Your SlideShare is downloading. ×
Budaya konteks verbal dan non verbal
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Budaya konteks verbal dan non verbal

1,352

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,352
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
30
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. KOMUNIKASI VERBAL DAN KOMUNIKASI NONVERBAL BANGSA AMERIKA MODERN DAN SUKU INDIAN A. Perilaku verbal dalam komunikasi antar budaya Perilaku verbal sebenarnya adalah komunikasi verbal yang biasa kita lakukan seharihari. Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis symbol yang menggunakan kata-kata atau lebih. Hampir semua rangsangan wicara yang kita sadari termasuk ke dalam kategori pesan disengaja, yaitu usaha-usaha yang dilakukan secara sadar untuk berhubungan dengan orang lain secara lisan.  Fungsi bahasa dalam kehidupan manusia. Kita sering tidak menyadari pentingnya bahasa, karena kita sepanjang hidup menggunakannya. Kita baru sadar bahasa itu penting ketika kita menemui jalan buntu dalam menggunakan bahasa, misalnya ketika kita berupaya berkomunikasi dengan orang yang sama sekali tidak memahami bahasa kita yang membuat frustasi, ketika kita sulit menerjamahkan suatu kata, frase atau kalimat dari suatu bahasa ke bahasa lain, ketika kita harus menulis lamaran atau diwawancarai dalam bahasa inggris untuk memperoleh pekerjaan yang bagus. Menurut Ohoiwutun (1997)dalam Liliweri (2003), dalam berkomunikasi antar budaya ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu kapan orang berbicara, apa yang dikatakan, hal memperhatikan, intonasi, gaya kaku dan puitis serta bahasa tidak langsung. Ke enam hal tersebut adalah saat yang tepat bagi seseorang untuk menyampaikan pesan verbal dalam komunikasi antar budaya. B. Pengertian Komunikasi Nonverbal dan Komunikasi Antarbudaya Dalam buku pengantar ilmu komunikasi yang ditulis oleh Drs.Dani Vardiansyah,.M.Si. disebutkan bahwa komunikasi adalah usaha penyampaian pesan antar manusia atau proses pertukaran dan penyampaian lambang yang dilakukan oleh manusia. Manakala lambanglambang itu disusun dalam sistem yang bermakna dan disepakati oleh komunitas penggunanya, maka komunikasi menjadi bahasa. Komunikasi juga merupakan proses Page | 1
  • 2. interaksi sosial yang melibatkan dua atau lebih individu untuk saling mempengaruhi ide, sikap, pengetahuan, dan tingkah laku melalui lambang-lambang atau bahasa. Dalam Ilmu Komunikasi dikenal lambang komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. Komunikasi verbal yaitu proses komunikasi melalui bahasa dan kata-kata yang diucapkan. Sementara itu, komunikasi nonverbal berarti komunikasi yang dilakukan melalui bahasa tubuh, seperti mimik, gerak-gerik, serta suara. Bahasa tubuh atau gestur atau body language (ing-) dalam ilmu linguistik dikenal dengan kinesik. Sama halnya dengan komunikasi verbal, pesan-pesan yang bersifat nonverbal juga dibutuhkan untuk memperjelas informasi agar receiver tidak salah persepsi. Sesungguhnya, ilmu tentang bahasa tubuh atau kinesik baru muncul pada akhir abad ke-20. Pada masa itu, ilmu ini merupakan perkembangan dari salah satu jenis ilmu pengetahuan sosial yang berkaitan dengan komunikasi nonverbal. Kajian tentang bahasa tubuh mulai dikembangkan pada tahun 1960-an, akan tetapi masyarakat baru mengetahui keberadaannya pada tahun 1970-an sejak Julius Fast mempublikasikan sebuah buku mengenai bahasa tubuh. Hasil riset yang dilakukan oleh Albert Mehrabian menunjukkan bahwa 70% komunikasi berbentuk verbal (menggunakan kata-kata), 38% vokal (berbentuk suara, tekanan, dan intonasi), serta 55% berbentuk nonverbal (kinesik atau gerak tubuh) (Pease, 1981). Sementara itu, Bridwhistell (Kumar: 2004) mengungkapkan bahwa komponen verbal yang digunakan dalam percakapan langsung hanya kurang dari 35%, sedangkan lebih dari 65% komunikasi dilakukan secara nonverbal. Hasil riset ini menunjukkan bahwa kinesik memiliki peran yang penting dalam komunikasi. Kontak kebudayaan yang terjadi antarbudaya, dalam hal ini Amerika Serikat dan negara-negara di belahan dunia, menciptakan suatu keberterimaan atau konteks bersama. Artinya, ada kaitan erat antara komunikasi nonverbal dengan kontak kebudayaan dan konteks kebersamaan yang tercipta di antara masyarakat yang berbeda budaya.  Jenis-Jenis Komunikasi nonverbal 1. Pesan Fasial Pada pesan faisal, bagian tubuh yang paling terlihat adalah ekspresi wajah. Sedikitnya ada enam kelompok makna yang dapat disampaikan melalui wajah, yaitu bahagia, sedih, Page | 2
  • 3. terkejut, takut, marah, dan muak. Selain itu, Leathers (Kumar, 2004) menyimpulkan penelitian tentang ekspresi wajah, antara lain: 1. Wajah mengkomunikasikan penilaian mengenai rasa senang dan tidak senang seseorang 2. Wajah mengkomunikasikan seseorang berminat atau tidak terhadap pembicaraan 3. Wajah mengkomunikasikan intensitas keterlibatan dalam satu situasi 4. Wajah mengkomunikasikan tingkat pengendalian individu terhadap pernyataannya sendiri 5. Wajah mengkomunikasikan ada atau tidaknya pengertian 2. Pesan Gestural Pesan gestural menggunakan sebagian tubuh dalam komunikasi. 1) Berjabat Tangan (Shaking Hands) Sementara itu, menurut Pease (1981:32), ada dua perilaku dasar berjabat tangan, yaitu dominant (berkuasa) dan submissive (patuh). Orang yang berkarakter dominan atau mendominasi orang lain akan menghadapkan tangannya ke bawah saat berjabat tangan. Ia biasanya akan mencengkram tangan orang yang berhadapan dengannya. Selain itu, biasanya, orang yang berkarakter dominan akan mengguncang orang saat berjabat tangan. Sebaliknya, orang yang submisif atau patuh, akan menghadapkan telapak tangannya ke atas. Artinya, setiap pesan gestural dapat menimbulkan persepsi tersendiri, khususnya pada konteks berjabat tangan. 2) Gerakan Dengan Telapak Tangan (Palm Gestures) Dalam kehidupan sehari-hari, menurut Pease (1981:32), seseorang menggunakan tiga posisi dasar telapak tangan, yaitu the palm-up position (karakter dominan), the palm down position (karakter submisif), dan the palm-closed-finger-pointed position (karakter agresif). 3) Gerakan Tangan, Jari, dan Lengan (Hand, Fingers, and Arm Gestures) 3. Pesan Postural Jenis postural menggunakan seluruh anggota tubuh untuk berkomunikasi. Menurut Mahrabian (Pease, 1981), ada tiga makna yang dapat disampaikan melalui pesan postural, yaitu: Page | 3
  • 4. 1. Immediacy Immediacy merupakan uangkapan kesukaan atau ketidaksukaan terhadap individu yang lain. Postur yang condong ke arah lawan bicara menunjukkan penilaian positif seseorang terhadap lawan bicara. 2. Power Power menunjukkan status yang tinggi pada diri komunikator 3. Responsiveness Makna ini menunjukkan reaksi lawan bicara secara emosional, baik positif maupun negatif.  Fungsi Kinesik Jalaluddin Rakhmat (1985) dalam buku Psikologi Komunikasi menjelaskan bahwa komunikasi nonverbal, kinesik, memiliki beberapa fungsi, yaitu: 1) Repetisi Untuk menyampaikan gagasan, seseorang tidak cukup menggunakan kata-kata (komunikasi verbal), tapi juga bahasa tubuh. Dengan demikian, kinesik berfungsi untuk mengulang kembali gagasan yang disampaikan secara verbal dengan menggunakan gerak sebagian anggota tubuh. 2) Substitusi Dalam paparan bahasa verbal, tidak jarang terjadi redundansi (lebih banyak lambang yang digunakan), ambiguity (bermakna ganda), dan abstraksi. Selain itu, menggunakan komunikasi verbal biasanya lebih menyita banyak waktu dibandingkan dengan menggunakan bahasa verbal. 3) Kontradiksi Dengan adanya kinesik, komunikasi verbal akan terbantu untuk menentukan ungkapan mana yang mengandung makna sebenarnya (denotasi) dan ungkapan mana yang memberikan makna lain terhadap pesan verbal. Hal ini dapat kita lihat dari contoh berikut: seseorang memuji prestasi rekannya dengan mencibirkan bibirnya sambil Page | 4
  • 5. berkata: “Luar biasa, kau memang luar biasa”. Dengan berkata demikian, lawan bicara akan merasa tersinggung karena bahasa tubuh itu menimbulkan makna negatif itu, walaupun pesan verbalnya bermakna positif. Terdapat pula fungsi dari suatu bentuk komuniksi nonverbal, di antaranya: 1) Komplemen Kinesik juga memiliki fungsi komplemen, yaitu untuk melengkapi dan memperkaya pesan verbal. Contohnya, air muka seseorang yang sedang sedih menunjukkan tingkat kesedihan yang tidak terungkap dengan kata-kata. Seseorang yang mengaku sedih dan mengungkapkannya dengan kata-kata, tetapi ekspresi mukanya tampak senang dengan ditandai adanya senyuman, tentu saja membuat mitra tuturnya tidak percaya. Sebaliknya, seseorang yang hanya diam dan menunjukkan ekspresi sedih di wajahnya, orang-orang sekelilingnya akan percaya. Inilah yang disebut kinesik sebagai komplemen. 2) Aksentuasi Kinesik dalam komunikasi, dalam hal ini masyarakat Inggris, berfungsi untuk menegaskan pesan verbal. Contohnya, ketika seseorang ingin marah, ia mengungkapkan kejengkelannya dengan memukul meja. Gerak refleks ini membuat orang-orang di sekitarnya semakin memahami intensitas kejengkelannya, meskipun ia tidak banyak berkata-kata untuk mengungkapkan perasaannya. Orang Amerika cenderung membuat jarak dalam berkomunikasi. Mereka memiliki zona aman sekitar 30 inch. Namun, ketika ada event teater atau olahraga, mereka cenderung saling dorong atau maju di keramaian penonton. Berikut merupakan contoh umum bahasa tubuh yang diterima di Amerika Serikat: Gestur Berjabat Arti atau Penggunaan tangan (dibudayakan masih anak-anak), peluk, cium sejak Ketika menyapa seseorang. Sekalipun tidak kenal, ia akan berjabat tangan, sedangkan peluk dan cium terjadi dalam keluarga Kontak mata (Orang Amerika diajarkan Menunjukkan power dan status, derajat untuk memperhatikan kontak mata sejak perhatian atau ketertarikan. Dilakukan ketika kecil) menyapa dan berdialog. Jika tidak, maka anakanak akan dianggap pemalu. Namun, bagi orang dewasa, jika mata menatap lurus, bisa Page | 5
  • 6. diartikan dorongan seksual. Lengan ke atas, telapak tangan terbuka Ketika menyapa “hello” atau “good bye” dan jari-jari digerakkkan ke depan dan belakang Jari tengah menunjuk seseorang Tangan mengepal, jari Meminta orang lain menghadap tengah Ketika mengatakan bahwa seseorang “gila” ditunjukkan dan diputar-putar di samping telinga Gerakan cincin, ibu jari dan telunjuk Berarti “OK” atau pujian, seperti “pekerjaan membentuk lingkaran bagus!” Gerakan jari “V” Berarti “Victory” (kemenangan) atau “peace” (kedamaian) D. Kinesik, Gender, dan Status Sosial Menurut sumber yang penulis peroleh, pada tahun 1992, ketika berlangsung debat presidensial di Amerika Serikat, para presiden Amerika, seperti Bill Clinton, Ross Perot, dan George Bush menunjukkan gerakan telapak tangan ke bawah yang berarti adanya kepercayaan akan superioritas. Seperti yang pernah penulis singgung sebelumnya, bahwa ada dua jenis gestur telapak tangan, yaitu dominant dan submissive. Dalam percaturan politik di Amerika, gesture telapak tangan dapat dilihat dari peran para politisi di Amerika Serikat. Contoh lain lagi yaitu kebiasaan memiringkan kepala ke belakang yang dilakukan oleh Mussolini, Roosevelt, George Wallace dan Al Gore ketika sedang berpidato. Kinesik demikian menunjukkan arogansi dan superior. Lain lagi dengan wakil presiden Dan Quyle. Ketika sedang berdebat dalam sebuah acara di stasiun televise tertentu ia merasa tegang dan menelan ludah dengan menggerakkan jakunnya. Lebih lanjut lagi, ketika Presiden Ronald Reagan berdiskusi dengan pemimpin Rusia Mikhail Gorbachave dan tidak terjadi kesepakatan, keduanya menunjukan bahasa tubuh yang berbeda, namun ketika kesepakatan itu terjadi, mereka saling berhadapan dan menunjukkan bahasa tubuh yang sama. Page | 6
  • 7. Dalam kaitannya dengan gender, di Amerika terdapat perbedaan gender dalam komunikasi nonverbal. Lelaki cenderung membuka kakinya ketika duduk, sedangkan perempuan cenderung menutup kakinya. Kaum remaja lelaki biasanya saling meninjukan kepalan tangan saat bertemu, sedangkan kaum wanita di Amerika jarang berjabat tangan. Namun demikian, berdasarkan penelitian yang dilakukan Mehrabian, wanita lebih unggul daripada pria dalam mengekspresikan ketakutan, kecintaan, kemarahan, dan kebahagiaan. Kelompok wanita lebih sering menggunakan kontak mata dibandingkan dengan pria (Mulyana:25). Dari paparan di atas, terlihat bahwa gender dan status sosial seseorang mempengaruhi bahasa tubuh apa yang digunakan. Ketika seseorang berada pada posisi superior, maka bahasa tubuh yang digunakan bersifat dominant. Sebaliknya, jika seseorang berada pada posisi “tidak memiliki otoritas” maka bahasa tubuh yang dihasilkan bersifat submisif. Begitu pula dengan gender. Lelaki di Amerika, tidak lebih ekspresif dibandingkan dengan wanita.  Kontak Kebudayaan Sistem komunikasi, verbal dan nonverbal, membedakan suatu kelompok dari kelompok lainnya. Bahasa tubuh, misalnya, mungkin bersifat universal, namun perwujudannya berbeda secara lokal. Subkultur-subkultur seperti kelompok militer, mempunyai peristilahan dan tanda-tanda yang berbeda di tiap negara dan menerobos batas-batas nasional (seperti gerakan menghormat atau sistem kepangkatan). Persamaan bahasa tubuh di tiap negara terkesan terjadi secara natural. Namun demikian, apabila dikaji lebih dalam maka hal demikian tidak terlepas dari adanya kontak kebudayaan. Kontak kebudayaan antara negara barat-dalam hal ini Amerika Serikat-dan Asia, misalnya, tercipta karena pengaruh media, terutama media elektronik dan media cetak. Dalam kaitannya dengan bahasa tubuh, kontak kebudayaan antarnegara tercipta karena kondisi sosial politik. Misalnya, ketika terjadi perang dunia maka negara-negara di dunia mengenal gestur jari berbentuk huruf “V” yang berarti “victory” (kemenangan) atau “peace” (damai). Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan itu tidak bersifat statik dan senantiasa berubah. Page | 7
  • 8. Hal demikian menunjukan bahwa lambang-lambang nonverbal dan respon yang ditimbulkan merupakan bagian dari pengalaman budaya. Kinesik yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lain memiliki makna tertentu dan terbentuk karena pengalaman. Oleh karena itu, sebagai negara multikultural, konteks bersama di Amerika tentu menjadi hal yang sangat penting. Namun, tidak jarang terjadi kesalahpahaman jika orang asing atau imigran masuk ke Amerika dan belum mengetahui kultur komunikasi nonverbal di Amerika. Berikut merupakan contoh gestur umum yang menunjukkan tidak adanya keterbukaan kinesik dalam komunikasi masyarakat Amerika dan masyarakat dari luar Amerika. 1. Menggaruk dagu bagi orang Italia Bagi masyarakat Amerika Utara, menggaruk dagu merupakan hal yang biasa. Namun, bagi masyarakat Italia hal itu sama dengan arti sikap kasar. Di Amerika, kata kasar tersebut diisyaratkan dengan kepalan tangan sambil menunjukkan jari tengah. 2. Gestur “menyuruh” bagi orang Asia Bagi masyarakat Amerika, ketika seseorang meminta orang lain untuk menghadapnya, maka ia akan menunjuk orang tersebut dengan jari tengah. Namun, bagi masyarakat Asia, hal demikian berarti sesuatu yang ofensif. Bahkan, di Singapura kinesik tersebut berarti “kematian”. 3. Mengarahkan ibu jari ke bawah bagi orang Timur tengah Bagi masyarakat Amerika, apresiasi akan ia tunjukkan dengan tanga tergenggam dan mengangkat ibu jari. Sementara itu, bagi masyarakat Iran, gestur tersebut merupakan sesuatu yang bersifat menyerang atau ofensif. 4. Gerakan Cincin yang berarti “OK” Kebanyakan negara di dunia mengartikan gerakan cincin dengan “OK”, termasuk di Amerika, tapi di negara Jepang hal itu berarti “uang”, sedangkan di Prancis bisa berarti “nol” atau “tidak berguna”. Dari paparan di atas, terlihat jelas bahwa keberterimaan masyarakat dunia terhadap kinesik masyarakat Amerika bisa berbeda karena latar belakang kebudayaan yang tidak sama. Hasilnya, perbedaan budaya serta pengalaman masyarakat yang ada di Amerika menimbulkan bermacam-macam persepsi. Selain itu, kebanyakan kinesik yang sering menimbulkan kesalahpahaman adalah gestur tangan, jari, dan lengan atau pesan gestural, sedangkan pesan fasial atau ekspresi muka di tiap negara itu kebanyakan sama. Page | 8
  • 9. Amerika merupakan negara yang banyak didatangi para imigran. Tidak menutup kemungkinan akan terjadi proses akulturasi ketika masing-masing kebudayaan saling berinteraksi satu sama lain. Dalam komunikasi nonverbal, para imigran yang datang ke Amerika harus menyesuaikan diri dengan pola kinesik yang sudah diterima oleh masyarakat native Amerika. Selama mereka berinteraksi, akan ada proses saling mempengaruhi. Hal tersebut berlangsung dalam jangka waktu yang lama sampai orang-orang yang berbeda budaya dapat menerima dan mengakui kebudayaan tempat ia tinggal saat ini. Konsep Waktu Konsep waktu suatu budaya merupakan filsafatnya tentang masa lalu, masa sekarang, masa depan, dan pentingnya atau kurang pentingnya waktu. Kebanyakan budaya Barat memandang waktu sebagai langsung dan berhubungan dengan ruang dan tempat. Kita terikat oleh waktu dan sadar akan adanya masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Sebaliknya, sukuI ndian Hopi tidak begitu memperhatikan waktu. Mereka percaya bahwa setiap hal – apakah itu manusia, tumbuhan, atau binatang memiliki sistem waktunya sendiri-sendiri. Waktu merupakan komponen budaya yang penting. Terdapat banayak perbedaan mengenai konsep ini antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya dan perbedaanperbedaan tersebut mempengaruhi komunikasi. Penggunaan Ruang Cara orang menggunakan ruang sebagai bagian dalam komunikasi antar-personal disebut proksemika (proxemics). Proksemika tidak hanya meliputi jarak antara orang-orang yang terlibat dalam percakapan, tetapi juga orientasi fisik mereka. Kita mungkin tahu bahwa orang-orang Arab dan orang-orang Amerika Latin cenderung berinteraksi lebih dekat kepada sesamanya daripada orang-orang Amerika Utara. Penting disadari bahwa orang-orang dari budaya yang berbeda mempunyai cara-cara yang berbeda pula dalam menjaga jarak ketika bergaul dengan sesamanya. Bila kita berbicara dengan orang berbeda budaya, kita harus dapat memperkirakan pelanggaran-pelanggaran apa yang bakal terjadi, menghindari pelanggaran-pelanggaran tersebut, dan meneruskan interaksi kita tanpa memperlihatkan reaksi permusuhan. Page | 9
  • 10. C. Kebudayaan dan Sistem Komunikasi Bangsa Amerika Menurut Antropolog Edward T Hall (1979), bangsa Amerika termasuk dalam low contextculture dalam berkomunikasi:  Eye Gaze, bagi orang Amerika, kontak mata sebagai tanda kejujuran. Orang Amerika yang berkomunikasi tanpa memandang mata pihak lawan bicara dipandang tidak jujur. NamunBagi orang Indonesia, memandang mata lawan bicara masih dianggap tidak sopan.  Sentuhan, hasil studi menunjukkan bahwa bagi orang Amerika sentuhan diintepretasikansebagai “kekuatan” atau bias diartikan membantu atau menolong. Orang yang lebih kuat akanmenyentuh orang yang kurang kuat, seperti jabat tangan. Namun bagi orang Indonesiaterutama wanita, sentuhan merupakan hal yang tabu, apalagi belum menikah. Hal tersebuttidak lepas dari budaya ketimuran yang menganggap sentuhan antara laki-laki dan perempuan, meskipun dalam hubungan asmara adalah perbuatan yang tidak senonoh.  Paralanguage sesungguhnya termasuk dalam unsur-unsur linguistik, yaitu bagaimana atau cara sesuatu pesan diungkapkan dan bukan isi pesan itu sendiri. Bagi orang Amerika cara berbicara dan mengungkapkan sesuatu cenderung diungkapkan dengan apa adanya atau bahkan blak-blakkan. Mereka tidak terlalu memperhatikan intonasi, volume ataupun dialeknya. Sedangkan orang Indonesia justru sebaliknya, cenderung menyampaikan pesan secara berbelit-belit dengan banyak menggunakan simbol, kiasan, dan kata-kata halus.  Sikap diam, dapat berarti juga sedang melakukan komunikasi. Seseorang dengan diam bias saja ia mengkomunikasikan tidak ingin diganggu, atau sedang marah, benci, dan sebagainya. Dalam komunikasi di budaya timur, diam bisa diartikan dengan beragam arti. Sedangkan orang Amerika menggap diam adalah hal yang berbeda. Bisa berarti setuju atau sedang berpikir.  Body Movement. Setiap budaya memiliki bahasa tubuhnya sendiri. Orang Amerika menggerakkan tubuhnya dengan cara bahasa Amerika.  Penciuman (Bau). Indera penciuman dapat berfungsi sebagai saluran untuk membangkitkan makna.Orang AS merupakan pencerminan dari kebudayaan yang anti bau. Page | 10
  • 11. Selain itu, Suku Indian dari Amerika Utara juga melakukan komunikasi dengan menggunakan Sinyal asap . Setiap suku mempunyai sistem sinyal beserta artinya masing masing yang hanya bisa dimengerti dalam lingkup terbatas . Pengirim sinyal memulai dengan api unggun , biasanya api unggun tersebut dibuat dengan menggunakan rumput kering yang dibakar dan selanjutnya akan menyebabkan kumpulan - kumpulan asap yang bergerak naik ke atas . Rumput - rumput tersebut di ambil pada saat kondisinya kering dan ikatan - ikatan rumput lain yang juga kering akan dibakar kemudian ke dalam api agar api menyala terus menerus sesuai keinginan penggunanya . Lokasi dari asap dan bentuk kecondongan membumbungnya asap ( posisi membentuk semacam kerucut ) tersebut mempunyai arti tertentu . Jika pengirim pesan membentuk suatu kumpulan asap yang bentuknya makin mengecil dari arah bawah ke atas (ujung kerucut di atas), ini menandakan bahwa semuanya dalam keadaan baik - baik saja . Tapi apabila sang pengirim pesan membentuk dari asap yang dihasilkannya makin mengecil dari arah atas ke bawah ( ujung kerucut di bawah ) , maka hal itu berarti menandakan adanya bahaya yang mengintai . Page | 11

×