Your SlideShare is downloading. ×
ASPEK KETEKNIKAN PERTANIAN PADA APLIKASI DANPEMELIHARAAN MESIN BUDIDAYA TEBU DI PT PG RAJAWALI II UNIT          PG JATITUJ...
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN DAN BIOSISTEM              FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN                INSTITUT PERTANIAN BOGOR   ...
KATA PENGANTAR         Segala puji dan syukur dipanjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dankarunia-Nya...
DAFTAR ISI                                                                                                                ...
DAFTAR TABEL                                                                                                              ...
DAFTAR GAMBAR                                                                                                             ...
Gambar 41. Perbaikan pada Implemen ..............................................................................   49Gamb...
DAFTAR LAMPIRAN                                                                                                           ...
I. PENDAHULUAN1.1. LATAR BELAKANG           Salah satu produk pangan yang penting di Indonesia adalah gula. Gula merupakan...
Tujuan instruksional dari praktik lapangan antara lain:          Meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang aplikasi dan p...
c. Pengukuran kinerja mesin      Pengukuran kinerja mesin dapat dilakukan oleh mahsiswa dengan cara mengukur  kinerja mesi...
II. TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN2.1. SEJARAH PERUSAHAAN           Sejarah pendirian Pabrik Gula Jatitujuh berawal dari survey ...
2.2. VISI, MISI, DAN STRATEGI PERUSAHAAN    1.   Visi Perusahaan: menjadi pabrik gula dengan kinerja terbaik agar mampu tu...
Jatitujuh serta merencanakan kebun percobaan dan penelitian untuk pengembangan PG      Jatitujuh.  b. Kepala Bagian Pabrik...
Tabel 1. Tenaga kerja PG Jatitujuh           Status                                  Kabupaten                          To...
seksi yaitu seksi traktor, seksi alat berat, seksi implement, dan seksi pompa. Sedangkan bagian field operation terbagi me...
2. Seksi Alat Berat      Bagian alat berat bertugas untuk menyiapkan, memperbaiki, dan memelihara alat-alat berat yang dib...
Guyang yang memiliki jarak ± 12 km dari pabrik. Pembagian bengkel dan wilayah iniditujukan untuk mengefisiensikan dari tra...
2.6. PRODUKSI                  Di antara enam pabrik gula yang dibawahi PT PG Rajawali II pabrik gula Jatitujuh        mer...
III. TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN TEBU DAN PRODUKSI                        GULA3.1. TANAMAN TEBU PERTAMA           Tanaman tebu...
pemanenan. Hal ini ditujukan agar serasah dan sisa-sisa panen tebu sudah kering terkena matahari agar mudah terbakar. Kegi...
pengolahan tanah adalah menciptakan kondisi tanah yang paling sesuai untuk pertumbuhan tanaman. Sementara tujuan khusus da...
dengan giant harrow untuk menghaluskan tekstur tanah. Kegiatan ini dilakukan 2-4 hari setelah pengolahan tanah primer. Ala...
Got keliling berguna untuk menampung air yang berlebih dari got mujur dan got malang yang dibuat mengelilingi petakan laha...
Gambar 13.penutupan bibitg. Penyiraman      Setelah bibit ditanam kegiatan selanjutnya adalah penyiraman. Untuk tebu plant...
saat kondisi gulma sudah sampa 3-4 daun. Jenis dan dosis herbisida yang diberikan ketanaman sesuai rekomendasi dari bagian...
Kuras Got          Pengurasan got dilakukan untuk memperlancar aliran air pada saat musim hujan tiba.          Pengurasan ...
a. Keprasan     Pengeprasan adalah kegiatan meratakan tunas tebu yang masih tidak rata pada saat pemanenan. Kegiatan ini d...
c. Pemupukan     Pemupukan pada tanaman ratoon dilakukan menggunakan alat FA Ratoon yang ditarik oleh traktor 110-150 hp. ...
3.3. TEBANG ANGKUT           Kegiatan tebang angkut merupakan kegiatan yang terakhir pada proses budidaya tebu.  Berdasark...
mengenai hasil panen. Satu orang sinder harus memenuhi kuota sebanyak 5000 kuintal/hari.Setelah truk terisi penuh dengan t...
Gambar 20. Pembongkaran tebu (2)b. Semi-Mekanis      Pemanenan tebu menggunakan cara semi-mekanis merupakan salah satu car...
Gambar 22. Trailer bukakac. Full Mekanis      Tebang angkut full mekanis dilakukan dengan cane harvester dimana prosesnya ...
d. Limbah Tebang           Limbah tebang merupakan sisa – sisa dari kegiatan penebangan yang berupa daun tebu,      sisa p...
Proses selanjutnya tebu dibawa ke mesin pencacah oleh cane carrier. Mesin pencacah digunakan untuk memotong dan mencacah t...
Gambar 26. Stasiun gilingan     Pada stasiun gilingan PG Jatitujuh, ditambahkan cairan Decolorizing of Raw Juice yang digu...
evaporator III. Uap nira dari evaporator III digunakan untuk penguapan di evaporator IV. Uap nira dari evaporator IV digun...
yang ditambahkan air sehingga menjadi magma A. Stroop A masih mengandung gula didalamnya, sehingga akan dimasak kembali pa...
Klare+Le               NK            b                     Pan A                             Pan C                 Pan D  ...
namun pada putaran BMA akan langsung dihasilkan gula produk tanpa harus diputar pada putaran AI terlebih dahulu.      Mass...
penyimpanan serta keluarnya gula yang akan dipasarkan. Gula yang masuk ke gudang akandihitung secara manual oleh operator ...
IV. APLIKASI DAN PEMELIHARAAN ALAT DAN MESIN                      PERTANIAN4.1. ALAT DAN MESIN PERTANIAN DI PG JATITUJUH  ...
Tabel 3. Data Jumlah Traktor Pertanian                                                                                    ...
Gambar 29. Jenis Traktor di PG Jatitujuh                                           36
Perbaikan dan pemeliharaan traktor di PG Jatitujuh dilakukan di bengkel traktor. PGJatitujuh memiliki dua tempat bengkel t...
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Laporan Mekanisasi Tebu
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Laporan Mekanisasi Tebu

2,759

Published on

Aplikasi mekanisasi di PG Jatitujuh, Majalengka

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
2,759
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
208
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Laporan Mekanisasi Tebu"

  1. 1. ASPEK KETEKNIKAN PERTANIAN PADA APLIKASI DANPEMELIHARAAN MESIN BUDIDAYA TEBU DI PT PG RAJAWALI II UNIT PG JATITUJUH, MAJALENGKA, JAWA BARAT LAPORAN PRAKTIK LAPANGAN Oleh: Ahmad Eriska Dwi Hutama Putra F14080122 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011 i
  2. 2. DEPARTEMEN TEKNIK MESIN DAN BIOSISTEM FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR ASPEK KETEKNIKAN PERTANIAN PADA APLIKASI DANPEMELIHARAAN MESIN BUDIDAYA TEBU DI PT PG RAJAWALI II UNIT PG JATITUJUH, MAJALENGKA LAPORAN PRAKTIK LAPANGAN AHMAD ERISKA DWI H P F14080122 Disetujui: Bogor, Desember 2011 Pembimbing Akademik Dr. Ir. Wawan Hermawan. MS NIP. 19630329 198703 1 002 ii
  3. 3. KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur dipanjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dankarunia-Nya lah penulis dapat menyelesaikan kegiatan Praktik Lapangan dan menyelesaikan laporan dariPraktik Lapangan. Penyusunan laporan ini tidak hanya semata untuk memenuhi persyaratan mata kuliahPraktik Lapangan saja namun sebagai salah satu dokumentasi ilmiah yang dilakukan penulis selama 40hari berada di lokasi Praktik Lapangan. Selain itu laporan ini dibuat juga untuk para pembaca yangmemerlukan informasi mengenai lokasi tempat Praktik Lapangan yang mudah – mudahan bisa membantudan menambah wawasan para pembaca. Kegiatan Praktik Lapangan dilaksanakan di PT. Rajawali II UnitPG Jatitujuh, Majalengka, Jawa Barat, yang dimulai tanggal 27 Juni sampai 5 Agustus 2011.Melalui laporan ini, penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar – besarnya atas segaladukungan dan bantuan nya kepada: 1. Dr. Ir. Wawan Hermawan. MS, selaku dosen pembimbing akademik, yang telah banyak memberikan masukkan dan ide – ide mengenai kegiatan Praktik Lapangan. 2. Kedua orang tua, kakak, dan keluarga besar penulis atas segala doa dan bantuan yang diberikan selama kegiatan Praktik Lapangan berlangsung. 3. Dony Ferdiansyah S,TP, selaku pembimbing lapang yang telah banyak membantu dan meluangkan waktunya untuk pembimbingan di lapangan 4. Achmad Nurchalim, selaku kepala bagian mekanisasi yang telah banyak memberikan soft skill kepada penulis selama kegiatan praktik lapangan. 5. Bapak Joko, selaku staff bagian mekanisasi yang telah memberikan banyak pengarahan dan penjelasan kepada penulis. 6. Seluruh staff dan karyawan PG Jatitujuh, atas segala bantuan nya. 7. Panitian pelaksana Praktik Lapangan, atas segala arahan dan masukkannya. 8. Ibu Kapsah, atas bantuan tempat tinggal yang ditempati penulis selama kegiatan Praktik Lapangan. 9. Salman Alfarisi, Aris Adhi Permana, Irvan Nova Sagita, Misep Astari, dan Aldian Farabi, sebagai rekan – rekan sesama peserta Praktik Lapangan yang telah banyak membantu penulis. 10. Semua pihak yang sudah membantu dan tidak mungkin disebutkan satu persatu. Semoga Allah SWT berkenan membalas segala perbuatan baik dari pihak – pihak yang sudahmembantu. Semoga laporn ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Amiin. Bogor, Desember 2011 Penulis iii
  4. 4. DAFTAR ISI HalamanKATA PENGANTAR ....................................................................................................... iiiDAFTAR ISI ...................................................................................................................... ivDAFTAR TABEL .............................................................................................................. vDAFTAR GAMBAR ......................................................................................................... viDAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................................... viii I. PENDAHULIAN ................................................................................................. 1 II. TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN ................................................................ 4 2.1. SEJARAH PERUSAHAAAN ...................................................................... 4 2.2. VISI, MISI, DAN STRATEGI PERUSAHAAN .......................................... 5 2.3. LOKASI, TATA LETAK PERUSAHAAN DAN IKLIM ........................... 5 2.4. STRUKTUR ORGANISASI KETENAGAKERJAAN ............................... 6 2.5. BAGIAN MEKANISASI PG JATITUJUH ................................................. 7 2.6. PRODUKSI .................................................................................................. 11 III. TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN TEBU DAN PRODUKSI GULA ............. 12 3.1. TANAMAN TEBU PERTAMA................................................................... 12 3.2. TANAMAN TEBU RATOON ..................................................................... 19 3.3. TEBANG ANGKUT .................................................................................... 22 3.4. PRODUKSI GULA ...................................................................................... 26 IV. APLIKASI DAN PEMELIHARAAN ALSINTAN ............................................ 34 4.1. ALSINTAN DI PG JATITUJUH ................................................................. 34 4.2. TRAKTOR PERTANIAN ............................................................................ 34 4.3. ALAT BERAT.............................................................................................. 38 4.4. IMPLEMEN ................................................................................................. 41 4.5. POMPA KEBUN .......................................................................................... 49 V. PEMBAHASAN .................................................................................................. 53 VI. KESIMPULAN DAN SARAN............................................................................ 56 6.1. KESIMPULAN............................................................................................. 56 6.2. SARAN ......................................................................................................... 56 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 57 LAMPIRAN ................................................................................................................ 58 iv
  5. 5. DAFTAR TABEL HalamanTabel 1. Tenaga Kerja PG Jatitujuh ................................................................................... 7Tabel 2. Data Produksi PG Jatitujuh .................................................................................. 11Tabel 3. Data Jumlah Traktor Pertanian ............................................................................. 35Tabel 4. Data Alat Berat PG Jatitujuh ................................................................................ 38Tabel 5. Jenis Alat Berat dan Kegunaannya ....................................................................... 39Tabel 6. Spesifikasi bajak piring 4 piringan ....................................................................... 42Tabel 7. Spesifikasi FA kair ............................................................................................... 44Tabel 8. Data Implemen di PG Jatitujuh ............................................................................ 48Tabel 9. Data Pompa di PG Jatitujuh ................................................................................. 50Tabel 10. Standarisasi Konsumsi Bahan Bakar Pompa ...................................................... 51 v
  6. 6. DAFTAR GAMBAR HalamanGambar 1. Kantor PG Jatitujuh .......................................................................................... 4Gambar 2. Pabrik Gula Jatitujuh ........................................................................................ 4Gambar 3. Bagian Mekanisasi ........................................................................................... 8Gambar 4. Bengkel Divisi Timur ....................................................................................... 10Gambar 5. Bengkel Divisi Barat ........................................................................................ 10Gambar 6. Alur Budidaya Tanaman Tebu Pertama ........................................................... 12Gambar 7. Kegiatan Pembakaran Lahan ............................................................................ 13Gambar 8. Pemberian Dolomite pada Lahan ..................................................................... 13Gambar 9. Kondisi Tanah Setelah Pengolahan Tanah Primer ........................................... 14Gambar 10. Pengolahan Tanah II ....................................................................................... 15Gambar 11. Pembuatan Got Malang .................................................................................. 16Gambar 12. Kegiatan Penanaman Bibit ............................................................................. 16Gambar 13. Penutupan Bibit .............................................................................................. 17Gambar 14.Alur Budidaya Tebu Ratoon ............................................................................ 19Gambar 15. Kegiatan Pengeprasan .................................................................................... 20Gambar 16. Kegiatan Chisseling ........................................................................................ 20Gambar 17. Kegiatan FA Ratoon ....................................................................................... 21Gambar 18. Pemanenan Manual ........................................................................................ 23Gambar 19. Pembongkaran Tebu dengan Hillo ................................................................. 23Gambar 20. Pembongkaran Tebu dengan Stripler ............................................................. 24Gambar 21. Pemanenan Semi-mekanis .............................................................................. 24Gambar 22. Trailer Bukaka ................................................................................................ 25Gambar 23. Chopper Harvester .......................................................................................... 25Gambar 24. Cane Yard ....................................................................................................... 26Gambar 25. Tebu Menuju Unigrator .................................................................................. 27Gambar 26. Stasiun Gilingan ............................................................................................. 28Gambar 27. Badan Penguap ............................................................................................... 39Gambar 28. Skema pada Stasiun Masakan......................................................................... 31Gambar 29. Jenis Traktor di PG Jatitujuh. ......................................................................... 36Gambar 30. Perbaikan traktor ............................................................................................ 37Gambar 31. Jenis Alat Berat di PG Jatitujuh ...................................................................... 40Gambar 32. Bajak Piring 5 Piringan dan 4 Piringan .......................................................... 41Gambar 33. Bajak Singkal ................................................................................................. 42Gambar 34. Alat Penggaruan ............................................................................................. 43Gambar 35. Kair Mata 1 dan Mata 2 .................................................................................. 43Gambar 36. FA Kair ........................................................................................................... 44Gambar 37. FA Ratoon ...................................................................................................... 45Gambar 38. Chissel ............................................................................................................ 45Gambar 39. Jenis Trailer di PG Jatitujuh ........................................................................... 47Gambar 40. Kerusakan pada Frame Implemen Bajak Piring ............................................. 49 vi
  7. 7. Gambar 41. Perbaikan pada Implemen .............................................................................. 49Gambar 42. Beberapa Jenis Pompa di PG Jatitujuh ........................................................... 51 vii
  8. 8. DAFTAR LAMPIRAN HalamanLampiran 1. Jurnal Harian Praktik Lapangan ..................................................................... 59Lampiran 2. Peta PG Jatitujuh............................................................................................ 64Lampiran 3. Struktur Organisasi PG Jatitujuh ................................................................... 65Lampiran 4. Struktur Organisasi Tebang Angkut .............................................................. 66Lampiran 5. Data kapasitas kerja tebang angkut dan pembongkaran................................. 67Lampiran 6. Flowsheet proses pembuatan gula ................................................................. 68Lampiran 7. Struktur Organisasi Bagian Mekanisasi ......................................................... 69Lampiran 8. Metode dan data pengukuran efisiensi lapang ............................................... 70 viii
  9. 9. I. PENDAHULUAN1.1. LATAR BELAKANG Salah satu produk pangan yang penting di Indonesia adalah gula. Gula merupakan bahan pangan yang penting bagi rakyat Indonesia dan juga termasuk Sembilan bahan pokok. Namun pemerintah Indonesia masih mengimpor gula dari Negara lain yang disebabkan tidak terpenuhinya pasokan gula di Indonesia. Tercatat produksi gula nasional saat ini hanya 2,3 juta ton. Di sisi lain, konsumsi gula nasional mencapai 5,01 juta ton. Maka Indonesia sampai saat ini masih mencatat defisit gula hingga 2,7 juta ton (Indonesianfinancetoday.com 2011). Sebagai salah satu perusahaan gula terbesar di Indonesia, peran PT PG Rajawali II sangat penting dalam pemenuhan dan perkembangan industry gula yang ada di Indonesia. PT PG Rajawali II memiliki beberapa unit dan salah satunya adalah PG Jatitujuh yang terletak di Majalengka Jawa Barat. PG Jatitujuh merupakan unit yang terbesar yang dimiliki oleh PT PG Rajawali II dalam industry gula. PG Jatitujuh sudah banyak menerapkan teknologi dan mekanisasi di dalam budidaya tebu, mulai dari persiapan lahan, pengolahan, perawatan tanaman, hingga pemanenan. Penerapan PG Jatitujuh dalam hal teknologi dan mekanisasi dalam industry gula dapat dijadikan sebagai suatu tambahan wawasan, pengetahuan, pengalaman, serta informasi dalam bidang mekanisasi. Hal-hal tersebut dapat didapatkan dalam kesempatan praktik lapanganan yang diadakan oleh perguruan tinggi. Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor menekankan pada aspek keteknikan dalam mekanisasi dalam mata kuliah dan aplikasinya. Maka PG Jatitujuh merupakan tempat yang sangat ideal bagi mahasiswa Teknik Mesin dan Biosistem yang melakukan praktik lapanganan guna mengetahui aplikasi yang sebenarnya di dalam dunia keteknikan dan dunia kerja.1.2. TUJUAN Tujuan pelaksanaan kegiatan praktik lapangan mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian IPB dibagi atas dua hal, sebagai berikut. a. Tujuan Institusional Tujuan institusional praktik lapangan adalah untuk mendekatkan Institut Pertanian Bogor, khususnya Fakultas Teknologi Pertanian dengan masyarakat dan memperoleh masukan atau pertimbangan bagi penyusunan kurikulum sebagai upaya peningkatan kualitas pendidikan yang sesuai dengan kemajuan IPTEK dan kebutuhan masyarakat sebagai pengguna. b. Tujuan Intruksional 1
  10. 10. Tujuan instruksional dari praktik lapangan antara lain: Meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang aplikasi dan pemeliharaan serta cara kerja mesin budidaya tebu di PT PG Rajawali II Unit PG Jatitujuh, Majalengka. Meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam bidang keteknikan terutama dalam aplikasi dan pemeliharaan serta cara kerja mesin budidaya tebu. Mengembangkan sikap mahasiswa dalam dunia kerja yang sesungguhnya.1.3. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN Kegiatan praktik lapangan dilaksanakan selama 40 hari waktu kerja, terhitung mulai tanggal 27 Juni sampai dengan 13 Agustus 2011 bertempat di PT PG Rajawali II Unit PG Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat yang memiliki alamat kantor pusat di jalan Drs. Wahidin S. No. 46 Cirebon. Adapun jurnal kegiatan praktik lapangan dapat dilihat di Lampiran 1.1.4. METODELOGI PELAKSANAAN Metodologi pelaksanaan kegiatan praktik lapangan ini adalah sebagai berikut: a. Wawancara dengan pihak terkait Wawancara dilakukan untuk mengumpulkan informasi dan data praktik lapanganan dengan menanyakan secara langsung melalui pihak PG jatitujuh. Pihak-pihak yang akan diwawancarai antara lain: Administrator, untuk mengetahui struktur organisasi perusahaan, tingkat produksi, dan arah pengembangan perusahaan. Bagian mekanisasi, mengenai jenis, jumlah, pemeliharaan, dan penjadwalan mesin yang digunakan pada proses budidaya tebu. Mekanik dari bagian mekanisasi, untuk mendapatkan informasi bagian mesin yang digunakan dalm proses budidaya tebu. Operator mesin, untuk mengetahui lebih jauh cara pengoperasian dan cara kerja mesin di lapanganan. b. Pengamatan secara langsung Untuk hal aplikasi pengamatan secara langsung dapat dilakukan dengan langsung turun ke lapanganan dan mengamati pengerjaan selama di lapanganan sehingga mahasiswa dapat mengetahui secara jelas tentang cara pengoperasian mesin budidaya tebu dan persoalaan yang terjadi di lapanganan. Untuk pemeliharaan, pengamatan secara langsung dapat dilakukan dengan melihat kondisi mesin budidaya tebu setelah operasi dan mesin – mesin yang lain yang berada di bengkel. Dengan pengamatan ini mahasiswa dapat mendapatkan ilmu pengetahuan secara langsung dan mendapatkan beberapa masalah yang ada di lahan maupun di bengkel seperti kerusakan dan solusi yang diambil oleh mekanik mesin tersebut. 2
  11. 11. c. Pengukuran kinerja mesin Pengukuran kinerja mesin dapat dilakukan oleh mahsiswa dengan cara mengukur kinerja mesin selama beroperasi di lapanganan. Informasi – informasi yang didapat berupa kapasitas lapangan efektif, kapasitas lapangan teoritis, efisiensi lapangan, dan slip roda traktor. Alat yang digunakan seperti patok, stopwatch, pita ukur, dan kapur. Adapun cara perhitungannya dapat dilihat pada Lampiran 8.d. Studi Pustaka Studi pustaka dilakukan sebagai data pelengkap dan pembanding, referensi dan literatur yang berkaitan dengan kegiatan yang dilakukan serta mencari alternatif pemecahan permasalahan sesuai dengan ilmu yang dikaji. Selain itu untuk memperoleh pembuktian dan alasan-alasan ilmiah dalam melakukan analisis terhadap berbagai macam permasalahan yang dihadapi di lapanganan. 3
  12. 12. II. TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN2.1. SEJARAH PERUSAHAAN Sejarah pendirian Pabrik Gula Jatitujuh berawal dari survey yang dilakukan pada tahun 1972 – 1975 yang menyatakan areal BKPH Jatitujuh, Kerticala, Cibenda dan Jatimunggul cocok untuk pertanaman tebu, sehingga dikeluarkan SK Mentan No. 795/VI/1975 tanggal 9 Agustus 1976 untuk membebaskan lahan tersebut untuk dikelola oleh PNP XIV Proyek Gula Jatitujuh. Pembangunan pabrik tahun 1977-1978 ditangani oleh Kontraktor Perancis Fives Cail Bacock (FCB), dan sejak 1977 manajemen proyek ditangani oleh PNP XIV. Berdasarkan SK Mentri No. 1326/MK/0131988 pada tanggal 30 Desember 1988 pengelolaan PNP XIV diserahkan ke PT PG Rajawali Nusantara Indonesia. Peralihan secara tertulis dilaksanakan pada tanggal 30 Januari 1989. Percobaan giling dilakukan pada 10 Oktober 1978 dan mulai giling komersial pada Juni 1980. PG Jatitujuh kini tumbuh menjadi perkebunan tebu yang mulai bangkit dan melangkah menjadi salah satu perkebunan tebu yang menonjol di pulau Jawa. Semangat untuk mengembalikan kejayaan produktivitas pabrik gula di Jawa Barat mendorong insan PG Jatitujuh terus belajar dan berkarya untuk menghasilkan barbagai perbaikan di segala bidang. Adapun kantor dan pabrik gula Jatitujuh dapat dilihat pada Gambar 1 dan Gambar 2. Gambar 1. Kantor PG Jatitujuh Gambar 2. Pabrik Gula Jatitujuh 4
  13. 13. 2.2. VISI, MISI, DAN STRATEGI PERUSAHAAN 1. Visi Perusahaan: menjadi pabrik gula dengan kinerja terbaik agar mampu tumbuh dan berkembang serta memenuhi harapan pihak-pihak yang berkepentingan (stake holder). 2. Misi Perusahaan: mampu mempertahankan hidup perusahaan dalam kondisi ekonomi terpuruk dalam era globalisasi. Menciptakan lingkungan yang sehat dengan produktivitas yang tinggi. Mampu meningkatkan secara optimal kesejahteraan seluruh karyawan. 3. Strategi Perusahaan: melaksanakan usaha berdasarkan program Rencana Kerja dan Anggaran Pekerjaan (RKAP) dengan iklim kerja yang sehat dan nyaman berwawasan lingkungan, diharapkan target perusahaan tercapai.2.3. LOKASI, TATA LETAK PERUSAHAAN DAN IKLIM PG Jatitujuh terletak di desa Sumber, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka dan berjarak 78 km dari Kota Cirebon ke arah Barat. Lokasi arealnya terdapat di dua kabupaten, yaitu Majalengka dan Indramayu yang berada di antara 108°6’3” - 108°16’24”BT dan 6°31’2” - 6°36’40” LS serta berada pada ketinggian 3-50 m dpl. Letak pabrik PG Jatitujuh berada di antara kebun tebu yang seluas ± 11921 ha yang membelah daerah Indramayu dan Majalengka. Isi dari pabrik gula Jatitujuh antara lain adalah perkantoran, bangunan pabrik pengolahan tebu, bengkel, gudang, dan bangunan penunjang lainnya. Iklim PG Jatitujuh termasuk tipe C dan D (menurut Schmidt dan Ferguson) dengan curah hujan 1500mm/tahun. Kelembaban udara relative rata-rata tahunan sekitar 72%-82%. Adapun peta PG Jatitujuh dapat dilihat pada Lampiran 2.2.4. STRUKTUR ORGANISASI DAN KETENAGAKERJAAN PG Jatitujuh memiliki seorang General Manager yang bertugas untuk melaksanakan manajemen keseluruhan pelaksanaan kegiatan termasuk pengambilan keputusan dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh RNI Pusat maupun pengambilan keputusan dan kebijakan untuk menyelesaikan masalah yang ada di pabrik. General Manager memiliki tanggungjawab terhadap PT PG Rajawali II. Dalam kegiatan dan tugasnya General Manager dibantu oleh beberapa kepala bagian seperti kepala bagian tanaman, pabrikasi, instalasi TU dan keuangan, SDM, dan mekanisasi. Setiap kepala bagian tersebut memiliki tugas masing – masing yang akan dibantu oleh staf – staf nya yang ahli di bagian – bagian tersebut. Struktur organisasi PG Jatitujuh dapat dilihat pada Lampiran 3. a. Kepala Bagian Tanaman Kepala Bagian tanaman bertanggungjawab mengenai penyusunan areal tanaman, pengawasan tanaman, tebang angkut, dan evaluasi pembiayaan pelaksanaan tanam di PG 5
  14. 14. Jatitujuh serta merencanakan kebun percobaan dan penelitian untuk pengembangan PG Jatitujuh. b. Kepala Bagian Pabrikasi Kepala bagian pabrikasi bertanggung jawab mengenai kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di pabrik, efisiensi proses, dan mengawasi pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan di pabrik. c. Kepala Bagian Instalasi Kepala bagian instalasi bertanggung jawab mengenai pengoperasian alat dan mesin yang berada di pabrik. Selain itu bagian ini juga bertugas untuk memasang, dan menset ulang alat dan mesin di pabrik apabila terjadi kerusakan. d. Kepala Bagian TU dan Keuangan Kepala bagian TU dan Keuangan bertanggungjawab dalam mengkoordinasikan dan memimpin kegiatan pengolahan anggaran dan biaya produksi, pengawasan pembelian dan penjualan serta pengawasan hasil produksi gula. e. Kepala Bagian SDM Kepala bagian SDM bertanggungjawab mengkoordinasikan dan memimpin kegiatan pengolahan sumberdaya manusia, serta administrasi hubungan dengan masyarakat. f. Kepala Bagian Mekanisasi Kepala bagian mekanisasi bertanggungjawab mengenai pengadaan, perbaikan, dan pemeliharaan serta pengoperasian alat dan mesin pertanian budidaya tebu yang ada di PG Jatitujuh. Selain kepala bagian yang ada di atas terdapat pula unit lain di PG Jatitujuh yanglangsung di bawah naungan direksi, yaitu Kepala Pusat Penelitian Agronomi, Kepala PabrikPakan Ternak, dan Kepala Divisi Hortikultura. Selain itu terdapat juga karyawan berdasarkantingkatan prestasi dan massa kerja. Tingkatan tersebut adalah karyawan pimpinan, karyawanbulanan, karyawan harian, dan karyawan garapan tebu. Adapun karyawan yang ada hanya padamassa giling yang disebut karyawan kampanye, karyawan musiman, dan karyawan tebang. Jumlah dan keterangan Tenaga kerja PG Jatitujuh dapat dilihat pada tabel 1. 6
  15. 15. Tabel 1. Tenaga kerja PG Jatitujuh Status Kabupaten Total (orang) Majalengka (orang) Indramayu (orang)Tenaga Kerja Tetap 258 293 551Tenaga Kerja Musiman 309 349 658Tenaga Kerja Borongan:Kebun 3420 2750 6170Tebangan 1750 2450 4200 5737 5842 11579 2.5. BAGIAN MEKANISASI DI PG JATITUJUH a. Gambaran Umum Mekanisasi PG Jatitujuh Mekanisasi merupakan hal yang sangat penting dalam suatu rangkaian proses agroindustri. Dalam bidang agroindustri kontribusi bagian mekanisasi merupakan hal yang mutlak diperlukan untuk meningkatkan hasil dan efisiensi serta meningkatkan profit perusahaan. Mekanisasi bisa menjadi bagian yang sangat menentukan dalam keberlangsungan suatu proses agroindustri apabila diolah dan memiliki manajemen yang baik dan konsisten. Namun terdapat beberapa kendala yang memang tidak bisa diselesaikan dengan mekanisasi seperti masalah cuaca yang bisa merugikan dan merusak tanaman. Maka dibutuhkan juga inovasi dan kreativitas dalam pelaksanaan mekanisasi dalam agroindustri. Dalam proses budidaya tebu banyak alat-alat dan mesin-mesin pertanian yang dibutuhkan untuk persiapan lahan, pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan tanaman, pemanenan, pengangkutan, dan pembongkaran tebu. Proses-proses tersebut sangat membutuhkan mekanisasi dalam pengerjaannya karena apabila melakukan proses-proses tersebut dengan tenaga manusia akan membutuhkan SDM yang sangat banyak dan biaya yang banyak juga. Bahkan bisa dibilang inti dari budidaya tebu adalah mekanisasi itu sendiri. Di PG Jatitujuh sudah dilakukan proses budidaya tebu secara mekanis. Banyak alat dan mesin pertanian yang ada dan digunakan untuk proses budidaya tebu di PG Jatitujuh. Bagian Mekanisasi di PG Jatitujuh menjadi bagian tersendiri sejak 2009, sebelumnya mekanisasi memang sudah dilakukan namun Bagian Mekanisasi masih di bawah Bagian Tanaman. Setelah menjadi bagian tersendiri Bagian Mekanisasi memiliki keinginan untuk memajukan dan meningkatkan produksi dan kualitas tanaman tebu dengan cara mengoptimalkan penggunaan alat dan mesin pertanian. Bagian Mekanisai PG Jatitujuh terdapat beberapa bangunan seperti kantor karyawan, bengkel traktor, bengkel alat berat, bengkel implement, bengkel pompa, dan bagian elektrik. Bangunan-bangunan tersebut digunakan untuk menunjang kinerja para staff bagian mekanisasi agar bisa bekerja secara optimal. Bagian mekanisasi di PG Jatitujuh terbagi lagi menjadi dua bagian yaitu bagian workshop mekanisasi dan field operation. Bagian workshop mekanisasi juga terbagi menjadi empat 7
  16. 16. seksi yaitu seksi traktor, seksi alat berat, seksi implement, dan seksi pompa. Sedangkan bagian field operation terbagi menjadi dua divisi yaitu divisi timur dan barat. Gambar dari Bagian Mekanisasi dapat dilihat pada Gambar 3. Adapun struktur organisasi bagian mekanisasi terdapat pada Lampiran 7. Gambar 3. Bagian mekanisasib. Workshop Mekanisasi Bagian ini berfungsi untuk memperbaiki, memelihara, dan menyaiapkan mesin-mesin yang akan turun ke lapanganan. Bagian ini juga berfungsi sebagai bengkel yang memiliki banyak mekanik di dalamnya. Apabila sedang tidak musim giling bagian ini bertugas untuk memperbaiki dan mengevaluasi mesin-mesin budidaya tebu yang dipakai selama musim giling, sehingga pada saat musim giling tiba diharapkan semua mesin sudah selesai diperbaiki dan sudah siap untuk turun ke lapanganan. Bagian ini memiliki beberapa seksi: 1) Seksi Traktor, 2) Seksi Alat Berat, 3) Seksi Pompa, 4) Seksi Implemen. 1. Seksi Traktor Bagian traktor ini menyiapkan berbagai macam traktor seperti traktor untuk pengolahan tanah, dan traksi. Merk traktor yang ada seperti Massey Ferguson, Kubota, John Deere, Ford, dan New Holland. Selain menyiapkan traktor, bagian ini juga bertugas menjalankan perawatan traktor secara berkala sesuai dengan SOP yang ada. Bengkel-bengkel traktor digunakan untuk perawatan dan perbaikan mesin dan bagian-bagian traktor yang mengalami kerusakan setelah digunakan di lahan. Traktor-traktor yang ada juga dibagi berdasarkan kegunaan dan fungsinya di lahan. Seperti ada traktor traksi yang digunakan untuk menarik beban seperti trailer, tangki air, dan alat angkut lainnya. Traktor traksi umumnya menggunakan traktor yang sudah tua dan peralihan dari traktor-traktor sebelumnya. Selain itu ada traktor pengolahan. Traktor ini berfungsi untuk menarik implement yang cukup berat dan mengolah tanah. Spesifikasi traktor pengolahan ini lebih bagus dibanding dengan traktor traksi karena tenaga dan performa yang dibutuhkan harus jauh lebih bagus juga. 8
  17. 17. 2. Seksi Alat Berat Bagian alat berat bertugas untuk menyiapkan, memperbaiki, dan memelihara alat-alat berat yang dibutuhkan oleh pabrik. Pengadaan seksi alat berat ini juga bertujuan untuk mempermudah pengaturan dalam perawatan alat berat yang memudahkan pekerjaan yang sulit dikerjakan oleh manusia. 3. Seksi Pompa Bagian pompa befungsi untuk menyediakan dan memelihara pompa yang dibutuhkan untuk keperluan penyiraman tanaman tebu. Terdapat berbagai macam pompa di bagian ini, ada yang berbahan bakar bensin dan ada yang berbahan bakar solar. Pada bagian pompa terdapat 220 unit pompa namun hanya 180 pompa yang beroperasi serta memiliki 11 orang staff. Pemakaian 180 unit pompa tersebut sudah cukup untuk menghabiskan penggunaan air yang tersedia dari sumber-sumber di lahan. Sumber air yang digunakan pompa untuk mengairi lahan adalah dari lebung. Total volume yang ada pada lebung adalah 8.5 juta m3 namun kebutuhan air yang ada pada keseluruhan lahan adalah sekitar 50 juta m3. Tambahan air yang diterima untuk proses pengairan diperoleh dari sungai dan sumur pantek. Rencana ke depan untuk mengatasi masalah kekurangan air ini adalah investasi lebung pada lahan. Selain itu kendala yang dialami pada bagian pompa adalah pengontrolan pemakaian bahan bakar. 4. Seksi Implemen Bagian implemen ini berguna untuk mengatur penggunaan dan memeriksa keadaan implemen – implemen yang dimiliki oleh PG Jatitujuh. Implemen yang dimiliki oleh PG Jatitujuh banyak sekali macamnya, mulai dari implemen pengolahan tanah, pemeliharaan tanaman dan untuk penebangan. Pengadaan implemen pada PG Jatitujuh dilakukan dengan cara lelang harga. Selain melakukan pembelian PG Jatitujuh juga memodifikasi implemen yang sudah ada dan membuat implemen yang baru untuk keperluan budidaya tanaman tebu. Bagian implemen ini juga bertanggungjawab dalam hal perbaikan dan pemeliharaan implemen.c. Field Operation Bagian FO (Field Operation) bertugas menangani penggunaan/operasi semua inventaris alat dan mesin pertanian di lapanganan. FO melayani operasi untuk bagian tanaman (budidaya), cane yard, dan bagian tebangan. FO terbagi menjadi dua divisi yaitu divisi timur dan divisi barat begitu pula dengan bengkel yang dimiliki oleh PG Jatitujuh. Bengkel untuk alsintan dibagi menjadi dua yaitu bengkel timur dan bengkel barat. Bengkel timur terletak di pabrik di bagian workshop mekanisasi, sedangkan bengkel barat terletak di daerah Balok 9
  18. 18. Guyang yang memiliki jarak ± 12 km dari pabrik. Pembagian bengkel dan wilayah iniditujukan untuk mengefisiensikan dari traktor. PG Jatitujuh memiliki luas lahan 12000 hayang tidak mungkin hanya memiliki satu pusat bengkel saja. Selain itu Pembagian bengkeldan daerah ini bertujuan untuk menjangkau jarak pada pengoperasian traktor agar traktortidak jalan sangat jauh pada saat mengolah lahan.1. Divisi Timur FO divisi timur bertugas mengatur, mengawasi, dan melaksanakan pengerjaan budidaya tanaman di rayon Jatitujuh dan Kerticala. Divisi timur dipimpin oleh kepala FO yang memiliki kantor di workshop mekanisasi di pabrik. Bengkel divisi timur dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4. Bengkel Divisi Timur2. Divisi Barat FO divisi barat memiliki tugas yang sama dengan divisi timur hanya saja daerah yang diatur FO bagian barat meliputi rayon Jatimunggul dan Cibenda. Markas dan bengkel divisi barat berada di daerah Balok Guyang. Bengkel ini memiliki tenaga kerja sebanyak 23 orang. Apabila ada kerusakan ringan yang sekiranya dapat diperbaiki, proses perbaikan bisa dilakukan di bengkel ini. Namun apabila kerusakannya parah maka traktor harus dibawa ke bengkel pusat atau bengkel divisi timur yang berada di pabrik. Bengkel divisi barat dapat dilihat pada Gambar 5. Gambar 5. Bengkel Divisi Barat 10
  19. 19. 2.6. PRODUKSI Di antara enam pabrik gula yang dibawahi PT PG Rajawali II pabrik gula Jatitujuh merupakan pabrik gula yang terbesar dalam segi luas lahan ataupun produksi gula. Pabrik gula Jatitujuh memiliki kapasitas penggilingan yang sangat besar yang akan menghasilkan gula kristal dalam jumlah yang banyak juga dalam sekali musim giling. Pada tabel 2 ditunjukkan produksi gula pabrik gula Jatitujuh dari tahun 1992 sampai 2010. Tabel 2. Data Produksi PG JatitujuhTahun Luas (Ha) Jml tebu (x Tebu/ha Rendemen Jml hablur (x 100 Hablur/ha 1000 Ton) (Ton) (%) Ton) (Ton)1992 8.422 622 73,8 4,54 282 3,31993 7.559 496 65,6 6,34 315 4,21994 8.826 552 62,5 7,23 399 4,51995 8.993 565 62,9 5,60 317 3,51996 8.011 302 37,7 5,39 163 2,01997 8.312 553 66,6 6,37 352 4,21998 8.893 612 68,8 4,39 268 3,01999 8.542 315 36,9 4,55 143 1,72000* 9.931 643 64,8 5,17 333 3,32001* 8.911 531 59,6 4,94 263 2,92002 8.068 284 35,2 6,45 183 2,32003 6.814 426 62,5 7,40 315 4,62004 7.275 520 71,4 7,60 395 5,42005 7.783 575 73,8 6,67 383 4,92006 8.016 504 62,9 8,11 409 5,12007 8.073 570 70,7 8,33 475 5,92008 8.232 421 51,1 8,41 354 4,32009 7.166 340 47,5 6,96 237 3,32010 8.462 655 77,4 5,72 375 4,4 Tebu yang ditanam oleh PG Jatitujuh terdiri dari beberapa macam varietas tebu. Penggunaan berbagai macam varietas tebu ini bertujuan untuk menyesuaikan karakteristik lahan dan cuaca yang berbeda pada lahan yang dimiliki PG Jatitujuh karena PG Jatitujuh memiliki luas kebun yang sangat besar dan membelah dua daerah yaitu Majalengka dan Indramayu. Namun tidak ada pemisahan varietas pada saat penggilingan dan pemrosesan menjadi gula. 11
  20. 20. III. TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN TEBU DAN PRODUKSI GULA3.1. TANAMAN TEBU PERTAMA Tanaman tebu pertama atau yang disebut dengan plant cane merupakan budidaya tebu dengan cara menanami lahan dengan bibit tebu baru yang berasal dari Kebun Bibit Dasar (KBD) sehingga sebelum proses penanaman membutuhkan penyiapan lahan dan pengolahan tanah terlebih dahulu agar tanah memiliki kondisi yang baik dan siap untuk ditanami tebu. Bibit tebu yang dipakai PG Jatitujuh berasal dari bibit yang dikembangkan di R & D. Bibit yang dikembangkan di R & D tidak hanya memenuhi kebutuhan PG Jatitujuh saja tetapi seluruh PG yang berada di bawah PT. Rajawali. Umumnya pengeluaran biaya tanaman tebu pertama lebih besar dari tebu ratoon karena memerlukan beberapa kegiatan ekstra dibandingkan dengan tebu ratoon atau ratoon cane. Secara singkat urutan budidaya tanaman tebu pertama dapat dilihat pada gambar 6. Gambar 6. Alur Budidaya Tanaman Tebu Pertama a. Persiapan Lahan Persiapan lahan adalah kegiatan untuk membersihkan lahan dari serasah dan sisa-sisa panen tebu sebelumnya yang masih berada di lahan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mempersiapkan lahan agar pada saat mulai pengolahan dan penanaman lahan sudah bersih dan siap dipakai. Pada PG Jatitujuh kegiatan persiapan lahan dilakukan dengan cara membakar sisa-sisa panen tebu dan serasah tebu di atas lahan. Pembakaran ini dilakukan dengan cara manual melalui pekerja-pekerja lapanganan pabrik. Untuk Proses pembakaran umumnya dilakukan pada saat sore atau malam hari. Hal ini menghindari terjadinya perambatan api ke lahan sebelah karena angin, namun tidak menutup kemungkinan juga pembakaran dilakukan pada siang hari. Proses pembakaran lahan dilakukan setelah 3-4 hari 12
  21. 21. pemanenan. Hal ini ditujukan agar serasah dan sisa-sisa panen tebu sudah kering terkena matahari agar mudah terbakar. Kegiatan pembakaran lahan ini biasanya dilakukan oleh tiga orang pekerja untuk satu petak dan memakan waktu dari pukul 3 sore sampai api mati sepenuhnya. Setelah itu dilakukan perbaikan lahan berupa leveling dengan tujuan agar lahan menjadi relatif datar sehingga menjadi lebih mudah dalam drainase. Proses leveling dilakukan menggunakan bulldozer D50E dengan kekuatan 110 hp. Kemudian kegiatan slanjutnya adalah pemberian dolomite. Tujuan pemberian dolomite ini adalah untuk menytabilkan pH tanah sehingga akar tanaman mudah menyerap unsur hara yang terkandung dalam tanah. Adapun kegiatan pembakaran lahan dan pemberian dolomite dapat dilihat pada Gambar 7 dan Gambar 8. Gambar 7. Kegiatan pembakaran lahan Gambar 8. Pemberian Dolomite pada Lahan Pada PG Jatitujuh kegiatan persiapan lahan dilakukan pada musim kemarau karena untuk memudahkan terjadinya pembakaran lahan dan juga karena lahan dalam kondisi kering lebih mudah untuk dibakar dibandingkan dengan lahan yang basah.b. Pengolahan Tanah Primer Pengolahan tanah merupakan kegiatan manipulasi tanah secara mekanis untuk tujuan tertentu, terutama untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman. Tujuan umum dari 13
  22. 22. pengolahan tanah adalah menciptakan kondisi tanah yang paling sesuai untuk pertumbuhan tanaman. Sementara tujuan khusus dari pengolahan tanah adalah menciptakan struktur tanah yang cocok untuk pertumbuhan tanaman dan mengendalikan gulma dan tumbuhan penggagu. Pengolahan tanah dibagi menjadi dua kegiatan yaitu pengolahan tanah primer dan pengolahan tanah kedua. Pengolahan tanah primer merupakan pengolahan tanah pertama yang dilakukan terhadap lahan. Tujuan pengolahan tanah primer adalah mengurangi kekuatan tanah, menutup vegetasi permukaan, dan mengatur agregat tanah. Pada PG Jatitujuh pengolahan tanah primer terbagi lagi menjadi dua kegiatan yaitu pembajakan 1 dan pembajakan 2. Pembajakan 1 dilakukan dengan tujuan untuk memotong, membalikan, dan menggemburkan tanah. Pada PG Jatitujuh kegiatan pembajakan 1 dilakukan dengan menggunakan implement bajak piring dan bajak singkal, namun bajak singkal sudah tidak digunakan lagi sejak tiga tahun terakhir. Hal ini dikarenakan biaya operasi dan pemeliharaan bajak singkal lebih mahal dibanding bajak piring. PG Jatitujuh lebih sering menggunakan bajak piring untuk kegiatan pembajakan 1 ini. Selain bajak piring PG Jatitujuh memilki ripper yang digunakan untuk melakukan kegiatan pembajakan 1. Pola kerja dari pembajakan 1 adalah traktor membajak tanah dengan kemiringan 45 o dari alur yang ada. Pembajakan 2 dilakukan setelah pembajakan 1 selesai. Pembajakan 2 bertujuan untuk lebih menghancurkan bongkahan – bongkahan hasil dari pekerjaan pembajakan 1. Pola kerja dari pembajakan 2 adalah traktor membajak tanah tegak lurus dari hasil olahan pembajakan 1. Hal ini ditujukan agar proses penghancuran bongkahan – bongkahan tanah lebih sempurna. Alat yang digunakan dalam kegiatan ini sama dengan alat yang digunakan pada pembajakan 1 yaitu bajak piring dan ripper. Kegiatan pembajakan 2 dilakukan 2-4 hari setelah pembajakan 1 selesai. Pembajakan 2 juga menggunakan bajak pirng dalam pengerjaannya. Untuk kegiatan pembajakan 1 dan 2 dilakukan dengan menggunakan traktor pertanian bertenaga 150 hp. Kondisi tanah setelah pembajakan dapat dilihat pada Gambar 9. Gambar 9. Kondisi tanah setelah pengolahan tanah primerc. Pengolahan Tanah II / Sekunder Pengolahan sekubder dilakukan setelah kegiatan pengolahan tanah primer selesai. Pengolahan sekunder lebih dikenal dengan nama penggaruan. Tujuan kegiatan ini adalah menghaluskan bongkahan tanah hasil pengolahan tanah primer sehingga menghasilkan kondisi tanah yang lebih baik dan lebih halus. Pada PG Jatitujuh kegiatan ini dilakukan 14
  23. 23. dengan giant harrow untuk menghaluskan tekstur tanah. Kegiatan ini dilakukan 2-4 hari setelah pengolahan tanah primer. Alat yang digunakan untuk pengolahan tanah II di PG Jatitujuh adalah garu piring yang berjenis tandem. Ada dua macam implement garu yang dimiliki pabrik yaitu garu piring yang memiliki piring jenis scalloped disc dan garu piring yang memiliki garu berjenis scalloped disc dan circular disc. Kegiatan penggaruan dapat dilihat pada Gambar 10. Gambar 10. Pengolahan tanah IId. Fertilizer Aplicator (FA) Kair Pembuatan alur dan pemupukan atau FA Kair adalah kegiatan pembuatan guludan tanah atau juring yang merupakan tempat alur penanaman tebu dan pemberian pupuk pada alur tanaman. Kegiatan ini dilakukan 1-2 hari setelah penggaruan atau pengolahan tanah II selesai. Alat yang digunakan pada kegiatan ini berupa implement yang memiliki tyne dan sayap untuk membuat guludan yang memiliki jarak PKP (Puncak Ke Puncak) sekitar 135 cm dengan kedalaman 20-25 cm. Alat ini sudah dimodifikasi sehingga memiliki 2 hopper diatasnya untuk menaruh pupuk. Masing-masing hopper memilki volume total 1.5 ku maka total pupuk yang dibawa implement ini sekitar 3 ku. Implemen ini dioperasikan dengan cara ditarik oleh traktor roda empat yang memiliki daya 80-150 hp.e. Pembuatan Got Pembuatan got pada lahan tebu dilakukan untuk memperlancar aliran air dari air irigasi yang berlebihan atau memperlancar drainase sehingga air tidak menggenang dan menyebabkan tanaman tebu rusak dan busuk. Di PG Jatitujuh terdapat empat jenis got yaitu got malang, got mujur, got keliling, dan got eksternal. Got malang berguna untuk menampung air dari buangan air irigasi dan mengalirkan air yang berlebih ke got mujur atau got keliling. Pembuatan got malang menggunakan alat kair mata satu. Jarak antar got sekitar 25-40 m daengan kedalaman 20-30 cm. Got malang dibuat tegak lurus dengan alur tanaman. Got mujur berguna untuk mengurangi genangan air di tengah kebun dan mengalirkan air yang berlebih ke got keliling. Got mujur dibuat dengan alat motor grader. Jarak antar got sekitar 40-50 m dan kedalaman sekitar 30-35 cm. Got mujur dibuat searah dengan alur tanaman. 15
  24. 24. Got keliling berguna untuk menampung air yang berlebih dari got mujur dan got malang yang dibuat mengelilingi petakan lahan. Got keliling dibuat berbentuk “V” apabila dipotong melintang. Kedalaman got keliling sekitar 30-40 cm dan dibuat dengan motor grader. Got eksternal berguna untuk penghubung antara sumber air dengan kebun. Got eksternal dibuat lebih dalam dan besar dibandingkan dengan got lainnya. Got eksternal dibuat dengan ekscavator. Pembuatan got malang dapat dilihat pada Gambar 11. Gambar 11. Pembuatan got malangf. Penanaman Kegiatan penanaman bibit tebu dilakukan secara manual. Kegiatan ini meliputi dua tahapan, yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. Tahap persiapan dimulai dari pengambilan bibit dari KBD (Kebutuhan Bibit Dasar) yang sesuai dengan kebutuhan. Pengambilan bibit ini dilakukan maksimal satu hari sebelum penanaman. Setelah itu bibit yang sudah diambil dari KBD di klentek dari pelepah daunnya dan diseleksi untuk mendapatkan bibit sehat, muda, segar, dan murni. Lalu setelah itu bibit dipotong-potong menjadi 3-4 ruas. Tahap pelaksanaan dimulai dengan peletakkan bibit pada kairan dengn meletakkan bibit ganda pada kairan atau alur yang sudah dibuat. Setelah itu bibit ditimbun dengan tanah hingga tertutup rapat setebal 5-10 cm. Bibit tebu yang ditanam di PG Jatitujuh terdapat 10 bibit varian. Hal ini dimaksudkan untuk mengadaptasi tanaman tebu dengan kondisi lahan, hama, dan cuaca. Kegiatan penanaman dapat dilihat pada Gambar 12 dan Gambar 13. Gambar 12. Kegiatan penanaman bibit 16
  25. 25. Gambar 13.penutupan bibitg. Penyiraman Setelah bibit ditanam kegiatan selanjutnya adalah penyiraman. Untuk tebu plant cane dilakukan dua kali penyiraman, yaitu pada saat penanaman dan pemeliharaan. Kegiatan penyiraman juga terbagi menjadi dua yaitu persiapan dan pelaksanaan. Persiapan penyiraman meliputi penyediaan pompa kebun, pipa, dan sarana lain yang dilaksanakan pada saat akan mulai tanam. Pompa kebun akan ditarik oleh traktor traksi dari bengkel mekanisasi, begitu juga dengan pipa-pipa penyiraman. Pompa dan pipa kebun harus siap pakai paling lambat sehari sebelum penyiraman. Pelaksanaan penyiraman dilakukan dengan cara irigasi permukaan dimana yang diairi adalah permukaan alur dengan menggunakan pipa suling. Penggunaan pipa suling ditujukan agar hasil penyiraman merata pada lahan. Pipa suling terdiri dari pipa yang dilubangi menjadi 4-5 lubang dan dari setiap lubang tersebut akan mengeluarkan air yang akan mengairi alur. Proses kegiatan ini dilakukan oleh dua orang pekerja. Kebutuhan air penyiraman dapat diambil dari lebung – lebung terdekat ataupun rawa – rawa terdekat. Kebuthan untuk air sendiri mencapai sekitar 1100 m3/ha. Kapasitas penyiraman di PG Jatitujuh sendiri masih tergolong rendah yaitu sekitar 0.033 ha/jam.h. Pemeliharaan Tanaman Setelah dilakukan penyiraman tanaman kegiatan selanjutnya adalah pemeliharaan tanaman. Pemeliharaan tanaman dimaksudkan untuk memelihara tanaman agar tumbuh dan berkembang sesuai dengan yang diinginkan dan tidak mengalami kegagalan pada saat pertumbuhan. Pemeliharaan tanaman pada plant cane meliputi penyemprotan I, penyulaman, penyiraman II, penyiangan I, turun tanah I, pemupukan II, turun tanah II, pengurasan got I/II, penyiangan II, Herbisida II, dan kletek. Penyemprotan / herbisida Herbisida dilakukan untuk membunuh gulma yang akan menggangu tanaman tebu. Herbisida dilakukan dengan sprayer dengan cara di semprot. Herbisida I dilakukan pada 17
  26. 26. saat kondisi gulma sudah sampa 3-4 daun. Jenis dan dosis herbisida yang diberikan ketanaman sesuai rekomendasi dari bagianriset dan pengembangan. Herbisida I dilakukanpada saat umur tanaman 2-3 minggu. Herbisida II dilakukan pada saat tanaman sudahmemiliki ruas dan aplikasinya menggunakan handsprayer. Dosis dan jenis herbisida IIjuga ditentukan oleh bagian riset dan pengembangan. Kegiatan ini dilaksanakan oleh ±4-7 orang dan satu orang mandor untuk pengawasan. Pengecekan kualitas hasilpenyemprotan dilakukan oleh sinder yang bersangkutan.PenyulamanKegiatan ini dilakukan apabila perkecambahan kurang dari 8 tunas per meter,berdasarkan hasil pengecekan oleh tim pemantau perkecambahan. Kegiatan inidilakukan pada saat umur tanaman 1.5-2 bulan. Penyulaman dilakukan dengan cara stekdan dengan varietas tebu yang sama.PenyianganPenyiangan merupakan kegiatan pembasmian gulma secara manual yaitu dengan caramencangkul gulma-gulma yang tumbuh di sekitar tanamn tebu. Tujuan dari kegiatan iniadalah menyingkirkan gulma yang berada di sekitar tanaman tebu sehingga tanamantebu tidak bersaing dalam pengambilan unsur hara dalam tanah.Turun TanahTurun tanah dilakukan sebanyak dua kali. Turun tanah I dilakukan setelah lahan sudahbebas dari gulma. Turun tanah I dilakukan pada saat tanaman berumur 1.5-2 bulan.Turun tanah I bertujuan untuk memperkuat pertumbuhan akar tanaman. Turun tanah Idilakukan dengan alat furrower. Turun tanah II meliputi kegiatan pemasukan tanahbekas FA ke dalam dapuran tebu sehingga berbentuk guludan kecil yang rapat. Turuntanah II dilakukan secara manual pada saat tanaman berumur 2.5-3 bulan.ChisselingKegiatan chiseling dimaksudkan untuk memotong akar – akar yang sudah tua agar akar– akar muda bisa tumbuh kembali. Alat yang digunakan untuk kegiatan ini adalahchissel dengan kedalaman 15-20 cm. Selain itu kegiatan ini bertujuan juga untukmempermudah pekerjaan pemupukan II.Pemupukan IIPemupukan II dilakukan pada saat tanaman tebu berumur 2-2.5 bulan denganrekomendasi dosis dari riset dan pengembangan. Kegiatan ini dilakukan menggunakanimplemen FA dengan wing dengan kedalaman penempatan pupuk 15-20 cm.Penggunaan implemen dengan wing ini dimaksudkan agar penutupan pupuk menjadilebih rapat. 18
  27. 27. Kuras Got Pengurasan got dilakukan untuk memperlancar aliran air pada saat musim hujan tiba. Pengurasan got keliling dan mujur menggunakan alat motor grader sedangkan pengurasan got malang menggunakan kair mata satu. Kegiatan ini dilakukan sebelum musim hujan tiba. Pengkletekan Pengkletekan adalah kegiatan membuang daun-daun kering pada tanaman tebu yang sudah tumbuh tinggi. Tujuan dari pengkletekan adalah mengurangi perkembangan hama penyakit, mengurangi kemungkinan tebu terbakar akibat daun kering yang tersangat matahari, menciptakan sirkulasi udara yang baik di bagian bawah tanaman dan memudahkan kegiatan penebangan atau menjaga mutu tebangan. Kegiatan ini dilakukan secara manual oleh tenaga kerja manusia. Pengkletekan dilakukan minimal 10 ruas dari bawah tanaman dengan syarat dapuran bersih dari klaras-klaras tebu.3.2. TANAMAN TEBU RATOON Tebu Ratoon (Ratoon Cane) adalah budidaya tanaman tebu dengan cara tidak menanam lahan dengan bibit tebu baru, melainkan memanfaatkan tunas yang tumbuh dari tunggak pada lahan setelah tebu dipanen. Pada umumnya tebu ratoon bisa digunakan setelah tiga kali pertumbuhan atau empat kali masa tanam, namun pada kenyataannya apabila tebu ratoon masih bagus kualitasnya, penggunaan 5 kali masa tanam juga masih dimungkinkan. Serta apabila tebu pada masa tanam pertama sudah memberikan hasil yang buruk bisa langsung dibongkar dan diganti dengan plant cane. Pada budidaya tebu Ratoon Cane tidak membutuhkan proses pengolahan tanah sehingga mengurangi pengeluaran biaya budidaya tebu. Proses budidaya tebu ratoon meliputi keprasan, penggemburan tanah, pemupukan, subsoiling, dan pemeliharaan tanaman. Secara singkat alur budidaya tanaman tebu ratoon dapat dilihat pada Gambar 14. Gambar 14. Alur budidaya tebu ratoon 19
  28. 28. a. Keprasan Pengeprasan adalah kegiatan meratakan tunas tebu yang masih tidak rata pada saat pemanenan. Kegiatan ini didahului oleh pembakaran lahan yang dimaksudkan untuk membakar serasah dan sisa-sisa panen tebu sebelumnya. Pengeprasan dilakukan untuk menyeragamkan pertumbuhan tanaman tebu ratoon dan dilakukan dengan manual menggunakan cangkul paling lambat tiga hari setelah kegiatan penebangan. Kegiatan ini memerlukan 6 orang pekerja dalam satu petak dengan jam kerja dari pukul 07.00 sampai 17.00. Tenaga – tenaga kerja kepras dicari oleh mandor lahan dan pembagian upah per hektar dari pabrik dengan sistem borongan. Adapun kegiatan pengeprasan dapat dilihat pada Gambar 15. Gambar 15. Kegiatan Pengeprasanb. Penggemburan Tanah Penggemburan tanah atau chiseling dilakukan untuk menggemburkan tanah sekitar tanaman dan memotong akar lama yang berada di tanah. Kegiatan ini dilakukan 1-3 hari setelah pengeprasan dengan kedalaman 15-20 cm menggunakan alat yang dinamakan chisel yang memiliki tyne untuk memotong akar. Chissel ditarik dengan traktor yang memiliki daya 110-150 hp. Kegiatan ini juga bisa berfungsi untuk mengurangi serasah-serasah tebu yang tidak ikut terbakar. Kegiatan Chisseling dapat dilihat pada Gambar 16. Gambar 16. Kegiatan chisseling 20
  29. 29. c. Pemupukan Pemupukan pada tanaman ratoon dilakukan menggunakan alat FA Ratoon yang ditarik oleh traktor 110-150 hp. Pada FA Ratoon terdapat dua hopper yang masing-masing memiliki volume 1.5 ku. Proses pemupukan dimulai dengan pencampuran pupuk yang dibawa ke lahan menggunakan truk pupuk. Setelah pupuk tercampur, pupuk dimasukkan ke dalam hopper dan operator bergerak ke lahan untuk mengerjakan proses pemupukan. Terdapat dua operator pada kegiatan ini yaitu operator traktor dan operator pembuka katup yang ada pada hopper agar pupuk bisa jatuh ke lahan. Pupuk yang jatuh ke lahan akan masuk sedalam 10- 15 cm di tanah. Kegiatan ini dilakukan 1 minggu setelah pengeprasan. Kegiatan pemupukan mekanis dapat dilihat pada Gambar 17. Gambar 17. Kegiatan FA Ratoond. Subsoiling/Ripper Subsoiling dilakukan untuk memecah lapisan tanah yang kedap air sehingga bisa memperlancar aliran air pada saat irigasi. Subsoiling dilakukan menggunakan implement subsoiler dengan kedalaman olah 30 cm dan ditarik oleh traktor yang memiliki daya 150 hp.e. Pengurasan Got Pengurasan got dilakukan dengan tujuan untuk memperdalam got yang ada agar memperlancar aliran air pada saat musim hujan tiba. Pengurasan got dilakukan sebelum musim hujan dan menggunakan alat yang sama dengan pengurasan got pada tanaman plant cane.f. Pemeliharaan Tanaman Pemeliharaan tanaman tebu ratoon dilakukan agar menjaga tanaman tetap tumbuh dan berkembang sesuai yang diinginkan. Pemeliharaan tanaman pada ratoon cane secara umum sama dengan plant cane yakni meliputi kegiatan penyulaman, penyiangan I, pengurasan got II, penyiangan II, herbisida, dan kletek. 21
  30. 30. 3.3. TEBANG ANGKUT Kegiatan tebang angkut merupakan kegiatan yang terakhir pada proses budidaya tebu. Berdasarkan kondisi fisiknya tebu yang akan ditebang ada dua jenis yaitu tebu segar dan tebu bakaran. Tebu segar adalah tebu yang dipanen terlebih dahulu baru dilakukan pembakaran guna menghilangkan serasah dan sisa-sisa tebu yang dipanen. Tebu bakaran adalah tebu yang dibakar dahulu baru dipanen. Namun di PG Jatitujuh hanya menggunakan metode tebu segar saja. Hal ini dikarenakan tebu bakaran memiliki umur tenggang yang pendek antara setelah tebang dan penggilingan. Pihak pabrik belum bisa menciptakan sistem yang langsung masuk ke penggilingan setelah panen. Maka tebu bakaran dihindari karena akan mengalami penurunan rendemen yang besar apabila didiamkan terlalu lama di cane yard. Proses penebangan melibatkan mandor, tenaga tebang, dan truk angkutan. Sosialisasi tebang kepada mandor dan tenaga tebang dilakukan dua bulan sebelum tebang pertama dilakukan. Persiapan yang dilakukan dalam kegiatan ini adalah persiapan alat tebang, penyesuaian alat tebang, dan tanaman tebu siap tebang. Pada PG Jatitujuh terdapat tiga metode penebangan yaitu penebangan secara manual, semi-mekanis, dan mekanis. Adapun struktur organisasi tebang angkut terdapat pada Lampiran 4. a. Manual Tebang angkut manual adalah proses pemanenan batang tebu dengan menggunakan tenaga manusia yang dilakukan dengan memotong tebu di bagian pangkal dengan menggunakan arit yang tajam lalu menumpukkannya ke alur sebelah dan mengikatnya menjadi satu bundelan yang nantinya akan dibawa oleh truk pengangkut. Pemanenan jenis ini sering digunakan di PG Rajawali II unit PG Jatitujuh terlebih apabila cuaca sehabis hujan. Pada proses pemanenan secara manual digunakan pola 4-2 dimana satu orang menggunakan empat alur tebu, yang dua alur digunakan untuk menumpuk batang tebu yang sudah di panen dan dipotong dan dua alur lagi digunakan untuk pengumpulan serasah tebu dan daun-daun tebu yang nantinya akan ditinggalkan di lahan. Pada PG Jatitujuh lebih banyak menggunakan proses manual dan semi-mekanis, hal ini dikarenakan pihak pabrik masih menghargai tenaga-tenaga manusia yang ada di sekitar mereka. Apabila pihak pabrik menggunakan full mekanis maka SDM yang ada di sekitar mereka tidak mendapatkan penghasilan dan tidak terberdayakan. Selain itu penyebab lain adalah biaya pengoperasian dan perawatan mesin panen tebu jauh lebih mahal dibanding dengan biaya tenaga manusia. Untuk pembagian kebun yang akan dipanen pihak pabrik menyerahkan pencarian tenaga kerja kepada mandor yang ditunjuk oleh sinder panen. Satu mandor memegang 1 petak lahan yang memiliki luas bermacam-macam. Biasanya satu mandor memiliki 30-40 orang tenaga kerja yang berasal dari berbagai daerah. Namun apabila sedang musim panen padi tenaga kerja panen akan jauh berkurang karena tenaga kerja panen akan tertarik untuk memanen padi yang akan mendapatkan upah yang lebih besar. Selain melakukan pencarian tenaga kerja mandor kebun juga mencari kendaraan angkut yang berupa truk untuk mengangkut hasil panen ke pabrik. Satu orang sinder panen akan bertanggung jawab kepada pabrik 22
  31. 31. mengenai hasil panen. Satu orang sinder harus memenuhi kuota sebanyak 5000 kuintal/hari.Setelah truk terisi penuh dengan tumpukan tebu truk menuju pabrik dan akan melakukankegiatan pembongkaran tebu dengan tujuan meletakkan tebu di cane yard. Carapembongkaran tebu ada berbagai macam yaitu dengan alat hillo, mobil crane, dan sistemhidrolik. Kendala-kendala dalam proses pemanenan ini adalah mengenai cuaca yang tidakmenentu. Apabila cuaca tidak bagus atau hujan proses pemanenan tidak dilakukan,sementara pengolahan gula di pabrik berjalan terus. Hal ini juga yang menyebabkan rusaknya tumbuhan tebu karena penundaan panen dan penurunan rendemen dari tebu itu sendiri.Selain itu kendala yang dialami adalah tenaga kerja. Apabila pada musim panen padi tenagakerja tebang drastis berkurang dan banyak yang melaksanakan panen padi di desa nya.Pemanenan manual dan kegiatan pembongkaran tebu dapat dilihat pada Gambar 18, Gambar19, dan Gambar 20. Gambar 18. Pemanenan manual Gambar 19. Pembongkaran tebu (1) 23
  32. 32. Gambar 20. Pembongkaran tebu (2)b. Semi-Mekanis Pemanenan tebu menggunakan cara semi-mekanis merupakan salah satu cara yang dipakai juga oleh PG Jatitujuh. Pemanenan dengan cara ini tidak berbeda jauh dengan pemanenan manual. Yang membedakan pemanenan ini dengan manual hanyalah peletakkan batang tebu yang sudah dipanen menggunakan grab loader. Awal dari pemanenan semi-mekanis adalah pemanenan menggunakan tenaga manusia menggunakan arit yang tajam dan batang-batang tebu yang sudah dipotong ditumpukkan ke dalam satu alur hingga tertumpuk banyak. Setelah para pekerja selesai memanen tebu dengan cara manual trailer-trailer yang ditarik oleh traktor berdatangan untuk diisi dengan tebu yang sudah dipanen. Grab loader juga datang untuk mengangkut tebu yang sudah dipanen. Grab loader berjalan berdampingan dengan trailer yang ditarik oleh traktor dan mengambil tumpukan batang tebu yang sudah dipanen dan memasukkannya ke dalam trailer yang masih kosong. Setelah trailer terisi penuh trailer yang masih kosong dan menunggu dating ke lapanganan dan diisi lagi dengan grab loader. Kapasitas dari trailer itu sendiri berkisar 9-10 ton berat tebu. Apabila tebu yang dipanen bagus dan tidak banyak terbuang satu unit trailer bisa mengangkut tebu seberat 13 ton sekali jalan. Kegiatan panen semi-mekanis dan trailer bukaka dapat dilihat pada Gambar 21 dan Gambar 22. Gambar 21. Pemanenan semi-mekanis 24
  33. 33. Gambar 22. Trailer bukakac. Full Mekanis Tebang angkut full mekanis dilakukan dengan cane harvester dimana prosesnya hanya sedikit menggunakan tenaga manusia. Tenaga manusia hanya dibutuhkan untuk menjadi operator mesin tebang dan trailer pengangkut tebu. Mesin pemanenan yang digunakan adalah tipe chopper harvester, dimana tebu akan dipotong-potong menjadi billet berukuran 20-40cm dan sudah berisi tebu bersih tidak ada kotoran dan serasah yang terbawa. Sebelum kegiatan panen dilakukan mesin pemanen wajib dipersiapkan dan dipastiikan siap pakai oleh pihak mekanisasi. Keuntungan penggunaan alat ini adalah hasil akhir panen hanyalah tebu yang sudah dipotong menjadi 20-40 cm tanpa kotoran dan serasah tebu. Serta sisa – sisa panen tebu sudah berupa potongan – potongan halus dan lebih mudah untuk dibakar. Kendala yang dihadapi oleh kegiatan pemanenan ini adalah cuaca. Apabila cuaca hujan maka alat ini tidak digunakan karena mekanisasi tidak memungkinkan masuk ke dalam lahan. Akan tetapi pada PG Jatitujuh pemanenan secara full mekanis sangat jarang dilakukan karena pihak pabrik masih menggunakan tenaga manusia. Kegiatan ini hanya dilakukan insidental saja, apabila tenaga tebang benar-benar kurang dan tidak mungkin memenuhui kapasitas tebang. Kegiatan pemanenan full-mekanis dapat dilihat pada Gambar 23. Gambar 23. Chopper harvester 25
  34. 34. d. Limbah Tebang Limbah tebang merupakan sisa – sisa dari kegiatan penebangan yang berupa daun tebu, sisa pucuk, dan bagian lain yang tidak diambil oleh pemanen. Limbah tebang dihilangkan dengan cara dibakar melalui pembakaran lahan yang termasuk dalam kegiatan persiapan lahan. Namun dalam hasil pengamatan pembakaran lahan tidak 100% menghilangkan limbah tebang. Masih banyak limbah tebang yang tidak terbakar ataupun terbakar tanggung. Maka dibutuhkan inovasi untuk pemanfaatan limbah tebang dari sisa penebangan agar lebih efektif dan termanfaatkan.3.4. PRODUKSI GULA Proses produksi di PT PG Rajawali II unit PG Jatitujuh, Majalengka, Jawa Barat umumnya disebut masa giling yang biasanya berlangsung 3-5 bulan. Proses produksi tebu menjadi gula di PG Jatitujuh menggunakan sistem sulfitasi sacharat. Tahapan produksi gula yaitu: a. Stasiun Pendahuluan Stasiun pendahuluan merupakan stasiun yang dilewati tebu sebelum masuk ke stasiun penggilingan. Stasiun ini bertujuan untuk mempersiapkan bahan baku (tebu) yang akan diproses. Ada dua bagian penting pada stasiun ini yaitu, stasiun penimbangan (jembatan timbang) dan bagian halaman (cane yard). Tebu yang telah ditebang diangkut dari kebun ke pabrik dengan menggunakan truk atau trailer. Tebu tersebut masuk melalui gerbang belakang pabrik untuk ditimbang terlebih dahulu menggunakan jembatan penimbangan. Jembatan timbangan terdiri atas timbangn bruto untuk menimbang berat kotor tebu dan truk, serta timbangan tarra atau timbangan berat bersih sehingga diketahui berat tebu yang dibawa truk atau trailer. Tebu yang telah ditimbang berat kotornya langsung diarahkan menuju cane yard yang memiliki kapasitas 5500-6000 ton/hari. Cane yard merupakan tempat untuk membongkar tebu dari alat angkutnya (unloading), menumpuk tebu dan area tebu sebelum masuk meja tebu. Pembongkaran tebu dari alat angkutnya dilakukan dengan menggunakan cane lifter atau hillo dan selanjutnya diangkut ke meja tebu dengan menggunakan loader, traveller crane atau grabber, hydro crane dan tippler. Cane yard dapat dilihat pada Gambar 24. Gambar 24. Cane Yard 26
  35. 35. Proses selanjutnya tebu dibawa ke mesin pencacah oleh cane carrier. Mesin pencacah digunakan untuk memotong dan mencacah tebu sampai berukuran kurang lebih 40 cm yang berfungsi untuk membuka sel tebu. Tahapan selanjutnya adalah penyempurnaan cacahan dan pengecilan ukuran menggunakan unigrator. Unigrator berfungsi sebagai penyempurna cacahan agar menjadi serpihan-serpihan tebu yang lebih kecil sehingga memperluas permukaan perasan dan nira yang terperas lebih banyak. Pada bagian unigrator ini tebu berbentuk cacahan atau serpihan namun nira belum keluar. Setelah mengalami pencacahan pada unigrator, tebu masuk ke dalam stasiun penggilingan. Proses tebu menuju unigrator dapat dilihat pada Gambar 25. Gambar 25. Tebu menuju unigratorb. Stasiun Gilingan Tebu yang telah melewati stasiun pendahuluan akan diproses di stasiun gilingan untuk diambil niranya. Mesin gilingan tebu terdiri dari gilingan I, gilingan II, gilingn III, dan gilingan IV dengan kapasitas giling 4500-5000 TCD (ton tebu per hari). Tebu yang telah dicacah oleh mesin pencacah dan unigrator akan digiling di gilingan I. Ampas tebu yang dihasilkan dari gilingan I akan dibawa ke gilingan II dengan penambahan nira hasil gilingan III dan akan digiling di gilingan II. Tujuan penambahan nira dari hasil gilingan III adalah untuk memancing nira dari ampas sisa gilingan I dan memudahkan kerja mesin gilingan II. Nira hasil gilingan I dan II akan dicampur dan keluar melewati talang dan akan disedot oleh pompa dan ditempatkan pada tangki nira mentah sedangkan ampas yang tersisa pada nira gilingan I dan gilingan II akan disaring oleh tush-tush elevator dan akan kembali digiling pada gilingan II. Ampas tebu hasil gilingan II akan digiling kembali pada gilingan III dengan penambahan hasil nira gilingn IV dan air imbibisi dengan suhu maksimal 60oC. Air imbibisi merupakan air yang digunakan sebagai pelarut dalam proses ekstraksi tebu. Penambahan air imbibisi bertujuan untuk mengencerkan nira yang tersisa dalam ampas tebu sehingga lebih mudah mengambil nira dari ampas tebu. Sedangkan ampas tebu gilingan III akan digiling kembali pada gilingan IV dengan penambahan sedikit air imbibisi agar ampas sisa gilingan IV diharapkan memiliki pol ampas sedikit dan memiliki kadar air rendah karena akan digunakan sebagai bahan bakar boiler. Bagian- bagian dari stasiun gilingan dapat dilihat pada Gambar 26. 27
  36. 36. Gambar 26. Stasiun gilingan Pada stasiun gilingan PG Jatitujuh, ditambahkan cairan Decolorizing of Raw Juice yang digunakan untuk mendapatkan warna nira yang baik dengan target nilai icumsa yang diharapkan yaitu di bawah 100, cairan Dewatering Aid of Baggase yang digunakan untuk untuk mengikat nira pada ampas atau menurunkan pol ampas pada gilingan IV agar kandungan gula yang terbawa pada sisa ampas gilingan IV sedikit, dan cairan Flowing Agent of Raw Juice yang digunakan untuk menggumpalkan kotoran nira hasil gilingan.c. Stasiun Pemurnian Nira mentah dari stasiun gilingan akan dibawa ke stasiun pemurnian untuk memisahkan nira dari bahan-bahan bukan gula sehingga dihasilkan nira bersih. Proses pemurnian di PG Jatitujuh adalah proses sulfitasi sacharat dengan bahan pembantu berupa susu kapur (hydrate lime) atau Ca(OH)2, SO2, koagulan dan flokulan. Proses pada stasiun pemurnian adalah penimbangan nira mentah, pemanasan I, penambahan kapur dan gas SO 2, pemanasan II, pengendapan, dan pemanasan III.d. Stasiun Penguapan Proses penguapan merupakan proses yang dilakukan untuk mengurangi kadar air nira sehingga diperoleh nira dengan kekentalan tertentu. Nira encer dari stasiun pemurnian yang memiliki brix 12-14% dikentalkan sampai mencapai nilai brix 60-64% menggunakan badan penguap atau evaporator dengan air yang diuapkan sekitar 60%. Stasiun penguapan PG. Jatittujuh memiliki 6 evaporator atau badan penguap, namun dalam pengoperasiannya biasanya hanya digunakan 5 evapotaror dan selebihnya standby atau dibersihkan. Sistem yang diterapkan pada stasiun penguapan ini adalah quadruple effect yaitu evaporator I dan evaporator II adalah paralel (uap yang masuk dalam badan penguap untuk penguapan nira berasal dari uap bekas stasiun gilingan), sedangkan evaporator III, IV, V, dan VI adalah seri (uap yang masuk dalam badan penguap untuk penguapan nira berasal dari evaporator atau badan penguap sebelumnya). Dalam pengoperasiannya, evaporator I atau II mendapat uap dari uap bekas stasiun penggilingan dengan tekanan 1.2-1.5 bar dengan suhu nira encer masuk badan bejana penguapan pertama 110 oC. Uap nira dari evaporator I atau II digunakan untuk penguapan di 28
  37. 37. evaporator III. Uap nira dari evaporator III digunakan untuk penguapan di evaporator IV. Uap nira dari evaporator IV digunakan untuk penguapan di evaporator terakhir. Pada evaporator terakhir yaitu evaporator V atau VI, proses penguapan adalah vacuum dengan suhu maksimal 75-80oC yang bertujuan agar sukrosa yang terkandung dalam nira tidak rusak atau pecah. Pengisian nira ke dalam evaporator hanya mencapai sepertiga tinggi pipa pemanas karena apabila tingginya melebihi sepertiga akan menyebabkan pemuncratan nira sehingga nira akan terbawa uap. Nira kental hasil evaporator selanjutnya dibawa ke tangki sulfitasi II. Namun di PG Jatitujuh, saat ini sudah tidak dipergunakan lagi penambahan SO2 pada nira hasil evaporator. Nira hasil dari evaporator hanya dilewatkan melalui tangki sulfitasi II selanjutnya disalurkan ke tangki nira kental atau JSP (Juice Syrup Purification) untuk dimasak pada stasiun masakan. Tangki – tangki penguapan dapat dilihat pada Gambar 27. Gambar 27. Badan Penguape. Stasiun Masakan Tahapan proses setelah nira dikentalkan di stasiun penguapan, nira diproses di stasiun masakan. Tujuan dari stasiun masakan adalah merubah larutan sukrosa dalam nira kental menjadi kristal gula. Pada stasiun masakan, proses dilakukan secara bertingkat dengan kondisi vacuum 60-64 cm Hg dengan suhu 70-75oC agar gula tidak rusak dan tidak terjadi karamelisasi. Pembentukan kristal dilakukan dalam pan-pan masakan yang menghasilkan gula SHS, stroop atau bibit untuk pan masakan berikutnya, magma atau umpan untuk pan masakan sebelumnya dan klare. Sistem masakan di PG Jatitujuh adalah sistem masakan pan A-C-D yang terdiri dari 3 pan masakan A (A1, A2, A6), 1 pan masakan C, 1 pan masakan C/D yang dapat digunakan untuk membuat bibit C atau D dengan penambahan FCS sebagai inti kristal dalam pengkristalan, dan 1 pan masakan D. Pada pan masakan A bahan yang masuk adalah magma C, nira kental dari bak penampungan, serta leburan dan klare A secara bertahap masuk ke dalam pan masakan A sampai volume 450 HL. Penambahan magma C ini berfungsi sebagai inti kristal untuk menarik pembentukan kristal dengan melekatnya sukrosa. Masakan A dilakukan sampai nilai brix masakan A sekitar 92-94%. Selanjutnya hasil masakan A akan turun ke dalam palung pendingin dan akan masuk putaran AI yang akan menghasilkan stroop A dan gula kristal A 29
  38. 38. yang ditambahkan air sehingga menjadi magma A. Stroop A masih mengandung gula didalamnya, sehingga akan dimasak kembali pada masakan C untuk diambil gulanya. MagmaA akan masuk ke dalam putaran SHS dan pisahkan antara gula SHS (Superior High Suikerr)sebagai produk dan klare A yang masih mengandung air dan gula diproses kembali sebagaibahan pada masakan A. Masakan A memiliki nilai HK (Harkat Kemurnian) minimal 84%. Umpan pada masakan C adalah stroop A dan magma DII dari masakan D. masakan Cdilakukan sampai nilai brix masakan C sekitar 94-96% dengan nilai HK (Harkat Kemurnian)minimal 76%. Selanjutnya hasil masakan akan turun ke palung pendingin C dan dibawa keputaran C yang akan menghasilkan stroop C untuk bahan masakan D dan magma C untukumpan masakan A. Selain itu, bibit untuk masakan C dapat pula berasal dari seed C yangdibuat pada pan C/D dengan penambahan FCS sebagai inti kristal dalam pengkristalan. Umpan dari masakan D adalah stroop C dan klare D. Selain itu umpan atau bibitmasakan D dapat berasal dari seed D dari hasil masakan pan C/D. Masakan D dilakukansampai nilai brix masakan D sekitar 98%. Masakan D memiliki nilai HK (HarkatKemurnian) minimal 60%. Hasil masakan D akan turun ke palung pendingin D dan akanmasuk putaran D1 yang akan menghasilkan tetes yang akan disalurkan ke tangki tetes dankristal gula D1 yang ditambahkan air sehingga menjadi magma D1. Magma D1 akandialirkan ke putaran D2 yang akan menghasilkan klare D dan magma D2 yang akandigunakan sebagai bahan masakan C. Skema pada stasiun masakkan dapat dilihat padastasiun 31. Diagram proses stasiun masakan disajikan pada Gambar 28. 30
  39. 39. Klare+Le NK b Pan A Pan C Pan D PP A PP C PP D Put AI Stroop Put C Stroop Put DI Tetes A C Kristal A Kristal C Air Kristal Air DI Air Magma Magma C Magma DI A Klare Put SHS Put DII Klare A D Gula Kristal Air SHS DII Magma DII Keterangan: NK : Nira Kental Leb : Leburan PP : Palung Pendingin Put : Putaran Gambar 28. Skema pada Stasiun Masakanf. Stasiun Putaran Stasiun putaran berfungsi untuk memisahkan kristal gula dengan larutannya. Pada stasiun putaran PG Jatitujuh terdiri dari 5 putaran DI, 2 putaran DII, 2 putaran C, 4 putaran AI, 2 putaran SHS, dan 1 putaran BMA. Sistem putaran yang digunakan adalah dua jenis putaran yang berbeda yaitu HGC (High Grade Centrifuge) yang memiliki sistem discontinue, dan LGC (Low Grade Centrifuge) dengan sistem continue. Putaran gula produksi terdiri dari putaran SHS dan BMA. Sumber putaran gula produksi adalah gula hasil masakan A yang menghasilkan gula SHS. Sistem putaran pada putaran SHS adalah HGC (High Grade Centrifuge). Sebelum masuk putaran SHS, hasil masakan A diputar terlebih dahulu pada putaran AI. Putaran SHS akan menghasilkan gula SHS sebagai produk dan klare A yang akan diproses kembali pada masakan A. Sistem putaran pada putaran BMA juga HGC (High Grade Centrifuge) dengan kecepatan putar 1100-1200 rpm, 31
  40. 40. namun pada putaran BMA akan langsung dihasilkan gula produk tanpa harus diputar pada putaran AI terlebih dahulu. Massecuite masakan A akan diputar pada putaran AI sehingga menghasilkan stroop A dan gula A yang akan masuk ke putaran SHS untuk diputar kembali sebelum menjadi produk gula SHS. Sistem putaran pada putaran A1 adalah HGC (High Grade Centrifuge) dengan kecepatan putar 700-900 rpm. Proses pada putaran C akan menghasilkan produk berupa stroop C dan kristal gula C yang akan diolah kembali menjadi magma C sebagai inti kristal untuk masakan A. Sedangkan stroop C akan masuk pada pan masakan D. Sistem putaran pada putaran A1 adalah LGC (Low Grade Centrifuge). Putaran D terdiri dari putaran DI dan putaran DII yang digunakan untuk memisahkan gula D dan tetesnya. Putaran DI akan menghasilkan tetes yang akan disalurkan pada tangki tetes dan gula DI yang akan diputar kembali pada putaran DII, sehingga menghasilkan klare D untuk diolah pada pan D lagi dan magma DII untuk bahan masakan C. Sistem putaran pada putaran D adalah LGC.g. Stasiun Pengeringan Produk berupa gula SHS yang dihasilkan oleh putaran SHS dan BMA masih memiliki kadar air yang cukup tinggi sehingga masih basah dan lengket. Oleh karena itu, dilakukan proses pengeringan dengan menggunakan sugar dryer. Suhu yang digunakan pada proses pengeringan adalah sekitar 80oC. Pengeringan dilakukan dengan menghembuskan udara panas dengan bantuan blower ke ruang pengeringan gula. Debu gula akan terangkat dan terhisap oleh blower kemudian disemprotkan air dan ditampung. Produk gula yang telah dikeringkan didinginkan dengan udara yang bersuhu 20-30oC yang berasal dari blower. Selanjutnya gula akan masuk ke talang goyang atau vibrating screener untuk memisahkan antara gula produk yang berukuran seragam, gula kasar, dan gula halus. Gula kasar dan gula halus akan masuk ke peti leburan dan akan diproses kembali pada masakan A, sedangkan produk gula SHS akan dibawa ke timbangan otomatis dan ditimbang seberat 50 kg. Apabila produk gula SHS masih mengandung kotoran maka kotoran tersebut akan ditarik oleh beberapa batang magnet sebelum masuk ke timbangan.h. Pengemasan dan Penggudangan Produk gula akhir atau gula SHS I atau GKP (Gula Kristal Putih) yang dikemas dengan menggunakan karung plastik yang dilapisi inner bag berupa plastik tipis dan transparan. Lapisan plastik ini berfungsi untuk mengurangi masuknya uap air ke dalam karung sehingga gula akan tetap kering dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga gula dapat lebih tahan lama dalam penyimpanannya. Gula yang telah dikemas kemudian disimpan dalam gudang. Gula dikemas dalam kemasan karung 50 kg sehingga mempermudah dalam penyusunan dan penumpukannya dalam gudang. Kemasan karung ini diberikan kode produksi menurut periode produksi, bulan, tahun dan shift produksi yang bertujuan untuk mengetahui jumlah gula yang diproduksi pada periode tersebut dan mempermudah pengaturan letak 32
  41. 41. penyimpanan serta keluarnya gula yang akan dipasarkan. Gula yang masuk ke gudang akandihitung secara manual oleh operator dan melalui penghitung otomatis sehingga dapatdiketahui berapa jumlah karung gula yang masuk ke gudang per periode. Selain itu, terdapatpula gula kemasan plastik 1 kg. Gudang gula pada PG Jatitujuh memiliki kapasitas sekitar 250.000 karung atau 125.000kuintal. Sistem penggudangan dilakukan dengan cara penumpukan setinggi 45 baris dimanamasing-masing baris berisi 320 karung, sehingga masing-masing tumpukan berisi 14.000-14.400 karung gula. Pengeluaran gula dari gudang menggunakan sistem FIFO (First In FirstOut) yaitu gula yang masuk gudang lebih dulu maka akan keluar terlebih dahulu. Gulaproduksi ini akan didistribusikan di seluruh wilayah Indonesia, khususnya daerah JawaBarat. 33
  42. 42. IV. APLIKASI DAN PEMELIHARAAN ALAT DAN MESIN PERTANIAN4.1. ALAT DAN MESIN PERTANIAN DI PG JATITUJUH Penggunaan alat dan mesin pertanian dalam skala industry memang sudah mutlak diperlukan. Penggunaan alsintan tidak hanya membantu pengerjaan manusia dalam proses budidaya tanaman tetapi juga akan meningkatkan efisiensi dan profit dalam proses produksinya. Kondisi lahan yang tidak wajar dan luas lahan yang sangat besar tidak dimungkinkan dikerjakan oleh manusia, maka peran alsintan dalam kondisi ini adalah sangat penting dan mutlak dibutuhkan. PG Jatitujuh sudah menerapkan penggunaan alsintan dalam proses budidaya tebu. Walaupun belum 100% dikerjakan secara mekanis namun sebagian besar proses budidaya tanaman tebu sudah dikerjakan secara mekanis. Pengadaan alat dan mesin pertanian diusahakan oleh pihak PG Jatitujuh melalui pengajuan dari bagian mekanisasi. Pengajuan oleh bagian mekanisasi tidak menjadi agenda setiap tahun tetapi dilihat dari kebutuhan pekerjaan lahan dan kondisi keuangan pabrik. Pembelian alat dan mesin pertanian PG Jatitujuh melalui lelang harga.4.2. TRAKTOR PERTANIAN Penggunaan traktor pertanian (wheel tractor) di PG Jatitujuh bertujuan untuk membantu pengerjaan agar lebih singkat dan efisien, hasil pekerjaan lebih baik, dan menjamin ketepatan waktu. PG Jatitujuh memiliki berbagai macam merk traktor seperti Massey Ferguson, Ford, Kubota, John Deere, dan New Holland. Pada PG Jatitujuh kegunaan traktor dibagi menjadi dua yaitu traktor untuk pengolahan tanah dan traktor untuk alat angkut/traksi. Traktor pengolahan tanah berfungsi untuk menarik implemen-implemen pengolahan tanah. Traktor jenis ini memiliki kondisi yang baik dan daya yang relatif besar. Traktor jenis ini dibutuhkan dalam kondisi prima karena pekerjaan nya yang berat dengan luas lahan yang sangat besar. Traktor traksi atau angkut digunakan untuk menarik alat angkut untuk transportasi tebu, pupuk, bibit, tangki air, BBM, pipa irigasi, pompa kebun, dan tenaga kerja. Traktor jenis ini kebanyakan memiliki daya yang relatif lebih kecil dibanding traktor pengolahan tanah. Sebagian besar traktor traksi juga merupakan bekas traktor pengolahan yang sudah lama dan tua. Jumlah dan jenis traktor dapat dilihat pada Tabel 3 dan Gambar 29. 34
  43. 43. Tabel 3. Data Jumlah Traktor Pertanian Aplikasi Daya Juml Rus Sis Keguna Merk/Tipe Tahun Pengadaan Div. Div. Umu (hp) ah ak a an Timur Barat mCounty TW1164 110 1981 4 0 4 0 0 4 TTRFord 6600 79 1980, 1981, 2000 9 1 8 6 2 1 TTRFord 6640 90 1996 2 0 2 1 1 0 TPTFord 7810 105 1992 4 1 3 2 2 0 TTRFord 7840 105 1992 11 2 9 5 6 0 TPTFord 8730 163 1990 4 1 3 2 2 0 TPTJohn Deere 2040 82 2000 2 0 2 1 1 0 TTRJohn Deere 2650 82 1994 3 0 3 0 0 3 TTRJohn Deere 4255 120 1991 3 1 2 1 2 0 TPTJohn Deere 6020 2010 3 0 3 1 2 0 TPTJohn Deere 6405 106 2005 1 0 1 1 0 0 TPTJohn Deere 6415 110 2006 2 0 2 1 1 0 TPTJohn Deere 6505 110 2001 2 1 1 1 1 0 TPTJohn Deere 7020 2010 3 0 3 1 2 0 TPTJohn Deere 7505 140 2005 1 0 1 0 1 0 TPTJohn Deere 7710 150 1997 1 1 0 1 0 0 TPTJohn Deere 8420 269 2003 2 1 1 1 1 0 TPTKubota M7500DT 81 1982 & 2001 11 2 9 5 4 2 TTRMassey Ferguson 79 1981, 1982, 2000, & 16 2 14 1 6 9 TTR290 2006Massey Ferguson 111 1996-2000 23 2 21 12 11 0 TPT &399 TTRMassey Ferguson 120 2003-2004 4 2 2 2 2 0 TPT5365New Holland 250 2002 2 1 1 1 1 0 TPT8970ANew Holland 150 2007 1 1 0 1 0 0 TPTTM150TPT : Traktor Pengolahan TanahTTR : Traktor Traksi 35
  44. 44. Gambar 29. Jenis Traktor di PG Jatitujuh 36
  45. 45. Perbaikan dan pemeliharaan traktor di PG Jatitujuh dilakukan di bengkel traktor. PGJatitujuh memiliki dua tempat bengkel traktor yaitu di bagian timur dan barat. Bagian timurbengkel berada di wilayah pabrik tepatnya dekat kantor mekanisasi. Di bagian barat bengkelberada di daerah Balok Guyang. Pembagian bengkel ini bertujuan untuk menjangkau jarak kebunyang luas dan menangani apabila ada kerusakan. Namun apabila traktor yang ada di bagian baratmengalamai kerusakan berat dan tidak bisa diperbaiki di bengkel barat, traktor tersebut akandibawa ke bengkel timur dengan cara ditarik oleh traktor lain. Perawatan preventive pada traktor dilakukan pada setiap 250 jam kerja traktor. Setiapsehabis 250 jam maka traktor mengalami perawatan kecil yang berupa penggantian oli filter, olimesin, dan pengecekkan air radiator. Selain itu terdapat perawatan harian yang meliputipemeriksaan oli mesin, tekanan ban, pelumasan/grease, pengecekan air radiator, air aki,transmisi, dan hidrolik. Kegiatan perbaikan traktor meliputi top overhaul, general overhaul, overhaul transmisi,perbaikan hidrolik, dan final drive serta perbaikan elektrik. Perbaikan top overhaul (perbaikanbagian atas) meliputi pekerjaan penggantian ring piston, gasket head, stell klep, dan seviceradiator. General overhaul merupakan perbaikan dan pemeliharaan seluruh bagian mesin.Kegiatan ini dilakukan setelah 1000 jam kerja. Kegiatan ini meliputi pergantian suku cadangyang rusak, penggantian oli dan filter oli, perbaikan radiator, pembersihan crank shaft, piston,dan silinder head. Overhoul transmisi meliputi semua kerusakan pada sistem transmisi sepertipenggantian oli transmisi dan suku cadang. Perbaikan hidrolik dan final drive meliputipemeriksaan dan perbaikan pada sistem tenaga hidrolik dan kebocoran oli hidrolik. Perbaikanpada bagian elektrik meliputi perbaikan pada alterbator, pemeriksaan fungsi baterai, motorstarter, dan lampu. Pada traktor pengolahan tanah kerusakan yang sering terjadi adalah padabagian hidrolik karena bagian ini yang paling sensitive terhadap gaya – gaya dari luar. Perbaikanhidrolik juga membutuhkan waktu yang cukup lama dibandingkan perbaikan – perbaikan bagiantraktor lainnya. Kegiatan perbaikan traktor dapat dilihat pada Gambar 30. Gambar 30. Perbaikan Traktor 37

×