Pengantar Aqidah Islamiyah
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Like this? Share it with your network

Share
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
No Downloads

Views

Total Views
20,390
On Slideshare
20,113
From Embeds
277
Number of Embeds
10

Actions

Shares
Downloads
744
Comments
2
Likes
6

Embeds 277

http://unieysara95.blogspot.com 200
http://aisyahulinnuha.blogspot.com 22
url_unknown 16
http://cvrahmat.blogspot.com 16
http://paisksritumpat2.blogspot.com 9
http://www.slideshare.net 7
http://www.unieysara95.blogspot.de 3
http://www.blogger.com 2
http://unieysara95.blogspot.de 1
http://unieysara95.blogspot.com.br 1

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. PENGANTAR AQIDAH ISLAMIYAH
  • 2. Pendahuluan
    • Sesungguhnya aqidah merupakan masalah yang paling pokok dan paling mendasar bagi setiap mukmin. Aqidah menjadi pintu awal masuknya seseorang ke dalam Islam dan aqidah pula yang harus dia pertahankan hingga akhir hidupnya. Seorang mukmin dituntut untuk membawa serta kalimah tauhid, kalimat ikhlas ‘laa ilaaha illallah’ hingga menghembuskan napas yang terakhir agar dia dikategorikan ke dalam hamba-hamba Allah Swt. yang husnul khatimah . Semua mukmin meyakini bahwa barang siapa yang demikian adanya pasti meraih ridha Allah Swt., rahmat-Nya dan surga-Nya. Oleh karena itu bahasan tentang aqidah menjadi masalah paling urgen dan krusial bagi setiap mukmin.
    • Terdapat banyak istilah tentang aqidah yang diperkenalkan oleh ulama. Berikut ini adalah sebagian istilah tersebut beserta relevansinya sesuai dengan makna dan maksud dari pengistilahannya.
  • 3. URGENSI AQIDAH
    • Aqidah adalah kebutuhan dasar
  • 4. Aqidah
    • Istilah aqidah ini telah melalui tiga periode
    • Periode awal
    • Pada periode ini aqidah lebih banyak diartikan dengan makna etimologis yaitu; kemauan yang kuat, penghimpunan, maksud, pengikatan janji, dan diartikan dengan apa yang diyakini oleh seorang manusia baik hal itu haq ataupun batil .
    • Periode kedua
    • Pada periode ini aqidah telah meningkat menjadi suatu keyakinan iman yang tidak mengandung pembatalan dan kebalikannya atau lawan katanya.
    • Periode ketiga
    • Periode ini menjadikan aqidah mencapai kematangan dan sterilisasi. Aqidah menjadi suatu istilah yang berdiri sendiri dan ilmu khusus yaitu; “ ilmu tentang hukum-hukum syariat yang berkenaan dengan keyakinan yang disimpulkan dari dalil-dalil yang diyakini dan membantah serta menolak setiap syubhat dan bukti-bukti rusak yang masih diperdebatkan ”.
  • 5. Tauhid
    • Makna tauhid secara bahasa adalah
    • menjadikan sesuatu adalah esa, tunggal, satu-satunya .
    • Dalam terminologi aqidah, tauhid didefinisikan sebagai;
    • “ ilmu yang dapat digunakan untuk menetapkan buhul-buhul agama dengan dalil-dalil yang kuat dan diyakini ”.
  • 6. As-Sunnah
    • As-Sunnah berarti jalan , atau panutan .
    • Sedangkan yang dimaksud dengan istilah As-Sunnah dalam aqidah adalah
    • mengikuti dan tunduk kepada aqidah yang benar yang ditetapkan dengan dalil Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Saw .
  • 7. Usuluddin
    • Usuluddin terdiri dari dua kata yaitu usul dan ad-din . Usul adalah kata jamak bermakna; pokok-pokok, dasar-dasar, pondasi-pondasi . Ad-din artinya agama . Jadi usuluddin bermakna; pokok-pokok agama .
    • Usuluddin dalam aqidah didefinisikan sebagai; “ prinsip-prinsip umum dan kaidah-kaidah besar yang mencakup, dengannya dapat diraih hakikat ketaatan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya, kemudian tunduk dan menyerahkan diri secara total kepada perintah dan larangan-Nya ”.
  • 8. Al-fiqhul akbar
    • Al-fiqhul akbar bermakna
    • pemahaman yang terbesar
    • Istilah ini digunakan untuk membedakannya dengan istilah fiqih biasa yang menerangkan tentang hukum halal, haram, makruh, boleh, wajib, sunah, sah, batal dan lain-lain .
  • 9. Ahlus Sunnah wal Jama’ah
    • Jama’ah bermakna kaum yang berkumpul .
    • Sedangkan menurut istilah aqidah adalah
    • Rasulullah Saw. beserta para sahabat, para tabi’in, dan para pengikut setia mereka hingga akhir zaman .
    • Jadi pengertian ahlus-sunnah wal jama’ah adalah
    • orang-orang yang mengikuti aqidah Islamiyah yang benar, yang berpegang teguh dan meyakini tuntunan Rasulullah Saw., para sahabatnya, para tabi’in dan para pengikut setianya hingga akhir zaman .
  • 10. Ahlul Hadits
    • Ahlul hadits menurut istilah aqidah adalah
    • setiap orang yang menjadikan hadits Rasulullah Saw. sebagai sumber pokok diantara sumber-sumber pembelajaran ‘ talaqqi ’, yang bermanfaat dalam menetapkan dasar-dasar aqidah Islamiyah dan dibangun ketetapan-ketetapannya .
  • 11. As-Salaf
    • Menurut bahasa salaf bermakna:
    • “ orang lebih yang lebih dahulu ada dibanding orang lain” .
    • Sedangkan menurut istilah adalah:
    • “ para sahabat, para tabi’in, dan para pengikut setia mereka hingga akhir zaman yang diijma’ dan disepakati oleh umat atas kejujuran, kesucian dan belum pernah dituduh berbuat bid’ah yang menjadikannya kafir atau fasiq ”.
  • 12. Sumber-sumber Aqidah
    • Al-Qur'an
    • Diyakini bersama bahwa semua isi Al-Qur'an tidak perlu diragukan lagi, karena semuanya kalamullah. Dalam mengambil dalil dari Al-Qur'an untuk menetapkan suatu materi aqidah, para ulama menggunakan metode-metode berikut;
      • merujuk kepada tafsir dari Al-Qur'an sendiri.
      • Bila tidak ditemukan penjelasannya sendiri di dalam Al-Qur'an, kemudian mencari tafsirnya di dalam;
        • hadits Nabi Saw.,
        • tafsir para sahabat,
        • tafsir para tabi’in
        • makna bahasa Arab.
  • 13. Sumber-sumber Aqidah
    • Al-Qur'an
    • Ketentuan;
    • Haram menafsirkan dan menjelaskan Al-Qur'an khususnya yang berkenaan dengan aqidah dengan hanya menggunakan akal.
    • Tidak boleh membawa dan mencondongkan penafsiran ayat Al-Qur'an khususnya tentang hanya kepada mazhab tertentu.
    • Lebih memperioritaskan makna-makna syar'i dibanding makna-makna bahasa.
    • Memahami lafadz-lafadz Al-Qur'an yang mempunyai banyak arti atas makna yang jelas dan mudah dipahami.
    • Pendapat yang benar dari ulama berkaitan dengan lafadz-lafadz Al-Qur'an, khususnya tentang aqidah bahwa lafadz-lafadz tersebut tidak mengandung makna kiasan atau majaz.
    • Sedangkan metode Al-Qur'an menetapkan masalah-masalah aqidah secara umum ada dua;
      • penyusunan ayat-ayat berurutan yang berkenaan dengan petunjuk-petunjuk aqidah dengan gaya bahasa pemberitaan yang mutlak benar dan jelas sekali maknanya yang tidak mungkin seorang pun mengingkarinya.
      • Penyusunan ayat-ayat yang teratur menurut pertimbangan dan ukuran akal yang sehat.
  • 14. 2. As-Sunnah atau Hadits
    • Hadits merupakan penjelasan dan penafsiran bagi Al-Qur'an dan penyingkap dari rahasia-rahasia Al-Qur'an, makna-makna tersembunyinya dan hukum-hukumnya. Kaidah yang telah disepakati bersama oleh ulama adalah bahwa tidak semua hadits dapat dipakai sebagai sumber dan dalil untuk masalah aqidah. Hal ini disebabkan tidak semua hadits yang dibukukan dan diriwayatkan dapat ditetapkan dan diyakini sebagai hadits yang shahih dari Nabi Saw. Hadits yang digunakan sebagai dalil dalam masalah aqidah adalah;
    • - Hadits mutawaatir , yaitu yang diriwayatkan oleh sangat banyak perawi.
    • - Hadits masyhur , yaitu yang diriwayatkan oleh tiga perawi
    • - Hadits mustafidh , yaitu yang diriwayat oleh lebih dari tiga tetapi tidak cukup banyak untuk dikategorikan sebagai mutawattir.
    • - Hadits Aziz , yaitu diriwayat oleh dua perawi.
    • - Sedangkan hadits ‘ khabarul wahid ’ yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi saja, masih diperdebatkan dapat digunakan sebagai dalil atau tidak ?
  • 15. Penyimpangan dalam Memahami al-Qur’an
    • Ada penyimpangan-penyimpangan dalam memahami Al-Qur'an dan hadits yang berkaitan dengan aqidah, yaitu sebagai berikut;
    • ilhad , yaitu menyimpang -dengan berdalil kepada nash-nash Al-Qur'an dan hadits- dari kebenaran yang ditetapkan oleh keduanya. Hal ini terdiri dari tiga macam;
      • menamakan Allah Swt. dengan nama yang tidak layak dan tidak pantas, seperti kaum nasrani menamakan-Nya dengan Tuhan Bapak, atau ahli filsafat menamakan-Nya Super Causa atau Alam awal.
      • Menamakan makhluk dengan nama dari nama-nama Allah Swt.
      • Mensifati Allah Swt. dengan sifat yang Allah Swt. sendiri mensucikan Diri-Nya Sendiri dan membebaskan Diri-Nya darinya. Seperti perkataan kaum Yahudi bahwa; Allah Swt. fakir.
      • Memisahkan dan meniadakan makna-makna yang hakiki dari nama-nama Allah Swt. dan sifat-sifat-Nya. Seperti meyakini bahwa nama-nama Allah Swt. seperti Ar-rahman tanpa sifat kasih sayang.
      • Menyerupakan Allah Swt. dengan makhluk baik dalam bentuk Wujud dan Zat, ataupun sifat-Nya
  • 16. Penyimpangan dalam Memahami al-Qur’an
    • at-ta’til , yaitu mengosongkan dan menghilangkan makna yang dimaksud oleh nash-nash Al-Qur'an dan hadits. Ada tiga macam;
      • meniadakan dan mengosongkan Zat Allah Swt. dari kesempurnaan-Nya yang mutlak, yaitu dengan mencabut sifat-sifat dan nama-nama-Nya dari Diri-Nya, baik salah satunya saja seperti menghilangkan nama-Nya saja, ataupun kedua-duanya yaitu sifat-Nya juga.
      • Meniadakan muamalah dengan Allah Swt., yaitu dengan menghilangkan unsur ibadah makhluk kepada-Nya.
      • Meniadakan unsur penciptaan makhluk dari konstribusi Ciptaan Allah Swt., seperti menisbatkan bahwa sesuatu diciptakan oleh zat selain Allah Swt.
  • 17.
    • at-tamtsil , yaitu menyamakan selain Allah Swt. dengan Allah Swt. baik dalam zat-Nya, sifat-sifat-Nya ataupun sebaliknya yaitu menyamakan Allah Swt. dengan selain-Nya dalam hal tersebut. Ada dua macam;
      • analogi penyamaan, yaitu; menjadikan makhluk sebagai pokok kemudian Allah Swt. sebagai cabangnya dianalogikan dengannya, ataupun sebaliknya. Hal ini terbagi dua macam;
        • Analogi penuh dan sempurna, yaitu menganalogikan zat makhluk dengan Zat Allah Swt. ataupun sebaliknya.
        • Analogi sebagian, yaitu menganalogikan sebagian sifat Allah Swt. sama dengan sifat makhluk atau sebaliknya.
      • analogi pencakupan dan menyeluruh, yaitu memasukkan Allah Swt. dan makhluk-Nya dalam kaidah yang sama, seperti setiap benda (termasuk Allah Swt.) pasti terdiri dari bentuk dan gambar, dan lain-lain.
  • 18.
    • at-tahrif , yaitu merubah makna-makna nash-nash Al-Qur'an dan hadits kepada makna-makna lain yang tidak dimaksudkan oleh keduanya. Hal ini terdiri dari dua macam;
      • merubah lafadz yang otomatis maknanya pun berubah.
      • Tidak merubah lafadznya, tetapi artinya diselewengkan, seperti kata istawa diartikan dengan mengalahkan dan menguasai.
  • 19.
    • at-takyif , yaitu mengungkap inti dan hakikat dari makna yang tidak diketahui kecuali hanya Allah Swt., seperti mengungkapkan hakikat dari zat Allah Swt., sifat-sifat-Nya, dan hakikat Diri-Nya.
  • 20.
    • At-takwil , yaitu memaknakan ayat atau hadits dengan makna yang sangat jauh dan merusak makna aslinya, seperti; ‘ khatamannabiyyin ’ yang aslinya bermakna penutup para nabi tetapi ditakwilkan dengan perhiasan dan cincin para nabi.
  • 21.
    • As-Syubuhat , yaitu kesimpulan yang membingungkan dan mengacaukan dalam aqidah, baik yang naqliyah maupun yang aqliyah.
  • 22.
    • Al-Majaz , yaitu mengartikan dan menggunakan suatu perkataan bukan pada hakikat maknanya yang aslinya, yang pertama kali digunakan.
  • 23.
    • Al-Mutasyabih ,
    • yaitu antonim dari al-Muhkamat .
    • Al-Mutasyabih yaitu lafadz atau susunan kalimat yang belum jelas maknanya. Ada dua macam;
      • Hal yang tidak diketahui maknanya kecuali Allah Swt. seperti urusan-urusan ghaib.
      • Hal yang hanya diketahui oleh sebagian manusia seperti; para ‘ ar-rasikhun ’ dalam mengetahui hakikat ayat-ayat mutasyabihat.
  • 24. Akal Yang Sehat
    • Definisi akal dalam aqidah dapat dibagi dua;
      • yang dimaksudkan dengan akal adalah pengetahuan-pengetahuan pokok dan utama dan kaidah-kaidah akal yang tidak dapat dibantah.
      • Akal yang dimaksud adalah kesiapan naluri dan kemampuan intelektual yang matang.
    • Kedua definisi ini didayagunakan untuk memahami masalah-masalah aqidah. Pertimbangan dan analogi akal yang dituntut oleh Al-Qur'an adalah;
      • analogi kontradiksi dalam ketuhanan. Yaitu bila premis pertama tidak bisa diterima maka premis ke-dua pun tidak bisa diterima. Contohnya; bila di alam semesta ini ada dua Tuhan, maka alam semesta ini akan rusak. Alam ini tidak rusak, maka premis pertama yaitu adanya Tuhan adalah salah. (QS. Al-anbiya’: 22)
      • Analogi prioritas dan lebih utama. Seperti kalau kursi ada pembuatnya, maka manusia pun punya Pencipta.
      • Analogi metafisik (ghaib) atas fisik yang tampak secara lahiriyah. Analogi terbagi dua;
        • analogi yang benar, seperti membandingkan kenikmatan dengan contoh kenikmatan yang tidak bermakna sebenarnya, karena apa yang disediakan Allah Swt. di akhirat adalah sesuatu yang belum terlintas dalam hati, belum pernah dilihat oleh mata, dan belum didengar oleh telinga. Tetapi karena itulah satu-satunya cara menganalogikannya yang berbentuk fisik, maka terpaksa dilakukan.
        • Analogi yang salah, seperti menganalogikan anggur di surga sama persis dengan anggur di dunia.
  • 25. Karakteristik Aqidah Islamiyah (1)
    • At-Tauqifiyah
    • Yang dimaksud dengan at-tauqifiyah adalah prinsip bahwa Rasulullah Saw. telah menjelaskan dan membatasi pemahaman hakikat-hakikat aqidah atas umat Islam tanpa menyisakan sedikitpun melainkan diterangkan oleh beliau . Hal itu mengharuskan prinsip-prinsip berikut ini;
      • Membatasi sumber-sumber aqidah hanya pada Al-Qur'an, hadits dan pemahaman atas keduanya dengan akal yang sehat.
      • Berpegang kepada lafadz-lafadz Al-Qur'an dan hadits yang diistilahkan oleh keduanya dalam aqidah Islamiyah.
      • Tidak boleh memberikan makna lain kepada lafadz-lafadz Al-Qur'an dan hadits yang tidak pas dan tidak sesuai dengan makna aslinya.
      • Tidak mengungkit sesuatu yang tidak dijelaskan oleh Al-Qur'an dan hadits.
      • Lebih memprioritaskan apa yang terdapat Al-Qur'an dan hadits atas segala yang lain, baik; akal, perasaan, penemuan, naluri dan lain-lain.
  • 26. Karakteristik Aqidah Islamiyah (2)
    • Al-Ghaibah
    • Yaitu segala sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh panca indera .
    • Beriman dan meyakini hal-hal yang ghaib adalah ciri khas dan keistimewaan dari aqidah Islamiyah . Hal ini akan membebaskan seorang mukmin dari pemojokan dan tekanan dari para pengikut hakikat dan thariqat yang bersikeras ingin mengungkapkan hal-hal ghaib.
  • 27. Karakteristik Aqidah Islamiyah (3)
    • As-Syumuliyyah
    • Pemahaman yang dikehendaki oleh aqidah Islamiyah adalah pemahaman yang menyeluruh dan mencakup dalam makna dan aplikasi . Dari sisi makna seorang mukmin harus benar-benar meyakini dan memiliki gambaran yang sempurna atas segala kaidah umum tentang aqidah.
  • 28. Karakteristik Aqidah Islamiyah (4)
    • Al-Wasatiyyah
    • Makna harfiyyah dari al-wasatiyyah adalah pertengahan (QS. Al-Baqarah:143). Yang dimaksud dari wasatiyyah dalam aqidah Islamiyah yaitu bersikap pertengahan dalam poin berikut;
      • bersikap seimbang dan pertengahan dalam pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur'an yang berkenaan dengan sifat-sifat Allah Swt. antara kaum Jahmiyah yang meniadakannya dan kelompok paham yang menyamakannya dengan sifat-sifat makhluk.
      • bersikap seimbang dan pertengahan dalam pemahaman terhadap perbuatan-perbuatan Allah Swt. antara kelompok Qadariyah dan Jabariyah .
      • bersikap seimbang dan pertengahan dalam pemahaman terhadap janji dan ancaman Allah Swt. antara kelompok Murji’ah (kelewat berharap) dengan Qodariyah dan kelompok paham lainnya.
      • bersikap seimbang dan pertengahan dalam pemahaman terhadap masalah bab nama-nama iman dan agama antara Haruriyah dan Al-Muktazilah , dan antara Al-Murji’ah dan Al-Jahmiyyah .
      • bersikap seimbang dan pertengahan dalam pemahaman terhadap para sahabat Rasulullah Saw. antara kelompok menyanjung mereka secara berlebihan dan ekstrim dan kelompok yang mengkafirkan mereka secara ekstrim pula.
      • bersikap seimbang dan pertengahan dalam pemahaman terhadap akal dan wahyu antara kelompok Asy’ariyyah dan Muktazilah
  • 29. Urgensi Syahadatain (QS. 4: 41, 2: 143)
    • Pintu gerbang Islam
    • Intisari ajaran Islam (QS. 21: 25)
    • Dasar-dasar perubahan total pribadi dan masarakat (QS. 6: 125, 13:11)
    • Hakikat Dakwah para Rasul (QS. 21: 25)
    • Keutamaan yang besar
  • 30. Kandungan Makna Syahadatain
      • Pernyataan (ikrar) (3: 18, 81)
      • Sumpah (63: 1-2)
      • Perjanjian (3: 81, 57:8 , 7: 172, 5: 7, 2: 26)
  • 31. Iman dan Istiqomah; dan hubungannya dengan syahadatain
    • a. Iman
      • Perkataan
      • Membenarkan
      • Amal
    • b. Istiqomah (41: 30)
      • Berani (41: 30, 5: 52)
      • Tenang (41: 30, 13: 58)
      • Optimis (41: 30, 24 : 55)
  • 32. Pengertian kata ‘Ilah’
    • aliha-ya’lahu-ilahan ;
      • merasa tenang padanya; (QS. 10: 7)
      • melindungkan diri
      • selalu rindu padanya (7:138)
      • mencintainya (2: 165)
    • aliha artinya: ‘ abadahu’ : sempurna menghinakan diri (padanya) menundukkan diri.
    • Kandungan kata ilah ;
      • yang diharapkan ,
      • yang ditakuti ,
      • yang dicintai
    • Al-ilah ; yang wajib diberikan kepadanya loyalitas – yang wajib diberikan kepadanya otoritas .
  • 33. Syahadatain
    • Syahadat Tauhid:
    • Laa = adalah kata penolakan yang tegas.
    • Ilaaha = yang ditolak dan harus melepaskan diri darinya; (60: 4 dan 7: 59, 65 ,73, 85)
    • *menghancurkan dan membangun makna ikhlas (98: 5/ 39: 11, 14)
    • Illa Allah = penetapan, pengukuhan, ( itsbat )
    • Syahadat Rasul
    • Muhammadurrasulullah = konsep wala ’ dan bara ’
        • Allah Swt. Sumber Nilainya (2: 147/ 7: 2)
        • Rasul Contoh Pelaksanaannya (33: 21, 59: 7)
        • Orang Mukmin Sebagai Pelaksananya (33: 36, 35: 32)
        • Cara Menghancurkan Dan Membangun Dengan Ittiba’ (3: 31)
  • 34. Arti laa ilaaha illa Allah
    • Tiada pencipta selain Allah (25: 2)
    • Tiada pemberi rizki selain Allah (51:57-58)
    • Tiada pemilik selain Allah (4:131-132, 2:284)
    • Tiada raja/ kerajaan selain Allah (62:1, 36:83, 67:1, 3:189)
    • Tiada pembuat hukum selain Allah (12:40, 6: 114, 33:36, 28:68, 45:18, 42:20, 6:137)
    • Tiada pemberi perintah selain Allah , (7:54)
    • Tiada pemimpin selain Allah, (2:257)
    • Tiada yang dicintai selain Allah (2:165)
    • Tiada yang ditakuti selain Allah (2:40, 9:18)
    • Tiada yang diharapkan selain Allah (94:8, 18:110)
    • Tiada yang memberi mudharat/ manfaat selain Allah (6:17)
    • Tiada yang menghidupkan/ mematikan selain Allah (2:258)
    • Tiada yang mengabulkan permohonan selain Allah (2:186, 40:60)
    • Tiada yang melindungi selain Allah (16:98, 72:6)
    • Tiada yang wakiil (bersandar dan bertawakkal) selain Allah (3:159 , 9:52)
    • Tiada daya dan kekuatan selain Allah.
    • Tiada yang diagungkan selain Allah
    • Tiada yang dimohon selain Allah (1:5)
  • 35. Syarat-syarat Dikabulkannya Syahadatain
    • Ilmu (47:19, 3: 18, 43: 86)
    • Yakin (49: 15)
    • Ikhlas (98: 5, 18: 110)
    • Membenarkan (2: 8-9)
    • Cinta (2: 165, 8: 2)
    • Menerima (4: 65)
    • Melaksanakan (24: 56, 31: 22)
    • Ridha (76: 31)
  • 36. Cinta Allah Swt.
    • Cinta terbagi dua;
    • Cinta syar’i ;
    • yaitu dasarnya iman (3:15, 52:21, 3:170)
    • Cinta non- syar’i
    • yaitu yang didasari oleh syahwat dan nafsu (3:14, 80:34-37, 43:67)
  • 37. Ciri-ciri Cinta
    • Selalu mengingat-ingat (8:2)
    • Mengagumi (1:1)
    • Ridha/rela (9:62)
    • Siap berkorban (2:207)
    • Takut (21:90)
    • Mengharap (21:90)
    • Mentaati (4:48)
  • 38. Tingkat Cinta
    • Hubungan Hati
    • hanya dengan benda - untuk memanfaatkan
    • Rasa Simpati
    • pada manusia umumnya – untuk didakwahkan
    • Curahan Hati
    • untuk orang Islam pada umumnya - untuk persaudaraan iman.
    • Rasa Rindu
    • dengan mukmin (keluarga dan jama’ah) - untuk saling kasih sayang dan saling mencinta.
    • Mesra
    • dengan Rasulullah Saw. Dan rela berkorban.
    • Tatayyun
    • (cinta menghamba) hanya kepada Allah Swt. Menyembah atau mengabdikan diri.