Your SlideShare is downloading. ×
Teknik elektronika 1 elektronika hal 85
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Introducing the official SlideShare app

Stunning, full-screen experience for iPhone and Android

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply

Teknik elektronika 1 elektronika hal 85

3,442
views

Published on

Published in: Business

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
3,442
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
435
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Peni Handayani, dkk.TEKNIKPEMELIHARAANDAN PERBAIKANSISTEMELEKTRONIKAJILID 1SMK Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional
  • 2. Hak Cipta pada Departemen Pendidikan NasionalDilindungi Undang-undangTEKNIKPEMELIHARAANDAN PERBAIKANSISTEMELEKTRONIKAJILID 1Untuk SMKPenulis : Peni Handayani Trisno Yuwono PutroPerancang Kulit : TIMUkuran Buku : 17,6 x 25 cm HAN HANDAYANI, Peni t Teknik Pemeliharaan dan Perbaikan Sistem Elektronika Jilid 1 untuk SMK /oleh Peni Handayani, Trisno Yuwono Putro ---- Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008. vi, 146 hlm Daftar Pustaka : Lampiran. A Daftar Vendor : Lampiran. B Daftar Tabel : Lampiran. C Daftar Gambar : Lampiran. D ISBN : 978-979-060-111-6 ISBN : 978-979-060-112-3Diterbitkan olehDirektorat Pembinaan Sekolah Menengah KejuruanDirektorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan MenengahDepartemen Pendidikan NasionalTahun 2008
  • 3. KATA SAMBUTANPuji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmatdan karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, DirektoratPembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat JenderalManajemen Pendidikan Dasar dan Menengah DepartemenPendidikan Nasional, telah melaksanakan kegiatan penulisanbuku kejuruan sebagai bentuk dari kegiatan pembelian hak ciptabuku teks pelajaran kejuruan bagi siswa SMK. Karena buku-bukupelajaran kejuruan sangat sulit di dapatkan di pasaran.Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh BadanStandar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untukSMK dan telah dinyatakan memenuhi syarat kelayakan untukdigunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan MenteriPendidikan Nasional Nomor 45 Tahun 2008 tanggal 15 Agustus2008.Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginyakepada seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hakcipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untukdigunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK.Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepadaDepartemen Pendidikan Nasional ini, dapat diunduh (download),digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi olehmasyarakat. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersialharga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkanoleh Pemerintah. Dengan ditayangkan soft copy ini diharapkanakan lebih memudahkan bagi masyarakat khsusnya parapendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia maupunsekolah Indonesia yang berada di luar negeri untuk mengaksesdan memanfaatkannya sebagai sumber belajar.Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini.Kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dansemoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kamimenyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya.Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan. Jakarta, 17 Agustus 2008 Direktur Pembinaan SMK
  • 4. PENGANTARDalam kehidupan sehari-hari kita sering mengalami ketidaknyamanan, misalnyasaat hujan dan harus menyeberang jalan tiba-tiba atap pada jembatan pe-nyeberang jalan bocor; saat perlu menggunakan telepon umum ternyata telepontidak berfungsi karena rusak; saat akan pergi kendaraan kita atau ken-daraanumum yang kita tumpangi tiba-tiba mogok atau remnya tidak berfungsi, danmasih banyak lagi masalah yang kita bisa lihat dan rasakan. Hal- tersebut antaralain karena orang pada umumnya kurang memperhatikan masalah peme-liharaan, sehingga gangguan kecil pada peralatan yang digunakan tidak terde-teksi. Gangguan kecil ini jika dibiarkan tentunya akan mempengaruhi kinerja alatatau sistem secara keseluruhan. Oleh karena itu, pencegahan adalah tindakanyang tepat. Jika masalah pemeliharaan dan perbaikan ini dapat dikelola denganbaik akan memberikan manfaat yang besar bagi kita, antara lain: biaya peme-liharaan dan perbaikan dapat ditekan secara optimal, kegiatan kita tidak terhentikarena alat rusak, waktu kerja kita menjadi lebih efektif dan efisien, usia alat a-kan lebih panjang. Buku ini akan memberikan pengetahuan tentang pengelolaanmasalah pemeliharaan dan perbaikan, masalah kesehatan dan keselamatan ker-ja, serta teknik pemeliharaan khususnya untuk peralatan dan sistem elektronika.Masalah kesehatan dan keselamatan kerja juga merupakan masalah yang takkalah penting, karena selain menyangkut keselamatan diri sendri, jugamenyangkut kese;amatan orang lain dan keamanan alat itu sendiri. Masalah inidibahas pada bagian akhir bab 1. Pada bab-bab lain, masalah kesehatan dankeselamatan kerja juga akan disinggung secara langsung jika sangat eratdengan penggunaan peralatn itu sendiri.Akhirnya, kami penulis mengucapkan terimakasih kepada editor dan tim penilaidari BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan), atas sumbang saran yangtelah diberikan kepada kami untuk kesempurnaan tulisan ini.Ucapan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya kami sampaikankepada Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktort JenderalPendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional. Penulis
  • 5. DAFTAR ISIKATA PENGANTAR …………………………………………… iSINOPSIS .............................................................................. iiBAB I PENDAHULUAN ………………………………. 1 A. Defenisi ……………………………………. 12 B. Ruang Lingkup Materi ……………………. 15BAB II ZAT-ZAT GIZI YANG DIBUTUHKAN TUBUH 19 A. Pengertian Zat Gizi ……………………….. 19 B. Kelompok Zat Gizi ………………………… 20 C. Fungsi Zat Gizi Dan Sumbernya dalam Bahan Makanan ………………………….. 23 D. Memilih Bahan Makanan Konvensional Dan Non Konvensional ………………….. 115 E. Daftar Kecukupan Gizi (DKG) …………… 117BAB III MENGHITUNG KECUKUPAN GIZI BERBAGAI KELOMPOK UMUR 126 A. Kecukupan Energi Individu 130 B. Kecukupan Protein Individu 179 C. Pedoman Menyusun Menu Seimbang 190 D. Pedoman Menyusun Menu Institusi 232BAB IV PERSYARATAN MAKANAN 239 BERDASARKAN KELOMPOK UMUR ……… A. Makanan Bagi Bayi ........…………………. 239 B. Makanan Bagi Anak Balita ………………… 252 C. Makanan Bagi Anak Usia Sekolah ……….. 260 D. Makanan Bagi Remaja ……………………. 265 E. Makanan Bagi Orang Dewasa ……………. 269 F. Makanan Bagi Lansia………………………. 271 G. Makanan Bagi Ibu Hamil …………… 289BAB V TEKNIK DASAR PENGOLAHAN MAKANAN 319 A. Pendahuluan ………………………………. 319 B. Peralatan Pengolahan Makanan ………… 319 C. Teknik Pengolahan Makanan ……………. 325BAB VI PENYUSUNAN MENU BERBAGAI KELOMPOK UMUR ……………………………. 347 A. Penyusunan Menu Untuk Ibu Hamil dan Menyusui …………………………………… 350 B. Penyusunan Menu Untuk Bayi ………….. 358 iii
  • 6. C. Penyusunan Menu Untuk Anak Balita ….. 359 D. Penyusunan Menu Untuk Anak Sekolah Dan Remaja ……………………………….. 362 E. Penyusunan Menu Untuk Orang Dewasa . 364 F. Penyusunan Menu Lansia ……………….. 366BAB VII PENGATURAN MAKANAN KHUSUS UNTUK PENCEGAHAN PENYAKIT DEGENERATIF ... 370 A. Beberapa Hal Yang Perlu Dalam Pengaturan Makanan Orang Sakit ............ 371 B. Penggunaan Penuntuk Diet Untuk Menyusun Diet Orang sakit ........................ 371 C. Pengaturan Makanan Bagi Penderita Jantung Koroner ........................................ 372 D. Perawatan Dietetik Bagi Penderita Obesitas .................................................... 385 E. Perawatan Dietetik Bagi Penderita Penyakit Diabetes Melitus ......................... 396DAFTAR PUSTAKA ................................................................ ALAMPIRAN .............................................................................. BGLOSARI ................................................................................. C iv
  • 7. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, KESEHATAN & KESELAMATAN KERJA I. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA 1.1. Pemeliharaan & Perbaikan Pada bab ini akan dibahas sasaran dan tujuan serta prinsip manaje- men (pengelolaan) pemeliharaan dan perbaikan secara umum. Masa- lah kesehatan dan keselamatan kerja akan dibahas pada akhir bab ini. Sasaran dan Tujuan Pemeliharaan & Perbaikan Pada dasarnya sasaran dan tujuan manajemen pemeliharaan & perbaikan sangat tergantung dari misi (hal yang ingin dicapai) oleh suatu organisasi. Tentu saja misi ini akan berbeda antara organisasi satu (misalnya sekolah) dengan organisasi lainnya (misalnya misi in- dustri perakitan mobil). Tujuan pemeliharaann dan perbaikan di sekolah umumnya hanya un- tuk memperpanjang usia pakai alat. Banyak sekolah yang belum mempunyai unit khusus untuk penanganan pemeliharaan dan per- baikan peralatan maupun fasilitas lainnya. Bagi sebagian industri, masalah pemeliharaan dan perbaikan secara umum selalu dikaitkan dengan tanggungjawabnya terhadap produk yang berkualitas, tepat waktu dan mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Beberapa industri atau organisasi yang besar bahkan mempu- nyai misi yang selalu dikaitkan dengan aset dan investasi. Jadi kegi- atan pemeliharaan & perbaikan alat & fasilitas lain diperhitungkan se- bagai bagian dari aset & investasi. Oleh karena itu, bagian atau unit pemeliharaan & perbaikan merupa- kan bagian yang sangat penting dari organisiasi semacam ini. 1.2. Kegiatan Pemeliharaan & Perbaikan Sebelum membahas lebih jauh tentang manajemen pemeliharaan dan perbaikan, lebih dahulu perlu memahami sifat pekerjaan atau kegiatan pemeliharaan dan perbaikan secara umum. 1
  • 8. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, KESEHATAN & KESELAMATAN KERJA Pemeliharaan Tidak Direncanakan Direncanakan Darurat Korektif Preventif Terjadwal Tidak Pemantauan Terjadwal Kondisi Gambar 1.2: Jenis Pekerjaan Pemeliharaan Joel Levitt, 2002, Gambar 1.1. Kegiatan Pemeliharaan & Perbaikan Pemeliharaan dan perbaikan meliputi berbagai aktifitas atau kegiatan, seperti ditunjukkan pada Gambar 1.1. Pada umumnya aktifitas terse- but dapat dibagi menjadi dua yaitu: kegiatan yang dapat direncanakan dan kegiatan yang tidak terduga atau tidak dapat direncanakan. Kegiatan pemeliharaan & perbaikan yang bersifat rutin merupakan ke- giatan yang dapat direncanakan, sedangkan kegiatan yang bersifat darurat, misalnya kerusakan alat akibat kecelakaan (misalnya terjatuh. Kena petir, dan lain-lain) merupakan kegiatan yang tidak dapat didu- ga. Namun demikian, hal-hal semacam ini harus dapat diantisipasi. Minimal kita tahu apa yang harus kita lakukan pada saat terjadi gang- guan semacam itu. Tugas 1-1. Buatlah daftar semua peralatan ukur yang kalian gunakan dalam satu bulan terakhir ini. Lalu beri catatan atau tanda pada alat ukur yang kerjanya tidak baik, misalnya dengan memberikan tanda * untuk alat ukur yang mengalami gangguan ringan (misalnya satu range pengu- kuran tidak bekerja dengan baik), ** untuk alat ukur yang sering meng- alami gangguan, dan *** untuk alat ukur yang tidak berfungsi. Berikan catatan tersebut kepada guru atau teknisi yang menangani peralatan laboratorium. 2
  • 9. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, KESEHATAN & KESELAMATAN KERJA Daftar peralatan yang kalian buat dapat digunakan sebagai laporan hasil pemantauan terhadap kinerja peralatan di laboratorium. Dengan pemantauan semacam ini, maka waktu dan biaya pemeliharaan dapat ditekan menjadi sekecil mungkin. Jika kerusakan atau gangguan kecil tidak ditangani dengan dengan baik, bisa mengakibatkan gangguan a- tau kerusakan yang lebih parah lagi. Jika ini terjadi maka biaya yang digunakan untuk perbaikan lebih mahal, dan waktu perbaikan juga le- bih lama. Secara keseluruhan hal ini tentu akan mengganggu proses belajar. Di industri, pemantauan kondisi peralatan sangatlah penting, karena jika terjadi gangguan yang lebih besar, bukan hanya akan me- ganggu produktifitas, tetapi juga akan menaikkan biaya, baik biaya perbaikan alat maupun biaya produksi, karena untuk mengganti waktu yang hilang pekerja harus melakukan kerja lembur. 1.2.1. Pemeliharaan Preventif Dalam pengertian yang luas, pemeliharaan preventif meliputi aspek re- kayasa (engneering) dan manajemen. Di bidang rekayasa, pemeliha- raan preventif meliputi: mendeteksi dan atau mengoreksi penggunaan peralatan yang ada saat ini, melalui analisa statistik kegagalan atau kesalahan yang ada atau berdasarkan catatan perbaikan yang ada. Pekerjaan ini harus dapat dilakukan secara tepat oleh orang yang be- nar-benar ahli dibidangnya dan dengan frekuensi yang tepat pula (mi- salnya dua kali dalam setahun). Jika terlalu sering, maka bukan saja akan me- nambah biaya pemeli- haraan, tetapi juga akan menurunkan produktifi- Jumlah Kerusakan tas dan efisiensi kerja perusahaan. Data pada Gambar 1.2. menunjuk- kan, bahwa kerusakan X Titik kritis Awal Pe- banyak terjadi pada a- makaian Pemakaian normal Alat rusak wal pemakaian alat. Hal ini dapat disebabkan o- t waktu leh kelalaian pekerja dan atau kerusakan in- Gambar 1.2: Pola Kerusakan Alat ternal komponen dari pada Umumnya pabrik pembuat alat (ini Joel Levitt, 2002, disebut kegagalan pro- duk). Tingkat kerusakan 3
  • 10. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, KESEHATAN & KESELAMATAN KERJA sakan alat akan menurun setelah pekerja mulai terbiasa mengguna- kan alat tersebut. Setelah melewati masa kritis, alat akan semakin se- ring mengalami gangguan, sehingga perbaikan akan semakin sering dilakukan, sampai masa pakai alat tersebut habis. Pada masa ini ar- tinya alat sudah tidak mungkin diperbaiki lagi. Di bidang manajemen, kegiatan pemeliharaan meiputi: membuat daf- tar pekerjaan, menentukan jumlah dan kualifikasi (bidang keahlian) teknisi yang diperlukan, memperkirakan berapa lama pekerjaan terse- but dilaksanakan, merencanakan jadwal pelaksanaan pekerjaan, ser- ta memprediksi biaya pemeliharaan dan perbaikan. Semua kegiatan ini biasanya dicantumkan dalam sebuah lembar kontrol. Hal paling utama dalam pemeliharaan preventif adalah menentukan Daftar Pekerjaan. Tujuan utama dibuatnya daftar pekerjaan adalah un- tuk mengingatkan pekerja tentang: alat apa yang harus diservis, apa yang harus dilakukan oleh teknisi atau pekerja (misalnya mengukur a- tau menguji arus atau tegangan pada titik tertentu, membersihkan alat, mengganti komponen, dan sebagainya. ), Dalam daftar ini juga akan tercantum prosedur pelaksanaan pemeliharaan yang harus dilakukan. tercantum: Daftar pekerjaan sebaiknya disusun oleh berbagai stakeholder (manu- faktur, ahli mekanik, tenaga ahli, kontraktor, perusahaan asuransi, pe- merintah, asosiasi terkait, distributor, konsultan dan berbagai kalangan pengguna produk). Tabel 1.1 : Jenis Pekerjaan & Contohnya No Jenis Pekerjaan Contoh 1 Inspeksi Pemeriksaan cacat sinyal output pada sistem penguat audio 2 Pemeliharaan Pemeriksaan semua sambungan listrik dengan infrared 3 Pembersihan Membersihkan sistem dari debu 4 Pemeriksaan kualitas Melalui loud speaker ucapkan suara beberapa kata pendek, misalnya satu…tes… 5 Menanyakan pada Bagaimana kinerja penguat operator 6 Analisis Buat riwayat pemeliharaan penguat. Daniel L Metzger, 1981 4
  • 11. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, KESEHATAN & KESELAMATAN KERJA 1.2.2. Pemeliharaan Korektif Pemeliharaan yang bersifat memperbaiki (corrective maintenance) a- kan berkaitan dengan deteksi kerusakan, penentuan lokasi kerusakan, dan perbaikan atau penggantian bagian yang rusak. Tahapan peme- liharaan korektif dapat dilihat seperti pada Gambar 1.3. Deteksi: Menentukan Lokasi: Perbaikan: - cek fungsi - cek fungsi tiap blok Perbaiki atau - cek kinerja (bagian dari sistem) ganti komponen - bandingkan - cek komponen pada yang rusak dg spesifikasi blok yang tidak dengan yang alat/sistem bekerja dg baik baru Gambar 1.3. Tahapan Pemeliharaan Korektif Alat Bantu Kerja. Alat bantu kerja adalah semua alat yang dapat digunakan oleh teknisi atau tenaga ahli untuk menentukan jenis dan lokasi ke-rusakan sistem yang diperiksa. Ini bisa berupa bu- ku manual pe-meliharaan, peralat- an uji (multi-meter, osiloskop, logic probe, dan sebagainya), dan atau Multimeter per-alatan khusus (misalnya untuk kalibrasi alat ukur). Peralatan uji dapat kalian pelajari secara khusus Gambar 1.4: Peralatan Bantu pada bab lain di buku ini. Pada saat Diagnosis (contoh) kita membeli peralatan elektronik (dan juga alat lainnya), misalnya ra- dio tape, biasanya diberi Buku Manual untuk petunjuk operasi dan petunjuk pemeliharaan a- tau cara mengatasi gangguan pada alat tersebut. Bentuk dan format manual pemeliharaan sangat bervariasi, tergantung dari pabrik pem- buat alat tersebut. Contoh format manual pemeliharaan tersebut da- pat dilihat pada Tabel 1.2. 5
  • 12. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, KESEHATAN & KESELAMATAN KERJA Tabel 1.2. Contoh Manual Pemeliharaan Tape-player Gejala Kerusakan Diagnosis Kerusakan • Kecepatan putar terlalu • Motor, sabuk pemutar, idler, lambat, atau kapstan tidak roda-pemutar, kapstan, atau berputar penggulung mekanik • Distorsi besar, treble jelek, • Head kotor (bersihkan dg output rendah/lemah isopropyl alkohol), atau posisi tidak tepat, atau rangkaian penguat rusak (demagnitize head) • Erase jelek • Erase head rusak/kotor (bersihkan head) • Fast Forward atau Rewind • Sabuk pemutar rusak (ganti), tidak bekerja atau idle motor, wadah (rumah) rusak • Rel pengambilan kendor • Sabuk pemutar rusak (ganti), atau penggulung mekanik (bersihkan atau lumasi) • Saklar Eject tidak bekerja • Periksa pegas, perangkat dengan baik mekanik, atau posisi tidak tepat (misaligment) Daniel L Metzger, 1981 Manual pemeliharaan juga ada yang berupa diagram alir, seperti di- tunjukkan pada Gambar 1.6. Sistem yang akan dianalisis dalam con- toh ini misalnya adalah sebuah regulator. Gambar 1.5 adalah blok di- agram regulator yang akan diperiksa. Sekering +12V Input Transformer 30V± Regulator + 5V Utama & peyearah 2V 0V - 12V Lampu Indikator Gambar 1.5: Contoh Sistem yang akan didiagnose 6
  • 13. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, KESEHATAN & KESELAMATAN KERJA Kenali gejala kerusakan Sistem tidak bekerja, tampilan digital Off. Diduga telah terjadi kerusakan pada catu daya On-kan saklar power, lihat lampu indikator catu daya Ya Ukur output DC dari Hasil Lampu pengukuran menyala? blok Trafo dan penyearah sesuai ? Ya Tidak Tidak Periksa sekering utama Periksa blok transformer & penyearah Ya Terdapat Putus? kerusakan pada Kerusakan diduga rangkaian / sistem pada bagian regulator. Periksa, ganti komponen Tidak yang rusak Dugaan: ada masalah Lokalisir pada sambungan kerusakannya utama melalui plug & sebelum Periksa, ganti kabel. Ukur tegangan menggantikannya komponen yang AC pada input utama dengan sekering rusak dengan yang baru yang baru Hasil Ya Saklar pengukuran Utama rusak. sesuai ? Ganti ! Tidak Ganti kabel atau buat sambungan baru Selesai Gambar 1.6. Manual Perbaikan dalam Bentuk Diagram Alir 7
  • 14. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, KESEHATAN & KESELAMATAN KERJA Manual yang baik berisi: • Diskripsi sistem dan cara mengoperasikannya • Spesifikasi kinerja sistem • Teori Operasi (sistem, blok diagram dan atau rangkaian) • Cara pemeliharaan (preventif & cara mengatasi kondisi darurat) • Daftar suku cadang • Tata letak mekanis Cara Melokalisir Kerusakan. Melokalisir Kerusakan pada Rangkaian Sederhana Kerusakan komponen dapat dike- Penguat nali melalui gejala kerusakan IN Audio OUT yang ada. Tugas teknisi adalah menginterpretasikan gejala ke- rusakan tersebut. Pengetahuan Gambar 1.7a: Kondisi Normal yang diperlukan disini adalah karakteristik tiap komponen. Tiap kerusakan menunjukkan ge- Penguat jala yang unik, misalnya ada per- IN Audio OUT ubahan operasi rangkaian, peru- bahan pada sinyal output, level bias d.c, dsb, seperti ditunjukkan Gambar 1.7b: Kondisi Rusak pada Gambar 1-7a dan Gambar 1-7b. Melokalisir Kerusakan pada Rangkaian yang Kompleks Pada dasarnya sistem yang kompleks terdiri dari beberapa blok rangkaian (sub-sistem) yang mempunyai fungsi yang berbeda- beda. 8
  • 15. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, KESEHATAN & KESELAMATAN KERJA Untuk menentukan kerusakan komponen pada rangkaian yang ter- diri dari ratusan atau ribuan komponen pastilah tidak mudah. Oleh karena itu bagilah sistem tersebut menjadi beberapa blok sesuai de- ngan fungsi tiap blok, seperti contoh Gambar 1-8: Rangkaian Generator Sinyal RF berikut ini. Ujilah kinerja setiap blok. Mulailah menguji dari sumber dayanya, dilanjutkan ke blok-blok berikutnya. Dengan cara ini jika ada blok yang tidak berfungsi dengan baik akan mudah dikenali. Tugas 1-2 Carilah manual dari sebuah sistem elektronik, misalnya TV, Video player atau lainnya. Lihat gambar rangkaiannya. Dari rangkaian ter- sebut buatlah blok diagramnya, lalu tunjukkan pada guru kalian, ta- nyakan, apakah kalian telah benar menggambarkannya. Untuk me- nambah wawasan, kalian bisa saling bertukar gambar dengan te- man kalian yang mempunyai gambar yang berbeda. Osilator RF Penguat & Attenuator (variabel) Modulator tersaklar 4 Output + - 2 + - 3 RF Catu + Daya Saklar - 1 Mod CW + - Osilator Attenuator Frekuensi 6 Output Audio (400 5 AF Gambar 1.8: Diagram Blok Rangkaian Generator RF 1.3. Sistem Manajemen Pemeliharaan dan Perbaikan Masalah pemeliharaan dan perbaikan jika tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan banyak kerugian, antara lain: - rugi waktu karena pekerjaan yang tertunda (akibat kerusakan peralatan atau gedung atau sarana lainnya), - produktifitas turun - efisiensi turun, - menambah biaya operasional, dan sebagainya. 9
  • 16. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, KESEHATAN & KESELAMATAN KERJA Oleh karena itu perlu menerapkan sistem pemeliharaan & perbaikan yang baik. Sistem pemeliharaan & perbaikan yang baik pada dasarnya merupakan penerapan sistem manajemen untuk seluruh pekerjaan pe- meliharaan dan perbaikan. Gambar 1.9. menunjukkan unsur-unsur manajemen secara umum, yang dapat diterapkan pada sistem peme- liharaan & perbaikan. 1.3.1. Prinsip Manajemen Pemeliharaan dan Perbaikan Perencanaan Pengorganisasian Manajemen Pelaksanaan Pekerjaan PP Pelaksanaan Pekerjaan Audit Pemeliharaan Gambar 1.9. Prinsip-prinsip Manajemen 1.3.2. Perencanaan Pekerjaan dan Tenaga Untuk mendapatkan hasil yang baik, suatu pekerjaan pemeliharaan harus direncanakan dengan baik. Dalam sebuah perusahaan atau in- dustri biasanya telah ada format khusus yang digunakan untuk mem- buat perencanaan tersebut. Bentuk format perencanaan antara indus- tri yang satu dengan industri lainnya dapat berbeda, tergantung dari kebutuhan masing-masing. Tetapi secara umum format perencanaan pekerjaan tersebut memuat isi tentang: a). Jenis atau tipe pekerjaan b). Sifat atau level pekerjaan c). Tenaga pelaksana yang diperlukan d). Material atau suku cadang yang diperlukan e). Waktu atau lama pengerjaan, dan sebagainya 10
  • 17. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, KESEHATAN & KESELAMATAN KERJA Tipe Pekerjaan Prioritas Pekerjaan Pekerjaan Darurat perbaikan biasa, Kritikal (24 jam) Pekerjaan servis ringan Perbaikan besar (Shutdown) Pemeliharaan rutin Pemeliharaan Preventif Perbaikan Rusak Berat Gambar 1.10. Tipe dan Level Pekerjaan Pemeliharaan & Perbaikan pada Umumnya Tipe pekerjaan meliputi: pekerjaan perbaikan biasa, pemeliharaan yang bersifat rutin atau pebaikan berat. Ini perlu diketahui oleh peren- cana dan teknisi agar dapat diperkirakan berapa lama waktu yang di- perlukan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Dalam kenyataan, bisa terjadi kondisi, dimana dalam waktu yang bersamaan terjadi banyak sekali pekerjaan pemeliharaan yang harus diselesaikan, sedangkan tenaga teknisi terbatas. Dalam kondisi ini, maka perlu dibuat skala prioritas, dengan cara melihat urgensi (tingkat kedaruratan) pekerjaan. Level pekerjaan yang bersifat darurat atau kritis harus mendapat prioritas. Pekerjaan ini harus dapat diselesaikan dalam waktu paling lama 24 jam. 1.3.3. Pengorganisasian Pelaksanaan Pekerjaan Suatu pekerjaan pemeliharaan harus dikoordinasikan dengan baik, ka- rena meyangkut beberapa bagian dari suatu organisasi, misalnya ba- gian front office yang menerima barang yang akan diperbaiki atau di- servis, bagian perbaikan atau bengkel sebagai tempat perbaikan dan pemeliharaan, bagian gudang yang menyimpan suku cadang, bagian keuangan, dan sebagainya. Untuk mempermudah pekerjaan, seorang perencana biasanya membuat suatu mekanisme kerja pemeliharaan dengan menggunakan sarana yang disebut Perintah Kerja (Work Or- der). Seluruh prosedur pelaksanaan pekerjaan harus ditaati oleh selu- ruh karyawan. 11
  • 18. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, KESEHATAN & KESELAMATAN KERJA Work Request Work Order Rencana (W.R) (W.O) Kerja • Volume Pekerjaan Jadwal (Man-Hours), Kerja • Pelaksana (Craft), • Material Gambar 1.11: Proses Pembuatan Rencana Kerja Pemeliharaan Prosedur kerja dimulai dari diterimanya permintaan pekerjaan (Work Request atau W.R, ditandatangani oleh manajemen). W.R yang te- lah disetujui akan menjadi perintah kerja (Work Order atau W.O). W.O akan dipelajari oleh perencana untuk selanjutnya dibuat renca- na kerja lengkap, lalu dibuat jadwal pelaksanaan pemeliharaan. Sebuah W.O yang baik setidaknya mengandung informasi tentang: - Jenis Aset/barang/peralatan yang akan dikerjakan - Deskripsi pekerjaan pemeliharaan & perbaikan yang jelas - Sejarah pemeliharaan peralatan tersebut Tgl: 21 Juli 2007 No. Aset : 0051.32.2001 Tipe aset: Tape Player Merk/thn: ABC/2000 No. Pekj: 100 Jenis Pekj: Servis biasa Gejala kerusakan: Tgl selesai: 22 Juli 2007 - putaran tidak stabil - suara lemah Teknisi : Sandi Pemberi Order Penerima Order ………………… ……………………… Gambar 1.12. Contoh sebuah W.R sederhana 12
  • 19. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, KESEHATAN & KESELAMATAN KERJA 1.3.4. Pelaksanaan Pekerjaan & Pelaporan Pelaporan merupakan salah satu hal penting dalam pelaksanaan pe- kerjaan pemeliharan & perbaikan. Ada 2 masalah utama yang perlu dilaporkan ke manajemen: yaitu masalah volume pekerjaan (lama waktu pengejaan & jumlah pekerja yang diperlukan) dan masalah ma- terial atau bahan. Masalah volume pekerjaan bagi manajemen diperlu- kan untuk memperkirakan adanya upah lembur. Sedangkan masalah bahan atau material sangat berkaitan dengan ketersediaan suku ca- dang di gudang. Kedua informasi ini dapat digunakan oleh manajemen untuk memberikan informasi kepada pelanggan atau pemberi pekerja- an kapan pekerjaan tersebut selesai. Dalam manajemen pemeliharaan, W.O adalah ujung tombak kesuksesan sistem manajemen pemeliharaan & perbaikan. Tugas 1-3. Buatlah sebuah kelompok kerja yang terdiri dari 3-5 orang. Coba ada- kan kunjungan ke sebuah tempat servis, misalnya servis TV, pusat servis motor atau servis mobil resmi. Mintalah contoh selembar kertas permintaan servis (W.R), selembar kertas perintah kerja (W.O). Lalu perhatikan bagaimana mereka membuat jadwal pekerjaan. Catatlah semua hasil pengamatan kalian, buatlah laporan singkat atas kunjung- an kerja kalian kali ini. 1.3.5. Audit dan Evaluasi Setelah seluruh pekerjaan pemeliharaan & perbaikan selesai dikerjakan, sebaiknya diadakan evaluasi kinerja yang menyeluruh, mulai dari front office, teknisi sebagai tenaga pelaksana, bagian gudang dan material, bagian keuangan, bagian pengolah data, dan sebagainya. Hal ini perlu untuk selalu menjaga kualitas dan kinerja perusahaan atau industri secara menyeluruh. Catatan Backlog File aktif berisi semua catatan W.O disimpan sebagai catatan Backlog. Catatan Backlog dapat digunakan oleh manajemen untuk menentukan jumlah pelaksana, membuat prioritas pekerjaan, membuat status keselamatan kerja, memprediksi biaya, dan sebagainya. Bagi seorang analis, catatan Backlog dapat digunakan untuk membantu menentu- kan tingkatan staf dan mengurangi overhead cost (biaya yang tidak perlu). 13
  • 20. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, KESEHATAN & KESELAMATAN KERJA 1.4. Sistem Manajemen Pemeliharaan dan Perbaikan Berbantuan Komputer Sistem Manajemen Perawatan dan Perbaikan yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya dilaksanakan secara manual. Sistem tersebut dapat dilaksanakan dengan menggunakan komputer. Sistem Manajemen Perawatan berbantuan Komputer, biasa disingkat CMMS (Computerized Maintenance Management Systems) merupa- kan sebuah perangkat lunak yang berisi semua aspek kehidupan suatu organisasi. Banyak vendor yang menawarkan perangkat lunak ini seca- ra gratis. Perangkat lunak tersebut pada umumnya masih harus dimo- difikasi agar sesuai dengan kondisi atau kebutuhan organisasi sebagai pengguna. Komputerisasi ma- Peningkatan Biaya Level Biaya najemen pemeliha- saat ini raan dan perbaikan Biaya pemeliharaan memungkinkan ter- sedianya semua in- formasi di semua bagian yang terkait dengan fungsi pe- Penggunaan meliharan, seperti Penghematan CMMS manajer, supervisor, perencana, personal Terry Wireman, 1986, hal 54 waktu gudang, dan bagian akunting Gambar 1.13: Reduksi Biaya Pemeliharaan setelah menggunakan CMMS Keunggulan Komputerisasi Manajemen Pemeliharaan • Meningkatkan efisiensi • Mengurangi Biaya Perawatan • Mengurangi biaya down-time (waktu perbaikan) peralatan • Menaikkan masa pakai alat • Menghasilkan rekaman sejarah pemeliharaan suatau alat, untuk mempermudah membuat perencanaan pemeliharaan dan biaya perbaikan • Menghasilkan laporan hasil pemeliharaan dengan format yang diperlukan oleh pemakai maupun manajemen 14
  • 21. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, KESEHATAN & KESELAMATAN KERJACMMS dapat digunakan untuk memantau semua biaya pemeliharaandan perbaikan alat melalui: 1. Pemantauan (monitoring) biaya W.O melalui jadwal pelaksanaan W.O 2. Pemantauan inventarisasi dan pembelian barang, untuk meng- hindari penumpukan barang di gudang. Bagi vendor, informasi ini digunakan untuk menentukan waktu pengiriman barang yang paling tepat. 3. Pemantauan Jadwal Pemeliharaan Preventif (JPP), agar tidak terjadi pemeliharaan secara berlebihan (overmaintenance), dan dapat menaikkan up-time serta memperpanjang usia pakai peralatan.Pada umumnya CMMS terdiri dari 4 modul, yaitu: 1. Perencanaan Work Order dan penjadwalan 2. Kontrol Inventaris Pemeliharaan 3. Modul untuk pembaharu (up date) data Pemeliharaan Preventif 4. Laporan Pemeliharaan1.4.1. Modul Perencanaan W.O dan Penjadwalan. Komputerisasi W.O berisi dokumen-dokumen detail dari pekerjaan pemeliharaan. Proses komputerisasi diawali dengan W.O entry, yaitu memasukkan informasi tentang permintaan W.O. ke dalam sistem Mamajemen PP dan berakhir dengan penyimpanan W.O Backlog. Proses lengkap dari perencanaan W.O dapat dilihat pada Gambar 1.14, sedangkan contoh tampilan W.O Entry di layar monitor dapat di- lihat pada Gambar 1.15..Pemutakhiran data dapat langsung dilaku- kan saat W.O sedang aktif. Work Request Work Order Perencanaan Penampilan (W.R) (W.O) W.O W.O Pemutakhiran Penyimpanan Penyempurnaan Penjadualan W.O (update W.O W.O W.O W.O) Gambar 1.14: Aliran Sistem Work Order 15
  • 22. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, KESEHATAN & KESELAMATAN KERJA ADD A WORK ORDER MM/DD/YY/HH:MM:SS WO no.(A): 12123 Date Originated: 01/01/89/01:30:25 WO type : (S,P,R, ) Comp (Act): 00/00/00 Comp (Est): 02/02/89 Equip ID(A): 110CRANE Needed : 02/10/89 Ref no.(A): Approved : 01/30/89 Rep Job(A): Priority: 3 Down Time (N): 0000.0 Supervisor: PDB Stat Cd: Cause Code (A): Planner: MS Delete : Est-Cost - Labor: 0000000450 Dept (A): 32 - Material: 000000001500 Cost Ctr (A): 4810-3101 - Cont/Oth-1: 0000000125 Wait: A P E M S C Go: RS IP CA CO Code: Code: Y Status: (Y, ) Title Desc: REPAIR DB HOIST CONTACTOR Narrative History (Y/ ): Y NEW WORK ORDER – ADD DETAIL F1=ADD F2=CHG F4=DEL F6=TOP SCRN F8=PG DN F10=HELP ESC=EXIT = ENTR/RETURN CNTRL END=BLANK OUT SHIFT ‖= SKIPS BACK Modifikasi dari Terry Wireman, 1986, hal 58 Gambar 1.15: Contoh Tampilan Work Order Entry pada layar monitor komputer (Coustesy of ABC Management System W.O. Backlog W.O Backlog adalah master file di dalam memori komputer untuk semua W.O aktif. Ini berarti, jika W.O telah di enter, maka W.O telah masuk ke dalam memori sistem komputer manajemen pemelihara- an, dan akan ada terus hingga data ini dihapus dari memori. Dengan menggunakan fungsi untuk mencari backlog, orang dapat melihat semua W.O aktif, misalnya: jumlah alat, prioritas, perencana, super- visor, klasifikasi pekerjaan, material yang diperlukan, dan sebagai- nya. 1.4.2. Modul Kontrol Inventaris Modul ini digunakan untuk menjejak biaya pemakaian bahan atau material, ketersediaan material di gudang, baik untuk pemeliharaan terencana maupun untuk cadangan jika terdapat pekerjaan darurat, dan untuk mengetahui jadwal pemesanan suku cadang atau material 16
  • 23. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, KESEHATAN & KESELAMATAN KERJA 1.4.3. Modul Pemutakhiran Data (up-date) Modul ini digunakan untuk mengubah atau meng-up date informasi jadwal pemeliharaan preventif. Pemilihan jadwal diserahkan kepada pemakai (pelanggan), apakah akan menggunakan kalender atau pembacaan meter. Modul ini harus dapat menunjukkan: • Jenis pekerjaan, tenaga kerja yang diperlukan dan alat yang diperlukan • Jadwal pemeliharaan yang dapat dibuat harian, mingguan, atau tahunan untuk memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut • Instruksi detail Contoh tampilan format pemeliharaan preventif dapat dilihat pada Gambar 1.16. έć Preventive Maintenance Task - x Task No 100 Brief Task desc Tone arm/support PM List Detail Comments Meterbase Links Part Tools Req’d Srew (-) (+), Manual Req’d Maintenance Manual Variance Amount .o Actual Precentage 0.00 Task Level (A-Z) Detail Description 1. Stereo Inspection 1.1. Inspect Tone arm 1.2. Inspect Idler wheel. motor, drive surfaces. 1.3. Dial cord 1.4. Output Amplifier/driver Admin Modifikasi dari Joel Levitt, 2003, hal 42 Gambar 1.16: Contoh tampilan pada monitor komputer tentang kegiatan Pemeliharaan Preventif 17
  • 24. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, KESEHATAN & KESELAMATAN KERJA 1.4.4. Modul Laporan Pemeliharaan Modul ini dapat digunakan manajer untuk mengoptimalkan organisasi. Garis besar isi modul laporan manajemen berisi rangkuman tentang: Daftar Analisis Prioritas W.O, Kinerja Perencana, Kinerja Supervisor W.O, Laporan Biaya W.O, Backlog W.O, Riwayat Perbaikan Alat, Bia- ya Pemeliharaan Alat, Laporan biaya khusus perbaikan Alat, Keaman- an W.O Backlog, Laporan sisi pemakaian item, Laporan antrian W.O, Laporan Keterlambatan Pemeliharaan Preventif. έć Report Wizard - x Selection Setup Output Field Sort By Filter Output Available Field Selected Field CompInfo Asset + Comp.Info Nnnn CompInfoComp_ID ppp Nnnn + PM PM PMFreq pppp + Task PMFreq_Type - Work PM LastDate Action PM Nextdate Selected the field Asset.ID TaskDesc you wish to Work_WO Asset.Desc Work_workDesc appear on the report from the Building Work_TaskNo available field Work_TaskNo column Show All Field Field Properties Active Report PM Task Modifikasi dari Joel Levitt, 2003, hal 47 Gambar 1.17: Contoh Tampilan Monitor Komputer pada Modul Laporan Pemeliharaan 18
  • 25. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, K3 1.5. Kesehatan & Keselamatan Kerja Keselamatan Kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan me- sin, pesawat alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan. Ke- selamatan Kerja juga merupakan sarana utama untuk pencegahan kecelakaan, cacat, dan kematian sebagai akibat dari kecelakaan kerja. (Dr. Suma’mur.P.K, M.Sc, 1981, hal 1,2). Mengapa perlu dibuat ketentuan tentang K3? K3 dibuat dengan tujuan: 1. Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan me- ningkatkan produksi dan produktifitas nasional. 2. Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja tersebut 3. Memelihara sumber produksi agar dapat digunakan secara aman dan efisien. Kecelakaan Kecelakaan adalah kejadian yang tidak terduga (tidak ada unsur kese- ngajaan) dan tidak diharapkan karena mengakibatkan kerugian, ba-ik material maupun penderitaanbagi yang mengalaminya. Oleh karena itu, sabotase atau kriminal merupakan tindakan diluar lingkup kecela- kaan yang sebenarnya. Kerugian akibat kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja dapat mengakibatkan 5 kerugian (5K): 1. Kerusakan 2. Kekacauan organisasi 3. Keluhan dan kesedihan 4. Kelainan dan cacat 5. Kematian 1.5.1. Klasifikasi Kecelakaan 1. Menurut jenis kecelakaan: a. Terjatuh b. Tertimpa benda jatuh c. Tertumbuk atau terkena benda lain kecuali benda jatuh d. Terjepit oleh bende e. Gerakan yang melebihi kemampuan 19
  • 26. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, K3 f. Pengaruh suhu tinggi g. Terkena sengatan arus listrik h. Tersambar petir i. Kontak dengan bahan-bahan berbahaya j. Terkena radiasi, dan lain-lain 2. Menurut sumber atau penyebab kecelakaan a. Dari mesin: pembangkit tenaga, mesin-mesin penyalur, pengerjaan logam, mesin pertanian, pertambangan, dan lain- lain. b. Alat angkut dan alat angkat: kreta, mobil, pesawat terbang, kapal laut, crane, dan sebagainya. c. Alat lain: bejana bertekanan, instalasi dan peralatan listrik, dan sebagainya. d. Bahan/zat berbahaya dan radiasi: bahan peledak, radiasi si- nar UV, radiasi nuklir, debu dan gas beracun, dan sebagai- nya. e. Lingkungan kerja: di dalam/ di luar gedung, di bawah tanah 3. Menurut sifat luka atau kelainan Patah tulang, memar, gegar otak, luka bakar, keracunan menda- dak, akibat cuaca, dan sebagainya. Dari hasil penelitian, sebagian besar kecelakaan (80%-85%) disebab- kan oleh kelalaian manusia. (Dr. Suma’mur, 1981, hal 9). Kesalahan tersebut bisa disebabkan oleh perencana, pekerja, teknisi pemeliharaan & pe- rbaikan mesin atau alat lainnya, instalatir listrik, dan bisa juga disebab- kan oleh pengguna. 1.5.2. Pencegahan Kecelakaan Kecelakaan-kecelakaan akibat kerja dapat dihindari dengan: 1. Menerapkan peraturan perundangan dengan penuh disiplin 2. Menerapkan standarisasi kerja yang telah digunakan secara resmi, misalnya standar tentang konstruksi, standar higene, standar instalasi peralatan industri & rumah tangga, menggu- nakan baju perlindungan kerja (kacamata las, jas-lab, sepatu karet untuk menghindari barang-barang tajam (pecahan kaca atau paku, dan zat cair bernahaya lainnya. 3. Melakukan pengawasan dengan baik. 4. Memasang tanda-tanda peringatan 5. Melakukan pendidikan dan penyuluhan kepada masyarakat a- gar tumbuh kesadaran tentang pentingnya menghindari kece- lakaan baik untuk diri sendiri maupun orang lain. 20
  • 27. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, K3 1.5.3. Penanggulangan Kecelakaan a). Penaggulangan Kebakaran • Jangan membuang puntung rokok yang masih menyala di tem- pat-tempat yang mengandung bahan yang mudah terbakar, misalnya di SPBU, di lingkungan hutan, di tempat penyimpan- an bahan kimia, dan sebagainya. • Hilangkan sumber-sumber menyala ditempat terbuka, seperti rokok yang menyala, nyala api, logam pijar di dekat bejana yang masih mengandung bahan yang mudah meledak, listrik statis yang bisa menimbulkan percikan bunga api, gesekan benda yang akan menimbulkan panas dan percikan bunga api. • Hindari awan debu yang mudah meledak dengan membangun pabrik bebas debu, pemasangan ventilasi yang baik, sehingga aliran debu bisa keluar dengan baik, menjaga lingkungan in- dustri tetap bersih. Perlengkapan Pemadam Kebakaran Alat-alat pemadam dan penanggulangan kebakaran terdiri dari dua jenis: 1). Terpasang tetap ditempat 2). Dapat bergerak atau dibawa 1). Alat pemadam kebakaran yang terpasang tetap Alat penanggulangan kebakaran jenis ini meliputi: 1. Pemancar air otomatis 2. Pompa air 3. Pipa-pipa dan slang-slang untuk aliran air 4. Alat pemadam kebakaran dengan bahan kering CO2 atau busa Alat-alat pemadam kebakaran jenis 1-3 digunakan untuk penanggu- langan kebakaran yang relatif kecil, terdapat sumber air di lokasi ke- bakaran dan lokasi dapat dijangkau oleh peralatan tersebut. Sedang- kan alat jenis ke-4 digunakan jika kebakaran relatif besar, lokasi keba- karan sulit dijangkau alat pemadam, dan atau tidak terdapat sumber air yang cukup, atau terdapat instalasi atau peralatan listrik, dan atau terdapat tempat penyimpanan cairan yang mudah terbakar. 21
  • 28. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, K3 Gambar (a) menunjukkan rumah (almari) tempat penyimpanan pera- latan pemadam kebakaran. Disebe- lah kiri adalah tempat gulungan pi- pa untuk aliran air, sedangkan dise- belah kanan berisi alat pemadam kebakaran yang dapat dibawa. Alat jenis ini bisa berisi bahan pema- dam kering atau busa. (a) Gambar (b) adalah alat pemadam kebakaran jenis pompa air. Alat ini biasanya dipasang di pinggir jalan dan di gang antar rumah di suatu komplek perumahan. Jika terjadi kebakaran disekitar tempat terse- but, mobil kebakaran akan meng- ambil air dari alat ini. Air akan di- semprotkan ke lokasi kebakaran melalui mobil pemadam kebakaran. (b) Gambar (c) adalah alat pemadan kebakaran jenis pemancar air oto- matis. Alat ini biasanya dipasang di dalam ruangan. Elemen berwarna merah adalah penyumbat air yang dilapisi kaca khusus. Jika terjadi kebakaran disekitar atau di dalam ruangan, maka suhu ruangan akan naik. Jika suhu udara disekitar alat tersebut telah mencapai tingkat ter- tentu (misalnya 800) kaca pelindung elemen penyumbat akan pecah (c) dan secara otomatis air akan ter- pancar dari alat tersebut. Gambar 1.18. Beberapa Jenis Alat Pemadam Kebakaran Jika terjadi kebakaran di sekitar Anda, segera lapor ke Di- nas Kebakaran atau kantor Polisi terdekat. Bantulah petu- gas pemadam kebakaran & Polisi dengan membebaskan jalan sekitar lokasi kebakaran dari kerumunan orang atau kendaraan lain selain kendaraan petugas kebakaran dan atau Polisi. 22
  • 29. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, K3 2). Alat pemadam kebakaran yang dapat dibawa. Alat ini seharusnya tetap tersedia di setiap kantor bahkan rumah tang- ga. Pemasangan alat hendaknya ditempat yang paling mungkin terjadi kebakaran, tetapi tidak terlalu dekat dengan tempat kebakaran, dan mudah dijangkau saat terjadi kebakaran. Cara menggunakan alat-alat pemadam kebakaran tersebut dapat di- lihat pada label yang terdapat pada setiap jenis alat. Setiap produk mempunyai urutan cara penggunaan yang berbeda-beda. b). Penanggulangan Kebakaran Akibat Instalasi Listrik dan Petir • Buat instalasi listrik sesuai dengan peraturan yang berlaku an- tara lain PUIL-2000 (Persyaratan Umum Instalasi Listrik-2000) • Gunakan sekering/MCB sesuai dengan ukuran yang diperlu- kan. • Gunakan kabel yang berstandar keamanan baik (LMK/SPLN) • Ganti kabel yang telah usang atau cacat pada instalasi atau peralatan listrik lainnya • Hindari percabangan sambungan antar rumah • Hindari penggunaan percabangan pada stop kontak • Lakukan pengukuran kontinuitas penghantar, tahanan isolasi dan tahanan pentanahan secara berkala • Gunakan instalasi penyalur petir sesuai dengan standar c). Penanggulaan Kecelakaan di dalam Lift • Pasang rambu-rambu & petunjuk yang mudah dibaca oleh pengguna jika terjadi keadaan darurat (listrik terputus atau pa- dam, kebakaran, gempa). • Jangan memberi muatan lift melebihi kapasitasnya • Jangan membawa sumber api terbuka di dalam lift • Jangan merokok dan membuang puntung rokok di dalam lift • Jika terjadi pemutusan aliran listrik, maka lift akan berhenti di lantai terdekat dan pintu lift segera terbuka sesaat setelah ber- henti. Segera keluarlah dari lift dengan hati-hati. d). Penanggulangan Kecelakaan terhadap Zat Berbahaya Bahan-bahan berbahaya adalah bahan-bahan yang selama pembu- atannya, pengolahannya, pengangkutannya, penyimpanannya dan penggunaannya dapat menimbulkan iritasi, kebakaran, ledakan, 23
  • 30. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, K3 ledakan, korosi, mati lemas, keracunan dan bahaya-bahaya lainnya terhadap gangguan kesehatan orang yang bersangkutan dengannya atau menyebabkan kerusakan benda atau harta kekayaan.(Suma’mur. P.K, MSc, 1981, hal 268). 1. Bahan-bahan eksplosif Adalah bahan-bahan yang mudah meledak. Ini merupakan bahan yang paling berbahaya. Bahan ini bukan hanya bahan peledak, te- tapi juga semua bahan yang secara sendiri atau dalam campuran tertentu atau jika mengalami pemanasan, kekerasan, atau gesek- an dapat mengakibatkan ledakan yang biasanya diikuti dengan ke- bakaran. Contoh: garam logam yang dapat meledak karena ok- sidasi diri, tanpa pengaruh tertentu dari luar. 2. Bahan-bahan yang mengoksidasi. Bahan ini kaya akan oksigen, sehingga resiko kebakarannya sa- ngat tinggi. Contoh: chlorat dan permangant yang dapat menye- babkan nyala api pada bubuk kayu, atau jerami yang mengalami gesekan; asam sulfat dan nitrat dapat menyebabkan kebakaran jika bersentuhan dengan bahan-bahan organik. 3. Bahan-bahan yang mudah terbakar Tingkat bahaya bahan-bahan ini ditentukan oleh titik bakarnya. Makin rendah titik bakarnya makin berbahaya. 4. Bahan-bahan beracun. Bahan ini bisa berupa cair, bubuk, gas, uap, awan, bisa berbau atau tidak berbau. Proses keracunan bisa terjadi karena tertelan, terhirup, kontak dengan kulit, mata dan sebagainya. Contoh: NaCl bahan yang digunakan dalam proses pembuatan PCB. Bahan ini seringkali akan menimbulkan gatal-gatal bahkan iritasi jika tersen- tuh kulit. 5. Bahan korosif. Bahan ini meliputi asam-asam, alkali-alkali, atau bahan-bahan kuat lainnya yang dapat menyebabkan kebakaran pada kulit yang ter- sentuh. 6. Bahan-bahan radioaktif Bahan ini meliputi isotop-isotop radioaktif dan semua persenyawa- an yang mengandung bahan radioaktif. Contoh cat bersinar. 24
  • 31. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, K3 Tindakan pencegahan • Pemasangan Label dan tanda peringatan • Pengolahan, pengangkutan dan penyimpanan harus sesuai dengan ketentuan dan aturan yang ada. • Simpanlah bahan-bahan berbahaya di tempat yang memenuhi syarat keamanan bagi penyimpnan bahan tersebut. Simbol-simbol tanda bahaya a. Bahaya Ledakan b. Bahaya Oksidasi c. Bahaya Kebakaran T : beracun T+ : sangat beracun d. Bahaya Beracun e. Bahaya Korosi f. Bahaya Pencemaran g. Bahaya Iritasi h. Bahaya Radiasi Ion Lingkungan Fachkunde Elektrotechnik, 2006, hal 15 Gambar 1.19. (a-h). Simbol-simbol Bahaya 25
  • 32. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, K3 1.5.4. Pendekatan Keselamatan Lain a). Perencanaan Keselamatan kerja hendaknya sudah diperhitungkan sejak tahap perencanaan berdirinya organisasi (sekolah, kantor, industri, peru- sahaan). Hal-hal yang perlu diperhitungkan antara lain: lokasi, fa- silitas penyimpanan, tempat pengolahan, pembuangan limbah, pe- nerangan, dan sebagainya. b) Ketatarumahtanggaan yang baik dan teratur. • Menempatkan barang-barang ditempat yang semestinya, tidak menempatkan barang di tempat yang digunakan untuk lalu-lin- tas orang dan jalur-jalur yang digunakan untuk penyelamatan kondisi darurat. • Menjaga kebersihan lingkungan dari barang/bahan berbahaya, misalnya hindari tumpahan oli pada lantai atau jalur lalulintas pejalan kaki. Tanda-tanda untuk keselamatan di tempat kerja (d). Tanda Perlindungan (a). Tanda Bahaya (b). Tanda Anjuran terhadap Kebakaran (c). Tanda Darurat (e). Rumah Sakit atau Klinik (f). Tanda Larangan Kesehatan 26
  • 33. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, K3 (g). Tanda Peringatan (h). Tanda Peringatan terhadap Bahaya untuk Tidak meng-ON- Tegangan Listrik kan Saklar Gambar 1.19. Tanda-tanda Keselamatan di Tempat Kerja Tabel 1.3. Bentuk dan Warna untuk Simbol Keselamatan Bentuk geo- metris Warna Bahan & merah Semangat Larangan juang kuning Peringatan Hati-hati Darurat hijau Pertolongan Pertama biru Anjuran Petunjuk Pengarah Fachkunde Elektrotechnik, 2006, hal 16 c). Pakaian Kerja • Hindari pakaian yang terlalu longgar, banyak tali, baju berdasi, baju sobek, kunci/ gelang berantai, jika anda bekerja dengan barang-barang yang berputar atau mesin-mesin yang bergerak misalnya mesin penggilingan, mesin pintal, dan sebagainya • Hindari pakaian dari bahan seluloid jika anda bekerja dengan bahan-bahan yang mudah meledak atau mudah terbakar. • Hindari membawa atau menyimpan di kantong baju barang-ba- rang yang runcing, benda tajam, bahan yang mudah meledak, dan atau cairan yang mudah terbakar. 27
  • 34. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, K3 d). Peralatan Perlindungan Diri 1. Kacamata. Gunakan kacamata yang sesuai dengan pekerjaan yang anda tangani, misalnya untuk pekerjaan las diperlukan kacamata dengan kaca yang dapat menyaring sinar las; kaca- mata renang digunakan untuk melindungi mata dari air dan zat- zat berbahaya yang terkandung di dalam air. 2. Sepatu. Gunakan sepatu yang dapat melindungi kaki dari beban berat yang menimpa kaki, paku atau benda tajam lain, logam, benda pijar dan asam yang mungkin terinjak. Sepatu untuk pe- kerja listrik harus berbahan non-konduktor, tanpa paku logam. 3. Sarung tangan. Gunakan sarung tangan yang tidak mengha- langi gerak jari dan tangan. Pilih sarung tangan dengan bahan yang sesuai dengan jenis pekerjaan yang ditangani, misalnya sarung tangan untuk melindungi diri dari tusukan atau sayatan, bahan kimia berbahaya, panas, sengatan listrik, atau radiasi tentu berbeda bahannya. (a). Kacamata (b). Sepatu (c). Sarung Tangan Pelindung Pelindung & Pelindung Lainnya (d). Topi (e). Baju Pelindung (f). Baju Pelindung Pelindung (Tanpa Lengan) (Lengan Panjang) Gambar 1.20. Peralatan Perlindungan Diri 28
  • 35. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, K3 . Helm pengaman. Gunakan topi yang dapat melindungi kepala dari tertimpa benda jatuh atau benda lain yang bergerak, tetapi tetap ringan. 5. Alat perlindungan telinga untuk melindungi pekerja dari kebi- singan, benda bergerak, percikan bahan berbahaya. 6. Alat perlindungan paru-paru, untuk melindungi pekerja dari bahaya polusi udara, gas beracun, atau kemungkinan dari ke- kurangan oksigen. 7. Alat perlindungan lainnya, seperti tali pengaman untuk melin- dungi pekerja dari kemungkinan terjatuh. 1.6. Organisasi Keselamatan Kerja Tujuan utama dibentuknya organisasi keselamatan kerja ialah untuk mengurangi tingkat kecelakaan, sakit, cacat dan kematian akibat ker- ja, dengan lingkungan kerja yang bersih, sehat, aman dan nyaman. Organisasi bisa dibentuk di tingkat pemerintah, perusahaan atau oleh kelompok atau serikat pekerja. Di Amerika Serikat, organisasi kesela- matan kerja bagi pekerja swasta dibentuk dibawah Departemen tena- ga kerja dan disebut OSHA (Occupational Safety and Health Admi- nistration). OSHA membuat peraturan-peraturan yang berkaitan de- ngan keselamatan dan kesehatan kerja. Diagram organisasi OSHA dapat dilihat pada Gambar 1.20. Organisasi ini terdiri dari 4 bagian: Bagian Perencanaan, Operasi, Logistik dan bagian keuangan. Per- sonil organisasi bisa terdiri dari pemerintah, kepolisian, dokter, psiko- log, tenaga ahli teknik, ahli jiwa, dan sebagainya. Di Indonesia, orga- nisasi pemerintah yang menangani masalah keselamatan kerja di tingkat pusat dibentuk dibawah Direktorat Pembinaan Norma Kesela- matan dan Kesehatan Kerja. Disamping itu, organisasi semacam ini juga dibentuk di perusahaan-perusahaan, dan ikatan ahli tertentu. 29
  • 36. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, K3 Diagram Organisasi Sistem Komando Kecelakaan OSHA Komandan Kecelakaan Bagian Bagian Bagian Bagian Perencanaan Logistik Operasi Keuangan Unit Sumber Daya Dir.Op.Darat Dir. Servis Time Unit Unit Situasi Divisi/Grup Unit Komunikasi Unit Usaha Unit Dokumentasi Tim Serbu Unit Medikal Unit Klaim Kompensasi Unit Demobilisasi Tim Pokja Unit Makanan Unit Biaya S.Daya Tunggal Ahli Teknik Dir. Pendukung Dir.Op.Udara Unit Supply Tim Pendukung Unit Fasilitas Udara Unit Pendukung Manajer Basis Darat Heli Manajer Bidik Heli Grup Penyerang Udara Koord. Helikopter Koord. Tanker Udara Gambar 1.21. Organisasi OSHA www.wikipedia.org, OSHARangkuman • Pemeliharaan dan perbaikan dilakukan untuk berbagai tujuan, an- tara lain untuk: memperpanjang usia alat, meningkatkan kualitas pelayanan, meningkatkan produktifitas, memelihara aset, dan sebagainya. • Sifat pemeliharaan dan perbaikan (PP) pada dasarnya dapat dibe- dakan menjadi PP yang direncanakan (PP preventif maupun ko- rektif) dan PP yang tidak dapat direncanakan (PP yang bersifat darurat). 30
  • 37. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, K3 • Untuk membantu pelaksanaan kegiatan PP diperlukan alat-alat bantu, seperti manual PP, multimeter, probe, dan lain-lain. • Kegiatan PP perlu dikelola dengan baik agar mendapatkan hasil yang optimal, yaitu biaya murah alat dapat bekerja dengan baik. Oleh karena itu, maka dibuat sebuah sistem manajemen PP, yang prinsipnya adalah: merencanakan, mengorganisasikan, melaksa- nakan, mengontrol dan mengevaluasi seluruh kegiatan PP. • Dalam sistem manajemen PP, kegiatan PP dimulai dari adanya permintaan pekerjaan PP (W.R), diikuti dengan perintah kerja (W.O), dan diakhiri dengan penyimpanan file Backlog W.O. Sistem ini dapat dilaksanakan secara manual (semua tahap PP dikerjakan oleh masing-masing petugas), atau dapat juga dilaksa- nakan dengan bantuan komputer. Sistem manajemen berbantuan komputer biasanya disebut CMMS (Computerized Maintenance Management System). • Pada umumnya, CMMS terdiri dari 4 modul: 1) Modul perencana- an W.O & penjadwalan; 2) Modul kontrol inventaris pemeliharaan; 3) Modul up-date data untuk pemeliharaan preventif; 4) Modul la- poran pemeliharaan. • Perangkat lunak CMMS dapat diunduh secara gratis dari internet. Tetapi untuk menggunakannya biasanya diperlukan modifikasi se- suai dengan kebutuhan organisasi pengguna. • Masalah kesehatan dan keselamatan kerja pada dasarnya dituju- kan untuk perlindungan para pekerja, orang lain atau peralatan yang digunakan untuk bekerja. • Kecelakaan dapat mengakibatkan 5K (kerusakan, kekacauan, ke- luhan dan penderitaan atau kesedihan, kelainan atau cacat, dan kematian. • Kecelakaan dapat diklasifikasikan berdasarkan:1) jenis kecelaka- an; 2) sumber atau penyebab kecelakaan; 3) Sifat luka • Pecegahan dan penanganan kecelakaan merupakan sebuah upa- ya untuk menghindari kecelakaan dan memperkecil resiko atau akibat dari suatu kecelakaan. Pencegahan tersebut dilakukan an- tara lain dengan melindungi diri terhadap sumber penyebab kece- lakaan, misalnya dengan menggunakan pakaian dan atau peralat- an perlindungan diri, disiplin dalam bekerja, selalu menjaga keber- 31
  • 38. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, K3 sihan lingkungan kerja agar tercipta suasana kerja yang aman dan nyaman. • Organisasi keselamatan kerja perlu dibentuk untuk melindungi pa- ra pekerja dari 5K. Ini dapat dibentuk oleh pemerintah, perusaha- an, ikatan berbagai profesi, atau gabungan dari semua unsur ter- sebut. Di Amerika Serikat, organisasi keselamatan & kesehatan kerja (OSHA) mengatur semua aspek yang berkaitan dengan keselamatan & kesehatan para pekerja dan pemberi kerja, mulai dari pengaturan tentang penyimpanan, pengolahan, pembuangan bahan berbahaya hingga prosedur penyelamatan darurat jika terjadi kecelakaan kerja.Latihan Soal Bab 1Soal Pemeliharaan 1. Apa sasaran dan tujuan pemeliharaan dan perbaikan? 2. Apa yang dimaksud dengan pemeliharaan preventif? Beri contoh! 3. Apa perbedan antara pemeliharaan preventi dan korektif? 4. Jelaskan pula apa yang dimaksud dengan pemeliharaan darurat? Beri contohnya! 5. Sebutkan minimal 3 alat bantu pemeliharaan. 6. Bagimanakah proses atau tahapan pemeliharaan itu? 7. Mengapa kegiatan pemeliharaan & perbaikan perlu dibuat sistem? 8. Mengapa perlu Backlog pemeliharaan? 9. Apa keuntungan sistem manajemen PP berbantuan komputer? 10. Coba lakukan pengamatan sistem manajemen PP di sekolah kali- an, lalu buatlah laporan singkat tentang apa yang kalian amati.Soal K3 1. Apa yang dimaksud dengan keselamatan kerja? 2. Mengapa perlu dibuat ketentuan tentang K3 3. Apa yang dimaksud dengan kecelakaan? 4. Sebutkan akibat dari kecelakaan, yang dikenal dengan 5K! 5. Sebutkan jenis kecelakaan yang kalian ketahui! 6. Sebutkan sumber-sumber kecelakaan yang kalian ketahui! 7. Apa saja yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya kecela- kaan kerja?Tugas kelompok:Rencanakan sebuah program kegiatan dan tentukan target kegiatan un-tuk menyelamatkan lingkungan kelas dan sekolah kalian dari: a) Pencemaran udara, b) Bahan limbah berbahaya, c) Bahaya longsor dan atau banjir. 32
  • 39. PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, K3Saran:Program dapat dibuat menjadi beberapa tahap, misalnya tahap sosi-alisasi, tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi secarakeseluruhan. Tentukan target untuk setiap tahapan. Mintalah du-kungandari seluruh warga disekolah kalian (guru, teman-teman, tena-gakebersihan, koperasi, penyelenggara kantin, dan sebagainya). Buatlahevaluasi pada setiap akhir tahapan dengan melihat apakah target yangkalian harapkan telah tercapai. Jika belum, carilah apa kira-kirakendalanya, lalu mintalah saran dari guru kalian. 33
  • 40. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan 2. PRINSIP PELACAKAN KERUSAKAN / KEGAGALAN2.1. Proses Pemeliharaan di Industri2.1.1. Pendahuluan Definisi Maintainability (kemampuan pemeliharaan)DEFINISI SISTEM: Kemungkinan suatu sistemGabungan dari beberapa bagian a- yang rusak dikembalikan padatau komponen yang saling berhu- kondisi kerja penuh dalam su-bungan satu dengan yang lainnya atu perioda waktu yang telahsecara lengkap dan teratur dan ditentukan.membentuk suatu fungsi. Tujuan pemeliharaan adalah untuk mencapai tingkat kepu- asan dari availability (kebera- daan) sistem dengan biaya yang layak/wajar dan efisiensi. Rumusnya diberikan:Gambar 2.1: Contoh Alat KomunikasiSebuah Sistem M (t ) = 1 − e − µt = 1 − e − t / MTTRSebagai contoh sebuah sistem se- dimana:cara umum adalah : manusia, alat u- M (t) adalah Maintainabilitykur elektronika, alat komunikasi, mo- t adalah waktu yang diizinkanbil, peralatan elektronika dalam untuk pemeliharaan (jam).rumah tangga, peralatan dalam in- MTTR adalah waktu rata-ratadustri dan lain-lain. perbaikan (jam).Coba kalian pikirkan mengapa dibu- µ adalah kecepatan perbaikantuhkan suatu bagian pemeliharaan (per jam).dan perbaikan ? Hal ini perlu agar:• Peralatan tetap dalam kondisi ker- ja normal.• Menghindari kesalahan proses.• Meningkatkan kualitas layanan ja- sa.• Meningkatkan kualitas produksi.• Meningkatkan kepuasan pelang- gan.• Memenuhi kebutuhan keamanan, kenyamanan, dan keselamatan. Gambar 2.2: Pemeliharaan 34
  • 41. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan Kegagalan2.1.2. Prinsip-Prinsip PemeliharaanPrinsip pemeliharaan bergantung padabeberapa faktor:● Tipe sistem Waktu● Tempat dan kerja sistem. 1000 jam● Kondisi lingkungan. Gambar 2.4: Grafik Kerusakan Lampu● Tingkat keandalan sistem yang Indikator diinginkan.Semuanya ini berkaitan erat dengan ke- Grafik kegagalan menunjukkanahlian dari staf pemeliharaan dan per- bahwa puncak kegagalan terjadilengkapan komponen. pada 1000 jam. KemungkinanAda dua cara pemeliharaan: suatu lampu indikator mengalami1.Preventive Maintenance (pemeli- kegagalan sebelum 1000 jam a- haraan untuk pencegahan): meng- dalah 0,5 (50 %). Jadi, bila lam- ganti bagian-bagian / komponen pu diganti setelah 1000 jam, ke- yang hampir rusak, serta kalibrasi. mungkinan setiap lampu menga-2. Corrective Maintenance (pemeli- lami kegagalan selama waktu itu haraan untuk perbaikan): mengganti adalah 0,5 (50 %). Apabila se- komponen yang rusak. mua lampu diganti pada waktuPada Preventive maintenance peng- yang bersamaan dalam standargantian dilakukan sebelum komponen deviasi sebelum umur rata-rata-benar-benar rusak (aus karena pema- nya, maka hal ini akan membuatkaian) sehingga keandalan sistem da- tingkat keandalannya lebih baik.pat diperbesar. Sebagai contoh, kom- Kesulitannya adalah memperkiponen dari bagian yang bergerak dan rakan dengan tepat periode kea-digunakan secara terus menerus se- usan untuk komponen pada ba-baiknya diganti sebelum rusak misal- gian dalam, sehingga menjadi ti-nya servo potensiometer, motor dan dak ekonomis untuk melaksana-sikatnya kontak pada relay dan saklar kan pemeliharaan preventif.atau lampu pijar (filamen). Kerugiannya adalah gangguan- gangguan yang terjadi selama pengerjaan pemeliharaan pre- ventif tersebut, sehingga dapat menyebabkan terjadinya keru- sakan pada alat itu sendiri.Gambar 2.3: Lampu Pijar Umurnya TakPanjangSuatu sistem yang menggunakan se-jumlah besar lampu indikator, memilikigrafik kerusakan seperti Gambar 2.4. Gambar 2.5: Memperkirakan Keausan Itu Sulit 35
  • 42. Prinsip Pelacakan Kerusakan / KegagalanPemeliharaan yang bersifat memper- Keterangan:baiki (corrective maintenance) adalah 1. Jumlah ongkos-ongkos pemeliaktivitas pelayanan sistem elektronika haraan dan perbaikan.selama penggunaannya, jika terjadi 2. Ongkos-ongkos perbaikan +kerusakan komponen yang tidak da- kerugian kerusakan (kerugianpat diperkirakan dan tidak dapat dita- produksi, tenaga kerja yangnggulangi dengan pemeriksaan. Da- mengganggur dsb).lam kenyataannya, pemeriksaan suatu 3. Ongkos-ongkos perbaikan.kerusakan lebih disukai daripada pen- 4. Ongkos-ongkos pemeliharaan.cegahan. 5. Regangan optimum dimana Tiga tingkatan dalam perbaikan: jumlah biaya harus diberikan (batas-batas tidak mutlak dan Pengamatan Kerusakan: mungkin berbeda dari masa- ● Catat gejala-gejalanya lah ke masalah). ● Bandingkan dengan spesifikasi 6. Optimasi tersedianya perleng kapan. Menentukan tempat kerusakan Dapat terlihat dengan jelas bah- (Lokalisasi) wa ada rentangan optimum yaitu usaha pemeliharaan itu dapat di- tentukan secara ekonomis. Se- Perbaikan baliknya, ongkos pemeliharaan Kerusakan meningkat sedemikian rupa se- hingga tak seorangpun dapat mengatasinya.Sebagai gambaran, Gambar 2.6 mem-perlihatkan hubungan antara ongkospemeliharaan dan ongkos perbaikanserta tersedianya perlengkapan itusendiri. Ongkos 1 5 3 6 4 2 Rendah Kesiapan Perlengkapan 100 % Gambar 2.7:Ongkos Pemeliharaan yangGambar 2.6: Hubungan Antara Ongkos Pe- Tak Menentumeliharaan Dan Ongkos Perbaikan SertaTersedianya Perlengkapan 36
  • 43. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan2.1.3. Pemeliharaan di Untuk memenuhi produksi harus Industri dilaksanakan: Efisien dan ekonomis: semua ●Tujuan menjalankan dan memben- peralatan harus beroperasi se-tuk suatu perusahaan industri ada- cara efisien dan akurat padalah mencari suatu keuntungan. tingkat produksi yang disya- ratkan.Untuk mencapai itu semua perusa- ● Penjadwalan waktu istirahathaan harus: direncanakan secara cermat.● Memperhatikan dengan cermat ● Pengembangan produksi ha- manajemen perusahaan. rus terus dilakukan dengan● Mengorganisasikan dan meng - menghasilkan produk baru dan koordinasikan seluruh kegiatan berstandar serta berkualitas. didalam suatu perusahaan untuk Melalui teknis, proses, sistem, meningkatkan keuntungan usaha metoda serta optimalisasi. Gambar 2.9: Pengembangan ProduksiGambar 2.8: Kedisiplinan terhadap Waktu Maka bagian pemeliharaan:Termasuk dalam Koordinasi Perusahaan ● Harus maju sesuai denganSuatu perusahaan tidak hanya teknik mutakhir yang dipakai.memproduksi barang-barang yang ● Harus merencanakan pemeli-dapat dijual, tetapi juga harus siap haraan secara teratur tidakmenghadapi persaingan. Untuk itu, mengganggu jadwal produksibarang-barang tersebut harus sehingga waktu tunggu danmemenuhi: kerugian menjadi minimal. Pemeliharaan yang tidak memadai harga wajar; dapat menimbulkan kerusakan de- berkualitas; ngan biaya tinggi dan tidak ha-nya produksi dan distribusi tepat dalam perbaikan saja tetapi juga waktu . kerugian jumlah produksi. 37
  • 44. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan2.1.4. Pemeliharaan dalam Banyak situasi lain bahwa kegagal- Pelayanan Umum an teknik dalam pelayanan pemeli-Suatu bentuk pelayanan umum tidak haraannya tidak dapat semata-ma-untuk mencari keuntungan. Fungsi ta ditaksir dalam hal keuangan, di-utama mereka untuk menyediakan jelaskan di bawah ini.pelayanan bagi masyarakat (konsu- ● Rumah sakit yang berfungsimen). Misalnya kantor dan hotel ko- terus menerus, kerusakan danmersial menyediakan pemanas, spa, pengangguran perlengkapanlift dan sebagainya. tertentu dapat berakibat fatal. Dalam hal semacam ini, diper- lukan bagian yang siap untuk memasang perlengkapan, un- tuk melaksanakan perbaikan dan pemeliharaan secara rutin. Sistem pemeliharaan awal ada- lah menjamin perlengkapan tersebut dapat dipercaya setiap waktu.Gambar 2.10: Kolam Air PanasKerusakan dari pelayanan bagianmanapun, mungkin secara tak lang-sung akan menyebabkan kerugiankarena dihubungkan dengan repu-tasi perusahaan yang akhirnya akanmempengaruhi bisnis. Gambar 2.12: Peralatan Rumah Sakit Yang Perlu Dipelihara ● Kegagalan pelayanan darurat pada sekolah, perpustakaan dan kantor tidak akan menye- babkan malapetaka atau keru gian hasil, tetapi hal ini akan menyebabkan ketidaksenang-Gambar 2.11: Kerugian Karena Kerusakan an atau ketidaknyamanan.Pelayanan Jadi, pemeliharaan bagian pela-Dan tentunya sebagai konsumen se- yanan yang bersifat umum jugaharusnya kita ikut menjaga fasilitas harus diperhatikan, karena secaraumum tersebut, karena semuanya tak langsung berhubungan denganitu untuk kepentingan dan kelancar- kelangsungan atau kelancaran pe-an bersama . rusahaan itu sendiri. 38
  • 45. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan2.1.5. Keuntungan Keuntungan pemeliharaan ter- program adalah: Pemeliharaan yang • Tersedianya material yang Direncanakan le-bih besar, dengan cara: • memperkecil kerusakanPemeliharaan yang terprogram dapat yang akan timbul pada pa-diterapkan dengan baik pada semua brik yang secara teraturjenis industri, tetapi efek dan keun- dan benar-benar dipeliharatungan-keuntungannya akan berbeda- • pemeliharaan akan dilaksa-beda. Hal ini tergantung pada industri, nakan bila hal itu palingkondisi lokal dan juga bentuk penerap- menguntungkan dan akanannya. menyebabkan kerugianPemeliharaan terprogram bukanlah produksi yang minimum;satu-satunya cara mengatasi semua • tuntutan komponen dankesullitan untuk setiap persoalan pe- perlengkapan diketahui se-meliharaan. belumnya dan tersedia bilaPemeliharaan terprogram ini tak akan perlu.menyelesaikan masalah bila: • Pelayanan yang diprogram● Bagian ketrampilannya lemah dan penyesuaian memeliha-● Kekurangan peralatan ra hasil pabrik yang terus-● Rancangan peralatan yang jelek menerus; atau pengoperasian peralatan • Pelayanan yang rutin lebih yang salah. murah dari pada perbaikan yang tiba-tiba; menggunakan tenaga lebih banyak tapi efektif; • Penyesuaian perlengkapan dapat dimasukkan dalam program; • Dapat membatasi ongkos pemeliharaan dan perbaikan secara optimum.Gambar 2.13: Pemeliharaan yang Terprogram Pemeliharaan yang terprogram adalah perencanaan suatu peru- sahaan dalam mengoptimasikan sumberdaya manusia, biaya, ba- han, dan mesin sebagai penun- Gambar 2.14: Segala Sesuatu Harus jang. Direncanakan 39
  • 46. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan2.2. Spesifikasi Komponen ini dapat dikelompok kan sebagai berikut:2.2.1. Pendahuluan bagian mekanik, seperti casis Definisi Spesifikasi: logam dan siku-siku, kawat, pa-Pernyataan terperinci dari karakte- pan rangkaian tercetak (selan-ristik yang dikehendaki suatu per- jutnya disebut PCB), konektor,lengkapan, peralatan, sistem, pro- plug dan soket;duk atau proses. komponen pasif, seperti resis-Manfaat mengatahui Spesifikasi tor tetap dan variabel, kapasitor(spec): tetap dan variabel, induktor;Bagi Perusahaan: untuk mencapai komponen aktif, seperti dioda,spec. standard yang lebih baik lagi. transistor, thyristor, FETdan IC.Bagi Konsumen: untuk memban- Perancang harus memperguna-dingkan kelebihan / kekurangan de- kan spesifikasi untuk memilihngan produk yang lain (memilih yang komponen yang paling cocok.terbaik dan ekonomis) Untuk aplikasi tertentu spesifi- kasi komponen bergantung pula pada: - Harga disesuaikan produk. - Ketersediaan suku cadang. - Standarisasi dalam organisasi. Format untuk Spesifikasi Kom- ponen dapat dibagi sebagai be-Gambar 2.15:Bandingkan Sebelum Membeli rikut:Pemeliharaan peralatan yang ada 1. Piranti, tipe dan keluargadalam suatu perusahaan ataupun 2. Gambaran singkat tentangpembuatan suatu peralatan, tak lu- piranti dan aplikasi yang diha-put dengan spesifikasi alat tersebut, rapkan, untuk menunjang da-sehingga kita dapat memeliharanya lam pilihan ini.dengan betul. 3. Penggambaran outline yang menunjukan dimensi mekanis2.2.2. Spesifikasi dan sambungan. Komponen 4. Penjelasan terperinci singkat tentang karakteristik kelistrik-Spesifikasi suatu komponen seha- an yang terpenting dan batasrusnya juga diketahui oleh pembuat maksimum nilai mutlak darisuatu peralatan, sehingga dalam pe- tegangan, arus dan daya.rancangannya dapat memperguna- 5. Data kelistrikan lengkap ter-kan komponen yang paling efektif masuk angka-angka, grafikdan murah untuk suatu aplikasi ter- yang diperlukan dan kurvatentu. karakteristik.Sebelum kita melihat spesifikasi 6. Perincian tentang metoda pe-yang sebenarnya, kita harus terlebih meriksaan pabrikasi.dahulu memperhatikan berbagai 7. Angka-angka tentang reliabikomponen yang dipergunakan da- litas atau batas kegagalan.lam industri elektronika. 40
  • 47. Prinsip Pelacakan Kerusakan / KegagalanPada Gambar 2.16 diberikan contoh lembaran spesifikasi sebuah kom-ponen potensiometer adalah:GC Loveday,1980, 6Gambar 2.16: Spesifikasi potensiometerPerlu dicatat bahwa maksud lembar spesifikasi di atas adalah untuk me-nunjukkan dengan jelas tentang pemakaiannya, batas maksimum mutlak,dan batas data kelistrikan penting lainnya, sehingga komponen ini dapatdigunakan dengan benar. Contoh di atas hanya untuk memberikan ilus-trasi format yang biasanya dijumpai.Untuk menilai spesifikasi komponen selengkapnya, cara yang terbaik a-dalah mencari sumber dari buku data pabrik yang bersangkutan. Dalambuku data ini selalu terdapat informasi yang penting dan berguna. 41
  • 48. Prinsip Pelacakan Kerusakan / KegagalanTerlepas dari masalah harga, kita harus memperhatikan semua aspekyang berikut ini:1. Dimensi fisik : yaitu panjang, diameter, bentuk kawat penyambung dan bentuknya sendiri.2. Rentangan resistansi : nilai maksimum dan minimumnya.3. Toleransi seleksi : nilai seleksi maksimum dan minimum dari resis- tor, misalnya ± 2 %, ± 5 %, ± 10 % atau ± 20 % .4. Rating daya : daya maksimum dalam watt yang dapat didisipasikan biasanya dinyatakan pada temporatur 70° C (komersial), 125° (militer).5. Koefisien temperatur : perubahan resistansi menurut temperatur di- nyatakan dalam bagian-bagian per sejuta (ppm) per °C. Oleh karena "koefisien" menunjukan bahwa terjadi fungsi linier, maka istilah karak- teristik sekarang lebih disukai.6. Koefisien tegangan : perubahan resistansi menurut tegangan yang terpasang dinyatakan dalam ppm per volt.7. Tegangan kerja maksimum : tegangan maksimum yang dapat dipa- sangkan pada ujung-ujung resistor.8. Tegangan breakdown : tegangan maksimum yang dapat dipasang diantara badan resistor dan menyentuh konduktor luar, yaitu tegangan breakdown dari pelapis yang mengisolasi resistor itu.9. Resistansi penyekat (insulation resistance): resistansi dari pelapis yang mengisolasi.10 Stabilitas umur pembebanan : perubahan resistansi setelah waktu operasi yang disebutkan, dengan beban penuh pada 70° C. Waktu operasi biasanya diambil 1000 jam.11 Shelf stability : perubahan resistansi selama disimpan biasanya di- nyatakan untuk 1 tahun.12 Range temperatur kerja : nilai-nilai ini minimum dan maksimum yang diizinkan untuk temperatur ambient.13 Temperatur permukaan maksimum : nilai temperatur maksimum dan minimum yang diizinkan untuk badan resistor, kadang-kadang disebut "HOT SPOT TEMPERATURE".14 Noise : noise (desah) kelistrikan vang disebabkan oleh tegangan yang terpasang yang menekan resistor dinyatakan µ v/y15 Klasifikasi kelembaban : perubahan resistansi dalam mengikuti sua- tu temperatur standar yang tinggi dan test siklus waktu kelembaban. Perubahan itu harus berada dalam limit tertentu.16 Efek penyolderan : perubahan resistansi yang diakibatkan oleh test penyolderan standar.Setelah melihat berbagai parameter yang harus diperhatikan, maka sa-ngatlah berguna untuk membandingknn berbagai tipe resistor yang seca-ra fisik kira-kira ukurannya sama. Ini ditunjukkan pada tabel 2-1. Angka-angka yang diberikan disitu adalah contoh-contoh dalam kebanyakan hal,terlepas dari beberapa nilai maksimum. 42
  • 49. Prinsip Pelacakan Kerusakan / KegagalanDengan mempelajari tabel, nyatalah bahwa resistor untuk aplikasi yangprofesional harus jenis rnetal oxide atau metal glaze (cermet), karena re-sistor-resistor jenis itu mempunyai rentangan resistansi yang lebar, stabi-litas yang baik, dan koefisien temperatur yang rendah.Untuk aplikasi yang khusus, perancang harus Iebih mendalami spesifikasikhusus dari tipe komponen, tetapi jelas menguntungkan jika kita mempu-nyai data pendek seperti pada tabel karena hal ini membantu kita dalammempersempit daerah pemilihan untuk mendapatkan komponen yangbenar.Tabel 2.1: Perbandingan Jenis-Jenis yang Umum dari Resistor Kegunaan Umum General Resistor Carbon Carbon Metal Metal Purpose Type Composition Film Oxide Glaze Wire- Wound Range 10 Ω to 22 MΩ 10Ω - 2 MΩ 10Ω -1 MΩ 10 Ω - 1 MΩ 0.25Ω -10 KΩ Toleransi ± 10 % ±5% ±2% ±2% ±5% Rating Daya 250 mW 250 mW 500 mW 500 mW 2.5 W Kestabilan 10 % 2% 1% 0.5 % 1% Beban Teg. Max. 150 V 200 V 350 V 250 V 200 V R Penyekat 109 Ω 1010 Ω 1010 Ω 1010 Ω 1010 Ω Tegangan 500 V 500 V 1 KV 500 V 500 V Breakdown Koefisien 2000 ppm/V 100 10 ppm/V 10 ppm/V 1 ppm/V b Tegangan ppm/V o o Daerah - 40 C s/d - 40 C s/d - 55 oC s/d - 55 oC s/d - 55 oC s/d temp.ambang + 105 oC + 125 oC + 150 oC + 150 oC + 185 oC Koefisien ± 1200 ppm/oC ±1200 ± 250 ± 100 ± 200 ppm/oC Temperatur ppm/oC ppm/oC ppm/oC Noise 1 KΩ 2 µV/V 1 µV/V 0.1 µV/V 0.1 µV/V 0.01 µV/V 10 MΩ 6 µV/V Efek 2% 0.5 % 0.15 % 0.15 % 0.05 % Penyolderan Shelf life 5 % max 2 % max 0.1 % max 0.1 % max 0.1 % max 1 year Damp heat 15 % max 4 % max 1% 1% 0.1 % 95% RHGC Loveday,1980, 8Langkah-langkah yang diperlukan dalam memilih komponen yang benaradalah sebagai berikut :a. Tentukan secara definitif aplikasinya: keperluannya untuk apab. Buatlah daftar untuk persyaratan:seperti dimensi, nilai, toleransi dsb.c. Ceklah lembar data singkat untuk mendapatkan tipe yang cocok.d. Perhatikan batas-batas lainnya yang mungkin: ada tidaknya, harga dll.e. Ceklah spesifikasi komponen yang lengkapf. Evaluasi 43
  • 50. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan2.2.3. Spesifikasi PerlengkapanFormat standard dari spesifikasisuatu perlengkapan elektronikaadalah : Gambar 2.17: Contoh Alat Ukur1. Diskripsi dan nomor tipe Sebuah catatan singkat yang menyatakan dengan jelas apa yang harus dikerjakan oleh oleh harus dikerjakan ins- trumen itu dan maksud maksud instrumen itu dan aplika- sinya. aplikasinya.2. Data kelistrikan(a) Karakteristik prinsip, misalnya Gambar 2.18: Contoh Sumber Daya Output, taraf tegangan, Frekuensi, Impedansi, Rentangan, Akurasi, Distorsi, Karakteristik temperatur.(b) Kebutuhan daya Sumber tegangan: 120 V atau 240 volt ac, ac, fasa tunggal, volt fasa tunggal, freku- Gambar 2.19: Contoh Alat Komunikasi ensi 50 50 Hz sampai 60 Hz frekuensi Hz sampai 60 Hz de- ngan daya 250 Watt. dengan daya 250 Watt.3. Data lingkungan Rentangan temperatur kerja, Kelembaban, Klasifikasi, Test getaran, Gambar 2.20: Contoh Pengolah Data Angka untuk MTBF.4. Data mekanik Dimensi, Bobot.Beberapa perlengkapan elektronika yang dipakai secara umum Gambar 2.21: Contoh Elektonik Konsumendapat diklasifikasikan sbb (lihatgambar disamping):● Instrumen ukur elektronika● Instrumen pembangkit sinyal● Sumber-sumber daya● Perlengkapan komunikasi● Instrumen pengolah data● Elektronika konsumen Gambar 2.22: Contoh Sistem Kontrol● Sistem kontrol 44
  • 51. Prinsip Pelacakan Kerusakan / KegagalanTabel 2.2: Contoh Spesifikasi sebuah Catu Daya dan Multimeter Digital (A) Stabilished D.C. Brench (B) Digital Multimeter 3½ digits Power Supply TypeParameter of Function Typical value Parameter of function Typical value Output Voltage 0 to 50 V Ranges: Output current 1 A max d.c. and a.c. 200 mV to 1 KV Load regulation 0.02 % zero voltages to full load d.c. and a.c. 200 µA to 1 A Line regulation 0.01 % for 10 % Current Mains change Resistance 200 Ω to 20 MΩ Ripple and Noise 5 mV pk-pk Accuracy (90 days) Output impedance 10 MΩ at 1 KHz d.c. ± 0.3 % of reading Temperature ± 0.01 % per 0C ± 1 digit coefficient a.c. ± 0.5 % of reading Current limit 110 % of full load ± 1 digit Resistance ± 0.2 % of reading ± 1 digit Response time d.c. 0.5 sec a.c. 3 sec Temperature coeff. ± 300 ppm/0C Input impedance 10 MΩ in parallel with 100 pFGC Loveday,1980, 13Penting untuk memiliki pemahaman yang baik tentang berbagai istilahdan pernyataan-pernyataan dalam sebuah spesifikasi, apalagi saatmembeli sebuah instrumen baru yang tidak begitu dikenal. Jikalau adakeraguan arti dari beberapa spesifikasi, mintalah penjelasan dari pabrikatau pergunakanlah buku petunjuk spesifikasi standar dari instrumentersebut. Tidak ada untungnya dengan berpura-pura sudah mengerti.2.2.4. Spesifikasi TesDalam sebuah industri elektronika tentunya tak luput dari pengetesanperalatan yang diproduksi, dan ini dilakukan oleh ahli tes pada bagianperbaikan. Untuk itu tentunya diperlukan sebuah informasi carapengetesan suatu peralatan dengan menggunakan spesifikasi tes. Definisi Spesifikasi Tes:adalah informasi yang diperlukan oleh bagian test, perbaikan, atau ahli-ahli instalasi agar mereka dapat mencek apakah instrumen atau sistimmemenuhi standar penampilan yang dipersyaratkan.Spesifikasi test tentunya merupakan dokumen yang perlu pemahaman,ini mencakup semua aspek dari karakteristik instrumen, hal-hal yangharus dicek, disetel, diukur, dan direkam (dicatat). 45
  • 52. Prinsip Pelacakan Kerusakan / KegagalanLembaran standar untuk menu- Yang penting lagi seorang ahli tesliskan spesifikasi tes yang logis harus menjaga keselamatan kerja,tentang test dan penyetelan seba- menjaga instrumen-instrumen tesgai berikut : dan mempunyai catatan-catatan.(a) Judul, nomor tipe instrumen, nomor seri, spesifikasi, tang- 2.2.5.Kalibrasi Peralatan gal pengeluaran Kebijakan pemeliharaan tipe tertentu(b) Daftar perlengkapan test yang suatu sistem dapat mencakup pro- diperlukan untuk melaksana- gram detail tentang kalibrasi ulang kan test dan langkah-langkah pencegahan(c) Pemeriksaan kesinambungan, lainnya. isolasi, dan resistansi (dengan daya dipadamkan) Yang dimaksud kalibrasi ulang(d) Penyetelan taraf sinyal dan te- adalah menseting kembali peralatan gangan, pengukuran, dan pen- yang sudah dipakai selama periode catatan-pencatatan mengenai atau waktu tertentu dengan cara masing-masing perakitan sub. membandingkan peralatan yang Beberapa dari test-test ini sama dan masih standar, sehingga mungkin dapat dilakukan sebe- alat tersebut dapat berjalan normal lum test akhir. (catu daya kembali. hidup). Kalibrasi ulang merupakan jenis pe-(e) Test penampilan sistem dan meliharaan untuk mempertahankan instrumen keandalan kerja peralatan sesuai(f) Burn - in test (kadang-kadang kelasnya. Hal ini dilakukan karena disebut SOAK TEST). adanya penyimpangan dari batasUntuk menjamin agar unit produksi toleransi spesifikasi peralatan terse-memenuhi semua aspek penam- but. Kalibrasi sangat penting dilaku-pilan produksi yang telah disetujui, kan untuk instrumen ukur, misalnyamerupakan tugas para ahli test itu. osiloskop, digital multi-meter, alat-Untuk itu diperlukan suatu ketram- alat ukur elektronik kedokteran danpilan dalam pengukuran dan men- lain-lain. Karena adanya penyim-cari gangguan dengan cepat. Bila pangan spesifikasi bisa mengakibat-beberapa bagian dari instrumen kan penyimpangan saat pengukur-yang tidak bekerja sesuai dengan an, serta bila dibiarkan akan mem-spesifikasi, maka ahli test itu harus buat alat ukur tersebut rusak. Untukmenemukan sebab dari kesalahan kalibrasi ulang biasanya tidak adasecepat mungkin dan kemudian komponen yang diganti dan dilaku-menyerahkan instrumen itu, atau kan dalam interval waktu yang ter-bagian rakitan itu kepada bagian tentu (maksimum 1 tahun sekali)produksi untuk diperbaiki. Disam- pada setiap peralatan (terutama per-ping pengukuran dan mencari alatan ukur).gangguan, ahli itu harus mencatatdata yang diperlukan dengan telitidari instrumen yang ditest. Gambar 2.23: Kalibrasi Hal Yang Penting. 46
  • 53. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan2.3. Keandalan dan Kegagalan2.3.1.PendahuluanKalian pasti sudah mengetahui, bahwa setiap peralatan elektronika sete-lah beberapa waktu akan mengalami kemunduran kinerja atau bahkanmengalami kerusakan, karena tidak ada peralatan yang dapat bekerjasecara sempurna sepanjang waktu, meskipun kualitas dan teknologinyacanggih. Misalnya satelit membutuhkan keandalan sangat tinggi sehinggasampai batas waktu yang ditentukan tetap bekerja dengan baik, karenakerusakan pada satelit akan sangat kesulitan untuk mereparasinya danmembutuhkan biaya yang sangat tinggi. Tetapi tetap saja satelit tersebutharus diganti dengan yang baru setelah batas waktunya sebelum keru-sakan itu terjadi, sehingga semua jenis komunikasi tak terganggu. Kualitas adalah kemampuan suatu item agar memenuhi spesifikasinya, sedangkan keandalan merupakan pengembangan dari kualitas terhadap waktu.Keandalan dan kualitas suatu pera- Dalam hal ini item berarti kompo-latan akan mempengaruhi usia kerja nen, instrumen atau sistem.alat tersebut. Suatu peralatan elek- Angka keandalan tidak dapat di-tronika yang dibuat dengan memper- ramalkan tanpa mengkhususkantahankan faktor kualitas akan berope- waktu dan kondisi operasinya.rasi dengan baik dalam jangka waktu Hal-hal lebih rinci yang menyang-yang lebih lama daripada suatu alat kut keandalan akan dibahas padasistem yang dikerjakan dengan ku- sub-bab tersendiri pada buku ini.rang memperhatikan faktor kualitas. Untuk mengetahui gambaranUntuk dapat meramalkan seberapa yang lebih lengkap, karena kean-jauh keandalan suatu alat, maka dalan sangat erat hubungannyadefinisi tentang keandalan itu sendiri dengan kegagalan, maka perluharus diketahui. Keandalan adalah disimak suatu definisi kegagalan.kemampuan suatu item untuk melak- Kegagalan adalah akhir kemam-sanakan suatu fungsi yang dipersya- puan suatu item untuk melaksa-ratkan dibawah suatu kondisi yang nakan fungsi yang dipersyarat-ditentukan dalam periode waktu ter- kan.tentu. 47
  • 54. Prinsip Pelacakan Kerusakan / KegagalanDari dua defenisi tersebut diatas, maka dapat dilihat hubungan antarakeandalan dan kegagalan. Bila suatu item menunjukkan penurunankeandalannya, maka ini menunjukkan adanya gejala kegagalan.Tahap kegagalan Cepat tidaknya suatu peralatan me-Ada tiga tahap kegagalan selama masuki tahap ini tergantung padausia pakai suatu peralatan. cara pemeliharaan peralatan sela- ma digunakan. Misalnya, jika telahTahap pertama disebut dengan diketahui suatu komponen telah ha-kegagalan dini (infant mortality), bis masa pakainya, maka sebaik-yakni kegagalan peralatan sesaat nya komponen cepat diganti sebe-setelah alat tersebut dibuat dan lum menyebabkan kegagalan padadikirimkan ke pelanggan. Kegagal- peralatan tersebut.an selama tahap ini disebabkanoleh kerusakan komponen yang Hubungan antara usia peralatantelah dipasang pada peralatan ter- dengan laju kegagalan dapat dilihatsebut. Biasanya kondisi operasi pada Gambar 2.24alat tidak berlangsung lama. Pera-latan biasanya masih berada dalam Kegagalan Dini Kegagalan Karenagaransi perusahaan dan perbaikan LAJU KEGAGALAN Usiamenjadi tanggung jawab perusa-haan. Penyebab lain dari kegagal-an yang terlalu dini adalah kesalah-an perancangan yang terlalu meni-tikberatkan pada satu bagian dari Kegagalanperalatan tersebut. Hal ini hanya Normalmungkin terjadi pada produk yang BURN IN USIA KERJA WAKTUbaru dirancang dan ketidakmam-puan perusahaan menyelesaikansemua kelemahan produk tersebut. Gambar 2.24: Hubungan Usia Peralatan Dan Laju KegagalanTahap kedua adalah kegagalannormal usia kerja peralatan. Lajukegagalan pada waktu tersebutadalah paling rendah.Tahap ketiga adalah periode suatuperalatan mengalami laju kegagal-an paling tinggi, yang disebabkanoleh usia kerja alat sudah berakhir.Selama waktu ini, semua tampaksalah. Gambar 2.25: Semua Peralatan Harus Dipelihara 48
  • 55. Prinsip Pelacakan Kerusakan / KegagalanTingkat Kegagalan Gambar 2.26: Contoh Gagal Sebagian warna hijaunya hilang. Sebagian Tingkat Kegagalan Gambar 2.27: Contoh Gagal Menyeluruh TV mati total. Menyeluruh Kegagalan Sebagian atau Parsial adalah kegagalan akibat adanya deviasi karakteristik atau parameter di luar batas spesifikasi, tapi ti- dak sampai mengurangi fungsi alat secara menyeluruh. Contohnya : generator fungsi yang masih dapat menghasilkan sinyal, tapi freku- ensinya tidak sesuai dengan posisi batas ukurnya, TV yang hilang warna hijaunya dll. Kegagalan Menyeluruh atau Total disebabkan oleh adanya deviasi karakteristik atau parameter diluar batas spesifikasi sehingga secara menyeluruh mengurangi fungsi peralatan. Contohnya generator fung- si yang tidak dapat menghasilkan seluruh bentuk gelombang, TV yang tak mau hidup dll.Penyebab kegagalanKegagalan salah pemakaian adalah kesalahan yang disebabkan olehpemakaian di luar batas kemampuan komponen atau alat tersebut.Contohnya: multimeter yang digunakan untuk mengukur tegangan AC te-tapi dipasang pada posisi tegangan DC.Kelemahan yang ada dalam item (komponen, peralatan ataupunsistem) walaupun dioperasikan dalam batas kemampuannya dapat jugamenjadi penyebab kegagalan. Contohnya multimeter yang sedangdigunakan untuk mengukur tegangan, tiba- tiba rusak walaupun pema- bkaiannya sudah benar. 49
  • 56. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan Waktu kegagalanWaktu kegagalan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu : Kegagalan tiba-tiba, yakni kegagalan yang tidak dapat diduga me- lalui pengujian sebelumnya. Contohnya: TV yang sedang diopera- sikan dan tiba- tiba rusak tanpa sebab yang jelas. Kegagalan bertahap, yakni kegagalan yang dapat diduga melalui pengujian sebelumnya. Contohnya: TV pada bagian volumenya mu- lai derau saat dibesarkan atau dikecilkan potensio volumenya.Kombinasi KegagalanKegagalan fatal (catastrophic) = kegagalan tiba-tiba + menyeluruh.Contohnya : TV yang sedang dioperasikan dan tiba- tiba rusak sendiri.Kegagalan degadrasi = kegagalan bertahap + tidak menyeluruh(sebagian), contohnya: TV yang volumenya mulai derau saat dibesar-kan atau dikecilkan potensio volumenya.2.3.2. Faktor yang Mempengaruhi KeandalanKeandalan suatu alat atau instrumen elektronik tidak lepas dari faktoryang mempengaruhinya selama siklus hidup peralatan. Siklus hiduptersebut, dapat dibagi menjadi empat tahap, yakni :Perancangan dan Pengembangan Produksi Penyimpanan dan Transportasi Operasi 50
  • 57. Prinsip Pelacakan Kerusakan / KegagalanSecara lebih detailnya untuk mencapai target keandalan yang diinginkandilakukan langkah-langkah sebagai berikut : Pembelian komponen secara besar-besaran.Rancangan: Pemeriksaan barang-barangPemilihan komponen yang datang.Analisis tekanan dan Penyimpanan komponenkegagalanTata letak komponenTest prototipe Manufaktur Ketrampilan dan keterlibatan tenaga kerja. Skema training. Alat-alat dan perlengkapan Lingkungan kerja. Pemeriksaan dan test Umpan Balik Umpan Balik Pengepakan Penyimpanan Transportasi.Umur OperasiLingkungan operasiPenjagaan dalam operasiKebijaksanaan pemeliharaan 51
  • 58. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan ● Pengujian prototipe secara Tahap Perancangan menyeluruh dilakukan untuk dan Pengembangan melihat, apakah rancangan tersebut sudah memenuhiPada tahap ini harus sudah disiapkan spesifikasi keandalan dankeandalan yang ingin dicapai, sehing- rujuk kerja yang telah diten-ga pada langkah berikutnya para ahli tukan.rancang akan diarahkan untuk men-capai target.Adapun pekerjaan pada tahap inimeliputi: Produksi● Merancang rangkaian menentu- kan tata letak komponen, dan ● Komponen harus terjamin menguji prototype secara menye- baik dan disimpan sesing- luruh. kat mungkin. Untuk jumlah● Merancang rangkaian dan me- yang kecil dapat dilakukan milih komponen yang tepat, se- pemeriksaan seluruhnya. hingga tidak akan ada penitik-be- Tetapi untuk jumlah yang ratan hanya pada salah satu besar, pemeriksaan dapat komponen saja. Untuk memilih dilakukan dengan mengam- komponen yang tepat, dilakukan bil contoh produk (sample) pemeriksaan setiap komponen a- dan dengan metode analisis tas peluang kegagalannya dalam statistik. rangkaian yang dirancang. ● Kerjasama dan ketrampilan Langkah ini disebut Analisis karyawan. Setiap karyawan, Kesalahan dan Titik-Berat. pembuat alat, ahli produksi● Menentukan tata letak komponen, dan metode, operator pera- perakitan dan panel-panelnya. kitan, ahli test dan pemerik- Pemasangan komponen hendak- saan membentuk mata ran- nya dilakukan dengan hati-hati a- tai produksi dan dapat mem- gar tidak mengalami tekanan me- bantu menghasilkan produk kanis dan panas yang berlebihan. berkualitas.● Pengaruh lingkungan dimana alat ● Kerangka pelatihan yang tersebut akan dioperasikan, harus baik akan menjamin karya- diperhitungkan dan harus dibuat wan mampu menggunakan proteksi untuk melawannya. teknik produksi dengan be- Langkah proteksi ini mencakup nar dan lebih efektif. penutupan yang rapat, penekanan ● Peralatan produksi sesuai dengan udara dingin, pemasang- standart yang disyaratkan, an anti getar atau pemasangan dan dipelihara dengan baik. senyawa isolasi. 52
  • 59. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan● Kondisi lingkungan kerja atau ● Peralatan test otomatis dapat perakitan yang nyaman, seperti digunakan untuk memeriksa ventilasi udara yang baik, pene- alat hubung singkat atau ter- rangan yang baik, temperatur buka pada jalur rangkaian. ruang yang nyaman untuk pe- Soak test perlu dilakukan bila kerja dan alat, serta bebas debu instrument dioperasikan pada untuk menjamin kondisi yang temperatur yang diubah– nyaman. ubah, dan siklus temperatur akan membantu mengenali komponen–komponen yang lemah.Penyimpanan dan Transportasi ● Metode penyimpanan akan mempengaruhi keandalan ope- rasi instrumen tersebut. ● Metode pengepakan harus diperhitungkan dalam spesifikasi keandalan. Pengepakan harus dapat melindungi instrumen dari korosi dan bahaya kerusakan mekanis, temperatur pe- nyimpanan dan tingkat kelembaban harus selalu dikontrol. ● Transportasi pada saat dijual, instrument harus diangkut dan hal ini akan mengalami getaran, kejutan mekanis, perubahan temperatur, kelembapan dan tekanan. Harus dikhususkan. Operasi ● Kondisi lingkungan yang cocok. ● Cara pengoperasian yang benar. Petunjuk ope- rasi yang ditulis dengan baik harus dapat men- jamin bahwa tidak akan ada kesalahan pema- kaian. 53
  • 60. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan2.3.3.Pertimbangan Biaya Keandalan Setelah beberapa tahun kemu- BIAYA PRODUKSI dian, biaya operasi dan peme- liharaan sering kali melebihi biaya modal, karena untuk BIAYA MODAL mempertahankan keandalan diperlukan biaya yang sangat tinggi. BIAYA OPERASI Hubungan antara biaya dan & PEMELIHARAAN keandalan dapat dilihat pada Gambar 2.28 a dan 2.28 b. Biaya Biaya Pemilikan Biaya Total Biaya Total Operasi Produksi Desain Titik Harga Beli Biaya Titik TerenBiaya dah Perbaikan DalamTeren dah Garansi Perawatan Dsb Keandalan Optimum Keandalan Keandalan Optimum Keandalan GC Loveday,1980, 22 a b Gambar 2.28: a. Biaya Manufaktur Terhadap Keandalan b. Biaya Pemilikan Terhadap KeandalanGambar 2.28a memperlihatkan pada biaya terendah (breakdown cost)sepanjang pembuatan, jika keandalan diperbaiki, biaya produksi danperancangan naik, sementara biaya perbaikan dan penggantian gratisselama garansi turun. Perlu dicatat, bahwa grafik tersebut mempunyaititik biaya terendah. Dengan kata lain, suatu pabrik yang memproduksiproduk dengan keandalan rendah mungkin akan mudah tersisih dalambisnis, karena biaya yang harus dikeluarkan untuk menghasilkan produksecara total akan sangat tinggi. Gambar 2.28.b merupakan jumlah daribiaya pembelian dan biaya perawatan. Biaya tersebut akan menurundengan semakin baiknya keandalan. Grafik biaya pemilikan total jugamempunyai titik minimum, walaupun titik tersebut berada di sebelahkanan titik biaya minimum manufaktur. Jadi, pelanggan akan lebihmemilih keandalan yang lebih baik dengan membayar harga untukkeandalan tersebut daripada mengharapkan suatu pabrik untukmenyediakan instrumen yang andal. 54
  • 61. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan 2.3.5.Kecepatan Kegagalan DEFINISI2.3.4.Peluang Keandalan Kecepatan kegagalan / FR (FAILURE RATE) adalah ba-Belajar tentang keandalan pada ha- nyaknya kegagalan per banyak-kekatnya adalah belajar kegagalan nya jam komponen.komponen dan sistem. Mengapakomponen harus gagal? Jawabnya Kecepatan kegagalan (Failuretentu saja, semua barang buatan Rate / FR) dari komponen dapatmanusia mempunyai batas umur. ditemukan dengan mengoperasiApapun barangnya, lama kelamaan kan sejumlah besar komponenakan menyebabkan barang atau dalam suatu periode yang lamakomponen mengalami kegagalan dan mencatat kegagalan yang/kerusakan. terjadi. Periode awal kecepatanPada peralatan elektronik, tekanan- kegagalan yang tinggi dikenal de-tekanan yang menyebabkan kega- ngan istilah Burn-in atau Earlygalan adalah: Failure, yang diikuti dengan suatu periode dimana kecepatan kega- galan menuju nilai yang hampir konstan. Periode ini dikenal seba- Kondisi operasi rancangan gai Ramdom Failure Period atau ● Penggunaan tegangan Useful Life. Disini kegagalan akan dan arus. menjadi acak, karena suatu yang ● Disipasi daya. kebetulan saja. Dengan menggu- ● Tekanan mekanis yang nakan laju kegagalan sepanjang disebabkan oleh metode periode Useful Life, dapat dibuat yang telah ditetapkan. suatu ramalan keandalan dengan Kondisi lingkungan menggunakan teori kemungkinan. ● Temperatur tinggi atau Bila pengujian dilanjutkan di atas rendah. periode useful life, maka derajat ● Siklus temperatur, kelem- kecepatan kegagalannya akan baban yang tinggi. naik, gagal satu persatu karena. ● Getaran dan kejutan me- proses usia, ini disebut periode kanis. wear out. ● Tekanan rendah atau tinggi. Variasi kecepatan kegagalan me ● Lingkungan yang menim- nurut waktu ditunjukkan secara bulkan karatan, radiasi grafis pada Gambar 2.24. Karena debu, serangan serangga bentuknya seringkali disebut atau jamur. "bathtub curve". 55
  • 62. Prinsip Pelacakan Kerusakan / KegagalanTabel 2.3 berikut ini hanya merupakan suatu pedoman yang menun-jukkan laju kegagalan dari komponen elektronik yang sering digunakan. Tabel 2.3 : Kecepatan Kegagalan (FR) komponen Kecepatan kegagalan Komponen Tipe (x 10-6/h) Kapasitor Paper 1 Polyester 0.1 Ceramic 0.1 Electrolytic (1. foil) 1.5 Tantalum (solid) 0.5 Resistor Carbon composition 0.05 Carbon film 0.2 Metal film 0.03 Oxide film 0.02 Wire-wound 0.1 Variable 3 Hubungan Solder 0.01 Crimped 0.02 Wrapped 0.001 Plug and sockets 0.05 Semikonduk Diodes (signal) 0.05 -tor (Si) Diodes (regulator) 0.1 Rectifiers 0.5 Transistor < 1 Watt 0.08 > 1 Watt 0.8 Digital IC (plastic 0.2 DIL) 0.3 Linear IC(plastic DIL) Komponen Audio inductors 0.5 lilitan R.F. coils 0.8 Power transformers (each winding) 0.4 Saklar (per contact) 0.1 Lampu & Filament 5 indikator LED 0.1 Valves (Thermionic) 5 GC Loveday,1980, 25 56
  • 63. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan Definisi MTBF (Mean Time Between Failures) adalah lamanya pe- makaian suatu sistem sampai dicapai kegagalan2.3.6. M T T F & M T B F Rumusnya: DefinisiMTTF (Mean Time To Fail) adalah FR(rangkaian) = FR(A) + FR(B) + FR(C)lamanya pemakaian komponen FR(rangkaian) = λ.sampai dicapai kegagalan Maka: MTBF(rangkaian) = 1/ λRumusnya: Catatan: MTBF digunakan untuk item 1 yang dapat diperbaiki, seperti MTTF = ——— instrumen dan sistem. FR Catatan: Sebagai contoh: MTTF ini untuk item-item yang Suatu rangkaian mempunyai tidak dapat direparasi, seperti komponen : 4 resistor karbon komponen. film, 2 kapasitor elektrolit, 2 LED dan 2 transistor < 1 Watt, maka: FR(rangkaian) = ( 0,8 + 3 + 0,2 +Sebagai contoh: 0,16) x 10-6/ jam = 4,16 x 10-6/jamSebuah resistor karbon film, dari ta- Jadi:bel FR didapat = 0,2 x 10 –6 / jam, M T B F = 1 / 4,16 x 10-6 / jammaka akan didapat umur komponentersebut : = 240384,615 jam -6MTTF = 1 / FR = 1 / 0,2 x 10 = 10016 hari. = 5 x 106 jam = 208333,3 hari Jadi kalau sudah dalam rangkai- an maka tingkat kegagalan / ke-Hal ini menunjukkan usia yang sa- rusakan akan jauh lebih kecilngat panjang untuk sebuah kompo- dibandingkan kegagalan sebuahnen yang berdiri sendiri (belum me- komponen saja.nyatu dalam sebuah rangkaian). 57
  • 64. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan2.3.7.Hukum Eksponen 1 0.8 Keandalan 0.6 0.4Hubungan antara keandalan (R) dan 0.2laju kegagalan sistem (λ) dituliskandengan persamaan : Waktu(t) m 2m 3m Gambar 2.29: Grafik R terhadap t R = e-λt Sebagai contoh, suatu sistemDengan: radar angkatan laut mempunyait = waktu operasi (jam) estimasi MTBF 10.000 jam. Be-λ = kecepatan kegagalan sistem rapa peluang keberhasilan untuk adalah jumlah dari semua waktu misi 100, 2000 dan 5000 kegagalan komponen (per jam); jam?e = basis logaritma, Untuk:R = keandalan dalam waktu t. t =100 jam, R =e-0,01 =0,99 (99%)Maksud dari rumus itu ialah, bahwa t = 2000 jam, R = e-0,2 = 0,819peluang dari tidak adanya kegagalan (81.9%)sistem dalam waktu t merupakan t = 5000 jam, R = e–0,5 = 0,607fungsi eksponensial dari waktu terse- (60.7%)but. Dengan kata lain, makin lama Jadi R tak mungkin berharga 1sistem dioperasikan, keandalannya karena itu berarti tak pernahakan menjadi berkurang dan peluang gagalkegagalannya akan naik. Beberapa cara untuk memperPeluang kegagalan (Q) =1–R =1-e-λt baiki Keandalan ( R ) adalahKarena MTBF atau m = 1/λ maka dengan : -t/mR=e ● Derating : mengoperasikan kompo-Gambar 2.29 berikut menunjukkan nen dibawah batas maksi-grafik R terhadap t yang terbagi da- mumnya.lam interval m, menunjukkan bila t = Contohnya:m, yakni waktu operasi sama dengan menggunakan resistor ½MTBF, peluang keberhasilan operasi Watt untuk rangkaian yangakan turun mendekati 0.37 atau 37%. sebenarnya hanya butuhHanya bila waktu operasi relatif lebih resistor ¼ Watt.pendek daripada MTBF, makakeandalan menjadi tinggi. 58
  • 65. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan● Redundancy: Untuk menghitung Keandalan ( R ) Menyambungkan suatu unit ke jika dua unit / sistem masing-ma- unit yang lain yang sama fung- sing keandalannya Rx dan Ry sinya, sehingga kalau yang sa- terpasang: tu gagal yang lain akan me- ● Paralel : ngambil alih fungsinya. Biasa- X nya unit ini terpasang secara parallel. Y Ada dua cara redundancy: Aktif : bila suatu unit stand by Rxy = Rx + Ry – Rx.Ry atau hidup mengikuti suatu kega- Qxy = Qx . Qy, dimana galan. Contohnya: UPS ter- Qx = 1- Rx. pasang pada komputer, lampu ● Seri : darurat AC yang selalu siap menyala apabila tegangan AC X Y mati dll. Rxy = Rx . Ry Contohnya : Sebuah catu daya, osilator dan penguat, semua digunakan dalam suatu sistem sederhana dipasang seri. Hitung keandalan masing- masing unit dan sistem untuk pe- riode operasi 1000 jam, jika MTBF Gambar 2.30: UPS Sebuah Redudancy Aktif nya 20.000 jam, 100.000 dan 50.000 jam. Pasif :bila elemen-elemennya bersekutu membagi beban Jawab: atau melaksanakan fungsinya keandalan catu daya untuk 1000 secara terpisah. Contohnya : jam adalah generator pada gedung per- R p = e-t/m = e-0.05 = 0.95 kantoran yang tersedia tapi ti- Keandalan osilator dak dijalankan dan tidak oto- R o = e-t/m = e-0.01 = 0.99 matis. Keandalan penguat R a = e-t/m = e-0.02 = 0.98 Karena unit-unit dipasang secara seri, maka keandalan seluruh sis- tem: Rs = Rp x Ro x Ra = 0,95 x 0.99 x 0,98Gambar 2.31: Masalah Karena Redu- = 0.922dancy Pasif Jadi keandalan sistem adalah 92 2% untuk 1000 jam operasi 59
  • 66. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan2.3.8. Efek Lingkungan Terhadap Keandalan Sebagaimana telah diketahui, kondisi lingkungan dimana suatu instrumen atau sistem bekerja akan mempengaruhi keandalan sistem tersebut. Hal ini benar, sepanjang instrumen tersebut sedang dioperasikan (aktif), tidak dioperasikan (statis) atau dalam keadaan tersimpan. Dalam kenyataan, bila tidak dioperasikan efek lingkungan mungkin juga akan merusak, karena tidak terdapat pembangkit panas pada sistem tersebut.Efek lingkungan utama yang berhubungan dengan kehandalan suatu itemadalah: Tekanan yang berubah ubah Getaran Mekanik dan Kejutan Elemen diatmosfer yang Temperatur- bersifat ITEM: komponen / temperatur ekstrim mengoksidasi sistem/ instrument/ peralatan Taraf Radiasi sinar teta kelembaban dan sinar X tinggi Serangan jamur dan insek Gambar 2.32: Efek Lingkungan Yang Mempengaruhi Keandalan 60
  • 67. Prinsip Pelacakan Kerusakan / KegagalanSecara garis besar diberikan Tabel 2.4 efek lingkungan terhadap suatu“ITEM” dan tindakan desain yang dapat dilakukan, adalah sebagaiberikut:Tabel 2.4: Efek lingkungan terhadap item. LINGKUNGAN EFEK UTAMA TINDAKAN DESAIN Temperatur ● Melampaui batas ● Heatsink dan venti- tinggi daya dari kompo- lasi udara yang nen ditiupkan ● Pemuaian dan ● Memilih komponen menjadi lunak. Pe dengan pemuaian ristiwa kimia naik: kecil dan karak- tak awet teristik temp. rendah Temperatur ● Pergeseran, kere- ● Pemanasan dengan rendah gasan, kehilangan temperatur yang ter- penguatan dan kontrol. Pemilihan efisiensi bahan yang benar. Siklus ● Tekanan berat / ● Penundaan termal temperatur kegagalan yang besar Kelembaban ● Mengurangi ● Gunakan isolasi yg resistansi, isolasi, tidak menyerap air, perkaratan, jamur gunakan silicon, silicon gel. Getaran / ● Memperlemah ● Bingkai anti getar, kejutan baut baut kawat ring per, pernis penghubung, dll Tekanan turun ● Turunnya tegang- ● Jarak konduktor an jatuh antara konduktor dinaikkan kontak - kontak dan dijaga dari debu dan kotoran 61
  • 68. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan2.3.9. Availability ( Keberadaan )Setiap perlengkapan / sistem diinginkan dapat dipakai secara maksimum,kegagalan / kerusakan rendah dan waktu reparasi (down type) pendek. Avaliability = MTBF / (MTBF + MTTR) Adalah waktu rata rata yang MTTR ( Mean Time To dipergunakan untuk reparasi. Repair ) Lokasi instrument / sistem yang berhubungan dengan fasilitas servis Ketrampilan Faktor - faktor Ada tidaknya teknisi yang suku cadang servis mempengaruhi MTTR Ada tidaknya instrumen-instrumen diagnosis 62
  • 69. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan2.4. Metoda-Metoda Pelacakan Kerusakan2.4.1. PendahuluanKalian tahu bahwa banyak teknik pencarian kerusakan dapat diterapkandalam bidang elektronika. Teknik tersebut antara lain: pengujian kompo-nen, pemeriksaan input output tiap blok. Metoda lain yaitu melakukansendiri dengan memeriksa input dan output dari tiap blok fungsi. Metodamanakah yang baik? Itu tergantung pada jenis kerusakan sistem yangsedang diamati. Yang penting diperhatikan adalah bagaimana mencarikerusakan secara efisien (cepat dan tepat) karena disini berlaku Waktuadalah Uang.2.4.2.Cara Memilih Metoda yang TepatMetoda yang dipilih untuk mencarikerusakan akan dapat menentukanefisiensi kerja. Anda harus berusahamencari sebanyak mungkin kerusa-kan atau ketidakberesan itu sendiri.Untuk menghemat waktu, ada baiknya Gambar 2.33: Waktu Adalah Uangbila kita menanyakan kepada orangyang mengetahui adanya gangguan Ketika pemilik suatu hi-fi setpada alat tersebut, melalui beberapa mengatakan alat tidak berfungsipertanyaan seperti ditunjukkan pada dengan baik, ini sangat minimTabel 2.5 berikut ini. informasinya. Maka untuk memperjelas masa-Tabel 2.5: Pertanyaan lahnya dilakukan langkah perta-1. Apakah yang sebenarnya salah ? nyaan sbb:2. Bagaimana ciri fisik rusaknya? ● Saat bagaimana alat tidak3. Apakah selalu terjadi demikian ? bekerja dengan baik atau4. Jika memang benar, pada bagian mana yang tidak kondisi bagaimana? baik? Misal salah satu kanal5. Adakah penyalahgunaan? (getar- sistem stereo lebih lemah an, goncangan, panas, dll) dibanding yang lain. Ini akan6. Apakah kerusakkan terjadi secara mempersempit masalah tiba-tiba atau berangsur-angsur ? hingga menuju kesalah satu7. Apakah kerusakkan terjadi selama penguat kanal untuk diukur. pengoperasian perlengkapan ? ● Pertanyaan kedua bertujuan8. Apakah kerusakkan terlihat untuk memfokuskan kesa- mempengaruhi fungsi yang lain ? lahan. Pada contoh diatas,9. Adakah keterangan-keterangan kita menanyakan pada pemi- tambahan ? lik apakah dia telah mencoba10. Adakah orang yang telah menco- mengatur volume, ba memperbaikinya ? 63
  • 70. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan pengatur loudness, tone control, ngaruhi bagian lainnya. Mi- atau balance. salnya, gangguan pada catu● Pertanyaan ketiga bertujuan un- daya (filter yang kurang baik) tuk mengetahui apakah kerusa- akan mempengaruhi bagian kan tersebut terjadi secara terus lain. menerus atau kadang-kadang ● Pertanyaan kesembilan akan saja, apakah tergantung penga- membantu kita untuk menen ruh luar. Apakah rusaknya total. tukan lokasi kerusakan, de-● Pertanyaan keempat, untuk me ngan menambahkan detail ngetahui dalam kondisi bagaima- dari alat tersebut misalnya na kerusakan itu muncul. Sering- cacat gambar pada TV ada kali kerusakan terjadi pada saat lah sejenis dengan operasi terjadi getaran, suhu tinggi, men- sebuah pembersih vakum dapat kejutan (terjatuh, terben- (vacum cleaner). tur) atau beberapa efek lainnya. ● Akhirnya, pertanyaan kese-● Pertanyaan kelima yaitu bantuan puluh adalah untuk mengatasi kita untuk mengetahui apakah kerusakan. kerusakan hanya tampak setelah Penggunaan teknik yang cocok jatuh, terkena getaran (saat diba- untuk masalah tertentu sangat wa dengan mobil), terkena suhu efisisen dalam proses trouble- terlalu tinggi dll. shooting. Ada beberapa teknik yang bisa digunakan : Symptom-function : untuk mengisolir kerusakan pada bagian tertentu. Signal-tracing : untuk me- nemukan blok tertentu pe- nyebab kegagalan pemakai- an. Metoda tegangan danGambar 2.34:Teliti Dahulu Sebelum Bekerja hambatan untuk mengisolasi kerusakan komponen atau● Pertanyaan keenam, membantu daerah rangkaian tertentu. kita untuk menemukan apakah Metoda Half-splitting: untuk kerusakan tersebut disebabkan rangkaian dengan blok-blok oleh usia atau kerusakan tiba- tersusun seri. tiba. Metoda Pemutusan Lup:● Pertanyaan ketujuh, untuk me- untuk sistem lup tertutup pa- ngetahui apakah kerusakan ter- da industri-industri. jadi pada saat alat / sistem ter- Metoda substitusi: sebut beroperasi atau mati. mencoba menyolderkan● Pertanyaan kedelapan, Kadang- komponen yang sama pada kadang kerusakan pada salah bagian yang rusak. satu fungsi juga dapat mempe- 64
  • 71. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan2.4.3. Kapan dan Pada Gambar 2.36a, ditunjukkan se- jumlah masukan yang berbeda menu- Bagaimana ju satu keluaran (konvergensi). Con- Menggunakan tohnya: sistem HI-FI lengkap. Tentu saja anda dapat mengisolasi Teknik Symptom- kerusakan secara efektif, bila anda Function. tahu masukan mana yang tidak me-Symptom-function (fungsi gejala) nunjukkan adanya gejala keluaran.sudah digunakan dalam kehidu- MASUKANpan sehari-hari.Contoh, saat kita menyalakan KELUARANlampu belajar dan tidak menyala MASUKAN(gejalanya) maka yang diperiksa(fungsinya) adalah:- Kabel powernya terhubung atau MASUKAN terputus,- Lampunya mati atau hidup,- jika masih tidak menyala mung- kin switchnya tidak bekerja de- Gambar 2.36a: Multi masukan-satu keluaran ngan baik dan seterusnya.Dengan melihat gejala kerusa- KELUARANkannya, dapat diperkirakan jenis MASUKAN KELUARANdan letak kerusakan alat terse-but KELUARANDengan mengetahui prinsip kerjaalat dan berdasarkan pengama-tan kerja alat, memungkinkan Gambar 2.36b: Satu masukan-multi keluarandiketahui kerusakannya, tanpamenggunakan alat ukur dan tan- Gambar 2.36b menunjukkan prinsippa melakukan pengukuran. kerja alat dengan satu masukan dan mempunyai beberapa keluaran yang berbeda (divergensi). Contohnya: TV berwarna. Disini anda juga dapat mengisolasi kerusakan secara efektif dengan me- ngamati keluaran mana yang bekerja dan tidak bekerja.Gambar 2.35:Mengamati GejalaKerusakan 65
  • 72. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan2.4.4. Kapan dan Pada beberapa peralatan elektro- nik, pemberian sinyal dari luar ini Bagaimana tidak selalu diperlukan, terutama Menggunakan Teknik bila sinyal yang seharusnya ada Signal-Tracing. pada peralatan tersebut dapat de- ngan mudah diketahui. Metode iniGambar 2.37 menggambarkan prin- disebut dengan metode signal-sip dari sinyal-tracing pada suatu pe- tracing pasif. Misalnya: memerik-nguat sederhana.Generator sinyal sa sebuah catu daya sepertidengan hambatan dalam RG mem- Gambar 2.38 berikut ini:berikan sinyal input pada penguat,dan dapat dilihat apakah penguatakan menguatkan sinyal DC, audio,video atau IF. Amplitudo dari sinyalinput yang terukur pada Vi ketikadiukur pada impedansi input R1.Output dari penguat terukur oleh Voketika diukur pada beban resistor RL Walter, 1983, 27 Gambar 2.38: Metoda Signal Tracing Pasif Vi Sebuah Catu DayaWalter, 1983,26 Tegangan jala-jala diukur de- ●Gambar 2.37: Sinyal-Tracing Sebuah ngan voltmeter AC pada stopPenguat Sederhana kontak dinding, pada sekring,● Dengan membandingkan pem- dan pada saklar. Bila ada tega- bacaan Vi dan Vo, kita dapat me- ngan AC 220 V pada ujung pri- nentukan penguatannya. Metoda mer transformator, maka da-pat ini disebut juga Metoda Input- dipastikan, bahwa plug, kabel, Output / Metoda Output-Input. sekring dan saklar dalam kondi-● Dengan merubah amplitudo ke- si baik. luaran dari generator sinyal, kita ● Sinyal AC pada sekunder trafo dapat melihat apakah penguat dapat diukur pada masing-ma- linear didaerah sinyal input. sing sisi (sekunder trafo ada● Dengan variasi impedansi beban CT) terhadap ground. Bila ada RL, kita dapat melihat apakah pe- tegangan pada sekunder trafo nguatan linear terhadap peruba- yang besarnya sesuai, maka han beban. dapat dipastikan bahwa trafo● Dengan merubah frekuensi ge- dalam keadaan baik. nerator sinyal, kita dapat menen- ● Selanjutnya, gunakan saklar tukan respon frekuensi dari pe- meter pada skala DC. Ukur te- nguat. gangan pada C1 dan pada C2.Dengan pengaturan yang sederha- bila tidak ada tegangan DC pa-na ini, karakteristik yang penting dari da C1 maupun C2 berarti kapa-penguat dapat diukur dengan sistem sitor tersebut terhubung sing-signal-tracing, pada amplitudo dan kat. Bila lilitan L terbuka, makafrekuensi, dari input ke output pe- hanya ada tegangan DC padanguat. C1, tetapi tak ada pada C2. 66
  • 73. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan Bila C1 dan C2 terbuka (putus), atau bila penyearah CR1 dan CR2 ter- buka, atau keduanya terhubung-singkat, maka tegangan DC yang ter- ukur tidak benar. Dalam kondisi seperti itu, perlu dilakukan penguk- ran resistansi untuk memastikan komponen yang rusak.● Cara kedua merupakan kebalikan dari cara pertama, yakni dimulai dari pengukuran tegangan DC pada kapasitor C2, dilanjutkan dengan pengukuran tegangan DC pada kapasitor C1 dst. Hasilnya sama saja karena pengukuran hanya menggunakan voltmeter saja.Contoh berikut ini sebuah radio FM yang blok diagramnya ditunjukkan pa-da Gambar 2.39 tidak bekerja. Pemeriksaan catu daya dan tegangan pa-da kondisi statis rangkaian telah dilakukan. Kerusakan ada di daerah an-tara antenna dan penguat audio. Pada metoda pasif, sinyal normal diang-gap telah ada atau diketahui. Akan tetapi, karena antenna dan tuning(yang dianggap dapat memberikan sinyal normal ke sistem) berada di da-lam sistem itu sendiri, maka harus diberikan sinyal dari luar sebagai si-nyal normal dan menggunakan speaker sebagai indikator sinyal. Cara inidisebut metoda signal-tracing aktif atau injeksi sinyal. RF Tuner IF Amp FM Audio Detektor Amp Sinyal Generator Walter, 1983, 28Gambar 2.39: Metode Signal-Tracing Aktif Radio FM Cara PertamaCara pertama:● Generator sinyal dihubungkan ke tuner RF, dan antena dilepas; gene- rator sinyal dan tuner diatur pada frekuensi yang sama. Bila tidak ter- dengar sesuatu apapun di loudspeaker, pindahkan generator sinyal pada titik A. ubah frekuensi sinyal generator pada frekuensi 10.7 MHz (Standar untuk radio FM). Bila sekarang terdengar suara (tone dari sinyal generator), ini berarti kerusakan ada pada bagian RF tuner.● Bila tidak terdengar sesuatu, pindahkan sinyal generator pada kelua- ran penguat tengah (IF amplifier), yakni pada titik B. Pada titik ini, am- plitudo sinyal generator harus dinaikkan untuk mengkompensasi pe- nguatan dari penguat tengah.● Di titik C, sinyal normal berupa sinyal audio. Karena itu, sinyal genera- tor yang dimasukkan melalui titik ini harus pada frekuensi audio.● Pada titik D sinyal generator seharusnya cukup kuat untuk mengge- rakkan loudspeaker. Loudspeaker dapat diuji dengan memeriksa te- gangan pada driver amplifier dan menguranginya sesaat dengan re- sistor yang sesuai antara tegangan dan ground. Hal ini harus meng- hasilkan suara klik pada loudspeaker. 67
  • 74. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan RF FM Audio IF Amp Tuner Detektor Amp Sinyal Generator Walter, 1983,29Gambar 2.40: Metode Signal- Tracing Aktif Radio FM Cara KeduaCara kedua:● Pemeriksaan dilakukan dari speaker menuju ke tuner. Untuk menen- tukan apakah mengguna-kan cara pertama atau kedua dapat dilaku- kan pemeriksaan awal. Misalnya, dengan menghubung-singkat masu- kan kepenguat audio dengan ground, dengan menggunakan obeng atau ujung klip. Hal ini harus menghasilkan bunyi klik pada loud- speaker, bila loudspeaker dan penguat audio bekerja dengan baik.● Bila tidak terdengar suara, maka cara kedua merupakan pilihan ter- baik, karena kerusakan pasti ada di antara loudspeaker dan penguat audio.● Bila terdengar bunyi klik, anda masih dapat meneruskan pemeriksaan dengan cara kedua mulai titik C, atau dengan cara pertama, karena keduanya mempunyai peluang kecepatan pemeriksaan yang sama. KESIMPULAN:Metoda signal-tracing memerlukan sinyal masukan pada daerah yangdicurigai dan dapat diukur keluarannya dengan teliti. Signal-tracing sela-lu memerlukan sedikitnya satu peralatan test dan pada umumnya dua.2.4.5. Metoda Tegangan dan Hambatan● Pada umumnya pengukuran tegangan dan resistansi dilakukan untuk memeriksa jaringan atau komponen yang dicurigai rusak. Pengukuran tegangan memerlukan peralatan dengan kondisi ON, sedangkan pengukuran resistansi dilakukan pada saat peralatan dalam kondisi OFF.● Biasanya diagram rangkaian dan lembar data menunjukkan tegangan yang diperlukan untuk kondisi operasi normal pada titik tes tertentu. Dengan melakukan pengukuran seperti itu, biasanya lokasi kerusakan pada jaringan dan komponen dapat diketahui.● Pengukuran resistansi merupakan satu metoda yang sangat berman- faat untuk memeriksa komponen elektronika. Suatu pengukuran resis- tansi sederhana dapat digunakan untuk meyakinkan kesinambungan pengawatan, pendekatan nilai yang benar dari transformator, induktor, lilitan sebagaimana pendekatan nilai pada kapasitor ukuran besar. 68
  • 75. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan● Mayoritas resistor digunakan 2.4.6. Metoda Half- pada peralatan elektronik adalah tipe komposisi karbon dan mere- Splitting (Pemisa- ka cenderung untuk berubah ni- han Bagian lainya karena usia dan panas. Tengah) Ketika ini sering terjadi mungkin pengukuran tahanan resistor atau komponen lain pada rang- ● Metoda ini cocok digunakan kaian, harus meyakinkan de- untuk rangkaian dengan blok- ngan pemeriksaan pada gambar blok yang seri (memanjang) rangkaian. Impedansi paralel ti- karena akan menjadi sangat dak memberikan suatu pengu- cepat saat mencari kerusakan- kuran yang salah, ketika suatu nya. Misalnya: rangkaian gene- resistor bertambah besar ham- rator fungsi, pemancar / pene- batannya maupun terbuka, ten- rima radio dsb. tu relatif sederhana untuk me- ● Langkahnya: dimulai dari bagi- nentukan ini. an tengah sistem, dan berturut-Teknik Tegangan dan Hambatan turut pada setiap bagian tengahsering digunakan dimanapun sete- dari setengah bagian sistemlah teknik symptom-function menun- yang telah dipisah sampai dite-juk pada rangkaian atau komponen mukan kerusakannya.tertentu sebagai sumber kerusa- Contohnya: rangkaian dengankan, atau ketika suatu teknik signal- blok-blok sbb:tracing telah melokalisir suatu keru- 1 2 3 4sakan dengan cara ini. KESIMPULAN: 5 6 7 8 Metoda Tegangan dan Ham- batan digunakan untuk me- Gambar 2.42:8 Blok Sub Sistem Tersusun nunjukkan dengan tepat suatu Seri komponen atau kerusakan - Cek keluaran blok 4, jika beker- rangkaian dan pada umumnya ja baik, berarti blok 1 sampai memerlukan data perusahaan dengan 4 tak ada masalah. untuk nilai-nilai komponen dan 4 tegangan. 1 2 3 4 4 blok pertama tak masalah Jika tak bekerja, maka cek ke- luaran blok 2 (tengah-tengah blok 1 – 4), jika bagus berarti cek keluaran blok 3 dan bagus berarti blok 4 rusak. - Cek Keluaran blok 8, jika be- kerja baik, berarti blok 5 sam- pai dengan blok 8 tak ada ma-Gambar 2.41: Data Perusahaan salah. 69
  • 76. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan 5 5 6 6 7 7 8 8 4 blok terakhir tak ada masalah - Jika tak bekerja, maka cek kelu- aran blok 6 (tengah-tengah blok 1 – 4), jika bagus berarti cek ke- luaran blok 7 dan bagus berarti Gambar 2.43: Kerusakan Radio Cocok blok 8 rusak. Dengan Metoda Half-Splitting.2.4.7. Metoda Pemutusan Lup● Sistem atau subsistem elektronik dengan umpan-balik sangat sulit di- lacak kerusakannya tanpa memutus lup. Tegangan DC yang sesuai atau sinyal harus diinjeksikan pada titik, tempat lup diputus.● Tegangan dan sinyal yang melalui rangkaian seharusnya dapat digu- nakan untuk memonitor kesalahan.● Tegangan atau sinyal yang diinjeksikan dapat diubah untuk melihat perubahan respon rangkaian dari keadaan normal.● Biasanya lup diputus pada titik tempat sinyal dengan daya kecil se- hingga dapat diinjeksikan dengan baik.Teknik ini dapat digunakan misalnya pada sebuah PLL (phase lock loop),seperti Gambar 2.44. Pembagi Pembagi Frekuensi frekuensi Osilator Osilator Pembanding pembanding Filter Lolos filter lolos VCO VCO Referensi referensi Fasa fasa bawah Bawah Keluaran Pembanding Injeksi Tegangan DC Keluaran pembanding fasa Fasa injeksi tegangan DC variabel variabelGambar 2.44: Contoh Pemutusan Lup.Catu daya dan keluaran osilator referensi seharusnya diperiksa dahulusebelum lup diputuskan. Dalam hal ini keluaran seharusnya tidak normalatau tidak stabil atau hilang, sehingga anda dapat memastikan, bahwaVCO tidak bagus. Selanjutnya dapat anda lakukan pemutusan lup padatitik yang sesuai.Jadi pemutusan lup disini belum tentu bagian umpan baliknya, tapi dicaridi daerah sinyal kecil yang mudah di suntik dengan peralatan yang ada. 70
  • 77. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan2.4.8. Metoda Substitusi ● Bila komponen yang diganti mempunyai tipe khusus, mi-● Dalam metoda ini biasanya diper- salnya transformator, coil- lukan penyolderan atau pengganti deflection yoke, dan kompo- an komponen sebagai tahap akhir nen khusus lain, maka perlu dari proses pelacakan kerusakan. dicari komponen pengganti● Ada dua tahap pokok dalam meto- yang benar-benar sesuai da substitusi yang harus dilakukan, (tak ada ekivalennya). yakni gunakan komponen peng- 2.5. Analisa ganti yang benar dan hubungkan secara benar pada rangkaian. Problem Solving Metoda yang telah diuraikan di atas sangat cocok untuk melo- kalisasi kerusakan yang bersi- fat spesifik, hubung-singkat, terputus atau kerusakan kom- ponen. Akan tetapi, bila anda menghadapi sistem elektronik yang kompleks atau kerusakan yang berulang, cara tersebut di● Sebelum melakukan penggantian, atas belum cukup. Anda perlu disarankan untuk melakukan pe- cara atau metoda yang lebih meriksaan dengan metoda lain, se- canggih / teliti lagi sbb: perti yang telah diuraikan sebelum- Analisis kesalahan nya, sehingga yakin komponen mana yang mengalami kerusakan. Analisis sinyal● Lakukan pengukuran tegangan untuk meyakinkan apakah tega- Analisis logika ngan yang seharusnya ada me- mang benar-benar ada. Diagnosa rutin Pemeriksaan tegangan yang dila- Diagnosa dengan program kukan pada komponen gabungan komputer resistor dan kapasitor, akan dapat menunjukkan apakah keduanya rusak atau hanya salah satu saja.● Dalam praktek, biasanya anda sa- ngat sulit mencari pengganti kom- ponen berupa IC, transistor dan dioda yang sama persis dengan komponen yang diganti. Untuk me- ngatasi hal ini, anda perlu mencari data ekivalen tipe IC, transistor a- tau dioda pada buku petunjuk se- Gambar 2.45:Rangkaian Makin mikonduktor. Komplek Analisis Makin Rumit. 71
  • 78. Prinsip Pelacakan Kerusakan / KegagalanDua metode pertama dapat dipakai TIDAK TEREGULASI Q1 TEREGULASIuntuk semua tipe sistem; tiga meto- DC R1 R2 R3 DCde terakhir itu terbatas untuk sistemdigital dan dapat dipakai khusus un- Q2 R4tuk macam-macam komputer digital. R5 D2.5.1. Analisis KegagalanMetode analisis kegagalan diguna- Walter, 1983, 40kan ketika kegagalan berulang padasuatu rangkaian dan menekankan Gambar 2.47: Contoh Analisis Kesalahanpada penyebab kerusakan dari pa- pada Regulator DCda kerusakan komponen / perang-kat itu sendiri. ● Untuk transistor daya, kega-Tiga langkah pentingnya adalah: galan seringkali disebabkan oleh arus yang berlebih, dan Analisis cara kerja rangkaian panas yang bertambah. ● Arus berlebih, terjadi karena hubung singkat atau kelebihan Melakukan pengukuran beban pada output DC regula- si. kombinasi dari R2 dan dio- da D akan mengcut offkan Q2 dan juga Q1. sehingga tega- Mempelajari data produk ngan DC regulasi akan menuju level bawah. Jadi arus lebih karena kelebihan beban sa-Contoh yang paling sederhana ada- ngat kecil kemungkinannya.lah rangkaian dasar regulator DC ● Melakukan pengukuran arusseperti ditunjukkan pada Gambar 2- melalui Q1, temperatur pen-20, yang terdiri dari sebuah transis- dingin / Q1 , serta nilai resis-tor daya Q1 sebagai pengontrol a- tansi setiap resistor. Secararus DC. cepat analisis akan dapat me-Q1 selalu mengalami kerusakan se- nunjukkan bahwa ripel tega-telah diganti dua kali. ngan AC yang ada pada DCBagaimana harus menyelidiki dan mungkin merupakan salah sa-bagaimana komponen tersebut se- tu factor penyebab beban lebihlalu rusak ? Q1. Singkatnya, dalam meng- analisis kerusakan pada regu- lator DC seperti Gambar 2.47 tersebut harus dipertimbang- kan semua aspek rangkaian karakteristik Q1 dan Q2 untuk mencari penyebab kerusakan yang sering terjadi pada Q1.Gambar 2.46: Kebingungan Awal Bencana 72
  • 79. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan2.5.2. Analisis Sinyal 2.5.3. Analisis Logika● Metoda analisis sinyal dapat mem- ● Analisis logika terbatas un- bantu dalam membuat analisis, bi- tuk rangkaian digital dan la sinyal yang anda amati dapat dapat menangani analisis memberikan petunjuk tentang loka- dari yang paling sederhana, si kerusakan. Metode ini biasanya pengujian bit-per-bit untuk memerlukan sebuah osiloskop me- Test-Word dan dengan mori, atau peralatan lain yang da- menggunakan peralatan pat menvisualisasikan sinyal. otomatis penganalisis logi- ka. Metoda ini mengguna- kan sinyal digital satu dan nol, untuk menentukan fungsi logika yang menga- lami kerusakan. Gambar 2.49 menunjukkan contoh apa yang dapat dilaku- kan dengan analisis logi-Gambar 2.48: Analisis Sinyal Tanpa Alat Bantu ka.Akan MembingungkanContohnya ditemui pada pengujian pe-rekam kaset video (VCR). Pada pesa-wat video rumah, mungkin akan sulitmenentukan , bagian yang tidak benarkerjanya bila hasil rekaman tidak ber-warna. a. 8-Bit Shift RegisterKemungkinan penyebabnya adalah: TEST WORD A● Transmisi dari studio yang rusak . Input 10101010● Alat perekam yang rusak sehingga P.In/P.Out 10101010 tidak dapat merekam gambar de- ngan sempurna. S.In/P.Out 10101010● Ataukah kerusakan terletak pada TEST WORD B TEST WORD C penerima TV kita.● Bila pesawat penerima TV bekerja 01010101 11111111 dengan baik, maka dapat direkam 01010100 11111110 sinyal tes dari masukan video pe- rekam, dan menampilkannya ber- 01010101 11111111 b. Output Paralel Dengan Input sama-sama dengan keluaran video Parallel Dan Seri. perekam. Dapat dianalisa perbeda- an sinyal masukan dan keluaran Walter, 1983, 45 bila perekam itu sendiri bekerja de- Gambar 2.49: Contoh Analisis Logika ngan baik. Sinyal tes terekam akan Pada Shift Register. dapat memberikan petunjuk sebe- rapa jauh kerusakan VCR. 73
  • 80. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan● Register 8 bit (Gambar 2.49a) ini 2.5.4. Diagnosa Rutin data masukannya dapat dimasuk- kan secara seri maupun parallel. ● Diagnosa rutin adalah bagian Keluarannya selalu paralel. program tes-diri komputer● Gambar 2.49b menunjukkan test dan dapat dipanggil untuk word masukan dan hasilnya. Test- membuat pemeriksaan seca- word tersebut dapat dimasukkan ra cepat pada bagian sistem secara seri atau paralel. Pada test- komputer. Harus diketahui word A LSB-nya nol, test-word A bagian atau peripheral yang tampak benar, baik dimasukkan harus dites agar dapat dipilih secara seri maupun paralel. diagnosa rutin yang tepat.● Pada test-word B, yang mempu- nyai LSB 1, tampak ada kesalahan pada LSB keluarannya, bila data masukan dimasukkan secara para- lel, tetapi akan benar bila data ma- sukan dimasukkan secara seri.● Test-word C yang semua terdiri dari logic 1, tampak benar kelua- rannya, bila data masukan dima- sukkan secara seri, sedangkan bila data masukan dimasukkan secara Gambar 2.51: Tes-diri Komputer paralel, maka data keluarannya akan tampak salah (lihat LSB-nya). ● Diagnosa rutin juga dapat Melalui analisis logika di atas, an- mengetahui bagian dasar dari da dapat mengatakan secara u- sistem komputer yang menga mum, bahwa kerusakan terjadi pa- lami gangguan. Diagnosa ru- da rangkaian gerbang masukan tin hanya dapat dibuat pada parallel, di bagian LSB. Sebuah lo- sistem yang minimum mem- gika nol yang salah dapat terjadi punyai sebuah mikroprosesor bila data dimasukkan ke register 8- yang dapat diprogram. bit. Pada Bab 10 Gambar 10.1 me-● Jadi IC 8 bit register ini rusak bagi- nunjukkan blok diagram sebuah an LSB, kalau bagian LSB ini me- komputer yang terdiri dari unit rupakan IC sendiri mala dapat di- pengolah pusat (CPU), berupa ganti bagian LSB saja. sebuah IC tersendiri dan sebuah port masukan / keluaran (I/O). Semua bagian yang terhubung dengan bus eksternal adalah pe- ripheral, sedangkan bus ekster- nal itu sendiri adalah berupa sa- luran parallel yang berasal dari I/O yang dihubungkan ke setiap peripheral. Bus ini membawa in- formasi dari CPU ke peripheral a-Gambar 2.50: Analisis Dengan Logika tau sebaliknya. 74
  • 81. Prinsip Pelacakan Kerusakan / KegagalanPada contoh kali ini akan dibahas kerusakan CD–ROM yang paling se-ring dijumpai, yaitu CD-ROM tak dapat membaca. Semua ini terlepas darimedia disk yang sedang digunakan, jadi disk dianggap bagus. MemangCD-ROM yang digunakan dalam jangka waktu yang lama akan menye-babkan pembacaan data tersendat-sendat, bahwa ini disebabkan sema-kin melemahnya kerja optic, yang mengakibatkan CD-ROM tersebut tidakdapat membaca disk dengan baik. Bila dimasukkan disk pada CD-ROM,CPU akan mengeluarkan pesan secara seri pada CD-ROM, yang padagilirannya akan memeriksa semua pengontrol CD-ROM. Dapat diperiksagangguan pada CD-ROM dengan membentuk diagnosa rutin pada CPU.CPU akan mengirim pesan–pesan pada CD-ROM untuk melakukanlangkah berikut : Kalibrasi trimpot optik Apakah Optik Ya untuk mempercepat CD-ROM putaran disk Melemah ? Tidak Periksa IC regulator, Regulator Tidak sekring pembatas arus dan bekerja ? komponen disekitar regulator Ya Buffer dan Tidak Cek IC pengontrol pengontrol dan buffer bekerja ? Ya Ya Tidak Motor disk Ganti motor disk CD-ROM Bagus bagus ? Gambar 2.52: Diagram Alir Tes-Diri CD-ROMCPU akan mencatatnya dan akan memberhentikan pemeriksaan pada ti-tik-titik tersebut, dan itu tak membutuhkan waktu yang lama. 75
  • 82. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan 2.5.5. Diagnosa dengan Perlu diingat bahwa diag- nosa ini dapat digunakan Program Komputer bila sebagian besar elemen● Program diagnosa komputer digu- komputer berfungsi dengan nakan untuk mengetest semua ba- baik. gian komputer dan membantu me- nentukan hardware atau software yang rusak. Self-test program ini dapat digunakan hanya jika bebe- rapa bagian essential pada kom- puter seperti power supply, CPU, bus dan memories device (disc) yang memegang test program ber- operasi secara benar. Gambar 2.54:Elemen Komputer Masih Berfungsi ● CPU harus menerima catu daya yang sesuai, sistem clock dan timingnya harus bekerja serta bus harus ber- fungsi dengan baik. Bila sa- lah satu dari bagian pokok tersebut tidak bekerja, ma- ka tidak mungkin program diagnosa ini dapat diguna-Gambar 2.53: Program Diagnosa Komputer kan. ● Dan bila ini yang terjadi,● Semua komputer dilengkapi de- maka anda perlu mengguna ngan sejumlah program. Beberapa kan cara sederhana seperti diantaranya diperlukan dalam sis- dijelaskan pada bagian se- tem dan disebut dengan operating belumnya (6 cara pertama). system. Beberapa diantara sistem Disamping itu anda masih operasi berfungsi untuk pemelha- selalu membutuhkan buku raan, seperti mereset register, petunjuk melacak kerusa- membersihkan memori sementara, kan dari pabrik. dan melakukan track secara umum pada pengoperasian komputer.● Sekarang ini banyak dijumpai pro- gram komputer untuk mendiagno- sa kerusakan, baik kerusakan pro- gram software maupun kerusakan fisik komputer dan komponen, mi- salnya program untuk memeriksa IC TTL, transisitor, printer dan Gambar 2.55: Keberhasilan Ada lain-lain. Ditangan Anda 76
  • 83. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan2.6. Pengujian Vcc Komponen Aktif Vrc dropPengujian yang akan dilakukan disini ssebagian besar adalah pengujian saat Vceada tegangan kerja (pada suatu rang- Rises shkaian), sehingga jika ada kerusakan ortpada suatu rangkaian, tidak tergesa-gesa melepas solderan suatu kompo-nen tapi bisa dilakukan pengukuranterlebih dahulu untuk meyakinkannya.2.6.1. Dioda. Daniel L. Metzger, 1981, 465● Tegangan maju dioda silicon, ger- Gambar 2.56(a): Hubung singkat manium, Schottky, tunel, dan ze- antara basis ke emiter ner harusnya tidak lebih dari 1,1V menyebabkan tegangan kolektor (dalam rangkaian). Tetapi bila lebih menjadi naik dan sama dengan dari nilai tersebut menandai ada- VCC dan VRC turun ke nol, kecuali nya dioda terbuka, yang harus di- jika transistor dibiaskan secara lepaskan, diuji, dan diganti. normal pada cut off.● Jika suatu dioda mengalirkan arus Vc c tetapi drop tegangan dioda nol a- tau hanya beberapa milivolt, berarti Rc dioda hubung singkat. Pindahkan, uji, dan ganti.● Dioda penyearah yang hubung singkat dapat merusak dioda lain , kapasitor filter, dan trafo daya, ma- so h rt ka harus dicek sebelum memberi- kan catu daya. VRE drop Daniel L. Metzger, 1981, 4652.6.2. Transistor● Transistor yang menunjukkan te- gangan maju basis-emitter lebih dari 1,1V (basis positif untuk NPN, basis negatif untuk PNP) mempu- Gambar 2.56(b): Jika beban ko- nyai junction base-emitter yang lektor mempunyai resistansi terbuka dan harus diganti. yang mendekati nol, arus turun● Transistor yang telah melewati ta- pada resistor emiter. Hubung hap pengetesan dapat diputuskan singkat antara B-E menyebab- bahwa transistor tersebut dalam kan VRE turun, kecuali jika tran- keadaaan baik. Cara pengetesan- sistor dibiaskan secara normal nya sbb: pada cut off. 77
  • 84. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan Vcc VRC Gambar 2.56(c): Jika dua drops transistor diparalel, ke- dua-duanya harus dioff- kan untuk mengamati tu- Short Short runnya VRC.Daniel L. Metzger, 1981, 465 Small Signal Gambar 2.56(d): Jika tran- Vcc RB = 1mA Vcc sistor dihentikan pemberian High power bias-nya dan VC = VCC, resis- Vcc RB = 100mA RC tor ditambahkan dari VCC ke RB basis untuk mengonkan transistor . Hitung R untuk memastikan bahwa IB< 1 mA VCE untuk sinyal yang kecil dan drops IB< 100 mA untuk transistor daya. Penambahan RB Daniel L. Metzger, 1981, 465 menyebabkan VC turun. Vcc Gambar 2.56(e): Jika basis diatur secara langsung oleh transistor, maka diperlukan meng-off-kan Q1 1. Rise sebelum Q2 dapat diuji oleh meto- 2.Drop da ( a) atau ( d). Short Short 1 2 VccDaniel L. Metzger, 1981, 465Gambar 2.56(f): Pada rangkaian 100Ω 0.1µFtransistor aktif, sinyal kolektorterbalik dari sinyal basis walau 1 Vp-ppun distorsi. Jika penurunan te-gangan kolektor ketika teganganbasis naik, dan sebaliknya, padadasarnya transistor berfungsi. Daniel L. Metzger, 1981, 465Sedangkan pengetesan transistor tanpa bias dapat dilihat pada BAB 4 78
  • 85. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan2.6.3. FET ● Tes beda phase dapat digu- nakan Gambar 2.56 (f) .● Kerusakan FET seringkali ditan- ● Junction FET dapat dites di- dai dengan adanya tegangan luar rangkaian dengan ohm gate yang tidak normal. meter antara gate dan source Pentrigeran gate ditentukan dari (R kecil pada satu polaritas jaringan resistif yang sederhana dan R besar jika sebaliknya). dan tegangan yang diharapkan Dengan menghubung singkat dapat dihitung, karena untuk FET kan gate-source, resistansi yang baik memiliki IG = 0 (arus beberapa ratus ohm antara pada gate = 0), seperti yang di- drain-source, polaritas mana- tunjukkan pada Gambar 2.57. pun. Jangan lupa efek beban pada ● FET insulated-gate dapat di- meter. Deviasi yang besar dari periksa untuk substratesource VG yang diinginkan menunjukkan dan untuk resistansi gate- arus gate mengalir. Jika FET source. Resistansi drain- tersebut merupakan FET insu- source (gate dihubungkan ke lated-gate, itu artinya FET terse- source) harus berkisar dari but rusak. Hal itu terjadi jika sam- beberapa ratus ohm untuk bungan pada FET rusak, atau jenis depletion dan tak hingga diberi trigger maju pada gate- untuk jenis enhancement. source. Periksa tegangan VGS 0.6V. 2.6.4. S C R ● SCR yang ON harus menun- jukkan tegangan 0,1V hingga 1,5V antara anoda dan kato- danya atau ketika konduksi anoda-katoda positif. SCR rusak hubung singkat bila te- gangannya mendekati nol. +20 V ● VGK seharusnya tidak pernah di atas +1,2V saat ada tega- +18 V ngan kerja. Jika terjadi, ber- 10ΜΩ arti gate rusak terbuka. ● Terjadinya hubung singkat10ΜΩ antara gate-katoda menye- IG babkan SCR tetap ditrigger, melewatkan tegangan positif 15 V dc dari anoda-katoda seperti pa- Rin = 10ΜΩ da gambar 2.58. Jika tega- ngan positif tidak muncul saat VG = 18V 5ΜΩ = 6V diberi sinyal sinus antara ano- 15ΜΩ VG 0f 15V-shorted gate da dan katodanya, berarti be- Daniel L. Metzger, 1981, 468 ban terbuka atau SCR yang hubung singkat.Gambar 2.57: Pengetesan FET 79
  • 86. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan Kan sebentar colok pada a- noda (tanpa terlepas dari anodanya) ke gate, maka penunjukan Ohmmeter akan CRO me kecil (beberapa puluh Ohm). nunjukkan 2.6.5. U J T ½ gel. + Biasanya rusak karena te- ● gangan emiter tidak dapat mencapai tingkat penembak- Short an atau karena rangkaian pengisian memberi terlalu banyak arus sehingga UJTDaniel L. Metzger, 1981, 468 menahannya.Gambar 2.58: Pengetesan SCR ● Sebaiknya kaki emiter tidak disolder dan ukur VC seperti● Dengan Ohmmeter seharusnya yang ditunjukkan pada gam- SCR menunjukkan hubungan se- bar 2.60. Jika tegangan ter- perti sebuah dioda antara gate- sebut tidak lebih dari 0,85VB2 katoda (satu polaritas hambatan- periksa rangkaian pengisian nya kecil dan sebaliknya), dan dan C. Selanjutnya, hubung- hambatan amat besar (terbuka) kan milliameter dari C ke B1. untuk kedua polaritas anoda-ka- Jika arus melebihi spesifikasi toda. Lihat gambar 2.59. arus lembah UJT, maka rangkaian pengisian membe- ri banyak arus, sehingga UJT on. Vcc Selalu besar untuk semua polaritas Ohmmeter Hubungan dioda v IGambar 2.59: Pengetesan SCR denganOhmmeter Dengan Ohmmeter dapat juga di- lakukan sebagai berikut: polaritas + Ohmmeter ke anoda SCR dan Daniel L. Metzger, 1981, 468 satunya lagi ke katoda menunjuk- kan harga besar sekali, kemudian Gambar 2.60: Rangkaian osilator dalam kondisi demikian hubung- sebagai pengetes UJT. 80
  • 87. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan2.7. Pengecekan dan 470Ω 47ΚΩ Pengujian Rangkaian 100ΚΩ 0.01µF 0.01µF2.7.1. Pengujian Kesinambungan● Sejumlah masalah dapat diketahui G dengan pemeriksaan jalur PCB me- Daniel L. Metzger, 1981, 469 miliki resistansi mendekati nol. Gambar 2.61: Alat Tester Ohmmeter dengan skala Rx1 dapat Kesinambungan Dengan Audio digunakan untuk ini.● Dengan alat penguji yang dapat di- A 1ΚΩ B 1.8ΚΩ C dengar seperti gambar 2.61 mata +5 V +4 V +2.2 V dapat terus mengawasi rangkaian. + Gunakan penunjuk jarum untuk me- 5V 200Ω - nembus lapisan oksida yang mem- 0V +1 V +2 V bentuk isolator, dan pastikan bahwa instrumen yang diuji sedang mati. F 1ΚΩ E 1ΚΩ DBerikut adalah beberapa kemungkinantempat-tempat untuk kerusakkan ke- a. Rangkaian seri normal dansinambungan : tegangan ke ground Dua ujung kabel (konduktor atau ko- A 1ΚΩ B 1.8ΚΩ C nektor yang patah). Kaki IC dan jalur rangkaian pada +5 V +2.5 V +2.5 V PCB menjadikan koneksi yang tidak + 5V 200Ω baik, terutama jika IC menggunakan - soket. 0V +2.5 V +2.5 V Dua ujung jalur yang panjang dan ti- pis pada PCB. F 1ΚΩ E 1ΚΩ D Kontak saklar atau relay yang di am atau bergerak (kontak saklar yang b. Rangkaian di hubung singkat bengkok, patah atau berkarat). menunjukkan tidak ada tegangan yang melewati elemen yang2.7.2. Hubung Singkat dan dihubung singkat Terbuka A B CGambar 2.61(a) sampai (c) menunjuk- +5 V +5 V +5 Vkan distribusi tegangan pada rangkai- +an seri di bawah keadaan normal, 5Vkondisi hubung singkat, dan terbuka. -● Untuk mengetrace rangkaian seri 0V 0V +5 V yang hubung singkat atau terbuka, F E D dengan osiloskop atau voltmeter dari Break ground ke A, gerakkan ke B, C, D, E, dan F. Tegangan yang menge- c. Rangkaian terbuka mendrop semua drop hingga menuju tegangan nol tegangan yang melewati rangkaian diamati pada titik F. yang diputus 81
  • 88. Prinsip Pelacakan Kerusakan / KegagalanJika tidak ada drop tegangan melalui beberapa elemen hingga teganganyang masuk didrop, mungkin ada suatu retakan di rangkaian, antara Ddan E pada gambar 2.61(c).● Gambar 2.61.d: menunjukkan tegangan yang menghasilkan daya pa- da resistansi. Resistor yang ditemukan untuk mendissipasikan daya yang lebih, maka menjadi hubung singkat. Dissipasi resistor daya yang kurang dari ¼ nilai dayanya kemungkinan besar adalah rangkai- an yang terbuka. 500 200 100 50 10WVolt 20 10 1W W 5 1/4 2 1 1 2 5 10 20 50 100 200 500 1k 2k 5k 10k Resistansid. Grafik Untuk Menentukan Daya Resistor Secara Cepat.Jika satu atau lebih elemen memiliki te gangan yang kecil / nol , maka di-curigai hubung singkat, tapi tak berlaku untuk : Elemen sekering, thermistor dan koil menunjukkan tegangan drop yang sangat kecil, karena mempunyai resistansi sangat rendah. Resistor yang bernilai kecil akan me ngedrop tegangan yang kecil, tapi nilai pada range 100Ω biasanya diguna kan secara seri pada input dan output amplifier frekuensi tinggi untuk men cegah osilasi. Hal ini me- nunjukkan ti dak ada tegangan drop pada frekuensi sinyal dan dc. Resistor decoupling catu daya (gambar 2.62) pada range 100Ω hingga 1KΩ juga menunjukkan tidak adanya drop pada dc.Gambar 2.62: Rs Sebagai Resistor Decoupling Pada Catu Daya 82
  • 89. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan Resistor tertentu tidak ada tegangan di bawah kondisi sinyal tertentu tetapi menunjukkan tegangan di bawah kondisi yang lain. Misalnya: re- sistor emiter pada penguat daya komplementary-simetris (gambar 2.63) atau penguat pushpull kelas B tidak ada drop, tapi akan menge-drop pada tegangan satu volt atau lebih pada sinyal penuh.Gambar 2.63: Re Pada Penguat Komplementary-Simetris Schmitt trigger, one shot, dan flip-flop (gambar 2.64) akan menunjuk- kan tidak ada drop yang melewati resistor kolektor ketika drop hampir sebesar VCC melewati yang lainnya.Gambar 2.64: Rc Pada Flip-Flop 83
  • 90. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan Rangkuman• Bagian pemeliharaan sangat diperlukan untuk: o Menjaga agar peralatan tetap dalam kondisi kerja yang baik o Menjaga kelangsungan suatu perusahaan o Ikut berperan mencapai keuntungan yang diharapkan oleh perusahaan.• Pemeliharaan harus direncanakan dengan baik, tapi juga harus ditunjang dengan ketrampilan sumber daya manusia dan kelengkapan peralatan.• Pengetahuan spesifikasi sangat penting untuk membuat dalam hal membuat suatu alat atau menjaga alat tersebut, sehingga dihasilkan suatu alat yang cukup handal dan kita bisa memeliharanya dengan baik serta benar.• Kalibrasi ulang suatu peralatan perlu dilakukan terhadap peralatan ukur, untuk mencegah kerusakan atau kesalahan ukur alat tersebut tadi, kalibrasi ulang dimaksudkan untuk menigkatkan keandalan juga.• Keandalan adalah kemampuan suatu item untuk melaksanakan suatu fungsi yang disyaratkan (tanpa kegagalan) di bawah kondisi yang ditentukan dalam periode waktu tertentu.• Kegagalan adalah akhir kemampuan suatu item untuk melaksanakan fungsi yang disyaratkan. Jumlah kegagalan• Laju Kegagalan (FR) = (per jam) Jumlah jam komponen• MTTF (Mean Time To Failure) ini menunjukan lamanya pemakaian kom- ponen sampai dicapai kegagalan, MTTF ini untuk item yang tidak dapat direparasi.• MTTF = 1 / FR (jam)• MTBF (Mean Time Between Failure) menunjukan lamanya pemakaian suatu sistem dan biasanya untuk item yang dapat direparasi.• MTBF = 1 / FR total (jam)• Apabila berlaku kecepatan kegagalan yang konstan yaitu kegagalan- kegagalannya random, maka berlaku rumus: R = e-t/m atau R = e-λt Dimana R = keandalan / reliabilitas, m = MTBF dan λ = FR total Ketidak reliabilitasannya Q = 1 - R = 1 - e-t/m.• Hukum Hasilkali Reliabilitas. Untuk unit-unit yang berada pada posisi seri, kegagalan dari satu bagian berarti kegagalan seluruh sistem. Rs = RX . Ry .......Rn• Redudancy : dipergunakan untuk memperbaiki reliabilitas sistem dengan menempatkan secara paralel. Rp = 1-Qp Dengan Qp adalah ketidak reliabilitasan sistem paralel 84
  • 91. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan Qp = QA . QB ......... Qn Untuk hal yang khusus, dua buah unit paralel: Rp = RX + Ry - Rx . Ry• Faktor-faktor yang rnempenqaruhi Reliabilitas: Rancangan dan pengembangan: pemilihan komponen, derating, tata letak mekanik, tes prototipe. Produksi: ketrampilan, kerjasama dan pelatihan tenaga kerja, perlengkapan pruduksi, lingkungan kerja yang nyaman (ventilasi dan penerangan), peralatan tes otomatis . Penyimpanan dan pengiriman: pengepakan, penyimpanan dan cara pengiriman. Operasi: kondisi lingkungan yang cocok, cara pengoperasian yang benar.• Lingkungan yang mempengaruhi keandalan : temperatur, tekanan, kelembaban, oksidasi, getaran / kejutan, radiasi sinar, jamur dan insek.• Avaliability (keberadaan) = MTBF / (MTBF + MTTR)• Banyak metoda untuk melacak kerusakan dari yang paling sederhana sampai suatu sistem yang komplek, dan ini harus dipilih secara tepat sehingga kecepatan dan tingkat keberhasilannya tinggi.• Pengujian komponen aktif secara sederhana harus dapat kita lakukan, demikian juga untuk pengujian dan pengecekan terbuka atau hubung singkatnya suatu rangkaian. Soal latihan Bab 21. Apakah perbedaan perbedaan pemeliharaan dengan perbaikan? Beri contohnya!2. Sebutkan pentingnya pemeliharaan di suatu industri!3. Sebutkan pentingnya pemeliharaan disuatu tempat pelayanan umum!4. Sebutkan keuntungan pemeliharaan yang direncanakan, beri contoh nyata!5. Sebutkan langkah-langkah pemeliharaan yang terpogram!6. Apakah spesifikasi itu?7. Sebutkan pentingnya kita mengetahui spesifikasi suatu peralatan ukur bila kita sebagai: a. perusahaan. b. pembeli.8. Sebutkan pentingnya kita menetahui kalibrasi untuk suatu peralatan ukur dan beri contohnya!9. Apa yang dimaksud dengan kalibrasi ulang itu!10. Sebuah pesawat televise yang sedang beroperasi/bekeria, tiba-tiba suaranya hilang, tetapi gambar masih tampak normal. Setelah diperiksa ternyata IC pada bagian penguat audionya rusak. Termasuk jenis kegagalan apakah kejadian tersubut diatas dilihat dari: 85
  • 92. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan a. Tingkat Kegagalan. b. Sebab kegagalan. c. Waktu kegagalan11. Apa yang saudara ketahui tentang a. Keandalan b. Kegagalan catastrophic c. MTBF d. Random Failure Period12. Keandalan tiga buah unit peralatan masing-masing sbb: Ra = 0,75 ; Rb = 0,9 ; Rc = 0,85. Carilah keandalan total, bila masing-masing dihubungkan seperti gambar di bawah ini:13. Hitung MTBF suatu unit elektronika yang terdiri dari komponen- komponen sebagai berikut :14. Sebuah instrumen elektronik mempunyai laju kegagalan total (FR total) = 2.5 x 10-6 per jam. Hitung MTBF dan keandalannya bila dioperasikan 10.000 jam.15. Sebutkan macam-macam metoda mencari kerusakan yang anda ketahui!16. Jelaskan dengan singkat apa perbedaan metode aktif dan pasif signal tracing. Berikan masing-masing satu contoh!17. Sebutkan langkah-langkah praktis mencari kerusakan tanpa menggunakan alat ukur!18. Bila anda mempunyai alat pembagi frekuensi yang terdiri dari blok- blok frekuensi yang berurutan, metode apa saja yang paling sesuai 86
  • 93. Prinsip Pelacakan Kerusakan / Kegagalan untuk mencari kerusakannya bila alat ini mengalami gangguan atau kerusakan ?19. Suatu rangkaian sistem pengaturan kecepatan motor otomatis mempunyai blok diagram sebagai berikut : Tegangan referensi + Penguat dan Kontrol - motor UMPAN BALIK Tacho generator Bila terjadi kerusakan pada alat, misalnya alat tiba-tiba tidak bekerja, langkah apa yang paling tepat untuk mendeteksi kerusakan, sebelum langkah-langkah perbaikan ditempuh?20. Apa maksud pemeriksaan kondisi statis? Kapan hal ini harus dilaku- kan?21. Jelaskan kapan anda menggunakan metoda dibawah ini untuk men- cari kerusakan, dan apa syaratnya, sebutkan bila ada. a. Metoda membandingkan b. Metoda resistansi dan tegangan c. Metoda analisis kesalahan d. Metoda analisis logika e. Metoda diagnosa rutin Tugas KelompokCobalah buat beberapa kelompok dalam satu kelas (misal 5 anak perke-lompok) dan kerjakanlah bahan-bahan di bawah ini.1. Jika anda mendapati sebuah kapasitor elektrolit, tuliskan apa saja spesifikasi yang anda ketahui tentang kapasitor tersebut.2. Amatilah peralatan-peralatan elektronik disekitar anda, catatlah beberapa peralatan tersebut (minimum 5 buah). Menurut anda manakah yang lebih andal? Mengapa? Manakah pula peralatan yang memerlukan biaya perawatan lebih besar untuk memperoleh kualitas yang sama ?3. Carilah peralatan elektronik disekitar anda terutama yang tidak berfungsi dengan baik. Buatlah daftar untuk mengidentifikasi kerusakannya. Kemudian tulislah langkah apa saja yang akan anda lakukan untuk mencari kerusakan, alat apa saja yang anda perlukan. Konsultasikan dengan instruktur atau pembimbing praktikum. 87
  • 94. Mengenali Kerusakan Komponen Elektronika 3. MENGENALI KERUSAKAN KOMPONEN ELEKTRONIKA3.1. PendahuluanJika anda memahami dengan baik tentang komponen dan keterbatasan-keterbatasannya ini adalah bagian yang penting dalam mencarikerusakan rangkaian elektronika. Misalnya: mengetahui bahwa padaumumnya sangat tidak mungkin sebuah resistor dari jenis manapunmempunyai kerusakan sambung singkat, sehingga bila ada kecurigaankerusakan sambung-singkat tak perlu lagi mencek resistor-resistor padarangkaian tersebut. Segi lain yang perlu diperhatikan, bahwa banyakkerusakan komponen disebabkan oleh kesalahan pemakaian (orangnya),diperkirakan 40% kerusakan karena salah pemakaian biasanya disebabkan saat mengoperasikan komponen diluar batas kemampuan komponen tersebut atau penanganan yang buruk pada komponen.3.2. Resistor Tetap Ada juga nilai dan toleransi re- sistor dicetak pada badan resis-Berbagai tipe resistor tetap tor kadang-kadang dinyatakanmeliputi : SENYAWA langsung, misalnya 1,82k 1% KARBON (1820 ohm ± 1%) atau dalam FILM bentuk kode seperti 1821 F. KARBON OKSIDA RESISTOR LOGAM METAL GLASE GULUNGAN KAWATGambarnya dapat dilihat pada Gambar 3.1: Jenis-Jenis ResistorGambar 3.1.Jenis film-logam, Tetapoksida logam, atau cermet (me- Nilai diatas 100 ohm, ditunjuk-tal glase) banyak dipilih dalam kan tiga buah digit diikuti olehpemakaian, karena tipe-tipe itu digit ke empat yang menyata-mempunyai stabilitas yang baik, kan banyaknya nol yang meng-dalam penyimpanan maupun ikutinya. Untuk nilai-nilai diba-dalam kondisi beroperasi. wah 100 ohm huruf R menyata-Perhatikan bahwa resistor-resis- kan titik desimal dengan semuator yang toleransi 5, 10, atau digit signifikan. Sesudah kodetoleransi 20% diberi kode warna nilai, ditambahkan sebuah hurufdengan dua ban signifikan, dii- untuk menyatakan toleransi :kuti oleh sejumlah bannol (atau F = ±1%, G = ±2%, J = ±5%,pelipat desimal) dan ban tole- K = ±10%, M = ±20%ransi (lihat tabel 3.1). 88
  • 95. Mengenali Kerusakan Komponen ElektronikaContohnya: 6804 M = 6.8 M ohm ± 20%R 33 M = 0.33 ohm ± 20%4701 F = 4700 ohm ± 1% 2202 K = 22000 ohm ± 10%Tabel 3.1: Signifikasi Angka-Angka Warna Umum Resistor Toleransi Resistor Singkatan Pengali Warna MIL EIA resistor resistor EIA MIL- EIA 3 Resistor (±)% (±)% STD alternatif huruf HITAM 1 20 BLK Blk BK COKLAT 10 1 1 BRN Brn BR MERAH 102 2 2 RED Red R,RD ORANGE 103 ORN Orn O,OR KUNING 104 YEL Yel Y HIJAU 105 0,5 GRN Grn GN,G BIRU 106 0,25 BLU Blu BL UNGU 107 0,1 VIO Vio V ABU- 0,05 GY Gra GY ABU PUTIH WHT Wht WH,W EMAS 10-1 5 5 (a) Gld PERAK 10-2 10 10 SIL SilPemasangan resistor dan perhi-tungannya adalah: 3.3 Kegagalan-• Dipasang seri: Kegagalan pada R1 R2 Resistor Tetap Rs = R1 + R2 Setiap resistor ketika beroperasi a-• Dipasang paralel: kan mendisipasikan dayanya. Kena- ikan temperatur yang disebabkan o- R1 leh daya yang didisipasikan akan maksimum ditengah-tengah badan R2 resistor, ini disebut “Hot spot 1/Rp = 1/R1 + 1/R2 temperature”.• Pada Hukum Ohm dan Harus ditekankan disini, bahwa re- pembagi tegangan: sistor pada umumnya menunjukkan kecepatan kegagalan yang rendah I R1 R2 atau resistor itu sangat dapat dian- dalkan (reliable). V Kegagalan dan penyebab-penye- I = V / (R1 + R2) babnya terdapat dalam tabel 3.2. VR1 = R1.V / (R1 + R2) 89
  • 96. Mengenali Kerusakan Komponen ElektronikaTabel 3.2: Kegagalan-Kegagalan Pada Resistor-Resistor Tetap Tipe Resistor Kegagalan Kemungkinan Penyebab Komposisi karbon Berubah membesar ● Perubahan karbon atau zat pengikat di bawah pengaruh panas, tegangan atau kelem- baban. ● Penyerapan udara lembab menyebabkan pembengkak- an, dan menjadikan pertikel- partikel karbon untuk memi- sahkan diri . Sirkit terputus ● Panas berlebih membakar tengah-tengah resistor. ● Tekanan-tekanan mekanik menyebabkan retak-retak pa- da resistor. ● Kap-kap ujungnya terlepas karena montase yang buruk pada papan. ● Kawat putus karena pem- bengkokan yang berulang- ulang.` Resistor-resistor Sirkit terputus ● Film terkelupas karena tem- film.(karbon, oksida peratur tinggi atau tegangan logam,film logam, tinggi. metal glase) ● Lapisan film tergores atau ter- kikis ketika di fabrikasi. ● Pada nilai-nilai resistansi yang tinggi (lebih besar 1 mega ohm) spiral resistan si- nyal harus tipis dan kare- nanya kegagalan sirkit terbu- ka lebih besar kemung- kinannya. ● Kontak-kontak ujungnya bu- ruk. Biasanya disebabkan o- leh tekanan mekanik karena montase yang jelek pada sirkit. Wire wound (resis- Sirkit terputus ● Keretakan kawat, terutama tor kawat) bila digunakan kawat kecil , karena ketidakmurnian me- nyebabkan keretakan. ● Perkaratan kawat yang dise babkan oleh elektrolitis yang ditimbulkan oleh udara lem- bab yang terserap. ● Kegagalan sambungan-sam- bungan yang dilas. 90
  • 97. Mengenali Kerusakan Komponen Elektronika3.4. Resistor Variable (Potensiometer)Potensiometer dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok u-tama bergantung pada bahan resistif yang dipergunakan, yai-tu:a. Karbon senyawaan, karbon yang dituang berbentuk jalur padat atau lapisan karbon ditambah zat pengisi. dituang pada suatu substrat atau dasar.b. Gulunqan kawat Nikhrom atau kawat resistansi lainnya yang digulung pada sebuah bentuk isolasi biasanya ber- bentuk pipa kecil.c. Cermet suatu lapisan film tebal pada sebuah substrat atau dasar keramik.Potensiometer yang dijual umum ada dua tipe, yaitu: tipe Ayang perubahan resistansinya bersifat logaritmis bila diputardan tipe B yang perubahan resistansinya bersifat linier biladiputar.GC Loveday,1980, 40Gambar 3.2: Konstruksi Dasar Potensiometer 91
  • 98. Mengenali Kerusakan Komponen Elektronika Pada umumnya persyaratan potensiometer berada dalam tiga kategori: ● Preset atau trimmer (gambar 3.3.a) ● Kontrol kegunaan umum (gambar 3.3.b) ● Kontrol presisi Contoh-contoh dengan persyaratannya diberikan pada Tabel 3.3. (b) (a) Gambar 3.3: Bentuk Potensiometer Tabel 3.3: Aplikasi Resistor Variabel Putaran T i pe T o le ya n g(b) Co nt oh Kelini Stabi G u lu ng r an d i ha ra p Aplikasi e ra n litas an si k an p eng a tur an Pres et l eb ar p uls a T un gga l ± T ak T i ngg i Kur ang a t au y a n g te t a p a t au 2 0 % p en t ing ±2% d ar i 50 T r i mm er d ar i mo no b an yak s ta b i l K o n tr o l ke gun aan Kontrol u mu m ± M ed iu m kecemerlangan ±10% 1 0 .00 0 T un gga l ( pasa ng 20% ±10% pada osiloskop p ada p ane l) T eg ang an K o n tr o l O u tpu t yang ke pres is ian T un gga l terk alibras i T i ngg i ( pasa ng ± 3 % ±0 . 5 % 5 0 .00 0 a t au d ar i s eb uah ± 0.5% p ada b an yak catu daya p ane l) laboratorium 92
  • 99. Mengenali Kerusakan Komponen Elektronika3.5. Kegagalan- 3.6. Kapasitor Kegagalan pada Sebuah kapasitor terdiri dari dua pelat konduktor yang terpisah oleh suatu Resistor Variable isolator dielektrika. Rumus terkenal un- tuk kapasitansi C adalah :Kecepatan kegagalannya lebih Atinggi dari pada jenis resistor C = ξ 0ξ r dtetap, untuk potensiometer mem- Dengan :punyai kecepatan kegagalan ε0 adalah permitivitas mutlakkira-kira 3 x 10-6 perjam sudah εr adalah konstanta dielektrikaumum, tetapi angka-angka itu A adalah luas plat (m2)berubah bergantung pada meto- d adalah jarak antara plat-plat, yaitude yang digunakan oleh pabrik- tebal dielektrika (m)nya. Kerusakan yang terjadi pa- Luas plat, kontanta dielektrika harusda sebuah potensiometer bisa tinggi, dan tebal dielektrika yang kecilsebagian atau total. untuk mendapatkan C yang cukup be- sar. Ukuran efisiensi sebuah kapasitorKerusakan sebagian : ditentukan oleh muatan listrik (Q=C.V)● Kenaikan resistansi kontak total yang dapat disimpan. menimbulkan kenaikan noise Jenis-jenis kapasitor dapat dilihat kelistrikan. pada gambar 3.4. Pada baris teratas● Kontak yang terputus-putus, adalah kapasitor elektrolit termasuk ini dapat disebabkan oleh jenis polar (mempunyai kutub + dan -), partikel-partikel debu, minyak sedang baris kedua adalah kapasitor gemuk (pelumas) atau ba- plastik film dan baris ketiga adalah ka- han-bahan ampelas yang ter- pasitor keramik. Kedua-duanya terma- kumpul antara kontak geser suk jenis kapasitor non polar (pema- dan jalur. sangannya bebas karena tak ada ku-Gangguan tadi dapat dihilangkan tub-kutubnya). Besar harga sebuah ka-dengan bahan pembersih seperti pasitor terbaca pada badan kapasitor.contact cleaner.Kerusakan total :● Merupakan sirkit terbuka dian tara jalur dan sambu- ngan ujung-ujungnya atau antara kontak geser dan ja- lur.Hal ini dapat disebabkan olehperkaratan bagian-bagian logamkarena kelembaban, atau pem-bengkakan logam-logam / plastik Gambar 3.4: Macam-Macam Kapasitor Tetap dan Variableyang terjadi saat penuangan ja-lur yang menggunakan tempera- Ingat rumus perhitungan C seri dan Ctur tinggi. paralel terbalik dengan rumus pada resistor (lihat Hal. 3-2). 93
  • 100. Mengenali Kerusakan Komponen Elektronika3.7. Kegagalan pada angsur. 2.Kenaikan resistansi seri, yaitu Kapasitor suatu kenaikan faktor disipasi .Kapasitor merupakan komponen Beberapa penyebab kerusakanyang dapat diandalkan, menunjuk adalah:kan kegagalan yang rendah teruta a). Kerusakan ketika fabrikasi :ma bila diderating (lihat Bab 2.3.7). kontaminasi chloride pada elek-Umur kapasitor dapat diperpan- trolit, akan menimbulkan perkajang dengan cara: ratan pada sambungan internal,a) Dioperasikan dibawah batas kerusakan mekanis pada ujung tegangan yang diperbolehkan. dari kapasitor berlapis logam,b) Dioperasikan pada temperatur menimbulkan panas berlebih dan ambient yang rendah, dengan sirkit terbuka. menurunkan temperatur 10ºC b). Salah pakai: dapat melipatkan umurnya dua Kapasitor digunakan melebihi te- kali lebih panjang. gangan yang tertulis, atau teknikKerusakan yang mungkin terjadi : assembling yang jelek menimbulKatastrofik (mendadak & total): kan tekanan mekanis terhadap1. Hubung singkat : tembus dielek- penyambung-penyambung ujung trikanya dan selubung (Seal).2. Sirkit terbuka : kerusakan pada c) Lingkungan : penyambung ujungnya. Kejutan-kejutan mekanik, getar-Degradasi (berangsur-angsur an mekanik, temperatur tinggi /dan sebagian) : rendah, dan kelembaban.1. Penurunan resistansi dari isolasi Daftar kerusakan dan kemungkinan atau kenaikan arus bocor pada penyebab untuk beberapa jenis ka- jenis elektrolit secara berangsur- pasitor terlihat pada tabel 3.3.Tabel 3.3: Kerusakan Kapasitor dan Penyebabnya JENIS C KERUSAKAN KEMUNGKIN PENYEBABNYA Kertas ● Kering bahan renda ● Kebocoran seal. Kejutan mekanik, man, menimbulkan termal atau perubahan-perubahan sambung singkat tekanan. ● Sirkuit terbuka. ● Kejutan mekanik / thermal. Keramik ● Sambung singkat ● Pecahnya dielektrika karena kejutan atau getaran ● Sirkuit terbuka ● Pecahnya sambungan ● Perubahan-perubah ● Elektroda perak tidak melekat benar an kapasitansi pada perak Film plastik ● Sirkuit terbuka ● Kerusakan pada semprotan diujung, ketika fabrikasi atau asembeling. Alumunium ● Sambung singkat, ● Hilangnya dielektrika. Temperatur Elektrolit karena bocor. tinggi. ● Kapasitansi mengecil. ● Hilangnya elektrolit karena tekanan, kejutan mekanik atau temperatur. ● Sirkuit terbuka ● Pecahnya sambungan internal. Mika ● Sambung singkat ● Perpindahan perak disebabkan oleh kelembaban yang tinggi. ● Sirkuit terbuka. ● Perak tidak menempel ke mika. 94
  • 101. Mengenali Kerusakan Komponen Elektronika3.8. Piranti-Piranti 3.9. Kerusakan pada Semikonduktor SemikonduktorKlasifikasi semikonduktor: Kedua semikonduktor ini mu- dah rusak kalau mendapat be- SEMIKONDUKTOR ban lebih. Kemungkinan kerusakan yang terjadi adalah: BIPOLAR UNIPOLAR - Hubung singkat: pada junction BE, BC atau CE.● Transistor ● FET - Terbuka: pada junction BE● Dioda ● Mosfet atau BC.● UJT ● VMOS Beberapa penyebab kerusak-● IC Logika ● CMOS an semikonduktor adalah :● IC Linear ● IC Linear KERUSAKAN MEKANIS SAAT FABRIKASI : Proses-proses difusi Proses Metalisasi Proses Mekanist; SALAH PEMAKAIAN Melewati tegangan catu, arus dan daya maksimumnya Memasukan / mencabut IC saat tegangan hidup BAHAYA LINGKUNGAN Interferensi kelistrikan Kejutan tegangan oleh mesin atau relay Medan magnetik 95
  • 102. Mengenali Kerusakan Komponen Elektronika3.10.Pencegahan-Pencegahan Ketika Menangani dan Mentest Komponen- Komponen Membengkokkan kawat penghubung: ● Jangan berkali-kali ● Jangan terlalu dekat dengan badan kom- ponen (3-5 mm) Salah Benar Kejutan Mekanis● Jatuhnya komponen semikonduktor● Memotong kawat penyambung● Mengerik permukaan komponen Kejutan termal● Solder 20-50 Watt● Suhu solder maksimum 300°- 400°C● Lama menyolder 5 detik● Gunakan “Solder Wick” atau “Atraktor” untuk melepas konponen dengan menggunakan solder. Kejutan elektrostatik (juga pada MOS) ● Gunakan tes probe yang kecil ● Pemasangan komponen MOS paling akhir ● Pucuk solder harus tak bertega- ngan. ● Jangan memasukkan / melepas komponen semikonduktor saat catu daya hidup ● Hindari tegangan kejut dari relay Gambar 3.5: Gelang Anti Statik atau saat saklar on. ● Sinyal tak terpasang ke input saat catu daya padam. ● Gunakan gelang / pakaian anti static (di pabrik) saat memasang IC MOS (gambar 3.5). 96
  • 103. Mengenali Kerusakan Komponen Elektronika3.11. Rangkaian Test untuk Komponen- KomponenVerifikasi(pembuktian kembali):● mengukur resistor dengan menggunakan Ohmmeter.● Mencek apakah transistor yang satu-rasi menjadi tidak konduk kalau junction basis- emiter disambung singkat. Test Go atau No-go : menentukan beberapa para- meter atau karakteristik se- buah komponen berada da- lam batas-batas spesifikasi. Pengukuran yang relatif akurat pada parameter kompo- nen: Biasanya dilakukan di Laboratorium-laboratorium untuk pengujian ketahanan sebuah komponen yang akan dipergunakan pada sebuah produk yang baru akan diluncurkan. Agar benar-benar dihasilkan rangkaian / peralatan yang sesuai dengan yang diharapkan. Hampir semua parameter / karakteristik komponen tersebut diuji disini. Catatan : Biasanya pada perkakas test dan servis, tujuannya adalah untuk mencari kesalahan secara cepat, dan karena itu metoda pertama dan kedua digunakan Iebih sering dari pada yang ketiga. 97
  • 104. Mengenali Kerusakan Komponen Elektronika3.12 Pentesa n Dalam hal ini C x = ½ πfV o de- ngan ketelitian ±10% untuk Komponen nilai-nilai kapasitif 1000pF sampai 1 uF. SederhanaTest untuk menentukan suatu sir-kit sambung singkat ataupun sir-kit terbuka,dipergunakan fungsiohm pada sebuah multimeter, te-tapi untuk memeriksa sirkit terbu-ka perlu melepaskan solderan sa-tu ujung kawat penyambung kom-ponen dan diangkat dari lubang Gambar 3.6: Rangkaian sederhanakemudian baru diukur, jika tidak untuk mengukur kapasitansi .demikian, komponen-komponenyang tersambung paralel dengan Cara yang lebih baik ialah dengan mempergunakan se-komponen yang dicurigai akan buah jembatan ac seperti pa-memberikan hasil pengukuran re- da gambar 3.7 untuk mem-sistansi yang salah. Suatu alter- bandingkan kapasitor yangnatif lain yang dipakai untuk men- tak diketahui nilainya dengancek suatu resistor sirkit terbuka sebuah kapasitor standar.(putus) ialah dengan menjemba-tani resistor yang dicurigai de-ngan resistor yang diketahui nilai-nya kemudian cek kembali resis-tansi sirkitnya.Kapasitor bocor ju-ga dapat ditest menggunakanohm meter, sekali iagi denganmelepaskan sambungan satu u-jung kapasitor itu dari sirkitnya.Sebuah kapasitor elektrolit harusmenunjukan resistansi rendahmula-mula, ketika kapasitor itumengisi muatan listriknya, tetapiresistansinya harus dengan cepatkembali mencapai nilai tak ter-hingga.Kapasitor yang putus atau Gambar 3.7: Jembatansirkit terbuka,dapat ditentukan kapasitansi (indikator noldengan memasang kapasitor lain dapat osiloskop atau meter acsecara paralel dan melakukan pe- yang peka)ngecekan sirkit dalam keadaanberoperasi, atau terlepas kapasi-tor itu dan melakukan pengetes-an pada sebuah susunan pentest Pada ke adaan se timban gyang sederhana seperti pada berlak u: C 1 = (R 2 /R 1 )C 2gambar 3.6 dengan mempergu-nakan sebuah audiogenerator 1kHz dan dua buah meter. 98
  • 105. Mengenali Kerusakan Komponen Elektronika Me ntest dioda, t ra nsistor d a n semik o ndukto r la - inn ya d ap at pul a di lakukan d engan me nggun aka n fungsi oh m da ri multi met er. Yang pe nting ad al a h me nget ah ui kedu d ukan p ol aritas ba terai dal am me ter, dal am s ebu a h mete r t erte ntu t e rmi nal per- sekutua nn ya (ditan dai deng a n hita m) me mpun yai tegan gan positif pa da fu ngsi oh m.Jika kalia n tidak menget ahui sa mbun g an ba terai dala mme ter yan g kalia n p akai, p ola ritasn ya d apat k alia n ten tuka ndenga n men ya mb un gkan mu lti me ter lain pada fu n gsitegan gan , atau de n gan me ng ukur resis tansi a rah maju ata uarah balik sebua h s emik ond u k tor, diod a ata u t ra nsistor ya ngdiketah ui polari tasn ya liha t g ambar 3.8 . Ses uda h kalianme nent uk an pol ari t as oh m m eter, kalia n dap at menguku r /me nent uk an ba n yak hal t ent a ng t ransis tor. Gambar 3.8: Pemakaian dioda semikonduktor un- tuk menentukan polaritas multimeter pada fungsi ohm. Meter menunjukkan resistansi rendah, berarti bahwa terminal hitamnya berhubungan dengan ter- minal positif baterai didalamnya. 99
  • 106. Mengenali Kerusakan Komponen ElektronikaLangkah-langkah mentes sebuah Transistor dengan menggunakanmultimeter (Ohmmeter) adalah: Gambar 3.9: Mengukur resistansi junction sebuah transistor npn memperguna- kan multimeter. Bias arah maju pada basis-emiter, harus menunjukkan resistan- si rendah. Biasanya kurang dari 1 k ohm. Gambar 3.10: Bias arah maju pada basis kolektor harus menunjukan resistansi rendah (kurang dari 1 k ohm) Gambar 3.11: Bias arah balik pada emiter basis harus menunjukkan resistansi tinggi (lebih besar dari 100 k ohm) Gambar 3.12: Bias arah balik pada kolektor basis harus menunjukkan resistansi tinggi (lebih besar dari 100 k ohm). 100
  • 107. Mengenali Kerusakan Komponen ElektronikaApabila melakukan pengetesan komponen, dan dilakukan terhadaptransistor, FET dan IC maka seharusnya : INGAT-INGAT ! Periksa catu daya dekat pada komponen-komponen yang sebenarnya, dan untuk IC langsung pada pin-pin yang bersangkutan. Jangan mempergunakan test pro- be yang besar, karena test probe yang terlalu besar mudah menim- bulkan hubung singkat Hindarilah pemakaian panas yang berlebihan ketika melepas solde- ran komponen dan ja- ngan melepaskan keti- ka unit hidup catu daya- nya Jangan sekali-kali melepaskan atau memasukkan piranti tanpa terlebih dulu mematikan catu daya. Komponen-komponen dapat rusak dengan mudah, karena adanya kejutan arus yang berlebihan Klaus Tkotz,2006 101
  • 108. Mengenali Kerusakan Komponen Elektronika3.13. Pengukuran Pada jembatan RCL universal dan komersial, dipergunakan tiga buah Akurat Komponen sirkit jembatan (gambar 3.14).Pada suatu saat diperlukan pengu- Frekuensi catu daya untuk jembat-kuran yang akurat atau teliti tentang an biasanya 1 kHz, dan detektordata suatu komponen atau piranti, ac yang sangat sensitif biasanyadan perlu dipahami prinsip-prinsip dipergunakan sebuah penguatumum yang bersangkutan. Untuk yang ditala pada 1 kHz denganketelitian yang baik (± 0,1%) metoda outputnya mencatu sebu-ah meterjembatanlah yang dipergunakan un- kumparan putar lewat penyearah.tuk membandingkan yang tidak dike- Dalam keadaan balance (setim-tahui dengan yang standar. Susunan bang) nilai komponen dinyatakanjembatan Wheatstone (gambar 3.13) dalam bentuk digital agar mudahdapat dipergunakan untuk peng- dibaca.ukuran resistansi dan ada dalamkeadaan setimbang bilamana Ra/Rb= Rx/Rs. Penunjukkan detektor Dadalah minimum. Hal ini dikarena-kan tegangan jatuh pada ujung-ujung Rb sama dengan teganganjatuh pada Rs. Titik balans (setim-bangnya tidak, bergantung pada ni-lai tegangan catu dan setiap indika-tor nol yang peka dapat digunakan.Ketelitiannya bergantung pada to-leransi dan stabilitas dari resistorpembanding Ra, Rb dan resistorstandar Rs. Pada keadaan setim-bang, ketika Ra dan Rb telah distelpada penujukkan nol.Ra/Rb = Rx/RsBerarti bahwaGC Loveday,1980, 59 GC Loveday,1980, 59Gambar 3.13: Jembatan Wheatstone Gambar 3.14: Sirkit AC untuk L, C, R 102
  • 109. Mengenali Kerusakan Komponen ElektronikaUntuk sebuah contoh yang spesifik buat jembatan pemakaian umumadalah : Induktansi 1 hH sampai 100 H Kapasitansi 1 pF sampai 1000 µF Resistansi 10 m ohm sampai 10 M ohm Faktor 0 sampai 10 pada 1 kHz Q(kumparan) Faktor Disipasi 0 sampai 0,1 pada 1 kHz (Kondensator) Ketelitian pada semua 0,5% pengukuranTerlepas dari jembatan yang tidak sering diperlukan dalam situasi servis,ada beberapa metoda yang baik dan cepat untuk pengukuran komponen.Dua hal perlu diperhatikan :a). Efek setiap arus pengukuran atau tegangan pengukuran terhadap komponen, jika arus pengukuran terlalu tinggi akan menimbulkan disi- pasi daya yang terlalu besar dalam piranti yang diukur atau suatu te- gangan test akan menimbulkan kerusakan tembus (jebol).b). Sumber kesalahan yang terdapat dalam pengukuran yaitu kesalahan- kesalahan seperti ketidak telitian meter dan efek pembebanan, induk- tansi kawat penyambung, kapasitansi kawat penyambung, resistansi kawat penyambung. Pada umumnya test lead harus sependek mung- kin, terutama jika nilai-nilai rendah diukur, dan lebih-lebih kalau peng- ukuran itu dilakukan pada frekuensi tinggi.Peralatan yang dijual dipasaran untuk mengukur kapasitansi dan induk-tansi juga termasuk akurat walau harus secara manual, dapat dilihat padagambar 3.15.Gambar 3.15: Kapasitansi / Induktansi Meter. 103
  • 110. Mengenali Kerusakan Komponen Elektronika3.14. Pengukuran Komponen AktifUntuk berbagai semikonduktor diskrit parameter-parameter yang terpen-ting diberikan pada tabel 3.5.Tabel 3.5: Parameter-Parameter Penting Semikonduktor Diskrit Zener atau Transistor DIODA dioda FET SCR Bipolar Referensi VF tegangan Yfs VT tegangan VZ tegangan hFE penguatan jatuh transkonduk- jatuh tembus arus dc. arah maju tansi arah maju. VGS(off) IGT arus pacu tegangan gerbang gerbang- V CE(sat) source IR arus bocor ZZ Impedansi saturasi yang meng- VGT tegangan arah dinamis kolektor- nonkon- pacu balik emiter duksikan gerbang pengukuran praktis dari pinch-off(Vp). IH arus hold V(BR)CEO tegang - V(BR) tegangan an tembus tembus arah kolek - balik tor emiter (basis sirkit terbuka) Menswitch ICBO arus bocor IDSS arus drain VDRM repetitive dioda: trr (Emiter sirkit dengan VGS=0 peak off-state recovery time terbuka) voltage arah balik ICEO arus bocor IDS (on) IR arus arah (basis sirkit resistansi balik terbuka) drain ke source dengan VGS=0 104
  • 111. Mengenali Kerusakan Komponen ElektronikaTest sederhana dioda untuk memeriksa apakah nilai-nilai VF dan V(BR)berada dalam batas-batasnya, dapat dilakukan dengan mempergunakansumber arus konstan. hampir pada seluruh pengukuran jenis ini, arusnyaharus diusahakan konstan untuk menghindari panas berlebihan dan ke-mungkinan kerusakan komponen. Sebuah karakteristik dioda misalnya 5mA, dilakukan pada sebuah dioda dan VF terbaca dengan Voltmeter ter-nyata off.Gambar 3.16: Karakteristik Dioda SemikonduktorJikalau karakteristik IF/VF diperlukan, sebuah sirkit dapat digunakan untukmemperagakannya, pada osiloskop dan harus mempergunakan ramp ge-nerator, itu dapat dilihat pada gambar 3.17. GC Loveday,1980, 64 Gambar 3.17: Sirkit RAMP untuk Sirkit TEST, dan Menggunakan CRO untuk Memperagakan Karakteristik Dioda Arah Maju. 105
  • 112. Mengenali Kerusakan Komponen ElektronikaTegangan tembus semikonduktor harus selalu juga diukur dengan sum-ber arus konstan. Pada keadaan tembus, yang umumnya merupakan"avalanche effect",kenaikan arus yang cepat terjadi bila tegangan naik .Sebuah sirkit pentest "Break down"(tembus) pada gambar 3.18 dapatdipergunakan tanpa merusak dioda yaitu untuk V(BR), VZ, V(BR)CEO dansebagainya. Sirkit itu sesungguhnya sebuah pembangkit arus konstanyang dihasilkan oleh sirkit Q1.Basis Ql dipertahankan pada tegangan 5,6 V oleh dioda zener, sehing-ga VE kira-kira 5V. Arus emiter dan arus kolektor, dapat distel denganmengubah-ubah resistansi emiter RV1 Arus akan cukup konstan se- panjang perubahan-perubah- Dioda an tegangan kolektor dari 10V yang dites sampai 200V. Perhatikan bah- wa arus maksimum kira-kira 1 mA, cukup rendah dan tidak menimbulkan kerusakan. Ka- lau sebuah komponen dipe- riksa batas tembusnya, switch test ditekan dan tegangan pa- da ujung-ujung komponen a- kan naik sampai nilai tembus- nya dimana arusnya dibatasi. Tegangan pada ujung-ujungGC Loveday,1980, 64 piranti yang ditest dapat diba- ca dengan multimeter. Pengujian dioda tembus arah balik ini dapat dilakukan untuk semua jenis dioda yang terse- dia, dari dioda penyearah, LED maupun dioda zener se- perti gambar disamping. Ha- nya harus disediakan catu da- ya DC dengan tegangan yang dapat diatur dan tegangan yang tersedia minimum 250 Volt DC.Gambar 3.18: Rangkaian Penguji Tembus ArahBalik Dioda dan Macam-Macam Dioda 106
  • 113. Mengenali Kerusakan Komponen ElektronikaDilihat bentuk fisiknya, transistor mempunyai berbagai macam bentuk.Gambar 3.19 menunjukkan bentuk transistor yang sering dijumpai di pa-saran. Klaus Tkotz,2006Gambar 3.19: Bermacam-macam Bentuk TransistorTransistor beroperasi secara normal bila antara emitter dan basis diberitegangan maju (forward), sedang antara kolektor dan emiternya diberi te-gangan mundur (reverse). Dalam rangkaian sederhana digambarkan se-bagai berikut:Gambar 3.20: Tegangan Kerja Normal Transistor NPN dan PNP 107
  • 114. Mengenali Kerusakan Komponen Elektronika Supply BGC Loveday,1980, 65 IC I EGambar 3.21: Rangkaian untuk Mengukur hFE = ≈ IB IBPentestan-pentestan hFE pada umumnya digunakan sebagai petunjuk o-perasi transistor dan sebuah rangkaian sederhana untuk mengukur itu di-tunjukkan pada gambar 3.21. perhatikan bahwa hFE adalah sinyal dc yangbesar penguatan "Common emiter atau emiter terbumi : ICh FE = IBPada nilai-nilai tertentu dari VCE dan IC.Berbagai sirkit dapat dibangun untuk mengukur dengan tepat, misalnya IhFE, hfe maupun parameter-parameter h yanghlainnya, ≈ I E merupakan Gambar 3.16 Sirkit untuk mengukur FE = C tetapipertanyaan. IB IBBarangkali lebih baik, jika kita membuat kurva karakteristik mengguna-kan misalnga "XY hFE pada untuk secara otomatis menghasilkanoperasiPentestan-pentestan plotter" umumnya digunakan sebagai petunjuk kurva(gambar 3.22).transistor dan sebuah sirkit sederhana untuk mengukur itu ditunjukkan padaVCE(sat) biasanya ditentukan hFE adalah Csinyal 10 :yangJadi untuk men-gambar 3.16. perhatikan bahwa dengan I /IB = dc 1. besar penguatanswitch transistor-transistorterbumi : sirkit pentest go/no-go seperti pada"Common emiter atau emiter sebuahGambar 3.23 dengan mudah dapat dibuat dan nilai-nilai VCE(sat) padanilai-nilai IC tertentu diukur dengan voltmeter digital. 108
  • 115. Mengenali Kerusakan Komponen ElektronikaGC Loveday,1980, 66 Gambar 3.22: Pemakaian XY Plotter untuk Mendapatkan Karakteristik Transistor. GC Loveday,1980, 66 Gambar 3.23: Pengukuran VCE(sat)IC = 10 mA perhatikan bawah RB : RC = 10 : 1Pengukuran VCE(sat) pada nilai-nilai IC diperoleh dengan mengubah-ubahnilai RB dan RC.Untuk FET, parameter-parameter dapat dibuktikan kembali ∆I D Y fs ≈ L denganLVDS L kons tan ∆I GSIDSS, arus drain dengan VGS = 0 dan VDS = VP 109
  • 116. Mengenali Kerusakan Komponen ElektronikaSirkit untuk memeriksa nilai-nilai tersebut diatas ditunjukkan pada gam-bar 3.24. Untuk Yfs (atau juga disebut gm) transkonduktansi, sirkit itumempunyai taraf bias tetap yang diset sedemikian rupa sehingga dapatditetapkan suatu titik kerja. Kemudian VGS divariasikan oleh sinyal. darisumber ac dan perubahan yang dihasilkan pada arus drain dicatat. HargaYfs akan sebesar 2 milliSiemen.GC Loveday,1980, 66a) Pengukuran Idss b) Mengukur Yfs atau gmGambar 3.24: Pengukuran FET Yfs = VoutVin . RLAkhirnya untuk komponen diskrit thyristor ditunjukkan sebuah sirkit pen-test pada gambar 3.25. Sirkit ini dapat memeriksa benar tidaknya operasiFET dengan memasangkan nilai-nilai khusus dari IGT dan VGT ke gerbangthyristor. Mula-mula R2diset pada minimum, S1 ditutup arus meter Iharus rendah (50u A) dan voltmeter harus menunjukkan 24 V. Ini dise-babkan oleh karena thyristor memblok arah maju, jadi nonkonduksi. M1harus menunjukkkan kira-kira 100 mA, dan M2 menunjukkan kira-kira 1V.Selanjutnya bila R2 dinaikkan nilai arusnya berangsur-angsur menurunsampai tercapai suatu titik nonkonduksi dari thyristor itu. Arus yang ditun-jukkan tepat sebelum nonkonduksi adalah arus hold (holding current) IH. GC Loveday,1980Gambar 3.25: Rangkaian untuk Menguji Thyristor 110
  • 117. Mengenali Kerusakan Komponen ElektronikaTest pada IC linier dan digitalMentest IC linear dan digital dapatjuga dilakukan dengan teliti pada se-mua parameter, tetapi lebih umummenunjukkan fungsi sirkit lebih di-perlukan. Dengan perkataan lain a- Klaus Tkotz,2006pakah sebuah op-amp mempunyaipenguatan atau apakah sebuah IC Gambar 3.26: Macam-macam Bentuk ICcounter dapat membagi dengan be- Linear dan Digitalnar ? Dengan memasangkan IC ke-dalam sebuah "TEST JIG" yang Dua buah contoh metoda ini ditun-mengharuskan IC itu berosilasi atau jukkan pada gambar 3.27. Yangmelaksanakan fungsi logik, piranti - pertama menunjukkan bagaimanapiranti yang baik dapat disimpan sebuah IC linier dari jenis DIP, 8dan dipisahkan dari yang buruk atau pin dapat diperiksa dengan peme-rusak. Prosedur ini dapat pula diper- riksaan fungsional. Komponen-gunakan untuk mentest tiap piranti komponen disekitar IC akan mem-aktif seperti transistor, unijunction bentuk osilator frekuensi rendahdan thyristor. (2Hz). Kalau IC dimasukkan keda- lam soket "test jig" dengan benar, LED akan menyala hidup-mati. Sebuah CMOS Quad 2 input posi- tive (I/p) NAND gates (4011B) dapat juga dicek dengan merang- kaikan komponen-komponen se- kitar soket (14 pin) sehingga ter- jadi osilasi frekuensi rendah. Pe- meriksaan tambahan terhadap gerbang internal dapat dilakukan dengan mengaperasikan kedua "Inhibit switches" Sl dan S2.GC Loveday,1980,67 a) Rangkaian Test IC OP-AMP (b) Rangkaian tes CMOS NAND CD 4011 Gambar 3.27: Contoh Rangkaian Test IC 111
  • 118. Mengenali Kerusakan Komponen Elektronika3.15. Komponen Elektronika OptikSuatu hal yang sangat menarik buat kalian di dalam mempelajari kompo-nen elektronika adalah mendalami tentang komponen elektronika optik,yang lebih dikenal dengan istilah optoelektronik. Mengapa demikian ?Karena semua komponen optoelektronik selalu berhubungan dengan ca-haya, baik komponen tersebut bekerja karena ada cahaya, atau mengha-silkan cahaya atau mengubah cahaya.Baik sebagai pengingat kembali kita mulai dari pengertiannya lebih dahu-lu, bahwa komponen optoelektronik adalah komponen-komponen yangdipengaruhi sinar (optolistrik), komponen-komponen pembangkit cahaya(light-emitting) dan komponen-komponen yang mempengaruhi atau me-ngubah sinar.Komponen optolistrik dapat dikatagorikan sebagai:• Foto emisi: disini radiasi yang mengenai katoda menyebabkan elek- tron-elektron diemisikan dari permukaan katoda itu, contohnya: ta- bung pengganda foto, LED (Light Emitting Diode), LCD ( Liquid Crys- tal Dinamic) dan dioda laser (Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation)• Foto konduktif: disini bila komponen disinari maka resistansi bahan berubah, contohnya: dioda foto (diberi tegangan mundur) dan LDR.• Foto voltaik: komponen ini akan membangkitkan tegangan pada output yang sebanding dengan kekuatan radiasi, contohnya: dioda foto (tanpa diberi tegangan), solar cell, transistor foto, darlington foto, FET foto dan opto electronic coupler.Semua jenis foto emisi biasanya menghasilkan sinar, perpendaran(menjadi cemerlang) sampai menghasilkan sinar yang amat kuat yangdapat mengelas logam. Pada LED akan menghasilkan sinar yang berma-cam-macam warnanya tergantung dari jenis semikonduktor yang diguna-kan dan komponen ini umurnya panjang dan kuat sehingga saat ini ba-nyak digunakan sebagai pengganti lampu rem pada mobil atau sepedamotor. Sedangkan perkembangan LCD sangat pesat dan banyak diguna-kan sebagai pengganti layar tabung monitor komputer atau TV. Padasinar laser banyak digunakan juga pada kedokteran, pengukuran yangpresisi pada industri dan lain-lain.Untuk foto konduktif komponen ini akan mempunyai resistansi sangatbesar (di atas 100 K Ohm) saat tidak disinari dan hanya beberapa ratusohm saat disinari, biasanya digunakan pada lampu taman otomatis. Cobasebagai tugas: buat / cari rangkaian taman otomatis dengan mengguna-kan LDR dimana saat mulai senja maka lampu ditaman atau diteras ru-mah mulai menyala secara otomatis. Terangkan cara kerja rangkaian ter-sebut mengapa bisa demikian.Untuk komponen foto voltaik akan menghasilkan tegangan / arus jikadisinari, yang paling banyak digunakan saat ini adalah solar cell dipakaisebagai penghasil tegangan untuk pengisian baterai sebagai penggantisumber daya saat listrik AC padam. Coba kalian cari tahu tentang hal itu. 112
  • 119. Mengenali Kerusakan Komponen Elektronika Rangkuman• Untuk mengurangi kemungkinan sebuah komponen rusak maka kita harus memahami keterbatasan masing-masing komponen tersebut.• Kegagalan resistor tetap maupun variabel bisa terjadi secara ber- angsur-angsur dan berubah nilainya menjadi besar ataupun secara tiba-tiba terputus karena penggunaan yang salah, tetapi resistor tetap mempunyai laju kegagalan yang rendah sekali (sangat andal) diban- dingkan dengan resistor variabel maupun komponen lainnya.• Kegagalan pada kapasitor bisa terbuka atau hubung-singkat dan masing-masing jenisnya kemungkinan penyebabnya dapat berbeda- beda.• Pada komponen semikonduktor tingkat kegagalannya cukup tinggi te- rutama pada saat fabrikasi, karena banyak proses yang harus dijala- ni yang cukup rumit.• Kegagalan pada komponen semikonduktor bisa terbuka maupun hu- bung-singkat, dan komponen ini lebih peka bila dibandingkan dengan komponen pasif, jadi penanganannya harus lebih hati-hati.• Pencegahan agar komponen tidak cepat rusak saat digunakan perlu diketahui dan diperhatikan, sehingga komponen tidak rusak dahulu sebelum dipergunakan.• Komponen perlu juga diuji untuk meyakinkan keberadaannya, apakah masih dapat dipakai atau tidak. Pengujian dapat dilakukan secara se- derhana maupun secara lebih akurat lagi dengan menggunakan rang- kaian sederhana yang dapat kita rangkai sendiri.• Komponen elektronika optik adalah komponen-komponen yang dipe- ngaruhi sinar (optolistrik), komponen-komponen pembangkit cahaya (light-emitting) dan komponen-komponen yang mempengaruhi atau mengubah sinar. Terdiri dari tiga kategori, yaitu: foto emisi, foto konduksi dan foto voltaik. Soal latihan Bab 31.Mengapa kita perlu memahami keterbatasan sebuah komponen? Berilah contohnya!2.Sebutkan kegagalan yang dapat terjadi pada resistor tetap, dan apa penyebabnya!3.Berilah penjelasan mengapa pada potensiometer dapat terjadi kegagala sebagian!4.Sebutkan penyebab terjadinya kerusakan, baik terbuka maupun hubung-singkat pada kapasitor elektrolit yang banyak kita gunakan!5.Sebutkan penyebab kegagalan pada semikonduktor saat fabrikasi secara singkat! 113
  • 120. Mengenali Kerusakan Komponen Elektronika6.Apa yang perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan ketika kita sedang menangani komponen terutama komponen semikonduktor!7.Sebutkan hal-hal penting apa saja yang perlu kita lakukan saat menangani komponen MOS!8.Pengujian komponen dibagi dalam tiga bidang utama, sebutkan!9.Buatlah rangkaian yang dapat memperagakan karakteristik dioda arah maju! Terangkan secara singkat bagaimana kerjanya! Tugas KelompokCoba anda rancang secara berkelompok (maksimum 3 orang) tugas dibawah ini:Buatlah sebuah rangkaian TEST JIG untuk IC Op-Amp, dan terangkandengan singkat bagaimana kerjanya!Setelah kelompok anda yakin dengan rancangan tersebut, bisa andarealisasikan saat pelajaran praktek dengan bantuan instruktur praktekyang ada. 114
  • 121. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK 4. PEMELIHARAAN MOTOR dan GENERATOR LISTRIK 4.1. Mesin Listrik 4.1.1. Pengertian Mesin Listrik Di bidang listrik, mesin merupakan sebuah perangkat berupa motor- generator. Perbedaan istilah tersebut dibuat berdasarkan perbedaan fungsi operasinya. Motor ialah alat yang mengubah energi listrik menjadi energi mekanik putaran. Sedangkan generator adalah alat yang mengubah energi mekanik menjadi energi listrik. Jadi, se- buah mesin listrik dapat difungsikan sebagai generataor, atau se- bagai motor. Terdapat dua jenis motor: 1) motor DC, 2) motor AC Demikian pula dengan generator. Terdapat dua jenis generator: 1) generator AC, 2) generator DC 4.1.2. Konstruksi Dasar Mesin Listrik Kutub Bagian utama mesin listrik terdiri Magnet STATOR dari dua bagian: yaitu bagian Poros ROTOR bergerak yang disebut Rotor, dan bagian diam yang disebut Stator. Masing-masing bagian mempunyai lilitan kawat. Pada Stator, lilitan kawat berfungsi se- bagai pembangkit medan mag- net, sedangkan pada Rotor, li- litan berfungsi sebagai pem- bangkit gaya gerak listrik. Lilitan Lilitan Rotor Stator Fachkunde Elektrotechnik, 2006, hal 427 Gambar 4.1: Konstruksi Dasar Mesin Listrik 115
  • 122. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK 4.1.3. Prinsip Kerja Motor dan Generator Arah Prinsip Arah Putaran Motor arus Untuk menentukan arah putaran mo- tor, digunakan kaedah Flamming ta- Arah Medan ngan kiri. Kutub-kutub magnet akan gaya magnet menghasilkan medan magnet de- gerak ngan arah dari kutub utara ke kutub selatan. Jika medan magnet ini me- motong sebuah kawat penghantar yang dialiri arus searah dengan em- pat jari, maka akan timbul gaya gerak Fachkunde Elektrotechnik, 2006, hal 92 searah ibu jari. Gaya ini disebut gaya Lorentz, yang bersarnya sama dengan F. Gambar 4.2: Hukum tangan kiri untuk motor F = B.I ℓ .z (Newton) F = Arah gaya penghantar (Newton) B = kerapatan flux magnet (weber) Prinsip motor: aliran arus di dalam ℓ = panjang kawat penghantar yang berada di dalam penghantar (meter) pengaruh medan magnet akan I = Arus DC (Ampere) menghasilkan gerakan z = Jumlah penghantar Besarnya gaya pada penghantar akan bertambah besar jika arus yang melalui penghantar bertambah besar. Contoh 4-1: sebuah motor DC mempunyai kerapatan medan magnet 0,8T. Dibawah pengaruh medan magnet terdapat 400 kawat penghan- tar dengan arus 10 A. Jika panjang penghantar seluruhnya 150 mm, tentukan gaya yang ada pada anker. Jawab: F = B.I.ℓ.z = 0,8 (Vs/m2). 10A. 0,15 m.400 = 480 (Vs.A/m) = 480 (Ws/m) = 480 N. 116
  • 123. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK Prinsip Pembangkitan Tegangan Arah arus pada Generator Sepotong penghantar yang dialiri a- Medan rus dan bergerak dengan kecepatan magnet Arah v didalam pengaruh medan magnet, gerak akan menimbulkan tegangan induksi sebesar V. Untuk menentukan besarnya tegang- an induksi yang ditimbulkan oleh a- rah gerakan penghantar tersebut di- Fachkunde Elektrotechnik, 2006, hal 95 gunakan kaedah Flamming tangan kanan. Gambar 4.3: Hukum tangan Medan magnet mempunyai arah dari kanan untuk generator kutub utara ke kutub selatan. Arus di dalam penghantar searah dengan empat jari, sedangkan arah gerakan V = tegangan induksi (volt) searah dengan ibu jari, seperti ditun- B = kerapatan flux magnet jukkan pada Gambar 4.3. (weber) ℓ = panjang kawat penghantar (meter) z = jumlah penghantar v = kec. gerak kawat (m/s) V = B. ℓ. v.z (volt) Prinsip generator: Medan magnet dan gerakan sepotong peng- hantar yang dialiri arus akan menimbulkan tegangan Contoh 4-2. Kerapatan magnet sebuah generator diketahui = 0.85 T dipotong oleh 500 kawat penghantar, dan bergerak dengan kecepatan 5 m/s. Jika panjang penghantar keseluruhan adalah 100 mm, berapa- kah besarnya tegangan induksi yang dihasilkan? Jawab: V = B.ℓ.v.z = 0.85 T. 0.1 m. 5 m/s. 500 = 212.5 Volt 117
  • 124. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK4.2. Mesin-mesin DCSebuah mesin DC terdiri dari bagian stator, yang terdiri dari set-mag-net dengan cincin baja dan lilitan kawat yang menonjol dengan intikutub utama, sepatu kutub yang terbuat dari lempeng-elektro sertalilitan kawat penguat eksitasi seperti, dan inti-kutub bantu sepertiditunjukkan pada Gambar 4.4. Konstruksi ini biasanya terdapat padamesin DC berdaya maksimum 20 kW. Mesin jenis ini akan bekerja se-panjang ada magnetisasi. Untuk mesin dengan daya hingga 1 kW, ter-diri dari sebuah komutator berkutub utama, yang terbuat dari baja ataulempeng elektro dengan lilitan kawat. Sepatu-sepatu kutub dari kutub-utama terdapat lilitan kompensasi.Bagian rotor (pada mesin DC se-ringkali disebut jangkar) terbuatdari poros baja beralur dan lilitankawat pada alur-alur tersebut. Gam-bar 4.4 menunjukkan potongan se-buah mesin DC, dengan komutatordi ujung motor. Sikat arang (carbon Inti kutub utamabrush) adalah bagian dari stator. Si- Inti kutub bantukat ini ditahan oleh pemegang sikat Fchkunde Elektrotechnik, 2006, hal 450(brush holder) Gambar 4.4: Startor Mesin DC,Sebuah komutator terdiri dari seg- Rotor Komutatormen-segmen tembaga, dimana seti-ap ujungnya disambungkan denganujung lilitan rotor. Komutator adalahbagian mesin listrik yang perlusering dirawat dan dibersihkan. Ba- Celahgian ini bersinggungan dengan sikat Udaraarang untuk memasukkan arus dari Papan Sikatjala-jala ke rotor. Gambar 4.6 me- terminal arangnunjukkan bagian dari sebuah ko- Fchkunde Elektrotechnik, 2006, hal 450mutator dan bagian lain yang salingberkaitan. Gambar 4.5: Potongan Mesin DC 118
  • 125. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK Poros sikat Salah satu kelemahan dari mesin Tangkai DC adalah kontak mekanis antarapemegang komutator dan sikat arang yang ha- sikat rus terjaga dan secara rutin dila- kukan pemeliharaan. Tetapi mesin DC juga memiliki keunggulan khu- susnya untuk mendapatkan penga- turan kecepatan yang stabil dan ha- Rumah sikat Komutator lus. Motor DC ba-nyak dipakai di Fachkunde Elektrotechnik, 2006, hal 450 industri kertas, tekstil, kereta api die- Gambar 4.6: Komutator & sel elektrik dan sebagainya. Pemegang Sikat 4.3. Generator Tipe Genetaor Generator merupakan sebuah perangkat yang mengubah energi mkanis menjadi energi listrik. Generator digunakan di bidang yang sangat luas: di banda udara, di rumah sakit, di transportasi, komputer, di bidang konstruksi, proses industri, dan lainnya. Pada dasarnya terdapat dua macam generator, yaitu generator AC dan DC. Pada dasarnya terdapat dua macam generator, yaitu gene- rator AC dan generator DC. Karena generator AC menghasilkan arus AC, maka sering juga disebut sebagai alternator. Generator DC menghasilkan arus DC 4.3.1. Generator DC Generator DC dibedakan menjadi beberapa tipe berdasarkan dari rangkaian belitan magnet atau penguat eksitasinya terhadap jangkar (anker). Tipe generator DC: 1. Generator penguat terpisah 2. Generator shunt 3. Generator kompon 119
  • 126. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK 1). Konstruksi Generator DC Pada umumnya generator dibuat dengan menggunakan magnet per- manen dengan 4-kutub rotor, regulator tegangan digital, proteksi terhadap beban lebih, startor eksitasi, penyearah, bearing dan rumah generator atau casis, serta bagian rotor. Gambar 4.7 menunjukkan gambar potongan melintang konstruksi generator DC Generator DC terdiri dua bagian, yaitu stator, yaitu bagian mesin DC yang diam, dan bagian rotor, yaitu bagian mesin DC yang berputar. Bagian stator terdiri atas : rangka motor, belitan stator, sikat arang, beraing, terminal box. Bagian rotor terdiri : komutator, belitan rotor, kipas rotor, poros rotor.. Bagian yang harus menjadi Penguat Papan eksitasi terminal perhatian untuk perawatan se- Jangkar cara rutin adalah sikat arang Komutator Lubang angin yang akan memendek dan ha- rus diganti secara periodik. Ko- mutator harus dibersihkan dari kotoran sisa sikat arang yang menempel dan serbuk arang yang mengisi celah-celah ko- mutator, gunakan amplas halus untuk membersihkan noda be- Poros kas sikat arang. penggerak Fachkunde Elektrotechnik 2006 hal 453 Gambar 4.7: Konstruksi Generator DC 2). Prinsip kerja Generator DC Pembangkitan tegangan induksi oleh sebuah generator diperoleh me- lalui dua cara: 1) dengan menggunakan cincin-seret; 2) dengan menggunakan komutator. Cara 1) menghasilkan tegangan induksi bolak-balik. Sedangkan cara 2) menghasilkan tegangan DC. Proses pembangkitan tegangan-te-gangan induksi tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.8 dan Gambar 4.9. 120
  • 127. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK (a) (b) (c) Fachkunde Elektrotechnik, 2006, hal 451 Gambar 4.8: Pembangkitan Tegangan Induksi. Jika rotor diputar dalam pengaruh medan magnet, maka akan terjadi perpotongan medan magnet oleh lilitan kawat pada rotor. Hal ini akan menimbulkan tegangan induksi. Tegangan induksi terbesar terjadi saat rotor menempati posisi seperti Gambar 4.8 (a) dan (c). Pada posisi ini terjadi perpotongan medan magnet (oleh penghantar) maksimum. Se- dangkan posisi jangkar pada Gambar 4.8.(b), akan menghasilkan tegangan induksi nol. Hal ini karena tidak adanya perpotongan medan magnet dengan penghantar pada jangkar atau rotor. Daerah medan ini disebut daerah netral. (a) (b) (c) (1) (a) (b) (c) (2) Fachkunde Elektrotechnik, 2006, hal 451 Gambar 4.9: Tegangan Rotor yang dihasilkan melalui cincin-seret dan komutator Jika ujung belitan rotor dihubungkan dengan slipring berupa dua cincin (ini disebut cincin seret), seperti ditunjukkan Gambar 4.9.(1), maka dihasilkan listrik AC berbentuk sinusoidal. Bila ujung belitan rotor dihubungkan dengan komutator satu cincin Gambar 4.9.(2) dengan dua belahan, maka dihasilkan listrik DC de- ngan dua gelombang positip 121
  • 128. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK Rotor dari generator DC akan menghasilkan tegangan induksi bolak- balik. Sebuah komutator berfungsi sebagai penyearah tegangan AC Besarnya tegangan yang dihasilkan oleh sebuah generator DC sebanding banyaknya putaran dan besarnya arus eksitasi (arus penguat medan). 4.3.2. Generator Penguat Terpisah Pada generator terpisah, belitan eksitasi (penguat eksitasi) tidak terhubung menjadi satu dengan rotor. Terdapat dua jenis generator penguat terpisah: 1) Penguat elektromagnetik (Gambar 4.10.a); 2) Magnet permanen (Gambar 4.10.b). Energi listrik yang dihasilkan oleh penguat elektromagnet dapat dia- tur melalui pengaturan tegangan Fachkunde Elektrotechnik, 2006, hal 452 eksitasi. Pengaturan dapat dilaku- kan secara elektronik atau mag- Gambar 4.10: Generator Penguat netik.Generator ini bekerja dengan Terpisah catu daya DC dari luar yang dima- sukkan melalui belitan F1-F2. Penguat dengan magnet permanen menghasilkan tegangan output generator yang konstan dari terminal rotor A1-A2. Karakteritik te- gangan V relatif konstan dan tegangan akan menurun sedikit ketika arus beban I dinaikkan mendekati harga nominalnya. 122
  • 129. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK Gambar 4.11 menunjukkan ka- rakteristik generator penguat ter- V pisah saat eksitasi penuh (Ie 100%) dan saat eksitasi sete- ngah penuh (Ie 50%). Ie adalah arus eksitasi, I adalah arus beban.Tegangan output genera- tor akan sedikit turun jika a-rus beban semakin besar. (2) Keru- gian tegangan akibat reaksi jangkar; (3).Perurunan tegangan I akibat resistansi jangkar dan re- Fachkunde Elektrotechnik, 2006, hal 452 aksi jangkar, selanjutnya meng- Gambar 4.11: Karakteristik akibatkan turunnya pasokan a- Generator Penguat Terpisah rus penguat ke medan magnet sehingga teganganl induksi menjadi kecil. 4.3.3. Generator Shunt Pada generator shunt, penguat ek- sitasi E1-E2 terhubung paralel de- ngan rotor (A1-A2). Tegangan awal generator diperoleh dari magnet si- sa yang terdapat pada medan mag- net stator. Rotor berputar dalam medan magnet yang lemah, diha- silkan tegangan yang akan mem- perkuat medan magnet stator, sam- pai dicapai tegangan nominalnya. Pengaturan arus eksitasi yang me- lewati belitan shunt E1-E2 diatur oleh tahanan geser. Makin besar a- rus eksitasi shunt, makin besar me- dan penguat shunt yang dihasilkan, Fachkunde Elektrotechnic, 2006, hal 542 dan tegangan terminal meningkat Gambar 4.12: Diagram sampai mencapai tegangan nomi- Rangkaian Generator Shunt nalnya. Diagram rangkaian genera- tor shunt dapat dilihat pada Gambar 4.12. 123
  • 130. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK Karakteristik Generator Shunt. Generator shunt mempunyai ka- V rakteristik seperti ditunjukkan pa- da Gambar 4.12. Tegangan out- put akan turun lebih banyak di- bandingkan output generator ter- pisah untuk kenaikan arus beban yang sama. Sebagai sumber te- gangan, karakteristik ini tentu ku- rang baik. Seharusnya generator- I generator tersebut diatas mem- Fachkunde Elektrotechnic, 2006, hal 452 punyai tegangan output konstan. Gambar 4.13: Karakteristik Generator shunt Jika generator shunt tidak mendapatkan arus eksitasi, maka sisa megnetisasi tidak akan ada, atau jika belitan eksitasi salah sambung atau jika arah putaran terbalik, atau rotor terhubung-singkat, maka tidak akan ada tegangan atau energi listrik yang dihasilkan oleh generator tersebut. 4.3.4. Generator Kompon Kelemahan dari kedua tipe gene- rator diatas (tegangan output akan turun jika arus beban naik), diper- baiki dengan menggunakan gene- rator kompon. Generator kompon mempunyai du- a penguat eksitasi pada inti kutub utama yang sama. Satu penguat eksitasi merupakan penguat shunt, dan lainnya merupakan penguat seri. Diagram rangkaian generator kompon ditunjukkan pada Gambar 4.14. Pengatur medan magnet (D1 Fachkunde Elektrotechnik, 2006, hal 452 -D2) terletak di depan belitan shunt. Gambar 4.14: Diagram Rangkaian Generator kompon 124
  • 131. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK Karakteristik Generator Kompon. V Gambar 4.15 menunjukkan karak- teristik generator kompon. Tegang- an output generator terlihat konstan dengan pertambahan arus beban, baik pada arus eksitasi penuh mau- pun eksitasi 50%. Hal ini disebab- kan oleh adanya penguatan lilitan seri, yang cenderung naik tegang- annya jika arus beban bertambah besar. Jadi ini merupakan kompen- I sasi dari generator shunt, yang cen- Fachkunde Elektrotechnik, 2006, hal 452 derung turun tegangannya jika arus Gambar 4.15: Karakteristik bebannya naik. Generator Kompon 4.3.5. Jangkar Generator DC Jangkar adalah tempat lilitan pada rotor yang berbentuk silinder ber- alur. Belitan tersebut merupakan tempat terbentuknya tegangan in- duksi. Pada umumnya jangkar terbuat dari bahan yang kuat mem- punyai sifat feromagnetik dengan permiabilitas yang cukup besar. Permiabilitas yang besar diper- lukan agar lilitan jangkar terle- tak pada derah yang induksi magnetnya besar, sehingga te- gangan induksi yang ditimbul- kan juga besar. Belitan jangkar terdiri dari beberapa kumparan yang dipasang di dalam alur jangkar. Tiap-tiap kumparan ter- diri dari lilitan kawat atau lilitan batang. Gambar 4.16: Jangkar Generator DC 4.3.6. Reaksi Jangkar Fluks magnet yang ditimbulkan oleh kutub-kutub utama dari sebuah generator saat tanpa beban disebut Fluks Medan Utama (Gambar 4.17) . 125
  • 132. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK Fluks ini memotong lilitan jangkar se- hingga timbul tegangan induksi. Bila generator dibebani maka pada peng- hantar jangkar timbul arus jangkar. A- Daerah rus jangkar ini menyebabkan timbul- Netral nya fluks pada penghantar jangkar tersebut dan biasa disebut FIuks Me- dan Jangkar (Gambar 4.18). Mun- culnya medan jangkar akan memper- Gambar 4.17: Medan lemah medan utama yang terletak Eksitasi Generator DC disebelah kiri kutub utara, dan akan memperkuat medan utama yang ter- letak di sebelah kanan kutub utara. Pengaruh adanya interaksi antara medan utama dan medan jangkar ini disebut reaksi jangkar. Reaksi jang- kar ini mengakibatkan medan utama tidak tegak lurus pada garis netral n, tetapi bergeser sebesar sudut α. De- Gambar 4.18: Medan ngan kata lain, garis netral akan ber- Jangkar dari Generator DC geser. Pergeseran garis netral akan melemahkan tegangan nominal ge- nerator. Untuk mengembalikan garis netral ke posisi awal, dipasangkan medan magnet bantu (interpole atau kutub bantu), seperti ditunjukkan pa- da Gambar 4.20(a). Lilitan magnet bantu berupa kutub magnet yang u- Pergeseran Daerah Netral kuran fisiknya lebih kecil dari kutub u- tama. Dengan bergesernya garis ne- tral, maka sikat yang diletakkan pada Fachkunde Elektrotechnik, 2006, hal 454 permukaan komutator dan tepat ter- Gambar 4.19: Reaksi Jangkar letak pada garis netral n juga akan bergeser. Jika sikat dipertahankan pada posisi semula (garis netral), Medan maka akan timbul percikan bunga memadat api, dan ini sangat berpotensi menim- bulkan kebakaran atau bahaya lain- Daerah netral nya. Oleh karena itu, sikat juga harus digeser sesuai de-ngan pergeseran Kutub bantu garis netral. Bila sikat tidak digeser Kutub maka komutasi akan jelek, sebab utama sikat terhubung dengan penghantar yang mengandung tegangan. Fachkunde Elektrotechnik, 2006, hal 455 Gambar 4.20(a): Generator dengan Kutub Bantu 126
  • 133. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK Belitan Reaksi jangkar ini dapat juga diatasi kompensasi dengan kompensasi yang dipasang- kan pada kaki kutub utama baik pa- da lilitan kutub utara maupun kutub Kutub selatan. Kini dalam rangkaian gene- bantu rator DC memiliki tiga lilitan magnet, Kutub yaitu lilitan magnet utama, lilitan utama magnet bantu (interpole) dan lilitan magnet kompensasi. Gambar 4.20(b): Generator Kutub Gambar 4.20 (a) dan (b) menunjuk- Utama, Kutub Bantu, Belitan kan generator dengan komutator Kompensasi dan lilitan kompensasinya. 4.4. Motor DC 4.4.1. Tipe Motor DCSebuah motor listrik adalah mesin listrik yang mengubah energi listrikmenjadi energi mekanik. Konstruksi motor dan generator pada dasarnyaadalah sama. Motor DC mengembangkan momen yang besar dan me-mungkinkan pengaturan jumlah putaran tanpa tahapan. Jumlah putaranmotor dapat melebihi medan putarnya.Berdasarkan sumber arus kemagnetan untuk kutub magnet, maka motorlistrik dibedakan menjadi dua tipe, yaitu: 1) Motor DC dengan peguat terpisah, bila arus untuk lilitan kutub magnet berasal dari sumber arus searah yang terletak di luar motor. 2) Motor DC dengan penguat sendiri, bila arus untuk lilitan kutub magnet berasal dari motor itu sendiri.Sedangkan berdasarkan hubungan lilitan penguat magnit terhadap li-litanjangkar untuk motor dengan pennguat sendiri dapat dikelompokkanmenjadi : 1) Motor Shunt 2) Motor Seri 127
  • 134. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK4.4.2. Prinsip Kerja Motor DCSecara umum konstruksi motor Kutubdan generator DC adalah sama, utamayaitu terdiri dari stator dan rotor. CelahMotor-motor DC pada awalnya Jangkarmembutuhkan momen gerak (gaya Daerahtorsi) yang besar dan tidak me- netralmerlukan kontrol kecepatan putar. Komutator dengan sikatKecepatan putar motor selanjutnyaakan dikontrol oleh medan mag- Gambar 4.21: Medannet. Pada motor DC dengan pe- Eksitasi dan Medannguat terpisah, sumber eksitasi di- Jangkardapat dari luar, misalnya dari aki.Terjadinya gaya torsi pada jangkardisebabkan oleh hasil interaksi duagaris medan magnet. Kutub mag-net menghasilkan garis medanmagnet dari utara-selatan mele- Poros medanwati jangkar. Lilitan jangkar yang eksitasidialiri arus listrik DC mengasilkan Poros medan jangkarmagnet dengan arah kekiri ditun- Fachkunde Elektrotechnik, 2006jukkan anak panah (Gambar 4.22). Gambar 4.22: Medan Eksitasi dan Medan JangkarInteraksi kedua magnet berasal dari stator dengan magnet yang diha-silkan jangkar mengakibarkan jangkar mendapatkan gaya torsi putarberlawanan arah jarus jam. Untuk mendapatkan medan magnet statoryang dapat diatur, maka dibuat belitan elektromagnet yang da-pat diaturbesarnya arus eksitasinya. Mesin DC dapat difungsikan sebagai generator DC maupun sebagai motor DC. Saat sebagai generator DC fungsinya mengubah energi. mekanik menjadi energi listrik. Sedangkan sebagai motor DC meng- ubah energi listrik menjadi energi mekanik. 128
  • 135. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK 4.4.3. Starting dan Kontrol Kecepatan Motor DC Motor-motor DC mempunyai re- sistansi jangkar sangat kecil. Jika motor ini seketika dihubungkan pada tegangan yang besar, maka arus yang mengalir pada resis- Medan tansi jangkar (RA) akan sangat Eksitasi besar, dan ini akan menimbulkan hentakan. Oleh karena itu, pada motor-motor DC yang besar di- perlukan starting resistansi (Rv) Jangkar yang digunakan untuk mengham- Fachkunde Elektrotechnik, 2006, hal 458 bat arus starting. Besarnya Rv = Gambar 4.23. Rangkaian R – RA, dimana R = resistansi Ekivalen Jangkar total pada jangkar. Contoh 4-3. Sebuah motor DC mempunyai resistansi jangkar 0.5 Ω. Arus jangkar IA terukur 10 A pada tegangan jangkar 220 V. Jika besarnya kelipatan arus jangkar adalah 1.5 IA, berapakah resistansi starting yang diperlukan? Jawab: VA Resistansi total jangkar, R = = 220 V / (1,5 . 10A) = 14,7 Ω 1,5 . IA Resistansi starting yang diperlukan: Rv = R–RA = 14,7 – 0,5 = 14,2Ω 4.4.4. Karakteristik Motor DC a). Karakteristik Motor Penguat Terpisah Pada motor dengan penguat terpisah, arus eksitasinya tidak tergan- tung dari sumber tegangan yang mencatunya. Putaran jangkar akan turun dengan naiknya momen torsi, seperti ditunjukkan pada Gambar 4.25b. b). Karakteristik Motor Shunt Rangkaian eksitasi motor shunt terletak paralel dengan jangkar. Putaran akan turun dengan naik-nya momen torsi. Pada kondisi tanpa beban, karakteristik motor shunt mirip dengan motor dengan penguat terpisah. 129
  • 136. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK a. Rangkaian Ekivalen Motor b. Karakteristik Motor Penguat Terpisah Penguat Terpisah Gambar 4.24. Karakteristik Motor Penguat Terpisah a. Rangkaian Ekivalen Motor b. Karakteristik Motor Penguat Shunt Penguat Shunt Fachkunde Elektrotechnik, 2206, hal 460 Gambar 4.25. Karakteristik Motor Shuntc). Karakteristik Motor Seri.Rangkaian eksitasi motor seri dipasang secara seri terhadap jangkar.Diantara jenis motor DC lainnya, motor seri memerlukan momen torsiawal paling besar. Hal yang perlu diperhatikan, bahwa motor seritidak boleh dioperasikan dalam kondisi tanpa beban.d). Krarakterisrik Motor KomponPada motor kompon, kutub utama berisi rangkaian seri dan paralel.Dalam kondisi tanpa beban, motor kompon mempunyai sifat sepertimotor shunt. Pada kondisi beban terpasang, dengan momen torsi yangsama, akan didapat putaran sedikit lebih tinggi. 130
  • 137. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK a). Rangkaian Ekivalen a). Karakteristik Motor Seri Motor Seri Gambar 4.26. Karakteristik Motor Seri a). Karakteristik Motor a). Rangkaian Ekivalen Kompon Motor KomponFachkunde Elektrotechnik, 2206, hal 460 Gambar 4.27. Karakteristik Motor Kompon4.5. Generator (AC) SinkronGenerator sinkron merupakan mesin yang menghasilkan energi listrikAC. Seperti halnya motor, generator juga mempunyai konstruksi yangterdiri dari bagian yang diam (stator) dan Bagiann yang bergerak (rotor).Gambar 4.23 adalah rotor dari generator sinkron.Tegangan induksi yang dihasilkan oleh generator sinkron tergantung pa-da arus eksitasi dan jumlah putaran. Frekuensi tegangan AC yang di-hasikan tergantung dari jumlah putaran radial kutub. Tegangan dapat di-atur melalui pengaturan arus eksitasi. Fachkunde Elektrotechnik, 2006, hal 448 Gambar 4.28: Tipe Rotor dari Generator Sinkron, (a) 3-kutub, (b) 1-kutub (a) (b) 131
  • 138. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK Besarnya tegangan AC yang dihasilkan oleh generator sinkron di- tentukan oleh jumlah putaran rotor dan oleh besarnya arus eksitasi. Sedangkan frekuensi tegangan AC ditentukan oleh jumlah putaran radial rotor. Fachkunde Elektrotechnik, 2006, hal 448 Gambar 4.29. Generator Sinkron 6 Kutub Generator-Sinkron Shunt Sebuah generator (AC) sinkron dapat disambungkan secara paralel ke ge-nerator sinkron lainnya) atau ke tegangan jala-jala jika tegangan sesaat (tegangan ac) keduanya sama dengan tegangan generator yang di-sambungkan. Dengan generator yang tersambung paralel, maka ge-nerator-generator tersebut akan mempunyai tegangan dengan fase sama, frekuensi sama dan nilai efektif yang sama pula.4.6. Motor Induksi Tiga FasaMotor-motor induksi merupakan motor asinkron. Motor asinkron ada-lahmotor yang paling penting. Stator medan putar akan menginduksi rotordengan suatu nilai tegangan. Melalui tegangan tersebut rotor dapatberputar. Tipe motor asinkron dibedakan berdasarkan kons-truksirotornya. 132
  • 139. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK Motor-motor asinkron adalah motor induksi. Arus rotor didapatkan dari induksi lilitan stator 4.6.1. Konstruksi Motor dengan Rotor Terhubung- singkat. Sebuah motor induksi secara um- Kotak um terdiri dari bagian stator dan terminal Rotor. Bagian stator terdiri dari Celah Lapis udara rumah stator dan lilitan stator. Stator Konstruksi stator berlapis-lapis Belitan Stator dan membentuk alur untuk lilitan kawat. Ujung kumparan dihubung- kan ke terminal untuk memudah- kan penyambungan dengan sum- ber tegangan. Setiap lilitan stator Poros Batang mempunyai beberapa kutub. Jum- rotor Cincin lah kutub akan menentukan kece- hubung- patan motor. Bagian rotor terdiri singkat Fachkunde Elektrotechnik 2006 hal 428 dari sangkar beralur dan lapisan lilitan yang terpasang menyatu. Gambar 4.30: Gambar Rotor terbuat dari aluminium atau Potongan Arus Putar-Rotor dari tembaga. Motor Terhubung-singkat4.6.2. Prinsip KerjaPrinsip kerja motor induksi atau terjadinya putaran pada motor, bisa dije-laskan sebagai berikut :• Bila kumparan stator diberi suplai tegangan tiga fasa , maka akan 120.f terjadi medan putar dengan kecepatan Ns = P Ns = jumlah putaran atau kecepatan motor (rpm) f = frekuensi sumber daya (Hz) P = jumlah kutub-magnet• Medan putar stator tersebut akan menginduksi penghantar yang ada pada rotor, sehingga pada rotor timbul tegangan induksi.• Tegangan yang terjadi pada rotor menyebabkan timbulnya arus pada penghantar rotor.• Selanjutnya arus di dalam medan magnet menimbulkan gaya (F) pada rotor. 133
  • 140. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK • Bila kopel mula yang dihasilkan oleh gaya (F) pada rotor cukup besar untuk menanggung kopel beban, maka rotor akan berputar searah dengan medan putar stator. • Supaya timbul tegangan induksi pada rotor, maka harus ada per- bedaan relatif antara kecepatan medan putar stator(Ns) dengan kecepatan putar rotor (Nr). Perbedaan kecepatan antara Nr de- ngan Ns disebut Slip (S) , dan dinyatakan dengan persamaan Ns − Nr S= x100% Ns S = Slip Ns = jumlah putaran motor atau kecepatan motor Nr = jumlah putaran stator • Bila Nr = Ns tegangan tidak akan terinduksi dan arus tidak mengalir pada kumparan jangkar rotor, sehingga tidak dihasilkan kopel. Kopel pada motor akan terjadi bila Nr lebih kecil dari Ns.Contoh 4-4. Sebuah motor putar 4-kutub untuk frekuensi 50 Hz,mempunyai kecepatan puter 1440 1/mnt. Berapakah besarnya slip?Jawab: ns = f/p = (50 Hz)/2 = 25 1/s = 1500 1/mnt s = (ns – n)/ns x 100% = (1500 – 1440)/1500 x 100% = 4% Motor-motor asinkron memerlukan slip untuk membangkitkan indusksi arus pada rotornya. 4.7. Motor Sinkron Konstruksi motor sinkron adalah sama dengan motor asinkron. Di dalam stator terdapat lilitan arus putar untuk membangkitkan me- dan-putar magnet. Rotor dengan kepingan-kepingan inti kutub ber- isi lilitan eksitasi melalui cincin- seret arus searah. Rotor ini akan Fachkunde Elektrotechnik, 2006, hal 439 menjadi elektro-magnet (radial- kutub). Jumlah kutub sama be- Gambar 4.31: Pemberian Daya sarnya dengan jumlah lilitan pada Rotor stator kutub tersebut. 134
  • 141. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK Keunggulan dari motor sinkron ialah bila diputar menjadi generator sinkron. Untuk mulai berputar, sebuah motor sinkron memerlukan bantuan putaran awal. 4.8. Pemeliharaan Motor dan Generator 4.8.1. Pemeliharaan Motor Saat mendeteksi kerusakan pada motor, penting bagi seorang teknisi untuk mengikuti prosedur, sehingga akan menghemat waktu perbaikan, pengecekan, dan penggantian suku cadang. Kerusakan pada motor bi- asanya mudah diketahui melalui pengecekan komponen secara se- derhana. Untuk itu seorang teknisi harus mengerti betul fungsi-fungsi dari setiap komponen sehingga ia dapat menganalisis dan memperbaiki kerusakan motor tersebut. Analisis kerusakan motor sebaiknya diawali dengan mendengar atau inspeksi visual. Pertama, periksalah motor dari kerusakan yang mu- dah terlihat, misalnya pecahnya bel, cangkang motor, lubang tangkai rotor yang menciut atau membeku, atau belitan kawat yang terbakar. Semua problem ini dapat segera diatasi dengan mengisolasi bagian yang rusak. Suara berisik motor atau lubang tangkai rotor yang mem- beku biasanya menjadi tanda-tanda utama dari kerusakan bearing. Pe- riksa motor dari adanya kerusakan bearing dengan cara memutar tang- kai rotor, kemudian cobalah untuk menggerakkan tangkai rotor tersebut naik turun. Tangkai rotor yang tidak berputar, terasa seret, atau ber- masalah saat bergerak mungkin mengindikasikan adanya kerusakan bearing. Teknik dasar yang digunakan dalam pemeriksaan kerusakan motor listrik meliputi: 1). Test lamp 2). Pengukuran arus, 3). Growler, dan 4). Megohmeter. 135
  • 142. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK 1). Pengujian Test-Lamp Sebelum teknisi mencoba menjalankan motor, ia sebaiknya mengetes terlebih dahulu motornya untuk men-cek keru- Test Lead sakan rangkaian seperti rangkaian yang mengalami ground, hubungan pendek, Gambar 4.32: Pengecekan Motor dan rangkaian terbuka. Dalam penje- untuk Pentanahan (gound) dengan lasan sebelumnya, hasil ground dari test-lamp winding membuat kontak elektrikal de- ngan semua bagian berbahan metal di motor tersebut. Hasil ground yang bu- ruk akan menginsulasi hubungan kawat antara stator dan bel peringatan. Motor yang mempunyai ground winding mungkin disebabkan oleh reaksi se-ker- ing, panas berlebih, atau kekurangan Test Lead daya. Shock dapat disebabkan oleh motor yang mengalami pentanahan Gambar 4.33: Test-lamp (open (grounded). Oleh karena itu, perawatan circuit test) harus sering dilakukan saat pengecek- an grounded motor. Untuk mengecek motor dari pentanahan, hubungkan sebuah lead tes lampu dengan salah satu dari lead motor. Kemudian, sambungkan test lamp yang lain (teknik test lamp) ke stator atau rangka motor. Lampu menyala mengindikasikan motor dalam keadaan terhubung ke ground. Gambar 4.33 mengilustrasikan prosedur pengecekan ini. Rangkaian terbuka menyebabkan berhentinya pergerakan motor karena aliran arus ter-henti. Motor tidak akan berjalan dengan rangkaian terbuka. Biasanya, jika salah satu dari tiga fasa terbuka maka motor tidak akan bergerak. Untuk menentukan apakah ada rangkaian terbuka di motor tersebut hubungkan test lamp lead ke kawat lead motor. Jika lampu tidak menyala, itu berarti ada rangkaian terbuka di dalam motor. Namun jika lampu menyala, maka rangkaian tertutup dengan baik. Gambar 4.34 mengilustrasikan prosedur ini. Sirkuit pendek di motor dise-babkan oleh kerusakan di motor karena dua kawat di motor terhu-bung dan menyebabkan hubungan arus pendek (korsleting). Jika bacaan di amperage melebihi ampere yang tertera di plat nama mo-tor, motor mungkin mengalami korsleting. Tetaplah mempertimbang-kan faktor-faktor lain seperti low-line voltage, kerusakan laker, atau motor mengalami beban yang terlalu berat, dapat menyebabkan motor menarik arus berlebih. 136
  • 143. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK Motor berasap dikarenakan suhu tinggi menyebabkan korsleting pada fasa. Motor dengan sirkuit pendek da-pat mengalami kenaikan suhu, panas motor, gagal dihidupkan, atau berjalan pelan. Suara gerungan kerap ada pada motor kecil. Jika power dialirkan ke motor satu fasa dan saat itu motor menggerung, putarlah shaft dengan tangan anda. Jika motor mulai berputar, maka masalah ada pada rangkaian untuk starting. Jika motor bergerak ti-dak teratur, bergerak pelan, kemudian mulai lagi, problem berasal dari sirkuit penggerak. 2). Pengujian Megohmmeter Selain dengan cara-cara tersebut, pengecekan motor paling baik dilakukan dengan mehgometer (gambar 4.28). Untuk pengecekan motor yang mengalami ground, hubungkan salah satu ujung mehgometer ke rangka motor (motor frame) dan ujung lainnya ke salah satu terminal motor. Motor yang mengalami ground akan terbaca sebagai nol atau sekitar nol di penunjuk mehgometer. Untuk pengecekan rangkaian terbuka hubungkan mehgometer ke setiap bagian fasa motor. Motor yang mengalami rangkaian terbuka akan menunjukkan angka tinggi di mehgometer. Ohmmeter juga dapat digunakan untuk pengecekan motor ground dan rangkaian terbuka. Test Lead Gambar 4.34: Pengujian Ground dengan Megohmmeter 137
  • 144. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK Test Lead Gambar 4.35: Pengujian open circuit dengan MegohmmeterCara lain untuk mengecek field windings untuk hubungan pendek ada-lah membongkar motor dan memberikan voltasi kecil ke stator winding.Setiap koil sekarang berfungsi sebagai elektromagnet. Tempatkan ga-gang obeng di setiap koil dan tariklah keluar secara perlahan denganmemperhatikan tarikan magnetik yang ditimbulkan. Setiap koil seharus-nya memiliki besar tarikan magnet yang sama. Koil yang tarikanmagnetnya paling rendah mungkin mengalami hubungan pendek.Jika anda menyentuh setiap koil dan menemukan bahwa salah satunyalebih panas dari yang lain, maka koil terpanas itu mungkin mengalamihubungan pendek.Sebelum membongkar motor, tandai dua end bell dan rangka seba-gaireferensi untuk yang lainnya. Biasanya, dua tanda ini satunyamengindikasikan bagian depan motor, dan satunya lagi mengindi-kasikan bagian belakang motor. Menandai motor akan memudah-kanteknisi memasang kembali bagian-bagian dari motor tersebut. Shaftbagian depan juga sebaiknya diberi tanda. Hal ini dapat dilakukandengan memberikan tanda X pada ujung shaft. Bodi juga harus diberitanda sebagai referensi pada bagian depan motor. Banyak teknisimenggoreskan tanda di shaft rotor dengan meng-gunakan pisau ataukikir kecil, mengindikasikan posisi sebenarnya dari rotor. Tanda inibiasanya ditempatkan di bagian depan shaft yang lebih dekat daribagian belakang bell.Untuk memeriksa pentanahan (ground) pada motor, biasanya kita perlumembongkar motor dan mencatat lilitan untuk meletakkan bagian darirangkaian yang berhubungan dengan metal-metal pada motor. Setelahmenempatkan dan mengkoreksi masalah, bersihkan lilitan jika kotoratau berarang. Bersihkan lilitan dengan cairan pela-rut (solvent).Penginsulasian kembali lilitan dengan menyemprotkan coat epoxy atauair-drying lain yang menginsulasi enamel. Jika coat epoxy tampak,berarti motor tersebut lembab. Keringkan dengan warm oven atau kipasangin. 138
  • 145. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK Sumber penyebab rangkaian terbuka an-tara lain cacat saklar atau sentrifugal saklar yang tidak sempurna, cacat ka-pasitor, atau kerusakan kawat di rangkaian motor. Dalam penempatan rangkaian ter-buka di motor yang memiliki kapasitor, periksalah terlebih dahulu kapasitornya. Ada beberapa cara untuk mengecek kondisi kapasitor. Pertama, dengan ca-ra mengganti kapasitor tersebut dengan kapasitor baru yang mempunyai rating yang Daniel R.Tomal, 1993, hal 75 sama. Jikarangkaian terbuka tidak berfungsi, berarti kapasitor yang digu- nakan salah. Cara lain untuk mengetes Gambar 4.36: Pengujian kapasitor adalah dengan spark test. Hubung-singkat untuk stator Hubungkan kapasitor melewati terminal yang dialiri tegangan jala-jala 115 V selama sedetik. Setelah memindahkan tegangan 115 V, gunakan ujung obeng untuk menghubungkan dua terminal di kapasitor tersebut. Kapasitor yang baik akan menunjukkan gemercik api. Ketiadaan ge- mercik api mengindikasikan kecacatan kapasitor. Lamp test dapat digunakan untuk mengecek pentanahan kapasitor. Hubungkan salah satu dari lead test lamp ke salah satu terminal kapasitor. Hubungkan test lamp yang lain dengan metal case kapa- sitor. Jika lampu menyala berarti kapasitor berada dalam keadaan ground sehingga tidak bisa digunakan. Metode lain yang digunakan untuk pengecekan kapasitor bisa juga menggunakan ohmmeter, tester kapasitor, dan kombinasi ammeter dan voltmeter. Sentrifugal saklar kadang-kadang menyebabkan motor satu fasa terbuka. Saklar harus dicek terlebih dahulu untuk melihat apakah kontaknya bisa menutup atau tidak. Jika kontak terbuka, washer mungkin perlu ditambahkan ke shaft rotor. Periksa juga kondisi saklar sentrifugal, karena mungkin saja saklar sentrifugal mengalami kerusakan dan perlu diganti. Lilitan motor seharusnya juga diperiksa dari kemungkinan kerusakan. Kerusakan kawat sebanyak satu atau bahkan lebih dapat menyebab- kan rangakaian terbuka. Jika lilitan terbakar, atau rusak dan membut- uhkan perbaikan, sebaiknya dilakukan penggantian lilitan pada motor tersebut. 139
  • 146. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK Hubungan di lilitan stator dapat dicek dengan internal growler. Tempatkan growler pada laminasi stator dan bagian belakang koil. Saat itu growler dan koil berfungsi sebagai transformer. Growler yang memiliki ujung peraba built-in, a- kan bergetar kencang saat ditem- patkan di koil yang bermasalah (gambar 4.30). Saat terdapat indi- kasi tersebut, segera ganti lilitan statornya. Kerusakan koil dari ar- Daniel R.Tomal, 1993, hal 77 matur biasanya ditandai dengan perubahan warna dan kerusakan Gambar 4.37: Pengujian Hubung- insulasi. singkat untuk Jangkar Jangkar (armatur) motor dapat diperiksa kerusakannya dengan meng- gunakan internal growler. Tempatkan jangkar (armatur) pada growler dengan strip metalnya ditempatkan di bagian atas jangkar (armatur). Putarlah jangkar (armatur) tersbut. Jika strip metal bergetar dengan cepat, menandakan jangkar (armatur) tersebut mengalami kerusakan. Gambar 4.31 mengilustrasikan prinsip penggnaan internal growler dan hacksaw blade. Pengecekan ground terhadap jangkar (armatur) dapat dilakukan dengan test lamp. Hubungkan salah satu ujung test lamp pada komutator dengan ujung Motor yang mengalami kerusakan jangkar (armatur) bertenaga buruk, bergetar, menderum, tidak berfungsi, atau memancarkan fusi. lainnya pada shaft jangkar (armatur). Jika lampu menyala, berarti jangkar (armatur) dalam keadaan ground. 3). Pengujian Lilitan Jangkar Percobaan untuk mengecek apakah lilitan jangkar berfungsi dengan baik, tidak ada yang putus atau hubungsingkat dengan inti jangkarnya, periksa Gambar 4-32. Poros jangkar ditempatkan pada dudukan yang bisa berputar bebas. 140
  • 147. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK Alirkan listrik DC melalui komuta- tor, dekatkan sebuah kompas de- ngan jangkar, lakukan pengamat- an jarum kompas akan berputar kearah jangkar. Hal ini membuk- tikan adanya medan elektromag- net pada jangkar, artinya lilitan jangkar berfungsi baik. Tetapi jika jarum kompas diam tidak bereaksi, artinya tidak terjadi elektromagnet Fachkunde Elektrotechnik, 2006, hal 457 karena belitan putus atau hubung- singkat ke inti jangkar. Gambar 4.38: Pengujian Hubungsingkat pada Jangkar 4.8.2. Pemeliharaan Generator Pemeliharaan dan perbaikan genera- tor hampir sama dengan pemelihara- an motor listrik. Masalah utama pada generator ialah terbakarnya sekering, regulator tidak bekerja, output tegang- an rendah atau tinggi, tegangan yang tidak stabil (berfluktuasi). Prosedur pertama lakukan pemeriksa- an visual terhadap konektor, terminal- terminal terhadap karat, atau terkon- Daniel R.Tomal, 1993, hal 83 taminasi dengan cairan, debu, dan lain-lain. Gambar 4.39: Prosedur untuk Pengukuran Rugi-rugi Inti 1). Pengujian hubung singkat Dapat dilakukan dengan mematikan catu daya, ukurresistansi ter- minal-terminal yang dicurigai. Jika nilai resistansi nol, maka terjadi hubung singkat, sebaliknya jika nilai resistansi sangat besar, maka ini berarti sambungan tersebut terbuka. 141
  • 148. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK 2). Pengujian Regulator Jika regulator tidak bekerja. Lakukan pengaturan. Jika tetap ti- dak bekerja maka ganti dengan yang baru. Masalah yang ada pada Tali Pengikat umumnya adalah ketika beban di- pasangkan pada generator dan te- gangan output terlalu rendah atau berfluktuasi, maka akan menye- babkan kerusakan pada regulator. Dengan asumsi bahwa alat ukur yang digunakan baik, akurat dan Daniel R.Tomal, 1993, hal 84 tidak ada sambungan yang terpu- tus, maka mungkin generator perlu Gambar 4.40: Pembongkaran dibongkar, lalu dites komponen- Exciter (Penguat Eksitasi) dengan komponennya. Derek dan Tali Pengikat 3). Prosedur membongkar dan memeriksa generator. • Matikan sumber daya • Beri tanda dan identifikasikan semua kabel dan bagian yang dibongkar agar nanti mudah memasangnya. • Gunakan derek dan tali pengikat yang sesuai • Lepaskan semua pengikat dan semus bagian atau komponen yang terkait untuk menghindari kerusakan yang lebih luas, khususnya untuk generator ukuran besar dan berat. • Periksa stator dari kemungkinan terlepas, terurai, atau belitan yang terbakar • Ukur resistansi antar lead, cocokkan dengan data dari pabrik. Misalnya untuk nilai 20 ohm mungkin masih bagus. Jika nilai resistansinya nol, maka terdapat hubung singkat pada li- litannya, dan jika nilainya tak terhingga maka belitan terbuka. • Lakukan uji pentanahan antara kerangka dan lilitan dengan menggunakan megohmmeter. Kerusakan juga sering terjadi pada diode generator. Oleh sebab itu, lakukan juga mengecekan resistansi pada diode. Jika rusak (terbakar/ terhubung singkat/ terbuka) ganti dengan yang baru. 142
  • 149. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK Pemobongkaran Rotor Untuk membongkar rotor dari ge- nerator yang besar dan berat, gu- nakan kombinasi derek dan pem- bongkar khusus, seperti ditunjuk- kan pada Gambar 4.35. Lepaskan rotor dengan hati-hati, tanpa me- nyentuh bagian-bagian yang terka- it untuk mencegah kerusakan pada rotor atau lilitannya. Pada umum- nya kerusakan terjadi pada diode. Daniel R.Tomal, 1993, hal 85 Pengujian diode dapat dilakukan dengan metode uji resistansi, de- Gambar 4.41: Pembongkaran ngan menggunakan ohmmeter. Penguat Eksitasi Menggunakan Derek dan Pembongkar Khusus Resistansi diode harus terbaca be- sar dari satu arah pengukuran, dan terbaca kecil pada arah pengukur- an sebaliknya 4). Perawatan Bearing Periksa secara periodik kondisi bearing. Jika rusak ganti dengan yang baru. Gunakan cakram pen- cabut bearing yang sesuai. Ganti pelumas di dalam bearing de- ngan yang baru. Isikan pelumas yang baru melalui lubang tutup. Pengisian hendaknya jangan me- Daniel R.Tomal, 1993, hal 86 lebihi lubang tutup ini. . Gambar 4.42: Melepas Bearing dengan Pencabut dan Pemanas. 4.8.3. Pemeliharaan Preventif Pemeliharaan terhadap kotoran atau debu. Usia mesin-mesin listrik ditentukan oleh cara pemeliharaannya. Peme- liharaan yang kurang baik ditandai dengan adanya debu tebal, karat- an, atau adanya bekas tertempel cairan atau bahan kimia lainnya, dan sebagainya. 143
  • 150. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK Pemeliharaan preventif, seperti pemeriksaan berkala, pencatatan dan servis komponen, penggantian bearing, pembersihan motor, peng- gantian oli dan sebagainya akan mengurangi biaya dan waktu per- baikan. Semua kegiatan pemeliharaan tersebut sebaiknya dicatat da- lam buku catatan pemeliharaan yang disebut logbook atau backlog. Debu, karat atau kontaminasi benda lainnya dapat mengakibatkan ter- tutupnya lubang angin pada generator, dan ini dapat mengakibatkan komutator konduksi. Cipratan air dapat mengakibatkan belitan terhu- bung singkat atau jangkar tersambung pada ground, sehingga motor menjadi break-down. Untuk motor-motor repulsif, perlu dilakukan pemeliharaan sikat dan komutator secara periodik. Periksa ketegangan sikat, lalu atur sikat dan pemegangnya. Pemeriksaan poros. Poros rotor harus diperiksa secara berkala. Periksa derajat kelurusan poros dengan dial indikator. Bersihkan semua kontak dan saklar de- ngan kertas amplas halus atau dengan contact cleaner. Pemeriksaan mur dan baut. Lakukan pemeriksaan semua baut dan mur, kencangkan jika ada yang kendor, jika ada yang pecah atau retak, maka ganti dengan yang baru. Periksa juga semua isolasi lilitan. Perbaiki jika ada yang rusak.Rangkuman • Mesin-mesin listrik terdiri dari mesin statis (transformator) dan mesin dinamis (motor dan generator). Dalam pembahasan buku ini, yang dimaksud dengan mesin listrik adalah generator atau motor. • Konstruksi motor dan generator pada dasarnya adalah sama, yaitu terdiri dari Stator (bagian yang tidak bergerak atau diam), dan Rotor (bagian yang bergerak). • Prinsip kerja motor mengikuti hukum tangan kiri Flamming, yaitu jika medan magnet yang dihasilkan oleh kutub utara-selatan magnet dimotong oleh kawat penghantar yang dialiri arus searah dengan empat jari, maka akan timbul gaya gerak searah ibu jari. Gaya ini disebut gaya Lorentz, yang bersarnya sama dengan F [Newton]. Sedangkan generator pada dasarnya bekerja sesuai dengan hukum tangan kanan Flamming, yaitu jika sepotong peng- hantar yang dialiri arus searah dengan empat jari tangan memo- tong medan magnet yang dihasilkan kutub utara-selatan, maka akan menimbulkan gerakan searah dengan ibu jari. 144
  • 151. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIK • Pada dasarnya terdapat dua macam generator, yaitu generator DC dan generator AC. Demikian pula dengan motor, terdapat motor DC dan motor AC. • Terdapat dua jenis motor DC, yaitu: motor penguat terpisah, dan motor penguat sendiri. Motor penguat sendiri meliputi:motor seri, motor shunt dan motor kompon yang merupakan kombinasi antara motor seri dan motor shunt. Sedangkan generator pada dasarnya adalah sama, tetapi yang sering digunakan adalah jenis generator terpisah. • Karakteristik Motor Penguat Terpisah: arus eksitasinya tidak ter- gantung dari sumber tegangan yang mencatunya. Putaran jangkar akan turun jika momen torsinya naik. • Karakteristik Motor Shunt: Rangkaian eksitasi motor shunt terletak paralel dengan jangkar. Putaran akan turun dengan naiknya momen torsi. Pada kondisi tanpa beban, karakteristik motor shunt mirip dengan motor dengan penguat terpisah. • Karakteristik Motor Seri: Rangkaian eksitasi motor seri dipasang secara seri terhadap jangkar. Diantara jenis motor DC lainnya, motor seri memerlukan momen torsi awal paling besar. Hal yang perlu diperhatikan, bahwa motor seri tidak boleh dioperasikan dalam kondisi tanpa beban. • Krarakterisrik Motor Kompon. Pada motor kompon, kutub utama berisi rangkaian seri dan paralel. Dalam kondisi tanpa beban, motor kompon mempunyai sifat seperti motor shunt. Pada kondisi beban terpasang, dengan momen torsi yang sama, akan didapat putaran sedikit lebih tinggi. • Pemeliharaan mesin-mesin listrik pada umumnya ditujukan untuk memperpanjang usia pakai mesin. Ini dapat dilakukan melalui pe- meliharaan preventif. Untuk industri berskala besar, pemelihara- an telah dianggap sebagai suatu investasi perusahaan, sehingga masalah pemeliharaan perlu direncanakan dan dibuatkan sistem secara khusus. Hal-hal yang dapat dilakukan dalam pemeliharaan Preventif antara lain: pembersihan mesin dari kotoran debu, karat, dan se-bagainya; pengecekan sambungan-sambungan kabel atau lilitan kawat penghantar, sikat arang dan sambungan lainnya; pe- ngecekan tahanan isolasi; pemeriksaan bearing, poros, pemerik- saan mur-baut, dan sebagainya. • Teknik dasar yang digunakan dalam pemeriksaan kerusakan motor listrik meliputi: 1). Test lamp 2). Pengukuran arus, 3). Growler, dan 4). Megohmeter. 145
  • 152. PELACAKAN KERUSAKAN PADA MOTOR DAN GENERATOR LISTRIKLatihan Soal 1. Sebutkan apa saja yang termasuk dalam mesin-mesin listrik? 2. Sebutkan bagaimana bunyi kaedah tangan kiri Flamming? Dan sebutkan pula bagaimana kaedah tangan kanan Flamming? 3. Jelaskan prinsip kerja sebuah motor! Jelaskan pula prinsip kerja sebuah generator! 4. Gambarkan konstruksi dasar sebuah motor listrik yang Anda ketahui. Apakah ada perbedaan antara konstruksi dasar motor dan generator? Jika ada sebutkan! 5. Jelaskan bagaimana karakteristik dari mesin-mesin listrik berikut ini: motor shunt, motor seri dan motor kompon! 6. Apa gunanya test lamp pada motor? Jelaskan prosedur untuk pengujian motor dengan test lamp. 7. Apa gunanya pengujian megohm? Bagaimana prosedur pengujian motor dengan megohm? 8. Jelaskan bagaimana prosedur pengujian lilitan jangkar pada motor?Tugas Kelompok:Buatlah kelompok belajar yang terdiri dari 3-5 orang per kelompok.Masing-masing kelompok mencari sebuah kasus kerusakan dari sebuahmesin lsitrik (misalnya trafo, kipas angin, hair dryer, mesin cuci, dan lain-lain). Cari manual peralatan yang rusak tersebut. Dengan pengawasanguru, lakukan pengetesan dan pengukuran, sehingga Anda mengetahuipenyebab kerusakan mesin tersebut. 146
  • 153. LAMPIRAN A: DAFTAR PUSTAKA1. Albert D Helfrick, Practical Repair and Maintenance of Communication Equiment, PHI, 19832. Curtis Johnson, Process Control Instrumentation Technology, 4th edition, PHI, 19973. Daniel L. Metzger, Electronic Component, Instruments, And Troubleshooting, PHI, 19814. Daniel R Tomal & Neal S Widmer, Electronic Troubleshooting, Mc Graw Hill, 19935. David A. Bell. Electronic Instrumentation and Measurement, PHI, 19836. Ernest O. Doebelin, Sistem Pengukuran Aplikasi dan Perancangan, 2nd Edition, Erlangga, 19927. Fachkunde Mechatronics, Europa, Lehrmittel, 20058. Friedrich, Tabellenbuch Electrotechnik Elektronik, Ümmer- Bonn, 19989. Frans Gunterus, Falsafah Dasar Sistem Pengendalian Proses, Elex Media Komputindo, 197710. Function Generator Instruction Manual, Good Will Instrument Co, Ltd.11. GC Loveday, Electronic Fault Diagnosis, , Pitman Publishing Limited, 197712. GC Loveday, Electronic Testing And Fault Diagnosis, Pitman Publishing Limited, 198013. Günter Wellenrcuther, Steuerungstechnik mit SPS, Viewgs, Fachbücher der Technik, 199514. I.J. Nagrath, Electric Machines, McGraw-Hill, 198515. James, A. Rehg, Programmable Logic Controllers, PHI, 200716. Japan Manual Instruction Railway, 197817. Joel Levitt, Preventive and Predictive Maintenance, Industrial Press, 200218. Klaus Tkotz, Fachkunde Elektrotecchnik, Europa, Lehrmittel, 200619. Luces M. Faulkenberry, System Troubleshooting Handbook, John Wiley & Sons, 198620. Richard E. Gaspereni, Digital Troubleshooting, Movonics Company, 197621. Robert C. Brenner, IBM PC Trobleshooting and Repair Guide (terjemahan), Slawson Communications, Inc, 1986.22. Robert J Hoss, Fiber Optic Communication Design Handbook, PHI, 199023. Schuler-McNamee, Modern Industrial Electronics, McGraw-Hill, International Edition, 1993 A-1
  • 154. 24. Sofyan, Mencari Dan Memperbaiki Kerusakan Pada Tv Berwarna, Depok, Kawan Pustaka, 200425. S.R Majumdar, Oil Hydraulic Systems Principles and Maintenance, Tata Mcraw-Hill, 200126. Terry Wireman, Computerized Maintenance Management System, Industrial Press Inc. 198627. Thomas Krist, Dines Ginting, Hidraulika, Ringkas dan Jelas, Erlangga, 199128. Walter H. Buchsbaum, ScD, Tested Electronics Troubleshooting Methods, The Prntice Hall Library, 198329. Wasito S., Tehnik Televisi Warna, Karya Utama, 197930. Wasito S., Penguat Frekuensi Tinggi, Cetakan ke 5, Karya Utama, 198131. Wasito S., Tehnik Transmisi, Cetakan ke 2, Karya Utama, 197932. Wiliam Stallings, Data and Computer Communication, 5th edition. PHI, 1997 A-2
  • 155. LAMPIRAN : B Daftar Vendor dan CMMSVendor : ABC Management system, Inc.Address : Suit 3 Dupont Street Bellingham, WA 98225Phone : 206-671-5170System Name : ABCMMOperating System : Main Frames, Minis, MicrosSystem Price : N/ASystem Description : Labor and Timesheets Work Order Planing and Scheduling Finite Net Capacity, Estimating, Timeslots, Backlog Performance Control Maintenance Budget Control Equipment History, Nameplates, and spares Data Stores and Inventory Management Preventive Maintenance Dates/Crafts/Capacity/TimeslotsVendor : ACME Visible Records Inc.Address :Phone : 800-368-2077System Name : Media-flek Software PM SystemOperating System : any MS/ PC-DOS SystemSystem Price : $ 3,995.00-$10,000.00System Description : Master Equipment Record Preventive Maintenance/Repairs Record Procedure Description Record Scheduling System Work Order Bar Coding for InventoryVendor : Advanced Business StrategiesAddress : 6465 Monroe StreetPhone : 419-882-4285System Name : MAINTAINATROLOperating System : IBM PC/XT, Digital, ZenithSystem Price : $ 3,995.00System Description : Work Order Selection Preventive Maintenance MRO Iventory B-1
  • 156. LAMPIRAN : B Maintenance Reports Time/Job Cards Order/Receive MaterialsVendor : Anibis Inc.Address : 5859 Skinner Road Stillman Valley, IL 61084Phone : 815-234-5341System Name : ALLYOperating System : IBM Mainframe with DLI, IDMS, IMS, VSAM,or TotalSystem Price : N/ASystem Description : Integrates maintenance, stores, and accounting informationVendor : Anwan Computer ServicesAddress : 19 Winterberry Lane Rehoboth, MA 02769Phone : 617-252-4537System Name : PM-Status IIOperating System : IBM PCSystem Price : $ 395.00System Description : Keeps PM records and print report when requestedVendor : Applied System Technology and Resources, IncAddress : 1140 Hammond Drive Suite 1110 Atlanta, GA 30328Phone : 404-394-0436System Name : MAPCONOperating System : PC/MS DOS Micros 512K, 10M hard diskSystem Price : $ 8,000.00-$11,000.00System Description : Purchasing Inventory Control Material Issue System Master Equipment List Work Oreder (allow entry of job steps) Preventive Maintenance Personnel (files personal information for each Employee) B-2
  • 157. LAMPIRAN : BVendor : Arthur Anderson &Co.Address : Suite 2200 1201 Elm Street Dallas, TX 75270System Name : M3SOperating System : IBM PC or copatibleSystem Price : N/ASystem Description : Work Order Planning Work Order Control Inventory and Purchase Order Control Equipment History Timekeeping Management ReportsVendor : Auto Tell Services, Inc.Address : 600 Clark Ave. P.O. Box 1350 King of Prussia, PA 19406Phone : 800-523-5103System Name : ATSOperating System : IBM Mainframe and also the IBM XT and ATSystem Price : $ 10,000.00-$ 35,000.00System Description : Maintenance Management Predective Maintenance Planned Maintenance Equipment History Manpower Planning and Scheduling Inventory Control Energy Analysis and ConservationVendor : Babcock & WilcoxAddress : Fossil Fuel Engineering & Services Departement 20 S. Van Buren Avnue Barberton, OH 44203Phone : 216-860-6440System Name : Managed Maintenance ProgramOperating System : N/ASystem Price : N/ASystem Description : Preventive Maintenance Predictive Maintenance Plant Performance Monitoring Master Equipment Files Work Order B-3
  • 158. LAMPIRAN : B Equipment History Failure Analysis Data Material RequisitionsVendor : Balfour Kilpatrick-USAAddress : One Lincoln Center-Suite 200 5400 LBj Freeway Dallas, TX 75240Phone : 214-233-3977System Name : WIMSOperating System : MS/PC DOSSystem Price : N/ASystem Description : Asset Management Energy Management Stock Control and Purchase Orders Redecorations Budget Monitoring Annual Maintenance Plans Property Management Conditional Appraisal Planned Maintenance OptimizationVendor : Barber-Coleman CompanyAddress : 1300 Rock Street Rockford, IL 61101Phone : 815-877-0241System Name : ECON VIOperating System : N/ASystem Price : N/ASystem Description : Tends to be an energy management systemVendor : Bently-NevadaAddress : P.O. Box 157 Minden, NV 89423Phone : 800-227-5514System Name : Data ManagerOperating System : N/ASystem Price : N/ASystem Description : N/AVendor : James K. Bludell AssociatesAddress : 4816 Kendall Drive B-4
  • 159. LAMPIRAN : B Independence, MO 64055Phone : 816-373-6668System Name : MANIACOperating System : MS-DOS MicrosSystem Price : N/ASystem Description : Equipmqnt File Spare Parts Inventory Manpower Planning File Maintenance Coded Repairs Maintenance Scheduling Work Order Backlog Work Order Management Machine History and ReportsVendor : Boeing Computer ServicesAddress : Mail Stop 6K-86 P.O. Box 24346 Seattle, WA 98124Phone : 206-656-9233System Name : MMS Maintenance and Material ManagementOperating System : N/ASystem Price : N/ASystem Description : Material Structure Work Order Control Inventory Control Material Planning Requisition Control Purchase Order Control Accounting InterfaceVendor : Bonner & MooreAddress : 2727 Allen Parkway Houston, TX 77019Phone : 713-522-6800System Name : COMPASSOperating System : IBM mainframesSystem Price : N/ASystem Description : Work Order Job Planning Inventory Control and Purchasing Equipment Records Personnel Data Preventive Maintenance B-5
  • 160. LAMPIRAN : BVendor : Catalytic , Inc.Address : Centre Square West 1500 Market Street Philadelphia, PA 19102Phone : 215-864-8000System Name : TRACOperating System : N/ASystem Price : N/ASystem Description : Work Order Schedules Accounting Support SystemsVendor : Charles Brooks and AssociatesAddress : 723 Sharon Aminity Road Charlotte, NC 28211Phone : 919-274-6960System Name : COMMSOperating System : IBM mini and microsSystem Price : N/ASystem Description : Work Planning and Control Inventory Planning and Control Performance Management Purchasing and SupplierVendor : Centaurus Software Inc.Address : 4425 Cass Street Suite A San Diego, CA 92109Phone : 619-270-4552System Name : PeagusOperating System : IBM XTSystem Price : $6,500.00System Description : Planning Analysis and Historical TrackingVendor : Comac System, Inc.Address : 6290 Sunset Blvd. Suite 1126 San Diego, CA 90028Phone : 213-463-5635System Name : COMAC B-6
  • 161. LAMPIRAN : BOperating System : IBM XT, AT, or compatibles; hard disk requiredSystem Price : $ 20,000.00+System Description : Asset Register Maintenance Plan Work in Progress Plant History Resources *Condition Base - used to predict time to failure *Defect Analysis - used to help identify cause of failure *System Flexibility-allows modification of System (*Denotes additional cost for module)Vendor : Computer Analysts InternationalAddress : P.O. Box 650156 Houston, TX 77065-0156Phone : 713-688-8150System Name : FREFIXOperating System : PC/MS-DOS systemsSystem Price : N/ASystem Description : Preventive Maintenance Repair Maintenance Work Order Control Inventory ReportsVendor : Crothall System, Inc.Address : 203 Commonwealth Building University Office Plaza Newark, DE 19702Phone : 302-998-1121System Name : EPIXOperating System : IBM PC/XTSystem Price : N/ASystem Description : Equipment Description Weekly Work Schedule Work Order Cost History/Control Sheets (primarily a preventive maintenance system)Vendor : Daniel B-7
  • 162. LAMPIRAN : BAddress : Daniel Building Greenville, SC 29602Phone : 803-298-3500System Name : CMMS (large) or MTS (smaller)Operating System : Mainframes, MicrosSystem Price : Depends on System SizeSystem Description : Work Order Equipment Parts Catalog Stores Inventory Purchase Order Status Preventive Maintenance Equipment HistoryVendor : The Data Groups CorporationAddress : 80 Hayden Ave. Lexington, MA 02173Phone : 800-247-1300System Name : SHOPWATCHOperating System : N/ASystem Price : N/ASystem Description : Planning and Scheduling Work Order Processing Procurement and Storeroom Control Bill of Material and Storeroom Control Bill of Material and Tool room Control Equipment Catalog and History Employee Trade and Skills Management Alerts and Workorder Tracking Report Writer and Inquiry SystemVendor : Datatend, Inc.Address : 3914 Beau d”Rue Drive Eagan, MN 55122Phone : 612-454-1526System Name : Mainta-gardOperating System : N/ASystem Price : N/ASystem Description : A computerized preventive maintenance ProgramVendor : DDS IncorporatedAddress : 5155 Mercury Point San Diego, CA 92111 B-8
  • 163. LAMPIRAN : BPhone : 714-565-9166System Name : Fleet Maintenance SystemOperating System : N/ASystem Price : N/ASystem Description : A preventive maintenance system for vehicle fleetsVendor : Decision DynamicsAddress : No. 295 The Water Tower Portland, OR 97201Phone : 503-248-9125System Name : DYNASTAROperating System : IBM PC or compatibleSystem Price : N/ASystem Description : Job Scheduling Time Analysis Machine History Parts InventoryVendor : Demar Service, Inc.Address : 2326 Lyons Ave. Suite 219 Newhall, CA 91321Phone : 805-255-1005System Name : E.M.C.O.Operating System : Mainframe and MicroSystem Price : $ 17,000.00-$47,500.00System Description : Demar Security System Equipment Maintenance and Control On-Line Inventory System Purchase Order System Vendor System Personnel System Reporting System Proferty Management System Accounts Payable SystemVendor : Diagonal Data CorporationAddress : 2000 E. Edgewood Drive Lakeland, FL 33803Phone : 813-666-2330 B-9
  • 164. LAMPIRAN : BSystem Name : Fleet-MaintOperating System : IBM XT or PCSystem Price : $4,950.00-$ 11,950.00System Description : Vehicle inspection and preventive maintenance software[ Note: Purchased Vertimax]System Name : MicroMaintOperating System : IBM XT or compatibleSystem Price : $ 3,750.00System Description : Work Orders Equipment History Parts Inventory Preventive MaintenanceVendor : DP System and ServicesAddress : P.O. Box 7287 2120 Pinecraft Road Greensboro, NC 27417-7287Phone : 919-852-0455System Name : MMS-The Maintenance Management SystemOperating System : IBM-XTSystem Description :Contains the following selections : Machines (Equipment) Storeroom Parts Work Routines (PM) Work Order Order and Order Problem History (history) Parts and Forecast Labor (a Preventive maintenance labor And spares forecast) Project Maintenance (used to Track large work orders) ReportsVendor : DLSA, Inc.Address : Box 496W Waquoit, MA 02536Phone : 617-540-7405System Name : REPMAIN IIOperating System : Mainframe and MicroSystem Price : $ 8,500.00-$ 30,000.00 B-10
  • 165. LAMPIRAN : BSystem Description : Engineering Spares Work Order Labor PurchasingVendor : EFAX CorporationAddress : 444 North York Blvd. Elmhurst, IL 60126Phone : 312-279-9292System Name : PROBE IIIOperating System : AT or compatibleSystem Price : $25,000.00-$125,000.00System Description : Inventory Stockroom Work Order Equipment Tradesman PurchasingVendor : ELKE CorporationAddress : P.O. Box 41915 Plymounth, MN 55442Phone : 612-559-9394System Name : MAIN/TRACKEROperating System : IBM 36System Price : $ 24,000.00+10% annual mantenance feeSystem Description : Equipment/Specification Tracking Module Preventive/Predective Maintenance Component Refair Equipment Cost tracking Refair Parts Inventory and PurchasingVendor : Energy IncorporatedAddress : P.O. Box 736 Idaho Falls, ID 83402Phone : 208-529-1000System Name : MICRO-SIMSOperating System : IBM PC or compatibleSystem Price : N/ASystem Description : Equipment Information Management Work Request Work order Planning B-11
  • 166. LAMPIRAN : B Equipment History Preventive MaintenanceVendor : EMA, Inc.Address : 270 Metro Square St. Paul, MN 55101Phone : 612-298-1992System Name : MAINTENANCE MANAGEROperating System : N/ASystem Price : N/ASystem Description : Work Order Preventive Maintenance Inventory and Purchasing System ReportsVendor : Engineering Planning and management Inc.Address : Point West Office Center Three Speen Street Framingham, MA 01701Phone : 617-875-2121System Name : PLANSITE-FACTSITEOperating System : HP3000System Price : $20,000.00System Description : Inventory Purchasing and Receiving Work Order Tracking and Manpower Planning Preventive MaintenanceVendor : G.K. Flemming & AssociatesAddress : 1118 Roland Street Thunder Bay, Ontario Canada P7M 5M4Phone : 807-623-2310System Name : Plant Maintenance Information SystemOperating System : N/ASystem Price : N/ASystem Description : Maintenance Planning Work Scheduling Equipment Management Inventory Control Purchasing Cost Control Financial Reporting B-12
  • 167. LAMPIRAN : BVendor : General Physics CorporationAddress : 10650 Hickory Ridge Road Columbia, MD 21044Phone : 800-638-3838System Name : PEM (Plant Equipment management)Operating System : Prime/Ultimate, IBMSystem Price : N/ASystem Description : Plant maintenance Program Material Management Control Purchasing Program Equipment Data ProgramVendor : Global Software ConsultantsAddress : 307 4th Ave. P.O. Box 15626 Minneapolis, MN 55415Phone : 612-757-2305System Name : TaskmasterOperating System : IBM XT or compotibleSystem Price : $ 6,000.00. Some Small add onsSystem Description : Master Equipment Special Intruktions File Cost Center File Maintenance Intruktions File Inventory File Vendor File Equipment Component File Employee Performance File History FileVendor : Grumman Data System CorporationAddress : 1000 Woodbury Road Woodbury, NY 11797Phone : 800-GDS-INFOSystem Name : The Maintenance management SystemOperating System : N/ASystem Price : N/ASystem Description : Work Order Generation Spare Parts Inventory Preventive Maintenance Report information B-13
  • 168. LAMPIRAN : BVendor : Hawlett PackardAddress : 2033 Branham Lane San Jose, CA 95124Phone : 408-559-5438System Name : HP Maintenance managementOperating System : HP 3000System Price : Mid $30,000.00’s to 70,000.00System Description : Work Order Control PM Scheduling Equipment and Work Order History Task and Craft Scheduling Graphics Reporting Parts Catalog Issue/Receipts Vendor Purchase order trackingVendor : HRL Associates Inc.Address : 2102-B Gallows Road Viena, VA 22180Phone : 703-448-1442System Name : TMS Maintenance ManagerOperating System : PC/MS-DOSSystem Price : Approx. $6,500.00System Description : Computer-Generated Preventive maintenance Work Order Computer-Generated Corrective Work Order Computer-Generated Maintenance Management reports Inventory UsageVendor : Impell PacificAddress : 2345 waukegan Rd. Bannockburn, II.60015Phone :312-940-2000System Name : Maintenance management SystemOperating System : IBM MainframeSystem Price : $20,000.00-$180,000.00System Description : Work Order System Equipment System Preventive Maintenance system Personnel Control System Budgeting and Accounting System B-14
  • 169. LAMPIRAN : B Planning SystemVendor : INDECON Inc.Address : 935 Merchants.Plaza East Indianapolis, IN 46204Phone : 317-634-9482System Name : The Maintenance Management Information SystemOperating System : N/ASystem Price : N/ASystem Description : Work Order Stores and Purchasing System Maintenance System Reports Preventive MaintenanceVendor : Intec System, Inc.Address : 400 Australian Avenue West Palm Beach, FL 33401Phone : 305-832-3799System Name : EMIS (Equipment Management Information service)Operating System : IBM 370, 30XX, 43XX, Micro-compatible alsoSystem Price : N/ASystem Description :For fleet maintenance: Equipment Inventory Master File- Equipment Records Fuel File-All fuel transaction for Equipment Repair File-All equipment repairVendor : J.B. systemAddress : 21600 Oxnard Street Suite 640 Woodland Hills, CA 91367Phone : 213-340-9430System Name : MAINSAVEROperating System : PC/MS-DOS and DEC/VAXSystem Price : $3,000.00-$28,000.00System Description : Work Order Module Budget Module Maintenance History Module Inventory History module Preventive Maintenance modul B-15
  • 170. LAMPIRAN : BVendor : Jentech Control, Inc.Address : RT.i Box 93 Gresham, WI 54128Phone : 715-787-3795System Name : Jentech Maintenance Management SystemOperating System : IBM PC or XT or Apple IIeSystem Price : $849.00System Description : Equipment Information Preventive Maintenance Equipment Run Hours Work History Inventory (Note: Good for only 500 pieces of Equipment)Vendor : Johnson ControlsAddress : 507 E. Michigan Street P.O. Box 423 Wilwaukee, WI53201Phone : 414-274-4000System Name : JC/85Operating System : N/ASystem Price : N/ASystem Description : Work Orders Management reports Downtime SchedulingVendor : Josalli Inc.Address : P.O.Box 460 Enka, NC 28728Phone :704-252-9146System Name :PMS (Preventive Maintenance System)Operating System :IBM PC or XT or compatibleSystem Price : $495.00System Description : Equipment Inventory Preventive Maintenance Job Posting Equipment History System ReportsVendor : Keith StevenAddress : 9531 West 78th Street B-16
  • 171. LAMPIRAN : B Edeen Prairie, MN 55344Phone : 612-941-0770System Name : MCSOperating System : DEC VAX, Prime, HPSystem Price : N/ASystem Description : Routine Maintenance Preventive Maintenance Stores/Inventory PurchasingVendor : Kellogg Plant serviceAddress : Three Greenway Plaza East Houston, TX 77046Phone : 713-960-2000System Name : KELCAMOperating System : N/ASystem Price : N/ASystem Description : Work Oreder Tracking Equipment History Nameplate Tracking Job Planning Inventory Control Preventive Maintenance Tracking Purchase Order Tracking Personnel trackingVendor : KRM Software Develoment CompanyAddress : 6851 South Holy Circle Suite 160 Englewood, CO 80112Phone : 303-793-0226System Name : ESCAPEOperating System : N/ASystem Price : $25,000.00 + 10% annual maintenanceSystem Description : Employee Data Preventive Maintenance Work OrdersVendor : Maintenance Automation CorporationAddress : 400 South Dixie Highway Hallandale, FL 33009Phone : 305-454-9997System Name : The Chief B-17
  • 172. LAMPIRAN : BOperating System : IBM MicrosSystem Price : $5,400.00 but add ons could increase to $10,000.00System Description : Preventive Maintenance Records Reports Rountine and Special Work Orders Labor and Material CostsVendor : Maintenance Control SystemAddress : 7530 Gallup Street Littleton, CO 80120Phone : 303-798-3575System Name : MCSIOperating System : IBM PC, XT, ATSystem Price : $2,500.00System Description : Work Order Planning Preventive Maintenance Scheduling Mean-Time-to-Failure Tracking Equipment reports Accounting Summary Spare Parts InventoryVendor : Marshall SystemAddress : 383 N. Kings Highway Cherry Hill, NJ 08034Phone : 609-779-1187System Name : MACSOperating System : IBM-PCSystem Price : $8,000.00 for system; $4,000.00 for trainingSystem Description : Storeroom Control System Maintenance Scheduling Maintenance Evaluation and PlanningVendor : H.B. Maynard and Company, Inc.Address : 235 Alpha Drive Pittsburgh, PA 15238Phone : 412-963-8100System Name : AUTOMAINTOperating System : IBM PC or XTSystem Price : N/ASystem Description : Preventive Maintenance Corrective Maintenance Inventory Management B-18
  • 173. LAMPIRAN : B Labor Reporting Management ControlVendor : MCC POWERSAddress : 2942 MacArthur Blvd. Noorthbrook, IL 60062Phone : 312-272-9555System Name : MCCOperating System : Mini Computers PDP-IISystem Price : $10,000.00-$25,000.00System Description : Work Order Stores and Purchasing System Maintenance System Reports Preventive MaintenanceVendor : Micro Business ApplicationsAddress : 24293 Telegraph Rd. Southfield, MI 48034Phone : 313-358-3366System Name : Asset Information Management SystemOperating System : MS-DOSSystem Price : $10,000.00-$50,000.00System Description : Preventive Maintenance Corrective Maintenance Equipment History Personnel Time Management Purchase Order and Budget ControlVendor : Mineral Services, Inc.Address : 711 Marion Building 1276 West Third Street Cleveland, OH 44113Phone : 216-621-0886System Name : MSI Maintenance SystemOperating System : N/ASystem Price : N/ASystem Description : N/AVendor : MIS/R Systems, IncAddress : P.O. Box 303 Montchanin, DE 19710-9990 B-19
  • 174. LAMPIRAN : BPhone : 302-995-6340System Name : MIS/ROperating System : IBM, DEC, HP, WANG, Apple, MicrosSystem Price : $6,900.00-$9,600.00System Description : Equipment Inventory Preventive Maintenance History reports Manpower Usage Reports Inventory Budget reportsVendor : Modern Management Inc.Address : 7301 Carmel Executive Park Charlotte, NC 28226Phone : 704-542-6546System Name : MODCAMOperating System : MS/PC DOS System; also HP1000System Price : $20,000.00 + $1,000.00/yr renewal feeSystem Description : Work Oreder Tracking Preventive Maintenance Name Plate Tracking (vendor, spare parts, other information) Equipment History Inventory Control Job Planning ( Note: This system uses a series of benchmarks or sample maintenance job to assist in determining times to do jobs. They claim to specially tailor system to Clint’s needs )Vendor : National Southwire AlumuniumAddress : BOX 500 Hawesville, KY 42348Phone : 502-927-6921System Name : CAMSOperating System : N/ASystem Price : N/ASystem Description : Work Order Equipment Maintenance Labor Preventive Maintenance Spare Parts Engineering Drawings B-20
  • 175. LAMPIRAN : BVendor : NUS Operating Service CorporationAddress : 910 Clopper Road Gaithersburg, MD 20878-1399Phone : 301-258-6000System Name : Maintenance Management ProgramOperating System : PC/MS-DOS, IBM 36, and DEC/VAXSystem Price : $10,000.00 (Mainframe $50,000.00 and up)System Description : Equipment Data Base Corrective Maintenance Work Order Preventive Maintenance Work Order Maintenance History FilesVendor : OMNI Software SystemAddress : 146 North Board Street Grifttith, IN 46319Phone : 219-924-33522System Name : Preventive Maintenance SystemOperating System : IBM PC or CompatibleSystem Price : $250.00System Description : N/AVendor : Penguin Computer ConsultantsAddress : P.O. Box 20485 San Jose, CA 95160Phone : 408-997-7703System Name : Maintenance and Inpection SystemOperating System : IBM XT or ATSystem Price : $2,750.00System Description : Primarily a preventive maintenance system Also has an inventory expansion moduleVendor : Penton SoftwareAddress : 420 Lexington Ave. Suite 2846 New York, NY 10017Phone : 800-221-3414System Name : MAINTENANCE MASTER (Version I-IV)Operating System : IBM PC or XTSystem Price : $2,995.00-9,495.00System Description : Preventive Maintenance Maintenance Planning, Scheduling,and Control B-21
  • 176. LAMPIRAN : B Maintenance Inventory Control Equipment History Fixed Asset System (Voice Recognition in 1985)Vendor : Performance Technology, Inc.Address : P.O. Box 5000-410 Danville, CA 94526Phone : 415-838-7464System Name : Performance ProOperating System : N/ASystem Price : N/ASystem Description : Inventory Control Maintenance Operations ReportingVendor : Planned Maintenance SystemsAddress : 5707 Seminary Road Falls Church, VA 22041Phone : 703-931-8090System Name : Facility Management SystemOperating System : Mainframe, micro, miniSystem Price : $3,000.00-$60,000.00System Description : Work management System Equipment management System Materials Management System Time Accounting System Project management Budget and Accounting Program Swift On-Line Report DeveloperVendor : PM Associates (Note: Purchased by AT&T)Address : 54 Cruch Street P.O. Box 310 Le Roy, NY 14482Phone : 716-768-2111System Name : PM- Maintenance management SystemOperating System : IBM PC, XT, ATSystem Price : $20,000.00System Description : Work Order Information and Retrieval Priority Determination and Evaluation Planning and Scheduling Support B-22
  • 177. LAMPIRAN : B Multiple Steps and Work Type Work Order Extraction and Sorting Equipment Information and RetrievalVendor : PMS System CorporationAddress : 2800 West 28th St. Santa Monica, CA 90405Phone : 213-450-1452System Name : SMART/MMSOperating System : IBM 360/370/30XX/43XX, DEC/VAX, HP3000System Price : $60,000.00-$100,000.00System Description : Preventive Maintenance Work Order Equipment Tracking Program ManagementVendor : Project Software and Develoment, Inc.Address : 20 University Road Cambridge, MA 02138Phone : 617-661-1444System Name : MAXIMOOperating System : IBM XT or ATSystem Price : $17,900.00System Description : Work Order Tracking Preventive Maintenance Inventory Control Equipment History Security System Report Writer Mouse SupportVendor : Albert Raymond & AssociatesAddress : Newport Office Center Suite 600 5005 Newport Drive Rolling Meadows, IL 60008Phone : 312-577-6868System Name : RAMPSOperating System : IBM, WANG, NCR Minis, VAX, PC/36System Price : $18,750.00-$37,500.00System Description : Work Order Preventive Maintenance Equipment History Parts Inventory B-23
  • 178. LAMPIRAN : BVendor : Revere Technology and Consulting CompanyAddress : Route 5 Revere Road Scottsboro, AL 35768Phone : 205-259-4561System Name : Revere Dynamic SystemOperating System : IBM Mainframe, HP3000 (Micros also)System Price : N/ASystem Description : Maintenance Planning and Scheduling Control and Reporting Inventory Control PurchasingVendor : RMS SystemAddress : Two Scott Plaza Philadelphia, PA 19113Phone : 215-521-2817System Name : TRIMAX-PMOperating System : IBM 34, 36, 38System Price : $20,000.00-$120,000.00System Description : Maintenance Management Repair Management Inventory management (Leans heavily toward preventive maintenance)Vendor : Sigma Consulting GroupAddress : 12465 Lewis Street Suite 104 Garden Grove, CA 92640Phone : 714-971-9964System Name : WorkSmartOperating System : IBM Mainframe, HP-3000, IBM-36System Price : $40,000.00System Description : Equipment Records and History Preventive Maintenance Maintenance Cost Reporting Storeroom Inventory Control Purchase Order Processing Reports B-24
  • 179. LAMPIRAN : BVendor : The Stanwick CorporationAddress : 3661 Va. Beach Blvd. P.O. Box 12210 Norfolk, VA 23502Phone : 804-855-8681System Name : N/AOperating System : IBM PC/XT, also system 34System Price : $11,490.00System Description : Work Order Stores and Purchasing System Reports System Maintenance Preventive MaintenanceVendor : Syska & HannessyAddress : Facilities Management Group 11 west 42nd Street New York, NY 10036Phone : 212-921-2300System Name : FAMTRACOperating System : IBM PC or Compatible with Hard DiskSystem Price : License for $4,000.00-$8,000.00System Description : Nameplate Data and Spare Parts Information Preventive Maintenance Work Order System Standard Work Order Work Order History Maintenance Inventory Control Management Reports Employee Data StorageVendor : System Coordination IncorporatedAddress : P.O. Box 2600 Crystal river, FL 32629Phone : 904-795-2362System Name : CHAMPSOperating System : IBM, WANG, VAX mainframe, HP-3000System Price : $45,000.00-$190,000.00System Description : System Supervisory and File Maintenance Module Engineering Data Base Module Query Report Writer Global Report Writer Repetitive tasking Module B-25
  • 180. LAMPIRAN : B Maintenance work Request Module Personal moduleVendor : The System WorksAddress : The System Works 1640 Powers Ferry Rd., Bldg.11 Atlanta, GA 30067Phone : 404-952-8444System Name : The System Work, also NPAC2Operating System : Prime, IBM 4300, General AviationSystem Price : $100,000.00-$200,000.00System Description : Work Orders Stores purchasing Computer Data Base Preventive MaintenanceVendor : TERA Information Engineering CorporationAddress : 2150 Shattuck Avenue Berkeley, CA 94704Phone : 415-845-5055System Name : MCPOperating System : IBM, DEC, DGSystem Price : $40,000.00-$200,000.00System Description : Resource Data Mantenance planning Purchasing Inventory Control Utility Report RequestsVendor : TMM SystemsAddress : 127 Michael Drive Red Bank, NJ 07701Phone : 201-530-1805System Name : TMM (Total Maintenance management)Operating System : IBM XT/AT or Compatible 512KSystem Price : $9,500.00System Description : Work Order Processing Equipment Information and History Preventive Maintenance Inventory ControlVendor : Union Carbide B-26
  • 181. LAMPIRAN : BAddress : 39 Old Ridgebury Road Danbury, CT 06817-0001Phone : 203-794-5115System Name : MMIS ( Maintenance Management Information System )Operating System : N/ASystem Price : N/ASystem Description : Reliability Maintenance Work Load and Cost Control Maintenance Labor and Administration Planning and Scheduling Materials InterfaceVendor : USS Engineers and ConsultantsAddress : 600 Grant Street Pittsburgh, PA 15230Phone : 412-391-8115System Name : MIMSOperating System : MainframeSystem Price : $225,000.00System Description : Assigned Maintenance Scheduling and Control Maintenance planning and Control Personnel ResourcesVendor : Vertimax CorporationAddress : 522 South Florida Ave. Lakeland, FL 33801Phone : 813-688-1882System Name : MicromaintOperating System : IBM XT CompatibleSystem Price : $3,750.00System Description : Work Order Equipment History Parts Inventory Preventive MaintenanceVendor : Vision Computer SystemAddress : Georgetown Professional Building 3801 Monarch Drive Recine, WI 53406Phone : 414-552-7007System Name : VCSOperating System : Micro B-27
  • 182. LAMPIRAN : BSystem Price : N/ASystem Description : Work Order System Preventive Maintenance Overtime B-28
  • 183. LAMPIRAN : C DAFTAR TABEL NO JUDUL HAL1.1 Pekerjaan Pemeliharaan pada umumnya meliputi 41.2 Petunjuk Pemeliharaan Tape-Player 61.3 Informasi yang harus ada pada Fungsi Kontrol 27 Inventaris2.1 Perbandingan Jenis-Jenis dari Resistor Kegunaan 43 Umum2.2 Contoh Spesifikasi Sebuah Catu Data dan 45 Multimeter Digital2.3 Kecepatan Kegagalan Komponen 562.4 Efek Lingkungan terhadap Item 612.5 Pertanyaan 2-303.1 Signifikasi Angka-Angka Warna Umum Resistor 893.2 Kegagalan-Kegagalan pada Resistor Tetap 903.3 Aplikasi Resistor Variabel 923.4 Kerusakan Kapasitor dan Penyebabnya 943.5 Parameter-Parameter Penting Semikonduktor 104 Diskrit5.1 Karakteristik Beberapa Gabungan IC Logic 1505.2 Tabel Kebenaran RS Flip-Flop ( gerbang NAND) 1525.3 Tabel Kebenaran RS Flip-Flop ( gerbang NOR) 1525.4 Tabel Kebenaran untuk Bistable D 1535.5 Tabel Kebenaran untuk Bistable JK 1546.1 Kerusakan Umum pada Catu Daya Teregulasi 1916.2 Klasifikasi Umum dari Rangkaian Penguat 1986.3 Kerusakan pada Penguat Sinyal Kecil 2246.4 Kerusakan pada Penguat Daya 2256.5 Parameter-Parameter Op-Amp dan 248 Karakteristiknya7.1 Karakteristik Operasi dari Model-Model Motor 2709.1 Konversi A/D 9-511.1 Perbedaan PLC dengan PC (Personal Computer) 37911.2 a: Dasar Dasar Gerbang Logika 393 b: Tabel Kebenaran11.3 Implementasi Gerbang Logik, Diagram Ladder 393 dan Waktu11.4 Rangkaian Relay & Konfigurasi Logik 39411.5 Simbol & Notasi Teks untuk Pemrograman PLC 39511.6 Resistansi Kontak Bagian Tubuh 39811.7 Perbandingan Bilangan Biner, Desimal dan Oktal 435 C- 1
  • 184. LAMPIRAN : D DAFTAR GAMBAR NO JUDUL1.1 Kegiatan Pemeliharaan dan Perbaikan1.2 Contoh Kerusakan Alat pada Umumnya1.3 Tahapan Pemeliharaan Korektif1.4 Peralatan Bantu Diagnosis1.5 Contoh Sistem yang Akan Didiagnose1.6 Manual Perbaikan dalam Bentuk Diagram Alir1.7 A: Kondisi Normal B: Kondisi Rusak1.8 Diagram Blok Rangkaian Generator RF1.9 Prinsip-prinsip Manajemen1.10 Tipe dan Level Pekerjaan Pemeliharaan dan Perbaikan pada Umumnya1.11 Proses Pembuatan Rencana Kerja Pemeliharaan1.12 Contoh Sebuah W. R. Sederhana1.13 Reduksi Biaya Pemeliharaan Setelah Menggunakan CMMS1.14 Aliran Sistem Work Order1.15 Contoh Tampilan Work Order Entry pada Layer Monitor Komputer1.16 Contoh Tampilan pada Monitor Komputer Ten- tang Kegiatan Pemeliharaan Preventif1.17 Contoh Tampilan Monitor Komputer pada Modul Laporan Pemeliharaan1.18 Beberapa Jenis Alat Pemadam Kebakaran1.19 (a-h) Simbol-simbol Bahaya1.20 Peralatan Perlindungan Diri1.21 Organisasi OSHA2.1 Contoh Alat Komunikasi Sebuah Sistem2.2 Pemeliharaan2.3 Lampu Pijar Umurnya Tak Panjang2.4 Grafik Kerusakan Lampu Indikator2.5 Memperkirakan Keausan Itu Sulit2.6 Hubungan Antara Ongkos Pemeliharaan dan Perbaikan Serta Tersedianya Perlengkapan2.7 Ongkos Pemeliharaan yang Tak Menentu2.8 Kedisiplinan terhadap Waktu Termasuk Dalam Koordinasi Perusahaan2.9 Pengembangan Produksi2.10 Kolam Air Panas2.11 Kerugian karena Kerusakan Pelayanan2.12 Peralatan Rumah Sakit yang Perlu Dipelihara D-1
  • 185. LAMPIRAN : D2.13 Pemeliharaan yang Terprogram2.14 Segala Sesuatu Harus Direncanakan2.15 Bandingkan Sebelum Membeli2.16 Spesifikasi Potensiometer2.17 Contoh Alat Ukur2.18 Contoh Sumber Daya2.19 Contoh Alat Komunikasi2.20 Contoh Pengolah Data2.21 Contoh Elektronik Konsumen2.22 Contoh Sistem Kontrol2.23 Kalibrasi Hal yang Penting2.24 Hubungan Usia Peralatan dan Laju Kagagalan2.25 Semua Peralatan Harus Dipelihara2.26 Contoh Gagal Sebagian Warna Hijaunya Hilang2.27 Contoh Gagal Menyeluruh TV Mati Total2.28 a. Biaya Manufaktur Terhadap Keandalan b. Biaya Pemilikan Terhadap Keandalan2.29 Grafik R Terhadap T2.30 UPS Sebuah Redudancy Aktif2.31 Masalah Karena Redundancy Pasif2.32 Efek Lingkungan yang Mempengaruhi Keandalan2.33 Waktu Adalah Uang2.34 Teliti Dahulu Sebelum Bekerja2.35 Mengamati Gejala Kerusakan2.36 a. Multi Masukan Satu Keluaran b. Satu Masukan Multi Keluaran2.37 Sinyal Tracing Sebuah Penguat Sederhana2.38 Metode Signal Tracing Pasif Sebuah Catu Daya2.39 Metode Signal Tracing Aktif Radio FM Cara Pertama2.40 Metode Signal-Tracing Aktif Radio FM Cara Kedua2.41 Data Perusahaan2.42 8 Blok Sub Sistem Tersusun Seri2.43 Kerusakan Radio Cocok dengan Metoda Half Splitting2.44 Contoh Pemutusan Lup.2.45 Rangkaian Makin Komplek Analisa Makin Rumit2.46 Kebingungan Awal Bencana2.47 Contoh Analisa Kesalahan pada Regulator DC2.48 Analisa Sinyal Tanpa Alat Bantu Akan Membingungkan D-2
  • 186. LAMPIRAN : D2.49 Contoh Analisa Logika pada Shift Register.2.50 Analisa dengan Logika2.51 Tes Diri Komputer2.52 Diagram Alir Tes Diri CD-ROM2.53 Program Diagnosa Komputer2.54 Elemen Komputer Masih Berfungsi2.55 Keberhasilan Ada di Tangan Anda2.56 a. Hubungan Singkat Antara Basis ke Emiter b. Beban Kolektor Mendekati Nol c. Hubungan Transistor Paralel d. Penambahan RB Menyebabkan Vc Turun e. Hubungan Seri Dua Transistor f. Hubungan Input dan Output Transistor2.57 Pengetesan FET2.58 Pengetesan SCR2.59 Pengetesan SCR dengan Ohm Meter2.60 Rangkaian Osilator Sebagai Pengetes UJT2.61 Alat Tester Kesinambungan dengan Audio2.62 Rs Sebagai Resistor Decopling pada Catu Daya2.63 Re Pada Penguat Komplementary Simetris2.64 Rc Pada Flip – Flop3.1 Jenis – Jenis Resistor Tetap3.2 Konstruksi Dasar Potensiometer3.3 Bentuk Potensiometer3.4 Macam – Macam Kapasitor3.5 Gelang Anti Statik3.6 Rangkaian Sederhana untuk Mengukur Kapasitansi.3.7 Jembata n Kapas itan si3.8 Pemakaian Dioda Semikonduktor untuk Menentukan Polaritas Multimeter3.9 Mengukur Resistansi Maju BE Transistor3.10 Mengukur Resistansi Maju BC Transistor3.11 Mengukur Resistansi Balik BE Transistor3.12 Mengukur Resistansi Balik BC Transistor3.13 Jembatan Wheatstone3.14 Sirkit AC untuk L, C, R3.15 Kapasitansi / Induktansi Meter3.16 Karakteristik Dioda Semikonduktor3.17 Sirkit RAMP untuk Sirkit TEST3.18 Sirkit Pentest Tembus Arah Balik3.19 Bermacam-Macam Bentuk Transistor3.20 Tegangan Kerja Normal Transistor NPN dan PNP D-3
  • 187. LAMPIRAN : D3.21 Rangkaian untuk Mengukur Hfe3.22 Pemakaian XY Plotter untuk Mendapatkan Karakteristik Transistor.3.23 Pengukuran VCE(Sat)3.24 a. Pengukuran Idss b. Mengukur Yfs atau Gm3.25 Rangkaian untuk Menguji Thyristor3.26 Macam-Macam Bentuk IC Linear dan Digital3.27 Contoh Rangkaian Test IC4.1 Konstruksi Dasar Mesin Listrik4.2 Hukum Tangan Kiri untuk Motor4.3 Hukum Tangan Kanan untuk Generator4.4 Startor Mesin DC4.5 Potongan Mesin DC4.6 Komutator & Pemegang Sikat4.7 Konstruksi Generator DC4.8 Pembangkitan Tegangan Induksi4.9 Tegangan Rotor yang Dihasilkan Melalui Cincin- Seret dan Komutator4.10 Generator Penguat Terpisah4.11 Karakteristik Generator Penguat Terpisah4.12 Diagram Rangkaian Generator Shunt4.13 Karakteristik Generator Shunt4.14 Diagram Rangkaian Generator Kompon4.15 Karakteristik Generator Kompon4.16 Jangkar Generator DC4.17 Medan Eksitasi Generator DC4.18 Medan Jangkar dari Generator DC4.19 Reaksi Jangkar4.20 a): Generator dengan Kutub Bantu b): Generator Kutub Utama, Kutub Bantu, Belitan Kompensasi4.21 Medan Eksitasi dan Medan Jangkar4.22 Medan Eksitasi dan Medan Jangkar4.23 Rangkaian Ekivalen Jangkar4.24 a) Rangkaian Ekivalen Motor Penguat Terpisah b) Karakteristik Motor Penguat Terpisah4.25 a) Rangkaian Ekivalen Motor Shunt b) Karakteristik Motor Shunt4.26 a) Rangkaian Ekivalen Motor Seri b) Karakteristik Motor Seri4.27 a) Rangkaian Ekivalen Motor Kompon b) Karakteristik Motor Kompon4.28 Tipe Rotor dari Generator Sinkron D-4
  • 188. LAMPIRAN : D4.29 Generator Sinkron 6 Kutub4.30 Potongan Arus Putar Rotor4.31 Pemberian Daya pada Rotor4.32 Pengecekan Motor4.33 Rest Lamp4.34 Pengujian Ground dengan Meohmeter4.35 Pengujian Open Circuit4.36 Pengujian Hubung Singkat untuk Stator4.37 Pengujian Hubung Singkat untuk Jangkar4.38 Pengujian Hubung Singkat untuk Jangkar4.39 Prosedur untuk Pengukuran Rugi-rugi Inti4.40 Pembongkaran Eksiter dengan Tali Pengikat4.41 Pembongkaran Eksiter dengan Alat Khusus4.42 Melepas Bearing dengan Pencabut & Pemanas5.1 Contoh Bermacam-Macam Peralatan Digital5.2 Contoh Rangkaian Rtl5.3 Contoh Rangkaian Dtl5.4 Contoh Rangkaian Ttl5.5 Contoh Rangkaian Ecl5.6 Contoh Rangkaian Mos5.7 Contoh Rangkaian Iil5.8 Macam-Macam Bentuk IC5.9 Bistable RS5.10 Bistable Rs Clock5.11 Bistable D5.12 Bistable T5.13 Penggunaan Flip-Flop Edge Triggered Tipe D5.14 Bistable Jk Dasar5.15 Bistable Jk Master Slave5.16 Rangkaian Counter5.17 Shift Register Dasar5.18 Bistable MOS5.19 Shift Register Mos Static5.20 Shift Register Mos Dinamik5.21 Multimeter Analog dan Multimeter Digital5.22 Jenis Klip Logik dan Penggunaannnya5.23 Klip Logik Memberikan Indikasi Visual5.24 Macam-Macam Logik Probe dan Cara Pengukurannya5.25 Analisa Rangkaian Dimulai pada Pusat Rangkaian5.26 Pemulsa Logik yang dapat Memberikan Sinyal pada Rangkaian5.27 Beberapa Cara untuk Menguji Gerbang Logik D-5
  • 189. LAMPIRAN : D5.28 Letakkan Probe pada Keluaran Gerbang NAND dan Pemulsa pada Keluaran Gerbang AND5.29 Tempatkan Probe dan Pemulsa pada Keluaran Gerbang AND5.30 IC Tester5.31 Macam-Macam Osiloskop5.32 Lihat dan Sentuh5.33 Penumpukan IC5.34 Mikrovoltmeter untuk Mengetahui Rangkaian yang Hubung Singkat ke Ground5.35 Kondisi-Kondisi Kesalahan yang Mungkin di Suatu Gerbang Tunggal5.36 Keluaran Mensuplai Beberapa Masukan5.37 Rangkaian Lampu Kedip dengan Memori5.38 Rangkaian Ramp Generator5.39 8 Step Tangga6.1 Contoh Rangkaian Regulator Seri Linear6.2 Contoh Regulator Switching untuk Komputer6.3 Rangkaian Inverter6.4 Rangkaian Konverter6.5 Contoh Kurva Regulasi Beban untuk Catu Daya Teregulasi Linear6.6 Karakteristik Batas Arus Balik6.7 Beban Jarak Jauh dari Terminal-Terminal Catu Daya6.8 Remote Sensing untuk Kompensasi Tahanan Kawat6.9 Regulator-Regulator yang Memakai Point Of Load6.10 Distribusi Paralel6.11 Perbaikan Susunan untuk Gambar 6-106.12 Distribusi Satu Titik Solusi Terbaik6.13 Diagram Blok Regulator Seri Linear6.14 Contoh Catu Daya Teregulasi Dipasaran6.15 Rangkaian Pembatas Arus Regulator Seri6.16 Rangkaian Pengamanan Beban Arus Balik6.17 Rangkaian Pengamanan Tegangan Lebih6.18 Ic Regulator µA 723a6.19 Regulator 7V sampai dengan 37V6.20 Beberapa Langkah Pemeriksaan Visual6.21 Rangkaian Regulator Seri Linear dengan Menggunakan Transistor Sistem Darlington6.22 Rangkaian Inverter untuk Daya Rendah6.23 Dasar Rangkaian Inverter D-6
  • 190. LAMPIRAN : D6.24 Diagram Blok Regulator Mode Pengsaklar Primer6.25 Diagram Blok Regulator Mode Pensaklar Reguler6.26 Diagram Blok Smpu6.27 Bentuk Gelombang pada Tiap Titik Output Blok6.28 Pengawatan Catu Daya pada Komputer6.29 Salah Satu Model Catu Daya Komputer6.30 Blok Dasar Penguat6.31 Simbol Umum Penguat6.32 Penguat Satu Tingkat Kelas A6.33 Penguat Puspul Kelas B6.34 Rangkaian Osilator6.35 Pengukuran Penguat Tegangan pada Sebuah Rangkaian Penguat6.36 Pengukuran Impedasi Input dari Penguat Tegangan Audio6.37 Pengukuran Impedasi Output dari Penguat Tegangan Audio6.38 Pengukuran Daya Output, Efisiensi dan Sensitifitas dari Sebuah Penguat Output Audio6.39 Distorsi Amplitudo6.40 Distorsi Frekuensi6.41 Distorsi Crossover6.42 Filter Twin Tee6.43 Metode Dari Peragaan Distorsi Menggunakan CRO6.44 Pengukuran dengan Menggunakan Gelombang Kotak pada Sebuah Penguat6.45 a. Kapasitansi Liar yang Kecil pada Saluran AC Dapat Menimbulkan Derau yang Besar pada Level Saluran Berimpedasi Tinggi b. Pelindung Mengeliminasi Derau6.46 a. Pelindung Dihubungkan ke Tanah b. Pelindung Sambungan yang Benar6.47 a. Tehnik Meredam Derau untuk Loncatan Bunga Api Motor b. Alat Phone atau Tape Magnet (Head)6.48 Penguat Satu Tingkat dengan Tegangan Dc Normal6.49 Kondisi R1 Terbuka6.50 Kondisi R2 Terbuka6.51 Kondisi R3 Terbuka6.52 Kondisi R4 Terbuka6.53 Kondisi C1 Atau C2 Terbuka D-7
  • 191. LAMPIRAN : D6.54 Kondisi C3 Terbuka6.55 Kondisi C3 Hubung Singkat6.56 Hubungan Kolektor Basis Terbuka6.57 Hubungan Kolektor Basis Hubung Singkat6.58 Hubungan Emiter Basis Terbuka6.59 Hubungan Emiter Basis Hubung Singkat6.60 Hubunga Kolektor Emiter Hubung Singkat6.61 Penguat Daya Frekuensi Audio6.62 Diagram Modul Sistem Stereo6.63 Beberapa Contoh Bagian dari Sistem Audio Stereo6.64 Diagram Blok Expander6.65 a. Diagram Blok Sistem Penguat Stereo b. Grafik Audio Level untuk Penguat Pada Gambar 6.65a6.66 Gambaran Tentang Masalah Akustik6.67 Contoh TV Hitam Putih6.68 Contoh TV Berwarna6.69 Pengambilan Gambar oleh Kamera dan Disalurkan ke TV6.70 Diagram Blok Penerima TV Berwarna Lengkap6.71 Contoh Rangkaian TV Berwarna6.72 Diagram Blok Sederhana TV Berwarna6.73 Tuner TV6.74 Penguat IF6.75 Rangkaian AGC6.76 AGC Model Lain6.77 Rangkaian Defleksi Sinkronisasi6.78 Rangkaian Suara6.79 Rangkaian Catu Daya dan Skema Rangkaian Catu Daya6.80 Rangkaian Defleksi Horisontal6.81 Diagram Blok Bagian Warna Dari TV6.82 Tanda Panah Menandakan Komponen yang Mudah Rusak6.83 Garis Daerah Merah Menunjukkan Komponen yang Mudah Rusak pada Rangkaian Horisontal6.84 Daerah Tegangan Tinggi6.85 CRT6.86 Raster Satu Garis6.87 Strip Hitam Tidak Dapat Hilang dari Raster6.88 Tergeser Horisontal6.89 Rolling ke Atas/Bawah6.90 Garis Hitam Bergerak Terus D-8
  • 192. LAMPIRAN : D6.91 Menyempit Kiri/Kanan6.92 Daerah Horisontal6.93 Gambar Melebar6.94 Gambar Memendek6.95 Gambar Memanjang6.96 Perbedaan Terang dan Gelap Kurang Jelas6.97 Garis Miring Tipis6.98 Warna Gambar Ada yang Hilang6.99 Gambar Tak Jelas tapi Warna Masih Ada6.100 Gambar Sebagian Melipat Arah Vertikal6.101 Gambar dan Warna Tak Jelas6.102 Gambar Tak Berwarna6.103 Gambar Tak Ada6.104 Raster Berbintik-Bintik6.105 Penguat Termokopel Sebuah Rangkaian Analog6.106 Simbol Op-Amp dan Karakteristik Perpindahannya6.107 Metoda-Metoda untuk Menerapkan Umpan Balik Negatif pada Suatu Op-Amp6.108 Op-Amp Slew Rate Limiting6.109 Tanggapan Frekuensi Op-Amp 7416.110 Generator Gelombang Kotak6.111 Function Generator Frekuensi Rendah6.112 Timer 5556.113 Timer 10 Detik Menggunakan 5556.114 PLL Dasar6.115 Penerima / Dekoder FSK6.116 Rangkaian Trafo 1 Fasa6.115 Trafo 1 Fasa Tanpa Beban7.1 Dasar Sistem Kendali7.2 Contoh Sistem Open Loop7.3 Sistem Kendali Closed-Loop7.4 Model dan Tipe Motor7.5 Macam – Macam Kontak Relay7.6 Tabel Elemen – Elemen Kendali Industri7.7 Kendali Elektronik untuk Sebuah Tangki Pencampur7.8 Sistem Pengendali Ketebalan Kabel7.9 Strain Gauge Bridge7.10 Peralatan Dengan Tabung7.11 Sistem Kemputerisasi7.12 Macam – Macam Soket7.13 Contoh Sistem Kontrol di Industri7.14 Mencatat Apa yang Telah Diganti D-9
  • 193. LAMPIRAN : D7.15 Gunakan Manual Book yang Benar7.16 Tes Kondisi Alat7.17 Pengecekan Ulang dan Pemeriksaan Tegangan Catu7.18 Pengukuran untuk Identifikasi Kerusakan7.19 Bekerjalah dengan Teliti7.20 Pengendali Kecepatan Motor DC7.21 Rangkaian Sequential Control Unit7.22 Diagram Blok Sistem Sequential Control Unit8.1 Contoh Panel Sumber Daya8.2 Tiang Distribusi Udara8.3 Contoh Alat Pengontrol8.4 Tampak Samping Lok CC-2028.5 Modul Elektronik CC-2028.6 Main Generator8.7 Generator Eksiter8.8 Wiring Sistem Tenaga Lok CC-2028.9 Modul GV8.10 Rangkaian Modul GX8.11 Rangkaian Modul RC8.12 Rangkaian Modul Sensor8.13 Rangkaian Modul TH8.14 Rangkaian Pengaman dan Pembatas Eksitasi8.15 Gagang Throtle8.16 Rangkaian Modul Feedback8.17 Lead Regulator8.18 Rangkaian SCR Assembly8-19 Trnasduser WST-28-20 Modul Wheel Slip8-21 Modul Wheel Slip-Roda8-22 Transduser8-23 Pengawatan Sistem Tenaga8-24 Traksi Motor D-238-25 Stator Traksi Motor8-26 Rotor Traksi Motor8-27 Komutator8-28 Sikat Arang8-29 Pengawatan Stator dan Rotor Traksi Motor9.1 CPU dalam Mikrokomputer9.2 Pengertian Sistem Teknik9.3 Dasar Sistem Berbasis Mikroprosesor9.4 Diagram Blok I/O Robot9.5 Proses Konversi Analog - ke - Digital9.6 DAC dalam Bentuk IC D-10
  • 194. LAMPIRAN : D9.7 Bentuk Gelombang Tangga9.8 Rangkaian Konverter Digital ke Analog,9.99.10 Robot pada Industri Karoseri9.11 Dasar Kontrol Robot9.12 Transformasi Koordinat9.13 Sistem Koordinat Anggota Badan Robot9.14 Hukum Gas9.15 Komponen Elektropneumatik9.16 Sinyal terlalu Banyak Dikirimkan ke Satu Alamat Operator9.17 Derau Berasal dari Gelombang Radio9.18 Salah Satu Sistem Pentanahan9.19 Perubahan Temperatur, Cuaca & Kelembaban dapat Berpengaruh pada Kinerja Peralatan Elektronik9.20 Blok Fungsional sebuah Generator Fungsi9.21 Blok Diagram Gripper10.1 Diagram Blok Mikrokomputer dan Perangkat Output10.2 Contoh sebuah PCB dari sebuah Komputer10.3 Contoh Kerusakan IC10.4 Salah Penempatan Posisi Saklar pada Dip- Switch dapat Menyebabkan Sistem Tidak Bekerja10.5 Pemeriksaan secara Visual10.6 Mencari Informasi Kerusakan dari Operator Komputer10.7 Sebuah Data Latch untuk Melacak Kegagalan pada Komputer10.8 Blok Diagram Logic Analyzer10.9 Contoh Pemeriksaan dengan Logic Analizer11.1 Contoh PLC dengan 40 I/O11.2 Arsitektur PLC11.3 Prinsip Kerja PLC11.4 Contoh Sistem Berbasis PLC11.5 PLC dengan Rak-Rak11.6 Perangkat Pemograman (handheld)11.7 a. Modul Input DC (current Sinking) b. Modul Input DC (Current Sourcing) c. Modul Input AC/DC (Current Sourcing)11.8 a. Modul Output DC (Current Sinking) b. Modul Output DC (Current Sourcing) c. Modul Output AC D-11
  • 195. LAMPIRAN : D d. Modul Output Relay11.9 Gambar Potongan Mesin Press11.10 a. PLC & Perangkat Antarmuka Kontrol Mesin Press b. Diagram Pengawatan Kontrol Mesin Press c. Ladder Diagram untuk Kontrol Mesin Press11.11 Kejutan Listrik melalui Dada11.12 a. Saklar Toggle b. Gambar Potongan Saklar Toggle11.13 Konfigurasi Kontak11.14 Rangkaian Kontrol Lampu & Motor11.15 Saklar-Saklar Push Button11.16 Saklar Pemilih11.17 Limit Switch11.18 Flow Switch dalam Aliran Zat Cair melalui Pipa11.19 Level Switch atau Float Switch (FS)11.20 (a) Saklar Tekanan; (b) Simbol11.21 (a) Saklar Temperatur. (b). Simbol11.22 Proximity Sensor Induktif11.23 a. Blok Diagram Proximity Sensor Induktif b. Pergeseran Target & Pengaruhnya terhadap Medan Magnetik11.24 Contoh Aplikasi Proximity Sensor Induktif11.25 Blok Diagram Proximity Sensor Kapasitif11.26 Contoh Aplikasi Proximity Sensor Kapasitif11.27 Contoh Aplikasi Sensor Ultrasonik11.28 Potongan Gambar Foto Elektrik11.29 Sensor Fotoelektrik Moda Through Beam11.30 Sensor Fotoelektrik Retroreflektif11.31 Sensor Fotoelektrik Retroreflektif Terpolarisasi11.32 Sensor Fotoelektrik Terdifusi11.33 Contoh Aplikasi Sensor Fotoelektrik pada Mesin Pemotong11.34 Dasar Solenoid ,(a) Energi Dilepas, (b) Saat Diisi Energi11.35 Solenoid AC11.36 Solenoid Valve, (a) Gambar Potongan, (b) Uraian Valve11.37 Rangkaian Kontrol Relay11.38 Seal-in Contact11.39 Kontaktor11.40 Motor Starter11.41 lampu Pilot, Horn dan Alarm11.42 Blok Diagram Kontrol Pengisian Tangki, Aliran D-12
  • 196. LAMPIRAN : D Sinyal serta Aliran Daya11.43 Tahapan untuk Menentukan Pengelompokan11.44 a. Aliran Sinyal pada Motor Pompa b. Rangkaian Modul Input & Output11.45 Konfigurasi Aliran Divergen11.46 Konfigurasi Aliran Konvergen11.47 Konfigurasi Aliran dengan Umpan-Balik11.48 Jalur Pensaklaran11.49 Langkah Pelacakan pada Konfigurasi Divergen11.50 Simbol Rangkaian untuk Relay Pewaktu11.51 Diagram Ladder Relay untuk Kasus Pengaturan Kerja Motor.11.52 Macam-Macam Timing Relay11.53 Timer Elektronik11.54 Instruksi Temporary End11.55 Pencacah Mekanik11.56 Pencacah elektronik11.57 Mesin Pengepakan Apel11.58 Nilai Bobot dan Nilai Posisi Suatu Bilangan11.59 a. Konversi dari Biner ke Desimal b. Konversi Bilangan Desimal ke Biner11.60 a. Konversi dari Oktal ke Desimal b. Konversi Oktal ke Biner c. Konversi Biner ke Oktal11.61 Konversi Desimal ke BCD11.62 Pelacakan Kerusakan Modul Input11.63 Pelacakan Modul Output Deskrit11.64 Aplikasi Instruksi MCR11.65 Aplikasi Instruksi JMP dengan Satu LBL11.66 Instruksi Jump to Subroutine11.67 Moda Alamat Langsung11.68 Moda Alamat Tidak Langsung11.69 Moda Alamat Indeks D-13
  • 197. LAMPIRAN : E RIWAYAT PENULIS Sejak 1996 penulis berstatus sebagai dosen Politeknik Negeri Bandung. Sebelumnya penulis bekerja sebagai pengajar di Pusat Pengembangan Pendidikan Politeknik – Bandung (1983-1996). Berbagai training di dalam maupun di luar negeri dan kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan pendidikan vokasional, khususnya pendidikan Politeknik, telah diikutinya. Di Swiss, selama 18 bulan (1990-1991) penulis mengikuti training khusus di bidang komunikasidata dan jaringan komunikasi. Tahun 1994 penulis melakukan studibanding (3 bulan) untuk pengembangan pendidikan vokasi / Politeknik diAustralia. Penulis juga aktif menulis berbagai bahan ajar (course note),untuk bahan kuliah mahasiswa Politeknik jurusan T Elektronika. Penulisdilahirkan di Ponorogo tahun 1959, menamatkan S1 jurusan Pendidikanteknik elektronika di FPTK IKIP Yogyakarta tahun 1983, S1 teknikElektronika ITB, 1999 dan menamatkan S2 di Teknik Elektro ITB tahun2003. Penulis dilahirkan di Purworejo tahun 1960, menamatkan S1 di FPTK IKIP Yogyakarta tahun 1983. Tahun 1996 menamatkan S1 di Teknik Elektro ITB. Training-training untuk pengembangan profesi di bidang elektronika telah banyak diikuti, antara lain training di bidang maintenance & repair untuk komputer, training di bidang telekomunikasi. Penulis juga aktif mengajar di politeknik tahun 1984-1985 di Politeknik Negeri Medan. Tahun 1985-1996 aktif mengajar di PusatPengembangan Pendidikan Politeknik, dan sejak 1996 hingga sekarangaktif mengajar di Politeknik Negeri Bandung. E-1