• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
bioetnomelayu
 

bioetnomelayu

on

  • 311 views

hopefully useful to us all

hopefully useful to us all

Statistics

Views

Total Views
311
Views on SlideShare
311
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
1
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    bioetnomelayu bioetnomelayu Document Transcript

    • EVALUASI KELESTARIAN HUTAN LARANGAN ADAT DAN KEARIFAN LOKAL BERBASIS PARTISIPASI MASYARAKAT DESA RUMBIO KABUPATEN KAMPAR ENCIK ROSIANA Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan PMIPA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau 28293 ABSTRACT This research did in the Kampar regency of Kampar district covering 530ha calledforest prohibition. Especially government of Kenagarian Rumbio is ninikmamak that 10 consisting of five tribes, namely Piliang tribe, Pitopang tribe,Domo tribe, Caniago tribe, and Kampai tribe. The aim this research are to knowthe condition of forest prohibition Kenagarian Rumbio is the society participationin managing the forest prohibition, evaluating conservation of forest prohibitionbased on the participation of society. The method of the research is used surveymethod, focus group discussion technique and data collection technique that is byinterview to obtain primary data by using analyzed qualitative data. The researchof natural object using instrument like camera digital and tape recorder. Datacollecting is done observation way by doing research directly to the public forestand a professional that know the condition of forest location and societyparticipation. The result shown that this study indicate that fairly good level ofcommunity participation in conserving on prohibiting forest, it because the societyhas been realized with good life of the forest which has been behind manyeconomic benefits.Key words :Prohibition forest, ninik mamak, tribe, Kenagarian Rumbio, DatuokUlaksimano.
    • PENDAHULUAN Hutan merupakan gudang penyimpan air dan tempat menyerapnya airhujan yang merupakan bagian dari sumber daya alam di Kabupaten Kampar yangsangat luas sekitar 530 ha terdapat suatu kawasan hutan ulayat. Tanah ulayatmerupakan bagian dari hutan ulayat berupa tanah yang menurut masyarakat adatdiakui sebagai tanah masyarakat adat yang sudah ada pengakuan dari pimpinanadat Desa Rumbio.Pada awalnya, Desa Rumbio adalah suatu kenagarian Rumbiokemudian dipecah menjadi lima desa yaitu Desa Rumbio, Desa Padang Mutung,Desa Alam Panjang, Desa Pulau Payung dan Desa Teratak. Walaupun negeriRumbio dipecah menjadi lima desa secara pemerintahan namun secara adatNegeri Rumbio tetap dalam satu kesatuan yang dipimpin oleh ninik mamak secaraeksternal yaitu Datuok Godang dari Suku Domo sedangkan internalnya dipimpinoleh Datuok Ulaksimano dari Suku Pitopang dan terdiri dari lima suku yaitu SukuPiliang, Suku Pitopang, Suku Domo, Suku Caniago, dan Suku Kampar.Hal inidilatarbelakangi bahwa masyarakat yang tidak mengerti diberikan stimulan berupaaturan adat yang mengikat mereka agar tetap melestarikan hutan ulayatnya tanpamengkonservasi hutan tersebut dengan perkebunan dan pemukiman penduduk. Pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan harkat danmartabat serta partisipasi masyarakat.Dengan kata lain memberdayakan adalahmemampukan kemandirian masyarakat (Kartasamita, 1996). Hutan adat merupakan hutan yang berada dalam wilayah masyarakathukum adat (UU no 41 tahun 1991). Dalam perlindungan hutan adat Desa Rumbiotergolong kategori hutan larangan adat karena yang perlu melestarikannya adalahsetiap orang yang masuk dalam hutan itu dengan menjaga dan tidak merusakkearifan lokal yang ada di Desa Rumbio, dalam hal inidibentuklah kelembagaanadat yang dipimpin oleh penghulu dan pemangku adat yang bertanggung jawabdan berperan penting dalam pelestarian hutan sesuai dengan aturan aturan adatyang berlaku. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan mengevaluasikelestarian hutan larangan adat dan kearifan lokal Kenagarian Rumbio baik dalamhal perencanaan, pelaksanaan maupun pengawasan.
    • METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Dusun V Danau Siboghia, Desa Rumbio,Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, pada tanggal 8 - 9Desember 2012 pada pukul 10.00 – 12.00. Sekitar 2 km dari pemukimanpenduduk ditemukan hutan larangan adat yang luasnya 530 ha.Metode yangdigunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan teknik pengumpulandata untuk memperoleh data primer dan focus group discussion.Selain itu,menggunakan wawancara (personal interview) semiterstruktur dengan alasan agarresponden tidak hanya memberikan informasi namun juga dapat menyampaikanpendapatnya secara terbukakepada questioner dengan pengamatanlangsung.Dalam penelitian ini digunakan alat yaitu kamera digital dan taperecorder serta alat tulis.Parameter yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1)kondisi biofisik, fisiografi lahan, karakteristik flora dan fauna (biodiversity),sistem pertanian disekitar hutan, (2) kondisi social ekonomi masyarakat (3) carapengelolaan hutan oleh masyarakat adat, (4) bentuk kelembagaan, (5)permasalahan, tantangan dan ancaman yang muncul dalam pelestarian hutanlarangan adat, (6) upaya pelestarian hutan dimasa yang akan datang, (7) tingkatkeberlanjutan hutan adat sehubungan banyaknya permasalahan. Denganmenggunakan data primer yang diperoleh dari ninik mamak dan masyarakat adatserta data sekunder yang diperoleh dari buku sebagai referensi. Tingkatkelestarian hutan cukup baik karena adanya kesadaran masyarakat adat akanpentingnya pelestarian hutan untuk kebutuhan dan sumber kehidupan bagimasyarakat. HASIL DAN PEMBAHASANSejarah Singkat Kenagarian Rumbio Istilah Rumbio berasal dari kata “umbi” diartikan sebagai “musyawarah”dan diikuti dengan huruf “o” menjadi kata “umbio” sehingga sering disebut“rumbio” (Tarmizi, ninik mamak), didefinisikan bahwa musyawarah adalah kunciutama dalam pemecahan masalah tanpa melihat perbedaan harkat dan martabat.Sebelum Indonesia merdeka, Rumbio pada mulanya merupakan suatu kampung
    • yang disebut dengan kenagarian dibagi menjadi lima koto kampar yaitukenagarian Rumbio, Air Tiris, Bangkinang, Salo dan Kuok yang tidak termasukwilayah pemerintah. Sekitar tahun 1981, pemerintah mengeluarkan undang -undang pedesaan yang menyatakan bahwa seluruh kenegerian dipecah ataudiriadakan lagi sehingga terbentuklah desa desa. Dari aturan pemerintah, dibentuklah lima desa yaitu, Desa Pulau Payung,Desa Alam Panjang, Desa Tratak, Desa Padang Utung, dan Desa Rumbio. DesaRumbio dipimpin oleh ninik mamak 10 orang dari 5 persukuan yang terdiri atasSuku Putopang yang dipimpin oleh dua penghulu yaitu Datuok Ulaksimanok danDatuok Raja Mangkuto, suku Domo dipimpin oleh Datuok Godang dan DatuokGindo Maghajo, Suku Piliang dipimpin oleh Datuok Putioh dan Datuok MajoBosou, Suku Kampai dipimpin oleh Datuok Sinagho dan Datuok Paduko, SukuCaniago dipimpin olah Datuok Gindoh Malano dan Datuok Pito Malano. Wargaasli kenagarian Rumbio adalah suku Domo dan suku Pitopang yang menggunakanbahasa Melayu dengan dialek local yang cukup khas.Ninik mamak merupakanforum para pemangku adat dari kedua suku Desa Rumbio, yang berkewajibanmempertahankan warisan – warisan agar tetap menjadi pedoman bagi para anakkemenakan.Salah satu kearifan itu berupa kearifan dalam mempertahankansebagian hutan alam yaitu hutan larangan.Kondisi Hutan Larangan Desa Rumbio Pada dasarnya, hutan larangan adat berarti hutan dimana diberlakukansejumlah larangan oleh Ninik Mamak selaku pemangku adat.Adapun laranganyang terpenting ada dua yaitu larangan menebang pohon dan larangan membukalahan. Hutan larangan adat Desa Rumbio termasuk hutan tropis datran rendahyang kaya akan beraneka flora dan fauna yang dapat dimanfaatkan olehmasyarakatyang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi seperti nangka hutan,Meranti, Kulim, Tampui dan sebagainya. Selain itu terdapat berbagi jenis faunaseperti monyet, babi hutan, harimau, dan sebagainya. Berikut daftar flora danfauna yang terdapat dihutan larangan adat Desa Rumbio berdasarkan pengamatan,
    • Table 3. 1 daftar flora yang terdapat di hutan larangan adat Desa Rumbio Nama Lokal Nama Latin Petai Parkia speciosa Nangka hutan Artocarpus integer Kempas Koompassia malccensis Tampui Baccaurea sp Pulai Alstonia spp Akasia Acassia sp Kulim Scorodocarpus borneensis Pasak bumi Eurycomma longifolia Keranji Dipterocarpus spp Meranti Shorea spp Ara Ficus sppTable 3.2 daftar fauna yang terdapat di hutan larangan adat Desa Rumbio Nama Lokal Nama Latin Babi hutan Sus scrofa Monyet Macaca nemestrina Kijang Muntiacus muntjak Ungko Hyalobates larPengelolaan Hutan Oleh Masyarakat Tingkat partisipasi dalam pengelolaan hutan dalam menjaga kelestarianhutan larangan adat Desa Rumbio cukup baik, hal ini ditandai dengan masyarakatmengikuti patrol bersama ninik mamak, melakukan penanaman didalam hutanlarangan adat. Alasannya agar masyarakat tidak sembarang menebang hutankarena hutan ini termasuk hutan larangan adat yang wajib dilindungi.Selain ituhutan ini mengalirkan air sungai yang dapat dimanfaatkan oleh masyrakat terdiridari sunagi tanduk dan sungai takorak.Dengan aliran air sungai tersebut,
    • dimanfaaatkan warga membuat kolam ikan sebagai mata pencaharian sampingan selain persawahan, perkebunan karet dan perkebunan sawit.Pengelolaan air sungai juga dimanfaatkan warga untuk mencuci dan untuk minum dengan membuat depot air minum.Adapun denah wilayah menuju hutan larangan dengan pemukiman warga serta perkebunan masyarakat adalah sebagai berikut: HutanPerkampungan Sawah Kolam Kebun karet larangan adat HutanPerkampungan Sawah Kolam Kebun karet larangan adat Kelembagaan Adat Desa Rumbio Kelembagaan Desa Rumbio terdiri dari kelembagaan formal dan informal.Kelembagaan formal yaitu berupa yayasan pelopor.Sedangkan informal adalah kepemimpinan ninik mamak yang sangat dihormati oleh masyrakat secara turun temurun.Ninik mamak cukup dominan, kebijakan – kebijakan yang dikeluarkan ninik mamak yang sepuluh dipimpin oleh Datuok UlakSimano dari suku Pitopang selalu dipatuhi masyarakat selain itu didirikan SPKP yang menerapkan hutan sejati, yang diketuai oleh Syahrul, kepala dusun yaitu Tarmizi, dan mempunyai seorang kepala desa yaitu Edison S. Pi. M. Si yang mempunyai kewajiban melindungi dan menjaga kelestarian hutan larangan adat, disamping ninik mamak.
    • Struktur kelembagaan SPKP Desa Rumbio Dt. Ulak Simano Dt. Raja Ketua Kepala Dt. Tumanggung Mangkuto BPD Desa Ninik mamak Ketua SPKP LPM Desa Rumbio pemuda Desa Rumbio Kelompok pemadam api Bendahara SekretarisKMPM/KTM RumbioKoordinator bidang Koordinator bidang Koordinator bidang binapenyuluhan kerjasama usaha Permasalahan, Upaya, dan Tingkat Keberlanjutan Dalam Pegelolaan Hutan Adat Permasalahan yaitu kekhawatiran masyarakat dengan adanya masyarakat yang menganggu kelestarian hutan maka mata pencaharian mereka untuk meningkatkan taraf kehidupan akan terganggu. Oleh karena itu, masyarakat setempat mempunyai prinsip pucuk kerapatan adat yaitu “kadaghek babungo kaghang”.Masyarakat mengharapkan adanya keterlibatan langsung pemerintah setempat dengan terjun langsung yang artinya menjaga, mengawasi dan melestarikan hutan larangan adat tersebut.
    • Dengan berbasiskan kalimat “adat bersendikan syara’, syara’ bersendikankitab Allah” yang artinya adat juga berpegang teguh kepada agama yangbersendikan alquran dan al Hadist. Menurut Kamaruzzan, pemangku adat bahwaadat merupakan tingkah laku manusia yang menjadi kelembagaan atau aturanyang sesuai dengan dasarnya yaitu syara’. Oleh karena itu, larangan agama jugadipatuhi termasuk penebangan hutan liar tanpa meminta izin pemangku adat,penghulu dan pemerintah setempat. KESIMPULAN Tingkat kelestarian hutan larangan adat dan menjaga kearifan lokalberbasis partisipasi masyarakat Kenagarian Rumbio Kabupaten Kampar cukupbaik, hal ini disebabkan karena masyarakat menyadari akan fungsi hutan bagikehidupan bermasyarakat yang merupakan sumber ekonomi masyarakat setempatdengan mematuhi segala aturan adat yang bertujuan untuk menjaga kelestarianhutan larangan adat agar berkelanjutan untuk dimanfaatkan oleh generasiberikutnya. Partisipasi masyarakat Desa Rumbio Kabupaten Kampar dalammenjaga hutan larangan adat ini dipengaruhi oleh dua factor yaitu factor internaldan eksternal. Factor internal adalah, factor yang ada dalam diri masyarakat adatberupa pengetahuan dimana masyarakat sudah menyadari akan pentingnyamenjaga hutan karena hutan merupakan salah satu sumber kehidupan denganmematuhi aturan aturan adat yang ada sejak dahulu terbentuk diturunkan secarakesinambungan dan sudah tertanam pada setiap masyarakat adat. Factor eksternalyaitu peran ninik mamak sebagai perintis utama dan pertama sebagai pelopor yangcukup gigih dalam pelestarian hutan larangan adat tersebut, dengan patrolikedalam hutan larangan dan mengajak para pencinta alam untuk mengelilingihutan. DAFTAR PUSTAKAMarpaung, Leden. 1995. Tindak Pidana Hutan, Hasil Hutan, dan Satwa. Erlangga: Jakarta
    • Masfriastiadi. 2010. EvaluasiKelestarian Hutan Rakyat Berbasis Partisipasi Masyarakat. UR: Pekanbaru, Riau.Nasir, Muhammad. 2010. Partisipasi Masyarakat Dalam Menjaga Kelestarian Hutan Larangan Kenegerian Rumbio Kabupaten Kampar. UR: Pekanbaru, Riau.Seskanita. 2010.Peran Masyarakat Dalam Pengelolaan Hutan Ulayat Desa Buluh Cina Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar. UR: Pekanbaru, Riau.Siahaan, N.H.T. 2004.Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan. Erlangga :JakartaSuparni, Niniek. 1994. Pelestarian Pengelolaan dan Penegakan Hukum Lingkungan. Sinar Grafika : JakartaSupriadi. 2005. Hukum Lingkungan di Indonesia. Sinar Grafika : Jakarta