Pembiayaan Pendidikan Dilihat Dari Manfaat Tangible dan Intangible            Makalah “Pembiayaan Pendidikan”Djadja Achmad...
Daftar Isi1.   Latar Belakang Masalah .......................................................................................
1      Latar Belakang Masalah           OECD mendefinisikan daya saing sebagai tingkatan di mana suatu negara,dalam kondis...
b) Untuk Mengetahui Tujuan Pembiayaan Pendidikan agar memberikan Manfaat       Tangible dan Intangible.c) Untuk Mengetahui...
oleh manusia terdidik tersebut,dengan demikian manusia yang memperolehpenghasilan lebih besar dia akan membayar pajak dala...
mengembangkan kepribadian serta kemampuan atau keterampilannya secarasadar atau tidak sadar maka selama itulah pendidikan ...
Tabel-1 Fundamental Educational Questions    Who?          Who is to be educated? The nature and capacity of human beings....
Personal Fullfilment    contain the means to promote personal autonomy, an                         essential condition to ...
nol, adalah dengan cara melakukan ‘revitalisasi sumber daya pendidikan’.Revitallisasi pendidikan untuk mencapai keunggulan...
0,692. Walaupun angka HDI ini kelihatan rendah (dibandingkan dengan ASEAN),namun untuk setiap tahunnya angka HDI Indonesia...
4.2   Masalah Besar Pendidikan Indonesia yang Harus Direspon:       Masalah besar pendidikan di Indonesia seperti ditulisk...
berkompetisi dari pendidikan di Indonesia menurun lagi ke urutan 47 dari 49negara yang ada di daftar buku tersebut (Hamid,...
dinamis dan senantiasa sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuanteknologi dan kemajuan jaman. Manfaat Pendidikan sebena...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Pembiayaan pendidikan dilihat dari manfaat tangible dan intangible

6,555

Published on

Secara umum pembiayaan pendidikan adalah sebuah kompleksitas, yang didalamnya akan terdapat saling keterkaitan pada setiap komponen, yang memiliki rentang yang bersifat mikro (satuan pendidikan) hingga yang makro (nasional), yang meliputi sumber-sumber pembiayaan pendidikan, sistem dan mekanisme pengalokasiannya, efektivitas dan efisiensi dalam penggunaannya, akutabilitas hasilnya yang diukur dari perubahan-perubahan yang terjadi pada semua tataran, khususnya sekolah, dan permasalahan-permasalahan yang masih terkait dengan pembiayaan pendidikan

Published in: Education
1 Comment
7 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
6,555
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
4
Actions
Shares
0
Downloads
1
Comments
1
Likes
7
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Pembiayaan pendidikan dilihat dari manfaat tangible dan intangible"

  1. 1. Pembiayaan Pendidikan Dilihat Dari Manfaat Tangible dan Intangible Makalah “Pembiayaan Pendidikan”Djadja Achmad Sardjana (0907904@upi.ac.id ), Sekolah Pasca SarjanaUniversitas Pendidikan Indonesia, Program Studi Doktoral Non-Reguler Administrasi Pendidikan 2010 Makalah Pilihan Tugas Mata Kuliah “Pembiayaan Pendidikan-AP704” | 1 UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA JL. DR. SETIABUDHI NO. 229 BANDUNG 40154 JAWA BARAT - INDONESIA T : +62-22-2013161/4 F : +62-22-2013651
  2. 2. Daftar Isi1. Latar Belakang Masalah .................................................................................................................................. 32. Tujuan Penulisan Makalah .............................................................................................................................. 33. Landasan Teori .................................................................................................................................................. 44. Pembahasan Masalah ...................................................................................................................................... 85. Kesimpulan ....................................................................................................................................................... 126. Referensi ........................................................................................................................................................... 13 Makalah Pilihan Tugas Mata Kuliah “Pembiayaan Pendidikan-AP704” | 2
  3. 3. 1 Latar Belakang Masalah OECD mendefinisikan daya saing sebagai tingkatan di mana suatu negara,dalam kondisi pasar yang bebas dan adil, dapat menghasilkan barang dan jasayang berhasil dalam pasar internasional, yang secara simultan juga mampumemelihara dan memperluas pendapatan riil masyarakatnya untuk periode jangkapanjang. Pernyataan dari Laura D’Andrea Tyson, Ketua Council of EconomicAdvisors – Amerika Serikat dalam kritiknya mengungkapkan bahwa “daya saingmerupakan kemampuan menghasilkan barang dan jasa yang berhasil dalampersaingan internasional, dan dalam waktu bersamaan warga negara jugamenikmati suatu standar hidup yang meningkat dan berkelanjutan (sustainable).”1 Mustahil kalau suatu negara ingin mempunyai daya saing yang tinggi kalautidak mempunyai sumber daya (resources) yang memadai. Dari sisi PembiayaanPendidikan Dilihat Dari Manfaat Tangible dan Intangible, hal tersebut dapatberupa sumber daya yang ‘dapat dilihat’ (tangible) dan yang sumber daya yangtidak dapat dilihat (in-tangible). Sumber daya yang tangible, antara lain: sumberdaya pendukung atau sarana dan prasarana seperti kelas, laboratorium, gedungadministrasi, ruang rapat, ruang kerja guru/dosen dan karyawan, ruangperpustakaan, ruang perkuliahan, teknologi audio dan video, komputer daninternet dan dana. Sementara itu yang in-tangible adalah manusia (guru, dosen,tenaga kependidikan), IPR (intellectual property rights), hak monopoli, hakexclusive licenses, sistem/program pendidikan, kurikulum, organisasi dankepemimpinan, strong brands, serta kemampuan bekerjasama. Pada kondisiseperti ini, Pembiayaan Pendidikan akan menjadi lebih kompleks bila kitamemberikan pertimbangan yang matang terhadap Manfaat Tangible danIntangible-nya.2 Tujuan Penulisan Makalah Makalah ini disusun dengan maksud:a) Untuk mengetahui Pengertian Pembiayaan Pendidikan Dilihat Dari Manfaat Tangible dan Intangible.1 Laura Tyson. Whos Bashing Whom: Trade Conflict in High Technology Industries. Washington, D.C.: Institute for International Economics, 2001 Makalah Pilihan Tugas Mata Kuliah “Pembiayaan Pendidikan-AP704” | 3
  4. 4. b) Untuk Mengetahui Tujuan Pembiayaan Pendidikan agar memberikan Manfaat Tangible dan Intangible.c) Untuk Mengetahui Perkembangan Pembiayaan Pendidikan Dilihat Dari Manfaat Tangible dan Intangible.3 Landasan Teori3.1 Pembiayaan Pendidikan Pembiayaan pendidikan merupakan suatu konsep yang seharusnya adadan tidak dapat dipahami tanpa mengkaji konsep-konsep yang mendasarinya.Ada anggapan bahwa pembicarakan pembiayaan pendidikan tidak lepas daripersoalan ekonomi pendidikan. Morphet (1970:85) “Mengemukakan bahwapendidikan itu mempunyai peranan vital terhadap ekonomi dan negara modern.Dikemukakan hasil penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa pendidikanmerupakan kontributor utama terhadap pertumbuhan ekonomi”. Secara umumpembiayaan pendidikan adalah sebuah kompleksitas, yang didalamnya akanterdapat saling keterkaitan pada setiap komponen, yang memiliki rentang yangbersifat mikro (satuan pendidikan) hingga yang makro (nasional), yang meliputisumber-sumber pembiayaan pendidikan, sistem dan mekanismepengalokasiannya, efektivitas dan efisiensi dalam penggunaannya, akutabilitashasilnya yang diukur dari perubahan-perubahan yang terjadi pada semua tataran,khususnya sekolah, dan permasalahan-permasalahan yang masih terkait denganpembiayaan pendidikan.2 Menurut Adam Smith, Human Capital yang berupa kemampuan dankecakapan yang diperoleh melalui Pendidikan, belajar sendiri, belajar sambilbekerja memerlukan biaya yang dikeluarkan oleh yang bersangkutan. Perolehanketrampilan dan kemampuan akan menghasilkan tingkat balik Rate of Return yangsangat tinggi terhadap penghasilan seseorang. Berdasarkan pendekatan HumanKapital ada hubungan Lenier antara Investment Pendidikan dengan HigherProductivity dan Higher Earning. Manusia sebagai modal dasar yang diInfestasikan akan menghasilkan manusia terdidik yang produktif danmeningkatnya penghasilan sebagai akibat dari kualitas kerja yang ditampilkan2 Morphet Edgar C. (1983) The Economist & Financing of Education (Fourth Edition). New Jersey: Prentice Hall Inc. Engelwood Cliffs. Makalah Pilihan Tugas Mata Kuliah “Pembiayaan Pendidikan-AP704” | 4
  5. 5. oleh manusia terdidik tersebut,dengan demikian manusia yang memperolehpenghasilan lebih besar dia akan membayar pajak dalam jumlah yang besardengan demikian dengan sendirinya dapat meningkatkan pendapatan negara. Peningkatan ketrampilan yang dapat mengahasilkan tenaga kerja yangProduktivitasnya tinggi dapat dilakukan melalui Pendidikan yang dalampembiayaannya menggunakan efesiensi Internal dan Eksternal. Dalam upayamengembangkan suatu sistem pendidikan nasional yang berporos pada padapemerataan, relevansi, mutu, efisiensi, dan efektivitas dikaitkan dengan tujuan dancita-cita pendidikan kita, namun dalam kenyataannya perlu direnungkan, dikaji,dibahas, baik dari segi pemikira tioritis maupun pengamatan emperik. Untuk dapat tercapai tujuan pendidikan yang optimal, maka salah satunyahal paling penting adalah mengelola biaya dengan baik sesuai dengan kebutuhandana yang diperlukan. Administrasi pembiayaan minimal mencakup perencanaan,pelaksanaan, dan pengawasan. Penyaluran anggaran perlu dilakukan secarastrategis dan intergratif antara stakeholder agar mewujutkan kondisi ini, perludibangun rasa saling percaya, baik internal pemerintah maupun antara pemerintahdengan masyarakat dan masyarakat dengan masyarakat itu sendiri dapatditumbuhkan. Keterbukaan, partisipasi, akuntabilitas dalam penyelenggaraanpendidikan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan menjadi kata-kata kunci untuk mewujutkan efektifitas pembiayaan pendidikan.3.2 Manfaat Pendidikan Secara Tangible dan Intangible Fitrah sebagai seorang manusia adalah menerima segala hal di mukabumi, termasuk juga yang namanya pendidikan yang pada hakikatnya semuamanusia mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pendidikan (education).Pendidikan harus membuat interelasi manusia sebagai subjek dalam duniabeserta isinya. Pendidikan secara esensial berfungsi untuk mempertemukanmanusia dengan jatidirinya kemanusiaannya dalam dunia pendidikan dalamhubungannya dengan dunia sesama manusia dan makhluk lain. Manusia adalahmakhluk yang tumbuh dan berkembang. Ia ingin mencapai kehidupan yangoptimal, kehidupan yang lebih baik secara optimal. Selama manusia berusahauntuk meningkatkan kehidupannya baik dalam meningkatkan dan Makalah Pilihan Tugas Mata Kuliah “Pembiayaan Pendidikan-AP704” | 5
  6. 6. mengembangkan kepribadian serta kemampuan atau keterampilannya secarasadar atau tidak sadar maka selama itulah pendidikan terus berjalan. Makna pendidikan dapat dilihat dalam pengertian secara khusus dan luas.Dalam arti khusus pendidikan adalah bimbingan yang diberikan oleh orangdewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaannya. Jadi,pendidikan dalam arti khusus hanya dibatasi sebagai usaha orang dewasa dalammembimbing anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaan. Setelahanak menjadi dewasa dengan segala cirinya, maka pendidikan dianggap selesai.Sedangkan dalam arti luas, merupakan usaha manusia untuk meningkatkankesejahteraan hidupnya yang berlangsung sepanjang hayat. Pendidikanmerupakan suatu proses pertumbuhan dan perkembangan sebagai hasil interaksiindividu dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik. Berlangsung sepanjanghayat sejak manusia lahir. Warisan sosial merupakan bagian dari lingkunganmasyarakat, merupakan alat bagi manusia untuk pengembangan manusia yangterbaik dan intelejen, untuk meningkatkan kesejahteraannya. Secara definitive pendidikan adalah media transformasi antar manusia satudengan manusia lain. Paolo Freire dalam bukunya “Pedagogy of the Oppressed”mendefinisikan pendidikan sebagai prasarana untuk memanusiakan manusia.Dalam klarifikasinya pendidikan terbagi menjadi 3 bagian, yaitu formal, nonformaldan informal. Secara harfiah sekolah beasal dari kata skhole, scholae atau sehola(bahasa yunani) yang artinya “waktu luang”. Pada masa yunani kuno waktu luangyang ada setelah bekerja digunakan untuk mempelajari sesuatu kepada orangahli. Kebiasaan tersebut juga diberlakukan kepada putera-puteri mereka denganmennitipkan dalam waktu tertentu. Disana mereka bermain, berinteraksi danmempelajari apa yang dianggap perlu.3 Pertanyaan mendasar yang terkait dengan Manfaat Pendidikan diuraikanEdward J. Power pada bukunya “Philosophy of Education: Studies inPhilosophies, Schooling, and Educational Policies” sebagai berikut:43 Freire, Paulo. Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum, 2007,p184 Power, Philosophy of Education: Studies in Philosophies, Schooling, and Educational Policies, 1982, p200 Makalah Pilihan Tugas Mata Kuliah “Pembiayaan Pendidikan-AP704” | 6
  7. 7. Tabel-1 Fundamental Educational Questions Who? Who is to be educated? The nature and capacity of human beings. Why should human beings be educated? A determination or definition Why? of educational purpose. What means should be used to achieve educational purpose? Building What? or organizing a content – a curriculum – for education. How should educational means be deployed to obtain superior How? leraning? The problem of method.Sumber: Power (1982: 200) Edward J. Power juga mengatakan bahwa manfaat pendidikan dapatdibedakan menjadi tujuh aspek, seperti yang diuraikan pada tabel di bawah ini:5Tabel-2 - A Summary of Educational Purposes Education should aim principally at forming and Education for strengthening the mental faculties, thus enabling persons to Discipline meet and master the exigencies of life when school days are over. Education should concern itself mainly with the teaching of Education for useful knowledge and skill, which are essential to life in Knowledge society. Using any means at its disposal, including discipline and Education for knowledge, education should seek to form morally Character responsible and socially sensitive human beings. Civility and utility are essential conditions for personal and Education for LIfe social decency and success. Educational should concern itself with the teaching of relevant competencies. Education should supply opportunity for personal growth. It Education for should always aspire the cultivating rather than arresting Growth growth. Education for Happiness is life’s ultimate objective, so education should5 Power, Philosophy of Education: Studies in Philosophies, Schooling, and Educational Policies, 1982, p250 Makalah Pilihan Tugas Mata Kuliah “Pembiayaan Pendidikan-AP704” | 7
  8. 8. Personal Fullfilment contain the means to promote personal autonomy, an essential condition to happiness. Education should prepare persons to appreciate beauty in Education for all its various forms and supply standards for making Growth aesthetics judgements.Sumber: Power (1982: 250)4 Pembahasan Masalah Walaupun berbagai upaya Pembiayaan Pendidikan telah dilakukan, namunmasalah besar pendidikan di Indonesia dewasa ini masih terlihat di tiga hal yaitumasalah yang berkaitan dengan (a). peningkatan dan perluasan aksespendidikan, (b). peningkatan kualitas, relevansi dan rendahnya daya saingpendidikan, dan (c). Penguatan manajemen, akuntabilitas kinerja dan citrapublik.Beberapa strategi untuk mencapai kemampuan berkompetisi yang telahdibahas di makalah ini adalah (a). Meningkatkan program yang berkualitas danmempunyai relevansi dengan kebutuhan lapangan kerja (Enhanced ProgramExcellence and Relevance), (b). Meningkatkan efisiensi dan kualitas manajemen(Enhanced Efficiency and Quality Management), (c). Menjamin kelangsungantersedianya anggaran (Ensured Financial Viability), (d). Meningkatkan kerjasama(Strengthen Networking), dan (e). Memperluas ’pasar’ dari program dan produkyang dihasilkan (Increased Access to Market the Programs and Output). Kalau kita simak hasil laporan lembaga internasional mengenai masalahpendidikan, pembangunan manusia, dan daya saing Indonesia, maka kita patutprihatin. Indeks pendidikan kita berada di urutan 7, indeks pembangunan manusiaberada di urutan 6 dan indeks daya saing (competitiveness index) kita berada diranking 5 dari 10 negara ASEAN. Terlepas setuju atau tidak dengan ukuran yangdipakai, itulah penilaian lembaga internasional ternama seperti United NationsDevelopment Program (UNDP). Salah satu instrumen kebijakan yang dapatdipakai untuk memperbaiki tiga macam indeks pengukuran di atas adalah denganmemajukan pendidikan. Banyak ahli berpendapat bahwa variabel pendidikaninilah sebenarnya yang dapat dipakai sebagai pemicu (trigger) dalammenggerakkan pembangunan suatu bangsa. Instrumen kebijakan yang dapatditawarkan untuk memicu pembangunan pendidikan, dengan tanpa berangkat dari Makalah Pilihan Tugas Mata Kuliah “Pembiayaan Pendidikan-AP704” | 8
  9. 9. nol, adalah dengan cara melakukan ‘revitalisasi sumber daya pendidikan’.Revitallisasi pendidikan untuk mencapai keunggulan kompetitif, memberi maknabahwa peran pendidikan itu diyakini sangat penting dan strategis, namun karenapengelolaan sumber dayanya tidak atau kurang baik, maka keunggulan kompetitifpendidikan di Indonesia menjadi rendah. Karena itu solusinya adalah bagaimanamelakukan revitalisasi sumber daya pendidikan tersebut agar kemampuankompetisi (competitiveness) menjadi tinggi.Untuk mengetahui sampai seberapabesar tingkat kompetisi pendidikan di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara tetangga ASEAN, maka berikut ini disajikan secara singkat beberapaindikator pembangunan sumber daya manusia (yang erat kaitannya dengankualitas pendidikan) dan pembangunan di sektor pendidikan sebagai berikut:4.1 Pembangunan SDM dan Pendidikan di Indonesia Ada tiga sumber data yang dipakai untuk menjelaskan kemajuanpembangunan manusia dan di sektor pendidikan, yaitu data yang bersumber dariUnited Nations Development Program (UNDP, 2004) yang membandingkankemajuan pendidikan Indonesia dengan negara ASEAN lainnya; data evaluasipendidikan Indonesia dari BPS, Bappenas, UNDP (2004), dan data dari ProgramPembangunan Nasional (Propenas) Departemen Pendidikan.4.1.1 Human Development Index (HDI): Human Development Index (HDI) adalah parameter yang menunjukkantingkatan ‘kualitas’ sumber daya manusia yang cara perhitungannya bukan sajamenggunakan variabel pendidikan, tetapi juga variabel ekonomi dan kesehatan.Data di bidang pendidikan yang digunakan juga sebagian saja dari sekian banyakdata pendidikan yang tersedia. Data pendidikan yang digunakan untukmenghitung HDI adalah data melek huruf orang dewasa (usia >15 th) dan dataGross enrolment ratio (Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Lanjutan Pertama danAtas, dan Perguruan Tinggi). Begitu juga variabel kesehatan, hanya dipakai datausia harapan hidup (life expectancy); sedangkan untuk variabel ekonomi, datanyahanya diambil angka Gross Domestik Product (GDP) per kapita. Kemudian daritiga variabel tersebut dihitung HDI. Untuk tahun 2002, HDI Indonesia adalah Makalah Pilihan Tugas Mata Kuliah “Pembiayaan Pendidikan-AP704” | 9
  10. 10. 0,692. Walaupun angka HDI ini kelihatan rendah (dibandingkan dengan ASEAN),namun untuk setiap tahunnya angka HDI Indonesia mengalami kenaikan yangmeyakinkan. Kalau data Human Development Index (HDI) Indonesia dibandingkandengan negara-negara ASEAN, maka Indonesia menempati urutan (ranking)keenam setelah Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand dan Filipina.Walaupun ukuran yang ditetapkan oleh UNDP ini memperoleh banyak kritik dariberbagai pihak, namun karena kurang atau tidak ada lembaga lain yangmelakukan pengukuran HDI, maka hasil HDI yang dihasilkan oleh UNDP inibanyak dipergunakan oleh para ahli, baik para ahli Indonesia maupun ahli asing.Juga angka HDI karya UNDP ini justru banyak dipakai sebagai landasan membuatkeputusan untuk menjelaskan dan membanding kemajuan pembangunan,khususnya pembangunan sumber daya manusia, dari suatu negara. Walaupun variabel yang dipakai untuk mengukur Human DevelopmentIndex (HDI) ini banyak memperoleh kritikan, namun hasil akhir dari angka-angkaHDI di negara-negara ASEAN adalah cukup realistik. Penempatan angka HDIuntuk Indonesia di urutan 6 adalah logis karena ‘kemajuan’ Indonesiadibandingkan dengan enam negara lainnya memang di sekitar enam tersebut,setelah Brunei Darussalam, Singapore, Malaysia dan Thailand.Juga walaupunangka HDI Indonesia berada di urutan ke-6 di ASEAN, namun kalau dilihat dariperkembangannya sejak tahun 1975 adalah mengalami kenaikan yang signifikan.Kalau tahun 1975 angka HDI sebesar 0,47, maka pada tahun 2002, angka HDIIndonesia sebesar 6,9% per tahun.4.1.2 Indeks Pendidikan: Data yang dipakai untuk mengukur indeks pendidikan juga terbatas padadata melek huruf dan gross enrolment ratio dari Sekolah Dasar, SekolahMenengah dan Perguruan Tinggi (SD, SM dan PT). Terlepas dari setuju atau tidakdengan cara yang dipakai oleh UNDP tersebut, terlihat bahwa indeks pendidikanIndonesia berada di bawah Vietnam, yaitu di urutan 7, sementara Vietnam beradadi urutan 6. Makalah Pilihan Tugas Mata Kuliah “Pembiayaan Pendidikan-AP704” | 10
  11. 11. 4.2 Masalah Besar Pendidikan Indonesia yang Harus Direspon: Masalah besar pendidikan di Indonesia seperti dituliskan di atas adalahbagaimana (a). Meningkatkan pemerataan dan akses terhadap pendidikan, (b).Meningkatkan kualitas, relevansi dan daya saing pendidikan dan (c).Meningkatkan tata kelola, akuntabilitas kinerja, dan citra publik terhadappenyelenggaraan pendidikan ke arah yang lebih baik.Ketimpangan pemerataanpendidikan bukan saja terjadi di antar wilayah Indonesia kawasan barat dan timur,atau di Jawa dan luar Jawa, tetapi juga terjadi di kawasan perkotaan danpedesaan. Ketimpangan pemerataan juga terjadi di antar tingkat pendapatanpenduduk dan bahkan juga terjadi di antar gender. Sedangkan kualitas pendidikandi Indonesia dinilai masih memprihatinkan. Menurut dokumen Propenas tahun2000-2004, dituliskan bahwa berdasarkan hasil studi International EducationAchievement diketahui bahwa kemampuan membaca murid Sekolah DasarIndonesia berada di urutan ke-38 dari 39 negara yang diteliti. Sementara itukemampuan Matematika murid Sekolah Lanjutan Menengah Pertama (SLTP)berada di urutan ke-39 dari 42 negara yang diteliti, dan untuk kemampuan IlmuPengetahuan Alam, murid SLTP di Indonesia berada di urutan 40 dari 42 negarayang diteliti. Sementara itu lemahnya manajemen pendidikan lebih banyakdisebabkan oleh kebijakan bidang pendidikan masa lalu dimana manajemenpendidikan nasional secara keseluruhan masih banyak yang bersifat sentralistik,sehingga kurang mendorong terjadinya demokratisasi dan sentralisasipenyelenggaraan pendidikan. Kebijakan yang cenderung sentralistik ini jugamenciptakan adanya kebijakan yang seragam untuk seluruh Indonesia, padahalkebijakan yang demikian hampir dapat dipastikan tidak dapat mengakomodasiperbedaan keragaman dan kepentingan di daerah, di sekolah, dan bahkan dimasing-masing peserta didik. Kebijakan yang sentralistik juga cenderung dapatmematikan partisipasi masyarakat dalam proses pendidikan serta mendorongterjadinya pemborosan dan ketidak-efisienan pengelolaan sumber dayapendidikan.Bahkan laporan dari ’World Competitiveness Yearbook’ menempatkankemampuan pendidikan di Indonesia untuk berkompetisi terus menurun. Padatahun 1977 saat awal masa krisis ekonomi, urutan atau ranking pendidikan diIndonesia berada di urutan 39 kemudian pada tahun 1999 urutan tersebutmenurun menjadi urutan 46 dari 47 negara. Pada tahun 2002 ranking kemampuan Makalah Pilihan Tugas Mata Kuliah “Pembiayaan Pendidikan-AP704” | 11
  12. 12. berkompetisi dari pendidikan di Indonesia menurun lagi ke urutan 47 dari 49negara yang ada di daftar buku tersebut (Hamid, 2003). Untuk mengatasipermasalahan pendidikan nasional seperti yang diuraikan di atas, masing-masingpenyelenggara pendidikan dituntut untuk melakukan upaya-upaya pengelolaansumber daya pendidikan secara efektif dan efisien. Maksudnya agar lembagapendidikan tersebut mampu bertahan dan berkembang ke arah yang lebih majudan seterusnya mampu bertahan dan bersaing dengan penyelenggara pendidikanyang lain yang jumlahnya yang semakin banyak dan mutunya yang semakin baik.4.3 Upaya yang Telah dan Akan Dilakukan: Berbagai upaya memang telah dilakukan untuk membangun manusiaIndonesia dan membangun sektor pendidikan di Indonesia. Bahkan amanatUndang-Undang Dasar 1945 Bab XIII Pasal 31 tentang ‘Pendidikan’, menjelaskanbahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistempengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang. Selanjutnya dalamUndang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 2 Tahun 1989, Bab VIII Pasal33 tentang ‘Sumber Daya Pendidikan’ dituliskan bahwa pengadaan danpendayagunaan sumber daya pendidikan (termasuk Pembiayaan Pendidikan)dilakukan oleh Pemerintah, masyarakat dan/atau keluarga pesertadidik.Pemerintah kini terus meningkatkan pembangunan pendidikan di Indonesia.Prioritas pertama yang dikerjakan adalah menetapkan dan melaksanakanUndang-Undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003. Karena itulah pemerintah terusberupaya meningkatkan anggaran pendidikan dan memperbaiki sistem pendidikanuntuk : (a). Meningkatkan pemerataan dan akses terhadap pendidikan, (b).Meningkatkan kualitas, relevansi dan daya saing pendidikan dan (c).Meningkatkan tata kelola, akuntabilitas kinerja, dan citra publik terhadappenyelenggaraan pendidikan ke arah yang lebih baik.5 Kesimpulan Pendidikan adalah sebuah proses membutuhkan waktu yang panjang.Yaitu pendidikan sepanjang hayat berlangsung mulai pendidikan dalam keluargasekolah formal sampai pendidikan di masyarakat. Pendidikan tersebut bersifat Makalah Pilihan Tugas Mata Kuliah “Pembiayaan Pendidikan-AP704” | 12
  13. 13. dinamis dan senantiasa sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuanteknologi dan kemajuan jaman. Manfaat Pendidikan sebenarnya sebagai mediadan pembebasan dari yang semula tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisamenjadi bisa sehingga masyarakat tidak terbelenggu pada paradigma yangdogmatis. Setiap diri manusia memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan tanpamengenal ruang dan waktu, tanpa mengenal usia dan tanpa dibatasi olehbangunan gedung sekolah yang megah yang memisahkan antara si kaya dan simiskin walaupun itu memebutuhkan Pembiayaan Pendidkan yang cukup besar.Falsafah Pendidikan yang memanusiakan manusia (humanize the human being)harus tetap menjadi pandangan hidup dalam dunia pendidikan sehingga akantercipta pendidikan yang bebas secara politik, sejahtera secara ekonomi, adilsecara hukum dan partisipatif secara budaya.6 Referensi [1] Laura Tyson. Whos Bashing Whom: Trade Conflict in High Technology Industries. Washington, D.C.: Institute for International Economics,2001 [2] Morphet Edgar C. (1983) The Economist & Financing of Education (Fourth Edition). New Jersey: Prentice Hall Inc. Engelwood Cliffs. [3] Freire, Paulo. Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum, 2007 [4] Power, Philosophy of Education: Studies in Philosophies, Schooling, and Educational Policies, 1982 [5] United Nations Development Program (UNDP), Annual Data , 2004 [6] Prof Satryo S. Brodjonegoro, Higher Education Reform in Indonesia, 2004 Makalah Pilihan Tugas Mata Kuliah “Pembiayaan Pendidikan-AP704” | 13

×