Gangguan Kecemasan
Gangguan kecemasan adalah suatu gangguan yang paling diperngaruhi oleh kriteri
diagnostik di dalam diag...
Gejala Psikologis Dan Kognitif
Pengalaman kecemasan memiliki 2 komponen: (1) kesadaran adanya sensasi
fisiologis (seperti ...
Neurotransmiter
Tiga neurotransmiter utama yang berhubungan dengan kecemasan berdasarkan
penelitian pada binatang dan resp...
menjadi pusat sebagian besar pembentukan hipotesis tentang substrat neuroanatomik dari
gangguan kecemasan.

Gangguan Kecem...
Kecemasan sebagai suatu gejala dapat berhubungan dengan banyak gangguan
psikiatrik, selain gangguan kecemasan sendiri. Pem...
Terapi
Terapi primer untuk gangguan kecemasan akibat zat adalah menghilangkan zat
penyebab yang terlibat.
Beberaapa memili...
apa yang dapat menghilangkan pengaruh yang menyakitkan. Organisme
belajar bahwa tindakan tertentu memungkinkan mereka meng...
Perkembangan fobia spesifik dapat disebabkan dari pemasangan (pairing)
objek atau situasi tertentu dengan emosi ketakutan ...
Mekanisme Serotonergik
Pemberian fenilfluramin pada panderita fobia sosial menyebabkan
peningkatan kortisol sehingga diper...
b. Fobia Sosial
Menurut DSM-IV
Kriteria A
Ketakutan yang jelas dan menetap terhadap satu atau lebih situasi sosial atau
ta...
Bila terlalu sulit untuk membedakan antara fobia sosial dengan agorafobia,
hendaknya diutamakan diagnosa agorafobia.
4. Ga...
Gangguan depresif & agorafobia sering sulit dibedakan dgn fobia sosial.
Hendaknya diutamakan Dx agorafobia, depresi jgn di...
Monoamine oxidase inhibitors( MAOIS): Phenelzine telah dipertunjukkan untuk
bisa efektif didalam studi. Pembatasan yang ...
perempuan. Usia onset rata-rata adalah umur 20 tahun, walaupun laki-laki memiliki onset
usia yang lebih awal (sekitar 19 t...
Menurut ahli teori belajar, obsesi adalah stimuli yang dibiasakan. Stimulus yang relative
netral menjadi disertai dengan k...
Faktor psikodinamika lainnya. Pada teori psikoanalitik klasik,gangguan obsesif
kompulsif dinamakan neurosis obsesif kompul...
4. Orang menyadari bahwa pikiran, impuls atau bayangan-bayangan obsesional
adalah keluar dari pikirannya sendiri (tidak di...
Sebagian besar gejala muncul secara tiba-tiba, terutama setelah suatu peristiwayang
menyebabkan stress, seperti kehamilan,...
Psikologi gangguan neurotik
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Psikologi gangguan neurotik

1,326

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,326
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
18
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Psikologi gangguan neurotik"

  1. 1. Gangguan Kecemasan Gangguan kecemasan adalah suatu gangguan yang paling diperngaruhi oleh kriteri diagnostik di dalam diagnostic and stastitical manual of mental disorder edisi 3 (DSM III), edisi ke 3 yang direvvisi (DSM III-R), dan edisi ke 4 (DSM-IV), dan oleh tumbuhnya pengetahuan tentang biologi kecemasan.Kecemasan ada 2, kecemasan normal dan kecemasan patologis.Penilaian tersebut didasarkan pada laporan keadaan internal pasien, perilakunya, dan kemampuan pasien untuk berfungsi.Seorang pasien dengan kecemasan patogis memerlukan pemeriksaan neuropsikiatri yang menyeluruh dan suatu rencana pengobatan yang disusun secara individual.Klinisi juga harus menyadari bahwa kecemasan mungkin merupakan komponen dari banyak kondisi medis dan gangguan mental lainyya, khusunya gangguan depresif.Kecemasan adalah suatu penyerta yang normal dari pertumbuhan, dari perubahan, dari pengalaman sesuatu yang baru dan belum dicoba, dan dari penemuan identitas sendiri dan arti hidup.Sedangkan kecemasan patologis adalah respon yang tidak sesuai terhadap stiumulus yang diberikan berdasarkan pada intensitas atau durasinya. Kecemasan Normal Suatu perasaan yang ditandai oleh rasa ketakutan yang difus, tidak menyenangkan dan samar, seringkali disertai oleh gejala otonomik seperti nyeri kepala, berkeringat, palpitasi, kekakuan pada dada dan gangguan lambung ringan. Ketakuatan Dan Kecemasan Kecemasan adalah suatu sinyal yang menyadarkan, ia memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman. Ketakutan, suatu sinyal serupa yang menyadarkan, harus dibedakan dari kecemasan. Rasa takut adalah respon dari ancaman yang asalnya diketahui, eksternal, jelas, atau bersifat konflik; kecemasan adalah respon terhadap suatu ancaman yang sumbernya tidak diketahui, internal, samar, atau konfliktual. Fungsi Adaptif Dari Kecemasan Jika dianggap semata-mata sebagai suatu sinyal peringatan, kecemasan dapat dianggap pada dasarnya merupakan emosi yang sama seperti ketakutan. Kecemasan memperingatkan adanya ancaman eksternal dan internal dan memiliki kualitas mengancam hidup.
  2. 2. Gejala Psikologis Dan Kognitif Pengalaman kecemasan memiliki 2 komponen: (1) kesadaran adanya sensasi fisiologis (seperti berdebar-debar dan berkeringat) dan (2) kesadaran sedang gugup atau ketakutan. Disamping efek motorik dan visceral, kecemasan mempengaruhi befikir persepsi dan belajar.Aspek penting dari emosi adalah efeknya pada selektivitas perhatian.Orang yang kecemasan cenderung memilih benda tertentu dalam lingkungannya dan tidak melihat yang lainnya untuk membuktikan bahwa mereka benar-benar berada dalam situasi yang menakutkan dan berespon dengan tepat. KECEMASAN PATOLOGIS Teori Psikologis Tiga bidang utama teori psikologis (psikoanalitik, perilaku dan ekstensial) telah menyumbangkan teori tentang penyebab kecemasan. Teori Psikoanalitik Freud menyatakan bahwa kecemasan adalah suatu sinyal kepada ego bahwa suatu dorongan yang tidak tidak dapat diterima menekan untuk mendapatkan perwakilan dan pelepasan sadar. Di dalam teori psikoanalitik, kecemasan dapat dipandang sebagai masuk ke dalam empat katagori utama, tergantung pada sifat akibat yang ditakutinya : kecemasan id atau impuls, kecemasan kastrasi, dan kecemasan superego. Teori Perilaku Teori perilaku menyatakan bahwa kecemasan adalah suatu respon yang dibiasakan terhadap stimuli lingkungan spesifik. Teori Ekstensial Teori ekstensial tentang kecemasan memberikan model untuk gangguan kecemasan umum (generalized anxiety disorder) dimana tidak terdapat stimulus yang dapat diidentifikasi secara spesifik untuk suatu perasaan yang kronis.Kecemasan adalah respon seesorang terhadap kehampaan eksistansi dan arti yang berat tersebut. Teori Biologis Sistem Saraf Otonom Stimulasi sistem saraf otonom menyebabkan gejala tertentu-kardiovaskular (sebagai contoh takikardia), muskular (sebagai contoh nyeri kepala), gastrointestinal (sebagai contoh diare) dan pernafasan (sebagai contohnya, nafas cepat).Manifestasi kecemasan perifer tersebut tidak selalu berubungan dengan pengalaman kecemasan subjektif.
  3. 3. Neurotransmiter Tiga neurotransmiter utama yang berhubungan dengan kecemasan berdasarkan penelitian pada binatang dan respon terhadap terapi obat adalah noerpinefrin, serotonin dan gamma animobutyric acid (GABA). Norepinefrin Teori umum tentang peranan norepinefrin didalam gangguan kecemasan adalah bahwa pasien yang menderita mungkin memiliki sistem noradenergik yang teregulasi secara buruk yang secara kadang-kadang menyebabkan aktifitas. Serotonin Dikenalinya banyak tipe reseptor serotonin telah merangsang pencarian akan peranan serotonin di dalam patogenesis gangguan kecemasan. GABA. Peranan gama-aminobutyric acid (GABA) dalam gangguan kecemasan didukung paling kuat oleh manfaat benzodiazepin yang tidak dapat dipungkiri, yang meningkatkan reseptor GABA pada reseptor GABAA, didalam pengobatan beberapa jenis kecemasan. APLYSIA Suatu model neurotransmiter untuk gangguan kecemasan didasarkan pada penelitian pada Apylisia californica, suatu siput laut yang bereaksi terhadap bahaya dengan melarikan diri, memasukkan dirinya ke dalam rumahnya dan menurunkan perilaku makannya. Penelitian Pencitraan Otak Penelitian pencitraan otak fungsional-sebagai contohnya tomografi emisi positron (PET), tomografi komputer emisi foton tunggal (SPECT), dan elektroensefalografi (EEG)pada pasien dengan gangguan kecemasan telah secara beragam melaporkan adanya kelainan di korteks frontalis, daerah oksipitalis dan temporalis pada suatu penelitian gangguan panik. Penelitian Genetika Penelitan genetika telah menghasilkan data yang kuat bahwa sekurangnya suatu komponen genetika berperan terhadap perkembangan gangguan kecemasan. Pertimbangan Neuroanatomis Lokus sereleus dan nukeli raphe terutama berajalan ke sistem limbik dan korteks serebral.Dalam kombinasi dengan data dari penelitian pencitraan otak, bidang tersebut
  4. 4. menjadi pusat sebagian besar pembentukan hipotesis tentang substrat neuroanatomik dari gangguan kecemasan. Gangguan Kecemasan DSM-IV DSM-IV menuliskan gangguan kecemasan seperti berikut ini : gangguan panik dengan dan tanpa agorafobia, agorafobia tanpa riwayat gangguan panik, fobia spesifik dan sosial, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan stres pasca traumatik, gangguan stress akut, gangguan kecemasan umum, gangguan kecemasan karena kondisi umum, gangguan kecemasan akibat zat dan gangguan kecemasan yang tidak ditentukan termasuk gangguan kecemasan-depresif campuran (semuanya dibicarakan di bab ini). GANGGUAN KECEMASAN KARENA KONDISI MEDIS UMUM Gangguan kecemasan karena kondisi medis umum dituliskan dalam DSM-III-R sebagai sindroma kecemasan organik, suatu gangguan mental organik yang berhubungan dengan gangguan atau kondisi fisik aksis III. Epidemiologi Sering diitemukan walaupun insidensi gangguan bervariasi untuk masing-masing kondisi medis umum spesifk. Etiologi Beberapa kondisi dapat menghasilkan gejala yang menyerupai gangguan kecemasan seperti hipertiroidisme, hipotiroidisme, hipoparatiroid, defisiensi vitamin B-12, dll Diagnosis Diagnosis DSM-IV tentang gangguan kecemasan karena kondisi umum mengharuskan adanya gejala gangguan kecemasan. DSM-IV memungkinkan klinisi untuk menentukan apakah gangguan ditandai oleh gejala kecemasan umum, serangan panik atau gejala obsesif kompulsif. Gambaran Klinis Gejala gangguan kecemasan karena kondisi medis umum dapat identik dengan gejala gangguan kecemasan primer. Antara lain : Gangguan panik Gangguan kecemasan umum Fobia Gangguan obsesif kompulsif Diagnosis Banding
  5. 5. Kecemasan sebagai suatu gejala dapat berhubungan dengan banyak gangguan psikiatrik, selain gangguan kecemasan sendiri. Pemeriksaan status mental diperlukan untuk menentukan adanya gejala ganggguan mood atau gejala psikotik yang dapat mengarahkan pada diagnosis psikiatrik lain. Perjalanan Penyakit Dan Prognosis Pengalaman kecemasan yang tidak mereda dapat melumpuhkan, mengganggu tiap aspek kehidupan, termasuk fungsi sosial, pekerjaan dan psikologis. Terapi Pengobatan primer untuk gangguan kecemasan umum karena kondisi medis umum adalah mengobati kondisi medis dasarnya. Gangguan Kecemasan Akibat Zat Epidemiologi Sering ditemukan baik sebagai akibat ingesti yang disebut obat rekreasional dan sebagai akibat pemakaian obat yang diresepkan. Etiologi Berbagai madcam zat baik berupa obat simpatomimetik (amfetamin,. Kokain atau kafein) maupun serotonergik (LSD, MDMA) dapat mengakibatkan gejala kecemasan yang mirip dengan tiap gangguan kecemasan DSM-IV. Dignosis Keriteria diagnostik DSM-IV untuk gangguan kecemasan akibat zat mengharuskan adanya kecemasan, serangan panik, obsesi atau kompulsi yang menonjol. Gambaran Klinis Gambaran klinis penyerta adalah bervariasi tergantung pada zat tertentu yang terlibat. Diagnosis banding Diagnosis banding antara lain : gangguan kecemasan primer, gangguan kecemasan karena kondisi medis umum dan gangguan mood yang seringkali disertai dengan gangguan kecemasan. Perjalanan Penyakit Dan Prognosis Efek ansiogenik dari sebagian besar obat adalah reversibel. Jika kecemasan tidak memulih dengan dihentikannya obat, klinisi harus mempertimbangkan ulang diagnosis gangguan kecemasan akibat zat atau mempertimbangkan kemungkinan bahwa zat menyebabkan kerusakan otak yang ireversibel.
  6. 6. Terapi Terapi primer untuk gangguan kecemasan akibat zat adalah menghilangkan zat penyebab yang terlibat. Beberaapa memiliki gejala gangguan kecemasan yang tidak memenuhi kriteria untuk satupun gangguan kecemasan DSM-IV spesifik atau campuran kecemasan dan mood yang terdepresi. Pasien tersebut paling tepat diklasifikasikan sebagai menderita gangguan kecemasan yang tidak ditentukan (NOS; not otherwise specified). Fobia Spesifik dan Fobia Sosial Fobia adalah suatu ketakutan yang tidak rasional yang menyebabkan penghindaran yang didasari terhadap objek, aktivitas atau situasi yang ditakuti. Situasi fobik menyebabkan ketegangan orang yang bersangkutan dimana orang tersebut sadar bahwa reaksinya berlebihan, dan ketegangan ini sampai menimbulkan gangguan kemampuan seseorang untuk berfungsi di dalam kehidupannya. 1. Epidemiologi a. Fobia Spesifik Fobia spesifik disebut juga fobia sederhana. Objek dan situasi yang biasanya ditakuti pada orang dengan fobia spesifik adalah binatang, badai, ketinggian, penyakit, darah, injeksi, cedera dan kematian. Prevalensi enam bulan fobiua spesifik adalah sekitar 5-10 per 100 orang. Fobia spesifik lebih sering terjadi pada wanita dengan perbandingan wanita dan laki-laki adalah 2 : 1. b. Fobia Sosial Fobia sosial disebut juga gangguan kecemasan sosial yang ditandai dengan ketakutan yang berlebihan terhadap penghinaan dan rasa memalukan di dalam berbagai lingkungan sosial, seperti berbicara di depan publik, buang air kecil di wc umum (“shy bladder”) dan janji kencan. Fobia sosial seringkali sulit dibedakan dengan gangguan kepribadian menghindar. Prevalensi fobia sosial antara 2-3 per 100 orang. Onset terjadinya paling muda 5 tahun dan yang paling lanjut 35 tahun. 2. Etiologi a. Prinsip-prinsip umum - Faktor perilaku Pada tahun 1920, John B Watson menuliskan artikel mengenai penelitiaanya terhadap model stimulus-respon tradisional dari pavlov tentang refleks yang dibiasakan (conditional reflex) dimana kecemasan adalah dibangkitkan stimulus yang secara alami menakutkan yang terjadi dalam hubungan dengan stimulus kedua yang bersifat netral. Apabila kedua stimuli dipasangkan berurutan , maka stimulus yang awalnya netral dapat memiliki kemampuan untuk membangun kecemasan apabila stimukus tersebut dibiasakan secara bertahap. Pada gejala fobik, pelemahan respon terhadap stimulus yang dibiasakan tidak terjadi. Pada teori pembiasaaan perilaku (operant conditioning theory), kecemasan adalah dorongan yang memotivasiorganisme untuk melakukan
  7. 7. apa yang dapat menghilangkan pengaruh yang menyakitkan. Organisme belajar bahwa tindakan tertentu memungkinkan mereka menghindari stimulus yang dapat menimbulkan kecemasan. Model tersebut mudah diterapkan pada fobia dimana penghindaran terhadap objek atau situasi yang menimbulkan kecemasan memegang peranan inti dan hal ini menjadi terfiksasi sebagai gejala yang stabil. Teori belajar memiliki relevansi khusus terhadap fobia dan mampu memberikan penjelasan sederhana serta dapat dimengerti dari berbagai aspek fobia, namun berbagai kritik mengatakan bahwa teori ini sebagian besar menggambarkan mekanisme permulaan gejala dan kurang berguna dibandingkan teori psikoanalitik dalam memberikan pemahaman proses psikis dasar yang terlibat. - Faktor psikoanalitik Sigmund Freud menghipotesiskan bahwa fungsi utama kecemasan adalah sebagai pemberi sinyal kepada ego bahwa suatu dorongan bawah sadar yang dilarang mendorong mendapatkan ekspresi sadar, jadi mengubah ego untuk memperkuat dan menyusun pertahanannya melawan dorongan instingtual yang mengancam. Freud memandang bahwa fobia (histeria kecemasan) sebagai akibat dari konflik yang terpusat pada situasi oedipal masa anak-anak yang tidak terpecahkan. Pada pasien fobik pertahanan yang terlibat terutama menggunakan pengalihan, yaitu konflik seksual dialihkan pada obyek yang tidak relevan dan tidak penting, yang selanjutnya memiliki kekuatan untuk membangkitkan kumpulan afek, termasuk sinyal kecemasan. Objek atau situasi fobik biasanya adalah sesuatu yang dapat dijauhi oleh seseorang. Freud pertama kali merumuskan teoritiknya tentang pembentukan fobia dalam riwayat Little Hans, seorang anak berusia 5 tahun yang memiliki ketakutan terhadap kuda. Pada pengamatan klinik, didapatkan pandangan bahwa kecemasan yang berhubungan dengan fobia memiliki berbagai sumber dan warna. Fobia menggambarkan interaksi antara diatesis genetika-konstitusional dan stressor lingkungan. Dari hasil penelitian longitudinal didapatkan anakanak tertentu memiliki predisposisi konstitusional terhadap fobia karena mereka lahir dengan temperamen tertentu yang dikenal sebagai inhibisi perilaku yang tidak dikenal (behavioral inhibition to the unfamiliar). Tetapi presdiposisi temperamental harus ada untuk menciptakan fobia yang lengkap. Sikap fobik-balik (Counterphobic Attitude). Otto Fenichel menarik perhatian dengan menyatakan bahwa kecemasan dapat disembunyikan dengan pola sikap dan perilaku yang mencerminkan suatu penyangkalan, dimana objek atau situasi yang ditakuti adalah berbahaya atau bahwa seseorang ketakutan terhadapnya. Orang fobik-balik akan mencari-cari situasi yang berbahaya dan melawannya secara entusias. Terlihat pada olahraga yang mungkin berbahaya seperti terjun payung dan mendaki gunung. Pola perilaku tersebut meungkin melibatkan mekanisme pertahanan yang berhubungan yaitu identifikasi dengan agresor b. Fobia Spesifik
  8. 8. Perkembangan fobia spesifik dapat disebabkan dari pemasangan (pairing) objek atau situasi tertentu dengan emosi ketakutan dan panik. Pada umumnya, suatu kecenderungan tidak spesifik untuk mengalami kecemasan dan ketakutan membentuk kelompok latar (backgroup); jika suatu peristiwa spesifik (misalnya mengemudi) dipasangkan dengan pengalaman emosional (misalnya kecelakaan). Mekanisme asosiasi lain antara objek fobik dan emosi fobik adalah modeling, dimana seseorang mengamati reaksi pada orang lain (sebagai contohnya orang tua) dan pengalihan informasi, dimana seseorang diajarkan atau diperingatkan tentang bahaya objek c. Fobia Sosial Sampai sekarang belum ditemukan penyebab yang pasti. Walaupun demikian, penelitian mengenai etiologi banyak dilakukan saat ini. Ada beberapa teori yang mencoba mengungkapkannya, antara lain: Teori psikoanalisa Menurut Freud, fobia sosial atau hysteria-ansietes merupakan manifestasi dari konflik Oedipal yang tidak terselesaikan. Selain adanya dorongan seksual yang kuat untuk melakukan incest, terdapat pula rasa takut terhadap kastrasi. Hal ini menyebabkan terjadinya konflik dan ansietas. Akibatnya, ego berusaha menggunakan mekanisme-pertahanan represi yaitu membuang jauh dari kesadaran. Tatkala represi tidak lagi berhasil, ego berusaha mencari mekanisme pertahanan tarnbahan. Mekanisme pertahanan tambahan adalah displacement. Konflik seksual ditransfer dari orang yang mencetuskan konfilk kepada sesuatu yang sepertinya tidak penting atau objek yang tidak relevan atau situasi yang sakarang mempunyai kekuatan untuk membangkitkan ansietas. Situasi atau obyek yang dipilih atau disimbolkan biasanya berhubungan langsung dengan sumber konflik. Dengan Menghindari objek tersebut pasien dapat lari dari penderitaan ansietas yang serius. Teori genetik Faktor genetik dapat berperanan dalam fobia sosial. Analisa pedigree/silsilah memperlihatkan silsilah pertama dari proband dengan fobia sosial tiga kali beresiko mendapat sosial fobia dibanding kontrol. Namun, gen spesifik belum pernah diisolasi. Perangai anak yang selalu dilarang telah dihubunghubungkan dengan perkembangan fobia sosial dimasa dewasa Teori Neurotransmiter Mekanisme Dopaminergik Dari penelitian didapatkan bahwa fobia sosial berhubungan dengan gangguan pada system dopaminergik. Kadar homovanilic acid (HVA) pada penderita fobia sosial lebih rendah blia dibandingkan dangan penderita panik atau kontrol. Adanya perbaikan gejala fobia sosial dengan pemberian monoamine oxidaseinhibitor (MAOI) menunjukkan bahwa kinerja dopamine terganggu pada fobia sosial.
  9. 9. Mekanisme Serotonergik Pemberian fenilfluramin pada panderita fobia sosial menyebabkan peningkatan kortisol sehingga diperkirakan adanya disregulasi serotonin. Walaupun demikian, pada pemberian methchlorphenylpiperazine (MCPP), suatu serotonin agonis, tidak ditemukan adanya perbedaan respons prolaktin antara pendarita fobia sosial dengan kontrol normal. Begitu pula, pengukuran ikatan platelet (3H)-paroxetine, suatu petanda untuk mangetahui aktivitas serotonin; tidak terlihat adanya perbedaan antara fobia sosial dengan gangguan panik atau kontrol normal. Mekanisme Noradrenergik Penderita fobia sosial sangat sensitif terhadap perubahan kadar epinefrin sehingga dengan cepat terjadi peningkatan denyut jantung, berkeringat dan tremor. Pada orang normal, gejala fisik yang timbul akibat peningkatan epinefrin mereda atau menghilang dengan cepat. Sebaliknya pada penderita fobia sosial tidak terdapat penurunan gejala. Bangkitan gejala fisik yang meningkat semakin mengganggu penampilan di depan umum. Pengalaman ini juga membangkitkan kecamasan pada penampilan berikutnya sehingga mengakibatkan orang tidak berani tampil dan menghindari panampilan selanjutnya Pencitraan Otak Dengan magnetic resonance imaging (MRI) terlihat adanya penurunan volume ganglia basalis pada penderita fobia sosial. Ukuran putamen berkurang pads fobia sosial. 3. Diagnosis a. Fobia Spesifik Kriteria diagnostik untuk Fobia Spesifik : o rasa takut yang jelas dan menetap yang berlebihan atau tidak beralasan, ditunjukkan oleh adanya atau antisipasi suatu objek atau situasi tertentu (misalnya naik pesawat terbang, ketinggian, binatang, dll) o pemaparan dengan stimulus fobik hampir selalu mencetuskan respon kecemasan yang segera, yang dapat berupa serangan panik yang berhubungan dengan situasi atau dipredisposisikan oleh situasi. o orang menyadari bahwa rasa takut adalah berlebihan atau tidak beralasan. o situasi fobik dihindari atau jika tidak dapat dihindari, dihadapi dengan kecemasan atau penderitaan yang kuat. penghindaran, antisipasi kecemasan, atau penderitaan dalam situasi yang ditakuti secara bermakna mengganggu rutinitas normal orang, fungsi pekerjaan atau aktivitas sosial atau hubungan dengan orang lain, atau terdapat penderitaan yang jelas karena menderita fobia. o pada individu dibawah 18 th, durasi sekurangnya 6 bulan.
  10. 10. b. Fobia Sosial Menurut DSM-IV Kriteria A Ketakutan yang jelas dan menetap terhadap satu atau lebih situasi sosial atau tampil didepan orang yang belum dikenal atau situasi yang memungkinkan ia dinilai oleh orang lain atau menjadi pusat perhatian. Ada perasaan takut bahwa ia akan berperilaku memalukan atau menampakkan gejala cemas atau bersikap yang dapat merendahkan dirinya. Kriteria B Apabila pasien terpapar dengan situasi sosial, hampir selalu timbul kecemasan atau bahkan mungkin serangan panik. Kriteria C Pasien menyadari bahwa ketakutannya sangat berlebihan dan tidak masuk akal. Ketakutan tersebut tidak merupakan waham atau paranoid. Kriteria D Pasien menghindar dari situasi sosial atau menghindar untuk tampil di depan umum atau pasien tetap bertahan pada situasi sosial tersebut tetapi dengan perassan sangat cemas atau sangat menderita. Kriteria E Penghindaran dan kecemasan atau penderitaan akibat ketakutan terhadap situasi sosial atau tampil di depan umum tersebut mempengaruhi kehidupan pasien secara bermakna atau mempengaruhi fungsi pekerjaan, aktivitas dan hubungan sosial atau secara subjektif pasien merasa sangat menderita. Kriteria F Untuk yang berusia di bawah 18 tahun, durasi paling sedikit 6 bulan. Kriteria G Ketakutan atau sikap menghindar tersebut tidak disebabkan oleh efek fisiologik zat atau kondisi medik umum atau gangguan mental lain (gangguan panik dengan atau tanpa agoraphobia, gangaguan dismorfik, gangguan perkembangan prevasif, atau dengan gangguan kepribadian skizoid). Kriteria H Bila terdapat kondisi medik umum atau gangguan mental lain, ketakutan pada kriteria A tidak berhubungan dengannya (gagap, Parkinson, atau gangguan perilaku makan seperti bulimia atau anoreksia nervosa) Kriteria A merupakan kunci gejala fobia sosial. Hal yang penting pada kriteria ini yaitu adanya situasi yang dapat membangkitkan fobia yaitu situasi yang dinilai atau diamati oleh orang lain dan juga ketakutan akan memperlihatkan kecemasan atau bertingkah dengan cara yang memalukan. Sedangkan berdasarkan PPDGJ - III diagnosis fobia sosial ditegakkan bardasarkan yaitu Semua kriteria di bawah ini harus dipenuhi untuk diagnosis pasti: gejala psikologis, perilaku atau otonomilk yang timbul harus merupakan manifestasi primer dari anxietasnya dan bukan sekunder dari gejala-gejala lain seperti misalnya waham atau pikiran obsesif; anxietasnya harus mendominasi atau terbatas pada situasi sosial tertentu (outside the family circle); dan menghindari situasi fobik harus atau sudah merupaken gejala yang menonjol
  11. 11. Bila terlalu sulit untuk membedakan antara fobia sosial dengan agorafobia, hendaknya diutamakan diagnosa agorafobia. 4. Gambarang klinis a. Fobia Spesifik Gejala psikologis atau otonomik harus merupakan manifestasi primer dari anxietas, dan bukan sekunder dari gejala2 lain seperti waham atau pikiran obsesif Anxietas harus terbatas adanya objek situasi fobik tertentu Situasi fobik tersebut sedapat mungkin dihindarinya Ketakutan berlebih yang disebabkan oleh benda, atau peristiwa traumatik tertentu, misalnya: ketakutan terhadap kucing (ailurfobia), ketakutan terhadap ketinggian (acrofobia), ketakutan terhadap tempat tertutup (agorafobia), fobia terhadap kancing baju, dsb. b. Fobia Sosial Gejala fobia sosial dapat berupa: 1. Takut berbicara di depan umum 2. Takut makan di restoran 3. Takut menulis di depan umum 4. Takut berbicara dengan orang asing atau orang yang baru dikenal 5. Takut bergabung dengan kelompok sosial 6. Takut berhadapan dengan orang yang memiliki otoritas (kekuasaan, jabatan, pengaruh, dan lain-lain) Fobia sosial biasanya disertai dengan: 1. Harga diri yang rendah 2. Takut dikritik Keluhan yang umum dirasakan penderita bila berhadapan dengan kelompok sosial atau orang banyak: 1. Rasa malu (wajah memerah) 2. Tangan gemetar 3. Mual 4. Ingin buang air kecil 5. Cenderung menghindari keramaian atau kerumunan Pada keadaan yang ekstrim dapat terjadi isolasi sosial total. Perlu diketahui, penderita menyadari bahwa kecemasannya sangatlah berlebihan dan tidak masuk akal. 5. Diagnosis Banding a. Fobia Spesifik Gangguan hipokhondrik F 45.2 Gangguan waham F 22.0 F 40.8 gangguan fobik lainnya F 40.9 Gangguan fobik YTT, termasuk fobia YTT, keadaan Fobik YTT b. Fobia Sosial
  12. 12. Gangguan depresif & agorafobia sering sulit dibedakan dgn fobia sosial. Hendaknya diutamakan Dx agorafobia, depresi jgn ditegakkan kecuali ditemukan sindrom depresif yg lengkap & jelas 6. Perjalanan penyakit dan Prognosis Fobia sosial biasanya mulai pada usia dini sehingga dapat menyebabkan gangguan disemua bidang akademik seperti rendahnya kemampuan sekolah, menghindar dari sekolah, dan sering putus sekolah. Pemilihan karirya sangat terbatea dan ia sering berhenti dari pekerjaan. Fobia sosial cenderung menjadi kronik. Bila tidak diobati depat menjadi komorbiditas dengan gangguan lain seperti depresi, penyalahgunaan alkohol atau obat. Pada penderita agorafobia dan fobia sosial, pemakaian alkohol sering merupakan ussha untuk mengobati diri sendiri. 7. Terapi a. Fobia Spesifik Terapi pemaparan suatu tipe terapi perilaku. Ahli terapi mendesensitisasi pasien, dengan menggunakan pemaparan stimulus fobik yang serial, bertahap, dan dipacu diri sendiri. terapist akan mengajari pasien tentang berbagai tehnik untuk menghapai kecemasan termasuk relaksasi, kontrol pernasafan, dan pendekatan kognitif terhadap gangguan. Pendekatan kognitif adalah termasuk mendorong kenyataan bahwa situasi tersebut pada dasarnya adalah aman. Keberhasilan terapi ini tergantung pada komitemen pasien terhadap pengobatan, masalah dan tujuan yang diindentifikasi dengan jelas, dan strategi alternatif yang tersedia untuk mengatasi perasaan. b. Fobia Sosial Suatu kombinasi farmakoterapi dan psikoterapi pada umumnya diberikan untuk para orang dengan fobia sosial. Farmakoterapi Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIS): SSRIS dengan cepat menjadi first-line pengobatan yang baku untuk fobia sosial. Paroxetine menerima pengakuan badan Makanan Dan Administrasi Obat/Racun (FDA) untuk indikasi ini pada tahun 1999 dan SSRI yang pertama memperolehnya. Penelitian menyatakan bahwa SSRIS juga mungkin efektif. Benzodiazepines: Benzodiazepine mungkin efektif untuk fobia sosial, tetapi memiliki profil keselamatan lebih sedikit. Alprazolam Dan Clonazepam telah digunakan dengan sukses. Buspirone: Beberapa studi menyarankan kemanjuran pada penderita fobia sosial. Propranolol: Beta-Blockers telah digunakan untuk blok autonomik terhadap tanggapan dengan fobi sosial. Pencegahan gejala seperti gemetaran peningkatan detak jantung mendorong kearah sukses didalam menghadapi situasi sosial.
  13. 13. Monoamine oxidase inhibitors( MAOIS): Phenelzine telah dipertunjukkan untuk bisa efektif didalam studi. Pembatasan yang berkenaan diet makan mengurangi ketenaran mereka. Moclobemide, suatu MAOI lebih baru, pasti mempunyai kemanjuran dengan fobi sosial. Psikoterapi Tingkah laku Psikoterapi tingkah laku, seperti desensitisasi berangsur-angsur, mungkin bermanfaat terhadap fobi sosial. Teknik ini melibatkan secara berangsur-angsur pasien untuk berada situasi pada situasi yang secara normal menyebabkan kecemasan. Dengan penguasaan situasi tanpa kecemasan , pasien secepatnya mampu mentolelir situasi yang yang sebelumnya membuat cemas. Kognitif Terapi berorientasi pada pengertian yang mendalam sudah membuktikan bermanfaat fobi sosial. Individu dengan fobi sosial sering mempunyai penyimpangan kognitif penting berhubungan dengan orang lain. Gangguan Obsesif – Kompulsif Gangguan obsesif kompulsif adalah suatu contoh dari efek positif dimanapenelitian modern telah menemukan gangguan di dalam waktu singkat. Suatuobsesi adalah pikiran, perasaan, idea tau sensasi yang mengganggu (intrusive).Suatu kompulsif adalah pikiran atau perilaku yang disadari, dibakukan, dan rekuren, seperti menghitung, memeriksa atau menghindari. Obsesi meningkatkan kecemasan seseorang, sedangkan melakukan kompulsi menurunkan kecemasan seseorang. Tetapi jika seseorang memaksa melakukan suatu kompulsi, kecemasan adalah meningkat. Seorang dengan gangguan obsesif kompulsif biasanya menyadari irasionalitas dari obsesi dan merasakan bahwa obsesi dan kompulsisebagai ego-distonik. Gangguan obsesif kompulsif dapat merupakan gangguan yang menyebabkan ketidakberdayaan, karena obsesi dapat menghabiskan waktudan dapat mengganggu secara bermakna pada rutinitas normal seseorang, fungsipekerjaan, aktivitas social yang biasanya, atau hubungan dengan teman dananggota keluarga. 1. Epidemiologi Prevalensi seumur hidup gangguan obsesif kompulsif pada populasi umum diperkirakan adalah 2 sampai 3 persen. Beberapa peneliti telah memperkirakan bahwa gangguan obsesif kompulsif ditemukan pada sebanyak 10persen pasien rawat jalan di klinik psikiatri. Angka tersebut menyebabkan gangguan obsesif kompulsif sebagai diagnosis psikiatri tersering yang keempatsetelah fobia, gangguan berhubungan zat, dan gangguan depresi berat. Untuk orang dewasa laki-laki dan wanita sama mungkin terkena, tetapi untuk remaja laki-laki lebih sering terkena gangguan obsesif kompulsifdibandingkan
  14. 14. perempuan. Usia onset rata-rata adalah umur 20 tahun, walaupun laki-laki memiliki onset usia yang lebih awal (sekitar 19 tahun) dibandingkanwanita (rata-rata 22 tahun). Secara keseluruhan kira-kira dua per tiga dari pasien memiliki onset gejala sebelum usia 25 tahun, dan kurang dari 15 persen pasienmemiliki onset gejala setelah 35 tahun. Gangguan obsesif kompulsif dapat memiliki onset pada masa remaja atau masa kanak-kanak, pada beberapa kasusdapat pada usia 2 tahun. Orang yang hidup sendirian lebih banyak terkena gangguan obsesif kompulsif dibandingkan orang yang menikah, walaupun temuantersebut kemungkinan mencerminkan kesulitan yang dimiliki pasien dengangangguan obsesif kompulsif dalam mempertahankan suatu hubungan. Gangguan obsesif kompulsif ditemukan lebih jarang diantara golongan kulit hitam dibandingkan kulit putih. 2. Etiologi 1. Faktor biologis Neurotransmiter. Banyak uji coba klinis yang telah dilakukan terhadap berbagai obat mendukung hipotesis bahwa suatu disregulasi serotonin terlibat di dalam pembentukan gejala obsesi dan kompulsi dari gangguan. Obat serotonergik lebih efektif dibandingkan obat yang mempengaruhi sistem neurotransmitter lain. Serotonin terlibat di dalam penyebab gangguan obsesif kompulsif adalah tidak jelas. Penelitian klinis telah mengukur konsentrasi metabolit serotonin (5-hydroxyindoleacetic acid/ 5-HIAA) di dalam cairan serebrospinalis, dan afinitas sertai jumlah tempat ikatan trombosit pada pemberian imipramine (yang berikatan dengan tempat ambilan kembali serotonin) dan telah melaporkan berbagai temuan pengukuran tersebut pada pasien dengan gangguan obsesif kmpulsif. Beberapa peneliti mengatakan bahwa system neurotransmitter konergik dan dopaminergik pada pasien dengan gangguan obsesif kompulsif adalah dua bidang penelitian riset untuk masa depan. Penelitian pencitraan otak. Penelitian pencitraan otak fungsional (positron emission tomoghrapy/PET) telah menemukan peningkatan aktivitas (metabolisme dan aliran darah) di lobus frontalis, ganglia basalis (khususnya kauda) dan singulum pada pasien dengan gangguan obsesif kompulsif. Terapi farmakologis dan perilaku telah dilaporkan membalikkan kelainan tersebut. Baik CT maupun MRI telah menemukan adanya penurunan ukuran kaudata secara bilateral pada pasien dengan gangguan obsesif kompulsif. Prosedur neurologis yang melibatkan singulum kadangkadang efektif dalam pengobatan pasien dengan gangguan obsesif kompulsif. Suatu penelitian MRI baru-baru ini melaporkan peningkatan waktu relaksasi T1 di korteks frontalis, suatu temuan yang konsisten dengan lokasi kelainan yang ditemukan pada penelitian PET. Genetika. Penelitian kesesuaian pada anak kembar untuk gangguan obsesif kompulsif menemukan adanya angka kesesuaian yang lebih tinggi secara bermakna pada kembar monozigot dibandingkan kembar dizigot. Penelitian keluarga pada pasien gangguan obsesif kompulsif telah menemukan bahwa 35 persen sanak saudara derajat pertama pasien gangguan obsesif kompulsif juga menderita gangguan. Data biologis lainnya. Penelitian elektrofisiologis, penelitian EEG tidur, dan penelitian neuroendokrin telah menyumbang data yang menyatakan adanya kesamaan antara gangguan depresi dengan gangguan obsesif kompulsif penelitian EEG tidur telah menemukan kelainan yang mirip dengan yang terlihat pada gangguan depresif, seperti penurunan latensi REM (rapid eye movement). Penelitian neuroendokrin seperti nonsupresi pada dexamethason-supression test pada kira-kira sepertiga pasien dan penurunan sekresi hormone pertumbuhan pada infus clonidine. 2. Faktor perilaku
  15. 15. Menurut ahli teori belajar, obsesi adalah stimuli yang dibiasakan. Stimulus yang relative netral menjadi disertai dengan ketakutan atau kecemasan melalui proses pembiasaan responden dengan memasangkannya dengan peristiwa yang secara alami adalah berbahaya dan menghasilkan kecemasan. Objek dan pikiran yang sebelumnya netral menjadi stimuli yang terbiasakan yang mampu menimbulkan kecemasan atau gangguan. Kompulsi dicapai dalam cara yang berbeda. Seseorang menemukan bahwa tindakan tertentu menurunkan kecemasan yang berkaitan dengan pikiran obsesional. Jadi strategi menghindar yang aktif dalam bentuk perilaku kompulsi atau ritualistic dikembangkan untuk mengendalikan kecemasan. Karena manfaat perilaku tersebut dalam menurunkan dorongan sekunder yang menyakitkan (kecemasan), stretegi menghindar menjadi terfiksasi sebagai pola perilaku kompulsi yang dipelajari. Teori belajar memberikan konsep yang berguna untuk menjelaskan aspek tertentu dari fenomena obsesif-kompulsif (sebagai contoh kemampuan gagasan untuk menimbulkan kecemasan adalah tidak selalu menakutkan bagi dirinya sendiri dan menegakkan pola perilaku kompulsif. 3. Faktor psikososial Faktor kepribadian. Gangguan obsesif kompulsif adalah berbeda dari gangguan kepribadian obsesif-kompulsif. Sebagian besar pasien gangguan obsesif kompulsif tidak memiliki gejala kompulsif pramorbid. Dengan demikian sifat kepribadian tersebut tidak diperlukan atau tidak cukup untuk perkembangan gangguan obsesif kompulsif. Hanya kira-kira 15-35 persen pasien gangguan obsesif kompulsif memiliki sifat obsesional pramorbid. Factor psikodinamika. Sigmund Freud menjelaskan tiga mekanisme pertahanan psikologis utama yang menentukan bentuk dan kualitas gejala dan sifat karakter obsesif kompulsif; isolasi, meruntuhkan dan pembentukan reaksi. Isolasi. Isolasi adalah mekanisme pertahanan yang melindungi seseorang dari afek dan impuls yang mencetuskan kecemasan. Kondisi pada seseorang yang mangalami secara sadar afek dan khayalan dari suatu gagasan yang mengandung emosi, terlepas apakah ini berupa fantasi atau ingatan terhadap suatu peristiwa. Jika terjadi isolasi, afek dan impuls yang didapatkan darinya adalah dipisahkan dari komponen ideasional dan dikeluarkan dari kesadaran. Jika isolasi berhasil sepenuhnya, impuls dan afek yang terkait seluruhnya terepresi, dan pasien secara sadar hanya menyadari gagasan yang tidak memiliki afek yang berhubungan dengannya. Meruntuhkan (undoing). Karena adanya ancaman terus-menerus bahwa impuls mungkin dapat lolos dari mekanisme primer isolasi dan menjdi bebas, operasi pertahanan sekunder adalah diperlukan untuk melawan impuls dan menenangkan kecemasan yang mengancan keluar ke kesadaran. Tindakan kompulsif menyumbangkan manifestasi permukaan operasi defensif yang ditujukan untuk menurunkan kecemasan dan mengendalikan impuls dasar yang belum diatasi secara memadai oleh isolasi. Operasi pertahanan sekunder yang cukup penting adalahmekanisme meruntuhkan (undoing). Seperti yang dinyatakan oleh katanya, meruntuhkan adalah suatu tindakan kompulsif yang dilakukan dalamusaha untuk mencegah atau meruntuhkan akibat yang secara irasional akandialami pasien akibat pikiran atau impuls obsesional yang menakutkan. Pembentukan reaksi (reaction formation). Baik isolasi maupunmeruntuhkan adalah tindakan pertahanan yang terlibat erat dalammenghasilkan gejala klinis. Pembentukan gejala menyebabkanpembentukan sifat karakter, bukannya gejala. Pembentukan reaksimelibatkan pola perilaku yang bermanifestasi dan sikap yang secara sadardialami yang jelas berlawanan dengan impuls dasar.
  16. 16. Faktor psikodinamika lainnya. Pada teori psikoanalitik klasik,gangguan obsesif kompulsif dinamakan neurosis obsesif kompulsif danmerupakan suatu regresi dari fase perkembangan oedipal ke fasepsikoseksual anal. Jika pasien dengan gangguan obsesif kompulsif merasa terancam oleh kecemasan tentang pembalasan dendam atau kehilanganobjek cinta yang penting, mereka mundur dari posisi oedipal dan beregresike stadium emosional yang sangat ambivalen yang berhubungan denganfase anal. Ambivalensi adalah dihubungkan dengan menyelesaikan fusi yang halus antara dorongan seksual dan agresif yang karakteristik dari faseoedipal. Adanya benci dan cinta secara bersama-sama kepada orang yang sama menyebabkan pasien dilumpuhkan oleh keraguraguan dankebimbangan. Suatu cirri yang melekat pada pasien dengan gangguan obsesif kompulsif adalah derajat dimana mereka terpaku dengan agresi ataukebersihan, baik secara jelas dalam isi gejala mereka atau dalam hubunganyang terletak dibelakangnya.dengan demikian, psikogenesis gangguanobsesif kompulsif mungkin terletak pada gangguan dan perkembanganpertumbuhan normal yang berhubungan dengan fase perkembangan analsadistik.Ambivalensi. Ambivalensi adalah akibat langsung dari perubahan dalam karakteristikkehidupan impuls. Hal ini adalah ciri yang penting pada anak normal selama fase perkembangan anal-sadistik; yaitu anak merasakan cinta dan kebencian kepada suatu objek. Konflik emosi yang berlawanan tersebut mungkin ditemukan pada pola perilaku melakukantidak melakukan pada seorang pasien dan keragu-raguan yang melumpuhkan dalam berhadapan dengan pilihan. Pikiran magis. Pikiran magis adalah regresi yang mengungkapkan cara pikiran awal, ketimbang impuls; yaitu fungsi ego dan juga fungsi id, dipengaruhi oleh regresi. Yang melekat pada pikiran magis adalah pikiran kemahakuasaan. Orang merasa bahwa mereka dapat menyebabkan peristiwa di dunia luar terjadi tanpa tindakan fisik yang menyebabkannya, semata-mata hanya dengan berpikir tentang peristiwa tersebut. Perasaantersebut menyebabkan memiliki suatu pikiran agresif akan manakutkanbagi pasien gangguan obsesif kompulsif. 3. Diagnosis Walaupun kriteria diagnosis untuk gangguan obsesif kompulsif di dalamdiagnostic and statistic manual of mental disorder edisi ketiga yang direvisi(DSM-III-R) banyak yang dipertahankan di dalam edisi keempatnya (DSM-IV),telah dibuat modifikasi penting di dalam definisi DSM-IV tentang obsesi dankompulsi. DSM-IV memperkenalkan pengamatan klinis bahwa pikiran (yaitu tindakan mental) dapat merupakan obsesi atau kompulsi, tergantung pada apakahia menyebabkan peningkatan kecemasan (obsesi) atau menurunkan kecemasan(kompulsi). DSM-IV juga memperbaharui definisi obsesi untuk menghindari istilah “ego-distonik” di dalam edisi ketiganya dan kata tanpa perasaan (senseless)di dalam edisi ketiga yang direvisi, keduanya memiliki arti yang kurang jelas dansulit untuk operasinalisasi. Kriteria diagnostik untuk gangguan obsesif kompulsif A. Salah satu obsesi atau kompulsi: 1. Pikiran, impuls atau bayangan-bayangan yang rekuren dan persisten yang dialami, pada suatu saat selama gangguan, sebagai intrusive dan tidak sesuai, dan menyebabkan kecemasan dan penderitaan yang jelas. 2. Pikiran, impuls atau bayangan-bayangan tidak semata-mata kekhawatiran yang berlebihan tentang masalah kehidupan yang nyata. 3. Orang berusaha atau mengabaikan atau menekan pikiran, impuls atau bayanganbayangan tersebut untuk menetralkannya dengan pikiran atau tindakan lain.
  17. 17. 4. Orang menyadari bahwa pikiran, impuls atau bayangan-bayangan obsesional adalah keluar dari pikirannya sendiri (tidak disebabkan dari luar seperti penyisipan pikiran). B. Pada suatu waktu selama perjalanan gangguan, orang telah menyadari bahwa obsesi atau kompulsi adalah berlebihan atau tidak beralasan. Catatan: ini tidak berlaku pada anak-anak. C. Obsesi atau kompulsi menyebabkan penderitaan yang jelas; menghabiskan waktu; atau secara bermakna mengganggu rutinitas normal orang, fungsi pekerjaan, atau aktivitas atau hubungan social yang biasanya. D. Jika terdapat gangguan aksis I lainnya, isi obsesi atau kompulsi tidak terbatas padanya (misalnya preokupasi dengan makanan jika terdapat gangguan makan; menarik rambut jika teradapat trikotilomania; permasalahan pada penampilan jika terdapat gangguan dismorfik tubuh; preokupasi dengan obat jika terdapat suatu gangguan penggunaan zat; preokupasi dengan menderita suatu penyakit serius jika terdapat hipokondriasis; preokupasi dengan dorongan atau fantasi seksual jika tedapat parafilia; atau perenungan bersalah jika terdapat gangguan depresif berat). E. Tidak disebabkan oleh efek langsung suatu zat (misalnya obat yang disalahgunakan, medikasi) atau kondisi medis umum. Sebutkan jika: dengan tilikan buruk: jika selama sebagian besar waktu selama episode terakhir, orang tidak menyadari bahwa obsesi dan kompulsi adalah berlebihan atau tidak beralasan. 4. Gambaran klinis Gejala mungkin bertumpang tindih dan berubah sesuai dengan berjalannya waktu. Gangguan ini memiliki 4 pola gejala utama, yaitu obsesi terhadap kontaminasi, obsesi keragu-raguan diikuti pengecekan yang kompulsi, pikiran obsesional yang mengganggu dan kebutuhan terhadap simetrisitas atau ketepatan. Gejala-gejala obsesi harus mencakup hal-hal berikut: a) Harus disadari sebagai pikiran atau impuls diri sendiri b) Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan,meskipun adalainnya yang tidak lagidilawan oleh pasien c) Pikiran untuk melakukan trindakan tersebut diatas bukan merupakan halyang member kepuasan atau kesenangan d) Gagasan, bayangan pikiran, atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan. Ada kaitan erat antara gejala obsesi, terutama pikiran obsesi, dengan depresi. Pasien dengan obsesi kompulsi seringkali menunjukkan gejala depresi dan sebaliknya pasien gangguan depresi berulang dapat menunjukkan pikiran-pikiranobsesi selama episode depresinya. Gejala obsesi sekunder yang terjadi pada gangguan skizofre nia, sindrom tourette atau gangguan mental organik, harus di anggap sebagai bagian dari kondisi tersebut. 5. Diagnosis Banding Ritual-ritual yang sesuai dgn perkembangan anak dalam bermain dan berperilaku. • Ggn Cemas Menyeluruh • Tic disorders (mis: Taurret’ssyndrome) • Ggn Psikotik 6. Perjalanan Penyakit dan Prognosis
  18. 18. Sebagian besar gejala muncul secara tiba-tiba, terutama setelah suatu peristiwayang menyebabkan stress, seperti kehamilan, maslah seksual, atau kematian salahseorang sanak saudara. Perjalanan penyakit biasanya lama dan bervariasi, beberapa berfluktuasi namun ada pula yang konstan. Prognosis buruk bila pasien mengarah pada kompulsi, berawal pada masa anakanak, kompulsi yang aneh, perlu perawatan dirumah sakit, gangguan depresi berat yang menyertai, kepercayaan waham, adanya gagasan yang terlalu dipegang, dan adanya gangguan kepribadian.Prognosis baik ditandai oleh penyesuaian sosial dan pekerjaan yang baik, adanya peristiwa pencetus, dan sifat gejala episodik. 7. Terapi Penatalaksanaan meliputi farmakoterapi dan psikoterapi. Pengobatan farmakoterapi standar adalah dengan obat spesifik serotonin seperti klomipramin atau penghambat ambilan kembali serotonin spesifik(SSRI) sepertifluoksetin. Bila terapi gagal, terapi dapat diperkuat dengan menambahkan litium atau penghambat monoamine oksidase(MAOI) khususnya fenelzin Psikoterapi meliputi terapi perilakudengan desentisisasi dan terapi keluarga bila terdapat faktor disharmoni keluarga yang mempengaruhi timbulnya gangguantersebut. www.scribd.com/doc/67656998/Gangguan-Neurotik

×