• Like
  • Save
Masalah masalah belajar
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Masalah masalah belajar

on

  • 5,288 views

 

Statistics

Views

Total Views
5,288
Views on SlideShare
5,288
Embed Views
0

Actions

Likes
1
Downloads
92
Comments
1

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel

11 of 1

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Masalah masalah belajar Masalah masalah belajar Document Transcript

    • MASALAH-MASALAH DALAM BELAJAR DAN CARA MENGATASINYA A. Mengenal Cara Siswa Belajar Setiap siswa memiliki perbedaan antara satu dengan yang lain dalam aspek fisik, pola pikir, dan cara-cara merespons atau mempelajari sesuatu yang baru. Dalam konteks belajar, setiap siswa memiliki kelebihan dan kekurangan dalam menyerap pelajaran. Oleh karena itu, dalam dunia pendidikan dikenal berbagai metode untuk dapat memenuhi tuntutan perbedaan individual tersebut. Bahkan akhir-akhir ini dalam sistem pembelajaran dibuat sedemikian rupa sehingga siswa dapat dengan bebas memilih pola pendidikan yang sesuai dengan karakteristik dirinya. Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali terdengar orang tua melakukan berbagai cara untuk membuat anaknya menjadi berprestasi. Orang tua berlombalomba menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah favorit. Anak juga diikutkan dalam berbagai kursus maupun les privat yang terkadang menyita habis waktu yang seharusnya bisa dipergunakan anaknya untuk senang-senang bermain atau bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Namun demikian, usahausaha tersebut seringkali belum membuahkan hasil seperti yang diharapkan, bahkan ada yang justru menimbulkan masalah baru bagi anaknya. Pertanyaannya adalah? Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa anak-anak tersebut tidak kunjung-kunjung berprestasi? Salah satu faktor yang dapat menjadi penyebabnya adalah ketidaksesuaian cara belajar yang dimiliki oleh anak dengan metode belajar yang diterapkan dalam proses pembelajaran yang dijalaninya; termasuk dalam mengikuti kursus atau les privat. Cara belajar yang dimaksudkan disini adalah kombinasi dari cara individu menyerap, mengatur, dan mengelola informasi. Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 1
    • 1. Otak sebagai Pusat Belajar Otak manusia adalah kumpulan masa protoplasma yang paling kompleks yang ada di alam semestas. Satu-satunya organ yang dapat mempelajari dirinya sendiri dan jika dirawat dengan baik dalam lingkungan yang menimbulkan rangsangan yang memadai, otak dapat berfungsi secara aktif dan proaktif selama lebih dari seratus tahun. Otak inilah yang menjadi pusat belajar sehingga harus dikelola dengan baik seumur hidup agar terhindar dari kerusakan. 2. Karakteristik Gaya Belajar Ciri-ciri perilaku belajar sesuai dengan masing-masing gaya belajar menurut DePorter & Hernacki (2001), adalah sebagai berikut: a. Karakteristik Perilaku Gaya Belajar Visual Individu yang memiliki gaya belajar visual ditandai dengan ciri-ciri perilaku belajar sebagai berikut: 1) Lebih mudah mengingat apa yang dilihat daripada apa yang didengar 2) Mengingat sesuatu berdasarkan asosiasi visual 3) Sulit menerima instruksi verbal sehingga seringkali minta instruksi secara tertulis. 4) Biasanya tidak mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik ketika sedang belajar 5) Memiliki kemampuan mengeja huruf dengan sangat baik 6) Merupakan pembaca yang cepat dan tekun 7) Lebih suka membaca daripada dibacakan 8) Mampu membuat rencana jangka pendek dengan baik 9) Teliti dan rinci 10) Mementingkan penampilan 11) Dalam memberikan respon terhadap segala sesuatu, cenderung bersikap waspada dan membutuhkan penjelasan secara menyeluruh 12) Jika sedang berbicara di telepon suka membuat coretan-coretan tanpa arti selama berbicara Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 2
    • 13) Sering lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain 14) Sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat “ya” atau “tidak” 15) Lebih suka mendemonstrasikan sesuatu daripada berpidato/berceramah 16) Lebih tertarik pada bidang seni lukis, pahat, dan gambar daripada musik b. Karakteristik Gaya Belajar Aktif Individu yang memiliki gaya belajar auditif ditandai dengan ciri-ciri perilaku belajar sebagai berikut: 1) Jika membaca maka lebih senang membaca dengan suara keras 2) Lebih senang mendengarkan daripada membaca 3) Sering berbicara sendiri ketika sedang bekerja 4) Mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik 5) Dapat mengulangi atau menirukan nada, irama, dan warna suara 6) Mengalami kesulitan untuk menuliskan sesuatu, tetapi sangat pandai dalam menceritakannya. 7) Berbicara dalam irama yang terpola dengan baik 8) Berbicara dengan sangat fasih 9) Lebih menyukai seni musik dibandingkan seni yang lainnya 10) Lebih mudah belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada apa yang dilihat 11) Senang berbicara, berdiskusi, dan menjelaskan sesuatu secara panjang lebar 12) Mengalami kesulitan jika harus dihadapkan sesuatu secara panjang lebar 13) Mengalami kesulitan jika harus dihadapkan pada tugas-tugas yang berhubungan dengan visualisasi 14) Lebih pandai mengeja atau mengucapkan kata-kata dengan keras daripada menuliskannya 15) Lebih suka humor atau gurauan lisan daripada membaca buku homor/komik c. Karakteristik Gaya Belajar Kinestetik Individu yang memiliki gaya belajar kinestetik ditandai dengan ciri-ciri perilaku belajar sebagai berikut: Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 3
    • 1) Berbicara dengan perlahan 2) Menanggapi perhatian fisik 3) Menyentuh orang lain untuk mendapatkan perhatian mereka 4) Berdiri dekat ketika sedang berbicara dengan orang lain 5) Banyak gerak fisik 6) Memiliki perkembangan otot yang baik 7) Belajar melalui praktik langsung 8) Menghafalkan sesuatu dengan cara berjalan atau melihat langsung 9) Menggunakan jari untuk menunjuk kata yang sedang dibaca 10) Senang menggunakan bahasa tubuh (non verbal) 11) Tidak dapat duduk diam di suatu tempat untuk waktu yang lama 12) Sulit membaca peta kecuali ia memang pernah ke tempat tersebut 13) Pada umumnya tulisannya kurang bagus 14) Menyukai kegiatan atau permainan yang menyibukkan secara fisik Dengan memperhatikan gaya belajar yang paling menonjol pada siswa, maka seorang guru diharapkan dapat menyelenggarakan proses pembelajaran secara arif, bijaksana, dan tepat. Bagi para siswa yang mengalami kesulitan belajar, cobalah untuk mulai merenungkan dan mengingat-ingat kembali apa gaya belajar yang dirasakan efektif. Setelah itu, cobalah untuk membuat rencana belajar sebagai kiat belajar anda sehingga kemampuan belajar tersebut dapat dikembangkan secara maksimal. Salah satu cara yang bisa digunakan untuk mendeteksi gaya belajar sendiri adalah dengan memanfaatkan media pendidikan seperti tape recorder, video, gambar, cerita novel, dan lain-lain. Kemudian, perhatikan betul-betul, pada media pendidikan jenis mana yang dirasakan sangat tertarik dan menyenangkan. B. Prinsip Dasar Memahami dan Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa Perbedaan individual siswa menyebabkan masalah kesulitan belajar siswa juga berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Akibatnya, menjadi tidak mudah untuk menetapkan secara akurat masalah mereka yang sebenarnya. Namun Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 4
    • demikian, masalah kesulitan belajar ini sangat menarik perhatian tidak hanya para ahli pendidikan, tetapi juga para ahli dari berbagai bidang. Misalnya: psikiater, ahli saraf, dokter anak, dokter spesialis mata dan telinga, dan juga ahli bahasa. Mereka setelah melihat masalah kesulitan belajar ini dari sudut pandang yang berbeda-beda, akhirnya secara umum sampai pada suatu kesimpulan bahwa ada dua faktor penyebab anak mengalami kesulitan belajar, yaitu faktor penyakit dan faktor perilaku. Dari sudut pandang kedokteran, kesulitan atau kelambanan belajar anak dipandang berhubungan erat dengan ketidaknormalan dalam otak. Oleh sebab itu, mereka menjelaskan adanya luka pada otak, kurang darah, dan ketidaknormalan dalam saraf sebagai unsur penyebab kelambanan belajar. Dari sudut pandang ahli psikologi, mereka berusaha menyelidiki masalah dari aspek-aspek kejiwaan yang menyebabkan anak perilaku kelambanan belajar anak. Mereka menjelaskan adanya gangguan dalam masalah kognitif, yaitu membaca, menghitung, dan berbahasa. Masalah kelambanan atau kesulitan belajar juga dapat diselidiki dari aspek penguasaan pelajaran dan aspek pertumbuhan fisik. Dari aspek penguasaan pelajaran, kesulitan belajar siswa dapat dilihat dari kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Pada umumnya bila terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan belajar dengan hasil pelajaran, dapat disimpulkan anak tersebut mengalami kelambanan belajar. Sedangkan dari aspek pertumbuhan fisik dapat dilihat dari hambatan berbicara, berpikir, mengingat, dan hambatan fungsi indera. Hambatan berbicara merupakan hambatan belajar yang sering terdapat pada tingkat anak prasekolah. Sedangkan masalah hambatan dalam berpikir terlihat dari anak yang mengalami kesulitan dalam membentuk konsep, mengaitkan apa yang dipikirkan, dan memecahkan masalahnya. 1. Penyebab Timbulnya Masalah Kesulitan Belajar Pada garis besarnya sebab-sebab timbulnya masalah belajar pada murid dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu : Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 5
    • a. Faktor-faktor Internal ( faktor-faktor yang berada pada diri murid itu sendiri), antara lain: 1) Faktor Keturunan Di Swedia, Hallgren melakukan penelitian dengan objek keluarga dan menemukan rata-rata anggota keluarga tersebut mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, dan mengeja. Setelah diteliti secara lebih mendalam, ternyata salah satu faktor penyebabnya adalah faktor keturunan. Ahli lainnya, Hermann mempelajari dan membandingkan anak-anak kembar yang berasal dari satu sel telur. Ia memperoleh kesimpulan bahwa anak kembar dari satu sel itu lebih mempunyai kesamaan dalam hal kesulitan membaca daripada anak kembar dari dua sel telur. 2) Gangguan Fungsi Otak Ada pendapat yang mengatakan bahwa anak yang lamban belajar mengalami gangguan pada syaraf otaknya. Pendapat ini telah menjadi perdebatan yang cukup sengit. Beberapa peneliti menganggap bahwa terdapat kesamaan ciri pada perilaku anak yang mengalami kelambanan atau kesulitan belajar dengan anak yang abnormal. Hanya saja, anak yang lamban belajar memiliki adanya sedikit tanda cedera pada otak. Oleh sebab itu, para ahli tidak terlalu menganggap cedera otak sebagai penyebabnya, kecuali ahli syaraf membuktikan masalah ini. Mereka menyebutnya sebagai “disfungsi otak” ketimbang “cedera otak”. Sebab, para ahli berpendapat bahwa sebenarnya sangat sulit untuk memastikan bahwa kelambanan atau kesulitan belajar itu disebabkan oleh cedera otak. 3) Pengorganisasian Berpikir Siswa yang mengalami kelambanan atau kesulitan belajar akan mengalami kesulitan dalam menerima penjelasan tentang pelajaran. Salah satu penyebabnya adalah mereka tidak mampu mengorganisasikan cara berpikirnya secara baik dan sistematis. Misalnya, anak yang sulit membaca akan sulit pula merasakan atau menyimpulkan apa yang dilihatnya. Para ahli berpendapat bahwa mereka perlu dilatih berulang-ulang, dengan tujuan meningkatkan daya belajarnya. Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 6
    • 4) Kekurangan Gizi Berdasarkan penelitian para ahli yang dilakukan terhadap anak-anak dan binatang, ditemukan bahwa ada kaitan yang erat antara kelambanan belajar dengan kekurangan gizi. Artinya, kekurangan gizi menjadi salah satu penyebab terjadinya kelambanan atau kesulitan belajar. Walau pendapat tersebut tidak seluruhnya benar, tetapi banyak bukti menyatakan bila pada awal pertumbuhan seorang anak sangat kekurangan gizi, keadaan itu akan mempengaruhi perkembangan syaraf utamanya sehingga menyebabkan kurang baik dalam proses belajarnya. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan. Pertama, bahwa gangguangangguan itu akan berpengaruh secara fisik, seperti kurang berfungsinya organorgan perasaan, alat bicara, gangguan panca indera, cacat tubuh, serta penyakit menahan (alergi, asma, dan sebagainya ). Kedua, ketidakseimbangan mental (adanya gangguan dalam fungsi mental), seperti menampakkan kurangnya kemampuan mental, taraf kecerdasannya cenderung kurang. Ketiga, kelemahan emosional, seperti merasa tidak aman, kurang bisa menyesuaikan diri, tercekam rasa takut, benci, dan antipati serta ketidakmatangan emosi. Keempat, kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan dan sikap salah seperti kurang perhatian dan minat terhadap pelajaran sekolah, malas dalam belajar, dan sering bolos atau tidak mengikuti pelajaran. b. Faktor Eksternal (faktor-faktor yang timbul dari luar diri individu ), yaitu berasal dari: 1) Sekolah, antara lain: - Sifat kurikulum yang kurang fleksibel - Terlalu berat beban belajar (murid) dan atau mengajar (guru) - Metode mengajar yang kurang memadai - Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 7
    • 2) Lingkungan Faktor-faktor lingkungan adalah hal-hal yang tidak menguntungkan yang dapat menganggu perkembangan mental anak, baik yang terjadi di dalam keluarga, sekolah, maupun lingkungan masyarakat. Gangguan tersebut mungkin berupa kepedihan hati, tekanan keluarga, dan kesalahan pola asuh yang diterapkan kepada anak. Meskipun faktor-faktor ini dapat mempengaruhi kesulitan belajar, tetapi bukan merupakan satu-satunya faktor terjadinya kesulitan belajar tersebut. Namun, yang pasti faktor tersebut dapat menganggu ingatan dan daya kosentrasi anak. Berdasarkan pengalaman dapat ditarik pelajaran bahwa lingkungan yang tidak menguntungkan dapat mempengaruhi proses belajar siswa. Menurut Lindgren, (1967 : 55) bahwa lingkungan sekolah, terutama guru. Guru yang akrab dengan murid, menghargai usaha-usaha murid dalam belajar dan suka memberi petunjuk kalau murid menghadapi kesulitan, akan dapat menimbulkan perasaan sukses dalam diri muridnya dan hal ini akan menyuburkan keyakinan diri dalam diri murid. Melalui contoh sikap sehari-hari, guru yang memiliki penilaian diri yang positif akan ditiru oleh muridnya, sehingga muridmuridnya juga akan memiliki penilaian diri yang positif. Jadi jelaslah bahwa guru yang kurang akrab dengan murid, kurang menghargai usaha-usaha murid maka murid akan merasa kurang diperhatikan dan akan mengakibatkan murid itu malas belajar atau kurangnya minat belajar sehingga anak itu akan mengalami kesulitan belajar. Keberhasilan seorang murid dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari sekolah seperti guru yang harus benar-benar memperhatikan peserta didiknya. Menurut Belmon dan Morolla (1971 : 107) menyimpulkan dari hasil penelitiannya, bahwa anak-anak yang berasal dari keluarga yang banyak jumlah anak, mempunyai keterampilan intelektual lebih rendah daripada anak-anak yang berasal dari keluarga yang jumlah anaknya sedikit. Mengidentifikasi murid yang diperkirakan mengalami masalah belajar murid yang mengalami masalah belajar, dapat diidentifikasi melalui tes hasil belajar, tes kemampuan dasar, skala pengungkapan sikap dan kebiasaan belajar. Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 8
    • 2. Membantu Mengatasi Masalah Kesulitan Belajar Hal ini dapat dilakukan melalui cara-cara: a. Berikan perintah yang terperinci. Karena anak-anak ini memiliki kesulitan dalam belajar, guru perlu mengulang atau memberikan perintah baru ketika tahap pelajaran berikutnya dimulai. Contohnya: daripada membacakan serangkaian perintah yang harus ditaati, berikan satu atau dua perintah pada saat yang sama. Pada saat anak sudah menyelesaikannya, berikan perintah tambahan. b. Gunakan semua indera Anda pada saat mengajar. Jika memungkinkan, tanyakan kepada orang tua atau guru lainnya, indera mana yang potensial bagi anak untuk dapat belajar dengan maksimal. Jika anak dapat belajar dengan maksimal melalui penglihatan mereka, berikan kesempatan besar bagi anak untuk mengalaminya melalui media penglihatan. Tekankan perintah Anda dengan menggunakan indera lainnya. c. Pastikan bahwa Anda mengajarkan ide pokok dari pelajaran Anda. Murid yang mengalami kesulitan belajar ini bisa memberi rincian dari pelajaran Anda, meskipun mungkin mereka tidak tahu apa inti dari pelajaran itu. d. Sebisa mungkin jangan ada gangguan di dalam kelas karena anak-anak ini mudah terganggu. Gambar-gambar, mainan, atau barang-barang yang tidak diperlukan sangat berpeluang untuk menganggu mereka. e. Sampaikan pelajaran dengan menggunakan contoh-contoh konkret. Anak yang mengalami kesulitan dalam belajar akan memahami maknanya jika dia dapat melihat dan merasakan apa yang Anda jelaskan. Contohnya, pada saat sesi cerita Alkitab, berceritalah sambil menunjukkan benda-benda yang berhubungan dengan cerita tersebut. Doronglah anak-anak untuk membayangkan bagaimana mereka melakukannya dalam kegiatan mereka sehari-hari. f. Perhatikan jika mungkin beberapa anak yang mengalami kesulitan dalam belajar ini terlihat sangat aktif atau bahkan terlalu aktif. Mereka memiliki rentang perhatian yang rendah untuk melakukan hal yang sama terusmenerus. Berusahalah supaya anak ini terus berada di dekat Anda. Kontak Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 9
    • fisik seperti merangkul atau memegang pundak bisa meningkatkan perhatian mereka. C. Masalah Kesulitan Siswa Memahami Teks dan Cara Mengatasinya 1. Penyebab Kesulitan Memahami Teks Laju perkembangan teknologi, eskalasi gobal, dan berbagai bentuk perubahan yang sedemikian cepatnya telah mengakibatkan perubahan-perubahan dramatis di bidang informasi di berbagai negara maju maupun negara berkembang. Informasi disajikan sedemikian rupa, baik melalui media elektronik maupun berbagai bahan bacaan. Bahkan berbagai bahan bacaan tidak saja disajikan dalam bentuk buku, majalah, atau media cetak lainnya, melainkan juga sudah dikemas dalam situs-situs internet. Sejak dari bacaan majalah ringan, harian, ilmiah populer, dan bahkan sampai jurnal ilmiah nasional maupun internasional tersaji di sana. Sedemikian pesatnya perkembangan bahan bacaan itu tentunya menuntut kemampuan seseorang untuk memahami teks bacaan tersebut agar dapat menyerap informasi-informasi penting yang terkandung di dalamnya. Sayangnya, tidak sedikit temuan penelitian yang menunjukkan bahwa kemampuan membaca dan memahami teks pada anak-anak sekolah di berbagai negara berkembang masih sangat rendah (Ogle dalam Mohammad Asrori, 2008). Penelitian Gutrie (1999) yang dilakukan terhadap anak-anak Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah di negara-negara Asia-Pasifik dan Asia Tenggara menunjukkan rendahnya kemampuan membaca dan memahami teks tersebut; kemampuan mereka tidak melaampaui 37,50%. Temuan penelitian ini tentunya termasuk di dalamnya anak-anak Sekolah Dasar di Indonesia. Padahal, kemampuan membaca dan memahami teks pada anak-anak Sekolah Dasar merupakan sarana yang sangat mendasar dan penting bagi perkembangan di masa mendatang untuk memburu, menyerap, dan memanfaatkan informasi guna pengembangan ilmu dan teknologi ketika kelak mereka sudah mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi Bransford (1993). Untuk itu, peningkatan kemampuan memahami teks sejak dini, yakni sejak masih duduk di bangku Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 10
    • Sekolah Dasar, menjadi suatu keharusan bagi proses pembelajaran di dalam sistem pendidikan kita. 2. Cara Mengatasi Kesulitan Memahami Teks Bacaan Model pembelajaran yang diperkenalkan untuk mengatasi kesulitan memahami teks adalah “Model Pembelajaran K-W-L” (K-W-L Teaching Model)”. Prosedur dalam model pembelajaran K-W-L ini dinamakan dengan “three step procedures” karena di dalamnya mengandung tiga tahap proses kognitif dasar: (1) penilaian tentang “Apa yang Saya Ketahui” (What I Know (K); (2) menentukan tentang “Apa yang Saya Ingin Pelajari” (What I Want to Learn (W); dan (3) memanggil kembali “Apa yang Telah Saya Pelajari” (What I did Learn (L) sebagai hasil dari suatu bacaan. Untuk memfasilitasi proses kelompok dan untuk mengkonkritkan tahap-tahap tersebut pada siswa, Ogle dalam Mohammad Asrori (2008) telah mengembangkan suatu lembar-lembar kerja yang dapat digunakan oleh setiap siswa selama proses berpikir dalam membaca. Lembar-kerja tersebut sebagaimana tertera pada Tabel: “Apa yang Saya “Apa yang Ingin Saya “Apa yang Telah Saya Ketahui” (“K” : What Ketahui” (“W”: What Pelajari dan Masih Perlu we Know) 1. we Want to Find Out) Saya Pelajari” (“L”: What we Learned and Still Need to Learn) 2. Kategori Informasi yang Saya Gunakan: A. E. B. F. C. G. D. H. Dua langkah pertama dari proses tersebut adalah guru beserta siswa terlibat aktif dalam diskusi secara lisan yang diikuti dengan respons pribadi siswa Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 11
    • yang dituangkan ke dalam lembar kerja. Pada langkah ketiga, siswa dapat mengisi bagian “What I Learned” mengenai apa yang telah mereka baca atau kerjakan segera setelah menyelesaikan bacaan suatu artikel atau teks. Pada langkah ini, diskusi juga dapat dilakukan terhadap respons-respons individual siswa tersebut. Jika teks bacaannya panjang, maka guru dapat merefleksikannya bersama siswa secara bagian demi bagian, mengkaji ulang apa yang telah dipelajari, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memberikan arah terhadap bacaan atau teks berikutnya. 1) Langkah K (What I “Know”) Langkah ini merupakan langkah awal atau langkah pembukaan. Pada langkah ini, menurut Ogle dalam Mohammad Asrori (2008) ada dua tahapan untuk melakukan penilaian terhadap pengetahuan awal atau bekal awal siswa. Langkah pertama, melakukan brainstorming (curah pendapat) mengenai apa yang telah diketahui oleh para siswa berkenaan dengan topik atau teks yang akan dibacanya. Selama proses pada langkah ini, peranan guru adalah mencatat di papan tulis atau di plastik transparan OHP mengenai apa saja pendapat atau pikiran-pikiran yang secara sukarela diajukan oleh para siswa berkenaan dengan topik atau teks yang mereka baca. Kegiatan penting yang harus dilakukan guru di sini adalah mencari dan memilih konsep-konsep kunci dari proses curah pendapat tadi yang secara spesifik dipandang dapat mengantarkan pengetahuan siswa kepada topik atau teks yang akan mereka baca. Sebagai contoh, suatu ketika kelas akan membaca dan memahmi teks tentang “kura-kura laut”. Untuk itu, gunakanlah kata-kata yang secara spesifik berkaitan langsung dengan “kura-kura laut” sebagai stimulus, dan jangan gunakan kata-kata yang bersifat umum seperti: “Apa yang kalian ketahui tentang hewanhewan yang hidup di laut?”, atau “Sudah pernahkah kalian pergi ke laut?”, atau “sudah pernahkah kalian melihat laut?”. Demikian juga pengalaman-pengalaman menyenangkan yang pernah siswa alami di pantai tidak perlu digunakan karena tidak akan efektif untuk menimbulkan schema yang tepat dalam pikiran siswa. Langkah kedua, melibatkan siswa, melalui teks yang mereka baca, ke dalam berpikir tentang kategori informasi yang lebih umum sebagaimana yang Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 12
    • mereka temukan ketika membaca teks. Dalam prosesnya, guru dapat mengatakan, misalnya: “Sebelum kalian membaca artikel tentang kura-kura laut ini, pikirkanlah sejenak, jenis-jenis informasi apa yang paling sesuai untuk dimasukkan ke dalamnya? Perhatikanlah daftar informasi berikut ini yang tentunya sudah kalian kenal dan ketahui, kemudian ambillah beberapa di antaranya sehingga dapat membentuk suatu kategori informasi yang sifatnya umum?” Misalnya, guru mengatakan: “Saya melihat ada tiga informasi yang berbeda tentang bagaimana cara kura-kura melihat sesuatu. Deskripsi tentang cara kura-kura melihat merupakan satu kategori informasi yang saya harapkan akan masuk dalam teks bacaan ini.” (Di sini kemudian para siswa mencatat deskripsi kategori tersebut, misalnya, dengan judul kategori informasi. “Cara Kura-kura Laut Melihat Sesuatu?”). selanjutnya, guru mengajukan pertanyaan kepada siswa; “Dapatkah kalian menemukan kategori lain dari informasi yang telah saya kemukakan tadi? Coba kalian deskripsikan lagi?. Setelah diberikan beberapa contoh kategori informasi secara lisan, para siswa memikirkan kembali kategori apa lagi yang dapat ditambahkan dan kemudian ditulis dalam daftar kategori yang telah diberi judul tadi. Jika ternyata mereka masih tidak dapat melakukannya, ada cara bagi guru untuk mendiagnosis tentang kesiapan siswa memasuki tingkat berpikir seperti ini, dengan memberikan teks bacaan lain yang hampir sama tetapi lebih mudah guna menggali latar belakang pengetahuan mereka. setelah itu, cobalah dilakukan langkah-langkah sebagaimana yang telah dilakukan sebelumnya, kemudian lanjutkan dengan mengulang kembali teks utama yang sebelumnya siswa masih mengalami kesulitan. 2) Langkah W (What do I “Want” to Learn?) Sebagian besar kegiatan dalam “Langkah W” ini dilakukan dalam kegiatan kelompok, tetapi sebelum siswa mulai membaca teks, tiap-tiap siswa harus menulis di lembar kerja mereka mengenai pertanyaan-pertanyaan spesifik yang dipandang paling menarik yang akan dicari jawabannya dalam teks atau diskusi. Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 13
    • Dengan cara ini, masing-masing siswa dapat mengembangkan komitmen pribadi yang akan membimbing mereka dalam membaca teks. Jika tiap-tiap siswa sudah memfokuskan pada topik bacaan dalam teks, maka kegiatan membaca oleh siswa dapat segera dimulai. Namun, jika teks yang akan dibaca merupakan suatu artikel panjang atau tidak mengikuti suatu pola dasar artikel pada umumnya sehingga dapat membingungkan siswa, maka akan sangat berguna jika guru membahasnya lebih dahulu guna melihat kesesuaian antara harapan siswa dengan konstruksi artikel yang akan mereka baca. Selanjutnya, bagian-bagian yang sulit dan tidak jelas dapat dicatat untuk kemudian dijelaskan kepada siswa. 3) Langkah L (What I “Learn”) Setelah selesai membaca suatu artikel, arahkan para siswa untuk menulis tentang apa yang telah mereka pelajari dari bacaan tersebut. Guru hendaknya mengecek apakah mereka sudah merumuskan pertanyaan-pertanyaan untuk mengetahui sejauh mana artikel yang dibacanya berkenaan dengan minat mereka. Jika tidak, anjurkan ke bacaan selanjutnya untuk memenuhi keingintahuan siswa. Dengan cara ini, guru dapat mengetahui dengan jelas tentang prioritas yang ingin mereka pelajari. Setiap siswa yang telah telah membaca teks harus diberikan kesempatan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah dirumuskannya sendiri. Dengan merumuskan pertanyaan-pertanyaan spesifik berkenaan dengan teks yang telah mereka baca, siswa juga dapat memberikan penilaian secara lebih baik tentang variasi yang terkandung di dalam artikel yang berbeda-beda yang telah mereka baca. Selain itu, cara seperti ini sangat baik bagi siswa mengembangkan kesadaran lebih kritis tentang keterbatasan interaksi antara penulis dengan pembaca. Cara ini dikatakan oleh Nelson dalam Mohammad Asrori (2008) sebagai “this is what reading is really about”. Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 14
    • D. Masalah Membaca Cepat dan Cara Mengatasinya Metode membaca cepat memberi banyak keuntungan bagi setiap orang. Dengan membaca cepat kita bisa mengetahui seluruh isi buku dalam waktu yang singkat. Hal ini sangat menguntungkan bagi kita yang memerlukan banyak informasi, namun tidak memiliki waktu yang banyak untuk membaca. Untuk bisa membaca cepat, ada teknik-teknik khusus yang harus dikuasai. Memang tidak semua orang akan langsung mahir untuk membaca cepat. Keterampilan ini membutuhkan latihan yang mungkin bisa sampai berulang-ulang agar seseorang dapat menguasai teknik-teknik yang tepat dalam membaca cepat. Latihan-latihan ini dipandang penting untuk dilakukan karena biasanya seseorang yang baru pertama kali belajar membaca cepat akan menemui beberapa masalah yang bisa menjadi penghambat dalam membaca cepat. 1. Penyebab Kesulitan dalam Membaca Cepat Kebiasaan-kebiasaan yang dimiliki seseorang dalam membaca pun secara tidak sadar bisa menjadi penghambat untuk bisa membaca dengan cepat. Kebiasaan-kebiasaan yang biasanya sudah dimiliki selama bertahun-tahun ini di antaranya: 1) Vokalisasi atau berguman ketika membaca 2) Membaca dengan menggerakkan bibir namun tidak bersuara (komat-kamit) 3) Kepala yang bergerak searah dengan arah tulisan yang dibaca 4) Jari-jari tangan yang selalu menunjuk tulisan yang dibaca 5) Gerakan mata yang selalu kembali ke kata-kata sebelumnya atau mengulang membaca kalimat dari depan. Kebiasaan-kebiasaan ini menjadi penghambat karena kecepatan membaca, melakukan gerakan, dan bersuara tidaklah sama. Melakukan suatu gerakan maupun bersuara pada waktu membaca membutuhkan waktu yang lebih banyak daripada membaca tulisan. Demikian pula dengan membaca dalam hati. Dengan membaca dalam hati, kita cenderung memperhatikan pelafalan, bukan makna yang terkandung dalam bacaan tersebut. Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 15
    • Untuk mengatasi masalah-masalah ini, usahakan untuk mencegah bibir, jari-jari tangan, dan kepala untuk bergerak pada saat membaca. Cara pencegahannya bisa dengan mengatupkan bibir, memasukkan tangan ke dalam saku atau memegangi kepala pada waktu membaca. Sedangkan untuk menghindari supaya tidak bersuara pada waktu membaca adalah dengan merasakan getaran suara di leher. Dengan meletakkan tangan di leher, akan diketahui apakah kita bersuara atau tidak. Membaca dalam hati memang tidak bisa dicegah, tetapi usahakan supaya tidak memperhatikan pelafalannya. Selain masalah-masalah yang tersebut di atas, ada beberapa masalah lain yang berkaitan dengan materi bacaan yang kita baca, misalnya: 1) Kepadatan dan beragamnya informasi yang disajikan oleh bacaan, misalnya seperti yang terdapat pada koran dan majalah; 2) Bentuk kalimat yang formal, kaku, dan bahasa yang susah dipahami serta berbelit-belit, misalnya seperti dalam korespondensi, perundang-undangan; 3) Baik buruknya tulisan, jika ditulis tangan; 4) Format, susunan kalimat yang tidak baik dan jumlah halaman yang banyak, misalnya seperti dalam laporan-laporan; 5) Faktor teknis, jika dalam e-mail dan teleteks; 6) Terlalu panjang dan detail, misalnya dalam perincian dan laporan keuangan yang sebagian besar berupa angka. 2. Cara Mengatasi Kesulitan Membaca Cepat Berikut ini ada beberapa langkah yang bisa digunakan untuk membantu mengatasi masalah-malasah dalam membaca cepat. 1) Miliki kosakata yang banyak Jika saat ini Anda masih memiliki kosakata yang terbatas, ada cara-cara yang bisa ditempuh untuk mengatasinya, yaitu dengan menyiapkan catatan katakata baru yang belum Anda ketahui. Setelah itu, carilah artinya DI dalam kamus. Perbendaharaan kata yang banyak sangat membantu dalam memahami suatu bacaan. Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 16
    • 2) Sikap tubuh Membaca cepat memang memerlukan konsentrasi yang tinggi. Tidak jarang pembaca justru berada dalam posisi tegang. Kondisi yang seperti ini justru menjadi penghambat. Untuk itu, ambilah posisi santai saat membaca. 3) Membaca sepintas lalu Dengan membaca sepintas lalu, Anda bisa mengantisipasi hal-hal yang mungkin terjadi. 4) Konsentrasi Konsentrasi yang penuh menghindarkan Anda dari melamun atau pikiran yang melayang-layang. Kesulitan dalam berkonsentrasi menunjukkan kecepatan membaca yang rendah. Untuk itu, usahakan agar selalu berkonsentrasi ketika membaca cepat. 5) Retensi (mengingat kembali informasi dari bacaan) Mengingat kembali informasi yang baru saja Anda baca bisa dilakukan dengan beberapa cara, misalnya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan, diskusi, maupun menulis kembali informasi yang sudah diterima. 6) Tujuan yang jelas Dengan menentukan tujuan dari membaca, Anda akan mengetahui apakah bacaan tersebut sesuai dengan kebutuhan Anda atau seperti yang Anda inginkan. 7) Motivasi Motivasi yang jelas dalam membaca akan mempengaruhi tingkat pemahaman bacaan. Jika Anda sudah memiliki motivasi yang jelas dalam membaca suatu bacaan. Anda akan lebih mudah menyerap informasi dalam bacaan tersebut. Untuk itu, tumbuhkanlah motivasi dalam membaca. Dari uraian di atas akan semakin jelas bahwa membaca cepat sangat penting untuk dikuasai dan dilakukan. Dengan membaca cepat siswa dapat memperoleh informasi sebanyak mungkin dari isi buku tanpa harus menghabiskan waktu berjam-jam atau bahkan berhari-hari. Kendala dalam membaca cepat sangat mungkin terjadi sehingga siswa memerlukan latihan-latihan supaya dapat menguasai teknik-teknik membaca cepat tersebut. Selain itu, peningkatan konsentrasi, motivasi yang tinggi, dan kejelasan tujuan membaca juga merupakan Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 17
    • faktor-faktor yang sangat penting untuk bisa memiliki kemampuan membaca cepat. E. Disleksia (dyslexia), yakni ketidakmampuan belajar membaca. Ciri-ciri anak yang mengalami Disleksia: 1) Tidak dapat mengucapkan irama kata-kata secara benar dan proporsional 2) Kesulitan dalam mengurutkan huruf-huruf dalam kata. 3) Sulit menyuarakan fonem (satuan bunyi) dan memadukannya menjadi sebuah kata. 4) Sulit mengeja kata atau suku kata dengan benar. Bahkan mungkin anak akan mengeja satu kata dengan bermacam ucapan. 5) Sulit mengeja kata atau suku kata dengan benar. Anak bingung menghadapi huruf yang mempunyai kemiripan bentuk seperti “b & d”, “u & n”, “m & n”. 6) Membaca satu kata dengan benar di satu halaman, tapi salah dihalaman lainnya. 7) Kesulitan dalam memahami apa yang dibaca. 8) Sering terbalik dalam menuliskan atau mengucapkan kata. Misal. “ratu” menjadi “taru”, atau “kucing duduk di atas meja” menjadi “meja duduk di atas kucing”. 9) Rancu dengan kata-kata yang singkat, misalnya ke, dari, dan, jadi. 10) Bingung menentukan tangan mana yang dipakai untuk menulis. 11) Lupa mencantumkan huruf besar atau mencantumkannya di tempat salah. 12) Lupa meletakkan titik dan tanda-tanda baca lainnya. 13) Menulis huruf dan angka dengan hasil yang kurang baik. 14) Terdapat jarak pada huruf-huruf dalam rangkaian kata. Tulisannya tidak stabil, kadang naik, kadang turun. 15) Menempatkan paragraf secara keliru. Walaupun mengalami kesulitan-kesulitan tersebut di atas, anak yang mengalami gangguan disleksia sebetulnya mempunyai kelebihan. Mereka biasanya sangat baik di bidang musik, seni, grafis dan aktivitas-aktivitas kreatif Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 18
    • lainnya. Cara berpikir adalah dengan gambar, tidak dengan huruf, angka, simbol atau kalimat. Mereka juga baik dalam menghafal dan mengingat informasi. Kesulitan mereka adalah dalam menyatukan informasi-informasi yang ada dan mengolah informasi tersebut dengan kata-kata atau kalimat yang tepat. Cara mengatasi Disleksia: 1) Teknik permainan tiba-tiba Permainan tiba-tiba merupakan teknik permainan tidak terencana tapi mengasyikan karena mengajari anak bicara dari apa yang menarik perhatiannya saat itu. Misalnya, anak tertarik pada kaleng bekas yang kebetulan tergeletak di lantai. Lantas, anak mengambil, membuka dan menutup kaleng tersebut. Kesempatan ini dapat digunakan oleh guru untuk mengajari konsep tentang “buka” dan “tutup”. Caranya, guru menutup kaleng sambil mengatakan , “tutup”. Lantas penutup kaleng kaleng tersebut diberikan kepada anak. Kemudian meminta anak untuk mengikuti apa yang dilakukan sebelumnya. Atau, bisa juga menggunakan kaleng lain, agar guru dan anak melakukan permainan ini secara bersamaan. 2) Lomba menamai benda Untuk mempraktikan cara ini, guru membutuhkan gambar-gambar yang sudah dikenal anak untuk kemudian dinamai anak. Misalnya: gambar kucing, kelinci, burung, topi, sepatu, apel, gajah. Gambar-gambar tersebut dicari yang menarik dari segi warnanya; dapat dipotong dari majalah bekas. Tempelkan gambar pada karton berukuran kartu pos dan dibuat sedemikian menarik, kemudian tempelkan pada dinding ruang belajar. Selanjutnya, adakanlah lomba dengan instruksi yang sederhana pada anak. Contoh instruksi: “Anak-anak sekarang lari, pegang gambar kucing, kemudian sebutkan kata “kucing”. Setelah instruksi diberikan, guru berlari bersama anak-anak untuk memegang gambar kucing sambil berteriak, “kucing”. Permainan ini dapat juga dikembangkan dengan menyebutkan dua kata, seperti, “kucing hitam, kucing belang, atau kucing merah,” dan sebagainya. Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 19
    • 3) Lagu atau nyanyian Menyanyikan lagu merupakan cara menyenangkan untuk mengembangkan kemampuan verbal anak karena pada umumnya anak-anak suka sekali bernyanyi. Melalui bernyanyi anak dapat belajar mengucapkan lirik lagu tersebut satu persatu. Mengajari anak bernyanyi sebaiknya dimulai dari lagu yang sederhana dan liriknya pendek. Pilihlah lagu sederhana yang disukai anak. Misalnya: “Balonku Ada Lima,” “Aku Punya Anjing Kecil”, atau lagu-lagu lainnya, yang biasa didengarkan anak. Agar menarik perhatian anak, lagu yang sudah sering didengar dan dihafal oleh anak bisa diubah sedikit liriknya, tetapi tepat dengan cara yang menarik. Misalnya: lagu “Aku Punya Anjing Kecil” diganti menjadi: “Aku Punya Kucing Kecil.” Sehingga liriknya pun berubah. 4) Menonton Televisi Ada beberapa hal penting yang harus diperhatiakan dalam membantu anak mengatasi kemampuan verbal melalui TV, yaitu: Pertama, sebelum mengajarkan anak berbicara melalui nonton TV, kenalilah film apa yang menjadi kesukaan anak, misalnya: flim “Dora, Naruto, Teletubbies, atau Doraemon”. Kedua, pahami betul sejauhmana kemampuan anak dalam mengenal konsep, seperti warna, bentuk, jumlah, benda, dan sejenisnya. Ini sangat membantu guru saat meminta anak menceritakan apa yang telah ditonton. Misalnya: “Baju Lala warnanya apa?”, siapa yang naik motor?” dan sebagainya. 5) Permainan Berpura-pura (Role Play) Permainan berpura-pura merupakan teknik untuk mengembangkan kemampuan verbal anak melalui skenario pendek yang dibuat oleh guru dari permainan yang dipilih. Jadi, semacam teknik bermain peran. Oleh sebab itu, guru dituntut harus mampu membuat skenario pendek. Skenario ini sesungguhnya tidak sulit karena skenario pendek dan diperkirakan pada umumnya guru mampu membuatnya sendiri. Misalnya: “Pura-pura jadi dokter”. Di sini guru harus membuat skenario antara seorang dokter dengan pasiennya. Dalam permainan ini, bisa saja gurunya menjadi dokter dan anak menjadi pasien. Berikut ini adalah contoh sederhana skenario permainan: “Pura-Pura Jadi Dokter”. Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 20
    • Suasana : Dokter sedang duduk di ruang kerjanya dengan alat dokternya yang ditaruh di atas meja. Di samping meja ada sebuah tikar untuk digunakan pasien berbaring. Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Pasien : “Selamat pagi, dokter” Dokter : “Selamat pagi. Silakan duuk”. Pasien : (Duduk di hadapan dokter) “Dokter, saya pusing sekali”. Dokter : “Coba saya periksa dulu” (dokter membimbing pasien tidur di atas tikar yang telah disiapkan. Kemudian , memeriksa suhu tubuh dan kepala pasien yang sakit. Setelah diperiksa, dokter mengajak pasiennya duduk kembali.) Dokter : “Wah, ibu terkena flu ini. Saya akan memberikan obat untuk diminum.” Pasien : “Terima kasih, dokter”. Untuk membantu anak agar lancar dalam bermain, sebaiknya sebelum permainan dilakukan, ajari anak menghafal dialog yang diminta. Bila dengan skenario pendek itu anak sudah mampu mengikuti permainan dengan baik, maka skenario berikutnya dapat dibuat lebih panjang lagi. Selain itu, anak juga boleh bertukar peran dalam kesempatan yang berbeda. Misalnya: gantian anak yang berperan menjadi dokter, sedangkan guru yang menjadi pasien. F. Diskalkulia (dyscalculia), yakni kesulitan belajar matematika Berikut ini adalah beberapa pemikiran untuk mengurangi ketakutan atau persepsi negatif terhadap matematika menurut Mohammad Asrori (2008); 1) Buatlah Pembelajaran Matematika yang Berorientasi Dunia Sekitar Siswa Teknik ini sering dikenal dengan istilah “Realistic Mathematics Education’ (RME). RME dilakukan dengan mengaitkan dan melibatkan lingkungan sekitar siswa, pengalaman nyata yang pernah dialami siswa dalam Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 21
    • kehidupan sehari-hari, dan menjadikan matematika sebagai aktivitas siswa. Dengan pendekatan RME siswa tidak hanya dibawa ke dunia nyata melainkan juga berhubungan langsung dengan masalah situasi nyata yang ada dalam pikiran siswa. Jadi siswa diajak berpikir bagaimana menyelesaikan masalah yang sering dialami dalam kehidupan sehari-hari. Dengan cara demikian, matematika bukanlah sesuatu yang abstrak, melainkan menjadi sesuatu yang nyata sehingga dapat memudahkan siswa untuk memecahkannya. 2) Berikan Siswa Kebebasan Bergerak Kalau pembelajaran matematika selama ini selalu dilaksanakan di ruang kelas sehingga siswa kurang bergerak, cobalah strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa berhubungan langsung dengan kehidupan dan lingkungan sekitar sekolah dan sekaligus menggunakannya sebagai sumber belajar. Strategi pembelajaran semacam ini dikenal dengan istilah “Out door mathematics”. Sesungguhnya, banyak hal di luar sekolah yang dapat dijadikan sumber belajar matematika. Pilihlah topik yang sesuai dengan materi pelajaran yang sedang dipelajari, misalnya: mengukur tinggi pohon, mengukur lebar pohon, atau mengukur tinggi layang-layang. Dengan cara seperti ini, matematika akan lebih menarik bagi siswa. 3) Tuntaskanlah dalam Mengajar Sesungguhnya lebih baik siswa mempelajari sedikit materi sampai tuntas daripada belajar banyak namun dangkal. Seringkali guru dihadapkan pada sejumlah besar tuntutan pencapaian target kurikulum dan tuntutan target daya serap, namun dengan alokasi waktu yang terbatas. Oleh karena itu, guru harus memberanikan diri menuntaskan siswa dalam belajar sebelum melanjutkan kepada materi berikutnya. Ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan konsepsi pada materi yang dipelajari yang akan berakibat pada kesulitan siswa untuk mempelajari konsep-konsep materi berikutnya. Jika kesalahan konsep ini terjadi, akan berakibat siswa mengalami kesulitan secara berkelanjutan sehingga membangun persepsi atau bahkan keyakinan bahwa matematika memang sesuatu yang sulit, menakutkan dan harus dijauhi. Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 22
    • 4) Belajar Sambil Bermain Gejala umum selama ini, kebanyakan siswa merasakan bahwa belajar matematika merupakan beban berat dan membosankan. Akibatnya, siswa kurang termotivasi cepat bosan, cepat lelah, dan bahkan malas belajar matematika. Untuk itu, ciptakanlah salah satu cara belajar sambil bermain, misalnya: memberikan kuis atau teka-teki yang harus ditebak secara kelompok atau individu, membuat puisi matematika dan mempresentasikan di depan kelas secara bergantian. Memang cara ini sangat menuntut kreativitas guru untuk menciptakan permainan yang menyenangkan. Jangan sampai tugas permainan matematika yang tujuannya membuat siswa senang, tetapi akhirnya justru membebani siswa lagi. Kalau ini yang terjadi, maka bukan permainan yang berkembang, tetapi tugas yang memberatkan siswa. 5) Harmonisasi Hubungan Guru, Siswa, dan Orang Tua Seringkali orang tua menyerahkan sepenuhnya mengenai kemajuan belajar anaknya itu kepada sekolah. Apalagi, bagi orang tua yang sangat sibuk dan kemudian menyekolahkan anaknya di sekolah favorit dengan membayar biaya mahal. Seringkali terdengar kata-kata: “Saya menyekolahkan anak saya di sini dengan membayar mahal itu kan supaya saya tidak lagi repot-repot mengurusi belajar anak saya. Untuk apa saya bayar mahal-mahal kalau saya masih harus memperhatikan belajar anak saya?” Keadaan seperti ini dan keinginan orang tua seperti itu sebenarnya didasari atau tidak telah memperberat siswa dalam belajar. Oleh karena itu, harmonisasi hubungan guru dengan siswa di sekolah, orang tua dengan anak di rumah, dan orang tua dengan guru harus diciptakan dengan baik. Orang tua memantau kesulitan belajar anaknya dengan cara berkonsultasi secara rutin baik secara kedinasan maupun pribadi. Sebaliknya guru menginformasikan perkembangan siswa yang sebenarnya kepada orang tua. Dengan cara demikian, masalah kesulitan belajar matematika pada anak menjadi kerja bersama dan tanggungjawab bersama antara anak, guru, dan orang tua. Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 23
    • G. Gifted Children (Anak Berbakat) dan Kesulitan Belajarnya Anak gifted pada mulanya sebagai anak yang memiliki skor IQ yang tinggi dan mempunyai prestasi sekolah baik. Namun, belakangan permasalahan tersebut menjadi lebih kompleks dengan munculnya hasil-hasil penelitian yang menentukan adanya anak berkemampuan tinggi, tetapi juga mengalami kesulitan dalam belajar (Brody & Mills dalam Mohammad Asrori, 2008). Adalah tidak mudah untuk menjelaskan ciri-ciri tipikal anak-anak gifted yang sekaligus mengalami kesulitan belajar (Gifted-Learning-Disabalities atau sering disingkat G/LD) karena terdapat banyak tipe pada aspek berkemampuannya (giftedness) dan sekaligus banyak pula kemungkinan aspek berketidakmampuannya (learning disabilities). Kesulitan terbesar dalam mengidentifikasi adalah seringkali antara ketidakmampuannya (disabilities) dan kemammpuannya (giftedness) itu saling menutupi. Secara umum, seorang anak gifted yang sekaligus memiliki ketidakmampuan belajar ditandai dengan kelebihan luar biasa pada beberapa aspek yang lain. Anak gifted yang sekaligus mengalami kesulitan belajar ini secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori. Pertama, anak-anak berbakat yang memiliki beberapa kesulitan dalam belajar di sekolah dan sering dikatakan sebagai anak yang “underachiever”. Kelompok anak semacam ini mudah teridentifikasi sebagai anak gifted atau berbakat karena memiliki skor IQ yang tinggi, tetapi dalam perkembangan selanjutnya terjadi kesenjangan yang besar antara kemampuan atau IQ yang dimiliki dengan prestasi yang dicapai. Anak pada kelompok ini mungkin akan mengejutkan dengan kemampuan verbal yang sangat bagus, sementara ia mengalami kesulitan besar pada kemampuan menulis, apalagi kalau didikte. Kadangkala anak kelompok ini amat pelupa, ceroboh, dan pola pikir serta tingkah lakunya tak terorganisir dengan baik (disorganized), sehingga pada sekolah lanjutan pertama yang tuntutannya sudah semakin tinggi menjadi mengalami kesulitan untuk berprestasi. Mereka dapat mengatasi kesulitan dengan usaha keras, namun kenyataannya banyak dari mereka tidak tahu cara untuk mengatasinya, karena terlanjur dikategorikan sebagai anak berkemampuan tinggi. Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 24
    • Kedua, anak-anak yang teridentifikasi dan diketahui berkesulitan belajar, tetapi tidak pernah terindentifikasi sebagai anak gifted. Ketidaktepatan pengukuran atau tertekannya skor IQ sering menyebabkan dugaan yang keliru terhadap kemampuan intelektualnya. Jika bakat yang luar biasa tidak diketahui, maka kelebihan-kelebihannya tidak pernah menjadi fokus dalam pendidikannya sehingga tidak pernah teraktualisasikan. Ketiga, anak yang tidak teridentifikasi sebagai anak berbakat maupun sebagai anak berkesulitan belajar. Mereka lebih nampak sebagai anak yang berprestasi rata-rata. Kemampuan intelegensi yang tinggi seringkali membantu kesulitan atau kelemahannya. Sebaliknya, kelemahannya juga menutupi kelebihannya. Bakat yang dimiliki kemungkinan dapat berkembang bila terstimulasi oleh situasi kelas yang diajar oleh guru yang menggunakan metode belajar yang bervariasi, kreatif, dan menantang. Keempat, ini mungkin kelompok besar. Mereka berprestasi pada level yang tidak menguntungkan yakni jauh di bawah potensi atau keterbakatan yang dimilikinya (Baum, 1990; Broudy & Mills, 1997). 1. Karakteristik Anak Gifted yang Mengalami Kesulitan Belajar Anak gifted yang berkesulitan belajar ini adalah suatu tipikal siswa yang seringkali dikarakteristikkan sebagai anak yang cerdas, tapi bermasalah di sekolah. Mereka sering mengalami perasaan frustasi, bertindak ceroboh, dan sering tidak mampu menyelesaikan tugas. Mereka juga sering membuat suasana kelas menjadi terganggu. Sementara di bidang lain, mereka mampu menampilkan diri sebagai anak berkemampuan tinggi. Misalnya, mereka sangat pandai dalam berpikir abstrak (Baum, 1984), dapat mengkonseptualisasikan sesuatu dengan cepat, mampu melakukan generalisasi dengan mudah, mampu membuat inferensi dengan tepat, dan menyukai tantangan untuk memecahkan suatu problem (Barton & Stanes, 1989). Biasanya hobi atau kesukaan mereka adalah hal-hal yang membutuhkan motivasi, tantangan dan perlu pemikiran yang kreatif. Silverman, direktur pusat studi anak berbakat di Denver, mengatakan bahwa anak-anak dengan keistimewaan ganda ini mempunyai karakter yang unik, Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 25
    • mereka seringkali disebut visual-spatial learners dan memiliki long-term memory yang sangat bagus, yang membutuhkan metode diagnosis dan pengajaran yang berbeda. Mereka juga anak yang sangat sensitif dengan sikap guru. Anak gifted yang berkesulitan belajar ini memandang dirinya sebagai anak yang tidak mampu di bidang akademik, sehingga meningkatkan motivasi untuk menolak tugas-tugas sekolah. Anak dengan keistimewaan ganda ini sering merasa malu dan memandang bahwa dirinya tidak mampu bersekolah. Inilah yang mematahkan semangat mereka. Tidak jarang dari mereka meneruskan perasaan tentang kegagalan ini di sekolah, sementara di rumah ia mampu belajar dan berkarya. Mereka sering memiliki konsep diri yang negatif dan merasa bahwa sesungguhnya dirinya tidak sama dengan teman sebayanya. 2. Kesalahan Diagnosis Kesalahan diagnosis terhadap anak gifted sangat mungkin terjadi. Mereka seringkali tidak didiagnosis oleh guru, dokter atau psikolog sebagai anak berbakat tinggi, mereka justru banyak didiagnosis sebagai anak autis ringan, Attention Deficit Hiperactive Disorder/Attention Deficit Disorder (ADHD/ADD), disleksia, kelambanan mental, atau gangguan perkembangan lainnya. Ini disebabkan anak gifted seringkali mempunyai karakteristik yang berpotensi untuk berperilaku yang menurut pandangan orang pada umumnya dipandang “negatif”. Ini terutama terjadi pada anak gifted yang kemampuan kreativitasnya sangat tinggi. Persepsi semacam ini karena mereka menunjukkan perilaku antara lain: 1) Overaktif secara fisik atau mental 2) Ceroboh dan sepele terhadap hal-hal yang dianggapnya tidak penting 3) Pelupa dan suka berhayal 4) Kurang tertarik pada hal-hal yang kecil 5) Penuntut 6) Temperamental dan berperilaku tergantung mood yang ada dalam dirinya 7) Tidak komunikatif, sinis, dan suka berargumentasi 8) Suka menanyakan aturan, otoritas, dan aturan moral yang umum 9) Kurang kooperatif dan suka menentang dominasi. Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 26
    • Karena kecenderungan memiliki perilaku seperti itu, maka seringkali anak-anak semacam ini dimasukkan ke dalam kategori anak-anak dengan gangguan tertentu. Hingga tidak sedikit dari mereka yang mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan dari guru-guru atau orangtua yang merasa terganggu oleh perilaku mereka ini. Akibatnya, tidak jarang anak-anak berbakat tinggi (highly gifted), terutama bagi mereka yang kreativitasnya sangat tinggi, menjadi memiliki penghargaan-diri (self-esteem) dan konsep-diri (self-concept) yang rendah sehingga mengalami kegagalan di sekolah. 3. Proses Pembelajaran yang Sesuai Ada sejumlah faktor penting yang harus diperhatikan dalam menyelenggarakan proses pembelajaran untuk anak gifted yang berkesulitan belajar ini, yaitu: 1) Sangat penting memperhatikan perkembangan pada kemampuan yang menonjol, minat dan kapasitas intelektual anak ini dalam merencanakan proses pembelajarannya. Kesulitan belajar mereka agar tidak cenderung menjadi permanen sudah seharusnya menjadi pertimbangan penting untuk mengarahkan dan mendorong mereka memahami dan meningkatkan kemampuan yang dimiliki. Jadi guru hendaklah mencari cara untuk mengurangi kesulitan yang mereka alami dengan mengembangkan kemampuan yang mereka miliki. 2) Program yang disediakan untuk mereka haruslah difokuskan pada hal-hal yang menjadi kelemahan mereka. mereka harus dibimbing untuk memahami kelemahan dan kelebihannya kemudian diarahkan untuk menyadari cara yang tepat untuk mengurangi kesulitannya dalam belajar serta memupuk keberbakatannya. Para guru dan orangtua harus membantu anak-anak ini untuk membentuk konsep diri yang realistis dan sehat sehingga mereka dapat menerima segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Mereka harus disadarkan bahwa mereka dapat mengembangkan cara alternatif dalam berpikir dan berkomunikasi serta dapat belajar sesuai dengan kelebihan yang dimilikinya. Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 27
    • 3) Anak dengan keistimewaan ganda ini membutuhkan kurikulum yang tepat yang memperhatikan kebutuhan-kebutuhan mereka akan pendidikan khusus bagi kedua keistimewaan tersebut. Kebutuhan ini berhubungan dengan keberbakatannya dan kelemahan atau kesulitannya yang spesifik. Jangan sampai perlakukan-perlakuan yang diberikan justru mengahmbat perkembangan dan pengekspresian keberbakatannya. 4. Peran Orang Tua dalam Proses Pembelajaran di Rumah Orang tua adalah orang terdekat yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan anaknya. Marker dan Udall dalam Mohammad Asrori (2008) memberikan beberapa alternatif yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk membantu anaknya yang gifted dan sekaligus berkesulitan belajar, yaitu: 1) Orang tua harus menjadi pendorong yang efektif bagi anaknya. Oleh sebab itu, orang tua juga harus mempelajari betul-betul keadaan anaknya. 2) Carilah orangtua yang juga memiliki anak gifted dan sekaligus berkesulitan belajar agar bisa berbagi pengalaman. Dengan cara demikian diharapkan akan memperoleh cara-cara yang tepat untuk menangani anak. 3) Jika ada, kunjungilah lembaga terdekat yang memiliki program pendidikan khusus untuk anak gifted yang memiliki kesulitan belajar dan mintalah bantuan kepada lembaga tersebut. 4) Carilah terapis atau psikolog yang cocok dengan anak. 5) Orang tua sebaiknya terlibat secara aktif dan proaktif selama proses terapi. 6) Orang tua harus berusaha dengan maksimal untuk meningkatkan pemahaman akan kebutuhan anak agar bisa lebih mudah untuk menerima beberapa hal yang kontradiksi pada diri anaknya. Orang tua kadang-kadang merasa frustasi atau marah terhadap dirinya sendiri karena ada hal-hal yang kontradiksi dalam dirinya. 7) Terimalah anak apa adanya dan kenali betul-betul kelebihan serta kelemahannya. Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 28
    • 8) sediakan lingkungan yang penuh suasana kehangatan dan kasih sayang kemudia lakukanlah komunikasi atau diskusi dengan topik yang menarik bagi anak. 9) Sediakan permainan edukatif yang menarik bagi anak. Masalah-Masalah dalam Belajar dan Cara Mengatasinya 29