Your SlideShare is downloading. ×
PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM KEPEMIMPINAN
PENDIDIKAN
(Kajian dari Perspektif Agama, Filosofis, Psikologis, dan Sosiologis)
...
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Organisasi pendidikan merupakan organisasi yang unik. Karena keunikannya,
lemb...
Era desentralisasi dan otonomi daerah telah membawa implikasi besar terhadap
penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan. K...
diinginkan kelompok. Itu berarti bahwa dalam diri seorang pemimpin harus memiliki
kelebihan dibandingkan pengikutnya, kele...
menjadi seorang pemimpin tapi ia tidak tahu apa yang harus diperbuat sebagai seorang
pemimpin. Disinilah diperlukan penget...
Sementara itu, permasalahan lain dalam kepemimpinan adalah dalam proses
pengambilan keputusan. Permasalahan yang muncul da...
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat ditetapkan perumusan masalah sebagai
berikut ini.
1. Bagaim...
2. memenuhi salah satu tugas perkuliahan landasan agama, filosofi, psikologi dan
sosiologi dari kepemimpinan pendidikan.

...
BAB II
PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

A. Kepemimpinan Pendidikan
Secara berturut-turut pada bagian i...
kelompok. Sementara itu, Rost (dalam Safira, 2004:3) mendefinisikan kepemimpinan
sebagai sebuah hubungan yang saling mempe...
Ada kemampuan pada pemimpin untuk menggunakan teknik kepemimpinan; (2) Ada
sifat-sifat khusus pada pemimpin yaitu sifat-si...
a. Pendekatan Sifat.
Teori pendekatan sifat memusatkan perhatian pada diri para pemimpin itu
sendiri, oleh karena itu teor...
Fungsi pertama menyangkut pemberian saran penyelesaian, informasi, dan
pendapat. Fungsi kedua mencakup segala sesuatu yang...
mempengaruhi seorang pemimpin adalah pekerjaan yang sedang ditangani, lingkungan
organisasi, dan karakteristik orang yang ...
Berbagai gaya kepemimpinan telah diteliti dan ditemukan bahwa setiap
pemimpin telah diteliti dan ditemukan bahwa setiap pe...
Gaya kepemimpinan ini memandang bawahan sebagai bagian dari keseluruhan
organisasinya, sehingga bawahan mendapat tempat se...
c. Gaya Kepemimpinan Laissez faire
Pada prinsipnya, gaya kepemimpinan ini memberikan kebebasan mutlak kepada
para bawahan....
4. Kepemimpinan Partisipatif
Kalau dicermati kepemimpinan partisipatif muncul dari beberapa teori
kepemimpinan maupun dari...
B. Landasan Agama, Filosofis, Psikologis, dan Sosiologis
1. Landasan Agama
Secara teologis, agama Islam telah menggariskan...
dalam kehidupan berumah tangga dan lain-lainnya. Ini terbukti dari perhatian Al-Qur’an
dan Hadist yang memerintahkan atau ...
Para ulama berbeda pendapat mengenai obyek yang menjadi kajian dari
permusyawaratan itu sendiri, adakah permusyawaratan it...
pemimpin dalam mengambil keputusan harus menggunakan cara berpikir yang benar,
hingga terhindar dari keputusan-keputusan y...
eksperimentalisme, karena aliran ini menyadari dan mempraktikkan asas
eksperimen untuk menguji kebenaran suatu teori.
envi...
Perlu diketahui pula bahwa sekolah tidak hanya berfungsi sebagai pemindahan
pengetahuan (transfer of knowledge) melainkan ...
Dengan mengambil landasan pikir tersebut, belajar dapat didefinisikan sebagai
substansi spiritual yang membina dan mencipt...
Diharapkan anak didik mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang
menjadi landasan pengembangan disiplin mental. Kar...
sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.Di samping itu, aliran
ini memiliki persepsi bahwa masa depan ...
f.

Aliran Filsafat Pendidikan Realisme
Aliran ini berpendapat bahwa dunia rohani dan dunia materi merupakan hakikat

yang...
melahirkan pragmatisme. Baik sosialisme maupun pragmatisme dimaksudkan supaya
kemanusiaan dapat menghadapi masalah besar, ...
3. Landasan Psikologis
Agar memperoleh pemahaman yang utuh, maka akan dibahas berbagai aliran dan bentuk
dalam psikologi y...
membentuk tingkah laku manusia melalui pengaturan kondisi lingkungan (operant
conditioning) dan penguatan.
Skinner membagi...
Untuk menerapkan teori hirarki belajar Gagne ini pada pembelajaran matematika
perlu diterjemahkan secara operasional yaitu...
b) Teori Belajar dari Jerome Bruner
Perkembangan mental anak menurut Bruner (Toeti Soekamto, 1994) ada tiga
tahap, yaitu:
...
b. Bentuk psikologis pendidikan
Setidaknya ada 3 (tiga) bentuk psikologi pendidikan yang penting untuk diketahui,
yakni ps...
Psikologi perkembangan menurut Rouseau membagi masa perkembangan anak
atas empat tahap yaitu :
a) Masa bayi dari 0 – 2 tah...
Para ahli psikologi cenderung untuk menggunakan pola-pola

tingkah laku

manusia sebagai suatu model yang menjadi prinsip-...
Perhatian sosiologi pada kegiatan pendidikan semakin intensif. Dengan
meningkatkan perhatian sosiologi pada kegiatan pendi...
terhadap hak-hak individu dan hak-hak masyarakat. Negara Indonesia merupakan
negara yang dibentuk beradasarkan faham integ...
2. Dasar-dasar Pengambilan Keputusan
Menurut George Terry (dalam Hasan, 2002:12-13) dasar-dasar pengambilan
keputusan adal...
manajemen puncak yang biasanya tidak mempunyai cukup waktu untuk bertemu satu
dengan yang lain. Teknik ini menghindari per...
5. Langkah-Langkah Pengambilan keputusan
Simon (1957) mengemukakan proses pengambilan keputusan pada dasarnya
terdiri atas...
BAB III
PEMBAHASAN

A. Pengambilan Keputusan dalam Perspektif Agama
Dalam Islam, pengambilan keputusan secara musyawarah t...
(1) Musyawarah merupakan bentuk penghargaan terhadap orang lain dan karenanya
menghilangkan anggapan paternalistik bahwa o...
B. Pengambilan Keputusan dalam Prespektif Filsafat Pendidikan
Pengambilan keputusan partisipatif penting dilakukan oleh pe...
masyarakat tanpa membedakan warna ras, suku, nasionalisme, agama, dan masyarakat
bersangkutan.
Rekontruksionisme sejalan d...
kemampuan memecahkan masalah tersebut. Guru harus mendorong siswa untuk dapat berpikir
alternatif dalam memecahkan masalah...
Perilaku pemimpin tercermin dari gaya kepemimpinan yang dijalankan. Gaya itu
dilatarbelakangi oleh sifat atau watak dari p...
meningkatkan keikatan kepada organisasi, kepuasan kerja, pertumbuhan dan perkembangan
pribadi serta sikap menerima perubah...
b) Konsultasi. Manajer menanyakan opini dan gagasan, kemudian mengambil
keputusannya sendiri setelah mempertimbangkan seca...
dijakankan oeh kepemimpinan partisipatif. Tiga ciri ini memiliki intensitas yang
berbeda. Kalau pada karakteristik konsult...
lateral memudahkan koordinasi dan kerja sama di antara para pemimpin dari berbagai
sub untuk organisasi.
c) Konsultasi ke ...
mengurangi rasa takut apa saja yang tidak beralasan dan ketegangan-ketegangan
mengenai hal tersebut.
c) Partisipasi juga m...
pemimpin harus cepat dan tanggap dalam membuat keputusan dan mengambil
kebijakan sesuai dengan situasi dan kebutuhan manaj...
1. Peran Pemimpin Pendidikan dalam Pengambilan Keputusan Partisipatif
Dilihat dari fungsi birokrasi pendidikan dan kepala ...
4) Pemimpin memberikan keputusan bersifat sementara yang kemungkinan dapat dirubah.
Bawahan sudah mulai banyak terlibat da...
4) Pada tingkat kematangan yang lebih tinggi lagi. Bawahan tidak berkemampuan tetapi
berkemauan. Masalah-masalah psikologi...
Aspirasi bawahan pada umumnya ada yang tinggi dan ada yang rendah. Menurut
Thurnburg (Prayitno, 1989, dalam Rawis, 2000:40...
BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
1. Pengambilan keputusan merupakan aktivitas yang sangat menentukan dalam suatu
organisasi. Pen...
Makalah kelompok pengambilankeputusan
Makalah kelompok pengambilankeputusan
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Makalah kelompok pengambilankeputusan

5,820

Published on

Published in: Technology, Business
0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
5,820
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
113
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Makalah kelompok pengambilankeputusan"

  1. 1. PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN (Kajian dari Perspektif Agama, Filosofis, Psikologis, dan Sosiologis) MAKALAH Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Landasan Agama, Filosofi, Psikologi, dan Sosiologi dari Kepemimpinan Pendidikan DOSEN : PROF. DR. H. ISHAK ABDULHAK PROF. DR. H. SOFYAN SAURI, M.Pd Oleh : ASEP WAHYU NIM. 4103810413003 DENNY KODRAT NIM. 4103810413007 SLAMET NIM. 4103810413018 PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA 2014 Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 1
  2. 2. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Organisasi pendidikan merupakan organisasi yang unik. Karena keunikannya, lembaga pendidikan tidak dapat disejajarkan dengan lembaga-lembaga atau organisasi lainnya. Keunikannya terletak dari misinya sebagai lembaga pencetak manusia-manusia yang memiliki kepribadian, kecerdasan, dan keterampilan tertentu agar dapat hidup sebagai manusia yang produktif dan beradab. Karena keunikannya itu pulalah, lembaga pendidikan harus diselenggarakan dan dikelola oleh lembaga dan orang-orang yang berkompeten. Penyelenggara pendidikan, baik pemerintah, pemerintah daerah maupun komunitas masyarakat (yayasan) harus memiliki kemampuan yang handal dalam hal penyusunan dan pengembangan kurikulum, penyediaan sarana dan prasarana, pengadaan tenaga pendidikan dan tenaga kependidikan, kemampuan pendanaan dan berbagai hal yang menjadi standar nasional pendidikan. Hal ini penting, sehingga penyelenggaraan pendidikan tidak mengabaikan kualitas. Selain penyelenggara, unsur pengelola pendidikan (manajemen sekolah) memiliki peran yang tidak kalah penting. Ia berada pada garis depan (front office line) yang bertanggungjawab menyelenggarakan proses pembelajaran. Di bawah kewenangannya, proses pembelajaran dan bagaimana kualitas dari proses tersebut terjadi. Disinilah sejatinya proses tranfer nilai (transfer of values) melalui proses imitasi, pewarisan budaya, hingga proses pembentukan pengetahuan dan keterampilan terjadi dengan memadai ataukah tidak memadai. Oleh karenanya, pemahaman pengelola pendidikan terhadap tujuan dan fungsi pendidikan akan sangat menentukan kualitas lembaga pendidikan yang dikelolanya. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 2
  3. 3. Era desentralisasi dan otonomi daerah telah membawa implikasi besar terhadap penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan. Kewenangan penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah (kecuali madrasah) berdasarkan PP No. 38 tahun 2007 didelegasikan kewenangan penyelenggaraannya kepada pemerintah daerah kabupaten/kota. Hanya Sekolah Luar Biasa (SLB) dan sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang berada pada perbatasan kabupaten/kota berada dalam kewenangan pemerintah provinsi. Sementara itu, pemerintah pusat berperan dalam menetapkan standar penyelenggaraan pendidikan, yang meliputi : standar kompetensi lulusan (SKL), standar isi, standar penilaian, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar pembiayaan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, serta standar proses di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Penyelenggara pendidikan dasar dan menengah (Dikdasmen) di Kabupaten/kota dilaksanakan oleh dinas pendidikan, meski pada kenyataannya, dinas pengelola pendidikan ini diberi pula tanggung jawab mengelola urusan lain, seperti urusan pemuda, olah raga, kebudayaan, bahkan pariwisata. Oleh karenanya, dalam penyelenggaran pendidikan di tingkat messo, dibutuhkan pula birokrasi penyelenggara pendidikan yang kompeten. Penempatan personil, mulai dari pimpinan hingga pelaksana dan pengelola pendidikan di satuan-satuan pendidikan, harus benar-benar memperhatikan aspek kompetensi. Prinsip merit system dan the right man on the right place perlu secara konsisten diimplementasikan. Pimpinan dinas yang menyelenggarakan pendidikan di kabupaten/kota dan pimpinan satuan pendidikan harus memiliki jiwa kepemimpinan (leadership). Tead, Terry, Hoyt (dalam Kartono, 2003) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 3
  4. 4. diinginkan kelompok. Itu berarti bahwa dalam diri seorang pemimpin harus memiliki kelebihan dibandingkan pengikutnya, kelebihan yang utama adalah kemampuannya untuk mengarahkan agar pengikutnya tetap melaksanakan kegiatan sesuai dengan tujuan-tujuan organisasi. Dari sudut pandang penyelenggaraan pendidikan dewasa ini, kepemimpinan menjadi sangat penting dan cenderung menyisakan permasalahan, terutama bila dipandang dari 2 (dua) hal, pertama adanya kenyataan bahwa penggantian pemimpin (suksesi kepemimipinan) seringkali mengubah kinerja suatu unit, instansi atau organisasi; kedua, hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan menjadi salah satu faktor internal yang mempengaruhi keberhasilan organisasi, namun pada kenyataannya dipandang tidak penting. Sehingga yang terjadi adalah organisasi memiliki pemimpin/kepala namun gagal dalam menghadirkan leadership (Yukl, 1989). Hasil penelitian tersebut membuktikan adanya jargon “ganti pimpinan, ganti kebijakan”, bahkan sampai hal-hal teknis seperti ganti tata ruang kantor, ganti kursi, atau ganti warna dinding, bukan sistem yang bekerja. Dalam perspektif religi, Rasulullah Saw mengingatkan bahwa setiap orang adalah pemimpin, minimal pemimpin untuk dirinya sendiri, hal ini sebagaimana tertuang dalam sebuah hadits : Artinya: “Dari Ibnu Umar R.a ia berkata: bersabda Rasulullah saw “Setiap kalian adalah pemimpin, dan kalian akan ditanya tentang kepemimpinan kalian… al-hadits” (HR.Mutafaq `alaih). Namun, terkadang pemimpin dan terkadang manusia lupa tentang dia tidak tahu pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. peranan dia sebagai seorang bahwa kelak dia akan dimintai Adapula manusia yang ditakdirkan Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 4
  5. 5. menjadi seorang pemimpin tapi ia tidak tahu apa yang harus diperbuat sebagai seorang pemimpin. Disinilah diperlukan pengetahuan dan keilmuan tentang kepemimpinan, sehingga seseorang yang ditakdirkan menjadi pemimpin tidak gagap dan bingung dengan jabatannya sehingga dapat menunaikan amanahnya. Sekurang-kurangnya terdapat tiga masalah mendasar yang menandai kekurangan ini. Pertama, adanya krisis komitmen. Kebanyakan orang tidak merasa mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk memikirkan dan mencari pemecahan masalah kemaslahatan bersama, masalah harmoni dalam kehidupan dan masalah kemajuan dalam kebersamaan. Kedua, adanya krisis kredibilitas. Sangat sulit mencari pemimpin atau kader pemimpin yang mampu menegakkan kredibilitas tanggung jawab. Kredibilitas itu dapat diukur misalnya dengan kemampuan untuk menegakkan etika, memikul amanah, setia pada kesepakatan dan janji, bersikap teguh dalam pendirian, jujur dalam memikul tugas dan tanggung jawab yang dibebankan padanya, kuat iman dalam menolak godaan dan peluang untuk menyimpang. Ketiga, masalah kebangsaan dan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Saat ini tantangannya semakin kompleks dan rumit. Kepemimpinan sekarang tidak cukup lagi hanya mengandalkan pada bakat atau keturunan. Pemimpin zaman sekarang harus belajar, banyak membaca, dan memiliki pengetahuan mutakhir serta pemahaman mengenai berbagai soal yang menyangkut kepentingan orang-orang yang dipimpin. Selain itu, pemimpin harus memiliki kredibilitas dan integritas, mampu bertahan (survive) dalam berbagai macam kondisi yang cepat berubah, serta melanjutkan misi kepemimpinannya. Jika tidak memiliki kemampuan tersebut, pemimpin tersebut hanya akan menjadi karikatur dan tertawaan dalam kurun sejarah di kelak kemudian hari. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 5
  6. 6. Sementara itu, permasalahan lain dalam kepemimpinan adalah dalam proses pengambilan keputusan. Permasalahan yang muncul dalam pengambilan keputusan menjadi persoalan yang tidak mudah bagi seorang pemimpin. Persoalan ego, kepentingan, kondisi bawahan, materi keputusan menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi seorang pemimpin dalam mengambil keputusan. Pemimpin harus berani mengambil keputusan terhadap kebijakan tertentu sesuai dengan mekanisme dan ketentuan yang ada. Pengambilan keputusan pada dasarnya tidak dapat didelegasikan kepada pengikut atau pegawai di bawahnya. Sebab konsekuensi dari keputusan tetap berada di level pemimpin. Stoner (2003:205) memandang pengambilan keputusan sebagai proses pemilihan suatu arah tindakan sebagai cara untuk memecahkan sebuah masalah tertentu. Siagian (1993:24) mengartikan pengambilan keputusan sebagai usaha sadar untuk menentukan satu alternatif dari berbagai alternatif untuk memecahkan masalah. Beberapa peluang masalah dapat muncul dalam proses pengambilan keputusan ini disebabkan beberapa aspek, diantaranya: pertama, pembuat keputusan (pemimpin) merupakan manusia dengan kompleksitas karakteristiknya. Kedua, pembuat keputusan dalam organisasi pendidikan berhadapan dengan manusia, mengurusi urusan manusia, bukan berhubungan dengan mesin yang hanya berhubungan secara mekanis. Ketiga, pembuat keputusan dihadapkan pula dengan sistem nilai (values) yang hidup dalam organisasi tersebut serta dalam masyarakat. Walhasil proses pengambilan keputusan itu sejatinya bukanlah hal yang sederhana, melainkan hal yang komplek dan rumit. Disinilah kehadiran leadership itu diperlukan. Dalam makalah singkat ini, akan dibahas “Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan Kajian dari Presfektif Agama, Filosofis, Psikologis,dan Sosiologis”. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 6
  7. 7. B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, dapat ditetapkan perumusan masalah sebagai berikut ini. 1. Bagaimanakah pengambilan keputusan dalam kepemimpinan pendidikan ditinjau dari perspektif agama? 2. Bagaimanakah pengambilan keputusan dalam kepemimpinan pendidikan ditinjau dari perspektif filsafat? 3. Bagaimanakah pengambilan keputusan dalam kepemimpinan pendidikan ditinjau dalam perspektif psikologis? 4. Bagaimanakah pengambilan keputusan dalam kepemimpinan pendidikan ditinjau dalam perspektif sosiologi? C. Tujuan Secara umum makalah ini bertujuan untuk 1. mengetahui pengambilan keputusan dalam kepemimpinan pendidikan ditinjau dari perspektif agama. 2. mengetahui pengambilan keputusan dalam kepemimpinan pendidikan ditinjau dari perspektif filsafat . 3. mengetahui pengambilan keputusan dalam kepemimpinan pendidikan ditinjau dalam perspektif psikologis. 4. mengetahui pengambilan keputusan dalam kepemimpinan pendidikan ditinjau dalam perspektif sosiologi. Adapun secara khusus, makalah ini bertujuan untuk 1. mengetahui penerapan pengambilan keputusan dalam lingkup messo dan mikro pendidikan menurut perspektif agama, filosofis, psikologis dan sosiologis. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 7
  8. 8. 2. memenuhi salah satu tugas perkuliahan landasan agama, filosofi, psikologi dan sosiologi dari kepemimpinan pendidikan. 5. Manfaat Secara teoritis makalah ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu manajemen khususnya menyangkut kepemimpinan dan pengambilan keputusan. Selain itu, makalah ini menelaah berbagai macam teori pengambilan keputusan dalam kepemimpinan ditinjau dari perspektif agama, filosofis, psikologis dan sosiologi. Adapun secara praktis, makalah ini bermanfaat bagi pembacanya dalam meningkatkan kualitas kepemimpinan terutama dalam hal pengambilan keputusan sebagai pengelola maupun sebagai penyelenggara organisasi pendidikan. 6. Metode Penulisan Makalah ini disusun dengan pendekatan deduktif yakni melalui metode studi kepustakaan, baik pada buku-buku, artikel jurnal, atau pada online yang membahas mengenai kepemimpinan, pengambilan keputusan, serta landasan-landasan dalam pengambilan keputusan. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 8
  9. 9. BAB II PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN A. Kepemimpinan Pendidikan Secara berturut-turut pada bagian ini akan dibahas berbagai macam teori dan pendapat berkenaan dengan pengertian kepemimpinan, teori kepemimpinan, tipe kepemimpinan, kepemimpinan partisipatif dari aspek agama, filosofis, psikologis dan sosiologis. 1. Pengertian Kepemimpinan Pengertian kepemimpinan sangat beragam. Setiap ahli mengemukakan pengertiannya berdasarkan cara pandangnya masing-masing. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Koontz, O’Donnel & Weihrich (1990:147) yang mendefinisikan kepemimpinan sebagai pengaruh, seni atau proses mempengaruhi orang-orang sehingga mereka akan berusaha mencapai tujuan kelompok dengan kemauan dan antusias. James. M Black dalam bukunya Management, A guide to Executive Command menulis bahwa “Leadership is capatibilty of persuading others to work together undertheir direction as a team to accomplish certain designated objectives” (kepemimpinan adalah kemampuan meyakinkan orang lain supaya bekerja sama di bawah pimpinannya sebagai suatu tim untuk mencapai atau melakukan suatu tujuan tertentu). Demikian pula, Kartono (2005:187) mendefinisikan kepemimpinan sebagai satu bentuk dominasi yang didasari oleh kapabilitas/kemampuan pribadi, yaitu mampu mendorong dan mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu guna mencapai tujuan bersama. Sedangkan Stoner, Freeman dan Gilbert (1996) sebagaimana dikemukakan oleh Kambey (2003:125) mendefinisikan kepemimpinan manajerial sebagai proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan tugas dari anggota Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 9
  10. 10. kelompok. Sementara itu, Rost (dalam Safira, 2004:3) mendefinisikan kepemimpinan sebagai sebuah hubungan yang saling mempengaruhi di antara pemimpin dan pengikut atau bawahan yang menginginkan perubahan nyata yang mencerminkan tujuan bersamanya. Sedangkan Robbins (2003: 432) mendefinisikan kepemimpinan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi kelompok menuju pencapaian sasaran. Selanjutnya Gibson, Ivancevich dan Donnely (1991:334) mendefinisikan kepemimpinan sebagai suatu upaya penggunaan jenis pengaruh bukan paksaan untuk memotivasi orang-orang mencapai tujuan tertentu. Adapun Tead, Terry, Hoyt (dalam Kartono, 2003) berpendapat bahwa kepemimpinan adalah kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok. Menurut Young (dalam Kartono, 2003) kepemimpinan adalah bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus. Moejiono (2002) memandang bahwa leadership sebenarnya sebagai akibat pengaruh satu arah, karena pemimpin mungkin memiliki kualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dengan pengikutnya. Para ahli teori sukarela (compliance induction theorists) cenderung memandang leadership sebagai pemaksaan atau pendesakan pengaruh secara tidak langsung dan sebagai sarana untuk membentuk kelompok sesuai dengan keinginan pemimpin. Abdulrachman (2004:16) berpendapat bahwa: "tidak semua pemimpin akan dapat mempengaruhi dan menggerakkan orang lain dalam rangka mencapai suatu tujuan secara efektif dan efisien, sebab orang lain baru dapat dipengaruhi/digerakkan jika: (1) Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 10
  11. 11. Ada kemampuan pada pemimpin untuk menggunakan teknik kepemimpinan; (2) Ada sifat-sifat khusus pada pemimpin yaitu sifat-sifat kepemimpinan yang mempengaruhi jiwa orang-orang sehingga kagum dan tertarik pada pemimpin tersebut". Dengan demikian, untuk mampu mempengaruhi atau menggerakkan orang lain agar dengan penuh kesadaran dan senang hati bersedia melakukan dan mengikuti kehendak pemimpin, maka pemimpin harus memiliki kemampuan dan memiliki sifat-sifat khusus. Sedangkan sifat-sifat yang harus dimiliki pemimpin menurut Harold Koontz dan Cyrill O’Donnell (1990:21), yaitu: a. Memiliki kecerdasan melebihi orang-orang yang dipimpinnya. b. Mempunyai perhatian terhadap kepentingan yang menyeluruh. c. Mantap dalam kelancaran berbicara. d. Mantap berpikir dan emosi. e. Mempunyai dorongan yang kuat dari dalam untuk memimpin f. Memahami kepentingan tentang kerjasama. Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh seseorang untuk mempengaruhi, menggerakkan dan mengarahkan orang lain agar dengan penuh pengertian, kesadaran dan senang hati bersedia mengikuti kehendaknya tersebut untuk mewujudkan suatu tujuan bersama. 2. Teori-Teori tentang Kepemimpinan Secara singkat dapat dikemukakan bahwa teori tentang kepemimpinan dapat dikelompokkan dalam tiga pendekatan, yaitu: pendekatan sifat, pendekatan perilaku, dan pendekatan situasional (Lunenburg & Ornstein,1991:129-153, Handoko, 2001:295; Gomes-Mejia & Balkin, 2002: 290-312 2002, Wirjana & Supardo, 2005:13). Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 11
  12. 12. a. Pendekatan Sifat. Teori pendekatan sifat memusatkan perhatian pada diri para pemimpin itu sendiri, oleh karena itu teori ini lebih dikenal sebagai teori pembawaan. Dalam teori ini disebutkan bahwa pemimpin memiliki ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang menyebabkan ia dapat memimpin para pengikutnya. Sifat-sifat tertentu itu menurut Ghiseli (1971) seperti yang dikutip oleh Handoko (2001:297) antara lain: (1) kemampuan sebagai sebagai pengawas, (2) kebutuhan akan prestasi dalam pekerjaan, (3) kecerdasan, (4) ketegasan, (5) kepercayaan diri, (6) inisiatif. Sedangkan Davis menyimpulkan 4 (empat) ciri/sifat utama yang mempunyai pengaruh terhadap kesuksesan kepemimpinan organisasi, yaitu : (1) kecerdasan, (2) kedewasaan dan keluasan hubungan sosial, (3) motivasi diri dan dorongan berprestasi, dan (4) sikap-sikap hubungan manusiawi. b. Pendekatan Perilaku. Pendekatan perilaku mencoba mengoreksi pendekatan sifat. Menurut pendekatan perilaku, pendekatan sifat tidak dapat menjelaskan apa yang menyebabkan kepemimpinan itu efektif. Oleh karenanya, pendekatan perilaku tidak lagi berdasarkan pada sifat seorang pemimpin melainkan mencoba menentukan apa yang dilakukan oleh pemimpin efektif, seperti bagaimana mereka mendelegasikan tugas, bagaimana mereka berkomunikasi dan memotivasi bawahan, bagaimana mereka menjalankan tugas-tugas dan sebagainya. Aspek perilaku kepemimpinan menekankan fungsi-fungsi yang dilakukan pemimpin dalam kelompoknya. Agar kelompok berjalan efektif, seseorang harus melaksanakan dua fungsi utama, yaitu (1) fungsi-fungsi yang berhubungan dengan tugas (task-related) atau pemecahan masalah, dan (2) fungsi-fungsi pemeliharaan kelompok (Group-maintenance) atau sosial. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 12
  13. 13. Fungsi pertama menyangkut pemberian saran penyelesaian, informasi, dan pendapat. Fungsi kedua mencakup segala sesuatu yang dapat membantu kelompok berjalan lebih lancar, memperoleh persetujuan kelompok lain, penengahan perbedaan pendapat dan sebagainya. Selain itu, perilaku kepemimpinan juga dapat dilihat dari gaya pemimpin dalam hubungannya dengan bawahan. Ada dua orientasi gaya kepemimpinan yakni: (1) gaya orientasi tugas (task oriented); (2) gaya orientasi karyawan (employe-oriented). Seorang pemimpin dengan gaya kepemimpinan berorientasi tugas akan berusaha mendorong bawahannya melaksanakan tugas yang sesuai dengan keinginannya. Jadi pelaksanaan pekerjaan lebih penting dari pengembangan dan pertumbuhan karyawan. Sedangkan pemimpin yang berorientasi pada karyawan lebih melihat karyawan secara manusiawi, sehingga mereka akan selalu memberikan motivasi, melibatkan karyawan dalam pengambilan keputusan, menciptakan persahabatan dan saling menghormati. c. Pendekatan Situasional. Banyak penelitian mengindikasikan bahwa tidak ada satupun gaya kepemimpinan yang tepat bagi setiap pemimpin untuk berbagai kondisi. Oleh karenanya, lahirlah pendekatan situasional. Pendekatan ini didasarkan pada keyakinan bahwa para pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya, terutama pada aktifitas pengambilan keputusan, dipengaruhi oleh situasi dan kondisi tertentu. Pendekatan situasional menekankan bahwa gaya kepemimpinan sangat bergantung pada faktor-faktor seperti situasi, karyawan, tugas, organisasi dan variabelvariabel lingkungan lainnya. Stogdill et.al, (1956) sebagaimana dikemukakan oleh Koontz, O’Donnel & Wehirich (1990:158-259) mengatakan bahwa faktor-faktor situasi yang Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 13
  14. 14. mempengaruhi seorang pemimpin adalah pekerjaan yang sedang ditangani, lingkungan organisasi, dan karakteristik orang yang mereka hadapi. Sedangkan Fiedler (1974) mengemukakan ada tiga dimensi utama dalam situasi kepemimpinan yang mempengaruhi gaya pemimpin yang efektif yakni (1) kekuasaan posisi, (2) struktur tugas dan (3) hubungan pemimpin-anggota. Reksohadiprodjo & Handoko (2001:289) mencatat bahwa penemuan Fiedler menunjukkan bahwa dalam situasi yang sangat menguntungkan atau sangat tidak menguntungkan, tipe pemimpin yang beorientasi pada tugas atau pekerjaan adalah sangat efektif. Akan tetapi bila situasi yang menguntungkan atau tidak menguntungkan hanya tipe pemimpin hubungan manusiawi akan sangat efektif. Teori lain tentang kepemimpinan situasional adalah Teori Hersey-Blanchard. Menurut Siagian (2003:139) pada intinya teori ini menekankan bahwa efektivitas kepemimpinan seseorang tergantung pada dua hal, yaitu pemilihan gaya kepemimpinan yang tepat untuk menghadapi situasi tertentu dan tingkat kematangan (kedewasaan) yang dipimpin. Dua dimensi kepemimpinan yang digunakan dalam teori ini ialah perilaku seorang pimpinan yang berkaitan dengan tugas kepemimpinannya dan hubungan atasbawahan atau patron – client. Tergantung pada orientasi tugas kepemimpinan dan sifat hubungan atasan dan bawahan yang digunakan, gaya kepemimpinan yang timbul dapat mengambil empat bentuk, yaitu : memberitahukan, menjual, mengajak bawahan berperan serta dan pendelegasian. 3. Gaya Kepemimpinan Perilaku pemimpin dalam memimpin organisasi disebut juga gaya kepemimpinan (Style of Leadership ). Setiap pemimpin memiliki gayanya sendiri dalam memimpin. Oleh karenanya banyak penelitian tentang gaya kepemimpinan seseorang. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 14
  15. 15. Berbagai gaya kepemimpinan telah diteliti dan ditemukan bahwa setiap pemimpin telah diteliti dan ditemukan bahwa setiap pemimpin bisa mempunyai gaya kepemimpinan yang berbeda antara yang satu dengan yang lain, dan tidak mesti suatu gaya kepemimpinan yang satu lebih baik atau lebih jelek daripada gaya kepemimpinan yang lainya. Studi kepemimpinan yang dilakukan oleh Universitas Ohio dan Universitas Michigan maupun yang dilakukan oleh Tannenbaum dan Schmidt seperti dikutip oleh Wahjosumidjo (2001:40) semuanya berusaha mencari gaya kepemimpinan yang efektif. Berkaitan dengan masalah gaya kepemimpinan, Ngalim Purwanto (1992, 48-50) membagi tiga gaya kepemimpinan yang pokok yaitu gaya kepemimpinan Otokratis, Demokratis, Laissez faire. a. Gaya Kepemimpinan Otokratis Gaya kepemimpinan Otokratis ini meletakkan seorang pemimpin sebagai sumber kebijakan. Pemimpin merupakan segala-galanya. Bawahan dipandang sebagai orang yang melaksanakan perintah. Oleh karena itu bawahan-bawahan hanya menerima instruksi saja dan tidak diperkenankan membantah maupun mengeluarkan ide atau pendapat. Dalam posisi demikian anggota atau bawahan tidak terlibat dalam soal keorganisasian. Pada tipe kepemimpinan ini segala sesuatunya ditentukan oleh pemimpin sehingga keberhasilan organisasi terletak pada pemimpin. Pada gaya kepemimpinan ini terjadi dominasi yang berlebihan mudah menghidupkan oposisi atau menimbulkan sifat apatis, atau sifat-sifat pada anggota-anggota kelompok terhadap pemimpinnya. b. Gaya Kepemimpinan Demokratis Gaya kepemimpinan ini memberikan tanggung jawab dan wewenang kepada semua pihak, sehingga mereka ikut terlibat aktif dalam organisasi. Anggota diberi kesempatan untuk memberikan usul serta saran dan kritik demi kemajuan organisasi. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 15
  16. 16. Gaya kepemimpinan ini memandang bawahan sebagai bagian dari keseluruhan organisasinya, sehingga bawahan mendapat tempat sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Pemimpin mempunyai tanggung jawab dan tugas untuk mengarahkan, mengontrol dan mengevaluasi serta mengkoordinasi. Kepemimpinan demokratis senantiasa melibatkan partisipasi bawahan atau pengikutnya untuk mengambil keputusan. Oleh karena itu, gaya kepemimpinan demokratis kerap disebut dengan gaya kepemimpinan partisipatif. Pemimpin tipe seperti ini kerap menjalankan kepemimpinan dengan konsultasi. Ia tidak mendelegasikan wewenangnya untuk membuat keputusan akhir dan untuk memberikan pengarahan tertentu kepada bawahanya. Tetapi ia mencari berbagai pendapat dan pemikiran dari pada bawahanya mengenai keputusan yang akan diambil. Ia akan secara serius mendengarkan dan menilai pikiran-pikiran para bawahanya dan menerima sumbangan pikiran mereka . Sejauh pemikiran tersebut bisa dipraktekkan . Pemimpin dengan gaya partisipatif akan mendorong kemampuan mengambil keputusan dari bawahannya sehingga pikiran-pikiran mereka akan selalu meningkat dan makin matang. Para bawahannya juga didorong agar meningkatkan kemampuan mengendalikan diri dan menerima tanggung jawab yang lebih besar. Pemimpin akan lebih “supportive” dalam kontak dengan para bawahan dan bukan menjadi bersikap diktator. Meskipun tentu saja, wewenang terakhir dalam pengambilan keputusan terletak pada pimpinan. Pemimpin yang demokratis selalu berusaha menstimulasi anggota-angotanya agar bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan bersama. Dalam tindakan dan usaha-usahanya, ia selalu berpangkal pada kepentingaan dan kebutuhan kelompoknya, dan memperimbangkan kesanggupan serta kemampuan kelompoknya. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 16
  17. 17. c. Gaya Kepemimpinan Laissez faire Pada prinsipnya, gaya kepemimpinan ini memberikan kebebasan mutlak kepada para bawahan. Semua keputusan dalam pelaksanaan tugas dan pekerjaan diserahkan sepenuhnya kepada bawahan. Dalam hal ini pemimpin bersifat pasif dan tidak memberikan contoh-contoh kepemimpinan (Purwanto,1992:48) Pemimpin mendelegasikan wewenang untuk mengambil keputusan kepada para bawahannya dengan agak lengkap. Pada prinsipnya pimpinan akan mengatakan “inilah pekerjaan yang harus saudara lakukan. Saya tidak peduli bagaimana kalau mengerjakannya, asalkan pekerjaan tersebut bisa diselesaikan dengan baik “. Disini pimpinan menyerahkan tanggung jawab atas pelaksanaan pekerjaan tersebut kepada para bawahannya. Dalam konteks pimpinan menginginkan agar para bawahannya bisa mengendalikan diri mereka sendiri dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut. Pimpinan tidak akan membuat peraturan-peraturan tentang pelaksanaan pekerjaan tersebut dan hanya para bawahan dituntut untuk memiliki kemampuan/keahlian yang tinggi. Dari beberapa gaya kepemimpinan tersebut akan mempunyai tingkat efektivitas yang berbeda-beda, tergantung pada faktor yang mempengaruhi perilaku pemimpin. Seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya sangat dipengaruhi oleh faktor, baik yang berasal dari dalam diri pribadinya maupun faktor yang berasal dari luar individu pemimpin tersebut. Sifat dasar kepemimpinan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah kepemimpinan yang demokratis atau kepemimpinan partisipatif. Pemimpin demokratis akan mampu mengambil keputusan sendiri dalam situasi tertentu. Jangan ditafsirkan bahwa kepemimpinan demokratis selalu meminta pertimbangan bawahan untuk semua hal. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 17
  18. 18. 4. Kepemimpinan Partisipatif Kalau dicermati kepemimpinan partisipatif muncul dari beberapa teori kepemimpinan maupun dari berbagai studi dan penelitian tentang kepemimpinan. Di antaranya adalah teori Path-Goal (jalan-tujuan). Teori ini menganalisa pengaruh (dampak) kepemimpinan (terutama perilaku pemimpin) terhadap motivasi bawahan, kepuasan, dan pelaksanaan kerja. Teori path-goal memasukkan empat tipe atau gaya pokok perilaku pemimpin yaitu kepemimpinan direktif, kepemimpinan suportif, kepemimpinan partisipatif, dan kepemimpinan orientasi-prestasi (Lunenburg & Ornstein, 1991: 143-144; Reksohadiprojo dan Handoko, 2001:289-290). Menurut teori ini kepemimpinan partisipatif adalah pemimpin meminta dan menggunakan saran-saran bawahan, tetapi masih membuat keputusan. Kebanyakan studi dalam organisasi menyimpulkan bahwa dalam tugas-tugas yang tidak rutin karyawan lebih puas di bawah pimpinan yang partisipatif daripada pemimpin yang non partisipatif. Kepemimpinan partisipatif menyangkut usaha-usaha oleh seorang manajer untuk mendorong dan memudahkan partisipasi orang lain dalam pengambilan keputusan yang jika tidak akan dibuat tersendiri oleh manajer tersebut (Yukl, 1998:132). Kepemimpinan ini mencakup aspek-aspek kekuasaan seperti bersama-sama menanggung kekuasaan, pemberian kekuasaan dan proses-proses mempengaruhi yang timbal-balik. Sedangkan yang menyangkut aspek-aspek perilaku kepemimpinan seperti prosedur-prosedur spesifik yang digunakan untuk berkonsultasi dengan orang lain untuk memperoleh gagasan dan saran-saran, serta perilaku spesifik yang digunakan untuk proses pengambilan keputusan dan pendelegasian kekuasaan. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 18
  19. 19. B. Landasan Agama, Filosofis, Psikologis, dan Sosiologis 1. Landasan Agama Secara teologis, agama Islam telah menggariskan bahwa apabila pemimpin akan mengambil keputusan diusahakan sejauh mungkin dengan lemah lembut, bersiap untuk memaafkan, bermusyawarah dan apabila keputusan telah diambil maka terhadap keputusan itu harus patuh sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Imran ayat 159 di bawah ini. "Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah- lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkal-lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." (QS Ali-Imran: 159) Musyawarah merupakan jalan yang baik untuk menyelesaikan persoalanpersoalan yang pelik, baik persoalan keluarga, kelompok, bangsa atau persoalan apapun yang perlu segera dicarikan jalan keluar sebagai pemecahannya. Dengan musyawarah maka orang-orang yang ikut bermusyawarah merasa dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Maka musyawarah sesungguhnya bentuk partisipatif anggota organisasi dalam pengambilan keputusan. Islam memandang musyawarah sebagai salah satu hal yang amat penting bagi kehidupan insani, bukan saja dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melainkan Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 19
  20. 20. dalam kehidupan berumah tangga dan lain-lainnya. Ini terbukti dari perhatian Al-Qur’an dan Hadist yang memerintahkan atau menganjurkan umat pemeluknya supaya bermusyawarah dalam memecah berbagai persoalan yang mereka hadapi. Dalam hal menyelesaikan urusan rumah tangga, Islam memberikan petunjuk senagaimana tersurat dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 233. Artinya: “Apabila keduanya (suami istri) ingin menyapih anak mereka (sebelum dua tahun) atas dasar kerelaan dan permusyawarahan antara mereka. Maka tidak ada dosa atas keduanya”. (QS. Al-Baqarah: 233) Sesungguhnya makna ayat ini membicarakan bagaimana seharusnya relasi suamiistri saat mengambil keputusan yang berkaitan dengan rumah tangga dan anak-anak dilakukan. Di dalam menyapih anak dari menyusu ibunya kedua orang tua harus mengadakan musyawarah. Menyapih anak itu tidak boleh dilakukan tanpa ada musyawarah. Seandainya salah dari keduanya tidak menyetujui, maka orang tua itu akan berdosa karena ini menyangkut dengan kemaslahan anak tersebut. Jadi pada ayat di atas, al-Qur’an memberi petunjuk agar setiap persoalan rumah tangga termasuk persoalan rumah tangga lainnya dimusyawarahkan antara suami istri. Musyawarah itu di pandang penting, antara lain karena musyawarah merupakan salah satu alat yang mampu mempersatukan sekelompok orang atau umat di samping sebagai salah satu sarana untuk menghimpun atau mencari pendapat yang lebih dan baik. Adapun bagaimana sistem permusyawaratan itu harus dilakukan, baik Al-Qur’an maupun Hadis tidak memberikan penjelasan secara khusus. Oleh karena itu sistem permusyawaratan yang akan dipakai sepenuhnya diserahkan kepada umat sesuai dengan cara yang mereka anggap baik. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 20
  21. 21. Para ulama berbeda pendapat mengenai obyek yang menjadi kajian dari permusyawaratan itu sendiri, adakah permusyawaratan itu hanya dalam soal-soal keduniawian dan tidak tentang masalah-masalah keagamaan? Sebagian dari mereka berpendapat bahwa musyawarah yang dianjurkan atau diperintahkan dalam Islam itu khusus dalam masalah-masalah yang diperbolehkan untuk dimusyawarahkan bukan persoalan-persoalan yang sudah jelas hukumnya. Dalam sejarah Rasulullah, beliau Saw tidak pernah memberikan contoh memusyawarahkan status hukum khamar yang sudah jelas haram. Tetapi Rasulullah Saw memberikan contoh memusyawarahkan teknis penyergapan musuh dalam perang Badar. Dengan kata lain, untuk persoalan-persoalan pokok (ushul) yang sudah jelas hukum halal dan haramnya, umat Islam tidak bisa melakukan musyawarah untuk mengubah status hukum tersebut, misalnya dari status hukum halal berubah menjadi halal, dan sebalik. Namun musyawarah dilakukan untuk persoalan-persoalan dalam domain teknis atau untuk mencari pendapat dan saran yang kuat. Oleh karenanya, dalam konteks ini, para sahabat Rasulullah Saw sebelum mereka mengeluarkan pendapat kepada beliau Saw selalu bertanya dulu apakah pendapat Rasulullah itu merupakan wahyu atau pendapat pribadi beliau yang masih memungkinkan untuk diberi saran. Bila pendapat tersebut adalah wahyu, para shahabat melakukan sami’na wa atha’na. Namun, bila pendapat tersebut bukan wahyu, para shahabat banyak memberikan pendapat kepada Nabi Muhammad Saw. 2. Landasan Filosofis Landasan filosifis mengandung makna bahwa dalam melakukan suatu pekerjaan atau tindasan didasari oleh cara berpikir yang mendalam hingga diperhitungkan benarbenar sisi negatif dan positifnya. Bila dikaitkan dengan pengambilan keputusan, maka Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 21
  22. 22. pemimpin dalam mengambil keputusan harus menggunakan cara berpikir yang benar, hingga terhindar dari keputusan-keputusan yang keliru. Secara etimologi, kata filsafat berasal dari bahasa Yunani “Philosophia” yang terdiri dari dua kata, yaitu philos/philein yang berarti suka, cinta, mencintai dan shophia yang berarti kebijaksanaan, hikmah, atau kependaian ilmu. Philosophia berarti “cinta kepada kebijaksanaan” atau “ cinta kepada ilmu”. Dalam bahasa Belanda, filsafat berasal dari kata “wijsbegeerte” yang berarti keingingan untuk pandai atau berilmu. Berfilsafat berarti berfikir secara mendalam (radikal) atau dengan sungguh-sungguh sampai keakarakarnya terhadap suatu kebenaran. Dengan kata lain, berfilsafat berarti mencari kebenaran atas sesuatu. Mengingat filsafat telah lama lahir dan menjadi landasan bagi semua ilmu yang ada, maka ilmu pendidikan pun dalam perkembangan sejarahnya diwarnai oleh berbagai aliran filsafat yang satu sama lain saling melengkapi atau terkadang saling bertentangan. Setidaknya ada 9 (sembilan) aliran filsafat yang berpengaruh terhadap ilmu pendidikan, yakni filsafat progresivisme, esensiaisme, idealisme, perenialisme, progresivisme,rekontruksionisme, realisme, materialisme, dan eksistensialisme. a. Aliran Filsafat pendidikan Progresivisme Aliran progresivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progesivisme dalam sebuah realita kehidupan, agar manusia bisa survive menghadapi semua tantangan hidup. Progresivisme kerap disebut sebagai instrumentalisme, eksperimentalisme, dan enviomentalisme. instrumentalisme, karena aliran ini beranggapan bahwa kemampuan intelegensi manusia sebagai alat untuk hidup, untuk kesejahteraan dan untuk mengembangkan kepribadiaan manusia. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 22
  23. 23. eksperimentalisme, karena aliran ini menyadari dan mempraktikkan asas eksperimen untuk menguji kebenaran suatu teori. environmentalisme, karena aliran ini menganggap lingkungan hidup itu mempengaruhi pembinaan kepribadiaan. Adapun tokoh-tokoh aliran progresivisme ini, antara lain, adalah William James, John Dewey, Hans Vaihinger, Ferdinant Schiller dan Georges Santayana. Aliran progresivisme telah memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan saat ini. Aliran ini telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik. Anak didik diberikan kebaikan baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain. Oleh karena itu, filsafat progesivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. John Dewey memandang bahwa pendidikan sebagai proses dan sosialisasi. Maksudnya sebagai proses pertumbuhan anak didik dapat mengambil kejadian-kejadian dari pengalaman lingkungan sekitarnya. Maka dari itu, dinding pemisah antara sekolah dan masyarakat perlu dihapuskan, sebab belajar yang baik tidak cukup di sekolah saja. Dengan demikian, sekolah yang ideal adalah sekolah yang isi pendidikannya berintegrasi dengan lingkungan sekitar, karena sekolah adalah bagian dari masyarakat. Oleh karenanya, sekolah harus dapat mengupayakan pelestarian karakteristik atau kekhasan lingkungan sekolah sekitar atau daerah di mana sekolah itu berada. Untuk dapat melestarikan usaha ini, sekolah harus menyajikan program pendidikan yang dapat memberikan wawasan kepada anak didik tentang apa yang menjadi karakteristik atau kekhususan daerah itu. Fisafat progresivisme menghendaki sisi pendidikan dengan bentuk belajar “sekolah sambil berbuat” atau learning by doing. Dengan kata lain, akal dan kecerdasan anak didik harus dikembangkan dengan baik. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 23
  24. 24. Perlu diketahui pula bahwa sekolah tidak hanya berfungsi sebagai pemindahan pengetahuan (transfer of knowledge) melainkan juga berfungsi sebagai pemindahan nilainilai (transfer of value) sehingga anak menjadi terampil dan berintelektual baik secara fisik maupun psikis. Untuk itulah sekat antara sekolah dengan masyarakat harus dihilangkan. b. Aliran Filsafat pendidikan Esensialisme Aliran esensialisme merupakan aliran pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman Renaisance dengan cirri-cirinya yang berbeda dengan progesivisme. Dasar pijakan aliran ini lebih fleksibel dan terbuka untuk perubahan, toleran, dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Esensiliasme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama, yang meberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. Esensialisme, sebagai filsafat hidup, memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitikberatkan pada Aku. Menurut esensialisme, pada tarap permulaan seseorang belajar memahami akunya sendiri, kemudian ke luar untuk memahami dunia objektif. Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos. Menurut Immanuel Kant, segala pengetahuan yang dicapai manusia melalui indera memerlukan unsur apriori, yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu. Bila orang berhadapan dengan benda-benda, bukan berarti semua itu sudah mempunayi bentuk, ruang, dan ikatan waktu. Bentuk, ruang , dan waktu sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengalaman atu pengamatan. Jadi, apriori yang terarah bukanlah budi pada benda, tetapi benda-benda itu yang terarah pada budi. Budi membentuk dan mengatur dalam ruang dan waktu. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 24
  25. 25. Dengan mengambil landasan pikir tersebut, belajar dapat didefinisikan sebagai substansi spiritual yang membina dan menciptakan diri sendiri. Roose L. finney, seorang ahli sosiologi dan filosof, menerangkan tentang hakikat sosial dari hidup mental. Dikatakan bahwa mental adalah keadaan ruhani yang pasif, hal ini berarti bahwa manusia pada umumnya menerima apa saja yang telah ditentukan dan diatur oleh alam sosial. Jadi, belajar adalah menerima dan mengenal secara sungguh-sungguh nilai-nilai sosial angkatan baru yang timbul untuk ditambah, dikurangi dan diteruskan pada angkatan berikutnya. c. Aliran Filsafat Pendidikan Perenialisme Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan sekarang. Perenialisme memberikan sumbangan yang berpengaruh baik teori maupun praktik bagi kebudayaan dan pendidikan zaman sekarang. Dari pendapat ini diketahui bahwa perenialisme merupakan hasil pemikiran yang memberikan kemungkinan bagi seseorang untuk bersikap tegas dan lurus. Karena itulah, perenialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan arah arah tujuan yang jelas merupakan tugas yang utama dari filsafat, khususnya filsafat pendidikan. Menurut perenialisme, ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi, karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif. Jadi, dengan berpikir maka kebenaran itu akan dapat dihasilkan. Penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama adalah modal bagi seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. Dengan pengetahuan, bahan penerangan yang cukup, orang akan mampu mengenal dan memahami faktor-faktor dan problema yang perlu diselesaikan dan berusaha mengadakan penyelesaian masalahnya. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 25
  26. 26. Diharapkan anak didik mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental. Karya-karya ini merupakan buah pikiran besar pada masa lampau. Berbagai buah pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat menonjol seperti bahasa, sastra, sejarah, filsafat, politik, ekonomi, matematika, ilmu pengetahuan alam, dan lain-lainnya, yang telah banyak memberikan sumbangan kepada perkembangan zaman dulu. Sekolah, sebagai tempat utama dalam pendidikan, mempersiapkan anak didik ke arah kematangan akal dengan memberikan pengetahuan. Sedangkan tugas utama guru adalah memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada anak didik. Dengan kata lain, keberhasilan anak dalam nidang akalnya sangat tergantung kepada guru, dalam arti orang yang telah mendidik dan mengajarkan. d. Aliran Filsafat pendidikan Rekonstruksionisme Kata Rekonstruksionisme bersal dari bahasa Inggris reconstruct, yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan, rekonstruksionisme merupakan suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Aliran rekonstruksionisme pada prinsipnya sepaham dengan aliran perenialisme, yaitu berawal dari krisis kebudayaan modern. Menurut Muhammad Noor Syam (1985: 340), kedua aliran tersebut memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempumyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran, kebingungan, dan kesimpangsiuran. Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia. Karenanya, pembinaan kembali daya intelektual dan spiritual yang sehat melalui pendidikan yang tepat akan membina kembali manusia dengan nilai dan norma yang benar pula demi generasi yang akan datang, Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 26
  27. 27. sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.Di samping itu, aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur dan diperintah oleh rakyat secara demokratis, bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Cita-cita demokrasi yang sesungguhnya tidak hanya teori, tetapi mesti diwujudkan menjadi kenyataan, sehingga mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit, keturunan, nasionalisme, agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan. e. Aliran Filsafat pendidikan Idealisme Tokoh aliran idealisme adalah Plato (427-374 SM), murid Socrates. Aliran idealisme merupakan suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa. Menurutnya, cita adalah gambaran asli yang semata-mata bersifat rohani dan jiwa terletak di antara gambaran asli (cita) dengan bayangan dunia yang ditangkap oleh panca indera. Pertemuan antara jiwa dan cita melahirkan suatu angan-angan yaitu dunia ide. Aliran ini memandang serta menganggap bahwa yang nyata hanyalah ide. Dalam hal ini, ide sendiri selalu tetap atau tidak mengalami perubahan serta penggeseran, yang mengalami gerak tidak dikategorikan ideal. Keberadaan ide tidak tampak dalam wujud lahiriah, tetapi gambaran yang asli hanya dapat dipotret oleh jiwa murni. Aliran idealisme kenyataannya sangat identik dengan alam dan lingkungan sehingga melahirkan dua macam realita. Pertama, yang tampak yaitu apa yang dialami oleh kita selaku makhluk hidup dalam lingkungan ini seperti ada yang datang dan pergi, ada yang hidup dan ada yang demikian seterusnya. Kedua, adalah realitas sejati, yang merupakan sifat yang kekal dan sempurna (ide), gagasan dan pikiran yang utuh di dalamnya terdapat nilai-nilai yang murni dan asli, kemudian kemutlakan dan kesejatian kedudukannya lebih tinggi dari yang tampak, karena idea merupakan wujud yang hakiki. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 27
  28. 28. f. Aliran Filsafat Pendidikan Realisme Aliran ini berpendapat bahwa dunia rohani dan dunia materi merupakan hakikat yang asli dan abadi. Kneller membagi realisme menjadi dua : 1) Realisme rasional, memandang bahwa dunia materi adalah nyata dan berada di luar pikiran yang mengamatinya, terdiri dari realisme klasik dan realisme religi. 2) Realisme natural ilmiah, memandang bahwa dunia yang kita amati bukan hasil kreasi akal manusia, melainkan dunia sebagaimana adanya, dan substansialitas,sebab akibat, serta aturan-aturan alam merupakan suatu penampakan dari dunia itu sendiri. Selain realisme rasional dan realisme natural ilmiah, ada pula pandangan lain mengenai realisme, yaitu neo-realisme dan realisme kritis. Neo-realisme adalah pandangan dari Frederick Breed mengenai filsafat pendidikan yang hendaknya harmoni dengan prinsip-prinsip demokrasi, yaitu menghormati hak-hak individu. Sedangkan realisme kritis didasarkan atas pemikiran Immanuel Kant yang mensintesiskan pandangan berbeda antara empirisme dan rasionalisme, skeptimisme dan absolutisme, serta eudaemonisme dengan prutanisme untuk filsafat yang kuat. g. Aliran Filsafat Pendidikan Behaviorisme Behaviorisme atau aliran perilaku merupakan filosoi dalam psikologi yang berdasar pada proporsi bahwa semua yang dilakukan manusia, termasuk tindakan, pikiran dan perasaan, dapat dianggap sebagai perilaku. h. Aliran Filsafat Pendidikan Pragmatisme Beberapa tokoh yang menganut filsafat ini adalah: Charles sandre Peirce, wiliam James, John Dewey, Heracleitos. Abad ke-19 menghasilkan tokoh-tokoh pemikir, diantaranya ialah Karl Marx (1818-1883) di kontinen Eropa dan William James (18421910) di kontinen Amerika. Kedua pemikir itu mengklaim telah menemukan kebenaran. Marx, yang terpengaruh positivisme, melahirkan sosialisme dan James, seorang relativis, Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 28
  29. 29. melahirkan pragmatisme. Baik sosialisme maupun pragmatisme dimaksudkan supaya kemanusiaan dapat menghadapi masalah besar, yaitu industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi. Arti umum dari pragmatisme ialah kegunaan, kepraktisan, getting things done. Menjadikan sesuatu dapat dikerjakan adalah kriteria bagi kebenaran. James berpendapat bahwa kebenaran itu tidak terletak di luar dirinya, tetapi manusialah yang menciptakan kebenaran. It is useful because it is true, it is true because it is useful. Karena kriteria kebenaran itulah, pragmatisme sering dikritik sebagai filsafat yang mendukung bisnis dan politik Amerika. i. Aliran Filsafat Pendidikan Eksistensialisme Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar. Eksistensialisme adalah salah satu aliran besar dalam filsafat, khususnya tradisi filsafat Barat. Eksistensialisme mempersoalkan keberadaan manusia, dan keberadaan itu dihadirkan lewat kebebasan. Pertanyaan utama yang berhubungan dengan eksistensialisme adalah melulu soal kebebasan. Membuat sebuah pilihan atas dasar keinginan sendiri, dan sadar akan tanggung jawabnya dimasa depan adalah inti dari eksistensialisme. Sebagai contoh, mau tidak mau kita akan terjun ke berbagai profesi seperti dokter, desainer, insinyur, pebisnis dan sebagainya, tetapi yang dipersoalkan oleh eksistensialisme adalah, apakah kita menjadi dokter atas keinginan orang tua, atau keinginan sendiri. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 29
  30. 30. 3. Landasan Psikologis Agar memperoleh pemahaman yang utuh, maka akan dibahas berbagai aliran dan bentuk dalam psikologi yang berhubungan dengan pendidikan. a. Aliran Psikologi Aliran psikolgi terbagi dalam 2 (dua) aliran besar, yakni aliran psikologi tingkahlaku dan aliran psikologi kognitif. 1) Aliran psikologi tingkah laku Aliran psikologi tingkah laku menekankan pada perilaku manusia sebagai objeknya. Aliran ini terdiri dari teori pengaitan, penguatan dan hirarki belajar. a) Teori Pengaitan. Teori pengaitan dipelopori oleh Edward L. Thorndike dengan percobaannya yang menggunakan beberapa jenis hewan., ia mengemukakan suatu teori belajar yang dikenal dengan teori “pengaitan” (connectionism). Teori tersebut menyatakan belajar pada hewan dan manusia pada dasrnya berlangsung menurut prinsip yang sam taitu, belajar merupakan peristiwa terbentuknya ikatan (asosiasi) antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R) yang diberikan atas stimulus tersebut (Orton, 1991:39; Resnick dan Ford, 1981:13). Selanjutnya Thorndike (dalam Orton, 1991:39-40; Resnick dan Ford, 1981:13;Hudojo,1991:15-16) mengemukakan bahwa, terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut. (1) Hukum Kesiapan (law of readiness), (2) Hukum Latihan (law of exercise), (3) hukum Akibat (law of effect). b) Teori Penguatan B.F. Skinner Skinner mengembangkan tori belajarnya juga dari hasil percobaan dengan menggunakan hewan. Dari percobaannya, Skinner menyimpulkan bahwa kita dapat Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 30
  31. 31. membentuk tingkah laku manusia melalui pengaturan kondisi lingkungan (operant conditioning) dan penguatan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua, yaitu penguatan positif dan penguatan negative. Penguatan positif sebagai stimulus, apabila penyajiannya mengiringi suatu tingkah laku siswa yang cenderung dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu, dalam hal ini berarti tingkah laku tersebut diperkuat. Sedangkan penguatan negatif adalah stimulus yang dihilangkan/dihapuskan Karena cenderung menguatkan tingkah laku. c) Teori Hirarki Belajar dari Robert M. Gagne Menurut Orton (1990:39), Gagne merupakan tokoh Behaviorism gaya baru (modern neobehaviourist). Dalam mengembangkan teorinya, Gagne memperhatikan objek-objek dalam mempelajari matematika yang terdiri dari objek langsung dan tidak langsung. Objek langsung adalah: fakta, keterampilan, konsep dan prinsip, sedangkan objek tak langsung adalah: transfer belajar, kemampuan menyelidiki, kemampuan memecahkan masalah, disiplin diri, dan bersikap positif terhadap matematika. Gagne berpandangan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku yang kegiatan belajarnya mengikuti suatu hirarki kemampuan yang dapat diobservasi dan diukur. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh Gagne dikenal dengan “ teori hirarki belajar” Gagne membagi belajar dalam delapan tipe secara berurtan, yaitu: belajar sinyal (isyarat), stimulus-respon, rangkaian gerak, rangkaian verbal, memperbedakan, pembentukan konsep, dan pemecahan masalah. Gagne berpendapat bahwa proses belajar pada setiap tipe belajar tersebut terjadi dalam empat tahap secara berurutan yaitu tahap: pemahaman, penguasaan, ingatan, dan pengungkapan kembali. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 31
  32. 32. Untuk menerapkan teori hirarki belajar Gagne ini pada pembelajaran matematika perlu diterjemahkan secara operasional yaitu: (1) untuk mengajarkan suatu topic matematika guru perlu: (a) memperhatikan kemampuan prasyarat yang diperlukan untuk mempelajari topic tersebut, (b) menyusun dan mendaftar langkah-langkah kegiatan belajar serta membedakan karakteristik belajar yang tersusun secara hirarkis yang dapat didemonstrasikan oleh peserta didik sehingga guru dapat mengamati dan mengukurnya. (2) guru dapat memilih tipe belajar tertentu yang dianggap sesuai untuk belajar topic matematika yang akan diajarkan. Perkembangan kemampuan belajar menurut Gagne (McNeil,1977) Multideskriminasi, yaitu belajar membedakan stimuli yang mirip, misalnya huruf b dan d. Belajar konsep, yaitu belajar membuat respon sederhana, seperti huruf hidup, hurup mati, dsb. Belajar Prinsip, yaitu mempelajari prinsip-prinsip atau aturan-aturan konsep. 2) Aliran psikologi kognitif a) Teori Perkembangan Intelektual Jean Piaget Piaget adalah ahli psikologi Swiss yang latar belakang pendidikan formalnya adalah falsafah dan biologi. Piaget mengemukakan Teori Perkembangan Intelektual (kognitif) Menurut Piaget ada empat tingkat perkembangan Intelektual. (Mulyani 1988, Nana Syaodih, 1988, dan Callahan, 1983): 1) Periode Sensorimotor pada umur 0 – 2 tahun 2) Periode Praoperasional pada umur 2 – 7 tahun 3) Periode operasi konkret pada umur 7 – 11 tahun 4) Periode operasi formal pada umur 11 – 15 tahun Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 32
  33. 33. b) Teori Belajar dari Jerome Bruner Perkembangan mental anak menurut Bruner (Toeti Soekamto, 1994) ada tiga tahap, yaitu: 1) Tahap Enaktif, anak melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya memahami lingkungan 2) Tahap Ikonik, anak memahami dunia melalui gambaran-gambaran dan visualisasi verbal. 3) Tahap simbolik, anak telah memiliki gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi oleh bahasa dan logika. Berdasarkan hasil observasi dan eksperimennya mengenai kegiatan belajarmengajar matematika Bruner merumuskan empat teori umum tentang belajar matematika yaitu: 1) Teorema penyusunan (contruction theorem) 2) Teorema pelambangan (notation theorem) 3) Teorema pembedaan dan keaneka ragaman (contrast and variation theorem) 4) Teorema pengaitan (connectivity theorem) Teori-teori Psikologi telah banyak membantu membentuk Landasan Pendidikan didalamnya anak dapat belajar dengan efektif. Landasan psikologis sangat penting karena manusia memiliki karakter yang berbeda-beda, sehinggap membutuhkan teori yang berbeda-beda untuk diaplikasikan dalam kasus-kasus pendidikan. Mengingat dekatnya hubungan teori-teori tersebut dengan pendidikan, maka guru-guru modern patut mempelajarinya dan mengaplikasikannya dalam kelas. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 33
  34. 34. b. Bentuk psikologis pendidikan Setidaknya ada 3 (tiga) bentuk psikologi pendidikan yang penting untuk diketahui, yakni psikologi perkembangan, psikologi belajar,dan psikologi sosial. 1) Psikologis Perkembangan Ada tiga teori atau pendekatan tentang perkembangan. Pendekatanpendekatan yang dimaksud adalah (Nana Syaodih, 1989). a) Pendekatan Pentahapan. Perkembangan individu berjalan melalui tahapantahapan tertentu. Pada setiap tahap memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan ciri-ciri pada tahap-tahap yang lain. b) Pendekatan Diferensial. Pendekatan ini dipandang individu-individu itu memiliki kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan. Atas dasar ini lalu orang-orang membuat kelompok–kelompok. Anak-anak yang memiliki kesamaan dijadikan satu kelompok. Maka terjadilah kelompok berdasarkan jenis kelamin, kemampuan intelek, bakat, ras, status sosial ekonomi, dan sebagainya. c) Pendekatan Ipsatif. Pendekatan ini berusaha melihat karakteristik setiap individu, dapat saja disebut sebagai pendekatan individual. Melihat perkembangan seseorang secara individual. Dari ketiga pendekatan ini, yang paling dilaksanakan adalah pendekatan pentahapan. Pendekatan pentahapan ada 2 macam yaitu bersifat menyeluruh dan yang bersifat khusus. Yang menyeluruh akan mencakup segala aspek perkembangan sebagai faktor yang diperhitungkan dalam menyusun tahap-tahap perkembangan, sedangkan yang bersifat khusus hanya mempertimbang faktor tertentu saja sebagai dasar menyusun tahap-tahap perkembangan anak, misalnya pentahapan Piaget, Koglberg, dan Erikson. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 34
  35. 35. Psikologi perkembangan menurut Rouseau membagi masa perkembangan anak atas empat tahap yaitu : a) Masa bayi dari 0 – 2 tahun sebagian besar merupakan perkembangan fisik. b) Masa anak dari 2 – 12 tahun yang dinyatakan perkembangannya baru seperti hidup manusia primitif. c) Masa pubertas dari 12 – 15 tahun, ditandai dengan perkembangan pikiran dan kemauan untuk berpetualang. d) Masa adolesen dari 15 – 25 tahun, pertumbuhan seksual menonjol, sosial, kata hati, dan moral. Remaja ini sudah mulai belajar berbudaya. 2) Psikologi Belajar Menurut Pidarta (2007:206) belajar adalah perubahan perilaku yang relatif permanen sebagai hasil pengalaman (bukan hasil perkembangan, pengaruh obat atau kecelakaan) dan bisa melaksanakannya pada pengetahuan lain serta mampu mengomunikasikannya kepada orang lain. Secara psikologis, belajar dapat didefinisikan sebagai “suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara sadar dari hasil interaksinya dengan lingkungan” (Slameto, 1991:2). Definisi ini menyiratkan dua makna. Pertama, bahwa belajar merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu yaitu untuk mendapatkan perubahan tingkah laku Kedua, perubahan tingkah laku yang terjadi harus secara sadar. Dari pengertian belajar di atas, maka kegiatan dan usaha untuk mencapai perubahan tingkah laku itu dipandang sebagai Proses belajar, sedangkan perubahan tingkah laku itu sendiri dipandang sebagai Hasil belajar. Hal ini berarti, belajar pada hakikatnya menyangkut dua hal yaitu proses belajar dan hasil belajar. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 35
  36. 36. Para ahli psikologi cenderung untuk menggunakan pola-pola tingkah laku manusia sebagai suatu model yang menjadi prinsip-prinsip belajar. Prinsip-prinsip belajar ini selanjutnya lazim disebut dengan Teori Belajar. a) Teori belajar klasik masih tetap dapat dimanfaatkan, antara lain untuk menghapal perkalian dan melatih soal-soal (Disiplin Mental). Teori Naturalis bisa dipakai dalam pendidikan luar sekolah terutama pendidikan seumur hidup. b) Teori belajar behaviorisme bermanfaat dalam mengembangkan perilaku-perilaku nyata, seperti rajin, mendapat skor tinggi, tidak berkelahi dan sebagainya. c) Teori-teori belajar kognisi berguna dalam mempelajari materi-materi yang rumit yang membutuhkan pemahaman, untuk memecahkan masalah dan untuk mengembangkan ide (Pidarta, 2007:218). 3) Psikologi Sosial Menurut Hollander (1981) psikologi sosial adalah psikologi yang mempelajari psikologi seseorang di masyarakat, yang mengkombinasikan ciri-ciri psikologi dengan ilmu sosial untuk mempelajari pengaruh masyarakat terhadap individu dan antar individu (Pidarta, 2007:219). 4. Landasan Sosiologis Kegiatan pendidikan sesunggnya rekayasa sosial yang memungkinkan terjadinya interaksi antara orang yang dewasa dengan orang yang belum dewasa sehingga orang yang belum dewasa itu menjadi dewasa. Proses rekayasa sosial itu disusun secara terencana dan sistematis melalui tahapan-tahapan tertentu, sehingga dapat diukur tingkat kedewasaannya. Kegiatan pendidikan yang sistematis terjadi di lembaga sekolah yang dengan sengaja dibentuk oleh pemerintah maupun masyarakat. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 36
  37. 37. Perhatian sosiologi pada kegiatan pendidikan semakin intensif. Dengan meningkatkan perhatian sosiologi pada kegiatan pendidikan tersebut, maka lahirlah cabang sosiologi pendidikan. Untuk terciptanya kehidupan bermasyarakat yang rukun dan damai, terciptalah nilai-nilai sosial yang dalam perkembangannya menjadi normanorma sosial yang mengikat kehidupan bermasyarakat dan harus dipatuhi oleh masingmasing anggota masyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat dibedakan tiga macam norma yang dianut oleh pengikutnya: (1) paham individualisme, (2) paham kolektivisme, (3) paham integralistik. a. Faham Individualisme dilandasi teori bahwa manusia itu lahir merdeka dan hidup merdeka. Masing-masing boleh berbuat apa saja menurut keinginannya masingmasing, asalkan tidak mengganggu keamanan orang lain. Dampak individualisme menimbulkan cara pandang lebih mengutamakan kepentingan individu di atas kepentingan masyarakat. Dalam masyarakat seperti ini, usaha untuk mencapai pengembangan diri, antara anggota masyarakat satu dengan yang lain saling berkompetisi sehingga menimbulkan dampak yang kuat selalu menang dalam bersaing dengan yang kuat sajalah yang dapat eksis. b. Faham Kolektivisme merupakan faham yang berlawanan dengan faham individualisasi. Faham kolektivisme memberikan kedudukan yang berlebihan kepada masyarakat dan individu secara perseorangan hanyalah sebagai alat bagi masyarakatnya. Faham ini dianut oleh negara-negara sosialis yang umumnya merupakan negara totaliter. c. Faham Integralistik merupakan faham yang merupakan paduan dari faham individualistic dan faham kolektivisme. Dalam masyarakat yang menganut Faham integralistik, masing-masing anggota masyarakat saling berhubungan erat satu sama lain secara organis dan membentuk masyarakat. Pengakuan secara seimbang Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 37
  38. 38. terhadap hak-hak individu dan hak-hak masyarakat. Negara Indonesia merupakan negara yang dibentuk beradasarkan faham integralistik. Landasan sosiologis pendidikan di Indonesia menganut paham integralistik yang bersumber dari norma kehidupan masyarakat: (1) kekeluargaaan dan gotong royong, kebersamaan, musyawarah untuk mufakat, (2) kesejahteraan bersama menjadi tujuan hidup bermasyarakat, (3) negara melindungi warga negaranya, (4) selaras serasi seimbang antara hak dan kewajiban. Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia tidak hanya meningkatkan kualitas manusia orang perorang melainkan juga kualitas struktur masyarakatnya. C. Pengambilan Keputusan 1. Pengertian Pengambilan Keputusan Stoner (2003:205) memandang pengambilan keputusan sebagai proses pemilihan suatu arah tindakan sebagai cara untuk memecahkan sebuah masalah tertentu. Siagian (1993:24) mengartikan pengambilan keputusan sebagai usaha sadar untuk menentukan satu alternatif dari berbagai alternatif untuk memecahkan masalah. Salusu (1996:47) mendefinisikan pengambilan keputusan sebagai proses memilih suatu alternatif cara bertindak dengan metode yang efisien sesuai situasi untuk menemukan dan menyelesaikan masalah organisasi. Handoko (2001:129) melihat pengambilan keputusan sebagai proses di mana serangkaian kegiatan dipilih sebagai penyelesaian suatu masalah tertentu. Dari beberapa pengertian tentang pengambilan keputusan yang dikemukakan oleh para ahli dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan merupakan proses pemilihan satu alternatif dari beberapa alternatif untuk pemecahan masalah. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 38
  39. 39. 2. Dasar-dasar Pengambilan Keputusan Menurut George Terry (dalam Hasan, 2002:12-13) dasar-dasar pengambilan keputusan adalah : a. Intuisi. Keputusan berdasarkan perasaan subjektif dari pengambil keputusan. Sehingga sangat dipengaruhi oleh sugesti dan faktor kejiwaan. b. Rasional. Pengambilan keputusan bersifat objektif, logis, transparan dan konsisten karena berhubungan dengan tingkat pengetahuan seseorang. c. Fakta. Pengambilan keputusan yang didasarkan pada kenyataan objektif yang terjadi sehingga keputusan yang dimabil dapat lebih sehat, solid dan baik. d. Wewenang. Pengambilan keputusan ini didasarkan pada wewenang dari manajer yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari bawahannya. e. Pengalaman. Pengambilan keputusan yang didasarkan pada pengalaman seorang manajer. 3. Teknik Partisipasi Dalam Pengambilan Keputusan Ada beberapa teknik peran serta sebagai bentuk partisipasi dalam pengambilan keputusan yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah bersama dengan guru dan staf sekolah. Menurut Lunenburg & Ornstein (1991:178-182) dan Salusu (1996:235-260), teknik partispasi antara lain, yaitu : Brainstorming, teknik delphi,kelompok mutu, konsep zone of acceptance. Brainstorming adalah teknik sumbang saran dari semua anggota organisasi. Teknik ini mengutamakan demokrasi dalam menyampaikan pendapat melalui persidangan yang relatif kecil. Teknik delphi dikembangkan oleh Dalkey dan Helmer (1963). Teknik ini menghindari tatap muka antara peserta dalam proses pengambilan keputusan. Selain itu juga mencegah adanya pembicara vokal yang sering menguasai waktu lebih banyak daripada peserta lainnya. Teknik ini biasanya dipakai pada Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 39
  40. 40. manajemen puncak yang biasanya tidak mempunyai cukup waktu untuk bertemu satu dengan yang lain. Teknik ini menghindari perdebatan akan tetapi tetap ada komunikasi dan pertukaran gagasan dan informasi. Teknik kelompok mutu biasa dipakai pada sektor implementasi. Teknik ini biasanya merupakan suatu kelompok kecil yang terdiri atas pengawas dengan sejumlah karyawan yang bekerja di bagian tertentu. Kelompok mini adalah kelompok sukarela. Mereka bertemu secara reguler untuk membicarakan berbagai masalah dan pengambilan keputusan. Teknik zone of acceptance adalah teknik dimana terjadi suatu situasi seseorang dapat menerima suatu keputusan secara otomatis. Konsep ini mencoba menjawab pertanyaan: ”Dalam kondisi apa bawahan harus diikutsertakan dalam pengambilan keputusan ?”. Jadi bisa saja bawahan tidak terlibat dalam proses pengambilan keputusan. 4. Jenis-jenis Pengambilan Keputusan Secara umum jenis pengambilan keputusan dapat dikategorikan dalam dua bentuk, yakni keputusan terprogram dan keputusan tidak terprogram (Siagian,1987:2526; Salusu, 1996:63). a. Keputusan Terprogram Keputusan terprogram adalah tindakan menjatuhkan pilihan yang berlangsung berulang kali dan diambil secara rutin dalam organisasi. Keputusan terprogram biasanya menyangkut pemecahan masalah-masalah yang sifatnya teknis serta tidak memerlukan pengarahan dari tingkat manajemen yang lebih tinggi. b. Keputusan tidak terprogram Keputusan tidak terprogram muncul sebagai akibat dari suatu situasi di mana ada suatu kemendesakan untuk segera mengambil tindakan dan memecahkan masalah yang timbul. Biasanya keputusan ini bersifat repetitif, tidak terstruktur dan sukar mengenali bentuk, hakekat dan dampaknya. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 40
  41. 41. 5. Langkah-Langkah Pengambilan keputusan Simon (1957) mengemukakan proses pengambilan keputusan pada dasarnya terdiri atas tiga langkah (Reksohadiprodjo & Handoko, 2001:144-145; Hasan,2002:24), yaitu: (1) Kegiatan Intelejen, menyangkut pencarian berbagai kondisi lingkungan yang diperlukan bagi keputusan; (2) Kegiatan desain, merupakan pembuatan, pengembangan dan penganalisaan berbagai rangkaian kegiatan yang mungkin dilakukan; (3) Kegiatan pemilihan, yakni memilih serangkain kegiatan tertentu dari alternatif-alternatif yang tersedia. Proses pengambilan keputusan secara rasional dan ilmiah pada dasarnya meliputi tahapan sebagai berikut (Handoko, 2001:134-138): (1) pemahaman dan perumusan masalah, (2) pengumpulan dan analisa data yang relevan, (3) pengembangan alternatif-alternatif, (4) evaluasi alternatif-alternatif, (5) pemilihan alternatif terbaik, (6) implementasi keputusan, (7) evaluasi hasil-hasil keputusan. Pengambilan keputusan antara lain juga diartikan sebagai suatu tehnik memecahkan suatu masalah dengan mempergunakan tehnik-tehnik ilmiah. Secara singkat menurut Siagian (1973) dapat dikatakan bahwa ada 7 langkah yang perlu diambil dalam usaha memecahkan masalah dengan mempergunakan teknik-teknik ilmiah. a. Mengetahui hakekat dari pada masalah yang dihadapi, dengan perkataan lain mendefinisikan masalah yang dihadapi itu dengan setepat-tepatnya; b. Mengumpulkan fakta dan data yang relevan; c. Mengolah fakta dan data tersebut; d. Menentukan beberapa alternatif yang mungkin ditempuh; e. Memilih cara pemecahan dari alternatif-alternatif yang telah diolah dengan matang; f. Memutuskan tindakan apa yang hendak dilakukan; g. Menilai hasil-hasil yang diperoleh sebagai akibat daripada keputusan yang telah diambil. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 41
  42. 42. BAB III PEMBAHASAN A. Pengambilan Keputusan dalam Perspektif Agama Dalam Islam, pengambilan keputusan secara musyawarah telah menjadi wacana yang sangat menarik. Karena musyawarah secara tekstual merupakan fakta wahyu yang tersurat dan dapat menjadi ajaran normatif dalam kepemimpinan pendidikan khususnya, dan dalam kehidupan pada umumnya. Al-Qur’an Surat Al-Imron ayat 159 sebagaimana dikutip pada bab II, telah memberikan pelajaran kepada manusia (termasuk pemimpin) bahwa dalam mengadapi persoalan yang pelik dan menyangkut hajat hidup orang banyak, sebaiknya diambil keputusan melalui jalan musyawarah.Meskipun keputusan yang diambil adalah sesuatu yang keliru. Dari kandungan ayat itu tegas ditunjukkan 4 (empat) sikap ideal ketika dan setelah melakukan musyawarah, yakni : (1) Sikap lemah lembut. Seseorang yang melakukan musyawarah, apalagi pemimpin harus menghindari tutur kata yang kasar serta sikap keras kepala. (2) Memberi maaf dan membuka lembaran baru. Sikap ini harus dimiliki peserta musyawarah, sebab musyawarah tidak akan berjalan baik, bila peserta masih diliputi kekeruhan hati apalagi dendam. (3) Memiliki hubungan yang harmonis dengan Tuhan, itulah sebabnya yang harus melatarbelakangi msyawarah adalah permohonan maghfiroh dan ampunan ilahi. (4) Setelah selesai bermusyawarah harus berserah diri dengan bertawaqal kepada-Nya. Selain itu, musyawarah memiliki beberapa sikap positif, yakni : Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 42
  43. 43. (1) Musyawarah merupakan bentuk penghargaan terhadap orang lain dan karenanya menghilangkan anggapan paternalistik bahwa orang lain itu rendah. (2) Meskipun Nabi adalah pribadi sempurna dan cerdas, namun sebagai manusia ia memiliki kemampuan yang terbatas. Oleh karenanya, beliau menganjurkan bahwa tidak ada satu kaum pun yang bermusyawarah yang tidak ditunjuki kea rah penyeleseaian terbaik dalam perkaranya. (3) Mengkilangkan buruk sangka, karena dengan musyawarah prasangka kepada orang lain akan tereleminasi. (4) Mengeliminasi beban psikologis kesalahan. Kesalahan mayoritas dari hasil musyawarah menjadi tanggung jawab bersama dan lebih bdapat diteloransi daripada keputusan individu. Hal-hal positif muncul karena musyawarah menghasilkan masyurah : pendapat, nasihat, dan pertimbangan. Walaupun sangat dianjurkan dalam agama, praktik bermusyawarah kerap digunakan dalam bidang-bidang lain.Bahkan adakalanya praktik musyawarah suka digunakan untuk kepentingan penguasa untuk kejayaan dan kelestarian kekuasaannya. Musyawarah seperti ini sesungguhnya telah menyimpang dari tujuan yang hendak dicapai, yakni kebenaran dan kebaikan bersama. Itu berarti bahwa harus dihindari musyawarah dijadikan panggung legislasi demi kepentingan yang tidak bernilai kebaikan. Kewajiban untuk bermusyawarah dalam menyelesaikan semua persoalan sebenarnya berimplikasi pada keharusan adanya pelembagaan musyawarah. Ini telah ditunjukkan dalam sejarah, baik pada masa Rosululloh maupun Khulafaurrasyidin. Meskiputun tidak disebutkan secara resmi lembaga apa, namun dari keberadaan tokoh sahabat yang mendampingi Rosululloh dan para khalifah sebagai mitra yang selalu dimintai pendapatnya, menunjukkan pelembagaan sistem musyawarah dalam sistem politik. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 43
  44. 44. B. Pengambilan Keputusan dalam Prespektif Filsafat Pendidikan Pengambilan keputusan partisipatif penting dilakukan oleh pemimpin pendidikan, karena secara filosofi tugas seorang pemimpin adalah mengarahkan pengikut untuk mencapai tujuan organisasi secara bersama-sama. Bangunan kerja sama ini akan semakin kokoh apabila pemimpin mamu melibatkan bawahan dalam setiap kegiatan organisasi, termasuk dalam pengambilan keputusan. Hubungan antara pemimpin dengan bawahan akan semakin baik, sehingga mampu menjaga stabilitas dan kondusifitas organisasi. Dalam kaitannya dengan pendidikan dewasa ini, pemimpin pendidikan harus mampu mengambil keputusan strategic (mungkin melalui penyusunan kurikulum) agar arah pendidikan dikembalikan pada arah yang sesungguhnya. Dalam kaitan ini, implementasi rekontruksionisme patut untuk dipertimbangkan. Keberanian untuk merestorasi pendidikan ini dipandang akan mampu menyelamatkan generasi muda dari ancaman materialistik. Filsafat rekontruksionisme memandang bahwa pendidikan perlu mengubah tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang baru untuk mencapai tujuan bersama. Pembinaan daya intelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pula, demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia. Diterapkannya faham rekontruksionisme dewasa ini seiring sejalan dengan iklim politik pemerintah yang menuju pada demokratisasi. Dalam hubungannya dengan pemerintahan, filsafat rekontruksionisme mempersepsikan bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur, diperintah oleh rakyat secara demokratis, bukan dunia yang dikuasi oleh kelompok tertentu. Nilai-nilai demokrasi yang sesungguhnya bukan hanya teori, melainkan mesti menjadi kenyataan sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi, mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran,serta keamanan Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 44
  45. 45. masyarakat tanpa membedakan warna ras, suku, nasionalisme, agama, dan masyarakat bersangkutan. Rekontruksionisme sejalan dengan pemikiran Alvin Toffler dengan karyanya Future Shock. Dalam artikelnya Toffler dalam (Gandhi,2011:192) menyatakan bahwa “Apa sebenarnya yang dilakukan pendidikan hari ini, tidak lain adalah anakronisme tanpa harapan” Pendidikan berjalan hanya menjadi serangkaian praktik dan asumsi yang dikembangkan hanya melayani era industry, sedangkan situasi sosial telah memasuki fase super insudtri. Akibatnya dapat ditebak. Sekolahsekolah kita limbung. Sekolah lebih sibuk mengurusi sistem yang mati daripada menangani masyarakat baru yang sedang tumbuh. Energi besarnya digunakan untuk mencetak manusia industry, yakni manusia yang disiapkan untuk dapat hidup dalam sistem yang akan mati sbelum mereka eksis. Untuk mencegah kegagapan masa depan yang akan datang, harus diwujudkan sistem pendidikan superindustrial. Maka dari itu, kita harus mencari tujuan-tujuan pendidikan dan metode di masa datang, bukan justru masa lalu (Toffler,1970:353). Walaupun dalam hal optimisme Toffler dan penganut rekontruksionisme agak berbeda, namun intinya roh pendidikan harus dilakukan perubahan yang nyata. Filsafat rekontruksionis berkeyakinan bahwa perubahan dapat dimulai dari pendidikan. Mengenai kurikulum pendidikan, Rekonstruksionisme menganggapnya sebagai subjek matter yang berisikan masalah-masalah sosial, ekonomi, politik yang beraneka ragam, yang dihadapi umat manusia, termasuk masalah-masalah sosial dan pribadi siswa itu sendiri. Isi kurikulum tersebut berguna dalam penyusunan disiplin “sains sosial” dan proses penemuan ilmiah (inkuiri ilmiah) sebagai metode kerja untuk memecahkan masalah-masalah sosial. Sementara peranan guru, paham rekonstruksionisme sama dengan paham-paham progresivisme. Guru harus menyadarkan siswa terhadap masalah-masalah yang dihadapi manusia, membantu siswa mengidentifikasi masalah-masalah untuk dipecahkannya, sehingga siswa memiliki Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 45
  46. 46. kemampuan memecahkan masalah tersebut. Guru harus mendorong siswa untuk dapat berpikir alternatif dalam memecahkan masalah tersebut. Mengenai kurikulum pendidikan, Rekonstruksionisme menganggapnya sebagai subjek matter yang berisikan masalah-masalah sosial, ekonomi, politik yang beraneka ragam, yang dihadapi umat manusia, termasuk masalah-masalah sosial dan pribadi siswa itu sendiri. Isi kurikulum tersebut berguna dalam penyusunan disiplin “sains sosial” dan proses penemuan ilmiah (inkuiri ilmiah) sebagai metode kerja untuk memecahkan masalah-masalah sosial. Sementara peranan guru, paham rekonstruksionisme sama dengan paham-paham progresivisme. Guru harus menyadarkan siswa terhadap masalah-masalah yang dihadapi manusia, membantu siswa mengidentifikasi masalah-masalah untuk dipecahkannya, sehingga siswa memiliki kemampuan memecahkan masalah tersebut. Guru harus mendorong siswa untuk dapat berpikir alternatif dalam memecahkan masalah tersebut. Lebih jauh guru harus membantu menciptakan aktivitas belajar yang berbeda secara serempak. Sekolah merupakan agen utama untuk perubahan sosial, politik, dan ekonomi di masyarakat. Tugas sekolah adalah mengembangkan “rekayasa sosial”, dengan tujuan mengubah secara radikal wajah masyarakat dewasa ini dan masyarakat yang akan datang. Sekolah memelopori masyarakat ke arah masyarakat baru yang diinginkan. Apabila tidak demikian, setiap individu dan kelompok nantinya akan memecahkan masalah-masalah kemasyarakatan secaara sendiri-sendiri sebagai pengaruh dan progresivisme. C. Pengambilan Keputusan dalam Perspektif Psikologi Sangat sulit untuk menyangkal, bahwa terdapat relevansi antara pengambilan keputusan dengan psikologi. Pengambilan keputusan berhubungan dengan perilaku pemimpin, sedangkan kepatuhan melaksanakan keputusan berhubungan dengan perilaku pengikut. Perilaku pengikut dan perilaku pemimpin merupakan perilaku manusia, yang merupakan kajian dari psikologi. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 46
  47. 47. Perilaku pemimpin tercermin dari gaya kepemimpinan yang dijalankan. Gaya itu dilatarbelakangi oleh sifat atau watak dari pemimpin. Perilaku dan watak sangat berkaitan dengan psikologis pemimpin. Dalam hubungannya dengan pengambilan keputusan, gaya kepemimpinan yang baik adalah gaya yang mampu memecahkan berbagai persoalan dengan tepat. Dalam hal ini gaya kepemimpinan yang otokratis dan demokratis atau partisipatif merupakan gaya kepemimpinan yang saling bertentangan, namun akan cocok bergantung pada siatuasi yang ada. Dalam situasi normal, pengambilan keputusan sebaiknya dilakukan dengan melibatkan sebanyak mungkin orang lain. Pengikut sebagai unsur yang akan menjalankan keputusan sebaiknya terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Keterlibatan pengikut dalam pengambilan keputusan, secara psikologis akan melahirkan partisifasi pengikut dalam proses pembuatan dan implementasi keputusan. Untuk itu, dari sudut pandang psikologi maka pengambilan keputusan partisipatif dipandang sebagai pengambilan keputusan yang lebih baik dari yang lainnya. Likert (1976) dalam studi tentang pola dan gaya kepemimpinan dan manajer selama tiga dasawarsa berkesimpulan bahwa kepemimpinan partisipatiflah yang paling efektif dalam organisasi dan manajemen. Likert memandang manajer yang efektif adalah manajer yang berorientasi pada bawahan yang bergantung pada komunikasi untuk tetap menjaga agar semua orang bekerja sebagai suatu unit. Semua anggota kelompok, termasuk manajer atau pemimpin, menerapkan hubungan suportif di mana mereka saling berbagi kebutuhan, nilai-nilai aspirasi, tujuan, dan harapan bersama. Pendekatan ini sebagai cara yang paling efektif dalam memimpin kelompok (Kootz, O ‘Donnell & Weihrich, 1990:152). Gibson, Ivancevioch & Donnely (1990:135) juga mengemukakan bahwa banyak ahli riset dan manajer yang percaya bahwa sebagian besar anggota organisasi ingin memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi dalam proses pembuatan dan pengambilan keputusan. Mereka yakin bahwa semakin besarnya partisipsi dalam proses tersebut akan Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 47
  48. 48. meningkatkan keikatan kepada organisasi, kepuasan kerja, pertumbuhan dan perkembangan pribadi serta sikap menerima perubahan.Perkembangan dewasa ini memandang bahwa pendidikan dan lembaga sekolah sebagai suatu sistem organisasi yang membutuhkan manajemen yang andal. Aspek penting dalam organisasi dan manajemen pendidikan adalah soal kepemimpinan pendidikan. Dari aspek perilaku organisasi pendidikan, pengambilan keputusan partisipatif menjadi suatu model yang dapat meningkatkan kualitas penyelenggaraan proses pendidikan di sekolah. Keterlibatan dan partisipasi segenap komponen sekolah menjadi unsur yang menentukan kinerja dan keberhasilan penyelenggaraan sekolah sebagai lembaga pendidikan. D. Pengambilan Keputusan dalam Prespektif Sosiologi Pengambilan keputusan secara partisipatif mensyaratkan keterlibatan bawahan dan pimpinan secara aktif sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Dalam prespektif sosiologis, pimpinan dan bawahan hendaknya menganggap satu keluarga besar, dengan pimpinan sebagai kepala keluarganya. Asas yang digunakan adalah kekeluargaan dan gotong royong sesuai dengan faham integralistik. Tipe kepemimpinan yang membentuk bangunan kekeluargaan adalah kepemimpinan demokratik atau partisipatif. 1) Pengambilan Keputusan Partisipatif Kebanyakan dari para teoretikus mengemukakan empat prosedur pengambilan keputusan, yakni: keputusan otokratik, konsultasi, keputusan bersama dan pendelegasian. Keempat prosedur pengambilan keputusan tersebut merupakan suatu kontinum. a) Keputusan otokratik : Manajer membuat keputusan sendiri tanpa menanyakan opini atau saran dari orang lain, dan orang-orang tersebut tidak mempunyai pengaruh langsung terhadap keputusan tersebut, tidak ada partisipasi. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 48
  49. 49. b) Konsultasi. Manajer menanyakan opini dan gagasan, kemudian mengambil keputusannya sendiri setelah mempertimbangkan secara serius saran-saran dan perhatian mereka. Kepemimpinan ini memiliki tiga varietas: Pemimpin membuat keputusan tanpa konsultasi terlebih dahulu, namun kemudian bersedia memodifikasi karena adanya keberatan atau keprihatinan pengikutnya; Pemimpin memberi usulan sementara dan secara aktif mendorong orang untuk menyarankan cara-cara memperbaikinya; Pemimpin menggunakan sebuah masalah dan meminta orang lain untuk berpartisipasi dalam mendiagnosis dan mengembangkan bermacam-macam pemecahan umum, namun kemudian membuat keputusan sendiri; c) Keputusan bersama. Manajer bertemu dengan orang lain untuk mendiskusikan masalah keputusan tersebut dan mengambil keputusan bersama; manajer tidak mempunyai pengaruh lagi terhadap keputusan terakhir seperti peserta lainnya. d) Pendelegasian. Manajer memberi kepada seorang individu atau kelompok, kekuasaan serta tanggung jawab untuk membuat keputusan; manajer tersebut biasanya memberi spesifikasi mengenai batas-batas dalam mana pilihan terakhir harus berada, dan persetujuan terlebih dahulu mungkin atau mungkin tidak perlu diminta sebelum keputusan tersebut dilaksanakan. Dari empat prosedur pengambilan keputusan di atas, yang pertama yakni tipe otokratik bukan menjadi karakteristik pengambilan keputusan partisipatif. Karena pengambilan keputusan berada pada kewenangan pemimpin tanpa memberikan peluang kepada anggota untuk berpartisipasi. Prosedur pengambilan keputusan dengan konsultasi, keputusan bersama, dan pendelegasian merupakan karakteristik pengambilan keputusan partisipatif yang Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 49
  50. 50. dijakankan oeh kepemimpinan partisipatif. Tiga ciri ini memiliki intensitas yang berbeda. Kalau pada karakteristik konsultasi seorang pemimpin sudah memberikan peluang kepada bawahannya untuk memberikan masukan. Walaupun keputusan tetap berada pada dirinya. Intensistas pembuatan dan penetapan keputusan tetap masih berada pada pimpinan. Pada karakteristik keputusan bersama, baik pemimpin dan anggota memiliki intensitas yang sama. Keputusan yang dibuat berasal dari sejumlah pemikiran dan gagasan baik oleh pemimpin dan bawahan. Pengambilan keputusan tidak bisa dibuat tanpa keterlibatan yang penuh dari pimpinan dan anggota. Sedangkan pada pendelegasian peran dari pemimpin intensitasnya semakin rendah. Anggota organisasi memiliki kewenangan penuh untuk membuat dan menjalankan keputusan. 2) Kelebihan Pengambilan Keputusan Partisipatif Ada beberapa keuntungan potensial pengambilan keputusan partisipatif. Yukl, (1998: 134-135) mengemukakan bahwa secara umum keuntungan pengambilan keputusan partisipatif adalah meningkatkan kualitas sebuah keputusan bila peserta mempunyai informasi dan pengetahuan yang tidak dipunyai pemimpin tersebut dan bersedia bekerja sama dalam mencari suatu pemecahan yang baik untuk suatu masalah keputusan. Di samping itu dapat meningkatkan komitmen dan rasa tanggung-jawab bersama pada sebuah keputusan. Keuntungan dari gaya kepemimpinan partisipatif (Rohmat,2010:59) adalah a) Konsultasi ke bawah , dapat digunakan dalam rangka meningkatkan kualitas keputusan dengan menarik keahlian yang dimiliki para pengikut, sehingga para pengikut akan dapat menerima semua putusan yang diambil dan menjalankannya. b) Konsultasi lateral, pemimpin melibatkan peran serta orang-orang dalam berbagai sub unit untuk mengatasi keterbatasan kemampuan yang dimiliki pemimpin. Konsultasi Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 50
  51. 51. lateral memudahkan koordinasi dan kerja sama di antara para pemimpin dari berbagai sub untuk organisasi. c) Konsultasi ke atas, memungkinkan seorang pemimpin untuk menaruh keahlian seseorang atasan yang berkemampuan lebih besar daripada manajer. d) Konsultasi dengan pihak luar,memungkinkan bahwa keputusan-keputusan yang mempengaruhi mereka dipahami dan dimengerti, mengetahui kebutuhan-kebutuhan serta preferensi-preferensi mereka, serta akan .memperkuat jaringan kerja eksternal. 3) Efektivitas Pengambilan Keputusan Partisipatif Benarkan pengambilan keputusan partisipatif efektif dijalankan dalam kepemimpinan pendidikan? Menurut Vroom & Yetton (1973) dan Maeir & Verser (1982) efektivitas keseluruhan dari sebuah keputusan tergantung pada dua variabel intervensi yakni penerimaan keputusan dan kualitas keputusan (Yukl 1998:137-138, Ubben,Hughes dan Norris 2004:47). Berbagai penjelasan dan penelitian telah diajukan mengenai efektivitas kepemimpinan partisipatif dalam pembuatan dan penerimaan keputusan (Anthony, 1978; Maier, 1963; Michael, 1973; Strauss, 1963). Efektivitas partisipasi dalam pengambilan keputusan dan penerimaan keputusan antara lain: a) Orang-orang yang mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam pengambilan keputusan cenderung untuk mengidentifikasikan dirinya dengan hal tersebut dan merasakannya sebagai keputusannya, yang akan lebih meningkatkan motivasi mereka untuk melaksanakan keputusan tersebut dengan berhasil. b) Partisipasi juga memberi suatu pengertian yang lebih baik mengenai sifat masalah keputusan dan alasan mengapa suatu alternatif tertentu diterima dan yang lainnya ditolak. Para peserta memperoleh pengertian yang lebih baik mengenai bagaimana mereka akan dipengaruhi oleh sebuah keputusan yang kemungkinan besar akan Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 51
  52. 52. mengurangi rasa takut apa saja yang tidak beralasan dan ketegangan-ketegangan mengenai hal tersebut. c) Partisipasi juga memungkinkan orang memperoleh peluang untuk melindungi kepentingan mereka jika benar-benar terancam, dengan mengemukakan rasa prihatin mereka dan membantu untuk mencari suatu pemecahan yang menanggapi rasa keprihatinan tersebut. d) Sebuah keputusan yang telah dibuat oleh sebuah proses kelompok yang dianggap sah, memungkinkan para anggota menggunakan tekanan sosial terhadap anggota yang lain agar menjalankan keputusan itu dalam implementasinya. Sedangkan efek dari partisipasi terhadap kualitas keputusan (Yukl, 1998 : 138): a) Partisipasi akan menghasilkan keputusan yang lebih baik bila para bawahan mempunyai informasi yang relevan dan bersedia untuk bekerja-sama dengan pemimpin tersebut dalam membuat keputusan yang baik. b) Apabila di antara para bawahan terjadi perbedaan pandangan dan sulit diambil keputusan bersama, maka konsultasi memungkinkan menghasilkan keputusan yang memiliki kualitas lebih tinggi, karena pemimpin (manajer) akan mempertahankan kontrol terhadap pilihan terakhir. 4) Keterbatasan Pengambilan Keputusan Partisipatif Pengambilan keputusan partisipatif memiliki keterbatasan (Yukl, 1998:140), yakni : 1) Bentuk partisipasi efektif pada situasi-situasi tertentu namun tidak pada situasi lainnya (Vrom & Jago, 1988). Karena partisipasi memakan waktu, kadang berteletele. Dalam keadaan darurat untuk berkonsultasi dan berdiskusi tidak efektif. Seorang Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 52
  53. 53. pemimpin harus cepat dan tanggap dalam membuat keputusan dan mengambil kebijakan sesuai dengan situasi dan kebutuhan manajemen dan organisasi. 2) Kecenderungan terjadinya partisipasi semu (pseudoparticipation), di mana manajer mencoba untuk melibatkan bawahan dalam tugas tetapi bukan dalam proses pengambilan keputusan. Kebanyakan para manajer mencoba berkonsultasi dengan bawahannya akan tetapi masukan dan gagasan dari para bawahan tidak diakomodir dalam pembuatan keputusan dan pengambilan kebijakan. E. Pengambilan Keputusan Partisipatif dalam Kepemimpinan Pendidikan Berbicara mengenai implementasi pengambilan keputusan dalam kepemimpinan partisipatif dalam kepemimpinan pendidikan terkait erat dengan perilaku birokrasi pendidikan (pusat dan daerah), kepala sekolah dan guru sebagai anggota organisasi pendidikan dalam pengambilan keputusan. Peran serta ketiga pemimpin pendidikan dalam pengambilan keputusan ditegaskan oleh French (1960) dalam Salusu (1996:233) menegaskan bahwa peran serta menunjukkan suatu proses antara dua atau lebih pihak yang mempengaruhi satu terhadap yang lainnya dalam membuat rencana, kebijaksanaan dan keputusan. Pentingnya peran serta dalam proses pengambilan keputusan diakui juga oleh Alutto dan Belasco (1972) yang mengatakan bahwa dengan adanya peran serta ada jaminan bahwa pemeran serta tetap mempunyai kontrol atas keputusan-keputusan yang diambil (Salusu, 1996:234). Mengingat lingkungannya yang unik, maka dalam makalah ini akan dibahas peran serta (partisipasi) kepala sekolah dan guru termasuk staf sekolah dalam pengambilan keputusan di sekolah. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 53
  54. 54. 1. Peran Pemimpin Pendidikan dalam Pengambilan Keputusan Partisipatif Dilihat dari fungsi birokrasi pendidikan dan kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan, maka ia harus mampu mengambil keputusan secara tepat. Dalam kaitannya dengan pengambilan keputusan, pemimpin pendidikan hendaknya memberi kesempatan kepada anggota organisasi untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. Dasar teori yang dapat dikaji dalam pengambilan keputusan pendidikan dan partisipasi anggota organisasi adalah teori kepemimpinan kontinum yang dikembangkan oleh Tannenbaum dan Schmidt (Rawis, 2000:30). Dalam pandangan kedua ahli ini ada dua bidang pengaruh yang ekstrim. Pertama, bidang pengaruh pemimpin di mana pemimpin menggunakan otoritasnya dalam gaya kepemimpinannya. Kedua, bidang pengaruh kebebasan bawahan di mana pemimpin menunjukkan gaya yang demokratis. Kedua bidang pengaruh ini dipergunakan dalam hubungannnya dengan perilaku pemimpin melakukan aktivitas pengambilan keputusan. Menurut dua ahli tersebut ada enam model gaya pengambilan keputusan yang dapat dilakukan oleh pemimpin, yakni : 1) Pemimpin membuat keputusan dan kemudian mengumumkan kepada bawahannya. Model ini terlihat bahwa otoritas yang dipergunakan atasan terlalu dominan, sedangkan daerah kebebasan bawahan sempit sekali. 2) Pemimpin menjual keputusan. Pada gaya ini pemimpin masih dominan. Bawahan belum banyak dilibatkan. 3) Pemimpin menyampaikan ide-ide dan mengundang pertanyaan. Dalam model ini pemimpin sudah menunjukkan kemajuan. Otoritas mulai berkurang dan bawahan diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Bawahan mulai dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 54
  55. 55. 4) Pemimpin memberikan keputusan bersifat sementara yang kemungkinan dapat dirubah. Bawahan sudah mulai banyak terlibat dalam rangka pengambilan keputusan. Otoritas pelan-pelan mulai berkurang. 5) Pemimpin memberikan persoalan, meminta saran-saran dan mengambil keputusan. Pada gaya ini otoritas yang dipergunakan sedikit. Sedangkan kebebasan bawahan dalam berpartisipasi mengambil keputusan sudah lebih banyak dipergunakan. Pemimpin merumuskan batas-batasnya dan meminta kelompok bawahan untuk mengambil keputusan. Partisipasi bawahan sudah lebih dominan. 6) Pemimpin mengizinkan bawahan melakukan fungsi-fungsinya dalam batas-batas yang telah dirumuskan oleh pemimpin. Dalam analisis tentang pola kepemimpinan dapat didasarkan pula pada tingkat kematangan (kedewasaan) bawahan. Ada empat model kepemimpinan yang muncul berdasarkan pada kematangan bawahan (Siagian, 2003:142-143), yakni : 1) Semakin tinggi tingkat kematangan yang telah dicapai oleh bawahan, pimpinan memberikan respons tidak saja dalam bentuk pengurangan pengawasan atas berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh para bawahannya, akan tetapi juga mengurangi intensitas hubugannya dengan para bawahan tersebut. 2) Pada tingkat kematangan yang masih rendah. Bawahan tidak berkemampuan dan tidak berkemauan, para bawahan memerlukan pengarahan yang jelas dan tegas serta spesifik sehingga tidak terdapat kekaburan dalam pelaksanaan tugas para bawahan yang bersangkutan. 3) Pada tingkat kematangan bawahan yang tinggi. Bawahan berkemampuan tetapi tidak berkemauan. Yang diperlukan adalah perilaku pimpinan yang berorientasi tugas yang tinggi dan tingkat hubungan yang intensif antara atasan dengan bawahannya. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 55
  56. 56. 4) Pada tingkat kematangan yang lebih tinggi lagi. Bawahan tidak berkemampuan tetapi berkemauan. Masalah-masalah psikologis dapat timbul dan hanya dapat dipecahkan dengan menggunakan gaya kepemimpinan yang bersifat mendukung tugas para bawahan dan dengan demikian berarti tidak terlalu banyak memberikan pengarahan. Yang dotonjolkan adalah gaya partisipatif. 5) Pada tingkat kematangan yang sudah tinggi. Bawahan berkemampuan dan berkemauan. Seorang pimpinan tidak perlu lagi berbuat banyak karena para bawahannya seudah mampu dan rela memikul tanggung-jawab sehingga tugas-tugas yang dipercayakan kepada mereka sesuai dengan harapan pimpinan yang bersangkutan. 2. Peran Bawahan dalam Pengambilan Keputusan Sehubungan dengan peran bawahan dalam pengambilan keputusan dalam kepemimpinan pendidikan, ada dua konsep yang perlu dikaji, yakni persepsi dan aspirasi (Rawis, 2000:35). Gibson, Ivancevich dan Donnelly (1996: 241) mengartikan persepsi sebagai proses dari seseorang dalam memahami lingkungannya yang melibatkan pengorganisasian dan penafsiran sebagai rangsangan dalam suatu pengalaman psikologis. Sedangkan Robbins (2003: 169) mendefinisikan persepsi sebagai proses yang digunakan individu dalam mengelola dan menafsirkan kesan indera mereka dalam rangka memberikan makna kepada lingkungan mereka. Dalam konteks teori ini peran serta bawahan dalam pengambilan keputusan adalah bagaimana mereka mempersepsikan pandangan, penghayatan, perasaan mereka sebagai sesuatu yang bermakna dan dapat disumbangkan bagi kemajuan pendidikan. Aspirasi dalam bahasa Inggris aspiration yang berarti cita-cita, keinginan (Nasution, 1990:14). Jadi aspirasi guru dan staf adalah keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan oleh bawahan untuk dipenuhi guna peningkatan kesejahteraan kerja dalam rangka mereka berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 56
  57. 57. Aspirasi bawahan pada umumnya ada yang tinggi dan ada yang rendah. Menurut Thurnburg (Prayitno, 1989, dalam Rawis, 2000:40) ada faktor-faktor yang menimbulkan tinggi-rendahnya tingkat aspirasi. Faktor yang menyebabkan aspirasi tinggi adalah: (1) pengalaman sukses, (2) tugas-tugas yang sukar menuntut kerja keras, (3) merasa terkontrol oleh diri sendiri, (4) tugas-tugas yang relevan dengan kebutuhan akademis maupun jabatan yang diharapkan, (5) infromasi yang berguna, (6) kelompok orang yang homogen, (7) tujuan yang realistik untuk dicapai. Sedangkan faktor yang menyebabkan aspirasi rendah adalah: (1) pengalaman gagal, (2) tugas-tugas yang mudah sehingga dengan usaha yang sedikit dapat menyelesaikannya, (3) tergantung oleh kontrol orang lain, (4) tugas-tugas yang dirasakan relevan dengan kebutuhan akademik maupun jabatan yang diharapkan, (5) informasi dirasakan tidak berguna, (6) kelompok yang heterogen, (7) tujuan yang tidak realistik. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 57
  58. 58. BAB IV PENUTUP A. Simpulan 1. Pengambilan keputusan merupakan aktivitas yang sangat menentukan dalam suatu organisasi. Pengambilan keputusan merupakan esensi/inti dari kepemimpinan. Seorang pemimpin disebut pemimpin apabila dapat dan mampu mengambil keputusan. Dalam kepemimpinan dikenal gaya-gaya kepemimpinan. Salah satu di antaranya adalah kepemimpinan partisipatif. Kepemimpinan partisipatif mengandaikan adanya kondisi pemimpin memberikan ruang yang luas pada keterlibatan yang utuh dan mendalam dari seluruh pimpinan dan anggota organisasi untuk ikut serta dalam pengambilan keputusan. 2. Pengambilan keputusan dapat dipandang dan dilandasi oleh agama, filsafat, psikologi dan sosiologi. Berbasarkan landasan agama, dianjurkan akan dalam pengambilan keputusan, seorang pemimpin menempuh jalan musyawarah. Dalam kepemimpinan pendidikan tentu saja musyawarah melibatkan berbagai stakeholder, terutama guru. Secara psikologis, pelibatan stakeholder dalam musyawarah akan meningkatkan motivasi, gairah, dan tanggung jawab untuk turut serta melaksanakan keputusan secara bersama-sama. B. Saran 1. Pengambilan keputusan merupakan inti dari kepemimpinan pendidikan. Oleh karena itu, pemimpin pendidikan dalam pengambilan keputusan disarankan dilakukan secara musyawarah dengan melibatkan bawahan atau para stakeholder yang berkepentingan. 2. Kepemimpinan pendidikan sangat ideal apabila menjalankan gaya kepemimpinan partisipatif agar seiring sejalan dengan hakikat musyawarah dalam pengambilan keputusan. Pengambilan Keputusan dalam Kepemimpinan Pendidikan 58

×