Makalah Ekonomi - Inflasi                                   BAB I                               PENDAHULUANLatar belakangK...
MasalahPembatasan masalah yang akan di bahas dalam ini adalah :Bagaimana terjadinya Inflasi ?Faktor-faktor penyebab timbul...
BAB II                             TINJAUAN PUSTAKA2.2 Landasan Teori1. Inflasia. Pengertian InflasiInflasi adalah proses ...
meripakan campuran antara inflasi permintaan (demand-pull inflation) dan inflasibiaya                             (cost-pu...
menerjemahkan aspirasi mereka menjadi permintaan yng efektif terhadap barang.Golongan-golongan masyarakat yang dimaksud ya...
sebagai                                   berikut                                :GNP                                     ...
BAB                                                                             IIIPEMBAHASAN3.1              Bagaiman    ...
Menurut sudut pandang kaum moneteris jumlah uang beredar adalah faktor utamayang di tuding sebagai penyebab timbulnya infl...
sector migas meningkat pesat, sehingga jumlah uang primer pun semakinmmeningkat. Hal ini menyebabkan kemampuan pemerintah ...
untuk tujuan spekulasi. Antara lain tujuan ini dicapai dengan pembeli harta-hartatetap setiap tanah, rumah dan bangunan. O...
bank dalam bentuk giro, kemudian yang kedua apabila seseorang memperolehpinjaman dari bank mereka tidak terima dalam bentu...
terpengaruhi) oleh karena kelangkaan persediaan barang yang ada di pasaran.Penyebab               inflasi             anta...
Makalah ekonomi
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Makalah ekonomi

4,458

Published on

Published in: Education
0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
4,458
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
5
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Makalah ekonomi

  1. 1. Makalah Ekonomi - Inflasi BAB I PENDAHULUANLatar belakangKrisis moneter yang melanda Negara-negara anggota ASEAN, telah memporak-porandakan struktur perekonomian negara-negara tersebut. Bahkan bagiIndonesia, akibat terjadinya krisis moneter yng kemudian berlanjut pada krisisekonomi dan politik ini, telah menyebabkan kerusakan yang cukup signifikanterhadap sendi-sendi Perekonomian Nasional.Krisis moneter yang melanda indonesia di awali dengan terdepresiasinya secaratajam nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing (terutama dolar Amerika),akibat adanya domino effect dari terdepresiasinya mata uang Thailand (bath),salah satunya telah mengakibatkan terjadinya lonjakan harga barang-barang imporini, dan menyebabkan hampir semua barang-barang yang di jual di dalam negeribaik secara langsung maupun tidak langsung, terutama pada barang-barang yangmemiliki kandungan impor tinggi. Karena kegagalan mengatasi krisis moneterdalam jangka waktu yang pendek, bahkan cenderung berlarut-larut, menyebabkankenaikan tingkat harga terjadi secara umum dan berlarut-larut. Akibatnya angkainflasi nasional melonjak cukup tajam. Lonjakan yang cukup tajam terhadapangka inflasi nasional yang tanpa di imbangi oleh peningkatan pendapatannominal masyarakat, telah menyebabkan pendapatan riil rakyat semakin merosotpula , pendapatan per kapita penduduk merosot relative sangat cepat, yangmengakibatkan Indonesia kembali masuk dalam golongan Negara miskin. Hal initelah menyebabkan semakin beratnya beban hidup masyarakat strata ekonomibawah. (akibat dari imported inflation yang dipicu oleh terdepresiasinya nilaitukar rupiah terhadap mata uang asing)Seperti telah diketahui, secara teoritis, pengertian inflasi merujuk pada perubahantingkat harga (barang dan jasa) umum yang terjadi secara terus-menerus. Datamengenai perkembangan harga dapat didasarkan pada cakupan barang dan jassasecara komponen pembentuk PDB (deflator PDB), cakupan barang dan jasa yangdiperdagangkan antara produsen dengan pedagang besar atau antar pedagangbesar (Indeks Haraga Perdagangan Besar/IHPB), ataupun cakupan barang dan jasayang dijual secara eceran dan di konsumsi oleh sebagian besar masyarakat (IndeksHarga Konsumen/IHK). Dalam kaitan ini, cara perhitungan inflasi didasarkanpada perubahan indeks pada periode tertentu dengan indeks periodesebelummnya. Sebagai contoh, laju inflasi bulanan dihitung dari perubahan indeksbulan ini dan indeks bulan sebelumnya.
  2. 2. MasalahPembatasan masalah yang akan di bahas dalam ini adalah :Bagaimana terjadinya Inflasi ?Faktor-faktor penyebab timbulnya inflasi di Indonesia ?Dampak yang ditimbulkan dari inflasi?Langkah-langkah apa saja yang harus di ambil untuk mencegah terjadinya inflasi?
  3. 3. BAB II TINJAUAN PUSTAKA2.2 Landasan Teori1. Inflasia. Pengertian InflasiInflasi adalah proses kenaikan harga-harga secara terus-menerus yang bersumberdari terganggunya keseimbangan antara arus uang dan barang.1. Inflasi menurut tingkat keparahannyaLaju inflasi dapat berbeda antar asatu Negara dengan Negara lainnya atau dalamsatu Negara dalam waktu yang berbeda. Atas dasar besarnya laju inflasi makaInflasi dapat di bagi ke dalam tiga kategori yaitu :Inflasi merayap (creeping Inflation)Di tandai dengan laju inflasi yang rendah (kurang dari 10% pertahun). Kenaikanharga berjalan secara lambat, dengan persentase yang kecil serta dalam jangkayang relatif lama.Inflasi Menengah (galloping Inflation)Ditandai dengan laju inflasi yang cukup besar dalam waktu yang relatif pendekserta mempunyai sifat akselerasi (harga dalam waktu mingguan atau bulanan)efeknya terhadap perekonomian lebih besar daripada inflasi yang merayap(creeping inflation)Inflasi tinggi (Hyper inflation)Merupakan inflasi yang paling parah akibatnya harga-harga naik sampai 5 atau 6kali lipat. Masyarakat tidak lagi berkeinginan untuk menyimpan uang sebab nilaiuang merosot dengan tajam sehingga perputaran uang semakin cepat dan harganaik secara akselerasi. Biasanya keadaan ini timbul apabila pemerintahmengalami defisit anggaran belanja yang dibelanjakan dan ditutupi denganmencetak uang.2. Inflasi menurut sebabnya.a. Inflasi permintaan (Demand-pull inflation)Inflasi ini timbul karena permintaan masyarakat akan barang terlalu kuat,sehingga di sebut demand-pull inflation.b. Inflasi biaya (cost-Push inflation)Inflasi jenis ini timbul karena kenaikan ongkos produksi. Inflasi ini dikenaldengan istilah cost-push inflation atau supply inflation. Untuk lebih jelasnyasimak baik-baik kurva di atas. Apabila ongkos produksi ini misalnya disebabkankenaikan harga alat-alat produksi yang didatangkan dari luar negeri atau kenaikanbahan mentah maupun bahan baku.c. inflasi campuranKedua mmacam inflasi yang telah dijelaskan di atas jarang sekali di jumpai dalampraktik sehari-hari. Pada umumnya, inflasi yang terjadi di berbagai negaramerupakan campuran dari kedua macam inflasi tersebut. Inflasi campuran
  4. 4. meripakan campuran antara inflasi permintaan (demand-pull inflation) dan inflasibiaya (cost-push inflation).Inflasi menurut AsalnyaDomestic inflation adalah inflasi yang berasal dari dalam negeri sendiri. Hal inibisa disebabkan karena adanya defisit anggaran belanja yang dibiayai denganmencetak uang baru, pembatasan kredit untuk kegiatan produksi atau gagalnyapanen sehingga harga-harga makanan menjadi mahalImported inflation adalah inflasi yang berasal dari luar negeri sebagai akibat darinaiknya barang-barang impor. Hal ini bisa terjadi di negara-negara berkembangkarena sebagian besar bahan baku berasal dari luar negeri (impor)2. Teori Inflasi1. Teori KuantitasTeori ini menyoroti hal-hal yang berperan dalam proses inflasi, yaitu jumlah uangyang beredar dan anggapan masyarakat mengenai kenaikan harga-harga. Inti dariteori kuantitas adalah sebagai berikut.Inflasi yang bisa terjadi apabila ada penambahan volume uang yang beredar.Tanpa ada kenaikan jumlah uang yang beredar, gagal panen misalnya hanya akanmenaikan harga-harga untuk sementara waktu saja. Penambahan jumlah uangibarat” bahan bakar” bagi api inflasi. Apabila jumlah uang bertambah, inflasi akanberhenti dengan sendirinnya.Laju inflasi disebabkan oleh laju pertambahan jumlah uang beredar dan anggapanmasyarakat mengenai harga-harga. Teori kuantitas ini di kemukankan oleh IrvingFisher. Adapun rumusnya sebagai berikut :Keterangan :M = Jumlah uang yang beredarV = Kecepatan perputaran uangP = Tingkat hargaT = Banyaknya transaksiDi setiap transaksi, jumlah yang dibayarkan oleh pembeli ssama dengan jumlahuang yang diterima penjual. Hal ini berlaku untuk seluruh perekonomian.Dalam periode tertentu nilai barang dan jasa yang dibeli harus sama dengan nilaibarang dan jasa yang dijual. Nilai barang yang dijual sama dengan volumetransaksi (T) di kalikan harga rata-rata barang tersebut (P).2. Teori Keynes`Menurut John Maynard Keynes,. Inflasi terjadi karena suatu masyarakat inginhidup di luar batas kemampuan ekonominya. Keynes berpendapat, proses inflasiadalah proses perebutan bagian rezeki diantara kelompok-kelompok sosial yangmenginginkan bagian yang lebih besar dari yang bisa disediakan oleh masyarakattersebut. Oleh keynes proses perebutan ini diterjemahkan menjadi keadaan dimana permintaan masyarakat terhadap barang selalu melebihi jumlah barang-barang yang tersedia. Peristiwa tersebut menimbulkan apa yang disebut celahinflasi atau inflationary gap.Celah inflasi ini timbul karena golongan-golongan masyarakat berhasil
  5. 5. menerjemahkan aspirasi mereka menjadi permintaan yng efektif terhadap barang.Golongan-golongan masyarakat yang dimaksud yaitu pemerintah, pengusaha, danserikat buruh. Pemerintah berusaha memperoleh bagian lebih besar dari outputmasyarakat dengan cara mencetak uang baru. Pengusaha melakukan investasidengan modal yang diperoleh dari kredit bank, serikat buruh atau pekerjamemperoleh kenaikan harga. Hal ini terjadi karena permintaan total melebihijumlah barang yang tersedia, maka harga-harga akan naik. Adanya kenaikanharga-harga ini menunjukan sebagian dari rencana-rencana pembelian barang darigolongan-golongan tersebut bisa dipenuhi.Proses inflasi akan terus berlangsung selama jumlah pemintaan efektif dari semuagolongan masyarakat melebihi jumlah output yang dihasilkan. Namun apabilapermintaan efektif total tidak melebihi harg-harga yang berlaku dari jumlah outputyang tersedia, maka inflasi akan berhenti.3. Teori StrukturalisTeori ini didasarkan atas pengalaman di Negara-negara amerika latin. Teori inimemberikan perhatian yang besar terhadap struktur perekonomian Negara-negarasedang berkembang. Hal ini disebabkan inflasi dikaitkan dengan faktor-faktorstruktural dari perekonomian.Menurut teori ini, ada dua hal penting dalam perekonomian Negara-negara sedangberkembang yang dapat menimbulkan inflasi, yaitu sebagai berikut :Ketidakjelasan penerimaan eksporNilai ekspor tumbuh secara lamban di bandingkan dengan pertumbuhan sektor-sektor lain. Adapun penyebab kelambanan tersebut adalah :Di pasar dunia harga barang-barang ekspor tersebut semakin memburuk.Produksi barang-barang ekspor tidak responsive terhadap kenaikan harga.Ketidakelastisan penawaran atau produksi bahan makanan di dalam negeri.Produksi bahan makanan di dalam negeri tidak tumbuh secepat pertumbuhanpenduduk dan pendapatan per kapita. Hal ini menyebabkan harga bahan makanandi dalam negeri cenderung untuk naik, sehingga melebihi tuntutan karyawanuntuk mendapatkan kenaikan harga barang-barang lain. Dampak yangditimbulkan yaitu munculnya tuntutan karyawan untuk mendapatkan kenaikanupah atau gaji. Naiknya upah karyawan menyebabkan kenaikan ongkos produksi.Hal ini berarti akan menaikan harga barang-barang. Kenaikan harga barang-barang tersebut mengakibatkan munculnya kenaikan upah lagi. Adanya kenaikanupah akan diikuti oleh kenaikan harga barang-barang begitu seterusnya.Proses ini akan berhenti apabila harga bahan makanan tidak terus naik. Namunkarena faktor strukturalis harga bahan makanan akan terus naik sehingga prosessaling dorong mendorong antara upah dan harga tersebut selalu mendapat“umpan” baru dan tidak akan berhenti.Menghitung Laju InflasiUmtuk menghitung laju inflasi dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain
  6. 6. sebagai berikut :GNP DeflatorGNP deflator adalah rasio GNP (Gross National Product) nominal pada tahuntertentu terhadap GNP riil pada tahun tersebut. Hal ini memrupakan ukuran inflasidari periode di mana harga dasar untuk menghitung GNP riil digunakan sampaiGNP sekarang. Perhitungan cara ini melibatkan semua barang yang diproduksi.GNP deflator dapat dihitung dengan rumus sebagai beriku :GNP Deflator = (ΣP1.Q1)/ΣΡοQ1Keterangan ;Q1 = Jumlah barang pada tahun tPo = Harga barang pada tahun dasarP1 = Jumlah barangSedangkan untuk menghitung inflasi dengan menggunakan GNP deflator adalah :LIt = (GNP.deflator1-GNP.deflator 1-1)/(GNP.deflator 1-1 )2.2 Peraturan – peraturanDengan diberlakuakn UU No.23 Tahun 1999 tersebut, sejak tahun 2000 BankIndonesia pada mulanya menetapkan sasaran inflasi pada awal tahun yang akandicapai untuk tahun yang bersangkutan. Sasaran ditetapkan untuk inflasi yangdiukur dengan indeks harga konsumen (IHK) dengan mengeluarkan dampak darikenaikan harga-harga yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah di bidang hargadan pendapatan (administered prices and Income policy). Sebagai contoh, sasaraninflasi ditetapkan sebesar 3-5%.Seperti dikemukakan diatas, penentuan sasaran inflasi dilakukan denganmemperhatikan prospek ekonomi makro dan karenanya didasarkan padaperkembangan dari proyeksi arah pergeraan ekonomi kedepan. Hal ini didasarkanpada pertimbangan bahwa terdapat ketidaksejalanan (trade-off) antara pencapaianinflasi yang rendah karena dapat menghambat pemulihan ekonomi nasional.Untuk itu dengan menggunakan model-model makro ekonomi yangdikembangkan, Bank indonesia menganalisis dan memproyeksi beberapa lajupertumbuhan ekonomi kedepannya, dengan berbagi komponen-komponen dankomposisinya yang didorong oleh sisi permintaan dan dari sisi penawaran.Dengan cara ini, dapat di ukur kecenderungan terjadinya kesengajaan antarabesarnya permintaan dengan penawaran agregat (yang diukur dengan outputpotensial), atau yang sering disebut output gap „kesenjangan output‟. Besarnyaoutput gap inilah yang diperkirakan akann menentukan besarnya tekanan terhadapinflasi ke depannya.Perubahan kewenangan terhadap sasaran inflasi tersebut diperkirakan tidak akanmengubah secara mendasar jenis dan besarnya sasran inflasi. Hal ini mengingatselama ini terjadi telah terjadi koordinasi yang baik antara pemerintah dan danBank Indonesia, khusunya dalam penetapan asumsi-asumsi variable ekonomimakro dalam proses penyusunan APBN yang didalamnya termasuk besarnya lajuinflasi ke depan. Barangkali yang diperlukan adalah pembakuan mekanismekoordinasi yang selama ini telah terjalin antara pemerintah dan Bank Indonesia.Dengan cara demikian, tidak saja koordinasi dan komitmen antara pemerintah danBank Indonesia akan semakin tinggi, tetapi juga digunakan public dalampencapaian sasran inflasi yang ditetapkan juga akan semakin besar.
  7. 7. BAB IIIPEMBAHASAN3.1 Bagaiman Terjadinya Inflasi ?Tingkat inflasi yang terjadi pada bulan Oktober 2005 yang sangat tinggi (8,75%)masih membuat prihatin banyak kalangan, karena itu banyak yang menyebutnyacore inflation, atau inflasi inti oleh Bank Indonesia yang besarnya sekitar 7-8%setahun, maka pengaruh inflasi ini secara agregatif menimbulkan inflasi lebih dari15% setahun. Arti atau definisi dari Inflasi itu sendiri seperti yang kita ketahuibahwa Inflasi adalah gejala kenaikan harga secara umum (artinya semua hargaterpengaruhi)oleh karena itu kebijakan pemerintah dan kebijakan moneter olehbank sentral. Sebagai contoh dalam masa pertama RI inflasinya tinggi sekali olehkarena kebijakan fiskal terlalu “gampangan” (loose). Artinya, kalo pemerintahmemerlukan uang maka ditempuh denngan cara mudah, yakni cetak saja uangbaru. Usaha untuk mengumpulkan pajak baru merupakan ussaha serius di zamanyang mutakhir. Pembiayaan defisit anggaran belanja pemerintah di usahakandengan cara yang tidak langsung menuju kepercetakan uang baru. Maka padatahap ini menarik pinjaman luar negeri menjadi jalan keluar yang sering ditempuh pemerintah. Ini sesuai dengan prinsip umum pembiayaan defisit anggaranbelanja pemerintah yaakni non-inflator, yakni bberhutang saja luar dan dalamnegeri atau menjual asset Negara. Menjual asset Negara untuk menutup defisitjuga merupakan upaya yang lebih mutakhir, yakni dengan menjual BUMN, baiksebagian sahamnya maupun secara keseluruhan.Bank Indonesia sebagai bank sentral saat ini merupakan misi tunggal yaitumenjaga nilai rupiah,artinya berusaha untuk mengekang terjadinya inflasi,kalauada tekanan inflasi yang meninggi maka BI menaikansuku bunga (BI rate atauSBI) sehingga dapat mengerem pengeluaran kredit baru oleh sistem perbankan.Akan tetapi kalau inflasi tetap memuncak maka BI menghadapi dilemma sepertisekarang ini.3.2 Sumber-sumber inflasi di IndonesiaTerdapat beberapa faktor utama yang menjadi penyebab timbulnya inflasi diIndonesia,yaitu:3.2.1 Jumlah uang beredar
  8. 8. Menurut sudut pandang kaum moneteris jumlah uang beredar adalah faktor utamayang di tuding sebagai penyebab timbulnya inflasi di setiap Negaraberkembang,tidak terkecuali di Indonesia.di Indonesia jumlah uang beredar inilebih banyak diterjemahkan dalam konsep narrow money (MI). Hal ini terjadikarena masih adanya tanggapan, bahwa uang kuasai hanya merupakan bagian darilikuiditasi perbankan. Sejak tahun 1976 presentase uang kuartal yang beredar(48,7%) lebih kecil daripada presentase jumlah uang giral yang beredar(51,3%).sehingga mengindikasikan bahwa telah terjadi proses modernisasi disektor moneter Indonesia juga mengindikasikan bahwa semakin sulitnya prosespengendalian jumlah uang beredar di Indonesia, dan semakin meluasnyamoneterisasi dalam kegiatan perekonomian subsisten, akibatnya memberikankecenderungan meningkatnya laju inflasi. Menurut data yang dihimpun dalamLaporan Bank Dunia menunjukan laju pertumbuhan rata-rata jumlah uang beredardi Indonesia pada periode tahun 1980-1992 relatif tinggi jika dibandingkandengan Negara-negara ASEAN lainnya (kecuali Filipina).kenaikan jumlah uangberedar di Indonesia pada tahun 1970-an sampai awal tahun 1980-an lebihdisebabkan oleh pertumbuhan kredit likuiditas dan defisit anggaran belanjapemerintah.pertumbuhan ini dapat merupakan efek langsung dari kebijakan BankIndonesia dalam sector keuangan (terutama dalam hal penurunan reserverequirement)3.2.1 Defisit Anggaran Belanja PemerintahSeperti halnya yang umum terjadi pada Negara berkembang, anggaran belanjapemerintah Indonesia pun sebenarnya mengalami defisit, meskipun Indonesiamenganut prinsip anggaran berimbang. Defisitnya anggaran belanja ini banyaksekali disebabkan oleh hal-hal yang menyangkut keterangan struktural ekonomiIndonesia, yang acap kali menimbulkan kesenjangan antara kemauan dankemampuan untuk membangun. Selama pemerintahan Orde lama defisit anggaranbelanja ini acapkali di biaya dari dalam negeri dengan cara melakukan pencetakanuang baru, mengingat orientasi kebijaksanaan pembangunan ekonomi yanginward looking policy, sehingga menyebabkan tekanan inflasi yang hebat, tetapisejak era Orde Baru, defisit anggaran belanja ini di tutup dengan pinjaman luarnegeri yang nampaknya relatif aman terhadap tekanan inflasi.Dalam era pemerintahan Orde baru, kebutuhan trhadap percepatan pertumbuhanekonomi yang telah dicanangkan sejak Pembangunan Jangka Panjang I,menyebabkan kebutuhan dana untuk melakukan pembangunan sangat besar.Dengan mengingat bahwa potensi mobilisasi dana pembangunan dari masyarakat(baik dari sektor tabungan masyarakat maupun pendapatan pajak) di dalam negeripada saat itu yang sangat terbatas (belum berkembang), juga kemampuan sectorswasta yang terbatas dalam melakukan pembangunan, menyebabkan pemerintahharus berperan sebagai motor pembangunan. Hal ini menyebabkan pospengeluaran APBN menjadi lebih besar daripada penerimaan rutin. Artinya, peranpengeluaran pemerintah dalam investasi tidak dapat di imbangi denganpenerimaan, sehingga menimbulkan kesenjangan antara pengeluaran danpenerimaan Negara, atau dapat dikatakan telah defisit struktural dalam keuanganNegara.Pada saat terjadinya oil booming, era tahun 70-an, pendapatan pemerintah di
  9. 9. sector migas meningkat pesat, sehingga jumlah uang primer pun semakinmmeningkat. Hal ini menyebabkan kemampuan pemerintah untuk berekspansiinvestasi di dalam negeri semakin meningkat. Dengan kondisi tingkatpertumbuhan produksi domestic yang relative lebih lamban akibat kapasitasproduksi nasional yang masih berada dalam keadaan under-employment,peningkatan permintaan (investasi) pemerintah menyebabkan terjadi relokasisumberdaya dari masyarakat ke pemerintah, seperti yang terkonsep dalam analisisKeynes tentang inflasi. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya tekanan inflasi.Tetapi, sejak berubahnya orientasi ekspor Indonesia ke komoditi non migas,sejalan dengan merosotnya harga minyak bumi di pasar ekspor (sejak 1982),menyebabkan kemampuan pemerinntah untuk membiayai pembangunan nasionalsemakin berkurang pula, sehingga pemerintah tidak dapat lagi mempertahankanposisinya sebagai penggerak (motor) pembangunan. Dengan kondisi seperti ini,menyebabkan secara bertahap peran sebagai penggerak utama pembangunannasional, dengan demikian sumber tekanan inflasi pun beralih dari pemerintah kenon pemerintah (swasta). Tekanan inflasi pada periode ini lebih di sebabkan olehmeningkatnya tingkat agresifitas sector swasta dalam melakukan ekspansi usaha,yang didukung oleh perkembangan sector perbankan yang semakin ekspansifpula. Dengan kondisi sumberdaya modddal domestic yang masih saja relativeterbatas, maka pinjaman luar negeri yang sifatnya komersial maupun nonkomersial pun semakin meningkat. Peran pemerintah ini dapat dimaklumi karenakemampuan swasta nasional dalam pembangunan infrastruktur ekonomi masihsangat terbatas.3.3 Efek yang ditimbulkan dari Inflasi1. Efek terhadap pendapatan (Equity Effect)Efek terhadap pendapatan sifatnya tidak merata, ada yang dirugikan tetapi adapula yang di untungkan dengan adanya Inflasi. Seseorang yang memperolehpendapatan tetap akan dirugikan oleh adanya inflasi. Misalnya seorang yangmemperoleh pendapatan tetap Rp. 500.000,00 per tahun sedang laju inflasisebesar 10%, akan menderita kerugian penurunan pendapatan riil sebesar lajuinflasi tersebut, yakni Rp.50.000,002. Efek terhadap efisiensi (Efficiency Effect)Inflasi dapat pula mengubah pola alokasi faktor-faktor produksi. Perubahan inidapat terjadi melalui kenaikan permintaan akan berbagai macam barang yangkemudian dapat mendorong terjadinya perubahan dalam produksi beberapabarang tertentu sehingga mengakibatkan alokasi faktor produksi menjadi tidakefisien.3. Efek terhadap Output (Output Effect)Dalam menganalisa kedua efek diatas (Equity dan Efficiency Effect) digunakansuatu anggapan bahwa output tetap. Hal ini dilakukan supaya dapat diketahui efekinflasi terhadap distribusi pendapatan dan efisiensi dari jumlah output tertentutersebut.4. Inflasi dan Perkembanngan Ekonomi.Inflasi yang tinggi tingkatnya tidak akan menggalakan perkembangan ekonomi.Biaya yang terus menerus naik menyebabkan kegiatan produktif sangat tidakmenguntungkan. Maka pemilik modal biasanya lebih suka menggunakan uangnya
  10. 10. untuk tujuan spekulasi. Antara lain tujuan ini dicapai dengan pembeli harta-hartatetap setiap tanah, rumah dan bangunan. Oleh karena pengusaha lebih sukamenjalankan kegiatan investasi yang bersifat seperti ini, investasi produktif akanberkurang dan tingkat kegiatan ekonomi menurun. Sebagai akibatnya lebihbanyak pengangguran akan terwujud.5. Inflasi dan Kemaknmuran masyarakat.Disamping menimbulkan efek buruk ke atas kegiatan ekonomi Negara, inflasijuga akan menimbulkan efek-efek berikut kepada individu masyarakat :a. Inflasi akan menimbulkan pendapatan riil orang-orang yang berpendapatantetap.b. Inflasi akan mengurangi nilai kekayaan yang berbentuk uang.c. Memperburuk pembagian kekayaan.3.5 Inflasi dan PenganguranIde tentang adanya hubungan antara inflasi dan pengangguran itu relatif baru,kira-kira pada akhir tahun 1950an. Secara sistematik hubungan ini baru mulaidiperkenalkan oleh AW Philips pada tahun 1958 dari hasil studi lapangan tentanghubungan antara kenaikan tingkat upah dengan pengangguran di inggris padatahun 1861-1957Kurva yang menunjukan adanya hubungan negatif ini sering di sebut kurvaPhilips (sesuai dengan nama penemunya). Kurva tersebut sejalan dengan keadaanyang terjadi di inggris pada periode 1861-1957. Tahun dimana tingkatpengangguran rendah adalah juga tahun dimana tingkat kenaikan upah tinggi, dansebaliknya tahun dimana pengangguran tinggi, tingkat kenaikan upah rendah.1) Implikasi kebijaksanaanSampai pada akhir tahun 1950an masalah pokok kebijaksanaan makro ekonomiadalah untuk mencapai secara serentak kestabilan harga serta kesempatan kerjayang tinggi. Namun beberapa pemikiran pada waktu itu meragukan tercapainyakedua tujuan tersebut secara berssama-sama. Kurva Philips dapat menjelaskankeadaan pesimis ini. Kestabilan harga dan kesempatan kerja yang tinggi adalahdua hal yang tidak bisa terjadi bersama-sama.2) Dasar TeoriKurva Philips diperoleh semata-mata atas dasar studi empiric, tidak ada dasarteorinya. Lipsey pada tahun 1960 mencoba untuk mengisi daassar teorinya. Untuktujuan ini dia menggunakan teori pasar tenaga kerja sebagai dasar teorinya.3.4 Cara mencegah InflasiDengan menggunakan Irving Fisher MV = PT, dapat dijelaskan bahwa inflasitimbul karena MV naik lebih cepat daripada T. oleh Karena itu untuk mencegahterjadinya inflasi maka salah satu variable (M atau V) harus dikendalikan. Caramengatur variable M,V dan T tersebut dapat dilakukan dengan menggunakankebijakan moneter,fiskal atau kebijakan yang menyangkut kenaikan produksi.1. Kebijakan Moneter.Sasaran kebijakan moneter dicapai melalui pengaturan jumlah uang beredar (M).salah satu komponen jumlah uang adalah uang giral (demand deposito). Uanggiral terjadi melalui dua cara, pertama,apabila seseorang memasukan uang kas ke
  11. 11. bank dalam bentuk giro, kemudian yang kedua apabila seseorang memperolehpinjaman dari bank mereka tidak terima dalam bentuk kas tetapi dalam bentukgiro. Instrument lain yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya inflasiadalah politik pasar terbuka (jual/beli surat berharga). Dengan cara menjual suratberharga bank sentral dapat menekan perkembangan jumlah uang beredarsehingga laju inflasi dapat lebih rendah.2. kebijaksanaan FiskalKebijaksanaan fiskal menyangkut pengaturan tentang pengeluaran pemerintahserrta perpajakan yang secara langsung dapat mempengaruhi permintaan total dandengan demikian akan mempengaruhi harga. Inflasi dapat dicegah melaluipenurunan permintaan total. Kebijakan fiskal yang berupa penguranganpengeluaran pemerintah serta kenaikan pajak akan dapat mengurangi permintaantotal, sehingga inflasi dapat ditekan.3. Kebijaksanaan yang berkaitan dengan Output.Kenaikan Output dapat memperkecil laju inflasi. Kenaikan jumlah output inidapat dicapai missalnya dengan kebijaksanaan penurunan bea masuk sehinggaimpor barang cenderung meningkat. Bertambahnya jumlah barang didalam negericenderung menurunkan harga.4. kebijaksanaan Penentuan Harga dan Indexing.Ini dilakukan dengan penentuam ceiling harga, serta mendasarkan pada indeksharga tertentu untuk gaji ataupun upah (dengan demikian gaji/upah secara riiltetap). Kalau indeks harga naik maka gaji/upah juga dinaikan.3.6 Bagaimana mengatasi InflasiUntuk mencegah terjadinya Inflasi, BI bisa melakukan kebijakan uang ketatmeliputi :1. Peningkatan tingkat suku bunga2. Penjualan surat berharga3. Peningkatan cadangan Kas4. Pengetatan pemberian kreditDalam pemulihan makro ekonomi, tim ekonomi pemerintah harus mampumenciptakan kestabilan makro ekonomi, dengan menekan inflation rate menjadisingle digit, sekitar 8%. Makro ekonomi yang menyangkut tiga komponen yaituinterest rate, inflation rate dan exchange rate, yang semuanya saling tergantungdan saling mempengaruhi satu sama lain. Di sisi lain, dengan diturunkannya BIrate, hal tersebut berpengaruh pada turunnya suku bunga perbankan dan akanmendorong investor menanamkan investasi lebih banyak. Aktivitas perekonomianterus berputar. Dengan demikian akan mampu menyerap tenaga kerja dalamjumlah yang besar secara bertahap, sehingga pendapatan masyarakat akan ikutnaik. Dalam rangka menungkatkan iklim investasi secara nasional gunamenanggulangi dan meningkatkan di sektor riil.BAB IVKESIMPULANInflasi merupakan gejala kenaikan harga secara umum (artinya semua harga
  12. 12. terpengaruhi) oleh karena kelangkaan persediaan barang yang ada di pasaran.Penyebab inflasi antara lain :Kebijakan fiskal terlalu “gampangan” (loose). Artinya, kalau pemerintahmemerlukan uang maka ditempuh jalan yang mudah, yakni cetak saja uang baruKenaikan harga BBM yang diikuti harga sembako yang disebabkan kelangkaanBBM atau sembako tersebut. Sebenarnya hal ini disebabkan karena distribusiBBM atau sembako tersebut yang kurang lancar.Kenaikan biaya pendidikanMenurunnya nilai tukar rupiah terhadap dollar, karena menurunnya kinerja pasarmodalMasalah Inflasi di Indonesia ternyata bukan saja merupakan fenomena jangkapendek, tetapi juga merupakan fenomena jangka panjang. Dalam arti, bahwaInflasi di Indonesia bukan semata-mata disebabkan oleh gagalnya pelaksanaankebijaksanaan di sektor moneter oleh pemerintah, yang seringkali dilakukan untuktujuan mmenstabilkan fluktuasi tingkat harga umum dalam jangka pendek, tetapijuga mengindikasikan masih adanya hambatan-hambatan structural tersebut, makamau tidak mau harus memperhatikan dengan seksama pembangunan ekonomi disektor riil. Dengan melakukan pembenahan di sektor riil secara tepat, makakemantapan fundamental ekonomi Indonesia dapat diperkokoh. Defisit APBN,peningkatan cadangan devisa, pembenahan sektor pertanian khususnya pada subsektor pangan, pembenahan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi posisipenawaran agregat merupakan hal-hal yang perlu mendapatkan penanganan yangserius untuk dapat menekan Inflasi ke tingkat yang serendah mungkin diIndonesia, disamping tentunya pengelolaan tepat dan pembenahan di sektormoneter.DAFTAR PUSTAKA- Herlambang, Tedy dkk. Ekonomi Makro: Teori, Ekonomi dan Kebijakan. PT.Gramedia Pustaka Utama. Jakarta : 2001- Adiwarman Karim, EKONOMI ISLAM suatu kegiatan EKONOMI MAKRO.Kanin Bisnis Consultan, Jakarta; 2002.-M. Suparmoko, PENGANT AR EKONOMI MAKRO, BPFE, Yogyakarta; 1994- Adiningsih, Sri. "Perkembangan Moneter Perbankan Indonesia". MakalahSeminar Sehari Kerjasama FE UGM dengan BI, MM; 2000- Boediono. "Inflation Targeting". Makalah Seminar Sehari Kerjasama FE UGMdengan BI, MM UGM, 29 September 2000- Nopirin. "Kebijakan Moneter Dengan Target Inflasi". Makalah Seminar SehariKerjasama FE UGM dengan BI, MM UGM, 29 September. 2000

×