E book yakoma

1,044 views
849 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,044
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
51
Actions
Shares
0
Downloads
10
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

E book yakoma

  1. 1. YAKOMA-PGI KOMUNIKASI DAN MEDIA GEREJA DI TENGAH BANGSA YANG PLURAL Hasil-hasil Konsultasi Nasional “Gereja dan Komunikasi” Jakarta, 25-27 Mei 2010 Penyunting Rainy MP Hutabarat Irma Riana Simanjuntak EBook
  2. 2. Kata Pengantar K onsultasi Nasional “Gereja dan Komunikasi” yang diselenggarakan pada 25-27 Mei 2010 lalu merupakan yang kelima kali diselenggarakan oleh YAKOMAPGI sejak tahun 1970-an. Konsultasi ini diselenggarakan sebagai wadah bersama gereja-gereja di tanah air untuk memahami betapa pentingnya komunikasi dan media dalam kehidupan gereja; memetakan persoalan-persoalan di seputar perkembangan terakhir komunikasi dan media serta refleksi teologis atasnya; merumuskan strategi-strategi komunikasi dan media di tengahtengah konteks masyarakat Indonesia; membangun dan mengembangkan jejaring serta merumuskan rekomendasi bagi gereja-gereja maupun YAKOMA-PGI. Karena itu, penyelenggaraan konsultasi nasional terkait gereja dan komunikasi, walaupun waktunya tak teratur, bukan sekadar menjalankan tradisi. Ia lebih merupakan wadah strategis gereja-gereja di Indonesia untuk bersama-sama saling berbagi pengalaman, pengetahuan dan pergumulan di seputar komunikasi dan media. naratif, beberapa disampaikan melalui power-point, termasuk juga hasil-hasil diskusi kelompok pendalaman. Bertolak dari hasil rekaman kaset, topik-topik yang disajikan dalam bentuk powerpoint kemudian dilengkapi dengan ringkasan percakapan yang disampaikan oleh narasumbernya. Buku “Komunikasi dan Media Gereja di Tengah Masyarakat yang Plural dan Demokratis” ini memuat seluruh materi dan proses Konsultasi Nasional tersebut. Tentu saja, tak seluruh materi disampaikan secara Materi-materi yang dibahas terentang dari refleksi teologis tentang “Allah Itu Baik Kepada Semua Orang: Komunikasi dan Media Gereja di Tengah Masyarakat yang Plural dan Demokratis” Pdt. Dr. Andreas YAKOMA-PGI Buku ini dibagi dalam tiga bagian. Bagian I adalah kerangka acuan dan laporan singkat Konsultasi Nasional tersebut. Bagian II meliputi alur dan hasil-hasil diskusi empat kelompok pendalaman. Keempat kelompok pendalaman tersebut masing-masing bertugas a) Pemetaan masalah Komunikasi dan Media Gereja dan Refleksi Teologis (Kelompok 1); b) Peluang dan Dampak Positif dan Negatif terhadap Jemaat dan Masyarakat (Kelompok 2); c) Strategi Komunikasi dan Media Gereja di Tengah Masyarakat yang majemuk dan Demokratis (Kelompok 3); Merumuskan Rekomendasi bagi Gereja-gereja dan YAKOMA-PGI (Kelompok IV). Yang terakhir, Bagian III memuat Lampiran-lampiran yang terdiri dari: a) Materi-materi dan b) Daftar Peserta. A. Yewangoe); “Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi: Tantangan dan Dampaknya bagi Masyarakat dan Jemaat Gereja (Dr. Magdalena Daluas); Persepsi Umat non Kristen terhadap Umat Kristen, Sebuah Studi Kasus (Haryati Kristanto); Panel yang menghadirkan 4 pengelola berbagai jenis media (majalah cetak, buku, radio, milis) bertajuk: STT Jakarta di Radio Penyiaran Kristen (Stephen Suleeman); “Kiat Survive BPK Gunung Mulia: Memadukan Idealisme Rasionalitas Pasar” (Otniel Sintoro); “Mengelola Media Kristiani di Tengah Kehidupan Bernegara - Berbangsa yang Sedang Berubah” (Dr. Victor Silaen). Buku ini disajikan dengan harapan para pembaca, khususnya warga gereja yang tidak terlibat dalam Konsultasi Nasional Gereja dan Komunikasi IV, bisa ikut memperoleh manfaat informasi, berbagi pengalaman dan moga-moga terdorong untuk membarui pemahaman dan strategi komunikasi dan media pelayanannya masing-masing. Semoga. Penyunting Rainy MP Hutabarat Irma Riana Simanjuntak
  3. 3. Daftar Isi Kata Pengantar ............................................................................................................................ 2 Laporan 4 ..................................................................................................................................... Alur Proses Konsultasi Nasional ............................................................................................. 10 ............................................................................................................... 11 .......................................................................................................... 16 1. “Komunikasi dan Media Gereja: Allah Itu Baik Kepada Semua Orang” oleh Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe .......................................................................................... 16 2. Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi: Tantangan dan Dampaknya Bagi Masyarakat dan Jemaat oleh Magdalena Daluas ........................................................................................................... 19 3. Mengelola Media Kristiani di Tengah Kehidupan Bernegara-berbangsa yang Sedang Berubah (Strategi dan Pengalaman Reformata) oleh Victor Silaen .................................................................................................................... 23 4. Kiat Survive BPK Gunung Mulia: “Memadukan Idealisme Rasionalitas Pasar” oleh Otniel Sintoro .................................................................................................................. 29 Hasil-hasil Workshop Materi-materi Workshop 5. STT Jakarta di RPK oleh Stephen Suleeman .................................................................................................................. 36 6. Konsultasi  Nasional “Gereja dan Komunikasi” “Komunikasi dan Media Gereja di Tengah Bangsa yang Plural” oleh Agus Hamonangan ......................................................................................................... 38 7. Persepsi Umat Non Kristen Terhadap Umat Kristen (Studi Kasus) oleh Haryati Kristanti (World Vision Indonesia) ...................................................................... 40 Daftar Peserta 42 ........................................................................................................................ EBook
  4. 4. LAP O RAN Konsultasi Nasional “Gereja dan Komunikasi” “Komunikasi dan Media Gereja di Tengah Bangsa yang Plural” Jakarta. 25-27 Mei 2010 A. Latar-belakang Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi tengah berlangsung. Sebelum internet muncul, saingan terbesar media cetak seperti suratkabar, majalah berita, dan buku adalah televisi dan radio. Walaupun tak bisa dibilang ringan, media cetak masih mendapat tempat sangat terhormat karena liputannya yang lebih komprehensif dan mendalam. Namun, seiring munculnya situs-situs berita online yang bersifat multimedia dan partisipatif serta dapat diperbarui segera, media cetak kini mengalami masamasa sukar dalam perjalanan hidupnya. Media online tak hanya dapat membarui kontennya setiap saat, tetapi juga bersifat multi-media dan partisipatif. Para pengguna dapat memberi tanggapan langsung terhadap konten yang disiarkan setelah lebih dulu mendaftar (login). Dengan merebaknya blogger yang mengembangkan jurnalisme warga (citizen journalism), dan media jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter, media massa surat kabar kini dituntut untuk kembali mereposisikan dirinya di tengah- YAKOMA-PGI tengah berbagai pilihan media. Jurnalisme warga merupakan respons terhadap perkembangan pesat dunia internet dan juga terhadap media massa yang berorientasi industri dan bisnis, monopoli dan rentan terhadap kooptasi kekuasaan. Jurnalisme warga merupakan bentuk jurnalisme partisipatif, non komersial, dan karenanya bercorak media komunitas maya. Sebuah sumber mengatakan, pengguna media maya seperti blogger, serta pengakses situs-situs berita online, terus meningkat. Juga jumlah penggguna media jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter di Indonesia terus bertambah. Dari aspek komunikasi, TV telah menawarkan komunikasi yang jauh lebih bisa menjangkau dan mempengaruhi orang banyak dan interaktif. Sifatnya yang audio-visual dan kini interaktif, membuat TV tak hanya bersifat informative, segera (live) tetapi sekaligus juga menghibur. Dengan infrastruktur yang kian membaik, jemaat kini semakin mudah mengakses berbagai informasi yang bersifat cetak, musik, audio-visual melalui berbagai media online. Yang perlu semakin disadari adalah, internet kini telah berkembang sebagai institusi pendidikan dan jejaring sosial. Melalui media jejaring sosial interaksi umat beragama kini juga semakin intens. Berbagai informasi mulai dari berita sosial, politik, agama hingga makalah/buku teologi dan filsafat kini dapat diperoleh melalui penjelajahan di internet, termasuk lagu-lagu dan film. Ini berarti, di samping radio, televisi dan surat kabar, jemaat dapat belajar hal-ihwal iman Kristen melalui internet, termasuk diskusi terfokus melalui Facebook. Tentu saja, di samping berbagai dampak positif dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, juga ada dampak negatif yang merongrong warga jemaat maupun generasi muda. Pornografi, penipuan melalui media jejaring sosial, berinternet secara tak sehat, adalah beberapa contoh kasus. Etika berinternet belum diketahui oleh kebanyakan warga jemaat. Masalah lain adalah, pengelolaan waktu untuk belajar dan gaul dalam komunitas maya (Facebook, Twitter) oleh para pelajar dan mahasiswa; juga pemanfaatan uang untuk keperluan studi dan gaul dalam komunitas maya. Ada kecenderungan anak muda sekarang lebih memilih membeli
  5. 5. gadget mutakhir ketimbang melengkapi koleksi bukubukunya. Dalam situasi demikian, komunikasi dan media gereja kini semakin menghadapi tantangan berat. Di Indonesia, gereja-gereja yang coba mengembangkan bentuk-bentuk komunikasi dan medianya secara maksimal masih terbatas jumlahnya. Dari hasil pengamatan YAKOMAPGI, media gereja (cetak dan situs web/blog) tidak dikelola dan dikembangkan secara maksimal dari segi isi maupun tampilan. Dari segi isi dan bahasa, misalnya, bila dikaitkan dengan konteks pluralisme agama di Indonesia, masih terdapat kekerasan simbolik, misalnya menyebut non Kristen sebagai “kafir” serta konversi agama yang mencitrakan agama-agama secara hitam putih. Liturgi gereja cenderung monoton, kurang menggali kekayaan budaya local dan merespons situasi sosial yang berkembang serta memanfaatkan multi-media. Cara berkomunikasi di depan publik oleh para pekerja gereja, termasuk guru Sekolah Minggu, juga cenderung dipelajari secara otodidak. Satu pertanyaan menggelitik, pernahkah umat Kristen bertanya, bagaimanakah agamaagama lain memandang kita? Sebuah studi yang dilakukan oleh ornop berbasis Kristen menyatakan, di mata umat beragama lain “orang Kristen itu kapitalis, kaya, kebaratbaratan, kafir, hampir semua bernada negatif.” Riset yang dilakukan oleh YAKOMA-PGI, Persetia dan Litkom-PGI (2007) juga mendapati bahwa melalui medianya gereja melakukan kekerasan simbolik antara lain berbentuk stigmatisasi terhadap umat non Kristen, serta pelukisan secara hitam-putih. Pandangan seperti ini mengajak kita melakukan instrospeksi terhadap komunikasi dan media gereja atau organisasi berbasis Kristen selama ini, baik melalui media gereja di tingkat lokal maupun sinodal, TV swasta nasional dan lokal, dan komunikasi publik lainnya. Merespons situasi di atas dalam terang tema kerja PGI (20092014) bahwa “Tuhan Itu Baik Kepada Semua Orang” dan tema kerja YAKOMA-PGI yakni “Komunikasi dan Media Gereja di Tengah Masyarakat yang Demokratis dan Plural”, maka gereja-gereja diajak untuk coba melakukan evaluasi terhadap pelayanan komunikasi dan medianya. “Tuhan Itu Baik Kepada Semua Orang” dalam konteks komunikasi dan media gereja di tengah masyarakat yang plural berarti bahwa komunikasi dan media gereja itu sendiri harus mencerminkan kebaikan Allah bagi semua orang apa pun agamanya. Untuk itu, gereja-gereja perlu duduk bersama-sama memetakan persoalan komunikasi dan media; berbagi informasi dan pengalaman; merumuskan strategi dan prinsip komunikasi dan media untuk pengembangan pelayanannya, dan merekomendasikan apa yang dapat dilakukan di tingkat sinodal maupun PGI. Karena itulah, YAKOMA-PGI bermaksud menyelenggarakan Konsultasi Nasional “Gereja dan Komunikasi” dengan tema “Komunikasi dan Media Gereja di Tengah Masyarakat Plural” pada 25-27 Mei 2010. B. Tujuan - Memetakan masalah-masalah komunikasi dan media sebagai dampak perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi. - Mengevalusi pelayanan komunikasi dan media gereja di tengah masyarakat yang demokratis dan plural - Merumuskan strategi-strategi bersama di bidang komunikasi dan media untuk pengembangan pelayanan gereja bagi jemaat dan masyarakatnya yang demokratis dan plural. - Merumuskan rekomendasi untuk dilakukan oleh gereja masing-masing serta YAKOMAPGI. C. Waktu dan Tempat: Balai Latihan YAKOMA-PGI, 25-27 Mei 2010 Jalan Cempaka Putih Timur XI/26, Jakarta 10510 Telp. 4205623; Fax/Tel. 4253379; email: yakoma@cbn.net.id D. Penyelenggara: YAKOMA-PGI E. Peserta: 25 peserta (pengambil keputusan di tingkat sinodal, pengelola media Kristen, dan lembagalembaga Kristen terkait) F. Topik Bahasan dan Narasumber: 1. Keynote Speech: EBook
  6. 6. “Komunikasi dan Media Gereja: Tuhan Itu Baik Kepada Semua Orang” oleh Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe dan moderator Dr. Victor Silaen (materi terlampir). 2. Ceramah dan Curah Pendapat Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi dan Dampaknya bagi Masyarakat dan Jemaat Gereja oleh Dr. Magdalena Daluas (TVRI).dengan moderator Eliakim Sitorus (materi terlampir). 3. Persepsi Umat Non Kristen Terhadap Umat Kristen (Studi Kasus) Narasumber: Ibu Haryati Kristanti dengan moderator Eliakim Sitorus (materi terlampir) 4. Panel Sharing Pengalaman: Komunikasi dan Media Gereja di Tengah Masyarakat yang Demokratis dan Plural (materi terlampir): a) Pengalaman Majalah REFORMATA: Dr. Victor Silaen b) BPK Gunung Mulia: Kiat Survive BPK Gunung Mulia: Memadukan Idealisme Rasionalitas Pasar. c) Agus Hamonangan: Mengenal Internet, Cyberethic, UU Informasi dan Transaksi Elektronik. d) Stephen Suleeman: Pengalaman RPK STT Jakarta e) Haryati Kristanti: Pengalaman World Vision Indonesia: Moderator: Vesto Proklamanto Magany YAKOMA-PGI 5. Pendalaman materi (4 kelompok) G. Jadwal Konsultasi Selasa, 25 Mei 2010 13.00 – 16.00 Pendaftaran 17.00 – 18.30 - Ibadah Pembukaan oleh Rainy Hutabarat - Sambutan dari Pengurus YAKOMA-PGI oleh Mula Harahap - Sambutan dari Direktur YAKOMA-PGI oleh Irma Simanjuntak - Perkenalan dan Penjelasan Acara oleh Irma Simanjuntak 18.30 – 19.30 Makan Malam 19.30 – 21.00 Keynote Speech Komunikasi dan Media Gereja: Tuhan Itu Baik Kepada Semua Orang Narasumber: Pdt. DR. Andreas A. Yewangoe; Moderator: DR. Victor Silaen Rabu, 26 Mei 2010 07.00 – 08.30 Sarapan Pagi 08.30 – 09.00 Ibadah Pagi 09.00 – 10.30 Sesi I: Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi: Tantangan dan Dampaknya bagi Masyarakat dan Jemaat Gereja Narasumber: Magdalena Daluas Moderator: Eliakim Sitorus 10.30 – 11.00 Snack 11.00 – 12.30 Sesi II: Persepsi Umat Non Kristen Terhadap Umat Kristen (Studi Kasus) Narasumber: Haryati Kristanti dari World Vision Indonesia (WVI). Moderator: Eliakim Sitorus 12.30 – 13.30 Makan Siang 13.30 – 15.30 Sesi III: Panel dan Sharing Komunikasi dan Media Gereja di tengah Masyarakat yang Demokratis dan Plural: Sharing Pengalaman dan Strategi RPK STT-J, Majalah Kristen Reformata, BPK Gunung Mulia, WVI, Pengelola TIK Panelis: Stephen Suleeman, Victor Silaen, Haryati Christati, BPK Gunung Mulia, Agus Hamonangan. Moderator: Mula Harahap 15.30 – 16.00 Snack 16.00 – 18.00 Sesi IV: Lanjutan Panel dan Sharing 18.00 – 19.00 Makan Malam/ Malam Budaya Kamis, 27 Mei 2010 07.00 – 08.30 Sarapan Pagi 08.30 – 09.00 Ibadah Pagi 09.00 – 10.30 Pendalaman Kelompok (4 kelompok) 10.30 – 11.00 Snack 11.00 – 12.30 Penutupan 12.30 – Makan Siang/Pulang H. Proses dan Kegiatan Konsultasi Nasional diawali dengan Ibadah, dipimpin oleh Rainy Hutabarat. Selanjutnya Mula Harahap menyampaikan Kata Sambutan mewakili Badan Pengurus YAKOMA-PGI, juga Irma Simanjuntak selaku Direktur. Penjelasan Acara dan Perkenalan juga dipandu oleh Irma Simanjuntak. Peserta Konsultasi sebanyak 25 orang mewakili SAG Sulutteng, GKPB, GBKP, GKPB, GKPS, GKPI-Siantar, HKBP, GKJ, GKO, GKII, PGIW Banten, PGIW Kalimantan, Gereja Toraja, GMIM, GTM, (daftar peserta dan narasumber terlampir).
  7. 7. Sesi I (hari 1) bertajuk “Komunikasi dan Media Gereja: Allah Itu Baik Kepada Semua Orang” oleh Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe dengan moderator Dr. Victor Silaen. Pokok-pokok material yang disampaikan adalah: 1. Komunikasi dan media tidak boleh disalahgunakan oleh siapapun termasuk orang Kristen atau gereja. 2. Tema SR PGI XV dalam kaitannya dengan media dan komunikasi perlu menekankan bagaimana menjabarkan kebaikan Tuhan dalam pergumulan bangsa kita. 3. Subtema SR “Bersama-sama Seluruh Komponen Bangsa Mewujudkan Masyarakat Majemuk Indonesia Yang Berkeadaban, Inklusif, Adil, Damai dan Demokratis” mengisyaratkan bahwa kita hidup di dalam masyarakat majemuk dan karena itu media dan komunikasi gereja harus lintas-agama, lintas-suku, lintas-sektor, lintas-kepentingan dan seterusnya. Hal tersebut makin memperkuat masyarakat majemuk, di mana salah pengertian bisa dieliminasi, dan ada keterbukaan. 4. Gereja perlu menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan tidak asing (familiar) didengar atau dibaca oleh masyarakat. Bahasa yang dimengerti secara tepat dalam menjawab persoalan dan pergumulan bangsa kita ini memperlihatkan bahwa gereja benar-benar menyampaikan Kabar Baik yang dapat difahami dan masyarakat merasakan advokasi yang tulus dan sungguh-sungguh. 5. Media dan komunikasi harus menjadi berkat, sehingga setiap orang merasakan kebaikan Tuhan. Sesi II (hari 2) bertajuk “Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK): Tantangan dan Dampaknya bagi Masyarakat dan Jemaat Gereja” oleh Dr. Magdalena J. DaluasMolenaar dengan moderator Bapak Eliakim Sitorus. Pokok pikiran dalam sesi ini sebagai berikut: 1. TIK memungkinkan penyampaikan Kabar Baik terlalu luas dan tidak terukur, artinya hampir tidak ada lagi batas-batas ruang dan waktu. 2. Gereja perlu memberdayakan secara maksimal TIK tersebut karena TIK telah menjadi alat komunikasi utama dunia. 3. Gereja juga perlu mewaspadai dampak negatif dari pemakaian TIK, antara lain: pelanggaran hak cipta, kejahatan dunia maya (cybercrime), penyebaran virus komputer, pornografi, perjudian, dan penipuan. Sesi III (hari 3) bertajuk “Persepsi Umat Non Kristen Terhadap Umat Kristen (Studi Kasus)” disampaikan oleh Haryati Kristanto (WVI) dengan moderator Eliakim Sitorus, M.Sc. Pada sesi ini para peserta dibagi dalam kelompok diskusi, diajak mengeksplorasi apa presepsi (pandangan) non Kristen terhadap umat Kristen. Dari ekplorasi kelompok diperoleh temuan: 1. Kelompok 1: Kekristenan dipersepsikan oleh umat beragama lain • Kasih: jujur, kemurahan, kepedulian • Barat: Belanda, Jerman, Inggris • Kristenisasi • Yahudi • Ancaman • Kafir/haram • Terpecah-pecah 2. Kelompok 2: Kekristenan dipersepsikan oleh umat beragama lain • Dari Barat: bebas, bahasa Inggris, pakai jas, gaya, modern • Sahabat: Kerja sama, menolong, memberi pinjaman • Kasih: suka memberi, toleransi • Agama penjajah: dari Belanda/ Eropa • Kafir: harus dibunuh, haram • Saudara: rukun, menolong, peduli • Kapitaslis: egois, monopoli, materialistis, kaya • Lawan/musuh 3. Kelompok 3: Kekristenan dipersepsikan oleh umat beragama lain • Momok/musuh: ancaman, kristenisasi • Baik-baik saja: menyenangkan, enak diajak ngobrol, enak diajak bernyanyi, terbuka • Kasih: menolong, lingkungan dan sesame • Rekan dialog: memahami kekeristenan, mengubah persepsi, hubungan harmoni • Kafir: musuh, berseberangan, obyek dakwah 4. Kelompok 4: Kekristenan dipersepsikan oleh umat beragama lain • Identik makanan haram • Dermawan • Agamanya orang Barat • Orang kafir: konsep 3 Allah, prinsip tidak seiman/kafir • Sangat toleran: keterlibatan dalam acara-acara EBook
  8. 8. kemasyarakatan, menerima ibadah orang lain Bagaimana menghadapi pandangan seperti itu? Kita perlu mengkomunikasi Kristus melalui sikap hidup, perbuatan, perkataan, memberi teladan, menggunakan media secara bertanggung jawab, dan membangun kemitraan (partnering). Sesi IV (hari 2) Panel Diskusi menampilkan lima panelis, Pdt. Stephen Suleeman, Th.M (Dosen STT Jakarta), Otniel Sintoro (BPK Gunung Mulia), Dr. Victor Silaen (Reformata), dan Agus Hamonangan (Pengamat TIK, moderator milis Forum Pembaca Kompas). Keempat panelis ini menyampaikan materinya yang telah diringkas sebagai berikut: 1. Pdt. Stephen Suleeman, Th.M Di Radio Pelita Kasih (RPK) 96.3 FM Jakarta, Pdt. Stephen Suleeman mengelola acara radio Obrolan Santai Teologi (OST) sejak 5 Oktober 2009 sampai sekarang. OST yang mengudara setiap hari Rabu pukul 00.3002.00 mewacanakan kehidupan mahasiswa STT Jakarta di kampus, apa saja yang dipelajari di STTJ, bagaimana seharusnya orang membaca Alkitab, apa saja programprogram pendidikan yang ada di STT-J, bagaimana pengalaman mahasiswa STT-J berpraktik di lapangan dan jemaat, dll. Selain lebih banyak membicarakan (“mempromosikan”) STTJ, ada juga topik-topik menarik yang dibahas, misalnya: persoalan orientasi seks (waria), YAKOMA-PGI homoseksual, dll. Semuanya ini disampaikan sebagai pembelajaran masyarakat. 2. Otniel Sintoro BPK Gunung Mulia sebagai lembaga kristiani yang bergerak di bidang literatur Kristen memiliki dua tantangan besar. Pertama, bagaimana berkomunikasi untuk mewartakan Kabar Baik di tengah konteks pluralitas Indonesia. Kedua, bagaimana gereja pada umumnya, dan media cetak, pada khususnya, sanggup bertahan menghadapi gempuran era komunikasi teknologi informasi. Hal ini menyangkut apa pesan yang hendak disampaikan dan bagaimana cara menyampaikannya. Di satu sisi, Kabar Baik harus diwartakan, apa pun harganya. Di sisi lain, BPK sebagai sebuah lembaga juga harus survive secara finansial. Dalam hal inilah idealisme BPK ditantang. Bagaimana BPK harus tetap menerbitkan literatur kristiani yang memenuhi kebutuhan gereja, bermutu, terjaga teologinya, namun juga harus bertahan sebagai suatu perusahaan. 3. Dr. Victor Silaen Reformata juga memiliki tantangan persaingan dengan media-media cetak lainnya, terutama media-media cetak bernuansa kristiani, seperti Bahana, Narwastu Pembaruan, Gaharu, Mitra Bangsa, Pantekosta Pos, Panggilan, Mitra Indonesia, Inspirasi, Narwastu, Pelita Kasih, dll. Media cetak kristiani mempunyai pergumulan yang berat di mana pembaca riil (yang setia atau rutin membaca) media ini memang sedikit jumlahnya. Ada beberapa kemungkinan penyebabnya. Pertama, media Kristiani belum dirasakan sebagai kebutuhan bacaan yang utama di gerejagereja, lembaga-lembaga ekstra gerejawi maupun di rumahrumah. Karena, kebutuhan mereka akan informasi yang utama adalah informasi-informasi yang bersifat umum. Kalaupun mereka membutuhkan informasiinformasi seputar Kristen, radio-radio “Kristiani” dianggap lebih murah dan mudah untuk dijadikan sumber. Kedua, bisa jadi media-media Kristiani yang diterbitkan secara terbatas oleh gereja-gereja (media organik gereja) tertentu dianggap telah mencukupi kebutuhan mereka akan informasi seputar Kristen. Artinya, mereka merasa tidak terlalu membutuhkan informasiinformasi seputar Kristen dari media-media Kristiani yang kebanyakan dikelola di Jakarta – sehingga informasi-informasinya lebih berkisar pada hal-hal maupun persoalan-persoalan di dan/atau dari Jakarta. Apalagi pesatnya kemajuan teknologi modern dewasa ini memungkinkan mereka dapat mengakses informasi-informasi aktual dari manapun hanya lewat internet atau bahkan SMS (short messages service). 4. Agus Hamonangan Agus Hamonangan berbicara tentang pengelolaan TIK. Pengelolaan TIK sangat terkait erat dengan internet karena internet adalah media yang memanfaatkan kemajuan
  9. 9. teknologi komputer dan teknologi komunikasi. Internet merupakan media interaktif (dua arah) dan real-time (sesegera mungkin). Internet ini yang dirasakan lebih unggul ketimbang media konvensional. Namun demikian internet pun tidak lepas dari beberapa persoalan, misalnya cybercrime. Karena itu, dunia maya membutuhkan cyberethics, yaitu cara beretika di internet. Pemerintah Indonesia sudah mengatur cyberethics tersebut dalam sebuah UU, yaitu UU No. 11 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Kita perlu memperhatikan pasal 27 dari UU ITE tersebut: (1) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan. (2) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/ atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan perjudian. (3) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/ atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik. (4) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/ atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan pemerasan dan/ atau pengancaman. Seusai presentasi keempat panelis tersebut, moderator juga mempresentasikan sebuah program kerjasama antara Departemen Pemuda dan Remaja PGI dan YAKOMA-PGI. Program besar tersebut adalah Pekan TIK Pemuda Gereja 2010 dalam rangka Sumpah Pemuda. Pelaksanaan Pekan TIK ini pada 28-31 Oktober 2010. Mengenai Kerangka Acuan (TOR) Pekan TIK tersebut sudah dipublikasikan melalui Facebook DEPERA PGI dan YAKOMAPGI-PGI. Sesi V (hari 3) Pendalaman Kelompok f. Agus Priantoko g. Pdt. Susana Lumingkewas Pendamping: Vesto Magany Pokok-pokok bahasan: 1. Memetakan masalah komunikasi dan media gereja (pengelolaan, konen mencakup pilihan kata/bahasa, narasi, teologi dalam kaitannya dengan non Kristen; struktur yang mungkin menghambat, dll. 2. Sejauh mana gereja telah merespons perkembangan TIK dalam pelayanan komunikasi dan medianya; 3. Sejauh mana gereja juga telah sadar dan waspada akan dampak TIK bagi warganya? Apakah yang dilakukan oleh gereja untuk ini? 4. Landasan teologis dengan mengacu teks-teks Alkitab terkait fungsi komunikasi dan media dalam konteks masyarakat Indonesia (majemuk, korup, miskin, dll.). Pada hari ketiga Konas ini, para peserta dibagi menjadi empat kelompok untuk merumuskan pemetaan masalah, dan menetapkan rencana tindak lanjut yang akan diterapkan pada gereja-gereja dalam memanfaatkan media dan komunikasi. Berikut ini hasil pembahasan kelompok diskusi tersebut: 1. Kelompok I: PEMETAAN MASALAH KOMUNIKASI DAN MEDIA GEREJA DAN REFLEKSI TEOLOGIS a. Pdt. Enny Purba b. Pdt. Depatola Pawa c. Pdt. Gunawan Irianto d. Pdt. Altje Runtu-Lumi, M.Th. e. Pdt. Selvi Oflagi EBook
  10. 10. ALUR PROSES KONSULTASI NASIONAL “GEREJA DAN KOMUNIKASI” LANDASAN TEOLOGIS: 1. Media dan Komunikasi Gereja: ALLAH ITU BAIK KEPADA SEMUA ORANG 2. Orang Kristen di Mata Umat Beragama Lain TEKNOLOGI INFORMASI KOMUNIKASI: PEMETAAN DAMPAK POSITIF DAN NEGATIF STRATEGI KOMUNIKASI MEDIA KRISTEN DI TENGAH MASYARAKAT PLURAL DEMOKRATIS PEMETAAN MASALAH, PELUANG DAN DAMPAK, STRATEGI REKOMENDASI 10 YAKOMA-PGI
  11. 11. HASIL WORKSHOP Kelompok I HASIL DISKUSI Kelompok I: PEMETAAN MASALAH KOMUNIKASI DAN MEDIA GEREJA DAN REFLEKSI TEOLOGIS a. Pdt. Enny Purba b. Pdt. Depatola Pawa c. Pdt. Gunawan Irianto d. Pdt. Altje Runtu-Lumi e. Pdt. Selvi Oflagi f. Agus Priantoko g. Pdt. Susana Lumingkewas Pendamping: Vesto Magany. 1. Kurangnya minat baca dan menulis 2. Secara institusi: gereja belum belum siap membayar ahli IT (profesional) untuk bisa bekerja di infokom gereja (kemiskinan dana gereja) (solusi untuk no 2: memberdayakan pendeta ‘fulltimer’ untuk infokom) 3. Gereja belum sepenuh hati memikirkan infokom terlihat dari belum adanya juru bicara gereja untuk memberitakan informasi khusus yang dibutuhkan. 4. Humas dirangkap pendeta (fulltimer). 5. Data gereja yang tidak akurat = file yang berserakan (contoh: catatan sejarah gereja). 6. Pejabat gereja terjebak dengan rutinitas. 7. Perlu ada kebersamaan antar gereja untuk memikirkan infokom sebagai berbagi informasi. 8. (Khusus GMIM) Majalah (media gereja) masih sedang diproses, memang sudahlah selayaknya gereja mempunyai media cetak. 9. Perlu ada SDM yang mengerti IT bila perlu ada pelatihan SDM khusus IT. 10. Perlu ada rekrutmen SDM jemaat (pemberdayaan) warga dengan keahlian yang dibutuhkan untuk pelayanan sekaligus membuka lapangan pekerjaan. 11. Perlu adanya perpustakaan. 12. Teks yang menguatkan untuk infokom: a) Matius 5:13-16 : Garam dan terang dunia. Gereja andaikan garam yg walau tak terlihat (kecil) tapi dirasakan kehadirannya, sebagai penyedap, pengawet, dan fungsi lainnya dan gereja tdak boleh tawar alias hambar alias tak berasa sehingga kehadirannya tidak berpengaruh. Sebagai terang gereja harus mampu menerangi semua bentuk kegelapan dunia, dan sekecil apapun terang itu akan mampu menerangi kegelapan yang membuat orang bisa melihat dengan kacamata iman. b) Ulangan 6:4-9 : mengajarkan firman dalam semua situasi. Firman Tuhan adalah kebenaran Tuhan yang harus disampaikan dalam semua keadaan, terhadap semua orang dalam semua situasi, sebagai teguran, sebagai nasehat, sebagai arahan, sebagai pengajaran, sebagai penguatan, sebagai penghiburan, dll sebagainya. c) Matius 10:16 : tulus seperti merpati, cerdik seperti ular. Ketulusan adalah sifat yang dituntut dalam setiap pengabdian dan pelayanan baik di gereja maupun di masyarakat. Tuhan membenci kemunafikan seperti kebiasaan para ahli taurat dan farisi, Tuhan ingin ketulusan hati kita kepadanya dan kepada sesama kita. Kecerdikan dalam arti positif adalah kelincahan dan kemampuan bertindak dan berlaku secara benar di segala tempat dan keadaan. d) Roma 12:17-18: lakukan apa yang baik bagi semua orang. Allah tidak membeda-bedakan manusia, Dia mengasihi dunia dn segala isinya. Dia baik kepada semua orang, berpusat dalam diri Yesus kristus sbg wujud kasih Allah akan dunia ini. Karenanya, sebagai pengikut-Nya, tidak boleh tidak gereja harus melanjutkan dan menyatakan kebaikan Allah itu kepada semua orang. Pembeda-bedaan adalah perlawanan terhadap Allah dan kehendak-Nya. Dosa adalah EBook 11
  12. 12. gereja hanya asyik dgn dirinya sendiri, dan lupa sesama di luar dirinya. 2. Kelompok II: PELUANG DAN DAMPAK POSITIF DAN NEGATIF TIK TERHADAP JEMAAT DAN MASYARAKAT a. Pdt. Parsaroan Sinaga b. Pdt. Julien K. Rotty c. Fajar S. Roekamto d. A.A. Nyoman Oka Wisnawa e. Javalera Ungking f. Romida Siburian Pendamping: Mula Harahap Pokok-pokok bahasan: 1. Memetakan peluang-peluang terbuka dari kemajuan TIK bagi pelayanan gereja (misal: open source sebagai perpustakaan digital gratis untuk diunduh, dll). 2. Memetakan dampak positif TIK bagi masyarakat dan warga jemaat. 3. Memetakan dampak negatif TIK terhadap masyarakat dan jemaat, termasuk cybercrime, dll. Hasil Diskusi Kelompok II: -- Peluang TIK: 1. Teknologi internet semakin murah 2. Perangkat keras (hardware) semakin murah 3. Penguasaan teknologi semakin mudah dan murah 4. Memperoleh informasi semakin mudah didapat 5. Mudah melakukan komunikasi melalui TIK 6. Ada peluang bisnis dalam bidang TIK untuk gereja 7. Lebih mudah mengakses banyak orang 8. Lebih mudah dan menarik bagi Pelayan untuk menyampaikan Firman 12 YAKOMA-PGI Pemetaan Dampak Positif TIK bagi Masyarakat dan Warga Jemaat 1. Masyarakat dan Jemaat memperoleh banyak informasi mengenai kekristenan dan secara umum 2. Pengarsipan data lebih mudah 3. TIK yang cepat, efisien, hemat dan akurat -- Pemetaan Dampak Negatif TIK bagi Masyarakat dan Warga Jemaat 1. Tingkat kriminal meningkat (penipuan) 2. Orang menjadi individualistis 3. Konsumtif 4. Kecanduan 5. Penyebaran pornografi 6. Fitnah 7. Provokatif 9. Kelompok III: STRATEGI KOMUNIKASI MEDIA GEREJA DI TENGAH MASYARAKAT YANG MAJEMUK DAN DEMOKRATIS a. Pdt. Makjen Simanjuntak b. Pdt. Yohanes Simanjuntak c. Pdt. Marthin Oppier d. Dr. George Marson Daniel e. Pdt. Esrom Tampubolon f. Pdt. Eddyson SWN g. Daud Adoe Pendamping: Rainy dan Debbie Pokok-pokok Bahasan: 1. Mengidentifikasi kondisi masyarakat Indonesia terkait pluralisme, kemiskinan, pendidikan, dll. 2. Mengidentifikasikan peluang-peluang dari proses demokratisasi yang sedang berlangsung termasuk UU yang ada. 3. Mengidentifikasikan strategi- strategi komunikasi dan media gereja terkait hasil identifikasi kondisi masyarakatnya dengan memperhatikan aspek fungsi media gereja (cetak seperri buletin, majalah; online seperti situs web, blog, dan kalau ada video dan radio komunitas). Hasil Dikusi Kelompok III: Identifikasi Kondisi Masyarakat Indonesia Pluralisme agama, Etnis dan Budaya mengakibatkan benturan 1. Antara Kristen dan non Kristen (Bagaimana Pandangan non Kristen Terhadap Kekristenan) 2. Antara Katolik dan Protestan 3. Antara sesama Protestan -- Masalah Kemiskinan • Sistem (pemerataan yang tidak jelas) • Budaya • Pendidikan • Korupsi • Masalah kemiskinan membuat komunikasi berjalan baik . Pendidikan • Kurangnya Pendidikan membuat sebagian orang tidak dapat mengenali Kekristenan dengan baik • System/kebijakan yang salah baik dari pihak pemerintah atau lembaga pendidikkan. • Sistem Pendidikan yang berlatar belakang agama. (jangan menjadi “jebakan” atau mengkristenkan. • Sistem pendidikkan yang kurang sinergis dgn pekerjaan (sarjana menganggur). 10. Kelompok IV MERUMUSKAN REKOMENDASI (GEREJA YAKOMA- PGI)
  13. 13. a. Pnt. Ananta Purba b. Pdt. Deiske Wuisan c. Pdt. Liesje Sumampouw d. Dr. Arnold Singarimbun e. Pdt. Ephraim Diamanis f. Pdt. Yuliati Longgo g. Ir. Tandi Ramba Pendamping: Irma dan Karji. GEREJA-GEREJA • Rekomendasi ini didasarkan dari pemahaman teologis berdasarkan tema yaitu: TUHAN ITU BAIK KEPADA SEMUA ORANG. • Dialog harus dibangun berdasarkan pemahaman konteks Indonesia yang plural. • TIK merupakan sarana yang dapat dipakai oleh gereja untuk mengabarkan bahwa Tuhan Itu Baik Kepada Semua Orang. • Pemahaman bahwa penginjilan itu harus BERTATAP MUKA harus diubah bahwa di samping BERTATAP MUKA juga tidak kalah pentingnya dengan penggunaan Media. • Gereja dalam rangka menggunakan TIK bagi masyarakat yang majemuk mengacu kepada Mzm. 145:9a. • Dengan penjelasan ini maka kami merekomendasikan kepada Gereja-Gereja anggota PGI: PROGRAM-PROGRAM STRATEGIS Gereja-gereja: • Segera setiap Sinode mempunyai website sebagai alat mengomunikasikan visi dan misi gereja, karena website dapat diakses setiap saat dan di setiap tempat oleh banyak orang, terutama dalam rangka pencitraan Allah itu baik kepada semua orang. Karena itu, Gereja juga harus baik kepada semua orang. Komunikasi ini bermanfaat untuk membuka isolasi-isolasi yang ada. • Gereja-Gereja memberdayakan/ mengoptimalkan media cetak, media radio, dan media komunikasi lainya. • Membuka dialog lintas agama, suku, sektor, kepentingan. • Gereja harus membangkitkan minat membaca, menulis, dalam bidang teologi, karenanya perlu dibuat pelatihan dan lokakarya menyangkut hal ini. • Gereja-gereja memfasilitasi dengan mengadakan perpustakaan jemaat dan taman bacaan. • Memfasilitasi minat menulis jemaat melalui pelatihanpelatihan • Konten yang komunikatif dan kontrol atas media Memasukkan dan mempersiapkan org yang akan duduk di media pemerintahan Rencana Tindak Lanjut: • Melaksanakan Konas setahun sekali. • Konas berikutnya di Batam. • Peserta sebaiknya yang ikut pada Konas sebelumnya. • Deklarasi Jaringan Kerja media Kristen dan pengerja media Kristen Indonesia. • Program-program siaran gereja yang dikelola PGI dikembalikan ke Yakoma-PGI. • Berita oikumene dikembalikan pengelolaanya ke Yakoma-PGI. • Membangun Production House, untuk memproduksi sinetron, film anak-anak yang bernuansa kristiani, dll. Konsultasi Nasional “Gereja dan Komunikasi” ditutup dengan ibadah yang dibawakan oleh Pdt. Rudy Sembiring-Meliala dari GBKP Batam dan Kata Penutup oleh Bpk. Mula Harahap mewakili Badan Pengurus YAKOMA-PGI. YAKOMA-PGI: • Memperbanyak pelatihan/ lokakarya yang bersifat teknis dalam hubungan pengembangan TIK. • Membentuk tim TOT yang dapat bekerja sama dengan sinode-sinode atau Gerejagereja. • Yakoma-PGI membuat mailing list gereja-gereja. • Memfasilitasi pembentukan jaringan kerja media Kristen. • Memfasilitasi pembentukan jaringan kerja pengerja TIK. • Menjadikan website YakomaPGI menjadi alat komunikasi sebagi sumber informasi gerejagereja yang up-to-date. • Yakoma-PGI bersinergis dengan gereja-gereja dalam membngun media dan komunikasi. EBook 13
  14. 14. HASIL WORKSHOP Kelompok II Peluang dan Dampak Positif dan Negatif TIK terhadap Jemaat dan Masyarakat Peluang kemajuan TIK yang terbuka bagi gereja 1. Teknologi informasi dan komunikasi semakin murah harganya, berbasis komputer dan internet, seluler maupun perangkat kerasnya. Infrastruktur seperti listrik dan seluler semakin menjangkau pelosokpelosok tanah air . 2. Penguasaan teknologi informasi dan komunikasi semakin mudah dan murah disamping kemajuan TIK juga semakin menyedehanakan dan mempermudah penggunaannya. Informasi teknis pemanfaatan TIK dapat diakses di internet maupun melalui buku atau majalah cetak. 3. Internet kini telah berkembang menjadi “open source” bagi informasi dan pengetahuan yang bebas diakses para penggunanya. Bisa dikatakan, internet kini telah berkembang menjadi “perpustakaan” yang maha kaya, yang terbuka bagi siapa pun, kaya atau miskin, asalkan mampu mengoperasikan internet. Mulai dari ilmupengetahuan, bahkan hingga yang bersifat negatif seperti pornografi, kini bebas diakses. 3. Komunikasi dan diseminasi informasi ke segala penjuru kini 14 YAKOMA-PGI lebih mudah dilakukan. Selain hemat waktu, ongkos dan tenaga, juga daya jangkaunya mendunia. Informasi dan pesan-pesan gerejawi menjadi lebih mudah disnarluaskan. Di samping itu, bisnis juga dapat dilakukan melalui internet. 4. Kamera audio-visual kini semakin mudah dan murah sehingga memungkinkan gereja untuk memproduksi sendiri bahan-bahan audio-visual untuk keperluan pelayanannya termasuk dokumentasi. 5. Kemajuan TIK juga memudahkan gereja untuk mengelola media komunitas (video, radio dan situs web). Pemetaan dampak positif TIK bagi masyarakat dan warga jemaat 1. Masyarakat luas dan jemaat kini lebih mudah memperoleh informasi yang dibutuhkannya, baik tentang Kekristenan maupun bersifat umum. 2. Teknologi komputer maupun internet membuat pengarsipan data lebih mudah dan ringkas. 3. Informasi dan pesan gerejawi kini dapat diracik secara edukatif, menghibur dan menarik, misalnya edutainment, dan disebarluaskan dengan mudah. 4. Dengan tersedianya media internet, semakin mudah membangun jejaring untuk menggalang gerakan oikoumenis serta melakukan pertukaran informasi. 5. Gereja-gereja juga semakin mudah menggalang dukungan moral baik di kalangan sendiri amupun masyarakat luas melalui media jejaring sosial seperti fesbuk dan twitter. Pemetaan dampak negatif TIK bagi masyarakat dan warga jemaat 1. Internet dapat dimanfaatkan untuk penipuan, fitnah, provokasi dan penyebaran pornografi. 2. Penyebarluasan pornografi kini semakin sulit dikontrol. 2. Orang menjadi individualistis. Misalnya, cenderung asyik dengan media jejaring sosial atau ponsel saat sedang rapat atau seminar, kurang peduli dengan orang-orang di kirikanan. 3. Media jejaring sosial seperti fesbuk, twitter dan blog mampu membius penggunanya hingga kecanduan; mengabaikan realitas sehari-hari dan mengembangkan hubunganhubungan sosial.
  15. 15. HASIL WORKSHOP Kelompok III Strategi Komunikasi Media Gereja di Tengah Masyarakat yang Majemuk dan Demokratis I. Identifikasi Tantangan dan Peluang yang ada perumahan dan pendidikan sangat terbatas. mereka yang kurang siap untuk memasuki dunia kerja. 1. Sebagai negara yang kaya akan keberagaman baik keragaman agama, etnis dan golongan mengakibatkan Indonesia juga menjadi negara yang rentan terhadap perpecahan. Perpecahan itu bisa terjadi atar agama, antar suku dan antar golongan bahkan antar kelompok-kelompok dalam suatu komunitas tertentu. Bagi agama Kristen, benturan-benturan bisa terjadi antara Kristen dengan non Kristen, antara Katolik dan Protestan maupun sesama Protestan. 3. Rendahnya akses masyarakat untuk memperoleh pendidikan mengakibatkan sebagian orang tidak dapat mengenal Kekristenan secara baik. Citra orang Kristen sebagai orang kaya, kebarat-baratan, kapitalis, murah hati dan lain sebagainya diterima begitu saja oleh sebagian orang karena kurangnya informasi tentang Kekristenan yang sesungguhnya. 6. Perkembangan media dan komunikasi menjadi salah satu peluang sekaligus tantangan untuk mengkomunikasikan permasahan di atas. Kebijakan yang ada telah memberi peluang bagi masyarakat untuk menyampaikan permasalahan yang dihadapi sekaligus untuk memperoleh informasi terkait permasalahan yang dihadapi. 2. Sementara itu, kemiskinan juga menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat yang berada di daerah pelayanan gereja. Penyebabnya bisa dari aspek struktural maupun budaya. Pembangunan yang tidak berpihak kepada masyarakat miskin mengakibatkan pembangunan kurang merata dan hanya dinikmati oleh sekelompok orang saja. Korupsi kian merajalela sementara itu hukum dan kebijakan negara seakan-akan belum mampu untuk mengatasinya. Akibatnya akses masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, 4. Sistem pendidikan saat ini dianggap kurang menanamkan nilai-nilai yang membentuk moral bangsa yang akan menjadi landasan berperilaku. Akibatnya penghargaan terhadap keberagaman yang dimiliki oleh bangsa ini masih rendah. Sementara itu adanya sistem pendidikan yang berlatar belakang agama tertentu jangan sampai dianggap sebagai proses untuk menarik siswa untuk menganut agama tertentu termasuk Kristenisasi. 5. Sistem pendidikan yang ada kurang menyiapkan lulusan yang bemutu yang siap kerja dan bersaing untuk memperebutkan pasar kerja. Akibanya banyak lulusan perguruan tinggi yang menganggur dan karena dunia kerja tidak siap menampung atau II. Strategi Komunikasi dan Media Gereja : 1. Gereja perlu membangun dialog lintas agama, suku, gereja, budaya dan golongan agar saling mengenal satu dengan yang lain. Dialog harus dibangun berdasarkan pemahaman konteks Indonesia yang plural. 2. Website sinode merupakan salah satu alat mengkomunikasikan visi dan misi gereja terutama dalam rangka pencitraan Allah itu baik bagi semua orang. Website dapat diakses setiap saat dan oleh setiap orang oleh karena itu content website diharapkan dapat bermanfaat untuk membuka isolasi-isolasi yang ada. EBook 15
  16. 16. 3. Gereja perlu memberdayakan/ mengoptimalkan media cetak, media radio dan media komunikasi lainya untuk mengkomunikasikan permasalahan yang dihadapi masyarakat (kemiskinan, pendidikan, ekonomi dan lainlain). orang. Oleh karena itu dilakukan pengembangan kapasitas sumberdaya manusia untuk menulis dan mengelola konten media. 4. Pengelolaan konten media gereja hendaknya lebih komunikatif dan mencitrakan Tuhan itu baik kepada semua 6. Membangun dan menguatkan jejaring penulis, lembaga komunikasi dan media Kristini di seluruh Indonesia agar memiliki 16 YAKOMA-PGI 5. Pengawasan terhadap media yang berkembang agar menjadi berkat bagi semua orang. persepsi yang sama tentang pengelolaan konten media. 7. Memanfaatkan media-media yang ada di daerah baik media pemerintah maupun swasta (televisi dan radio) untuk mengabarkan bahwa Tuhan itu baik bagi semua orang.
  17. 17. MATERI WORKSHOP KOMUNIKASI DAN MEDIA GEREJA: TUHAN ITU BAIK KEPADA SEMUA ORANG? Andreas A. Yewangoe 1. Dalam suatu wawancara berhubung dengan perlombaan menggambar karikatur Nabi Muhammad di jaringan Facebook, saya ditanya pendapat PGI mengenai hal itu. Tentu saja saya tidak mampu menjawab dengan persis karena saya belum pernah melihat karikatur itu. Ini disebabkan karena saya masih “gaptek” untuk hal-hal tertentu. Setelah dijelaskan baru saya memberitahu kirakira pandangan kita mengenai karikatur seperti itu. Kita menolak pelukisan-pelukisan yang melecehkan apa saja yang oleh agama dan kepercayaan lain dihormati. Jadi kalau Islam melarang melukis nabi Muhammad, kita pun mesti menghormati hal itu. 2. Dengan pernyataan ini saya ingin mengatakan, bahwa komunikasi dan media, apalagi di era ini bisa sangat disalahgunakan, di samping tentu saja membawa berkat juga. Saya kira telah banyak korbankorban bagi penyalahgunaan media seperti itu. Beberapa waktu lalu kita membaca di surat-surat kabar, anak-anak perempuan (yang masih berumur muda) tiba-tiba menghilang. Belakangan ketahuan, mereka dibawa oleh teman chatting mereka di Facebook. Ini juga mengisyaratkan betapa media seperti itu mempunyai daya pukau yang luar biasa. Berbagai situs pornografi juga menguasai media kita dewasa ini. Yang kita harapkan adalah, masyarakat kita makin dewasa mencermati situs-situs seperti itu, yang dalam banyak hal hampir-hampir tidak bisa diperangi lagi. 3. Tema SR ke-15 PGI di Mamasa berbunyi: “Tuhan Itu Baik Kepada Semua Orang...” (Mz. 145:9a). Subtema: “Bersama-sama Seluruh Komponen Bangsa Mewujudkan Masyarakat Majemuk Indonesia Yang Berkeadaban, Inklusif, Adil, Damai dan Demokratis.” Dari tema dan sub-tema ini dirumuskan Visi: “Menjadi Gereja yang Merefleksikan Kebaikan Allah di Tengah-tengah Masyarakat Majemuk Indonesia.” Misi: “Gereja-gereja di Indonesia, a. makin menguatkan persekutuan di antara gerejagereja di Indonesia sebagai basis bagi pelayanan dan kesaksian; b, makin lebih terbuka kepada lingkungan yang di dalamnya mereka hidup; c. dstnya. 4. Bahwa Tuhan itu baik kepada semua orang dalam kaitan dengan media dan komunikasi, perlu ditekankan. Bagaimana menjabarkan kebaikan Allah di dunia mass-media perlu menjadi pergumulan serius kita. Itu berarti bahwa tidak boleh ada seorang pun dirugikan dan merasa dilecehkan hanya oleh pemberitaan gereja yang bersifat melecehkan orang lain. Memang terlampau mudah melakukan pelecehan itu kalau kita mengklaim Allah hanya sebagai allah kita. Hal serupa dilakukan Israel, apalagi dengan penamaan sebagai “Umat Pilihan”. Jadi kalau mereka umat pilihan (segulla), maka umat-umat lain bukan pilihan. PL menegaskan bahwa kendati Israel menganggap dirinya sebagai umat pilihan, itu tidak berarti bahwa umat-umat lain dikesampingkan. Kita Rut dan kitab Yunus sangat jelas menegaskan hal itu. Firman Allah di dalam kitab Ulangan misalnya, menegaskan agar orang-orang asing di dalam negeri tidak dihinakan dan dilecehkan, sebab kamu (yaitu Israel) pun dulu asing di Mesir, dstnya EBook 17
  18. 18. adalah frman yang sangat jelas melarang perbuatan-perbuatan yang mengecilkan orang-orang lain. Gereja pun dapat terjatuh ke dalam kesalahan yang sama apabila gereja sebagai Israel baru ditafsirkan secara tidak cermat. 5. Sub-tema SR mengisyaratakan bahwa masyarakat yang di dalamnya kita hidup adalah sebuah masyarakat majemuk. Ini sesuatu yang given, yang tidak perlu meminta pengesahan dari siapa pun. Sebagai masyarakat majemuk, ia bersifat terbuka. Artinya, komunikasi akan berjalan lintas-agama, lintassuku, lintas-sektor, lintaskepentingan, dan seterusnya. Komunikasi seperti ini bermanfaat, sebab ia membuka isolasi-isolasi yang ada. Sebagai demikian, ia makin memperkuat masyarakat majemuk, di mana salah pengertian bisa dieliminasi. Ini juga berarti mengakui perbedaan-perbedaan. Kita pun mesti mencamkan, bahwa masyarakat majemuk yang kita perjuangkan wujudnya itu adalah sebuah masyarakat berkeadaban. Artinya keadaban publik harus diketengahkan terus-menerus. Tetapi pada saat yang sama, ia juga bisa merusak, kalau pemberitaanpemberitaan, seperti misalnya perlombaan karikatur nabi Muhammad itu dilakukan. Dalam misi gereja (SR ke15) ditegaskan, agar kita menjadi makin terbuka kepada lingkungan yang di dalamnya kita hidup Ini baik, sebab itu berarti kita pun diminta terbuka kepada berbagai alat-alat komunikasi yang tersedia. Tetapi pada saat yang sama, apabila 18 YAKOMA-PGI keterbukaan itu disalahgunakan, ia akan menjadi kutuk bagi kita. Dalam kasus film Fitna di Negeri Belanda yang diluncurkan oleh Geert Wilders beberapa waktu lalu, dijunjung tinggi kebebasan. Tetapi kebebasan tanpa tanggung-jawab akan bermuara kepada kekacauan. 6. Sampai di manakah media dan komunikasi gereja membawa berkat dan kesejukan bagi sebuah masyarakat? Jawabannya saya kira sudah jelas dari uraian-uraian di atas. Hanyalah kalau media dan komunikasi itu dipakai dengan baik. “Bahasa” yang dipakai gereja mestilah bahasa yang dapat dipahami dan yang familiar dengan masyarakat. Saya masih menemukan sebuah stasion TV di negeri ini yang menyampaikan khotbah dalam bahasa Inggris, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Bahasa Inggris adalah bahasa internasional. Karena itu cukup penting. Tetapi menyampaikannya di dalam masyarakat Indonesia yang berbahasa Indonesia akan makin memperkuat stigma bahwa kekristenan memang asing, berasal dari Barat, asing dengan masyarakat Indonesia, dan seterusnya. Mengapa tidak memakai bahasa Indonesia saja? Yang saya maksudkan dengan bahasa di sini, tentu saja lebih luas. Bahasa yang dapat difahami, artinya memahami secara tepat persoalan bangsa ini sekarang, sehingga gereja benar-benar menyampaikan Kabar Baik yang dapat difahami. Sebagai contoh, ada sekian banyak persoalan ketidakadilan yang dialami bangsa kita sekarang. Bagaimana persoalan itu dikemas begitu rupa sehingga masyarakat merasakan advokasi yang tulus dan sungguh-sungguh. Bukan dengan menggurui atau bahkan mengajak “bertobat”. Mengajak bertobat bagi yang berbuat korupsi tentu tepat, walaupun cara menyampaikannya masih harus ditata dengan baik, tetapi bagi masyarajat yang diperlakukan tidak adil, tentu tidak tepat. Bagi seorang nonKristen yang diajak bertobat, pasti akan menimbulkan iritasi. Ini lalu dianggap sebagai upaya kristenisasi, yang di dalam konteks Indonesia masa kini memang sangat sensitif. Alhasil, pandai-pandailah memakai media komunikasi yang ada. Ia adalah berkat selama ia dipakai baik. Tetapi akan menjadi laknat apabila disalahgunakan. Mudah-mudahan melalui media komunikasi kebaikan Allah bisa direfleksikan.
  19. 19. MATERI WORKSHOP Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi: Tantangan dan Dampaknya bagi Masyarakat dan Jemaat Gereja Magdalena J. Daluas Pendahuluan Teknologi Informasi (TI) adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memroses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, pendidikan, bisnis, dan pemerintahan, dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan. Penggunaan TI dan TK dapat meningkatkan kinerja dan memungkinkan berbagai kegiatan dapat dilaksanakan dengan cepat, tepat dan akurat, termasuk dalam dunia penginjilan. Dengan perkembangan TI dan TK yang sangat pesat ini, mau tidak mau, siap ataupun tidak siap, akan semakin deras mengalirkan informasi dengan segala dampak positif dan negatifnya ke masyarakat Indonesia pada umumnya, dan gereja pada khususnya. Teknologi informasi merupakan salah satu alat yang efektif untuk penyebarluasan Injil ke seluruh bumi. Perubahan dalam ranah ini terjadi sangat cepat dan menyeluruh, bahkan kita saat ini berada pada perbatasan perubahan besar keberadaan manusia. Kekuasaan meningkat sangat luas dan mendorong kita masuk ke dalam dunia intelgensia artifisial di mana manusia menjadi manusia cyber yang otaknya mendapat masukan langsung dari komputer. Tingkat perubahan terjadi sangat pesat dan meluas sehingga diperkirakan dalam tahun 2013 akan muncul komputer super yang dapat melebihi tingkat kecerdasan manusia, tahun 2023 komputer jenis ini bisa diperoleh hanya dengan harga US $ 1000 atau Rp. 9,000,000.-, dan di tahun 2049 akan diciptakan pula komputer dengan kemampuan prosesing seluruh ras manusia yang harganya juga hanya US $ 1000. Menurut Moore’s Law, yang ditemukan oleh Gordon Moore, seorang ahli komputer, kemampuan komputer/ processing akan berlipat ganda setiap 18 bulan. Dalil Moore ini telah terbukti kebenarannya dalam 50 tahun terakhir perubahan teknologi, mulai dari era penggunaan katup ke era transistor, ke panel sirkit cetak, dan dewasa ini menjadi prosesor dual core dan multi core. Bahkan dalil Moore ini diperkirakan belum akan berakhir karena perkembangan kecepatan prosesor yang luar biasa, bahkan lebih cepat dari yang diperkirakan Moore. Dalam bidang pelayanan misionaris, akan terjadi pula perubahan menyeluruh mengikuti perubahan teknologi ini. Internet sudah menjadi salah satu tempat bertanya tentang masalah kerohanian dan menjadi sarana mencari informasi pribadi seperti kesehatan, seks, keuangan dan informasi spiritual. Penggunaan peralatan teknologi yang bisa dibawa kemana-mana, seperti PDA, telepon selular, IPod memungkinkan penyebaran injil menjadi terlalu luas dan tidak terukur. Pada tahun 2007 tercatat 3 milyar pengguna telepon selular di dunia, sedangkan pengguna internet tahun ini tercatat sebanyak 1,7 milyar orang, dan hanya dalam waktu 3 tahun, akan berlipat EBook 19
  20. 20. ganda menjadi 3,3 milyar orang di tahun 2013. Tahun 2010, satu orang Kristen yang memiliki situs (web) akan mampu menjangkau separuh penduduk dunia. Penginjilan dengan sepeda berubah menjadi penginjilan melalui komputer. Penggunaan software sudah menyebar-luas ke seluruh pelosok dunia dengan diterjemahkannya software tersebut ke dalam berbagai bahasa, berarti tidak ada lagi kendala dalam penyebaran injil melalui internet. Mengapa para misionari perlu mengadopsi teknologi? Alasan utamanya adalah karena orang-orang yang akan dijangkau setidaknya sudah menggunakan teknologi, dan pastinya teknologi komunikasi dan informasi akan menjadi alat komunikasi utama mereka. Orang yang lahir sesudah tahun 1985 adalah mereka yang kini menjadi pemakai utama sistem digital. Mereka berkomunikasi dengan telepon selular, menonton film melalui Youtube, mengirim pesan teks melalui email dan lain-lain. Semua bentuk komunikasi mereka adalah “technology-mediated communication” dan semuanya serba komputer. Alasan-alasan lain: 1. Biaya rendah – software juga bisa diperoleh dengan harga murah bahkan gratis. 2. Resiko kecil – bila harus menjangkau umat non Kristen yang menolak Injil, pelayanan 20 YAKOMA-PGI melalui internet (online) akan lebih aman dan efektif daripada cara lainnya. 3. Jangkauan geografis yang luas. 4. Penginjilan one to many dan one to one – penginjilan melalui internet dipandang lebih efektif, karena pembaca tidak merasa sedang digurui, informasinya bisa dibaca berulang kali, dan bisa diunduh/dicetak. Respons bisa segera ditanggapi secara pribadi. 5. Multiple formats – Melalui internet para misionari dapat menggunakan semua tipe media yaitu suara, gambar, tulisan, grafik, animasi, permainan, interaktif, imajinasi dan lain-lain. Internet juga bisa dihubungkan dengan alat komunikasi yang lain seperti telepon, SMS dan faks. 6. Menjangkau semua bangsa dan bahasa - sudah ada program penerjemahan langsung melalui internet. 7. Komunikasi terarsipkan (archived communication) – tulisan atau informasi yang sudah dipublikasikan melalui internet tetap dapat diakses (dibuka) setiap saat karena terarsipkan dengan baik. 8. Kekuatan jaringan kolaborasi para relawan (volunteers) – Wikipedia, contohnya, dijalankan oleh suatu jaringan kolaborasi kontributor relawan, yang bisa juga dimanfaatkan oleh umat Kristen untuk membagi informasi tentang Kristus, Injil dan ajaranajaran Kristus, bahkan doa syafaat. 9. Kemampuan menjangkau kelompok tertentu – sejak internet berkembang semakin canggih memungkinkan Injil menjangkau kelompok tertentu atau komunitas tertentu di wilayah tertentu pula. 10. Informasi dan pengajaran tentang injil yang dipublikasikan melalui internet dengan mudah dapat diunduh dan dicetak, kemudian dibagikan kepada teman, kerabat, sahabat, sehingga mereka dapat membentuk “bible college” di gereja, di penjara dan berbagai pelayanan masyarakat lainnya. Materi ini bisa diperoleh hampir tanpa biaya, dan tidak dapat dibandingkan dengan radio ataupun TV. 11. Internet adalah bentuk komunikasi massa yang bebaslarangan. Tidak membutuhkan ijin atau lisensi untuk membentuk situs web atau blog dan lain-lain. Tidak seperti mendirikan stasiun radio atau televisi. 12. Pelayanan misinya tidak perlu berada di lokasi tertentu. Misionarisnya bisa melayani melalui internet, apabila ia sedang dalam keadaan sakit atau tidak mendapatkan visa untuk masuk suatu tempat tertentu. 13. Bermanfaat untuk melakukan persiapan sebelum kunjungan. Sebelum melakukan suatu kegiatan di lokasi tertentu panitia tidak perlu bolak-balik mengunjungi lokasi itu untuk membuat rapat persiapan, cukup menggunakan internet, sehingga kegiatan menjadi efisien dan efektif, baik waktu maupun pembiayaan.
  21. 21. Dampak pemanfaatan teknologi informasi dan telekomunikasi Di atas telah diuraikan keuntungan atau dampak positif penggunaan teknologi informasi dan komunikasi bagi penyebarluasan injil ke seluruh bumi. Namun, tidak dapat dipungkiri banyak pula dampak negatif yang mau tidak mau muncul dengan penggunaan teknologi ini secara meluas. 1. Pelanggaran hak cipta Hak cipta adalah hak yang diberikan kepada seseorang atau kelompok atas hasil karya atau sebuah ciptaan untuk mengumumkan, memperbanyak, dan menggunakan karya ciptanya. Di Indonesia telah diterbitkan dan diberlakukan Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta yang tujuannya adalah untuk memberikan perlindungan terhadap pencipta atas hasil karya ciptanya, mendorong orang untuk berinovasi menghasilkan karya cipta, dan menciptakan rasa aman bagi setiap orang untuk menghasilkan sebuah karya cipta yang bermanfaat Beberapa bentuk ciptaan yang dilindungi undang-undang, antara lain: Buku, program komputer (software), tata –letak dan perwajahan (lay-out) karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lain; ceramah, kuliah, pidato, dan ciptaan yang sejenis; Lagu atau musik dengan atau tanpa teks; Drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan pantomim; Seni rupa dan segala bentuk seni lukis, gambar, seni ukir, seni kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase, dan seni terapan; fotografi; sinematografi; Terjemahan, tafsir, saduran, data-base, dan karya lain dari hasil pengalihwujudan. 2. Cybercrime Adalah kejahatan atau tindakan melawan hukum yang dilakukan oleh seseorang dengan menggunakan sarana komputer terutama internet. Karakteristik kejahatan internet adalah sebagai berikut: a. Kejahatan melintasi batas negara b. Sulit menentukan hukum yang berlaku karena melintasi batas negara. c. Tidak dapat dipastikan hukum negara mana yang berlaku. d. Menggunakan peralatanperalatan yang berhubungan dengan komputer dan internet. e. Mengakibatkan kerugian yang lebih besar dibanding kejahatan konvensional f. Pelaku memahami dengan baik internet, komputer, dan aplikasinya. Bentuk-bentuk cybercrime antara lain: a) Unauthorized access adalah kejahatan memasuki jaringan komputer dengan cara yang tidak sah untuk mencuri informasi, sabotase dan lainlain, pelakunya disebut cracker. Sedangkan penyusupan untuk menguji keandalan suatu sistem pelakunya disebut hacker. b) Illegal contents adalah memasukkan data atau informasi ke internet tentang sesuatu yang tidak benar dengan tujuan merugikan orang lain maupun menimbulkan kekacauan. c) Data forgery (pemalsuan data) adalah memasukkan data yang tidak benar ke dalam internet. d) Cyber espiongase and extortion (cyber terrorism) adalah kejahatan dengan cara memasukkan virus/program untuk menghancurkan data pada komputer pihak lain. e) Offense against intellectual property adalah kejahatan yang dilakukan dengan cara menggunakan hak kekayaan intelektual yang dimiliki pihak lain di internet. f) Infringements of privacy adalah kejahatan yang dilakukan dengan cara mendapatkan informasi yang bersifat pribadi dan rahasia.. 3. Penyebaran virus komputer Virus komputer adalah program kecil yang mampu menggandakan diri dan bersifat merusak komputer yang terinfeksi. Sifat dan karakter virus antara lain: a. Berukuran sangat kecil b. Mampu menggandakan diri c. Membutuhkan korban agar tetap hidup d. Membutuhkan medium tertentu untuk menyebar. 4. Pornografi, perjudian dan penipuan • Internet biasanya digunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung-jawab untuk menyebarkan gambar-gambar porno untuk merusak mental sebuah bangsa terutama generasi muda. • Perjudian juga marak dilakukan melalui internet, misalnya kasino. EBook 21
  22. 22. • Penipuan sering terjadi dilakukan melalui internet dengan cara menawarkan barang yang sangat menarik, namun tidak sesuai dengan kenyataan. Kesimpulan Gereja tidak dapat menolak perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, justru Gereja perlu memanfaatkannya secara positif untuk penyebar- 22 YAKOMA-PGI luasan injil sebagai aplikasi Amanat Agung (Matius 28 : 1920): ”karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Setiap orang percaya mendapat mandat dari Tuhan Yesus Kristus untuk menjadi alatnya meneruskan berita Injil Kerajaan Allah ke seluruh bangsa di bumi. Tanggung-jawab gereja adalah membekali keluarga untuk menyikapi secara positif perkembangan teknologi ini agar setiap anggota keluarga memanfaatkannya dengan benar, bahkan mampu menjadi agen misi Kristus bagi sahabat dan rekan netters-nya.
  23. 23. MATERI WORKSHOP Mengelola Media Kristiani di Tengah Kehidupan Bernegara-berbangsa yang Sedang Berubah (Strategi dan Pengalaman Reformata) Oleh Victor Silaen1 Pers Semakin Bergairah Dinamika proses politik Indonesia yang telah berjalan selama puluhan tahun sejak era Soekarno, era Soeharto, kini telah mengantar kita pada suatu era baru yang membuka ruang cukup luas bagi demokrasi. Dari perspektif politik, kini terjadi perubahan signifikan dalam hal partisipasi politik masyarakat. Dulu, manajemen politik dilandasi oleh teori Korporatisme Negara, yang pertama kali dicetuskan oleh Philip C. Schmitter. Secara umum korporatisme diartikan sebagai suatu upaya melakukan reorganisasi institusional yang dirancang untuk membangun suatu mekanisme yang dapat menjamin proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakan secara efektif, cepat, dan efisien 2. Negara, menurut teori ini, tidak membuka peluang berpolitik kepada masyarakat luas dengan cara menunggalkan pelbagai wadah/organisasi, sehingga mudah dikendalikan oleh negara.3 Di bidang pers, misalnya, korporatisme ini diwujudkan dengan menunggalkan organisasi wartawan, yaitu PWI (Persatuan Wartawan Indonesia), dan organisasi penerbit pers Indonesia, yaitu SPS (Serikat Penerbit Suratkabar). Berdasarkan SK Menpen No. 47/1975, pemerintah hanya mengakui PWI dan SPS sebagai satu-satunya organisasi wartawan dan organisasi pers. Dengan cara inilah pemerintah melakukan kontrol terhadap pers. Dengan menunggalkan kedua organisasi ini tentu lebih mudah bagi pemerintah untuk mengendalikan pers dan isi pemberitaannya. Apalagi orang-orang yang berada dalam struktur organisasi PWI dan SPS itu sendiri cukup banyak yang mendapat posisi penting di pemerintahan. Setelah Orde Baru berlalu, pengelolaan negara berjalan bagaikan tanpa arah yang jelas. Namun yang pasti, kebebasan terbuka lebar-lebar. Karena perubahan itulah maka sistem pers pun turut berubah sebagai dampaknya. Jika di kedua era sebelum ini telah terjadi banyak pembredelan maupun pembungkaman terhadap pers oleh pemerintah, demi alasan “stabilitas nasional”, kini situasinya jauh berbeda. Pers Indonesia kini semakin bergairah. Bahkan, karena “lembaga perizinan” 4 sudah ditiadakan dan pemerintah dilarang untuk mengintervensi pers (sesuai UU Pers No. 40 Tahun 1999), pers baru pun bermunculan satu demi satu, cepat dan pesat, bagaikan jamur di musim hujan 5. Para penerbit pers baru itu seakan tak hirau bahwa krisis moneter dan ekonomi belum betul-betul pulih, sehingga harga kertas melonjak dan daya beli masyarakat menurun. Tak heran jika dalam waktu yang tak terlalu lama pula, satu demi satu pers baru itu pun berguguran. Namun, kemauan para pemodal untuk turut berpartisipasi dalam penerbitan 1 Ketua Pengurus YAKOMA- PGI, Dewan Redaksi Tabloid Reformata, Dosen FISIP UPH. 2 Guillermo O’Donnel, dikutip oleh Arief Budiman dalam Victor Silaen, “Kekuatan-kekuatan Politik Nonpartai Sebagai Penggerak Demokratisasi di Indonesia”, Jurnal Sociae Polites No. 14, Jakarta: Fisipol UKI, 2000, hal. 493-494. 3 Ibid. 4 Yang dimaksud “lembaga perizinan” itu, di era Orde Baru, adalah Departemen Penerangan melalui keharusan setiap penerbitan pers memiliki Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Di era Abdurrahman Wahid, departemen ini dibubarkan. EBook 23
  24. 24. pers, secara moral, patut diacungi jempol. Sebab, pertama, bisnis pers merupakan bisnis yang sangat spekulatif dan riskan. Jadi, kemauan para pemilik modal untuk berinvestasi dalam bisnis ini, meski belum tentu bisa mendapatkan profit (bahkan sangat mungkin akan rugi), patut dihargai. Kedua, dengan demikian, si pemilik modal telah melayani hak setiap warga negara untuk tahu (right to know) dan memperoleh informasi (right to information). Itulah sejatinya orientasi pers: melayani kepentingan masyarakat. Situasi Pers Indonesia Dewasa Ini Kini kalangan insan pers benarbenar “menikmati” apa yang disebut sebagai kebebasan pers. Sejak era Habibie, media cetak khususnya, tumbuh bak jamur di musim hujan. Hal itu terlihat, misalnya, dengan dikeluarkannya SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers) sebanyak 825, dengan rincian sebagai berikut: majalah 222 buah, tabloid 443 buah, dan suratkabar 184 buah 6. Tak ketinggalan pula munculnya berbagai organisasi kewartawanan baru (sekitar 24 buah), yang di era Orde Baru hanya ada wadah tunggal bernama PWI. Masuk ke era Abdurrahman Wahid, kebebasan pers kian meningkat, karena kebijakan SIUPP dihapuskan7, sehingga jumlah media cetak pun makin bertambah. Demikian pula dengan media audiovisual, antara lain dengan munculnya TV7 (kini Trans7), Lativi (kini TVOne), TransTV, GlobalTV, ElshintaTV (masih siaran percobaan), O’Channel, TV3, dan lainnya (termasuk stasiun-stasiun televisi daerah). Acaranya pun sangat variatif, dan hampir semuanya tak ketinggalan menayangkan berita atau acara yang bernuansa sosial politik, baik dalam bentuk liputan, laporan langsung, talkshow dan lain-lain. Sementara media elektronik (audio), dua yang menonjol dalam pemberitaan dan acaraacara bernuansa sosial politik di era pasca-Soeharto adalah Elshinta dan Kantor Berita 68H (kini Green Radio) -- radio-radio lain pun, meski sejatinya bukan radio berita, kemudian ikut-ikutan menjadi radio berita dan dialog interaktif bernuansa sosial politik. Perubahan lain adalah dibubarkannya Departemen Penerangan sebagai lembaga negara yang di era Orde Baru menjadi perpanjangan tangan pemerintah yang sangat berkuasa. Akibat dari kebijakan Pemerintah Abdurrahman Wahid itu, kian bebaslah pers Indonesia. Namun, seperti apakah penilaian masyarakat terhadap wajah pers Indonesia yang kian bebas itu? Ada yang mengeluh, karena banyak pers Indonesia kini yang tak lebih dari “tong sampah”, tempat di mana segala sumpah serapah seseorang atau sekelompok orang ditampung. Tujuannya bukan untuk mencerdaskan publik, tetapi untuk “membunuh” karakter seseorang atau kelompok tertentu, yang dipandang berseberangan secara politik. Ada juga yang menilai pers telah berubah menjadi “provokator”, terutama ketika pers memberitakan tentang konflik berdimensi etnik. Misalnya, yang terjadi antara masyarakat Madura dan Dayak di Kalimantan, serta konflik antarumat beragama yang berbeda di Ambon. Pemberitaan pers ditengarai juga telah memantik konflik lanjutan pada tingkat masyarakat itu sendiri. Dalam meliput konflik, 5 Pemerintah dewasa ini relatif tak lagi menjadi “ancaman” bagi pers, tapi sebagai gantinya muncullah “massa” -- yang sewaktu-waktu bisa saja mendatangi kantor penerbitan pers karena adanya suatu pemberitaan yang dianggap tidak benar, tidak cocok dengan selera mereka, merugikan pihak tertentu, dan alasan-alasan lainnya. Lebih jauh tentang “ancaman” terhadap pers, lihat Ignatius Haryanto dkk, dikutip oleh Alex Sobur, Etika Pers: Profesionalisme Dengan Nurani, Bandung: Humaniora Utama Press, 2001, hal. 153. 6 Menurut hasil penelitian Dewan Pers, pada 1999, Departemen Penerangan, sebelum dibubarkan, telah mengeluarkan SIUPP baru sebanyak 1.687 buah. Kemudian pada tahun 2000 dan 2001 terdapat penambahan 500 SIUPP baru lagi. Namun dalam praktiknya, tidak semua pemilik SIUPP memiliki usaha penerbitan. Tahun 1999 misalnya, dari 1.687 buah SIUPP baru, hanya 1.381 buah yang terbit. Selama tahun 1999, satu per satu penerbitan baru mulai rontok, hingga akhirnya tinggal 551 penerbitan yang bertahan. Data dikutip dari J. Anto, “Menyoal Kebebasan Pers, Pers Bebas dan “Kebablasan Pers”, dalam Victor Silaen (ed.), Dari Presiden ke Presiden, Pikiran-pikiran Reformasi yang Terabaikan, Jakarta: UKI Press, 2003. 7 Di era Orde Baru, keharusan memiliki SIUPP bagi setiap penerbitan pers didasarkan pada Peraturan Menteri Penerangan (Permenpen) No. 1 Tahun 1984. Permenpen tersebut disertai juga dengan Surat Keputusan Menteri Penerangan No. 214A Tahun 1984 tentang Prosedur dan Persyaratan untuk mendapatkan SIUPP. Lihat publikasi dari Aliansi Jurnalis Independen, Reformasi Media Massa, Jakarta, 1998. 24 YAKOMA-PGI
  25. 25. pers tidak menjalankan fungsi conflict resolution. Tapi, justru sebagai issue intensifier. Pers memunculkan isu atau konflik dan kemudian mempertajamnya. Soal materi liputan, ada juga kritik yang mengatakan bahwa pers terlalu banyak “mengobokobok” urusan domestik seseorang. Terutama, jika berhubungan dengan isu skandal para pejabat. 8 Ada lagi sebagian masyarakat yang menilai kebebasan pers telah berubah menjadi “kebablasan pers”. Misalnya, maraknya penerbitan pornografi, penyebaran berita yang provokatif, character assassination terhadap tokoh publik, dan yang sejenisnya. Syamsul Muarif, mantan Menteri Komunikasi dan Informasi, juga berpendapat bahwa pers telah membuat berita-berita yang tidak lagi faktual, tapi menjadi provokatif karena sudah diskenariokan untuk kepentingan tertentu (Suara Pembaruan, 22/12/2001). Boleh jadi salah satu penyebabnya adalah, karena profesi jurnalis adalah profesi yang terbuka. Tak ada kualifikasi tertentu seperti seseorang yang hendak membuka praktik dokter atau pengacara. Memang, ada sekolah khusus untuk calon jurnalis, namun jurnalis yang berlatar belakang pendidikan jurnalistik barangkali jumlahnya lebih sedikit dibanding jurnalis yang berlatar belakang pendidikan non-jurnalistik. Profesi jurnalis yang terbuka ini membuat siapa saja kini bisa menjadi jurnalis. Akibatnya, mana yang jurnalis sejati dan mana yang jurnalis “jadi-jadian” makin sulit dibedakan. Termasuk mana pers yang “jadi-jadian” dan mana pers yang “sejati”. Lebih jauh lagi, seorang intel, provokator, preman, sekarang ini bisa menjadi jurnalis sekaligus pemimpin redaksi merangkap sebagai pemodal. Mereka inilah kelompok yang potensial untuk menyalahgunakan (kartu) pers untuk kepentingan-kepentingan non-jurnalistik. Merekalah kelompok yang bisa membangun wajah pers di era reformasi ini menjadi penuh bopeng. Berdasarkan uraian di atas, ada beberapa wajah pers yang tidak ideal, yang tentu saja harus kita hindarkan:1) pers yang tidak peka gender; 2) jurnalisme perang; 3) jurnalis anarki katakata; 4) jurnalisme prasangka. Yang dimaksud dengan itu, intinya, adalah pers yang isi berita dan gaya penulisannya tidak mendukung kesetaraan perempuan, yang cenderung menimbulkan keresahan dan ketegangan di tengah masyarakat, dan hal-hal negatif lainnya. Maka, sebagai gantinya, kita harus mengembangkan pers dengan mengedepankan: 1) jurnalisme empati; 2) jurnalisme damai. Yang dimaksud dengan itu, intinya adalah pers yang isi berita dan gaya penulisannya berupaya untuk membangun solidaritas, simpati, dan hal-hal lain yang positif. 9 Pentingnya Peran Pers Sebelum membahas lebih jauh tentang kedua sisi pers itu, kita soroti dulu pentingnya peran pers. Sebagai media informasi dan komunikasi, peran pers jelas sangat penting di dalam kehidupan bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat. Apalagi pers di Indonesia kini betul-betul berani memerankan dirinya sebagai watchdog of the government. Tak heran jika pers kini dianggap sebagai pilar keempat demokrasi (the fourth estate of democracy) setelah lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Untuk betulbetul dapat mewujudkan peran strategis tersebut, pers bukan saja harus bebas tapi juga harus mampu menjaga jarak terhadap lembaga-lembaga kekuasaan negara (legislatif, eksekutif, yudikatif, dan lembaga-lembaga lainnya), juga terhadap kekuatankekuatan politik dan ekonomi non-negara. Hanya dengan demikianlah pers niscaya dapat memerankan dirinya secara maksimal sebagai kekuatan pengontrol yang terus-menerus bersuara kritis. Dampaknya, antara lain, secara relatif praktik korupsi dapat dikurangi. Di samping itu, pers juga dapat memerankan dirinya sebagai sosialisator yang secara intensif dapat menyebarluaskan ide-ide dan pikiran-pikiran penting demi membangun moral dan mental 8 J. Anto, ibid. 9 ibid. EBook 25
  26. 26. bangsa.10 Terkait itulah Perdana Menteri I India Jawaharlal Nehru (1947-1964) pernah mengatakan: “Saya lebih memilih pers yang sepenuhnya bebas dengan segala bahaya yang dikandungnya, ketimbang pers yang diatur dan ditindas.“11 Jauh sebelumnya bahkan seorang negarawan terkemuka Amerika Serikat, Thomas Jefferson, pernah mengatakan: ”When it is left me to decide whether we should have a government without newspapers, or newspapers without government, I should not hesitate to prefer the letter” (“Jika saya ditanya mana yang akan saya pilih, pemerintahan tanpa surat kabar atau surat kabar tanpa pemerintah, tanpa ragu saya akan memilih yang terakhir”).12 Di negara yang membuka diri bagi demokrasi, media massa berperan besar untuk membuat masyarakat well-informed tentang masalah-masalah politik. Itulah sebabnya dalam tatanan politik yang demokratis, berkembang adagium a democratic citizen is an informed citizen. Tanpa warga negara yang well-informed, demokrasi akan sulit berkembang, karena potensi manipulasi informasi akan cenderung terjadi dan dilakukan oleh mereka yang kaya informasi. Terkait itu Brian Mc Nair, dalam An Introduction to Political Communication (2003), menjelaskan lima fungsi media yang sangat penting. Pertama, menginformasikan kepada masyarakat pelbagai peristiwa penting yang terjadi sehari-hari. Kedua, mendidik masyarakat agar paham makna dan arti penting fakta yang disajikan media. Ketiga, menyediakan platform bagi wacana politik, memfasilitasi pembentukkan opini publik, serta memberikan hak jawab bagi opini yang berbeda. Keempat, mengembangkan publicities bagi kegiatan pemerintah sekaligus menjalankan fungsi anjing penjaga (watch dog function) agar kekuasaan tidak bersalahguna. Kelima, fungsi advokasi bagi pandangan-pandangan politik yang berbeda. Upaya mewujudkan peran pers yang strategis dan ideal seperti itu tidaklah mudah. Para pekerjanya harus betul-betul profesional dan berwawasan luas. Khususnya untuk redaksi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, menghindari kecenderungan menjadi jurnalisme dinamit (dynamite journalism). Yang dimaksud dengan itu adalah laporan yang dipublikasikan media hanya membuat hingarbingar karena terdengar lantang pada awalnya, namun setelah itu sunyi-senyap. Dalam perang melawan korupsi, misalnya, peran pers di Indonesia masih sebatas pemandu sorak (cheer leaders) atau corong pengeras suara (megaphones) dari kelompok anti-korupsi atau aparat yang menangani kasus korupsi. Mungkin karena wartawannya tidak menyelidiki kasus korupsi itu sendiri, melainkan hanya menunggu hasil laporan para penyelidik resmi atau partikelir. Jadi, pihak pers tidak melakukan investigative reporting terhadap kasus-kasus korupsi, melainkan hanya reporting on investigation. Inilah hal kedua yang harus dihindari. Penyebabnya bisa saja karena kurangnya sumber daya dan sumber dana, yang membuat wartawan jarang sekali mendapatkan tugas mengungkap sebuah kasus dalam jangka waktu panjang. Mereka hanya menjalankan tugas rutin pencarian berita sehari-hari yang tidak mendalam dan menanti datangnya informasi atau bocoran sumber mengenai kasus-kasus besar yang bisa meledak di pers. Hal ketiga, seperti contoh di Afrika Selatan, adalah kecenderungan yang disebut jurnalisme meja (desk journalism). Dalam hal ini, wartawan hanya duduk di ruang redaksi untuk menerima telepon dari seseorang yang menceritakan ihwal penyimpangan, skandal atau perselingkuhan tokoh-tokoh tertentu dan menyodorkan bukti-buktinya. Berdasarkan itu kemudian dibuatlah laporan jurnalistik. Kesannya, berita tersebut merupakan “laporan 10 Muchtar Lubis, salah seorang tokoh pers Indonesia, menyebut 5 fungsi media massa yang sangat penting: pemersatu, pendidik, pengontrol, penghapus mitos dan mistik dalam cara berpikir masyarakat, sebagai forum untuk membicarakan pelbagai masalah yang dihadapi bersama. Berdasarkan itulah maka sebuah media massa seharusnya dikelola secara bertanggung jawab dalam hal menyampaikan informasi yang tepat-akurat, cermat, dapat dipercaya, yang juga dikemas dalam bahasa yang baik dan benar. 11 Dikutip oleh Denny B.C. Hariandja, Birokrasi Nan Pongah: Belajar Dari Kegagalan Orde Baru, Yogyakarta: Kanisius, 2002, hal. 143. 12 Dikutip oleh Wina Armada S.A, Menggugat Kebebasan Pers, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1993, hlm. 37. 26 YAKOMA-PGI
  27. 27. investigasi”. Padahal, bukan hasil investigasi, melainkan hasil pembocoran pihak tertentu kepada wartawan. Namun, bagaimanapun, pemberitaan-pemberitaan dengan ciri-ciri seperti di atas tetap diperlukan. Selain sebagai informasi, ia juga bisa menumbuhkan dorongan moral bagi masyarakat dan kelompok-kelompok yang berkeinginan memerangi pelbagai praktik penyimpangan dan penyelewengan. Dengan kata lain, berita tangan kedua (second hand news) tetap lebih baik ketimbang tak ada berita sama sekali. Strategi dan Pengalaman Reformata Telah disebutkan di atas bahwa pers memiliki peran yang strategis dan efektif di tengah kehidupan bernegaraberbangsa dan masyarakat yang sedang berubah. Karena itulah, pers perlu didukung dalam rangka pengembangannya secara kualitatif dan kuantitatif. Namun, dalam kenyataannya, relatif tidak banyak pihak yang terpanggil untuk itu. Akan halnya media Kristiani, kita juga bisa mengatakan hal yang hampir sama. Memang, dari segi jumlah, saat ini tercatat cukup banyak media Kristiani yang beredar di tengah masyarakat, antara lain Bahana, Reformata, Narwastu Pembaruan, Gaharu, Mitra Bangsa, Pantekosta Pos, Panggilan, Mitra Indonesia, Inspirasi, Narwastu, Pelita Kasih, dan lainnya. Namun dari segi tiras, media-media tersebut tergolong “sulit menjadi besar” (rata-rata hanya berkisar di angka 10.000-an ke bawah). Di sisi lain, pendapatan dari iklan juga tidak mudah. Jadi artinya, kalau media-media tersebut sulit meraih profit, bagaimana bisa mengembangkan kualitas isi dan sumber daya manusianya terusmenerus? Inilah yang menjadi persoalan utama bagi mediamedia cetak Kristiani. Reformata sebagai media Kristiani yang berformat tabloid didirikan pada Januari 2003, dengan sumber dana yang relatif kecil. Dari masa edar per bulan (bulanan), dua tahun kemudian berubah menjadi per dua minggu (dwimingguan). Untuk mendukung popularitasnya, Reformata sekali sebulan, dan kemudian sekali dua minggu, juga bersiaran di Radio Pelita Kasih (kelak, rekaman siaran tersebut juga dipancarluaskan di radio-radio Kristiani di beberapa daerah). Sempat bertahan cukup lama, namun akhirnya sejak April 2010 kembali menjadi bulanan (disertai dengan mengaktifkan media on-line). Mengapa? Bukan karena mahalnya biaya cetak atau produksi, melainkan karena kesulitan menjualnya secara cepat (faktor distribusi dan sirkulasi). Berdasarkan itu dapat disimpulkan bahwa pembaca riil (yang setia atau rutin membaca) media Kristiani memang sedikit jumlahnya. Ada beberapa kemungkinan penyebabnya. Pertama, media Kristiani belum dirasakan sebagai kebutuhan bacaan yang utama di gereja- gereja, lembaga-lembaga ekstragerejawi maupun di rumahrumah. Karena, kebutuhan mereka akan informasi yang utama adalah informasi-informasi yang bersifat umum. Kalaupun mereka membutuhkan informasiinformasi seputar Kristen, radio-radio “Kristiani” dianggap lebih murah dan mudah untuk dijadikan sumber. Kedua, bisa jadi media-media Kristiani yang diterbitkan secara terbatas oleh gereja-gereja (media organik gereja) tertentu dianggap telah mencukupi kebutuhan mereka akan informasi seputar Kristen. Artinya, mereka merasa tidak terlalu membutuhkan informasiinformasi seputar Kristen dari media-media Kristiani yang kebanyakan dikelola di Jakarta – sehingga informasi-informasinya lebih berkisar pada hal-hal maupun persoalan-persoalan di dan/atau dari Jakarta.14 Apalagi pesatnya kemajuan teknologi modern dewasa ini memungkinkan mereka dapat mengakses informasi aktual dari manapun hanya lewat internet atau bahkan SMS (short messages service). Jika kita bermimpi dapat melahirkan sebuah media Kristiani sebesar Tempo, misalnya, tak bisa tidak, harus ada pemilik modal besar yang terpanggil untuk mendukungnya. Atau, kalau tidak, lupakan saja mimpi tersebut, karena mungkin kita justru harus mendorong daerah-daerah (termasuk gerejagereja) untuk mengembangkan medianya masing-masing. Jika kita setuju dengan itu, maka 14 Reformata termasuk media Kristiani yang dikelola di Jakarta, sehingga informasi-informasinya 90% bernuansa Jakarta. Ada kesulitan tersendiri untuk membuka perwakilan redaksi di daerah-daerah, termasuk untuk mengutus wartawan ke daerahdaerah setiap kali ada event-event yang penting untuk diliput. EBook 27
  28. 28. kita berharap media-media daerah tersebut juga sekaligus membuat media on-line sebagai pendukungnya, di samping agar dapat diakses dari mana-mana dan menjadi sarana berjejaring antarkomunitas Kristen. Adapun dari segi isi, Reformata sejak semula memang dilahirkan untuk mengisi kekosongan dalam hal pemberitaan maupun wacana di bidang sosial politik yang berkait langsung dengan “dunia” Kristen. Kita tahu sendiri bahwa media-media cetak umum cenderung tak mau atau tak berani mengangkat/menyoroti peristiwa-peristiwa atau isuisu yang berkaitan langsung dengan “dunia” Kristen itu. Untuk mengisi celah yang kosong itulah Reformata diterbitkan. Maka, 28 YAKOMA-PGI sejak awal sampai sekarang, dapat dibuktikan sendiri bahwa Reformata memang konsisten mengangkat/menyoroti bidang sosial politik yang berkaitan langsung dengan “dunia” Kristen itu. Soal gereja yang ditutup paksa atau dirusak, misalnya. Juga soal SKB 1969 dan Perber Dua Menteri 2006 (bahkan Reformata secara khusus telah menyeminarkan isu ini [dua kali] dan menerbitkan buku sebagai hasilnya). Kisruh di partai berbendera Kristen, itu pun menjadi sorotan Reformata. Dan lain sebagainya. Isu-isu demokrasi dan pluralisme juga sedapat mungkin digarap oleh Reformata. Itu sebabnya selain isu-isu yang terkait bidang tersebut, dalam hal pemilihan narasumber pun Reformata tidak membatasi hanya orang-orang Kristen saja. Pendeknya Reformata berupaya inklusif dan mengikuti tren, dengan cara memotret hal-hal yang sedang ‘hangat’ di Indonesia. Tujuannya, menyuarakan kebenaran dan keadilan -- sesuai keyakinan Kristiani. Namun perlu juga diketahui, bahwa jika berkaitan dengan masalah kesusilaan seorang hamba Tuhan dan konflik-konflik internal gereja, Reformata bersikap ekstra hati-hati. Untuk itu Reformata berpedoman pada UU No. 40 Tahun 1999 Tentang Pers dan SK Dewan Pers No. 03/SK-DP/ III/2006 tentang Kode Etik.
  29. 29. MATERI WORKSHOP KIAT SURVIVE BPK GUNUNG MULIA: “MEMADUKAN IDEALISME RASIONALITAS PASAR” Oleh Otniel Sintoro Dua tantangan terbesar yang dihadapi BPK Gunung Mulia sebagai lembaga kristiani yang bergerak di bidang literatur Kristen yang menjadi fokus tulisan ini. Pertama, bagaimana berkomunikasi untuk mewartakan Kabar Baik di tengah konteks pluralitas Indonesia. Kedua, bagaimana gereja pada umumnya, dan media cetak, pada khususnya, sanggup bertahan menghadapi gempuran era komunikasi teknologi informasi. Hal ini menyangkut apa pesan yang hendak disampaikan dan bagaimana cara menyampaikannya. Di satu sisi, Kabar Baik harus diwartakan, apa pun harganya. Di sisi lain, BPK sebagai sebuah lembaga juga harus survive secara finansial. Dalam hal inilah idealisme BPK ditantang. Bagaimana BPK harus tetap menerbitkan literatur kristiani yang memenuhi 1 2 3 4 5 6 kebutuhan gereja, bermutu, terjaga teologinya, namun juga harus bertahan sebagai suatu perusahaan. materialistis dan hedonistis. BPK tetap menjaga idealismenya, yaitu menyediakan literatur bagi warga gereja. LITERATUR KRISTEN, IDEALISME, DAN MINAT BACA UMAT Penerbit tentu butuh pemasukan agar tetap bisa menerbitkan dan mencetak buku. Padahal, secara bisnis,menerbitkan buku bukanlah suatu usaha yang terlalu menjanjikan. Tetap, dalam situasi sulit pun kami tetap menerbitkan buku-buku rohani yang tidak banyak diterbitkan penerbit lain, karena memang tidak komersial. Ini terbukti dari pilihan tema buku yang diterbitkan BPK. Sejak tahun 1946 BPK Gunung Mulia menjadi mitra gereja dan umat kristiani dalam menyediakan literatur Kristen yang ekumenis, dengan garis teologi arus utama. Semenjak didirikan oleh tokoh-tokoh Kristen seperti Sutan Todung Gunung Mulia, T.B. Simatupang, Johanes Leimena, dan Verkuyl, waktu telah menguji komitmen BPK untuk menerbitkan buku yang tidak sekadar mengejar komersialitas belaka, melainkan buku yang bermutu, walau untuk itu bukan hal yang mudah secara ekonomis. Idealisme BPK Gunung Mulia telah diuji oleh tantangan jaman yang semakin KATEGORI BUKU Teologi, referensi, biblika tafsir, gereja, bahan khotbah Bina warga, asuhan, renungan, Christian living Umum sekuler Anak Pluralisme, sosial kemasyarakatan: Fiksi, psikologi, ketrampilan Saat ini buku-buku BPK yang masih aktif dan terus dicetak sekitar 900-an judul (tiap bulan bertambah). Bila dianalisis dari tema-temanya, kategori buku terbitan BPK adalah sebagai berikut: JUDUL 401 penggembalaan 133 140 93 80 50 PERSENTASE 44 % 15 % 16 % 10 % 9% 5% 15 Tulisan ini dibuat untuk Konsultasi Nasional “Gereja Komunikasi”, Yakoma PGI, Jakarta, 26 Mei 2010 EBook 29
  30. 30. Dari komposisi kategori buku di atas, tampak bahwa mayoritas adalah buku-buku teks teologi dan bahan-bahan bacaan untuk para pendeta dan mahasiswa teologi (Kategori 1). Dengan kesadaran penuh atas tugas panggilannya, BPK telah sengaja memilih untuk “memikul salib” dengan menerbitkan bukubuku yang dari sudut pandang marketing tidak komersial, tetapi penting dan perlu untuk disediakan oleh sebuah lembaga penerbitan Kristen ekumenis seperti BPK. Mengapa disebut “memikul” salib? Karena tidak banyak penerbit Kristen yang bersedia menerbitkan buku-buku Kategori 1 dan 5 di atas, yang daya serapnya rendah, karena jumlah pembacanya sedikit. Dari analisis data pemasaran, tampak bahwa yang lebih banyak disukai konsumen adalah bukubuku dengan tema berkat dan mukjizat. Atau, bahkan tematema supernatural. Tapi, BPK menghindari menerbitkan bukubuku bertemakan teologi sukses dan supernatural. Dalam hal menerbitkan buku yang kontekstual dengan pluralitas Indonesia, BPK boleh berbangga. Bila dilihat dari kategori di atas, BPK telah menunjukkan komitmen yang kuat dalam mengartikulasikan suara kenabian yang berlandaskan kasih dalam kepelbagaian. Kategori buku bertemakan pluralisme, dan sosial kemasyarakatan menduduki porsi cukup banyak, yaitu 80 judul (9%). Termasuk dalam kategori ini adalah bukubuku bertemakan dialog antar umat beragama, perdamaian, keadilan dan demokrasi. Dan, harus diakui, buku-buku kategori 30 YAKOMA-PGI ini tidaklah terlalu menjanjikan secara penjualan. Karena itu, tidak banyak penerbit Kristen yang mau “berjibaku” menerbitkan buku kategori ini. Selain itu, dengan kesadaran penuh BPK telah menyediakan dirinya menjadi mitra gereja selama 64 tahun ini. Mengapa bisa begitu? Jawabannya, jelas. Populasi target market dari bukubuku kategori 1 (dan 5) adalah sangat sedikit. Populasi pendeta tentu jauh lebih sedikit daripada populasi umat. Bukankah untuk menggembalakan sebuah gereja dengan umat 100 orang pun, satu orang pendeta sudah cukup. Jadi, kalau hanya mengikuti kemauan pasar, adalah jauh lebih menguntungkan menerbitkan buku untuk umat daripada untuk pendeta (atau calon pendeta). Dalam hal ini buku-buku yang masuk dalam Kategori 2, 3 dan 6. Pembaca kristiani, jumlanya sangat seditkit bila dibandingkan dengan populasi pendutuk Indonesia. Dengan asumsi umat kristiani hanya 10%, dengan hitung-hitungan kasar tapi “pas”, kekuatan potensi pembaca literatur kristiani bisa diprediksi dengan “Prinsip 10%” berikut ini: A. Diasumsikan penduduk Indonesia: 240 juta jiwa. B. 10% Populasi umat kristiani: 24 juta jiwa. C. 10% umat kristiani yang gemar membaca: 2,4 juta jiwa. D. 10% umat kristiani yang punya uang: 240 ribu jiwa. E. 10% umat kristiani yang punya uang mau membeli buku: 24.000 jiwa. Asumsi E perlu ditambahkan, karena dalam dunia penerbitan ada pameo begini: “Orang yang suka membaca tak punya uang. Orang yang punya uang tak suka membaca.” Jadi siapa yang membeli buku dong? Pdt. Dr. Andar Ismail pernah mengeluhkan rendahnya minat baca mahasiswa teologi. Karena itu, asumsi E itu bisa ditambah lagi dengan asumsi F, yaitu umat Kristen yang berminat pada tema teologi (dalam hal ini pendeta, dosen dan mahasiswa teologi). Bukankah akan semakin kecil lagi jumlahnya? Jadi, di atas kertas, pasar potensial konsumen kristiani cuma 24.000. Itupun masih harus dibagi dengan penerbit-penerbit Kristen lain. Sedangkan bila kita menerbitkan buku, satu judul minimal harus dicetak 2.000 eksemplar. Jadi, sekarang BPK memiliki 1.800.000 eksemplar buku yang tak mungkin diserap umat sebanyak 24.000 itu. Andaikan asumsi kita lipatgandakan 10 kali misalnya, maka jumlah orang pada kategori E itu “cuma” 240.000. Masih jauh di bawah jumlah buku yang dicetak BPK. Lalu bagaimana BPK harus membiayai operasional perusahaan dengan 9 cabang dan 300 karyawan? Di sinilah kreativitas kita ditantang. Bagaimana kita tetap menjaga idealisme, tapi juga harus bertahan hidup, serta menyejahterakan karyawannya yang juga memiliki hak hidup yang layak? Hal itu akan dipaparkan dibagian akhir makalah ini. Karena situasi ini masih diperparah lagi dengan gempuran media berbasiskan teknologi informasi arus globalisasi. Di era komunikasi sekarang ini, adalah jauh
  31. 31. lebih mudah seorang remaja mengeluarkan uang Rp 25.000 untuk membeli pulsa telepon genggam, atau untuk makan McD atau KFC daripada untuk membeli buku. Semua itu dipacu dua tahun belakangan ini dengan demam Facebook dan HP on-line. Padahal anggaran rutin itu dikeluarkan setiap bulan atau bahkan minggu. Sedangkan untuk membeli buku, jarang sekali seorang remaja mau menyisihkan dana, misalnya Rp 25.000 saja setiap bulan. Begitupun BPK masih harus dituntut menjalankan perannya sebagai mitra gereja dan umat kristian untuk mengkomunikasikan pesan Kabar Baik, kasih, perdamaian dan keadilan, dalam konteks masyarakat yang plural. Rendahnya minat baca seharusnya juga menjadi kepedulian gereja, rohaniwan dan para pemimpin kristiani. Di masa lalu, percetakan dan penerbitan sangat berperan dalam kekristenan dunia. Sejak penemuan mesin cetak pada 1439 oleh Johann Gutenberg, salah satu materi cetakan terbanyak adalah Alkitab. Ini menunjukkan kaitan logis dan historis antara penerbitan dengan Reformasi Kristen. Dengan penemuan mesin cetak, Alkitab bisa digandakan dalam jumlah banyak. Bahkan, menurut Guinness Book of Records, Alkitab adalah buku yang pertama kali dicetak dengan mesin. Gutenberg Bible adalah salah satu buku termahal yang pernah dijual, yaitu 1.265.000 poundsterling. Alkitab juga merupakan buku paling luas didistribusikan, mencapai 3 milyar eksemplar. Sejarah menunjukkan penerbitan buku memberikan sumbangsih besar pada bangkitnya ilmu pengetahuan (Renaissance) dan Protestantisme era Luther, Calvin, Knox, dkk, karena dengan tersedianya Alkitab secara luas, mereka mampu menunjukkan ayat-ayat Kitab Suci dan menentang praktek gereja sebelum Reformasi. Karena itu, menurut hemat kami, gereja masa kini “berhutang” kepada literatur Kristen. Maka, pantaslah bila gereja ikut berperan dalam menanamkan minat baca umat. Dalam hal inilah perlu pembagian peran antar penerbit dan pemimpin gereja. Tugas panggilan BPK, adalah menyediakan literatur Kristen bermutu, pluralis, nasionalis, dan berpegang pada teologi arus utama. Sedangkan peran para pemimpin umat adalah mendorong minat baca umat. Secara khusus dalam konteks Indonesia, peran pemimpin gerejawi sangatlah penting. Dalam budaya yang paternalistik seperti Indonesia, dibutuhkan keteladanan dan dorongan dari pemimpin untuk menanamkan minat baca. Pada skala yang lebih kecil, peran orang tua juga penting dalam menumbuhkan minat baca anak. Orang tua jangan hanya bangga bila anaknya terampil mengoperasikan Blackberry dan sudah bisa membuat akun Facebook sendiri. Tetapi, banggalah bila anaknya punya kegemaran membaca buku. LITERATUR KRISTEN DALAM ERA TEKNOLOGI INFORMASI Tata ekonomi dunia baru yang ditandai dengan dibentuknya IMF dan Bank Dunia dalam konferensi Bretton Woods, 1944 melahirkan sistem keuangan internasional dan ekonomi pasar global, yang membiakkan perusahaan-perusahaan transnasional yang bermarkas di negara-negara G-7, yang tak mampu dibendung oleh kekuatan suatu negara sekalipun. Apa lagi cuma oleh kekuatan sebuah penerbitan kristiani. Pecahnya Rusia di era 90-an dan krisis moneter negara-negara Asia 1997, merupakan contohnya. Tantangannya adalah, sekarang ini komunikasi dikuasai perusahaan-perusahaan transnasional yang berpusat di negara-negara pemenang perang dunia. Khususnya Amerika, Eropa, atau negaranegara G-7. Di sanalah hardware dan software komunikasi diproduksi. Dari manakah asalnya “raja-raja komunikasi”, situs-situs jejaring sosial seperti, yang sering juga disebut sebagai citizen journalism, seperti Facebook, Twitter, Wordpress, yang semuanya bekerja di bawah sistem operasi Windows keluaran Microsoft? Sedangkan dari sisi hardware, dominasi produsen telepon genggam oleh Nokia, Samsung, LG, SonyEricsson, Motorola, Lalu, gempuran netbook murah dari HP, Lenovo, Accer, Asus, Samsung, Toshiba. Semuanya ikut mempopulerkan programprogram jejaring sosial di atas. Kalau dirunut-runut,dari mana datangnya produsen-produsen itu? Benar sekali: perusahaanperusahaan transnasional! Jadi, merekalah yang paling berkepentingan agar globalisasi menjadi paradigma dunia. Dengan terbukanya area EBook 31
  32. 32. perdagangan bebas, ponselponsel murah China yang membanjiri pasar Indonesia dengan ponsel murah yang bisa Facebook sangat fenomenal. Saat ini dengan harga Rp 299.000 kita sudah bisa membeli HP QWERTY yang sudah bisa on-line. Ini makin memacu penetrasi komunikasi sampai ke rakyat kelas menengah ke bawah. Situasi ini memperberat operasional media cetak pada umumnya, dan BPK pada khususnya sebagai sebuah perusahaan penerbitan. Sebelum krisis moneter 1997, BPK masih menerima donasi dari lembagalembaga misi luar negeri. Namun, semenjak krisis moneter, BPK harus belajar mandiri. Karena itu, yang pertama kali menjadi concern manajemen baru PT BPK Gunung Mulia yang memulai tugasnya di 2005 adalah menata struktur keuangan, menumbuhkan etos kerja, dan corporate culture yang profesional, menumbuhkan jiwa enterpreneurship karyawan. Meningkatkan kuantitas produk dan menghasilkan buku yang bermutu sehingga bisa diterima pasar. Berkat upaya-upaya itu, BPK bisa mandiri. LITERATUR KRISTEN vs. BUDAYA POPULER Arus globalisasi tak dapat dibendung. Tren gaya hidup metroseksual, dugem, fashion, handphone, musik, film, bahkan makanan yang digemari anak muda telah semakin seragam. Pluralitas budaya lokal luntur. Musik anak muda Indonesia berkiblatkan MTV dengan kriteria standar Grammy Award. Film 32 YAKOMA-PGI yang dianggap baik cuma film Hollywood, dengan Academy Award sebagai standarnya. Tidak ada tempat buat film-film alternatif produksi negara-negara Asia, atau Timur Tengah. Tom Cruise, Brad Pitt, Angelina Jolie, Miley Cirrus, Britney Spears, Lady Gaga, Pittbull, Robert Pattinson, dll menjadi idola anak muda sampai ke desadesa. Tak heran kalau produk entertainment merupakan penghasil devisa ekspor kedua terbesar Amerika setelah ekspor senjata. Makanan yang “gaul” adalah McD, Starbucks, CocaCola, dkk. Trend fashion dunia dikendalikan dari Paris, Milan, New York, atau London. Profil remaja Indonesia sekarang menjadi semakin seragam dengan remaja-remaja lain di seluruh dunia. Bila dicermati, salah satu produk globalisasi adalah budaya populer, sebuah subkultur yang sekarang paling mewabah di kalangan anak muda. Ikon-ikon budaya populer yang paling berpengaruh bagi anak muda adalah gaya hidup, idola, musik, dan film. Kami sadar bahwa anak muda adalah pihak paling rentan terhadapnya. Selera mereka dibentuk oleh hegemoni perusahaan transnasional dengan produk-produk yang memikat hati. Semua itu dengan sangat sophisticated dikemas memikat. Gaya hidup konsumtif-hedonistis, jelas-jelas dikondisikan oleh semangat globalisasi, karena di balik pesona gaya hidup cosmopolitan itu adalah para produsen kapitalis global, para perusahaan transnasional yang berazaskan “money-make-money”, yang berkepentingan agar produknya mendunia. Di tengah gempuran budaya populer itu, penerbit Kristen, sebagai media agama, yang juga harus survive secara ekonomi, adalah salah satu “objek” yang pertama menjadi “korban”. Bila tak dikemas menarik dan profesional, media agama bisa kehilangan daya tariknya bila harus bersaing dengan media sekuler, lalu ditinggalkan pembacanya. Agama dalam persepsi remaja cuma bagaikan seperangkat aturan kaku yang membatasi kesenangan mereka. Agama cuma identik dengan “semua yang enakenak dilarang”. Dan, yang paling rentan terhadap sebuan komunikasi baru ini adalah anak muda. Bagaimana caranya agar anak muda mau membaca literatur rohani? Di tengah serbuan media sekuler yang lebih canggih, seperti internet, Facebook, Twitter, Blog, film, atau bahkan game online? Pertanyaannya adalah: “Apakah segala sesuatu yang idealis itu harus tidak komersial?” Atau, “Apakah segala sesuatu yang berbau bisnis itu pasti tidak idealis?” Memang, media agama tidak boleh berkompromi dengan, semangat hedonistis materialistis arus globalisasi. Tidak boleh larut di dalam eforianya. Tapi, juga jangan sampai tergilas dan punah. Di tengah dilema itu, ada satu pilihan realistis untuk survive. Terinspirasi dari kiat Indra Gunawan, CEO Gramedia (2002), konglomerat penerbitan Indonesia, kami menerapkan sebuah strategi survive yang disebut: “Memadukan idealisme dan rasionalitas pasar.” Belajar dari kata-kata bijak salah seorang pemimpin

×