• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
KIR SMA
 

KIR SMA

on

  • 7,362 views

BUAT SEMUA NICH KIR KUW

BUAT SEMUA NICH KIR KUW

Statistics

Views

Total Views
7,362
Views on SlideShare
7,361
Embed Views
1

Actions

Likes
1
Downloads
121
Comments
0

1 Embed 1

http://muhiklaten.blogspot.com 1

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    KIR SMA KIR SMA Document Transcript

    • BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Selama ini sistem penilaian raport kelas XII yang dilakukan oleh guru SMA Negeri 1 Sidoarjo hanya berdasarkan dari aspek nilai kognitif saja, yang tak lain hanya berasal dari nilai ulangan harian dan nilai tugas yang dikerjakan oleh siswa tersebut, sedangkan nilai afektif per mata pelajaran hanya dilihat dari bagaimana siswa tersebut berinteraksi dengan guru mata pelajaran di kelasnya, tidak dilihat dari bagaimana sikap siswa tersebut sehari-hari. Misalnya saja, ketika ulangan harian sedang berlangsung, apakah siswa tersebut mengerjakannya dengan jujur atau dengan berbuat curang seperti mencontek ataupun melihat buku, membuang sampah pada tempatnya atau tidak, serta mengeluarkan baju pada saat jam pelajaran sekolah masih berlangsung. Hal ini sudah sepatutnya menjadi bahan pertimbangan setiap guru di SMA Negeri 1 Sidoarjo. Karena hal ini sejalan dengan visi dan misi dari SMA Negeri 1 Sidoarjo sendiri yaitu unggul dalam imtaq, iptek dan budaya damai. Jadi, setiap siswa tidak hanya pandai dalam hal pelajaran saja tetapi mereka juga mempunyai imtaq yang kuat sehingga ketika mereka sudah mempunyai pekerjaan kelak mereka akan menjadi seseorang yang jujur, bertanggung jawab dan penuh wibawa. Tidak hanya bertanggung jawab kepada dirinya sendiri melainkan juga kepada pekerjaannya, lingkungannya, keluarganya maupun kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga secara tidak 1
    • langsung SMA Negeri 1 Sidoarjo telah mencetak siswanya untuk menjadi yang terdepan dalam segala hal, pantas untuk diterima di perguruan tinggi dan pantas menjadi sekolah terfavorit di daerah di Sidoarjo. B. Pertanyaan Penelitian 1. Adakah hubungan antara nilai kognitif dan nilai afektif siswa SMA Negeri 1 Sidoarjo ? C. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui hubungan antara nilai kognitif dan nilai afektif siswa SMA Negeri 1 Sidoarjo D. Manfaat Penelitian 1. Untuk mendidik para siswa agar tidak hanya mempunyai pengetahuan yang luas tetapi juga mempunyai iman dan mental serta kepercayaan diri yang tinggi dalam menjawab soal ulangan harian. 2. Untuk memberi wawasan kepada guru tentang sikap muridnya sehari- hari. 3. Sebagai bahan pertimbangan untuk SMA Negeri 1 Sidoarjo dalam membuat peraturan tentang sistem penilaian. 2
    • BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Ranah Penilaian Kognitif Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir, termasuk didalamnya kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, dan kemampuan mengevaluasi. Dalam ranah kognitif itu terdapat enam aspek atau jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi. Keenam jenjang atau aspek yang dimaksud adalah: 1. Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge) Adalah kemampuan seseorang untuk mengingat-ingat kembali (recall) atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide, rumus-rumus, dan sebagainya, tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunkannya. Pengetahuan atau ingatan adalah merupakan proses berfikir yang paling rendah. Salah satu contoh hasil belajar kognitif pada jenjang pengetahuan adalah dapat menghafal surat al-‘Ashar, menerjemahkan dan menuliskannya secara baik dan benar, sebagai salah satu materi pelajaran kedisiplinan yang diberikan oleh guru Pendidikan Agama Islam di sekolah. 2. Pemahaman (comprehension) 3
    • Adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain, memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi. Seseorang peserta didik dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal itu dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berfikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan atau hafalan. Salah satu contoh hasil belajar ranah kognitif pada jenjang pemahaman ini misalnya: Peserta didik atas pertanyaan Guru Pendidikan Agama Islam dapat menguraikan tentang makna kedisiplinan yang terkandung dalam surat al-‘Ashar secara lancar dan jelas. 3. Penerapan (application) Adalah kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, rumus- rumus, teori-teori dan sebagainya, dalam situasi yang baru dan kongkret. Penerapan ini adalah merupakan proses berfikir setingkat lebih tinggi ketimbang pemahaman. Salah satu contoh hasil belajar kognitif jenjang penerapan misalnya: Peserta didik mampu memikirkan tentang penerapan konsep kedisiplinan yang diajarkan Islam dalam kehidupan sehari-hari baik dilingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. 4. Analisis (analysis) Adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu 4
    • memahami hubungan di antara bagian-bagian atau faktor-faktor yang satu dengan faktor-faktor lainnya. Jenjang analisis adalah setingkat lebih tinggi ketimbang jenjang aplikasi. Contoh: Peserta didik dapat merenung dan memikirkan dengan baik tentang wujud nyata dari kedisiplinan seorang siswa dirumah, disekolah, dan dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat, sebagai bagian dari ajaran Islam. 5. Sintesis (syntesis) Adalah kemampuan berfikir yang merupakan kebalikan dari proses berfikir analisis. Sisntesis merupakan suatu proses yang memadukan bagian- bagian atau unsur-unsur secara logis, sehingga menjelma menjadi suatu pola yang yang berstruktur atau bebrbentuk pola baru. Jenjang sintesis kedudukannya setingkat lebih tinggi daripada jenjang analisis. Salah satu jasil belajar kognitif dari jenjang sintesis ini adalah: peserta didik dapat menulis karangan tentang pentingnya kedisiplinan sebagiamana telah diajarkan oleh islam. 6. Penilaian/penghargaan/evaluasi (evaluation) Adalah merupakan jenjang berpikir paling tinggi dalam ranah kognitif dalam taksonomi Bloom. Penilian/evaluasi disini merupakan kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu kondisi, nilai atau ide, misalkan jika seseorang dihadapkan pada beberapa pilihan maka ia akan mampu memilih satu pilihan yang terbaik sesuai dengan patokan-patokan atau kriteria yang ada. 5
    • Salah satu contoh hasil belajar kognitif jenjang evaluasi adalah: peserta didik mampu menimbang-nimbang tentang manfaat yang dapat dipetik oleh seseorang yang berlaku disiplin dan dapat menunjukkan mudharat atau akibat-akibat negatif yang akan menimpa seseorang yang bersifat malas atau tidak disiplin, sehingga pada akhirnya sampai pada kesimpulan penilaian, bahwa kwdisiplinan merupakan perintah Allah SWT yang waji dilaksanakan dalam sehari-hari. Keenam jenjang berpikir yang terdapat pada ranah kognitif menurut Taksonomi Bloom (1956) itu, jika diurutkan secara hirarki piramidal adalah sebagai tertulis pada gambar. 6. Penilaian (Evaluation) 5. Sintesis (Syntesis) 4. Analisis (Analysis) 3. Penerapan (Aplikation) 2. Pemahaman (Comprehensi) 1. Pengetahuan (Knowledge) GAMBAR: Enam jenjang berpikir pada ranah kognitif Keterangan : Pengetahuan (1) adalah merupakan jenjang berpikir paling dasar. Pemahaman (2) mencakup pengetahuan (1). Aplikasi atau penerapan (3) mencakup pemahaman (2)dan pengetahuan (1). Sintesis (5) meliputi juga analisis (4), aplikasi (3), pemahaman (2) dan pengetahuan (1). Evaluasi (6) meliputi juga sintesis (5) , analisis (4), aplikasi (3), pemahaman (2) dan pengetahuan (1). 6
    • Menurut Benjamin S. Bloom (1956), tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hirarkinya. Menurutnya, cognitive domain (aspek kognitif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual. Tujuannya berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk menghubungakan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan demikian aspek kognitif adalah subtaksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental yang sering berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang paling tinggi yaitu evaluasi. Nilai kognitif adalah nilai yang berkaitan dengan pengetahuan. Kata dasar pengetahuan adalah tahu. Menurut kamus umum bahasa Indonesia (1986:994), pengetahuan adalah hal mengetahui sesuatu; segala apa yang diketahui; kepandaian. Dari pembahasan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa nilai kognitif adalah subtaksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental yang sering berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang paling tinggi yaitu evaluasi yang berkaitan dengan mengetahui sesuatu hal; segala apa yang diketahui; kepandaian. 1. Ciri-ciri Ranah Penilaian Kognitif Aspek kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir termasuk di dalamnya kemampuan memahami, menghafal, mengaplikasi, menganalisis, 7
    • mensistesis dan kemampuan mengevaluasi. Menurut Taksonomi Bloom, kemampuan kognitif adalah kemampuan berfikir secara hirarki yang terdiri dari pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Pada tingkat pengetahuan, peserta didik menjawab pertanyaan berdasarkan hafalan saja. Pada tingkat pemahaman peserta didik dituntut juntuk menyatakan masalah dengan kata-katanya sendiri, memberi contoh suatu konsep atau prinsip. Pada tingkat aplikasi, peserta didik dituntut untuk menerapkan prinsip dan konsep dalam situasi yang baru. Pada tingkat analisis, peserta didik diminta untuk untuk menguraikan informasi ke dalam beberapa bagian, menemukan asumsi, membedakan fakta dan pendapat serta menemukan hubungan sebab-akibat. Pada tingkat sintesis, peserta didik dituntut untuk menghasilkan suatu cerita, komposisi, hipotesis atau teorinya sendiri dan mensintesiskan pengetahuannya. Pada tingkat evaluasi, peserta didik mengevaluasi informasi seperti bukti, sejarah, editorial, teori-teori yang termasuk di dalamnya judgement terhadap hasil analisis untuk membuat kebijakan. Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk menghubungkan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan demikian aspek kognitif adalah sub-taksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental yang sering berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang paling tinggi yaitu evaluasi. Aspek 8
    • kognitif terdiri atas enam tingkatan dengan aspek belajar yang berbeda-beda. Keenam tingkat tersebut yaitu: a) Tingkat pengetahuan (knowledge), pada tahap ini menuntut siswa untuk mampu mengingat (recall) berbagai informasi yang telah diterima sebelumnya, misalnya fakta, rumus, terminologi strategi problem solving dan lain sebagianya. b) Tingkat pemahaman (comprehension), pada tahap ini kategori pemahaman dihubungkan dengan kemampuan untuk menjelaskan pengetahuan, informasi yang telah diketahui dengan kata-kata sendiri. Pada tahap ini peserta didik diharapkan menerjemahkan atau menyebutkan kembali yang telah didengar dengan kata-kata sendiri. c) Tingkat penerapan (application), penerapan merupakan kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan informasi yang telah dipelajari kedalam situasi yang baru, serta memecahlcan berbagai masalah yang timbuldalam kehidupan sehari-hari. d) Tingkat analisis (analysis), analisis merupakan kemampuan mengidentifikasi, memisahkan dan membedakan komponen- komponen atau elemen suatu fakta, konsep, pendapat, asumsi, hipotesa atau kesimpulan, dan memeriksa setiap komponen tersebut untuk melihat ada atau tidaknya kontradiksi. Dalam tingkat ini peserta didik diharapkan menunjukkan hubungan di antara berbagai gagasan dengan cara membandingkan gagasan tersebut dengan standar, prinsip atau prosedur yang telah dipelajari. 9
    • e) Tingkat sintesis (synthesis), sintesis merupakan kemampuan seseorang dalam mengaitkan dan menyatukan berbagai elemen dan unsur pengetahuan yang ada sehingga terbentuk pola baru yang lebih menyeluruh. f) Tingkat evaluasi (evaluation), evaluasi merupakan level tertinggi yang mengharapkan peserta didik mampu membuat penilaian dan keputusan tentang nilai suatu gagasan, metode, produk atau benda dengan menggunakan kriteria tertentu. Apabila melihat kenyataan yang ada dalam sistem pendidikan yang diselenggarakan, pada umumnya baru menerapkan beberapa aspek kognitif tingkat rendah, seperti pengetahuan, pemahaman dan sedikit penerapan., sedangkan tingkat analisis, sintesis dan evaluasi jarang sekali diterapkan. Apabila semua tingkat kognitif diterapkan secara merata dan terus-menerus maka hasil pendidikan akan lebih baik. Tabel: Kaitan antara Kegiatan Pembelajaran dengan Domain Tingkatan Aspek Kognitif No. Tingkatan Deskripsi 1 Pengetahuan Arti: Pengetahuan terhadap fakta, konsep, definisi, nama, peristiwa, tahun, daftar, teori, prosedur,dll. Contoh kegiatan belajar: a. Mengemukakan arti b. Menentukan lokasi c. Mendeskripsikan sesuatu d. Menceritakan dan menguraikan apa yang 10
    • terjadi 2 Pemahaman Arti:pengertian terhadap hubungan antar- faktor, antar konsep, dan antar data hubungan sebab akibat penarikan kesimpulan Contoh kegiatan belajar: a. Mengungkapkan gagasan dan pendapat dengan kata-kata sendiri b. Membedakan atau membandingkan c. Mengintepretasi data d. Mendriskripsikan dengan kata-kata sendiri e. Menjelaskan gagasan pokok f. Menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri 3 Aplikasi Arti: Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari Contoh kegiatan: a. Melakukan percobaan b. Membuat peta c. Membuat model d. Merancang strategi 4 Analisis Artinya: menentukan bagian-bagian dari suatu masalah, penyelesaian, atau gagasan dan menunjukkan hubungan antar bagian tersebut Contoh kegiatan belajar: a. Mengidentifikasi faktor penyebab 11
    • b. Merumuskan masalah c. Mengajukan pertanyaan untuk mencari informasi d. Membuat grafik e. Mengkaji ulang 5 Sintesis Artinya: menggabungkan berbagai informasi menjadi satu kesimpulan/konsepatau meramu/ merangkai berbagai gagasan menjadi suatu hal yang baru Contoh kegiatan belajar: a. Membuat desain b. Menemukan solusi masalah c. Menciptakan produksi baru,dst. 6 Evaluasi Arti: mempertimbangkan dan menilai benar- salah, baik-buruk, bermanfaat-tidak bermanfaat Contoh kegiatan belajar: a. Mempertahankan pendapat b. Membahas suatu kasus c. Memilih solusi yang lebih baik d. Menulis laporan,dst. 2. Contoh Pengukuran Ranah Penilaian Kognitif Apabila melihat kenyataan yang ada dalam sistem pendidikan yang diselenggarakan, pada umumnya baru menerapkan beberapa aspek kognitif tingkat rendah, seperti pengetahuan, pemahaman dan sedikit penerapan. 12
    • Sedangkan tingkat analisis, sintesis dan evaluasi jarang sekali diterapkan. Apabila semua tingkat kognitif diterapkan secara merata dan terus-menerus maka hasil pendidikan akan lebih baik. Pengukuran hasil belajar ranah kognitif dilakukan dengan tes tertulis. Bentuk tes kognitif diantaranya; (1) tes atau pertanyaan lisan di kelas, (2) pilihan ganda, (3) uraian obyektif, (4) uraian non obyektif atau uraian bebas, (5) jawaban atau isian singkat, (6) menjodohkan, (7) portopolio dan (8) performans. Cakupan yang diukur dalam ranah kognitif adalah: a. Ingatan (C1) yaitu kemampuan seseorang untuk mengingat. Ditandai dengan kemampuan menyebutkan simbol, istilah, definisi, fakta, aturan, urutan, metode. b. Pemahaman (C2) yaitu kemampuan seseorang untuk memahami tentang sesuatu hal. Ditandai dengan kemampuan menerjemahkan, menafsirkan, memperkirakan, menentukan, menginterprestasikan. c. Penerapan (C3), yaitu kemampuan berpikir untuk menjaring & menerapkan dengan tepat tentang teori, prinsip, simbol pada situasi baru/ nyata. Ditandai dengan kemampuan menghubungkan, memilih, mengorganisasikan, memindahkan, menyusun, menggunakan, menerapkan, mengklasifikasikan, mengubah struktur. d. Analisis (C4), Kemampuan berfikir secara logis dalam meninjau suatu fakta/ objek menjadi lebih rinci. Ditandai dengan kemampuan membandingkan, menganalisis, menemukan, mengalokasikan, membedakan, mengkategorikan. 13
    • e. Sintesis (C5), Kemampuan berpikir untuk memadukan konsep-konsep secara logis sehingga menjadi suatu pola yang baru. Ditandai dengan kemampuan mensintesiskan, menyimpulkan, menghasilkan, mengembangkan, menghubungkan, mengkhususkan. f. Evaluasi (C6), Kemampuan berpikir untuk dapat memberikan pertimbangan terhadap sustu situasi, sistem nilai, metoda, persoalan dan pemecahannya dengan menggunakan tolak ukur tertentu sebagai patokan. Ditandai dengan kemampuan menilai, menafsirkan, mempertimbangkan dan menentukan. Contohnya siswa dibina kompetensinya menyangkut kemampuan melukis jaring-jaring kubus. Namun, untuk dapat melukis jaring-jaring kubus setidaknya diperlukan pengetahuan (kognitif) tentang bentuk- bentuk jaring kubus dan cara-cara melukis garis-garis tegak lurus. B. Pengertian Ranah Penilaian Afektif Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki kekuasaan kognitif tingkat tinggi. Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku. Seperti: perhatiannnya terhadap mata pelajaran pendidikan agama Islam, kedisiplinannya dalam mengikuti mata pelajaran agama disekolah, motivasinya yang tinggi untuk tahu lebih banyak 14
    • mengenai pelajaran agama Islam yang di terimanya, penghargaan atau rasa hormatnya terhadap guru pendidikan agama Islam dan sebagainya. Ranah afektif menjadi lebih rinci lagi ke dalam lima jenjang, yaitu: (1) receiving (2) responding (3) valuing (4) organization (5) characterization by evalue or calue complex. Receiving atau attending (= menerima atua memperhatikan), adalah kepekaan seseorang dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang kepada dirinya dalam bentuk masalah, situasi, gejala dan lain-lain. Termasuk dalam jenjang ini misalnya adalah: kesadaran dan keinginan untuk menerima stimulus, mengontrol dan menyeleksi gejala-gejala atau rangsangan yang datang dari luar. Receiving atau attenting juga sering di beri pengertian sebagai kemauan untuk memperhatikan suatu kegiatan atau suatu objek. Pada jenjang ini peserta didik dibina agar mereka bersedia menerima nilai atau nilai-nilai yang di ajarkan kepada mereka, dan mereka mau menggabungkan diri kedalam nilai itu atau meng-identifikasikan diri dengan nilai itu. Contah hasil belajar afektif jenjang receiving , misalnya: peserta didik bahwa disiplin wajib di tegakkan, sifat malas dan tidak di siplin harus disingkirkan jauh-jauh. Responding (= menanggapi) mengandung arti “adanya partisipasi aktif”. Jadi kemampuan menanggapi adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadapnya salah satu cara. Jenjang ini lebih tinggi daripada jenjang receiving. Contoh hasil belajar ranah afektif responding adalah peserta didik tumbuh hasratnya untuk mempelajarinya 15
    • lebih jauh atau menggeli lebih dalam lagi, ajaran-ajaran Islam tentang kedisiplinan. Valuing (menilai=menghargai). Menilai atau menghargai artinya mem- berikan nilai atau memberikan penghargaan terhadap suatu kegiatan atau obyek, sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan. Valuing adalah merupakan tingkat afektif yang lebih tinggi lagi daripada receiving dan responding. Dalam kaitan dalam proses belajar mengajar, peserta didik disini tidak hanya mau menerima nilai yang diajarkan tetapi mereka telah berkemampuan untuk menilai konsep atau fenomena, yaitu baik atau buruk. Bila suatu ajaran yang telah mampu mereka nilai dan mampu untuk mengatakan “itu adalah baik”, maka ini berarti bahwa peserta didik telah menjalani proses penilaian. Nilai itu mulai di camkan (internalized) dalam dirinya. Dengan demikian nilai tersebut telah stabil dalam peserta didik. Contoh hasil belajar efektif jenjang valuing adalah tumbuhnya kemampuan yang kuat pada diri peseta didik untuk berlaku disiplin, baik disekolah, dirumah maupun di tengah- tengah kehidupan masyarakat. Organization (=mengatur atau mengorganisasikan), artinya memper- temukan perbedaan nilai sehingga terbentuk nilai baru yang universal, yang membawa pada perbaikan umum. Mengatur atau mengorganisasikan merupakan pengembangan dari nilai kedalam satu sistem organisasi, termasuk didalamnya hubungan satu nilai denagan nilai lain., pemantapan dan perioritas nilai yang telah dimilikinya. Contoh nilai efektif jenjang organization adalah peserta didik mendukung penegakan disiplin nasional 16
    • yang telah dicanangkan oleh bapak presiden Soeharto pada peringatan hari kemerdekaan nasional tahun 1995. Characterization by evalue or calue complex (=karakterisasi dengan suatu nilai atau komplek nilai), yakni keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki oleh seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Disini proses internalisasi nilai telah menempati tempat tertinggi dalam suatu hirarki nilai. Nilai itu telah tertanam secara konsisten pada sistemnya dan telah mempengaruhi emosinya. Ini adalah merupakan tingkat efektif tertinggi, karena sikap batin peserta didik telah benar-benar bijaksana. Ia telah memiliki phyloshopphy of life yang mapan. Jadi pada jenjang ini peserta didik telah memiliki sistem nilai yang telah mengontrol tingkah lakunya untuk suatu waktu yang lama, sehingga membentu karakteristik “pola hidup” tingkah lakunya menetap, konsisten dan dapat diramalkan. Contoh hasil belajar afektif pada jenjang ini adalah siswa telah memiliki kebulatan sikap wujudnya peserta didik menjadikan perintah Allah SWT yang tertera di Al-Quran menyangkut disiplinan, baik kedisiplinan sekolah, dirumah maupun ditengah-tengan kehidupan masyarakat. Ranah afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif, karena dalam ranah afektif kemampuan yang diukur adalah: Menerima (memperhatikan), Merespon, Menghargai, Mengorganisasi, dan Karakteristik suatu nilai. Nilai afektif adalah nilai yang berkaitan dengan sikap. Menurut kamus umum bahasa Indonesia (1976:944), sikap adalah perbuatan yang berdasar pendirian (pendapat atau keyakinan). 17
    • Dari pembahasan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa nilai afektif adalah kemampuan yang diukur dalam menerima (memperhatikan), merespon, menghargai, mengorganisasi, dan karakteristik suatu nilai yang berdasarkan pendirian (pendapat atau keyakinan). Skala yang digunakan untuk mengukur ranah afektif seseorang terhadap kegiatan suatu objek diantaranya skala sikap. Hasilnya berupa kategori sikap, yakni mendukung (positif), menolak (negatif), dan netral. Sikap pada hakikatnya adalah kecenderungan berperilaku pada seseorang. Ada tiga komponen sikap, yakni kognisi, afeksi, dan konasi. Kognisi berkenaan dengan pengetahuan seseorang tentang objek yang dihadapinya. Afeksi berkenaan dengan perasaan dalam menanggapi objek tersebut, sedangkan konasi berkenaan dengan kecenderungan berbuat terhadap objek tersebut. Oleh sebab itu, sikap selalu bermakna bila dihadapkan kepada objek tertentu. Skala sikap dinyatakan dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden, apakah pernyataan itu didukung atau ditolaknya, melalui rentangan nilai tertentu. Oleh sebab itu, pernyataan yang diajukan dibagi ke dalam dua kategori, yakni pernyataan positif dan pernyataan negatif. Salah satu skala sikap yang sering digunakan adalah skala Likert. Dalam skala Likert, pernyataan-pernyataan yang diajukan, baik pernyataan positif maupun negatif, dinilai oleh subjek dengan sangat setuju, setuju, tidak punya pendapat, tidak setuju, sangat tidak setuju. 1. Ciri-ciri Ranah Penilaian Afektif 18
    • Pemikiran atau perilaku harus memiliki dua kriteria untuk diklasifikasikan sebagai ranah afektif. Pertama, perilaku melibatkan perasaan dan emosi seseorang. Kedua, perilaku harus tipikal perilaku seseorang. Kriteria lain yang termasuk ranah afektif adalah intensitas, arah, dan target. Intensitas menyatakan derajat atau kekuatan dari perasaan. Beberapa perasaan lebih kuat dari yang lain, misalnya cinta lebih kuat dari senang atau suka. Sebagian orang kemungkinan memiliki perasaan yang lebih kuat dibanding yang lain. Arah perasaan berkaitan dengan orientasi positif atau negatif dari perasaan yang menunjukkan apakah perasaan itu baik atau buruk. Misalnya senang pada pelajaran dimaknai positif, sedang kecemasan dimaknai negatif. Bila intensitas dan arah perasaan ditinjau bersama-sama, maka karakteristik afektif berada dalam suatu skala yang kontinum. Target mengacu pada objek, aktivitas, atau ide sebagai arah dari perasaan. Bila kecemasan merupakan karakteristik afektif yang ditinjau, ada beberapa kemungkinan target. Peserta didik mungkin bereaksi terhadap sekolah, matematika, situasi sosial, atau pembelajaran. Tiap unsur ini bisa merupakan target dari kecemasan. Kadang-kadang target ini diketahui oleh seseorang namun kadang-kadang tidak diketahui. Seringkali peserta didik merasa cemas bila menghadapi tes di kelas. Peserta didik tersebut cenderung sadar bahwa target kecemasannya adalah tes. Ada 5 tipe karakteristik afektif yang penting berdasarkan tujuannya, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral. a. Sikap 19
    • Sikap merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan sesuatu yang positif, kemudian melalui penguatan serta menerima informasi verbal. Perubahan sikap dapat diamati dalam proses pembelajaran, tujuan yang ingin dicapai, keteguhan, dan konsistensi terhadap sesuatu. Penilaian sikap adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, kondisi pembelajaran, pendidik, dan sebagainya. b. Minat Menurut Getzel (1966), minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia (1986: 650), minat atau keinginan adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Hal penting pada minat adalah intensitasnya. Secara umum minat termasuk karakteristik afektif yang memiliki intensitas tinggi. Penilaian minat dapat digunakan untuk: 1) Mengetahui minat peserta didik sehingga mudah untuk pengarahan dalam pembelajaran, 2) Mengetahui bakat dan minat peserta didik yang sebenarnya, 3) Pertimbangan penjurusan dan pelayanan individual peserta didik, 4) Menggambarkan keadaan langsung di lapangan/kelas, 20
    • Mengelompokkan didik yang memiliki peserta minat sama, faktor acuan dalam menilai kemampuan peserta didik secara keseluruhan dan memilih metode yang tepat dalam penyampaian materi, 1) Mengetahui tingkat minat peserta didik terhadap pelajaran yang diberikan pendidik, 2) Bahan pertimbangan menentukan program sekolah, 3) Meningkatkan motivasi belajar peserta didik. c. Konsep Diri Menurut Smith, konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. Target, arah, dan intensitas konsep diri pada dasarnya seperti ranah afektif yang lain. Target konsep diri biasanya orang tetapi bisa juga institusi seperti sekolah. Arah konsep diri bisa positif atau negatif, dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum, yaitu mulai dari rendah sampai tinggi. Konsep diri ini penting untuk menentukan jenjang karir peserta didik, yaitu dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dapat dipilih alternatif karir yang tepat bagi peserta didik. Selain itu informasi konsep diri penting bagi sekolah untuk memberikan motivasi belajar peserta didik dengan tepat. Penilaian konsep diri dapat dilakukan dengan penilaian diri. Kelebihan dari penilaian diri adalah sebagai berikut: 1) Pendidik mampu mengenal kelebihan dan kekurangan peserta didik. 2) Peserta didik mampu merefleksikan kompetensi yang sudah dicapai. 3) Pernyataan yang dibuat sesuai dengan keinginan penanya. 21
    • 4) Memberikan motivasi diri dalam hal penilaian kegiatan peserta didik. 5) Peserta didik lebih aktif dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran. 6) Dapat digunakan untuk acuan menyusun bahan ajar dan mengetahui standar input peserta didik. 7) Peserta didik dapat mengukur kemampuan untuk mengikuti pembelajaran. 8) Peserta didik dapat mengetahui ketuntasan belajarnya. 9) Melatih kejujuran dan kemandirian peserta didik. 10) Peserta didik mengetahui bagian yang harus diperbaiki. 11) Peserta didik memahami kemampuan dirinya. 12) Pendidik memperoleh masukan objektif tentang daya serap peserta didik. 13) Mempermudah pendidik untuk melaksanakan remedial, hasilnya dapat untuk instropeksi pembelajaran yang dilakukan. 14) Peserta didik belajar terbuka dengan orang lain. 15) Peserta didik mampu menilai dirinya. 16) Peserta didik dapat mencari materi sendiri. 17) Peserta didik dapat berkomunikasi dengan temannya. d. Nilai Nilai menurut Rokeach (1973) merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan, tindakan, atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk. Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlah keyakinan sekitar objek spesifik atau situasi, sedangkan nilai mengacu pada keyakinan. 22
    • Berikut adalah definisi nilai dari beberapa ahli: “... a conception explicit or implicit, distinctive of an individual or characteristic of a group, of the desirable which influence the selection from available modes, means and ends of action.” (Kluckhohn dalam Zavalloni, 1975, hal. 75) “Value is an enduring belief that a specific mode of conduct or end- state of existence is personally or socially preferable to an opposite or converse mode of conduct or end-state of existence.” (Rokeach, 1973 hal. 5) “Nilai itu adalah rujukan dan keyakinan dalam menentukan pilihan.Definisi tersebut secara eksplisit menyertakan proses pertimbangan nilai, tidak hanya sekedar alamat yang dituju oleh sebuah kata ‘ya’.” (Mulyana ,2004:11) “Value is a general beliefs about desirable or undesireable ways of behaving and about desirable or undesireable goals or end-states.” (Feather, 1994 hal. 184) “Value as desireable transsituatioanal goal, varying in importance, that serve as guiding principles in the life of a person or other social entity.” (Schwartz, 1994 hal. 21) Lebih lanjut Schwartz (1994) juga menjelaskan bahwa nilai adalah (1) suatu keyakinan, (2) berkaitan dengan cara bertingkah laku atau tujuan akhir tertentu, (3) melampaui situasi spesifik, (4) mengarahkan seleksi atau evaluasi terhadap tingkah laku, individu, dan kejadian-kejadian, serta (5) tersusun berdasarkan derajat kepentingannya. 23
    • Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, terlihat kesamaan pemahaman tentang nilai, yaitu (1) suatu keyakinan, (2) berhubungan dengan cara bertingkah laku dan tujuan akhir tertentu. Jadi dapat disimpulkan bahwa nilai adalah suatu keyakinan mengenai cara bertingkah laku dan tujuan akhir yang diinginkan individu, dan digunakan sebagai prinsip atau standar dalam hidupnya. Target nilai cenderung menjadi ide, target nilai dapat juga berupa sesuatu seperti sikap dan perilaku. Arah nilai dapat positif dan dapat negatif. Selanjutnya intensitas nilai dapat dikatakan tinggi atau rendah tergantung pada situasi dan nilai yang diacu. e. Moral Piaget dan Kohlberg banyak membahas tentang per-kembangan moral anak. Namun Kohlberg mengabaikan masalah hubungan antara judgement moral dan tindakan moral. Ia hanya mempelajari prinsip moral seseorang melalui penafsiran respon verbal terhadap dilema hipotetikal atau dugaan, bukan pada bagaimana sesungguhnya seseorang bertindak. Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain atau perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Misalnya menipu orang lain, membohongi orang lain, atau melukai orang lain baik fisik maupun psikis. Moral juga sering dikaitkan dengan keyakinan agama seseorang, yaitu keyakinan akan perbuatan yang berdosa dan berpahala. Jadi moral berkaitan dengan prinsip, nilai, dan keyakinan seseorang. Ranah afektif lain yang penting adalah: 24
    • 1) Kejujuran: peserta didik harus belajar menghargai kejujuran dalam berinteraksi dengan orang lain. 2) Integritas: peserta didik harus mengikatkan diri pada kode nilai, misalnya moral dan artistik. 3) Adil: peserta didik harus berpendapat bahwa semua orang mendapat perlakuan yang sama dalam memperoleh pendidikan. 4) Kebebasan: peserta didik harus yakin bahwa negara yang demokratis memberi kebebasan yang bertanggung jawab secara maksimal kepada semua orang. Tabel: Kaitan antara Kegiatan Pembelajaran dengan Domain Tingkatan Aspek Afektif Tingkat Contoh kegiatan pembelajaran Penerimaan Arti : Kepekaan (keinginan menerima/memperhatikan) (Receiving) terhadap fenomena/stimult menunjukkan perhatian terkontrol dan terseleksi Contoh kegiatan belajar : a. sering mendengarkan musik b. senang membaca puisi c. senang mengerjakan soal matematika d. ingin menonton sesuatu e. senang menyanyikan lagu Responsi Arti : menunjukkan perhatian aktif melakukan sesuatu (Responding) dengan/tentang fenomena setuju, ingin, puas meresponsi (mendengar) Contoh kegiatan belajar : 25
    • a. mentaati aturan b. mengerjakan tugas c. mengungkapkan perasaan d. menanggapi pendapat e. meminta maaf atas kesalahan f. mendamaikan orang yang bertengkar g. menunjukkan empati h. menulis puisi i. melakukan renungan j. melakukan introspeksi Acuan Nilai Arti : Menunjukkan konsistensi perilaku yang ( Valuing) mengandung nilai, termotivasi berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang pasti Tingkatan : menerima, lebih menyukai, dan menunjukkan komitmen terhadap suatu nilai Contoh Kegiatan Belajar : a. mengapresiasi seni b. menghargai peran c. menunjukkan perhatian d. menunjukkan alasan e. mengoleksi kaset lagu, novel, atau barang antik f. menunjukkan simpati kepada korban pelanggaran HAM g. menjelaskan alasan senang membaca novel Arti : mengorganisasi nilai-nilai yang relevan ke dalam Organisasi suatu sistem menentukan saling hubungan antar nilai 26
    • memantapkan suatu nilai yang dominan dan diterima di mana-mana memantapkan suatu nilaimyang dominan dan diterima di mana-mana Tingkatan : konseptualisasi suatu nilai, organisasi suatu sistem nilai Contoh kegiatan belajar : a. rajin, tepat waktu b. berdisiplin diri mandiri dalam bekerja secara independen c. objektif dalam memecahkan masalah d. mempertahankan pola hidup sehat e. menilai masih pada fasilitas umum dan mengajukan saran perbaikan f. menyarankan pemecahan masalah HAM g. menilai kebiasaan konsumsi h. mendiskusikan cara-cara menyelesaikan konflik antar- teman 2. Contoh Pengukuran Ranah Penilaian Afektif Kompetensi siswa dalam ranah afektif yang perlu dinilai utamanya menyangkut sikap dan minat siswa dalam belajar. Secara teknis penilaian ranah afektif dilakukan melalui dua hal yaitu: a) laporan diri oleh siswa yang biasanya dilakukan dengan pengisian angket anonim, b) pengamatan sistematis oleh guru terhadap afektif siswa dan perlu lembar pengamatan. 27
    • Ranah afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif, karena dalam ranah afektif kemampuan yang diukur adalah: a) Menerima (memperhatikan), meliputi kepekaan terhadap kondisi, gejala, kesadaran, kerelaan, mengarahkan perhatian b) Merespon, meliputi merespon secara diam-diam, bersedia merespon, merasa puas dalam merespon, mematuhi peraturan c) Menghargai, meliputi menerima suatu nilai, mengutamakan suatu nilai, komitmen terhadap nilai d) Mengorganisasi, meliputi mengkonseptualisasikan nilai, memahami hubungan abstrak, mengorganisasi sistem suatu nilai Karakteristik suatu nilai, meliputi falsafah hidup dan sistem nilai yang dianutnya. Contohnya: mengamati tingkah laku siswa selama mengikuti proses belajar mengajar berlangsung. Skala yang sering digunakan dalam instrumen (alat) penilaian afektif adalah Skala Thurstone, Skala Likert, dan Skala Beda Semantik. Contoh Skala Thurstone: Minat terhadap pelajaran sejarah 7 6 5 4 3 2 1 Saya senang balajar sejarah Pelajaran sejarah bermanfaat Pelajaran sejarah membosankan Dst…. Contoh Skala Likert: Minat terhadap pelajaran sejarah 1. Pelajaran sejarah bermanfaat SS S TS STS 2. Pelajaran sejarah sulit 28
    • 3. Tidak semua harus belajar sejarah 4. Sekolah saya menyenangkan Keterangan: SS : Sangat setuju S : Setuju TS : Tidak setuju STS : Sangat tidak setuju Contoh Lembar Penilaian Diri Siswa Minat Membaca Nama Pembelajar:_____________________________ No. Deskripsi Ya/Tidak 1 Saya lebih suka membaca dibandingkan dengan melakukan hal-hal lain 2 Banyak yang dapat saya ambil hikmah dari buku yang saya baca 3 Saya lebih banyak membaca untuk waktu luang saya 4 Dst………….. C. Hubungan antara Nilai Kognitif dan Nilai Afektif Pada zaman sekarang ini pendidikan adalah hal penting untuk setiap orang. Dapat mengenyam pendidikan yang tinggi berarti bahwa peluang untuk mendapatkan posisi atau jabatan suatu profesi makin tinggi pula. Akan tetapi, tidak semua orang bernasib seperti itu. Ada orang yang 29
    • walaupun sudah bergelar S1 tetapi masih menganggur. Ada orang yang walaupun tamatan SD bisa berhasil dengan sukses. Biasanya jika siswa SMA terutama kelas XII ingin mendaftar ke perguruan tinggi negeri (PTN) dengan jalur PMDK Prestasi, terdapat seleksi administrasi yaitu raport. Dari raport tersebut kemudian diseleksi hingga terpilihlah sejumlah siswa (sesuai kuota) untuk lulus ke PTN tersebut. Hal penting yang perlu disoroti adalah apakah nilai afektif di raport siswa tersebut berbanding lurus atau sejalan dengan nilai kognitifnya. Permasalahannya adalah mayoritas siswa sering berbuat curang demi mendapatkan nilai kognitif yang bagus. Tidak peduli bagaimana siswa tersebut meraih nilainya. Baik itu hasil murni, mencontek, melihat buku, bertanya dengan temannya atau lainnya. Tidak peduli juga bagaimana sikap siswa tersebut selama berada di sekolah, bergaul dengan temannya, ataupun beretika dengan guru. Terkadang, walaupun siswa tersebut bengal dan nilai afektif di raportnya jelek, misalkan mendapat C, wali kelas siswa tersebut pasti berupaya bagaimana caranya agar nilai afektifnya minimal B. Contoh lain adalah ketika ulangan harian berlangsung. Ketika seorang siswa merasa tidak bisa mengerjakan soal ulangan, dia pasti berupaya bagaimana caranya agar jawaban tersebut terisi. Dan ketika ingin membuka buku, perilaku siswa tersebut diketahui oleh gurunya. Akan tetapi, guru tersebut tidak akan “menghukumnya” dengan cara memberi nilai afektif C. 30
    • D. Hipotesis Dari uraian penulis di atas, penulis menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara nilai kognitif dan nilai afektif siswa SMA Negeri 1 Sidoarjo BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian yang dilakukan ini adalah termasuk penelitian survei dengan memberikan gambaran yang ada di lapangan. B. Populasi dan Sampel 31
    • Dalam bidang statistika, Populasi adalah sekumpulan data yang menjadi objek inferensi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas dua belas SMA Negeri 1 Sidoarjo sebanyak 265 siswa. Sampel (bahasa Inggris: sample) ialah suatu bagian dari populasi statistik yang sifat-sifatnya diteliti untuk memperoleh informasi mengenai keseluruhan (Komarudin, 2000 : 229). Istilah sampel biasa dipergunakan untuk menyelidiki secara ilmiah dalam menarik sebagian populasi (universe) yang akan diteliti. Sampel merupakan sebagian dari populasi yang dianggap mewakili populasi (Bilson Simamora, 2002 : 36). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah delapan siswa yaitu empat laki – laki dan empat perempuan untuk mewakili setiap kelas dua belas yang bukan merupakan siswa yang menduduki peringkat satu hingga lima di masing – masing kelas, di SMA Negeri 1 Sidoarjo sebanyak 72 siswa atau 28.30% dari total populasi. C. Metode Penelitian Sejalan dengan tujuannya, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei. Prosedur penelitian ini meliputi : 1. Mengamati tingkahlaku sehari – hari siswa kelas dua belas yang berprestasi di SMA Negeri 1 Sidoarjo. 2. Mengkaji literatur tentang hubungan tingkahlaku siswa dengan prestasi siswa di kelas. 32
    • D. Rencana Analisa Data Afektif yang dikatakan baik jika komponen tersebut di bawah ini: 1. Sikap 2. Kejujuran 3. Etika 4. Kebersihan 5. Minat 6. Kedisiplinan 7. Kerapian 8. Kehadiran 9. Tanggung jawab 10. Komunikasi terhadap guru Minimal harus mendapatkan jawaban dari responden pada opsi A atau B dengan rata-rata 70%. Σ jawaban setiap opsi di masing-masing nomer % per opsi = x 100% Σ sampel % afektif = % sampel yang berpendapat sangat baik + % sampel yang berpendapat baik 10 E. Jadwal Penelitian. Penelitian ini rencananya dilaksanakan dengan mengikuti jadwal sebagai berikut : 1) Merencanakan : 17 Februari 2010 2) Menyusun proposal : 3 Maret 2010 sd. 16 Maret 2010 33
    • 3) Instrumen penelitian : Angket 4) Pengambilan data : 8 Maret 2010 5) Mengolah data : 13 Maret 2010 6) Membuat laporan : 16 Maret 2010 BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN A. Penyajian Data Hasil Survey Tabel: Data Seluruh Sampel NO TOTAL SELURUH SAMPEL JUMLAH KUISIONER A B C D 34
    • 1 13 54 5 - 72 2 9 22 40 1 72 3 7 60 2 3 72 4 5 15 49 3 72 5 15 50 6 1 72 6 10 55 6 1 72 7 3 57 11 1 72 8 2 8 50 12 72 9 39 27 4 2 72 10 7 61 5 1 72 JUMLAH 110 409 176 25 720 B. Analisa Data Siswa yang kami survei adalah siswa yang bukan menduduki peringkat satu hingga lima di setiap kelas. Kelas yang kami survei adalah kelas dua belas mulai dari kelas XII IA 1 hingga kelas XII IS 2. Jawaban sampel mengenai setiap pertanyaan angket: 1) Pendapat sampel mengenai tingkah laku siswa peringkat satu hingga lima di lingkungan sekolah. a. Sebanyak 18.06% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi berperilaku sangat baik. b. Sebanyak 75% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi berperilaku baik. 35
    • c. Sebanyak 6.94% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi berperilaku kurang baik dan tidak ada yang berpendapat tidak baik. 2) Pendapat sampel mengenai seringnya siswa berprestasi menyontek. a. Sebanyak 12.50% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi sangat sering menyontek. b. Sebanyak 30.56% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi sering menyontek. c. Sebanyak 55.56% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi jarang menyontek. d. Sebanyak 1.39% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi tidak pernah menyontek. 3) Pendapat sampel mengenai kesopanan siswa berprestasi. a. Sebanyak 9.72% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi sangat sopan. b. Sebanyak 83.33% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi sopan. c. Sebanyak 2.78% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi kurang sopan. d. Sebanyak 4.17% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi tidak sopan. 4) Pendapat sampel mengenai seringnya siswa berprestasi membuang sampah sembarangan. 36
    • a. Sebanyak 6.94% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi sangat sering membuang sampah sembarangan. b. Sebanyak 20.83% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi sering membuang sampah sembarangan. c. Sebanyak 68.06% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi jarang membuang sampah sembarangan. d. Sebanyak 4.17% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi tidak pernah membuang sampah sembarangan. 5) Pendapat sampel mengenai perhatian siswa berprestasi terhadapat pelajaran dikelas. a. Sebanyak 20.83% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi sangat memperhatikan. b. Sebanyak 69.44% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi memperhatikan. c. Sebanyak 8.33% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi kurang memperhatikan. d. Sebanyak 1.39% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi tidak memperhatikan.. 6) Pendapat sampel mengenai keterlambatan masuk sekolah siswa berprestasi. a. Sebanyak 13.89% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi sering datang terlambat. 37
    • b. Sebanyak 76.39% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi jarang datang terlambat. c. Sebanyak 8.33% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi tidak pernah datang terlambat. d. Sebanyak 1.39% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi tidak datang kesekolah. 7) Pendapat sampel mengenai kerapian siswa berprestasi. a. Sebanyak 4.17% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi berpakaian sangat rapi. b. Sebanyak 79.17% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi berpakaian rapi. c. Sebanyak 15.28% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi berpakaian kurang rapi. d. Sebanyak 1.39% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi berpakaian tidak rapi. 8) Pendapat sampel mengenai seringnya siswa berprestasi meninggalkan pelajaran. a. Sebanyak 2.78% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi sangat sering membolos. b. Sebanyak 11.11% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi sering membolos. c. Sebanyak 69.44% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi jarang membolos. 38
    • d. Sebanyak 16.67% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi tidak pernah membolos. 9) Pendapat sampel mengenai seringnya siswa berprestasi mengerjakan tugas. a. Sebanyak 54.17% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi selalu mengerjakan. b. Sebanyak 37.50% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi dalam pelajaran tertentu mengerjakan. c. Sebanyak 5.56% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi jarang mengerjakan. d. Sebanyak 2.78% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi tidak pernah mengerjakan. 10) Pendapat sampel mengenai tingakahlaku siswa berprestasi saat berkomunikasi kepada guru maupun teman sekelas. a. Sebanyak 9.72% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi berperilaku sangat sopan. b. Sebanyak 84.72% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi berperilaku sopan. c. Sebanyak 4.17% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi berperilaku kurang sopan. d. Sebanyak 1.39% dari seluruh sampel berpendapat bahwa siswa berprestasi berperilaku tidak sopan. Siswa berprestasi dapat dikatakan memiliki afektif yang baik jika berperilaku sangat baik atau baik, jarang menyontek atau tidak pernah 39
    • menyontek, sangat sopan atau sopan, jarang membuang sampah sembarangan atau tidak pernah membuang sampah sembarangan, sangat memperhatikan saat pelajaranan atau memperhatikan, jarang datang terlambat atau tidak pernah datang terlambat, berpakaian sangat rapi atau rapi, jarang membolos atau tidak pernah membolos, selalu mengerjakan tugas atau pelajaran tertentu mengerjakan, dan berperilaku sangat sopan saat berkomunikasi atau sopan. Prosentase afektif yang baik minimal harus mendapatkan jawaban dari responden untuk pendapat sangat baik atau baik mencapai jumlah rata-rata 70%. Dari hasil perhitungan, rata-rata nilai prosentase afektifnya adalah: % afektif: 93,6% + 56,95% + 93,05% + 72,23% + 90,27% + 84,72% + 83,34% + 86,11% + 91,67% + 94,44 = 846,4% / 10 = 84,64% BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Kriteria nilai afektif dikatakan baik jika nilai prosentasenya minimal 70%. Dari hasil penelitian angket pada responden didapatkan bahwa prosentase nilai afektif untuk pendapat sangat baik atau baik adalah 84,64%. Jadi, dapat disimpulkan ada hubungan antara nilai kognitif dengan nilai afektif. B. Saran 40
    • Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, maka dapat diajukan saran - saran sebagai berikut : 1) Sekolah harus tetap mengkontrol perilaku siswa dengan diadakannya inspeksi kedisiplinan secara rutin. 2) Sekolah harus memberikan pelajaran tentang sikap berbudi luhur dan memasukkannya dalam materi. 3) Sekolah mengadakan hari bersih untuk membiasakan siswa membuang sampah pada tempatnya. DAFTAR PUSTAKA Bloom, B. S. ed. et al. (1956). Taxonomy of Educational Objectives: Handbook 1, Cognitive Domain. New York: David McKay. Feather, N. T. 1994. Values and Culture. Dalam Lonner, Walter J.; Malpass, Roy S. (Ed.), Psychology and Culture (hal : 183 - 189). Massachusetts : Allyn & Bacon. Mulyana, Rohmat, (2004), Mengartikulasikan Pendidikan Nilai, Bandung, Alfabeta. 41
    • Poerwadarminta, W.J.S. 1986. kamus umum bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Rokeach, M. 1973. The Nature of Human Values. New York : The Free Press. Schwartz, S. H. 1994. Are There Universal Aspects in the Structure and Contents of Human Values ? Journal of Social Issues, 50, 19-46. Zavalloni, M. 1975. Values. Dalam Triandis, H. C.; Berry, John W. (Ed). Handbook of Cross Cultural Psychology (Vol. 5). LAMPIRAN 42
    • L/P (coret yang tidak perlu) QUISTONER KELAS XII 1. Bagaimanakah sikap teman Anda yang menduduki peringkat satu hingga lima di lingkungan sekolah .. . . . a. Sangat baik b. Baik c. Kurang baik d. Tidak baik 2. Apakah mereka sering menyontek saat ulangan . . . . a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Tidak pernah 3. Bagaimanakah sikap mereka saat berpapasan dengan guru pengajar . . . a. Sangat sopan b. Sopan c. Kurang sopan d. Tidak sopan 4. Apakah mereka sering membuang sampah sembarangan. . . a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Tidak pernah 5. Apakah mereka memperhatikan saat mengikuti pelajran di kelas . . . 43
    • a. Sangat memperhatikan b. Memperhatikan c. Kurang memperhatikan d. Tidak memperhatikan 6. Apakah mereka sering terlambat. . . . a. Sering terlambat b. Jarang terlambat c. Tidak pernah terlambat d. Tidak masuk sekolah 7. Bagaimanakah sikap mereka dalam berpakaian . . a. Sangat rapi b. Rapi c. Kurang rapi d. Tidak rapi 8. Apakah mereka sering meninggalkan kelas saat pelajaran . . . a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Tidak pernah 9. Apakah mereka mengerjakan tugas sekolah . . . . a. Selalu mngerjakan b. Pelajaran tertentu mengerjakan c. Jarang mengerjakan d. Tidak mngerjakan 44
    • 10. Bagaimanakah sikap mereka saat berkomunikasi kepada guru ataupun teman sekelas. . a. Sangat sopan b. Sopan c. Kurang sopan d. Tidak sopan 45