Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011   1
Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011   1
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA KABUPATEN PASER                                   TAHUN 2011No. Katalog          : 4102002.6401...
VISI KABUPATEN PASERMenuju Masyarakat Kabupaten Paser yangAgamais, Sejahtera, dan BerbudayaMISI KABUPATEN PASERMengembangk...
Hari                             Statistik                                         September                              ...
KATA PENGANTARPenerbitan publikasi “ Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Paser Tahun 2011“dimaksudkan untuk memanta...
PENDAHULUAN1.1.   Latar BelakangDalam rangka mengakselerasi pencapaian kesejahteraan masyarakat Kabupaten Paser,Pemerintah...
Penyusunan buku “Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser Tahun 2011” diharapkandapat menjawab kebutuhan data sebagai ba...
Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011   1
BAB 2.                                                                             METODOLOGIDewasa ini, pemikiran tentang...
meningkatkan pendapatan mereka; oleh karena itu, konsep pembangunan manusia harusterpusat pada penduduk secara keseluruhan...
Menurut jenisnya, indikator dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kelompok indikator, yaitu:(a) Indikator Input, yang berka...
Salah satu pengukuran taraf kualitas fisik penduduk yang banyak digunakan adalah Indeks MutuHidup (IMH). Ukuran ini sebena...
Peluang hidup diukur dengan angka harapan hidup atau e0 yang dihitung menggunakan metodetidak langsung (metode Brass, vari...
♦ Membagi nilai B dengan PPP/unit (=C).    Penghitungan PPP/unit dilakukan dengan rumus :                           ∑E    ...
IPM = 1/3 (X (1) + X (2) + X (3))Dimana: X(1)        : Indeks harapan hidup X(2)        : Indeks pendidikan = 2/3 (indeks ...
Tabel 2.1.                               Nilai Maksimum dan Minimum Komponen IPM                                          ...
Untuk bisa melihat dengan jelas dan terarah beragam permasalahan pembangunan manusiaselama ini dan bagaimana mengimplement...
SLTA                      SLTA•   Persentase Penduduk       Proporsi penduduk yang menamatkan pendidikan SLTP atau    deng...
BAB 3                                                     GAMBARAN SOSIAL EKONOMI                                         ...
Tabel 3.1.                               Jumlah Penduduk menurut Jenis Kelamin                                 Kabupaten P...
3.1.2. Persebaran PendudukPersebaran penduduk yang tidak merata perlu mendapat perhatian karena berkaitan dengandaya dukun...
3.2.   Bidang kesehatanTujuan dari pembangunan manusia dibidang kesehatan adalah untukmencapai umur panjangyang sehat. Pen...
Secara konsepsi, angka harapan hidup diartikan sebagai perkiraan lama hidup pendudukdengan harapan tidak ada perubahan pol...
Menurut Mahlil Ruby (Kompas, 29 Januari 2007), yang disampaikan saat mempertahankandisertasinya, mengungkapkan bahwa selam...
Akses yang rendah terhadap kesehatan merupakan masalah yang dihadapi masyarakat miskin.Masalah-masalah yang dihadapi oleh ...
Fasilitas kesehatan yang mendukung layanan kesehatan di Kabupaten Paser adalah keberadaanrumah sakit rujukan. Dewasa ini, ...
Rumah adalah struktur fisik terdiri dari ruangan, halaman dan area sekitarnya yang dipakaisebagai tempat tinggal dan saran...
Indikator sarana sanitasi meliputi :1. Sarana air bersih2. Jamban3. Sarana pembuangan air limbah4. Sarana pembuangan sampa...
Dinding merupakan sisi luar/ batas dari suatu bangunan atau penyekat dengan bangunan fisiklainnya. Menurut jenis dinding t...
Data indicator sarana sanitasi yang dikumpulkan Badan Pusat Statistik melalui Survei SosialEkonomi antara lain sarana air ...
Grafik 3.5.                  Persentase Rumah Tangga menurut Fasilitas Air Minum                               di Kabupate...
Selain air minum, sanitasi rumah juga perlu mendapat perhatian yang besar agar anggotarumahtangga biasa hidup sehat dan se...
Grafik 3.8.                        Persentase Rumah Tangga Menurut Tempat                         Pembuangan Akhir Tinja y...
dengan berbagai dimensi sosial ekonomi lainnya menunjukkan bahwa upaya-upayamenurunkan angka buta huruf dan buta pengetahu...
Menurut data Susenas 2008, rata-rata lama sekolah penduduk Kabupaten Paser mencapaisebesar 7,61 tahun meningkat menjadi 7,...
3.3.3. Pendidikan Tertinggi Yang DitamatkanSelama lima tahun terakhir peningkatan pendidikan penduduk umur 10 tahun keatas...
Tabel 3.8                         Angka Partisipasi Sekolah Kabupaten Paser                       Menurut Kelompok Umur Je...
3.4. Paritas Daya BeliPeningkatan pencapaian angka IPM Kabupaten Paser pada tahun 2010 ditunjang olehkonstribusi dari komp...
BAB 4                                    TREND INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA                                                 ...
jarak yang telah ditempuh dengan yang harus ditempuh untuk mencapai kondisi ideal(IPM=100). Semakin besar angka shortfall,...
[LAMPIRAN ]Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011                 1
Tabel 1.                            Daftar Paket Komoditas yang Digunakan                           dalam Penghitungan Par...
Tabel. 2.                        Angka Harapan Hidup Kabupaten / Kota                              Propinsi Kalimantan Tim...
Tabel. 3.                            Angka Melek Huruf Kabupaten / Kota                                Propinsi Kalimantan...
Tabel. 4.                       Rata-rata Lama Sekolah Kabupaten / Kota                              Propinsi Kalimantan T...
Tabel. 5.                          Paritas Daya Beli Kabupaten / Kota                              Propinsi Kalimantan Tim...
Tabel. 6.                    Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten / Kota                              Propinsi Kalimantan ...
Tabel. 7.                      Peringkat Indeks Pembangunan Manusia                                  Kabupaten / Kota     ...
Tabel. 8.                   Reduksi Short-Fall Indeks Pembangunan Manusia                                  Kabupaten / Kot...
Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011   1
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Indeks pembangunan manusia kabupaten paser 2011

706 views
609 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
706
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
33
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Indeks pembangunan manusia kabupaten paser 2011

  1. 1. Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  2. 2. Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  3. 3. INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA KABUPATEN PASER TAHUN 2011No. Katalog : 4102002.6401No. Publikasi : 64.015.08.02Ukuran buku : 21 cm x 29,7 cmJumlah halaman : 52halamanNaskah : Badan Pusat Statistik Kabupaten PaserPenyunting : Badan Pusat Statistik Kabupaten PaserGambar kulit : Badan Pusat Statistik Kabupaten PaserDiterbitkan oleh : Bappeda Kabupaten Paser bekerjasama dengan Badan Pusat Statistik Kabupaten PaserBoleh dikutip dengan menyebut sumbernyaIndeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  4. 4. VISI KABUPATEN PASERMenuju Masyarakat Kabupaten Paser yangAgamais, Sejahtera, dan BerbudayaMISI KABUPATEN PASERMengembangkan ekonomi kerakyatanMeningkatkan kualitas Sumber Daya ManusiaMenumbuhkembangkan kehidupan masyarakat yang berbudayaMewujudkan Kabupaten KonservasiIndeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  5. 5. Hari Statistik September SADAR STATISTIK PENYELENGGARA Sadar untuk menggunakan teknik statisistik yang tepat guna dan menyajikan data statistik yang diperlukan konsumen secara tepat waktu, akurat dan mudah dipahami RESPONDEN Sadar untuk memberikan jawaban apa adanya sesuai dengan PENGGUNA kenyataan tanpa ragu-ragu Sadar untuk memahami metode, konsep /definisi serta memanfaatkan data statistik secara optimal DATA ITU SULIT DAN MAHAL AKAN TETAPI MEMBANGUN TANPA DATA AKAN LEBIH SULIT DAN MAHALIndeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  6. 6. KATA PENGANTARPenerbitan publikasi “ Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Paser Tahun 2011“dimaksudkan untuk memantau perkembangan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) diKabupaten Paser dalam beberapa tahun terakhir. Muatan dalam publikasi mencakup statuspembangunan sumber daya manusia yang meliputi derajat kesehatan masyarakat, pendidikan,dan kemampuan daya beli masyarakat.Diharapkan publikasi dapat bermanfaat bagi semua pihak, khusus Pemerintah DaerahKabupaten Paser dalam evaluasi, perencanaan, dan pengambilan keputusan pembangunan dimasa yang akan datang.Penghargaan tidak lupa kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantupenerbitan publikasi ini. Selanjutnya, kritik dan saran bagi perbaikan publikasi ini di masa yangakan datang sangat kami harapkan. Tanah Grogot, Agustus 2011 Ketua Bappeda Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Paser, Kabupaten Paser, Ir. Bahramsyah BAB 1Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  7. 7. PENDAHULUAN1.1. Latar BelakangDalam rangka mengakselerasi pencapaian kesejahteraan masyarakat Kabupaten Paser,Pemerintah Kabupaten Paser memiliki komitmen yang kuat untuk mencapai target-targetpembangunan, salah satunya adalah terus meningkatnya angka Indeks Pembangunan Manusia(IPM). Secara sederhana upaya akselerasi meningkatnya pencapaian IPM berarti meningkatnyasatu atau lebih komponen IPM yang meliputi komponen pendidikan, kesehatan, dan daya belimasyarakat yang berarti pula masyarakat dapat menjangkau dan mengenyam pendidikan,mampu dan mudah memperoleh pelayanan kesehatan serta mampu memenuhi kebutuhanhidupnya. Upaya akselerasi tersebut dititikberatkan pada upaya penyadaran tentangpentingnya mempersiapkan diri untuk mengantisipasi dampak globalisasi di Indonesia.Perhatian Pemerintah Kabupaten Paser terhadap pencapaian angka IPM juga sangat logiskarena penguatan perekonomian Kabupaten Paser harus dibuktikan melalui kesejahteraanmasyarakat daerahnya. Perhatian ini menjadi semakin besar ketika melihat kecenderunganhistoris yang menunjukkan bahwa terdapat banyak sekali kendala yang dihadapi daerah dalammerealisasikan pencapaian IPM. Untuk itu Pemerintah Kabupaten Paser berupayamemaksimumkan berbagai upaya untuk meningkatkan kinerja semua sektor layanan publiksehingga berkinerja optimal serta meningkatkan kerjasama dan partisipasi nyata darimasyarakat, swasta, perguruan tinggi, atau lembaga pendidikan setempat, untuk keberhasilanpencapaian IPM.1.2. TujuanIndeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  8. 8. Penyusunan buku “Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser Tahun 2011” diharapkandapat menjawab kebutuhan data sebagai bahan evaluasi diri Pemerintah Daerah dalam rangkamenyusun program-program pembangunan selanjutnya. Dalam setiap mengawali pelaksanaankegiatan, setiap Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD) harus mampu melakukan evaluasi diriberdasarkan data empirik sebagai dasar untuk menyusun program ”pengobatan” terhadapmasalah rendahnya IPM yang dihadapi secara sistematis, dengan ditunjang oleh studikelayakan.Ketersediaan data yang akurat dan memadai akan sangat memudahkan para perencanakebijakan dalam menyusun program-program pembangunan yang berorientasi menyentuhmasyarakat secara langsung. Tidak dapat dipungkiri, perencanaan kebijakan tanpa disertaisajian data yang baik akan menghasilkan program pembangunan yang jauh dari keinginanmasyarakat dan tidak akan mampu menyelesaikan akar masalah pembangunan yangsebenarnya.1.3. Ruang Lingkup dan Sumber DataPerencanaan bagi program-program pelaksanaan pembangunan memerlukan informasi yangdapat menyajikan gambaran sebenarnya di lapangan (represent reality). Semua informasi yangada tersebut berguna sebagai penunjang bagi analisis, monitoring dan evaluasi suatu kebijakan.Dari sini dapat dilihat pentingnya pemanfaatan data yang relevan dengan kualitas yang baik dandari sumber yang terpercaya dikarenakan kecermatan dan konsistensi data sangat diperlukanuntuk mencegah kekeliruan kesimpulan yang dapat terjadi di kemudian hari secara dini.Ruang lingkup penyusunan buku “Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser Tahun2011” ini adalah mencakup berbagai isu utama pembangunan manusia, dengan rentang isuyang dibahas mencakup aspek kependudukan, kesehatan, pendidikan, perekonomian.Disamping itu, untuk memperkaya analisis dilengkapi pula dengan data hasil survei BPSKabupaten Paser, seperti Susenas dan Perhitungan PDRB serta data lain yang dikumpulkan dariberbagai dinas/instansi yang ada kaitannya dengan penulisan analisis ini.Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  9. 9. Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  10. 10. BAB 2. METODOLOGIDewasa ini, pemikiran tentang pembangunan (paradigma) telah mengalami pergeseran, yaitudari pembangunan yang berorientasi pada produksi (production centered development) padadekade 60-an ke paradigma pembangunan yang lebih menekankan pada distribusi hasil-hasilpembangunan (distribution growth development) selama dekade 70-an. Selanjutnya padadekade 80-an, muncul paradigma pembangunan yang berorientasi pada pemenuhankebutuhan dasar masyarakat (basic need development), dan akhirnya menuju paradigmapembangunan yang terpusat pada manusia (human centered development) yang muncul padatahun 1990-an.Pembangunan manusia merupakan paradigma pembangunan yang menempatkan manusia(penduduk) sebagai fokus dan sasaran akhir dari seluruh kegiatan pembangunan, yaitutercapainya penguasaan atas sumber daya (pendapatan untuk mencapai hidup layak),peningkatan derajat kesehatan (usia hidup panjang dan sehat) dan meningkatkan pendidikan(kemampuan baca tulis dan keterampilan untuk dapat berpartisipasi dalam masyarakat dankegiatan ekonomi).Menurut UNDP (1990:1), pembangunan manusia adalah suatu proses untuk memperbesarpilihan-pilihan bagi manusia (“a process of enlarging people’s choices”). Dari definisi ini dapatditarik kesimpulan bahwa fokus pembangunan suatu negara adalah penduduk karenapenduduk adalah kekayaan nyata suatu negara. Konsep atau definisi pembangunan manusiatersebut pada dasarnya mencakup dimensi pembangunan yang sangat luas. Definisi ini lebihluas dari definisi pembangunan yang hanya menekankan pada pertumbuhan ekonomi. Dalamkonsep pembangunan manusia, pembangunan seharusnya dianalisis serta dipahami dari sudutmanusianya, bukan hanya dari pertumbuhan ekonominya. Sebagaimana dikutip dari UNDP(1995:118), sejumlah premis penting dalam pembangunan manusia diantaranya adalah:Pembangunan harus mengutamakan penduduk sebagai pusat perhatian; Pembangunandimaksudkan untuk memperbesar pilihan-pilihan bagi penduduk, tidak hanya untukIndeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  11. 11. meningkatkan pendapatan mereka; oleh karena itu, konsep pembangunan manusia harusterpusat pada penduduk secara keseluruhan, dan bukan hanya pada aspek ekonomi saja;Pembangunan manusia memperhatikan bukan hanya pada upaya meningkatkan kemampuan(kapabilitas) manusia tetapi juga pada upaya-upaya memanfaatkan kemampuan manusistersebut secara optimal; Pembangunan manusia didukung empat pilar pokok, yaitu:produktifitas, pemerataan, kesinambungan, dan pemberdayaan; dan Pembangunan manusiamenjadi dasar dalam penentuan tujuan pembangunan dan dalam menganalisis pilihan-pilihanuntuk mencapainya.2.1. Pengertian IndikatorPetunjuk yang memberikan indikasi tentang sesuatu keadaan dan merupakan refleksi darikeadaan tersebut disebut juga sebagai Indikator. Dengan kata lain, indikator merupakanvariabel penolong dalam mengukur perubahan. Variabel-variabel ini terutama digunakanapabila perubahan yang akan dinilai tidak dapat diukur secara langsung. Indikator yang baikharus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain:(1) sahih (valid), indikator harus dapat mengukur sesuatu yang sebenarnya akan diukur oleh indikator tersebut;(2) objektif, untuk hal yang sama, indikator harus memberikan hasil yang sama pula, walaupun dipakai oleh orang yang berbeda dan pada waktu yang berbeda;(3) sensitif, perubahan yang kecil mampu dideteksi oleh indikator;(4) spesifik, indikator hanya mengukur perubahan situasi yang dimaksud.Namun demikian perlu disadari bahwa tidak ada ukuran baku yang benar-benar dapatmengukur tingkat kesejahteraan seseorang atau masyarakat.Indikator bisa bersifat tunggal (indikator tunggal) yang isinya terdiri dari satu indikator, sepertiAngka Kematian Bayi (AKB) dan bersifat jamak (indikator komposit) yang merupakan gabungandari beberapa indikator, seperti Indeks Mutu Hidup (IMH) yang merupakan gabungan dari 3indikator yaitu angka melek huruf (AMH), angka kematian bayi (AKB) dan angka harapan hidupdari anak usia 1 tahun (e1).Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  12. 12. Menurut jenisnya, indikator dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kelompok indikator, yaitu:(a) Indikator Input, yang berkaitan dengan penunjang pelaksanaan program dan turut menentukan keberhasilan program, seperti: rasio murid-guru, rasio murid-kelas, rasio dokter, rasio puskesmas.(b) Indikator Proses, yang menggambarkan bagaimana proses pembangunan berjalan, seperti: Angka Partisipasi Sekolah (APS), rata-rata jumlah jam kerja, rata-rata jumlah kunjungan ke puskesmas, persentase anak balita yang ditolong dukun.(c) Indikator Output/Outcome, yang menggambarkan bagaimana hasil (output) dari suatu program kegiatan telah berjalan, seperti: persentase penduduk dengan pendidikan SMTA ke atas, AKB, angka harapan hidup, TPAK, dan lain-lain.2.2. Indikator-Indikator Pembangunan ManusiaUpaya untuk mengetahui dan mengidentifikasi seberapa besar kemajuan pembangunan yangtelah dicapai suatu wilayah tentunya diperlukan data-data yang cukup up to date dan akurat.Data-data yang disajikan diharapkan sebagai bahan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukanoleh pemerintah tersebut. Apakah pembangunan puskesmas dan puskesmas pembantu telahsecara nyata meningkatkan derajat kesehatan masyarakat ? Apakah pembangunan gedung SDjuga telah mampu meningkatkan tingkat partisipasi sekolah di wilayah ini ? Apakah programPaket Kejar telah mampu meningkatkan kemampuan baca tulis penduduk secara umum ?.Dalam konteks tersebut diatas diperlukan pula ukuran-ukuran yang tepat untuk digunakansebagai indikator. Untuk itu perlu kiranya diketengahkan mengenai berbagai ukuran-ukuranyang biasa digunakan sebagai indikator pembangunan.Berbagai program seperti pengadaan pangan, perbaikan gizi, peningkatan kesehatan danpeningkatan kegiatan olah raga dilaksanakan dalam upaya peningkatan taraf kualitas fisikpenduduk. Namun demikian seperti dikatakan Azwini, Karomo dan Prijono (1988:469), tolokukur yang dapat digunakan untuk menentukan keberhasilan (pembangunan) dalam beberapahal agak sulit ditentukan. Alat ukur yang sering digunakan untuk menilai kualitas hidup selamaini sebenarnya hanya mencakup kualitas fisik, tidak termasuk kualitas non fisik. Kesulitanmuncul terutama karena untuk menilai keberhasilan pembangunan non-fisik indikatornyarelatif lebih abstrak dan bersifat komposit.Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  13. 13. Salah satu pengukuran taraf kualitas fisik penduduk yang banyak digunakan adalah Indeks MutuHidup (IMH). Ukuran ini sebenarnya banyak mendapat kritik (Hicks and Streeten, 1979, Rat,1982, Holidin, 1993a, dan Holidin 1993b) karena mengandung beberapa kelemahan, terutamayang menyangkut aspek statistik dari keterkaitan antar variabel yang digunakannya. Terlepasdari kelemahan tersebut, ada nilai lebih dari IMH yang membuat indikator ini banyak digunakansebagai ukuran untuk menilai keberhasilan program pembangunan pada satu wilayah. Nilailebih dari IMH ini adalahkesederhanaan didalam penghitungannya. Disamping itu, data yangdigunakan untuk menghitung IMH ini pada umumnya sudah banyak tersedia. IMH juga bisadihitung setiap tahun untuk setiap wilayah (nasional, propinsi, maupun kabupaten/kota),sehingga dapat dilakukan perbandingan antar wilayah.Sejalan dengan makin tingginya intensitas dalam permasalahan pembangunan, kesederhanaanIMH pada akhirnya kurang mampu untuk menjawab tuntutan perkembangan pembangunanyang semakin kompleks itu. Untuk itu perlu indikator lain yang lebih representatif dengantuntutan permasalahan. Dalam kaitan ini, indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM;Human Development Index) merupakan salah satu alternatif yang bisa diajukan. Indikator ini,disampaing mengukur kualitas fisik; tercermin dari angka harapan hidup; juga mengukurkualitas non fisik (intelektualitas) melalui lamanya rata-rata penduduk bersekolah dan angkamelek huruf; juga mempertimbangkan kemampuan ekonomi masyarakat di wilayah itu;tercermin dari nilai purcashing power parity index (ppp). Jadi indikator IPM terasa lebihkomprehensif dibandingkan dengan IMH.2.3. Metode Penghitungan IPMUntuk menggambarkan perkembangan pembangunan manusia secara berkelanjutandiperlukan satu set indikator komposit yang cukup representatif. IPM adalah suatu indikatorpembangunan manusia yang diperkenalkan UNDP pada tahun 1990. Pada dasarnya IPMmencakup tiga komponen yang dianggap mendasar bagi manusia dan secara operasionalmudah dihitung untuk menghasilkan suatu ukuran yang merefleksikan upaya pembangunanmanusia. Ketiga aspek tersebut berkaitan dengan peluang hidup (longevity), pengetahuan(knowledge), dan hidup layak (decent living).Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  14. 14. Peluang hidup diukur dengan angka harapan hidup atau e0 yang dihitung menggunakan metodetidak langsung (metode Brass, varian Trussel) berdasarkan variabel rata-rata anak lahir hidupdan rata-rata anak yang masih hidup.Komponen pengetahuan diukur dengan angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah yangdihitung berdasarkan data Suseda. Sebagai catatan, UNDP dalam publikasi tahunan HumanDevelopment Report (HDR). Indikator angka melek huruf diperoleh dari variabel kemampuanmembaca dan menulis, sedangkan indikator rata-rata lama sekolah dihitung denganmenggunakan dua variabel secara simultan; yaitu tingkat/kelas yang sedang/pernah dijalanidan jenjang pendidikan tertinggi yang ditamatkan.Komponen standar hidup layak diukur dengan indikator rata-rata konsumsi riil yang telahdisesuaikan. Sebagai catatan, UNDP menggunakan indikator Produk Domestik Bruto (PDB) perkapita riil yang telah disesuaikan (adjusted real GDP per capita) sebagai ukuran komponentersebut karena tidak tersedia indikator lain yang lebih baik untuk keperluan perbandinganantar negara.Penghitungan indikator konsumsi riil per kapita yang telah disesuaikan dilakukan melaluitahapan pekerjaan sebagai berikut:♦ Menghitung pengeluaran konsumsi per kapita dari Susenas Modul (=A) .♦ Mendeflasikan nilai A dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) ibukota propinsi yang sesuai (=B).♦ Menghitung daya beli per unit (=Purchasing Power Parity (PPP)/unit). Metode penghitungan sama seperti metode yang digunakan International Comparison Project (ICP) dalam menstandarkan nilai PDB suatu negara.♦ Data dasar yang digunakan adalah data harga dan kuantum dari suatu basket komoditi yang terdiri dari nilai 27 komoditi yang diperoleh dari Susenas Modul (Tabel 2.1).Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  15. 15. ♦ Membagi nilai B dengan PPP/unit (=C). Penghitungan PPP/unit dilakukan dengan rumus : ∑E j (i , j ) ppp / unit = ∑ P( ) Q j 9, j (i , j ) Dimana : E( i, j ) : pengeluaran konsumsi untuk komoditi j di kabupaten ke-i P( 9, j ) : harga komoditi j di DKI Jakarta (Jakarta Selatan) q(i,,j) : jumlah komoditi j (unit) yang dikonsumsi di kabupaten ke-i♦ Menyesuaikan nilai C dengan formula Atkinson sebagai upaya untuk memperkirakan nilai marginal utility dari C. Rumus Atkinson (dikutip dari Arizal Ahnaf dkk, 1998;129) yang digunakan untuk penyesuaian rata-rata konsumsi riil secara matematis dapat dinyatakan sebaga berikut : C (i)* = C(i) jika C(i) < Z = Z + 2(C(i) – Z) (1/2) jika Z < C(i) < 2Z = Z + 2(Z) (1/2)+ 3(C(i) – 2Z) (1/3) jika 2Z < C(i) < 3Z = Z + 2(Z) (1/2)+ 3(Z) (1/3)+4(C(i) – 3Z) (1/4) jika 3Z < C(i) < 4Z di mana : C(I) = Konsumsi per kapita riil yang telah disesuaikan dengan PPP/unit Z = Threshold atau tingkat pendapatan tertentu yang digunakan sebagai batas kecukupan yang dalam laporan ini nilai Z ditetapkan secara arbiter sebesar Rp 547.500,- per kapita setahun, atau Rp 1.500,- per kapita per hari.2.4. Rumus dan Ilustrasi Penghitungan IPMRumus penghitungan IPM dikutip dari Arizal Ahnaf dkk (1998;129) dapat disajikan sebagaiberikut :Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  16. 16. IPM = 1/3 (X (1) + X (2) + X (3))Dimana: X(1) : Indeks harapan hidup X(2) : Indeks pendidikan = 2/3 (indeks melek huruf) + 1/3 (indeks rata-rata lama sekolah) X(3) : Indeks standar hidup layakMasing-masing indeks komponen IPM tersebut merupakan perbandingan antara selisih nilaisuatu indikator dan nilai minimumnya dengan selisih nilai maksimum dan nilai minimumindikator yang bersangkutan. Rumusnya dapat disajikan sebagai berikut : Indeks X(i) = (X(i) - X(i)min) / (X(i)maks - X(i)min)Dimana : X(i) : Indikator ke-i (I = 1,2,3) X(i)maks : Nilai maksimum X(i) X(i)min : Nilai minimum X(i)Nilai maksimum dan nilai minimum indikator X(i) disajikan pada Tabel 2.1.Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  17. 17. Tabel 2.1. Nilai Maksimum dan Minimum Komponen IPM Tahun 2009 Indikator Komponen IPM Nilai Nilai Minimum Catatan (=X(I)) maksimum 1 2 3 4 Sesuai standar global Angka Harapan Hidup 85 25 (UNDP) Sesuai standar global Angka Melek Huruf 100 0 (UNDP) Sesuai standar global Rata-rata lama sekolah 15 0 (UNDP) UNDP menggunakan Konsumsi per kapita yang 300.000 (1996) 732.720 a) PDB per kapita riil yang disesuaikan 2007 360.000 b) (1999) disesuaikanCatatan: a) Perkiraan maksimum pada akhir PJP II Tahun 2018 b) Penyesuaian garis kemiskinan lama dengan garis kemiskinan baru2.5. Ukuran Perkembangan IPMUntuk mengukur kecepatan perkembangan IPM dalam suatu kurun waktu digunakan reduksishortfall per tahun (annual reduction in shortfall). Ukuran ini secara sederhana menunjukkanperbandingan antara capaian yang telah ditempuh dengan capaian yang masih harus ditempuhuntuk mencapai titik ideal (IPM=100). Prosedur penghitungan reduksi shortfall IPM (=r) (dikutipdari Arizal Ahnaf dkk, 1998;141) dapat dirumuskan sebagai berikut : (IPM t+n – IPMt) x 100 1/n r= --------------------------- (IPM ideal – IPMt)Dimana : IPM t : IPM pada tahun t IPM t+n : IPM pada tahun t + n IPM ideal : 1002.6. Definisi Operasional Indikator TerpilihIndeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  18. 18. Untuk bisa melihat dengan jelas dan terarah beragam permasalahan pembangunan manusiaselama ini dan bagaimana mengimplementasikan program-program pembangunan secara baikdan terukur diperlukan ukuran atau indikator yang handal. Beberapa indikator yang seringdigunakan diantaranya adalah :• Rasio jenis kelamin Perbandingan antara penduduk laki-laki terhadap penduduk perempuan, dikalikan 100.• Angka Harapan Hidup Perkiraan rata – rata lamanya hidup sejak lahir yang akan dicapai oleh sekelompok penduduk• Persentase rumah tangga Proporsi rumah tangga yang tinggal dalam rumah dengan berlantai tanah lantai tanah• Persentase rumah tangga Proporsi rumah tangga yang menempati rumah dengan beratap layak atap layak ( atap selain dedaunan)• Persentase rumah tangga Proporsi rumah tangga dengan sumber air minum ledeng bersumber air minum ledeng• Persentase rumah tangga Proporsi rumah tangga dengan sumber air minum pompa/ bersumber air minum sumur/ mata air yang jaraknya lebih besar dari 10 meter bersih dengan tempat penampungan limbah / kotoran terdekat• Persentase rumah tangga Proporsi rumah tangga yang mempunyai jamban dengan berjamban dengan tangki septic tangki septic• Angka Melek Huruf Proporsi penduduk usia 15 tahun ke atas yang bisa membaca dan menulis (baik huruf latin maupun huruf lainnya)• Rata – Rata Lama Lama sekolah (tahun) penduduk usia 15 tahun ke atas Sekolah• Angka Partisipasi Murni Proporsi penduduk usia 7 – 12 tahun yang sedang sekolah SD SD• Angka Partisipasi Murni Proporsi penduduk usia 13 – 15 tahun yang sedang sekolah SLTP SLTP• Angka Partisipasi Murni Proporsi penduduk usia 16 – 18 tahun yang sedang sekolahIndeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  19. 19. SLTA SLTA• Persentase Penduduk Proporsi penduduk yang menamatkan pendidikan SLTP atau dengan Pendidikan SLTP pendidikan yang lebih tinggi ke Atas• Jumlah Penduduk usia Banyaknya penduduk usia 7 sampai 24 tahun sekolahIndeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  20. 20. BAB 3 GAMBARAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT KABUPATEN PASERMenjadi lazim, dalam setiap menyikapi perencanaan pembangunan baik jangka pendek, jangkamenengah maupun jangka panjang, pemerintah dituntut memahami dan menggali secaramendalam bagaimana potensi dan tantangan yang dimiliki masyarakatnya, sehingga kebijakanyang diterapkan akan sangat mendekati keinginan masyarakat. Pada bahasan berikut, akandipaparkan bagaimana potensi sosiel ekonomi masyarakat Kabupaten Paser, seperti bidangkependudukan, kesehatan, pendidikan, ekonomi dan ketenagakerjaan.3.1. Bidang Kependudukan3.1.1. Pertumbuhan PendudukJumlah penduduk Kabupaten Paser dari tahun ke tahun terus mengalami kenaikan yang cukupberarti. Pada tahun 1990, jumlah penduduk Kabupaten Paser mencapai 102 936 jiwa danbertambah menjadi 230 316 jiwa pada tahun 2010. Dengan kata lain dapat dinyatakanpenduduk Kabupaten Paser telah tumbuh lebih dari dua kali lipat selama 20 tahun terakhirsejak tahun 1990. Berdasarkan jenis kelamin terlihat bahwa dari tahun 1990 – 2010 jumlahpenduduk laki–laki masih lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk perempuan. Hal initerlihat jelas dari rasio jenis kelamin penduduk yang selalu mengalami peningkatan. Rasio jeniskelamin (RJK) merupakan perbandingan antara jumlah penduduk laki–laki terhadap jumlahpenduduk perempuan, dan bila nilai RJK penduduk disuatu wilayah di atas seratus berartiproporsi penduduk laki–laki lebih banyak dibandingkan perempuan.Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  21. 21. Tabel 3.1. Jumlah Penduduk menurut Jenis Kelamin Kabupaten Paser, Tahun 1990- 2010 Tahun Jenis Kelamin 1990 2000 2010 1 2 3 4 Laki – Laki 54.090 83.485 122.568 Perempuan 48.846 75.537 107.748 Total 102.936 159.022 230.316 Rasio Jenis Kelamin 110,74 110,52 113,75 Sumber : BPS Kabupaten Paser,2011 (hasil SP1990, SP2000, SP2010)Dibandingkan dengan hasil Sensus Penduduk Tahun 1990, dimana jumlah penduduk pada saatitu adalah sebanyak 102.936 jiwa, maka telah terjadi pertumbuhan sebesar 123,75% di tahun2010. Atau dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa penduduk Kabupaten Paser telah tumbuhlebih dari 2 kali lipat selama 20 tahun terakhir sejak tahun 1990. Tabel 3.2. Rata-Rata Laju Pertumbuhan Penduduk menurut Jenis Kelamin Kabupaten Paser, Tahun 1990- 2010 Tahun Jenis Kelamin 1990-2000 2000-2010 1990-2010 1 2 3 4 Laki – Laki 4,44 3,91 8,52 Perempuan 4,46 3,62 8,23 Total 4,45 3,77 8,39 Sumber : BPS Kabupaten Paser, 2011 (hasil SP1990, SP2000, SP2010)Pertumbuhan penduduk tahun 2000 s.d. 2010 mengalami penurunan jika dibandingkan padaperiode 10 tahun sebelumnya (tahun 1990 s.d. 2010) . Jika pada tahun 1990 - 2000 rata-ratalaju pertumbuhan penduduk per tahun Kabupaten Paser mencapai 4,45%, maka pada tahun2000 - 2010 rata-rata laju pertumbuhan penduduk turun menjadi 3,77%.Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  22. 22. 3.1.2. Persebaran PendudukPersebaran penduduk yang tidak merata perlu mendapat perhatian karena berkaitan dengandaya dukung dan daya tampung lingkungan. Persebaran penduduk di Kabupaten Paser secarageografis dapat dikatakan belum merata yang mengakibatkan penumpukan penduduk padasuatu wilayah. Ketidakmerataan ini tentunya disebabkan beberapa faktor, salah satudiantaranya adalah potensi wilayah yang dimiliki.Jika diperhatikan, penduduk Kabupaten Paser masih mengelompok pada wilayah – wilayahyang jaraknya cukup dekat dengan ibu kota kabupaten. Lebih dari 25 persen pendudukKabupaten Paser bertempat tinggal di kecamatan yang terletak di ibu kota kabupaten, yaituKecamatan Tanah Grogot. Sedang sisanya tersebar di 9 kecamatan yang lain. Pola penyebaranini akan sangat tidak menguntungkan bagi pemerataan pembangunan di suatu wilayah.Ketidakmerataan persebaran penduduk ini, secara tidak langsung juga berpengaruh padatingkat kepadatan penduduk di Kabupaten Paser. Kecamatan Tanah grogot, sebagai kecamatandengan jumlah penduduk terbanyak, memiliki kepadatan 188,66 jiwa/Km2. Hal ini berarti tiapKm2 dihuni 188 sampai 189 jiwa. Tabel 3.3. Persebaran dan Kepadatan Penduduk menurut Kecamatan Kabupaten Paser, Tahun 2010 Luas Penduduk Kepadatan Penduduk Kecamatan Wilayah Jumlah % ( Jiwa / KM2 ) 1 2 3 4 5 Batu Sopang 1.111,38 22.540 9,77 20,28 Muara Samu 855,25 4.221 1,83 4,94 Batu Engau 1.507,26 11.662 5,06 7,74 Tanjung Harapan 715,05 7.720 3,35 10,81 Pasir Belengkong 990,11 23.543 10,22 23,78 Tanah Grogot 335,58 63.311 27,49 188,66 Kuaro 747,30 23.934 10,39 32,03 Long Ikis 1.204,22 36.701 15,93 30,48 Muara Komam 1.753,40 12.459 5,41 7,11 Long Kali 2.385,39 24.225 10,52 10,16 Kabupaten Paser 11.603,94 230.316 100,00 19,85 Sumber : BPS Kabupaten Paser, 2011 (hasil SP2010)Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  23. 23. 3.2. Bidang kesehatanTujuan dari pembangunan manusia dibidang kesehatan adalah untukmencapai umur panjangyang sehat. Peningkatan derajat kesehatan masyarakat dapat diukur dari tingkat mortalitas danmorbiditas penduduknya. Menurut Henrik L Blum, peningkatan derajat kesehatan dipengaruhioleh empat faktor penentu, yaitu : faktor lingkungan berpengaruh sebesar 45 persen, perilakukesehatan sebesar 30 persen, pelayanan kesehatan sebesar 20 persen dankependudukan/keturunan berpengaruh sebesar 5 persen. Hubungan derajat kesehatan dengankeempat faktornya digambarkan sebagai berikut: Lingkungan 45 persen Keturunan DERAJAT Pelayanan Kesehatan 5 persen KESEHATAN 20 persen Perilaku 30 PersenBerdasarkan bagan di atas, maka peningkatan kesehatan lingkungan dan pelayanan kesehatanmerupakan faktor yang sangat memungkinkan untuk diintervensi dengan cepat, dankontribusinyapun mencapai 65 persen. Sedangkan perubahan perilaku, meskipun dapatdiintervensi, namun perubahannya memerlukan waktu yang cukup lama.3.2.1. Derajat KesehatanAngka Harapan Hidup saat dilahirkan (AHHo) / Expectation of Life at Birth (e0), Angka KematianBayi (AKB) / Infant Mortality Rate (IMR), angka kematian kasar, dan status gizi, merupakanindikator yang mencerminkan derajat kesehatan. Dari indikator-indikator tersebut yangdisepakati digunakan sebagai acuan untuk mengukur kemajuan pembangunan manusia adalahAngka Harapan Hidup saat dilahirkan (AHHo).Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  24. 24. Secara konsepsi, angka harapan hidup diartikan sebagai perkiraan lama hidup pendudukdengan harapan tidak ada perubahan pola mortalitas. Semakin tinggi pencapaian angkaharapan hidup di suatu daerah secara tidak langsung dapat menggambarkan semakinmembaiknya tingkat kesejahteraan masyarakat secara umum. Menurut data Susenas 2009,capaian angka harapan hidup penduduk Kabupaten Paser sebesar 72,74 tahun dan meningkatmenjadi 73.09 pada tahun 2010. Tabel 3.5. Perkembangan Angka Harapan Hidup Penduduk Kabupaten Paser Tahun 2006 – 2010 Tahun Indikator Derajat Kesehatan 2006 2007 2008 2009 2010 1 2 3 4 5 6 Angka Harapan Hidup 71.70 72.06 72.39 72.74 73.09Sumber : BPS Kabupaten Paser, 2011Peningkatan angka harapan hidup Kabupaten Paser ini seiring dengan besarnya perhatianpemerintah daerah terhadap layanan kesehatan masyarakat, seperti telah diterbitkannya SKBupati tentang pembebasan retribusi pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas se-KabupatenPaser dan terus digalakkannya program desa.Fenomena tersebut diatas menunjukkan bahwa biaya peningkatan derajat kesehatan dimasyarakat masih menjadi beban pemerintah sepenuhnya. Pada saat alokasi anggarankesehatan meningkat, biasanya akan diikuti pula oleh peningkatan AHH yang signifikan.Sedangkan jika alokasi belanja publik di bidang kesehatan pada APBD menurun, dengansendirinya akan menekan secara langsung pemenuhan kebutuhan kesehatan di masyarakat,dan berimbas pada penurunan laju peningkatan AHH pada periode berikutnya.Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  25. 25. Menurut Mahlil Ruby (Kompas, 29 Januari 2007), yang disampaikan saat mempertahankandisertasinya, mengungkapkan bahwa selama ini pendanaan kesehatan di Indonesia sebagianbesar masih didominasi oleh dana dari rumahtangga, yaitu sebesar 64 persen (out of pocket).Karena sifat kebutuhan pelayanan kesehatan di rumahtangga bersifat tidak pasti, seringkalibelanja kesehatan di rumahtangga di luar kemampuan ekonominya (katastropik). Akibatnya,belanja kesehatan dapat memiskinkan rumahtangga yang tidak miskin.Jika kondisi tersebut tidak ditangani secara baik dan cepat maka rumahtangga akan membatasiterhadap akses layanan kesehatan, yang pada akhirnya justru menurunkan derajatkesehatannya atau rumahtangga menjadi jatuh miskin akibat belanja kesehatan katastropiktersebut. Oleh karena itu, upaya perbaikan derajat kesehatan tidak semudah membalik telapaktangan, diperlukan peran serta dan kesungguhan yang nyata dari berbagai elemen di bidangkesehatan, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat secara luas.Upaya yang paling memungkinkan pada kondisi seperti ini adalah bagaimana meningkatkankeberpihakan yang nyata dari pemerintah melalui peningkatan alokasi belanja publik di bidangkesehatan pada APBD dan menggali potensi sektor swasta, seperti membujuk pihak swastaagar memperbesar alokasi dana corporate social responsibility (CSR) untuk bidang kesehatan,dengan harapan di masa mendatang biaya kesehatan murah dapat dinikmati masyarakat secaralebih luas.3.2.2. Pelayanan KesehatanKemiskinan seringkali menghambat penduduk miskin untuk dapat mengakses berbagai fasilitaskesehatan. Salah satu contohnya adalah akses terhadap sarana kesehatan seperti Puskesmasatau Klinik untuk memeriksakan kesehatannya, terutama dalam hal mengobati anggotarumahtangga yang menderita sakit. Kemampuan berobat ini, tidak hanya dilihat darikemampuan dalam hal biaya kesehatan yang dikeluarkan oleh rumahtangga tersebut tetapijuga kemampuan rumahtangga dalam aspek lain, seperti kemampuan dalam hal transportasi,akomodasi atau hal lain yang memerlukan biaya dalam hal proses pengobatannya.Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  26. 26. Akses yang rendah terhadap kesehatan merupakan masalah yang dihadapi masyarakat miskin.Masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat miskin antara lain biaya pengobatan danobat-obatan yang mahal, jarak yang jauh dari sarana kesehatan tersebut, serta kurangnyapengetahuan tentang pentingnya kesehatan.Sarana kesehatan yang ada di Kabupaten Paser ternyata sudah memadai untuk jumlahpenduduk yang harus dilayani. Hal ini dapat dilihat dari jumlah puskesmas, dan rumah sakityang ada di Kabupaten Paser. Tabel 3.6. Jumlah Fasilitas Kesehatan Kabupaten Paser menurut Jenis Dirinci Perkecamatan Kabupaten Paser, Tahun 2010 Puskesmas Klinik Kecamatan Rumah Sakit Puskesmas Pusban Keliling Swasta 1 2 3 4 5 6 Batu Sopang 0 1 3 1 4 Muara Samu 0 1 3 1 0 Batu Engau 0 1 5 1 0 Tanjung Harapan 0 1 8 1 1 Pasir Belengkong 0 3 10 3 1 Tanah Grogot 1 2 12 2 5 Kuaro 0 2 12 2 0 Long Ikis 0 3 21 3 0 Muara Komam 0 1 7 1 0 Long Kali 0 2 3 2 0 2010 1 17 94 17 11 2009 1 17 97 27 17 2008 1 17 95 20 13 2007 1 17 89 16 1 2006 1 17 89 16 1Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Paser,2011Dibandingkan dengan jumlah penduduk, sebuah puskesmas/puskesmas pembantu di wilayahKabupaten Paser melayani kurang lebih 2.000 penduduk. Idealnya, satu puskesmas hanyamelayani kurang lebih 7.000 penduduk. Jadi, di Kabupaten Paser jumlah puskesmas sudahmemadai dengan jumlah penduduk.Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  27. 27. Fasilitas kesehatan yang mendukung layanan kesehatan di Kabupaten Paser adalah keberadaanrumah sakit rujukan. Dewasa ini, fasilitas Rumah sakit Umum Daerah (RSUD) terus ditingkatkan,hal ini terlihat dari terus bertambahnya jumlah tenaga kesehatan di RSUD, utamanya perawat.Penambahan jumlah perawat yang cukup significant terjadi selama tahun 2008. Jumlahperawat pada tahun 2007 hanya 31 orang dan pada tahun 2008 bertambah hingga 90 orang. Tabel 3.7. Jumlah Tenaga Kesehatan di RSUD P Sebaya Kabupaten Paser, Tahun 2007 - 2010 Tahun Tenaga Kesehatan 2007 2008 2009 2010 1 2 3 4 5 Dokter Spesialis 9 9 8 10 Umum 11 12 18 20 Gigi 2 2 2 3 Perawat 31 90 95 101 Bidan 28 31 31 34 Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Paser, 20113.2.3. Kesehatan LingkunganSetiap manusia dimanapun berada membutuhkan tempat untuk tinggal yang disebut rumah.Rumah berfungsi sebagai tempat untuk melepaskan lelah, tempat bergaul dan membina rasakekeluargaan diantara anggota keluarga, tempat berlindung dan menyimpan barang berharga,dan rumah juga merupakan status lambang sosial (Azwar, 1996; Mukono, 2000).Perumahan merupakan kebutuhan dasar manusia dan juga merupakan determinan kesehatanmasyarakat. Karena itu pengadaan perumahan merupakan tujuan fundamental yang kompleksdan tersedianya standar perumahan merupakan isu penting dari kesehatan masyarakat.Perumahan yang layak untuk tempat tinggal harus memenuhi syarat kesehatan sehinggapenghuninya tetap sehat. Perumahan yang sehat tidak lepas dari ketersediaan prasarana dansaran a yang terkait, seperti penyediaan air bersih, sanitasi pembuangan sampah, transportasi,dan tersedianya pelayanan sosial (Krieger and Higgins, 2002).Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  28. 28. Rumah adalah struktur fisik terdiri dari ruangan, halaman dan area sekitarnya yang dipakaisebagai tempat tinggal dan sarana pembinaan keluarga (UU RI No. 4 Tahun 1992). MenurutWHO, rumah adalah struktur fisik atau bangunan untuk tempat berlindung, dimana lingkunganberguna untuk kesehatan jasmani dan rohani serta keadaan sosialnya baik untuk kesehatankelu arga dan individu (Komisi WHO Mengenai Kesehatan dan Lingkungan, 2001). Dengandemikian dapat dikatakan bahwa rumah sehat adalah bangunan tempat berlindung danberistirahat serta sebagai sarana pembinaan keluarga yang menumbuhkan kehidupan sehatsecara fisik, mental dan sosial, sehingga seluruh anggota keluarga dapat bekerja secaraproduktif. Oleh karena itu keberadaan perumahan yang sehat, aman, serasi, teratur sangatdiperlukan agar fungsi dan kegunaan rumah dapat terpenuhi dengan baik.Kriteria rumah sehat didasarkan pada pedoman teknis penilaian rumah sehat DirektoratJenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes RI tahun 2007. Pedomanteknis ini disusun berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor:829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan Kesehatan Perumahan. Sedangkan pembobotanterhadap kelompok komponen rumah, kelompok sarana sanitasi, dan kelompok perilakudidasarkan pada teori Blum, yang diinterpetasikan terhadap bobot komponen rumah (31%),bobot sarana sanitasi (25%), bobot perilaku (44%)Kelompok Komponen Rumah yang dijadikan dasar penilaian rumah sehat menggunakanIndikator komponen sebagai berikut :1. Langit-langit2. Dinding3. Lantai4. Jendela kamar tidur5. Jendela ruang keluarga6. Ventilasi7. Lubang asap dapur8. Pencahayaan9. Kandang10. Pemanfaatan Pekarangan11. Kepadatan penghuniIndeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  29. 29. Indikator sarana sanitasi meliputi :1. Sarana air bersih2. Jamban3. Sarana pembuangan air limbah4. Sarana pembuangan sampah.Perilaku penghuni rumah dinilai dengan indikator penilaian yang meliputi :1. Kebiasaan mencuci tangan2. Keberadaan vektor tikus3. Keberadaan Jentik.Peningkatan indicator komponen rumah dan indicator sarana sanitasi merupakan faktor yangsangat memungkinkan untuk diintervensi dengan cepat, dan kontribusinyapun mencapai 56persen. Sedangkan perubahan perilaku, meskipun dapat diintervensi, namun perubahannyamemerlukan waktu yang cukup lama.Data indicator komponen perumahan yang dikumpulkan Badan Pusat Statistik melalui SurveiSosial Ekonomi antara lain atap, dinding, dan lantai. Menurut jenis atap yang digunakan rumahtangga di Kabupaten Paser tahun 2010 sebagian besar (83,3 persen) terbuat dari seng. Selainseng, jenis atap lain yang digunakan rumah tangga Kabupaten Paser antara lain sirap (6,2persen), genteng (3,3 persen), ijuk/ rumbia (3,1 persen), asbes (2,6 persen), beton (0,6 persen)dan jenis lainnya (0,9 persen). Grafik 3.1. Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Atap Terluas di Kabupaten Paser, 2010 Sumber : BPS Kabupaten Paser, 2011Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  30. 30. Dinding merupakan sisi luar/ batas dari suatu bangunan atau penyekat dengan bangunan fisiklainnya. Menurut jenis dinding terluas, rumah tangga di Kabupaten Paser tahun 2010 sebagianbesar (78,0 persen) tinggal pada rumah dengan dinding terluas terbuat dari kayu. Grafik 3.2. Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Dinding Terluas di Kabupaten Paser, 2010 Sumber : BPS Kabupaten Paser, 2011Jenis lantai yang dihuni rumah tangga menggambarkan kondisi tempat tinggal penduduk.Menurut jenis lantai yang digunakan, sebagian besar (95,3 persen) rumah tangga di KabupatenPaser tahun 2010 tinggal di rumah dengan lantai terluas bukan tanah atau bambu, sedangsisanya (4,7 persen) tinggal di rumah dengan lantai terluas tanah. Grafik 3.3. Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Lantai Terluas di Kabupaten Paser, 2010 Sumber : BPS Kabupaten Paser, 2011Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  31. 31. Data indicator sarana sanitasi yang dikumpulkan Badan Pusat Statistik melalui Survei SosialEkonomi antara lain sarana air bersih, jamban, dan sarana pembuangan air limbah.Air merupakan sumber kehidupan/kebutuhan pokok manusia namun dalam halpenggunaannya berbeda-beda begitu juga kualitas maupun kwantitasnya. Air merupakanmedia penularan penyakit yang paling cepat karena sifatnya yang flesibel untuk tempatberkembangbiak ataupun penularan berbagai sumber penyakit, maka dari itu perlu menjagakualitas dan kwantitas air demi terciptanya kesehatan.Pada tahun 2010, sebagian besar (27,8 persen) rumah tangga di Kabupaten Pasermenggunakan leding meteran sebagai sumber air minum. Sedang sisanya menggunakan sumurtak terlindung (25,2 persen), sumur terlindung (15,0 persen), air isi ulang (10,8 persen), airhujan (8,4 persen), air sungai (6,1 persen), air kemasan bermerk (4,3 persen), leding eceran (1,7persen), sumur bor / pompa (0,4 persen), mata air tak terlindung (0,4 persen), dan mata airterlindung (0,1 persen). Grafik 3.4. Persentase Rumah Tangga menurut Sumber Air Minum di Kabupaten Paser, 2010 Sumber : BPS Kabupaten Paser, 2011Apabila dilihat dari penggunaan fasilitas air minum oleh rumah tangga, di Kabupaten Pasersebagian besar fasilitas air minum rumah tangga hanya digunakan sendiri (81,4 persen), dandigunakan bersama sebesar 7,9 persen, digunakan secara umum sebesar 1,0 persen dan tidakmemiliki fasilitas air minum sebesar (9,7 persen).Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  32. 32. Grafik 3.5. Persentase Rumah Tangga menurut Fasilitas Air Minum di Kabupaten Paser, 2010 Sumber : BPS Kabupaten Paser, 2011Kualitas air yang berasal dari sumur bor / pompa, sumur, dan mata air akan dipengaruhi olehjarak dengan penampungan limbah/ kotoran/ tinja terdekat. Jarak yang sehat denganpenampungan limbah/ kotoran/ tinja terdekat adalah lebih dari 10 meter. Namun pada tahun2010 di Kabupaten Paser masih ada sekitar 9,2 persen rumah tangga dengan jarak sumber airminum rumah tangga dan penampungan limbah/ kotoran/ tinja terdekat kurang dari 10 meterpadahal rumah tangga tersebut menggunakan air minum yang bersumber dari sumur bor/pompa, sumur, atau mata air. Grafik 3.6. Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Sumber Air Minum ke Tempat Penampungan Limbah/ Kotoran/ Tinja di Kabupaten Paser, 2010 Sumber : BPS Kabupaten Paser, 2011Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  33. 33. Selain air minum, sanitasi rumah juga perlu mendapat perhatian yang besar agar anggotarumahtangga biasa hidup sehat dan sekaligus menopang terwujudnya rumah sehat dansekaligus menopang terwujudnya rumah sehat. Salah satunya adalah penggunaan kloset. Jeniskloset yang digunakan rumah tangga juga dapat menggambarkan tentang kesehatanlingkungan. Pada tahun 2010 rumah tangga di Kabupaten Paser sebagian besar (75,0 persen)menggunakan kloset jenis leher angsa. Adapun jenis kloset lain yang digunakan adalahplensengan (11,0 persen), cemplung/cubluk (12,0 persen), dan sisanya (2,0 persen) tidakmenggunakan kloset. Grafik 3.7. Persentase Rumah Tangga menurut Jarak Sumber Air Minum ke Jenis Kloset yang Digunakan di Kabupaten Paser, 2010 Sumber : BPS Kabupaten Paser, 2011Tempat pembuangan akhir tinja merupakan salah satu penunjang sanitasi pada rumahtangga.Tempat pembuangan akhir kotoran / tinja sangat berpengaruh pada kesehatan rumah tanggadan lingkungannya. Tempat pembuangan akhir kotoran/ tinja yang tidak memenuhi syaratsanitasi akan menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan sekitar, misalnya seperti tempatpembuangan akhir kotoran/ tinja berupa lubang tanah atau tanah terbuka dapat mencemarkansumber air di dekatnyadan dapat menimbulkan bau yang tidak sedap. Sebagian besar (65,1persen) rumahtangga di Kabupaten Paser 2010 telah menggunakan tangki/SPAL. Walaupundemikian, 28,1 persen rumah tangga masih menggunakan lubang tanah sebagai tempatpembuangan akhir kotoran/ tinja.Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  34. 34. Grafik 3.8. Persentase Rumah Tangga Menurut Tempat Pembuangan Akhir Tinja yang Digunakan di Kabupaten Paser, 2010 Sumber : BPS Kabupaten Paser, 20113.3. Bidang PendidikanPendidikan merupakan elemen penting pembangunan dan perkembangan sosial-ekonomimasyarakat. Telah disadari bersama, pendidikan memiliki arti penting bagi upaya meningkatkankualitas hidup individu, masyarakat dan bangsa. Oleh karena itu, proses pendidikan yang baiksesungguhnya adalah upaya sadar individu atau masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan,keterampilan, serta memperluas wawasannya. Berbekal pendidikan yang cukup, setiap individudituntut dengan kemampuannya sendiri dapat meningkatkan partisipasinya dalam berbagaiaspek kehidupan, sehingga dapat hidup secara lebih layak. Dalam konteks ini, pendidikanadalah suatu sarana untuk mencapai tujuan tersebut.3.3.1. Angka Melek HurufDalam perspektif makro, ukuran yang sangat mendasar dari tingkat pendidikan adalah angkamelek huruf penduduk dewasa (usia 15 tahun keatas). Secara konsepsi, angka melek hurufmenunjukkan kemampuan individu yang bisa membaca dan menulis huruf latin dan lainnya.Besaran angkanya dapat menggambarkan bagaimana mutu/kualitas sumber daya manusia dandigunakan pula dalam membandingkan kesempatan dan kualitas pendidikan antar wilayah.Bahkan menurut Sagan (1992), angka melek huruf merupakan faktor yang paling kuatmempengaruhi harapan hidup. Perspektif tingkat pendidikan (melek huruf) yang berkait eratIndeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  35. 35. dengan berbagai dimensi sosial ekonomi lainnya menunjukkan bahwa upaya-upayamenurunkan angka buta huruf dan buta pengetahuan harus selalu menjadi prioritas. Grafik 3.9. Angka Melek Huruf Penduduk 15 Tahun Ke Atas di Kabupaten Paser, 2006 - 2010 Sumber : BPS Kabupaten Paser, 2011Dari tahun 2006 – 2009, angka melek huruf Kabupaten Paser belum mengalami kenaikan yangtidal terlalu significant. Angka melek huruf tahun 2006 – 2009 secara berurutan adalah 94,61persen, 94,61 persen, 94,61 persen, 95,41 persen, dan 96,00 persen. Kondisi tersebutmenunjukkan bahwa upaya meningkatkan persentase penduduk yang melek huruf relatifdemikian sulit. Hal ini disebabkan karena sebagian besar penduduk yang masih buta hurufdewasa ini adalah manusia usia lanjut (manula), mereka tidak lagi memiliki motivasi untukbelajar dan meningkatkan pengetahuan.3.3.2. Rata – Rata Lama SekolahTerbatasnya anggaran pendidikan dari pemerintah seringkali menjadi dilema, targetpencapaian rata-rata lama bersekolah penduduk harus menghadapi kenyataan bahwa tidaksemua rumahtangga mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga pendidikan tinggi, semakinmahalnya biaya sekolah menyebabkan sebagian orangtua terpaksa memutuskan kelangsungansekolah anak-anaknya dan diarahkan membantu ekonomi keluarga. Fenomena ini sangatdisadari pemerintah, dengan menerapkan berbagai strategi agar anak-anak putus sekolah tidakkehilangan harapan meraih pendidikan tinggi. Terus ditingkatkannya alokasi anggaran di bidangpendidikan baik melalui APBD maupun APBN menunjukkan komitmen kuat pemerintah, dandigulirkannya dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) maupun Kartu Bebas Biaya Sekolah(KBBS) diharapkan mampu mencegah anak-anak rawan Drop Out (DO) tidak melanjutkansekolah.Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  36. 36. Menurut data Susenas 2008, rata-rata lama sekolah penduduk Kabupaten Paser mencapaisebesar 7,61 tahun meningkat menjadi 7,75 tahun pada tahun 2009, sedangkan di tahun 2010menjadi tahun 7,85 tahun. Laju peningkatan rata-rata lama sekolah yang cenderung lambatselama periode 2007-2009 mengindikasikan bahwa program intervensi langsung pemerintahuntuk mempertahankan anak-anak tetap bersekolah belum terlihat memiliki daya ungkit yangnyata terhadap pencapaian rata-rata lama sekolah. Hal ini lebih disebabkan karena bebanekonomi keluarga mengakibatkan para orang tua tidak memiliki kemampuan yang cukup untukmengalokasikan pendapatannya bagi pengeluaran pendidikan anak-anak, walaupun mendapatkeringanan biaya sekolah, semakin mahalnya ongkos transportasi ke sekolah dan biaya lainnyayang tidak ditanggulangi pemerintah menyebabkan orang tua masih cukup terbebani. Grafik 3.10. Rata – Rata Lama Sekolah Penduduk 15 Tahun Ke Atas di Kabupaten Paser, 2006 - 2010 Sumber : BPS Kabupaten Paser, 2011Mungkin dalam jangka panjang, kesungguhan dan kerja keras pemerintah menangani masalahpendidikan akan terlihat jelas dan dipastikan dapat mengungkit rata-rata lama sekolahpenduduk. Untuk mengatasi beban ekonomi keluarga, upaya yang mungkin dilakukan adalahbagaimana meningkatkan pendapatan keluarga agar cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar,yaitu pangan, kesehatan dan pendidikan anak menjadi skala prioritas. Program-programpemberdayaan masyarakat tampaknya harus lebih difokuskan pada rumahtangga miskin,utamanya pada mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan, kesehatan danpendidikan anak.Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  37. 37. 3.3.3. Pendidikan Tertinggi Yang DitamatkanSelama lima tahun terakhir peningkatan pendidikan penduduk umur 10 tahun keatas ditandaidengan menurunnya persentase penduduk berpendidikan rendah kemudian diikuti denganmeningkatnya persentase penduduk pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Persentasependuduk Kabupaten Paser umur 10 tahun ke atas yang berpendidikan rendah (SD ke bawah)masih cukup besar (53,5 persen), walau sebagian besar diantaranya adalah penduduk dewasadan tua. Oleh karena itu proporsi penduduk yang berpendidikan rendah tersebut secaraberangsur akan turun sejalan dengan peralihan generasi dan perluasan kesempatanmelanjutkan sekolah. Grafik 3.11. Persentase Penduduk Kabupaten Paser Usia 10 Tahun Ke Atas Menurut Pendidikan Terakhir Yang Ditamatkan, Tahun 2006 – 2010 Sumber : BPS Kabupaten Paser, 20113.3.4. Partisipasi Pendidikan SekolahAngka Partisipasi Sekolah (APS) yang merupakan gambaran tingkat partisipasi dankeikutsertaan masyarakat untuk mengikuti pendidikan, semakin tinggi tingkat pendidikan,semakin rendah tingkat partisipasinya, walaupun dalam setiap tingkatan semakin menunjukkanpeningkatan APS. APS untuk SD/MI paling besar dibanding pada tingkatan pendidikan diatasnya. Demikian juga untuk tingkat SLTP, APS-nya masih cukup besar. Angka-angka tersebutmenunjukkan tingkat partisipasi pendidikan di tingkat dasar sangat tinggi, dan menurun ketikamasuk tingkatan yang lebih tinggi.Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  38. 38. Tabel 3.8 Angka Partisipasi Sekolah Kabupaten Paser Menurut Kelompok Umur Jenjang Pendidikan Tahun 2006 – 2010 Usia Sekolah 2006 2007 2008 2009 2010 1 2 3 4 5 6 7 – 12 96,52 97,89 98,03 98,50 96,38 13 – 15 86,97 85,53 85,00 85,80 85,30 16 – 18 59,67 49,84 47,64 59,78 65,52 19 - 24 - 8,97 8,52 12,42 7,42 Sumber : BPS Kabupaten Paser, 20113.3.5. Fasilitas PendidikanKemajuan dunia pendidikan pada suatu wilayah tidak lepas dari campur tangan pemerintahbaik pemerintah pusat maupun daerah. Salah satu wujud peran serta pemerintah dalamkemajuan dunia pendidikan adalah peningkatan jumlah sekolah dari tahun ke tahun. Sampaidengan tahun 2010, jumlah sekolah yang ada di Kabupaten Paser berdasarkan tingkatpendidikan adalah sekolah dasar 225 unit, SLTP 69 unit, SLTA 34 unit, dan PT 3 unit. Tabel 3.9. Jumlah Sekolah, Murid dan Guru Kabupaten Paser Menurut Jenjang Pendidikan , Tahun 2009 - 2010 Jenjang 2009 2010 Pendidikan 1 2 3 SD/MI/SDLB Jumlah SD 225 225 Murid 31.143 32.338 Guru 1.987 2.457 Rasio Murid Guru 15,63 13,16 SLTP/ MTS/ SMPLB Jumlah SLTP 68 69 Murid 10.819 11.260 Guru 925 874 Rasio Murid Guru 11,70 12,88 SLTA / SMK / MA Jumlah SLTA 32 34 Murid 7.897 8.140 Guru 698 712 Rasio Murid Guru 11,31 11,43 Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Paser, 2011Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  39. 39. 3.4. Paritas Daya BeliPeningkatan pencapaian angka IPM Kabupaten Paser pada tahun 2010 ditunjang olehkonstribusi dari komponen daya beli penduduk. Grafik 3.12. Perkembangan Paritas Daya Beli Kabupaten Paser Tahun 2006 – 2010 Sumber : BPS Kabupaten Paser, 2011Kemampuan daya beli masyakat Kabupaten Paser pada tahun 2010 masih bertahan padakisaran Rp.629.930 (hanya naik 0.55 poin, laju pertumbuhannya lebih tinggi dibandingkan padaperiode 2008-2009). Agar laju pertumbuhan kemampuan daya beli meningkat pemerintahperlu menyiapkan strategi dan kebijakan ekonomi yang berpihak pada masyarakat, sepertimenyiapkan program ketahanan pangan secara berkelanjutan.Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  40. 40. BAB 4 TREND INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA KABUPATEN PASERSesuai dengan fungsinya sebagai suatu indikator, IPM dihitung untuk melihat keterbandinganantar wilayah atau daerah. Hal ini dimaksudkan untuk melihat posisi relatif pembangunanmanusia di suatu wilayah dibandingkan wilayah lainnya. Untuk itu, dengan membandingkanbesaran IPM Kabupaten Paser dengan IPM kabupaten/kota lain di Provinsi Kalimantan Timur,maka dapat diperoleh gambaran mengenai posisi relatif pembangunan manusia di KabupatenPaser dibandingkan wilayah lainnya di Kalimantan Timur.Pencapaian pembangunan manusia di Kabupaten Paser pada kurun 2006 – 2010 mengalamipeningkatan. Pada tahun 2010, IPM Kabupaten Paser telah mencapai 74,66. Sejak tahun 2006sampai 2010, peringkat IPM Kabupaten Paser di Kalimantan Timur menempati peringkat 6setelah Balikpapan, Samarinda, Bontang, Tarakan dan Bulongan. Grafik 4.1. Perkembangan IPM Kabupaten Paser Tahun 2006 - 2010 Sumber : BPS Kabupaten Paser,2011Walaupun semua kabupaten / kota di Kalimantan Timur kualitas manusia mereka,kemungkinan besar perbaikan kualitas manusia di Kabupaten Paser cenderung lebih cepat.Untuk melihat tingkat kelajuan peningkatan IPM dalam suatu periode dan wilayah tertentudapat dilihat dari angka shortfall. Angka ini mengukur rasio pencapaian kesenjangan antaraIndeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  41. 41. jarak yang telah ditempuh dengan yang harus ditempuh untuk mencapai kondisi ideal(IPM=100). Semakin besar angka shortfall, maka semakin cepat kenaikan IPM, atau dengan katalain bahwa kinerja pembangunan manusia dalam suatu periode dan wilayah tertentu semakincepat.Dalam kurun tahun 2009 – 2010, angka shortfall Kabupaten Paser menunjukkan adanyapeningkatan dibanding periode 2008 – 2009 bahkan melebihi angka propinsi. Hal inimenunjukkan laju kenaikan IPM Kabupaten Paser pada periode 2009 – 2010 lebih cepatdibanding laju kenaikan IPM Kabupaten Paser pada periode 2008 – 2009. Grafik 4.2. Reduksi Shotfall IPM Kabupaten / Kota Propinsi Kalimantan Timur Tahun 2006 - 2010Sumber : BPS Kabupaten Paser,2011Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  42. 42. [LAMPIRAN ]Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  43. 43. Tabel 1. Daftar Paket Komoditas yang Digunakan dalam Penghitungan Paritas Daya Beli (PPP) Proporsi dari Komoditi Unit Total Konsumsi (%) 1 2 3 1. Beras local Kg 7.25 2. Tepung terigu Kg 0.10 3. Singkong Kg 0.22 4. Tuna/Cakalang Kg 0.50 5. Teri Ons 0.32 6. Daging Sapi Kg 0.78 7. Ayam Kg 0.65 8. Telur Butir 1.48 9. Susu kental manis 397 Gram 0.48 10. Bayam Kg 0.30 11. Kacang panjang Kg 0.32 12. Kacang tanah Kg 0.22 13. Tempe Kg 0.79 14. Jeruk Kg 0.39 15. Pepaya Kg 0.18 16. Kelapa Butir 0.56 17. Gula Ons 1.61 18. Kopi Ons 0.60 19. Garam Ons 0.15 20. Merica Ons 0.13 21. Mie instant 80 Gram 0.79 22. Rokok kretek 10 Batang 2.86 23. Listrik Kwh 2.06 24. Air minum mP3P 0.46 25. Bensin Liter 1.02 26. Minyak tanah Liter 1.74 27. Sewa Rumah Unit 11.56 Total 37.52Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  44. 44. Tabel. 2. Angka Harapan Hidup Kabupaten / Kota Propinsi Kalimantan Timur Tahun 2006 - 2010 Angka Harapan Hidup Kabupaten / Kota (Tahun) 2006 2007 2008 2009 2010 1 2 3 4 5 6 64 Kalimantan Timur 70.40 70.60 70.80 71.00 71,20 01 Paser 71.70 72.06 72.39 72.74 73,09 02 Kutai Barat 69.50 69.70 69.89 70.08 70,16 03 Kutai 67.60 67.68 67.76 67.85 67,93 04 Kutai Timur 67.90 68.08 68.25 68.43 68,61 05 Berau 68.90 69.16 69.41 69.66 69,92 06 Malinau 67.90 68.01 68.11 68.22 68,33 07 Bulongan 72.20 72.52 72.55 72.73 72,90 08 Nunukan 70.60 70.84 71.07 71.30 71,54 09 Penajam Paser Utara 70.90 71.04 71.18 71.32 71,46 10 Tana Tidung 72.58 72.61 72,64 71 Kota Balikpapan 71.30 71.52 71.73 71.95 72,17 72 Kota Samarinda 70.40 70.61 70.81 71.01 71,21 73 Kota Tarakan 71.00 71.19 71.37 71.55 71,74 74 Kota Bontang 71.80 71.89 72.11 72.26 72,42 Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Paser, 2011Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  45. 45. Tabel. 3. Angka Melek Huruf Kabupaten / Kota Propinsi Kalimantan Timur Tahun 2006 – 2010 Angka Melek Huruf Kabupaten / Kota (Persen) 2006 2007 2008 2009 2010 1 2 3 4 5 6 64 Kalimantan Timur 95.48 95.70 96.36 96.89 97,05 01 Paser 94.61 94.61 94.61 95.41 96,00 02 Kutai Barat 91.88 95.49 95.49 95.97 95,97 03 Kutai 96.41 96.41 96.41 96.87 96,87 04 Kutai Timur 94.79 95.48 95.48 95.89 97,28 05 Berau 93.74 94.82 95.48 96.30 97,18 06 Malinau 92.33 92.33 92.33 92.65 92,94 07 Bulongan 93.58 93.58 95.50 95.55 95,56 08 Nunukan 93.30 93.30 93.30 93.94 94,35 09 Penajam Paser Utara 93.80 93.80 94.46 94.93 95,55 10 Tana Tidung 88.00 88.49 89,05 71 Kota Balikpapan 97.90 97.98 98.32 98.37 98,76 72 Kota Samarinda 96.95 96.95 97.23 97.91 98,01 73 Kota Tarakan 97.89 97.89 97.89 97.92 97,97 74 Kota Bontang 98.10 98.10 98.34 99.08 99,20 Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Paser, 2011Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  46. 46. Tabel. 4. Rata-rata Lama Sekolah Kabupaten / Kota Propinsi Kalimantan Timur Tahun 2006 - 2010 Rata – rata Lama Sekolah Kabupaten / Kota (Tahun) 2006 2007 2008 2009 2010 1 2 3 4 5 6 64 Kalimantan Timur 8.80 8.80 8.80 8.85 8,87 01 Paser 7.30 7.38 7.61 7.75 7,85 02 Kutai Barat 7.06 7.75 7.75 7.79 7,80 03 Kutai 8.30 8.30 8.30 8.33 8,33 04 Kutai Timur 7.29 7.57 7.61 7.65 7,86 05 Berau 7.60 7.83 7.86 7.91 8,13 06 Malinau 7.43 7.61 7.61 7.67 7,76 07 Bulongan 7.30 7.58 7.72 7.88 8,11 08 Nunukan 7.40 7.40 7.40 7.42 7,42 09 Penajam Paser Utara 7.40 7.53 7.57 7.58 7,66 10 Tana Tidung - 7.00 7.05 7,10 71 Kota Balikpapan 10.02 10.03 10.03 10.05 10,08 72 Kota Samarinda 9.70 9.73 9.73 9.77 9,80 73 Kota Tarakan 9.13 9.13 9.30 9.33 9,36 74 Kota Bontang 9.90 9.90 9.97 10.01 10,04 Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Paser, 2011Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  47. 47. Tabel. 5. Paritas Daya Beli Kabupaten / Kota Propinsi Kalimantan Timur Tahun 2006 - 2010 Paritas Daya Beli Kabupaten / Kota (Rp 000,-) 2006 2007 2008 2009 2010 1 2 3 4 5 6 64 Kalimantan Timur 623.57 628.10 634.52 638.73 642,51 01 Paser 618.82 620.52 625.82 626.47 629,93 02 Kutai Barat 621.35 621.50 623.05 625.57 628,83 03 Kutai 622.38 622.85 628.71 632.64 637,10 04 Kutai Timur 613.66 615.71 619.00 621.34 624,58 05 Berau 622.39 628.90 633.12 634.47 636,08 06 Malinau 640.32 640.82 641.32 645.91 647,91 07 Bulongan 620.34 626.40 631.82 633.85 635,92 08 Nunukan 625.78 626.00 633.26 637.56 639,44 09 Penajam Paser Utara 617.94 619.55 625.27 628.25 630,91 10 Tana Tidung 613.17 616.13 618,43 71 Kota Balikpapan 637.81 640.00 646.41 651.65 654,78 72 Kota Samarinda 639.44 639.50 643.80 647.22 649,93 73 Kota Tarakan 630.77 634.21 639.38 643.45 646,54 74 Kota Bontang 619.56 625.25 628.37 630.41 633,43 Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Paser, 2011Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  48. 48. Tabel. 6. Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten / Kota Propinsi Kalimantan Timur Tahun 2006 - 2010 Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten / Kota 2006 2007 2008 2009 2010 1 2 3 4 5 6 64 Kalimantan Timur 73.26 73.77 74.52 75.11 75,56 01 Paser 72.31 72.70 73.46 73.99 74,66 02 Kutai Barat 70.50 71.93 72.16 72.60 72,90 03 Kutai 71.45 71.53 72.03 72.50 72,89 04 Kutai Timur 68.84 70.46 70.84 71.23 72,05 05 Berau 71.06 72.12 72.75 73.22 73,84 06 Malinau 71.45 71.68 71.78 72.30 72,65 07 Bulongan 72.48 73.33 74.30 74.68 75,11 08 Nunukan 72.02 72.17 72.86 73.48 73,84 09 Penajam Paser Utara 71.70 72.00 72.69 73.11 73,59 10 Tana Tidung 70.68 71.07 71,42 71 Kota Balikpapan 76.30 76.62 77.31 77.86 78,33 72 Kota Samarinda 75.48 75.62 76.12 76.68 77,05 73 Kota Tarakan 74.93 75.30 75.92 76.37 76,74 74 Kota Bontang 73.13 75.61 76.08 76.52 76,88 Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Paser, 2011Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  49. 49. Tabel. 7. Peringkat Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten / Kota Propinsi Kalimantan Timur Tahun 2006 - 2009 Kabupaten / Kota Peringkat Propinsi ‘07 ‘08 ‘09 ’10 1 2 3 4 5 64 Kalimantan Timur 5 01 Paser 6 6 6 6 02 Kutai Barat 10 10 10 10 03 Kutai 12 11 11 11 04 Kutai Timur 13 13 13 13 05 Berau 8 8 8 7 06 Malinau 11 12 12 12 07 Bulongan 5 5 5 5 08 Nunukan 7 7 7 8 09 Penajam Paser Utara 9 9 9 9 10 Tana Tidung 14 14 14 71 Kota Balikpapan 1 1 1 1 72 Kota Samarinda 2 2 2 2 73 Kota Tarakan 4 4 4 4 74 Kota Bontang 3 3 3 3 Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Paser, 2011Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  50. 50. Tabel. 8. Reduksi Short-Fall Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten / Kota Propinsi Kalimantan Timur Tahun 2008 - 2010 Reduksi Short-Fall Kabupaten / Kota ’08 – ’09 ’09 – ’10 1 2 3 64 Kalimantan Timur 2.32 1,81 01 Paser 2.00 2,56 02 Kutai Barat 1.59 1,09 03 Kutai 1.69 1,42 04 Kutai Timur 1.36 2,84 05 Berau 1.70 2,34 06 Malinau 1.85 1,25 07 Bulongan 1.48 1,70 08 Nunukan 2.28 1,38 09 Penajam Paser Utara 1.54 1,78 10 Tana Tidung 1.33 1,23 71 Kota Balikpapan 2.43 2,12 72 Kota Samarinda 2.36 1,56 73 Kota Tarakan 1.84 1,60 74 Kota Bontang 1.84 1,55 Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Paser, 2011Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1
  51. 51. Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Paser 2011 1

×