Analisis literatur fraud triangle auditing
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Analisis literatur fraud triangle auditing

on

  • 1,381 views

 

Statistics

Views

Total Views
1,381
Views on SlideShare
1,277
Embed Views
104

Actions

Likes
0
Downloads
39
Comments
0

1 Embed 104

http://dewimitarozali.wordpress.com 104

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Analisis literatur fraud triangle auditing Analisis literatur fraud triangle auditing Document Transcript

  • Analisis Literatur Fraud Triangle Auditing Oleh : Dewi Mita Rozali 1106018814
  • Pendahuluan Kecurangan atau fraud adalah masalah terbesar dalam dunia bisnis. Biaya yang timbul diperkirakan sebesar 5% dari pendapatan tahunan perusahaan dimana hal tersebut menunjukkan kerugian ekonomi sebesar $ 2,9 trillion secara global. Untuk mengetahui mengapa seseorang melakukan kecurangan, profesional auditor merujuk kepada Fraud Triangle. Fraud triangle menunjukkan faktor yang menyebabkan terjadinya kecurangan antara lain tekanan (Pressure) , Kesempatan ( Oppotunity ) , dan Rasionalisasi ( Rasionalization). Tujuan dari Fraud Triangle adalah mengetahui motivasi melakukan kecurangan dan yang paling penting adalah konsep ini merupakan konsep sentral sebagai pertimbangan menemukan kecurangan dalam laporan keuangan audit menurut Statement on Auditing Standard (SAS) 99. Konsep tersebut telah menjadi dasar literatur auditing namun sejak tahun 1950 para profesional auditor dan akademisi mempunyai perspektif lain diluar Fraud Triangle. Konsep Fraud Triangle ini awalnya digagas oleh Edwin Sutherland , yang menciptakan istilah white collar crime dan Donald Cressey yang menulis Other People’s Money (Patterson Smith, 1973). Cressey mengfokuskan researchnya tentang keadaan awal yang mempengaruhi seorang Fraudsters/pelaku kecurangan untuk melanggar standar etika yang kemudian pelaku kecurangan tersebut terlibat dalam tindak kecurangan awal mereka. Setelah beberapa tahun , researchnya ditemukan dan dikenal dengan Fraud Triangle yang menunjukkan 3 faktor utama dalam tindak kecurangan auditing antara lain pressure,opportunity, dan rasionalization. Sekitar bulan Desember 2002 audit menerapkan Statement of Auditing Standard SAS 99 (AU 316). Standard tersebut memperbaiki dan mengubah cara yang dilakukan audit untuk lebih memperkuat pertimbangan dan kemungkinan deteksi kecurangan yang terjadi.
  • Meskipun dalam kenyataannya masih banyak terjadi scandal kecurangan perusahaan yang tidak terdeteksi auditor, namun dalam hal ini Auditor bukan di desain untuk mencari semua tindak kecurangan. Section 110, Responsibilities and functions of the independent auditor, paragraf 2 menjelaskan bahwa auditor mempunyai tanggung jawab untuk merencanakan dan meaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai apakah laporan keuangan tidak mengandung material misstatement yang disebabkan oleh error atau kecurangan. The AICPA melalui SAS 99, Penguatan prosedur audit untuk memastikan laporan keuangan bebas dari misstatement yang disebabkan oleh tindak kecurangan. SAS 99 mangatur cara-cara melalui pemikiran proses audit secara logis yang dilakukan dari perencanaan audit sampai pelaporan audit. Salah satu dari komponen utama SAS 99 adalah Fraud Triangle. Hal tersebut digunakan sebagai fokus utama dari brainstorming sessionselama proses perencanaan audit. Setiap elemen dari fraud triangle merepresentasikan posibilitas alasan mengapa klien melakukan tindak kecurangan terhadap laporan keuangan. Makalah ini akan membahas analisa perspektif pandangan lain dari triangle fraud auditing yang merujuk pada study literatur jurnal auditing.
  • ISI I. SAS 99 Fraud Triangle Fraud dalam Statement of Auditing Standard diklasifikasikan menjadi dua antara lain kecurangan dalam laporan keuangan ( Fredulent financial reporting) dan penyalahgunaan aset (Misappropiate of asset ). 1. Incentive/Pressure Manajemen atau pegawai lainnya memiliki insentif atau tekanan untuk melakukan kecurangan. Sebagai auditor harus memahami insentif/tekanan untuk mencegah individu dalam memperolah manfaat ekonomis yang disebabkan oleh sifat serakah. Misalnya Mencatat pendapatan fiktif perusahaan dan menunda beban akrual perusahaan sehingga dapat mencapai target perusahaan dan jumlahnya mendekati anggaran perusahaan. Selain itu jika manajemen menginginkan bahwa laba(rugi) perusahaan tidak harus mempunyai selisih dengan anggaran asli. Hal tersebut menyebabkan tekanan untuk mencapai target dari manajemen dan juga menimbulkan ketakutan akan pemutusan hubungan kerja.Kemungkinan insentif/tekanan lain dapat timbul jika terkait dengan harga saham perusahaan yang menunjukkan kinerja perusahaan. Sam E.Antar, Chief Financial Officer dari Crazy Inc mempunyai pandangan lain tentang konsep insentif/tekanan. Dia menyatakan bahwa “As a society, we too often associate incentive with only an economic incentive to commit crime. You can commit an economic crime and have no economic incentive...Criminals can commit a crime for a whole host of reasons of which money is part of the incentive but not the primary incentive (Antar, 2010).” Anta menyatakan bahwa motif individu dalam melakukan kecurangan bukan hanya sekedar uang namun juga popularitas. Hal tersebut penting untuk pertimbangan auditor sehingga auditor harus memasukkan faktor popularitas dalam perencanaan auditnya.
  • Beberapa bentuk tekanan keuangan yang di dokumentasikan dalam buku “Other people’s money” Cressey mengindikasikan faktor masalah keuangan yang tidak bisa dibagikan kepada orang lain yang menyebabkan tindak kecurangan antara lain : 1. Kehidupan mewah diluar kemampuan seseorang 2. Keserakahan 3. Terlilit kredit atau tidak bisa mendapatkan kredit 4. Mempunyai pengeluaran medis yang sangat besar 5. Biaya pendidikan yang sangat besar 6. Tekanan keluarga dan kerabat dekat 7. Kerugian yang disebabkan karena perjudian 8. Kurang produktif karena alkohol dan obat-obatan 9. Perselingkuhan Dari perspektif seorang penyelidik jenis-jenis tekanan tersebut umumnya tidak dapat diobservasi dan sulit bagi auditor untuk mengenali jenis tekanan tersebut karena keterbatasan auditor untuk berinteraksi dengan pelaku dan tidak melakukan dasar untuk mengevaluasi pelaku tersebut. 2. Opportunities Situasi yang memberikan kesempatan bagi manajemen atau pegawai untuk melakukan kecurangan. Profesional literatur menunjukan bahwa peluang muncul sebagai akibat dari internal control suatu perusahaan. Internal kontrol yang buruk pada perusahaan akan mengakibatkan kecenderungan untuk berbuat kecurangan.Pengendalian internal yang kuat pada perusahaan akan mengurangi kemungkinan tindak kecurangan dalam perusahaan. Hal lain yang harus diperhitungkan adalah jika auditor saat ini bekerja dalam manajemen perusahaan klien. Sisi positifnya adalah mempermudah komunikasi
  • antara klien dan auditor dan meningkatkan efisiensi pekerjaan namun dalam kasus tersebut muncul peluang jika auditor memanfaatkan kemampuan dan pengetahuan dalam melakukan trik kecurangan dalam laporan keuangan. Oleh karena itu auditor harus memeriksa kondisi daerah perusahaan supaya mampu mengidentifikasi peluang apa saja yang mungkin ada dan bagaimana peluang tersebut dapat menyebabkan salah saji material. Perpektif lain ditunjukkan oleh Sam E Antar yang menyatakan bahwa “You [meaning the inexperienced junior auditors who are recent college graduates who go straight out into the field] are the opportunity to allow us to commit the crimes. Your ethics, your gullibility, your lack of skepticism,your humanity, your vanity, your self esteem. We stroke your egos. You on a personal level, give us the opportunity to commit our crimes (Antar, 2010).” Pernyataan tersebut menunjukkan realitas bahwa auditor junior yang baru saja lulus merupakan kesempatan besar bagi seseorang untuk melakukan kecurangan dengan memanfaatkan kurangnya sifat skeptisisme. Beberapa sumber lain yang menyebabkan munculnya peluang antara lain : 1. Training pegawai yang buruk 2. Pengawasan yang kurang dari perusahaan 3. Lemahnya penuntutan pelaku kecurangan 4. Program, kebijakan dan prosedur antifraud yang kurang efektif 5. Budaya etika yang lemah 3. Rationalization / attitude Rationalization adalah suatu sikap, karakter atau seperangkat nilai-nilai etika yang memungkinkan menejemen atau pegawai untuk melakukan tindakan tidak jujur dan membernarkan perilaku tersebut.
  • Menurut SAS 99 AU bagian 316,85 A.3 yang berkaitan dengan penyalahgunaan aset mengakui bahwa perilaku yang paling umum untuk karyawan adalah menunukkan ketidakpuasan terhadap perusahaan atau terhadap karyawan lainnya sehingga mereka menganggap bahwa mereka pantas dan berhak karena perusahaan telah berutang atas kerja keras dan pelayanan mereka selama ini. Sehingga mereka berpikir bahwa apa yang dilakukannya bukan suatu tindakan kecurangan. Auditor dalam kasus ini harus mampu mengamati lingkungan dan sikap dasar yang muncul pada klien. Berdasarkan ini audit harus direncanakan dan dirancang untuk memastikan bahwa setiap materi yang mungkin terjadi penipuan sebagai akibat dari sikap rasional saat diperiksa. Cressey menunjukkan bahwa diperlukan sebuah rasionalisasi yang diterima oleh moral sebelum kecurangan tersebut terjadi karena pelaku kecurangan tidak memandang dirinya sebagai pelaku kecurangan namun akan membenarkan tindakannya sebelum dia melakukannya.Contohnya seseorang yang merasionalkan pikirannya dengan jalan meminjam uang perusahaan dan berpikir uang tersebut akan dikembalikan setelah menerima gaji . Rasionalisasi tersebut memungkinkan pelaku kecurangan untuk berpikir bahwa tindakannya bukan suatu yang illegal sehingga pelaku dapat membentuk citra dirinya sebagai orang yang dapat dipercaya. Tentu saja dalam kasus ini pelaku menganggap bahwa pinjaman tersebut tidak akan pernah terjadi. Hal tersebut menjukkan bahwa rasionalisasi bukanlah karakter yang mudah diamati karena berhubungan dengan pikiran orang lain. Berbeda lagi dengan pendapat Antar yang menyatakan “In some cases, in most cases, there's really no rationalization for the crimes. Criminals come up with excuses but they know what they're doing and why they're doing it. They don't have to do it in most cases and that's why I disagree with the rationalization concepts (Antar, 2010).”
  • Menurutnya konsep Rasionalisasi tidak bisa digunakan dalam perancanaan audit karena pelaku umumnya mengetahui apa yang dilakukannya adalah kecurangan dan juga mengetahui alasan mengapa mereka berbuat kecurangan. Sehingga tidak ada rasionalisasi dalam berbuat kecurangan. II. Kelemahan potensial dari Fraud Triangle Fraud triangle adalah awal yang baik untuk menangani resiko kecurangan dalam audit laporan keuangan, namun memiliki beberapa potensi kelemahan dalam kecurangan antara lain : 1. Fraud triangle digunakan untuk melawan auditor dalam kondisi bahwa auditor merupakan salah satu peluang untuk berbuat kecurangan . 2. Mengeliminasi konsep Rasionalisasi. Rujukan lainnya dalam Dorminey et.al (2010) menyatakan “professionals and academics have offered important insights that have gone beyond the fraud triangle. These extensions have enhanced professionals'ability to prevent, deter, detect, investigate, and remediate fraud (Dorminey et. al, 2010 p. 17)”Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa penulis telah memeriksa fakta bahwa Fraud Triangle memang memiliki keterbatasan dan hanya dibuat untuk kecurangan yang disengaja. Mereka juga berpendapat bahwa beberapa komponen dalam Fraud triangle tidak benar-benar mengcover semua motif pelaku tindak kecurangan. Contohnya “sesuai dengan konsep Fraud Triangle, semua usaha pelaku merupakan peluang Pelaku tersebut tidak memiliki tekanan dan rasionalisasi ( Dorminey et al , 2010, p.21 )”. Selain itu Fraud triangle tidak memberikan dasar yang cukup baik untuk menilai kemungkinan kecurangan dalam bentuk kolusi. Namun hal ini merupakan unsur kecurangan yang kompleks dan kejahatan keuangan.( Dorminey et al , 2010, p.21 ). Selain itu penulis
  • juga menekankan bahwa tekanan dan rasionalisasi umumnya tidak dapat diamati dan bertentangan dengan SAS 99 khususnya untuk rasionalisasi. III. Model Lain dari Fraud Triangle Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa Fraud Triangle memiliki kelemahan tidak dapat mengcangkup elemen tekanan dan rasionalisasi maka banyak para ahli mengacu kepada Fraud Triangle yang kedua yaitu terdiri dari tindakan (Act) , Penyembunyian (Concealment) dan perubahan (Conversion) . Fraud Triangle ini berfokus kepada pembuktian bahwa tindakan tersebut merupakan kecurangan dengan mengumpulkan bukti kecurangan (Penyembunyian ) dan yang menyebabkan kerusakan ekonomi (Perubahan). IV. MICE model Tantangan lain dari Fraud Triangle adalah konsep tersebut belum cukup menjelaskan setiap tindak kecurangan.Contohnya adalah Thomas M. Coughlin yang disampaikan oleh James Bandler dan Ann Zimmerman dalam "A Wal-Mart Legend's Trail of Deceit" (Wall Street Journal, April 5, 2005).Pada 24 Januari 2005 , Coughlin , vice chairman walmart mengundurkan diri karena tuduhan kecurangan dan kebohongan. Dokumen dari wallstreet jurnal menunjukkan bahwa Coughlin secara berkala memerintahkan bawahannya untukmembuat invoice palsu yang digunakannya untuk membayar pengeluaran pribadinya.Kegiatan yang patut dipertanyakan dalam jangka waktu lebih dari 5 tahun yang melibatkan puluhan transaksi . Menurut artikel tersebut , Wal Mart menemukan transaksi yang tidak jelas $100.000 sampai $500.000 dalam jangka waktu 5-10 tahun. Hal menarik lagi adalah sebelum pengunduran dirinya, dia mendapatkan kompensasi sebesar lebih dari $6 juta . Tampaknya memang
  • tidak masuk akal mempertaruhkan kompensasi sebesar $6juta tiap tahun dan reputasi untuk mendapatkan $500.000 . Namun hal yang dilakukan oleh Coughlin merupakan hal serupa yang diambil oleh CEO jutawan lainnya dan CFO yang memilih untuk memanipulasi laporan keuangan. Dengan memanipulasi laporan keuangan, leg pertama triangle fraud telah disesuaikan dari tekanan untuk fokus kepada insentif moneter, bonus dan opsi saham. Sementara di pihak manajemen puncak memiliki tekanan lain yang berbeda untuk memberikan hasil laporan keuangan yang solid untuk kepentingan stakeholder. Untuk mengatasi masalah ini - yang disajikan dalam Akuntansi Forensik dan Pemeriksaan Penipuan oleh Mary - Jo Kranacher ,Richard A. Riley , Jr , dan Joseph T. Wells , ( Wiley , 2010) - Profesor Jason Thomas menunjukkan bahwa motivasi pelaku kecurangan dapat diidentifikasikan secara lebih luas dengan MICE yaitu Money, Ideology, Coersion dan Ego. Heuristik MICE membuat lebih spesifik dan sederhana motif dari tindak kecurangan dan beberapa motif kecurangan tersebut cocok dengan kategori dalam MICE. Selain itu MICE mempunyai kerangka yang lebih luas selain pressure dan rasionalisasi untuk mempertimbangkan kemungkinan kecurangan yang dilakukan dengan mempertimbangkan motif pelaku.
  • PENUTUP KESIMPULAN Salah satu komponen dari Statement of auditing standard adalah Fraud triangle yang menjelaskan faktor yang menyebabkan terjadinya kecurangan antara lain tekanan (Pressure) , Kesempatan ( Oppotunity ) , dan Rasionalisasi ( Rasionalization). Tekanan berhubungan dengan manajemen/pegawai lainnya memiliki insentif atau tekanan untuk melakukan kecurangan, sedangkan opportunity adalah kesempatan yang muncul sebelum tindak kecurangan dan rasionalisasi berkaitan dengan pembenaran tindak kecurangan oleh pelaku.Namun Fraud triangle mempunyai kelemahan yaitu faktor tekanan dan rasionalisasi yang tidak bisa di observasi dan juga keterbatasan lainnya dalam mendeteksi motif kecurangan pelaku.Keterbatasan dalam Fraud triangle dapat disempurnakan dengan model fraud triangle yang kedua yaitu tindakan (Act) , Penyembunyian (Concealment) dan perubahan (Conversion). Selain itu juga ada MICE model yang lebih luas namun lebih membuat sederhana motif pelaku yaitu Money, Ideology, Coersion dan Ego.
  • Daftar Pustaka Dorminey, Jack W; Fleming, Arron Scott; Kranacher, Mary-Jo; Riley, Richard A, Jr,2010,” Beyond the Fraud Triangle”. New York State Society of Certified Public Accountants.Volume 80 ,No. 7 ,http://search.proquest.com/docview/637276283?accountid=17242,12 Oct 2013. Buchholz, Alexander K, 2012, “SAS 99: Deconstructing the Fraud Triangle and Some Classroom Suggestions”. North American Business PressJournal of Leadership, Accountability and Ethics. Volume 9, No. 2, http://search.proquest.com/docview/1030726733?accountid=17242, 12 Oct 2013. Hogan, Chris E; Rezaee, Zabihollah; Riley, Richard A, Jr; Velury, Uma K, 2008. “Financial Statement Fraud: Insights from the Academic Literature”. American Accounting Association”. Volume 27, No. 2, http://search.proquest.com/docview/216744891?accountid=17242, 12 Oct 2013. Elder,Beasley,Arens,Jusuf (2011).”Jasa Audit dan Assurance”.Jakarta : Penerbit Salemba Empat.