Imunisasi LENGKAP

13,270 views
12,878 views

Published on

Published in: Health & Medicine
0 Comments
11 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
13,270
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
4
Actions
Shares
0
Downloads
737
Comments
0
Likes
11
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Imunisasi LENGKAP

  1. 1. IMMUNISASI RA AL-AMIN 18 OKTOBER 2013
  2. 2. “Setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual dan sosial.” (UU no 23/2002) Setiap anak berhak memperoleh imunisasi dasar sesuai dg ketentuan utk mencegah terjadinya penyakit yg dapat dihindari melalui imunisasi (UU no 36/2009) Pemerintah wajib memberikan imunisasi lengkap kepada setiap bayi dan anak (UU no 36/2009)
  3. 3. IMUNISASI upaya untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga dapat mencegah / mengurangi pengaruh infeksi organisme alami atau "liar" Vaksin adalah bahan antigenik yg digunakan utk menghasilkan kekebalan aktif
  4. 4. DEFINISI  SUATU UPAYA UNTUK MENDAPATKAN KEKEBALAN TERHADAP SUATU PENYAKIT DGN CARA MEMASUKKAN KUMAN ATAU BIBIT KUMAN YG TELAH DILEMAHKAN ATAU DIMATIKAN (ANTIGEN) KE DALAM TUBUH.
  5. 5. Mengapa imunisasi? upaya pencegahan paling cost effective selain dapat mencegah penyakit bagi diri sendiri tetapi juga dapat melindungi orang disekitarnya Menggunakan vaksin produksi dlm negeri sesuai standar aman WHO
  6. 6. TUJUAN  DENGAN MASUKNYA ANTIGEN TERSEBUT AGAR TUBUH MEMILIKI KEKEBALAN SPESIFIK TERHADAP PENYAKIT TERTENTU YG BERBAHAYA DAN MENGANCAM JIWA
  7. 7. Tujuan Program Imunisasi Menurunkan kesakitan & kematian akibat Penyakit-penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)
  8. 8. MANFAAT IMUNISASI     Imunisasi Hepatitis B untuk mencegah virus Hepatitis B yang dapat menyerang dan merusak hati, bila berlangsung sampai dewasa dapat menjadi kanker hati. Imunisasi Polio untuk mencegah serangan virus polio yang sapat menyebabkan kelumpuhan. Imunisasi BCG untuk mencegah tuberkulosis paru, kelenjar, tulang dan radang otak yang bisa menimbulkan kematian atau kecacatan. Imunisasi Campak untuk mencegah radang paru, diare, dan radang otak karena virus campak.
  9. 9. MANFAAT IMUNISASI  Imunisasi DPT untuk mencegah 3 penyakit, yaitu Difteri, Pertusis dan Tetanus. Penyakit Difteri dapat menyebabkan pembengkakan dan sumbatan jalan nafas, serta mengeluarkan racun yang dapat melumpuhkan otot jantung. Penyakit Pertusis berat dapat menyebabkan infeksi saluran nafas berat (pneumonia). Kuman Tetanus mengeluarkan racun yang menyerang syaraf otot tubuh, sehingga otot menjadi kaku, sulit bergerak dan bernafas.
  10. 10. Penyakit yg Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) Polio Difteri Tetanus Tuberculosis Hepatitis B Pertusis Campak
  11. 11. ANAK DENGAN POLIO 11
  12. 12. ANAK DENGAN CAMPAK 13 Novembe r 2013 12
  13. 13. 13 Novembe r 2013 ANAK DENGAN pertusis
  14. 14. ANAK DENGAN TETANUS 13 Novembe r 2013
  15. 15. ANAK DENGAN VARICELLA 13 Novembe r 2013
  16. 16. ANAK DENGAN GONDONG 13 Novembe r 2013
  17. 17. VAKSIN  Saat ini telah ada beberapa jenis vaksin yang telah disediakan oleh pemerintah untuk imunisasi rutin, yaitu Hepatitis B, Polio, BCG, DPT, Campak dan vaksinvaksin untuk jamaah haji (Meningitis). Disamping itu, ada beberapa imunisasi lain yang memang belum disediakan oleh pemerintah.
  18. 18. JENIS VAKSIN VAKSIN HIDUP  DARI BAKTERI/VIRUS YG DILEMAHKAN : OPV (ORAL POLIO VACCINE), CAMPAK, MMR (MUMPS,MEASLES ,RUBELLA), VARICELLA (CACAR AIR), BCG VAKSIN MATI  DARI BAKTERI/VIRUS YG SDH MATI. CONTOH : DPT, HEPATITIS A, HEPATITIS B.
  19. 19. Jenis-jenis Vaksin Vaksin Bakteri •Campak • Parotitis • Rubela • Varisela • BCG Vaksin Hidup Vaksin Inaktif • Difteria • Tetanus • Pertusis • Kolera Vaksin Virus • Meningo • Pneumo • Hib • Typhoid Vi • Influenza • IPV • OPV • Yellow Fever • Rabies • Hepatitis B • Hepatitis A
  20. 20. Sejarah Imunisasi di Indonesia Th. 1956  Imunisasi Cacar Th. 1973  Imunisasi BCG Th. 1974  Imunisasi TT pada ibu hamil Th. 1976  Imunisasi DPT untuk bayi Th. 1977  WHO mulai pelaksana program imunisasi sebagai upaya Global (EPI-Expanded Program on Immunization) Th. 1980  Imunisasi Polio Th. 1982  Campak Tn. 1990  Indonesia mencapai UCI Nasional Th. 1997  Imunisasi Hepatitis.B Th. 2004  Introduksi DPT/HB di 4 propinsi (Tahap I) Tn. 2007  DPT/HB di seluruh Indonesia Tn. 2007  Pilot Project IPV (Inactive Polio Vaccine) di Provinsi DIY Th. 2010  Imunisasi Td untuk penanggulangan KLB & BIAS Kelas II & III Tn. 2013  Introduksi Vaksin Pentavalent (DPT/HB/Hib) di 4 Provinsi Tahap I yaitu Jawa Barat, DIY, Bali dan NTB
  21. 21. JADWAL IMMUNISASI IDAI
  22. 22. Sasaran Imunisasi Berdasarkan Usia yang Diimunisasi a. Imunisasi Rutin : Bayi (0-11 bln) Anak Batita (15-36 bln)  Anak usia sekolah dasar (BIAS). Wanita usia subur (WUS): wanita berusia 15 – 39 tahun, terrmasuk Ibu hamil (Bumil) dan Calon Pengantin (Catin) b. Imunisasi Tambahan  Bayi dan anak - Kampaye, SubPIN, PIN
  23. 23. Heb B / (HB) O -BCG -Polio 1 -DPT/HB/Hib 1 -Polio 2 -DPT/HB/Hib 2 -Polio 3 -DPT/HB/Hib 3 -Polio 4 CAMPAK 0-7 hr 1 Bulan 2 Bulan 3 Bulan 4 Bulan 9 Bulan
  24. 24. Pendekatannya: - Melalui Posyandu - Melalui PAUD - Imunisasi lanjutan DPT/HB/Hib CAMPAK 18 Bulan 24 Bulan
  25. 25. Imunisasi Dasar Lengkap & booster pertama -DT -Campak 1 SD - Td 2 SD 3 SD BULAN IMUNISASI ANAK SEKOLAH
  26. 26. DPT 1 Status TT1 s.d TT5 : Dihitung Sejak Imunisasi Dasar Pada Bayi DPT 2 3 TAHUN DT KLS 1 SD 5 TAHUN Td KLS 2 SD 10 TAHUN Td KLS 3 SD 25 TAHUN TT WUS X
  27. 27. Q & A IDAI Adakah yang dapat menggantikan imunisasi untuk memberikan kekebalan spesifik terhadap penyakit ?  Tidak ada satupun badan penelitian di dunia yang menyatakan bahwa kekebalan akibat imunisasi dapat digantikan oleh zat lain, termasuk ASI, nutrisi, maupun suplemen herbal, karena kekebalan yang dibentuk sangat berbeda.    ASI, nutrisi, suplemen herbal, maupun kebersihan  Pertahanan tubuh secara umum, IMUNISASI  membentuk kekebalan spesifik terhadap kuman tertentu yang berbahaya. Apabila jumlah kuman banyak dan ganas  perlindungan umum tidak mampu melindungi bayi, sehingga masih dapat sakit berat, cacat atau mati.
  28. 28. Q & A IDAI  Vaksin akan merangsang pembentukan kekebalan spesifik (antibodi) terhadap kuman, virus atau racun kuman tertentu. Setelah antibodi terbentuk, vaksin akan bekerja lebih cepat, efektif dan efisien untuk mencegah penularan penyakit yang berbahaya.  Selain diberi imunisasi, bayi tetap diberi ASI eksklusif, makanan pendamping ASI dengan nutrisi lengkap dan seimbang, kebersihan badan dan lingkungan. Suplemen diberikan sesuai kebutuhan individual yang bervariasi. Selain itu bayi harus mendapat perhatian dan kasih sayang serta stimulasi bermain untuk mengembangkan kecerdasan, kreatifitas dan perilaku yang baik.
  29. 29. Q & A IDAI Benarkah bayi dan balita yang tidak diimunisasi lengkap, rawan tertular penyakit berbahaya ? Benar...  Banyak penelitian imunologi dan epidemiologi di berbagai negara membuktikan bahwa bayi dan balita yang tidak diimunisasi lengkap, tidak mempunyai kekebalan spesifik yang optimal terhadap penyakit menular berbahaya. Mereka mudah tertular penyakit tersebut, dapat menderita sakit berat, menularkan ke anak-anak lain, menyebar luas, terjadi wabah, menyebabkan banyak kematian dan cacat.
  30. 30. RING OF VACCINATION
  31. 31. FAKTA     Wabah polio tahun 2005-2006 di Sukabumi karena banyak bayi balita tidak diimunisasi polio, dalam beberapa bulan virus polio menyebar cepat ke Banten, Lampung, Madura, sampai Aceh, menyebabkan 385 anak lumpuh permanen. Wabah campak di Jawa Tengah dan Jawa Barat 2009-2011 mengakibatkan 5818 anak di rawat di rumah sakit, 16 anak meninggal, terutama yang tidak diimunisasi campak. Wabah difteri dari Jawa Timur 2009 – 2011 menyebar ke Kalimantan Timur, Selatan, Tengah, Barat, DKI Jakarta, menyebabkan 816 anak harus di rawat di rumah sakit, 54 meninggal, terutama yang imunisasinya belum lengkap atau belum pernah imunisasi DPT. Sumber : IDAI & DEPKES
  32. 32. FAKTA     Wabah polio di beberapa propinsi tahun 2005-2006 telah berhasil dihentikan dengan imunisasi polio rutin dan tambahan secara serentak pada semua bayi/balita melalui beberapa kali Pekan Imunisasi Polio Nasional. Wabah campak di beberapa propinsi tahun 20092011 telah berhasil dihentikan dengan imunisasi campak rutin dan tambahan pada semua bayi balita 9 – 59 bulan di semua propinsi secara terus– menerus. Wabah difteri di beberapa propinsi tahun 2009 – 2011 telah berhasil dihentikan dengan imunisasi DPT rutin dan tambahan pada semua bayi balita di beberapa propinsi. Sumber : IDAI & DEPKES
  33. 33. FAKTA  Badan penelitian di berbagai negara membuktikan bahwa dengan meningkatkan cakupan imunisasi, maka penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi berkurang secara bermakna. Oleh karena itu saat ini program imunisasi dilakukan terus menerus di banyak negara. Semua negara berusaha meningkatkan cakupan agar lebih dari 90%.
  34. 34. FAKTA  Di Indonesia, terjadi wabah polio 2005-2006 karena banyak bayi yang tidak diimunisasi polio, maka menyebabkan 385 anak lumpuh permanen. Setelah digencarkan imunisasi polio, sampai saat ini tidak ada lagi kasus polio baru.
  35. 35. ISU ZAT BABI Benarkah proses pembuatan vaksin BERSINGGUNGAN dgn zat dari Babi?
  36. 36. KANDUNGAN VAKSIN  Kandungan Vaksin terdiri dari :  Zat utama disebut ANTIGEN.  Zat2 lain disebut ADITIF.
  37. 37. ANTIGEN  Kandungan utama vaksin, berfungsi merangsang sistem imun tubuh, agar tubuh kenal “Oh, si antigen X ini sdh pernah datang nih”  ANTIGEN ini dpt merupakan bakteri/virus yg dilemahkan, mati total atau rekayasa genetika. Setiap bakteri/virus punya antigen yg KHAS  tubuh akan ingat SEUMUR HIDUP  Saat ada yg menyerang, tubuh sudah kenal.  Dimusnahkan sebelum jd penyakit  Agar OPTIMAL, antigen harus dilengkapi dengan ZAT ADITIF sehingga kualitas tetap terjaga.
  38. 38. CARA KERJA VAKSIN
  39. 39. ZAT ADITIF  ZAT ADITIF , terdiri dari :  ADJUVANTS  PRESERVATIVES  STABILIZER
  40. 40. ADJUVANT       Fungsinya memaksimalkan respons sistem imun tubuh. ANTIGEN+ADJUVANT dikenali jauh lbh cepat oleh tubuh drpd ANTIGEN saja ADJUVANT yg paling sering digunakan: Garam Aluminium. Dosis garam alum yg diizinkan 1.14 mg/dosis vaksin (ketentuan FDA, Badan POM Amerika) Dosis yg diizinkan itu KECIL SEKALI dibanding DOSIS YG DPT DITOLERANSI TUBUH Krn isunya berkembang terus, Mei 2000, FDA undang ratusan ahli vaksin dr seluruh dunia. Baik yg pro/kontra thd Alum  PENGGUNAAN GARAM ALUMINIUM PADA VAKSIN DINYATAKAN AMAN DAN EFEKTIF
  41. 41. PRESERVATIVES    Fungsinya: mencegah tumbuhnya bakteri/jamur selama proses pembuatan Vaksin Tidak semua vaksin gunakan PRESERVATIVES. Terutama digunakan di kemasan vaksin multidosis. Utk cegah pertumbuhan mikroorganisme. Saat ini, hanya ada 4 jenis PRESERVATIVES yg diizinkan digunakan. Yg paling terkenal THIMEROSAL (turunan merkuri).
  42. 42. PRESERVATIVES      Thimerosal  bahan merkuri yang digunakan sebagai pengawet berbagai macam vaksin terutama yang digunakan secara berulang atau split dose/multidose. Merkuri yang terdapat dalam Thimerosal (ethyl merkuri) berbeda dengan metil merkuri yang diasosiasikan sebagai material yang bereaksi toxic pada manusia. Kekhawatiran penggunaan thimerosal  akumulasi pengguna merkuri dari jenis vaksin yang berbeda. Sebagai pengawet batas ambang penggunaan thimerosal yang diperbolehkan adalah 0.003%-0.01% dan dalam HB VAX hanya mengandung 0.005%, jumlah yang sangat kecil sekali dan sangat aman. Vaksin yang mengandung thimerosal sudah digunakan lebih dari 60 tahun diseluruh dunia, membantu menyelamatkan berjuta-juta anak dari ancaman penyakit yang berbahaya tanpa adanya laporan efek samping yang serius dari thimerosal tersebut.
  43. 43. PRESERVATIVES Isu aman tidaknya Thimerosal ini mulai awal 1990 di negara-negara Barat. Beberapa ahli menduga: merkuri sebabkan autisme & ADHD  Seperti biasa, kalau ada isu, ahli-ahli dari SELURUH DUNIA kumpul. Diskusi ilmiah. Adu data. Tanpa prasangka, apalagi teori konspirasi 
  44. 44. KOMPOSISI VAKSIN       BCG : thimerosal free DPT & DT : yang diproduksi oleh BioFarma masih ada thimerosalnya 25 ug. Tetract Hib Aventis (gabungan DPT dengan Hib) masih ada thimerosal < 0,5 ug. DTPa Infanrix (Glaxo Smith Klaine/GSK) thimerosal free. Begitu juga dengan DTPa Tripacel Aventis thimerosal free. Harga sekitar 300-400 ribu Polio : thimerosal free Hepatitis : Engerix-B-nya Glaxo/GSK thimerosal free, sedangkan Euvax-nya Aventis trace 0,05 ug/dosis Hib : Hiberix & Act Hib thimerosal free Thiperix : thimerosal free
  45. 45. KOMPOSISI VAKSIN  Influenza:   Afluria keluaran CSL Limited, konsentrasi thimerosalnya 0,01% (multidosis) atau kandungan merkurinya 24,5 µg/0,5 mL (multidosis);  Fluzone keluaran Sanofi Pasteur Inc., konsentrasi thimerosalnya 0,01% atau kandungan merkurinya 25 µg/0,5 mL dosis (catatan: Sanofi Pasteur Inc sudah mengeluarkan Fluzone yang bebas thimerosal);  Fluarix keluaran GlaxoSmithKline Biologicals, konsentrasi thimerosal < 0,0004% atau kandungan merkurinya < 1 µg/0,5 ml dosis;   Fluvirin yang masih menggunakan preservatif dari Novartis Vaccines and Diagnostics Ltd, konsentrasi thimerosalnya 0,01% (kandungan merkurinya 25 µg/0,5 mL dosis). Novartis sendiri telah mengeluarkan Fluvirin yang bebas preservatif (dengan kandungan merkuri <1µg Hg/0,5mL dosis); FluLaval keluaran ID Biomedical Corporation of Quebec, konsentrasi thimerosalnya 0,01% atau kandungan merkurinya 25 µg/0,5 ml dosis. DTaP (difteri-tetanus-aselular pertusis): Tripedia keluaran Sanofi Pasteur Inc., konsentrasi thimerosal ≤ 0,00012% atau kandungan merkurinya ≤ 0,3 µg/0,5 mL dosis.  DT (difteri-tetanus) keluaran Sanofi Pasteur Inc., konsentrasi thimerosal < 0,00012% (dosis tungal) atau kandungan merkurinya < 0,3 µg/0,5mL dosis. Untuk DT keluaran Sanofi Pasteur Ltd., konsentrasi thimerosalnya 0,01% atau kandungan merkurinya 25 µg/0,5 mL dosis.  Td (tetanus-difteri) keluaran Mass Public Health, konsentrasi thimerosal 0,0033% atau kandungan merkurinya 8,3 µg/0,5 mL dosis; Decavac keluaran Sanofi Pasteur Inc., konsentrasi thimerosalnya ≤ 0,00012% atau kandungan merkurinya ≤ 0,3 µg/0,5 ml dosis.  TT (tetanus) keluaran Sanofi Pasteur, Inc., konsentrasi thimerosalnya 0,01% atau kandungan merkurinya 25 µg/0,5 mL dosis.  HepA/HepB: Twinrix keluaran GlaxoSmithKline Biologicals, konsentrasi thimerosalnya < 0,0002% atau kandungan merkurinya < 1 µg/1mL dosis.  Japanese Encephalitis: JE-VAX keluaran Research Foundation for Microbial Diseases of Osaka University, konsentrasi thimerosalnya 0,007% atau kandungan merkurinya 35 µg/1,0mL dosis atau 17,5 µg/0,5 mL dosis.  Meningokokus: Menomune A, C, AC dan A/C/Y/W-135 keluaran Sanofi Pasteur Inc., konsentrasi thimerosal 0,01% (multidosis) atau kandungan merkurinya 25 µg/0,5 dosis. Yang dosis tunggal bebas thimerosal.
  46. 46. STABILIZER  Fungsi STABILIZER: menstabilkan vaksin saat berada pd kondisi ekstrem, misal. panas. Dosis yg digunakan AMAT KECIL: < 10 mikrogram.  Jenis STABILIZERS: gula (sukrosa & laktosa), asam amino (glisin, asam glutamat) atau protein (albumin, gelatin)  Isu STABILIZERS: penggunaan stabilizer jenis protein (terutama gelatin) sebabkan reaksi alergi. Fakta: kejadiannya amat sangat jarang.
  47. 47. LAIN-LAIN  Selain ANTIGEN & ZAT ADITIF, terkadang VAKSIN memiliki residu yg timbul selama proses pembuatan.  Residu berupa: formaldehid, antibiotik, partikel2 mikroorganisme. Namanya jg residu, kadarnya amat kecil, bahkan sering tak terdeteksi
  48. 48. PROSES PEMBUATAN VAKSIN
  49. 49. TAHAPAN PRODUKSI VAKSIN
  50. 50. TAHAPAN PROSES PRODUKSI VAKSIN Tahapannya: bibit vaksin -> fermentasi -> panen -> inaktivasi -> purifikasi -> ultrafiltrasi -> formulasi/kemasan   Saat proses kultur substrat utk menumbuhkan bibit BEBERAPA (tak semua) vaksin, diperlukan penggunaan enzim, namanya TRIPSIN.
  51. 51. TAHAPAN PROSES PRODUKSI VAKSIN  Reaksi kimia takkan mungkin berjalan tanpa bantuan TRIPSIN. Akibatnya proses produksi vaksin pasti gagal tanpa Tripsin.  Saat ini, SATU-SATUNYA Tripsin yg bisa digunakan utk proses ini bersumber dari organ pankreas babi. Di sini letak perdebatannya.
  52. 52. TAHAPAN PROSES PRODUKSI VAKSIN  Proses produksi vaksin Ada ULTRAFILTRASI. Di sini secara kimiawi, unsur tripsin babi td HILANG krn DISARING sedemikian kecilnya dgn NANOPARTIKEL  Pendapat lain: sekali bersinggungan dgn unsur dr babi, ya seterusnya akan tetap babi. Lalu bagaimana?
  53. 53. VAKSIN HALAL ?  Soal ini, sudah ada Fatwa Ulama seluruh dunia, termasuk negara2 Arab. Apa kata ahlinya?  Ulama: Vaksin tetap HALAL. Krn tanpa vaksin, byk penyakit infeksi MEMATIKAN. Manfaat lbh besar dr mudharat. Ingat pula ULTRAFILTRASI tadi.
  54. 54. VAKSIN HALAL ?  Ulama: vaksin HALAL krn pengganti Tripsin babi BELUM ADA. Ulama terus anjurkan TEMUKAN Tripsin non-babi. Tetapi Tidak mudah.  Tak semua vaksin gunakan Tripsin Babi. Yg gunakan antara lain: Vaksin Rotavirus (diare), beberapa vaksin Flu, dan OPV (Oral Polio Vaccine)
  55. 55. PRODUKSI VAKSIN DI INDONESIA  Di Indonesia Vaksin diproduksi oleh PT.Bio farma (Persero) yang berlokasi di Bandung.  Dari pihak PT Bio Farma (Persero) sendiri menekankan ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi, yaitu:
  56. 56. KLARIFIKASI PT. BIOFARMA  1. Tripsin bukan bahan pembuat vaksin, tapi untuk harvest sel (panen) yang digunakan untuk media virus. Tripsin merupakan bahan untuk melepaskan sel dari tempat merekatnya virus pada media virus. 2. Tripsin kemudian dibuang dan ada proses pencucian, dan kemudian pelarutan dengan air dalam jumlah yang sangat besar. 3. Pada produk final tidak ditemukan unsur tripsin.
  57. 57. KLARIFIKASI PT. BIOFARMA  "Untuk vaksin lainnya kita tidak menggunakan tripsin seperti polio. Dengan demikian, bisa dijelaskan vaksin adalah suatu medikasi yang sifatnya urgent, bukan pilihan seperti makanan," (dr Novilia Sjafri Bachtiar, M.Kes, Kepala Bagian Evaluasi Produk PT Bio Farma (Persero)) Sebagai informasi, sejak tahun 1997 sampai saat ini, PT Bio Farma pun telah mengekspor produknya ke 120 negara, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam seperti Iran, Pakistan, Malaysia, Mesir dan negara lainnya seperti India, Thailand, Afrika Selatan dan lainnya.
  58. 58. KLARIFIKASI PT. BIOFARMA  Di dalam negeri pengawasan dilakukan oleh badan POM dan untuk ekspor dilakukan penilaian kualitas dan mutu vaksin oleh World Health Organization (WHO). "Perihal kehalalan vaksin dipertanyakan sejak tereksposnya penggunaan tripsin (enzim babi) pada vaksin polio. Untuk itu sudah ada fatwa MUI bahwa penggunaan vaksin OPV (Oral Polio Vaccine) maupun IPV (Inactivated Poliovirus Vaccines atau vaksin polio khusus) diperbolehkan, bisa dilihat pada website MUI," lanjut dr Novilia.
  59. 59. KLARIFIKASI PT. BIOFARMA  Pembuatan semua vaksin di Indonesia sendiri dilakukan oleh PT Bio Farma (Persero). Kelima vaksin dasar lengkap yakni Hepatitis B, Imunisasi BCG, Polio, Imunisasi DPT, Imunisasi Campak juga dibuat Bio Farma dan sudah dibolehkan Majelis Ulama Indonesia (MUI).
  60. 60. vaksin memiliki profil keamanan yg sangat baik. Sdh terbukti manfaatnya. Jangan ragu.  SEMUA VAKSIN YG ADA DI INDONESIA SUDAH DINYATAKAN HALAL OLEH MUI.
  61. 61. KESIMPULAN      Imunisasi adalah hak anak. Imunisasi adalah untuk kepentingan anak. Imunisasi merupakan upaya paling efektif mencegah dan memutuskan rantai penularan penyakit berbahaya. Imunisasi tidak hanya berguna untuk diri sendiri tetapi juga berguna bagi orang lain disekitarnya. TDK ADA TEORI KONSPIRASI, BARAT/YAHUDI ingin singkirkan ORANG ISLAM. Nyatanya, mereka divaksin
  62. 62. SARAN  Mari kita cegah penularan penyakit, wabah, sakit berat, cacat dan kematian bayi dan balita dengan imunisasi dasar lengkap, untuk membangun generasi muda Indonesia yang sehat dan sejahtera
  63. 63. FOR YOUR KINDLY ATTENTION TERIMA KASIH

×