UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN SISWA MENEMUKAN GAGASANUTAMA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE CIRC PADA         SISW...
BAB I                               PENDAHULUANA. Latar Belakang           Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia ada empat k...
Berdasarkan    uraian     diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan    penelitian dengan judul “Upaya Meningkatkan Ke...
1. Bagi Siswa   Menumbuhkan minat dan semangat siswa dalam membaca2. Bagi Guru   Sebagai bahan acuan guru dalam memilih mo...
BAB II                                   KAJIAN PUSTAKA  A. Gagasan Utama             Gagasan utama atau dalam bahasa ingg...
silih asah sehingga sumber belajar bagi siswa bukan hanya guru dan buku ajar tetapi   juga sesama siswa.          Manusia ...
guru, tetapi juga dengan sesama siswa. Interaksi semacam itu memungkinkan para      siswa dapat saling menjadi sumber bela...
analisis konsep. Tujuan keterampilan bekerja sama meliputi keterampilan   memimpin, berkomunikasi, mempercayai orang lain,...
ajar hendaknya dibagikan kepada semua siswa agar mereka dapat berpartisipasi   dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang t...
b. Menjelaskan tujuan belajar dan mengaitkannya dengan pengalaman siswa di       masa lampau.   c. Menjelaskan berbagai ko...
membantu kelompok-kelompok lain yang belum selesai. Upaya semacam ini   memungkinkan terciptanya suasana kehidupan kelas y...
anggota kelompok hendaknya juga diminta untuk memberikan umpan balik                 mengenai kualitas pekerjaan dan hasil...
3)    Student creative, melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan situasi     dimana keberhasilan individ...
5.    Guru memberikan penguatan6.    Guru dan siswa bersama-sama membuat kesimpulan7.    Penutup.        Dari setiap fase ...
Jumlah kelompok ditentukan dengan memperhatikan banyak anggota setiap kelompok     dan jumlah siswa yang ada di kelas ters...
perbedaan,     memanfaatkan             kelebihan,     dan        mengisi       kekurangan         masingmasing.     Jadi,...
b)     Tidak semua siswa bisa mengerjakan soal dengan teliti.E.    Penerapan Model Pembelajaran CIRC       Penerapan model...
Hipotesis Tindakan      Jika siswa kelas V SDN Gulun 1 Maospati Magetan dibelajarkan menemukan       gagasan utama melalu...
BAB III                                METODE PENELITIANA. Bentuk Penelitian Tindakan          Penelitian   ini     merupa...
kemudian siswa menentukan gagasan utamanya. Siswa juga dilatihkan menulis           paragraf dan artikel berdasarkan ide p...
Siklus 21. Perencanaan (planning)           Pada tahap ini peneliti menyususn perlengkapan-perlengkapan pembelajaran     y...
1.        Kerjasama siswa                  Diamati ketika siswa melakukan diskusi                                         ...
Waktu penelitian     adalah   waktu berlangsungnya penelitian      atau saat      penelitian ini dilangsungkan. Penelitian...
D.Instrumen Penelitian         Instrumen    yang    digunakan     untuk   mengobservasi      proses   pembelajaran  menggu...
DAFTAR PUSTAKAAli, Muhammad. 1996. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru      Algesindon.Arikunto, Suhar...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Bab 1

3,045 views

Published on

1 Comment
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
3,045
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
127
Comments
1
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Bab 1

  1. 1. UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN SISWA MENEMUKAN GAGASANUTAMA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE CIRC PADA SISWA KELAS V SDN GULUN 1 MAOSPATI MAGETAN Proposal Disusun Oleh: Dwi Fatmawati 09141054 VII B / PGSD PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN IKIP PGRI MADIUN 2012
  2. 2. BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia ada empat ketrampilan berbahasa yang harus dikuasai siswa yaitu ketrampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Kemampuan membaca merupakan ketrampilan dasar bagi siswa, yang harus dikuasai agar mereka dapat mengikuti seluruh proses pembelajaran. Salah satu kompetensi dasar yang harus dicapai peserta didik tingkat SD kelas V adalah “Menemukan gagasan utama suatu teks yang dibaca dengan kecepatan 75 kata/menit”. Kenyataan di lapangan ternyata kemampuan menemukan gagasan bagi sebagian besar siswa masih merupakan kegiatan yang tergolong sulit. Hal ini disebabkan karena siswa kurang berminat membaca teks secara cermat sehingga berdampak pada hasil tes membaca yang sangat rendah. Disamping itu, dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SD masih berpusat kepada guru dan masih menggunakan model pembelajaran konvensional. Hal tersebut menyebabkan siswa masih terlihat pasif dan merasa cepat bosan dalam proses belajar sehingga tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai dengan baik. Menyikapi permasalahan tersebut, penulis berupaya mencari titik permasalahan tersebut salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif (cooperatif learning) tipe Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC). Pembelajaran CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara kooperatif-kelompok. Dalam CIRC siswa dituntut untuk menguasai pikiran utama dari suatu wacana dan kemampuan membaca dan menulis lainnya secara bersama-sama. Siswa dibagi kelompok oleh guru, kemudian menyelesaikan masalah yang terdapat dari bacaan tersebut secara bersama-sama. Dengan menggunakan pembelajaran CIRC siswa dapat latihan membaca, menemukan gagasan utama, menuliskan kembali isi cerita dan memberikan tanggapan terhadap isi bacaan yang telah dibaca secara berkelompok sehingga dapat meningkatkan cara siswa berpikir kritis, kreatif dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi sesama teman. Dengan menggunakan model pembelajaran tipe CIRC diharapkan dapat meningkatkan minat baca.
  3. 3. Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Upaya Meningkatkan Kemampuan Siswa Menemukan Gagasan Utama Melalui Model Pembelajaran Kooperatif tipe CIRC untuk Siswa Kelas V SDN Gulun 1 Maospati Magetan”B. Fokus Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC untuk meningkatkan kemampuan menemukan gagasan utama kelas V SDN Gulun 1 Maospati Magetan? 2. Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC dapat meningkatkan kemampuan menemukan gagasan utama siswa kelas V SDN Gulun 1 Maospati Magetan?C. Pemecahan Masalah Dalam menyikapi permasalahan tersebut diambil suatu tindakan dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe CIRC pada mata pelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas V SDN Gulun 1 kecamatan Maospati Magetan. Indikator yang diharapkan dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe CIRC dapat meningkatkan kemampuan menemukan gagasan utama pada mata pelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas V SDN Gulun 1 kecamatan Maospati Magetan.D. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini khususnya adalah : 1. Untuk mengetahui bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC untuk meningkatkan kemampuan menemukan gagasan utama kelas V SDN Gulun 1 Maospati Magetan? 2. Untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC dapat meningkatkan kemampuan menemukan gagasan utama siswa kelas V SDN Gulun 1 Maospati Magetan?E. Manfaat Penelitian Dari hasil penelitian ini diharapkan agar dapat bermanfaat bagi :
  4. 4. 1. Bagi Siswa Menumbuhkan minat dan semangat siswa dalam membaca2. Bagi Guru Sebagai bahan acuan guru dalam memilih model pembelajaran dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa3. Bagi Kepala Sekolah Untuk meningkatkan mutu pendidikan dan kualitas pembelajaran di sekolah4. Bagi Peneliti Untuk menambah wawasan dan pengetahuan terkait dengan model pembelajaran CIRC terhadap kemampuan menemukan gagasan utama
  5. 5. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Gagasan Utama Gagasan utama atau dalam bahasa inggris “main idea” secara sederhana dapat diartikan sebagai inti dari kalimat utama. Pengertian ini merupakan hasil pendekatan dari aplikasinya, bukan pada proses kreatif kepenulisan. Karena pada dasarnya, gagasan utama akan secara paksa atau alami tertuang secara jelas dalam kalimat utama.Pada contoh paragraf di atas, gagasan utamanya adalah “bahwa tanda-tanda infeksi bisa ditemukan sendiri dengan mengamati kulit anak dari dekat.”Gagasan utama bersifat abstrak. Artinya, gagasan utama tidak melulu tertuang secara konkret dalam sebuah paragraf. Gagasan utama ini akan tertuang dalam bentuk kalimat utama. Sementara kalimat bisa beragam bentuk dan sudut pandangnya. Dari uraian di atas, kita akan dengan mudah menemukan gagasan utama sebuah paragraf ketika kalimat utama sudah ditemukan. Begitu juga sebaliknya, kalimat utama akan mudah ditemukan, ketika gagasan utama sudah bisa ditangkap. Namun, karena kalimat utama lebih bersifat aplikatif, maka, akan lebih objektif jika pencarian kalimat utama didahulukan daripada gagasan utama.Pemahaman terhadap dua hal di atas hanya mungkin didapat melalui proses latihan yang terus menerus. Dalam proses pembelajaran di sekolah hendaknya siswa diarahkan untuk terus berlatih menemukan dua hal tersebut dalam satu atau tiga wacana penuh. Wacana bisa diambil dari surat kabar terpercaya atau media lainnya.B. Pengajaran Kooperatif Pengajaran kooperatif (Cooperatif Learning) memerlukan pendekatan pengajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar (Houlobec, 2001). 1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Manusia memiliki derajat potensi, latar belakang histories, serta harapan masa depan yang berbeda-beda. Karena adanya perbedaan, manusia dapat silih asah (saling mencerdaskan). Pembelajaran kooperatif secara sadar menciptakan interaksi yang
  6. 6. silih asah sehingga sumber belajar bagi siswa bukan hanya guru dan buku ajar tetapi juga sesama siswa. Manusia adalah makhluk individual, berbeda satu dengan sama lain. Karena sifatnya yang individual maka manusia yang satu membutuhkan manusia lainnya sehingga sebagai konsekuensi logisnya manusia harus menjadi makhluk sosial, makhluk yang berinteraksi dengan sesamanya. Karena satu sama lain saling membutuhkan maka harus ada interaksi yang silih asih (saling menyayangi atau saling mencintai). Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang secara sadar dan sengaja menciptakan interaksi yang saling mengasihi antar sesama siswa. Dengan ringkas Abdurrahman dan Bintoro (200: 78) mengatakan bahwa “pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih, dan silih asuh antar sesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata”.2. Unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Adapun berbagai elemen dalam pembelajaran kooperatif adalah adanya: “(1) saling ketergantungan positif; (2) interaksi tatap muka; (3) akuntabilitas individual, dan (4) keterampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi atau keterampilan sosial yang secara sengaja diajarkan” (Abdurrahman & Bintoro, 2000:78-79) a. Saling ketergantungan positif Dalam pembelajaran kooperatif, guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan. Hubungan yang saling membutuhan inilah yang dimaksud dengan saling memberikan motivasi ntuk meraih hasil belajar yang optimal. Saling ketergantungan tersebut dapat dicapai melalui: (a) saling ketergantungan pencapaian tujuan, (b) saling ketergantungan dalam menyelesaikan tugas, (c) saling ketergantungan bahan atau sumber, (d) saling ketergantungan peran, dan (e) saling ketergantungan hadiah. b. Interaksi tatap muka Interaksi tatap muka menuntut para siswa dalam kelompok dapat saling bertatap muka sehingga mereka dapat melakukan dialog, tidak hanya dengan
  7. 7. guru, tetapi juga dengan sesama siswa. Interaksi semacam itu memungkinkan para siswa dapat saling menjadi sumber belajar sehingga sumber belajar lebih bervariasi. Interaksi semacam itu sangat penting karena ada siswa yang merasa lebih mudah belajar dari sesamanya. c. Akuntabilitas individual Pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok. Meskipun demikian, penilaian ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran secara individual. Hasil penilaian secara individual tersebut selanjutnya disampaikan oleh guru kepada kelompok agar semua anggota kelompok mengetahui siapa anggota kelompok mengetahui siapa anggota yang memerluan bantuan dan siapa anggota kelompok yang dapat memberikan bantuan. Nilai kelompok didasarkan atas rata-rata hasil belajar semua anggotanya, dan karena itu tiap anggota kelompok harus memberikan urunan demi kemajuan kelompok. Penilaian kelompok secara individual inilah yang dimaksudkan dengan akuntabilitas individual. d. Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi Dalam pembelajaran kooperatif keterampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan bukan mengkritifk teman, berani mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi orang lain, mandiri, dan berbagai sifat lain yang bermanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi (interpersonal relationship) tidak hanya diasumsikan tetapi secara sengaja diajarkan. Siswa yang tidak dapat menjalin hubungan antar pribadi tidak hanya memperoleh teguran dari guru tetapi juga dari sesama siswa.3. Peran Guru dalam Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif menuntut guru untuk berperan relatif berbeda dari pembelajaran tradisional. Berbagai peran guru dalam pembelajaran kooperatif tersebut dapat dikemukan sebagai berikut ini. 1. Merumuskan tujuan pembelajaran. Ada dua tujuan pembelajaran yang perlu diperhatikan oleh guru, tujaun akademik (academic objectives) dan tujuan keterampilan bekerja sama (collaborative skill objectives). Tujuan akademik dirumuskan sesuai dengan taraf perkembangan siswa dan analisis tugas atau
  8. 8. analisis konsep. Tujuan keterampilan bekerja sama meliputi keterampilan memimpin, berkomunikasi, mempercayai orang lain, dan mengelola konflik.2. Menentukan jumlah anggota dalam kelompok belajar. Jumlah anggota dalam tiap kelompok belajar tidak boleh terlalu besar, biasanya 2 hingga 6 siswa. Ada 3 faktor yang menentukan jumlah anggota tiap kelompok belajar. Ketiga faktor tersebut adalah: (1) taraf kemampuan siswa, (2) ketersediaan bahan, dan (3) ketersediaan waktu. Jumlah anggota kelompok belajar hendaknya kecil agar tiap siswa aktif menjalin kerjasama menyelesaikan tugas. Ada 4 pertanyaan yang hendaknya dijawab oleh guru saat akan menempatkan siswa dalam kelompok. Keempat pertanyaan tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut: a. Pengelompokkan siswa secara homogen atau heterogen? Pengelompokkan siswa hendaknya heterogen. Keheterogenan kelompok mencakup jenis kelamin, ras, agama, (kalau mungkin), tingkat kemampuan (tinggi, sedang, rendah), dan sebagainya. b. Bagimana menempatkan siswa dalam kelompok? Ada dua jenis kelompok belajar kooperatif, yaitu (1) yang berorientasi bukan pada tugas (non-task- orientied), dan (2) yang berorientasi pada tugas (task oriented). Kelompok belajar kooperatif yang berorientasi bukan pada tugas tidak menuntut adanya pembagian tugas untuk tiap anggota kelompok. Kelompok belajar semacam ini tampak seperti pada saat siswa mengerjakan soal-soal Bahasa Indonesia berbentuk prosedur penyelesaian dan mencocokkan pendapatnya. Siswa bebas memilih teman atau ditentukan oleh guru. Kebebasan memilih teman sering menyebabkan kelompok belajar menjadi homogen sehingga tujuan belajar kooperatif tidak tercapai. Anggota tiap kelompok belajar hendaknya ditentukan secara acak oleh guru.3. Menetukan tempat duduk siswa. Tempat duduk siswa hendaknya disusun agar tiap kelompok dapat saling bertatap muka tetapi cukup terpisah antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya. Susunan tempat duduk dapat dalam bentuk lingkaran atau berhadap-hadapan.4. Merancang bahan untuk meningkatkan saling ketergantungan positif. Cara menyusun bahan ajar dan penggunaannya dalam suatu kegiatan pembelajaran dapat menetukan tidak hanya efektivitas pencapaian tujuan belajar siswa. Bahan
  9. 9. ajar hendaknya dibagikan kepada semua siswa agar mereka dapat berpartisipasi dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Jika kelompok belajar telah memiliki cukup pengalaman, guru tidak perlu membagikan bahan ajar dengan berbagai petunjuk khusus. Jika kelompok belajar belum banyak pengalaman atau masih baru, guru perlu memberi tahu para siswa bahwa mereka harus bekerja sama, bukan bekerja sendiri-sendiri. Ada 3 macam cara untuk meningkatkan saling ketergantungan positif. Ketiga macam cara tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut. a. Saling ketergantungan bahan. Tiap kelompok hanya diberi satu bahan ajar dan kelompok harus bekerja sama untuk mempelajarinya. b. Saling ketergantungan informasi. Tiap anggota kelompok diberi bahan ajar yang berbeda untuk selanjutnya disatukan untuk disintesiskan. Bahan ajar juga dapat disajikan dalam bentuk “Jigsaw Puzzle” sehingga dengan demikian tiap siswa memiliki bagian dari bahan yang diperlukan untuk melengkapi atau menyelesaikan tugas. c. Saling ketergantungan menghadapi lawan dari luar. Bahan ajar disusun dalam suatu bentuk pertandingan antar kelompok yang memiliki kekuatan keseimbangan sebagai dasar untuk meningkatkan saling ketergantungan positif antar anggota kelompok. Keseimbangan kekuatan antar kelompok pelu diperhatikan Karena pertanding antar kelompok yang memiliki kekuatan seimbang atau memiliki peluang untuk kalah atau menang yang sama dapat meningkatkan motivasi belajar.5. Menentukan peran siswa untuk menunjang saling ketergantungan positif. Saling ketergantungan positif dapat diciptakan melalui pembagian tugas kepada tiap anggota kelompok dan mereka bekerja untuk saling melengkapi.6. Menjelaskan tugas akademik. Ada beberapa aspek yang perlu disadari oleh para guru dalam menjelaskan tugas akademik kepada para siswa. Beberapa aspek tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut. a. Menyusun tugas sehingga siswa menjadi jelas mengenai tugas tersebut. Kejelasan tugas sangat penting bagi para siswa karena dapat menghindarkan mereka dari freustasi atau kebingungan. Dalam pembelajaran kooperatif siswa yang tidak dapat memahami tugasnya dapat bertanya kepada kelompoknya sebelum bertanya kepada guru.
  10. 10. b. Menjelaskan tujuan belajar dan mengaitkannya dengan pengalaman siswa di masa lampau. c. Menjelaskan berbagai konsep atau pengertian atau istilah, prosedur yang harus diikuti atau pengertian contoh kepada para siswa. d. Mengajukan berbagai pertanyaan khusus untuk mengetahui pemahaman para siswa mengenai tugas mereka.7. Menjelaskan kepada siswa mengenai tujuan dan keharusan bekerja sama. Menjelaskan tujuan dan keharusan bekerja sama kepada para siswa dilakukan dengan contoh sebagai berikut. a. Meminta kepada kelompok untuk menghasilkan suatu karya atau produk tertentu. Jika karya kelompok berupa laporan, tiap anggota kelompok harus menandatangani laporan tersebut sebagai tanda bahwa ia setuju dengan isi laporan kelompok dan dapat menjelaskan alasan isi laporan tersebut. b. Menyediakan hadiah bagi kelompok. Pemberian hadiah merupakan salah satu cara untuk mendorong kelompok menjalin kerja sama sehingga terjalin pula rasa kebersamaan antar anggota kelompok. Semua anggota kelompok harus saling membantu agar masing-masing memperoleh skor hasil belajar yang optimal karena keberhasilan kelompok ditentukan oleh keberhasilan tiap anggota.8. Menyusun akuntabilitas individual. Suatu kelompok belajar tidak dapat dikatakan benar-benar kooperatif jika memperbolehkan adanya anggota kelompok yang mengerjakan seluruh pekerjan. Suatu kelompok belajar juga tidak dapat dikatakan benar-benar kooperatif jika memperbolehkn adanya anggota yang tidak melakukan apa pun demi kelompok. Untuk menjamin agar seluruh anggota kelompok benar-benar menjalin kerja sama dan agar seluruh anggota kelompok benar-benar menjalin kerja sama dan agar kelompok mengetahui adanya anggota kelompok yang memerlukan bantuan atau dorongan, guru harus sering melakukan pengukuran untuk mengetahui taraf penguasaan tiap siswa terhadap materi pelajaran yang sedang dipelajari.9. Menyusun kerja sama antar kelompok. Hasil positif yang ditemukan dalam suatu kelompok belajar kooperatif dapat diperluas ke seluruh kelas dengan menciptakan kerja sama antar kelompok. Nilai tambahan dapat diberikan jika seluruh siswa di dalam kelas meraih standar mutu yang tinggi. Jika suatu kelompok telah menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, para anggotanya dapat diminta untuk
  11. 11. membantu kelompok-kelompok lain yang belum selesai. Upaya semacam ini memungkinkan terciptanya suasana kehidupan kelas yang sehat, yang memungkinkan semua potensi siswa bekembang optimal dan terintegrasi.10. Menjelaskan kriteria keberhasilan. Penilaian dalam pembelajaran kooperatif bertolak dari penilaian acuan patokan (criterion referenced). Pada awal kegiatan belajar guruhendaknya menerangkan secara jelas kepada siswa mengenai bagaimana pekerjaan mereka akan dinilai.11. Menjelaskan perilaku siswa yang diharapkan. Perkataan kerja sama atau gotong royong sereing memiliki konotasi dan penggunaan yang bermacam-macam. Oleh karena itu, guru perlu mendifinisikan perkatann kerja sama tersebut secara operasional dalam bentuk berbagai perilaku tersebut antara lain dapat dikemukakan dengan kata-kata seperti “Tetaplah berada dalam kelompokmu”, “Berbicaralah pelan-pelan”, Berbicaralah menurut giliran,” dan sebagainya. Jika kelompok mulai berfungsi secara efektif.12. Memantau perilaku siswa. Setelah semua kelompok mulai bekerja, guru harus menggunakan sebagian besar waktunya untuk memantau kegiatan siswa. Tujuan pemantauan, guru harus menjelaskan pelajaran, mengulang prosedur atau strategi untuk menyelesaikan tugas, menjawab pertanyaan, dan mengajarkan keterampilan menyelesaikan tugas kalau perlu.13. Memberikan bantuan kepada siswa dalam menyelesaian tugas. Pada saat melakukan pemantauan, guru harus menjelaskan pelajaran, mengulang prosedur atau strategi untuk menyelesaikan tugas, menjawab pertanyaan, dan mengajarkan keterampilan menyelesaikan tugas kalau perlu.14. Melakukan intervensi untuk mengajarkan keterampilan bekerja sama. Pada saat memantau kelompok-kelompok yang sedang belajar, guru kadang-kadang menemukan siswa yang tidak memiliki keterampilan untuk menjalin kerja sama yang cukup dan adanya kelompok yang memiliki masalah dalam menjalin kerja sama. Dalam kondisi semacam itu, guru perlu memberikan nasihat agar siswa dapat bekerja efektif.15. Menutup pelajaran. Pada saat pelajaran berakhir, guru perlu meringkas pokok- pokok pelajaran, meminta kepada siswa untuk mengemukakan ide atau contoh, dan menjawab pertanyaan dan hsil belajar mereka.16. Menilai kualitas pekerjaan atau hasil belajar siswa. Guru menilai kualitas pekerjaan atau hasil belajar para siswa berdasarkan penilaian acuan patokan. Para
  12. 12. anggota kelompok hendaknya juga diminta untuk memberikan umpan balik mengenai kualitas pekerjaan dan hasil belajar mereka. 17. Menilai kualitas kerja sama antar anggota kelompok. Meskipun waktu belajar di kelas terbatas, diperlukan waktu untuk berdiskusi dengan para siswa untuk membahas kualitas kerja sama antar anggota kelompok pada hari itu. Pembicaraan dengan para siswa dilakukan untuk mengetahui apa yang telah dilakukan dengan baik dan apa yang masih perlu ditingkatkan pada hari berikutnya. C.Pembelajaran CIRC CIRC singkatan dari Cooperative Integrated Reading and Compotition, termasuk salah satu model pembelajaran cooperative learning yang pada mulanya merupakan pengajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis (Steven dan Slavin dalam Nur, 2000:8) yaitu sebuah program komprehensif atau luas dan lengkap untuk pengajaran membaca dan menulis untuk kelas-kelas tinggi sekolah dasar. Namun, CIRC telah berkembang bukan hanya dipakai pada pelajaran bahasa tetapi juga pelajaran eksak seperti pelajaran matematika. Pembelajaran CIRC dikembangkan oleh Stevans, Madden, Slavin dan Farnish. Pembelajaran kooperatif tipe CIRC dari segi bahasa dapat diartikan sebagai suatu model pembelajaran kooperatif yang mengintegrasikan suatu bacaan secara menyeluruh kemudian mengkomposisikannya menjadi bagian-bagian yang penting. Jadi ,CIRC merupakan program yang komprehensif untuk mengajari pembelajaran membaca, menulis, dan seni berbahasa pada kelas yang lebih tinggi di sekolah dasar.B. Komponen-Komponen dalam Model Pembelajaran CIRC Model pembelajaran CIRC menurut Slavin dalam Suyitno (2005: 3-4) memiliki delapan komponen. Kedelapan komponen tersebut antara lain:1) Teams, yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri atas 4 atau 5 siswa.2) Placement test, misalnya diperoleh dari rata-rata nilai ulangan harian sebelumnya atau berdasarkan nilai rapor agar guru mengetahui kelebihan dan kelemahan siswa pada bidang tertentu.
  13. 13. 3) Student creative, melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya.4) Team study, yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberikan bantuan kepada kelompok yang membutuhkannya.5) Team scorer and team recognition, yaitu pemberian skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan penghargaan terhadap kelompok yang berhasil secara cemerlang dan kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas.6) Teaching group, yakni memberikan materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok.7) Facts test, yaitu pelaksanaan test atau ulangan berdasarkan fakta yang diperoleh siswa.8) Whole-class units, yaitu pemberian rangkuman materi oleh guru di akhir waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah.C. Kegiatan Pokok Model Pembelajaran CIRC Kegiatan pokok dalam CIRC untuk menyelesaikan soal pemecahan masalah meliputi rangkaian kegiatan bersama yang spesifik, yaitu:a) Salah satu anggota atau beberapa kelompok membaca soal.b) Membuat prediksi atau menafsirkan isi soal pemecahan masalah.c) Saling membuat ikhtisar/rencana penyelesaian soal pemecahan masalah.d) Menuliskan penyelesaian soal pemecahan masalah secara urut, dane) Saling merevisi dan mengedit pekerjaan/penyelesaian (Suyitno, 2005:4) Model pembelajaran CIRC atau pembelajaran terpadu menurut pertama kali dikembangkan oleh (Steven and Slavin, 1981), dengan langkah-langkah:1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen.2. Guru memberikan wacana sesuai dengan topik pembelajaran.3. Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberikan tanggapan terhadap wacana dan ditulis pada lembar kertas.4. Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok.
  14. 14. 5. Guru memberikan penguatan6. Guru dan siswa bersama-sama membuat kesimpulan7. Penutup. Dari setiap fase tersebut di atas dapat kita perhatikan dengan jelas sebagai berikut:1. Fase Pertama, Pengenalan konsep. Fase ini guru mulai mengenalkan tentang suatu konsep atau istilah baru yang mengacu pada hasil penemuan selama eksplorasi. Pengenalan bisa didapat dari keterangan guru, buku paket, atau media lainnya.2. Fase Kedua, Eksplorasi dan aplikasi. Fase ini memberikan peluang pada siswa untuk mengungkap pengetahuan awalnya, mengembangkan pengetahuan baru, dan menjelaskan fenomena yang mereka alami dengan bimbingan guru minimal. Hal ini menyebabkan terjadinya konflik kognitif pada diri mereka dan berusaha melakukan pengujian dan berdiskusi untuk menjelaskan hasil observasinya. Pada dasarnya, tujuan fase ini untuk membangkitkan minat, rasa ingin tahu serta menerapkan konsepsi awal siswa terhadap kegiatan pembelajaran dengan memulai dari hal yang kongkrit. Selama proses ini siswa belajar melalui tindakan-tindakan mereka sendiri dan reaksi-reaksi dalam situasi baru yang masih berhubungan, juga terbukti menjadi sangat efektif untuk menggiring siswa merancang eksperimen, demonstrasi untuk diujikannya.3. Fase Ketiga, Publikasi. Pada fase ini Siswa mampu mengkomunikasikan hasil temuan- temuan, membuktikan, memperagakan tentang materi yang dibahas. Penemuan itu dapat bersifat sebagai sesuatu yang baru atau sekedar membuktikan hasil pengamatannya.. Siswa dapat memberikan pembuktian terkaan gagasan-gagasan barunya untuk diketahui oleh teman- teman sekelasnya. Siswa siap menerima kritikan, saran atau sebaliknya saling memperkuat argumen. Cara untuk menentukan anggota kelompoknya adalah sebagai berikut:1. Menentukan peringkat siswa Dengan cara mencari informasi tentang skor rata-rata nilai siswa pada tes sebelumnya atau nilai raport. Kemudian diurutkan dengan cara menyusun peringkat dari yang berkemampuan akademik tinggi sampai terendah.2. Menentukan jumlah kelompok
  15. 15. Jumlah kelompok ditentukan dengan memperhatikan banyak anggota setiap kelompok dan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut.3. Penyusunan anggota kelompok Pengelompokkan ditentukan atas dasar susunan peringkat siswa yang telah dibuat. Setiap kelompok diusahakan beranggotakan siswa-siswa yang mempunyai kemampuan beragam, sehingga mempunyai kemampuan rata-rata yang seimbang. Roger dan David Johnson dalam Anita Lie (2008 :31) menyatakan bahwa tidak semua kerja kelompok dianggap cooperative learning. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima model pembelajaran gotong royong harus ditetapkan. Kelima model tersebut yaitu:1. Saling ketergantungan positif Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka. Dengan cara ini, mau tidak mau setiap anggota merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya agar yang lain bisa berhasil.2. Tanggung jawab perseorangan Unsur ini merupakan akibat langsung dari yang pertama. Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur Model Pembelajaran kooperatif setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Kunci keberhasilan model pembelajaran kerja kelompok adalah persiapan guru dalam penyusunan tugasnya.3. Tatap muka Setiap kelompok harus diberiakan kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Hasil pemikiran beberapa kepala akan lebih kaya daripada hasil pemikiran dari satu kepala saja. Inti dari sinergi ini adalah menghargai
  16. 16. perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan masingmasing. Jadi, para anggota kelompok perlu diberi kesempatan untuk saling mengenal dan menerima satu sama lain dalam kegiatan tatap muka dan interaksi pribadi.4. Komunikasi antar anggota Keterampilan berkomunikasi dalam kelompok ini juga merupakan proses panjang. Pembelajaran tidak bisa diharapkan langsung menjadi komunikator yang andal dalam waktu sekejap. Proses ini sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa.5. Evaluasi proses kelompok Guru perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi tidak perlu diadakan setiap kali ada kerja kelompok, tetapi bisa diadakan selang beberapa kali siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran kooperatifD. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran CIRC Secara khusus, Slavin dalam Suyitno (2005:6) menyebutkan kelebihan model pembelajaran CIRC sebagai berikut:a) CIRC amat tepat untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah.b) Dominasi guru dalam pembelajaran berkurang.c) Siswa termotivasi pada hasil secara teliti, karena bekerja dalam kelompok.d) Para siswa dapat memahami makna soal dan saling mengecek pekerjaannya.e) Membantu siswa yang lemah. Kekurangan model CIRC adalah:a) Pada saat persentasi hanya siswa yang aktif tampil.
  17. 17. b) Tidak semua siswa bisa mengerjakan soal dengan teliti.E. Penerapan Model Pembelajaran CIRC Penerapan model pembelajaran CIRC untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dapat ditempuh dengan:1. Guru menerangkan suatu pokok bahasan matematika kepada siswa, pada penelitian ini digunakan LKS yang berisi materi yang akan diajarkan pada setiap pertemuan.2. Guru memberikan latihan soal.3. Guru siap melatih siswa untuk meningkatkan keterampilan siswanya dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah melalui penerapan model CIRC.4. Guru membentuk kelompok-kelompok belajar siswa yang heterogen.5. Guru mempersiapkan soal pemecahan masalah dalam bentuk kartu masalah dan membagikannya kepada setiap kelompok.6. Guru memberitahukan agar dalam setiap kelompok terjadi serangkaian kegiatan bersama yang spesifik.7. Setiap kelompok bekerja berdasarkan kegiatan pokok CIRC. Guru mengawasi kerja kelompok.8. Ketua kelompok melaporkan keberhasilan atau hambatan kelompoknya.9. Ketua kelompok harus dapat menetapkan bahwa setiap anggota telah memahami, dan dapat mengerjakan soal pemecahan masalah yang diberikan.10. Guru meminta kepada perwakilan kelompok untuk menyajikan temuannya.11. Guru bertindak sebagai nara sumber atau fasilitator.12. Guru memberikan tugas/PR secara individual.13. Guru membubarkan kelompok dan siswa kembali ke tempat duduknya.14. Guru mengulang secara klasikal tentang strategi penyelesaian soal pemecahan masalah.15. Guru memberikan kuis.
  18. 18. Hipotesis Tindakan  Jika siswa kelas V SDN Gulun 1 Maospati Magetan dibelajarkan menemukan gagasan utama melalui model pembelajaran kooperatif tipe CIRC maka keaktifannya dalam belajar akan meningkat.  Jika siswa kelas V SDN Gulun 1 Maospati Magetan dibelajarkan menemukan gagasan utama melalui model pembelajaran kooperatif tipe CIRC maka kemampuannya menemukan gagasan akan meningkat.
  19. 19. BAB III METODE PENELITIANA. Bentuk Penelitian Tindakan Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran di kelas atau memecahkan masalah pembelajaran di kelas yang dilakukan secara bersiklus. Secara garis besar, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) memiliki 4 tahapan yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observing), refleksi. Berikut rencana PTK dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe CIRC. Siklus 1 Siklus 1 terdiri atas perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, refleksi dan perbaikan rencana. 1. Perencanaan (planning) Pada tahap ini peneliti menyusun perlengkapan-perlengkapan pembelajaran yang dibutuhkan, mempersiapkan semua instrumen yaitu : RPP, materi, lembar observasi, alat evaluasi (tes) dan pembagian kelompok serta apersepsi. Dalam menyusun perlengkapan tersebut tentunya peneliti sudah melalui pertimbangan guru yang terkait. 2. Pelaksanaan tindakan (action) 1. Sebelum kegiatan belajar mengajar siswa diberikan pretes yang dipakai sebagai dasar pengukuran kemampuan awal siswa dalam menemukan gagasan utama dari sebuah teks. 2. Siswa diberikan artikel kemudian para siswa disuruh menentukan manakah gagasan utama setiap paragraf secara berkelompok. 3. Guru memberitahukan cara mencari gagasan utama yang tepat dengan mempresentasikan materi pembelajaran melalui power point. 4. Siswa diberikan latihan menemukan gagasan utama teks melalui “kartu alinea” . Kartu alinea ini berupa potongan-potongan teks atau sebuah paragraf
  20. 20. kemudian siswa menentukan gagasan utamanya. Siswa juga dilatihkan menulis paragraf dan artikel berdasarkan ide pokok yang sudah ditentukan oleh guru. 5. Tahap ketiga siswa diberikan tes akhir/pretes untuk mengetahui sejauh mana kemampuan para siswa dalam menemukan gagasan utama sebuah teks.3. Pengamatan tindakan (observasing) Pada tahap pengamatan ini, observasi terhadap banyak tindakan dilakukan secara terus menerus baik dalam proses pembelajaran maupun pada hasil belajar. Pengamatan dilaksanakan dengan menggunakan tes yang berupa pilihan ganda. Pengamatan dilakukan diwujudkan dalam bentuk data untuk dianalisa dalam tahap refleksi.4. Refleksi (Reflecting) Hasil yang didapat dalam tahap observasi dan evaluasi dikumpulkan serta dianalisis sehingga diperoleh hasil refleksi kegiatan yang telah dilakukan. Kelemahan atau kekurangan yang terjadi akan diperbaiki dalam siklus selanjutnya. Berikut tabel refleksi untuk mengetahui pencapaian pada siklus 1. Tabel 1. Refleksi No Aspek Pencapaian Cara Mengukur Siklus 1 (dalam %) 1. Kerjasama siswa Diamati ketika siswa melakukan diskusi dengan mencatat keterlibatan siswa dalam kelompok. 2. Keaktifan siswa Diamati ketika siswa melakukan diskusi dengan kelompoknya maupun ketika mengerjakan tugas kelompok. 3. Tanggung jawab Diamati ketika siswa mengerjakan tugas kelompok dengan mencatat sejauh mana tanggung jawab siswa untuk menyelesaikan tugas kelompoknya. 4. Ketuntasan hasil Diamati dari hasil penilaian guru. belajar
  21. 21. Siklus 21. Perencanaan (planning) Pada tahap ini peneliti menyususn perlengkapan-perlengkapan pembelajaran yang dibutuhkan, mempersiapkan semua instrumen yaitu : RPP, materi, lembar observasi, alat evaluasi (tes), dan pembagian kelompok serta apersepsi. Dalam menyusun perlengkapan tersebut tentunya peneliti sudah melalui pertimbangan guru yang terkait.2. Pelaksanaan tindakan (action) a. Guru mempresentasikan materi pembelajaran melalui power point dengan lebih rinci dengan contoh-contoh yang lebih banyak. b. Kemudian, siswa diberikan latihan menemukan gagasan utama artikel melalui “kartu alinea”. Pada siklus kedua ini “kartu alinea” yang diterima siswa boleh didiskusikan dengan teman sebangku. c. Siswa juga dilatihkan untuk menemukan gagasan sebuah wacana/artikel dan berlatih menulis paragraf dan artikel berdasarkan ide pokok yang sudah ditentukan oleh guru. Terakhir siswa diberikan tes akhir/pretes untuk mengetahui sejauh mana kamampuan membaca dan menulis para siswa dalam menemukan gagasan utama sebuah teks.3. Pengamatan tindakan (observasing) Pada tahap pengamatan ini, observasi terhadap banyak tindakan dilakukan secara terus menerus baik dalam proses pembelajaran maupun pada hasil belajar. Pengamatan dilaksanakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat. Pengamatan dilakukan diwujudkan dalam bentuk data untuk di analisa dalam tahap refleksi.4. Refleksi (Reflecting) Menyimpulkan hasil pengamatan apakah ada perubahan/peningkatan setelah pelaksanaan siklus 2 dengan membandingkannya dengan pencapaian sebelum siklus dan setelah siklus 1dilaksanakan yang disajikan dalam tabel berikut. Tabel 2. Pencapaian Indikator KeberhasilanNo Aspek Pencapaian Cara Mengukur Siklus 1 (dalam %)
  22. 22. 1. Kerjasama siswa Diamati ketika siswa melakukan diskusi dengan mencatat keterlibatan siswa dalam kelompok. 2. Keaktifan siswa Diamati ketika siswa melakukan diskusi dengan kelompoknya maupun ketika mengerjakan tugas kelompok. 3. Tanggung jawab Diamati ketika siswa mengerjakan tugas kelompok dengan mencatat sejauh mana tanggung jawab siswa untuk menyelesaikan tugas kelompoknya. 4. Ketuntasan hasil Diamati dari hasil penilaian guru. belajar Dalam penelitian tindakan ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti, penanggung jawab penuh penelitian ini adalah guru. Tujuan utama dari penelitian tindakan ini adalah untuk meningkatkan hasil pembelajaran di kelas dimana guru secara penuh terlibat dalam penelitian mulai dari perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Dalam penelitian ini peneliti tidak bekerjasama dengan siapapun, kehadiran peneliti sebagai guru di kelas sebagai pengajar tetap dan dilakukan seperti biasa, sehingga siswa tidak tahu kalau diteliti. Dengan cara ini diharapkan didapatkan data yang seobjektif mungkin demi kevalidan data yang diperlukan.B. Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian 1. Tempat Penelitian Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di SDN Gulun 1, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan. 2. Waktu Penelitian
  23. 23. Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November semester ganjil tahun pelajaran 2012/2013. 3. Subyek Penelitian Subyek penelitian adalah siswa-siswi kelas V SDN Gulun 1 tahun pelajaran 2012/2013, dengan subjek siswa kelas 5 sebanyak 20 orang yang terdiri 11 siswa wanita dan 9 siswa laki-laki dengan pokok bahasan “menemukan gagasan utama suatu teks yang dibaca dengan kecepatan 75 kata/menit”.C. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas: Observasi, wawancara, dokumentasi dan tes. a. Observasi Teknik observasi digunakan dalam mengamati gejala-gejala yang tampak dalam proses pembelajaran tentang kesungguhan siswa mengikuti pelajaran, keseringan siswa bertanya dan menanggapi pertanyaan teman sekelas, keterlibatan siswa berfikir, berbicara, mendengarkan, dan melakukan tugas-tugas dalam proses pembelajaran. b. Wawancara Teknik wawancara digunakan untuk wawancara dengan siswa tentang kesan-kesan dan pengungkapan perasaan siswa ketika belajar menemukan gagasan utama dengan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC. Ungkapan rasa senang siswa dilakukan dengan teknik wawancara. Wawancara juga digunakan untuk mengungkap perasaan tentang kesulitan-kesulitan siswa ketika belajar menemukan gagasan dengan bantuan model pembelajaran tipe CIRC. c. Dokumentasi Teknik dokumentasi digunakan untukmendokumentasikan data tentang proses pembelajaran yang menggambarkan langkah-langkah konkrit yang di praktikkan guru dalam proses pembelajaran. Dokumentasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mencakup foto tentang keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. d. Tes Tes digunakan untuk mengumpulkan data tentang kemampuan siswa dalam menemukan gagasan utama.
  24. 24. D.Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran menggunakan rubrik pengamatan keaktifan siswa. Sedangkan instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam menemukan gagasan utama menggunakan LKS yang berbentuk pilihan ganda dan esay. Lembar Kerja Siswa (LKS) ini yang dipergunakan siswa untuk membantu proses pengumpulan data hasil kegiatan belajar mengajar. F. Teknik Analisis Data a. Analisis Data Kemampuan menemukan gagasan utama Siswa yang telah menjalani tes evaluasi ini bisa dinyatakan tuntas dalam belajar apabila siswa tersebut mendapat skor minimal 70 sesuuai Kriteria Ketuntasan Minimal. Apabila belum tuntas pada siklus 1 maka akan dilanjutkan tes lagi pada siklus berikutnya supaya tercapai ketuntasan belajar. Proses belajar kumulatif dinyatakan berhasil jika 80% dari seluruh siswa telah mencapai KKM. Maka untuk mengetahui ketuntasan belajar secara kumulatif dapat digunakan rumus : Prosentase ketuntasan belajar = siswa yang tuntas X 100 % siswa keseluruhan b. Analisis Data Keaktifan Siswa Untuk menghitung data aktifitas siswa dalam pembelajaran maka dapat dianalisis dengan menggunakan rumus : Nilai Aktifitas Siswa = siswa yang tuntas X 100 % siswa keseluruhan
  25. 25. DAFTAR PUSTAKAAli, Muhammad. 1996. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindon.Arikunto, Suharsimi. 1989. Penilaian Program Pendidikan. Proyek Pengembangan LPTK Depdikbud. Dirjen Dikti.Arikunto, Suharsimi. 1993. Manajemen Mengajar Secara Manusiawi. Jakarta: Rineksa Cipta.Arikunto, Suharsimi. 1999. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineksa Cipta.Arikunto, Suharsimi. 2001. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.Arikunto, Suharsimi. 1999. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineksa Cipta.Combs. Arthur. W. 1984. The Profesional Education of Teachers. Allin and Bacon, Inc. Boston.Dayan, Anto. 1972. Pengantar Metode Statistik Deskriptif. Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi.Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineksa Cipta.Djamarah. Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineksa Cipta.Hadi, Sutrisno. 1981. Metodogi Research. Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada. Yoyakarta.

×