ini sangat mungkin dilakukan, karena pada tiap-tiap pusat layanan pemerintah, selalu terdapat staf atau pegawai pemerintah. Dalam lembaga call online rembang ini dapat menggunakan jaringan telepon lokal, jaringan nomor handphone, website interaktif yang juga dapat
  39. 39. 38 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia dikembangkan dengan fasilitas facebook online, twitter online, bbm online, dan berbagai aplikasi komunikasi terkini lainnya. Melihat begitu kompleksnya aturan main dari empat lembaga online di atas, maka perlu adanya langkah keamanan data serta langkah pengadaan biaya untuk operasional empat lembaga tersebut. Dalam hal keamanan data online di atas dapat dilakukan dengan cara menghubungkan empat lembaga online tersebut dengan balai riset perhubungan rembang. Balai riset perhubungan inilah yang berperan menyimpan data secara langsung, ketika ada data yang diperbarui. Langkah ini juga akan meringankan kerja dari website online ketika diakses oleh pengunjung. Adapun untuk keamanan data yang ada di balai riset perhubungan, perlu dibuat aturan main, dimana balai riset perhubungan hanya bisa menerima data dari empat data online tersebut, namun tidak bisa diakses oleh pengunjung. Jika ada pengunjung yang ingin mendapatkan data yang ada di balai riset perhubungan, pengunjung bisa melakukan pemesanan data secara online kepada balai riset perhubungan atau datang langsung di lokasi balai riset perhubungan. Selanjutnya untuk langkah pengadaan biaya dapat dilakukan dengan cara mengkomersialkan data yang ada dengan transaksi online atau pembelian data di lokasi balai riset perhubungan. Hasil dari penjualan data digital ini, uangnya dapat digunakan untuk belanja pada empat lembaga online di atas, belanja operasional di balai riset sendiri, memberikan apresiasi para kontributor dari empat lembaga di atas, mengadakan pelatihan kegiatan yang mendukung peranan empat lembaga online, dan berbagai kegiatan lainnya yang dapat dipertanggungjawabkan secara etika, moral, dan hukum formal. Yang terpenting bukanlah bagaimana dinas perhubungan mendapatkan penghasilan tambahan dari keberadaan balai riset perhubungan rembang ini, namun ada sesuatu yang sangat penting akan keberadaan balai riset tersebut. Balai riset perhubungan rembang yang memiliki produk data digital, dapat berfungsi mempertemukan tiga kekuatan besar yang ada di rembang dalam rangka membangun kemandirian ekonomi lokal rembang. Cerita masa lalu yang mambangun karakter masyarakat rembang, program pembangunan yang sedang berlangsung, serta ide-ide kreatif para tokoh dan pemikir, merupakan pondasi dasar untuk dijadikan isi di balai riset perhubungan. Sehingga di balai riset inilah menjadi pusat pertemuan kekuatan ilmu pengatahuan dan teknologi masyarakat rembang untuk diimplementasikan dalam pembangunan rembang, dan dikembangkan berdasarkan tren perkembangan ilmu pengatahuan dan teknologi global. Dengan perfungsinya balai riset perhubungan rembang menjadi pusat pertemuan ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat rembang secara
  40. 40. 39 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia kompleks dan berkelanjutan, dokumen-dokumen digital yang ada di dalamnya, dapat memicu munculnya berbagai produk lanjutan. Produk lanjutan dari dokumen digital di balai riset perhubungan rembang ini diantaranya; buku, media pembelajaran, musium perhubungan, radio, telekomunikiasi, televisi, surat kabar, internet, film dokumenter, dan berbagai produk lanjutan lainnya. Ada dua kekautan besar ketika kita bicara tentang suatu hal atau objek atau meteri atau peristiwa yang di-online-kan. Pertama, sesuatu yang dionlinekan itu, akan berdampak pada tindakan eksploratif pada sesuatu itu. Kedua, sesuatu yang dionlinekan itu, akan berdampak pada tindakan konservasi pada sesuatu itu. Untuk itu, kita semua harus arif dalam mengonlinekan suatu hal. Sehingga tindakan dalam mempromosikan rembang, akan berbuah terbentuknya masyarakat rembang yang bangkit, mandiri, dan jaya. Yogyakarta, 29 November 2012
  41. 41. 40 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia Hutan Mangrove Rembang: Sebuah Desain Bebas Tulisan bebas ini penulis tujukan kepada dua kolega saya, Atik Susiani dan Eko Sulistyani yang sedang meneliti hutan mangrove yang ada di sepanjang pantai utara Kabupaten Rembang. Berangkat dari temuan studi yang dilakukan guru geografi SMA ini (2012) melaporkan bahwa hutan mangrove pada dasarnya memiliki hubungan erat dengan pelestarian daerah pantai. Menurut kedua peneliti di atas, secara fungsional hutan mangrove akan menciptakan barisan sedimen yang kokoh. Dengan terciptanya sedimen pantai itu, semua biota yang ada di sekitar hutan mangrove lestari, imbuhnya. Atik menambahkan, sedimen tersebut selalu menjaga keberlangsungan petani tambak sekitar, terlindungi. Semua sarana publik yang ada di balik hutan mangrove, juga terjaga dari ganasnya gelombang yang mendatangkan abrasi. Terlebih, deretan hutan mangrove itu telah menjadi benteng utama terjadinya intrusi. Mereka yang ada disekitar deretan pohon mangrove juga selalu menghirup udara segar berkandung oksigen tinggi, pungkasnya. Maket Hutan Mangrove di Sepanjang Pantai Utara Rembang Tampak Atas (by.Miftakhul Anwar) Dari hasil studi di atas, kedua peneliti seimentasi hutan mangrove Rembang di atas berkeinginan membuat maket hutan mangrove Rembang di sepanjang pantai utara Rembang. Sebuah gagasan terkini yang perlu diapresiasi terlebih kegunaan lahan disepanjang pantai utara Rembang, cenderung merusak ekosistem pantai. Hal ini dapat dilihat pada
  42. 42. 41 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia studi Suhadi (2010) tentang ledakan penduduk yang memaksa pasangan baru mendirikan rumah di dekat pantai, serta kecenderungan mendirikan pabrik-pabrik di dekat pantai. Menurut laporan Suhadi, alih fungsi lahan disepanjang pantai utara Rembang itu sebagai biang kerok menyusut dan menghilangnya ekosistem pantai. Maket Hutan Mangrove di Sepanjang Pantai Utara Rembang Tampak Samping (by.Miftakhul Anwar) Gagasan menarik yang ditawarkan Atik Susiani dan Eko Sulistyani dalam membuat desain maket hutan mangrove Rembang, setidaknya perlu dilakukan dua hal sebelum kedua peneliti tersebut membuat produk maket. Pertama, melakukan identifikasi sebaran pantai utara Rembang dan fungsinya. Kedua, memasukkan program-program kekinian yang mendukung kelestarian hutan mangrove Rembang. Identifikasi sebaran fungsi Melakukan identifikasi sebaran pantai utara Rembang dan fungsinya bertujuan untuk mendapatkan potret terkini tentang keadaan kawasan pesisir pantai utara Rembang. potret terkini inilah nantinya dapat digunakan untuk menyusun model maket yang diinginkan.
  43. 43. 42 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia Hutan Mangrove di kawasan Desa Banggi Rembang Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mendapatkan potret terkini tentang kondisi pesisir pantai Rembang diantanya sebagai berikut. Pertama, mengidentifikasi sebaran lahan sepanjang pesisir pantai utara Rembang. Kedua, mengidentifikasi fungsi lahan sepanjang pesisir pantai utara Rembang. Ketiga, mengidentifikasi sebaran fungsi lahan bermasalah di sepanjang pesisir pantai utara Rembang. Keempat, mengidentifikasi lokasi krisis bencana abrasi pada kawasan di sepanjang pesisir pantai utara Rembang. Kelima, mendesain peta pesisir pantai utara Rembang di atas kertas dengan memperhatikan hal-hal yang terdapat pada beberapa point sebelumnya. Keenam, memindah peta pesisir pantai utara Rembang dalam media maket. Kelestarian hutan mangrove Dalam mendesain maket hutan mangrove di sepanjang pesisir pantai utara Rembang perlu dihadirkan beberapa institusi/ komunitas yang nantinya berfungsi menjadi pelestari hutan mangrove. Beberapa institusi/ komunitas yang bertemakan tentang hutan mangrove Rembang dapat dimasikkan dalam maket hutan mangrove Rembang. Dengan demikian hutan mangrove dan kelestarian di kemudian menjadi kesatuan utuh yang selalu tumbuh dan berkembang.
  44. 44. 43 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia Beberapa ikon yang dapat dikategorikan dalam maket hutan mangrove Rembang diantaranya sebagai berikut. Pertama, pusat penangkaran nasional bibit mangrove Rembang. Kedua, sekolah alam hutan mangrove Rembang. Ketiga, laboratorium hutan mangrove Rembang. Keempat, perpustakaan hutan mangrove Rembang. Kelima, gallery hutan mangrove Rembang. Keenam, pusat handycaraft mangrove Rembang. dan ketujuh adalah pusat penelitian nasional hutan mangrove. Paduan konsep tentang identifikasi serta kelstarian hutan mangrove Rembang ini juga dapat dikembangkan dalam bentuk model wisata hutan mangrove Rembang. Dengan model wisata hutan mangrove Rembang ini, diharapkan menjadi program tandingan tentang relokasi fungsi pesisir pantai utara dengan alasan dasar lapangan pekerjaan. Demikian tulisan ini disuguhkan kepada kedua peneliti hutan mangrove Rembang, semoga bermanfaat. Pamotan, 22 April 2013
  45. 45. 44 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia Galangan Kapal Rembang Literatur tentang galangan kapal rembang, dapat dilacak pada laporan penelitian Salim (2010) dan Slamet (2010). Literatur ini dapat dibaca pada perpustakaan pascasarjana undip semarang. Salim melaporkan, galangan kapal di rembang pertama kali ada di desa dasun lasem. Namun slamet berbeda, galangan kapal rembang pertama kali ada di desa sarang, sendang mulyo, sarang meduro, dan kalipang. Menurut salim, galangan kapal yang ada di desa dasun lasem itu dapat dilacak pada website kitlv. Untuk menguatkan pendapatnya, salim menyertakan gambar galangan kapal kuno dan menghubungkan penjelasan historis tentang pusat dermaga jawa yang ada di rembang ini. Menurut salim, rembang memiliki tarikan kejayaan maritim di masa lampau. Rembang kala itu menjadi dermaga penting di jawa. Kejayaan itu, menurut salim, dapat dilacak dari dinamika perdagangan sejak kerajaan majapahit, demak bintoro, pajang, mataram islam, hingga kolonial belanda. Salim menambahkan, sejak abad 12 sampai dengan abad 15, sudah banyak pedagang asing yang singgah di rembang. Hingga puncaknya, pada abad 19, pelabuhan lasem menjadi pusat utama dari kegiatan ekspor dan impor. Kala itu, rembang telah mengekspor produk unggulan diantaranya kayu jati, tembakau, kopi, tebu, dan garam. Sedangkan menurut slamet, galangan kapal rembang pertama kali ada di kawasan timur rembang dapat lacak dengan keberadaan galangan kapal yang hingga saat ini masih produksi. Adapun galangan kapal yang di dasun lasem sudah tidak ada keberadaannya. Walapun secara pasti slamet belum bisa membuktikan kapan galangan kapal rembang itu ada, namun slamet secara rinci telah membagi periode dinamika keberadaan galangan kapal di rembang. Slamet mengklasifikasikan pusat galangan kapal rembang terbagi dalam dua sentra wilayah. Sentra galangan kapal pertama ada di desa sarang. Selanjutnya sentra galangan kapal rembang yang kedua, ada di di desa sarang meduro, sendang mulyo, dan kalipang. Sentra galangan kapal sarang, menurut slamet, talenta menjadi tukang galang kapal didapatkan secara turun temurun sejak tahun 1800-an. Kapal saat itu diproduksi atas dasar kebutuhan. Namun dalam perjalanan waktu, kapal kemudian diproduksi secara besar-besaran untuk mencukupi permintaan pemesan yang dimulai pada tahun 1979-an. Namun seiring berjalannya waktu, jumlah penggalang kapal di sarang hingga tahun 2008, hanya tinggal 14 orang pengusaha penggalangan kapal. Selanjutnya sentra kedua dari galangan kapal yang ada di kawasan timur rembang ini, menurut slamet dimulai tahun 1979, dengan produksi kapal atas kebutuhan. Tidak lama kemudian, hingga tahun 1994, para
  46. 46. 45 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia penggalang kapal di wilayah tersebut telah melayani pesanan pembuatan kapal. Sejak tahun 1994 hingga tahun 1998, pengusaha galangan kapal mengalami kelangkaan modal. Namun tidak lama kemudian, tahun 1998, pengusaha galangan kapal di kawasan sentra kedua ini, mengalami masa kejayaan. Apa yang disampaikan dari kedua peneliti, baik salim maupun slamet, tentu telah menyumbangkan derajat motivasi masyarakat rembang dalam meneguhkan jatidiri masyarakat rembang menjadi masyarakat berbasis kelautan. Terlepas dari keakuratan studi yang dilakukan salim dan slamet, kedua-duanya memiliki kekuatan akan kebenarannya masing-masing. Pendapat salim yang menyatakan bahwa galangan kapal rembang pertama kali adalah di desa dasun lasem, telah dikuatkan dengan bukti- bukti sejarah masa lalu, terlebih-lebih telah ditemukan situs kapal yang diduga telah digunakan berlayar sejak abad ke 7 dan 8 atau setara dengan pembangunan candi borobudur. Situs ini ditemukan tepatnya di kawasan tambak garam punjulharjo yang tidak jauh dari lasem. Pandangan slamet pun juga demikian. Galangan kapal yang ada kawasan kecamatan sarang, telah dikuatkan dengan adanya perusahaan galangan kapal yang hingga saat ini masih aktif membuat kapal, juga kawasan tersebut sampai sekarang merupakan basis dari pemukiman nelayan yang piawai mengendalikan kapal dan menaklukkan gulungan ombak lautan. Gbr. Galangan Kapal Rembang yang ada di daerah kecamatan Sarang (Foto: videografismapa, 2012)
  47. 47. 46 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia Berangkat dari dua ulasan peneliti di atas, rembang terbukti memiliki modal sosial yang sungguh berharga, yaitu talenta dalam membuat kapal. Talenta ini terbukti masih eksis hingga sekarang, terhitung sebelum tahun 1930-an hingga sekarang.Talenta yang demikian sudah pantasnya untuk dikembangkan sedemikian rupa, agar pengusaha dan tukang galangan kapal mampu menorehkan gagasan dan kreatifitasnya berdasarkan aliran darah sebagai masyarakat berbasis kelautan, dalam hal pergalangan kapal. Galangan kapal bukan hanya sekedar mencukupi kebutuhan akan sarana tangkap ikan dilaut oleh para nelayan. Jika hanya sekedar pencukupan kebutuhan itu saja, para pemulia galangan kapal tidak harus eksis, yang penting kapal bisa dimiliki walaupun dengan impor. Namun jauh dari itu, galangan kapal merupakan simbol kejayaan maritim rembang. Kemandirian dan kedaulatan menjadi masyarakat kelautan, salah satunya ditandai dengan penguasaan pengetahuan dan keterampilan dalam membuat kapal. Saya sendiri merasa bersalah, karena sejak kecil, saya memiliki pandangan, bahwa berbagai hal yang berhubungan dengan nelayan itu bukanlah sesuatu yang perlu diunggulkan. Bahkan ada stereotip bahwa hal ihwal yang berhubungan dengan nelayan itu tidak terhormat. Namun, saat ini saya harus mengakui, bahwa identitas rembang itu adalah hal ihwal yang berhubungan dengan kelautan. Kita punya laut, kita punya nelayan, dan kita punya penggalang kapal. Dibutuhkan sentuhan yang lembut, kejayaan maritim rembang akan menjadi sebuah rangkaian dinamika ekonomi kelautan yang berkelanjutan, yang mana telah terbukti kuat dalam menghadapi himpitan permasalahan hidup dari dulu hingga sekarang, dan tentu hingga terciptanya tatanan masyarakat rembang yang kita bersama idam-idamkan. Semarang, 24 November 2012 Catatan tambahan: Tulisan ini merupakan buah dari kunjungan penulis di perpustakaan pascasarjana undip semarang. Pada saat penulis melakukan studi literatur perihal karya tulis yang sedang penulis garap, pada saat membuka-buka katalog tesis di gedung jalan imam bardjo no 5 yang tidak jauh dari gedung bank bi semarang, secara tidak sengaja penulis membaca judul tesis yang ada kata rembang-nya. Tiga judul tesis yang telah memberi daya tarik penulis untuk membaca. Pertama, tesis yang tentang gunung butak gunem yang ditulis oleh mas taufieq, kedua, kebijakan kelautan dan perikanan yang ditulis oleh mas salim, dan yang ketiga tentang perkembangan idustri kapal yang ditulis oleh mas slamet. Tentu saja tiga karya ilmiah ini tidak sempat saya baca dari lembar perlembar. Saya hanya membaca yang penting-penting saja, itupun ukuran penting
  48. 48. 47 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia menurut saya. Karena saya harus membaca beberapa hasil studi penelitian pendukung karya tulis saya. Menurut saya, tiga karya ini memiliki kontribusi besar dalam membangun rembang. Dua karya, karya mas slamet dan mas salim, berperan dalam membangun ekonomi kelautan. Sedangkan satu karya lagi, mas taufieq, berperan dalam menjaga kelestarian alam rembang. Adapun karya mas taufieq, belum sempat penulis singgung dalam tulisan ringan ini. Penulis akan sempatkan untuk menyinggung karya mas taufieq di lain waktu. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk saya dan para pembaca semuanya. Terimakasih.
  49. 49. 48 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia Memanen Kekeringan Kearifan lokal tentang pemuliaan air sungguh cukup untuk menandaskan bahwa air merupakan elemen penting dalam kehidupan. Beragam perilaku tradisi dan religi terbukti memiliki relasi kuat dengan air. Sebagai masyarakat pemulia air, penghormatan terhadap air dapat dilihat dengan adanya pagelaran adat siraman (memandikan calon pengantin) dan padusan (mandi sehari menyambut ramadhan), ritual Ngabungkang (mandi dengan tujuh mata air), ritual Sungkem Tomplak (membasuh muka), ritual air berkah (air doa), ritual wudhu (bersuci) hingga ritual baptisan. Namun kenyataannya, aliran air yang memiliki daya pikat sosial, budaya, dan religi ini, telah menjadi surut. Yang tampil kemudian adalah air yang memiliki dominasi ikatan pasar. Perilaku memanen air yang penuh dengan resiko telah menjadi pilihan. Ironisnya, perilaku memanen air yang beresiko ini berbarengan dengan eksplorasi alam yang biasanya menjaga ketersediaan dan aliran air yang hingga membuahkan tanaman. Dampak kemudian adalah tingkat pencemaran air yang sungguh di ambang batas, hilangnya siklus dan ketersediaan air di muka bumi, hingga perubahan iklim yang sungguh ekstrim yang berujung pada musim kering yang begitu panjang. Kekeringan adalah isyarat ancaman akan runtuhnya ketahanan pangan dan hingga puncaknya nanti adalah tergerusnya ketahanan harmoni sosial. Ancaman akan ketahanan pangan dapat dilihat dengan maraknya gagal panen, kelangkaan pakan lumbung, hingga runtuhnya semangat menanam tanaman pangan. Lebih memprihatinkan lagi, ancaman akan ketahanan sosial semakin kentara dengan tren goyahnya harmoni diberbagai lapisan sosial, pola interaksi yang beresiko, hingga re-fungsi dari elemen-elemen sosial yang tidak terkendali. Ketika kekeringan telah melanda, rumus mujarab dalam merespon ancaman ketahanan pangan dan sosial akibat dari kekeringan adalah migrasi ke daerah urban. Mereka pergi ke kota, karena sawah tak lagi dapatkan rembesan air yang mampu basahi hausnya dahaga ekonomi yang tak kunjung padam. Tak lagi ada pilihan, walaupun mereka harus menyumbang tragedi sosial dengan melahirkan destabilisasi politik, sosial, dan ekonomi, hingga berujung pada konflik sosial. Jelas, perilaku yang demikian hanya akan menumbuhkan mental ketergantungan disaat tidak tersedianya pangan. Ditambah semakin
  50. 50. 49 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia sulitnya dapatkan akses bahan pangan, dan semakin tidak berdaya dalam mengatasi masalah hidup dikemudian. Perlahan namun pasti, kondisi yang demikian tentu saja akan mengarah pada lahirnya tatanan kemiskinan. Dan ironisnya, kemiskinan merupakan formula mujarab yang dapat membangkitkan sikap radikal, pemberontakan, bahkan revolusi. Perilaku memanen kekeringan seperti di atas sungguh perlu dikritisi ulang. Untuk itu perlu adanya rumusan tentang bagaimana memanen kekeringan. Perilaku memanen kekeringan dapat dilakukan sebagai berikut. Pertama, semua pihak diharapkan memiliki kewajiban etika dan moral untuk turut serta memerangi kekeringan. Etika dan moral dapat ditunjukkan dengan menanggalkan pendekatan pembangunan berbasis eksplorasi ekologi yang antroposentris, yaitu dengan menggunakan pendekatan yang holistik dengan melibatkan etika dan moral ekosentris dan biosentris. Antroposentrisme yang dipandang sebagai penyumbang biangkerok kekeringan, perlu diubah dengan cara pandang yang biosentris dan ekosentris. Bagi biosentrisme dan ekosentrisme, manusia tidak hanya dipandang sebagai mahluk sosial saja. Manusia juga harus dipahami sebagai mahluk biologis dan mahluk ekologis. Sudah saatnya menyambut kekeringan dengan membumikan etika lingkungan, yaitu menekankan bahwa manusia merupakan mahluk yang kehidupannya tergantung dari dan terkait erat dengan semua kehidupan lain di alam. Kedua, membumikan etika lingkungan masyarakat adat pemulia tanaman. Langkah kedua ini dapat dilakukan dengan cara pandang akan diri dan lingkungannya. Kearifan lokal tentang harmoni manusia dengan alam menjadi kebutuhan yang vital. Termasuk didalamnya adalah membumikan akan hak tanaman dan binatang. Ketiga, membanguan daerah tangkapan air (catchment area) sebagai ritual menyambut datangnya hujan. Langkah ketiga ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, misalnya; membuat bak penampung air, pembangunan embung dan cekdam, pembuatan cekungan alam, membuat guludan pada tanah, mananam searah kontur (garis ketinggian) pemanenan air antar baris tanaman, membuat lobang penampung air, membuat teras bangku, membuat teras tunggal, membuat saluran sisi lereng (hill-side-canal), hingga memanen air limpasan (banjir). Dengan tiga perilaku memanen kekeringan di atas, mudah-mudahan keberlimpahan air terwujud, hingga kemudian ketahanan pangan menjadi ujung tombak dari kedaulatan sosial yang diidam-idamkan, tidak lain
  51. 51. 50 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia adalah membangun masyarakat yang penuh dengan kemakmuran dan keberkahan. Rembang, 08 September 2012
  52. 52. 51 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia Perubahan Makna Tanah yang Melampaui Batas Masyarakat Rembang saat ini telah mengalami perubahan dalam memaknai tanah. Jika dahulu tanah memiliki nilai tawar lebih rendah dibanding manusia dan kerja. Namun sekarang tidak, tanah mampu melakukan lompatan besar-besaran dalam nilai tawar. Tanah Rembang, khususnya tanah pegunungan yang memuat kandungan trass (dll) sebagai bahan baku semen (dll), saat ini menjadi idola investor. Padahal sebelumnya, tanah gunung tidak banyak yang melirik. Gunung hanya difungsikan untuk areal pertanian, lumbung pakan ternak, ketahanan air serta oksigen sebagai sumber hidup, dan sedikit sebagai wahana rekreasi. Lompatan cara pandang tentang makna tanah yang cenderung kuat dalam aras feodalistik ini, berlahan ber-aroma khas kapitalistik. Lompatan cara pandang ini beriringan dengan lahirnya “Orang Kaya Baru” di Rembang yang memiliki tanah gunung trass. Mereka yang terbukti memiliki surat sppt tanah gunung, dilegalkan menjual kepada perusahaan semen. Dalam sekejab, beberapa pemilik tanah gunung meraup rupiah yang melampau batas. Secara hak dan kewajiban, tampak terdapat ketidak-adilan dalam masyarakat Rembang. Hal ini dapat dilihat pemilik tanah gunung yang memiliki tagihan wajib pajak yang tertera pada sppt lebih rendah, malah memiliki hak jual tanah lebih tinggi. Sedangkan tanah non-gunung yang memiliki nilai sppt wajib pajak tinggi, tidak pernah mampu mengejar nilai tawar tanah gunung. Beda besaran wajib pajak ini, mungkin tanah gunung lebih difokuskan fungsi dalam hal areal pertanian, lumbung pakan ternak, dan ketahanan air serta oksigen sebagai sumber hidup. Bukan sebaliknya, tanah gunung yang memiliki nilai komoditi tanpa batas. Tampaknya terdapat etika salah dalam hal ini. Fenomena perubahan makna tanah gunung di atas, tentu saja melanggar keadilan akan kemakmuran sosial masyarakat Rembang. Bagaimana tidak, sama-sama memiliki sepetak tanah (misal yang satu memiliki tanah gunung dan yang satu memiliki tanah sawah bukan gunung), dengan harga beli pada awalnya yang relatif sama, namun memiliki perbedaan yang terlampau batas dalam peralihan hak kepemilikannya (jual). Dalam perspektif keadilan kemakmuran sosial, fenomena di atas jelas- jelas tidak adil sekaligus tidak rasional. Bagaimana tidak, mereka pemilik sppt tanah gunung yang tidak melakukan kegiatan produksi di atas tanah
  53. 53. 52 Suhadi | Membangun Beranda Depan Indonesia gunung, meraup uang terlampau batas. Sedangkan yang melakukan kegiatan produksi di atas tanah (misal sawah), harus membayar biaya produksi tinggi untuk melawan biaya bibit, obat kendali hama, hingga permainan harga komoditi panen. Tanah merupakan aset utama pembangunan. Selayaknya tanah tidak dijadikan sebagai komoditi. Jika tanah dijadikan komoditi, tentu saja tatanan sosial (desa) tidak akan mendiri. Desa (tanah) akan terkooptasi dengan ukuran materi (kapitalis). Terlebih nilai tukar tanah gunung yang mempengaruhi naiknya nilai tawar harga tanah non-gunung, yang terjadi adalah merendahkan harkat dan martabat manusia beserta nilai suatu kerja. Dan ketika masyarakat (lokal) tidak mampu bertransaksi dengan tanah di sekitarnya, yang terjadi adalah menjadi kuli di negeri sendiri. Bukankah hal demikian adalah rencana yang tidak mungkin kita harapkankah? Namun kenapa terjadi? Lantas bagaimana menyikapi perubahan makna tanah gunung yang terlampau batas ini? Bagaimana perlakukan suatu tanah yang nilai tukarnya terlanjur terlampau batas? Dan bagaimana memperlakukan tanah yang nilai tukarnya belum atau sedang berproses melampau batas? Kembalikan nilai-nilai kearifan sosial pada tanah menjadi penting, baik secara etika sosial maupun etika lingkungan hidup. Menandaskan etika sosial adalah memaknai tanah sebagai faktor produksi saja, bukan sebagai objek perniagaan. Selanjutnya menandaskan etika lingkungan hidup adalah memaknai tanah untuk sumber hidup dengan tersedianya air dan oksigen. Lantas bagaimana yang sudah terlanjur? Jika tanah gunung tersebut sudah terlanjur di jual dengan harga terlampau batas, maka kelebihan harga yang terlampau batas itu harus dikembalikan kepada hak komunal. Secara teknis, hak komunal ini, pengelolaannya dapat diwakilkan oleh lembaga sosial formal. Apakah mereka yang telah mendapatkan uang terlampau batas itu dapat menerima, jika uangnya harus diminta oleh pihak komunalitas? Jika mereka tidak mau memberikan uang yang terlampau batas itu, maka mereka harus berkewajiban membayar biaya sosial (pendidikan, kesehatan, ekonomi, politik, seni, informasi, teknologi, dll) yang terlampau batas pula. Termasuk terancamnya ketahanan air dan oksigen untuk sumber kehidupan masyarakat Rembang selayaknya harus dibayar oleh mereka. Lantas bagaimana mereka yang belum terlanjur dan masih proses? Jika pemilik sppt tanah gunung belum terlanjur dan masih proses dalam

×