Keutamaan shalat malam dan anjurannya
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Keutamaan shalat malam dan anjurannya

on

  • 1,612 views

 

Statistics

Views

Total Views
1,612
Views on SlideShare
1,612
Embed Views
0

Actions

Likes
1
Downloads
48
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Keutamaan shalat malam dan anjurannya Keutamaan shalat malam dan anjurannya Document Transcript

  • 1 QIYAAMUL LAIL Keutamaan Shalat Malam Dan Anjurannya KEUTAMAAN SHALAT MALAM DAN ANJURANNYA Oleh Muhammad bin Suud Al-Uraifi Allah Subhanahu wa Ta‟ala telah menjelaskan di dalam al-Qur-an pada banyak ayat dan juga Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam dalam banyak hadits tentang besarnya pahala yang diperoleh dari melaksanakan shalat malam. Bahkan, ketahuilah wahai pembaca yang budiman –sebelum kami memaparkan ayat-ayat dan hadits-hadits tersebut– bahwa shalat yang paling baik setelah shalat wajib adalah shalat malam, dan hal ini telah menjadi ijma' (kesepakatan) ulama.[1] Ayat-Ayat Tentang Keutamaan Shalat Malam Dan Anjurannya Di dalam banyak ayat, Allah Subhanahu wa Ta‟ala menganjurkan kepada Nabi-Nya yang mulia untuk melakukan shalat malam. Antara lain adalah: "Dan pada sebagian malam hari shalat Tahajjud-lah kamu...." [Al-Israa'/17: 79] "Dan sebutlah nama Rabb-mu pada (waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari." [Al-Insaan/76: 25-26]. "Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai shalat." [Qaaf/50: 40]. "Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Rabb-mu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu ketika kamu bangun berdiri, dan bertasbihlah kepada-Nya pada be-berapa saat di malam hari dan waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar)." [Ath-Thuur/52: 4849] Allah Subhanahu wa Ta‟ala bahkan memerintahkan kepada beliau Shallallahu „alaihi wa sallam apabila telah selesai melakukan shalat wajib agar melakukan shalat malam,[2] hal itu sebagaimana terdapat pada firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala: "Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabb-mu-lah hendaknya kamu berharap." [Asy-Syarh/94 : 7-8) Allah Subhanahu wa Ta‟ala pun memuji para hamba-Nya yang shalih yang senantiasa melakukan shalat malam dan bertahajjud, Allah Subhanahu wa Ta‟ala berfirman: "Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah)." [Adz-Dzaariyaat/51: 17-18]
  • 2 Ibnu „Abbas Radhiyallahu anhumamengatakan, "Tak ada satu pun malam yang terlewatkan oleh mereka melainkan mereka melakukan shalat walaupun hanya beberapa raka'at saja."[3] Al-Hasan al-Bashri berkata, "Setiap malam mereka tidak tidur kecuali sangat sedikit sekali."[4] Al-Hasan juga berkata, "Mereka melakukan shalat malam dengan lamanya dan penuh semangat hingga tiba waktu memohon ampunan pada waktu sahur."[5] Allah Subhanahu wa Ta‟ala berfirman dalam memuji dan menyanjung mereka: "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo‟a kepada Rabb-nya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkah-kan sebagian dari rizki yang Kami berikan ke-pada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata, sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." [As-Sajdah/32: 16-17] Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, "Yang dimaksud dengan apa yang mereka lakukan adalah shalat malam dan meninggalkan tidur serta berbaring di atas tempat tidur yang empuk."[6] Al-'Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, "Cobalah renungkan bagaimana Allah membalas shalat malam yang mereka lakukan secara sembunyi dengan balasan yang Ia sembunyikan bagi mereka, yakni yang tidak diketahui oleh semua jiwa. Juga bagaimana Allah membalas rasa gelisah, takut dan gundah gulana mereka di atas tempat tidur saat bangun untuk melakukan shalat malam dengan kesenangan jiwa di dalam Surga."[7] Dari Asma' binti Yazid Radhiyallahu anha, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Bila Allah mengumpulkan semua manusia dari yang pertama hingga yang terakhir pada hari Kiamat kelak, maka datang sang penyeru lalu memanggil dengan suara yang terdengar oleh semua makhluk, 'Hari ini semua yang berkumpul akan tahu siapa yang pantas mendapatkan kemuliaan!' Kemudian penyeru itu kembali seraya berkata, 'Hendaknya orang-orang yang 'lambungnya jauh dari tempat tidur' bangkit, lalu mereka bangkit, sedang jumlah mereka sedikit."[8] Di antara ayat-ayat yang memuji orang-orang yang selalu melakukan shalat malam adalah firman Allah: "(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabb-nya?..." [AzZumar/39: 9]. "Mereka itu tidak sama, di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (shalat)." [Ali „Imraan/3: 113] "Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka." [Al-Furqaan/25: 64] "Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud...." [Al-Fat-h/48: 29]
  • 3 "(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur." [Ali-'Imran/3: 17]. Dan lain sebagainya dari ayat-ayat al-Qur-an. Saya katakan, "Barangsiapa yang menginginkan pengetahuan yang bermanfaat dan faidah yang banyak, hendaknya menelaah penafsiran ayat-ayat ini dalam kitab-kitab tafsir, karena di sana terdapat manfaat dan faidah yang amat besar. Saya sengaja tidak memaparkannya di sini, semata karena komitmen saya untuk membahas secara ringkas dan tidak mendalam." Hadits-Hadits Tentang Keutamaan Shalat Malam Dan Anjurannya: Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam senantiasa menganjurkan kepada para Sahabatnya untuk melakukan shalat malam dan membaca al-Qur-an di dalamnya. Hadits-hadits yang mengungkapkan tentang hal ini sangat banyak untuk dapat dihitung. Namun kami hanya akan menyinggung sebagiannya saja, berikut panda-ngan para ulama sekitar masalah ini. Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat yang dilakukan di malam hari."[9] Al-Bukhari rahimahullah berkata: "Bab Keutamaan Shalat Malam." Selanjutnya ia membawakan hadits dengan sanadnya yang sampai kepada Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma, bahwa ia berkata: "Seseorang di masa hidup Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam apabila bermimpi menceritakannya kepada beliau. Maka aku pun berharap dapat bermimpi agar aku ceritakan kepada Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam. Saat aku muda aku tidur di dalam masjid lalu aku bermimpi seakan dua Malaikat membawaku ke Neraka. Ternyata Neraka itu berupa sumur yang dibangun dari batu dan memiliki dua tanduk. Di dalamnya terdapat orang-orang yang aku kenal. Aku pun ber ucap, 'Aku berlindung kepada Allah dari Neraka!' Ibnu 'Umar melanjutkan ceritanya, 'Malaikat yang lain menemuiku seraya berkata, 'Jangan takut!' Akhirnya aku ceritakan mimpiku kepada Hafshah dan ia menceritakannya kepada Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda: . 'Sebaik-baik hamba adalah „Abdullah seandainya ia melakukan shalat pada sebagian malam.' Akhirnya 'Abdullah tidak pernah tidur di malam hari kecuali hanya beberapa saat saja."[10] Ibnu Hajar berkata: "Yang menjadi dalil dari masalah ini adalah sabda Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam: 'Sebaik-baik hamba adalah 'Abdullah seandainya ia melakukan shalat pada sebagian malam.' Kalimat ini mengindikasikan bahwa orang yang melakukan shalat malam adalah orang yang baik."[11] Ia berkata lagi, "Hadits ini menunjukkan bahwa shalat malam bisa menjauhkan orang dari adzab."[12] „Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata: "Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam selalu melakukan shalat malam hingga kedua telapak kakinya pecah-pecah."[13] Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Syaitan mengikat di pangkal kepala seseorang darimu saat ia tidur dengan tiga ikatan yang pada masingmasingnya tertulis, 'Malammu sangat panjang, maka tidurlah!' Bila ia bangun lalu berdzikir kepada Allah, maka satu ikatan lepas, bila ia berwudhu‟ satu ikatan lagi lepas dan bila ia shalat satu ikatan lagi lepas. Maka di pagi hari ia dalam keadaan semangat dengan jiwa yang baik. Namun jika ia tidak melakukan hal itu, maka di pagi hari jiwanya kotor dan ia menjadi malas."[14] View slide
  • 4 Ibnu Hajar berkata: "Apa yang terungkap dengan jelas dalam hadits ini adalah, bahwa shalat malam memiliki hikmah untuk kebaikan jiwa walaupun hal itu tidak dibayangkan oleh orang yang melakukannya, dan demikian juga sebaliknya. Inilah yang diisyaratkan Allah dalam firman-Nya: "Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih terkesan." [Al-Muzzammil/73: 6] Sebagian ulama menarik kesimpulan dari hadits ini bahwa orang yang melakukan shalat malam lalu ia tidur lagi, maka syaitan tidak akan kembali untuk mengikat dengan beberapa ikatan seperti semula."[15] Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah (berpuasa pada) bulan Allah yang mulia (Muharram) dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam."[16] An-Nawawi rahimahullah berkata: "Hadits ini menjadi dalil bagi kesepakatan ulama bahwa shalat sunnah di malam hari adalah lebih baik daripada shalat sunnah di siang hari."[17] Ath-Thibi berkata: "Demi hidupku, sungguh, seandainya tidak ada keutamaan dalam melakukan shalat Tahajjud selain pada firman Allah: "Dan pada sebagian malam hari bershalat ta-hajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudahmudahan Rabb-mu mengang-katmu ke tempat yang terpuji." [Al-Israa‟/17: 79] Dan juga firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala: "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo‟a kepada Rabb-nya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata..." [As-Sajdah/32: 16-17]. Juga ayat-ayat yang lainnya, maka hal itu sudah cukup menjadi bukti keistimewaan shalat ini."[18] Dari 'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash Radhiyallahu anhuma ia menuturkan, bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Shalat yang paling dicintai Allah adalah shalat Nabi Dawud Alaihissallam dan puasa yang paling dicintai Allah juga puasa Nabi Dawud Alaihissallam. Beliau tidur setengah malam, bangun sepertiga malam dan tidur lagi seperenam malam serta berpuasa sehari dan berbuka sehari."[19] Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: "Al-Mahlabi mengatakan Nabi Dawud Alaihissallam mengistirahatkan dirinya dengan tidur pada awal malam lalu ia bangun pada waktu di mana Allah menyeru, 'Adakah orang yang meminta?, niscaya akan Aku berikan permintaannya!' lalu ia meneruskan lagi tidurnya pada malam yang tersisa sekedar untuk dapat beristirahat dari lelahnya melakukan shalat Tahajjud. Tidur terakhir inilah yang dilakukan pada waktu Sahur. Metode seperti ini lebih dicintai Allah karena bersikap sayang terhadap jiwa yang dikhawatirkan akan merasa bosan (jika dibebani dengan beban yang berat,-ed) dan Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam telah bersabda: . View slide
  • 5 'Sesungguhnya Allah tidak akan pernah merasa bosan sampai kalian sendiri yang akan merasa bosan.' Allah Subhanahu wa Ta‟ala ingin selalu melimpahkan karunia-Nya dan memberikan kebaikan-Nya."[20] Dari Jabir bin 'Abdillah Radhiyallahu anhu ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Sesungguhnya di malam hari terdapat waktu tertentu, yang bila seorang muslim memohon kepada Allah dari kebaikan dunia dan akhirat pada waktu itu, maka Allah pasti akan memberikan kepadanya, dan hal tersebut ada di setiap malam."[21] An-Nawawi rahimahullah berkata, "Hadits ini menetapkan adanya waktu dikabulkannya do‟a pada setiap malam, dan mengandung dorongan untuk selalu berdo‟a di sepanjang waktu malam, agar mendapatkan waktu itu."[22] Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia menuturkan, bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun di waktu malam lalu shalat dan ia pun membangunkan isterinya lalu sang istri juga shalat. Bila istri tidak mau bangun ia percikkan air ke wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang isteri yang bangun di waktu malam lalu ia shalat dan ia pun membangunkan suaminya. Bila si suami enggan untuk bangun ia pun memercikkan air ke wajahnya."[23] Dari Abu Sa'id al-Khudri Radhiyallahu anhu ia menuturkan, Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Barangsiapa yang bangun di waktu malam dan ia pun membangunkan isterinya lalu mereka shalat bersama dua raka'at, maka keduanya akan dicatat termasuk kaum laki-laki dan wanita yang banyak berdzikir kepada Allah."[24] Al-Munawi berkata, "Hadits ini seperti dikemukakan oleh ath-Thibi menunjukkan bahwa orang yang mendapatkan kebaikan seyogyanya menginginkan untuk orang lain apa yang ia inginkan untuk dirinya berupa kebaikan, lalu ia pun memberikan kepada yang terdekat terlebih dahulu."[25] Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia menuturkan, Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang perilakunya kasar, sombong, tukang makan dan minum serta suka berteriak di pasar. Ia seperti bangkai di malam hari dan keledai di siang hari. Dia hanya tahu persoalan dunia tapi buta terhadap urusan akhirat.'"[26] Dari Anas Radhiyallahu anhu ia menuturkan, Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . “Allah telah menjadikan pada kalian shalat kaum yang baik; mereka shalat di waktu malam dan berpuasa di waktu siang. Mereka bukanlah para pelaku dosa dan orang-orang yang jahat.”[27] Dari 'Abdullah bin Salam Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Yang pertama kali aku dengar dari Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam adalah sabda beliau:
  • 6 . "Wahai manusia, tebarkan salam, berilah makan, sambunglah tali silaturahmi dan shalatlah di malam hari saat manusia tertidur, niscaya kalian akan masuk ke dalam Surga dengan selamat."[28] 'Abdullah bin Qais mengatakan, bahwa „Aisyah Radhiyallahun anhuma berkata: "Janganlah kalian meninggalkan shalat malam karena Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya. Jika beliau sakit atau malas, beliau shalat dalam keadaan duduk."[29] Dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu anhu ia menuturkan, Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Keutamaan shalat malam atas shalat siang, seperti keutamaan bersedekah secara sembunyi atas bersedekah secara terang-terangan."[30] Dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu anhu ia menuturkan pula, Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Ketahuilah, sesungguhnya Allah tertawa terhadap dua orang laki-laki: Seseorang yang bangun pada malam yang dingin dari ranjang dan selimutnya, lalu ia berwudhu‟ dan melakukan shalat. Allah Subhanahu wa Ta‟ala berfirman kepada para Malaikat-Nya, 'Apa yang mendorong hamba-Ku melakukan ini?' Mereka menjawab, 'Wahai Rabb kami, ia melakukan ini karena mengharap apa yang ada di sisi-Mu dan takut dari apa yang ada di sisi-Mu pula.' Allah berfirman, 'Sesungguhnya Aku telah memberikan kepadanya apa yang ia harapkan dan memberikan rasa aman dari apa yang ia takutkan.'"[31] Masih banyak lagi hadits-hadits Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam yang menjelaskan tentang keutamaan shalat malam, dorongan terhadapnya dan kedudukan orang-orang yang senantiasa melakukannya. Atsar Sahabat Dan Kaum Salaf Tentang Keutamaan Shalat Malam Dan Anjurannya Dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu anhu, ia berkata, "Sesungguhnya di dalam Taurat tertulis, 'Sungguh Allah telah memberikan kepada orang-orang yang lambungnya jauh dari tempat tidur apa yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia, yakni apa yang tidak diketahui oleh Malaikat yang dekat kepada Allah dan Nabi yang diutus-Nya.'"[32] Dari Ya‟la bin „Atha' ia meriwayatkan dari bibinya Salma, bahwa ia berkata, "'Amr bin al-'Ash berkata, 'Wahai Salma, shalat satu raka'at di waktu malam sama dengan shalat sepuluh raka'at di waktu siang."[33] 'Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata, "Seandainya tidak ada tiga perkara; seandainya aku tidak pergi berjihad di jalan Allah, seandainya aku tidak mengotori dahiku dengan debu karena ber-sujud kepada Allah dan seandainya aku tidak duduk bersama orang-orang yang mengambil kata-kata yang baik seperti mereka mengambil kurma-kurma yang baik, maka aku merasa senang berjumpa dengan Allah."[34] Saat menjelang wafatnya Ibnu 'Umar, ia berkata, "Tidak ada sesuatu yang sangat aku sedihkan di dunia ini selain rasa dahaga di siang hari dan kelelahan di malam hari." Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhuma berkata, "Kemulian seseorang terletak pada shalatnya di malam hari dan sikapnya menjauhi apa yang ada pada tangan orang lain."[35] Thalhah bin Mashraf berkata, "Aku mendengar bila seorang laki-laki bangun di waktu malam untuk melakukan shalat malam, Malaikat memanggilnya, 'Berbahagialah engkau karena engkau telah menempuh jalan para ahli ibadah sebelummu.'" Thalhah mengatakan lagi, "Malam itu pun berwasiat kepada malam setelahnya agar membangunkannya pada waktu di mana ia bangun." Thalhah mengatakan lagi, "Kebaikan turun dari atas langit ke pembelahan rambutnya dan ada penyeru yang berseru, 'Seandainya seorang yang bermunajat tahu siapa yang ia seru, maka ia tidak akan berpaling (dari munajatnya).‟”[36] Dari al-Hasan al-Bashri berkata, “Kami tidak mengetahui amal ibadah yang lebih berat daripada lelahnya
  • 7 melakukan shalat malam dan menafkahkan harta ini.”[37] Al-Hasan juga pernah ditanya, “Mengapa orang yang selalu melakukan shalat Tahajjud wajahnya lebih indah?” Ia menjawab, “Sebab mereka menyendiri bersama ar-Rahman (Allah), sehingga Allah memberikan kepadanya cahaya-Nya.”[38] Syuraik berkata, “Barangsiapa yang banyak shalatnya di malam hari, maka wajahnya akan tampak indah di siang hari."[39] Yazid ar-Riqasyi berkata, "Shalat malam akan menjadi cahaya bagi seorang mukmin pada hari Kiamat kelak dan cahaya itu akan berjalan dari depan dan belakangnya. Sedangkan puasa seorang hamba akan menjauhkannya dari panasnya Neraka Sa'ir."[40] Wahab bin Munabih berkata, "Shalat di waktu malam akan menjadikan orang yang rendah kedudukannya, mulia, dan orang yang hina, berwibawa. Sedangkan puasa di siang hari akan mengekang seseorang dari dorongan syahwatnya. Tidak ada istirahat bagi seorang mukmin tanpa masuk Surga."[41] Al-Awza'i berkata, "Aku mendengar barangsiapa yang lama melakukan shalat malam, maka Allah akan meringankan siksanya pada hari Kiamat kelak."[42] Ishaq bin Suwaid berkata, "Orang-orang Salaf memandang bahwa berekreasi adalah dengan cara puasa di siang hari dan shalat di malam hari."[43] Saya katakan, "Dari pemaparan terdahulu jelaslah bahwa shalat malam memiliki keutamaan yang besar dan hanya orang yang merugi yang meninggalkannya." Kita berlindung kepada Allah dari kerugian dan hanya Dia-lah tempat memohon pertolongan. [Disalin dari kitab "Kaanuu Qaliilan minal Laili maa Yahja‟uun" karya Muhammad bin Su'ud al-„Uraifi diberi pengantar oleh Syaikh 'Abdullah al-Jibrin, Edisi Indonesia Panduan Lengkap Shalat Tahajjud, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir] Hukum Shalat Malam, Tata Cara Melakukan Shalat Malam HUKUM SHALAT MALAM Oleh Muhammad bin Suud Al-Uraifi Mayoritas ulama mengatakan bahwa hukum shalat malam adalah sunnah mu'akkadah (yang sangat) ditekankan berdasarkan al-Qur-an, as-Sunnah dan ijma' kaum muslimin. [1] Dari 'Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu menuturkan, bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam datang kepadanya dan kepada putri beliau, Fathimah, di malam hari, lalu beliau berkata, "Mengapa kalian tidak shalat?" Aku ('Ali) berkata, "Wahai Rasulullah, jiwa kami ada di tangan Allah, jika Allah berkehendak membangunkan kami (untuk shalat) tentu kami akan bangun." Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam lalu pergi ketika kami mengatakan begitu dan beliau sama sekali tidak membalas kami hingga kemudian aku mendengarnya mengatakan sambil memukul pahanya. "Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah." [Al-Kahfi: 54].[2] Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma menuturkan, bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam shalat pada suatu malam di masjid lalu orang-orang bermakmum dengannya. Kemudian beliau shalat lagi pada malam
  • 8 berikutnya dan orang-orang yang shalat bersamanya bertambah banyak. Kemudian pada malam ketiga atau keempat orang-orang telah berkumpul, namun Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam tidak keluar untuk shalat bersama mereka. Ketika di pagi hari beliau berkata, "Aku telah mengetahui apa yang kalian lakukan dan aku tidak keluar menemui kalian melainkan karena aku takut shalat ini akan diwajibkan atas kalian." Peristiwa ini terjadi pada bulan Ramadhan.[3] Berdasarkan kedua hadits ini dan hadits-hadits lainnya al-Bukhari membuat sebuah bab dengan judul “Tahriidhin Nabiy Shallallahu „alaihi wa sallam 'ala Qayaamil Laili min Ghairi Iijaab" (Dorongan Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam untuk melakukan shalat malam tanpa mewajibkannya.) Ibnu Hajar berkata, "Ibnu al-Munir mengatakan, judul bab ini mengandung dua hal; dorongan (untuk melakukan shalat malam) dan tidak mewajibkannya."[4] Komentar saya, Pada mulanya shalat malam diwajibkan lalu hukum itu dihapuskan, (berikut penjelasannya): Dari Sa'ad bin Hisyam Radhiyallahu anhu, ia bertanya kepada Ummul Mukminin 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, "Wahai Ummul Mukminin, ceritakanlah kepadaku tentang shalat malam yang dilakukan Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam?" „Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata, "Bukankah kamu telah membaca ayat ini, 'Wahai orang yang berselimut?'" Aku menjawab, "Ya." „Aisyah berkata, "Sesungguhnya Allah telah mewajibkan shalat malam di awal surat ini, lalu Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam dan para Sahabatnya melakukannya selama setahun hingga telapak kaki mereka pecah-pecah. Akhir surat ini Allah tahan di atas langit selama dua belas bulan, lalu barulah Allah menurunkan keringanan di akhir surat ini, maka jadilah shalat malam tersebut shalat yang sunnah, untuk melengkapi shalat-shalat yang wajib."[5] ) "Bangunlah untuk shalat di malam hari kecuali sedikit daripadanya" dengan mengatakan, "Allah memerintahkan Nabi-Nya dan kaum mukmin untuk melakukan shalat di malam hari kecuali sedikit daripadanya, lalu hal itu membuat berat mereka sehingga Allah meringankannya dan mengasihani mereka dengan menurunkan ayat, "Allah tahu bahwa di antara kalian ada orang-orang yang sedang sakit." Dengan turunnya ayat ini Allah telah membuat mereka merasa lapang dan tidak sempit. Masa di antara turunnya dua ayat itu adalah setahun, yakni antara ayat, "Wahai orang yang berselimut, bangunlah untuk melakukan shalat di malam hari." Dan ayat "Bacalah apa yang mudah bagimu" [6] hingga akhir surat. Dalil-Dalil Lain Yang Menunjukkan Bahwa Shalat Malam Adalah Sunnah. Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma, ia menceritakan, bahwa Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam bangun pada suatu malam lalu beliau berkata: . "Subhanallah, ujian apa yang Allah turunkan malam ini dan simpanan apa yang Dia turunkan bagi orang yang
  • 9 membangunkan wanita-wanita yang tengah tidur di kamarnya. Wahai kaum, banyak wanita-wanita yang berpakaian di dunia tetapi telanjang di akhirat."[7] Ibnu Hajar rahimahullah berkata: "Tidak wajibnya melakukan shalat malam, diambil dari sikap Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam yang tidak mewajibkan para wanita tersebut melakukannya."[8] Dari Abu Umamah Radhiyallahu anhu ia menuturkan, bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Lakukanlah shalat malam oleh kalian, karena hal itu merupakan kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian. Ia pun dapat mendekatkan kalian kepada Rabb kalian, menghapus segala kesalahan dan mencegah dari perbuatan dosa." [9] Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia meriwayatkan sebuah hadits dari Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam, yang di antara sabdanya adalah: . "Pelajarilah oleh kalian al-Qur-an dan bacalah, walaupun kalian tidak melakukan shalat malam dengan bacaan al-Qur-an itu, karena sesungguhnya perumpamaan orang yang mempelajari al-Qur-an lalu membacanya dan melakukan shalat malam dengan bacaan al-Qur-an itu, seperti kantung yang berisi minyak misik dan semerbaknya menyebar ke seluruh tempat. Sedangkan perumpamaan orang yang mempelajari al-Qur-an dan ia tidur (tidak bangun untuk melakukan shalat malam) sedang al-Qur-an itu ada dihafalannya, seperti kantung yang ditutup dengan minyak misik." [10] Seorang laki-laki berkata kepada Ibnu „Umar Radhiyallahu anhuma, "Sesungguhnya aku ingin melakukan shalat Tahajjud karena Allah, tapi aku tidak mampu karena lemah." Ibnu „Umar Radhiyallahu anhuma berkata, "Wahai anak saudaraku, tidurlah semampumu dan bertakwalah kepada Allah semampumu pula." [11] Sufyan rahimahullah berkata, "Seburuk-buruk keadaan seorang mukmin adalah saat ia tidur dan sebaik-baik keadaan orang yang jahat adalah saat ia tidur. Karena seorang mukmin bila ia terbangun ia selalu dalam keadaan taat kepada Allah dan itu lebih baik daripada ia tidur. Sedangkan orang yang jahat bila ia terbangun ia selalu dalam keadaan bermaksiat kepada Allah, maka tidurnya lebih baik daripada terjaganya." [12] TATA CARA MELAKUKAN SHALAT MALAM Tidak ada tata cara khusus dari Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam tentang cara melakukan shalat malam, tetapi tata cara yang ada adalah beragam, sehingga seorang muslim boleh melakukan cara yang mana saja. Ibnul Qayyim rahimahullah dalam bukunya Zaadul Ma'aad [13] membuat pasal dengan judul: "Pasal tentang tuntunan Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam dalam melakukan shalat malam" Di sini ia menyebutkan tata cara yang banyak tentang shalat malam yang bersumber dari Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam. Antara lain adalah: Pertama: Cara yang dikemukakan Ibnu „Abbas Radhiyallahu anhuma bahwa Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam bangun pada malam hari lalu melakukan shalat dua raka'at dengan memperlama berdiri, ruku' dan sujud. Kemudian beliau pergi lalu tidur hingga meniup-niup. [14] Kemudian beliau melakukan itu sebanyak tiga kali dengan enam raka'at. Pada tiap kalinya beliau bersiwak dan berwudhu‟ dan beliau membaca, (hingga akhir surat). Kemudian beliau melakukan shalat Witir tiga raka'at, lalu muadzin adzan dan beliau keluar untuk melakukan shalat Shubuh… (dan seterusnya hingga akhir hadits).[15] Kedua: Cara yang disampaikan „Aisyah Radhiyallahu anhuma, yaitu Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam memulai shalatnya dengan mengerjakan dua raka'at yang pendek, lalu beliau menyempurnakan rutinitasnya melakukan shalat sebanyak sebelas raka'at. Pada tiap dua raka'at beliau salam dan melakukan witir satu raka'at.
  • 10 Ketiga: Tiga belas raka'at seperti cara yang kedua. Keempat: Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam melakukan shalat malam sebanyak delapan raka'at dengan salam pada tiap-tiap dua raka'at, lalu shalat Witir sebanyak lima raka'at sekaligus, tanpa duduk kecuali pada raka'at akhir.[16] Kelima: Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam shalat sebanyak sembilan raka'at dengan melakukannya secara bersambung pada delapan raka'at tanpa duduk kecuali pada raka'at yang kedelapan, di mana di akhir raka'at ini beliau duduk untuk berdzikir kepada Allah, memuji-Nya dan berdo‟a kepada-Nya, lalu beliau bangun tanpa salam dan meneruskan raka'at yang kesembilan, lalu setelah itu duduk, membaca tasyahud dan salam. Se-telah salam beliau shalat lagi dua raka'at dengan duduk.[17] Keenam: Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam shalat tujuh raka'at seperti cara melakukan sembilan raka'at sebelumnya, (yaitu enam raka'at dilakukan secara bersambung tanpa duduk kecuali pada raka'at akhir, di mana beliau duduk untuk berdzikir, memuji Allah dan berdo‟a kepada-Nya dan setelah itu bangun tanpa salam untuk melakukan raka'at yang ketujuh dan setelah itu baru beliau salam), lalu setelah salam beliau shalat dua raka'at dengan duduk. Ketujuh: Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam shalat dua raka'at-dua raka'at lalu beliau shalat Witir tiga raka'at tanpa dipisahkan di antara tiga raka'at itu dengan salam (salam setelah tiga raka'at). Imam Ahmad meriwayatkan dari „Aisyah Radhiyallahu anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam shalat Witir tiga raka'at tanpa dipisah-kan di antara raka'at-raka'at itu.[18] Muhammad bin Nashr al-Marwazi rahimahullah berkata: "Cara yang kami pilih bagi orang yang melakukan shalat malam adalah, melakukannya dua raka'at-dua raka'at, dengan salam pada tiap-tiap dua raka'at itu, dan terakhir ditutup dengan satu raka'at, berdasarkan hadits-hadits ini." Perkataannya, "Ini pendapat kami" merupakan pilihan dan bukan sebuah kewajiban. Sebab telah diri-wayatkan dari Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam bahwa beliau shalat lima raka'at tanpa salam kecuali di akhirnya. Dengan demikian, maka sabda Nabi yang berbunyi, "Shalat itu dilakukan dua raka'at-dua raka'at," adalah sebuah pilihan. Sedangkan bagi yang menginginkan melakukannya tiga raka'at, atau lima raka'at, atau tujuh raka'at, atau sembilan raka'at tanpa salam kecuali di akhirnya, maka hal itu boleh, tetapi yang baik adalah, salam pada tiap dua raka'at dan witir satu raka'at. [19] Berdiri Dengan Lama: Di antara tuntunan Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam adalah bahwa beliau memperlama berdiri dalam shalat. Dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu anhu, ia berkata, "Aku shalat bersama Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam lalu beliau memperlama berdirinya hingga aku ingin berbuat buruk." Ia ditanya, "Apa yang kamu akan lakukan?" Ia mengatakan, "Aku ingin saja duduk dan meninggalkan Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam."[20] Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, "Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam memilih memperlama berdiri dalam melakukan shalat malam, dan Ibnu Mas'ud adalah seorang yang kuat yang selalu mengikuti Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam. Ia tidak ingin duduk, kecuali setelah Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam berdiri lama sekali yang tidak biasanya beliau dilakukan."[21] Berdiri Dan Duduk Dalam Shalat Ibnul Qayyim mengemukakan, bahwa shalat malam yang dilakukan Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam memiliki tiga cara: [22] Pertama : Shalat dengan berdiri dan ini yang paling sering beliau lakukan. Kedua : Shalat dalam keadaan duduk dan ruku' dalam keadaan duduk pula. Ketiga : Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam membaca surat dalam keadaan duduk dan bila bacaannya tinggal sedikit beliau bangun lalu ruku' dalam keadaan berdiri. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, "Ketiga cara itu bersumber secara shahih dari Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam."[23]
  • 11 Etika Shalat Malam ETIKA SHALAT MALAM Oleh Muhammad bin Suud Al-Uraifi Sesungguhnya shalat malam memiliki beberapa etika yang merupakan tuntunan Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam dalam melakukannya. Di antaranya adalah: 1. Niat Bangun Untuk Shalat Ketika Akan Tidur Hal itu agar seseorang mendapatkan pahala shalat malam jika ia tidak melakukannya. Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Sesungguhnya segala amal perbuatan ditentukan oleh niat."[1] An-Nasa-i dan lainnya meriwayatkan, bahwa Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Barangsiapa yang naik ke atas ranjangnya sedang ia telah berniat untuk bangun melakukan shalat di malam hari, namun ia tertidur hingga waktu Shubuh, maka ditulis baginya pahala apa yang ia niatkan dan tidurnya itu adalah sedekah dari Rabb-nya."[2] 2. Berdzikir ketika bangun tidur Apabila seseorang bangun dari tidurnya untuk melakukan shalat Tahajjud ia disunnahkan berdzikir kepada Allah. Ibnu „Abbas Radhiyallahu anhuma berkata: "Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bila bangun pada waktu malam untuk melakukan shalat Tahajjud beliau membaca: . "Ya Allah bagi-Mu segala puji, Engkau Yang mengurus langit dan bumi dan semua makhluk yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, milik-Mu kerajaan langit dan bumi dan makhluk yang ada di dalamnya. BagiMu segala puji, Engkau cahaya langit dan di bumi dan apa yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkau Raja di langit dan di bumi dan bagi semua makhluk yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkau adalah haq, janji-Mu adalah haq, berjumpa dengan-Mu adalah haq, firman-Mu adalah haq, Surga adalah haq, Neraka adalah haq, para Nabi adalah haq, Muhammad Shallallahu „alaihi wa sallam adalah haq dan hari Kiamat juga haq. Ya Allah hanya kepada-Mu aku pasrah, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku kembali, dengan hujjah-Mu aku bertikai, kepada-Mu aku memohon putusan hukuman. Ampuni-lah dosaku yang lalu dan akan datang, yang tersembunyi dan yang terang-terangan. Engkau Yang mendahulukan dan Yang meng-akhirkan. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Engkau."[3] Abu Salamah bin „Abdurrahman bin „Auf berkata, "Aku bertanya kepada „Aisyah tentang apa yang pertama dibaca Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam dalam memulai shalatnya ketika beliau shalat malam?' „Aisyah menjelaskan, 'Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam bila melakukan shalat malam memulai shalatnya dengan membaca:
  • 12 . "Ya Allah, Rabb Malaikat Jibril, Mika‟il dan Israfil, Pencipta langit dan bumi dan Yang Mengetahui yang tersembunyi dan yang terlihat, Engkau yang memutuskan di antara hamba-hamba-Mu apa yang mereka perselisihkan. Tunjukkanlah kepadaku pada apa yang benar dari apa yang diperselisihkan itu dengan izin-Mu, sesungguhnya Engkau yang menunjukan kepada siapa yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus."[4] An-Nawawi rahimahullah berkata dalam al-Majmuu', "Disunnahkan bagi setiap orang yang bangun untuk melakukan shalat malam, mengusap (menghilangkan) rasa kantuk dari wajahnya, bersiwak, memandang ke atas langit dan membaca a ), (hingga akhir surat). Cara ini dijelaskan dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam."[5] 3. Bersiwak Ketika Bangun Untuk Melakukan Shalat Malam Hal ini berdasarkan hadits riwayat Hudzaifah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bila bangun di malam hari untuk melakukan shalat Tahajjud beliau menggosok mulutnya dengan siwak.[6] Diriwayatkan dari Ibnu „Abbas Radhiyallahu anhuma, bahwa ia tidur dekat Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam lalu ia bangun, lalu bersiwak dan berwudhu‟.[7] 4. Membangunkan Keluarga Untuk Melakukan Shalat Tahajjud Hal ini demi menjalankan firman Allah: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa..." [Al-Maa-idah: 2]. Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma menuturkan, bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bangun pada suatu malam lalu beliau berkata: . "Subhanallaah, ujian apa yang Allah turunkan malam ini dan simpanan apa yang Dia turunkan untuk orang yang membangunkan istri-istrinya.Wahai kaum, banyak wanita-wanita yang berpakaian di dunia tapi telanjang pada hari Kiamat kelak."[8] 'Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam berkata kepadanya dan kepada Fathimah pada suatu malam, "Tidakkah kalian melaksanakan shalat?"[9] Ibnu Hajar rahimahullah berkata, "Ibnu Bathal menjelaskan bahwa di dalam hadits ini terkandung keutamaan shalat malam dan membangunkan orang-orang yang masih tidur dari anggota keluarga dan kerabat untuk juga melakukannya."[10] Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, "Bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam shalat pada malam hari dan bila beliau melakukan shalah witir beliau berkata: 'Bangunlah dan shalat Witirlah wahai „Aisyah!'"[11] 5. Mengawali Shalat Malam Dengan Melakukan Shalat Dua Raka'at Yang Pendek Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia menuturkan, "Bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bila bangun di malam hari untuk melakukan shalat, beliau mengawalinya dengan shalat dua raka'at yang pendek."[12] Dari Zaid bin Khalid al-Juhani Radhiyallahu anhu, ia berkata, "Demi Allah aku melihat shalat Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam di malam hari. Beliau shalat dua raka'at yang pendek dan kemudian shalat dua raka'at yang panjang."[13]
  • 13 Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam, beliau bersabda: . "Bila seseorang dari kalian bangun di malam hari hendaklah ia mengawali shalatnya dengan melakukan shalat dua raka'at yang pendek."[14] An-Nawawi rahimahullah berkomentar, "Hadits ini menunjukkan disunnahkannya mengawali shalat Tahajjud dengan melakukan dua raka'at yang pendek agar seseorang semangat untuk melakukan raka'at-raka'at selanjutnya."[15] 6. Menangis Saat Membaca Al-Qur-an Dan Merenungkannya Adapun menangis, maka Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam bila shalat terdengar darinya suara seperti suara periuk, karena tangisan.[16] Dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu anhu, ia berkata: "Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam berkata kepadaku, 'Bacakanlah al-Qur-an kepadaku!' Aku berkata, 'Apakah aku pantas membacakan al-Qur-an kepadamu, sedangkan kepadamulah al-Qur-an itu diturunkan?' Beliau berkata, 'Sesungguhnya aku senang mendengarkannya dari orang lain.' Maka akhirnya aku pun membacakan kepadanya ayat dalam surat an-Nisaa', hingga saat sampai pada ayat: 'Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiaptiap umat dan Kami mendatangkan ka-mu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (se-bagai umatmu).' [AnNisaa'/4: 41]. Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, 'Cukuplah!' Ketika aku mengangkat kepalaku, aku melihat air mata mengalir dari matanya."[17] Al-Hasan berkata, "„Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu membaca ayat yang rutin ia baca pada malam hari, lalu ia menangis hingga terjatuh dan ia tetap berada di rumah sampai ia dijenguk karena sakit."[18] Adapun merenungkan dan menghayati bacaan ayat-ayat al-Qur-an maka Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam adalah teladan dalam masalah ini. Bahkan kadang beliau shalat di malam hari hanya membaca satu ayat saja sebagaimana yang tersebut dalam riwayat 'Aisyah Radhiyallahu anhuma.[19] Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhuma berkata: "Demi Allah membaca surat al-Baqarah dengan tartil dan merenungkannya lebih aku sukai daripada membaca seluruh al-Qur-an dalam satu malam."[20] 7. Berdo’a Dalam Shalat Malam Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam senantiasa memperbanyak do‟a dalam shalatnya dan juga dalam Tahajjudnya, karena pada waktu-waktu tersebut kemungkinan besar dikabulkannya do‟a. Dari Jabir Radhiyallahu anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . 'Sesungguhnya di malam hari terdapat suatu waktu, yang apabila seorang muslim memohon kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat bertepatan dengan waktu itu, Allah pasti mengabulkannya dan waktu itu ada di setiap malam.'"[21] 8. Tidak Memberatkan Jiwa Dalam Menjalankan Ketaatan Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Sesungguhnya agama ini mudah dan siapapun yang memberatkannya pasti akan kepayahan, oleh karenanya bersikap adillah (sedang-sedang saja dalam beribadah), men-dekatkan dirilah, berbahagialah dan jadikanlah
  • 14 waktu pagi, siang dan sebagian waktu malam untuk melakukan ibadah."[22] Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia bercerita, bahwa Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam datang kepadanya dan ketika itu ia tengah bersama seorang wanita. Beliau bertanya, "Siapakah ini?" „Aisyah menjawab, "Ini Fulanah yang dikenal sangat giat dalam shalat." Beliau berkata: "Mah (hentikanlah), lakukanlah apa yang kalian mampu melakukannya! Demi Allah, Allah tidak pernah merasa bosan sampai kalian sendiri yang bosan, dan beragama yang paling dicintai Allah adalah yang dijalankan seseorang secara terus-menerus."[23] Ibnu Hajar rahimahullah berkata, "Kata 'mah' merupakan isyarat dimakruhkannya hal itu, karena khawatir kelemahan dan kebosanan akan menimpa si pelakunya. Tujuannya adalah agar ia tidak berhenti dari menjalankan amal ibadah yang biasa ia lakukan, sehingga ia menarik diri dari apa yang telah ia berikan kepada Rabb-nya."[24] 9. Tidak Melakukan Shalat Tahajjud Jika Mengantuk Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam: . "Bila seseorang dari kalian mengantuk dalam shalatnya, maka hendaklah ia tidur agar ia mengetahui apa yang yang dibacanya."[25] Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia menuturkan, bahwa Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Bila seseorang dari kalian mengantuk dalam shalatnya, hendaklah ia tidur agar rasa kantuknya hilang. Sebab bila seseorang dari kalian shalat dalam keadaan mengantuk bisa jadi dia memohon ampunan kepada Allah, lalu ia mencaci dirinya sendiri."[26] An-Nawawi rahimahullah memberikan komentarnya, "Di dalam hadits ini terdapat dorongan shalat dalam keadaan khusyu', konsentrasi hati dan semangat. Di dalamnya juga terdapat perintah tidur kepada orang yang mengantuk atau yang sejenisnya yang bisa menghilangkan rasa kantuk itu."[27] 10. Tidur Setelah Melakukan Shalat Tahajjud Disunnahkan bagi seorang mukmin setelah melakukan shalat Tahajjud untuk tidur. Yaitu pada waktu sahur dan inilah salah satu tuntunan Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam. 'Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata, "Aku tidak mendapati Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam pada waktu Sahur di rumahku atau di dekatku melainkan dalam keadaan tidur."[28] 'Abdul Qadir al-Jailani al-Hanbali, seseorang yang hidup zuhud pada masanya berkata, "Disunnahkan bagi orang yang melakukan shalat Tahajjud untuk tidur pada akhir malam karena dua hal: (1) Hal itu dapat melenyapkan rasa kantuk di pagi hari. (2) Tidur di akhir malam dapat menghilangkan warna kekuningan di wajah. Karena bila seseorang kelelahan dan tidak tidur maka akan ada warna kekuningan di wajahnya. Seyogyanya seseorang menghilangkannya, karena itu merupakan pintu yang samar dan termasuk bentuk popularitas yang tersembunyi serta termasuk syirik yang samar. Sebab ia akan mendapat acungan jempol (dipuji orang) dan akan dikira sebagai orang yang shalih yang senantiasa bergadang (untuk beribadah), berpuasa dan takut kepada Allah karena ada warna kekuningan di wajahnya. Kita berlindung kepada Allah dari perbuatan syirik dan riya' serta hal-hal yang membawa kepadanya."[29] 11. Berdo’a Seusai Shalat Dari 'Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam setiap usai shalat Witir membaca: . "Ya Allah sesungguhnya aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari murka-Mu, dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu. Aku tak mampu menghitung pujian terhadap-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau pujikan terhadap diri-Mu sendiri."[30]
  • 15 Syamsul Haqqil „Azhim Abadi berkata, "Yakni berdo‟a setelah salam, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat lain."[31] Manfaat Shalat Malam, Meninggalkan Shalat Tahajjud MANFAAT SHALAT MALAM [1] Oleh Muhammad bin Suud Al-Uraifi Di antara manfaat shalat Tahajjud adalah: Pertama: Seorang manusia bila ia berdiri melakukan shalat Tahajjud karena Allah, maka ia akan mudah berdiri pada hari di mana semua manusia akan berdiri menghadap kepada Rabb alam semesta. Namun bila seseorang bersenang-senang dan menghabiskan hari-harinya dengan kesia-siaan maka ia akan mendapatkan kesulitan di akhirat sana. Maka seseorang yang lelah di dunia ini, akan senang, bahagia dan menikmati suasana di akhirat sana. Kedua: Laki-laki yang senantiasa melakukan shalat Tahajjud akan diberikan oleh Allah pada hari Kiamat kelak istri-istri yang banyak dari kalangan bidadari. Balasan adalah sesuai dengan amal perbuatan manusia. Ketiga: Mendapatkan kesehatan badan. Seseorang yang bangun di waktu malam untuk melakukan shalat Tahajjud wajahnya akan dijadikan oleh Allah berwibawa, bersinar dan bercahaya. Keempat: Hidayah, taufik dan bimbingan manusia kepada kebaikan segala urusannya ada-lah bila ia menunaikan hak-hak Allah. Maka Allah akan menunjukinya kepada jalan-jalan kebaikan tanpa ia sadari dan berbagai faidah, pe-mahaman dan karunia datang di tengah gelapnya malam. Bila manusia tidak mampu memahami sesuatu lalu ia bangun untuk melakukan shalat malam maka Allah akan membukakan pemaha-man kepadanya. Kelima: Ini adalah manfaat yang paling besar dan agung, yaitu melihat Allah Subhanahu wa Ta‟ala. Bila para ahli ibadah mengetahui bahwa mereka tidak akan melihat Rabb-nya pada hari Kiamat kelak, maka mereka akan binasa sebagaimana dikemukakan oleh al-Hasan al-Bashri.[2] MENINGGALKAN SHALAT TAHAJJUD Keadaan orang yang meninggalkan shalat Tahajjud dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu: Pertama: Orang yang meninggalkan rutinitas shalat Tahajjudnya Yaitu orang yang tidak bisa melakukan shalat Tahajjud karena ada suatu halangan, seperti sakit, atau ketiduran, atau lainnya. Orang seperti ini dengan izin Allah, tetap dituliskan pahala untuknya sebagaimana hadits yang telah dikemukakan sebelumnya. Namun demikian mereka disunnahkan mengqadha‟ shalat Tahajjudnya yang tertinggal itu di siang hari dengan tanpa melakukan witir. Dari 'Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, ia menuturkan, Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda:
  • 16 . "Barangsiapa yang tertidur dari wiridnya atau dari kebiasaannya yang lain, lalu ia membaca bacaannya tersebut pada waktu antara shalat Fajar dan shalat Zhuhur, maka dituliskan untuknya pahala seperti ia membacanya di malam hari."[3] Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia menuturkan: . "Bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bila di malam hari tidur karena sakit atau lainnya sehingga beliau tidak melakukan shalat Tahajjud, maka di siang harinya beliau shalat sebanyak dua belas raka'at."[4] Kedua: Orang yang meninggalkan shalat Tahajjud setelah sebelumnya rutin melakukannya Ketahuilah semoga Allah merahmati kita dan Anda, bahwa tidak seyogyanya Anda meninggal-kan shalat Tahajjud, bila anda termasuk orang yang suka melakukannya. Sebab itu mengindikasikan Anda berpaling dari ibadah. 'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash mengatakan, "Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam berkata kepadaku: . 'Wahai „Abdullah, janganlah kamu seperti si Fulan, dahulunya ia suka melakukan shalat Tahajjud, lalu tidak melakukannya lagi."[5] Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, "Hadits ini menunjukkan disunnahkannya melakukan kebaikan yang biasa dilakukan secara terus-menerus tanpa mengabaikannya. Dari hadits ini juga dapat dipetik kesimpulan tentang dimakruhkannya menghentikan ibadah, walaupun ibadah tersebut bukan ibadah yang wajib."[6] Ketiga: Orang yang tidak pernah melakukan shalat malam sama sekali Tanpa diragukan lagi, bahwa orang yang tidak melakukan shalat Tahajjud telah mengabaikan menjalin komunikasi dengan Allah Subhanahu wa Ta‟ala. Bagaimana seorang mengaku mencintai Allah, lalu ketika terbuka kesempatan baginya untuk ber-khalwah (menyendiri menunajat kepada Allah), ia justru meremehkannya, bermalas-malasan dan tidur. Ia tidak mau untuk menerima shalat Tahajjud ini, yang mana ia merupakan tempatnya berlindung. Ia justru menyia-nyiakan keutamaan dan pahala yang besar serta dorongan Allah untuk melakukan shalat Tahajjud. Hanya Allah-lah tempat memohon pertolongan atas minimnya bagian yang diperoleh dan hilangnya taufik-Nya. Perhatikanlah sangsi yang diterima oleh orang yang meninggalkan shalat malam! Dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu anhu, ia berkata, "Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam diceritakan tentang seseorang yang tidur, tidak bangun-bangun hingga pagi hari, lalu beliau bersabda, . 'Itu adalah seseorang yang telinganya di-kencingi syaitan!'"[7] Al-Bukhari rahimahullah berkata, “'Aqdusy Syaithaani 'ala Qaafiyatir Ra‟-si idza lam Yushalli bil Lail, "Bab: Ikatan syaitan mengikat ikatan di pangkal kepala seseorang, apabila ia tidak melakukan shalat Tahajjud." Kemudian ia meriwayatkan hadits melalui sanadnya yang sampai kepada Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Syaitan mengikat sebanyak tiga ikatan di pangkal kepala seseorang dari kalian ketika ia tidur, yang pada masing-masing ikatan itu tertulis, 'Malammu panjang, maka tidurlah!' Bila ia bangun lalu berdzikir kepada Allah, maka satu ikatan lepas, lalu bila ia berwudhu‟ satu ikatan lagi lepas, lalu bila ia shalat satu ikatan lagi lepas. Maka di pagi harinya ia memiliki semangat dan dengan jiwa yang baik. Namun jika ia tidak melakukan hal itu, maka jiwanya dalam keadaan buruk dan ia pemalas."[8]
  • 17 Sebagian kaum Salaf mengatakan, "Bagaimana mungkin seseorang bisa selamat dari buruknya hisab, sedangkan di malam hari ia tidur dan di siang hari ia bermain-main?" Berusahalah wahai saudaraku -semoga Allah melindungi Anda- untuk melakukan shalat Tahajjud, walaupun hanya dua raka'at yang ringan (pendek) sebelum Fajar, karena di dalamnya terdapat keberkahan. Raka'at yang sedikit dari shalat di malam hari adalah terhitung banyak. Bersabarlah atas hal itu dan lakukanlah secara kontinyu, karena dengan bersabar, khusyu', meminta dan merendah kepada Allah engkau akan mendapat keteguhan, pertolongan dan hilangnya kelelahan serta beban yang berat. Faktor-Faktor Yang Memudahkan Shalat Tahajjud FAKTOR-FAKTOR YANG MEMUDAHKAN SHALAT TAHAJJUD Oleh Muhammad bin Suud Al-Uraifi Sesungguhnya melakukan shalat Tahajjud dan mengekang dorongan hawa nafsu dan syaitan, adalah sesuatu yang teramat berat dan sulit kecuali bagi orang yang dimudahkan dan ditolong oleh Allah. Ada beberapa faktor yang bisa membantu dan memotivasi seseorang untuk melakukan shalat Tahajjud serta memudahkannya dengan izin Allah. Faktor ini terbagi dua bagian; sarana lahir dan sarana batin. Faktor Lahir: 1. Menjauhi Perbuatan Dosa Dan Maksiat Yaitu, tidak melakukan perbuatan dosa di siang hari dan di malam hari, karena hal itu bisa membuat hati keras dan menghalangi seseorang dari curahan rahmat. Seorang laki-laki bertanya kepada al-Hasan al-Bashri, "Wahai Abu Sa'id, semalaman aku dalam keadaan sehat, lalu aku ingin melakukan shalat malam dan aku telah menyiapkan kebutuhan untuk bersuci, tapi mengapa aku tidak dapat bangun?" Al-Hasan menjawab, "Dosa-dosamu mengikatmu."[1] Sufyan ats-Tsauri berkata, "Selama lima bulan aku merugi tidak melakukan shalat Tahajjud karena dosa yang aku perbuat." Ia ditanya, "Apakah dosa yang engkau lakukan?" Ia menjawab: "Aku melihat seseorang menangis, lalu aku berkata dalam diriku, 'Orang ini riya'.'"[2] Sebagian orang shalih berkata, "Betapa banyak makanan yang bisa menghalangi orang melakukan shalat Tahajjud dan betapa banyak pandangan yang membuat orang rugi tidak membaca sebuah surat. Sesungguhnya seorang hamba kadang memakan suatu makanan atau melakukan suatu perbuatan lalu ia diharamkan karenanya dari melakukan shalat Tahajjud selama setahun."[3] Fudhail bin 'Iyadh berkata, "Bila kamu tidak mampu melakukan shalat Tahajjud di malam hari dan puasa di siang hari maka kamu adalah orang yang merugi."[4] Saudaraku, tinggalkanlah kemaksiatan dan dosa jika engkau mengharapkan berkhalwah (menyendiri) dengan Allah Yang Mahamengetahui segala yang ghaib! 2. Tidak Meninggalkan Tidur Siang Karena Itu Adalah Sunnah Dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhuma, ia menuturkan, Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Jadikanlah makanan sahur sebagai sarana untuk membantumu melakukan puasa di siang hari dan tidur pada tengah hari sebagai sarana untuk membantumu melakukan shalat Tahajjud."[5]
  • 18 Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam mendorong untuk melakukan hal-hal yang dapat membantu, menggiatkan dan menjadikan orang beramal dengan terus-menerus. Sebab sibuk di siang hari hingga tidak tidur pada tengah hari dapat membuat fisik lemah dan di malam hari tidur menjadi nyenyak. Al-Hasan al-Bashri bila datang ke pasar dan mendengar hiruk pikuk orang-orang di sana, ia berkata, "Aku mengira malam mereka adalah malam yang buruk (karena tidur nyenyak dan tidak bertahajjud), mengapa mereka tidak tidur tengah hari?"[6] 3. Tidak Memperbanyak Makan Sebab orang yang banyak makan akan banyak minum akan terlelap dalam tidur dan berat untuk melakukan shalat Tahajjud. Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallambersabda: . "Tidak ada wadah yang paling buruk yang diisi manusia selain perutnya, cukuplah seorang anak Adam menyantap beberapa suap makanan saja yang dapat mengokohkan tulang punggungnya. Jika memang ia harus mengisi perutnya maka hendaknya ia mem-berikan sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk nafasnya."[7] Diriwayatkan bahwa iblis menampakkan dirinya kepada Yahya bin Zakariya dengan membawa beberapa buah sendok. Yahya bertanya kepadanya, "Untuk apakah sendok-sendok ini?" Iblis menjawab, "Ini adalah syahwat yang aku gunakan untuk menjebak anak keturunan Adam." Yahya bertanya kepadanya, "Apakah engkau mendapatkan sesuatu dari jebakan atau diriku?" Ia menjawab, "Ya, tadi malam engkau kenyang, lalu aku menjadikanmu berat untuk melakukan shalat Tahajjud." Yahya berkata, "Aku pasti tidak akan mengenyangkan perutku lagi selamanya." Iblis berkata, "Aku pasti tidak akan memberi nasihat (saran) kepada siapa pun setelah saranku ini kepadamu."[8] Wahab bin Munabih berkata, "Tidak ada anak keturunan Adam yang lebih disukai syaitan selain tukang makan dan tukang tidur." [9] Mis'ar bin Kadam berkata: Aku temukan rasa lapar dapat disingkirkan Dengan roti dan segenggam air sungai Eufrat. Sedikit makanan dapat membantu orang yang shalat Dan banyak makanan justru membantu orang-orang yang suka mencela. [10] 4. Tidak Membebankan Fisik Di Siang Hari Misalnya dengan memberikan pekerjaan yang sangat berat dan membebaninya dengan pekerjaan yang membuat fisik dan otot lemah di siang hari. Hal ini akan membuat rasa kantuk di malam hari. 5. Mengamalkan Sunnah Saat Tidur Yaitu dengan berupaya melakukan: (1). Membaca dzikir-dzikir yang dianjurkan sebelum tidur, karena itu semakin memperkokoh hubungan hamba dengan Rabb-nya. (2). Tidur di atas lambung sebelah kanan. Ibnul Qayyim rahimahullah menguraikan rahasia di balik cara tidur seperti ini dengan mengemukakan, "Tidur dengan cara berbaring di atas lambung sebelah kanan memiliki rahasia. Yaitu, bahwa hati berada di sebelah kiri, maka bila seseorang tidur di atas lambung kirinya, ia akan tidur sangat nyenyak karena dia dalam kondisi tenang dan nyaman sehingga tidur jadi nyenyak. Sementara bila ia tidur di atas lambung sebelah kanan, tidurnya tidak nyenyak karena hatinya tidak menentu (gelisah) ingin mencari tempat menetapnya. Karena itulah para ahli medis menganjurkan tidur dengan posisi di atas lambung sebelah kiri karena itulah posisi istirahat yang paling
  • 19 sem-purna dan tidur yang paling nyaman. Sedang-kan agama menyunnahkan tidur di atas lambung sebelah kanan agar tidurnya tidak nyenyak se-hingga tidak meninggalkan shalat Tahajjud. Jadi tidur di atas lambung sebelah kanan bermanfaat bagi hati dan di atas sebelah kiri bermanfaat bagi tubuh. Wallaahu a'lam."[11] Faktor Batin: Faktor batin ini dijelaskan Imam al-Ghazali rahimahullah dalam bukunya Ihyaa' „Uluumid Diin: 1. Membersihkan hati dari sifat dengki terhadap kaum muslimin, dari perbuatan bid'ah dan dari keinginan duniawi yang berlebihan. Sebab orang yang mencurahkan sepenuh pikirannya untuk urusan duniawi tidak akan mudah melakukan shalat Tahajjud. Kalau pun ia melakukannya, dalam shalatnya yang dipikirkan hanyalah urusan duniawi dan yang terbayang dalam pikiranya hanyalah bisikan-bisikan dunia tersebut. 2. Rasa takut yang mendominasi hati disertai angan-angan hidup yang pendek. Sebab bila seseorang merenungkan huru-hara kehidupan akhirat dan tingkatan terbawah Neraka Jahannam maka tidurnya tidak akan nyenyak dan takutnya sangat besar, sebagaimana dikatakan Thawus, "Mengingat Neraka Jahannam menjadikan tidurnya ahli ibadah tidak nyenyak." Al-Qur-an dengan janji dan ancamannya Membuat mata tidak dapat tidur di malam hari. Mereka memahami firman Raja Yang Mahaagung (Allah) Lalu mereka merendah dan tunduk kepada-Nya. 3. Mengetahui keutamaan shalat Tahajjud dengan menyimak ayat-ayat, hadits-hadits dan atsar-atsar, hingga timbul keinginan dan kerindu-annya terhadap pahalanya sangat besar. Rasa rindu itu kemudian mendorongnya untuk mendapatkan pahala yang lebih dan keinginan mencapai dejarat Surga. 4. Ini adalah faktor yang paling mulia. Yaitu mencintai Allah dan keyakinan yang kuat, bahwa dalam shalat Tahajjud dia tidak mengucapkan satu huruf pun melainkan ia tengah bermunajat kepada Rabb-nya dan menyaksikan-Nya, disertai dengan kesaksiannya terhadap apa yang terlintas di hatinya. Bisikan yang ada di dalam hatinya yang datang dari Allah itu adalah pembicaraannya dengan-Nya. Bila ia telah mencintai Allah, pasti ia ingin berduaan bersama-Nya dan menikmati munajat dengan-Nya, sehingga hal itu mendorongnya untuk berlama-lama dalam shalat. Kenikmatan ini tidaklah mustahil dan generasi Salaf kita telah merasakannya. Abu Sulaiman berkata, "Seandainya Allah memperlihatkan kepada orang-orang yang senantiasa melakukan shalat Tahajjud pahala dari amal mereka, tentu kenikmatan yang mereka rasakan lebih besar dari pahala yang mereka dapat." Ibnu al-Munkadir berkata, "Tidak ada kenikmatan dunia kecuali tiga; shalat Tahajjud, berkumpul bersama saudara seiman dan shalat dengan berjama'ah." Ketahuilah bahwa karunia dan kenikmatan inilah yang paling diharapkan, karena shalat malam dapat membuat hati bersih dan menyingkirkan segala problem kehidupan.[12] Disyari’atkannya Shalat Sunnah Dan Keutamaannya DISYARI‟ATKANNYA SHALAT SUNNAH DAN KEUTAMAANNYA Oleh Muhammad bin Suud Al-Uraifi
  • 20 Disyari‟atkannya Shalat Sunnah Allah Subhanahu wa Ta‟ala telah mensyari‟atkan shalat sunnah untuk meningkatkan amal manusia dan menutupi segala kekurangan dan kelalaian yang ada, sebagaimana hal itu diperintahkan oleh Allah dalam KitabNya yang agung, Allah Subhanahu wa Ta‟ala berfirman: "Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada sebagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat." [Huud/11: 114] Dan Allah Subhanahu wa Ta‟ala juga berfirman: "Apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabb-mulah hendaknya kamu berharap." [Al-Insyirah/94: 7-8] Ibnu Mas„ud Radhiyallahu anhu berkata: "Apabila engkau telah selesai melaksanakan shalat-shalat wajib maka laksanakanlah shalat malam."[1] Sementara Mujahid mengatakan, “Jika engkau telah menyelesaikan urusan duniamu, maka menghadaplah kepada Rabb-mu dengan shalat.” Juga di antara dalil yang menunjukkan tentang disyari‟atkannya shalat malam, adalah hadits yang menyebutkan: ). "Bahwa seseorang bertanya kepada Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam tentang (kewajiban-kewajiban) dalam Islam, lalu beliau menjawab, '(Melaksanakan) shalat lima waktu dalam sehari semalam.' Orang itu bertanya lagi, 'Adakah kewajiban lain atas diriku?' Beliau menjawab, 'Tidak ada, kecuali engkau mengerjakan shalat sunnah.'"[2] Keutamaan Shalat Sunnah Banyak hadits-hadits yang menjelaskan tentang besarnya keutamaan dan pahala yang diperoleh dari shalat sunnah. Di antaranya adalah: 1. Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: - - . berfirman kepada para Malaikat-Nya, sedangkan Ia lebih mengetahui, 'Lihatlah shalat hamba-Ku, sudahkah ia melaksanakannya dengan sempurna ataukah terdapat kekurangan?' Bila ibadahnya telah sempurna maka ditulis untuknya pahala yang sempurna pula. Namun bila ada sedikit kekurangan, maka Allah berfirman, 'Lihatlah apakah hambaku memiliki shalat sunnah?' Bila ia memiliki shalat sunnah, maka Allah berfirman, 'Sempurnakanlah untuk hamba-Ku dari kekurangannya itu dengan shalat sunnahnya.' Demikianlah semua ibadah akan menjalani proses yang serupa."[3] Komentar saya (penulis): Hadits ini menjelaskan salah satu hikmah tentang disyari‟atkan-nya shalat sunnah. 2. Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda:
  • 21 . "Barangsiapa yang melakukan shalat sunnah selain shalat fardhu dalam sehari dua belas raka'at, maka Allah pasti akan membangunkan untuknya sebuah rumah di Surga."[4] 3. Rubai'ah bin Ka'ab al-Aslami Radhiyallahu anhu berkata: ). "Suatu hari aku bersama Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam, lalu aku membawakan kepadanya bejana air untuk beliau berwudhu‟ dan segala keperluannya. Beliau berkata kepadaku, 'Mintalah!' Aku berkata, 'Aku meminta kepadamu untuk dapat menemanimu di Surga kelak.' Beliau bertanya, 'Adakah selain itu?' Aku menjawab, 'Hanya itu saja.' Beliau bersabda, 'Bantulah aku untuk mewujudkan keinginanmu itu dengan memperbanyak sujud.'"[5] 4. Mi'dan bin Abi Thalhah al-Ya'muri berkata, "Aku bertemu Tsauban, bekas budak Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam, lalu aku berkata kepadanya, 'Beritahukanlah kepadaku tentang amal ibadah yang jika aku lakukan, maka Allah akan memasukkanku karenanya ke dalam Surga!' Ia terdiam, lalu aku bertanya lagi. Ia masih terdiam, lalu aku bertanya lagi ketiga kalinya. Akhirnya ia berkata, 'Aku telah menanyakan masalah ini kepada Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam dan beliau bersabda: . "Perbanyaklah sujud kepada Allah, karena tidaklah engkau bersujud kepada Allah dengan satu kali sujud, melainkan Allah akan mengangkat bagimu satu derajat karenanya dan menghapuskan bagimu satu dosa karenanya." Mi'dan berkata: "Lalu aku bertemu Abud Darda' dan aku tanyakan masalah ini kepadanya juga. Ia menjawab seperti jawaban yang diberikan Tsauban."[6] Yang dimaksud dengan sujud dalam hadits ini adalah melakukan shalat sunnah. Karena bersujud secara terpisah tanpa dilakukan dalam shalat atau tanpa sebab merupakan sesuatu yang tidak dianjurkan. Bersujud, walaupun termasuk dalam shalat fardhu, namun melaksanakan shalat fardhu adalah kewajiban atas setiap muslim. Maka yang ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam di sini adalah, sesuatu yang khusus yang dengannya Mi'dan dapat meraih apa yang ia cari.[7] Oleh karena itulah Ibnu Hajar meriwayatkan hadits Rabi'ah ini dalam bab shalat sunnah.[8] 5. Dari Abu Umamah Radhiyallahu anhu, ia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Tidak ada sesuatu yang lebih baik yang Allah izinkan kepada seorang hamba selain melaksanakan shalat dua raka'at dan sesungguhnya kebajikan akan bertaburan di atas kepala seorang hamba selama ia melakukan shalat."[9] Hadits tersebut menunjukkan keutamaan shalat sunnah dan kebaikan yang didapat darinya. Disukai Melaksanakan Shalat Sunnah Di Rumah Muslim meriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: - - . "Apabila salah seorang di antara kalian shalat di masjid, maka hendaknya ia pun menjadikan sebagian dari shalatnya di rumah, karena Allah Azza wa Jalla akan memberikan kebaikan dalam rumahnya dari shalatnya itu."[10] Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda:
  • 22 . "Shalatlah di rumah-rumah kalian karena sebaik-baik shalat seseorang adalah yang dilaksanakan di rumahnya kecuali shalat wajib."[11] Anjuran dalam hadits-hadits ini bersifat umum yang meliputi semua jenis shalat sunnah rawatib dan shalat sunnah secara mutlak kecuali shalat sunnah yang menjadi bagian dari syi'ar Islam, seperti shalat „Id, shalat gerhana dan shalat Istisqa'. Demikian apa yang dikemukakan oleh Imam an-Nawawi.[12] Dari Ibnu „Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata, Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Jadikanlah tempat pelaksanaan sebagian shalatmu di rumah-rumah kalian, dan janganlah jadikan rumah-rumah kalian itu seperti kuburan."[13] Saya (penulis) katakan, "Hadits-hadits ini menunjukkan tentang disunnahkannya shalat sunnah di rumah dan itu lebih baik daripada melakukannya di masjid sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits." An-Nawawi rahimahullah berkata, "Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam mendorong melakukan shalat sunnah di rumah, karena hal itu lebih tersembunyi, jauh dari perbuatan riya', terjaga dari segala hal yang bisa merusak amal, rumah menjadi penuh berkah, rahmat serta Malaikat pun turun dan syaitan pun menjauh darinya."[14] [Disalin dari kitab "Kaanuu Qaliilan minal Laili maa Yahja‟uun" karya Muhammad bin Su'ud al-„Uraifi diberi pengantar oleh Syaikh 'Abdullah al-Jibrin, Edisi Indonesia Panduan Lengkap Shalat Tahajjud, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir Keutamaan Shalat Witir Dan Anjuran Untuk Mengerjakannya KEUTAMAAN SHALAT WITIR DAN ANJURAN UNTUK MENGERJAKANNYA Oleh Muhammad bin Suud Al-Uraifi Sesungguhnya shalat Witir memiliki keutamaan yang besar dan memiliki urgensi yang cukup besar. Dalil yang paling kuat untuk hal itu adalah, bahwa Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya, baik ketika sedang berada di rumah ataupun dalam bepergian. Inilah dalil yang cukup jelas mengenai betapa pentingnya shalat Witir tersebut. Di antara dalil yang menunjukkan hal itu adalah: Dari Abu Bashrah al-Ghifari Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . 'Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta‟ala telah memberi kalian tambahan shalat, yaitu shalat Witir, maka shalat Witirlah kalian antara waktu shalat 'Isya' hingga shalat Shubuh.'" [HR. Ahmad].[1] Dari 'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash Radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam
  • 23 bersabda: . "Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta‟ala telah memberi kalian tambahan shalat, maka peliharalah dia, yaitu shalat Witir."[2] Beliau Shallallahu „alaihi wa sallam juga bersabda: . "Jadikanlah akhir shalat kalian di malam hari dengan shalat Witir."[3] Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, "Kekasihku Shallallahu „alaihi wa sallam, mewasiatkan kepadaku tiga perkara yang tidak akan aku tinggalkan hingga aku wafat; berpuasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha dan tidur setelah shalat Witir."[4] Dari 'Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, ia menuturkan, bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Sesungguhnya Allah itu ganjil dan menyukai orang-orang yang melakukan shalat Witir, maka shalat Witirlah, wahai para ahli al-Qur-an."[5] Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma berkata, "Barangsiapa shalat sunnah di malam hari maka hendaklah ia menjadikan akhir shalatnya adalah shalat Witir, karena Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam memerintahkan hal itu."[6] Dari Abu Ayyub al-Anshari Radhiyallahu anhu, ia menuturkan, bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Shalat Witir adalah haq (benar adanya), maka barangsiapa yang mau, maka berwitirlah lima raka'at, barangsiapa yang mau, berwitirlah tiga raka'at dan barangsiapa yang mau, berwitirlah satu raka'at."[7] Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma ia menuturkan, "Bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam shalat di malam hari (shalat Tahajjud) sedang ia berbaring di hadapannya. Bila tinggal tersisa shalat Witir yang belum dilaku-kan, beliau pun membangunkannya, dan 'Aisyah pun lalu shalat Witir."[8] Saya katakan, "Hadits-hadits di atas menunjukkan keutamaan shalat Witir dan disunnahkan senantiasa menjaganya."
  • 24 Hukum Shalat Witir HUKUM SHALAT WITIR Oleh Muhammad bin Suud Al-Uraifi Hukum shalat Witir adalah sunnah muakkadah, bukan wajib.[1] Pendapat ini adalah pendapat mayoritas ulama yang terdiri dari para sahabat dan ulama setelah mereka, disertai dengan kesepakatan mereka (ijma‟) bahwa shalat Witir itu tidak fardhu. Adapun pendapat dari ulama madzhab Hanafi menyatakan, bahwa shalat Witir itu adalah wajib, bukan fardhu.[2] Sedangkan pendapat Abu Hanifah yang menyatakan bahwa shalat Witir itu wajib adalah madzhab yang lemah. Ibnul Mundzir berkata, "Saya tidak mengetahui seorang ulama pun yang menyetujui pendapat Abu Hanifah mengenai hal ini." Di antara Dalil-Dalil Yang Menunjukkan Bahwa Shalat Witir Hukumnya Sunnah Adalah: Ada seorang badui bertanya kepada Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam, "Apa saja yang Allah Subhanahu wa Ta‟ala wajibkan kepadaku dalam sehari semalam?" Beliau menjawab, "Shalat lima waktu." Orang itu bertanya lagi, "Apakah ada kewajiban lainnya untukku?" Beliau men-jawab, "Tidak, kecuali jika kamu mau melakukan shalat sunnah." Orang badui itu berkata, "Demi Dzat Yang mengutus Anda dengan kebenaran, saya tidak akan menambah kelimanya dan tidak akan mengurangi kelimanya." Lalu Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, "Orang tersebut beruntung jika dia benar."[3] Saya berkata, "Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa shalat Witir tidaklah wajib, karena Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam tidak menyuruh orang badui tersebut untuk melakukannya dan tidak memarahinya atas tekadnya untuk tidak melakukannya, padahal telah diketahui bahwa tidak diperbolehkannya mengakhirkan keterangan dari waktu yang dibutuhkan." Dari 'Ubadah bin as-Shamit, dia berkata: "Saya pernah mendengar Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Shalat lima waktu telah Allah Subhanahu wa Ta‟ala wajibkan atas hamba-hamba-Nya. Maka barangsiapa yang melaksanakannya dan tidak menyia-nyiakan sedikit pun darinya, karena menganggap ringan akan kewajibannya, maka bagi-nya suatu perjanjian di sisi Allah Subhanahu wa Ta‟ala, bahwa Dia akan memasukkannya ke dalam Surga. Dan barangsiapa yang tidak melaksanakan-nya, maka tidak ada baginya perjanjian di sisi Allah Subhanahu wa Ta‟ala, jika Dia menghendaki, maka Dia akan menyiksanya dan jika Dia meng-hendaki, maka Dia akan memasukkannya ke dalam Surga.”[4] Saya berkata, "Di dalam hadits ini, beliau tidak menyebutkan shalat Witir bersamaan dengan shalatshalat fardhu." Diriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Shalat Witir tidaklah wajib, akan tetapi sunnah Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam." [5] Dan di antara dalil yang menunjukkan bahwa shalat Witir tidaklah wajib adalah bahwa shalat Witir ini boleh dilakukan di atas kendaraan se-kalipun tidak dalam keadaan darurat, berbeda dengan shalat wajib. Ada sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu „Umar Radhiyallahu anhuma, dia berkata, "Sesungguhnya Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam pernah melakukan shalat Witir di atas untanya."[6]
  • 25 Dan Ibnu „Umar Radhiyallahu anhuma berkata, "Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam pernah melakukan shalat di atas kendaraan-nya mengarah ke mana saja beliau mengarah dan juga pernah melakukan shalat Witir di atasnya, hanya saja beliau tidak melakukan shalat wajib di atas kendaraannya." [7] Di antara dalil-dalilnya pula adalah, bahwa shalat Witir termasuk sesuatu yang dibutuhkan setiap malamnya. Terdapat pendapat yang diri-wayatkan dari „Ali Radhiyallahu anhu dan Sahabat lainnya, bahwa shalat Witir tidaklah wajib, tidaklah mungkin jika orang-orang seperti para Sahabat ini tidak mengetahui kefardhuan satu shalat dari shalat-shalat yang diwajibkan dan mereka membutuhkan shalat ini setiap malamnya. Maka barangsiapa yang berprasangka demikian, maka dia telah berburuk sangka terhadap mereka. Diriwayatkan dari asy-Sya'bi, dia berkata, "Shalat Witir adalah sunnah, dan dia termasuk sunnah yang paling mulia." Sufyan berkata, "Shalat Witir bukanlah suatu kewajiban, akan tetapi sesuatu yang sunnah."[8] Dan dalil-dalil lainnya, yang menunjukkan bahwa shalat Witir tidaklah wajib, tetapi hanya-lah sunnah muakkadah. Sedangkan kaitannya dengan dalil-dalil yang menunjukkan adanya ancaman jika meninggal-kannya, maka sesungguhnya yang demikian itu hanyalah sebagai satu bentuk penguat atas kemuakkadahannya.[9] Sedangkan kaitannya dengan hukum me-ninggalkan shalat Witir, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah ditanya mengenai hal ini, lalu beliau menjawab: "Alhamdulillaah, shalat Witir adalah sunnah berdasarkan kesepakatan ulama kaum muslimin. Barangsiapa yang selalu meninggalkannya, maka kesaksiaannya ditolak. Shalat Witir lebih muakkadah daripada shalat sunnah Zhuhur, Maghrib dan „Isya‟, dan shalat Witir lebih utama daripada semua shalat sunnah pada siang hari, contohnya seperti shalat Dhuha, bahkan dia adalah shalat malam yang paling utama setelah shalat fardhu, dan shalat yang paling muakkadah adalah shalat Witir dan shalat sunnah Shubuh. Wallaahu a‟lam."[10] Waktu Dan Tata Cara Shalat Witir WAKTU DAN TATA CARA SHALAT WITIR Oleh Muhammad bin Suud Al-Uraifi 1. Waktu Shalat Witir Para ulama sepakat, bahwa waktu shalat Witir tidaklah masuk kecuali setelah „Isya‟ dan waktunya tetap berlangsung hingga Shubuh.[1] Dari Abu Bashra Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda:
  • 26 . "Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta‟ala telah memberi kalian tambahan shalat, yaitu shalat Witir, maka shalat Witirlah kalian antara waktu shalat „Isya‟ hingga shalat Shubuh." [2] Imam Ahmad meriwayatkan, bahwa Ibnu Mas'ud berkata, "Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam melakukan shalat Witir pada awal malam, pertengahan dan akhir malam."[3] Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, "Setiap malam, Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam melakukan shalat Witir, sejak awal malam, pertengahan dan akhir malam, dan shalat Witirnya ini berakhir hingga waktu sahur."[4] Dan hadits-hadits lainnya dari jalur lain yang menunjukkan bahwa semua waktu malam sejak „Isya‟ hingga Shubuh adalah waktu bagi shalat Witir. Permasalahan: "Jika seseorang menjama‟ shalat „Isya‟ dengan shalat Maghrib secara jama‟ taqdim sebelum tenggelamnya mega merah (me-lakukan keduanya pada waktu Maghrib), maka dia boleh melakukan shalat Witir setelah shalat „Isya‟ yang dilakukannya. Pendapat ini dike-mukakan oleh mayoritas ulama."[5] Waktu Shalat Witir Yang Paling Utama: Yang paling utama adalah mengakhirkan pelaksanaan shalat Witir hingga akhir malam, hal itu diperuntukkan bagi orang yang yakin bahwa dirinya akan bangun (di akhir malam), berdasarkan hadits Jabir Radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . 'Barangsiapa yang khawatir tidak bangun pada akhir malam, maka hendaklah dia me-lakukan shalat Witir pada awal malam. Dan barangsiapa yang bersikeras untuk bangun pada akhir malam, maka hendaklah dia me-lakukan shalat Witir pada akhir malam, karena shalat di akhir malam itu disaksikan (oleh para Malaikat), dan hal itu adalah lebih utama.'"[6] Di samping itu, Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam pun sering me-lakukannya di akhir malam. Disebutkan dalam dua kitab Shahih dan yang lainnya beberapa hadits dari sejumlah Sahabat yang menjelaskan bahwa beliau melakukan shalat Witir di akhir malam, bahkan pada sebagian hadits tersebut dijelaskan tentang perintah menjadikan shalat Witir sebagai akhir dari shalat malam. Tidak hanya seorang yang mengatakan bahwa pendapat ini adalah pendapat seluruh ulama.[7] Saya berkata, "Di samping itu, Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam pernah berwasiat kepada beberapa orang Sahabatnya agar tidak tidur sebelum melakukan shalat Witir." Dari Sa'ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu, dia berkata, saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Orang yang tidak tidur sebelum melakukan shalat Witir, adalah orang yang teguh (iman-nya)."[8] 2. Jumlah Raka’at Shalat Witir Shalat Witir tidaklah memiliki jumlah raka‟at tertentu, namun jumlahnya yang paling sedikit adalah satu raka‟at, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam: . "Shalat Witir itu satu raka‟at di akhir malam." [HR. Muslim].[9] Dan tidak dimakruhkan melakukan shalat Witir hanya satu raka‟at saja, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam:
  • 27 . "Dan barangsiapa yang senang melakukan shalat Witir satu raka‟at, maka hendaklah dia melakukannya."[10] Shalat Witir yang paling utama adalah sebelas raka‟at, yang dilakukan dua raka‟at dua raka‟at, dan diganjilkan dengan satu raka‟at, berdasarkan ucapan 'Aisyah Radhiyallahu anhuma: . "Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam melakukan shalat pada malam hari sebanyak sebelas raka‟at dengan meng-ganjilkan di antaranya dengan satu raka‟at." Dalam satu redaksi diungkapkan: . "Beliau salam di antara setiap dua raka‟at dan mengganjilkannya dengan satu raka‟at."[11] Jika seseorang melakukan shalat Witir sebanyak lima raka‟at atau tujuh raka‟at, maka dia boleh melakukannya semuanya secara terus-menerus dan tidak duduk (untuk membaca tahiyyat) kecuali diakhirnya (pada raka‟at kelima atau ketujuh), berdasarkan ucapan Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma: . "Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam pernah melakukan shalat Witir sebanyak tujuh raka‟at dan lima raka‟at dengan tanpa memisah di antara kesemuanya dengan salam dan tanpa adanya pembicaraan." [HR. Ahmad].[12] Jika seseorang melakukan shalat Witir sebanyak sembilan raka‟at, maka dia boleh melakukannya delapan raka‟at secara terus-menerus, kemudian dia duduk setelah raka‟at kedelapan dan melakukan tasyahhud awal (tahiyyat pertama) dengan tanpa salam, kemudian melanjutkan ke raka‟at kesembilan dan melakukan salam, berdasarkan ucapan 'Aisyah Radhiyallahu anuhma : . "Dan beliau melakukan shalat sebanyak sembilan raka‟at tanpa duduk (untuk mem-baca tahiyyat) padanya, kecuali pada raka‟at kedelapan, lalu beliau menyebut nama Allah, memuji-Nya, berdo‟a kepada-Nya dan kemudian bangkit (berdiri) tanpa salam, kemu-dian beliau berdiri, lalu melakukan raka‟at kesembilan, kemudian duduk, menyebut nama Allah, memuji-Nya dan berdo‟a kepada-Nya, kemudian salam dengan bacaan yang dapat kami dengar." [HR. Muslim].[13] Shalat malam tersebut tetap sah jika dilakukan lebih dari tiga belas raka‟at, akan tetapi harus diakhiri dengan bilangan ganjil (shalat Witir), sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits: . "Shalat malam itu dilakukan dua raka‟at-dua raka‟at, apabila kamu mengkhawatirkan datangnya waktu Shubuh, maka shalat Witir-lah sebanyak satu raka‟at."[14] 3. Bacaan Dalam Shalat Witir Disunnahkan bagi orang yang melakukan shalat Witir untuk membaca pada raka‟at per-tama dengan surat al-A‟laa, pada raka‟at kedua dengan surat al-Kaafiruun, pada raka‟at ketiga dengan surat alIkhlash, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan dia menilainya hasan, dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata:
  • 28 . “Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam membaca pada raka‟at pertama dengan surat al-A‟laa, pada raka‟at kedua dengan surat al-Kaafiruun dan pada raka‟at ketiga dengan surat al-Ikhlash dan dua surat mu‟awidzatain (surat al-Falaq dan surat an-Naas)."[15] Dan terdapat pula hadits serupa yang diri-wayatkan dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhuma dan Ubay bin Ka‟ab Radhiyallahu anuma. 4 Bacaan Qunut Dalam Shalat Witir Qunut dalam shalat Witir hukumnya sunnah, bukan wajib. Dalil disyari‟atkannya qunut bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam membaca qunut pada shalat Witir dan beliau tidak melakukannya kecuali hanya sedikit. Dan berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari al-Hasan bin „Ali Radhiyallahuma, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam telah mengajarkan kepadaku beberapa kalimat yang akan aku baca pada shalat Witir, yaitu: . 'Ya Allah, berilah aku petunjuk pada orang yang telah Engkau beri petunjuk, selamatkanlah aku pada orang yang Engkau selamatkan, kendalikanlah aku pada orang yang telah Engkau kendalikan, berkahilah aku pada apa yang telah Engkau berikan, lindungilah aku dari kejahatan apa yang telah Engkau putuskan, sesungguhnya Engkaulah yang memberikan keputusan, bukan yang diberi keputusan, sesungguhnya tidak akan hina orang yang Engkau kasihi, Mahasuci Engkau wahai Rabb kami dan Mahatinggi Engkau.'"[16] At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan dan kami tidak mengetahui hadits yang berasal dari Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam tentang qunut dalam shalat Witir yang lebih baik dari hadits ini." Dan di antara dalil yang menunjukkan bahwa qunut itu tidak wajib adalah bahwa telah ditetap-kan secara shahih dari sebagian Sahabat dan Tabi‟in bahwa mereka pernah meninggalkan qunut dalam shalat Witir, bahkan telah ditetapkan pula secara shahih dari sebagian mereka bahwa mereka meninggalkan qunut selama satu tahun, kecuali pada separuh (kedua) dari bulan Ramadhan, seperti yang dilakukan oleh 'Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu dan juga telah ditetapkan secara shahih dari selainnya bahwa mereka membaca qunut dalam shalat Witir selama satu tahun.[17] Perbedaan yang terjadi di antara mereka ini menunjukkan bahwa bagi mereka tidak ada riwayat yang ditetapkan secara shahih bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam membaca qunut pada setiap shalat Witir. Dan pada pernyataan ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa beliau terkadang meninggalkan qunut pada shalat Witir. Wallaahu a‟lam. Penempatan Qunut: Qunut dalam shalat Witir dilakukan pada raka‟at terakhir setelah selesai dari bacaan (al-Faatihah dan surat) dan sebelum ruku‟, sebagaimana juga sah dilakukan setelah bangun dari ruku‟ (pada posisi i‟tidal), semua ini telah ditetapkan secara shahih dari Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam dan kebanyakan ulama memahami bahwa qunut dilakukan sebelum ruku‟ dengan tujuan agar lama dalam berdiri. Dan terdapat sebuah hadits dari Anas Radhiyallahu anhu bahwa ia pernah ditanya mengenai hal ini, lalu ia menjawab, "Kami melakukannya sebelum dan sesudah ruku‟." [HR. Ibnu Majah].[18] Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam kitab Fat-hul Baarii, "Sanad hadits ini kuat." 5. Mengqadha’ Shalat Witir Bagi Orang Yang Terlewatkan Mayoritas ulama berpendapat bahwa mengqadha‟ shalat Witir itu termasuk syari‟at. Telah diriwayatkan dari Abu Sa‟id al-Khudri, ia ber-kata, "Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: .
  • 29 'Barangsiapa tidur dengan meninggalkan shalat Witir atau melupakannya, maka hendaklah dia melakukannya ketika mengingatnya.'"[19] Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: "Jika seseorang dari kalian memasuki waktu Shubuh dan dia belum melakukan shalat Witir, maka hendaklah dia melakukannya."[20] Waktu Mengqadha‟ Shalat Witir: Para ulama berbeda pendapat mengenai waktu untuk mengqadha‟ shalat Witir. Menurut ulama (madzhab) Hanafi, qadha‟ dilakukan pada selain waktu yang dilarang (melakukan shalat). Menurut ulama (madzhab) Syafi‟i, qadha‟ dilakukan kapan saja, malam ataupun siang hari. Dan menurut Imam Malik dan Imam Ahmad, qadha‟ dilakukan setelah terbit fajar selama shalat Shubuh belum dilakukan.[21] Nabi Muhamad Shallallahu Alaihi Wa Sallam Di Malam Hari BEBERAPA GAMBARAN MENGENAI QIYAAMUL LAIL Oleh Muhammad bin Suud Al-Uraifi Keadaan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam Di Malam Hari; Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam adalah orang yang paling mengetahui Rabb-nya Azza wa Jalla, orang yang paling bertakwa kepada-Nya dan orang yang paling dicintai-Nya. Karena itulah beliau selalu memanfaatkan setiap kesempatan untuk berkhalwat (menyendiri) bersama Kekasihnya (Allah Subhanahu wa Ta‟ala), beribadah kepada Penciptanya dan bersyukur kepada Rabb yang telah mengutamakan di atas alam semesta ini dan yang telah menjadikannya pemimpin para Rasul. Ketika malam telah tiba dan telah menguraikan penutupnya, beliau menghadap kepada Rabb yang diibadahi, beliau bermunajat, berdo‟a dan tunduk beribadah kepada-Nya sambil berdiri, duduk maupun sujud hingga malam hampir saja menjadi terang, sedangkan beliau tidak merasakan lamanya beribadah, bagaimana dapat beliau merasakan hal itu sedangkan beliau sedang menyendiri bersama Allah Subhanahu wa Ta‟ala, menyendiri bersama Raja para raja, menyendiri bersama Rabb Yang menguasai alam langit dan Dia berkuasa atas segala sesuatu, menyendiri bersama Kekasihnya, bersahabat dengan-Nya dan menghadap kepada-Nya dengan hati, tubuh dan ruhnya. Ya Allah, berilah kami rizki berupa upaya untuk bisa beribadah di malam hari dan merasakan nikmatnya beribadah dan melihat wajah-Mu yang mulia. „Abdullah bin Rawahah Radhiyallahu anhu menceritakan tentang keadaan Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam di malam harinya: Beliau bermalam sambil merenggangkan lambung dari tempat tidurnya, ketika tempat-tempat tidur terasa berat bagi orang-orang musyrik.[1] Gambaran Tentang Kesungguhan Nabi Shallallahu „Alaihi Wa Sallam Dalam Beribadah. Diriwayatkan dari al-Mughirah bin Syu‟bah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam melakukan shalat hingga kedua telapak kaki beliau membengkak, lalu ada yang berkata kepada beliau, "Apakah engkau memaksakan diri untuk ini, padahal Allah Subhanahu wa Ta‟ala
  • 30 telah memberikan ampunan bagimu atas dosa-mu yang telah lalu dan yang akan datang?" Beliau menjawab: . 'Apakah tidak boleh jika aku termasuk hamba yang bersyukur."[2] Dan diriwayatkan dari „Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, "Jika Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam melakukan shalat, beliau berdiri hingga kedua telapak kaki beliau merekah, lalu „Aisyah bertanya, 'Kenapa engkau melakukan semua ini, padahal Allah Subhanahu wa Ta‟ala telah memberikan ampunan bagimu atas dosa-dosa-mu yang telah lalu dan yang akan datang?' Lalu beliau menjawab, . 'Apakah tidak boleh jika aku termasuk hamba yang bersyukur.'"[3] Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata: . "Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam melakukan shalat hingga kedua telapak kakinya merekah."[4] Ibnu Baththal berkata, "Dan di dalam hadits ini terdapat pelajaran agar seseorang menjadikan dirinya bersungguh-sungguh dalam beribadah, sekalipun hal itu membahayakannya, karena Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam melakukan hal itu, padahal beliau telah mengetahui apa yang telah diberikan kepadanya (yaitu pengampunan dosa yang telah lalu dan yang akan datang), lalu bagaimana dengan orang yang tidak mengetahui hal itu, terutama bagi orang yang tidak merasakan aman bahwa dirinya berhak masuk Neraka."[5] Di antara gambaran tentang ibadah Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam adalah hadits yang diriwayatkan dari „Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, "Aku pernah kehilangan Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam pada satu malam dari tempat tidur, lalu aku mencarinya, lalu kedua tanganku mengenai kedua telapak kaki beliau, sedangkan beliau tengah melakukan sujud dan kedua telapak kaki beliau sedang ditegakkan, ketika itu beliau membaca do‟a: . 'Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari murka-Mu, dengan pengampunan-Mu dari siksaan-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak dapat menghitung sanjungan terhadap-Mu, sebagaimana Engkau menyanjung-Mu atas diri-Mu.'"[6] Dan diriwayatkan dari Ibnu „Abbas Radhiyallahu anhuma, ia berkata, "Aku pernah bermalam di rumah bibiku, Maimunah binti al-Harits, istri Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam dan ketika itu Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam, sedang berada bersamanya pada malam (giliran)nya, lalu beliau melakukan shalat „Isya‟ (di masjid), kemudian beliau pulang ke rumahnya, lalu beliau melakukan shalat empat raka‟at dan kemudian tidur, kemudian beliau bangun lalu bersabda, „Anak kecil ini telah tidur,‟ atau beliau mengucapkan kata-kata yang serupa, kemudian beliau bangun dan aku pun bangun di sebelah kirinya, lalu beliau merubah posisiku menjadi di sebelah kanannya, lalu beliau melakukan shalat lima raka‟at, kemudian melakukan shalat dua raka‟at, kemudian tidur hingga aku mendengar dengkurannya, kemudian beliau keluar untuk melakukan shalat (Shubuh)."[7] Dan diriwayatkan dari „Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata: . "Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam pernah melakukan shalat setelah shalat „Isya‟ hingga fajar menyingsing."[8]
  • 31 Abu Dzarr Radhiyallahu anhu berkata, "Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam pernah ber-ibadah hingga Shubuh dengan membaca satu ayat, yaitu ayat: 'Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.' [Al-Maa-idah/5: 118]."[9] Dan diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam pernah tidak ber-puasa selama satu bulan hingga kami menyangka bahwa beliau memang tidak berpuasa dan beliau pernah berpuasa hingga kami menyangka bahwa beliau tidak berbuka sama sekali. Engkau tidak berharap melihat beliau pada malam hari dalam keadaan shalat melainkan engkau akan melihatnya dan juga dalam keadaan tidur melainkan engkau akan melihatnya."[10] Gambaran Tentang Lamanya Berdiri Yang Dilakukan Nabi Shallallahu „Alaihi Wa Sallam. Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam selalu memperpanjang berdiri dalam shalatnya, dan ketika beliau ditanya, "Shalat yang bagaimanakah yang paling utama?" Beliau menjawab, "Yang lama berdirinya."[11] Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa beliau menjawab, "Yang lama qunutnya."[12] Dan diriwayatkan dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, ia berkata, "Aku pernah melakukan shalat bersama Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam pada suatu malam, lalu beliau kemungkinan akan membukanya dengan membaca surat al-Baqarah. Aku berkata, 'Beliau membaca seratus ayat, kemudian beliau ruku‟. Tatkala beliau melewatinya, aku berkata, 'Beliau membacanya dalam dua raka‟at.' Tatkala sampai pada kalimat an-naas[13] saya berkata, Beliau membacanya dalam satu raka‟at, tatkala beliau selesai dari surat ini, beliau membuka dengan membaca surat Ali-'Imran, lalu ketika beliau melewati bacaan tasbih, takbir, tahlil, penyebutan Surga dan Neraka, maka beliau berhenti, lalu beliau berdo‟a atau memohon perlindungan kemudian beliau ruku‟. Ketika ruku‟, beliau membaca: 'Subhaana Rabbiyal „azhiim'. Lamanya beliau ruku‟ sama dengan lamanya beliau berdiri atau lebih lama lagi, kemudian beliau membaca, 'Sami‟allaahu liman hamidah,' lalu beliau berdiri dalam waktu yang lama, kemudian beliau sujud. Ketika sujud, beliau membaca, 'Subhaana Rab-biyal a‟la.'"[14] Dan diriwayatkan dari „Abdullah bin Mas‟ud Radhiyallahu anhu, ia berkata, "Aku pernah melakukan shalat bersama Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam, beliau memperpanjang (shalatnya) hingga aku menginginkan sesuatu hal yang buruk. Lalu ada yang bertanya, 'Apa yang engkau inginkan?' „Abdullah menjawab, 'Aku menginginkan agar aku bisa duduk dan aku meninggalkannya.'"[15] Dan masih banyak lagi hadits yang diriwayatkan dari beliau yang menerangkan tentang shalat malam, membaca al-Qur-an dan menghidupkan malam-malamnya dengan hal-hal tersebut. Shalawat Allah dan salam-Nya tetap atas beliau.
  • 32 Keadaan Para Sahabat Radhiyallahu anhum Di Malam Hari BEBERAPA GAMBARAN MENGENAI QIYAAMUL LAIL Oleh Muhammad bin Suud Al-Uraifi Keadaan Para Sahabat Radhiyallahu anhum Di Malam Hari Para Sahabat adalah contoh ideal setelah Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam dalam penerapan agama ini, pelaksanaan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan- larangannya. Bagaimana tidak, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta‟ala sendiri telah memuji mereka, firman-Nya: "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah ..." [At-Taubah: 100] Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Sebaik-baik manusia adalah generasi pada masaku, kemudian orang-orang yang mengiringi mereka."[1] Beliau Shallallahu „alaihi wa sallam juga bersabda: . "Janganlah kalian mencaci maki para Sahabatku, demi Rabb yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya seorang dari kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud, maka infaqnya itu tidak akan mencapai satu mudd (kurang lebih 6,5 ons,-pent.) pun seorang dari mereka, tidak juga separuhnya."[2] Dan Ibnu Mas‟ud Radhiyallahu anhu berkata, "Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta‟ala melihat hati hamba-hamba-Nya. Dia mendapatkan hati Muhammad Shallallahu „alaihi wa sallam itu adalah sebaik-baik hati, lalu Dia memilihnya untuk diri-Nya dan mengutusnya dengan risalah-Nya, kemudian Dia melihat hati hamba-hamba-Nya setelah hati Muhammad Shallallahu „alaihi wa sallam, lalu Dia mendapat-kan hati para Sahabatnya adalah sebaik-baik hati, lalu Dia menjadikan mereka sebagai para menteri (pembantu) Nabi-Nya Shallallahu „alaihi wa sallam."[3] 'Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu pernah melakukan shalat Shubuh, tatkala salam, beliau berbaring ke arah kanan kemudian terdiam seakan-akan beliau sedang bersedih hingga ketika matahari telah meninggi, beliau berkata: "Sungguh aku telah melihat jejak para Sahabat Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam, namun aku tidak melihat seorang pun yang menyerupai mereka. Demi Allah, jika mereka memasuki pagi hari, kondisi mereka dengan keadaan rambut yang kusut, penuh debu dan menguning, di antara mata mereka terdapat seperti kendaraan perang, pastilah mereka pada malam harinya itu membaca Kitabullah, mereka naik-turun di antara telapak kaki mereka dan dahi mereka. Ketika Nama Allah disebutkan, mereka bergetar laksana pepohonan yang bergetar ketika angin bertiup dan seakan-akan orang lain yang ada di sekeliling mereka itu bermalam dalam keadaan lalai."[4] Alangkah indah sya‟ir karya Ibnul Qayyim rahimahullah yang menggambarkan tentang para Sahabat:
  • 33 Mereka itu orang-orang yang taat, orang-orang yang bersembunyi untuk Rabb mereka, orang-orang yang berbicara dengan sejujur-jujur ucapan. Mereka menghidupkan malam mereka dengan ketaatan kepada Rabb mereka, dengan membaca (al-Qur-an), tunduk (ber-ibadah) dan memohon. Mata mereka mengalirkan limpahan air mata, laksana hujan yang turun dengan derasnya. Pada malam hari mereka menjadi ahli ibadah, dan tatkala berjihad melawan musuh mereka, mereka adalah pahlawan yang paling berani. Tatkala telah tampak bendera perang, maka engkau akan melihat mereka berlomba-lomba dengan amalan-amalan shalih. Pada wajah mereka tampak bekas sujud kepada Rabb mereka, padanya terdapat kilauan cahaya-Nya yang terang-benderang. Sungguh al-Qur-an telah menerangkan ke-padamu akan sifat mereka, di dalam surat al-Fath yang jelas dan luhur. Dan pada surat keempat dari as-sab‟uth thiwaal terdapat keterangan tentang sifat mereka, yaitu kaum yang dicintai oleh-Nya dengan penuh kerendahan. Dan di dalam surat Bara-ah (al-Taubah) dan al-Hasyr terdapat keterangan sifat mereka, juga pada surat Hal ataa dan surat al-Anfaal.[5] IBadah Para Sahabat Radhiyallahu anhum 1. Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu Abu Bakar Radhiyallahu anhu adalah orang pertama yang masuk Islam, yang pertama kali menjadi pe-nolong dan pertama kali berjihad, ia lebih dulu sampai kepada Allah, ia berbicara dengan syari‟atNya dan selalu jujur dalam pembicaraannya. Disebutkan dalam sebuah sya‟ir: Wahai khalifah ar-Rahman, masamu telah berbicara, tidak ada yang diperolehnya selain dirimu wahai orang yang jujur.
  • 34 Beliau adalah seorang laki-laki yang rajin ber-ibadah, rajin berpuasa dan sering menangis. Jika ia membaca al-Qur-an, maka tidak akan dime-ngerti apa yang dibacanya, karena seringnya dia menangis. Diriwayatkan dari Abu Qatadah Radhiyallahu anhu, ia ber-kata, "Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam pernah keluar pada suatu malam, tiba-tiba beliau bertemu dengan Abu Bakar Radhiyallahu anhu sedang melakukan shalat dengan melirihkan suaranya." Abu Qatadah berkata, "Dan kemudian beliau bertemu dengan 'Umar ketika ia sedang shalat dengan mengeraskan suaranya." Abu Qatadah berkata, "Tatkala keduanya ber-kumpul di sisi Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam, beliau berkata kepada keduanya, 'Wahai Abu Bakar, aku telah melewati dirimu ketika engkau sedang melaksanakan shalat dan engkau melirihkan suaramu.' Abu Bakar berkata, 'Sungguh aku telah memperdengarkan kepada Rabb yang aku bermunajat kepada-Nya, wahai Rasulullah.'" Abu Qatadah berkata, "Lalu beliau berkata kepada 'Umar, 'Aku telah melewati dirimu, ketika itu engkau sedang melaksanakan shalat dengan mengeraskan suaramu.'" Abu Qatadah berkata, "Lalu 'Umar berkata, 'Wahai Rasulullah, aku telah membangunkan orang-orang yang tidur dan mengusir syaitan.' Lalu Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, 'Wahai Abu Bakar, keraskanlah suaramu sedikit dan 'Umar, lirihkanlah suaramu sedikit.'"[6] 2. 'Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu. 'Umar masuk Islam dalam keadaan kuat, dia berhijrah dalam keadaan kuat dan terbunuh juga dalam keadaan kuat. Dia ditakuti oleh syaitan, Hurmuz menjadi gentar ketika melihatnya dan kerajaan Dinasti Sasan menjadi berakhir karena-nya. Sebuah sya‟ir mengungkapkan: Wahai „Umar al-Faruq, apakah engkau me-miliki kendali, karena tentara Romawi dapat engkau larang dan engkau perintah. Al-'Abbas bin „Abdil Muththalib berkata, "Aku adalah tetangga 'Umar bin al-Khaththab, aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih utama dari 'Umar; sesungguhnya malamnya digunakan untuk shalat dan siang harinya digunakan untuk berpuasa dan memenuhi kebutuhan masyarakat."[7] Dan diriwayatkan dari Zaid bin Aslam dari ayahnya bahwa 'Umar bin al-Khaththab melakukan shalat malam dalam waktu yang cukup lama hingga ketika di akhir malam, beliau membangunkan keluarganya agar melakukan shalat, dia berkata kepada mereka, "Shalatlah kalian, shalatlah kalian, kemudian dia membaca ayat ini: 'Dan perintahkanlah kepada keluargamu men-dirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kamilah yang memberi rizki ke-padamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.' [Thaahaa/20: 132]."[8] Ibnu Katsir rahimahullah berkata, "'Umar selalu melakukan shalat „Isya‟ bersama rakyatnya, kemu dian beliau masuk ke rumahnya dan tiada henti-hentinya dia melakukan shalat hingga Shubuh."[9] Diungkapkan dalam sebuah sya‟ir: Maka siapakah yang akan mengikuti jalan hidup Abu Hafsh Atau siapakah yang berusaha menyerupai al-Faruq.
  • 35 3. ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu anhu. Beliau bergelar dzun nuurain (orang yang memiliki dua cahaya, karena telah menikahi dua puteri Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam, yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum), dia adalah orang yang selalu berbuat baik, bersedekah, selalu membaca al-Qur-an, selalu bersabar dan memiliki keimanan (yang kuat). Diriwayatkan dari Ibnu Sirin, dia berkata, "Istri „Utsman, Nailah berkata ketika beliau terbunuh, 'Sungguh kalian telah membunuhnya, sesungguhnya dia itu selalu menghidupkan seluruh malam dengan al-Qur-an dalam satu raka‟at.'"[10] „Abdurrahman at-Taimi berkata, "Sungguh pada malam ini aku akan mengalahkan sekelompok orang untuk meraih Maqam Ibrahim. Tatkala aku melakukan shalat „Isya‟, aku menyendiri menuju tempat itu hingga aku beribadah di dalamnya." „Abdurrahman berkata, "Ketika aku sedang berdiri, tiba-tiba ada seorang laki-laki meletakkan tangannya di antara kedua pundakku, dia adalah „Utsman bin „Affan." „Abdurrahman berkata, "Lalu „Utsman mulai membaca Ummul Qur-an (al-Faatihah), lalu dia membaca al-Qur-an hingga khatam, lalu dia ruku‟ dan sujud, kemudian dia mengambil kedua sandalnya. Maka aku tidak mengetahui apakah sebelumnya dia telah melakukan shalat atau belum."[11] Tentang „Utsman bin „Affan ini digambarkan dalam sebuah sya‟ir: Bintang tidak melihatnya kecuali ketika dia sedang sujud Atau matahari tidak melihatnya kecuali ketika dia sedang mendermakan harta. 4. 'Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu Dia adalah putera paman Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam, dia adalah pedang beliau yang selalu terhunus dan dia adalah suami dari puteri beliau yang suci. Dhirar bin Dhamrah al-Kinnani menyifati 'Ali bin Abi Thalib ketika ia dipanggil oleh Amirul Mukminin, Mu‟awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu anhu, ia berkata, "Beliau tidak merasa senang kepada dunia dan kegemerlapannya dan beliau merasa senang dengan malam dan kegelapannya. Aku bersaksi kepada Allah, sungguh aku telah melihatnya pada beberapa kesempatan, malam telah menarik penutupnya dan bintang-bintangnya telah terbenam, beliau menuju ke mihrabnya sambil menggenggam jenggotnya, beliau meliuk-liuk seperti liukan orang yang sehat, beliau menangis seperti tangisan orang yang sedih, seakan-akan aku sekarang mendengarkannya ketika beliau berkata, 'Wahai Rabb kami, wahai Rabb kami (sambil tunduk beribadah kepada-Nya),' kemudian beliau berkata kepada dunia, 'Kepadakulah menipu, kepadakulah memandang, sungguh jauh, sungguh jauh, tertipulah orang lain selain diriku, karena usiamu sangat pendek, tempatmu sangat hina, resikomu sangat sedikit. Aduh, aduh, alangkah sedikitnya bekal ini, alangkah jauhnya perjalanan ini, alangkah sepinya jalannya ini.'" Dhirar berkata, "Lalu air mata Mu‟awiyah menetes di atas jenggotnya, dia tidak dapat menahannya dan beliau mengelapnya karena banyaknya dan sungguh orang-orang yang ada menjadi tercekik oleh tangisan, lalu Mu‟awiyah berkata, 'Apakah demikian keadaannya Abul Hasan, semoga Allah merahmatinya, bagaimana perasaanmu kepadanya, wahai Dhirar?'" Dhirar berkata, "Seperti perasaan orang yang memiliki anak satu-satunya yang masih dipangkuannya disembelih, air matanya tidak mau berhenti dan kesedihannya tidak mau terhenti."[12] 5. ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu Disebutkan dalam hadits: . "Barangsiapa yang senang jika dia dapat membaca al-Qur-an dalam keadaan basah sebagaimana dia diturunkan, maka hendaklah dia membacanya dengan bacaan Ibnu Ummi „Abd („Abdullah bin Mas‟ud)."[13] „Abdullah bin Mas‟ud Radhiyallahu anhu ketika mata sedang tampak tenangnya, beliau berdiri, lalu terdengarlah suara seperti suara lebah.[14]
  • 36 Diriwayatkan dari 'Umar Radhiyallahu anhu, beliau berkata, "Kami pernah bercakap-cakap pada suatu malam di rumah Abu Bakar tentang sebagian kebutuhan Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam, kemudian kami keluar, sedangkan Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam berada di antaraku dan Abu Bakar. Tatkala kami sampai di masjid, tiba-tiba ada se-orang laki-laki sedang membaca al-Quran, lalu Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam berdiri untuk menyimaknya, lalu aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, bukankan engkau hendak melakukan shalat „Isya‟?' Lalu beliau menyentuhku dengan tangannya, 'Diamlah.' 'Umar Radhiyallahu anhu berkata, "Lalu orang tersebut membaca al-Qur-an, ruku‟ dan sujud, dia duduk berdo‟a kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya, lalu Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, 'Mintalah, maka engkau akan diberi,' kemudian beliau bersabda: . 'Barangsiapa yang senang jika dia dapat membaca al-Qur-an dalam keadaan basah sebagaimana dia diturunkan, maka hendaklah dia membacanya dengan bacaan Ibnu Ummi „Abd („Abdullah bin Mas‟ud). Maka aku dan temanku (Abu Bakar) baru mengetahui bahwa orang tersebut adalah „Abdullah.' Tatkala memasuki waktu pagi, aku pergi menemui „Abdullah untuk memberikan kabar gembira kepadanya, lalu „Abdullah berkata, 'Abu Bakar telah mendahuluimu mengabarkan hal itu.' ('Umar berkata), 'Tidaklah aku berlomba dengan Abu Bakar dalam satu kebaikan pun me-lainkan dia (selalu) lebih dahulu dariku.'"[15] Diriwayatkan dari 'Alqamah bin Qais, dia berkata, "Aku pernah bermalam bersama „Abdullah bin Mas‟ud Radhiyallahu anhu, lalu ia beribadah di awal malam, kemudian berdiri untuk melakukan shalat, lalu ia membaca al-Qur-an seperti halnya seorang imam membaca al-Qur-an di kampungnya, ia membacanya secara tartil tanpa mengulanginya dan orang yang ada di sekelilingnya dapat mendengarnya hingga gelap tidak tersisa melainkan seperti halnya antara adzan Maghrib hingga selesai darinya, lalu ia melakukan shalat Witir."[16] „Abdullah bin Mas‟ud Radhiyallahu anhu pernah berkata, "(Sudah) sepatutnya seorang penghafal alQur-an dikenal dengan malamnya ketika orang-orang sedang tertidur, dikenal dengan siangnya ketika orang-orang sedang tidak berpuasa, dikenal dengan kesedihannya ketika orang-orang bergembira, dikenal dengan tangisannya ketika orang-orang tertawa, dikenal dengan diamnya ketika orang-orang sedang membaur dan dengan kekhusyu‟annya ketika orang-orang sedang bersikap sombong."[17] 6. Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu Disebutkan dalam sebuah hadits: . "Sungguh dia telah diberikan seruling dari seruling-seruling keluarga Dawud Alaihissallam."[18] Pada suatu malam, Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam melintas, sedangkan Abu Musa sedang membaca al-Qur-an di dalam rumahnya. Ketika itu 'Aisyah Radhiyallahu anhuma ikut bersama Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam. Lalu keduanya berdiri dan menyimak bacaannya, kemudian keduanya berlalu, tatkala memasuki waktu pagi, Abu Musa bertemu dengan Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam, lalu beliau mengabar-kannya perihal semalam, lalu Abu Musa berkata, "Wahai Nabi Allah, seandainya aku mengetahui posisimu ketika itu, niscaya aku akan menghiasi al-Qur-an untukmu (dengan suara yang merdu)."[19] Abu Yusuf, pengawal Mu‟awiyah, bercerita, "Abu Musa al-Asy‟ari pernah mendatangi Mu„awiyah, lalu beliau singgah di suatu penginapan di Damaskus, lalu Mu‟awiyah keluar di malam hari untuk mendengarkan bacaannya."[20] Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Kami tiba di kota Bashrah bersama dengan
  • 37 Abu Musa, lalu ia bangun malam untuk melakukan shalat Tahajjud, tatkala memasuki waktu Shubuh, seseorang berkata kepadanya, 'Semoga Allah membuat gubernur menjadi baik. Seandainya engkau melihat istri dan kerabatmu, dan mereka tengah menyimak bacaanmu.' Lalu Abu Musa berkata, 'Seandainya aku mengetahui, pastilah aku akan menghiasi Kitabullah dengan suaraku."[21] Dan ketika 'Umar Radhiyallahu anhu duduk di sisi Abu Musa Radhiyallahu anhu, beliau berkata kepadanya, "Wahai Abu Musa, berilah peringatan kepada kami." Lalu Abu Musa membaca al-Quran. 7. ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu anhuma Beliau adalah ulamanya umat ini dan penerjemah al-Qur-an. Diriwayatkan darinya bahwa dia berkata, "Aku pernah melakukan shalat di belakang Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam di akhir malam, lalu beliau mengarahkan diriku sejajar dengannya. Tatkala selesai, aku berkata, 'Apakah pantas bagi seseorang jika dia melakukan shalat sejajar dengan Rasulullah, padahal engkau adalah utusan Allah.' Lalu beliau berdo‟a kepada Allah agar Dia memberiku tambahan pemahaman dan ilmu."[23] Diriwayatkan dari Ibnu Abi Mulaikah, dia berkata, "Aku pernah menemani Ibnu „Abbas Radhiyallahu anhuma dari Makkah ke Madinah, maka ketika beliau singgah (di suatu tempat), beliau beribadah di pertengahan malam." Ayyub bertanya kepada Ibnu Abi Mulaikah, "Bagaimana dengan bacaan al-Qur-annya?" Ibnu Abi Mulaikah menjawab: "Beliau membaca: "Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripada-nya." [Qaaf/50: 19] Beliau membacanya secara tartil dan banyak menangis dengan tersedu-sedu.”[24] Diriwayatkan dari Abu Raja‟, dia berkata, "Aku pernah melihat Ibnu „Abbas Radhiyallahu anhuma dan di bawah kedua matanya tampak seperti tali sepatu yang telah usang lantaran menangis."[25] 8. ‘Abdullah bin 'Umar Radhiyallahu anhuma Disebutkan dalam sebuah hadits: . "Tidak seorang pun dari kita yang mengalami hidup di dunia melainkan dunia akan membuatnya condong kepadanya kecuali Ibnu „Umar."[26] Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda mengenai dirinya: . "Sebaik-baik laki-laki adalah „Abdullah (bin 'Umar) seandainya dia mau beribadah di malam hari." Perawi berkata, "Maka setelah sabda ini, Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhu tidak tidur di malam hari melainkan hanya sebentar saja."[27] Ada yang bertanya kepada Nafi‟, "Apa yang diperbuat oleh Ibnu 'Umar di rumahnya?" Nafi‟ menjawab, "Kalian tidak akan sanggup melakukannya, yaitu berwudhu‟ setiap kali shalat dan mushhaf selalu ada di antara keduanya."[28] Diriwayatkan dari Nafi‟, dia berkata, "Tatkala Ibnu 'Umar ketinggalan shalat 'Isya‟ berjama‟ah, maka beliau menghidupkan sisa malamnya."[29] Diriwayatkan dari Muhammad bin Zaid, "Bahwa Ibnu 'Umar memiliki (bak) lumpang yang di dalamnya terdapat air, lalu beliau melakukan shalat dengan air yang ada di dalamnya secukup-nya, kemudian beliau menuju ranjang, lalu beliau tidur sejenak seperti tidurnya burung, kemudian beliau bangun dan berwudhu‟ lalu melakukan shalat, hal itu dilakukannya dalam satu malam sebanyak
  • 38 empat atau lima kali."[30] Ketika menjelang wafat, beliau berkata, "Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang dapat menghibur kecuali rasa haus di tengah hari dan penderitaan di malam hari."[31] 9. ‘Abdullah bin az-Zubair Radhiyallahu anhu Dia adalah cucu paman Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam dan putera utusan beliau. Dia selalu beribadah di malam hari dan berpuasa di siang hari, dan dia dikenal dengan nama hamaamatul masjid (burung merpati masjid).[32] Mujahid berkata, "Ketika Ibnuz Zubair ber-diri hendak melakukan shalat, maka (seakan-akan) dia itu laksana sebatang kayu."[33] Tsabit al-Bannani berkata, "Aku pernah diperintahkan untuk menemui Ibnuz Zubair, sedangkan beliau tengah melakukan shalat di belakang Maqam Ibrahim, beliau terlihat seakan-akan sebatang kayu yang berdiri tegak tanpa bergerak." Diriwayatkan dari Muslim bin Yunaq, dia berkata: "Pada suatu hari, Ibnuz Zubair melakukan shalat, lalu beliau membacakan kepada kami surat al-Baqarah, Ali-'Imran, an-Nisaa' dan al-Maa-idah, dan beliau tidak mengangkat kepalanya."[34] Diriwayatkan dari 'Amr bin Dinar, dia ber-kata, "Ibnuz Zubair pernah melakukan shalat di Hijir Isma‟il sedangkan meriam bertubi-tubi merontokkan bangunan tersebut, maka beliau tidak menoleh. Ketika itu adalah hari di mana orang-orang (musuh-musuhnya) mengepungnya."[35] 'Utsman bin Thalhah berkata, "Tidak ada yang mempertentangkan Ibnuz Zubair dalam tiga hal, yaitu keberaniannya, ibadahnya dan kefashihannya."[36] Gambaran Tentang Ibadah Para Sahabat Wanita 1. Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma Beliau adalah ash-Shiddiqah binti ash-Shiddiq (wanita jujur puteri dari orang yang jujur) dan wanita terpintar pada umat ini secara mutlak. Mengenai dirinya, Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Keutamaan „Aisyah atas wanita-wanita lainnya seperti keutamaan tsarid (bubur, roti yang diremuk dan direndam dalam kuah) atas semua makanan."[37] Al-Qasim berkata, "Ketika aku pergi, aku memulainya dengan rumah „Aisyah Radhiyallahu anhuma, aku mengucapkan salam kepadanya. Pada suatu hari akan pergi, tiba-tiba beliau sedang berdiri melakukan shalat dan membaca ayat: 'Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari adzab Neraka.' [AthThuur/52: 27] Beliau berdo‟a, menangis dan mengulang-ulang ayat tersebut. Lalu aku berdiri hingga aku merasa bosan dengan terus berdiri, lalu aku pergi ke pasar untuk membeli keperluanku, kemudian aku kembali, dan beliau masih tetap berdiri sebagaimana beliau berdiri ketika shalat dan menangis tadi."[38] 2. Ummul Mukminin Zainab Radhiyallahu anhuma Beliau adalah wanita terhormat dan ahli ibadah, beliau adalah tempat berlindung anak-anak yatim dan para janda.[39] Beliau sering berpuasa, beribadah dan bersedekah, bahkan beliau dijuluki sebagai Ummul Masakin (ibu orang-orang miskin).[40]
  • 39 Disebutkan dalam sebuah hadits: . "Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam pernah memasuki masjid, tiba-tiba beliau mendapatkan sebuah tali yang mem-bentang di antara dua tiang penyangga, lalu beliau bertanya, 'Tali apa ini?' Para Sahabat menjawab, 'Ini adalah tali milik Zainab, jika dia tampak lemas, maka dia bergantung dengannya.' Lalu Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam berkata, 'Tidak, lepaskanlah tali itu, hendaklah seorang dari kalian melakukan shalat sesuai dengan kesungguhannya, jika dia merasakan lemas, maka hendaklah ia duduk.'" [41] Semoga Allah merahmati dan meridhainya. Keadaan Salafush Shalih Di Malam Hari (1) BEBERAPA GAMBARAN MENGENAI QIYAAMUL LAIL Oleh Muhammad bin Suud Al-Uraifi Keadaan Salafush Shalih di Malam Hari Salafush Shalih adalah orang-orang yang berpaling dari dunia dan menggantinya (dengan akhirat) dan mereka tidak menjual perjanjian Allah Subhanahu wa Ta‟ala dengan harga yang sedikit. Mereka adalah orang-orang yang mengkhawatirkan kemalangan (di akhirat) dan mereka mencemaskan yang terdahulu dalam hal yang ghaib dan tersembunyi, maka hal itu akan menghalangi antara mereka dengan apa yang mereka inginkan, mereka selalu menunggu akhir ajalnya, bagaimana keadaannya, mereka itulah wali-wali Allah Subhanahu wa Ta‟ala yang shalih. Gambaran Ibadah Para Salafush Shalih 1. ‘Amir bin Qais rahimahullah. Dia adalah panutan, seorang wali, seorang yang zuhud dan rahib umat ini. Mengenai dirinya, al-Hasan berkata, "„Amir melakukan shalat di antara dua shalat „Isya‟ (Maghrib dan „Isya‟), kemudian pulang ke rumahnya, lalu makan roti dan tidur sejenak, kemudian bangun untuk melakukan shalat, kemudian sahur dan keluar (untuk melakukan shalat Shubuh berjama‟ah)."[1] Dia melakukan shalat hingga kedua telapak kakinya membengkak, lalu dia berkata, "Wahai orang yang selalu memerintahkan keburukan, sesungguhnya engkau diciptakan hanyalah untuk beribadah."[2] Istrinya pernah berkata, "Orang-orang sedang tidur sedangkan engkau tidak tidur." Dia menjawab, "Sesungguhnya Neraka Jahannam tidak akan membiarkan aku tertidur."[3] Qatadah berkata, "Tatkala kematiannya menjelang, 'Amir menangis, lalu ada yang bertanya, 'Apa yang membuatmu menagis?' Dia menjawab, 'Tidaklah aku menangis karena takut akan kematian, juga bukan karena tamak atas dunia ini, akan tetapi aku menangis atas rasa haus di tengah hari dan ibadah di malam hari (karena tidak dapat melanjutkan lagi).'"[4] 2. Ar-Rabi’ bin Khutsaim rahimahullah Dia adalah pemimpin yang menjadi panutan, seorang ahli ibadah dan salah seorang imam terkenal. Ketika Ibnu Mas‟ud Radhiyallahu anhu melihatnya, beliau berkata, "Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah). Demi Allah, seandainya Muhammad
  • 40 Shallallahu „alaihi wa sallam melihatmu, pastilah beliau akan mencintaimu."[5] Dia adalah seorang pendiam, selalu khusyu‟, sangat memelihara pandangannya hingga sebagian orang mengira bahwa dia adalah orang buta, maka ketika pelayan wanita Ibnu Mas‟ud melihatnya, dia berkata (kepada Ibnu Mas‟ud), "Temanmu yang buta telah datang." Lalu Ibnu Mas‟ud Radhiyallahu anhu tertawa (karenanya).[6] Diriwayatkan dari „Abdurrahman bin „Ajlan, dia berkata, "Pada suatu malam, aku pernah bermalam bersa 'Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu' (Al-Jaatsiyah: 21), dia terdiam pada malamnya itu, hingga ketika memasuki waktu Shubuh, dia tidak melewati ayat ini ke ayat lainnya dikarenakan isak tangisnya yang semakin menjadi-jadi."[7] Tatkala ibundanya melihat dia sering menangis dan selalu bersungguh-sungguh serta apa yang diperbuatnya dengan dirinya, maka dia berkata kepadanya, "Wahai anakku, bisa jadi engkau akan mati terbunuh, tidakkah engkau takut jika engkau mati karena ini?" Dia menjawab, "Ya," lalu ibundanya bertanya, "Siapakah dia hingga kami meminta kepada mereka agar mereka mau memaafkan dirimu dan membiarkan hak mereka darimu? Demi Allah, jika mereka melihat apa yang engkau temui, pastilah mereka akan mengasihanimu dan berbuat baik kepadamu." Lalu dia menjawab, "Aku membunuh diriku sendiri." Yang dia maksud adalah membunuhnya dengan kemaksiatan dan dosa.[8] 3. ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rahimahullah Dia adalah khalifah yang zuhud dan cerdas, dia adalah khalifah Bani Umayyah yang paling sengsara. Dia termasuk imam mujtahid dan termasuk dalam jajaran al-Khulafaur Rasyidin. Istrinya, Fathimah pernah berkata, "Mughirah menceritakan kepada kami bahwa tidak ada orang yang paling banyak berpuasa dan ibadah daripada „Umar bin „Abdil „Aziz dan aku tidak pernah melihat seorang pun yang paling takut kepada Rabb-nya selain dia. Setelah selesai melakukan shalat „Isya‟, dia duduk di masjidnya, kemudian mengangkat kedua tangannya, lalu tiada henti-hentinya dia menangis hingga matanya tertidur, kemudian tidak lama kemudian dia terbangun, dan tiada hentihentinya dia ber-do‟a sambil mengangkat kedua tangannya hingga matanya tertidur. Semua ini dilakukannya sepanjang malamnya."[9] Makhul berkata, "Seandainya aku bersumpah, pastilah aku akan menepatinya, aku tidak pernah melihat orang yang paling zuhud dan paling takut kepada Allah Subhanahu wa Ta‟ala selain „Umar bin „Abdil „Aziz."[10] Fathimah, istri „Umar bin „Abdil „Aziz pernah menangis hingga pandangannya tertutup, lalu kedua saudaranya, yaitu Muslimah dan Hisyam, dua orang putera „Abdul Malik mengunjunginya, lalu keduanya bertanya, "Urusan apa yang membuatmu demikian? Apakah suaminya yang membuatmu sedih? Memang tidak ada orang seperti dirinya yang dapat membuat orang sedih, ataukah ada suatu hal keduniaan yang hilang dari dirimu? Ketahuilah, harta dan keluarga kami ada di hadapanmu." Fathimah menjawab: "Tidak ada yang membuatku sedih dan tidak ada hal keduniaan pun yang aku sesalkan, hanya saja, demi Allah, aku pernah melihat suamiku pada suatu malam, lalu aku baru mengetahui bahwa yang membuatnya keluar menuju hal itu adalah suatu kegaduhan besar yang pernah aku lihat, sungguh hatinya itu telah menenangkan pengetahuannya." Keduanya bertanya, "Apa yang engkau lihat darinya?" Fathimah menjawab, "Aku pernah melihatnya pada suatu malam, dia berdiri melakukan shalat, lalu tibalah dia membaca ayat ini: 'Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.' [Al-Qaari‟ah: 4-5] Lalu dia menjerit, 'Aduh alangkah buruknya.' Kemudian dia melompat, lalu terjatuh, lalu aku melihatnya tampak lemah hingga aku mengira bahwa nyawanya akan keluar, kemudian dia tampak tenang, hingga aku mengira bahwa ajalnya telah tiba, kemudian dia mulai siuman, lalu berseru, 'Aduh alangkah buruknya.' Kemudian dia melompat dan berjalan mengelilingi rumah dan berkata,
  • 41 'Celakalah diriku pada hari di mana manusia seperti anai-anai yang bertebaran dan gunung-gunung laksana bulu yang dihambur-hamburkan.'" Fathimah berkata, "Tiada henti-hentinya dia melakukan hal seperti di atas hingga terbit fajar, kemudian dia terjatuh seakan-akan dirinya telah meninggal dunia hingga terdengar suara adzan menandakan waktu shalat Shubuh telah tiba. Demi Allah, aku tidak lagi mengingat malamnya itu demikian hanya saja kedua mata-ku telah mengantuk dan aku tidak kuasa menolak kesedihanku."[11] 4. Tsabit al-Bannani rahimahullah Dia adalah seorang imam panutan, Syaikhul Islam dan kunci dari sekian kunci kebaikan. Ghalib al-Qaththan meriwayatkan dari Bakar al-Muzani, "Barangsiapa ingin melihat manusia pada masa ini yang paling rajin ibadahnya, maka hendaklah dia melihatnya pada diri Tsabit alBannani."[12] Syu‟bah berkata, "Tsabit al-Bannani selalu membaca al-Qur-an setiap hari dan setiap malam dan dia selalu berpuasa sepanjang masa." [13] Hammad bin Zaid berkata, "Aku pernah melihat Tsabit menangis hingga tulang-tulang rusuknya tampak berlawanan." [14] Hammad bin Salamah berkata, "Tsabit pernah membaca ayat: 'Apakah kamu kafir kepada (Rabb) yang menciptakanmu dari tanahnm, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan seorang laki-laki yang sempurna.' (Al-Kahfi: 37), dan dia melakukan shalat malam sambil menangis dengan kerasnya dan mengulang-ulang ayat ini."[15] Tsabit selalu melakukan shalat malam, maka ketika memasuki waktu Shubuh, dia memegang kedua telapak kakinya dengan tangannya, lalu dia memijatnya, kemudian dia berkata: "Orang yang beribadah telah berlalu dan dia memutuskanku, aduh alangkah sedihnya." [16] Tsabit pernah berkata, "Aku merasakan susahnya shalat selama dua puluh tahun dan aku juga merasakan nikmatnya shalat selama dua puluh tahun."[17] Dia juga pernah berkata, "Tidak ada sesuatupun yang aku jumpai di hatiku yang lebih nikmat daripada shalat malam."[18] 5. Sufyan ats-Tsauri rahimahullah Dia adalah seorang imam, seorang hafizh (hafal banyak hadits) dan pemimpin ulama pada masanya. Ibnu Mahdi berkata, "Aku selalu mengintip Sufyan dari malam ke malam, dia bangkit dalam kondisi yang menakutkan, dia memanggil-manggil, 'Neraka, Neraka, Neraka' telah menyibukkanku dari tidur dan keinginan-keinginan."[19] „Abdurrazzaq berkata, "Tatkala Sufyan datang mengunjungi kami, kami memasak makanan untuknya, lalu dia memakannya, kemudian aku membawakan kismis Tha-if untuknya, lalu diapun memakannya, kemudian dia berkata, 'Wahai „Abdurrazzaq, berilah makanan kepada keledai dan suruhlah dia bekerja keras.' Kemudian dia berdiri untuk melakukan shalat hingga Shubuh." [20] 'Ali bin al-Fudhail bercerita, "Aku pernah melihat Sufyan sedang melakukan sujud, lalu aku melakukan thawaf sebanyak tujuh putaran sebelum dia mengangkat kepalanya."[21] Sufyan selalu keluar rumah dan berkeliling di malam hari, dia membasahi wajahnya dengan air hingga rasa kantuk pergi darinya.[22] Namun se kalipun dia selalu beribadah dengan bersungguhsungguh, pernah juga terdengar dia berkata: "Aku senang jika aku selamat dari urusan ini sekedarnya
  • 42 saja, tidak menyengsarakanku dan tidak pula menguntungkanku."[23] 6. ‘Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah Dia adalah salah seorang tokoh dan Syaikhul Islam, dia adalah orang „alim pada masanya dan pemimpin orang-orang yang bertakwa pada zamannya. Nu‟aim bin Hammad berkata, "Seorang laki-laki 'Bermegahmegahan telah melalai-kanmu' ( At-Takaatsur: 1), hingga Shubuh, dia tidak mampu melanjutkan ayat ini.' Yang dimaksud adalah dirinya sendiri."[24] Muhammad bin A‟yun, sahabat Ibnul Mubarak dan dia adalah seorang yang dermawan kepadanya, dalam beberapa perjalanan pernah berkata, "Pada suatu malam, ketika kami berada dalam peperangan melawan Romawi, Ibnul Mubarak pergi untuk meletakkan kepalanya memperlihatkan kepadaku bahwa dia sedang tidur. Lalu aku pun meletakkan kepalaku seakan-akan diriku pun ikut tidur. Lalu dia mengira bahwa diriku telah tidur, lalu dia bangun untuk melakukan shalat dan tiada hentihentinya dia melakukan demikian hingga terbit fajar, dan aku selalu mengintipnya. Tatkala terbit fajar, dia membangunkanku dan mengira bahwa aku memang tidur. Dia berkata, 'Hai Muhammad,' lalu saya menjawab, 'Sesungguhnya aku tidak tidur semalam.' Tatkala dia mendengar ucapanku ini, aku tidak melihatnya setelah itu berbicara kepadaku dan tidak lagi memperhatikanku sedikitpun selama peperangannya ini seakan-akan hal itu tidak membuatnya senang karena kelicikan yang kuperbuat terhadapnya. Aku selalu merasakan hal itu hingga dia meninggal dunia dan belum pernah aku melihat orang yang lebih mencintai kebaikan daripada dirinya."[25] Tatkala menjelang kematiannya, Ibnul Mubarak tersenyum dan membaca ayat: "Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja." [Ash-Shaaffaat: 61] Dan dia bersya‟ir: Engkau menertawakan kematian, padahal dia itu menagis Karena engkau telah membawakan senjata untuknya. 7. Waki’ bin al-Jarrah rahimahullah Dia adalah seorang imam, seorang hafizh (hafal banyak hadits), ahli hadits negeri Iraq dan salah seorang imam dalam agama ini. Yahya bin Aktsam berkata: "Aku pernah menemani Waki‟ ketika ia di rumah dan dalam perjalanan, dia selalu berpuasa sepanjang tahun dan mengkhatamkan seluruh al-Qur-an dalam satu malam." [26] Yahya bin Ma‟in berkata, "Aku tidak pernah melihat orang yang seperti Waki‟, dia selalu menghadap ke kiblat, melakukan shalat malam, selalu berpuasa dan menghafalkan haditsnya."[27] Yahya bin Ayyub menceritakan dari sebagian teman Waki‟, dia berkata, "Waki‟ tidak tidur sebelum dia membaca juznya, sepertiga al-Qur-an setiap malamnya, kemudian dia bangun di akhir malam, lalu dia membaca surat-surat al-mufashshal (surat-surat pendek), kemudian dia duduk, lalu mulailah dia memohon ampunan hingga terbit fajar."[28] Ibrahim bin Waki‟ berkata, "Ayahku selalu melakukan shalat hingga tidak tersisa seorang pun di rumah kami melainkan dia tetap melakukan shalat, termasuk pelayan wanita kami yang berkulit hitam."[29] Al-Hasan bin Abi Yazid berkata, "Aku pernah menemani Waki‟ bin al-Jarrah ketika melakukan
  • 43 perjalanan menuju Makkah, aku tidak pernah melihatnya bersandar dan aku tidak pernah melihatnya tidur di sekedupnya (tandunya)."[30] 8. Imam Abu Hanifah rahimahullah Jika seseorang telah terkenal, keutamaannya telah tersiar, dan ilmunya telah bertambah, maka dia akan menjadi seperti lautan yang tidak ada tepiannya. Demikianlah halnya dengan Abu Hanifah. Diriwayatkan dari Asad bin „Amr, bahwa Abu Hanifah melakukan shalat „Isya‟ dan Shubuh hanya dengan satu wudhu‟ selama empat puluh tahun (semalaman dia tidak tidur dan tidak melakukan halhal yang membatalkan wudhu‟-Pent).[31] Diriwayatkan dari al-Qadhi Abu Yusuf, dia berkata, "Ketika aku berjalan bersama Abu Hanifah, tibatiba aku mendengar seseorang berkata kepada orang lain: 'Ini dia Abu Hanifah, dia tidak tidur semalaman.' Lalu Abu Hanifah berkata: 'Demi Allah, dia tidak menceritakan tentang diriku dengan apa yang tidak aku lakukan.' Maka dia selalu menghidupkan malamnya dengan shalat, tunduk patuh kepada Allah dan berdo‟a."[32] Yazid bin al-Kumait berkata, "Abu Hanifah adalah orang yang sangat takut kepada Allah Subhanahu wa Ta‟ala, pada suatu malam ketika waktu „Isya‟, 'Ali bin al-Husain, seorang muadzin membacakan kepada kami surat az-Zalzalah, sedangkan Abu Hanifah berada di belakangnya. Lalu Abu Hanifah berdiri melakukan shalat hingga Shubuh sambil berkata, 'Wahai Rabb Yang membalas kebaikan sebesar biji sawi dengan kebaikan pula, wahai Rabb Yang membalas kejahatan sebesar biji sawi dengan kejahatan pula, lindungilah an-Nu‟man (nama asli Abu Hanifah), hamba-Mu ini dari api Neraka dan dari kejahatan apa yang mendekatkan kepadanya, masukkanlah dia ke dalam luasnya rahmat-Mu.'"[33] Ada sebuah sya‟ir berbunyi: Ulangilah dzikir an-Nu‟man untuk kami, sesungguhnya dzikirnya itu Bagaikan minyak misik yang semerbak harumnya, tidak akan aku ulangi. 9. Imam Malik bin Anas rahimahullah Dia adalah Abu „Abdillah, pendiri madzhab, pembawa hujjah umat ini dan imam negeri Hijrah (Madinah). Az-Zubair bin Habib berkata, "Aku pernah melihat Malik ketika memasuki satu bulan, dia menghidupkan malam pertama bulan tersebut dan aku mengira bahwa dia melakukan ini hanyalah untuk membuka bulan tersebut dengannya."[34] Fathimah binti Malik berkata, "Malik selalu melakukan shalat setiap malam pada bagiannya, maka ketika tiba malam Jum‟at, dia menghidupkan seluruhnya." Al-Mughirah berkata, "Aku pernah keluar pada suatu malam setelah orang-orang benar-benar telah tertidur, lalu aku melintasi Malik bin Anas, aku melihatnya tengah berdiri melakukan shalat. Tatkala dia selesai dari bacaan al-Faatihah, dia mulai membaca surat at-Takaatsur: 'Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatan itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat Neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).' Lalu dia menangis cukup lama dan kemudian dia pun mengulangi ayat ini dan kembali menangis.
  • 44 Apa yang aku dengar dan aku lihat dari sosok Malik ini telah membuatku melupakan keperluanku yang membuatku keluar untuknya. Tiada henti-hentinya aku berdiri, sedangkan dia tetap mengulangulang ayat tersebut dan menangis hingga terbit fajar. Tatkala dia melihat fajar telah jelas, barulah dia ruku‟. Kemudian aku pulang ke rumahku, lalu aku berwudhu‟ dan kemudian pergi ke masjid, tibatiba Malik sudah berada di tempatnya (di masjid) dan jama‟ah ada di sekelilingnya. Tatkala memasuki waktu Shubuh, aku melihat pada wajahnya tampak cahaya dan keindahan darinya." Abu Mush‟ab berkata, "Malik selalu memanjangkan ruku‟ dan sujud dalam wiridnya (aktifitas yang selalu dilakukan setiap hari) dan ketika dia berdiri dalam shalatnya, seakan-akan dia itu laksana sebatang kayu kering yang tidak bergeming sedikit pun." Ibnul Mubarak berkata, "Ketika aku melihat Malik, aku melihatnya termasuk orang-orang yang khusyu‟. Sungguh Allah Subhanahu wa Ta‟ala telah mengangkat dengan suatu rahasia antara diriNya dan dia."[35] 10. Imam asy-Syafi’i rahimahullah Dia adalah imam pada masanya, orang alim pada zamannya, pembela hadits dan ahli fiqih agama ini. Al-Hafizh Ibnu „Asakir meriwayatkan bahwa pada suatu hari Imam asy-Syafi‟i membaca ayat: "Ini adalah hari keputusan; (pada hari ini) Kami mengumpulkanmu dan orang-orang yang terdahulu. Jika kamu mempunyai tipu daya, maka lakukan-lah tipu dayamu itu terhadap-Ku, kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang men-dustakan." (Al-Mursalaat: 38-40), maka tiada henti-hentinya dia menangis hingga pingsan, semoga Allah merahmatinya.[36] Ada yang mengatakan bahwa setiap bulannya, Imam asy-Syafi‟i mengkhatamkan al-Qur-an sebanyak tiga puluh kali.[37] Husain al-Karabisi berkata, "Aku pernah bermalam bersama Imam asy-Syafi‟i, maka kira-kira selama sepertiga malam, dia melakukan shalat dan aku tidak melihatnya membaca lebih dari lima puluh ayat, jika pun lebih banyak, maka dia hanya membaca seratus ayat. Dia tidak melewatkan satu ayat rahmat pun, melainkan dia meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta‟ala untuk dirinya sendiri dan untuk seluruh kaum muslimin. Dan dia tidak melewatkan satu ayat adzab pun, melainkan dia berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta‟ala darinya dan dia meminta keselamatan untuk dirinya sendiri dan seluruh kaum muslimin, seakan-akan padanya telah terhimpun harapan dan kecemasan."[38] Ibnu Katsir mengomentari ungkapan di atas: "Demikianlah ibadah yang sempurna, yaitu jika di dalamnya terhimpun harapan dan kecemasan, sebagaimana di sebutkan dalam hadits shahih bahwa ketika Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam melewati ayat rahmat, maka beliau berhenti, lalu memohon dan ketika melewati ayat adzab, beliau berhenti dan me-mohon perlindungan."[39] 11. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah Beliau adalah seorang imam dalam arti yang sebenarnya, beliau adalah Syaikhul Islam, pembela Sunnah Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam, pengekang bid‟ah, tokoh orang-orang zuhud dan pemilik sanad. Diriwayatkan dari „Abdullah bin Ahmad, dia berkata, "Setiap harinya ayahku membaca al-Qur-an sebanyak tujuh kali dan dia mengkhatamkan al-Qur-an setiap tujuh hari, dan pada setiap tujuh malam dia juga biasa mengkhatamkan al-Qur-an selain pada waktu shalat di siang hari. Pada suatu saat, dia melakukan shalat „Isya‟, lalu tidur sebentar dan kemudian bangun hingga Shubuh, ketika itu dia melakukan shalat dan berdo‟a."[40] „Abdullah bin Ahmad juga berkata, "Dalam sehari semalam, ayahku melakukan shalat sebanyak tiga ratus raka‟at. Tatkala dia jatuh sakit akibat cambukan-cambukan tersebut (ketika terjadi fitnah tentang polemik bahwa al-Qur-an adalah makhluk,-Pent.), hal itu membuatnya lemah, maka akhirnya dia melakukan shalat dalam sehari semalam sebanyak seratus lima puluh raka‟at."[41] Hilal bin al-„Ala‟ berkata, "Asy-Syafi‟i, Yahya bin Ma‟in dan Ahmad bin Hanbal pernah keluar
  • 45 menuju Makkah, tatkala mereka sampai di Makkah, mereka singgah di suatu tempat. Asy-Syafi‟i langsung berbaring dan Yahya bin Ma‟in pun demikian, sedangkan Ahmad bin Ahmad berdiri melakukan shalat. Tatkala memasuki waktu Shubuh, asy-Syafi‟i berkata, 'Sungguh aku telah membahas dua ratus masalah untuk kaum muslimin.' Yahya bin Ma‟in berkata: 'Aku telah menghilangkan dua ratus pendusta dari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam.' Dan Ahmad berkata, 'Aku telah melakukan shalat beberapa raka‟at yang di dalamnya aku telah mengkhatamkan al-Qur-an.'"[42] 12. Syaikhul Muhadditsin Abu ‘Abdillah al-Bukhari rahimahullah Hadits-haditsnya telah diterima oleh ummat ini, direkomendasikan oleh orang-orang pintar, diberikan komentar oleh para ulama, dihafal oleh orang-orang yang cerdas dan dibawa oleh kendaraankendaraan unta. Muhammad al-Warraq berkata, "Abu „Abdil-lah al-Bukhari selalu melakukan shalat pada waktu sahur sebanyak tiga belas raka‟at."[43] Bakr bin Munir berkata, "Pada suatu malam, Muhammad al-Bukhari melakukan shalat, tiba-tiba seekor lalat kerbau (sejenis serangga) menyengatnya sebanyak tujuh belas kali, tatkala selesai shalat, al-Bukhari berkata, 'Lihatlah binatang yang telah menyakitiku ini (seakan-akan dia menganggapnya ringan).'"[44] Pada waktu sahur, dia membaca al-Qur-an kira-kira antara separuh dan sepertiga al-Qur-an, maka ketika waktu sahur, dia bisa mengkhatam-kan al-Qur-an pada setiap tiga malam sekali. Disebutkan dalam sebuah sya‟ir: Biografi yang cukup jelas bagaikan bintang-bintang di malam hari Sungguh biografinya ini telah dihiasi oleh agama, akhlak dan adat kebiasaan. 1. Mu’adzah al-‘Adawiyah ‫هللا اهمحر‬ Dia adalah seorang wanita ahli ibadah, wanita zuhud dan murid dari Ummul Mukminin „Aisyah Radhiyallahu anhuma. Ketika siang hari, Mu‟adzah berkata, "Ini adalah hariku di mana aku akan mati padanya." Maka Mu‟adzah tidak tidur hingga sore hari. Dan ketika malam, ia pun berkata, "Ini adalah malamku di mana aku akan mati padanya." Maka ia pun tidak tidur hingga Shubuh.[45] Diriwayatkan bahwa Mu‟adzah tidak memakai bantal ketika tidur setelah pernikahannya dengan Abu ash-Shahba‟ hingga ia meninggal. Dia pernah berkata, "Sungguh aneh keadaan mata yang masih bisa tertidur, padahal dia telah mengetahui lamanya tidur di kegelapan alam kubur." Diriwayatkan bahwa Mu‟adzah melakukan shalat pada siang hari sebanyak enam ratus raka‟at.[46] Sebagian penya‟ir melontarkan sya‟irnya:
  • 46 Bekas-bekas dzikir adalah kesedihannya Maka bergejolak dan tampaklah bagi kita akan keadaannya. Kegelapan telah berdiri dan menutupi sambil menurunkan Maka turunlah kelopak matanya akibat air mata. Dia menangisi dosa-dosanya yang telah lalu Maka dia membuat orang lain dan kekasih-nya menangis. Barangsiapa yang hatinya itu bukan berupa bara api Maka demi usiamu, inilah dia adanya.[47] 2. Hafshah bintu Sirin ‫هللا امهمحر‬ Dia adalah saudara perempuan Muhammad bin Sirin. Dia termasuk wanita ahli ibadah dan wanita yang taat. Dia termasuk wanita yang dapat dipercaya (tsiqah) yang menjadi tempat mendapatkan hadits. Hisyam bin Hassan berkata, "Tempat tidur Hafshah bintu Sirin adalah tempat shalatnya selama empat puluh tahun." Mahdi bin Maimun berkata, "Hafshah bintu Sirin menetap di tempat shalatnya selama tiga puluh tahun, dia tidak akan keluar kecuali jika ada yang bertanya atau karena memenuhi hajatnya." „Abdul Karim bin Mu‟awiyah berkata, "Disebutkan kepadaku dari Hafshah bintu Sirin bahwa dia selalu membaca separuh al-Qur-an setiap malam, dia berpuasa selama setahun penuh dan tidak berpuasa hanya pada dua hari raya dan hari-hari tasyriq saja." Hafshah pernah berkata, "Wahai para pemuda, ambillah bagian dari diri kalian selama kalian masih muda. Demi Allah, sesungguhnya aku tidak melihat adanya amal perbuatan kecuali di kala masih muda."[48] Disebutkan dalam sebuah sya‟ir: Seandainya orang-orang yang tidur itu mengetahui, pastilah mereka tidak akan tidur. Dan tiada seorang pun yang bisa tidur tenang. Wahai orang-orang yang tidur, sungguh kalian celaka. Sungguh beruntunglah orang yang bersungguh-sungguh di dalam kegelapan. Jika kalian tidur, maka dia akan memilikinya. Orang-orang yang jujur telah menyendiri (darinya).[49] Problematika Dan Fatwa
  • 47 Seputar Shalat Malam Dan Shalat Witir (1) PROBLEMATIKA DAN FATWA SEPUTAR SHALAT MALAM DAN SHALAT WITIR Oleh Muhammad bin Suud Al-Uraifi A. Shalat Sepanjang Malam[1] Shalat malam yang paling utama adalah agar seseorang tidur selama separuh malam, kemudian dia bangun dan shalat pada sepertiganya dan kemudian tidur lagi selama seperenam malam, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam: . "Ibadah yang paling utama adalah ibadahnya Nabi Dawud Alaihissallam, dia tidur selama separuh malam, bangun untuk beribadah pada seper-tiga malam dan tidur kembali selama seper-enam malam."[2] Diriwayatkan bahwa „Abdullah bin „Amr pernah berkata, "Sungguh aku akan berpuasa pada siang hari, beribadah sepanjang malam dan membaca al-Qur-an setiap hari." Lalu Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam berkata kepadanya, "Jangan kamu lakukan." Kemudian beliau berkata lagi kepadanya: . "Sesungguhnya dirimu itu mempunyai hak atasmu, keluargamu mempunyai hak atasmu dan istrimu pun mempunyai hak atasmu, maka tunaikanlah setiap yang mempunyai hak akan haknya."[3] Disebutkan dalam hadits shahih: . "Ada sekelompok orang, salah satu dari mereka berkata, 'Aku akan berpuasa dan tidak akan berbuka.' Yang lain berkata, 'Aku akan beribadah terus dan tidak tidur.' Yang lainnya berkata, 'Aku tidak akan memakan daging.' Yang lainnya berkata, 'Aku tidak akan menikah dengan wanita.' Lalu Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, 'Bagaimana keadaan orang-orang yang berkata ini dan itu, sesungguhnya aku ini tetap berpuasa dan kadang-kadang tidak berpuasa, aku beribadah dan aku pun tidur, aku tetap menikahi wanita-wanita, dan aku juga memakan daging, maka barangsiapa yang membenci Sunnahku, maka dia tidak termasuk golonganku.'"[4] Berdasarkan hadits-hadits ini, maka diketahui-lah bahwa dimakruhkan beribadah terus-menerus sepanjang malam. Akan tetapi masih diperboleh-kan melakukan ibadah sepanjang malam pada malam-malam tertentu seperti sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan atau melakukan ibadah pada malam lainnya dalam tempo sewaktu-waktu saja, maka yang demikian itu dibolehkan. Diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam, bahwa beliau pernah beribadah semalam penuh dengan membaca satu ayat.[5] Dan diriwayatkan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan, beliau mengencangkan ikat pinggang, mem-bangunkan keluarganya dan menghidupkan malamnya.[6] Hal serupa juga telah dilakukan oleh beberapa orang Sahabat. Kutipan dari kitab Talbiis Ibliis[7] : Ibnul Jauzi berkata, "Sungguh iblis telah mengelabui sekelompok ahli ibadah, lalu mereka
  • 48 memperbanyak shalat malam, bahkan di antara mereka ada orang yang tidak tidur sepanjang malam dan lebih senang melakukan shalat malam dan shalat Dhuha daripada melakukan shalat-shalat fardhu, kemudian dia telah terjatuh (tidur) menjelang fajar, sehingga dia tertinggal shalat fardhu (yaitu shalat Shubuh) atau dia terbangun, lalu bersiap-siap melakukan shalat, namun dia tertinggal shalat berjama‟ah atau dia melakukan shalat Shubuh dalam keadaan malas, maka dia-pun tidak kuasa lagi untuk bekerja demi meng-hidupi keluarganya." Ibnul Jauzi berkata, "Jika ada yang berkata, 'Sungguh telah diriwayatkan kepada kami bahwa sekelompok ulama Salaf selalu menghidupkan malam mereka.' Maka tanggapannya adalah bahwa mereka melakukan itu semua secara bertahap, sehingga mereka mampu melakukan itu semua dan mereka percaya bahwa mereka dapat menjaga shalat Shubuh dengan berjama‟ah dan mereka dibantu oleh tidur qailulah (tidur sejenak di siang hari) dan sedikit makan. Memang hal itu benar mereka lakukan. Di samping itu tidak ada keterangan yang sampai kepada kami bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam beribadah semalaman dan tidak tidur sama sekali.[8] Maka ketahuilah bahwa sunnahnya itulah yang harus diikuti." B. Mengusap Wajah dengan Kedua Tangan Setelah Qunut [9] Sebagian ulama menganggap sunnah mengusap wajah dengan kedua tangan setelah selesai berdo‟a, sebagaimana yang dikenal di kalangan ulama madzhab Hanbali, akan tetapi dalam riwayat lain yang berasal dari Imam Ahmad dan menurut madzhab Imam asy-Syafi‟i dan lainnya bahwa mengusap wajah ini tidak disyari‟atkan. Orang-orang yang menganggap sunnah mengusap wajah berdalil dengan hadits yang diri-wayatkan oleh at-Tirmidzi dari hadits 'Umar: . "Apabila Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya sewaktu berdo‟a, beliau tidak menurunkan keduanya sebelum mengusapkan wajahnya dengan keduanya."[10] Mereka juga berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah dari hadits Ibnu „Abbas, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . 'Maka jika engkau telah selesai, usaplah wajahmu dengan kedua tanganmu.'"[11] Mengenai hadits pertama, Syaikh al-Albani berkata: "Hadits ini dhaif (lemah). Hadits ini memiliki dua jalur, akan tetapi hadits ini tetap tidak kuat sekalipun dengan menggabungkan kedua jalur ini, karena hadits ini sangat dhaif." Mengenai hadits kedua, Syaikh al-Albani berkata: "Hadits ini dhaif." Syaikhul Islam berkata, "Adapun mengusap wajah dengan kedua tangan, tidak ada hadits yang berasal dari Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam yang menjelaskannya kecuali dua hadits yang tidak dapat dijadikan sebagai hujjah (argumentasi)." C. Shalat Lebih Utama Daripada Membaca al-Qur-an Pertanyaan: Manakah yang lebih utama jika seseorang bangun pada malam hari, dia melakukan shalat atau membaca al-Qur-an? Jawaban: Shalat lebih utama daripada membaca al-Qur-an pada selain shalat. Pernyataan ini diungkapkan oleh para imam. Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Istiqamahlah kalian dan kalian tidak akan dapat menghitungnya, ketahuilah bahwa sebaik-baik amal
  • 49 perbuatan kalian adalah shalat dan tidaklah orang yang dapat menjaga (kondisi) tetap dalam keadaan berwudhu‟ kecuali seorang mukmin."[13] Akan tetapi bagi orang yang baru bisa memiliki semangat, perenungan dan memahami al-Qur-an tanpa shalat, maka yang lebih utama baginya adalah sesuatu yang lebih bermanfaat untuknya (yaitu membaca al-Qur-an dengan perenungan dan pemahaman yang tidak dapat dia lakukan ketika shalat,Pent).[Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah] D. Shalat Witir bagi Seorang Musafir [14] Pertanyaan: Jika seseorang sebagai musafir dan dia melakukan shalat qashar, apakah dia juga tetap melakukan shalat Witir atau tidak ? Jawaban: Ya, dia tetap melakukan shalat Witir dalam perjalanan. Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam melakukan shalat Witir ketika dalam perjalanan ataupun ketika berada di rumah. Disebutkan dalam sebuah hadits: . "Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam melakukan shalat di atas kendaraannya dengan menghadap ke arah mana saja kendaraannya itu menghadap dan beliau juga melakukan shalat Witir di atasnya, hanya saja beliau tidak melakukan shalat fardhu di atasnya."[15] [Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah] E. Hukum Meninggalkan Shalat Witir[16] Pertanyaan: Mengenai seseorang yang tidak melakukan shalat Witir ketika shalat „Isya‟, apakah dibolehkan baginya meninggalkan shalat Witir? Jawaban: Alhamdulillaah, hukum shalat Witir adalah sunnah muakkadah menurut kesepakatan kaum muslimin. Barangsiapa yang terus-menerus meninggalkannya, maka kesaksiannya (dalam peradilan) ditolak. Para ulama berbeda pendapat mengenai wajibnya shalat Witir. Abu Hanifah menghukuminya wajib. Sekelompok pengikut Ahmad dan mayoritas ulama seperti Malik, asy-Syafi‟i dan Ahmad tidak menghukuminya sebagai sesuatu yang wajib, karena Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam pernah melakukan shalat Witir di atas kendaraannya, padahal shalat wajib tidak boleh dilakukan di atas kendaraan. Akan tetapi berdasarkan kesepakatan kaum muslimin bahwa shalat Witir hukumnya sunnah muakkadah yang tidak patut untuk ditinggalkan. Shalat Witir lebih utama daripada semua shalat sunnah di siang hari, bahkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam, dan shalat malam yang paling muakkadah adalah shalat Witir dan shalat sunnah Shubuh dua raka‟at. Wallaahu a‟lam.[Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah] F. Shalat Orang yang Duduk Nilainya Separuh dari Shalat Orang yang Berdiri [17] Pertanyaan: Ada seorang wanita memiliki wirid berupa di malam hari, yaitu dia selalu melakukan shalat malam, lalu tiba-tiba dia tidak kuasa untuk berdiri pada beberapa waktu. Ada yang berkata kepadanya bahwa shalat orang yang duduk nilainya separuh dari shalat orang yang berdiri, apakah hal ini benar? Jawaban: Ya, memang benar. Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: . "Shalatnya orang yang duduk mempunyai nilai separuh dari shalatnya orang yang ber-diri."[18] Akan tetapi jika kebiasaan orang tersebut adalah melakukan shalat dengan berdiri -lalu dia melakukan shalat dengan duduk hanyalah karena dia tidak mampu melakukannya- maka
  • 50 sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta‟ala akan memberinya pahala orang yang melakukan shalat dengan berdiri, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam: . "Jika seseorang jatuh sakit atau bepergian, maka akan ditulis untuknya pahala amalan yang biasa dia lakukan ketika dalam keadaan sehat dan berada di tempat (tidak bepergian)." [19] Maka seandainya dia tidak dapat melakukan shalat secara keseluruhan karena sakit yang dideritanya, Allah Subhanahu wa Ta‟ala akan menuliskan baginya pahala shalatnya secara keseluruhan, karena niat dan perbuatannya sesuai dengan kemampuannya, lalu bagaimana jika dia tidak mampu melakukan aktifitas-aktifitasnya?! [Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah] G. Menghidupkan Malam Hari Raya [20] Pertanyaan: Apa hukum menghidupkan malam hari raya? Jawaban: Adapun menghidupkan malam hari raya seperti seseorang melakukan shalat seorang diri, maka hal ini dihukumi sunnah oleh para ulama, baik dilakukan secara sembunyi-sembunyi ataupun secara terang-terangan. Ada-pun menghidupkannya di masjid-masjid secara berjama‟ah, dengan melakukan shalat sebagaimana melakukan shalat tarawih atau ibadah di bulan Ramadhan, maka hal ini tidak disyari‟atkan, bahkan termasuk bid‟ah, karena berkumpul pada selain dari satu malam dari malam-malam bulan Ramadhan seperti malam Nisfu Sya‟ban, malam kedua puluh tujuh dari bulan Rajab dan juga malam hari raya, maka semua itu termasuk bid‟ah yang dilarang.[Syaikh as-Sa‟di] H. Tidak Ada Dua Witir dalam Satu Malam[21] Pertanyaan: Apakah boleh kami melakukan shalat Witir sebanyak dua kali dalam satu malam? Jawaban: Tidak selayaknya bagi seseorang melakukan shalat Witir sebanyak dua kali dalam satu malam, karena Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Tidak ada dua witir dalam satu malam."[22] Beliau Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: . "Jadikanlah akhir shalat kalian pada malam hari dengan shalat Witir."[23] Beliau Shallallahu „alaihi wa sallam juga bersabda: . "Barangsiapa yang khawatir tidak dapat bangun di akhir malam, hendaklah dia melakukan shalat Witir pada permulaan malam, dan barangsiapa yang berkeinginan bangun di akhir malam, hendaklah dia melakukan witir di akhir malam, karena sesungguhnya shalat di akhir malam itu disaksikan (oleh Malaikat) dan hal itu lebih utama." [HR. Muslim dalam Shahihnya].[24] Jika seorang muslim merasa mudah untuk melakukan shalat malam di akhir malam, maka hendaklah dia mengakhiri shalatnya dengan satu raka‟at, yaitu shalat Witir. Dan barangsiapa yang merasa bahwa hal itu tidak mudah baginya, maka dia melakukan shalat Witir pada permulaan malam, namun jika Allah Subhanahu wa Ta‟ala memudahkan baginya untuk bangun (pada malam hari), maka hendaklah dia melakukan shalat secara genap, dua raka‟at-dua raka‟at dan dia tidak perlu mengulangi witirnya, akan tetapi cukuplah baginya melakukan witir yang pertama tadi, berdasarkan hadits yang telah lalu, yaitu sabda Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam: "Tidak ada dua witir dalam satu malam."[Syaikh Ibnu Baaz] I. Hukum Mengqadha’ Shalat Witir[25]
  • 51 Pertanyaan: Jika saya tertidur dan belum melakukan shalat Witir pada malam itu, maka apakah saya mengqadha‟nya dan kapan waktunya? Jawaban: Yang disunnahkan adalah mengqadha‟nya pada waktu Dhuha setelah matahari meninggi dan sebelum matahari berada di tengah, yaitu dengan melakukannya secara genap, tidak ganjil, maka jika kebiasaan anda adalah melakukan shalat Witir sebanyak tiga raka‟at pada malam hari, lalu anda tertidur meninggalkannya atau lupa, maka disyari‟atkan untuk melakukan shalat Witir pada siang hari sebanyak empat raka‟at dengan dua salam dan jika kebiasaanmu adalah melakukan shalat Witir sebanyak lima raka‟at pada malam hari, lalu tertidur meninggalkannya atau lupa, maka disyari‟atkan untuk melakukan shalat Witir pada siang hari sebanyak enam raka‟at dengan tiga salam, demikianlah hukumnya pada shalat Witir yang lebih banyak darinya. Hal ini berdasarkan hadits dari „Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata: . "Jika Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam tidak dapat melakukan shalat pada malam hari karena tertidur atau jatuh sakit, maka beliau melakukan shalat pada siang hari sebanyak dua belas raka‟at." [HR. Muslim dalam Shahiihnya][26]. Dan biasanya beliau melakukan shalat Witir sebanyak sebelas raka‟at. Berdasarkan Sunnah, hendaklah seseorang melakukan shalat qadha‟ (Witir) secara genap, yaitu dua raka‟at-dua raka‟at, berdasarkan hadits ini dan berdasarkan sabda Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam: . "Shalat malam itu dilakukan dua raka‟at-dua raka‟at." [HR. Ahmad dan Ahlus Sunan dengan sanad yang shahih] Asal dari hadits ini adalah terdapat dalam dua kitab shahih dari hadits Ibnu „Umar Radhiyalahu anuma, akan tetapi tanpa menyebutkan kata "siang hari". Tambahan ini terdapat dalam riwayat orang yang telah kami sebutkan, yaitu Ahmad dan Ahlus Sunan. Wallaahu waliyyut taufiiq. [Syaikh Ibnu Baaz] J. Orang yang Melakukan Shalat Witir di Permulaan Malam, lalu Bangun pada Akhir Malam [28] Pertanyaan: Jika saya telah melakukan shalat Witir pada permulaan malam, kemudian saya terbangun di akhir malam, maka bagaimana saya melakukan shalat? Jawaban: Jika Anda telah melakukan shalat Witir pada permulaan malam, kemudian Allah Subhanahu wa Ta‟ala memudahkan Anda untuk bisa bangun pada akhir malam, maka lakukanlah shalat semampu Anda secara genap, tanpa adanya bilangan ganjil, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam: . "Tidak ada dua witir dalam satu malam." [29] Dan berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari „Aisyah Radhiyallahu anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam pernah melakukan shalat dua raka‟at setelah beliau melakukan shalat Witir dengan keadaan duduk.[30] Hikmah dari itu semua bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam menjelaskan kepada umatnya bahwa diperbolehkan melakukan shalat Tahajjud setelah shalat Witir. Syaikh Ibnu Baaz K. Membaca Surat al-Ikhlash dalam Shalat Witir[31] Pertanyaan: Apakah membaca surat al-Ikhlash dalam shalat Witir merupakan suatu syarat atau seandainya seseorang membaca surat lain dalam shalat Witir, hal itu diperbolehkan baginya?
  • 52 Jawaban: Membaca surat al-Ikhlash dalam shalat Witir bukanlah suatu syarat yang harus dipenuhi, hal itu hanyalah sunnah, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan anNasa-i dari Ubay bin Ka‟ab Radhiyallahu anhu dan Ibnu „Abbas Radhiyallahu anhuma: "Bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam pernah melakukan shalat Witir dengan membaca surat al-A‟laa, surat al-Kaafiruun dan surat al-Ikhlash." Dan seandainya seseorang membaca selain itu, maka hal itu sudah cukup baginya, namun dia tidak mendapatkan keutamaan membaca surat-surat ini.[Lajnah Daa-imah] L. Niat Melakukan Shalat Witir Sebanyak Tiga Raka’at kemudian Berkeinginan Menambahnya[33] Pertanyaan: Ada seseorang berniat melakukan shalat Witir sebanyak tiga raka‟at dan di pertengahan shalat, dia berkeinginan menambah bilangan raka‟atnya, apakah hal itu diperbolehkan? Jawaban: Disunnahkan agar seseorang melakukan shalat Witir sebanyak tiga raka‟at dengan dua salam. Jika dia menambah lebih dari tiga raka‟at, maka hal itu lebih utama hingga sebelas raka‟at, dia salam setiap dua raka‟at. Jika dia berniat melakukan shalat tiga raka‟at, akan tetapi setelah takbir, dia berkeinginan menambahnya, maka hal itu diperbolehkan, dan seandainya hal itu terjadi pada raka‟at ketiga dan dia bertekad ingin melanjutkan ke raka‟at keempat setelahnya, maka hal itu diperbolehkan, insya Allah. [Syaikh Ibnu Jibrin] M. Shalat setelah ‘Isya’ Termasuk Shalat Malam[34] Pertanyaan: Apakah orang yang melaku-kan shalat Witir sebanyak sebelas raka‟at setelah shalat „Isya‟ secara langsung dianggap shalat malam? Jawaban: Shalat malam dapat dicapai dengan melakukan banyak shalat, seperti dua atau tiga jam, baik jumlah raka‟atnya itu banyak ataupun sedikit, baik itu dilakukan pada permulaan malam setelah shalat „Isya‟ ataupun di akhir malam sebelum fajar. Akan tetapi yang lebih utama adalah melakukan hal itu pada sepertiga malam yang terakhir setelah bangun dari tidur dan hal itu baru bisa tercapai dengan tidur sejak permulaan malam. [Syaikh Ibnu Jibrin] N. Hukum Mendahulukan Shalat Witir sebelum Tidur.[35] Pertanyaan: Saya adalah seorang wanita, tatkala saya tidur, maka saya selalu merasakan lelah, apakah diperbolehkan bagi saya untuk melakukan shalat Witir sebelum tidur, karena saya baru bangun bersamaan dengan shalat Shubuh? Dan apakah hal itu dianggap termasuk shalat malam? Jawaban: Jika telah menjadi kebiasaan Anda, bahwa anda tidak bangun kecuali ketika adzan Shubuh berkumandang, maka yang paling utama Anda lakukan adalah mendahulukan shalat yang ingin anda lakukan sebelum Anda tidur, karena Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam pernah berwasiat kepada Abu Hurairah Radhiyallahu anhu agar melakukan shalat Witir sebelum dia tidur, maka Anda pun hendaklah melakukan shalat yang telah Allah Subhanahu wa Ta‟ala wajibkan kepada Anda, kemudian melakukan shalat Witir sebelum tidur dan tidurlah setelah melakukan shalat Witir. Namun jika Anda mampu untuk bangun sebelum adzan Shubuh dan berkeinginan melakukan shalat sunnah, maka diperbolehkan melakukan shalat sunnah ini sebanyak dua raka‟at-dua raka‟at dan tidak perlu mengulangi shalat Witir. [Syaikh Ibnu „Utsaimin] O. Ketika Adzan Shubuh Berkumandang Saat Melaksanakan Shalat Witir[37] Pertanyaan: Ada seseorang melakukan shalat Witir dan di tengah-tengah shalatnya, muadzin mengumandangkan adzan Shubuh, apakah hukumnya, apakah shalatnya disempurnakan? Apa yang harus dilakukannya? Jawaban: Ya, jika adzan berkumandang ketika dia di tengah shalat Witir, maka shalatnya disempurnakan dan hal itu tidak mengapa baginya. [Syaikh Ibnu „Utsaimin]
  • 53 [Disalin dari kitab "Kaanuu Qaliilan minal Laili maa Yahja‟uun" karya Muhammad bin Su'ud al„Uraifi diberi pengantar oleh Syaikh 'Abdullah al-Jibrin, Edisi Indonesia Panduan Lengkap Shalat Tahajjud, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir] _______ Footnote [20]. Lihat al-Fataawa as-Sa‟diyyah, (hal. 162). [21]. Min Fataawa Islaamiyyah, dihimpun oleh Muhammad al-Musnid, (I/338). [22]. HR. Abu Dawud dalam kitab ash-Shalaah, bab Naqdhul Witr, (hadits no. 1439), at-Tirmidzi dalam kitab ash-Shalaah, bab Maa Jaa-a laa Witraani fii Lailatin, (hadits no. 470) dan an-Nasa-i dalam kitab Qiyaamil Lail bab Nahyin Nabiy j 'anil Witrain fii Lailatin, (hadits no. 1679). Hadits ini dihukumi shahih oleh Ibnu Hibban, (hadits no. 2449), sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Ihsaan. [23]. Telah lalu takhrijnya. [24]. Telah lalu takhrijnya. [25]. Min Fataawa Islaamiyyah, dihimpun oleh Muhammad al-Musnid, (I/347). [26]. HR. Muslim dalam kitab Shalaatil Musaafiriin, bab Jaami' Shalaatil Lail wa Man Naama 'anhu au Maridha (hadits no. 746). [27]. Telah lalu takhrijnya. [28]. Fataawa Islaamiyyah, (I/338). [29]. Telah lalu takhrijnya. [30]. HR. Muslim dalam kitab Shalaatil Musaafiriin wa Qashriha, bab Jaami' Shalaatil Lail wa Man Naama 'anhu au Maridha, (hadits no. 747). [31]. Fataawa Islaamiyyah, (I/342). [32]. Telah lalu takhrijnya. [33]. Min Fataawa Islaamiyyah (I/340). [34]. Min Fataawa Islaamiyyah, (I/350). [35]. Ibid, (I/348). [36]. Telah lalu takhrijnya. [37]. Min Fataawa Islaamiyyah, dihimpun oleh Muhammad al-Musnid, (I/346).