 I‟tikaf berasal dari kata ‘akafa – ya’kufu wa
ya’kifu – ‘akfan wa ‘ukûfan,
 Artinya al-lubtsu wa al-habsu wa al-
mulâza...
 Makna berdiam di sini berbeda dengan al-
iqâmah (berdiam).
 Sebab, al-‘ukûf adalah menghadap pada
sesuatu dan menahan d...
 Dalam al-Quran, ‘akafa dan bentukannya
dinyatakan sembilan kali:
 Dg makna bahasa : 7 kali, yaitu QS al-A‟raf
[7]: 138;...
 Secara syar‟i, i‟tikaf adalah:
diam di masjid selama jangka waktu tertentu
pada shifat (potret) atau keadaan yang
spesif...
Ibunda Aisyah ra menuturkan:

Nabi saw beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan
Ramadhan sampai Beliau wafat, kemudian...
Qarinah yang ada menunjukkan bahwa i‟tikaf adalah ibadah
sunah.
Abu Sa‟id al-Khudzri menuturkan, Rasulullah saw bersabda:
...
I’tikaf dilakukan di masjid
 Dalam hal ini tidak ada perbedaan, semua masjid
boleh untuk beri‟tikaf.
 Allah SWT berfirma...
Abu Sa‟id al-Khudzri menuturkan, Rasul saw pernah
bersabda:

Aku diperlihatkan Lailatul Qadar tetapi aku dilupakan
(waktu...
 Waktu i’tikaf: sepanjang tahun, di bulan Ramadhan
maupun di luar Ramadhan.
 Adapun bahwa Nabi saw mendawamkan beri‟tika...
 Ibunda Aisyah meriwayatkan bahwa Nabi saw pernah
beri‟tikaf sepuluh hari di bulan Syawal, yakni di akhir
Syawal (riwayat...
Puasa Tidak Menjadi Syarat I’tikaf
 Nabi saw pernah beri‟tikaf di bulan Syawal, di awal
Syawal atau di akhir Syawal dan i...
I’tikaf itu boleh dimulai kapan saja.
 Tidak ada nas yang menentukan waktu untuk memulai
i‟tikaf.
 Adapun penuturan ibun...
Berapa lama I’tikaf itu?
 Tidak ada nas yang menentukan jangka waktu untuk
beri‟tikaf.
 Jadi lamanya beri‟tikaf kembali ...
Bolehkah Mu’takif Keluar dari Masjid?
 Boleh keluar dari masjid untuk melakukan sesuatu
yang harus dan mendesak dia lakuk...
 Atau sesuatu yang mendesak harus dia lakukan.
Misalnya, anaknya sakit dan harus dibawa ke
dokter/RS, maka sang mu‟takif ...
Apa yang boleh dilakukan dan yang tidak?
 Semua hal yang dilarang dilakukan di dalam
masjid, semua itu juga dilarang dila...
I’tikaf Berakhir atau Batal Jika:
 Jika jangka waktu yang diniyatkan untuk
I‟tikaf sudah berakhir
 Jika mu‟takif meniyat...
---
-
---
-
--
--
I’tikaf Wanita
 Wanita sah beri‟tikaf.
 Tempatnya adalah di masjid, terpisah dari laki-laki.
 Jika ia bersuami, maka harus atas izin s...
Beberapa Yang Dilarang di Masjid
-
-
--
--
Beberapa Yang Dilarang di Masjid
--
--
--
Beberapa Yang Dilarang di Masjid


--
Hukum Seputar I'tikaf
Hukum Seputar I'tikaf
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Hukum Seputar I'tikaf

467

Published on

Itikaf adalah diam di masjid selama jangka waktu tertentu pada shifat (potret) atau keadaan yang spesifik disertai niat taqarrub kepada Allah SWT

Published in: Spiritual
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
467
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
57
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Hukum Seputar I'tikaf

  1. 1.  I‟tikaf berasal dari kata ‘akafa – ya’kufu wa ya’kifu – ‘akfan wa ‘ukûfan,  Artinya al-lubtsu wa al-habsu wa al- mulâzamah –berdiam, menahan diri dan menetapi- (Imam an-Nawawi, al-Majmû’ Syarh al- Muhadzdzab, kitab al-I’tikâf).  Juga berarti, luzûm asy-syay’i wa iqbâl ‘alayh - menetapi sesuatu dan menghadap padanya- (Rawwas Qal‟a Ji, Mu’jam Lughah al-Fuqaha; Muhammad ibn Abi al-Fatah al-Ba‟li, al-Muthalli’).
  2. 2.  Makna berdiam di sini berbeda dengan al- iqâmah (berdiam).  Sebab, al-‘ukûf adalah menghadap pada sesuatu dan menahan diri di dalamnya.  Maka, dalam i’tikaf, pelakunya menghadap pada sesuatu itu, menahan diri di dalamnya dan tidak menyibukkan diri dengan yang lain (Abu Hilal al- „Asykari, al-Furûq al-Lughawiyyah).  Jadi, secara bahasa i’tikaf itu adalah luzûm asy-syay`i wa al-ihtibâs fîhi (menetapi sesuatu dan menahan diri di dalamnya), yaitu tidak menyibukkan diri dengan yang lain.
  3. 3.  Dalam al-Quran, ‘akafa dan bentukannya dinyatakan sembilan kali:  Dg makna bahasa : 7 kali, yaitu QS al-A‟raf [7]: 138; Thaha [20]: 91, 97; al-Anbiya‟ [21]: 52; al-Hajj [22]: 25; asy-Syu‟ara [26]: 71; dan al-Fath [48]: 25.  Dan 2 kali dalam makna syar‟inya yaitu di QS al-Baqarah [2]: 125 dan 187.
  4. 4.  Secara syar‟i, i‟tikaf adalah: diam di masjid selama jangka waktu tertentu pada shifat (potret) atau keadaan yang spesifik disertai niyat taqarrub kepada Allah SWT- (Syaikh Mahmud bin Abdul Lathif „Uwaidhah, al-Jâmi’ li Ahkâm ash-Shiyâm)
  5. 5. Ibunda Aisyah ra menuturkan:  Nabi saw beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai Beliau wafat, kemudian isteri-isteri Beliau beri’tikaf sepeninggal Beliau (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasai dan Ahmad) Bahkan ketika melakukan safar selama Ramadhan, Beliau beri‟tikaf selama dua puluh hari pada Ramadhan tahun berikutnya. Ini menunjukkan bahwa i‟tikaf merupakan taqarrub yakni ibadah.  I’tikaf hukumnya sunah
  6. 6. Qarinah yang ada menunjukkan bahwa i‟tikaf adalah ibadah sunah. Abu Sa‟id al-Khudzri menuturkan, Rasulullah saw bersabda: Aku beri’tikaf sepuluh hari pertama mencari malam ini (lailatul qadar), kemudian aku beri’tikaf sepuluh hari pertengahan, kemudian aku di datangi dan dikatakan kepadaku bahwa itu di sepuluh hari terakhir, maka siapa diantara kalian yang suka (mau) beri’tikaf hendaklah ia beri’tikaf. Abu Sa‟id berkata: “maka orang-orang beri‟tikaf bersama Beliau. (HR Muslim, Bukhari, Ahmad, Abu Dawud, an-
  7. 7. I’tikaf dilakukan di masjid  Dalam hal ini tidak ada perbedaan, semua masjid boleh untuk beri‟tikaf.  Allah SWT berfirman:   … janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya… (QS al-Baqarah [2]: 187)
  8. 8. Abu Sa‟id al-Khudzri menuturkan, Rasul saw pernah bersabda:  Aku diperlihatkan Lailatul Qadar tetapi aku dilupakan (waktu persisnya) maka carilah di sepuluh hari terakhir pada malam ganjil, aku diperlihatkan bahwa aku sujud di atas air dan tanah. Maka siapa saja yang telah beri’tikaf bersama Rasulullah saw hendaklah kembali (HR al- Bukhari, Muslim, Ahmad, Malik, Ibn Hibban dan al- Baihaqi)
  9. 9.  Waktu i’tikaf: sepanjang tahun, di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan.  Adapun bahwa Nabi saw mendawamkan beri‟tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan, maka itu menunjukkan keutamaannya.  Jadi, I‟tikaf sah dilakukan kapan saja sepanjang tahun, hanya saja di bulan Ramadhan itu lebih utama dan yang paling utama adalah di sepuluh hari terakhir Ramadhan untuk mencari Lailatul Qadar
  10. 10.  Ibunda Aisyah meriwayatkan bahwa Nabi saw pernah beri‟tikaf sepuluh hari di bulan Syawal, yakni di akhir Syawal (riwayat al-Bukhari), atau awal syawal (riwayat Muslim).  Umar pernah bercerita kepada Nabi bahwa ia pernah bernadzar semasa jahiliyah untuk beri‟tikaf semalam di masjid al-Haram, maka Nabi saw bersabda : “penuhi nadzarmu” atau dalam riwayat lain “penuhi nadzarmu, beri‟tikaflah semalam” (riwayat al-Bukhari). Di sini Nabi tidak membatasi kapan. Artinya boleh malam apa saja sepanjang tahun.
  11. 11. Puasa Tidak Menjadi Syarat I’tikaf  Nabi saw pernah beri‟tikaf di bulan Syawal, di awal Syawal atau di akhir Syawal dan itu bukan bulan puasa  Nabi hanya menyuruh Umar ra. Agar memenuhi nadzar i‟tikafnya tanpa menyebutkan harus berpuasa. Maka shawm bukan syarat i‟tikaf.
  12. 12. I’tikaf itu boleh dimulai kapan saja.  Tidak ada nas yang menentukan waktu untuk memulai i‟tikaf.  Adapun penuturan ibunda Aisyah ra: -- “Rasulullah saw jika ingin beri’tikaf maka Beliau shalat subuh lalu masuk ke tempat i’tikaf beliau” (HR Muslim, an-Nasai, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Majah dan Ahmad), ini hanya menjelaskan fakta apa yang dilakukan Nabi saw. Di dalamnya tidak ada penentuan waktu. Juga tidak ada larangan untuk memulai i‟tikaf di waktu lainnya.
  13. 13. Berapa lama I’tikaf itu?  Tidak ada nas yang menentukan jangka waktu untuk beri‟tikaf.  Jadi lamanya beri‟tikaf kembali kepada kemutlakannya.  Minimalnya adalah jangka waktu yang bisa disebut al- labtsu (diam).  Imam asy-Syafi‟I, Ahmad dan Ishaq ibn Rahuwaih mengatakan, minimal adalah apa yang disebut al-labtsu (diam) dan tidak disyaratkan duduk.  Abdurrazaq meriwayatkan, seorang sahabat Ya‟la bin Umayyah ra berkata: “mari pergi bersama kami ke masjid lalu kita beri’tikaf di dalamnya sesaat”.  Maksimalnya, para ulama sepakat bahwa tidak ada batas maksimal jangka waktu i‟tikaf.
  14. 14. Bolehkah Mu’takif Keluar dari Masjid?  Boleh keluar dari masjid untuk melakukan sesuatu yang harus dan mendesak dia lakukan saat itu dan hal itu tidak membatalkan i‟tikafnya.  Pertama, untuk melakukan kewajiban yang tidak bisa ditunda di waktu lain.  Kedua, sesuatu untuk memenuhi keperluannya sebagai manusia seperti mandi, buang hajat, muntah, mengambil makanan jika tidak ada yang mengantarkan, mengambil selimut, mengambil kipas ketika kegerahan, dsb.
  15. 15.  Atau sesuatu yang mendesak harus dia lakukan. Misalnya, anaknya sakit dan harus dibawa ke dokter/RS, maka sang mu‟takif itu boleh keluar dan mengantarkan anaknya ke dokter/RS, atau yang semisalnya.  Semua itu boleh dilakukan oleh sang mu‟takif dan tidak membatalkan i‟tikafnya.  Setelah melakukan semua itu, ia kembali ke masjid dan melanjutkan i‟tikafnya tanpa harus berniyat kembali.  Adapun hal-hal sunah atau tidak mendesak dan bisa ditunda di waktu lain, maka jika ia keluar dari masjid untuk melakukannya, i‟tikafnya batal atau terputus.
  16. 16. Apa yang boleh dilakukan dan yang tidak?  Semua hal yang dilarang dilakukan di dalam masjid, semua itu juga dilarang dilakukan oleh mu’takif.  Dan semua hal yang boleh dikerjakan di dalam masjid, boleh dikerjakan oleh mu’takif tanpa mempengaruhi i‟tikafnya.
  17. 17. I’tikaf Berakhir atau Batal Jika:  Jika jangka waktu yang diniyatkan untuk I‟tikaf sudah berakhir  Jika mu‟takif meniyatkan untuk membatalkan atau menghentikan I‟tikafnya  Jika mu‟takif keluar dari masjid bukan dengan alasan yang dibenarkan.
  18. 18. --- - --- - -- -- I’tikaf Wanita
  19. 19.  Wanita sah beri‟tikaf.  Tempatnya adalah di masjid, terpisah dari laki-laki.  Jika ia bersuami, maka harus atas izin suaminya. Ia boleh ber‟tikaf bersama suaminya ataupun tidak, asal i‟tikafnya itu atas izin suaminya.  Namun ia tidak boleh beri‟tikaf, jika dia punya suami atau anak yang masih kecil dimana tidak ada yang merawat/melayani mereka, sebab hal itu adalah wajib baginya sementara i‟tikaf adalah sunah sehingga jika berbenturan, yang wajib harus dikedepankan. I’tikaf Wanita
  20. 20. Beberapa Yang Dilarang di Masjid - - -- --
  21. 21. Beberapa Yang Dilarang di Masjid -- -- --
  22. 22. Beberapa Yang Dilarang di Masjid   --
  1. A particular slide catching your eye?

    Clipping is a handy way to collect important slides you want to go back to later.

×