Your SlideShare is downloading. ×
Laporan Akhir EKPD 2010 - Kepri - UMRAH
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Saving this for later?

Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime - even offline.

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply

Laporan Akhir EKPD 2010 - Kepri - UMRAH

1,859
views

Published on

Laporan Akhir EKPD 2010 Provinsi Kepulauan Riau oleh Tim Universitas maritim Raja Ali Haji

Laporan Akhir EKPD 2010 Provinsi Kepulauan Riau oleh Tim Universitas maritim Raja Ali Haji

Published in: Education

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,859
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
51
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. i
  • 2. KATA PENGANTAR Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, kami tim EKPD Universitas MaritimRaja Ali Haji (UMRAH) telah dapat menyelesaikan evaluasi kinerja pembangunandi Provinsi Kepulauan Riau untuk tahun 2010. Evaluasi kinerja pembangunanmerupakan instrumen penting di dalam proses pembangunan sebab hanyadengan evaluasi maka kita dapat mengetahui apakah berbagai perencanaanpembangunan tersebut dapat mencapai sasaran dan mampu mewujudkan berbagaitujuan yang telah ditetapkan di dalam dokumen perencanaan. Lebih daripada itu, didalam konteks kepentingan Nasional yang lebih luas, evaluasi kinerjapembangunan daerah memiliki posisi strategis karena dapat digunakan sebagaimekanisme kontrol untuk menyakinkan para pemangku kepentingan apakahperencanaan pembangunan pada level nasional menjadi acuan atau dapatditerjemahkan oleh para perencana di daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota. Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Tim Independen dari UniversitasMaritim Raja Ali Haji (UMRAH) dengan Badan Perencanaan PembangunanNasional (BAPPENAS). Adapun tujuan dari Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah(EKPD) Tahun 2010 adalah untuk menilai kinerja pembangunan di daerah dalamrentang waktu 2004-2009. Evaluasi ini juga dilakukan untuk melihat apakah terdapatketerkaitan antara Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)Provinsi Kepulauan Riau dengan Rencana Pembangunan Jangka MenengahNasional (RPJMN) 2010 - 2014. Dalam pelaksanaan evaluasi ini Tim EKPD UMRAH telah melakukankonsolidasi anggota tim, rapat-rapat pembahasan dan diskusi internal peneliti,koordinasi dengan Bappeda Provinsi Kepulauan Riau dan SKPD lainnya.Walaupun dalam pengumpulan data untuk bahan analisi, Tim EKPD UMRAHmasih menghadapi kendala, seperti kurangnya jumlah data yang disebabkankarena Provinsi Kepri merupakan provinsi yang masih relatif baru, namun halini tentu saja tidak menyurutkan langkah Tim EKPD UMRAH untuk tetapmemberikan hasil yang terbaik dalam EKPD 2010 ini. i
  • 3. Dengan selesainya penulisan laporan ini, Tim EKPD UMRAHmengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu prosespengumpulan data, analisis hingga penulisannya. Terima kasih secara khusus inginkami sampaikan kepada: Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau yang telah memberikanakses terhadap pengumpulan berbagai data yang diperlukan dalam evaluasi ini;Rektor UMRAH yang telah memberikan dukungan penuh kepada seluruh anggotaTim EKPD UMRAH, Lembaga Penelitian UMRAH yang telah memberikan aksesterhadap berbagai hasil penelitian mereka, dan BAPPENAS sebagai penyediadana dan dukungan teknis yang lain sehingga laporan ini dapat diselesaikan. Akhirnya tidak ada gading yang tak retak, Tim EKPD UMRAHberharap mendapatkan masukan, saran dan kritik guna melakukan perbaikan-perbaikan sehingga tugas untuk melakukan evaluasi di masa mendatang dapatdilakukan dengan lebih baik lagi. TANJUNG PINANG, 20 SEPTEMBER 2010 TIM EKPD UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI (UMRAH) 1. Prof. Dr. H. Moeljadi, SE. M.Si, M.Sc 2. Drs. Jaka Permana, M.Si. Ph.D 3. Rafki RS, SE. MM 4. H. Jamhur Poti, SE. M.Si 5. Agus Hendrayadi, S.Sos. M.Si 6. Dony Apdillah, S.Pi. M.Si 7. Nancy Willian, S.Si, M, Si 8. Akhirman, S.Sos, MM ii
  • 4. DAFTAR ISIKATA PENGANTAR ……………………………………………………………… iDAFTAR ISI …………………………………………………………………………. iiiDAFTAR GAMBAR ………………………………………………………………… vDAFTAR TABEL …………………………………………………………………… viiBAB I PENDAHULUAN ........................................................................................... 1 1.1. LATAR BELAKANG ......................................................................... 1 1.2. TUJUAN DAN SASARAN................................................................ 3 1.3. HASIL YANG DIHARAPKAN........................................................... 3BAB II HASIL EVALUASI PELAKSANAAN RPJMN 2004 -2009............................ 4 2.1 AGENDA MEWUJUDKAN INDONESIA YANG AMAN DAN DAMAI.............. 4 2.1.1 INDEKS KRIMINALITAS. .................................................................. 4 2.1.3. PERSENTASE PENYELESAIAN KASUS KEJAHATAN TRANSNASIONAL .......................................................................... 13 2.1.4. REKOMENDASI KEBIJAKAN UNTUK AGENDA PEMBANGUNAN INDONESIA YANG AMAN DAN DAMAI .......................................... 18 2.2. MEWUJUDKAN INDONESIA YANG ADIL DAN DEMOKRATIS................. 19 2.2.1 PELAYANAN PUBLIK ..................................................................... 19 2.2.2. DEMOKRASI................................................................................... 24 2.2.3. REKOMENDASI KEBIJAKAN UNTUK AGENDA PEMBANGUNAN INDONESIA YANG ADIL DAN DEMOKRATIS ................................ 30 2.3. MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT ........................................ 31 2.3.1. INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (HUMAN DEVELOPMENT INDEX) ............................................................................................ 31 2.3.3. KESEHATAN................................................................................... 44 2.3.4. EKONOMI MAKRO ......................................................................... 59 2.3.5. INVESTASI...................................................................................... 73 2.3.6. INFRASTUKTUR............................................................................. 76 2.3.7. PERTANIAN.................................................................................... 78 2.3.8. KELAUTAN ..................................................................................... 82 2.3.9. KESEJAHTERAAN SOSIAL............................................................ 84 2.3.10. REKOMENDASI KEBIJAKKAN DALAM AGENDA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT........................................................... 88 2.3.11. KESIMPULAN ................................................................................. 93 iii
  • 5. BAB III RELEVANSI RPJMN 2010 – 2014 DENGAN RPJMD PROVINSI KEPULAUAN RIAU ................................................... 96 3.1. LATAR BELAKANG......................................................................... 96 3.2. REKOMENDASI ............................................................................ 119BAB IV KESIMPULAN ........................................................................................ 121 4.1. KESIMPULAN ............................................................................... 121 4.2. REKOMENDASI ............................................................................ 123DAFTAR PUSTAKA iv
  • 6. DAFTAR GAMBARPeraga 2.1. Index Kriminalitas .............................................................................. 9Peraga 2.2. Persentase Penyelesaian Kasus Kejahatan Konvensional. ............. 11Peraga 2.3. Persentase Penyelesaian Kasus Kejahatan Transnasional. ............ 14Peraga 2.4. Persentase Kasus Korupsi Yang Tertangani Dibandingkan yang dilaporkan…………………………………………………………………22Peraga 2.5. Indek Pembangunan Gender (GDI) Kepulauan Riau Tahun 2005- 2008. ............................................................................................... 26Peraga 2.6. Perbandingan nilai Human Development Indek (HDI) dan Gender Development Indek (GDI) tahun 2005-2008. ................................... 27Peraga 2.7. Indek Pemberdayaan Gender (GEM) Provinsi Kepri 2005-2008...... 28Peraga 2.8. Indeks Pembangunan Manusia (HDI) Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2004-2009 ....................................................................................... 32Peraga 2.9. Angka partisipasi murni (sd/mi)........................................................ 35Peraga 2.10. Angka Partisipasi Kasar (SD/MI).………………………………………37Peraga 2.11. Angka melek huruf........................................................................... 42Peraga 2.12. Umur harapan Hidup Provinsi Kepri Tahun 2004-2009.................... 46Peraga 2.13. Nilai Angka Kematian Bayi ( AKB) di Kepulauan Riau, 2004-2009 .. 47Peraga 2.14. Grafik prevalensi Gizi Buruk (%) dan Gizi Kurang (%) di Provinsi Kepulauan Riau dari tahun 2004 – 2009.......................................... 50Peraga 2.15. Persentase Penduduk Ber –KB di Provinsi Kepuluan Riau, 2004-2009 ....................................................................................... 54Peraga 2.16. Grafik Laju Pertumbuhan Penduduk di Kepuluan Riau, 2004-2009 . 56Peraga 2.17. Laju Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Kepri Tahun 2004 – 2009 ...... 61Peraga 2.18. Perkembangan Ekspor dan ImporProvinsi Kepulauan riau Tahun 2004-2009 Dalam (Milyar USD)....................................................... 63Peraga 2.19. Neraca Perdagangan Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2004-2009 (Dalam USD) ................................................................................... 65 v
  • 7. Peraga 2.20. Pendapatan Perkapita Provinsi Kepri Tahun 2004 -2009................. 69Peraga 2.21. Kurva Lorenz ................................................................................... 70Peraga 2.22. Laju Inflasi Indonesia dan Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2004- 2009 ................................................................................................ 73Peraga. 2.23. Realisasi Nilai Investasi PMA dan PMDN Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2004-2009 ............................................................................ 75Peraga. 2.24. Realisasi PMA Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2004-2009............ 76Peraga 2.25. Persentase panjang jalan nasional .................................................. 77Peraga 2.26. Rata-Rata Nilai Tukar Petani Per Tahun.......................................... 79Peraga 2.27. PDRB Sektor Pertanian Atas Harga Berlaku Tahun 2003 -2009...... 80Peraga 2.28. Struktur PDRB Provinsi Kepulauan Riau Menurut Sektor Tahun 2009 ................................................................................................ 82Peraga 2.29. Jumlah Tindak Pidana Perikanan .................................................... 83Peraga 2.30. Persentase Penduduk Miskin Provinsi Kepri Tahun 2005 - 2009..... 86Peraga 2.31. Grafik Tingkat Pengangguran Terbuka di Kepri Tahun 2006 - 2010 88 vi
  • 8. DAFTAR TABELTabel 2.1. Indek Pembangunan Manusia Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2005-2009 ......................................................................................... 33Tabel 2.2. Indek Pembangunan Manusia Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2004- 2009 (sesuai indikator)....................................................................... 34Tabel 2.3 Rata-Rata Nilai Akhir SMP/MTs......................................................... 38Tabel 2.4. Rata-Rata Nilai Akhir SMA/SMK/MA.................................................. 39Tabel 2.5. Angka Putus Sekolah SD................................................................... 39Tabel 2.6. Angka Putus Sekolah SMP ................................................................ 40Tabel 2.7. Angka Putus Sekolah SMA ................................................................ 41Tabel 2.8. Persentase Jumlah Guru yang Layak Mengajar SMP/MTs ................ 43Tabel 2.9. Persentase Jumlah Guru yang Layak Mengajar SMA/SMK/MA ......... 44Tabel 2.10. Beberapa Indikator Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau ................... 53 Tahun 2004-2009 .............................................................................. 53Tabel 2.11. Jumlah Penduduk Provinsi Kepri, 2004-2008 .................................... 57Tabel 2.12. Jumlah Penduduk Kepulauan Riau Tahun 2009 berdasarkan wilayah Kab/ Kota........................................................................................... 58Tabel 2.13. Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2004-2009 Atas Harga Dasar Konstan Tahun 2000............................................. 60Tabel 2.14. Persentase Ekspor dan Impor Terhadap PDRB Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2004 – 2009 (Dalam Milyar USD) ................................. 62Tabel 2.15. Neraca Perdagangan Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2004-2009 (Dalam USD)............... 64Tabel 2.16. Persentase Output Manufaktur Terhadap PDRB (%) ........................ 66 Kepulauan Riau Tahun 2004-2009 .................................................... 66Tabel 2.17 Pendapatan Perkapita Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2004-2009 (dalam jutaan rupiah) ............................................ 67 vii
  • 9. Tabel 2.18. Laju Inflasi Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2004-2009 Berdasarkan IHK tahun 2000............................................................. 72Tabel 2.19 Realisasi Nilai Investasi PMA dan PMDN Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2004-2009 .............................................................................. 74Tabel 2.20. PERSENTASE PANJANG JALAN PROVINSI TAHUN 2009 ............. 78Tabel 2.21. PDRB Provinsi Kepulauan Riau Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2007-2009 .................................... 81Tabel 2.22. Persentase Penduduk Miskin............................................................. 86 Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2005 - 2009..................................... 86Tabel 2.23. Tingkat Pengangguran Terbuka Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2006-2009....................................... 87 viii
  • 10. BAB I PENDAHULUAN1.1. LATAR BELAKANG Menurut Undang-Undang (UU) No. 25 Tahun 2004 tentang SistemPerencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), kegiatan evaluasi merupakan salahsatu dari empat tahapan perencanaan pembangunan yang meliputi penyusunan,penetapan, pengendalian perencanaan serta evaluasi pelaksanaan perencanaan.Sebagai suatu tahapan perencanaan pembangunan, evaluasi harus dilakukansecara sistematis dengan mengumpulkan dan menganalisis data serta informasiuntuk menilai sejauh mana pencapaian sasaran, tujuan dan kinerja pembangunantersebut dilaksanakan. Peraturan Presiden No. 7 Tahun 2005 tentang Rencana PembangunanJangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009 telah selesai dilaksanakan.Sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) No. 39 Tahun 2006 tentang TataCara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan,pemerintah (Bappenas) berkewajiban untuk melakukan evaluasi untuk melihatsejauh mana pelaksanan RPJMN tersebut. Saat ini telah ditetapkan Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2010 tentangRencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010–2014. Siklus pembangunan jangka menengah lima tahun secara nasional tidakselalu sama dengan siklus pembangunan 5 tahun di daerah. Sehingga penetapanRPJMN 2010- 2014 ini tidak bersamaan waktunya dengan RencanaPembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi. Hal ini menyebabkanprioritas-prioritas dalam RPJMD tidak selalu mengacu pada prioritas-prioritasRPJMN 2010-2014. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi relevansi prioritas/programantara RPJMN dengan RPJMD Provinsi. Didalam pelaksanaan evaluasi ini, dilakukan dua bentuk evaluasi yangberkaitan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Yangpertama adalah evaluasi atas pelaksanaan RPJMN 2004-2009 dan yang keduapenilaian keterkaitan antara RPJMD dengan RPJMN 2010-2014. Metode yang digunakan dalam evaluasi pelaksanaan RPJMN 2004-2009adalah Evaluasi ex-post untuk melihat efektivitas (hasil dan dampak terhadapsasaran) dengan mengacu pada tiga agenda RPJMN 2004 - 2009 yaitu agenda 1
  • 11. Aman dan Damai; Adil dan Demokratis; serta Meningkatkan KesejahteraanRakyat. Untuk mengukur kinerja yang telah dicapai pemerintah atas pelaksanaanketiga agenda tersebut, diperlukan identifikasi dan analisis indikator pencapaian. Sedangkan metode yang digunakan dalam evaluasi relevansi RPJMD Provinsidengan RPJMN 2010-2014 adalah membandingkan keterkaitan 11 prioritas nasionaldan 3 prioritas lainnya dengan prioritas daerah. Selain itu juga mengidentifikasipotensi lokal dan prioritas daerah yang tidak ada dalam RPJMN 2010-2014. Adapunprioritas nasional dalam RPJMN 2010-2014 adalah 1) Reformasi Birokrasi danTata Kelola, 2) Pendidikan, 3) Kesehatan, 4) Penanggulangan Kemiskinan, 5)Ketahanan Pangan, 6) Infrastruktur, 7) Iklim Investasi dan Iklim Usaha, 8)Energi, 9) Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana, 10) DaerahTertinggal, Terdepan, Terluar, & Pasca-konflik, 11) Kebudayaan,Kreativitas dan Inovasi Teknologi dan 3 prioritas lainnya yaitu 1)Kesejahteraan Rakyat lainnya, 2) Politik, Hukum, dan Keamanan lainnya, 3)Perekonomian lainnya. Hasil dari EKPD 2010 diharapkan dapat memberikan umpan balik padaperencanaan pembangunan daerah untuk perbaikan kualitas perencanaan di daerah.Selain itu, hasil evaluasi dapat digunakan sebagai dasar bagi pemerintah dalammengambil kebijakan pembangunan daerah. Pelaksanaan EKPD dilakukan secara eksternal untuk memperolehmasukan yang lebih independen terhadap pelaksanaan RPJMN di daerah.Berdasarkan hal tersebut, Bappenas cq. Deputi Evaluasi Kinerja Pembangunanmelaksanakan kegiatan Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah (EKPD) yangbekerja sama dengan 33 Perguruan Tinggi selaku evaluator eksternal dandibantu oleh stakeholders daerah. Pelaksanaan EKPD 2010 akan dilaksanakandengan mengacu pada panduan yang terdiri dari Pendahuluan, Kerangka KerjaEvaluasi, Pelaksanaan Evaluasi, Organisasi dan Rencana Kerja EKPD 2010,Administrasi dan Keuangan serta Penutup. Dalam hal mengevaluasi kinerja pembangunan daerah di Provinsi KepulauanRiau, maka Bappenas untuk tahun 2010 ini mempercayakan kepada UniversitasMaritim Raja Ali Haji (UMRAH) sebagai tim EKPD di daerah. Pada tahun sebelumnya,EKPD Provinsi Kepulauan Riau dilakukan oleh Universitas Riau (UNRI) di PekanbaruProvinsi Riau. Pemilihan UMRAH ini tentu tidak terlepas dari domisili perguruan tinggi ini yang 2
  • 12. terletak di Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau, Tanjungpinang. Diharapkan hasil analisisyang didapatkan lebih tajam, akurat, dan relevan dengan kondisi pembangunanProvinsi Kepualuan Riau saat ini.1.2. TUJUAN DAN SASARAN Tujuan kegiatan ini adalah: 1. Untuk melihat sejauh mana pelaksanaan RPJMN 2004-2009 dapat memberikan kontribusi pada pembangunan di Provinsi Kepulauan Riau.; 2. Untuk mengetahui sejauh mana keterkaitan prioritas/program (outcome) dalam RPJMN 2010-2014 dengan prioritas/program yang ada dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Kepulauan Riau. Sasaran yang diharapkan dari kegiatan ini meliputi: 1. Tersedianya data/informasi dan penilaian pelaksanaan RPJMN 2004-2009 di Provinsi KepuluanRiau; 2. Tersedianya data/informasi dan penilaian keterkaitan RPJMD Provinsi Kepuluan Riau dengan RPJMN 2010-2014.1.3. HASIL YANG DIHARAPKAN Hasil yang diharapkan dari EKPD 2010 adalah: 1. Tersedianya dokumen evaluasi pencapaian pelaksanaan RPJMN 2004- 2009 untuk Provinsi Kepulauan Riau; 2. Tersedianya dokumen evaluasi keterkaitan RPJMD Provinsi Kepulauan Riau dengan RPJMN 2010- 2014. 3
  • 13. BAB II HASIL EVALUASI PELAKSANAAN RPJMN 2004 -20092.1 AGENDA MEWUJUDKAN INDONESIA YANG AMAN DAN DAMAI.2.1.1 INDEKS KRIMINALITAS. Agenda Pertama dalam RPJMN 2004-2009 adalah Mewujudkan Indonesiayang Aman dan Damai. Masyarakat yang aman dan damai merupakan dambaandan tujuan setiap negara di dunia. Terwujudnya Indonesia yang aman, damai dansejahtera merupakan cita-cita dan sasaran pokok negara yang dituangkan dalamvisi, misi penyelenggaraan negara dan menjadi salah satu prioritas pemerintahyang menjadi tujuan negara. Indonesia merupakan salah satu negara yang cintaterhadap keamanan dan perdamaian sebagaimana tercantum pada PembukaanUndang-Undang Dasar 1945, akan tetapi pada kenyataannya hal ini menjadiparadoks, bukan hanya bagi Indonesia tetapi juga bagi banyak negara diberbagaibelahan dunia. Masalah sosial, ekonomi dan politik serta pertahanan keamananmendominasi penyebab terjadinya berbagai konflik, baik secara harizontal maupunvertikal, yang proses penanggulangannya (recovery) seringkali terpaksa harusmengorbankan biaya yang tidak sedikit. Berbagai upaya antisipasi telah dilakukanoleh pemerintah. Semua komponen bangsa yang terlibat dalam memelihara keamanan danketertiban masyarakat telah bekerja secara sungguh-sungguh, di bidang keamanantelah berusaha untuk menjaga dan memelihara keamanan dan ketertiban mulai daritingkat pusat sampai di tingkat daerah, yang mengurus di bidang perekonomian,telah berupaya untuk memanfaatkan segenap sumber daya (resource) yangtersedia, demi meningkatkan kesejahteraan umum dan kesejahteraan masyarakat.Demikian juga dengan komponen bangsa lainnya, yang bekerja sesuai denganbidang pekerjaannya masing-masing. Semuanya bekerja dan berusaha secaraoptimal demi mewujudkan salah satu tujuan negara yaitu mewujudkan Indonesiayang aman dan damai. 4
  • 14. Untuk mewujudkan Indonesia yang Aman dan Damai mempunyai 4 (empat)sasaran pokok yaitu, pertama, Peningkatan rasa saling percaya (Trust) danharmonisasi antar kelompok masyarakat, etnis dan agama, pemimpin danrakyatnya, kedua Pengembangan kebudayaan (Culture Development) yangberlandaskan pada nilai-nilai luhur atau budaya daerah, ketiga, Peningkatankeamanan, ketertiban, dan penanggulangan kriminalitas dengan menegakkanhukum secara tegas adil dan tidak diskriminatif (Secure and Law Enforcement)serta meningkatnya daya cegah dan tangkal negara terhadap ancaman maupunbahaya terorisme bagi tetap tegaknya kedaulatan Negara Kesatuan RepublikIndonesia baik dari ancaman dalam maupun luar negeri. Sementara, sasarankeempat adalah (Diplomatic Integrated) semakin berperannya Indonesia dalammenciptakan perdamaian dunia, dengan memainkan dan pemantapan peran politikluar negeri yang bebas aktif serta mampu meningkatan kerjasama internasional.Sasaran dan arah kebijakan untuk mewujudkan Indonesia yang aman dan damaisebagai berikut:1. Kepercayaan (Trust). Untuk mewujudkan Indonesia yang aman dan damai upaya peningkatan rasasaling percaya dan harmonisasi antar kelompok masyarakat merupakan salah satufaktor penting. Untuk itu, sikap ini harus terus dipelihara dan dibangun sehinggasasaran pembangunan di bidang ini dapat tercapai. Berbagai peristiwa yang terjadidi pelosok tanah air, khususnya yang bersifat konflik antar masyarakat, padadasarnya bermuara pada perbedaan kepentingan. Pertikaian antar kampung/desa,ataupun antar golongan pada dasarnya merupakan suatu pertanda masihrendahnya rasa saling percaya dan saling memahami diantara sesama anggotamasyarakat maupun antara masyarakat dengan pihak pemerintah. Ketidakadilandalam perlakuan yang diberikan pada masyarakat, tidak jarang juga menjadi salahsatu pemicu terjadinya berbagai konflik di masyarakat. Secara umum, peristiwa konflik yang bernuansa etnik ataupun antar golonganhampir tidak pernah terjadi di wilayah Provinsi Kepulauan Riau, hal ini akantercermin dari menurunnya ketegangan dan ancaman konflik antarkelompokmaupun golongan masyarakat, meski penduduknya Provinsi Kepulauan Riau yangplural dan heterogen berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, namun rasa salingmenghormati, toleransi masih cukup tinggi, baik antara pendatang maupun dengan 5
  • 15. masyarakat tempatan yang berbudayakan Melayu. Kerukunan antar umatberagama bisa dirasakan tidak adanya konflik diantara pemeluk agama, karenatelah terciptanya kerukunan antar umat beragama.2. Masyarakat yang Madani (Civil Society) Membangun masyarakat yang harmoni dan mencegah tindakan-tindakan yangmenimbulkan ketidakadilan sehingga terbangun masyarakat sipil yang kokoh,termasuk membangun kembali kepercayaan sosial antar kelompok masyarakatyang berakhlak mulia, beretika dan yang bermoral santun.3. Jati diri Bangsa (National Identity) Memperkuat dan mengartikulasikan identitas atau jati diri bangsa. Indonesiaadalah bangsa yang besar yang memiliki kedaulatan dan harga diri.4. Kebebasan (Freedom) Membangun kehidupan intern dan antarumat beragama yang salingmenghormati dalam rangka menciptakan suasana yang aman dan damai sertamenyelesaikan dan mencegah konflik antar umat beragama serta meningkatkankualitas pelayanan kehidupan beragama bagi seluruh lapisan masyarakat agardapat memperoleh hak-hak dasar dalam memeluk agamanya masing-masing danberibadah sesuai agama dan kepercayaannya.5. Pengembangan Budaya (Culture Development) Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat terkenal karenamemiliki ragam budaya yang berbeda dan kaya dengan adat istiadat yang sangatmenarik. Setiap daerah di Indonesia memiliki budaya dan adat istiadat masing-masing, yang kesemuanya itu merupakan kekayaan yang sangat berharga yangdimiliki oleh bangsa Indonesia. Provinsi Kepulauan Riau, yang sejak zaman penjajahan terkenal dengan sukudan budaya Melayu, memiliki situs-situs sejarah kerajaan di semenanjung Malakamerupakan aset negara yang sangat bernilai dan perlu mendapatkan perhatianserius dari berbagai pihak, salah satu keberagaman budaya Melayu yang sangat 6
  • 16. menjadi fenomena sampai saat ini adalah bahasa Melayu Kepulauan Riau yangdijadikan sebagai sumber bahasa Indonesia, sebagai bahasa persatuan, kesenianadat dan budayanya telah berhasil mengundang kekaguman negara-negara lainuntuk datang melancong kenegeri Bumi Melayu yang bermotto “BERPANCANGAMANAH BERSAUH MARWAH” dengan berbagai keindahan alam dan panoramasebagai wisata bahari dan kuliner merupakan tujuan wisata andalan baik dariberbagai mancanegara maupun wisatawan domestik setelah Bali. Sebagian besar masyarakat atau penduduk asli yang berdiam di wilayahProvinsi Kepulauan Riau, seperti Kota Batam, Tanjungpinang, Karimun cukup majudan memperoleh kesempatan untuk menikmati berbagai hasil teknologi yangmerupakan produk modernisasi. Mereka telah mengenal berbagai fasilitas teknologiinformasi, transportasi serta berbagai sarana dan prasarana pembangunan lainnya.Di satu sisi hal ini sangat menggembirakan, karena dapat diartikan bahwa suasanapembangunan telah dapat dirasakan dan dinikmati oleh sebagian besar masyarakatsampai di pedalaman. Sebagai konsekuensi logis dari beragamnya suku di suatu wilayah, akibatdari arus modernisasi dan globalisasi yang berhembus sedemikian kencangnya,telah membuat tergerus dan menghilangkan sebagian adat, budaya sertakebiasaan dari sebagian masyarakat. Hal ini terbukti dengan semakin sedikitnyapenduduk asli yang menguasai kesenian asli leluhurnya, dan dikhawatirkan dengansemakin lajunya perkembangan zaman dan arus globalisasi yang tidak mengenalbatas wilayah dan waktu pada beberapa tahun yang akan datang, budaya dankesenian asli tersebut akan hilang seiring dengan meninggalnya para orangtuayang menguasai seni dan budaya tersebut, tanpa dilakukan upaya-upayapembinaan bagi generasi penerus. Pada kenyataannya juga menunjukkan bahwapara generasi muda di daerah lebih tertarik dan antusias (Trend) pada seni budayakontemporer yang dianggap lebih bergengsi dan sesuai dengan perkembanganzaman, secara otomatis akan menyebabkan tumbuh dan berkembangnya budayaluar dan asing.6. Peranan Politik Luar negeri (Diplomatic Integrated) Untuk mewujudkan Indonesia yang aman dan damai, harus melihatpersoalan dari 2 (dua) faktor yaitu persoalan dalam negeri (Internal) dan persoalanluar negeri (eksternal) yaitu persoalan hubungan luar negeri, bagaimana hubungan 7
  • 17. luar negeri Indonesia dengan negara-negara luar akan membawa dampak yangsangat signifikan terhadap persoalan dalam negeri seperti perekonomian danperdagangan, pertahanan dan keamanan, maka dari itu diharapkan politik luarnegeri Indonesia semakin berperan dalam menciptakan perdamaian dunia. Terkaitdengan sasaran tersebut, prioritas pembangunannya difokuskan pada pemantapanpolitik luar negeri yang bebas aktif serta peningkatan kerjasama internasional.Pencegahan dan penanggulangan separatisme, Pencegahan dan penanggulangangerakan terorisme, dan Peningkatan kemampuan pertahanan negara.7. Kriminalitas dan Penegakan Hukum yang adil (Criminalitas and Law enforcement) Kriminalitas dan berbagai tindak kejahatan menciptakan rasa tidak aman dikalangan masyarakat. Rasa tidak aman ini, pada tingkatan tertentu dapat menjadibeban psikologis yang menyebabkan masyarakat menjadi tidak produktif danbersikap apatis. Sudah tidak terhitung banyaknya korban yang mengalami tindakkejahatan setiap tahunnya. Angka-angka statistik yang menunjukkan jumlah korbankejahatan masih belum dapat menggambarkan tentang intensitas dan kualitaskriminalitas yang terjadi selama ini, karena pada kenyataannya masih banyakkorban kejahatan yang tidak melaporkan kejahatan yang menimpa dirinya. Hal inimungkin karena kekurangtahuan dari si korban tersebut atau karena rasa pesimisterhadap pengungkapan kejahatan yang terjadi. Oleh karena itu perlu adanyatindakan tegas dan terencana yang dilakukan oleh lembaga yang khususmenangani masalah tindak kejahatan dan kriminalitas ini, yaitu kepolisian,kejaksaan, kehakiman serta lembaga-lembaga peradilan lainnya. Indikator dalam perwujudan Indonesia yang aman dan damai dapat dilihat dariindex kriminalitas atau gangguan Kamtibmas yang terjadi di Wilayah hukum PoldaProvinsi Kepulauan Riau sebagai berikut : 8
  • 18. Peraga 2.1. Index Kriminalitas INDEX KRIMINALITAS 400% 350% 300% 250% 200% 150% 100% 50% 0% 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Index 69% 90% 181% 103% 100% 375% Sumber data : Polda Provinsi Kepri 2010 Jika diperhatikan dari peraga 2.1. tersebut dapat disimpulkan bahwa indexkriminalitas di daerah hukum Polda Provinsi Kepuluan Riau sebagai berikut; Polda Provinsi Kepulauan Riau berdiri pada tahun 2004, dari data diatasdapat diketahui kenaikan index kriminal dari tahun 2004 sebesar 69% dan padatahun 2005 menjadi 90% atau kecendrungannya naik sebesar 39%, kenaikantersebut dapat diketahui, diantaranya kasus yang sangat menonjol yaitu terjadiperedaran narkoba sebanyak 199 kasus dengan trend index sebesar 83.3%.Peredaran psikotropika atau narkoba yang berjumlah 490 butir jenis ekstasi masukdari luar negeri melalui Pelabuhan Ferry International Batam Centre ditangkap padatanggal 4 November 2005. Batam merupakan daerah di Provinsi Kepulauan Riauyang menjadi target utama dari peredaran narkoba, Batam di jadikan sebagai pintumasuk perdagangan psikotropika jaringan International. Selain kasus penangkapan psikotropika tersebut kenaikan index kriminalitaspada tahun 2005 juga dikarenakan peningkatan kinerja satuan Reskrim PoldaKepulauan Riau dalam menuntaskan tunggakan-tunggakan perkara kriminal padatahun 2004. Disamping itu kasus yang sangat menonjol pada tahun 2005 adalah,dilakukannya penangkapan illegal loging di perairan selat Malaka pada tanggal 11Desember 2005, penangkapan terhadap 5 unit mobil mewah oleh Satuan Reskimdengan modus penadahan, penangkapan BBM Solar sejumlah 95 ton di PelabuhanSelat Lampa Kabupaten Natuna pada bulan Agustus 2005, selanjutnya bulanDesember 2005 terjadi pembunuhan 1 (satu) keluarga di Batam dengan modusDendam keluarga. Kriminal index pada pada tahun 2006 masih terjadi kenaikan 9
  • 19. sebesar 181%, atau kecenderungannya naik sekitar 91% dibandingkan dengantahun 2005, kenaikan index kriminal ini dapat diketahui dari berbagai kasus yangmenonjol selama tahun 2006 diantaranya, kasus penipuan atau pengelapansebesar 241 kasus diantaranya yang sangat menonjol adalah kasus kriminaldengan modus mengatasnamakan Kasat Reskrim dan memakai kop surat dantanda tangan Kapoltabes Barelang pada bulan Desember 2006, peredaran narkobajuga masih terjadi meskipun trendnya turun dari tahun 2005, Index kriminalmengalami penurunan pada 2007, 2008 dan 2009, penurunan index kriminal padatahun tersebut karena sering diadakan operasi diantaranya, Operasi KepolisianMandiri, Operasi Kepolisian Terpusat, Operasi Kepolisian Kendali, serta sosialisasikepada masyarakat melalui media cetak, elektronik dan media ruangan tentangkewaspadaan terhadap tindakan kriminalitas dalam mewujudkan Indonesia yangaman dan damai.2.1.2. PERSENTASE PENYELESAIAN KASUS KEJAHATAN KONVENSIONAL Dari peraga 2.2. dapat dilihat tingkat dan jenis gangguan Kamtibmas diwilayah hukum Polda Provinsi Kepulauan Riau. Jika dilihat dari Jumlah TindakPidana tahun 2004 adalah 22,245 perkara dan Penyelesaian Tindak Pindana tahun2004 sebanyak 19,548 perkara (88%), Modus operandi kriminalitas yang terbesarselama tahun 2004 adalah tentang Penganiayaan, Pencurian Kenderaan Motor(Curanmor), Pencurian dengan Alat (Curat) dan Penipuan. Data Kamtibmas padatahun 2004 diambil dari Polres yang ada di Provinsi Kepulauan Riau, karena PoldaProvinsi Kepulauan Riau belum berdiri. 10
  • 20. Peraga 2.2. Persentase Penyelesaian Kasus Kejahatan Konvensional. Sumber data : Polda Provinsi Kepri 2010 Pada tahun 2005 Jumlah Tindak Pidana sebanyak 3.441 perkara sehinggamengalami penurunan sebanyak 18,804 (155%), sedangkan Penyelesaian TindakPidana juga mengalami penurunan sebanyak 2,231 kasus (114%). Data gangguanKamtibmas tahun 2004 mengalami disparitas yang cukup signifikan dibandingdengan tahun 2005 sampai tahun 2009. Sehingga untuk analisis data tahun 2004di abaikan. Kasus yang menonjol pada tahun 2005 adalah Pencurian kenderaanMotor (Curanmor), Penipuan, Penganiayaan, Pencurian dengan Alat (Curat) danPencurian dengan Kekerasan (Curas). Penurunan tingkat angka kriminalitas padatahun 2005 dikarenakan sudah berdirinya Polda Provinsi Kepulauan Riau dandilakukannya operasi bersama dengan masing-masing Polres yang berada diwilayah hukum Polda Provinsi Kepulauan Riau. Jenis Gangguan Kamtibmas pada tahun 2006 sesuai dengan data diatasmengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2005, Jumlah Tindak Pidanatahun 2006 adalah sebesar 3,373 perkara menurun sebesar 68 perkara atausebesar 98%, sedangkan Penyelesaian Tindak Pidana juga mengalami penurunan 11
  • 21. sebanyak 274 perkara atau sebesar 88%. Demikian juga, jika dilihat dari rasioantara Jumlah Tindak Pidana dengan Penyelesaian Tindak Pidana tahun 2005 ketahun 2006 mengalami penurunan. Kasus yang menonjol selama tahun 2006dibandingkan tahun 2005 adalah meningkatnya angka kriminalitaspengelapan/penipuan, curat, penganiayaan, pengrusakan, kebakaran, curas danperkosaan sedangkan curanmor mengalami penurunan. Penurunan tingkatkriminalitas pada tahun 2006 dikarenakan sering dilakukannya operasi bersamadengan Polres yang berada diwilayah hukum Polda Provinsi Kepulauan Riau, danmembentuk Satgas pelayanan masyarakat dalam menjaga Kamtibmas. Jumlah Tindak Pidana pada tahun 2007 sebanyak 3.142 perkaramengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2006 sebanyak 231 perkaraatau (93%), sedangkan Jumlah Penyelesaian Pidana juga mengalami penurunansebanyak 175 perkara, dari 1,957 menjadi 1,782 perkara atau sebesar 91%,. Jenismodus operandi yang meningkat pada tahun 2007 adalah seperti PencurianKenderaan Motor (Curanmor), Perkosaan, Penadahan, Uang palsu (Upal)sedangkan yang mengalami penurunan adalah jenis Pencurian dengan Kekerasan(Curas), Pencurian dengan Alat (Curat), Pembunuhan dan Penganiayaan. Dilihat dari data perkembangan Situasi Gangguan Kamtibmas yang terjadi diwilayah hukum Polda Provinsi Kepulauan Riau dan jajarannya pada tahun 2008dibandingkan dengan tahun 2007 Jumlah Tindak Pidana mengalami penurunansebesar 103 kasus atau ( 97%) dari 3.142 kasus menjadi 3.039 kasus di tahun2008. Sedangkan Jumlah Penyelesaian Tindak Pidana pada tahun 2008 jugamengalami penurunan sebesar 150 atau (92%) perkara. Jenis modus operandiyang meningkat selama tahun 2008 yaitu jenis, Pecurian kenderaan motor,(Curanmor), Pencurian dengan Alat (Curat), dan Penipuan. Dilihat dari data perkembangan Situasi Gangguan Kamtibmas yang terjadi diwilayah hukum Polda Provinsi Kepulauan Riau dan jajarannya pada tahun 2009dibandingkan dengan tahun 2008 kasus mengalami kenaikan sebesar 584 kasusatau (19%) dari 3.039 kasus tahun 2008 menjadi 3.623 kasus di tahun 2009.Jenis modus operandi yang meningkat selama tahun 2009 yaitu; pencurian,Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), Pencurian dengan Alat, (Curat),Penipuan, Pengelapan dan Penganiayaan. 12
  • 22. Dilihat dari data perkembangan Situasi Gangguan Kamtibmas yang terjadi diwilayah hukum Polda Provinsi Kepulauan Riau dan jajarannya pada Tahun 2009dibandingkan dengan Triwulan I tahun 2010. Jumlah Tindak Pidana sebesar 991perkara, dan Jumlah Penyelesaian Pidana 596 perkara atau sekitar 60%. Jenismodus operandi yang menonjol selama Triwulan 1 tahun 2010 yaitu; Pencurian,Pencuria denga Alat (Curat), Penipuan, Pencurian Kenderaan Motor, danPenganiayaan ringan. Jika dilihat dari data tingkat kerawanan Kamtibmas untuk katergori tindakancriminal Konvesional yang terjadi di wilayah hukum Polda Provinsi Kepulauan Riau,Kota Batam berada diurutan pertama, karena Batam merupakan daerah tujuanutama untuk dikunjungi dari berbagai daerah baik dosmetik maupun International,kemudian disusul oleh Tanjungpinang, Tanjung Balai Karimun, Bintan, Lingga danNatuna. Rata-rata tingkat kriminalitas tertinggi terjadi dari bulan Januari –Julisetiap tahunnya.2.1.3. PERSENTASE PENYELESAIAN KASUS KEJAHATAN TRANSNASIONAL Grafik capaian indikator Persentase Penyelesian Kasus KejahatanTransnasional di Wilayah hukum Polda Provinsi Kepulauan Riau dapat dilihat padaperaga 2.3. Dari data tersebut dapat diketahui tingkat kriminalitas Transnasionalpada tahun 2005 gangguan Kamtibmas Jumlah Tindak Pidana Transnasionalsebesar 441 kasus dan Penyelesaian Tindak Pidana pada tahun 2005 jugasebesar 441 kasus (100%), jika dibandingkan dengan tahun 2004 sebesar 245kasus mengalami kenaikan sebesar 196 perkara. Kasus yang menonjol pada tahun2005 adalah peredaran Narkoba dan Psikotropika sebesar 239 kasus. 13
  • 23. Peraga 2.3. Persentase Penyelesaian Kasus Kejahatan Transnasional.Sumber data : Polda Provinsi Kepri 2010 Jenis Gangguan Kamtibmas pada tahun 2006, jika dilihat dari JumlahTindak Pidana sebesar 465 kasus mengalami kenaikan sebesar 24 perkara atausebesar 1,55 % jika dibandingkan dengan Jumlah Tindak Pidana tahun 2005yang berjumlah sebesar 441 perkara, sedangkan Penyelesaian Tindak Pidana padatahun 2006 mengalami kenaikan dari 441 perkara pada tahun 2005, dan padatahun 2006 menjadi 459 perkara, meningkat sebesar 18 perkara atau sebesar1,41%, Kasus yang meningkat pada tahun 2006 adalah peredaran Narkotika danPsikotropika sebesar 426 kasus, secara rangking jika dilihat dari perwilayah KotaBatam menjadi sasaran atau target dari peredaran Narkoba dan Psikotropika,kemudian Tanjungpinang, Tanjung Balai Karimun dan Bintan. Jenis Gangguan Kamtibmas untuk katagori Transnasional pada tahun 2007sesuai data di Polda Provinsi Kepulauan Riau mengalami penurunan sesbesar 94kasus (80%) baik dari jumlah maupun modus operandinya jika di bandingkandengan tahun 2006, Jumlah Tindak Pidana pada tahun 2006 sesebesar 465 kasusdan pada tahun 2008 sebesar 371 kasus. Kasus yang sangat menonjol pada tahun 14
  • 24. 2007 ini adalah tentang peredaran Narkoba dan Psikotropika sebesar 295 kasus,selebihnya adalah cyber crime. Dilihat dari data yang tersedia pada kasus Transnasional yang terjadi diWilayah hukum Polda Provinsi Kepulauan Riau mengalami penurunan kasussebesar 17 kasus atau 5% dari 371 Kasus di tahun 2007 menjadi 354 Kasus ditahun 2008. Kasus yang menonjol selama tahun 2008 adalah kasus peredaranNarkoba dan Psikotropika dengan Jumlah Tindak Pidana sebesar 278 kasusdengan Jumlah Penyelesaian Pidana sebesar 264 kasus, Kota Batam menjadi titikrawan peredaran dalam kasus teresebut. Kasus Trafficking/TKI Ilegal denganJumlah Tindak Pidana sebesar 76 kasus dan Jumlah Penyelesaiannya sebesar 49kasus. Data kasus gangguan Kamtibmas Transnasional yang terjadi di Wilayahhukum Polda Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2009 mengalami kenaikan kasussebesar 2 kasus atau 1% dari 354 Kasus di tahun 2008 menjadi 356 Kasus ditahun 2009. Kasus yang sangat menonjol pada tahun 2009 adalah kasusperedaran Narkoba dan Psikotropika dengan Jumlah Tindak Pidana sebesar 319kasus dan Jumlah Penyelesaian Pidana sebesar 337 kasus termasuk kasus yangmenjadi tunggakan pada tahun 2008 yang belum diselesaikan, kemudian disusulkasus Trafficking/TKI Ilegal sebesar 33 kasus, Terorisme 2 kasus dan Teritorial 1kasus. Data gangguan Kamtibmas yang terjadi diwilayah hukum Polda ProvinsiKepulauan Riau untuk kasus Kriminal Transnasional untuk periode Triwulan 1tahun 2010 dengan Jumlah Tindakan Pidana sebesar 85 kasus, sedangkanPenyelesaian Tindak Pidana sebesar 80 kasus. Dibandingkan dengan tahun 2009kasus yang terjadi pada Triwulan 1 pada tahun 2010 cenderung mengalamipenurunan. Kasus yang sangat menonjol pada Triwulan 1 tahun 2010 yaitu kasusperedaran Narkoba dengan Jumlah Tindak Pidana sebesar 76 kasus dan TindakPenyelesaiannya sebesar 73 kasus, peredaran tersebut masuk dari luar melaluijalur angkutan laut pada 2 titik rawan yang berada di Kabupaten Karimun dan KotaBatam. kasus Trafficking atau TKI Ilegal sebesar 8 kasus melalui 2 pintu keluaryang tertinggi yaitu pelabuhan Tanjungpinang dan Batam, selebihnya merupakankasus cryme criminal. Gangguan Kamtibmas untuk kategori Transnasional yang terjadi di wilayahhukum Polda Provinsi Kepulauan Riau jika dilihat dari perwilayah Kota Batam 15
  • 25. menduduki ranking tertinggi untuk Jumlah Tindak Pidana, berikutnyaTanjungpinang, Tanjung Balai Karimun, Natuna dan Lingga. Dari peraga 2.3 dapat dilihat bahwa dari mulai tahun 2004 hingga Triwulan 12010, nilai outcomes Provinsi Kepulauan Riau selalu meningkat. Tingginyaoutcomes Kepulauan Riau ini didorong oleh beberapa hal. Salah satu yangterpenting adalah upaya pemberantasan tindakan kejahatan. Pada tahun 2004sampai pada Triwulan Pertama (1) tahun 2010, Kepolisian Daerah ProvinsiKepulauan Riau selalu berhasil menangani seluruh laporan kriminal darimasyarakat. Pada tahun 2009 dari 3.623 kasus yang dilaporkan (hingga Triwulan I2010), semuanya berhasil ditangani. Kondisi ini sejalan dengan semangatPemerintah Pusat dalam memberantas tindakan kriminal untuk mencapai tingkatmasyarakat yang aman. Langkah pemberantasan tindakan kriminal ini juga bersinggungan denganupaya meningkatkan kualitas keamanan publik. Mengingat persepsi tindakankejahatan selalu terkait dengan kualitas keaman dan kenyamanan publik. PoldaProvinsi Kepulauan Riau sejak tahun 2006 telah menerapkan Sistem ManajemenPengamanan dengan memfasilitasi pembentukan Polisi Masyarakat (POLMAS) danPos-Pos Keamanan di setiap Kabupaten/ Kota sampai tingkat Kelurahan/Desa diseluruh wilayah hukum Polda Kepulauan Riau. Hasilnya, indikator persentasejumlah Kabupaten/Kota yang memiliki Polmas Daerah merupakan penyumbangnilai outcomes yang tinggi. Pada tahun 2005-2009, persentase indikator ini telahmencapai 80%. Hanya ada satu kabupaten yang belum memiliki Polmas padaperiode 2005-2009, yaitu Kabupaten Anambas, karena baru terbentuknya menjadiKabupaten pada tahun 2009. Namun sejak tahun 2010, seluruh Kabupaten/Kota didaerah hukum Polda Provinsi Kepulauan Riau telah memiliki Polmas dan Pos-PosKeamanan. Meskipun ada beberapa kendala yang dihadapi diantaranya letak ataugeografi wilayah Provinsi Kepulauan Riau yang terhubung oleh laut-laut dan aksestransportasi yang terbatas, sarana dan prasarana yang masih minim menjebabkanterjadi keterlambatan penanganan. Provinsi Kepulauan Riau berdiri berdasarkanUndang-Undang No. 25 tahu 2002 dan merupakan Provinsi yang ke-32 melaluiKepres tanggal 1 Juli 2004. Data BPS 2010 Provinsi Kepulauan Riau memilikiwilayah seluas 251.810,71 km2 (96% terdiri dari laut dan 4% daratan) dengansebaran 2.408 pulau memiliki potensi ekonomi yang cukup besar. Dengan letakgeografis yang strategis antara laut Cina Selatan, Selat Malaka dengan Selat 16
  • 26. Karimata dan berbatasan langsung dengan negara tetangga seperti Singapura,Malaysia, Thailand, Filipina dan Vietnam dengan jarak tempuh yang singkat seringsekali terjadi perdagangan gelap atau illegal dan penyelundupan, pada awalnyahanya untuk kebutuhan bahan pokok sehari-hari, lalu berkembang menjadiperdagangan illegal berbagai hasil bumi dan komoditas. Memerlukan penangananyang serius dan terpadu diantara instansi penegak hukum di perairan laut Indonesiapada umumnya dan khususnya wilayah-wilayah yang berada di perbatasan. Perlunya koordinasi, komunikasi dan brainstorming lintas departemen daninstansi dalam menjaga dan mencegah terjadinya kejahatan transnasional, baik dariKepolisian Air, AL, Bea Cukai, KPLP, Dinas Kelautan dan Perikanan. Untukmenjaga dan mencegah terjadinya kejahatan di laut, serta tidak terjadinya tumpangtindih (overlaping) kewenangan para penegak hukum, untuk mewujudkan langkah-langkah yang komprehensif dan terpadu dalam pelaksanaan pencegahan danpenanganan tersebut perlu dibentuk gugus tugas, yang memiliki kewenanganseperti coast guard dari berbagai sumber yang kami himpun di lapangan terdapatjuga adanya ketidak singkronisasi dan koordinasi Pemerintah Pusat danpemerintahan daerah dalam memberikan perizinan, pertambangan, perdagangan,pertanian dan sebagainya. Salah satu contoh kasus pemberian izin kepada kapal-kapal yang menangkap ikan di perairan laut wilayah Provinsi Kepulauan Riau, yangmana kapal-kapal tersebut mengantongi izin yang dikeluarkan dari PemerintahanPusat kepada salah satu kapal, akan tetapi izin tersebut dapat dipergunakan olehkapal-kapal yang lain dengan cara mengcopy, (scanning) sebanyak mungkin,sehingga kapal-kapal tersebut bebas berkeliaran menangkap ikan dan hasil lautlainnya di wilayah perairan Provinsi Kepulauan Riau, daerah laut yang sangatrawan terhadap penangkapan hasil laut ini adalah, Kabupaten Natuna, Anambas,Lingga, Karimun dan Bintan. Pemerintah mengalami kesulitan didalammengawasinya mengingat luas lautan Provinsi Kepulauan Riau yang begitu luas,kurangnya jumlah personil dan teknologi juga merupakan salah satu kendala. Meski demikian, fungsi penegak hukum yang dibentuk belum optimalmendorong tuntutan untuk menjadikan sebagai lembaga tersendiri, akan tetapi darisisi keamanan masyarakat sudah mulai dapat dirasakan. Dalam kaitanpencegahan kriminal di wilayah Polda Provinsi Kepulauan Riau, untuk mencapaitujuan tersebut, Polda Provinsi Kepulauan Riau menjabarkan beberapa program 17
  • 27. seperti perlunya melibatkan masyarakat (participan public), meningkatkan kualitassumberdaya manusia anggota, seperti mempermudah masyarakat dalammemperoleh perlindungan keamanan. Begitu juga dengan diadakan operasigabungan yang terstruktur melibatkan semua komponen masyarakat akan selaluefektif dalam menjaga stabilitas keamanan dan perdamaian.2.1.4. REKOMENDASI KEBIJAKAN UNTUK AGENDA PEMBANGUNAN INDONESIA YANG AMAN DAN DAMAI 1. Mengatur keterlibatan masyarakat dalam setiap menjaga kemanan dan kedamaian dalam suatu peraturan hukum yang mengikat, konsisten dan berkesinambungan, 2. Memperbesar persentase keprofesionalan aparat, dengan meningkatkan Strata Pendidikan, 3. Mengoptimalkan fungsi Polmas, baik dalam bentuknya yang sekarang maupun ditransformasi sehingga berkesinambungan,. 4. Upaya kongkrit untuk meningkatkan aparat yang profesional, Kebijakan- kebijakan yang mendorong kondisi diatas harus ditunjang oleh prioritas anggaran yang memadai. 5. Karena wilayah hukum Polda Provinsi Kepulauan Riau yang berdekatan dengan Negara tetangga yaitu, Singapura, Malaysia dan Vietnam, dirasa perlu untuk menambah jumlah anggota maupun peralatan, baik dilaut, udara maupun darat. 6. Perlu penegakkan hukum (law inforcement), bagi aparatur penegak hukum kepada masyarakat yang tidak diskriminatif. 7. Mengingat lemahnya kordinasi antara instansi yang menangani permasalahan maka perlu dibentuk satu badan yang terdiri dari gabungan instansi terkait. Ketegasan dalam pembagian kewenangan lembaga yang menangan permasalahan yang terjadi, 8. Memperhatikan dan memberikan ruang publik dalam keterlibatannya pada seluruh kebijakan dan pengelolaan bangsa, 9. Regulasi di era demokratisasi diharapkan tidak ada intervensi dari pihak manapun, termasuk tekanan-tekanan politik dan keadilan serta kejujuran harus ditegakkan, 18
  • 28. 10. Pelayanan publik oleh aparat yang bersih, transparan, akuntabel, efektif dan efisien. 11. Penghematan dalam pengelolaan keuangan negara dan daerah, salah satu pemborosan anggaran dalam Pemilukada disetiap daerah, Kedepan Gubernur merupakan perpanjangtangan Pemerintah Pusat di Daerah, yang tidak memiliki wilayah tidak perlu adanya Pemilukada Gubernur, tapi cukup dipilih oleh DPRD. 12. Program Pencerdaskan kehidupan masyarkat dalam perpolitikan, berbangsa dan bernegara.2.2. MEWUJUDKAN INDONESIA YANG ADIL DAN DEMOKRATIS2.2.1 PELAYANAN PUBLIK Jika dilihat dari pencapaian Indikator Pelayanan publik dan demokrasimerupakan tujuan pembangunan yang penting. Demokrasi tidak hanya alat, namunjuga tujuan bagi pembangunan. Demokrasi yang menjadi pilihan bangsa sejak erareformasi menguatkan tuntutan akan hadirnya pelayanan publik yang memadai.Dalam rezim demokratis, legitimasi pemerintah tergantung pada pengakuan dandukungan dari rakyat. Untuk memperoleh legitimasi rakyat, pemerintah perlu terusresponsif terhadap keinginan rakyat. Salah satu upaya itu adalah denganmeningkatkan kualitas pelayanan publik. Pelayanan publik dan demokrasi adalahpenentu legitimasi pemerintahan meningkatnya pelayanan birokrasi kepadamasyarakat yang tercermin dari berkurangnya secara nyata praktek korupsi dibirokrasi, dan dimulai dari tataran pejabat yang paling atas, terciptanya sistempemerintahan dan birokrasi yang bersih, akuntabel, transparan, efisien danberwibawa, terhapusnya aturan, peraturan, dan praktek yang bersifat diskriminatifterhadap warga negara, kelompok, atau golongan masyarakat. Maka dalam rangkamemperkuat legitimasi pemerintahan, menjadi penting untuk mengetahui sejauhmana tingkat pelayanan publik dan demokrasi di berbagai daerah di Indonesia,termasuk di Provinsi Kepulauan Riau. Upaya menilai tingkat pelayanan publik dandemokrasi (outcomes) di Provinsi Kepulauan Riau akan dilakukan dengan melihatjumlah rata-rata beberapa indikator pendukung. Adapun indikator tersebut meliputi:tingkat pelayanan publik yang diberikan dengan melihat jumlah rata-rata beberapaindikator pendukung. 19
  • 29. Adapun indikator tersebut meliputi: persentase jumlah kasus korupsi yangtertangani dibandingkan dengan yang dilaporkan, tingkat partisipasi politikmasyarakat baik dalam Pemilihan Legislatif maupun Pemilihan Presiden.persentase jumlah Kabupaten/Kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satuatap atau pelayanan terpadu. Pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau yang terdiridari 5 Kabupaten dan 2 Kota yaitu; Kabupaten Bintan, Kabupaten Natuna,Kabupaten Lingga, Kabupaten Karimun dan Kabupaten Anambas, sedangkan 2Kota yaitu; Kota Batam dan Kota Tanjung Pinang. Sejak tahun 2008 telah diberlakukannya Kawasan Free Trade Zone (FTZ)Batam, Bintan dan Karimun dan perubahan status Otorita Batam menjadi BadanKawasan (BK) FTZ . Hal ini dilakukan guna percepatan peningkatan perkembanganekonomi, membuka lapangan pekerjaan baru, mengurangi angka penganggurandan meningkatkan pendapatan asli daerah, maka perlu diwujudkan transparansidan akuntabilitas pelayanan publik dengan jalan memutus rentang kendaliadministrasi birokrasi dengan mendirikan gabungan berbagai instansi dalammemberikan pelayanan satu atap atau terpadu yang disebut one stop servicespelayanan yang efektif dan efisien. Pelayan publik (one stop services) ini sudahberlangsung sejak tahun 2008. Kota Batam dijadikan pioner percontohan dalam memberikan pelayan publikyang terpadu, sudah ada beberapa daerah di Provinsi Kepulauan Riau yangmembuat perda tentang pelayanan publik seperti, Tanjungpinang, Bintan danKarimun, namun belum berjalan optimal karena masih memiliki kendala terutama dibidang sumber daya manusia dan bidang teknologi. Kesuksesan dan keberhasilanKota Batam dalam memberikan pelayan kepada publik, maka Menteri Dalam NegeriGamawan Fauzi dalam Dialog Today tanggal 8 Oktober 2010 distasiun Metro TVmengatakan’’ Kota Batam di Provinsi Kepulauan Riau dijadikan sebagai daerahpercontohan dalam memberikan pelayan publik di Indonesia”. Dengan demikian Provinsi Kepulauan Riau dalam pencapaian untukmewujudkan pelayan publik memiliki nilai yang tinggi jika dibandingkan dengancapaian nasional. Nilai outcomes Provinsi Kepulauan Riau yang lebih tinggidibanding outcomes nasional, juga disumbang oleh indikator persentasi partisipasimasyarakat dalam Pilpres tahun 2009, Pilkada Gubernur tahun 2005, meskipunterjadi penurunan partisipasi pemilih pada Pemilu legislatif dan Presiden 2009,tingkat partisipasi masyarakat dalam menggunakan hak pilih dalam Pemilihan 20
  • 30. Gubernur Provinsi Kepulauan Riau hanya mencapai 46,34 persen, atau lebih dari53,66 persen pemilih di Provinsi Kepulauan Riau masuk dalam golongan putih(Absentia Voter) masih lebih tinggi dibanding nilai rata-rata nasional. Tingkatpartisipasi masyarakat yang rendah dalam menggunakan hak pilihnya dapatmenurunkan kualitas demokrasi. Rendahnya kualitas demokrasi dapatmempengaruhi buruknya legitimasi pemerintah yang terbentuk dari hasil pemilu.Rendahnya legitimasi pemerintah akan membuka ruang buruknya pelayanan publikyang diterima masyarakat, serta maraknya praktik KKN karena kurangnya kontroldari masyarakat. Kondisi ini jika terus menerus berlangsung akan melahirkankekecewaaan politik (political disappointed) di dalam masyarakat, yang dapatmendorong tersumbatnya atau melemahnya sarana-sarana politik formal. Tingkat penanganan tindakan kejahatan masyarakat dan demokrasi(outcomes) Provinsi Kepulauan Riau menunjukkan kecenderungan yang meningkatdari tahun ke tahun. Karena itu, dapat dijelaskan bahwa peningkatan signifikan nilaioutcomes pada tahun 2009 tidak lepas dari salah satu indikator pendukung yaitupersentase aparat yang bekerjasama dengan masyarakat dalam menjagakeamanan. Untuk melibatkan masyarakat dalam menjaga keamanan danperdaiaman yang mempengaruhi dirinya tidak saja merupakan tuntutan goodgovernance, tapi lebih dari itu, ia merupakan hak asasi manusia. Penanganantindakan korupsi di Provinsi Kepulauan Riau mendapatkan prioritas yang pertamadari seluruh elemen pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau. Langkahpemberantasan korupsi ini juga bersinggungan dengan upaya meningkatkankualitas pelayanan publik. Mengingat persepsi korupsi terkait dengan kualitaspelayanan publik. Menurut survei yang diadakan Political and Economic RiskConsultancy (PERC), Indonesia menempati urutan teratas dalam daftar negarapaling korup di antara 16 negara tujuan investasi di Asia Pasifik. Singapura beradadi urutan terbawah. Korupsi adalah salah satu tindak kejahatan yang dipandang sebagaimasalah yang sangat serius di Indonesia, korupsi selalu mengrogoti harta kekayaannegara. Kepekaan masyarakat terhadap tindak kejahatan korupsi serta prosespenanganan/penindakan para pelaku kejahatan oleh aparat penegak hukum telahdemikian peka. Seperti halnya di daerah-daerah lain di Indonesia, aparat penegakhukum di Provinsi Kepulauan Riau telah menunjukkan kesigapan yang semakintinggi dalam melakukan penangan setiap tindak pidana korupsi. Kasus - kasus dana 21
  • 31. non bugeter yang demikian kusut hanyalah sedikit dari sekian banyak perkarakorupsi di negara yang berupaya mewujudkan good and clean governance sebagaisalah satu cita-cita reformasi. Berdasarkan data yang terhimpun dari Kejaksaan Tinggi (Kajati) ProvinsiKepulauan Riau, dalam periode 2008-2010, sebagai berikut; Peraga 2.4. Kasus Korupsi yang Tertangani Dibandingkan yang dilaporkan Sumber : Kejati Provinsi Kepri 2010 Penanganan kasus korupsi di wilayah Kejaksaan Tinggi Provinsi KepulauanRiau baru dimulai sejak tahun 2008, pada tahun-tahun sebelumnya penangankasus korupsi ditangani oleh Kejaksaan Tinggi yang masih berkedudukan diProvinsi Riau Pekanbaru, penangan kasus korupsi memperlihatkan trend ataukecenderungan positif. Provinsi Kepulauan Riau merupakan salah satu daerahyang memperoleh indeks penanganan korupsi terbaik di Indonesia. Trend dalammenangani kasus korupsi yang dilaporkan juga terus menunjukkan hasil optimal.Pada tahun 2010, dari 30 kasus yang dilaporkan, semuanya berhasil ditangani olehKejati Provinsi Kepulauan Riau. Data dari tahun 2008 dan tahun 2009 tidak dapatditampilkan karena data yang diperoleh hanya data tahun 2010, melalui AsistenTindak Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Provinsi Kepulauan Riau Eko BambangRiadi SH, MH mengatakan bahwa data tahun 2008 dan 2009 akan diberikansetelah data tersebut diinput oleh stafnya. Korupsi adalah salah satu tindakkejahatan yang dipandang sebagai masalah yang sangat serius di Indonesia. 22
  • 32. Kepekaan masyarakat terhadap tindak kejahatan korupsi serta prosespenanganan/penindakan para pelaku kejahatan oleh aparat penegak hukum telahdemikian peka. Seperti halnya di daerah-daerah lain di Indonesia, aparat penegakhukum di Provinsi Kepulauan Riau telah menunjukkan kesigapan yang semakintinggi dalam melakukan penangan setiap tindak pidana korupsi. Berdasarkan datayang terhimpun dari Kejaksaan Tinggi (Kajati) Provinsi Kepulauan Riau dalamperiode 2008-2010, seluruh kasus korupsi yang dilaporkan semuanya dapatditangani. Jika dilihat dari Outcomes penanganan kasus dan tindakan korupsimengalami trend yang sangat baik. Sementara itu, jika dinilai dari laporan keuangan masing-masing SKPD yangmemiliki laporan keuangan dengan predikat wajar tanpa pengecualian (WTP), makabisa disampaikan bahwa belum ada SKPD di Provinsi Kepulauan Riau yangmendapat predikat ini. Karena secara umum, audit yang dilakukan BadanPemeriksa Keuangan (BPK) memberikan predikat wajar dengan pengecualiankepada Provinsi Kepulauan Riau. Kesulitan tersendiri dalam hal ini adalah, auditdilakukan hanya untuk laporan keuangan konsolidasi di tingkat provinsi/kabupatendan kota, bukannya audit parsial terhadap masing-masing SKPD. Dalam laporan hasil pemeriksaan yang dipublikasi oleh BPK dari tahun2007–2009, maka seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Kepulauan Riaumendapat predikat wajar dengan pengecualian (WDP). Kecuali KabupatenAnambas yang mendapat predikat TMP (tidak memberikan pendapat). Hal inidisebabkan karena Kabupaten Anambas adalah kabupaten baru hasil pemekaransehingga laporan keuangannya belum tertata rapi. (Sumber: Ikhtisar HasilPemeriksaan BPK-RI, 2010). Berdasarkan hasil analisis untuk laporan keuangan konsolidasi di tingkatprovinsi, kabupaten, dan kota ini maka untuk sementara tim EKPD jugamenyimpulkan bahwa belum ada SKPD di lingkungan Provinsi Kepulauan Riauyang mendapatkan predikat WTP. Penyebab utama dari hal ini adalah usia Provinsi Kepri yang tergolongmasih relatif muda sehingga membutuhkan peningkatan kualitas dan kuantitas SDMyang mengerti dengan manajemen keuangan yang sesuai dengan kaedah-kaedahakuntansi yang berlaku umum dan peraturan yang ada. Telah ada komitmen darikepala daerah di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten dan kota untukmemperbaiki posisi ini di masa-masa mendatang. 23
  • 33. 2.2.2. DEMOKRASIGDI (Gender Development Index) GDI atau Indek Pembangunan Gender (IPG) merupakan pencapaiankemampuan dasar pembangunan manusia berbasis gender. HDI (HumanDevelopment Index) digunakan untuk mengukur pencapaian pembangunanbersama dengan GDI, sehingga dapat digunakan untuk mengetahui kesenjanganpembangunan manusia antara laki – laki dan perempuan. Kesetaraan gender terjadiapabila nilai GDI setara dengan HDI dengan kata lain jika nilai GDI lebih rendah dariHDI maka telah terjadi ketimpangan gender. Perbedaan HDI dan GDI dapatmenggambarkan bias gender dalam kualitas hidup dimana terjadi ketidaksetaraangender dalam pembangunan. Nilai GDI merupakan komposit nilai dari (1) AngkaHarapan Hidup, (2) Angka Melek Huruf, (3) Rata – rata Lama Sekolah, (4) AngkatanKerja (%) Indek Pembangunan Gender (GDI) tahun 2005–2008 di Provinsi KepulauanRiau dapat dilihat pada Peraga 2.5. Terlihat bahwa indikator pencapaianpembangunan gender di Provinsi Kepuluan Riau meningkat setiap tahunnya daritahun 2005-2008. Nilai GDI Kepri pada tahun 2005 hanya sebesar 55,1%bertambah secara perlahan sampai tahun 2008 hanya mencapai 62,5%. Jikadibandingkan dengan GDI Nasional, maka pencapaian Indek Pembangunan GenderKepri belum mencapai rata – rata nasional yaitu 66,4%. Nilai GDI pada tahun 2009tidak dilakukan perhitungan, informasi ini disampaikan oleh staf biro pemberdayaanperempuan Dinas kesekretariatan Provinsi Kepulauan Riau, sehingga untukpembahasan dan analisis hanya terbatas sampai GDI tahun 2008. Kesetaraan gender dalam pembangunan dapat dilihat dari beberapaindikator, salah satunya nilai Angka Harapan Hidup (AHH). AHH pendudukIndonesia tahun 2007 adalah 68,70 tahun meningkat menjadi 69,70 tahun 2008dimana nilai angka ini lebih tinggi dari angka nasional yaitu 69,00 tahun. Padatahun 2008 diperkirakan anak yang lahir dapat hidup rata – rata sampai usia 69,70tahun, artinya diasumsikan anak yang lahir pada tahun 2008 akan dapat bertahanhidup selama 69,70 tahun dengan catatan bila diasumsikan bahwa kondisikesehatan dan kematian yang ada akan berjalan seperti saat ini atau tidak berubah.Tingginya nilai AHH Provinsi Kepulauan Riau merupakan bukti telah meningkatnyapembangunan kesehatan masyarakat di Provinsi Kepulauan Riau yang diikuti oleh 24
  • 34. status gizi balita, dari 190,011 balita yang ada di Provinsi Kepri sebanyak 5,53%balita gizi buruk dan 2,053 (2,10%) balita gizi bawah garis merah (BGM) yang setiaptahunnya bisa dikendalikan, dan masih jauh dari standar nasional 12% untuk gizikurang dan 15% gizi buruk ( tahun 2008). Berdasarkan perbedaan menurut kota/kabupaten pada tahun 2008 yaitu Kabupaten Natuna memiliki AHH paling rendah68,10 tahun dan yang tertinggi Kota Batam yaitu 70,70 tahun. Jika dirinci menurutjenis kelamin, ternyata AHH pada waktu lahir dari penduduk perempuan lebih tinggidibandingkan laki-laki. Jika dilihat dari angka melek huruf yang merupakan gambaran kemampuanbaca tulis penduduk usia 15 tahun keatas, maka angka melek huruf pendudukProvinsi Kepri pada tahun 2008 adalah mencapai 95,1%, artinya masih ada sekitar4,9 persen penduduk Provinsi Kepri yang buta huruf. Secara umum angka melekhuruf penduduk perempuan lebih rendah jika dibandingkan dengan angka melekhuruf laki-laki, yaitu 93,5% untuk perempuan berbanding 96,8% untuk laki-laki. Jikadilihat dari tempat tinggal pada tahun 2008 menunjukkan angka melek huruf didaerah perkotaan (96,5%) lebih tinggi dibandingkan dengan pedesaan (89,8%) halini disebabkan akses dan kesempatan mendapatkan pendidikan lebih baikdibandingkan dengan pedesaan. Demikian pula jika dilihat dari jenis kelaminnyaangka melek huruf perempuan lebih rendah dari laki –laki, hal ini juga didukung olehdata Badan Pusat Statistik tahun 2008 bahwa berdasarkan distribusi persentasependuduk usia 10 tahun keatas menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkanternyata laki-laki mampu menamatkan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebesar56% dibandingkan perempuan hanya 52%, akan tetapi jika dilihat dari kesenjangangender yang dihitung berdasarkan rasio angka melek huruf penduduk laki- laki danperempuan maka angka yang didapat masih cukup menggembirakan. Kesenjangangender pada tahun 2008 di perkotaan sebesar 0,93 sedangkan di pedesaansebesar 0,97. Angka tersebut memperlihatkan bahwa tidak ada perbedaan nyatakesenjangan gender dalam melek huruf. Jadi antara perempuan dan laki- lakihampir memiliki kemampuan yang cenderung sama dalam membaca dan menulishuruf latin. Hal ini menunjukkan bahwa masalah pembangunan pendidikan sudahcukup baik di Provinsi Kepri, tetapi keadaan belum bisa menggambarkan keadaandi pulau-pulau dan kabupaten yang belum mendapatkan pemerataan pembangunanbaik fisik dan non fisik. 25
  • 35. Rata–rata lama sekolah juga merupakan rasio nilai GDI dalam mencapaipembangunan gender. Angka ini menggambarkan sampai sejauh mana rata – ratapenduduk usia 15 tahun ke atas menikmati pendidikan di bangku sekolah. Selain itujuga berfungsi untuk melihat sejauh mana pemerintah berhasil dalam pelaksanaanprogram wajib belajar 9 tahun. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional(Susenas, 2008) rata – rata lama sekolah penduduk Provinsi Kepri baru mencapai8,94 tahun atau rata – rata baru mencapai taraf pendidikan kelas dua SekolahMenengah Pertama (SMP). Jika dilihat dari jenis kelamin maka persentase rata –rata lama sekolah penduduk laki-laki dan perempuan tidak berbeda nyata yaitu25,6% untuk laki- laki dan 24,6% untuk perempuan. Secara umum antara penduduklaki- laki dan perempuan dalam hal lama sekolah atau tingkat pendidikan yangditamatkan tidak terjadi kesenjangan yang terlalu tinggi, namun hal itu tidak berartibahwa usaha untuk memperbaiki tingkat pendidikan perempuan cukup, khususnyabagi perempuan harus terus dilaksanakan agar nantinya tercipta kondisi kualitassumber daya manusia yang mempunyai mutu yang seimbang antara laki – laki danperempuan. Peraga 2.5. Indek Pembangunan Gender (GDI) Kepulauan Riau Tahun 2005-2008. Sumber: Pembangunan Berbasis Gender 2006.2007 & 2008, Kementerian PP&PA, dan BPS Indikator terakhir dalam melihat pembangunan gender adalah persen 26
  • 36. partisipasi angkatan kerja (TPAK). Angka ini berarti proporsi penduduk usia kerja(15 tahun keatas) yang termasuk kedalam angkatan kerja. Dari hasil SakernasAgustus 2008 menunjukkan bahwa TPAK laki- laki (85,9%) lebih tinggidibandingkan TPAK perempuan ( 47,6%). Jika dilihat dari jumlah yang bekerja dari1,007,8 ribu penduduk usia 15 tahun keatas di Provinsi Kepri hanya 60,79% ygbekerja. Dengan rincian laki-laki bekerja jauh lebih tinggi (79,26%) dibandingkanperempuan (43,47%) artinya masih terjadi kesenjangan dalam jumlah pekerja diProvinsi Kepri. Jika dilihat dari jenis pekerjaan maka didominasi oleh karyawan/buruh industri (45,44%) dan perdagangan (20,58%) sisanya jenis pekerjaan lain. Pada Peraga 2.6. terlihat nilai Human Development Indek (HDI) ProvinsiKepri yang meningkat setiap tahun tapi belum diikuti oleh nilai pembangunangender. Jika dibandingkan antara nilai HDI dan GDI Provinsi Kepri dari tahun 2005-2008 maka terdapat nilai bias atau kesenjangan relatif tetap pada 15.7 point padatahun 2005 dan 11.7 point untuk tahun 2008. Hal ini berarti masih terjadikesenjangan pembangunan gender. Jika diamati secara keseluruhan nilai GDI diprovinsi Kepri (62,5%) masih jauh dari target nasional (66,4%) . Dalam hal ini dapatdisimpulkan bahwa pembangunan berbasis gender di Kepulauan Riau masih perluditingkatkan dalam mencapai pembangunan yang adil dan demokratis.Peraga 2.6. Perbandingan nilai Human Development Indek (HDI) dan Gender Development Indek (GDI) tahun 2005-2008. Sumber: Pembangunan Berbasis Gender 2006.2007 & 2008, Kementerian PP&PA, dan BPS 27
  • 37. GEM (Gender Empowerment Measurement) GEM atau Indek Pemberdayaan Gender menunjukkan apakah perempuandapat memainkan peranan aktif dalam kehidupan ekonomi dan politik. GEMmelacak persentase perempuan yang duduk di parlemen, keterlibatan perempuanpekerja professional, kepemimpinan serta ketatalaksanaan, dan perempuan dalamangkatan kerja. Nilai GEM Provisi Kepulauan Riau Tahun 2005 – 2008 dapat dilihatpada Peraga 2.7 dibawah ini. Sama halnya dengan nilai GDI, nilai GEM untuk tahun2009 tidak disertai data yang tersedia oleh Biro Pemberdayaan Perempuan DinasKesekretariatan Provinsi Kepulauan Riau. Peraga 2.7. Indek Pemberdayaan Gender (GEM) Provinsi Kepri 2005-2008Sumber : BPS Kepri dan Biro Pemberdayaan Provinsi Kepulauan RiauData GEM pada tahun 2007 merupakan hasil pengolahan data dan interpolasi Dari Peraga 2.7 tersebut nilai GEM terus mengalami peningkatan dalamkurun waktu 2005 – 2008. Nilai GEM memperlihatkan cenderung naik yang cukupstabil tetapi masih jauh dari rata-rata nasional. Nilai GEM di Provinsi Kepri tahun2007 tidak disertai dengan data (data diambil berdasarkan interpolasi data/kecendrungan pola kenaikan data) tetapi terlihat peningkatan pada tahun 2008mencapai 49.25%. Hal ini dapat kita lihat dari keterlibatan perempuan dalam duniapolitik dari tahun 2005 – 2008 dalam anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riauhanya berbanding 6.6% atau hanya 3 orang perempuan dalam 45 total anggota 28
  • 38. dewan,dengan demikian peran perempuan di DPRD Provinsi Kepri tahun 2008hanya sebesar 20% dan di DPRD Kab/ kota mencapai 12,7% serta di jabatan publikhanya 1,1%. Jika dilihat dari jumlah penduduk perempuan (743,282 orang) lebihbanyak dibandingkan laki-laki (709,791 orang) maka partisipasi perempuan masihsangat rendah. Faktor Demokrasi masih belum berjalan, karena rata-rataperempuan masih suka memilih laki-laki dalam pemilihan Gubernur Kepri ( Periode2010-2015) hal ini disebabkan karena masih rendahnya keercayaan pemilihterhadap kepemimpinan perempuan. Kurangnya pembinaan dan pendidikan dasar praktis terhadap politik bagiperempuan juga menjadi alasan bagi para perempuan tidak terlibat dalam politik.Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa perhatian pemerintah Kepri terhadapkesamaan gender dan pemberdayaan masyarakat (perempuan) terhadappembangunan ekonomi serta partisipasi politik mengalami kemajuan dan selalutetap ditingkatkan. Berdasarkan nilai GDI dan GEM Provinsi Kepuluan Riau yang telahdibicarakan sebelumnya maka nilai ini memperlihatkan peningkatan kualitas hidupmanusia dan pembangunan penduduk semakin lebih baik dari rata-rata nasional.Indek Pembangunan Manusia telah mencapai target nasional yang mencerminkanpeningkatan pembangunan berkelanjutan yang belum sejalan denganpembangunan gender dan pemberdayaan gender. Jika dilihat dari pemerataanpembangunan manusia dalam meningkatkan kualitas hidup dan perananperempuan dalam pembangunan berdasarkan kabupaten/ kota masih terlihatkesenjangan antara kota Batam dengan kota dan kabupaten yang lain. Indek pembangunan gender dan pemberdayaan gender belummemperlihatkan kesetaraan dan nilainya masih belum mencapai target nasional.Hal ini disebabkan oleh (1). Keadaan geografis Kepulauan Riau yang terdiri dari2408 pulau dengan 4% daratan dan 96% lautan menyebabkan akses transportasiyang menunjang pembangunan masyarakat menjadi terhambat. (2) Masihterjadinya kesenjangan pembangunan baik di daerah dan di kabupaten sepertipulau Batam, pembangunan jauh lebih baik dibandingkan dengan 6 kabupaten/kotayang lain. (3) Belum meratanya kesempatan mendapatkan pendidikan di wilayahkepulauan yang jaraknya relatif jauh sehingga akses pembangunan juga terhambatseperti kesempatan mendapatkan pendidikan bagi perempuan , (4) Belum 29
  • 39. meratanya akses kesehatan karena jumlah sarana, prasarana dan tenagakesehatan belum berimbang, (4) Belum optimalnya pemberdayaan perempuan danmasih kurangnya kuantitas lembaga pembinaan pemberdayaan perempuansehingga keterlibatan dan partisipasi perempuan dalam politik dan ekonomi jugaterhambat.2.2.3. Rekomendasi Kebijakan Untuk Agenda Pembangunan Indonesia Yang Adil Dan Demokratis: Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan diatas maka dalam bidangpelayanan publik dan demokrasi di Provinsi Kepulauan Riau maka perlu dilakukanbeberapa hal antara lain : 1. Pelayanan satu atap (one stop service) yang berhasil diterapkan di Batam sebaiknya segera dilaksanakan juga dilingkungan kabupaten/kota yang lain dilingkungan Provinsi Kepri. Karena, walaupun masih ada kendala, namun pelayanan satu atau di Batam telah diakui kalangan dunia usaha sangat membantu dalam memperlancar arus investasi dan menguntungkan semua pihak. 2. Masih sulitnya Provinsi Kepri dan kabutapen/kota di bawahnya meraih predikat WTP dalam pelaporan keuangannya sangat rawan dan merupakan indikasi awal dari penyelewengan keuangan daerah. Direkomendasikan agar Provinsi Kepri segera meningkatkan kualitas SDM yang mengelola keuangan melalui perekrutan, pelatihan, dan pengarahan terus menerus oleh pihak-pihak terkait. 3. Masih rendahnya partisipasi perempuan dalam pembangunan maka perlu ditingkatkan komposisi dan kuantitas lembaga pemberdayaan gender di Provinsi Kepulauan Riau khususnya lembaga yang mengembangkan keahlian dan keterampilan dalam meningkatkan peran perempuan dalam pembangunan. 4. Keterlibatan perempuan dalam bidang politik dan pemerintah dapat ditingkatkan dengan jalan memberikan pendidikan politik kepada masyarakat dan meningkatkan keterlibatan perempuan dalam bidang politik (legislatif) dan pemerintahan (ekskutif). Seperti memberikan pendidikan praktis dalam bidang politik sehingga perempuan tertarik dan mau berperan dalam pembangunan khususnya perwakilan dewan dan dalam pemerintahan. 30
  • 40. 5. Masih terjadinya ketimpangan peran perempuan di pedesaan dan perkotaan yang ada dapat diatasi dengan jalan meningkatkan pelatihan dan keterampilan bagi perempuan khususnya dipedesaan dengan memberikan pelatihan gratis bagi peserta, sehingga perempuan di pedesaan dibekali pengalaman, pendidikan dan keterampilan sehingga mampu bersaing dalam dunia kerja dan berperan aktif dalam pembangunan.2.3. MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT2.3.1. INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA ( HUMAN DEVELOPMENT INDEX) Sumber daya manusia merupakan subjek sekaligus objek pembangunan,mencakup seluruh siklus hidup sejak di dalam kandungan hingga akhir hayat.Kualitas sumber daya manusia ditandai dengan meningkatnya indek pembangunanmanusia. Angka HDI merupakan komposit dari data-data ; (1) Umur Harapan Hidup(2) Angka melek aksara pada usia 15 tahun keatas; (3) angka partisipasi kasarjenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tertinggi ; (4) Produk Domestik Bruto(PDB) perkapita yang dihitung berdasarkan Paritas Daya Beli ( Purchasing PowerParity) Kualitas hidup manusia indonesia tercermin dari Indek PembangunanManusia (Human Developmen Indek/HDI). Dari Peraga 2.8 dibawah inimemperlihatkan bahwa pembangunan di Provinsi Kepri ini setiap tahunnya dalamkurun waktu 5 tahun dari mulai terbentuk tahun 2004 memperlihatkan peningkatanyang signifikan. Dari Gambar terlihat nilai HDI Kepri berada pada angka 70,8%untuk tahun 2004-2005 dan 72,2% pada tahun 2006 serta bertambah secaraperlahan pada tahun 2007 menjadi 72,8%. Pada tahun 2008 trend peningkatan HDIProvinsi Kepri semakin tinggi mencapai 74,18% dibandingkan tahun sebelumnyadan lebih tinggi dari nilai HDI nasional 71,17%. Hal ini disebabkan semakinmeningkatnya pembangunan bidang kesehatan, pendidikan dan pertumbuhanekonomi yang semakin membaik yaitu pertumbuhan 6,6% setiap tahunnya melebihirata - rata nasional (6,0 %). 31
  • 41. Peraga 2.8. Indeks Pembangunan Manusia (HDI) Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2004-2009 Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2008 Pada tahun 2008, HDI di Provinsi Kepri sebasar 74.18% mendudukiperingkat ke-6 nasional dari 33 provinsi di Indonesia dengan nilai : (1) AngkaHarapan Hidup 69.70 tahun, (2) Angka Melek Huruf 96.08%, (3) Rata – rata lamasekolah 8.96 tahun, (4) Pengeluaran perkapita penduduk sebesar Rp. 780,119 . Jika dilihat lebih dalam komponen HDI khususnya mengenai usia harapanhidup, penduduk Provinsi Kepulauan Riau rata-rata usianya mencapai 69,70 tahun.Sedangkan angka harapan hidup penduduk Indonesia hanya mencapai 68,00tahun, sehingga secara umum dapat disimpulkan bahwa penduduk ProvinsiKepulauan Riau mempunyai usia harapan hidup yang lebih panjang dibandingkandengan usia harapan hidup penduduk Indonesia lainnya. Ini menunjukkan adanyapeningkatan derajat kesehatan di tengah masyarakat Provinsi Kepulauan Riau. Dilihat dari aspek pendidikan, penduduk Kepulauan Riau rata-ratabersekolah selama 8,94 tahun, dibulatkan menjadi 9 tahun. Artinya jika lama belajardi SD adalah 6 tahun dan di SMP adalah 3 tahun maka jumlah lama bersekolahadalah 9 tahun, dengan kata lain penduduk Provinsi Kepulauan Riau pendidikannyarata-rata tamat SMP. Angka ini memang masih rendah, namun angka ini masihlebih baik dibandingkan dengan angka rata-rata lama sekolah nasional pada tahunyang sama (2008) yang baru mencapai 7,52 tahun atau hanya sampai kelas 2 SMP. 32
  • 42. Selain berumur panjang dan telah sekolah sampai SMP, pendudukKepulauan Riau juga sebagian besar sudah dapat membaca dan menulis. Hal inidapat dilihat dari Angka Melek Huruf penduduk Provinsi Kepulauan Riau yangsudah mencapai 96 persen. Artinya hanya tinggal 4 persen saja penduduk yangbuta aksara, itu pun adalah para lansia yang tidak mungkin lagi bersekolah.Selanjutnya jika dilhat dari tingkat kesejahteraan ekonomi, penduduk KepulauanRiau dapat dikatakan relatif sejahtera, hal ini ditunjukkan oleh angka pengeluaranrata-rata per kapita penduduk yang mencapai Rp. 637.670 per bulan. Angka iniberada di atas angka nasional yang besarnya Rp. 628.330. Bila dilihat dari nilai HDI Kab/Kota di Prov. Kepri maka Kota Batammenduduki peringkat ke 14 nasional dengan nilai 77,28% (Tabel 2.1). Dariperkembangan angka HDI di atas tampak adanya perubahan ke arah yang lebihbaik dalam bidang pembangunan Sumber Daya Manusia masyarakat (SDM)Provinsi Kepulauan Riau. Ini bermakna bahwa pembangunan yang dilaksanakanoleh Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota telah berdampak positip terhadappengembangan SDM. Namun masih perlu ditingkatkan karena angka 73,7 itu masihjauh lebih rendah dari pada HDI negara tetangga kita seperti Singapura yang HDI-nya telah mencapai angka 91,9 dan Malaysia 82,3. ( Bappeda tahun 2010). Tabel 2.1. Indek Pembangunan Manusia Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2005-2009 Kab / Kota 2005 2006 2007 2008 2009 Peringkat Bintan 70,90 72,00 72,97 73,34 73,66 105 Batam 76,50 76,68 76,82 77,28 77,56 14 Karimun 71,70 72,00 72,40 72,80 73,15 131 Natuna 68,40 69,02 69,36 69,81 70,02 268 Tanjungpinang 72,20 72,88 73,46 73,92 74,34 88 Lingga 69,40 69,85 70,25 70,74 71,10 220 Provinsi Kepri 72,20 72,79 73,68 74,18 74,91 6 Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau tahun 2010 33
  • 43. Tabel 2.2. Indek Pembangunan Manusia Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2004- 2009 (sesuai indikator) Indikator 2005 2006 2007 2008 2009 Angka Harapan Hidup 69,5 69,6 69,60 69,70 69,76 Angka Melek Huruf 96,0 93,8 94,60 96,00 94,90 Rata-rata lama Sekolah 8,1 8,4 8,94 8,94 8,94 Pengeluaran Per Kapita 621.900 489.441 554.106 637.670 692,814 HDI/ IPM 72,20 72,79 73,68 74,18 74,91 Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau, 2010 Berdasarkan analisis data di atas dapat disimpulkan bahwa nilai IndekPembangunan Manusia memiliki trend yang semakin meningkat dalam kurun waktu5 tahun dan telah melebihi target nasional. Semakin meningkatnya nilai HDIProvinsi Kepri memperlihatkan pemerintah sangat serius dalam meningkatkankualitas pembangunan manusia demi mencapai peningkatan pembangunannasional khususnya penyediaan anggaran untuk pendidikan dan kesehatan yangsemakin baik.2.3.2. PENDIDIKAN Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) telah menetapkan kebijakan dibidang pendidikan dengan menetapkan bidang pendidikan sebagai prioritas yangutama dan dianggarkan setiap tahun di dalam Anggaran Pendapatan BelanjaDaerah. Penetapan prioritas utama di bidang pendidikan tersebut tercermin darikebijakan pengalokasian anggaran pendidikan yang disepakati sebesar 20% daritotal APBD Provinsi Kepri setiap tahunnya. Alokasi anggaran pendidikan tersebut dipergunakan untuk melaksanakanberbagai program dan kegiatan seperti peningkatan sarana dan prasarana,peningkatan mutu dan kesejahteraan guru, peningkatan kegiatan kesiswaan sertapemberian beasiswa kepada mahasiswa S-1, S-2, dan S-3, serta guru dan dosentugas belajar. Dengan upaya-upaya yang telah ditempuh oleh Pemerintah ProvinsiKepri ini jelaslah bahwa pendidikan merupakan upaya yang paling strategis dalammeningkatkan kualitas sumber daya manusia disamping pelatihan-pelatihan dan 34
  • 44. kursus. Satu hal yang harus diingat bahwa tugas ini bukan hanya tanggungjawabPemerintah saja, tetapi juga merupakan tanggungjawab keluarga dan masyarakat.Beberapa aspek yang berkaitan dengan indikator tingkat keberhasilan pada bidangpendidikan di Provinsi Kepri, antara lain adalah :Angka Partisipasi Murni (APM) Tingkat SD/MI. Komitmen Pemprov Kepri untuk meningkatkan kualitas pendidikan gunamewujudkan masyarakat Kepri yang cerdas dan terbilang, terus dilakukan melaluiupaya-upaya yang telah ditempuh yang secara nyata telah mampu meningkatkankualitas pendidikan yang tergambar dari salah satu indikator keberhasilan tingkatpendidikan adalah Angka Partisipasi Murni (APM).APM menggambarkan tingkat partisipasi penduduk usia sekolah atau kelompok usia7 – 18 tahun di Provinsi Kepri dengan formulasi perbandingan antara jumlahpenduduk usia sekolah yang bersekolah dengan jumlah penduduk usia sekolahpada semua jenjang pendidikan pada waktu tertentu. Secara umum kondisi tingkatpendidikan di Provinsi Kepri berdasarkan APM menunjukkan peningkatan yanglebih baik. PERAGA 2.9. ANGKA PARTISIPASI MURNI (SD/MI)Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau. Berdasarkan data ini, nampak bahwa angka partisipasi murni untuk tingkatSekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) di Kepulauan Riau mengalamipeningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pemerintah 35
  • 45. dengan program wajib belajar 9 tahun terutama untuk wilayah Provinsi KepulauanRiau sudah berhasil. Kenaikan yang sangat drastis dari angka partisipasi murniuntuk tingkat SD/MI ini terutama pada tahun 2008, dimana pada tahun 2007menunjukkan angka 88,42 meningkat menjadi 96,99 pada tahun 2008. Hal ini biladibandingkan pada tahun-tahun yang lainnya yang hanya mengalami kenaikanberkisar pada angka 0,15 s.d. 2,91. Semakin tingginya Angka Partisipasi Murni dari tahun 2004 hingga tahun 2009disebabkan banyaknya siswa di luar usia sekolah yang berada di jenjang pendidikantersebut. Walaupun Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau telah mendirikan SekolahDasar di pelosok-pelosok daerah yang dikarenakan kondisi geografis wilayahProvinsi Kepulauan Riau yang terdiri dari pulau-pulau sehingga memungkinkananak-anak usia 7 – 12 tahun dapat bersekolah di Sekolah Dasar, namun AngkaPartisipasi Murni ini tidaklah sebesar Angka Partispasi Kasar (APK). Hal inidisebabkan kondisi ekonomi masyarakat Provinsi Kepulauan Riau masih ada yangberada di bawah garis kemiskinan sehingga untuk menyekolahkan anak-anakmereka yang berada di usia Sekolah Dasar tidak memungkinkan. Disamping itudikarenakan kurangnya kesadaran orangtua tentang pentingnya arti pendidikan bagianak. Namun jika melihat angka-angka pada grafik tersebut secara keseluruhanterutama tahun 2009 yang sudah menyentuh 97,14 dapat disimpulkan bahwaprogram Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau di bidang pendidikan sudah berhasil,dikarenakan hanya 2,86 saja yang belum menikmati pendidikan Sekolah Dasar.Angka Partisipasi Kasar (APK) Tingkat SD/MI Indikator lain yang digunakan untuk mengukur keberhasilan dibidangpendidikan adalah menggunakan Angka Partisipasi Kasar (APK). Secara umumkondisi tingkat pendidikan di Provinsi Kepri berdasarkan APK juga menunjukkanpeningkatan yang lebih baik. 36
  • 46. PERAGA 2.10. ANGKA PARTISIPASI KASAR (SD/MI) Angka Partisipasi Kasar SD/MI Tahun 2004-2009 di Provinsi 104 Kepuluan Riau 102 102.15 100 98.85 99.12 98 98.5 97.32 96 95.72 94 92 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau. Dari peraga 2.10 diatas ini memperlihatkan bahwa Angka Partisipasi Kasarmenunjukkan adanya peningkatan dari tahun ke tahun walaupun kenaikan daritahun ke tahun tidak terlalu mencolok terkecuali di tahun 2009. Pada tahun 2008berkisar pada angka 99,12 menjadi 102,15 pada tahun 2009. Sedangkan untuktahun 2004 hingga tahun 2006, kenaikannya tidaklah terlalu mencolok sama sekali,apalagi untuk tahun 2006 ke 2007 yang hanya mengalami kenaikan 0,35. Semakin tingginya Angka Partisipasi Kasar dari tahun 2004 hingga tahun2009 disebabkan banyaknya siswa di luar usia sekolah yang berada di jenjangpendidikan tersebut. Oleh karena itu diperlukan tambahan sekolah atau rehabilitasiruang kelas yang rusak, baik rusak berat maupun rusak ringan. Namun padaumumnya Pemerintah terutama Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau telahmendirikan Sekolah Dasar di pelosok-pelosok daerah hal ini dikarenakan kondisigeografis wilayah yang terdiri dari pulau-pulau sehingga memungkinkan anak-anakusia 7 – 12 tahun dapat bersekolah di Sekolah Dasar.Rata-Rata Nilai Akhir SMP/MTs. Rata-Rata Nilai Akhir siswa SMP/MTs di Provinsi Kepulauan Riauberdasarkan data yang didapat adalah sebagai berikut : 37
  • 47. Tabel 2.3 : Rata-Rata Nilai Akhir SMP/MTs Tahun Rata-Rata Nilai Akhir SMP/MTs 2007 5,98 2008 5,91 2009 6,61 Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau Berdasarkan data pada tabel, menunjukkan bahwa terjadi penurunan rata-ratanilai akhir SMP/MTs pada tahun 2008 dimana pada tahun 2007 menunjukkan angka5,98 menjadi 5,91. Namun pada tahun 2009 menunjukkan kenaikan yang cukupdrastis yaitu 6,61 atau mengalami kenaikan 0,70. Secara keseluruhan nilai rata-rata siswa-siswa tingkat SMP/MTs di ProvinsiKepulauan Riau menunjukkan angka yang cukup baik, hal ini dikarenakan sudahmelampaui batas minimal kelulusan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dalamhal ini Kementerian Pendidikan Nasional. Hal ini dapat dibuktikan dari rata-ratatingkat pendidikan masyarakat Kepulauan Riau yang “hanya” mencapai angka 8,94tahun, artinya jika lama belajar di Sekolah Dasar (SD) adalah 6 tahun dan diSekolah Menengah Pertama (SMP) atau sederajat adalah 3 tahun maka jumlahlama bersekolah adalah 9 tahun, dengan kata lain penduduk Kepulauan Riaupendidikannya rata-rata tamat SMP. Angka ini memang masih rendah, namunangka ini masih lebih baik bila dibandingkan dengan angka rata-rata sekolah padajenjang yang sama di tingkat Nasional yang baru mencapai 7,52 atau hanya sampaipada kelas 2 SMP saja. Namun hal ini tetap memerlukan perhatian yang serius kedepan dari Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dalam hal ini melalui DinasPendidikan Provinsi Kepulauan Riau dan Dinas-Dinas Pendidikan yang berada di 7Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Riau.Rata-Rata Nilai Akhir SMA/SMK/MA Rata-Rata Nilai Akhir siswa SMA/SMK/MA di Provinsi Kepulauan Riauberdasarkan data yang didapat adalah sebagai berikut : 38
  • 48. Tabel 2.4. Rata-Rata Nilai Akhir SMA/SMK/MA Tahun Rata-Rata Nilai Akhir SMA/SMK/MA 2007 6,80 2008 5,34 2009 6,65 Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau Rata-rata nilai akhir pada tingkat SMA/SMK/MA menunjukkan penurunan,terutama pada tahun 2008 yang hanya 5,34 dari sebelumnya di tahun 2007menunjukkan angka 6,80. Pada tahun 2009 mengalami kenaikan kembali menjadi6,65 tapi masih tidak mampu melebihi nilai rata-rata pada tahun 2007. Walaupun secara keseluruhan menunjukkan bahwa angka rata-rata ini sudahmemenuhi standar minimal nilai kelulusan Ujian Nasional namun turun naiknya nilaiini merupakan pekerjaan rumah yang cukup berat bagi Dinas pendidikan ProvinsiKepulauan Riau dan Dinas-Dinas Pendidikan di 7 Kabupaten/Kota yang ada diwilayah Provinsi Kepulauan Riau, sehingga dengan naiknya nilai rata-rata tentunyaakan dapat membantu bagi siswa SMA/SMK/MA untuk melanjutkan ke jenjangpendidikan yang lebih tinggi (Perguruan Tinggi), apalagi secara umum AngkaPartisipasi Sekolah untuk jenjang pendidikan SLTA baru mencapai 64%. Artinyamasih ada sekitar 36% penduduk usia 16-18 tahun yang belum mengecappendidikan SLTA baik itu SMA, SMK maupun MA.Angka Putus Sekolah SD Angka Putus Sekolah siswa SD di Provinsi Kepulauan Riau berdasarkandata yang didapat adalah sebagai berikut : Tabel 2.5. Angka Putus Sekolah SD Tahun Angka Putus Sekolah SD 2007 180 2008 174 2009 174 Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau 39
  • 49. Angka putus sekolah pada tingkat SD di Provinsi Kepulauan Riaumenunjukkan angka yang stabil dimana pada tahun 2007 menunjukkan angka 180,menjadi 174 pada tahun 2008 dan 2009. Angka-angka ini jelas menunjukkan bahwaperubahan angka tidaklah terlalu besar dan bahkan cenderung stabil. Sebagaimana yang telah dijelaskan di tabel sebelumnya bahwa rata-ratatingkat pendidikan penduduk Provinsi Kepulauan Riau adalah sampai tamat SMP.Kalaupun ada terdapat penduduk yang tidak melanjutkan pendidikan di tingkat SMPhal ini semata-mata dikarenakan faktor ekonomi, disamping memegang prinsip“Yang Penting Bisa Membaca dan Berhitung, ya sudah cukuplah”. Faktor penyebabyang kedua adalah belum adanya Sekolah Menengah Pertama di pulau tempatmereka berada, sedangkan sekolah terdekat mereka harus menyeberang ke pulauterdekat yang memiliki SMP ataupun mereka harus menuju ke ibukota Kabupatenuntuk melanjutkan sekolahnya, bahkan ada yang harus meninggalkan keluarganya,dengan usia yang relatif masih terlalu muda maka banyak orang tua yangmengambil keputusan untuk tidak menyekolahkan anaknya dengan prinsip yangtelah disampaikan tadi. Namun dengan program wajib belajar 9 tahun yang terusdidengungkan pemerintah seharusnya hal seperti ini sudah tidak terjadi lagi.Angka Putus Sekolah SMP Angka Putus Sekolah siswa SMP di Provinsi Kepulauan Riau berdasarkandata yang didapat adalah sebagai berikut : Tabel 2.6. Angka Putus Sekolah SMP Tahun Angka Putus Sekolah SMP 2007 125 2008 136 Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau Angka putus sekolah pada tingkat SMP/MTs di Provinsi Kepulauan Riau justrumengalami kenaikan, hal ini bisa kita lihat pada tahun 2007 menunjukkan angka 125menjadi 136 pada tahun 2008, sedangkan untuk tahun 2009 tidak ada datanya. Tabel ini juga menunjukkan bahwa sebagaimana pada tingkat Sekolah Dasar(SD), ternyata hal itu juga berlaku pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) 40
  • 50. atau yang sederajat, apalagi pada penjelasan sebelumnya juga sudah disampaikanbahwa untuk Provinsi Kepulauan Riau rata-rata penduduknya hanyalah tamat SMPatau menyentuh angka 8,94 tahun atau dibulatkan menjadi 9 tahun. Namun angkaini sudah lebih baik dari tingkat Nasional yang hanya rata-rata 7,52 tahun atausetara kelas 8 SMP.Angka Putus Sekolah SMA Angka Putus Sekolah siswa SMA di Provinsi Kepulauan Riau berdasarkandata yang didapat adalah sebagai berikut : Tabel 2.7. Angka Putus Sekolah SMA Tahun Angka Putus Sekolah SMA 2007 40 2008 34 Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau Program wajib belajar 9 tahun di Provinsi Kepulauan Riau menunjukkan gejalayang baik, hal ini dapat dibuktikan jika dikaitkan dengan angka putus sekolah ditingkat SMA/SMK/MA yang menunjukkan penurunan angka dari 40 pada tahun2007 menjadi hanya 34 pada tahun 2008. Namun jika dikaitkan dengan AngkaPartisipasi Sekolah Tingkat SLTA baru mencapai 64%. Artinya masih ada sekitar36% penduduk usia 16-18 tahun yang belum mengecap pendidikan SLTA baik ituSMA, SMK, atau di MA. Hal ini ditambah pula dengan sebuah kenyataan bahwa Angka PartisipasiSekolah untuk Perguruan Tinggi di Provinsi Kepulauan Riau angkanya lebih kecillagi yaitu baru mencapai 11,25%, jadi masih ada 88,75% anak usia 18-24 tahun(Mahasiswa) yang belum dapat kuliah sampai ke Perguruan Tinggi baik itu diAkademi maupun Universitas. Dengan demikian secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa untuk angkaputus sekolah di tingkat SD, SMP dan SMP di Provinsi Kepulauan Riau tidak terlalumerisaukan karena cenderung terjadi penurunan. Namun perlu dibuatkan kebijakanpemerintah khususnya tentang pemberian beasiswa, atau bantuan-bantuan khususbagi anak tidak mampu atau bimbingan dan penyuluhan kepada setiap siswa olehsekolah yang bersangkutan. 41
  • 51. Persentase Angka Melek Huruf Para pendidik dan jajaran Dinas Pendidikan di Provinsi Kepri bolehberbangga. Upaya keras untuk memajukan dunia pendidikan, khususnya WajibBelajar 9 tahun berbuah manis. Hal ini terbukti dengan keberhasilan Provinsi Kepridalam menempatkan dirinya sebagai peringkat pertama menyukseskan wajibbelajar 9 tahun dengan mutu pendidikan yang tertinggi se-Sumatera. Hal initentunya tidak terlepas dari alokasi APBD Provinsi Kepri yang dikhususkanmendukung percepatan serta peningkatan mutu pendidikan termasukmengentaskan buta aksara. Secara umum kondisi Angka Melek Huruf ProvinsiKepri dapat digambarkan sebagai berikut : PERAGA 2.11. ANGKA MELEK HURUF Angka Melek Huruf Tahun 2004-2009 Provinsi Kepulauan Riau 96.5 96 96 96 96 96.08 95.5 95 94.7 94.5 94 93.8 93.5 93 92.5 - 2004 2005 2006 2007 2008 2009Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau. Program Pemberantasan Buta Huruf di Provinsi Kepulauan Riau terusdigalakkan, hal ini dapat dibuktikan dengan melihat angka Melek Huruf yangcenderung mengalami kenaikan, walaupun pada tahun 2006 menunjukkan adanyapenurunan 2,20. Penurunan Angka Melek Huruf pada tahun 2006 ini diakibatkankarena rata-rata umur masyarakat Provinsi Kepulauan Riau yang cenderungpanjang sehingga pada dasarnya tidak berpengaruh secara signifikan karena AngkaButa Aksara itu hanya terjadi pada kalangan Lanjut Usia (Lansia). Sedangkan jikadilihat pada data tahun 2004 yang menunjukkan angka 94,70, lalu pada tahun 2005menunjukkan angka 96,00 dan terus bertahan hingga tahun 2008. 42
  • 52. Secara keseluruhan angka-angka pada grafik menunjukkan bahwa pendudukKepulauan Riau sebagian besar sudah dapat membaca dan menulis. Hal ini dapatdilihat dari Angka Melek Huruf penduduk Kepulauan Riau yang sudah mencapaiangka 96% pada tahun 2007 dan 2008, bahkan menjadi 96,08% pada tahun 2009.Artinya hanya 3,92% saja lagi penduduk Provinsi Kepulauan Riau yang masih ButaAksara, itupun adalah para Lanjut Usia (Lansia) yang tidak mungkin lagi bersekolah.Persentase Jumlah Guru yang Layak Mengajar SMP/MTs Persentase Jumlah Guru yang Layak Mengajar SMP/MTs di ProvinsiKepulauan Riau berdasarkan data yang didapat adalah sebagai berikut : Tabel 2.8. Persentase Jumlah Guru yang Layak Mengajar SMP/MTs Jumlah Guru yang Layak Mengajar Tahun SMP/MTs 2007 2,551 2008 3,022 2009 3,146 Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau Kebijakan menambah jumlah guru terutama melalui program Guru TidakTetap di provinsi Kepulauan Riau diambil oleh Dinas Pendidikan. Dengan programinilah maka jumlah guru yang layak mengajar dari tahun ke tahun mengalamikenaikan yang cukup signifikan. Mulai dari tahun 2007 yang menunjukkan angka2,551, menjadi 3,022 pada tahun 2008 dan akhir mengalami kenaikan lagi menjadi3,146 pada tahun 2009. Secara keseluruhan tenaga guru juga masih kurang terutama untuk gurueksakta, sarana dan prasarana belajar mengajar, kuantitas dan kualitasnya masihbelum memenuhi standar terutama di Desa, bahkan banyak pula guru yangmengajar tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang mereka milikisehingga secara tidak langsung sangat mempengaruhi dengan nilai akhir darisiswa-siswa yang diajarkan oleh mereka. 43
  • 53. Persentase Jumlah Guru yang Layak Mengajar SMA/SMK/MA Persentase Jumlah Guru yang Layak Mengajar SMA/SMK/MA di ProvinsiKepulauan Riau berdasarkan data yang didapat adalah sebagai berikut : Tabel 2.9. Persentase Jumlah Guru yang Layak Mengajar SMA/SMK/MA Jumlah Guru yang Layak Mengajar Tahun SMA/SMK/MA 2007 1,775 2008 2,061 2009 2,322 Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau Persentase jumlah guru yang layak mengajar dari tahun ke tahun di ProvinsiKepulauan Riau menunjukkan peningkatan. Hal ini dikarenakan adanya kebijakandari Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau untuk merekrut Guru Tidak Tetap(GTT) untuk ditempatkan di daerah-daerah yang mengalami kekurangan guru,terutama bidang studi-bidang tertentu yang memang kekurangan guru sama sekali.Untuk itu bisa dilihat dari data pada grafik dari tahun ke tahun dimana pada tahun2007 menunjukkan angka 1,775 mengalami kenaikan pada tahun 2008 menjadi2,061 dan terus mengalami kenaikan pada tahun 2009 menjadi 2,322. Secara keseluruhan jumlah tenaga guru di Provinsi Kepulauan Riau sudahcukup memadai dengan rasio 1 : 20, rasio ini tergolong baik, namun untuk beberapajenis guru, khususnya guru eksakta sebagaimana di tingkat SLTP jumlahnya masihkurang. Disamping itu penyebaran tenaga guru juga belum merata, umumnya lebihbanyak terkonsentrasi di ibukota Kabupaten/Kota sedangkan di kecamatan-kecamatan jumlahnya semakin langka. Demikian pula halnya dengan sarana danprasarana belajar seperti alat peraga dan lain-lain baik dari segi kualitas maupunkuantitas masih perlu ditingkatkan lagi.2.3.3. KESEHATAN Kondisi kesehatan merupakan bagian dari kesejahteraan rakyat yangberhubungan satu dengan yang lainnya. Salah satu aspek penting kesejahteraan 44
  • 54. adalah kualitas fisik penduduk yang dapat dilihat dari derajat kesehatan penduduk.Indiaktor utama yang digunakan untuk melihat derajat kesehatan penduduk antaralain Umur Harapan Hidup (UHH), Angka Kematian Bayi (AKB), tingkat Gizi Kurang(%) dan Gizi Buruk(%). Meningkatkan kualitas fisik penduduk juga tidak terlepas dari pelayanan danmutu kesehatan yang menjadi prioritas utama kesehatan. Memelihara mutupelayanan kesehatan melalui pemberdayaan sumber daya manusia secaraberkelanjutan dan sarana prasarana dalam bidang medis termasuk kesediaan obatyang dapat dijangkau oleh masyarakat.Umur Harapan Hidup (UHH) Umur Harapan Hidup yang biasa disingkat UHH merupakan salah satuindkator keberhasilan pembangunan manusia. Indikator UHH merupakan salah satukomponen dalam penilaian keberhasilan pencapaian MDGs (MilleniumDevelopment Goals). Berbagai elemen yang berperan penting dalam menentukanUHH antara lain indikator pendidikan, kesehatan dan pertumbuhan ekonomi. Pembangunan sektor kesehatan dengan tingkat pencapaian UHH memilikihubungan yang erat termasuk juga dengan elemen lainnya. Meningkatnyapelayanan kesehatan dan sarana puskesmas, rumah sakit dan sarana pelayananlainnya memberikan dampak positif terhadap peningkatan derajat kesehatan.Demikian juga meningkatnya daya beli masyarakat akan meningkatkan aksesterhadap pelayanan kesehatan, mampu memenuhi kebutuhan gizi dan kalori,mampu mempunyai pendidikan yang lebih baik sehingga memperoleh pekerjaandengan penghasilan yang memadai, yang pada gilirannya akan meningkatkanderajat kesehatan dan memperpanjang umur harapan hidup. Umur harapan hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintahdalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan meningkatkanderajat kesehatan pada khususnya. Umur harapan hidup yang rendah di suatudaerah harus diikuti dengan program pembangunan kesehatan, program sosiallainnya termasuk kesehatan lingkungan, kecukupan gizi dan kalori termasukprogram pemberantasan kemiskinan. Meningkatnya umur harapan hidup pada tahun 2008 mengindikasikankeberhasilan kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. 45
  • 55. Angka Kematian Bayi (AKB) Angka kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayilahir sampai bayi belum berusia tepat satu (1) tahun. Banyak faktor yangmenyebabkan kematian bayi baik internal (indogen) maupun ekternal (eksogen).Angka kematian bayi (AKB) merupakan indikator penting dalam megukur derajatkesehatan dan tingkat kesejahteraan masyarakat di suatu wilayah. Hal inidikarenakan keadaan bayi baru lahir sangat sensitif dengan keadaan lingkungantempat tinggal orang tua bayi dan berkaitan erat dengan kondisi sosial ekonomiorang tua. Angka kematian bayi merupakan salah satu indikator dalam memantau danmengevaluasi keberhasilan program dibidang kesehatan. AKB juga dapatdimanfaatkan sebagai alat ukur situasi demografi dan sebagai masukan dalammelakukan perhitungan proyeksi penduduk. Gambar 4 memperlihatkan nilai AKBprovinsi Kepuluan Riau dari tahun 2004 – 2009. Peraga 2.12. Umur harapan Hidup Provinsi Kepri Tahun 2004-2009 Sumber . Dinas Kesehatan Provinsi Kepri Tahun 2009 46
  • 56. Peraga 2.13. Nilai Angka Kematian Bayi ( AKB) di Kepulauan Riau, 2004-2009 Sumber : Profil Kesehatan Provinsi Kepri , 2008 Peraga 2.13. di atas menunjukkan angka kematian bayi dari tahun 2004sampai dengan 2009. Dari data diatas terlihat AKB jauh lebih rendah dari datanasional walaupun masih sedikit berfluktuasi. Dari tahun 2004 nilai AKB sebanyak7.75 per 1000 kelahiran hidup meningkat pada tahun 2005 menjadi 8.23 per 1000kelahiran hidup. Dari tahun 2006 sampai 2007 AKB kembali menurun menjadi 7,2dan 5,03. Penurunan nilai AKB pada tahun 2007 merupakan nilai kematian bayipaling rendah selama lima tahun berdirinya provinsi Kepulauan Riau. Menurunnyaangka kematian bayi dan meningkatnya angka harapan hidup mengindikasikanadanya peningkatan derajat kesehatan penduduk. Jumlah kematian bayi di ProvinsiKepuluan Riau pada tahun 2008 berdasarkan angka kematian yang dilaporkan kesarana pelayanan kesehatan yaitu tercatat sebanyak 267 orang meninggal dai40.430 jumlah kelahiran hidup dan jika angka ini dikonversikan langsung makadiperoleh angka kematian bayi di Provinsi Kepuluan Riau tahun 2008 sama dengan5.34 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan pada tahun 2009 nilai AKB naik menjadi7.40 per 1000 kelahiran hidup. Secara keseluruhan dari tahun 2004- 2009 AKBProvinsi Kepulauan Riau rata – rata nilai AKB 6.83 per 1000 kelahiran hidup jauhdibawah rata-rata nasional 34 per 1000 kelahiran hidup artinya Kepuluan Riau telahmampu menekan kematian bayi dan sebagai gambaran adanya peningkatankualitas hidup dan pelayanan kesehatan masyarakat. Angka Kematian Bayi (AKB) di Kepulauan Riau merupakan pencapaian 47
  • 57. yang sangat baik karena nilai AKB Kepri selama provinsi ini terbentuk dari tahun2004 -2009 jauh dibawah rata-rata nasional 35- 35 per 1000 kelahiran hidup. Hal inimerupakan gambaran keberhasilan pembangunan dan perbaikan kualitaskesehatan. Jika dilihat kembali perbandingan nilai AKB tahun 2008 dan 2009mengalami peningkatan. Hal lain yang harus mendapatkan perhatian adalah jumlahbayi yang lahir mati. Pada tahun 2008, dari 40.653 total kelahiran tercatat bahwasebanyak 223 bayi lahir mati (0,55%). Kasus bayi lahir mati berkaitan erat dengan kondisi keadaan ibu saat hamilyang meliputi antara lain gizi, sanitasi, pemeriksaan kehamilan, keadaan sakit danstatus imunisasi ibu. Dari jumlah kematian bayi yang dilaporkan diketahui bahwapenyebab kematian bayi yang utama di Kepulauan Riau adalah kejadian Bayi BaruLahir Rendah (BBLR) sebesar 31% dan asfiksia ( 25%) dan sisanya penyebab lain.BBLR disebabkan oleh kondisi ibu saat hamil, sementara itu beberapa faktor yangmempengaruhi kondisi gizi ibu hamil antara lain ekonomi keluarga, tingkatpendidikan ibu, ketersediaan pangan di masyarakat dan kehidupan sosial budaya.Jika dilihat menurut wilayah kabupaten / kota maka pada tahun 2008 nilai angkakematian bayi tertinggi terdapat di daerah Natuna (16 per 1000 kelahiran hidup)yang disusul oleh Kabupaten Lingga (12 per 1000 kelahiran hidup), sedangkan AKBterendah yaitu Kota Batam (4 per 1.000KH) hal ini berkaitan dengan keadaangeografis dan akses kesehatan masing – masing daerah. Seperti halnya KabupatenLingga dan Natuna, lokasi pulau yang sangat jauh menghambat pemerataankesehatan di Kepulaun Riau Untuk mewujudkan peningkatan derajat dan status kesehatan penduduk,ketersediaan dan keterjangkauan fasilitas sarana dan prasarana kesehatanmerupakan salah satu faktor penentu utama. Kasus kesehatan ibu dan bayi tidakterlepas dari keberhasilan pemerintah daerah dalam menigkatkan sarana,prasarana dan tenaga kesehatan yang memadai di setiap daerah. Dari data yangdilaporkan bahwa pada tahun 2008 menurut penolong persalinan, persentasepersalinan bayi paling tinggi dibantu oleh bidan yaitu 59,8% , dokter 33,1% dantenaga kesehatan lainnya 1,2% atau hampir 94, 1% persalinan yang ditolong olehtenaga kesehatan, namun terdapat perbedaan yang mencolok antara daerahperkotaan dan pedesaan, untuk daerah perkotaan terdapat 99,1% persalinan yangditolong oleh tenaga kesehatan sedangkan di daerah pedesaan 73,8% persalinanditolong oleh tenaga kesehatan, hal ini karena masih banyaknya persalinan yang 48
  • 58. ditolong oleh dukun yaitu mencapai 25,7%. Jika dilihat dari situasi sumber dayakesehatan, maka Kepuluan Riau mempunyai 21 rumah sakit baik rumah sakitpemerintah ataupun swasta, 63 puskesmas, 61 puskesmas keliling darat, 31puskesmas keliling laut, dan 215 puskesmas pembantu yang ditunjang oleh 4.784orang tenaga kesehatan. Puskesmas, puskesmas keliling (darat dan laut) dan puskesmas pembantumerupakan ujung tombak pelayanan kesehatan karena dapat menjangkaupenduduk sampai pelosok dan pulau – pulau terpencil (masyarakat hinterland).Namun ketersediaannya masih dirasakan kurang dan perlu ditambah lagi karenarasio puskesmas terhadap penduduk yaitu 4.45 per 100.000 penduduk yang artinyasatu puskesmas malayani rata – rata 22.470 penduduk, rasio ini telah mencapaitarget yang telah ditetapkan oleh Depkes dimana satu puskesmas mampumelayani 27.000 penduduk. Namun mengingat struktur geografis Kepuluan Riauterdiri dari banyak pulau dengan jarak yang berjauhan angka tersebut diatas belumbisa mewakili karena masih banyak masyarakat hinterland atau pulau-pulau kecilyang belum mampu menjangkau pelayanan kesehatan secara cepat dan mudah. Sesuai data Profil kesehatan Kepri tahun 2008, puskesmas pembantu (pustumengalami penurunan dari 223 unit pada tahun 2007 menjadi 217 unit pada tahun2008, hal ini karena peningkatan status puskesmas pembantu menjadi puskesmasperawatan. Begitu juga dengan ketersediaan puskesmas keliling (pusling) sangatmemegang peranan penting dalam meningkatkan akses masyarakat khususnyamenjangkau daerah yang sulit dan terpencil. Selama tahun 2007 terdapat 96 unitnamun pada tahun 2008 terjadi penurunan menjadi 48 unit pusling yang terdiri dari48 unit pusling darat dan 34 unit pusling. Hal ini dikarenakan kerusakan daya mesinmotor (mobile dan speedboat) Keberhasilan pemerintah daerah yang dibantu oleh dinas kesehatan dalammencapai nilai AKB Kepri yang jauh dibawah rata-rata nasional merupakanpencapaian yang sangat baik. Tetapi pencapaian ini harus selalu ditingkatkan agarkualitas kesehatan masyarakat mampu meningkatkan keberhasilan pembangunandi Kepulauan Riau. Namun perlu diperhatikan antara lain; (1) Meningkatkanpemerataan kesehatan baik dalam bentuk sarana prasarana serta tenagakesehatan khususnya dokter spesialis , (2) meningkatkan akses kesehatan kedaerah daerah hinterland yang sulit dijangkau, (3) mengingat kondisi geografisKepulauan Riau serta sarana transportasi dan teknologi sistim informasi yang 49
  • 59. mendukung belum optimal di setiap pulau dan daerah hinterland maka diperlukankerjasama dari semua pihak terkait agar selalu melaporkan data yang berhubungandengan data kesehatan agar data yang didapat merupakan data representatif yangmewakili keadaan dan kualitas kesehatan di Provinsi Kepuluan Riau.Prevalensi Gizi Buruk & Kurang Masalah gizi adalah salah satu permasalahan di bidang kesehatan sampaisaat ini. Kesuksesan dibidang teknologi pangan tidak serta merta membawa duniabebas dari masalah gizi. Bahkan oleh FAO memperkirakan 30% penduduk duniayang terdiri dari anak-anak, remaja, dewasa dan manula menderita kurang gizi.Hampir 49% kematian balita berkaitan dengan masalah kurang gizi (gizi kurang). Masalah pemenuhan kebutuhanya akan zat gizi yang diperoleh darimakanan. Masalah gizi yang rentan ditemukan pada segmen masyarakat yaitu ibuhamil, ibu meneteki, bayi dan anak balita. Kelompok ini dipakai dalam menentukanstatus gizi masyarakat. Indikator status gizi pada bayi adalah Berat Badan LahirRendah (BBLR), status gizi balita, status gizi wanita usia subur Kurang EnergiKronis (KEK), Anemia Gizi Besi (ACB) pada ibu dan pekerja wanita, dan gangguanakibat kekurangan yodium (GAKY). Parameter yang umum digunakan untukmenentukan status gizi pada balita adalah berat bada, tinggi badan, dan lingkarkepala. Lingkar kepala sering digunakans ebagai ukuran tatus gizi untukmenggambarkan perkembangan otak. Sedangkan parameter status gizi balita yangumum digunakan di Indonesia adalah berat badan menurut umur. Parameter inidigunakan menyeluruh di posyandu.Peraga 2.14. Grafik prevalensi Gizi Buruk (%) dan Gizi Kurang (%) di Provinsi Kepulauan Riau dari tahun 2004 – 2009. 50
  • 60. Sumber : Dinas Kesehatan Provinsi Kepri Tahun 2009 Dari data diatas terlihat grafik yang mencolok dari tahun 2004 dan 2005.Tahun 2004 nilai angka prevalansi gizi buruk dan kurang cukup rendah, dimanadata ini merupakan data yang dilaporkan oleh Provinsi Riau saat Kepulauan Riaumasih sebagai Kabupaten. Rendahnya data ini disebabkan kurangnya informasipendataan dari rumah sakit atau posyandu di pulau- pulau yang jaraknya berjauhandi wilayah kepri sehingga data tidak memeperilihatkan gambaran yang sebenarnya.Selanjut pada tahun 2005 saat pemerintahan dan sistim informasi telah dibenahidan berjalan dengan baik terlihat kecendrungan gizi buruk dan kurang yangsemakin meningkat, hal ini menggmbarkan kondidi yang sebenanya terutama diwilayah pesisir dan pulau pulau yang jaraknya berjauhan dan belum mendapatkanfasilitas dan tenaga kesehatan yang memadai. Selanjutnya tahun 2006 keadaantersebut sudah mampu diperbaiki dengan mampu menekan angka masalah gizi diKepulauan Riau serta membuktikan kinerja Dinas Kesehatan semakin lebih baikdan ditingkatkan, seperti jumlah tenaga kesehatan yang bertambah sertapeningkatan kinerja dan pemberdayaan posyandu yang semakin optimal. Berdasarkan profil kesehatan Kabupaten/Kota tahun 2008 diketahui bahwadi Provinsi Kepulauan Riau terdapat sebanyak 553 Balita atau 0,57 persenmengalami gizi buruk dan sebanyak 2.053 Balita atau 2,10 persen dengan statusgizi kurang. Kejadian gizi buruk dan kurang pada balita ini sedikit meningkat jikadibandingkan tahun 2007 yang angkanya masing-masing sebesar 0,55 persen dan1,82 persen. Tetapi angka gizi kurang dan buruk tahun 2008 tersebut masih jauh dibawah angka nasional yang pada tahun 2008 adalah sebesar 12 dan 15 persen.Penanganan balita dengan gizi kurang dan buruk ini telah dilakukan dengan 51
  • 61. memberikan makanan tambahan dan merawat bayi tersebut di Puskesmassetempat. Selain itu juga dengan cara memberikan penyuluhan guna untukmeningkatkan pengetahuan akan gizi kepada masyarakat. Penanganan balita dengan gizi kurang maupun gizi buruk ini telah dilakukanmelalui pemberian makanan tambahan (PMT) dan merawat bayi gizi buruk dipelayanan kesehatan. Berdasarkan pada data dinas kesehatan provinsi KepulauanRiau pada tahun 2008 penanganan balta gizi buruk telah mencapai 100 %.Diharapkan upaya ini terus ditingkatkan dan kewaspadaan dini akan amsalah giziburuk pada balita ini dapat ditingkatkan tentunya dengan partisipasi aktifmasyarakat dengan melaporkan apabila diwilayah dicurigai ada balita yangemndemi gizi kurang atau gizi buruk. Sementara untuk meningkatan pengetahuanakan gizi, penyulhan asyarakat tentang gizi terus dilakukan termasuk di posyandu.Distribusi penaganan gizi buruk menurut kabupaten kota juga telah merata.Persentase Tenaga Kesehatan Per Penduduk Sumber daya kesehatan merupakan unsur penting dalam peningkatanpembangunan kesehatan secara menyeluruh. Sumber daya kesehatan mencakupsarana kesehatan dan tenaga kesehatan. Salah satu sarana kesehatan dasar yaituPuskesmas dan Puskesmas Pembantu. Jumlah Puskesmas di Provinsi KepulauanRiau tahun 2008 adalah sebanyak 62 puskesmas meningkat dibandingkan tahun2007 yang baru berjumlah 52 unit. Rasio Puskesmas terhadap penduduk tahun2008 yaitu 4,45 per 100.000 penduduk. Sementara tahun 2007 rasionya adalahsebesar 3,73 per 100.000 penduduk. Ini menujukkan adanya peningkatandibandingkan dengan rasio tahun 2007. Sementara itu rasio dokter spesial, dokter umum dan dokter gigi terhadappenduduk dari tahun ke tahun terus membaik. Pada tahun 2008 rasio DokterSpesialis adalah sebesar 10 per 100.000 penduduk, Dokter Umum 23 per 100.000penduduk dan Dokter Gigi 7 per 100.000 penduduk. Bila dibandingkan dengantarget Indonesia sehat tahun 2010 maka untuk rasio dokter spesial dan dokterumum telah tercapai (Dokter spesialis 2 per 100.000 penduduk, dokter umum 6 per100.000 penduduk). Namun untuk Dokter Gigi belum mencapai target yaitu sebesat11 per 100.000 penduduk. Dalam beberapa tahun ke depan penduduk ProvinsiKepulauan Riau akan bertambah pesat, oleh karena itu pemerintah provinsiKepulauan Riau telah mengantisipasi dengan membangun dua unit PusatKesehatan baru yaitu unit Rumah Sakit Umum Tanjunguban di Simpang Busung 52
  • 62. Bintan Utara dan kedua Rumah Sakit Umum Provinsi di Tanjungpinang. Tabel 2.10. Beberapa Indikator Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2004-2009 Indikator 2004 2005 2006 2007 2008 IS-10 Rasio Dokter Spesialis/100.000 3,68 13,51 12,00 11,00 10,00 2,00 Rasio Dokter Umum /100.000 15,12 17,99 24,00 25,00 23,00 6,00 Rasio Dokter Gigi/100.000 4,82 5,18 6,00 7,00 7,00 11,00 Rasio Dokter 4,40 5,08 5,40 6,70 6,30 2,00 umum/Puskesmas Rasio Puskesmas / 100.000 3,43 3,53 3,23 3,73 4,45 4,00Sumber : Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan RiauCatatan : IS -10 : Target Indonesia Sehat Tahun 2010.Keluarga Berencana Program Keluarga Berencana (KB) yang mempunyai slogan 2 anak cukup!Dicanangkan pemerintah sebagai usaha untuk mengendalikan pertumbuhanpenduduk serta meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Dengan KB, keluargaIndonesia atau pasangan usia subur didorong untuk merencanakankehamilan/kelahiran, menjarangkan kelahiran agar kualitas kesehatan anak, ibu dankeluarga mencapai hasil yang maksimalPersentasi Penduduk Ber-KB ( contraceptive prevalence rate) Sejak awal dicanangkannya program KB oleh pemerintah sampai dengansaat ini lebih banyak perempuan berpartisipasi dalam KB dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini ditunjang dengan banyaknya alat KB yang dikhususkan untukperempuan, seperti MOW, AKDR (IUD), suntik, susuk dan pil. Persentase penduduk ber-KB di Kepulauan Riau dari tahun 2004 -2009diperlihatkan pada gambar dibawah ini. 53
  • 63. Peraga 2.15. Persentase Penduduk Ber-KB di Provinsi Kepuluan Riau, 2004- 2009*Data nasional pada tahun 2009 merupakan data estimasi sesuai dengan tahun 2008 sebelumnya Dari grafik memperlihatkan persentase penduduk ber-KB meningkat daritahun 2004 yang hanya 45.1% menjadi 76.7% yang rata rata nilainya hampir samadari tahun 2005 sampai dengan 2008. Hal ini mengindikasikan program KB telahberjalan dengan baik terutama di daerah Batam (50.76%) yang jumlah pendudukpaling tinggi diantara kota/ kabupaten yang ada di Kepuluan Riau. Jikadibandingkan dengan data nasional pencapaian persentase penduduk ber KB diKepuluan Riau sudah diatas target nasional. Hal ini dikarenakan sarana danprasarana kesehatan sudah memadai sehingga akses pelayanan kesehatan kepadamasyarakat lebih optimal, kenyataan ini akan membantu pemerintah dalam programKB di Kepuluan Riau. Sesuai dengan data BPS tahun 2008 penduduk perempuan kawin usia 15-49 tahun menggunakan alat KB/ cara KB berkisar antara 47 – 69% sedangkan yangtidak menggunakan alat/ cara KB sama sekali sekitar 15-27%. Ditinjau dari letakgeografis kota/ kab pengguna alat KB maka kota Batam merupakan kota yangmenggunakan alat KB dengan persentase rata – rata tiap tahunnya sekitar 76, 96%yang sangat dominan membantu tercapainya rata – rata persentase pengguna alat/cara KB setiap tahunnya. Berbeda dengan tahun sebelumnya, pada tahun 2009, penduduk yangmenggunakan alat/ cara KB menurun sebesar 25.5% menjadi 49.7% yang artinyajauh lebih rendah dari rata-rata nasional yaitu 53,19%. Hal ini disebabkan oleh 54
  • 64. beberapa hal: (1) Berkurangnya kegiatan promosi BKKBN dalam pemakaian alat KBsehingga mengakibatkan penuruan angka PUS pengguna alat KB. (2) Menurunnyapengunaan alat KB disebabkan oleh tidak terdeteksinya (sistem informasi)pemakaian alat kontrasepsi, karena mudah diperoleh dipasar secara bebas (alatKondom) tanpa harus ke Puskesmas atau Rumah Sakit. (3) Kurangnya promosioleh Persatuan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) dalam hal ini pihak swastayang melakukan sosialisasi pentingnya alat KB kepada masyarakat. Berdasarkan dengan jenis alat KB/ cara KB yang dilakukan oleh pasanganusia subur selama tahun 2004-2009 maka suntikan KB dan pil KB merupakan alatyang paling sering digunakan oleh pengguna KB aktif.Laju Pertumbuhan Penduduk Dalam setiap pelaksanaan kegiatan pembangunan dan pertumbuhanekonomi, penduduk merupakan faktor penentu, karena tidak hanya berperansebagai perilaku tetapi juga sebagai sasaran pembangunan. Oleh karena itupengelolaan penduduk perlu diarahkan pada pengendalian kuantitas, peningkatankualitas serta pengarahan mobilitas sehingga mempunyai ciri- ciri dan karakteristikyang menunjang kegiatan pembangunan. Permasalahan kependudukan sepertijumlah dan distribusi penduduk menjadi masalah di Kepuluan Riau dikarenakanmigrasi penduduk yang melonjak setiap tahun dikarenakan meningkatnyapertumbuhan ekonomi Kepri di beberapa daerah seperti Batam, Bintan dan Karimunserta letak geografis setiap kota dan kabupaten sangat berjauhan dan dibatasi olehlaut. Peraga 2.16. memperlihatkan jumlah penduduk Kepuluan Riau dari tahun2004 – 2009. Terlihat bahwa laju pertumbuhan penduduk Kepri selama 5 tahunterakhir jauh dari pertumbuhan normal penduduk nasional. Jumlah penduduk tahun2004 sebesar 1.261.765 jiwa dan pada tahun 2005 laju pertumbuhan pendudukKepulaun Riau sekitar 0, 89% dengan jumlah penduduk 1,273,011 jiwa, pada tahunini pertumbuhan penduduk masih normal karena penyelenggaraan pemerintah danpembangunan masih dalam tahap inisiasi. Pada tahun 2006-2008 pertumbuhanpenduduk meningkat secara signifikan, hal ini disebabkan karena karenameningkatnya migrasi penduduk akibat pertumbuhan ekonomi yang semakin pesatkhususnya di Kota Batam sebagai sentral industri internasional sebagai tujuanutama pencari kerja. 55
  • 65. Peraga 2.16. Grafik Laju Pertumbuhan Penduduk di Kepuluan Riau, 2004- 2009Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi Kepri 2009 Pada tahun 2009 penduduk Provinsi Kepulauan Riau berjumlah 1.515.294jiwa atau meningkat sebanyak 62.221 jiwa dibandingkan tahun 2008. PendudukKepulauan Riau belumlah terlalu banyak hanya 6,4 persen dari total jumlahpenduduk Indonesia. Meskipun demikian perlu diwaspadai karena angkapertumbuhannya cukup tinggi yaitu mencapai 4,4 persen per tahun selama periode2004-2009. Angka ini jauh di atas pertumbuhan nasional yang besarnya hanya 1,34persen. Tingginya laju pertumbuhan penduduk Provinsi Kepulauan ini bukandisebabkan oleh kelahiran tetapi lebih disebabkan oleh tingginya angka migrasimasuk, terutama ke Batam, Tanjungpinang dan Bintan. Pendatang baru tersebutumumnya adalah para pencari kerja usia muda yang hijrah dari kampunghalamannya untuk mencari penghidupan di sentra-sentra industri dan perdaganganyang ada di Kepulauan Riau terutama di Batam, Bintan dan Tanjungpinang.Diperkirakan jumlah pendatang baru ini akan bertambah lebih banyak lagi pasca ditetapkannya Batam, Bintan dan Karimun sebagai kawasan FTZ. Hal ini perludiantisipasi dengan cermat oleh Pemerintah Kota Batam, Tanjungpinang, Bintandan Karimun, jika tidak akan menimbulkan masalah sosial yang rumit dikemudianhari. 56
  • 66. Tabel 2.11. Jumlah Penduduk Provinsi Kepri, 2004-2008Kabupaten/ Kota 2004 2005 2006 2007 2008Karimun 200,305 200,645 209,875 216,221 223,878Bintan 116,964 116,876 121,303 122,677 125,058Natuna 89,945 88,503 59,333 55,372 95,531 Data bergabung dengan Data masih bergabung kabupatenKep. Anambas dengan kabupaten Natuna 32,585 38,052 natunaLingga 71,779 82,941 86,150 86,894 88,332Batam 621,854 616,088 656,001 695,739 737,533Tanjungpinang 160,918 167,958 172,616 177,963 182,741Provinsi KepulauanRiau 1,261,765 1,273,011 1,337,863 1,392,918 1,453,073Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau tahun 2008 Data kepadatan jumlah penduduk berdasarkan wilayah memperlihatkanKota Batam mampu dihuni oleh sekitar 50.76% dari total penduduk Kepri yangdiikuti oleh Karimun (15.42%) dan Tanjungpinang (12.58%). Begitu juga mengenaikepadatan penduduk mencapai 137 penduduk per kilometer persegi yang sangatmembutuhkan pembangunan SDM yang berkualitas dan berdaya saing apalagisekarang telah ditetapkannya kawasan Free Trade Zone (FTZ). FTZ membukapeluang besar terhadap iklim industri dan perekonomian Kepri yang mampumeyerap lapangan kerja yang tidak bisa dipenuhi oleh putra daerah sendirisehingga membuka peluang bagi para pendatang sehingga menyebabkan lajupertumbuhan penduduk juga semakin bertambah. Laju pertumbuhan Kepri selain dipengaruhi oleh kelahiran juga dipengaruhioleh migrasi masuk terutama kelompok penduduk usia 20-34 tahun dimana palingmencolok pada penduduk perempuan, sedangkan untuk laki- laki usia yang sedikitlebih dewasa yaitu 25 – 39 tahun . Jika disimak lebih lanjut maka migrasi masukpenduduk paling utama terjadi di kota Batam, seperti pada tahun 2008 dan 2009mencapai 737,533 jiwa dan 781,342 jiwa atau sekitar 51,56 % total pendudukKepri tinggal di Batam yang terdiri dari 363,398 orang laki – laki dan 417.644 orangperempuan. Apabila ditinjau dari 5 tahun berdirinya Provinsi Kepri makamengindikasikan bahwa penduduk Kepri tanpa Kota Batam menunjukkanpertumbuhan penduduk yang lebih alamiah. 57
  • 67. Pada tahun 2009,BPS Kepulauan Riau mencatat jumlah penduduk Kepriberjumlah 1.515.294 meningkat dari jumlah penduduk tahun 2008 yaitu 1,353,073terlihat seperti pada tabel 2 diatas. Dari tabel tersebut jumlah penduduk tertinggimasih didominasi oleh Batam diikuti oleh Karimun dan Tanjungpinang.Meningkatnya jumlah penduduk migrasi ini berkaitan erat dengan: (1)ditetapkannya kawasan Free Trade Zone (FTZ) di 3 pulau yaitu Batam, Bintan danKarimun sehingga meningkatnya laju pertumbuhan penduduk yang didominasi olehmigrasi pencari kerja ke kawasan industri (2) Pemekaran daerah Kabupaten Natunadan Anambas sehingga membutuhkan SDM/ perangkat daerah untuk menjalankanpemerintahan serta penyelenggaraan pembangunan dan ekonomi agar menjadilebih baik , (3) demi tercapainya pemerataan pembangunan pendidikan, kesehatandan ekonomi di seluruh daerah Kepri maka dibutuhkan SDM yang berkualitas dalammenyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan ekonomi sehingga selama 3tahun belakangan ini pemerintah Kepri membuka penerimaan calon pengawainegeri sipil di lingkungan pemerintahan yang dominan diisi oleh masyarakatpendatang yang sekaligus berperan besar dalam peningkatan jumlah migrasipenduduk , (4) Berdirinya Universitas Maritim Raja Ali Haji sebagai universitaskebanggaan masyarakat Kepuluan Riau dan sebagai rintisan Universitas Negeri diProvinsi Kepri juga memicu migrasi penduduk dalam hal ini mahasiswa dan tenagapendidik yang berasal dari luar Kepri. Tabel 2.12. Jumlah Penduduk Kepulauan Riau Tahun 2009 berdasarkan wilayah Kab/ Kota Laki Kabupaten/Kota Perempuan Jumlah % Laki 1. Tanjungpinang 93.415 94.114 187.529 12,38 2. Bintan 65.261 62.143 127.404 8,41 3. Batam 363.698 417.644 781.342 51,56 4. Karimun 119.871 111.787 231.658 15,29 5. Natuna 31.760 30.218 61.978 4,09 6. Lingga 45.213 44.524 89.737 5,92 7. Kep.Anambas 18.579 17.067 35.645 2,35 Jumlah 737.797 777.497 1.515.294 100 Sumber BPS Provinsi Kepulauan Riau Berdasarkan analisis capaian masing – masing indikator pembangunan 58
  • 68. sumber daya manusia, ada beberapa indikator yang menunjukkan capaian yangmenonjol yaitu adanya trend pencapaian Indek Pembangunan Manusia (HDI) yangmeningkat setiap tahun, dan angka kematian bayi (AKB) sehingga dapat dijelaskanpemerintah daerah telah mampu meningkatkan pembangunan sumber dayamanusia yang semakin baik.2.3.4. EKONOMI MAKRO Pembangunan di bidang ekonomi ditujukan untuk menjawab berbagaipermasalahan dan tantangan dengan tujuan akhir adalah meningkatkankesejahteraan rakyat. Tercapainya peningkatan kesejahteraan rakyat memerlukanterciptanya kondisi-kondisi dasar yaitu:(1) Pertumbuhan ekonomi yangberkelanjutan (2) Penciptaan sektor ekonomi yang kokoh serta (3) Pembangunanekonomi yang kondusif dan berkeadilan. Substansi dari pertumbuhan ekonomi. “Pertumbuhan ekonomi diartikansebagai suatu proses pertumbuhan output perkapita dalam jangka panjang”. Halini berarti, bahwa dalam jangka panjang, kesejahteraan tercermin padapeningkatan output perkapita yang sekaligus memberikan banyak alternatif dalammengkonsumsi barang dan jasa, serta diikuti oleh daya beli masyarakat yangsemakin meningkat (Boediono, 1993 :2). Pertumbuhan ekonomi juga mempunyai hubungan dengan prosespeningkatan produksi barang dan jasa, dalam kegiatan ekonomi masyarakat dapatdikatakan bahwa pertumbuhan menyangkut perkembangan yang berdimensitunggal dan diukur dengan meningkatnya hasil produksi dan pendapatan. Dalamhal ini berarti terdapatnya kenaikan dalam pendapatan daerah dan pendapatannasional yang ditunjukkan oleh besarnya nilai Produk Domestik Regional Bruto(PDRB) dan nilai Produk Domestik Bruto (PBD) Indonesia. Provinsi KepulauanRiau dari aspek ekonomi makro dapat di jelaskan sebagai berikut. Selama periode 2004-2009 perekonomian Provinsi Kepulauan Riau setiaptahunnya tumbuh dengan baik, yaitu di atas rata-rata 6% dan selalu berada di ataspertumbuhan ekonomi nasional seperti dijelaskan pada tabel berikut ini : 59
  • 69. TABEL 2.13. Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2004- 2009 Atas Harga Dasar Konstan Tahun 2000Daerah 2004 2005 2006 2007 2008 2009Kepri 6,47 6,57 6,78 7,01 6,65 4,50Nasional 5,00 5,70 5,50 6,30 6,10 3,51 Sumber : Diolah dari data BPS Provinsi Kepr Tahun 2005-2009 Dari tabel 2.13 di atas, dapat diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau dari tahun 2004 hingga tahun 2007 terus mengalami peningkatan, walaupun seperti sama-sama kita maklumi bahwa Provinsi Kepulauan Riau ini baru berusia kurang lebih lima tahun. Struktur organisasi pemerintahannya yang lengkap sesungguhnya baru terwujud pada akhir tahun 2005. Namun jika dilihat dari pertumbuhan ekonomi provinsi ini relatif baik. seperti dari tahun 2004 hingga tahun 2007 pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau. setiap tahunnya tumbuh rata-rata 6,71 persen. Sementara pertumbuhan rata-rata ekonomi nasional hanya sebesar 5,62 persen. Sementara dua tahun terahir pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau, yaitu pada tahun 2008 pertumbuhannya hanya 6,65 persen atau turun sebesar 0,36 persen dari angka pertumbuhan tahun 2007, demikian juga pada tahun 2009 tingkat pertumbuhannya jauh lebih kecil hingga mencapai angka 4,50 persen atau turun 2,51 persen dari pertumbuhan pada tahun 2007. Perkembangan keseluruhan pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau dan pertumbuhan ekonomi nasional dari tahun 2004 hingga 2009 dapat di gambarkan dalam bentuk grafik berikut ini: 60
  • 70. Peraga 2.17. Laju Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Kepri Tahun 2004 – 2009 10 9 8 6.57 6.78 7.01 6.65 6.47 7 6 6.3 6.1 5 5.7 5.5 5 4.5 4 3 3.51 2 1 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Indonesia Kepri Series3 Sumber : Diolah dari data BPS Provinsi Kepri Tahun 2004-2009 Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab turunnya pertumbuhanekonomi Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2008 karena sektor industripengolahan di Provinsi Kepulauan Riau ini mengalami kelesuan, sebagai akibatpengaruh dari menurunnya perekonomian Singapura, apa yang dialami olehSingapura adalah bahagian dari akibat krisis ekonomi dunia. Dimana pada tahun2009 ekonomi Singapura mengalami kontraksi sebesar 0,5 persen yangdisebabkan oleh melambatnya aktivitas sektor manufaktur di negara tersebut.Seperti kita ketahui bahwa kegiatan perdagangan luar negeri – ekspor dan imporProvinsi Kepulauan Riau sebahagian besar adalah ke dan dari Singapura. Berbagai upaya pemulihan ekonomi terus dilakukan baik oleh pemerintahpusat, pemerintah daerah dan pelaku usaha, juga oleh Badan Kawasan Bintan,Batam dan Karimun (BBK) di Provinsi Kepulauan Riau, agar perekonomiankembali berjalan normal. Antara lain salah satunya, yaitu tekad pemerintahProvinsi Kepulauan Riau menjamin bahwa sampai akhir tahun 2010 pertumbuhanekonomi Provinsi Kepulauan Riau akan lebih tinggi dan mencapai 9,4% (y-o-y), halini karena didorong oleh penguatan industri di sektor perkapalan dan manufaktur. 61
  • 71. Perkembangan ekspor dan impor Provinsi Kepulauan Riau selama tahun 2004hingga 2009 sebagaimana pada tabel berikut ini.Tabel 2.14. Persentase Ekspor dan Impor Terhadap PDRB Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2004 – 2009 (Dalam Milyar USD) Ekspor/ Impor 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Ekspor 4.61 6.17 6.07 6.92 7.47 8.26 Kepri Impor 0.87 2.35 1.61 1.98 12.17 9.15 Sumber : Bank Indonesia Batam (%) ekspor dan Impor Kepri. Tahun 2004-2009 Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa, pertumbuhan ekspor ProvinsiKepulauan Riau dari tahun 2004 hingga tahun 2009 rata-rata sebesar $ 6.58 milyarUSD setiap tahunnya. Sementara nilai impor dari tahun 2004 hingga tahun 2009rata-rata pertumbuhannya sebesar $ 4.69 milyar USD. Namun pada tahun 2008terjadi peningkatan pada nilai impor sebesar $ 12.17 milyar USD, atau naik sebesar$ 10.19 milyar USD dari nilai impor tahun 2007, atau lebih tinggi sebesar $ 4.7milyar USD dari nilai ekspor pada tahun yang sama. Hal ini disebabkan olehkarena adanya kekhawatiran kalangan dunia usaha akan terjadinya kenaikkanharga-harga input dalam beberapa bulan kedepan sebagai dampak dari krisislikwiditas global, oleh karena itu mereka mengimpor lebih banyak sebelum situasiekonomi global semakin memburuk. Selanjutnya kondisi impor Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2009 terjadipenurunan kembali dimana dari $ 12.17 milyar USD menjadi $ 9.15 milyar USDatau turun sebesar $ 3.02 milyar USD, hal ini disebabkan oleh karena terjadinyapenguatan industri di sektor perkapalan dan manufaktur sebagaimana di uraikansebelumnya. Penurunan nilai impor tahun 2009 pertanda terjadinya penguatankembali perekonomian di Provinsi Kepualauan Riau ini, bahkan mendekati besaranangka ekspor tahun yang sama yaitu hanya selisih $ 0.89 milyar USD.Persentase ekspor dan impor terhadap PDRB Provinsi Kepulauan Riaudigambarkan dalam grafik berikut ini. 62
  • 72. Peraga 2.18. Perkembangan Ekspor dan ImporProvinsi Kepulauan riau Tahun 2004-2009 Dalam (Milyar USD) 14 13 12.17 12 11 10 9.15 9 7.47 8 6.92 8.26 7 6.17 6.07 6 5 4.61 4 3 2.35 1.61 2 0.87 1.98 1 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Ekspor Impor Sumber : Diolah dari data BPS Provinsi Kepri. Tahun 2004-2009. Menurunnya nilai impor tahun 2009 membuat Neraca Perdagangan ProvinsiKepulauan Riau menjadi semakin membaik karena defisitnya semakin berkurang.Jika pada tahun 2008 defisit Neraca Perdagangan Provinsi Kepulauan Riaumencapai angka $.4,70 milyar USD. Pada tahun 2009 turun menjadi $.890 jutaUSD saja. Sebenarmya sebelum tahun 2008 Neraca Perdagangan ProvinsiKepulauan Riau selalu surplus. Namun sejak tahun 2008 menjadi defisit karenaadanya kenaikkan impor yang sangat besar sehingga melebihi nilai ekspor. Kondisineraca perdagangan tersebut diperlihatkan pada tabel berikut ini. 63
  • 73. Tabel 2.15. Neraca Perdagangan Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2004-2009 (Dalam USD) TAHUN NILAI EKSPOR NILAI IMPOR NERACA PERDAGANGAN 2004 4.619.827.565 870.509.391 3.749.318.174 2005 6.168.133.064 2.350.182.195 3.817.950.869 2006 6.073.097.295 1.609.422.816 4.463.674.479 2007 6.920.920.181 1.983.037.996 4.937.882.185 2008 7.470.594.250 12.172.650.710 - 4.702.056.460 2009 8.268.812,600 9.158.852,640 - 890.040,08 Sumber : Diolah dari data BPS Provinsi Kepri. Tahun 2009 Pada aktivitas perdagangan ekspor Provinsi Kepulauan Riau, ternyatamememiliki beberapa komponen Output Manufaktur yang dapat memberikankontribusi terhadap PDRB Provinsi Kepulauan Riau selama ini. Output Manufakturini merupakan salah satu factor kekuatan penentu terhadap laju pertumbuhanperekonomian Provinsi Kepulauan Riau selama ini, selanjutnya juga menjadi salahsatu sektor lapangan pekerjaan bagi masyarakat, serta memberikan konstribusiyang cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk mengetahuiberapa persentase output manufaktur terhadap PDRB Provinsi Kepulauan Riaudari tahun 2004-2009 dapat dijelaskan sebagai berikut. 64
  • 74. Peraga 2.19. Neraca Perdagangan Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2004-2009 (Dalam USD) Sumber : Diolah dari data BPS Provinsi Kepri. Tahun 2004-2009Persentase Output Manufaktur Terhadap PDRB (%) Keadaan perkembangan persentase Output Manufaktur Terhadap PDRBProvinsi Kepulauan Riau dari tahun 2004 – 2009 seperti pada tabel berikut ini. Dari tabel 2.16. dapat diketahui bahwa, komoditas unggulan ProvinsiKepulauan Riau pada tahun 2004 berdasarkan nilai tertinggi adalah sektorpengangkutan dan komunikasi sebesar 11,72 persen. Di urutan ke dua yaituindustri sebesar 7,57 persen yaitu; komponen alat-alat listrik, audio visual dankomputer serta bagiannya. Sedangkan komoditas urutan ke tiga adalah sektorkeuangan dan persewaan yaitu 7,39 persen. Pada tahun 2005 yang menjadi komoditas andalan Provinsi KepulauanRiau secara berurutan adalah, sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 8,71persen, di urutan ke dua adalah sektor industri, yaitu sebesar 7,41 persen. Padaposisi ketiga adalah keuangan dan persewaan yaitu sebesar 6,89 persen. 65
  • 75. Tabel 2.16. Persentase Output Manufaktur Terhadap PDRB (%) Kepulauan Riau Tahun 2004-2009 LAPANGAN USAHA 2004 2005 2006 2007 2008 20091. Pertanian 5,70 5,40 5.41 4.94 3.80 5.002. Pertambangan & -445 -123 2.71 5.1 -2.71 8.77 Penggalian3. Industri 7,57 7,41 6,69 6.02 4.56 46.204. listrik, Gas, dan Air 6,46 6,62 6.68 5.76 7.94 0.55 bersih.5. Bangunan dan 6,27 5,21 11.14 9.61 34.26 7.11 Konstruksi6. Perdagangan,Hotel 6,52 6,69 3.45 12.35 7.77 19.54 dan restoran7. Pengangkutan 11,72 8,71 12.13 11.24 14.44 4.66 Dan komunikasi9. Keuangan, 7,39 6,89 8.12 9.48 9.71 5.40 Persewaan, dan Jasa Perusahaan.10. Jasa-jasa 6,17 6,77 5.89 13.3 15.59 2.77 Laju Pertumbuhan 6,47 6,57 6.78 7.01 6.65 0.56 (dgn Migas) Sumber : Diolah dari data BPS Kepri. 2005-2009 Pada tahun 2006 sektor tertinggi pertama adalah pengangkutan dankomunikasi yaitu sebesar 12,13 persen. Kedua adalah bangunan dankonstruksi sebesar 11,14 persen sementara yang ke tiga adalah sektor keuangandan persewaan, yaitu sebesar 8,12 persen. Pada tahun 2007 sektor utamamemberikan konstribusi pada PDRB Provinsi Kepulauan Riau adalah sektorperdagangan, hotel dan restoran sebesar 12,35 persen, sementara pada urutan kedua adalah sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 11,24 persen. Padaposisi ke tiga adalah sektor bangunan dan konstruksi sebesar 9,61 persen.Sementara pada tahun 2008, bangunan dan konstruksi merupakan sektor dominanyaitu sebesar 34.26 persen, sedangkan posisi kedua sektor jasa danpengangkutan, dan komunikasi adalah sektor ke tiga yang memberikan kontribusiterhadap PDRB Provinsi Kepulauan Riau. Pada tahun 2009 sektor dominan yangdapat memberikan konstribusi terhadap PDRB Provinsi Kepulauan Riau adalahsektor Industri 46.20 persen, dan sektor kedua perdagangan, hotel dan restoranmerupakan sektor ketiga. Bila dicermatai perkembangan persentase output manufaktur terhadapPDRB Provinsi Kepualauan Riau dari tahun 2004 hingga tahun 2009 diketahuiadanya nilai (angka) fluktuasi, dimana unggulan output manufaktur terhadap PDRB 66
  • 76. dari tahun ke tahun berikutnya tidak stabil, artinya bahwa nilai (angka) yangfluktuatif tersebut tidak dapat memberikan jaminan bahwa keunggulan output padatahun 2007 kemudian juga dikatakan unggul pada tahun 2008. Karena ProvinsiKepualuan Riau adalah wilayah Industri, sangat berpeluang terjadinya penurunankontribusi terhadap PDRB, karena hal ini juga dapat mempengaruhi PDRBperkapita.PDRB Perkapita Indikator fundamental lainnya yang dapat memberikan informasi awaltentang kemakmuran suatu daerah yaitu angka PDRB perkapita. PDRB Perkapitaadalah salah satu indikator makro ekonomi yang sering digunakan untuk mengukurtingkat kemakmuran penduduk suatu negara atau daerah. Semakin besar PDRBperkapitanya, semakin makmur penduduk negara atau daerah tersebut. Tahun 2009 nilai PDRB perkapita Provinsi Kepulauan Riau mencapai Rp.42.165.554. Angka ini lebih besar dari pada PDRB perkapita Provinsi KepulauanRiau tahun 2008 yang nilainya sebesar Rp. 39.530.000. Jadi ada peningkatansebesar Rp.2.635.550 PDRB perkapita tahun 2009 dibandingkan dengan PDRBperkapitan tahun 2008. Angka PDRB Perkapita Provinsi Kepulauan Riau ini duakali lipat lebih besar dari pada angka PDB perkapita nasional yaitu, sebesar Rp.24,30 juta pada tahun yang sama. Dalam skala nasional PDRB perkapita ProvinsiKepulauan Riau berada pada peringkat ke empat terbesar setelah Kalimantan Timursebesar Rp.70,12 juta , DKI Jakarta Rp.62,49 juta dan Provinsi Riau Rp.41,41 juta.Hal ini menunjukkan bahwa secara rata-rata tingkat kehidupan ekonomi masyarakatProvinsi Kepulauan Riau lebih baik dari pada rata-rata masyarakat Indonesiaumumnya. Data pendapatan perkapita Provinsi Kepulauan Riau dan Nasioanlseperti pada tabel berikut ini. Tabel 2.17 Pendapatan Perkapita Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2004-2009 (dalam jutaan rupiah) Tingkat 2004 2005 2006 2007 2008 2009PDRB 26.69 32.15 35.54 37.21 39.53 42.16KepriPDRB 10.61 12.7 15.03 17.6 19.21 24.3NasionalSumber : Diolah dari dari BPS Kepri. Tahun 2004-2009 67
  • 77. Dari Tabel di atas, dapat diketahui bahwa pendapatan PDRB perkapitaProvinsi Kepulauan Riau terus mengalami peningkatan, termasuk pada kondisiperekonomian masa sulit seperti pada tahun 2008 dan 2009 dimana posisipetumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau tetap di atas pertumbuhan rata-rataekoomi nasional. Walau demikian pada kenyataannya pendapatan PDRB perkapita yangcukup tinggi ditingkat Provinsi juga harus mampu meningkatkan kesejahteraanpenduduknya dan mampu menciptakan pemerataan pendapatan tehadap seluruhdaerah Kota dan Kabupaten yang ada. Dicermati dari tabel di atas, perkembanganPDRB perkapita menunjukkan tingkat kesejahteraan penduduk Provinsi KepulauanRiau yang meningkat dari 26.69 juta pada tahun 2004 menjadi 42.16 juta padatahun 2009 atau selama 6 (enam) tahun tersebut PDRB perkapita tumbuh rata-rata35.56 juta. Sementara PDRB Nasional setiap tahunnya rata-rata hanya 16,57 juta. Kota Batam sebagai pusat kegiatan industri merupakan kota penopangutama terhadap PDRB perkapita Provinsi Kepulauan Riau. Sampai dengan tahun2007 kontribusi Kota Batam terhadap pertumbuhan ekonomi di wilayah ProvinsiKepulauan Riau mencaiai 71,23 % dengan migas dan 75,34 % tanpa migas telahmenempatkan Kota Batam sebagai wilayah dengan laju pertumbuhan ekonomitertinggi dan tingkat PDRB perkapita tertinggi dari daerah lainnya di ProvinsiKepulauan Riau. Kondisi ini menunjukkan adanya masalah kesenjanganpembangunan, kesenjangan distribusi hasil/pendapatan, dan kesenjangankesempatan bekerja antar wilayah dalam Provinsi Kepualaun Riau. Semestinya pemerintah Kota atau Kabuaten lain di Provinsi KepulauanRiau juga turut memberikan perhatian terhadap upaya peningkatan PDRB perkapitadi daerahnya, sehingga kesenjangan antara Kota Batam dengan daerah-daerahlainnya di Provinsi Kepulaun Riau tidak terlalu berpengaruh terhadap perekonomiansecara keseluruhan, jika terjadi krisis seperti krisis ekonomi pada tahun 2008dimana harga, ketenagakerjaan, dan lapangan usaha menurun drastis.Kehawatiran ini bukan tidak beralasan apabila dilihat dari PDRB tahun 2007 antaraKota Batam yang berjumlah 33.351,57 juta, sementara Natuna (tanpa migas)PDRB-nya berjumlah 26.228,91 juta pada tahun yang sama, dan peringkat ketigaadalah Bintan dengan nilai 21.71,63 juta, demikia juga bagi daerah lainnya. 68
  • 78. Jika nilai PDRB perkapita tahun 2009 Rp.42.165.554 tersebut dikurskankedalam dollar Amerika Serikat 1 USD = Rp. 10.000 saja maka PDRB perkapitamasyarakat Provinsi Kepulauan Riau adalah sebesar $. 4.165 USD. Sementara ituPDB perkapita nasional pada tahun 2009 tersebut adalah sebesar $.2.590 USD. Berdasarkan Kreteria Bank Dunia suatu negara disebut negara miskin bilaPDRB perkapitanya kurang dari $ 750 USD, negara berpenghasilan menengahkebawah bila PDRB perkapitanya antara $.746 - $.2.975, dan disebut negaraberpenghasilan menengah keatas bila PDRB perkapitanya berada antara $.2.976 -$.9.205. dan disebut negara kaya/maju jika PDRB perkapitanya telah berada diatas$.9.206. Dari kreteria di atas kita dapat ketahui bahwa Provinsi Kepulauan Riautermasuk dalam kelompok Daerah yang berpenghasilan menengah keatas. Perkembangan pertumbuhan PDRB perkapita Provinsi Kepulauan Riautahun 2004-2009 juga digambarkan dalam bentuk grafik berikut ini. Peraga 2.20. Pendapatan Perkapita Provinsi Kepri Tahun 2004 -2009 Sumber : Diolah dari dari BPS Kepri Tahun 2004-2009 Pendapatan PDRB perkapita masyarakat Provinsi Kepulauan Riau yangrelatif tinggi di atas tidak begitu berarti jika terdapat ketimpangan yang tinggidiantara penduduknya, oleh karena itu pemerataan pendapatan merupakan tolokukur yang penting dalam menilai suatu keberhasilan pembangunan ekonomi,apakah kue pembanguan yang dihasilkan terbagi merata di antara warga 69
  • 79. masyarakatnya. Untuk melihat tingkat pemerataan atau ketimpaangan (disparitas)pendapatan diantara penduduk, pemerintah Provinsi Kepulauan Riau bersama BPSProvinsi Kepulauan Riau telah melaksanakan survei pada tahun 2006 dan 2007serta hasilnya menunjukkan bahwa jumlah 40 persen penduduk yangberpenghasilan rendah di Provinsi Kepulauan Riau menerima lebih dari 17 persenpendapatan regional (PDRB) baik pada tahun 2006 maupun pada tahun 2007. Menurut kriteria Bank Dunia pendapatan penduduk dikatakan merata apabila40% penduduk berpendapatan rendah menerima 40 persen dari total PDRB, dandikatakan timpang apabila menerima kurang dari 40 persen. Ketimpangan tersebutkemudian digolongkan tinggi apabila 40 persen penduduk tadi menerima kurangdari 12 persen PDRB, dan ketimpangan digolongkan rendah bila menerima PDRBdiantara 12-17 persen. Kemudian ketimpangan dikatakan rendah bila menerimalebih dari 17 persen. Berdasarkan kreteria tersebut maka tingkat ketimpanganpendapatan penduduk di Provinsi Kepulauan Riau tergolong rendah. Hal inidigambar pada kurva Loranz di bawah ini. Peraga 2.21. Kurva Lorenz Tingkat ketimpangan juga dapat Sumber : Diolah dari data BPS Provinsi Kepri. Tahun 2004-2009 Berdasarkan hasil survei menunjukkan bahwa Rasio Gini ProvinsiKepulauan Riau pada tahun 2006 adalah sebesar 0,2759 point dan pada tahun2007 turun menjadi 0,2635 point. Pendapatan dikatakan merata apabila angka GiniRatio mendekati angka nol dan semakin timpang bila mendekati angka satu. Dari 70
  • 80. data di atas menunjukkan bahwa ketimpangan pendapatan penduduk ProvinsiKepulauan Riau tergolong rendah. Pendapatan dikatakan merata apabila garis busur mendekati garis diagonal.Dari kurva loranz di atas dapat dilihat bahwa garis busur pada tahun 2007 lebihmendekati garis diagonal dari pada garis busur tahun 2006. Artinya Ketimpanganpendapatan semakin mengecil atau dengan kata lain pemerataan pendapatandiantara warga masyarakat semakain baik. Provinsi Kepualauan Riau adalah sebuah provinsi yang memiliki wilayahyang unik, jika dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia. Selainberada di wilayah kepulauan, juga berbatasan dengan Negara lain yaitu Singapura,dimana harga barang di kurs-kan dengan dolar Singapura. Oleh karena itu,tingginya pendapatan perkapita penduduk dalam wilayah Provinsi Kepulauan Riau,belum tentu menjamin tingkat kesejahteraan, bila diukur dengan nilai harga-hargaatau nilai inflasi yang tinggi, maka tingkat kemakmuran juga tidak seperti yangdiharapkan. Dengan demikian peranan pemerintah untuk menjaga stabilitaskeamanan, kepastian hukum, kenyamanan berusaha bagi masyarakat,kenyamanan bagi investor, kelancaran transportasi (angkutan kebutuhan pokok),sangat menentukan stabilitas harga dan ketersediaan pangan, dengan demikianinflasi akan tetap stabil.Laju Inflasi Berbagai kebijakan ekonomi yang selama ini dilakukan oleh PemerintahProvinsi Kepulauan Riau dan Kabupaten/Kota telah menghasilkan indek hargakonsumen yang relatif rendah, bahkan selama lima tahun terakhir ini angka inflasiProvinsi Kepulauan Riau selalu berada di bawah angka inflasi nasional. Pada tahun 2009 inflasi di Provinsi Kepulauan Riau tercatat sebesar 1,88persen, angka ini jauh dibawah laju inflasi pada tahun 2008 yang angkanya sebesar8,17 persen. Kondisi ini dipicu oleh penurunan harga komoditas primer dankelancaran supply barang kebutuhan pokok. Laju inflasi Provinsi Kepulauan Riautahun 2009 juga berada di bawah laju inflasi tingkat nasional yang tercatat sebesar2,78 persen. Perkembangan laju inflasi Provinsi Kepulauan Riau yang relatif rendahini patut disyukuri, karena hal itu bermakna bahwa daya beli masyarakat tidak 71
  • 81. tergerus oleh kenaikkan harga-harga barang pada umumya, sehingga masyarakatdapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Laju inflasi Provinsi KepulauanRiau dari tahun 2004-2009 seperti data yang tertera pada table. Dari Tabel 2.18, dapat dipahami bahwa Laju Inflasi Provinsi Kepulauan Riaudari tahun 2004 – 2009 rata-rata sebesar 5.36 persen setiap tahunnya, sementarainflasi tingkat nasional rata-rata 7.97 persen setiap tahunnya atau selisih 2.61persen. Provinsi Kepulauan Riau menurut Bank Indonesia Cabang Batam,menjadikan Batam dan Kota Tanjungpinang sebagai ukuran inflasi ProvinsiKepulauan Riau, yang mencatat bahwa inflasi Kota Batam sendiri di hitung daritahun 2008 adalah 8,39 persen, sementara Kota Tanjung pinang sebesar 11,90.Dan pada tahun 2009 Inflasi Kota Batam berjumlah 1,88 persen, sementara KotaTanjungpinang 1,43. persen. Rendahnya inflasi Kota Tanjungpinang pada tahun2009 dikarenakan rendahnya harga-harga kebutuhan pokok. Tabel. 2.18. Laju Inflasi Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2004-2009 Berdasarkan IHK tahun 2000 Tingkat 2004 2005 2006 2007 2008 2009Kepri 4.22 14,79 4,58 4.84 6.41 1,88Batam 6,72 18,73 4,52 4,77 8,61 1,88Tg.Pinang 1,45Nasional 6,36 17,11 6,60 6.59 8.39 2.78 Sumber : di Olah dari data BPS Provinsi Kepri. Tahun 2004-2009 Dari data tabel di atas kemudian dapat diketahui bagaimana trend LajuInflasi Provinsi Kepulauan Riau dan Indonesia dari tahun 2004-2009 dalam bentukgambar grafik berikut ini. 72
  • 82. Peraga 2.22. Laju Inflasi Indonesia dan Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2004-2009 18 17.11 16 14 12 14.79 10 8.39 8 6.59 6.36 6.6 8.39 6 4 4.22 4.84 4.58 2.78 2 1.88 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Indonesia KepriSumber : Diolah dari data BPS Provinsi Kepri. Tahun 2004-20092.3.5. INVESTASINilai Persentase Realisasi Investasi PMA dan PMDN Selama periode 2004-2009 Realisasi investasi Asing (Foreign DirectInvestment) dan investasi Penanaman Modal Domestik di Provinsi Kepulauan Riaumengalami fluktuasi, namun memperlihatkan trend yang terus menaik sampaitahun 2008. Untuk mengetahui nilai persentase realisasi investasi PMA dan PMDNProvinsi Kepulauan Riau dari tahun 2004 – 2009 dapat dilihat pada tabel berikutini. 73
  • 83. Tabel 2.19 Realisasi Nilai Investasi PMA dan PMDN Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2004-2009Tahun Proyek PMA (juta USD) Proyek PMDN (juta USD) 2004 9 26,0 97 10,52 2005 99 150,79 142 4,93 2006 125 94,09 3 3,43 2007 110 50,54 158 8,483 2008 120 232,19 11 1,286 2009 90 197,49 4 1,05Sumber : BPMPD Provinsi Kepri. Tahun 2004-2009 Dari Tabel 2.19 di atas, dapat diketahui bahwa pada tahun 2004 realisasiinvestasi Asing tercatat sebanyak $. 26 juta USD, sementara realisasi PMDN padatahun 2004 sampai tahun 2005 menunjukkan peningkatan yang sangat signifikandibandingkan PMA, jumlah proyek PMDN pada tahun 2004 97 proyek dengan nilaiinvestasi 10.517.900.000 dolar US, meningkat dengan jumlah 142 proyek, denganjumlah investasi bernilai 4.933.568.140.000 juta USD, realisasi investasi PMDNdi Provinsi Kepulauan Riau ini adalah dari sektor Industri kertas dan percetakansebagai investasi tertinggi yang ditanamkan pada sector industri tahun 2005.sementara itu PMA tahun 2005 meningkat tajam menjadi $.150,79 juta USD. Tahun2006 turun menjadi $.94,09 juta USD. Demikian juga nilai investasi PMDN jumlahproyek dari 142 proyek atau senilai 4,94 dolar USD menjadi 3 proyek atau senilai3,43 juta USD pada tahun 2006. Turunnya jumlah PMDN dikarenakan sektorIndustri Farmasi yang merupakan salah satu sektor yang cukup besar memberikankontribusi pada tahun 2004 ternyata pada tahun 2005 jumlah poryek tetap naik,namun pada nilai investasi mengalami penurunan. Yaitu dari 10 proyek pada tahun2004 menjadi 16 proyek, namun nilai invetasinya turun sebesar 54,63 persen atausenilai 1.944.200.000 juta USD. Pada tahun 2007 realisasi nilai investasi PMA sebanyak 110 proyekdengan nilai investasi sebesar 50,54 juta USD. Pada tahun 2008 realisasiinvestasi asing juga mengalami kenaikan menjadi 120 proyek dengan nilaiinvestasi 232,19 juta USD. Hal ini disebabkan oleh mulai diberlakukannya FTZ di 74
  • 84. Batam, Bintan dan Karimun (BBK), yang banyak memberikan insentif dankemudahan kepada para investor. Sebaliknya jumlah proyek PMDN pada tahun2007, sebanyak 158 proyek, ternyata pada tahun 2008 hanya tinggal 11 proyekdengan nilai investasi sebesar 1,286 juta USD. Terjadinya penurunan jumlah baik nilai proyek maupun nilai investasipada tahun 2008 dan 2009 disebabkan oleh pengaruh krisis ekonomi global yangberdampak pada kelesuan pasar internasional sehingga menyebabkan kegiatanperdagangan dan permintaan dari dan ke Provinsi Kepulauan Riau menjadi turun.Sehingga pada tahun 2009 PMDN di Provinsi Kepulauan Riau hanya terealisasisebanyak 4 proyek dengan nilai 1,05 juta USD. Peraga. 2.23. Realisasi Nilai Investasi PMA dan PMDN Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2004-2009 Sumber : Diolah dari datai BPS Provinsi Kepri 2004-2009 Berdasarkan keterangan di atas, bahwa trend realisasi investasi asing dandomestik (PMA dan PMDN) di Provinsi Kepulauan Riau, dari tahun 2004 – 2009juga diperlihatkan dengan jelas seperti pada peraga berikut ini. 75
  • 85. Peraga. 2.24. Realisasi PMA Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2004-2009 Sumber : Diolah dari data BPS Provinsi Kepri. Riau Tahun 2004-20092.3.6. INFRASTUKTURJalan Nasional Pemerintah Provinsi Kepri selain menitikberatkan pembangunan pada sektorpendidikan dan kesehatan, juga terus melakukan pembangunan, khususnyapembangunan sarana dan prasarana. Pembangunan sarana dan prasarana yangterus digesa pelaksanaannya oleh Pemprov Kepri ialah sarana infrastruktur berupapembangunan jalan. Untuk sarana jalan ini Pemprov Kepri terus melakukanpembangunan di setiap Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Kepri. Sarana jalan merupakan sarana untuk memperpendek jarak antara satudaerah dengan daerah yang lain. Transportasi terutama transportasi darat sangatpenting dalam kehidupan masyarakat karena ditujukan untuk memperlancar arusbarang dan jasa dari satu tempat ke tempat lain, meningkatkan mobilitas manusiake tempat tujuan baik dari pedesaan sampai ke perkotaan. Berikut ini akan disajikandata persentase panjang jalan nasional di Provinsi Kepri. Pada awalnya Provinsi Kepri ini tidak memiliki jalan nasional karena tidakmenghubungkan antar provinsi. Namun sejak dikeluarkannya Keputusan MenteriPekerjaan Umum No. 631 / KPTS / M / 2009 Tanggal 31 Desember 2009, makaProvinsi Kepri kini telah memiliki jalan Nasional yang meliputi seluruhKabupaten/Kota yang ada terkecuali Kabupaten Kepulauan Anambas, hal inidikarenakan Kabupaten Kepulauan Anambas merupakan Kabupaten yang baru 76
  • 86. dimekarkan dari Kabupaten induknya yaitu Kabupaten Natuna, sehingga pada saatdiusulkan jalan Nasional pada Menteri Pekerjaan Umum, tidak atau belumdiikutsertakan. Panjang jalan Nasional secara keseluruhan adalah 333,995 Km denganperincian kondisi Baik 73,31% atau 244,834 Km, Kondisi Rusak Sedang 20,43%atau 68,241 Km, dan Kondisi Rusak Berat 6,26% atau 20,92 Km. Munculnya jalanNasional ini sebagai upaya penunjang bagi mobilitas orang dan barang di ProvinsiKepulauan Riau yang tiap tahun terus meningkat baik dari segi jumlah maupunpelayanannya. Disamping itu pada saat ini Provinsi Kepulauan Riau dalam hal iniBatam, Bintan dan Karimun merupakan daerah Free Trade Zone (FTZ) sehinggamau tidak mau, suka tidak suka sangat membutuhkan sarana transportasi daratdalam hal ini ruas jalan nasional. PERAGA 2.25. Persentase Panjang Jalan Nasional PERSENTASE PANJANG JALAN NASIONAL 400 350 333.995 300 250 244.834 200 Panjang Jalan Nasional 150 % Panjang Jalan Nasional 100 100 73.31 68.241 50 20.43 20.92 0 6.26 6,26 Kondisi Baik Kondisi Rusak Kondisi Rusak Panjang Total Sedang Berat Sumber : Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepulauan RiauJalan Provinsi Demikian pula halnya dengan jalan Provinsi yang dimiliki oleh ProvinsiKepulauan Riau juga baru ada sejak tahun 2009 namun jalan Provinsi ini jauh lebihpanjang dari jalan Nasional sebagaimana yang tergambar pada grafik. Berikut iniakan disajikan tabel panjang jalan provinsi. 77
  • 87. Tabel 2.20. PERSENTASE PANJANG JALAN PROVINSI TAHUN 2009 Kondisi Jalan Panjang Jalan % Panjang Jalan Provinsi Provinsi (Km) (Km) Baik 493,52 57,61 Rusak Sedang 292,40 34,13 Rusak Berat 70,72 8,26 Panjang Total 856,64 100,00 Sumber : Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepulauan Riau. Tabel 2.20. menunjukkan bahwa panjang jalan Provinsi untuk ProvinsiKepulauan Riau adalah sepanjang 856,64 Km secara keseluruhan, denganperincian jalan dalam kondisi Baik sepanjang 493,52 Km, Jalan dalam KondisiRusak Sedang sepanjang 292,40 Km, dan Jalan dalam Kondisi Rusak Beratsepanjang 70,72 Km. Sebagaimana Jalan Nasional, Jalan Provinsi juga tidakmencakup Kabupaten Kepulauan Anambas, melainkan hanya mencakup KotaBatam, Kota Tanjungpinang, Kabupaten Bintan, Kabupaten Lingga, KabupatenKarimun, dan Kabupaten Natuna saja. Hal ini dikarenakan sama halnya denganJalan Nasional dimana jalan Provinsi ini baru ada sejak tahun 2009. Isu strategisdan masalah mendesak yang dihadapi adalah mengatasi kesenjanganpembangunan antar wilayah Kabupaten/Kota dalam hal ketersediaan infrastrukturdarat berupa jalan Provinsi. Penyediaan infrastruktur tersebut terutama infrastruktur darat secarabertahap diharapkan dapat mendorong pemanfaatan sumber daya alam yang ada dimasing-masing pulau dan tumbuhnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru diProvinsi Kepri yang akan dapat berfungsi sebagai daerah penyangga untuk Batam,Bintan, dan Karimun yang telah ditetapkan sebagai kawasan perdagangan bebasdan pelabuhan bebas (Free Trade Zone).2.3.7. PERTANIANRata-rata Nilai Tukar Petani pertahun Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan perbandingan/rasio antara IndeksHarga Yang Diterima Petani (It) dengan Indeks Harga Yang Dibayar Petani.Hubungan NTP dengan tingkat kesejahteraan petani sebagai produsen secaranyata terlihat dari posisi It yang berada pada pembilang (enumerator) dari angkaNTP. Apabila harga barang/produk pertanian naik, dengan asumsi volume produksi 78
  • 88. tidak berkurang, maka penerimaan/pendapatan petani dari hasil panennya jugaakan bertambah. Perkembangan harga yang ditunjukkan Itu, merupakan sebuah indikatortingkat kesejahteraan petani produsen dari sisi pendapatan. Oleh karena itu untukmelihat tingkat kesejahteraan petani secara utuh perlu juga dilihat sisi yang lainyaitu perkembangan jumlah pengeluaran/pembelanjaan mereka baik untukkebutuhan konsumsi maupun untuk produksi. Dalam hal ini petani sebagaiprodusen dan juga konsumen dihadapkan kepada pilihan dalam mengalokasikanpendapatannya yaitu: Pertama, untuk memenuhi kebutuhan pokok (konsumsi) demikelangsungan hidup petani beserta keluarganya. Kedua, pengeluaran untukproduksi/budidaya pertanian yang merupakan ladang penghidupannya yangmencakup biaya operasional produksi dan investasi atau pembentukan barangmodal. Unsur kedua ini hanya mungkin dilakukan apabila kebutuhan pokok petanitelah terpenuhi; dengan demikian investasi dan pembentukan barang modalmerupakan faktor penentu bagi tingkat kesejahteraan petani. Peraga 2.26. Rata-Rata Nilai Tukar Petani Per Tahun Sumber : BPS Propvinsi Kepri, 2010 Data NTP Propvinsi Kepulauan Riau yang dapat dikumpulkan pada kegiatanini hanya data tiga tahun terakhir, yakni tahun 2007 – 2009, sedangkan data NTPtahun 2004-2006 sampai saat ini belum berhasil didapatkan dari instansi yangberwenang. Rata-rata Nilai Tukar Petani (NTP) pertahun di Provinsi Kepulauan Riaucenderung mengalami fluktuasi setiap tahun, hal ini terutama disebabkan olehindeks harga hasil produksi pertanian (indeks yang diterima petani) selalu berubah 79
  • 89. setiap tahunnya, sehingga memberikan pengaruh terhadap indeks harga barangdan jasa yang dikonsumsi rumah tangga maupun untuk keperluan produksipertanian (indeks yang dibayar petani). Rata-rata Rasio NTP Provinsi Kepri tertinggi terjadi pada periode tahun 2009mencapai 102,80 mengalami peningkatan 1,3 – 2,8 dibanding dengan periodetahun 2007-2008. NTP Provinsi Kepri tersusun dari lima subsektor, diantaranyasubsektor tanaman pangan, holtikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakandan perikanan. Turun-naiknya rata-rata NTP Kepri terutama disebabkan fluktuasisubsektor perikanan. Peningkatan dan penurunan dari salah satu subsektortersebut berimplikasi terhadap rata-rata NTP Provinsi Kepri secara umum.Ketersediaan lahan dalam bidang perikanan darat sangat terbatas di wilayahProvinsi Kepri, sebagai konsekwensi dari daerah yang terdiri dari pulau-pulau kecil.PDRB Sektor Pertanian Peraga 2.27. PDRB Sektor Pertanian Atas Harga Berlaku Tahun 2003 - 2009 Sumber : BPS Kepri, 2009 80
  • 90. Pada kurun waktu lima tahun terakhir PDRB sektor pertanianmemperlihatkan trend yang terus meningkat. Tahun 2009 nilai PDRB sektorpertanian Provinsi Kepulauan Riau atas dasar harga berlaku telah mencapai nilaiRp. 3,192 Triliun. Nilai PDRB menurut harga berlaku tahun 2009 tersebut meningkatsebesar Rp. 324 Miliar dibandingkan PDRB tahun 2008 yang nilainya sebesar Rp.2,868 Triliun. Dilihat dari sisi peranan masing-masing sektor ekonomi dalam pembentukanPDRB Provinsi Kepulauan Riau tahun 2009, sektor pertanian merupakan sektoryang memberikan kontribusi relatif kecil atau hanya sekitar 5,00 persen dibandingdengan sektor industri dan perdagangan masih merupakan sektor paling dominan,hal ini dapat dilihat dari besarnya kontribusi kedua sektor tersebut dalam PDRBProvinsi Kepulauan Riau, sektor Industri memberikan kontribusi mencapai 46,20persen atau senilai Rp.29,5 Triliun. Tabel 2.21. PDRB Provinsi Kepulauan Riau Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2007-2009 Sektor Ekonomi 2007 2008 20091. Pertanian 2.612.093,12 2.868.416,50 3.192.446.592. Pertambangan dan 5.058.454,57 5.444.119,09 5.601.741,11 Penggalian3. Industri Pengolahan 24.203.354,25 26.622.278,75 29.517.887,014. Listrik, gas dan air bersih 282.587,36 325.310.58 353.072,805. Bangunan 2.651.119,55 3.727.039,83 4.539.681,196. Perdagangan, Hotel, 10.632.966,10 12.058.309,49 12.487.883,20 Restoran7. Pengangkutan, Komunikasi 2.213.113,14 2.690.985,60 2.976.798,168. Keuangan, sewa 2.857.769,66 3.239.466,51 3.452.159,819. Jasa-jasa 1.314.814,13 1.610.069,96 1.771.776,61 PDRB 51.826.271,88 58.585.996,29 63.893.446,49 Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau Indikator fundamental daerah lainnya yang dapat memberikan informasiawal tentang kemakmuran suatu daerah yaitu angka PDRB perkapita. PDRBPerkapita adalah salah satu idikator makro ekonomi yang sering digunakan untukmengukur tingkat kemakmuran penduduk suatu negara atau daerah. Semakin besarPDRB perkapitanya, semakin makmur penduduk negara atau daerah tersebut. 81
  • 91. Peraga 2.28. Struktur PDRB Provinsi Kepulauan Riau Menurut Sektor Tahun 2009 Pertanian 2,77 % 5,00 % Pertambangan 5,40 % Industri 8,77 % Listrik,air 4,66 % Banguan Perdagangan Angutan Keuangan Jasa-jasa 19,54 % 46,20 % 7,11 % 0,55 % Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau2.3.8. KELAUTANTindak Pidana Perikanan Jumlah tindak pidana perikanan di Provinsi Kepri diukur berdasarkankegiatan ilegal fishing yang dilakukan kapal asing yang tertangkap oleh kapalpengawas perikanan dari Direktorat Jenderal Pengawasan dan PengendalianSumberdaya Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan PerikananRepublik Indonesia. Jumlah tindak pidana perikanan dari tahun 2004-2009cenderung mengalami peningkatan terutama pada tahun 2008 mencapai 97 buahkapal yang tertangkap di perairan Provinsi Kepri (Kementerian Kelautan danPerikanan, 2010) 82
  • 92. Peraga 2.29. Jumlah Tindak Pidana Perikanan Sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2010 Peningkatan jumlah tindak pidana perikanan dari tahun ketahunmenunjukkan bahwa adanya perbaikan kinerja dan keseriusan aparat, masyarakatdan pemerintah dalam memberantas kegiatan illegal fishing yang rawan diperairanProvinsi Kepri. Provinsi Kepri yang berbatasan langsung dengan beberapa negara tetanggaseperti, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam merupakan Provinsi yang memilikijumlah perairan lebih kurang 96 % adalah lautan merupakan perairan yang rawanterhadap kegiatan-kegiatan pelanggaran dan tindak kejahatan di laut, tidak hanyatindak pidana perikanan tapi juga meliputi penyelundupan, trafficking, dan tindakpidana perhubungan lainnya.Luas Kawasan Konservasi Laut Kawasan Konservasi Laut adalah kawasan laut dan daratan yang terdapat diwilayah pesisir yang dilakukan upaya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatanserta ekosistemnya untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambunganSumber Daya kelautan dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilaidan keanekaragamannya. Luas Kawasan Konservasi Laut (KKL) di Provinsi Kepri dari tahun 2004-2009 mengalami peningkatan. Peningkatan jumlah luas KKL ini terutama 83
  • 93. dipengaruhi oleh inisiasi oleh program Kementerian Kelautan dan Perikanan yangterdapat di beberapa Kabupaten yang menjadi site project Coremap II ADB. AdapunKabupaten yang telah memiliki KKL di Provinsi Kepri adalah : Kabupaten Bintan,Natuna, Lingga dan Kota Batam. Status KKL di 5 Kabupaten/Kota tersebut adalahKawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) berdasarkan SK Bupati dan Walikota. Sedangkan Kabupaten Anambas merupakan Kabupaten satu-satunya diProvinsi Kepri yang memiliki KKL dengan status Kawasan Konservasi Perairan(KKP) Nasional berdasarkan SK Menteri Kelautan dan Perikanan. PemerintahProvinsi Kepri secara konsisten telah melakukan pengelolaan terhadap KKLtersebut, dengan telah disahkannya Perda No.5 Tahun 2010 tentang PengelolaanTerumbu Karang Provinsi Kepulauan Riau. KKL yang terdapat di Provinsi Kepulauan Riau saat ini sebagian besarbelum dilakukan pengelolaan secara optimal, pengelolaan dilakukan secara parsialoleh kabupaten/kota yang berada dalam wilayah administratif Provinsi Kepri. Untukmelakukan pengelolaan secara terpadu perlu disusun beberapa dokumenperencanaan, diantaranya dokumen Rencana Strategis, Rencana Zonasi, RencanaPengelolaan dan Rencana Aksi. Dokumen ini secara tegas diatur oleh Undang-undang No. 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulauKecil, lalu diperkuat oleh PP. No 60 Tahun 2007 tentang Konservasi SumberdayaIkan. Namun hingga saat ini Provinsi Kepri belum menyusun satupun dokumenyang dimaksud di atas. Sebagian Kabupaten /Kota telah memiliki dokumen yang dimaksud, namunbelum disinergiskan dengan dokumen perencanaan di tingkat Provinsi.Implementasi pengelolaan KKL di Kabupaten/Kota pada saat ini juga belummemberikan kontribusi terhadap pembangunan yang berkelanjutan. Padahaldiharapkan kesejahteraan masyarakat nelayan dapat meningkat dengan upayakonservasi ini.2.3.9. KESEJAHTERAAN SOSIALPersentase Penduduk Miskin Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan di bawah garis kemiskinan. Pada tahun 2009 garis kemiskinan diProvinsi Kepulauan Riau adalah sebesar Rp.283.965 per bulan per orang.sedangkan pada tahun 2008 sebesar Rp.262.232. Berdasarkan patokan garis 84
  • 94. kemiskinan tersebut jumlah penduduk miskin di Provinsi Kepulauan Riau padatahun 2009 tercatat sebanyak 128.210 orang. Jika dibandingkan dengan jumlahpenduduk miskin tahun 2008 yang berjumlah 136.360 orang, maka terlihat adanyapenurunan jumlah penduduk miskin sebanyak 8.150 orang. Jika dilihat secara persentase jumlah penduduk miskin tahun 2009 adalahsebesar 8,27 persen dari total jumlah penduduk Provisni Kepulauan Riau,sedangkan pada tahun 2008 persentasinya adalah sebesar 9,18 persen. Jadi padatahun 2009 baik secara relatif maupun absolut jumlah penduduk miskin di ProvinsiKepulauan Riau menurun dibanding tahun 2008. Untuk mengetahui secarakeseluruhan dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Bila dicermati Tabel 2.22, bahwa persentase penduduk miskin pada saatterjadinya krisis ekonomi antara tahun 2008 – 2009 tidak menjadi fakor yang dapatmempengaruhi naik atau turunannya jumlah penduduk miskin di Provinsi KepulauanRiau. Karena; Pertama; Berdasarkan hasil survey serta hasil diskusi denganBAPEDA Provinsi Kepulauan Riau, kemudian hasil telaah ternyata bahwa krisisekonomi yang terjadi dan hanya berlangsung selama beberapa bulan dalam tahun2008-2009, tidak menganggu secara langsung pada aktivitas status pekerjaanmasyarakat. Walaupun kalangan usaha mengalami dampak krisis globaldimaksud, seperti turunya nilai ekspor serta naiknya nilai impor pada waktu yangsama, namun perusahaan tetap bertanggungjawab atas hak-hak pekerja. Kedua;Kondisi dimana pada saat waktu disensus atau di survey atau orang yang bekerjanamun untuk sementara sedang tidak bekerja. Kemudian bila dikutip dari pengertian“pengangguran terbuka” menurut BPS “adalah orang-orang yang tidak mempunyaipekerjaan (pengangguran) atau masih, mencari pekerjaan pada saat pelaksanaansensus”. Dengan demikian diambil kesimpulan bahwa pada masa krisis tahun2008-2009 tidak mempengaruhi dan menambah jumlah penduduk miskin di ProvinsiKepulauan Riau. Keadaan persentase penduduk miskin di Provinsi Kepulauan Riaudari tahun 2005 – 2009 digambarkan pada grafik berikut ini. 85
  • 95. Tabel 2.22. Persentase Penduduk Miskin Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2005 - 2009 TAHUN JUMLAH PERSENTASE 2005 139.650 10,97 2006 163.000 12,16 2007 148.400 10,30 2008 136.000 9,18 2009 128.210 8,27 Sumber : Data BPS Provinsi Kepri. Tahun 2005-2009 Peraga 2.30. Persentase Penduduk Miskin Provinsi Kepri Tahun 2005 - 2009 Sumber : Diolah dari data BPS Provinsi Kepri. Tahun 2004-2009Angkatan Kerja dan Pengangguran Sampai dengan Agustus 2009 jumlah Angkatan Kerja di Provinsi KepulauanRiau tercatat sebanyak 681.769 jiwa, dari jumlah tersebut yang bekerja aktifsebanyak 626.456 jiwa dan selebihnya 53.313 jiwa atau 8,11 persen belummendapatkan pekerjaan (menganggur). Para penganggur tersebut sebagian besaratau 84 persen berada di kota dan hanya 16 persen saja yang berada di desa.Para penganggur tersebut pada umumnya berusia muda 15-25 tahun serta 86
  • 96. berpendidikan SMA ke bawah, umumnya mereka adalah para pendatang baru diProvinsi Kepulauan Riau. Jika dirinci pengangguran menurut Kabupaten / Kota maka tingkatpengangguran tertinggi tahun 2009 berada di Kabupaten Karimun yaitu sebanyak6.823 jiwa atau 9,23 persen, sedangkan terendah berada di Kabupaten Linggayaitu sebanyak 1.868 jiwa atau sama dengan 6,53 persen dari jumlah keseluruhanpengganggur tahun 2008 yang berjumlah 53.333 jiwa. Tingkat pengangguranterbuka di Provinsi Kepukauan Riau selama periode 2006-2008 cenderungmenurun, namun memasuki tahun 2009 mengalami kenaikkan. Tahun 2006 tingkatpengangguran terbuka Provinsi Kepulauan Riau adalah sebesar 12,24 persen,tahun 2007 turun menjadi 9,01 persen selanjutnya tahun 2008 juga mengalamipenurunan 8,01 persen, Namun pada tahun 2009 tingkat pengangguran mengalamikenaikan 0,10 persen dari tahun 2008. Tingkat pengangguran Provinsi KepulauanRiau tahun 2009 lebih tinggi bila dibandingkan dengan tingkat penganggurannasional pada tahun yang sama yaitu sebesar 7,97 persen. Namun tingkatpengangguran Provinsi Kepulauan Riau masih tergolong relatif rendah karenaberada pada tingkat pengangguran alamiah yang angkanya berkisar antara 7 – 8persen. Tingkat pengangguran terbuka Provinsi Kepulauan Riau terlibat sepertipada tabel berikut ini. Tabel 2.23. Tingkat Pengangguran Terbuka Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2006-2009 No. Tenaga Kerja 2006 2007 2008 2009 2010 1. Angkatan kerja 587.474 588.874 666.000 681.769 703.741 2. Bekerja 515.560 535.797 612.667 626.456 653.012 3. Menganggur 71.914 53.077 53.333 55.313 50.729 4 Tk.Pengangguran 12,24 9,01 8,01 8,11 7,21 Sumber : BPS Provinsi Kepri Tahun 2005-2009 87
  • 97. Peraga 2.31. Grafik Tingkat Pengangguran Terbuka di Kepri Tahun 2006 - 2010 Sumber : Diolah dari data BPS Provinsi Kepri.Tahun 2004-20092.3.10. Rekomendasi Kebijakkan Dalam Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat: 1. Perlu peningkatan kemampuan guru dalam mengajar sehingga diharapkan setiap tingkat pendidikan memiliki guru yang layak mengajar, untuk itu perlu dipikirkan penyesuaian ijazah pendidikan S-1 bagi guru-guru dalam rangka memenuhi standar Undang-Undang Guru dan Dosen no 14 tahun 2005 sehingga dapat meningkatkan mutu guru akan tetapi tidak mengganggu proses kegiatan mengajar guru. 2. Perlu peningkatan kompetensi guru melalui pemberian intensif dan dengan melakukan sertifikasi serta mengikuti pendidikan dan pelatihan-pelatihan atau kursus-kursus, program akta dan pendidikan lanjutan. 3. Perlu penambahan dan perbaikan akses pendidikan dalam bentuk penyediaan sekolah-sekolah atau rehabilitasi sekolah agar daya tampung lebih maksimal, pemenuhan kebutuhan guru-guru di bidang ilmu tertentu yang masih dibutuhkan dan buku-buku penunjang didaerah-daerah baik 88
  • 98. berupa pembangunan perpustakaan daerah maupun taman bacaan masyarakat.4. Perlunya penyediaan beasiswa bagi siswa berprestasi atau yang tidak mampu terutama tamatan SMA sehingga dapat meningkatkan angka partisipasi kasar bagi usia Perguruan Tinggi (PT).5. Meningkatnya Indek Pembangunan Manusia (HDI) Provinsi Kepulauan Riau harus tetap dipertahankan dalam rangka meningkatkan kualitas pembangunan manusia demi meningkatkan kesejahteraan rakyat.6. Menyediakan anggaran secara konsisten terhadap pendidikan dan kesehatan serta penyediaan fasilitas yang memadai, terutama penyediaan puskesmas terapung (pusling Laut), dan BKIA7. Masih kurangnya akses kesehatan di daerah pedesaan perlu peningkatan jumlah, jaringan dan kualitas sarana dan prasarana pelayanan kesehatan dasar dan rujukan terutama pada daerah dengan aksesibilitas relatif rendah di seluruh Provinsi Kepulauan Riau seperti Puskesmas terapung (pusling laut) yang harus diperbanyak.8. Data yang dihimpun dan dilaporkan oleh masing – masing unit pelaksana kesehatan belum optimal, perlu peningkatan sistem informasi kesehatan dan teknologi secara bertahap dari puskesmas dan rumah sakit diseluruh daerah Provinsi Kepri termasuk wilayah yang sulit dijangkau sehingga data yang diperoleh mampu mewakili seluruh keadaan di provinsi Kepulauan Riau9. Kualitas tenaga medis masih kurang, sehingga perlu pelatihan yang terprogram dan kontinu, meningkatkan sarana dan prasarana dan melakukan kebijakan pelayanan kesehatan masyarakat miskin dengan mudah, murah dan gratis yang pembiayaannya ditangguang bersama oleh pemerintah pusat, provinsi, kota/ kab dan pihak lain.10. Kondisi Angka Kematian Bayi (AKB) Provinsi Kepri yang sudah baik dan perlu dipertahankan dengan memperhatikan kualitas kesehatan masyarakat pulau terpencil (hinterland) seperti pemerataan sarana prasarana serta tenaga kesehatan11. Meningkatkan berbagai program dan promosi Keluarga Berencana oleh BKKBN ataupun PKBI seperti tidak saja melalui penyuluhan dan sosialisasi 89
  • 99. ke daerah – daerah tetapi juga menyediakan alat KB yang terjangkau baik dari harga maupun ketersediaan akses di daerah terpencil. Selain itu promosi penggunakan alat kontrasepsi yang aman agar terhindar dari kanker harus selalu ditingkatkan agar kepercayaan masyarakat dalam menggunakan alat kontrasepsi lebih baik.12. Laju pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat setiap tahunnya perlu dibuat program pengendalian pertumbuhan penduduk dan pemerataan penduduk agar tercapai pembangunan yang berimbang seperti pemerataan fasilitas pembangunan dan sarana prasarana serta pemerataan pertumbuhan industri sehingga penduduk tidak terpusat pada beberapa kota/ kabupaten tertentu.13. Mendorong terciptanya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di seluruh wilayah Provinsi Kepulauan Riau yang akan menumbuhkembangkan kegiatan industri dan pariwisata berbasis kelauatan..14. Melengkapi keersediaan infrastruktur guna mengatasi kesenjangan pembangunan antar wilayah Kabupaten/Kota dalam hal ketersediaan infrastruktur darat berupa jalan dan jembatan, infrastruktur laut berupa pelabuhan, dermaga, dan kapal angkutan serta infrastruktur udara berupa penambahan dan peningkatan sarana bandara. Selain itu masalah telekomunikasi juga belum tersedia secara merata di seluruh wilayah Provinsi Kepulauan Riau.. Penyediaan infrastruktur tersebut secara bertahap diharapkan dapat mendorong pemanfaatan sumber daya alam yang ada di masing-masing pulau dan tumbuhnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di Provinsi Kepulauan Riau yang akan dapat berfungsi sebagai daerah penyangga untuk Batam, Bintan, dan Karimun yang telah ditetapkan sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas (Free Trade Zone).15. Memaksimalkan pengelolaan Sumber Daya Kelautan Dan Perikanan Secara Maksimal mengingat Luas wilayah Provinsi Kepulauan Riau 96 persen adalah lautan, ini merupakan potensi yang sangat besar karena di dalammnya mengandung Sumber Daya Kelautan dan Perikanan yang tidak ternilai harganya. Potensi ekonomi kelautan meliputi perikanan tangkap, budidaya, pengolahan perikanan, industri bio-teknologi dan Harta Karun di 90
  • 100. dalam laut (muatan kapal tenggelam). Potensi energi kelautan seperi gelombang, pasang surut, angin dan energi panas laut (ocean thermal). belum dikelola secara maksimal. Belum maksimalnya pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan ini dapat dilihat dari kecilnya kontribusi sektor Pertanian (sub sektor Kelautan dan Perikanan) di dalam PDRB Provinsi Kepulauan Riau yang hanya memnyumbangkan tidak lebih dari 5 persen rata-rata selama lima tahun terakhir ini. Untuk masa mendatang sub sektor kelautan dan perikanan harus menjadi sektor unggulan Provinsi Kepulauan Riau. Pembangunan harus diarahkan ke laut melalui Revolusi Biru dan Program Minapolitan yang berbasis Ilmu dan pengetahuan.16.Melakukan upaya untuk ketersediaan Daya Dukung Kapasitas Energi Listrik, Air Bersih. Listri merupakan kebutuhan dasar yang sangat vital bagi tumbuh dan berkembangnya kegiatan ekonomi. Untuk Provinsi Kepulauan Riau hanya kota Batam yang bebas dari maslah kekuarangan tenaga Listrik dan air bersih, selebihnya seluruh Kabupaten/Kota mengalami krisis listrik yang sangat dalam. Kekurangan pasokan energi listrik ini menyebabkan daya saing daerah dalam menarik investor asing semakin berkurang Berbagai aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat menjadi terganngu sehingga memperlambat pengembangan investasi dan kegiatan sosial ekonomi masyarakat.17. Regulasi FTZ Belum Pro Bisnis, FTZ telah digulirkan lebih dari 5 tahun, tetapi perangkat hukum (regulasinya) yang mengatur tentang FTZ itu sendiri sangat lambat. Di sarankan kepada pemerintah pusat untuk memberikan perhatian secara maksimal sehingga kondisi perekonomian di kawasan BBK (Batam, Bintan dan Karimun) serta Kabupaten/Kota lainnya di Provinsi Kepulauan Riau memiliki payung hukum yang kuat, sehingga keberadaan FTZ benar-benar membeikan manfaat bagi masyarakat dan pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.18. Perlu dilakukan upaya oleh pemerintah Provinsi Kepulauan Riau untuk memperbaiki atau melakukan pelebaran jalan, peningkatan kualitas jalan dan penambahan sarana jembatan yang bisa menghubungkan antar pulau dikarenakan kondisi Kepulauan Riau yang luasnya wilayahnya 96% lautan. 91
  • 101. 19. Perlu dilakukan penambahan jumlah dan akses jalan di wilayah-wilayah pesisir Provinsi Kepulauan Riau sehingga memudahkan akses bagi seluruh masyarakat di wilayah tersebut.20. Perlu dilakukan optimalisasi sumberdaya lahan, air dan pengembangan insfrastruktur pendukung pertanian, sebagai konsekwensi dari karakteristik daerah yang terdiri dari pulau-pulau kecil dengan sumberdaya air dan lahan yang terbatas.21. Oleh karena Provinsi Kepulauan Riau merupakan daerah dengan karakteristik pulau-pulau kecil, alokasi lahan pertanian relatif lebih kecil, sehingga perlu pengembangan teknologi pertanian adaptif, yang cocok dengan karakteristik daerah ini, untuk menjadi produk unggulan berbasis daerah.22. Peningkatan Investasi di sektor pertanian agar dapat mengurangi ketergantungan sifat konsumtif terhadap komoditi pangan impor dan menjaga kestabilan ketahanan pangan Provinsi Kepulauan Riau ketika terjadi fluktuasi harga komoditi.23. Mengalokasikan anggaran rehabilitasi hutan secara konsisten baik yang berasal dari dana APBD maupun APBN24. Agar realisasi program dan kegiatan konservasi mencapai target yang telah ditetapkan, perlu penyusunan logical framework (kerangka pemikiran) yang sistematik dan terkoordinasi oleh instansi terkait25. Membangun dan menerapkan teknik konservasi tanah dan air di daerah hulu tepat guna disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik daerah Provinsi Kepri26. Membangun kelembagaan yang membantu masyarakat hulu dalam menerapkan kegiatan konservasi berbasis masyarakat27. Law enforcement / menindak pelanggaran pengrusakkan sumberdaya hutan secara konsisten dan terpadu28. Penyuluhan terhadap masyarakat yang berada disekitar hutan dan Daerah Aliran Sungai (DAS) secara berkesinambungan.29. Luas Perairan Kepri yang mencapai 96 % dari jumlah daratan merupakan daerah yang rawan terhadap tindak pidana di bidang perikanan, sehingga diperlukan penambahan sarana dan prasarana pengawasan, meliputi 92
  • 102. jumlah kapal pengawas, dan jumlah personil yang dilibatkan dalam pengawasan 30. Agar program pengawasan lebih efektip, perlu pelibatan masyarakat secara aktif terutama para nelayan-nelayan lokal/tradisional yang melakukan penangkapan /beroperasi di daerah perbatasan atau pulau-pulau terluar di Kepulauan Riau, dengan cara pengaktifan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas di tingkat Desa/Kecamatan). 31. Pengawasan bidang perikanan memerlukan koordinasi lintas sektoral dan lintas vertikal, dilakukan secara terpadu, komprehensif dan berkelanjutan 32. Peningkatan jumlah tindak pidana perikanan berkonsekwensi terhadap penyelesaian kasus secara efektif dan efisien, sehingga diperlukan pengadilan khusus tindak pidana perikanan di Provinsi Kepri, untuk masalah ini, saat ini Provinsi Kepri belum memiliki pengadilan khusus di bidang tindak pidana perikanan, sehingga proses penyelesaian kasus masih diserahkan ke pengadilan umum, sehingga memerlukan waktu yang cukup lama dalam penyelesaiannya. 33. KKL yang telah dibentuk di Provinsi Kepri, tidak akan efektif jika tidak dilakukan pengelolaan secara konsisten dan berkelanjutan, untuk itu perlu dibentuk Lembaga Pengelola KKL di tingkat Provinsi sebagai implementasi dan amanah dari Perda Pengelelolaan Terumbu Karang di Kepri. 34. Pemerintah Provinsi perlu melakukan penyusunan tata ruang laut, guna mensinergiskan pemanfaatan ruang perairan di Kabupaten sehingga tumpang tindih pemanfaatan ruang yang dapat memicu konflik kepentingan terhadap kerusakan sumberdaya hayati kelautan dapat diminimalisir. Karena potensi sumberdaya hayati dan non hayati laut yang sangat besar akan menyebabkan terjadinya eksploitasi dan ekplorasi kekayaan laut yang dapat berimplikasi terhadap kerusakan lingkungan.2.3.11. KESIMPULAN Berdasarkan uraian dan analisis di atas maka dapat ditarik beberapakesimpulan sebagai berikut: 93
  • 103. 1. Untuk agenda mewujudkan Indonesia yang aman dan damai, maka Polda Provinsi Kepulauan Riau telah bekerja maksimal dalam menyelesaikan kasus tindak pidana yang terjadi di wilayah ini. Tindak kejahatan konvensional memperlihatkan trend menurun dari tahun 2004 – 2008 namun kembali meningkat pada tahun 2009. Kejahatan yang menonjol adalah perdagangan narkoba dan psikotropika, traficking, pencurian ikan oleh nelayan asing, dan kejahatan transnasional lainnya.2. Untuk agenda mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis dapat ditarik kesimpulan bahwa Provinsi Kepri berhasil memberikan contoh yang baik untuk penerapan pelayan satu atap (one stop service) di Batam. Aparat hukum juga berhasil menyelesaikan kasus-kasus korupsi yang dilaporkan dengan baik. Peningkatan diperlukan dalam hal pelaporan keuangan daerah. Karena selama lima tahun berturut-turut Provinsi Kepri belum mampu mencapai predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dalam pelaporan keuangannya. Sementara itu secara gender, pembangunan di Provinsi Kepri masih belum merata. Di mana Gender Development Index (GDI) Provins Kepulauan Riau masih berada di bawah angka GDI nasional. Namun, perbaikkan pemerataan ini terus meningkat dari tahun ke tahun.3. Untuk agenda meningkatkan kesejahteraan rakyat, maka jika dilihat dari Human Development Index (HDI) maka Provinsi Kepri berhasil mencapai prestasi tinggi dengan melebihi rata-rata HDI nasional. Di bidang pendidikkan Provinsi Kepri juga terus mengalami peningkatan dengan naiknya Angka Partisipasi Murni, Angka Partisipasi Kasar, naiknya nilai rata- rata murid, menurunnya angka putus sekolah, dan terus meningkatnya jumlah guru yang layak mengajar. Dibidang kesehatan umur harapan hidup juga terus meningkat, angka kematian bayi mengalami trend menurun, gizi buruk menurun, dan rasio tenaga kesehatan per penduduk yang terus meningkat. Sementara itu, secara makro, pertumbuhan ekonomi dan kemampuan ekspor di Provinsi Kepri terus meningkat walaupun mengalami penurunan pada tahun 2008 – 2009 akibat krisis global yang juga dirasakan di provinsi ini. Nilai investasi asing dan dalam negeri juga mengalampi perbaikkan serta inflasi yang mampu terjaga di bawah dua digit juga dianggap prestasi bagus untuk Provinsi Kepri. Hal ini juga diikuti dengan 94
  • 104. perbaikkan infrastruktur jalan dan perhatian terhadap perbaikkan kondisilingkungan. Jumlah penduduk miskin memperlihatkan tren menurun namuntingkat pengangguran memperlihatkan tren menaik di tahun-tahunbelakangan ini. 95
  • 105. BAB III RELEVANSI RPJMN 2010 – 2014 DENGAN RPJMD PROVINSI KEPULAUAN RIAU3.1. LATAR BELAKANG Tujuan jangka panjang pembangunan daerah Provinsi Kepulauan Riau Tahun2005-2025 adalah MEWUJUDKAN KEPULAUAN RIAU BERBUDAYA, MAJU DANSEJAHTERA. Tujuan ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan menjadi satukesatuan dalam upaya mewujudkan tujuan jangka panjang nasional sebagaimana yangtertuang dalam RPJP Nasional dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Untuk mencapai tujuan jangka panjang sebagaimana yang diarahkan dan ingindiwujudkan diatas, pembangunan jangka panjang membutuhkan tahapan dan fokusprioritas yang akan menjadi agenda bagi pembangunan lima tahunan sesuai periodepembangunan jangka menengah. Pentahapan diperlukan untuk mencerminkan urgensipermasalahan dan konsistensi pembangunan namun tidak mengabaikanpermasalahan yang muncul pada setiap tahapan pembangunan tersebut. Penekananpada setiap tahapan berbeda, dan berkesinambungan dari satu periode ke periodeberikutnya sampai tujuan jangka panjang tercapai. Oleh karena itu maka Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah ProvinsiKepulauan Riau Kepulauan Riau Tahun 2005-2025 kemudian dibagi kedalam 4(empat) tahapan pembangunan jangka menengah lima tahunan dengan fokusprioritas masing-masing tahapan sebagai berikut : 1. RPJMD I (2005-2010) : Berlandaskan pada kondisi awal berdirinya Provinsi, prioritas pembangunan dalam RPJMD I adalah menata dan mempersiapkan sarana dan lembaga pemerintahan agar berjalan dengan baik, berfungsinya lembaga pemerintahan dalam menjalankan pemerintahan umum, pembangunan dan pelayanan publik. Tersedianya perangkat sarana pemerintahan yang didukung dengan infrastruktur dasar dan pegawai yang memadai serta tenaga guru dan paramedis dan pelayanan lainnya yang seimbang, dst. 96
  • 106. 2. RPJMD II (2011-2015) : Berlandaskan hasil RPJMD I, fokus RPJMD II adalah memantapkan penataan penyelenggaraan pemerintahan dengan menekankan peningkatan sumberdaya manusia yang mampu mengelola sumberdaya alam dengan menyiapkan pemanfaatan ilmu dan teknologi guna meningkatkan daya saing daerah dalam skala regional, nasional dan global. Melanjutkan penataan organisasi pemerintahan daerah, memantapkan sistem dan sarana pemerintahan, membina dan meningkatkan kualitas aparatur pemerintahan, menyediakan infrastuktur dasar masyarakat, dst. 3. RPJMD III (2016-2020) : Berlandaskan pada hasil RPJMD I dan RPJMD II, RPJMD III lebih memantapkan pembangunan secara menyeluruh di berbagai bidang dengan menekankan kepada peningkatan daya saing ekonomi yang berlandaskan kepada pengelolaan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang berkualitas dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara terus menerus. Terus melanjutkan penataan, pembinaan dan pengembangan organisasi pemerintahan daerah, dst. 4. RPJMD IV (2021-2025) : Periode terakhir dari RPJPD yaitu RPJMD IV menggambarkan arah pembangunan jangka panjang serta mewujudkan tujuan jangka panjang sebagaimana yang sudah ditetapkan sebelumnya dengan berlandaskan pada RPJMD I, RPJMD II dan RPJMD III. Pada RPJMD IV ini difokuskan untuk mewujudkan masyarakat yang berbudaya, maju dan sejahtera melalui percepatan pembangunan di segala bidang dengan menekankan pembangunan sektor ekonomi yang berdaya saing diseluruh wilayah yang didukung oleh sumberdaya manusia yang berkualitas, cerdas, berakhlak dan berbudaya, dst. RPJMD Tahun 2011-2015 merupakan periode RPJMD kedua setelah RPJMDTahun 2005-2010 dalam pentahapan pembangunan jangka panjang daerah ProvinsiKepulauan Riau maka berlandaskan dari hasil pelaksanaan, pencapaian, kondisi sertasebagai keberlanjutan RPJMD I, RPJMD II.Sementara itu, dalam RPJMN tahun 2010 – 2014 tiga agenda yang akandilaksanakan adalah agenda Aman dan Damai; Adil dan Demokratis; sertaMeningkatkan Kesejahteraan Rakyat. 97
  • 107. Adapun prioritas nasional dalam RPJMN 2010-2014 adalah 1. Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola, 2. Pendidikan, 3. Kesehatan, 4. Penanggulangan Kemiskinan, 5. Ketahanan Pangan, 6. Infrastruktur, 7. Iklim Investasi dan Iklim Usaha, 8. Energi, 9. Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana, 10. Daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar, & Pasca-konflik, 11. Kebudayaan, Kreativitas dan Inovasi Teknologi dan 3 prioritas lainnya yaitu 1) Kesejahteraan Rakyat lainnya, 2) Politik, Hukum, dan Keamanan lainnya, 3) Perekonomian lainnya. Berikut adalah perbandingan dan analisis relevansi antara RPJMN 2010 –2014 dengan RPJMD Provinsi Kepulauan Riau. Dimana dalam hal ini akandilihat keterkaitan dan dukungan RPJMD Provinsi Kepulauan Riau terhadapprogram-program yang diperioritaskan pada RPJMN 2010 - 2014. 98
  • 108. RPJMN RPJMD Provinsi 2010 -2014 (Tahun 2011 – 2015) Analisis Penjelasan Terhadap AnalisisNo Prioritas Program Aksi Prioritas Program Kualitatif Kualitatif Pembangunan Pembangunan1 PRIORITAS 1. REFORMASI BIROKRASI DAN PRIORITAS 1. MEMANTAPKAN TATA KELOLA KEMBALI PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN Otonomi Daerah; Penataan otonomi daerah Peningkatan Pelayanan melalui Aparatur Pemerintahan melalui  Penghentian/pembata  Terus menyediakan  Terdapat  Program penyediaan san pemekaran sarana pendukung sinkronisasi sarana pendukung dapat wilayah; di pusat dan program membatasi keinginan  Peningkatan efisiensi pemerintahan yang yang saling masyarakat yang tidak representatif. mendukung terlayani untuk melepaskan dan efektivitas  Meningkatkan antara diri dari daerah induk. penggunaan dana pelayanan publik program  Perencanaan perimbangan daerah; dengan sistem nasional dan pembangunan yang teratur  Penyempurnaan reward dan program di daerah dapat pelaksanaan pemilihan punishment pemerintah meningkatkan efisiensi dan kepala daerah;  Melakukkan daerah di efektivitas penggunaan penataan Provinsi dana pembangunan organisasi Kepulauan daerah. pemerintah daerah. Riau.  Tata kelola organisasi  Melaksanakan pemerintahan yang baik pembangunan juga dapat mendukung daerah dengan penyempurnaan berdasarkan pelaksanaan pemilihan perencanaan kepala daerah. daerah yang teratur. 99
  • 109. RPJMN RPJMD Provinsi 2010 -2014 (Tahun 2011 – 2015) Analisis Penjelasan Terhadap AnalisisNo Prioritas Program Aksi Prioritas Program Kualitatif Kualitatif Pembangunan Pembangunan Regulasi;  Percepatan  Terus melakukan  Terdapat  Secara umum Provinsi harmonisasi dan kerjasama dengan keterkaitan Kepri tetap mengutamakan sinkronisasi instansi terkait baik dan saling kerjasama yang erat peraturan daerah maupun dukung dengan pusat, walaupun pusat dalam antara dalam RPJMD disebutkan perundang- pengembangan program secara spesifik dalam hal undangan di tingkat pulau terluar dan nasional pengembangan pulau pusat dan daerah perbatasan. dengan terluar dan perbatasan. Hal peraturan daerah program di ini dianggap dapat selambatlambatnya Provinsi menunjang program 2011; Kepri. nasional dalam hal sinkronisasi peraturan perundang-undangan selambat-lambatnya tahun 201 Sinergi antara pusat dan daerah  Penetapan dan  Menerapkan SPM  Terdapat  Walaupun tidak disebutkan penerapan sistem dan SOP dalam keterkaitan penyelarasan secara Indikator Kinerja Utama setiap jenis dan saling spesifik, namun Provinsi Pelayanan Publik yang pelayanan dan dukung Kepri dalam hal ini telah selaras antara melakukan sistem antara berusaha meningkatkan pemerintah pusat dan penilaian terhadap program standar pelayanan pemerintah daerah kinerja aparatur. nasional publiknya dengan adanya dengan SPM dan SOP serta kinerja program di yang terukur. Provinsi Kepri 100
  • 110. RPJMN RPJMD Provinsi 2010 -2014 (Tahun 2011 – 2015) Analisis Penjelasan TerhadapNo Prioritas Program Aksi Prioritas Program Kualitatif Analisis Kualitatif Pembangunan Pembangunan Penegakkan Hukum;  Peningkatan integrasi  Tidak terdapat  Tidak ada  Walaupun tidak dan integritas rencana secara program terdapat penyebutan penerapan dan spesifik mengenai daerah yang spesifik mengenai penegakan hukum oleh penegakkan hukum mendukung penegakkan hukum, di RPJMD Kepri sepenuhnya namun penegakkan seluruh lembaga dan 2011 – 2015. prioritas/prog hukum sudah aparat hukum ram seharusnya menjadi nasional. acuan utama dalam menjaga iklim pembangunan yang kondusif. Data Kependudukkan;  Penetapan Nomor Induk  Tidak terdapat  Tidak ada  Wilayah yang berpulau- Kependudukan (NIK) dan rencana yang program pulau membuat pengembangan Sistem spesifik dalam daerah yang kesulitan tersendiri Informasi dan Administrasi penetapan NIK dan mendukung dalam hal ini. SIAK dalam sepenuhnya Kependudukan (SIAK) RPJMD Provinsi prioritas/prog dengan aplikasi pertama Kepri. ram nasional pada kartu tanda penduduk selambat- lambatnya pada 2011. 101
  • 111. RPJMN RPJMD Provinsi 2010 -2014 (Tahun 2011 – 2015) Penjelasan TerhadapNo Analisis Kualitatif Prioritas Program Aksi Prioritas Program Analisis Kualitatif Pembangunan Pembangunan2 Prioritas 2 Pendidikan  Peningkatan Angka  Peningkatan Angka  Secara umum  Program aksi PartisipasiMurni (APM) PartisipasiMurni dapat tingkat nasional pendidikan dasar (APM) pendidikan dikatakan yang tidak  APM pendidikan setingkat dasar bahwa prioritas disebutkan di SMP  APM pendidikan pembangunan tingkat daerah setingkat SMP di sektor adalah  Angka Partisipasi Kasar pendidikan penyediaan  Angka (APK) pendidikan setingkat mendukung sambungan ber- SMA Partisipasi Kasar (APK) pendidikan sepenuhnya content  Pemantapan/rasionalisasi setingkat SMA prioritas di pendidikan implementasi BOS, tingkat sekolah dan  Wajib belajar 12  Penurunan harga buku nasional. penurunan harga tahun. buku. Namun, hal standar di tingkat sekolah  Peningkatan dasar dan menengah ini dapat didukung kualitas guru. dengan program sebesar 30-50%  Peningkatan peningkatan selambatlambatnya fasilitas pendidikan fasilitas 2012 dan baik kuantitas pendidikkan  Penyediaan sambungan maupun kualitas. secara kuantitas internet ber-content  Pemberian dan kualitas. pendidikan ke sekolah beasiswa bagi tingkat menengah selambat- keluarga kurang lambatnya 2012 dan terus mampu diperluas ke tingkat sekolah dasar; 102
  • 112. RPJMN RPJMD Provinsi Penjelasan 2010 -2014 (Tahun 2011 – 2015)No Analisis Kualitatif Terhadap Analisis Prioritas Program Aksi Prioritas Program Kualitatif Pembangunan Pembangunan Akses Pendidikan Tinggi  Peningkatan APK pendidikan  Peningkatan  Ada program  Cukup jelas tinggi APK Pendidikan daerah yang tinggi mendukung sepenuhnya prioritas/program nasional. Metodologi;  Penerapan metodologi  Penerapan  Tidak ada program  Di dalam RPJMD pendidikan yang tidak lagi kurikulum tingkat daerah yang Kepri penjabaran berupa pengajaran demi satuan mendukung hal ini dilakukan kelulusan ujian pendidikan prioritas/program hanya secara (KTSP) nasional. umum. Pengelolaan;  Pemberdayaan peran kepala  Tidak ada  Tidak ada program  Di dalam RPJMD sekolah sebagai manajer program yang daerah yang Kepri pengelolaan sistem pendidikan yang spesifik di bidang mendukung pendidikan tidak unggul, pengelolaan prioritas/program menjadi prioritas..  Revitalisasi peran pengawas pendidikan. nasional. RPJMD Kepri sekolah sebagai entitas lebih berorientasi quality assurance, output  Mendorong aktivasi peran pendidikan. Komite Sekolah untuk menjamin keterlibatan pemangku kepentingan dalam proses pembelajaran, dan Dewan Pendidikan di tingkat Kabupaten 103
  • 113. RPJMN RPJMD Provinsi Penjelasan 2010 -2014 (Tahun 2011 – 2015)No Analisis Kualitatif Terhadap Analisis Prioritas Program Aksi Prioritas Program Kualitatif Pembangunan Pembangunan Kurikulum;  Penataan ulang kurikulum  Penerapan  Tidak ada program  KTSP sudah ada sekolah kurikulum tingkat daerah yang dalam RPJMD satuan mendukung sebelumnya. pendidikan di prioritas/program seluruh jenis dan nasional. jenjang sekolah. Kualitas;  Peningkatan kualitas guru,  Meningkatkan  Ada program  Cukup jelas pengelolaan dan layanan jumlah guru yang daerah yang sekolah bersertifikat dan mendukung memiliki standar sepenuhnya nasional. prioritas/program nasional. Prioritas 3: Kesehatan Kesehatan Masyarakat;  Pelaksanaan Program  Peningkatan  Ada program  Cukup jelas Kesehatan Preventif pencegahan daerah yang Terpadu penyakit menular mendukung secara terpadu. sepenuhnya prioritas/program nasional. KB;  Peningkatan kualitas dan  Tidak program  Tidak ada program  Program lebih jangkauan layanan KB yang spesifik di daerah yang diarahkan pada melalui 23.500 klinik Provinsi Kepri mendukung tingkat harapan pemerintah dan swasta prioritas/program hidup penduduk. nasional. selama 2010-2014; 104
  • 114. RPJMN RPJMD Provinsi Penjelasan 2010 -2014 (Tahun 2011 – 2015)No Analisis Kualitatif Terhadap Analisis Prioritas Program Aksi Prioritas Program Kualitatif Pembangunan Pembangunan Obat;  Pemberlakuan Daftar Obat  Tidak ada  Tidak ada program  Program lebih Esensial Nasional sebagai program yang daerah yang bersifat umum di dasar pengadaan obat di spesifik di mendukung RPJMD Kepri. seluruh Indonesia dan bidang obat- prioritas/program pembatasan harga obat obatan. nasional. generik bermerek pada 2010; Asuransi Kesehatan Nasional;  Penerapan Asuransi  Tidak ada  Tidak ada program  Program lebih Kesehatan Nasional untuk program yang daerah yang bersifat umum di seluruh keluarga miskin spesifik di mendukung RPJMD Kepri dengan cakupan 100% pada bidang asuransi dan tidak prioritas/program 2011 dan diperluas secara kesehatan. menyentuh bertahap untuk keluarga nasional. Indonesia lainnya antara masalah asuransi 2012-2014 kesehatan sedikitpun.4 Prioritas 4: Penanggulangan Kemiskinan Bantuan Sosial Terpadu;  Integrasi program  Tidak ada  Tidak ada program  Program lebih perlindungan sosial program yang daerah yang diarahkan pada berbasis keluarga yang spesifik yang mendukung pengendalian mencakup program mencakup prioritas/program harga kebutuhan Bantuan nasional. pokok. Bantuan Langsung Tunai Langsung Tunai. 105
  • 115. RPJMN RPJMD Provinsi Penjelasan 2010 -2014 (Tahun 2011 – 2015)No Analisis Kualitatif Terhadap Analisis Prioritas Program Aksi Prioritas Program Kualitatif Pembangunan Pembangunan  Bantuan pangan, jaminan  Tidak ada  Tidak ada  Program lebih sosial bidang kesehatan, program yang program daerah bersifat umum di beasiswa bagi anak keluarga spesifik di bidang yang mendukung RPJMD Kepri. berpendapatan rendah, jaminan sosial ini. prioritas/program Pendidikan Anak Usia Dini nasional. (PAUD), dan Parenting Education mulai 2010 dan program keluarga harapan diperluas menjadi program nasional mulai 2011—2012; PNMP Mandiri;  Penambahan anggaran PNPM  Tidak ada  Tidak ada  Program lebih Mandiri program yang program daerah bersifat umum di spesifik yang yang mendukung RPJMD Kepri. terkait dengan prioritas/program Tidak ada PNPM Mandiri. nasional. menyentuh masalah PNPM Mandiri. Kredit Usaha Rakyat (KUR);  Pelaksanaan  Tidak ada  Tidak ada  Program lebih penyempurnaan mekanisme program yang program daerah bersifat umum di penyaluran KUR mulai 2010 spesifik yang yang mendukung RPJMD Kepri. dan perluasan cakupan KUR mulai 2011; mencakup Kredit prioritas/program Usaha Rakyat. nasional. Tim Penanggulangan Kemiskinan;  Revitalisasi Komite Nasional  Revitalisasi Komite  Ada program daerah  Cukup jelas. Penanggulangan Kemiskinan penanggulangan yang mendukung di bawah koordinasi Wakil kemiskinan di sepenuhnya Presiden bawah koordinasi prioritas/program Wakil Gubernur. nasional. 106
  • 116. RPJMN RPJMD Provinsi Penjelasan 2010 -2014 (Tahun 2011 – 2015)No Analisis Kualitatif Terhadap Analisis Prioritas Program Aksi Prioritas Program Kualitatif Pembangunan Pembangunan5 PRIORITAS 5 : PROGRAM AKSI DIBIDANG PANGAN Lahan, Pengembangan Kawasan dan Tata Ruang Pertanian:  Penataan regulasi untuk  Pembangunan  Ada program  Walaupun tidak menjamin kepastian hukum sektor pertanian daerah yang disebutkan atas lahan pertanian, yang mendukung secara spesifik di  Pengembangan areal komprehensif dan sepenuhnya RPJMD, namun berkelanjutan. prioritas/program program provinsi pertanian baru seluas 2 juta nasional. Kepri tersebut hektar, penertiban serta dapat optimalisasi penggunaan mendukung lahan terlantar; program nasional. Infrastruktur;  Pembangunan dan  Penyediaan  Ada program  Program lebih pemeliharaan sarana sarana dan daerah yang bersifat umum di transportasi dan angkutan, prasarana fisik mendukung RPJMD Kepri. pengairan, jaringan listrik, serta bidang pertanian. sepenuhnya teknologi komunikasi dan prioritas/program sistem informasi nasional nasional. yang melayani daerah-daerah sentra produksi pertanian demi peningkatan kuantitas dan kualitas produksi serta kemampuan pemasarannya; 107
  • 117. RPJMN RPJMD Provinsi Penjelasan 2010 -2014 (Tahun 2011 – 2015)No Analisis Kualitatif Terhadap Analisis Prioritas Program Aksi Prioritas Program Kualitatif Pembangunan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan;  Peningkatan upaya  Tidak ada  Tidak ada  Program lebih penelitian dan program yang program daerah bersifat umum di pengembangan spesifik yang yang mendukung RPJMD Kepri. bidang pertanian terkait dengan prioritas/program Bahkan untuk yang mampu penelitian dan nasional. pertanian bisa pengembangan dikatakan menciptakan benih bidang pertanian. program yang unggul dan hasil diprioritaskan peneilitian lainnya sangat sedikit. menuju kualitas dan produktivitas hasil pertanian nasional yang tinggi; Investasi, Pembiayaan, dan Subsidi:  Dorongan untuk investasi  Tidak ada  Tidak ada  Program lebih pangan, pertanian, dan program yang program daerah bersifat umum di industri perdesaan berbasis spesifik yang yang mendukung RPJMD Kepri produk lokal oleh pelaku mencakup prioritas/program dan sangat usaha dan pemerintah, dorongan nasional. minim. penyediaan pembiayaan yang investasi di terjangkau. bidang pertanian. Pangan dan Gizi:  Peningkatan kualitas gizi dan  Tidak ada  Tidak ada  Program lebih keanekaragaman pangan program yang program daerah bersifat umum di melalui peningkatan pola spesifik mengenai yang mendukung RPJMD Kepri pangan harapan; pola pangan prioritas/program dan sangat harapan nasional. minim. 108
  • 118. RPJMN RPJMD Provinsi Penjelasan 2010 -2014 (Tahun 2011 – 2015)No Analisis Kualitatif Terhadap Analisis Prioritas Program Aksi Prioritas Program Kualitatif Pembangunan Pembangunan Adaptasi Perubahan Iklim:  Pengambilan langkah-  Tidak program  Tidak ada  Program lebih langkah kongkrit terkait yang mencakup program daerah bersifat umum di adaptasi dan adaptasi dan yang mendukung RPJMD Kepri antisipasi sistem antisipasi sistem prioritas/program dan sangat pangan dan nasional. minim. pangan dan pertanian pertanian terhadap perubahan terhadap iklim. perubahan iklim.6 PRIORITAS 6: INFRASTRUKTUR Tanah dan Tata Ruang:  Konsolidasi kebijakan  Terus  Ada program  Walaupun secara penanganan dan membangun dan daerah yang langsung tidak pemanfaatan tanah menyediakan mendukung tepat sama, untuk kepentingan infrastruktur sepenuhnya namun arah dasar, penataan prioritas/program program antara umum secara lingkungan nasional. Provinsi Kepri menyeluruh di bawah perkotaan dan dan Nasional satu atap dan percepatan dapat saling pengelolaan tata ruang pembangunan mendukung. secara terpadu; wilayah pedesaan. Pengendalian banjir:  Penyelesaian  Tidak program yang  Tidak ada  Cukup jelas. pembangunan mencakup program daerah pembangunan yang mendukung prasarana prasarana pengendalian banjir prioritas/program pengendalian banjir. nasional. 109
  • 119. RPJMN RPJMD Provinsi Penjelasan 2010 -2014 (Tahun 2011 – 2015)No Analisis Kualitatif Terhadap Analisis Prioritas Program Aksi Prioritas Program Kualitatif Pembangunan Pembangunan Perhubungan:  Pembangunan jaringan  Terus  Ada program  Cukup jelas prasarana dan penyediaan membangun dan daerah yang sarana transportasi memfungsikan mendukung antarmoda dan antarpulau dermaga sepenuhnya yang terintegrasi sesuai penyeberangan, prioritas/program dengan Sistem Transportasi peningkatan nasional. Nasional dan Cetak Biru kapasitas dan Transportasi Multimoda dan kualitas Bandara, penurunan tingkat dan mulai kecelakaan transportasi membangun sehingga pada 2014 lebih jembatan Batam- kecil dari 50% keadaan saat Bintan. ini; Transportasi perkotaan:  Perbaikan sistem dan  Tidak ada  Tidak ada program  Cukup jelas jaringan transportasi di 4 kota program yang daerah yang besar (Jakarta, Bandung, sesuai. mendukung Surabaya, Medan) prioritas/program nasional.7 PRIORITAS 7 : IKLIM INVESTASI DAN IKLIM USAHA Kepastian hukum:  Reformasi regulasi secara  Tidak ada program  Tidak ada program  Cukup jelas bertahap di tingkat nasional yang spesifik dalam daerah yang dan daerah hal kepastian mendukung hukum di Provinsi prioritas/program Kepri. nasional. 110
  • 120. RPJMN RPJMD Provinsi Penjelasan 2010 -2014 (Tahun 2011 – 2015)No Analisis Kualitatif Terhadap Analisis Prioritas Program Aksi Prioritas Program Kualitatif Pembangunan Pembangunan Kebijakan ketenagakerjaan:  Sinkronisasi kebijakan  Menerapkan  Ada program  Cukup jelas. ketenagakerjaan dan iklim peraturan yang daerah yang usaha dalam rangka komprehensif mendukung memperluas penciptaan dibidang sepenuhnya ketenagakerjaan, prioritas/program lapangan kerja. mengembangkan nasional. sistem informasi dan konsultasi, dan meningkat mutu tenaga kerja.8 PRIORITAS 8: ENERGI Energi alternatif:  Peningkatan pemanfaatan  Tidak ada  Tidak ada program  Cukup jelas. energi terbarukan termasuk program spesifik daerah yang energi alternatif yang mencakup mendukung gheotermal sehingga energi prioritas/program mencapai 2.000 MW pada terbarukan. nasional. 2012 dan 5.000 MW pada 2014 Hasil ikutan dan turunan minyak bumi/gas:  Revitalisasi industri pengolah  Tidak ada  Tidak ada program  Cukup jelas. hasil ikutan/turunan minyak program spesifik daerah yang bumi dan gas sebagai bahan yang mencakup mendukung baku industri tekstil, pupuk dan industri hilir lainnya; industri pengolah prioritas/program hasil turunan nasional. minyak. 111
  • 121. RPJMN RPJMD Provinsi Penjelasan 2010 -2014 (Tahun 2011 – 2015)No Analisis Kualitatif Terhadap Analisis Prioritas Program Aksi Prioritas Program Kualitatif Pembangunan Pembangunan Konversi menuju penggunaan gas:  Perluasan program  Tidak ada  Tidak ada program  Cukup jelas. konversi minyak tanah ke program spesifik daerah yang gas sehingga mencakup mengenai mendukung 42 juta Kepala Keluarga konversi minyak prioritas/program tanah ke gas. nasional. pada 2010;9 PRIORITAS 9 : LINGKUNGAN HIDUP DAN PENGELOLAAN BENCANA Perubahan iklim:  Peningkatan  Meningkatkan  Ada program  Dalam RPJMD keberdayaan kualitas daerah yang Provinsi Kepri pengelolaan lahan lingkungan hidup mendukung masalah gambut, di Provinsi sepenuhnya peningkatan mutu Kepulauan Riau prioritas/program lingkungan hidup  Peningkatan hasil rehabilitasi dengan nasional. hanya disebutkan seluas 500,000 ha per melaksanakan secara umum tahun, standar baku tidak spesifik  Penekanan laju mutu lingkungan seperti apa yang deforestasi hidup dan ada dalam secara sungguh- pengendaliannya prioritas nasional. sungguh serta didukung dengan semakin meningkat dan berkembangnya infrastruktur lingkungan hidup. 112
  • 122. RPJMN RPJMD Provinsi Penjelasan 2010 -2014 (Tahun 2011 – 2015)No Analisis Kualitatif Terhadap Analisis Prioritas Program Aksi Prioritas Program Kualitatif Pembangunan Pembangunan Pengendalian Kerusakan Lingkungan:  Penurunan beban  Terus  Ada program  Walaupun dalam pencemaran lingkungan meningkatkan daerah yang RPJMD hanya melalui pengawasan peran serta mendukung disebutkan ketaatan pengendalian stakeholders dalam sepenuhnya secara umum pengendalian prioritas/program namun bisa pencemaran air limbah dan dampak nasional. disinkronkan emisi di 680 kegiatan lingkungan. dengan prioritas industri dan jasa pada 2010 nasional. dan terus berlanjut; Sistem Peringatan Dini:  Penjaminan berjalannya  Tidak ada program  Tidak ada  Cukup jelas fungsi Sistem Peringatan Dini yang sesuai. program daerah Tsunami (TEWS) dan Sistem yang Peringatan Dini Cuaca mendukung (MEWS) mulai 2010 dan prioritas/program seterusnya, serta Sistem nasional. Peringatan Dini Iklim (CEWS) pada 2013;) Penanggulangan bencana:  Peningkatan kemampuan  Meningkatkan  Ada program  Cukup jelas penanggulangan bencana kualitas dan daerah yang kuantitas aparatur mendukung pengelola sepenuhnya lingkungan dalam prioritas/program pengendalian nasional. dampak lingkungan 113
  • 123. RPJMN RPJMD Provinsi Penjelasan 2010 -2014 (Tahun 2011 – 2015)No Analisis Kualitatif Terhadap Analisis Prioritas Program Aksi Prioritas Program Kualitatif Pembangunan Pembangunan10 PRIORITAS 10: DAERAH TERDEPAN, TERLUAR, TERTINGGAL DAN PASCA KONFLIK Kebijakan:  Pelaksanaan kebijakan  Tidak ada program  Tidak ada  Cukup jelas. khusus dalam bidang spesifik yang program daerah infrastruktur dan mencakup program yang pendukung kesejahteraan aksi ini di Provinsi mendukung lainnya Kepri. prioritas/program nasional. Keutuhan wilayah:  Penyelesaian pemetaan  Tidak ada program  Tidak ada  Cukup jelas. wilayah perbatasan RI spesifik yang program daerah dengan Malaysia, Papua mencakup yang Nugini, Timor Leste, dan Filipina pada 2010; pemetaan wilayah mendukung dengan negara prioritas/program tetangga. nasional. Daerah tertinggal:  Pengentasan paling  Mendorong  Ada program  Cukup jelas. lambat 2014. percepatan daerah yang pembangunan mendukung daerah tertinggal, sepenuhnya kawasan prioritas/program terdepan/terluar. nasional. 114
  • 124. RPJMN RPJMD Provinsi PenjelasanN 2010 -2014 (Tahun 2011 – 2015) Analisis Kualitatif Terhadap Analisiso Prioritas Program Aksi Prioritas Program Kualitatif Pembangunan Pembangunan1 PRIORITAS 11 :1 KEBUDAYAAN, KREATIFITAS, DAN INOVASI TEKNOLOGI Perawatan:  Penetapan dan  Penetapan dan  Ada program  Cukup jelas. pembentukan pengelolaan pembentukan daerah yang terpadu untuk pengelolaan pengelolaan terpadu mendukung cagar budaya, untuk pengelolaan sepenuhnya  Revitalisasi museum dan cagar budaya, prioritas/program perpustakaan di seluruh  Mencegah nasional. Indonesia ditargetkan punahnya sebelum Oktober 2011; peninggalan budaya dan revitalisasi museum. Sarana:  Penyediaan sarana yang  Meningkatkan  Ada program  Cukup jelas. memadai bagi kesadaran daerah yang pengembangan, pendalaman masyarakat mendukung dan pagelaran seni budaya di kota besar dan ibu kota terhadap akar sepenuhnya kabupaten selambat- budaya dengan prioritas/program lambatnya Oktober 2012; pembinaan nasional. sanggar seni dan budaya serta sarana budaya lainnya. 115
  • 125. RPJMN RPJMD Provinsi PenjelasanN 2010 -2014 (Tahun 2011 – 2015) Analisis Kualitatif Terhadap Analisiso Prioritas Program Aksi Prioritas Program Kualitatif Pembangunan Pembangunan Kebijakan:  Peningkatan perhatian dan  Peningkatan  Ada program  Cukup jelas. kesertaan pemerintah dalam pembinaan nilai daerah yang program-program seni agama dan budaya mendukung budaya yang diinisiasi oleh pada semua sepenuhnya masyarakat dan mendorong jenjang pendidikan, prioritas/program berkembangnya apresiasi lembaga nasional. terhadap kemajemukan kemasyarakatan, budaya; dan pemerintah Sarana:  Penyediaan sarana yang  Meningkatkan  Ada program  Cukup jelas. memadai bagi kesadaran daerah yang pengembangan, pendalaman masyarakat mendukung dan pagelaran seni budaya di kota besar dan ibu kota terhadap akar sepenuhnya kabupaten selambat- budaya dengan prioritas/program lambatnya Oktober 2012; pembinaan nasional. sanggar seni dan budaya serta sarana budaya lainnya. Inovasi teknologi:  Peningkatan keunggulan  Pembinaan  Ada program  Provinsi Kepri komparatif menjadi keunggulan nelayan tradisional daerah yang yang terdiri dari kompetitif yang mencakup baik dari peralatan, mendukung sebagian besar pengelolaan sumber daya teknologi, sepenuhnya wilayah laut maritim menuju ketahanan energi, pangan, dan antisipasi permodalan dan prioritas/program membuat Kepri perubahan iklim; dan pemasaran hasil. nasional. berusaha pengembangan penguasaan menggalai segala teknologi dan kreativitas inovasi teknologi pemuda. kemaritiman. 116
  • 126. RPJMN RPJMD Provinsi Penjelasan 2010 -2014 (Tahun 2011 – 2015)No Analisis Kualitatif Terhadap Analisis Prioritas Program Aksi Prioritas Program Kualitatif Pembangunan Pembangunan  Mengintensifkan  Program ini tidak koordinasi dgn ada ditingkat Pemerintah pusat nasional. agar Regulasi yg menghambat pelaksanaan FTZ segera direvisi dan diganti dgn yg lebih pro bisnis  Tersedianya  Program ini tidak infrastruktur dasar ada ditingkat untuk pengem nasional. bangan kawasan FTZ seperti pelabuhan petikemas yg berstandar internasional, jalan dan listrik.  Rehabilitasi rumah  Program ini tidak tidak layak huni ada ditingkat termasuk fasilitas nasional. jamban keluarga,  Peningkatan  Program ini tidak Produksi perikanan ada ditingkat  Pengembangan nasional. Industri berbasis maritim  Peningkatan SDM  Program ini tidak di bidang kalautan ada ditingkat nasional. 117
  • 127. RPJMN RPJMD Provinsi Penjelasan 2010 -2014 (Tahun 2011 – 2015)No Analisis Kualitatif Terhadap Analisis Prioritas Program Aksi Prioritas Program Kualitatif Pembangunan Pembangunan  Pembangunan  Program ini tidak Infrastruktur ada ditingkat perikanan nasional.  Meningkatnya  Program ini tidak penghayatan dan pengamalan Agama ada ditingkat dari masing-masing nasional. pemeluknya.  Menciptakan kondisi  Program ini tidak yang kondusif ada ditingkat sehingga masyarakat nasional. dapat melaksanakan kegiatan keagamaan dengan aman dan tentram melaui peningkatan peran FKUB. Peningkatan kuan titas dan kualitas para Dai dan guru agama.  Pengembangan dan  Program ini tidak pewarisan budaya ada ditingkat melayu kepada nasional. generasi muda melalui kegiatan di sekolah dan sanggar seni.  Memelihara dan  Program ini tidak mengembangan ada ditingkat budaya-budaya lain nasional. yg hidup berkembang di Kepri . 118
  • 128. 3.2. REKOMENDASI Setelah melakukan analisis terhadap relevansi antara RPJMN 2010 – 2014dengan RPJMD Provinsi Kepri tahun 2011 – 2015 di atas maka dapatdirekomendasikan hal-hal sebagai berikut:A. Rekomendasi Terhadap RPJMD Provinsi Kepulauan Riau 1. Untuk tahun perencanaan saja terlihat jelas bahwa RPJMD Provinsi Kepulauan Riau tidak sinkron dengan RPJMN. Di mana rentang tahun RPJMN adalah 2010 – 2014 sedangkan RPJMD Provinsi Kepulauan Riau adalah 2011 – 2015. Hal ini menunjukkan kurangnya koordinasi penyusunan rencana pembangunan di tingkat daerah dengan nasional. Untuk itu tim EKPD merekomendasikan bahwa RPJMD harus disusun mengikuti dan sejalan dengan RPJMN 2010 – 2014. 2. Ada prioritas dalam RPJMN untuk pemetaan perbatasan wilayah Republik Indonesia dengan Malaysia dan Siingapura, namun hal ini tidak didukung dengan program di daerah atau RPJMD. Padahal pemetaan wilayah ini sesuatu yang sangat mendesak mengingat begitu banyaknya konflik yang terjadi dengan negara tetangga terkait masalah perbatasan wilayah ini. Direkomendasikan agar Provinsi Kepulauan Riau menjadikan pemetaan perbatasan wilayah dengan negara tetangga ini menjadi program yang mendesak pula dalam RPJMD Provinsi Kepri periode ini. Direkomendasikan juga agar Pemerintah Provinsi Kepri dapat menjadi koordinator bagi aparat terkait dalam hal manajemen pengamanan wilayah laut / maritim. 3. Walaupun sudah terlihat cukup concern di bidang peningkatan mutu pendidikan ( peningkatan kualitas guru sudah diprogramkan dalam RPJMD) Provinsi Kepri, namun dalam RPJMD Provinsi Kepri belum terlihat penataan ulang kurikulum sekolah, pemberdayaan kepala sekolah sebagai manajer pendidikan, dan pemanfaatan teknologi informasi serta character building untuk lulusan untuk memajukan dan meningkatkan mutu pendidikan di Provinsi Kepri. Untuk itu direkomendasikan agar alokasi dana bidang pendidikan di Provinsi Kepri di arahkan kepada perubahan kurikulum dan pemanfaatan teknologi informasi di bidang pendidikan. 119
  • 129. B. Rekomendasi Terhadap RPJMN 1. Di RPJMD telah ditetapkan program lanjutan dari kebijakkan penetapan FTZ oleh pemerintah pusat. Namun, di RPJMN tidak ada program yang spesiifik dalam RPJMN mengenai persiapan dan pemantapan pengelolaan Batam, Bintan, dan Karimun selaku kawasan perdagangan bebas (free trade zone). Untuk itu tim EKPD merekomendasikan agar hal ini juga menjadi prioritas utama dalam RPJMN. 2. Dalam RPJMD Provinsi Kepri diprogramkan mengenai penghayatan agama bagi masing-masing pemeluknya serta kerukunan antar umat beragama namun dalam RPJMN tidak terdapat prioritas untuk mengukuhkan persatuan dan kerukunan antar suku dan umat beragama di Indonesia. Mengingat begitu rawannya perselisihan dan perpecahan yang terjadi belakangan ini di masyarakat maka direkomendasikan agar diprogramkan pembinaan dan peningkatan kerukunan antar suku dan umat beragama di Indonesia dalam RPJMN. 3. Dalam RPJMN dan RPJMD tidak ada program mengenai wawasan nusantara dan peningkatan semangat kebangsaan di kalangan warga negara Republiik Indonesia. Untuk itu direkomendasikan agar diprogramkan sosialisasi yang berkesinambungan mengenai wawasan nusantara untuk meningkatkan semangat kebangsaan dan cinta tanah air dikalangan rakyat Indonesia, karena dengan banyaknya pengaruh asing maka semangat nasionalisme perlahan mulai terkikis. 4. Karena RPJMN belum dipakai sebagai acuan utama oleh Provinsi Kepri maka sebaiknya sosialisasi RPJMN dilaksanakan dengan lebih baik lagi dan dengan waktu yang cukup agar dapat menjadi panduan bagi daerah dalam menetapkan prioritas pembangunan daerah. 120
  • 130. BAB IV KESIMPULAN4.1. KESIMPULAN Tujuan dari kegiatan ini adalah melakukan evaluasi kinerja pelaksanaanRencana Pembangunan Jangka Menengah(RPJMN) 2004 – 2009 di daerah danuntuk melakukan penilaian keterkaitan antara Rencana Pembangunan JangkaMenengah (RJPMD) Provinsi Kepulauan Riau dengan RPJMN 2010 – 2014. Berikut ini beberapa kesimpulan yang bisa ditarik dari analisis yang telahdilakukan sebelumnya oleh tim EKPD Provinsi Kepulauan Riau: 1. Untuk agenda mewujudkan Indonesia yang aman dan damai, maka Polda Provinsi Kepulauan Riau telah bekerja maksimal dalam menyelesaikan kasus tindak pidana yang terjadi di wilayah ini. Tindak kejahatan konvensional memperlihatkan trend menurun dari tahun 2004 – 2008 namun kembali meningkat pada tahun 2009. Kejahatan yang menonjol adalah perdagangan narkoba dan psikotropika, traficking, pencurian ikan oleh nelayan asing, dan kejahatan transnasional lainnya. 2. Untuk agenda mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis dapat ditarik kesimpulan bahwa Provinsi Kepri berhasil memberikan contoh yang baik untuk penerapan pelayan satu atap (one stop service) di Batam. Aparat hukum juga berhasil menyelesaikan kasus-kasus korupsi yang dilaporkan dengan baik. Peningkatan diperlukan dalam hal pelaporan keuangan daerah. Karena selama lima tahun berturut-turut Provinsi Kepri belum mampu mencapai predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dalam pelaporan keuangannya. Sementara itu secara gender, pembangunan di Provinsi Kepri masih belum merata. Di mana Gender Development Index (GDI) Provins Kepulauan Riau masih berada di bawah angka GDI nasional. Namun, perbaikkan pemerataan ini terus meningkat dari tahun ke tahun. 3. Untuk agenda meningkatkan kesejahteraan rakyat, maka jika dilihat dari Human Development Index (HDI) maka Provinsi Kepri berhasil mencapai prestasi tinggi dengan melebihi rata-rata HDI nasional. Di bidang 121
  • 131. pendidikkan Provinsi Kepri juga terus mengalami peningkatan dengan naiknya Angka Partisipasi Murni, Angka Partisipasi Kasar, naiknya nilai rata- rata murid, menurunnya angka putus sekolah, dan terus meningkatnya jumlah guru yang layak mengajar. Dibidang kesehatan umur harapan hidup juga terus meningkat, angka kematian bayi mengalami trend menurun, gizi buruk menurun, dan rasio tenaga kesehatan per penduduk yang terus meningkat. Sementara itu, secara makro, pertumbuhan ekonomi dan kemampuan ekspor di Provinsi Kepri terus meningkat walaupun mengalami penurunan pada tahun 2008 – 2009 akibat krisis global yang juga dirasakan di provinsi ini. Nilai investasi asing dan dalam negeri juga mengalampi perbaikkan serta inflasi yang mampu terjaga di bawah dua digit juga dianggap prestasi bagus untuk Provinsi Kepri. Hal ini juga diikuti dengan perbaikkan infrastruktur jalan dan perhatian terhadap perbaikkan kondisi lingkungan. Jumlah penduduk miskin memperlihatkan tren menurun namun tingkat pengangguran memperlihatkan tren menaik di tahun-tahun belakangan ini.4. Dalam hal keterkaitan RPJMD Provinsi Kepri 2011 – 2015 dengan RPJMN 2010 – 2014, yang palin menonjol adalah perbedaan tahun rencana. Kemudian ada beberapa hal yang belum didukung di RPJMD Provinsi Kepri diantaranya: tidak adanya program peningkatan integritas dan integrasi penegak hukum di Provinsi Kepri, tidak adanya program peningkatan metode belajar dan pemanfaatan teknologi informasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Provinsi Kepri, tidak adanya rencana spesifik untuk meningkatkan kualitas dan jangkauan layanan KB, tidak adanya program spesifik di bidang pengadaan obat dan standarisasi obat serta asuransi kesehatan nasional, juga tidak adanya program spesifik untuk bantuan langsung tunai, tidak ada program spefisik di bidang penelitian dan pengembangan bidang pertanian, dsb. Sementara hal menonjol yang di programkan di Provinsi Kepri namun belum ada di RPJMN 2010 – 2014 adalah peningkatan penerapan Batam, Bintan, Kariman sebagai Kawan Ekonomi Khusus (KEK). Infrastruktur terutama di Bintan dan Karimun masih belum memadai namun tidak diprogramkan peningkatannya di tingkat nasional. Di RPJMN 2010 – 2014 juga belum terlihat upaya memperkuat 122
  • 132. kesatuan masyarakat terutama antar masyarakat yang berbeda ras, suku, dan agama.4.2. REKOMENDASI 1. Secara keseluruhan pelaksanaan Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah (EKPD) tahun ini dianggap telah berjalan dengan baik dan mampu menyediakan dokumen acuan pembangunan yang baik untuk nasional maupun daerah. Namun, EKPD tahun ini sebagaimana juga tahun-tahun sebelumnya baru menjangkau wilayah daerah tingkat I (provinsi). Direkomendasikan agar dibentuk juga tim EKPD di tingkat kabupaten / kota yang berkoordinasi dengan tim EKPD tingkat provinsi, agar capaian manfaat dari dilaksanakannya EKPD ini semakin luas. 2. Jangka waktu pelaksanaan EKPD tahun ini dianggap telah cukup untuk melakukan evaluasi secara baik. Namun, tetap direkomendasikan agar jangka waktu pelaksanaan dimulai lebih cepat di awal tahun agar hasil yang didapatkan semakin baik. 3. Direkomendasikan penambahan anggaran untuk pelaksanaan EKPD ini di tahun-tahun mendatang agar hasil yang diperoleh juga semakin baik. 123
  • 133. DAFTAR PUSTAKABahan-bahan ekspos Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD) Provinsi Kepulauan Riau Dalam Acara Musyawarah Rencana Pembangunan Provinsi Kepri 2009 dan 2010.Inisiasi Rencana Pembangunan Daerah Provinsi Kepulauan Riau 2010 – 2015Kepulauan Riau Dalam Angka 2004 – 2009Laporan Berkala Bank Indonesia Batam 2004 - 2010Publikasi Hasil Audit Badan Pemeriksa Keuangan Tahun 2010Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010 – 2014Rencana Pembangunan Jangka Panjang Provinsi Kepulauan Riau 2005 – 2025 124
  • 134. 125