Budaya konteks multikultural
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Like this? Share it with your network

Share

Budaya konteks multikultural

on

  • 944 views

 

Statistics

Views

Total Views
944
Views on SlideShare
944
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
11
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Budaya konteks multikultural Document Transcript

  • 1. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Budaya berkaitan dengan cara manusia hidup. Manusia belajar berpikir, merasa, mempercayai, dan mengusahakan apa yang patut menurut budayanya. Bahasa, persahabatan, kebiasaan makan, praktek komunikasi, tindakan-tindakan sosial, kegiatankegiatan ekonomi dan politik, dan teknologi, semua itu berdasarkan pola-pola budaya. Budaya adalah suatu konsep yang membangkitkan minat. Secara formal budaya didefenisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, waktu, peranan, hubungan ruang, konsep alam semesta, objekobjek materi dan milik yang diperoleh dari sekelompok besar orang dari generasi ke generasi melalui usaha individu dan kelompok. Budaya menempatkan diri dalam polapola bahasa dan dalam bentuk kegiatan dan perilaku yang berfungsi sebagai model-model bagi tindakan-tindakan penyesuaian diri dan gaya komunikasi yang memungkinkan orang-orang tinggal dalam suatu masyarakat di suatu lingkungan geografis tertentu pada suatu tingkat perkembangan teknis tertentu dan pada suatu saat tertentu. Budaya juga berkaitan dengan sifat-sifat dari objek-objek materi yang memainkan peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Objek- objek seperti rumah, alat dan mesin yang digunakan dalam industri dan pertanian, jenis-jenis transportasi, dan alat-alat perang, menyediakan suatu landasan utama bagi kehidupan sosial. Globalisasi ternyata bukan suatu keniscayaan, setidaknya dalam konteks budaya negara-negara Eropa yang budayanya berdekatan ternyata tetap otonom. Masing-masing menunjukkan kekhasannya, seperti identitas kolektif, bahasa verbal, dan nonverbal mereka. Perbedaan identitas kolektif itu berwujud antara lain oto-stereotip terhadap bangsa lainnya. Contoh stereotip ini misalnya, orang Inggris tidak ramah, orang Amerika ramah tapi bersuara keras, orang Italia emosional, dan orang Jerman kaku. Stereotip akan semakin kuat bila terdapat sejarah peperangan atau pertentangan atau ketidaksetaraan antara kedua kelompok, misalnya yang dialami orang kulit putih dan orang kulit hitam (Mulyana, 2004: 265). 1
  • 2. Dinamika suatu masyarakat dapat dipacu karena adanya pengakuan akan perbedaan. Memang tidak dapat dihindari bahwa dalam beberapa hal perbedaan yang muncul itu tentu dapat saja menimbulkan konflik sosial yang akan mengganggu kestabilan kehidupan masyarakat. Akan tetapi, menurut Coser (1956) (dalam Sairin, 2002) disisi lain konflik yang muncul dari suatu perbedaan akan menumbuhkan dan mendorong dinamika kehidupan masyarakat untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Untuk dapat hadir secara dinamis, suatu kesatuan sosial, membutuhkan sebuah ‗instrumen‘ yang mampu mengikat setiap anggota masyarakat yang berbeda-beda itu dalam sebuah sistem, dan sistem inilah yang kemudian disebut dengan kebudayaan. Berbicara mengenai dinamika budaya jelas harus memahami kebutuhan perubahan budaya dalam kaitannya dengan stabilitas. Misalnya, dalam judul buku "Kebudayaan adalah dinamis", Melville Herskovits :DINAMIKAtranslate2_filestranslate_p.edisi (1948:635. Khusus Budaya Dalam Dynamics, artikel MAK Halliday, Issue Editor.htm) menyatakan: Dinamika adalah konstan dalam kebudayaan manusia. Akan tetapi, selalu harus mempelajari stabilitas latar belakang budaya. Meskipun perubahan mungkin tampak jauh sampai ke anggota masyarakat di mana mereka berada, mereka jarang mempengaruhi bagian yang relatif kecil dari keseluruhan budaya di tempat di mana orang-orang tersebut hidup. Itu masalah dinamika budaya sehingga terlihat untuk mengambil yang positif dan pada saat yang sama waktu aspek negatif. Perubahan, yaitu, harus selalu dipertimbangkan dalam kaitannya dengan penolakan terhadap perubahan. Budaya dan komunikasi tidak dapat dipisahkan oleh karena budaya tidak hanya menentukan siapa bicara dengan siapa, tentang apa, dan bagaimana orang menyandi pesan, makna yang ia miliki untuk pesan, dan kondisi-kondisinya untuk mengirim, memperhatikan dan menafsirkan pesan. Sebenarnya seluruh perbendaharaan perilaku manusia sangat bergantung pada budaya tempat dibesarkan. Konsekuensinya, budaya merupakan landasan komunikasi. Bila budaya beraneka ragam, maka beraneka ragam pula praktik-praktik komunikasi. Hal-hal yang sejauh ini dibicarakan tentang komunikasi, berkaitan dengan komunikasi antarbudaya. Fungsi-fungsi dan hubungan-hubungan antara komponenkomponen komunikasi juga berkenaan dengan komunikasi antarbudaya. Namun apa yang 2
  • 3. terutama menandai komunikasi antarbudaya adalah bahwa sumber dan penerimaannya berasal dari budaya yang berbeda. Ciri ini saja memadai untuk mengidentifikasi suatu bentuk interaksi komunikatif yang unik yang harus memperhitungkan peranan dan fungsi budaya dalam proses komunikasi. Komunikasi antarbudaya terjadi bila produsen pesan adalah anggota suatu budaya dan penerima pesannya adalah anggota suatu budaya lainnya (Dedi Mulyana dan Jalaludin Rakhmat, 2005:20). Dengan memahami berbagai perangkat nilai yang dianut bangsa lain dan perwujudannya dalam praktek komunikasi, masyarakat menjadi peka terhadap perbedaan budaya, untuk mempersiapkan pesan-pesan (komunikasi), dan mengantisipasi bagaimana orang-orang asing menanggapi pesan dan perilaku kita dalam era global, dan bagaimana masyarakat itu sendiri memberikan respons yang layak kepada mereka. Namun, komunikasi multicultural ini, tidak selalu berjalan baik apa adanya akibat perbedaan budaya tersebut. Untuk itu, penulis hendak menjabarkan komunikasi multicultural yang mendatangkan sebuah konflik dan penyelesaiannya, serta komunikasi multicultural pada budaya Australia. 1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang akan dibahas adalah : 1. Bagaimana definisis komunikasi multicultural ? 2. Bagaimana cara penyelesaian konflik multicultural ? 3. Bagaimana kesalahpahaman antar budaya ? 4. Bagaimana budaya Australia sendiri ? 1.3 Manfaat Adapun manfaat dari pembuatan makalah ini, sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya dan dapat dijadikan sebagai referensi terkait komunikasi Lintas Budaya. 3
  • 4. BAB II PEMBAHASAN Dalam suatu masyarakat pastinya akan menemukan banyak kelompok masyarakat yang memiliki karakteristik berbeda – beda. Perbedaan karakteristik itu berkenaan dengan tingkat dif rensiasi danm stratifikasi social. Masyarakat seperti ini disebut sebagai masyarakat multikultural. Masyarakat multikultural sering juga disebut masyarakat majemuk. Beberapa ahli memberikan definisi tersendiri mengenai masyarakat multikultural. Diantaranya adalah : Menurut Furnivall (1949) : Masyarakat multikultural merupakan masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih komunitas (kelompok) yang secara kultural dan ekonomi terpisah serta memiliki struktur kelembagaan yang berbeda satu sama lain. Menurut ilmuan ini, berdasarkan konfigurasi dan komunitas etnik dibedakan menjadi empat kategori sebagai berikut : 1. Masyarakat majemuk dengan kompetisi seimbang Merupakan masyarakat majemuk yang terdiri atas sejumlah komunitas atau etnik yang mempunyai kekuatan kompetitif kurang lebih seimbang. Koalisi lintas etnik sangat diperlukan untuk pembentukan suatu masyarakat yang stabil. 2. Masyarakat majemuk dengan mayoritas dominan Merupakan masyarakat majemuk yang terdiri atas sejumlah komunitas etnik dengan kekuatan kompetitif lebih besar daipada kelompok lainnya. Atau, suatu kelompok etnis mayoritas mendominasi kompetisi politik atau ekonomi sehingga posisi kelompok – kelompok yang lain menjadi kecil. 3. Masyarakat majemuk dengan minoritas dominan Merupakan suatu masyarakat dimana satu kelompok etnik minoritas mempunyai keunggulan kompetitif yang luas sehingga mendominasi kehidupan politik atau ekonomi masyarakat. 4
  • 5. 4. Masyarakat majemuk dengan fregmentasi Merupakan masyarakat yang terdiri atas sejumlah kelompok etnik, tetapi semuanya dalam jumlah yang kecil sehingga tidak ada satu kelompok pun yang mempunyai posisi politik atau ekonomi yang dominan. Masyarakat demikian ini sangat stabil tetapi masih mempunyai potensi konflik karena rendahnya kemampuan pembangunan koalisi. Menurut Dr. Nasikun : Masyarakat majemuk merupakan suatu masyarakat yang menganut berbagai sistem nilai yang dianut oleh berbagai kesatuan sokial yang menjadi bagian – bagiannya adalah masyarakat dengan loyalitas rendah terhadap masyarakat lainnya sebagai satu kesatuan. Disamping itu kurang memiliki homogenitas kebudayaan atau bahkan kurang memiliki dasar – dasar untuk saling memahami satu sama lain. Menurut Pierre L. Van den Berghe : Ia tidak membuat suatu definisi khusus tentang masyarakat multikultural tetapi menyebutkan beberapa karakteristik yang merupakan sifat – sifat masyarakat multikultural yaitu sebagai berikut : 1. Terjadi segmentasi ke dalam kelompok sub budaya yang saling berbeda. 2. Memiliki struktur yang terbagi ke dalam lembaga non komplementer. 3. Kurang mengembangkan consensus di antara angota terhadap nilai yang bersifat dasar. 4. Secara relatif integrasi sosial tumbuh di atas paksaan dan saling tergantung seara ekonomi. 5. Adanya dominasi politk suatu kelompok atas kelompok lain. Ciri-ciri Masyarakat Multikultural, Fourth National Conference of the Federation of Ethnic Councils of Australia menyatakan bahwa : 5
  • 6. 1. Adanya variasi dalam perbedayaan budaya 2. Kebebasan dalam menjalankan perbedaan beragama 3. Bahasa dan adat social yang berbeda 4. Adanya kepedulian dalam berbagai nilai 5. Semua kelompok etnik menekankan toleransi budaya, bahasa dan agama meskipun berbeda antara satu dengan yang lainnya agar mereka tidak kehilangan identitas. Jadi, Masyarakat multikultural :  Masyarakat tersebut yang terdiri dari berbagai budaya yang menyatu dalam suatu wilayah.  Interaksi aktif di antara masyarakat dan budaya yg plural terjadi dalam kehidupan sehari-hari.  Berbagai unsur yang ada dalam masyarakat dipandang dan ditempatkan dalam kedudukan yang sejajar dan setara, kebebasan dalam menjalankan perbedaan itu, tetapi tetap menegakkan toleransi terhadap sesama.  Dengan demikian tercipta keadilan di antara berbagai unsur/ budaya yang berbeda itu. Komunikasi Multikultural adalah : komunikasi yang terjadi apabila sebuah pesan (message) yang harus dimengerti dihasilkan oleh anggota dari budaya tertentu untuk konsumsi anggota dari budaya yang lain (Samovar & Porter, 1994, p. 19). Menurut Hamid Mowlana menyebutkan komunikasi multikultural sebagai human flow across national boundaries. Misalnya; dalam keterlibatan suatu konferensi internasional dimana bangsa-bangsa dari berbagai negara berkumpul dan berkomunikasi satu sama lain. Komunikasi antarbudaya selalu mengacu pada proses komunikasi antara anggota komunitas yang berbeda budaya (contoh negosiasi bisnis antara seorang importer Australia dengan eksporter Indonesia). Secara ringkas, dalam komunikasi antar budaya, terdapat derajat perbedaan antara individu yang diturunkan dari faktor-faktor kelompok budaya tertentu seperti keyakinan, nilai-nilai, norma-norma, dan naskah interaksi, dalam istilah komunikasi antar kelompok, ini merupakan tingkat perbedaan 6
  • 7. yang ada pada kelompok-kelompok secara umum (seperti. etnisitas, gender, dan kelas sosial). Menurut Sitaram (1970), komunikasi multicultural adalah sebuah seni untuk memahami dan saling pengertian antara khalayak yang berbeda kebudayaan. Jadi, komunikasi multicultural adalah komunikasi yang terjadi antara masyarakat yang memiliki perbedaan budaya dimana dituntut saling memahami dan mengerti antara masyarakat yang berbeda kebudayaan tersebut. Unsur-Unsur Proses Komunikasi Antarbudaya Unsur pertama dalam proses komunikasi antarbudaya adalah komunikator. Komunikator dalam komunikasi antarbudaya merupakan pihak yang mengawali proses pengiriman pesan terhadap komunikan. Baik komunikator maupun komunikan ditentukan oleh faktor-faktor makro seperti penggunaan bahasa minoritas dan pengelolaan etnis, pandangan tentang pentingnya sebuah percakapan dalam konteks budaya, orientasi terhadap konsep individualitas dan kolektivitas dari suatu masyarakat, orientasi terhadap ruang dan waktu. Sedangkan faktor mikronya adalah komunikasi dalam konteks yang segera, masalah subjektivitas dan objektivitas dalam komunikasi antarbudaya, kebiasaan percakapan dalam bentuk dialek dan aksen, dan nilai serta sikap yang menjadi identitas sebuah etnik (Liliweri, 2004: 25-26). Unsur kedua dalam proses komunikasi antarbudaya adalah komunikan. Komunikan merupakan penerima pesan yang disampaikan oleh komunikator. Dalam komunikasi antarbudaya, komunikan merupakan seorang yang berbeda latar belakang dengan komunikator. Tujuan komunikasi yang diharapkan ketika komunikan menerima pesan dari komunikator adalah memperhatikan dan menerima secara menyeluruh. Ketika komunikan memperhatikan dan memahami isi pesan, tergantung oleh tiga bentuk pemahaman, yaitu kognitif, afektif dan overt action. Kognitif yaitu penerimaan pesan oleh komunikan sebagai sesuatu yang benar, kemudian afektif merupakan kepercayaan komunikan bahwa pesan tidak hanya benar namun baik dan disukai, sedangkan overt action merupakan tindakan yang nyata, yaitu kepercayaan terhadap pesan yang benar dan baik sehingga mendorong suatu tindakan yang tepat (Liliweri, 2004:26-27). 7
  • 8. Unsur yang ketiga adalah pesan atau simbol. Pesan berisi pikiran, ide atau gagasan, dan perasaan yang berbentuk simbol. Simbol merupakan sesuatu yang digunakan untuk mewakili maksud tertentu seperti kata-kata verbal dan simbol nonverbal. Pesan memiliki dua aspek utama, yaitu content (isi) dan treatment (perlakuan). Pilihan terhadap isi dan perlakuan terhadap pesan tergantung dari keterampilan komunikasi, sikap, tingkat pengetahuan, posisi dalam sistem sosial dan kebudayaan (Liliweri, 2004: 27-28). Unsur keempat yaitu media. Dalam proses komunikasi antarbudaya, media merupakan saluran yang dilalui oleh pesan atau simbol. Terdapat dua tipe saluran yang disepakati para ilmuwan sosial, yaitu sory channel, yakni saluran yang memindahkan pesan sehingga akan ditangkap oleh lima indera manusia. Lima saluran dalam channel ini yaitu cahaya, bunyi, tangan, hidung dan lidah. Saluran kedua yaitu institutionalized channel yaitu saluran yang sudah sangat dikenal manusia seperti percakapan tatap muka, material percetakan dan media elektronik. Para ilmuwan sosial menyimpulkan bahwa komunikan akan lebih menyukai pesan yang disampaikan melalui kombinasi dua atau lebuh saluran sensoris (Liliweri, 2004:2829). Unsur proses komunikasi antarbudaya yang kelima adalah efek atau umpan balik. Tujuan manusia berkomunikasi adalah agar tujuan dan fungsi komunikasi dapat tercapai. Tujuan dan fungsi komunikasi antarbudaya, antara lain memberikan informasi, menerangkan tentang sesuatu, memberikan hiburan dan mengubah sikap atau perilaku komunikan. Didalam proses tersebut, diharapkan adanya reaksi atau tanggapan dari komunikan dan hal inilah yang disebut umpan balik. Tanpa adanya umpan balik terhadap pesan-pesan dalam proses komunikasi antarbudaya, maka komunikator dan komunikan sulit untuk memahami pikiran dan ide atau gagasan yang terkandung didalam pesan yang disampaikan. Unsur keenam dalam proses komunikasi antarbudaya adalah suasana. Suasana merupakan salah satu dari 3 faktor penting (waktu, tempat dan suasana) didalam komunikasi antarbudaya (Liliweri, 2004:29-30). 8
  • 9. Unsur ketujuh dalam proses komunikasi antarbudaya adalah gangguan. Gangguan didalam komunikasi antarbudaya merupakan segala sesuatu yang menghambat laju pesan yang ditukar antara komunikator dan komunikan dan dapat juga mengurangi makna pesan antarbudaya. Gangguan tersebut menghambat penerimaan pesan dan sumber pesan. Gangguan yang berasal dari komunikator bersumber akibat perbedaan status sosial dan budaya, latar belakang pendidikan dan keterampilan berkomunikasi. Gangguan yang berasal dari pesan disebabkan oleh perbedaan pemberian makna pesan yang disampaikan secara verbal dan perbedaan tafsir atas pesan non verbal. Sedangkan gangguan yang berasal dari media, yaitu karena kesalahan pemilihan media yang tidak sesuai dengan konteks komunikasi sehingga kurang mendukung komunikasi antarbudaya. De Vito (1997) menggolongkan tiga macam gangguan, yaitu fisik, psikologis dan semantik. Gangguan fisik berupa interfensi dengan transmisi fisik isyarat atau pesan lain, gangguan psikologis berupa interfensi kognitif atau mental, sedangkan gangguan semantik berupa pembicara dan pendengar memiliki arti yang berlainan (Liliweri, 2004:30-31). Dari unsur komunikasi ketujuh, apabila gangguan tersebut terjadi dapat memberikan konflik dapat menjadikan sebuah kesalahpahaman antar budaya. Konflik Multikultural Heteregonis budaya sering kali diikuti dengan perbedaan tata bahasa, symbol dan perilaku masyarakat yanga di dalamnya. Banyak orang yang salah menginterpretasi perbedaan kultur dan heterogenitas budaya tersebut sehingga seringkali hal itu menjadi pemicu berbagai konflik sosial sekaligus menjadi penghalang terjadinya interaksihamonis antar masyarakat. Ada pemikiran karena heterogenis melahirkan konflik lalu harus dihilangkan dengan cara penyeragaman dan penyatuan berbagai kultur. Justru upaya penyeragaman dan penyatuan bukanlah solusi untuk jangka waktu yang panjang. Sebaliknya, hal itu justru akan mengundang perlawanan dari masyarakat yang tersubordinatkan. Masalah yang Timbul Akibat Adanya Masyarakat Multikultural a. Konflik 9
  • 10. Konflik adalah pertentangan antara dua pihak atau lebih, yang dapat terjadi antarindividu, antarkelompok kecil, bahkan antarbangsa dan negara (Sarlito W. Sarwono, 1999). Merupakan bentuk pertentangan, ketidaksepakatan, ketidakcocokan antara dua orang atau lebih, antar kelompok orang, yang biasanya ditadai oleh kekerasan fisik (Wikipedia, 2007) Persepsi mengenai perbedaan kepentingan (Pruitt dan Robin,2004) Pembagian Konflik : Berdasarkan tingkatannya 1) Tingkat ideologi atau gagasan 2) Tingkat politik Berdasarkan jenisnya 1) Rasial 2) Antar suku bangsa 3) Antar agama. b. Integrasi Berasal dari kata ―integration‖ yang berarti kesempurnaan, atau keseluruhan. Maurice Duverger mendefinisikan sebagai dibangunnya interdependensi (kesalingtergantungan) yang lebih rapat antara anggota-anggota dalam masyarakat. c. Disintegrasi Disebut juga disorganisasi yaitu suatu keadaan di mana tidak ada keserasian pada bagian-bagian dari suatu kesatuan. Misal : Kasus GAM, RMS, Papua dan lain-lain. Gejala awal disintegrasi tidak ada persamaan persepsi, norma tidak berfungsi dengan baik, terjadi pertentangan antar norma, pemberian sanksi tidak konsekuen, tindakan masyarakat tidak sesuai dengan norma. Terjadinya proses disosiatif; persaingan, pertentangan, kontravensi. d. Reintegrasi Atau ―reorganisasi‖ yaitu suatu proses pembentukan norma-norma dan nilai-nilai baru agar serasi dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang telah mengalami perubahan. 10
  • 11. Alternatif Pemecahan Masalah/ Penyelesaian Konflik yang Ditimbulkan Oleh Masyarakat Multikultural a. Asimilasi Proses di mana seseorang meninggalkan tradisi budaya mereka sendiri untuk menjadi dari bagian dari budaya yang berbeda. Dengan demikian kelompok etnis yang berbeda secara bertahap dapat mengadopsi budaya dan nilai-nilai yang ada dalam kelompok besar, sehingga setelah beberapa generasi akan menjadi bagian dari masyarakat tersebut b. Self-regregation Suatu kelompok etnis mengasingkan diri dari dari kebudayaan mayoritas, sehingga interaksi antar kelompok sedikit sekali, atau tidak terjadi. Sehingga potensi konflik menjadi kecil c. Integrasi Merupakan keadaan ketika kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan bersikap konformistis, terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat, tetapi dengan tetap mempertahankan kebudayaan mereka sendiri d. Pluralisme Suatu masyarakat di mana kelompok-kelompok sub ordinat tidak harus mengorbankan gaya hidup dan tradisi mereka, bahkan kebudayaan kelompokkelompok tersebut memiliki pengaruh terhadap kebudayaan masyarakat secara keseluruhan STRATEGI MENGHADAPI KONFLIK Menurut Pruit dan Robin, strategi menghadapi konflik adalah sebagai berikut :  Contending : cara ini adalah cara pemecahan masalah secara WIN – LOSE SOLUTION, yaitu dengan menyelesaikan masalah tanpa memperdulikan kepentingan pihak lain.  Problem Solving : yaitu menyelesaikan masalah kepentingannya sendiri dan pihak lain. Individu akan dengan memperdulikan berinisiatif melakukan pemecahan masalah dengan negosiasi untuk mengatasi konflik. Solusi diarahkan pada agar kedua pihak dapat sepenuhnya mencapai tujuan dan mengatasi ketegangan dan perasaan negatif antara kedua pihak. Motivasi yang berkembang adalah untuk berkolaborasi. 11
  • 12.  Yielding: yaitu dengan mengalah, menurunkan aspirasinya sendiri dan bersedia menerima ‗kurang‘ dari yang sebenarnya diinginkan. Motivasi yang berkembang adalah keinginan untuk menyerah.  Inaction : yaitu dengan diam, tidak melakukan apapun. Masing-masing pihak saling menunggu tindakan pihak lain.  Withdrawing: yaitu dengan menarik diri, memilih meninggalkan situasi konflik, baik secara fisik maupun psikologis. Resolusi konflik merupakan suatu proses untuk mengatasi perselisihan, konflik. Metode Resolusi menurut Sarwono (1999): • Kontak: hubungan langsung • Komunikasi: – Bargaining: tawar menawar – Mediasi: mediator, win-lose menjadi win-win – Arbitrasi: pihak ketiga tidak hanya menawarkan, jika perlu memaksa – Konsiliasi: mundur, peredaan ketegangan KESALAHPAHAMAN ANTAR BUDAYA Komunikasi lintas budaya merupakan komunikasi antar orang dari budaya yang berbeda. Termasuk dalam budaya adalah adat, kepercayaan, seni, cara pandang dan cara hidup serta cara berorganisasi sosial. Jadi dalam komunikasi lintas budaya orang akan berhadapan dengan persepsi, sikap dan interpretasi yang berbeda tentang segala sesuatu. Orang bisa sama-sama tersinggung atas apa yang diucapkan dan dilakukan lawan bicaranya. Setiap orang punya gaya berkomunikasi berbeda, tapi budaya memiliki ciri gaya yang sama pada para individunya. Kita mungkin tidak menyadari akan pengaruh budaya pada perilaku kita. Kita mungkin juga tidak mengetahui bahwa orang lain juga dipengaruhi budaya mereka. Kesalahpahaman tentang perbedaan budaya akan sangat mungkin menimbulkan perasaan negatif dan kebingungan. Kesalahpahaman yang serius juga akan menimbulkan masalah dan sikap negatif terhadap orang asing dan sebaliknya. 12
  • 13. Masalah dalam komunikasi lintas budaya muncul bila orang tidak menyadari adanya perbedaan nilai-nilai dan kepercayaan. Seringkali masing-masing individu dari suatu budaya mengira bahwa apa yang mereka percaya adalah benar, karena mereka dibesarkan dengan cara berpikir bahwa cara mereka adalah yang terbaik dan hal ini mungkin bisa mengakibatkan sikap dan penilaian yang negatif terhadap budaya lain. Terlebih bila sikap membesarkan diri sendiri disertai dengan sikap merendahkan orang lain. Sikap seperti ini akan menyebabkan orang berpandangan negatif terhadap orang dari budaya lain. Kadang-kadang juga kesalahpahaman muncul karena stereotip yang telah terpateri atas orang/ budaya lain. Stereotip sering membentuk persepsi tertentu. Stereotip sering terbangun dari lelucon, buku-buku bacaan atau film. Namun yang lebih sering terjadi stereotip justru terbentuk karena orang tidak tahu apapun dan hanya mendengar dari orang yang juga tidak tahu dengan betul, jadi hanya berdasar asumsi atau persepsi. Sikap berpijak pada stereotip akan menghalangi kita dari pemahaman bahwa setiap orang adalah individu yang memiliki sifat/ ciri-ciri yang unik. Stereotip negatif akan menyebabkan kecurigaan, sikap tidak toleran atau kebencian terhadap orang dari budaya lain. Memperbanyak hubungan personal dengan orang-orang dari agama, budaya, dan ras yang berbeda mungkin menjadi cara yang terbaik untuk mematahkan stereotip dan kecurigaan dan tentu saja kalau orang itu cukup memiliki sikap terbuka tidak dipenuhi rasa kecurigaan yang hanya berdasarkan asumsi dan sebagainya. Jadi, kesalahpahaman yang berakar pada perbedaan budaya terjadi sebagai akibat adanya kesalahan dalam menerjemahkan sikap orang lain, sikap yang terlalu berpusat pada budayanya sendiri saja, memiliki pandangan stereotip dan kecurigaan atas budaya lain. Dengan asumsi orang dari budaya lain juga berniat baik, kesalahpahaman ini bisa dihindari dengan meningkatkan kesadaran dan kepekaan masing-masing atas adanya perbedaan budaya. Pemahaman lintas budaya ini bukan berarti kita menghilangkan identitas budaya kita, tapi kita menyadari adanya pengaruh budaya dalam diri kita sendiri dan hal itu berlaku pula pada orang dari budaya lain. Jadi, secara ringkas kesalahpahaman antar budaya itu : 13
  • 14. a. Sebagian konflik dan peperangan antar bangsa disebabkan karena para pemimpin bangsa yang satu tidak memahami dan menghargai budaya bangsa yang lain. b. Mereka etnosentrik (merasa budaya bangsanya sendiri lebih baik dari budaya bangsa yang lain) dan punya prasangka atau stereotip terhadap bangsa lain. c. Dalam taraf yang rendah konflik antar bangsa merupakan kesalahpahaman antara individu-individu yang berlainan bangsa. d. Sumber konflik atau kesalahpahaman yang lazim terjadi ini antara lain adalah stereotip-stereotip antar bangsa. e. Stereotip kepada bangsa Amerika adalah mereka penganut cinta bebas, seks bebas, materialistik, inidividualistik, dan sebagainya f. Sebenarnya tidak semua orang Amerika begitu, karena di Amerika pun ada orang yang tidak menganut seks bebas dll. Culture of Australia Budaya Australia dibangun berdasarkan kisah-kisah battler (orang tertindas yang pantang menyerah), bushranger (pelanggar hukum namun pahlawan moral) dan prajurit gagah berani. Juga tentang para pahlawan olahraga, pahlawan pekerja dan imigran bernyali besar. Dan tentang kesempatan, alam bebas yang maha luas dan sedikit ironi yang sehat. Saat ini, Australia juga menyatakan jati dirinya dengan warisan budaya Aborigin, paduan budaya yang dinamis, ide-ide yang inovatif dan kancah seni yang berkembang pesat. Budaya Aborigin: sebuah tradisi yang kaya dan abadi Dreamtime atau Masa Impian adalah ‗masa sebelum waktu‘ penciptaan dunia yang sakral. Menurut kepercayaan Aborigin, para leluhur roh totem muncul dari bumi dan turun dari langit untuk membangunkan sebuah dunia yang gelap dan sunyi. Mereka menciptakan matahari, bulan dan bintang, membentuk gunung, sungai, pohon dan mata air, lalu berubah menjadi manusia dan hewan. Para leluhur roh ini menghubungkan masa lalu purba dengan masa sekarang dan masa depan melalui segala aspek budaya Aborigin. Seni cadas, kerajinan dan lukisan kulit pohon mengungkap kisah-kisah Masa Impian ini, menandai batas-batas kawasan dan mencatat sejarah, sedangkan lagu-lagu berkisah tentang perjalanan Masa Impian, secara lisan memetakan sumber-sumber air dan tanda-tanda alam yang penting lainnya. Lirik-lirik khusus di dalam lagu ini telah diturunkan nyaris tak berubah dari generasi 14
  • 15. ke generasi selama lebih dari 50.000 tahun, dan sering kali diiringi clapstick atau dentaman rendah dari didgeridoo. Demikian pula, tari-tarian tradisional mengungkap mitos-mitos penciptaan, menampilkan lakon para pahlawan di Masa Impian, dan bahkan kejadiankejadian bersejarah yang baru terjadi. Legenda era kolonial: battler (orang tertindas yang pantang menyerah, bushranger (pelanggar hukum namun pahlawan moral) dan prajurit gagah berani Orang Australia percaya akan persahabatan, kesempatan dan memiliki kecenderungan untuk membela pihak yang lemah atau ‘battler‘. Nilai-nilai ini berakar sejak era para narapidana dan kolonialis awal yang harus berjuang menghadapi negeri asing yang keras, dan terkadang pemerintah yang sewenang-wenang. Bushranger terkondang di Australia adalah Ned Kelly, yang memprotes kemiskinan dan ketidakadilan sistem kelas Inggris yang turut dibawa kemari bersama dengan para narapidana. Perjuangan pahlawan yang memiliki noda hitam ini, demi ‗keadilan dan kebebasan‘ dan ‗rakyat tak bersalah‘, telah menjadi bagian dari budaya nasional dan menginspirasi berbagai buku dan film yang tak terhitung jumlahnya. Dalam kisah dan lagu-lagu, para penggali tambang-tambang emas di pertengahan tahun 1850-an digambarkan sebagai pahlawan, pemberontak sekaligus pelanggar hukum romantis yang mendambakan demokrasi. Dalam pemberontakan berdarah Eureka Stockade 1854, para penambang Victoria bangkit melawan sistem perizinan yang otoriter, dan menjadi simbol kemenangan kesetaraan sosial. Kemudian, selama Perang Dunia I, para prajurit ANZAC yang gagah berani dan bertempur di Gallipoli memberi arti baru bagi istilah ―tough Aussie‖ atau ―orang Australia yang perkasa‖. Bahasa Inggris Australia: berbicara gaya ‘Strine’ Orang Australia mempunyai bahasa percakapan yang unik, disebut ‗strine‘ oleh ahli bahasa Alastair Morrison (bayangkan mengucapkan ‗Australian‘ dengan mengertakkan gigi Anda agar tidak kemasukan lalat) di tahun 1966. Bahasa ini menggabungkan gaya bahasa Cockney dan Irlandia para narapidana awal di masa lampau dengan kata-kata dari bahasa Aborigin. Kami sering menyingkat kata lalu menambahkan ‗o‘ atau ‗ie‘ di akhiran, seperti ‗bring your cossie to the barbie this arvo‘. Kami juga suka membolak-balik sebutan, seperti memanggil orang berambut merah dengan ‗bluey‘, menyebut ‗snowy‘ kepada orang dengan rambut hitam, dan memanggil ‗lofty‘ untuk orang bertubuh pendek. Kami cenderung mendatarkan huruf hidup dan mengakhiri kalimat dengan infleksi yang sedikit naik. 15
  • 16. Pahlawan olahraga: kejayaan hijau dan emas Bukan rahasia lagi bahwa orang Australia tergila-gila dengan olahraga. Dengan lebih dari 120 organisasi olahraga di tingkat nasional dan ribuan organisasi di tingkat negara bagian, regional dan lokal, kira-kira enam setengah juta orang di Australia merupakan peserta olahraga yang terdaftar. Suatu jumlah yang besar untuk populasi yang hanya berjumlah 21 juta lebih sedikit! Olahraga yang paling banyak ditonton di Australia adalah Australian Rules Football (AFL) dengan tendangan tinggi dan loncatan baletiknya, sedangkan adu kekuatan otot dan taktik ganjal dari National Rugby League (NRL) mendominasi New South Wales dan Queensland. Tim nasional Rugby Union Australia yang bernama Wallabies bermain di kancah internasional dan di Bledisloe Cup, yaitu bagian dari turnamen Tiga Negara bersama Afrika Selatan. Australia juga merupakan negeri para perenang, dan koleksi medali Olimpiade membuktikan prestasi kami di kolam renang. Sepanjang musim panas kami menyaksikan tim kriket Australia tampil dalam seragam putihnya, dan di bulan Januari, kami mencari saluran yang menayangkan pertandingan tenis Australia Terbuka. Turnamen ini diselenggarakan di Melbourne dan menarik orang datang ke Australia lebih dari acara olahraga lain mana pun juga. Selain itu, sepak bola juga semakin populer, dan Australia menarik para peselancar kelas dunia untuk bertanding di Bells Beach Surf Classic, sedangkan di hari Boxing Day para penonton berkumpul untuk menyaksikan kapal-kapal meluncur keluar dari Sydney Harbour untuk pertandingan balap Sydney to Hobart Yacht Race. Di hari Selasa pertama bulan November, negeri ini berhenti untuk menyaksikan balap kuda terkenal Melbourne Cup sedangkan di bulan Maret mata penonton akan terpaku di Melbourne untuk menyaksikan Formula One Grand Prix. Daftar olahraga yang kami sukai seakan tidak ada akhirnya, dan jika Anda merasa ragu akan peraturannya, tanyakan saja pada salah seorang pemain yang penuh antuasias. Sebuah gaya hidup alam bebas: pantai dan barbekyu Lebih dari 80 persen penduduk Australia tinggal di dalam jarak 50 kilometer dari pantai, sehingga pantai telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup santai kami yang terkenal. Mulai dari klub-klub selancar Sabtu pagi yang melatih para peselancar muda hingga bermain kriket pantai setelah menikmati panggangan barbekyu, sungguh kami menyukai pantai-pantai berpasir kami. Kami suka berdesak-desakan mencari tempat di pantai dekat kota yang penuh sesak, rileks di berbagai tempat wisata yang populer, dan berkendara untuk mencari pantai-pantai rahasia terpencil di taman-taman nasional. Kami pergi ke pantai untuk menikmati matahari dan berselancar, atau untuk berlayar, parasailing, 16
  • 17. memancing, snorkeling, menyelam atau sekedar berleha-leha di pantai. Di sanalah kami bersosialisasi dan bermain olahraga, rileks dan menikmati romantika. Dan, di sanalah juga lokasi untuk berpesta. Di malam tahun baru, para pengunjung berdansa di pantai dan menonton kembang api di pantai Manly dan Bondi di Sydney, dan Glenelg di Adelaide. Banyak pantai yang menjadi tempat upacara kewarganegaraan di Hari Australia, dan di hari Natal, sekitar 40.000 pengunjung internasional berkumpul di Pantai Bondi dengan mengenakan topi Santa dan baju renang. Pantai paling terkenal di Australia: Bondi dan Manly di Sydney, St. Kilda di Melbourne, Surfers Paradise di Gold Coast Queensland , Cottesloe di Perth dan Glenelg di Adelaide, menarik warga setempat sekaligus para wisatawan internasional. Paham multibudaya: keragaman cita rasa, festival dan iman Sejak 1945, lebih dari enam juta orang dari seluruh penjuru dunia datang ke Australia untuk menetap. Saat ini, lebih dari 20 persen penduduk Australia lahir di luar negeri dan lebih dari 40 persen memiliki asal budaya campuran. Di negeri ini, kami berbicara dalam 226 bahasa – setelah bahasa Inggris, bahasa lain yang paling populer adalah bahasa Italia, Yunani, Kanton dan Arab. Keragaman budaya kami yang kaya tercermin pula dalam makanan kami, yang menyerap sebagian besar cita rasa dunia dan dengan cantik menggabungkan beberapa di antaranya. Anda akan menemukan cita rasa Eropa, rempah penggugah selera dari Asia, Afrika dan Timur Tengah, dan makanan ala hutan semak (bush tucker) dari pedalaman kami ditawarkan di mana-mana, mulai dari kedai-kedai pinggir jalan sampai ke restoran bintang lima. Anda dapat membungkus makanan Thai, bersantap pasta Italia yang sedap, menikmati tapas di kawasan Spanyol di kota kami, atau berpesta dimsum di Chinatown. Anda juga dapat merangkul perpaduan budaya kami di berbagai festival yang meriah. Saksikanlah samba dan capoeira di festival Amerika Selatan khas Brazil di Bondi, turut menari di parade liong selama Tahun Baru Imlek, atau menyusuri jalan-jalan yang dihias menjadi piazza cantik selama perayaan tahunan khas Italia. Sebagai suatu bangsa, kami mengakui kepercayaan agama yang beraneka warna, dan di sini Anda akan menemui gereja Katolik dan Anglikan, kuil Hindu, Sikh dan kelenteng Buddha, masjid, dan sinagoga di jalan-jalan kami. Inovasi Australia: dari Hills Hoist sampai Penisilin Geografi yang unik dan isolasi relatifnya menjadikan Australia suatu tanah subur untuk ideide baru. Di tahun 1879, orang Australia mengembangkan cara agar es dapat diproduksi secara artifisial, sehingga kami dapat mengekspor daging ke Inggris dalam kapal-kapal 17
  • 18. berlemari es. Di tahun 1906, dirancang sebuah gulungan tali penyelamat untuk selancar agar para petugas penyelamat dapat mencapai perenang yang mendapat musibah dengan tali terikat ke jaket pelampung mereka. Di tahun 1929, Alfred Traeger membuat sebuah radio bertenaga pedal sebagai komunikasi untuk Royal Flying Doctor Service. Orang Australia juga berada di balik penemuan yang lebih bersifat sehari-hari, seperti bloknot (1902), aspirin (1915), alat pacu jantung (1926), penisilin (1940), gantungan pakaian Hills Hoist (1946), jarum suntik plastik sekali pakai (1949), tong minuman anggur (1965), telinga bionik (1978), penyiram toilet dua bilasan (1980), teknologi anti uang palsu (1992) dan lensa kontak jangka panjang (1999). Jauh sebelum kolonisasi Eropa, kaum Aborigin sudah memimpin dunia. Mereka menciptakan bumerang yang aerodinamik, dan pelempar tombak yang disebut woomera. Mereka juga merupakan masyarakat pertama yang mengasah sudut pada alat pemotong batu, dan yang pertama menggunakan alat batu untuk menggiling biji-bijian, suatu perkakas seharihari yang baru dikembangkan jauh di kemudian hari oleh masyarakat lain. Minat tinggi akan budaya: teater, film, buku dan seni visual Mulai dari teater sampai sastra, orang Australia memiliki cinta yang mendalam terhadap dunia seni. Kami suka menonton film, dan tingkat kehadiran kami di galeri dan seni pertunjukan hampir dua kali lipat tingkat kehadiran di semua jenis rugbi. Kota-kota kami menjadi tuan rumah berbagai festival budaya yang semarak, dan menawarkan berbagai pertunjukan musik, teater dan tari serta pameran seni setiap hari dalam seminggu. Saksikanlah pertunjukan tari Aborigin tradisional oleh Bangarra Dance Theatre, larutkan diri dalam festival musik internasional WOMADelaide di Adelaide, dan puaskan hati dalam teater, balet, opera dan lukisan di pusat budaya Brisbane yang besar di South Bank. Di kotakota yang lebih kecil, Anda dapat menyaksikan berbagai pertunjukan dari para musisi lokal dan melihat seni dan kerajinan buatan tangan. Nilai-nilai bersama Kekhasan Australia masa kini tidak hanya kemajemukan budaya penduduknya, namun hingga tahap dimana mereka dipersatukan oleh komitmen yang mendasar dan menyatu terhadap Australia. 18
  • 19. Dalam kerangka hukum Australia, seluruh penduduk Australia berhak untuk mengungkapkan kebudayaan dan kepercayaan dan untuk ambil bagian dengan bebas dalam kehidupan nasional Australia. Pada saat yang sama, setiap orang diharapkan untuk menjunjung prinsipprinsip dan nilai-nilai bersama yang menyokong cara hidup Australia. Hal ini termasuk: menghormati kesetaraan nilai, kehormatan dan kebebasan individu kebebasan berbicara dan berserikat kebebasan beragama dan pemerintah sekular dukungan atas demokrasi parlementer dan negara hukum kesetaraan di bawah hukum kesetaraan pria dan wanita kesetaraan kesempatan kedamaian semangat egalitarianisme yang mencakup toleransi, saling hormat-menghormati dan rasa kasih sayang kepada mereka yang sedang dalam kesulitan. Australia juga memiliki keyakinan teguh bahwa tak seorang pun boleh dirugikan hanya karena perbedaan negeri kelahiran, warisan budaya, bahasa, jender atau agama mereka. Masakan nasional? Australia adalah salah satu negara dengan masakan paling majemuk di dunia, berkat pengaruh migran Asia dan Eropa, penduduk yang senang mencoba masakan inovatif dan mempunyai akses ke pasokan bahan pangan yang segar and bermutu tinggi dalam jumlah yang berlimpah. Australia, salah satu bangsa pertanian yang paling efisien di dunia, menghasilkan sayur, buah, biji-bijian, daging, ayam, pangan laut, keju dan produk susu lain yang bermutu tinggi. Selain itu, banyak industri baru telah didirikan untuk mengakomodasi meningkatnya keinginan Australia untuk mencicipi makanan eksotis, termasuk sayursayuran Asia, pear, leci, buah zaitun dan jamu-jamuan. Produk budi daya air seperti salmon Atlantik hasil peternakan kolam dan tuna sirip biru selatan kini tersedia demikian juga sejumlah hasil laut yang berasal dari samudera yang mengelilingi Australia, termasuk Moreton Bay bugs (ikan kerangkerangan), udang ‗pisang‘, ikan barramundi dan tiram. 19
  • 20. Penduduk Australia menggemari bermacammacam makanan di restoran dan rumah yang mencerminkan kemajemukan budaya negerinya. Eropa Selatan bersatu dengan Asia dan Pasifik untuk membuahkan cita rasa baru. Restoran Itali, Cina, Indonesia, Jepang, Yunani, Thailand, Malaysia, Perancis dan Vietnam sudah lumrah, khususnya di kota-kota besar. Cita rasa Timur Tengah juga dengan cepat muncul, dengan cita rasa Maroko dan Lebanon yang dimasak dengan bahan-bahan lokal pada masakan arus utama dengan keberhasilan yang nyata. Masakan tradisional Penduduk Aborijin bush tucker juga semakin lumrah, khususnya di restoran-restoran di Australia Utara, di mana kangguru, kerbau, buaya dan emu sering ditawarkan pada daftar menu. Menurut sejarah, tidak pernah ada masakan khas Australia. Yang ada adalah masakan Australia berevolusi dengan lapis-lapis cita rasa yang berbeda di mana setiap kebudayaan baru memberi tambahan. Warga Australia di luar negeri yang rindu kampung halaman kadang-kadang kangen dengan makanan Australia seperti lamingtons (kue kotak berpori yang dicelupkan ke dalam coklat dan kelapa), pavlova (adonan gurun yang diberinama penari balet Rusia Anna Pavlova) dan vegemite (olesan yang terbuat dari produk ragi). Sektor minuman anggur Australia diakui secara internasional dengan produksi berbagai jenis minuman anggur bermutu tinggi dan bervariasi untuk disesuaikan dengan segala masakan, dari full-bodied reds dan deep fruity whites hingga sparkling, dessert dan fortified wines. Taat hukum Perilaku masyarakat di Australia diatur oleh gabungan hukum resmi dan kebiasaan sosial tidak resmi. Seluruh penduduk di Australia harus mematuhi hukum atau berhadapan dengan kemungkinan hukuman pidana atau aksi perdata. Penduduk secara umum juga diharapkan untuk mematuhi adat, kebiasaan dan praktik sosial Australia walaupun tidak mengikat secara hukum. 20
  • 21. Pelanggaran pidana serius seperti pembunuhan, penyerangan, penyerangan seksual, pedofilia, kekerasan terhadap orang dan harta benda, perampokan atau pencurian bersenjata, mengemudi kendaraan bermotor yang berbahaya, kepemilikan dan penggunaan obat-obatan terlarang, penipuan dan hubungan seks dengan anak di bawah umur yang telah ditetapkan, yakni 16 di New South Wales namun berbeda-beda dari satu negara bagian ke negara bagian lainnya. Merokok dan mengkonsumsi minuman beralkohol tidak melanggar hukum, namun terdapat banyak pembatasan dalam penggunaan umum. Adalah melanggar hukum bagi siapapun yang menjual atau memasok produk alkohol atau tembakau kepada mereka yang berusia kurang dari 18 tahun. Ada pula hukum yang melarang perlakuan buruk atau menelantarkan binatang, membawa senjata seperti pisau atau senjata api, membuang sampah sembarangan, mengotori atau membuang limbah tanpa izin atau membuat bising yang berlebihan. Di Australia tidak ada hukuman mati. Iklim yang hangat, penduduk yang informal Australia demikian luas sehingga mengalami sebagian besar kondisi iklim, dari musim tropis ke cuaca panas, kering dan salju. Namun, cuaca pada umumnya hangat dan sedang, khususnya di kota-kota pesisir yang besar. Iklim yang relatif sedang ini mendorong warga Australia untuk menghabiskan sebagian besar waktu mereka di luar rumah di pantai, di pedesaan atau di lapangan olah raga baik sebagai penonton maupun sebagai peserta. Warga Australia cenderung suka berkawan dan terbuka. Secara umum relatif informal dalam kehidupan sosialnya dan dalam hubungan mereka dengan kenalan dan rekan kerja mereka. Di tempat kerja dan di antara teman, warga Australia umumnya saling memanggil dengan nama pertama mereka. Namun informalitas ini tidak sampai pada hubungan fisik. Ketika bertemu orang pada pertama kalinya, biasanya saling berjabat tangan dengan tangan sebelah kanan. Orang yang tidak mengenal satu sama lain biasanya tidak mencium atau berpelukan ketika bertemu. Penduduk Australia antri ketika sedang menunggu untuk dilayani di toko, 21
  • 22. bank, kantor pemerintah, bioskop atau di mana pun juga ketika sejumlah orang mencari layanan pada saat yang sama. Penduduk Australia menunggu hingga tiba gilirannya untuk dilayani. Tepat waktu pada rapat dan pertemuan adalah penting. Pakaian Jenis pakaian yang dikenakan mencerminkan kemajemukan masyarakat Australia dan variasi iklim. Tidak ada undang-undang atau peraturan tentang pakaian, namun penduduk Australia diharapkan untuk mengenakan pakaian tertentu ketika bekerja—kebanyakan tempat kerja mempunyai standar pakaian. Di luar kerja, pakaian adalah pilihan pribadi— orang berpakaian dengan pertimbangan kenyamanan, situasi sosial atau musim. Klub, gedung bioskop dan tempat-tempat lain menuntut orang untuk berpakaian rapi, bersih dan mengenakan alas kaki yang sesuai. Australia tidak memiliki pakaian nasional resmi. Perayaan dan hari libur Sebagian besar pekerja di Australia memiliki sekitar 12 hari libur nasional dan negara bagian sepanjang tahun, di samping cuti tahunan mereka. Hari libur ini mencakup: Tahun Baru, pada 1 Januari setiap tahunnya. Waktu yang paling umum bagi penduduk Australia untuk mengambil cuti tahunan mereka adalah antara pertengahan-Desember hingga akhir Januari. Natal dan Paskah, dua tanggal yang paling penting pada kalender Kristen. Natal adalah pada 25 Desember setiap tahun, sementara Paskah dirayakan antara akhir Maret hingga akhir April setiap tahun. Boxing Day, satu hari setelah Natal, juga hari libur umum. Hari Australia, pada 26 Januari, juga hari penduduk Australia merayakan pendirian pemukiman Eropa yang pertama di Australia pada 1788. 22
  • 23. Anzac Day, pada 25 April, adalah hari Korps Angkatan Darat Australia dan Selandia Baru (Anzac) mendarat di Gallipoli di Turki pada 1915 pada Perang Dunia I. Hari ini disisihkan dalam kenangan mereka yang bertempur untuk Australia dan bagi mereka yang gugur di medan perang. Hari ini adalah hari libur umum nasional dan diperingati dengan upacara, meletakkan karangan bunga dan parade militer. Juga ada sejumlah hari libur bukan nasional yang dirayakan di negara bagian atau teritori tertentu (atau dirayakan di seluruh negara bagian, namun pada waktu yang berbedabeda). Ini termasuk Hari Buruh (atau Delapan-Jam) dan hari ulang tahun resmi Ratu Elizabeth. Hari Piala Melbourne, yang berlangsung pada hari Selasa pertama bulan November setiap tahunnya, adalah hari libur umum di Melbourne metropolitan. Piala Melbourne adalah pacuan kuda yang ternama di dunia yang hampir menghentikan seluruh kegiatan di Australia. Selama beberapa menit, sebagian besar penduduk, apakah di tempat kerja, sekolah atau pun rumah, berhenti untuk menonton pacuan tersebut di televisi. Fakta-fakta penting Lebih dari 6,5 juta migran telah bermukim di Australia sejak 1945. Inggris merupakan bahasa nasional namun bahasa-bahasa lain dihargai. Mayoritas penduduk Australia beragama Kristen namun orang bebas memeluk agama yang mereka pilih. Sekitar 88 persen warga Australia menghadiri kegiatan kebudayaan sekurangnya sekali dalam satu tahun. Lebih dari 11 juta warga Australia berusia 15 tahun atau lebih ambil bagian dalam olahraga atau kegiatan fisik lainnya. Australia adalah salah satu negara yang memiliki masakan paling majemuk di dunia namun tidak memiliki masakan nasional. 23
  • 24. DAFTAR PUSTAKA Mulyana, Deddy dan Rakhmat. Jalaluddin. 2000. Komunikasi Antarbudaya. Bandung : Rosdakarya M u l ya n a , D e d d y. 1 9 9 9 . Nuansa-nuansa Komunikasi. Bandung : Rosdakarya. Website : http://www.indonesia.embassy.gov.au/jaktindonesian/penduduk_kebudayaan.html http://www.slideshare.net/amibocahnakal/komunikasi-masyarakat-multikultural http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24729/5/Chapter%20I.pdf 24