Your SlideShare is downloading. ×
Paper Seminar Nasional Widyatama: Penerapan Techno Economy Pada Ukm Di Indonesia Dengan Replikasi Program Telematika Pedesaan Grameen
Paper Seminar Nasional Widyatama: Penerapan Techno Economy Pada Ukm Di Indonesia Dengan Replikasi Program Telematika Pedesaan Grameen
Paper Seminar Nasional Widyatama: Penerapan Techno Economy Pada Ukm Di Indonesia Dengan Replikasi Program Telematika Pedesaan Grameen
Paper Seminar Nasional Widyatama: Penerapan Techno Economy Pada Ukm Di Indonesia Dengan Replikasi Program Telematika Pedesaan Grameen
Paper Seminar Nasional Widyatama: Penerapan Techno Economy Pada Ukm Di Indonesia Dengan Replikasi Program Telematika Pedesaan Grameen
Paper Seminar Nasional Widyatama: Penerapan Techno Economy Pada Ukm Di Indonesia Dengan Replikasi Program Telematika Pedesaan Grameen
Paper Seminar Nasional Widyatama: Penerapan Techno Economy Pada Ukm Di Indonesia Dengan Replikasi Program Telematika Pedesaan Grameen
Paper Seminar Nasional Widyatama: Penerapan Techno Economy Pada Ukm Di Indonesia Dengan Replikasi Program Telematika Pedesaan Grameen
Paper Seminar Nasional Widyatama: Penerapan Techno Economy Pada Ukm Di Indonesia Dengan Replikasi Program Telematika Pedesaan Grameen
Paper Seminar Nasional Widyatama: Penerapan Techno Economy Pada Ukm Di Indonesia Dengan Replikasi Program Telematika Pedesaan Grameen
Paper Seminar Nasional Widyatama: Penerapan Techno Economy Pada Ukm Di Indonesia Dengan Replikasi Program Telematika Pedesaan Grameen
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Paper Seminar Nasional Widyatama: Penerapan Techno Economy Pada Ukm Di Indonesia Dengan Replikasi Program Telematika Pedesaan Grameen

1,809

Published on

Paper yang disampaikan di Seminar Nasional Techno-Economy di Universitas Widyatama 25 Febuari 2010

Paper yang disampaikan di Seminar Nasional Techno-Economy di Universitas Widyatama 25 Febuari 2010

Published in: Business
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,809
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. PENERAPAN TECHNO­ECONOMY PADA UKM DI INDONESIA DENGAN  REPLIKASI PROGRAM TELEMATIKA PEDESAAN GRAMEEN  Djadja Sardjana  Jurusan Teknik Informatika,  Universitas Widyatama,  djadja.sardjana@widyatama.ac.id  ABSTRAKSI  Telematika  mempunyai  peranan  yang  sangat  penting  dan  strategis  sebagai  komponen  infrastruktur  untuk  perkembangan  ekonomi.  Pelayanan  Telematika  dapat  menggantikan  bentuk  komunikasi  lain  dan  seringkali  lebih  efektif  penggunaannya  baik  dari  segi  biaya,  waktu  dan  rantai  distribusinya.  Peningkatan  produktifitas  komunikasi  ini  pada  akhirnya  mendorong  pertumbuhan  ekonomi  di  tempat  tersebut.  Meskipun  menghadapi  hambatan  dalam  restrukturisasi    industri  Telematikanya,  beberapa  negara  berkembang  telah  berhasil  tidak  hanya  membuka  kompetisi,  namun  secara  bersamaan  mencapai  kewajiban  pelayanan  Telematika  untuk  umum  (Universal  Services  Obligation).  Misalnya    pencapaian  yang  dilakukan oleh  Grameen  Telecom    di  Bangladesh  bekerja  sama  dengan  pemberi  kredit  mikro  Grameen  Bank  yang  memungkinkan  nasabahnya  memperoleh  kredit  bergulir  untuk  berusaha  di  bidang warung Telematika di daerah pedesaan. Pengalaman Grameen Telecom  memungkinkan  kita  untuk  menjalankan  satu  solusi  potensial  dari  Penerapan  Techno­Economy  pada  UKM  di  Indonesia  terutama  dalam  melayani  daerah  pedesaan.  Targetnya  adalah  melayani  daerah  yang  tak  dapat  atau  kurang  terlayani dan menyediakan dukungan untuk pelayanan informasi  yang bermutu.  Kata  kunci:  Bangladesh,  Grameen  Bank,  Grameen  Telecom  ,  Indonesia,  Informasi, Pedesaan, Techno­Economy, Telematika, UKM, USO, Village Phone  1.  PENDAHULUAN  Dalam  kondisi  perekonomian  Indonesia  yang  tidak  menentu,  perusahaan­  perusahaan  besar  mengalami  kebangkrutan  dan  kehancuran.  UKM  justru  dapat  bertahan dan menghasilkan devisa. Disamping itu, sektor UKM melalui perannya  mampu  menjadi  penggerak  perekonomian  daerah/lokal  dalam  penciptaan  lapangan kerja dan lapangan usaha baru.  Mengingat  dampaknya  yang  demikian  besar,  maka  kebijakan  ekonomi  ke  depan  harus  didesain  ke  arah  penguatan  usaha  kecil  menengah  (UKM)  dan  pengembangan wirausaha baru, khususnya dalam bentuk UKM, sehingga jumlah  pengangguran dan angka kemiskinan bisa lebih ditekan.
  • 2. Tidaklah  mengherankan  kalau  UKM  disebut  sebagai  tulang  punggung  perekonomian  Indonesia.  Boleh  dikatakan,  membangun  UKM  adalah  identik  dengan  membangun Indonesia. Karena, ada sekitar 80 juta orang Indonesia  yang  bekerja  di  sektor  ini.  Dengan  kata  lain,  membangun  UKM  sama  dengan  membangun sumber penghidupan yang saat ini dinikmati oleh 80 juta lebih orang  Indonesia.  Telematika  mempunyai  peranan  yang  sangat  penting  dan  strategis  sebagai  komponen infrastruktur untuk perkembangan ekonomi termasuk Usaha Kecil dan  Menengah  (Hitt,  Ireland&Hoskisson  ,2005).  Pelayanan  Telematika  dapat  menggantikan bentuk komunikasi lain dan seringkali lebih efektif penggunaannya  baik dari  segi  biaya, waktu dan rantai distribusinya (Hamel  and Prahalad, 1995).  Bukti  lain  memperlihatkan  bahwa  sistem  Telematika  yang  andal  akan  memunculkan  bentuk komunikasi  baru  yang  lebih kuat, kompleks, dan produktif  dari  pola­pola  komunikasi  lain  (Harris,  2001).  Peningkatan  produktifitas  komunikasi  ini  pada  akhirnya  mendorong  pertumbuhan  ekonomi  di  tempat  tersebut (Porter, 1985).  Adanya  hubungan  erat  antara  perkembangan  ekonomi  dengan  pelayanan  Telematika  menyebabkan  banyak  negara  berkembang  mencoba  untuk  memperbaiki  infrastruktur  Telematika  yang  ada  untuk  peningkatan  pelayanan  pada masyarakatnya (Per Helmersen, 2005). Beberapa negara berkembang seperti  Hong  Kong,  Korea,  Singapore  dan  Taiwan  menggunakan  Telematika  sebagai  bagian  dari  keseluruhan  strategi  ekonomi  untuk  membangun  posisi  yang  sangat  kompetitif di pasar dunia untuk  industri dan jasa teknologi tinggi (Kao, Raymond  W. Y.,  1995).  Meskipun  menghadapi  hambatan  dalam  restrukturisasi    industri  Telematikanya, beberapa negara berkembang telah berhasil tidak hanya membuka  kompetisi  (Abdus  Salam,  2005).    Mereka  pun  secara  bersamaan  mencapai  kewajiban  pelayanan  Telematika  untuk  umum  (Universal  Services  Obligation/USO).  Misalnya    pencapaian  yang  dilakukan  oleh  Grameen  Telecom  Bangladesh  bekerja  sama  dengan  pemberi  mikro­kredit  Grameen  Bank,  yang
  • 3. memungkinkan nasabahnya memperoleh kredit bergulir untuk berusaha di bidang  warung  Telematika  di  daerah  pedesaan  yang  pada  awalnya  meliputi  950  Village  Phone  dan memberikan akses kepada 65.000 orang (Harmeet Gill,  2006).  Pengalaman Grameen Telecom , memungkinkan kita untuk menjalankan satu  solusi  potensial  dari  Penerapan  Techno­Economy  pada  UKM  di  Indonesia  terutama  dalam  melayani  daerah  pedesaan.  Targetnya  adalah  melayani  daerah  yang tak dapat atau kurang terlayani dan menyediakan dukungan untuk pelayanan  informasi  yang bermutu (Sardjana, Djadja., 2007, Thesis).  2.  MODEL BISNIS GRAMEEN TELECOM  Grameen  Telecom    sebagai  perusahaan  yang  bergerak  di  bidang  Telematika  (khususnya pedesaan), menghasilkan jasa & produk diantaranya “Village Phone”  (World Resouce Institute, 2003). Dalam menjalankan aktivitasnya perusahaan ini  perlu  untuk  menerapkan  manajemen  strategis  untuk  mempermudah  pencapaian  tujuannya  agar  dapat  mempertahankan  atau  bahkan  mengembangkan  posisi  perusahaan  di  lingkungan  usaha  yang  cenderung  berubah  dengan  cepat  sesuai  Model Bisnis pada gambar­1:
  • 4. Gambar­1 Model Bisnis Grameen Telecom  2.1  Penyeleksian, Cara Berlangganan dan   Pelatihan Operator Village  Phone:  Untuk  mendapatkan  informasi  mengenai  cakupan  GSM    Grameen  Phone  Ltd.,  pegawai  unit  Grameen  Telecom    menemui  cabang­  cabang  Grameen  Bank  pada  daerah  dan  menyiapkan  data  dari  desa­desa  dimana  cakupan  jaringan  memuaskan  yang  memungkinkan  penyediaan  Telematika  Pedesaan  (USTDA,2004).  Cabang  Grameen  Bank    kemudiaan  memilih  diantara  anggota­  anggotanya  yang  berkinerja  baik  dari  desa­desa  ini  untuk  bertindak  sebagai  Operator  “Village  Phone”.  Grameen  Bank  mempunyai  kriteria  spesifik  untuk  menyeleksi operator “Village Phone” yang dapat diringkas sebagai berikut:  1.  Mempunyai sejarah pembayaran kredit Grameen Bank yang sangat bagus;
  • 5. 2.  Harus  mempunyai  bisnis  yang  bagus,  lebih  disukai  toko  penjualan  makanan/minuman  di  desa  dan  mempunyai  waktu  luang  untuk  berfungsi  sebagai operator “Village Phone”.  3.  Tidak  buta  huruf  atau  paling  tidak  harus  mempunyai  anak  yang  dapat  membaca dana menulis.  4.  Tempat  tinggalnya  harus  cocok  dan  lokasinya  dekat  dengan  tengah­tengah  desa.  Setelah  penyeleksian  awal  selesai  oleh  Cabang  Grameen  Bank    sebagai  operator  “Village  Phone”  yang  potensial,  pegawai  unit  Grameen  Telecom  terdekat memverifikasikan sinyal yang tersedia pada rumahnya atau toko yang dia  tinggali  untuk  berlangganan  telematika.  Persetujuan  terakhir  dari  keanggotaan  diperoleh dari Manager Daerah Grameen Bank . Ketika penyeleksian akhir hampir  selesai,  Grameen  Telecom    berlangganan  sambungan  telematika  pada  Grameen  Phone  dan  menyerahkannya  pengelolaanya  kepada  anggota.  Grameen  Telecom  selanjutnya  menyediakan perangkat  yang dibutuhkan dan  menyediakan pelatihan  untuk  mengoperasikan telematika desa tersebut. Sedangkan telematika dan  biaya  sambungan  dibayar  oleh  Grameen  Bank    ke  Grameen  Telecom.  Selanjutnya  anggota  mengangsurnya  kembali  kepada  Grameen  Bank    dengan  periode  yang  ditentukan,  misalnya  dua  atau  tiga  tahun.  Perlu  dtekankan  kembali  bahwa  program  keemilikan  telematika  desa  ini  hanya  disediakan  untuk  anggota  Grameen Bank  melalui program pinjaman mikro.  2.2  Proses Penagihan (Billing):  Grameen Telecom membeli pulsa secara borongan dari Grameen Phone untuk  semua  telematika  desa  di  bawah  pengoprasiannya  dengan  tingkat  diskon  khusus  yang  telah  dinegoisasikan  antara  kedua  organisasi.  Kemudian  Grameen  Phone  menyiapkan  tagihan  bulanan  dan  mengirimkannya  ke  Grameen  Telecom    untuk  pembayaran.  Selanjutnya  Grameen  Telecom    membuat  kembali  tagihan  perorangan  dan  mengirimkannya  ke  cabang­cabang  serta  membayar  tagihan  ke  Grameen  Telecom  setelah  enam  minggu  pada  periode  berikutnya.  Dalam  hal  ini  tugas  Grameen  Bank  adalah  mengumpulkan  tagihan  dari  operator­operator  “Village Phone”.
  • 6. 2.3  Dukungan Operasional:  Kantor  unit  dari  Grameen  Telecom  bertanggung  jawab  untuk  pengoperasian  “Village  Phone”  di  lapangan.  Tugas  Unit  Operasional  adalah  untuk  memetakan  daerah  dengan  cakupan  sinyal  yang  baik,  membantu  manager  cabang  Grameen  Bank  untuk memilih anggota menjadi operator “Village Phone”, melatih operator  “Village  Phone”  dan  membutuhkan  dukungan  teknis  yang  dibutuhkan  oleh  operator “Village Phone” termasuk handset, tagihan dan lain sebagainya.  Sejauh  ini  Grameen  Telecom  mempunyai  13  kantor  unit  di  :  Dhaka,  Norsingdee,  Srinogar,  Comilla  ,  Feni,  Chittagong,  Mymensingh,  Sirajgonj,  Khulna,  Barisal,  Sylhet,  Rajshahi  dan  Faridpur.  Jumlah  kantor  unit  akan  terus  bertambah  dengan  bertambahnya area sinyal yang tersedia.  3.  Metodologi  Penelitian Yang Digunakan  Paper ini mencoba menjawab pertanyaan­pertanyaan dimana konteks spesifik  suatu  negara  adalah  kritis  dalam  menentukan  kesuksesan  di  bidang  reformasi  bisnis telematika.  Karena dasar  itulah  bahwa  model  bisnis Grameen  yang ada di  Bangladesh  dapat  direplikasi  di  negara  berkembang  lainnya.  Untuk  bisa  dilaksanakan  pada  konteks  yang  berbeda,  hal  ini  haruslah  memahami  hambatan  spesifik yang ada di negara tersebut.  Adapun  manfaat  penelitian  yang  diharapkan  adalah;  Pembuktian  kaidah  bahwa  Grameen  sukses  dalam  penerapan  Dasar­dasar  Kewirausahaan  Sosial  dengan  Program  Telematika  Pedesaan;  Meneliti  faktor  apa  saja  dari  penerapan  Dasar­dasar  Kewirausahaan  Sosial  dengan  Program  Telematika  Pedesaan  yang  berfungsi  baik  dan  dapat  diterapkan  di  Indonesia  (Sardjana,  Djadja.,  2007,  Thesis).  4.  Replikasi Program Telematika Pedesaan Grameen di Indonesia  “Village  Phone”  dari  Grameen  Telecom  merupakan  proyek  percobaan  yang  sampai  tahun  2000  melibatkan  950  Village  Phones  yang  menyediakan  akses  telematika  kepada  lebih  dari  65,000  orang.  Wanita­wanita  desa  mendapat  kredit  mikro  untuk  memperoleh  pelayanan  telematika  selular  GSM  dan  sesudah  itu
  • 7. menjual  lagi pelayanan tersebut di desa  mereka (Telecommon Development  Group,  2006).  4.1  Temuan Utama Hasil Penelitian Program Telematika Pedesaan  Grameen:  1.  Program  Village  Phone  muncul  sebagai  solusi  teknis  terbaik  yang  tersedia  untuk  akses  telematika  universal  pedesaan  sesuai  dengan  keadaan  Regulasi  Telematika  dan  kondisi  ekonomi  Bangladesh  saat  itu.  Program  “Village  Phone”  adalah  suatu  solusi  organisatoris  dan  teknis  untuk  akses  telematika  pedesaan  yang  dibutuhkan  oleh  suatu  lingkungan  dengan  regulasi  telematika  yang tidak mendukung bagi percepatan infrastruktur telematika pedesaan.  2.  Konsep  dari  "akses  yang  universal"  bukanlah  sesuatu  yang  netral  terhadap  gender.  Di  dalam  kasus  dari  Bangladesh  ini,  jenis  kelamin  dari  operator  “Village  Phone”  dan  penempatan  secara  fisik  dari telematika  di  dalam  suatu  desa  yang  tersegmentasi  secara  gender  dapat  menghalangi  atau  memperbaiki  akses  wanita­wanita  untuk  menelpon  karena  alasan  religius.  Biasanya,  satu  lokasi  operator  wanita  akan  menyediakan  suatu  ruang  yang  bisa  diterima  untuk  wanita­wanita  desa  yang  lain  untuk  mengakses  telematika.  Dari  sudut  pandang  pendapatan  dan  laba,  adalah  penting  untuk  memastikan  bahwa  “Village Phone” secara penuh dapat diakses oleh seluruh populasi desa,  jika  50% dari pemakai berdasarkan gender menghadapi rintangan­rintangan untuk  menelpon, maka suatu arus pendapatan yang penting telah lenyap.  3.  Village Phone bertindak sebagai suatu instrumen atau alat bantu yang tangguh  untuk mengurangi resiko  dalam pengiriman uang dari para anggota keluarga  para  pekerja  di  Dhaka  City  dan  yang  bekerja  di  luar  negeri.  Juga  untuk  membantu  orang  desa  di  dalam  memperoleh  informasi  akurat  tentang  kurs  valuta  asing.  Mengirim  uang  tunai  dari  suatu  negara  Timur  Tengah  ke  suatu  desa  di  Bangladesh  adalah  penuh  resiko;  pengiriman  uang  seperti  itu  adalah  faktor pokok yang membuat laku pemakaian telematika. Pada tingkatan yang  mikro,  pengiriman  uang  cenderung  untuk  digunakan  untuk  biaya  rumah  tangga  sehari­hari  seperti  makanan,  pakaian  dan  pelayanan  kesehatan.
  • 8. Pengiriman  uang  seperti  itu  satu  faktor  yang  penting  dalam  memenuhi  penghidupan  rumah  tangga,  dan  dapat  meningkatkan porsi  yang  penting  dari  penghasilan  rumah  tangga.  Begitu  penghidupan  dipenuhi,  pengiriman  uang  cenderung  untuk  digunakan  untuk  "investasi­investasi  produktif,"  atau  untuk  tabungan.  4.  Panggilan­panggilan  telematika  kepada  keluarga  dan  para  teman  sering  melibatkan  pertukaran  informasi  tentang  harga  komoditi  pasar,  daftar  biaya  pengiriman  barang­barang,    tren  pasar  dan  pertukaran  valuta.  Hal  ini  membuat  “Village  Phone”  satu  alat  yang  penting  untuk  membuka  peluang  usaha  rumah  tangga  dalam  mengambil  informasi  pasar  untuk  meningkatkat  keuntungan  dan  mengurangi  biaya  produksi.  Misalnya  penggunaan  kendaran  bermotor untuk memperoleh informasi harga komoditi di pasar.  5.  Pelayanan  telematika  pedesaan  di  Bangladesh adalah  sangat  menguntungkan  karena  regulasi  yang  ada  sekarang  (ketiadaan  interkoneksi  menjadi  penghalang  yang  paling  besar),  sehingga  operator  telematika  tidak  mampu  untuk  mengimbangi  permintaan  untuk  jasa  telematika  antar  operator.  Telematika­telematika  di  dalam  program  Grameen  Telecom  Village  Phone  menghasilkan  tiga  kali  pendapatan  untuk  pelayanan  selular  pedesaan  ($100/bulan  lawan  $30/bulan).  Bahkan,  satu  operator  telematika  di  Bangladesh  melaporkan  dimana  pendapatan  12,000  pelanggan  biasa  sama  dengan pendapatan dari 1,500 “Village Phone”.  6.  Teknologi  telematika  genggam  GSM  adalah  suatu  solusi  yang  mahal  untuk  akses  universal di daerah pedesaan. Liputan selular ini terbatas untuk daerah  pedesaan serta hanya menguntungkan di bawah regulasi telematika yang sehat  ­  ketika  lingkungan  yang  regulasi  diperbaiki,  teknologi  selular  tidak  akan  menjadi  alat  paling  efisien  dan  sehat  dalam  menyediakan  servis  yang  universal.  GSM  teknologi  telematika  genggam  juga  menempatkan  tarif­tarif  jauh lebih tinggi pada para pemakai telematika pedesaan dibanding “Wireless  Local  Loop”  (WLL)  teknologi.  Tanpa  perbaikan­perbaikan  pada  regulasi,  teknologi  selular  adalah  suatu  solusi  yang  praktis.  Juga,  teknologi  selular
  • 9. sekarang  ini  bukan  suatu  opsi  yang  baik  untuk  hubungan  email/Internet/data  yang murah. WLL dan opsi lain dapat menyediakan secara luas dan jauh lebih  baik dengan ongkos pelayanan lebih murah.  4.2  Unsur­unsur yang dapat direplikasi untuk Penerapan Techno­Economy  pada UKM di Indonesia:  1.  Pengalaman  Grameen  Telecom  di  dalam  perencanaan  bisnisnya  memungkinkan  satu  solusi  potensial  yang  menarik  bagi  operator  telematika  dalam melayani daerah pedesaan. Targetnya adalah melayani: daerah yang tak  dapat dilayani, kurang terlayani dan menyediakan dukungan untuk pelayanan  informasi    riset  pasar    yang  bermutu.  Riset  pasar  akan  membantu  ke  arah  pembuktian  kasus  bisnis,  menarik  modal  investasi,  dan  mengurangi  kendala  dari pemodal­pemodal dan operator.  2.  Poin­poin  pengalaman  Grameen  Telecom  menunjukkan  suatu  solusi  yang  potensial  untuk  operator telematika,  dalam    menghadapi  tantangan  mengatur  operasi  telematika  pedesaan.  Hal  ini  dihubungkan  dengan  keterlibatan  organisasi kredit mikro yang sukses berdampingan dengan operator telematika  untuk memperluas cakupan USO di daerah pedesaan. Pinjaman mikro kepada  wirausaha  pedesaan  (terutama  yang  ditargetkan  kepada  kalangan  wanita  dan  kaum  muda)  dapat  memungkinkan  wirausaha  untuk  menyelenggarakan  pelayanan  telematika    yang  menyediakan  bidang  jasa  telematika,  fax,  email  dan  bahkan  internet,  fotokopi  dan  jasa  komputer  pengolah  data.  Program  waralaba    jenis  ini  akan  juga  memberikan  konsistensi  pelayanan  ke  semua  daerah  yang  pada  gilirannya  mendukung  pengembangan  sosial  dan  ekonomi  lokal.  5.  KESIMPULAN DAN SARAN  1.  Dari    Model  Bisnis  Grameen  Telecom  dapat  dijadikan  acuan  bagi  operator,  regulator  dan  investor  dalam  penyusunan  strategi  implementasi  pelayanan  telematika untuk umum (Universal Services  Obligation/USO) sebagai  bagian
  • 10. usaha  untuk  memenangkan  persaingan  di  bisnis  telematika  bahan  pertimbangan Penerapan Techno­Economy pada UKM di Indonesia.  2.  Hasil  riset  di  atas  dapat  dijadikan  pemikiran  bagi  peneliti  lain  untuk  melakukan  studi  lanjutan  dibidang  implementasi  pelayanan  telematika  untuk  umum  (Universal  Services  Obligation/USO)  dengan  menggunakan  bisnis  model  Grameen  Telecom,  sebagai  bahan  pertimbangan  Penerapan  Techno­  Economy pada UKM di Indonesia.  3.  Hasil  kajian  diharapkan  dapat  memperkaya  dan  melengkapi  khazanah  keilmuan  bidang  strategi  perusahaan  (Corporate  Strategy)  dibidang  industri  telematika.  6.  REFERENCES  [1]  Hamel and Prahalad. 1995,  Competing for the Future  [2]  Harris, Regulation and Reform –  Small Scale Service Providers, 3rd SAFIR  Core Course on "Infrastructure Regulation and Reform", October 8­19, 2001.  [3]  Harmeet Gill, March 1, 2006, Village Phone Program  [4]  Hitt, Ireland & Hoskisson , 2005,  Strategic Management: Competitiveness  and Globalization.  [5]  Justice Md. Abdus Salam, Commissioner, BTRC, Presentation for the  Working Group on Licencing for Telecom Services on Seventh South Asian  Telecommunications Regulators’ Council (SATRC) Meeting, 13 to 15  December, 2005,  BANDOS Island, Maldives  [6]  Kao, Raymond W. Y.,  1995, Entrepreneurship: A Wealth Adding and Value  Creating Process, Prentice­Hall: Singapore.  [7]  Mitchell, R.K., Agle, B.R., & Wood, D.J. 1997. Toward a Theory of  Stakeholder Identification and Salience: Defining the Principle of Who and  What Really Counts. Academy of Management Review, v 22, n 4, pp 853­  886.
  • 11. [8]  Per Helmersen, 2005, Human Factors in Emerging Markets, Telenor R&D /  Ghana Telecom  [9]  Porter, 1985, Competitive Advantage: Techniques for Analyzing Industries  and Competitors  [10]  Sardjana, Djadja., 2007, Thesis ­ Stakeholder Role Analysis of Grameen  Telecom in Bangladesh to Determine Management Strategy, Telkom  Management Institute.  [11]  Telecommon Development Group, 2006, Multi­stakeholder Engagement (MSE) for  Rural Telecommunications,  [12]  USTDA South Asia Communications Infrastructure Conference,  New Delhi, India –  April 21­23, 2004, Bangladesh Telecom Brief  [13]  WORLD RESOURCES INSTITUTE, GRAMEEN TELECOM’S VILLAGE  PHONES, 2003

×