estetika05PDU        : realisme - ekspresionisme - kognitivisme.                                      Dita Restia    13010...
01 :Realisme       Jelaskanlah maksud atau pandangan inti dari teori-teori realis (mimetis) tentang seni, dengan juga memb...
Yang utama mengenai keindahan bagi Aristoteles adalah pengetahuan yang dibawa di dalam seni. Bagi                         ...
02 :Ekspresionisme & Kognitivisme          Jelaskan maksud atau pandangan pokok teori-teori ekspresionistik / kognitivisti...
Untuk bisa memahami makna metafora dalam karya seni ekspresionisme Mitchell tersebut, audiens harusbisa memahami latar bel...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Estetika Realisme dan Ekspresionisme & Kognitivisme

6,486 views

Published on

Published in: Education, Technology
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
6,486
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Estetika Realisme dan Ekspresionisme & Kognitivisme

  1. 1. estetika05PDU : realisme - ekspresionisme - kognitivisme. Dita Restia 1301036124 Ellena Ekarahendy 1301035121 Jovienna Widjaja 1301038943 Raslene 1301038331 Rigina Felicia 1301038205 Yessyka 1301036345
  2. 2. 01 :Realisme Jelaskanlah maksud atau pandangan inti dari teori-teori realis (mimetis) tentang seni, dengan juga memberikan contoh- contoh! a. Di manakah letak keindahan (juga kejelekan), ‘kebenaran’ (juga ‘kesalahan’), dan kebaikan (juga keburukan) suatu karya seni dari sudut pandang teori ini? b. Apakah kekuatan utama teori-teori realis tentang seni? c. Di manakah batas-batas / kelemahannya dalam menjelaskan keindahan, ‘kebenaran’ dan kebaikan seni (termasuk lawannya: kejelekan, ‘kesalahan’ dan keburukan seni) ? ----------------------------------------------------------------------------------------------------- Pandangan inti dari teori-toeri realisme merupakan pemikiran dari filsuf Yunani, yakni Plato dan Aristoteles, dengan teori mimemis. Pemikiran Plato mengenai keindahan berkaitan dengan pemikirannya tentang dunia idea. Menurut Plato, dunia terdiri atas dua, yakni dunia idea (dunia atas) dan dunia bawah (doxa). Plato, guru dari Aristoteles, menyatakan bahwa realitas adalah yang berada di dalam dunia idea, sementara apa yang kita lihat dalam kehidupan nyata sehari-hari di sekeliling kita (dunia inderawi) semata adalah tiruan dari dunia idea (yang merupakan realitas sebenarnya.) “Idea itu bersifat rohani, kekal, dan tidak berubah”1 Dan Plato melihat karya seni sebagai tiruan dari kenyataan yang ada di dunia, yang merupakan tiruan dari dunia idea, dan inilah yang dikenal sebagai teori mimesis. Dan seni, yang merupakan tiruan dari tiruan tersebut bagi Plato menjauhkan audiens dari realita (kebenaran sejati). Bagi Plato, seni memiliki kecenderungan untuk menghasilkan suatu emotional appeal yang dikhawatirkan mengarahkan audiens ke tingkah laku yang irasional dan imoral, terutama jika dilihat pada masa itu warga Negara memiliki tugas besar untuk membangun Negara, yang bisa terdistraksi dengan karya seni, terutama sastra dan drama yang akan mempengaruhi audiens untuk lebih berpihak pada emosi dibanding pemikiran rasional. Kita bisa melihat contoh hasil karya dari Jeff Koons, yang secara gamblang mengakui bahwa karya seninya memang berorientasi pada keberhasilan yang bersifat komersial2. Salah satunya: Puppy. Puppy memberikan suatu emotional appeal terhadap audiensnya, dimana audiens memiliki suatu hubungan emosional yang dalam terhadap si karya seni yang merupakan tiruan dari anjing di dunia nyata, dibandingkan terhadap anjing di dunia nyata itu sendiri. Contoh lain yang serupa adalah pada robot-robot anjing yang diciptakan di Jepang, yang bisa kita sebut sebagai contoh seni kinetik. Robot-robot anjing tersebut adalah tiruan dari anjing di dunia nyata, namun bisa memunculkan emotional appeal yang begitu persuasif bagi audiensnya, sehingga memunculkan kecenderungan bagi audiens untuk ‘memelihara’ si anjing artifisial tersebut, dibanding untuk memelihara (sebagai bentuk afeksi) terhadap anjing di kehidupan nyata; yang membuktikan kekhawatiran Plato mengenai dampak seni realisme terhadap tingkah laku manusia yang mengaburkan realita. Baginya, hanya filsafat yang bisa dijadikan sumber pengetahuan. Plato memiliki kekhawatiran bahwa dampak dari seni yang begitu enjoyable bisa berbahaya terhadap efek psikologikal tingkah laku.3 Jika Plato berkeberatan dengan seni karena dikhawatirkan berpotensi memberi pengaruh buruk bagi tingkah laku masyarakat, Aristoteles melihat seni sebagai sesuatu yang bermakna, yang mampu memberikan nilai tambah bagi manusia.__________________________________________________________________________________________________________________________1 Matius Ali, Estetika – Sebuah Pengantar Filsafat Keindahan. (Tangerang: Sanggar Luxor). h.162 Terry Barett, Why Is That Art?.(Oxford: Oxford University). h.273 Ibid. h.20
  3. 3. Yang utama mengenai keindahan bagi Aristoteles adalah pengetahuan yang dibawa di dalam seni. Bagi Aristoteles, realita/hakikat suatu benda bukannya berada di dunia idea, melainkan di dalam benda itu sendiri. “Seni tidak hanya tiruan dari suatu benda yang ada di alam, tetapi lebih sebagai “tiruan dari sesuatu yang universal” (imitation of something that is universal).4 Kita bisa mengambil contoh karya seni dari Andreas Serrano, yang melalui karya fotografinya, bukan sekedar mencari cermin dari apa yang terjadi di dunia nyata, melainkan mampu memberikan suatu pemaham / pengetahuan yang particular namun tetap universal. Bagi Aristoteles, seni pertama-tama harus berbasis pada pengetahuan, baru pada tampilan dan fungsinya, karena pengetahuan mampu mempengaruhi tingkah laku seseorang yang akan berdampak pada hidupnya dalam bermasyarakat. Dalam karya seni Rockmann, Manifest Destiny, yang menggambarkan kondisi akibat ketidakseimbangan alam akibat ulah manusia, mewakili teori katarsis Aristoteles, dimana seni dapat menjadi media ‘pemurnian’. Yang dimaksud dengan pemurnian di sini adalah, seni yang mencerminkan kehidupan nyata dan berbasis pada pengetahuan mampu memberikan suatu pemahaman bagi audiensnya untuk bisa mengubah tingkah lakunya agar bisa memberikan sesuatu yang baik dalam hidup bermasyarakat, atau singkatnya, seni yang bersifat normatif. Dari paparan landasan pemikiran di atas, baik Plato maupun Aristoteles memiliki pandangan yang sejalan mengenai keindahan / kebaikan dalam seni dari sudut pandang teori ini, yakni: pengetahuan dan dampak yang diberikan karya seni terhadap manusia untuk bertingkah laku lebih baik (konstribusinya terhadap pengetahuan yang sesungguhnya), yang dapat berpengaruh pada perilaku manusia dalam hidup bermasyarakat; yang dilakukan dalam seni yang menjadi cerminan kehidupan nyata. Hanya saja, representasi realistik dalam karya seni dapat dipahami secara keliru sebagai kondisi dunia yang terjadi sesungguhnya, bukan sebagai apa yang seniman gambarkan atas apa yang mereka lihat (interpretasinya terhadap dunia yang mereka hadapi), karena masing-masing seniman berperan secara unik dalam pengalaman dan pengetahuan melalui karya seni.5 Dan bagaimana seni mampu berkontribusi terhadap pengetahuan menjadi kelebihan sudut pandang teori realisme ini terhadap seni. Kelemahannya adalah seniman dibebani oleh ekspektasi publik untuk bisa menggambar secara realistik, yang dijadikan sebagai parameter untuk mengukur kredibilitas si seniman hanya dengan berdasar pada keahliannya untuk menirukan, sehingga keahlian mimetisme (meniru) menjadi kriteria untuk segala jenis karya seni yang dibuat oleh seniman manapun, tanpa mempertimbangkan apakah karya seni tersebut merepresentasikan estetika Realisme atau tidak, dan mengabaikan kriteria apresiasi berupa kontribusi karya seni realism tersebut terhadap pengetahuan.6 Di sisi lain, seniman yang memang menghasilkan karya seni dengan estetika Realisme sebagai dasar filosofis karyanya, cenderung dianggap berangkat dari teori yang sudah kuno dan ketinggalan jaman. Dan masyarakat awam yang mengekspektasikan seni dengan teknik mimetis yang ahli membatasi apresiasi mereka sebatas pada kenikmatan yang ditimbulkan dari seni yang realistik saja, dan Plato mengkhawatirkan kesenangan/kenikmatan seperti itu akan mengarahkan audiens pada kesesatan dan kepalsuan, yang bisa berdampak pada tingkah laku yang immoral.7__________________________________________________________________________________________________________________________4 Matius Ali, Op.cit,. h.225 Terry Barrett, Op.cit., h. 526 Ibid. h.517 Terry Barret, loc.cit.
  4. 4. 02 :Ekspresionisme & Kognitivisme Jelaskan maksud atau pandangan pokok teori-teori ekspresionistik / kognitivistik tentang seni, lengkapi dengan contoh! a. Di manakah letak keindahan dan makna seni menurut teori-teori ekspresionistik? b. Apakah kelebihan teori-teori ekspresionistik, terutama dibanding teori-teori realis (mimetis)? c. Apakah kelemahan / batas-batas pandangan ekspresionistik dalam memahami dan menilai seni? ------------------------------------------------------------------------------------------------------- Pandangan pokok teori ekspresionistik / kognitivistik adalah emosi yang disampaikan melalui karya seni. Secara lebih spesifik, ekspresionisme menampilkan / berbicara mengenai pengalaman emosional si seniman melalui karya seninya, yang menjadikan karya seni ekspresionisme bersifat subyektif karena berfokus pada si individu senimannya. Ekspresionisme menekankan perasaan, dan bagaimana emosi dapat dirasakan melalui karya seni. Sementara kognitivisme, sebagaimana dijelaskan oleh Terry Barrett dalam Why Is That Art?, memang berhubungan erat dengan ekspresionisme namun terpisah darinya, karena kognitivisme menekankan pada pengetahuan yang disampaikan oleh suatu karya seni mengenai dunia dengan cara yang unik dan powerful. Dari sini, kita dapat memahami bahwa kognitivisme menekankan pada pemahaman tentang dunia, dan salah satu caranya adalah melalui emosi di dalam karya seni. Jika ekspresionisme adalah tentang feeling, kognitivisme adalah tentang thinking. Dengan demikian, keindahan ekspresionisme terletak pada sejauh mana emosi yang disampaikan seniman melalui karya seninya juga dapat dirasakan oleh orang yang melihat karya seni tersebut. Keindahan kognitivisme, selain pada perasaan yang termunculkan melalui karya seni, juga terletak pada bagaimana karya seni dalam memberikan pemahaman / pengetahuan / kognisi. Pemikir-pemikir seperti Tolstoy, Croce, Collingwood, Langer, Dewey, Goodman, dan Danto ikut mendasari teori ekspresionisme & kognitivisme ini berkaitan dengan seni sebagai media penyampaian pengalaman emosi, baik yang menekankan hanya pada perasaan yang mampu ditangkap oleh audiens saja maupun pengalaman yang tercipta dengan munculnya pemahaman audiens terhadap emosi apa yang disampaikan seniman melalui karya seninya. Menurut Susanne Langer, seni adalah bahasa yang memberikan alternatif bentuk sebuah makna. Hal ini senada dengan Cynthia Freeland dan Eileen John yang menyampaikan bahwa syarat dari seni adalah mengandung upaya interpretasi artistik yang kompleks. Di sini, lain halnya dengan mimetis yang menjadi cermin dari dunia keseharian, metafora mengambil peran dalam seni ekspresionisme / kognitivisme (yang juga tersampaikan dalam pemikiran Croce, Goodman, dan Danto) untuk menyampaikan suatu makna, berdasarkan pengalaman emosional si seniman melalui karya seni yang non-obyektif. Makna yang terwakilkan lewat metafora di dalam karya seni berkaitan dengan ekspresi emosional dari sang seniman berhubungan dengan teori psikoanalisa Sigmund Freud. Menurut Freud, ekspresi yang disampaikan oleh seniman melalui karya seninya merupakan gambaran dari alam bawah sadarnya (subkonsius). Subkonsius adalah pemikiran yang ditekan oleh kesadaran (something below the surface), namun mempengaruhi pemikiran sadar tanpa secara langsung bisa terlihat / diinterpretasikan, dan di sanalah analisa dibutuhkan.9 Mengambil contoh lukisan ekspresionisme karya Joan Mitchell; suatu pengalaman emosional si seniman mampu tergambarkan melalui lukisan-lukisan abstraknya, yang mampu dirasakan juga oleh audiensnya, misalnya perasaan marah. Mitchell mengakui bahwa “I am certainly not aware of myself. Painting is a way of forgetting oneself.”9 yang mewakili teori Freud mengenai subkonsius yang mendominasi ekspresi emosional di dalam karya seni ekspresionisme.__________________________________________________________________________________________________________________________8 Ibid. h. 679 Ibid. h.75
  5. 5. Untuk bisa memahami makna metafora dalam karya seni ekspresionisme Mitchell tersebut, audiens harusbisa memahami latar belakang Mitchell itu sendiri, misalnya dari kebiasaannya, latar belakang kehidupanpribadi dengan keluarganya, pandangannya, dan lain sebagainya.Berkenaan dengan hal tersebut, untuk menilai suatu karya seni ekspresionisme, hanya bisa dipahamisecara menyeluruh hanya dengan memahami latar belakang si individu senimannya. Hal inilah yangmenjadi kelemahan atau batasan dalam teori ekspresionisme: jika audiens tidak memiliki kesempatanuntuk bertanya langsung pada senimannya mengenai ekspresi yang dibawakannya atau tidakberkesempatan untuk memahami si senimannya tersebut (misalnya, ketika seniman tersebut wafat, kitatidak akan bisa memahami secara menyeluruh dan sepenuhnya tepat tentang ekspresi emosi yangdisampaikan seniman tersebut lewat karya seninya).Jika teori psikoanalisa Freud menyatakan bahwa seni ekspresionisme menyampaikan ekspresi yang beradadi bawah permukaan kesadaran seniman (individu), Estetika Marxisme kurang lebih menyampaikan halserupa, namun yang disampaikan adalah apa yang berada di bawah kesadaran sosial masyarakat.FilsafatMarxisme sendiri adalah kritik terhadap kapitalisme yang terjadi pasca revolusi industry yangmemunculkan kelas baru dalam masyarakat, yakni kaum borjuis yang menguasai alat produksi, sehinggakaum proletar teralienasi (terasingkan) antara kerja dan dirinya sendiri, dan hal itulah yang dirujuksebagai apa yang tidak terlihat di permukaan masyarakat dalam estetika Marxisme.Estetika Marxisme tergolong sebagai kognitivisme karena dalam pandangan teori ini, seni selain menjadiekspresi masyarakat, juga harus bisa menyampaikan pemahaman / pengetahuan kepada audiensnyatentang apa yang terjadi di masyarakat. Tidak hanya itu, menurut teori estetika Marxisme, seni harus bisamemiliki daya transformasi di masyarakat, dimana seni tidak hanya sekedar membawa pemahaman dankesadaran, tapi juga daya yang mendorong audiensnya untuk bertindak atas ‘ketidakberesan’ yangakhirnya mereka sadari melalui karya seni tersebut. Dalam konteks ini, seniman memiliki tanggung jawabatas pengetahuan, untuk bisa menyampaikan pemahaman tersebut kepada masyarakat; atau dengan katalain, seniman memiliki tanggung jawab sosial atas apa yang terjadi di masyarakat dan berperan untukmelakukan perubahan atas hal tersebut, karena seni itu tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi olehmasyarakat. (Ingat bahwa yang diekspresikan di sini adalah masyarakat, sudah bukan lagi individu). Poinini menjadi suatu kelebihan dari teori kognitivisme, dimana seni bisa membawa pemahaman, kesadaran,pengetahuan, dan daya perubahan dan daya juang di dalam masyarakat.

×