Your SlideShare is downloading. ×

Laporan penelitian Sejarah

18,335
views

Published on

Published in: Education

2 Comments
18 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
18,335
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
2
Likes
18
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Laporan Penelitian Sejarah“Di Benteng Fort Rotterdam dan Taman Prasejarah gua Leang-leang” DISUSUN OLEH : KELOMPOK I MUHAMMAD IDRIS MUHAMMAD SYAHRIR HARDIYANTI SRI DEVI JUSMITA JURUSAN PENDIDIKAN SOSIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR TAHUN AKADEMIK 2012/2013
  • 2. KATA PENGANTARPuji syukur kehadirat Allah, Tuhan yang maha kuasa, yang dengan rahmat-Nya akhirnyatulisan ini dapat saya susun. Dalam penyusunan tulisan ini kami mencoba untuk menyorotimasalah peninggalan sejarah yang kini merupakan sebuah situs yang belum di kenaldimasyarakat.Kami menyadari bahwa dalam penyusunan laporan penelitian ini, keberhasilan bukansemata-mata diraih oleh penulis, melainkandiraih oleh berkat dorongan dan bantuan dariberbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini, kami bermaksud menyampaikanucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam penyusunan laporanpenelitian ini.Dengan penuh kerendahan hati, kami dari kelompok satu mengucapkan terimakasih kepada bapak Usman selaku dosen pemandu mata kuliah dasar-dasar sejarah, teman-teman seperjuangan yang memiliki visi perbaikan yang tidak dapat disebut satu persatu.Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan sarandari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaanmakalah ini.Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan sertadalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasameridhai segala usaha kita. Amin penyusun,
  • 3. ABSTRAKPenelitian Sejarah dilakukan pada lokasi atau objek pertama yaitu benteng Fort Rotterdam,Makassar kemudian dilanjutkan pada objek yang kedua yaitu leang (goa) pettae dan pettakere yang berlokasi di kabupaten maros, Sulawesi selatan 2012 (Dibimbing oleh Usman DM.selaku dosen pembina dasa-dasar Sejarah Universitas Muhammadiyah Makassar ).Penelitian yang dilakukan di dua lokasi bertujuan untuk mengetahui atau meneliti keberadaanBenteng yang awalnya dibangun tahun 1545 oleh raja Gowa ke X yakni TunipallanggaUlaweng serta Celebes Museum bertempat di Benteng Ujung Pandang (Fort Rotterdam),menempati bekas gedung kediaman Laksamana Cornelis Speelman, yaitu Gedung No.2.Koleksi diperoleh dari sumbangan masyarakat dan hasil penggalian, diantaranya berbagaijenis keramik, mata uang, beberapa buah senjata tradisional,lukisan,peninggalan kebudayaanSulawesi Selatan, piring emas, dan lain-lain.Kemudian pada objek yang kedua yaitu goa leang-leang yang menjadi bukti sejarahkehidupan masyarakat masa lampau serta beberapa peninggalan arkeologi yang ditemukanpada goa leang-leang antara lain lukisan dinding gua berupa gambar babi rusa, gambartelapak tangan, alat batu serpih bilah, dan mata panah.Dengan menggunakan metodepenelitian yaitu kualitatif.
  • 4. DAFTAR ISIHalaman judul ............................................................................................................................Kata pengantar........................................................................................................................................Abstrak ....................................................................................................................................................Daftar isi ..................................................................................................................................................Bab I PENDAHULUAN A. Latar belakang ........................................................................................................................... B. Rumusan masalah ..................................................................................................................... C. Tujuan penelitian....................................................................................................................... D. Kegunaan hasil penelitian .........................................................................................................BAB II Landasan materi A. Tinjauan pustaka ....................................................................................................................... B. Hipotesis ....................................................................................................................................BAB III Metode Penelitian A. Tipe dan dasar penelitian …………………………………………………………………………….……………………….. B. Subjek Penelitian ………………………………………………………………………………………………………………….. C. Teknik dan prosedur penelitian data…………………………………………………………………………………….. D. Teknik dan analisis data…………………………………………………………………………………………………………. E. Instrument penelitian…………………………………………………………………………………………………………….BAB IV PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian di benteng Fort Rotterdam ............................................................................. B. Hasil penelitian di goa Leang-leang .......................................................................................... C. Kutipan wawancara ..................................................................................................................BAB V PENUTUP A. Kesimpulan .............................................................................................................................. B. Penutup ...................................................................................................................................LAMPIRAN-LAMPIRAN
  • 5. BAB I PENDAHULUANI.I. Latar BelakangFort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) adalah sebuah bentengpeninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah baratKota Makassar, Sulawesi Selatan. Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumaparisi kallonna. Awalnyabenteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang bersumber dariPegunungan Karst yang ada di daerah Maros. Benteng Ujung Pandang ini berbentuk sepertiseekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelasfilosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pundengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan.Kemudian objek selanjutnya yaitu taman Prasejarah Leang-Leang yang merupakan objekatau situs sejarah yang berlokasi di kabupaten Maros yang berada tidak jauh dari TamanWisata Alam Air Terjun Bantimurung. Leang-leang dalam bahasa lokal berarti gua. Disekitar Taman Prasejarah ini terdapat banyak gua yang memiliki peninggalan arkeologisyang sangat unik dan menarik. Pada tahun 1950, Van Heekeren dan Miss Heeren Palmmenemukan gambar gua prasejarah (rock painting) yang berwarna merah di Gua Pettae danPetta Kere. Van Heekeren menemukan gambar babi rusa yang sedang meloncat yang dibagian dadanya tertancap mata anak panah, sedangkan Miss Heeren Palm menemukangambar telapak tangan wanita dengan cat warna merah. Menurut para ahli arkeologi, gambaratau lukisan prasejarah tersebut sudah berumur sekitar 5000 tahun silam. Dari hasilpenemuan itu, mereka menduga bahwa gua tersebut telah dihuni sekitar tahun 8000-3000sebelum Masehi.I.2. Rumusan MasalahAdapun masalah yang akan kami bahas yaitu: 1. Bagaimanakah sejarah benteng Fort Rotterdam serta beberapa peninggalan di ruangan arkeologi berupa artefak? 2. Bagaimankah corak kehidupan serta peran gua leang-leang terhadap kehidupan manusia dimasa lampau ?I.3. Tujuan PenelitianKarena hal tersebut, maka kami melakukan penelitian yang bertujuan untuk : 1. Untuk mengetahui sejarah keberadaan benteng Fort Rotterdam serta beberapa bentuk peninggalan arkeologi dari berbagai daerah Sulawesi Selatan serta fungsi dan kegunaan artefak yang ada di museum la galigo.
  • 6. 2. Mempelajari, memahami dan memeprdalam wawasan tentang kehidupan manusia dimasa lampau, 500 tahun sebelum masehi serta memahami bagaiman cara masyarakat dulu untuk dpat bertahan hidup.I.4. Kegunaan hasil penelitianManfaat dari penelitian dari kelompok kami yaitu; 1. Untuk memberikan pemahaman mengenai sejarah keberadaan benteng Fort Rotterdam dan beberapa bentuk peninggalan artefak. 2. Memberikan pemahaman mengenai kehidupan manusia pada masa lampau dan corak kehidupan masyarakatnya.
  • 7. BAB II LANDASAN MATERI2.1. Tinjauan PustakaBenteng Fort Rotterdam merupakan sebuah benteng peninggalan kerajaan Gowa-Tallo yangdibangun pada tahun 1545 oleh raja Gowa ke-9 yang bernama Manrigau Daeng BontoKaraeng Lakiung Tumapa’risi Kallona. Benteng ini merupakan saksi sejarah kejayaanmasa lalu masyarakat sulawesi selatan khususnya kerajaan gowa. Benteng Fort Rotterdam,oleh masyarakat Gowa dikenal dengan sebutan Benteng Pannyua karena jika jika dilihat dariatas bentuknya menyerupai seekor penyu. Bentuk penyu menggambarkan bahwa kerajaanGowa adalah kerajaan maritim.Gua leang-leang merupakan awal dari penelitian-penelitian terhadap gua-gua prasejarah danawal penemuan lukisan yang terdapat di Kabupaten Maros.Penelitian tersebut dilakukan padatahun 1950 oleh Van Heekeren dan Miss Heeren Palm.Heekern menemukan gambar babirusa yang sedang meloncat yang bagian dadanya terdapat mata panah menancap, sedangkanMiss Heeren Palm menemukan gambar telapak tangan dengan latar belakang cat merah.Sejak itulah penelitian-penelitian di kawasan karst Maros-Pangkep dilakukan lebih intensifdan menghasilkan data yang melimpah tentang jejak hunian prasejarah di kawasan tersebutberdasarkan hasil pendataan terakhir yang dilakukan oleh Balai Pelestarian PeninggalanPurbakala Makassar terdapat 100-an leang prasejarah yang tersebar di kawasan karst Maros-Pangkep.2.2. Hipotesis1. Setelah melakukan observasi dan terjun langsung di lokasi penelitian yang berlokasi di benteng Fort Rotterdam kami dari kelompok 1 menarik suatu asumsi bahwa benteng fort rotterdam merupakansaksi sejarah kejayaan masa lalu masyarakat sulawesi selatan khususnya kerajaan Gowa.2. Setelah melihat taman purbakala gua leang-leang, kami dari kelompok 1 menduga bahwa manusia yang hidup kira-kira 5000 tahun sebelum masehi di gua leang-leang itu sering bersosialisasi dengan cara berpindah dari satu goa ke goa lain. Menurut benda-benda yang ditemukan di gua leang-leang bahwa terdapat bentuk kehidupan yang dihuni oleh kelompok-kelompok manusia purba yang dipekirakan mereka hidup 5000 tahun sebelum masehi. Mereka sudah mengenal cara berburu dan sudah mengenal tentang agama walaupun masih percaya dengan roh nenek moyang ataupun benda-benda gaib.
  • 8. BAB III METODOLOGI PENELITIANA. Tipe dan dasar penelitian Penelitian kualitatif adalah penelitian yang data-datanya dinyatakan dalam bentuk tanggapan dan perasaan.Oleh Karena itu kelompok kami memiliki inisiatif untuk meneliti objek dan bukti sejarah yang bertempat di benteng Fort Rotterdam dan kemudian dilanjutkan dengan rute selanjutnya yang berlokasi di maros khususnya di gua leang-leang. Tempat dan waktu penelitian -Tempat : 1. Benteng Fort Rotterdam, 2. Gua leang-leang -Waktu penelitian : Senin, 25desember 2012 Adapun yang menjadi alasan dari kelompok kami melakukan penelitian sejarah disamping sebagai tugas final, kelompok kami juga ingin membuktikan hipotesis yang kami telah didiskusikan sebelumnya yaitu sebagai berikut; 1. Benteng Fort Rotterdam : Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui atau meneliti keberadaan Benteng yang awalnya dibangun tahun 1545 oleh raja Gowa ke X yakni Tunipallangga Ulaweng, serta beragamkoleksi yang diperoleh dari sumbangan masyarakat dan hasil penggalian, diantaranya berbagai jenis keramik, mata uang, beberapa buah senjata tradisional,lukisan,peninggalan kebudayaan Sulawesi Selatan, piring emas, dan lain-lain. 2. Taman Prasejarah gua Leang-leang : karena lokasi ini, masih menyimpang banyak tanda tanya mengenai perkara benar tidaknya bukti sejarah yang ada di gua leang- leang karena kebanyakan asumsi hanya sebatas dugaan dan perkiraan, akan tetapi inisiatif kelompok kami akan mengungkap hal tersebut dengan terjun langsung ke lapangan serta membuat daftar pertanyaan kepada informan yaitu bapak LH sebagai pemerhati budaya dan situs sejarah gua Leang-leang. B.Subjek penelitian Adapun yang menjadi subjek atau informan dalam penelitian kelompok kami yaitu diantaranya : 1. Pemandu I (benteng Fort Rotterdam) 2. H.Lahab (sebagai pemerhati budaya dan situs sejarah gua Leang-leang) 3. Pak Herman (tokoh masyarakat)
  • 9. C.Teknik dan prosedur penelitian data Observasi Observasi adalah pengumpulan data melalui pengamatan langsung atau peninjauan secara cermat dan langsung dilapangan atau lokasi penelitian. Wawancara Wawancara merupakan pengumpulan data dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah dirumuskan.F.teknik pengumpulan dataDari data yang diambil dari Informan,data tersebut terkumpul dalam bentuk data kualitatifyaitu penelitian yang data-datanya dinyatakan dalam bentuk tanggapan dan perasaan sertamenyangkut pendapat dan opini-opini dari informan yang lebih bersifat subjektif.G.instrumen penelitianDalam penelitian yang kami lakukan terdapat dua lokasi atau objek penelitian yaitu lokasipertama di benteng Fort Rotterdam kemudian penelitian dilanjutkan pada objek yang keduayang berlokasi di Maros tepatnya di taman prasejarah gua leang-leang,instrument penelitianyang digunakan adalah melalui observasi langsung dan melalui panduan wawancara.
  • 10. BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIANA.Benteng Fort Rotterdam Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) adalah sebuah bentengpeninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah baratKota Makassar, Sulawesi Selatan.Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke IX yang bernama I manrigauDaeng Bonto Karaeng Lakiung Tumaparisi kallonna. Awalnya benteng ini berbahan dasartanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke XIV Imangerangi Daeng Manrabiadengan gelar Sultan Alauddin atas perintahnya konstruksi benteng ini diganti menjadi batucadas dan batu bata yang menggunakan kapur dan pasir sebagai perekat yang bersumber dariPegunungan Karst yang ada di daerah Maros pada tanggal 23 Juni 1635, dibangun lagidinding tembok kedua dekat pintu gerbang.Benteng Ujung Pandang ini berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun kelautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup didarat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun dilautan.Nama asli benteng ini adalah Benteng Ujung Pandang, biasa juga orang Gowa-Makassarmenyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua yang merupakan markas pasukankatak Kerajaan Gowa.Seperti yang di jelaskan oleh pemandu bahwa Benteng ini pernah hancur pada masapenjajahan Belanda.Belanda pernah menyerang Kesultanan Gowa yang saat itu dipimpinSultan Hasanuddin, yaitu antara tahun 1655 hingga tahun 1669.Tujuan penyerbuan Belandaini untuk menguasai jalur perdagangan rempah rempah dan memperluas sayap kekuasaanuntuk memudahkan mereka membuka jalur ke Banda dan Maluku.Selama satu tahun penuhKesultanan Gowa diserang hingga akhirnya kekuasaan raja Gowa disana berakhir.Seisibenteng porak poranda, rumah raja didalamnya hancur dibakar oleh tentara musuh.Kekalahanini membuat Belanda memaksa raja menandatangani "perjanjian Bongaya" pada 18November 1667.Kerajaan Gowa-Tallo akhirnya menandatangani perjanjian Bongaya yangsalah satu pasalnya mewajibkan Kerajaan Gowa untuk menyerahkan benteng ini kepadaBelanda. Pada saat Belanda menempati benteng ini, nama Benteng Ujung Pandang diubahmenjadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelman sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk
  • 11. mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Benteng ini kemudian digunakan oleh Belandasebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur.Dikemudian hariSpeelman memutuskan untuk menetap disana dengan membangun kembali dan menatabangunan disitu dengan arsitektur Belanda. Bentuk awal yg mirip persegi panjang kotakdikelilingi oleh lima bastion, berubah mendapat tambahan satu bastion lagi di sisi barat.Sebagaimana yang dijelaskan oleh pemandu bahwa benteng ujung pandang mempunyai limabuah sudut dan semua sudut biasa juga disebut bastion, yang masing-masing Bastionmemiliki nama tersendiri yaitu: 1. Bastion Bone terletak disebelah barat merupakan kepala penyu 2. Bastion Bacam terletak disudut barat daya 3. Bastion Buton terletak disudut barat laut 4. Bastion Mandarsyah terletak disudut timur laut 5. Bastion Amboina terletak disudut tenggaraMenurut analisis pemandu bahwa diberikan nama Benteng Ujung pandang karena letaknyadiujung atau tanjung yang banyak ditumbuhi pohon pandang sehingga diambillah nama daritempat tersebut yaitu benteng Ujung Pandang.Di kompleks Benteng Fort Rotterdam kini terdapat Museum La Galigo yang di dalamnyaterdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Memasuki ruangan arkeologi yang terdapatbanyak benda-benda atau peninggalan berupa Artefak yang berasal dari berbagai daerah disulawesi selatan.Penamaan Museum La GaligoMuseum Sulawesi Selatan ini diberi nama „La Galigo‟ atas saran seorang seniman, denganpertimbangan nama ini sangat terkenal di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan. La Galigoadalah salah satu putra Sawerigading Opunna Ware, seorang tokoh masyhur dalam mitologiBugis, dari perkawinannya dengan WeCudai Daeng Risompa dari Kerajaan Cina Wajo.Setelah dewasa, La Galigo dinobatkan menjadi Pajung Lolo (Raja Muda) di Kerajaan Luwu,pada abad ke-14.„La Galigo‟ juga nama sebuah karya sastra klasik dalam bentuk naskah tertulis bahasa Bugisyang terkenal dengan nama Surek La Galigo, dengan panjang 9.000 halaman, dan La Galigosendiri dianggap sebagai pengarangnya (note: studi mengungkapkan kemungkinanpenulisnya adalah perempuan bangsawan), pada masa yang sezaman dengan KerajaanSriwijaya. Isinya mengandung cerita-cerita, tatanan, dan tuntunan hidup orang SulawesiSelatan dulu, seperti sistem religi, ajaran kosmos, adat-istiadat, bentuk, dan tatananmasyarakat/pemerintahan tradisional, pertumbuhan kerajaan, sistem ekonomi/perdagangan,keadaan geografis, dan peristiwa penting yang pernah terjadi. Naskah ini biasanya dibacakansecara berlagu kepada pendengarnya. Khusus ceritera tokoh Sawerigading, tidak hanyadikenal di daerah Bugis saja, tetapi dapat dijumpai dalam bentuk ceritera lisan di Makassar,Toraja (note: Toraja adalah dataran tinggi, sehingga cukup mengejutkan berkembangnya eposberlatarbelakang bahari di sini), Mandar, Massenrempulu, Selayar, Sulawesi Tenggara, danTengah. Dalam surek la galigo memiliki kedudukan sebagai;
  • 12. 1. Sebagai sastra suci, menceritakan tentang cikal-bakal orang Bugis yang sakti dan dimuliakan. Oleh sebab itu naskah La Galigo mereka layani dan hormati seperti menghormat tokoh ceritera didalamnya. Dengan sikap dan pandangan demikian ini, La Galigo melaksanakan fungsi sebagai penawar keresahan menghadapi ancaman penyakit, bencana alam, dan kematian, juga sebagai pelindung ancaman kebahagiaan hidup. 2. Sebagai Sastra Berguna atau Sastra Normatif, berisi petunjuk tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan; berbagai tatacara kehidupan sehari-hari, mulai dari peristiwa kelahiran, pijak tanah, perkawinan, hingga urusan kematian dan adat beraja- raja. Dengan demikian ia melaksanakan fungsi sebagai pendorong terciptanya integritas sosial dengan keluarga raja sebagai intinya, dan pendorong terciptanya stabilitas sosial, serta kelestarian pranata sosial budaya. 3. Sebagai sastra indah, berisi ceritera petualangan, percintaan, dan peperangan yang memikat dan menegangkan dalam irama dan gaya bahasa yang menawan. Dengan kedudukan demikian naskah ini berfungsi sebagai alat penghibur, penggugah emosi, dan imaji pengikat, pembina kompetensi dan apresiasi sastra di kalangan masyarakat.Sebagaimana digambarkan oleh pemandu bahwa benteng Fort Rotterdam; Awalnyadibangun tahun 1545 oleh raja Gowa ke X yakni Tunipallangga Ulaweng. Bahan baku awal benteng adalah tembok batu yang dicampur dengan tanah liat yang dibakar hingga kering. Bangunan didalamnya diisi oleh rumah panggung khas Gowa dimana raja dan keluarga menetap didalamnya.Pada tanggal 9 Agustus 1634, Sultan Gowa ke-XIV (I Mangerangi Daeng Manrabbia, dengan gelar Sultan Alauddin) membuat dinding tembok dengan batu cadas hitam yang didatangkan dari daerah Maros.Pada tanggal 23 Juni 1635, dibangun lagi dinding tembok kedua dekat pintu gerbang. Kehadiran Belanda yang menguasai area seputar banda dan maluku, lantas menjadikan Belanda memutuskan untuk menaklukan Gowa agar armada dagang VOC dapat dengan mudah masuk.Sejak tahun 1666 pecahlah perang pertama antara raja Gowa yang berkuasa didalam benteng tersebut dengan penguasa belanda Speelman.Setahun lebih benteng digempur oleh Belanda dibantu oleh pasukan sewaan dari Maluku, hingga akhirnya kekuasaan raja Gowa disana berakhir.Seisi benteng porak poranda, rumah raja didalamnya hancur dibakar oleh tentara musuh. Kekalahan ini membuat Belanda memaksa raja yang pada saat itu dipimpin oleh sultan hasanuddin yang dengan terpaksa menandatangani "perjanjian Bongaya" pada 18 Nov 1667 karena dikonco oleh belanda dan sultan hasanuddin terpaksa menandatangani perjanjian tersebut karena dia ingingkan tidak ada lagi korban jiwa yang berjatuhan.
  • 13. Memasuki ruangan arkeologi yang dulunya merupakan tempat kediaman gubernur Belandayaitu Cornelis Spelman, adapun benda-benda peninggalannya antara lain; 1. Tulisan petani Toraja Memasuki ruangan museum La galigo disitu terdapat lukisan-lukisan yang mencerminkan corak kehidupan masyarakat toraja.Sebagaimana penjelasan dari pemandu bahwa; Corak kehidupan masyarakat toraja pada waktu itu adalah bercocok tanam,menenun kain. Serta kehidupannya berpindah-pindah, berkelompok-kelompok, pada jaman dahulu tinggal di gua-gua, setelah mengalami perkembangan maka dibuatlah rumah panggung, rumah dari kayu. dan dilukis oleh seorang pelukis Belanda bernama Bonnet. 2. BadikDalam badik,parang biasanya ada orang-orang tertentu yang dapat memakainya untukmenyembuhkan penyakit ,kemudian fungsi badik yaitu ada beberapa macam antara lain untukberperang, untuk pemikat wanita,kemudian untuk melamar wanita supaya lamarannya bisaditerima, untuk menanam padi, serta sebagai pelaris dagang atau berbisnis, namun pamornya,karena tergantung dari pamornya, jadi pamor badik itu berbeda-beda ada yang dipakai untukmenanam padi, melamar, ada dipakai untuk berbisnis, namun untuk memiliki badik tidaksemudah itu karena harus di ukur mulai dari ujung ibu jari sampai jari telunjuk kalau pasujung uluh badik sampai ujung badik berarti orang itu pantas memiliki badik tersebut kalautidak pas cari badik lain, atau dengan cara lain seperti alif / ba kalau berakhir dari kata alifmaka cocok untuk memilikinya, sementara bila berakhir kata ba, maka jangan coba-cobauntuk memilikinya.
  • 14. Kemudian ada ungkapan orang bugis mengatakan “tennia ogi ku de na kawali” bukan orangbugis kalau tidak pakai badik, laki-laki baru dianggap dewasa kalau memiliki tiga; (1).Rumah, (2). Badik ,(3). Istri , maka barulah sempurna sebagai seorang laki-laki, kemudianlaki-laki pada jaman dahulu yang sudah beranjak dewasa maka diberikan petua atau nasihatdari orang tua bahwa kita harus menjaga tellu cappa , yaitu ujung lidah artinya kalauberbicara jangan berbohong karena kita akan selamat dan orang akan mempercayai kita,kedua ujung badik apabila kamu dalam keadaan terdesak maka digunakan untuk melindungidiri, ujung ketiga ini yaitu peliharalah baik-baik jangan di salahgunakan. Badik juga memilikiunsur magic dalam pamornya yang terbuat dari emas yang hanya dimilik oleh golonganbangsawan,raja-raja,pemerintah.Kemudian penjelasan dari pemandu bahwa hukum adat to ugi ketika seseorang melakukanpelanggaran, yaitu siri na pacce karena ketika melakukan pelanggaran karena bisa diusir darikampung atau dibunuh dengan cara di tenggelamkan dilaut dengan diikat danditenggelamkan hidup-hidup bahkan ada yang dicekik lehernya, kalau badik tersebutdigunakan untuk mengeksekusi seseorang itu belum ada bukti sejarah, ujar pemandu. 3. Manusia prasejarahKemudian pada ruangan selanjutnya mengenai masalah manusia purba tempat yang dihunioleh manusia prasejarah dulu adalah tempat yang dekat dengan sumber air, sementaramanusia purba berbeda-beda ,jadi homo sapiens ada di daerah pangkep atau manusia kerdilpernah ada di pangkep. Kemudian dalam hal berburu digunakanlah tombak yang matatombaknya memakai batu atau tulang belulangMisalnya pada jaman Mezolitik, manusiasudah mulai bertempat tinggal sementara di dalam gua, ceruk atau pondok sederhana dandibuktikan dengan ditemukannya gambar berupa cap tangan dan gambar binatang di dalamgua yang terdapat di daerah Maros, Pangkep, Soppeng, Bone dan Bantaeng. Ras yang adapada jaman tersebut adalah ras Astromelanozoid, Mongoloid dan di Sulawesi Selatan dikenaldengan suku Toala. Alat yang digunakan masih berupa batu yang sudah mulai dibentukmisalnya sebagai mata panah bergirigi untuk tombak dalam mencari ikan. Sedangkan padamasa bercocok tanam (Neolitik) ditemukan situs-situs di daerah Sulawesi Selatan berupabeliung persegi dan kapak lonjong di Kamasi dan Minanga Sipakka, Bunu Banua, Maros danTana Toraja. Pada masa Budaya Islam ditemukan adanya tasbih, Al Quran yang ditulistangan, Masjid Katangka, Masjid Palopo, dan Sikkiri Tujua yaitu berupa naskah dan doa-doaberisi riwayat Nabi yang dibacakan di istana pada tiap malam Senin dan malam jumat yangdihadiri anggota adat kerajaan dan pemuka masyarakat.
  • 15. 4. Keramik Pada Koleksi Keramologika terdapat keramik Eropa abad 19-20 yang terbuat dari bahan porselin bentuk bundar dan berglasir. Memiliki ragam hias kaligrafi berwarna hitam, tulisan menceritakan tentang Nabi Muhammad Ya Rahman , para sahabatnya dan malaikat antara lain: Abubakar, Mikhail, Umar, Israil, Usman, Israfil, Ali, Jibril. Ada pula Keramik Jepang abad 17-19 yang terbuat dari bahan porselin berbentuk bundar dan berglasir. Memiliki ragam hias bunga, pohon dan binatang laut menyerupai siput berwarna biru dan merah. Berfungsi sebagai wadah makanan.Jejak-jejak peradaban di Sulsel sejak zaman berburu (zaman paleolitik) hingga jaman modernbisa ditemui di museum ini. Kita dapat melihat berbagai jenis kapak kuno dan mata panahpeninggalan masyarakat berburu. Kelompok kami juga menyaksikan beberapa patung-patungpeninggalan masyarakat Megalitik.Juga, pada bagian lain museum, beberapa peninggalan kerajaan besar di Sulsel, khususnyapeninggalan kerajaan Gowa dan Bone. Diantaranya: mahkota, keris, selempang, bendera,senjata dan naskah-naskah kuno.Salah satu ruangan museum itu menyimpan koleksi peninggalan masyarakat pertanian. Disitu bisa dilihat alat pertanian tradisional: rakkala‟ (bajak), lesung (tempat menumbuk padi),bingkung (cangkul), salaga (alat mengatur bongkahan tanah di sawah), parang, sabit, danlain-lain.kita bisa melihat peninggalan masyarakat pesisir: bagang (perangkap ikan), lepa-lepa (perahu nelayan), dan lain-lain. Jadi salah satu yang paling mengagungkan adalahreplika perahu Pinisi. Konon,kata pemandu bahwa perahu tersebut pertama kali diproduksisaat Sawerigading, putra mahkota kerajaan Luwu, guna dipergunakan berlayar menuju kenegeri Tiongkok untuk mempersunting seorang putri bernama We‟cudai.Perahu pinisi ini terbuat dari kayu, punya dua tiang utama, dan 7 helai layar. Pada masanya,pinisi merupakan simbol kejayaan pelaut-pelaut Bugis-Makassar dalam mengarungi lautan.
  • 16. Ada juga koleksi rumah adat masyarakat sulawesi selatan: Saoraja (bugis) ballak lompoa(makassar), bola (bugis), ballak (makassar), Sao pitik (bugis), taratak (makassar), tongkonan(Toraja), dan lain-lain. Koleksi lain berupa dapur, alat tenun, tempat perkawinan, pakaian,kain tenun, alat musik dan lain-lain. Di bagian lain, kelompok kami juga bisa menyaksikankoleksi alat transportasi darat masyarakat sulsel di masa lalu, seperti sepeda, bendi, dan lain-lain. Berbagai koleksi itu terlihat sangat unik dan kelihatan asli.tradisi nelayan Bugis Masyarakat ini juga melakukan ritual adat sebelum melaut atau mencariikan. Sebelum melaut terlebih dahulu melaksanakan upacara Maccera tasik/ Macceratappareng (untuk danau dan sungai), upacara dipimpin oleh Ponggawa Pokkaja ataupenghulu nelayan dan pada upacara aini pula pemotongan hewa, seperti: kambing, sapi, ataukerbau kemudian disajikan bersama dengan Sokko patan rupa ( ketan 4 rupa) putih, hitam,merah dan kuning. Acara seremonial ini bertujuan untuk memohon doa restu yangmahakuasa agar selama masa penangkapan akan diberi rezeki dan keselamatanProfesi pelaut sudah dikenal nenek moyang suku Bugis Makassar sejak zaman prasejarahyaitu pada masa perundagian dengan ditemukannya bukti-bukti arkeologis yangmenunjukkan adanya relief perahu yang ditemukan pada gua-gua prasejarah di Sulawesi,begitupula ditemukan benda-benda peti kubur purbakala yang berbentuk perahu di beberapadaerah.Khususnya pada ethnik Bugis Makassar telah identik dengan suku bangsa pelaut yanghandal dengan keberaniannya mengarungi samudra luas dan dengan kepandaiannya telahmengembangkan suatu budaya maritim sejak berabad-abad lamanya.Kepintaran suku Bugisdalam berlayar dan mengembangkan perahu layar terbukti adanya suatu hukum niaga dalampelayaran yang ditulis dalam naskah lontara disebut Ade’ Aloppi-Loping BiccaranaPabbalu’e oleh Amanna Gappa pada tahun- 17.*B. Gua Leang-leang.Taman Prasejarah Leang-Leang merupakan taman prasejarah Kabupaten Maros.Leang-leangdalam bahasa lokal berarti gua. Di sekitar Taman Prasejarah ini terdapat banyak gua yangmemiliki peninggalan arkeologis yang sangat unik dan menarik. Pada tahun 1950, VanHeekeren dan Miss Heeren Palm menemukan gambar gua prasejarah (rock painting) yangberwarna merah di Gua Pettae dan Petta Kere. Van Heekeren menemukan gambar babi rusayang sedang meloncat yang di bagian dadanya tertancap mata anak panah, sedangkan MissHeeren Palm menemukan gambar telapak tangan wanita dengan cat warna merah. Menurutpara ahli arkeologi, gambar atau lukisan prasejarah tersebut sudah berumur sekitar 5000tahun silam. Dari hasil penemuan itu, mereka menduga bahwa gua tersebut telah dihunisekitar tahun 8000-3000 sebelum Masehi. Untuk melestarikan dan memperkenalkan gua-gua yang merupakan sumber informasiprasejarah tersebut, maka sejak tahun 1980-an pemerintah setempat mengembangkannyamenjadi tempat wisata sejarah dengan nama Taman Wisata Prasejarah Leang-Leang. Saatini, pemerintah setempat telah merencanakan membangun beberapa sarana dan prasarana disekitar tempat wisata tersebut, seperti cottage,baruga (Gedung) pertemuan dan saluran airbersih.Adapun penjelasan dari bapak H.Lahab bahwa;
  • 17. Dalam gua tersebut terdapat dua situs yaitu gua pettae dan gua pettakere yang berada tidak jauh dari gua pettae itu sendiri.Dalam leang pettae ditemukan gambar telapak tangan dan gambar babi rusa. Adapun yang menemukan gambar tangan itu yaitu Miss Heeren Palm pada tahun 1950, sedangkan yang menemukan gambar babi rusa yaitu Van Heekeren pada tahun yang sama yang keduanya berkebangsaan Belanda. Adapun makna gambar tangan tersebut yaitu sebagai simbol kekuatan untuk mencegah roh- roh jahat yang akan menggangu mereka, sementara yang empat gambar tersebut berarti Gambar-gambar pada dinding gua dan alat-alat yang mereka tinggalkan menceritakan kehidupan sosial mereka, termasuk aktivitas dari kepercayaan yang mereka anut saat itu. Salah satu gambar telapak tangan diperkirakan sebagai cap telapak tangan milik salah satu anggota suku yang telah mengikuti ritual potong jari. Ritual itu dilakukan sebagai tanda berduka atas kematian orang terdekatnya. Sementara gambar babi itu, mereka berharap bahwa buruannya dapat berhasil karena pada waktu dulu mata pencaharian mereka berburu dan mengumpulkan makanan. Jadi alat yang dipakai untuk menggambar yaitu okar atau batu yang berwarna merah dan dari tumbuh-tumbuhan kemudian dicampur, ada juga cara untuk bikin gambar tangan, yaitu tangannya ditempel lalu alatnya dikunyah kemudian disembur lewat mulut, sementara gambar babinya dicoret-coret. Suku yang pernah tinggal di gua ini adalah suku toala mereka datang dari utara pilifine mongoloid, jadi gambar tersebut diperkirakan 5000 tahun sebelum masehi.Jadi dulu ada namanya saman batu tua, pertengahan, batu baru. Kalau saman batu tua itu dalam leang pettae bila makanannya habis maka dia akan berpindah lagi, nanti pada saman batu pertengahan mereka sudah mulai tinggal menetap dan berkelompok-kelompok sekitar 25-30 orang dalam satu kelompok. Selanjutnya bapak H.Lahab memberikan gambaran bahwa dulu daerah sekitar leang-leang pernah terjadi pasang-surut antara tahun 3000-1000 sebelum masehi, jadi daerah sekitar leang-leang pernah menjadi laut terbukti dengan ditemukannya fosil kulit kerang. Di sekitar Taman Prasejarah Leang-Leang juga terdapat banyak gua-gua lainnya yang memiliki karakteristik berbeda dan menyimpan peninggalan prasejarah dengan masing-masing keunikannya, seperti: Leang Bulu Ballang yang menyimpan senjumlah mollusca, porselin dan gerabah, serta dinding-dindingnya dapat dimanfaatkan sebagai areal panjat tebing; Leang Cabu yang sudah sering dijadikan sebagai tempat latihan para pemanjat tebing, dan di hadapan mulut leang ini, tampak aktivitas pertambangan batu kapur serta hamparan sawah yang luas; dan Leang Sampeang yang memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh leang lainnya, yaitu terdapat gambar manusia berwarna hitam. Kesemua leang tersebut memiliki jarak yang relatif dekat antara satu dengan yang lainnya, sehingga mudah untuk dikunjungi.Menurut pak herman yang menjadi pemandu kelompok kami untuk menapaki akes ke leang petta kere yang melewati anak tangga yang curam, menurut pak Herman Leang Petta Kere, berada 300 m di sebelah timur Leang Pettae pada posisi 04º5843.2"LS dan 119º4034.2"BT. Leang ini berada pada ketinggian 45 m dpl dan 10 m dpl. Meskipun berada pada tebing bukit, pada bagian pintu gua yang menghadap ke
  • 18. sebelah barat masih terdapat lantai yang menjorok keluar selebar 1-2 m danberfungsi sebagai pelataran gua.Leang Petta Kere termasuk gua dengan tipe kekartiang. Suhu udara di dalam gua sekitar 27 C dengan kelembaban rongga gua sekitar65% sementara kelembaban pada dinding gua berkisar antara 17%-22%. Utukmencapai gua ini kita harus menaiki anak tangga sebanyak 64 buah.Peninggalanyang ditemukan pada leang ini berupa 2 gambar babi rusa dan 27 gambar telapaktangan, alat serpih bilah dan mata panah.Dari penemuan-penemuan yang didapatkan dalam gua leang-leang diperkirakanbahwa manusia yang hidup pada saman itu masih menggunakan alat pemotongtradisional, dan mereka sudah mengenal tentang berburu tapi masih pindah-pindah.Gambar telapak tangan dipercaya sebgai penolak bala roh jahat yang akanmengganggu. Babai rusa yang didadanya tertancapa panah sebagai symbol saaatberburu bias berhasil.telapak tangan yag berjari empat di yakini sebagai bentukturut berkabung jika ada anggota yang meninggal.
  • 19. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN5.1. KESIMPULANDari penelitian tersebut dapat kami simpulkan bahwa; 1. Benteng Fort Rotterdam merupakan Benteng yang dibangun tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-X yang bernama Imanrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung atau Karaeng Tunipalangga Ulaweng. Pada awalnya bentuk benteng ini adalah segi empat, seperti halnya arsitektur benteng gaya Portugis. Bahan dasarnya campuran batu dan tanah liat yang dibakar hingga kering. Pada tanggal 9 Agustus 1634, Sultan Gowa ke-XIV (I Mangerangi Daeng Manrabbia, dengan gelar Sultan Alauddin) membuat dinding tembok dengan batu padas hitam yang didatangkan dari daerah Maros. Pada tanggal 23 Juni 1635, dibangun lagi dinding tembok kedua dekat pintu gerbang. Benteng ini pernah hancur pada masa penjajahan Belanda. Belanda pernah menyerang Kesultanan Gowa yang saat itu dipimpin Sultan Hasanuddin, yaitu antara tahun 1655 hingga tahun 1669. Tujuan penyerbuan Belanda ini untuk menguasai jalur perdagangan rempah rempah dan memperluas sayap kekuasaan untuk memudahkan mereka membuka jalur ke Banda dan Maluku. Armada perang Belanda pada waktu itu dipimpin oleh Gubernur Jendral Admiral Cornelis Janszoon Speelman. Selama satu tahun penuh Kesultanan Gowa diserang, serangan ini pula yang mengakibatkan sebagian benteng hancur. Akibat kekalahan ini Sultan Gowa dipaksa untuk menandatangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667. Kemudian memasuki ruangan arkeologi museum la Galigo terdapat beberapa artefak yang berasal dari berbagai tempat di sulawesi serta kebudayaannya. Museum bersejarah yang terdapat di kotaMakassar, Sulawesi Selatan ini diberi nama ‘La Galigo’ atas saran seorang seniman, karena nama ini sangat terkenal di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan. La Galigo adalah salah satu putra Sawerigading Opunna Ware, seorang tokoh masyhur dalam mitologi Bugis, dari perkawinannya dengan WeCudai Daeng Risompa dari Kerajaan Cina Wajo. Setelah dewasa, La Galigo dinobatkan menjadi Pajung Lolo (Raja Muda) di Kerajaan Luwu, pada abad ke-14
  • 20. 2. Taman prasejarah gua Leang-leang di Maros merupakan Tanda peradaban yang sangat tua tersimpan di Taman Prasejarah Leang-Leang. Bukan fosil purba, melainkan lukisan di dinding gua. Para arkeolog memperkirakan, lukisan-lukisan itu dibuat 5.000 tahun silam. Ini adalah obyek wisata yang unik dan langka. Leang-leang merupakan bagian dari ratusan gua prasejarah yang tersebar di perbukitan cadas (karst) Maros-Pangkep. Leang dalam bahasa Makassar berarti gua (Bahasa Indonesia: liang yang berarti lubang). Obyek wisata prasejarah seperti Leang- leang jarang ditemui di dunia.Apalagi yang berada di kawasan karst luas. Gua-gua tersembunyi di antara batu-batu cadas yang menjulang dan kaya akan vegetasi serta biota. Lukisan dan peninggalan manusia prasejarah di Leang-leang memberikan petunjuk tentang peradaban nenek moyang manusia.Peninggalan arkeologis bercerita banyak hal. Adalah Van Heekeren dan Miss Heeren Palm, dua arkeolog Belanda, yang menemukan gambar-gambar pada dinding gua (rock painting) di Gua Pettae dan Petta Kere, dua gua di Leang-leang, pada tahun 1950. Gambar-gambar itu dominan berwarna merah. Gua Pettae menghadap ke barat. Tinggi mulut gua delapan meter dan lebar 12 meter. Peninggalan yang ditemukan pada gua ini adalah berupa lima gambar telapak tangan, satu gambar babi rusa meloncat dengan anak panah di dadanya, artefak serpih, bilah serta kulit kerang yang terdeposit pada mulut gua. Untuk mencapai gua ini wisatawan harus menaiki 26 anak tangga.Sementara Gua Petta Kere berada 300 meter di sebelah Gua Pettae.Mulut gua menghadap ke barat. Terdapat teras pada mulut gua selebar satu atau dua meter yang berfungsi sebagai pelataran gua. Peninggalan yang ditemukan pada gua ini adalah dua gambar babi rusa, 27 gambar telapak tangan, alat serpih bilah, dan mata panah.Untuk mencapai gua ini wisatawan harus mendaki 64 anak tangga. Gambar-gambar pada dinding gua dan alat-alat yang mereka tinggalkan menceritakan kehidupan sosial mereka, termasuk aktivitas dari kepercayaan yang mereka anut saat itu. Salah satu gambar telapak tangan diperkirakan sebagai cap telapak tangan milik salah satu anggota suku yang telah mengikuti ritual potong jari. Ritual itu dilakukan sebagai tanda berduka atas kematian orang terdekatnya.5.2. SARANSebagai generasi muda, kita harus lebih berfikir bagaimana cara agar artefak-artefak ini bisaada dan tetap terjaga dari generasi ke generasi agar kelestarian situs-situs sejarah tetap terjagakeasliannya.
  • 21. LAMPIRAN-LAMPIRANLokasi pertama benteng Fort Rotterdam (benteng fort rotterdam) (museum la Galigo) (wawancara terhadap informan) (cornelis spelman gubernur Belanda)( lukisan petani Toraja oleh Bornet) (badik peninggalan kerajaan luwu) (keramik eropa abad 19-20)
  • 22. (lukisan perahu pinisi) (phallus)(tulisan tangan Al-qur‟an) (Mahkota raja gowa) (zaman megalithikum) (senjata zaman kolonial) (naskah di daun lontar) (pelaminan untuk kerajaan)
  • 23. LOKASI KEDUA DI TAMAN PRASEJARAH GUA LEANG-LEANG ( leang pettae) (foto bersama informan) (pintu masuk leang pettae) (foto bersama H.Lahab sebagai informan) (fosil kulit kerang dimuka gua) (wawancara dengan H.Lahab) (lukisan telapak tangan digua) (lukisan babi rusa )
  • 24. (muka gua leang pettakere) (leang pettakere) (lukisan babi rusa) (lukisan cap tangan )(fosil kerang dan serpihan kayu) ( serpihan kayu dan batu)

×