Your SlideShare is downloading. ×
Classroom Discourse to Foster Religious Harmony
Classroom Discourse to Foster Religious Harmony
Classroom Discourse to Foster Religious Harmony
Classroom Discourse to Foster Religious Harmony
Classroom Discourse to Foster Religious Harmony
Classroom Discourse to Foster Religious Harmony
Classroom Discourse to Foster Religious Harmony
Classroom Discourse to Foster Religious Harmony
Classroom Discourse to Foster Religious Harmony
Classroom Discourse to Foster Religious Harmony
Classroom Discourse to Foster Religious Harmony
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Classroom Discourse to Foster Religious Harmony

258

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
258
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
6
Actions
Shares
0
Downloads
7
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Epidevii’s writing pg. 1 Critical Review (Classroom Discourse to Foster Religious Harmony) YANG SATU YANG BERWUJUD BANYAK By: Devi Risnawati “Carilah ilmu sejak dari ayunan sampai ke liang lahat” “Agama menciptakan lingkungan moral yang sangat aman dan nyaman. Sikap anarkis yang menyebabkan kerusakan pada bangsa dan negara terhenti ketika seluruh element menyadari kandungan dari agama yang mereka anut. Karena pada dasarnya agama menciptakan rasa perdamaian baik dalam diri maupun orang lain. Melalui pendidikan lah hal ini dapat diterapkan. Orang-orang yang memegang nilai moral siap bangkit bagi bangsa.” Ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia; terutama dalam bidang pemberantasan kebodohan, ketertinggalan dan berbagai potret duka dalam kehidupan umat manusia dan alam raya ini. Indonesia adalah sebuah negara yang sangat kaya akan keberadaan suku bangsa. Secara horizontal dalam struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan-perbedaan agama, adat dan perbedaan kedaerahan (Nasikun, 1993).Jika ingin mengetahui kualitas suatu bangsa , tengoklah kualitas dan praktek sistem pendidikan di negara tersebut . Hampir bagi setiap negara yang maju menyadari akan pentingnya pendidikan, sehingga terbentuklah sistem pendidikan yang baik. Salah satu tujuan dari pendidikan dasar adalah untuk memberikan siswa keterampilan dasar untuk mengembangkan kehidupan mereka sebagai individu , anggota masyarakat dan warga negara . Keterampilan dasar ini juga merupakan dasar untuk pendidikan lebih lanjut .
  • 2. Epidevii’s writing pg. 2 Manusia sebagai makhluk sosial tidak akan bisa lepas dari sebuah interaksi. Interaksi tersebut kadangkala sering diwarnai dengan konflik yang dapat mengganggu terwujudnya harmoni, penyebabnya adalah karena adanya persepsi, kepentingan maupun tujuan yang berbeda antar individu maupun kelompok. Perbedaan antar anggota sering kali terjadi dan bersifat deskruktif antara lain karena perbedaan agama. Konflik antar agama biasanya dipicu oleh prasangka antar penganut satu agama dengan yang lain, yang kemudian berkembang menjadi isu-isu yang membakar emosi. Masalah sosial kerap timbul berulang kali seperti yang sering terjadi akhir-akhir ini, seperti moral siswa Indonesia yaitu banyaknya tawuran antar sekolah yang tidak jarang juga memakan korban, bentrokan antar pemuda, dan tidak kalah pula bentrokan antar wilayah yang semakin hari semakin banyak. Hal ini disebabkan karena kurangnya rasa toleransi antar umat ditambah rasa hormat yang semakin terkikis oleh arus radikalisme. Konflik sosial dan ketidakharmonisan antar agama adalah tantangan bagi para pendidik. Pendidik harus mampu membendung arus ini dengan memberikan bekal pengajaran yang terbaik untuk para siswanya demi terciptanya generasi yang bermoral sebagai warga negara yang demokratis. Dalam dunia pendidikanpun tentu kita diajarkan tentang apa itu keyakinan. Mulai dari sekolah dasar, menengah ataupun perkuliahan. Agama sebagai pedoman perilaku yang suci mengarahkan penganutnya untuk saling menghargai dan menghormati. Peran pendidik sangatlah penting dalam menerapkan dasar-dasar keyakinan agama agar tidak terjaadi hal-hal yang seperti diatas. Untuk mewujudkan tujuan ini, kerukunan umat beragama harus dikembangkan di sekolah sejak dini. Kerukunan umat beragama ini bertujuan untuk memotivasi dan mendinamisasikan semua umat beragama agar dapat ikut serta dalam pembangunan bangsa. Ada 4 landasan hukum kerukunan umat beragama, yaitu: 1. Landasan Idiil, yaitu pancasila (sila pertama yakni ketuhanan yang maha Esa) 2. Landasan Konstitusional, yaitu Undang-undang Dasar 1945 (UUD 1945) pasal 29 ayat 1.
  • 3. Epidevii’s writing pg. 3 3. Landasan strategis, yaitu Ketetapan MPR No. IV tahun 1999 tantang garis-garis besar haluan negara. Dalam GBHN dan program pembangunan Nasional (PROPENAS) tahun 2000, dinyatakan bahwa sasaran pembangunan bidang agama adalah terciptanya suasana kehidupan beragama dan kepercayaan kepada Tuhan YME,penuh keimanan dan ketakwaaan, penuh kerukunan yang dinamis antar umat, secara bersama-sama makin memperkuat landasan spiritual, moral dan etika pembangunan bangsa, yang tercermin dalam suasana kehidupan yang harmonis, serta kukuhnya persatuan dan kesatuan bangsa. 4. Landasan Opersional a. UU No. 1/PNPS/1965 tentang larangan dan pencegahan penodaan dan penghinaan agama. b. Keputusan bersama menteri dalam negeri dan menteri agama RI No. 01/Ber/Mdn/1969 c. SK menteri dalam negeri dan menteri agama d. Surat dengan edaran menteri Agama RI No. MA/432.1981) Hal paling mendesak bahwa pengajar harus mempromosikan program-program kreatif dan inovatif untuk mendukung wacana sipil yang positif di kalangan siswa. Hasil penelitian banyak membuktikan dan menunjukkan bahwa anak-anak usia dini/ usia sekolah lebih memilih interaksi dengan rekan-rekan mereka di sekolah dibanding dengan keluarga mereka sendiri. Mereka merasakan rasa yang berbeda jika berinteraksi dengan rekan-rekannya, menganggap bahwa rekan- rekan mereka lebih menghormati, lebih membantu, saling berbagi dan umumnya sopan terhadap satu sama lain. Hal inilah yang harus diawasi baik oleh pengajar atau orang tuanya dalam masalah pergaulan mereka. Salah pergaulan akan menimbulkan masalah sosial. Konsep interaksi dengan rekan sebaya adalah komponen penting dalam teori pembangunan sosial ( Rubin , 2009). Dan guru sebagai pengawas di lingkungan sekolahnya haruslah memilikinilai-nilai tauladan yang baik. Nilai pengajar pendidikan Jawa yang paling dikenal luas adalah adalah konsep kepemimpinan yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara yang terdiri dari 3
  • 4. Epidevii’s writing pg. 4 aspekkepemimpinan yaitu (1) ing ngarsa sung tuladha, (2) ing madya mangun karsa, dan (3) tut wurihandayani. Konsep kepemimpinan pendidikan ini bahkan diadopsi menjadi nilai pendidikan nasional di Indonesia. Ing ngarsa sung tuladha menekankan peran pengajar sebagai tokoh yang harus bisa diteladani, yang harus bisa membimbing dan memberi arah ke mana pendidikan di sekolahhendak dibawa. Ing madya mangun karsa artinya bahwa pengajar pendidikan harus bisa membangkitkan semangat orang-orang yang beliau ajar. Harus dapat membangkitkan gairah untuk mewujudkan kepentingan bersama. Pengajar pendidikan adalah juga seorang motivator. Pengajar pendidikan harus mampu juga bersikap tut wuri handayani, yaitu mampumemberikan kesempatan bagi muridnya untuk berkembang. Pengajar pendidikan dikatakan berhasil ketika dia mampu mengedepankan orang lain terlebih dulu. Keberhasilan kepengajaran pendidikan terkait dengan keberhasilan dia membuat orang-orang yang diajarnya berhasil. Secara hakiki pengajar pendidikan adalah seseorang yang memegang kendali untuk membuat orang lain mendapatkan kendali. Indonesia sebagai negara multikultural, siswa berasal dari latar belakang yang berbeda seperti etnis, agama dan sosialnya yang memiliki pola pikir yang berbeda pula. Akan banyak silang pikiran yang terjadi yang dibentuk oleh latar belakang mereka. Harusnya program sekolah wajib memfasilitasi kegiatan para siswa dalam berinteraksi dengan meghadirkan wacana sipil yang positif.Indikator wacana sipil sebenarnya telah diterapkan di sekolah-sekolah Indonesia seperti mendengarkan dengan seksama, membaca, menyumbangkan ide-ide atau pendapat, mengajukan pertanyaan (kritis), menyatakan sepakat atau tidak sepakat dan tentunya mencapai kompromi sesuai dengan cara yang baik. Seluruhnya telah diaplikasikan ke dalam sistem pendidikan, tinggal mencarai cara bagaimana agar sistem ini berjalan sesuai dengan tujuan bangsa. Siswa diwajibkan untuk melakukan seluruh hal itu dengan didampingi oleh pengajar ahli tentunya.
  • 5. Epidevii’s writing pg. 5 Pada jenjang sekolah pengajar atau guru berfungsi untuk mengawasi siswanya, terlebih pada sekolah dasar guru dituntut untuk mengawasi siswanya hampir setiap hari. Para siswa masih dalam tahap pengenalan pelajaran yang membutuhkan bimbingan yang lebih intens. Guru harus tahu bagaimana merancang dan memfasilitasi interaksi dengan teman sebaya, cara paling sederhana adalah dengan memberikan pembelajaran kemanusiaan sebagai bagian dari pendidikan kewarganegraan. Pelajaran kewarganegaraan penting untuk membangun rasa kebangsaan, toleransi, empati dan sebagainya yang menjurus ke arah perbaikan. Pendidikan formal atau sekolah adalah dunia yang mengajarkan tentang kemampuan siswa untuk menjaga hubungan baik dengan rekan sangatlah penting, ini dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan individu. Sebaliknya, ketidakmampuan dalam menjaga hubungan akan merugikan dan memiliki impact yang buruk bagi kedepannya, seperti timbulnya konflik sosial dalam suatu lingkungan masyarakat tertentu. Cotoh dari ketidakmapuan menjaga hubungan baik adalah banyaknya tawuran siswa yang acap kali ditemui baik di TV, surat kabar atau radio. Tawuran terjadi karena buruknya interaksi antar sekolah ataupun siswa dengan pihak lawannya, yang harusnya mampu diatasi dengan menjaga hubungan baik antar sesama. Contoh lain dari tidak terjalinnya hubungan baik adalah konflik antar etnis dan antar agama.Kondisi keberagaman rakyat Indonesia sejak pasca krisis tahun 1997 sangat memprihatinkan. Konflik yang bernuansa agama terjadi di daerah seperti Ambon dan Poso. Konflik ini sangat mungkin terjadi karena kondisi masyarakat Indonesia yang multi etnis, multi agama dan multi budaya. Ditambah dengan watak orang Indonesia yang sebagian besar mudah terprovokasi oleh pihak ketiga yang merusak watak bangsa Indonesia. Ditambah pula dengan krisis ekonomi dan politik yang melanda bangsa Indonesia, sehingga sebagian besar warga merasa tertekan dan tentu keadaan ini sangat mudah untuk melakukan hal- hal yang amoral. Bentuk-bentuk radikalisme telah mengganggu kohesi sosial dan dapat menghasilkan saling tidak percaya di antara kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat . Seperti pemboman gereja di Surakarta, menyebabkan dendam dan serangan serupa terhadap masjid. Ini bisa meningkat menjadi ketidakharmonisan antar agama, yang nanti akan terjadi saling serang.
  • 6. Epidevii’s writing pg. 6 Contoh yang dipaparkan oleh Ariliaswati pada artikel “classroom discourse to foster religious harmony” yang telah melakukan penelitian terhadap 43 siswa kelas IV menyatakan bahwa sekolah harus berfungsi sebagai laboratorium sebagai langkah untuk membentuk pribadi masyarakat yang berbudi memanglah benar. Sekolah adalah wadah dalam membentuk akhlak siswa agar berbudi dan berakhlak mulia. Siswa SD adalah anak- anak yang belum mampu memberikan alasan atas dasar informasi yang ia berikan dan bukti argumen mereka kepada lawan bicaranya, tapi mereka akan mengekspresikan kesepakatan atau ketidaksepakatan dengan cara yang sopan terhadap lawan bicaranya. Belajar dari anak kecil (siswa sekolah dasar) adalah belajar tentang rasa percaya dan keyakinan yang tinggi akan sesuatu. Mereka akan sangat lantang dan yakin ketika ditanya tentang masa depan, seperti menjawab akan menjadi apakah ia kelak. Pendidikan tidak hanya mengembangankan penalaran nalar tapi pendidikan akan kemasyarakatan pun sangat penting. Penalaran ilmiah berguna dalam mengembangkan manusia berintelektual, manusia yang berilmu. Sedangkan belajar membaca kehidupan bermasyarakat adalah belajar menjaddi warga negara yang beradab. Pendidikan Indonesia masih gagal dalam mencetak adab para siswa. Banyak para politisi dan birokrat berkuasa karena telah mendapat pendidikan tinggi namun gagal dalam hal adab mereka. Mereka sukses di intelektual tapi gagal dalam kemasyarakatan. Seperti insiden memalukan pada tahun 2010 , ketika anggota parlemen saling bertukar kata-kata kasar dengan cara tidak sopan dalam sidang yang disiarkan langsung di seluruh negeri . Alih-alih mendidik anak-anak sekolah , politisi ini telah menetapkan contoh yang sangat miskin yang tercermin dari sikap tidak terpuji tersebut. Contoh lain yang masih hangat diperbincangkan adalah masalah koruptor yang makin tumbuh subur di tanah air tercinta ini. Mereka “mengaku” bekerja untuk rakyat, tapi karena adab dan tidak memiliki moral maka rakyatlah yang bekerja untuk mereka para koruptor. Melihat realita para birokrat dan politisi yang gagal dalam memasyarakatkan masyarakat, sekolah harus membenahi diri dan memberdayakan fungsi pendidikan secara benar tanpa adanya tipuan nisbi. Sekolah juga harusnya memberikan metode
  • 7. Epidevii’s writing pg. 7 pendidikan yang bermakna seperti interaksi dengan siswa yang beragama lain, etnis yang berbeda dan dari kelompok-kelompok sosial yang berbeda. Dengan tujuan agar mereka mampu menerima perbedaan dan memiliki sikap toleransi terhadap sesama. Siswa akan bisa belajar bagaimana kehidupan orang lain yang nanti akan menimbulkan rasa penerimaan atas perbedaan. Seperti membangun tempat peribadatan di area kampus/sekolah, kegiatan ini adalah bentuk efektif dalam penerapan ilmu agama dalam lingkungan multikultur. Yang mana tujuan dari penerapan pendidikan agama adalah karena Agama menciptakan lingkungan moral yang sangat aman dan nyaman. Sikap anarkis yang menyebabkan kerusakan pada bangsa dan negara terhenti ketika seluruh element menyadari kandungan dari agama yang mereka anut. Karena pada dasarnya agama menciptakan rasa perdamaian baik dalam diri maupun orang lain. Melalui pendidikan lah hal ini dapat diterapkan. Orang-orang yang memegang nilai moral siap bangkit bagi bangsa. Di Indonesia dikenal pula yang namanya pendidikan liberal. Pendidikan liberal harus mencakup pengetahuan tentang etnis, agama dan minoritas bahasa dan budaya. Dengan demikian didefinisikan , pendidikan liberal bertujuan membebaskan siswa dari sikap acuh terhadap orang lain . Pada dasarnya ini merupakan penempaan insan kamil , yaitu orang yang ideal yang memenuhi kriteria untuk mengasumsikan setiap pekerjaan atau penunjukan sebagai warga negara yang demokratis . Dari paparan diatas maka telah jelas bahwa konflik sosial terjadi karena kurangnya pendidikan tentang toleransi multietnis, toleransi multiagama dan toleransi multikultur. Konflik itu hadir serta merta karena kurangnya pendidikan sejak dini kepada para siswa. Khususnya siswa sekolah dasar yang masih sangat membutuhkan pegawasan yang intens oleh gurunya. Sekolah sebagai pusat pembudayaan, harus dipimpin oleh kepala sekolah yang kuat yang mengakomodasi nilai lokal sebagai dasar ke arah globalisasi. Pendidikan adalah transformasi budaya, yang sebagai pedoman, arah, dan kesepakatan prosedural di sekolah. Membudayakan dapat didefinisikan sebagai tempat pelestarian atau konservasi, pengayaan, perluasan, kreativitas dan transfer dari satu orang ke orang lain atau dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hal ini dapat terjadi di sekolah. Kepala sekolah
  • 8. Epidevii’s writing pg. 8 membuat guru dan siswa berbudaya untuk memiliki kemampuan nyata dalam berbagai bidang kehidupan. Mereka diharapkan untuk menghadapi hidup dari yang sederhana sampai tantangan yang kompleks. Proses ini harus dikembangkan dan disesuaikan dengan keadaan setempat masing-masing. Model pendidikan yang harusnya diterapkan oleh sekolah-sekolah di Indonesia yang multikultur harusnya mampu menganut dan merangkul seluruh aspek baik dari agama, etnis, bahasa, dan budaya. Pendidikan etnopedagogi terkait erat dengan pendidikan multikultural. Pendidikan multikultural memuat perangkat kepercayaan yang memandang penting kearifan lokal dan keberagaman yang dimiliki komunitas etnis untuk membentuk gaya hidup, pengalaman sosial, identitas pribadi, dan kelompok sosial maupun negara. Ketika etnopedagogi memandang pengetahuan atau kearifan lokal sebagai sumber inovasi dan keterampilan, dilanjutkan dengan pendidikan multikultural yang memberdayakan inovasi dan keterampilan itu agar dapat menyumbangkan masukan positif bagi kelompok sosial lain dan budaya nasional. Jenis pendidikan seperti inilah yang harusnya diterapkan. Merangkul tanpa membedakan, menyamakan tanpa menyatukan. Kepemimpinan etnopedagogi mengadopsi beberapa nilai-nilai dari teori pedagogi, kepemimpinan, dan budaya lokal. Intinya adalah memimpin sekolah dengan kombinasi nilai-nilai global dan lokal. Indonesia tergolong dalam negara berkembang yang memiliki nilai-nilai tertentu. Dipengaruhi oleh globalisasi, Indonesia harus mengadopsi inovasi dari negara-negara maju dan beradaptasi ke dalam nilai-nilai lokal. Peran pemimpin sekolah adalah untuk mengadopsi, mengadaptasi, dan mentransformasikan inovasi dan nilai-nilainya ke nilai-nilai lokal sekolah dengan harmonis. Nilai-nilai etnis lokal umumnya digunakan di setiap sekolah, serta nilai-nilai global yang tidak bertentangan. Pertumbuhan dan perkembangan budaya sangat tergantung pada pola pikir dan perilaku manusia itu sendiri dalam menerima rangsangan dari luar atau dari dalam. Setiap perubahan nilai sosial di antara orang-orang yang sekarang terjadi. Perlu upaya untuk menanamkan nilai-nilai budaya kepada masyarakat. Salah satu upaya adalah bagaimana mengembangkan guru dan siswa melalui penilaian nilai atau latar belakang sosialbudaya. Upaya ini diharapkan dapat menciptakan budaya nasional yang kuat yang dapat memperkuat solidaritas dan menyatukan bangsa,
  • 9. Epidevii’s writing pg. 9 sekaligus bisa menjadi kebanggaan nasional. Hal ini diyakini bahwa sekolah itu terkandung nilai-nilai sosial-budaya masyarakat (local genius,local wisdom), dan memiliki fungsi sosial sebagai penguat nilai-nilai dan norma yang berlaku di negara kita. Etnopedagogi adalah praktik pendidikan berbasis pengetahuan lokal dalam berbagaiaspek kehidupan. Etnopedagogi memandang pengetahuan ataukearifan lokal (indigenous knowledge, local wisdom) sebagai sumber inovasi dan keterampilan yang dapat diberdayakan untuk kesejahteraan masyarakat. Kearifan lokal adalah koleksi fakta, konsep, keyakinan, dan persepsi masyarakat terhadap lingkungan mereka. Ini termasuk cara mengamati dan mengukur lingkungan, memecahkan masalah, dan validasi informasi. Singkatnya, kearifan lokal adalah proses bagaimana pengetahuan dihasilkan, disimpan, diterapkan, dikelola, dan diwariskan. (Alwasilah, 2008) Menurut A. Chaedar Alwasilah (2008) ada beberapa karakteristik dari kearifan lokal: (1) berdasarkan pengalaman, (2) diuji setelah digunakan selama berabad-abad, (3) dapat disesuaikan dengan budaya sekarang, (4) terpadu di setiap hari praktik dan lembaga-lembaga masyarakat, (5) umumnya dilakukan oleh individu atau masyarakat secara keseluruhan, (6) adalah dinamis dan selalu berubah, dan (7) sangat terkait dengan sistem kepercayaan. Pemberdayaan melalui adaptasi pengetahuan lokal, termasuk reinterpretasi nilai-nilai yang terkandung dalam sejumlah peribahasa, dengan kondisi kontemporer adalah strategi cerdas untuk memecahkan masalah sosial karena dalam banyak hal masalah-masalah sosial yang berasal dari isu-isu lokal juga. Pemimpin lebih mudah untuk mengarahkan anak buahnya dengan norma-norma yang umum di masyarakat dimana pertumbuhan sekolah. Kearifan lokal bisa menjadi kendaraan yang Sinergi tujuan modernisasi dengan pelestarian keunggulan lokal. Etnopedagogi didefinisikan sebagai model pembelajaran lintas-budaya. Guru mampumengajar di setting budaya yang setempat yang mungkin berbeda. Siswa adalah pembelajarlintas budaya. Siswa mana pun di dunia biasanya menunjukkan ada pola pikir serupa. Hal inidapat diartikan bahwa untuk memberikan pemahaman baru harus disesuaikan dengan nilai-nilai budaya yang berlaku di lingkungan setempat. Hal baru dapat dengan mudah diterima jika mengandung nilai-nilai yang sejalan dengan nilai- nilai lokal. Pendidikan juga menyediakan nilai-nilai universal yang harus ada di setiap
  • 10. Epidevii’s writing pg. 10 nilai order di dunia. Sebaliknya, nilai-nilai lokal yang sangat baik juga bisa diangkat dan disosialisasikan ke dalam dunia yang lebih luas. Pendidikan melalui pendekatan etnopedagogi, melihat pengetahuan lokal sebagai sumber inovasi dan keterampilan yang dapat diberdayakan. Sehingga diharapkan mampu meminimalisir konflik sosial yang kerap terjadi karena perbedaan dengan model pendidikan etnopedagogi ini karena Indonesia itu satu tapi berwujud banyak dari agama, etnis, kultur namun harus tetap Bhineka Tunggal Ika.
  • 11. Epidevii’s writing pg. 11 REFERENSI Alwashilah, A. Chaedar. 2012. Pokoknya Rekayasa Literasi. Bandung: PT Kiblat Buku Utama. ________. 2008. Tujuh Ayat Etnopedagogi. Artikel dalam Pikiran Rakyat Bandung, 23 Januari 2008 Aceng, Rahmat. 2011. Filsafat Ilmu Lanjutan. Kencana Prenada Media Group. Internet http://books.google.co.id/books?id=6Cg47GP_SzkC&pg=PA169&dq=kerukunan+antar+umat+b eragama&hl=id&sa=X&ei=axMKU7XqBcWrkgWbwID4Dw&redir_esc=y#v=onepage&q=kerukun an%20antar%20umat%20beragama&f=false http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/12/30/mymfwf-kurikulum-2013- momentum-integrasi-ilmu-umumagama http://nasional.sindonews.com/read/2014/01/03/15/823377/ruu-kerukunan-antar-umat- beragama-masuk-tahap-pembahasan

×