urban policy in Indonesia

Loading...

Flash Player 9 (or above) is needed to view presentations.
We have detected that you do not have it on your computer. To install it, go here.

2 comments

Comments 1 - 2 of 2 previous next Post a comment

  • + panj1 panj1 2 weeks ago
    apakah file ini bisa di download???....tq
  • + qiuel qiuel 7 months ago
    sip... bagus...
Post a comment
Embed Video
Edit your comment Cancel

Favorites, Groups & Events

urban policy in Indonesia - Presentation Transcript

  1. KEBIJAKAN PERKOTAAN DI INDONESIA Elkana Catur Hardiansah
  2. DEFINISI PERKOTAAN
    • Penetapan daerah yang disebut perkotaan menurut BPS mempunyai ciri yaitu :
      • Suatu daerah yang penduduknya memiliki kegiatan utama bukan pertanian.
      • Kepadatan penduduk kurang dari 5000 jiwa/km2
      • Memiliki fasilitas umum kurang lebih 8 dari 16 fasilitas seperti SD, SLTP, SMU, Bioskop, Rumah Sakit, Bank, Telephone, Listrik, Pabrik, Pasar dll
  3. Perkotaan Indonesia
    • Terkonsentrasinya Pembangunan Perkotaan di Pulau Jawa  menyebabkan arus urbanisasi ke Jawa, dengan 60% penduduk perkotaan Indonesia berlokasi di Pulau Jawa
    • Kurang terkendalinya Pembangunan Kota-Kota Berskala Besar dan Metropolitan  mengancam tingkat keberlanjutan dan kelayakhunian
    • Tidak seimbangnya kemampuan pelayanan perkotaan, secara kuantitas maupun kualitas, dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang tinggi dan perubahan preferensi yang berkembang akibat peningkatan kegiatan ekonomi dan tingkat kesejahteraan
    • Diperkirakan pada tahun 2025, jumlah penduduk di kawasan perkotaan mencapai 68,26% dari total jumlah penduduk Indonesia
  4. Potret Kesenjangan...
    • 37 kota (9% dari total daerah administratif) menyumbang 40% PDB nasional
    • 14 kota besar (3,4% dari total daerah administratif) menyumbang 30% PDB nasional
    • Secara umum HDI kota > HDI kabupaten
    • Kesenjangan HDI antarprovinsi ada tapi kecil, kesenjangan HDI antarkabupaten/kota dalam provinsi lebih besar
    • Makin jauh dari kota utama (ibukota provinsi) HDI makin kecil
  5.  
  6. TANTANGAN GLOBAL
    • Kebangkitan kota menengah (secondary cities) di berbagai negara sebagai pusat pertumbuhan baru
    • Tuntutan untuk kota Besar dan Metropolitan untuk memperhatikan keberlanjutan dan daya dukung lingkungan
    • Di era desentralisasi, salah satu parameter keberhasilan dari proses ini adalah kemampuan pemerintah daerah dalam meningkatkan kemampuan pelayanan serta meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup penduduk di daerahnya.
    • Kompetisi antar kota dan daerah
  7. Problems
    • Pertumbuhan Perkotaan tidak seimbang ditambah dengan kesenangan pembangunan antar wilayah menimbulkan urbanisasi yang tidak ditunjukkan oleh
      • Meluasnya wilayah perkotaan dan kawasan pinggiran
      • Konurbasi
      • Meningkatnya jumlah desa kota
      • Terjadinya reklasifikasi
    • Dampak negatif
      • Terjadinya eksploitasi berlebihan terhadap SDA di sekitar kota
      • Konversi lahan produktif
      • Menurunnya kualitas lingkungan
      • Menurunnya kualitas pelayanan
      • Kota baru yang tidak mandiri
  8. Arah Pembangunan Perkotaan
    • MENUJU PEMBANGUNAN KOTA YANG LAYAK HUNI (LIVABLE)
    • MENUJU KOTA YANG BERKELANJUTAN (SUSTAINABLE)
    • MENDORONG KOTA YANG MEMILIKI NILAI TAMBAH (VALUABLE) BAGI MASYARAKATNYA
  9. RPJM
  10. 7 URBAN POLICY 2004-2009
    • mendorong percepatan pembangunan kota-kota menengah dan kecil, terutama di luar Pulau Jawa, sehingga dapat menjalankan perannya sebagai motor penggerak pembangunan di wilayah-wilayah pengaruhnya.
    • mendorong peningkatan keterkaitan kegiatan ekonomi di wilayah perkotaan dengan kegiatan ekonomi di wilayah perdesaan secara sinergis.
    • meningkatkan keterkaitan pembangunan antarkota.
    • mengelola pertumbuhan kota-kota besar dan metropolitan dengan memperhatikan prinsip pembangunan yang berkelanjutan.
    • mengelola laju migrasi dari desa ke kota dengan mendorong tumbuhnya kegiatan ekonomi non pertanian di perdesaan.
    • meningkatkan kapasitas pemerintah daerah kabupaten/kota dalam hal pelayanan publik, pengelolaan lingkungan perkotaan, pengembangan kemitraan dengan swasta, dan terutama peningkatan kapasitas fiskal.
    • peningkatan kerja sama antar pemerintah kabupaten/kota, khususnya dalam pembangunan prasarana dan sarana. Semua ini memerlukan adanya keterpaduan dan skala ekonomi tertentu untuk pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup
  11. tantangan…
    • Kesenjangan pertumbuhan antara kota-kota metropolitan dengan kota menengah dan kecil:
      • Memeperlemah keterkaitan antarwilayah  sistem perkotaan nasional
      • Interaksi perdagangan menguntungkan Jawa
    • Kota-kota menghadapi tekanan: penyediaan perumahan, lapangan kerja, pelayanan publik, lingkungan dan kapasitas pembiayaan
    • Peningkatan daya saing kota . :pencapaian agenda global, penarikan investasi, dan lain sebagainya
    • Kebangkitan Kota Menengah (Secondary Cities) Di Berbagai Negara Sebagai Pusat Pertumbuhan Baru
  12. tantangan
    • Pengelolaan Kawasan perkotaan Skala Besar  kelayakhunian dan keberlanjutan, kerjasama antar kota, sharing infrasturucture
    • Belum optimalnya kapasitas aparatur dalam manajemen perkotaan  pembiayaan, kualitas SDM, dan lain-lain
    • Sinkronisasi perencanaan tata ruang kawasan perkotaan  menyesuaikan dengan UU 26 tahun 2007

+ elkana.caturelkana.catur, 2 years ago

custom

2743 views, 0 favs, 0 embeds more stats

Kebijakan perkotaan INdonesia 2004-2009

More info about this document

© All Rights Reserved

Go to text version

  • Total Views 2743
    • 2743 on SlideShare
    • 0 from embeds
  • Comments 2
  • Favorites 0
  • Downloads 0
Most viewed embeds

more

All embeds

less

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate. If needed, use the feedback form to let us know more details.

Cancel
File a copyright complaint
Having problems? Go to our helpdesk?

Categories