Your SlideShare is downloading. ×
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Bab II Tinjauan Pustaka Inspeksi K3 Alat Berat - Erli Yuni Manalu

11,219

Published on

2 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
11,219
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
290
Comments
2
Likes
3
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1. Keselamatan dan Kesehatan KerjaPada awal perkembangannya penanganan keselamatan dan kesehatan kerjamasih terbatas pada kegiatan inspeksi untuk memeriksa kondisi libgkungan kerja.Kemudian pada tahun 1930an, H.W. Heinrich seorang ahli K3 dengan teoridominonya mengawali pendekatan K3 secara ilmiah dengan mengemukakan teoritentang sebab kecelakaan yang dikenal sebagi unsafe act dan unsafe condition.Pada saat itu, pendekatan keselamatan dan kerja adalah untuk menghilangkansebab kecelakaan dari tempat kerja. (Ramli, 2009) Sekarang ini keselamatan dankesehatan kerja sudah menjadi salah satu syarat yang harus dimiliki oleh setiapbadan usaha dengan menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan KesehatanKerja (SMK3). “Bahwa untuk menjamin keselamatan dan kesehatan tenaga kerjamaupun orang lain yang berada di tempat kerja, serta sumber produksi, prosesproduksi dan lingkungan kerja dalam keadaan aman, maka perlu penerapanSistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerj”. (PER. 05/MEN/1996)2.1.1. Pengertian Keselamatan dan Kesehatan KerjaKeselamatan dan Kesehatan Kerja adalah adalah merupakansegala sarana dan upaya untuk mencegah terjadinya suatu kecelakaankerja (Silalahi, 1995). Dalam hal ini keselamatan yang dimaksud bertalian
  • 2. erat dengan mesin, alat kerja dalam proses landasan tempat kerjadan lingkungannya serta cara cara melakukan pekerjaan yangaman bagi kelangsungan kerja.2.2.2. Tujuan Keselamatan dan Kesehatan KerjaTujuan keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah melindungikeselamatan dan kesehatan tenaga kerja didalam melaksanakan tugasnya,melindungi keselamatan setiap orang yang berada di lokasi tempat kerjadan melindungi peralatan serta sumber produksi agar selalu dapatdigunakan secara efisien.2.2.2. Manfaat Keselamatan dan Kesehatan KerjaAspek K3 bersifat multi dimensi. Karen itu manfaat dan tujuan K3juha harus dilhat dari baerbagai sisi seperti dari sisi hukum, perlindungantenaga kerja, ekonomi, pengendalian kerugian, sosial dan lainnya.2.2.2.1. Aspek HukumKeselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan ketentuanperundangan dan memiliki landasan hukum yang wajibdipatuhi semua pihak, baik pekerja, pengusaha, atau pihakterkait lainnya. Di Indonesia banyak peraturan perundanganyang menyangkut keselamatan dan kesehatan kerja, beberapadi antaranya :1. Undang-undang No.1 tahun 1970 tentang KeselamatanKerja
  • 3. 2. Undang-undang No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan3. Undang-undang No.8 tahun 1998 tentang PerlindunganKonsumen4. Undang-undang No.22 tentang MIGAS5. Undang-undang No.19/1999 tentang jasa konstruksi6. Undang-undang No.28/1999 tentang jasa konstruksi7. Undang-undang No.30 tahun 2002 tentang bangunanGedung2.2.2.2. Perlindungan Tenaga KerjaKeselamatan dan Kesehatan Kerja mengandung nilaiperlindungan tenaga kerja dari kecelakaan atau penyakitakibat kerja. Tenaga kerja merupakan aset organisasi yangsangat berharga dan merupakan unsur penting dalam prosesproduksi di samping unsur lainnya seperti material, mesin, danlingkungan kerja. Karena itu tenaga kerja harus dijaga, dibinadan dikembangkan untuk meningkatkan produktivitasnya.(Ramli, 2009)2.2.2.3. Aspek EkonomiManfaat K3 dapat jugadilihat dari pendekatan ekonomiatau finansial. Kecelakaan menimbulkan kerugian yang sanagtbesar bagi perusahaan. Banyak perusahaan yang harus gulung
  • 4. tikar akibat kecelakaan, bencana atau dampak K3 lainnya yangterjadi dalam operasinya. Dampak ekonomi dari K3 dapatdilihat dari sisi produktifitas dan pengendalian kerugian (losscontrol). ( Ramli, 2009)2.2. Inspeksi2.2.1. Pengertian InspeksiInspeksi merupakan cara memeriksa dengan menggunakan panca inderaterutama mata. Untuk memperoleh pembuktian atas suatu keadaan atau suatumasalah pada suatu saat tertentu. Inspeksi K3 adalah suatu kegiatan pengamatanatau pemeriksaan terhadap pelaksanaan K3.Keselamatan dan Kesehatan Kerjamempunyai peranan penting didalam program pencegahan kecelakaan. Telah kitayakini bahwa kecelakaan tidak terjadi begitu saja, tetapi ada faktor-faktorpenyebab yaitu :a. Unsafe condition / keadaaan yang tidak amanb. Unsafe action / tindakan yang tidak amanc. Atau kombinasi keduanyaDengan demikian bahwa usaha- usaha untuk mencegah terjadinyakecelakaan diawali dengan mampu menemukan faktor penyebab diatas, denganmelakukan inspeksi secara teratur, terencana dan sistimatis. Maksud dan tujuandilakukan inspeksi keselamatan kerja bukan untuk mencari kesalahan tetapi untukmenyakinkan apakah semua tata kerja dilaksanakan sesuai norma-normakeselamatan dan Kesehatan Kerja. Di dalam inspeksi yang melakukan inspeksi
  • 5. yaitu : Top Manajemen, Midle Manajemen, Lower Manajemen, Karyawan,Manajer K3, Tim Safety Patrol.2.2.2. Jenis InspkesiInspeksi memiliki beberapa jenis, yaitu ;a. Inspeksi RutinTerhadap sumber-sumber bahaya ( Hazard) di tempat kerjasecara menyeluruh.1. Direncakan dengan cara WALK-THROUGH SURVEYkeseluruh area kerja dan bersifat komprehensif.2. Jadwal pelaksanakan rutin ( Sudah ditentukan : 1x bulan3. Dilakukan bersama-sama ahli K3 atau perwakilan tenaga kerjadengan pihak manajemen.4. Bagi perusahaan yang tidak memiliki ahli K3 sendiri, dapatmenggunakan ahli K3 dari luar perusahaan yang akanmembantu memberikan saran-saran tentang penangananmasalah-masalah K3 di tempat kerja.5. Pelaksanaan Inspeksi terhadap sumber-sumber bahaya padaarea khusus sebaiknya dilakukan dengan melibatkan seseorangyang mempunyai keahlian khusus.6. Hasil yang ditemukan segera ditindak lanjuti, dan setiappermasalahan yang telah diidentifikasi dari hasil survey harusselalu tercatat dan dibukukan.
  • 6. 7. Setiap laporan inspeksi harus inspeksi harus ditandatanganioleh penanggung jawab kegiatan inspeksi8. Hasil inspeksi yang telah ditulis dalam bentuk laporan harusdisampaiakan kepada pihak manajemen, sehingga langkahperbaikan segera dilakukanKeuntungan :1. Inspekstur dapat mencurahkan segala perhatiannya untukmelakuka inspeksi.2. Inspekstur dapat melakukan observasi menyeluruh tentang K3di tempat Kerja3. Checklist yang akan digunakan untuk inspeksi telah disiapkandengan baik. Laporan temuan dan rekomendasi segera dapatdibuat untuk meningkatkan kesadaran tentang adanya bahayadi tempat kerja, serta tindakan korektif yang sesuai segera diimplementasikan dalam upaya mengadakan sarana pencegahankecelakaan dan kerugian yang lebih besar.b. Inspeksi InformalMerupakan inspeksi yang tidak terencana, bersifatsederhana, dilakukan atas kesadaran orang-orang yang menemukanatau melihat masalah K3 di dalam pekerjaanya sehari – hari. Jikaditemukan masalah maka langsung dapat dideteksi, dilaporkan dansegera dapat dilakukan tindakan korektif. Keterbatasan : Inspeksi
  • 7. tidak dilakukan secara sistematik sehingga tidak bisa mencakupgambaran permasalahan secara keseluruhan. Akan sangat efektifbila inspeksi informal ini dijadikan kebijakan manajemen.Masalah-masalah yang ditemukan langsung dapatdidokumentasikan berupa catatan singkat / foto sesuai prosedur dandi buat laporan secara sederhana.c. Inspeksi KhususTerhadap objek-objek atau area tertentu mempunyai resikotinggi terhadap kerugian dan kecelakaan kerja.Dilakukanberdasarkan adanya keluhan atau komplain dari tenaga kerja disuatu unit kerja. Dilakukan berdasarkan adanya permintaan atauinstruksi dari pengurus perusahaan.Direncanakan hanya untukdiarahakan kepada kondisi-kondisi tertentu, seperti : Mesin-mesin,alat kerja dan tempat-tempat khusus yang meiliki resiko kerjatinggi.Langkah dalam membuat daftar inventarisasi objek inspeksikhusus adalah :Kategorikan dan buat daftar objek yang dianggap penting &krusial di perusahaanRencanakan atau gambarkan area yang menjadi tanggungjawab masing-masing unit kerjaSusun daftar inventarisasi dengan baik dan terstruktur.
  • 8. Buatlah Recordkeeping : Identifikasi setiap mesin &peralatan, indikasi apa yang akan di inspeksi, identifikasisiapa petugas dan penanggung jawab inspeksi n berapasering dilakukan inspeksi.2.2.3. Tujuan InspkesiTujuan Inspeksi K3 adalah untuk mengetahui tindakan dan kondisi yangdilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk mencegah bahaya dankecelakaan, selain itu tujuan diadakannya Inspeksi Keselamatan dan KesehatanKerja yaitu :1. Mengidentifikasi problem – problem yang mungkin terjadi2. Mengidentifikasi kekurangan-kekurangan pada peralatan.3. Mengidentifikasi tindakan tidak standar / tidak aman pekerja4. Mengidentifikasi dampak dari perubahan / pergantian suatu proses /material5. Mengidentifikasi kekurangan – kekurangan dalam suatu perbaikan6. Melokalisasi dan menetralisir bahaya-bahaya yang ada.Pada prinsipnya maksud dan tujuan inspeksi adalah untuk menemukanatau mengidentifikasi unsafe action dan unsafe condition dan menentukanpenyebab dasar agar dapat Melakukan tindakan perbaikan, sehingga kondisi dantindakan tidak aman tidak sempat menyebabkan suatau kecelakaan.
  • 9. 2.2.4. Manfaat InspkesiDisamping maksud dan tujuan diatas, suatu inspeksi Keselamatan Kerjajuga mempunyai manfaat yaitu :1. Dapat melakuakan pembetulan segera terhadap tindakan atau kondisi tidakstandar ( tidak aman) yang ditemukan selama inspeksi.2. Inpeksi secara teratur dan berkelanjutan mendorong para pekerja untuklebih tanggap terhadap tindakan tidak aman yang dilakukan oleh sesamapekerja serta akan lebih giat memeriksa kondisi tidak aman suatu alat /tempat kerja.3. Menetapkan secara tepat alat-alat pelindung keselamatan yang diperlukanuntuk setiap jenis dan kondisi kerja.4. Inspeksi dapat memberikan semangat serta meningkatkan keseadaransetiap pekerja terhadap pentingnya K-35. Inspeksi membantu apresiasi serta sekaligus merealisasikan program K-3dikalangan para karyawan.Dalam melakukan inspeksi seseorang seharusnya tidak hanyamendeteksi atau mencari tindakan tidak standar / aman atau kondisi tidakstandar / aman secara phisik, tetapi harus pula dapat mengevaluasi danmenentukan penyebab dasar, mengapa tindakan dan kondisi tidak standar /aman dapat terjadi. Selanjutnya menentukan tindakan perbaikan yangharus dilakukan. Sebelum melakukan inspeksi harus terlebih dahulumengevaluasi atau menganalisa semua temuan, kerusakan atau insidenyang pernah terjadi sebelumnya, sehingga nantinya dapat memberikan
  • 10. perhatian khusus terhadap kondisi dan tindakan tidak aman yangberpotensi.2.2.5. Sasaran dan kebutuhan Inspeksi K3Sasaran Inspeksi :1. Pemeriksaan langsung thd pelaksanaan K3 pada setiap obyek kerja2. Identifikasi problem atas kondisi dan tindakan bahaya3. Memperoleh data dan fakta sebenarnya4. Mengukur kinerja K35. Melakukan tindakan koreksi/perbaikan6. Tingkatkan komitmen &kinerja K3Kebutuhan Ispeksi :1. Identifikasi risiko bahaya yang tidak terdeteksi dalam analisaPekerjaan2. Untuk mengetahui kekurangan pada peralatan yang potensi bahayaMengenali tindakan tidak aman karyawan3. Identifikasi dampak perubahan dlam proses4. Identifikasi tindakan perbaikan5. Penilaian kinerja manajemen dalam pengelolaan K36. Menunjukkan komitmen manajemen dalam kegiatan K3 yangbertanggung jawab atas K3 dibantu oleh manajer K3
  • 11. 2.2.6. Komponen dan Prinsip dalam InspeksiKomponen dan Prinsip dalam Inspeksi Komponen Inspeksi K3 :1. Pengukuran dan Pengujian2. Kesesuaian3. Penerapan Standar &Prosedur Prinsip Inspeksi K3 :1. Pastikan Anda Tahu Areanya2. Periksa Secara Sistematis & Teliti3. Dokumentasikan4. Segera Tindak Lanjuti5. Laporkan/Komunikasikan6. Tentukan Penyebabnya7. Fokus pada penyebab dan kasusnya2.2.7. Langkah - Langkah Efektif Aktivitas InspeksiNO. TAHAPAN KETERANGAN1. Tahap Persiapan a. Mulai dengan sikap & perilaku positifb. Rencanakan inspeksic. Tentukan apa yang dilihat & pahami apa yangakan dicarid. Buat checklist & siapkan peralatan serta bahaninspeksi
  • 12. e. Lihat laporan inspeksi sebelumnya2. PelaksanaanInspeksia. Berpedoman pada peta pabrik (work placemapping) & checklistb. Cek setiap point checklistc. Ambil tindakan perbaikan sementara bila adamasalah K3d. Jelaskan hasil temuane. Klasifikasi hazard & tentukan faktor penyebab3. PengembanganUpayaPerbaikanPerlu melakukan sesuatu untuk mencegah terjadinyakerugian nyata. Upaya pengendalian dapat terusdikembangkan dari waktu ke waktu sampaiditemukan sistem pengendalian yang efektif4. TindakanKorektifa. Membuat skala prioritas upaya-upaya perbaikanyang harus dikerjakanb. Monitoring terhadap program perbaikan dananggaran biaya sampai implementasi perbaikanselsesaic. Verifikasi/pembuktian bahwa tindakan perbaikandimulai sesuai jadwal yang telah direncanakand. Monitoring selama pengembangan tindakankorektife. Lakukan uji kebanyakan setelah selsaiimplementasi sarana perbaikan
  • 13. 5. LaporanInspeksiSuatu alat atau sarana yang dapat digunakan sebagaibahan informasi dan komunikasi yang efektif6. Review Lakukan tindakan review terhadap implementasisarana perbaikan secara berkala untuk memastikanbahwa tidak ada masalah lain yang di tidak adamasalah lain yang ditimbulkan.Tabel.1.Langkah Inspeksi Efektif2.2.8. Hal – hal penting dalam kegiatan inspeksiAdapun poin – poin yang penting di dalam inspeksi adalah sebagai berikut ;1. Buat Standart Prosedur Inspeksi ( SPI) secara jelas sebelum melulaiinspeksi2. Siapkan Checklist sesuai dengan kebutuhan Inspeksi3. Pada waktu membuat checklist, TK perlu diajak diskusi sehingga kitatahu isu-isu K3 yang sedang dihadapi4. Bila memungkinkan, beri saran praktis dan petunjuk keselamatankepada tenaga kerja terhadap metode atau cara kerja yang benar &aman dari permasalahan K3.s5. Jika pada waktu inspeksi ditemukan kondisi-kondisi yang tidak selamatatau tidak sehat, secepatnya hal tersebut dilaporkan kepada seniormanajer6. Buatlah laporan inspeksi dan laporkan kepada manajemen yangmenangani bidang K3 untuk segera dilakukan tindakan korektif
  • 14. 7. Segera lakukan tindakan korektif berdasarkan skala prioritas tingkatresiko8. Arsipkan laporan sebagai dokumentasi K3 dan juga bisa di share / dipublikasikan dengan informasi yang relevan lainnya2.3. Alat Berat (Heavy Equipment)Alat berat merupakan faktor penting dalam proyek, terutama proyek-proyek konstruksi maupun pertambangan dan kegiatan lainnya dengan skala yangbesar (Rostiyanti dalam Rengkordriders, 2009)2.3.1. Pengertian Alat Berat (Heavy Equipment)Alat berat merupakan alat yang digunakan untuk membantu manusiadalam melakukan pekerjaan pembangunan suatu struktur bangunan. Alat beratdapat digunakan untuk mempermudah proses seperti ; mengangkat, mengangkut,memindahkan, menggeser dan lain sebagainya dengan bantuan mesin angkat –angkut. Alat berat semakin banyak digunakan seiring berkembangnya teknologisekarang ini.2.3.2. Jenis Alat BeratAlat berat memiliki banyak jenis, alat berat mengacu pada setiap saranabermesin untuk memindahkan, membawa, mengangkat beban, dan lain-lainadapun jenisnya adalah sebagai berikut :2.3.2.1. Alat pengangkat
  • 15. Untuk mengangkat atau menurunkan beban, termasuk manusia.Cakupannya mulai dari kran menara besar (massive tower crane) yangbiasa dipakai di tapak konstruksi bangunan hingga ke rak-angkat (dumbwaiter) di restoran, termasuk di dalamnya bath hoist di rumah sakit, liftbarang, konveyor menanjak (elevating conveyor), gerobak, liftpenumpang, forklift, dan sebagainya. (Ridley, 2008)2.3.2.2. Kran (Crane)Kran merupakan perlengkapan pengangkat yang memilikipergerakan bebas. Beberapa jenis kran yang umum adalah :a. Blok rantai (chain block)b. Monorel (mono rails)c. Kran atas kepala (overhead travelling cranes)Gambar.1. Overhead Travelling Cranes
  • 16. d. Kran berpindah-pindah (mobile cranes)Gambar.2. Mobile Cranee. Kran menara (tower cranes)f. Kran lengan (jib cranes)
  • 17. 2.3.2.3. Truk bermesinDalam hal ini tidak mencakup kendaraan jalan raya namun hanyatruk/gerobak yang digunakan untuk keperluan di tempat kerja. Ketentuanumum dalam menggunakan seluruh gerobak bermesin dengan aman adalahmemiliki pengemudi yang terlatih dan kompeten. (Ridley, 2008)Gambar.4. Truck2.3.2.4. Truk ForkliftMerupakan alat yang digunakan untuk memindahkan, mengangkat,dan membawa barang dari suatu tempat ke tempat ke lain.
  • 18. Gambar.3. Forklift2.3.3. Syarat Pengoperasian Alat BeratDalam hal ini syarat-syarat yang dimaksud mencakup semua alat beratyang digunakan dalam konstruksi maupun produksi. Berikut adalah syarat-syaratoperator berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.Per.01/Men/1989tentang Kualifikasi dan Syarat-syarat Operator Keran angkut adalah sebagaisebagai berikut :a. Kewenangan operator dalam mengoperasikan keran mobil sesuaidengan klasifikasinyab. Memiliki pengetahuan, kemampuan. Keterampilan dan pengalamanpengoperasian keran mobil dan mengetahui bahaya potensialc. Memiliki Surat Izin Operasi (SIO) yang dikeluarkan oleh Depnakerd. Sehat secara fisik marupun mental
  • 19. Secara lebih rinci syarat-syarat pengoperasian, demikian dijelaskansebagai berikut :2.3.3.1 Syarat Pengoperasian Alat Pengangkata. Perlengkapan pengangkat harus cukup kuat untuk beban yang akanditangani dan stabil untuk menangani beban – beban tersebut.b. Lift untuk membawa barang/orang harus :1. Mencegah penggunanya mengalami cedera, atau ;2. Jika pekerjaan dilakukan di dalam sangkarnya, pastikan orangtersebut cukup terlindungi ;3. Memiliki penahan anti merosot atau lebih memperhatikan faktorkeselamatan tali gantungan (suspension rope) denagan melakukaninspeksi harian oleh orang yang berkompetenc. Perlengkapan pengangkat harus dipasang sedemikian rupa sehingga :1. Risiko beban atau perlengkapan menabrak seseorang dapatdiminimalkan2. Beban yang diangkat merosot, jatuh bebas, atau terlepas tanpasengaja3. Orang-orang di dalamnya tidak dapat jatuh ke dalam lorongpenggerek atau jalur penggerek (hoistways)d. Perlengkapan pengangkat dan aksesorisnya harus dimarkahi denganbatas beban kerja amannya.e. Operasi pengangkatan harus :1. Direncanakan dengan baik
  • 20. 2. Dilakukan dengan penyeliaan yang cukup3. Dijalankan dengan cara yang amanf. Perlengkapan harus melakukan pengujian lengkap :1. Sebelum digunakan untuk pertama kalinya, kecuali disertaipernyataan kesesuaian EC2. Secara berkala dalam suatu program pengujian3. Setelah mengalami insiden yang secara potensial dapatmenyebabkan kerusakan4. Setelah lama tidak digunakanPerlengkapan pengangkat tidak boleh dipindah-tangankan antar tugastanpa bukti pengujian sebelumnya.g. Kerusakan-kerusakan yang ditemukan selama pengujian :1. harus dilaporkan kepada majikan dan2. Pemiliknya jika alat tersebut adalah alat sewaan3. Diikuti oleh laporan tertukisnya, jika kerusakan tersebut dapatmenimbulkan bahaya yang segera mengancam, salinan laporan tertulisharus dikirimkan ke otoritas yang berwenang.Perlengkapan yang rusak tidak boleh dipakai hingga perbaikan selesai.h. Salinan yang harus disimpan adalah :1. Pernyataan kesesuaian EC (EC declaration of conformity)2. Pengujian berbeda2.3.3.2. Syarat Pengoperasian Kran (Crane)
  • 21. a. Pengemudi, juru seling, dan kernet harus terlatih dan memiliki sertifikatb. Pengemudi harus didampingi oleh kernet untuk untuk memandupengemudi dalam menggerakkan beban yang diangkatc. Hanya boleh ada satu kernet yang membantu pengemudid. Juru seling, atau jika tidak ada juru seling, maka kerdnet dapatmenyelingkan atau mengaitkan beban pada kait krane. Perlengkapan pengangkat dan takel harus disimpan dengan baikf. Harus ada inspeksi fisik tali dan seling tali secara berkala –pemeriksaan ini harus dilakukan setiap kali tali atau seling tali tersebutakan dipakaig. Seluruh kait standar harus memiliki lidah pengaman – beberapaberbentuk „C‟, terutama yang dirancang untuk mencegah bebanbergeser tanpa lidah pengaman, masih ada yang dipakaih. Alarm penunjuk kelebihan beban (overload) harus dipasang jikamemungkinkani. Saklar pemutus arus (cut-out switch) harus dipasang diantara katrolpada kait pengangkat dan mesin-gulung untuk mencegah kemacetandan ketegangan yang berlebih pada tali pengangkat (biaya penggantiansebuah tali pengangkat sangat mahal). (Ridley, 2008)2.3.3.2. Syarat Pengoperasian Truk bermesina. Pelatihan pengemudi harus diberikan oleh imstruktur yang cakap –periksalah surat-suratnya, jika memakai jasa pusat pelatihan, lembaga
  • 22. tersebut harus merupakan anggota industrial truck TrainingAssociation. (Ridley, 2008)b. Dilaksanakan di perusahaan sendiri atau di pusat pelatihan terakreditasic. Mencakup :1. Teori mengemudi, khususnya untuk forklift dengan kemudi rodabelakang dan gerobak khusus lain dengan kemudi multi-roda2. Penggunaan kendali dasar3. Teknik-teknik mengemudi praktis4. Pengalaman-pengalaman praktis di tempat kerja5. Ujian pengetahuan teori dan kompetensi praktikPengemudi yang telah menyelesaikan pelatihan dengan sukses berhakmemperoleh sertifikat kompetensi (SIM). (Ridley, 2008)2.3.3.2. Syarat Pengoperasian Truk ForkliftSyarat pengoperasiam forklift yang aman meliputi :a. Truk harus dilengkapi dengan pengaman belakang dan atasb. Pengemudi harus memperhatikan gerakan bagian belakang truk forkliftketika memutar karena menggunakan sistem kemudi roda belakangc. Kemudi berdaya (powersteering) mencegah roda kemudi berputar jikaroda mengenai sandungan – pada kemudi manual, kemudi harusdipasang tombol stir (steering knob)d. Tidak diperkenankan untuk membawa penumpang kecuali pada forkliftyang dilengkapi dengan kursi khusus untuk keperluan tersebut
  • 23. e. Truk forklift tidak boleh digunakan untuk mengangkat orang kecualijika dilengkapi anjungan kerja khusus di atasnya, petunjuk jelasnyadapat dilihat di HSE guidance note PM28f. Lantai harus dalam keadaan baik dan datarg. Ketika mendaki atau menuruni suatu tanjakan/turunan, beban harusberada di puncak kemiringanh. Tidak boleh dijalankan ketika garpu-beban dalam keadaan naik, baikada beban maupun tidaki. Kunci kontak (ignition key) atau kunci starter (starter card) janganditinggalkan pada truk forklift yang tidak dipakaij. Prioritas jalan harus diberikan kepada pejalan kakik. Bobot beban harus sesuai dengan batas yang disarankan oleh pabrikpembuatl. Rantai pengangkat harus di periksa setiap enam bulan sekalim. Akses pejalan kaku harus terpisah dari jalur truk forkliftn. Ketika mengisi baterau truk forklift listrik :1. Terjadi pelepasan hidrogen oleh baterai2. Tutup baterai harus dibuka atau menggunakan penutup yangberlubang untuk melepaskan hidrogen3. Ventilasi ruang yang kuat harus disediakan untuk menghamburkanhidrogennya4. Harus tesrsedia sumber air dan botol pencuci mata jika terpercikasam baterai
  • 24. 5. Jika mengganti baterai, pastikan pegangan baterai tidak menyentuhterminal baterai. (Ridley, 2008)2.4. Standart Pemeriksaan Pesawat AngkutDengan kemajuan teknik dan teknologi di berbagai bidang yang sangatpesat dimana penggunaan peralatan pengangkat merupakan bagian penting dalamsuatu proses pembangunan, perlu dilakukan langkah-langkah yang lebih terarahkhususnya bidang oesawsat angkat angkut (keran).Dalam pengoperasian/pembuatan keran terdapat ptensi-potensi bahaya yangsangat besar, dimana berdasarkan data statistik kecelakaan ternyata faktormanusia merupakan urutan pertama dan disusul faktor alat bantu angkat dankegagalan mesinMaka dalam hal ini ketentuan-ketentuan menyangkut berbagaiasKeselamapek tentang keselamatan dan kesehatan kerja khususnya untuk keranmenurut kebijaksanaan hukum dan penerapannya yang konsisten. Untuk itu makaperlu dikeluarkan standar pemeriksaan dan pengujian keran. Standar ini belummencakup standar pemeriksaan dan pengujian semua jenis pesawat angkat danangkut secara menyeluruh akan tetapi terbatas untuk pemeriksaan dan pengujianmobil keran saja.Standar ini merupakan pedoman bagi Pegawai Pengawas Keselamatan danKesehatan Kerja dan ahli Keselamatan Kerja maupun pihak lain untukmeningkatkan tugas-tugas pengawasan dan pembinaan di bidang Keselamatan
  • 25. Kerja Pesawat Angkat (keran) khususnya dalam pelaksanaan pemeriksaan danpengujian keran mobil guna mencegah dan mengurangi kecelakaan di tempatkerja.2.4.1. Dasar HukumAdapun yang menjadi dasar hukum dalam pemeriksaan pesawat angkatangkut dan sejenisnya adalah sebagai berikut ;1. Undang-undang No.1 tahun 1970 tntang Keselamatan Kerja :2. Keputusan Menakertranskop No.79/Men/1979 tentang Direktursebagaiamana yang dimaksud dalam undang-undang No.1 tahun 1970 ;3. Peraturan Menakertrans No. Per.02/Men/1982 tentang Kualifikasi JuruLas di tempat kerja4. Peraturan Menaker No.Per.05/Men/1985 tentang Pesawat Angkat danAngkut ;5. Peraturan Menaker No.Per.01/Men/1989 tentang Kualifikasi dan Syarat-syarat Operator Pesawat Keran Angkat2.4.2. Ruang LingkupRuang lingkup standar pemeriksaan dan pengujian pesawat angkat inikhususnya untuk keran mobil (sebagian dar lingkup Permen 05/Men/1985 pasal 5ayat 2 sub a, pasal 135 ayat 1 dan 2 dan pasal 138).2.4.3. Prosedur Pemeriksaan Dan Pengujiana. Kelengkapan data pesawat
  • 26. Sebelum program pemeriksaan dan pengujian dilaksanakan langkahpertama yang harus dilakukan adalah pengumpulan data pesawat angkat(keran) lihat poin E.b. Pelaksana Pemeriksaan dan pengujian adalah :Pegawai pengawas dan atau ahli Keselamatan Kerja bidang pesawatangkat (Permen 05/Men/1985 pasal 138 ayat 5)c. Peralatan Pemeriksaan dan pengujian :1. Peralatan pemeriksaan visual antara lain :a. Kaca pembesarb. Palu (kunci-kunci)c. Shechmatd. Meterane. Lampu senterf. Filler gauge, dll2. Peralatan N.D.T (Non Detractive Test) antara lain :a. Magnitic Particalb. Ultrasonikc. Radiografid. Wire rope teste. Dye penteran, dll3. Peralatan pengujian beban antara lain :a. Alat penimbang beban (test beld)b. Meteran (streeltape)
  • 27. 4. Pengukur beban (Load cell)a. Theodholitb. Beban uji berupa : Balok beton, Balok besi, Kantong air (water bag)dan Sistem angker.d. Periode pemeriksaan dan pengujian digolongkan menjadi 5 (lima) yaitu:a. Pemeriksaan harian oleh operatorb. Pemeriksaan mingguan oleh operatorc. Pemeriksaan bulanan oleh inspektor/supervisor/mekanikd. Pemeriksaan pertama dan ulang (tahunan) oleh Pegawai Pengawas/ AhliKeselamatan Kerja bidang pesawat angkute. Pemeriksaan sewaktu-waktu oleh Pegawai Pengawas/Ahli Keselamatn Kerjae. Pelaksanaan Pemeriksaan dang pengujian pertama dan ulang :Kegiatan pemeriksaan ini meliputi :1. Pemeriksaan data teknis pesawat/dokumen lengkap2. Pemeriksaan secara fisik (konstruksi dan perlengkapan termasuk N.D.T)3. Pemeriksaan tenaga penggerak4. Pemeriksaan komponen pesawat5. Pemeriksan perlengkapan pengaman6. Pemeriksaan lain yang dianggap perlu
  • 28. Semua hasil kegiatan pemeriksaan ini dimasukkan ke dalam form (bentuk)yang telah ditetapkan dan diisi secara rinci.1. Pemeriksaan Data teknis Pesawat meliputi :a. Surat kelayakan pakai apaka ada/tidak dan berlaku sampai kapanb. History file dari setiap mesin apakah dilengkapi atau tidakc. Log book dari setiap mesin dimiliki atau tidakd. Siapa operator yang layak mengoperasikan dan bertanggung jawabterhadap keran tersebutHal ini semua untuk mendukung pendapat inspector dalam memberikanrekomendasi lainnya.2. Pemeriksaan komponen meliputi ;a. Tenaga penggerakb. Pemindah tenaga penggerakc. Konstruksi bawahd. Konstruksi atase. Instalasi listrikf. Instalasi hidrolikg. Instalasi udaraa. Pemeriksaan tenaga penggerak meliputi :1. Motor Bakar
  • 29. a. Periksa apakah ssambungan-sambungan sistim pendingin, sistim listrik,sistim pelumasan sistim bahan bakar cukup terpasang baik atau tidak.b. Secara visual apakah ada kelainan yang terdapat pada motor tersebuttermasuk penggerak awalnyac. Catat spesifikasi motor ataupun penggerak awal untuk informasi bahanlaporand. Dalam pengetesan baik dengan beban ataupun tanpa beban, baik nomortermasuk penggerak awalnya memenuhi spesifikasi atau tidak2. Motor Hidrolisa. Periksa apakah sambungan-sambungan pipa hidrolis cukup terpasangbaik atau tidakb. Secara visual apakah ada kelainan yang terdapat pada motor tersebuttermasuk pompa hidrolisnyac. Catat spesifikasinya, motor ataupun pompa untuk informasi bahanlaporand. Dalam pengetesan baik dengan beban atau tanpa beban. Baik motorataupun pompa memenuhi spesifikasi atau tidak3. Motor Angina. Periksa apakah sambungan-sambungan pipa angin cukup terpasang baikatau tidakb. Periksa saringatdak udara mesin baik atau tidak secara visual apakahada kelainan yang terdapat pada motor tersebut juga termasukkompresornya
  • 30. c. spesifikasi motor ataupun kompresor untuk informasi bahan laporand. Dalam pengetesan baik dengan beban ataupun tanpa beban, baik motorataupun kompresore. Catat spesifikasi motor ataupun tanpa beban, maik motor maupunkompresor, memenuhi spesfikasi atau tidakb. Pemeriksaan pemindah tenaga penggerak antara lain :Pemeriksaan pemindah tenaga penggerak (drive train) dari kopling,vesnelling (transfer gera system), reduction gear cese final drive denganmelakukan hal-hal sebagai berikut :a. Periksa apakah pengikat-pengikat antara motor penggerak dengan unitkopling, juga ke transfer gear atau pengikat Torque Converter sampaidengan final drive cukup terikat baik atau tidakb. Periksa visual apakah ada kelainan yang terdapat pada sistem drivec. Catat spefisikasi masing-masing unit dari sistem drive train untukinformasi bahan laporand. Dalam pengetesan baik bergerak dengan beban atau tanpa beban,bergerak dalam arah lurus atau belok apakah memenuhi spesifikasi atautidakc. Pemeriksaan konstruksi bawaha. Pemeriksaan roda rantai1. Periksa apakah pengikat-pengikat roda ataupun rantai cukup terikatdengan baik2. Periksa apakah ada kelainan pada ban atau rantai
  • 31. 3. Tekanan angin ban apakah cukup /tidak. Tentukan keausan dari pindan bushing rantai sesuai spesifikasi pabrik4. Periksa apa ada kebocoran dari final drive5. Periksa keausan roller dan carrier rollerb. Pemeriksaan silinder dan roda dari sistim hidrolis1. Periksa keausan roda dan sisi, kelurusan dan kebocoran2. Periksa kebutuhan silinder, sambungan pipa dan flexible hose3. Periksa pin dan bushing baik silinder atau rodac. Pemeriksaan rem kaki dan tangan1. Coba tuas rem tangan dan pedal rem kaki, apakah posisi mengeremtelah melebihi spesifikasi atau belum2. Coba rem-rem tersebut dalam kondisi muatan dan bergerak3. Apakah ada kebocoran di pompa utama atau di pipa saluaran hidrolik4. Periksa isi hidrolis ataupun sistim hampa udara sampai saranaboosternyad. Pemeriksaan roda gigi pemutar badan keran meja putar1. Periksa kondisi gigi dan kedudukan badan keran waktu berputar2. Periksa pelumas mencukupi atau tidak3. Apakah ada suara yang berbedaang pada kedudukan yang satuterhadap yang laine. Pemeriksaan sistem kemudi1. Coba raba kemudi apakah toleransi gerak tidak melebihi spesifikasi
  • 32. 2. Dalam keadaan bergerak, apakah roda-roda tidak menyentuh chasistruk3. Untuk jenis crawel apakah ada gerakan berhenti rantai bagian kiriataupun bagian kanan dapat bekerja dengan baik atau tidak4. Rumah-rumah gigi reduksi ada keretakan atau pengikatan yangkendoratau tidak, juga sistem pelumasan masih ada atau tidakf. Pemeriksaan kondisi chasis/badan1. Apakah ada keretakan, korosi, bengkok, tekuk, dan lain sebagainyayang dapat mempengaruhi baik kedudukan roda atau kemampuantumpu beban2. Apakah pernah mengalami perbaikan lasg. Kerangka chasis (badan)1. Pada bagian-bagian kerangka chasis dan perlu dilaksanakanpemeriksan bukan visual atau N.D.T karena bagian tersebut yangsecara langsung menanggung beban keseluruhan baik dalam keadaantidak operasi, maupun operasi pada saat pembebanan beban lebih(overload)2. Pemeriksaan/pengujian bagian komponen dimaksud meliputi :+ Bahan/material+ Sambungan-sambungana. Las-lasanb. Baut
  • 33. c. Kelingd. Konstruksi bagian atasa. Pemeriksaan kondisi beban pengimbang1. Apakah kedudukan beban pengimbang tidak bergeser2. Pengikatan apakah masih cukup baik atau tidak3. Apakah pernah diadakan penambahan atau pengurangan bebanpengimbang sehinggaalat pengikat mengalami keausanb. Pemeriksaan kabin operator dan peralatan lain-lain didalamnya1. Periksa secar visual kondisi indikator-indikator2. Periksa kaca dan penghapus air3. Periksa kipas atau air conditioner4. Periksa alat pemadam kebakaran5. Periksa klakson, lampu dalam dan lair6. Catat isi name plate data sebagai informasi untuk laporan7. Periksa tuas kontrol apakah ada kelainan atau tidak8. Periksa pintu, jendela serta kuncinyac. Boom dan Jib1. Periksa kelurusan, keretakan, korosi dan lain sebagainya2. Periksa bagian-bagian sambungan-sambungan pin-pin, keausanbushing, keretakan, bengkok miring dan lain sebagainya3. Pemeriksaan dapat menggunakan perlatan seperti ultrasonik atau dyepenetrant testd. Sambungan ujung
  • 34. 1. Periksa corrosion, crack, benor twisting, wern dan improporly appliedconnection. Kalau End Connection didapat seperti kondisi tersebutdiatas, sebaiknya segera diganti.2. Periksa timbel di Crown apa ada keausan atau tidake. Drum dan Sheave1. Pemeriksaan drum dari kerusakan dan keausan, pengikat serta keausanbagian berputar perlu diperiksa2. Pemeriksaan poros, bibir alur serta alur juga perangkat lainnya perludiperiksa3. Keretakan dapat diperiksa dengan cara dye penetrant atau NDT (nondestructive test) sejenisnya.f. Tali kawat baja1. Selain pemeriksaan mingguna, pemeriksaan keseluruhan lengkapselambat-lambatnya sebulan sekali. Jika seandainya telah lama tidakdipakai, sebaiknya diperikssa dahulu sebelum dipakai lagi2. Untuk tali kawat baja angkat pemeriksaan secara random untuk setiapkali kawa bajanya3. Sebaiknya juga harus diperiksa dari jenis kerusakan (kinking, crishing,bird caging atau kerusakan lain) yang sangat mempengaruhi kekuatantali kawat baja.g. Rantai
  • 35. 1. Semua rantai harus diperiksa sesering mungkin dan paling lambatsebulan sekali oleh inspektor yang berhak atau ditunjuk, terkecualimemang sudah rusak2. Periksa tanda-tanda pengeenal SN-ML-DATE terikat disalah satu rantai3. Kalau didapay salah satu rantai rusak berarti keseluruhan rantai tidakdapat dipakai. Untuk itu memeriksa rantai sebaiknya menggunakankaca pembesar , kalau didapat dalam pengukuran panjang rantaimelebihi dari 5%, rantai tersebut dibuang/rusak.4. Juga perlu diperiksa apakah rantai bengkok melintir, atau terdapat lukabenda tajam5. Kalau terdapat retak segera diganti, demikian pula kalau luka bendatajam tadi tidak dapat dipertanggung jawabkan lagi, rantai tersebutharus segera diganti6. Juga bila rantai terdapast adanya tanda-tanda lekuk, mengikat, titik-titik, pernah mengalami pengerasan atau pengelasan periksa apakahberbahaya atau tidak7. Periksa las-lasan apakah ada kelainan atau tidak, sebab mungkinpernah beban lebih. Juga pitting akibat korosif perlu diperhatikan setiaphari.8. Harus hati-hati untuk menetukan penurunan SWL-nya tepath. Kait
  • 36. 1. Periksalah kait sesering mungkin. Perlu diperhatikan jika terdapatcrack, corrosion, twisting. Jika terdapat deformation pada bagian ujungkait atau ada cacat harus segera diganti.2. Pemeriksaan bagian bagian sadel apakah ada keretakan atau tidak3. Daerah pemeriksaan bagian-bagian kait antara lain :a. Threadsb. Neckc. Sankd. Latche. Bowl – sadlef. Back – sadleg. Hool – sadleh. Hool – openingi. Sakel dan baut mataSeperti halnya bagian lain dari keausan, keretakan perlu diperiksa,kondis gigi ulir perlu diperiksa pula.j. Head ballApakah head ball terikat betul. Kalau perlu diganti perangkatlainnya.3. Pemeriksaan Perangkat Keselamatan Kerjaa. Automatic indikator device1. Safe loading indikator
  • 37. 2. Load moment liniter3. Weight load indikator4. Hydrolic circuit relief valve5. Drum turn indikator6. Acst (Automatic Crane Stoping)b. Stabilitas keran1. Crane on tire duty2. Crane on blocking dutyc. Kunci-kunci (lock)1. Oxle lock2. Ontriggers lock3. Boom Hoist Brake Lock4. Hoist Brake Hook5. Swing/slewing lock6. Drum pawl lock7. Drum brake lockd. Daftar beban/loadcharde. Daftar Radius Operasif. Radius Indokatorg. Angle Indikatorh. Level Indikatori. Boom back stopj. Rem
  • 38. F. PengujianDalam pengujian pesawat angkat keran dapat dilaksanaknberbagai jenis antaralain :1. Pengujian fungsi2. Pengujian diam3. Pengujian indikator4. Pengujian dinamis5. Pengujian penampilan6. Load test (test beban)a. Syarat-syarat Pengujian1. Dilaksanakan sesuai dengan standar uji yang dilakukan anjuran pabrikpembuat.2. Keadaan/lokasi pesawat harus memenuhi syarat, antara lain :LandasanPeneranganKebersihanKemiringan tanahFaktor anginKaki penumpu (out rigger)Alat angkat(harus diperhitungkan kecuali ditentukan lain)b. Metode pengujian beban (Load test)
  • 39. 1. Untuk keran dengan boom teleskopikTestNo.BoomExtentionSudut boomterhadapSafe workingload/BKABeban uji(Proff load)1.2.3.4.MaximumMaximumMinimumMinimumMinimumMinimumMaximumMaximumKapasitas dariradius chart-sda--sda--sda-Standar/pedomanyang ditetapkan2. Untuk keran dengan panjang boom kisiTestNo.BoomExtentionSudut boomterhadapBeban kerjalawan ( load)Beban uji(Proff load)1.2.MinimumMaximumMinimumMaximumKapasitas dariradius chart-sda-Standar/pedomanyang ditetapkan3. Untuk pengujian beban lebih (overload test) dapat mengacu padastandar/pedoman yang telah ditetapkan.G. Pemeriksaan setelah pengujianUntuk kesempurnaan dari pengujian, pemeriksaan menyeluruh hendaknyadilaksanakan untuk meyakinkan bahwa tidak ada keretakan deformasi tetap,
  • 40. serpihan cat atau rusak yang berakbat ke fungsi dan keamanan nampak, dan tidakada sambungan mengendor atau menjadi cacat.4. Pengesahan Pemakaian (Sertifikasi)Setelah langkah pemeriksaan dan pengujian, selesai langkah berikut adalahlangkah sertifikasi, adalah pengeluaran pengesahan pemakai sementara maupuntetap.Adapun mekanisme pengesahan pemakaian :1. Pengajuan dokumen dari pemakai :a. Calon pemakai atau pemilik pesawat angkat harus mengisi form (bentuk 52)dan mengajukan pengesahan pemakaian ke Departemen Pusat melaluiKanwil/Kandepnaker dimana pesawat itu berada.b. Surat permohonan form (bentuk 52) dilampiri dengan dokumen teknis minimalterdiri dari :1. Gambar konstruksi lengkap dan gambar detailnya, 4 rangkap2. Perhitungan kekuatan konstruksi, 4 rangkap3. Sertifikasi bahan yang digunakan, 4 rangkap4. Wiring diagram, 4 rangkap5. Data-data teknis, 4 rangkap2. Penerimaan dan penolakan pengesahan pemakaianSurat permohonan dan dokumen teknis yang disampaikan oleh pemakai ataupemilik pesawat angkat dan angkut diadakan penelitian :
  • 41. a. Pemerikasaan komponen terhadap pesawat tersebutb. Apabila hasil pemeriksaan baik, dilanjtukan pengujianc. Pegawai pengawas/ Ahli keselamatan kerja spesialis mekanik bidang pegawaiangjat dan angkut dalam melaksanakan melaksanakan dan lampirannyapengujian harus membuat kaporan yang dituangkan dalam 51 bentujk danlampirannya dengan memberikan saran, usul petimbangan guna pemberianpengesahan pemakaian.3. Apabila dokumen tidak lengkapDari hasil penelitian atas berkas atau dokumen permohonan pengesahanpemakaaian pesawat angkat tersenut tidak memenuhi ketentuan, maka :a. Kakanwil/kakandepnaker memberitahukan kepada calon pemakai atau pemilikatas sekurang-kurangnya.b. Bila calon pemakai atau pemilik tidak dapat melengkapi kekurangan-klekurangan tersebut maka Kakanwil/Kakandepnaker menolak permohonannyadan untuk sementara pesawat tidak dapat dioperasikan sampai dilengkapikekurangannya.4. Pengesahan pemakaiana. Pengesahan sementaraKandepnaker mengeluarkan pengesahan sementara setelah semua syarat yangditentukan dipenuhi dan hasil pemeriksaan dan pengujian pesawat angkatsebagaimana dimaksud pada poin a, yang dilakukan pegawai Pengawas/Ahlikeselamatan dan kesehatan kerja spesialis mekanik bidang pesawat angkat danangkut. Memenuhi syarat baik secara administrasi maupun teknis.
  • 42. b. Bila dari hasil pemeriksaan dan pengujian ternyata tidak memenuhi syaratmaka Kakanwil Depnaker menolak permohonan pengesahan pemakaianpesawat tersebut dan memberikan pembinaan teknis yang dilakukan olehPegawai Pengawasan Spesialis mekanik bidang pesawat angkat dan angkut.c. Pengesahan pemakaian tetapMengingat bahwa sifat dari pada overhead travelling crane tidak berpindahtempat maka pengesahan pemakaian tetapnya dikeluarkan oleh Kanwil.Pengesahan pemakaian sementara (bentuk 53) dan dokumen teknis daridepnaker lengkap, maka di tingkat Kanwil dilakukan :1. Pemeriksaan dan penelitian gambar konstruksi, sertifikat ban, wiringgdiagran, dan berkas lainnya.2. Perhitungan kembali kekuatan konstruksi3. Evaluasi dan penelitian hasil pemeriksaan dan pengujian yang dilakukanoleh Pegawai Pengawas/Ahli K3 Spesialis mekanik bidang pesawat angkat danangkut.Apabila hasil tersebut diatas memenuhi syarat baik secara administrasumauoun teknis, maka Kanwil Depnaker mengeluarkan pengesahan pemakaiantetap pesawat angkat dan mengirimkan tembusan 1 (satu) bendel danpengesahan pemakaian tetap lengkap ke DEPNAKER Pusat (DPNKK) cq.Direktorat KANDEPNAKER setempat.Dengan dikeluarkannnya pengesahan pemakaian tetap maka pengesahanpemakaian sementara dinyatakan tidak berlaku (dicabut).
  • 43. Apabila dokumen yang dikirim oleh Kandepnaker ke Kanwil tidaklengkap maka langkah-langkah yang harus ditempuh adalah sebagai berikut :a. Memberitahukan kepada Kandepnaker atau permohonan tentangkekurangan dokumennya utnuk dilengkapib. Bila ternyata pemohon atau calon pemakai tidak dapat melengkapikekurangan dokumennya maka Kanwil Depnaker segera memberitahukanKandepnaker bahwa pengesahan pemakaian tetap tidak dapat diberikan danseterusnya Kandepnaker memberitahukannya ke calon pemakai yangdisertai alasan-alasan penolakannya.c. Apabila pemohon tidak dapat menerima putusan penolakan pengesahanpemakaiannya maka pemohon dapat meneruskan kepada Direktur JenderalBina Hubungan Industrial dan Pengawas ketenagakerjaan untukpertimbangan lebih lanjut.

×