UPAYA MENINGKATKAN SIKAP PEDULI KEBERSIHANMELALUI PELAKSANAAN KELAS TERBERSIH PADA        SISWA SDN 01 JOSENAN MADIUN     ...
KATA PENGANTAR          Alhamdulillahi Robbil’alamin. Segala puji hanya bagi Allah yang telahmelimpahkan segala karunia da...
BAB I                             PENDAHULUANA. Latar Belakang          Setiap sekolah tentu memiliki situasi dan kondisi ...
sampah banyak yang berserakan di kelas, dan kelas pun menjadi kotor.Seperti halnya yang ditemui pada siswa SDN 01 Josenan ...
Proses pemecahan masalah dilakukan secara kolaboratif antara   peneliti dengan rekan sejawat sesama guru.          Berdasa...
Berdasarkan masalah dan tujuan penelitian yang telah dirumuskan di   atas, hipotesis tindakan penelitian ini adalah “Jika ...
BAB II                             KAJIAN PUSTAKAA.   Pengertian Kebersihan              Kebersihan berasal dari kata bers...
dapat memberikan kebahagiaan. Sebaliknya kotor tidak hanya merusak     keindahan tetapi juga menyebabkan timbulnya beberap...
tertib melaksanakan piket kelas, tidak mencoret-coret tembok dan bangku     yang merupakan sarana pembelajaran serta meneg...
1. Ukuran ruang kelas sebaiknya panjang 8m, lebar 6m, tinggi 4m          sehingga setiap siswa mendapat ruangan sebesar 5 ...
Dalam menciptakan kelas yang bersih, dibutuhkan kerja sama     antara siswa, guru, dan warga sekolah yang lainnya. Siswa a...
Kelas terbersih merupakan suatu keadaan dimana kondisi kelas    berdasar kriteria tertentu dinyatakan sebagai kelas yang p...
Siklus 1 terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi danrefleksi.Perencanaan :        Berangkat dari masalah...
Observasi :           Pada tahap ini peneliti merekam berbagai peristiwa yang sesuai   dengan fokus masalah, yaitu membuat...
menjadi bersih, rapi dan indah. Di samping itu, observasi juga digunakan   untuk mengamati dan merekam ketika siswa menegu...
DAFTAR PUSTAKAIbadullah Malawi dan Edy Siswanto. 2012. PENELITIAN TINDAKAN KELAS.    Madiun: IKIP PGRI MADIUN.Rita Mariyan...
Lampiran 1                           PEDOMAN WAWANCARA1. Kepala sekolah :   •   Bagaimana pendapat Bapak tentang pelaksana...
3. Siswa :   •   Bagaimana pendapat Anda tentang adanya kelas terbersih di sekolah?   •   Adakah hambatan dalam mengikuti ...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Proposal PTK

1,624

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,624
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
55
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Proposal PTK

  1. 1. UPAYA MENINGKATKAN SIKAP PEDULI KEBERSIHANMELALUI PELAKSANAAN KELAS TERBERSIH PADA SISWA SDN 01 JOSENAN MADIUN OLEH: ENDAH NOVITASARI NPM.09.141.065PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN IKIP PGRI MADIUN 2013
  2. 2. KATA PENGANTAR Alhamdulillahi Robbil’alamin. Segala puji hanya bagi Allah yang telahmelimpahkan segala karunia dan memberikan segala kemudahan sehingga penulisdapat menyelesaikan proposal yang berjudul “Upaya Meningkatkan Sikap PeduliKebersihan melalui Pelaksanaan Kelas Terbersih Pada Siswa SDN 01 JosenanMadiun” tepat pada waktunya. Dalam penyusunan, penulis mendapatkan banyak pengarahan dan bantuandari berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis tidak lupamengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehinggaproposal ini dapat terselesaikan, terutama kepada: 1. Bapak Drs. Edy Siswanto, M.Pd., selaku Dosen mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas IKIP PGRI Madiun. 2. Bapak Suprijadi, S.Pd., selaku Kepala Sekolah SDN 01 Josenan Madiun. 3. Teman-teman mahasiswa IKIP PGRI Madiun yang telah memberikan dukungan, semangat dan doa. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan proposal ini masihjauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat penulisharapkan demi tercapainya mutu yang lebih baik. Besar harapan penulis, proposalini berguna dan bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya. Madiun, Januari 2013 Penulis
  3. 3. BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Setiap sekolah tentu memiliki situasi dan kondisi yang berbeda, misalnya sekolah perkotaan yang penduduknya padat dan ramai tentu akan berbeda dengan keadaan sekolah di daerah pedesaaan yang jauh dari keramaian. Untuk menunjang keberhasilan proses belajar mengajar perlu adanya pengelolaan lingkungan kehidupan sekolah yang baik dan sehat. Lingkugan kehidupan sekolah yang sehat harus ada, dibina dan dikembangkan terus agar pendidikan mencapai hasil yang diharapkan. Dari berbagai lingkungan fisik yang ada di sekolah, ruang kelas merupakan salah satu komponen yang perlu mendapat perhatian. Pada setiap sekolah, ruang kelas adalah ruangan pertama yang harus dimiliki. Ruangan ini merupakan teman belajar bagi siswa, tempat bagi para siswa untuk tumbuh dan berkembangnya potensi intelektual da emosional. Maka dari itu, kelas hendaknya dikelola sedemikian rupa sehingga benar-benar merupakan teman belajar yang nyaman dan menyenangkan. Sebagai ruang pembelajaran, ruang kelas memiliki pengaruh yang cukup besar bagi kondisi psikologis anak dan guru. Kondisi ruangan belajar dapat memengaruhi kualitas pembelajaran. Salah satu unsur yang perlu diperhatikan dalam menciptakan kelas yang nyaman dan menyenangkan adalah faktor kebersihan. Kebersihan merupakan syarat bagi terwujudnya kesehatan dan sehat adalah salah satu faktor yang dapat memberikan kebahagiaan. Kelas yang bersih akan nyaman ditempati, membuat siswa betah dan bersemangat untuk mengikuti pelajaran tiap harinya. Sebaliknya, kondisi kelas yang kotor dapat mematikan keinginan dan motivasi anak untuk belajar. Saat ini tidak jarang siswa yang kurang peduli akan kebersihan. Banyak di antara mereka yang membuangn sampah sembarangan sehingga
  4. 4. sampah banyak yang berserakan di kelas, dan kelas pun menjadi kotor.Seperti halnya yang ditemui pada siswa SDN 01 Josenan Madiun. Ditemukan fakta bahwa banyak siswa SDN 01 Josenan kurangmemiliki kepedulian terhadap kebersihan. Hasil pengamatan menunjukkanbahwa masih banyak siswa yang membuang sampah sembarangan. Ada yangmembuang sampah di lantai, di laci dan terkadang membuangnya lewatjendela. Guru setiap hari sudah menegur dan mengingatkan siswa untuk tidakmembuang sampah sembarangan. Namun tetap saja hal tersebut belummembuat siswa peduli akan kebersihan kelasnya. Masih banyak sampah yangberserakan serta tak jarang laci meja siswa juga penuh dengan kertas danbekas bungkus makanan. Meskipun setiap pagi sudah dibersihkan dan kelastampak rapi, saat pulang sekolah kelas kembali kotor dan banyak sampahyang berserakan. Penyebab masalah tersebut diduga bisa berasal dari faktor internmaupun ekstern. Faktor intern seperti siswa memang malas dan kurangmengerti pentingnya menjaga kebersihan. Sedangkan faktor ekstern sepertitidak adanya sanksi yang tegas bagi siswa yang membuang sampahsembarangan, jumlah peralatan kebersihan kurang dan di sekolah tersebutpembiasaan untuk membersihkan lingkungan juga kurang eferktif. Untuk memecahkan masalah tersebut diperlukan suatu tindakan yangdapat meningkatkan sikap peduli siswa terhadap kebersihan yaitu melaluipenerapan kelas terbersih. Alasan dipilihnya tindakan ini adalah (a) siswaakan lebih bertanggung jawab terhadap kebersihan kelasnya (b)menumbuhkan kerja sama dan kekompakan di antara siswa (c) siswa terbiasamenjaga kebersihan (d) siswa lebih termotivasi dalam menjaga kebersihandan (e) menigkatkan kepedulian siswa terhadap kebersihan. Jika diterapkanadanya kelas terbersih, maka diduga sikap peduli siswa terhadap kebersihanakan meningkat.
  5. 5. Proses pemecahan masalah dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dengan rekan sejawat sesama guru. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti akan berupaya untuk meningkatkan sikap peduli siswa terhadap kebersihan melalui kelas terbersih. Dengan adanya kelas terbersih ini, siswa akan saling mengingatkan jika ada temannya yang membuang sampah sembarangan. Untuk memotivasi mereka, peneliti dengan dibantu rekan guru memberikan penghargaan berupa piala yang akan diberikan secara bergilir bagi kelas yang menjadi pemenang. Pengumuman pemenang diadakan setiap seminggu sekali pada waktu upacara bendera.B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut : a. Bagaimanakah pelaksanaan kelas terbersih dapat meningkatkan sikap peduli kebersihan pada siswa SDN 01 Josenan Madiun?C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : a. Mendeskripsikan pelaksanaan kelas terbersih dapat meningkatkan sikap peduli kebersihan pada siswa SDN 01 Josenan Madiun.D. Hipotesis Tindakan
  6. 6. Berdasarkan masalah dan tujuan penelitian yang telah dirumuskan di atas, hipotesis tindakan penelitian ini adalah “Jika kelas terbersih diterapkan maka sikap peduli kebersihan siswa SDN 01 Josenan akan meningkat”.E. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat : 1. Bagi Siswa Penelitian ini dapat meningkatkan sikap peduli siswa terhadap kebersihan serta menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam diri siswa untuk selalu menjaga kebersihan. 2. Bagi Guru Penelitian ini dimungkinkan dapat terus diterapkan kepada siswa supaya menjadi kebiasaan sehingga dapat meningkatkan sikap peduli kebersihan dalam diri siswa. 3. Bagi Sekolah Melalui penelitian ini lingkungan sekolah menjadi bersih, rapi, indah dan nyaman digunakan untuk belajar siswa.
  7. 7. BAB II KAJIAN PUSTAKAA. Pengertian Kebersihan Kebersihan berasal dari kata bersih. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bersih berarti bebas dari kotoran, tidak tercemar, tidak bernoda, suci, tidak dicampur dengan unsur atau zat lain. Sedangkan kebersihan itu sendiri merupakan keadaan bebas dari kotoran, termasuk di antaranya debu, bau dan sampah. Kebersihan merupakan upaya manusia untuk memelihara diri dan lingkungan dari segala yang kotor dalam rangka mewujudkan dan melestarikan kehidupan yang nyaman dan sehat. Kebersihan merupakan syarat bagi terwujudnya kesehatan dan sehat adalah salah satu faktor yang
  8. 8. dapat memberikan kebahagiaan. Sebaliknya kotor tidak hanya merusak keindahan tetapi juga menyebabkan timbulnya beberapa penyakit.B. Sikap Peduli Kebersihan Peduli memiliki makna mengindahkan atau memperhatikan. Sikap peduli kebersihan mengandung makna sikap yang peduli atau memperhatikan lingkungan, baik lingkungan kelas maupun lingkungan sekolah dari segala kotoran termasuk di antaranya debu, bau dan sampah dalam rangka mewujudkan lingkungan yang indah, bersih dan asri sehingga nyaman digunakan untuk belajar. Sikap peduli kebersihan ini hendaknya diajarkan kepada anak sejak dini, mulai dari menjaga kebersihan diri, menjaga kebersihan rumah, menjaga kebersihan sekolah dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Penanaman sikap peduli kebersihan ini bisa dimulai dari lingkungan keluarga, dimana keluarga merupakan lingkungan yang pertama bagi anak. Dalam lingkungan keluarga ini, anak mulai diajarkan hal sederhana mengenai perilaku menjaga kebersihan, misalnya membiasakan anak untuk mandi, menggosok gigi, membuang sampah pada tempatnya, mencuci tangan sebelum dan sesudah makan dan lain-lain. Dengan pembiasaan sejak dini akan membuat anak memiliki tanggung jawab untuk selalu menjaga kebersihan. Terkait dengan kebersihan di lingkungan sekolah, perlu adanya kerja sama semua warga sekolah dalam meningkatkan kepedulian anak terhadap kebersihan. Sehingga mereka memiliki tanggung jawab untuk selalu menjaga kebersihan khususnya dalam hal ini adalah kebersihan kelas masing-masing. Dengan banyknya siswa yang peduli kebersihan akan dapat mensiptakan lingkungan sekolah yang bersih, rapi, asri dan nyaman digunakan untuk belajar. Sikap peduli kebersihan ini dapat ditunjukkan melalui kegiatan membuang sampah pada tempatnya, segera memungut sampah yang berserakan di lantai dan membuangnya pada tempat sampah yang tersedia,
  9. 9. tertib melaksanakan piket kelas, tidak mencoret-coret tembok dan bangku yang merupakan sarana pembelajaran serta menegur dan menasihati teman yang membuang sampah sembarangan. Faktor yang dapat menyebabkan kurangnya kepedulian siswa terhadap kebersihan antara lain kurangnya kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan, gengsi, malas, kurang mengerti arti kebersihan, tidak adanya sanksi yang tegas bagi siswa yang membuang sampah sembarangan, dan kurang adanya kebiasaan membersihkan lingkungan. Untuk meningkatkan kepedulian siswa terhadap kebersihan dapat dilakukan dengan memberi teladan bagi siswa dalam menjaga kebersihan, melaksanakan suatu program atau kegiatan yang dapat memotivasi siswa untuk selalu menjaga kebersihan, melakukan pembiasaan membersihkan lingkungan, menyediakan berbagai peralatan kebersihan yang memadai, memberikan sanksi yang tegas bagi siswa yang membuang sampah sembarangan dan pada saat tertentu memberikan hadiah bagi mereka yang peduli terhadap kebersihan sekolah baik perorangan maupun kelas.C. Ruang Kelas Ruang kelas adalah syarat utama pengadaan sebuah sekolah. Kelas adalah tempat bagi para siswa untuk tumbuh dan berkembangnya potensi intelektual dan emosional (Sudarmiani dan Hermawati D. S, 2009: 18). Di kelaslah segala aspek pembelajaran bertemu dan berproses. Guru dengan segala kemampuannya, sesuai dengan latar belakang dan potensinya, kurikulum dengan segala komponennya, metode dengan segala pendekatannya, media dengan segala perangkatnya, materi dengan segala sumber belajarnya bertemu dan berinteraksi di dalam kelas. Ruang kelas hendaknya memenuhi syarat sebagai berikut :
  10. 10. 1. Ukuran ruang kelas sebaiknya panjang 8m, lebar 6m, tinggi 4m sehingga setiap siswa mendapat ruangan sebesar 5 m3 dan lantai 1 m2- 1,30 m2 2. Langit-langit terbuat dari bahan yang kuat dan tak tembus debu 3. Tiap-tiap kelas hendaknya dilengkapi dengan 2 pintu dan daun pintu menghadap ke luar 4. Luas jendela beserta lubang angin (ventilasi) minimal 20% dari luas lantai, ventilasi diletakkan sedekat mungkin dengan langit-langit 5. Sinar sebaiknya datang dari sebelah kiri dan kanan tetapi kalau tidak mungkin sebaiknya dari sebelah kiri murid (Trisnowati Tamat, 2007: 5.6) Ruang kelas memiliki pengaruh yang cukup besar bagi kondisi psikologis anak dan guru. Kondisi ruang kelas dapat memengaruhi kualitas pembelajaran yang dibangun oleh ana dan guru. Jika kelas berantakan dan kotor akan mengganggu konsentrasi belajar anak. Ruangan yang tidak tertata rapi dapat mematikan keinginan dan motivasi anak untuk belajar. Maka dari itu, kelas hendaknya dikelola sedemikian rupa sehingga benar-benar nyaman dan menyenangkan. Menurut Dirjen PUOD dan Dikdasmen dalam Sudarmiani dan Hermawati D. S (2009: 18) syarat-syarat kelas yang baik adalah (a) rapi, bersih, sehat, tidak lembab (b) cukup cahaya yang meneranginya (c) sirkulasi udara yang cukup (d) perabot dalam keadaan baik, cukup jumlahnya dan ditata dengan rapi (e) jumlah siswa tidak lebih dari 40 orang.D. Kebersihan Kelas Salah satu faktor yang turut menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar adalah mengenai keadaan kelas yang menjadi tempat berlangsungnya proses pembelajaran. Kebersihan kelas merupakan keadaan yang menggambarkan kondisi kelas yang bersih, bebas dari sampah, kotoran dan bau sehingga tercipta suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan.
  11. 11. Dalam menciptakan kelas yang bersih, dibutuhkan kerja sama antara siswa, guru, dan warga sekolah yang lainnya. Siswa adalah salah satu pendukung kebersihan kelas. Kebersihan sangat mempengaruhi konsentrasi belajar siswa. Jika kelas bersih, indah dan tertata rapi maka kemungkinan besar kenyamanan dalam proses pembelajaran akan tercapai. Selain itu konsentrasi pun bisa lebih fokus, dengan begitu sistem kerja otak akan semakin meningkat. Adapun ciri-ciri dari kelas yang bersih antara lain bebas dari sampah baik sampah yang berupa plastik, bekas bungkus makanan, kertas, gelas aqua dan lain-lain. Selain itu dinding dan bangku bebas dari coretan- coretan, kursi dan meja tertata dengan rapi, kelas tampak indah, serta memiliki peralatan kebersihan yang lengkap.E. Dampak Kebersihan Kelas Kebersihan kelas menjadi sangat penting mengingat pengaruhnya terhadap kenyamanan untuk proses belajar mengajar berlangsung. Tanpa adanya kebersihan yang baik akan menimbulkan dampak sebagai berikut : a. Timbulnya kemalasan siswa maupun guru dalam proses belajar mengajar. b. Siswa tidak betah dan mengantuk saat berada di kelas. c. Lingkungan kelas terlihat kotor dan kumuh menyebabkan pelajaran atau materi yang akan diberikan oleh guru akan sulit diterima oleh siswa, hal ini disebabkan karena pecahnya konsentrasi akibat situasi kelas yang tidak nyaman d. Dapat mendatangkan penyakit bagi siswa, guru dan semua warga sekolah. e. Karena timbulnya kemalasan belajar siswa dan guru, tentu prestasi sekolah semakin buruk. Jadi kebersihan kelas juga berperan penting dalam mencapai tujuan pendidikan.F. Pengertian Kelas Terbersih
  12. 12. Kelas terbersih merupakan suatu keadaan dimana kondisi kelas berdasar kriteria tertentu dinyatakan sebagai kelas yang paling bersih di antara kelas yang lain. Pelaksanaan kelas terbersih ini merupakan salah satu upaya sekolah dalam meningkatkan sikap peduli kebersihan pada siswa. Melalui program ini, sekolah akan memantau kondisi masing-masing kelas per minggunya, melakukan penilaian dan memberikan penghargaan berupa piala bergilir bagi kelas terbersih. Beberapa aspek yang dinilai dalam pelaksanaan kelas terbersih ini bisa meliputi : 1. Kebersihan ruang kelas 2. Kerapian kelas 3. Keindahan kelas 4. Kebersihan halaman 5. Kebersihan dan kerapian siswa Untuk melaksanakan kelas terbersih ini, perlu adanya pengarahan kepada para siswa tentang pentingnya menjaga kebersihan dan menyediakan berbagai peralatan kebersihan yang memadai untuk tiap kelas seperti sapu, tempat sampah, kemoceng, kain lap dan sapu lidi. BAB III METODE PENELITIANA. Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan sekolah. Konsep pokok penelitian tindakan ada empat, yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.
  13. 13. Siklus 1 terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi danrefleksi.Perencanaan : Berangkat dari masalah di atas, maka pada tahap perencanaan inipeneliti melakukan :1. Mempersiapkan skenario pelaksanaan kegiatan.2. Menyusun kriteria penilaian kelas terbersih.3. Menyiapkan instrumen untuk pengumpulan data berupa pedoman pengamatan, pedoman wawancara dan pedoman dokumentasi.Pelaksanaan Tindakan : Pada tahap ini peneliti menerapkan tindakan yang mengacu padaskenario yang telah direncanakan yang meliputi :1. Seminggu sebelum pelaksanaan, peneliti mengumpulkan terlebih dahulu seluruh siswa di halaman sekolah, memberikan pengarahan tentang pentingnya menjaga kebersihan dan memberikan pengumuman tentang pelaksanaan kelas terbersih serta membagikan alat-alat kebersihan pada masing-masing kelas seperti sapu lidi, sapu lantai, kemoceng, kain lap, tempat sampah.2. Siswa membersihkan dan tetap menjaga kebersihan kelas masing-masing tiap harinya.3. Melalui bantuan wali kelas, peneliti memantau dan melakukan penilaian kebersihan masing-masing kelas.4. Mengakumulasi nilai dari masing-masing kelas selama 1 minggu.5. Menetapkan kelas yang meraih gelar kelas terbersih dan mengumumkan pada saat upacara bendera.6. Memberikan penghargaan berupa piala bergilir kepada pemenang.
  14. 14. Observasi : Pada tahap ini peneliti merekam berbagai peristiwa yang sesuai dengan fokus masalah, yaitu membuat catatan hasil pengamatan terhadap proses dan hasil pelaksanaan kelas terbersih, mengamati kegiatan siswa ketika menyapu, membuang sampah di tempat sampah, mengamati keantusiasan siswa dalam pelaksanaan program tersebut serta mengambil foto kondisi kelas tiap harinya dan berbagai peristiwa yang terjadi terkait fokus penelitian ini. Refleksi : Pada tahap ini peneliti merefleksi apakah hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pada sikap peduli siswa terhadap kebersihan atau tidak setelah kegiatan serta melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan. Jika masih terdapat kekurangan atau kesalahan maka dapat dilanjutkan pada siklus II.B. Latar dan Subjek Penelitian Penelitian ini dilakukan di SDN 01 Josenan Madiun dengan subjek seluruh siswa SDN 01 Josenan Madiun, mulai dari kelas I sampai kelas VI.C. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas observasi, wawancara dan dokumentasi. Observasi digunakan untuk mengamati gejala-gejala yang tampak dalam pelaksanaan kelas terbersih, tentang kesungguhan siswa dan keterlibatan siswa ketika membersihkan kelas. Observasi juga digunakan untuk mengamati kreativitas siswa dalam mengatur dan membuat kelas
  15. 15. menjadi bersih, rapi dan indah. Di samping itu, observasi juga digunakan untuk mengamati dan merekam ketika siswa menegur dan mengingatkan siswa yang membuang sampah sembarangan atau mengotori kelas. Wawancara digunakan untuk wawancara dengan siswa tentang kesan siswa ketika dilaksanakannya kelas terbersih, tentang faktor penyebab kurangnya kepedulian siswa terhadap kebersihan dan mengungkap perasaan tentang kesulitan-kesulitan siswa dengan adanya kelas terbersih ini. Dokumentasi digunakan untuk mendokumentasikan data tentang proses pelaksanaan kelas terbersih. Dokumen yang dimaksud dalam penelitian ini mencakup dokumen foto siswa. Peristiwa-peristiwa yang tampak dan sesuai dengan fokus masalah penelitian ini, misalnya ketika siswa membuang sampah di tempat sampah, menyapu lantai, membersihkan kaca, menata bangku dan merapikan gambar atau media yang dipajang di dinding kelas. Selain itu kondisi kelas tiap harinya pun juga akan didokumentasikan.D. Instrumen Penelitian Yang menjadi instumen penelitian ini pada dasrnya adalah peneliti sendiri. Namun, untuk menjaga fokus masalah penelitian maka peneliti juga menggunakan iunstrumen penelitian yang berupa lembar observasi, pedoman wawancara dan alat dokumentasi.E. Teknik Analisis Data Data yang telah terkumpul akan dianalisis secara deskriptif kualitatif. Data kualitatif berupa catatan hasil observasi, dokumen foto dan rekaman wawancara akan dikelompokkan dan dianalisa untuk mendapatkan kesimpulan.
  16. 16. DAFTAR PUSTAKAIbadullah Malawi dan Edy Siswanto. 2012. PENELITIAN TINDAKAN KELAS. Madiun: IKIP PGRI MADIUN.Rita Mariyana, dkk. 2010. Pengelolaan Lingkungan Belajar. Jakarta: Kencana.Sudarmiani dan Hermawati Dwi Susari. 2009. Manajemen Kelas. Madiun: IKIP PGRI Madiun.Trisnowati Tamat dan Moekarto Mirman. 2007. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Jakarta: Universitas Terbuka.Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa, Depdiknas.I.G.A.K Wardhani dan Kuswaya Wihardit. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka.Rachiati Wiriatmadja. 2010. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  17. 17. Lampiran 1 PEDOMAN WAWANCARA1. Kepala sekolah : • Bagaimana pendapat Bapak tentang pelaksanaan kelas terbersih? • Apakah Bapak mengamati pelaksanaan kelas terbersih tersebut? • Kegiatan apa saja selama ini yang pernah dilakukan untuk menjaga kebersihan kelas? • Apakah setelah melakukan kelas terbersih semua warga sekolah berusaha tetap mempertahankan kebersihan sekolah?2. Guru mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan : • Berapa banyak siswa yang berpartisipasi aktif dalam kelas terbersih? • Seberapa semangat para siswa dengan adanya pelaksanaan kelas terbersih? • Adakah hambatan atau kesulitan yang dihadapi dalam pelaksanaan kelas terbersih? • Apakah setelah melakukan kelas terbersih, kebersihan kelas meningkat? Bila iya berapa besar peningkatan tersebut?
  18. 18. 3. Siswa : • Bagaimana pendapat Anda tentang adanya kelas terbersih di sekolah? • Adakah hambatan dalam mengikuti kelas terbersih tersebut? • Sejauh mana upaya Anda selama ini menjaga kebersihan kelas?Lampiran 2 PEDOMAN OBSERVASIDalam observasi akan dilihat tentang:1. Pelaksanaan kelas terbersih.2. Peralatan yang digunakan.3. Data kebersihan sebelum kegiata kelas terbersih.4. Data kebersihan sesudah pelaksanaan kelas terbersih.5. Setting pelaksanaan kelas terbersih.6. Semangat dan keseriusan para pelaksana kelas terbersih.

×