Laporan Akhir EKPD 2006 DIY - UGM
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Laporan Akhir EKPD 2006 DIY - UGM

on

  • 2,542 views

Dokumen Laporan Akhir EKPD 2009 Provinsi DI Yogyakarta oleh Universitas Gadjah Mada

Dokumen Laporan Akhir EKPD 2009 Provinsi DI Yogyakarta oleh Universitas Gadjah Mada

Statistics

Views

Total Views
2,542
Views on SlideShare
2,542
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
190
Comments
2

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel

12 of 2

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • terima hasih atas info semuanya,,
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • URUS NIK BEACUKAI / REGISTRASI KEPABEANAN
    Peraturan Menteri Keuangan Nomor 63/PMK.04/2011 dan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor PER-21/BC/2011
    Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 124/PMK.04/2007

    - URUS NIK BEACUKAI/SRP BEACUKAI PENERBITAN BARU
    - URUS NIK BEACUKAI/SRP BEACUKAI DITOLAK
    - URUS NIK BEACUKAI/SRP BEACUKAI DIBLOKIR
    - URUS NIK BEACUKAI/SRP BEACUKAI PINDAH ALAMAT
    - URUS PERUBAHAN NIK BEACUKAI/SRP BEACUKAI Peraturan Menteri Keuangan Nomor 63/PMK.04/2011 dan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor PER-21/BC/2011
    URUS IZIN USAHA:
    - PENDIRIAN PT – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - PENDIRIAN PMA – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - PENDIRIAN CV – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - PENERBITAN APIU – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - PENERBITAN APIP – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - PENERBITAN NPIK – Seluruh Indonesia
    - PENERBITAN SRP/NIK BEACUKAI – Seluruh Indonesia
    - PENERBITAN UUG/HO
    - PENERBITAN KEAGENAN/DISTRIBUTOR
    - DLL
    Hubungi M. Samosir, SH
    PT. LEGALITAS SARANAIZIN INDONESIA
    Telp. 021-3142566
    Fax. 021-3928113.
    Mobile
    HP. 081385042000
    Flexi. 021-70940216
    Email: legal@saranaizin.com
    Pin BB 2262D175
    Website:http://www.saranaijin.com
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Laporan Akhir EKPD 2006 DIY - UGM Laporan Akhir EKPD 2006 DIY - UGM Document Transcript

    • KATA PENGANTAR Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Kami Tim EKPD MAP UGM telah dapat menyelesaikan Laporan Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2009. Evaluasi kinerja pembangunan merupakan instrumen penting di dalam proses pembangunan sebab hanya dengan evaluasi maka kita dapat mengetahui apakah berbagai perencanaan pembangunan tersebut dapat mencapai sasaran dan mampu mewujudkan berbagai tujuan yang telah ditetapkan di dalam dokumen perencanaan. Lebih daripada itu, di dalam konteks kepentingan Nasional yang lebih luas, evaluasi kinerja pembangunan daerah memiliki posisi strategis karena dapat digunakan sebagai mekanisme kontrol untuk menyakinkan para pemangku kepentingan apakah perencanaan pembangunan pada level nasional menjadi acuan atau dapat diterjemahkan oleh para perencana di daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota. Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Tim Independen dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS). Adapun tujuan dari Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah (EKPD) Tahun 2009 untuk menilai kinerja pembangunan di daerah dalam rentang waktu 2004-2008. Evaluasi ini juga dilakukan untuk melihat apakah pembangunan daerah telah mencapai tujuan yang diharapkan dan apakah masyarakat mendapatkan manfaat dari pembangunan daerah tersebut. Evaluasi ini menggunakan pendekatan relevansi dan efektivitas . Dalam pelaksanaan evaluasi ini Tim EKPD MAP UGM telah melakukan konsolidasi anggota tim, rapat-rapat pembahasan dan diskusi internal peneliti, koordinasi dengan Bappeda Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan SKPD lainnya serta melakukan Focussed Group Discussion (FGD). FGD ini melibatkan para pejabat SKPD yang terdiri dari Bappeda, Badan Statistik, Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Pemukiman dan Prasarana Wilayah, Dinas Lingkungan, serta Dinas Pertanian. Sesuai dengan tujuan dari kegiatan ini, maka Laporan EKPD Tahun 2009 berisikan tentang penjelasan capaian lima indikator besar yaitu tingkat pelayanan publik dan demokrasi, tingkat kualitas sumber daya manusia, tingkat pembangunan ekonomi, kualitas pengelolaan sumber daya alam serta tingkat kesejahteraan rakyat. Laporan EKPD ini memuat antara lain analisis relevansi dan efektivitas capaian indikator, analisis capaian indicator spesifik dan menonjol serta rekomendasi tindak lanjut. i
    • Dengan selesainya penulisan laporan ini, Tim Independen UGM mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu proses pengumpulan data, analisis hingga penulisannya. Terima kasih secara khusus ingin kami sampaikan kepada: Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang telah memberikan akses terhadap pengumpulan berbagai data yang diperlukan dalam evaluasi ini; PSKK UGM yang memberikan akses terhadap berbagai hasil penelitian mereka, dan BAPPENAS sebagai penyedia dana dan dukungan teknis yang lain sehingga laporan ini dapat diselesaikan. Terima kasih tak lupa juga kami sampaikan kepada para asisten peneliti: Bagus, Purna, Ningsih, Habibi, Indri dan Ade yang telah bekerja keras untuk membantu data colleting. Akhirnya tidak ada gading yang tak retak, Tim EKPD MAP-UGM berharap mendapatkan masukan, saran dan kritik guna melakukan perbaikan-perbaikan sehingga tugas untuk melakukan evaluasi di masa mendatang dapat dilakukan dengan lebih baik lagi. Yogyakarta, 9 Desember 2009 Tim Independen EKPD Tahun 2009 Universitas Gadjah Mada 1. Dr. Agus Pramusinto 2. Dr. Erwan Agus Purwanto 3. Dr. Wahyudi Kumorotomo 4. Dr. Nunuk Dwi Retnandari 5. Dr. Ambar Widaningrum, MA. 6. Drs. Setiadi, M.Si. ii
    • DAFTAR ISI Kata Pengantar ...................................................................................................................... i Daftar Isi ............................................................................................................................... iii Daftar Grafik .......................................................................................................................... iv Daftar Tabel ........................................................................................................................... vi Bab I PENDAHULUAN ........................................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang dan Tujuan ............................................................................... 1 1.2 Keluaran yang diharapkan dari pelaksanaan EKPD 20009 ................................ 1 1.3 Metodologi ......................................................................................................... 2 1.4 Sistematika Penulisan Laporan ......................................................................... 4 Bab II HASIL EVALUASI ....................................................................................................... 7 2.1 TINGKAT PELAYANAN PUBLIK DAN DEMOKRASI......................................... 7 2.1.1 Capaian Indikator ....................................................................................... 8 2.1.2 Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol ..................................... 18 2.1.3 Rekomendasi Kebijakan ............................................................................ 21 2.2 TINGKAT KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA ............................................ 22 2.2.1 Capaian Indikator ...................................................................................... 23 2.2.2 Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol ..................................... 35 2.2.3 Rekomendasi Kebijakan ............................................................................ 37 2.3 TINGKAT PEMBANGUNAN EKONOMI ............................................................ 38 2.3.1 Capaian Indikator ...................................................................................... 38 2.3.2 Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol ..................................... 49 2.3.3 Rekomendasi Kebijakan ............................................................................ 54 2.4 TINGKAT PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM ......................................... 55 2.4.1 Capaian Indikator ...................................................................................... 55 iii
    • 2.4.2 Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol ..................................... 59 2.4.3 Rekomendasi Kebijakan ............................................................................ 59 2.5 TINGKAT KESEJAHTERAAN RAKYAT ............................................................ 60 2.5.1 Capaian Indikator ...................................................................................... 60 2.5.2 Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol ..................................... 81 2.5.3 Rekomendasi Kebijakan ............................................................................ 87 Bab III KESIMPULAN ............................................................................................................ 89 Lampiran 1 Tabel Indikator Outcomes Evaluasi Kinerja Pembangunan Provinsi DIY iv
    • DAFTAR GRAFIK Grafik 2.1. Outcomes dan Trend Tingkat Pelayanan Publik dan Demokrasi 2004-2009 ........ 9  Grafik 2.2. Outcomes dan Trend Tingkat Pelayanan Publik Provinsi DIY .............................. 10  Grafik 2.3. Persentase Jumlah kasus korupsi yang tertangani dibandingkan dengan yang dilaporkan di DIY .................................................................................................................... 11  Grafik 2.4. Presentase aparat yang berijazah minimal S1 Provinsi DIY ................................. 12  Grafik 2.5. Persentase jumlah kabupaten/ kota di DIY yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap ............................................................................................................... 13  Grafik 2.6. Outcomes dan Trend Tingkat Demokrasi DIY ...................................................... 13  Grafik 2.7. Tingkat partisipasi politik masyarakat dalam Pemilihan Umum di DIY ................. 14  Grafik 2.8. Gender Development Index (GDI) DIY 2004-2009 ............................................... 19  Grafik 2.9. Gender Empowerment Meassurment (GEM) DIY 2004-2009 .............................. 20  Grafik 2.10. Angka Melek Aksara Kelompok Usia 15 Tahun Ke Atas .................................... 26  Grafik 2.11. Umur harapan hidup ........................................................................................... 27  Grafik 2.12. Angka Kematian Bayi .......................................................................................... 28  Grafik 2.13. Angka kematian ibu melahirkan .......................................................................... 29  Grafik 2.14. Tingkat Pengangguran Terbuka di Provinsi DIY ................................................. 32  Grafik 2.15. Trend Outcome Tingkat Pembangunan Ekonomi 2004-2009 ............................. 39  Grafik 2.16. Trend Outcome Tingkat Pembangunan Ekonomi 2004-2009 ............................. 40  Grafik 2.17. Proporsi Ekspor terhadap PDRB ........................................................................ 41  Grafik 2.18. Proporsi Ekspor terhadap PDRB ........................................................................ 42  Grafik 2.19. Pertumbuhan Realisasi Investasi Asing (PMA)................................................... 44  Grafik 2.20. Pertumbuhan Realisasi Investasi PMDM ............................................................ 45  Grafik 2.21. Ketersediaan sarana prasarana untuk pelayanan dalam bidang investasi ......... 46  Grafik 2.22. Pertumbuhan Ekonomi........................................................................................ 49  v
    • Grafik 2.23. Pendapatan per kapita (dalam juta rupiah) ......................................................... 52  Grafik 2.24. Tingkat Inflasi ...................................................................................................... 53  Grafik 2.25. Proporsi Rehabilitasi Lahan Kritis ....................................................................... 56  Grafik 2.26. Proporsi Rehabilitasi Lahan Luar Hutan ............................................................. 57  Grafik 2.27. Luas Lahan Konservasi....................................................................................... 59  Grafik 2.28. Trend Kesejahteraan Sosial di Propinsi DIY dibandingkan dengan Trend Kesejahteraan Sosial Nasional tahun 2004-2009 (versi data yang didapatkan dari Dinas Sosial DIY) .............................................................................................................................. 61  Grafik 2.29 Trend Kesejahteraan Sosial di Propinsi DIY dibandingkan dengan Trend Kesejahteraan Sosial Nasional tahun 2004-2009 (versi data yang didapatkan dari Dinas Sosial DIY) .............................................................................................................................. 62  Grafik 2.30. Trend Kesejahteraan Sosial di Propinsi DIY dibandingkan dengan Trend Kesejahteraan Sosial Nasional tahun 2004-2009 (versi data yang didapatkan dari Bappenas) ................................................................................................................................................ 62  Grafik 2.31. Trend Kesejahteraan Sosial di Propinsi DIY dibandingkan dengan Trend Kesejahteraan Sosial Nasional tahun 2004-2009 (versi data yang didapatkan dari Bappenas) ................................................................................................................................................ 63  Grafik 2.32. Tingkat Kesejahteraan Sosial di Propinsi DIY dibandingkan dengan Tingkat Kesejahteraan Sosial Nasional tahun 2004-2009 (versi data yang didapatkan dari Dinas Sosial DIY) .............................................................................................................................. 64  Grafik 2.33. Tingkat Kesejahteraan Sosial di Propinsi DIY dibandingkan dengan Tingkat Kesejahteraan Sosial Nasional tahun 2004-2009 (versi data yang didapatkan dari Dinas Sosial DIY) .............................................................................................................................. 64  Grafik 2.34. Tingkat Kesejahteraan Sosial di Propinsi DIY dibandingkan dengan Tingkat Kesejahteraan Sosial Nasional tahun 2004-2009 (versi data yang didapatkan dari Bappenas) ................................................................................................................................................ 65  Grafik 2.35. Tingkat Kesejahteraan Sosial di Propinsi DIY dibandingkan dengan Tingkat Kesejahteraan Sosial Nasional tahun 2004-2009 (versi data yang didapatkan dari Bappenas) ................................................................................................................................................ 65  Grafik 2.36. Persentase Kemiskinan ...................................................................................... 67  Grafik 2.37. Persentase Kemiskinan ...................................................................................... 67  Grafik 2.38. Tingkat Persentase Pelayanan Kesejahteraan Sosial ....................................... 73  vi
    • Grafik 2.39. Tingkat Persentase Pelayanan Kesejahteraan Sosial ........................................ 74  Grafik 2.40. Tingkat Pengangguran Terbuka Propinsi DIY tahun 2004-2009 ........................ 81  vii
    • DAFTAR TABEL Tabel 2.2.1. Indikator Angka Partisipasi Murni ....................................................................... 24  Tabel 2.2.2. Angka Putus Sekolah ......................................................................................... 25  Tabel 2.2.3. Prevalensi Gizi Kurang ....................................................................................... 30  Tabel 2.2.4. Keadaan Ketenagakerjaan Provinsi DIY ............................................................ 33  Tabel 2.2.5. Pencatatan Ketenagakerjaan di Provinsi DIY ( Untuk tenaga-kerja Laki-laki) .... 34  Tabel 2.5.1.4.3 Pagu Anggaran Kegiatan............................................................................... 72  Tabel 2.5.1.5.3 Realisasi Penanganan PMKS Anak Terlantar (anak terlantar, balita terlantar, anak jalanan dan anak nakal) ................................................................................................. 74  Tabel 2.5.1.5.4 Realisasi Penanganan PMKS Lanjut Usia Terlantar ..................................... 75  Tabel 5.1.1.5.5. Pembinaan panti asuhan/panti jompo .......................................................... 77  Tabel 2.5.1.5.6. Realisasi Penanganan PMKS Rehabilitasi Sosial (Penyandang Cacat, Tunasosial, Dan Korban Penyalahgunaan Narkoba) ............................................................. 77  Tabel 2.5.2.2 Peningkatan Kesempatan Kerja ....................................................................... 82  viii
    • Laporan Akhir EKPD – Kesimpulan Bab I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang dan Tujuan Pembangunan daerah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional, pada hakekatnya pembangunan daerah adalah upaya terencana untuk meningkatkan kapasitas daerah dalam mewujudkan masa depan daerah yang lebih baik dan kesejahteraan bagi semua masyarakat. Hal ini sejalan dengan amanat UU No. 32 tahun 2004 yang menegaskan bahwa Pemerintah Daerah diberikan kewenangan secara luas untuk menentukan kebijakan dan program pembangunan di daerah masing-masing. Evaluasi kinerja pembangunan daerah (EKPD) 2009 dilaksanakan untuk menilai relevansi dan efektivitas kinerja pembangunan daerah dalam rentang waktu 2004-2008. Evaluasi ini juga dilakukan untuk melihat apakah pembangunan daerah telah mencapai tujuan/sasaran yang diharapkan dan apakah masyarakat mendapatkan manfaat dari pembangunan daerah tersebut. Secara kuantitatif, evaluasi ini akan memberikan informasi penting yang berguna sebagai alat untuk membantu pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan pembangunan dalam memahami, mengelola dan memperbaiki apa yang telah dilakukan sebelumnya. Hasil evaluasi digunakan sebagai rekomendasi yang spesifik sesuai kondisi lokal guna mempertajam perencanaan dan penganggaran pembangunan pusat dan daerah periode berikutnya, termasuk untuk penentuan alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Dekonsentrasi (DEKON). 1.2. Keluaran yang diharapkan dari pelaksanaan EKPD 2009 meliputi: (1) Terhimpunnya data dan informasi evaluasi kinerja pembangunan di 33 provinsi (2) Tersusunnya hasil analisa evaluasi kinerja pembangunan di 33 provinsi sesuai sistematika buku panduan 1
    • Laporan Akhir EKPD - Pendahuluan 1.3. Metodologi Metode yang digunakan untuk menentukan capaian 5 kelompok indikator hasil adalah sebagai berikut: (1) Indikator hasil (outcomes) disusun dari beberapa indikator pendukung terpilih yang memberikan kontribusi besar untuk pencapaian indikator hasil (outcomes). (2) Pencapaian indikator hasil (outcomes) dihitung dari nilai rata-rata indikator pendukung dengan nilai satuan yang digunakan adalah persentase. (3) Indikator pendukung yang satuannya bukan berupa persentase maka tidak dimasukkan dalam rata-rata, melainkan ditampilkan tersendiri. (4) Apabila indikator hasil (outcomes) dalam satuan persentase memiliki makna negatif, maka sebelum dirata-ratakan nilainya harus diubah atau dikonversikan terlebih dahulu menjadi (100%) – (persentase pendukung indikator negatif). Sebagai contoh adalah nilai indikator pendukung persentase kemiskinan semakin tinggi, maka kesejahteraan sosialnya semakin rendah. (5) Pencapaian indikator hasil adalah jumlah nilai dari penyusun indikator hasil dibagi jumlah dari penyusun indikator hasil (indikator pendukungnya). Contoh untuk indikator Tingkat Kesejahteraan Sosial disusun oleh: • persentase penduduk miskin • tingkat pengangguran terbuka • persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak • presentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia • presentase pelayanan dan rehabilitasi sosial Semua penyusun komponen indikator hasil ini bermakna negatif (Lihat No.4). Sehingga Indikator kesejahteraan sosial = {(100% - persentase penduduk miskin) + (100% - tingkat pengangguran terbuka) + (100% - persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak) + (100%- persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia) + (100% - persentase pelayanan dan rehabilitasi sosial}/5 2
    • Laporan Akhir EKPD - Pendahuluan Daftar indikator yang menjadi komponen pendukung untuk masing-masing kategori indikator outcomes dapat dilihat pada Lampiran 1. Untuk menilai kinerja pembangunan daerah, pendekatan yang digunakan adalah Relevansi dan Efektivitas. Relevansi digunakan untuk menganalisa sejauh mana tujuan atau sasaran pembangunan yang direncanakan mampu menjawab permasalahan utama atau tantangan. Dalam hal ini, relevansi pembangunan daerah dilihat apakah tren capaian pembangunan daerah sejalan atau lebih baik dari capaian pembangunan nasional. Sedangkan efektivitas digunakan untuk mengukur dan melihat kesesuaian antara hasil dan dampak pembangunan terhadap tujuan yang diharapkan. Efektivitas pembangunan dapat dilihat dari sejauh mana capaian pembangunan daerah membaik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dalam mengumpulkan data dan informasi, teknik yang digunakan adalah: a. Pengamatan langsung Pengamatan langsung kepada masyarakat sebagai subjek dan objek pembangunan di daerah, diantaranya dalam bidang sosial, ekonomi, pemerintahan, politik, lingkungan hidup dan permasalahan lainnya yang terjadi di wilayah provinsi terkait. b. Pengumpulan Data Primer Data diperoleh melalui FGD dengan pemangku kepentingan pembangunan daerah. Tim Evaluasi Provinsi menjadi fasilitator rapat/diskusi dalam menggali masukan dan tanggapan peserta diskusi. c. Pengumpulan Data Sekunder Data dan informasi yang telah tersedia pada instansi pemerintah seperti BPS daerah, Bappeda dan Satuan Kerja Perangkat Daerah terkait. 3
    • Laporan Akhir EKPD - Pendahuluan 1.4. Sistematika Penulisan Laporan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Tujuan 1.2. Keluaran 1.3. Metodologi 1.4. Sistematika Penulisan Laporan BAB II HASIL EVALUASI Deskripsi permasalahan dan tantangan utama pembangunan daerah serta identifikasi tujuan pembangunan daerah. 2.1 TINGKAT PELAYANAN PUBLIK DAN DEMOKRASI 2.1.1 Capaian Indikator Grafik capaian indikator outcomes provinsi dibandingkan dengan capaian indikator outcomes nasional dan analisa Analisa Relevansi Analisa efektivitas 2.1.2 Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol Gambaran dan analisa capaian indikator pendukung penunjang outcomes yang spesifik dan menonjol. 2.1.3 Rekomendasi Kebijakan 2.2 TINGKAT KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA 2.2.1 Capaian Indikator Grafik capaian indikator outcomes provinsi dibandingkan dengan capaian indikator outcomes nasional dan analisa 4
    • Laporan Akhir EKPD - Pendahuluan Analisis Relevansi Analisis efektivitas 2.2.2 Analisa Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol Gambaran dan analisa capaian indikator pendukung outcomes yang spesifik dan menonjol 2.2.3 Rekomendasi Kebijakan 2.3 TINGKAT PEMBANGUNAN EKONOMI 2.3.1. Capaian Indikator Grafik capaian indikator outcomes provinsi dibandingkan dengan capaian indikator outcomes nasional dan analisa Analisa relevansi Analisa efektivitas 2.3.2 Analisis capaian indikator spesifik dan menonjol Gambaran dan analisa capaian indikator pendukung outcomes yang spesifik dan menonjol 2.3.3 Rekomendasi Kebijakan 2.4 KUALITAS PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM 2.4.1 Capaian Indikator Grafik capaian indikator outcomes provinsi dibandingkan dengan capaian indikator outcomes nasional dan analisa Analisis Relevansi Analisis Efektivitas 2.4.2 Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol 5
    • Laporan Akhir EKPD - Pendahuluan Gambaran dan analisa capaian indikator pendukung penunjang outcomes yang spesifik dan menonjol 2.4.3 Rekomendasi Kebijakan 2.5 TINGKAT KESEJAHTERAAN RAKYAT 2.5.1 Capaian Indikator Grafik capaian indikator tingkat kesejahteraan sosial provinsi NTB dibandingkan dengan capaian indikator tingkat kesejahteraan sosial nasional. Analisis relevansi Analisis efektivitas 2.5.2 Analisis Capaian indikator spesifik dan Menonjol Gambaran dan analisa capaian indikator output penunjang outcomes yang spesifik dan menonjol 2.5.3 Rekomendasi Kebijakan BAB III KESIMPULAN 6
    • Laporan Akhir EKPD – Kesimpulan Bab II Hasil Evaluasi Bagian ini mendiskusikan berbagai permasalahan dan tantangan utama yang dihadapi oleh Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai kota kebudayaan dan pendidikan, filosofi yang mendasari pembangunan daerah Provinsi DIY adalah Hamemayu Hayuning Bawana. Hal tersebut merupakan cita-cita luhur untuk mewujudkan tata nilai kehidupan masyarakat Yogyakarta berdasarkan nilai budaya. Ada 5 (lima) isu yang diangkat dalam evaluasi kinerja pembangunan daerah pada tahun 2009. Isu-isu tersebut adalah: (a) tingkat pelayanan publik dan demokrasi; (b) tingkat sumber daya manusia; (c) tingkat pembangunan ekonomi; (d) tingkat sumber daya alam; (e) tingkat kesejahteraan rakyat. Berdasarkan permasalahan pembangunan masa lalu, Provinsi DIY masih menghadapi sejumlah masalah dan tantangan pembangunan. Pertama, isu yang berkaitan dengan pelayanan publik yang dihadapi oleh Provinsi DIY adalah menguatnya tuntutan masyarakat akan peningkatan pelayanan publik. Keunggulan DIY sebagai kota pendidikan ternyata juga melahirkan kesadaran publik untuk memperoleh hak-haknya sebagai warga negara. Seringkali tuntutan yang berkembang dari masyarakat lebih cepat daripada kemampuan Pemerintah Daerah untuk merespon keadaan. Sementara itu, permasalahan demokrasi masih merupakan perdebatan yang belum usai. Tarik-menarik kepentingan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah belum nampak mendekati kesepakatan. Status Keistimewaan DIY sampai saat ini masih menggantung dan tidak jelas. Di lain pihak, masyarakat sendiri sudah mendesak kepada berbagai pihak untuk mendapatkan kepastian hukum mengenai status DIY. Kedua, isu yang berhubungan dengan sumber daya manusia di Provinsi DIY relatif tidak serius. Kualitas hidup dan kualitas kesehatan di DIY seperti usia harapan hidup dan tingkat kematian bayi atau kematian ibu saat melahirkan relatif lebih baik dibandingkan dengan rata-rata nasional. Namun demikian, masalah SDM yang masih muncul adalah tidak memadainya sumber daya manusia di dalam birokrasi untuk memenuhi tuntutan global dan demokratisasi. Kompetisi global telah menuntut kualitas SDM dengan skala global, baik menyangkut kemampuan mengadaptasi keadaan yang berubah cepat maupun memfasilitasi 7
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi tuntutan masyarakat. Walaupun sebagai kota pendidikan, keterbatasan daerah secara ekonomi untuk mengakomodasi keterampilan orang-orang terdidik menyebabkan braindrain keluar dari daerah Provinsi DIY. Ketiga, isu yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi adalah semakin menurunnya kontribusi sektor pertanian. Hal ini berimplikasi kepada kemampuan daerah untuk mencapai pemenuhan kebutuhan pangan secara self-reliance. Selain itu, masalah yang masih belum tuntas adalah dampak gempa bumi tahun 2006 terhadap pertumbuhan UKM. Kerusakan dahsyat menyebabkan hilangnya investasi peralatan dan sarana usaha. Sementara itu, untuk memulai lagi usaha, akses mereka terhadap permodalan relatif terbatas. Keempat, isu yang berkaitan dengan sumber daya lingkungan adalah kemerosotan lingkungan hidup. Hal ini terkait erat dengan sistem pengelolaan sumber daya alam yang tidak berkelanjutan dan mengabaikan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Dampak buruk yang ditimbulkan antara lain: daya dukung lingkungan menurun dan ketersediaan sumber daya alam menipis. Misalnya, luas kawasan hutan yang hanya 23,54% tidak mencukupi sebagai standar lingkungan hidup. Isu-isu yang lain adalah semakin meningkatnya pencemaran air, udara dan tanah di berbagai daerah. Kelima isu yang berhubungan dengan kesejahteraan rakyat berkaitan dengan masih tingginya penduduk miskin. Daerah-daerah yang rawan terhadap peningkatan jumlah orang miskin adalah Kabupaten Gunung Kidul. Kekeringan dan kelangkaan sumber-sumber penghidupan menjadi faktor utama kemiskinan di daerah tersebut. Implikasi besar dari kemiskinan tersebut adalah meningkatnya masalah-masalah sosial seperti gelandangan, anak-anak jalanan, dan kriminalitas. 2.1 TINGKAT PELAYANAN PUBLIK DAN DEMOKRASI 2.1.1. Capaian Indikator Pelayanan publik dan demokrasi merupakan tujuan pembangunan yang penting. Demokrasi tidak hanya alat, namun juga tujuan bagi pembangunan. Demokrasi yang menjadi pilihan bangsa sejak era reneformasi menguatkan tuntutan akan hadirnya pelayanan publik yang memadai. Dalam rezim demokratis, legitimasi pemerintah tergantung pada pengakuan dan dukungan dari rakyat. Untuk 8
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi memperoleh legitimasi rakyat, pemerintah perlu terus responsif terhadap keinginan rakyat. Salah satu upaya itu adalah dengan meningkatkan kualitas pelayanan publik. Pelayanan publik dan demokrasi (partisipasi) adalah penentu legitimasi pemerintahan. Maka, dalam rangka memperkuat legitimasi pemerintahan, menjadi penting untuk mengetahui sejauh mana tingkat pelayanan publik dan demokrasi di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Upaya menilai tingkat pelayanan publik dan demokrasi (outcomes) di Provinsi DIY akan dilakukan dengan melihat jumlah rata-rata beberapa indikator pendukung. Adapun indikator tersebut meliputi: persentase jumlah kasus korupsi yang tertangani dibandingkan dengan yang dilaporkan, persentase aparat yang berijazah minimal S1, persentase jumlah kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap (UPTSA), tingkat partisipasi politik masyarakat baik dalam Pemilihan Legislatif maupun Pemilihan Presiden. Sementara indikator spesifik yang tidak digabung dalam outcomes adalah indikator Gender Development Index (GDI) dan Gender Empowerment Measurrement (GEM). Berikut ini adalah grafik capaian indikator outcomes dan trend tingkat pelayanan publik dan demokrasi 2004-2009. Grafik 2.1. Outcomes dan Trend Tingkat Pelayanan Publik dan Demokrasi 2004-2009 Sumber: Diolah dari berbagai sumber 9
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Grafik diatas menunjukkan perkembangan tingkat pelayanan publik dan demokrasi di DIY dan nasional dari tahun 2004-2009. Secara umum, outcomes di provinsi DIY memiliki nilai rata-rata yang lebih tinggi dibanding nilai outcomes nasional. Selain itu, outcomes provinsi DIY juga memperlihatkan trend yang meningkat dari tahun ke tahun. Data outcomes nasional untuk tahun 2009 kosong karena ketiadaan data yang disediakan oleh BAPPENAS. Sehingga, trend outcomes nasional untuk tahun 2009 juga tidak ditampilkan. Jika outcomes tingkat pelayanan publik dianalisis secara terpisah dari outcomes tingkat demokrasi, maka nilai dan trend masing-masing outcomes pun relatif tidak berbeda. Berikut adalah grafik outcomes dan trend tingkat pelayanan publik Provinsi DIY dalam lima tahun terakhir. Grafik 2.2. Outcomes dan Trend Tingkat Pelayanan Publik Provinsi DIY Sumber: Diolah dari berbagai sumber Outcomes pelayanan publik DIY menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2004, nilai outcomes mencapai 70,07. Nilai ini naik menjadi 70,73 pada tahun 2005. Peningkatan signifikan terjadi pada tahun 2006 ketika nilai outcomes menjadi 77,67 atau meningkat 0,1%. Nilai outcomes sempat 10
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi menurun 0,002 pada tahun 2008 menjadi 77,73. Namun nilai outcomes kembali naik sangat signifikan mencapai 100 pada tahun 2009. Outcomes pelayanan publik ini disusun dari gabungan 3 indikator pendukung. Adapun indikator tersebut meliputi: persentase jumlah kasus korupsi yang tertangani dibandingkan dengan yang dilaporkan, persentase aparat yang berijazah minimal S1, persentase jumlah kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap (UPTSA). Sejalan dengan nilai outcomes tingkat pelayanan pbulik, masing- masing indikator pendukung penyusun juga memperlihatkan trend yang meningkat. Pada penanganan korupsi, DIY memperlihatkan trend positif. Provinsi DIY merupakan salah satu daerah yang memperoleh indeks korupsi terbaik di Indonesia. Trend dalam menangani kasus korupsi yang dilaporkan juga terus menunjukkan hasil optimal. Pada tahun 2004, dari 5 kasus yang dilaporkan, semuanya berhasil ditangani Kejati DIY. Tahun 2005 juga memperoleh hasil yang sama. Dari 7 kasus yang dilaporkan, seluruh kasus berhasil ditangani. Kondisi serupa kembali terjadi pada tahun 2006 hingga 2009. Berturut-turut perbandingan antara kasus terlapor dan tertangani sebagai berikut: tahun 2007 8:8; tahun 2008 8:8 dan tahun 2009, 11:11. Grafik 2.3. Persentase Jumlah kasus korupsi yang tertangani dibandingkan dengan yang dilaporkan di DIY Sumber: Kejati DIY Presentase aparat yang berijazah minimal S1 di Provinsi DIY juga menunjukkan kecenderungan meningkat. Pada tahun 2004, persentase berjumlah 30,20%. Angka ini meningkat menjadi 32,20% pada tahun 2005. Terjadi peningkatan 0,8% pada 11
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi tahun 2006 menjadi 33%. Pada tahun 2007 angkanya kembali naik menjadi 33,65. Namun angka ini turun lagi pada tahun 2008 menjadi 33,2%. Grafik 2.4. Presentase aparat yang berijazah minimal S1 Provinsi DIY Sumber: DIY dalam Angka 2007/2008 Kecenderungan meningkat juga dapat dilihat pada persentase jumlah kabupaten/ kota di DIY yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap. Pada tahun 2004, empat kabupaten/kota di DIY telah memiliki UPTSA. Masing-masing kabupaten Sleman, kabupaten Bantul, kabupaten Kulonprogo, dan kota Yogyakarta. Kondisi ini bertahan pada tahun 2005. Baru mulai pada tahun 2006. Kabupaten Gunungkidul yang sebelumnya belum memiliki UPTSA, akhirnya memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap. Dengan demikian, mulai tahun 2006, seluruh kabupaten/kota di DIY atau 100% telah memiliki UPTSA. 12
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Grafik 2.5. Persentase jumlah kabupaten/ kota di DIY yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap Sumber: Baseline survey MAP-World Vision 2007 Sebaliknya, nilai outcomes demokrasi DIY cenderung menurun. Nilai outcomes demokrasi ini ditentukan oleh dua komponen, yaitu partisipasi pemilu legislatifsn dan partisipasi pemilu presiden. Pada tahun 2004, nilai outcomes mencapai 81. Nilai ini menurun pada tahun 2009 menjadi 74,45. Grafik 2.6. Outcomes dan Trend Tingkat Demokrasi DIY Sumber: Diolah dari berbagai sumber 13
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Menurunnya nilai outcomes demokrasi DIY memperlihatkan turunnya tingkat partisipasi masyarakat dalam Pemilihan Umum di DIY. Pada tahun 2004, tingkat partisipasi pemilih dalam pemilu legislatif berjumlah 84%. Angka ini menurun pada pemilu legislatif tahun 2009 menjadi hanya 76%. Kondisi serupa juga terjadi pada pemilu presiden. Pada Pilpres tahun 2004, partisipasi pemilih berjumlah 81%. Angka ini menurun pada Pilpres 2009 menjadi 73%. Grafik 2.7. Tingkat partisipasi politik masyarakat dalam Pemilihan Umum di DIY Sumber: KPUD DIY Analisis Relevansi Analisis relevansi bertujuan untuk melihat sejauh mana tujuan/sasaran pembangunan yang direncanakan mampu menjawab permasalahan utama/tantangan. Dalam hal ini, relevansi pembangunan daerah dilihat apakah tren capaian pembangunan provinsi DIY sejalan atau lebih baik dari capaian pembangunan nasional. Dari grafik 1. dapat dilihat bahwa dari mulai tahun 2004 hingga 2009, nilai outcomes provinsi DIY selalu lebih tinggi dibanding nilai rata-rata nasional. Tingginya outcomes DIY ini didorong oleh beberapa hal. Salah satu yang terpenting adalah upaya pemberantasan korupsi. Pada tahun 2004-2009, Kejaksaan Tinggi (Kejati) DIY selalu berhasil menangani seluruh laporan korupsi dari masyarakat. Pada tahun 2009, 14
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi dari 11 kasus yang dilaporkan (hingga agustus 2009), semuanya berhasil ditangani. Tidak mengejutkan jika kota Yogyakarta sebagai jantung DIY dinobatkan sebagai kota terbersih pada tahun ini (Kompas, 21/1/2009). Kondisi ini tentu sejalan dengan semangat pemerintah pusat dalam memberantas korupsi. Langkah pemberantasan korupsi ini juga bersinggungan dengan upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik. Mengingat persepsi korupsi terkait dengan kualitas pelayanan publik. Pemerintah DIY sejak tahun 1999 telah memfasilitasi pembentukan UPTSA di kabupaten/kota di DIY. Hasilnya, indikator persentase jumlah kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap merupakan penyumbang nilai outcomes yang tinggi. Pada tahun 2004-2006, persentase indikator ini telah mencapai 80%. Hanya ada satu kabupaten yang belum memiliki UPTSA pada periode 2004-2006, yaitu Gunung Kidul. Namun sejak tahun 2007, seluruh kabupaten di DIY telah memiliki UPTSA. Transparency International Indonesia pada tahun ini juga memberi apresiasi terkait keberhasilan DIY dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik (Kompas, 21/1/2009). Meski demikian, fungsi UPTSA yang belum optimal mendorong tuntutan untuk menjadikan UPTSA sebagai dinas tersendiri (dinas perijinan). Hingga tahun ini, baru kota Yogyakarta yang telah merubah UPTSA- nya menjadi dinas perijinan. Nilai outcomes DIY yang lebih tinggi dibanding outcomes nasional, juga disumbang oleh indikator persentase aparat yang berijazah minimal S1. Pada rentang tahun 2004-2008, aparat yang minimal berijazah S1 rata-rata sebesar 32,44%. Angka ini lebih tinggi jika dibanding rata-rata nasional pada tahun 2008 yang hanya sebesar 30,89%. Angka nasional tersebut hanya mampu mengalahkan persentase DIY pada tahun 2004 yang berjumlah 30,20%. Sedangkan meskipun terjadi penurunan partisipasi pemilih pada Pemilu legislatif dan Presiden 2009, tingkat partisipasi pemilih di DIY masih lebih tinggi dibanding nilai rata-rata nasional. Pada Pemilu legislatif 2004, partisipasi pemilih di DIY sebesar 84% untuk Pemilu legislatif dan 81% untuk Pemilu Presiden. Angka ini menurun pada Pemilu 2009 menjadi 72,94% untuk Pemilu legislatif dan 75,97% dalam pemilu Presiden. Meski demikian, angka partisipasi di DIY ini masih lebih tinggi dibanding nilai rata-rata nasional yang sebesar 70,96% dalam Pemilu legislatif dan 72,56% untuk pemilihan Presiden. Penurunan ini dapat berarti semakin tingginya daya kritis masyarakat namun bisa pula berarti semakin tingginya apatisme masyarakat. Hal ini 15
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi didorong oleh sifat dinamika politik di DIY yang tinggi. Dinamika ini diwarnai oleh daya kritis dari pelajar dan mahasiswa serta masyarakat yang tercermin dalam banyaknya ormas/LSM/lembaga-lembaga pemberdayaan politik masyarakat dan cukup tingginya frekuensi demonstrasi di DIY. Dengan demikian, pembangunan di DIY khususnya terkait tingkat pelayanan publik dan demokrasi, memiliki relevansi yang cukup tinggi dengan capaian pembangunan nasional. Faktor pendorong yang menonjol adalah pemberantasan korupsi di DIY yang jauh lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Selain itu, tingginya persentase kabupaten/kota yang memiliki UPTSA di provinsi ini dibanding rata-rata nasional juga penyumbang bagi tingginya nilai outcomes DIY. Indikator partisipasi pemilih juga menunjukkan kecenderungan yang sama. Tingkat partisipasi pemilih di DIY pada dua Pemilu 2004 dan 2009 selalu lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Analisis Efektifitas Sementara analisis efektifitas bertujuan untuk mengukur dan melihat kesesuaian antara hasil dan dampak pembangunan terhadap tujuan yang diharapkan. Efektivitas pembangunan dapat dilihat dari sejauh mana capaian pembangunan provinsi DIY membaik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tingkat pelayanan publik dan demokrasi (outcomes) provinsi DIY menunjukkan trend yang meningkat dari tahun ke tahun. Memang pada tahun 2004 ke 2005 terjadi penurunan dari 75,53 menjadi 70,73 atau menurun sekitar 0,07%. Namun dari tahun 2005 ke 2006 terjadi peningkatan yang sangat signifikan, yakni dari 70,73 menjadi 77,67 atau naik 0,1%. Peningkatan ini didorong oleh terbentuknya UPTSA di Gunung Kidul pada tahun 2006. Sehingga indikator terkait persentase UPTSA naik siginifikan dari sebelumnya 80% menjadi 100%. Terbentuknya UPTSA di seluruh kabupaten/kota di DIY ini merupakan bentuk komitmen Pemerintah DIY dalam meningkatkan pelayanan publik. Dari tahun 2006-2008 tidak terjadi perubahan yang signifikan terhadap nilai outcomes DIY. Dari tahun 2006 yang sebesar 77,67 menjadi 77,73 pada tahun 2007, atau hanya naik 0,003%. Begitu pula pada tahun 2007 ke 2008. Meskipun terjadi penurunan dari 77,87 menjadi 77,73 atau hanya turun 0,002%. Namun angka outcomes kembali naik signifikan pada tahun 2009. Jika tahun 2008 nilai outcomes sebesar 77,73, maka pada tahun 2009 nilainya menjadi 87,23% atau naik 0,1%, 16
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi meskipun terjadi penurunan pada salah satu indikator pendukung, yaitu tingkat partisipasi pemilih pada tahun 2009. Karena itu, dapat dijelaskan bahwa peningkatan signifikan nilai outcomes pada tahun 2009 tidak lepas dari tidak dimasukkannya salah satu indikator pendukung yaitu persentase aparat yang berijazah S1. Hal ini disebabkan ketiadaan data pada tahun 2009. Jika indikator ini dimasukkan dengan menggunakan angka perkiraan konservatif (seperti pada tiga tahun sebelumnya) yang besarnya rata-rata 33%, maka nilai outcomes pada tahun 2009 kira-kira akan berada pada kisaran angka 77. Artinya tidak terjadi perubahan yang signifikan dibanding tahun 2008. Trend yang meningkat ini memberi gambaran tentang realisasi program pembangunan. Dalam kaitan pelayanan publik, misi pemda DIY adalah meningkatkan pelayanan, konsultasi dan asistensi dalam rangka meningkatkan kemampuan masyarakat agar mempunyai daya saing yang kuat (Renstra DIY 2004-2008, 2003: 54). Untuk mencapai tujuan tersebut, pemda DIY menjabarkan beberapa program seperti perlunya pedoman pelayanan prima dan standar pelayanan minimal (SPM), pembentukan UPTSA, maupun meningkatkan kualitas sumberdaya manusia pegawai. Seperti telah dikemukakan sebelumnya, mulai pada tahun 2007, seluruh kabupaten/kota di DIY telah memiliki UPTSA. Hadirnya UPTSA telah mempermudah masyarakat dalam memperoleh pelayanan. Dari segi tingkat pendidikan, aparat yang berijazah minimal S1 dari tahun 2004-2009 berjumlah rata-rata 33% dari seluruh aparat di DIY. Angka tersebut tentu saja menuntut upaya yang lebih keras guna meningkatkan kualitas SDM. Pemda DIY juga telah menerapkan kebijakan Zero Growth pada tahun 2003-2006, dimana penambahan pegawai bukan atas dasar formasi tetapi dari penggantian pegawai yang telah pensiun (RPJMD DIY 2009-2013, 2009: 36). Upaya righ sizing ini juga dinilai berkontribusi terhadap peningkatan pelayanan. Sementara terkait dengan demokrasi, pemda DIY berupaya meningkatkan kemampuan dan partisipasi masyarkat dalam mendukung penyelenggaraan pemerintahan. (Renstra, 2003: 55). Sebagai masyarakat di kota pendidikan, tingkat kesadaran politik dan tingkat partisipasi politik masyarakat DIY cukup tinggi, sehingga tingkat kepedulian masyarakat terhadap politik dan pemerintahan juga cukup tinggi (RPJMD DIY 2009-2013, 2009: 37). Tingkat partisipasi pemilih pun di DIY selalu lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Namun demikian, jika dilihat dari partisipasi 17
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi masyarakat dalam pembuatan kebijakan (Perda, Renstra, dst), demokrasi di DIY masih banyak yang harus ditingkatkan. Keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi dirinya tidak saja merupakan tuntutan good governance, tapi lebih dari itu, ia merupakan hak asasi manusia. Pemda DIY perlu mengatur mekanisme partisipasi masyarakat dalam proses pembuatan kebijakan ini dalam sebuah aturan hukum yang mengikat. Dengan ini, masyarakat memperoleh jaminan akan haknya untuk terlibat dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi nasibnya. Dengan demikian, meningkatnya trend nilai outcomes provinsi DIY terkait dengan pelayanan publik dan demokrasi menunjukkan bahwa capaian pembangunan provinsi DIY mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dengan kata lain, pemerintah DIY telah cukup efektif dalam mencapai tujuan pembangunan yang dicanangkan. Meski demikian, terdapat beberapa kondisi yang perlu terus ditingkatkan. Salah satu yang terpenting adalah mengatur keterlibatan masyarakat dalam proses pembuatan kebijakan daerah (Perda). Tingkat partisipasi pemilih dalam Pemilu yang cukup tinggi, tidak akan berarti banyak, dan justru akan menimbulkan apatisme, jika masyarakat tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan yang mempengaruhi dirinya di tingkat lokal. Selain itu, upaya meningkatkan kualitas pelayanan juga perlu diakselerasi dengan meningkatkan kualitas SDM aparat, (diantaranya dengan memperbesar persentase aparat yang berijazah minimal S1), dan mengoptimalkan fungsi UPTSA, baik dalam bentuknya yang sekarang maupun ditransformasi menjadi dinas tersendiri. 2.1.2. Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol Trend nilai outcomes tingkat pelayanan publik dan demokrasi di DIY juga ditunjang oleh indikator spesifik yang tidak dimasukkan menjadi komponen penyusun nilai outcomes, yaitu Gender Development Index (GDI) dan Gender Empowerment Meassurment (GEM). Kedua indikator spesifik, GDI dan GEM menunjukkan kecenderungan yang meningkat dari tahun ke tahun. 18
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Grafik 2.8. Gender Development Index (GDI) DIY 2004-2009 Sumber: Data Olahan Dari Berbagai Sumber Catatan: Angka GDI tahun 2008 dan 2009 adalah angka estimasi. GDI merupakan ukuran untuk mengetahui kesenjangan pembangunan antara laki-laki dan perempuan. Apabila nilai GDI sama dengan HDI, maka dapat dikatakan bahwa tidak ada kesenjangan pembangunan manusia antara laki-laki dan perempuan. Pada tahun 2009, nilai GDI naik menjadi 71,43 dari 71,08 pada tahun 2008. Nilai GDI ini merupakan nilai tertinggi sejak tahun 2004. Dari tahun 2004-2009 terjadi kenaikan rata-rata sebesar % tiap tahun. Pada tahun 2005 dengan nilai 70,2%, GDI DIY menempati peringkat pertama nasional. Selanjutnya pada tahun 2006 naik menjadi 70,3% menempati peringkat 2 setelah DKI Jakarta. Dengan demikian, pembangunan GDI di DIY memiliki relevansi yang tinggi dengan pembangunan nasional. Nilai GDI yang mengalami kecenderungan meningkat dari waktu ke waktu tersebut belum mencerminkan adanya kesetaraan pembangunan berdasarkan jender, misalnya pada tahun 2007. Pada tahun 2007, Propinsi DIY masih terjadi sedikit kesenjangan berdasarkan jender karena memiliki nilai HDI yang lebih tinggi yaitu sebesar 74,15. Hal ini ditunjukkan bahwa nilai Gender Development Index (GDI) yang masih lebih rendah dibandingkan dengan nilai Human Development Index (HDI). 19
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Kesenjangan yang masih terjadi ini tidak terlepas oleh beberapa aspek berikut ini. Pertama, Angka Partisipasi Sekolah (APS) di Propinsi DIY pada tahun 2007 masih menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan. Meskipun APS untuk tingkat SLTP, penduduk perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Akan tetapi APS untuk tingkat SLTA, penduduk laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan, yaitu sebesar 78,40% dan 70, 85%. Kedua, angka melek huruf. Pada tahun 2007, angka melek huruf di Propinsi DIY penduduk laki-laki sebesar 93,60% sedangkan perempuan sebesar 80,90%. Jika angka GDI menunjukkan trend yang terus meningkat, maka pada GEM terjadi trend yang stabil. Tidak terjadi perubahan yang signifikan dari tahun 2004 hingga 2009. Di tahun 2004 angka GEM sekitar 62,30 sempat naik menjadi 62, 40 pada tahun 2005 dan mencapai puncaknya pada tahun 2007 dengan nilai 62,7. Namun GEM kembali turun menjadi 62,52 pada tahun 2008 dan naik sedikit pada tahun 2009 menjadi 62,57. Perubahan yang terjadi (naik atau turun) dari tahun 2004- 2009 tidak lebih dari 0,004%. Propinsi DIY berada pada peringkat 6 pada tahun 2006, kemudian mengalami penurunan peringkat pada tahun 2007 yaitu pada peringkat 8. Pada tahun tersebut nilai GEM Propinsi DIY masih berada pada posisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan GEM secara nasional. Nilai GEM Indonesia pada tahun 2006 sebesar 61,8 dan tahun 2007 sebesar 62,1. Grafik 2.9. Gender Empowerment Meassurment (GEM) DIY 2004-2009 Sumber: Data Olahan Dari Berbagai Sumber Catatan: Angka GEM tahun 2008 dan 2009 adalah angka estimasi. 20
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Selain memiliki relevansi dengan capaian pembangunan nasional, pemberdayaan perempuan di DIY juga cukup efektif. Pada tahun 2009, pemda DIY menargetkan angka GDI pada 70,6 dan GEM 62,44 (RPJMD 2009-2013, 2009: 85). Angka ini terlampaui dengan dicapainya GDI pada tingkat 71,43 dan GEM sebesar 62,57. Pemda DIY menjalankan dua program dalam rangka memberdayakan perempuan, yaitu Program Keserasian Kebijakan Peningkatan Kualitas Anak dan Perempuan, serta Program Peningkatan Kualitas Hidup dan Perlindungan Perempuan (RPJMD, 75). Salah satu faktor penunjang yang mengatrol kinerja GDI dan GEM di DIY adalah banyaknya LSM, pusat studi perguruan tinggi maupun elemen masyarakat lain yang aktif melakukan advokasi baik pada masyarakat maupun pada kebijakan pemerintah agar lebih sensitif jender. Beberapa lembaga tersebut antara lain: Lembaga Studi dan Pengembangan Perempuan dan Anak (LSPPA), Mitra Wacana, Rifka Annisa, Wanita Tamansiswa, Indriya Nati, Pusat Studi Wanita UGM dan seterusnya. Meski pencapaian GDI dan GEM di DIY relatif telah baik, namun persoalan yang sering mengemuka dalam bidang pemberdayaan perempuan adalah belum tercapainya kesetaraan jender secara optimal di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan politik. Karena itu, perlindungan terhadap perempuan, anak-anak, dan remaja perlu terus ditingkatkan (RPJMD, 26). 2.1.3. Rekomendasi Kebijakan • Mengatur keterlibatan masyarakat dalam proses pembuatan kebijakan daerah (Perda). Mekanisme keterlibatan masyarakat perlu diatur dalam suatu peraturan hukum yang mengikat. • Memperbesar persentase aparat yang berijazah minimal S1. • Mengoptimalkan fungsi UPTSA, baik dalam bentuknya yang sekarang maupun ditransformasi menjadi dinas tersendiri. • Upaya kongkrit untuk meningkatkan GDI perlu dilakukan dengan meningkatkan angka harapan hidup, angka melek huruf, rata-rata lama sekolah dan daya beli 21
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi kaum perempuan. Kebijakan-kebijakan yang mendorong kondisi diatas harus ditunjang oleh prioritas anggaran yang memadai. • Peningkatan angka GEM dapat dilakukan dengan meningkatkan proporsi perempuan di sektor publik. Kebijakan pengarusutamaan gender (gender mainstreaming) perlu diakselerasi efektivitasnya. 2.2 TINGKAT KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA Berdasarkan angka statistik SUPAS, jumlah penduduk provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2007 tercatat 3.434.534 jiwa. Dari jumlah ini, 50,16 persen adalah laki-laki dan 49,84 persen perempuan. Tingkat urbanisasi penduduk provinsi ini cukup tinggi yang terbukti dari besarnya proporsi penduduk yang tinggal di perkotaan (60,57 persen) dibandingkan dengan yang tinggal di pedesaan (39,31 persen). Dari segi komposisi, penduduk yang termasuk kelompok umur 25-29 tahun mendominasi penduduk di provinsi DIY. Tetapi besarnya proporsi penduduk yang termasuk kelompok usia lanjut menunjukkan tingginya usia harapan hidup di provinsi ini. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kendatipun komposisi penduduk di DIY belum termasuk ke dalam aging society tetapi usia produktifnya semakin tinggi. Data yang lebih lengkap mengenai komposisi penduduk berdasarkan kelompok umur tampak pada bagan piramida penduduk (Gambar 2.1). 22
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Gambar 2.1. Piramida penduduk (Jumlah penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin, tahun 2007) Sumber: BPS Provinsi DIY, 2008 2.2.1. Capaian Indikator Pembangunan sumberdaya manusia merupakan salah satu aspek yang sangat penting karena akan mempengaruhi aspek-aspek pembangunan lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Jika di dalam RPJPN 2005-2025 dinyatakan bahwa kebijakan jangka-panjang dimaksudkan untuk “mewujudkan bangsa yang berdaya saing untuk mencapai masyaraat yang lebih makmur dan sejahtera”, maka relevansi pembangunan sumberdaya manusia dalam kerangka pembangunan nasional maupun pembangunan daerah tampak sangat nyata. Namun sayangnya potret sumberdaya manusia di Indonesia saat ini masih sangat memprihatinkan. Dari segi pendidikan saja, ternyata lebih dari 50 persen hanya berpendidikan Sekolah Dasar. Sementara itu, masalah lain yang dihadapi ialah begitu banyaknya pengangguran terdidik yang pada tahun 2008 secara nasional mencapai lebih dari 12 juta orang atau sekitar 9,75 persen dari total angka pengangguran (BPS, seperti dikutip Kompas, 24 Februari 2008). Data dari sumber lain juga menunjukkan masih lemahnya sumberdaya manusia di Indonesia. Kondisi daya saing Indonesia masih menempati peringkat ke-69 dari 104 negara (World 23
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Economic Forum, 2004) sedangkan dari segi Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index), Indonesia menempati peringkat 104 dari 175 negara (UNDP, 2002). Tabel 2.2.1. Indikator Angka Partisipasi Murni       2004 2005 2006 2007  2008 SD/MI Nasional  93 93,3 93,54 93,75 93,98 SD/MI Yogyakarta  98,77 99,05 99,35 99,29 99,32 SMP/MTs Nasional  4,80 5,42 5,42 5,42 6,05 SMP/MTs Yogyakarta  5,38 5,88 5,88 5,88 6,91 SMA/SMK/MA Nasional  4,77 5,77 5,94 6,28 6,35 SMA/SMK/MA Yogyakarta  5,63 5,56 6,04 6,82 6,86 Sumber : BPS Provinsi Yogyakarta, 2008 Dari indikator pokok berupa Angka Partisipasi Murni (APM), angka pada Tabel 2.2.1 menunjukkan bahwa capaian pembangunan sumberdaya manusia di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sudah baik. Angka APM di semua jenjang sekolah (SD, SMP, SMA) semuanya berada di atas rata-rata angka nasional. Untuk jenjang SD, selisih APM antara capaian di DIY dengan di tingkat nasional bahkan cukup besar, pada tahun 2008 selisihnya adalah 5,34. Angka APM yang sebesar 99,32 juga menunjukkan bahwa hampir semua anak usia sekolah di DIY sudah mengenyam pendidikan dasar. Masalahnya adalah bahwa seiring dengan meningkatnya jenjang sekolah, angka APM juga semakin menurun dibanding angka rerata nasional. Kenyataan di atas menunjukkan bahwa predikat DIY dan terutama kota Jogjakarta sebagai kota pelajar memang masih layak disandang. Tetapi tampaknya penurunan kualitas pembangunan sumberdaya manusia justru terjadi pada jenjang lanjutan. Posisi kompetitif Jogjakarta sebagai kota pelajar rupanya semakin terancam apabila tidak diadakan terobosan-terobosan baru menyangkut kualitas pendidikan di tingkat lanjutan. Informasi ini juga dapat ditafsirkan sebagai adanya persaingan yang sehat diantara daerah-daerah di seluruh Indonesia dan kemungkinan lebih meratanya pendidikan yang selama ini hanya berpusat di pulau Jawa kini sudah mulai meluas ke kota-kota lain di luar Jawa. 24
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Data yang tersedia belum menunjukkan tingkat kualitas untuk jenjang pendidikan tinggi. Namun dari hasil wawancara dan FGD dengan para perumus kebijakan di daerah terdapat kesan bahwa jenjang pendidikan tinggi di Jogjakarta juga mulai mendapatkan pesaing dari daerah-daerah lain. Sekarang ini, lulusan SMU atau SMK dari kota-kota lain di Indonesia tidak lagi memfokuskan diri untuk melanjutkan studi di Jogjakarta karena semakin banyaknya perguruan tinggi negeri maupun swasta yang didirikan di kota-kota tersebut. Tabel 2.2.2. Angka Putus Sekolah   2004 2005 2006 2007 SD Nasional  2,97 3,17 2,41 1,81 SD Yogyakarta  2,46 1,13 1,21 1,00 SMP/MTs Nasional  2,83 1,97 2,88 3,94 SMP Yogyakarta  2,23 0,62 2,14 1,84 Sekolah Menengah Nasional  3,14 3,08 3,33 2,68 Sekolah Menengah Yogyakarta  3,65 4,23 3,77 2,21 Angka melek aksara 15 tahun keatas Nasional  90,40 90,90 91,50 91,87 Angka melek aksara 15 tahun keatas Yogyakarta  85,78 86,69 85,88 87,11 Sumber : BPS Provinsi Yogyakarta Data mengenai angka putus sekolah seperti tampak pada Tabel 2.2.2 juga menunjukkan bahwa kinerja sistem pendidikan di provinsi DIY sudah lebih baik jika dibanding kinerja di tingkat nasional. Untuk jenjang Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, maupun Sekolah Menengah Atas, angka putus sekolah di provinsi DIY kesemuanya lebih rendah dibanding data nasional. Seperti yang ditunjukkan dari data APM, angka putus sekolah bagi jenjang SD juga prosentasenya relatif paling rendah. Tetapi yang mengejutkan adalah bahwa angka melek aksara bagi kelompok usia 15 tahun ke atas di provinsi DIY justru lebih rendah jika dibanding angka nasional (Bagan 2.2.2). Apabila hasil validasi dari data ini memang betul, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah sejalan dengan kesimpulan tentang komposisi penduduk di provinsi DIY. Karena angka APM kelompok usia produktif termasuk tinggi sedangkan kualitas pendidikannya di wilayah ini relatif masih terjaga, data ini 25
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi menunjukkan bahwa proporsi penduduk yang tidak melek aksara ternyata ada diantara mereka yang telah berusia lebih dari 50 tahun Grafik 2.10. Angka Melek Aksara Kelompok Usia 15 Tahun Ke Atas Sumber : BPS Provinsi Yogyakarta, 2008 Jika data tersebut dicocokkan dengan pola migrasi ke provinsi DIY, tampak bahwa banyak diantara orang-orang yang telah berusia lanjut yang masih belum tersentuh oleh sistem pendidikan modern. Manajemen pendidikan yang berdasarkan konsep “pendidikan seumur hidup” kiranya perlu diperkenalkan dalam sistem pendidikan di provinsi DIY. Dengan demikian sistem pendidikan non-formal yang lebih menawarkan paket-paket Kelompok Belajar (Kejar) perlu lebih diutamakan. 26
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Analisis Relevansi Sebagai sarana untuk melihat sejauh mana tujuan dan sasaran pembangunan yang direncanakan mampu menjawab permasalahan utamanya, analisis relevansi dimaksudkan di sini untuk menguraikan indikator-indikator lain yang relevan dengan pembangunan sumberdaya manusia di provinsi DIY. Bagi pembangunan sumberdaya manusia, indikator pendidikan memiliki kaitan sangat erat dengan indikator kesehatan dan keduanya secara keseluruhan menunjukkan kualitas hidup bagi penduduk di provinsi ini. Gambaran pada Bagan 2.2.3 menunjukkan bahwa umur harapan hidup (life expectancy) dari penduduk di provinsi DIY senantiasa lebih tinggi daripada rata-rata nasional. Pada tahun 2007, misalnya, jika di tingkat nasional umur harapan hidup angkanya masih sebesar 69,8 tahun, umur harapan hidup di provinsi DIY sudah mencapai 74 tahun. Sementara itu, melihat trend yang ada dari tahun ke tahun, umur harapan hidup itu tampaknya terus meningkat lebih cepat jika dibandingkan angka nasional. Data dari BPS menunjukkan bahwa di Indonesia ada dua provinsi yang senantiasa berada di peringkat teratas dalam hal umur harapan hidup, yaitu provinsi Bali dan provinsi DIY. Grafik 2.11. Umur harapan hidup Sumber : BPS Provinsi Yogyakarta, 2009 27
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Sejauh ini memang belum ada studi yang komprehensif mengenai faktor-faktor yang menyebabkan tingginya umur harapan hidup di provinsi DIY. Dari segi medis dapat dijelaskan bahwa hal itu disebabkan oleh sudah meratanya fasilitas kesehatan di provinsi DIY yang terdiri dari satu kota dan empat kabupaten ini. Namun mengingat bahwa fasilitas yang lebih modern justru terdapat di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Medan, tampaknya penjelasan kultural adalah yang lebih relevan dengan fenomena umur harapan hidup di provinsi DIY. Kegiatan seni dan budaya, pendidikan, dan irama penghidupan yang relatif lebih bervariasi dengan tekanan pekerjaan yang tidak terlalu berat jika dibanding di kota metropolitan tampaknya menjadi unsur penjelas yang masuk akal mengenai umur harapan hidup tersebut. Namun sekali lagi kesimpulan final hanya dapat diuraikan jika telah dilakukan studi yang komprehensif dan mendalam. Grafik 2.12. Angka Kematian Bayi Sumber : BPS Provinsi Yogyakarta, 2009 Data statistik yang diperoleh mengenai angka kematian bayi (infant mortality rate) kurang lengkap sehingga analisis rangkaian-waktu tidak dapat dilakukan dengan baik. Akan tetapi dari data rangkaian-waktu yang terputus itu dapat dilihat bahwa angka kematian bayi di provinsi DIY lebih rendah jika dibandingkan angka di tingkat 28
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi nasional. Ini menunjukkan bahwa ada faktor-faktor tertentu di sektor kesehatan yang mengakibatkan kemajuan signifikan, terutama menyangkut pelayanan persalinan dan kesehatan bayi. Di kalangan penduduk miskin di pedesaan, masih banyak kelahiran bayi yang dilakukan dengan pertolongan dukun bayi atau bidan desa. Di masa lalu, pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah hanya sekadar kampanye negatif terhadap para dukun bayi atau bidan desa dan menganjurkan masyarakat supaya menggunakan jasa dokter kandungan dalam persalinan. Tetapi warga pedesaan yang miskin betapapun masih mengandalkan jasa dukun bayi atau bidan desa karena disamping ongkos jasanya murah juga karena memang terbatasnya dokter kandungan di kawasan pedesaan. Dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan yang dilakukan justru membina para dukun bayi dan bidan desa itu sebagai mitra dalam pelayanan persalinan di pedesaan. Pembinaan yang sistematis mengenai tindakan yang tepat dalam proses persalinan serta pengutamaan cara-cara yang higienis tampaknya memberi hasil yang menggembirakan. Grafik 2.13. Angka kematian ibu melahirkan Sumber : BPS Provinsi Yogyakarta, 2009 29
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Disamping hasil yang cukup memuaskan dari angka tingkat kematian bayi, indikator yang lebih jelas tampak pada tingkat kematian ibu melahirkan seperti tampak pada Bagan 2.2.5. Angka yang dicapai oleh provinsi DIY jauh lebih bagus jika dibandingkan data pada tingkat nasional. Pada tahun 2007, misalnya, jika angka kematian bayi pada tingkat nasional masih sebesar 228 per seribu penduduk, angka di provinsi DIY hanya 34 per seribu penduduk. Ini menunjukkan sekali lagi bahwa pendekatan yang sistematis terhadap masalah kesehatan bisa memecahkan masalah secara tepat. Jika kualitas pelayanan kesehatan sudah dapat diandalkan maka pada tahap berikutnya tentu akan berpengaruh secara positif terhadap pendidikan dan aspek-aspek pembangunan sumberdaya manusia secara keseluruhan. Tabel 2.2.3. Prevalensi Gizi Kurang Indikator Tingkat 2004 2005 2006 2007 Prevalensi Gizi kurang (%) Nasional 25.8 24.7 23.6 23,3 Prevalensi Gizi kurang (%) Yogyakarta 8,3 5,5 6,2 2.4 Sumber : BPS Provinsi Yogyakarta, 2009 Selanjutnya, seperti tampak pada Tabel 2.2.3, indikator pemenuhan gizi di provinsi DIY dari tahun ke tahun menunjukkan kinerja yang jauh lebih baik jika dibandingkan di tingkat nasional. Prevalensi gizi buruk di provinsi ini memang masih bersifat fluktuatif. Data yang menunjukkan penurunan pada tahun 2005 kemudian mengalami kenaikan pada tahun 2006 dan penurunan lagi hingga hanya sebesar 2,4 persen pada tahun 2007. Di masa mendatang kiranya pihak pemerintah daerah dapat memfokuskan kebijakan penanganan gizi yang lebih serius di kantong-kantong kemiskinan dan gizi buruk seperti di beberapa kecamatan di Gunungkidul dan kawasan pantai selatan di kabupaten Bantul dan Kulon Progo. Analisis Efektivitas Untuk menilai seberapa besar efektivitas kegiatan pembangunan sumberdaya manusia, analisis yang diperlukan adalah melihat keterkaitan antara struktur kependudukan, kualitas kesehatan serta kualitas pendidikan dengan pemanfaatannya sebagai tenaga kerja di sektor publik dan terutama di sektor swasta sebagai penggerak kegiatan ekonomi masyarakat. Sebagai provinsi istimewa yang dari segi 30
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi wilayah relatif kecil jika dibandingkan provinsi-provinsi lainnya, tenaga-kerja yang berada di sektor publik tidak terlalu besar. Pegawai negeri sipil yang bekerja dalam kegiatan pemerintahan, misalnya, pada tahun 2007 tercatat hanya sebanyak 85.978 orang. Tetapi dari proporsi pegawai yang bekerja untuk sektor publik dan jumlah penduduk provinsi yang dilayaninya, jumlah tersebut di atas mungkin masih termasuk kategori overstaffed di beberapa bidang kerja. Sejak berlakunya UU No.22 tahun 1999 yang selanjutnya direvisi menjadi UU No.32 tahun 2004, gagasan otonomi daerah antara lain ditindaklanjuti dengan upaya merampingkan struktur organisasi dan mengendalikan jumlah staff yang tidak diperlukan. Untuk provinsi DIY, jumlah pegawai yang tadinya berkisar pada angka 11.000 orang telah dapat dikurangi menjadi hanya sekitar 8.000. Setelah adanya beberapa pemangkasan jabatan yang tidak diperlukan, ada pegawai kurang produktif yang diberikan status pensiun dini. Tetapi upaya perampingan itu sebenarnya masih jauh dari sasaran semula yang sebenarnya hanya membutuhkan pegawai sekitar 5.000. Persoalan yang harus dihadapi dalam upaya perampingan adalah bahwa tidak semua satuan itu mengalami overstaffed. Di beberapa SKPD yang strategis seperti Bappeda, Dinas Pendidikan dan Dinas Pekerjaan Umum, ada banyak pos jabatan yang justru mengalami understaffed. Pegawai yang ada kurang memenuhi syarat- syarat pengetahuan, pendidikan dan keterampilan sehingga pelaksanaan pekerjaan berjalan kurang efisien dan efektif, sedangkan rekrutmen PNS baru belum dimungkinkan. Namun memang cukup banyak SKPD yang sudah termasuk kategori overstaffed karena terlalu banyaknya pegawai yang sebenarnya pekerjaannya kurang jelas ditinjau dari segi Analisis Jabatan yang telah dilakukan. Dari segi struktur kepangkatan. komposisi pegawai di DIY cenderung menggelembung di level menengah. Berdasarkan golongannya, PNS di DIY yang menduduki golongan I sebesar 1,05 persen, golongan II sebesar 19,70 persen, golongan III sebesar 51,99 persen, dan golongan IV sebesar 27,26 persen. Dengan demikian, untuk membentuk birokrasi pemerintah daerah yang profesional sebenarnya komposisi golongannya sudah cukup memenuhi syarat. Persoalannya ialah bahwa penentuan golongan dalam jabatan struktural seringkali kurang 31
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi didasarkan pada kompetensi, pengalaman, dan keterampilan teknis yang benar-benar objektif. Di sektor swasta, pemanfaatan sistem pendidikan yang kualitasnya relatif baik di provinsi DIY tampaknya belum optimal. Meskipun terdapat kecenderungan terus menurun, hingga tahun 2008, tingkat pengangguran terbuka di provinsi ini tercatat masih berada pada angka 8,42 persen. Data selengkapnya mengenai tingkat pengangguran terbuka dapat dilihat pada Bagan 2.2.6. Angka dari BPS provinsi DIY ini mengejutkan karena menunjukkan bahwa pengangguran terbuka lebih tinggi dari angka statistik nasional. Angka pengangguran terbuka di tingkat nasional pada tahun 2008 sebesar 8,39 persen atau 9,39 juta dari total angkatan kerja di Indonesia (BPS, 2009). Grafik 2.14. Tingkat Pengangguran Terbuka di Provinsi DIY Sumber: BPS Provinsi DIY, 2009 Sementara itu, hasil Sakernas hingga tahun 2008 juga menunjukkan bahwa pemanfaatan tenaga kerja di provinsi DIY masih menunjukkan masalah kompleks. Angka angkatan kerja dari tahun ke tahun senantiasa mengalami peningkatan. Demikian pula proporsi penduduk yang masuk kelompok usia kerja juga meningkat. Tetapi daya serap sektor-sektor ekonomi potensial yang ada di DIY tampaknya 32
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi sangat terbatas sehingga akumulasi pengangguran tentu akan menjadi persoalan tersendiri. Tabel 2.2.4. Keadaan Ketenagakerjaan Provinsi DIY Uraian Nov 2005 Feb 2006 Agu 2006 Feb 2007 Agu 2007 Feb 2008 Angkatan kerja 1.850,84 1.871,97 1.868,52 1.954,42 1.889,44 1.983,53 Bekerja 1.710,39 1.754,95 1.750,58 1.835,54 1.774,24 1.863,75 Pengangguran 140,45 117,02 117,95 118,88 115,20 119,78 Terbuka Bukan 799,51 790,80 831,75 771,87 866,35 852,24 Angkatan Kerja Penduduk Usia 2.650,35 2.662,78 2.700,27 2.726,29 2.755,80 2.835,77 Kerja TPAK 69,83% 70,30% 69,20% 71,69% 68,56% 69,95% TPT 7,59% 6,25% 6,31% 6,08% 6,10% 6,04% Sumber : Hasil Sakernas Bulan Februari 2008 Perlu diketahui bahwa dari data pada Tabel 2.2.4 diantara penduduk yang sudah bekerja masih terkandung di dalamnya kategori setengah pengangguran, yaitu para tenaga kerja yang sudah memiliki pekerjaan tetapi waktu kerjanya kurang dari 35 jam per minggu. Angka setengah pengangguran di provinsi DIY hingga tahun 2008 mencapai 23 persen, atau angkanya sebesar 425.300 orang. Selanjutnya dari jumlah yang setengah menganggur tersebut, ternyata lebih separuhnya (62,24 persen) tergolong "setengah pengangguran sukarela". Yang dimaksud dalam hal ini adalah mereka yang setengah menganggur tetapi tidak berusaha untuk mendapatkan pekerjaan lain. Selebihnya (37,76 persen) adalah "setengah pengangguran terpaksa" karena sebenarnya mereka masih menginginkan atau berusaha untuk mendapatkan pekerjaan lain. Proporsi perempuan di dalam kategori setengah pengangguran juga cukup besar, yaitu 55,84 persen. Data lebih lengkap mengenai situasi ketenagakerjaan tercatat dalam perkembangan periodik para pencari pekerjaan beserta penempatannya seperti tampak pada Tabel 2.2.5. 33
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Tabel 2.2.5. Pencatatan Ketenagakerjaan di Provinsi DIY ( Untuk tenaga-kerja Laki-laki) Penempatan/Penghapusan Sisa Pendaftaran Pendaf- Tahun taran Lowongan Akhir Tahun Penem- Pengha- Akhir Tahun Ini Tahun Jumlah Jumlah Ini patan pusan Tahun Lalu Ini 1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 1995 61.619 19.244 80.863 3.341 23.241 26.582 54.281 3.388 1996 54.281 22.156 76.437 2.906 46.383 49.289 27.148 3.210 1997 27.148 19.306 46.454 2.892 17.676 20.568 25.886 3.431 1998 25.886 19. 117 45.003 2.647 14.245 16.892 28.111 3.759 1999 28.111 18.541 46.652 3.493 16.146 19.639 27.013 3.712 2000 27.013 13.409 40.422 2.011 7.859 9.870 30.552 2.083 2001 30.552 13.732 44.284 1.583 4.915 6.498 37.786 1.707 2002 37.786 18.491 56.277 3.497 23.159 26.656 29.621 4.175 2003 29.621 19.877 49.498 3.905 11.968 15.873 33.625 4.571 2004 33.625 35.868 69.493 7.279 17.802 25.081 44.412 8.108 2005 44.412 43.463 87.875 5.632 14.524 20.156 67.719 6.033 2006 67.719 17.398 85.117 5.251 17.444 22.695 62.422 6.254 2007 62.422 16.201 78.623 4.950 20.962 25.912 52.711 5.926 Sumber : Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi D.I. Yogyakarta, 2008 Fakta memang menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja di provinsi DIY tidak banyak mengalami perubahan berarti dan cenderung fluktuatif dengan jumlah pendaftar berkisar pada angka 50.000. Mereka inilah yang mencoba terus mendaftarkan sebagai pelamar tenaga kerja di berbagai perusahaan, tetapi karena lowongan yang tersedia terbatas maka mereka harus menciptakan pekerjaan secara informal atau menggantungkan kebutuhan hidupnya kepada orang lain. Ironi yang terdapat di provinsi DIY di mana sektor pendidikan dan pariwisata menjadi penggerak utama ekonominya ialah bahwa penyerapan tenaga kerja yang tidak terdidik sangat terbatas. DIY tidak memiliki basis sumberdaya alam yang besar 34
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi sedangkan peluang pengembangan industrialisasi terbatas pada industri kecil atau industri kreatif yang hanya menerima segmen pasar tenaga kerja tertentu. Prasyarat dan kebutuhan tenaga kerja di provinsi DIY semakin tinggi sehingga tidak dapat dijangkau oleh para pencari pekerjaan yang kurang memiliki pendidikan dan keterampilan yang memadai. Akibatnya, mereka harus terlempar ke sektor informal atau menggantungkan hidup kepada keluarga jika tidak mau bermigrasi ke luar daerah. 2.2.4. Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol Bagian ini dimaksudkan untuk membahas aspek-aspek yang menonjol dari uraian indikator pembangunan sumberdaya manusia di provinsi DIY. Dari profil kependudukan, dapat dilihat bahwa penduduk kelompok umur yang produktif (20-54 tahun) masih mendominasi proporsi penduduk di provinsi ini. Kenyataan bahwa kelompok umur 25-29 tahun adalah yang kelompok yang terbesar sekali lagi menunjukkan bahwa golongan pelajar dan mahasiswa masih mendominasi struktur demografis di provinsi DIY. Namun dari segi kebijakan yang juga perlu diperhatikan ialah bahwa struktur demografis tersebut mulai menua karena relatif tingginya harapan hidup. Pada tahun 2007, umur harapan hidup orang Indonesia di tingkat nasional hanya mencapai 69,8 tahun tetapi umur harapan hidup penduduk provinsi DIY sudah mencapai 74 tahun. Dalam satu dasawarsa terakhir, prestasi provinsi DIY dalam hal umur harapan hidup memang selalu berada di peringkat atas secara nasional. Ada kemungkinan banyak faktor yang mempengaruhi umur harapan hidup di provinsi DIY, baik yang bersifat medis seperti layanan kesehatan atau yang bersifat sosial seperti banyaknya kegiatan spiritual, seni, budaya dan irama kehidupan yang relatif bervariasi. Penelitian yang komprehensif mengenai hal ini diperlukan untuk dapat mengambil kesimpulan yang tepat mengenai faktor apa yang paling berpengaruh dalam indikator ini. Aspek lain yang menonjol dalam capaian pembangunan sumberdaya manusia di provinsi DIY ialah tingginya APM (Angka Partisipasi Murni), terutama untuk jenjang pendidikan dasar. Namun demikian semakin tinggi jenjang pendidikan, tampaknya 35
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi capaian APM itu menjadi kurang menonjol. APM untuk jenjang SMP/MTs di Yogyakarta adalah sebesar 6,91 sedangkan di tingkat nasional adalah sebesar 6,05. Sedangkan APM untuk jenjang SMU/SMK/MA di Yogyakarta sebesar 6,86 dan di tingkat nasional adalah sebesar 6,35. Kinerja sektor pendidikan dasar juga masih cukup menonjol yang terbukti dari rendahnya angka putus sekolah di DIY jika dibanding dengan angka di tingkat nasional. Tetapi sebaliknya, data tentang angka melek huruf (literacy rate) bagi kelompok usia 15 tahun ke atas justru termasuk lebih rendah dibanding angka nasional. Penjelasan yang dapat dikemukakan dari fenomena ini ialah bahwa tampaknya migrasi ke dalam provinsi DIY lebih besar daripada migrasi ke luar provinsi DIY. Juga dapat dijelaskan bahwa orang-orang yang telah pensiun dan berusia lanjut kini lebih memilih untuk tinggal dan menetap di provinsi ini. Masalahnya adalah bahwa banyak diantara kalangan tua yang sesungguhnya belum tersentuh oleh sistem pendidikan modern. Akibatnya, tingkat melek huruf masih lebih rendah jika dibanding rerata di tingkat nasional. Dalam jenjang pendidikan menengah atas dan pendidikan tinggi, provinsi DIY tampaknya semakin banyak mendapat pesaing dari sekolah-sekolah di kota lain di Jawa maupun luar Jawa. Apabila pihak pemerintah dan masyarakat di provinsi DIY tidak mampu menemukan terobosan yang cerdas di bidang pendidikan dan tidak mampu mengembalikan persepsi umum tentang sistem pendidikan yang ditawarkan, semakin sedikit minat dari calon pelajar dan mahasiswa dari kota lain yang akan belajar di kota Jogjakarta atau provinsi DIY pada umumnya. Di sektor kesehatan, hampir semua indikator menunjukkan bahwa kinerja pembangunan di provinsi DIY relatif lebih tinggi jika dibanding rerata nasional. Angka kematian bayi yang di tingkat nasional mencapai 34 per seribu penduduk, di provinsi DIY justru hanya 13 per seribu penduduk. Angka kematian ibu melahirkan yang di tingkat nasional masih mencapai 228 per seribu penduduk, di provinsi DIY hanya 34 per seribu penduduk. Demikian pula prevalensi gizi buruk dan gizi kurang juga relatif lebih rendah dengan angka di tahun 2007 hanya 2,4% sedangkan di tingkat nasional masih terhitung sebesar 23,3%. Yang menjadi persoalan ialah bahwa angka 36
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi prevalensi gizi kurang itu dari tahun ke tahun masih mengalami fluktuasi meskipun angkanya tidak pernah lebih dari 10%. Dalam hal pemanfaatan sumberdaya manusia di sektor publik, pada dasarnya jumlah PNS yang sebesar 85.978 orang di seluruh provinsi belum termasuk terlalu besar. Argumentasi ini terutama jika dibandingkan di beberapa kabupaten di luar Jawa hasil pemekaran yang bahkan ada yang memiliki PNS lebih dari 14.000 orang. Tetapi tampaknya usaha perampingan birokrasi mesti dilanjutkan, terutama di beberapa SKPD baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota yang telah mengalami overstaffed dengan pegawai yang kebanyakan tidak produktif. Angka pengangguran terbuka di provinsi DIY hingga tahun 2008 masih lebih tinggi daripada angka nasional. Dari analisis tentang struktur ketenagakerjaan bahwa diantara mereka yang bekerja pun sebenarnya cukup banyak yang masuk kategori setengah pengangguran, dengan angka secara nominal lebih dari 425.300 orang atau 23 persen. Tampaknya sektor pendidikan dan pariwisata sebagai penggerak utama ekonomi di provinsi DIY tidak menawarkan cadangan penyerapan tenaga kerja, terutama bagi kalangan yang kurang terdidik atau kurang memiliki keterampilan. Perlu diketahui bahwa memang DIY tidak memiliki basis sumberdaya alam yang melimpah sedangkan potensi pengembangan industri terbatas pada industri kecil atau industri kreatif yang hanya bisa menerima segmen pasar tenaga kerja yang benar-benar terdidik dan terampil. 2.2.5. Rekomendasi Kebijakan • Dengan mempertimbangkan bahwa struktur demografis di provinsi DIY masih didominasi oleh kelompok umur yang produktif tetapi angka harapan hidupnya semakin tinggi, diperlukan kebijakan strategis untuk mengantisipasinya berupa kemungkinan mengakomodasi pencari kerja yang berpendidikan menengah ke bawah. Selain itu tingginya umur harapan hidup menghendaki perencanaan pelayanan bagi para Lansia yang lebih baik. • Pencapaian pembangunan sumberdaya manusia dari segi pendidikan menengah ke bawah relatif masih baik, tetapi ancaman serius terjadi bagi jenjang pendidikan 37
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi menengah atas dan pendidikan tinggi. Oleh karena itu diperlukan strategi untuk melakukan revitalisasi citra provinsi DIY dalam hal layanan pendidikan bagi jenjang pendidikan tinggi. Ini harus segera dilakukan mengingat bahwa sebagian besar penduduk di provinsi ini masih bergerak di sektor-sektor yang terkait dengan pendidikan, pariwisata, dan industri kecil. • Di bidang pendidikan juga diperlukan sistem yang memungkinkan adanya penyegaran bagi kelompok umur lanjut yang selama ini tidak tersentuh oleh sistem pendidikan modern. Paket-paket pendidikan non-formal seperti Kelompok Belajar (Kejar) perlu diteruskan dan ditingkatkan. Masalah krusial yang harus segera dipecahkan adalah masih rendahnya angka melek aksara bagi kelompok usia 15 tahun ke atas yang di tahun 2007 baru mencapai 87,11 persen sedangkan di tingkat nasional sudah mencapai 91,87 persen. • Untuk mengatasi angka pengangguran terbuka dan angka setengah pengangguran yang tinggi, cara yang terbaik adalah dengan meningkatkan kapasitas penyerapan tenaga kerja dengan melalui diversifikasi ekonomi bagi kelompok pekerja yang kurang terampil atau kurang terdidik. Tetapi apabila cara ini tidak cukup efektif untuk menyerap tenaga kerja yang setiap tahun sebesar 50.000 orang, diperlukan kebijakan yang bisa menunjang jaringan penyerapan tenaga kerja ke daerah lain atau ke luar negeri. 2.3 TINGKAT PEMBANGUNAN EKONOMI 2.3.1. Capaian Indikator Perekonomian adalah salah satu unsur penting dalam kesejahteraan penduduk. Perekonomian yang baik dan mengalami pertumbuhan memberikan sumbangan penting sebab pertumbuhan ekonomi akan berdampak positif pada peningkatan penghasilan. Artinya bila ekonomi semakin berkembang maka terbuka peluang bagi masyarakat untuk memperoleh penghasilan melalui peran sertanya dalam aktivitas ekonomi. Pertumbuhan ekonomi regional memiliki kaitan erat dengan perkembangan ekonomi nasional bahkan situasi perkembangan ekonomi dunia. Dalam perspektif ini, 38
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi maka pendapatan masyarakat ditingkat regional dapat dipengaruhi ekonomi nasional atau negara lainnya. Dibawah ini adalah grafik capaian Indikator Tingkat Pembangunan Ekonomi Provinsi DIY dibandingkan dengan capaian Indikator Tingkat Pembangunan Ekonomi Nasional. Dalam grafik ini mengagregasikan empat indikator yaitu : persentase ekspor terhadan PDRB, persentase output manufaktur terhadap PDRB, persentase pertumbuhan realisasi investasi PMA dan persentase pertumbuhan realisasi investasi PMDM. Untuk Indikator persentase output UMKM terhadap PDRB, untuk Provinsi DIY tidak terdapat datanya. Pun empat indikator yang ada hanya bisa didapatkan datanya sampai tahun 2008. Selain itu, satu indikator persentase output manufaktur hanya sampai tahun 2007. Grafik 2.15. Trend Outcome Tingkat Pembangunan Ekonomi 2004-2009 Sumber : Diolah dari berbagai sumber 39
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Grafik 2.16. Trend Outcome Tingkat Pembangunan Ekonomi 2004-2009 Sumber : Diolah dari berbagai sumber Analisis Relevansi Tujuan analisis Relevansi adalah untuk menganalisa sejauh mana tujuan/sasaran pembangunan yang direncanakan mampu menjawab permasalahan utama/tantangan. Dalam hal ini, relevansi pembangunan daerah dilihat apakah trend capaian pembangunan daerah sejalan atau lebih baik dari capaian pembangunan nasional. Dari grafik diatas, terlihat bahwa outcome tingkat pembangunan ekonomi Provinsi DIY lebih rendah dibandingkan dengan outcome tingkat pembangunan ekonomi Nasional. Begitu juga trend outcome tingkat pembangunan ekonomi DIY menunjukkan kecenderungan lebih rendah dari pada Nasional, walaupun untuk tahun 2005 terpaut 0,40 lebih tinggi DIY, dan tahun 2007 terpaut 0,54 juga lebih tinggi DIY. Rendahnya outcome dan trend outcome tingkat pembangunan ekonomi DIY terhadap outcome dan trend outcome tingkat pembangunan ekonomi Nasional antara lain dipengaruhi oleh beberapa hal. Salah satunya ditunjukkan dari pengaruh persentase ekspor terhadap PDRB. 40
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Grafik 2.17. Proporsi Ekspor terhadap PDRB Proporsi Ekspor terhadap PDRB 23 22 21 20 19 18 17 2004 2005 2006 2007 2008 Nasiona l D I Yogyakarta Sumber : Data Indikator Pencapaian 2009 Provinsi DIY Yogyakarta sebagai daerah penyedia jasa pendidikan dan pariwisata juga memiliki peluang untuk melakukan perdagangan luar negeri. Dibandingkan dengan capaian ekspor nasional, ekspor D I Yogyakarta sangat kecil. Ekspor dari Yogyakarta merupakan ekspor nonmigas, dibandingkan dengan ekspor migas nasional tentu saja nilai ekspor D I Yoyakarta sangat kecil bahkan dalam bandingan dengan PDRB. Komoditas unggulan ekspor Yogyakarta adalah produk mebel dari berbagai bahan mulai dari kayu sampai bahan serat alami, berbagai produk dari kulit dan produk kerajinan. Faktor lain yang menghambat kegiatan ekspor D I Yoyakarta terkait dengan ketiadaan pelabuhan ekspor. Ketiadaan pelabuhan membuat ekspor Yogyakarta keluar melalui Pelabuhan Tanjung Mas Semarang, Tanjung Priok Jakarta dan Bandara Soekarno Hatta. Bandara Adi Sucipto yang berada di wilayah Yogyakarta hanya sedikit mengantar ekspor produk Yogyakarta. Kondisi ini diduga disebabkan oleh terbatasnya fasilitas yang dapat diberikan bandara Adi Sucipto atau berbelitnya prosedur perijinan sehingga eksportir lebih memilih melewati pintu yang lain. Performa ekspor D I Yogyakarta dari tahun ke tahun terlihat fluktuatif. Hal ini terkait dengan produk ekspor yang berupa barang kerajinan. Barang kerajinan merupakan bagian dari barang tersier yang permintaanya tergantung pada trend pasar, baik itu terkait dengan musim maupun trend selera. Trend mode yang 41
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi mengikuti musim harus menjadi bagian dari strategi pasar produk kerajinan. Saat ini dari konsumen juga muncul tuntutan atas barang ekpor yang harus ramah lingkungan. Disinilah kelemahan utama yang dihadapi oleh produsen produk kerajinan. Akses informasi oleh produsen mengenai trend yang akan terjadi sangat lemah. Hal ini berdampak buruk pada kemampuan untuk melakukan ekspor. Pada sisi lain ketika konsumen menuntut produk ramah lingkungan, belum banyak juga produsen produk industri yang mampu memenuhinya. Hal ini selain terkait dengan lemahnya pengetahuan juga terkait dengan ketersediaan bahan baku ramah lingkungan yang mungkin tidak mudah diperoleh. Selain itu rendahnya outcome dan trend outcome tingkat pembangunan ekonomi DIY dibandingkan dengan outcome dan trend outcome tingkat pembangunan ekonomi Nasional juga bisa dijelaskan dengan melihat kondisi pencapaian persentase output manufaktur terhadap PDRB DIY. Grafik 2.18. Proporsi Ekspor terhadap PDRB Proporsi Produk Manufaktur terhadap PDRB 30 25 20 15 10 5 0 2004 2005 2006 2007 2008 Nasional D I yogyakarta Sumber : Data Indikator Pencapaian 2009 Provinsi DIY Peranan produk manufaktur D I Yogyakarta dibandingkan dengan angka nasional rata-rata masih lebih rendah. Sebagai wilayah yang mencanangkan diri sebagai pusat pendidikan tentu kegiatan manufaktur bukanlah sektor yang 42
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi diutamakan. Sebagaimana Visi jangka panjang D I Yogyakarta yang menyatakan: Daerah Istimewa Yogyakarta pada Tahun 2025 sebagai Pusat Pendidikan, Budaya dan Daerah Tujuan Wisata Terkemuka di Asia Tenggara dalam lingkungan Masyarakat yang Maju, Mandiri dan Sejahtera. Peran industri pengolahan terhadap pembentukan PDRB rata-rata hanya 13%, sebuah share yang relatif kecil dibandingkan dengan jasa dan perdagangan yang mencapai angka sekitar 40%. Alasan lain mengapa share produk manufaktur DIY relatif rendah dibandingkan dengan angka nasional adalah karena D I Yogyakarta sebagai wilayah yang relatif kecil dengan budaya kerajinan yang telah mengakar relatif tidak memiliki kegiatan indutri besar yang mampu menghasilkan output dalam jumlah besar. Namun demikian jika dilihat pertumbuhan dari tahun ke tahun pertumbuhan sektor industri relatif tetap, artinya kemampuan sektor industri D I Yogyakarta dalam membentuk PDRB dalam keadaan stabil. Perubahan ekternal atau tekanan eksternal membuat pengaruh yang sama antara total PDRB dengan sektor manufaktur. Sementara itu UMKM sebagai pelaku utama perekonomian DI Yogyakarta tidak memiliki data perannya dalam pembentukan PDRB. Selain dua indikator diatas, investasi juga berperan dalam menjawab pertanyaan mengapa outcome dan trend outcome tingkat pembangunan ekonomi DIY lebih rendah daripada outcome dan trend outcome tingkat pembangunan ekonomi Nasional. Tinggi rendahnya investasi dapat dilihat dari banyaknya angka penanaman modal, baik dalam negeri maupun luar negeri (asing). Dibandingkan dengan daerah lain di pulau Jawa tingkat investasi di Yogyakarta sangatlah rendah. Menurut data yang tercatat pada Biro Pusat Statistik dari tahun 1967 sampai tahun 2004 akumulasi penanaman modal dalam negeri yang masuk ke Yogyakarta adalah Rp 2.266.6 milyar (terendah di pulau Jawa bahkan dibandingkan dengan provinsi Banten) jauh lebih rendah dari investasi dalam negeri yang masuk ke DKI (angka tertinggi di pulau Jawa) yang mencapai angka Rp 474.719.3 milyar. Demikian juga dengan investasi asing, Yogyakarta mencatat angka US $ 366.5, sementara DKI mencatat angka US $ 182.072.3. 43
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Dari grafik 5 dan 6 (PMA dan PMDN ) terlihat rendahnya pertumbuhan investasi di Yogyakarta di bandingkan dengan angka nasional. Tetapi jika dilihat dinamikanya maka investasi baik asing maupun dalam negeri di Yogyakarta terlihat relatif mantap dibadingkan dengan angka nasional. Sektor yang menarik bagi penanaman modal dalam negeri di wilayah Yogyakarta adalah sektor industri pengolahan, perdagangan hotel dan restoran diikuti oleh sektor jasa-jasa. Sementara itu penanaman modal asing didominasi oleh sektor jasa, diikuti oleh sektor hotel perdagangan dan restoran kemudian sektor industri pengolahan. Sementara itu data nasional menunjukkan juga bahwa sektor yang paling diminati investor adalah sektor industri pengolahan diikuti oleh sektor pertanian. Besarnya minat investor ke sektor jasa di wilayah Yogyakarta terkait dengan potensi Yogyakarta yang memang kuat disektor jasa, baik jasa pendidikan maupun jasa perdagangan dan pariwisata. Dilihat dari pertumbuhannya, tampak bahwa penanaman modal di wilayah ini menunjukkan dinamika yang relatif rendah, hanya tahun 2002-2003 perkembangan penanaman modal menunjukkan peningkatan yang sangat besar baik untuk PMDN maupun PMA tetapi selebihnya terlihat stagnan. Peningkatan harga BBM tahun 2005 menekan investasi dalam negeri tetapi justru meningkatkan PMDN. Grafik 2.19. Pertumbuhan Realisasi Investasi Asing (PMA) Pertumbuhan Realisasi Investasi Asing 120,00 100,00 80,00 60,00 40,00 20,00 0,00 -20,00 2004 2005 2006 2007 2008 -40,00 -60,00 Nasional Sumber : Data Indikator Pencapaian 2009 Provinsi DIY 44
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Grafik 2.20. Pertumbuhan Realisasi Investasi PMDM Persentase Pertumbuhan Realisasi Investasi PMDN 2008 2007 2006 2005 2004 -40,00 -20,00 0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00 Na Sumber : Data Indikator Pencapaian 2009 Provinsi DIY Rendahnya investasi di wilayah Yogyakarta dihadang oleh berbagai persoalan dasar yang belum juga terpecahkan sebagaimana keadaan di tingkat nasional. Prosedur birokrasi yang berbelit-belit, ekonomi biaya tinggi, ketidakpastian hukum, paket kebijakan investasi dan kebijakan sektoral yang tumpang tindih antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah adalah beberapa hambatan yang menghadang lancarnya investasi untuk memasuki wilayah Yogyakarta. Sementara itu dari aspek sarana dan prasarana, wilayah Yogyakarta telah dianggap memiliki ketersediaan yang cukup, kecuali untuk wilayah Gunung Kidul, yang tidak memiliki sarana yang memadai untuk menopang kegiatan bisnis karena kasus kekeringan merupakan masalah besar. Jalan-jalan yang masuk desa kurang memadai untuk mendorong daya tarik investor datang ke Gunung Kidul. Grafik 7 menyajikan pendapat pelaku usaha atas ketersediaan sarana dan prasarana yang disediakan oleh Pemda dalam pelayanan investasi di DIY. 45
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Grafik 2.21. Ketersediaan sarana prasarana untuk pelayanan dalam bidang investasi TELEKOMUNIKASI 13,98 46,24 AIR BERSIH 31,18 26,88 LISTRIK 12,90 45,16 TRANSPORTASI 24,73 35,48 JEMBATAN 15,05 55,91 JALAN 15,05 54,84 0 10 20 30 40 50 60 70 80 tidak memadai memadai PERSENTASE Sumber: Governance Assessment Survey, 2006 Untuk menarik investasi masuk ke Yogyakarta, pemerintah daerah terus berusaha melakukan berbagai progam. Salah satunya adalah mengadakan kegiatan “Yogya Invest”. “Yogya Invest” menawarkan berbagai peluang investasi di wilayah Yogyakarta yang memiliki potensi dan peluang untuk dikembangkan. Beberapa proyek/komoditas yang ditawarkan oleh “Yogya Invest”, tidak hanya pada sektor kerajinan tetapi meliputi hampir seluruh sektor usaha dari mulai wisata alam sampai pada pengadaan sarana pendukung pertumbuhan seperti jalan dan pergudangan. Dari berbagai uraian diatas, bisa terlihat beberapa alasan mengenai penyebab rendahnya outcome dan trend outcome tingkat pembangunan ekonomi DIY terhadap outcome dan trend outcome tingkat pembangunan ekonomi nansional. Dengan demikian bisa disimpulkan bahawa pembangunan ekonomi DIY belum sejalan dengan pembangunan ekonomi nasional. 46
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Analisis Efektivitas Sedangkan analisis efektivitas digunakan untuk mengukur dan melihat kesesuaian antara hasil dan dampak pembangunan terhadap tujuan yang diharapkan. Efektivitas pembangunan dapat dilihat dari sejauh mana capaian pembangunan daerah membaik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tingkat pembangunan ekonomi (outcome) Provinsi DIY menunjukkan kondisi yang fluktuatif. Tahun 2004 tingkat pembangunan ekonomi DIY menunjukkan angka 7,17% naik menjadi 12,37 % ditahun 2005. Kontribusi terbesar untuk peningkatan tersebut adalah angka presentase pertumbuhan realisasi investasi Penanaman Modal Asing DIY tahun 2005 yang mencapai angka 29,01%. Tinggi rendahnya presentase pertumbuhan realisasi investasi Penanaman Modal Asing DIY ternyata berpengaruh terhadap tingkat pembangunan ekonomi DIY tahun 2006 yang turun menjadi 5,17 %. Tahun 2006, presentase realisasi investasi Penanaman Modal Asing mengalami penurunan drastis dari 29,01% menjadi 2,04%. Hal itu disebabkan kondisi infrastruktur yang memburuk sebagai akibat bencana gempa bumi tahun 2006. Angka fluktuatif tersebut berlanjut dari tahun 2006-2007. Dari tahun 2006 angka 5,17 %, tingkat pembangunan ekonomi tahun 2007 naik menjadi 12,6 % dan turun menjadi 1,77 % ditahun 2008. Kondisi turunnya tingkat pembangunan ekonomi karena tidak adanya kontribusi manufaktur dalam PDRB. Naiknya tingkat pertumbuhan ekonomi pasca gempa tahun 2007 disebabkan oleh kegigihan masyarakat DIY dan stakeholder dalam usaha membangun kembali kehidupannya sehingga berdampak positif bagi kegiatan industri dan sektor riil lainnya. Setelah proses recovery berjalan lancar serta kemampuan pemerintah dan masyarakat Yogyakarta yang bekerjasama bahu membahu untuk meyakinkan kepada khalayak pelaku bisnis bahwa Yogyakarta telah aman dan kondusif, pada akhirnya mampu mengembalikan geliat kegiatan penanaman modal dan investasi melalui kegiatan industri dan perdagangan serta pariwisata menjadi kembali berjalan. Untuk melihat efektivitas tingkat pembangunan ekonomi DIY bisa dilihat dengan melihat tujuan, sasaran kebijakan dan program yang direncanakan selama tahun 2004-2009. Misi kedua dari RPJMD yang menyangkut pembangunan ekonomi daerah di DIY adalah Menguatkan fondasi kelembagaan dan memantapkan 47
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi struktur ekonomi daerah berbasis pariwisata yang didukung potensi lokal dengan semangat kerakyatan menuju masyarakat yang sejahtera. Misi tersebut dijabarkan dalam strategi pencapaian antara lain : a. Penciptaan lingkungan yang kondusif bagi kepariwisataan. b. Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. c. Peningkatan iklim usaha bagi sektor-sektor unggulan sebagai faktor penggerak utama perekonomian. d. Revitalisasi pertanian. e. Pengembangan eksplorasi dan pemanfaatan sumberdaya kelautan dan pesisir. Sedangkan Kebijakan untuk mencapai misi tersebut antara lain : 1. Menyediakan aturan hukum yang mendukung terciptanya iklim usaha kepariwisataan yang sehat. 2. Memfasilitasi model pelatihan dan dukungan modal kepada masyarakat. 3. Memberdayakan dan meningkatkan industri kecil dan kerajinan rakyat yang memberi nilai tambah daya tarik wisata. 4. Meningkatkan partisipasi masyarakat/swasta dalam penyediaan dan pengelolaan infrastruktur ekonomi. 5. Meningkatkan daya saing dan daya tarik investasi melalui promosi kemudahan prosedur dan fasilitas pendukung. 6. Menguatkan kapasitas kelembagaan pasar dalam menjamin berkembangnya aktivitas usaha khususnya industri kreatif. 7. Membangun sistem informasi yang mudah diakses oleh stakeholder ketenagakerjaan dan masyarakat secara luas. 8. Membangun tata kelola hubungan kerja antara pemerintah, pengusaha dan pekerja yang lebih saling menguntungkan dan manusiawi. 9. Memperbaiki pola kerjasama dan kemitraan pemerintah, dan antar pemerintah daerah. 10. Meningkatkan penyelenggaraan transmigrasi yang menjamin keberhasilan usaha dan perbaikan ekonomi transmigran di daerah penempatan. 11. Menguatkan peranserta pemerintah dalam pengaturan, pembinaan dan penguatan modal masyarakat dalam industri pengolahan hasil pertanian. 12. Meningkatkan peran masyarakat dalam industri pengolahan hasil pertanian. 48
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi 13. Mengembangkan ketahanan pangan dan agribisnis pertanian guna mewujudkan kedaulatan pangan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pangan dalam jumlah yang memadai, tersedia di setiap waktu, beragam, bergizi seimbang, bermutu, aman, dan terjangkau oleh daya beli masyarakat. 14. Meningkatkan kegiatan usaha ekonomi produktif bagi perempuan. Dari grafik trend dan outcome, memang tingkat pembangunan ekonomi DIY lebih rendah daripada tingkat pembangunan nasional, namun dilihat dari efektivitasnya, peningkatan dari tahun 2004 ke 2005 serta kelonjakan pasca gempa dari tahun 2006 menuju 2007 bisa menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun tingkat pembangunan ekonomi membaik. Hanya saja untuk tahun 2006 terjadi kondisi tidak terduga yang menyebabkan pembangunan ekonomi anjlok. Hal itu menunjukkan program-program yang dijalankan mempengaruhi peningkatan pembangunan ekonomi DIY walaupun masih banyak kelemahan-kelemahan yang harus mendapatkan perhatian. 2.3.2 Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol Grafik 2.22. Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan Ekonomi 7 6 5 4 3 2 1 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Nasional D I Yogyakarta Sumber : Data Indikator Pencapaian 2009 Provinsi DIY 49
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Grafik 7 menunjukan capaian pertumbuhan ekonomi D I Yogyakarta yang fluktuatif dibandingkan dengan angka nasional. Tahun 2004 pertumbuhan D I Yogyakarta mampu berada pada level yang lebih tinggi dari angka nasional. Wilayah dengan tumpuan sektor yang relatif merata mampu mempertahankan keadaan pertumbuhan yang seimbang. Tahun 2005, naiknya harga minyak membuat perekonomian Yogyakarta merosot angka pertumbuhannya dibandingkan dengan angka nasional. Kenaikan harga minyak menekan produsen industri kecil yang merupakan sebagian besar pelaku ekonomi di Yogyakarta. Naiknya biaya produksi memaksa harga ikut naik, sementara rumah tangga sebagai pemakai produk juga mengalami tekanan. Akibatnya produksi melemah dan itu berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Sementara pada sisi permintaan melemahnya pertumbuhan itu terkait dengan melemahnya pertumbuhan perdagangan antar wilayah akibat dari tekanan harga minyak. Perekonomian yang merosot tahun 2005 akibat harga minyak semakin tertekan ketika Yogyakarta menerima shock gempa yang meluluhlantakan perekonomian sebagian D I Yogyarakta. Bantul sebagai wilayah paling parah akibat gempa, mengalami pertumbuhan yang negatif, tetapi secara umum D I Yogyakarta masih tumbuh positif walaupun menjadi semakin kecil dibandingkan dengan angka nasional. Setelah gempa Yogyakarta berusaha untuk mengejar ketinggalan, tetapi rekonstruski yang mendapat banyak bantuan dari luar itupun belum mampu mengembalikan pertumbuhan Yogyakarta seperti tahun 2004. Namun demikian dinamika pertumbuhan yang dicapai D I Yogyakarta tetap sejalan dengan pertumbuhan nasional yang terus mengalami peningkatan. Persoalan utama ekonomi makro Yogyakarta adalah semakin turunnya kemampuan sektor pertanian untuk menyediakan pangan dan lapangan kerja bagi penduduk Yogyakarta. Ini dapat dilihat dari semakin lemahnya peran sektor pertanian terhadap pembentukan pendapatan regional. Sementara sektor lain seperti perdagangan dan jasa tetap menunjukkan eksistensinya yang terus tumbuh. Salah satu sebab menurunnya peran sektor petanian adalah adalah menurunya kualitas lingkungan akibat dari penggunaan bahan kimia yang berlebihan. Persoalan ini adalah persoalan yang akan berkaitan dengan berbagai sektor yang lain, misalnya penyediaan pangan yang aman bagi penduduk. Mengatasi persoalan ini diperlukan 50
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi gerakan berbagai unsur masyarakat untuk meninggalkan bahan pangan yang tercemar residu dan mengembalikan produksi pertanian kepada produksi yang ramah lingkungan misalnya dengan kembali kepada penggunaan saprodi organik. Pihak yang terkait langsung dengan kebijkan ini adalah Pemerintah terutama pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Pertanian agar mampu mengkampanyekan penggunanan saprodi ramah lingkungan (berkelanjutan). Untuk mengubah perilaku ini setidaknay diperlukan waktu 1- 5 tahun. Kinerja perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada tahun 2007 mengalami perbaikan dibanding kondisi tahun sebelumnya. Hal ini tercermin dari laju pertumbuhan ekonomi yang dihitung berdasarkan nilai riil Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang mencapai 4,20%, atau lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan ekonomi periode sebelumnya sebesar 3,69%. Selain output yang tumbuh lebih cepat, perkembangan harga barang dan jasa secara umum juga relatif terkendali dengan tingkat inflasi yang relatif rendah. Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi DIY pada tahun laporan didorong oleh kegiatan investasi dan konsumsi baik konsumsi masyarakat (rumah tangga) maupun konsumsi pemerintah. Sementara itu dari sisi penawaran, tiga sektor unggulan menjadi faktor penunjang pertumbuhan ekonomi DIY yaitu: (1) sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran; (2) sektor Pengangkutan dan Komunikasi dan (3) sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan. Secara umum, membaiknya kinerja perekonomian DIY tahun 2007 terutama didukung oleh kondisi makroekonomi nasional yang relatif stabil, tingkat suku bunga yang cenderung menurun dan daya beli masyarakat yang relatif meningkat serta industri pariwisata dan pendidikan yang kembali pulih setelah sempat terpuruk sebagai akibat terjadinya Gempa Bumi Mei 2006 51
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Grafik 2.23. Pendapatan per kapita (dalam juta rupiah) Pendapatan per Capita 25 20 15 10 5 0 2004 2005 2006 2007 2008 Nasional D I Yogayakarta Sumber : Data Indikator Pencapaian 2009 Provinsi DIY Dibandingkan dengan angka nasional, tingkat pendapatan per kapita penduduk DIY memang sangat rendah, hampir setengahnya. Namun demikian jika ditarik pada kedaan yang lebih luas mengenai kualitas dsumber daya manusia yang salah satunya indikatornya adalah daya beli, DI Yogyakarta menempati urutan ke dua tertinggi setelah D K I Jakarta (UNDP, 2007). Angka ini memberikan makna bahwa sekalipun pendapatan per kapita penduduk DI Yogyakarta relatif rendah tetapi tingkat kemakmuran yang dicapai relatif lebih tinggi. Pendapatan per kapita yang rendah tetapi diikuti dengan inflasi atau harga yang relatif rendah menjadikan penduduk memiliki daya beli yang baik (tinggi). Dinamika pendapatan per kapita yang dicapai oleh DI Yogyakarta relatif tidak berbeda dengan angka nasional, terus tumbuh dari tahun ke tahun. Artinya penduduk Yogyakarta daya belinya juga terus meningkat sejalan dengan peningkatan yang terjadi pada tingkat nasional. 52
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Grafik 2.24. Tingkat Inflasi Tingkat Inflasi 8 2… 9,88 11,06 6,00 8 2… 10,41 13,10 10,50 14,98 2… 6,95 6,10 0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 D I Yogyakarta Nasional Sumber : Data Indikator Pencapaian 2009 Provinsi DIY Secara umum laju inflasi di Yogyakarta relatif dari angka inflasi nasional. Pada tahun 2005 inflasi Yogyakarta adalah 14,98% lebih tinggi dibandingkan angka nasional yang mencapai angka 10,50%. Inflasi yang tinggi pada periode tahun 2005 dipicu oleh kenaikan harga minyak yang terjadi pada tahun tersebut. Dari sektornya penyumbang inflasi tertinggi adalah sektor tranportasi, komunikasi dan jasa keuangan yang menyumbang sebesar 4.46%. Penyumbang terkecil adalah sektor sandang dan kesehatan. Dari komoditasnya penyumbang terbesar pada kenaikan harga adalah barang seperti bensin, minyak tanah dan solar. Hal ini terkait dengan kebijakan pemerintah yang menaikan harga minyak pada saat itu (Bank Indonesia,2006). Tahun 2006, setelah gempa kondisi inflasi di Yogyakarta menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia, hal ini tercermin dari angka inflasi nasional yang hanya 13,10 % dibanding Yogyakarta yang mencapai angka 10,41 %. Inflasi tertinggi tetap pada sektor tranportasi, komunikasi dan jasa keuangan, diikuti oleh sektor kesehatan dan bahan makanan. Gempa yang melukai sebagian warga Yogyakarta meningkatkan permintaan akan barang dan jasa kesehatan, persediaan yang terbatas mendorong harga untuk naik. Pada saat gempa keberadaan bahan pangan di Yogyakarta menjadi begitu sulit sehingga bahan pangan harus didatangkan dari wilayah luar Yogyakarta, hal ini tentu mendorong peningkatan harga sebab selain supply nya yang terbatas datangnya bahan makan 53
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi dari luar juga mengharuskan adanya biaya transportasi yang artinya peningkatan harga. Dinamika inflasi Yogyakarta bersifat fluktuatif, kedaan ini sejalan dengan fluktuasi yang terjadi di tingkat nasional. Hal ini mencerminkan apa yang dicapai oleh Yogyakarta tidak jauh berbeda dengan apa yang dicapai oleh perekonomian nasional. Tingkat inflasi Kota Yogyakarta yang dihitung berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK) selama tahun 2007 yang tercatat sebesar 7,99%, lebih rendah dibandingkan inflasi tahun 2005 dan tahun 2006 masing-masing sebesar 14,98% dan 10,40%. Dilihat dari penyebabnya, inflasi Kota Yogyakarta tahun laporan terutama didorong oleh faktor permintaan yang diindikasikan oleh andil inflasi inti (core inflation) yang dominan dibandingkan dengan dua komponen inflasi lainnya (volatile foods dan administered price). Sementara itu, kenaikan harga lima komoditas/jasa yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi Kota Yogyakarta adalah (1) akademi/ perguruan tinggi, (2) minyak goreng, (3) nasi, (4) tukang bukan mandor dan (5) bawang merah. 2.3.3 Rekomendasi Kebijakan Persoalan utama ekonomi makro Yogyakarta adalah semakin lamahnya peran sektor pertanian akibat dari turunnya kualitas lahan dan berkurangnya areeal lahan pertanian akibat pertambahan penduduk. Pada sisi produksi barang industri yang terkait dengan ekspor, persoalan ketidakmampuan produsen mengikuti arus pasar akibat lemahnya informasi yang diperoleh menjadi hambatan besar dalam pengembangan ekspor Yogyakarta. Disamping itu persolan klasik terkait dengan birokrasi dan kebijakan yang tumpang tindih serta kurang terarah tetap menjadi masalah hampir seluruh sektor ekonomi. Untuk itu diusulkan beberapa rekomendasi kebijakan berikut: 1. Mengatasi persoalan sektor pertanian yang perannya semakin turun, diperlukan gerakan berbagai unsur masyarakat untuk meninggalkan bahan pangan yang tercemar residu dan mengembalikan produksi pertanian kepada produksi yang ramah lingkungan misalnya dengan kembali kepada penggunaan saprodi organik. 54
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Pihak yang terkait langsung dengan kebijakan ini adalah Pemerintah terutama pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Pertanian agar mampu mengkampanyekan penggunanan saprodi ramah lingkungan (berkelanjutan). Selain itu tataguna lahan juga harus mendapat prioritas untuk dibenahi, kesalahan tata guna lahan akan berakibat fatal pada kemampuan penyediaan pangan dimasa datang 2. Mengatasi persoalan pengembangan UMKM yang menjadi sebagian besar pelaku usaha sektor manufaktur, kebijakan yang diabil haruslah mendasarkan diri pada kebutuhan UMKM itu. Selama ini kebijakan UMKM mendasarkan diri pada asumsi lemahnya permodalan, padahal sesungguhnya perkembangan usaha erat terkait dengan persoalan kewirausahaa. Untuk itu sudah seharusnya kebijkan bidang ini diarahkan pada pengembangan UMKM yang benar-benar dikelola dengan jiwa kewirausahaan yang tinggi sehingga mampu berkembang menjadi usaha besar dan tangguh. 3. Mengatasi persoalan arus informasi pasar yang tidak simetris, sudah saatnya pemerintah bertindak atau melakukan tindakan praktis untuk membentuk kelembagaan yang mampu menjadi ruang pusat informasi bisnis. Dengan pusat informasi ini maka produsen akan memiliki kemampuan untuk mengetahui produk apa yang dimaui pasar sehingga pola produksi menjadi terarah oleh pasar dengan demikian perkembangan usaha dapat diharapkan kelanjutannya. 4. Lebih dari semua itu, tuntutan masyarakat agar sektor pemerintah semakin transparan, akuntabel dan dapat dipercaya tidak dapat diabaikan. Seluruh layanan pemerintah hanya akan efektif ketika kebijkan dan implementasinya dilakukan secara trasparan, akuntabel dan dapat dipercaya. 2.4. KUALITAS PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM 2.4.1 Capaian Indikator Kinerja pengelolaan sumber daya alam dilihat dari kinerja sektor kehutanan dan kelautan. Pada sektor kehutanan indikator yang digunakan sebagai ukuran kinerja adalah luas lahan rehabilitasi dan luas kawasan konservasi. Sementara dari 55
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi sektor kelautan diukur dari jumlah tindak pidana perikanan, persentase terumbu karang dalam keadaan baik dan luas kawasan konservasi laut. Pada sektor kehutanan beberapa data masih dapat diperoleh walaupun dalam keadaan tidak lengkap, tetapi sektor kelautan sebagai sektor yang memang kurang penting dalam perekonomian Yogyakarta, tidak tersedia data yang dibutuhkan sesuai dengan data nasional. Luas lahan rehabilitasi Gambar 10 dan 11 menyajikan perbadingan tingkat rehabilitasi lahan ktitis nasional dan D I Yogyakarta. Gambar 10 adalah proporsi luas lahan kritis yang direhabilitasi terhadap luas lahan kritis. Angka untuk Yogayakarta memang tidak lengkap tetapi dari data yang ada dapat dilihat bahwa kemampuan Yogyakarta untuk melakukan rehabilitasi lahan kritis di dalam hutan jauh melebihi kemampuan nasional. Hal ini terkait dengan kesadaran penduduk akan semakin pentingnya fungsi hutan sebagai sumber penyangga kehidupan. Gambar 11 menyajikan kemampuan rehabilitasi lahan kritis diluar hutan terhadap luas hutan. Dari gambar 11 dapat juga diketahui bahwa kemampuan Yogyakarta dalam melakukan rehabilitasi lebih tinggi dibandingkan dengan angka nasional. Namun demikian jika dilihat dari dinamika kemampuan wilayah ini semakin lama kemampuan rehabilitasi yang dilakukan semakin berkurang. Grafik 2.25. Proporsi Rehabilitasi Lahan Kritis 15,00 10,00 5,00 0,00 2004 2005 2006 2007 2008 Nasional D I Yogyakarta Sumber : Data Indikator Pencapaian 2009 Provinsi DIY 56
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Grafik 2.26. Proporsi Rehabilitasi Lahan Luar Hutan 40,00 30,00 20,00 10,00 0,00 2004 2005 2006 2007 2008 Nasional D I Yogayakarta Sumber : Data Indikator Pencapaian 2009 Provinsi DIY Luas kawasan konservasi Proporsi luas lahan konservasi terhadap luas hutan di Provinsi Yogyakarta secara umum lebih tinggi dibandingkan dengan angka nasional (gambar 12). Sesungguhnya luas lahan konservasi selama 5 tahun belakangan tidak ada perubahan, hanya karena areal konservasi nasional mengalami penurunan, maka terlihat areal konservasi di Yogyakrata menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan angka nasional. Bertahannya luas kawasan konservasi dan rehabilitasi lahan kritis di Yogyakarta terk ait dengan pelibatan masyarakat yang bersifat terus menerus dilakukan oleh pemerintah. Dalam laporan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Propinsi tahun 2009 dilaporkan penggunaan dana APBD untuk kegiatan rehabilitasi hutan meliputi berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat. Pelibatan masyarakat dalam pemeliharaan hutan mulai dari pembuatan tanaman kehutanan, pembinaan, pengendalian dan pengawasan gerakan rehabilitasi hutan dan lahan, peningkatan peran serta masyarakat dalam rehabilitasi hutan dan lahan, pemeliharaan kebun pangkas, pemberdayaan masyarakat untuk rehabilitasi hutan dan lahan, rehabilitasi kawasan konservasi, gerakan cinta hutan, optimalisasi peran masyarakat dan konservasi SDA, pengembangan potensi desa konservasi dan pengembangan hutan rakyat. Tidak berkurangnya lahan konservasi dan tingginya tingkat rehabilitasi lahan bukan berarti sektor kehutanan tanpa masalah. Permasalahan pengembangan sektor Kehutanan di Yogyakarta antara lain: masih rendahnya daya dukung lahan dan air, 57
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan kawasan hutanmasih berkurang dan masih terjadi pencurian kayu hutan serta peredaran kayu ilegal, peredaran benih hutan yang belum bersertifikat masih tinggi, SDM dan kelembagaan petani hutan yang rendah, serta status dan fungsi hutan secara keseluruhan belum sesuai ketentuan. Upaya untuk menindaklanjuti masalah tersebut antara lain : Pertama, meningkatkan sosialisasi secara intensif dan berkelanjutan terhadap masyarakat sekitar di dalam memanfaatkan kawasan hutan, memfasilitasi paket-paket produktif yang menghasilkan hasil hutan non kayu untuk memberikan nilai tambah/pendapatan didalam pengelolaan hutan sehingga tanaman pokok hutan tetap lestari serta meningkatkan pengamanan hutan dan pengendalian peredaran hasil hutan secara periodik dan berkelanjutan. Kedua, meningkatkan pelatihan, magang petani, studi orientasi bagi petani/kelembagaan petani sehingga semakin meningkat pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan didalam melaksanakan kegiatan pembangunan kehutanan dan perkebunan serta memfasilitasi paket-paket produktif dalam rangka pelestarian hutan serta agribisnis perkebunan. Ketiga, melaksanakan pelatihan teknis dan pengolahan hasil sehingga produk primer yang dihasilkan meningkat sekaligus produk olahan yang dihasilkan memenuhi standar mutu sesuai permintaan konsumen, mendorong kemandirian kelembagaan petani di dalam memperbaiki teknik-teknik budidaya tanaman sekaligus pengolahan dan pemasaran hasil, memfasilitasi paket-paket kunci dalam penerapan intensifikasi tanaman dan teknologi tepat guna sesuai masing-masing komoditas serta mendorong pengutuhan tegakan tanaman sesuai skala ekonomi. Keempat, melaksanakan pelatihan pengolahan dari produk pprimer menjadi produk olahan sesuai permintaan konsumen dan mendorong penerapan sertifikasi sesuai standar mutu bagi produk-produk olahan yang dihasilkan petani/kelompok tani. Dan kelima, memfasilitasi sarana pengolahan lahan dan air dalam rangka peningkatan optimalisasi pemanfaatan lahan dan air untuk kepentingan produktif, melaksanakan penghijauan untuk hutan rakyat, reboisasi dan pengkayaan untuk kawasan hutan negara serta pengutuhan populasi tanaman perkebunan agar memenuhi skala ekonomi, meningkatkan pemanfaatan pupuk organik untuk mendorong pengembalian kesuburan tanah serta meningkatkan deverifikasi baik tanaman maupun non tanaman dalam rangka mendorong nilai tambah/pendapatan sekaligus perbaikan kondisi lahan dan air. 58
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Grafik 2.27. Luas Lahan Konservasi 13 12 11 10 9 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Nasional D I Yogayakarta Sumber : Data Indikator Pencapaian 2009 Provinsi DIY 2.4.2 Analisis capaian Indikator Spesifik Untuk indikator spesifik kehutanan sudah dijelaskan diatas, namun indikator kelautan tidak bisa dijelaskan secara detail karena ketiadaan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi DIY. 2.4.3 Rekomendasi kebijakan 1) Program Pengembangan Agribisnis 2) Program Pemanfaatan Potensi Sumberdaya Hutan 3) Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan 4) Program Perlindungan dan Konservasi Sumberdaya Hutan. 5) Program Pembinaan dan Penertiban Industri Hasil Hutan. 6) Program Perencanan dan Pengembangan Hutan. 2.5 TINGKAT KESEJAHTERAAN RAKYAT 2.5.1 Capaian Indikator Masalah kesejahteraan sosial merupakan agenda penting yang selalu menjadi proritas kebijakan pemerintah. Berkembang atau tidaknya suatu negara dilihat dari 59
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi sektor ekonomi dapat ditentukan oleh persentase masyarakat yang hidup miskin dan tingkat pengangguran terbuka. Masalah kemiskinan dan pengangguran merupakan masalah induk yang dapat menciptakan masalah-masalah kesejahteraan sosial lainnya seperti keterlantaran yang diakibatkan oleh ketidakmampuan ekonomi keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidup. Merebaknya kasus anak terlantar, balita terlantar, anak jalanan, anak nakal dan lanjut usia terlantar merupakan permasalahan sosial yang harus ditanggulangi oleh pemerintah. Selain itu, masalah-masalah kontemporer seperti penyandang cacat, tunasosial dan korban penyalahgunaan narkoba juga sangat memerlukan perhatian dan penanganan yang serius mengingat fenomena gunung es yang melingkupi permasalahan ini. Upaya menilai persentase pelayanan kesejahteraan sosial Provinsi DIY akan dilakukan dengan melihat persentase realisasi penanganan beberapa indikator pendukung. Adapun indikator tersebut meliputi: persentase kemiskinan, persentase kesejahteraan sosial anak terlantar (anak balita terlantar, remaja terlantar, anak jalanan dan anak nakal), persentase lanjut usia terlantar dan persentase rehabilitasi sosial (penyandang cacat, tunasosial dan korban penyalahgunaan narkoba). Sementara indikator spesifik yang adalah indikator tingkat pengangguran terbuka. Trend kesejahteraan sosial tidak dapat ditampilkan karena data keseluruhan mengenai persentase pelayanan kesejahteraan sosial anak terlantar, lanjut usia terlantar dan rehabilitasi sosial dari tahun 2004 hingga tahun 2009 tidak tersedia. Sedangkan data indikator persentase pelayanan kesejahteraan sosial anak, lanjut usia terlantar dan rehabilitasi sosial yang diberikan oleh Bappenas hanya tersedia untuk tahun 2004 dan 2008 saja. Akhirnya, untuk menganalisa kinerja pemerintah DIY dalam memberikan pelayanan kesejahteraan sosial maka analisa relevansi dan efektivitas yang dilakukan dalam sub bab selanjutnya akan didasarkan pada data persentase realisasi penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) di DIY. 2.5.1.1 Trend Kesejahteraan Sosial Trend kesejahteraan sosial digunakan untuk melihat kecenderungan naik turunnya angka kesejahteraan sosial di Propinsi DIY bila dibandingkan dengan angka trend kesejahteraan sosial nasional. Trend kesejahteraan 60
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi sosial terdiri dari dua data yaitu data yang berasal dari Bappenas dan data yang berasal dari Dinas Sosial Propinsi DIY. Angka yang berasal dari data Bappenas memiliki perbedaan dengan angka yang didapatkan langsung dari Dinas Sosial Propinsi DIY. Perbedaan ini dapat dilihat dari grafik dan tabel trend kesejahteraan sosial yang akan ditunjukkan di bawah ini. Grafik 2.28. Trend Kesejahteraan Sosial di Propinsi DIY dibandingkan dengan Trend Kesejahteraan Sosial Nasional tahun 2004-2009 (versi data yang didapatkan dari Dinas Sosial DIY) Sumber: Dinas Sosial DIY 61
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Grafik 2.29 Trend Kesejahteraan Sosial di Propinsi DIY dibandingkan dengan Trend Kesejahteraan Sosial Nasional tahun 2004-2009 (versi data yang didapatkan dari Dinas Sosial DIY) Sumber: Dinas Sosial DIY Grafik 2.30. Trend Kesejahteraan Sosial di Propinsi DIY dibandingkan dengan Trend Kesejahteraan Sosial Nasional tahun 2004-2009 (versi data yang didapatkan dari Bappenas) Sumber: Data Bappenas 62
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Grafik 2.31. Trend Kesejahteraan Sosial di Propinsi DIY dibandingkan dengan Trend Kesejahteraan Sosial Nasional tahun 2004-2009 (versi data yang didapatkan dari Bappenas) Sumber: Data Bappenas 2.5.1.2 Tingkat Kesejahteraan Sosial Tingkat kesejahteraan sosial digunakan untuk melihat angka dan seberapa besar kesejahteraan sosial berhasil dicapai oleh Propinsi DIY. Grafik dan tabel dibawah ini berguna untuk melihat tingkat kesejahteraan sosial di Propinsi DIY bila dibandingkan dengan tingkat kesejahteraan sosial nasional. Sama seperti trend kesejahteraan sosial, tingkat kesejahteraan sosial juga terdiri dari dua data yaitu data yang berasal dari Bappenas dan data yang berasal dari Dinas Sosial Propinsi DIY. Angka yang berasal dari data Bappenas juga memiliki perbedaan dengan angka yang didapatkan langsung dari Dinas Sosial Propinsi DIY. Perbedaan ini dapat dilihat dari grafik dan tabel tingkat kesejahteraan sosial yang akan ditunjukkan di bawah ini. 63
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Grafik 2.32. Tingkat Kesejahteraan Sosial di Propinsi DIY dibandingkan dengan Tingkat Kesejahteraan Sosial Nasional tahun 2004-2009 (versi data yang didapatkan dari Dinas Sosial DIY) Sumber: Dinas Sosial DIY Grafik 2.33. Tingkat Kesejahteraan Sosial di Propinsi DIY dibandingkan dengan Tingkat Kesejahteraan Sosial Nasional tahun 2004-2009 (versi data yang didapatkan dari Dinas Sosial DIY) Sumber: Dinas Sosial DIY 64
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Grafik 2.34. Tingkat Kesejahteraan Sosial di Propinsi DIY dibandingkan dengan Tingkat Kesejahteraan Sosial Nasional tahun 2004-2009 (versi data yang didapatkan dari Bappenas) Sumber: Data Bappenas Grafik 2.35. Tingkat Kesejahteraan Sosial di Propinsi DIY dibandingkan dengan Tingkat Kesejahteraan Sosial Nasional tahun 2004-2009 (versi data yang didapatkan dari Bappenas) Sumber: Data Bappenas 65
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi 2.5.1.3 Penjelasan Pengolahan Data Untuk melihat grafik dan tabel trend kesejahteraan sosial dan tingkat kesejahteraan sosial pada sub bab 5.1.1.1 dan 5.1.1.2 maka perlu untuk mengetahui proses pengolahan data dalam mendapatkan angka-angka tersebut. Pada data versi Dinas Sosial Propinsi DIY, perhitungan yang digunakan dalam merumuskan angka-angka berasal dari rumus yang telah diberikan oleh pihak Bappenas untuk menghitung trend kesejahteraan sosial dan tingkat kesejahteraan sosial. Sedangkan, angka-angka yang diolah merupakan angka yang didapatkan dari data primer Dinas Sosial DIY. Angka-angka olahan tersebut merupakan perhitungan dari dua data primer yaitu jumlah realisasi penanganan PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) dan jumlah PMKS yang belum berhasil ditangani. Sedangkan data yang berasal dari Bappenas langsung didapatkan dari pihak Bappenas. Kedua hasil perhitungan baik trend kesejahteraan sosial dan tingkat kesejahteraan sosial menggunakan empat indikator penentu yaitu indikator kemiskinan, indikator pelayanan sosial anak terlantar, indikator pelayanan sosial lanjut usia terlantar dan indikator pelayanan rehabilitasi sosial (penyandang cacat, tuna sosial dan korban penyalahgunaan Napza). Angka-angka yang terlihat pada grafik dan tabel 5.1.1.1 dan 5.1.1.2 tidak dapat menunjukkan secara jelas bentuk pelayanan sosial dan tingkat kesejahteraan sosial yang telah dilakukan oleh pemerintah Propinsi DIY. Untuk melihat dan menganalisa secara jelas potret sosial dan permasalahan sosial propinsi DIY maka dibawah akan dijelaskan secara lebih mendalam melalui data-data yang telah di break-down menjadi data tersendiri (kemiskinan, anak terlantar, lanjut usia terlantar dan pelayanan rehabilitasi sosial). 66
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi 2.5.1.4 Kemiskinan Grafik 2.36. Persentase Kemiskinan Sumber: www.bps.go.id Grafik 2.37. Persentase Kemiskinan Sumber: www.bps.go.id 67
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Analisis Relevansi Kemiskinan Analisis relevansi bertujuan untuk melihat sejauh mana tujuan/sasaran pembangunan yang direncanakan mampu menjawab permasalahan utama/tantangan. Dalam hal ini, relevansi pembangunan daerah dilihat apakah trend capaian pembangunan provinsi DIY sejalan atau lebih baik dari capaian pembangunan nasional. Dari grafik 5.1 dapat dilihat bahwa angka kemiskinan DIY dari tahun 2004 hingga tahun 2009 lebih tinggi dibandingkan dengan angka persentase kemiskinan nasional. Pada tahun 2004 persentase kemiskinan DIY berada pada angka 19,14 persen, lalu pada tahun 2005 persentase kemiskinan ini menurun hingga mencapai angka 18,95 persen. Penurunan ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain program yang terdapat dalam RPJP dan RPJMD pemerintah DIY. Dalam RPJP (2005-2009), pemerintah DIY berusaha melakukan misi penguatan upaya pencapaian keunggulan daerah melalui sarana-sarana pendukung lanjut, penguatan orientasi kompetisi pada pembangunan SDM unggul, serta ekspansi perekonomian dan industri berbasis keunggulan daerah yang didukung dengan ketersediaan energi. Misi tersebut diaktualisasikan dengan program penurunan angka pengangguran dan kemiskinan, dengan prioritas pada penciptaan kesempatan kerja bagi kaum perempuan yang berpendidikan dan berketrampilan. Perempuan menjadi prioritas dalam agenda penurunan kemiskinan pemerintah karena di Provinsi DIY pada Februari 2008 setengah pengangguran mencakup 23 persen dari orang yang bekerja (425,3 ribu orang) dan sekitar 55,84 persen dari setengah pengangguran tersebut adalah perempuan (www.yogyakarta.bps.go.id, 2008). Pemberdayaan perempuan yang masih menganggur merupakan faktor penting untuk menghindari perempuan dari jerat kemiskinan dan ketidakberdayaan secara ekonomi. Pemerintah juga telah menetapkan sasaran pembangunan jangka panjang DIY yang tercantum dalam RPJP (penekanan lima tahun pertama 2005-2009) dengan misi meningkatkan proporsi masyarakat makmur secara ekonomi. Pemerintah juga telah membuat agenda kebijakan pro-poor yang 68
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi lain dalam rangka menanggulangi masalah kemiskinan. Kebijakan tersebut dibreakdown dengan program operasional yaitu peningkatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin. Program ini terdapat dalam Rencana Strategis Daerah Yogyakarta (2004-2008). Bagi pemerintah DIY, peningkatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin tidak hanya bertujuan untuk membuat masyarakat miskin tetap sehat, namun juga membuat masyarakat miskin secara fisik mampu dan berdaya dalam bekerja dan mencari nafkah bagi peningkatan kesejahteraan ekonominya. Program-program pemerintah dalam RPJP dan RPJMD ini ternyata mampu menurunkan angka persentase kemiskinan DIY dibuktikan dengan data statistik bahwa terjadi penurunan persentase kemiskinan di tahun 2005. Namun, semenjak bencana gempa bumi yang melanda Yogyakarta pada bulan Mei tahun 2006, maka isu mengenai kemiskinan menjadi agenda yang mendesak bagi pemerintah. Bencana gempa bumi telah meningkatkan angka jumlah penduduk miskin di wilayah propinsi DIY secara accidental (Lihat grafik 5.1). Pada tahun 2005 angka persentase kemiskinan telah menurun hingga mencapai angka 18,95 persen, namun di tahun 2006 angka persentase kemiskinan kembali naik hingga berada pada angka 19,15 persen. Gempa bumi juga telah menambah masalah sosial, antara lain, ketidakmampuan masyarakat dalam memenuhi hak-hak anak, menurunnya daya beli masyarakat karena menurunnya pendapatan dan kerusakan barang-barang modal. Hilangnya barang modal yang diakibatkan gempa Mei 2006 membuat sebagian pelaku industri tidak bisa berproduksi selama beberapa bulan. Non-aktifnya kegiatan ekonomi primer bagi masyarakat yang rentan terhadap kemiskinan dapat berakibat fatal. Ketidakmampuan dalam menghasilkan pendapatan yang memadai tidak hanya mengancam namun dapat menjadikan masyarakat ini jatuh miskin. Dampak pasca gempa ini menciptakan situasi-situasi yang tidak kondusif bagi perekonomian DIY. Selain gempa bumi, faktor dominan lain yang menyebabkan lambannya pertumbuhan ekonomi DIY dan meningkatnya angka persentase kemiskinan adalah kemarau panjang sebagai dampak dari El-Nino sehingga menyebabkan musim tanam tertunda. Perekonomian DIY pasca gempa juga belum sepenuhnya dapat menyerap tenaga kerja yang tersedia dan yang 69
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi selalu bertambah secara alamiah. Kedua hal ini merupakan faktor pendukung kembali naiknya angka persentase kemiskinan di tahun 2006. Tingginya angka persentase kemiskinan menjadikan program kerja yang berbasis pada penanggulangan kemiskinan (pro poor) diprioritaskan. Program-program kerja dalam RPJP dan RPJMD tetap berjalan hingga di tahun 2007 dan 2008 angka persentase kemiskinan menurun dari angka 19,15 persen menjadi angka 18,99 persen (2007) dan 18,32 persen (2008). Penurunan persentase kemiskinan di tahun 2007 dan 2008 memang tidak signifikan, maka dari itu pemerintah DIY berusaha menyusun program kerja pro-poor dalam rencana pembangunan propinsi DIY selanjutnya yakni RPJMD DIY (2009-2013). Dalam RPJMD (2009-2013), pemerintah DIY tetap melanjutkan peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat miskin. Program kesehatan ini juga ditunjang dengan program sosial pemberdayaan fakir miskin secara ekonomi. Misi pengembangan kualitas sumberdaya manusia yang sehat, cerdas, profesional, humanis dan beretika dalam mendukung terwujudnya budaya yang adiluhung dioperasionalkan dalam strategi kerja antara lain, pertama, menumbuhkembangkan pola dan bentuk jaminan sosial kepada masyarakat khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan. Hal ini dilakukan dengan asumsi bahwa pendidikan merupakan kunci untuk mengeluarkan diri dari jerat kemiskinan. Kedua, peningkatan peran pemerintah dan masyarakat dalam penyelesaian masalah sosial di lingkungannya (termasuk masalah kemiskinan). Sinergi dari program kerja RPJP (2004-2009), Renstrada (2004-2008) dan RPJMD (2009-2013) menyebabkan angka kemiskinan di tahun 2009 menurun secara signifikan hingga mencapai angka 17,32 persen. Penurunan angka kemiskinan di DIY dimungkinkan juga sebagai akibat mulai munculnya pengaruh program- program pengentasan kemiskinan seperti PMPN Mandiri, UMKM, pemberian subsidi dalam bidang pertanian dan peternakan, penguatan kelompok ekonomi produktif dan adanya dana pinjaman lunak dari pemerintah dan perbankan. Sebagaimana diketahui, program ini sudah dilaksanakan dalam beberapa tahun terakhir. 70
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Analisis Efektifitas Secara keseluruhan angka kemiskinan DIY lebih tinggi bila dibandingkan dengan angka kemiskinan nasional. Sejak tahun 2004 hingga tahun 2008 angka persentase kemiskinan DIY berada pada titik yang cukup stabil yakni berada di kisaran 19 hingga 18 persen. Namun, pada tahun 2009 angka persentase kemiskinan DIY menurun cukup besar yaitu dari angka 18,32 persen ke 17,23 persen. Penurunan ini disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain serangkaian program yang terdapat di dalam RPJMD pemerintah DIY (2009-2013). Strategi menurunkan angka kemiskinan dalam RPJMD dilakukan dengan cara (1) Menumbuhkembangkan pola dan bentuk jaminan sosial kepada masyarakat khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan; (2) Meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin; (3) Meningkatkan pengetahuan dan pengembangan diri perempuan; dan (4) program pemberdayaan fakir miskin. Serangkaian program ini memang berhasil menurunkan angka persentase kemiskinan namun tidak mampu mencapai target persentase kemiskinan yang telah diproyeksi oleh Dinas Sosial DIY. Dinas Sosial DIY memiliki target proyeksi penduduk miskin DIY di tahun 2009 sebesar 17,11 persen. Namun pada kenyataannya di tahun 2009 ini, dapat dilihat bahwa angka kemiskinan DIY berada pada angka 17,23 persen. Tidak tercapainya target pemerintah DIY dalam menekan angka kemiskinan adalah suatu tantangan yang harus dihadapi pemerintah DIY dalam membuat program dan kebijakan yang lebih efektif dalam menjangkau masyarakat miskin. Tidak tercapainya misi pemerintah DIY dalam menurunkan angka kemiskinan dapat dicermati dari data capaian pemerintah DIY (LAKIP DIY 2008) dalam menurunkan angka kemiskinan. Pemerintah DIY berusaha memberdayakan fakir miskin dengan rincian program, pagu anggaran dan realisasi angaran sebagai berikut: 71
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Tabel 2.5.1.4.3 Pagu Anggaran Kegiatan No Program/kegiatan Pagu (Rp) Realisasi (Rp) (persen) 1 Pelatihan ketrampilan 880.000.000 854.579.225 97,11 berusaha bagi keluarga miskin Sumber: LAKIP DIY 2008 Dari penjelasan program yang disajikan dalam tabel diatas dapat dilihat bahwa program pro-poor pemerintah DIY hanya berlandaskan pada upaya memberikan ketrampilan berusaha bagi masyarakat miskin. Program PNPM dan P2KP yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat miskin pun telah dilaksanakan pada tahun 2007. PNPM dan P2KP bertutujuan untuk menurunkan angka kemiskinan dan meningkatkan kemandirian masyarakat miskin dalam sektor ekonomi. Namun, menyelesaikan permasalahan kemiskinan tidak lah sesederhana itu. Pemerintah tidak hanya membuka lapangan pekerjaan yang luas bagi masyarakat, memberdayakan masyarakat miskin dengan cara memberikan ketrampilan berusaha, atau memberikan masyarakat miskin modal usaha untuk memulai usaha kecil mandiri. Untuk terjun ke dalam dunia bisnis, masyarakat miskin memerulukan berbagai macam proteksi untuk melindungi usaha kecilnya. Pemerintah harus memperhatikan keberlangsungan usaha kecil masyarakat miskin dalam sistem persaingan usaha yang ada. Beberapa kebijakan yang dapat disediakan pemerintah untuk melindungi usaha kecil masyarakat miskin antara lain, proteksi terhadap usaha kecil masyarakat miskin dari lajunya usaha yang dimiliki pengusaha bermodal besar, kemudahan dalam sistem perijinan dan insentif-insentif ekonomi untuk merangsang perkembangan usaha. Dari sisi ketenagakerjaan, masyarakat DIY yang bekerja sebagai buruh pabrik dengan tingkat UMP yang rendah (yang sebagian besar termasuk dalam kategori masyarakat miskin) belum berkutik. Sebagian besar serikat pekerja di Indonesia masih belum memiliki kemampuan dalam mempengaruhi kebijakan pengusaha atau pemilik modal. Seharusnya pemerintah dapat menjadi fasilitator serta pengawas dari hubungan antara 72
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi pengusaha dan serikat pekerja. Peran serikat pekerja ini dapat menguatkan posisi dan daya tawar pekerja atau buruh agar tidak diperlakukan sewenang- wenang dan terkena PHK sepihak oleh pengusaha. Dalam RPJP pemerintah DIY (2005-2009), pemerintah berupaya melalakukan penguatan untuk mencapai keunggulan daerah melalui pembangunan SDM unggul serta ekspansi perekonomian dan industri berbasis keunggulan daerah. Program yang dilakukan pemerintah dalam mewujudkan misi ini adalah menciptakan penurunan angka pengangguran dan kemiskinan, dengan prioritas pada penciptaan kesempatan kerja bagi kaum perempuan yang berpendidikan dan berketrampilan. Namun, target ini tidak dapat dicapai oleh pemerintah, walaupun program ini sudah berjalan sejak tahun 2005. Hal ini terbukti pada tahun 2008 bahwa angka pengangguran yang tinggi masih berasal dari kaum perempuan. 2.5.1.5 Pelayanan Kesejahteraan sosial Persentase pelayanan kesejahteraan sosial di propinsi DIY dapat dilihat dari dua data yaitu data yang diberikan oleh Bappenas dan data yang diberikan oleh Dinas Sosial Propinsi DIY. Data tersebut terdiri dari data tingkat kesejahteraan sosial dan data trend kesejahteraan sosial. Grafik 2.38. Tingkat Persentase Pelayanan Kesejahteraan Sosial Sumber: data Bappenas (Nasional) 73
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Grafik 2.39. Tingkat Persentase Pelayanan Kesejahteraan Sosial Sumber: data Bappenas (Nasional) Analisis Relevansi Angka persentase pelayanan kesejahteraan sosial DIY tidak dapat dicermati tahun per tahun (2005, 2006, 2007, 2008) secara spesifik. Data persentase pelayanan kesejahteraan sosial hanya bisa dilihat pada tahun 2004 hingga tahun 2009. Hal ini dikarenakan tidak memadainya data realisasi penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) serta alokasi anggaran APBN dan APBD untuk menangani masalah PMKS tersebut. Ketidaktersediaan data menyebabkan perhitungan persentase pelayanan kesejahteraan sosial tidak dapat dilakukan. Untuk melihat data capaian kinerja Dinas Sosial DIY dalam menangani masalah PMKS dapat dilihat dari tabel di bawah berikut ini: Tabel 2.5.1.5.3 Realisasi Penanganan PMKS Anak Terlantar (anak terlantar, balita terlantar, anak jalanan dan anak nakal) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 anak terlantar 12,5% 12,9% 70,5% 12,9% 9,1% 3,7% anak jalanan 252,9% 125,3% 166,3% 170,0% 53,3% 11,7% anak balita terlantar 0 0 0 0,2% 1,9% 0,3% anak nakal 23,0% 9,0% 4,1% 26,7% 25,5% 5,9% Sumber: Data olahan dari Dinas Sosial DIY 74
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Tabel 2.5.1.5.4 Realisasi Penanganan PMKS Lanjut Usia Terlantar 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Lanjut usia terlantar 1,7% 3,1% 24,9% 16,3% 14,1% 4,7% Sumber: Data olahan dari Dinas Sosial DIY Realisasi penanganan anak terlantar di DIY sangat fluktuatif. Namun tahun 2006 merupakan tahun penanganan tertinggi realisasi penanganan anak terlantar hingga mencapai angka 70,5 persen. Ini dikarenakan pada tahun 2006 jumlah anak terlantar menurun yakni hanya berjumlah 6.368 orang dan jumlah yang ditangani sebesar 4.488 orang. Sedangkan, di tahun 2004 dan 2005 jumlah anak terlantar berkisar di angka 14.947 orang, sedangkan jumlah anak terlantar yang ditangani hanya sebesar 1.870 (tahun 2004) dan 1.935 orang (tahun 2005). Pada tahun 2007 jumlah anak terlantar kembali meninggi yaitu sebesar 33.565 orang, dengan jumlah anak terlantar yang ditangani sebesar 4.335 orang. Pada tahun 2008 jumlah anak terlantar meningkat hingga berada di angka 36.468 orang, dan jumlah yang ditangani sebesar 3.305. Pada tahun 2009, jumlah anak terlantar bernilai sama dengan tahun 2008, sedangkan jumlah yang ditangani hanya sebesar 1.345. Hal ini dimaklumi karena tahun 2009 belum berakhir, sehingga pada bulan-bulan akhir tahun 2009 ini Dinas Sosial DIY masih bekerja dalam menangani PMKS anak terlantar tersebut. Anak terlantar yang berjumlah 36.468 anak (up dating data tahun 2008) juga telah mendapatkan perhatian Dinas Sosial DIY dengan pemberian bantuan permakanan. Pada tahun 2008 jumlah anak terlantar sebanyak 250 anak. Di samping itu bagi anak terlantar yang masih sekolah diberi bantuan beasiswa atau peralatan sekolah baik yang belajar di SD maupun SMP. Kegiatan ini dimaksudkan agar anak terlantar dapat mengkonsumsi gizi yang cukup dan dapat mengikuti pendidikan dan pengajaran yang layak. Disamping itu, bagi anak yang tidak mampu mengikuti jenjang pendidikan diberikan bekal ketrampilan di BLPT. Anak terlantar juga ditangani melalui sistem panti dengan diselenggarakannya bimbingan di Panti Sosial Asuhan Anak Yogyakarta yang berlokasi di Bimomartani Sleman dan Wonosari 75
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Gunungkidul. Melalui sistem panti, anak terlantar diasramakan dan mendapatkan bimbingan mental, sosial dan fasilitas keseharian. Anak terlatar juga mendapatkan bantuan untuk sekolah dari SD sampai SLTA dan diberi kursus-kursus ketrampilan seperti matematika, kesenian, terak serta computer dan bahasa inggris. Melalui sistem panti, anak terlantar dapat memiliki prestasi yang baik dengan mendapat ranking I, II, III dan sepuluh besar di sekolah. Anak yang telah lulus dan lepas dari panti sebagai berikut: Tahun 2008 lulus SD sampai dengan SLTA sebanyak 18 anak, nilai tertinggi SD 23,38; nilai tertinggi SLTP 33,95 dan nilai tertinggi SLTA/SMK 30,44. Namun, sayangnya alokasi anggaran Dinas Sosial melalui sistem panti asuhan dirasa kurang efektif. Karena dana-dana operasional untuk mengurangi jumlah anak terlantar dan pemberdayaan anak terlantar hanya ditujukan untuk cluster-cluster tertentu saja, seperti Panti Sosial Asuhan Anak Yogyakarta yang berlokasi di Bimomartani Sleman dan Wonosari Gunungkidul. Pengclusteran dana operasional ini menjadi masalah yang sangat mengganggu mengingat posisi anak terlantar berada di seluruh wilayah Yogyakarta, bukan hanya terpusat di wilayah Sleman dan Gunung Kidul saja. Disamping itu, permasalahan anak jalanan ditangani Dinas Sosial DIY melalui Rumah Singgah. Dinas Sosial DIY memberikan bantuan operasional bagi rumah singgah (change egent system), pemberian beasiswa bagi anak jalanan yang masih sekolah dan rehabilitasi sosial ketrampilan di BLK.KLK (client system). Penanganan anak jalanan juga dilakukan melalui bantuan UEP yang melibatkan orang tua yaitu dengan dilaksanakannya bimbingan bagi orang tua anak jalanan (target system). Dengan penanganan yang kompherensif, jumlah anak jalanan diharapkan dapat berkurang dengan menyentuh langsung terhadap anak jalanan, orang tua anak jalanan dan lingkungan anak jalanan. Namun, adalah hal yang ironis apabila data capaian tersebut dikaitkan dengan realisasi anggaran yang digunakan. Data tentang pembinaan panti asuhan dan panti jompo serta pagu anggaran yang digunakan menunjukkan realisasi yang mendekati 100%. Sebagaimana terlihat dalam tabel berikut. Dari deskripsi program tampak bahwa dalam 76
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi penanganan penghuni panti jompo dan panti asuhan, program pendidikan dan pelatihan menempati porsi utama dengan anggaran cukup besar. Tabel 5.1.1.5.5. Pembinaan panti asuhan/panti jompo No Program/kegiatan Pagu (Rp) Realisasi (Rp) (persen) 1 Pendidikan dan 2.893.040.975 2.763.303.700 95,52 pelatihan bagi penghuni panti asuhan/jompo 2.893.040.975 2.763.303.700 95,52 Sumber: LAKIP DIY 2008 Tabel 2.5.1.5.6. Realisasi Penanganan PMKS Rehabilitasi Sosial (Penyandang Cacat, Tunasosial, Dan Korban Penyalahgunaan Narkoba) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Penyandang cacat, tunasosial, dan korban penyalahgunaan narkoba 32,0% 14,2% 24,9% 34,3% 4,8% 3,0% Sumber: Data Olahan dari Dinas Sosial DIY Mencermati data program dan pencapaian penanganan masalah sosial di DIY serta keterkaitan dengan intensitas permasalahan maka tampak bahwa penanganan masalah sosial yang dilakukan melalui berbagai pilihan program masih menunjukkan rendahnya relevansi program terhadap masalah sosial yang muncul. Sebagai contoh, dari data tampak bahwa masalah sosial yang cukup tinggi terjadi di DIY adalah masalah Napza namun dalam pagu anggaran hal ini kurang mendapat perhatian yang memadai. Jumlah pemakai Napza di DIY yang merupakan nomor dua di Indonesia kurang memperoleh alokasi anggaran. 77
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Secara umum tampak bahwa penanganan PMKS di DIY masih belum memadai karena rendahnya pagu anggaran, kurang cermatnya pilihan kebijakan dan program. Pendekatan yang kurang pas menyebabkan program kurang mampu menjawab permasalahan. Pada sisi kelembagaan, ketidakketersediaan data base PMKS yang memadai menyebabkan penanganan terkesan kurang terencana dengan baik. Data base yang kurang terintegrasi dan tidak terpublikasi dengan baik merupakan kendala lain bagi peran serta institusi maupun elemen masyarakat lain apabila ingin terlibat dalam penanganan masalah sosial. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pencapaian yang rendah dalam penanganan PMKS disebabkan oleh faktor kelembagaan yang bertumpu pada SDM yang kurang mampu membuat pilihan-pilihan program yang pas serta rendahnya pagu anggaran. Kondisi tersebut harus dapat diatasi melalui perbaikan kenerja lembaga. Apabila kurang mendapat perhatian, maka kedepan masalah sosial di DIY akan semakin rumit dan berat dan akan mengganggu pencapaian pembangunan. Pemerintah perlu meningkatkan sinergi program dengan pemangku kepentingan lain seperti LSM, donor agency, dan organisasi masyarakat sipil yang lain. Rendahnya kinerja pemerintah DIY dalam menangani masalah PMKS juga terkait dengan kualitas SDM yang dimiliki oleh lembaga Dinas Sosial DIY. Berdasarkan buku profil Dinas Sosial tahun 2008, ditemukan data bahwa dari 212 orang jumlah total pegawai Dinas Sosial DIY, hanya 63 orang pegawai yang berijazah S1, sedangkan 84 orang pegawai lainnya hanya mengenyam pendidikan SMA. Rendahnya kualitas sumber daya manusia Dinas Sosial DIY juga memiliki pengaruh terhadap kinerja Dinas Sosial DIY dalam mengatasi masalah kesejahteraan sosial. Analisis Efektivitas Untuk mengatasi permasalahan kesejahteraan sosial, sesuai dengan fungsi dan tugasnya pemerintah DIY melaksanakan program pemberdayaan fakir miskin dan penyandang masalah kesejahteraan lainnya (PMKS). Pemberdayaan PMKS dilakukan dengan cara program pelayanan dan 78
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi rehabilitasi kesejahteraan sosial; program pembinaan anak terlantar; program pembinaan para penyandang cacat dan trauma; program pembinaan panti asuhan/panti jompo, program pembinaan eks penyandang penyakit sosial (PSK, narkoba, dan penyakit sosial lainnya) serta program pemberdayaan kelembagaan kesejahteraan sosial (LAKIP DIY 2008). Namun program kerja pemerintah DIY tersebut belum sepenuhnya dapat mengatasi permasalahan kesejahteraan sosial di DIY. Hal ini dapat terlihat dari sebagian besar realisasi penanganan PMKS berada di bawah angka 50 persen dan capaian tertinggi pada penanganan anak jalanan. Data dalam tabel tersebut menunjukkan rincian realisasi penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial yang menunjukkan capaian rendah. Jika melihat dari penurunan jumlah balita terlantar di DIY maka hal ini dikarenakan beberapa balita terlantar berhasil mendapatkan orang tua asuh melalui kegiatan fasilitas adopsi anak terlantar dan kegiatan rekomendasi adopsi anak terlantar. Kegiatan ini dilakukan dengan cara bekerjasama dengan Yayasan Sayap Ibu Yogyakarta. Pada tahun 2008, jumlah balita terlantar yang diadopsi sebanyak 10 orang. Kerjasama pemerintah DIY dengan Yayasan Sayap Ibu memang dapat menurunkan angka balita terlantar walau upaya ini tidak dapat menurunkan angka balita terlantar secara signifikan. Lalu, upaya untuk memberdayakan penyandang cacat dan eks trauma pun dilakukan dengan cara yang kurang efektif. Upaya pemberdayaan hanya dilakukan dengan cara memberikan pendidikan dan pelatihan keterampilan sehingga penyandang cacat dan eks trauma dapat membangun usaha secara mandiri. Jumlah anggaralah n yang dialokasikan untuk pendidikan dan pelatihan bagi para penyadang cacat dan eks trauma tergolong masih kecil yaitu sekitar 138.530.000 rupiah saja, coba bandingkan dengan alokasi anggaran untuk penyusunan kebijakan pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi PMKS yang berjumlah 438.000.000 rupiah. Pengalokasian anggaran yang begitu besar untuk program kerja yang tidak secara langsung menyentuh para PMKS menjadi alasan mengapa realisasi penanganan PMKS di DIY masih sangat kecil. Lagipula, untuk menjadikan para penyandang cacat dan eks trauma dapat mandiri secara ekonomi, maka pemerintah tidak hanya sebatas memberikan pendidikan dan pelatihan 79
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi ketrampilan bagi para penyandang cacat dan eks trauma tapi dapat menciptakan lapangan pekerjaan yang luas atau memberikan pinjaman modal untuk memulai usaha bagi para penyandang cacat dan eks trauma yang belum memiliki embrio usaha. Di propinsi Yogyakarta, kenaikan jumlah lansia adalah dampak langsung dari meningkatnya usia harapan hidup (UHH) di wilayah ini. Namun, peran pemerintah DIY dalam menangani masalah lanjut usia terlantar sangatlah rendah. Hal ini dapat dilihat dari realisasi penanganan lanjut usia terlantar dari tahun 2004 hingga tahun 2009 yang hanya berada di bawah angka 40 persen. Bahkan, untuk tahun 2008 dan 2009 secara berturut-turut persentase realisasi penanganan lanjut usia terlantar hanya mencapai angka 4,8 persen dan 3 persen. Rendahnya realisasi penanganan ini tidak sesuai dengan data capaian indikator kinerja pemerintah DIY yang menjelaskan bahwa persentase realisasi dari pembinaan pantijompo mencapai angka 100 persen dan pemerintah DIY telah mengalokasikan anggaran sebesar 2.763.303.700 rupiah (digabung dengan pembinaan panti asuhan) untuk pembinaan panti jompo ini. Pendekatan yang dipilih dalam menangani Napza pun terkesan kurang memadai. Pendekatan penggunaan UPSK menafikan fakta bahwa pengguna Napza merupakan kelompok yang cukup mobile (mobilitas tinggi) dan tidak seperti kondisi kemiskinan dimana mereka dapat diidentifikasi secara fisik. Pendekatan yang kurang tepat ini menyebabkan efektivitas program tidak dapat dicapai. Hal ini dapat ditunjukan dengan adanya kenaikan penggunaan Napza yang melebihi 200% serta cakupan wilayah yang sudah merambah ke pedesaan. Sangat disayangkan bahwa pendekatan UPSK hanya mampu mencover wilayah yang cukup sempit. 80
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi 2.5.2 Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol Grafik 2.40. Tingkat Pengangguran Terbuka Propinsi DIY tahun 2004-2009 Sumber: www.bps.go.id Analisis Relevansi Tingkat pengangguran terbuka DIY selalu lebih rendah jika dibandingkan dengan tingkat pengangguran terbuka nasional yang berkisar di angka 8, 9, 10 hingga 11. Dari tahun 2004 hingga tahun 2008 tingkat pengangguran terbuka DIY selalu berkisar di angka 6. Hanya pada tahun 2005 saja tingkat pengangguran meninggi hingga menembus angka 10,36. Kenaikan ini dapat dimengerti karena pada tahun 2005 telah terjadi kenaikan BBM sebesar 30% untuk barang minyak tanah, solar, premium dan pertamax. Kenaikan BBM ini sangat mempengaruhi usaha kecil yang berjalan dengan modal yang tidak besar. Sifat rentan yang dimiliki usaha kecil seperti ini menyebabkan gangguan kecil yang berasal dari luar (mis: kenaikan BBM) dapat membuat usaha ini gulung tikar. Selain itu, seringkali terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak (hanya dari pihak pengusaha) tanpa melakukan konsultasi lebih dulu dengan pihak Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi setempat (Lakip DIY 2003- 2008). PHK secara sepihak ini tentu saja dapat mengakibatkan bertambahnya angka pengangguran secara signifikan. Para buruh yang terkena PHK tidak dapat melakukan tindakan protes apapun karena posisi mereka sangat rendah dalam posisi 81
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi tawar menawar dengan pihak pengusaha. Walaupun tingkat pengangguran terbuka DIY selalu berkisar di angka 6, namun terjadi ketidakstabilan angka (naik-turun) sepanjang tahun 2004 hingga 2009. Rendahnya angka pengangguran terbuka DIY dibandingkan dengan tingkat pengangguran terbuka nasional merupakan dampak positif dari serangkaian upaya yang telah dilakukan pemerintah DIY dalam mengurangi angka pengangguran. Dalam RPJMD (2004-2009), pemerintah DIY melaksanakan strategi kebijakan berlandaskan misi persiapan dasar kompetensi SDM yang berdaya saing unggul serta konsolidasi potensi-potensi unggulan. Berangkat dari misi tersebut maka tahapan aktual yang dilakukan pemerintah DIY adalah mengurangi pengangguran melalui penciptaan dan pertumbuhan wirausaha yang prospektif didukung peningkatan investasi sektor ekonomi modern dan didukung dengan koordinasi kebijakan bidang kependudukan yang komprehensif, dengan prioritas: (1) Peningkatan motivasi dan etos masyarakat berwirausaha dengan dukungan informasi peluang usaha; (2) Peningkatan sarana permodalan; (3) Peningkatan pelatihan ketrampilan; dan (4) Penciptaan peluang kesempatan kerja dan berusaha bagi seluruh lapisan masyarakat. Dari data LAKIP DIY 2008 di bawah ini dapat disimpulkan bahwa pemerintah DIY telah berusaha membuka kesempatan kerja bagi para angkatan kerja usia produktif sehingga jumlah pengangguran di DIY dapat ditekan: Tabel 2.5.2.2 Peningkatan Kesempatan Kerja No Program/kegiatan Pagu Realisasi (Rp) (persen) 1 Pembentukan kelompok 825.487.800 803.637.800 97,35 usaha elalui perluasan kerja sistem padat karya (PKSPK) dan pendampingan. 2 Bimbingan usaha bagi 812.077.200 795.451.900 97,95 pencaker lulusan SMK (sekolah menengah kejuruan) 82
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi 3 Pembentukan wirausaha 502.321.300 497.581.500 99,06 baru melalui pendayagunaan tenaga kerja pemuda mandiri professional dan pendampingan 4 Pembentukan wirausaha 650.000.000 640.620.000 98,56 baru melalui pendayagunaan tenaga kerja mandiri terdidik (TKMT) dan pendampingan 5 Pendayagunaan tenaga 495.000.000 485.858.000 98,15 kerja sukarela (TKS) dan pendampingan 6 Pembinaan dan 700.000.000 696.159.000 99,45 pengembangan tenaga kerja mandiri sector informal (TKMSI) 7 Perluasan kesempatan 270.000.000 264.484.000 97,96 kerja sector informal melalui Grameen Bank 8 Pembinaan usaha 60.000.000 59.463.000 99,11 mandiri purna magang Jepang 9 Pengembangan 360.000.000 359.600.000 99,89 produktivitas melalui pembentukan wira usaha baru (WUB) 10 Fasilitas KKPBI 100.000.000 98.556.000 98,56 (Kelompok Kerja Produksi Buruh Informasi) 11 Penyelenggaraan bursa 190.000.000 188.240.000 99,07 kerja terbuka 12 Pembinaan dan fasilitasi 92.500.000 92.440.000 99,94 UKM binaan untuk perluasan dan pengembangan kesempatan kerja 83
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi 13 Bimbingan usaha 200.000.000 199.450.000 99,73 berbasis tepat guna bagi pencaker (pencari kerja) lulusan SD dan SLTP 14 Penyebaran informasi 91.128.600 87.367.700 95,87 pasar kerja 15 Pembinaan dan fasilitasi 225.000.000 220.855.000 98,16 penempatan tenaga kerja melalui mekanisme AKAD 16 Peningkatan 75.000.000 75.000.000 100,00 produktivitas kawasan sentra usaha 17 Updating data 107.430.000 107.430.000 100 ketenagakerjaan transmigrasi 18 Operasional bursa kerja 26.555.000 26.555.000 100 On-line 19 Fasilitas purna tenaga 250.000.000 247.126.000 98,85 kerja Indonesia wanita (TKI wanita) usaha mandiri 20 Pemberdayaan tenaga 420.000.000 416.750.000 99,23 kerja akibat PHK 21 Pembinaan dan fasilitasi 40.000.000 39.990.000 99,98 penempatan TKI asal DIY ke luar negeri 22 Perluasan dan 100.000.000 99.850.000 99,85 pengembangan kesempatan kerja melalui sistem koperasi simpan pinjam 23 Pelatihan 125.000.000 124.800.000 99,84 kewirausahaan dan fasilitas bagi UKM guna mendukung kecamatan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi 24 Penyusunan PTKD 148.441.400 146.621.400 98,77 84
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi 25 Koordinasi perencanaan 49.180.000 49.180.000 100 pengurangan pengangguran 26 Rakomis Pengurangan 50.000.000 50.000.000 100 Pengangguran 27 DGS 250.000.000 211.762.500 84,71 28 Bimbingan usaha bagi 250.000.000 247.819.000 99,13 penyandang cacat 29 Penyusunan rencana 42.250.000 42.250.000 100 kerja pengentasan pengangguran dan ketransmigrasian 30 Monitoring evaluasi dan 35.000.000 34.982.000 99,95 pelaporan 7.542.371.30 7.409.879.80 98,24 0 0 Sumber: LAKIP DIY 2008 Meski angka tingkat pengangguran terbuka DIY cukup rendah bila dibandingkan dengan angka tingkat pengangguran terbuka nasional, namun banyak persoalan mengenai ketenagakaerjaan yang masih menuntut untuk diprioritaskan oleh pemerintah. Salah satunya adalah, jumlah angkatan kerja pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan dengan kesempatan kerja yang tercipta. Akibatnya jumlah penganggguran baik yang terbuka maupun yang setengah menganggur jumlahnya cenderung meningkat. Masalah ketenagakerjaan lain yang sampai saat ini belum dapat dipecahkan secara tuntas adalah terbatasnya tingkat ketrampilan tenaga kerja, rendahnya produktivitas tenaga kerja, rendahnya kesejahteraan buruh/pegawai dan kurang mantapnya hubungan industrial tenaga kerja. Analisis Efektifitas Tingkat pengangguran DIY memang lebih rendah bila dibandingkan dengan tingkat pengangguran nasional. Namun, dari tahun 2004 hingga tahun 2006 tingkat penangguran DIY selalu meningkat. Hanya pada tahun 2007 hingga tahun 2009 saja, 85
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi tingkat pengangguran DIY menurun walau masih berkisar pada angka 6. Kondisi ekonomi yang tidak menguntungkan ditandai dengan naiknya BBM di tahun 2005, tingkat inflasi yang tinggi, resesi global hingga turunnya nilai rupiah terhadap mata uang asing menyebabkan angka tingkat pengangguran tidak pernah turun secara signifikan. Pada tahun 2006, bencana gempa bumi telah meningkatkan angka pengangguran di wilayah propinsi DIY secara accidental. Hal ini dikarenakan bencana gempa bumi telah mengakibatkan kerusakan barang-barang modal. Hilangnya barang modal yang diakibatkan gempa Mei 2006 membuat sebagian pelaku industri tidak bisa berproduksi selama beberapa bulan. Dalam RPJP pemerintah DIY (2005-2009), pemerintah berupaya melalakukan penguatan untuk mencapai keunggulan daerah melalui pembangunan SDM unggul serta ekspansi perekonomian dan industri berbasis keunggulan daerah. Program yang dilakukan pemerintah dalam mewujudkan misi ini adalah menciptakan penurunan angka pengangguran dan kemiskinan, dengan prioritas pada penciptaan kesempatan kerja bagi kaum perempuan yang berpendidikan dan berketrampilan. Namun, target ini tidak dapat dicapai oleh pemerintah, walaupun program ini sudah berjalan sejak tahun 2005. Hal ini terbukti pada tahun 2008 bahwa angka pengangguran yang tinggi masih berasal dari kaum perempuan. Dalam rangka mengatasi pengangguran terbuka yang masih tinggi, pemerintah DIY meluncurkan program peningkatan kesempatan kerja dan program peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. Melalui program peningkatan kesempatan kerja pada tahun 2007, pemerintah DIY mampu mencapai perluasan kesempatan kerja sebanyak 3.195 orang dan penempatan tenaga kerja sebanyak 5.780 orang. Sedangkan pada tahun 2008 jumlah perluasan kerja yang bisa dicapai sebanyak 6.075 orang, dan penempatan tenaga kerja sebanyak 5.536 orang. Sehingga terdapat peningkatan perluasan dan penempatan tenaga kerja sebesar 2.636 orang. Melalui program peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja, jumlah angka pengangguran, baik pengangguran terbuka maupun pengangguran terdidik dapat ditekan. Hal ini dilakukan dengan cara melatih dan memberi fasilitasi terhadap para penganggur melalui kegiatan-kegiatan pelatihan ketrampilan dari berbagai kejuruan yang ada (terutama BLK Yogyakarta), agar para pencari kerja/penganggur mempunyai bakat ketampilan sehingga bisa bersaing di pasar kerja (lokal maupun 86
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi internasional). Disamping itu diharapkan agar para alumni peserta pelatihan, bisa mandiri dan membuka usaha dengan bekal ketrampilan tersebut (LAKIP DIY 2008). Untuk membantu korban PHK, maka pemerintah DIY berusaha memberdayakan mereka melalui program peningkatan kesempatan kerja dengan kegiatan pemberdayaan tenaga kerja wanita akibat PHK. Tahun 2008 telah dilaksanakan dengan membentuk kelompok usaha bagi tenaga kerja wanita ter-PHK dengan sasaran 300 orang. Untuk tenaga kerja yang belum siap masuk Bursa Kerja telah diatasi melalui Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja. Untuk mengurangi jumlah penganguran terdidik usaha yang telah dilakukan oleh Dinas yaitu melalui beberapa kegiatan, yaitu: Bimbingan Usaha pencaker lulusan SMK, Pembentukan wirausaha baru melalui Pendayagunaan Tenaga Kerja Mandiri (TKMP) dengan sasaran lulusan SLTA, TKS, dan sebagainya (LAKIP DIY 2008). Serangkaian capaian upaya pemerintah yang dijelaskan dalam LAKIP DIY menunjukkan bahwa upaya ini berhasil menurunkan angka pengangguran di DIY. Sejak tahun 2007 angka pengangguran yang berada di angka 6,1 persen turun menjadi 6,04 persen pada tahun 2008 dan menurun lagi hingga ke angka 6 pada tahun 2009. 2.5.3 Rekomendasi Kebijakan Mencermati perkembangan kesejahteraan sosial di DIY, dapat disimpulkan bahwa secara sosial-ekonomi masyarakat cukup rentan terpengaruh perubahan- perubahan eksternal. Kajian ini menunjukkan bahwa penyebab utama dari permasalahan sosial terutama disebabkan tingginya tingkat pengangguran, tidak tertanganinya masalah keterlantaran, kecacatan dan ketunaan sosial. Disamping itu, pengaruh gempa bumi tahun 2006 cukup signifikan dalam menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Secara kelembagaan, tampak bahwa pembangunan kesejahteraan sosial yang dilaksanakan oleh lembaga terkait belum memenuhi harapan disebabkan masih rendahnya tingkat efektivitas program dan kurang tepatnya pendekatan yang digunakan. Demikian juga terkait dengan relevansi program terhadap permasalahan. 87
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi Berangkat dari beberapa fakta tersebut, rekomendasi yang dapat diberikan adalah pertama, perlunya penajaman prioritas penanganan kemiskinan melalui program-program pemberdayaan. Optimalisasi program dapat disinergikan dengan program nasional seperti PNPM, UKM, KUR, dan pendekatan kelembagaan lainnya. Hal ini diharapkan dapat mengendalikan trend penurunan kesejahteraan di DIY. Kedua, perlu dilakukan reorientasi metode dan strategi penanganan PMKS. Pengembangan baseline data, capaian program, dan kelompok sasaran perlu diefektifkan. Ketiga, revitalisasi dinas dan lembaga terkait dalam menangani masalah sosial dan ketenagakerjaan melalui reorientasi penggunaan anggaran. Pengurangan alokasi anggaran pada kegiatan koordinasi dan rapat dan lebih diupayakan penambahan anggaran untuk kegiatan pelatihan ekonomi produktif. Keempat, Optimalisasi dan perluasan cakupan beberapa program yang sudah terbukti berhasil meningkatkan kualitas kesejahteraan seperti Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja. Demikian juga dengan upaya mengurangi jumlah penganguran terdidik melalui melalui beberapa kegiatan, yaitu: Bimbingan Usaha pencaker lulusan SMK, Pembentukan wirausaha baru melalui Pendayagunaan Tenaga Kerja Mandiri (TKMP) dengan sasaran lulusan SLTA, TKS, dan sebagainya. Kelima, mengingat besarnya proporsi tenaga (PNS) berpendidikan SLTA dibandingkan yang berpendidikan S1 (sarjana) di Dinas Sosial DIY maka diperlukan adanaya program peningkatan kualitas dan kapabilitas SDM melalui peningkatan pendidikan dan pelatihan. 88
    • Laporan Akhir EKPD – Kesimpulan BAB III KESIMPULAN Tujuan dari kegiatan ini adalah melakukan evaluasi kegiatan pembangunan daerah dengan fokus kajian Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada 5 (lima) isu yang menjadi kajian ini: (1) tingkat pelayanan publik dan demokrasi; (2) tingkat kualitas sumber daya manusia; (3) tingkat pembangunan ekonomi; (4) tingkat sumber daya alam; (5) tingkat kesejahteraan sosial. Berikut ini adalah beberapa kesimpulan penting dari analisis yang dilakukan sebelumnya. 1. Tingkat Pelayanan Publik dan Demokrasi Berdasarkan analisis data, tingkat pelayanan publik di DIY lebih baik dibandingkan dengan rata-rata nasional serta mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Secara rinci, hal tersebut ditunjukkan secara konsisten oleh data yang menyangkut tingkat pemberantasan korupsi, tingkat pendidikan aparat yang memiliki pendidikan S-1 serta adanya pelayanan satu atap di masing-masing kabupaten. Kualitas demokrasi di Yogyakarta juga cukup baik walaupun cenderung mengalami penurunan dari Pemilu tahun 2004 ke Pemilu tahun 2009. Sementara itu, indikator spesifik lain seperti Gender Development Index and Gender Empowerment Index juga di atas rata- rata nasional. Untuk meningkatkan tingkat pelayanan publik, beberapa rekomendasi kebijakan yang diusulkan meliputi: (a) Melibatkan masyarakat dalam proses pembuatan kebijakan daerah; (b) Meningkatkan pendidikan aparat untuk jenjang yang lebih tinggi; (c) Meningkatkan fungsi dan transformasi nilai pelayanan di lembaga UPTSA; (d) Meningkatan GDI dan GEM di sektor publik. 2. Tingkat Sumber Daya Manusia Dari hasil analisis data, tingkat sumber daya manusia di DIY cukup baik dibandingkan dengan rata-rata nasional. Hal tersebut bisa dilihat dari indikator Umur Harapan Hidup, Angka Kematian Bayi, Angka Kematian Ibu Melahirkan dan Prevalensi 89
    • Laporan Akhir EKPD – Kesimpulan Gizi Kurang. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari peran pemerintah dalam penyediaan fasilitas kesehatan maupun kesadaran warga akan pentingnya kesehatan. Berdasarkan analisis data, di bidang pendidikan, angka partisipasi murni (APM) DIY juga lebih tinggi dari rata-rata nasional. Hanya saja, semakin tinggi tingkat pendidikan, APM tersebut semakin kurang menonjol. Sebaliknya, data tentang buta huruf justru lebih tinggi dari rata-rata nasional. Karena itu, untuk mempertahankan kondisi sumber daya manusia tersebut, pemerintah perlu meningkatkan berbagai pelayanan kesehatan seperti revitalisasi Posyandu, penambahan tenaga bidan desa, dan pelayanan kesehatan keliling. Sebaliknya, untuk meningkatkan pendidikan perlu kebijakan berupa paket pendidikan non formal dan informal. 3. Tingkat Pertumbuhan Ekonomi Berdasarkan analisis data, pertumbuhan ekonomi di DIY relatif fluktuatif. Selain itu, kondisi pertumbuhan perekonomian di DIY tidak sebaik rata-rata nasional. Dalam berbagai indikator seperti sumbangan sektor industri, pertumbuhan investasi maupun pertumbuhan ekspor, kondisinya masih rendah Karena itu, perlu beberapa orientasi kebijakan untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi: (a) meningkatkan sektor pertanian yang perannya semakin turun melalui gerakan masyarakat; (b) pembenahan tata guna lahan untuk menjaga penyediaan pangan; Selain itu tataguna lahan juga harus mendapat prioritas untuk dibenahi, kesalahan tata guna lahan akan berakibat fatal pada kemampuan penyediaan pangan di masa datang; (c) peningkatan peran UMKM melalui pengembangan kewirausahaan agar menjadi usaha yang tangguh; (d) peningkatan arus informasi bisnis melalui pembentukan kelembagaan pusat informasi bisnis; (e) peningkatan implementasi kebijakan pemerintah secara transparan dan akuntabel. 4. Tingkat Sumber Daya Alam Berdasarkan analisis data, kemampuan melakukan rehabilitasi lahan kritis di DIY melebihi kapasitas rata-rata nasional. Akan tetapi, perkembangan data yang ada menunjukkan bahwa kemampuan secara internal semakin menurun dari tahun ke tahun. 90
    • Laporan Akhir EKPD – Kesimpulan Kerusakan lingkungan dan pencemaran merupakan isu serius yang dihadapi secara nasional. Karena itu, ada beberapa program yang ditawarkan untuk menyelamatkan sumber daya alam DIY: (a) Program Pemanfaatan Potensi Sumberdaya Hutan; (b) Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan; (c) Program Perlindungan dan Konservasi Sumberdaya Hutan; (c) Program Pembinaan dan Penertiban Industri Hasil Hutan; dan (d) Program Perencanaan dan Pengembangan Hutan. 5. Tingkat Kesejahteraan Sosial Masalah utama yang masih serius di DIY adalah tingginya angka kemiskinan. Data yang ada menunjukkan bahwa persentase kemiskinan DIY melebihi tingkat nasional. Walaupun demikian, persentase kemiskinan di DIY mengalami penurunan dari tahun 2004 ke 2005. Selain itu, hal yang cukup menggembirakan adalah rendahnya tingkat pengangguran dibandingkan rata-rata nasional. Untuk memperbaiki masalah kesejahteran sosial, ada beberapa kebijakan yang bisa ditawarkan: (a) penajaman prioritas program penanggulangan kemiskinan; (b) reorientasi strategi penanganan PMKS; (c) revitalisasi kelembagaan yang menangani program; (d) optimalisasi dan perluasan cakupan program yang sudah terbukti berhasil. 91
    • Laporan Akhir EKPD – Hasil Evaluasi DAFTAR PUSTAKA Sumber Laporan Baseline Survey MAP – World Vision, 2007. Daerah Istimewa Yogyakarta Dalam Angka 2008 Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2007 Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Akhir Masa Jabatan 2003 – 2008 Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2008 Pembangunan Manusia Berbasis Gender Tahun 2007, Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia Bekerjasama dengan Badan Pusat Statistik Peraturan Daerah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2003 tentang Rencana Strategis Daerah (RENSTRADA) Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2004 – 2008 Proposal Baseline Survey Untuk Data Dasar Pelayanan Publik, Program kerjasama Partnership For Governance Reform in Indonesia bekerjasama Centre For Policy Studies (CPS) Yogyakarta, Magister Administrasi Publik UGM (MAP-UGM) Rangkuman Rencana Strategi Pemerintah Daerah Propinsi DIY Tahun 2004 – 2008 dan Rencana Strategis 31 Instansi Rencana Strategi Provinsi DIY Tahun 2003 RPJMD DIY Tahun 2009 – 2013 RPJP DIY Tahun 2005 - 2009 Statistik Indonesia Tahun 2007 Standar Pelayanan Minimal Provinsi DIY Sumber Internet KPU DIY Targetkan Partisipasi Pemilih 85%, www.compas.com, 16 Juni 2009 www.bps.go.id www. Yogyakarta.bps.go.id, 2008 92