Insektisida alami
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Like this? Share it with your network

Share
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
  • pak boleh tanya zat kimia yang dapat meracuni hama bemisia tabacci apa ya??
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
16,577
On Slideshare
16,577
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
257
Comments
1
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. x INSEKTISIDA DAN AKARISIDA YANG BERASAL DARI ALAM Panut Djojosumarto djojosumarto.panut@gmail.comA. PENGERTIAN Yang dimaksud dengan insektisida dan akarsida alami adalah semua bahanaktif insektisida dan akarisida yang diambil dari alam, bukan merupakan hasilsintesa di laboratorium. Ketika insektisida alami diproduksi secara komersial,peranan industri terbatas pada riset dan pengembangan, pemurnian bahan aktif danformulasi, sehingga senyawa tersebut dapat digunakan secara praktis di lapangan. Dalam aartikel ini kami membagi insektisida alami kedalam beberapa kategorisebagai berikut: 1. Insektisida nabati (insektisida botani), yakni bahan aktif insektisida yang diekstrak dari tumbuhan, seperti azadiraktin, nikotin, rotenon, dan seterusnya. 2. Insektisida mikrobiologi (insektisida biologi), adalah mikroorganisme seperti jamur, virus, nematoda, dan sebagainya, yang umumnya menyebabkan penyakit pada serangga hama tertentu. 1
  • 2. 3. Insektisida alami yang bukan termasuk ke dalam kategori 1, 2 dan 4. Contoh dari kategori ini adalah tanah diatomeae, bubuk karbon, dan sebagainya. 4. Insektisida yang berasal dari fermentasi mikroorganisme, seperti antibiotika, makrolida, dan sebagainya. Alasan mengapa kelompok antibiotika dan/atau makrolida kami masukkan ke dalam kelompok insektisida alami adalah kenyataan bahwa senyawa kimia ini tidak dibuat/disintesa di laboratorium, tetapi dihasilkan secara alami dari fermentasi mikrobiologi.B. INSEKTISIDA NABATI Sejak lama diketahui bahwa beberapa ekstrak tumbuhan bersifat racun bagiserangga tertentu. Penggunaan ekstrak tumbuhan sebagai insektisida telahdiketahui sejak abad 18, di antaranya daun tembakau (1763), bubuk piretrum daribunga Chrysantemum (1840), dan akar tuba (Derris eliptica). Daftar tumbuhan yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pestisida botanidiberikan dalam tabel 1.Tabel 01: Beberapa jenis tumbuhan yang telah diteliti manfaatnya sebagai pestisida botani No Nama Umum Nama Ilmiah Bagian tanaman Penggunaan 1 Aglaia (i) Aglaia Kulit, batang, daun Insektisida odorata 2 Babandotan Ageratum conyzoides Daun, batang, Insektisida akar Nematisida 3 Balakama Ocimum basilicum Daun, biji Insektisida 4 Bawang Allium spp. Umbi Insektisida Fungisida Nematisida 5 Bengkuang Pacchiryzus erosus Daun, biji Insektisida 6 Bitung Barringtonia sp. Biji Insektisida Piscisida 7 Brotowali Tinospora sp. Batang Insektisida 8 Cengkih Syzigium aromaticum Daun, bunga Bakterisida Fungisida Insektisida 9 Daun wangi Malaleuca bracteata Daun Atraktan 10 Duku Lansium domesticum Kulit buah, biji Insektisida 11 Gadung Dioscore composite Umbi Rodentisida 2
  • 3. Insektisida12 Jarak Ricinus communis Biji, daun Rodentisida Insektisida Nematisida13 Jarak pagar Jathropa curcas Biji Insektisida14 Jeringau Acarus calamus Rimpang Insektisida Fungisida15 Kecubung Datura sp. Biji, daun Insektisida16 Kembang Gloriosa superba Akar Insektisida sungsang17 Kipahit Tithonia sp. Daun Repelen18 Kunyit Curcuma domestica Rimpang Nematisida Rodentisida19 Lada Piper nigrum Buah, biji Insektisida Nematisida Fungisida20 Legundi Vitex trifolia Daun Insektisida21 Lempuyang Zingiber Americans Rimpang Insektisida emprit22 Lempuyang Zingiber zerumbet Rimpang Insektisida gajah23 Lerak Sapindus rarak Buah, biji Piscisida Insektisida24 Mahoni Swietenia macroplylla Biji Insektisida25 Jambu mete Anacardium Kulit biji Insektisida occidentale Nematisida Fungisida Bakterisida26 Mimba Azadirachta indica Biji Insektisida Nematisida27 Nangka Artocarpus Daun Nematisida heterophylus28 Nilam Pogostemon cablin Daun Insektisida Repelen29 Patah tulang Euphorbia turricalli Daun Molluskisida30 Pepaya Carica papaya Akar, daun Nematisida31 Picung Pangium edule Buah Insektisida32 Piretrum Chrysantemum spp. Bunga Insektisida33 Saga Abrus pecatorius Biji Insektisida34 Secang Caesalpinia sappan Daun, bunga, biji Insektisida35 Selasih Ocimum sp. Daun Atraktan36 Sembung Blumea balsamifera Daun Molluskisida37 Senggugu Clerodendron seratum Daun Rodentisida38 Sereh dapur Andropogon nardus Daun Insektisida Fungisida39 Sirih Piper bettle Daun Bakterisida Fungisida40 Sirsak Annona reticulate Daun, biji Insektisida41 Srikaya Annona squamosa Biji Insektisida Nematisida42 Tefrosia Tephrosia vogelii Daun Molluskisida43 Tembakau Nicotiana tabacum Daun Insektisida Fungisida Nematisida44 Tembelekan Lantana camara Bunga, daun Insektisida 3
  • 4. 45 Akar tuba Derris elliptica Akar Piscisida Insektisida Novizan (2002): Membuat dan Memanfaatkan Pestisida Ramah Lingkungan Berikut adalah beberapa insektisida nabati yang telah dapat dimurnikan bahanaktifnya, dan diproduksi secara komersial, meskipun banyak di antaranya yangbelum dipasarkan di Indonesia.Asam sitrat (citric acid) Asam sitrat diekstraksi dari buah jeruk, digunakan sebagai insektisida untukmengendalikan berbagai jenis serangga, seperti semut, aphids, kumbang, ulat,wereng daun, kutu dompolan, tungau dan kutu kebul, pada tanaman buah-buahan,sayuran dan tanaman hias.Azadiraktin (azadirachtin) Ekstrak biji mimba (Azadirachta indica) sejak lama diketahui mempunyai efekinsektisida. Azadiraktin (AZA) adalah senyawa kimia utama dari ekstraksi atas biji-biji mimba (neem). Disamping azadiraktin, ekstrak biji mimba juga mengandungsenyawa limonoid lainnya, seperti nimbolid, nimbin dan salanin. Ekstrak biji mimba,atau “neememulsion” mengandung 25% (berat/berat) azadiraktin, 30-50% senyawalimonoid lainnya, 25% asam lemak dan 7% ester gliserol. Azadiraktin bekerja sebagai antagonis ecdyson (ecdyson adalah hormon yangbertanggung-jawab atas proses pergantian kulit serangga), sehingga ecdyson tidakbekerja dengan baik dan serangga hama yang terpapar akan tergganggu prosesganti kulitnya, sehinnga mati. Oleh karena itu azadiraktin dapat diklasifikasikansebagai penghambat pertumbuhan serangga (insect growth regulator : IGR) Azadiraktin digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis hama dari genus-genus yang berbeda. Efektif untuk mengendalikan kutu kebul (Bemisia spp.), thrips,pengorok daun, aphids, larva Lepidoptera (ulat), kutu sisik, kumbang dan kutudompolan, pada sayuran (tomat, kubis, kentang), kapas, teh, tembakau, kopi, dantanaman hias. LD50 (tikus) >5000 mg/kg, dermal (kelinci) >2000 mg/kg bb. Tidak menyebabkaniritasi pada kulit, tapi sedikit pada mata (kelinci). Klasifikasi toksisitas EPA(formulasi) kelas IV. Azadiraktin dipasarkan di Indonesia dengan nama-nama dagang Natural 9WSC, Nimbo 0,6 AS dan Nospoil 8 EC, dan didaftarkan (dalam hal ini Nimbo) 4
  • 5. untuk mengendalikan kutu daun Myzus persicae dan ulat grayak Spodoptera liturapada tanaman cabai (Anonim, 2006).Azadiraktin-dihidro (dihydroazadirachtin) Insektisida dihidroazadiraktin (DAZA) adalah bentuk terreduksi dari azadiraktinalami. Sifat-sifatnya mirip dengan azadiraktin, demikian halnya dengan cara kerja(mode of action) dan hama sasarannya. LD50 (tikus) >5000 mg/kg, dermal (kelinci) >2000 mg/kg bb.Ekstrak bawang putih Digunakan sebagai pengusir serangga (insect repellent) dan harus digunakansebelum ada serangan serangga hama. Mungkin senyawa mengandung sulfur yangterdapat dalam ekstrak bawang putihlah yang bertanggung-jawab atas efekrepellent-nya. Beberapa produk berisi ekstrak bawang putih telah diproduksi secarakomersial. Dalam penggunaannya dicampur dengan horticultural oil atau minyakikan, diencerkan sesuai dengan rekomendasi produsennya, dan disemprotkandengan volume tinggi pada tanaman yang dilindungi. Waktu aplikasikan sebaiknyamenjelang sore, dan diulangi setiap 10 hari. Ekstrak bawang putih mungkin juga mengusir serangga penyerbuk. Karena itujangan digunakan saat tanaman berbunga, apabila kehadiran serangga penyerbukpenting bagi produksi tanamannya. Ekstrak bawang putih praktis tidak berbahaya(dalam takaran normal). Ekstrak bawang putih juga dimanfaatkan sebagai suplemenmakanan dan dalam masak-memasak.Eugenol (4-allyl-2-methoxyphenol) Eugenol (minyak cengkih) diekstrak dari berbagai jenis tanaman, termasukcengkih, bersifat sebagai insektisida. Cengkih mengandung antara 14-20% minyakcengkih. Digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis serangga hama, termasuk kututanaman (aphids), ulat grayak, kumbang, ulat tanah, belalang, tungau, dsb., padatanaman sayuran dan buah-buahan.Kapsaisin (Capsaicin) Kapsaisin adalah senyawa kimia yang terdapat pada tanaman Solanaceae darigenus Capsicum (berbagai macam cabai), dan merupakan senyawa kimia yang 5
  • 6. bertanggung-jawab atas rasa pedas pada cabai. Senyawa ini merupakan pengusirserangga dan tungau, serta mempunyai efek sebagai insektisida. Juga dikatakandapat mengurangi transpirasi tumbuhan. Produk komersial dengan nama dagang Armorex mengandung campuranekstrak cabai (kapsaisin) dengan mustard oil (allyl isothiocyanate) digunakandengan cara dikocorkan (soil drench) sebelum tanam, dan dapat mengendalikanberbagai jenis cendawan tular tanah (termasuk Pythium, Rhizoctonia, Phytophthora,Pyrenochaeta, Sclerotium, Armillaria dan Plasmodiophora), serangga tanah sepertiulat potong (Agrotis), lundi (uret, larva kumbang), molluska, nematoda (Tylenchus,Pratylenchus, Xiphinema, dsb.), serta sejumlah gulma. Kapsaisin dikatakan dapat mengganggu metabolisme serangga dan bekerjapada susunan syaraf sentral serangga.Karanjin Insektisida dan akarisida karanjin diekstrak dari biji tumbuhan Derris indica(Pongamia pinnata). Bentuk WP didapat dengan menggiling biji hingga menjaditepung. Digunakan untuk mengendalikan tungau, kutu sisik, serangga pengunyahdan penusuk-pengisap, serta beberapa jenis jamur. Terutama efektif untukmengendalikan kutu kebul (whiteefly) thrips, pengorok daun, aphids, ulat, kutu sisikdan kutu dompolan pada berbagai jenis tanaman termasuk sayuran, kapas, teh,tembakau, dan tanaman hias. Karanjin bekerja dengan berbagai macam cara. Karanjin adalah penghalauserangga (insect repellent), antifeedant (menghilangkan nafsu makan serangga),menekan kegiatan hormon ecdyson (hormon yang mengatur pergantian kulitserangga), karenanya bertindak sebagai insect growth regulator (IGR). Dikatakanpula bahwa karanjin mampu menghambat sitokrom P450 pada serangga dantungau yang peka. Digunakan dengan cara disemprotkan. Tidak ada bukti adanya efek alergi dan efek negatif lainnya, baik pada produsen,formulator maupun pengguna.Minyak kanola (canola oil) Minyak kanola diekstrak dari biji kanola (iolseed rape plants, Brassica napus danBrassica campestris). Efektif untuk mengendalikan, dengan cara mengusir (insectrepellent) berbagai jenis serangga hama pada berbagai jenis tanaman, termasuk 6
  • 7. sayuran, tanaman hias, buah-buahan, jagung, bit gula, kedelai, dan sebagainya.Digunakan dengan cara disemprotkan atau dialirkan lewat saluran irigasi.Nikotin Nikotin adalah senyawa bioaktif kimia utama dari tanaman tembakau (Nicotianatabacum, N. glauca dan N. rustica) serta beberapa tumbuhan dari familiaLycopodiaceae, Crassulaceae, Leguminosae, Chenopodiaceae dan Compositae.Nikotin sejak lama digunakan sebagai insektisida. Rata-rata kandungan nikotin padaN. tabacum dan N. rustica adalah 2% hingga 6% berat kering. Dahulu nikotindiproduksi dalam bentuk ekstrak dari daun tembakau, tetapi kini dibuat dan dijualdalam bentuk nikotin teknis atau nikotin sulfat. Nikotin adalag racun non-sistemik, terutama aktif dalam fase uapnya, tetapi jugamemiliki sedikit efek sebagai racun kontak dan racun perut. Bekerja pada syarafserangga dengan memblok reseptor (penerima) kholinergik asetilkholin. Merupakaninsektisida yang sangat toksik, berspektrum sangat luas, digunakan untukmengendalikan berbagai jenis serangga hama, termasuk aphids, thrips dan kutukebul; pada berbagai tanaman. LD50 oral pada tikus antara 50-60 mg/kg, LD50 dermal (kelinci) 50 mg/kg. Mudahdiabsorbsi oleh kulit, beracun bagi manusia bila berkontak dengan kulit. Merupakanracun inhalasi yang sangat toksik. Klasifikasi toksisitas WHO (bahan aktif) kelas Ib,dan EPA (formulasi) kelas I.Piretrum Bubuk piretrum, yakni tepung yang diperoleh dari bunga semacam krisan, telahdigunakan sebagai insektisida di berbagai belahan bumi sejak jaman purba.Tanaman ini mungkin berasal dari Cina, yang selanjutnya menyebar ke barat lewatjalur sutera ke Persia pada abad pertengahan. Bubuk piretrum kemudian dikenalpula sebagai Persian Insect Powder. Selanjutnya tanaman ini menyebar ke pesisirlaut Adriatik di Dalmatia (bagian dari Kroasia). Piretrum diperoleh dari bunga tumbuhan semacam krisan, yakni Chrysantemumcinerariaefolium (Pyrethrum cinerariaefolium, Tanacetum cinereriaefolium). Ekstrakini selanjutnya dimurnikan menggunakan metanol. Ekstrak piretrum terdiri atas 3 kelompok senyawa, yang keseluruhannya terdiriatas 6 senyawa bioaktif yakni piretrin (piretrin I dan II), jasmolin (jasmolin I dan II)dan sinerin (sinerin I dan II). 7
  • 8. Rotenon Rotenon merupakan senyawa kimia bersifat insektisida yang diekstrak daritanaman akar tuba (Derris eliptica & Derris maccensis), Lonchocarpus sp., danTephrosia sp. Sejak lama perasan akar tuba digunakan untuk meracuni ikan. Rotenon efektif untuk mengendalikan berbagai serangga hama, termasukaphids, thrips, tungau, semut merah, dan sebagainya. Bila diaplikasikan ke airmampu mengendalikan larva nyamuk. Juga digunakan untuk mengendalikan ekto-parasit ternak (bidang peternakan) dan di bidang perikanan digunakan untukmengendalikan ikan buas. Di bidang pertanian digunakan pada tanaman hias dansayuran. Rotenon bekerja sebagai penghambat transport elektron pada respirasiserangga sasaran (pada lokasi I). Bersifat non-sistemik, racun kontak dan racunlambung. LD50 oral (tikus putih) 132-1500 mg/kg, mencit putih 350 mg/kg. LD50 dermal(kelinci) >5000 mg/kg bb. Kelas toksisitas WHO (bahan aktif) kelas II, EPA(formulasi) kelas I dan III. Perkiraan dosis mematikan untuk manusia antara 300-500 mg/kg. Sangat beracun bila terhisap dibandingkan dengan bila termakan.Rotenon beracun bagi ikan, dan sangat beracun bagi babi.Ryania Ryania diekstrak dari tumbuhan Ryania speciosa, dan digunakan sebagaiinsektisida untuk mengendalikan serangga Cydia pomonella, penggerek batangjagung Ostrinia nubilalis serta thrips pada jeruk. LD50 oral (tikus) 1200 mg/kg bb.Sabadila Sabadila diekstrak dari biji Schoenocaulon officinale dan mengandung bahanaktif veratrin yang merupakan campuran 2 : 1 dari sevadin, veratridin dan komponenminor lainnya. Sabadila merupakan insektisida kontak dan selektif untuk untukmengendalikan thrips pada jeruk dan advokat.Sitronela Sitronela diakstrak dari tanaman sereh wangi, dan telah digunakan sebagaipengusir (insect repellent) nyamuk, dsb., sejak 1901. Kecuyali mengandung 8
  • 9. sitronela, ektrak tanaman ini juga mengandung senyawa-senyawa minor lainnya,seperti alpha-sitronela, sitronelol dan alpha-sitronelol.C. INSEKTISIDA MIKROBIOLOGI Mikroorganisme berasosiasi dengan serangga dengan berbagai macam cara,mulai dari asosiasi mutualistik (simbiose) sampai yang bersifat parasitik.Mikroorganisme parasit ini dapat menyebabkan penyakit bagi serangga, dan dikenalsebagai patogen serangga (entomopatogen). Telah diketahui bahwa ada sekitar1500 spesies mikroba menyebabkan penyakit pada antropoda, termasuk serangga. Berbagai patogen serangga yang telah dimanfaatkan sebagai insektisidamikrobiologi ditampilkan di bawah ini. Banyak diantaranya telah diproduksi secarakomersial.a. Jamur Beauveria spp. Hirsutela thompsonii (akarisida) Lagenidium giganteum Lecanicillium lecanii (dahulu Verticillium lecanii) Metarhizium spp Paecilomyces fumosoroseus (+ akarisida)b. Bakteri Bacillus spp. Paenobaccilus popilliae (dahulu Bacillus popilliae) Serratia entomophilac. Nematoda Heterorhabditis spp. Steinernematidae spp.d. Protozoa: Microsporidium Nosema locustae 9
  • 10. Vairimorpha necatrixe. Virus Granulosis virus (GV) Nucleopolyhedro virus (Nuclear Polyhedrosis Virus, NPV)C.1. Insektisida Mikrobiologi: Jamur Tidak seperti patogen serangga lainnya ( misalnya bakteri dan virus) yangumumnya harus di makan dan dicerna agar dapat menginfeksi inangnya, jamurdapat menginfeksi inangnya (dalam hal ini serangga hama) dengan cara penetrasilangsung. Apabila spora jamur menempel pada kulit serangga, dan apabila kondisimendukung, maka spora akan berkecambah, menembus kutikula serangga danmasuk kedalam tubuh serangga. Dalam tubuh serangga jamur akan berkembangmembentuk hifa dan miselium hingga memenuhi bagian dalam tubuh serangga,hingga serangga akhirnya mati. Jamur kemudian hidup sebagai saprofit danmenyerap hara dari tubuh serangga yang sudah mati. Tubuh buah jamur kemudianmuncul dari bangkai serangga inang, menghasilkan spora, dan siap disebarkanuntuk menginfeksi serangga lainnya. Tanaka dan Kaya (1993) telah mendata jamur penyebab penyakit serangga(entomopatogen) yang terdapat dalam 8 kelas, 13 ordo dan 57 genus. Banyakdiantaranya yang bersifat sangat spesifik (hanya menginfeksi serangga tertentu).Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin Digunakan sebagai insektisida. Jamur ini dahulu dikenal dengan nama Botrytisbassiana. Jamur entomopatogen (penyebab penyakit serangga) ini menginvasitubuh serangga sasaran. Spora (konidia) jamur akan menempel pada kutikulaserangga, dan saat berkecambah, benang jamur (hifa) akan menembus kutikuladan berkembang didalam tubuh serangga. Untuk perkecambahan diperlukankelembapan tinggi serta air bebas. Infeksi bisa memakan waktu 24 hingga 48 jam,tergantung pada temperatur. Serangga sasaran masih hidup 3 hingga 5 harisesudah infeksi, sebelum akhirnya mati. Sesudah serangga sasaran mati, sporajamur akan terus diproduksi diluar tubuh serangga. Insektisida berbasis B. bassianaadalah racun kontak dan bersifat sangat spesifik pada serangga sasaran. 10
  • 11. Diaplikasikan dengan disemprotkan pada kanopi tanaman. Dapat diaplikasikanbersama insektisida lain, dengan tambahan ajuvant dan sebagainya. Jangandigunakan bersama fungisida, dan tunggu hingga 48 jam sebelum menggunakanfungisida. Tidak kompatibel dengan oksidator yang kuat, asam, basa dan jangandicampur dengan air yang mengandung klorin. Tidak menyebabkan infeksi pada tikus sesudah perlakuan 21 hari. Oral LD50pada tikus >18 X 108 cfu/kg, dermal (tikus) >2000 mg/kg. Menyebabkan iritasi padamata, kulit dan sistim pernafasan. Produk berbasis Beauveria bassiana yang telah diproduksi secara komersialterdiri atas isolat-isolat berikut. - Beauveria bassiana isolat BB 147 Isolat ini digunakan untuk mengendalikan penggerek tongkol jagung (Ostrinia nubilalis, european corn borer dan Ostrinia furnacalis, asian corn borer), pada tanaman jagung. padi.Gambar 01:: Wereng coklat dan walangsangit terinfeksi jamur Beauveria bassania(dari Shepard, dkk; IRRI) 11
  • 12. - B. bassiana isolat stanes Isolat ini digunakan untuk mengendalikan penggerek buah kopi, lundi (uret), penngerek buah kapas, ulat potong (cutworm), wereng batang coklat dan ulat kubis, pada tanaman teh, kopi, kapas, tomat, okra, terung dan - B. bassiana isolat GHA Isolat GHA terutama efektif untuk mengendalikan kutu kebul (whitefly), thrips, aphids, serta kutu dompolan, pada tanaman sayuran dan tanaman hias.. - B. bassiana isolat ATCC 74040 B. bassiana isolat ATCC 74040 efektif untuk mengendalikan Coleoptera dan Hemiptera pada lapangan rumput dan tanaman hias.Beauveria brongniartii (Saccardo) Petch Jamur yang dimanfaatkan sebagai insektisida ini pernah dikenal dengan namaBeauveria tenella. Dewasa ini ada 3 isolat yang dikomersialkan, yakni isolat Bb96(isolat Swiss) dan IMBST 95.031 serta 95.041 (isolat Austria). Seperti jamurentomopatogen lainnya, jamur ini juga menyerang tubuh serangga sasaran. Spora(konidia) jamur akan menempel pada kutikula serangga, dan saat berkecambah,benang jamur (hifa) akan menembus kutikula dan berkembang didalam tubuhserangga. Untuk perkecambahan diperlukan kelembapan tinggi serta air bebas.Infeksi bisa memakan waktu 24 hingga 48 jam, tergantung pada temperatur.Serangga sasaran masih hidup 3 hingga 5 hari sebelum akhirnya mati. Sesudahserangga sasaran mati, spora jamur akan terus diproduksi diluar tubuh serangga.Insektisida berbasis B. bassiana adalah racun kontak dan bersifat sangat spesifikpada serangga sasaran. Dapat diaplikasikan bersama pestisida kimia lainnya, kecuali fungisida. Diklasifikasikan sebagai non-toksik, dengan LD50 oral (tikus) >5000 mg/kg,dermal (tikus) >2000 mg/kg, menimbulkan iritasi ringan pada kulit kelinci. - B. brongniartii isolat Bb96 Isolat ini diisolasi dari semacam uret (lundi) Hoplochelus marginalis yang terdapat di Madagaskar,oleh CIRAT/IRAT, Prancis. Prises untuk formulasinya sekarang dimiliki oleh Natural Plant Protection (NPP). Digunakan untuk 12
  • 13. mengendalikan uret Hoplochelus marginalis pada tanaman tebu. Diaplikasikan di tanah saat tanam pada alur-alur tanaman, atau pada pangkal ratun tebu. - B. brongniartii isolat IMBST 95.031 dan 95.041 Isolat ini diisolati dari padang rumput yang diserang oleh larva Melolontha melolontha oleh Istitut Mikrobiologi Universitas Leopold-Franzens di Austria. Digunakan untuk mengendalikan larva Melolontha melolontha diaplikasikan pada benih yang akan ditanam.Hirsutella thompsonii Fisher Akarisida biologis komersial berisi jamur Hirsutella thompsonii isolat MF(Ag)S(ITCC 4962; IMI 385470), digunakan untuk mengendalikan tungau dari familiEriophyidae, terutama tungau kelapa Aceria guerreronis. Pertama kali diisolasi daritungau Eriophyidae di Tamil Nadu, India. Jamur ini bekerja dengan mendegradasi kutikula tungau. Spora jamur yangmenempel pada kulit tungau, bila kondisi menunjang, akan berkecambah dan germtube dengan kekuatan fisik dan enzym akan memasuki kutikula tungau danselanjutnya hifa jamur berkembang dalam tubuh tungau, memproduksi spora padakutikula tungau baik yang masih hidup atau yang sudah mati, dan melanjutkansiklus hidup selanjutnya. Sediaan komersial yang mengandung spora H. tompsonii diaplikasikan dengancara disemprotkan bila kondisi cuaca kering. Jangan dicampur dengan fungisida,terutama ditiokarbamat. Tidak kompatibel dengan oksidator yang kuta, asam, basa,dan jangan dicampur dengan ir yang mengandung klorin. Hirsutella thompsonii tidak menyebabkan iritasi kulit dan mata, tidak ada buktimenyebabkan keracunan akut maupun kronis. Tidak nampak adanya reaksi alergikatau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian,produksi serta pengguna H. thompsoni.Lagenidium giganteum Couch Lagenidium giganteum digunakan untuk mengendalikan larva nyamuk, yangmeluputi genus-genus Aedes, Anopheles, Coquillettidea, Culex, dan sebagainya. L. giganteum adalah parasit dari larva nyamuk. Zoospora jamur, biladiaplikasikan dalam air, akan mencari larva nyamuk dan menempel pada kutikula.Selanjutnya zoospora akan berkecambah dan menembus kutikula larva, dan 13
  • 14. selanjutnya berkembang dalam tubuh jentik-jentik nyamuk dan khirnyamenyebabkan kematian.Lecanicillium lecanii (Zimmerman) Gams & Zare Dahulu dikenal dengan nama lama Cephalosporium lecanii atau Verticilliumlecanii. Jamur L. lecanii adalah entomopatogen yang bertindak denganmendegradasi kutikula serangga sasaran. Spora yang menempel pada kutikulaserangga, saat berkecambah akan masuk kedalam tubuh serangga denganmenembus kutikula, baik dengan kekuatan fisik maupun bantuan enzym. Hifa jamurkemudian akan berkembang dalam tubuh serangga yang menyebabkan seranggasakit dan akhirnya mati. Diaplikasikan pada kanopi daun dengan semprotan volume tinggi, sebagiknyasaat kelembapan tinggi. Jamur ini tidak menyebabkan keracunan pada tanaman(non-fitotoksik) dan juga non-fotipatogenik (tidak menyebabkan penyakit padatanaman). Peka terhadap sejumlah fungisida, terutama ditiokarbamat. Tidak bolehdicampur dengan oksidator yang kuat, asam, basa dan air yang mengandung klorin. L. lecanii tidak menyebabkan iritasi kulit dan mata. Tidak ada bukti bahwa L.lecanii menyebabkan keracunan akut atau kronis, dan tidak menyebabkan infeksipada mamalia. Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatanlainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna H.thompsoni. - L. lecanii isolat aphids Isolat aphids (aphids isolate) ditemukan oleh R.A. Hall, dan diisolasi dari semacam aphids, Macrosiphoniella sanborni, digunakan untuk mengendalikan aphids, kutu kebul (whitefly), thrips dan kutu sisik pada sayuran, tanaman hias dan tanaman lainnya. - L. lecanii isolat kutu kebul (whitefly) L. lecanii Isolat kutu kebul (whitefly isolate) juga ditemukan oleh R.A. Hall, dan diisolasi dari kutu kebul rumah kaca, Trialeurodes vaporariorum. L. Lecanii whitefly isolate dimanfaatkan untuk mengendalikan terutama kutu kebul, dengan efek samping pada thrips.Metarhizium anisopliae Sorok 14
  • 15. Insektisida biologi Metarhizium anisopliae dahulu dikenal dengan namaPenicillium anisopliae dan Entomophthora anisopliae. Jamur yang umum terdapatpada serangga yang mati, dan produk komersial diisolasi dai wereng batang padi(Nilaparvata lugens). Ada produk yang khusus untuk mengendalikan rayap, adapula yang diregistrasi untuk wereng padi (Nilaparvata lugens) dan hama lain dariordo Coleoptera dan Lepidoptera, ada pula yang khusus untuk mengendalikankecoa. M. anisopliae merupakan entomopatogen yang efektif, menyerang seranggasasaran dengan cara menembus kutikula serangga, dan hifa jamur kemudianberkembang dalam tubuh serangga, yang menyebabkan sakit dan kematian.Setelah diaplikasikan, jamur akan menginvasi serangga sasaran dalam 2 hari, danakan mati dalam 7 – 10 hari. Serangga yang mati akan tetap melekat padatanaman, dan spora yang diproduksi oleh jamur akan menambah danmempertahankan adanya inokulan yang cukup bagi serangga hama yang datangkemudian. Produk untuk bidang pertanian diaplikasikan dengan cara disemprotkan.Sedangkan untuk mengendalikan rayap diaplikasikan pada lubang-lubang rayapatau jalur yang dilalui rayap. Gunakan produk berbasis M. anisopliae secara single,tidak kompatibel dengan fungisida, oksidator yang kuat, asam, basa dan air yangmengandung klorin.Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatanlainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna H.thompsoni. Beberapa varitas dan isolat M. anisopliae juga telah diisolasi dandikembangkan, serta diguanakan untuk mengendalikan hama yang berbeda, sepertidibawah ini. - M. anisopliae var. acridium Jamur ini khusus digunakan untuk mengendalikan belalang. Produk komersial terdiri atas isolat IMI 330189 dan FI-985. - M. anisopliae var. anisopliae Varitas khusus untuk mengendalikan larva kumbang (uret, lundi) Dermolepida albohirtum pada perkebunan tebu. 15
  • 16. - M. anisopliae isolat ICIPE 30 Isolat jamur M. anisopliae khusus untuk mengendalikan rayap dari genus Macrotermes, Microtermes dan Odontotermes, pada pertanaman jagung, ubi kayu, jeruk, kopi, agroforestry, dan sayuran yang diserang rayap. Juga digunakan untuk melindungi bangunan, dsb. dari serangan rayap. - M. anisopliae isolat ICIPE 69 Produk ini khusus untuk mengenalikan hama thrips (Megalurothrips sjostedti, Thrips tabaci dan Frankliniella occidentalis), pada tanaman sayuran dan tanaman hias.Gambar 02: Hama dari Ordo Coleoptera terinfeksi jamur Metarhizium anisopliae(dari Shepard, dkk. IRRI)Metarhizium flavoviridae var. flavoviridae Gams & Rozsypal Metarhizium flavoviridae var. flavoviridae isolat F001, digunakan untukmengendalikan Adoryphorus coulani pada lapangan rumput (turf).Paecilomyces fumosoroseus (Wiize) AHS Brown & G. Smith Paecilomyces furosomoseus merupakan insektisida dan akarisida berbasisjamur yang dimanfaatkan untuk emngendalikan berbagai jenis serangga, seprti kutukebul (Trialeuroes vapororiorum dan Bemisia tabaci). Juga memiliki efikasi terhadap 16
  • 17. aphids, thrips dan tungau (spider mites). Isolat Apopka 97 (PFR 97) dari jamur initelah diproduksi secara komersial, dan direkomendasikan untuk digunakan padatanaman hias serta tanaman pangan, baik di dalam rumah kaca atau di lapangan.Gambar 03: Wereng coklat terinfeksi jamur Metarhizium flavoviridae (dari Shepard,dkk; IRRI)C.2. Insektisida Mikrobiologi: Bakteri Bakteri penyebab penyakit serangga umumnya dibagi ke dalam kelompokbesar, yakni bakteri yang tidak membentuk spora dn bakteri yang membentukspora. Kebanyakan spesies bakteri entomopatogen yang diisolasi dari seranggayang sakit adalah bakteri yang tidak membentuk spora. Akan tetapi untuk produksikomersial, bakteri yang membentuk spora lebih mudah (relatif) diformulasi, karenadalam bentuk spora bakteri tidak membutuhkan makanan dan dapat disimpan lebihlama. Agar efektif untuk mengendalikan serangga, bakteri umumnya harus dimakandan masuk ke dalam saluran cerna serangga terleih dahulu.Bacillus sphaericus Neide Bakteri ini terutama digunakan sebagai insektisida biologi di bidang kesehatanmasyarakat untuk mengendalikan nyamuk, terutama efektif untuk Culex spp.Bacillus sphaericus isolat 2362 dipilih untuk dikomersialkan karena isolat ini efektif 17
  • 18. untuk mengendalikan larva Culex spp. B. sphaericus bertindak sebagai racun perut,dan saat sporulasi bakteri menghasilkan kristal protein. Setelah termakan, dalamusus serangga kristal protein yang merupakan pro-toksin ini akan dirubah menjadiracun (toksin) oleh enzym protease. Toksin ini selanjutnya akan terikat pada sel-selusus tengah (midgut) pada lokasi spesifik dimana mereka aktif sebagai racun, danakhirnya mematikan serangga dengan menghancurkan selaput usus. Diaplikasikan ke dalam air dimana larva nyamuk hidup. Kompatibel denganinsektisida lain, jangan diaplikasikan bersama fungisida berbasis tempaga ataualgisida. Tidak kompatibel dengan oksidator yang kuat, asam, basa, dan jangandicampur dengan air yang mengandung klorin. Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya padamereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna B. sphaericus. OralLD50 akut (tikus) >5000 mg/kg, dermal (kelinci) >2000 mg/kg, menyebabkan iritasimata dan iritasi kulit ringan pada kelinci.Bacillus thuringiensis Berliner B. thuringiensis (Bt) mungkin merupakan insektisida mikrobiologi yang palingluas dikenal. Bakteri gram positif ini dideteksi pertama kali pada tahun 1902 padalarva ulat sutera (Bombyx mori) yang mati. Di Eropa, Bt diketemukan jugadiketemukan sebagai penyakit pada bubuk tepung di Thuringen (Jerman). Sejakdiketemukannya, memakan waktu 50 tahun sebelum akhirnya diketahui bahwasemacam protein yang dihasilkan ketika bakteri ini mencapai fase sporulasi,bertanggungjawab atas efek insektisidanya. Bacillus thuringiensis (Bt) merupakan patogen (penyebab penyakit) bagiberbagai jenis serangga yang sangat spesifik. Bt merupakan insektisida racun perut.Saat sporulasi, bakteri menghasilkan kristal protein yang mengandung beberapasenyawa insektisida yang bekerja merusak sistem percernaan serangga. Setelahtermakan kristal protein ini akan dilarutkan oleh enzym protease, kemudian toksinyang dihasilkan akan terikat pada sel usus tengah (midgut) serangga pada reseptorsipesifik. Racun ini menghancurkan selaput usus serangga, serangga akanberhenti makan dan mati dalam 2 – 3 hari (sumber lain 1 – 4 hari). Dari B. thuringiensis didapat 4 agen toksik, yakni alpha-eksotoksin (enzymfosfolipsa), beta-eksotoksin (suatu nukleotida), gamma-eksotoksin (fosfolipasa) dandelta-endotoksin (parasporal inclusion protein). Setiap toksin terikat pada reseptor 18
  • 19. spesifik yang berbeda, dan ini menjelaskan adanya selektivitas yang berbeda daribeberapa isolat atau subspesies Bt. Studi yang dilakukan secara luas pada pestisida berbasis Bacillus thuringiensismenunjukkan bahwa B. thuringiensis dan isolat-isolatnya diklasifikasikan sebagainon-toksik. LD50 oral tidak ada infeksi atau keracunan yang diamati pada tikus yangdiperlakukan dengan 4.7 X 1011 spora per kg produk. Dermal LD50 (tikus) >5000mg.kg bb. Beberapa produk dapat mengakibatkan iritasi mata sementara (mungkinkarena bahan pembawanya). Klasifikasi EPA (formulasi) kelas III. Tidak nampakadanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibatdalam penelitian, produksi serta pengguna B. thuringiensis. Dikenal adanya beberapa varitas atau subspecies Bt, masing-masing denganberbagai strain, isolat dan sebagainya. Beberapa diantaranya yang telah diproduksisecara komersial adalah sebagai berikut.Gambar 04: Kristal protein Bacillus thuringiensis morrisoni strain T08025 (dariWilkipedia) - B. thuringensis subsp. kurstaki Digunakan untuk mengendalikan berbagai larva Lepidoptera, terutama ulat daun kubis (diamond-back moth: Plutella xylostella) pada kubis, dan lepidoptera lainnya pada sayuran dan kehutanan. - B. thuringiensis subsp. morrisoni isolat Sa-10 dan NovoBtt 19
  • 20. Dahulu dikenal sebagai Bacillus thuringiensis subsp. tenebrionis atau Bacillus thuringiensis subsp. san diego. Subspesies ini efektif untuk mengendalikan Coleoptera, baik larva maupun serangga dewasa, terutama kumbang kolorado (Leptinotarsa decemlineata) pada tanaman kentang dan Solanaceae lainnya. - B. thuringiensis subsp. aizawai Beberapa isolat dan konjugat Bacillus thuringiensis subsp. aizawai digunakan untuk mengendalikan larva Lepidoptera, termasuk Spodoptera spp., juga yang sudah resisten terhadap subsp. kurstaki. - B. thuringiensis subsp. japonensis Bacillus thuringiensis subsp. japonensis efektif intuk mengendalikan kumbang tanah pada lapangan rumput dan tanaman hias. - B. thuringiensis subsp. israelensis Bt. subsp israelensis hanya efektif untuk mengendalikan Diptera, seperti lalat dan nyamuk, di saerah perairan (saluran buangan, dsb.).Paenibacillus popilliae Newman Sebelumnya dikenal dengan nama Bacillus popilliae diketemukan oleh pegawaiDeptan Amerika. Bakteri ini diisolasi dari Popillia japonica, dan digunakan untukmengendalikan kumbang ini.Serratia entomophila Grimont Bakteri yang dimanfaatkan untuk mengendalikan semacam lundi (uret) darikumbang Costelytra zealandica) pada padang rumput (turf) di New Zealand.C.3. Insektisida Mikrobiologi: Virus Berbagai virus secara alami diketahui merupakan patogen (penyebab penyakit)yang dapat menyebabkan kematian serangga. Virus patogen ini umumnya bersifatsangat spesifik, hanya mengendalikan satu jenis serangga hama saja. Tentu selalu 20
  • 21. ada kekecualian, misalnya Anagrapha falfifera nucleopolyhedrovirus (AfNPV)mampu mengendalikan lebih dari 30 spesies larva Lepidoptera yang berbeda. Insektisida berbasis virus umumnya merupakan larvisida (hanya membunuhlarva serangga) racun lambung. Virus harus dimakan terlebih dahulu oleh seranggahama, dan didalam sistim pencernaan serangga virus mulai berkembang danmenyebabkan penyakit serta membunuh serangga hama. Kematian karena viruspatogen ini umumnya cukup lama, antara beberapa hari hingga dua minggusesudah aplikasi. Efikasi insektisida virus juga dipengaruhi oleh kondisi alam,seperti suhu udara dan perkembangan larva serangga. Insektisida berbasis virus diberi nama menurut serangga hama yangdiserangnya. Misalnya, Spodoptera exigua nocleopolyhedrovirus (SeNPV) adalahvirus yang menyerang, dan karenanya hanya digunakan untuk mengendalikanSpodoptera exigua. Adoxophyes orana granulosis virus (AoGV) adalah virus yangmerupakan penyakit pada, dan karenanya hanya digunakan untuk mengendalikanAdoxophyes orana. Sejumlah virus yang merupakan penyakit bagi serangga hama telah berhasildiisolasi, dikembangkan, dan diproduksi secara komersial, terutama dari kelompoknucleopolyhedrovirus dan granulosis virus (keduanya adalah Baculovirus).Beberapa diantaranya dicantumkan berikut ini.C.3.1. Granulosis Virus Insektisida berbahan aktif granulosis virus bersifat sebagai racun lambung.Serangga harus memakan virus agar virus efektif membunuhnya. Sesudahtermakan, dinding pembungkus protein virus akan terlarutkan dalam usus seranggayang bersifat alkalis, dan partikel virus akan dilepaskan kedalam usus serangga.Virus kemudian akan menginvasi inti sel (nukleus) dan berkembang biak didalamnya, menyebabkan serangga yang terpapar sakit, dan berakhir dengankematian. Efek virus terhadap serangga hama amat lambat jika dibandingkandengan kebanyakan insektisida kimiawi. Serangga hama akan mati 6 hingga 12 harisesudah terpapar (makan) virus, pada kondisi normal. Granulosis virus lebih efektifmengendalikan larva yang masih kecil daripada larva dari stadia lanjutn. Virus yangdilepaskan dari tubuh serangga yang mati masih tetap mampu mengeinfeksiserangga hama. 21
  • 22. Adoxophyes orana granulosis virus (AoGV) Adoxophyaes orana granulosis virus (AoGV) adalah virus yang terdapat luassecara alami sebagai penyakit (patogen) pada fruit tortrix moth (Adoxophyes orana).Produk insektisida biologi komersial diisolasi dari A. orana yang terinfeksi. AoGVdigunakan hanya untuk mengendalikan fruit tortrix moth (Adoxopyes orana) padabeberapa tanaman buah. AoGV diaplikasikan dengan cara disemprotkan. Karena virus ini sangat efektifuntuk mengendalikan larva instar pertama, maka pengamatan saat penerbangandan masa bertelurnya serangga sangat penting. Penyemprotan sebaiknya dilakukansaat serangga meletakkan telurnya. Aplikasi dilakukan secara merata padapermukaan daun, dan gunakan air yang pH-nya antara 6-8. Jangan gunakan airyang mengandung klorin untuk mencampurnya. Dapat digunakan bersama pestisidalain yang tidak mengandung tembaga, serta tidak mempunyai efek repellentterhadap Adoxophyes orana. Tidak ada bukti bahwa AoGv berpengaruh terhadap organisme lain, kecualiAdoxopyeas orana. AoGv tidak stabil pada pH yang ekstrim dan terhadap cahayaultra violet. Tidak ada bukti bahwa virus ini menyebabkan keracunan akut, iritasi matamaupun kulit. Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnyapada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna AoGV.Cydia pomonella granulosis virus (CpGV) Virus ini merupakan penyakit alami dari codling moth (Cydia pomonella),semacam hama yang umum menyerang buah apel dan pir. Larva C. pomonellayang diinfeksi oleh virus ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1964 di Meksiko. CpGV digunakan sebagai insektisida untuk mengendalikan hama codling moth(Cydia pomonella) pada buah apel, pir dan walnut. Diaplikasikan dengan caradisemprotkan. Pengamatan sangat diperlukan agar CpGV dapat diaplikasikan padasaat yang tepat sehingga efektif. Dapat diaplikasikan dengan produk perlindungan tanaman lainnya yang bukanrepellent bagi C.pomonella. Gunakan air yang pH-nya antara 6 – 8, dan janganmenggunakan air yang mengandung klorin untuk mencampurnya. Tidak kompatibeldengan oksidator yang kuat, asam dan basa. 22
  • 23. Tidak ada bukti bahwa CpGV menyebabkan keracunan baik akut maupunkronis, dan tidak pula menyebabkan iritasi mata pada mamalia. Tidak nampakadanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibatdalam penelitian, produksi serta pengguna CpGV.Plodia interpunctella granulosis virus (IMMGV) Virus ini merupakan penyakit Plodia interpunctella (Indian Meal Moth, karenanyadisebut Indian Meal Moth Granulosis Virus, IMMGV), sejenis hama gudang yangmerusak buah-buahan kering dan kacang-kacangan. Virus ini dibiakkan dandiproduksi secara komersial sebagai insektisida biologi untuk mengendalikan hamaini.C.3.2. Nucleopolyhedro Virus Seperti insektisida virus lainnya, nucleopolyhedrovirus adalah racun perut.Setelah diaplikasikan dan termakan oleh larva serangga hama sasaran pelindungmatriks protein virus akan terlarutkan di dalam usus serangga, dan partikel virusakan memasuki sistim sirkulasi serangga. Partikel virus akan menyerang semuajenis sel dalam tubuh larva, berkembang biak sehingga larva sakit dan akhirnyamati. Bila serangga inang mati, virus akan tetap hidup 7 hingga 14 hari dipermukaandaun.Anagrapha falcifera nicleopolyhedrovirus (AfNPV) AfNPV adalah virus yang terdapat secara alami, menyebabkan penyakit sertakematian pada ulat alfalfa (Anagrapha falcifera). Tidak sebagaimana insektisidavirus lainnya yang umumnya sangat spesifik (hingga spesies), AfNVP mampumenginfeksi lebih dari 30 spesies Lepidoptera, sehingga dapat menutupi terlalusempitnya spektrum pengendalian kebanyakan insektisida virus pada situasiperlindungan tanaman umumnya. AfNVP digunakan untuk mengendalikan berbagailarva Lepidoptera, terutama genus Heliothis dan Helicoverta, seperti Helicoverpazea dan Heliothis virescens, pada tanaman-tanaman jagung, kapas, tomat dansayuran lainnya, tanaman buah dan tanaman hias. Diaplikasikan dengan cara disemprotkan dengan volume tinggi pada permukaandaun hingga merata. Monitoring kapan serangga bertelur sangat penting, karena 23
  • 24. AfNVP lebih efektif mengendalikan larva yang baru menetas dari pada larva yangsudah lanjut. Dapat dicampur dengan insektisida lain yang bukan repellent dariserangga sasaran. Jangan dicampur dengan oksidator yang kuat, asam, basa atauair yang mengandung klorin. Virus ini spesifik menyerang invertebrata, tidak ada catatan bahwa virus inimenginfeksi vertebrata. Virus tidak menginfeksi dan tidak berkembang biak padatubuh mamalia dan tidak aktif pada temperatur >32oC. Tidak ada bukti bahwa virusini menyebabkan keracunan akut, iritasi mata maupun kulit. Tidak nampak adanyareaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalampenelitian, produksi serta pengguna AfNPV.Anticarsia gemmatalis Nucleopolyhedro virus (AgNPV) Virus ini diisolasi dari ulat (Anticarsia gemmatalis) yang menyerang semacamkacang (velvet bean) yang terdapat pada tanaman kedelai di Amerika. Belakangan,isolat baru diisolasi dari ulat penggerek tebu Diatraea saccharalis, yang lebih mudahdipelihara dibandingkan Anticarsia. AgNVP digunakan sebagai insektisida biologi untuk mengendalikan ulatAnticarsia gemmatalis dan penggerek batang tebu (Diatraea saccharalis).Autographa californica nucleopolyhedrovirus (AcNVP) Virus ini diisolasi dari Autographa californica yang terinfeksi. AcNVP sebagaiinsektisida biologi memiliki spektrum pengendaliannya cukup luas (lebih dari 30spesies Lepidoptera) untuk mengendalikan larva Lepidoptera, pada jagung,sayuran, tanaman buah-buahan, dan tanaman hias. Diaplikasikan dengan semprotan volume tinggi hingga merata pada permukaandaun. Dapat dicampur dengan insektisida lain yang bukan repellent dari seranggasasaran. Jangan dicampur dengan oksidator yang kuat, asam, basa atau air yangmengandung klorin. Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya padamereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna AcNVP.Helicoverpa armigera nucleopolyhedrovirus (HaNPV) Sering disebut pula sebagai Heliothis armigera nucleopolyhedrovirus (HaNPV).Virus ini terdapat luas di alam, merupakan penyakit alami bagi Helicoverpaarmigera. Digunakan sebagai insektisida terutama untuk mengendalikan H. 24
  • 25. armigera, pada berbagai jenis tanaman seprti kapas, sayuran (kubis, tomat, kapri)dan tanaman hias (mawar). HaNPV juga mempunyai efek terhadap larvaLepidoptera dari famili Noctuidae lainnya. Diaplikasikan dengan cara disemprotkan. Dapat digunakan bersama insektisida lainnya, yang tidak bersifat mengusir(repellent) Helicoverpa. Jangan digunakan bersama senyawa yang bersifatoksidator yang kuat, asam, basa dan jangan dicampur air yang mengandung klorin. Virus ini spesifik menyerang invertebrata, tidak ada catatan bahwa virus inimenginfeksi vertebrata. Virus tidak menginfeksi dan tidak berkembang biak padatubuh mamalia dan tidak aktif pada temperatur >32oC. Tidak ada bukti bahwa virusini menyebabkan keracunan akut, iritasi mata maupun kulit. Tidak nampak adanyareaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalampenelitian, produksi serta pengguna HaNPV.Helicoverpa zea nucleopolyhedrovirus (HzNVP) HzNVP digunakan sebagai insektisida mikrobiologi untuk mengendalikan larvaserangga dari genus Helicoverpa dan Heliothis, seperti Helicoverpa zea danHeliothis virescens, pada sayuran, tanaman hias, tomat dan kapas. Diaplikasikan dengan cara disemprotkan. Virus ini spesifik menyerang invertebrata, tidak ada catatan bahwa virus inimenginfeksi vertebrata. Virus tidak menginfeksi dan tidak berkembang biak padatubuh mamalia dan tidak aktif pada temperatur >32oC. Tidak ada bukti bahwa virusini menyebabkan keracunan akut, iritasi mata maupun kulit. Tidak nampak adanyareaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalampenelitian, produksi serta pengguna HzNPV (Copping, 2001).Lymantria dispar nucleopolyhedrovirus (LdNPV) Pertama kali diisolasi dari larva gypsy moth (Limantria dispar) yang terinfeksioleh Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), dan diregistrasi oleh US-EPA(United States Environmental Protection Agency) tahun 1978. Digunakan sebagaiinsektisida biologi terutama di bidang kehutanan dan juga tanaman hias untukmengendalikan larva gypsy moth (Limantria dispar). Diaplikasikan dengan caradisemprotkan. Jangan dicampur dengan insektisida lain, juga jangan dicampur denganoksidator yang kuat, asam, basa dan air yang mengandung klorin. 25
  • 26. Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya padamereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna LdNPV.Disimpulkan sebagai non-toksik terhadap mamalia.Mamestra brassicae nucleopolyhedrovirus (MbNPV) Mamestra brassicae nucleopolyhedrovirus (MbNPV) merupakan penyakit alamidari ngengat kubis (Mamestra brassicae). Diiolasi pertama kali dari larva yangterinfeksi di Prancis oleh peneliti dari INRA, dan dikembangkan sebagai insektisidabiologi oleh NPP (Natural Plant Protection). MbNPV digunakan untukmengendalikan Mamestra brassicae, Helicoverpa armigera, Phthorimaeaoperculella dan Plutella xylostella pada tanaman sayuran, kentang, Cruciferae dantanaman hias. Diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada kanopi daun. Kompatibel dengan produk perlindungan tanaman lainnya, asalkan tidak bersifatrepellent bagi serangga sasaran. Jangan diaplikasikan bersama fungisida berbasistembaga, oksidator yang kuat, asam, basa dan air yang mengandung klorin.Gunakan air yang pH-nya netral. Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya padamereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna MbNPV. Tidak adabuksi virus ini menyebabkan keracunan akut maupun krinis, juga tidakmenyebabkan iritasi mata dan kulit pada mamalia (Copping, 2001).Mamestra configurata nucleopolyhedrovirus (McNPV) Insektisida mikrobiologi, digunakan untuk mengendalikan Mamestra configurata(berta armyworm)Neodiprion sertifer nucleopolyhedrovirus (NsNPV) Insektisida mikrobiologi, digunakan untuk mengendalikan Neodiprion spp. dibidang kehutanan.Orgya pseudotsugata nucleopolyhedro virus (OpNV) Insektisida biologi, digunakan untuk mengendalikan hama Orgyapseudotsugata. 26
  • 27. Spodoptera exigua nucleopolyhedro virus (SeNPV) Virus ini merupakan penyakit bagi Spodoptera exigua yang luas terdapat di alam(juga di Indonesia). Diproduksi dari larva Spodoptera exigua yang terinfeksi viruspada kondisi yang terkendali. Virus kemudian dipisahkan dari bangkai larva dengancara sentrifugal. Sebagai insektisida biologi, SeNPV khusus digunakan untukmengendalikan latva Spodoptera exigua (ulat bawang) pada berbagai tanaman,seperti sayuran, kapas, tanaman hias, anggur dsb. SeNPV kompatibel dengan kebanyakan pestisida lainnya yang bukan repellentbagi Spodoptera exigua. Jangan digunakan bersama fungisida berbasis tembaga,oksidator yang kuat, asam, basa dan air yang mengandung klorin. Tidak ada kejadian bahwa SeNPV menyebabkan keracunan, infeksi atau iritasipada mamalia. Tidak ada respon alergi atau gangguan kesehatan lain yangdisebabkan oleh penggunaan SeNPV, baik pada petani, pekerja atau pekerjapabrik.Gambar 05: Gejala khas ulat (Spodoptera spp.) yang mati karena virus SeNPV (dariShepard, dkk.; IRRI)Spodoptera litura nucleopolyhedro virus (SlNPV) Virus ini merupakan penyakit bagi Spodoptera litura yang luas terdapat di alam(juga di Indonesia). Diproduksi sebagai insektisida biologi dari larva Spodoptera 27
  • 28. litura yang terinfeksi virus pada kondisi yang terkendali. Virus kemudian dipisahkandari bangkai larva dengan cara sentrifugal. SlNPV khusus digunakan untukmengendalikan latva Spodoptera litura (ulat grayak) pada berbagai tanaman, sepertisayuran, kapas, tanaman hias, anggur dsb. SlNPV kompatibel dengan kebanyakan pestisida lainnya yang bukan repellentbagi Spodoptera litura. Jangan digunakan bersama fungisida berbasis tembaga,oksidator yang kuat, asam, basa dan air yang mengandung klorin. Tidak ada kejadian bahwa SlNPV menyebabkan keracunan, infeksi atau iritasipada mamalia. Tidak ada respon alergi atau gangguan kesehatan lain yangdisebabkan oleh penggunaan SlNPV, baik pada petani, pekerja atau pekerja pabrik.C.4. Insektisida Mikrobiologi: Protozoa Beberapa spesies protozoa (dari kelompok Mikrosporidium) ternyata jugamenyebabkan penyakit pada serangga, yang bisa mengakibatkan kematianserangga sasaran. Sejauh ini 2 spesies telah diproduksi secara komersialNosema locustae Canning Nosema locustae diproduksi sebagai insektisida biologi dari rearing in vivo padatubuh belalang, dan digunakan terutama untuk mengendalikan belalang. Palingefektif untuk mengendalikan larva belalang instar 2 dan 3 yang belum bersayap. Protozoa ini harus dimakan terlebih dahulu supaya bekerja. Dalam ususbelalang spora Nosema akan berkecambah dan menginfeksi tubuh seranggasehingga menyebabkan kematin. Respons belalang terhadap infeksi Nosema bermacam-macam. Beberapadiantaranya akan mati segera setelah infeksi, dan lainnya akan menjadi lemah danlunak (sluggish). Belalang yang lemah ini sering dimakan oleh kawannya yangmasih sehat (kanibalisme), sehingga belalang yang memakan tersebut juga akanterinfeksi Nosema. Infeksi oleh Nosema dapat diturunkan ke generasi belalangselanjunya lewat telur. Sekali mantap pada suatu populasi belalang, Nosemabiasanya dapat bertahan sepanjang tahun. Nosema merupakan penyakit Protozoa (Microsporidium) yang dapatmenginfeksi sekitar 60 spesies belalang yang berbeda. 28
  • 29. Nosema locustae dianggap sebagai tidak beracun terhadap mamalia. Tidakmenimbulkan iritasi, tidak terakumulasi dan tidak berkembang biak pada kelinci.LD50 oral (tikus) >5000 mg/kg. Toksisitas formulasi EPA kelas IV.Vairimorpha necatrix (Kramer) Piley Pertama kali dilaporkan sebagai penyakit pada ulat Pseudaletia unipuncta(semacam ulat grayak) di Hawaii. Insektisida biologi digunakan untukmengendalikan serangga hama dari ordo Lepidoptera, seperti Helicoverpa, Ostrinia,Spodoptera dan Tricliplusia, pada berbagai tanaman, termasuk jagung, kedelai,kapas, dan tanaman sayuran.C.5. Insektisida Mikrobiologi: Nematoda Beberapa spesies nematoda, terutama dari Genus-genus Heterorhabditis(Heterorhabditidae) dan Steinernema (Steinernematidae) diketahui merupakanparasit bagi sejumlah serangga hama. Nematoda ini bersimbiose dengan bakteritertentu (Heterorhabditis dengan bakteri Photorhandus, dan Steinernema denganbakteri Xenorhabdus spp), yang tidak menyebabkan kerugian apapun baginematoda, tetapi merupakan patogen (penyebab penyakit) bagi serangga sasaran. Apabila nematoda memasuki tubuh serangga hama sasaran (melalui salah satulobang alami seperti mulut, anus, dsb. Atau lewat kulit), di dalam tubuh seranggakeluarlah bakteri yang berada dalam tubuh nematoda tersebut, dan racun (toksin)yang dihasilkan oleh bakteri tersebut akan membunuh serangga dalam beberapajam (hingga 48 jam). Sediaan yang diproduksi secara komersial hanya berisi larvanematoda stadia 3, karena hanya larva stadia inilah yang dapat hidup di luar tubuhserangga, sebab mereka tidak perlu makan. Nanti, sesudah serangga sasaran mati,bakteri yang bersimbiose dengan nematoda akan menghancurkan bangkaiserangga menjadi materi yang dapat dimakan oleh larva stadia 4, yang akanberkembang dalam sisa-sisa bangkai serangga. Larva stadia 4 ini akan tumbuhmenjadi nematoda hermafrodit yang dapat bertelur masing-masing hingga 1500butir. Telur ini akan menetas menjadi nematoda jantan dan betina, yang selanjutnyaakan berbiak secara seksual. Bila makanan tersedia, sesudah kawin nematodajantan mati, dan yang betina akan bertelur dalam bangkai serangga. Tetapi bila 29
  • 30. makanan tidak tersedia, larva stadia 1 dan 2 akan berkembang dalam bangkaiserangga, dan ketika mencapai stadia 3 mereka akan keluar dari bangkai seranggauntuk mencari inang (serangga) baru. Nematoda Heterorhabditis dan Steinernema merupakan parasit serangga yangsangat agresif. Larva instar 3 dapat bergerak beberapa puluh cm untuk mencariinang baru (Copping, 2001). Telah diketahui ada 10 spesies Steinernema dan 3 spesies Heterorhabditisdapat dimanfaatkan sebagai insektisida. Kedua genus ini mempunyai beberapakelebihan sehingga banyak dikembangkan sebagai insektisida biologi, yakni(Habazar & Yaherwandi, 2006). - Mempunyai kisaran inang yang cukup luas - Mampu membunuh inang dalam waktu 48 jam - Dapat dibiakkan dalam media buatan - Tidak ada inang yang resisten terhadap nematoda ini - Aman terhadap lingkungan. Beberapa spesies nematoda yang telah diproduksi secara komersial adalahsebagai berikut.Heterorhabditis bacteriophora Poinar Insektisida mikrobiologi ini dahulu diketahui sebagai Heterorhabditis heliothidis,mula-mula diketemukan di Eropa dan Amerika Utara, tetapi sekarang tersebar luassebagai nematoda penghuni tanah. H. bacteriophora efektif untuk mengendalikanberbagai serangga tanah seperti Popillia japonica, Phyllopertha horticola, Hopliaphilanthus, Otiorhynchus sulcatus, pada berbagai tanaman pertanian, tanaman hiasdan lapangan rumput. Heterorhabditis bacteriophora bersimbiose dengan bakteriPhotorhabdus luminescens. Diaplikasikan sebagai kocoran (drenching) pada tanah dimana seranggasasaran berada. Diperlukan suhu tanah tidak kurang dari 12oC dan suhu udaraantara 12 – 30oC hingga 2 minggu sesudah aplikasi. Dapat juga disemprotkan padakanopi daun dengan volume tinggi, tetapi jangan sampai run-off. Dapat dicampur dengan insektisida, tetapi jangan dicampur dengan fungisidabenzimidazole, oksidator yang kuat, asam dan basa. 30
  • 31. Tidak ada laporan mengenai reaksi alergi atau reaksi negatif lainnya padaorang-orang yang terlibat dalam riset, produksi dan penggunaan H. bacteriophora.LD50 dermal (tikus) >2000 mg/kg bb.Heterorhabditis megidis Poinar, Jackson & Kein Insektisida biologi ini juga terdapat luas sebagai nematoda tanah. Isolat-isolatUK 211 dan HW79 telah diproduksi secara komersial untuk mengendalikanserangga tanah seperti Otiohrynchus sulcatus (vine weevil) pada sayuran dantanaman hias. Nematoda ini bersimbiose dengan bakteri Photorhabdus temperata. Diaplikasikan debagai kocoran pada tanah. Lahan yang dikocor harus lembabpada saat pengocoran, namun harus dapat dikeringkan sesudah pengocoran. Suhutanah antara 12 – 30oC pada saat, dan 2 minggu sesudah, aplikasi. Tidak kompatibel dengan insektisida tanah, oksidator yang kuat, asam danbasa. Tidak ada laporan mengenai reaksi alergi atau reaksi negatif lainnya padaorang-orang yang terlibat dalam riset, produksi dan penggunaan H. megidis.Steinernema carpocapsae Weiser Nematoda yang bersimbiose dengan bakteri Xenorhabdus nematophilus inidahulu dikenal denagn nama Neoaplectana carpocapsae. Mula-mula dijumpai diEropa, tetapi sekarang tersebar di seluruh dunia. Digunakan sebagai insektisidamikrobiologi untuk mengendalikan vine weevil (Otiorhynchus sulcatus), danserangga tanah lainnya seperti Agrotis spp, anjing tanah (orong-orong, Gryllotalpaspp.), Tipula spp., ulat grayak (Spodoptera spp.), penggerek batang, dansebagainya; pada tanaman sayuran dan tanaman hias. Diaplikasikan sebagai drenching secara merata pada tanah yang diperlakukan.Tidak dapat hidup pada pupuk kandang. Perlu kelembapan tinggi dan temperaturdiatas 15oC agar efektif. Tidak kompatibel dengan oksidator yang kuat, asam danbasa. Tidak ada laporan mengenai reaksi alergi atau reaksi negatif lainnya padaorang-orang yang terlibat dalam riset, produksi dan penggunaan S. carpocapsae. 31
  • 32. Steinernema feltiae Filipjev Dahulu dikenal sebagai Neoaplectana bibionis, N. Feltiae, N. Leucaniae,Steinernema bibionis. Nematoda ini bersimbiose dengan bakteri Xenorhabdusbovienii. Isolat UK 76 digunakan sebagai insektisida mikrobiologi untukmengendalikan beberapa spesies lalat (Bradysia spp., Lycoriella spp., Sciara spp.)dan beberapa serangga tanah lainnya pada sayuran dan tanaman hias, strawberry,serta budidaya jamur. Diaplikasikan sebagai drenching secara merata pada tanah yang diperlakukan.Tidak dapat hidup pada pupuk kandang. Perlu kelembapan tinggi dan temperaturantara 10-30oC agar efektif. Tidak kompatibel dengan oksidator yang kuat, asamdan basa. Tidak ada laporan mengenai reaksi alergi atau reaksi negatif lainnya padaorang-orang yang terlibat dalam riset, produksi dan penggunaan S. feltiae.Steinernema glaseri (Steiner) Produk komersial mengandung S. glaseri isolat B-326 yang diisolasi dari tanahdi New Jersey, Amerika Serikat, digunakan sebagai insektisida mikrobiologi untukmengendalikan lundi (uret) dari kumbang Scarabaeidae pada lapangan rumput(turf). Nematoda ini bersimbiose dengan bakteri Xenorhabdus poinarii. Diaplikasikan dengan cara kocoran di tanah. Tanah harus lembab dan suhuantara 15 – 35oC (terbaik antara 25 – 35oC). Kompatibel dengan pestisida biologidan pestisida kimia pada umumnya, tetapi tidak kompatibel dengan oksidator yangkuat, asam dan basa.Steinernema kraussei (Steiner) Travassos Produk insektisida mikrobiologi komersial mengandung S. kraussei isolat L-137,digunakan untuk mengendalikan larva (uret) dari vine weevil (Otiorinchus sulcatus),dan serangga tanah lainnya pada sayuran, tanaman hias dan strawberry. Nematodaini bersimbiose dengan bakteri Xenorhabdus spp. Diaplikasikan dengan cara kocoran di tanah. Kompatibel dengan pestisidabiologi dan pestisida kimia pada umumnya, tetapi tidak kompatibel dengan oksidatoryang kuat, asam dan basa. Tidak ada laporan mengenai reaksi alergi atau reaksinegatif lainnya pada orang-orang yang terlibat dalam riset, produksi danpenggunaan S. kraussei serta bakteri yang hidup bersamanya. 32
  • 33. Steinernema riobrave Cabanillas, Pionar & Raulston Nematoda ini hidup bersama bakteri Xenorhabdus spp., seagai insektisidabiologi digunakan untuk mengendalikan berbagai serangga tanah.Steinernema scapterisci Nguyen & Smart Nematoda ini bersimbiose dengan bakteri Xenorhabdus spp., digunakan untukmengendalikan orong-orang (Gryllotalpa spp.)D. INSEKTISIDA ALAMI LAINNYA Disamping insektisida dan akarisida alami yang diambil dari mikroorganisme(baik secara langsung maupun lewat fermentasi) dan tumbuhan, ada beberapabahan alami yang tidak dapat dimasukkan kedalam kelompok tersebut di atas.Contohnya adalah sebagai berikut.Kriolite (Cryolite) Kriolit adalah mineral alami yang mengandung trisodium heksafluoroaluminat,digunakan sebagai racun perut untuk mengendalikan serangga Lepidoptera danColeoptera pada beberapa sayuran dan buah-buahan. LD50 oral pada tikus >5000 mg/kg bb, LD50 dermal pada kelinci >2000 mg/kg bb.Minyak bumi Minyak bumi diambil dari alam, dan telah digunakan baik sebagai insektisida,akarisida, herbisida dan ajuvant sejak lama. Produk minyak bumi yang telahdimurnikan antara lain dikenal dengan nama Agricultural Mineral Oil atau Broad-Range Petroleum Spray Oil dan Horticultural Mineral Oil atau Narrow-RangePetroleum Oil. Minyak bumi membunuh serangga dengan cara yang tidak spesifik, misalnyamenutup lobang pernafasan (spirakel) serangga, sehingga serangga mati lemas.Minyak bumi yang diaplikasikan di air akan menghambat larva nyamuk mengambiludara dari permukaan air, sehingga jentik-jentik nyamuk mati karena kekuranganoksigen. 33
  • 34. Tanah diatomae (diatomaceous earth) Tanah diatomae terdapat dan ditambang dari alam. Tanah diatomae merupakantimbunan fosil yang terdiri dari cangkang sejenis ganggang bersel satu(Bacillariophyceae). Timbunan cangkang ini kemudia dihaluskan dan digunakansebagai – antara lain – insektisida. Cara kerja tanah diatomae juga tidak spesifik,antara lain karena sangat higroskopis sehingga mampu menyerap cairan tubuhserangga yang terpapar, dan serangga akhirnya matu karena dehidrasi (kekurangancairan tubuh).E. MAKROLIDA Fermentasi yang melibatkan mikroorganisme (jamur, bakteri) ternyata tidakhanya menghasilkan antibiotika, tetapi juga menghasilkan senyawa kimia ataukumpulan senyawa kimia lain yang strukturnya berbeda, disebut sebagai laktonmakrosiklik (macrocyclic lactones) atau singkatnya makrolida (macrolides) ataumakrolakton (macrolacton). Senyawa-senyawa makrolida ini - seperti banyaksenyawa alami lainnya - memiliki struktur kimia yang sangat kompleks dan sulitdiproduksi secara komersial oleh industri dengan cara sintesis. Antibiotika banyak digunakan di bidang kedokteran, kedokteran hewan, dansebagian kecil digunakan di bidang pertanian sebagai fungisida dan bakterisida, danlebih sedikit lagi digunakan sebagai insektisida. Sedangkan makrolida, karenaefikasinya yang sangat baik untuk mengendalikan serangga, tungau dan nematodaparasit, kecuali digunakan di bidang kedokteran, juga banyak digunakan di bidangpertanian dan kesehatan hewan, sebagai insektisida, akarisida dan nematisida.Beberapa makrolida telah diproduksi secara komersial, dan beberapa lagi masihdalam taraf pengujian dan pengembangan. Sejarah makrolida diawali pada awal 1970-an, ketika perusahaan Sankyo danMerck berhasil mengisolasi milbemisin dan avermektin yang memiliki struktur mirip,dan ternyata efektif digunakan sebagai insektisida. Keduanya merupakan hasilfermentasi yang memanfaatkan Streptomyces yang berbeda. 34
  • 35. Makrolida mudah didegradasi di lingkungan sehingga tidak berpotensi menjadipencemar lingkungan. Secara umum, penerimaan masyarakat terhadap senyawaalami juga lebih baik dibandingkan dengan senyawa sintetik. Klasifikasi insektisida antibiotika dan makrolida menurut Alan Wood (2006)adalah sebagai berikut (kelompok naktin ditambahkan oleh penulisi): - Insektisida antibiotika: allosamin dan thuringiensin - Insektisida lakton makrosiklik (makrolida) o Kelompok avermektin: abamektin, doramektin, emamektin, eprinomektin, ivermektin, selamektin o Kelompok milbemisin: lepimektin, milbemektin, moksidektin o Kelompok spinosin: spinetoram dan spinosad o Kelompok naktin: dinaktin, trinaktin, tetranaktin, polinaktinE.1. Makrolida: AvermectinAbamektin (abamectin)- Penjelasan singkat: Insektisida dan akarisida ini diisolasi dari fermentasi bakteri Streptomyces avermitilis (Actinomycetes). Efeknya sebagai akarisida dilaporkan oleh I. Putter dkk., pada tahun 1981, dan diintroduksikan oleh Merck Sharp & Dohme Agvet (sekarang Syngenta). Abamektin tersusun atas sedikitnya 80% avermektin B1a dan tidak lebih dari 20% avermektin B1b.- Hama yang dapat dikendalikan: Digunakan untuk mengendalikan stadia motile dari akarina, leaf miner (pengorok daun), serangga penusuk-pengisap, kumbang colorado, dsb., pada tanaman hias, kapas, jeruk, sayuran, kentang, dan sebagainya.- Mode of action: Abamektin adalah racun syaraf yang bekerja dengan menstimulasi produksi gamma-amino asam butirat (GABA: gamma-aminobutyric acid, suatu penghambat neurotransmitter), menyebabkan serangga yang terpapar mengalasi paralisis. Abamektin merupakan racun kontak dan racun perut, sangat sedikit sifat sistemiknya, tetapi memiliki sifat translaminar. 35
  • 36. - LD50 oral: Tikus 10 mg/kb bb (dalam minyak wijen) dan 221 mg/kg bb (dalam air).- LD50 dermal: >2000 mg/kg bb (kelinci).- ADI: 0,002 mg/kg bb (JMPR).- Kelas toksisitas: EPA (formulasi) kelas IV.- Iritasi: Menyebabkan iritasi ringan pada mata, tetapi tidak pada kulit (kelinci).- Lain-lain: Tidak bersifat mutagenik pada test Ames. Di Indonesia abamektin terdaftar dengan nama-nama dagang, antara lain:Agrimec, Amect, Aspire, Bamex, Calebtin, Catez, Demolish, Dimectin, Diomec,Kiliri, Mitigate, Numectin, Promectin, Schumec, Sidamec, Stamec, Supemec,Taldin, Tsubamec, dan Wito. Digunakan (misalnya: Agrimec) untuk mengendalikanAphis pomi (apel), Thrips parvispinus (cabai), pengorok daun Phyllocnitis citrella(jeruk), hama-hama Spodoptera, Phaedonia, Lamprosema, Etiella, Riptortus(kedelai), Maruca (kacang panjang), Liriomyza spp. dan Thrips palmi (kentang),Plutella (kubis) (Anonim, 2006).Emamektin (emamectin)- Penjelasan singkat: Insektisida ini diisolasi dari fermentasi bakteri Streptomyces avermitilis (Actinomycetes). Emamektin tersusun atas emamektin B1a dan emamektin B1b, dan diproduksi dalam bentuk emamektin-benzoat.- Hama yang dapat dikendalikan: Emamektin terutama sangat baik untuk mengendalikan larva Lepidoptera, dengan efek tambahan terhadap thrips, tungau dan pengorok daun, pada tanaman sayuran, jagung, teh, kapas, dan kedelai. Juga direkomendasikan digunakan dengan cara injeksi pohon (pinus).- Mode of action: Emamektin terutama adalah racun kontak, yang mempunyai efek sebagai racun perut. Hanya memiliki sediukit efek sebagai racun sistemik (diserap lewat akar tanaman), tetapi memiliki efek translaminar yang kuat. Terhadap serangga bekerja sebagai racun syaraf, yang secara biokimia bekerja dengan menstimulasi gamma amino asam butirat (GABA).- LD50 oral: 70 mg/kg bb (tikus)- LD50 dermal: >2000 mg/kg bb (tikus).- NOEL: 0,2 mg/kg bb (anjing, 1 tahun).- ADI: 0,0025 mg/kg bb.- Kelas toksisitas: WHO (bahan aktif) kelas II, EPA (formulasi) kelas II. 36
  • 37. - Iritasi: Menyebabkan iritasi berat pada mata dan kulit (kelinci).E.2. Makrolida: MilbemycinMilbemektin (milbemectin)- Penjelasan singkat: Insektisida dan akarisida ini dihasilkan dari fermentasi bakteri (Actinomycetes) Streptomyces hygroscopius subsp. aureolacrimosus. Milbemektin tersusun atas 2 jenis milbemisin yang homolog, yakni milbemisin A 3 (metil-milbemisin) dan milbemisin A4 (etil-milbemisin), dengan perbandingan 3 : 7.- Hama yang dapat dikendalikan: Milbemektin merupakan insektisida dan akarisida yang kuat, digunakan untuk mengendalikan tungau merah dan tungau merah jambu pada jeruk, dan tungau-tungau lainnya termasuk spider mite. Juga direkomendasikan untuk mengendalikan pengorok daun pada jeruk dan teh.- Mode of action: Bekerja sebagai racun syaraf, yang merangsang produksi gamma amino asam butirat (GABA), sehingga menghambat kerja neurotransmiter. Milbemektin adalah racun kontak dan racun perut, semi sistemik dengan efek translaminar.- LD50 oral: 762 mg/kg bb (tikus jantan), 456 mg/kg bb (tikus betina).- LD50 dermal: >5000 mg/kg bb (tikus).- NOEL: 6,81 mg/kg (tikus jantan), 8,77 mg/kg (tikus betina).- ADI: 0,03 mg/kg bb.- Lain-lain: Non-mutagenik, non-karsinogenik, non-teratogenik.E.3. Makrolida: SpinosinSpinosad- Penjelasan singkat: Insektisida spinosad komersial merupakan campuran dari spinosin A dan spinosin B, yang diperoleh sebagai metabolit sekunder dari fermentasi dari bakteri aerobik, gram-positif, Saccharopolyspora spinosa (Actinomycetes). 37
  • 38. - Hama yang dapat dikendalikan: Spinosad direkomendasikan untuk mengendalikan larva Lepidoptera, pengorok daun, thrips, dan kumbang pemakan daun, pada sayuran, jagung, kapas, anggur, tanaman hias. Juga digunakan di bidang peternakan.- Mode of action: Secara biokimia spinosad bekerja pada reseptor nikotinik asetilkholin, tetapi pada lokasi yang berbeda dengan isteksida dari kelas nikotinoid atau neonikotinoid. Spinosad juga mempengaruhi reseptor GABA, tetapi peranannya belum jelas. Racun kontak dan racun perut.- LD50 oral: 3783 mg/kg bb (tikus jantan), >5000 mg/kg bb (tikus betina).- LD50 dermal: >2000 mg/kg bb (kelinci).- NOEL: pada anjing, mencit dan tikus masing-masing adalah 5, 6-8 dan 10 mg/kg/hari (13 minggu).- ADI: 0,02 mg/kg bb.- Kelas toksisitas: WHO (bahan aktif) kelas U, EPA (formulasi) kelas IV.- Irritasi: Tidak menyebabkan iritasi kulit, tetapi sedikit menyebabkan iritasi mata (kelinci).- Lain-lain: Tidak menampakkan efek neurotoksik, reproduktif atau mutagenik pada anjing, mencit atau tikus.E.4. Makrolida: NaktinPolinaktin (polynactins)- Penjelasan singkat: Akarisida polinaktin, yang merupakan campuran dari dinaktin, trinaktin dan tetranaktin, merupakan metabolit sekunder dari fermentasi Streptomyces aureus isolat S-3466.- Hama yang dapat dikendalikan: Sangat efektif, terutama pada kondisi basah, untuk mengendalikan tungau (akarina) seperti Tetranychus cinnabarinus, Tetranychus urticae dan Panonychus ulmi pada tanaman buah.- Mode of action: Secara biokimia, polinaktin bekerja mempengaruhi mitokondria. Air sangat penting untuk bekerjanya senyawa kimia ini.- LD50 oral: Polinaktin umumnya dianggap tidak berbahaya bagi mamalia. LD50 oral untuk mencit adalah >15.000 mg/kg.- LD50 dermal: >10.000 mg/kg bb (mencit).- Kelas toksisitas: EPA (formulasi) kelas IV. 38
  • 39. - Iritasi: Sedikit menimbulkan iritasi ringan pada kulit dan mata.Daftar Pustaka - Anonim (2006): Pestisida untuk Pertanian dan Kehutanan. Depatemen Pertanian Republik Indonesia. - Anonim: Bacillus thuringiensis. Wilkipedia, http;//www.wilkimediafoundation. org/ - Baehaki, Dr. Ir. SE (1993): Insektisida Pengendalian Hama Tanaman. Angkasa, Bandung. - Beattle, GAC; O. Nicetic, AS. Kalianpur dan Z. Hossain (2004): Managing Resistance with Horticultural Mineral Oils. Some Example from Different Crop. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Management Resistensi Pestisida dalam Penerapan Pengelolaan Hama Terpadu. UGM, Yogyakarta, 24-25 Februari 2004. - Copping, LG (editor, 2004): The Manual of Biocontrol Agents. BCPC - Djojosumarto, Panut (2008): Pestisida dan Aplikasinya. Agromedia Pustaka, Jakarta - Extoxnet (1996): Abamectin. Extesion Toxicology Network. http://npic.orst.edu/ - Fisher, Hans-Peter, et al (1922): New Agrochemicals Based on Microbial Metabolites: New Biopesticides. Proceeding of the ’92 Agricultural Biotechnology Symposium on Biopesticides, Korea, September 1992 - Flint, Mary Louis dan Robert Bosch (1991): Pengendalian Hama Terpadu, Sebuah Pengantar. Edisi terjemahan Indonesia, Kanisius, Yogyakarta. - Habazar, Prof. Dr. Ir. Trimurti, dan Dr. Ir. Yaherwandi Msi (2006): Pengendalian Hayati Hama dan Penyakit Tumbuhan. Andalas University Press, Padang. - Luthy, P (1993): Tailor-Made Insect Control with Bacillus thuringiensis. Insect Control No. 20, May 1993. - Novizan, Ir. (2002): Membuat dan Memanfaatkan Pestisida Ramah Lingkungan. AgroMedia Pustaka, Jakarta. - NPTN: Bacillus thuringiensis, General Fact Sheet. National Pesticide Telecommunications Network. http://nptn.orst.edu/ - NPTN: Pyrethrin & Pyrethroid. National Pesticide Telecommunications Network. http://nptn.orst.edu/ 39
  • 40. - Pitterna, Thomas (1997): Macrolides as Pest Control Agents: Avermectin and Milbemycins. Insecticide Newsletter No. 3, December 1997- Shepard, B.M.; dkk (1987): Friends of Rice Farmer. Helpful Insects, Spiders, and Pathogen. International Rice Research Institute. Los Banos, Laguna, the Philippines.- Singleton, Paul; dan Diana Sainsbury (19981): Dictionary of Microbiology. John Wiley & Sons.- Tomlin, CDS (editor, 2001): The Pesticide Manual. BCPC- Wood, Alan (1995-2007): Compendium of Pesticide Common Name: Insecticides. http://www.alanwood.net.- 40