Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI

on

  • 7,146 views

Laporan Akhir EKPD 2010 Provinsi DKI Jakarta oleh Universitas Indonesia

Laporan Akhir EKPD 2010 Provinsi DKI Jakarta oleh Universitas Indonesia

Statistics

Views

Total Views
7,146
Views on SlideShare
7,146
Embed Views
0

Actions

Likes
2
Downloads
293
Comments
2

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • URUS NIK BEACUKAI / REGISTRASI KEPABEANAN
    Peraturan Menteri Keuangan Nomor 63/PMK.04/2011 dan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor PER-21/BC/2011
    Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 124/PMK.04/2007

    - URUS NIK BEACUKAI/SRP BEACUKAI PENERBITAN BARU
    - URUS NIK BEACUKAI/SRP BEACUKAI DITOLAK
    - URUS NIK BEACUKAI/SRP BEACUKAI DIBLOKIR
    - URUS NIK BEACUKAI/SRP BEACUKAI PINDAH ALAMAT
    - URUS PERUBAHAN NIK BEACUKAI/SRP BEACUKAI Peraturan Menteri Keuangan Nomor 63/PMK.04/2011 dan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor PER-21/BC/2011
    URUS IZIN USAHA:
    - PENDIRIAN PT – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - PENDIRIAN PMA – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - PENDIRIAN CV – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - PENERBITAN APIU – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - PENERBITAN APIP – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - PENERBITAN NPIK – Seluruh Indonesia
    - PENERBITAN SRP/NIK BEACUKAI – Seluruh Indonesia
    - PENERBITAN UUG/HO
    - PENERBITAN KEAGENAN/DISTRIBUTOR
    - DLL
    Hubungi M. Samosir, SH
    PT. LEGALITAS SARANAIZIN INDONESIA
    Telp. 021-3142566
    Fax. 021-3928113.
    Mobile
    HP. 081385042000
    Flexi. 021-70940216
    Email: legal@saranaizin.com
    Pin BB 2262D175
    Website:http://www.saranaijin.com
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • URUS NIK BEACUKAI / REGISTRASI KEPABEANAN
    Peraturan Menteri Keuangan Nomor 63/PMK.04/2011 dan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor PER-21/BC/2011
    Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 124/PMK.04/2007

    - URUS NIK BEACUKAI/SRP BEACUKAI PENERBITAN BARU
    - URUS NIK BEACUKAI/SRP BEACUKAI DITOLAK
    - URUS NIK BEACUKAI/SRP BEACUKAI DIBLOKIR
    - URUS NIK BEACUKAI/SRP BEACUKAI PINDAH ALAMAT
    - URUS PERUBAHAN NIK BEACUKAI/SRP BEACUKAI Peraturan Menteri Keuangan Nomor 63/PMK.04/2011 dan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor PER-21/BC/2011
    URUS IZIN USAHA:
    - PENDIRIAN PT – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - PENDIRIAN PMA – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - PENDIRIAN CV – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - PENERBITAN APIU – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - PENERBITAN APIP – Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Krawang, Bandung
    - PENERBITAN NPIK – Seluruh Indonesia
    - PENERBITAN SRP/NIK BEACUKAI – Seluruh Indonesia
    - PENERBITAN UUG/HO
    - PENERBITAN KEAGENAN/DISTRIBUTOR
    - DLL
    Hubungi M. Samosir, SH
    PT. LEGALITAS SARANAIZIN INDONESIA
    Telp. 021-3142566
    Fax. 021-3928113.
    Mobile
    HP. 081385042000
    Flexi. 021-70940216
    Email: legal@saranaizin.com
    Pin BB 2262D175
    Website:http://www.saranaijin.com
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI Document Transcript

  •   Laporan EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009   Universitas Indonesia D E P O K                  
  •   Laporan EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 © 2009 Disusun dalam bahasa Indonesia oleh Tim EKPD UI Tahun 2009 Universitas Indonesia Gedung DRPM UI Lt. 2 Kampus UI, Depok 16424 e-mail: drpm@ui.ac.id KODE LAPORAN: - Penyusun: Tim EKPD UI Tahun 2009  
  •   KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb Merupakan sebuah kepercayaan bagi Universitas Indonesia untuk turut serta melakukan kegiatan Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah (EKPD) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta 2009 bekerja sama dengan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. Mengingat pentingnya kegiatan ini, Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DPRM) Universitas Indonesia sebagai unit yang bertanggung jawab atas kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat di lingkungan UI, diberi tugas untuk menyusun tim khusus EKPD UI. Tim ini terdiri dari dosen/peneliti di lingkungan UI yang memiliki kepakaran di bidang yang terkait dengan pelbagai program yang dievaluasi. Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah (EKPD) 2009 dilaksanakan untuk menilai relevansi dan efektivitas kinerja pembangunan daerah dalam rentang waktu 2004-2008. Evaluasi ini juga dilakukan untuk melihat apakah pembangunan daerah telah mencapai tujuan/sasaran yang diharapkan dan apakah masyarakat mendapatkan manfaat dari pembangunan daerah tersebut. Hasil evaluasi digunakan sebagai rekomendasi yang spesifik sesuai kondisi lokal guna mempertajam perencanaan dan penganggaran pembangunan pusat dan daerah periode berikutnya, termasuk untuk penentuan alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Dekonsentrasi (DEKON). Atas bantuan dan kerjasama berbagai pihak khususnya Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta kami mengucapkan banyak terima kasih. Wassalamu’alaikum Wr. Wb Depok, 30 Desember 2009 Tim EKPD UI LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | i 
  •   DAFTAR ISI Kata Pengantar .............................................................................................................. i Daftar Isi ........................................................................................................................ ii Bab I PENDAHULUAN ................................................................................................ 1 1.1. Latar Belakang dan Tujuan .......................................................................... 1 1.2. Keluaran ...................................................................................................... 2 1.3. Metodologi ................................................................................................... 3 1.4. Sistematika Penulisan Laporan ................................................................... 3 Bab II HASIL EVALUASI .............................................................................................. 4 2.1. TINGKAT PELAYANAN PUBLIK DAN DEMOKRASI …………………..… 4 2.1.1 Capaian Indikator………………………………………………………… 4 a. Pendidikan Aparatur Minimal S1…………………………………….. 8 b. Pelayanan Satu Atap…………………………………….………….… 8 c. Pelayanan Kartu Tanda Penduduk (KTP) ………………………..… 8 d. Pelayanan Puskesmas ……………………………………………..… 10 e. Pelayanan Pemakaman Umum ………………………..………........ 12 f. Pelayanan Izin Mendirikan Bangunan ……………........................... 14 g. Pelayanan Pembuatan Sertifikat Tanah ……………………..…..… 16 2.1.2. Analisis Capaian Indikator Spesifik Dan Menonjol ……………...…… 17 2.1.3. Rekomendasi Kebijakan ……………………………………………..… 18 2.2. TINGKAT KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA ……………………………..…... 20 2.2.1.A. Capaian Indikator Bidang Pendidikan ………………………….... 20 a. Indeks Pembangunan Manusia ………………………………….….. 20 b. Angka Partisipasi Sekolah SD/MI …………………………………… 20 c. Angka Melek Aksara 15 Tahun Ke Atas …………………………… 21 d. Rata-rata Nilai Akhir ....................................................................... 22 d. Angka Putus Sekolah ………………………………….…………..… 23 e. Persentase Guru yang Layak Mengajar ………………………….... 24 2.2.2. Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol beserta 32 Rekomendasi …………………………………………………..…… 2.2.1.B. Capaian Indikator dan Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol Bidang Kesehatan …………………………………….. 34 a. Peserta KB Aktif Periode 2004-2009 ………………………….…… 34 b. Angka Harapan Hidup Waktu Lahir Periode 2004-2009 …………. 35 c. Angka Kematian Bayi Periode 2004-2009 ………………………… 36 d. Angka Kematian Ibu Periode 2004-2009 ………………………..… 37 e. Prevalensi Balita Gizi Buruk Periode 2004-2009 ……………….… 38 f. Prevalensi Balita Gizi Kurang Periode 2004-2009 ……………….. 38 g. Rasio Tenaga Kesehatan Terhadap 100.000 Penduduk Periode 2004-2009 …………………………………………………... 39 LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | ii 
  •   2.3. TINGKAT PEMBANGUNAN EKONOMI ……………………………………..….… 41 2.3.1.1. Capaian Indikator …………………………………………………… 42 2.3.2.1. Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol ................... 44 A. Kondisi Ekonomi Makro Provinsi DKI Jakarta …………….. 44 a. Pertumbuhan Ekonomi DKI Jakarta ………………………... 44 b. Perkembangan Ekspor DKI Jakarta ………………………... 49 c. Perkembangan Industri Manufaktur DKI Jakarta ………….. 52 d. Perkembangan Pendapatan Per Kapita DKI Jakarta ……… 54 e. Perkembangan Inflasi DKI Jakarta ……………………….…. 55 f. Perkembangan Investasi Provinsi DKI Jakarta ………..…. 59 g. Investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN…….… 59 h. Investasi Penanaman Modal Asing (PMA) ……………….... 62 2.3.3.1. Rekomendasi Kebijakan …………………………………………..… 64 2.3.1.2. Capaian Indikator dan Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol Transportasi Darat dan Penyediaan Air Bersih ……….. 66 2.3.2.2. Rekomendasi Kebijakan …………………………………………..... 80 2.4. TINGKAT KESEJAHTERAAN SOSIAL-EKONOMI …………………………….. 82 2.4.1.Capaian Indikator ................................................................................... 82 2.4.2. Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol ........................... 82 a. Kondisi Kemiskinan DKI Jakarta ………………………………………. 83 b. Perkembangan Kondisi Ketenagakerjaan DKI Jakarta ……………… 83 c. Perkembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial bagi Anak (Terlantar, Jalanan, Balita Terlantar dan Nakal) …………....… 90 d. Perkembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial bagi Lanjut Usia ........................................................................................... 91 e. Perkembangan Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial (Penyandang Cacat, Tuna Sosial, dan Korban Penyalahgunaan Narkoba) ……….………………………………..…... 92 2.4.3. Rekomendasi Kebijakan ……………………………………..………..…. 92 BAB III KESIMPULAN ................................................................................................. 94 LAMPIRAN Matriks Data Daftar Grafik Daftar Tabel Daftar Gambar LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | iii 
  •   LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | iv 
  •     Bab I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Tujuan Pembangunan daerah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional, pada hakekatnya pembangunan daerah adalah upaya terencana untuk meningkatkan kapasitas daerah dalam mewujudkan masa depan daerah yang lebih baik dan kesejahteraan bagi semua masyarakat. Hal ini sejalan dengan amanat UU No. 32 tahun 2004 yang menegaskan bahwa Pemerintah Daerah diberikan kewenangan secara luas untuk menentukan kebijakan dan program pembangunan di daerah masing-masing. Demikian pula halnya dengan Provinsi DKI Jakarta telah membuat perencanaan pembangunannya dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) DKI Jakarta 2007-2012, yang merupakan penjabaran dari Visi, Misi, Program Gubernur terpilih Fauzi Bowo. RPJMD DKI Jakarta terdiri dari Kebijakan Umum Pembangunan Daerah, Kebijakan Umum Keuangan Daerah, Strategi dan Program SKPD, lintas SKPD, serta program kewilayahan. Adapun maksud penyusunan RPJMD DKI Jakarta 2007-2012 untuk menghasilkan program-program pembangunan daerah yang terpadu, fokus dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Sedangkan tujuannya adalah sebagai acuan penyusunan Rencana Strategis setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), arah pengembangan usaha bagi pelaku usaha dan harapan bagi setiap warga ibukota. Visi DKI Jakarta yang telah dituangkan dalam Peraturan Daerah adalah sebagai berikut: “Jakarta Yang Nyaman dan Sejahtera Untuk Semua”, dengan pemahaman sebagai berikut: A. Jakarta yang nyaman bermakna terciptanya rasa aman, tertib, tentram dan damai; B. Jakarta yang sejahtera bermakna terwujudnya derajat kehidupan penduduk Jakarta yang sehat, layak, dan manusiawi. Untuk mewujudkan visi, misi pembangunan 2007-2012 adalah sebagai berikut: a. Membangun tata kelola pemerintahan yang baik dengan menerapkan kaidah- kaidah ”Good Governance”. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 1 
  •     b. Melayani masyarakat dengan prinsip pelayanan prima. c. Memberdayakan masyarakat dengan prinsip pemberian otoritas pada masyarakat untuk mengenali permasalahan yang dihadapi dan mengupayakan pemecahan yang terbaik pada tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian pembangunan. d. Membangun sarana dan prasarana kota yang menjamin kenyamanan, dengan memperhatikan prinsip pembangunan berkelanjutan. e. Menciptakan lingkungan kehidupan kota yang dinamis dalam mendorong pertumbuhan dan kesejahteraan. Setelah berjalan sampai tahun 2009, Bappenas memutuskan untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja pembangunan seluruh provinsi di Indonesia. Provinsi DKI Jakarta termasuk di dalamnya walaupun jika dilihat dari keberlakuan RPMJD baru berakhir tahun 2012. Hal ini dilakukan karena kepemimpinan nasional dimulai tahun 2004 dan akan berakhir tahun 2009. Sebagai catatan perlu disampaikan bahwa pada periode tersebut diatas Provinsi DKI dipimpin oleh dua orang Gubernur yang berbeda, yaitu Sutiyoso dan Fauzi Bowo. Kedua orang gubernur ini memerintah dengan Visi, Misi, Renstra serta program pembangunannya sendiri-sendiri. Secara kuantitatif, evaluasi ini akan memberikan informasi penting yang berguna sebagai alat untuk membantu pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan pembangunan dalam memahami, mengelola dan memperbaiki apa yang telah dilakukan sebelumnya. Hasil evaluasi digunakan sebagai rekomendasi yang spesifik sesuai kondisi lokal guna mempertajam perencanaan dan penganggaran pembangunan pusat dan daerah periode berikutnya, termasuk untuk penentuan alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Dekonsentrasi (DEKON). 1.2 Keluaran Keluaran yang diharapkan dari pelaksanaan EKPD 2009 meliputi: 1. Terhimpunnya data dan informasi evaluasi kinerja pembangunan di Provinsi DKI Jakarta 2. Tersusunnya hasil analisis evaluasi kinerja pembangunan di Provinsi DKI Jakarta sesuai sistematika buku panduan. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 2 
  •     1.3 Metodologi Penelitian yang dilakukan adalah penelitian evaluatif yang mengutamakan penggunaan data sekunder dan pengamatan langsung. Untuk menganalisis kinerja pembangunan daerah, pendekatan yang digunakan adalah Relevansi dan Efektivitas. Relevansi digunakan untuk menganalisis sejauh mana tujuan/sasaran pembangunan yang direncanakan mampu menjawab permasalahan utama/tantangan. Dalam hal ini, relevansi pembangunan daerah dilihat apakah tren capaian pembangunan daerah sejalan atau lebih baik dari capaian pembangunan nasional. Sedangkan efektivitas digunakan untuk mengukur dan melihat kesesuaian antara hasil dan dampak pembangunan terhadap tujuan yang diharapkan. Efektivitas pembangunan dapat dilihat dari sejauh mana capaian pembangunan daerah membaik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dalam mengumpulkan data dan informasi, teknik yang akan digunakan pada Provinsi DKI adalah: Pengumpulan Data Primer Data diperoleh melalui FGD dengan pemangku kepentingan pembangunan daerah. Tim EKPD melakukan FGD dengan peserta Bappeda DKI bersama dengan sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). SKPD yang terlibat adalah mereka yang berkedudukan di Tingkat Provinsi maupun Kotamadya. Pengumpulan Data Sekunder Sejauh ini data dan informasi yang telah tersedia pada instansi pemerintah adalah data yang berasal dari BPS DKI Jakarta, Bappeda Pemda DKI Jakarta, serta dari sejumlah SKPD yang terkait.Selain itu data-data juga diperoleh dari sumber-sumber resmi lainnya. 1.4 Sistematika Penulisan Laporan Laporan ini terdiri dari 3 bab yang berisi pendahuluan, hasil evaluasi, dan kesimpulan. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 3 
  •     Bab II HASIL EVALUASI 2.1. TINGKAT PELAYANAN PUBLIK DAN DEMOKRASI 2.1.1. Capaian Indikator Kurun Waktu Tahun 2007 Pemerintah Daerah DKI Jakarta sejauh ini telah melakukan berbagai upaya perbaikan pelayanan diberbagai sektor pemerintahan. Penyelenggaraan Pemerintahan mengacu pada Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2002 tentang Rencana Strategis Daerah (Renstrada) 2002-2007. Sesuai dengan Renstrada 2002-2007, program Pemerintah Daerah dikelompokan dalam 8 (delapan) Bidang Pembangunan. Berdasarkan prioritas anggaran, kedelapan bidang pembangunan tersebut dikelompokkan menjadi Program Dedicated dari Prioritas Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD). Dengan demikian, program pemerintah daerah adalah sebagai berikut: 1. Program Dedicated 2. Program prioritas SKPD: a. Bidang Hukum, Ketentraman, Ketertiban Umum, dan Kesatuan Bangsa b. Bidang Pemerintahan c. Bidang Ekonomi d. Bidang Pendidikan dan Kesehatan e. Bidang Sosial Budaya f. Bidang Kependudukan dan Tenaga Kerja g. Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup h. Bidang Sarana Prasarana Kota Pencapaian Program Dedicated sampai tahun 2007 dapat dilihat pada deskripsi di bawah ini: Pembebasan Tanah Banjir Kanal Timur Sejauh ini telah dibebaskan tanah untuk Banjir Kanal Timur sebesar 72,82% dari total lahan yang harus dibebaskan a. Normalisasi Sungai, Situ, Saluran dan Waduk Terlaksananya pembebasan tanah untuk pembangunan Waduk Sunter Hulu, Cimanggis, Cilangkap, Rawa Lindung. Demikian pula terlaksananya sebagian dari normalisasi Kali Banglio, Kali Tanjungan dan Kali Ciliwung Gajah Mada, LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 4 
  •     serta berfungsinya saluran penghubung dan saluran mikro sepanjang 13,59 km. b. Pelabuhan Penumpang Muara Angke Dalam rangka pembangunan pelabuhan Muara Angke, sejauh ini telah terbangun dermaganya. c. Busway Hasil yang dicapai sampai tahun 2007 adalah terlaksananya pemeliharaan jalur Busway koridor I – VII, tersedianya jalur Busway (termasuk separator) Koridor VIII (Lebak Bulus-Harmoni), Koridor IX (Pinang Ranti-Grogol-Pluit), Koridor X (Cililitan-Tanjung Priok), berfungsinya lokasi park and ride di Halte Ragunan dan Halte Kampung Rambutan, serta terbangunnya pool Busway di Cililitan dan Daan Mogot (eks PPD). d. Perumahan Dari rencana pembangunan rumah susun sebanyak 2008 unit, telah direalisasikan sebanyak 1700 unit yang terdiri dari 1200 unit Rusun Marunda, 280 unit Rusun Pinus Elok, 63 unit Rusun Cakung Barat, 48 Unit Rusun Pulo Jahe dan 100 unit Rusun Pulo Gebang atau 85% dari target rencana. e. Program Peningkatan Kualitas Pelayanan Kelurahan dan Kecamatan Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan di tingkat kelurahan dan pelayanan, Gubernur DKI telah membuat Peraturan Gubernur (Pergub) No. 46 Tahun 2006 tentang Pelimpahan Wewenang Sebagian Urusan Pemerintahan Daerah dari Gubernur kepada Walikotamadya/Bupati Kabupaten Administratif, Camat dan Lurah. Saat ini Peraturan Gubernur tersebut sudah dilaksanakan. f. Kesehatan Berfungsinya pelayanan keluarga miskin dan bencana bagi 320.763 pasien di 82 Rumah Sakit serta 44 Puskesmas. Laporan yang berkaitan dengan Provinsi DKI Jakarta tidak lengkap karena kesulitan untuk mendapatkan data dari instansi-instansi pemerintah yang ada (SKPD) walaupun Bappeda bersifat sangat membantu. Selain mendapatkan sebagian data dari Pemda DKI Jakarta, sebagian data diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Transparansi Internasional untuk data Pelayanan Publik dan Korupsi, serta dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang berkaitan dengan integritas yang berkaitan dengan korupsi dan pelayanan publik. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 5 
  •     Kurun Waktu Tahun 2008 Kurun waktu 2008 ditandai dengan sulitnya mendapatkan data yang berkaitan dengan pelayanan publik di DKI Jakarta. Oleh karena itu tim mengambil data dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Transparansi Internasional tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK) seperti yang dapat dibaca di bawah ini. Transparansi Internasional melakukan penelitian terhadap 50 kota di Indonesia yang terdiri dari 33 ibukota provinsi dan 17 kota besar lainnya. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: A. Sepuluh kota terbaik terdiri dari: 1. Yogyakarta 6. Surakarta 2. Palangkaraya 7. Tasikmalaya 3. Banda Aceh 8. Banjarmasin 4. Jambi 9. Samarinda 5. Mataram 10. Pangkal Pinang B. Ranking 11 sampai 40: 11. Ternate 21. Semarang 31. Surabaya 12. Jayapura 22. Bandar Lampung 32. Denpasar 13. Malang 23. Serang/Cilegon 33. Sibolga 14. Jember 24. Palu 34. Lhokseumawe 15. Kediri 25. Bengkulu 35. Mamuju 16. Balikpapan 26. Batam 36. Jakarta 17. Gorontalo 27. Sorong 37.Manado 18. Makassar 28. Tenggarong 38. Pematang Siantar 19. Padang 29. Tanjung Pinang 39.Palembang 20. Sampit 30. Ambon 40. Medan C. Ranking 10 terendah 41. Cirebon 46. Purwokerto 42. Pontianak 47. Kendari 43. Bandung 48. Manokwari 44. Padang Sidempuan 49. Tegal 45. Pakan Baru 50. Kupang LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 6 
  •     Data di atas memperlihatkan Provinsi DKI Jakarta berada pada ranking 36 dari 50 kota yang disurvei oleh Transparansi Internasional. Data di atas memperlihatkan bahwa kondisi pelayanan publik yang berkaitan dengan korupsi cukup memprihatinkan di DKI Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Indonesia. Kurun Waktu 2009 Pada penelitian yang sama, yaitu yang bertemakan korupsi dan pelayanan publik, KPK mengurut 10 Provinsi dengan hasil Pemerintah DKI Jakarta ada pada peringkat 8 dengan nilai integritas 5,65. Ini artinya baik dilihat dari ranking unit pelayanan maupun provinsi yang menjadi sampel penelitian, Provinsi DKI Jakarta mendapat nilai integritas pelayanan publik yang cukup buruk. Nilai Integritas 10 Pemerintah Provinsi Tahun 2009  Nilai Pengalaman Potensi No Prov Integritas Integritas Integritas 1 Jawa Timur 7,15 7,46 5,94 Kalimantan 2 7,04 7,56 5,51 Selatan 3 Jawa Barat 6,81 7,09 5,97 4 Kalimantan Timur 6,73 7,10 5,64 5 Bali 6,53 6,67 6,08 6 Lampung 6,25 6,41 5,78 7 Sumatera Utara 6,06 6,17 5,72 8 DKI Jakarta 5,65 5,67 5,61 9 Sulawesi Utara 4,80 4,66 5,23 10 Sulawesi Selatan 4,75 4,55 5,34 Rata-rata 6,18 6,33 5,68 5                           Tabel 1. Nilai Integritas 10 Pemerintah Provinsi Tahun 2009 Selain itu pada penelitian yang sama KPK juga melakukan penelitian terhadap 39 unit pelayanan yang tersebar di seluruh Indonesia. Ada 4 unit pelayanan Pemda DKI Jakarta yang terambil sebagai sampel. Masing masing adalah RSUD DKI berada pada rangking 6 terbaik dengan nilai integritas 7,28, rangking 28 adalah Dinas Koperasi dan UKM DKI dengan nilai integritas sebesar 5,78, rangking 31 Lintas Instansi DKI dengan nilai integritas sebesar 5,11, rangking 34 Dinas Perhubungan DKI dengan nilai integritas sebesar 4,43. Secara keseluruhan nilai integritas tertinggi adalah 7,42 diperoleh RSUD Provinsi Jawa Timur, sedangkan nilai terendah adalah 3,72 diperoleh Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 7 
  •     Selatan. Dapat disimpulkan sejauh berkaitan dengan pelayanan publik dan korupsi, kinerja Provinsi DKI dapat dikatakan masih buruk. a. Pendidikan Aparatur Minimal S1 Berkaitan dengan indikator pendidikan aparatur yang berijazah minimal S1 data menunjukan adanya kenaikan mulai dari tahun 2005 sampai tahun 2009. Data tersebut adalah sebagai berikut: Jumlah  Tahun  (Persentasi)  2005  29,17  2006  31,61  2007  33,34  2008 36,02 2009  39,18  Tabel 2. Persentase Jumlah Aparat Yang Berijazah Minimal S1 Jumlah Persentase Aparat yang berijazah Minimal S1 untuk tahun 2005 adalah 29,17 persen, tahun 2006 31,61 persen, tahun 2007 33,34 persen, tahun 2008 36,02 persen serta tahun 2009 39,18 persen. Data di atas menunjukan kondisi yang lebih baik dari rata-rata nasional. b. Pelayanan Satu Atap Di Provinsi DKI Jakarta sudah sejak lama terdapat Kantor Pelayanan Satu Atap (SAMSAT), namun kantor ini hanya terpadu dalam arti lokasi dan belum dalam arti kewenangan. Berbeda dengan yang ada pada sejumlah provinsi, keterpaduan diwujudkan dalam Dinas Perijinan. Dengan demikian kualitas pelayanan sistem satu atap yang ada pada Provinsi DKI belum mampu mempercepat proses pelayanan. Hal ini disebabkan karena masing-masing instansi harus kembali lagi ke instansi asalnya untuk pengambilan keputusan. c. Pelayanan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Persepsi terhadap pelayanan KTP di Kelurahan menurut data survei 83,33 persen memperoleh hasil puas atas pelayanan KTP, 11,90 persen kurang puas serta 4,17 persen menunjukkan tidak puas pada pelayanan pembuatan KTP di Kelurahan. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 8 
  •         a. Persepsi terhadap Pelayanan KTP di Kelurahan     12% 4%     84%       Puas Kurang Puas Tidak Puas   Grafik 1. Persepsi Terhadap Pelayanan KTP di Kelurahan   Waktu penyelesaian pengurusan KTP membutuhkan waktu satu hari untuk perpanjangan serta dalam hal pembuatan baru, mutasi hilang maka dibutuhkan waktu maksimum 14 hari. Persepsi terhadap jangka waktu pengurusan KTP 74,03 persen menunjukkan puas, 21,79 persen menyatakan kurang puas, selebihnya yaitu 4,18 persen menunjukkan tidak puas terhadap lama waktu penyelesaian pembuatan KTP di kelurahan.       b. Persepsi terhadap jangka waktu pengurusan KTP   4%   22%     74%     Puas Kurang Puas Tidak Puas   Grafik 2. Persepsi Terhadap Jangka Waktu Pengurusan KTP di Kelurahan Pelayanan masyarakat bidang administrasi kependudukan di DKI Jakarta berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 dan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1997 tentang Retribusi Daerah, Peraturan Daerah Nomor 6-7 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Pendaftaran Penduduk dalam kerangka Sistem Informasi Manajemen Kependudukan (SIMDUK) dalam wilayah DKI Jakarta, serta Instruksi Gubernur KDKI Jakarta Nomor 134 Tahun 1998 tentang Penghentian Pungutan Beberapa Jenis Pajak Daerah dan LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 9 
  •     Retribusi Daerah DKI Jakarta menyatakan bahwa dalam rangka pengurusan administrasi kependudukan tidak dikenakan biaya, dalam data menunjukkan persepsi terhadap biaya pengurusan KTP menunjukkan data persentasi: 77,20 persen menyatakan puas, 18,54 persen kurang puas serta 4,26 persen menyatakan tidak puas atas pelayanan biaya pembuatan KTP. Serta persepsi terhadap biaya pihak ketiga menyatakan data 55,11 persen menyatakan puas, 22,73 persen meyatakan kurang puas serta 22,16 persen menyatakan tidak puas dalam rangka pembiayaan pembuatan KTP pihak ketiga.   c. Persepsi terhadap biaya pengurusan KTP     4%   19%     77%     Puas Kurang Puas Tidak Puas   Grafik 3. Persepsi Terhadap Biaya Pengurusan KTP di Kelurahan d. Pelayanan Puskesmas Berdasarkan hasil survei persepsi dan kepuasan publik oleh Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), sebanyak 87,59 persen warga menyatakan puas terhadap pelayanan Puskesmas Kecamatan. Sedangkan yang merasa kurang puas mencapai 16,80 persen, dan hanya 3,67 persen mengaku tidak puas. a. Persepsi terhadap Pelayanan Puskesmas 11% 1% 88% Puas Kurang Puas Tidak Puas   Grafik 4. Persepsi Terhadap Pelayanan Puskesmas LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 10 
  •     Terhadap biaya pengobatan di Puskesmas, warga menganggap sudah sangat memadai. Terbukti dari responden yang menyatakan puas terhadap biaya yang dikenakan saat berobat di puskesmas mencapai 94,06 persen. Responden yang menyatakan kurang puas hanya 5,68 persen, dan yang tidak puas hanya 0,26 persen. b. Persepsi terhadap biaya pengobatan 0% 6% 94% Puas Kurang Puas Tidak Puas Grafik 5. Persepsi Terhadap Biaya Pengobatan Sementara itu, berdasarkan hasil survei Dinas Kesehatan DKI, mayoritas pasien menginginkan pelayanan yang ramah dan cepat. Untuk itu, Dinas Kesehatan telah melakukan peningkatan kualitas pelayanan mulai dari loket sampai poliklinik dengan pola 3S yaitu Senyum, Sapa dan Salam, juga melakukan pembinaan sumber daya manusia seperti pelatihan service excellent, serta rutin melaksanakan Gugus Kendali Mutu yang salah satunya adalah menindaklanjuti keluhan pelanggan. Persepsi terhadap lama waktu pelayanan Puskesmas menunjukkan data 87,59 persen menyatakan puas, 5,68 persen kurang puas serta 0,26 persen tidak puas. b. Persepsi terhadap Lama Waktu Pelayanan Puskesmas 4% 17% 79% Puas Kurang Puas Tidak Puas Grafik 6. Persepsi Terhadap Lama Waktu Pelayanan Puskesmas LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 11 
  •     e. Pelayanan Pemakaman Umum Persepsi terhadap pelayanan pemakaman umum DKI Jakarta menunjukkan angka 68,33 persen menunjukan puas serta 24,17 persen menunjukkan kurang puas dan 7,50 persen meyatakan tidak puas atas pelayanan pemakaman umum. a. Persepsi terhadap pelayanan pemakaman umum 20% 17% 63% Puas Kurang Puas Tidak Puas Grafik 7. Persepsi Terhadap Pelayanan Pemakaman Umum Jangka waktu pengurusan pemakaman menunjukkan angka 76,79 persen menyatakan puas, 17,41 menyatakan kurang puas dan yang tidak puas sebesar 5,8 persen. b. Persepsi terhadap lama pengurusan pemakaman 6% 17% 77% Puas Kurang Puas Tidak Puas Grafik 8. Persepsi Terhadap Lama Pengurusan Pemakaman LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 12 
  •     Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2006 tentang Retribusi Daerah menyatakan besaran biaya yang harus dikeluarkan dalam rangka pengurusan pemakaman umum di DKI Jakarta. Biaya Perizinan Pelayanan Pemakaman: 1. Izin pemasangan plaket makam Rp30.000,00/izin 2. Izin mengangkut jenazah keluar negeri Rp20.000,00/jenazah 3. Izin mengangkut jenazah keluar wilayah Provinsi DKI Rp10.000,00/jenazah Jakarta Izin tahan jenazah setelah 24 jam 4. Rp10.000,00/24 jam Penambahan lebih dari 1 hari sampai dengan paling Rp2.000,00/hari lama 5 hari 5. Rp10.000,00/jenazah/ Izin pengabuan jenazah/kerangka jenazah kerangka 6. Izin penggalian dan pemindahan jenazah/ kerangka Rp10.000,00/jenazah/ jenazah kerangka 7. Izin usaha dan daftar ulang izin usaha dibidang Rp250.000,00/tahun pelayanan pemakaman atau pengabuan (kremasi) Berdasarkan persepsi terhadap biaya pengurusan pemakaman umum di DKI Jakarta maka hasil survei menunjukkan data 57,21 persen meyatakan kepuasan, 30,63 persen kurang puas serta angka 10,74 persen yang meyatakan tidak puas dalam pembiayaan pengurusan pemakaman umum. Data ini menunjukkan ketidaksesuaian antara biaya peizinan pelayanan pemakaman pada Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2006 tentang Retribusi Daerah dengan implementasi pengurusannya. c. Persepsi terhadap biaya pemakaman umum 12% 31% 57% Puas Kurang Puas Tidak Puas   Grafik 9. Persepsi Terhadap Biaya Pemakaman Umum LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 13 
  •     f. Pelayanan Izin Mendirikan Bangunan Berdasarkan Keputusan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 76 Tahun 2000 Tentang Tata Cara Memperoleh Izin Mendirikan Bangunan, Izin Penggunaan Bangunan Dan Kelayakan menggunakan Bangunan Di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta serta Surat Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor: 147 Tahun 2000 "Tentang Pendelegasian Wewenang Pelayanan Penetapan Keterangan Rencana Kota (KRK) dan Penetapan Izin Pendahuluan (IP) Mendirikan Bangunan pada seksi P2K Kecamatan". Menerangkan bahwa IMB adalah izin yang diberikan untuk melakukan kegiatan membangun yang dapat diterbitkan apabila rencana bangunan dinilai telah sesuai dengan ketentuan yang meliputi aspek pertanahan, aspek planologis, aspek teknis, aspek kesehatan, aspek kenyamanan dan aspek lingkungan. Bangunan yang tidak memiliki IMB akan terkena sanksi yaitu tindakan penertiban. Untuk mendapatkan IMB, pertama pemohon harus datang ke SUDIN Pengawasan Pembangunan Kota Wilayah setempat, di mana bangunan itu akan didirikan, untuk mengajukan PIMB. Sebelumnya terlebih dahulu pemohon harus menyiapkan dan melengkapi berkas permohonan yang akan diajukan. Persepsi terhadap pelayanan pengurusan IMB menurut data survei 40,00 persen menyatakan puas, 38,26 persen kurang puas serta 21,74 persen menyakan tidak puas dalam pelayanan pembuatan izin mendirikan bangunan di DKI Jakarta. a. Persepsi terhadap pelayanan pengurusan IMB 22%  40% 38%  Puas Kurang Puas Tidak Puas Grafik 10. Persepsi Terhadap Pelayanan Pengurusan IMB LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 14 
  •     Persepsi terhadap lama waktu pengurusan waktu pengurusan IMB menurut survei adalah 36,79 persen menyatakan puas, 42,45 persen kurang puas serta tidak puas pada pelayanan pengurusan waktu pengurusan IMB adalah 20,75 persen. b. Persepsi terhadap lama waktu pengurusan IMB  21% 37% 42% Puas  Kurang Puas Tidak Puas Grafik 11. Persepsi Terhadap Lama Waktu Pengurusan IMB Persepsi terhadap biaya pengurusan IMB adalah 35,24 persen menyatakan puas, 44,76 persen kurang puas serta 20,00 persen tidak puas. c. Persepsi terhadap biaya pengurusan pembuatan IMB 20% 35% 45% Puas  Kurang Puas Tidak Puas Grafik 12. Persepsi Terhadap Biaya Pengurusan Pembuatan IMB Persepsi terhadap pelayanan pihak ketiga dalam pengurusan IMB adalah 60,92 persen menunjukkan puas, kurang puas di angka 19,54 persen serta yang tidak puas 19,54 persen. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 15 
  •     d. Persepsi terhadap pihak ketiga pengurusan pembuatan IMB 20% 19% 61% Puas Kurang Puas Tidak Puas Grafik 13. Persepsi Terhadap Pihak Ketiga Pengurusan Pembuatan IMB g. Indikator Pelayanan Pembuatan Sertifikat Tanah Persepsi terhadap pelayanan pembuatan sertifikat tanah menurut survei adalah 45,70 persen menunjukkan puas terhadap pelayanan pembuatan sertifikat tanah, 39,74 persen kurang puas serta 14,57 persen menyatakan tidak puas. a. Persepsi terhadap pelayanan pembuatan sertifikasi tanah 14% 46% 40% Puas Kurang Puas Tidak Puas   Grafik 14. Persepsi Terhadap Pelayanan Pembuatan Sertifikasi Tanah Persepsi terhadap lama waktu pembuatan sertifikasi tanah menunjukkan angka 34,51 persen menyatakan puas, 53,52 persen kurang puas serta 11,97 persen tidak puas atas waktu yang diperlukan dalam pengurusan pembuatan sertifikat tanah. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 16 
  •     b. Persepsi terhadap lama waktu pembuatan sertifikasi tanah 12% 35% 53% Puas  Kurang Puas Tidak Puas   Grafik 15. Persepsi Terhadap Lama Waktu Pembuatan Sertifikasi Tanah Persepsi terhadap biaya pengurusan pembuatan pengurusan sertifikat tanah adalah 35,62 persen menyatakan puas, 52,05 persen kurang puas dan 12,33 persen tidak puas pada pembiayaan yang dikeluarkan dalam pengurusan sertifikat tanah. c. Persepsi terhadap biaya pengurusan pembuatan sertifikasi tanah 12% 36% 52% Puas Kurang Puas Tidak Puas Grafik 16. Persepsi Terhadap Biaya Pengurusan Pembuatan Sertifikasi Tanah 2.1.2. Analisis Capaian Indikator Spesifik Dan Menonjol Dari hasil penelitian mengenai korupsi dan pelayanan publk dari kurun waktu 2008-2009 yang dilakukan oleh Transparansi Internasional dan KPK meperlihatkan kondisi yang memprihatinkan di DKI Jakarta sebagai Ibu Kota LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 17 
  •     Negara Indonesia. Dalam laporan penelitian yang disususun oleh KPK, tidak ada perubahan menuju ke arah yang lebih baik dari tahun 2008 sampai 2009. Dapat disimpulkan sejauh berkaitan dengan pelayanan publik dan korupsi, kinerja Provinsi DKI dapat dikatakan masih buruk. Walaupun secara umum permasalahan korupsi dan pelayanan publik masih buruk di DKI Jakarta, tetapi ada beberapa hal yang cukup baik di DKI Jakarta seperti indikator pendidikan aparatur minimal S1 yang berada di atas rata-rata nasional. Selain itu hasil survei mengenai persepsi dan kepuasan publik oleh Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), menyimpulkan ada beberapa layanan yang dipersepsikan oleh masyarakat DKI Jakarta pada level yang cukup memuaskan dalam pelayananannya seperti pelayanan KTP dan Puskesmas. Sedangkan indikator pelayanan satu atap, pengurusan IMB dan pembuatan sertifikat tanah masih belum menunjukkan level yang memuaskan bagi masyarakat di DKI Jakarta. 2.1.3. Rekomendasi Kebijakan Dari hasil penelitian mengenai korupsi dan pelayanan publk dari kurun waktu 2008-2009 yang dilakukan oleh Transparansi Internasional dan KPK meperlihatkan kondisi yang memprihatinkan di DKI Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Indonesia. Dalam laporan penelitian yang disususun oleh KPK, tidak ada perubahan menuju ke arah yang lebih baik dari tahun 2008 sampai 2009. Dapat disimpulkan sejauh berkaitan dengan pelayanan publik dan korupsi, kinerja Propinsi DKI dapat dikatakan masih buruk. Walaupun secara umum permasalahan korupsi dan pelayanan publik masih buruk di DKI Jakarta, tetapi ada beberapa hal yang cukup baik di DKI Jakarta seperti indikator pendidikan aparatur minimal S1 yang berada di atas rata-rata nasional. Selain itu hasil survei mengenai persepsi dan kepuasan publik oleh Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), menyimpulkan ada beberapa layanan yang dipersepsikan oleh masyarakat DKI Jakarta pada level yang cukup memuaskan dalam pelayananannya seperti pelayanan KTP dan Puskesmas. Sedangkan indikator pelayanan satu atap, pengurusan IMB dan pembuatan sertifikat tanah masih belum menunjukkan level yang memuaskan bagi masyarakat di DKI Jakarta. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 18 
  •     Untuk itu di rekomendasikan perbaikan dan reformasi administrasi di lingkungan Pemprov DKI Jakarta untuk memperbaiki kualitas pelayanan publik dan penerapan secara ketat standar pelayanan minimum. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 19 
  •     2.2. TINGKAT KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA 2.2.1. A. Capaian Indikator Bidang Pendidikan Berdasarkan data yang diperoleh dari Sekretariat Nasional EKPD, sehubungan dengan capaian indikator “Tingkat Kualitas Sumber Daya Manusia” untuk Provinsi DKI Jakarta dan disandingkan dengan capaian di tingkat nasional, didapat data sebagai berikut : a. Indeks Pembangunan Manusia Untuk capaian tingkat Provinsi pada tahun 2004 sebesar 75,80 %, tahun 2005 sebesar 76,10%, tahun 2006 sebesar 76,30 %, tahun 2008 sebesar 77,03 %. Sedangkan untuk tingkat nasional berturut turut tahun 2004, 2005, 2006 dan 2007, yaitu sebesar 68,7%, 69,8%, 70,1% dan 70,59%. Indeks Pembangunan Manusia 78,00 77,03 76,40 76.30 76,10 - 75,80 - 70,59 68,70 - 2004 2005 2006 2007 2008 Indeks Pemb manusiaProvinsi (outcomes) Indeks Pemb Manusia Nasional (outcomes) Grafik 17. Indeks Pembangunan Manusia Provinsi DKI Dan Nasional b. Angka partisipasi sekolah SD/MI Untuk capaian tingkat provinsi tahun 2004 sebesar 95,00, tahun 2005 meningkat menjadi 96,15%, tahun 2006 meningkat lagi menjadi 97,12. tetapi tahun 2007 turun sedikit menjadi 96,71%. Sedangkan untuk tingkat nasional, capaian angka partisipasi sekolah SD/MI adalah berturut turut tahun 2004, 2005, 2006, 2007 dan 2008 adalah sebesar 93%, 93,3%, 93,54%, 93,75%, dan 93,98%. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 20 
  •       ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH SD/MI : 90.00 97,12 96,71 96,15 95,00 93,98 93,75 - 93,30 - 78.00 - 2004 2005 2006 2007 2008 Angka Partisipasi Sekolah Provinsi (outcomes) Angka Partisipasi Sekolah Nasional (outcomes) Grafik 18. Angka Partisipasi Sekolah DKI dan Nasional c. Angka Melek Aksara 15 Tahun Ke Atas Untuk capaian tingkat Provinsi pada tahun 2004 sebesar 98,44%, tahun 2005 sebesar 98,48%, tahun 2006: 98,34%, tahun 2007: 98,83% dan tahun 2009 sebesar 98,76 %. Untuk capaian tingkat nasional pada indikator angka melek aksara 15 tahun ke atas, yaitu berturut-turut tahun 2004, 2005, 2006, 2007 dan 2008 yaitu sebesar 90,4%, 90,90%, 91,50%, 91,87% dan 92,19%. ANGKA MELEK AKSARA 15 TAHUN KE ATAS : 99.00 98,83 98,34 98,30 91,87 91,50 90,40 90.00 2004 2005 2006 2007 2008 Angka Melek Aksara 15 Tahun Ke atas Prov Angka Melek Aksara 15 th ke atas tk Nasional Grafik 19. Angka Melek Aksara 15 tahun ke atas DKI dan Nasional LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 21 
  •     d. Rata-rata Nilai Akhir Untuk capaian tingkat Provinsi tahun 2004 untuk SMP 5,20 dan SMA 5,12, tahun 2005 untuk SMP 5,88 dan SMA 6,12, tahun 2006 untuk SMP 5,88 dan SMA 6,45, tahun 2997 SMP 5,88 dan SMA 6,68 dan tahun 2008 untuk SMP 7,16 dan SMA 6,74. Dan untuk capaian tingkat nasional tahun 2004 untuk SMP 4,8 dan untuk SMA 4,77. Tahun 2005 untuk SMP 5,42 dan untuk SMA 5,77. Untuk tahun 2006 tingkat SMP 5,42 dan untuk SMA 5,94. Tahun 2007 untuk SMP 5,42 dan untuk SMA 6,28. Tahun 2008 untuk SMP 6,05 dan untuk SMA 6,35. RATA-RATA NILAI AKHIR SMP/MTS : 7.50 7,16 6,05 5,88 5,42 5,20 4,80 - 4,50 - 2004 2005 2006 2007 2008 Rata-rata Nilai Akhir SMP Provinsi (outcomes) Rata-rata Nilai Akhir SMP Nasional (outcomes) Grafik 20. Rata-Rata Nilai Akhir SMP DKI dan Nasional RATA-RATA NILAI AKHIR SMA/SMK : 7.50 6,74 6,68 6,45 6,28 6,12 5,94 5,77 5,12 4,77 - 4,50 - 2004 2005 2006 2007 2008 Rata-rata Nilai Akhir SMA Provinsi (outcomes) Rata-rata Nilai Akhir SMA Nasional (outcomes) Grafik 21. Rata-Rata Nilai Akhir SMP DKI dan Nasional LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 22 
  •     e. Angka Putus Sekolah Untuk capaian tingkat Provinsi tahun 2004 untuk SD 2,79%, SMP 3,70% dan untuk SMA 4,20%, tahun 2005 untuk SD 5,59%, SMP 0,37% dan untuk SMA 3,00%, tahun 2006 untuk SD 1,78%, SMP 1,87% dan untuk SMA 2,89%, tahun 2007 untuk SD2,43%, SMP 0,77% dan untuk SMA 1,84%. Selanjutnya untuk capaian tingkat nasional pada tahun 2004, untuk tingkat SD 2,97%, SMP 2.83% dan SMA 3,14%. Tahun 2005 untuk SD 3,17%, SMP 1,97% dan SMA 3,08%. Tahun 2006 untuk SD 2,41%, SMP 2,88% dan SMA 3,33%. Tahun 2007 untuk SD 1,81%, SMP 3,94% dan SMA 2,68%. ANGKA PUTUS SEKOLAH SD : 7.00 6,35 5,59 3,17 2,97 2,79 2,43 2,41 1,81 1,78 - 1,50 - 2004 2005 2006 2007 2008 Angka Putus Sekolah SD tk Provinsi (outcomes) Angka Putus sekolah SD tk Nasional (outcomes) Grafik 22. Angka Putus Sekolah DKI dan Nasional ANGKA PUTUS SEKOLAH SMP : 5.00 3,94 3,70 2,97 2,88 2,83 1,97 1,87 0,77 - 0,37 0 - 2004 2005 2006 2007 2008 Angka Putus Sekolah SMP tk Provinsi (outcomes) Angka Putus sekolah SMP tk Nasional (outcomes) Grafik 23. Angka Putus Sekolah SMP DKI dan Nasional LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 23 
  •     ANGKA PUTUS SEKOLAH SMA : 5,00 4,20 3,33 3,14 3,08 3,00 2,89 2,68 - 1,84 1 - 2004 2005 2006 2007 2008 Angka Putus Sekolah SMA tk Provinsi (outcomes) Angka Putus sekolah SMA tk Nasional (outcomes) Grafik 24. Angka Putus Sekolah SMA DKI dan Nasional f. Persentase Guru Yang Layak Mengajar Untuk capaian tingkat Provinsi tahun 2004 untuk SMP 85,94% dan SMA 66,24%, tahun 2005 untuk SMP 85,91% dan SMA 68,81%, tahun 2006 untuk SMP 82,67% dan SMA 85,91%, tahun 2007 untuk SMP 89,67% dan SMA 86,24%. Sedangkan untuk tingkat nasional tahun 2004 untuk SMP 81,12% untuk SMA 69,47. Tahun 2005 tingkat SMP 81,01% dan untuk SMA 72,44%. Tahun 2006 untuk SMP 78,04% dan untuk SMA 82,55%. Tahun 2007 untuk SMP 86,26% dan untuk SMA 84,05%. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 24 
  •     PERSENTASE GURU YANG LAYAK MENGAJAR SMP : 99.00 89,67 85,94 85,91 82,67 80.00 2004 2005 2006 2007 2008 Persentase Guru yang layak Mengajar SMP Prov Persentase guru yg layak mengajar SMPNasional Grafik 25. Presentase Guru yang Layak Mengajar SMP DKI dan Nasional Persentase Guru yang layak Mengajar SMA : 99.00 86,24 85,91 68,81 66,24 66.00 2004 2005 2006 2007 2008 Persentase guru yang layak mengajar SMA Prov Persentase guru yg layak mengajar SMA Nasional Grafik 26. Presentase Guru yang Layak Mengajar SMA DKI dan Nasional LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 25 
  •     Tabel 3. Data Kualitas SDM Bidang Pendidikan di Wilayah DKI Jakarta Periode 2004‐2009 Indikator  Tahun  Hasil  Indikator Hasil (Output)  (Outcomes)  2004  2005  2006  2007  2008  2009  Indeks Pembangunan Manusia 75,8 76,1 76,3 76,4  77,03  Pendidikan  Angka Partisipasi Sekolah SD/MI 95,00 96,15 97,12 96,71  Rata‐Rata  SMP/MTS  5,20  5,88  5,88  5,88  7,16     Tingkat  Nilai Akhir  SMA/SMK 5,12 6,12 6,45 6,68  6,74  Kualitas  SD  2,79 5,59 1,78 2,43  Angka Putus  Sumber  Daya  SMP  3,70 0,37 1,87 0,77  Sekolah  Manusia  SMA  4,20  3,00  2,89  1,84     Angka Melek Aksara 15 tahun Ke atas  98,31  98,30  98,34  98,83     SMP  85,94  85,91  82,67  89,67     Presentase guru yang  Sekolah  layak mengajar  66,24  68,81  85,91  86,24     Menengah      Tabel 4. Data Kualitas SDM Bidang Pendidikan Nasional Periode 2004‐2009  Indikator  Tahun  Hasil  Indikator Hasil (Output)  (Outcomes)  2004  2005  2006  2007  2008  2009  Indeks Pembangunan Manusia  75,8  76,1  76,3  76,4  77,03     Pendidikan     Angka Partisipasi Sekolah SD/MI  95,00  96,15  97,12  96,71     Rata‐ SMP/MTS  5,20  5,88  5,88  5,88  7,16     Rata  Nilai  SMA/SMK  5,12  6,12  6,45  6,68  6,74  Tingkat  Akhir     Kualitas  SD  2,79  5,59  1,78  2,43     Sumber Daya  Angka  Manusia  Putus  SMP  3,70  0,37  1,87  0,77     Sekolah  SMA  4,20  3,00  2,89  1,84     Angka Melek Aksara 15 tahun Ke atas  98,31  98,30  98,34  98,83       SMP  85,94  85,91  82,67  89,67     Presentase guru yang  layak mengajar  Sekolah  66,24  68,81  85,91  86,24  Menengah                 LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 26 
  •     Analisis Relevansi Dan Efektivitas Pendekatan yang digunakan dalam melakukan analisis adalah analisis relevansi dan analisis efektifitas. Analisis Relevansi digunakan untuk menganalisis sejauh mana tujuan/sasaran pembangunan yang direncanakan mampu menjawab permasalahan utama/tantangan. Dalam hal ini, relevansi pembangunan daerah dilihat apakah tren capaian pembangunan daerah sejalan atau lebih baik dari capaian pembangunan nasional. Sedangkan efektivitas digunakan untuk mengukur dan melihat kesesuaian antara hasil dan dampak pembangunan terhadap tujuan yang diharapkan. Efektivitas pembangunan dapat dilihat dari sejauh mana capaian pembangunan daerah membaik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Berdasarkan data yang didapat dari Sekretariat Nasional Evaluasi Kinerja Pemerintah Daerah, maka dapat diberikan analisis sebagai berikut : Indeks pembangunan manusia Untuk sasaran dengan indikator Indeks pembangunan manusia yang pada tahun 2004 dicapai sebesar 75,80 persen, tahun 2005 sebesar 76,10 persen, tahun 2006 sebesar 76,30 persen, tahun 2007 sebesar 76,40 dan tahun 2008 dicapai sebesar 77,03 persen. Bila kita lihat relevansi yang digunakan untuk menganalisis sejauh mana tujuan/sasaran pembangunan yang direncanakan tercapai, dengan melihat apakah tren capaian pembangunan daerah sejalan atau lebih baik dari capaian pembangunan nasional. Capaian indeks pembangunan manusia, ternyata untuk provinsi lebih baik dari capaian tingkat nasional. Mulai tahun 2004 capaian tingkat Provinsi DKI 75,8% sedangkan capaian tingkat nasional sebesar 68,7%. Begitu juga untuk tahun 2005 untuk tingkat provinsi capaiannya sebesar 76,1% sedangkan untuk tingkat nasional capaiannya sebesar 69,8%. Tahun 2006 untuk provinsi capaiannya sebesar 76,3% dan untuk tingkat nasional sebesar 70,1%. Sedangkan untuk tahun 2007 capaian provinsi sebesar 76,4% dan untuk tingkat nasional sebesar 70,59%. Berdasarkan data yang ada, maka untuk indeks pembangunan manusia, terdapat peningkatan dari tahun 2004 sampai tahun 2009. Hal ini berarti lebih baiknya untuk sasaran pembangunan manusia melalui pendidikan di berbagai jenjang di Provinsi DKI bila dibandingkan dengan capaian tingkat nasional. Hal ini berarti dapat dikatakan bahwa sasaran pembangunan tercapai dengan baik. Selain itu kita dapat juga melihat efektivitasnya, yaitu dengan adanya peningkatan capaian di Provinsi DKI dari tahun ke LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 27 
  •     tahun sebelumnya, yaitu dari 75,8%, 76,1%, 76,3%, 76,4% dan terakhir 77,03%. Maka hal ini dapat dikatakan bahwa sasaran di bidang pendidikan adalah efektif, karena tingkat capaian sasaran meningkat terus bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Angka partisipasi sekolah SD/MI: Selanjutnya untuk melihat relevansi capaian hasil, maka akan ditinjau apakah sejalan dan sesuai dengan sasaran yang dicapai di tingkat nasional. Mengacu pada capaian tingkat nasional dengan indikator “angka partisipasi sekolah SD/MI”, yaitu berturut-turut untuk tahun 2004, 2005, 2006, 2007 dan 2008 adalah 93%, 93,3%, 93,54%, 93,75% dan 93,98%. Dari capaian tersebut dapat dilihat bahwa capaian tingkat provinsi selalu lebih tinggi dibandingkan dengan capaian tingkat nasional untuk tahun yang sama. Dengan demikian terdapat relevansi dalam angka partisipasi sekolah SD/MI. Bila dilihat dari capaian yang diperoleh, untuk angka partisipasi sekolah, ternyata cukup efektif. Hal ini dapat dilihat bahwa, terjadi peningkatan sejak tahun 2004 hingga tahun 2006, yaitu dari 95,00 % menjadi 96,15 % dan meningkat lagi menjadi 97,12. Namun pada tahun 2007 terjadi penurunan dari tahun 2004 sebesar 1,71%, yaitu menjadi 96,71%. Angka Melek Aksara 15 tahun ke atas : Capaian yang dihasilkan selama kurun waktu 2004 sampai 2008 adalah sebagai berikut : tahun 2004 sebesar 98,44%, tahun 2005 sebesar 98,48%, tahun 2006 sebesar 98,34%, tahun 2007 sebesar 98,83% dan tahun 2008 sebesar 98,76 %. Adapun tolok ukur yang digunakan dalam mengukur angka melek aksara usia 15 tahun ke atas adalah sebagaimana ditetapkan dalam RPJM yaitu sebagai berikut : 1) meningkatnya angka partisipasi kasar (APK) jenjang SD, MI dan paket A sebesar 115,76 % dengan jumlah siswa menjadi sekitar 27,68 juta. Dan untuk jenjang SMP sebesar 98,09 % dengan jumlah siswa menjadi sebanyak 12,20 juta. 2) Meningkatnya angka melanjutkan lulusan SD ke jenjang SMP menjadi 94,00%, sehingga jumlah siswa kelas satu dapat ditingkatkan dari 3,67 juta siswa pada tahun 2004/2005 menjadi 4,04 juta siswa pada tahun 2009/2010; 3) Menurunnya angka buta aksara penduduk berusia 15 tahun keatas menjadi 5% pada tahun 2009; 4) Meningkatnya proporsi anak yang terlayani pada pendidikan anak usia dini; LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 28 
  •     5) Meningkatnya proporsi pendidikan pada jalur pendidikan formal maupun non formal yang memiliki kualitas minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar; Untuk melihat relevansi dalam indikator “angka melek aksara 15 tahun ke atas, maka dapat dibandingkan dengan capaian angka melek aksara tingkat nasional, yaitu berturut- turut tahun 2004, 2005, 2006, 2007dan 2008, yaitu 90,40%, 90,90%, 91,50%, 91,87% . Hal tersebut menunjukan bahwa, capaian tingkat Provinis ternyata jauh lebih tinggi dari capaian tingkat nasional, dengan demikian untuk indicator angka melek aksara 15 tahun ke atas di tingkat provinsi DKI lebih baik dari tingkat nasional. Sedangkan untuk melihat efektivitasnya, maka mengacu pada capaian tingkat provinsi dari tahun ke tahun dan ternyata tidak cukup efektif. Hal ini disebabkan terjadi penurunan capaian pada tahun 2004 sebesar 98,31% turun pada tahun 2005 menjadi 98,30%. Namun kemudian pada tahun 2006 dan 2007 meningkat menjadi 98,34% dan 98,83%. Rata-rata Nilai Akhir Sejak tahun 2004 hingga tahun 2008 untuk tingkat pendidikan SMP di tingkat Provinsi, terjadi peningkatan terhadap nilai akhir rata-rata, yaitu pada tahun 2004 hanya 5,20 kemudian tahun 2005, 2006 dan 2007 menjadi 5,88 serta terakhir tahun 2008 meningkat menjadi 7,16. Bila dibandingkan dengan capaian tingkat nasional, yaitu tahun 2004 sebesar 4,8, 2005, 2006 dan 2007 sebesar 5,42 dan tahun 2008 6,05, dapat dilihat relevansinya. Maka capaian tingkat Provinsi ternyata lebih baik dari capaian tingkat nasional. Berarti sasaran untuk nilai akhir di Provinsi DKI telah berhasil dengan baik. Dilihat dari capaian terhadap sasaran, maka terdapat peningkatan dari tahun ke tahun yang cukup signifikan, terutama dari tahun 2007 ke tahun 2008, yaitu dari 5,88 menjadi 7,16. Sehingga dapat dikatakan bahwa pembangunan di bidang pendidikan untuk tingkat SMP dengan indikator rata-rata nilai akhir, maka evaluasi tergolong “efektif”, walaupun pada tahun 2005, 2006 dan 2007, tidak terdapat perubahan capaian. Sedangkan untuk tingkat pendidikan SMA, pada tahun 2004 rata-rata nilai akhir adalah 5,12. Dan berturut turut untuk tahun 2005 , 2006, 2007 dan 2008 terjadi peningkatan yaitu berturut-turut 6,12 ; 6,45 ; 6,68; dan 6,74. Disinipun terjadi peningkatan rata-rata nilai akhir untuk tingkat pendidikan SMA. Dengan demikian dapat dikatakan efektif, dilihat LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 29 
  •     dari indikator capaian rata-rata nilai akhir SMA di Provinsi DKI Jakarta, yang meningkat terus dari tahun ke tahun. Sedangkan untuk melihat relevansinya, maka perlu melihat pada capaian tingkat nasional, yaitu berturut turut 2004, 2005, 2006, 2007 dan 2008, yaitu: 4,77 ,5,77, 5,94, 6,28, dan 6,35. Merujuk pada capaian tersebut, maka nampak bahwa capaian tingkat provinsi lebih baik dibandingkan dengan capaian tingkat Provinsi. Angka Putus Sekolah Angka putus sekolah untuk tingkat sekolah dasar, terjadi peningkatan yang cukup tajam pada tahun 2005, yaitu 5,59%, dari tahun sebelumnya tahun 2004 sebesar 2,79%. Namun pada tahun 2006 terjadi penurunan yang sangat drastis yaitu menjadi 1,78%. Kemudian tahun 2007 terjadi sedikit peningkatan kembali angka putus sekolah yaitu menjadi 2,43%. Hal ini tentunya harus diwaspadai, agar selalu terjadi penurunan angka putus sekolah setiap tahunnya. Karena indikator inilah mempunyai korelasi yang sangat besar terhadap tingkat kesejahteraan, dimana kemampuan masyarakat sangat menentukan kelangsungan pendidikan dari seorang siswa. Melihat pada relevansinya, maka mengacu pada capaian yang terjadi yaitu tahun 2004, 2005, 2006, 2007 dan 2008, yaitu sebesar 2,97%, 3,17%, 2,41%, 1,81% dan 6,35%. Tren capaian untuk tingkat provinsi pun mengalami naik dan turun juga dari tahun ke tahun. Namun demikian persentase putus sekolah dari provinsi lebih rendah bila dibandingkan dengan tingkat nasional. Maka hal ini berarti kondisi provinsi lebih baik dalam indikator “angka putus sekolah tingkat sekolah dasar”. Kemudian untuk jenjang pendidikan SMP, angka putus sekolah justru pada tahun 2005 sangat menurun drastis yaitu menjadi 0,37%, dari tahun sebelumnya 2004 yaitu sebesar 3,70%. Berarti pada tahun 2005 boleh dibilang minimalisasi angka putus sekolah hampir berhasil seratus persen. Prestasi yang luar biasa. Selanjutnya pada tahun 2006 meningkat lagi menjadi 1,87% dan tahun 2007 turun kembali menjadi 0,77%. Berarti tahun 2007 juga sudah membaik, karena angka putus sekolah hanya 0,77%. Jadi dapat dikatakan bahwa untuk indikator angka putus sekolah, tidak efektif, karena terjadi naik turun setiap tahunnya. Analisis relevansi terhadap angka putus sekolah tingkat SMP, dapat dilihat dengan membandingkannya terhadap capaian tingkat nasional, yaitu tahun 2004, 2005, 2006, 2007 dan 2008 adalah 2,83%, 1,97%, 2,88% dan 3,94%. Khusus untuk tahun 2004, LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 30 
  •     kondisi capaian nasional ternyata lebih baik bila dibandingkan dengan capaian Provinsi, dimana angka putus sekolah SMP di Provinsi DKI lebih tinggi . Dan untuk tingkat pendidikan SMA menunjukkan grafik yang terus membaik dari tahun 2004 sebesar 4,20 %, tahun 2005 sebesar 3,00%, tahun 2006 sebesar 2,89% dan tahun 2007 sebesar 1,84%. Dengan terus menurunnya angka putus sekolah tingkat SMA, maka menunjukkan hasil yang membaik dari tahun ke tahun. Dengan demikian dilihat dari capaian hasil tersebut, maka dapat dikatakan bahwa untuk indikator angka putus sekolah tingkat SMA adalah efektif, karena dari tahun ke tahun membaik. Kemudian bila dibandingkan dengan capaian tingkat nasional, yaitu tahun 2004, 2005, 2006, dan 2007 adalah 3,14% , 3,08% , 3,33% dan 2,68%. Ternyata pada tahun 2004, capaian tingkat Provinsi tidak lebih baik bila dibandingkan dengan capaian tingkat nasional. Namun pada tahun 2005, 2006, dan 2007 ternyata capaian tingkat Provinsi lebih baik dibandingkan dengan capaian tingkat nasional. Persentase Guru yang Layak Mengajar Untuk tingkat pendidikan SMP, persentase guru yang layak mengajar pada tahun 2004 sebesar 85,94%, kemudian tahun sebesar 2005 sebesar 85,91%, tahun 2006 sebesar 82,67% dan tahun 2007 sebesar 89,67%. Merujuk pada capaian tersebut dari tahun ke tahun terkait indikator persentase guru yang layak mengajar di tingkat SMP, ternyata terdapat trend naik dan turun pula, sehingga tidak dapat dikategorikan efektif. Pada tahun 2006 terjadi penurunan capaian persentase guru yang layak mengajar menjadi 82,67% dari tahun sebelumnya 2005 yaitu 85,91%. Selanjutnya untuk melihat relevansinya, maka perlu dikemukakan capaian tingkat nasional yaitu: tahun 2004, 2005, 2006, dan 2007 yaitu sebesar 81,12, 81,01, 78,04, dan 86,26. Dengan demikian capaian tingkat provinsi lebih baik dari capaian tingkat nasional, dan hal ini juga menunjukkan bahwa keberhasilan dapat capaian guru yang layak mengajar di tingkat SMP. Selanjutnya untuk tingkat pendidikan SMA, persentase guru yang layak mengajar pada tahun 2004 sebesar 66,24% dan tahun 2005 sebesar 66,81%. Selanjutnya pada tahun 2006 terdapat peningkatan yang sangat besar yaitu menjadi 85,91% dan tahun 2007 menjadi 86,24%. Hal ini menunjukkan kinerja yang sangat baik, sehingga evaluasinya tergolong “efektif”, karena setiap tahunnya terdapat peningkatan capaian terhadap indikator “guru yang layak mengajar pada tingkat SMA”. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 31 
  •     Selanjutnya untuk melihat relevansi terhadap indikator tersebut, perlu dibandingkan dengan capaian tingkat nasional. Adapun capaian tingkat nasional adalah: tahun 2004 sebesar 69,47%, tahun 2005 sebesar 72,44%, tahun 2006 sebesar 82,55%, dan tahun 2007 sebesar 84,05%. Dari hal tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2004 dan 2005 menunjukkan bahwa capaian tingkat Provinsi DKI tidak lebih baik dari capaian tingkat nasional. Namun untuk tahun 2006 dan 2007 ternyata capaian tingkat Provinsi lebih baik dari capaian tingkat nasional. 2.2.2. Analisis capaian indikator spesifik dan menonjol beserta rekomendasi a. Capaian indeks pembangunan manusia baik di tingkat Provinsi DKI maupun di tingkat nasional, menunjukkan peningkatan yang stabil, sehingga grafik selalu meningkat. Hal ini menunjukkan meningkatnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan pembangunan. Untuk itu rekomendasi bagi strategi dalam mewujudkan sasaran dan tujuan sebagaimana ditetapkan dalam RPJM, perlu terus dilanjutkan dan dipertahankan, karena memang sudah relevan dan efektif. b. Capaian indikator angka partisipasi sekolah SD/MI di tingkat Provinsi DKI, pada tahun 2007 terjadi penurunan sebesar 0,41% dari tahun sebelumnya ( tahun 2006 sebesar 97,12% turun menjadi 96,71% pada tahun 2007). Walaupun bila dibandingkan dengan capaian di tingkat nasional, memang masih lebih baik (tingkat nasional capaiannya yaitu sebesar 93,75 % pada tahun 2007). Kondisi ini perlu diwaspadai dalam penentuan sasaran, dimana sebenarnya Wajib Belajar 9 tahun sudah dicanangkan, seharusnya angka partisipasi sekolah semakin membaik, tidak boleh ada penurunan. Dengan demikian angka partisipasi sekolah dapat dijadikan indikator untuk menentukan keberhasilan kebijakan Wajib Belajar 9 tahun, yang telah dicanangkan oleh pemerintah. Penurunan ini perlu dicari penyebabnya, agar dapat diperbaiki di kemudian hari. Untuk itu rekomendasi yang dapat diberikan adalah, kebijakan pemerintah yang menyangkut kesempatan untuk memperoleh pendidikan gratis terutama dalam tingkat Wajib Belajar 9 tahun, perlu terus diperbaiki agar pelaksanaannya benar-benar terwujud dengan baik di berbagai daerah baik di perkotaan maupun di pedesaan, sehingga angka partisipasi sekolah akan terus membaik dari tahun ke tahun. c. Indikator angka putus sekolah di tingkat Provinsi DKI untuk Sekolah Dasar, terjadi peningkatan yang sangat tajam pada tahun 2005, dengan mengalami sebesar 1,80% (dari 2,79% pada tahun 2004 menjadi 5,59% pada tahun LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 32 
  •     2005). Begitu juga pada tahun 2007 mengalami peningkatan sebesar 0,65% (dari tahun 2006 sebesar 1,78% menjadi 2,43% pada tahun 2007 ). Hal ini tentunya perlu dicermati, karena terjadinya penurunan dalam dua tahun yaitu 2005 dan 2007. Melihat loncatan penurunan tersebut, berarti pada tahun 2009 akan terjadi penurunan kembali. Untuk itu rekomendasi yang dapat diberikan adalah kebijakan pemerintah yang menetapkan Wajib Belajar 9 tahun perlu diperbaiki, agar angka putus sekolah tidak meningkat. Hal ini mungkin terkait juga dengan kemampuan dari masyarakat untuk menikmati pendidikan dan tersedianya sekolah yang dapat menampung anak usia Sekolah Dasar tertampung semuanya. Di samping memberikan sosialisasi kepada masyarakat agar berorientasi kepada pendidikan untuk meningkatkan taraf hidup, juga perlu dibuat kebijakan pemerintah yang memberikan anggaran pendidikan yang memadai, yang didukung oleh sistem pembiayaan yang adil, efisien, efektif, trasparan, dan akuntabel. d. Berbeda untuk angka putus sekolah di tingkat Provinsi bagi SMP, pada tahun 2005 terjadi penurunan yang sangat tajam, yaitu sebesar 3,33% (dari 3,70% pada tahun 2004 menjadi 0,37 pada tahun 2005). Namun terjadi peningkatan yang cukup besar lagi pada tahun 2006 sebesar 1,50% ( dari 0,37% pada tahun 2005 menjadi 1,87 % pada tahun 2006). Melihat hal tersebut, maka terjadi ketidakstabilan dalam capaian angka putus sekolah di tingkat SMP. Untuk itu perlu direkomendasikan agar pemerintah menetapkan kebijakan terkait yang lebih mempunyai nilai daya paksa untuk Wajib Belajar 9 tahun. Dan perlu terus dilakukan perbaikan dalam implementasi Wajib Belajar 9 tahun tersebut, sehingga ada pemebenahan di berbagai level pelaksanaan, sehingga akan terwujud Wajib Belajar 9 tahun, sesuai sasaran yang telah ditetapkan dalam RPJM. Selain itu perlu terus diupayakan agar terjadi peningkatan efektivitas dan efisiensi dalam pelayanan pendidikan, agar biaya pendidikan tidak terlalu mahal, atau bahkan benar-benar gratis bagi sekolah sampai level pendidikan 9 tahun. e. Untuk indikator persentase guru yang layak mengajar di tingkat provinsi DKI untuk SMP, terjadi penurunan dari tahun 2004 ke 2005 dan terus menurun sampai tahun 2006, yaitu dari 85,94% menjadi 85,91% dan terus turun menjadi 82,67%. Indikator ini tentunya akan berkorelasi secara langsung pada mutu pendidikan yang akan diberikan kepada murid sekolah SMP. Bila guru yang layak mengajar saja, semakin menurun tentunya kualitas capaian hasil pengajaranpun akan menurun. Untuk itu rekomendasi yang dapat diberikan LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 33 
  •     adalah pemerintah perlu terus membuat kebijakan untuk peningkatan pada jenjang pendidikan formal maupun pendidikan dan latihan di lingkungan instansi tenaga pendidik dengan memberikan bantuan dana yang memadai, sehingga para tenaga pendidikan dapat menjalankannya dengan baik dan konsentrasi. Dengan demikian persentase guru yang layak mengajar akan semakin meningkat dari tahun ke tahun. 2.2.1.B. Capaian Indikator dan Analisis Spesifik dan Menonjol Bidang Kesehatan a. Peserta KB Aktif Periode 2004-2009 Grafik 27. Peserta KB Aktif Periode 2004-2009 Grafik di atas menggambarkan tren peserta aktif keluarga berencana di DKI Jakarta sejak 2004 sampai 2009 dan tren peserta Keluarga Berencana di tingkat nasional. Dari grafik tersebut dapat kita simpulkan bahwa pencapaian DKI Jakarta selama periode 2004 sampai 2009 di atas pencapaian angka nasional, dengan perbedaan sekitar 9,61% sampai 14,59%. Secara rata-rata, persentase peserta aktif Keluarga Berencana di DKI mencapai 78,16%; sedangkan di tingkat nasional pencapaian rata-rata per tahun sebesar 65,83%. Perbedaan ini disebabkan oleh berbagai hal, antara lain karena di DKI Jakarta tersedia fasilitas pelayanan kontrasepsi yang relatif mencukupi bila dibanding dengan provinsi-provinsi lainnya, serta kesanggupan masyarakat yang lebih tinggi untuk memperoleh kontrasepsi, sesuai dengan latar belakang budaya serta sosial masyarakat serta letak geografis Provinsi DKI Jakarta. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 34 
  •     b. Angka Harapan Hidup Waktu Lahir Periode 2004-2009 Grafik 28. Angka Harapan Hidup Waktu Lahir Periode 2004-2009 Pada grafik di atas dapat dilihat bahwa di Provinsi DKI Jakarta, terjadi peningkatan angka harapan hidup waktu lahir pada periode 2004 sampai 2009. Angkanya meningkat dari 74,9 tahun pada 2004 menjadi 76,4 tahun pada 2009, walaupun terjadi penurunan sedikit pada tahun 2005 dan 2006, yakni berturut-turut 74,28 dan 74,43 tahun. Tren yang meningkat juga ditunjukkan oleh angka nasional, dengan peningkatan yang cukup stabil, dari 66,20 pada 2004 menjadi 70,76 tahun pada 2008. Angka nasional pada 2009 belum dapat diperoleh. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 35 
  •     c. Angka Kematian Bayi Periode 2004-2009 Angka Kematian Bayi Periode 2004-2009 40 Per 1000 kelahiran hidup 35 30 25 DKI 20 NASIONAL 15 10 5 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Tahun Grafik 29. Angka Kematian Bayi Periode 2004-2009 Angka kematian bayi merupakan salah satu indikator kesehatan kesehatan yang terpenting. Pada grafik di atas, dapat dilihat bahwa pencapaian kinerja Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah jauh lebih baik daripada pencapaian nasional, walaupun kalau dilihat dari trennya tidak ada kemajuan yang mengesankan, atau dapat dikatakan penurunannya sangat lamban. Ini dapat dilihat dari penurunan selama periode 2004 sampai 2009, hanya menurun dari 16,1 menjadi 13,70 per 1000 kelahiran hidup. Lambannya penurunan angka kematian bayi di Provinsi DKI Jakarta juga sesuai dengan apa yang terjadi di Indonesia, walaupun datanya tidak lengkap. Dapat disimpulkan baik di Provinsi DKI Jakarta maupun di Indonesia penurunan angka kematian bayi belum terjadi secara signifikan selama periode 2004-2009. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 36 
  •     d. Angka Kematian Ibu Periode 2004-2009 Angka Kematian Ibu Periode 2004-2009 350 Per 100.000 Kelahiran Hidup 300 250 200 DKI 150 NASIONAL 100 50 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Tahun Grafik 30. Angka Kematian Ibu Periode 2004-2009 Selain angka kematian bayi dan angka harapan hidup saat lahir, AKI (Angka Kematian Ibu), merupakan indikator yang penting untuk menentukan status kesehatan suatu bangsa. Indikator ini menggambarkan bagaimana penyelenggaraan pelayanan kesehatan, yakni perawatan ibu hamil, melahirkan, dan nifas di suatu populasi. Angka kematian ibu di DKI Jakarta belum menunjukkan adanya tren penurunan yang signifikan. Pada 2007 seolah-olah terjadi lonjakan angka kematian ibu yang sangat tinggi, angkanya hanya sedikit di bawah angka nasional (225 dan 228). Data 2007 berasal dari SDKI, yang dilakukan di semua provinsi di Indonesia oleh BPS. Data tahun- tahun lainnya berasal dari data yang dikumpulkan sendiri oleh Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa ada perbedaan hasil yang diperoleh dari survei dan data yang dikumpulkan secara rutin. Tampaknya perlu dilakukan perbaikan sistem pengumpulan data, untuk menjamin kebenaran data, yang tentunya sangat diperlukan untuk perencanaan dan penilaian program. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 37 
  •     e. Prevalensi Balita Gizi Buruk Periode 2004-2009 Grafik di atas menunjukkan adanya tren penurunan prevalensi balita dengan gizi buruk, dari 3,9 pada 2004 menjadi 2,5 pada 2009. Penurunan ini walaupun tidak terlalu tajam, tetapi cukup baik; mengingat prevalensinya pada 2004 sudah relatif kecil bila dibandingkan dengan kondisi nasional. Perbedaan yang mencolok dengan angka nasional pada 2004 disebabkan adanya kabupaten- kabupaten di luar Provinsi DKI Jakarta yang persentase penduduk miskinnya cukup tinggi. Dengan menurunnya prevalensi Balita gizi buruk di Indonesia dari 8,8 pada 2004 menjadi 5,40 pada 2007, menunjukkan adanya perbaikan gizi Balita yang signifikan. Data ini dapat menunjukkan adanya keberhasilan program gizi serta perbaikan ekonomi masyarakat secara nasional. Grafik 31. Prevalensi Balita Gizi Buruk Periode 2004-2009 f. Prevalensi Balita Gizi Kurang Periode 2004-2009 Prevalensi Balita dengan gizi kurang di Provinsi DKI Jakarta menunjukkan tren penurunan yang mengesankan, dari 19,3 pada 2004 menjadi 9,20 pada 2009. Penurunan tersebut sesuai dengan tren penurunan yang terjadi pada angka nasional, walaupun data nasional tidak lengkap. Dapat disimpulkan bahwa pada periode 2004 sampai 2009, terjadi penurunan prevalensi balita kurang gizi, baik di Provinsi DKI Jakarta maupun secara nasional. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 38 
  •     Grafik 32. Prevalensi Balita Gizi Kurang Periode 2004-2009 Grafik 32. Prevalensi Balita Gizi Buruk Periode 2004-2009 g. Rasio Tenaga Kesehatan Terhadap 100.000 Penduduk Periode 2004-2009 Tahun Tenaga Kesehatan 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Dr. Praktek Umum Nasional 11.66 19.93 19.59 Dr. Praktek Umum DKI 43 43 Dr. Spesialis Nasional 4.43 5.53 Dr. Spesialis DKI 30 30 Perawat Nasional 53.91 137.9 Perawat DKI 185 185 Bidan Nasional 30.54 35.4 42.92 Bidan Nasional 52 52 Tabel 5. Rasio Tenaga Kesehatan Terhadap 100.000 Penduduk Data mengenai rasio tenaga kesehatan terhadap penduduk tidak lengkap baik di tingkat nasional maupun di Provinsi DKI Jakarta. Sulit untuk dapat membandingkan rasio tenaga kesehatan di DKI Jakarta dengan nasional, karena datanya diperoleh dari tahun yang berbeda. Selama periode 2007-2008, rasio dokter praktik umum di Provinsi DKI Jakarta, lebih tinggi daripada rasio dokter praktik umum di tingkat nasional pada 2005-2008; tetapi bila dilihat dari trennya, kenaikan di tingkat nasional lebih tinggi, ini sesuai dengan kebutuhan dokter secara nasional. Begitu juga halnya pada dokter spesialis; rasionya lebih tinggi di Provinsi DKI Jakarta, tetapi peningkatannya tidak berbeda. Hal ini disebabkan LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 39 
  •     karena produksi dokter spesialis yang masih terbatas. Dapat diperkirakan rasio perawat di DKI Jakarta masih lebih tinggi daripada rasio perawat di tingkat nasional, walaupun tren kenaikan tidak ada, berbeda dengan tren di tingkat nasional yang meningkat dengan tajam di tahun 2005-2006. Selama periode 2007-2008, rasio bidan di Provinsi DKI Jakarta, lebih tinggi daripada rasio bidan di tingkat nasional pada 2005-2008, tetapi bila dilihat dari trennya kenaikan di tingkat nasional lebih tinggi, ini sesuai dengan kebutuhan secara nasional. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 40 
  •     2.3 TINGKAT PEMBANGUNAN EKONOMI 2.3.1.1. Capaian Indikator Kondisi pembangunan ekonomi Provinsi DKI Jakarta dapat diamati dari perkembangan indikator-indikator ekonomi makro, investasi, dan infrastruktur Provinsi DKI Jakarta. Pada bagian ini, akan dijelaskan terlebih dahulu perkembangan indikator ekonomi makro dan indikator investasi. Secara agregat, perkembangan kedua indikator ini dalam kurun waktu 2004-2008 dapat diamati pada gambar berikut1. Grafik 33. Perkembangan Kondisi Ekonomi Makro DKI Jakarta dan Nasional, 2004-2009 Keterangan: *angka sementara Analisis Relevansi Indikator Ekonomi Makro. Berdasarkan gambar di atas terlihat bahwa dalam kurun waktu 2004-2008, perkembangan ekonomi makro DKI Jakarta berada dalam kondisi yang selalu lebih baik dibandingkan dengan perkembangan ekonomi makro nasional. Hal ini teramati dari nilai agregasi indikator ekonomi makro DKI Jakarta yang selalu lebih tinggi dibandingkan dengan nilai agregasi nasional. Secara rata-rata, nilai agregasi indikator ekonomi makro DKI Jakarta mencapai 43.02 per tahun, sementara nilai agregasi nasional hanya berada di tingkat 38.76 per tahun. Analisis Efektifitas Indikator Ekonomi Makro. Perkembangan ekonomi makro DKI Jakarta dan nasional cendrung berfluktuasi dari tahun ke tahun. Tekanan ekonomi makro DKI Jakarta dan nasional terutama terlihat secara bersama-sama                                                               1 Perkembangan ekonomi makro DKI Jakarta dan nasional dapat diamati pada Grafik 33, sementara perkembangan investasi DKI Jakarta dan nasional dapat diamati pada Grafik 34 LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 41 
  •     terjadi di tahun 2005 dan 2008 yang ditandai oleh terjadinya penurunan nilai agregasi di kedua tahun ini. Tahun 2005 merupakan tahun diberlakukannya kebijakan pencabutan subsidi BBM untuk mengurangi beban anggaran pemerintah akibat kenaikan harga minyak dunia, sementara tahun 2008 merupakan tahun terjadinya krisis ekonomi global. Adanya penurunan nilai agregasi ekonomi makro di kedua tahun ini menandakan bahwa perkembangan ekonomi makro, baik di DKI Jakarta maupun di tingkat nasional, sangat dipengaruhi oleh kebijakan pencabutan subsidi BBM dan krisis ekonomi global. Perkembangan indikator kedua, yaitu indikator investasi DKI Jakarta dan nasinal, dapat diamati pada Grafik 34 di bawah. Nilai agregasi investasi di bawah diperoleh dengan menggunakan nilai pertumbuhan realisasi investasi PMA dan PMDN di DKI Jakarta dan nasional. Grafik 34. Perkembangan Kondisi Investasi DKI Jakarta dan Nasional Keterangan: *angka sementara Analisis Relevansi Indikator Investasi. Dalam kurun waktu 2004-2008, perkembangan indikator investasi DKI Jakarta dan nasional memang terlihat mengalami fluktuasi dengan nilai kinerja investasi DKI Jakarta yang tidak selalu mengungguli kinerja investasi nasional. Tahun 2004 dan 2005 merupakan tahun dimana kinerja investasi DKI Jakarta lebih rendah dibandingkan dengan kinerja investasi nasional, sementara tahun 2006-2009, kinerja investasi DKI Jakarta telah mulai mengungguli nasional. Namun jika diamati nilai rata-rata tahunan dari agregasi indikator investasi, terlihat bahwa DKI Jakarta lebih unggul dibandingkan LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 42 
  •     nasional. Rata-rata nilai agregasi indikator investasi DKI Jakarta mencapai 30.64 per tahun, sementara nilai agregasi nasional hanya bernilai 28.22 per tahun. Analisis Efektifitas Indikator Investasi. Jika diamati pada gambar di atas, fluktuasi perkembangan investasi DKI Jakarta terutama terjadi di tahun 2004, 2006, dan 2008. Di ketiga tahun ini terlihat adanya penurunan nilai agregasi investasi. Bahkan di tahun 2004 dan 2006, nilainya mencapai angka negatif yang menandakan bahwa nilai realisasi investasi PMA dan PMDN secara bersama- sama mengalami penurunan di kedua tahun ini. Terjadinya penurunan kinerja investasi di tahun-tahun ini diduga berkaitan dengan perkembangan kebijakan ekonomi dan kondisi ekonomi makro yang berkembang saat itu. Penurunan investasi di tahun 2006 didorong oleh berkurangnya daya saing DKI Jakarta dan nasional akibat lonjakan inflasi sebagai dampak dari kebijakan pencabutan subsidi BBM di akhir tahun 2005. Penurunan investasi di tahun 2006 didorong oleh kondisi ekonomi global yang mengalami resesi yang menyebabkan turunnya penawaran investasi baik di DKI Jakarta maupun di tingkat nasional. Perkembangan indikator ekonomi makro dan investasi di atas sebenarnya dapat diagregasi membentuk nilai indikator perkembangan tingkat pembangunan ekonomi, seperti yang digambarkan pada 35. Grafik 35. Perkembangan Indikator Pembangunan Ekonomi DKI Jakarta dan Nasional LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 43 
  •     Analisis Relevansi dan Efektifitas Tingkat Pembangunan Ekonomi. Kinerja pembangunan ekonomi DKI Jakarta terlihat lebih baik dibandingkan kinerja pembangunan ekonomi nasional sejak tahun 2006, namun dengan tingkat perkembangan yang berfluktuasi dari tahun ke tahun. tahun yang terlihat mengalami tekanan adalah tahun 2006 dan 2008. Terjadinya fluktuasi tingkat pembangunan ini—terutama di tahun 2006 dan 2008—menandakan bahwa pembangunan di DKI Jakarta, dan juga Indonesia secara keseluruhan, sangat terpengaruh oleh adanya tekanan kenaikan harga minyak di akhir tahun 2005 dan adanya tekanan krisis global yang terjadi di akhir tahun 2009. 2.3.2.1 Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol DKI Jakarta diakui sebagai salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki tingkat pembangunan ekonomi yang relatif lebih unggul dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia. Paling tidak, keunggulan provinsi DKI Jakarta ini dapat teramati dari berbagai sub-indikator penyusun indikator ekonomi makro dan indikator investasi seperti tingkat pertumbuhan ekonomi, kontribusi ekspor, pendapatan per kapita penduduk, tingkat inflasi, dan nilai realisasi investasi PMA. Sub-indikator ini tercatat memiliki kinerja di atas kinerja ekonomi nasional. Hanya perkembangan sub-indikator kontribusi industri dan investasi PMDN DKI Jakarta yang perlu mendapat perhatian lebih di provinsi ini mengingat perkembangannya yang mengalami ketertinggalan dibandingkan daerah lainnya di Indonesia. Pada bagian berikut akan dipaparkan berbagai capaian subindikator-subindikator pembangunan ekonomi secara lebih mendalam. A. Kondisi Ekonomi Makro Provinsi DKI Jakarta Terdapat lima sub-indikator yang termasuk ke dalam indikator ekonomi makro, yaitu tingkat pertumbuhan ekonomi, kontribusi ekspor dan kontribusi industri terhadap pembentukan perekonomian daerah, tingkat pendapatan per kapita, dan tingkat inflasi. a. Pertumbuhan Ekonomi DKI Jakarta Dalam kurun waktu 2004-2008, nilai PDRB DKI Jakarta terus mengalami peningkatan, yang tidak hanya terjadi pada nilai PDRB nominal, namun juga pada nilai PDRB Riil (Gambar 36). Kondisi ini menandakan bahwa perkembangan perekonomian Provinsi DKI Jakarta tidak hanya terjadi dari sisi nilai uangnya, namun juga dari sisi output riil yang dihasilkan. Nilai output riil ini LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 44 
  •     tumbuh positif dalam kurun waktu 2004-2008, dengan tingkat pertumbuhan sekitar 6.04% per tahun. Tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi DKI Jakarta terjadi pada tahun 2007, yaitu mencapai 6.44%, sehingga tahun 2007 pun disebut sebagai tahun akselerasi pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta (Bank Indonesia: 2007). Grafik 36. Perkembangan Nilai PDRB Riil dan PDRB Nominal, dan Tingkat Pertumbuhan Ekonomi DKI Jakarta, Tahun 2008-2009 Keterangan: *) hingga kuartal I tahun 2009 Namun sayangnya, pertumbuhan ekonomi di tahun 2007 ini masih belum menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Jika diamati lebih dalam, pertumbuhan ekonomi di tahun ini ternyata masih didorong oleh peningkatan konsumsi, bukan oleh peningkatan investasi, seperti yang teramati pada Grafik 37. Komponen konsumsi—baik konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta nirlaba maupun konsumsi pemerintah—tumbuh dengan nilai masing-masing 9.13% dan 8.21%, sementara komponen investasi hanya tumbuh sebesar 6.72%. Komponen lain, yaitu komponen ekspor-impor, bahkan mengalami pertumbuhan negatif di saat terjadi akselerasi pertumbuhan ekonomi ini, yaitu sebesar -14.82%.     LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 45 
  •     Grafik 37. Pertumbuhan Komponen PDRB Riil Pendekatan Pengeluaran Tahun 2007 Perkembangan sektor ekonomi pada tahun 2007 ini pun menunjukkan bahwa sektor yang memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi adalah sektor-sektor yang tingkat penyerapan tenaga kerjanya rendah, yaitu sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor konstruksi, sektor perdagangan, hotel, dan restoran. Ketiga sektor ini tumbuh sebesar 15.25 persen, 7.81 persen, dan 6.88 persen, berturut-turut. Sementara sektor industri, yang merupakan sektor yang memiliki daya serap tenaga kerja yang tinggi, ternyata hanya tumbuh sebesar 4.75%. Grafik 38. Pertumbuhan Komponen PDRB Riil Pendekatan Sektoral Tahun 2007 LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 46 
  •     Di tahun 2008, perekonomian DKI Jakarta terlihat lebih tertekan dibandingkan dengan tahun 2007. Di tahun 2008 ini, perekonomian DKI Jakarta hanya tumbuh sebesar 6.18 persen, atau 0.26 persen lebih rendah dari tingkat pertumbuhan ekonomi tahun 2007. Komponen yang terlihat mengalami tekanan besar di tahun 2008 adalah komponen ekspor netto. Teramati bahwa komponen ini tumbuh dengan angka negatif, yaitu mencapai -32.80%. Besarnya tekanan yang dialami komponen ekspor netto DKI Jakarta ini terkait dengan terjadinya krisis finansial global yang mendorong melemahnya permintaan ekspor dari DKI Jakarta. Ditengah melemahnya permintaan ekspor ini, permintaan impor DKI Jakarta masih tetap tinggi akibat masih kuatnya permintaan dalam negeri. Komponen konsumsi dan investasi tetap terlihat menjadi komponen yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta. Pertumbuhan kedua komponen ini menunjukkan angka yang positif, meskipun untuk komponen konsumsi terlihat adanya penurunan pertumbuhan dibandingkan dengan tahun 2007. Tabel 6. Pertumbuhan Komponen PDRB Riil dengan Pendekatan Pengeluaran, Tahun 2005-2008 2005 2006 2007 2008 Konsumsi RT dan Lembaga 7.48 8.23 9.13 6.67 Swasta Nirlaba pengeluaran konsumsi pemerintah 6.67 7.74 8.21 6.75 PMTDB 9.53 4.26 6.72 8.49 Ekspor Netto (Ekspor-Impor) -2.09 1.35 -14.82 -32.80 Pertumbuhan PDRB DKI Jakarta 6.01 5.95 6.44 6.18 Jika diamati dari segi perkembangan sektor-sektor ekonomi, terlihat bahwa tekanan ekonomi di tahun 2008 dialami oleh hampir seluruh sektor ekonomi, termasuk tiga sektor yang menjadi sektor unggulan Provinsi DKI Jakarta di tahun 2007, yaitu sektor pengangkutan dan komunikasi; sektor konstruksi; dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran. Satu-satunya sektor ekonomi yang menunjukkan peningkatan pertumbuhan dari tahun 2007 adalah sektor listrik, gas, dan air bersih. Sektor ini mampu tumbuh 1.12 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2007. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 47 
  •     Tabel 7. Pertumbuhan Komponen PDRB Riil Pendekatan Sektoral, Tahun 2004-2008 2004 2005 2006 2007 2008 Pertanian, Peternakan, Kehutanan, Perikanan (1.27) 1.05 1.13 1.55 0.77 Pertambangan dan Penggalian (6.81) (7.24) 1.87 0.46 0.32 Industri Pengolahan 5.74 5.07 4.82 4.75 3.87 Listrik, Gas, dan Air Bersih 5.66 6.95 4.99 5.20 6.32 Konstruksi 4.42 5.89 7.12 7.81 7.67 Perdagangan, Hotel dan Restoran 6.96 7.89 6.47 6.88 6.25 Pengangkutan 12.63 13.28 14.36 15.25 14.97 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 4.17 4.10 3.82 4.47 4.31 Jasa-Jasa 4.65 5.06 5.56 6.08 6.05 Pertumbuhan PDRB DKI Jakarta 5.65 6.01 5.95 6.44 6.18 Terlepas dari berbagai fluktuasi ekonomi yang dialami DKI Jakarta dalam kurun waktu 2004-2008, DKI Jakarta masih tetap merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang selalu berhasil mendorong pertumbuhan ekonominya di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam kurun waktu 2004-2008, rata-rata tingkat pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta mencapai 6.04 persen, sementara rata-rata tingkat pertumbuhan ekonomi nasional hanya sebesar 5.73 persen. Grafik 39. Laju Pertumbuhan Ekonomi DKI Jakarta dan Pertumbuhan Ekonomi Nasional, Tahun 2004-2009 LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 48 
  •     Selalu lebih tingginya pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi nasional menandakan bahwa DKI Jakarta merupakan provinsi yang berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa PDRB provinsi ini merupakan penyumbang terbesar terhadap pembantukan PDB Nasional. Namun sayangnya jika diamati lebih dalam, kekuatan pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta sebenarnya terlihat semakin melemah dari tahun ke tahun. Pada tahun 2004, DKI Jakarta mampu mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 0.52% lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi nasional, namun di tahun 2008, pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta hanya 0.09% lebih tinggi dari perekonomian nasional. b. Perkembangan Ekspor DKI Jakarta Nilai ekspor Provinsi DKI Jakarta dapat dibedakan atas ekspor melalui pelabuhan muat di DKI Jakarta dan ekspor produk DKI Jakarta. Dalam kurun waktu 2004-2008, kedua kategori ekspor ini terus mengalami peningkatan. Rata-rata pertumbuhan ekspor melalui DKI Jakarta adalah sekitar 10% per tahun, sementara rata-rata pertumbuhan ekspor produk Jakarta adalah sekitar 15% per tahun. Pertumbuhan ekspor DKI Jakarta pada tahun 2008 tercatat sebagai tingkat pertumbuhan ekspor tertinggi dalam rentang waktu 2004-2008, sementara pertumbuhan ekspor produk Jakarta tertinggi terjadi di tahun 2007. Tabel 8. Ekspor melalui Jakarta dan Ekspor Produk Jakarta 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Nilai Ekspor melalui Jakarta 24,501.22 26,958.17 29,809.52 32,186.88 35,893.93 21,204.38 Pertumbuhan Ekspor melalui Jakarta 0.10 0.11 0.08 0.12 (0.41) Nilai Ekspor Produk Jakarta 5,662.26 6,363.34 5,902.90 8,059.57 9,393.32 4,438.78 Pertumbuhan Ekspor Produk Jakarta 0.12 (0.07) 0.37 0.17 (0.53) Sumber: Badan Pusat Statistik Jika diamati dari sisi komoditas ekspornya, DKI Jakarta memiliki dua komoditas ekspor utama, yaitu komoditas manufaktur dan komoditas pertanian. Diantara kedua komoditas ini, komoditas manufaktur merupakan komoditas ekspor utama dengan proporsi ekspor mencapai 99.2 persen dari total ekspor DKI Jakarta. Sementara proporsi ekspor komoditas pertanian hanya sebesar 0.8% dari total ekspor DKI Jakarta. Besarnya sumbangan LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 49 
  •     komoditas manufaktur terhadap total ekspor DKI Jakarta menjadikan DKI Jakarta sebagai daerah pengekspor komoditas non migas terbesar di Indonesia. Karakteristik ekspor DKI Jakarta ini tidak terlepas dari adanya dukungan infrastruktur yang lebih memadai dibandingkan dengan daerah lain, yang menjadikan DKI Jakarta sebagai daerah yang menarik untuk aktivitas industri. Grafik 40. Komposisi Ekspor Berdasarkan Komoditas Kawasan yang menjadi tujuan utama ekspor DKI Jakarta adalah Kawasan Asia dan Kawasan Amerika. Proporsi ekspor ke kedua kawasan ini berturut- turut mencapai 58.78 persen dan 16.54 persen per tahun. Sisanya, yaitu sekitar 20.13 persen tersebar ke tiga kawasan, yaitu Kawasan Afrika, Kawasan Australia, dan Kawasan Eropa. Diantara keseluruh kawasan tujuan ekspor ini, negara Singapura dan negara Amerika Serikat adalah dua negara dengan proporsi ekspor DKI Jakarta terbesar. Grafik 41. Komposisi Ekspor Berdasarkan Kawasan Tujuan Ekspor LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 50 
  •     Perkembangan nilai ekspor DKI Jakarta dapat diamati pada Grafik 41. Dalam kurun waktu 2004-2008, nilai ekspor DKI Jakarta cendrung mengalami tren peningkatan dari tahun ke tahun, dengan tingkat pertumbuhan rata-rata mencapai 4.66 persen per tahun. Dengan tingkat pertumbuhan ini, nilai ekspor DKI Jakarta pun terdorong dari angka Rp233.96 triliun pada tahun 2004 menjadi Rp373.34 triliun pada tahun 2008. Grafik 42. Nilai Ekspor dan Impor DKI Jakarta, Tahun 2004-2008 (Triliun Rupiah) Perkembangan nilai ekspor yang positif dalam kurun waktu 2004-2008 ternyata tidak diiringi oleh terus meningkatnya kontribusi ekspor DKI Jakarta terhadap pembentukan PDRB DKI Jakarta. Dari tahun ke tahun, teramati adanya tren penurunan kontribusi. Pada tahun 2004, kontribusi ekspor DKI Jakarta masih sebesar 62.3 persen terhadap total PDRB DKI Jakarta, namun di tahun 2008 proporsinya turun menjadi 54.41 persen. Berdasarkan struktur PDRB DKI Jakarta yang disajikan pada Tabel 9, terlihat bahwa peran ekspor sebagai pembentuk PDRB DKI Jakarta cendrung digantikan oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembaga nirlaba, serta pengeluaran konsumsi pemerintah. Teramati bahwa beriringan dengan terjadinya penurunan kontribusi ekspor terhadap pembentukan PDRB DKI Jakarta, kontribusi konsumsi dan pengeluaran pemerintah justru mengalami penguatan. Jika dibandingkan dengan kondisi di tingkat nasional, kontribusi ekspor DKI Jakarta memang tetap jauh lebih besar, meskipun trennya terus mengalami penurunan. Dalam kurun waktu 2004-2008, rata-rata kontribusi ekspor LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 51 
  •     terhadap pembentukan PDRB DKI Jakarta mencapai 59.16 persen per tahun, sementara kontribusi ekspor terhadap pembentukan PDB nasional hanya sekitar 31.19 persen per tahun. Tabel 9. Kontribusi Komponen PDRB DKI Jakarta dengan Pendekatan Pengeluaran, Tahun 2004-2009 2004 2005 2006 2007 2008 2009* Konsumsi RT dan Lembaga Swasta 52.02 52.93 53.65 55.97 55.63 57.05 Nirlaba pengeluaran konsumsi pemerintah 5.19 5.36 5.28 5.89 7.07 7.48 PMTDB 35.59 36.90 35.74 37.58 35.79 35.53 Ekspor 62.30 62.08 57.95 56.67 54.41 54.01 MINUS Impor 50.12 52.41 48.37 53.90 55.11 55.59 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 Kontribusi Ekspor Nasional 32.08 33.61 31.03 29.45 29.76 23.58 Keterangan: *) hingga kuartal I tahun 2009 Terlepas dari berbagai perkembangan ekspor DKI Jakarta di atas, hal yang perlu dicermati dalam mengamati kondisi ekspor DKI Jakarta dalam kurun waktu 2004-2008 adalah bahwa seiring dengan meningkatnya nilai nominal ekspor, nilai nominal impornya juga mengalami peningkatan. Hingga tahun 2007, nilai impor DKI Jakarta masih berada di bawah nilai ekspornya. Namun di tahun 2008, nilai impor DKI jakarta ini telah mengungguli nilai ekspornya. Kondisi ini menyebabkan nilai ekspor netto DKI Jakarta menjadi negatif pada tahun 2008, yaitu sebesar Rp-4.742 triliun (perhatikan Grafik 42). c. Perkembangan Industri Manufaktur DKI Jakarta Kontribusi sektor manufaktur terhadap PDRB DKI Jakarta menduduki urutan ke tiga setelah sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran. Rata-rata tahunan kontribusi sektor keuangan-persewaan-jasa, sektor perdagangan-hotel-restoran, dan sektor industri pengolahan terhadap pembentukan PDRB DKI Jakarta dalam kurun waktu 2004-2008 berturut-turut adalah sebesar 29.89%, 20.27%, dan 15.91%. Tidak mendominasinya sektor industri dalam membentuk PDRB DKI Jakarta LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 52 
  •     ini merupakan hal yang dapat dipahami karena adanya kebijakan integralisasi pembangunan DKI Jakarta ke dalam kawasan metropolitan Jabodetabek. Dalam Rencana Tata Ruang Kawasan Metropolitan (RTRW) Kawasan Metropolitan Jabodetabek, pembangunan industri yang berlokasi di DKI Jakarta dibatasi hanya untuk industri yang berteknologi tinggi, rendah polusi, tidak menggunakan lahan yang luas, dan tidak memerlukan banyak air2. Sementara untuk jenis industri lain diarahkan pembangunannya ke daerah Bodetabek, kota satelit dari DKI Jakarta. Adanya pembatasan ini-lah yang membuat sumbangan sektor industri terhadap PDRB DKI Jakarta menjadi terbatas, hanya dengan rata-rata kontribusi sebesar 15.91% dalam jangka waktu 2004-2008. Meskipun memiliki nilai kontribusi yang terbatas, kontribusi sektor industri DKI Jakarta terlihat relatif lebih stabil jika dibandingkan dengan kontribusi sektor industri di tingkat nasional. Adanya fluktuasi ekonomi, misalnya yang terjadi di tahun 2005 dan 2008, ternyata tidak berpengaruh besar terhadap sumbangan sektor industri terhadap perekonomian DKI Jakarta. Grafik 43. Kontribusi Sektor Manufaktur DKI Jakarta dan Nasional Sumber: Badan Pusat Statistik, 2009                                                               2 http://docs.google.com/gview?a=v&q=cache:sjKrxiKo6JYJ:pskmp.site88.net/tugas/ew_rahim_m1.pdf+penurunan+kontribusi +ekspor+terhadap+pdrb+dki+jakarta&hl=id&gl=id LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 53 
  •     Dampak fluktuasi ekonomi terhadap sektor industri DKI Jakarta baru terlihat ketika pengamatan dilakukan terhadap pertumbuhan sektor industri. BPS melaporkan bahwa nilai pertumbuhan sektor industri DKI Jakarta mengalami kecendrungan penurunan sejak tahun 2005. Di tahun 2005, sektor industri DKI Jakarta masih tumbuh sebesar 5.07%, namun di tahun 2006, 2007, dan 2008, nilai pertumbuhan sektor industri menurun menjadi 4.82%, 4.75%, dan 3.87%. Perlambatan pertumbuhan sektor industri di tahun 2007 didorong oleh kurangnya insentif pasar3 (BI, 2007), sementara perlambatan pertumbuhan di tahun 2008 disebabkan oleh penurunan permintaan dalam dan luar negeri akibat krisis global sehingga akhirnya mendorong dunia industri untuk mengurangi volume produksinya. d. Perkembangan Pendapatan Per Kapita DKI Jakarta Dengan perbagai perkembangan ekonomi yang mewarnai pembentukan PDRB DKI Jakarta, DKI Jakarta tetap mampu memiliki pendapatan per kapita dengan tren yang meningkat dari tahun ke tahun, dengan kecepatan rata-rata tahunan sebesar 14.43%. Dalam kurun waktu tahun 2004-2008, nilai pendapatan per kapita DKI Jakarta telah meningkat sebesar Rp31.12 juta, (dari nilai Rp42.92 juta di tahun 2004 menjadi Rp74.04 juta di tahun 2008). Jika dibandingkan dengan peningkatan pendapatan per kapita nasional, peningkatan PDRB per Kapita DKI Jakarta ini teramati lebih tinggi dari peningkatan pendapatan per kapita nasional yang hanya sebesar Rp11.19 juta pada periode yang sama. Namun jika diamati dari sisi kecepatan rata-rata peningkatannya, pendapatan per kapita nasional-lah yang lebih tinggi. Grafik 44. Pendapatan Per Kapita DKI Jakarta dan Nasional                                                               3 berupa terbatasnya pertumbuhan pasar ekspor dan semakin kompetitifnya pasar internasional LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 54 
  •     e. Perkembangan Inflasi DKI Jakarta Secara istilah, inflasi merupakan suatu indikator yang menunjukkan terjadinya kenaikan harga barang/jasa secara umum dan berlangsung terus menerus. Inflasi ini merupakan salah satu indikator makro ekonomi penting karena memiliki dampak luas terhadap stabilitas ekonomi suatu wilayah, bahkan mampu berpengaruh langsung terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. Dalam kurun waktu 2004-2008, rata-rata inflasi DKI Jakarta tercatat sebesar 8.25% per tahun, dengan tingkat inflasi tertinggi terjadi di tahun 2005, yaitu mencapai 16.06%, dan terendah terjadi di tahun 2004, yaitu sebesar 5.87%. Terjadinya lonjakan tingkat inflasi DKI Jakarta pada tahun ini didorong oleh diberlakukannya kebijakan pencabutan subsidi BBM pada akhir tahun 2005 yang akhirnya menjadi pemicu kenaikan harga-harga barang secara keseluruhan. Grafik 45. Perkembangan Inflasi DKI Jakarta dan Inflasi Nasional 2004-2008 Komoditas yang terlihat sangat terpengaruh oleh adanya kebijakan pencabutan subsidi BBM ini adalah komoditas transportasi dan komunikasi dan jasa keuangan. Teramati dari Tabel 10 bahwa komoditas ini mengalami inflasi tertinggi, yang mencapai 40.13%. Selain tahun 2005, kondisi inflasi di tahun 2008 juga mengalami lonjakan, meskipun tingkat inflasi yang terjadi tidak setinggi tingkat inflasi di tahun 2005. Pada tahun 2008 ini, inflasi DKI Jakarta meningkat dari 6.04% di tahun 2007 menjadi 11.11% di tahun 2008. Terjadinya krisis finansial global pada tahun LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 55 
  •     2008 ini merupakan faktor yang mendorong terjadinya lonjakan inflasi ini. Jika dibandingkan inflasi nasional, dampak krisis finansial global terhadap inflasi DKI Jakarta terlihat lebih besar.   Sebagai indikator yang menunjukkan terjadinya kenaikan harga barang/jasa secara keseluruhan, tingkat inflasi DKI Jakarta ini juga dapat diamati menurut kelompok komoditas barang/jasa kebutuhan masyarakat yang terdapat di Provinsi DKI Jakarta. Tabel 10 menyajikan tingkat inflasi DKI Jakarta menurut kelompok komoditas kebutuhan masyarakat. Tabel 10. Tingkat Inflasi DKI Jakarta menurut Tujuh Kelompok Komoditas dalam Periode 2004-2008   2004 2005 2006 2007 2008 2009* Rata-Rata Tahunan 2004-2008** Bahan Makanan 4.86 11.09 15.35 11.04 15.48 1.33 10.72 Makanan Jadi, Minuman, Rokok 4.69 13.64 4.43 5.36 12.91 3.65 7.22 dan Tembakau Perumahan, Air, Listrik, Gas dan 7.95 14.3 4.34 4.81 14.84 0.17 8.12 Bahan Bakar Sandang 4.05 6.9 7.8 8.15 8.56 1.99 6.86 Kesehatan 3.34 6.17 5.65 3.99 7.31 3.26 5.08 Pendidikan, Rekreasi, dan 7.7 6.31 5.07 9.09 5.56 1.08 6.59 Olahraga Transpor, Komunikasi, dan Jasa 4.79 40.13 0.7 1.14 6.2 -4.72 3.94 Keuangan Umum 5.87 16.06 6.03 6.04 11.11 0.38 8.25 Sumber: Badan Pusat Statistik Komoditas kebutuhan masyarakat, baik berupa barang ataupun jasa, pada dasarnya dapat dikelompokkan atas tujuh kelompok besar, yaitu 1) komoditas bahan makanan, 2) makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau, 3) perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar, 4) sandang, 5) kesehatan, 6) pendidikan, rekreasi, dan olahraga, dan 7) transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan. Diantara ketujuh kelompok komoditas ini, komoditas yang mengalami inflasi rata-rata tertinggi inflasi di DKI Jakarta dalam kurun waktu LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 56 
  •     2004-2008 adalah komoditas bahan makanan, dan komoditas perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar. Tingkat inflasi rata-rata kedua kelompok komoditas ini mengalami inflasi mencapai 10.72% dan 8.12%, berturut-turut, selama tahun 2004-2008. Sementara kelompok komoditas yang mengalami inflasi terendah adalah komoditas transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan, dengan tingkat inflasi sebesar 3.94%. Jika diamati, tingkat inflasi ketujuh komoditas ini sebenarnya berfluktuasi dari tahun ke tahun. Salah satu komoditas yang mengalami fluktuasi inflasi secara tiba-tiba adalah komoditas transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan. Pada tahun 2005, tingkat inflasi komoditas ini melonjak mencapai 40.13%, sementara di tahun sebelumnya (yaitu di tahun 2004) dan di tahun sesudahnya (yaitu tahun 2006) tingkat inflasi komoditas ini hanya sebesar 4.79% dan 0.7%. Lonjakan inflasi komoditas ini di tahun 2005 menggambarkan bahwa kebijakan pemerintah mencabut subsidi BBM di akhir tahun 2005, yang menyebabkan inflasi DKI Jakarta sebesar 17.11%, terutama didorong oleh kenaikan biaya transportasi, komunikasi dan jasa keuangan. Hal ini dapat dimaklumi mengingat BBM merupakan barang komplementer dari komoditas transportasi. Kenaikan harga BBM tentu menjadi pendorong kenaikan biaya transportasi, yang akhirnya mendorong meningkatnya harga komoditas ini. Jika dibandingkan dengan inflasi nasional, perkembangan inflasi DKI Jakarta selama kurun waktu 2004-2008 teramati selalu berada di bawah tingkat inflasi nasional, kecuali di tahun 2008 (Grafik 45). Rata-rata inflasi DKI Jakarta dari tahun 2004-2008 sebesar 8.25% per tahun, sementara rata-rata inflasi nasional mencapai 8.8% per tahun. Disamping itu, pergerakan inflasi DKI Jakarta juga teramati bergerak searah dengan pergerakan inflasi nasional. Lonjakan-lonjakan inflasi DKI Jakarta yang terjadi di tahun 2005 dan 2008 juga teramati di tingkat nasional; di tingkat nasional, peningkatan inflasi yang terjadi di tahun 2005 mencapai 10.71% dari 2004, sementara di tahun 2008, peningkatan inflasi nasional yang terjadi adalah sebesar 5.07%. Di saat terjadi lonjakan inflasi di tahun 2005, komoditas transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan merupakan komoditas yang mengalami tekanan terbesar dalam menghadapi kebijakan pencabutan subsidi BBM; sementara di tahun 2008, komoditas yang mengalami tekanan inflasi terbesar adalah komoditas bahan makanan dan makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 57 
  •     Tabel 11. Tingkat Inflasi Nasional menurut Tujuh Kelompok Komoditas dalam Periode 2004-2008 2004 2005 2006 2007 2008 2004-2008** Bahan Makanan 6.38 13.91 12.94 11.26 16.35 11.62 Makanan Jadi, Minuman, Rokok 4.85 13.71 6.36 6.41 12.53 8.06 dan Tembakau Perumahan, Air, Listrik, Gas 7.4 13.94 4.83 4.88 10.92 7.67 dan Bahan Bakar Sandang 4.87 6.92 6.84 8.42 7.33 6.77 Kesehatan 4.75 6.13 5.87 4.31 7.96 5.67 Pendidikan, Rekreasi, dan 10.31 8.24 8.13 8.83 6.66 8.35 Olahraga Transpor, Komunikasi, dan 5.84 44.75 1.02 1.25 7.49 4.78 Jasa Keuangan Umum 6.4 17.11 6.6 6.59 11.06 8.80 Jika diamati perkembangan inflasi rata-rata tujuh kelompok komoditas kebutuhan masyarakat, teramati bahwa di tingkat nasional, komoditas yang berkontribusi besar terhadap inflasi adalah komoditas bahan manakanan dan komoditas pendidikan-rekreasi-olahraga, dengan tingkat rata-rata inflasi masing-masing sebesar 11.62% dan 8.35% per tahun dalam kurun waktu 2004-2008. Komoditas yang mengalami rata-rata inflasi terendah adalah komoditas transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan. B. Perkembangan Investasi Provinsi DKI Jakarta Kemampuan investasi untuk berperan sebagai pendorong kegiatan ekonomi dan penyerap tenaga kerja menjadikan investasi menjadi salah satu komponen penting bagi perekonomian suatu daerah. Diantara berbagai jenis sumber investasi, investasi yang berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) seringkali menjadi barometer iklim investasi suatu daerah. Bagaimana perkembangan investasi PMDN dan PMA di Provinsi DKI Jakarta? LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 58 
  •     a. Investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Perkembangan realisasi investasi PMDN Provinsi DKI Jakarta dalam kurun waktu 2004-2009 dapat diamati pada Tabel 12. Rata-rata izin usaha yang dikeluarkan dalam kurun waktu ini teramati sebanyak 29.2 unit per tahun, dengan nilai rata-rata realisasi investasi per tahunnya mencapai Rp3084.1 miliar. Jika diamati lebih dalam, pada tahun 2006-2007, realisasi investasi PMDN DKI Jakarta terlihat mengalami perkembangan, yang ditandai oleh berhasilnya DKI Jakarta memicu peningkatan jumlah izin usaha investasi PMDN di tahun 2006 dan 2007 masing-masing mencapai 17.24% dan 20.83%, dan memicu peningkatan nilai realisasi investasi PMDN sebesar 21.29% dan 36.59% di tahun yang sama (2006 dan 2007). Namun di tahun-tahun lain, yaitu tahun 2005 dan 2008, kondisi investasi DKI Jakarta terlihat mengalami tekanan. Investasi PMDN, baik yang teramati dari sisi jumlah izin usaha maupun dari sisi nilai realisasi investasi, mengalami penurunan (atau paling tidak tetap) pada tahun-tahun ini. Di tahun 2005, penurunan izin investasi yang terjadi adalah sebesar 4%, sementara penurunan nilai realisasi investasi PMDN yang terjadi adalah sebesar 31.76%. Di tahun 2008, meskipun jumlah izin usaha tetap berjumlah 34 unit, namun nilai realisasi investasi di tahun 2008 ini turun lebih dari setengahnya, yaitu mencapai -56.44 persen. Tabel 12. Jumlah Izin Usaha Tetap dan Nilai Realisasi Investasi PMDN DKI Jakarta 2004-2009 Jumlah Izin Usaha Tetap yang Nilai Realisasi Investasi Dikeluarkan Unit Pertumbuhan (%) Rp Miliar Pertumbuhan (%) 2004 25 47.06 3731.2 -15.69 2005 24 -4.00 2546 -31.76 2006 29 20.83 3088 21.29 2007 34 17.24 4218 36.59 2008 34 0.00 1837.3 -56.44 2009* 5 266 Berbagai tekanan investasi PMDN yang dialami Provinsi DKI Jakarta ini juga terefleksi pada kontribusi PMDN DKI Jakarta terhadap pembentukan PMDN Nasional. Pada Tabel teramati bahwa kontribusi PMDN terus mengalami LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 59 
  •     penurunan sejak tahun 2006. Jika awalnya (tahun 2004) besaran PMDN DKI Jakarta menempati peringkat pertama nasional dari terhadap total PMDN Nasional (BKPM: 2009), namun dari tahun ke tahun peringkat ini terus mengalami penurunan menempati urutan ketiga nasional di tahun 2008 dan urutan keempat di tahun 20094. Fakta yang menarik dari kondisi ini adalah adanya indikasi yang menunjukkan semakin melemahnya daya tarik DKI jakarta sebagai pilihan lokasi investasi bagi investor dalam negeri, dan daya tarik ini cendrung beralih ke daerah Jawa Barat. Kondisi Jawa Barat menjadi pilihan investor terlihat dari peringkat jumlah investasi PMDN Jawa Barat yang semula (di tahun 2004) menduduki peringkat kedua nasional, namun kini (sejak tahun 2006) selalu menduduki peringkat satu nasional. Adanya keterbatasan ruang DKI Jakarta lah yang menjadi pendorong peralihan alokasi investasi PMDN dari Jakarta ini. Tabel 13. Perkembangan Realisasi Investasi PMDN DKI Jakarta dan Jawa Barat DKI JAKARTA JAWA BARAT Jumlah Izin Nilai Realisasi Kontribusi* Jumlah Izin Nilai Realisasi Kontribusi** Usaha Tetap Investasi Usaha Tetap Investasi (Peringkat) yang (Peringkat) yang Dikeluarkan Dikeluarkan 2004 25 Rp3731.2miliar 24.21% (1) 31 Rp2783.4miliar 18.06% (2) 2005 24 2546 8.3 (5) 52 3346.1 10.91 (4) 2006 29 3088 14.95 (3) 29 5314.4 25.74 (1) 2007 34 4218 12.09 (3) 35 11347.9 32.54 (1) 2008 34 1837.3 9.02 (3) 64 4289.5 21.06 (1) 2009* 5 266 10.12 (4) 31.77 (1) *) proporsi realisasi investasi PMDN DKI Jakarta terhadap realisasi investasi PMDN Nasional **) proporsi realisasi investasi PMDN Jawa Barat terhadap realisasi investasi PMDN Nasional Terlepas dari berbagai fluktuasi investasi PMDN yang terjadi di Provinsi DKI Jakarta, daya serap tenaga kerja dari kegiatan investasi PMDN di provinsi ini masih tetap menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun, paling tidak hingga tahun 2007. Rata-rata daya serap tenaga kerja dari investasi PMDN Provinsi DKI Jakarta adalah sebanyak 6,739.6 tenaga kerja/tahun dalam kurun waktu 2004-2008. Daya serap tenaga kerja tertinggi terjadi di tahun 2007, dengan serapan mencapai 7,653 tenaga kerja. Pada tahun 2008 memang terjadi                                                               4 Hingga bulan Februari 2009. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 60 
  •     penurunan daya serap tenaga kerja dari aktivitas investasi PMDN, yaitu sekitar 3.56% dari tahun 2007. Hal ini merupakan konsekuensi dari besarnya penurunan nilai realisasi investasi PMDN di tahun ini, yang mencapai -56.44 persen. Grafik 46. Daya Serap Tenaga Kerja Investasi PMDN, 2004-2008 b. Investasi Penanaman Modal Asing (PMA) Perkembangan kondisi investasi PMA Provinsi DKI Jakarta dapat diamati pada Grafik 47. Dalam kurun waktu 2004-2006, kondisi investasi PMA DKI Jakarta terlihat lebih berfluktuasi dibandingkan dengan kondisi investasi PMA pada tahun 2006-2008. Grafik 47. Jumlah Izin Usaha Tetap dan Nilai Realisasi Investasi PMA DKI Jakarta 2004-2009 LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 61 
  •     Membaiknya kondisi investasi PMDN sejak tahun 2006 tergambar dari terus meningkatnya nilai realisasi investasi PMA di Provinsi DKI Jakarta dan terus meningkatnya jumlah izin usaha tetap yang dikeluarkan. Rata-rata pertumbuhan nilai realisasi investasi yang terjadi dalam kurun waktu 2006- 2008 mencapai 156.63% per tahun, meningkat dari US$1,468.4 juta pada tahun 2006 menjadi US$9,927.8 juta pada tahun 2008. Nilai realisasi investasi di tahun 2008 ini tercatat sebagai nilai investasi PMA DKI Jakarta tertinggi dalam kurun waktu 2004-2008. Begitu juga halnya dengan jumlah izin usaha yang dikeluarkan. Sejak tahun 2006, terlihat adanya tren peningkatan dengan rata-rata kecepatan sebesar 14.16% per tahun. Tahun 2008 pun tercatat sebagai tahun dengan jumlah izin usaha tetap terbesar. Grafik 48. Kontribusi PMA DKI Jakarta terhadap Pembentukan PMA Nasional Pesatnya perkembangan PMA DKI Jakarta sejak tahun 2006 tidak hanya terlihat dari nilai realisasi investasi PMA dan jumlah izin usaha yang dikeluarkan, namun juga dari segi kontribusi PMA DKI Jakarta terhadap PMA Nasional. Jika di tahun 2006 kontribusi PMA DKI Jakarta hanya sebesar 24.57%, namun di tahun 2008, lebih dari separuh PMA ditempatkan di DKI Jakarta, dengan proporsi mencapai 66.76% dari total PMA nasional. Besaran kontribusi PMA DKI Jakarta ini terhadap pembentukan nilai investasi PMA Nasional menjadikan DKI Jakarta hampir selalu menempati peringkat pertama LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 62 
  •     nasional dari segi kontribusi investasi PMA, kecuali di tahun 2006 yang menempati urutan kedua setelah Provinsi Jawa Barat. Meskipun iklim investasi PMA DKI Jakarta terus mengalami perbaikan sejak tahun 2006, namun tingkat daya serap tenaga kerja PMA di provinsi ini masih belum bisa berjalan searah dengan perbaikan iklim investasi PMA. Seperti yang teramati dari Grafik 49, dalam rentang waktu 2006-2008, yaitu masa dimana terjadi tren peningkatan nilai realisasi investasi dan izin usaha PMA DKI Jakarta, peningkatan daya serap tenaga kerja terlihat tidak serta-merta terjadi. Di tahun 2007 justru terjadi penurunan penyerapan tenaga kerja sebesar 11,602 tenaga kerja. Grafik 49. Daya Serap Tenaga Kerja Investasi PMDN, 2004-2008 Jika dibandingkan dengan perkembangan investasi PMA di daerah sekitar DKI Jakarta, yaitu di daerah Jawa Barat dan Banten, terlihat tren yang berbeda dengan perkembangan realisasi PMDN. Jika pada perkembangan realisasi PMDN terdapat kecendrungan peralihan investasi menuju daerah non-Jakarta, namun untuk realisasi PMA, DKI Jakarta tetap merupakan daerah tujuan investasi PMA utama di Indonesia. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 63 
  •     Tabel 14. Nilai Realisasi Investasi PMA di Pulau Jawa (US$ Juta), Tahun 2004-2008 2004 2005 2006 2007 2008 DKI JAKARTA 1451.4 3266.8 1472.1 4676.9 9927.8 JAWA BARAT 1136.8 2561.4 1622.9 1326.9 2552.1 BANTEN 338 668.2 508.2 708.6 477.8 JAWA TIMUR 190.7 702.2 384.3 1689.6 457.3 JAWA TENGAH 99.9 23.9 380.1 100.7 135.3 D.I YOGYAKARTA 1.3 17.3 48.8 0.8 16.6 2.3.3.1. Rekomendasi Kebijakan Jika diamati dari pemaparan di atas, DKI Jakarta merupakan daerah yang masih memiliki persoalan dengan realisasi investasi PMDN. Dalam kurun waktu 2004- 2008 terlihat adanya penurunan kontribusi DKI Jakarta terhadap pembentukan PMDN nasional, serta penurunan peringkat nilai realisasi investasi PMDN relatif terhadap daerah lain di Indonesia. Kedua hal ini menandakan bahwa di mata investor dalam negeri, daya saing DKI Jakarta relatif lebih rendah dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia sehingga proporsi realisasi investasi PMDN di DKI Jakarta pun cendrung mengalami penurunan. Adanya keterbatasan ruang DKI Jakarta (yang berimplikasi pada mahalnya biaya tanah di Jakarta) memang menjadi faktor penyebabnya. Namun ditengah keterbatasan ruang ini, investor masih berkepentingan untuk berlokasi dekat dengan Jakarta karena keberadaan infrastruktur yang memadai di daerah ini. Alhasil, daerah yang menjadi pilihan sehingga akhirnya daerah yang menjadi sasaran investasi adalah daerah di sekitar DKI Jakarta. Mengamati fenomena ini, hal yang perlu dilakukan pemerintah DKI Jakarta adalah menjalin kerjasama yang baik dengan daerah- daerah yang berada di sekitar Jakarta agar pembangunan DKI Jakarta dan daerah sekitarnya dapat berlangsung dengan saling mendukung. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah dengan mengoptimalkan peran BKSP (Badan Kerjasama Pembangunan) Jabodetabekpunjur. Jalinan kerjasama yang baik antar daerah ini pun sebenarnya juga diperlukan untuk relokasi industri DKI Jakarta. DKI Jakarta yang kini diorientasikan sebagai pusat jasa dan industri non polutan perlu merelokasi industrinya ke daerah sekitar Jakarta sehingga kerjasama antar daerah mutlak diperlukan. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 64 
  •     Untuk sub-indikator lain seperti tingkat pertumbuhan ekonomi, kontribusi ekspor terhadap pembentukan PDRB DKI Jakarta, pendapatan per kapita DKI Jakarta, tingkat inflasi, dan realisasi investasi PMA, perkembangannya relatif lebih unggul dibandingkan daerah lainnya di Indonesia. Agar sustainabilitas perkembangan sub-indikator ini dapat berlangsung secara berkelanjutan, pemerintah perlu untuk menjaga iklim investasi DKI Jakarta untuk menjaga tingkat pertumbuhan ekonomi, ekspor, dan investasi asing. Disamping itu, pemerintah juga perlu menjaga tingkat inflasi agar daya beli masyarakat dan daya saing DKI Jakarta dapat terdorong. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 65 
  •     2.3.1.2.Capaian Indikator dan Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol Transportasi Darat dan Penyediaan Air Bersih Transportasi Darat Penyediaan jaringan jalan merupakan prasyarat mutlak dalam pelayanan pergerakan dan mobilitas penduduknya. Semakin baik penyediaan jaringan jalan akan semakin meningkatkan produktivitas dari suatu wilayah tersebut. Proses dan distribusi kegiatan akan makin cepat dan lancar. Tetapi hal sebaliknya akan terjadi apabila penyediaan sarana dan prasarana jalan yang diberikan tidak sesuai dengan standar pelayanan minimum. Masalah transportasi khususnya kemacetan akan muncul apabila penyediaan jaringan jalan tidak mencukupi kapasitas kendaraan yang melewatinya. Kemacetan berujung pada rendahnya tingkat produktivitas penduduknya dan secara ekonomi makro akan mengganggu pertumbuhan ekonomi. Penyebabnya adalah pertambahan jumlah kendaraan pribadi tidak diimbangi dengan pertambahan panjang jalan. Hal ini juga diperparah oleh banyaknya penglaju (commuters) yang melakukan pergerakan dari kota ke Jakarta setiap harinya. Mobilitas penduduk yang tinggi mengakibatkan peningkatan kepadatan lalulintas di jalan raya dan menimbulkan titik-titik rawan kemacetan. Dalam ketersediaan sarana dan prasarana, Jakarta sebagai kota metropolitan memiliki sistem jaringan jalan lingkar, yaitu lingkar dalam (inner ring road) dan lingkar luar (outer ring road). Sistem ini juga menjadi jaringan jalan arteri primer, jaringan radial yang melayani kawasan di luar inner ring road menuju kawasan di dalam inner ring road dan jaringan jalan berpola grid di wilayah pusat kota. Namun jaringan ini tidak terkoneksi dengan wilayah penyangga yang berada di sekitar Kota Jakarta, yaitu : Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, dan Cianjur. Padahal pengguna kendaraan setiap hari berasal dan menuju daerah- daerah penyangga tersebut. Konsep pembangunan sarana dan prasarana harus selalu mengacu pada pemikiran bahwa Jakarta dan sekitarnya adalah wilayah megapolitan. Pada Gambar 1 diperlihatkan pola jaringan jalan di wilayah DKI Jakarta, sistem jaringan jalan terdiri atas inner ring road dan outer ring road yang juga merupakan jaringan jalan arteri. Adapun pola jaringan jalan di pusat kota adalah sistem grid. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 66 
  •     Sumber: Pola Transportasi Makro DKI Jakarta Gambar 1. Pola Jaringan Jalan DKI Jakarta Tabel 15. Panjang Jalan menurut Kota Administrasi berdasarkan Jenis Jalan tahun 2007 Panjang Jalan (m) Kotamadya Total Tol Nasional Provinsi Kotamadya Jakarta Selatan 21.884,00 50.240,00 312.087,00 1.273.686,47 1.657.897,47 Jakarta Timur 37.222,00 31.458,00 335.423,01 1.057.955,16 1.462.058,17 Jakarta Pusat 6.380,00 13.566,75 233.709,40 628.877,01 882.533,16 Jakarta Barat 12.882,00 39.075,00 254.615,50 1.026.653,79 1.333.226,29 Jakarta Utara 34.592,00 29.440,00 194.494,00 949.755,84 1.208.281,84 Total 112.960,00 163.779,75 1.330.328,91 4.936.928,27 6.543.996,93 Sumber : Sub Dinas Bina Program, Dinas Pekerjaan Umum Jalan Provinsi Jakarta dalam Biro Pusat Statistik DKI Jakarta (2008) Sebaran jalan menurut statusnya di kotamadya/kota administrasi dalam wilayah DKI Jakarta cukup bervariasi, seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 15 dan Tabel 16. Kotamadya Jakarta Selatan merupakan kotamadya yang memiliki jumlah total panjang dan luas jalan terpanjang dan terluas di DKI LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 67 
  •     Jakarta. Sementara itu, jalan tol dan jalan provinsi, Kotamadya Jakarta Timur menempati urutan teratas untuk panjang dan luasnya. Tabel 16. Luas Jalan menurut Kota Administrasi berdasarkan Jenis Jalan tahun 2007 2 Luas Jalan (m ) Kotamadya Total Tol Nasional Provinsi Kotamadya Jakarta Selatan 430.512,00 801.138,00 3.492.546,00 5.471.446,14 10.195.642,14 Jakarta Timur 997.736,00 694.468,00 3.801.343,17 4.511.562,96 10.005.110,13 Jakarta Pusat 114.840,00 330.744,50 3.685.626,60 2.602.565,87 6.733.776,97 Jakarta Barat 231.876,00 464.404,00 2.410.958,50 4.372.373,05 7.479.611,55 Jakarta Utara 697.716,00 520.720,00 1.986.478,50 4.030.155,79 7.235.070,29 Total 2.472.680,00 2.811.474,50 15.376.952,77 20.988.103,81 41.649.211,08 Sumber : Sub Dinas Bina Program, Dinas Pekerjaan Umum Jalan Provinsi Jakarta dalam Biro Pusat Statistik DKI Jakarta (2008) Tabel 17. Panjang Jalan menurut Jenis dan Status Jalan selama tahun 2005 - 2007 Panjang Jalan (m) Jenis Jalan Stastus Jalan 2005 2006 2007 Tol 94.180,00 112.960,00 112.960,00 Tol Arteri primer 104.039,25 112.149,00 112.149,00 Nasional Kolektor primer 55.130,75 51.630,75 51.630,75 Nasional Arteri skunder 528.637,27 502.640,00 506.415,00 Provinsi Kolektor skunder 984.743,78 823.913,91 823.913,91 Provinsi Kotamadya 5.884.202,25 4.936.928,77 4.936.928,27 Kotamadya Total 7.650.933,30 6.540.222,43 6.543.996,93 Sumber : Sub Dinas Bina Program, Dinas Pekerjaan Umum Jalan Provinsi Jakarta dalam Biro Pusat Statistik DKI Jakarta (2008), telah diolah LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 68 
  •     Tabel 18. Luas Jalan menurut Jenis dan Status Jalan selama tahun 2005 – 2007 Luas Jalan (m2) Status Jenis Jalan Jalan 2005 2006 2007 Tol 2.078.300,00 2.472.680,00 2.472.680,00 Tol Arteri primer 2.147.040,10 2.140.090,00 2.140.090,00 Nasional Kolektor primer 860.669,00 671.384,50 671.384,50 Nasional Arteri skunder 824.790,43 8.299.089,00 8.406.014,00 Provinsi Kolektor skunder 8.256.798,90 6.970.938,77 6.970.938,77 Provinsi Kotamadya 25.906.134,32 20.988.103,81 20.988.103,81 Kotamadya Total 40.073.732,75 41.542.286,08 41.649.211,08 Sumber : Sub Dinas Bina Program, Dinas Pekerjaan Umum Jalan Provinsi Jakarta dalam Biro Pusat Statistik DKI Jakarta (2006, 2007, 2008), telah diolah Pada Tabel 17 dan Tabel 18 dapat dilihat bahwa pertumbuhan (panjang dan luas) infrastruktur jalan untuk jalan tol di DKI Jakarta tahun 2005-2007 tidak signifikan. Pertumbuhan panjang jalan tol dari 94,18 km menjadi 112,96 km. Bahkan jumlah total panjang jalan dari tahun 2005-2007 berkurang dari 7.651 km menjadi 6.544 km. Pengurangan jalan ini dimungkinkan karena adanya pembangunan untuk Busway yang digunakan untuk angkutan massal transjakarta. Sumber: Biro Pusat Statistik DKI Jakarta (2008), telah diolah kembali Grafik 50. Jumlah Kendaraan Bermotor yang Terdaftar menurut Jenisnya selama 2003 – 2007 di Wilayah DKI Jakarta dan Prediksi untuk tahun 2008 - 2010 LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 69 
  •     Pertumbuhan kendaraan dapat dilihat pada Grafik 50, jumlah kendaraan motor yang terdaftar (tidak termasuk Polisi, TNI dan CD) pada tahun 2005 sebanyak 7,23 juta unit kendaraan menjadi sebesar 8,73 juta unit kendaraan pada tahun 2007. Belum lagi ditambah kendaraan yang berasal dari daerah penyangga juga masuk ke ibukota setiap harinya yang harus ditampung oleh 6.544 km jalan. Pertumbuhan tertinggi adalah kepemilikan sepeda motor. Sedangkan pertumbuhan jumlah mobil penumpang, angkutan umum (bus dan angkutan umum) relatif stagnan. Hal ini perlu diantisipasi oleh stakeholder (pemangku kepentingan) yang bertanggung jawab akan sektor transportasi. Apabila pertumbuhan kendaraan pribadi tidak diimbangi dengan penyediaan jalan akan menimbulkan dampak kemacetan yang sangat parah, ironisnya wilayah pengembangan jaringan jalan di DKI Jakarta sudah terbatas. Prediksi yang dilakukan oleh Laboratorium Transportasi UI dengan metode regresi linier mengenai jumlah sepeda motor pada tahun 2010 mencapai kisaran 8 (delapan) juta unit kendaraan. Data kecepatan rata-rata kendaraan dalam SITRAMP untuk tahun 2009 mencapai besaran 15,8 km/jam sedangkan pada tahun 2008 mencapai besaran 25,8 km/jam. Fakta ini membuktikan bahwa kecepatan kendaraan mengalami penurunan sebesar 10 km/jam yang akan mengakibatkan berbagai hal, khususnya di sektor perekonomian. Oleh karena itu, perlu dicari solusi yang efektif untuk memecahkan masalah tersebut, yaitu dengan penerapan sistem operasi transportasi yang efesien dengan penerapan angkutan umum massal yang mempunyai kapasitas angkut besar dalam 1 (satu) unit. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 70 
  •     Sumber : Pola Transportasi Makro DKI Jakarta Gambar 2. Rencana Jaringan transportasi Jakarta Sumber: Pola Transportasi Makro DKI Jakarta Gambar 3. Jaringan Utama pendukung Bandara Soekarno Hatta Sistem transportasi yang mampu mengakomodasikan seluruh permintaan pergerakan perkotaan metropolitan di DKI Jakarta diperlukan sistem jaringan pendukung sebagai feeder. Dengan demikian, diperlukan adanya integrasi LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 71 
  •     antarmoda transportasi agar meningkatakan aksesibilitas penumpang dalam melakukan pergerakan. Contoh salah satu komponen jaringan transportasi adalah aksesibilitas bandara terhadap jaringan transportasi yang ada termasuk di antaranya jaringan jalan. Pergerakan dan perpindahan orang maupun barang menuju lokasi tujuan akhir harus baik dan mudah. Bandara Soekarno-Hatta memiliki beberapa jalan akses utama yaitu Prof. Sedyatmo (tol dan Arteri), Lingkar luar Barat. Jl. Prof. Sedyatmo dan Lingkar Luar yang membentuk suatu lingkar jaringan yang berkesinambungan. Dengan demikian mempermudah akses ke/dari bandara baik untuk luar Jakarta (BOTABEK) maupun untuk daerah Jakarta. Kontribusi transportasi laut terhadap transportasi Indonesia cukup besar. Volume perpindahan barang antarwilayah dan luar Indonesia juga besar mengingat wilayah Indonesia merupakan negara kepulauan. Pelabuhan laut Tg. Priok didukung oleh sistem jaringan jalan dan rel sistem jaringan jalan yang mendukung yaitu : (1) Jl. Martadinata yang menghubungkan kawasan Barat DKI Jakarta hingga masuk wilayah Tangerang; (2) Jl. Yos Sudarso yang menghubungkan kawasan pusat kota DKI Jakarta dan wilayah selatan DKI Jakarta serta membentuk jaringan jalan dengan Tol Jagorawi untuk menghubungkan DKI Jakarta hingga wilayah Bogor dan sekitarnya; dan (3) Jl. Cakung-Cilincing yang menghubungkan kawasan timur DKI Jakarta serta membentuk jaringan yang menghubungkan kawasan Bekasi dan sekitarnya. Sumber: Pola Transportasi Makro DKI Jakarta Gambar 4. Jaringan Utama Pendukung Pelabuhan Laut Tg. Priok LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 72 
  •     Sedangkan sistem jaringan rel pendukung yaitu : (1) Jaringan Bogor yang menghubungkan kawasan DKI Jakarta utara hingga daerah selatan DKI Jakarta dan Bogor; (2) Jaringan Tangerang dan Serpong yang menghubungkan kawasan barat DKI Jakarta hingga Tangerang; dan (3) Rencana jaringan Citayam yang menghubungkan wilayah Timur DKI Jakarta dan Bekasi hingga selatan DKI Jakarta. DKI Jakarta memiliki 3 (tiga) terminal utama, yaitu : terminal antarkota Rawa Buaya (rencana), Pulogebang (rencana) dan Kampung Rambutan berfungsi sebagai pintu masuk ke/dari wilayah sekitar Jakarta. Terminal Rawa Buaya merupakan pintu masuk ke/dari arah barat Jakarta yang membuat rantai sistem jaringan penghubung antarwilayah (provinsi Banten) dan antarpulau (Sumatera). Akses pendukung utama terminal tersebut, yaitu : (1) Tol/Arteri Lingkar Luar, menghubungkan ke wilayah kota DKI Jakarta; dan (2) Jalan Daan Mogot, sebagai akses dari arah barat dan penghubung ke jaringan pusat kota DKI Jakarta. Sumber: Pola Transportasi Makro DKI Jakarta Gambar 5. Jaringan Utama Pendukung Terminal -Terminal Utama AntarKota Terminal Pulogebang merupakan pintu timur dari/ke DKI Jakarta yang melayani transit dari wilayah Bekasi dan daerah di pulau Jawa terutama jalur kota-kota utara Jawa. Terminal Pulogebang didukung oleh jaringan jalan diantaranya I Gusti Ngurah Rai, Bekasi Raya, Tol Lingkar Luar, Cakung- Cilincing, Kol.Soegiono, dan Jl. Jend. R.S. Soekanto. Jaringan ini akan menghubungkan terminal dengan wilayah lain di DKI Jakarta serta didukung LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 73 
  •     pula oleh jaringan kereta api Jakarta - Bekasi (Stasiun Cakung). Jaringan utama terminal antarkota Kampung Rambutan merupakan pintu di bagian selatan DKI Jakarta yang merupakan terminal penghubung wilayah DKI Jakarta dengan kota Bogor dan wilayah di pulau Jawa khususnya kota-kota di selatan Jawa. Jaringan jalan pendukungnya yaitu tol Jagorawi dan rangkaian jaringan tol dalam kota. Stasiun Kereta api utama di Jakarta mendukung pergerakan antar kota dan dalam kota. Jaringan rel kereta api pendukung pergerakan dalam kota saat ini adalah Kereta api Jakarta - Bogor yang melewati stasiun - stasiun dalam kota Jakarta. Untuk masa mendatang telah direncanakan pengembangan rel kereta api dalam kota yang menghubungkan stasiun Cilandak dan stasiun Kota. Untuk pergerakan antar kota terutama dilayani oleh stasiun Gambir dan Jatinegara. Peningkatan permintaan yang cukup tinggi setiap tahunnya menuntut peningkatan pelayanan yang lebih memadai. Dukungan jaringan jalan untuk akses dari dan menuju terminal merupakan satu hal utama untuk meningkatkan pelayanan. Jaringan jalan utama pendukung stasiun-stasiun utama di Jakarta, sebagai berikut: (1) JORR wilayah utara; (2) JORR wilayah selatan; (3) Inner ring road timur; (4) Koridor barat-timur Daan Mogot-Hasyim Ashari-Juanda; dan (5) Koridor barat-timur Perintis Kemerdekaan-Suprapto- Prapatan. Transjakarta merupakan salah satu angkutan yang diupayakan oleh Pemerintah untuk mengatasi kemacetan dan masuk dalam bagian dalam sistem transportasi massal yang direncanakan Pemerintah Provinsi DKI. Apresiasi masyarakat sejak program Transjakarta koridor Blok M-Kota diluncurkan Gubernur pada tanggal 15 Januari 2004 dan diberlakukan secara resmi sejak 1 Februari 2004 tinggi sehingga banyak masyarakat yang menggunakan angkutan umum Transjakarta. Transjakarta telah mengoperasikan 8 (delapan) koridor, yaitu: (1) Koridor 1 Blok M – Kota; (2) Koridor 2 Pulogadung – Harmoni; (3) Koridor 3 Harmoni – Kalideres; (4) Koridor 4 Pulogadung – Dukuh Atas; (5) Koridor 5 Kampung Melayu – Ancol; (6) Koridor 6 Ragunan – Kuningan; (7) Koridor 7 Kampung Rambutan – Kampung Melayu; dan (8) Koridor 8 Lebak Bulus – Harmoni. Selain itu terdapat 2 (dua) koridor yang belum beroperasi karena berbagai LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 74 
  •     masalah, seperti terbatasnya jumlah armada. Koridor tersebut adalah Koridor 9 Pluit – Pinang Ranti dan Koridor 10 Tanjung Priok – Cililitan. Koridor 11 -15 masih dalam tahap perencanaan pembangunan. Pengoperasionalan angkutan Transjakarta dikelola oleh Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta yang bernaung di bawah Dinas Perhubungan, Provinsi DKI Jakarta. Selain itu, terdapat juga beberapa Perusahaan Operator yang mengelola armada yang melayani tiap koridor. Operator tersebut, yaitu: (1) PT. Jakarta Express Trans (JET) – Koridor 1; (2) PT. Trans Batavia (TB) – Koridor 2 dan 3; (3) PT. Jakarta Trans Metropolitan (JTM) – Koridor 4 dan 6; (4) PT. Primajasa Perdayana Utama – Koridor 4, 6 dan 8 (bersama dengan PT. Eka Sari Lorena); (5) PT. Jakarta Mega Trans (JMT) – Koridor 5 dan 7; dan (6) PT. Eka Sari Lorena (LRN) – Koridor 5, 7 dan 8 (bersama dengan PT. Primajasa). Sumber : Badan Layanan Umum DKI Jakarta (2009), telah diolah Grafik 51. Total Jumlah Penumpang Transjakarta di semua Koridor Awal keberadaan Transjakarta mendapat banyak pertentangan dari masyarakat terutama oleh pengguna kendaraan pribadi tetapi jumlah penumpang angkutan ini mengalami peningkatan secara signifikan. Fenomena tersebut mengisyaratkan bahwa moda transportasi Transjakarta telah menjadi moda alternatif angkutan perkotaan di Provinsi DKI Jakarta. Walaupun pada awalnya keberadaan Transjakarta ditentang oleh warga terutama oleh pengguna kendaraan pribadi, namun jumlah penumpang Transjakarta terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan, seperti LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 75 
  •     yang ditunjukkan dalam Gambar 6. Laboratorium Transportasi UI melakukan peramalan dengan menggunakan metode regresi linier dan mendapatkan perkiraan jumlah penumpang Transjakarta hingga tahun 2014 mencapai 168 juta penumpang tiap tahunnya atau 462.273 penumpang tiap harinya (dengan asumsi 1 tahun adalah 365 hari). Gambar 7 menunjukkan jumlah penumpang selama tahun 2006 sampai 2009 (bulan Oktober) di setiap koridor. Jumlah penumpang Transjakarta yang paling banyak terdapat pada koridor 1. Hal ini disebabkan koridor 1 menghubungkan pusat-pusat aktivitas kota. Dengan demikian, Pemerintah Daerah dapat melakukan peningkatan pelayanan angkutan Transjakarta dengan memperhatikan prioritas penanganan sesuai dengan permintaan jumlah penumpang di setiap koridor. Sumber : Badan Layanan Umum DKI Jakarta (2009), telah diolah Grafik 52. Jumlah Penumpang Transjakarta di setiap Koridor Evaluasi kinerja Transjakarta dapat disimpulkan, sebagai berikut : (1) koridor 9 dan 10 belum beroperasi, walaupun pembangunan konstruksi jalan telah selesai lebih dari 1 (satu) tahun yang lalu. Salah satu alasan penundaan pengoperasian koridor tersebut adalah kurangnya jumlah armada yang akan beroperasi; (2) adanya penurunan pelayanan yang diakibatkan kurangnya perawatan terhadap fasilitas penunjang Transjakarta seperti shelter (terdapat pencurian dan perusakan fasilitas halte), pembatas jalan dan kondisi bus (terbukti terdapat bus yang terbakar akibat hubungan arus pendek). Hal ini menunjukkan bahwa Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta sebaiknya LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 76 
  •     menunda pengembangan koridor Busway berikutnya untuk memperbaiki sistem pengoperasian koridor yang sudah ada; (3) masih belum berlakunya sterilisasi jalur Busway di beberapa koridor, hal ini mengakibatkan waktu perjalanan Busway tidak sesuai dengan perencanaan waktu tempuh dan headway Busway, sehingga mengurangi keunggulan Busway; (4) jumlah penumpang di shelter (khususnya trasnsit shelter) dan bus sering melebihi kapasitas maksimal; (5) tidak adanya optimalisasi peranan sistem feeder dan park & ride untuk memperluas daerah layanan Busway; (6) transparansi dan akuntabilitas di dalam menggunakan subsidi. Penggunaan subsidi Pemerintah Daerah DKI Jakarta harus membawa konsekuensi terbukanya informasi pemanfaatan anggaran bagi kepentingan masyarakat luas. Tabel 19 Jumlah Kecelakaan Lalulintas di Provinsi DKI Jakarta Jumlah Korban Tahun Jumlah Kejadian MD (jiwa) LB (orang) LR (orang) 2004 5.437 1.085 2.465 3.617 2005 4.395 1.028 2.158 2.075 2006 4.453 1.147 2.510 2.271 2007 4.684 1.127 2.555 2.110 2008 1.300 503 663 609 Sumber : Ditlantas Polda Metro Jaya dalam Biro Pusat Stastistik DKI Jakarta (2008) Tabel 20. Prosentase Korban Kecelakaan Lalulintas berdasarkan dampak Keparahannya di Provinsi DKI Jakarta Jumlah Korban Tahun Jumlah Korban MD (%) LB (%) LR (%) 2004 7.167 0,15 0,34 0,50 2005 5.261 0,20 0,41 0,39 2006 5.928 0,19 0,42 0,38 2007 5.792 0,19 0,44 0,36 2008 1.775 0,28 0,37 0,34 Sumber : Ditlantas Polda Metro Jaya dalam Biro Pusat Stastistik DKI Jakarta (2008), telah diolah LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 77 
  •     Tingkat pelayanan transportasi juga dapat dilihat dari tingginya frekuensi kecelakaan lalulintas dan fatalitas selama tahun 2004 – 2008, seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 19. Pemantauan dari variabel jumlah kejadian, tindakan preventif yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah efektif. Namun, prosentase jumlah korban meninggal terhadap total korban mengalami peningkatan yang signifikan pada tahun 2008, seperti ditunjukkan dalam Tabel 20. Hal ini memerlukan perhatian khusus dari Pemerintah Daerah untuk melakukan upaya-upaya yang dapat mereduksi tingkat fatalitas. Penyediaan Air Bersih Kebutuhan air bersih meningkat sesuai dengan pertumbuhan jumlah penduduk di DKI Jakarta. Pertumbuhan penduduk DKI Jakarta sejak Sensus Penduduk 2007 sebesar 1,11 % (Biro Pusat Statistik DKI Jakarta, 2008). Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 23 tahun 2006 menyatakan bahwa standar kebutuhan pokok air bersih sebanyak 10 m3/KK/bulan atau 60 L/orang/hari. Dengan demikian, kebutuhan air bersih akan meningkat secara linier sebanding dengan pertumbuhan jumlah penduduk di DKI Jakarta. Angka 10 m3/KK/bulan atau 60 L/orang/hari merupakan rasio kebutuhan pokok air bersih jumlah KK terhadap jumlah orang sebesar 1 : 6. Jika jumlah pelanggan dalam 5 (lima) tahun terakhir dijadikan dasar perhitungan volume kebutuhan air bersih DKI Jakarta, maka besar volume yang dibutuhkan dapat diperbandingkan dengan volume air yang telah didistribusikan oleh Pemerintah Daerah. Tabel 21. Jumlah Penduduk dan Prediksi Kebutuhan Air DKI Jakarta Jumlah kebutuhan kebutuhan kebutuhan Tahun penduduk air bersih air bersih air bersih (juta jiwa) (m3/hari) (m3/bulan) (m3/tahun) 2004 8,77 526.020 15.780.600 189.367.200 2005 8,86 531.806 15.954.187 191.450.239 2006 8,96 537.656 16.129.683 193.556.192 2007 9,06 543.570 16.307.109 195.685.310 2008 9,16 549.550 16.486.487 197.837.848 Sumber : Biro Pusat Statistik DKI Jakarta (2008), telah diolah LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 78 
  •     Volume yang ditampilkan dalam Tabel 21 merupakan volume yang perlu dilayani oleh Pemerintah Daerah atau dalam kata lain nilai kebutuhan air bersih dalam satuan m3 per tahun sebanding dengan total volume air bersih yang terjual oleh pihak operator penyedia air bersih di DKI Jakarta. Namun, cakupan pelayanan air bersih oleh Pemerintah Daerah belum dapat mencapai 100 %. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya jumlah pengguna air tanah. Asumsi yang digunakan adalah semakin tinggi permintaan untuk menggunakan air tanah maka semakin buruknya pelayanan penyediaan air bersih oleh Pemerintah Daerah dilihat berdasarkan kuantitasnya. Jika Pemerintah Daerah tidak melakukan upaya secepat mungkin untuk meningkatkan volume distribusi air bersih, maka eksplorasi air tanah akan terjadi secara terus menerus. Eksploitasi berlebihan terhadap air tanah akan membuat permukaan air tanah menjadi turun, sehingga akan menyebabkan terjadinya rongga yang berpotensi menyebabkan turunnya permukaan tanah. Turunnya permukaan tanah ditambah naiknya permukaan air laut akibat efek pemanasan global bahkan dapat menenggelamkan sebagian wilayah DKI. Fenomena tersebut telah terjadi di DKI Jakarta, yaitu : penurunan muka tanah dan interusi air laut. Berikut merupakan pemetaan wilayah DKI Jakarta selama 5 (lima) tahun terakhir yang telah terjadi penurunan permukaan tanah dan interusi air laut. Dinas Pertambangan DKI menyatakan bahwa penurunan permukaan tanah di daerah Thamrin dalam 8 (delapan) tahun terakhir berkisar 20 – 40 cm (Kompas, 2009) dan intrusi air laut sudah mencapai 11 hingga 12 kilometer dari garis pantai dan telah memasuki wilayah Setia Budi, Jakarta Selatan (Darunndono dalam Tempo, 2009). Pemerintah Daerah seharusnya dapat lebih serius dalam menangani penyediaan air bersih. Penyediaan air bersih di DKI Jakarta dilaksanakan oleh 2 (dua) operator, yaitu : PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) dan PT. Aetra Air Jakarta. Kedua operator tersebut bekerja dengan membagi cakupan wilayah layanan berdasarkan kewilayahan bagian timur dan barat. Kedua operator menyediakan air bersih di bawah koordinasi dari PAM JAYA dan dipantau oleh sebuah institusi bernama Badan Regulator Air. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 79 
  •     2.3.2.2. Rekomendasi Kebijakan Transportasi Darat Pertumbuhan jaringan jalan di DKI Jakarta tidak sebanding dengan pertumbuhan kendaraan yang ada. Apabila pertumbuhan kendaraan pribadi tidak diimbangi dengan penyediaan jalan akan menimbulkan dampak kemacetan yang sangat parah, ironisnya wilayah pengembangan jaringan jalan di DKI Jakarta sudah terbatas. Oleh karena itu, perlu dicari solusi yang efektif untuk jangka panjang, menegah dan jangka pendek untuk memecahkan masalah tersebut agar tujuan transportasi untuk memindahkan penumpang/barang ke suatu tempat secepat mungkin dan dengan harga yang ekonomis tersebut dapat tercapai. Namun dengan melihat kondisi penduduk di wilayah DKI Jakarta yang sangat padat hingga mencapai 9,06 juta jiwa pada tahun 2007 dan keterbatasan jaringan jalan, salah satunya solusi jangka pendek yaitu dengan strategi TDM (Transport Demand Management) yakni aplikasi strategi dan kebijakan dalam rangka mengatur perilaku pengendara melalui pengurangan permintaan perjalanan kendaran pribadi ataupun mendistribusikan permintaan perjalanan tersebut dalam konsep ruang dan waktu. Solusi untuk jangka panjang dan menengah yaitu dengan penerapan sistem operasi transportasi yang efesien dengan penerapan angkutan umum massal (public transport) yang mempunyai kapasitas angkut besar dalam 1 (satu) unit. Penyediaan Air Bersih Solusi yang diusulkan adalah (1) melakukan pembatasan jumlah sumur air tanah dan volume air yang dipompakan; dan (2) meningkatkan tingkat penyediaan air bersih. Pemerintah Daerah sampai saat ini telah menaikkan tarif air tanah yang dikomersialisasikan tetapi solusi ini belum efektif untuk menekan besarnya volume penggunaan air tanah. Hal lain yang perlu dilakukan para operator penyedia air minum adalah mereduksi tingkat kebocoran yang selama ini menjadi hambatan bagi operator untuk meningkatkan debit distribusi air bersih ke masyarakat. Pembangunan infrastruktur sangatlah vital mengingat ketersediaan infrastruktur yang baik dan berkualitas sangat mendukung aktifitas masyarakat. Lancarnya transportasi ditentukan oleh mutu jalan yang baik dan sistem transportasi yang dapat dihandalkan. Dengan demikian, kemacetan dapat dikurangi sehingga LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 80 
  •     kerugian akibat kemacetan juga dapat direduksi. Selain itu, ketersediaan air bersih yang prima oleh Pemerintah Daerah melalui operator PAM dapat mengurangi dampak kerusakan air tanah. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 81 
  •     2.4. TINGKAT KESEJAHTERAAN SOSIAL-EKONOMI 2.4.1 Capaian Indikator Kondisi kesejahteraan masyarakat DKI Jakarta dapat diamati dari tingkat kemiskinan, tingkat pengangguran, persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak terlantar dan penduduk usia lanjut, serta persentase pelayanan dan rehabilitasi sosial. Pada bagian ini akan dijelaskan terlebih dahulu perkembangan indikator tingkat kemiskinan dan tingkat pengangguran. Secara agregat, perkembangan kedua indikator ini dalam kurun waktu 2004-2008 dapat diamati pada gambar berikut. Grafik 53. Perkembangan Tingkat Kesejahteraan Ekonomi DKI Jakarta dan Nasional Analisis Relevansi Tingkat Kesejahteraan Ekonomi. Berdasarkan gambar di atas terlihat bahwa dalam kurun waktu 2004-2008, tingkat kesejahteraan ekonomi DKI Jakarta jauh lebih baik dibandingkan dengan tingkat kesejahteraan ekonomi nasional. Secara rata-rata, nilai agregasi tingkat kesejahteraan ekonomi DKI Jakarta mencapai 91.17 per tahun, sementara nilai agregasi nasional hanya berada di tingkat 86.88 per tahun. Nilai tingkat kesejahteraan ekonomi ini terus mengalami perbaikan sejak tahun 2006, seperti yang ditandai oleh terus meningkatnya tren pertumbuhan tingkat kesejahteraan ekonomi baik di DKI Jakarta maupun di tingkat nasional. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 82 
  •     Analisis Efektivitas Tingkat Kesejahteraan Ekonomi. Dalam kurun waktu 2004- 2008, kondisi di tahun 2006 terlihat sebagai titik balik kesejahteraan ekonomi penduduk DKI Jakarta. Jika sebelumnya tingkat kesejahteraan ekonomi cendrung mengalami penurunan, sejak tahun 2006, tingkat kesejahteraan ekonomi terlihat mengalami perbaikan. 2.4.2 Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol Analisis kesejahteraan ekonomi dengan menggunakan data agregasi kurang dapat memberikan gambaran yang detil terhadap kondisi kesejahteraan masyarakat DKI Jakarta. Oleh karena itu pada pembahasan berikut ini, akan dijelaskan secara lebih mendalam tentang kondisi kemiskinan dan kondisi pengangguran DKI Jakarta sebagai sub-indikator pembentuk indikator kesejahteraan ekonomi DKI Jakarta. Disamping itu indikator kesejahteraan sosial di DKI Jakarta dapat membantu menjelaskan mengenai tingkat kesejahteraan masyarakat DKI Jakarta. Walaupun terjadi peningkatan kesejahteraan ekonomi tapi indikator kesejahteraan sosial menunjukkan bahwa permasalahan sosial di masyarakat belum tertangani dengan baik. a. Kondisi Kemiskinan DKI Jakarta Kemiskinan merupakan salah satu indikator kesejahteraan yang telah menjadi perhatian pemerintah dari tahun ke tahun. Sejak tahun 2005, perhatian pemerintah terhadap kemiskinan dituangkan ke dalam rumusan Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SNPK), yang terintegrasi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah—RPJM I (2004-2009). Strategi ini kemudian dijalankan oleh pemerintah daerah dengan mengembangkan lebih jauh RPJMD- nya, yang didalamnya mencantumkan strategi pemerintah daerah untuk penanggualangan persoalan kemiskinan. Pada tahun 2004, terdapat sekitar 277,100 jiwa penduduk miskin di Jakarta. Angka ini terus mengalami peningkatan hingga mencapai angka 407,100 jiwa di tahun 2006. Namun sejak tahun 2006, DKI Jakarta berhasil mendorong penurunan tingkat kemiskinannya dari angka 407,100 jiwa menjadi 379,600 jiwa di tahun 2008. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 83 
  •     Tabel 22. Kemiskinan Provinsi DKI Jakarta Periode 2004-2008 Tahun Jumlah Penduduk Penduduk Miskin Jakarta (000) Miskin (%) 2004 277.10 3,18 2005 316.00 3,61 2006 407.10 4,60 2007 405.70 4,48 2008 379.6 4.29 2009 323.20 3.62 Sumber: Badan Pusat Statistik Terjadinya peningkatan kuantitas penduduk miskin DKI Jakarta hingga tahun 2006 tidak terlepas dari kondisi naiknya harga-harga kebutuhan pokok yang salah satunya dipicu oleh pencabutan subsidi BBM dalam rentang waktu ini. Sejak tahun 2006, jumlah penduduk miskin DKI cendrung mengalami penurunan, bahkan terjadi hingga tahun 2009. Faktor utama yang menyebabkan tingkat kemiskinan menurun adalah kondisi ekonomi yang membaik sejalan dengan berkurangnya dampak kenaikan harga BBM tahun 2005. Disamping itu, hal ini juga dipengaruhi oleh mulai berjalannya komitmen pemerintah untuk mengatasi persoalan kemiskinan yang merumuskan strategi penanggulangan kemiskinan dalam Rencana Pembangunan Daerah (RPJMD) I melalui strategi pro poor. Jika diamati dari aspek sebaran penduduk miskin di Provinsi DKI Jakarta, terlihat bahwa daerah yang memiliki persentase penduduk miskin terbesar adalah Kepulauan Seribu. Persentase penduduk miskin di daerah ini mencapai angka rata-rata 15.44% per tahun, jauh lebih tinggi dari persentase penduduk miskin di Jakarta Timur sebesar 3.4%, Jakarta Selatan dan Jakarta Barat sebesar 3.6%, Jakarta Pusat sebesar 4%, dan Jakarta Utara sebesar 7.3%. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 84 
  •     Grafik 54. Tingkat Kemiskinan DKI Jakarta dan Nasional Keterangan: *) Kemiskinan bulan Maret 2009 Jika dibandingkan dengan tingkat kemiskinan nasional, tingkat kemiskinan di Provinsi DKI Jakarta jauh lebih rendah. Disaat rata-rata tahunan tingkat kemiskinan nasional mencapai 16.43% dalam kurun waktu 2004-2008, rata-rata tahunan tingkat kemiskinan di DKI Jakarta telah mencapai angka 4.27%. b. Perkembangan Kondisi Ketenagakerjaan DKI Jakarta Penduduk DKI Jakarta yang berada dalam usia kerja, yaitu yang berumur 15 tahun ke atas, terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Penduduk usia kerja ini tersebar ke dalam dua kategori, yaitu angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Penduduk yang termasuk angkatan kerja adalah penduduk yang berusia diatas 15 tahun yang sedang bekerja atau sedang mencari pekerjaan; sementara penduduk yang termasuk kategori bukan angkatan kerja adalah penduduk berusia 15 tahun keatas yang masih bersekolah atau mengurus rumah tangga atau melaksanakan kegiatan lainnya. Sebaran angkatan kerja dan bukan angkatan kerja DKI Jakarta dapat diamati pada tabel berikut. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 85 
  •     Tabel 23. Penduduk Usia Kerja DKI Jakarta Tahun 2004-2009 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Angkatan Kerja 4,100,100 4,181,248 4,121,821 4,085,030 4,559,108 4,757,518 a. Bekerja 3,497,359 3,565,331 3,531,799 3,543,028 4,054,976 4,186,956 b. Menganggur 602,741 615,917 590,022 542,002 504,132 570,562 Bukan Angkatan Kerja 2,520,129 2,447,567 2,449,913 2,607,317 2,357,099 2,250,966 Penduduk Usia Kerja 6,620,229 6,628,815 6,571,734 6,692,347 6,916,207 7,008,484 Diantara kedua kelompok penduduk usia kerja ini, keberadaan penduduk di kategori angkatan kerja merupakan hal yang menarik untuk diamati lebih jauh karena dengan mengamati penduduk yang berada di kategori ini, tingkat pengangguran dan tingkat bekerja penduduk di DKI Jakarta dapat diamati. Sebaran tingkat pengangguran dan tingkat bekerja penduduk DKI Jakarta dapat diamati pada Grafik 55. Pada gambar ini terlihat bahwa dalam kurun waktu 2004- 2009, rata-rata tingkat pengangguran terbuka DKI Jakarta adalah sebesar 13.27 persen per tahun dan rata-rata tingkat bekerja adalah 86.64 persen per tahun. Grafik 55. Tingkat Pengangguran dan Tingkat Bekerja DKI Jakarta Tahun 2004-2009 LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 86 
  •     Dari sisi angkatan kerja yang bekerja, status pekerjaan dari mayoritas pekerja di Provinsi DKI Jakarta adalah sebagai buruh/karyawan, dengan proporsi mencapai 63.48% dari total pekerja di provinsi ini5. Pada tahun 2009, dari total sekitar 4.2 juta jiwa angkatan kerja yang bekerja, sebesar 2.5 juta jiwa-nya merupakan buruh/karyawan. Tabel 24. Angkatan Kerja yang Bekerja Provinsi DKI Jakarta menurut Status Pekerjaan Utama Status Pekerjaan Utama 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Berusaha Sendiri tanpa 712,276 753,791 726,211 672,287 682,640 884,475 Bantuan Orang Lain Berusaha dengan 158,764 160,910 188,898 220,639 228,780 284,088 Dibantu Anggota Rumah Tangga Buruh Tidak Tetap Berusaha dengan 142,277 150,955 165,637 159,723 175,960 207,350 Buruh Tetap Buruh/Karyawan 2,380,620 2,299,120 2,213,525 2,152,079 2,663,890 2,495,539 Pekerja Tak Dibayar 103,422 123,294 1,470 208,011 780 687 Pekerja Bebas 0 1,629 96,190 1,929 93,000 88,018 Pertanian Pekerja Bebas Non 0 74,632 139,868 128,360 209,920 226,799 Pertanian Jumlah Angkatan Kerja 3,497,359 3,564,331 3,531,799 3,543,028 4,054,970 4,186,956 yang Bekerja Mendominasinya pekerja DKI Jakarta sebagai buruh/karyawan (tidak tetap) tentu secara langsung/tidak langsung dapat menggambarkan kondisi pendidikan dan keterampilan pekerja di Provinsi DKI Jakarta. Berdasarkan data statistik ketenagakerjaan BPS diketahui bahwa umumnya tingkat pendidikan pekerja Provinsi DKI Jakarta adalah tamatan SMU/sederajat (sekitar 40.67% dari angkatan kerja Provinsi DKI Jakarta yang bekerja pada tahun 2004-2009 merupakan lulusan level pendidikan ini). Diantara 40.67% pekerja yang lulusan SMU/sederajat, hanya 16% yang merupakan lulusan SMK. Pekerja yang merupakan lulusan perguruan tinggi hanya sebesar 22.63% dari total angkatan kerja (nilai rata-rata tahunan). Berdasarkan gambaran ini, terlihat bahwa pekerja di Provinsi DKI Jakarta memang didominasi oleh pekerja yang berpendidikan rendah (SMU/sederajat) dan tidak memiliki keterampilan (teramati dari rendahnya lulusan SMK)6, yang mendorong mereka hanya bekerja sebagai buruh/karyawan.                                                               5 Proporsi ini merupakan nilai proporsi rata-rata tahunan dalam kurun waktu 2004-2009. 6 Terlihat dari rendahnya proporsi pekerja lulusan SMK dan lulusan perguruan tinggi LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 87 
  •     Pekerja yang berusaha sendiri tanpa dibantu oleh orang lain menempati proporsi terbesar kedua setelah buruh/karyawan, dengan nilai rata-rata proporsi tahunan sebesar 19.77% (antara tahun 2004-2009). Di saat terjadi krisis keuangan global yang menyebabkan terbatasnya daya serap lapangan kerja, terjadi penurunan jumlah angkatan kerja Provinsi DKI Jakarta yang bekerja sebagai buruh/karyawan di tahun 2009. Berusaha sendiri tanpa dibantu orang lain pun menjadi pilihan angkatan kerja menyikapi kesulitan ekonomi di tahun 2009 ini, yang ditandai oleh terjadinya peningkatan pekerja yang berusaha sendiri tanpa dibantu orang lain pada tahun tersebut—peningkatannya mencapai 201,835 jiwa dari tahun 2008 ke tahun 2009, setelah sebelumnya cendrung mengalami tren penurunan. Tabel 25 menunjukkan struktur penduduk yang bekerja menurut tiga sektor ekonomi, yaitu sektor primer, sektor sekunder, dan sektor tersier. Tabel 25. Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas yang Bekerja Selama Seminggu yang Lalu menurut Sektor Ekonomi 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Primer 30,191 22,604 31,953 29,525 31,913 29,600 Sekunder 889,988 882,280 731,536 755,947 898,268 803,167 Tersier 2,577,180 2,660,447 2,768,310 2,757,556 3,124,795 3,354,189 Total 3,497,359 3,565,331 3,531,799 3,543,028 4,054,976 4,186,956 Dalam kurun waktu 2004-2009, jumlah tenaga kerja yang terserap di sektor pertanian mengalami penurunan dari 30,191 jiwa menjadi 29,600 jiwa. Hal yang sama juga terlihat di sektor sekunder, dengan penurunan sebesar 86,821 jiwa (turun dari 889,988 jiwa di tahun 2004 menjadi 803,167 jiwa di tahun 2009). Sektor ekonomi yang menunjukkan adanya peningkatan penyerapan tenaga kerja adalah sektor tersier. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi yang kini terjadi di Provinsi DKI Jakarta telah mengalami transformasi ke arah pembangunan sektor tersier. Dari sisi pengangguran, teramati bahwa selama periode waktu sebelum tahun 2009, DKI Jakarta berhasil menekan tingkat pengangguran terbukanya sebesar 3.64 persen, yaitu dari 14.7 persen (tahun 2004) menjadi 11.06% (tahun 2008); namun di tahun 2009 tingkat pengangguran DKI Jakarta ini kembali mengalami tekanan ke angka 11.99 persen (perhatikan Grafik 65). Jika dianalisis, terjadinya peningkatan tingkat pengangguran terbuka di tahun 2009 ini merupakan dampak LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 88 
  •     dari krisis keuangan global yang menyebabkan terjadinya penurunan daya beli masyarakat sehingga akhirnya mendorong rumah tangga untuk menambah anggota rumah tangganya yang bekerja dan yang mencari pekerjaan. Konsekuensinya, jumlah angkatan kerja yang mencari pekerjaan pun menjadi meningkat di tahun ini. Daerah yang memiliki tingkat pengangguran terbuka tertinggi di DKI Jakarta terdapat di Jakarta Timur, dengan rata-rata tingkat pengangguran mencapai 30.61% per tahun, atau setara dengan 180 ribu jiwa. Sementara daerah dengan sebaran pengangguran terendah terdapat di wilayah Kepulauan Seribu dan Jakarta Pusat dengan nilai rata-rata tahunan tingkat pengangguran sebesar 11.29% dan 0.12% per tahun dari jumlah angkatan kerja, atau setara dengan sejumlah 992 jiwa dan 66 ribu jiwa, berturut-turut. Grafik 56. Tingkat Pengangguran Terbuka Nasional dan DKI Jakarta Tingkat pengangguran terbuka DKI Jakarta ini, dari tahun ke tahun, selalu berada di atas tingkat pengangguran nasional. Disaat rata-rata tingkat pengangguran terbuka nasional adalah 9.44 persen per tahun dalam kurun waktu 2004-2009, tingkat pengangguran terbuka Provinsi DKI Jakarta mencapai 13.54%. Hal ini yang menjadi faktor pemicu tingginya tingkat pengangguran di Provinsi DKI Jakarta ini diantaranya adalah tingginya arus urbanisasi menuju DKI Jakarta yang tidak diiringi oleh peningkatan daya serap tenaga kerja. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 89 
  •     c. Perkembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial bagi Anak (Terlantar, Jalanan, Balita Terlantar dan Nakal) Grafik 57. Persentase Pelayanan Kesejahteraan Sosial bagi Anak Nasional dan DKI Jakarta Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa tingkat pelayanan terhadap penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) bidang anak di DKI Jakarta lebih rendah dari persentase nasional. Kemudian ada trend penurunan layanan terhadap anak dari tahun 2006-2008, baik pada tingkat nasional maupun DKI Jakarta. Khusus untuk DKI Jakarta, hal ini dapat dikaitkan dengan statusnya sebagai ibukota negara yang menjadi `magnet` bagi individu ataupun keluarga untuk datang, menetap dan bekerja. Sebagai konsekuensinya jumlah PMKS anak meningkat atau secara agregat lebih tinggi dibandingkan dengan provinsi lainnya. Disamping itu, tidak masuknya pelayanan PMKS anak sebagai program prioritas DKI Jakarta pada tahun 2009 membawa dampak tidak dapat meningkat nya secara kuantitas pelayanan terhadap PMKS anak. Walaupun di DKI Jakarta secara umum peran serta masyarakat cukup tinggi dalam penanganan PMKS anak, dapat terlihat dengan `menjamur` nya LSM atau pun Yayasan yang menyantuni atau menangani masalah anak. Tapi perkembangan tersebut, tidak sebanding dengan besaran masalah yang ada. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 90 
  •     d. Perkembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial bagi Lanjut Usia Grafik 58. Persentase Pelayanan Kesejahteraan Sosial bagi Lanjut Usia Nasional dan DKI Jakarta Dapat dikatakan secara berangsur-angsur terjadi perubahan struktur umur masyarakat di Indonesia pada umumnya dan di DKI Jakarta pada khususnya, hal ini terlihat dengan meningkatnya jumlah lansia. Hal ini berdampak tidak mencukupinya pelayanan panti sosial milik Dinas Sosial DKI Jakarta. Selain itu PMKS lansia kurang mendapatkan prioritas dalam penanganan PMKS. Seperti hal nya PMKS anak, PMKS lansia tidak termasuk ke dalam program prioritas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tahun 2009. Disamping itu peran serta masyarakat dan dunia usaha masih kurang didalam medukung pelayanan terhadap lansia. Pertumbuhan panti atau ‘retirement house’ kurang signifikan dengan meningkatnya lansia di DKI Jakarta. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 91 
  •     e. Perkembangan Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial (Penyandang Cacat, Tuna Sosial, dan Korban Penyalahgunaan Narkoba) Grafik 59. Persentase Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Nasional dan DKI Jakarta Pelayanan dan rehabilitasi sosial mempunyai persentase mendekati tingkat nasional walaupun masih berada di bawah persentase nasional. Secara umum dapat dikatakan peran serta masyarakat didalam pelayanan rehabilitasi sosial cukup baik karena banyak ditemukan di DKI Jakarta institusi-institusi rehabilitasi yang merupakan inisiatif masyarakat seperti rehabilitasi narkoba dan penyandang cacat. Disamping itu masih beroperasinya panti sosial milik Dinas Sosial DKI Jakarta yang menjadi tulang punggung pelayanan. Berdampak dengan meningkatnya kuantitas pelayanan rehabilitasi sosial PMKS. 2.4.3 Rekomendasi Kebijakan Berdasarkan pemaparan di atas terlihat bahwa DKI Jakarta dapat dikatakan sebagai salah satu daerah yang berhasil menjaga tingkat kemiskinan jauh di bawah tingkat kemiskinan nasional. Namun untuk penanganan pengangguran, DKI Jakarta masih memiliki persoalan. Hal ini teramati dari selalu lebih tingginya tingkat pengangguran DKI Jakarta terhadap tingkat pengangguran nasional. tren pengangguran DKI Jakarta memang mengalami penurunan sejak tahun 2005, namun tingkat penurunannya masih belum mampu mengejar penurunan tingkat pengangguran yang terjadi di tingkat nasional. Disamping itu indikator kesejahteraan sosial di bidang anak, lansia dan rehabilitasi sosial menunjukkan masih belum LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 92 
  •     tertanggulanginya PMKS di DKI Jakarta. Hal ini juga perlu dipahami bahwa sebagai Ibukota negara, DKI Jakarta menjadi `magnet` bagi penduduk yang berdomisili di luar DKI Jakarta untuk datang dan menetap. Sehingga mendorong peningkatan besaran masalah PMKS. Dari berbagai data yang ada, hal yang perlu didorong oleh pemerintah untuk menangani persoalan pengangguran ini adalah mengoptimalkan keberadaan lembaga pelatihan dan SMK di DKI Jakarta agar DKI Jakarta memiliki angkatan kerja yang terampil. Disamping itu, hal yang perlu dijembatani pemerintah pula adalah memperkuat hubungan antara sekolah/lembaga pendidikan dengan dunia usaha, agar tenaga terampil yang telah berhasil dimiliki dapat langsung disalurkan ke dunia kerja. Sementara itu untuk bidang sosial, DKI Jakarta haruslah menempatkan penanganan PMKS anak, sosial dan rehabilitasi sosial sebagai salah satu program prioritas. Karena peningkatan kesejahteraan ekonomi tidak akan berdampak secara signifikan kepada kesejahteraan masyarakat tanpa disertai peningkatan quality of life dari penduduknya. Salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan DKI Jakarta mengatasi PMKS adalah dengan melibatkan atau melakukan kerjasama dengan berbagai pihak seperti dunia usaha dan masyarakat sipil untuk mengatasi permasalahan sosial yang ada. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 93 
  •     Bab III KESIMPULAN Sangat Sangat Item Tinggi Sedang Rendah Tinggi Rendah Tingkat pelayanan Publik V dan Korupsi Tingkat Kualitas SDM V Tingkat Pembangunan V Ekonomi Tingkat Kesejahteraan V Sosial Pelayanan Publik Dari hasil penelitian mengenai korupsi dan pelayanan publk dari kurun waktu 2008-2009 yang dilakukan oleh Transparansi Internasional dan KPK meperlihatkan kondisi yang memprihatinkan di DKI Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Indonesia. Dalam laporan penelitian yang disususun oleh KPK, tidak ada perubahan menuju ke arah yang lebih baik dari tahun 2008 sampai 2009. Dapat disimpulkan sejauh berkaitan dengan pelayanan publik dan korupsi, kinerja Provinsi DKI dapat dikatakan masih buruk. Walaupun secara umum permasalahan korupsi dan pelayanan publik masih buruk di DKI Jakarta, tetapi ada beberapa hal yang cukup baik di DKI Jakarta seperti indikator pendidikan aparatur minimal S1 yang berada di atas rata-rata nasional. Selain itu hasil survei mengenai persepsi dan kepuasan publik oleh Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), menyimpulkan ada beberapa layanan yang dipersepsikan oleh masyarakat DKI Jakarta pada level yang cukup memuaskan dalam pelayananannya seperti pelayanan KTP dan Puskesmas. Sedangkan indikator pelayanan satu atap, pengurusan IMB dan pembuatan sertifikat tanah masih belum menunjukkan level yang memuaskan bagi masyarakat di DKI Jakarta. Untuk itu di rekomendasikan perbaikan dan reformasi administrasi di lingkungan Pemprov DKI Jakarta untuk memperbaiki kualitas pelayanan publik dan penerapan secara ketat standar pelayanan minimum. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 94 
  •     Sumber Daya Manusia Capaian indeks pembangunan manusia baik di tingkat Provinsi DKI maupun di tingkat nasional, menunjukkan peningkatan yang stabil. Hal ini menunjukkan meningkatnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan pembangunan. Untuk itu rekomendasi bagi strategi dalam mewujudkan sasaran dan tujuan sebagaimana ditetapkan dalam RPJM, perlu terus dilanjutkan dan dipertahankan, karena memang sudah relevan dan efektif. Sedangkan untuk indikator partisipasi sekolah SD/MI, rata-rata Nilai Akhir (SMP dan SMA), angka putus sekolah dan persentase guru yang layak mengajar secara umum lebih tinggi dari rata-rata tingkat nasional walaupun ada beberapa indiator yang mempunyai trend naik-turun dari tahu ke tahun. Namun sebagian besar indikator dapat dikatakan efektif untuk menunjang pembangunan bidang pendidikan. Rekomendasi yang ditawarkan antara lain: memperbaiki mekanisme pendidikan gratis terutama dalam wajib belajar 9 tahun; kebijakan pemerintah yang memberikan anggaran pendidikan yang memadai, yang didukung oleh sistem pembiayaan yang adil, efisien, efektif , transparan dan akuntabel; peningkatan daya tampung sekolah; sosialisasi kepada masyarakat agar berorientasi kepada pendidikan untuk meningkatkan taraf hidup; terakhir adalah pendidikan dan latihan di lingkungan instansi tenaga pendidik dengan memberikan bantuan dana yang memadai, sehingga para tenaga pendidik dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Pembangunan Ekonomi Kinerja pembangunan ekonomi DKI Jakarta terlihat lebih baik dibandingkan kinerja pembangunan ekonomi nasional sejak tahun 2006, namun dengan tingkat perkembangan yang berfluktuasi dari tahun ke tahun. Tahun yang terlihat mengalami tekanan adalah tahun 2006 dan 2008. Terjadinya fluktuasi tingkat pembangunan ini—terutama di tahun 2006 dan 2008—menandakan bahwa pembangunan di DKI Jakarta, dan juga Indonesia secara keseluruhan, sangat terpengaruh oleh adanya tekanan kenaikan harga minyak di akhir tahun 2005 dan adanya tekanan krisis global yang terjadi di akhir tahun 2009. DKI Jakarta merupakan daerah yang masih memiliki persoalan dengan realisasi investasi PMDN. Dalam kurun waktu 2004-2008 terlihat adanya penurunan kontribusi DKI Jakarta terhadap pembentukan PMDN nasional, serta penurunan peringkat nilai realisasi investasi PMDN relatif terhadap daerah lain di Indonesia. Kedua hal ini menandakan bahwa di mata investor dalam negeri, daya saing DKI Jakarta relatif lebih rendah dibandingkan LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 95 
  •     dengan daerah lainnya di Indonesia sehingga proporsi realisasi investasi PMDN di DKI Jakarta pun cendrung mengalami penurunan. Adanya keterbatasan ruang DKI Jakarta (yang berimplikasi pada mahalnya biaya tanah di Jakarta) memang menjadi faktor penyebabnya. Namun ditengah keterbatasan ruang ini, investor masih berkepentingan untuk berlokasi dekat dengan Jakarta karena keberadaan infrastruktur yang memadai di daerah ini. Alhasil, daerah yang menjadi pilihan sehingga akhirnya daerah yang menjadi sasaran investasi adalah daerah di sekitar DKI Jakarta. Mengamati fenomena ini, hal yang perlu dilakukan pemerintah DKI Jakarta adalah menjalin kerjasama yang baik dengan daerah-daerah yang berada di sekitar Jakarta agar pembangunan DKI Jakarta dan daerah sekitarnya dapat berlangsung dengan saling mendukung. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah dengan mengoptimalkan peran BKSP (Badan Kerjasama Pembangunan) Jabodetabekpunjur. Jalinan kerjasama yang baik antar daerah ini pun sebenarnya juga diperlukan untuk relokasi industri DKI Jakarta. DKI Jakarta yang kini diorientasikan sebagai pusat jasa dan industri non polutan perlu merelokasi industrinya ke daerah sekitar Jakarta sehingga kerjasama antar daerah mutlak diperlukan. Untuk sub-indikator lain seperti tingkat pertumbuhan ekonomi, kontribusi ekspor terhadap pembentukan PDRB DKI Jakarta, pendapatan per kapita DKI Jakarta, tingkat inflasi, dan realisasi investasi PMA, perkembangannya relatif lebih unggul dibandingkan daerah lainnya di Indonesia. agar sustainabilitas perkembangan sub-indikator ini dapat berlangsung secara berkelanjutan, pemerintah perlu untuk menjaga iklim investasi DKI Jakarta untuk menjaga tingkat pertumbuhan ekonomi, ekspor, dan investasi asing. Disamping itu, pemerintah juga perlu menjaga tingkat inflasi agar daya beli masyarakat dan daya saing DKI Jakarta dapat terdorong. Sedangkan untuk transportasi darat, pertumbuhan jaringan jalan di DKI Jakarta tidak sebanding dengan pertumbuhan kendaraan yang ada. Apabila pertumbuhan kendaraan pribadi tidak diimbangi dengan penyediaan jalan akan menimbulkan dampak kemacetan yang sangat parah, ironisnya wilayah pengembangan jaringan jalan di DKI Jakarta sudah terbatas. Oleh karena itu, perlu dicari solusi yang efektif untuk jangka panjang, menegah dan jangka pendek untuk memecahkan masalah tersebut agar tujuan transportasi untuk memindahkan penumpang/barang ke suatu tempat secepat mungkin dan dengan harga yang ekonomis tersebut dapat tercapai. Namun dengan melihat kondisi penduduk di wilayah DKI Jakarta yang sangat padat hingga mencapai 9,06 juta jiwa pada tahun 2007 dan keterbatasan jaringan jalan, salah satunya solusi jangka pendek yaitu dengan strategi TDM (Transport Demand Management) yakni aplikasi strategi dan kebijakan dalam rangka mengatur perilaku pengendara melalui pengurangan permintaan perjalanan LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 96 
  •     kendaran pribadi ataupun mendistribusikan permintaan perjalanan tersebut dalam konsep ruang dan waktu. Solusi untuk jangka panjang dan menengah yaitu dengan penerapan sistem operasi transportasi yang efesien dengan penerapan angkutan umum massal (public transport) yang mempunyai kapasitas angkut besar dalam 1 (satu) unit. Untuk air bersih, cakupan pelayanan air bersih oleh Pemerintah Daerah belum dapat mencapai 100 %. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya jumlah pengguna air tanah. Asumsi yang digunakan adalah semakin tinggi permintaan untuk menggunakan air tanah maka semakin buruknya pelayanan penyediaan air bersih oleh Pemerintah Daerah dilihat berdasarkan kuantitasnya. Eksploitasi berlebihan terhadap air tanah akan membuat permukaan air tanah menjadi turun, sehingga akan menyebabkan terjadinya rongga yang berpotensi menyebabkan turunnya permukaan tanah. Turunnya permukaan tanah ditambah naiknya permukaan air laut akibat efek pemanasan global bahkan dapat menenggelamkan sebagian wilayah DKI. Rekomendasi yang diusulkan adalah (1) melakukan pembatasan jumlah sumur air tanah dan volume air yang dipompakan; dan (2) meningkatkan tingkat penyediaan air bersih. Pemerintah Daerah sampai saat ini telah menaikkan tarif air tanah yang dikomersialisasikan tetapi solusi ini belum efektif untuk menekan besarnya volume penggunaan air tanah. Hal lain yang perlu dilakukan para operator penyedia air minum adalah mereduksi tingkat kebocoran yang selama ini menjadi hambatan bagi operator untuk meningkatkan debit distribusi air bersih ke masyarakat. Kesejahteraan Sosial-Ekonomi DKI Jakarta dapat dikatakan sebagai salah satu daerah yang berhasil menjaga tingkat kemiskinan jauh di bawah tingkat kemiskinan nasional. Namun untuk penanganan pengangguran, DKI Jakarta masih memiliki persoalan. Hal ini teramati dari selalu lebih tingginya tingkat pengangguran DKI Jakarta terhadap tingkat pengangguran nasional. Tren pengangguran DKI Jakarta memang mengalami penurunan sejak tahun 2005, namun tingkat penurunannya masih belum mampu mengejar penurunan tingkat pengangguran yang terjadi di tingkat nasional. Disamping itu indikator kesejahteraan sosial di bidang anak, lansia dan rehabilitasi sosial menunjukkan masih belum tertanggulanginya PMKS di DKI Jakarta. Hal ini juga perlu dipahami bahwa sebagai Ibukota negara, DKI Jakarta menjadi `magnet` bagi penduduk yang berdomisili di luar DKI Jakarta untuk datang, bekerja dan menetap. Sehingga mendorong peningkatan besaran masalah PMKS. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 97 
  •     Dari berbagai data yang ada, hal yang perlu didorong oleh pemerintah untuk menangani persoalan pengangguran ini adalah mengoptimalkan keberadaan lembaga pelatihan dan SMK di DKI Jakarta agar DKI Jakarta memiliki angkatan kerja yang terampil. Disamping itu, hal yang perlu dijembatani pemerintah pula adalah memperkuat hubungan antara sekolah/lembaga pendidikan dengan dunia usaha, agar tenaga terampil yang telah berhasil dimiliki dapat langsung disalurkan ke dunia kerja. Sementara itu untuk bidang sosial, DKI Jakarta haruslah menempatkan penanganan PMKS anak, sosial dan rehabilitasi sosial sebagai salah satu program prioritas. Karena peningkatan kesejahteraan ekonomi tidak akan berdampak secara signifikan kepada kesejahteraan masyarakat tanpa disertai peningkatan quality of life dari penduduknya. Salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan DKI Jakarta mengatasi PMKS adalah dengan melibatkan atau melakukan kerjasama dengan berbagai pihak seperti dunia usaha dan masyarakat sipil untuk mengatasi permasalahan sosial yang ada. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 98 
  •     Daftar Grafik Grafik 1. Persepsi Terhadap Pelayanan KTP di Kelurahan Grafik 2. Persepsi Terhadap Jangka Waktu Pengurusan KTP di Kelurahan Grafik 3. Persepsi Terhadap Biaya Pengurusan KTP di Kelurahan Grafik 4. Persepsi Terhadap Pelayanan Puskesmas Grafik 5. Persepsi Terhadap Biaya Pengobatan Grafik 6. Persepsi Terhadap Lama Waktu Pelayanan Puskesmas Grafik 7. Persepsi Terhadap Pelayanan Pemakaman Umum Grafik 8. Persepsi Terhadap Lama Pengurusan Pemakaman Grafik 9. Persepsi Terhadap Biaya Pemakaman Umum Grafik 10. Persepsi Terhadap Pelayanan Pengurusan IMB Grafik 11. Persepsi Terhadap Lama Waktu Pengurusan IMB Grafik 12. Persepsi Terhadap Biaya Pengurusan Pembuatan IMB Grafik 13. Persepsi Terhadap Pihak Ketiga Pengurusan Pembuatan IMB Grafik 14. Persepsi Terhadap Pelayanan Pembuatan Sertifikasi Tanah Grafik 15. Persepsi Terhadap Lama Waktu Pembuatan Sertifikasi Tanah Grafik 16. Persepsi Terhadap Biaya Pengurusan Pembuatan Sertifikasi Tanah Grafik 17. Indeks Pembangunan Manusia Provinsi DKI Dan Nasional Grafik 18. Angka Partisipasi Sekolah DKI dan Nasional Grafik 19. Angka Melek Aksara 15 tahun ke atas DKI dan Nasional Grafik 20. Rata-Rata Nilai Akhir SMP DKI dan Nasional Grafik 21. Rata-Rata Nilai Akhir SMP DKI dan Nasional Grafik 22. Angka Putus Sekolah DKI dan Nasional Grafik 23. Angka Putus Sekolah SMP DKI dan Nasional Grafik 24. Angka Putus Sekolah SMA DKI dan Nasional Grafik 25. Presentase Guru yang Layak Mengajar SMP DKI dan Nasional Grafik 26. Presentase Guru yang Layak Mengajar SMA DKI dan Nasional Grafik 27. Peserta KB Aktif Periode 2004-2009 Grafik 28. Angka Harapan Hidup Waktu Lahir Periode 2004-2009 Grafik 29. Angka Kematian Bayi Periode 2004-2009 Grafik 30. Angka Kematian Ibu Periode 2004-2009 Grafik 31. Prevalensi Balita Gizi Buruk Periode 2004-2009 Grafik 32. Prevalensi Balita Gizi Buruk Periode 2004-2009 Grafik 33. Perkembangan Kondisi Ekonomi Makro DKI Jakarta dan Nasional, 2004-2009 Grafik 34. Perkembangan Kondisi Investasi DKI Jakarta dan Nasional Grafik 35. Perkembangan Indikator Pembangunan Ekonomi DKI Jakarta dan Nasional Grafik 36. Perkembangan Nilai PDRB Riil dan PDRB Nominal, dan Tingkat Pertumbuhan Ekonomi DKI Jakarta, Tahun 2008-2009 Grafik 37. Pertumbuhan Komponen PDRB Riil Pendekatan Pengeluaran Tahun 2007 Grafik 38. Pertumbuhan Komponen PDRB Riil Pendekatan Sektoral Tahun 2007 Grafik 39. Laju Pertumbuhan Ekonomi DKI Jakarta dan Pertumbuhan Ekonomi Nasional, Tahun 2004-2009 Grafik 40. Komposisi Ekspor Berdasarkan Komoditas Grafik 41. Komposisi Ekspor Berdasarkan Kawasan Tujuan Ekspor Grafik 42. Nilai Ekspor dan Impor DKI Jakarta, Tahun 2004-2008 (Triliun Rupiah) Grafik 43. Kontribusi Sektor Manufaktur DKI Jakarta dan Nasional Grafik 44. Pendapatan Per Kapita DKI Jakarta dan Nasional Grafik 45. Perkembangan Inflasi DKI Jakarta dan Inflasi Nasional 2004-2008 Grafik 46. Daya Serap Tenaga Kerja Investasi PMDN, 2004-2008 LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 99 
  •     Grafik 47. Jumlah Izin Usaha Tetap dan Nilai Realisasi Investasi PMA DKI Jakarta 2004-2009 Grafik 48. Kontribusi PMA DKI Jakarta terhadap Pembentukan PMA Nasional Grafik 49. Daya Serap Tenaga Kerja Investasi PMDN, 2004-2008 Grafik 50. Jumlah Kendaraan Bermotor yang Terdaftar menurut Jenisnya selama 2003 – 2007 di Wilayah DKI Jakarta dan Prediksi untuk tahun 2008 - 2010 Grafik 51. Total Jumlah Penumpang Transjakarta di semua Koridor Grafik 52. Jumlah Penumpang Transjakarta di setiap Koridor Grafik 53. Perkembangan Tingkat Kesejahteraan Ekonomi DKI Jakarta dan Nasional Grafik 54. Tingkat Kemiskinan DKI Jakarta dan Nasional Grafik 55. Tingkat Pengangguran dan Tingkat Bekerja DKI Jakarta Tahun 2004-2009 Grafik 56. Tingkat Pengangguran Terbuka Nasional dan DKI Jakarta Grafik 57. Persentase Pelayanan Kesejahteraan Sosial bagi Anak Nasional dan DKI Jakarta Grafik 58. Persentase Pelayanan Kesejahteraan Sosial bagi Lanjut Usia Nasional dan DKI Jakarta Grafik 59. Persentase Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Nasional dan DKI Jakarta LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 100 
  •     Daftar Tabel Tabel 1. Nilai Integritas 10 Pemerintah Provinsi Tahun 2009 Tabel 2. Persentase Jumlah Aparat Yang Berijazah Minimal S1 Tabel 3. Data Kualitas SDM Bidang Pendidikan di Wilayah DKI Jakarta Periode 2004-2009 Tabel 4. Data Kualitas SDM Bidang Pendidikan Nasional Periode 2004-2009 Tabel 5. Rasio Tenaga Kesehatan Terhadap 100.000 Penduduk Tabel 6. Pertumbuhan Komponen PDRB Riil dengan Pendekatan Pengeluaran, Tahun 2005-2008 Tabel 7. Pertumbuhan Komponen PDRB Riil Pendekatan Sektoral, Tahun 2004-2008 Tabel 8. Ekspor melalui Jakarta dan Ekspor Produk Jakarta Tabel 9. Kontribusi Komponen PDRB DKI Jakarta dengan Pendekatan Pengeluaran, Tahun 2004-2009 Tabel 10. Tingkat Inflasi DKI Jakarta menurut Tujuh Kelompok Komoditas dalam Periode 2004-2008 Tabel 11. Tingkat Inflasi Nasional menurut Tujuh Kelompok Komoditas dalam Periode 2004-2008 Tabel 12. Jumlah Izin Usaha Tetap dan Nilai Realisasi Investasi PMDN DKI Jakarta 2004- 2009 Tabel 13. Perkembangan Realisasi Investasi PMDN DKI Jakarta dan Jawa Barat Tabel 14. Nilai Realisasi Investasi PMA di Pulau Jawa (US$ Juta), Tahun 2004-2008 Tabel 15. Panjang Jalan menurut Kota Administrasi berdasarkan Jenis Jalan tahun 2007 Tabel 16. Luas Jalan menurut Kota Administrasi berdasarkan Jenis Jalan tahun 2007 Tabel 17. Panjang Jalan menurut Jenis dan Status Jalan selama tahun 2005 - 2007 Tabel 18. Luas Jalan menurut Jenis dan Status Jalan selama tahun 2005 – 2007 Tabel 19. Jumlah Kecelakaan Lalulintas di Provinsi DKI Jakarta Tabel 20. Prosentase Korban Kecelakaan Lalulintas berdasarkan dampak Keparahanya di DKI Jakarta Tabel 21. Jumlah Penduduk dan Prediksi Kebutuhan Air DKI Jakarta Tabel 22. Kemiskinan Provinsi DKI Jakarta Periode 2004-2008 Tabel 23. Penduduk Usia Kerja DKI Jakarta Tahun 2004-2009 Tabel 24. Angkatan Kerja yang Bekerja Provinsi DKI Jakarta menurut Status Pekerjaan Utama Tabel 25. Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas yang Bekerja Selama Seminggu yang Lalu menurut Sektor Ekonomi LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 101 
  •     Daftar Gambar Gambar 1. Pola Jaringan Jalan DKI Jakarta Gambar 2. Rencana Jaringan transportasi Jakarta Gambar 3. Jaringan Utama pendukung Bandara Soekarno Hatta Gambar 4. Jaringan Utama Pendukung Pelabuhan Laut Tg. Priok Gambar 5. Jaringan Utama Pendukung Terminal -Terminal Utama AntarKota LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 102 
  •     LAMPIRAN MATRIKS DATA EKPD PROVINSI DKI JAKARTA LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 103