Laporan

EVALUASI KINERJA
PEMBANGUNAN DAERAH
PROVINSI DKI JAKARTA
TAHUN 2009
 




          Universitas Indonesia
 ...
 




Laporan
EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH PROVINSI DKI JAKARTA
TAHUN 2009
© 2009

Disusun dalam bahasa Indonesia
o...
 




                               KATA PENGANTAR



Assalamu’alaikum Wr. Wb


Merupakan sebuah kepercayaan bagi Univers...
 




                                                        DAFTAR ISI

Kata Pengantar ....................................
 




2.3. TINGKAT PEMBANGUNAN EKONOMI ……………………………………..….…                                                                ...
 




LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH  
                 PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | iv 
 
       



Bab I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang dan Tujuan

   Pembangunan daerah merupakan bagian yang tidak terpisahk...
 
       


   b. Melayani masyarakat dengan prinsip pelayanan prima.
   c. Memberdayakan masyarakat dengan prinsip pember...
 
      


1.3 Metodologi
   Penelitian    yang   dilakukan   adalah   penelitian    evaluatif   yang     mengutamakan
   ...
 
      



Bab II
HASIL EVALUASI

2.1. TINGKAT PELAYANAN PUBLIK DAN DEMOKRASI
2.1.1. Capaian Indikator
      Kurun Waktu ...
 
 


     serta berfungsinya saluran penghubung dan saluran mikro sepanjang 13,59
     km.
b. Pelabuhan Penumpang Muara A...
 
 


Kurun Waktu Tahun 2008
Kurun waktu 2008 ditandai dengan sulitnya mendapatkan data yang berkaitan
dengan pelayanan pu...
 
 


Data di atas memperlihatkan Provinsi DKI Jakarta berada pada ranking 36 dari 50
kota yang disurvei oleh Transparansi...
 
 


Selatan. Dapat disimpulkan sejauh berkaitan dengan pelayanan publik dan
korupsi, kinerja Provinsi DKI dapat dikataka...
 
     


 
                       a. Persepsi terhadap Pelayanan KTP di Kelurahan
 
                         12%         ...
 
     


        Retribusi Daerah DKI Jakarta menyatakan bahwa dalam rangka pengurusan
        administrasi kependudukan ...
 
 


    Terhadap biaya pengobatan di Puskesmas, warga menganggap sudah sangat
    memadai. Terbukti dari responden yang ...
 
 


e. Pelayanan Pemakaman Umum
     Persepsi terhadap pelayanan pemakaman umum DKI Jakarta menunjukkan
     angka 68,33...
 
 


    Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2006 tentang Retribusi Daerah menyatakan
    besaran biaya yang harus dikeluarkan...
 
 




f.   Pelayanan Izin Mendirikan Bangunan
     Berdasarkan Keputusan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta...
 
 




     Persepsi terhadap lama waktu pengurusan waktu pengurusan IMB menurut
     survei adalah 36,79 persen menyatak...
 
 




                       d. Persepsi terhadap pihak ketiga pengurusan
                                      pembuata...
 
     




                            b. Persepsi terhadap lama waktu pembuatan
                                        ...
 
     


        Negara Indonesia. Dalam laporan penelitian yang disususun oleh KPK, tidak ada
        perubahan menuju k...
 
 


    Untuk itu di rekomendasikan perbaikan dan reformasi administrasi di lingkungan
    Pemprov DKI Jakarta untuk mem...
 
      


2.2. TINGKAT KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA
2.2.1. A. Capaian Indikator Bidang Pendidikan

         Berdasarkan d...
 
 


            ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH SD/MI :

                    90.00

                     97,12
               ...
 
 


d. Rata-rata Nilai Akhir
    Untuk capaian tingkat Provinsi tahun 2004 untuk SMP 5,20 dan SMA 5,12,
    tahun 2005 u...
 
 


e. Angka Putus Sekolah
    Untuk capaian tingkat Provinsi tahun 2004 untuk SD 2,79%, SMP 3,70% dan
    untuk SMA 4,2...
 
 


                ANGKA PUTUS SEKOLAH SMA :

                        5,00

                        4,20

             ...
 
 


        PERSENTASE GURU YANG LAYAK MENGAJAR SMP :

                 99.00

                 89,67



               ...
 
             




Tabel 3. Data Kualitas SDM Bidang Pendidikan di Wilayah DKI Jakarta Periode 2004‐2009
     Indikator 
...
 
        




Analisis Relevansi Dan Efektivitas

Pendekatan yang digunakan dalam melakukan analisis adalah analisis rele...
 
       


tahun sebelumnya, yaitu dari 75,8%, 76,1%, 76,3%, 76,4% dan terakhir 77,03%. Maka
hal ini dapat dikatakan bahw...
 
        


5) Meningkatnya proporsi pendidikan pada jalur pendidikan formal maupun non formal
   yang memiliki kualitas ...
 
         


dari indikator capaian rata-rata nilai akhir SMA di Provinsi DKI Jakarta, yang meningkat
terus dari tahun ke...
 
        


kondisi capaian nasional ternyata lebih baik bila dibandingkan dengan capaian Provinsi,
dimana angka putus se...
 
      


      Selanjutnya   untuk    melihat   relevansi    terhadap     indikator    tersebut,    perlu
      dibandin...
 
 


    2005). Begitu juga pada tahun 2007 mengalami peningkatan sebesar 0,65%
    (dari tahun 2006 sebesar 1,78% menjad...
 
     


          adalah pemerintah perlu terus membuat kebijakan untuk peningkatan pada
          jenjang pendidikan fo...
 
 




b. Angka Harapan Hidup Waktu Lahir Periode 2004-2009




        Grafik 28. Angka Harapan Hidup Waktu Lahir Period...
 
 




c. Angka Kematian Bayi Periode 2004-2009

                                           Angka Kematian Bayi Periode 2...
 
 




d. Angka Kematian Ibu Periode 2004-2009

                                               Angka Kematian Ibu Periode...
 
 


e. Prevalensi Balita Gizi Buruk Periode 2004-2009

     Grafik di atas menunjukkan adanya tren penurunan prevalensi ...
 
 




          Grafik 32. Prevalensi Balita Gizi Kurang Periode 2004-2009




                      Grafik 32. Prevalen...
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI

6,777 views

Published on

Laporan Akhir EKPD 2010 Provinsi DKI Jakarta oleh Universitas Indonesia

Published in: Education
0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
6,777
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
303
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Laporan Akhir EKPD 09 DKI Jakarta - UI

  1. 1.   Laporan EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009   Universitas Indonesia D E P O K                  
  2. 2.   Laporan EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 © 2009 Disusun dalam bahasa Indonesia oleh Tim EKPD UI Tahun 2009 Universitas Indonesia Gedung DRPM UI Lt. 2 Kampus UI, Depok 16424 e-mail: drpm@ui.ac.id KODE LAPORAN: - Penyusun: Tim EKPD UI Tahun 2009  
  3. 3.   KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb Merupakan sebuah kepercayaan bagi Universitas Indonesia untuk turut serta melakukan kegiatan Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah (EKPD) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta 2009 bekerja sama dengan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. Mengingat pentingnya kegiatan ini, Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DPRM) Universitas Indonesia sebagai unit yang bertanggung jawab atas kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat di lingkungan UI, diberi tugas untuk menyusun tim khusus EKPD UI. Tim ini terdiri dari dosen/peneliti di lingkungan UI yang memiliki kepakaran di bidang yang terkait dengan pelbagai program yang dievaluasi. Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah (EKPD) 2009 dilaksanakan untuk menilai relevansi dan efektivitas kinerja pembangunan daerah dalam rentang waktu 2004-2008. Evaluasi ini juga dilakukan untuk melihat apakah pembangunan daerah telah mencapai tujuan/sasaran yang diharapkan dan apakah masyarakat mendapatkan manfaat dari pembangunan daerah tersebut. Hasil evaluasi digunakan sebagai rekomendasi yang spesifik sesuai kondisi lokal guna mempertajam perencanaan dan penganggaran pembangunan pusat dan daerah periode berikutnya, termasuk untuk penentuan alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Dekonsentrasi (DEKON). Atas bantuan dan kerjasama berbagai pihak khususnya Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta kami mengucapkan banyak terima kasih. Wassalamu’alaikum Wr. Wb Depok, 30 Desember 2009 Tim EKPD UI LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | i 
  4. 4.   DAFTAR ISI Kata Pengantar .............................................................................................................. i Daftar Isi ........................................................................................................................ ii Bab I PENDAHULUAN ................................................................................................ 1 1.1. Latar Belakang dan Tujuan .......................................................................... 1 1.2. Keluaran ...................................................................................................... 2 1.3. Metodologi ................................................................................................... 3 1.4. Sistematika Penulisan Laporan ................................................................... 3 Bab II HASIL EVALUASI .............................................................................................. 4 2.1. TINGKAT PELAYANAN PUBLIK DAN DEMOKRASI …………………..… 4 2.1.1 Capaian Indikator………………………………………………………… 4 a. Pendidikan Aparatur Minimal S1…………………………………….. 8 b. Pelayanan Satu Atap…………………………………….………….… 8 c. Pelayanan Kartu Tanda Penduduk (KTP) ………………………..… 8 d. Pelayanan Puskesmas ……………………………………………..… 10 e. Pelayanan Pemakaman Umum ………………………..………........ 12 f. Pelayanan Izin Mendirikan Bangunan ……………........................... 14 g. Pelayanan Pembuatan Sertifikat Tanah ……………………..…..… 16 2.1.2. Analisis Capaian Indikator Spesifik Dan Menonjol ……………...…… 17 2.1.3. Rekomendasi Kebijakan ……………………………………………..… 18 2.2. TINGKAT KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA ……………………………..…... 20 2.2.1.A. Capaian Indikator Bidang Pendidikan ………………………….... 20 a. Indeks Pembangunan Manusia ………………………………….….. 20 b. Angka Partisipasi Sekolah SD/MI …………………………………… 20 c. Angka Melek Aksara 15 Tahun Ke Atas …………………………… 21 d. Rata-rata Nilai Akhir ....................................................................... 22 d. Angka Putus Sekolah ………………………………….…………..… 23 e. Persentase Guru yang Layak Mengajar ………………………….... 24 2.2.2. Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol beserta 32 Rekomendasi …………………………………………………..…… 2.2.1.B. Capaian Indikator dan Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol Bidang Kesehatan …………………………………….. 34 a. Peserta KB Aktif Periode 2004-2009 ………………………….…… 34 b. Angka Harapan Hidup Waktu Lahir Periode 2004-2009 …………. 35 c. Angka Kematian Bayi Periode 2004-2009 ………………………… 36 d. Angka Kematian Ibu Periode 2004-2009 ………………………..… 37 e. Prevalensi Balita Gizi Buruk Periode 2004-2009 ……………….… 38 f. Prevalensi Balita Gizi Kurang Periode 2004-2009 ……………….. 38 g. Rasio Tenaga Kesehatan Terhadap 100.000 Penduduk Periode 2004-2009 …………………………………………………... 39 LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | ii 
  5. 5.   2.3. TINGKAT PEMBANGUNAN EKONOMI ……………………………………..….… 41 2.3.1.1. Capaian Indikator …………………………………………………… 42 2.3.2.1. Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol ................... 44 A. Kondisi Ekonomi Makro Provinsi DKI Jakarta …………….. 44 a. Pertumbuhan Ekonomi DKI Jakarta ………………………... 44 b. Perkembangan Ekspor DKI Jakarta ………………………... 49 c. Perkembangan Industri Manufaktur DKI Jakarta ………….. 52 d. Perkembangan Pendapatan Per Kapita DKI Jakarta ……… 54 e. Perkembangan Inflasi DKI Jakarta ……………………….…. 55 f. Perkembangan Investasi Provinsi DKI Jakarta ………..…. 59 g. Investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN…….… 59 h. Investasi Penanaman Modal Asing (PMA) ……………….... 62 2.3.3.1. Rekomendasi Kebijakan …………………………………………..… 64 2.3.1.2. Capaian Indikator dan Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol Transportasi Darat dan Penyediaan Air Bersih ……….. 66 2.3.2.2. Rekomendasi Kebijakan …………………………………………..... 80 2.4. TINGKAT KESEJAHTERAAN SOSIAL-EKONOMI …………………………….. 82 2.4.1.Capaian Indikator ................................................................................... 82 2.4.2. Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol ........................... 82 a. Kondisi Kemiskinan DKI Jakarta ………………………………………. 83 b. Perkembangan Kondisi Ketenagakerjaan DKI Jakarta ……………… 83 c. Perkembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial bagi Anak (Terlantar, Jalanan, Balita Terlantar dan Nakal) …………....… 90 d. Perkembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial bagi Lanjut Usia ........................................................................................... 91 e. Perkembangan Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial (Penyandang Cacat, Tuna Sosial, dan Korban Penyalahgunaan Narkoba) ……….………………………………..…... 92 2.4.3. Rekomendasi Kebijakan ……………………………………..………..…. 92 BAB III KESIMPULAN ................................................................................................. 94 LAMPIRAN Matriks Data Daftar Grafik Daftar Tabel Daftar Gambar LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | iii 
  6. 6.   LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | iv 
  7. 7.     Bab I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Tujuan Pembangunan daerah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional, pada hakekatnya pembangunan daerah adalah upaya terencana untuk meningkatkan kapasitas daerah dalam mewujudkan masa depan daerah yang lebih baik dan kesejahteraan bagi semua masyarakat. Hal ini sejalan dengan amanat UU No. 32 tahun 2004 yang menegaskan bahwa Pemerintah Daerah diberikan kewenangan secara luas untuk menentukan kebijakan dan program pembangunan di daerah masing-masing. Demikian pula halnya dengan Provinsi DKI Jakarta telah membuat perencanaan pembangunannya dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) DKI Jakarta 2007-2012, yang merupakan penjabaran dari Visi, Misi, Program Gubernur terpilih Fauzi Bowo. RPJMD DKI Jakarta terdiri dari Kebijakan Umum Pembangunan Daerah, Kebijakan Umum Keuangan Daerah, Strategi dan Program SKPD, lintas SKPD, serta program kewilayahan. Adapun maksud penyusunan RPJMD DKI Jakarta 2007-2012 untuk menghasilkan program-program pembangunan daerah yang terpadu, fokus dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Sedangkan tujuannya adalah sebagai acuan penyusunan Rencana Strategis setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), arah pengembangan usaha bagi pelaku usaha dan harapan bagi setiap warga ibukota. Visi DKI Jakarta yang telah dituangkan dalam Peraturan Daerah adalah sebagai berikut: “Jakarta Yang Nyaman dan Sejahtera Untuk Semua”, dengan pemahaman sebagai berikut: A. Jakarta yang nyaman bermakna terciptanya rasa aman, tertib, tentram dan damai; B. Jakarta yang sejahtera bermakna terwujudnya derajat kehidupan penduduk Jakarta yang sehat, layak, dan manusiawi. Untuk mewujudkan visi, misi pembangunan 2007-2012 adalah sebagai berikut: a. Membangun tata kelola pemerintahan yang baik dengan menerapkan kaidah- kaidah ”Good Governance”. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 1 
  8. 8.     b. Melayani masyarakat dengan prinsip pelayanan prima. c. Memberdayakan masyarakat dengan prinsip pemberian otoritas pada masyarakat untuk mengenali permasalahan yang dihadapi dan mengupayakan pemecahan yang terbaik pada tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian pembangunan. d. Membangun sarana dan prasarana kota yang menjamin kenyamanan, dengan memperhatikan prinsip pembangunan berkelanjutan. e. Menciptakan lingkungan kehidupan kota yang dinamis dalam mendorong pertumbuhan dan kesejahteraan. Setelah berjalan sampai tahun 2009, Bappenas memutuskan untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja pembangunan seluruh provinsi di Indonesia. Provinsi DKI Jakarta termasuk di dalamnya walaupun jika dilihat dari keberlakuan RPMJD baru berakhir tahun 2012. Hal ini dilakukan karena kepemimpinan nasional dimulai tahun 2004 dan akan berakhir tahun 2009. Sebagai catatan perlu disampaikan bahwa pada periode tersebut diatas Provinsi DKI dipimpin oleh dua orang Gubernur yang berbeda, yaitu Sutiyoso dan Fauzi Bowo. Kedua orang gubernur ini memerintah dengan Visi, Misi, Renstra serta program pembangunannya sendiri-sendiri. Secara kuantitatif, evaluasi ini akan memberikan informasi penting yang berguna sebagai alat untuk membantu pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan pembangunan dalam memahami, mengelola dan memperbaiki apa yang telah dilakukan sebelumnya. Hasil evaluasi digunakan sebagai rekomendasi yang spesifik sesuai kondisi lokal guna mempertajam perencanaan dan penganggaran pembangunan pusat dan daerah periode berikutnya, termasuk untuk penentuan alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Dekonsentrasi (DEKON). 1.2 Keluaran Keluaran yang diharapkan dari pelaksanaan EKPD 2009 meliputi: 1. Terhimpunnya data dan informasi evaluasi kinerja pembangunan di Provinsi DKI Jakarta 2. Tersusunnya hasil analisis evaluasi kinerja pembangunan di Provinsi DKI Jakarta sesuai sistematika buku panduan. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 2 
  9. 9.     1.3 Metodologi Penelitian yang dilakukan adalah penelitian evaluatif yang mengutamakan penggunaan data sekunder dan pengamatan langsung. Untuk menganalisis kinerja pembangunan daerah, pendekatan yang digunakan adalah Relevansi dan Efektivitas. Relevansi digunakan untuk menganalisis sejauh mana tujuan/sasaran pembangunan yang direncanakan mampu menjawab permasalahan utama/tantangan. Dalam hal ini, relevansi pembangunan daerah dilihat apakah tren capaian pembangunan daerah sejalan atau lebih baik dari capaian pembangunan nasional. Sedangkan efektivitas digunakan untuk mengukur dan melihat kesesuaian antara hasil dan dampak pembangunan terhadap tujuan yang diharapkan. Efektivitas pembangunan dapat dilihat dari sejauh mana capaian pembangunan daerah membaik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dalam mengumpulkan data dan informasi, teknik yang akan digunakan pada Provinsi DKI adalah: Pengumpulan Data Primer Data diperoleh melalui FGD dengan pemangku kepentingan pembangunan daerah. Tim EKPD melakukan FGD dengan peserta Bappeda DKI bersama dengan sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). SKPD yang terlibat adalah mereka yang berkedudukan di Tingkat Provinsi maupun Kotamadya. Pengumpulan Data Sekunder Sejauh ini data dan informasi yang telah tersedia pada instansi pemerintah adalah data yang berasal dari BPS DKI Jakarta, Bappeda Pemda DKI Jakarta, serta dari sejumlah SKPD yang terkait.Selain itu data-data juga diperoleh dari sumber-sumber resmi lainnya. 1.4 Sistematika Penulisan Laporan Laporan ini terdiri dari 3 bab yang berisi pendahuluan, hasil evaluasi, dan kesimpulan. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 3 
  10. 10.     Bab II HASIL EVALUASI 2.1. TINGKAT PELAYANAN PUBLIK DAN DEMOKRASI 2.1.1. Capaian Indikator Kurun Waktu Tahun 2007 Pemerintah Daerah DKI Jakarta sejauh ini telah melakukan berbagai upaya perbaikan pelayanan diberbagai sektor pemerintahan. Penyelenggaraan Pemerintahan mengacu pada Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2002 tentang Rencana Strategis Daerah (Renstrada) 2002-2007. Sesuai dengan Renstrada 2002-2007, program Pemerintah Daerah dikelompokan dalam 8 (delapan) Bidang Pembangunan. Berdasarkan prioritas anggaran, kedelapan bidang pembangunan tersebut dikelompokkan menjadi Program Dedicated dari Prioritas Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD). Dengan demikian, program pemerintah daerah adalah sebagai berikut: 1. Program Dedicated 2. Program prioritas SKPD: a. Bidang Hukum, Ketentraman, Ketertiban Umum, dan Kesatuan Bangsa b. Bidang Pemerintahan c. Bidang Ekonomi d. Bidang Pendidikan dan Kesehatan e. Bidang Sosial Budaya f. Bidang Kependudukan dan Tenaga Kerja g. Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup h. Bidang Sarana Prasarana Kota Pencapaian Program Dedicated sampai tahun 2007 dapat dilihat pada deskripsi di bawah ini: Pembebasan Tanah Banjir Kanal Timur Sejauh ini telah dibebaskan tanah untuk Banjir Kanal Timur sebesar 72,82% dari total lahan yang harus dibebaskan a. Normalisasi Sungai, Situ, Saluran dan Waduk Terlaksananya pembebasan tanah untuk pembangunan Waduk Sunter Hulu, Cimanggis, Cilangkap, Rawa Lindung. Demikian pula terlaksananya sebagian dari normalisasi Kali Banglio, Kali Tanjungan dan Kali Ciliwung Gajah Mada, LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 4 
  11. 11.     serta berfungsinya saluran penghubung dan saluran mikro sepanjang 13,59 km. b. Pelabuhan Penumpang Muara Angke Dalam rangka pembangunan pelabuhan Muara Angke, sejauh ini telah terbangun dermaganya. c. Busway Hasil yang dicapai sampai tahun 2007 adalah terlaksananya pemeliharaan jalur Busway koridor I – VII, tersedianya jalur Busway (termasuk separator) Koridor VIII (Lebak Bulus-Harmoni), Koridor IX (Pinang Ranti-Grogol-Pluit), Koridor X (Cililitan-Tanjung Priok), berfungsinya lokasi park and ride di Halte Ragunan dan Halte Kampung Rambutan, serta terbangunnya pool Busway di Cililitan dan Daan Mogot (eks PPD). d. Perumahan Dari rencana pembangunan rumah susun sebanyak 2008 unit, telah direalisasikan sebanyak 1700 unit yang terdiri dari 1200 unit Rusun Marunda, 280 unit Rusun Pinus Elok, 63 unit Rusun Cakung Barat, 48 Unit Rusun Pulo Jahe dan 100 unit Rusun Pulo Gebang atau 85% dari target rencana. e. Program Peningkatan Kualitas Pelayanan Kelurahan dan Kecamatan Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan di tingkat kelurahan dan pelayanan, Gubernur DKI telah membuat Peraturan Gubernur (Pergub) No. 46 Tahun 2006 tentang Pelimpahan Wewenang Sebagian Urusan Pemerintahan Daerah dari Gubernur kepada Walikotamadya/Bupati Kabupaten Administratif, Camat dan Lurah. Saat ini Peraturan Gubernur tersebut sudah dilaksanakan. f. Kesehatan Berfungsinya pelayanan keluarga miskin dan bencana bagi 320.763 pasien di 82 Rumah Sakit serta 44 Puskesmas. Laporan yang berkaitan dengan Provinsi DKI Jakarta tidak lengkap karena kesulitan untuk mendapatkan data dari instansi-instansi pemerintah yang ada (SKPD) walaupun Bappeda bersifat sangat membantu. Selain mendapatkan sebagian data dari Pemda DKI Jakarta, sebagian data diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Transparansi Internasional untuk data Pelayanan Publik dan Korupsi, serta dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang berkaitan dengan integritas yang berkaitan dengan korupsi dan pelayanan publik. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 5 
  12. 12.     Kurun Waktu Tahun 2008 Kurun waktu 2008 ditandai dengan sulitnya mendapatkan data yang berkaitan dengan pelayanan publik di DKI Jakarta. Oleh karena itu tim mengambil data dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Transparansi Internasional tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK) seperti yang dapat dibaca di bawah ini. Transparansi Internasional melakukan penelitian terhadap 50 kota di Indonesia yang terdiri dari 33 ibukota provinsi dan 17 kota besar lainnya. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: A. Sepuluh kota terbaik terdiri dari: 1. Yogyakarta 6. Surakarta 2. Palangkaraya 7. Tasikmalaya 3. Banda Aceh 8. Banjarmasin 4. Jambi 9. Samarinda 5. Mataram 10. Pangkal Pinang B. Ranking 11 sampai 40: 11. Ternate 21. Semarang 31. Surabaya 12. Jayapura 22. Bandar Lampung 32. Denpasar 13. Malang 23. Serang/Cilegon 33. Sibolga 14. Jember 24. Palu 34. Lhokseumawe 15. Kediri 25. Bengkulu 35. Mamuju 16. Balikpapan 26. Batam 36. Jakarta 17. Gorontalo 27. Sorong 37.Manado 18. Makassar 28. Tenggarong 38. Pematang Siantar 19. Padang 29. Tanjung Pinang 39.Palembang 20. Sampit 30. Ambon 40. Medan C. Ranking 10 terendah 41. Cirebon 46. Purwokerto 42. Pontianak 47. Kendari 43. Bandung 48. Manokwari 44. Padang Sidempuan 49. Tegal 45. Pakan Baru 50. Kupang LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 6 
  13. 13.     Data di atas memperlihatkan Provinsi DKI Jakarta berada pada ranking 36 dari 50 kota yang disurvei oleh Transparansi Internasional. Data di atas memperlihatkan bahwa kondisi pelayanan publik yang berkaitan dengan korupsi cukup memprihatinkan di DKI Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Indonesia. Kurun Waktu 2009 Pada penelitian yang sama, yaitu yang bertemakan korupsi dan pelayanan publik, KPK mengurut 10 Provinsi dengan hasil Pemerintah DKI Jakarta ada pada peringkat 8 dengan nilai integritas 5,65. Ini artinya baik dilihat dari ranking unit pelayanan maupun provinsi yang menjadi sampel penelitian, Provinsi DKI Jakarta mendapat nilai integritas pelayanan publik yang cukup buruk. Nilai Integritas 10 Pemerintah Provinsi Tahun 2009  Nilai Pengalaman Potensi No Prov Integritas Integritas Integritas 1 Jawa Timur 7,15 7,46 5,94 Kalimantan 2 7,04 7,56 5,51 Selatan 3 Jawa Barat 6,81 7,09 5,97 4 Kalimantan Timur 6,73 7,10 5,64 5 Bali 6,53 6,67 6,08 6 Lampung 6,25 6,41 5,78 7 Sumatera Utara 6,06 6,17 5,72 8 DKI Jakarta 5,65 5,67 5,61 9 Sulawesi Utara 4,80 4,66 5,23 10 Sulawesi Selatan 4,75 4,55 5,34 Rata-rata 6,18 6,33 5,68 5                           Tabel 1. Nilai Integritas 10 Pemerintah Provinsi Tahun 2009 Selain itu pada penelitian yang sama KPK juga melakukan penelitian terhadap 39 unit pelayanan yang tersebar di seluruh Indonesia. Ada 4 unit pelayanan Pemda DKI Jakarta yang terambil sebagai sampel. Masing masing adalah RSUD DKI berada pada rangking 6 terbaik dengan nilai integritas 7,28, rangking 28 adalah Dinas Koperasi dan UKM DKI dengan nilai integritas sebesar 5,78, rangking 31 Lintas Instansi DKI dengan nilai integritas sebesar 5,11, rangking 34 Dinas Perhubungan DKI dengan nilai integritas sebesar 4,43. Secara keseluruhan nilai integritas tertinggi adalah 7,42 diperoleh RSUD Provinsi Jawa Timur, sedangkan nilai terendah adalah 3,72 diperoleh Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 7 
  14. 14.     Selatan. Dapat disimpulkan sejauh berkaitan dengan pelayanan publik dan korupsi, kinerja Provinsi DKI dapat dikatakan masih buruk. a. Pendidikan Aparatur Minimal S1 Berkaitan dengan indikator pendidikan aparatur yang berijazah minimal S1 data menunjukan adanya kenaikan mulai dari tahun 2005 sampai tahun 2009. Data tersebut adalah sebagai berikut: Jumlah  Tahun  (Persentasi)  2005  29,17  2006  31,61  2007  33,34  2008 36,02 2009  39,18  Tabel 2. Persentase Jumlah Aparat Yang Berijazah Minimal S1 Jumlah Persentase Aparat yang berijazah Minimal S1 untuk tahun 2005 adalah 29,17 persen, tahun 2006 31,61 persen, tahun 2007 33,34 persen, tahun 2008 36,02 persen serta tahun 2009 39,18 persen. Data di atas menunjukan kondisi yang lebih baik dari rata-rata nasional. b. Pelayanan Satu Atap Di Provinsi DKI Jakarta sudah sejak lama terdapat Kantor Pelayanan Satu Atap (SAMSAT), namun kantor ini hanya terpadu dalam arti lokasi dan belum dalam arti kewenangan. Berbeda dengan yang ada pada sejumlah provinsi, keterpaduan diwujudkan dalam Dinas Perijinan. Dengan demikian kualitas pelayanan sistem satu atap yang ada pada Provinsi DKI belum mampu mempercepat proses pelayanan. Hal ini disebabkan karena masing-masing instansi harus kembali lagi ke instansi asalnya untuk pengambilan keputusan. c. Pelayanan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Persepsi terhadap pelayanan KTP di Kelurahan menurut data survei 83,33 persen memperoleh hasil puas atas pelayanan KTP, 11,90 persen kurang puas serta 4,17 persen menunjukkan tidak puas pada pelayanan pembuatan KTP di Kelurahan. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 8 
  15. 15.         a. Persepsi terhadap Pelayanan KTP di Kelurahan     12% 4%     84%       Puas Kurang Puas Tidak Puas   Grafik 1. Persepsi Terhadap Pelayanan KTP di Kelurahan   Waktu penyelesaian pengurusan KTP membutuhkan waktu satu hari untuk perpanjangan serta dalam hal pembuatan baru, mutasi hilang maka dibutuhkan waktu maksimum 14 hari. Persepsi terhadap jangka waktu pengurusan KTP 74,03 persen menunjukkan puas, 21,79 persen menyatakan kurang puas, selebihnya yaitu 4,18 persen menunjukkan tidak puas terhadap lama waktu penyelesaian pembuatan KTP di kelurahan.       b. Persepsi terhadap jangka waktu pengurusan KTP   4%   22%     74%     Puas Kurang Puas Tidak Puas   Grafik 2. Persepsi Terhadap Jangka Waktu Pengurusan KTP di Kelurahan Pelayanan masyarakat bidang administrasi kependudukan di DKI Jakarta berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 dan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1997 tentang Retribusi Daerah, Peraturan Daerah Nomor 6-7 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Pendaftaran Penduduk dalam kerangka Sistem Informasi Manajemen Kependudukan (SIMDUK) dalam wilayah DKI Jakarta, serta Instruksi Gubernur KDKI Jakarta Nomor 134 Tahun 1998 tentang Penghentian Pungutan Beberapa Jenis Pajak Daerah dan LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 9 
  16. 16.     Retribusi Daerah DKI Jakarta menyatakan bahwa dalam rangka pengurusan administrasi kependudukan tidak dikenakan biaya, dalam data menunjukkan persepsi terhadap biaya pengurusan KTP menunjukkan data persentasi: 77,20 persen menyatakan puas, 18,54 persen kurang puas serta 4,26 persen menyatakan tidak puas atas pelayanan biaya pembuatan KTP. Serta persepsi terhadap biaya pihak ketiga menyatakan data 55,11 persen menyatakan puas, 22,73 persen meyatakan kurang puas serta 22,16 persen menyatakan tidak puas dalam rangka pembiayaan pembuatan KTP pihak ketiga.   c. Persepsi terhadap biaya pengurusan KTP     4%   19%     77%     Puas Kurang Puas Tidak Puas   Grafik 3. Persepsi Terhadap Biaya Pengurusan KTP di Kelurahan d. Pelayanan Puskesmas Berdasarkan hasil survei persepsi dan kepuasan publik oleh Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), sebanyak 87,59 persen warga menyatakan puas terhadap pelayanan Puskesmas Kecamatan. Sedangkan yang merasa kurang puas mencapai 16,80 persen, dan hanya 3,67 persen mengaku tidak puas. a. Persepsi terhadap Pelayanan Puskesmas 11% 1% 88% Puas Kurang Puas Tidak Puas   Grafik 4. Persepsi Terhadap Pelayanan Puskesmas LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 10 
  17. 17.     Terhadap biaya pengobatan di Puskesmas, warga menganggap sudah sangat memadai. Terbukti dari responden yang menyatakan puas terhadap biaya yang dikenakan saat berobat di puskesmas mencapai 94,06 persen. Responden yang menyatakan kurang puas hanya 5,68 persen, dan yang tidak puas hanya 0,26 persen. b. Persepsi terhadap biaya pengobatan 0% 6% 94% Puas Kurang Puas Tidak Puas Grafik 5. Persepsi Terhadap Biaya Pengobatan Sementara itu, berdasarkan hasil survei Dinas Kesehatan DKI, mayoritas pasien menginginkan pelayanan yang ramah dan cepat. Untuk itu, Dinas Kesehatan telah melakukan peningkatan kualitas pelayanan mulai dari loket sampai poliklinik dengan pola 3S yaitu Senyum, Sapa dan Salam, juga melakukan pembinaan sumber daya manusia seperti pelatihan service excellent, serta rutin melaksanakan Gugus Kendali Mutu yang salah satunya adalah menindaklanjuti keluhan pelanggan. Persepsi terhadap lama waktu pelayanan Puskesmas menunjukkan data 87,59 persen menyatakan puas, 5,68 persen kurang puas serta 0,26 persen tidak puas. b. Persepsi terhadap Lama Waktu Pelayanan Puskesmas 4% 17% 79% Puas Kurang Puas Tidak Puas Grafik 6. Persepsi Terhadap Lama Waktu Pelayanan Puskesmas LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 11 
  18. 18.     e. Pelayanan Pemakaman Umum Persepsi terhadap pelayanan pemakaman umum DKI Jakarta menunjukkan angka 68,33 persen menunjukan puas serta 24,17 persen menunjukkan kurang puas dan 7,50 persen meyatakan tidak puas atas pelayanan pemakaman umum. a. Persepsi terhadap pelayanan pemakaman umum 20% 17% 63% Puas Kurang Puas Tidak Puas Grafik 7. Persepsi Terhadap Pelayanan Pemakaman Umum Jangka waktu pengurusan pemakaman menunjukkan angka 76,79 persen menyatakan puas, 17,41 menyatakan kurang puas dan yang tidak puas sebesar 5,8 persen. b. Persepsi terhadap lama pengurusan pemakaman 6% 17% 77% Puas Kurang Puas Tidak Puas Grafik 8. Persepsi Terhadap Lama Pengurusan Pemakaman LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 12 
  19. 19.     Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2006 tentang Retribusi Daerah menyatakan besaran biaya yang harus dikeluarkan dalam rangka pengurusan pemakaman umum di DKI Jakarta. Biaya Perizinan Pelayanan Pemakaman: 1. Izin pemasangan plaket makam Rp30.000,00/izin 2. Izin mengangkut jenazah keluar negeri Rp20.000,00/jenazah 3. Izin mengangkut jenazah keluar wilayah Provinsi DKI Rp10.000,00/jenazah Jakarta Izin tahan jenazah setelah 24 jam 4. Rp10.000,00/24 jam Penambahan lebih dari 1 hari sampai dengan paling Rp2.000,00/hari lama 5 hari 5. Rp10.000,00/jenazah/ Izin pengabuan jenazah/kerangka jenazah kerangka 6. Izin penggalian dan pemindahan jenazah/ kerangka Rp10.000,00/jenazah/ jenazah kerangka 7. Izin usaha dan daftar ulang izin usaha dibidang Rp250.000,00/tahun pelayanan pemakaman atau pengabuan (kremasi) Berdasarkan persepsi terhadap biaya pengurusan pemakaman umum di DKI Jakarta maka hasil survei menunjukkan data 57,21 persen meyatakan kepuasan, 30,63 persen kurang puas serta angka 10,74 persen yang meyatakan tidak puas dalam pembiayaan pengurusan pemakaman umum. Data ini menunjukkan ketidaksesuaian antara biaya peizinan pelayanan pemakaman pada Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2006 tentang Retribusi Daerah dengan implementasi pengurusannya. c. Persepsi terhadap biaya pemakaman umum 12% 31% 57% Puas Kurang Puas Tidak Puas   Grafik 9. Persepsi Terhadap Biaya Pemakaman Umum LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 13 
  20. 20.     f. Pelayanan Izin Mendirikan Bangunan Berdasarkan Keputusan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 76 Tahun 2000 Tentang Tata Cara Memperoleh Izin Mendirikan Bangunan, Izin Penggunaan Bangunan Dan Kelayakan menggunakan Bangunan Di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta serta Surat Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor: 147 Tahun 2000 "Tentang Pendelegasian Wewenang Pelayanan Penetapan Keterangan Rencana Kota (KRK) dan Penetapan Izin Pendahuluan (IP) Mendirikan Bangunan pada seksi P2K Kecamatan". Menerangkan bahwa IMB adalah izin yang diberikan untuk melakukan kegiatan membangun yang dapat diterbitkan apabila rencana bangunan dinilai telah sesuai dengan ketentuan yang meliputi aspek pertanahan, aspek planologis, aspek teknis, aspek kesehatan, aspek kenyamanan dan aspek lingkungan. Bangunan yang tidak memiliki IMB akan terkena sanksi yaitu tindakan penertiban. Untuk mendapatkan IMB, pertama pemohon harus datang ke SUDIN Pengawasan Pembangunan Kota Wilayah setempat, di mana bangunan itu akan didirikan, untuk mengajukan PIMB. Sebelumnya terlebih dahulu pemohon harus menyiapkan dan melengkapi berkas permohonan yang akan diajukan. Persepsi terhadap pelayanan pengurusan IMB menurut data survei 40,00 persen menyatakan puas, 38,26 persen kurang puas serta 21,74 persen menyakan tidak puas dalam pelayanan pembuatan izin mendirikan bangunan di DKI Jakarta. a. Persepsi terhadap pelayanan pengurusan IMB 22%  40% 38%  Puas Kurang Puas Tidak Puas Grafik 10. Persepsi Terhadap Pelayanan Pengurusan IMB LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 14 
  21. 21.     Persepsi terhadap lama waktu pengurusan waktu pengurusan IMB menurut survei adalah 36,79 persen menyatakan puas, 42,45 persen kurang puas serta tidak puas pada pelayanan pengurusan waktu pengurusan IMB adalah 20,75 persen. b. Persepsi terhadap lama waktu pengurusan IMB  21% 37% 42% Puas  Kurang Puas Tidak Puas Grafik 11. Persepsi Terhadap Lama Waktu Pengurusan IMB Persepsi terhadap biaya pengurusan IMB adalah 35,24 persen menyatakan puas, 44,76 persen kurang puas serta 20,00 persen tidak puas. c. Persepsi terhadap biaya pengurusan pembuatan IMB 20% 35% 45% Puas  Kurang Puas Tidak Puas Grafik 12. Persepsi Terhadap Biaya Pengurusan Pembuatan IMB Persepsi terhadap pelayanan pihak ketiga dalam pengurusan IMB adalah 60,92 persen menunjukkan puas, kurang puas di angka 19,54 persen serta yang tidak puas 19,54 persen. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 15 
  22. 22.     d. Persepsi terhadap pihak ketiga pengurusan pembuatan IMB 20% 19% 61% Puas Kurang Puas Tidak Puas Grafik 13. Persepsi Terhadap Pihak Ketiga Pengurusan Pembuatan IMB g. Indikator Pelayanan Pembuatan Sertifikat Tanah Persepsi terhadap pelayanan pembuatan sertifikat tanah menurut survei adalah 45,70 persen menunjukkan puas terhadap pelayanan pembuatan sertifikat tanah, 39,74 persen kurang puas serta 14,57 persen menyatakan tidak puas. a. Persepsi terhadap pelayanan pembuatan sertifikasi tanah 14% 46% 40% Puas Kurang Puas Tidak Puas   Grafik 14. Persepsi Terhadap Pelayanan Pembuatan Sertifikasi Tanah Persepsi terhadap lama waktu pembuatan sertifikasi tanah menunjukkan angka 34,51 persen menyatakan puas, 53,52 persen kurang puas serta 11,97 persen tidak puas atas waktu yang diperlukan dalam pengurusan pembuatan sertifikat tanah. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 16 
  23. 23.     b. Persepsi terhadap lama waktu pembuatan sertifikasi tanah 12% 35% 53% Puas  Kurang Puas Tidak Puas   Grafik 15. Persepsi Terhadap Lama Waktu Pembuatan Sertifikasi Tanah Persepsi terhadap biaya pengurusan pembuatan pengurusan sertifikat tanah adalah 35,62 persen menyatakan puas, 52,05 persen kurang puas dan 12,33 persen tidak puas pada pembiayaan yang dikeluarkan dalam pengurusan sertifikat tanah. c. Persepsi terhadap biaya pengurusan pembuatan sertifikasi tanah 12% 36% 52% Puas Kurang Puas Tidak Puas Grafik 16. Persepsi Terhadap Biaya Pengurusan Pembuatan Sertifikasi Tanah 2.1.2. Analisis Capaian Indikator Spesifik Dan Menonjol Dari hasil penelitian mengenai korupsi dan pelayanan publk dari kurun waktu 2008-2009 yang dilakukan oleh Transparansi Internasional dan KPK meperlihatkan kondisi yang memprihatinkan di DKI Jakarta sebagai Ibu Kota LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 17 
  24. 24.     Negara Indonesia. Dalam laporan penelitian yang disususun oleh KPK, tidak ada perubahan menuju ke arah yang lebih baik dari tahun 2008 sampai 2009. Dapat disimpulkan sejauh berkaitan dengan pelayanan publik dan korupsi, kinerja Provinsi DKI dapat dikatakan masih buruk. Walaupun secara umum permasalahan korupsi dan pelayanan publik masih buruk di DKI Jakarta, tetapi ada beberapa hal yang cukup baik di DKI Jakarta seperti indikator pendidikan aparatur minimal S1 yang berada di atas rata-rata nasional. Selain itu hasil survei mengenai persepsi dan kepuasan publik oleh Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), menyimpulkan ada beberapa layanan yang dipersepsikan oleh masyarakat DKI Jakarta pada level yang cukup memuaskan dalam pelayananannya seperti pelayanan KTP dan Puskesmas. Sedangkan indikator pelayanan satu atap, pengurusan IMB dan pembuatan sertifikat tanah masih belum menunjukkan level yang memuaskan bagi masyarakat di DKI Jakarta. 2.1.3. Rekomendasi Kebijakan Dari hasil penelitian mengenai korupsi dan pelayanan publk dari kurun waktu 2008-2009 yang dilakukan oleh Transparansi Internasional dan KPK meperlihatkan kondisi yang memprihatinkan di DKI Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Indonesia. Dalam laporan penelitian yang disususun oleh KPK, tidak ada perubahan menuju ke arah yang lebih baik dari tahun 2008 sampai 2009. Dapat disimpulkan sejauh berkaitan dengan pelayanan publik dan korupsi, kinerja Propinsi DKI dapat dikatakan masih buruk. Walaupun secara umum permasalahan korupsi dan pelayanan publik masih buruk di DKI Jakarta, tetapi ada beberapa hal yang cukup baik di DKI Jakarta seperti indikator pendidikan aparatur minimal S1 yang berada di atas rata-rata nasional. Selain itu hasil survei mengenai persepsi dan kepuasan publik oleh Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), menyimpulkan ada beberapa layanan yang dipersepsikan oleh masyarakat DKI Jakarta pada level yang cukup memuaskan dalam pelayananannya seperti pelayanan KTP dan Puskesmas. Sedangkan indikator pelayanan satu atap, pengurusan IMB dan pembuatan sertifikat tanah masih belum menunjukkan level yang memuaskan bagi masyarakat di DKI Jakarta. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 18 
  25. 25.     Untuk itu di rekomendasikan perbaikan dan reformasi administrasi di lingkungan Pemprov DKI Jakarta untuk memperbaiki kualitas pelayanan publik dan penerapan secara ketat standar pelayanan minimum. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 19 
  26. 26.     2.2. TINGKAT KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA 2.2.1. A. Capaian Indikator Bidang Pendidikan Berdasarkan data yang diperoleh dari Sekretariat Nasional EKPD, sehubungan dengan capaian indikator “Tingkat Kualitas Sumber Daya Manusia” untuk Provinsi DKI Jakarta dan disandingkan dengan capaian di tingkat nasional, didapat data sebagai berikut : a. Indeks Pembangunan Manusia Untuk capaian tingkat Provinsi pada tahun 2004 sebesar 75,80 %, tahun 2005 sebesar 76,10%, tahun 2006 sebesar 76,30 %, tahun 2008 sebesar 77,03 %. Sedangkan untuk tingkat nasional berturut turut tahun 2004, 2005, 2006 dan 2007, yaitu sebesar 68,7%, 69,8%, 70,1% dan 70,59%. Indeks Pembangunan Manusia 78,00 77,03 76,40 76.30 76,10 - 75,80 - 70,59 68,70 - 2004 2005 2006 2007 2008 Indeks Pemb manusiaProvinsi (outcomes) Indeks Pemb Manusia Nasional (outcomes) Grafik 17. Indeks Pembangunan Manusia Provinsi DKI Dan Nasional b. Angka partisipasi sekolah SD/MI Untuk capaian tingkat provinsi tahun 2004 sebesar 95,00, tahun 2005 meningkat menjadi 96,15%, tahun 2006 meningkat lagi menjadi 97,12. tetapi tahun 2007 turun sedikit menjadi 96,71%. Sedangkan untuk tingkat nasional, capaian angka partisipasi sekolah SD/MI adalah berturut turut tahun 2004, 2005, 2006, 2007 dan 2008 adalah sebesar 93%, 93,3%, 93,54%, 93,75%, dan 93,98%. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 20 
  27. 27.       ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH SD/MI : 90.00 97,12 96,71 96,15 95,00 93,98 93,75 - 93,30 - 78.00 - 2004 2005 2006 2007 2008 Angka Partisipasi Sekolah Provinsi (outcomes) Angka Partisipasi Sekolah Nasional (outcomes) Grafik 18. Angka Partisipasi Sekolah DKI dan Nasional c. Angka Melek Aksara 15 Tahun Ke Atas Untuk capaian tingkat Provinsi pada tahun 2004 sebesar 98,44%, tahun 2005 sebesar 98,48%, tahun 2006: 98,34%, tahun 2007: 98,83% dan tahun 2009 sebesar 98,76 %. Untuk capaian tingkat nasional pada indikator angka melek aksara 15 tahun ke atas, yaitu berturut-turut tahun 2004, 2005, 2006, 2007 dan 2008 yaitu sebesar 90,4%, 90,90%, 91,50%, 91,87% dan 92,19%. ANGKA MELEK AKSARA 15 TAHUN KE ATAS : 99.00 98,83 98,34 98,30 91,87 91,50 90,40 90.00 2004 2005 2006 2007 2008 Angka Melek Aksara 15 Tahun Ke atas Prov Angka Melek Aksara 15 th ke atas tk Nasional Grafik 19. Angka Melek Aksara 15 tahun ke atas DKI dan Nasional LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 21 
  28. 28.     d. Rata-rata Nilai Akhir Untuk capaian tingkat Provinsi tahun 2004 untuk SMP 5,20 dan SMA 5,12, tahun 2005 untuk SMP 5,88 dan SMA 6,12, tahun 2006 untuk SMP 5,88 dan SMA 6,45, tahun 2997 SMP 5,88 dan SMA 6,68 dan tahun 2008 untuk SMP 7,16 dan SMA 6,74. Dan untuk capaian tingkat nasional tahun 2004 untuk SMP 4,8 dan untuk SMA 4,77. Tahun 2005 untuk SMP 5,42 dan untuk SMA 5,77. Untuk tahun 2006 tingkat SMP 5,42 dan untuk SMA 5,94. Tahun 2007 untuk SMP 5,42 dan untuk SMA 6,28. Tahun 2008 untuk SMP 6,05 dan untuk SMA 6,35. RATA-RATA NILAI AKHIR SMP/MTS : 7.50 7,16 6,05 5,88 5,42 5,20 4,80 - 4,50 - 2004 2005 2006 2007 2008 Rata-rata Nilai Akhir SMP Provinsi (outcomes) Rata-rata Nilai Akhir SMP Nasional (outcomes) Grafik 20. Rata-Rata Nilai Akhir SMP DKI dan Nasional RATA-RATA NILAI AKHIR SMA/SMK : 7.50 6,74 6,68 6,45 6,28 6,12 5,94 5,77 5,12 4,77 - 4,50 - 2004 2005 2006 2007 2008 Rata-rata Nilai Akhir SMA Provinsi (outcomes) Rata-rata Nilai Akhir SMA Nasional (outcomes) Grafik 21. Rata-Rata Nilai Akhir SMP DKI dan Nasional LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 22 
  29. 29.     e. Angka Putus Sekolah Untuk capaian tingkat Provinsi tahun 2004 untuk SD 2,79%, SMP 3,70% dan untuk SMA 4,20%, tahun 2005 untuk SD 5,59%, SMP 0,37% dan untuk SMA 3,00%, tahun 2006 untuk SD 1,78%, SMP 1,87% dan untuk SMA 2,89%, tahun 2007 untuk SD2,43%, SMP 0,77% dan untuk SMA 1,84%. Selanjutnya untuk capaian tingkat nasional pada tahun 2004, untuk tingkat SD 2,97%, SMP 2.83% dan SMA 3,14%. Tahun 2005 untuk SD 3,17%, SMP 1,97% dan SMA 3,08%. Tahun 2006 untuk SD 2,41%, SMP 2,88% dan SMA 3,33%. Tahun 2007 untuk SD 1,81%, SMP 3,94% dan SMA 2,68%. ANGKA PUTUS SEKOLAH SD : 7.00 6,35 5,59 3,17 2,97 2,79 2,43 2,41 1,81 1,78 - 1,50 - 2004 2005 2006 2007 2008 Angka Putus Sekolah SD tk Provinsi (outcomes) Angka Putus sekolah SD tk Nasional (outcomes) Grafik 22. Angka Putus Sekolah DKI dan Nasional ANGKA PUTUS SEKOLAH SMP : 5.00 3,94 3,70 2,97 2,88 2,83 1,97 1,87 0,77 - 0,37 0 - 2004 2005 2006 2007 2008 Angka Putus Sekolah SMP tk Provinsi (outcomes) Angka Putus sekolah SMP tk Nasional (outcomes) Grafik 23. Angka Putus Sekolah SMP DKI dan Nasional LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 23 
  30. 30.     ANGKA PUTUS SEKOLAH SMA : 5,00 4,20 3,33 3,14 3,08 3,00 2,89 2,68 - 1,84 1 - 2004 2005 2006 2007 2008 Angka Putus Sekolah SMA tk Provinsi (outcomes) Angka Putus sekolah SMA tk Nasional (outcomes) Grafik 24. Angka Putus Sekolah SMA DKI dan Nasional f. Persentase Guru Yang Layak Mengajar Untuk capaian tingkat Provinsi tahun 2004 untuk SMP 85,94% dan SMA 66,24%, tahun 2005 untuk SMP 85,91% dan SMA 68,81%, tahun 2006 untuk SMP 82,67% dan SMA 85,91%, tahun 2007 untuk SMP 89,67% dan SMA 86,24%. Sedangkan untuk tingkat nasional tahun 2004 untuk SMP 81,12% untuk SMA 69,47. Tahun 2005 tingkat SMP 81,01% dan untuk SMA 72,44%. Tahun 2006 untuk SMP 78,04% dan untuk SMA 82,55%. Tahun 2007 untuk SMP 86,26% dan untuk SMA 84,05%. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 24 
  31. 31.     PERSENTASE GURU YANG LAYAK MENGAJAR SMP : 99.00 89,67 85,94 85,91 82,67 80.00 2004 2005 2006 2007 2008 Persentase Guru yang layak Mengajar SMP Prov Persentase guru yg layak mengajar SMPNasional Grafik 25. Presentase Guru yang Layak Mengajar SMP DKI dan Nasional Persentase Guru yang layak Mengajar SMA : 99.00 86,24 85,91 68,81 66,24 66.00 2004 2005 2006 2007 2008 Persentase guru yang layak mengajar SMA Prov Persentase guru yg layak mengajar SMA Nasional Grafik 26. Presentase Guru yang Layak Mengajar SMA DKI dan Nasional LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 25 
  32. 32.     Tabel 3. Data Kualitas SDM Bidang Pendidikan di Wilayah DKI Jakarta Periode 2004‐2009 Indikator  Tahun  Hasil  Indikator Hasil (Output)  (Outcomes)  2004  2005  2006  2007  2008  2009  Indeks Pembangunan Manusia 75,8 76,1 76,3 76,4  77,03  Pendidikan  Angka Partisipasi Sekolah SD/MI 95,00 96,15 97,12 96,71  Rata‐Rata  SMP/MTS  5,20  5,88  5,88  5,88  7,16     Tingkat  Nilai Akhir  SMA/SMK 5,12 6,12 6,45 6,68  6,74  Kualitas  SD  2,79 5,59 1,78 2,43  Angka Putus  Sumber  Daya  SMP  3,70 0,37 1,87 0,77  Sekolah  Manusia  SMA  4,20  3,00  2,89  1,84     Angka Melek Aksara 15 tahun Ke atas  98,31  98,30  98,34  98,83     SMP  85,94  85,91  82,67  89,67     Presentase guru yang  Sekolah  layak mengajar  66,24  68,81  85,91  86,24     Menengah      Tabel 4. Data Kualitas SDM Bidang Pendidikan Nasional Periode 2004‐2009  Indikator  Tahun  Hasil  Indikator Hasil (Output)  (Outcomes)  2004  2005  2006  2007  2008  2009  Indeks Pembangunan Manusia  75,8  76,1  76,3  76,4  77,03     Pendidikan     Angka Partisipasi Sekolah SD/MI  95,00  96,15  97,12  96,71     Rata‐ SMP/MTS  5,20  5,88  5,88  5,88  7,16     Rata  Nilai  SMA/SMK  5,12  6,12  6,45  6,68  6,74  Tingkat  Akhir     Kualitas  SD  2,79  5,59  1,78  2,43     Sumber Daya  Angka  Manusia  Putus  SMP  3,70  0,37  1,87  0,77     Sekolah  SMA  4,20  3,00  2,89  1,84     Angka Melek Aksara 15 tahun Ke atas  98,31  98,30  98,34  98,83       SMP  85,94  85,91  82,67  89,67     Presentase guru yang  layak mengajar  Sekolah  66,24  68,81  85,91  86,24  Menengah                 LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 26 
  33. 33.     Analisis Relevansi Dan Efektivitas Pendekatan yang digunakan dalam melakukan analisis adalah analisis relevansi dan analisis efektifitas. Analisis Relevansi digunakan untuk menganalisis sejauh mana tujuan/sasaran pembangunan yang direncanakan mampu menjawab permasalahan utama/tantangan. Dalam hal ini, relevansi pembangunan daerah dilihat apakah tren capaian pembangunan daerah sejalan atau lebih baik dari capaian pembangunan nasional. Sedangkan efektivitas digunakan untuk mengukur dan melihat kesesuaian antara hasil dan dampak pembangunan terhadap tujuan yang diharapkan. Efektivitas pembangunan dapat dilihat dari sejauh mana capaian pembangunan daerah membaik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Berdasarkan data yang didapat dari Sekretariat Nasional Evaluasi Kinerja Pemerintah Daerah, maka dapat diberikan analisis sebagai berikut : Indeks pembangunan manusia Untuk sasaran dengan indikator Indeks pembangunan manusia yang pada tahun 2004 dicapai sebesar 75,80 persen, tahun 2005 sebesar 76,10 persen, tahun 2006 sebesar 76,30 persen, tahun 2007 sebesar 76,40 dan tahun 2008 dicapai sebesar 77,03 persen. Bila kita lihat relevansi yang digunakan untuk menganalisis sejauh mana tujuan/sasaran pembangunan yang direncanakan tercapai, dengan melihat apakah tren capaian pembangunan daerah sejalan atau lebih baik dari capaian pembangunan nasional. Capaian indeks pembangunan manusia, ternyata untuk provinsi lebih baik dari capaian tingkat nasional. Mulai tahun 2004 capaian tingkat Provinsi DKI 75,8% sedangkan capaian tingkat nasional sebesar 68,7%. Begitu juga untuk tahun 2005 untuk tingkat provinsi capaiannya sebesar 76,1% sedangkan untuk tingkat nasional capaiannya sebesar 69,8%. Tahun 2006 untuk provinsi capaiannya sebesar 76,3% dan untuk tingkat nasional sebesar 70,1%. Sedangkan untuk tahun 2007 capaian provinsi sebesar 76,4% dan untuk tingkat nasional sebesar 70,59%. Berdasarkan data yang ada, maka untuk indeks pembangunan manusia, terdapat peningkatan dari tahun 2004 sampai tahun 2009. Hal ini berarti lebih baiknya untuk sasaran pembangunan manusia melalui pendidikan di berbagai jenjang di Provinsi DKI bila dibandingkan dengan capaian tingkat nasional. Hal ini berarti dapat dikatakan bahwa sasaran pembangunan tercapai dengan baik. Selain itu kita dapat juga melihat efektivitasnya, yaitu dengan adanya peningkatan capaian di Provinsi DKI dari tahun ke LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 27 
  34. 34.     tahun sebelumnya, yaitu dari 75,8%, 76,1%, 76,3%, 76,4% dan terakhir 77,03%. Maka hal ini dapat dikatakan bahwa sasaran di bidang pendidikan adalah efektif, karena tingkat capaian sasaran meningkat terus bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Angka partisipasi sekolah SD/MI: Selanjutnya untuk melihat relevansi capaian hasil, maka akan ditinjau apakah sejalan dan sesuai dengan sasaran yang dicapai di tingkat nasional. Mengacu pada capaian tingkat nasional dengan indikator “angka partisipasi sekolah SD/MI”, yaitu berturut-turut untuk tahun 2004, 2005, 2006, 2007 dan 2008 adalah 93%, 93,3%, 93,54%, 93,75% dan 93,98%. Dari capaian tersebut dapat dilihat bahwa capaian tingkat provinsi selalu lebih tinggi dibandingkan dengan capaian tingkat nasional untuk tahun yang sama. Dengan demikian terdapat relevansi dalam angka partisipasi sekolah SD/MI. Bila dilihat dari capaian yang diperoleh, untuk angka partisipasi sekolah, ternyata cukup efektif. Hal ini dapat dilihat bahwa, terjadi peningkatan sejak tahun 2004 hingga tahun 2006, yaitu dari 95,00 % menjadi 96,15 % dan meningkat lagi menjadi 97,12. Namun pada tahun 2007 terjadi penurunan dari tahun 2004 sebesar 1,71%, yaitu menjadi 96,71%. Angka Melek Aksara 15 tahun ke atas : Capaian yang dihasilkan selama kurun waktu 2004 sampai 2008 adalah sebagai berikut : tahun 2004 sebesar 98,44%, tahun 2005 sebesar 98,48%, tahun 2006 sebesar 98,34%, tahun 2007 sebesar 98,83% dan tahun 2008 sebesar 98,76 %. Adapun tolok ukur yang digunakan dalam mengukur angka melek aksara usia 15 tahun ke atas adalah sebagaimana ditetapkan dalam RPJM yaitu sebagai berikut : 1) meningkatnya angka partisipasi kasar (APK) jenjang SD, MI dan paket A sebesar 115,76 % dengan jumlah siswa menjadi sekitar 27,68 juta. Dan untuk jenjang SMP sebesar 98,09 % dengan jumlah siswa menjadi sebanyak 12,20 juta. 2) Meningkatnya angka melanjutkan lulusan SD ke jenjang SMP menjadi 94,00%, sehingga jumlah siswa kelas satu dapat ditingkatkan dari 3,67 juta siswa pada tahun 2004/2005 menjadi 4,04 juta siswa pada tahun 2009/2010; 3) Menurunnya angka buta aksara penduduk berusia 15 tahun keatas menjadi 5% pada tahun 2009; 4) Meningkatnya proporsi anak yang terlayani pada pendidikan anak usia dini; LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 28 
  35. 35.     5) Meningkatnya proporsi pendidikan pada jalur pendidikan formal maupun non formal yang memiliki kualitas minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar; Untuk melihat relevansi dalam indikator “angka melek aksara 15 tahun ke atas, maka dapat dibandingkan dengan capaian angka melek aksara tingkat nasional, yaitu berturut- turut tahun 2004, 2005, 2006, 2007dan 2008, yaitu 90,40%, 90,90%, 91,50%, 91,87% . Hal tersebut menunjukan bahwa, capaian tingkat Provinis ternyata jauh lebih tinggi dari capaian tingkat nasional, dengan demikian untuk indicator angka melek aksara 15 tahun ke atas di tingkat provinsi DKI lebih baik dari tingkat nasional. Sedangkan untuk melihat efektivitasnya, maka mengacu pada capaian tingkat provinsi dari tahun ke tahun dan ternyata tidak cukup efektif. Hal ini disebabkan terjadi penurunan capaian pada tahun 2004 sebesar 98,31% turun pada tahun 2005 menjadi 98,30%. Namun kemudian pada tahun 2006 dan 2007 meningkat menjadi 98,34% dan 98,83%. Rata-rata Nilai Akhir Sejak tahun 2004 hingga tahun 2008 untuk tingkat pendidikan SMP di tingkat Provinsi, terjadi peningkatan terhadap nilai akhir rata-rata, yaitu pada tahun 2004 hanya 5,20 kemudian tahun 2005, 2006 dan 2007 menjadi 5,88 serta terakhir tahun 2008 meningkat menjadi 7,16. Bila dibandingkan dengan capaian tingkat nasional, yaitu tahun 2004 sebesar 4,8, 2005, 2006 dan 2007 sebesar 5,42 dan tahun 2008 6,05, dapat dilihat relevansinya. Maka capaian tingkat Provinsi ternyata lebih baik dari capaian tingkat nasional. Berarti sasaran untuk nilai akhir di Provinsi DKI telah berhasil dengan baik. Dilihat dari capaian terhadap sasaran, maka terdapat peningkatan dari tahun ke tahun yang cukup signifikan, terutama dari tahun 2007 ke tahun 2008, yaitu dari 5,88 menjadi 7,16. Sehingga dapat dikatakan bahwa pembangunan di bidang pendidikan untuk tingkat SMP dengan indikator rata-rata nilai akhir, maka evaluasi tergolong “efektif”, walaupun pada tahun 2005, 2006 dan 2007, tidak terdapat perubahan capaian. Sedangkan untuk tingkat pendidikan SMA, pada tahun 2004 rata-rata nilai akhir adalah 5,12. Dan berturut turut untuk tahun 2005 , 2006, 2007 dan 2008 terjadi peningkatan yaitu berturut-turut 6,12 ; 6,45 ; 6,68; dan 6,74. Disinipun terjadi peningkatan rata-rata nilai akhir untuk tingkat pendidikan SMA. Dengan demikian dapat dikatakan efektif, dilihat LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 29 
  36. 36.     dari indikator capaian rata-rata nilai akhir SMA di Provinsi DKI Jakarta, yang meningkat terus dari tahun ke tahun. Sedangkan untuk melihat relevansinya, maka perlu melihat pada capaian tingkat nasional, yaitu berturut turut 2004, 2005, 2006, 2007 dan 2008, yaitu: 4,77 ,5,77, 5,94, 6,28, dan 6,35. Merujuk pada capaian tersebut, maka nampak bahwa capaian tingkat provinsi lebih baik dibandingkan dengan capaian tingkat Provinsi. Angka Putus Sekolah Angka putus sekolah untuk tingkat sekolah dasar, terjadi peningkatan yang cukup tajam pada tahun 2005, yaitu 5,59%, dari tahun sebelumnya tahun 2004 sebesar 2,79%. Namun pada tahun 2006 terjadi penurunan yang sangat drastis yaitu menjadi 1,78%. Kemudian tahun 2007 terjadi sedikit peningkatan kembali angka putus sekolah yaitu menjadi 2,43%. Hal ini tentunya harus diwaspadai, agar selalu terjadi penurunan angka putus sekolah setiap tahunnya. Karena indikator inilah mempunyai korelasi yang sangat besar terhadap tingkat kesejahteraan, dimana kemampuan masyarakat sangat menentukan kelangsungan pendidikan dari seorang siswa. Melihat pada relevansinya, maka mengacu pada capaian yang terjadi yaitu tahun 2004, 2005, 2006, 2007 dan 2008, yaitu sebesar 2,97%, 3,17%, 2,41%, 1,81% dan 6,35%. Tren capaian untuk tingkat provinsi pun mengalami naik dan turun juga dari tahun ke tahun. Namun demikian persentase putus sekolah dari provinsi lebih rendah bila dibandingkan dengan tingkat nasional. Maka hal ini berarti kondisi provinsi lebih baik dalam indikator “angka putus sekolah tingkat sekolah dasar”. Kemudian untuk jenjang pendidikan SMP, angka putus sekolah justru pada tahun 2005 sangat menurun drastis yaitu menjadi 0,37%, dari tahun sebelumnya 2004 yaitu sebesar 3,70%. Berarti pada tahun 2005 boleh dibilang minimalisasi angka putus sekolah hampir berhasil seratus persen. Prestasi yang luar biasa. Selanjutnya pada tahun 2006 meningkat lagi menjadi 1,87% dan tahun 2007 turun kembali menjadi 0,77%. Berarti tahun 2007 juga sudah membaik, karena angka putus sekolah hanya 0,77%. Jadi dapat dikatakan bahwa untuk indikator angka putus sekolah, tidak efektif, karena terjadi naik turun setiap tahunnya. Analisis relevansi terhadap angka putus sekolah tingkat SMP, dapat dilihat dengan membandingkannya terhadap capaian tingkat nasional, yaitu tahun 2004, 2005, 2006, 2007 dan 2008 adalah 2,83%, 1,97%, 2,88% dan 3,94%. Khusus untuk tahun 2004, LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 30 
  37. 37.     kondisi capaian nasional ternyata lebih baik bila dibandingkan dengan capaian Provinsi, dimana angka putus sekolah SMP di Provinsi DKI lebih tinggi . Dan untuk tingkat pendidikan SMA menunjukkan grafik yang terus membaik dari tahun 2004 sebesar 4,20 %, tahun 2005 sebesar 3,00%, tahun 2006 sebesar 2,89% dan tahun 2007 sebesar 1,84%. Dengan terus menurunnya angka putus sekolah tingkat SMA, maka menunjukkan hasil yang membaik dari tahun ke tahun. Dengan demikian dilihat dari capaian hasil tersebut, maka dapat dikatakan bahwa untuk indikator angka putus sekolah tingkat SMA adalah efektif, karena dari tahun ke tahun membaik. Kemudian bila dibandingkan dengan capaian tingkat nasional, yaitu tahun 2004, 2005, 2006, dan 2007 adalah 3,14% , 3,08% , 3,33% dan 2,68%. Ternyata pada tahun 2004, capaian tingkat Provinsi tidak lebih baik bila dibandingkan dengan capaian tingkat nasional. Namun pada tahun 2005, 2006, dan 2007 ternyata capaian tingkat Provinsi lebih baik dibandingkan dengan capaian tingkat nasional. Persentase Guru yang Layak Mengajar Untuk tingkat pendidikan SMP, persentase guru yang layak mengajar pada tahun 2004 sebesar 85,94%, kemudian tahun sebesar 2005 sebesar 85,91%, tahun 2006 sebesar 82,67% dan tahun 2007 sebesar 89,67%. Merujuk pada capaian tersebut dari tahun ke tahun terkait indikator persentase guru yang layak mengajar di tingkat SMP, ternyata terdapat trend naik dan turun pula, sehingga tidak dapat dikategorikan efektif. Pada tahun 2006 terjadi penurunan capaian persentase guru yang layak mengajar menjadi 82,67% dari tahun sebelumnya 2005 yaitu 85,91%. Selanjutnya untuk melihat relevansinya, maka perlu dikemukakan capaian tingkat nasional yaitu: tahun 2004, 2005, 2006, dan 2007 yaitu sebesar 81,12, 81,01, 78,04, dan 86,26. Dengan demikian capaian tingkat provinsi lebih baik dari capaian tingkat nasional, dan hal ini juga menunjukkan bahwa keberhasilan dapat capaian guru yang layak mengajar di tingkat SMP. Selanjutnya untuk tingkat pendidikan SMA, persentase guru yang layak mengajar pada tahun 2004 sebesar 66,24% dan tahun 2005 sebesar 66,81%. Selanjutnya pada tahun 2006 terdapat peningkatan yang sangat besar yaitu menjadi 85,91% dan tahun 2007 menjadi 86,24%. Hal ini menunjukkan kinerja yang sangat baik, sehingga evaluasinya tergolong “efektif”, karena setiap tahunnya terdapat peningkatan capaian terhadap indikator “guru yang layak mengajar pada tingkat SMA”. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 31 
  38. 38.     Selanjutnya untuk melihat relevansi terhadap indikator tersebut, perlu dibandingkan dengan capaian tingkat nasional. Adapun capaian tingkat nasional adalah: tahun 2004 sebesar 69,47%, tahun 2005 sebesar 72,44%, tahun 2006 sebesar 82,55%, dan tahun 2007 sebesar 84,05%. Dari hal tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2004 dan 2005 menunjukkan bahwa capaian tingkat Provinsi DKI tidak lebih baik dari capaian tingkat nasional. Namun untuk tahun 2006 dan 2007 ternyata capaian tingkat Provinsi lebih baik dari capaian tingkat nasional. 2.2.2. Analisis capaian indikator spesifik dan menonjol beserta rekomendasi a. Capaian indeks pembangunan manusia baik di tingkat Provinsi DKI maupun di tingkat nasional, menunjukkan peningkatan yang stabil, sehingga grafik selalu meningkat. Hal ini menunjukkan meningkatnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan pembangunan. Untuk itu rekomendasi bagi strategi dalam mewujudkan sasaran dan tujuan sebagaimana ditetapkan dalam RPJM, perlu terus dilanjutkan dan dipertahankan, karena memang sudah relevan dan efektif. b. Capaian indikator angka partisipasi sekolah SD/MI di tingkat Provinsi DKI, pada tahun 2007 terjadi penurunan sebesar 0,41% dari tahun sebelumnya ( tahun 2006 sebesar 97,12% turun menjadi 96,71% pada tahun 2007). Walaupun bila dibandingkan dengan capaian di tingkat nasional, memang masih lebih baik (tingkat nasional capaiannya yaitu sebesar 93,75 % pada tahun 2007). Kondisi ini perlu diwaspadai dalam penentuan sasaran, dimana sebenarnya Wajib Belajar 9 tahun sudah dicanangkan, seharusnya angka partisipasi sekolah semakin membaik, tidak boleh ada penurunan. Dengan demikian angka partisipasi sekolah dapat dijadikan indikator untuk menentukan keberhasilan kebijakan Wajib Belajar 9 tahun, yang telah dicanangkan oleh pemerintah. Penurunan ini perlu dicari penyebabnya, agar dapat diperbaiki di kemudian hari. Untuk itu rekomendasi yang dapat diberikan adalah, kebijakan pemerintah yang menyangkut kesempatan untuk memperoleh pendidikan gratis terutama dalam tingkat Wajib Belajar 9 tahun, perlu terus diperbaiki agar pelaksanaannya benar-benar terwujud dengan baik di berbagai daerah baik di perkotaan maupun di pedesaan, sehingga angka partisipasi sekolah akan terus membaik dari tahun ke tahun. c. Indikator angka putus sekolah di tingkat Provinsi DKI untuk Sekolah Dasar, terjadi peningkatan yang sangat tajam pada tahun 2005, dengan mengalami sebesar 1,80% (dari 2,79% pada tahun 2004 menjadi 5,59% pada tahun LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 32 
  39. 39.     2005). Begitu juga pada tahun 2007 mengalami peningkatan sebesar 0,65% (dari tahun 2006 sebesar 1,78% menjadi 2,43% pada tahun 2007 ). Hal ini tentunya perlu dicermati, karena terjadinya penurunan dalam dua tahun yaitu 2005 dan 2007. Melihat loncatan penurunan tersebut, berarti pada tahun 2009 akan terjadi penurunan kembali. Untuk itu rekomendasi yang dapat diberikan adalah kebijakan pemerintah yang menetapkan Wajib Belajar 9 tahun perlu diperbaiki, agar angka putus sekolah tidak meningkat. Hal ini mungkin terkait juga dengan kemampuan dari masyarakat untuk menikmati pendidikan dan tersedianya sekolah yang dapat menampung anak usia Sekolah Dasar tertampung semuanya. Di samping memberikan sosialisasi kepada masyarakat agar berorientasi kepada pendidikan untuk meningkatkan taraf hidup, juga perlu dibuat kebijakan pemerintah yang memberikan anggaran pendidikan yang memadai, yang didukung oleh sistem pembiayaan yang adil, efisien, efektif, trasparan, dan akuntabel. d. Berbeda untuk angka putus sekolah di tingkat Provinsi bagi SMP, pada tahun 2005 terjadi penurunan yang sangat tajam, yaitu sebesar 3,33% (dari 3,70% pada tahun 2004 menjadi 0,37 pada tahun 2005). Namun terjadi peningkatan yang cukup besar lagi pada tahun 2006 sebesar 1,50% ( dari 0,37% pada tahun 2005 menjadi 1,87 % pada tahun 2006). Melihat hal tersebut, maka terjadi ketidakstabilan dalam capaian angka putus sekolah di tingkat SMP. Untuk itu perlu direkomendasikan agar pemerintah menetapkan kebijakan terkait yang lebih mempunyai nilai daya paksa untuk Wajib Belajar 9 tahun. Dan perlu terus dilakukan perbaikan dalam implementasi Wajib Belajar 9 tahun tersebut, sehingga ada pemebenahan di berbagai level pelaksanaan, sehingga akan terwujud Wajib Belajar 9 tahun, sesuai sasaran yang telah ditetapkan dalam RPJM. Selain itu perlu terus diupayakan agar terjadi peningkatan efektivitas dan efisiensi dalam pelayanan pendidikan, agar biaya pendidikan tidak terlalu mahal, atau bahkan benar-benar gratis bagi sekolah sampai level pendidikan 9 tahun. e. Untuk indikator persentase guru yang layak mengajar di tingkat provinsi DKI untuk SMP, terjadi penurunan dari tahun 2004 ke 2005 dan terus menurun sampai tahun 2006, yaitu dari 85,94% menjadi 85,91% dan terus turun menjadi 82,67%. Indikator ini tentunya akan berkorelasi secara langsung pada mutu pendidikan yang akan diberikan kepada murid sekolah SMP. Bila guru yang layak mengajar saja, semakin menurun tentunya kualitas capaian hasil pengajaranpun akan menurun. Untuk itu rekomendasi yang dapat diberikan LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 33 
  40. 40.     adalah pemerintah perlu terus membuat kebijakan untuk peningkatan pada jenjang pendidikan formal maupun pendidikan dan latihan di lingkungan instansi tenaga pendidik dengan memberikan bantuan dana yang memadai, sehingga para tenaga pendidikan dapat menjalankannya dengan baik dan konsentrasi. Dengan demikian persentase guru yang layak mengajar akan semakin meningkat dari tahun ke tahun. 2.2.1.B. Capaian Indikator dan Analisis Spesifik dan Menonjol Bidang Kesehatan a. Peserta KB Aktif Periode 2004-2009 Grafik 27. Peserta KB Aktif Periode 2004-2009 Grafik di atas menggambarkan tren peserta aktif keluarga berencana di DKI Jakarta sejak 2004 sampai 2009 dan tren peserta Keluarga Berencana di tingkat nasional. Dari grafik tersebut dapat kita simpulkan bahwa pencapaian DKI Jakarta selama periode 2004 sampai 2009 di atas pencapaian angka nasional, dengan perbedaan sekitar 9,61% sampai 14,59%. Secara rata-rata, persentase peserta aktif Keluarga Berencana di DKI mencapai 78,16%; sedangkan di tingkat nasional pencapaian rata-rata per tahun sebesar 65,83%. Perbedaan ini disebabkan oleh berbagai hal, antara lain karena di DKI Jakarta tersedia fasilitas pelayanan kontrasepsi yang relatif mencukupi bila dibanding dengan provinsi-provinsi lainnya, serta kesanggupan masyarakat yang lebih tinggi untuk memperoleh kontrasepsi, sesuai dengan latar belakang budaya serta sosial masyarakat serta letak geografis Provinsi DKI Jakarta. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 34 
  41. 41.     b. Angka Harapan Hidup Waktu Lahir Periode 2004-2009 Grafik 28. Angka Harapan Hidup Waktu Lahir Periode 2004-2009 Pada grafik di atas dapat dilihat bahwa di Provinsi DKI Jakarta, terjadi peningkatan angka harapan hidup waktu lahir pada periode 2004 sampai 2009. Angkanya meningkat dari 74,9 tahun pada 2004 menjadi 76,4 tahun pada 2009, walaupun terjadi penurunan sedikit pada tahun 2005 dan 2006, yakni berturut-turut 74,28 dan 74,43 tahun. Tren yang meningkat juga ditunjukkan oleh angka nasional, dengan peningkatan yang cukup stabil, dari 66,20 pada 2004 menjadi 70,76 tahun pada 2008. Angka nasional pada 2009 belum dapat diperoleh. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 35 
  42. 42.     c. Angka Kematian Bayi Periode 2004-2009 Angka Kematian Bayi Periode 2004-2009 40 Per 1000 kelahiran hidup 35 30 25 DKI 20 NASIONAL 15 10 5 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Tahun Grafik 29. Angka Kematian Bayi Periode 2004-2009 Angka kematian bayi merupakan salah satu indikator kesehatan kesehatan yang terpenting. Pada grafik di atas, dapat dilihat bahwa pencapaian kinerja Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah jauh lebih baik daripada pencapaian nasional, walaupun kalau dilihat dari trennya tidak ada kemajuan yang mengesankan, atau dapat dikatakan penurunannya sangat lamban. Ini dapat dilihat dari penurunan selama periode 2004 sampai 2009, hanya menurun dari 16,1 menjadi 13,70 per 1000 kelahiran hidup. Lambannya penurunan angka kematian bayi di Provinsi DKI Jakarta juga sesuai dengan apa yang terjadi di Indonesia, walaupun datanya tidak lengkap. Dapat disimpulkan baik di Provinsi DKI Jakarta maupun di Indonesia penurunan angka kematian bayi belum terjadi secara signifikan selama periode 2004-2009. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 36 
  43. 43.     d. Angka Kematian Ibu Periode 2004-2009 Angka Kematian Ibu Periode 2004-2009 350 Per 100.000 Kelahiran Hidup 300 250 200 DKI 150 NASIONAL 100 50 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Tahun Grafik 30. Angka Kematian Ibu Periode 2004-2009 Selain angka kematian bayi dan angka harapan hidup saat lahir, AKI (Angka Kematian Ibu), merupakan indikator yang penting untuk menentukan status kesehatan suatu bangsa. Indikator ini menggambarkan bagaimana penyelenggaraan pelayanan kesehatan, yakni perawatan ibu hamil, melahirkan, dan nifas di suatu populasi. Angka kematian ibu di DKI Jakarta belum menunjukkan adanya tren penurunan yang signifikan. Pada 2007 seolah-olah terjadi lonjakan angka kematian ibu yang sangat tinggi, angkanya hanya sedikit di bawah angka nasional (225 dan 228). Data 2007 berasal dari SDKI, yang dilakukan di semua provinsi di Indonesia oleh BPS. Data tahun- tahun lainnya berasal dari data yang dikumpulkan sendiri oleh Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa ada perbedaan hasil yang diperoleh dari survei dan data yang dikumpulkan secara rutin. Tampaknya perlu dilakukan perbaikan sistem pengumpulan data, untuk menjamin kebenaran data, yang tentunya sangat diperlukan untuk perencanaan dan penilaian program. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 37 
  44. 44.     e. Prevalensi Balita Gizi Buruk Periode 2004-2009 Grafik di atas menunjukkan adanya tren penurunan prevalensi balita dengan gizi buruk, dari 3,9 pada 2004 menjadi 2,5 pada 2009. Penurunan ini walaupun tidak terlalu tajam, tetapi cukup baik; mengingat prevalensinya pada 2004 sudah relatif kecil bila dibandingkan dengan kondisi nasional. Perbedaan yang mencolok dengan angka nasional pada 2004 disebabkan adanya kabupaten- kabupaten di luar Provinsi DKI Jakarta yang persentase penduduk miskinnya cukup tinggi. Dengan menurunnya prevalensi Balita gizi buruk di Indonesia dari 8,8 pada 2004 menjadi 5,40 pada 2007, menunjukkan adanya perbaikan gizi Balita yang signifikan. Data ini dapat menunjukkan adanya keberhasilan program gizi serta perbaikan ekonomi masyarakat secara nasional. Grafik 31. Prevalensi Balita Gizi Buruk Periode 2004-2009 f. Prevalensi Balita Gizi Kurang Periode 2004-2009 Prevalensi Balita dengan gizi kurang di Provinsi DKI Jakarta menunjukkan tren penurunan yang mengesankan, dari 19,3 pada 2004 menjadi 9,20 pada 2009. Penurunan tersebut sesuai dengan tren penurunan yang terjadi pada angka nasional, walaupun data nasional tidak lengkap. Dapat disimpulkan bahwa pada periode 2004 sampai 2009, terjadi penurunan prevalensi balita kurang gizi, baik di Provinsi DKI Jakarta maupun secara nasional. LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 38 
  45. 45.     Grafik 32. Prevalensi Balita Gizi Kurang Periode 2004-2009 Grafik 32. Prevalensi Balita Gizi Buruk Periode 2004-2009 g. Rasio Tenaga Kesehatan Terhadap 100.000 Penduduk Periode 2004-2009 Tahun Tenaga Kesehatan 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Dr. Praktek Umum Nasional 11.66 19.93 19.59 Dr. Praktek Umum DKI 43 43 Dr. Spesialis Nasional 4.43 5.53 Dr. Spesialis DKI 30 30 Perawat Nasional 53.91 137.9 Perawat DKI 185 185 Bidan Nasional 30.54 35.4 42.92 Bidan Nasional 52 52 Tabel 5. Rasio Tenaga Kesehatan Terhadap 100.000 Penduduk Data mengenai rasio tenaga kesehatan terhadap penduduk tidak lengkap baik di tingkat nasional maupun di Provinsi DKI Jakarta. Sulit untuk dapat membandingkan rasio tenaga kesehatan di DKI Jakarta dengan nasional, karena datanya diperoleh dari tahun yang berbeda. Selama periode 2007-2008, rasio dokter praktik umum di Provinsi DKI Jakarta, lebih tinggi daripada rasio dokter praktik umum di tingkat nasional pada 2005-2008; tetapi bila dilihat dari trennya, kenaikan di tingkat nasional lebih tinggi, ini sesuai dengan kebutuhan dokter secara nasional. Begitu juga halnya pada dokter spesialis; rasionya lebih tinggi di Provinsi DKI Jakarta, tetapi peningkatannya tidak berbeda. Hal ini disebabkan LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH   PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2009 | 39 

×