Pragmatisme: Sebuah Tinjauan Sejarah Intelektual Amerika                                Mohammad Najib Abdullah           ...
bagi kehidupan praktis manusia. Sehubungan dengan usaha tersebut, pragmatismeakhirnya berkembang menjadi suatu metoda untu...
hanya berusaha menentukan konsekwensi praktis dari masa1ah-masalah itu, bukanmemberikan jawaban final atas masa1ah-masalah...
Filsafat tradisional, menurut Peirce, sangat lemah dalam metode yang akan memberi artikepada ide-ide filosofis dalam rangk...
Tahun akademis 1864-1865 dan tahun 1869-1879 digunakan Peirce untuk menekunisejarah ilmu pengetahuan modern. Ia belajar lo...
dapat diklasifikasi secara pasti benarnya. Masalah penentuan hal "benar" memang bisadilihat dari bermacam-macam segi yaitu...
Inilah kekhasan Peirce dalam pragmatismenya. Berkat analisisnya mengenai arti, iamembantu kita untuk mengerti kejelasan su...
Di sana ia mengartikan kebenaran pertama-tama kebenaran itu merupakan suatu postulat,yaitu semua hal yang disatu pihak bis...
memungkinkan tindakannya, walaupun akal budi sudah mengarah ke tindakan, tindakanitu sendiri belum muncul. Baru setelah or...
1.    Bahwa dunia tidak hanya terlihat menjadi spontan, berhenti dan tak dapat diprediksi      tetapi dunia benar adanya.2...
DAFTAR PUSTAKABukhard, Frederick 1979. The Works of William James: Some Pro blems of      Philosophy.London: Harvard Unive...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Artikel sej amarika

553

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
553
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
7
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Artikel sej amarika"

  1. 1. Pragmatisme: Sebuah Tinjauan Sejarah Intelektual Amerika Mohammad Najib Abdullah Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara1. PendahuluanTulisan yang berjudul “Pragmatisme: Sebuah tinjauan Sejarah Intelektual Amerika" akanmembahas apa sebenarnya pragmatisme itu, dan ia sebagai filsafat Amerika Serikat.Dalam tulisan ini juga membahas sejarah timbulnya pracmatisme di Amerika Serikatsekaligus di kaitkan dengan tokoh-tokoh yang mempelopori filsafat pragmatisme ini.Akhir-akhir ini, kalau kita mengamati secara tajam perkembangan negara kita ini, kitaakan kerap mendengar kata-kata seperti "pragmatis", "berguna", laksanakan yangbermanfaat bagi masyrakat saja, ada gunanya atau tidak sarana itu. Ungkapan-ungkapanitu belakangan ini semakin santer disuarakan.Secara fenomenologis hal itu berarti ada suatu sumbernya. Di belakang sumber itu pastiada aliran cara berfikir tertentu yang berpengaruh. Apakah sumber itu? Inilah yang akankita pertanyakan untuk kita ketahui. Dengan demikian, kita akan memasuki sumber ituuntuk mengerti latar belakang aliran atau cara berfikir apa yang mempengaruhiungkapan-uangkapan di atas.2. Arti PragmatismePada garis besarnya, filsafat Amerika Serikat senasib dengan kebudayaan Amerika padaumumnya. Seperti kita ketahui bahwa kebudayaan Amerika Serikat mempunyai ciri khasyaitu tidak mempunyai tradisi yang panjang. Karena itu, ia belum pernah mempunyaiwajah sendiri. Kebudayaannya bersandar pada "self made man". Apabila kita lihat,pandang secara cermat, ciri yang penting adalah perkembangan material dan tekniknya.Perkembangan ini sangat mempengaruhi alam pemikiran bangsa tersebut. Pengaruh itujelas dalam pragmatisme.Istilah pragmatisme berasal dari kata Yunani "pragma" yang berarti perbuatan atautindakan. "Isme" di sini sama artinya dengan isme-isme yang lainnya yaitu berarti aliranatau ajaran atau paham. Dengan demikian pragmatisme berarti: ajaran yang menekankanbahwa pemikiran itu menuruti tindakan. Kreteria kebenarannya adalah "faedah" atau"manfaat". Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh pragmatisme benar apabila membawasuatu hasil. Dengan kata lain, suatu teori adalah benar if it works ( apabila teori dapatdiaplikasikan).Pada awal perkembangannya, pragmatisme lebih merupakan suatu usaha-usaha untukmenyatukan ilmu pengetahuan dan filsafat agar filsafat dapat menjadi ilmiah dan bergunae-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 1
  2. 2. bagi kehidupan praktis manusia. Sehubungan dengan usaha tersebut, pragmatismeakhirnya berkembang menjadi suatu metoda untuk memecahkan berbagai perdebatanfilosofis-metafisik yang tiada henti-hentinya, yang hampir mewarnai seluruhperkembangan dan perjalanan filsafat sejak zaman Yunani kuno (Guy W. Stroh: 1968).Dalam usahanya untuk memcahkan masalah-masalah metafisik yang selalu menjadipergunjingan berbagai filosofi tulah pragmatisme menemukan suatu metoda yangspesifik, yaitu dengan mencari konsekwensi praktis dari setiap konsep atau gagasan danpendirian yang dianut masing-masing pihak.Dalam perkembangannya lebih lanjut, metode tersebut diterapkan dalam setiap bidangkehidupan manusia. Karena pragmatisme adalah suatu filsafat tentang tindakan manusia,maka setiap bidang kehidupan manusia menjadi bidang penerapan dari filsafat yang satuini. Dan karena metode yang dipakai sangat populer untuk di pakai dalam mengambilkeputusan melakukan tindakan tertentu, karena menyangkut pengalaman manusia sendiri,filsafat inipun segera menjadi populer. Dan filsafat ini yang berkembang di Amerika padaabad ke-19 sekaligus menjadi filsafat khas Amerika dengan tokoh-tokohnya sepertiCharles Sander Peirce, William James, dan John Dewey menjadi sebuah aliran pemikiranyang sangat mempengaruhi segala bidang kehidupan Amerika.Namun filsafat inl akhirnya menjadi lebih terkenal sebagai suatu metode dalammengambil keputusan melakukan tindakan tertentu atau yang menyangkut kebijaksanaantertentu. Lebih dari itu, karena filsafat ini merupakan filsafat yang khas Amerika, iadikenal sebagaimana suatu model pengambilan keputusan, model bertindak, dan modelpraktis Amerika.Bagi kaum pragmatis, untuk mengambil tindakan tertentu, ada dua hal penting. Pertama,ide atau keyakinan yang mendasari keputusan yang harus diambil untuk melakukantindakan tertentu. Dan yang kedua, tujuan dari tindakan itu sendiri. Keduanya tidak dapatdipisahkan. Keduanya merupakan suatu paket tunggal dari metode bertindak yangpragmatis. Pertama-tama manusia memiliki ide atau keyakinan itu yang ingindirealisasikan.Untuk merealisasikan ide atau keyakinan itu, manusia mengambil keputusan yang berisi:akan dilakukan tindakan tertentu sebagai realisasi ide atau keyakinan tadi. Dalam hal ini,sebagaimana diketahui oleh Peirce, tindakan tersebut tidak dapat diambil lepas daritujuan tertentu. Dan tujuan itu tidak lain adalah hasil yang akan diperoleh dari tindakanitu sendiri, atau konsekwensi praktis dari adanya tindakan itu.Apa yang dikatakan oleh Peirce tersebut merupakan prinsip pragmatis dalam arti yangsebenarnya. Pragmatisme dalam hal ini tidak lain adalah suatu metode untuk menentukankonsekwensi praktis dari suatu ide atau tindakan.Karena itulah pragmatisme diartikan sebagal suatu filsafat tentang tindakan. Itu berartibahwa pragmatisme bukan merupakan suatu sistem filosofis yang siap pakai yangsekaligus memberikan jawaban terakhir atas masalah-masa1ah filosofis. Pragmatismee-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 2
  3. 3. hanya berusaha menentukan konsekwensi praktis dari masa1ah-masalah itu, bukanmemberikan jawaban final atas masa1ah-masalah itu.3. Latar Belakang Munculnya PragmatismeKendati pragmatisme merupakan filsafat Amerika, metodenya bukanlah sesuatu yangsama sekali baru, Socrates sebenarnya ahli dalam hal ini, dan Aristoteles telahmenggunakannya secara metodis John Locke (1632 - 1704), George Berkeley (1685 -1753), dan Dayid Hume (1711 - 1776) mempunyai sumbangan yang sangat berarti dalampemikiran pragmatis ini (Copleston, 1966: 342).Dari segi historis, abad ke-19 di tandai dengan skeptisisme yang di tiupkan oleh teorievolusi Darwin. Nilai religius dan spiritual menjadi, dipertanyakan. Filsafat Unitarian,suatu aliran pemikiran yang hanya menerima ke Esaan, Tuhan yang bergantung padaargumen-argumen tentang teologi kodrati dan perwahyuan, lemah dalam membela diriterhadap evolusi onisme. Karena kaum ilmuan menerima teori evolusi Darwin, filosof-filosof Unitarian menjadi tenggelam. Lebih lagi karena keyakinan bahwa pemikiranmengenai proses seleksi dan evolusi alamiah berakhir dengan atheisme dan bahwamanusia hanya bisa membenarkan eksistensinya dengan agama, mereka tidak dapatmengintegrasikan hipotesis evolusi ke dalam keyakinan mereka (Bukhart, 1978: xiii).Pada saat yang sama, suatu kelompok pemikir dari Harvard menemukan suatu jalan untukmenghadapi krisis teologi ini tanpa mengorbankan ajaran agama yang essensial.Kelompok ini melihat bahwa suatu interpretasi yang mekanistis tentang teori Darwindapat menghancurkan agama dan dapat mengarah ke aliran ateisme yang fatalistis.Mereka khawatir bahwa interpretasi ini dapat berakhir dengan sikap yang pasif, apatis,bunuh diri dan semacamnya. Karena itu mereka menganjurkan agar evolusi Darwindipahami secara lain. Dan karena filsafat Unitarian sendiri hampir mati, kelompok iniyang dikenal dengan "Perkumpulan Metafisika", menyusun prinsip-prinsip pragmatismebaik secara bersama maupun secara individual dalam menghadapi evolusi Darwin (Kuck-lick, 1979: xix).Istilah pragamatisme sebenarnya diambil oleh C.S. Peirce dari Immanuel Kant. Kantsendiri memberi nama "keyakinan-keyakinan hipotesa tertentu yang mencakuppenggunaan suatu sarana yang merupakan suatu kemungkinan real untuk mencapaitujuan tertentu”. Manusia memiliki keyakinan-keyakinan yang berguna tetapi hanyabersifat kemungkinan belaka, sebagaimana dimiliki oleh seorang dokter yang memberiresep untuk menyembuhkan penyakit tertentu. Tetapi Kant baru melihat bahwakeyakinan-keyakinan pragmatis atau berguna seperti itu dapat di terapkan misalnyadalam penggunaan obat atau semacamnya.la belum menyadari bahwa keyakinan seperti itu juga cocok untuk filsafat. Karen Peircesangat tertarik untuk membuat filsafat dapat diuji secara ilmiah atau eksperiemntal, iamengambil alih istilah pragmatisme untuk merancang suatu filsafat yang mau berpelingkepada konsekwensi praktis atau hasil eksperimental sebagai ujian bagi arti dan validitasidenya.e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 3
  4. 4. Filsafat tradisional, menurut Peirce, sangat lemah dalam metode yang akan memberi artikepada ide-ide filosofis dalam rangka eksperimental serta metode yang akan menyusundan memperluas ide-ide dan kesimpulan-kesimpulan sampai mencakup fakta-fakta baru.Metafisika dan logika tradisional hanya mengajukan teori-teori yang tertutup dan murnitentang arti, kebenaran, dan alam semesta. Pendeknya, Filsafat tradisional tidakmenambah sesuatu yang baru. Dengan sistemnya yang tertutup tentang kebenaran yangabsolut, filsafat tradisional lebih menutup jalan untuk diadakan penyelidikan danbukannya membawa kemajuan bagi filsafat dan ilmu pengetahuanDalam rangka itulah Peirce mencoba merintis suatu pemikiran filosofis baru yang agaklain dari pemikiran filosofis tradisional.Pemikiran filosofis yang baru ini diberi nama Pragmatisme. Pragmatisme lalu dikenalpada permulaannya sebagai usaha Peirce untuk merintis suatu metode bagi pemikiranfilosofis sebagaimana yang dikehendaki di atas.Pragmatisme merupakan bagian sentral dari usaha membuat filsafat tradisional menjadiilmiah. Tetapi untuk merevisi seluruh pemikiran filosofis tradisional bukan suatu halyang mudah. Untuk maksud benar-benar dibutuhkan revisi dalam logika dan metafisikayang merupakan dasar filsafat.Dengan demikian, progmatisme muncul sebagai usaha refleksi analitis dan filosofismengenai kehidupan Amerika sendiri yang dibuat oleh orang Amerika di Amerikasebagai suatu bentuk pengalaman mendasar, dan meninggalkan jejaknya pada setiapkehidupan Amerika. Oleh karena itu ada suatu alasan yang kuat untuk meyakini bahwapragmatisme mewakili suatu pandangan asli Amerika tentang hidup dan dunia. Ataubarangkali lebih tepat kalau dikatakan bahwa pragmatisme mengkristalisasikankeyakinan-keyakinan dan sikap-sikap yang telah menentukan perkembangan Amerikasebagaimana menggejala dalam berbagai aspek kehidupannya, misalnya dalam penerapanteknologi, kebijaksanaan-kebijaksanaan politik pemerintah, dan sebagainya.4. Pencetus dan Tokoh-tokoh PragmatismeBerbicara tentang suatu aliran tertentu, kita tidak lepas dari siapa pencetus Pragmatismedi Amerika Serikat, serta tokoh-tokohnya yang berpengaruh. Ini berarti bahwa kita dibawa untuk melihat siapa pencetus dan tokoh-tokoh lainnya.Menurut Copleston dalam A History of Philosophy (Vol. VIII, London, 1966, Part IV),pemula aliran pragmatisme di Amerika Serikat dalam C.S. Peirce (1839-1914). Secarapasti, pragmatisme lebih populer dan selalu dikaitkan dengan nama William James,karena dialah yang mempopulerkannya.Hal ini bisa dimenegerti karena James sebagai lektor dan penulis lebih cepat terkenal daripada Peirce sebagai filosof selama hidupnya.e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 4
  5. 5. Tahun akademis 1864-1865 dan tahun 1869-1879 digunakan Peirce untuk menekunisejarah ilmu pengetahuan modern. Ia belajar logika secara sungguh-sungguh pada tahun1870-1871. Pada tahun 1879-1884 ia menjadi rektor pada universitas John Hopkins. Padatahun 1905, Peirce mengubah teori pragmatisme. Pada tahun ini juga, ia berkenalan dankemudian bersahabat erat dengan William James. Jameslah yang mengolah,mengerjakan, dan menyempurnakan karya-karya yang terbengkalai. Pada tahun 1914,kanker merenggut kehidupan Peirce (Sutrisno, 1977: 92).5. Kekhasan Pragmatisme PeirceSeperti kita lihat dalam uraian sebelumnya, secara umum orang memakai istilahpragmatisme sebagai ajaran yang mengatakan bahwa suatu teori itu benar sejauh sesuatumampu dihasilkan oleh teori tersebut. Misalnya sesuatu itu dikatakan berarti atau benarbila berguna bagi masyarakat. Sutrisno lebih lanjut menyatakan bahwa pragmatismePeirce yang kemudian hari ia namakan pragmatisme lebih merupakan suatu teorimengenai arti (Theory of Meaning) daripada teori tentang kebenaran (Theory of Truth).Menurut Peirce kebenaran itu ada bermacam-macam. la sendiri membedakankemajemukan kebenaran itu sebagai berikut :Pertama, transcendental truth yang diartikan sebagai letak kebenaran suatu hal itubermukim pada kedudukan benda itu sebagai benda itu sendiri. Singkatnya letakkebenaran suatu hal adalah pada "things as things ".Kedua, complex truth yang berarti kebenaran dari pernyataan-pernyataan. Kebenarankompleks ini dibagi dalam dua hal yaitu kebenaran etis disatu pihak dan kebenaran logisdilain pihak.Kebenaran etis adalah seluruhnya pernyataan dengan siapa yang diimani olehsipembicara. Sedangkan kebenaran logis adalah selarasnya suatu pernyataan denganrealitas yang didefinisikan.Patokan kebenaran proporsi atau pernyataan itu dilandaskan pada pengalaman. Artinya;suatu proposisi itu benar bila pengalaman membuktikan kebenarannya. Proposisi itukeliru apabila bertentangan dengan realitas yang diucapkannya, bertentangan denganpengalaman realitas.Menurut Peirce, ada beberapa proposisi yang tidak dapat dikatakan salah, yaitu proposisidari matematika murni.Di sini kreteria kebenaran matematika murni letaknya dalam hal "Ketidakmungkinannyalagi ", untuk menemukan kasus yang lemah. Dalam matematika murni, semua kasus danproposisi serba kuat. Proposisi matematika murni samasekali juga tidak mengatakansesuatu tentang hal-hal yang faktual ada atau fakta aktual karena matematika murni tidakpernah menghiraukan apakah ada hal real atau fakta yang cocok dengan pernyataan ituatau tidak. Karena itulah Peirce mengatakan bahwa proposisi matematika murni tidake-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 5
  6. 6. dapat diklasifikasi secara pasti benarnya. Masalah penentuan hal "benar" memang bisadilihat dari bermacam-macam segi yaitu disatu pihak benar bisa diartikan sebagai "theuniverse of all truth (universe of all universes). Dilain pihak, dari sudut epistemologi,kebenaran didefinisikan sebagai kesesuaian antara pernyataan dengan penyelidikanempiris.Karena itu, teori pragmatisme Peirce lebih mencanangkan teori tentang arti daripada teoritentang kebenaran. Pandangan Peirce tentang kebenaran dalam uraian di atas, lebihmerupakan pandangan seorang idealis daripada pandangan seorang pragmatis.Menurut Peirce, pragmatisme adalah suatu metode untuk membuat sesuatu ide menjadijelas atau terang dan menjadi berarti. Kelihatan lagi tekanan teori arti Peirce padapragmatisismenya, baginya pragmatisme adalah metode untuk menditerminasi maknadari ide-ide. Ide itulah yang mau diditerminasikan atau artinya melalui pragmatisme.Ada bermacam-macam ide yaitu pertama ide persepsi (sense datum). Ide lni dipandangdalam dirinya sendiri tanpa berhubungan dengan yang lain.Persepsi adalah ide yang dipandang berdiri sendiri, lepas dari yang lain. Contohnya idekebiruan, ide kemerahan. Dalam mulut Peirce, ide persepsi ini ia sebut sebagai ide"kepertmaan". Kedua adalah ide tindakan yang meliputi aspek subyek pelaku dan obyeksasaran. Istilah Peirce untuk ide ini adalah ide keduaan.Ketiga, yaitu ide tentang kaitan salah satu bentuk pasti dari obyek yang diamati olehpenilik. Peirce menamai ide ini ide ketigaan. Secara praktis, kekhasan pragmatismePeirce merupakan suatu metode untuk memastikan arti ide-ide di atas.Penekanan segi teori arti dalam pragmatisme Peirce dapat kita lihat dalam rumusanlengkapnya mengenai pragmatisme. Pragmatisme adalah suatu teori untuk dapatmemastikan makna dari suatu ide intelektual. Caranya adalah orang harusmempertimbangkan konsekwensi-konsekwensi praktis dari teori tersebut. Inilah yangmenentukan arti ide tersebut, inilah kekhasan pragmatisme Peirce.Karena perumusan tadi masih terlalu abstrak, ia memberi contoh. Coba bayangkan bilaseseorang mengatakan kepada anda, bahwa suatu benda itu keras, tetapi anggaplah dirianda belum tahu arti keras itu yang bagaimana. Setelah itu, orang itu akan menjelaskankepada bahwa suatu benda itu keras bila konsekwensi-konsekwensi praktisnya adalahbila benda itu disentuh tidak akan memberikan rasa lembut pada tangan anda bila orangduduk di atasnya tidak akan tenggelam di dalamnya, begitu seterusnya.Dari pengumpulan akibat-akibat praktis tadi, dapatlah kini dirumuskan bahwa benda itukeras. Dengan perkataan lain, konsekwensi-konsekwensi praktis tadi memberi arti penuhmengenai benda-benda tadi. Karena itulah, bisa kita mengerti kalau di tempat lain Peircemenegaskan bahwa teori arti pragmatisme itu menolak nominalisme dan menerimarealisme.e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 6
  7. 7. Inilah kekhasan Peirce dalam pragmatismenya. Berkat analisisnya mengenai arti, iamembantu kita untuk mengerti kejelasan suatu konsep. Ia membantu kita untukmenganalisis konsep-konsep dengan mengujinya melalui konsekwensi-konsekwensipraktis sehingga menjadi kongkrit.6. William JamesPada tokoh ini, Sutrisno juga menjelaskan bahwa James adalah tokoh pragmatisme yanglebih terkenal daripada Peirce. Dialah yang mempublikasikan ajaran pragmatisme. Dalamtokoh ini, pragmatisme mencapai keradikalannya.Dalam kata pengantar buku The Will to Believe (1903), James menulis sikap filsafatnyasebagai empirisme radikal. Dengan empirisnya James memaksudkan sebagai pandanganyang "contented to regard its most assured conclusions concerning matters of futureexperience ".Segi radikalnya terletak dalam perlakuannya terhadap ajaran monisme. Seperti kitaketahui, monisme adalah teori yang mengatakan bahwa dunia ini merupakan suatu entitassaja yang unik. Kebanyakan orang terutama kaum filosof abad lalu memperlakukan tidakdemikian.Keradikalannya, justeru karena ajaran monisme sendiri ia perlakukan sebagai hipotesis.Pahamnya mengenai monisme adalah keanekaragaman hal yang membentuk suatukesatuan yang dapat dimengerti.Dengan sikap filsafat empirisme radikal, ia menegaskan bahwa kesatuan dari kemacam-ragaman hal-hal yang memberi pengertian itu sendiri merupakan hipotesis. Dia masihharus diversifikasi benar-tidaknya berdasarkan pengalaman dan bukan begitu saja diterima sebagai dogma.Dalam buku Some Problems of Philosophy (1911), James lebih tandas mengemukakanpendirian empirisme radikalnya. Di situ, ia melawankan empirisme dengan rasionalisme.Menurut James, para rasionalis adalah orang-orang prinsip. Sedangkan kaum empirisadalah orang-orang fakta. Seorang filosof rasionalis sebagaimana dilihat James adalahorang yang bekerja dan menyelidiki sesuatu secara deduktip, dari yang menyeluruhmenuju kebagian-bagian.Rasionalis berusaha mendeduksi yang umum menuju yang khusus, mendeduksi fakta dariprinsip. Sebaliknya filosof empirisme mulai dari yang khusus (partikuler), dari situmenuju kemenyeluruh. Ia lebih senang menerangkan prinsip-prinsip sebagai prosesinduksi dari fakta. Usaha sebaliknya yaitu mau memastikan suatu kebenaran yang totaldan final adalah asing bagi filosof empiris. Pendapatnya ini diperketat denganpendapatnya tentang arti kebenaran. Pendapat ini terdapat dalam bukunya, The MeaningOf Truth (1909).e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 7
  8. 8. Di sana ia mengartikan kebenaran pertama-tama kebenaran itu merupakan suatu postulat,yaitu semua hal yang disatu pihak bisa ditentukan dan ditemukan berdasarkanpengalaman. Dilain pihak siap untuk diuji denga diskusi.Kedua arti kebenaran itu merupakan suatu pernyataan fakta. Artinya segala hal yang adasangkut-pautnya dengan pengalaman. Ketiga kebenaran itu merupakan kesimpulan yangtelah diperumum (digeneralisasikan) dari pernyataan fakta. perumusan kesimpulan inisifatnya sudah kompleks. Inilah penegasan James mengenai kebenaran. Karena itu, bagiJames, pragmatisme hanyalah merupakan suatu metode. Suatu metode untuk memastikanatau menyelesaikan pertentangan antara teori A dan B.Dengan demikian pragmatisme James adalah metode untuk mencapai kejelasanpengertian kita tentang suatu obyek dengan cara menimbang dan menguji akibat-akibatpraktis yang dikandung obyek tersebut.Dari cara James menguji teori di atas berdasarkan konsekwensi praktisnya, kita melihatgaris penekanan yang sama dengan metode pragmatisme Peirce. Memang sudah menjadirahasia umum diantara para ilmuwan dan filosof bahwa James berhutang budi banyakpada Peirce. Malahan hal ini terang-terangan ia ungkapkan "nilai prinsip Peirce yangadalah prinsip pragmatisme”. Dalam buku Pragmatism (1907), ia menulis: "ajaran Peircetetap tinggal tertutup sampai saat saya membukanya kepada umum dalam tahun 1898 It.James menerapkannya dalam bidang agama, hal ini nyata kelihatan dalam buku the Willto Believe maupun Varieties of Religious experience (1902) (hal. 98).7. John Dewey (1859-1952)Pada tokoh ini Sutrisno menjelaskan bahwa berlainan dengan gaya empirisme James,Dewey juga termasuk tokoh empirisme yang di sangkutkan pula dengan pragmatisme.Kekhususan filsafatnya terutama berdasarkan pada prinsip "naturalisme empiris atauempirisme naturalis". Istilah "naturalisme" ia terangkan sebagai pertama-tama bagiDewey akal budi bukanlah satu-satunya pemerosesan istimewa dari realitas obyektipsecara metafisis. Pokoknya Dewey menolak untuk merumuskan realitas berdasar padapangkalan perbedaan antara subyek yang memandang obyek.Dewey lebih mau memandang proses intelektual manusia sebagaimana berkembang darialam. Menurut Dewey, akal budi adalah perwujudan proses tanggap antara rangsangandengan tanggapan panca indera pada tingkat biologis. Rangsangan tersebut aslinya darialam, manusia mula-mula bertindak menurut kebiasaan-kebiasaan yang telah ada. Setelahrefleksinya bekerja, ia mulai berhenti dan tidak mau hanya asal beraksi saja terhadaplingkungan. Mulailah ia mempertanyakan lingkungan alam itu. Selama itu pulalah prosestanggapan berlangsung terus. Berkat proses ini, terwujud adanya perubahan dalamlingkungan.Dewey menyebut situasi tempat manusia hidup sebagai situasi problematis. Cara manusiabertindak dalam situasi problematis ini tidak hanya fisik belaka tetapi juga kultural. Makabila seseorang dalam menghadapi situasi problematis dan terdorong untuk berpikir danmengatasi soal di dalamnya, pertimbangan moral ia buat sebagai rencana untuke-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 8
  9. 9. memungkinkan tindakannya, walaupun akal budi sudah mengarah ke tindakan, tindakanitu sendiri belum muncul. Baru setelah orang bertindak dalam situasi problematisnya,tindakannya benar-benar mewujud. Dari dasar di atas, Dewey mempunyai gagasantentang sifat naturalistis sebagai “perkembangan terus-menerus hubungan organismedengan lingkungannya".Dari pandangan tersebut bisalah kita menggolongkan Dewey sebagai seorang empiriskarena ia bertitik tolak dari pengalaman dan kembali kepengalaman. Si subyek bergumuldengan situasi problematika yang real empiris dan memecahkannya sedapat mungkinsehingga menghasilkan perubahan-perubahan .Pengalaman sendiri boleh dikatakan sebagai transaksi proses “doing dan undergoing",suatu hubungan aktif antara organisme dengan lingkungannya. Dewey tidak membedakanantara subyek dengan obyek, antara tindak dengan benda material.Meskipun demikian didalam pengalaman kedua hal tadi tercakup dalam ketotalan yangmampat.Dalam memberi patokan tentang kebenaran, Dewey mencantumkan ukuran yang samadengan Peirce, yaitu bahwa suatu hipotesis itu benar bila bisa diterapkan dandilaksanakan menurut tujuan kita. Dengan hati-hati dan teliti, ia menekankan bahwasesuatu itu benar bila berguna. Kegunaan di sini harus di tafsir dalam konteks Deweyyaitu proses transformasi situasi problematis seperti telah diterangkan di atas (sutrisno,1977: 99).Seperti apa yang telah dijelaskan di atas, tentang gagasan atau ajaran Peirce terhadappragmatisme. Horton dan Edwards di dalam sebuah buku yang berjudul Background ofAmerican Literary Thought (1974) menjelaskan bahwa Peirce memformulasikan tigaprinsip-prinsip lain yang menjadi dasar bagi pragmatisme antara lain sebagai berikut :1. Bahwa kebenaran ilmu pengetahuan sebenarnya tidak lebih dari pada kemurnian opini manusia.2. Bahwa apa yang kita namakan "universal" adalah opini-opini yang pada akhirnya setuju dan menerima keyakinan dari: “Community of knowers"3. Bahwa filsafat dan matematika harus di buat lebih praktis dengan membuktikan bahwa problem-problem dan kesimpulan-kesimpulan yang terdapat dalam filsafat dan matematika merupakan hal yang nyata bagi masyarakat (komunitas).Walaupun penggunaan istilah "universal" memperlihatkan bahwa Peirce masihmemikirkan sehubungan dengan "Pre-existing truths" dimana semua opini manusia harusdipertegas pada akhirnya, konsepnya atas kebenaran berangkat secara induktip olehkumpulan akal (pikiran) memberikan William James dengan titik awal bagi versinyasendiri atas pragmatisme (hal. 168).Di samping itu pula, William James mengajukan prinsip-prinsip dasar terhadappragmatisme, sebagai berikut :e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 9
  10. 10. 1. Bahwa dunia tidak hanya terlihat menjadi spontan, berhenti dan tak dapat diprediksi tetapi dunia benar adanya.2. Bahwa kebenaran tidaklah melekat dalam ide-ide, tetapi sesuatu yang terjadi pada ide-ide dalam proses yang dipakai dalam situasi kehidupan nyata.3. Bahwa manusia betas untuk meyakini apa yang menjadi keinginannya untuk percaya akan dunia, sepanjang keyakinannya tidak berlawanan dengan pengalaman praktisnya maupun penguasaan ilmu pengetahuannya.4. Bahwa nilai akhir kebenaran tidak merupakan satu titik ketententuan yang absolut, tetapi semata-mata terletak dalam kekuasaannya mengarahkan kita kepada kebenaran-kebenaran yang lain tentang duinia dimana kita tinggal di dalamnya (Horton dan Edwards, 1974: 172 ).James telah berhasil membuat satu pandangan filosofis terhadap dunia yang padahakekatnya sejajar dengan opini publik yang berasal dari orang-orang awam dan bahkanmemberi ruang baginya dalam alam jagad raya ini sebagai agen yang bebas danbertanggung jawab, memecahkan problem-problem melalui penggunaan intelegensiapraktisnya.Semua pengalaman adalah hal yang nyata, James berpendapat bahwa "manusia tidakdiminta untuk menjelaskan semuanya sesegera mungkin".Kecukupan yang digunakan ke dalam situasi tertentu adalah kebenaran, denganpengertian bahwa kita bekerja dalam situasi itu sendiri. Dengan perkataan lain, kita harusbekerja sesuai dengan situasi yang telah ditentukan dan tidak boleh melebihinya.8. KESIMPULANBagi pragmatisme, filsafat itu adalah alat untuk menolong manusia dalam hidup sehari-hari dan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan mewujudkan dunia teknik(praktis). Dalam segalanya itu, pelaksanaan atau praktek hiduplah yang penting bukanpendapat atau teori rang hipotesis atau sepihak. Untuk menilai bermanfaat atau tidaknyailmu pengetahuan, anggapan hidup, malahan filsafat sendiripun perlu diperhatikan segalahasil den kesimpulan atau akibat yang terjadi atas dasar hipotesis-hipotesis itu. Yangpokok adalah manusia berbuat dan bukan berfikir. Pikiran atau teori merupakan alat yanghanya berguna untuk memungkinkan timbulnya pengalaman yang semakin ikutmengembangkan hidup manusia dalam praktek pelaksanaannya.Demikianlah pragmatisme berpendapat bahwa yang benar itu hanyalah yangmempengaruhi hidup manusia serta yang berguna dalam praktek, yang dapat memenuhituntutan hidup manusia, Filsafat pragmatisme penting di terapkan di Indonesia apalagikita sedang hangat-hangatnya melaksanakan pembangunan nasional jangka panjang 25tahun yang kedua. Yang penting buat kita berbuat bukan berteori.e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 10
  11. 11. DAFTAR PUSTAKABukhard, Frederick 1979. The Works of William James: Some Pro blems of Philosophy.London: Harvard University Press.Copleston, Frederick 1966. A History Philosophy. London: Burns and Dates Ltd.Horton, Rd W., and Herbert W. Edwards 1974. Background of American Literary Thought. London: Prentice Hall International, Inc.James, William 1968. Pragmatism. New York: The World Publishing Company.Kucklick, Eruce 1979. The Rice of American Philosophy. New York: Yale University Press.Stroh, W. Guy 1968. American Philosophy. Princenton: Duven Nostrand Company, Inc.______________1967. The Encyclopedia of Philosophy Vol. 5 and 6 MacMillan Publishing Co., Inc., and The Free Press.Sutrisno, F.X. Mudji 1977. Pragmatisme. Jakarta: PT Gramedia.e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 11

×