Media cetak vs online

4,526 views
4,312 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
4,526
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
132
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Media cetak vs online

  1. 1. MayaA. PENGERTIAN JURNALISME Jurnalisme berasal dari kata ” journal ” yang berarti catatan harian atau catatanmengenai kejadian yang terjai dalam kehidupan sehari – hari. Jurnalisme dalam bahasaBelanda adalah ” joournalistick ”, sedangkan dalam bahasa Inggris adalah ” journalism ”diamana keduanya berasal dari bahasa Perancis yaitu ” jour ”.Journal berasal dari bahasa latinyaitu diurnalis yang berari tiap hari atau harian. Jurnalisme adalah kegiatan menghimpun berita, mencari fakta dan melaporkanperistiwa – peristiwa ( Curtis MacDougall, 1972 ). Keperluan untuk mengetahui sesuatu tentang suatu hal adalah kunci dari lahirnyajurnalisme. Surat kabar pertama yang terbit di Eropa adalah dimulai di Jerman pada tahun1609 yang bernama Aviso di Wofenbuttel dan Relation di Strasbourg. Setelah itubermunculan medi massa – media massa di Eropa. Surat kabar – surat kabar ini memuatberiat – berita pendek yang ditulis denagn hidup, termasuk peliputan secara rinci tentangberita – berita kepolisian pertama kalinya. Berita – berita human interes dengan ongkosmurah ini menyebabkan bertambahnya secara cepat sirkulasi surat kabar tersebut.B. JURNALISME ONLINE Media online adalah media massa yang dapat kita temukan di internet. Sebagai mediamassa media online juga menggunakan kaidah – kaidah jurnalistik dalam sistem kerja. Jurnalistik online muncul ketika Mark Drugle membeberkan cerita perselingkuhanPresiden Amerika Serikat Bill Clinton dengan Monica Lewinsky. Karena dengan melaluiinternet semua orang yang mengakses internet segera mengetahui rincian cerita tersebut.Itulah awal mula merebaknya jurnalisme online dan mulai dikenalnya jurnalisme online.Jurnalisme online merupakan proses penyampaian informasi dengan menggunakan mediainternet. Menurut Laquel lahirnya Arpanet, asal mula internet adalah terciptanya suatuledakan tidak terduga di tahun 1969, yaitu dengan lahirnya Arpanet suatu proyek eksperimenKementrian Pertahanan Amerika Serikat bernama DARPA. Berkaitan dengan tingkat kredibilitas atas berita yang ada pada jurnalisme onlinetampaknya sulit dipastikan. Yang jelas, kesalahan pemberitaan munkin saja dapat terjadi.Semua media mempunyai kemungkinan kesalahan. Tidak mungkin jurnalisme online bebasdari kesalahan.1|Page
  2. 2. C. Pengertian Media Online 1. Media online (online media) adalah media massa yang tersaji secara online di situs web (website) internet. 2. Media online adalah media massa ”generasi ketiga” setelah media cetak (printed media) –koran, tabloid, majalah, buku-- dan media elektronik (electronic media) – radio, televisi, dan film/video. 3. Media Online merupakan produk jurnalistik online. Jurnalistik online –disebut juga cyber journalisme– didefinisikan sebagai “pelaporan fakta atau peristiwa yang diproduksi dan didistribusikan melalui internet” (wikipedia). 4. Secara teknis atau ”fisik”, media online adalah media berbasis telekomunikasi dan multimedia (komputer dan internet). Termasuk kategori media online adalah portal, website (situs web, termasuk blog), radio online, TV online, dan email. 5. Isi media online terdiri: Teks, Visual/Gambar, Audio, dan Audio-Visual (Video) Online journalism atau lebih dikenal dengan nama jurnalisme online lahir padatanggal 19 Januari 1998, ketika Mark Drugde membeberkan cerita perselingkuhan PresidenAmerika Serikat Bill Clinton dengan Monica Lewinsky atau yang sering disebut“monicagate”. Ketika itu, Drugde berbekal sebuah laptop dan modem, menyiarkan beritatentang “monicagate” melalui internet. Semua orang yang mengakses internet segeramengetahui rincian cerita “monicagate”. Itulah awal mula munculnya jurnalisme online.Kasus itu juga mirip ketika menjelang keruntuhan pemerintahan Orde Baru Soeharto, 1998.Saat itu, semua media dalam cengkeraman dan pengawasan ketat pemerintahan Orde Baru.Ketatnya pengawasan itu mengakibatkan munculnya media alternative melalui internet. Saatitu semua berita mengenai kebobrokan Orde Baru disebarkan melalui media online sepertimelalui internet oleh aktivis pro demokrasi sepertir (kdpnet@activist.com atau kdp@usa.net).Jurnalisme Online Jurnalisme dalam KBBI disebut sebagai pekerjaan mengumpulkan, menulis,mengedit, dan melaporkan berita kepada khalayak. Dalam perkembangannya, mediapenyampaian berita kepada pembaca tidak hanya terbatas pada surat kabar. Tetapi seiringperkembangan teknologi, kini arah perkembangan media menuju persaingan media online.Media online bisa menampung berita teks, image, audio dan video. Berbeda dengan media2|Page
  3. 3. cetak, yang hanya menampilkan teks dan image. ”Online” sendiri merupakan bahasa internetyang berarti informasi dapat diakses di mana saja dan kapan saja selama ada jaringaninternet. Jurnalisme online ini merupakan perubahan baru dalam ilmu jurnalistik. Laporanjurnalistik dengan menggunakan teknologi internet, disebut dengan media online, yangmenyajikan informasi dengan cepat dan mudah diakses di mana saja. Dengan kata lain, beritasaat ini bisa di baca saat ini juga, di belahan bumi mana saja. Menurut Satrio Arismunandar(2006), orang yang memproduksi content terutama untuk Internet, dan khususnya untukWorld Wide Web, dapat dianggap bekerja untuk salah satu atau lebih dari empat jenisJurnalisme Online yang tersebut di bawah ini. Berbagai jenis jurnalisme online itu dapatditempatkan di antara dua domain. Domain pertama, adalah suatu rentangan, mulai dari situs yang berkonsentrasi padaeditorial content sampai ke situs-situs Web yang berbasis pada konektivitas publik (publicconnectivity). Editorial content diartikan di sini sebagai teks (termasuk kata-kata yang tertulisatau terucapkan, gambar-gambar yang diam atau bergerak), yang dibuat atau diedit olehjurnalis. Sedangkan konektivitas publik dapat dipandang sebagai komunikasi ”titik-ke-titikyang standar” (standard point-to-point). Atau, bisa juga kita nyatakan sebagai komunikasi”publik” tanpa perantaraan atau hambatan (barrier of entry), misalnya, hambatan dalambentuk proses penyuntingan (editing) atau moderasi (moderation). Domain kedua, melihatpada tingkatan komunikasi partisipatoris, yang ditawarkan oleh situs berita bersangkutan.Sebuah situs dapat dianggap terbuka (open), jika ia memungkinkan pengguna untuk berbagikomentar, memposting, mem-file (misalnya: content dari situs tersebut) tanpa moderasi atauintervensi penyaringan. Sedangkan komunikasi partisipatoris tertutup (closed) dapatdirumuskan sebagai situs di mana pengguna mungkin berpartisipasi. Namun langkahkomunikatif mereka harus melalui kontrol editorial yang ketat. Berikut ini empat jenisjurnalisme online yang dikemukakannya:1. Mainstream News sitesBentuk media berita online yang paling tersebar luas adalah situs mainstream news. Situs inimenawarkan pilihan editorial content, baik yang disediakan oleh media induk yang terhubung(linked) dengannya atau memang sengaja diproduksi untuk versi Web. Tingkat komunikasipartisipatorisnya adalah cenderung tertutup atau minimal. Contoh: situs CNN, BBC,MSNBC, serta berbagai suratkabar online. Situs berita semacam ini pada dasarnya tak punyaperbedaan mendasar dengan jurnalisme yang diterapkan di media cetak atau siaran, dalam halpenyampaian berita, nilai-nilai berita, dan hubungan dengan audiences. Di Indonesia, yangsepadan dengan ini adalah detik.com, Astaga.com, atau Kompas Cyber Media.3|Page
  4. 4. 2. Index & Category sitesJenis jurnalisme ini sering dikaitkan dengan mesin pencari (search engines) tertentu (sepertiAltavista atau Yahoo), perusahaan riset pemasaran (seperti Moreover) atau agensi(Newsindex), dan kadangkadang bahkan individu yang melakukan usaha (Paperboy). Di sini,jurnalis online menawarkan links yang mendalam ke situs-situs berita yang ada di manapundi World Wide Web. Links tersebut kadangkadang dikategorisasi dan bahkan diberi catatanoleh tim editorial. Situs-situs semacam ini umumnya tidak menawarkan banyak editorialcontent yang diproduksi sendiri, namun terkadang menawarkan ruang untuk chatting ataubertukar berita, tips dan links untuk publik umum.3. Meta & Comment sitesIni adalah situs tentang media berita dan isu-isu media secara umum. Kadang-kadangdimaksudkan sebagai pengawas media (misalnya: Mediachannel, Freedomforum, Poynter’sMedianews). Kadang-kadang juga dimaksudkan sebagai situs kategori dan indeks yangdiperluas (seperti: European Journalism Center Medianews, Europemedia). Editorial content-nya sering diproduksi oleh berbagai jurnalis dan pada dasarnya mendiskusikan content lain,yang ditemukan di manapun di Internet. Content semacam itu didiskusikan dalam kerangkaproses produksi media. ”Jurnalisme tentang jurnalisme” atau meta-journalism semacam inicukup menjamur.4. Share & Discussion sitesIni merupakan situs-situs yang mengeksploitasi tuntutan publik bagi konektivitas, denganmenyediakan sebuah platform untuk mendiskusikan content yang ada di manapun di Internet.Dan kesuksesan Internet pada dasarnya memang disebabkan karena publik ingin berkoneksiatau berhubungan dengan orang lain, dalam tingkatan global yang tanpa batas. Situs semacamini bisa dibilang memanfaatkan potensi Internet, sebagai sarana untuk bertukar ide, cerita,dan sebagainya. Kadang-kadang dipilih suatu tema spesifik, seperti: aktivitas anti-globalisasiberskala dunia (situs Independent Media Centers, atau umumnya dikenal sebagai Indymedia),atau berita-berita tentang komputer (situs Slashdot).Jurnalisme masa depan4|Page
  5. 5. Jurnalisme online layak disebut dengan jurnalisme masa depan. Karena perkembanganteknologi memungkinkan orang membali perangkat pendukung akses internet praktis sepertinotebook atau netbook dengan harga murah. Apalagi kalau koneksi internet mudah diperolehsecara terbuka seperti hotspot (WiFi) di ruang-ruang publik. Sehingga minat masyarakatterhadap media bisa bergeser dari media cetak ke media online. Hal itupun sekarang mulaiterjadi. Bahkan beberapa media cetak besar di Amerika Serikat, seperti kelompok ChicagoTribune, mulai merugi dan terancam gulung tikar. Karena masyarakat mulai beralih ke mediaonline.Cyber media dan perkembangan teknologi komunikasiPerkembangan media tidak lepas dari perkembangan teknologi komunikasi. Kalau dulu oranghanya mengenal media cetak dan elektronik (televisi dan radio), kini seiring perkembanganteknologi komunikasi berbasis cyber, maka media pun mengikutinya dengan menjadikaninternet sebagai media massa. Kini seiring perkembangan teknologi telepon seluler, berita-berita di internet juga bisa diakses melalui ponsel. Mengapa jurnalisme online memagangperanan penting dalam perkembangan media massa saat ini?Karena: a. Jurnalisme online membawa nilai egaliter.Setiap individu bebas merealisasikan sumber dayanya dari mengerahkan segala potensinyauntuk menggapai semua bagian dalam menentukan jalan yang disenangi. Setiap individubebas memanfaatkan peluang berkomunikasi dengan siapa saja untuk mewarisi peradabandunia dengan bebas dan mengaktualisasikan dirinya. b. Jurnalisme online membawa nilai liberal.Dalam jurnalisme online sangat menjunjung tinggi adanya kebebasan berpendapat sertaberkumpul dan berserikat. Menurut paham liberal, ini merupakan kebebasan asasi yangdimiliki oleh setiap manusia. Selain itu posisi antara masyarakat dan negara adalah setara,dalam artian bahwa negara tidak boleh mencampuri urusan atau kehidupan masyarakat. D. Kekurangan Jurnalisme Online 1. Jurnalisme online seseorang yang ingin mengkonsumsinya hrus berada didepan komputer untuk membaca segala informasi yang ada pada web atau karya – karya jurnlaisme online lainnya.5|Page
  6. 6. 2. Berita – berita yang disampaikan melalui jurnalisme online tidak seakurat seperti berita yang disampaikan jurnalisme konvensional 3. Jurnalisme online merupakan “mainan” masyarakat supra rasional. Masyarakaat yang tidak tergolong supra rasional tidak akan betah dengan mengakses jurnalisme online. Kalau mereka tidak mengakses jurnalisme online maka mereka akan dilanda oleh kecemasan informasi (information anxiety). 4. Tidak memiliki kredibilitas. Ini karena logis sebab, orang yang tidak memiliki ketrampilan yang memadai pun bisa bercerita lewat jurnalisme online. Orang yang tidak mengenal selik-beluk jurnalisme bisa menyampaikan idenya pada orang-orang di berbagai belahan bumi melalui internet. Yang kedua tingkat kebenaran jurnalisme online masih diraguklan. Berita televisi dan berita surat kabar yang notabene dihasilkan oleh orang-orang yang memiliki keterampilan jurnalistik memadai dianggap masih mengandung kesalahan.E. Karakteristik Jurnalisme Online 1. Kapasitas luas --halaman web bisa menampung naskah sangat panjang 2. Pemuatan dan editing naskah bisa kapan saja dan di mana saja. 3. Jadwal terbit bisa kapan saja bisa, setiap saat. 4. Cepat, begitu di-upload langsung bisa diakses semua orang. 5. Menjangkau seluruh dunia yang memiliki akses internet. 6. Aktual, berisi info aktual karena kemudahan dan kecepatan penyajian. 7. Update, pembaruan informasi terus dan dapat dilakukan kapan saja. 8. Interaktif, dua arah, dan ”egaliter” dengan adanya fasilitas kolom komentar, chat room, polling, dsb. 9. Terdokumentasi, informasi tersimpan di ”bank data” (arsip) dan dapat ditemukan melalui ”link”, ”artikel terkait”, dan fasilitas ”cari” (search). 10. Terhubung dengan sumber lain (hyperlink) yang berkaitan dengan informasi tersaji.F. Keunggulan Jurnalisme online: Mampu menyajikan berita dan informasi dalam waku yang sangat cepat  Aktual, real time. Berita bisa langsung dipublikasikan pada saat kejadian sedang berlangsung. Karakter ini juga dimiliki media TV dan radio, namun kelebihan media online adalah mekanisme publikasi real time itu lebih leluasa, tanpa dibatasi periodisasi6|Page
  7. 7. dan jadwal terbit atau jadwal siaran (program). Kapan dan di mana saja, maka wartawan media online mampu mempublikasikan berita. Leluasa dengan jadwal. Bisa diterbitkan dari mana saja dan kapan saja  Berita tersimpan dan diakses kembali dengan mudah. Media online bisa menerbitkan dan mengarsip artikel-artikel untuk dapat dilihat kapan saja.  Multimedia. Media online dapat menyajikan informasi lebih kaya ketimbang jurnalisme tradisional, yaitu bisa menggabungkan tulisan (script), gambar (grafis), dan suara (audio), bahkan audio-visual (film, video) dalam satu kesatuan.  Memberi pilihan pada publik untuk memberi tanggapan, berinteraksi, atau bahkan mengcustomize (menyesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan publik bersangkutan) terhadap berita-berita tertentu (interactivity).  Kaya informasi. Media online bisa menyiarkan informasi dalam jumlah banyak dalam waktu bersamaan dan sangat pendek. Pengelola media online sangat mungkin meng- upload atau posting informasi terbaru kapan saja dan sebanyak-banyaknya tanpa batasan halaman atau durasi. Seperti tertulis dalam buku Online Journalism. Principles and Practices of News for The Web (Holcomb Hathaway Publishers, 2005), ada beberapa Keunggulan yang bisa diperoleh dari jurnalisme online:  Audience Control. Jurnalisme online memungkinkan audience untuk bisa lebih leluasa dalam memilih berita yang ingin didapatkannya  Nonlienarity. Jurnalisme online memungkinkan setiap berita yang disampaikan dapat berdiri sendiri sehingga audience tidak harus membaca secara berurutan untuk memahami Storage and retrieval. Online jurnalisme memungkinkan berita tersimpan dan diakses kembali dengan mudah oleh audience  Unlimited Space. Jurnalisme online memungkinkan jumlah berita yang disampaikan/ ditayangkan kepada audience dapat menjadi jauh lebih lengkap ketimbang media lainnya.  Immediacy. Jurnalisme online memungkinkan informasi dapat disampaikan secara cepat dan langsung kepada audience  Multimedia Capability. Jurnalisme online memungkinkan bagi tim redaksi untuk menyertakan teks, suara, gambar, video dan komponen lainnya di dalam berita yang akan diterima oleh audience  Interactivity. Jurnalisme online memungkinkan adanya peningkatan partisipasi audience dalam setiap berita.7|Page
  8. 8. G. Media online VS Media Cetak Perdebatan soal eksistensi media cetak vs media online (digital), selayaknya kini harus dihentikan. Pertama, jelas tidak produktif; dan kedua, perdebatan itu hanya akan menghabiskan energi kreatif dan inovasi yang semestinya dikembangkan bersama-sama antara penerbit media cetak dan penyelenggara layanan digital. Awalnya, masih banyak orang ragu, bahwa ekspansi konten media cetak ke multi- platform digital dan mobile, akan mendorong kehancuran dan kebangkrutan media cetak. Faktanya? Tidak juga…! Meski sirkulasi koran, majalah, dan tabloid dalam kurun 10 tahun terakhir sulit beranjak positif, bahkan kadang minus 1 – 2 persen, tapi volume iklan media cetak terus berkembang. Kecemasan bahwa ekspansi konten media cetak ke multiplatform tidak akan menghasilan pendapatan baru (revenue generation), juga salah sama sekali. Tahun 2010 lalu, total kue iklan yang diperoleh media online, termasuk penerbit cetak yang memiliki web portal, berkisar Rp 150 milyar. Dari jumlah itu, sekitar 60 persen diraup oleh Detik.com dan Kompas.com. Selebihnya diperebutkan oleh Okezone, Vivanews, Kaskus, Yahoo Indonesia, Google Indonesia, Tempo Interaktif, dll. Bahkan dalam kasus Kompas, seluruh revenue yang diperoleh Kompas digital dan mobile, mencapai 6 persen dari total iklan yang diperoleh Kompas cetak. Paling tidak, itulah pengakuan Edi Taslim, Wakil Direktur Bisnis Kompas, dalam seminar Media Industry Outlook (MIO) 2011 yang digelar Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat, Rabu (26/1), di Jakarta Media Center, Gedung Dewan Pers, Jakarta. Dalam kasus Kompas for iPad dan iPhone, misalnya, bahkan ditemukan kenyataan 60% pembaca Kompas di kedua platform itu sebelumnya tidak pernah membaca Kompas versi cetak. Jelas ini sebuah keberhasilan untuk meningkatkan penetrasi kepembacaan Kompas cetak melalui media digital dan mobile. Soalnya, memang, pertumbuhan pendapatan dari mobile dan digital newspaper memerlukan waktu yang tidak sebentar. Kompas.com, misalnya, kini sudah berusia 12 tahun dan karenanya wajar jika mulai menuai perolehan iklan signifikan. Bagaimana dengan penerbit media cetak yang lain? Koran di daerah, majalah, dan tabloid? Kasus Kompas multimedia, adalah hal yang pantas dinikmati pula oleh penerbit media cetak yang lain. Selalu ada ruang dan peluang untuk mengembangkan8|Page
  9. 9. pendapatan konten mereka yang diintegrasikan ke ranah mobile dan digital. Dan peluang itu ditegaskan oleh Ricardo Indra, GM Marketing Communication PT Telkomsel. Dari total pendapatan konten Telkomsel, sekitar 25 persen disumbang oleh pendapatan dari konten-konten yang antara lain bekerjasama dengan penerbit media cetak. Hingga tahun lalu, terdapat enam penerbit media cetak yang sudah bekerjasama dengan Telkomsel, untuk mengembangkan bisnis mobile newspaper. Antara lain Kompas dan harian Seputar Indonesia. Tahun ini, 2011, diharapkan bisa menjadi 11 penerbit. Kembali pada perdebatan awal, tampak jelas bahwa peluang untuk menghasilkan bisnis dari pengembangan konten media cetak ke ranah digital dan mobile, bukanlah omong kosong belaka. Sedikit atau banyak, sejumlah penerbit telah mencicipi pertambahan pendapatan dari kedua ranah itu. Walaupun, bayang kegagalan tetaplah ada. Tapi, kapan kita tahu bakal gagal kalau tidak pernah mencobanya. “Karenanya, setiap muncul devices baru, kami akan coba untuk masuk dengan mengintegrasikan konten Kompas cetak ke dalamnya. Tidak berhenti pada platform yang sudah ada selama ini, mulai dari iPad, iPhone, blackberry, dan android,” tegas Edi penuh optimis. Toh, dengan gegap gempita perkembangan platform baru itu, media cetak masih terus eksis. Sampai kapan??? Tidak ada orang yang tahu. So? Lebih baik bersikap kreatif ketimbang selalu berdiskusi meramal kapan media cetak bakal lenyap dari muka bumi…!9|Page

×