1                              INDIE PUBLISHING :           MENCETAK KEBERANIAN GURU MENULIS                 & MENERBITKAN...
2   I.      Berikut ini adalah perbandingan antara penerbitan mainstream dengan           penerbit indie.               Ma...
3                                II.    Online Self Publishing - Print on Demand.                             Sebuah anali...
4        Setelah 2 bulan marketing melalui online : blog, FB, web, milis, dll buku pun habis        terjual. Secara matema...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Guru & Indie Publishing

721 views

Published on

Mencetak Keberanian Guru Menulis dan Menerbitkan Buku, by Doni Riadi

Published in: Education, Business, Technology
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
721
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Guru & Indie Publishing

  1. 1. 1 INDIE PUBLISHING : MENCETAK KEBERANIAN GURU MENULIS & MENERBITKAN BUKU*) Oleh : Doni Riadi Pegiat IGI Kota Semarang Guru Sekolah Alam Ar-Ridho Semarang, Praktisi Indie Publishing Komunitas WedangjaeMenulis adalah tradisi intelektual.Guru yang bisa menulis akan menjadi guru zaman.Ia membuat dan mewariskan peradaban.Namanya dikenang, idenya tak padam diperbincangkan.Ada banyak jalan merekam ide dan pemikiran.Dari cara paling modern macam blog dan koran,ataupun model klasik, dengan mencoret-coret buku harian.yang penting istiqomah, suatu saat semuanya bisa dibukukan!Bicara buku bicara penerbitan.Ada penerbit mainstream, sebut saja Gramedia dan Mizan.Ada juga penerbit sekaligus penulis dan pemasaran,namanya penerbit indie, yang mandiri tapi butuh keberanian.Dua macam penerbitan tadi bukan untuk dipertarungkan,sebab keduanya hanyalah sarana menerbitkan ide ke permukaan.Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.Yang penting, mari kita mencoba memulai untuk menerbitkan.Penerbitan indie adalah sebuah tawaran solusi,dari kendala klasik penerbitan mainstream yang terkesan ruwet dalam birokrasi.Dengan bantuan kemajuan teknologi, sekarang ia punya banyak variasi.Yaitu : Penerbitan indie offline, online self publishing, atau Print on Demand (PoD) Buku yang lahir nanti dari acara ini adalah contoh indie yang offline.Menggunakan jasa website macam http://nulisbuku.com adalah contoh indie online. Biasanya menggunakan metode PoD; mencetak buku berdasarkan pesanan. Dengan bantuan cetak digital, sekarang semuanya sangat mungkin dilakukan.*) Disampaikan pada Pelatihan IGI Semarang : Guru Menulis, Guru Nge-Blog, dan GuruMenerbitkan Buku. Selasa, 17 Mei 2011 di SDN Taman Pekunden.
  2. 2. 2 I. Berikut ini adalah perbandingan antara penerbitan mainstream dengan penerbit indie. Mainstream Indie 1. Penerbit profesional. Ada tim khusus 1. Penerbit bisa penulis itu sendiri atau untuk approving, editor, layout, sebuah komunitas grafis, administrasi, dsb 2. Besaran royalti dan sistem 2. Royalti ditentukan sendiri oleh pembayaran ditentukan penerbit. penulis. Penghasilan netto diraih Umumnya royalti penulis 7–10 %. setelah dikurangi dengan bea cetak Sistemnya bisa royalti berkala atau dan bea penjualan. Terkadang, sistem beli putus penghasilan penulis bisa mencapai 80% dari harga buku. 3. Penerbit menanggung seluruh biaya 3. Pembiayaan diatur sendiri oleh penerbitan, mulai dari pracetak, penulis/komunitas. Bisa dari dana cetak, hingga promo. Kerjasama tunggal, urunan, donaturial atau dengan penulis dimungkinkan sponsorship. terutama saat launching dan roadshow. Dalam kondisi khusus, bisa saja seluruh biaya ditanggung penulis. 4. Jumlah tiras ditentukan penerbit. 4. Penulis yang memutuskan berapa Jumlah standar biasanya 2500-3000 tirasnya. Biasanya mulai dari 5-1000 buku buku. 5. Memiliki jaringan distributor. 80% 5. Didistribusikan sendiri. Dalam pasar buku ada di Pulau Jawa. jumlah besar, biasanya bekerjasama Beberapa penerbit bahkan memiliki mengikat kontrak dengan toko sendiri atau memiliki kapling di distributor. toko buku. 6. Editing, layout, covering benar-benar 6. Penulis menjadi penguasa penuh diluar jangkauan penulis. Sejak untuk urusan editing, layout, naskah disetujui hingga buku covering. Kadang proses editing beredar dipasaran membutuhkan diserahkan pada editor profesional. waktu 3- 12 bulan. Waktu terbit juga relatif lebih singkat. 7. Manajemen stock buku prosedural, 7. Selalu ready stock dan lebih tangkas karena banyaknya buku yang harus dalam mengatur stock. di manaje dan rantai yang panjang. Sehingga kadang terkesan tidak efektif dan efisien. 8. Penerbit menanggung biaya promo 8. Biaya promo dihandle penulis, atau buku yang ditimpakan pada harga menggunakan jasa EO. buku. 9. Kerugian ditanggung oleh penerbit 9. kerugian ditanggung penulis/komunitas. 10. Ada istilah kadaluawarsa untuk buku 10. Selama penulis masih ingin yang tidak menguntungkan, dan menerbitkan atau masih ada digudangkan. pesanan maka selama itu pula bisa diterbitkan.*) Disampaikan pada Pelatihan IGI Semarang : Guru Menulis, Guru Nge-Blog, dan GuruMenerbitkan Buku. Selasa, 17 Mei 2011 di SDN Taman Pekunden.
  3. 3. 3 II. Online Self Publishing - Print on Demand. Sebuah analisis menarik disampaikan oleh Rusdianto (2011)., seorang pegiat Indie Publishing dalam http://nulisbuku.com , ketika menilai seberapa unggul dan seberapa lemah menerbitkan buku secara indie khususnya dengan metode Online Self Publishing - Print on Demand.Tujuh Keunggulan 1. Buku produk online self publishing adalah passive income. 2. Proses penerbitan tidak birokratis. 3. Kendali Penuh di Tangan Penulis 4. Modal Awal penerbitan buku relatif murah 5. Waktu penerbitan buku cepat 6. Royalty penulis buku relatif besar nulisbuku.com memberi royalty bagi penulis sebanyak 60 % dari laba (harga jual dikurangi ongkos produksi). 7. Tidak Mengenal Istilah Kelebihan Stock BukuTujuh Kelemahan 1. Kualitas editing dipertanyakan 2. Biaya promosi dan distribusi tidak ditanggung 3. Wilayah pemasaran buku terbatas 4. Menyita waktu lebih banyak 5. Harga jual lebih mahal 6. Ketimpangan bagi hasil 7. Apresiasi masyarakat masih minim III. 8 Langkah-langkah Indie Publishing (Konvensional) 1. Persiapan Naskah 2. Proses Editing/Penyuntingan 3. Endorsement dan Pengantar 4. Proses Layout 5. Design Cover 6. Pengurusan ISBN 7. Proses Cetak 8. Distribusi/Penjualan IV. Simulasi Indie 1. Simulasi 1 (Buku Antologi Puisi Dialog Tanpa Kata) : Dengan spesifikasi ketebalan 100 hlm all BW, cover berwarna glossy, perfect binding & wraping, saya mencetak 100 eksemplar. Biaya yang dikeluarkan untuk itu adalah Rp 2.000.000,00. Karena tahap pracetak : layout, editing, dan cover dikerjakan sendiri maka saya telah memangkas biaya tersebut. Katakan biayanya Rp 500.000,00. Maka total biaya yang saya keluarkan adalah Rp 2.500.000,00. Saya mematok harga per buku Rp. 4.000.000,00*) Disampaikan pada Pelatihan IGI Semarang : Guru Menulis, Guru Nge-Blog, dan GuruMenerbitkan Buku. Selasa, 17 Mei 2011 di SDN Taman Pekunden.
  4. 4. 4 Setelah 2 bulan marketing melalui online : blog, FB, web, milis, dll buku pun habis terjual. Secara matematis, angka kasar yang seharusnya diperoleh adalah 100xRp 40.000,00 = Rp 4.000.000,00. Selisih 1,5 juta adalah keuntungan bruto. Kenapa bruto, sebab ada pengeluaran yang saya keluarkan saat promo online. Sementara ongkos kirim kepada pembeli dibebankan kepada pembeli. 2. Simulasi 2 (Buku Faisal Sayang Mama Sampai Tua-FSMST) : Belajar dari pengalaman pertama, saya dan teman-teman di Wedangjae meluncurkan buku ke-2. Alhamdulillah setelah proses naskah selesai, kami mendapat suntikan dana dari 3 sponsor yang berempati kepada penulis. Tiras yang kami cetak adalah 3000 eksemplar dengan bea produksi 16 juta rupiah. Ditambah bea pracetak 2 juta rupiah, maka buku FSMST bermodal 18 juta rupiah, dengan spesifikasi buku 100 hlmn, cover colour dof, 4 halaman colour, perfect binding & wraping. Harga perbuku dibandrol Rp 30.000,00 Kami membuat MoU dengan pihak distributor agar 2500 buku dapat diakses di toko- toko buku macam Gramedia, Toga Mas, dll. Sementara 500 buku sisanya kami jual sendiri dalam berbagai acara. Hampir 5 bulan menjelang, sudah terjual 1000 buku dengan pemasukan bersih mendekati 12 juta rupiah. Masih tersisa 2000 buku dengan nilai omset 60 juta, angka itu harus kami bagi 60% distributor dan 40% penerbit. Sehingga jika buku itu habis terjual, yang diterima penerbit adalah 2000x Rp 12.000 (40% dari harga buku)= 24 juta rupiah. Hitungan kasarnya : 12 juta + 24 juta -18 juta (modal) = 18 juta, labanya. 3. Simulasi 3 (Buku Antologi Esai Guru – Hari ini) Pemasukan : - 50.000x50 peserta = 2.500.000 Pengeluaran : - Pracetak (layout, editing, cover) = 500.000 (diberi diskon 1 juta oleh Wedangjae) - cetak 100 eksp x20.000 = 2.000.000 Rencana Distribusi : - 50 eksp untuk peserta (free) - 36 eksp untuk 12 penulis naskah terpilih (1 penulis 3 buku) - sisanya 24 untuk promo atau dijual. Bandrol harga kisaran 30ribu-40ribu. Jika IGI Semarang berhasil mendapatkan sponsor atau donator, maka tiras buku yang dicetak akan jauh lebih banyak dan ongkos cetak menjadi lebih murah, sehingga margin keuntungan menjadi lebih besar.Last but not least, saat guru mengajar, itu adalah hal mulia. Jika guru itu kemudian menulis,itu setingkat lebih hebat. Dan saat guru belajar menjadi entrepreneur, dengan indiepublishingnya itu, maka guru itu telah mencapai maqam tertinggi guru. Ia telah menjadiseorang teacherpreneur. Mandiri secara idealisma dan mandiri secara finansial. (dr)*) Disampaikan pada Pelatihan IGI Semarang : Guru Menulis, Guru Nge-Blog, dan GuruMenerbitkan Buku. Selasa, 17 Mei 2011 di SDN Taman Pekunden.

×