Sejarah Akuntansi Syariah

8,369 views
8,101 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
8,369
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
116
Actions
Shares
0
Downloads
226
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Sejarah Akuntansi Syariah

  1. 1. TUGAS 1 “RINGKASAN BAB 4 SEJARAH DAN PEMIKIRAN AKUNTANSI SYARIAH” Kelompok 7: Kartika Arum Sayekti Dewi Mita Rozali Niken Siti Rokhana Vita Puji Lestari FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS INDONESIA
  2. 2. BAB 4 SEJARAH DAN PEMIKIRAN AKUNTANSI SYARIAH I. PERKEMBANGAN AWAL AKUNTANSI Pada awalnya akuntansi merupakan bagian dari ilmu pasti, yaitu bagian dari ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan masalah hukum alamdan perhitungan yang memiliki sifat perhitungan absolut. Sebagai bagian dari ilmu pasti yang perkembangannya bersifat akumulatif, maka setiap penemuan metode baru dalam akuntansi akan menambah dan memeperkaya ilmu akuntansi tersebut. Bahkan pemikir akuntansi pada awal perkembangannya merupakan seorang ahli matematika seperti Luca Paciolli dan Musa Al Khawarizmy. Akuntansi dalam Islam merupakan alat untuk melaksanakan perintah Allah SWT dalam ( QS 2:282 ) untuk melaksanakan pencatatan transaksi usaha. Implikasi lebih jauh adalah keperluan terhadap suatu sistem pencatatan tentang hak dan kewajiban, pelaporan terpadu dan komprehensif. Islam memandang akuntansi tidak sekadar ilmu yang bebas nilai untuk melakukan pencatatan dan pelaporan saja, tetapi juga sebagai alat untuk menjalankan nilai-nilai Islam (islamic value) sesuai ketentuan syariah. Akuntansi yang kita kenal sekarang diklaim berkembang dari peradaban barat (sejak Paciolli ) padahal apabila dilihat lebih mendalam dari proses lahir sampai perkembangannya, terlihat jelas pengaruh keadaan masyarakat atau oeradaban sebelumnya baik Yunani maupun Arab Islam. Perkembangan akuntansi, dengan domain “aritmatic quality” nya, sangat ditopang oleh ilmu lain khususnya arithmatic, algebra, mathematics, algorithm,pada awal abad ke – 9 M. Ilmu ini lebih dulu berkembang sebelum perkembangan bahasa. Ilmu penting ini ternyata dikembangkan oleh filosof Islam yang terkenal yaitu Abu Yusuf Ya’kub bin Ishaq Al Kindi yang lahir tahun 801 M. Juga Al Karki (1020) dn Al-Khawaizmy yang merupakan asal kata dari alGorithm, algebra juga berasal dari kata Arab “al Jabr “. Demikian juga penemuan Al Khawarizmy berupa sistem nomor,desimal dan angka “0” (zero, sifr, kosong,nol) yang kita pakai sekarang yang disebut angka Arab sudah dikenal sejak 830 M, yang sudah diakui oleh Hendriksen penulis buku “Accounting theory” merupakan sumbangan Arab Islam terhadap akuntansi. Ibnu Khaldun (lahir 1332) adalah filosof Islam yang telah berbicara tentang politik, sosiologi, ekonomi, bisnis, dan perdagangan. Bahkan ada dugaan kuat bahwa pemikiran
  3. 3. mereka itulah yang sebenarnya dikemukakan oleh filosof barat yang belakangan muncul pada abad ke 18 M. Sebenarnya Al Khawarizmy lah yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan matematika moderen Eropa. Akuntansi moderen yang dikembangkan dari persamaan algebra dengan konsep-konsep dasarnya untuk digunakan memecahkan persoalan pembagian harta warisan secara adil sesuai dengan syariah yang ada di Al-Qur’an, perkara hukum (law suit) dan praktik bisnis perdagangan. Sebenarnya sudah banyak pula ahli akuntan yang mengakui akuntansi Islamitu, misalnya GE Gambling, William Roget, Baydoun, Hayashi dari Jepang dan lain-lain. Seperti Paciolii dalam memperkenalkan sistem double entry melalui ilmu matematika, sistem akuntansi dibangun dari kesamaan akuntansi Aset = Liabilitas + Ekuitas (A=L+E). Karena aljabar ditemukan pertama-tama oleh ilmuwan muslim dizaman keemasan Islam, maka sangat logis jika ilmu akuntansi juga telah berkembang pesat di zaman itu, paling tidak menjadi dasar perkembangannya. II. SEJARAH AKUNTANSI Suatu sistem keuangan atau moneter sudah diperkenalkan sejak masyarakat mengenal istilah perdagangan. Bahkan bukti tentang suatu sistem pencatatan sudah diperkenalkan berdirinya kerajaan Babilonia sejak 4500 SM, Fir’aun Mesir dan kode – kode Hammurabi (2250 SM). Luca Paciolli dikenal sebagai bapak akuntansi modern. Paciolli merupakan seorang ilmuan yang mengajar di beberapa universitas di Italia pada 1445. Paciolli dalam bukunya Summa de Arithmetica Geometria et Proportionalita, menerangkan mengenai double entry book keeping, closing entries, trial balance, ledger, dan dasar – dasar akuntansi lainnya. Sistem double entry book keeping, sebenarnya bukanlah ditemukan pertama kali pada abad 13 atau pertama kali dikemukakan oleh Paciolli. Bahkan hal tersebut juga diakui oleh Paciolli sendiri. Bahkan kemungkinan sistem pencatatan serupa dengan ini sudah dilakukan sejak peradaban manusia saling berinteraksi baik dalam konteks ekonomi atau hubungan dalam masyarakat lainnya. Perkembangan akuntansi dalam islam itu sendiri, mencatat suatu perkembangan yang pesat. Angka arab dianggap memiliki andil yang besar dalam perkembangan ilmu akuntansi. Bahkan sederet ilmuan mslim juga memberikan sumbangan besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu ekonomi. Bahkan pada masa pemimpinan Nabi Muhammad SAW, sudah didirikan Baitul Maal.
  4. 4. Bangsa arab dikenal sebagai bangsa dengan tingkat perdagangan yang maju. Dengan tingkat perkembangan perdagangan yang sedemikian pesat tentunya kemungkinan besar pelaku ekonomi muslim akan mengembangkan suatu teknik pencatatan terkait kegiatan ekonomi mereka, misalnya untuk keperluan perhitungan zakat. Apa yang dilakukan oleh Luca Paciollimemiliki kemiripan dengan apa yang telah disusun oleh para pemikir muslim pada abad ke 8-10 M. Hal ini kemungkinan dapat terjadi karena perintah untuk berdakwah, sehingga selain dakwah kemungkinan juga terjadi pula penyebaran ilmu pengetahuan. III. PERKEMBANGAN AKUNTANSI SYARIAH Zaman Awal Perkembangan Islam Negara Islam di Madinah (622 M atau 1 H) : Seluruh kegiatan kenegaraan dilakukan secara bersama-sama dan gotong royong di kalangan muslimin. Muhammad Rasulullah SAW bertindak sebagi kepala Negara merangkap sebagai Ketua Mahkamah agung, Mufti besar, Panglima perang tertinggi, dan penanggung jawab administrasi negara. Tradisi bangsa Arab yaitu melakukan perjalanan perdagangan selama 2 kali, pada musim dingin dengan tujuan ke Yaman dan musim panas dengan tujuan ke Asy-syam hingga berkembang ke Eropa. Perkembangan selanjutnya mulai terbentuk kewajiban zakat dan Ushr (Pajak Pertanian dari Muslim), dan perluasan wilayah yang dikenal dengan Jizyah (Pajak perlindungan dari Non Muslim) dan Kharaj (Pajak hasil pertanian dari Non Muslim). Pada Awal abad ke-7 Rosul mendirikan Baitul Maal untuk mengatur sistem keuangan pada zaman tersebut. Konsep Baitul Maal adalah memisahkan penerimaan yang dikumpulkan dengan oemimpin negara dan dikelurakan untuk kepentingan negara. Rosul juga menunjuk petugas Qadi , ditambah para sekretaris dan pencatat administrasi pemerintah. Ada empat pembagian kerja Baitul Maal antara lain Sekretaris pernyataan, Sekretaris hubungan dan pencatatan tanah, sekretaris perjanjian, dan sekretaris peperangan. Zaman Empat Khalifah Abu Bakar:Penerimaan dan pengeluaran seimbang , hampir tidak pernah ada sisa Umar Bin Khattab :
  5. 5. Perubahan yang signifikan dilakukan salah satunya adalah adanya Diwan . Diwan adalah tempat pekerja duduk untuk mencatat perhitungan akuntansi dan disimpan, fungsinya untuk mengurusi pembayaran gaji. Khalifah umar menunjuk beberapa orang persia untuk mencatat dan mengelola serta mengawasi pembukuan baitul Maal. Pendirian Diwan ini adalah usulan dari tahanan persia – Homozan. Selain itu Baitul maal juga tidak terpusat hanya di Madinah namun juga di daerah taklukan Islam. o Struktur Diwan terdiri dari 14 departemen dan 17 kelompok menunjukkan adanya pembagian tugas dalam sistem keuangan dan pelaporan keuangan.Istilah awal pembukuan dikenal dengan Jarridah atau Journal dalam bahasa Inggris. o Fungsi Akuntansi yang paling terkenal adalah yang ditunjukkan oleh Al-Kateb yang fungsinya orang yang bertanggungjawab untuk menuliskan dan mencatat infrmasi baik keuangan maupun non keuangan. Akuntan yang secara khusus dikenal dengan Muhasabah/muhtasib. o Muhtasib adalah orang yang bertanggung jawab atas lembaga Al-Hisba dan pengawasan pasar tidak hanya menyangkut masalah ibadah. Tugas Muhtasib adalah menjelaskan berbagai tindakan yang tidak pantas dilakukan dalam berbagai bidang kehidupan termasuk mengawasi orang yang tidak berpuasa, tidak shalat, iri dengki, bohong, melakukan kecurangan, mengurangi timbangan, praktik kecurangan dalam industri, perdagangan, agama dsb. o Tiga kewajiban Muhtasib menurut Akram Khan adalah : 1. Pelaksanaan Hak Alloh termasuk kegiatan ibadah : Sholat dan pemeliharaan Masjid 2. Pelaksanaan hak masyarakat: Perilaku di pasar, kebenaran timbangan, kejujuran bisnis 3. Pelaksanaan yang berkaitan dengan keduanya: menjaga kebersihan jalan, lampu jalan, bangunan yang mengganggu masyarakat dsb. o Beberapa departemen dalam Diwan antara alain : Diwan pengeluaran (Diwan An-Nafaqat), militer ( Diwan Al Jayash), pengawasan , pemungutan hasil dsb. Diwan pengawasan keuangan disebut Diwan Al-Kharaj Khalifah mansyur o Khitabat al Rosul Was Sirr : pemelihara pencatatan rahasia
  6. 6. o Shahib Al Shurta : Untuk menjamin dilaksanakannya hukum. Pejabat di dalamnya adalah muhtasib pengawasan agama dan moral serta muhtasib pelayanan umum. Khalifah Ali Bin Abi Thalib o Sistem administrasi baitul Maal baik di tingkat pusat dan lokal telah berjalan dengan baik, sehingga terjadi surplus yang hasilnya dibagikan secara proporsional sesuai tuntunan Rasulullah. IV. SEKILAS PROSEDUR DAN ISTILAH YANG DIGUNAKAN Ada 7 hal khusus dalam sistem akuntansi yang dijalankan negara Islam (Al-Khawarizmy dan Al-Mazendarany dalam (Zaid, 2004) ) 1. Sistem akuntansi kebutuhan hidup, sistem ini di bawah koordinasi seorang manajer. 2. Sistem akuntansi konstruksi merupakan sistem akuntansi untuk proyek pembangunan pemerintah. 3. Sistem akuntansi pertanian merupakan sistem yang berbasis non-monetor. 4. Sistem akuntansi gudang merupakan sistem untuk mencatat pembelian barang negara. 5. Sistem akuntansi mata uang, sistam ini telah dilakukan oleh negara Islam abad ke-14 M.Sistem ini memberikan hak kepada pengelolanya untuk mengubah emas dan perak yang diterima pengelola menjadi koin sekaligus mendistribusikannya. 6. Sistem akuntansi peternakan merupakan sistem yang mencatat seluruh binatang ternak. 7. Sistem Akuntansi perbendaharaan merupakan sistem untuk mencatat penerimaan dan pengeluaran harian negara baik nilai uang atau barang. Prosedur dalam sistem akuntansi Islam (Zaid, 2004) Transaksi dicatat setelah terjadi, Transaksi dikelompokan berdasarkan jenisnya (nature), Penerimaan dicatat di sisi sebelah kanan dan pengeluaran di sebelah kiri serta sumber penerimaan harus dijelaskan, Pembayaran harus dicatat dan diberikan penjelasan yang memadai disisi kanan halaman, Pencatatan transaksi harus dilakukan dan dijelaskan secara hati-hati, Harus diberikan jarak penulisan di sisi sebelah kiri dan harus diberi garis penutup (Attarkeen), Koreksi atas transaksi yang telah dicatat tidak boleh dengan cara menghapus atau menulis ulang , jika Al Kateb melakukan kesalahan maka harus diganti, Jika akun telah ditutup maka akan diberi tanda, Seluruh transaksi yang dicatat dibuku jurnal (Al Jaridah) akan dipindahkan pada buku khusus berdasarkan pengelompokan
  7. 7. transaksi, Orang yang melakukan pencatatan pengelompokan berbeda dengan yang melakukan pencatatan harian, Saldo (Al Hassel) diperoleh dari selisih, Laporan harus disusun setiap bulan dan tahun, detail dan memuat informasi penting, Pada akhir tahun laporan yang disampaikan Al Kateb harus menjelaskan dengan detail barang dan dana yang dibawah wewenangnya, Laporan tahunan yang dilaporkan akan diperiksa dan dibandingkan dengan tahun sebelumnya dan disimpan di Diwan Pusat. Berbagai istilah terkait prosedur di atas: 1. Al Jaridah merupakan buku untuk mencatat transaksi (koran/jurnal), Al jaridah perlu dicap dengan stempel sultan. Jaridah Al-Kharaj a. Jaridah Annafakat b. Jaridah Al-Maal c. Jaridah Al-Musadereen 2. Daftar Al Yaumiah (Buku Harian/ Ruzmanah (bahasa persia)), daftar ini digunakan untuk dasar pembuatan jurnal voucher. Jurnal voucher merupakan tanggung jawab al kateb disetujui pimpinan diwan dan menteri. a. Daftar Attawjihat: untuk mencatat anggaran pembelanjaan baik berupa Mukarriyah (operasional) dan Itlakiyah (anggaran untuk pos diskresi dari raja) b. Daftar Attahwilat: untuk mencatat keluar masuknya dana antar wilayah dan pusat pemerintahan. 3. Al khawarizmy membagi beberapa jenis daftar (Siswantoro,2003) Kaman al-kharadj merupakan dasar-dasar survei, Al-Awardj menunjukan daftar utang individu dan cicilan, Al-Ruzmamadj daftar pembayaran dan pemeriaan setiap hari, Al-Khatma merupakan laporan dan pendapatan per bulan, Al-Khatma Al-Djami’a merupakan laporan tahunan, Al-Ta’ridj merupakan tambahan catatan untuk menunjukan kategori secara keseluruhan, Al-Arida merupakan 3 kolom jurnal yang totalnya dikolom ke 3, Al-Bara’a merupakan penerimaan dari pembayar pajak, Al- Muwafaka wal-djama’a mmerupakan akuntansi yang komprehensif yang disajikan oleh amil. 4. Beberapa jenis laporan keuangan a. Al Khitmah, merupakan laporan yang dibuat setiap akhir bulan dan menunjukan total penerimaan dan pengeluaran b. Al Khitmah Al Jameeah merupakan laporan yang disiapkan oleh Al Khateb secara tahunan dan diberikan kepada atasannya (Al Mawafaka)
  8. 8. c. Bentuk perhitungan dan laporan zakat, dikelompokan dalam laporan keuangan yang dibagi: 1) Al-Raj Minal Mal (dapat tertagih) 2) Al-Munakasir Minal Mal (Piutang tidak dapat tertagih) 3) Al Muta’adhir Wal Mutahayyer wa Muta’akkid (piutang yang sulit dan piutang yang bermasalah) Hubungan Akuntansi Modern dan Akuntansi Islam Seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, bahwa perkembangan ilmu akuntansi (Islam) telah ada sejak zaman dinasti Abbasiah, yaitu pada kurun waktu 750 – 1258 M. Sedangkan perkembangan akuntansi modern, baru mulai berkembang sekitar tahun 1202 M, yang diperkenalkan oleh Luca Paciolli, seorang ilmuwan asal Italia. Saat itu, Luca Paciolli telah mengadopsi tata cara pencatatan yang dilakukan oleh ilmuwan Arab. Namun, dalam pelaksanaannya Ia melakukan double entry dalam pencatatannya. Menurut Paciolli, dalam setiap transaksi harus dicatat dua kali di sisi sebelah kredit kemudian di sebelah debit. Hal ini memperkuat dugaan bahwa Paciolli menerjemahkan hal tersebut dari bahasa Arab, yang menulis dari sebelah kanan. Mengenai keabsahan informasi tesebut masih dalam kajian dan penelitian sampai sekarang oleh para ilmuwan, terkait sejarah dan perkembangan akuntansi Islam maupun akuntansi modern. Terlepas dari bagaimana sejarah perkembangan akuntansi, terdapat beberapa kesamaan antar akuntansi modern dengan akuntansi Islam, seperti yang diuraikan oleh Merza Gamal, seorang pengkaji sosial ekonomi Islam. Persamaan antar keduanya terdapat pada beberapa hal berikut, yaitu: 1. Prinsip pemisahan jaminan keuangan berupa prinsip unit ekonomi 2. Prinsip penahunan (hauliyah) dengan prinsip periode waktu (tahun pembukuan) 3. Prinsip kesaksian dalam pembukuan dengan prinsip penentuan barang 4. Prinsip perbandingan (muqabalah) dengan prinsip perbandingan income dengan biaya 5. Prinsip kontinuitas (istimariah) dengan kesinambungan perusahaan 6. Prinsip keterangan (idhah) dengan penjelasan atau pemberitahuan. Selain persamaan tersebut, terdapat pula hal-hal yang membedakan antara akuntansi modern dan akuntansi Islam, seperti yang dikutip oleh Gamal dari tulisan Husein Syahatah,
  9. 9. dalam buku “Pokok-Pokok Pikiran Akuntansi Islam”. Beberapa perbedaan tersebut, diantaranya: 1. Cara menentukan nilai untuk melindungi modal pokok 2. Modal dalam konsep akuntansi modern, terbagi dalam dua bagian, yaitu modal tetap (aktiva tetap) dan modal lancar (aktiva lancar). Sedangkan dalam konsep akuntansi Islam, barang pokok dibagi menjadi harta berupa uang dan harta berupa barang (stock), yang seanjutnya dibagi lagi menjadi barang milik dan barang dagang. 3. Dalam konsep Islam, mata uang berupa emas, perak dan barang lain yang sama kedudukannya bukan tujuan dari segalanya, melainkan hanya sebagai perantara untuk pengukuran dan penentuan nilai atau harga. 4. Dalam konsep modern terdapat pencadangan dan ketelitian dari menanggung semua kerugian dalam perhitungan dan mengesampingkan laba yang bersifat mungkin. Sedangkan konsep Islam sangat memperhatikan hal itu dengan cara penentuan nilai atau harga dengan berdasarkan nilai tukar yang berlaku serta membentuk cadangan untuk kemungkinan bahaya dan resiko. 5. Terdapat penerapan laba universal dalam konsep konvensional, mencakup laba dagang, modal pokok, transaksi. Sedangkan konsep Islam, dibedakan antara laba dari aktivitas pokok dan laba dari aktivitas kapital (modal pokok) dengan yang berasal dari transaksi. 6. Konsep modern mengatakan bahwa laba hanya terjadi saat adanya jual-beli. Sedangkan konsep Islam, memakai kaidah bahwa laba itu akan ada ketika adanya perkembangan dan pertambahan pada nilai barang, baik yang telah terjual maupun yang belum. Akan tetapi, jual beli adalah suatu keharusan untuk menyatakan laba, dan laba tidak boleh dibagi sebelum nyata laba itu diperoleh. Sumber: Pengantar akuntansi syariah di Indonesia, Sri Nurhayati dan Wasilah Salemba Empat

×