Your SlideShare is downloading. ×
Individualisme, Kolektivisme, dan Kejujuran       Membaca Persoalan Siami melalui Paradigma                      Critical ...
SEKAPUR SIRIH     Alhamdulillah, segala puji bagi Tuhan, akhirnya saya mampu menyelesaikan penulisanmakalah ini. Tidak mud...
DAFTAR ISISEKAPUR SIRIH .....................................................................................................
BAB I                             PENDAHULUAN1.1. Latarbelakang     Rabu, 8 Juni 2011. Seratusan orang berkumpul di depan ...
Sudirman. Namun, sampai sini pun hasilnya nihil, karena tidak ada tindak lanjut dari komitesekolah.         Atas saran kak...
Pulungan (12). Kasus mereka kini tengah sampai pada tahap investigasi oleh tim bentukanPemerintah Provinsi DKI Jakarta.1.2...
BAB II                                   PEMBAHASAN2.1. Berkenalan dengan Individualisme      Pertama-tama, marilah kita a...
Jelaslah, dalam masyarakat Barat, hak-hak individu adalah jaminan mutlak yang takbisa ditawar. Revolusi Prancis dan Amerik...
Indonesia sebagai sama-sama bangsa Timur—bahwa “individu tetap tidak mampu untukmelampaui kerangka hidup berkelompok”. 10 ...
orang lain menghambat upaya individu mengejar tujuan pribadinya. 13 Di titik inilah,kolektivisme yang digembar-gemborkan s...
ekonomi, sosial, etnik, gender, dan agama. Pada saat bersamaan, pemahaman umum—danpendikotomian—tentang individualisme dan...
BAB III                                   PENUTUP3.1. Kesimpulan     Persoalan Siami ini, sebagaimana telah disinggung di ...
Yang perlu dicari adalah sisi kebaikan dari tindakan yang mungkin oleh pihak laindipahami sebagai sesuatu yang buruk. Tent...
PUSTAKA ACUANFriedmann, W. 1990. Teori dan Filsafat Hukum: Hukum dan Masalah-masalah Kontemporer     (Susunan III), diterj...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Individualisme, Kolektivisme, dan Kejujuran: Membaca Persoalan Siami melalui Paradigma Critical Theory et al

6,961

Published on

Makalah tentang filsafat hukum. Berbicara soal keluhuran nilai-nilai individualisme dan menunjukkan betapa brengseknya kolektivisme (palsu) yang dianggap kolektivisme (beneran) dalam pandangan umum masyarakat.

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
6,961
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
86
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Individualisme, Kolektivisme, dan Kejujuran: Membaca Persoalan Siami melalui Paradigma Critical Theory et al"

  1. 1. Individualisme, Kolektivisme, dan Kejujuran Membaca Persoalan Siami melalui Paradigma Critical Theory et al Makalah ini ditulis untuk melengkapi tugas matakuliah Filsafat Hukum oleh AHMAD PORWO EDI ATMAJA (NIM B2A008007) FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS DIPONEGORO 2011
  2. 2. SEKAPUR SIRIH Alhamdulillah, segala puji bagi Tuhan, akhirnya saya mampu menyelesaikan penulisanmakalah ini. Tidak mudah memang—tidak pula terlampau cepat, tetapi saya ingin dan, sekalilagi alhamdulillah, rampunglah makalah ini. Makalah dengan judul “Individualisme, Kolektivisme, dan Kejujuran: MembacaPersoalan Siami melalui Paradigma Critical Theory et al” ini—sesuai dengan tajuknya—hendak mengkaji persoalan yang baru-baru ini sempat menghebohkan dunia pendidikan kita,yakni Kasus Sontekan di Surabaya, yang membuat beberapa orang harus dicopot dari jabatanfungsionalnya sebagai guru. Saya mempergunakan kajian paradigmatik, melalui paradigmaCritical Theory et al, buat membaca kasus ini secara mendalam. Di bagian akhir, saya jugamengajukan beberapa saran terhadap kasus ini. Demikian makalah yang merupakan tugas untuk matakuliah Filsafat Hukum ini sayatulis. Saya berterimakasih kepada banyak pihak yang, secara langsung maupun tak langsung,turut memberikan andil sehingga makalah ini berhasil rampung. Tentu makalah ini masih jauhdari kesempurnaan, masih banyak bopeng di sana-sini yang mesti diperbaiki. Oleh karenanya,saya mohon maaf, dan semoga pembaca maklum. Akhirnya, selamat membaca saya sampaikan. Semoga makalah ini mampu memenuhifungsinya. Semarang, 4 Juli 2011 A.P. Edi Atmaja 2
  3. 3. DAFTAR ISISEKAPUR SIRIH ............................................................................................................ 2DAFTAR ISI ..................................................................................................................... 3BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................. 4 1.1. Latarbelakang ……………………....................................................................... 4 1.2. Permasalahan …………….……………………................................................... 6BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................... 7 2.1. Berkenalan dengan Individualisme....................................................................... 7 2.2. Kolektivisme (Jadi-jadian) ……………………................................................... 9 2.3. Critical Theory et al sebagai Pisau Analisis......................................................... 10BAB III PENUTUP ........................................................................................................... 12 3.1. Kesimpulan…………………………................................................................... 12 3.2. Saran ………………………….…………………............................................... 12PUSTAKA ACUAN …….................................................................................................. 14 3
  4. 4. BAB I PENDAHULUAN1.1. Latarbelakang Rabu, 8 Juni 2011. Seratusan orang berkumpul di depan rumah Siami (32), di DesaGadel, Surabaya. Penduduk desa yang merupakan wali murid dan anak-anak Sekolah DasarNegeri Gadel II itu berteriak-teriak, menuntut maaf dari Siami. Karena ketakutan, Siamimengunci diri di kamar. Siami—penjahit gorden yang bekas buruh pabrik garmen dan sepatu—menjadi bulan-bulanan tetangganya lantaran kejujuran. Ya, Siami adalah ibu rumah tangga biasa, yangmenyadari bahwa kejujuran mesti ditanamkan kepada anak-anak sejak dini. Dan betapasontek-menyontek adalah perilaku tak jujur yang mesti dilawan sekuat tenaga. Meski denganperlawanan itu, pengasingan sekaligus pengusiran dari tetanggalah yang diterimanya. Kisah dimulai pada suatu hari. Anak sulungnya, Alif Achmad Maulana (12), mengaduseraya menangis kepadanya. Siswa kelas VI SD Negeri Gadel II itu berkisah, ia dipaksagurunya “bagi-bagi” jawaban ujian kepada seluruh temannya. “Lif, kamu kan pinter? Kalaumau balas jasa gurumu, gunakan kepintaran kamu untuk membantu teman-teman lulus ujian,”kata sang guru, Fatkurohman, seperti ditirukan Alif. Pada saat ujian, Pak Guru telah menyiapkan “distribusi” jawaban. Kertas jawaban Alifditunjukkan kepada teman yang duduk di belakangnya, yang lantas menyalin danmemperbanyak jawaban itu di kertas buram. Kertas inilah yang kemudian diedarkan ke semuakelas. Buat murid kelas sebelah, salinan lembar jawaban diserahkan di toilet atau ditaruh dipot bunga. Mendengar penuturan putranya itu, Siami segera ambil tindakan. Pada Rabu, 18 Mei2011, ia mendatangi Kepala Sekolah Sukatman. Sukatman mengaku tidak tahu-menahu soalsontekan massal itu. Tidak puas, Siami lantas melapor kepada Ketua Komite Sekolah 4
  5. 5. Sudirman. Namun, sampai sini pun hasilnya nihil, karena tidak ada tindak lanjut dari komitesekolah. Atas saran kakaknya, Siami kemudian melaporkan persoalan ini ke radio SuaraSurabaya dan disiarkan pada 1 Juni 2011. Ditemani sang kakak, Siami juga menemui KepalaDinas Pendidikan Surabaya Eko Prasetyoningsih. Pada Jumat, 3 Juni 2011, Wali KotaSurabaya Tri Rismaharini menyambangi rumah Siami. Ia pun menceritakan duduk persoalandari awal sampai akhir. Wali Kota bertindak cepat dengan membentuk tim dari inspektorat dan dinaspendidikan. Hasilnya, jabatan fungsional sebagai guru yang melekat pada Wali Kelas VI-AFatkurohman, Wali Kelas VI-B Suprayitno, dan Kepala Sekolah Sukatman dicopot danmereka dipindahkan ke Dinas Pendidikan Surabaya. Masalah ternyata tak berakhir sampai di situ. Penduduk Gadel murka kepada Siami ataspencopotan guru yang mereka nilai berlebihan. Buntutnya, mereka mendatangi rumah Siami,meneriaki dan mencaci-makinya. Untung, kedua putranya lebih dulu telah diungsikan kerumah orangtuanya di Dusun Lumpang, Benjeng, Gresik—40 kilometer dari tempattinggalnya. Pada 9 Juni 2011, Siami dipertemukan dengan perwakilan sekolah di balai rukun warga.Agendanya, permintaan maaf Siami kepada sekolah dan seluruh penduduk Gadel. Akantetapi, acara jadi runyam karena Fatkurohman menyerobot mikrofon dan meminta maafduluan sembari terisak. Penduduk jadi marah karena yang mereka ingin dengar adalah justrupermintaan maaf dari Siami. Pertemuan berakhir tak sesuai dengan harapan. Siami dan suaminya dibawa ke Kantorkepolisian Sektor Tandes, Surabaya. Pasangan itu pun memutuskan mengungsi ke rumahorangtuanya, menyusul kedua anak mereka, sampai keadaan menjadi lebih tenang. 1 Demikianlah, akhir yang ironis: seorang manusia terusir dari lingkungan danmasyarakatnya karena memutuskan bertahan pada prinsip. Tentu masih banyak kasus sepertiyang dialami ibu muda ini. Cuma, barangkali, kurang terendus nyamuk pers. Tempo melaporkan, kejadian serupa juga terjadi di Pesanggrahan, Jakarta Selatan, baru-baru ini. Aktornya antara lain Irma Winda Lubis (40) dan putranya, Muhammad Abrary1 Kisah ini dinarasikan kembali dari pemberitaan di Tempo Edisi 20-26 Juni 2011. 5
  6. 6. Pulungan (12). Kasus mereka kini tengah sampai pada tahap investigasi oleh tim bentukanPemerintah Provinsi DKI Jakarta.1.2. Permasalahan Kasus Siami—dan kasus-kasus sontekan lain—sesungguhnya bukan barang baru bagidunia pendidikan kita. Yang membuat kasus Siami jadi menarik adalah dalam hal keberanianyang muncul sebagai re-aksi individu atas aksi komunal. Itu bisa kita baca pula sebagaiwujud—perbedaan yang menghasilkan—pergesekan persepsi di dalam masyarakat.Perbedaan persepsi atau pandangan tentang seberapa penting “kejujuran individual” mestibertahan manakala bersinggungan dengan kepentingan kolektif. Masalah Siami adalah masalah tafsir yang hidup di masyarakat tentang individualismedan kolektivisme, serta sejauhmana kejujuran sebagai nilai luhur manusia yang universalmesti memosisikan diri di antara kedua paham yang—secara keliru, selalu dianggapsebagai—dikotomik itu. Makalah berjudul “Individualisme, Kolektivisme, dan Kejujuran: Membaca PersoalanSiami melalui Paradigma Critical Theory et al” ini mencoba menjelaskan—dan sejauh bisamencari jalan keluar—kasus Siami dengan melakukan kajian paradigmatik, yakni denganmempergunakan paradigma Critical Theory et al sebagai pisau analisis. 6
  7. 7. BAB II PEMBAHASAN2.1. Berkenalan dengan Individualisme Pertama-tama, marilah kita awali bahasan ini dengan mengerti apa itu individualisme.Pengertian yang diharap-dapatkan mestinya bukan pengertian yang dangkal, yang padaakhirnya malah akan melahirkan distorsi pemahaman, sehingga muncul pandangan yangberbagai-bagai. Pengetahuan tentang individualisme saya letakkan dalam objek bahasan pertama untukmenunjukkan—atau sebanyak-banyaknya, membela—sampai sejauhmana kita tersesat olehstereotip negatif yang dilekatkan orang pada paham ini. Individualisme, oleh kebanyakan orang, dipahami sebagai paham yang memenangkankepentingan pribadi di atas kepentingan umum. Pengertian semacam itu memang benar, tetapitidak sepenuhnya tepat. Itu adalah pengertian individualisme secara negatif dan sempit,karena menganggapnya tak lain sebagai egoisme. 2 Padahal, perkembangan individualisme selanjutnya di dalam masyarakat Baratcenderung positif. Masyarakat Barat memandangnya sebagai sikap optimisme yang utamadalam individu. 3 Saya hendak mengutip pendapat seorang sarjana Amerika Serikat, W.Friedmann, yang, antara lain, pernah mengemukakan bahwa: 4 “Evolusi individu sebagai ukuran akhir segala sesuatu, dan pertimbangan-pertimbangan pemerintah dan kekuasaan, tidak sebagai hak pemberian Tuhan atau tujuan dalam dirinya sendiri, tetapi sebagai alat untuk mencapai perkembangan individu, dapat digambarkan sebagai dasar politik dan tujuan hukum dari masyarakat Barat modern…”2 E. Fernando M. Manullang, Menggapai Hukum Berkeadilan: Tinjauan Hukum Kodrat dan Antinomi Nilai(Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2007), hal. 110.3 John William Ward, “Individualism”, dalam ibid.4 W. Friedmann, Teori dan Filsafat Hukum: Hukum dan Masalah-masalah Kontemporer (Susunan III),diterjemahkan dari “Legal Theory” oleh Mohamad Arifin (Jakarta: Rajawali Pers, 1990), hal. 46. 7
  8. 8. Jelaslah, dalam masyarakat Barat, hak-hak individu adalah jaminan mutlak yang takbisa ditawar. Revolusi Prancis dan Amerika merupakan peristiwa bersejarah di Barat yangmembuktikan adanya pengakuan terhadap nilai-nilai individualisme.5 Sejarah kemunculandemokrasi dan penghargaan atas hak asasi manusia pun tak lepas dari, bahkan dilandasi oleh,semangat individualisme. Dalam tinjauan keagamaan, individualisme mempunyai pijakan yang cukup kokoh.Dalam Islam, misalnya, tidak ada pembatasan hak milik pribadi—setidak-tidaknya dalammazhab Syafii. 6 Sedangkan kita tahu, hak milik pribadi merupakan salah satu elemen pentingindividualisme. Ajaran Kristen juga menekankan, “wajah” manusia merupakan suatu citra “sewajah”dengan Tuhan—bentuk adanya pengakuan atas eksistensi individual manusia. 7 Di lapangan kebudayaan kita, individualisme kurang menjadi perhatian khusus lantaranstereotip “asing” yang memang disandangnya. Ia dikatakan sebagai bukan jatidiri bangsa,bertentangan dengan nilai-nilai kekeluargaan dan gotong-royong. Individualisme—se-“nasib”dengan liberalisme—kurang populer di mata masyarakat kita yang masih berpedoman padanilai-nilai tradisi, bahkan ia dianggap sebagai momok menakutkan sehingga layu sebelumberkembang. Gagasan sentral individualisme yang memandang manusia memiliki kemerdekaan (ataudalam bahasa lain: kehendak bebas 8) untuk merdeka terhadap dirinya sendiri 9 “tergadaikan”oleh persepsi masyarakat bahwa orang mesti selalu memerhatikan kepentingan orang lain.Dan sebagai individu yang “tergantung” pada orang lain, ia tak bisa lepas dari “kewajiban”atas orang lain tersebut. Hal ini berkesuaian dengan tesis Takeo Dei tentang amae (ketergantungan)—ketika iaberbicara soal nilai-nilai bangsa Jepang yang erat kaitannya dengan nilai-nilai bangsa5 Op. cit., hal. 109.6 Lihat, misalnya, esai-esai antropologis yang ditulis Abdurrahman Wahid soal pandangan kiai-kiai dilingkungan pesantren Nahdlatul Ulama dalam Abdurrahman Wahid, Kiai Nyentrik Membela Pemerintah(Yogyakarta: LKiS, 2010), hal. 10.7 Bertrand Russel, “A History of Western Philosophy”, dalam loc. cit.8 Menurut Thomas Hobbes, kehendak adalah selera, satu dari “dorongan atas keamauan sendiri” (voluntarymotions) yang memiliki “awal interior” di dalam pikiran; itu merupakan kemampuan deliberatif manusia untukberbuat atau menahan diri. Lihat Ian Shapiro, Evolusi Hak dalam Teori Liberal, diterjemahkan dari “TheEvolution of Rights in Liberal Theory” oleh Masri Maris (Jakarta: Freedom Institute, 2006), hal. 49.9 Loc. cit. 8
  9. 9. Indonesia sebagai sama-sama bangsa Timur—bahwa “individu tetap tidak mampu untukmelampaui kerangka hidup berkelompok”. 10 Membaca persoalan Siami, kita melihat ada semacam perlawanan individu ataskonsepsi amae itu. Betapa Siami berpegang pada prinsip kejujuran buat mendobrak nilaikolektivisme yang membelenggu kemerdekaan pribadinya. Karena keberaniannya itu, iaterpaksa menelan pil pahit kolektivisme: masyarakat berbondong-bondong memusuhinya. Untuk melihat sejauhmana “kolektivisme” dipahami dan kemudian disalahpahami olehmasyarakat, akan saya jelaskan pada subbab berikut.2.2. Kolektivisme (Jadi-jadian) Dalam pengertian sehari-hari, kolektivisme—yang tampil dalam beragam muka, sepertikekeluargaan, gotong-royong, kebersamaan, komunalisme, dan sebagainya—selalu dipandangsecara positif. Seolah-olah, tiada cacat yang bakal timbul dari paham ini. Ia seringdikontrakan dengan individualisme, yang kemudian membuat dua ide yang sesungguhnya takbisa dan tak boleh dipertentangkan begitu saja ini berkembang menjadi persoalan dikotomisTimur-Barat, asing-pribumi, modern-tradisional, dan seterusnya. Dalam tinjauan Indonesia, melalui rumusan Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertiantentang kolektivisme dipengaruhi oleh pemikiran Marxis, yakni bahwa kolektivisme adalah“ajaran atau faham yang tidak menghendaki adanya hak milik perseorangan, baik atas modal,tanah, maupun alat-alat produksi (semua harus dijadikan milik bersama, kecuali barangkonsumsi)”. 11 Tentu kolektivisme yang dirumuskan secara demikian sangat sempit karena cumadipandang dari sisi material yang ekonomis, menafikan faktor-faktor non-ekonomis.Soepomo, misalnya, memberi pengertian lain dengan cara mengenalkan adanya konsepmenjunjung sifat-sifat kekeluargaan dan kesatuan hidup bersama dalam masyarakat adat, dimana “tiap warga merasa dirinya satu dengan golongan seluruhnya”. 12 Ketika individu merasa dirinya satu dengan satu golongan, itu mengindikasikan mulaiterbentuknya rasa ketergantungan menurut Takeo Dei. Dengan menggantungkan diri,kemerdekaannya sebagai pribadi akan lenyap, tergantikan oleh sikap menuruti kehendakmayoritas. “Isolasi individu dari segi moral”, seperti dikemukakan Hobbes, pun lepas tatkala10 Satjipto Rahardjo, Sisi-sisi Lain dari Hukum di Indonesia (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2006), hal. 38.11 Anton M Moeliono dkk., Kamus Besar Bahasa Indonesia, dalam op. cit., hal 111.12 Soepomo, Bab-bab tentang Hukum Adat, dalam ibid., hal. 113. 9
  10. 10. orang lain menghambat upaya individu mengejar tujuan pribadinya. 13 Di titik inilah,kolektivisme yang digembar-gemborkan sebagai selalu positif itu menampak-tampilkankebusukannya.2.3. Critical Theory et al sebagai Pisau Analisis Kita telah mencoba membahas seberapa jauh nilai individualisme memengaruhisekaligus dipengaruhi oleh nilai-nilai kolektivisme. Maka, kini saya akan mencobamembaca—kemudian mencari jalan keluar—tatkala kedua paham itu bersitegang satu samalain saat—dalam konteks kasus Siami—“memperebutkan” nilai kejujuran. Jalan keluar itusaya dapatkan dengan bentuan kajian paradigmatik, yakni melalui paradigma Critical Theoryet al. Critical Theory et al adalah satu dari empat paradigma 14 yang ditawarkan oleh Gubadan Lincoln dalam Competing Paradigms in Qualitative Research (1994). 15 Paradigma,menurut keduanya, dipahami sebagai suatu sistem filosofis ‘payung’ yang meliputi ontologi,epistemologi, dan metodologi tertentu; masing-masingnya terdiri dari serangkaian ‘beliefdasar’ atau worldview dari ontologi, epistemologi, dan metodologi paradigma lainnya. 16Paradigma mengikatkan penganut atau penggunanya pada worldview tertentu dan memandusetiap pikiran, sikap, kata, dan perbuatan penganut atau penggunanya. Dalam bidangkeilmuan, bisa dikatakan bahwa paradigma menaungi aliran/paham, aliran menaungi teori,dan teori menaungi metode. Critical Theory et al, dalam studi Filsafat Hukum terdiri dari Critical Legal Theory,Critical Legal Studies, dan Feminist Jurisprudence. Ketika berbicara tentang, misalnya,hukum, maka paradigma Critical Theory et al akan melihatnya sebagai kenyataan ‘virtual’atau sejarah. Karenanya, bagi penganut paradigma ini, hukum pada dasarnya adalahkesadaran yang tidak benar atau, dengan kata lain, disadari secara salah. 17 Jika kita mencoba menarik tesis tersebut ke dalam bahasan kita tentang individualismedan kolektivisme, maka keduanya merupakan serangkaian struktur—sebagai suatu realitas‘virtual’ atau historis—yang merupakan hasil proses panjang kristalisasi nilai-nilai politik,13 Lihat Ian Shapiro, op. cit., hal. 52.14 Paradigma lain adalah Positivisme, Pos-Positivisme, dan Konstruktivisme. Lihat Erlyn Indarti, Diskresi danParadigma: Sebuah Telaah Filsafat Hukum, Pidato Pengukuhan yang disampaikan di Upacara PenerimaanJabatan Guru Besar dalam Filsafat Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, 4 November 2010,hal. 19.15 Ibid.16 Ibid., hal. 4.17 Ibid., hal. 28. 10
  11. 11. ekonomi, sosial, etnik, gender, dan agama. Pada saat bersamaan, pemahaman umum—danpendikotomian—tentang individualisme dan kolektivisme adalah instrumen hegemoni yangcenderung dominan, diskriminatif, dan eksploitatif. Perjuangan Siami melawan kebobrokan institusi pendidikan dalam kasus sontek-menyontek di SD Negeri Gadel II yang seolah-olah “dilegalkan” sekolah merupakansemangat individual melawan belenggu kolektivitas. Siami sadar, “rasa kekeluargaan” yangcoba dihadirkan lewat keharusan berbagi jawaban ujian merupakan perspektif kolektivismeyang keliru. Perspektif demikian, menurut Siami, justru tak akan memajukan individu melaluirasa kebersamaan yang tulus akan eksistensi individu, melainkan bakal menenggelamkan,memasung, dan mereduksi potensi dan kreativitas individu untuk sebuah “kepalsuan” yangmeruntuhkan nilai yang lebih luhur, yakni kejujuran. Siami memandang bahwa kolektivisme yang dipahami sebagai demikian diciptakanbukan demi meraih tujuan asalnya, yakni mengunggulkan kebersamaan buat kemajuanindividu-individu, melainkan dalam rangka memenuhi “syahwat” sosial, politik, budaya, danekonomi sekolah. Sebagaimana dikatakan Fatkurohman, wali kelas Alif, bahwa Alif mesti membantuteman-temannya lulus ujian dengan berbagi jawaban, karena Alif dikenal sebagai siswaterpintar di sekolah. Ekspektasi Fatkurohman ini jelas dilandasi oleh semangat untuk meraihprestise sekolah. Karena dengan lulusnya seluruh siswa, prestasi sekolah akan menanjak,popularitasnya terdongkrak, yang kemudian faktor ekonomilah muara penghabisannya:banyak dana yang bakal diperoleh sekolah dari pendaftar yang membludak. Jadi, musuh Siami sesungguhnya adalah kolektivisme salah-kaprah yang dilandasi olehkepentingan atau faktor-faktor di luar kolektivisme itu sendiri, seperti sosial, politik, ekonomi,budaya, yang sengaja di-“ada”-kan oleh pihak berkuasa—dalam hal ini adalah sekolah. Maka, ketika penduduk Gadel berbondong-bondong memusuhinya, itu juga satu lagikolektivisme yang salah-kaprah. Penduduk—yang di dalamnya antara lain wali murid danmurid tempat Alif menuntut ilmu—bersatu-padu dalam “ikatan kebersamaan” yang dilatarimotif sosial-budaya. Mereka takut nama baik, status, atau kedudukan sosial mereka tercorenghanya karena persoalan sontek-menyontek. Kemarahan yang mereka tumpahkan kepadaSiami sekeluarga bisa kita katakan sebagai kejahatan mayoritas nan kejam. Saya kira, takpantaslah sikap-sikap mereka kita sebut sebagai semangat kolektivisme. 11
  12. 12. BAB III PENUTUP3.1. Kesimpulan Persoalan Siami ini, sebagaimana telah disinggung di bab terdahulu, menjadi menariklantaran tiga alasan. Pertama, ia mengekspresikan bagaimana seorang ibu rumah tanggabiasa, dengan taraf pendidikan yang kurang bisa dikatakan bagus (Siami adalah tamatansekolah menengah pertama), bisa memiliki semangat dan keberanian yang barangkali jarangdimiliki oleh perempuan seusianya, bahkan perempuan dengan taraf pendidikan lebih tinggi.Apalagi, keberanian ini adalah keberanian individual melawan kepentingan komunal. Kedua, konflik yang terjadi antara Siami dan sekolah serta masyarakat Gadelsebenarnya hanya konflik yang dilatari perbedaan perspektif soal individualisme,kolektivisme, dan kejujuran. Namun, perbedaan perspektif itu menghasilkan konsekuensiyang jauh ketika norma-norma represif yang datang dari luar (baca: pemerintah)mengintervensinya (konflik dimulai dengan pencopotan jabatan fungsional ketiga guru), dantidak mengindahkan mekanisme dialog para pihak sebagai awalan. Ketiga, perbedaan perspektif dalam menyikapi ketiga hal tadi rupanya tidak selamanyamembiarkan konflik berlarut-larut. Dalam kasus Siami, akhirnya masyarakat Gadel maumenerima Siami kembali berkumpul bersama mereka dan teman-teman Alif secara beramai-ramai meminta maaf kepadanya.3.2. Saran Ada beberapa saran yang bisa dikemukakan dalam persoalan Siami ini. Pertama,semestinya mekanisme pencopotan jabatan fungsional menjadi alternatif terakhir yangdilakukan. Karena persoalan yang terjadi sesungguhnya adalah persoalan perbedaanperspektif dalam memandang individualisme, kolektivisme, dan kejujuran. Hal itu bisadiselesaikan melalui mekanisme paradigmatik, yakni melalui dialog di antara para pihak. 12
  13. 13. Yang perlu dicari adalah sisi kebaikan dari tindakan yang mungkin oleh pihak laindipahami sebagai sesuatu yang buruk. Tentu saja tujuan Fatkurohman baik karena ia inginmelihat semua siswanya lulus. Ini harapan yang lumrah bagi setiap pengajar dan pengelolainstitusi pendidikan. Cuma, yang disayangkan, ia tidak melihat, bagi manusia lain, sikapnyayang demikian bertentangan dengan nilai luhur yang pasti dimiliki setiap insan, yaknikejujuran. Maka, di sini kita menghadapi ambiguitas: akankah kita melaksanakan kebaikandengan melakukan keburukan. Kedua, dikotomi individualisme-kolektivisme selalu menimbulkan kerancuan dalammasyarakat modern seperti sekarang ini. Tidak selamanya individualisme itu buruk, sepertitidak selamanya kolektivisme baik. Selalu saja ada sisi baik dan buruknya masing-masingdalam porsi tertentu. Kenapa kita selalu menggembar-gemborkan kepentingan umum mestiberada di atas kepentingan individu? Kasus yang dialami Siami membuktikan bahwa anjuranitu tidak selamanya efektif. Dan bahwa adakalanya justru kepentingan umumlah yangmemasung kreativitas individu. Keberadaan nilai-nilai itu harus ditempatkan secaraberpasangan sehingga tercapai suatu orientasi nilai hidup manusia. [] 13
  14. 14. PUSTAKA ACUANFriedmann, W. 1990. Teori dan Filsafat Hukum: Hukum dan Masalah-masalah Kontemporer (Susunan III), diterjemahkan dari “Legal Theory” oleh Mohamad Arifin. Jakarta: Rajawali Pers.Indarti, Erlyn. Diskresi dan Paradigma: Sebuah Telaah Filsafat Hukum, Pidato Pengukuhan yang disampaikan di Upacara Penerimaan Jabatan Guru Besar dalam Filsafat Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, 4 November 2010.Manullang, E. Fernando M. 2007. Menggapai Hukum Berkeadilan: Tinjauan Hukum Kodrat dan Antinomi Nilai. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.Rahardjo, Satjipto. 2006. Sisi-sisi Lain dari Hukum di Indonesia. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.Shapiro, Ian. 2006 Evolusi Hak dalam Teori Liberal, diterjemahkan dari “The Evolution of Rights in Liberal Theory” oleh Masri Maris. Jakarta: Freedom Institute.Wahid, Abdurrahman. 2010. Kiai Nyentrik Membela Pemerintah. Yogyakarta: LKiS. 14

×