Wadi’ah
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Wadi’ah

on

  • 1,803 views

Wadî’ah merupakan jenis wakalah yang bersifat khusus, yaitu wakalah yang berkaitan dengan menempatkan orang lain pada posisi diri sendiri dalam menjaga sesuatu saja, dan tidak sampai pada tasharruf ...

Wadî’ah merupakan jenis wakalah yang bersifat khusus, yaitu wakalah yang berkaitan dengan menempatkan orang lain pada posisi diri sendiri dalam menjaga sesuatu saja, dan tidak sampai pada tasharruf (mengelola) pada sesuatu itu yang merupakan tanda wakalah yang bersifat mutlak.

Statistics

Views

Total Views
1,803
Views on SlideShare
1,803
Embed Views
0

Actions

Likes
1
Downloads
150
Comments
3

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel

13 of 3 Post a comment

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • @phei : Menabung di bank syariah akad yg disepakati mesti tidak ada bonus (bonus = 0), sehingga kalaupun ada bonus yang masuk, pihak bank dipersilakan untuk mengambilnya kembali. Biaya administrasi mestinya diambil dari uang yang kita tabungkan, tidak boleh diambil dari bonus.
    Kl kita sudah berakad dengan bank untuk me-nol-kan bonus sementara bonusnya tetep masuk & tidak diambil oleh bank, tinggal kita sampaikan saja ke bank untuk mengambilnya agar tidak bercampur dengan harta kita, dan kl ternyata tidak diambil juga, kita mesti mencatat brp bonus yang masuk agar tidak tergunakan oleh kita.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • bonus yang diberikan bank syari'ah atas tabungan wadi'ah adalah riba. lalu apa hukumnya menabung di bank tersebut jika bonus yang diberikan bank itu diambil lagi oleh bank sebagai biaya administrasi? sehingga rekening kita tetap, tidak bertambah. juga bagaimana hukumnya jika bonus itu tidak diambil oleh bank (artinya rekening kita bertambah) tetapi kita tidak mengambil bonusnya?
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • Penjelasan detail ada di:
    http://hizbut-tahrir.or.id/2012/03/05/wadi%E2%80%99ah/
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Wadi’ah Wadi’ah Presentation Transcript

    • WADI’AH M. Rosyid Aziz
    • Harta yang dititipkan oleh pemiliknyakepada orang lain untuk disimpan
    • Harta yang disimpan, yaitu amanah yangditinggalkan pada orang lain untuk disimpandengan sengaja
    • SECARA SYAR’IE: Akad yang mengharuskan penyimpananharta oleh orang lain itu
    • Wadî’ah itu merupakan amanah meski amanah sifatnya lebih umum dari wadî’ah.Setiap wadî’ah merupakan amanah, sebaliknya tidak setiap amanah merupakan wadî’ah.
    • Wadî’ah merupakan jenis wakalah yang bersifatkhusus, yaitu wakalah yang berkaitan denganmenempatkan orang lain pada posisi diri sendiridalam menjaga sesuatu saja, dan tidak sampaipada tasharruf (mengelola) pada sesuatu itu yangmerupakan tanda wakalah yang bersifat mutlak.
    • HUKUM WADIAH:BOLEH/MUBAH
    • “Jika kamu dalam perjalanan (danbermuamalah tidak secara tunai) sedangkamu tidak memperoleh seorang penulis,maka hendaklah ada barang tanggunganyang dipegang (oleh yang berpiutang).Akan tetapi jika sebagian kamumempercayai sebagian yang lain, makahendaklah yang dipercayai itu menunaikanamanatnya (hutangnya)…”(TQS Al Baqarah, 2:283)
    • “SesungguhnyaAllah menyuruhkamumenyampaikanamanat kepadayang berhakmenerimanya...”(TQS An Nisaa‘, 4:58)
    • “Tunaikan amanah kepada orang yangmengamanahimu dan jangan khianati orang yang mengkhianatimu.” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ahmad, al-Hakim, al-Baihaqi)
    • RUKUN WADÎ’AH Al-‘aqidân, yaitu al-Mûdi’ (yang menitipkan) dan al-wadî’ atau al-mustawda’ (yang dititipi); Al-Mûda’ (harta yang dititipkan) atau yang disebut al-wadî’ah; Shighat atau ijab dan qabul.
    • SYARAT WADÎ’AHPertama,syarat terkait dengan al-‘aqidân:• Al-Mûdi’ (yang menitipkan) disyaratkan harus orang yang sah melakukan tasharruf, dan ia adalah pemilik atau wakil dari pemilik harta titipan itu.• Al-Wadî’ atau al-mustawda’ (yang dititipi) juga disyaratkan harus orang yang sah melakukan tasharruf dan tertentu artinya saat akad jelas siapanya.
    • SYARAT WADÎ’AHKedua,syarat terkait ijab dan qabul.• Ijab dan qabul itu harus berdasarkan kerelaan kedua pihak.• Ijab harus sama dengan qabul dan ada pertautan, yaitu harus dalam satu majelis.
    • SYARAT WADÎ’AHKetiga,syarat terkait al-wadî’ah atau al-mûda’ (harta yangdititipkan), yaitu harus berupaharta yang jelas dan bisadikuasakan.Sebagian fukaha menambahkansyarat harta itu haruslah hartabergerak sehingga properti sepertitanah, pabrik, rumah dsb, tidakbisa diwadî’ahkan.
    • Agar akad wadî’ah itu sah dansempurna maka harta yangdititipkan harus diserahkankepada al-wadî’ (yang dititipi)dan dipindahkan dalamkekuasaan al-wadî’ itu.Sebab, al-wadî’ tidak bisa menjaga danmenyimpannya kecuali harta itu diserahkankepada dirinya dan dipindahkan dalamkekuasaannya untuk dia simpan dan dijaga.
    • HUKUM WADI’AH Pertama: • Para fukaha sepakat bahwa akad wadi’ah merupakan ‘aqdun jâ’izun, yaitu bukan akad yang mengikat. • Artinya, baik al-mûdi’ (yang menitipkan) atau al-wadî’ (yang dititipi) kapan saja boleh membatalkan akad wadi’ah itu tanpa bergantung pada kerelaan pihak lainnya. • Hanya saja ada pengecualian menurut fukaha Syafiiyah seperti yang diungkapkan oleh asy-Syihab ar-Ramli, bahwa akad-akad ja’iz jika fasakh (pembatalannya) menyebabkan dharar terhadap pihak lain maka itu terlarang dan menjadi lâzimah (mengikat).
    • HUKUM WADI’AH Kedua: • Para fukaha sepakat bahwa akad wadi’ah pada dasarnya merupakan akad tabarru’ yang tegak di atas asas kelemahlembutan, ta’awun, bantuan. • Maka dari itu, al-mûdi’ (yang menitipkan) tidak perlu memberikan imbalan kepada al-wadî’ (yang dititipi) atas penyimpanan itu. • Jadi wadi’ah itu bukan akad mu’awadhah (kompensatif). • Jika untuk penyimpanan itu ada imbalan yang disepakati untuk al-wadî’ maka akad tersebut bukan lagi akad wadi’ah melainkan akad ijarah. • Contoh: Layanan safe deposit box di bank
    • HUKUM WADI’AH Ketiga: Wajibnya al-wadî’ (yang dititipi) menjaga wadi’ah yang ada padanya seperti ia menjaga hartanya sendiri. Nabi saw. bersabda: “Tangan itu wajib (menjaga) apa yang ia ambil sampai ia tunaikan.” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad, al- Hakim, al-Baihaqi)
    • HUKUM WADI’AH Keempat: • Al-wadî’ (yang dititipi) wajib segera menyerahkan harta wadi’ah begitu diminta oleh pemiliknya (al-mûdi’) • Lihat: QS al-Baqarah [2]: 283
    • HUKUM WADI’AH Kelima: • Para fukaha sepakat bahwa al- wadî’ah itu merupakan akad amanah. • Status al-wadî’ (yang dititipi) adalah yad al-amânah. • Karena itu, jika harta wadi’ah itu hilang, rusak atau lainnya, al-wadî’ tidak bertanggung jawab dan tidak menanggungnya kecuali jika itu karena kesengajaannya atau ia lalai menjaganya. • Jadi status al-wadî’ itu bukanlah yad adh-dhamânah.
    • “Siapa yang dititipi wadi’ah maka tidak ada tanggungan atasnya.” (HR al-Baihaqi)
    • HARUS DIINGAT…Amanah itu hanyalah amanahuntuk menyimpan danmenjaga wadi’ah itu; tidaktermasuk di dalamnya hakuntuk men-tasharruf-nya.
    • Sebagai seorangamîn, al-wadî’ (yangdititipi) harammengkhianatiamanah wadi’ah itu.
    • KHIANAT terhadap amanah wadi’ahitu bisa dalam bentuk:Tanpa izin al-mûdi’ (yang menitipkan),al-wadî’ (yang dititipi)• mencampurkan harta wadi’ah itu dengan hartanya sendiri atau harta orang lain,• men-tasharruf-nya seperti menggunakannya atau bentuk tasharruf lainnya,• lalai tidak menjaganya,• sengaja merusak atau menghilangkannya, dan sebagainya.
    • Dalam semuakondisi itu, al-wadî’(yang dititipi) harusbertanggungjawab, yakni diawajib menanggung(dhamân).Jika harta wadi’ahitu hilang atau rusakmaka ia wajibmenggantinya.
    • Jika ada izin dari al-mûdi’ (yang menitipkan) kepada al-wadî’ (yang dititipi) untuk men-tasharruf harta wadi’ahmaka hal itu membuat fakta akad tersebut bukan lagiakad wadi’ah.
    • Jika izinnya adalah izin untuk mengambil ataumenggunakan manfaat dari harta itu sementara zathartanya tetap atau tidak berubah maka akad tersebutmerupakan akad i’ârah (pinjam pakai).
    • Jika izinnya adalah izin untuk menggunakan zat harta itu sehinggaal-wadî’ (yang dititipi) boleh mengkonsumsinya, menjualnya, atauyang lainnya, dan dia menjamin untuk menyerahkan harta ituketika al-mûdi’ memintanya, maka akad tersebut merupakan akadutang baik dalam bentuk qardhun ataupun dayn.
    • KASUS PERBANKANJika al-wadî’ (yang dititipi) men-tasharruf wadi’ah danmemanfaatkannya dengan izin pemilik maka hasil tasharruf itumengambil satu dari tiga kondisi:1. Jika tasharruf itu untuk kepentingan al-wadî’ (bank) maka wadi’ah berupa uang itu menjadi qardh (utang) dan labanya untuk pengutang (bank).2. Jika izin tasharruf itu dalam bentuk wakalah maka al-wadî’ (bank) menjadi wakil al-mûdi’ (yang menitipkan) dalam men-tasharruf wadi’ah dan labanya untuk al-mûdi’.3. Jika izin itu dalam bentuk mudharabah atau musyarakah maka al- wadî’ menjadi mudharib atau mitra dan labanya dibagi menurut kesepakatan.
    • Jika ditetapkan bahwa wadi’ah perbankan adalah qardhun, makamaknanya bahwa apa yang dibayarkan oleh bank sebagai tambahan atas jumlah wadi’ah (simpanan) merupakan riba.
    • Atas dasar itu, apa yang diistilahkan sebagai bonusyang diberikan oleh bank atau lembaga keuanganlainnya terhadap rekening wadi’ah, apapun namarekeningnya, jelas merupakan riba.