Pasang surut air laut

8,844 views
8,596 views

Published on

Oseanografi Fisis

Published in: Education
0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
8,844
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
186
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Pasang surut air laut

  1. 1. TUGAS OSEANOGRAFI FISIS RESUME PASANG SURUT AIR LAUT OLEH : Retno Agus Pratiwi (12/333239/TK/39671) JURUSAN TEKNIK GEODESI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS GADJAH MADA
  2. 2. PASANG SURUT AIR LAUT  Penyebab Pasang Surut Air Laut Pasang surut laut adalah gelombang yang dibangkitkan oleh adanya interaksi antara bumi, matahari dan bulan. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pasang surut berdasarkan teori kesetimbangan adalah rotasi bumi pada sumbunya, revolusi bulan terhadap matahari, revolusi bumi terhadap matahari. Sedangkan berdasarkan teori dinamis adalah kedalaman dan luas perairan, pengaruh rotasi bumi (gaya coriolis), dan gesekan dasar. Selain itu juga terdapat beberapa faktor lokal yang dapat mempengaruhi pasut disuatu perairan seperti, topogafi dasar laut, lebar selat, bentuk teluk, dan sebagainya, sehingga berbagai lokasi memiliki ciri pasang surut yang berlainan (Wyrtki, 1961). Puncak gelombang disebut pasang tinggi dan lembah gelombang disebut pasang rendah. Perbedaan vertikal antara pasang tinggi dan pasang rendah disebut rentang pasang surut (tidal range). Periode pasang surut adalah waktu antara puncak atau lembah gelombang ke puncak atau lembah gelombang berikutnya. Dalam sebulan, variasi harian dari rentang pasang laut berubah secara sistematis terhadap siklus bulan. Rentang pasang laut juga bergantung pada bentuk perairan dan konfigurasi lantai samudera. Pasang laut merupakan hasil dari gaya gravitasi dan efek sentrifugal. Efek sentrifugal adalah dorongan ke arah luar pusat rotasi (bumi). Gravitasi bervariasi secara langsung dengan massa tetapi berbanding terbalik terhadap jarak. Meskipun ukuran bulan lebih kecil dari matahari, namun gaya gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik matahari dalam membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak matahari ke bumi. Gaya gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan matahari dan menghasilkan dua tonjolan pasang surut gravitasional di laut. Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi, sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan matahari.  Ilustrasi Sistem Bulan-Bumi yang Menghasilkan Gaya Pembangkit Pasang Surut Air Laut
  3. 3. Gambaran sederhana terjadinya pasang surut. Pasang terjadi di A dan B, pada garis poros bumi-bulan. Surut terjadi di C dan D, pada garis tegak lurus terhadap garis poros bumi-bulan. Karena adanya gaya tarik bulan yang kuat, maka bagian bumi yang terdekat ke bulan akan tarik menarik membengkak hingga perairan samudera disitu akan naik dan menimbulkan pasang. Pada saat yang sama, bagian bola bumi dibaliknya akan mengalami keadaan serupa atau pasang pula. Sementara itu pada sisi lainnya yang tegak lurus terhadap poros bumibulan, air samudera akan bergerak ke samudera hingga menyebabkan terjadinya keadaan surut. Pasang purnama (spring tide) terjadi ketika bumi, bulan dan matahari berada dalam suatu garis lurus. Pada saat itu akan dihasilkan pasang tinggi yang sangat tinggi dan pasang rendah yang sangat rendah. Pasang surut purnama ini terjadi pada saat bulan baru dan bulan purnama. Pasang perbani (neap tide) terjadi ketika bumi, bulan dan matahari membentuk sudut tegak lurus. Pada saat itu akan dihasilkan pasang tinggi yang rendah dan pasang rendah yang tinggi. Pasang surut perbani ini terjadi pasa saat bulan 1/4 dan 3/4. Bumi berputar mengelilingi bumi sekali dalam 24 jam 51 menit. Jika faktor-faktor lain diabaikan maka suatu lokasi di bumi akan mengalami 2 kali pasang dan 2 kali surut dalam sehari. Dengan demikian tiap siklus pasang-surut akan bergeser mundur 51 menit setiap hari.  Konstituen Pasang Surut Air Laut Konstituen Pasang Surut Air Laut adalah komponen utama pasang surut air laut yang masing-masing memiliki amplitudo, periode atau frekuensi, dan fasa. Komponen-komponen pasang surut sangat banyak tetapi untuk memprediksi pasang surut selama satu tahun cukup hanya dengan komponen-komponen M2, K1, S2, dan O1. Seperti contoh dibawah ini :
  4. 4.  Pengamatan Pasang Surut Termasuk Alat Pengamatnya Beberapa alat pengukuran pasang surut diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Tide Staff. Alat ini berupa papan yang telah diberi skala dalam meter atau centi meter. Biasanya digunakan pada pengukuran pasang surut di lapangan.Tide Staff (papan Pasut) merupakan alat pengukur pasut paling sederhana yang umumnya digunakan untuk mengamati ketinggian muka laut atau tinggi gelombang air laut. Bahan yang digunakan biasanya terbuat dari kayu, alumunium atau bahan lain yang di cat anti karat. Syarat pemasangan papan pasut adalah : a) Saat pasang tertinggi tidak terendam air dan pada surut terendah masih tergenang oleh air. b) Jangan dipasang pada gelombang pecah karena akan bias atau pada daerah aliran sungai (aliran debit air). c) Jangan dipasang didaerah dekat kapal bersandar atau aktivitas yang menyebabkan air bergerak secara tidak teratur. d) Dipasang pada daerah yang terlindung dan pada tempat yang mudah untuk diamati dan dipasang tegak lurus. e) Cari tempat yang mudah untuk pemasangan misalnya dermaga sehingga papan mudah dikaitkan. f) Dekat dengan bench mark atau titik referensi lain yang ada sehingga data pasang surut mudah untuk diikatkan terhadap titik referensi. g) Tanah dan dasar laut atau sungai tempat didirikannya papan harus stabil. h) Tempat didirikannya papan harus dibuat pengaman dari arus dan sampah 2. Tide gauge.
  5. 5. Merupakan perangkat untuk mengukur perubahan muka laut secara mekanik dan otomatis. Alat ini memiliki sensor yang dapat mengukur ketinggian permukaan air laut yang kemudian direkam ke dalam komputer. Tide gauge terdiri dari dua jenis yaitu : 3. Floating tide gauge (self registering) Prinsip kerja alat ini berdasarkan naik turunnya permukaan air laut yang dapat diketahui melalui pelampung yang dihubungkan dengan alat pencatat (recording unit). Pengamatan pasut dengan alat ini banyak dilakukan, namun yang lebih banyak dipakai adalah dengan cara rambu pasut. 4. Pressure tide gauge (self registering) Prinsip kerja pressure tide gauge hampir sama dengan floating tide gauge, namun perubahan naik-turunnya air laut direkam melalui perubahan tekanan pada dasar laut yang dihubungkan dengan alat pencatat (recording unit). Alat ini dipasang sedemikian rupa sehingga selalu berada di bawah permukaan air laut tersurut, namun alat ini jarang sekali dipakai untuk pengamatan pasang surut. 5. Satelit. Sistem satelit altimetri berkembang sejak tahun 1975 saat diluncurkannya sistem satelit Geos-3. Pada saat ini secara umum sistem satelit altimetri mempunyai tiga objektif ilmiah jangka panjang yaitu mengamati sirkulasi lautan global, memantau volume dari lempengan es kutub, dan mengamati perubahan muka laut rata-rata (MSL) global. Prinsip Dasar Satelit Altimetri adalah satelit altimetri dilengkapi dengan pemancar pulsa radar (transmiter), penerima pulsa radar yang sensitif (receiver), serta jam berakurasi tinggi. Pada sistem ini, altimeter radar yang dibawa oleh satelit memancarkan pulsa-pulsa gelombang elektromagnetik (radar) kepermukaan laut. Pulsa-pulsa tersebut dipantulkan balik oleh permukaan laut dan diterima kembali oleh satelit. Prinsip penentuan perubahan kedudukan muka laut dengan teknik altimetri yaitu pada dasarnya satelit altimetri bertugas mengukur jarak vertikal dari satelit ke permukaan laut. Karena tinggi satelit di atas permukaan ellipsoid referensi diketahui maka tinggi muka laut (Sea Surface Height atau SSH) saat pengukuran dapat ditentukan sebagai selisih antara tinggi satelit dengan jarak vertikal. Variasi muka laut periode pendek harus dihilangkan sehingga fenomena kenaikan muka laut dapat terlihat melalui analisis deret waktu (time series analysis). Analisis deret waktu dilakukan karena kita akan melihat variasi temporal periode panjang dan fenomena sekularnya.  Tipe Pasang Surut Air Laut Perairan laut memberikan respon yang berbeda terhadap gaya pembangkit pasang surut,sehingga terjadi tipe pasut yang berlainan di sepanjang pesisir. Menurut Dronkers (1964), ada tiga tipe pasut yang dapat diketahui, yaitu : a) Pasang surut diurnal. Yaitu bila dalam sehari terjadi satu satu kali pasang dan satu kali surut. Biasanya terjadi di laut sekitar katulistiwa. b) pasang surut semi diurnal. Yaitu bila dalam sehari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut yang hampir sama tingginya.
  6. 6. c) pasang surut campuran. Yaitu gabungan dari tipe 1 dan tipe 2, bila bulan melintasi khatulistiwa (deklinasi kecil), pasutnya bertipe semi diurnal, dan jika deklinasi bulan mendekati maksimum, terbentuk pasut diurnal. Menurut Wyrtki (1961), pasang surut di Indonesia dibagi menjadi 4 yaitu : a) Pasang surut harian tunggal (Diurnal Tide) Merupakan pasut yang hanya terjadi satu kali pasang dan satu kali surut dalam satu hari, ini terdapat di Selat Karimata b) Pasang surut harian ganda (Semi Diurnal Tide) Merupakan pasut yang terjadi dua kali pasang dan dua kali surut yang tingginya hampir sama dalam satu hari, ini terdapat di Selat Malaka hingga Laut Andaman. c) Pasang surut campuran condong harian tunggal (Mixed Tide, Prevailing Diurnal) Merupakan pasut yang tiap harinya terjadi satu kali pasang dan satu kali surut tetapi terkadang dengan dua kali pasang dan dua kali surut yang sangat berbeda dalam tinggi dan waktu, ini terdapat di Pantai Selatan Kalimantan dan Pantai Utara Jawa Barat. d) Pasang surut campuran condong harian ganda (Mixed Tide, Prevailing Semi Diurnal) Merupakan pasut yang terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari tetapi terkadang terjadi satu kali pasang dan satu kali surut dengan memiliki tinggi dan waktu yang berbeda, ini terdapat di Pantai Selatan Jawa dan Indonesia Bagian Timur  Contoh Grafik Data Pasang Surut Air Laut
  7. 7. Grafik Data Pasang Surut Air Laut di atas menampilkan perkembangan tinggi-rendah pasang surut air laut di beberapa wilayah selama bulan Maret tahun 1981 yang ukurannya berada di kisaran Mean Sea Level.  Manfaat Studi Pasang Surut Air Laut 1. Sebagai sumber penghasil tenaga listrik Salah satu potensi laut yang belum banyak diketahui masyarakat umum adalah potensi energi laut untuk menghasilkan listrik. Pemanfaatan tenaga pasang surut untuk sumber energi sehingga dapat menyalurkan air melalui turbin-turbin. Energi pasang surut adalah energi yang dihasilkan dari pergerakan air laut akibat perbedaan pasang surut. Negara yang melakukan penelitian dan pengembangan potensi energi samudra untuk menghasilkan listrik adalah Inggris, Prancis dan Jepang. 2. Berguna untuk kegiatan di pelabuhan, atau transportasi perairan 3. Air laut untuk dijemur dan mendapatkan garam. Air laut pasang akan terjebak di kubangan luas yang dibuat petani garam dijemur. Konsep yang sama juga dipakai untuk mendapatkan ikan dan udang pada area tangkapan di tengah laut, bukan di pinggir pantai.
  8. 8. DAFTAR PUSTAKA http://ilmu-kelautan-geologi-lingkungan-laut.blogspot.com/.( diakses tanggal 24 Oktober 2013 pada pukul 20.12 WIB) http://mesutkhan.blogspot.com/.(diakses tanggal 24 Oktober 2013 pada pukul 20.22 WIB) http://bukukita1.blogspot.com/2012/12/pengertian-pasang-surut-air-1.html.(diakses Oktober 2013 pada pukul 20.23 WIB) tanggal http://www.ftsl.itb.ac.id/wp-content/uploads/2007/11/Kuliah%20II%20new1.pdf.(diakses 24 Oktober 2013 pada pukul 20.28 WIB) 24 tanggal http://geobelajar.blogspot.com/2011/09/manfaat-geografi-bagi-kehidupan.html.(diakses tanggal 24 Oktober 2013 pada pukul 20.32 WIB) http://nikitakelautan2010.wordpress.com/2012/03/13/teori-kesetimbangan-equilibrium-theorydan-contohnya/.(diakses tanggal 24 Oktober 2013 pada pukul 20.42 WIB.)

×