Daur ulang barang bekas
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Daur ulang barang bekas

on

  • 10,264 views

 

Statistics

Views

Total Views
10,264
Views on SlideShare
10,264
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
89
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Daur ulang barang bekas Daur ulang barang bekas Document Transcript

  • DAUR ULANG BARANG BEKAS (PLASTIK & KERTAS) DAUR ULANG BARANG BEKAS (PLASTIK & KERTAS) Oleh: Nurul Faizah Farah Farida Arif Fadholi W.A Ahmad Mufid Fidda Syarifiatul L Sampah mungkin bisa dikaatakan sudah menjadi bagian dari manusia. Betapa tidak, setiap kegiatan yang dilakukan, sebagian besar pasti menghasilkan sampah. Kita contohkan saja dari kegiatan tiaap-tiap individu, seperti saat kita memasak sayuran pasti ada bagian sayuran yang tidak terpakai, sehingga pada akhirnya akan dibuang. Kemudian dalam memenuhi kebutuhan sehair-hari, seperti mencuci, mandi, dsb. Seluruh barang yang kita gunakan juga menghasilkan sampah, seperti bungkus sabun, busa sabun, dan tentu masih banyak lagi. Sampah bisa dibagi menjadi 2, yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik merupakan sampah yang bisa terurai. Contohnya sayuran, dedaunan, kayu, dll. Sedangkan sampah anorganik adalah sampah yang tidak terurai. Misalnya adalah plastik, kertas, dll. Dari 2 jenis sampah tersebut yang sering menimbulkan masalah adalah sampah anorganik. Bahkan sampah ini juga banyak dihasilkan oleh manusia. Seperti saat ini semua bungkus makanan terbuat dari plastik dan kertas. Sampah-sampah ini jika tidak dikelola dengan baik akan berdampak negatif baik bagi kehidupan manusia dan lingkungan sekitar. Sampah dikenal oleh kebanyakan masyarakat adalah barang-barang yang sudah tidak bermanfaat atau bahan buangan namun sebenarnya jika kita tinjau sampah masih bisa kita manfaatkan. Seperti plastik bekas bisa dibuat menjadi tas, sampul, dompet, dll. A. DAUR ULANG KERTAS BEKAS a. Alat dan Bahan Alat Bahan - gunting - kayu / papan - paku - blender - kain - ember - spon / busa - baskom - kertas - air - daun jati - daun pandan - kunyit
  • b. Cara Membuat Kertas Daur Ulang 1. Robek kecil-kecil kertas bekas dan rendam didalam air selama 1 hari 2. Blender kertas sampai menjadi bubur ( halus) 3. Rebus bubur kertas selama 1 atau 2 jam (untuk membantu proses pelarutan tinta dalam kerta bekas) 4. Tuangkan ke dalam baskom yang berisi air dan diaduk 5. Siapkan cetakan dan spons di berada di dalamnya lalu taruh kain yang sudah dibasahi diatasnya 6. Tuangkan bubur kertasnya ke cetakan yang berisi spons dan kain 7. Sesudah beberapa lapis press dengan menaruh papan besar diatasnya dan beri pemberat (batako atau batu) 8. Biarkan selama sekitar 1 jam agar airnya berkurang. Sebelum diangkat pastikan sudah cukup kering. 9. Jemur ditempat yang panas, setelah benar-benaar kering lalu setrika Contoh barang yang bisa dibuat dengan kertas Daur Ulang. • Kertas untuk menggambar karya seni • Pembungkus buku, tempat pensil, dan lain-lain • Undangan, amplop, sampul, dll . • kotak pensil + bingkai photo • kotak kado Jika kita ingin memberi warna pada kertas daur ulang memakai bahan alami untuk mewarnai kertas daur ulang tersebut anda bisa memakai beberapa bahan yang bisa dipakai untuk memberi warna tersebut. diantaranya :Kunyit, Daun Jati, Daun pandan Wangi, dll. Kunyit : Kalau kita parut dan disaring akan menghasikan warna kuning. Daun Jati : Kalau diparut dan disaring akan menhasilkan warna merah Daun Pandan Wangi : Kalau kita parut dan disaring akan menghasikan warna hijau B. Dompet & Tas dari Plastik a. Alat dan Bahan Bahan Alat - plastik minyak goring, pewangi - benang - resliting - mesin jahit - jarum - gunting b. Cara Membuat 1. Siapkan bungkus plstik bekas yang biasa digunakan pada rumah tangga. Seperti plastik sabun, minyak goreng, pewangi, dll. 2. Cuci bersih plastik-plastik tersebut 3. Keringkan plastik-plastik tersebut menggunakan sinar matahari 4. Potong membentuk pola sesuai dengan keinginan 5. Kemudian satukan potongan-potongan dengan menggunakan mesin jahit
  • C. Tempat Pensil & Bolpoin dari Bungkus Permen a. Alat dan Bahan Alat Bahan - jarum - penggaris - lem lilin - gunting - bungkus permen - kardus - benang wol - pita dan daun b. Cara Membuat 1. Siapkan bungkus permen besar 2. Bungkus permen dicuci sampai bersih 3. Siapkan kardus, dan digunting sesuai keinginan 4. Lalu ditempeli bungkus permen (bungkusnya dibalik) 5. Kemudiaan dijahit dengan menggunakan benang wol D. Figura dari Kardus a. Alat dan Bahan Alat Bahan - lem kertas - gunting - penggaris - staples - kardus - kertas daur ulang - daun b. Cara Membuat 1. Siapkan kardus terlebih dahulu 2. Lalu kardus digunting sesuai keinginan 3. Buat bingkai figura dari kertas daur ulang 4. Dan figura dihiasi dengan dedaunan E. Sampul Book Note dari Kertas Daur Ulang a. Alat dan Bahan Alat Bahan - gunting - benang - jarum - lem lilin - kertas daur ulang - kertas buram - sedotan - pita b. Cara Membuat
  • 1. potong kertas daur ulang sebanyak 2 buah berbentuk persegi panjang (bentuk sesuai selera) 2. hiasi salah satu dari polaa kertas tersebut denagn pita, sedotan, dll 3. siapkan potongan kertas buram, ukurannya sesuai dengan sampul 4. buat lubang 2 buah pada bagian atasnya, pola yang ada (baik kertas buram / daur ulang) dengan ukuran lubang yang sama 5. kaitkan keduanya dengan benang F. Album dari Kertas Daur Ulang a. Alat dan Bahan Alat Bahan - gunting - penggaris - benang - jarum - kertas daur ulang - kardus b. Cara Membuat 1. Buat pola dari kertas daur ulang sesuai ukuran foto yang akan ditempelkan 2. Buat pola yang sama tapi dari kardus digunakan sebagai sampul 3. Buat 2 lubang pada bagian samping pada semua pola 4. Hiasi sampul sesuai selera 5. Untuk pola yang ada dalam kertas daur ulang semua bagian pojok ditempeli kertas untuk mengaitkan foto pada album 6. Kaitkan sampul dengan benang atau kawat Contoh KIR tentang Sampah di Indonesia untuk MAN/SMA KARYA ILMIAH REMAJA
  • yang membahas tentang SAMPAH DI INDONESIA Disusun oleh : ................................ Kelas ................. KATA PENGANTAR Puji Syukur kita panjatkan ke-hadirat Allah Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat dan karunia-Nyalah, karya ilmiah ini dapat terselesaikan dengan baik dengan judul pembuangan limbah sampah di Indonesia. Dengan membuat tugas ini saya harapkan kita semua mampu untuk lebih mengenal tentang masalah sampah dan berbagai bahaya yang
  • dapat ditimbulkannya, yang merupakan salah satu PR besar bangsa Indonesia dan sering kali tidak ditanggapi dengan baik dan bijaksana oleh masyarakat Indonesia. Saya sadar, sebagai seorang pelajar yang masih dalam proses pembelajaran, penulisan karya ilmiah ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif, guna penulisan karya ilmiah yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Harapan saya, semoga karya ilmiah yang sederhana ini, dapat memberi kesadaran tersendiri bagi generasi muda bahwa pentingnya menjaga, memelihara, dan melestarikan lingkungan untuk negeri kita tercinta Indonesia. Amiin… Kuala Kapuas, September 2012 Penulis i
  • DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii DAFTAR GAMBAR iii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 B. Rumusan Masalah 2 C. Tujuan Penelitian 2 D. Manfaat Penelitian 1 3 BAB II A. Teori TINJAUAN PUSTAKA 4 4 1. Pengertian Sampah 4 2. Dampak Sampah bagi Manusia dan Lingkungan 5 3. Bahaya sampah Palastik bagi Kesehatan dan Lingkungan 7 4. Usaha Pengendalian Sampah 8 5. Prinsip-prinsip Produksi Bersih 10 6. Peran Pemerintah dalam Menangani Sampah 7. Kompos, Alternatif Problem Sampah BAB III METEDOLOGI PENELITIAN BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan 16 16 11 12 14
  • B. Saran-Saran ii 17
  • DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1 Sampah 4 iii BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Salah satu faktor yang menyebabkan rusaknya lingkungan hidup yang sampai saat ini masih tetap menjadi “PR” besar bagi bangsa Indonesia adalah faktor pembuangan limbah sampah plastik. Kantong plastik telah menjadi sampah yang berbahaya dan sulit dikelola. Manusia memang dianugerahi Panca Indera yang membantunya mendeteksi berbagai hal yang mengancam hidupnya. Namun di dalam dunia modern ini muncul berbagai bentuk ancaman yang tidak terdeteksi oleh panca Indera kita, yaitu berbagai jenis racun yang dibuat oleh manusia sendiri. Lebih dari 75.000 bahan kimia sintetis telah dihasilkan manusia dalam beberapa puluh tahun terakhir. Banyak darinya yang tidak berwarna, berasa dan berbau, namun potensial menimbulkan bahaya kesehatan. Sebagian besar dampak yang diakibatkannya memang berdampak jangka panjang, seperti kanker, kerusakan saraf, gangguan reproduksi dan lain - lain. Sifat racun sintetis yang tidak berbau dan berwarna, dan dampak kesehatannya yang berjangka panjang, membuatnya lepas dari perhatian kita. Kita lebih risau dengan gangguan yang langsung bisa dirasakan oleh panca indera kita. Hal ini terlebih dalam kasus sampah, di mana gangguan bau yang menusuk dan pemandangan (keindahan/kebersihan) sangat menarik perhatian panca indera kita. Begitu dominannya gangguan bau dan pemandangan dari sampah inilah yang telah mengalihkan kita dari bahaya racun dari sampah, yang lebih mengancam kelangsungan hidup kita dan anak cucu kita.
  • B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah : 1. Apakah yang di maksud dengan sampah? 2. Apa saja bagian – bagian sampah? 3. Bagaimana dampak sampah bagi kehidupan? 4. Bagaimana bahaya sampah plastic bagi kesehatan dan lingkungan? 5. Bagaimana cara mengurangi sampah? 6. Apa yang di maksud dengan prinsip produksi bersih? C. TUJUAN PENELITIAN: Untuk mengetahui bahaya racun yang ditimbulkan oleh sampah. Saat ini sampah telah banyak berubah. Setengah abad yang lalu masyarakat belum banyak mengenal plastik. Mereka lebih banyak menggunakan berbagai jenis bahan organis. Di masa 1980-an orang masih menggunakan tas belanja dan membungkus daging dengan daun jati. Sedangkan sekarang kita berhadapan dengan sampah - sampah jenis baru, khususnya berbagai jenis plastik. Sifat plastik dan bahan organis sangat berbeda. Bahan organis mengandung bahan - bahan alami yang bisa diuraikan oleh alam dengan berbagai cara, bahkan hasil penguraiannya berguna untuk berbagai aspek kehidupan. Sampah plastic dibuat dari bahan sintetis, umumnya menggunakan minyak bumi sebagai bahan dasar, ditambah bahan - bahan tambahan yang umumnya merupakan logam berat (kadnium, timbal, nikel) atau bahan beracun lainnya seperti Chlor. Racun dari plastik ini terlepas pada saat terurai atau terbakar. Penguraian plastic akan melepaskan berbagai jenis logam berat dan bahan kimia lain yang dikandungnya. Bahan kimia ini terlarut dalam air atau terikat di tanah, dan kemudian masuk ke tubuh kita melalui makanan dan minuman. Sedangkan pembakaran plastic menghasilkan salah satu bahan paling berbahaya di dunia, yaitu Dioksin. Dioksin adalah salah satu dari sedikit bahan kimia yang telah diteliti secara intensif dan telah dipastikan menimbulkan Kanker. Bahaya dioksin sering
  • disejajarkan dengan DDT, yang sekarang telah dilarang di seluruh dunia. Selain dioksin, abu hasil pembakaran juga berisi berbagai logam berat yang terkandung di dalam plastik. D. MANFA’AT PENELITIAN Dengan adanya penelitian ini diharapkan akan memberikan manfa‟at yaitu : Dapat mengetahui sampah yang ada di Indonesia, bagian - bagiannya, dampak yang ditimbulkannya, bahayanya bagi kesehatan dan lingkungan khususnya sampah plasik, cara mengurangi dan mengerti tentang prinsip produksi bersih.
  • BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. TEORI 1. Pengertian Sampah Gambar 2.1 Sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembikinan atau pemakaian barang rusak atau bercacat dalam pembikinan manufaktur atau materi berkelebihan atau ditolak atau buangan”. Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis.” (Istilah Lingkungan untuk Manajemen, Ecolink, 1996). Berangkat dari pandangan tersebut sehingga sampah dapat dirumuskan sebagai bahan sisa dari kehidupan sehari – hari masyarakat. Sampah yang harus dikelola tersebut meliputi sampah yang dihasilkan dari: 1. Rumah tangga 2. kegiatan komersial: pusat perdagangan, pasar, pertokoan, hotel, restoran, tempat hiburan. 3. fasilitas sosial: rumah ibadah, asrama, rumah tahanan/penjara, rumah sakit, klinik, Puskesmas 4. fasilitas umum: terminal, pelabuhan, bandara, halte kendaraan umum, taman, jalan, 5. Industri
  • 6. hasil pembersihan saluran terbuka umum, seperti sungai, danau, pantai. Sampah padat pada umumnya dapat di bagi menjadi dua bagian  Sampah Organik Sampah organik (biasa disebut sampah basah) dan sampah anorganik (sampah kering). Sampah Organik terdiri dari bahan - bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang diambil dari alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan atau yang lain. Sampah ini dengan mudah diuraikan dalam proses alami. Sampah rumah tangga sebagian besar merupakan bahan organik, misalnya sampah dari dapur, sisa tepung, sayuran dll.  Sampah Anorganik Sampah Anorganik berasal dari sumber daya alam tak terbarui seperti mineral dan minyak bumi, atau dari proses industri. Beberapa dari bahan ini tidak terdapat di alam seperti plastik dan aluminium. Sebagian zat anorganik secara keseluruhan tidak dapat diuraikan oleh alam, sedang sebagian lainnya hanya dapat diuraikan dalam waktu yang sangat lama. Sampah jenis ini pada tingkat rumah tangga, misalnya berupa tas plastic dan botol kaleng Kertas, koran, dan karton merupakan pengecualian. Berdasarkan asalnya, kertas, koran, dan karton termasuk sampah organik. Tetapi karena kertas, koran, dan karton dapat didaur ulang seperti sampah anorganik lain (misalnya gelas, kaleng, dan plastik), maka dimasukkan ke dalam kelompok sampah anorganik. 2. Dampak Sampah bagi Manusia dan lingkungan Sudah kita sadari bahwa pencemaran lingkungan akibat perindustrian maupun rumah tangga sangat merugikan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Melalui kegiatan perindustrian dan teknologi diharapkan kualitas kehidupan dapat lebih ditingkatkan. Namun seringkali peningkatan teknologi juga menyebabkan dampak negatif yang tidak sedikit. Dampak bagi kesehatan Lokasi dan pengelolaan sampah yang kurang memadai (pembuangan sampah yang tidak terkontrol) merupakan tempat yang cocok bagi beberapa organisme dan menarik bagi berbagai binatang seperti lalat dan anjing yang dapat menimbulkan penyakit.
  • Potensi bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut: o Penyakit diare, kolera, tifus menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur air minum. Penyaki t demam berdarah (haemorhagic fever) dapat juga meningkat dengan cepat di daerah yang pengelolaan sampahnya kurang memadai. o Penyakit jamur dapat juga menyebar (misalnya jamur kulit). o Penyakit yang dapat menyebar melalui rantai makanan. Salah satu contohnya adalah suatu penyakit yang dijangkitkan oleh cacing pita (taenia). Cacing ini sebelumnya masuk ke dalam pencernakan binatang ternak melalui makanannya yang berupa sisa makanan/sampah. o Sampah beracun: Telah dilaporkan bahwa di Jepang kira - kira 40.000 orang meninggal akibat mengkonsumsi ikan yang telah terkontaminasi oleh raksa (Hg). Raksa ini berasal dari sampah yang dibuang ke laut oleh pabrik yang memproduksi baterai dan akumulator. Dampak Terhadap Lingkungan Cairan rembesan sampah yang masuk ke dalam drainase atau sungai akan mencemari air. Berbagai organisme termasuk ikan dapat mati sehingga beberapa spesies akan lenyap, hal ini mengakibatkan berubahnya ekosistem perairan biologis. Penguraian sampah yang dibuang ke dalam air akan menghasilkan asam organic dan gas - cair organik, seperti metana. Selain berbau kurang sedap, gas ini dalam konsentrasi tinggi dapat meledak.
  • Dampak terhadap keadaan social dan ekonomi o Pengelolaan sampah yang kurang baik akan membentuk lingkungan yang kurang menyenangkan bagi masyarakat: bau yang tidak sedap dan pemandangan yang buruk karena sampah bertebaran dimana - mana. o Memberikan dampak negatif terhadap kepariwisataan. o Pengelolaan sampah yang tidak memadai menyebabkan rendahnya tingkat kesehatan masyarakat. Hal penting di sini adalah meningkatnya pembiayaan secara langsung (untuk mengobati orang sakit) dan pembiayaan secara tidak langsung (tidak masuk kerja, rendahnya produktivitas). o Pembuangan sampah padat ke badan air dapat menyebabkan banjir dan akan memberikan dampak bagi fasilitas pelayanan umum seperti jalan, jembatan, drainase, dan lain - lain. o Infrastruktur lain dapat juga dipengaruhi oleh pengelolaan sampah yang tidak memadai, seperti tingginya biaya yang diperlukan untuk pengolahan air. Jika sarana penampungan sampah kurang atau tidak efisien, orang akan cenderung membuang sampahnya di jalan. Hal ini mengakibatkan jalan perlu lebih sering dibersihkan dan diperbaiki. 3. Bahaya Sampah Plastik bagi Kesehatan dan Lingkungan NETIZEN Salah satu faktor yang menyebabkan rusaknya lingkungan hidup yang sampai saat ini masih tetap menjadi “PR” besar bagi bangsa Indonesia adalah faktor pembuangan limbah sampah plastik. Kantong plastic telah menjadi sampah yang berbahaya dan sulit dikelola. Diperlukan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk membuat sampah bekas kantong plastic itu benar - benar terurai. Namun yang menjadi persoalan adalah dampak negatif sampah plastic ternyata sebesar fungsinya juga. Dibutuhkan waktu 1000 tahun agar plastik dapat terurai oleh tanah secara terdekomposisi atau terurai dengan sempurna. Ini adalah sebuah waktu yang sangat lama. Saat terurai, partikel - partikel plastik akan mencemari tanah dan air tanah. Jika dibakar, sampah plastic akan menghasilkan asap beracun yang berbahaya bagi kesehatan yaitu jika proses pembakaranya tidak sempurna, plastik akan mengurai di udara sebagai dioksin. Senyawa ini sangat berbahaya bila terhirup manusia. Dampaknya antara lain memicu penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan system saraf dan
  • memicu depresi. Kantong plastic juga penyebab banjir, karena menyumbat saluran saluran air, tanggul. Sehingga mengakibatkan banjir bahkan yang terparah merusak turbin waduk. Diperkirakan 500 juta hingga satu miliar kantong plastik digunakan di dunia tiap tahunnya. Jika sampah – sampah ini dibentangkan maka, dapat membukus permukaan bumi setidaknya hingga 10 kali lipat! Coba anda bayangkan begitu fantastisnya sampah plastik yang sudah terlampau menggunung di bumi kita ini. Dan tahukah anda ? Setiap tahun, sekitar 500 milyar – 1 triliyun kantong plastic digunakan di seluruh dunia. Diperkirakan setiap orang menghabiskan 170 kantong plastic setiap tahunnya (coba kalikan dengan jumlah penduduk kotamu!) Lebih dari 17 milyar kantong plastik dibagikan secara gratis oleh supermarket di seluruh dunia setiap tahunnya. Kantong plastic mulai marak digunakan sejak masuknya supermarket di kota - kota besar. Sejak proses produksi hingga tahap pembuangan, sampah plastic mengemisikan gas rumah kaca ke atmosfer. Kegiatan produksi plastic membutuhkan sekitar 12 juta barel minyak dan 14 juta pohon setiap tahunnya. Proses produksinya sangat tidak hemat energi. Pada tahap pembuangan di lahan penimbunan sampah (TPA), sampah plastik mengeluarkan gas rumah kaca. 4. Usaha Pengendalian Sampah Untuk menangani permasalahan sampah secara menyeluruh perlu dilakukan alternatif pengolahan yang benar. Teknologi landfill yang diharapkan dapat menyelesaikan masalah lingkungan akibat sampah, justru memberikan permasalahan lingkungan yang baru. Kerusakan tanah, air tanah, dan air permukaan sekitar akibat air lindi, sudah mencapai tahap yang membahayakan kesehatan masyarakat, khususnya dari segi sanitasi lingkungan. Gambaran yang paling mendasar dari penerapan teknologi lahan urug saniter (sanitary landfill) adalah kebutuhan lahan dalam jumlah yang cukup luas untuk tiap satuan volume sampah yang akan diolah. Teknologi ini memang direncanakan untuk suatu kota yang memiliki lahan dalam jumlah yang luas dan murah. Pada kenyataannya lahan di berbagai kota besar di Indonesia dapat dikatakan sangat terbatas dan dengan harga yang tinggi pula. Dalam hal ini, penerapan lahan urug saniter sangatlah tidak sesuai.
  • Berdasarkan pertimbangan di atas, dapat diperkirakan bahwa teknologi yang paling tepat untuk pemecahan masalah di atas, adalah teknologi pemusnahan sampah yang hemat dalam penggunaan lahan. Konsep utama dalam pemusnahan sampah selaku buangan padat adalah reduksi volume secara maksimum. Salah satu teknologi yang dapat menjawab tantangan tersebut adalah teknologi pembakaran yang terkontrol atau insinerasi, dengan menggunakan insinerator. Teknologi insinerasi membutuhkan luas lahan yang lebih hemat, dan disertai dengan reduksi volume residu yang tersisa ( fly ash dan bottom ash ) dibandingkan dengan volume sampah semula. Ternyata pelaksanaan teknologi ini justru lebih banyak memberikan dampak negative terhadap lingkungan berupa pencemaran udara. Produk pembakaran yang terbentuk berupa gas buang COx, NOx, SOx, partikulat, dioksin, furan, dan logam berat yang dilepaskan ke atmosfer harus dipertimbangkan. Selain itu proses insinerator menghasilakan Dioxin yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan, misalnya kanker, system kekebalan, reproduksi, dan masalah pertumbuhan. Global Anti - Incenatot Alliance (GAIA) juga menyebutkan bahwa incinerator juga merupakan sumber utama pencemaran Merkuri. Merkuri merupakan racun saraf yang sangat kuat, yang mengganggu sistem motorik, sistem panca indera dan kerja sistem kesadaran. Belajar dari kegagalan program pengolahan sampah di atas, maka paradigma penanganan sampah sebagai suatu produk yang tidak lagi bermanfaat dan cenderung untuk dibuang begitu saja harus diubah. Produksi Bersih (Clean Production) merupakan salah satu pendekatan untuk merancang ulang industri yang bertujuan untuk mencari cara - cara pengurangan produk - produk samping yang berbahaya, mengurangi polusi secara keseluruhan, dan menciptakan produk-produk dan limbah-limbahnya yang aman dalam kerangka siklus ekologis. 5. Prinsip - prinsip Produksi Bersih Prinsip - prinsip yang juga bisa diterapkan dalam keseharian, misalnya, dengan menerapkan Prinsip 4R, yaitu: Reduce (Mengurangi); sebisa mungkin lakukan minimalisasi barang atau material yang kita pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan. Re-use (Memakai kembali); sebisa mungkin pilihlah barang - barang yang bisa
  • dipakai kembali. Hindari pemakaian barang - barang yang disposable (sekali pakai, buang). Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah. Recycle (Mendaur ulang); sebisa mungkin, barang - barang yang sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang. Tidak semua barang bisa didaur ulang, namun saat ini sudah banyak industri non formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain. Teknologi daur ulang, khususnya bagi sampah plastik, sampah kaca, dan sampah logam, merupakan suatu jawaban atas upaya memaksimalkan material setelah menjadi sampah, untuk dikembalikan lagi dalam siklus daur ulang material tersebut. Replace ( Mengganti); teliti barang yang kita pakai sehari - hari. Gantilah barang barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. Juga telitilah agar kita hanya memakai barang – barang yang lebih ramah lingkungan, Misalnya, ganti kantong keresek kita dengan keranjang bila berbelanja, dan jangan pergunakan Styrofoam karena kedua bahan ini tidak bisa didegradasi secara alami. Selain itu, untuk menunjang pembangunan yang berkelanjutan ( sustainable development ), saat ini mulai dikembangkan penggunaan pupuk organic yang diharapkan dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia yang harganya kian melambung. Penggunaan kompos telah terbukti mampu mempertahankan kualitas unsure hara tanah, meningkatkan waktu retensi air dalam tanah, serta mampu memelihara mikroorganisme alami tanah yang ikut berperan dalam proses adsorpsi humus oleh tanaman. Penggunaan kompos sebagai produk pengolahan sampah organik juga harus diikuti dengan kebijakan dan strategi yang mendukung. Pemberian insentif bagi para petani yang hendak mengaplikasikan pertanian organic dengan menggunakan pupuk kompos, akan mendorong petani lainnya untuk menjalankan system pertanian organik. Kelangkaan dan makin membubungnya harga pupuk kimia saat ini, seharusnya dapat dimanfaatkan oleh pemerintah untuk mengembangkan system pertanian organik. 6. Peran Pemerintah dalam Menangani Sampah Dari perkembangan kehidupan masyarakat dapat disimpulkan bahwa penanganan masalah sampah tidak dapat semata - mata ditangani oleh Pemerintah Daerah (Pemerintah Kabupaten/Kota). Pada tingkat perkembangan kehidupan masyarakat dewasa ini memerlukan pergeseran ke pendekatan sumber dan perubahan paradigma yang pada
  • gilirannya memerlukan adanya campur tangan dari Pemerintah. Pengelolaan sampah meliputi kegiatan pengurangan, pemilahan, pengumpulan, pemanfaatan, pengangkutan, pengolahan. Berangkat dari pengertian pengelolaan sampah dapat disimpulkan adanya dua aspek, yaitu penetapan kebijakan (beleid, policy) pengelolaan sampah, dan pelaksanaan pengelolaan sampah.Kebijakan pengelolaan sampah harus dilakukan oleh Pemerintah Pusat karena mempunyai cakupan nasional. Kebijakan pengelolaan sampah ini meliputi : Penetapan instrumen kebijakan: instrumen regulasi: penetapan aturan kebijakan (beleidregels), undang - undang dan hukum yang jelas tentang sampah dan perusakan lingkungan instrumen ekonomik: penetapan instrumen ekonomi untuk mengurangi beban penanganan akhir sampah (system insentif dan disinsentif) dan pemberlakuan pajak bagi perusahaan yang menghasilkan sampah, serta melakukan uji dampak lingkungan. Mendorong pengembangan upaya mengurangi (reduce), memakai kembali (re - use), dan mendaur – ulang (recycling) sampah, dan mengganti (replace), Pengembangan produk dan kemasan ramah lingkungan, Pengembangan teknologi, standar dan prosedur penanganan sampah: Penetapan kriteria dan standar minimal penentuan lokasi penanganan akhir sampah, penetapan lokasi pengolahan akhir sampah, luas minimal lahan untuk lokasi pengolahan akhir sampah, penetapan lahan penyangga. 7. Kompos, Alternatif Problem Sampah Sampah terdiri dari dua bagian, yaitu bagian organic dan anorganik. Rata - rata persentase bahan organik sampah mencapai ±80%, sehingga pengomposan merupakan alternatif penanganan yang sesuai. Pengomposan dapat mengendalikan bahaya pencemaran yang mungkin terjadi dan menghasilkan keuntungan. Teknologi pengomposan sampah sangat beragam, baik secara aerobic maupun anaerobik, dengan atau tanpa bahan tambahan. Pengomposan merupakan penguraian dan pemantapan bahan – bahan organik secara biologis dalam temperature thermophilic (suhu tinggi) dengan hasil akhir berupa bahan yang cukup bagus untuk diaplikasikan ke tanah. Pengomposan dapat dilakukan secara bersih dan tanpa menghasilkan kegaduhan di dalam maupun di luar ruangan. Teknologi pengomposan sampah sangat beragam, baik secara aerobik maupun anaerobik, dengan atau tanpa bahan tambahan. Bahan tambahan yang biasa digunakan
  • Activator Kompos seperti Green Phoskko Organic Decomposer dan SUPERFARM (Effective Microorganism) atau menggunakan cacing guna mendapatkan kompos (vermicompost). Keunggulan dari proses pengomposan antara lain teknologinya yang sederhana, biaya penanganan yang relatif rendah, serta dapat menangani sampah dalam jumlah yang banyak (tergantung luasan lahan). Pengomposan secara aerobik paling banyak digunakan, karena mudah dan murah untuk dilakukan, serta tidak membutuhkan control proses yang terlalu sulit. Dekomposisi bahan dilakukan oleh mikroorganisme di dalam bahan itu sendiri dengan bantuan udara. Sedangkan pengomposan secara anaerobic memanfaatkan mikroorganisme yang tidak membutuhkan udara dalam mendegradasi bahan organik. Hasil akhir dari pengomposan ini merupakan bahan yang sangat dibutuhkan untuk kepentingan tanah - tanah pertanian di Indonesia, sebagai upaya ntuk memperbaiki sifat kimia, fisika dan biologi tanah, sehingga produksi tanaman menjadi lebih tinggi. Kompos yang dihasilkan dari pengomposan sampah dapat digunakan untuk menguatkan struktur lahan kritis, menggemburkan kembali tanah pertanian, menggemburkan kembali tanah pertamanan, sebagai bahan penutup sampah di TPA, eklamasi pantai pasca penambangan, dan sebagai media tanaman, serta mengurangi penggunaan pupuk kimia. Bahan baku pengomposan adalah semua material organik yang mengandung karbon dan nitrogen, seperti kotoran hewan, sampah hijauan, sampah kota, lumpur cair dan limbah industri pertanian.
  • BAB III METEDOLOGI PENELITIAN Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah merupakan konsep buatan manusia, dalam proses - proses alam tidak ada sampah, yang ada hanya produk - produk yang tak bergerak. Sampah dapat berada pada setiap fase materi: padat, cair, atau gas. Ketika dilepaskan dalam dua fase yang disebutkan terakhir, terutama gas, sampah dapat dikatakan sebagai emisi. Emisi biasa dikaitkan dengan polusi. Dalam kehidupan manusia, sampah dalam jumlah besar datang dari aktivitas industri (dikenal juga dengan sebutan limbah), misalnya pertambangan, manufaktur, dan konsumsi. Hampir semua produk industry akan menjadi sampah pada suatu waktu, dengan jumlah sampah yang kira - kira mirip dengan jumlah konsumsi. Upaya yang dilakukan pemerintah dalam usaha mengatasi masalah sampah yang saat ini mendapatkan tanggapan pro dan kontra dari masyarakat adalah pemberian pajak lingkungan yang dikenakan pada setiap produk industry yang akhirnya akan menjadi sampah. Industri yang menghasilkan produk dengan kemasan, tentu akan memberikan sampah berupa kemasan setelah dikonsumsi oleh konsumen. Industri diwajibkan membayar biaya pengolahan sampah untuk setiap produk yang dihasilkan, untuk penanganan sampah dari produk tersebut. Dana yang terhimpun harus dibayarkan pada pemerintah selaku pengelola IPS untuk mengolah sampah kemasan yang dihasilkan. Pajak lingkungan ini dikenal sebagai Polluters Pay Principle. Solusi yang diterapkan dalam hal sistem penanganan sampah sangat memerlukan dukungan dan komitmen pemerintah. Tanpa kedua hal tersebut, sistem penanganan sampah tidak akan lagi berkesinambungan. Tetapi dalam pelaksanaannya banyak terdapat benturan, di satu sisi, pemerintah memiliki keterbatasan pembiayaan dalam sistem penanganan sampah. Namun di sisi lain, masyarakat akan membayar biaya sosial yang tinggi akibat rendahnya kinerja sistem penanganan sampah. Sebagai contoh, akibat tidak tertanganinya sampah selama beberapa hari di Kota Bandung, tentu dapat dihitung berapa besar biaya pengelolaan lingkungan yang harus dikeluarkan akibat pencemaran udara ( akibat bau ) dan air lindi, berapa besar
  • biaya pengobatan masyarakat karena penyakit bawaan sampah ( municipal solid waste borne disease ), hingga menurunnya tingkat produktifitas masyarakat akibat gangguan bau sampah. BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian tentang sampah yang ada di Indonesia serta seluk beluknya dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis. 2. Pembakaran plastik menghasilkan salah satu bahan paling berbahaya di dunia, yaitu Dioksin. Selain dioksin, abu hasil pembakaran juga berisi berbagai logam berat yang terkandung di dalam plastik. 3. Sebagian zat anorganik secara keseluruhan tidak dapat diuraikan oleh alam, sedang sebagian lainnya hanya dapat diuraikan dalam waktu yang sangat lama. 4. Penyakit diare, kolera, tifus menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur air minum. 5. Cairan rembesan sampah yang masuk ke dalam drainase atau sungai akan mencemari air. Berbagai organisme termasuk ikan dapat mati sehingga beberapa spesies akan lenyap, hal ini mengakibatkan berubahnya ekosistem perairan biologis. 6. Pembuangan sampah padat ke badan air dapat menyebabkan banjir dan akan memberikan dampak bagi fasilitas pelayanan umum seperti jalan, jembatan, drainase, dan lain - lain. 7. Dibutuhkan waktu 1000 tahun agar plastic dapat terurai oleh tanah secara terdekomposisi atau terurai dengan sempurna. 8. Setiap tahun, sekitar 500 milyar – 1 triliyun kantong plastic digunakan di seluruh dunia. Diperkirakan setiap orang menghabiskan 170 kantong plastic setiap tahunnya 9. Produksi Bersih (Clean Production) merupakan salah satu pendekatan untuk merancang ulang industri yang bertujuan untuk mencari cara - cara pengurangan produk - produk
  • samping yang berbahaya, mengurangi polusi secara keseluruhan, dan menciptakan produkproduk dan limbah-limbahnya yang aman dalam kerangka siklus ekologis. 10. Pengomposan merupakan penguraian dan pemantapan bahan – bahan organik secara biologis dalam temperature thermophilic (suhu tinggi) dengan hasil akhir berupa bahan yang cukup bagus untuk diaplikasikan ke tanah. Pengomposan dapat dilakukan secara bersih dan tanpa menghasilkan kegaduhan di dalam maupun di luar ruangan. B. Saran 1. Cara pengendalian sampah yang paling sederhana adalah dengan menumbuhkan kesadaran dari dalam diri untuk tidak merusak lingkungan dengan sampah. Selain itu diperlukan juga control sosial budaya masyarakat untuk lebih menghargai lingkungan, walaupun kadang harus dihadapkan pada mitos tertentu. Peraturan yang tegas dari pemerintah juga sangat diharapkan karena jika tidak maka para perusak lingkungan akan terus merusak sumber daya. 2. Keberadaan Undang - Undang persampahan dirasa sangat perlukan. Undang - Undang ini akan mengatur hak, kewajiban, wewenang, fungsi dan sanksi masing - masing pihak. UU juga akan mengatur soal kelembagaan yang terlibat dalam penanganan sampah. Menurut dia, tidak mungkin konsep pengelolaan sampah berjalan baik di lapangan jika secara infrastruktur tidak didukung oleh departemen - departemen yang ada dalam pemerintahan. 3. Demikian pula pengembangan sumber daya manusia (SDM). Mengubah budaya masyarakat soal sampah bukan hal gampang. Tanpa ada transformasi pengetahuan, pemahaman, kampanye yang kencang. Ini tak bisa dilakukan oleh pejabat setingkat 4. Kepala Dinas seperti terjadi sekarang. Itu harus melibatkan dinas pendidikan dan kebudayaan, departemen agama, dan mungkin Depkominfo. 5. Di beberapa negara, seperti Filipina, Kanada, Amerika Serikat, dan Singapura yang mengalami persoalan serupa dengan Indonesia, sedikitnya 14 departemen dilibatkan di bawah koordinasi langsung presiden atau perdana menteri.
  • Karya Ilmiah Tentang Sampah 06.07 Blog Of Edu and so on No comments Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan banyaknya sampah disekitar kita, banyak orang yang tidak peduli dengan berserakannya sampah dimana-mana. Padahal sampah-sampah yang sering kita lihat itu masih bisa di daur ulang atau di manfaatkan. Sampah adalah Material atau barang yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Seperti bungkus plastik, kertas, gelas minuman, Sisa makanan, kertas barang-barang dari plastik, kain-kain bekas, tisu, botol-botol, bahkan mungkin sampai mainan-mainan atau peralatan rumah dan kendaraan yang tak terpakai lagi serta masih banyak lagi. Jika kita sedang jalan-jalan, coba lihat tempat sampah di wilayah pertokoan. Tempat sampah disana mungkin jadi menggunung dengan kardus-kardus bekas, kemasan styrofoam, kantong plastik, sisa-sisa makanan dari restoran, dan macam sampah yang lainnya. Sampah tersebut seharusnya tidak langsung di buang, kita kelompokkan masing-masing sampah tersebut. Lalu kita mencoba untuk mendaur ulang sampah itu. Seperti sampah plastik, kita lihat di televisi, bungkus makanan dapat dijadian berbagai macam souvenir seperti tas, dompet, dan payung plastik. Dalam kehidupan sehari hari, kita sering melihat sampah yang berserakan disekitar kita. Seperti yang kita lihat di berita, sampah yang tidak bisa di atasi di Jakarta dan daerah lainnya. Maka seharusnya sampah itu harus di pisah, karena sampah yang sering kita lihat itu masih bisa di daur ulang. Maka penulis merasa sampah yang tidak berguna itu bisa menjadi barang yang bernilai ekonomis. Penulis memilih judul “PENGOLAHAN SAMPAH yang BERNILAI EKONOMIS” karena banyak orang yang beranggapan sampah itu tidak ada gunanya. Dengan menulis karya ilmiah ini, semua orang bisa mengolah sampah menjadi barang yang bernilai ekonomis. 1.2 Rumusan Masalah
  • 1 Mengapa sampah dianggap tidak berguna ? 2 Mengapa hanya sedikit orang yang bisa mengolah sampah menjadi barang yang berguna ? 3 Bagaimana cara supaya orang tidak menyia-nyiakan sampah ? 4 Bagaimana cara mengolah sampah menjadi barang yang bernilai ekonomis ? 1.3 Tujuan Penulisan 1.3.1 Tujuan Umum 1 Dapat menambah wawasan tentang cara mengolah sampah. 2 Dapat mengetahui tentang cara mengolah sampah. 1.3.2 Tujuan Khusus 1 Sebagai pengalaman dalam penyusunan karya tulis 2 Untuk memenuhi tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia 3 Untuk syarat mengikuti Ujian Nasional 1.5 Metode Penulisan Dalam menulis karya ilmiah ini untuk memperoleh informasi-informasi yang dibutuhkan, penulis menggunakan metode penulisan sebagai berikut : 1.5.1 Metode Media Massa Metode media massa yaitu penulis mencari sumber di internet dan sumber lainnya yang berkaitan dengan karya ilmiah ini. 1.5.2 Metode Studi Pustaka Metode studi pustaka yaitu penulis membaca buku-buku dan kumpulan mata pelajaran yang berkaitan dengan karya ilmiah ini.
  • BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengolahan dan Pengelolaan 2.1.1 Pengolahan adalah Metode yang digunakan untuk mengubah barang yang tidak berguna menjadi barang yang bisa dimanfaatkan. Pengelolaan sampah adalah pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, pendau rulangan, atau pembuangan dari material sampah. Kalimat ini biasanya mengacu pada material sampah yg dihasilkan dari kegiatan manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan atau keindahan. Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam. Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat, cair, gas, atau radioaktif dengan metode dan keahlian khusus untuk masing masing jenis zat. Praktek pengelolaan sampah berbeda beda antara Negara maju dan Negara berkembang, berbeda juga antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan, berbeda juga antara daerah perumahan dengan daerah industri. Pengelolaan sampah yg tidak berbahaya dari pemukiman dan institusi di area metropolitan biasanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, sedangkan untuk sampah dari area komersial dan industri biasanya ditangani oleh perusahaan pengolah sampah. Metode pengelolaan sampah berbeda beda tergantung banyak hal, diantaranya tipe zat sampah, tanah yg digunakan untuk mengolah dan ketersediaan area. 2.1.2 Tujuan Pengelolaan Sampah  Mengubah sampah yang tidak berguna menjadi sampah yang baernilai ekonomis  Supaya lingkungan menjadi indah dan bebas dari sampah organik maupun an-organik  Mengubah sampah menjadi material yang tidak berbahaya bagi lingkungan hidup 2.1.3 Metode Pembuangan dan Daur Ulang Metode Pembuangan  Pembuangan Darat
  • Pembuangan sampah pada penimbunan darat termasuk menguburnya untuk membuang sampah, metode ini adalah metode paling populer di dunia. Penimbunan ini biasanya dilakukan di tanah yg ditinggalkan , lubang bekas pertambangan , atau lubang lubang dalam. Sebuah situs penimbunan darat yg di desain dan di kelola dengan baik akan menjadi tempat penimbunan sampah yang hiegenis dan murah. Sedankan penimbunan darat yg tidak dirancang dan tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan berbagai masalah lingkungan, diantaranya angin berbau sampah, menarik berkumpulnya Hama, dan adanya genangan air sampah. Efek samping lain dari sampah adalah gas methan dan karbon dioksida yang juga sangat berbahaya. (di bandung kandungan gas methan ini meledak dan melongsorkan gunung sampah). Karakter desain dari penimbunan darat yang modern diantaranya adalah metode pengumpulan air sampah menggunakan bahan tanah liat atau pelapis plastik.Sampah biasanya dipadatkan untuk menambah kepadatan dan kestabilannya , dan ditutup untuk tidak menarik hama (biasanya tikus). Banyak penimbunan samapah mempunyai sistem pengekstrasi gas yang terpasang untuk mengambil gas yang terjadi. Gas yang terkumpul akan dialirkan keluar dari tempat penimbunan dan dibakar di menara pemabakar atau dibakar di mesin berbahan bakar gas untuk membangkitkan listrik.  Pembakaran atau Pengkremasian Pembakaran adalah metode yang melibatkan pembakaran zat sampah. Pengkremasian dan pengelolaan sampah lain yg melibatkan temperatur tinggi biasa disebut "Perlakuan panas". kremasi merubah sampah menjadi panas, gas, uap dan abu. Pengkremasian dilakukan oleh perorangan atau oleh industri dalam skala besar. Hal ini bisa dilakukan untuk sampah padat , cari maupun gas. Pengkremasian dikenal sebagai cara yang praktis untuk membuang beberapa jenis sampah berbahaya, contohnya sampah medis (sampah biologis). Pengkremasian adalah metode yang kontroversial karena menghasilkan polusi udara. Pengkremasian biasa dilakukan dinegara seperti jepang dimana tanah begitu terbatas ,karena fasilitas ini tidak membutuhkan lahan seluas penimbunan darat. Sampah menjadi energi (wasteto-energy) Sampah menjadi energi atau energi dari sampah adalah terminologi untuk menjelaskan sampah yang dibakar dalam tungku dan boiler guna menghasilkan panas uap listrik. Pembakaran pada alat kremasi tidaklah selalu sempurna, ada keluhan adanya polusi mikro dari emisi gas yang keluar cerobongnya. Perhatian lebih diarahkan pada zat dioxin yang kemungkinan dihasilkan di dalam pembakaran dan mencemari lingkungan sekitar pembakaran.
  • Dilain pihak , pengkremasian seperti ini dianggap positif karena menghasilkan listrik , contoh di Indonesia adalah rencana PLTSa Gede Bage di sekitar kota Bandung. 2.1.4 Metode Daur Ulang Proses pengambilan barang yang masih memiliki nilai dari sampah untuk digunakan kembali disebut sebagai daur ulang.Ada beberapa cara daur ulang, mengambil bahan sampahnya untuk diproses lagi atau mengambil pertama adalah kalori dari bahan yang bisa dibakar utnuk membangkitkan listik.  Pengelolaan Kembali Secara Fisik Metode ini adalah aktivitas paling populer dari daur ulang, yaitu mengumpulkan dan menggunakan kembali sampah yang dibuang contohnya botol bekas pakai yang dikumpulkan kembali untuk digunakan kembali. Pengumpulan bisa dilakukan dari sampah yang sudah dipisahkan dari awal (kotak sampah/kendaraan sampah khusus), atau dari sampah yang sudah tercampur. Sampah yang biasa dikumpulkan adalah kaleng minum aluminum , kaleng baja makanan/minuman, Botol HDPE dan PET, botol kaca, kertas karton, koran, majalah, dan kardus. Jenis plastik lain seperti (PVC, LDPE, PP, dan PS) juga bisa di daur ulang.Daur ulang dari produk yang komplek seperti komputer atau mobil lebih susah, karena harus bagian bagiannya harus diurai dan dikelompokan menurut jenis bahannya.  Pengelolaan Biologis Material sampah organik, seperti zat tanaman, sisa makanan atau kertas, bisa diolah dengan menggunakan proses biologis untuk kompos, atau dikenal dengan istilah pengkomposan. Hasilnya adalah kompos yang bisa digunakan sebagi pupuk dan gas methana yang bisa digunakan untuk membangkitkan listrik. Contoh dari pengelolaan sampah menggunakan teknik pengkomposan adalah Green Bin Program (program tong hijau) di Toronto, Kanada, dimana sampah organik rumah tangga, seperti sampah dapur dan potongan tanaman dikumpulkan di kantong khusus untuk di komposkan.  Pemulihan Energi Kandungan energi yang terkandung dalam sampah bisa diambil langsung dengan cara menjadikannya bahan bakar, atau secara tidak langsung dengan cara mengolahnya menjadi
  • bahan bakar tipe lain. Daur-ulang melalui cara "perlakuan panas" bervariasi mulai dari menggunakannya sebakai bahan bakar memasak atau memanaskan sampai menggunakannya untuk memanaskan boiler untuk menghasilkan uap dan listrik dari turbin-generator. Pirolisa dan gasifikasi adalah dua bentuk perlakukan panas yang berhubungan, dimana sampah dipanaskan pada suhu tinggi dengan keadaan miskin oksigen. Proses ini biasanya dilakukan di wadah tertutup pada tekanan tinggi. Pirolisa dari sampah padat mengubah sampah menjadi produk berzat padat, gas, dan cair. Produk cair dan gas bisa dibakar untuk menghasilkan energi atau dimurnikan menjadi produk lain. Padatan sisa selanjutnya bisa dimurnikan menjadi produk seperti karbon aktif. Gasifikasi dan Gasifikasi busur plasma yang canggih digunakan untuk mengkonversi material organik langsung menjadi Gas sintetis (campuran antara karbon monoksida dan hidrogen). Gas ini kemudian dibakar untuk menghasilkan listrik dan uap. 2.1.5 Metode Pencegahan dan Pengurangan Sebuah metode yang penting dari pengelolaan sampah adalah pencegahan zat sampah terbentuk, atau dikenal juga dengan "pengurangan sampah". Metode pencegahan termasuk penggunaan kembali barang bekas pakai , memperbaiki barang yang rusak , mendesain produk supaya bisa diisi ulang atau bisa digunakan kembali (seperti tas belanja katun menggantikan tas plastik ), mengajak konsumen untuk menghindari penggunaan barang sekali pakai (contohnya kertas tissue) ,dan mendesain produk yang menggunakan bahan yang lebih sedikit untuk fungsi yang sama (contoh, pengurangan bobot kaleng minuman). 2.1.6 Manfaat Pengolahan Sampah     Penghematan sumber daya alam Penghematan energi Penghematan lahan TPA Lingkungan asri (bersih, sehat, nyaman) Karya Ilmiah Tentang Sampah KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan rahmat-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan karya ilmiah ini yang berjudul “PENGOLAHAN SAMPAH”.Karya ilmiah ini di susun sebagai salah satu tugas mata pelajaran biologi
  • Aktifitas manusia dalam memanfaatkan alam selalu meninggalkan sisa yang dianggapnya sudah tidak berguna lagi sehingga diperlakukannya sebagai barang buangan yang disebut sampah. Sampah secara sederhana diartikan sebagai sampah organik dan anorganik yang dibuang oleh masyarakat dari berbagai lokasi di suatu daerah. Sumber sampah umumnya berasal dari perumahan dan pasar. Pengelolaan sampah diantaranya dapat dimanfaatkan menjadi pupuk cair organik yang didalamnya terkandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman, perbaikan struktur tanah dan zat yang dapat mengurangi bakteri yang merugikan dalam tanah. Pupuk organik biasanya tidak meninggalkan residu / sisa dalam tanaman sehingga hasil tanaman akan aman bila dikonsumsi. Dalam penyusunan karya ilmiah,ini kami telah berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuankami. Namun sebagai manusia biasakami tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan baik dari segi tekhnik penulisan maupun tata bahasa. Tetapi walaupun demikian kami berusaha sebisa mungkin menyelesaikan karya ilmiah meskipun tersusun sangat sederhana. Demikian semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi penulis dan para pembaca pada umumnya. Kami mengharapkan saran serta kritik dari berbagai pihak yang bersifat membangun. Penulis Juni,2012 DAFTAR ISI Kata pengantar ……………………………………………………………………………………………………………………….i
  • Daftar isi ………………………………………………………………………………………………………………………………..ii Bab 1 Pendahuluan………………………………………………………………………………………………………………….1 1.1 Latar Belakang Masalah………………………………………………………………………………………………1 1.2 Identifikasi Masalah……………………………………………………………………………………………………1 1.3 Rumusan Masalah………………………………………………………………………………………………………2 1.4 Tujuan Penelitian……………………………………………………………………………………………………….2 1.5 Manfaat Penelitian…………………………………………………………………………………………………….2 BAB 2 Pembahasan………………………………………………………………………………………………………………..3 1.1 Pengertian Sampah……………………………………………………………………………………………………3 1.2 Jenis-jenis Sampah…………………………………………………………………………………………………….3 1.3 Prinsip pengolahan sampah……………………………………………………………………………………….5 1.4 Pengolahan Sampah………………………………………………………………………………………………….6 1.5 Cara Pengolahan Sampah………………………………………………………………………………………….8 Bab 3 Penutup………………………………………………………………………………………………………………………10 1.1 Kesimpulan………………………………………………………………………………………………………………10 1.2 Saran……………………………………………………………………………………………………………………….10 Daftar Pustaka……………………………………………………………………………………………………………………..11 BAB I
  • PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kebersihan pangkal kesehatan, kata-kata ini sudah tidak asing bagi kita.Di suatu lingkungn sekoah seringkali sebuah sekolah mengalami permasalahan tentang kebersihan.Hal ini di sebabkan oleh para siswa yang membuang sampah sembarangan. Sampah merupakan masalah yang dihadapi hampir seluruh Negara di dunia. Tidak hanya di Negaranegara berkembang, tetapi juga di Negara-negara maju, sampah selalu menjadi masalah. Rata-rata setiap harinya kota-kota besar di Indonesia menghasilkan puluhan ton sampah. Sampah-sampah itu diangkut oleh truk-truk khusus dan dibuang atau ditumpuk begitu saja di tempat yang sudah disediakan tanpa diapa-apakan lagi. Dari hari ke hari sampah itu terus menumpuk dan terjadilah bukit sampah seperti yang sering kita lihat. Sampah yang menumpuk itu, sudah tentu akan mengganggu penduduk di sekitarnya. Selain baunya yang tidak sedap, sampah sering dihinggapi lalat. Dan juga dapat mendatangkan wabah penyakit. Walaupun terbukti sampah itu dapat merugikan, tetapi ada sisi manfaatnya. Hal ini karena selain dapat mendatangkan bencana bagi masyarakat, sampah juga dapat diubah menjadi barang yang bermanfaat. Kemanfaatan sampah ini tidak terlepas dari penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menanganinya. 1.2 Identifikasi Masalah berdasarkan latar belakang di atas,maka dapat di identifikasikan masalah sebagai berikut : 1.Bagaimana cara mengatasi sampah di sekitar kita ? 2. Bagaimana cara mengelola sampah tersebut ? 3. Bagaimana agar sampah tersebut dapat di manfaatkan dalam kehidupa sehari-hari ? 1.3 Rumusan Masalah Dari identifikasi masalah di atas,di rumuskan suatu masalah yang akan di bahas dalam kary ilmiah ini yaitu : Bagaimana cara penanggulangan sampah di sekitar kita serta cara pengelolaan sampah tersebut agar dapat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. 1.4 Tujuan Penelitian
  • Tujuan penelitian merupakan hal yang hendak di capai dalam pedoman untuk melakukan suatu kegiatan yang telah di rumuskan.Adapun tujuan di adakannya penelitian ini adalah : 1.Untuk membangkitkan kesadaran kita untuk tidak membuang sampah sembarangan. 2. Untuk memberikan pengarahan bahwa membuang sampah pada tempatnya itu sangat penting. 4. Untuk mengetahui pengaruh sampah dalam kehidupan sehari-hari. 5. Untuk mengetahui jenis-jenis sampah 7. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang sampah 8. Untuk mengetahui cara mengolah sampah 9. Mencoba menganalisis dan memecahkan masalah tentang sampah. 1.5 Manfaat Penelitian 1.Penelitian ini dapat membuka wawasan kita tentang kondisi lingkungan di sekitar kita. 2.Menambah pengolahan pengetahuan bagi peneliti dan pembaca serta memperkenalkan manfaat Sampah. 3.Hasil penelitian ini di harapkan menjadi sumbangan ba siswa mengenai latar belakang pengolahan Sampah.
  • BAB II PEMBAHASAN 1. Pengertian sampah Sampah adalah barang yang dianggap sudah tidak terpakai dan dibuang oleh pemilik/pemakai sebelumnya, tetapi masih bisa dipakai kalau dikelola dengan prosedur yang benar.Menurut kamus istilah lingkungan,sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembikinan atau pemkaian barang rusak atau bercatat dalam pembikinan manufaktur atau materi berkelebihan atau di tolak atau buangan.Sedangkan kata bapak Dr.Tandjung,M.sc,sampah adalah sesuatu yang tidak berguna lagi,di buang oleh pemiliknya atau pemakai semula. Penumpukan sampah disebabkan oleh beberapa factor, diantaranya adalah volume sampah yang sangat besar sehingga malebihi kapasitas daya tampung tempat pembuangan sampah akhir (TPA), pengelolaan sampah dirasakan tidak memberikan dampak positif kepada lingkungan, dan kuranganya dukungan kebijakan dari pemerintah, terutama dalam memanfaatkan produk sampingan dari sampah yang menyebabkan tertumpuknya produk tersebut di tempat pembuangan akhir (TPA). Permasalahan sampah merupakan hal yang krusial. Bahkan, dapat diartikan sebagai masalah kultural karena dampaknya mengenai berbagai sisi kehidupan, terutama di kota besar. Berdasarkan perkiraan,volume sampah yang di hasilkan oleh manusia rata-rata sekitar 0,5 kg/perkapita/hari,sehingga untuk kota besar seperti Jakarta yang memiliki penduduk sekitar 10 juta orang menghasilkan sampah sekitar 5000 ton/hari. Bila tidak cepat ditangani secara benar, maka kota-kota besar tersebut akan tenggelam dalam timbunan sampah berbarengan dengan segala dampak negatif yang ditimbulkannya seperti pencemaran air, udara, tanah, dan sumber penyakit. Pada pengolahan sampah tidak ada teknologi tanpa meninggalkan sisa. Oleh sebab itu, pengolahan sampah membutuhkan lahan sebagai tempat pembuangan akhir (TPA). Sampah sebagai barang yang memiliki nilai tidak seharusnya diperlakukan sebagai barang yang menjijikan, melainkan harus dapat dimanfaatkan sebagai bahan mentah atau bahan yang berguna lainnya.Pengolahan sampah harus dilakukan dengan efisien dan efektif, yaitu sedekat mungkin dengan sumbernya, seperti RT/RW, sekolah, rumah tangga sehingga jumlah sampah dapat dikurangi. Pengelolaan sampah diantaranya dapat dimanfaatkan menjadi pupuk cair organik yang didalamnya terkandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman, perbaikan struktur tanah dan zat yang dapat mengurangi bakteri yang merugikan dalam tanah. Pupuk organik biasanya tidak meninggalkan residu / sisa dalam tanaman sehingga hasil tanaman akan aman bila dikonsumsi.
  • 2.Jenis –jenis sampah a.Berdasarkan sumbernya 1. Sampah alam Sampah yang diproduksi di kehidupan liar diintegrasikan melalui proses daur ulang alami,seperti halnya daun-daunan kering di hutan yang terurai menjaditanah . Di luar kehidupan liar, sampah-sampah ini dapat menjadi masalah, misalnya daun-daun kering di lingkungan pemukiman. 2.Sampah manusia Sampah manusia adalah istilah yang biasa digunakan terhadap hasil-hasil pencernaan manusia, seperti feses dan urin. Sampah manusia dapat menjadi bahaya serius bagi kesehatan karena dapat digunakan sebagai vektor(sarana perkembangan) penyakit yang disebabkanvirus dan bakteri. Salah satu perkembangan utama pada dialektika manusia adalah pengurangan penularan penyakit melalui sampah manusia dengan cara hidup yang higenis dansanitasi. Termasuk didalamnya adalah perkembangan teori penyaluran pipa (plumbing). Sampah manusia dapat dikurangi dan dipakai ulang misalnya melalui sistem urinoir tanpa air. 3.Sampah konsumsi Sampah konsumsi merupakan sampah yang dihasilkan oleh (manusia) pengguna barang, dengan kata lain adalah sampah-sampah yang dibuang ke tempat sampah. Ini adalah sampah yang umum dipikirkan manusia. Meskipun demikian, jumlah sampah kategori ini pun masih jauh lebih kecil dibandingkan sampah-sampah yang dihasilkan dari proses pertambangan dan industri. b.Berdasarkan sifatnya 1.Sampah organic (degradable) Sampah Organik, yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya. Sampah ini dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos. 2.Sampah anorganik (undegradable)
  • Sampah Anorganik, yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu, dan sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk laiannya. Beberapa sampah anorganik yang dapat dijual adalah plastik wadah pembungkus makanan, botol dan gelas bekas minuman, kaleng, kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS, maupun karton. c.Berdasarkan bentuknya 1.Sampah padat Sampah adalah bahan baik padat atau cairan yang tidak dipergunakan lagi dan dibuang. Menurut bentuknya sampah dapat dibagi sebagai: Sampah padat adalah segala bahan buangan selain kotoran manusia, urine dan sampah cair. Dapat berupa sampah rumah tangga: sampah dapur, sampah kebun, plastik, metal, gelas dan lain-lain. Menurut bahannya sampah ini dikelompokkan menjadi sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik Merupakan sampah yang berasal dari barang yang mengandung bahan-bahan organik, seperti sisa-sisa sayuran, hewan, kertas, potongan-potongan kayu dari peralatan rumah tangga, potonganpotongan ranting, rumput pada waktu pembersihan kebun dan sebagainya. Berdasarkan kemampuan diurai oleh alam (biodegradability), maka dapat dibagi lagi menjadi: 1. Biodegradable: yaitu sampah yang dapat diuraikan secara sempurna oleh proses biologi baik aerob atau anaerob, seperti: sampah dapur, sisa-sisa hewan, sampah pertanian dan perkebunan. 2. Non-biodegradable: yaitu sampah yang tidak bisa diuraikan oleh proses biologi. Dapat dibagi lagi menjadi: o Recyclable: sampah yang dapat diolah dan digunakan kembali karena memiliki nilai secara ekonomi seperti plastik, kertas, pakaian dan lain-lain. o Non-recyclable: sampah yang tidak memiliki nilai ekonomi dan tidak dapat diolah atau diubah kembali seperti tetra packs, carbon paper, thermo coal dan lain-lain. 2.Sampah cair Sampah cair adalah bahan cairan yang telah digunakan dan tidak diperlukan kembali dan dibuang ke tempat pembuangan sampah. Limbah hitam: sampah cair yang dihasilkan dari toilet. Sampah ini mengandung patogen yang berbahaya. Limbah rumah tangga: sampah cair yang dihasilkan dari dapur, kamar mandi dan tempat cucian. Sampah ini mungkin mengandung patogen.
  • Sampah dapat berada pada setiap fase materi: padat, cair, atau gas. Ketika dilepaskan dalam dua fase yang disebutkan terakhir, terutama gas, sampah dapat dikatakan sebagai emisi. Emisi biasa dikaitkan dengan polusi. Dalam kehidupan manusia, sampah dalam jumlah besar datang dari aktivitas industri (dikenal juga dengan sebutan limbah), misalnya pertambangan, manufaktur, dan konsumsi. Hampir semua produk industri akan menjadi sampah pada suatu waktu, dengan jumlah sampah yang kira-kira mirip dengan jumlah konsumsi. untuk mencegah sampah cair adalah pabrik pabrik tidak membuang limbah sembarangan misalnya membuang ke selokan. 3.Prinsip pengolahan sampah Berikut adalah prinsip-prinsip yang bisa diterapkan dalam pengolahan sampah. Prinsip-prinsip ini dikenal dengan nama 4M, yaitu: a.Mengurangi (Reduce) Sebisa mungkin meminimalisasi barang atau material yang kita pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan. b.Menggunakan kembali (Reuse) Sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali. Hindari pemakaian barang-barang yang sekali pakai, buang (bahasa Inggris: disposable). c.Mendaur ulang (Recycle) Sebisa mungkin, barang-barang yang sudah tidak berguna didaur ulang lagi. Tidak semua barang bisa didaur ulang, tetapi saat ini sudah banyak industri tidak resmi (bahasa Inggris: informal) dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain. d.Mengganti (Replace) Teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barang-barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. 4.Pengolahan Sampah Alternatif Pengelolaan Sampah :
  • Untuk menangani permasalahan sampah secara menyeluruh perlu dilakukan alternatif-alternatif pengelolaan. Landfill bukan merupakan alternatif yang sesuai, karena landfill tidak berkelanjutan dan menimbulkan masalah lingkungan. Malahan alternatif-alternatif tersebut harus bisa menangani semua permasalahan pembuangan sampah dengan cara mendaur-ulang semua limbah yang dibuang kembali ke ekonomi masyarakat atau ke alam, sehingga dapat mengurangi tekanan terhadap sumberdaya alam. Untuk mencapai hal tersebut, ada tiga asumsi dalam pengelolaan sampah yang harus diganti dengan tiga prinsip–prinsip baru. Daripada mengasumsikan bahwa masyarakat akan menghasilkan jumlah sampah yang terus meningkat, minimisasi sampah harus dijadikan prioritas utama. Sampah yang dibuang harus dipilah, sehingga tiap bagian dapat dikomposkan atau didaur-ulang secara optimal, daripada dibuang ke sistem pembuangan limbah yang tercampur seperti yang ada saat ini. Dan industri-industri harus mendesain ulang produk-produk mereka untuk memudahkan proses daur-ulang produk tersebut. Prinsip ini berlaku untuk semua jenis dan alur sampah. Pembuangan sampah yang tercampur merusak dan mengurangi nilai dari material yang mungkin masih bisa dimanfaatkan lagi. Bahan-bahan organik dapat mengkontaminasi/ mencemari bahan-bahan yang mungkin masih bisa di daur-ulang dan racun dapat menghancurkan kegunaan dari keduanya. Sebagai tambahan, suatu porsi peningkatan alur limbah yang berasal dari produk-produk sintetis dan produk-produk yang tidak dirancang untuk mudah didaur-ulang; perlu dirancang ulang agar sesuai dengan sistem daur-ulang atau tahapan penghapusan penggunaan. Program-program sampah kota harus disesuaikan dengan kondisi setempat agar berhasil, dan tidak mungkin dibuat sama dengan kota lainnya. Terutama program-program di negara-negara berkembang seharusnya tidak begitu saja mengikuti pola program yang telah berhasil dilakukan di negara-negara maju, mengingat perbedaan kondisi-kondisi fisik, ekonomi, hukum dan budaya. Khususnya sektor informal (tukang sampah atau pemulung) merupakan suatu komponen penting dalam sistem penanganan sampah yang ada saat ini, dan peningkatan kinerja mereka harus menjadi komponen utama dalam sistem penanganan sampah di negara berkembang. Salah satu contoh sukses adalah zabbaleen di Kairo, yang telah berhasil membuat suatu sistem pengumpulan dan daur-ulang sampah yang mampu mengubah/memanfaatkan 85 persen sampah yang terkumpul dan mempekerjakan 40,000 orang. Secara umum, di negara Utara atau di negara Selatan, sistem untuk penanganan sampah organik merupakan komponen-komponen terpenting dari suatu sistem penanganan sampah kota. Sampahsampah organik seharusnya dijadikan kompos, vermi-kompos (pengomposan dengan cacing) atau dijadikan makanan ternak untuk mengembalikan nutirisi-nutrisi yang ada ke tanah. Hal ini menjamin bahwa bahan-bahan yang masih bisa didaur-ulang tidak terkontaminasi, yang juga merupakan kunci ekonomis dari suatu alternatif pemanfaatan sampah. Daur-ulang sampah menciptakan lebih banyak pekerjaan per ton sampah dibandingkan dengan kegiatan lain, dan menghasilkan suatu aliran material yang dapat mensuplai industri. Melalui proses dekomposisi terjadi proses daur ulang unsur hara secara alamiah. Hara yang terkandung dalam bahan atau benda-benda organik yang telah mati, dengan bantuan mikroba (jasad
  • renik), seperti bakteri dan jamur, akan terurai menjadi hara yang lebih sederhana dengan bantuan manusia maka produk akhirnya adalah kompos (compost). Setiap bahan organik, bahan-bahan hayati yang telah mati, akan mengalami proses dekomposisi atau pelapukan. Daun-daun yang gugur ke tanah, batang atau ranting yang patah, bangkai hewan, kotoran hewan, sisa makanan, dan lain sebagainya, semuanya akan mengalami proses dekomposisi kemudian hancur menjadi seperti tanah berwarna coklat-kehitaman. Wujudnya semula tidak dikenal lagi. Melalui proses dekomposisi terjadi proses daur ulang unsur hara secara alamiah. Hara yang terkandung dalam bahan atau benda-benda organik yang telah mati, dengan bantuan mikroba (jasad renik), seperti bakteri dan jamur, akan terurai menjadi hara yang lebih sederhana dengan bantuan manusia maka produk akhirnya adalah kompos (compost). Pengomposan didefinisikan sebagai proses biokimiawi yang melibatkan jasad renik sebagai agensia (perantara) yang merombak bahan organik menjadi bahan yang mirip dengan humus. Hasil perombakan tersebut disebut kompos. Kompos biasanya dimanfaatkan sebagai pupuk dan pembenah tanah. Kompos dan pengomposan (composting) sudah dikenal sejak berabad-abad yang lalu. Berbagai sumber mencatat bahwa penggunaan kompos sebagai pupuk telah dimulai sejak 1000 tahun sebelum Nabi Musa. Tercatat juga bahwa pada zaman Kerajaan Babylonia dan kekaisaran China, kompos dan teknologi pengomposan sudah berkembang cukup pesat. Namun demikian, perkembangan teknologi industri telah menciptakan ketergantungan pertanian terhadap pupuk kimia buatan pabrik sehingga membuat orang melupakan kompos. Padahal kompos memiliki keunggulan-keunggulan lain yang tidak dapat digantikan oleh pupuk kimiawi, yaitu kompos mampu:(1)Mengurangi kepekatan dan kepadatan tanah sehingga memudahkan perkembangan akar dan kemampuannya dalam penyerapan hara.(2)Meningkatkan kemampuan tanah dalam mengikat air sehingga tanah dapat menyimpan air lebih ama dan mencegah terjadinya kekeringan pada tanah.(3)Menahan erosi tanah sehingga mengurangi pencucian hara.(4)Menciptakan kondisi yang sesuai untuk pertumbuhan jasad penghuni tanah seperti cacing dan mikroba tanah yang sangat berguna bagi kesuburan tanah. 5.Cara pengolahan sampah Pengolahan sampah erat kaitannya dengan masyarakat karena dari sampah tersebut akan hidup mikroorganisme penyebab penyakit(bakteri,pathogen) jadi sampah harus betul-betul dapat diolah agar tidak menimbulkan masalah. Pengolahan sampah meliputi pengumpulan, pengangkutan, sampai pemusnahan. Cara pengolahan 1. Pengumpulan dan pengangkutan sampah adalah sebagai berikut:
  • Pengumpulan dan pengangkutan sampah adalah tanggung jawab msing-masing rumah tangga / institusi penghasil sampah harus membangun tempat pembuangan dan pengumpulan sampah, lal diangkat keTSP(tempat pembuangan sementara, lalu ketempat pembuangan akhir). 2.Pemusnahan dan pengolahan Pemusnahan dan pengolahan sampah padat dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain : 1.Ditanam( land fill),yaitu membuat lubang didalam tanah kemudian ditimbun dalam tanah. 2.Dibakar(incineration) yaitu membakar sampah dalam incinerator. 3.Dijadikan pupuk misalnya kotoran hewan dikumpulkan menjadi pupuk kompos. Berikut adalah salah satu contoh pengolahan sampah yang dapat di manfaatkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu sebagai berikut :
  • Daur ulang Kaleng Bekas Anda tentu sering merasa pusing bagaimana memanfaatkan barang bekas, seperti kaleng susu, roti, atau yang lainnya. Anda tidak harus langsung membuangnya. Dengan sedikit kreativitas dan
  • ketekunan, anda pun dapat membuat sesuatu yang lebih bermanfaat darinya. Anda pun dapat memanfaatkannya untuk dapat digunakan sebagai wadah pensil, tempat sampah, tempat cucian atau lainnya. Bahan-bahan yang dibutuhkan adalah : kaleng bekas, cat berwarna putih, pensil atau pulpen, cat akrilik. Hal pertama yang harus anda siapkan adalah kaleng bekas sebagai bahan utama untuk dapat dimanfaatkan kembali. Ambil kaleng bekas, kemudian dicuci sampai bersih, baik bagian dalam maupun bagian luarnya. Hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan kotoran, baik berupa bekas makanan, minyak atau pun debu yang menempel pada kaleng yang akan digunakan. Setelah kaleng dibersihkan, kemudian dikeringkan agar dapat dilakukan proses selanjutnya. Setelah kaleng bersih dan kering, kemudian dilakukan proses pelapisan kaleng dengan menggunakan cat berwarna putih. Warna putih dipilih karena warna ini netral sehingga proses pengecatan warna selanjutnya akan lebih mudah dan hasilnya pun menjadi maksimal serta sekaligus untuk melapisi merk dari kaleng yang digunakan. Setelah kaleng dilapisi warna putih, kemudian dikeringkan dengan cara diangin-anginkan. Tahap selanjutnya adalah dengan melukis kaleng dengan menggunakan pensil atau pulpen. Pola gambar adalah sesuai dengan selera anda. Anda dapat membuat gambar hewan, bunga, pemandangan, tokoh kartun, angka, huruf, atau pola abstrak yang anda sukai. Setelah pola tergambar pada kaleng, anda dapat mengecatnya dengan menggunakan cat akrilik. Warna untuk tiap motif pun sesuai dengan kesukaan anda. Namun, bila anda mendaur ulang kaleng untuk anak anda, anda dapat menggunakan warna cerah dan ‘ngejreng’ karena anak-anak suka sekali bila barang mereka. Karena ini adalah proses daur ulang dan dan dibuat secara ‘handmade’ maka hasilnya pun spesial. Tidak ada yang sama. Ini adalah salah satu kelebihan membuat pola sendiri. Bila anda mengajak anak anda untuk mendaur ulang kaleng bekas di rumah, ini akan membantu merangsang kreativitas anak anda. Dan mereka pun akan bangga dengan hasil karya mereka sendiri. So, manfaatkan kaleng bekas di rumah anda. Dan anda pun dapat berkreasi dengannya.
  • BAB 3 PENUTUP 1.Kesimpulan Sampah adalah barang yang dianggap sudah tidak terpakai dan dibuang oleh pemilik/pemakai sebelumnya, tetapi masih bisa dipakai kalau dikelola dengan prosedur yang benar. Jenis-jenis sampah dapat di bagi menjadi 4 yaitu :  Berdasarkan sumbernya seperti : a.Sampah alam b.Sampah manusia c. Sampah konsumsi  Berdasarkan sifatnya seperti : a.Sampah organic(degradable) b.Sampah anorganik(undegradable)  Berdasarkan bentuknya seperti : a.Sampah padat b.Sampah cair prinsip-prinsip yang bisa diterapkan dalam pengolahan sampah di kenal juga dengan nama 4M yaitu : mengurangi,menggunakan kembali,mendaur ulang,dan mengganti. Cara pengolahan sampah dapat di mulai dari pengumpulan dan pengangkutan serta pemusnahan dn pengolahan. 2.Saran
  • Cara pengendalian sampah yang paling sederhana adalah dengan menumbuhkan kesadaran dari dalam diri untuk tidak merusak lingkungan dengan sampah. Selain itu diperlukan juga kontrol sosial budaya masyarakat untuk lebih menghargai lingkungan, walaupun kadang harus dihadapkan pada mitos tertentu. Peraturan yang tegas dari pemerintah juga sangat diharapkan karena jika tidak maka para perusak lingkungan akan terus merusak sumber daya. DAFTAR PUSTAKA Alberts,B.et al.Biologi Utama,Jakarta,1994. Molekuler Sel,Edisi ke dua,1994,Penerbit PT Gramedia Pustaka Hhtp://id.wikipedia.org/wiki/kebersihan http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=10187 http://www.google.com [Kewirausahaan] Makalah Pemanfaatan Sampah Kardus Kemasan Minuman "Kotak Pensil Kelinci" Written By: Hanatika Nurhaeni on 11:33 AM
  • BAB I LATAR BELAKANG Permasalahan sampah di Indonesia bukan lagi rahasia umum. Belakangan ini permasalahan sampah yang semakin hari semakin menggunung sudah menjadi topik perbincangan yang cukup menyedot perhatian setiap kalangan. Permasalahan sampah sudah menjadi santapan sehari-hari bagi masyarakat Indonesia. Berbagai jenis sampah telah mewarnai setiap sudut pandang kita. Sampah merupakan hal yang serius yang harus ditangani segera. Bisa dibayangkan sekian kubik sampah dibuang oleh rumah tangga dan industri. Dan mau tidak mau kita harus mengakui bahwa bangsa Indonesia ini masih kurang memahami tentang sampah. Berbagai cara telah ditempuh oleh Pemerintah dan sebagian masyarakat untuk mengurangi volume sampah di Indonesia. Namun tetap saja sampah masih menumpuk dan menimbulkan ketidaknyamanan bagi masyarakat sekitar. Oleh karena itu, sebagai jalan alternatif saya mencoba untuk memanfaatkan kardus kemasan minuman yang tidak terpakai menjadi sebuah kotak pensil kelinci yang unik serta bernilai jual tinggi. TUJUAN DAN HASIL YANG DIHARAPKAN Tujuan saya memilih bahan kardus kemasan minuman karena banyaknya sampah yang berasal dari kemasan minuman yang hanya dapat terpakai satu kali. Dan saya memilih kotak pensil karena kotak pensil adalah barang yang dibutuhkan oleh pelajar dan bahkan setiap kalangan. Sedangkan tujuan dari pembuatan kerajinan barang bekas atau yang tidak terpakai ini adalah memanfaatkan barang bekas menjadi nilai jual yang tinggi serta menambah nilai ekonomis dari barang yang sudah tidak terpakai atau terbuang.
  • Hasil yang saya harapkan dari pembuatan kotak pensil berbahan kardus ini adalah untuk mengurangi jumlah volume sampah yang seringkali menimbun dimana-mana dan bisa mencemarkan tanah serta meningkatkan kreatifitas anak bangsa agar dapat berpartisipasi dalam menyelamatkan bumi kita yang tercinta ini. BAB II LANDASAN TEORI Sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk digunakan secara biasa atau khusus dalam produksi atau pemakaian; barang rusak atau cacat selama manufaktur; atau materi berlebihan atau buangan. (Kamus Istilah Lingkungan, 1994) Kesenian dari barang bekas adalah salah satu jenis hasil karya seni oleh individu ataupun kelompok dimana bahan-bahannya terdiri dari barang-barang bekas. Kesenian barang bekas pertama kali dikenalkan oleh Wensislaus Makur, seorang kelahiran Flores. Beliau merupakan bekas buruh bangunan di Bali. Wensislaus Makur membuat tas unik dari sampah karung plastik beras, sampai menembus pasar konsumen di Eropa. Kardus (corrugated paper) merupakan bahan kemasan yang digunakan untuk melindungi suatu produk selama distribusi dari produsen ke konsumen. Kardus terbuat dari bahan dasar berupa kertas yang diketahui mudah sekali mengalami kerusakan. Walaupun begitu, sampah kardus tetap saja dapat menimbulkan masalah yang dapat menganggu kebersihan dan keindahan lingkungan. Di Indonesia pemanfaatan sampah kardus masih belum dilakukan dengan optimal. Padahal sampah kardus yang sudah tidak terpakai tersebut dapat dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang. Kotak pensil adalah kotak untuk menyimpan pensil. Sebuah kotak pensil juga dapat berisi alat tulis lain seperti pensil, penghapus, dan bolpoin. Sumber: • http://id.wikipedia.org/wiki/Sampah • http://id.wikipedia.org/wiki/Kesenian_dari_Barang_Bekas • http://perlutahu.org/fakta-menarik-seputar-daur-ulang-kardus/ • http://id.wikipedia.org/wiki/Kotak_pensil PELUANG USAHA Usaha dengan bahan baku barang bekas masih sangat minim ditemukan, padahal barang bekas yang kita temui sehari-hari sebenarnya masih dapat digunakan kembali. Banyak sekali orang yang memandang sebelah mata pemakaian barang yang terbuat dari barang bekas ini dapat mengurangi timbunan sampah, namun sesuatu yang besar tidak mungkin terjadi tanpa sesuatu yang kecil kan? Oleh karena itu, kerajinan dari barang bekas ini tergolong bisnis yang cukup menggiurkan. Peminat produk barang bekas sebenarnya cukup banyak karena mereka ingin dapat berpartisipasi dalam mengurangi sampah. Bisnis kerajinan dari bahan bekas ini tidak perlu
  • modal besar karena hanya membutuhkan barang bekas sebagai bahan serta kreatifitas yang tinggi. Usaha kesenian dari barang bekas ini merupakan kategori dalam menjual keahlian, sehingga yang diperlukan kreativitas untuk merancang kesenian tersebut. Selain itu, tidak mudah menjadi pengusaha produk ini, karena harus dapat membaca situasi lingkungan eksternal. Hal ini adalah kunci pokok untuk berhasil. Kesenian dari barang bekas digolongkan dalam alternatif mencari penghasilan tambahan dengan membuka usaha sendiri. Akan tetapi diperlukan pengorbanan waktu, tenaga, dan biaya apabila ternyata sistem yang dibangun gagal. BAB III PROSES PEMBUATAN PRODUK Alat dan Bahan: Kardus kemasan minuman Alat tulis Kain kerah Kain flanel Resleting Mute hitam (untuk mata) Lem Gunting Benang jahit Langkah Pembuatan Produk:
  • 1. Setelah dibersihkan, bentuk kardus kemasan minuman hingga sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan. 2. Gunting kain kerah menjadi beberapa bagian dengan ukuran yang sama dengan setiap sisi kardus kemasan minuman.
  • 3. Kemudian tempel kain kerah ke bagian dalam kardus kemasan minuman hingga seluruh sisinya tertutup. 4. Pasang resleting di bagian depan kardus kemasan minuman dengan menggunakan lem. 5. Lalu pola dan gunting kain flanel dengan ukuran setiap sisi kardus kemasan minuman tetapi dilebihkan ±1 cm untuk menyatukan setiap sisi dengan cara dijahit.
  • 6. Ambil kain flanel bagian depan untuk wajah kelinci, lalu pasang mute hitam untuk matanya dan buat bentuk mulut menggunakan kain flanel. 7. Pola telinga kelinci menggunakan flanel sebanyak 4 buah, ambil 2 pola kemudian satukan dan jahit hingga menjadi 2 buah telinga kelinci.
  • 8. Pasang telinga kelinci dengan pola sisi bagian atas yang sudah digunting. 9. Lapis seluruh sisi luar kardus kemasan minuman dengan kain flanel yang sudah dipola dengan cara direkatkan dengan lem terlebih dahulu.
  • 10. Kemudian satukan kain flanel dari sisi yang satu ke sisi yang lain dengan cara dijahit menggunakan benang jahit. 11. Setelah itu pola tangan dan ekor kelinci, lalu tempelkan.
  • 12. Hias kotak pensil kelinci sesuai dengan keinginanmu, misalnya diberi wortel dan pita. 13. Selesai, kotak pensil kelinci siap menemani hari-harimu. BAB IV KESIMPULAN Sampah bukanlah hal yang dapat disepelekan begitu saja. Pengolahan sampah tidak dapat diserahkan seluruhnya kepada Pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab kita bersama sebagai bangsa Indonesia. Jangan hanya bisa berbicara omong kosong tanpa melakukan hal yang realistis dalam upaya pengolahan sampah ini. Perubahan yang besar tidak mungkin terjadi tanpa
  • perubahan yang kecil. Oleh karena itu, mari kerahkanlah daya kreatifitas kita sebagai anak bangsa yang peduli serta mencintai negeri ini demi masa depan anak cucu kita. - See more at: http://rumahkreasihana.blogspot.com/2013/02/makalah-kewirausahaan-kerajinandari-barang-bekas.html#sthash.05nMkOCZ.dpuf Pengelolaan sampah Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Langsung ke: navigasi, cari Halaman ini belum atau baru diterjemahkan sebagian dari bahasa Inggris. Bantulah Wikipedia untuk melanjutkannya. Lihat panduan penerjemahan Wikipedia. Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifikasi artikel. Setelah dirapikan, tolong hapus pesan ini. Tong sampah biru di Berkshire, Inggris Pengelolaan sampah adalah pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan , pendaurulangan, atau pembuangan dari material sampah. Kalimat ini biasanya mengacu pada material sampah yang dihasilkan dari kegiatan manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan, atau keindahan. Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam. Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat, cair, gas, atau radioaktif dengan metode dan keahlian khusus untuk masing-masing jenis zat.
  • Praktik pengelolaan sampah berbeda beda antara negara maju dan negara berkembang, berbeda juga antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan, berbeda juga antara daerah perumahan dengan daerah industri. Pengelolaan sampah yang tidak berbahaya dari pemukiman dan institusi di area metropolitan biasanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, sedangkan untuk sampah dari area komersial dan industri biasanya ditangani oleh perusahaan pengolah sampah. Metode pengelolaan sampah berbeda-beda tergantung banyak hal, di antaranya tipe zat sampah, tanah yang digunakan untuk mengolah dan ketersediaan area. Daftar isi 1 Tujuan 2 Metode Pembuangan o 2.1 Penimbunan darat 3 Metode Daur Ulang o 3.1 Pengolahan kembali secara fisik o 3.2 Pengolahan biologis o 3.3 Pemulihan energi 4 Metode penghindaran dan pengurangan 5 Konsep pengelolaan sampah 6 Pendidikan dan Kesadaran 7 Bencana sampah yang tidak dikelola dengan baik 8 lihat juga 9 Pranala luar Tujuan Pengelolaan sampah merupakan proses yang diperlukan dengan dua tujuan: mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomis (Lihat: Pemanfaatan sampah), atau mengolah sampah agar menjadi material yang tidak membahayakan bagi lingkungan hidup. Metode Pembuangan Penimbunan darat Artikel utama untuk bagian ini adalah: Penimbunan darat
  • Penimbunan darat sampah di Hawaii. Pembuangan sampah pada penimbunan darat termasuk menguburnya untuk membuang sampah, metode ini adalah metode paling populer di dunia. Penimbunan ini biasanya dilakukan di tanah yang tidak terpakai, lubang bekas pertambangan, atau lubang-lubang dalam. Sebuah lahan penimbunan darat yang dirancang dan dikelola dengan baik akan menjadi tempat penimbunan sampah yang higienis dan murah. Sedangkan penimbunan darat yang tidak dirancang dan tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan berbagai masalah lingkungan, di antaranya angin berbau sampah, menarik berkumpulnya Hama, dan adanya genangan air sampah. Efek samping lain dari sampah adalah gas methan dan karbon dioksida yang juga sangat berbahaya. (di Bandung kandungan gas methan ini meledak dan melongsorkan gunung sampah) Kendaraan pemadat sampah penimbunan darat. Karakteristik desain dari penimbunan darat yang modern di antaranya adalah metode pengumpulan air sampah menggunakan bahan tanah liat atau pelapis plastik. Sampah biasanya dipadatkan untuk menambah kepadatan dan kestabilannya, dan ditutup untuk tidak menarik hama (biasanya tikus). Banyak penimbunan sampah mempunyai sistem pengekstrasi gas yang dipasang untuk mengambil gas yang terjadi. Gas yang terkumpul akan dialirkan keluar dari tempat penimbunan dan dibakar di menara pembakar atau dibakar di mesin berbahan bakar gas untuk membangkitkan listrik. Metode Daur Ulang Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daur-ulang Proses pengambilan barang yang masih memiliki nilai dari sampah untuk digunakan kembali disebut sebagai daur ulang. Ada beberapa cara daur ulang, pertama adalah mengambil bahan sampahnya untuk diproses lagi atau mengambil kalori dari bahan yang bisa dibakar untuk membangkitkan listrik. Metode-metode baru dari daur ulang terus ditemukan dan akan dijelaskan di bawah.
  • Pengolahan kembali secara fisik Baja dibuang, dan kelengkapan dilaporkan dipilih pada kemudahan Central European Waste Management (Eropa). Metode ini adalah aktivitas paling populer dari daur ulang, yaitu mengumpulkan dan menggunakan kembali sampah yang dibuang, contohnya botol bekas pakai yang dikumpulkan untuk digunakan kembali. Pengumpulan bisa dilakukan dari sampah yang sudah dipisahkan dari awal (kotak sampah/kendaraan sampah khusus), atau dari sampah yang sudah tercampur. Sampah yang biasa dikumpulkan adalah kaleng minum aluminium, kaleng baja makanan/minuman, Botol HDPE dan PET, botol kaca, kertas karton, koran, majalah, dan kardus. Jenis plastik lain seperti (PVC, LDPE, PP, dan PS) juga bisa didaur ulang. Daur ulang dari produk yang kompleks seperti komputer atau mobil lebih susah, karena bagian-bagiannya harus diurai dan dikelompokkan menurut jenis bahannya. Pengolahan biologis Artikel utama untuk bagian ini adalah: Pengkomposan
  • Pengkomposan. Material sampah ((organik)), seperti zat tanaman, sisa makanan atau kertas, bisa diolah dengan menggunakan proses biologis untuk kompos, atau dikenal dengan istilah pengkomposan. Hasilnya adalah kompos yang bisa digunakan sebagai pupuk dan gas methana yang bisa digunakan untuk membangkitkan listrik. Contoh dari pengelolaan sampah menggunakan teknik pengkomposan adalah Green Bin Program (program tong hijau) di Toronto, Kanada, di mana sampah organik rumah tangga, seperti sampah dapur dan potongan tanaman dikumpulkan di kantong khusus untuk dikomposkan. Pemulihan energi Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sampah menjadi energi (Waste-to-energy) Komponen pencernaan Anaerobik di pabrik Lübeck mechanical biological treatment di Jerman, 2007 Kandungan energi yang terkandung dalam sampah bisa diambil langsung dengan cara menjadikannya bahan bakar, atau secara tidak langsung dengan cara mengolahnya menjadi bahan bakar tipe lain. Daur ulang melalui cara "perlakuan panas" bervariasi mulai dari menggunakannya sebagai bahan bakar memasak atau memanaskan sampai menggunakannya untuk memanaskan boiler untuk menghasilkan uap dan listrik dari turbin-generator. Pirolisa dan gasifikasi adalah dua bentuk perlakuan panas yang berhubungan, ketika sampah dipanaskan pada suhu tinggi dengan keadaan miskin oksigen. Proses ini biasanya dilakukan di wadah tertutup pada Tekanan tinggi. Pirolisa dari sampah padat mengubah sampah menjadi produk berzat padat, gas, dan cair. Produk cair dan gas bisa dibakar untuk menghasilkan energi atau dimurnikan menjadi produk lain. Padatan sisa selanjutnya bisa dimurnikan menjadi produk seperti karbon aktif. Gasifikasi dan Gasifikasi busur plasma yang canggih digunakan untuk mengkonversi material organik langsung menjadi Gas sintetis (campuran antara karbon monoksida dan hidrogen). Gas ini kemudian dibakar untuk menghasilkan listrik dan uap. Metode penghindaran dan pengurangan Artikel utama untuk bagian ini adalah: Minimalisasi sampah Sebuah metode yang penting dari pengelolaan sampah adalah pencegahan zat sampah terbentuk, atau dikenal juga dengan "pengurangan sampah". Metode pencegahan termasuk penggunaan kembali barang bekas pakai, memperbaiki barang yang rusak, mendesain produk supaya bisa diisi ulang atau bisa digunakan kembali (seperti tas belanja katun menggantikan tas plastik),
  • mengajak konsumen untuk menghindari penggunaan barang sekali pakai (contohnya kertas tisu), dan mendesain produk yang menggunakan bahan yang lebih sedikit untuk fungsi yang sama (contoh, pengurangan bobot kaleng minuman). Konsep pengelolaan sampah Terdapat beberapa konsep tentang pengelolaan sampah yang berbeda dalam penggunaannya, antara negara-negara atau daerah. Beberapa yang paling umum, multikonsep yang digunakan adalah: Diagram dari hirarki limbah. Hierarki Sampah - hierarki limbah merujuk kepada " 3 M " mengurangi sampah, menggunakan kembali sampah dan daur ulang, yang mengklasifikasikan strategi pengelolaan sampah sesuai dengan keinginan dari segi minimalisasi sampah. Hierarki limbah yang tetap menjadi dasar dari sebagian besar strategi minimalisasi sampah. Tujuan limbah hierarki adalah untuk mengambil keuntungan maksimum dari produk-produk praktis dan untuk menghasilkan jumlah minimum limbah. Perpanjangan tanggung jawab penghasil sampah/Extended Producer Responsibility (EPR).(EPR) adalah suatu strategi yang dirancang untuk mempromosikan integrasi semua biaya yang berkaitan dengan produk-produk mereka di seluruh siklus hidup (termasuk akhir-ofpembuangan biaya hidup) ke dalam pasar harga produk. Tanggung jawab produser diperpanjang dimaksudkan untuk menentukan akuntabilitas atas seluruh Lifecycle produk dan kemasan diperkenalkan ke pasar. Ini berarti perusahaan yang manufaktur, impor dan/atau menjual produk diminta untuk bertanggung jawab atas produk mereka berguna setelah kehidupan serta selama manufaktur. prinsip pengotor membayar - prinsip pengotor membayar adalah prinsip di mana pihak pencemar membayar dampak akibatnya ke lingkungan. Sehubungan dengan pengelolaan limbah, ini umumnya merujuk kepada penghasil sampah untuk membayar sesuai dari pembuangan Pendidikan dan Kesadaran Pendidikan dan kesadaran di bidang pengelolaan limbah dan sampah yang semakin penting dari perspektif global dari manajemen sumber daya. Pernyataan yang Talloires merupakan deklarasi untuk kesinambungan khawatir dengan skala dan belum pernah terjadi sebelumnya kecepatan dan degradasi lingkungan, dan penipisan sumber daya alam. Lokal, regional, dan global polusi
  • udara; akumulasi dan distribusi limbah beracun, penipisan dan kerusakan hutan, tanah, dan air; dari penipisan lapisan ozon dan emisi dari "rumah hijau" gas mengancam kelangsungan hidup manusia dan ribuan lainnya hidup spesies, integritas bumi dan keanekaragaman hayati, keamanan negara, dan warisan dari generasi masa depan. Beberapa perguruan tinggi telah menerapkan Talloires oleh Deklarasi pembentukan pengelolaan lingkungan hidup dan program pengelolaan sampah, misalnya pengelolaan sampah di universitas proyek. Universitas pendidikan kejuruan dan dipromosikan oleh berbagai organisasi, misalnya WAMITAB Chartered dan Lembaga Manajemen dari limbah. Bencana sampah yang tidak dikelola dengan baik 1. 2. 3. 4. Longsor tumpukan sampah Sumber penyakit Pencemaran lingkungan Menyebabkan banjir
  • participation. DAUR ULANG LIMBAH KARDUS Oleh: Mohamad Yusman yusmanmsc@email.com, yusman61@gmail.com 1. Latar Belakang Kertas merupakan salah satu komoditi yang sangat dibutuhkan oleh hampir seluruh umat manusia didunia, Kehidupan modern kita sehari-hari kini tidak bisa lepas dari kertas yang bahan bakunya sebagian besar kayu hasil tebangan pohon dari hutan. Dengan demikian makin boros masyarakat memakai kertas, makin banyak pohon yang harus ditebang untuk dijadikan pulp (bubur) calon kertas. Sebagai gambaran kasar, untuk menghasilkan 1 ton serat asli pulp kimia diperlukan sekitar 1,5 ton kayu. Jadi dapat dibayangkan apabila penggunaan kertas hanya dipenuhi oleh serat asli maka akan berdampak langsung pada kelestarian lingkungan hidup. Kebutuhan kertas di Indonesia apabila pada tahun 1987 hanya membutuhkan 782.420 ton maka pada tahun 1996 sudah mencapai angka 3.119.970 ton. Dan dari semua kertas yang dikonsumsi tersebut hanya sebagian kecil yang kembali ke pabrik untuk didaur ulang karena terjadi benturan kepentingan dengan penggunaan lain oleh masyarakat. Namun demikian bukan berarti kertas yang tidak kembali ke pabrik kertas tersebut sepenuhnya dimanfaatkan oleh masyarakat. Kertas bekas yang tidak termanfaatkan karena satu dan lain hal akhirnya akan bermuara ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sehingga akan menambah volume sampah dan memperpendek umur TPA itu sendiri. 2. Daur Ulang Sampah Kertas/Kardus Pemanfaatan kembali kertas bekas secara langsung untuk penggunaan lain merupakan upaya penghematan terhadap peningkatan kebutuhan kertas dari serat asli. Upaya guna ulang kertas bekas tersebut akan berdampak positif terhadap kemusnahan hutan dimasa mendatang. Salah satu upaya daur ulang sampah kertas adalah memberi perlakuan terhadap kertas kardus bekas untuk dijadikan produk bahan pengemas kembali dengan ukuran yang sama atau lebih kecil. Hal yang perlu diperhatikan adalah permintaan jenis kardus biasanya harus seragam berdasarkan jenis gelombangnya, yakni kardus satu gelombang (one ply), 2 gelombang (two plies), dll. Disamping itu gelombang kardus tidak boleh dipress karena gelombangnya akan hilang dan mengurangi kekuatan kardus itu sendiri. Gambaran garis besar perlakuan terhadap kardus bekas adalah sebagai berikut:
  • Sedangkan diagram alir proses daur ulang kardus bekas disajikan pada gambar-2 berikut ini: Lampiran Photo:
  • Limbah kardus Pemotongan dengan Kachip untuk kardus ukuran kecil
  • Pemotongan dengan Eksentrik untuk kardus ukuran besar Kardus ukuran kecil (mie instan) setelah dipotong Kachip akta Menarik Seputar Daur Ulang Kardus Kardus (Corrugated Paper) merupakan bahan kemasan yang digunakan untuk melindungi suatu produk selama distribusi dari produsen ke konsumen. Kardus terbuat dari bahan dasar berupa kertas yang diketahui mudah sekali mengalami kerusakan. Walaupun begitu, sampah kardus tetap saja dapat menimbulkan masalah yang dapat menganggu kebersihan dan keindahan lingkungan. Di Indonesia pemanfaatan sampah kardus masih belum dilakukan dengan optimal. Padahal sampah kardus yang sudah tidak terpakai tersebut dapat dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang. Sebenarnya, secara tidak langsung pengolahan daur ulang kardus ini dapat mengurangi laju kerusakan hutan. Proses daur ulang kardus tidak hanya menghasilkan kardus baru saja, melainkan dapat diolah menjadi berbagai macam produk. Salah satu contoh produk hasil daur ulang kardus ini adalah karton dupleks. Karton dupleks adalah jenis karton yang terdiri dari dua lapisan atau lebih. Umumnya lapisan pada bagian atas memiliki warna putih dengan permukaan yang rata sehingga mempunyai sifat cetak yang baik. Tidak hanya kelebihannya saja, ternyata kardus yang dihasilkan dari hasil daur ulang juga memiliki beberapa kelemahan. Berikut beberapa fakta menarik terkait kardus daur ulang: Kardus hasil daur ulang (recycle) memiliki struktur yang tidak jauh berbeda dengan kardus baru. Perbedaan kecil yang teramati hanyalah
  • pada ketebalannya saja, yang mana kardus daur ulang memiliki struktur yang sedikit lebih tebal karena penambahan lapisan gelombang. Kardus terbuat dari bahan dasar kertas, oleh sebab itu baik kardus daur ulang maupun kardus baru tetap saja tidak tahan terhadap air dan kelembaban udara yang tinggi. Kerusakan yang ditimbulkan biasanya akan membuat rekatan antar lapisan menjadi terbuka sehingga akan mempengaruhi kekuatan struktur dari kardus. Daur ulang kardus dapat dilakukan dengan berbagai macam desain, bentuk, dan tujuan. Hal ini disesuaikan terhadap produk yang ingin dikemas dengan kemasan kardus. Biasanya semakin tebal struktur kardus, ditujukan untuk produk-produk yang membutuhkan perlindungan tinggi agar tidak rusak. Daur ulang kardus dilakukan dengan menggunakan sistem modul saat proses perekatan. Ini dilakukan agar mempermudah penyesuaian ukuran atau bentuk yang dibutuhkan untuk membuat sebuah kardus, sehingga akan menekan banyaknya bahan kardus yang terbuang. Proses cetak sendiri dilakukan dengan menggunakan sistem cetak sablon (silk-screen printing), masking, atau handpainting. Namun, teknik pencetakan sablon ini cukup sulit diterapkan karena permukaan material dari kardus yang tidak rata. Pada dasarnya kardus adalah bahan baku yang dapat didaur ulang berkali-kali. Selain itu, penggunaan bahan-bahan lain seperti perekat berbasis air selama proses pengolahan tidak berdampak buruk terhadap lingkungan (bio-degradable). Dalam proses daur ulang kardus tidak membutuhkan peralatan yang mahal dan canggih, serta tidak membutuhkan keahlian khusus, bahkan kardus dapat diolah di industri kecil sekalipun (skala rumah tangga). http://perlutahu.org/fakta-menarik-seputar-daur-ulang-kardus/ Mesin Pond sebagai pemotong dan pembentuk alur kardus bentuk baru
  • Mesin jahit kardus Kardus hasil daur ulang
  • Contoh Limbah Permabel BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Industri mebel Indonesia ternyata masih memiliki pamor yang mengilap di pentas perdagangan dunia. Permintaan yang dilayangkan oleh para pembeli di ajang beberapa pameran memang merupakan sebuah peluang emas untuk meningkatkan kinerja ekspor mebel negeri ini. Namun demikian, untuk mewujudkan hal itu, tentu tak semudah membalikan telapak tangan. Kemampuan produsen nasional dalam menghasilkan produk yang berkualitas dan dalam jumlah banyak, harus benar-benar dibuktikan. Pemerintah juga telah mengupayakan untuk mengembangkan industri mebel. Apalagi sektor ini telah ditetapkan pemerintah sebagai salah satu dari 10 komoditas unggulan ekspor Tanah Air. Dengan kata lain, ekspor mebel masih bisa menjadi primadona untuk menghasilkan devisa negara. Imdustri mebel adalah salah satu bentuk industri yang bergerak di bidang perkayuan. Dimana dalam hal ini pasti juga akan menghasilkan berbagai jenis limbah dalam pengolahannya. Bagi masyarakat Indonesia limbah merupakan sesuatu yang sangat kurang pengelolaannya, kesalahan dalam mengelola akan menyebabkan limbah semakin berbahaya bagi lingkungan dan masyarakat, sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan dan bahaya penyakit bagi masyarakat, contohnya pencemaran lingkungan terutama pencemaran pada air yang pada akhirnya menyebabkan banjir disaat musim penghujan tiba. Limbah yang biasanya muncul dari industri mebel antara lain adalah limbah kayu, limbah bahan pelitur, dan limbah tiplek yang berasal dari bahan dasar pohon. Semakin banyak jumlah pengangguran masyarakat di Indonesia maka semakin banyak pula muncul berbagai industri-industri rumah tangga yang dapat menyerap banyak penganguran yang mewabah di Indonesia. Misalkan limbah tiplek, limbah industri mebel dipandang oleh masyarakat sebagai bahan yang sudah tidak bisa dimanfaatkan, sehingga untuk memaksimalkan pemanfaatan yang memiliki nilai jual dan seni tinggi, diperlukan kreatifitas dalam membentuk
  • kerajinan tangan tersebut. Atas dasar hal tersebut, maka muncullah gagasan untuk memanfaatkan limbah tiplek yang tidak dimanfaatkan menjadi lebih bermanfaat. Dalam proses pembuatan kerajinan tangan berbahan limbah pabrik mebel sangatlah mudah dan sederhana, sehingga dapat dengan mudah diproduksi dalam jumlah yang banyak. Selama ini limbah pabrik mebel hanya dibuang atau dibakar karena dianggap sudah tidak bermanfaat, padahal limbah pabrik mebel mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi kerajinan tangan yang bernilai jual dan seni tinggi seperti hiasan perabotan rumah tangga, mainan anak dan lain lain. Salah satu upaya untuk mewujudkan hal tersebut ialah dengan memberikan kreasi pada sisi bentuk ( form ), penampilan ( style ), dan promosi ( promotion ). Namun hingga saat ini, pengolahan limbah mebel yang berupa potongan-potongan kayu masih sangat sedikit meskipun sebenarnya jika diolah dengan baik, limbah kayu tersebut dapat dirubah menjadi produk-produk yang bernilai ekonomis. Oleh karena itu, pengolahan mebel dapat dijadikan sebagai peluang wirausaha. Salah satu bentuk pemanfaatan limbah mebel menjadi produk bernilai ekonomis, yaitu dengan pembuatan kerajinan dari potongan kayu limbah mebel. Bentuk kerajinan kayu tersebut dapat berupa sabak, tempat pensil, piring saji, dan banyak alternatif lain. Pengelolaan lingkungan hidup merupakan kewajiban bersama berbagai pihak baik pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat luas. Hal ini menjadi lebih penting lagi mengingat Indonesia sebagai negara yang perkembangan industrinya cukup tinggi dan saat ini dapat dikategorikan sebagai negara semi industri (semi industrialized country). Sebagaimana lazimnya negara yang masih berstatus semi industri, target yang lebih diutamakan adalah peningkatan pertumbuhan output, sementara perhatian terhadap eksternalitas negatif dari pertumbuhan industri tersebut sangat kurang. Beberapa kasus pencemaran terhadap lingkungan telah menjadi topik hangat di berbagai media masa, misalnya pencemaran Teluk Buyat di Sulawesi Utara yang berdampak terhadap timbulnya bermacam penyakit yang menyerang penduduk yang tinggal di sekitar teluk tersebut. Para pelaku industri kadang mengesampingkan pengelolaan lingkungan yang menghasilkan berbagai jenis-jenis limbah dan sampah. Limbah bagi lingkungan hidup sangatlah tidak baik untuk kesehatan maupun kelangsungan kehidupan bagi masyarakat umum, limbah padat yang di hasilkan oleh industri-industri sangat merugikan bagi lingkungan umum jika limbah padat hasil
  • dari industri tersebut tidak diolah dengan baik untuk menjadikannya bermanfaat. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang pendahuluan maka timbul rumusan masalah sebagai berikut: Apa 1. jenis-jenis limbah yang dihasilkan oleh industri mebel? 2. Bagaimanakah cara pengolahan limbah industri tersebut agar tidak menimbulkan masalah bagi lingkungan di sekitarnya? TUJUAN Tujuan penulisan Proposal ini adalah : 1. 2. 3. 4. Mengetahui jenis-jenis limbah/produk buangan dari industri Mebel Mengetahui masalah yang ditimbulkan oleh limbah yang dihasilkan dari industri mebel Mengetahui cara penanganan limbah tersebut Mengetahui cara pengolahan dan pengelolaan limbah hasil buangan industri mebel MANFAAT Makalah ilmiah ini disusun dengan harapan dapat memberikan salah satu solusi penanganan limbah padat industri mebel sehingga meminimalisir terjadinya kerusakan lingkungan oleh limbah-limbah tersebut.Lalu manfaaat penelitian ini Bagi Instansi adalah Memahami betapa merugikannya limbah buangan yang tidak diolah lebih lanjut. Sedangkan manfaat Bagi Pembaca dan Peneliti adalah Memahami cara pengurangan jumlah limbah dari produksi mebel teutama limbah Triplek dan Mengetahui cara pengolahan Limbah Mebel “ Triplek” . BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN Limbah atau sampah yaitu limbah atau kotoran yang dihasilkan karena pembuangan sampah atau zat kimia dari pabrik-pabrik. Limbah atau sampah juga merupakan suatu bahan yang tidak berarti dan tidak berharga, tapi kita tidak mengetahui bahwa limbah juga bisa menjadi
  • sesuatu yang berguna dan bermanfaat jika diproses secara baik dan benar. Limbah atau sampah juga bisa berarti sesuatu yang tidak berguna dan dibuang oleh kebanyakan orang, mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak berguna dan jika dibiarkan terlalu lama maka akan menyebabkan penyakit padahal dengan pengolahan sampah secara benar maka bisa menjadikan sampah ini menjadi benda ekonomis. Mebel atau furnitur adalah perlengkapan rumah yang mencakup semua barang seperti kursi , meja , dan lemari . Mebel berasal dari kata movable, yang artinya bisa bergerak. Pada zaman dahulu meja kursi dan lemari relatif mudah digerakkan dari batu besar, tembok, dan atap. Sedangkan kata furniture berasal dari bahasa Prancis fourniture (1520-30 Masehi). Fourniture mempunyai asal kata fournir yang artinya furnish atau perabot rumah atau ruangan. Walaupun mebel dan furniture punya arti yang beda, tetapi yang ditunjuk sama yaitu meja, kursi, lemari, dan seterusnya. Dalam kata lain, mebel atau furnitur adalah semua benda yangada di rumah dan digunakan oleh penghuninya untuk duduk, berbaring, ataupun menyimpan benda kecil seperti pakaian atau cangkir . Mebel terbuat dari kayu , papan , kulit , sekrup , dll. Tahap-tahap aktifitas produksi pada industri mebel adalah persiapan bahan baku, proses produksi, dan pengemasan produk. Tahap persiapan bahan baku meliputi pembersihan material dari kotoran, pembuangan kulit(pada industri gelondongan), pemotongan menjadi ukuran yang lebih kecil serta penghalusan sehingga kayu siap digunakan. Proses produksi adalah proses pembentukan bahan baku menjadi produk yang diinginkan. Tahap akhir adalah pengemasan produk yang meliputi penghalusan, pewarnaan(pengecatan), proses finishing dan pengepakan. Limbah utama dari industri kayu yang jelas adalah potongan - potongan kecil dan serpihan kayu dari hasil penggergajian serta debu dan serbuk gergaji. Limbah tersebut sangat sulit dikurangi, hanya bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin menjadi barang lain yang memiliki nilai ekonomis. Beberapa limbah lain dari sebuah industri furniture sebenarnya memiliki peran yang besar pada sebuah 'costing' serta dampak lingkungan sehingga akan sangat bermanfaat apabila Limbah bisa utama dikurangi. industri kayu: A. Potongan kayu dan serbuk gergaji sebagai bahan dasar pembuatan perabot kayu. Serbuk gergaji dan serpihan kayu dari proses produksi saat ini pada umumnya dimanfaatkan oleh
  • pabrik sebagai bahan tambahan untuk membuat plywood, MDF (medium Density Fiber board) dan lembaran lain. Pada perusahaan dengan skala kecil dan lokasi yang jauh dari pabrik pembuat chipboard memanfaatkan limbah ini sebagai bahan tambahan pembakaran boiler di Kiln Dry. Sebagian pula dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai bahan bakar untuk industri yang lebih B. kecil seperti Limbah batu kermaik finishing bahan bata, atau beserta dapur peralatan rumah bantu tangga. lainnya. Ini limbah terbanyak kedua setelah kayu dan pada kenyataannya (di Indonesia) belum begitu banyak perusahaan yang menyadari dan memahami betul tentang tata cara penanganan limbah tersebut. Beberapa masih melakukan pembuangan secara tradisional ke sungai dan ke dalam tempat pembuangan tertentu di dalam area perusahaan tanpa mempertimbangkan dampak lingkungannya. Bahkan ada beberapa perusahaan yang 'menjual' thinner bekas kepada penduduk yang tinggal di sekitar pabrik dan selanjutnya diproses untuk keperluan lain yang kurang jelas. Ada sebuah organisasi di bawah pengawasan pemerintah yang bertanggung jawab untuk mengelola limbah kimia tersebut. PT. PPLI (Prasadha Pamunah Limbah Industri) adalah perusahaan pertama di Indonesia yang mengelola limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). C. Limbah kimia sekunder sebagai hasil dari alat bantu dari sebuah industri kayu misal: accu dari mesin forklift, oli/pelumas bekas, lampu bekas, tinta dan lain-lain. Limbah ini belum begitu besar volumenya akan tetapi masih belum terkoordinasi dengan baik. Kebanyakan dari sejumlah industri tidak benar2 'membuang' limbah ini keluar dari pabrik. Kadang - kadang hanya disimpan di sebuah area engineer atau gudang barang bekas dan ditumpuk bersama - sama dengan peralatan bekas yang lain. Mereka hampir tidak tahu bagaimana solusi terbaik untuk melenyapkan limbah tersebut. D. Bahan pembantu lain seperti kardus, plastik pembungkus, kertas amplas bekas, kain bekas untuk proses finishing, pisau bekas dari mesin serut dan lainnya. Dari sekian limbah yang dihasilkan, menurut pengamatan penulis hanya limbah pertama yang benar - benar dipahami oleh beberapa industri kayu bagaimana cara penanganannya yang baik dan sesuai. Sedangkan limbah utama lainnya masih menjadi sebuah tanda tanya yang tidak jelas atau bahkan masih menjadi prioritas paling akhir setelah pemikiran tentang pembaharuan mesin dan investasi baru di dalam pabrik.
  • BAB III PEMBAHASAN Pengolahan limbah padat dapat dilakukan dengan berbagai cara yang tentunya dapat menjadikan limbah tersebut tidak berdampak buruk bagi lingkungan ataupun kesehatan. Menurut sifatnya pengolahan limbah padat dapat dibagi menjadi dua cara yaitu pengolahan limbah padat tanpa pengolahan dan pengolahan limbah padat dengan pengolahan. Tempat disekitar pabrik limbah mebel merupakan tempat yang mudah untuk memperoleh limbah mebel, karena setiap harinya pabrik tersebut selalu membuang limbah mebel dalam jumlah yang banyak, maka dari itu untuk membantu proses pengelolaan limbah mebel yang hanya akan di bakar maka limbah tersebut dapat di olah untuk dijadikan sebuah barang yang mempunyai nilai jual dan seni tinggi. Selain itu juga dapat mengurangi pencemaran lingkungan baik pada tanah, air dan udara. Proses pemanfaatan limbah mebel ini sangatlah mudah baik dari segi pengumpulan bahan, peralatan–peralatan yang digunakan, hingga pada proses pembuatannya. Dalam pengumpulan bahan masih dapat digolongkan mudah karenalimbah ini masih jarang di manfaatkan oleh masyarakat, peralatan–peralatan yang digunakan dapat dijumpai di toko–toko terdekat, sedangkan untuk proses pembuatannya dari awal hingga akhir hanya membutuhkan ketelitian saat proses pengemalan, pemotongan dan pengecatannya. Kini limbah mebel yang berbahan dasar tiplek tidak akan lagi berada di tempat sampah untuk di bakar, melainkan akan dijadikan sebuah hiasan di rumah-rumah, sehingga rumah akan terlihat menjadi lebih baik. Bagi pengrajin, limbah mebel itu limbah. Kalo kita mau lebih kreatif, inovatif dan sering bereksperimen untuk menghasilkan barang bagus, mungkin tidak akan muncul istilah limbah mebel. Industri mebel dan ukir ini menggunakan material kayu sebagai bahan utama, sehingga kegiatan industri ini dapat menghasilkan limbah kayu seperti: limbah akar pohon, ranting kayu (cabang), hasil potongan penggergajian, serbuk gergaji, dan kulit kayu. Sisa-sisa kayu oleh masyarakat setempat biasanya dibiarkan dimakan rayap, sering digunakan untuk bahan kayu
  • bakar, bahan bakar industri batu bata, dan keramik. Padahal apabila dilakukan pemanfaatan limbah kayu ini atau material kerajinan seni maka dapat memperoleh nilai tambah dan nilai ekonomis. Dengan memanfaatkan disiplin ilmu desain, maka bahan kayu limbah tadi dapat dibuat menjadi alternatif desain aneka produk. Misalnya: produk dalam bentuk souvenir, pewadahan, dan bentuk karya seni lainnya seperti patung, mainan anak-anak, alat olah raga, alat terapi kesehatan dan sebagainya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimentatif dengan membuat berbagai alternatif aneka produk dengan menggunakan bahan limbah kayu dengan pertimbangan pada aspek-aspek dalam desain, misalnya bentuk, ukuran, fungsi, tekstur, finishing, dll. Pendekatan penelitian dilakukan dengan pendekatan lingkungan dan sejarah. Hal ini dilakukan untuk mengetahui hubungan sejarah sosial masyarakat terhadap kegiatan industri mebel dan ukir di Jepara. Analisis data digunakan format analisis kusioner dari beberapa pertanyaan baik wawancara, observasi, rekaman visual, maupun penyebaran angket. Analisa data yang lain digunakan adalah teknik perencanaan strategi SWOT dengan pertimbangan kekuatan (strenght), kelemahan (weakness), peluang (opportunity), dan ancaman (threat). Apabila terdapat data yang masih kurang dicarikan tambahan data untuk melengkapi baik dalam bentuk naratif, tabel gambar, serta rekaman visual, selanjutnya diinterprestasikan dalam penarikan kesimpulan. Pada hasil penelitian ini dapat diungkapkan bahwa limbah kayu yang selama ini dibiarkan oleh masyarakat di Jepara dapat mempunyai nilai ekonomis apabila dibuat dalam alternatif desain aneka produk, misalnya: pewadahan, dudukan lampu, mainan anak-anak, alat olah raga, alat terapi kesehatan, dll. Pemberdayaan masyarakat melaui pendidikan dan pelatihan adalah merupakan strategi yang tepat dalam memanfaatkan limbah kayu ini menjadi aneka produk sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat, menciptakan lapangan kerja dan turut mengurangi pengangguran. Sebagaimana diketahui, limbah kayu adalah bahan organik yang terbentuk dari senyawasenyawa karbon seperti hollo sellulose (sellulose dan hemi sellulose), lignin dan sedikit senyawa karbohidrat, sehingga sangat berpotensi dijadikan sumber energi. pada sesi ini pengolahan limbah padat lebih difokuskan pada proses pemanfaatannya baik secara langsung maupun setelah melalui proses daur ulang. 1. pemanfaatan sebagai kayu bakar Secara tradisional sejak dahulu, limbah kayu sudah dimanfaatkan sebagai bahan bakar di
  • rumah-rumah tangga untuk keperluan memasak. limbah kayu berupa serpihan dapat langsung dijadikan kayu bakar, sedangkan limbah kayu berupa serbuk biasanya dijadikan bahan bakar setelah dipadatkan menjadi "angklo". Caranya, serbuk kayu setelah dikeringkan dimasukkan kedalam cetakan berupa tunggu, kemudian dipadatkan dan langsung dapat dibakar. 2. pemanfaatan sebagai bahan baku pupuk organik Limbah industri kayu, terutama yang berbentuk serbuk dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk kompos, setelah dicampur dengan limbah - limbah lain seperti sampah organik, daun - daunan, sisa - sisa makanan dan lumpur organik pada unit pengolahan limbah. Umumnya bahan - bahan pencampur di atas mempunyai kadar air cukup tinggi, sehingga serbuk kayu dismping berfungsi sebagai sumber karbon juga sebagai media penyerap air. Bagan pembuatan kompos dari bahan baku campuran limbah - limbah organik termasuk limbah industri perkayuan adalah seperti gambar di bawah ini. Tahap - tahap Produksi Kompos Dari Limbah Organik Bahan baku --> fermentasi tahap I --> fermentasi tahap II --> sizing & packaging -- > kompos Pertama, campuran bahan baku ditumpuk dalam ruangan yang diberi atap agar tidak terkena hujan. Kemudian membiarkan selama sekitar 3 minggu sampai terjadi proses penguraian senyawa - senyawa komplek berantai panjang menjadi senyawa sederhana oleh mikroba yang ada didalam limbah tersebut. Selama proses fermentasi suhu akan naik sampai mencapai 70oC. Secara periodik,bahan- bahan kompos tersebut diaduk guna membebaskan panas yang tersimpan, disamping itu fungsi lainnya adalah untuk homogenisasi campuran. Proses ini disebut fermentasi tahap I. Selanjutnya kompos setengah jadi hasil tahap I dipindahkan keruangan lain untuk proses lanjutan pada fermentasi tahap II. Disini akan terjadi reaksi penyempurnaan, bahan - bahan yang belum sempat terurai pada tahap I akan didegradasi lagi. Proses tahap II berlangsung selama 2-3 minggu, dan suhunya berkisar antara 40 - 45 oC. Setelah proses komposting selesai, kompos hasil fermentasi tahap II yang banyak mengandung mikroba aktif, sebagai dicampur dengan bahan baku segar. Dengan demikian proses komposasi selanjutnya akan berlangsung lebih cepat lagi. Pada tahap pengayakan ( sizing ) dan pengemasan ( packaging ), pupuk kompos dibersihkan dari kotoran - kotoran yang mungkin masih terikut, kemudian dihaluskan sampai ukuran yang diinginkan. Produk yang sudah bersih dan halus ditimbang, selanjutnya dimasukkan ke dalam karung dan siap untuk dipasarkan.
  • 3.Pemanfaatan sebagai bahan baku produksi etanol Sebagaimana telah diuraikan di atas, limbah pada industri perkayuan merupakan bahan organik yang komponen utamanya adalah senyawa sellulose yang sangat berpotensi dijadikan bahan baku pada industri etanol (alkohol) substitusi bahan bakar. Pertama, senyawa sellulose dikoversi menjadi sakarida atau gula melalui proses sakarifikasi dengan asam pekat. Padatan yang tidak terdekomposisi yaitu senyawa lignin, dipisahkan dari larutan sakarida pada unit filtrasi, selanjutnya lignin dijadikan bahan bakar padat. Asam yang terikut bersama larutan sakarida diambil pada unit rekoveri asam, kemudian dikembalikan ke tangki sakarifikasi untuk digunakan lagi. Larutan sakarida hasil proses sakarifikasi dimana komponen utamanya adalah glukosa, selanjutnya difermentasi menjadi etanol pada bioreaktor. Air limbah ini kemudian digunakan lagi pada proses produksi setelah diolah melalui beberapa tahapan proses penetralan asam, penguraian polutan-polutan karbon organik dan senyawasenyawa ammonia. BAB IV KESIMPULAN A. KESIMPULAN Berdasarkan uraian ini dapat disimpulkan bahwa Limbah pada industri mebel ada bermacammacam, yaitu : 1. Potongan kayu dan serbuk gergaji 2. Limbah bahan finishing 3. Limbah kimia sekunder Dan untuk mengurangi bahaya yang diakibatkan oleh limbah maka dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu : 1. Pemanfaatan sebagai kayu bakar 2. Pemanfaatan sebagai bahan baku pupuk organik 3. Pemanfaatan sebagai bahan baku produksi etanol B. SARAN
  • Perbandingan antara Limbah yang diolah dengan limbah yang tidak diolah/dibiarkan saja, jumlahnya sangan jauh sekali. Sehingga sebisa mungkin kita haarus menjaga lingkungan dengan memperkecil penggunaan limbah dengan cara 4R(Reuse,Recycle,Reduce dan Replace)
  • MAKALAH LIMBAH BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Limbah atau sampah yaitu limbah atau kotoran yang dihasilkan karena pembuangan sampah atau zat kimia dari pabrik-pabrik. Limbah atau sampah juga merupakan suatu bahan yang tidak berarti dan tidak berharga, tapi kita tidak mengetahui bahwa limbah juga bisa menjadi sesuatu yang berguna dan bermanfaat jika diproses secara baik dan benar. Limbah atau sampah juga bisa berarti sesuatu yang tidak berguna dan dibuang oleh kebanyakan orang, mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak berguna dan jika dibiarkan terlalu lama maka akan menyebabkan penyakit padahal dengan pengolahan sampah secara benar maka bias menjadikan sampah ini menjadi benda ekonomis. Konsep yang dapat digunakan dalam mengolah limbah, adalah konsep 4R, yaitu: 1. Reduce: mengurangi penggunaan produk yang akan menghasilkan sampah. 2. Reuse : menggunakan ulang, menjual atau menyumbangkan barang-barang yang masih dapat dimanfaatkan. 3. Recycle: memodifikasi benda yang tadinya tidak bermanfaat, menjadi bermanfaat. 4. Recovery: upaya pengambilan kembali atau pemanfaatan material yang masih dapat dimanfaatkan. Dalam PT. United tractors limbah tersebut merupakan bukan berarti tidak dapat dimanfaatkan kembali, melainkan limbah tersebut dapat diolah kembali sebagai mana mestinya. Limbah organik yang terdapat di PT. United Tractors ini dapat dikelola kembali menjadi pupuk kompos, dan apabila limbah tersebut tidak dapat dipergunakan kembali maka limbah tersebut di buang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Selain itu limbah anorganik pun dapat dimanfaatkan kembali menjadi bahan-bahan yang berguna contohnya kertas bekas dapat dimanfaatkan kembali menjadi kertas yang sama fungsinya seperti semula. B. RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana caranya memanfaatkan limbah di PT. United Tractors ? 2. Dimanakah limbah organik dan limbah anorganik tersebut di daur ulang ? 3. Bagaimana cara menangani limbah di PT. United Tractors ? C. RUANG LINGKUP PENELITIAN 1. Perencanaan pengelolaan limbah ini direncanakan dalam ruang lingkup :  Disekitar daerah PT. United Tractors.  Jenis limbah yang dikelola adalah limbah yang berasal dari PT. United Tractors.  Penanganan pengelolaan limbah yang direncanakan meliputi kegiatan-kegiatan :
  • Pemisahan limbah organik dan limbah anorganik. Daur ulang sampah anorganik. D. TUJUAN PENELITIAN LIMBAH  Untuk mengetahui jenis – jenis limbah yang ada di PT. United Tractors.  Untuk mengetahui tentang tata cara pemanfaatan, pengolahan, dan menanggulangi limbah yang ada di PT. United Tractors. E. MANFAAT PENELITIAN  Memberikan informasi pengetahuan tentang pemanfaatan limbah yang ada di PT. United Tractors.  Siswa dapat mengetahui tata cara mengolah dan menanggulangi limbah. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Limbah Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Dimana masyarakat bermukim, disanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan. Ada sampah, ada air kakus (black water), dan ada air buangan dari berbagai aktivitas domestik lainnya (grey water). Limbah padat lebih dikenal sebagai sampah, yang seringkali tidak dikehendaki kehadirannya karena tidak memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau secara kimiawi, limbah ini terdiri dari bahan kimia Senyawa organik dan Senyawa anorganik. Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah. Tingkat bahaya keracunan yang ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah. B. Pengolahan limbah Beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas limbah adalah volume limbah, kandungan bahan pencemar, dan frekuensi pembuangan limbah. Untuk mengatasi Limbah ini diperlukan pengolahan dan penanganan limbah. Pada dasarnya pengolahan limbah ini dapat dibedakan menjadi: 1.pengolahan menurut tingkatan perlakuan 2. pengolahan menurut karakteristik limbah
  • Untuk mengatasi berbagai limbah dan air limpasan (hujan), maka suatu kawasan permukiman membutuhkan berbagai jenis layanan sanitasi. Layanan sanitasi ini tidak dapat selalu diartikan sebagai bentuk jasa layanan yang disediakan pihak lain. Ada juga layanan sanitasi yang harus disediakan sendiri oleh masyarakat, khususnya pemilik atau penghuni rumah, seperti jamban misalnya. 1. Layanan air limbah domestik: pelayanan sanitasi untuk menangani limbah Air kakus. 2. Jamban yang layak harus memiliki akses air bersih yang cukup dan tersambung ke unit penanganan air kakus yang benar. Apabila jamban pribadi tidak ada, maka masyarakat perlu memiliki akses ke jamban bersama atau MCK. 3. Layanan persampahan. Layanan ini diawali dengan pewadahan sampah dan pengumpulan sampah. Pengumpulan dilakukan dengan menggunakan gerobak atau truk sampah. Layanan sampah juga harus dilengkapi dengan tempat pembuangan sementara (TPS), tempat pembuangan akhir (TPA), atau fasilitas pengolahan sampah lainnya. Dibeberapa wilayah pemukiman, layanan untuk mengatasi sampah dikembangkan secara kolektif oleh masyarakat. Beberapa ada yang melakukan upaya kolektif lebih lanjut dengan memasukkan upaya pengkomposan dan pengumpulan bahan layak daur-ulang. 4. Layanan drainase lingkungan adalah penanganan limpasan air hujan menggunakan saluran drainase (selokan) yang akan menampung limpasan air tersebut dan mengalirkannya ke badan air penerima. Dimensi saluran drainase harus cukup besar agar dapat menampung limpasan air hujan dari wilayah yang dilayaninya. Saluran drainase harus memiliki kemiringan yang cukup dan terbebas dari sampah. 5. Penyediaan air bersih dalam sebuah pemukiman perlu tersedia secara berkelanjutan dalam jumlah yang cukup. Air bersih ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan makan, minum, mandi, dan kakus saja, melainkan juga untuk kebutuhan cuci dan pembersihan lingkungan. C. Karakteristik Limbah Industri Jenis-jenis Limbah Berdasarkan karakteristiknya, limbah dapat digolongkan menjadi 4 macam, yaitu : 1. Limbah cair 2. Limbah padat 3. Limbah gas dan partikel 4. Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) 1. Limbah cair Limbah cair adalah sisa dari suatu hasil usaha atau kegiatan yang berwujud cair (PP 82 thn 2001). Jenis-jenis limbah cair dapat digolongkan berdasarkan pada : a.Sifat Fisika dan Sifat Agregat . Keasaman sebagai salah satu contoh sifat limbah dapat diukur dengan menggunakan metoda Titrimetrik b. Parameter Logam, contohnya Arsenik (As) dengan metoda SSA c. Anorganik non Metalik contohnya Amonia (NH3-N) dengan metoda Biru Indofenol d. Organik Agregat contohnya Biological Oxygen Demand (BOD) e. Mikroorganisme contohnya E Coli dengan metoda MPN f. Sifat Khusus contohnya Asam Borat (H3 BO3) dengan metoda Titrimetrik
  • g. Air Laut contohnya Tembaga (Cu) dengan metoda SPR-IDA-SSA 2. Limbah padat Limbah padat adalah hasil buangan industri yang berupa padatan, lumpur atau bubur yang berasal dari suatu proses pengolahan. Limbah padat berasal dari kegiatan industri dan domestik. Limbah domestic pada umumnya berbentuk limbah padat rumah tangga, limbah padat kegiatan perdagangan, perkantoran, peternakan, pertanian serta dari tempat-tempat umum. Jenis-jenis limbah padat: kertas, kayu, kain, karet/kulit tiruan, plastik, metal, gelas/kaca, organik, bakteri, kulit telur, dll Sumber-sumber dari limbah padat sendiri meliputi seperti pabrik gula, pulp, kertas, rayon, plywood, limbah nuklir, pengawetan buah, ikan, atau daging. Secara garis besar limbah padat terdiri dari : 1) Limbah padat yang mudah terbakar. 2) Limbah padat yang sukar terbakar. 3) Limbah padat yang mudah membusuk. 4) Limbah yang dapat di daur ulang. 5) Limbah radioaktif. 6) Bongkaran bangunan. 7) Lumpur. A. DAMPAK PENCEMARAN LIMBAH PADAT Limbah pasti akan berdampak negatif pada lingkungan hidup jika tidak ada pengolahan yang baik dan benar, dengan adanya limbah padat didalam linkungan hidup maka dapat menimbulkan pencemaran seperti : 1) Timbulnya gas beracun, seperti asam sulfida (H2S), amoniak (NH3), methan (CH4), C02 dan sebagainya. Gas ini akan timbul jika limbah padat ditimbun dan membusuk dikarena adanya mikroorganisme. Adanya musim hujan dan kemarau, terjadi proses pemecahan bahan organik oleh bakteri penghancur dalam suasana aerob/anaerob. 2) Dapat menimbulkan penurunan kualitas udara, dalam sampah yang ditumpuk, akan terjadi reaksi kimia seperti gas H2S, NH3 dan methane yang jika melebihi NAB (Nilai Ambang Batas) akan merugikan manusia. Gas H2S 50 ppm dapat mengakibatkan mabuk dan pusing. 3) Penurunan kualitas air, karena limbah padat biasanya langsung dibuang dalam perairan atau bersama-sama air limbah. Maka akan dapat menyebabkan air menjadi keruh dan rasa dari air pun berubah. 4) Kerusakan permukaan tanah. Dari sebagian dampak-dampak limbah padat diatas, ada beberapa dampak limbah yang lainnya yang ditinjau dari aspek yang berbeda secara umum. Dampak limbah secara umum di tinjau dari dampak terhadap kesehatan dan terhadap lingkungan adalah sebgai berikut :
  • 1. Dampak Terhadap Kesehatan Dampaknya yaitu dapat menyebabkan atau menimbulkan panyakit. Potensi bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut: a) Penyakit diare dan tikus, penyakit ini terjadi karena virus yang berasal dari sampah dengan pengelolaan yang tidak tepat. b) Penyakit kulit misalnya kudis dan kurap. 2. Dampak Terhadap Lingkungan Cairan dari limbah – limbah yang masuk ke sungai akan mencemarkan airnya sehingga mengandung virus-virus penyakit. Berbagai ikan dapat mati sehingga mungkin lama kelamaan akan punah. Tidak jarang manusia juga mengkonsumsi atau menggunakan air untuk kegiatan sehari-hari, sehingga menusia akan terkena dampak limbah baik secara langsung maupun tidak langsung. Selain mencemari, air lingkungan juga menimbulkan banjir karena banyak orangorang yang membuang limbah rumah tanggake sungai, sehingga pintu air mampet dan pada waktu musim hujan air tidak dapat mengalir dan air naik menggenangi rumah-rumah penduduk, sehingga dapat meresahkan para penduduk. B. PENGOLAHAN LIMBAH PADAT Pengolahan limbah padat dapat dilakukan dengan berbagai cara yang tentunya dapat menjadikan limbah tersebut tidak berdampak buruk bagi lingkungan ataupun kesehatan. Menurut sifatnya pengolahan limbah padat dapat dibagi menjadi dua cara yaitu pengolahan limbah padat tanpa pengolahan dan pengolahan limbah padat dengan pengolahan. Limbah padat tanpa pengolahan : Limbah padat yang tidak mengandung unsur kimia yang beracun dan berbahaya dapat langsung dibuang ke tempat tertentu sebagai TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Limbah padat dengan pengolahan : Limbah padat yang mengandung unsur kimia beracun dan berbahaya harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke tempat-tempat tertentu. Pengolahan limbah juga dapat dilakukan dengan cara-cara yang sedehana lainnya misalnya, dengan cara mendaur ulang, Dijual kepasar loakatau tukang rongsokan yang biasa lewat di depan rumah – rumah. Cara ini bisa menjadikan limbah atau sampah yang semula bukan apa-apa sehingga bisa menjadi barang yang ekonomis dan bisa menghasilkan uang. Dapat juga dijual kepada tetangga kita yang menjadi tukang loak ataupun pemulung. Barang-barang yang dapat dijual antara lain kertaskertas bekas, koran bekas, majalah bekas, botol bekas, ban bekas, radio tua, TV tua dan sepeda yang usang. Dapat juga dengan cara pembakaran. Cara ini adalah cara yang paling mudah untuk dilakukan karena tidak membutuhkan usaha keras. Cara ini bisa dilakukan dengan cara membakar limbah-limbah padat misalnya kertas-kertas dengan menggunakan minyak tanah lalu dinyalakan apinya. Kelebihan cara membakar ini adalah mudah dan tidak membutuhkan usaha keras, membutuhkan tempat atau lokasi yang cukup kecil dan dapat digunakan sebagai sumber energi baik untuk pembangkit uap air panas, listrik dan pencairan logam. Faktor – faktor yang perlu kita perhatikan sebelum kita mengolah limbah padat tersebut adalah sebagai berikut :
  • 1. Jumlah Limbah Sedikit dapat dengan mudah kita tangani sendiri. Banyak dapat membutuhkan penanganan khusus tempat dan sarana pembuangan. 2. Sifat fisik dan kimia limbah Sifat fisik mempengaruhi pilihan tempat pembuangan, sarana penggankutan dan pilihan pengolahannya. Sifat kimia dari limbah padat akan merusak dan mencemari lingkungan dengan cara membentuk senyawa-senyawa baru. 3. Kemungkinan pencemaran dan kerusakan lingkungan. Karena lingkungan ada yang peka atau tidak peka terhadap pencemaran, maka perlu kita perhatikan tempat pembuangan akhir (TPA), unsur yang akan terkena, dan tingkat pencemaran yang akan timbul. 4. Tujuan akhir dari pengolahan Terdapat tujuan akhir dari pengolahan yaitu bersifat ekonomis dan bersifat non-ekonomis. Tujuan pengolahan yang bersifat ekonomis adalah dengan meningkatkan efisiensi pabrik secara menyeluruh dan mengambil kembali bahan yang masih berguna untuk di daur ulang atau di manfaat lain. Sedangkan tujuan pengolahan yang bersifat non-ekonomis adalah untuk mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan. C. PROSES PENGOLAHAN LIMBAH PADAT Dalam memproses pengolahan limbah padat terdapat empat proses yaitu pemisahan, penyusunan ukuran, pengomposan, dan pembuangan limbah. 1. Pemisahan Karena limbah padat terdiri dari ukuran yang berbedan dan kandungan bahan yang berbeda juga maka harus dipisahkan terlebih dahulu, supaya peralatan pengolahan menjadi awet. Sistem pemisahan ada tiga yaitu diantaranya : Sistem Balistik. Adalah sistem pemisahan untuk mendapatkan keseragaman ukuran / berat / volume. Sistem Gravitasi. Adalah sistem pemisahan berdasarkan gaya berat misalnya barang yang ringan / terapung dan barang yang berat / tenggelam. Sistem Magnetis. Adalah sistem pemisahan berdasarkan sifat magnet yang bersifat agnet, akan langsung menempel. Misalnya untuk memisahkan campuran logam dan non logam. 2. Penyusunan Ukuran Penyusunan ukuran dilakukan untuk memperoleh ukuran yang lebih kecil agar pengolahannya menjadi mudah.
  • 3. Pengomposan Pengomposan dilakukan terhadap buangan / limbah yang mudah membusuk, sampah kota, buangan atau kotoran hewan ataupun juga pada lumpur pabrik. Supaya hasil pengomposan baik, limbah padat harus dipisahkan dan disamakan ukurannya atau volumenya. 4. Pembuangan Limbah Proses akhir dari pengolahan limbah padat adalah pembuangan limbah yang dibagi menjadi dua yaitu : a) Pembuangan Di Laut Pembuangan limbah padat di laut, tidak boleh dilakukan pada sembarang tempat dan perlu diketahui bahwa tidak semua limbah padat dapat dibuang ke laut. Hal ini disebabkan : 1. Laut sebagai tempat mencari ikan bagi nelayan. 2. Laut sebagai tempat rekreasi dan lalu lintas kapal. 3. Laut menjadi dangkal. 4. Limbah padat yang mengandung senyawa kimia beracun dan berbahaya dapat membunuh biota laut. b) Pembuangan Di Darat Atau Tanah Untuk pembuangan di darat perlu dilakukan pemilihan lokasi yang harus dipertimbangkan sebagai berikut : 1. Pengaruh iklim, temperatur dan angin. 2. Struktur tanah. 3. Jaraknya jauh dengan permukiman. 4. Pengaruh terhadat sumber lain, perkebunan, perikanan, peternakan, flora atau fauna. Pilih lokasi yang benar-benar tidak ekonomis lagi untuk kepentingan apapun. 3. Limbah gas dan partikel Pengolahan Limbah Gas Ada beberapa metode yang telah dikembangkan untuk penyederhanaan buangan gas. Dasar pengembangan yang dilakukan adalah absorbsi, pembakaran, penyerap ion, kolam netralisasi dan pembersihan partikel. Pilihan peralatan dilakukan atas dasar faktor berikut: – Jenis bahan pencemar (polutan) – Komposisi – Konsentrasi – Kecepatan air polutan – Daya racun polutan – Berat jenis
  • – Reaktivitas – Kondisi lingkungan Desain peralatan disesuaikan dengan variabel tersebut untuk memperoleh tingkat efisiensi yang maksimum. Kesulitannya sering terbentuk pada persediaan alat di pasaran. Pilihan desain yang diinginkan tidak sesuai dengan kondisi limbah, sebab itu harus dibentuk desain baru. Kemampuan untuk mendesain peralatan membutuhkan keahlian tersendiri dan ini merupakan masalah tersendiri pula. Di samping itu ada faktor lain yang harus dipertimbangkan yaitu nilai ekonomis peralatan. Tidakkah peralatan mencakup sebagian besar investasi yang tentu harus dibebankan pada harga pokok produksi. Permasalahannya bahwa ternyata kemudian biaya pengendalian menjadi beban konsumen. Atas dasar pemikiran ini maka pilihan teknologi .pengolahan harus merupakan kebijaksanaan perlindungan konsumen baik dari sudut pencemaran itu sendiri maupun dari segi biaya. Pada umumnya jenis pencemar melalui udara terdiri dari bermacam-macam senyawa kimia baik berupa limbah maupun bahan beracun dan berbahaya yang tersimpan dalam pabrik. 4. Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). A. Pengertian Limbah B3 Limbah B3 adalah sisa suatu usaha atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifat, konsentrasinya, dan jumlahnya secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan, merusak, dan dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya. Pengelolaan Limbah B3 adalah rangkaian kegiatan yang mencakup reduksi, penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan, dan penimbunan limbah B3. Pengelolaan Limbah B3 ini bertujuan untuk mencegah, menanggulangi pencemaran dan kerusakan lingkungan, memulihkan kualitas lingkungan tercemar, dan meningkatan kemampuan dan fungsi kualitas lingkungan. Pengelolaan Limbah B3 ditetapkan berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 tahun 1994 yang dibaharui dengan PP No. 12 tahun 1995 dan diperbaharui kembali dengan PP No. 18 tahun 1999 tanggal 27 Februari 1999 yang dikuatkan lagi melalui Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 2001 tanggal 26 November 2001 tentang Pengelolaan Limbah B3 Menurut PP No. 18 tahun 1999, yang dimaksud dengan limbah B3 adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusakan lingkungan hidup dan atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta mahluk hidup lain. B. Tujuan pengelolaan limbah B3 Tujuan pengelolaan B3 adalah untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran atau kerusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh limbah B3 serta melakukan pemulihan kualitas lingkungan yang sudah tercemar sehingga sesuai dengan fungsinya kembali. Dari hal ini jelas bahwa setiap kegiatan/usaha yang berhubungan dengan B3, baik penghasil, pengumpul, pengangkut, pemanfaat, pengolah dan penimbun B3, harus memperhatikan aspek
  • lingkungan dan menjaga kualitas lingkungan tetap pada kondisi semula. Dan apabila terjadi pencemaran akibat tertumpah, tercecer dan rembesan limbah B3, harus dilakukan upaya optimal agar kualitas lingkungan kembali kepada fungsi semula. C. Identifikasi limbah B3 Pengidentifikasian limbah B3 digolongkan ke dalam 2 (dua) kategori, yaitu: 1. Berdasarkan sumber 2. Berdasarkan karakteristik Golongan limbah B3 yang berdasarkan sumber dibagi menjadi: Limbah B3 dari sumber spesifik; Limbah B3 dari sumber tidak spesifik; Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa, tumpahan, bekas kemasan dan buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi. Sedangkan golongan limbah B3 yang berdasarkan karakteristik ditentukan dengan: mudah meledak; pengoksidasi; sangat mudah sekali menyala; sangat mudah menyala; mudah menyala; amat sangat beracun; sangat beracun; beracun; berbahaya; korosif; bersifat iritasi; berbahayabagi lingkungan; karsinogenik; teratogenik; mutagenik. Karakteristik limbah B3 ini mengalami pertambahan lebih banyak dari PP No. 18 tahun 1999 yang hanya mencantumkan 6 (enam) kriteria, yaitu: mudah meledak; mudah terbakar; bersifat reaktif; beracun; menyebabkan infeksi;
  • bersifat korosif. Peningkatan karakteristik materi yang disebut B3 ini menunjukan bahwa pemerintah sebenarnya memberikan perhatian khusus untuk pengelolaan lingkungan Indonesia. Hanya memang perlu menjadi perhatian bahwa implementasi dari Peraturan masih sangat kurang di negara ini. Limbah B3 dapat diklasifikasikan menjadi: * Primary sludge, yaitu limbah yang berasal dari tangki sedimentasi pada pemisahan awal dan banyak mengandung biomassa senyawa organik yang stabil dan mudah menguap * Chemical sludge, yaitu limbah yang dihasilkan dari proses koagulasi dan flokulasi * Excess activated sludge, yaitu limbah yang berasal dari proses pengolahan dengan lumpur aktif sehingga banyak mengandung padatan organik berupa lumpur dari hasil proses tersebut * Digested sludge, yaitu limbah yang berasal dari pengolahan biologi dengan digested aerobic maupun anaerobic di mana padatan/lumpur yang dihasilkan cukup stabil dan banyak mengandung padatan organik. D. Pengelolaan dan pengolahan limbah B3 Pengelolaan limbah B3 meliputi kegiatan pengumpulan, pengangkutan, pemanfatan, pengolahan dan penimbunan. Setiap kegiatan pengelolaan limbah B3 harus mendapatkan perizinan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan setiap aktivitas tahapan pengelolaan limbah B3 harus dilaporkan ke KLH. Untuk aktivitas pengelolaan limbah B3 di daerah, aktivitas kegiatan pengelolaan selain dilaporkan ke KLH juga ditembuskan ke Bapedalda setempat. Pengolahan limbah B3 mengacu kepada Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) Nomor Kep-03/BAPEDAL/09/1995 tertanggal 5 September 1995 tentang Persyaratan Teknis Pengolahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun Pengolahan limbah B3 harus memenuhi persyaratan: Lokasi pengolahan Pengolahan B3 dapat dilakukan di dalam lokasi penghasil limbah atau di luar lokasi penghasil limbah. Syarat lokasi pengolahan di dalam area penghasil harus: 1. daerah bebas banjir; 2. jarak dengan fasilitas umum minimum 50 meter; Syarat lokasi pengolahan di luar area penghasil harus: 1. daerah bebas banjir; 2. jarak dengan jalan utama/tol minimum 150 m atau 50 m untuk jalan lainnya; 3. jarak dengan daerah beraktivitas penduduk dan aktivitas umum minimum 300 m; 4. jarak dengan wilayah perairan dan sumur penduduk minimum 300 m; 5. dan jarak dengan wilayah terlindungi (spt: cagar alam,hutan lindung) minimum 300 m. Fasilitas pengolahan
  • Fasilitas pengolahan harus menerapkan sistem operasi, meliputi: 1. sistem kemanan fasilitas; 2. sistem pencegahan terhadap kebakaran; 3. sistem pencegahan terhadap kebakaran; 4. sistem penanggulangan keadaan darurat; 5. sistem pengujian peralatan; 6. dan pelatihan karyawan. Keseluruhan sistem tersebut harus terintegrasi dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam pengolahan limbah B3 mengingat jenis limbah yang ditangani adalah limbah yang dalam volume kecil pun berdampak besar terhadap lingkungan. Penanganan limbah B3 sebelum diolah Setiap limbah B3 harus diidentifikasi dan dilakukan uji analisis kandungan guna menetapkan prosedur yang tepat dalam pengolahan limbah tersebut. Setelah uji analisis kandungan dilaksanakan, barulah dapat ditentukan metode yang tepat guna pengolahan limbah tersebut sesuai dengan karakteristik dan kandungan limbah. Pengolahan limbah B3 Jenis perlakuan terhadap limbah B3 tergantung dari karakteristik dan kandungan limbah. Perlakuan limbah B3 untuk pengolahan dapat dilakukan dengan proses sbb: 1. proses secara kimia, meliputi: redoks, elektrolisa, netralisasi, pengendapan, stabilisasi, adsorpsi, penukaran ion dan pirolisa. 2. proses secara fisika, meliputi: pembersihan gas, pemisahan cairan dan penyisihan komponenkomponen spesifik dengan metode kristalisasi, dialisa, osmosis balik, dll. 3. proses stabilisas/solidifikasi, dengan tujuan untuk mengurangi potensi racun dan kandungan limbah B3 dengan cara membatasi daya larut, penyebaran, dan daya racun sebelum limbah dibuang ke tempat penimbunan akhir 4. proses insinerasi, dengan cara melakukan pembakaran materi limbah menggunakan alat khusus insinerator dengan efisiensi pembakaran harus mencapai 99,99% atau lebih. Artinya, jika suatu materi limbah B3 ingin dibakar (insinerasi) dengan berat 100 kg, maka abu sisa pembakaran tidak boleh melebihi 0,01 kg atau 10 gr Tidak keseluruhan proses harus dilakukan terhadap satu jenis limbah B3, tetapi proses dipilih berdasarkan cara terbaik melakukan pengolahan sesuai dengan jenis dan materi limbah. Hasil pengolahan limbah B3 Memiliki tempat khusus pembuangan akhir limbah B3 yang telah diolah dan dilakukan pemantauan di area tempat pembuangan akhir tersebut dengan jangka waktu 30 tahun setelah tempat pembuangan akhir habis masa pakainya atau ditutup.
  • Perlu diketahui bahwa keseluruhan proses pengelolaan, termasuk penghasil limbah B3, harus melaporkan aktivitasnya ke KLH dengan periode triwulan (setiap 3 bulan sekali). BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Berdasarkan hasil penelitian kami bahwa limbah yang terdapat di PT. United Tractors adalah sebagai berikut. 1. Kertas Bekas (Waste Paper) Dalam rangka penghematan kertas, setelah dilihat kertas yang telah menjadi sampah dalam lingkungan perusahaan PT. United Tractors, maka kertas tersebut dapat di pakai kembali menjadi kertas yang berguna. Perlu diketahui, dalam perusahaan PT. United Tractors sampah
  • yang berupa plastik,kertas putih, dan kertas berwarna lainnya itu tidak dibuang begitu saja melainkan di simpan di dalam rak kertas bekas untuk di pakai kembali, sedangkan kertas yang berwarna coklat dibuang ke tong sampah, selain itu limbah yang berbahan plastik di buang juga di dalam tong sampah, yang tempat sampahnya berada dimasing-masing bawah meja karyawan. 2. Limbah B3 Pada perusahaan di PT. United Tractors ini limbah B3 tidak langsung dibuang begitu saja melainkan disimpan terlebih dahulu di suatu tempat penyimpanan yang aman untuk menyimpan limbah B3 tersebut. Contoh dari limbah B3 tersebut adalah oli, solar, bensin, cat, dan sebagainya. Dalam ruangan ini orang yang tidak bersangkutan dilarang memasuki area ini, sebab ruangan ini merupakan tempat penyimpanan barang-barang berbahaya dan beracun. 3. Kardus Bekas
  • Kardus-kardus tersebut merupakan kardus yang tidak terpakai lagi, dan kardus – kardus tersebut dapat diolah kembali seperti kegunaan semula yaitu sebagai pembungkus barang apabila barang yang dikirim tersebut jumlahnya banyak ataupun sedikit. 4. Kotak Nasi Bekas Di dalam PT.United Tractors ketika para karyawan telah selesai makan siang, maka kotak – kotak nasi tersebut ditumpuk di dalam ruangan dan kemudian dikumpulkan didalam kantong plastik hitam, sebelum dimasukkan kedalam kantong plastic hitam tersebut biasanya kotak nasi tersebut diletakkan dibawah lantai dan ditumpuk sampai tinggi dan akhirnya mengakibatkan terjadinya kerubuhan kotak makanan tersebut yang kemudian isi dari sisa makanan tersebut berhamburan. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya pemandangan yang ada didalam PT. United Tractors tersebut.
  • 5. Plastik Bekas Plastik tersebut apabila telah robek atau rusak langsung dibuang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) dan tidak akan dipakai lagi. Tetapi tim TPA tersebut yang akan mengolah limbah plastik tersebut menjadi plastik yang baru seperti semula. B. Pembahasan Ternyata limbah yang terdapat di PT. United Tractors tersebut merupakan limbah yang dapat diolah kembali menjadi barang yang berguna seperti semula. Walaupun di dalam perusahaan PT. United Tractors tersebut tidak dapat mengolah limbah – limbah tersebut akan tetapi limbah tersebut dapat diolah dengan melalui tim TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Salah satu contoh limbah yang sering digunakan kembali menjadi fungsi yang semula adalah kertas bekas, karena kertas bekas tersebut tidak harus diolah terlebih dahulu untuk menggunakan kembali. Sebab dari limbah kertas tersebut masih tersisa kertas kosong yang terdapat dibelakang kertas yang telah terpakai tersebut. Sedangkan limbah – limbah yang lain seperti kotak nasi, limbah B3, Plastik bekas, dan kardus bekas dapat diolah kembali melalui tim TPA (Tempat Pembuangan Akhir).
  • BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Dapat disimpulkan limbah/ sampah yang terdapat di PT. UNITED TRACTORS diminilasir selain untuk pentingnya kesehatan dan estetika sehingga aktifitas karyawan dapat berkesinambungan dalam menjalankan tugas. Limbah yang digunakan Perusahaan tidaklah mengandung zat-zat yang berbahayakan tetapi menjadi bahan-bahan yang baik akan kesuburan tanah dan pertumbuhan pohon. Salah satunya adalah kertas bekas yang dimanfaatkan tersebut merupakan hasil dari kegiatan sehari-hari di dalam Perusahaan. Apabila terus menerus menggunakan kertas tetapi tidak dikelola kembali, tidak dapat dipungkiri lagi pohon-pohon akan menjadi gundul. Maka dari itu pergunakan kertas dengan sebaik-baiknya. Jadi sebagian besar limbah yang terdapat disini tidak langsung didaur ulang oleh Perusahaan. Akan tetapi di olah oleh Tim Kebersihan TPA (Tempat pembuangan akhir). Limbah yang berupa organik dapat dikelola dengan baik dan bersifat buangan. Digunakan kembali sebagai alat yang baik untuk pertumbuhan tanaman dan kesuburan tanah. Limbah yang berupa anorganik dapat pula dimanfaatkan untuk membantu orang yang membutuhkan dan di gunakan untuk menghasilkan uang, selain itu ada juga limbah anorganik yang dapat dipergunakan untuk menyuburkan tanaman ( Di jadikan pupuk ) B. Saran Sebaiknya limbah yang terdapat di PT. United Tractors tersebut harus diolah kembali agar menjadi barang yang berguna seperti semula. Pada perusahaan ini limbah yang dapat digunakan kembali yaitu hanya kertas bekas. Tidak semua limbah di PT. United Tractors ini dapat diolah kembali menjadi barang yang berguna seperti semula. Kebanyakan barang – barang yang tidak terpakai di perusahaan ini langsung di buang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir). PENGOLAHAN KOTORAN KAMBING SEBAGAI SAMPAH ORGANIK MENJADI PUPUK KOMPOS DAN PEMANFAATAN KARDUS BEKAS MENJADI BINGKAI FOTO YANG MENARIK LAPORAN PENELITIAN Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Pencemaran Lingkungan
  • Disusun oleh: Kelompok 2 / Kelas 3B Nama Anggarini Puspitasari Fani Nurseptianto Eka Siti Maemunah Nike Ayu Wandira Ai Sri Komalasari Konita Khusnul Khotimah Rendi Siswanto Siti Nurhayati NPM 092154041 092154043 092154048 092154049 092154056 092154057 092154065 092154068 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNVERSITAS SILIWANGI TASIKAMALAYA 2011 A. Latar Belakang Masalah Kelestarian lingkungan hidup merupakan sesuatu yang harus selalu kita jaga. Hal ini demi kelangsungan hidup kita dan anak cucu kita dimasa depan. Namun, sangat ironis sekali jika kita lihat dijaman sekarang. Kemajuan teknologi industri disana sini taklantas di imbangi dengan kesadaran kita akan dampak dari limbah hasil industri tersebut. Hal ini lah yang menyebabkan kelestarian lingkungan kian hari kian buruk. Contoh kecilnya saja ialah sampah. Permasalah sampah merupakan hal yang krusial. Bahkan, sampah dapat dikatakan sebagai masalah kultural karena dampaknya terkena pada berbagai sisi kehidupan. Menurut prakiraan, volume sampah yang dihasilkan per orang rata-rata
  • sekitar 0,5kg/kapita/hari. Dengan jumlah yang tergolong besar tersebut, perlu adanya penanganan yang khusus. Secara umum sampah yang kita kenal adalah sampah organik (biasa disebut juga sampah basah) dan sampah anorganik (sampah kering). Pada umumnya, sebagian besar sampah yang dihasilkan di Indonesia merupakan sampah basah, yaitu mencakup 60-70% dari total volume sampah. Oleh karena itu pengelolaan sampah yang terdesentralisisasi sangat membantu dalam meminimasi sampah yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir. Sampah yang dibuang harus dipilah, sehingga tiap bagian dapat dikomposkan atau didaur-ulang secara optimal. Bagian yang dikomposkan biasanya adalah sampah organik. Hasil akhir dari proses pengkomposan ini adalah berupa pupuk. Dewasa ini pemupukan dengan pupuk anorganik atau pupuk buatan penggunaannya semakin meningkat. Hal ini bila berlangsung terus dapat menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan hara dalam tanah, dan rusaknya struktur tanah, sehingga dapat menurunkan produktivitas tanah pertanian. Salah satu alternatif untuk mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah adalah dengan pemberian bahan organik seperti pupuk kandang ke dalam tanah. Pemberian pupuk kandang, selain dapat meningkatkan kesuburan tanah juga dapat mengurangi penggunaan pupuk buatan yang harganya relatif mahal dan terkadang sulit diperoleh. Untuk memudahkan kita dalam memperolehnya, tidak ada salahnya kita untuk mencoba membuat pupuk kandang sendiri. Yakni dengan memanfaatkan kotoran ternak, seperti kotoran kambing, sapi, ayam, dan sebagainya. Berdasarkan hal tersebut kami berfikir untuk melakukan penelitian, yakni dengan memanfaatkan kotoran kambing untuk dijadikan pupuk organik. Dikarenakan bahan tersebut banyak tersedia disekitar lingkungan tempal tinggal. Sedangkan bagian yang didaur-ulang biasanya adalah sampah anorganik atau sampah kering, karena sampah jenis ini tidak dapat terdegradasi (membusuk / hancur) secara alami. Oleh karenanya kembali kepada kita sendiri untuk mengolah dan memanfaatkannya agar menjadi barang atau benda yang berguna kembali dengan tidak melepaskan nilai estetikanya. Contohnya saja dari kaleng bekas, kertas bekas, plastik, kardus, botol dan yang lainnya. Semua itu dapat dijadikan benda yang memiliki nilai ekonomi lebih jika kita terampil mengolahnya. Kita sering melihat tumpukan-tumpukan dus bekas yang akhirnya hanya dikumpulkan dan dijual ke pengepul barang bekas. Padahal jika kita lebih kreatif, banyak hal yang bisa dibuat dari kardus bekas tersebut. Begitupun materi yang dihasilkan akan lebih banyak dibandingkan
  • jika kita hanya menjualnya saja. Hal itulah yang menjadi dasar mengapa kami mengambil kardus untuk dijadikan bahan penelitian kami. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas kami merumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. Apa yang dimaksud dengan Pencemaran Lingkungan, macam dan penyebabnya? 2. Bagaimana cara pemanfaatan sampah organik dan anorganik dalam penanggulangan pencemaran lingkungan? 3. Apa saja keuntungan yang didapat dari pengolahan sampah organik dan anorganik? C. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1. Definisi, macam, dan penyebab pencemaran lingkungan. 2. Cara pemanfaatan sampah organik dan anorganik. 3. Keuntungan dari pengolahan sampah organik dan anorganik. D. Manfaat Penelitian 1. Akademis Dengan adanya proposal penelitian ini diharapkan menjadi suatu tambahan ilmu dan bernilai manfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi program studi pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Siliwangi. 2. Praktis Dari penyusunan proposal ini diharapkan mahasiswa mampu mengembangkan kemampuan berfikir kritis, kreatif dan kemampuan memecahkan masalah setelah mempelajari bahasan ini. E. Landasan Teoritis 1. Pencemaran Lingkungan Polusi atau pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan, atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat
  • berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (Undang-undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 1982). Inti dari permasalahan lingkungan hidup adalah hubungan makhluk hidup, khususnya manusia dengan lingkungan hidupnya. Ilmu tentang hubungan timbal balik makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya di sebut ekologi. Lingkungan hidup adalah sistem yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dengan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan peri kehidupannya dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Dari definisi diatas tersirat bahwa makhluk hidup khususnya merupakan pihak yang selalu memanfaatkan lingkungan hidupnya, baik dalam hal respirasi, pemenuhan kebutuhan pangan, papan dan lain-lain. Dan, manusia sebagai makhluk yang paling unggul di dalam ekosistemnya, memiliki daya dalam mengkreasi dan mengkonsumsi berbagai sumber-sumber daya alam bagi kebutuhan hidupnya. Berdasarkan lingkungan yang mengalami pencemaran, secara garis besar pencemaran lingkungan dapat dikelompokkan menjadi pencemaran air, tanah, dan udara. a. Pencemaran Air Di dalam tata kehidupan manusia, air banyak memegang peranan penting antara lain untuk minum, memasak, mencuci dan mandi. Di samping itu air juga banyak diperlukan untuk mengairi sawah, ladang, industri, dan masih banyak lagi. Tindakan manusia dalam pemenuhan kegiatan sehari-hari, secara tidak sengaja telah menambahjumlah bahan anorganik pada perairan dan mencemari air. Misalnya, pembuangan detergen ke perairan dapat berakibat buruk terhadap organisme yang ada di perairan. Pemupukan tanah persawahan atau ladang dengan pupuk buatan, kemudian masuk ke perairan akan menyebabkan pertumbuhan tumbuhan air yang tidak terkendali yang disebut eutrofikasi atau blooming. Beberapa jenis tumbuhan seperti alga, paku air, dan eceng gondok akan tumbuh subur dan menutupi permukaan perairan sehingga cahaya matahari tidak menembus sampai dasar perairan. Akibatnya, tumbuhan yang ada di bawah permukaan tidak dapat berfotosintesis sehingga kadar oksigen yang terlarut di dalam air menjadi berkurang. Bahan-bahan kimia lain, seperti pestisida atau DDT (Dikloro Difenil Trikloroetana) yang sering digunakan oleh petani untuk memberantas hama tanaman juga dapat berakibat buruk terhadap tanaman dan organisme lainnya. Apabila di dalam ekosistem perairan terjadi pencemaran DDT atau pestisida, akan terjadi aliran DDT.
  • b. Pencemaran Tanah Tanah merupakan tempat hidup berbagai jenis tumbuhan dan makhluk hidup lainnya termasuk manusia. Kualitas tanah dapat berkurang karena proses erosi oleh air yang mengalir sehinggakesuburannya akan berkurang. Selain itu, menurunnya kualitas tanah juaga dapat disebabkan limbah padat yang mencemari tanah. Menurut sumbernya, limbah padat dapat berasal dari sampah rumah tangga (domestik), industri dan alam (tumbuhan). Adapun menurut jenisnya, sampah dapat dibedakan menjadi sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik berasal dari sisa-sisa makhluk hidup, seperti dedaunan, bangkai binatang, dan kertas. Adapun sampah anorganik biasanya berasal dari limbah industri, seperti plastik, logam dan kaleng. Sampah organik pada umumnya mudah dihancurkan dan dibusukkan oleh mikroorganisme di dalam tanah. Adapun sampah anorganik tidak mudah hancur sehingga dapat menurunkan kualitas tanah. c. Pencemaran Udara Udara dikatakan tercemar jika udara tersebut mengandung unsur-unsur yang mengotori udara. Bentuk pencemar udara bermacam-macam, ada yang berbentuk gas dan ada yang berbentuk partikel cair atau padat. Pencemaran Udara Berbentuk Gas Beberapa gas dengan jumlah melebihi batas toleransi lingkungan, dan masuk ke lingkungan udara, dapat mengganggu kehidupan makhluk hidup. Pencemar udara yang berbentuk gas adalah karbon monoksida, senyawa belerang (SO2 dan H2S), seyawa nitrogen (NO2), dan chloroflourocarbon (CFC). Kadar CO2 yang terlampau tinggi di udara dapat menyebabkan suhu udara di permukaan bumi meningkat dan dapat mengganggu sistem pernapasan. Kadar gas CO lebih dari 100 ppm di dalam darah dapat merusak sistem saraf dan dapat menimbulkan kematian. Gas SO2 dan H2S dapat bergabung dengan partikel air dan menyebabkan hujan asam. Keracunan NO2 dapat menyebabkan gangguan sistem pernapasan, kelumpuhan, dan kematian. Sementara itu, CFC dapat menyebabkan rusaknya lapian ozon di atmosfer. Pencemaran Udara Berbentuk Partikel Cair atau Padat
  • Partikel yang mencemari udara terdapat dalam bentuk cair atau padat. Partikel dalam bentuk cair berupa titik-titik air atau kabut. Kabut dapat menyebabkan sesak napas jika terhiap ke dalam paru-paru. Partikel dalam bentuk padat dapat berupa debu atau abu vulkanik. Selain itu, dapat juga berasal dari makhluk hidup, misalnya bakteri, spora, virus, serbuk sari, atau serangga-serangga yang telah mati. Partikel-partikel tersebut merupakan sumber penyakit yang dapat mengganggu kesehatan manusia. Partikel yangmencemari udara dapat berasal dari pembakaran bensin. Bensin yang digunakan dalam kendaraan bermotor biasanya dicampur dengan senyawa timbal agar pembakarannya cepat mesin berjalan lebih sempurna. Timbal akan bereaki dengan klor dan brom membentuk partikel PbClBr. Partikel tersebut akan dihamburkan oleh kendaraan melalui knalpot ke udara sehingga akan mencemari udara. 2. Sampah Dalam kehidupan, manusia tidak dapat dilepaskan dari sampah. Setiap hari manusia selalu menghasilkan sampah yang semakin hari semakin banyak jumlahnya. Sampah di perkotaan telah menjadi masalah yang cukup rumit sehingga kadang sulit untuk mengatasinya. Sampah adalah sisa-sisa barang atau benda yang sudah tak terpakai yang akhirnya dibuang. Sampah di negara kita begitu berlimpah sehingga timbul masalah dalam pembuangannya. Dulu pernah ada kota yang menghadapi persoalan mengenai sampah sampaisampai di tiap sudut kota ditemukan sampah yang berserakan dan menggunung yang membuat kita terkejut dengan banyaknya sampah yang ada. Sehingga kota tersebut sempat dijuluki kota sampah. Hal itu terjadi akibat terbatasnya tempat untuk pembuangan sampah dan tidak adanya alternatif lain untuk memanfaatkan sampah yang ada. Sampah yang bertumpuk menimbulkan bau tak sedap dan penyakit menular yang berbahaya bagi manusia. Sedangkan di lain tempat banyak orang yang membuang sampah sembarangan ke selokan atau sungai yang akhirnya menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir. Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah merupakan didefinisikan oleh manusia menurut derajat keterpakaiannya, dalam prosesproses alam sebenarnya tidak ada konsep sampah, yang ada hanya produk-produk yang dihasilkan setelah dan selama proses alam tersebut berlangsung.
  • Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktifitas manusia. Setiap aktifitas manusia pasti menghasilkan buangan atau sampah. Jumlah atau volume sampah sebanding dengan tingkat konsumsi kita terhadap barang/material yang kita gunakan sehari-hari. Demikian juga dengan jenis sampah, sangat tergantung dari jenis material yang kita konsumsi. Oleh karena itu pegelolaan sampah tidak bisa lepas juga dari „pengelolaan‟ gaya hidup masyrakat. Peningkatan jumlah penduduk dan gaya hidup sangat berpengaruh pada volume sampah. Misalnya saja, kota Jakarta pada tahun 1985 menghasilkan sampah sejumlah 18.500 m3 per hari dan pada tahun 2000 meningkat menjadi 25.700 m3 per hari. Jika dihitung dalam setahun, maka volume sampah tahun 2000 mencapai 170 kali besar Candi Borobudur (volume Candi Borobudur = 55.000 m3). [Bapedalda, 2000]. Selain Jakarta, jumlah sampah yang cukup besar terjadi di Medan dan Bandung. Kota metropolitan lebih banyak menghasilkan sampah dibandingkan dengan kota sedang atau kecil. Secara umum, jenis sampah dapat dibagi 2 yaitu a. Sampah organik (biasa disebut sebagai sampah basah) Sapah basah adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup, seperti daun-daunan, sampah dapur, dll. Sampah jenis ini dapat terdegradasi (membusuk/hancur) secara alami. b. Sampah anorganik (sampah kering). Sebaliknya dengan sampah kering, seperti kertas, plastik, kaleng, dll. Sampah jenis ini tidak dapat terdegradasi secara alami. Peningkatan jumlah penduduk yang begitu pesat dan gaya hidup masyarakatnya berpengaruh besar pada volume sampah yang dihasilkan. Bila hal ini tidak cepat ditangani akan semakin komplek masalah yang ditimbulkan akibat sampah. Jadi sampah perlu penanganan semua pihak bukan hanya oleh pemerintah saja tetapi kita ikut aktif bertindak terhadap masalah tersebut. Paling tidak kita dapat memanfaatkan sampah dari hasil rumah tangga kita sendiri. 3. Cara Pemanfaatan Sampah Organik dan Anorganik Cara yang dapat dilakukan adalah sebelum membuang sampah pilahlah terlebih dahulu sampah organik dan sampah anorganik. Pemanfaatan sampah organik adalah dengan cara mengumpulkan sampah organik kemudian diolah dengan cara pengomposan. Upaya pengolahan ini akan menghasilkan pupuk sebagai penyubur tanah dengan memanfaatkan aktivitas mikroorganisme, seperti bakteri, jamur, serangga dan cacing. Bila kita mempunyai lahan/pekarangan yang cukup luas sampah organik dapat dikubur di lahan kosong/pekarangan
  • rumah. Tetapi bila lahan kita terbatas, masukkan sampah sisa rumah tangga berupa sisa sayuran atau daun-daun ke dalam kotak. Kotak ini dapat kita buat demgam ukuran 60x60x20 cm3. Kemudian isi kotak dengan daun, sisa sayuran lalu masukkan beberapa ekor cacing tanah/merah lalu masukkan pula dua genggam tanah. Lakukan hal tersebut setiap hari, sehingga lama kelamaan sampah tersebut berubah menjadi kompos yang dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman kita. Pemanfaatan sampah organik yang lain adalah sampah organik dicampur dengan air kemudian dimasukkan ke dalam tempat yang kedap udara dan dibiarkan selama lebih kurang dua minggu sehingga menghasilkan biogas. Biogas ini dapat dimanfaatkan untuk memasak yang tingkat polusinya relatif kecil. Sampah anorganik berupa kaleng bekas dapat dimanfaatkan lagi misalnya untuk pot tanaman, atau diberikan kepada pengumpul barang bek as untuk diolah lagi di pabrik/industri daur ulang begitu pula botol bekas minuman. Untuk sampah kertas/koran dapat diproses menjadi kertas daur ulang. Hancurkan kertas bersama air dengan alat blender kemudian disaring lalu letakkan pada tempat cetakan untuk selanjutnya dikeringkan. Produk kertas ini dapat digunakan untuk berbagai kerajinan tangan (handycraft). Bila kita aktif melakukan pemanfaatan sampah, sedikit banyak akan berdampak pada lingkungan kita dan yang terpenting kita telah ikut melakukan penghematan baik itu penghematan uang atau penghematan energi. 4. Limbah Peternakan (kambing) Limbah peternakan merupakan produk dari usaha peternakan, yang keberadaannya tidak dikehendaki sehingga harus dibuang. Limbah peternakan terdiri dari banyak jenis sesuai ternak yang menghasilkannya. Usaha budidaya ternak (kambing) menghasilkan limbah berupa kotoran ternak (feces, urine), sisa pakan ternak seperti potongan rumput, jerami, dedaunan, konsentrat dan sejenisnya. Selama ini pemanfaatan pupuk organik dimaksud langsung digunakan untuk pemupukan, tanpa melalui proses pengolahan. Kondisi ini dimungkinkan terjadi mengingat antara lain: tidak disadarinya manfaat dan fungsi pengolahan kotoran kambing, kurangnya pengetahuan proses pembuatan pupuk organik secara sederhana dan cepat, kurangnya pemahaman mengenai nilai tambah pupuk organik dari kotoran ternak dan kurangnya pemahaman para peternak khususnya terhadap dampak negatif yang ditimbulkan dari pencemaran lingkungan oleh kotoran ternak.
  • Salah satu upaya yang dapat ditempuh dalam meminimalisir dampak yang ditimbulkan oleh limbah ternak (khususnya kotoran kambing) secara sederhana dan cepat serta memberikan manfaat ekonomis bagi para peternak adalah melakukan proses pengolahan dengan menggunakan bantuan M-Bio. F. Rancangan Penelitian 1. Pengolahan Kotoran Kambing a. Bahan dan Alat yang Digunakan 1) Bahan a) Kotoran kambing yang sudah kering dengan kadar air 15 – 85 %, 10 kg b) Sampah organik berupa sisa - sisa pakan kambing 10 % = 1kg c) Air 2 liter d) 15 sendok makan M-Bio e) Dolomit / kapur gamping 0,5 kg f) Gula pasir ¼ kg 2) Alat a) Cangkul untuk menggali tanah dan mencampur atau membalikkan kotoran kambing b) Ember untuk membuat larutan M-Bio c) Penutup (berupa plastik) b. Tahapan Pembuatan 1) Aduk kotoran kambing supaya tidak menggumpal atau jika ada sisa – sisa pakan agar tercampur 2) Campur dengan larutan M-Bio sambil diaduk sedikit demi sedikit sampai betul – betul rata 3) Pemberian larutan M-Bio dihentikan bila adonan diatas sudah cukup baik / merata, dengan ciri tidak adanya lelehan air jika adonan dikepal dengan tangan 4) Tutup rapat dengan alat penutup, agar tidak kena sinar matahari langsung 5) Setelah 3 hari adonan dibongkar dan diaduk – aduk sambil ditambahkan lagi larutan M-Bio sampai mencukupi (sama seperti di atas). Hal yang sama dilakukan sampai umur 1 minggu. 6) Umur 1 minggu siap dibongkar kembali sambil diaduk – aduk dengan maksud diangin – anginkan sambil diberi kapur secara merata untuk selanjutnya pupuk siap digunakan. 2. Pemanfaatan Kardus Bekas Menjadi Bingkai Foto Yang Menarik a. Alat dan bahan
  • 1) Kardus bekas 2) Payet dan kancing 3) Mika bening 4) Tali 5) Kertas kado dan kertas lipat 6) Gunting 7) Lem 8) Pencil 9) Penggaris 10) Kater b. Cara Pembuatan 1) Buat pola terlebih dahulu sesuai dengan foto yang kita inginkan. 2) Gunting kardus bekas sesuai dengan pola. 3) Lapisi bagian depan kardus dengan mika kemudian bungkus dengan kertas kado/kertas lipat,sedangkan bagian belakang hanya dibungkus dengan kertas kado/kertas lipat saja. 4) Gabungkan kedua kardus tersebut menggunakan lem sehingga terbentuk lubang yang berbentuk persegi panjang. 5) Beri hiasan payet/kancing sesuai dengan selera kita. G. Pelaksanaan Penelitian 1. Pembuatan Pupuk Organik Hari : Selasa Tanggal : 04 Oktober 2011 Tempat : Rumah Konita Khusnul Khotimah 2. Pembuatan Bingkai Foto dari Koran bekas Hari : Senin Tanggal : 10 Oktober 2011 Tempat : Kos-an Ai Sri Komalsari
  • H. Pembahasan Penelitian Berdasarkan langkah penelitian yang kelompok kami lakukan terhadap kotoran kambing dan kardus bekas didapat data sebagai berikut. 1. Pengolahan Kotoran Kambing Menjadi Pupuk Kompos Pada pembuatan pupuk dari kotoran kambing kami membutuhkan lubang tanah berukuran 60x50 cm. Lubang tersebut harus terhindar dari matahari langsung. Waktu yang dipelukan pun hanya 7 hari atau seminggu, lebih singkat dari prosedur yang seharusnya. Hal ini karena waktu pengumpulan produk dan laporan yang cepat. Seharusnya waktu yang diperlukan untuk pembuatana pupuk ini adalah sekitar 3 minggu. Untuk mempersingkat waktu pengolahan, kami menambahkan larutan M-Bio dari 5 sendok makan menjadi 15 sendok makan agar pupuk bisa lebih cepat matang. Setelah 1 minggu pupuk siap digunakan. 2. Pemanfaatan Kardus Bekas Menjadi Bingkai Foto Yang Menarik Pada proses pembuatan bingkai foto, kami memakai kardus bekas kertas yang diambil dari tempat fotokopian. Hal ini karena kardus tersebut lebih tipis dan rata jika dibandingkan dengan kardus bekas mie instan atau yang lainnya yang tebal dan mudah kusut. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk membuatnya dari kardus mie atai kardus bekas lainnya. Proses pembuatannya cukup sederhana dan mudah dilakukan. Kita tinggal membuat pola pada kardus sesuai dengan ukuran foto, kemudian gunting sesuai pola. Kami menggunakan kertas kado dan kertas lipat untuk membungkus bagian luar kardus agar terlihat lebih menarik. Kaca yang biasanya dipakai untuk melindungi foto, kami ganti dengan mika bening agar bingkai lebih ringan. Hiasan yang digunakan pun sangat sederhana, yakni dari kancing dan payet. Akhirnya kardus yang tadinya hanya dipandang sebelah mata kini tampak lebih indah dan bermanfaat. I. Simpulan 1. 2. 3. 4. Berdasarkan pembahasan penelitian diatas, kami menyimpulkan: Kotoran kambing sangat mudah untuk dijadikan pupuk organik. Dengan penambahan M-Bio sesuai perbandingan, proses pembuatan pupuk bisa dipercepat. Kardus bekas dapat dijadikan bingkai foto yang menarik. Kardus bekas kertas lebih mudah dibentuk daripada kardus bekas mie dan yang liannya.
  • J. Daftar Pustaka Anonim. Tanpa Tahun. Pencemaran Lingkungan. hend-learning.blogspot.com/ [25 September 2011] Anonim. Tanpa Tahun. Manfaat Pupuk Kandang. www.lestarimandiri.org/.../pupuk...pupuk/...pupuk.../31-pupuk-kand... [25 September 2011] Kristanto, Philip. (2004). Ekologi Industri. Yogyakarta: Andi offset Sastrawijaya, A. Tresna. (2000). Pencemaran Lingkungan. Jakarta: PT. Rineka Cipta Sudrajat. (2008). Mengelola Sampah Kota. Jakarta: Penebar Swadaya Suherneti, Nita, dkk. (2009). Pendidikan Lingkungan Hidup. Jakarta: PT. Grasindo Selasa, 14 Desember 2010 proposal plh Diposkan oleh all about me.. di 01.59 PROPOSAL Pengenalan Lingkungan Hidup “Daur Ulang Kardus Bekas menjadi Tas”
  • Disusun oleh: Bigtha Yeane Asri ( ) Septiyani ( ) XII IPA 2 SMA Negeri 6 Bandung 2010/2011 I. Dasar Pemikiran Pada dasarnya kehidupan manusia di muka bumi ini akan terus berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya. Maka dari itu kelestarian bumi ini untuk tetap sehat harus terus di jaga. Namun
  • seiring dengan perkembangan pesat kebutuhan manusia akan suatu barang, maka makin bertambah banyak pula limbah atau sampah yang dihasilkan. Dan jika limbah-limbah yang ada tidak di daur ulang dan di biarkan menumpuk, maka lingkungan hidup manusia akan menyempit dan tidak di jamin lagi kebersihan serta kesehatannya. Oleh sebab itu akhir-akhir ini banyak masyarakat yang peduli akan lingkungan bersih dan sehat yang menggalakkan kegiatan recycle atau biasa disebut dengan daur ulang. Daur ulang merupakan proses pembuatan suatu barang baru yang berguna dari sisa barang atau limbah suatu barang yang sudah tidak terpakai lagi atau yang sudah menjadi sampah. Barang-barang yang dihasilkan dapat berupa kertas, tas, baju, sandal, dompet, gelang, hiasan dinding, hiasan meja, bunga plastik, bahkan pupuk, dan berbagai macam barang lainnya yang pestinya berguna bagi kehidupan manusia. II. Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan dari kegiatan recycle ini untuk menggalakkan dan menciptakan go green atau bisa juga dalam gerakan cegah global warming, yang sudah semakin terasa kehadirannya di muka bumi ini. Maka dari itu kita sendiri sebagai penduduk bumi ini harus berjuang mempertahankan kelestarian lingkungan hidup, salah satunya dengan melakukan daur ulang, untuk mengurangi limbah yang ada. III. Sasaran Kegiatan Sasaran kegiatan untuk recycle barang-barang bekas ini ditunjukan bagi semua orang yang peduli akan kelestarian lingkungan, terutama bagi kalangan pemuda yang semestinya lebih peka dan peduli akan kesehan lingkungan.
  • IV. Format Kegiatan “Daur Ulang Kardus Bekas menjadi Tas” Alat dan Bahan : ~ gunting ~ cuter ~ pensil ~ penggaris ~ bungkus makanan ringan ~ tali ~ lem aibon ~ kardus Cara Pembuatan : 1. Gambarlah sebuah pola tas pada kardus. 2. Potonglah kardus sesuai pola yang telah digambar. 3. Bentuklah kardus sesuai pola, lalu lem dengan lem aibon. 4. Lubangi pada bagian belakang tas, lalu ikatkan tali. 5. Gunting bungkusan makanan ringan sesuai keinginan, kemudian tempelkan pada bagian luar tas. 6. Beri hiasan sesuai keinginan. V. Penutup
  • Demikian proposal Kegiatan Daur Ulang ini yang dapat kami sampaikan. Besar harapan kami akan segala partisipasi dari semua kalangan lapisan masyarakat baik itu tua-muda, kalangan bawah atau pun atas agar dapat mendukung kegiatan recyle ini. roses daur ulang sampah adalah penjaga kelestarian alam. Sebenarnya sampah bukanlah limbah, melainkan sumber daya bahan baku untuk proses daur ulang yang menghasilkan humus atau kompos, pupuk ciptaan alam pelindung / pembangun kesuburan tanah. Terus berputarnya siklus daur ulang alam yang merupakan kunci keselamatan bumi, sebenarnya menjadi tanggung jawab manusia di lingkungannya masing-masing. Sehingga sampah menjadi tanggung jawab kita semua untuk mendaur ulangnya menjadi kompos demi keselamatan bumi. Para ahli pertanian yakin bahwa kunci dari tanaman yang sehat adalah tanah yang sehat pula. Tanah yang sehat adalah tanah yang kondisi fisik, kimia dan biologinya baik, tanpa faktor penghambat yang berarti. Kondisi biologis yang baik berarti mempunyai populasi organisme tanah optimal dalam ekosistem biologis yang sehat seimbang, yang dijamin oleh kadar bahan organik tanah optimal + 5%. Mungkin kita akan berfikir 2 x untuk mengkonsumsi barang-barang yang tidak bersahabat dengan lingkungan, setelah kita mengetahui bahwa waktu yang dibutuhkan untuk menghancurkan sampah adalah sebagi berikut : Jenis Sampah Lama Hancur Kertas Kulit Jeruk Doos Karton Filter Rokok Kantong Plastik Kulit Sepatu Pakaian/Nylon Plastik Alumunium Styrofoam 2-5 bulan 6 bulan 5 bulan 10-12 tahun 10-20 tahun 25-40 tahun 30-40 tahun 50-80 tahun 80-100 tahun tidak hancur
  • Dengan melihat tabel diatas maka tidak ada salahnya kalau kita mulai dari rumah kita masingmasing untuk mengurangi sampah yang tidak dapat dipergunakan semaksimal mungkin. Salah satu caranya adalah dengan mendaur ulang sampah yang dapat dimanfaatkan. Daur ulang adalah penggunaan kembali material / barang yang sudah tidak digunakan untuk menjadi produk lain. Selain berfungsi untuk mengurangi jumlah sampah yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). Daur ulang bermanfaat memenuhi kebutuhan akan bahan baku suatu produk. Dan dari segi penggunaan bahan bakar adanya daur ulang dapat menghemat energi yang harus dikeluarkan suatu pabrik. Langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk daur ulang : Pemisahan. Pisahkan barang-barang / material yang dapat didaur ulang dengan sampah yang harus dibuang ke pembuangan sampah. Pastikan material tersebut kosong dan akan lebih baik jika dalam keadaan bersih. Penyimpanan. Simpan barang / material kering yang sudah dipisahkan tadi ke dalam boks / kotak tertutup tergantung jenis barangnya, misalnya boks untuk kertas bekas, botol bekas, dll. Jika akan membuat kompos, tumpuk sampah rumah tangga pada lokasi pembuatan kompos. Pengiriman / Penjualan Barang yang terkumpul dijual ke pabrik yang membutuhkan material bekas tersebut sebagai bahan baku dijual ke pemulung.
  • Secara garis besarnya, sampah dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu : I. Sampah An Organik Sampah tidak mudah hancur / lapuk bukan berupa cairan & gas dan sering disebut sebagai sampah kering. Sampah an organik dibedakan menjadi 2 bagian yaitu : a. Barang lapuk. Barang yang dapat di daur ulang kembali dalam keadaan bersih dan tidak rusak, mempunyai nilai ekonomis tinggi. Contoh : Logam, besi, kaleng, plastik, karet, dll. b. Bukan barang lapuk Sampah an organik yang betul-betul rusak dan tdk dapat diperjualbelikan sehingga tidak memiliki nilai ekonomis. II. Sampah Organik Sampah yang mudah lapuk / hancur, bukan berbentuk cairan / gas dan sering disebut sampah basah. Sampah organik terdiri dari 3 bagian : a. Sampah organik segar, seperti : sampah dapur, kebun, pasar dan restoran.
  • b. Sampah organik oleh seperti : kertas, kardus, dll. c. Sampah organik pilihan untuk daur ulang menjadi kompos dipilih sampah organik yang segar dan lunak tidak termasuk yang keras dan berbentuk basah seperti sisa sayuran, rempah-rempah & sisa buah. III. Sampah Berbahaya Sampah yang harus ditangani secara khusus untuk menetralisir akibat pencemaran. Sampah ini harus dipisahkan dari yang lainnya sehingga proses daur ulang lebih cepat dan menghasilkan produk yang bebas dari bahan berbahaya. Contoh: pecahan kaca & gelas, sisa bahan kimia, baterai, botol obat nyamuk & paku. LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3) Limbah B3 banyak terdapat disekitar kita misalnya obat nyamuk/ pestisida, oli bekas, sisa tinta, batu baterai, dll. Jika limbah ini dibuang dalam TPA yang tidak dilengkapi persyaratan khusus maka racun yang ada dalam limbah tersebut dapat meresap ke tanah dan mencemari air tanah maupun tanaman yang akan dikonsumsi manusia. Oleh sebab itu, pisahkan limbah B3 dari sampah lain. Bagaimana meminimalkan timbunan sampah? Menggunakan barang seefisien dan semaksimal mungkin. Contohnya : Penggunaan plastik pembungkus selama dapat digunakan kembali. Pergunakan botol lama tanpa harus membeli baru. Memperbaiki perabot lama dengan cara memberi design baru dengan upaya pemakaian kembali. Sadar dan cinta akan lingkungan dan memahami berbagai permasalahan dan cara mengatasinya sangat penting. PEMBUATAN KOMPOS RUMAH TANGGA Prinsip pengomposan Sampah rumah tangga mengandung bahan organik + 75%. Proses pengomposan menyesuaikan diri dengan tersedianya bahan baku, yang tidak sekaligus terkumpul dalam jumlah besar, melainkan sedikit demi sedikit setiap hari. Kondisi ini seperti terjadi di alam di lantai hutan, dimana sisa-sisa organik jatuh keatas tanah selapis demi selapis sampai menjadi tebal.
  • Proses perombakan-fermentasi organisme tanah terjadi dari bawah merambat ke atas mengejar bahan baku yang baru jatuh, diikuti terbentuknya humus dari bawah ke atas pula. Kecepatan pengomposan sangat tergantung a.1. pada komposisi bahan baku, perbandingan kadar C (bahan berserat tinggi) dengan kadar N (jenis kacangan, pupuk kandang, dsb.). Untuk bahan baku kompos yang optimal perbandingan C/N = + 30, hasil akhir humus atau kompos yang matang C/N = 12-15 Cara dan Alat Membuat kompos yang sebenarnya mudah dan sederhana, tetapi karena lokasinya di pekarangan rumah harus bebas dari polusi bau, lalat, binatang berbahaya dan bebas dari gangguan ayam, anjing, kucing, dsb. Apalagi sisa-sisa organik tidak terkumpul sekaligus tetapi berangsur setiap hari dari buangan dapur dan kotoran pekarangan. Untuk pembuatan kompos di pekarangan rumah, dibutuhkan dua macam wadah : 1. Wadah besar, penampung bahan baku dan tempat terjadinya proses pengomposan, yang disebut "Komposter" dan ditaruh di pekarangan di tempat teduh. 2. Wadah kecil berupa ember plastik kecil bertutup, tempat penampungan sementara sisa organik dapur. Alat Komposter paling praktis dan aman adalah alat yang direkomendasikan STU Campbell (buku "let It Rot", Storey Books, Vermont 1998) untuk dipakai di pekarangan rumah. Komposter ini dibuat dari drum bekas 200 liter, dinding atas dibuang, dan dinding dasar pada tengahnya dilobangi untuk dapat dimasuki pipa PVC 3-4 inci, yang juga berfungsi drainase. Pada pipa PVC berjarak 5 cm dibuat lobang (bor) sepanjang empat sisinya. Drum dipasang berdiri, diberi ganjal 2-3 lapis batu bata. Pipa PVC dimasukkan ke lobang dasar, sampai ujung bawah menyentuh tanah dan ujung atas menonjol keatas drum + 10 cm, menembus tengah-tengah tutup tambahan (bisa dibuat dari tripleks). Ember Kecil Ember plastik 5 l - 10 l yang ada tutupnya, disediakan khusus untuk penampungan sementara (1-2 hari) sisa organik dapur dan selalu ditaruh di dapur dalam keadaan tertutup.
  • Cara Kerja Komposter (drum) ditaruh di pekarangan di tempat teduh. Sebaiknya dibuatkan tutup atas dari tripleks yang tengahnya berlobang tempat munculnya pipa PVC. Setiap kali pembersihan halaman, kotoran berupa rontokan daun, potongan pagar rumput, dll dimasukkan ke dalam komposter, diratakan, sedikit dipadatkan dan diatasnya ditaburi selapis kotoran ternak lama, kompos baru atau setengah matang, tanah subur hitam, dsb. sebagai starter penambah N dan organisme tanah. Kalau terlalu kering diberi air agar lembab dan ditutup untuk mencegah dari hujan berlebihan, terik matahari dan pencemaran lalat. Untuk memudahkan didekat komposter disediakan wadah berisi starter (kotoran ternak, dll) yang selalu ditutup. Setiap satu atau dua hari sekali, kotoran dapur dalam ember kecil yang sudah penuh, juga dimasukkan, diratakan dan dilapisi starter. Demikian pengisian dilakukan setiap kali terkumpul sisa organik atau kotoran dapur baru, sampai komposter penuh, yang memakan waktu 1 bulan - 2 bulan untuk keluarga sedang. Setelah penuh, ditutup dan dibiarkan tidak dibalik-balik selama + 1 bulan yang diperkirakan pengomposan sudah selesai menjadi matang berupa kompos berwarna hitam, remah dan berbau segar. Komposter dikosongkan, isinya diangin-anginkan, langsung dapat dipergunakan sendiri atau disaring (saringan kawat kasa) dibungkus dan dijual.
  • Proses pengomposan terjadi sejak awal bahan organik dimasukkan, dan merambat keatas mengikuti bahan organik baru. Disini akan terjadi proses fermentasi panas oleh bakteri termofilik, karena suhu dapat meningkat didalam komposter tertutup, yang juga berguna membunuh bibit hama- penyakit dan gulma. Komposter I yang sudah penuh dan sedang dalam proses pemasakkan, digantikan komposter II yang sudah disiapkan dan nanti setelah komposter I selesai dokosongkan, disiapkan untuk menggantikan komposter II bila sudah penuh, dst. Sisa organik dapur terdiri dari potongan / kulit sayuran, kulit buah lunak, daun pembungkus, kertas, sisa lauk-pauk, dipisahkan dari sisa / sampah non organik. Sisa dapur tersebut
  • dimasukkan kedalam ember kecil dan yang non organik ditampung dalam wadah lain untuk dibuang di bak sampah. Setiap kali memasukkan sisa organik dapur yang mudah busuk (sisa lauk-pauk), diatasnya langsung ditaburi selapis serbuk gergaji halus rapat-rapat. Maka di dapur selalu disediakan serbuk gergaji halus dalam wadah khusus. Ember kecil harus selalu ditutup rapat dan biasanya dalam 1-2 hari sudah penuh, lalu langsung dibawa ke kebun dimasukkan ke dalam komposter, dan ditaburi selapis starter diatasnya. Agar ember plastik tidak kotor, sebaiknya dilapisi kantong plastik sehingga sisa organik dapur yang mudah busuk dapat ditampung dengan aman dan rapat. Apabila dapat terwujud setiap rumah tangga mau dan mampu mendaur ulang sampah organik pekarangan, dan dapurnya menjadi kompos, maka sampah rumah tangga yang dibuang tinggal sedikit dan tidak menimbulkan polusi lingkungan. Sampah yang dibuang tinggal berupa limbah non-organik seperti barang-barang bekas plastik, kaleng, besi, dll dan sedikit limbah organik keras seperti barang-barang bekas dari kayu, bambu, kardus, kulit buah keras dan kebanyakan barang-barang tersebut dapat dimanfaatkan lewat para pemulung. Dengan cara ini hampir semua bahan organik dapat didaur ulang sehingga masalah sampah kota dapat diatasi secara sehat dan mendukung keselamatan bumi. Tinggal satu hal, dimana manusia belum berhasil menyambung siklus daur ulang yang terputus, yaitu masalah kotoran (taeces) dan urine manusia karena masih terbentur pada masalah budaya. Contoh Proposal Sampah Anorganik BAB I PENDAHULUAN Pada bab I ini akan dijelaskan mengenai latar belakang masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penulisan, metode penelitian, hipotesa dan
  • manfaat. 1.1 Latar Belakang Masalah Sekarang ini banyak sekali sampah-sampah organik maupun anorganik. Sampahsampah ini jumlahnya semakin tidak terkendali sehingga menimbulkan keresahan bagi masyarakat. Dimana karena adanya sampah-sampah ini, masyarakat harus siap di hantui oleh berbagai macam penyakit. Masyarakat diupayakan menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Sampai sekarang, pemerintah sendiri belum mengupayakan penangan yang tepat bagi sampah. 1.2 Pembatasan Masalah Sampah anorganik yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu, dan sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk lainnya. Beberapa sampah anorganik yang dapat dijual adalah plastik wadah pembungkus makanan, botol dan gelas bekas minuman, kaleng, kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS, maupun karton. Keberadaan sampah anorganik ini apabila tidak dimanfaatkan sebaik mungkin dapat menimbulkan dampak negative bagi kehidupan manusia itu sendiri. 1.3 Perumusan Masalah  Jenis-jenis sampah anorganik yang terdapat di sungai?  Bagaimana tanggapan masyarakat dengan adanya sampah-sampah tersebut?  Dampak apa saja yang ditimbulkan dengan adanya sampah tersebut? 1.4 Tujuan Penulisan  Mengetahui jenis-jenis sampah anorganik yang terdapat di sungai.  Mengetahui tanggapan masyarakat dengan adanya sampah-sampah tersebut.  Mengetahui dampak adanya sampah tersebut di sungai. 1.5 Metode Penulisan Pada penulisan karya tulis ini kami menggunakan satu metode, yaitu dengan angket. Di mana angket itu berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai sampah-sampah anorganik yang terdapat di sungai dan tanggapan masyarakat mengenai adanya sampah yaitu mengacu pada tujuan yang telah ada.
  • 1.6 Hipotesa Sampah anorganik yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah pembungkus makanan, kertas, plastik, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu, dan sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk laiannya. Beberapa sampah anorganik yang dapat dijual adalah plastik wadah pembungkus makanan, botol dan gelas bekas minuman, kaleng, kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS, maupun karton. Keberadaan sampah tentunya menibulkan dampak-dampak tertentu bagi kehidupan manusia itu sendiri. Oleh karna itu, sebaiknya kita dapat memanfaatkan keberadaan sampah-sampah ini sebaik mungkin. Pada dasarnya sampah-sampah dapat diolah sebaik mungkin dengan perkembangan teknologi yang sudah berkembang saat ini. 1.7 Manfaat  Dapat mengetahui contoh-contoh sampah anorganik yang terdapat di sungai.  Dapat menghindari dampak negatif keberadaan sampah di sungai. BAB II 2.1 Landasan Teori A. Metode Pengolahan Sampah Pengolahan sampah adalah pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, pendaurulangan, atau pembuangan dari material sampah. Pengolahan sampah memiliki tujuan untuk mengurangi dampak negatif sampah terhadap kesehatan, lingkungan, atau keindahan, memulihkan sumber daya alam, dan mengubah sampah menjadi materialyang memiliki nilai ekonomis, dan tidak berbahaya. Pengolahan sampah memiliki manfaat untuk penghematan sumber daya alam, penghematan energi, penghematan lahan TPA, dan menjadikan lingkungan asri. Metode dari pengolahan sampah tergantung dari tipe zat sampah, tanah yang digunakan untuk mengolah, dan ketersediaan area. Ada lima metode pengolahan sampah antara lain pembuangan, pembakaran atau kremasi, daur ulang, pengkomposan, dan minimalisasi sampah. Metode pembuangan dapat dilakukan dengan penimbunan darat yaitu pembuangan yang dilakukan di tanah yang ditinggalkan, lubang pertambangan atau lubang-lubang dalam. Berbeda dengan metode pembuangan, metode pembakaran atau kremasi melibatkan pembakaran zat sampah yang berubah menjadi panas, gas, uap, dan abu. Ada dua jenis metode daur ulang yaitu mengambil bahan sampah untuk diproses lagi atau mengambil kalori dari bahan yang bisa dibakar untuk membangkitkan listrik dan mengumpulkan serta menggunakan kembali sampah yang dibuang. Sampah yang bisa kita daur ulang antara lain sampah kaleng minum aluminium, kaleng baja makanan/minuman, botol kaca, botol HDPE dan PET, kertas karton, koran, majalah, kardus, dan plastik. Selain metode daur ulang, ada pula metode pengkomposan yang bisa digunakan sebagai pupuk dan pembangkit listrik karena mengandung gas methana. Sampah yang bisa kita buat sebagai pupuk seperti sampah sisa makanan, kertas, dan zat tanaman.
  • Metode minimalisasi sampah dapat kita lakukan dengan berbagai cara antara lain penggunaan kembali barang bekas pakai, memperbaiki barang yang rusak, dan menghindari penggunaan barang satu kali pakai. B. Sikap Kepedulian Masyarakat terhadap Kebersihan Lingkungan Baru-baru ini masalah sampah sangat memprihatinkan banyak kalangan. Tidak hanya masyarakat umum saja yang merasakannya tetapi pemerintah pun turut menikmatinya. Untuk membina kesadaran masyarakat akan pentingnya pengolahan sampah, pemerintah pun sudah membuat Undang-Undang no. 4 tahun 1982 pasal 2 ayat 1 tentang Pokok-Pokok Pengolahan Lingkungan Hidup. Undang-Undang itu berbunyi bahwa barang siapa merusak dan mencemari lingkungan harus memikul tanggung jawab dan kewajiban membayar ganti rugi. Oleh karena itu untuk membina kesadaran masyarakat, ada beberapa cara antara lain dengan mencanangkan dan menjalankan program 3R, masyarakat harus terlibat dalam kegiatan mendaur ulang sampah yang masih memiliki nilai ekonomi secara mandiri, mengurangi penggunaan barang yang tidak seharusnya dengan mempromosikan penggunaan tas belanja dan pengurangan bahan yang dapat menimbulkan sampah, memberikan penyuluhan dan pendidikan secara terencana, peran media yang harus dioptimalkan, serta peraturan tentang sampah. BAB III METODE PENELITIAN Pada bab 3 ini akan dijelaskan mengenai jenis penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data dan teknik analisa data. 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang kami gunakan adalah penelitian secara langsung. Yang dimaksud dengan penelitian secara langsung adalah penelitian yang dilakukan dengan cara mendatangi secara langsung objek penelitian kami. 3.2 Sumber data Sumber data kami adalah masyarakat sekitar sungai yang kami wawancarai mengenai masalah sampah ini. 3.3 Teknik Pengumpulan Data Adapun teknik pengumpulan data yang kami gunakan dalam penelitian ini adalah dengan angket. Dengan angket kami dapat menyimpulkan, melalui jumlah koresponden yang menjawab pertanyaan yang kami ajukan dan melakukan penelitian secara langsung ke sungai. 3.4 Teknik Analisis Data
  • Cara kami dalam menganalisis data yang kami dapat yaitu dengan pertama-tama memastikan bahwa semua data dan landasan teori yang diperlukan telah diperoleh dengan baik. Lalu kami mulai menghitung jumlah data, setelah itu kami mengklasifikasikan jawaban-jawaban dari tiap pertanyaan pada angket berdasarkan jumlah responden yang memilih. Langkah berikutnya, sesuai dengan jenis penelitian kami, kami menghubungkan data-data yang satu dengan yang lain dan juga dengan landasan teori yang ada. Langkah terakhir, kami menuangkannya dalam karya tulis. ANGKET MULOK 1. Jenis – Jenis Sampah Anorganik di Sungai Jenis Sampah Banyak Plastik Tidak ada  Bungkus Makanan Sedikit  Karung-Karung Bekas Tali-Tali Bekas   Kaleng  Botol  Kardus Bekas  Kertas  Kayu  2. Tanggapan Masyarakat dengan Adanya Sampah di Sungai Tanggapan Golongan Peduli Biasa Saja Tidak Peduli Pembeli  Penjual Masyarakat Sekitar   Untuk tugas Mulok disuruh bikin beginian :D
  • DAUR ULANG BARANG BEKAS (PLASTIK & KERTAS) DAUR ULANG BARANG BEKAS (PLASTIK & KERTAS) Oleh: Nurul Faizah Farah Farida Arif Fadholi W.A Ahmad Mufid Fidda Syarifiatul L Sampah mungkin bisa dikaatakan sudah menjadi bagian dari manusia. Betapa tidak, setiap kegiatan yang dilakukan, sebagian besar pasti menghasilkan sampah. Kita contohkan saja dari kegiatan tiaap-tiap individu, seperti saat kita memasak sayuran pasti ada bagian sayuran yang tidak terpakai, sehingga pada akhirnya akan dibuang. Kemudian dalam memenuhi kebutuhan sehair-hari, seperti mencuci, mandi, dsb. Seluruh barang yang kita gunakan juga menghasilkan sampah, seperti bungkus sabun, busa sabun, dan tentu masih banyak lagi. Sampah bisa dibagi menjadi 2, yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik merupakan sampah yang bisa terurai. Contohnya sayuran, dedaunan, kayu, dll. Sedangkan sampah anorganik adalah sampah yang tidak terurai. Misalnya adalah plastik, kertas, dll. Dari 2 jenis sampah tersebut yang sering menimbulkan masalah adalah sampah anorganik. Bahkan sampah ini juga banyak dihasilkan oleh manusia. Seperti saat ini semua bungkus makanan terbuat dari plastik dan kertas. Sampah-sampah ini jika tidak dikelola dengan baik akan berdampak negatif baik bagi kehidupan manusia dan lingkungan sekitar. Sampah dikenal oleh kebanyakan masyarakat adalah barang-barang yang sudah tidak bermanfaat atau bahan buangan namun sebenarnya jika kita tinjau sampah masih bisa kita manfaatkan. Seperti plastik bekas bisa dibuat menjadi tas, sampul, dompet, dll. A. DAUR ULANG KERTAS BEKAS a. Alat dan Bahan Alat Bahan - gunting - kayu / papan - paku - blender - kain - ember - spon / busa - baskom - kertas - air - daun jati - daun pandan - kunyit
  • b. Cara Membuat Kertas Daur Ulang 1. Robek kecil-kecil kertas bekas dan rendam didalam air selama 1 hari 2. Blender kertas sampai menjadi bubur ( halus) 3. Rebus bubur kertas selama 1 atau 2 jam (untuk membantu proses pelarutan tinta dalam kerta bekas) 4. Tuangkan ke dalam baskom yang berisi air dan diaduk 5. Siapkan cetakan dan spons di berada di dalamnya lalu taruh kain yang sudah dibasahi diatasnya 6. Tuangkan bubur kertasnya ke cetakan yang berisi spons dan kain 7. Sesudah beberapa lapis press dengan menaruh papan besar diatasnya dan beri pemberat (batako atau batu) 8. Biarkan selama sekitar 1 jam agar airnya berkurang. Sebelum diangkat pastikan sudah cukup kering. 9. Jemur ditempat yang panas, setelah benar-benaar kering lalu setrika Contoh barang yang bisa dibuat dengan kertas Daur Ulang. • Kertas untuk menggambar karya seni • Pembungkus buku, tempat pensil, dan lain-lain • Undangan, amplop, sampul, dll . • kotak pensil + bingkai photo • kotak kado Jika kita ingin memberi warna pada kertas daur ulang memakai bahan alami untuk mewarnai kertas daur ulang tersebut anda bisa memakai beberapa bahan yang bisa dipakai untuk memberi warna tersebut. diantaranya :Kunyit, Daun Jati, Daun pandan Wangi, dll. Kunyit : Kalau kita parut dan disaring akan menghasikan warna kuning. Daun Jati : Kalau diparut dan disaring akan menhasilkan warna merah Daun Pandan Wangi : Kalau kita parut dan disaring akan menghasikan warna hijau B. Dompet & Tas dari Plastik a. Alat dan Bahan Bahan Alat - plastik minyak goring, pewangi - benang - resliting - mesin jahit - jarum - gunting b. Cara Membuat 1. Siapkan bungkus plstik bekas yang biasa digunakan pada rumah tangga. Seperti plastik sabun, minyak goreng, pewangi, dll. 2. Cuci bersih plastik-plastik tersebut 3. Keringkan plastik-plastik tersebut menggunakan sinar matahari 4. Potong membentuk pola sesuai dengan keinginan 5. Kemudian satukan potongan-potongan dengan menggunakan mesin jahit
  • C. Tempat Pensil & Bolpoin dari Bungkus Permen a. Alat dan Bahan Alat Bahan - jarum - penggaris - lem lilin - gunting - bungkus permen - kardus - benang wol - pita dan daun b. Cara Membuat 1. Siapkan bungkus permen besar 2. Bungkus permen dicuci sampai bersih 3. Siapkan kardus, dan digunting sesuai keinginan 4. Lalu ditempeli bungkus permen (bungkusnya dibalik) 5. Kemudiaan dijahit dengan menggunakan benang wol D. Figura dari Kardus a. Alat dan Bahan Alat Bahan - lem kertas - gunting - penggaris - staples - kardus - kertas daur ulang - daun b. Cara Membuat 1. Siapkan kardus terlebih dahulu 2. Lalu kardus digunting sesuai keinginan 3. Buat bingkai figura dari kertas daur ulang 4. Dan figura dihiasi dengan dedaunan E. Sampul Book Note dari Kertas Daur Ulang a. Alat dan Bahan Alat Bahan - gunting - benang - jarum - lem lilin - kertas daur ulang - kertas buram - sedotan - pita b. Cara Membuat
  • 1. potong kertas daur ulang sebanyak 2 buah berbentuk persegi panjang (bentuk sesuai selera) 2. hiasi salah satu dari polaa kertas tersebut denagn pita, sedotan, dll 3. siapkan potongan kertas buram, ukurannya sesuai dengan sampul 4. buat lubang 2 buah pada bagian atasnya, pola yang ada (baik kertas buram / daur ulang) dengan ukuran lubang yang sama 5. kaitkan keduanya dengan benang F. Album dari Kertas Daur Ulang a. Alat dan Bahan Alat Bahan - gunting - penggaris - benang - jarum - kertas daur ulang - kardus b. Cara Membuat 1. Buat pola dari kertas daur ulang sesuai ukuran foto yang akan ditempelkan 2. Buat pola yang sama tapi dari kardus digunakan sebagai sampul 3. Buat 2 lubang pada bagian samping pada semua pola 4. Hiasi sampul sesuai selera 5. Untuk pola yang ada dalam kertas daur ulang semua bagian pojok ditempeli kertas untuk mengaitkan foto pada album 6. Kaitkan sampul dengan benang atau kawat
  • Proposal Penelitian Sampah Proposal Penelitian Pengaruh Pengolahan Sampah terhadap Sikap Kepedulian Warga SMA Xaverius 1 Disusun Oleh: Kelompok 3 / XII IPA 1 David Kurniawan (08) Dessy Carmelia Nurhadana (10) Fransisca Vina Wijaya (20) Ni Made Restianing Rimadhanti (36) Novilia Ispendi Yahya (37) Regina Maria Prista (38) Shierly Jayanti (39) Yosefa Adventi Wulan Desi (45) SMA Xaverius 1 Tahun Ajaran 2010 – 2011 1. Judul Penelitian Pengaruh Pengolahan Sampah terhadap Sikap Kepedulian Warga SMA Xaverius 1 2. Latar Belakang Hampir setiap hari sampah terlihat berserakan walaupun kotak sampah telah teresedia di hampir setiap sudut sekolah. Hal ini mendeskripsikan kurangnya kesadaran warga SMA Xaverius 1 tentang pentingnya menjaga kebersihan di lingkungan sekolah. Sebaiknya, sebagai warga sekolah, sudah seharusnya setiap pribadi menanamkan sikap disiplin dalam menjaga kebersihan sekolah. Ada banyak hal menarik yang dapat diteliti lebih lanjut dari fenomena ini. Kesadaran dari masing – masing pribadi sangat ditekankan untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekolah yang sudah dianggap sebagai rumah sendiri. Selain itu, penulis mempunyai motivasi untuk mengukur seberapa jauh keinginan warga SMA Xaverius 1 dalam mengolah sampah-sampah tersebut, dan juga, dapatkah warga sekolah membangun sikap peduli terhadap kebersihan lingkungan SMA Xaverius 1? Pendidikan di SMA Xaverius 1 bukan hanya sekedar memberikan ilmu pengetahuan, melainkan siswa-siswi juga dididik untuk mengembangkan sikap mental hidup yang baik bagi masingmasing individu dan masyarakat sekitar. Dalam penelitian ini diharapkan warga sekolah lebih lebih mampu untuk peduli terhadap lingkungan sekolah. Kenyataannya, sampah – sampah itu akan sangat merugikan kehidupan di bumi dan member dampak buruk, seperti timbulnya berbagai wabah penyakit, banjir di mana – mana, udara menjadi tercemar karena sampah yang membusuk akan mengeluarkan gas yang tidak baik bagi pernapasan, lingkungan terlihat kumuh, dan lain – lain.
  • Di zaman sekarang ini, fenomena global warming sangat mewabah di seluruh belahan dunia. Gejala alam yang merupakan proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi ini mengharuskan setiap manusia untuk lebih mencintai lingkungan. Sebetulnya bentuk cinta manusia terhadap lingkungan dapat dilakukan dalam berbagai hal. Sebagai contoh, langkah pemerintah yang mewajibkan warga negara untuk menanam paling sedikit satu pohon di setiap rumah. Sebagai sekolah yang mengutamakan kualitas yang tidak semata – mata hanya mementingkan prestasi akademik, SMA Xaverius 1 sudah sepatutnya mendukung kebersihan lingkungan dan ikut berpartisipasi dalam mewujudkan motto “Save the Earth “. Tidak dapat disangkal bahwa sampah adalah konsekuensi kehidupan, yang sering menimbulkan masalah, dan jumlahnya akan semakin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah individu dan ragam aktivitasnya. Oleh sebab itu, penulis tertarik dengan konsep pengolahan sampah sebagai wujud pemahaman bahwa sampah dipandang sebagai sumber daya. Tentu saja hal ini hanya dapat terwujud jika individu merubah kebiasaan membuang sampah menjadi mengola sampah. Konsep ini terutama perlu diperkenalkan lebih luas bagi generasi muda seperti siswasiswi SMA Xaverius 1. Dengan demikian, adakah upaya warga sekolah untuk berpartisipasi secara aktif dalam mewujudkan rasa cinta terhadap lingkungan terutama lingkungan sekolah SMA Xaverius1. Pertanyaan inilah yang medasari ketertarikan penulis untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pengolahan Sampah terhadap Sikap Kepedulian Warga SMA Xaverius 1”. 3. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis menetapkan rumusan masalah sebagai berikut: 3.1 Jelaskan beberapa metode pengolahan sampah? 3.2 Apa saja dampak positif dan negatif yang dirasakan oleh warga SMA Xaverius 1 sebagai akibat dari pengolahan sampah? 3.3 Apakah metode pengolahan sampah dapat meningkatkan sikap peduli warga SMA Xaverius 1 terhadap kebersihan lingkungan sekolah? 4. Tujuan Penelitian Berikut tujuan penelitian berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang dibahas : 4.1 Bagi siswa-siswi SMA Xaverius 1 4.1.1 Untuk memberikan rangsangan kepedulian terhadap lingkungan sekolah. 4.1.2 Untuk menambah pengetahuan dan pengalaman didalam berbagai bidang seperti seni, sains, ekonomi, dll. 4.1.3 Untuk membangun motivasi dalam hal mengolah sampah yang biasa hanya dipandang sebelah mata biasa lebih diperhatikan. 4.1.4 Untuk membantu sekolah dalam hal kebersihan lingkungan. 4.2 Bagi Kepala Sekolah SMA Xaverius 1 4.2.1 Untuk menyadarkan bahwa sampah merupakan hal yang cukup penting didalam sebuah sekolah bukan hanya sebuah barang tidak berharga. 4.3 Bagi Guru SMA Xaverius 1 4.3.1 Untuk membantu atau mendorong siswa-siswi SMA Xaverius 1 untuk lebih memperhatikan sampah khususnya dilingkungan sekolah. 4.3.2 Untuk dapat membantu dan mengarahkan siswa-siswi dalam pengolahan dengan cara memberikan informasi mengenai pengolahan sampah. 4.4 Bagi Karyawan sekolah bidang kebersihan
  • 4.4.1 Untuk memotivasi dalam mengolah sampah menjadi sesuatu yang lebih berguna. 4.4.2 Agar dapat menambah penghasilan dari hasil pengolahan sampah. 4.5 Bagi lingkungan sekolah SMA Xaverius 1 4.5.1 Agar lingkungan sekolah menjadi bersih dan sampah yang ada tidak terlalu menumpuk. 4.5.2 Agar pemandangan sekolah menjadi lebih indah dan asri. 5. Batasan Masalah Mengingat begitu luasnya ruang lingkup dalam penelitian ini, maka penulis membatasi permasalahan tersebut pada: 5.1 Melihat fakta bahwa ada banyak jumlah sekolah menengah di Palembang, maka dalam penelitian ini penulis hanya menggunakan warga SMA XAVERIUS 1 sebagai objek penelitian. 5.2 Penulis mengelompokkan objek penelitian yang merupakan warga SMA XAVERIUS 1yang secara keseluruhan berjumlah 100 individu berdasarkan peran dan kedudukan yang terdiri dari 95 siswa, 3 guru, dan 2 karyawan. 5.3 Suatu hal yang tidak mungkin bagi penulis untuk meneliti semua jenis pengolahan sampah yang dilakukuan oleh warga SMA XAVERIUS 1 sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap lingkungan, maka dalam penelitiaan ini penulis membatasinya dengan mengamati secara objektif kebiasaan membuang sampah warga SMA Xaverius 1 dari segi pengelompokkan sampah organik dan non-organik . 5.4 Data penelitiaan yang digunakan merupakan hasil penelitian penulis dengan melakukan pengamatan objektif terhadap kebiasaan warga SMA XAVERIUS 1 dalam membuang sampah di lingkungan sekolah dan juga melalui studi pustaka, sistem wawancara dan angket yang dilakukan kepada objek penelitian. 5.5 Alat bantu yang digunakan untuk menganalisa data statistik agar dapat diolah, ditampilkan, dan dimanipulasi sehingga dapat menyajikan suatu informasi dalam penelitian ini menggunakan perangkat lunak EViews 5.0. 6. Landasan Teori Metode Pengolahan Sampah Pengolahan sampah adalah pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, pendaur-ulangan, atau pembuangan dari material sampah. Pengolahan sampah memiliki tujuan untuk mengurangi dampak negatif sampah terhadap kesehatan, lingkungan, atau keindahan, memulihkan sumber daya alam, dan mengubah sampah menjadi materialyang memiliki nilai ekonomis, dan tidak berbahaya. Pengolahan sampah memiliki manfaat untuk penghematan sumber daya alam, penghematan energi, penghematan lahan TPA, dan menjadikan lingkungan asri. Metode dari pengolahan sampah tergantung dari tipe zat sampah, tanah yang digunakan untuk mengolah, dan ketersediaan area. Ada lima metode pengolahan sampah antara lain pembuangan, pembakaran atau kremasi, daur ulang, pengkomposan, dan minimalisasi sampah. Metode pembuangan dapat dilakukan dengan penimbunan darat yaitu pembuangan yang dilakukan di tanah yang ditinggalkan, lubang pertambangan atau lubang-lubang dalam. Berbeda dengan metode pembuangan, metode pembakaran atau kremasi melibatkan pembakaran zat sampah yang berubah menjadi panas, gas, uap, dan abu. Ada dua jenis metode daur ulang yaitu mengambil bahan sampah untuk diproses lagi atau mengambil kalori dari bahan yang bisa dibakar untuk membangkitkan listrik dan mengumpulkan serta menggunakan kembali sampah yang dibuang. Sampah yang bisa kita daur ulang antara lain
  • sampah kaleng minum aluminium, kaleng baja makanan/minuman, botol kaca, botol HDPE dan PET, kertas karton, koran, majalah, kardus, dan plastik. Selain metode daur ulang, ada pula metode pengkomposan yang bisa digunakan sebagai pupuk dan pembangkit listrik karena mengandung gas methana. Sampah yang bisa kita buat sebagai pupuk seperti sampah sisa makanan, kertas, dan zat tanaman. Metode minimalisasi sampah dapat kita lakukan dengan berbagai cara antara lain penggunaan kembali barang bekas pakai, memperbaiki barang yang rusak, da menghindari penggunaan barang satu kali pakai. Tidak hanya itu, kita dapat juga mendesain produk supaya bisa diisi ulang dan digunakan lagi atau kita dapat mendesain produk yang menggunakan bahan yang lebih sedikit untuk fungsi yang sama. Sikap Kepedulian Masyarakat terhadap Kebersihan Lingkungan Baru-baru ini masalah sampah sangat memprihatinkan banyak kalangan. Tidak hanya masyarakat umum saja yang merasakannya tetapi pemerintah pun turut menikmatinya. Untuk membina kesadaran masyarakat akan pentingnya pengolahan sampah, pemerintah pun sudah membuat Undang-Undang no. 4 tahun 1982 pasal 2 ayat 1 tentang Pokok-Pokok Pengolahan Lingkungan Hidup. Undang-Undang itu berbunyi bahwa barang siapa merusak dan mencemari lingkungan harus memikul tanggung jawab dan kewajiban membayar ganti rugi. Tidak hanya membuat Undang-Undang, ada beberapa bentuk kepedulian yang sampai saat ini dapat kita ketahui yaitu Gerakan Ramah Lingkungan yang dicanangkan Pemerintah Kota Palembang. Gerakan itu mewajibkan setiap kelurahan menyiapkan dua tempat percontohan “ramah lingkungan”, dan melaksanakan program Tri Bina. Namun, semua itu tidak dapat berjalan baik karena tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah. Oleh karena itu untuk membina kesadaran masyarakat, ada beberapa cara antara lain dengan mencanangkan dan menjalankan program 3R, masyarakat harus terlibat dalam kegiatan mendaur ulang sampah yang masih memiliki nilai ekonomi secara mandiri, mengurangi penggunaan barang yang tidak seharusnya dengan mempromosikan penggunaan tas belanja dan pengurangan bahan yang dapat menimbulkan sampah, memberikan penyuluhan dan pendidikan secara terencana, peran media yang harus dioptimalkan, peraturan tentang sampah dan penegakannya, dan masuk dalam kurikulum pendidikan. Program Bank Sampah Untuk Tumbuhkan Kepedulian Lingkungan Dua puluh sekolah dasar di Palembang akan mendapat bantuan masing-masing senilai Rp 300 ribu. Dana itu berasal dari program tanggung jawab sosial atau CSR PT Indofood. Sekolah yang sudah dibantu harus memanfaatkan uang itu untuk mengelola sampah di sekolah masing-masing jadi bernilai ekonomis. Setidaknya, sekolah-sekolah itu sudah memisahkan sampah organik dan anorganik. Sampah anorganik itu dapat dijual lagi. Sementara, sampah organik dapat dijadikan pupuk kompos. Nama program adalah “Bank Sampah”. Sesuai dengan namanya, pelajar harus menabung dalam bentuk sampah yang telah dikelompokkan sesuai jenisnya. Sampah dan pupuk yang sudah ditabung pelajar itu akan dijual. Uangnya akan digunakan untuk kepentingan sekolah. Pemerintah membidik pelajar di sekolah dasar sebagai tahap awal program ini. Tujuannya, selain menumbuhkan kreatifitas, juga agar pelajar kian peduli dan cinta dengan lingkungan sedari dini.
  • Daftar Pustaka http://id.wikipedia.org/wiki/Sampah http://cetak.bangkapos.com/tbangka/read/21278.html http://infokito.wordpress.com/2008/02/22/pabrik-pengolahan-sampah-di-prabumulih-siapoperasi/ http://kominfo.palembang.go.id/?nmodul=berita&bhsnyo=id&bid=317 7. Hipotesis Penulis menduga dengan memberikan pengetahuan tentang metode dan manfaat pengolahan sampah kepada warga SMA Xaverius 1 akan meningkatkan sikap kepedulian individu terhadap kebersihan lingkungan. 8. Metodologi Penelitian Metode yang digunakan dalam pengumpulan data pada karya ilmiah ini adalah studi pustaka, metode angket dan metode wawancara. 8.1 Studi Pustaka Studi pustaka merupakan cara penulis untuk membangun kerangka berpikir atau dasar teori. Kerangka berpikir akan dimanfaatkan oleh penulis makalah guna menganalisis masalah. Tujuan dari studi pustaka ini adalah untuk memperoleh referensi yang dibutuhkan dalam proses pengerjaan dan metode untuk menyelesaikan penelitian. Pada tahap ini penulis mengumpulkan berbagai arsip, data serta teori yang berhubungan dengan permasalahan yang ada dalam berbagai sumber (Buku, internet, surat kabar, dll.) Studi pustaka mempunyai tiga fungsi yang penting. Pertama, memberikan gambaran tentang topik masalah kepada pembaca; kedua, meyakinkan pembaca bahwa penulis mengetahui banyak hal tentang topik masalah yang sedang diteliti; ketiga, mengembangkan wawasan tentang bidang studi yang diteliti. Sedangkan urutan kutipan (citation) dapat dilakukan dengan tiga cara. Pertama, dimulai dari hasil penelitian atau pustaka yang paling jauh hubungannya (most distantly related) ke hasil peneletian atau pustaka yang paling dekat hubungannya (most closely related); kedua, menggunakan urutan kronologis; dan ketiga mengelompokkan menurut pendekatanpendekatan yang berbeda (different approaches) kemudian kutipan-kutipan dalam masingmasing kelompok ditulis secara kronologis atau dari umum ke khusus (Weissberg & Buker, 1990: 41-45) 8.2 Angket Angket adalah alat untuk mengumpulkan data yang berupa daftar pertanyaan yang disampaikan kepada responden untuk dijawab secara tertulis. Metode angket memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari metode angket adalah: • Praktis karena dalam waktu singkat banyak data yang diperoleh meskipun tempatnya berjauhan. • Ekonomis, terutama dari segi tenaga. • Responden dapat menjawab dengan terbuka atau leluasa (tidak terpengaruh dengan orang lain). • Tidak memerlukan hadirnya peneliti. • Dapat dibagikan secara serentak kepada responden.
  • • Dapat dijawab oleh responden menurut kecepatannya masing – masing dan menurut waktu senggang responden. • Dapat dibuat anonym sehingga responden bebas jujur dan tidak malu – malu menjawab. • Dapat dibuat terstandar sehinga bagi semua responden dapat diberi pertanyaan yang benar – benar sama. Sedangkan kelemahan dari metode ini, yaitu: • Jika ada pertanyaan yang kurang jelas, tidak bisa mendapatkan keterangan lebih lanjut. • Pertanyaan dalam angket biasanya bersifat agak kaku, tidak kondisional dan tidak komunikatif. • Responden sering tidak teliti dalam menjawab sehingga ada pertanyaan yang terlewati atau tidak terjawab. • Sukar dicari validitasnya. • Walaupun dibuat anonym, kadang – kadang responden dengan sengaja memberikan jawaban yang tidak betul atau tidak jujur. • Seringkali tidak kembali, terutama jika dikirim lewat pos. • Waktu pengembaliannya tidak bersamaan, bahkan terkadang ada yang terlalu lama sehingga terlambat. Dipandang dari cara menjawabnya, maka angket dibedakan menjadi dua: 1. Kuisioner terbuka, yang memberi kesempatan pada responden untuk menjawab dengan kalimat sendiri. 2. Kuisioner tertutup, yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden hanya melilih. Dilihat dari bentuk jawaban, penulis menetapkan untuk menggunakan teknik angket tertutup. Dalam angket tertutup tersebut, pertanyaan diberikan dalam bentuk pilihan ganda dengan jawaban – jawaban yang telah penulis sediakan dan disesuaikan dengan pertanyaannya. 8.3 Wawancara Metode wawancara ini dilakukan untuk mendapatkan data yang lebih mendalam daripada metode angket. Tujuan dari metode wawancara ini adalah agar diperoleh gambaran yang lebih lengkap dan jelas mengenai permasalahan yang dibahas dalam topik penelitian. 9. Populasi dan Sampel 9.1 Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah warga sekolah SMA Xaverius 1, dengan jumlah sebanyak 95 siswa yang mengikuti kegiatan belajar di SMA Xaverius 1, dan sebanyak 3 guru yang mengajar di SMA Xaverius 1 dan 2 penjaga kebersihan sekolah. 9.2 Teknik Pengambilan Sampel Sampel di dalam peneletian ini secara keseluruhan ada 100 orang, yang terdiri dari siswa, guru, dan penjaga kebersihan sekolah. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive random sampling, yaitu mengambil sampel sesuai dengan tujuan penelitian yang berdasarkan kelompok secara acak. Kelompok yang dimaksudkan dalam penelititan ini yaitu kelompok yang mempunyai kedudukan dan peran masing-masing sebagai warga SMA Xaverius 1. 10. Sarana dan Prasarana 10.1 Sarana Alat bantu yang digunakan dalam penelitian antara lain kertas angket, tape recorder, perangkat lunak EViews 5.0. EViews merupakan perangkat lunak berbasis windows untuk menganalisa
  • data statistik agar dapat diolah, ditampilkan, dan dimanipulasi sehingga dapat menyajikan suatu informasi sesuai kehendak pengguna. 10.2 Prasarana Dalam penelitian ini, narasumber yang diperlukan adalah referensi pengetahuan bersumber dari internet, buku, dan juga pihak-pihak yang terkait dalam bidang penelitian ini. 11. Analisis Pengolahan Data Teknik analisis dan penafsiran data dalam penelitian ini mengikuti langkah-langkah yang direkomendasikan oleh Yin (1994), seperti dikutip oleh Tellis (1997), yang menyatakan bahwa analisis data dilakukan dengan penelaahan, kategorisasi, melakukan tabulasi data dan atau mengkombinasikan bukti untuk menjawab pertanyaan penelitian. Prosedur ini diawali dengan : 1) menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, dalam hal ini adalah dari hasil wawancara, kuesioner, maupun analisis dokumen; 2) setelah ditelaah maka langkah selanjutnya adalah mengadakan apa yang dinamakan reduksi data yang dilakukan dengan jalan membuat rangkuman yang inti, proses dan pernyataan-pernyataan kunci yang perlu dijaga agar tetap berada didalamnya; 3) langkah berikutnya adalah menyusunnya kedalam satuan-satuan untuk kemudian dikategorisasikan; 4) melakukan pemeriksaan keabsahan data dengan teknik tertentu dan 5) diakhiri dengan penafsiran data. Dalam penelitian ini data-data yang diperoleh dari narasumber yaitu buku, internet, hasil angket, dan hasil wawancara akan dikelompokkan agar mudah dipahami. Setelah itu, data yang merupakan hasil angket dan wawancara akan penulis tampilkan dalam bentuk tabel atau garafik. Sementara, data bersumber dari buku dan internet akan ditampilkan dalam paragraf – paragraf yang teratur sesuai dengan tujuan penelitian. Akhirnya, data dari tabel, grafik, dan paragraf akan ditindaklanjuti dengan membandingkan datadata dari sumber yang ada untuk mengetahui tingkat validitas data serta menentukan kesimpulan hasil penelitian sebagai tahap akhir penulisan laporan penelitian. 12. Sistematika Laporan KULIT MUKA HALAMAN JUDUL LEMBAR PENGESAHAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Batasan Masalah 1.4 Tujuan Penelitian BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Metode Pengolahan Sampah 2.2 Sikap Kepedulian Masyarakat terhadap Kebersihan Lingkungan BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Pengumpulan Data 3.2 Populasi dan Sampel 3.3 Sarana dan Prasarana BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
  • BAB V KESIMPULAN DAN SARAN DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 13. Sistematika Kerja No Hari, Tanggal Kegiatan Keterangan 1 Senin, 26 Juli 2010 Menentukan topik penelitian terlaksana 2 Kamis, 29 Juli 2010 Menentukan judul penelitian terlaksana 3 Senin, 2 Agustus 2010 Penulisan proposal terlaksana 4 Kamis, 26 Agustus 2010 Presentasi hasil proposal terlaksana 5 Kamis, 9 September 2010 Pengambilan data penelitian belum terlaksana 6 Senin, 13 September 2010 Analisis data penelitian belum terlaksana 7 Kamis, 23 September 2010 Penulisan laporan penelitian belum terlaksana 8 Senin, 27 September 2010 Presentasi hasil peneletian belum terlaksana 14. Personalia Penelitian 14.1 Ketua Peneliti Nama Lengkap : Fransisca Vina Wijaya Pekerjaan : Pelajar SMA Xaverius 1 Jenis Kelamin : Perempuan Alamat : Jalan Veteran no.927 Palembang Telepon/E-mail : 0711-377999 / fransiscavina@yahoo.com 14.2 Jumlah anggota : 7orang Nama Anggota 1 : David Kurniawan Nama Anggota 2 : Dessy Carmelia Nurhadana Nama Anggota 3 : Ni Made Restianing Rimadhanti Nama Anggota 4 : Novilia Ispendi Yahya Nama Anggota 5 : Regina Maria Prista Nama Anggota 6 : Shierly Jayanti Nama Anggota 7 : Yosefa Adventi Wulan Desi 15. Rencana Biaya Penelitian No Keterangan Debit Kredit 1 Penyusunan proposal Rp 30.000,00 2 Pengambilan data Rp 50.000,00 3 Analisis data Rp 70.000,00 4 Penulisan Laporan Rp 50.000,00 5 Seminar hasil penelitian Rp 100.000,00 6 Sumbangan Sekolah - Rp 100.000,00 7 Kas - Rp 200.000,00 Jumlah Rp 300.000,00 Rp 300.000,00
  • 16. Penutup Demikianlah rencana penelitian ini penulis lakukan beserta anggaran dananya. Penulis berharap agar penelitian ini dapat terlaksana dengan baik sehingga hasil yang diperoleh dapat memberikan manfaat yang baik pula bagi semua pihak. Oleh sebab itu, penulis sangat berharap bantuan dan dukungan dari semua pihak terkait. Akhir kata, penulis mohon maaf apabila ada kesalahan kata atau hal – hal dalam proposal ini yang kurang berkenaan di hati Bapak/ Ibu. Atas perhatian dan kesediaannya untuk berpartisipasi dalam penelitian ini, penulis ucapkan terima kasih. Palembang, 5 Agustus 2010 Ketua Panitia Fransisca Vina Wijaya Lampiran 1 Rancangan Angket 1. Apakah anda pernah membuang sampah sembarangan? a. Ya b. Sesekali c. Tidak sama sekali 2. Kalau ya, apakah anda pernah merasakan efek negatif dari perbuatan tersebut? a. Ya, sebagai dampaknya lingkungan sekitar tampak kotor. b. Ya, sebagai akibatnya lingkungan sekitar sering terkena banjir. c. Tidak 3. Pernahkah anda berpikir untuk mengolah sampah rumah tangga di lingkungan sekolah anda? a. Ya b. Ada tapi malas c. Tidak sama sekali 4. Menurut anda, perlukah kegiatan atau ekstrakulikuler daur ulang, guna mengolah sampah di lingkungan sekolah? a. Tentu saja, karena mengolah sampah dapat membangun kreatifitas siswa-siswi SMA Xaverius 1. b. Tentu saja, karena mengolah sampah dapat membangun sikap kepedulian siswa-siswi terhadap kebersihan lingkungan. c. Tidak, karena mengolah sampah tidak memberi manfaat yang berarti. 5. Bagaimana menurut anda, tingkat kepedulian warga SMA Xaverius 1 ini terhadap lingkungan sekolah mereka?
  • a. Sangat baik b. Baik c. Buruk Lampiran 2 Rancangan Pertanyaan Wawancara Subjek wawancara : Penjaga Kebersihan Sekolah 1. Sudah berapa lama anda bekerja di SMA Xaverius 1 sebagai petugas kebersihan? 2. Bagaimana menurut anda, tingkat kepedulian warga SMA Xaverius 1 terhadap lingkungan sekolah mereka? 3. Menurut anda, perlukah diadakan suatu kegiatan atau ekstrakulikuler sejenis daur ulang guna mengolah sampah dan meningkatkan kepedulian warga sekolah? 4. Pernahkah anda melihat pengolahan sampah atau mengolah sampah? 5. Apakah dampak positif pengolahan sampah terhadap kehidupan sehari-hari? 6. Menurut anda, adakah hubungan antara pengolahan sampah dan tingkat kepedulian lingkungan? Apakah proses pengolahan sampah, secara tak langsung membuat tingkat kepedulian warga sekolah terhadap lingkungan meningkat? 7. Sebagai petugas kebersihan, apakah anda telah menerapkan hidup bersih dan meningkatkan rasa kepedulian terhadap lingkungan anda?
  • i L A P O R A
  • N A K H I R PENELITIAN LATIHAN MAHASISWA PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN SAINS BERORIENTASI COOPERATIVE LEARNING PADA SISWA SD MENGGUNAKAN BAHAN DAUR ULANG OLEH : 1. Novi Maisaroh 09108241079 2. Ika Susianti 10 108241049 3. Annisa Nurul Islami 10108241064 FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 201 1 ii HALAMAN PENGESAHAN 1. Judul Penelitian : Pengembangan Media Pembelajaran Sains Berorientasi Cooperative Learning pada Siswa SD Menggunakan Bahan Daur Ulang 2. Bidang Kegiatan : ( ) Kesehatan
  • ( ) Pertanian ( ) MIPA ( ) Teknologi ( ) Sosial Ekonomi ( ) Humaniora ( √ ) Pendidikan 3. Ketua Pelaksana Kegiatan a. Nama Lengkap : Novi Maisaroh b. NIM : 0910824179 c. Jurusan : Pendidikan Pra Sekolah dan Sekolah Dasar / PGSD d. Universitas/Institut/Politeknik : Universitas Negeri Yogyakarta e. Alamat Rumah dan No Tel./HP : Pugeran, MJ II/329 Yogyakarta 081802813890 f. Alamat email : novimaisaroh@gmail.com 4. Anggota Penulis : 2 orang 5. Dosen Pendamping a. Nama Lengkap dan Gelar :
  • Ikhlasul Ardi Nugroho, S. Pd.Si b. NIP : 198206232006041001 c. Alamat Rumah dan No Tel./HP : Tegalgendu KG II/1172 Kotagede Yogyakarta 55172 Yogyakarta, 1 1 N o v e m b e r 2011 Dosen Pendamping Ketua Pelaksana Kegiatan Ikhlasul Ardi, S. Pd. Si Novi Maisaroh NIP. 198206232006041001 NIM. 09108241079 Kaprodi PGSD Pembantu Dekan III H. A.M Yusuf, M. Pd Bambang Saptono , M. Si NIP. 19511217 198103 1 001 NIP. 19610 723 198803 1 001 iii ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk membuat media pembelajaran sains berorientasi Coopretive Learning dengan menggunakan bahan daur ulang
  • pada mata pelajaran IPA kelas 5 tentang Sistem Pernapasan dan pelaksanaan penelitian di Universitas Negeri Yogyak arta dan SD Negeri Keraton, Yogyakarta dari bulan Juni sampai Agustus . Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian R & D ( Reserach and Development. Model Pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Pengembangan Plomp yang kami modifikasi hingga menggunakan 4 tahapan, yakni (1) prelimenary investigation, (2) design, (3) realization/construction, dan (4) test, evaluation,an revissioon. Pelaksanaan di lapangan diawali dengan studi pustaka dan observasi.media yang telah diranca ng dan dibuat kemudian diuji melalui serangkaian uji kelayakan pada ahli materi dan ahli media sampai dikatakan layak digunakan . Setelahitu diujicobakan ke siswa dalam hal ini siswa kelas V SD Negeri Keraton Yogyakarta. Hasil penelitian ini menunjukkan bah wa k eterkaitan media yang dibuat dengan model pembelajaran Cooperative Learning (CL) adalah adanya kerja sama dalam penggunaan media, siswa dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok dan diberikan lembar kerja siswa yang harus dikerjakan secara bersama sama. Diantara beberapa tipe C ooperative
  • L arning penulis memilih NHT ( Number Head Together) karena dinggap paling sesuai dengan maksud dan tujuan pembelajaran serta mudah diaplikasikan untuk siswa kelas V. Uji coba ke SD melibatkan 18 siswa kelas V SD Neg eri Keraton pada hari kamis, tanggal 14 Juli 2011. Selama melaksanakan pembelajaran disesuaikan dengan Rencana Pembelajaran yang telah disusun. Hasil uji coba di atas menyatakan jumlah total 75 dengan rerata 3,57. Bila dikonversikan ke dalam data kualitati f termasuk dalam kategori sangat baik dan b erdasarkan pengamatan visual , siswa antusias mengikuti pembelajaran. Kata kunci: Cooperative Learning , penggunaan media pembelajaran, siswa SD
  • rangka pengelolaan sampah padat perkotaan yang efisien dan efektif, sehingga diharapkan dapat mengurangi biaya pengelolaan sampah. Gambar 2.1 . 3R ( Reduce, Reuse dan Recycle ) a. Reduce Prinsip Reduce dilakukan dengan cara sebisa mungkin melakukan minimalisasi barang atau material ya ng digunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan . Menurut Suyoto (2008) tindakan yang dapat dilakukan berkaitan dengan program reduce : Hindari pemakaian dan pembelian produk yang menghasilkan sampah dalam jumlah besar Gunakan kembali wadah/kemasan untuk fungsi yang sama atau fungsi lain Gunakan baterai yang dapat di charge kembali Jual atau berikan sampah yang terpilah kepada pihak yang memerlukan Ubah pola makan (pola makan sehat : mengkonsumsi makanan segar, ku rangi makanan kaleng/instan) Membeli barang dalam kemasan besar ( versus kemasan sachet ) Universitas Sumatera Utara -
  • Membeli barang dengan kemasan yang dapat di daur ulang (kertas, daun dan lain lain) Bawa kantong/tas belanja sendiri ketika berbelanja Tolak penggunaan kantong plastik Gunakan rantang untuk tempat membeli makanan Pakai serbet/saputangan kain pengganti tisu Kembali kepemakaian popok kain bagi para ibu b. Reuse Prinsip reuse dilakukan dengan cara sebisa mungkin memilih barang barang yang bisa dipakai kembali. Dan juga menghindari pemakaian barang barang yang hanya sekali pakai. Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah . Menurut Suyoto (2008) tindakan yang dapat dilakukan berkaitan dengan program reuse : Pilih produk dengan pengemas yang dapat didaur ulang Gunakan produk yang dapat diisi ulang ( refill ) Kurangi penggunaan bahan sekali pakai Plastik kresek digunakan untuk tempat sampah Kaleng/ba skom besar digunakan untuk pot bunga atau tempat sampah Gelas atau botol plastik untuk pot bibit, dan macam -
  • macam kerajinan Bekas kemasan plastik tebal isi ulang digunakan sebagai tas Styrofoam digunakan untuk alas pot atau lem Potongan kain/baju bekas untuk lap, keset, dan lain lain Majalah atau buku untuk perpustakaan Universitas Sumatera Utara Kertas koran digunakan untuk pembungkus c. Recycle Prinsip recycle dilakukan dengan cara sebisa mungkin, barang barang yang sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang. Tidak semua barang bisa didaur ulang, namun saat ini sudah banyak industri non formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain . Menurut Suyoto (2008) tindakan yang dapat dilakukan berkaitan dengan program recycle : Mengubah sampah plastik menjadi souvenir Lakukan pengolahan sampah organik menjadi kompos Mengubah sampah kertas menjadi lukisan atau mainan miniatur d. Replace Prinsip replace dilakukan dengan cara lebih memperhatikan barang yang digunakan
  • sehari hari. Dan juga mengganti barang barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. Prinsip ini mengedepankan penggunaan bahan bahan yang ramah lingkungan seperti mengganti kantong plastik dengan keranjang saat berbelanja, atau hindari penggunaan styrofoam karena banyak mengandung zat kimia berbahaya . e. Replant Prinsip replant dapat dilakukan dengan cara membuat hijau lingkungan sekitar baik lingkungan rumah, perkantoran, pertokoan, lahan kosong dan lain lain. Penanaman kembali ini sebagian menggunakan barang atau bahan yang diolah dari sampah . 2.2.2.2 Pengomposan Universitas Sumatera Utara Kompos merupakan has il fermentasi dari bahan bahan organik sehingga berubah bentuk, berwarna kehitam hitaman dan tidak berbau. Pengomposan merupakan proses penguraian bahan bahan organik dalam suhu yang tinggi sehingga mikroorganisme dapat aktif menguraikan bahan bahan organi k sehingga dapat dihasilkan bahan yang dapat digunakan tanah tanpa merugikan lingkungan (Santoso, 2009)
  • . Usaha pengomposan sampah kota memiliki beberapa manfaat yang dapat ditinjau baik dari segi teknologi, ekonomi, lingkungan maupun kesehatan. Dari segi teknologi manfaat pembuatan kompos antara lain : 1. Teknik pembuatan kompos sangat beragam, mulai dari proses yang mudah dengan menggunakan peralatan yang sederhana sampai dengan proses yang canggih dengan peralatan modern 2. Secara teknis, pembuatan kompos dapat dilakukan secara manual sehingga modal yang dibutuhkan relatif murah atau secara masinal (padat modal) untuk mengejar skala produksi yang tinggi Dari segi ekonomi, pembuatan kompos dapat memberikan manfaat secara ekonomis, yaitu : 1. Peng omposan dapat mengurangi jumlah sampah sehingga akan mengurangi biaya operasinal pemusnahan sampah 2. Tempat pengumpulan sampah akhir dapat digunakan dalam waktu yang lebih lama, karena sampah yang dikumpulkan berkurang. Dengan demikian akan mengurangi investasi laha n TPA 3. Kompos dapat memperbaiki kondisi tanah dan dibutuhkan oleh tanaman. Hal ini berarti kompos memiliki nilai kompetitif dan ekonomis yang berarti kompos dapat dijual Universitas Sumatera Utara 4. Penggunaan pupuk anorganik dapat ditekan sehingga dapat meningkatkan efisiensi penggunaannya Dari segi kesehatan, manfaat kesehatan yang diperoleh dari proses pembuatan kompos adalah : 1. Pengurangan tumpukan sampah akan menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat 2. Proses peng omposan berjalan pada suhu yang tinggi sehingga dapat mematikan berba gai macam sumber bibit penyakit yang ada pada sampah (Santoso, 2009). 2.2.2.3 Lubang Resapan Biopori (LBR) Lubang resapan biopori adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10 cm dan kedalaman sekitar 100 cm, atau dalam kasu
  • s tanah dengan permukaan air tanah dangkal, tidak sampai me lebihi kedalaman muka air tanah. Lubang diisi dengan sampah organik untuk memicu terbentuknya biopori. Biopori adalah pori pori berbentuk lubang (terowongan kecil) yang dibuat oleh aktivitas fauna tanah atau akar tanama n (Tim Biopori IPB, 2011). Gambar 2.2 . Diagram lubang resapan biopori Universitas Sumatera Utara Gambar 2.3 . Lubang biopori yang siap pakai (dilihat dari atas) Lubang resapan biopori adalah teknologi tepat guna dan ramah lingkungan untuk mengatasi banjir dengan cara : 1. Meningkatkan daya resapan air L ubang resapan biopori secara langsung akan menambah bidang resapan air, setidaknya sebe sar luas kolom/dinding lubang. Sebagai contoh bila lubang dibuat dengan diameter 10 cm dan dalam 100 cm maka luas bidang res apan akan bertambah sebanyak 3140 cm 2 atau hampir 1/3 m 2 . Dengan kata lain suatu permukaan tanah berbentuk lingkaran dengan diamater 10 cm, yang semula mempunyai bidang resapan 78.5 cm 2 setelah dibuat lubang resapan biopori dengan kedalaman 100 cm, luas bidang resapannya menjadi 3218 cm 2 . Dengan adanya aktivitas fauna tanah pada lubang resapan maka biopori akan terbentuk dan senantiasa terpelihara keberadaannya. Oleh karena itu bidang resapan ini akan selalu terjaga kemampuannya dalam meresapkan air. Dengan demikian kombinasi antara luas bidang resapan dengan kehadiran biopori secara bersama sama akan meningkatkan
  • kemampuan dalam meresapkan air . 2. Mengubah sampah organik menjadi kompos Universitas Sumatera Utara Lub ang resapan biopori "diaktifkan" dengan memberikan sampah organik kedalamnya. Sampah ini akan dijadikan sebagai sumber energi bagi organisme tanah untuk melakukan kegiatannya melalui proses dekomposisi. Sampah yang telah didekompo sisi ini dikenal sebagai k ompos. M elalui proses tersebut maka lubang resapan biopori selain berfungsi sebagai bidang peresap air juga sekaligus berfungsi sebagai "pabrik" pembuat kompos. Kompos dapat dipanen pada setiap periode tertentu dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik pada berbagai jenis tanaman, seperti tanaman hias, sayuran, dan jenis tanaman lainnya. Bagi mereka yang senang dengan budidaya tanaman/sayuran organik maka kompos dari LRB adalah alternatif yang dapat digunakan sebagai pupuk sayurannya . 3. Memanfaatkan fauna tanah dan atau akar tanaman Seperti disebutkan di atas lubang resapan b iopori diakti f kan oleh organisme tanah, khususnya fauna tanah dan perakaran tanaman. Aktivitas merekalah yang selanjutnya akan menciptakan rongga rongga atau liang liang di dalam tanah yang akan dijadikan "saluran" air untuk meresap ke dalam tubuh tanah. Dengan memanfaatkan aktivitas mereka maka ronggarongga atau liang liang tersebut akan senantiasa terpelihara dan terjaga keberadaannya sehingga kemampuan peresapannya akan tetap terjaga tanpa campur tangan langsung dari manusia untuk pemeliharaannya. Hal ini tentunya akan san gat menghemat
  • tenaga dan biaya. Kewajiban faktor manusia dalam hal ini adalah memberikan pakan kepada mereka berupa sampah organik pada periode tertentu. Sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang akan menjadi humus dan tubuh biota dalam tanah, tidak cepat diemisikan ke atmosfir sebagai gas rumah kaca; berarti mengurangi pemanasan global dan memelihara biodiversitas dalam tanah . Universitas Sumatera Utara D engan hadirnya lubang lubang resap an biopori dapat dicegah adanya genangan air, sehingga berbagai masalah yang diakibatkannya seperti mewabahnya penyakit malaria, demam berdarah dan kaki gajah (filariasis) akan dapat dihindari (Tim Biopori IPB, 2011). 2.2.3 Hambatan dalam Pengelolaan Sam pah Menurut Slamet (2004) masalah pengelolaan sampah di Indonesia merupakan masalah yang rumit karena : 1. Cepatnya perkembangan teknologi, lebih cepat daripada kemampuan masyarakat untuk mengelola dan memahami persoalan persampahan 2. Meningkatnya tingkat hidu p masyarakat, yang tidak disertai dengan keselarasan pengetahuan tentang persampahan 3. Kebiasaan pengelolaan sampah yang tidak efisien menimbulkan pencemaran udara, tanah dan air, gangguan estetika dan memperbanyak populasi lalat dan tikus 4. Semakin sulitnya mendapatkan lahan sebagai tempat pembuangan akhir sampah, selain tanah serta formasi tanah yang tidak cocok bagi pembuangan sampah, juga terjadi kompetisi yang semakin rumit akan penggunaan tanah. 5. Semakin banyaknya masyarakat yang berkeberatan bahwa daerah nya dipakai tempat pembuangan sampah 6. Kurangnya pengawasan dan pelaksanaan peraturan 7. Sulitnya menyimpan sampah sementara yang cepat busuk, karena cuaca yang panas. 8. Sulitnya mencari partisipasi masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya dan
  • memelihara k ebersihan. Universitas Sumatera Utara 9. Pembiayaan yang tidak memadai, mengingat bahwa sampai saat ini kebanyakan sampah dikelola oleh jawatan pemerintah . 10. Pengelolaan sampah dimasa lalu dan saat ini kurang memperhatikan faktor non teknis seperti partisipasi masyarakat dan penyuluhan tentang hidup sehat dan bersih . Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa faktor yang lebih dominan menimbulkan hambatan dalam pengelolaan sampah adalah kurangnya pengetahuan, tentang pengelolaan sampah, kebiasaan pengelolaan sampah yang kurang baik dan kurangnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah (Rohani, 2007). 2.3 Pengertian Medan Green and Clean Green and Clean adalah program yang digagas untuk mengatasi permasalahan lingkungan terutama sekali penanganan sampah domestik di kota kota tempat pr ogram ini diimplementasikan. Kunci utama program Green and Clean adalah sinergi dari berbagai elemen baik dari sektor swasta, media, LSM, pemerintah lokal dan yang terpenting adalah komponen masyarakat. Medan Green and Clean adalah program lingkungan berbasis masyarakat yang diinisiasi oleh PT. Unilever Indonesia melalui Yayasan Unilever Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Kota (Pemko) Medan, Harian Waspada dan Yayasan Bumi Hijau Lestari, yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang hijau, bersih bebas sampah dan juga bebas banjir di setiap lingkungan yang ada di kota Medan dengan sistem pemberdayaan masyarakat (Panduan Pelaksanaan MdGC, 2010) . 2. 3.1
  • Tujuan, dan Sasaran Program Green and Clean Adapun tujuan dari progra m Green and Clean adalah : a. Memberdayakan masyarakat untuk peduli akan kebersihan dan kehijauan kota Universitas Sumatera Utara b. Memberikan penghargaan kepada masyarakat yang telah berhasil mewujudkan tempat tinggalnya bersih, hijau dan sehat c. Mewujudkan kondisi kota yang bersih, hijau dan sehat Adapun sasaran yang ingin dicapai dari program Green and Clean yaitu : a. Pemberdayaan masyarakat untuk peduli akan kebersihan dan kehijauan kota b. Lingkungan kota yang bersih, hijau dan sehat (Unilever Green and Clean, 2011). 2.3.2 Indikator P rogram Green and Clean Untuk mengukur kemajuan kegiatan pada setiap tatanan atau menu yang dipilih, dibutuhkan indikator. Indikator tersebut merupakan alat bagi semua pihak yang ikut terlibat dapat menilai sendiri kemajuan yang sudah dilaksanakan dan menjadi tolok ukur untuk mer encanakan kegiatan selanjutnya (Depkes RI, 2005). Pada tahun 2011, program Medan Green and Clean dibagi atas 2 wilayah kompetisi yaitu wilayah komplek dan wilayah non komplek . Wilayah Komplek adalah wilayah pemukiman yang secara geografis tertata rapih dan mempunyai sarana dan prasarana fasilitas lengkap, dan dikelola oleh pengembang . Sedangkan wilayah non komplek adalah wilayah pemukiman biasa yang tidak masuk dalam katergori wilayah komplek (Panduan
  • Pelaksanaan MdGC, 2011). Masing masing wilayah memiliki indikator penilaian untuk melihat keberhasilan dalam pelaksanaan program Medan Green and Clean . Adapun indikator penilaian dimaksud antara lain : 1. Kreatifitas Warga Kwarga (Kreatifitas Warga) adalah aktifitas warga dalam mengkampanyekan Medan Green and C lean (MdGC) melalui berbagai cara berupa ajakan atau slogan slogan yang Universitas Sumatera Utara dituangkan dalam bentuk tulisan kepedulian pada pengelolaan sampah di sekitar lingkungan dengan memanfaatkan barang bekas. Kwarga menjadi penilaian tambahan (point plus) dalam indikato r MdGC, dalam point ini lingkungan terbaik akan mendapatkan hadiah. Tujuan dari Kwarga ini adalah menyampaikan informasi dan pesan kepada masyarakat mengenai program kepedulian terhadap bumi dan alam yang ada di lingkungan untuk menumbuhkan semangat kreati fitas masyarakat Medan Green and Clean (MdGC). 2. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Dalam penanganan sampah skala rumah tangga, masyarakat diharapkan dapat mengelola sampah terutama sampah organik dan sampah anorganik dengan berbagai cara, antara lain : a. Pemanfaatan sampah organik dan sampah anorganik melalui teknik 3 R (Reduce, Reuse dan Recycle) . Sampah organik dapat dimanfaatkan menjadi kompos melalui proses
  • pengomposan, sedangkan sampah anorganik dapat didaur ulang menjadi berbagai barang barang yang b ernilai ekonomis. b. Lubang Resapan Biopori (LBR) Lubang resapan biopori adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10 cm dan kedalaman sekitar 100 cm, atau dalam kasus tanah dengan permukaan air tanah dangkal, tidak sa mpai me lebihi kedalaman muka air tanah. Lubang diisi dengan sampah organik untuk memicu terbentuknya biopori. c. Bank Sampah Bank sampah adalah wadah atau tempat dikumpulkannya sampah anorganik warga, dimana dalam proses pelaksanaannya membutuhkan satu kelompok pengelola yang Universitas Sumatera Utara berasal dari warga yang akhirnya akan terjadi penjualan antara pengel ola bank sampah dengan pengepul. 3. Penghijauan Lingkungan Penghijauan lingkungan adalah penanaman pohon d i lingkungan yang dilakukan oleh warga dengan penataan yang disesuaikan dengan lahan dan kondisi lingkungan setempat secara baik dan indah. Penghijauan selain berfungsi member keindahan pada rumah atau lingkungan setempat juga memberikan manfaat lain seper ti kesejukan, sumber oksigen dan mengurangi polusi udara. Penghijauan ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : a. Toba (Trotoar Berbunga) Toba adalah penghijauan yang dilakukan diatas trotoar/drainase ya ng ada di lingkungan sekitar. b. Taman Gantung Tam an gantung adalah penghijauan yang dilakukan pada lingkungan yang mempunyai lahan sempit dimana sistem penanaman d engan digantung menggunakan pot. c. Tanaman Obat Keluarga
  • Toga atau tanaman obat keluarga adalah penghijauan dengan menanam tanaman yang mempunya i khasiat sebagai obat. Jenis tanaman obat yang dapat ditanam dan dibudidayakan sekaligus menambah penghasilan keluarga antara lain : Mahkota dewa Serai wangi Jahe merah Rosella Daun sop/aneka sayur sayuran Universitas Sumatera Utara Lidah buaya Aneka umbian seperti ubi kayu, talas dan lain sebagainya 4. Partisipasi Masyarakat Partisipasi adalah keterlibatan emosi dan mental seseorang dalam situasi kelompok yaitu adanya ketersediaan untuk mengambil bagian dalam menetapkan tujuan bersama, serta kesediaan memikul tanggung jawab bagi pencapaian tujuan bersama (Davis dalam Kurniawan, 2008). Partisipasi masyarakat merupakan proses dimana masyarakat ikut serta mengambil bagian dalam pengambilan keputusan. Partisipasi masyarakat merupakan point penting dalam pelaksanaan program Medan Green and Clean . Ada 3 point penting dalam komponen partisipasi masyarakat : a. Informasi leader/fasilitator sebagai koordinator, inspirator, dan generator dari sebuah kegiatan di lingkungan. Peran fasilitator adalah menjembatani antara implementasi kegiatan di rumah tangga kepada pihak luar sehingga pergerakan dari kegiatan yang ada di masyarakat terekspose dengan baik ke pihak luar. b. Dalam teknis melakukan eksposure kegiatan, fasilitator dibantu oleh kader. Fungsi kader yaitu sebagai mediator antara fasilitator dengan masyarakat langsung sehingga kegiatan dapat terpenetrasi dengan baik dan dalam kadar yang terukur.
  • c. Kader dalam menjembatani informasi di kegiatan rumah tangga memerlukan peran aktif rumah tangga di tingkatan rumah tangga. Dalam hal ini, rumah tangga adalah keluarga dalam satu rumah yang mengimplementasikan program Medan Green and Clean yaitu pengelolaan sampah dan penghijauan. 5. Prilaku Hidup Bersih dan Se hat (PHBS) Universitas Sumatera Utara Masyarakat aktif dalam menjaga kebersihan lingkungannya yang dimulai dari diri sendiri dan hal hal kecil. Masyarakat harus memiliki gaya hidup yang sehat dengan tidak melakukan hal hal yang dapat merusak lingkungan sekitar mereka (Panduan Pelaksanaan MdGC, 2011). 2.3.3 Penyelenggaraan Medan Green and Clean Setiap kelurahan atau lingkungan dapat ikut serta dalam pelaksanaan program Medan Green and Clean ini atas dasar kesepakatan dari masyarakat, (termasuk tokoh masyarakat dan LSM setempat) dan juga bersama Lurah atau kepala lingkungan setempat. Langkahlangkah yang dilakukan dalam pelaksanaan program Medan Green and Clean adalah sebagai berikut : 1. Tahapan awal yaitu melakukan Audiensi dengan Walikota dan setelah itu menggelar sosialisasi program dengan Camat, Lurah dan Ketua RW setempat. Lalu dilanjutkan dengan pengambilan formulir peserta Medan Green and Clean . 2. Pengembalian formulir peserta kepada Pemko Medan dalam hal ini Badan Lingkungan Hidup Kota Medan .
  • 3. Pelatihan fasilitator wilayah maju dan berkembang. Pelatihan Fasilitator yaitu perwakilan dari tiap RW yang berpartisipasi berupa pelatihan tentang kepemimpinan dan pengetahuan lingkungan. Hal in i bertujuan agar mereka dapat mentransfer ilmu dan menginspirasi masyarakat sekitar dalam kepedulian terhadap lingkungan. 4. Pelaksanaan penjurian yang dibagi atas 3 tahap yaitu tahap I, II dan III . 5. Apresiasi Medan Green and Clean serta pengumuman pemenang program Medan Green and Clean . 2.3.4 Penilaian Medan Green and Clean Universitas Sumatera Utara Keberhasilan suatu lingkungan atau wilayah mendapat predikat sebagai lingkungan yang bersih, asri dan hijau adalah merupakan suatu proses kegiatan oleh masyara kat dengan dukungan berbagai pihak mulai dari pemerintah dan pihak swasta. Dalam hal pengelolaan sampah, terdapat beberapa kriteria penilaian sehingga dapat dikatakan mencapai target , yaitu antara lain : a. Untuk wilayah komplek Minimal ada 80 rumah yang melakukan pengelolaan sampah Melakukan inovasi pengelolaan sampah di wilayahnya Harus ada ciri pengelolaan sampah yang mencirikan program Melakukan pengelolaan sampah anorganik menjadi bahan berguna Mempunyai secara sistem dan fisik Bank Sampah b. Untuk wilayah non komplek Minimal ada 50 rumah yang melakukan pengelolaan sampah Melakukan inovasi pengelolaan sampah di wilayahnya
  • Harus ada ci ri pengelolaan sampah yang mencirikan program Melakukan pengelolaan sampah anorganik menjadi bahan berguna Mempunyai secara s istem dan jika memungkinkan memiliki secara fisik Bank Sampah 2.7 Karakteristik Ibu Rumah Tangga Karakteristik adalah sifat individu yang relatif tidak berubah, atau yang dipengaruhi oleh lingkungan seperti umur, jenis kelamin, suku bangsa, kebangsaan, pendidi kan dan lain lain (Junaidi, 2005). 1. Umur Universitas Sumatera Utara Umur adalah variabel yang selalu diperhatikan dalam penyelidikan penyelidikan epidemiologi. Dalam hal ini, umur ibu rumah tangga dibagi menjadi 2 kategori usia yaitu 15-4 9 tahun dikategorikan dalam ibu rumah tangga yang tergolong dewasa muda dan umur 50 tahun keatas adalah ibu rumah tangga yang tergolong lansia. 2. Pendidikan Menurut Deliarno (1995) dalam Ayusta (2004) Pendidikan adalah pendidikan yang diperoleh seseorang pada periode waktu tertentu pada suatu instansi yang resmi disahkan oleh pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan tertentu yang ditandai adanya ijazah setelah selesai pendidikan. Wikipedia mengatakan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajara n agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan,
  • pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi (Wikipedia, 2009) . Notoatm ojo (1993) mengatakan pendidikan adalah pendidikan formal yang pernah diperoleh ditandai dengan adanya ijazah. Tingkat pendidikan adalah jenjang pendidikan formal terakhir yang dilalui. Menurut wikipedia (2009) tingkat pendidikan tersebut dibagi menjadi ti dak sekolah, tamat SD (pendidikan dasar), tamat SLTP/sederajat (pendidikan lanjutan), tamat SLTA/sederajat (pendidikan menengah), tamat Perguruan Tinggi (diploma, sarjana, magister, doktor). Umumnya masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan yang Universitas Sumatera Utara lebih ti nggi memiliki lingkungan yang lebih bersih dan rapi Karena berbanding lurus dengan tingkat ekonominya yang tinggi pula. 3. Status Pekerjaan Bekerja adalah penduduk atau masyarakat (10 tahun keatas) yang melakukan pekerjaan dengan maksud memperoleh atau memb antu memperoleh penghasilan atau keuntungan. Dalam masyarakat, status pekerjaan seseorang dapat mempengaruhi pelaksanaan suatu program di daerahnya. Ada beberapa keluarga dalam masyarakat yang tidak bekerja atau pengangguran dan ada juga yang berstatus be kerja dengan berbagai profesi dan jenis pekerjaannya. 4. Penghasilan Penghasilan adalah besarnya pendapatan yang diperoleh dalam keluarga. Penghasilan dapat berarti juga jumlah uang yang didapat oleh seseorang dari hasil kerjanya setiap bulan (Notoatmodjo, 2003). Upah Minimum Provinsi Sumatera Utara tahun 2010 adalah Rp.1.190.000, -. Penghasilan juga merupakan variabel yang berhubungan dengan status ekonomi keluarga dimana sulit bagi mereka untuk melakukan kegiatan kegiatan dalam hal pelestarian lingkungan mereka karena pasti juga memerlukan biaya sedangkan untuk kehidupan sehari hari saja mereka sulit untuk memenuhinya. 5. Pengetahuan Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan
  • penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penget ahuan juga dapat di difenisikan sebagai sekumpulan informasi yang dipahami, yang diperoleh dari proses belajar semasa hidup dan Universitas Sumatera Utara dapat dipergunakan sewaktu waktu sebagai alat penyesuaian diri, baik terhadap diri sendiri maupun lingkungan. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih lama bertahan/langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan, seba liknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran ma ka tidak akan berlangsung lama (Notoatmodjo, 2003) Pengetahuan adalah tingkat pengetah uan ibu rumah tangga tentang pemanfaatan program Medan Green and Clean khususnya dalam penge lolaan sampah domestik. 6. Sikap Menurut Notoatmodjo (2003) sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Disebutkan juga bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan juga merupakan pelaksanaan motif tertentu. Menurut Sarwono (2004) sikap merupakan pendapat maupun pandangan seseorang tentang suatu objek yang mendahului tindakannya. Sikap tidak mungkin terbentuk sebelum mendapat informasi, melihat atau mengalami sendiri suatu objek. Sikap dapat diartikan sebagai suatu bentuk kecendrungan untuk bertingkah laku, dapat juga diartikan sebagai suatu bentuk respon evaluatif yaitu suatu respon yang sudah dalam pertimbangan oleh individu yang bersangkutan. Selain itu, Sikap adalah kec endrungan untuk berespon baik secara positif atau negatif terhadap orang lain, objek atau situasi. Sikap tidak sama dengan perilaku dan kadang kadang sikap tersebut baru diketahui setelah seseorang itu berperilaku, tapi sikap juga selalu tercermin dari per ilaku seseorang (Sarwono, 2004). Universitas Sumatera
  • Utara Menurut Ahmadi (1990) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003) sikap dibedakan jadi: 1. Sikap positif, yaitu : sikap yang menunjukkan atau memperlihatkan menerima atau mengakui, menyetujui terhadap norma norma yang berlaku dimana individu itu berada. 2. Sikap negatif, yaitu : sikap yang menunjukkan penolakan atau tidak menyetujui terhadap norma norma yang berlaku dimana individu itu berada. Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung dapat dinyatakan pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu objek, secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pertanyaan pertanyaan hipotesis, kemudian dinyatakan pendapat responden. 2.8 Kerangka Konsep Karakteristik Ibu Rumah Tangga Baik Pengolahan Sampah Domestik Tidak Baik Karakteri stik Ibu Rumah Tangga: Umur Tingkat Pendidikan Status Pekerjaan Penghasilan Pengetahuan Sikap
  • Universitas Sumatera Utara 2.6 Hipotesis Penelitian Hipotesis penelitian ini adalah : 1. Ha : Ada hubungan umur ibu rumah tangga dengan pengolahan sampah domestik Ho : Tidak ada hubungan umur ibu rumah tangga dengan pengolahan sampah domestik 2. Ha : Ada hubungan tingkat pendidikan ibu rumah tangga dengan pengolahan sampah domestik Ho : Tidak ada hubungan tingkat pendidikan ibu ru mah tangga dengan pengolahan sampah domestik 3. Ha : Ada hubungan status pekerjaan ibu rumah tangga dengan pengolahan sampah domestik Ho : Tidak ada hubungan status pekerjaan ibu rumah tangga dengan pengolahan sampah domestik 4. Ha : Ada hubungan jumlah penghasilan ibu rumah tangga dengan pengolahan sampah domestik Ho : Tidak ada hubungan jumlah penghasilan ibu rumah tangga dengan pengolahan sampah domestik 5. Ha
  • : Ada hubungan pengetahuan ibu rumah tangga dengan pengolahan sampah domestik. Ho : Tidak a da hubungan pengetahuan ibu rumah tangga dengan pengolahan sampah domestik 6. Ha : Ada hubungan sikap ibu rumah tangga dengan pengolahan sampah domestik. Ho : Tidak ada hubungan sikap ibu rumah tangga dengan pengolahan KUALITAS FIBER PLASTIC COMPOSITE DARI KERTAS KARDUS DENGAN MATRIKS POLIETILENA (PE) SKRIPSI Oleh: Reymon Fernando Cibro 071203026 / Teknologi Hasil Hutan PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011 LEMBAR PENGESAHAN Judul Hasil : KUALITAS FIBER KOMPOSIT PLASTIC DARI KERTAS KERTAS KARDUS DENGAN MATRIKS POLIETILENA (PE) Nama : Reymon Fernando Cibro NIM
  • :0 71203026 P. Studi : Kehutanan Disetujui oleh: Komisi Pembimbing Ketua Anggota Luthfi Hakim, S.Hut, M.Si Arif Nuryawan, S.Hut, M.Si Mengetahui: Ketua Program Studi Kehutanan Siti Latifah S.Hut, M.Si, PhD