Your SlideShare is downloading. ×
  • Like
BUKU SEJARAH KURIKULUM PENDIDIKAN DI INDONESIA
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Now you can save presentations on your phone or tablet

Available for both IPhone and Android

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply

BUKU SEJARAH KURIKULUM PENDIDIKAN DI INDONESIA

  • 5,915 views
Published

PENTING UNTUK DI KETAHUI UNTUK WAWASAN buku sejarah kurikulum pendidikan di indonesia. buku ini dapat di downlode disini mudah-mudahan bermanfaat

PENTING UNTUK DI KETAHUI UNTUK WAWASAN buku sejarah kurikulum pendidikan di indonesia. buku ini dapat di downlode disini mudah-mudahan bermanfaat

Published in Education
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
  • hebat
    Are you sure you want to
    Your message goes here
No Downloads

Views

Total Views
5,915
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
624
Comments
1
Likes
1

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1.   EDISI 2010  Sejarah Kurikulum SD di Indonesia S.Belen Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Nasional Jakarta 2010
  • 2. Sejarah Kurikulum SD di Indonesia: Dari Mengajar tradisional ke belajaraktifPenulis: Dr. S.Belen, S.Pd., B.Phil.Kontributor:A.F.Tangyong. M.A., M.A.Wahyudi SuseloardjoDrs. Sudyono. M.A.Dr. Sediono Abdullah, M.Si.Drs. Arief Sidharta, M.Pd.Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan PengembanganDepartemen Pendidikan NasionalJalan Raya Gunung Sahari No. 4Senen, Jakarta PusatTelepon: ...Faximile: ...
  • 3. Daftar Isi Sejarah Kurikulum SD di Indonesia HalamanKata PengantarDaftar IsiBab I Pendahuluan 1 A. Kurikulum di alam kemerdekaan B. Definisi dan organisasi kurikulum C. Prinsip-prinsip pengambilan keputusan dan proses pengembangan kurikulumBab II Kurikulum SD pada Masa Hindia Belanda A. Sekilas sistem persekolahan dan sekolah dasar pada masa Hindia Belanda B. Kurikulum SD pada masa Hindia Belanda C. Foto-foto keadaan pendidikan pada masa Hindia BelandaBab III Kurikulum SD pada Masa Pendudukan Jepang A. Kebijakan pendidikan pada masa pendudukan Jepang B. Kurikulum SD pada masa pendudukan JepangBab IV Kurikulum SD pada Masa Awal Kemerdekaan dan Masa Pemerintahan Orde Lama A. Landasan hukum perubahan / pengembangan kurikulum B. Dasar pengambilan keputusan kurikulum pada awal kemerdekaan s.d. masa pemerintahan Orde Lama
  • 4. C. Ciri-ciri manusia pada kurikulum pada awal kemerdekaan s.d. masa Orde Lama D. Perkembangan struktur program kurikulum pada awal kemerdekaan s.d. masa Orde Lama E. Perkembangan komponen kurikulum pada awal kemerdekaan s.d. masa Orde Lama F. Prinsip pengembangan kurikulum pada awal kemerdekaan s.d. masa Orde LamaBab V Kurikulum SD pada Masa Pemerintahan Orde Baru A. Landasan hukum perubahan / pengembangan kurikulum B. Dasar pengambilan keputusan kurikulum pada masa Orde Baru C. Ciri-ciri manusia pada kurikulum pada masa Orde Baru D. Perkembangan struktur program kurikulum pada masa Orde Baru E. Perkembangan komponen kurikulum pada masa Orde Baru F. Prinsip pengembangan kurikulum pada masa Orde BaruBab VI Kurikulum SD pada Masa Reformasi A. Landasan hukum perubahan / pengembangan kurikulum B. Dasar pengambilan keputusan kurikulum pada masa reformasi C. Ciri-ciri manusia pada kurikulum pada masa reformasi D. Perkembangan struktur program kurikulum pada
  • 5. masa reformasi E. Perkembangan komponen kurikulum pada masa reformasi F. Prinsip pengembangan kurikulum pada masa reformasiBab VII Perkembangan Mata pelajaran dari Masa ke MasaBab VIII Perkembangan Komponen Kurikulum dari Masa ke MasaBab IX Kronologi Perkembangan Kurikulum: Pengembang & Ciri-ciri KurikulumBab X Refleksi Perkembangan Kurikulum SD di IndonesiaDaftar Pustaka
  • 6. Daftar Tabel HalamanTabel 2.1 Struktur program kurikulum pada sekolah dasar dizaman BelandaTabel 3.1 Daftar Jam Pelajaran bagi Sekolah Rakyat pada masa pendudukan JepangTabel 4.1 Landasan hukum pengembangan kurikulum pada awal kemerdekaan dan masa Orde LamaTabel 4.2 Dasar pengambilan keputusan pada Kurikulum 1947 dan 1964Tabel 4.3 Daftar Jam Pelajaran bagi Sekolah Rakyat yang berbahasa daerah sampai Kelas III (Rencana Pelajaran 1947)Tabel 4.4 Daftar Jam Pelajaran bagi Sekolah Rakyat yang berbahasa pengantar Bahasa Indonesia dari Kelas I (Rencana Pelajaran 1947)Tabel 4.5 Daftar Jam Pelajaran bagi Sekolah Rakyat yang diselenggarakan sore hari (Rencana Pelajaran 1947)Tabel 4.6 Struktur Program dan Pembagian Waktu per Minggu bagi sekolah dasar yang menggunakan bahasa pengantar bahasa daerah di Kelas I s.d. Kelas III (Rencana Pendidikan 1964)Tabel 4.7 Struktur Program dan Pembagian Waktu per Minggu bagi sekolah dasar yang menggunakan bahasa pengantar bahasa
  • 7. Indonesia dari Kelas I (Rencana Pendidikan 1964)Tabel 4.8 Bahan pengajaran mata pelajaran Ilmu Hayat kelas IV SD Kurikulum 1952Tabel 4.9 Bahan pengajaran mata pelajaran IPA kelas IV Kurikulum 1964Tabel 5.1 Landasan hukum pengembangan kurikulum pada awal pada masa Orde LamaTabel 5.2 Dasar pengambilan keputusan pada Kurikulum pada masa Orde BaruTabel 5.3 Kerangka Kurikulum Sekolah Dasar (1968) (Bagi sekolah dasar yang menggunakan bahasa pengantar bahasa daerah sebagai bahasa pengantar)Tabel 5.4 Kerangka Kurikulum Sekolah Dasar (1968) (Bagi sekolah dasar yang berbahasa pengantar bahasa Indonesia dari kelas I)Tabel 5.5 Struktur Program Kurikulum Sekolah Dasar 1975Tabel 5.6 Susunan Program Pengajaran Kurikulum Sekolah Dasar (1984)Tabel 5.7 Susunan Program Pengajaran Kurikulum Sekolah Dasar 1994 *)Tabel 5.8 Garis-garis Besar Program Pengajaran Bidang Studi IPA SD Kelas IVTabel 6.1 Landasan hukum pengembangan kurikulum pada masa reformasiTabel 6.2 Dasar pengambilan keputusan pada Kurikulum 2004 dan 2006
  • 8. Tabel 6.3 Struktur Kurikulum Sekolah Dasar & Madrasah IbtidaiyahTabel 6.4 Struktur Kurikulum SD/MI 2006 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)Tabel 6.5 Struktur Kurikulum SDN Pondok Bambu 14Tabel 6.6 Tabel Kompetensi dasar Kurikulum Berbasis Kompetensi (Kurikuum 2004)Tabel 6.7 Tabel Contoh Kompetensi Dasar Kurikulum 2004Tabel 6.8 Standar kompetensi dan kompetensi dasar IPA kelas IV Kurikulum 2006Tabel 6.9 Perbandingan Kurikulum 2004 dan 2006Tabel 7.1 Perkembangan nama serta pemisahan / penggabungan olahraga dan kesehatan dalam sejarah kurikulum serta alokasi waktunyaTabel 7.2 Perkembangan nama serta pemisahan / penggabungan kesenian dalam sejarah kurikulum serta alokasi waktunyaTabel 7.3 Perkembangan nama serta pemisahan / penggabungan keterampilan dalam sejarah kurikulum serta alokasi waktunyaTabel 8.2 Perbandingan komponen Kurikulum 1947 s.d. 2006Tabel 8.1 Kecenderungan penekanan materi atau kemampuan / kompetensi pada kurikulum IPATabel 9.1 Kronologi Perkembangan Kurikulum di
  • 9. IndonesiaTabel 9.2 Penyusun kurikulum-kurikulum di Indonesia Daftar Bagan & Gambar HalamanBagan 2.1 Sistem Persekolahan Zaman Pemerintahan Hindia Belanda Abad ke-20Bagan 10.1 Perkembangan anutan pendekatan pengembangan kurikulum di negara-negara majuGambar 4. 1 Unsur kurikulumGambar 5.1 Langkah-langkah desain kurikulumGambar 5.2 Inti pengertian belajar aktif tampak pada gambar iniGambar 5.3 Unsur-unsur belajar aktifGambar 5.4 Prinsip-prinsip belajar aktifGambar 6.1 Input, proses, dan outcome kompetensi
  • 10. PENDAHULUANA. Kurikulum di alam kemerdekaanSejak kemerdekaan Indonesia tahun 1945, paling tidak kita telah mengenal 9kurikulum yang lengkap , yaitu kurikulum-kurikulum tahun 1947, 1952, 1964,1968, 1975, 1984, 1994, 2004, dan terakhir 2006. Jeda waktu antara satukurikulum dan kurikulum berikutnya berkisar dari 5, 12, 4, 7, 9, 10, 10, dan 2tahun. Pergantian kurikulum yang semakin cepat dipengaruhi perubahan politiksehingga dalam kurun waktu 7 tahun setelah merdeka kita menerapkan 2kurikulum. Dengan kata lain, turbulensi politik berdampak pergantian kurikulum.Dari tahun 1952 – 1964, selama 12 tahun kita bertahan menerapkan Kurikulum1952. Dari satu segi kenyataan ini dapat dipandang sebagai akibat kurangdiprioritaskannya pendidikan. Atau, karena konsistensi pemikiran pedagogis yangdianut para pengambil keputusan di bidang pendidikan. Kurikulum 1964 hanyaditerapkan 4 tahun, lalu kita beralih ke Kurikulum 1968. Ini disebabkan olehperalihan dari kekuasaan Orde Lama ke Orde Baru.Kurikulum 1968 dilaksanakan selama 7 tahun, kemudian terbit Kurikulum 1975yang cukup komprehensif dari segi pengembangan kurikulum. Kurikulum 1975lahir sebagai dampak semakin terbukanya negara kita terhadap pengaruh Baratsetelah PKI tersingkir dari arena perpolitikan Indonesia. Kurikulum ini lahirsebagai hasil kerja sama internasional karena dunia politik dan ekonomi Indonesiayang semakin terbuka terhadap Blok Barat. Kemudian, lahir Kurikulum 1984sebagai dampak hasil riset pendidikan, inovasi kurikulum dan pendidikan diIndonesia, serta perkembangan di negara-negara lain sejak awal 1970-an yangperlu ditampung dalam kurikulum baru.Pemberlakukan kurikulum baru dalam sejarah pendidikan di Indonesia itu pentingsebagai motor penggerak pembaharuan atau pengadaan berbagai komponenpendidikan yang lain, seperti buku pelajaran, sarana belajar lain, metodologimengajar, penilaian dan ujian, dan kurikulum lembaga pendidikan guru.Kemudian, lahir Kurikulum 1994 untuk menampung hasil inovasi kurikulum danpendidikan yang sudah cukup meyakinkan, pendekatan komunikatif dalam 1
  • 11. bahasa, belajar aktif dalam IPA, IPS, dan mata pelajaran lain, serta perlunyaditerapkan mata pelajaran desain dan teknologi di sekolah. Walaupun padaKurikulum 1947, 1964, dan 1968, lalu kemudian pada Kurikulum 1984 dan 1994pendekatan belajar aktif ditekankan, sejak kemerdekaan, mulai dari Kurikulum1947 sampai dengan Kurikulum 1994, selama 47 atau hampir 50 tahun kita tetapbelum terlepas dari pendekatan pengembangan kurikulum berbasis materi ataupengetahun (content-based curriculum development).B. Definisi dan organisasi kurikulumDefinisi kurikulum menurut tingkatan organisasi kurikulum yang digunakandalam penulisan ini dikemukakan berikut ini. Definisi kurikulum 1. Kurikulum adalah semua pengalaman 33% 33% 33% yang diperoleh siswa di bawah bimbingan para guru. 2. Kurikulum mencakup semua kesempatan belajar yang diadakan oleh sekolah. 3. Kurikulum adalah sebuah rencana untuk ta n .. .. . ... h. fo semua pengalaman pa a pa t an ua of an m m pl l se nc co al m yang dihadapi siswa di a se en ke is re is m m m … … lu … lu sekolah. lu u u um u um um ric ric ric ul ul ul ur ur ur ik C ik ik C C ur ur ur K K K Organisasi kurikulum • Tingkat masyarakat…politisi, panitia khusus, ahli • Tingkat institusi…ditetapkan di sekolah, kabupaten, universitas…biasanya disusun sejalan dengan disiplin mata pelajaran / kuliah • Tingkat instruksional…perencanaan guru dan pengajaran siswa • Tingkat ideologis…teoretisi belajar dan spesialis mata pelajaran 2
  • 12. C. Prinsip-prinsip pengambilan keputusan dan proses pengembangan kurikulumPrinsip-prinsip pengambilan keputusan dan proses pengembangan kurikulum yangberkenaan dengan desain, pengembangan, dan evaluasi dikemukakan berikut ini.Prinsip 1: Keputusan tentang kurikulum harus dibuat berdasarkan alasan-alasanpendidikan yang valid (sahih), bukan berdasarkan alasan-alasan yang kedengaranbagus atau alasan bukan pendidikan.Prinsip 2: Keputusan tentang kurikulum yang bersifat permanen harus dibuatberdasarkan bukti (evidensi) terbaik yang tersedia.Prinsip 3: Keputusan kurikulum harus dibuat dalam konteks tujuan pendidikanyang bersifat umum. 3
  • 13. Prinsip 4: Keputusan kurikulum harus dibuat dalam konteks keputusan yangdibuat sebelumnya dan dalam konteks kebutuhan untuk pembuatan keputusantambahan sehingga keseimbangan dan pertimbangan kurikulum lainnya yangpenting dapat dijamin aman. Prinsip 5: Keputusan kurikulum harus dibuat berdasarkan paduan kekuatan yang berasal dari kodrat dan perkembangan pelajar, kodrat proses belajar, tuntutan masyarakat umumnya, persyaratan dari masyarakat lokal, dan hakikat dan struktur mata pelajaran yang akan dipelajari. Prinsip 6: Keputusan kurikulum harus dibuat secara kooperatif oleh orang- orang yang terlibat dalam dampak keputusan itu dan dengan partisipasi penuh orang-orang yang amat terkena dampak keputusan itu. 4
  • 14. Prinsip 7: Keputusan kurikulum harus memperhatikan fakta-fakta barutentang kehidupan manusia, seperti perkembangan pesat ilmu pengetahuandan kebutuhan akan rasa persatuan dalam keanekaragaman.Prinsip 8: Keputusan kurikulum harus mempertimbangkan banyak perbedaanantar-siswa, terutama yang berhubungan dengan potensi perkembangan siswa,kemampuan intelektualnya, gaya berpikirnya, kemampuan menghadapitekanan teman sebaya, dan kebutuhan akan pendidikan nilai dan penghargaan.Prinsip 9: Keputusan kurikulum harus dibuat berdasarkan pandangan realististentang hal-hal pengorganisasian atau rekayasa yang dapat mempengaruhikualitas keputusan itu sendiri, seperti korelasi atau pemisahan mata pelajaran,distingsi antara materi kurikulum dan pengalaman siswa, dan penggunaanwaktu. 5
  • 15. Prinsip 10: Keputusan kurikulum harus dibuat berdadasarkan beberapapandangan mendahului (antisipatif) tentang cara-cara keputusan itudikomunikasikan dan dibagi.Prinsip 11: Keputusan kurikulum harus dibuat hanya dalam hubungan denganmata pelajaran dan pengalaman siswa yang tidak dapat diberikan secaramemuaskan di luar sekolah. 6
  • 16. KURIKULUM SD PADA MASA HINDIA BELANDAA. Sekilas sistem persekolahan dan sekolah dasar pada masa Hindia BelandaPada masa penjajahan Belanda di tanah air berlaku tiga sistem pendidikan, yaitusistem pendidikan tradisional yang dilakukan di pondok dan padepokan, sistempendidikan Barat yang diperkenalkan penjajah Belanda, dan sistem pendidikanyang berciri nasional yang dirintis para tokoh pergerakan nasional, terutamasistem perguruan Taman Siswa yang dirintis dan dikembangkan Ki HajarDewantara.Pada pendidikan di padepokan seorang cantrik (murid) dididik oleh seorangbegawan (guru) untuk menguasai bidang atau hal tertentu. Kemudian, sistempendidikan seperti ini dilanjutkan dan dikembangkan menjadi sistem pendidikanpondok pesantren. Para murid atau santri dididik oleh seorang ulama yangmenguasai ilmu Agama Islam secara mendalam. Ulama ini disebut kyai. Parasantri tinggal di pondok pesantren atau di pondok-pondok sekitar rumah kyai.Sejak awal abad ke-20, sistem pendidikan tradisional ini terpengaruh sistempendidikan kolonial dan akhirnya ada yang mengadopsi sistem sekolah sepertiyang diperkenalkan Belanda sedangkan pelajaran Quran dan agama dijadikanmata pelajaran wajib. Karena itu, pada tahun 1919 misalnya Sekolah Adabiyah diSumatera Barat amat menyimpang dari cara pendidikan tradisional danberkembang menjadi sekolah serupa HIS. Perbedaan dengan HIS adalah pelajaranQuran dan Agama Islam dimasukkan sebagai mata pelajaran wajib. Selanjutnya,sistem seperti ini berkembang menjadi madrasah. (Mahmud Yunus, 1979 dalamYasin Anwar, 1987).Ciri utama sistem pendidikan kolonial adalah eksploitatif karena bertujuanmenghasilkan tenaga kerja rendahan untuk mendukung kebutuhan ekonomipenjajah. Ciri yang kedua adalah diskriminatif rasial karena membeda-bedakanperlakuan kepada anak-anak golongan Belanda atau Eropa, golongan TimurAsing, dan pribumi. Anak-anak pribumi juga dibedakan antara anak-anak 7
  • 17. keluarga ningrat atau bangsawan (aristokrat), pemimpin agama (ulama), dan anak-anak rakyat biasa.Bagan 2.1 Sistem Persekolahan Zaman Pemerintahan Hindia Belanda Abad ke-2065 Technische Geneeskundige Rechts4 Pendidikan Hoogeschool Hoogeschool Hoogeschool3 tinggi (Sekolah Tinggi (Sekolah Tinggi (Sekolah Tinggi2 Teknik) Kedokteran) Hukum)18765 Mid.Vak- Kweekschool AMS4 Pendidikan school (Sekolah (Sekolah menengah Guru) Menengah LYCEA Atas)32 HBS1 V MULO10 HBS Eur. Vak-school (Sek.9 III Kejuruan Eropa) Voorklas87 Schakel-6 Pendidikan Inlandsche-school School (Sek. Inl. rendah (Sekolah Bumiputera Kelas 1 Peralihan) Vakschool ELS (Sekolah5 (Sekolah Kejuruan) Rendah Eropa) HCS HIS Volk- Vervolg-3 (Sekolah (Sekolah school school2 Cina Bumiputera (Sekolah 2 de Inlandsche-1 Belanda) Belanda Desa) school (SD Kelas II) EROPA BELANDA BUMIPUTERABerikut ini dikemukakan tentang beragam jenis sekolah pada masa penjajahanBelanda yang dapat dibedakan dalam tiga golongan. 8
  • 18. 1. Sekolah untuk anak pribumi yang terdiri dari Volksschool atau Sekolah Desa 3 tahun berbahasa pengantar bahasa daerah. Yang ditekankan pada sekolah desa adalah pelajaran membaca, menulis, dan berhitung. Tamatan sekolah desa dapat meneruskan ke sekolah sambungan (Vervolgschool) 2 tahun dengan bahasa pengantar bahasa daerah serta Sekolah Peralihan (Schakelschool) yaitu sekolah lanjutan untuk sekolah desa dengan lama belajar seluruhnya 5 tahun dan berbahasa Belanda dalam kegiatan belajar-mengajar. Tamatan sekolah ini dapat melanjutkan ke sekolah guru (CVO) dan Normal School atau ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau sekolah rendah yang diperluas (kira- kiara setara dengan SMP masa kini). Selain itu, dikenal pula Erste Indlandscheschool (Sekolah Kelas I) dan Tweede Inlandscheschool (Sekolah Kelas II).2. Sekolah untuk anak keluarga ningrat atau bangsawan, tokoh-tokoh terkemuka atau pegawai negeri adalah HIS (Hollandsch Inlandscheschool) 7 tahun yang sering juga disebut Sekolah Bumiputera Belanda yang berbahasa pengantar bahasa Belanda. Sedangkan, untuk anak rakyat jelata dapat bersekolah di Sekolah Bumiputera (Indlancsheschool) 5 tahun yang berbahasa pengantar bahasa daerah. Kemudian, anak-anak pribumi tamatan MULO dapat masuk ke Kweekschool (KS atau sekolah guru) atau Stovia (School Tot Opleiding van Inlansche Artsen) yang sering disebut juga sebagai Sekolah Dokter Jawa dengan masa belajar 7 tahun.3. Sekolah-sekolah untuk golongan Timur Asing seperti Sekolah Cina 5 tahun yang berbahasa pengantar bahasa Cina dan HCS (Hollandsch Chineeseschool) 7 tahun yang berbahasa pengantar bahasa Belanda. Selain itu ada pula sekolah untuk anak keturunan Arab, yaitu Hollandsch Arabischeschool (HAS) dan untuk anak-anak orang Ambon, yaitu Ambonsche Burgerschool dan untuk anak-anak serdadu KNIL asal Ambon – Ambonsche Soldaten School (ASS) yang terdapat di kota-kota garnisun besar, seperti Magelang, Jakarta atau Padang. Selain itu, atas usaha swasta seperti Zending dan Missi didirikan pula sekolah Jawa-Belanda atau Hollandsch Javaanscheschool (HJS). Untuk anak bangsawan didirikan juga sekolah dasar khusus yang disebut Sekolah Raja 9
  • 19. (Hoofden School). Sekolah ini semula didirikan di Tondano pada tahun 1865 dan 1872 tapi kemudian diintegrasikan ke ELS atau HIS. Tamatan sekolah- sekolah ini dapat melanjutkan ke MULO dan seterusnya ke AMS (Algemeene Middelbar School yang dapat disetarakan dengan SMA sekarang) 3 tahun mirip HBS (Hoogere Burger School) atau sekolah menengah lanjutan dari ELS.4. Sekolah-sekolah untuk anak-anak Eropa, keturunan Timur Asing atau tokoh pribumi terkemuka dari pendidikan dasar s.d. pendidikan tinggi, yaitu ELS (Europesche Lagere School) 7 tahun yang berbahasa pengantar bahasa Belanda. Tamatannya melanjutkan ke HBS (Hoogere Burger School) 3 tahun dan 5 tahun atau Lyceum (Lycea) 6 tahun, Middelbare Meisjeschool 5 tahun, Rechts Hoogeschool 5 tahun, atau Geneeskundige Hoogeschool atau Sekolah Tinggi Kedokteran 8 setengah tahun dan Kedokteran Gigi 5 tahun.Sekolah dan kursus pada strata yang lebih tinggi yang didirikan Belanda antaralain GHS (Geneeskundige Hoogeschool), HAC (Hoofd Akte Cursus), RHS(Rechts Hoogeschool), THS (Technische Hogeschool), HKS (HogeereKweekschool), HIK (Hollandsch Inlandsche Kweekschool)Di luar jalur resmi pemerintah Hindia Belanda, ada sekolah-sekolah partikelir(swasta), seperti sekolah Taman Siswa, perguruan rakyat, Kristen dan Katolik.Pada jalur pendidikan Islam ada pendidikan yang diselenggarakan oleh PerguruanMuhammadiyah, madrasah, dan pondok pesantren.Peraturan pendidikan dasar untuk masyarakat pada waktu Hindia Belanda pertamakali dikeluarkan pada tahun 1848 dan disempurnakan pada tahun 1892. Peraturanyang disempurnakan itu menetapkan bahwa pendidikan dasar harus ada padasetiap karesidenan, kabupaten, kawedanan atau pusat-pusat kerajinan,perdagangan, atau tempat yang dianggap perlu. Peraturan yang terakhir (1898)diterapkan pada tahun 1901 setelah adanya Politik Etis atau Politik Balas Budidari Kerajaian Belanda, yang diucapkan pada pidato penobatan Ratu BelandaWilhelmina pada 17 September 1901. Inti pidato itu berisi tiga hal penting, yaituirigasi, transmigrasi, dan pendidikan. 10
  • 20. Pembedaan sistem persekolahan ini didorong oleh politik penjajah untuk tetapmenjajah Indonesia melalui strategi divide et impera, memecah-mecah danmenguasai. Anak-anak Belanda dan turunan Eropa mendapatkan privileseistimewa agar tamatan perguruan ini tetap berperan sebagai pemimpin. Tamatansekolah-sekolah untuk turunan Timur Asing, seperti Cina, Arab, dan India dapatmenjadi penyanggah dalam beragam kegiatan perdagangan / ekonomi.Sedangkan, tamatan sekolah untuk anak pribumi dapat menjadi tenaga rendahanuntuk mendukung administrasi Belanda sebagai juru tulis dan berbagai pekerjaanrendah lainnya, terutama sebagai pegawai rendah dalam berbagai kantorpemerintah, perusahaan, dan perkebunan pemerintah Belanda. Tenaga rendahanini dapat dibayar murah sehingga pemerintah Belanda tidak perlu mendatangkantenaga seperti ini dari negeri Belanda yang harus dibayar tinggi.(Sumber: Jasin Anwar, 1987; Lima Puluh Tahun Perkembangan PendidikanIndonesia; http://www.ngobrolaja.com/showthread.php?t=119659, Wikipediabahasa Indonesia, ensiklopedia bebas http://id.wikipedia.org/wiki/Hollandsch-Inlandsche_School, dan M.Ryzki Wiryawan yang diambil dari P. Swantoro, DariBuku ke Buku, Gramedia : 2002, Keluarga EX-HIK Yogyakarta, Gema EdisiYubileum, Forum Komunikasi keluarga Ex-HIK: 1987).B. Kurikulum SD pada masa Hindia BelandaKurikulum adalah istilah yang dikenal kemudian di alam Indonesia merdeka yangsecara resmi digunakan untuk memberi nama kepada kurikulum yang lahir tahun1968 sebagai Kurikulum 1968. Pada masa penjajahan Belanda digunakan istilahleerplan atau rencana pelajaran yang memuat daftar mata pelajaran dan alokasi(penjatahan) waktu per mata pelajaran. Sedangkan, istilah leervak atau vak yangdipakai berarti mata pelajaran.Dalam buku ini:● Rencana Pelajaran 1947 disebut penulis dengan istilah Kurikulum SD (Sekolah Dasar) 1947 atau disingkat Kurikulum 1947 yang berlaku untuk SD sesuai dengan konteks bahasan, sedangkan jika disebut bersama-sama dengan 11
  • 21. kurikulum sekolah pada jenjang menengah akan digunakan istilah Kurikulum SD 1947, Kurikulum SMP 1947 atau Kurikulum SMA 1947; ● Rencana Pelajaran Terurai 1947 untuk Sekolah Rakyat dengan istilah Kurikulum SD 1947 atau Kurikulum 1947; ● Rencana Pendidikan Dasar dengan 1964 dengan istilah Kurikulum SD 1964 atau Kurikulum 1964; ● Kurikulum SD 1968 atau Kurikulum 1968; ● Kurikulum SD 1975 atau Kurikulum 1975; ● Kurikulum SD 1994 atau Kurikulum 1994; ● Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004 dengan Kurikulum 2004; dan ● Kurikulum Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 dengan Kurikulum 2006. Tanpa merinci jumlah jam per minggu mata-mata pelajaran pada berbagai jenis sekolah dasar pada zaman Belanda seperti dikemukakan Nasution (2995) disajikan berikut ini. Tabel 2.1 Struktur program kurikulum pada sekolah dasar di zaman Belanda ELS HIS HCS Eerste Tweede Volkschool Inlandscheschool Indlandschesc (Sekolah hool Desa)Pelajaran Wajib: Membaca Bahasa Cina Membaca & Bahasa Kelas I:Membaca Menulis Bahasa Inggris Menulis Bahasa IndonesiaMenulis Berhitung Bahasa Prancis Daerah Berhitung Alfabet &Berhitung Bahasa Belanda Bahasa Belanda Menggambar BahasaBahasa Belanda Ilmu Bumi Berhitung Bahasa Indonesia Menyanyi IndonesiaSejarah Bahasa Daerah Membaca Berhitung Ilmu Bumi Bercakap-Ilmu Bumi Bahasa Indonesia Menulis Ilmu Bumi Ilmu Alam cakap Bahasa Jawa ** Sejarah Indonesia Bahasa Daerah BerhitungPelajaran Tambahan: Bahasa Jerman Ilmu Bumi Bahasa Belanda KesenianBahasa Prancis Bahasa Inggris Sejarah Dunia Ilmu Alam Kelas II:Bahasa Jerman Sejarah Dunia Matematika * Sejarah Lokal Alfabet &Bahasa Inggris Matematika * Kesenian Menggambar Tulisan ArabSejarah Dunia Kesenian/Keterampila Pendidikan Ukur Tanah MendengarMatematika * n Jasmani MenyanyiKesenian/Keterampilan Pendidikan Jasmani Kelas III:Pendidikan Jasmani Ulangan Berhitung 12
  • 22. Diolah kembali oleh penulis dari Ramli Murni, 2010Catatan tambahan penulis:ELS: Europesche Lagere School atau Sekolah Rendah Eropa 7 tahun.HIS: Hollandsch Inlandscheschool atau Sekolah Bumiputera Belanda 7 tahun.HCS: Hollandsch Chineeseschool atau Sekolah Cina Belanda 7 tahun.Eerste Inlandscheschool: Sekolah Bumiputera Kelas I.Tweede Indlandsceschool: Sekolah Bumiputera Kelas II.Matematika * : Pada masa ini istilah Matematika belum dikenal. Kemungkinanmata pelajaran ini terdiri dari Aljabar dan Ilmu Ukur.Bahasa Jawa **: Kemungkinan hanya berlaku di Jawa Tengah, Yogyakarta, danJawa TimurC. Foto-foto keadaan pendidikan pada masa Hindia BelandaBerikut ini disajikan foto-foto yang menggambarkan keadaan pendidikan padamasa Hindia Belanda. Murid Vervolgschool, sekolah sambungan dari Sekolah Desa (Volksschool) melakukan gimnastik atau senam kesegaran jasmani 13
  • 23. Pada sekolah desa digunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar dan pada foto ini tampak penulisan bukan dalam aksara Latin tapi aksara Jawa Sekolah Taman Siswa di Bandung 14
  • 24. Sekolah seperti ini menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar Anak keluarga kaya dan terhormat ke sekolah naik dokar atau delman 15
  • 25. Ini adalah dokar atau delman yang digunakan Bung Hatta ketika bersekolah di Bukittinggi dahulu pada zaman penjajahan Belanda Di ruang kelas sekolah untuk anak pribumi 16
  • 26. Ibu Soerjoadipoetro sedang berbincang-bincang dengan siswi-siswi NationalOnderwijs Instituut Lembaga Pengajaran Bangsa Taman Siswa di BandungIjazah Meisjes Vervolgschool (Sekolah Sambungan khusus untuk wanita) di Mojokerto, Jawa Timur, tahun1937 17
  • 27. Ijazah Meisjes Vervolgschool di Garut, Jawa Barat, tahun 1937 Ijasah Sekolah Desa di Mojokerto tahun 1922 18
  • 28. Ijasah MULO (setingkat SMP) tahun 1933Kelas lima sekolah dasar Modjowarno di Jawa Timur. Seorang siswa calon guru sedang mengajar, didampingi seorang guru pribumi 19
  • 29. Tampak siswa turunan Belanda naik mobil sekolah di Pengalengan, Jawa Barat Ruang menggambar sekolah guru di Jawa 20
  • 30. Sekelompok siswa HIS sedang mengunjungi Cisarua di bawah pengawasan siswaHogeere Kweekschool (sekolah pendidikan guru) Bandung di tahun ajaran 1925- 1926 Sekolah pribumi di Barabai, Kalimantan Selatan 21
  • 31. Sekolah pribumi (1915 – 1949) pada perusahaan Tanjung Morawa Senembah, Sumatera Utara Sekolah swasta pribumi di Bogor, Jawa Barat 22
  • 32. Siswa dari Hogeere Kweekschool (HKS) di Bandung mengajar senam anak-anak murid dari Hollands Inlandseschool (HIS) tahun ajaran 1925-1926 23
  • 33. Rapor sekolah zaman Belanda dari Sekolah St. Ursula, Bandung, tahun ajaran 1933 – 1934(Sumber foto: Diambil dari internet, terutama dari koleksi Tropenmuseum) 24
  • 34. KURIKULUM SD PADA MASA PENDUDUKAN JEPANGA. Kebijakan pendidikan pada masa pendudukan JepangPada masa pendudukan Jepang, sekolah-sekolah berbahasa Belanda ditutup.Seluruh sekolah dasar hanyalah berbentuk SR atau Sekolah Rakyat dengan lamabelajar 6 tahun. Dengan demikian, masa pendudukan Jepang menyediakan jalanuntuk menyederhanakan dan menyeragamkan sistem persekolahan yangbermacam-macam yang berciri diskriminatif.Keadaan sekolah dasar sebelum dan sesudah pendudukan Jepang di Indonesiakurang jelas karena langkanya data otentik. Dokumen militer Jepang yang disebut‘Jawa ni okeru bunkyō no gaikyō’ menjadi satu sumber yang penting tentang halini. Jumlah sekolah dasar dan siswa dilaporkan menurun drastis. Namun dalamartikel Murni Ramli (Pascasarjana Pendidikan dan Pengembangan Sumber DayaManusia, Universitas Nagoya, Jepang) “Primary School System in Java Beforeand Under Japanese Occupation (1940 – 1944)” dikemukakan bahwa jumlahsekolah dasar tidak menurun secara signifikan, dan bahkan jumlah siswameningkat di Jawa. Sistem satu guru dua kelas dan satu ruang untuk dua kelasditerapkan untuk menanggulangi kekurangan guru. Kurikulum “di-Jepang-kan”melalui penerapan mata pelajaran baru, seperti bahasa Jepang, pendidikan mental,pendidikan jasmani, dan kegiatan keterampilan. Sekolah dasar pada masapendudukan Jepang menekankan pendidikan praktis, tidak seperti sistem Belandayang berciri akademis.Pendudukan Jepang hanya berlangsung tiga setengah tahun, namun munculkebijakan pendidikan penting yang berlangsung terus sampai sekarang. Misalnya,sistem 6 tahun sekolah dasar, 3 tahun sekolah menengah pertama, dan 3 tahunsekolah menengah atas (sistem 6 – 3 – 3). Pendidikan jasmani atau senam fisik(disebut taisō) secara rutin dipraktikkan pagi hari pada waktu yang sama diseluruh Indonesia dan ada yang berpendapat bahwa kebiasaan ini merupakan asal-mula Senam Pagi yang diwajibkan di semua sekolah dan kantor pemerintah padasalah satu hari dalam seminggu selama era pemerintahan Soeharto. 25
  • 35. R.Thomas Murray (1966 seperti yang dikutip Murni Ramli) mengungkapkanbeberapa kebijakan oleh militer Jepang di Indonesia, yaitu:● Menghapus bahasa Belanda di sekolah-sekolah;● Melarang penggunaan dan pengajaran bahasa Inggris dan Prancis di sekolah menengah dengan alasan itu adalah “bahasa musuh;● Pengajaran bahasa Jepang di sekolah dasar dan menengah;● Menetapkan bahasa Melayu / bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang digunakan di sekolah dan pemerintahan.● Menekankan kegiatan jasmani dan mengintensifkan latihan militer di sekolah menengah;● Menerapkan pekerjaan tangan atau kerja bakti untuk mendukung perang dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti menanam sayur, beternak ikan atau hewan;● Mereorganisasi beberapa sekolah menengah Belanda menjadi sekolah kejuruan;● Menghapus pengajaran sejarah Belanda dan Eropa dan menggantinya dengan sejarah Asia dan Indonesia.(Sumber: Murni Ramli pada International Journal of History Education No 1. Vol.XI, June 2010)Terbanyak literatur menyatakan bahwa semua jenis sekolah dasar disatukanmenjadi Sekolah Rakyat (Kokumingakkō). Namun, menurut bunkyō no gaikyō,bab 2, dan gakkōkyouiku (pendidikan formal), bagian 2, kankōritsushokyōiku(Sekolah Negeri dan Swasta), ada beberapa model Sekolah Rakyat. Pertama,Sekolah Rakyat (Kokumingakō) yang memberikan pelajaran dasar (shotōka) danpelajaran lanjutan atau komprehensif (futsūka), masing-masing diselenggarakandalam 3 tahun. Kedua, Sekolah Pertama (otōkokumingakkō), yang hanyamemberikan pendidikan selama 3 tahun. Ketiga, Sekolah Rakyat yang hanyamemberikan pendidikan komprehensif (disebut Futsūka kokumingakkō). Sekolahjenis ini memiliki tipe yang lain, yaitu sekolah 4 tahun dan sekolah 7 tahun. Padatahun ajaran 1944, semua sekolah jenis ini dijadikan sekolah 3 tahun dan semua 26
  • 36. Sekolah Rakyat (Shotōkokumingakkō) dijadikan sekolah 6 tahun. (Sumber:bunkyō no gaikyō : halaman 34-35 seperti dikutip Ramli Murni, 2010).Kebanyakan sekolah rakyat 6 tahun di Jawa menggunakan bahasa daerah sebagaibahasa pengantar, seperti bahasa Melayu, Jawa, Sunda, dan Madura. Siswa yangmenyelesaikan sekolah rakyat hanya sampai kelas V tidak menerima ijasahkelulusan, tapi menerima semacam surat tanda tamat belajar yang dapatdigunakan untuk bekerja di masyarakat sedangkan siswa yang sampai kelas VIatau sampai 7 tahun di sekolah rakyat mendapatkan ijasah kelulusan yang dapatdigunakan untuk melanjutkan ke sekolah menengah. Kedua sistem sekolah dasarini diadopsi oleh Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP)dalam proposalnya pada tahun 1946 seperti dikutip Tilaar (1995:72). Namun,Panitya Penyelidik Pengajaran pada tahun 1947 hanya menerima sekolah rakyat6 tahun dan menghapuskan tipe sekolah yang lain.B. Kurikulum SD pada masa pendudukan JepangLiteratur tentang kurikulum pada masa pendudukan Jepang amat langka. Karenaitu, pada bagian ini hanya dikemukakan tentang struktur program kurikulumsekolah dasar yang berisi daftar mata pelajaran dan alokasi waktu tiap matapelajaran per minggu. Tabel 3.1 Daftar Jam Pelajaran bagi Sekolah Rakyat Pada masa pendudukan JepangNo. Mata Pelajaran Kelas I II III IV V VI1 Pendidikan semangat 2 2 2 2 2 22 Bahasa Jepang 3 4 5 6 6 63 Bahasa Indonesia - - 4 4 5 54 Bahasa Daerah 6 6 4 3 3 25 Sejarah - - - 1 1 1 27
  • 37. No. Mata Pelajaran Kelas6 Ilmu Bumi - - - 1 2 17 Berhitung 4 5 5 4 4 48 Ilmu Alam - - - 1 1 29 Pendidikan Jasmani 3 3 3 310 Seni Suara 4 4 2 2 1 111 Kaligrafi 1 1 1 1 0 012 Pertukangan Kayu 2 2 2 2 2 213 Menggambar 2 2 1 1 1 114 Latihan Kerja - - 1 1 1 115 Ekonomi / Industri - - - 1 2 216 Pekerjaan Rumah Tangga - - - 1 2 3 Jumlah seluruhnya 24 26 30 34 36 36 (35) (38) (38)Angka total dalam kurung adalah jumlah jam per minggu untuk sekolah anakperempuan.(Sumber: bunkyō no gaikyō seperti ditulis Ramli Murni, 2010) 28
  • 38. KURIKULUM SD PADA AWAL KEMERDEKAAN DAN MASA PEMERINTAHAN ORDE LAMA A. Landasan hukum perubahan / pengembangan kurikulum Tabel 4.1 Landasan hukum pengembangan kurikulum pada awal kemerdekaan dan masa Orde LamaKurikulum Pancasila & TAP MPR & UU Peraturan Keputusan Menteri UUD 1945 GBHN Pemerintah1947 Pancasila dan Instruksi Menteri UUD 1945 Pengajaran RI 29 Sept 1945 tentang pedoman penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran, a.l. agar segala usaha pendidikan dan pengajaran berlandaskan dasar kebangsaan Indonesia, memelihara dan menguatkan “rasa cinta Nusa dan Bangsa dalam hati sanubari murid-murid dan pelajar-pelajar dengan memasukkan semangat kebangsaan dalam segala pelajaran, serta menghapuskan segala isi pengajaran yang dapat melemahkan semangat itu.”1964 Manipol Tap MPRS No. UU POKOK Terbit tanpa keputusan (Manifesto II / MPRS / PENDIDIKAN No. Menteri tapi hanya dengan Politik) dan 1960: Politik 4 / 1950 (yo. No. 12 kata pengantar Pembantu Usdek (UUD dan sistem / 1954 Pasal 10, Menteri 29
  • 39. Kurikulum Pancasila & TAP MPR & UU Peraturan Keputusan Menteri UUD 1945 GBHN Pemerintah 1945, pendidikan Ayat 1: Semua Bidang Teknis Pendidikan, Sosialisme nasional ... anak-anak yang Depdikbud. Indonesia, supaya sudah berumur 6 Demokrasi melahirkan tahun berhak dan Terpimpin, warga negara yang sudah berumur Ekonomi Indonesia yang 8 tahun diwajibkan Terpimpin, dan berjiwa belajar di sekolah, Kepribadian Pancasila ..., sedikitnya 6 tahun Indonesia yang berjiwa lamanya. dengan poros patriot komplit, Nasakom supaya (Nasional- melahirkan Agama- tenaga-tenaga Komunis) kejuruan yang sebagai ahli dan kekuatan berjiwa pelaksanaan revolusi dalam Agustus 1945, mencapai suatu politik tujuan revolusi dan sistem nasional. pendidikan Kebijakan: yang Pancasila = menitikberatka dasar n pendidikan pendidikan kejuruan. nasional dan Pancawardhan a = sistem pendidikan nasional. 30
  • 40. Tanggal 29 Desember 1945 Badan Pekerja KNIP (Komite Nasional IndonesiaPusat) mengusulkan kepada Kementerian Pengajaran untuk segera menyusunpedoman pendidikan dan pengajaran yang a.l.: 1) Sesuai dengan dasar susunan Negara Republik Indonesia, 2) Paham perseorangan haruslah diganti denganpahal kesusilaan dan rasa peri kemanusiaan yang tinggi, 3) Sesuai dengan dasar keadilan sosial, semua sekolah harus terbuka untuk tiap penduduk negara, 4) Untuk memperkuat kesatuan rakyat hendaklah diadakan satu macam sekolah (yang lama belajarnya 6 tahun untuk tiap-tiap anak-anak Indonesia) lambat laun harus dapat dilaksanakan secara merata. (Sumber Jasin Anwar 1987 dari Soegarda Poerbakawatja, Pendidikan di Alam Indonesia Merdeka, Jakarta: Gunung Agung, 1972).Dalam rapat-rapat Panitia Penyelidik Pengajaran, Ki Hadjar Dewantaramenekankan pentingnya dasar kebangsaan yang dihubungukannya bukan hanyadengan UUD 1945, Pasal 31, Ayat 2 (sistem pengajaran nasional), tetapi jugadengan Pasal 32 (kebudayaan nasional Indonesia) Pasal 36 (Bahasa Indonesia),Pasal 27 Ayat 1 (persamaan kedudukan segala warga negara di dalam hukumpemerintahan) dan Ayat 2 (hak tiap-tiap warga negara atas pekerjaan dankehidupan yang layak bagi kemanusiaan.“Teranglah dari fatsal-fatsal dalam Undang-Undang Dasar tersebut itu, bahwapendidikan dan pengajaran di dalam Republik Indonesia haruslah berdasarkankebudayaan dan kemasyarakatan bangsa Indonesia menuju ke arah kebahagiaanhidup batin serta keselamatan hidup lahir.” (Notula rapat Panitia PenyelidikPengajaran, 12-5-1946) dan lampirannya).Di samping dasar kebangsaan, sila-sila lain pun digunakan sebagai dasar untukmenentukan isi pendidikan dan pengajaran. Misalnya, Sila Ketuhanan Yang MahaEsa, dengan menunjuk Pasal 29 UUD 1945 sebagai dasar untuk mengusulkandimasukkannya pelajaran agama ke dalam rencana pelajaran sekolah-sekolahnegeri. 31
  • 41. Dalam pembicaraan komisi-komisi Panita Penyelidik, dasar kebangsaan sangatmenonjol dalam menentukan isi dan susunan pendidikan dan pengajaran yangsesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan kebutuhan bangsa Indonesia. Tujuannyaadalah untuk menarik garis pemisah yang tegas antara pendidikan dan pengajarankolonial dan pendidikan dan pengajaran nasional. Ini adalah gambaran penerapanPancasila dan kondisi yang melahirkan Rencana Pelajaran (Kurikulum) 1947.UU No. 4 Tahun 1950 tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolahmerumuskan tujuan kurikuler pendidikan rendah sebagai berikut:Kurikulum pendidikan rendah ditujukan untuk menyiapkan anak agar memilikidasar-dasar pengetahuan, kecakapan, dan ketangkasan baik lahir maupun batin,serta mengembangkan bakat dan minat.B. Dasar pengambilan keputusan kurikulum pada awal kemerdekaan s.d. masa pemerintahan Orde LamaSesuai dengan paparan tentang dasar keputusan tentang kurikulum seperti telahdikemukakan pada Bab I. Pendahuluan, berikut ini disajikan hasil kajian tentangdasar-dasar yang digunakan para pengembang kurikulum dalam menyusunKurikulum 1947 Kurikulum 1964. Kurikulum 1952 tidak dimasukkan karenasumber kepustakaannya amat terbatas, hanya satu buku tentang Rencana PelajaranTerurai untuk Sekolah Rakyat 3 dan 6 Tahun.Tabel 4.2 Dasar pengambilan keputusan pada Kurikulum 1947 dan 1964 Dasar keputusan tentang Kurikulum 1947 Kurikulum 1964 kurikulum1. Alasan pedagogis yang sahih V Pengaruh psikologi # Dominan pengaruh politik belajar & praktik sekolah kebangsaan2. Bukti (evidensi) terbaik yang V Pengalaman zaman V Bukti pengalaman transisitersedia penjajahan & sekolah dari penjajahan ke alam kebangsaan merdeka 32
  • 42. Dasar keputusan tentang Kurikulum 1947 Kurikulum 1964 kurikulum3. Konteks tujuan pendidikan yang V Pancasila, UUD 1945, V Manusia sosialis Indonesiaumum warga negara yang (Tap MPRS No. II/1960) humanis (Kepmen PP&K 1946)4. Konteks keputusan sebelumnya V V& kebutuhan keputusan tambahan5. Paduan kekuatan pelajar, proses V Tuntutan pendidikan V Tuntutan Pancawardhanabelajar, tuntutan masyarakat & di alam kemerdekaan & kerja tanganmata pelajaran6. Kerja sama orang yang terlibat & X Hanya Panitia X Hanya lembaga strukturalorang yang paling terkena dampak Penyelidik Pengajaran Depdikdasbudkeputusan7. Fakta baru kehidupan seperti V Nasionalisme negara V Nasionalisme & tuntutanperkembangan ilmu, rasa persatuan baru merdeka perkembangan ilmu& keanekaragaman8. Perbedaan individual siswa V Pengantar bahasa V Pengantar bahasa daerah & daerah & bahasa bahasa Indonesia Indonesia9. Pandangan realistis V Tampak dalam V Mulai ide bidang studipengorganisasian: desain struktur program, matakurikulum, pengalaman siswa, pelajaran terpisahpengaturan waktu10. Pandangan tentang cara X Xkomunikasi & diseminasikurikulum11. Pengalaman siswa yang tidak V Vdapat diperoleh dengan memuaskandi luar sekolah 33
  • 43. C. Ciri-ciri manusia pada kurikulum pada awal kemerdekaan s.d. masa Orde LamaKurikulum 1947: ● Perasaan bakti kepada Tuhan YME ● Perasaan cinta kepada ibu dan bapak ● Perasaan cinta kepada alam, negara, bangsa, dan kebudayaan ● Perasaan berhak dan wajib ikut memajukan negaranya menurut pembawaan dan kekuatannya ● Keyakinan bahwa orang menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga dan masyarakat ● Keyakinan bahwa orang hidup dalam masyarakat harus tunduk pada tata tertib; ● Keyakinan pada dasarnya manusia itu sama harganya karena itu harus hormat-menghormati, berdasar rasa keadilan, dengan berpegang teguh atas harga diri sendiri ● Keyakinan negara memerlukan warga negara yang rajin bekerja, tahu kewajiban, judur dalam pikiran dan tindakan(Keputusan Menteri PP&K 1946 No. 1186/Bahg.A)Tujuan institusional sekolah dasar pada Kurikulum 1947:Tujuan pendidikan di sekolah rendah itu, agar murid-murid lambat laun denganrasa tanggung jawab: ● makin dapat menyelenggarakan sendiri kesehatannya, ● rasa bahagia serta ● faham hidupnya bersama penyesuaian diri dengan corak kebangsaan Indonesia (yang berdasar Ketuhanan YME dan kemanusiaan yang adil dan beradab), ● dan makin tegas hasratnya untuk mengembangkan (dan mempergunakan) jiwa-raganya ke arah keluhuran kebudayaan serta kemakmuran Republik 34
  • 44. Indonesia (sebagai negara kesatuan yang berbentuk kedaulatan ra’yat dan keadislan sosial).(Sumber: Laporan Panitia Penyelidik Pengajaran, Bagian Pengajarana Rendah,1946)Kurikulum 1964: ● Semangat patriot ● Gotong royong ● Bersahaja ● Mengutamakan kejujuran ● Mendahulukan kewajiban daripada hak ● Mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi ● Susila dan budi luhur ● Kerelaan berkorban ● Hidup hemat ● Disiplin ● Kepandaian untuk menghargai waktu ● Cara berpikir rasional dan ekonomis ● Kesadaran bekerja untuk membangun dengan kerja keras(Sumber: Tap MPRS No. II/MPRS/1960: Gambaran manusia sosialis Indonesiayang dimuat juga dalam Lampiran Pola Pembangunan Nasional SemestaBerencana 1961). 35
  • 45. D. Perkembangan struktur program kurikulum pada awal kemerdekaan s.d. masa Orde Lama Tabel 4.3 Daftar Jam Pelajaran bagi Sekolah Rakyat Yang berbahasa daerah sampai Kelas III (Rencana Pelajaran 1947)No. Mata Pelajaran Kelas Keterangan I II III IV V VI Di Kelas I1 Bahasa Indonesia - - 8 8 8 8 dan II lama2 Bahasa Daerah 10 10 6 4 4 4 tiap jam3 Berhitung 6 6 7 7 7 7 pelajaran: 304 Ilmu Alam - - - - 1 1 menit; di5 Ilmu Hayat * - - - 2 2 2 Kelas IV ke6 Ilmu Bumi - - 1 1 2 2 atas: 40 menit7 Sejarah - - - 1 2 28 Menggambar - - - - 2 29 Menulis 4 4 3 3 - -10 Seni Suara 2 2 2 2 2 211 Pekerjaan Tangan 1 1 2 2 2 212 Pekerjaan Keputrian ** - - - (1) (2) (2)13 Gerak Badan *** 3 3 3 3 3 314 Kebersihan dan Kesehatan 1 1 1 1 1 115 Didikan Budi Pekerti 1 1 2 2 2 3 Jumlah **** 28 28 35 36 38 3916 Pendidikan Agama ***** - - - 2 2 2 Jumlah seluruhnya 28 28 35 38 40 41 Ε. Mencakup Ilmu Tumbuh-tumbuhan, hewan, dan tubuh manusia. ** Diadakan pada hari Jumat sesudah Pukul 11. *** Termasuk juga tari dan pencak. **** Berdasarkan Keputusan Menteri PP dan K 19 – 11-1946, No. 1153/A. 36
  • 46. ***** Berdasarkan Penetapan Bersama Menteri PP dan K dan Menteri Agama. Tabel 4.4 Daftar Jam Pelajaran bagi Sekolah Rakyat Yang berbahasa pengantar Bahasa Indonesia dari Kelas I (Rencana Pelajaran 1947)No. Mata Pelajaran Kelas Keterangan I II III IV V VI Di Kelas I1 Bahasa Indonesia 10 10 8 8 8 8 dan II lama2 Berhitung 6 6 8 7 7 7 tiap jam3 Ilmu Alam - - - - 1 1 pelajaran: 304 Ilmu Hayat * - - - 2 2 2 menit; di5 Ilmu Bumi - - 1 1 2 2 Kelas IV ke6 Sejarah - - - 1 2 2 atas: 40 menit7 Menggambar - - - - 2 28 Menulis 4 4 4 4 - -9 Seni Suara 2 2 3 3 3 310 Pekerjaan Tangan 1 1 3 3 3 311 Pekerjaan Keputrian ** - - - (1) (2) (2)12 Gerak Badan *** 3 3 3 3 3 313 Kebersihan dan Kesehatan 1 1 1 1 1 114 Didikan Budi Pekerti 1 1 2 2 2 3 Jumlah **** 28 28 33 35 36 3615 Pendidikan Agama ***** - - - 2 2 2 Jumlah seluruhnya 28 28 33 37 38 38 Ε. Mencakup Ilmu Tumbuh-tumbuhan, hewan, dan tubuh manusia. ** Diadakan pada hari Jumat sesudah Pukul 11. *** Termasuk juga tari dan pencak. **** Berdasarkan Keputusan Menteri PP dan K 19 – 11-1946, No. 1153/A. 37
  • 47. ***** Berdasarkan Penetapan Bersama Menteri PP dan K dan Menteri Agama. Tabel 4. 5 Daftar Jam Pelajaran bagi Sekolah Rakyat Yang diselenggarakan sore hari (Rencana Pelajaran 1947)No. Mata Pelajaran I II III IV A B A B A B A B1 Bahasa Indonesia 7 - 7 - 8 8 8 82 Bahasa Daerah - 7 - 7 - 6 - 43 Berhitung 5 5 5 5 9 8 8 74 Ilmu Alam - - - - - - - -5 Ilmu Hayat - - - - - - - -6 Ilmu Bumi - - - 1 1 1 1 17 Sejarah - - - - - - 1 18 Menggambar 3 3 3 3 4 3 4 39 Menulis - - - - - - - -10 Seni Suara 2 2 2 2 3 2 2 211 Pekerjaan Tangan 1 1 1 1 3 2 2 212 Pekerjaan Keputrian - - - - - - 1 113 Gerak Badan 3 3 3 3 4 3 4 314 Kebersihan dan Kesehatan 1 1 1 1 1 1 1 115 Didikan Budi Pekerti 1 1 1 1 2 1 2 2 Jumlah ** 23 23 23 24 35 35 36 3616 Pendidikan Agama ***** - - - - - - 2 2 Jumlah seluruhnya 23 23 23 24 35 35 36 38 Ε. Kelas A = Sekolah-sekolah yang berbahasa pengantar bahasa Indonesia dari kelas I. 38
  • 48. Kelas B = Sekolah-sekolah yang berbahasa pengantar bahasa daerah sampai kelas III.** Berdasarkan Edaran Mengteri PP dan K 8-1-1947 No. 203/B. 39
  • 49. Ijasah Sekolah Rakyat 6 tahun di alam kemerdekaan (tahun 1956). Di balik ijasah ini tercantum nilai-nilai Ujian NegaraSusunan Rencana Pelajaran 1964 masih sederhana, yaitu mencakup unsur pokok:dasar dan tujuan serta sistem pendidikan dasar, struktur program kurikulum, garis-garis besar program pengajaran (GBPP) tiap wardhana, dan pedoman pelaksanaanhari krida di sekolah dasar. Rencana Pelajaran ini membedakan 2 macam strukturprogram, yaitu sebagai berikut: 1) Untuk sekolah-sekolah yang menggunakan pengantar bahasa daerah dari kelas I sampai kelas III. 2) Untuk sekolah-sekolah yang menggunakan pengantar bahasa Indonesia mulai kelas I.Garis-garis besar susunan program pengajarannya adalah sebagai berikut: 40
  • 50. Pertama, sesuai dengan struktur program yang disebutkan di atas, mata pelajaranatau bidang studi dikelompokkan sesuai dengan Pancawardhana menjadi 5kelompok bidang studi, yaitu perkembangan moral, kecerdasan, emosional-artistik, keprigelan / keterampilan, dan jasmaniah.Kedua, susunan tiap wardhana adalah: 1) Uraian Pendahuluan tentang komposisi bidang studi yang termasuk dalam wardhana yang bersangkutan, tujuan kurikuler yang hendak dicapai, kriteria pemilihan bahan, dan petunjuk praktis dalam memilih kegiatan yang relevan; 2) Tiap bidang studi dibagi menurut kelas, dan urutan bahan yang disesuaikan dengan tujuan kurikuler dan instruksional tiap bidang studi; 3) Tiap tujuan instruksional disertai bahan-bahan yang diajarkan dan petunjuk praktiks dalam memilih dan menyelenggarakan kegiatan- kegiatan untuk mencapai tujuan tersebut; dan 4) Sistematika program pengajaran Pendidikan Agama belum disesuaikan dengan susunan seperti tersebut pada butir (2) dan (3) dan kurikulum Pendidikan Agama Islan disusun oleh Departemen Agama secara terpisah. Demikian juga halnya dengan kurikulum-kurikulum agama-agama lain, disusun oleh lembaga-lembaga keagamaan yang berwenang.(Sumber: 50 Tahun Perkembangan Pendidikan Indonesia, Jakarta: Depdikbud,1996) Tabel 4.6 Struktur Program dan Pembagian Waktu per MingguBagi sekolah dasar yang menggunakan bahasa pengantar bahasa daerah di Kelas I s.d. Kelas III (Rencana Pendidikan 1964)No. Wardhana / Bidang Studi Kelas Keterangan I II III IV V VI Kelas I dan I PERKEMBANGAN MORAL: II, 1 jam 1. Pendidikan Kemasyarakatan * 1 2 3 3 3 3 pelajaran: 41
  • 51. No. Wardhana / Bidang Studi Kelas Keterangan 2. Pend Agama / Budi Pekerti 1 2 2 2 2 2 30 menit;II PERKEMBANGAN KECERDASAN Kelas III 3. Bahasa Daerah 9 8 5 3 3 3 s.d. VI: 30 4. Bahasa Indonesia - - 6 8 8 8 menit. 5. Berhitung 6 6 6 6 6 6 6. Pengetahuan Alamiah 1 1 2 2 2 2III PERKEMBANGAN EMOSIONAL / ARTISTIK: 7. Pendidikan Kesenian ** 2 2 4 4 4 4IV PERKEMBANGAN KEPRIGELAN: 8. Pendidikan Keprigelan *** 2 2 4 4 4 4V PERKEMBANGAN JASMANI: 9. Pendidikan Jasmani / Kesehatan 3 3 4 4 4 4 Jumlah 25 26 34 36 36 36 Ε. Integrasi Sejarah, Ilmu Bumi, dan Kewargaan Negara. ** Seni Suara / Musik, Seni Lukis / Rupa, Seni Tari, Seni Sastra / Drama. *** Pertanian, Peternakan, Industri Kecil, Pekerjaan Tangan, Koperasi / Tabungan, dan Keprigelan lain-lain Tabel 4.7 Struktur Program dan Pembagian Waktu per Minggu Bagi sekolah dasar yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia dari Kelas I (Rencana Pendidikan 1964)No. Wardhana / Bidang Studi Kelas Keterangan I II III IV V VI Kelas I dan I PERKEMBANGAN MORAL: II, 1 jam 1. Pendidikan Kemasyarakatan * 1 1 4 4 4 4 pelajaran: 2. Pend Agama / Budi Pekerti 1 2 2 2 2 2 30 menit;II PERKEMBANGAN KECERDASAN Kelas III 3. Bahasa Indonesia 9 8 9 9 9 9 s.d. VI: 40 4. Berhitung 6 6 6 6 6 6 menit. 42
  • 52. No. Wardhana / Bidang Studi Kelas Keterangan 5. Pengetahuan Alamiah 1 1 2 2 2 2III PERKEMBANGAN EMOSIONAL / ARTISTIK: 7. Pendidikan Kesenian ** 2 2 4 4 4 4IV PERKEMBANGAN KEPRIGELAN: 8. Pendidikan Keprigelan *** 2 2 5 5 5 5V PERKEMBANGAN JASMANI: 9. Pendidikan Jasmani / Kesehatan 3 3 4 4 4 4 Jumlah 25 25 36 36 36 36 Ε. Integrasi Sejarah, Ilmu Bumi, dan Kewargaan Negara. ** Seni Suara / Musik, Seni Lukis / Rupa, Seni Tari, Seni Sastra / Drama. *** Pertanian, Peternakan, Industri Kecil, Pekerjaan Tangan, Koperasi / Tabungan, dan Keprigelan lain-lainE. Perkembangan komponen kurikulum pada awal kemerdekaan s.d. masa Orde LamaPada bagian ini akan dikemukakan tentang perkembangan komponen kurikulumdengan memilih mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam sebagai contoh danperbandingan umum sajian komponen kurikulum dalam dokumen kurikulum. Komponen desain • Tujuan – Apa yang harus dilakukan? • Mata pelajaran – Mata pelajaran apa yang harus dimasukkan? • Metode & organisasi – Strategi pengajaran, sumber, dan kegiatan apa yang akan digunakan? • Evaluasi – Metode dan alat apa yang akan digunakan untuk menilai hasil? 43
  • 53. Dari segi komponen, kurikulum paling tidak mengandung 6 komponen, yaitutujuan, materi atau bahan, metode atau kegiatan belajar, sumber belajar yangterdiri dari alat, bahan, sumber, (alat) penilaian, dan alokasi waktu. Tujuan Sumber Materi belajar UNSUR KURIKULUM Alokasi Kegiatan waktu belajar Penilaian Gambar 4. 1 Unsur kurikulumPerkembangan komponen kurikulumDari segi komponen kurikulum, dikemukakan komponen-komponen kurikulumdari Kurikulum 1968 s.d. Kurikulum 2006. (Komponen Kurikulum 1947 dan 1964tidak dikemukakan penulis dalam buku ini karena dokumen kurikulum yang dapatdiperoleh belum lengkap).Kurikulum 1952Dari 6 komponen kurikulum seperti terlihat pada gambar di atas, Kurikulum 1952berisi 2 komponen, yaitu bahan pengajaran (materi) dan apa yang dipentingkandan peringatan, keindahan, dsb (kegitan belajar).Penyajian kurikulum ini dalam bentuk matriks yang terdiri dari 4 kolom. Berikutini dikemukakan contoh dari Ilmu Hayat kelas IV SD sebagai berikut: 44
  • 54. Tabel 4.8 Bahan pengajaran mata pelajaran Ilmu Hayat kelas IV SD Kurikulum 1952No. Bahan Apakah yang dipentingkan Peringatan, keindahan, dsb. pengajaran1a. Biji Bagian 1a: 1. Akar selalu menuju ke bawah, ke 1. kulit ari (kulit tipis) dalam tanah. 2. pusat biji (asal tumbuh- 2. Batang selalu tegak ke luar di atas tumbuhan tanah. 3. keping (belahan), gunanya 3. Biji sedang tumbuh dapat 1-3 mengangkat segumpal tanah,1b. Biji yang sedang Bagian 1b: gunanya 1 – 3 (dengan tawakkal dan tumbuh (kacang 1. akar ketabahan hati tercapailah cita-cita. tanah, kedelai, 2. batang 4. Keping selalu susut dan hilang jagung, dsb.) 3. daun, lenyap (ingatlah: manusia akan gunanya 1 - 3 lenyap juga).2 Akar Bangsa akar: 1. Biji berkeping dua: berakar (bandingkanlah 1. akar tunggang tunggang. akar kacang tanah 2. akar serabut 2. Biji tunggal: berakar serabut dengan akar 3. Bulu akar: pengisap makanan jagung) Bagian nomor 1 4. Tudung akar: penjaga akar waktu a. akar tunggang menembus tanah. b. akar cabang c. akar rambut Tunjukkanlah: pembagian pekerjaan d. bulu akar alam. e. tudung akar Bagian nomor 2 a. akar serabut b. – (tak ada) c. – (tak ada) d. bulu akar e. tudung akar 45
  • 55. Kurikulum 1964Kurikulum 1964:Dari 6 komponen kurikulum, Kurikulum 1964 berisi 4 komponen, yaitu Tujuan,Bidang / Bahagian (materi), Kegiatan / alat, dan Keterangan / Petunjuk bagi Guruyang mengarah ke kegiatan belajar. Penyajian kurikulum ini dalam bentuk matriksyang terdiri dari 4 kolom. Berikut ini dikemukakan contoh dari Ilmu PengetahuanAlamiah (IPA) kelas IV SD sebagai berikut: Tabel 4.9 Bahan pengajaran mata pelajaran IPA kelas IV Kurikulum 1964 Tujuan Bidang / Kegiatan / Alat Keterangan / Petunjuk bagi Guru Bahagian Lihat tujuan Sekolah: Lihat petunjuk kelas III. Untuk menjelaskan dan pada kelas III (Lihat Diperluas dan melengkapkan pengertian petunjuk diperdalam dengan sebaiknya mempergunakan alat kelas III dan pengertian: Apa, peraga dengan seefisein- diperluas Mengapa, dan efisiennya. (Kalau alat peraga Bagaimana. tidak ada, dibuat bersama dengan Mempergunakan alat- anak-anak dalam waktu-waktu alat pembantu: lain). - Kartu-kartu catatan atau buku-buku Seandainya alat peraga tidak - Pengukur hujan, dapat dibuat oleh anak-anak dan termometer, guru, mintalah bantuan atau barometer penerangan dari Balai Pendidikan - Higrometer Keperagaan dan Pengetahuan - Himpunan batu- Alam. batuan; contoh tanah - Gambar-gambar Kalau alat peraga tidak dapat anatomi dan model- diciptakan, anak diberi tugas model untuk mengamati dan mencatat / - Zat-zat penghilangan menggambar hasil tanggapannya Peristiwa- hama (disinfeksi) tentang sesuatu benda dalam peristiwa - Gambar-gambar segala hubungannya. Misalnya: alam: hujan, bakteri, dsb. bulan terang pada malam hari, sungai, cuaca baik, bintang-bintang di 46
  • 56. Tujuan Bidang / Kegiatan / Alat Keterangan / Petunjuk bagi Guru Bahagian banjir, angin, - Contoh-contoh langit waktu malam hendaklah musim hijan / makanan berasal dari berdiri di tempat yang lapang kemarau tanam-tanaman sehingga terlihat cakrawala. - Model matahari, bulan, bumi (dibuat Ini dibicarakan bila akibat dari kawat, kayu, peristiwa-peristiwa itu terasa di bola, ds.) tempat itu. - Gambar-gambar dan peta Peristiwa-peristiwa tersebut akan - Model-model, dibicarakan lebih menfdalam di perkakas, dan mesin- kelas V. mesin a. Guru memberi penerangan 1. Mempergunakan tentang guna herbarium, peristiwa-peristiwa aquaarium, dan terarium. alam itu untuk b. Kegiatan-kegiatan ini hanya keperluan manusia. merupakan tambahan kegiatan 2. Turut berusaha pertanian, peternakan, mengatakan perikanan, dsb. kesulitan yang ditimbulkan oleh peristiwa atau bencana alam. Membuat herbarium. Pemeliharaan aquarium. Pemeliharaan terarium. Mempelajari anatomi sederhana badan manusia. 47
  • 57. F. Prinsip pengembangan kurikulum pada awal kemerdekaan s.d. masa Orde LamaPrinsip pengembangan kurikulum sering pula disebut sebagai asas pengembangankurikulum. Yang dimaksudkan dengan asas ini adalah prinsip pedagogis dandidaktik pembaharuan kurikulum yang dijadikan pedoman untuk memilih bahandan kegiatan belajar, menentukan luas dan urutan bahan dan kegiatan, sertamenyusun metodologi pengajaran.Kurikulum 1947Ada 5 prinsip (asas) pembaharuan yang melahirkan Kurikulum 1947, yaitu:2. Asas pendidikan dan pengajaran sebagai alat pembangunan bangsa dan negara3. Perkembangan yang seimbang dan harmonis4. Isi pengajaran yang praktis dan beban yang tidak terlalu berat5. Belajar aktif, kreatif, dan produktif6. Menyesuaikan pendidikan dan pengajaran dengan tingkat perkembangan anakKelima prinsip atau asas ini amat dipengaruhi oleh gagasan sekolah kerja(Arbeitschule dalam bahasa Jerman, Doe-school dalam bahasa Belanda atauDoing School dalam bahasa Inggris) yang diperbincangkan dalam rapat-rapatPanitia Penyelidik Pengajaran, terutama dalam Komisi Penyelidik II (SekolahKerja, Pekerjaan Tangan, Gerak Badan, dan Sekolah Partikelir). Gagasan inidilontarkan untuk mengganti model sekolah lama yang disebut sebagai ”lusiterenpraat-school” (sekolah ”dengar dan bicara”). Dalam laporan komisi tersebutditandfaskan bahwa pembaharuan pendidikan untuk bangsa Indonesia akan berartisebesar-besarnya jika pemgaharuan itu akan menghasilkan: a) Cara mendidiki yang dapat membuat bangsa kita terlepas dari tradisi kolonial, dan dapat membangkitkan serta mengembangkan kekuatan kreatif sehingga bangsa kita dapat merupakan masyarakat yang kuat serta sehat, baik lahir maupun batin, dan 48
  • 58. b) Cara mendidik yang membawa kita kepada martabat perikemanusiaan yang tinggi. Dalam sekolah kerja anak-anak dipimpin supaya produktif dan berguna bagi masyarakat.Melalui sekolah kerja anak dapat berkembang secara seimbang dan harmoniskarena ciri pendidikan kolonial adalah terlalu intelektualistik atau terlalumenekankan perkembangan kecerdasan otak (intelek). Pendidikan nasionalhendaknya menekankan keseimbangan antara perkembangan kecerdasan otak danperkembangan watak, budi pekerti, jasmani dan rasa keindahan, antaraperkembangan manusia sebagai pribadi dan sebagai warga negara dan anggotmasyarakat, antara isi pelajaran teoritis dan yang praktis dan keterampilan tangan.Untuk itu dalam memilih bahan pelajaran harus dijaga agar praktis atau relevandengan kebutuhan anak, masyarakat dan pembangunan bangsa dan tidak terlaluberat bagi anak.Gagasan sekolah kerja ini tampak juga pada prinsip belajar aktif, kreatif, danproduktif. Melalui sekolah kerja anak dipimpin agar produktif dan berguna bagimasyarakat. Untuk itu, sekolah harus berusaha agar: a) Anak-anak bersifat aktif, kreatif, dan belajar atas dasar pengalaman, b) Anak-anak bisa mencari, mendapat, dan mempergunakan pengetahuan dan pengalamannya, c) Perhatian dan usaha pendidikan dipusatkan pada keadaan dan jiwa anak, d) Anak-anak dapat menghasilkan barang sesuatu dengan kemauan dan kekuatan sendiri, e) Anak-anak belajar menyediakan diri untuk keperluan masyarakat, f) Anak-anak kelak menjadi anggota masyarakat yang bertabiat sosial, dan g) Sekolah berwujud ’kuntum masyarakat’ dan kelas menjadi persekutuan kerja.Berdasarkan prinsip-prinsip yang telah diuraikan, pendidikan dan pengajaran disekolah rendah harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak denganselalu mengindahkan pusat-pusat perhatian murid serta batas-batas kejayaan ataukesanggupannya yang berhubungan dengan umur, corak jiwa, sifatnya (lakiperempuan), agamanya, dan suasana lingkungan lainnya. 49
  • 59. (Laporan Komisi II dan Laporan Komisi Pekerja tentang Pengajaran Rendah, ,Panitia Penyelidik Pengajaran, 1946).Konsep sekolah kerja tampaknya dipengaruhi aliran psikologi belajar inkuiri yangpada masa itu amat dipengaruhi pandangan-pandangan John Dewey tentangpendidikan progresif. Ia menandaskan bahwa pendidikan warga negara yangterlibat mengandung:● Penghargaan terhadap keanekaragaman, dalam arti tiap individu harus diakui kemampuannya, minat, ide, kebutuhan, dan identitas budayanya, dan● Pengembangan kecerdasan kritis dan terlibat secara sosial yang memampuakan individu untuk memahami dan berpartisipasi secara efektif dalam urusan masyarakat setempat dalam upaya kerja sama untuk mencapai kebaikan umum.Belajar berbasis inkuiri berhubungan dengan:● Pertanyaan: muncul dari pengalaman● Bahan: bervariasi, otentik, menantang● Kegiatan: melibatkan, pengalaman konkret menggunakan tangan (hands-on experience), membuat kreasi, bekerja sama, menghidupi peran baru● Dialog: mendengarkan orang lain; mengartikulasi pemahaman● Refleksi: mengekspresikan pengalaman; bergerak dari konsep baru ke tindakan.John Dewey menandaskan bahwa dalam menghadapi sebuah dunia yang berubah,gunakanlah metode ilmiah:● Menyadari suatu masalah● Rumuskan masalah itu● Ajukan hipotesis untuk memecahkannya● Selidiki konsekuensi hipotesis dalam cahaya pengalaman● Tes solusi yang paling mungkin 50
  • 60. Inti gagasan sekolah kerja digambarkan berikut ini. Tampaknya para penyusun Kurikulum 1947 hendak meninggalkan konsepsi tradisional kurikulum ini, yang amat menekankan konten atau isi ilmu pengetahuan yang terlalu intelektualistis.Tampaknya melalui gagasan sekolah kerja, mereka menghendaki agar siswa-lahyang aktif mencari dan menemukan dalam dunia empirik dalam melakukankegiatan belajar melalui dialog atau kerja sama antar-siswa. John Deweymengatakan,“Education is life itself” (Pendidikan adalah kehidupan itu sendiri). 51
  • 61. Untuk itu, guru pun hendaknya melakukan hal yang sama dalam melakukanpengajaran yang berpusat kepada siswa (student-centered learning). John Dewey mengatakan, “True learning is based on discovery guided by mentoring rather than the transmission of knowledge” (Belajar yang benar lebih berdasarkanpenemuan yang dibimbing melalui mentoring daripada transmisi pengetahuan). Siswa-lah yang melakukan aktivitas dalam siklus inkuiri ini 52
  • 62. Kurikulum 1964Pemikiran yang mendahului kelahiran Kurikulum 1964 menunjukkan keinginanyang kuat agar penyusunan kurikulum selalu didasarkan atas pertimbanganseberapa jauh program pengajaran atau kurikulum itu memberikan sumbanganbagi:1. Kesejahteraan anak-anak didik di sekolah2. pembangunan masyarakat di sekitar sekolah, dan3. pembangunan bangsa dan negara dalam rangka mencapai tingkat hidup yang lebih tinggi bagi rakyat dan masyarakat Indonesia, lahir dan batin.Keinginan tersebut tercermin pula dalam salah satu prinsip atau asas didaktikKurikulum 1964 yang menyatakan bahwa semua pengetahuan dan kegiatan yangdiajarkan haruslah fungsional praktis dalam arti berguna bagi anak danmasyarakat, sekarang dan di masa yang akan datang, dalam mencapai tigakerangka tujuan revolusi nasional.Sehubungan dengan gagasan sekolah kerja dan pendekatan inkuiri tampaknyagagasan ini belum terwujud pada sekolah dasar. Namun, upaya pembaharuanpendidikan dan pengajaran telah mulai dilembagakan secara struktural pada awaltahun 1950-an. Kementerian PP dan K mulai mendirikan lembaga-lembaga yangdiserahi tugas membuat pembaharuan kurikulum, seperti:● Balai Pendidikan Pengetahuan Alam (Science Learning Center – STC) yang bertugas menatar guru dan mengembangkan kurikulum IPA.● Urusan Pengajaran Bahasa Indonesia dan Balai Bahasa Daerah (UPBID) dan Urusan Pengajaran Ilmu Kemasyarakatan (UPIK) yang bertugas mengawasi dan membina mata pelajaran serta membantu mengembangkan dan memperbaiki mata pelajaran yang bersangkutan.● Urusan penyelidikan (research) yang melanjutkan tugas Balai Penyelidikan dan Perancang Pendidikan dan Pengajaran (BP4) dalam menyelenggarakan sekolah-sekolah percobaan, mengembangkan tes hasil belajar, dan mengumpulkan statistik persekolahan. Kurikulum yang diujicoba merupakan revisi rencana pelajaran Sekolah Dasar yang berlaku waktu itu. 53
  • 63. ● Urusan Kewajiban Belajar yang menyelenggarakan percobaan pelaksanaan kewajiban belajar dan mengusahakan pembaharian isi pendidikan dan metode pengajaran, terutama Pendidikan Keterampilan.● Urusan Pendidikan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Rakyat (UPTK/SR) sebagai bagian Jawatan Pendidikan Umum bertugas dan bertanggung jawab dalam perencanaan, pengawasan, dan penilaian pendidikan, termasuk perencanaan kurikulum dan penyelenggaraan ujian negara, yaitu Ujian Masuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama secara rutin. Ketika Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan melalui Instruksi NO. 2 tahun 1961 memerintahkan mengadakan pembaharuan kurikulum sesuai dengan sistem Pancawarhana, UPTK/SR-lah yang melaksanakan penyusunan kurikulum sekolah dasar yang baru (1961). Konsep kurikulum sekolah dasar yang baru kemudian diujicoba. Akan tetapi, upaya itu hanya berjalan dua tahun (1962 – 1963) karena perencanaan yang kurang sistematik dan matang serta biaya dan sarana yang serba kurang. Setelah Jawatan Pendidikan Umum dihapuskan pada tahun 1963, dibentuk Direktorat Pendidikan Prasekolah, Sekolah Dasar, dan Sekolah Luar Biasa. Direktorat baru ini meneruskan tugas UPTK/SR.Upaya pembaharuan kurikulum yang mendahului Kurikulum 1964 tampaknyakurang membuahkan hasil yang diharapkan berkenaan dengan konsepsi sekolahkerja dan pendekatan inkuiri karena perencanaan yang kurang matang danketerbatasan dana dan sarana. 54
  • 64. KURIKULUM SD PADA MASA PEMERINTAHAN ORDE BARU A. Landasan hukum perubahan / pengembangan kurikulum Tabel 5.1 Landasan hukum pengembangan kurikulum pada awal pada masa Orde LamaKurikulum Pancasila & TAP MPR UU Peraturan Keputusan Menteri UUD 1945 & GBHN Pemerintah1968 Pancasila dan Tap MPRS Kurikulum harus UUD 1945 No. memberikan XXVII/1966 kemungkinan tentang perkembangan maksimal tujuan dan isi terhadap cipta, rasa, karsa, pendidikan dan karya anak yang nasional. sedang berkembang menjadi manusia yang bermental-moral-budi pekerti luhur dan kuat keyakinan agamanya, yang tinggi kecerdasan dan terampil dalam pembangunan dan yang memiliki fisik yang sehat dan kuat, sebagai manusia Pancasila. Terbit tanpa keputusan Menteri tapi hanya dengan kata pengantar resmi Direktur Jenderal Pendidikan Dasar.1975 Pancasila dan TAP MPR Keputusan Mendikbud UUD 1945 tahun 1973: (Sjarif Thajeb) No. Dasar dan 008c/U/1975 tentang 55
  • 65. Kurikulum Pancasila & TAP MPR UU Peraturan Keputusan Menteri UUD 1945 & GBHN Pemerintah arah Pembakuan Kurikulum pembanguna Sekolah Dasar n di bidang pendidikan GBHN 1973: Pembanguna n nasional adalah pembanguna n manusia Indonesia seutuhnya dan pembanguna n seluruh masyarakat Indonesia.1984 Pancasila dan Tap MPR Undang-Undang Keputuran Mendikbud UUD 1945 No. No. 2 Tahun 1989 No. 026/U/1985 tentang IV/MPR/197 tentang Sistem Pelaksanaan GBPP 8 tentang Pendidikan Pendidikan Sejarah GBHN Nasional Perjuangan Bangsa pada (Agama dan jenjang pendidikan dasar Kepercayaan dan menengah kepada Tuhan Yang Maha Esa, Sosial- budaya: Dasar & tujuan pendidikan nasional. 56
  • 66. Kurikulum Pancasila & TAP MPR UU Peraturan Keputusan Menteri UUD 1945 & GBHN Pemerintah Unsur dalam GBHN 1983 tentang Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa dalam rangka Pendidikan Pancasila1994 Pancasila dan TAP MPR UU No. 2 Tahun PP No. 28 Tahun Keputusan Mendikbud UUD 1945 No. 1989 tentang 1990 tentang (Fuad Hassan) No. 1945: II/MPR/1993 Sistem Pendidikan Pend Dasar: 060/U/1993 tentang Mencerdaskan yang berisi Nasional: Tujuan pend Kurikulum Pendidikan Kehidupan tujuan Tujuan pend dasar: bekal Dasar bangsa pendidikan nasional (Pasal 4) kemampuan dasar Mengusahaka nasional Fungsi pend kepada siswa n& nasional untuk menyelenggar Hak warga negara mengembangkan akan satu memperoleh kehidupan & sistem pendidikan (Pasal mempersiapkan pengajaran 3, 5, 6). siswa untuk nasional Tanggung jawab mengikuti pend penyelenggaraan menengah. pend: keluarga, Jabaran tujuan masyarakat, SD: (Pasal 14) pemerintah (Penjelasan). Isi kurikulum pend dasar tentang bahan kajian dan pelajaran (Pasal 39 & Penjelasan) 57
  • 67. Kurikulum SD 1968 terdiri dari 4 unsur pokok, yaitu dasar, tujuan, dan asas-asaspelaksanaan pendidikan nasional Pancasila di sekolah dasar; struktur program ataukerangka kurikulum sekolah dasar; bahan pendidikan atau GBPP; serta pedomanevaluasi atau pengisian dan penggunaan buku rapor murid sekolah dasar.Dasar, tujuan, dan asas pendidikan nasional Pancasila di sekolah dasar meliputiprinsip-prinsip sebagai berikut:Pertama, prinsip umum pelaksanaan pendidikan nasional Pancasila yang meliputi3 hal, yaitu prinsip integritas, kontinuitas, dan sinkronisasi.Kedua, landasaan idiil yang terdiri dari 3 ketentuan pokok, yaitu dasar pendidikannasional adalah falsafah negara Pancasila, tujuan pendidikan nasional adalahmembentuk manusia Pancasila sejati, dan isi pendidikan nasional terdiri dari 3 hal,yaitu mempertinggi mental budi pekerti dan memperkuat keyakinan agama,mempertinggi kecerdasan dan keterampilan serta membina / memperkembangkanfisik yang kuat dan sehat.Ketiga, prinsip umum pembinaan kurikulum meliputi 3 hal, yaitu kriteriapemilihan bahan atau isi kurikulum, prinsip-prinsip didaktik-metodik, dan sistemevaluasi yang meliputi prinsip-prinsip evaluasi yang bersifat menyeluruh, kontinu,dan objektif. Adapun yang menjadi objek penilaian adalah program, proses danhasil, serta fungsi penilaian.Keempat, prinsip-prinsip pendidikan sekolah dasar mencakup 2 hal, yaitu tujuanpendidikan sekolah dasar dan garis besar kurikulum sekolah dasar yang dibagimenjadi 3 kelompok, yaitu kelompok pembinaan jiwa Pancasila, kelompokpembinaan pengetahuan dasar dan kelompok pembinaan kecakapan khusus.Kelima, asas-asas didaktik-metodik sekolah dasar yang uraiannya sama denganyang tercantum di dalam rencana pendidikan tahun 1964.Selama periode Repelita I sampai IV, sistem pendidikan nasional masihdidasarkan pada dua undang-undang yang belum mencerminkan adanya kesatuansistem pendidikan nasional. Masih berlakunya Undang-Undang No. 4 Tahun 1950yo Undang-Undang No. 12 Tahun 1954 dan Undang-Undang No. 22 Tahun 1961sering dipandang sebagai suatu kendala yang cukup mendasar bagi pembangunanpendidikan yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Undang-undang tersebut 58
  • 68. tidak mencerminkan landasan kesatuan sistem pendidikan nasional karenadidasarkan pada Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Serikat juga tidaksebagaimana diamanatkan UUD 1945.(Sumber: 50 Tahun Perkembangan Pendidikan Indonesia, Jakarta: Depdikbud,1996)TAP MPR tahun 1973:Pembangunan di bidang pendidikan didasarkan atas Falsafah Negara Pancasiladan diarahkan untuk membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila danuntuk membentuk Manusia Indonesia yang sehat jasmani dan rohaninya,memiliki pengetahuan dan keterampilan, dapat mengembangkan kreativitas dantanggung jawab, dapat menyuburkan sikap demokrasi dan penuh tenggang rasa,dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yangluhur, mencintai bangsanya dan mencintai sesama manusia sesuai denganketentuan yang termaktub dalam UUD 1945. (Garis bawah: baru muncul).Tap MPR No. IV/MPR/1978 tentang GBHN (Agama dan Kepercayaan kepadaTuhan Yang Maha Esa, Sosial-budaya): Dasar & tujuan pendidikan nasional.Ditegaskan bahwa “Pendidikan nasional berdasarkan atas Pancasila dan bertujuanuntuk: meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. 59
  • 69. UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional: Tujuan pend nasional (Pasal 4) Fungsi pend nasional: mengembangkan kemampuan, meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia. Hak warga negara memperoleh pendidikan (Pasal 3, 5, 6). Tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan: keluarga, masyarakat, pemerintah (Penjelasan). Isi kurikulum pendidikan dasar tentang bahan kajian dan pelajaran (Pasal 39 & Penjelasan)PP No. 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar:Tujuan pendidikan dasar: memberikan bekal kemampuan dasar kepada siswauntuk mengembangkan kehidupan dan mempersiapkan siswa untuk mengikutipend menengah.Jabaran tujuan SD: Memberikan bekal kemampuan dasar “Baca-Tulis-Hitung”,pengetahuan dan keterampilan dasar yang bermanfaat bagi siswa sesuai tingkatperkembangan dan mempersiapkan mengikuti pendidikan di SLTP.Isi kurikulum pendidikan dasar tentang bahan kajian dan pelajaran (Pasal 14)Pendidikan dasar (basic education)Berdasarkan Undang-Undang Pendidikan tahun 1950 yunto Tahun 1954,pendidikan dasar dimaksudkan hanya mencakup sekolah dasar. Sejak diterbitkanUndang-Undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional,pendidikan dasar adalah pendidikan umum yang lamanya sembilan tahun, yangdiselenggarakan enam tahun di sekolah dasar dan tiga tahun di sekolah lanjutantingkat pertama atau satuan pendidikan yang sederajat.Tujuan pendidikan dasar adalah untuk memberikan bekal kemampuan dasarkepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi,anggota masyarakat, warga negara dan umat manusia, serta mempersiapkanpeserta didik mengikuti pendidikan menengah. Bentuk satuan pendidikan yangmenyelenggarakan pendidikan program 6 tahun terdiri atas sekolah dasar (umum) 60
  • 70. dan sekolah dasar luar biasa. Bentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakanpendidikan program 3 tahun sesudah program 6 tahun terdiri atas sekolah lanjutantingkat pertama dan sekolah lanjutan tingkat pertama luar biasa. Selain itu,terdapat pula bentuk satuan pendidikan dasar yang berciri khas agama Islam yangdiselenggarakan oleh Departemen Agama, yakni Madrasah Ibtidaiyah setingkatsekolah dasar dan Madrasah Tsanawiyah setingkat sekolah lanjutan tingkatpertama.Berdasarkan PP NO. 28 / 1990, pendidikan dasar mempunyai ciri-ciri yangberbeda dengan pendidikan dasar berdasarkan UU yang berlaku sebelumnya. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut: 1) Pendidikan dasar merupakan pendidikan umum, yaitu pendidikan minimal yang berlaku untuk semua warga negara tanpa kecuali. 2) Pendidikan dasar berlangsung 9 tahun yang meliputi 6 tahun di SD dan 3 tahun di SMP atau yang sederajat. Ini tidak berarti bahwa SD dan SMP menjadi bentuk satu atap melainkan tetap terpisah meskipun keduanya merupakan pendidikan dasar. 3) Pendidikan dasar tidak bersifat seragam, dan tidak berarti bahwa semua peserta didik mendapatkan materi kurikulum yang sama seluruhnya secara seragam, melainkan dimungkinkan adanya perbedaan di luar materi muatan nasional sebanyak 20% dari seluruh bidang kahian di SD dan SMP. 4) Pendidikan dasar diselenggarakan melalui jalur sekolah dan jalur luar sekolah pada berbagai jenis dan bentuk satuan pendidikan. 5) Lulusan pendidikan dasar adalah setara baik untuk jalur sekolah maupun luar sekolah beserta wahananya yang pada dasarnya sama dan diakui sederajat sehingga perserta didik memiliki keleluasaan gerak untuk memanfaatkan semua rumpun dan wahana dan bila perlu dapat berpindah dari wahana satu ke wahana lainnya dengan mendapatkan perlakuan yang sama.(Sumber: 50 Tahun Perkembangan Pendidikan Indonesia, Jakarta: Depdikbud,1996) 61
  • 71. B. Dasar pengambilan keputusan kurikulum pada masa Orde Baru Tabel 5.2 Dasar pengambilan keputusan pada Kurikulum pada masa Orde Baru Dasar keputusan tentang Kurikulum Kurikulum Kurikulum Kurikulum 1994 kurikulum 1968 1975 19841. Alasan pedagogis yang # Dominan V V Vsahih pengaruh politik2. Bukti (evidensi) terbaik # Lebih V Berdasar V Berdasar V Berdasar hasilyang tersedia dipengaruhi uji coba uji coba inovasi Proyek kepentingan inovasi, inovasi CBSA & politis terutama di Proyek supervisi SD, sekolah lab 8 CBSA & hasil penelitian & IKIP yang supervisi SD perbandingan sedang yang sedang kurikulum negara berjalan berjalan lain3. Konteks tujuan pendidikan V Manusia V Manusia V Manusia V Manusiayang umum Pancasilais pembanguna pembanguna Pancasila sbg sejati dan n (Tap n Pancasilais manusia cerdas (Tap MPRS 1973 (Tap MPR pembangunan MPRS No. dan No. yang bermutu XXVII/1966) kemudian IV/MPR/197 tinggi (UU No. 2 dimasukkan 8 GBHN & Tahun 1989 SPN) Tap MPR UU SPN) 1978 P4)4. Konteks keputusan V V V Vsebelumnya & kebutuhankeputusan tambahan5. Paduan kekuatan pelajar, V Tuntutan V V Tuntutan V Tuntutanproses belajar, tuntutan penggabunga memasukkan belajar aktif &masyarakat & mata pelajaran n mata PSPB & pendekatan pelajaran keterampilan komunikatif 62
  • 72. Dasar keputusan tentang Kurikulum Kurikulum Kurikulum Kurikulum 1994 kurikulum 1968 1975 1984 proses bahasa6. Kerja sama orang yang # Dilibatkan V Dilibatkan V Dilibatkan V Dilibatkanterlibat & orang yang paling pejabat intansi orang pakar dan praktisiterkena dampak keputusan pendidikan di pemerintah lapangan lapangan yang lapangan & yang relevan yang relevan unit-unit & guru di merintis departemen lapangan inovasi lain yang relevan7. Fakta baru kehidupan # Pengaruh V Tuntutan V Tuntutan V Tuntuan hasilseperti perkembangan ilmu, konsep kembali belajar aktif inovasi belajarrasa persatuan & Nasakom kepada aktifkeanekaragaman Pancasila & UUD 19458. Perbedaan individual siswa V Pengantar # Pengantar # Mulai # Muatan lokal bahasa hanya bahasa masuk makin bervariasi daerah & Indonesia muatan lokal bahasa Indonesia9. Pandangan realistis V Mulai V Diterapkan V GBPP: V GBPP:pengorganisasian: desain berbentuk bidang studi Ada contoh dominan kegiatankurikulum, pengalaman siswa, bidang studi kegiatan belajar aktifpengaturan waktu belajar aktif10. Pandangan tentang cara X V V Vkomunikasi & diseminasikurikulum11. Pengalaman siswa yang V V V Vtidak dapat diperoleh denganmemuaskan di luar sekolahC. Ciri-ciri manusia pada kurikulum pada masa Orde BaruKurikulum 1968 disusun pada awal Orde Baru untuk mengoreksi penyimpangantujuan dan dasar pendidikan pada Kurikulum 1964 di masa Orde Lama. 63
  • 73. Kurikulum 1968:Tujuan pendidikan nasional adalah: “membentuk manusia Pancasilais sejatiberdasarkan ketentuan-ketentuan seperti yang dikehendaki oleh Pembukaan UUD1945” (Tap MPRS No. XXVII/1966 Bab II Pasal 3).Isi pendidikan nasional:Untuk mencapai dasar dan tujuan pendidikan nasional, isi pendidikan adalahsebagai berikut: ● Mempertinggi mental-moral-budi pekerti dan memperkuat keyakinan agama ● Mempertinggi kecerdasan dan keterampilan ● Membina / memperkembangkan fisik yang kuat dan sehat(Tap MPRS No. XXVII/1966 Bab II Pasal 4).Prinsip pengembangan kurikulum sering pula disebut sebagai asas pengembangankurikulum. Yang dimaksudkan dengan asas ini adalah prinsip pedagogis dandidaktik pembaharuan kurikulum yang dijadikan pedoman untuk memilih bahandan kegiatan belajar, menentukan luas dan urutan bahan dan kegiatan, sertamenyusun metodologi pengajaran.Kurikulum 1975:Tujuan pendidikan nasional adalah: ● membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila, dan untuk ● membentuk manusia Indonesia yang sehat jasmani dan rohaninya, ● memiliki pengetahuan dan keterampilan, ● dapat mengembangkan kreativitas dan ● tanggung jawab, ● dapat menyuburkan sikap demokrasi dan penuh tenggang rasa, ● dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai 64
  • 74. ● budi pekerti yang luhur, ● mencintai bangsanya dan sesama manusia sesuai dengan ketentuan yang termaktub dalam UUD 1945Tujuan umum pendidikan SD adalah agar lulusan: ● Memiliki sifat-sifat dasar sebagai warga negara yang baik; ● Sehat jasmani dan rohani; ● Memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dasar yang diperlukan untuk: Melanjutkan pelajaran; Bekerja di masyarakat; Mengembangkan diri sesuai dengan azas pendidikan seumur hidup.(Sumber: Depdikbud, 1976. Kerangka Program dan Dasar Metodik PendidikanMoral Pancasila dalam Rangka Kurikulum 1975)Kurikulum 1984:Tujuan pendidikan sekolah dasar mengacu pada tujuan pendidikan nasionalseperti digariskan dalam GBHN 1983, yaitu ketakwaan kepada Tuhan Yang MahaEsa, kecerdasan dan keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuatkepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air, agar dapatmenumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinyasendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.Berdasarkan acuan di atas, tujuan pendidikan pada sekolah dasar diuraikanmenjadi:Pertama, mendidik para murid untuk menjadi manusia pembangunan sebagaiwarga negara Indonesia yang berjiwa Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.Kedua, memberikan bekal kemampuan yang diperlukan bagi murid yang akanmelanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.Ketiga, memberikan pula bekal dasar untuk hidup di masyarakat danmengembangkan diri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, lingkungan, dankebutuhan pembangunan. 65
  • 75. (Sumber: Kurikulum 1984 SD (Sekolah Dasar): Landasan, Program, danPengembangan, Jakarta: Pusatbangkurrandik, Depdikbud, 1984).Kurikulum 1994:Pendidikan dasar (SD dan SLTP atau sekolah lanjutan tingkat pertama) bertujuanmemberikan bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkankehidupannya sebagai pribadi, anggota masyrakat, warga negara dan anggotaumat manusia serta mempersiapkan siswa untuk mengikuti pendidikan menengah(Pasal 3 Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar).Pendidikan dasar yang diselenggarakan di sekolah dasar (SD) bertujuanmemberikan bekal kemampuan dasar “Baca-Tulis-Hitung”, pengetahuan danketerampilan dasar yang bermanfaat bagi siswa sesuai dengan tingkatperkembangannya serta mempersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan diSLTP. (Kurikulum Pendidikan Dasar: Landasan, Program, dan Pengembangan,Jakarta: Depdikbud, 1993).D. Perkembangan struktur program kurikulum pada masa Orde BaruKurikulum SD 1968 masih menggunakan 2 macam struktur program, yaituprogram untuk sekolah-sekolah yang menggunakan pengantar bahasa daerahsampai kelas III dan program untuk sekolah yang menggunakan bahasa pengantarbahasa Indonesia mulai dari kelas I.Susunan program pengajaran berdasarkan Kurikulum 1968 adalah sebagaiberikut: 1) Program pengajaran tiap bidang studi diawali dengan tujuan-tujuan kurikuler bidang studi yang bersangkutan, didaktik-metodik bidang studi tersebut, termasuk kriteria pemilihan bahan- bahan yang akan diajarkan, kegiatan belajar-mengajar, dan alat-alat pelajaran yang digunakan; 2) Bahan tiap bidang studi dibagi menurut kelas; dan 66
  • 76. 3) Susunan bahan tiap kelas, yaitu tujuan-tujuan instruksional yang akan dicapai tiap kelas dengan jumlah berkisar antara 1 sampai 11 tujuan, tergantung dari banyaknya bahan atau kemampuan yang akan dicapai oleh kelas tertentu; dan kegiatan-kegiatan belajar-mengajar yang disarankan.(Sumber: 50 Tahun Perkembangan Pendidikan Indonesia, Jakarta: Depdikbud,1996)Mulai tahun ajaran 1966 / 1967 diadakan perubahan sistem penilaian di dalambuku rapor atau buku laporan pendidikan. Dalam buku laporan yang baru terdapat2 jenis nilai atau sekor, yaitu berupa huruf a, b, c, dan d untuk semua nilai kelas Idan II, dan berupa angka 10 s.d. 100 untuk kelas III sampai kelas VI. Selain itu,mulai tahun ajaran tersebut juga digunakan 3 macam nilai, yaitu nilai untukprestasi, rara-rata kelas, dan usaha dalam mencapai prestasi.(Sumber: 50 Tahun Perkembangan Pendidikan Indonesia, Jakarta: Depdikbud,1996) Tabel 5.3 Kerangka Kurikulum Sekolah Dasar (1968) (Bagi sekolah dasar yang menggunakan bahasa pengantar bahasa daerah sebagai bahasa pengantar)No. Kelompok / Segi Pendidikan Kelas Keterangan I II III IV V VI Di kelas I I Pembinaan Jiwa Pancasila: dan II, 1 1. Pendidikan Agama 2 2 3 4 4 4 jam 2. Pendidikan Kewargaan Negara * 2 2 4 4 4 4 pelajaran = 3. Pendidikan Bahasa Indonesia - - 6 6 6 6 30 menit. 4. Bahasa Daerah 8 8 2 2 2 2 Di kelas III 5. Pendidikan Olahraga 2 2 3 3 3 3 s.d. VI, 1II Pembinaan Pengetahuan Dasar: jam 6. Berhitung 7 7 7 6 6 6 pelajaran = 7. Ilmu Pengetahuan Alam 2 2 4 4 4 4 40 menit. 8. Pendidikan Kesenian 2 2 4 4 4 4 9. Pend Kesejahteraan Keluarga 1 1 2 2 2 2III Pembinaan Kecakapan Khusus: 67
  • 77. No. Kelompok / Segi Pendidikan Kelas Keterangan I II III IV V VI 7. Pendidikan Kejuruan ** 2 2 5 5 5 5 Jumlah 28 28 40 40 4 40* Mencakup Ilmu Bumi, Sejarah Indonesia, dan Civics.** Agraria (pertanian, peternakan, dan perikanan). Teknik (pekerjaan tangan, perbengkelan) Ketatalaksanaan / jasa (tabungan dan koperasi) Tabel 5.4 Kerangka Kurikulum Sekolah Dasar (1968) (Bagi sekolah dasar yang berbahasa pengantar bahasa Indonesia dari kelas I)No. Kelompok / Segi Pendidikan Kelas Keterangan I II III IV V VI Di kelas I I Pembinaan Jiwa Pancasila: dan II, 1 1. Pendidikan Agama 2 2 3 4 4 4 jam 2. Pendidikan Kewargaan Negara * 2 2 4 4 4 4 pelajaran = 3. Pendidikan Bahasa Indonesia 8 8 8 8 8 8 30 menit. 4. Pendidikan Olahraga 2 2 3 3 3 3 Di kelas IIIII Pembinaan Pengetahuan Dasar: s.d. VI, 1 5. Berhitung 7 7 7 7 7 7 jam 6. Ilmu Pengetahuan Alam 2 2 4 4 4 4 pelajaran = 7. Pendidikan Kesenian 2 2 4 4 4 4 40 menit. 8. Pend Kesejahteraan Keluarga 1 1 2 2 2 2III Pembinaan Kecakapan Khusus: 7. Pendidikan Kejuruan ** 2 2 5 5 5 5 Jumlah 28 28 40 40 4 40* Mencakup Ilmu Bumi, Sejarah Indonesia, dan Civics.** Agraria (pertanian, peternakan, dan perikanan). Teknik (pekerjaan tangan, perbengkelan) 68
  • 78. Ketatalaksanaan / jasa (tabungan dan koperasi) Tabel 5.5 Struktur Program Kurikulum Sekolah Dasar 1975No Bidang Studi Kelas Keterangan I II III IV V VI Di kelas I dan 1 Agama 2 2 2 3 3 3 II, 1 jam 2 Pendidikan Moral Pancasila 2 2 2 2 2 2 pelajaran = 30 3 Bahasa Indonesia 8 8 8 8 8 8 menit. 4 Ilmu Pengetahuan Sosial - - 2 2 2 2 Di kelas III s.d. 5 Matematika 6 6 6 6 6 6 VI, 1 jam 6 Ilmu Pengetahuan Alam 2 2 3 4 4 4 pelajaran = 40 7 Olahraga dan Kesehatan 2 2 3 3 3 3 menit. 8 Kesenian 2 2 3 4 4 4 9 Keterampilan Khusus 2 2 4 4 4 4 Jumlah 26 26 33 36 36 36Catatan:1. Pendidikan Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan Kependudukan diintegrasikan ke dalam beberapa bidang studi yang relevan.2. Bahasa daerah merupakan bagian bidang studi Bahasa Indonesia, khusus bagi sekolah-sekolah yang memerlukan bahasa daerah. Khusus bagi daerah yang memerlukan pendidikan bahasa daerah, disediakan waktu 2 jam pelajaran seminggu dari kelas I sampai dengan kelas VI.3. Di kelas I dan II, 1 jam pelajaran = 30 menit. Di kelas III ke atas, 1 jam pelajaran = 40 menit. 69
  • 79. Tabel 5.6 Susunan Program Pengajaran Kurikulum Sekolah Dasar (1984)No. Bidang Studi Kelas Jumlah I II III IV V VI 1 Pendidikan Agama 2 2 2 3 3 3 15 2 Pendidikan Moral Pancasila 2 2 2 2 2 2 12 3 Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa 1) 1 1 1 1 1 1 6 4 Bahasa Indonesia 2) 8/7 8/7 8/7 8/7 8/7 8/7 48/42 5 Ilmu Pengetahuan Sosial - - 2 3 3 3 11 6 Matematika 6 6 6 6 6 6 36 7 Ilmu Pengetahuan Alam 2 2 3 4 4 4 19 8 Olahraga dan Kesehatan 2 2 3 3 3 3 16 9 Pendidikan Kesenian 2 2 3 3 3 3 1610 Keterampilan Khusus 2 2 4 4 4 4 2011 Bahasa Daerah 3) (2) (2) (2) (2) (2) (2) (12) Jumlah 26/ 26/ 33/ 36/ 36/ 36/ 193/ 27 27 33 37 37 37 199 (28) (28) (35) (38) (38) (38) (205)Catatan: 1) Diberikan setiap caturwulan III 2) Pada caturwulan I dan II diberikan 8 jam / minggu, caturwulan III diberikan 7 jam / minggu 3) Daerah / sekolahyang memberikan bidang studi Bahasa DaerahMenurut UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasionalm, sebagaipendidikan umum, kurikulum pendidikan dasar wajib memuat sekurang-kurangnya bidang-bidang kajian berikut: pendidikan Pancasila agama kewarganegaraan bahasa Indonesia membaca dan menulis 70
  • 80. matematika (termasuk berhitung) pengantar sains dan teknologi ilmu bumi sejarah nasional dan sejarah umum kerajinan tangan dan kesenian pendidikan jasmani dan kesehatan menggambar serta bahasa InggrisBidang-bidang itu bukan nama mata pelajaran tetapi nama kajian untukmembentuk kepribadian dan unsur-unsur kemampuan yang diajarkan dandikembangkan melalui pendidikan dasar. Lebih dari satu unsur kajian dapatdigabung dalam satu mata pelajaran atau sebaliknya satu unsur kajian dapat dibagike dalam lebih dari satu mata pelajaran.Berdasarkan UU No. 2 / 1989 Pasal 39, selanjutnya diatur oleh KeputusanMendikbud No. 060/U/1993, secara rinci kurikulum pendidikan dasar memuat 10mata pelajaran: 1) Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 2) Pendidikan Agama 3) Bahasa Indonesia (termasuk membaca dan menulis) 4) Matematika (termasuk Berhitung) 5) Ilmu Pengetahuan Alam (pengantar sains dan teknologi) 6) Ilmu Pengetahuan Sosial (termasuk ilmu bumi, sejarah nasional dan sejarah umum) 7) Kerajinan Tangan dan Kesenian (termasuk menggambar( 8) Pendidikan Jasmani dan Kesehatan 9) Bahasa Inggris, dan 10) Muatan lokal (sejumlah mata pelajaran).(Sumber: 50 Tahun Perkembangan Pendidikan Indonesia, Jakarta: Depdikbud,1996). 71
  • 81. Dengan mengacu kepada Tap MPR No. IV/MPR/1978 tentang GBHN (Agamadan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Sosial-budaya): Dasar & tujuanpendidikan nasional, UU No. 2 / 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, danPP dan PP No. 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar serta hasil inovasi yangtelah dilakukan, tersusunlah struktur program Kurikulum 1994 berikut ini. Tabel 5.7 Susunan Program Pengajaran Kurikulum Sekolah Dasar 1994 *)No. Mata Pelajaran Kelas I II III IV V VI 1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 2 2 2 2 2 2 2 Pendidikan Agama 2 2 2 2 2 2 3 Bahasa Indonesia 10 10 10 8 8 8 4 Matematika 10 10 10 8 8 8 5 Ilmu Pengetahuan Alam - - 3 6 6 6 6 Ilmu Pengetahuan Sosial - - 3 5 5 5 7 Kerajinan Tangan dan Kesenian 2 2 2 2 2 2 8 Pendidikan Jasmani dan Kesehatan 2 2 2 2 2 2 9 Muatan Lokal 2 2 4 5 7 7 (sejumlah mata pelajaran) Jumlah 30 30 38 40 42 42Keterangan: a. Lamanya 1 jam pelajaran 1) Kelas I dan II SD 1 jam pelajaran = 30 menit 2) Kelas III s.d. VI SD 1 jam pelajaran = 40 menit b. Jumlah jam pelajaran per minggu: 1) SD Kelas I dan II = 30 jam pelajaran 2) SD Kelas III = 38 jam pelajaran 3) SD Kelas IV = 40 jam pelajaran 4) SD Kelas V dan VI = 42 jam pelajaran 72
  • 82. c. Jumlah jam pelajaran dalam satu minggu adalah jam pelajaran minimum yang diselenggarakan secara klasikal. d. Jatah waktu pada tabel di atas dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan unsur-unsur yang terkandung dalam setiap mata pelajaran.(Sumber: Kurikulum Pendidikan Dasar, Depdikbud, 1993)*) Tabel ini diambil dari Tabel Susunan Program Pengajaran Kurikulum 1994Pendidikan Dasar (SD dan SLTP)E. Perkembangan komponen kurikulum pada masa Orde BaruKurikulum 1968:Dari 6 komponen kurikulum, Kurikulum 1968 berisi 4 komponen, yaitu alokasiwaktu, tujuan, bahan (materi), dan kegiatan.Berikut ini dikemukakan contoh dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) kelas IV SDsebagai berikut:KELAS IV: (4 jam) A. Tujuan: Memperdalam dan memperluas pengenalan serta mensistematisir pengamatan anak didik mengenai tumbuh-tumbuhan. B. Bahan: Tanaman-tanaman yang ada di lingkungan seperti: jagung, padi, kacang tanah, singkong (ubi kayu), ubi jalar, pohon pepaya, bawang, keladi, jeruk, mangga, dsb. Yang dipelajari ialah: kehidupan (tempat tumbuhnya, kebutuhan hidupnya, cara hidupnya, fungsi bagian-bagiannya, hubungannya dengan manusia, pemeliharaan, kegunaan dan pengolahannya bagi kehidupan manusia serta segi ekonominya. C. Kegiatan: 1. Karyawisata, mengadakan kunjungan ke luar kelas, ke tempat tumbuhnya tanam-tanaman, ke sawah, ladang, kebun, taman, hutan 73
  • 83. dekat sekolah, dll., untuk mengadakan observasi (pengamatan) dan penyelidikan. 2. Membaca buku-buku yang menuliskan tentang tanam-tanaman yang sedang dipelajari. 3. Membuat laporan (karangan) dari hasil pengamatan murid-murid disertai gambar-gambar atau ilustrasi. 4. Memelihara tanam-tanaman di sekolah, di rumah maupun di tempat- tempat lain. 5. Mengadakan koleksi daun-daunan, bunga-bungaan, tanam-tanaman, biji-bijian, dsb. (membuat herbarium).A. Tujuan: Mensistematisir pengamatan serta memperdalam dan memperluas pengenalan anak-anak didik tentang hewan dan kegunaannya bagi kehidupan manusia.B. Bahan: Ternak dan hewan yang ada di lingkungan sekolah yang banyak hubungannya dengan kehidupan masyarakat di daerah itu, seperti: ayam, kucing, lembu, kerbau, kuda, anjing, itik, merpati, burung-burung lain, babi, tikus, musang, tupai, monyet, harimau, ikan, dsb. Mempelajari kehidupan, lingkungan, gunanya / ruginya, pemeliharaan, pengolahan (kalau hewan itu diolah menjadi makanan manusia, misalnya ikan dan daging dalam kalenga) dan segi ekonominya bagi kehidupan manusia.C. Kegiatan: 1. Karyawisata, mengadakan kunjungan ke luar kelas ke tempat pemeliharaan ternak, kebun binatang, dll. untuk mengadakan observasi. 2. Menggunakan kepustakaan mengenai hewan yang sedang dipelajari. 3. Membuat laporan (karangan) tentang hasil pengamatan anak yang disertai dengan gambar-gambar atau ilustrasi. 4. Memelihara ternak: di sekolah baik diadakan pula kandang ayam, kelinci, dll., dan kolam ikan yang mudah dapat diusahakan. 74
  • 84. 5. Mengadakan koleksi (membuat aquarium dan terarium).A. Tujuan: 1. Mengembangkan daya berpikir kritis anak dan membiasakan anak- anak ingin menyelidiki kejadian-kejadian alam yang sebenarnya. 2. Belajar mengeksploitir kekayaan alam dan mengatasi kejadian- kejadian alam yang membahayakan / merugikan kehidupan manusia.B. Bahan: 1. Peristiwa-peristiwa alam: hujan, sungai banjir, angin, cuaca, musim hujan / kemarau. Mempelajari gunanya bagi kehidupan manusia serta penyesuaian dan usaha manusia untuk mengatasinya. 2. Perumahan yang baik disesuaikan dengan keadaan daerahnya.C. Kegiatan: 1. Mengamati alat pengukur hujan, barometer, arah angin, dan termometer. 2. Mengadakan catatan-catatan, kesimpulan-kesimpulan, mencari masalah-masalah dan pemecahannya. 3. Menggunakan perpustakaan.A. Tujuan: Belajar menjaga kesehatan badan, kebersihan badan, dan lingkungan hidup.B. Bahan: 1. Meneruskan bahan kelas III. 2. Membandingkan tubuh dan hidup binatang dengan manusia. 3. Hidup sehat: makanan, pakaian, perumahan, udara, beberapa jenis penyakit. 4. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (PPPK).C. Kegiatan: 1. Meneruskan kegiatan-kegiatan pada kelas III. 2. Menggunakan kepustakaan. 75
  • 85. 3. Mengunjungi instansi-instansi kesehatan setempat. 4. Mengadakan diskusi dan membuat laporan (karangan) tentang hasil- hasil pengamatan anak-anak.Catatan: 1. Dalam melaksanakan kegiatan pada I, II, III, dan IV dapat diberi tugas kelompok (kelas dibagi dalam beberapa kelompok). 2. Dapat pula diminta bantuan dari orang-orang atau instansi setempat dalam memberikan penjelasan-penjelasan maupun fasilitas-fasilitas untuk kelancaran belajar anak-anak. 3. Pameran kelas / sekolah diadakan secara berkala.(Sumber: Kurikulum Sekolah Dasar 1968, Jakarta: Direktorat PendidikanPrasekolah / Sekolah Dasar / SLB, Direktorat Jendral Pendidikan Dasar,Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1968).Kurikulum 1975:Dari 6 komponen kurikulum, Kurikulum 1975 berisi 4 komponen, yaitu tujuan(Tujuan Kurikuler, Tujuan Instruksional), materi (Pokok Bahasan & SubpokokBahasan; Bahan Pengajaran), sumber belajar (Sumber bahan), dan alokasi waktu.Berikut ini dikemukakan contoh dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) kelas IV SDsebagai berikut: 76
  • 86. 77
  • 87. 78
  • 88. 79
  • 89. 80
  • 90. 81
  • 91. 82
  • 92. Kurikulum 1984:Dari 6 komponen kurikulum, Kurikulum 1984 itu lengkap karena berisi 6komponen, yaitu tujuan (Tujuan Kurikuler, Tujuan Instruksional), BahanPengajaran (Pokok Bahasan dan Uraian yang mengarah kepada petunjuk kegiatanbelajar), alokasi waktu, metode, Sarana / Sumber, Penilaian, dan keterangan.Berikut ini dikemukakan contoh dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) kelas IV SDsebagai berikut: 83
  • 93. IPA Kelas IV: Tabel 5.8 GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN BIDANG STUDI: ILMU PENGETAHUAN ALAM SEKOLAH: SEKOLAH DASAR (SD) KELAS: IV TUJUAN TUJUAN BAHAN PENGAJARAN PROGRAM METODE SARANA / PENIL KETERAN KURIKULER INSTRUKSIONAL SUMBER AIAN GAN POKOK URAIAN KLS CA JAM BAHASAN WU PEL (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 1. Melalui 1.1 Air Air mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: IV 1 24 pengamatan, 1.1.1 Sifat- - mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat mengkomunikasika sifat air yang rendah n hasil pengamatan - permukaannya selalu mendatar Percobaan, Buku paket Tes dan menarik - bentuknya sesuai dengan wadahnya widyaiswara Kit IPA SD tertulis kesimpulan murid - dapat meresap melalui celah-celah kecil , diskusi dan Lingkungan Tes memahami dan - dapat berubah ujud jika dipanaskan / pemberian sekitar lisan dapat menerapkan didinginkan tugas. Buku lain sifat-sifat dan - dapat melarutkan berbagai macam zat yang sesuai kegunaan air Demonstrasi Setiap konsep dapat dikembangkan dengan , cara melakukan percobaan, yang kemudian widyaiswara melalui pengolahan dan pembahasan hasilnya , diskusi dan diambil kesimpulannya, juga dengan penerapan pemberian konsep itu sendiri. tugas. 84
  • 94. TUJUAN TUJUAN BAHAN PENGAJARAN PROGRAM METODE SARANA / PENIL KETERANKURIKULER INSTRUKSIONAL SUMBER AIAN GAN POKOK URAIAN KLS CA JAM BAHASAN WU PEL (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Percobaan, diskusi, pemberian tugas. Ceramah, diskusi dan pemberian tugas. 1.1.2 Air mempunyai kegunaan misalnya: Percobaan, Buku paket Tes Kegunaan air - untuk pengairan widyaiswara Kit IPA SD tertulis - sebagai pembangkit tenaga listrik , diskusi. Lingkungan Tes - untuk pengangkutan sekitar lisan Widyaiswar Buku lain 85
  • 95. TUJUAN TUJUAN BAHAN PENGAJARAN PROGRAM METODE SARANA / PENIL KETERANKURIKULER INSTRUKSIONAL SUMBER AIAN GAN POKOK URAIAN KLS CA JAM BAHASAN WU PEL (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Setiap kegunaan dapat dikembangkan melalui a, diskusi yang sesuai percobaan sederhana, pengamatan langsung atau mengamati demonstrasi yang dilakukan guru dan disertai dengan diskusi. 86
  • 96. Kurikulum 1994:IPA Kelas IV Caturwulan 1:Konsep-konsep yang dibahas di kelas IV adalah:1. a. Air mempunyai sifat-sifat tertentu dan banyak kegunaannya. b. Berbagai benda padat bila dimasukkan ke dalam air, benda itu akan mengalami pristiwa yang berbeda2. 6 dan 11. mutu suatu karya bergantung pada daya cipta, bahan, alat dan keindahan.3. Batuan merupakan bagian dari kerak bumi.4. Tanah merupakan bagian dari kerak bumi.5. Udara mempunyai sifat-sifat tertentu dan banyak kegunaannya bagi kehidupan.6. Pernapasan memerlukan udara dan berlangsung dalam alat-alat tertentu.7. Dalam tubuh manusia dan hewan terdapat rangka dan organ-organ yang sudah tertentu letaknya.8. Pertumbuhan dialami oleh semua makhluk hidup.9. Bunyi dihasilkan oleh benda yang bergetar dan mempunyai sifat-sifat tertentu.Rambu-rambu1. GBPP ini merupakan pedoman mengajar bagi guru yang mengandung tujuan yang harus dicapai siswa, bahan kajian yang telah dirumuskan dalam konsep- konsep, serta pembelajarannya.2. Tujuan pelajaran menggambarkan hasil berlajar yang harus dimiliki siswa dan cara siswa memperoleh hasil belajar tersebut. Hasil belajar meliputi pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai.3. Urutan materi telah disesuaikan dengan sistematika keilmuan mata pelajaran IPA, tetapi apabila dalam pelaksanaannya dipandang perlu guru masih diperkenankan mengubah urutan tersebut asal masih berada dalam caturwulan yang sama.4. Pembelajaran menggambarkan keluasan dan kedalaman bahan kajian, kemampuan siswa yang dikembangkan atau kegiatan siswa dalam proses 87
  • 97. belajar. Kegiatan siswa dalam pembelajaran merupakan saran untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar.5. Pengembangan dan penggunaan keterampilan proses harus dilaksanakan dengan tuuan untuk memahami konsep-konsep dan memecahkan masalah.6. Program belajar-mengajar hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. Belajar itu hendaknya bermakna b. Belajar itu hendaknya dimulai dari yang: - dekat ke yang jauh, - sudah diketahui ke yang belum diketahui, - konkret ke yang abstrak - mudah ke yang sukar, - sederhana ke yang rumit. c. Memperhatikan perbedaan perorangan dalam minat dan kemampuan.7. Penanaman dan penerapan konsep hendaknya dilakukan dengan cara menyesuaikan dengan keadaan lingkungan dan kebutuhan daerah setempat.8. Penilaian hasil belajar mencakup penilaian pemahaman konsep dan penguasaan keterampilan proses. II. PROGRAM PENGAJARANKelas IVTujuan:1. Siswa mampu melakukan percobaan dan menafsirkan hasilnya untuk memahami sifat-sifat, kegunaan, dan daur air.2. Siswa mampu melakukan percobaan dan menafsirkan hasilnya untuk mengenali sifat-sifat, kegunaan, dan cara pelapukan batuan serta memahami bagian-bagian tanah, penyuburan dan pengikisannya, sehingga menyadari perlunya perlindungan dan pelestarian alam.3. Siswa memahami susunan, sifat, dan kegunaan udara serta pengertian atmosfer, dengan melakukan percobaan, pengamatan dan menafsirkan informasi. 88
  • 98. 4. Siswa mengenali pernapasan, susunan tubuh, fungsi dan kekuatan rangka, serta tanda-tanda pertumbuhan makhluk hidup, dengan menafsirkan informasi dan hasil pengamatannya.5. Siswa mampu melakukan percobaaan untuk memahami bunyi dan sifat- sifatnya.6. Siswa dapat mengembangkan kemampuan merancang dan membuat karya berupa benda atau sistem sederhana dengan menerapkan pengetahuannya tentang air, udara, dan bunyi.Caturwulan: 1 (72 jam Pelajaran)1. Siswa mampu melakukan percobaan untuk memahami sifat-sifat, kegunaan, dan daur air serta peristiwa-peristiwa lainnya tentang air, dengan menafsirkan informasi dan hasil pengamatannya.Air 1.1 Air mempunyai sifat-sifat tertentu dan banyak kegunaannya. 1.1.1 Air menempati ruang dan mempunyai berat. • Melakukan percobaan untuk menunjukkan bahwa air membutuhkan ruang dan memiliki berat. 1.1.2 Permukaan air yang tenang selalu datar. • Mengamati permukaan air tenang pada kedudukan yang berbeda, kemudian membandingkan kedataran permukaan air tenang dengan air yang bergelombang. • Membuat alat pengukur kedataran sebagai contoh penerapan konsep ini. 1.1.3 Air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. • Melakukan percobaan sederhana dan membahas hasilnhya bahwa air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. • Memecahkan masalah bagaimana mengalirkan air dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggi menggunakan alat-alat sederhana. 1.1.4 Air dapat melarutkan berbagai zat. o Melakukan percobaan untuk menentukan zat yang larut dan yang tidak larut. 89
  • 99. • Membahas manfaat kelarutan zat dalam air bagi makhluk hidup. 1.1.5 Air menekan ke segala arah. • Melakukan percobaan yang menunjukkan bahwa air menekan ke segala arah. 1.1.6 Air meresap melalui celah-celah kecil. • Melakukan percobaan peresapan air dan membandingkan kecepatan peresapannya pada bahan-bahan berserat. • Membahas penerapan konsep ini, misalnya naiknya minyak tanah pada pemeliharaan kompor / lampu tempel agar nyala apinya baik. 1.1.7 Air dapat berubah wujud jika dipanaskan atau didinginkan. • Melakukan percobaan yang menunjukkan perubahan wujud air (menguap, mengembun) • Membahas peristiwa terjadinya hujan dan dauir air. • Membahas bagaimana air dapat berubah menjadi zat padat (membeku) dengan pendinginan, dan mengamati perubahan wujud padat air (es) menjadi cair (mencair). 1.1.8 Air yang bergerak dapat digunakan untuk pembangkit tenaga listrik. • Membahas (secara sederhana) tentang cara kerja pembangkit listrik tenaga air (PLTA).1.2 Berbagai benda padat bila dimasukkan ke dalam air, benda itu akan mengalami peristiwa yang berbeda. 1.2.1 Benda dikatakan terapung jika benda itu berada di permukaan air dan dikatakan tenggelam bila benda itu turun hingga ke dasar. • Meramalkan benda-benda mana yang akan terapung atau tenggelam, dan melakukan percobaan untuk mengujinya. • Memecahkan masalah, membuat benda-benda yang tenggelam menjadi terapung atau sebaliknya, misalnya dengan menggabungkan gabus dengan kawat atau paku kecil. 1.1.2 Benda dikatakan melayang jika benda itu berada di antara permukaan dan dasar. 90
  • 100. • Membuat benda melayang, misalnya dengan menggabungkan benda tenggelam dengan benda terapung.(Sumber: Kurikulum Pendidikan Dasar: Garis-garis Besar Program Pengajaran(GBPP) Kelas IV Sekolah Dasar (SD) Mata Pelajaran IPA, Jakarta: Depdikbud,1993),F. Prinsip pengembangan kurikulum pada masa Orde BaruWalaupun Kurikulum 1968 termasuk dalam kurikulum pada masa pemerintahanOrde Baru, namun prinsip dan pendekatan pengembangannya masih sama dengankurikulum pada awal kemerdekaan s.d. masa Orde Lama.Kurikulum 1975Kurikulum 1975 dikembangkan dengan menggunakan prinsip dan pendekatanpengembangan yang berbeda dengan era sebelumnya.Kurikulum 1975 didahului oleh kondisi pembaharuan pendidikan dan kurikulumsekolah dasar selama pelaksanaan Repelita I tahun 1969 - 1974 berikut ini.1. Usaha pembaharuan kurikulum dan metode mengajar yang dilaksanakan Proyek Pembaharuan Kurikulum dan Metode Mengajar (PKMM) yang meliputi mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah (Jawa dan Sunda), IPA, IPS, dan Pendidikan Kesenian. Proyek PKMM Jakarta yang menangani mata pelajaran Bahasa Indonesia berhasil menyusun satu seri buku pelajaran yang menggunakan metode struktural-analitis-sintetis (SAS), baik untuk pelajaran membaca (permulaan dan lanjutan) maupun untuk pelajaran bahasa. Seri buku ini dicetak secara massal setelah menunjukkan hasil yang cukup memuaskan dalam uji coba pada 50 SD di Jakarta. Proyek-proyek PKMM yang lain berhasil juga menyusun seri buku pelajaran lain untuk diujicoba tetapi tidak dicetak massal karena ada proyek Paket Buku SD yang menangani penulisan buku-buku yang bersangkutan, terutama buku pelajaran Matematika baru, IPA, dan IPS. 91
  • 101. 2. Sekolah Laboratorium IKIP Malang yang diikutsertakan dalam proyek ini mengadakan percobaan pembaharuan pendidikan SD untuk seluruh mata pelajaran.3. Usaha penulisan dan pengadaan buku-buku pelajaran SD yang mulai dicetak massal, yaitu seri Bahasa Indonesia (hasil Proyek PKMM), Matematika, IPA, dan IPS (hasil Proyek Paket Buku SD). Langkah pembaharuan yang paling maju adalah diperkenalkannya Matematika Baru. Dengan digunakannya buku- buku pelajaran ini,m de facto Kurikulum 1968 mulai ditinggalkan dan Kurikulum 1975 mulai dirintis.4. Usaha identifikasi permasalahan pendidikan nasional melalui pengamatan lapangan yang dilakukan Poryek Penilaian Nasional Pendidikan (PPNP) sekitar tahun 1970-an, melalui seminar seperti yang dilakukan di Cipayung, Bogor.5. Usaha mencari kerangka kerja dan mekanisme pembaharuan kurikulum melalui lokakarya, seperti yang diadakan Lembaga Pengembangan Kurikulum Badan Pengembangan Pendidikan (BPP) Agustus 1971 di Bandung.6. Usaha identifikasi dan penyusunan tujuan kurikuler lembaga-lembaga pendidikan (SD, SLTP, SLTA) pada tahun 1971 / 1972 yang dilakukan sekelompok peserta latihan penggunaan pendekatan sistem (system approach) dlam perencanaan pendidikan. Latihan ini dilakukan BPP bersama American Institute for Research (AIR) yang disponsori Unesco. Latihan ini ternyata menjadi titik awal usaha menyusun kurikulum peralihan yang dikenal sebagai Kurikulum 1975 yang sebelumnya diujicoba pada sekolah-sekolah Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) di 8 IKIP, yaitu IKIP Padang, Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Malang, Surabaya, dan Ujung Pandang.7. Pada sekolah-sekolah PPSP ini diperkenalkan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSP) yang berorientasi tujuan yang kemudian berkembang menjadi satuan pelajaran pada Kurikulum 1975.Semua usaha ini dimungkinkan karena ada biaya pembangunan dan bantuan luarnegeri, dan bantuan Unesco. 92
  • 102. Prinsip-prinsip yang digunakan dalam mengembangkan Kurikulum 1975 adalahsebagai berikut:1. Prinsip fleksibilitas program: Penyelenggaraan pendidikan keterampilan di SD misalnya harus mengingat faktor-faktor ekosistem dan kemampuan menyediakan fasilitas bagi berlangsungnya program tersebut2. Prinsip efisiensi dan efektivitas3. Prinsip berorientasi pada tujuan4. Prinsip kontinuitas5. Prinsip pendidikan seumur hidup(Kurikulum Sekolah Dasar 1975: Garis-garis Besar Program Pengajaran, Buku I:Ketentuan-ketentuan Pokok, Jakarta: PN Balai Pustaka, 1976).Prinsip berorientasi pada tujuan amat dipengaruhi model rasional Ralph Tyleryang telah digunakan dalam pengembangan kurikulum di Amerika Serikat. Padatahun 1971 Depdikbud mengundang Ralph Tyler untuk memberikan saran-saranpada tahap awal pengembangan Kurikulum 1975, terutama tentang bagaimanamengidentifikasi kebutuhan tiap sektor kehidupan masyarakat yang penting danbagaimana menterjemahkan dan menjabarkan kebutuhan itu dalam tujuanpendidikan dan kurikulum. Bertolak dari tujuan-tujuan itu, dikembangkan tujuan-tujuan lain yang lebih spesifik, materi, sistem instruksional, metode belajar-mengajar, dan sistem evaluasi.Empat pertanyaan kunci dalam mendesain kurikulum menurut model teknologiTyler adalah: 1. Apa tujuan-tujuan pendidikan yang harus dicapai sekolah? 2. Pengalaman apa yang dapat disediakan untuk mencapai tujuan-tujuan ini? 3. Bagaimana pengalaman belajar itu dipilih dan diorganisasi agar berguna untuk mencapai tujuan itu? 4. Bagaimana mengevaluasi efektivitas pengalaman belajar atau ketercapaian tujuan itu?(Tyler R W, 1949) 93
  • 103. Selanjutnya, proses mendesain kurikulum mengikuti langkah-langkah sepertitertera pada gambar berikut ini. Gambar 5.1 Langkah-langkah desain kurikulum(Sumber: http://www.uni.edu/~bian/curri/day%20three%20curriculum.ppt)Proses desain kurikulum sampai kepada persiapan mengajar guru kemudiandirumuskan dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instuksional (PPSI) yangdiujicoba pada 8 sekolah PPSP pada 8 IKIP. Selanjutnya, PPSI ini dirumuskandalam bentuk satuan pelajaran yang diperkenalkan melalui Kurikulum 1975.Tujuan introduksi satuan pelajaran ini adalah agar sebelum mengajar guruhendaknya membuat persiapan mengajar.Seluruh model Tyler sampai PPSI ini tampaknya membawa dampakkecenderungan terlalu ditekankannya tujuan-tujuan instruksional yang berciribehavioristik yang kurang sesuai dengan kecenderungan pola pikir deduktif-logisdalam membentuk manusia Indonesia yang berjiwa Pancasila. Selain itu, polapencapaian tujuan instruksional yang terlalu behavioristik cenderung melemahkanupaya penerapan model sekolah kerja dan pendekatan inkuiri yang menjadiharapan utama dalam pelaksanaan Kurikulum 1947, 1964, dan 1968. 94
  • 104. Kurikulum 1984Prinsip dan pendekatan pengembangan Kurikulum 1984 berbeda dengan yangdigunakan pada Kurikulum 1975.Prinsip-prinsip pengembangan Kurikulum 1984 dikemukakan berikut ini:1. Pendekatan belajar lebih menekankan bagaimana anak belajar daripada apa yang dipelajari, tanpa mengabaikan ketuntasan belajar yang memperhatikan kecepatan belajar murid. Hal ini dapat dilaksanakan dengan kelompok. Dengan kelompok tersebut murid dapat belajar sambil berbuat agar mampu mengelola perolehannya. Pendekatan ini disebut keterampilan memproses perolehan.2. Kegiatan penilaian terutama diarahkan kepada upaya untuk menentukan seberapa jauh tujuan-tujuan, baik yang bersifat proses maupun hasil belajar yang diinginkan, telah terwujud. Penilaian dilakukan secara berkesinambungan dan menyeluruh dalam rangka memperoleh umpan balik secepat mungkin agar dapat meningkatkan kualitas belajar-mengajar dan ketuntasan belajar.3. Pengembangan kurikulum sekolah dasar berpedoman pada: a. Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945: Kurikulum dikembangkan dengan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, serta berpedoman pada GBHN yang berlaku dalam rangka mewujudkan cita- cita pembangunan nasional pada umumnya dan tujuan pendidikan nasional pada khususnya. b. Relevansi: Kurikulum dikembangkan dengan mempertimbangkan baik tuntutan kebutuhan murid pada umumnya maupun tuntutan kebutuhan murid secara perorangan sesuai dengan minat, bakat dan kemampuannya, serta kebutuhan lingkungan pada khususnya. c. Pendekatan pengembangan: Pengembangan kurikulum dilakukan secara terus-menerus, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kebijaksanaan pemerintah, dan hasil-hasil penilaian terhadap 95
  • 105. pelaksanaan dan hasil-hasil yang telah dicapai untuk mengadakan perbaikan dan pemantapanpengembangan lebih lanjut. d. Pendidikan seumur hidup: Kurikulum dikembangkan untuk membuka kemungkinan pelaksanaan pendidikan seumur hidup. e. Keluwesan: Kurikulum dikembangkan dengan mempertimbangkan keluwesan program dan pelaksanaannya.(Sumber: Kurikulum 1984 SD (Sekolah Dasar): Landasan, Program, danPengembangan, Jakarta: Pusatbangkurrandik, Depdikbud, 1984).Pengembangan Kurikulum 1984 menggunakan pendekatan keterampilan proses(process skill approach), yang diperkenalkan Wynne Harlen, seorang ahli sainsuntuk sekolah dasar dari Inggris yang menjadi konsultan sains bagi PusatKurikulum dalam rangka kerja sama antara Pemerintah Inggris dan DepartemenPendidikan dan Kebudayaan yang diwakili Pusat Kurikulum BP3K. Konsultanyang menjadi koordinator adalah Hugh Hawes dari Institute of EducationUniversity of London, yang kemudian dilanjutkan oleh Roy Gardner. Kerja samaini diawali dengan kegiatan sains untuk SD dan kemudian dirintis ProyekSupervisi bagi guru SD di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat yang dimulai padatahun 1979. Proyek ini kemudian dinamakan Active Learning throughProfessional Support (ALPS) Project. Di Indonesia proyek ini dikenal sebagaiProyek CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Selain itu, gagasan baru supervisi gurumelalui forum kerja sama guru melalui Kelompok Kerja Guru (KKG), kepalasekolah melalui Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS), Kelompok KerjaPenilik Sekolah (KKPS), dan Pusat Kegiatan Guru (PKG) secara resmidimasukkan ke dalam pedoman pembinaan guru pada Kurikulum 1984.Keterampilan proses pada dasarnya adalah keterampilan ilmiah yang amat jelasdilatih dalam pelajaran IPA. Contoh keterampilan proses disajikan berikut ini. Dasar (basic): - Melakukan observasi (dengan pancaindera) - Membandingkan - Membuat klasifikasi 96
  • 106. - Mengukur dan menggunakan alat - Mengkomunikasikan - Membuat inferensi (kesimpulan sementara) - Membuat prediksi - Melakukan analisis - Membuat generalisasi - Melakukan evaluasi - Membuat hipotesis Terintegrasi (integrated): - Memecahkan masalah secara kreatif - Mengambil keputusan - MenyelidikiKarena pendekatan keterampilan proses dianut dalam pengembangan Kurikulum1984, dirumuskan berbagai keterampilan proses dalam berbagai mata pelajaran.Berikut ini disajikan ilustrasi sejumlah keterampilan proses yang pada dasarnyadapat diterapkan pada berbagai mata pelajaran 97
  • 107. 98
  • 108. 99
  • 109. 100
  • 110. 101
  • 111. 102
  • 112. Kurikulum 1994Hasil-hasil dari Proyek Supervisi bagi guru SD yang kemudian dikenal dengansebutan populer “Proyek CBSA” yang dimulai di Cianjur pada tahun 1979kemudian direplikasi di Kota Mataram di Provinsi Nusa Tenggara Barat,Kabupaten Maros di Sulawesi Selatan, Kota Binjai di Sumatera Utara, KotaBandar Lampung di Lampung, Kabupaten Sidoarjo di Jawa Timur, danKabupaten Tanah Laut di Kalimantan Selatan. Selain itu, Pusat Kurikulum jugabekerja sama dengan beberapa daerah lain dalam upaya replikasi ini. Sejalandengan itu, direktorat sekolah dasar pada Ditjen Dikdasmen melakukanmelakukan diseminasi melalui penataran terpusat dan kantor-kantor wilayahDepdikbud melakukan penataran tingkat provinsi yang dilanjutkan ke tingkatkebupaten dan kecamatan. Di samping itu, ada juga inisiatif sejumlah perguruanswasta yang bekerja sama dengan Pusat Kurikulum dan daerah-daerah binaanreplikasi untuk menerapkan cara belajar siswa aktif. Penerbit swasta juga ikutmengupayakan introduksi atau integrasi pendekatan belajar aktif dalam bukupelajaran yang diterbitkan.Dasawarasa 1980-an adalah dasawarsa kegairahan mencoba dan menerapkan carabelajar siswa aktif. Proyek Supervisi atau CBSA itu secara resmi diakhiri padatahun 1992 sejalan dengan keputusan ODA / DFID Pemerintah Inggrismengakhiri bantuan kepada proyek ini. Hasil-hasil pengembangan cara belajarsiswa aktif dan supervisi guru ini dimasukkan ke dalam Kurikulum 1994 danpedoman-pedomannya.Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum pada Kurikulum 1994 dikemukakanberikut ini:1. Kegiatan belajar-mengajar dilaksanakan dengan sistem klasikal yang mengelompokkan anak dengan usia dan kemampuan rata-rata hampir sama menerima pelajaran dari seorang guru dalam mata pelajaran yang sama dalam waktu dan tempat yang sama. Bila diperlukan dapat dibentuk penglompokan sesuai dengan tujuan dan keperluan pengajaran. 103
  • 113. 2. Kegiatan belajar-mengajar pada dasarnya mengembangkan kemampuan psikis dan fisik serta kemampuan penyesuaian sosial siswa secara utuh. Dalam rangka mempersiapkan siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan menengah atau memasuki lapangan kerja, perlu diusahakan pengembangan sikap bertanggung jawab dalam belajar dan mengemukakan pendapat, serta kemandirian dalam mengambil keputusan.3. Mengingat anekaragamnya mata pelajaran, cara penyajian pelajaran hendaknya memanfaatkan berbagai sarana penunjang seperti kepustakaan, alat peraga, lingkungan alam dan budaya, serta masyarakat dan narasumber.4. Kegiatan belajar-mengajar sebagai pembelajaran tambahan dapat diberikan kepada siswa baik yang akan melanjutkan ke pendidikan menengah maupun yang akan memasuki lapangan kerja / masyarakat umum. Siswa dapat mengikuti satu atau beberapa mata pelajaran sebagai pelajaran tambahan di luar jam pelajaran pada susunan program pengajaran, dengan jatah waktu yang sesuai dengan keadaan. Kegiatan pembelajaran tambahan dapat berupa kegiatan perbaikan atau kegiatan pengayaan.(Sumber: Kurikulum Pendidikan Dasar: Landasan, Program, dan Pengembangan,Depdikbud, 1993).Jika diamati secara teliti, dalam berbagai kurikulum (GBPP) mata pelajaranpendekatan belajar aktif menjadi warna yang menonjol. Dari segi penyajian isikurikulum dalam GBPP, komponen kegiatan belajar amat ditekankan. Hal initerlihat dari uraian tentang kegiatan belajar yang aktif yang merupakan porsiutama dan terbesar dalam keseluruhan GBPP. Khusus dalam kurikulum matapelajaran Bahasa Indonesia dikembangkan dengan menggunakan pendekatankomunikatif (communicative approach) yang menekankan keterampilanberbahasa mengganti pendekatan struktural (structural approach) yangmenekankan tatabahasa dalam kurikulum-kurikulum sebelumnya (Kurikulum1947 s.d. Kurikulum 1984). Penerapan pendekatan komunikatif dalam BahasaIndonesia berdampak juga kepada pengembangan kurikulum Bahasa Inggris SMPdan SMA yang menggunakan pendekatan yang sama. 104
  • 114. Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa pendekatan belajar aktif merupakanpendekatan pengembangan yang dianut dalam mengembangkan Kurikulum 1994.Gagasan-gagasan utama pendekatan ini dikemukakan dalam gambar-gambarberikut ini. Gambar 5.2 Inti pengertian belajar aktif tampak pada gambar iniPendekatan belajar aktif adalah implementasi pandangan konstruktivisme dalambelajar. Vygotsky (1978) menekankan konvergensi elemen-elemen sosial danpraktis dalam belajar. Momen yang amat signifikan dalam lintasan perkembanganintelektual terjadi ketika berbicara (speech) dan kegiatan praktik, dua jalurperkembangan yang sebelumnya sepenuhnya tak saling tergantung (independen),berkonvergensi. Melalui kegiatan praktik seorang anak mengkonstruksi maknadalam dirinya (pada tingkat intrapribadinya), sedangkan berbicaramenghubungkan makna ini dengan dunia antar-pribadi yang di-share oleh anakdan budayanya. Pandangan Vigotsky ini dapat digambarkan berikut ini. 105
  • 115. Gambar 5.3 Unsur-unsur belajar aktif Dalam penerapan belajar aktif unsur-unsur pendekatan belajar aktif inimeruapakan ciri-ciri sejauh mana sebuah sekolah telah melaksanakan pendekatan belajar aktif. 106
  • 116. Gambar 5.4 Prinsip-prinsip belajar aktifInilah prinsip-prinsip operasional pendekatan belajar aktif. 107
  • 117. KURIKULUM SD PADA MASA REFORMASI A. Landasan hukum perubahan / pengembangan kurikulum Tabel 6.1 Landasan hukum pengembangan kurikulum pada masa reformasiKurikulum Pancasila & TAP MPR & UU Peraturan Keputusan Menteri UUD 1945 GBHN Pemerintah2004 UUD 1945 Tap MPR No. Undang-Undang Peraturan Terbit tanpa keputusan Menteri dan IV/MPR/1999 No. 20 Tahun Pemerintah No. tapi hanya dengan kata perubahannya tentang GBHN 2003 tentang 25 Tahun 2000 pengantar Kepala Balibang dan Sistem tentang Direktur Jenderal Pendidikan Pendidikan Kewenangan Dasar dan Menengah, Depdiknas Nasional Pemerintah dan Kewenangan Undang-Undang Provinsi sebagai No. 22 Tahun Daerah Otonom 1999 tentang Pemerintah Daerah2006 UUD 1945 Undang-Undang Peraturan Peraturan Mendiknas No. 22 dan No. 20 Tahun Pemerintah Tahun 2006 tentang Standar Isi perubahannya 2003 tentang Nomor 19 Tahun untuk Satuan Pendidikan Dasar Sistem 2005 tentang dan Menengah, No. 23 tentang Pendidikan Standar Nasional Standar Kompetensi Lulusan Nasional Pendidikan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, dan No. 24 tentang Pelaksanaan Kepmen No. 22 dan 23 Pengembangan kurikulum pada masa reformasi amat ditentukan oleh: ● Tap MPR No. IV/MPR/1999 tentang GBHN ● Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ● Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah ● Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom ● Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan 108
  • 118. B. Dasar pengambilan keputusan kurikulum pada masa reformasi Tabel 6.2 Dasar pengambilan keputusan pada Kurikulum 2004 dan 2006 Dasar keputusan tentang Kurikulum 2004 Kurikulum 2006 kurikulum1. Alasan pedagogis yang sahih V # Alasan mengganti kurikulum kurang kuat2. Bukti (evidensi) terbaik yang V Berdasar perbandingan # Hanya modifikasitersedia kurikulum di negara lain Kurkulum 20043. Konteks tujuan pendidikan yang V Ciri-ciri manusia Indonesia V Sama dengan Kurikulumumum berdasarkan UU SPN 2002 20044. Konteks keputusan sebelumnya & V #kebutuhan keputusan tambahan5. Paduan kekuatan pelajar, proses V Tuntutan pendekatan # Terlalu cepat pergantianbelajar, tuntutan masyarakat & mata kompetensi pengembangan kurikulumpelajaran kurikulum6. Kerja sama orang yang terlibat & V Dilibatkan pakar, praktisi, # Melibatkan praktisiorang yang paling terkena dampak konsultan, dan instansi yang lapangan, hanya waktu amatkeputusan relevan singkat7. Fakta baru kehidupan seperti V Tuntutan perkembangan X Belum ada perkembanganperkembangan ilmu, rasa persatuan & ilmu & teknologi informasi & barukeanekaragaman komunikasi8. Perbedaan individual siswa # Belum tergambar dalam # Kompetensi dasar tanpa iindikator kompetensi indikator9. Pandangan realistis V Masuk ide guru membuat V Sama dengan Kurikulumpengorganisasian: desain kurikulum, silabus 2004pengalaman siswa, pengaturan waktu10. Pandangan tentang cara komunikasi V V& diseminasi kurikulum11. Pengalaman siswa yang tidak dapat V Vdiperoleh dengan memuaskan di luarsekolah 109
  • 119. Tabel ini menunjukkan bahwa dasar-dasar pengambilan keputusan kurikulumsebagaimana berlaku umum di dunia internasional semakin diikuti dalampengembangan kurikulum-kurikulum di Indonesia. Semakin lama semakin baikdan sesuai dasar pengambilan keputusan yang digunakan.C. Ciri-ciri manusia pada kurikulum pada masa reformasiKurikulum 2004:Penyelenggaraan pendidikan dasar bertujuan untuk menghasilkan lulusan yangberiman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia;mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi anggota masyarakat yangbertanggung jawab dan demokratis; dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.Pendidikan Dasar berlangsung selama 9 tahun, yaitu mulai dari kelas I hinggakelas IX. Di jalur sekolah dan madrasah, Pendidikan Dasar dimulai dari kelas Isampai kelas VI Sekolah Dasar (SD) atau Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) atauMadrasah Intidaiyah (MI), dan dilanjutkan mulai kelas VII smpai kelas IX diSekolah Menengah Pertama (SMP) atau Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa(SMPLB) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs). Di jlaur nonformal, PendidikanDasar setara dengan Paket A dan B. Wajib belajar berlaku bagi peserta didikberumur 7 tahun sampai menamatkan jenjang Pendidikan Dasar.Kompetensi Lulusan Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah adalah sebagaiberikut:• Mengenali dan berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang diyakini.• Mengenali dan menjalankan hak dan kewajiban diri, beretos kerja, dan peduli terhadap lingkungan.• Berpikir secara logis, kritis, dan kreatif serta berkomunikasi melalu berbagai media.• Menyenangi keindahan.• Membiasakan hidup bersih, bugar, dan sehat.• Memiliki rasa cinta dan bangga terhadap bangsa dan tanah air.(Sumber: Kurikulum 2004: Kerangka Dasar, Jakarta: Depdiknas, 2003). 110
  • 120. Kurikulum 2006:Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) dikembangkanberdasarkan tujuan setiap satuan pendidikan, yakni: 1. Pendidikan Dasar, yang meliputi SD/MI/SDLB/Paket A dan SMP/MTs./SMPLB/Paket B bertujuan: Meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.Adapun Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) selengkapnyaadalah: SD/MI/SDLB*/Paket A 1. Menjalankan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan anak 2. Mengenal kekurangan dan kelebihan diri sendiri 3. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungannya 4. Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi di lingkungan sekitarnya 5. Menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kreatif 6. Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif, dengan bimbingan guru/pendidik 7. Menunjukkan rasa keingintahuan yang tinggi dan menyadari potensinya 8. Menunjukkan kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari 9. Menunjukkan kemampuan mengenali gejala alam dan sosial di lingkungan sekitar 10. Menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan 111
  • 121. 11. Menunjukkan kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa, negara, dan tanah air Indonesia 12. Menunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni dan budaya lokal 13. Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang 14. Berkomunikasi secara jelas dan santun 15. Bekerja sama dalam kelompok, tolong-menolong, dan menjaga diri sendiri dalam lingkungan keluarga dan teman sebaya 16. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis 17. Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung(Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP); (Lampiran PeraturanMenteri Pendidikan Nasional No. 23 Tahun 2006 Tanggal 23 Meil 2006.LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR23 TAHUN 2006 TANGGAL 23 MEI 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan(SKL)). 112
  • 122. D. Perkembangan struktur program kurikulum pada masa reformasiKurikulum 2004: Tabel 6.3 Struktur Kurikulum Sekolah Dasar & Madrasah Ibtidaiyah Alokasi Waktu Kelas I dan II III s.d. IV A. Mata Pendidikan 3 Pelajaran Agama Pendekatan TEMATIK Bahasa Indonesia 5 113
  • 123. Alokasi Waktu Kelas I dan II III s.d. IV Matematika 5 Sains 4 Pengetahuan 4 Sosial Kerajinan 4 Tangan dan Kesenian Pendidikan 4 Jasmani B. Kegiatan Kegiatan 2 Belajar Pembiasaan Pembiasaan Jumlah 27 31Penjelasan untuk Kelas I dan II1) Pengelolaan kegiatan pembelajaran dalam mata pelajaran dan kegiatan belajar pembiasaan dengan menggunakan pendekatan tematik diorganisasikan sepenuhnya oleh sekolah dan madrasah.2) Penjelasan teknis pendekatan tematik diatur dalam pedoman tersendiri.3) Alokasi waktu total yang disediakan adalah 27 jam pelajaran per minggu. Daerah, sekolah atau madrasah dapat menambah alokasi waktu total atau 114
  • 124. mengubah alokasi waktu mata pelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa, sekolah, madrasah atau daerah.4) Satu jam pelajaran tatap muka dilaksanakan selama 35 menit.5) Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (2 semester) adalah 34 – 40 minggu dan jam tatap muka per minggu adalah 945 menit (16 jam), jumlah jam tatap muka per tahun adalah 544 jam (32 640 menit).6) Alokasi waktu sebanyak 27 jam pelajaran pada dasarnya dapat diatur dengan bobot berkisar: (a) 15% untuk Agama; (b) 50% untuk Membaca dan Menulis Permulaan serta Berhitung; dan (c) 35% untuk Sains, Pengetahuan Sosial, Kerajinan Tangan dan Kesenian dan Pendidikan Jasmani.7) Sekolah dan madrasah dapat mengenalkan teknologi informasi dan komunikasi sesuai dengan kemampuannya.Penjelasan untuk Kelas III, IV, V, dan VI:1) Pengelolaan kegiatan pembelajaran dalam mata pelajaran dan kegiatan belajar pembiasaan diorganisasikan sepenuhnya oleh sekolah dan madrasah.2) Penjelasan teknis kegiatan belajar pembiasaan diatur dalam pedoman tersendiri.3) Alokasi waktu total yang disediakan adalah 31 jam pelajaran per minggu. Daerah, sekolah atau madrasah dapat menambah alokasi waktu toal tau mengubah alokasi waktu mata pelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa, sekolah, madrasah atau daerah.4) Satu jam pelajaran tatap muka dilaksanakan selama 40 menit. Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (2 semester) adalah 34 – 40 minggu, dan jam tatap muka per minggu adalah 21 jam ( 1 240 menit) jumlah jam tatap muka per tahun adalah 714 jam (42 840 menit).5) Sekolah dan madrasah dapat memberikan mata pelajaran Bahasa Inggris mulai kelas IV sesuai dengan kemampuan. 115
  • 125. 6) Sekolah dan madrasah dapat mengenalkan teknologi informasi dan komunikasi sesuai kemampuan.7) Sekolah dan madrasah bertaraf internasional dapat menggunakan Bahasa Inggris dan bahasa asing lain sebagai bahasa pengantar sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan.(Sumber: Kurikulum 2004: Kerangka Dasar, Jakarta: Depdiknas, 2003)Kurikulum 2006: Tabel 6.4 Struktur Kurikulum SD/MI 2006 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Komponen Kelas dan Alokasi Waktu I II III IV, V, dan VI A. Mata Pelajaran 1. Pendidikan Agama 3 2. Pendidikan Kewarganegaraan 2 3. Bahasa Indonesia 5 4. Matematika 5 5. Ilmu Pengetahuan Alam 4 6. Ilmu Pengetahuan Sosial 3 7. Seni Budaya dan Keterampilan 4 8. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan 4 Kesehatan B. Muatan Lokal 2 C. Pengembangan Diri 2*) Jumlah 26 27 28 32 *) Ekuivalen 2 jam pembelajaran 116
  • 126. Penerapan struktur ini pada tingkat sekolah tampak sebagai berikut: Tabel 6.5 STRUKTUR KURIKULUM SDN PONDOK BAMBU 14 Kelas dan Alokasi Waktu Komponen I II III IV, V, DAN VI A. Mata Pelajaran 1. Pendidikan Agama 3 2. Pendidikan Kewarganegaraan 2 3. Bahasa Indonesia 5 4. Matematika 5 5. Ilmu Pengetahuan Alam 4 6. Ilmu Pengetahuan Sosial 3 7. Seni Budaya dan Ketrampilan 4 8. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 4 B. Muatan Lokal 1. Kesenian Jakarta 1 2. PLKJ 1 3. Bahasa Inggris 2 C. Pengembangan Diri 1. Pramuka 1 2. Komputer 1 Jumlah 30 31 32 36E. Perkembangan komponen kurikulum pada masa reformasiKurikulum 2004:Contoh Sains Kelas IVA. Kerja Ilmiah Standar Kompetensi: Siswa mampu melakukan pengamatan, mendeskripsikan, menggunakan standar pengukuran sederhana, serta mengembangkan sikap ilmiah. 117
  • 127. Tabel 6.6 Tabel Kompetensi dasar Kurikulum Berbasis Kompetensi (Kurikuum 2004) Kompetensi Hasil Belajar Indikator Materi Dasar Pokok1. Melakukan 1.1 Mengajukan * Mengemukakan pendapat Terintegrasipenyelidikan pertanyaan penelitian tentang suatu topik untuk dalamilmiah sederhana mendata yang telah diketahui. pembelajaran * Membuat pertanyaan dengan bantuan guru misalnya: “apa yang ingin kita cari?”, “bagaimana cara kita menemukan / menyelidiki?” 1.2 Menyusun * Mendiskusikan sesuatu yang perencanaan kerja didengar atau dilihat ilmiah melalui * Memberikan gagasan dalam pengamatan atau merencanakan suatu penyelidikan percobaan 1.3 Mengumpulkan * Melakukan penyelidikan informasi / data sederhana dengan dua atau tiga langkah, misalnya: mengumpulkan hewan-hewan kecil dan menggolongkannya. * Melakukan pengamatan dan pengukuran dengan menggunakan alat. * Membuat catatan hasil pengamatan dan pengukuran. 1.4 Mengolah * Mengelompokkan informasi / informasi / data data. * Menganalisis data. * Menafsirkan hasil analisis.2. Berkomunikasi 2.1 Membuat laporan * Membuat kesimpulan dari hasil Terintegrasiilmiah ilmiah sederhana. penyelidikan. dalam * Mendeskripsikan hasil pembelajaran 118
  • 128. penyelidikan ilmiah sederhana dalam bentuk laporan. 2.2 Menyajikan * Menyusun informasi sains informasi sains dengan menggunakan sarana dan sumber. * Menyajikan informasi sains dengan berbagai cara.3. Menujukkan dst. dst. dst.kreativitas dalammemecahkanmasalah4. Bersikap ilmiah dst. dst. dst.B. Pemahaman konsep dan Penerapannya1. Makhluk hidup dan Proses Kehidupan Standar Kompetensi: Siswa mampu memahami hubungan antara bagian alat tumbuh makhluk hidup dengan fungsinya, dan memahami bahwa beragam makhluk hidup memiliki daur hidup yang berbeda, serta memahami bahwa interaksi terjadi antar-makhluk hiudp serta antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Tabel 6.7 Tabel Contoh Kompetensi Dasar Kurikulum 2004 Kompetensi Hasil Belajar Indikator Materi Dasar Pokok1. Mencari 1.1 Mendeskripsikan * Menjelaskan kegunaan rangka. * Rangkahubungan antara rangka manusia, fungsi, * Mempraktikkan cara merawat manusia,bagian alat tubuh dan pemeliharaannya rangka, misal mengkonsumsi fungsi, danmakhluk hidup makanan yang mengandung Vitamin pemeliharaandengan fungsinya D, kalsium, fosfor serta sikap tubuh nya sewaktu duduk, berdiri, tidur, dan berjalan. * Mencari informasi tentang penyakit dankelainan yang umumnya terjadi pada rangka. 1,2 Mendekripsikan alat * Mengidentifikasi ala indera * Alat indera 119
  • 129. Kompetensi Hasil Belajar Indikator Materi Dasar Pokok indera manusia, fungsi, manusia berdasarkan pengamatan. manusia, dan pemeliharaannya * Menjelaskan kegunaan alat indera. fungsi, dan * Mencari informasi tentang pemeliharaan kelainan alat indera yang disebabkan nya. oleh kebiasaan buruk, misalna membaca di tempat yang kurang terang, dan minum air panas. * Memberi contoh cara merawat alat indera. 1.3 Menggolongkan * Mengidentifikasi jenis makanan Jenis hewan berdasarkan jenis hewan. makanan makanan * Menggolongkan hewan-hewan hewan yang termasuk pemakan tumbuhan (herbivora), pemakan daging (karnivora), dan pemakan segala (omnivora). 1.4 Mendeskripsikan * Mengidentifikasi bagian tubuh Bagian- bagian-bagian tubuh tumbuhan dan fungsinya bagi bagian tumbuhan dan fungsinya tumbuhan itu sendiri. tumbuhan bagi tumbuhan itu * Membandingkan bagian-bagian sendiri tumbuhan, seperti perakaran, bunga, dan daun.2. Menyajikan 2.1 Menjelaskan daur * Mendeskripsikan urutan daur Daur hidupinformasi yang hidup hewan hidup hewan misalnya kupu-kupu, hewanmenggambarkan nyamuk, dan kecoa secaradaur hidup sederhana.beberapa hewan * Menyimpulkan berdasarkanyang dikenalnya pengamatan bahwa tidak semuasecara sederhana hewan berubahnya bentuk padadan cara hewan menunjukkan adanyamemperlakukan p[ertumbuhan.hewan. * Membuat laporan hasil pengamatan daur hidup hewan yang dipeliharanya.*) 2.2 Menerapkan cara * Mengidentifikasi cara merwat dan Perawatan 120
  • 130. Kompetensi Hasil Belajar Indikator Materi Dasar Pokok memperlakukan hewan memelihara hewan peliharaan. dan * Mendemonstrasikan cara merawat pemeliharaan dan memelihara hewan peliharaan hewan peliharaan3. Menyimpulkan 3.1 Mendeskripsikan * Mengidentifikasi.hubungan khas Salingadanya saling jenis hubungan khas antarmakhluk hidup (simbiosis), ketergantungaketergantungan antar-makhluk hidup misalnya lebah / kupu-kupu dan nantar-makhluk bunga, tumbuhan parasit dan antarmakhlukhidup dan antara inangnya. hidupmakhluk hidup * Mengkomunikasikan manfaat dandengan kerugian yang terjadi akibatlingkungannya. hubungan antar-makhluk hidup. 3.2 Menafsirkan * Mengamati bentuk-bentuk saling hubungan antara ketergantungan antara hewan dan makhluk hidup dan tumbuhan di lingkungan sekitar, lingkungannya misalnya hewan memakan rumput, cacaing, memakan daun-daun busuk dan berguna bagi kesuburan tanah. * Menggambarkan hbuungan antara makan dan dimakan antar-makhluk hidup melalui rantai makanan sederhana. * Memprediksi kemungkinan yang akan terjadi bila lingkungan berubah, misalnya akibat dari pencemaran di sungai, kebakaran di hutan, dan penebangan pohon. 121
  • 131. Kurikulum 2006:IPA Kelas IV, Semester 1Tabel 6.8 Standar kompetensi dan kompetensi dasar IPA kelas IV Kurikulum 2006 Standar Kompetensi Kompetensi DasarMakhluk Hidup danProses Kehidupan1. Memahami 1.1 Mendeskripsikan hubungan antara struktur hubungan antara kerangka tubuh manusia dengan fungsinya struktur organ tubuh 1.2 Menerapkan cara memelihara kesehatan kerangka manusia dengan tubuh fungsinya, serta 1.3 Mendeskripsikan hubungan antara struktur panca pemeliharaannya indera dengan fungsinya 1.4 Menerapkan cara memelihara kesehatan panca indera2. Memahami hubungan 2.1 Menjelaskan hubungan antara struktur akar antara struktur bagian tumbuhan dengan fungsinya tumbuhan dengan 2.2 Menjelaskan hubungan antara struktur batang fungsinya tumbuhan dengan fungsinya 2.3 Menjelaskan hubungan antara struktur daun tumbuhan dengan fungsinya 2.4 Menjelaskan hubungan antara bunga dengan fungsinya3. Menggolongkan 3.1 Mengidentifikasi jenis makanan hewan 122
  • 132. Standar Kompetensi Kompetensi Dasar hewan, berdasarkan 3.2 Menggolongkan hewan berdasarkan jenis jenis makanannya makanannya4. Memahami daur 4.1 Mendeskripsikan daur hidup beberapa hewan di hidup beragam jenis lingkungan sekitar, misalnya kecoa, nyamuk, makhluk hidup kupu-kupu, kucing 4.2 Menunjukkan kepedulian terhadap hewan peliharaan, misalnya kucing, ayam, ikan5. Memahami hubungan 5.1 Mengidentifikasi beberapa jenis hubungan khas sesama makhluk (simbiosis) dan hubungan “makan dan dimakan” hidup dan antara antar makhluk hidup (rantai makanan) makhluk hidup 5.2 Mendeskripsikan hubungan antara makhluk hidup dengan dengan lingkungannya lingkungannyaBenda dan Sifatnya6. Memahami beragam 6.1 Mengidentifikasi wujud benda padat, cair, dan gas sifat dan perubahan memiliki sifat tertentu wujud benda serta 6.2 Mendeskripsikan terjadinya perubahan wujud cair berbagai cara padat cair; cair gas cair; padat gas penggunaan benda 6.3 Menjelaskan hubungan antara sifat bahan dengan berdasarkan sifatnya kegunaannya 123
  • 133. Muatan Kurikulum di SDN Pondok Bambu 14Muatan kurikulum meliputi 8 mata pelajaran, 3 muatan lokal, dan 2pengembangan diri. 1. Mata Pelajaran Mata Pelajaran di SDN Pondok Bambu 14 terdiri dari 8 mata pelajaran yaitu : 1. Pendidikan Agama 2. Pendidikan Kewarganegaraan 3. Bahasa Indonesia 4. Matematika 5. Ilmu Pengetahuan Alam 6. Ilmu Pengetahuan Sosial 7. Seni Budaya dan Ketrampilan 8. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 2. Muatan LokalMuatan Lokal di SDN Pondok Bambu 14 terdiri atas: 1. Kesenian Jakarta 2. Pendidikan Lingkungan Kehidupan Jakarta (PLKJ) 3. Bahasa Inggris 3. Pengembangan Diri Pengembangan diri di SDN Pondok Bambu 14 terdiri atas : 1. Pramuka 2. Komputer 124
  • 134. Contoh silabus dan RPP di sekolah: 3. SILABUS MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM KELAS IV SEMESTER 1 STANDAR MATERI KOMPETENSI DASAR INDIKATOR KOMPETENSI POKOKMahluk Hidup dan • Mendeskripsikan hubungan • Menjelaskan kegunaan Struktur organproses kehidupan antara struktur kerangka tubuh rangka tubuh manusia dengan fungsinya. manusia1. Memahami • Mempraktikan sikap tubuh hubungan antara • Menerapkan cara memelihara yang baik untuk menjaga struktur organ kesehatan kerangka tubuh bentuk rangka, misalnya cara tubuh manusia duduk, cara berdiri dan cara • Mendeskripsikan hubungan dengan tidur. antara struktur panca indra fungsinya, serta dengan fungsinya • Mencari penyakit yang pemeliharaanya berhubungan dengan rangka • Menerapkan cara memelihara kesehatan panca indra • Mengidentifikasikan panca indra manusia berdasarkan pengamatan. • Menjelaskan kegunaan panca indra (Mata, telinga, hidung, lidah kulit). • Mencari informasi tentang kelainan panca indra yang sebabkan oleh kebiasaan buruk, misalnya membaca ditempat yang kurang terang. • Memberi contoh car merawat panca indra (Mata, telinga, hidung, lidah kulit).2. Memahami • Menjelaskan hubungan antara • Mengidentifikasi bagian Struktur hubungan antara struktur akar tumbuhan dengan tumbuhan dan fungsinya bagian struktur bagian tumbuhan 125
  • 135. STANDAR MATERI KOMPETENSI DASAR INDIKATOR KOMPETENSI POKOK tumbuhan fungsinya bagi tumbuhan itu sendiri. dengan • Menjelaskan hubungan antara • Membandingkan bagian- fungsinya struktur batang tumbuhan bagian tumbuhan, seperti dengan fungsinya perakaran, bunga dan daun • Menjelaskan hubungan antara struktur daun tumbuhan dengan fungsinya • Menjelaskan hubungan antara bunga dengan fungsinya3. Menggolong-kan • Mengidentifikasikan jenis • Mengidentifikasi jenis Jenis hewan, makanan hewan makanan hewan makanan berdasarkan hewan • Menggolong-kan hewan • Menggolongkan hewan- jenis makananya berdasarkan jenis makananya hewan yang termasuk pemakan tumbuhan (herbivora), pemakan daging (carnivora), dan pemakan segala (Omnivora).4. Memahami daur • Mendeskripsi-kan daur hidup • Mendeskripsikan urutan Daur hidup hidup beragam beberapa hewan dilingkungan daur hidup kecoa, nyamuk, hewan dan jenis makhluk sekitar, misalnya kecoa, kupu-kupu, kucing. cara hidup nyamuk, kupu-kupu, kucing memelihara • Menyimpulkan berdasarkan hewan • Menunjukan kepedulian pengamatan bahwa tidak terhadap hewan peliharaan, semua hewan berubah misalnya kucing, ayam, ikan bentuk dengan cara yang sama. • Menyimpulkan bahwa berubahnya bentuk pada hewan menunjukan adanya pertumbuhan 126
  • 136. STANDAR MATERI KOMPETENSI DASAR INDIKATOR KOMPETENSI POKOK5. Memahami • Mengidentifikasikan beberapa • Mengidentifikasi hubungan • hubungan jenis hubungan khas khas antar mahlukh hidup sesama makhluk (simbiosis) dan hubungan (simbiosis), misalnya kupu- hidup dan antara ”makan dan dimakan” antara kupu, lebah, bunga, makhluk hidup makhluk hidup (rantai tumbuhan parasit dan dengan makanan) benalu. lingkunganya • Mendeskripsikan hubungan • Mengkomunikasikan antara makhluk hidup dengan manfaat dan kerugian yang lingkunganya. terjadi akibat hubungan makhluk hidup. • Mengamati bentuk-bentuk salaing ketergantungan antar hewan dan tumbuhan yang terdekat dilingkungan, misalnya cacing memakan daun-daun busuk dan berguna bagi kesuburan tanah. • Menggambarkan hubungan makanan dan dimakan antar makhluk hudup melalui rantai makanan • Memprediksi kemungkinan yang akan terjadi jika lingkungan berubah, misalnya sebagai akibat dari penebangan hutan secara sembaranganBenda dan sifatnya • Mengidentifikasi wujud benda • Mengidentifikasikan sifat • padat, cair, dan gas memiliki benda padat, cair dan gas.6. Memahami sifat tertentu beragam sifat • Mengelompokan benda- dan perubahan benda berdasarkan 127
  • 137. STANDAR MATERI KOMPETENSI DASAR INDIKATORKOMPETENSI POKOKwujud benda wujudnya. • Mendeskripsikan terjadinyaberdasarkan perubahan wujud • Mengidentifikasikansifatnya cair padat cair,cai gas ca perubahan wujud benda ir, padat gas yang dapat kembali ke wujud semula. • Menjelaskan hubungan antara sifat bahan dengan • Menjelaskan faktor yang kegunaannya mempengaruhi perubahan wujud benda • Memberi contoh perubahan wujud benda • Menghidentifikasi kesesuaian sifat bahan dengan kegunaannya, misalnya plastik untuk membuat payung. • Membandingkan berbagai bahan untuk menentukan bahan yang paling cocok untuk tujuan tertentu • Membandingkan bahan tertentu sesuai sifat dan kegunaannya, misalnya penyerapan air pada berbagai jenis kertas. • Membuat daftar berbagai bahan kemasan suatu produk makanan yang dikaitkan dengan sifatnya, misalnya pembungkus permen coklat dari alumunium foil. • Membuat daftar berbagai 128
  • 138. STANDAR MATERI KOMPETENSI DASAR INDIKATORKOMPETENSI POKOK alat rumah tangga yang dihubungkan dengan sifat bahan dan kegunaannya. 129
  • 139. Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam Kelas/Semester : IV/Satu Standar Kompetensi : Makhluk Hidup dan Proses Kehidupan Kompetensi Dasar : 1.1 Mendeskripsikan hubungan antara struktur kerangka tubuh manusia dengan fungsinya 1.2. Menerapkan cara memelihara kesehatan kerangka tubuh. Alokasi waktu : 4 x 35 menit Materi Kegiatan Alokasi Sumber Pokok/ Pembelajaran Indikator Penilaian Waktu BelajarPembelajaranStruktur tubuh • Mengamati tulang- • Menjelaskan • Lembar 4 x 35’ • Kurikulumanusia tulang yang ada didalam kegunaan rangka pengama-tan m KTSP tubuh masing-masing • Membandingkan • Performan-ce • Buku dengan cara memukul fungsi rangka test IPA dengan jari kebagian manusia dan • Test tertulis kelas IV anggota tubuh yang rangka hewan • Rangka keras • Mempraktikkan manu-sia • Melaporkan hasil sikap tubuh yang • Gam-bar pengamatan dan baik untuk rangka membuat kesimpulan menjaga bentuk manu-sia • Mengamati dan rangka misalnya membandingkan rangka cara duduk, cara manusia akan rangka berdiri dan cara hewan dengan tidur. menggunakan gambar • Mencari • Mengamati fungsi informasi tentang rangka manusia dan penyakit yang bagian-bagianya dengan berkaitan dengan alat peraga atau gambar rangka • Membuat kesimpulan 130
  • 140. • Membuat sketsa • Menjelaskan • Tes Tertulis : 6 x 35’ Gambar petunjuk kembali isi Membuat denah • Membuat denah rumah petunjuk untuk denah rumah sekolah ke sampai ke sekolah mengecek ke sekolah kelurahan kebenaran • Tes Perbuatan : • Mengikuti Berjalan ke petunjuk untuk suatu tempat menemukan berdasarkan suatu tempat petunjuk4. RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM SDN PONDOK BAMBU 14 Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam Kelas/Semester : IV / Satu Aspek : Rangka Manusia, fungsi dan pemeliharaanya Standar Kompetensi : Makhluk Hidup dan Proses Kehidupan Waktu :I. KOMPETENSI DASAR 1. Mengenal bagian-bagian tubuh dan kegunaannya serta cara perawatanya. 2. Menerapkan cara memelihara kesehatan kerangka tubuh.II. INDIKATOR • Menjelaskan kegunaan rangka • Membandingkan fungsi rangka manusia dan rangka hewan • Mempraktikan sikap tubuh yang baik untuk menjaga bentuk rangka misalnya cara duduk, cara berdiri dan cara tidur. • Mencari informasi tentang penyakit yang berkaitan denganm rangka. 131
  • 141. III. MATERI POKOK Rangka manusiaIV. URAIAN MATERI 1. Kegunaan rangka 2. Membandingkan fungsi kerangka tubuh manusia dan kerangka tubuh hewan 3. Sikap tubuh yang baik 4. Beberapa penyakit yang berkaitan dengan rangkaV. PENGALAMAN BELAJAR A. Kegiatan awal (persepsi) Siswa mengamati tulang-tulang yang ada di dalam tubuhnya masing- masing dengan cara memukul dengan jari ke bagian anggota tubuh yang keras. B. Kegiatan inti 1. Siswa mengamati dan membandingkan rangka manusia dan rangka hewan, dengan menggunakan gambar. 2. Siswa menyebutkan fungsi rangka. 3. Guru menjelaskan rangka manusia dan bagian-bagianya dengan alat peraga atau gambar. 4. Dengan bantuan gambar rangka manusia siswa mengamati bentuk tulang dan menunjukan contohnya. 5. Siswa mencari informasi tentang zat penyusun tulang. 6. Siswa mengamati sendi dan macam-macam persendian. 7. Siswa mengamati gangguan pertumbuhan yang dipengaruhi oleh sikap duduk yang tidak benar. 8. Siswa mengamati rangka hewan dan membandingkannya dengan rangka manusia. 132
  • 142. 9. Siswa mengamati bentuk rangka hewan yang ditiru oleh manusia seperti pondasi cakar ayam, pesawat terbang dan kapal selam.VI. PENUTUP (TINDAK LANJUT) Siswa membuat kesimpulan tentang rangka manusia, fungsi rangka, dan cara memulihkan kesehatan rangka.VII. METODE/SUMBER BELAJAR A. Metode 1. Informasi 2. Tanya jawab 3. Demonstrasi 4. Diskusi 5. Inkuiri (penemuan) B. Sumber belajar 1. Kurikulum 2006 2. Buku IPA kelas IV 3. Rangka manusiaVIII. PENILAIAIAN A. penilaian produk 1. Siswa mengamati rangka manusia dan hewan, apakah hewan tersebut di bawah ini memiliki tulang kepala, tulang badan dan tulang anggota gerak. 2. Siswa mengisi kolom yang kosong dengan membubuhkan tanda MEMILIKI MEMILIKI MEMILIKI TULANG No. NAMA HEWAN TULANG TULANG ANGGOTA KEPALA BADAN GERAK 1. Manusia 2. Kucing 133
  • 143. MEMILIKI MEMILIKI MEMILIKI TULANG No. NAMA HEWAN TULANG TULANG ANGGOTA KEPALA BADAN GERAK 3. Katak 4. Kambing 5. Ikan 6. Burung 7. Belalang 8. Ayam 9. Laba-laba 10. Cicak2. Menjawab pertanyaan 1. Di hewan yang tertulis pada tabel ada yang tidak memiliki tulang kepala ? 2. Adakah hewan yang tertulis pada tabel adayang tidak mempunyai tulang badan ? 3. Adakah hewan yang tertulis pada tabel yang tidak mempunyai tulang anggota gerak ?Buatkan kesimpulanPrersentase penilaian • Ketepatan dan kelengkapan pada pengisisan kolom • Ketepatan menjawab pertanyaan • Ketepatan membuat kesimpulan + Jumlah 134
  • 144. I. Berilah tanda silang (x) pada salah satu huruf a, b, c, atau d didepan jawaban yang paling benar ! 1. Rangka yang berguna melindungi otak adalah ... a. tulang tengkorak c. tulang pinggul b. tulang dada d. tulang rusuk 2. Paru-paru dan jantung dilindungi oleh ... a. tulang rusuk dan rahang c. tulang dada dan selangka b. tulang pinggang dan punggung d. tulang rusuk dan dada 3. Persambungan tulang yang tidak dapat digerakkan terdapat pada ... a. tulang leher c. tulang lengan b. tulang kepala d. tulang paha 4. Di bawah ini adalah fungsi rangka, kecuali ... a. melindungi bagian-bagian tubuh yang penting b. tempat melekatnya otot dan daging c. membentuk tubuh d. membentuk daging 5. Berikut ini yang dinamakan tulang anggota gerak adalah ... a. tungkai dan lengan b. tungkai dan tulang belakang c. lengan dan leher d. kepala dan tungkai 6. Menurut bentuknya, tulang dapat dibedakan seperti di bawah ini, kecuali ... a. tulang pendek c. tulang pipih b. tulang panjang d. tulang pipa 135
  • 145. 7. Hubungan dua tulang yang dapat digerakkan kesegala arah disebut sendi ... a. peluru c. engsel b. putar d. pelana 8. Rangka hewan yang ditiru manusia karena kekuatannya menyangga beban berat adalah ... a. kaki gajah c. kaki ayam b. kaki kuda d. kaki cicak 9. Di bawah ini kelompok hewan yang termasuk hewan berkerangka dalam adalah ... a. laba-laba, kepiting udang b. kepiting, siput, ikan c. burung, ayam, kambing d. kambing, belalang, ikan 10. Kelainan akibat tulang punggung membungkuk ke belakang disebut ... a. kifosis c. rahitis b. skoliosis d. lordosisII. Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang tepat ! 1. Otak manusia dilindungi oleh rangka ... 2. Tulang rusuk berfungsi melindungi ... 3. Pesawat terbang dibuat berdasarkan tiruan rangka ... 4. Rangka anggota gerak bawah terdiri dari tulang ... 5. Berdasarkan zat penyusunnya tulang dibedakan menjadi tulang ... dan ... 6. Tulang rusuk berjumlah ... 7. Persambungan tulang yang tidak dapat digerakkan terdapat pada ... 136
  • 146. 8. Sisik dan sirip ikan merupakan rangka ... ikan. 9. Ikan berenang meliukkan badannya kearah yang dituju dengan bantuan ... 10. Kelainan tulang akibat tulang punggung terlalu bongkok ke depan disebut...III. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan jelas dan benar ! 1. Secara garis besar rangka manusia dapat dikelompokan menjadi 3 bagian sebutkan ! Jawab _____________________________________________________ 2. Sebutkan 3 macam sendi yang dapat digerakkan ! Jawab _____________________________________________________ 3. Sebutksn tiga macam kegunaan rangka ! Jawab _____________________________________________________ 4. Sebutkan 3 macam hewan yang bentuk rangkanya ditiru manusia dalam karyanya membuat peralatan ! Jawab _____________________________________________________ 5. Sebutkan zat-zat yang menyusun tulang. Jawab _____________________________________________________ 137
  • 147. Mengetahui Jakarta, Juli 2006 Kepala Sekolah Guru mata pelajaran SDN Pondok Bambu 14 Dra. Dwi Tyas Utami Dra. Eko Lestariyanti, MPd NIP. 131 463 770 NIP. 131438 274F. Prinsip pengembangan kurikulum pada masa reformasiKurikulum 2004Inovasi pendekatan belajar aktif kemudian digabungkan dan diintegrasikan kedalam inovasi melalui manajemen berbasis sekolah (MBS) yang diprakarsaiUnicef bekerja sama dengan Direktorat Sekolah Dasar Ditjen Dikdasmen danPusat Kurikulum Balitbang Depdiknas yang dirintis pada tahun 1999. Kemudianinovasi ini dikenal dengan nama MBS-Pakem (Pakem adalah singkatan dariPembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Semula yang konsepsiProyek MBS-Pakem ini dirintis pada Kabupaten Mojokerto di Jawa Timur,Kabupaten Magelang dan .... di Jawa Tengah, dan Kabupaten Bantaeng diSulawesi Selatan. Dalam waktu singkat provinsi-provinsi lain ingin bergabungdalam gerakan ini, seperti provinsi NTT, Maluku, dan Papua. Kemudian, DitjenDikdasmen dan Unicef mengundang berbagai NGO yang berkiprah di sekolahdasar untuk mendorong dan menerapkan MBS-Pakem. Berbagai dinas pendidikandi daerah-daerah juga melibatkan diri dalam gerakan ini sehingga gagasan yangdiperkenalkan ini dapat dikatakan telah diadopsi dalam sistem pendidikannasional.Berdasarkan pertimbangan kondisi MBS-Pakem di lapangan dan tuntutan otonomidaerah sambil belajar dari studi banding dan penelusuran literatur tentangpengembangan kurikulum di dunia internasional, akhirnya Pusat Kurikulum 138
  • 148. bersama pimpinan Balitbang Depdiknas memilih pendekatan berbasis kompetensi(competence-based curriculum development) dalam mengembangkan KurikulumBerbasis Kompetensi yang disebut pula Kurikulum 2004.Dokumen nasional Kurikulum 2004 yang pada akhirnya diterapkan di lapangankembali menggunakan matriks atau tabel yang terdiri dari 4 kolom, yaitu standarkompetensi, kompetensi dasar, indikator, dan materi pokok. Berdasarkandokumen kurikulum nasional ini, tiap sekolah diberi otonomi untukmengembangkan silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sendiri.Pengertian kompetensi adalah kemampuan yang merupakan hasil belajar(oucome) berupa karya siswa 2 dimensi (yang ditulis pada kertas / wadah yangrata berdimensi panjang dan lebar) dan 3 dimensi (dimensi panjang, lebar, dantinggi), unjuk kerja (performance), dan perilaku. Kemampuan ini dikembangkandari proses belajar-mengajar yang mengolah dan memproses “air” pengetahuan,keterampilan, serta sikap dan nilai (yang berasal dari “air” ‘anak sungai’pengetahuan, ‘anak sungai’ keterampilan, dan ‘anak sungai’ nilai dan sikapsedangkan dalam ‘sungai besar’ “air” dari tiga ‘anak sungai’ itu telah terintegrasi,tidak dibeda-bedakan lagi dalam ‘sungai besar’ proses belajar-mengajar). Amatigambar berikut ini! Gambar 6.1 Input, proses, dan outcome kompetensi 139
  • 149. Kemampuan yang dapat digolongkan sebagai kompetensi paling tidak memiliki 5kriteria, yaitu demonstrable (dapat didemonstrasikan, ditunjukkan siswa),observable (dapat diamati dengan pancaindera), consistent (konsisten atau ajekatau cenderung telah menetap), specific (spesifik, khusus, tidak terlalu umum),dan integrated (memadukan pengetahuan, keterampilan, serta sikap dan nilai).Dalam mengembangkan silabus dan RPP, guru dapat menggunakan langkah-langkah seperti ditunjukkan pada 2 gambar ini. 140
  • 150. Dalam praktik bersama para guru ternyata pengembangan silabus dan RPP akanlebih realistis dan mudah jika guru mulai dengan gagasan kreatif kegiatan belajar,kemudian mengidentifikasi alat, sumber, bahan, lalu mengidentifikasi materi danjabarannya, barulah dicari dan diidentifikasi kompetensi dasar (standar 141
  • 151. kompetensi dilihat sesudahnya). Terakhir, dari kegiatan belajar yang dirancangdapat diperkirakan kegiatan mana yang akan menghasilkan kompetensi(kemampuan yang telah memenuhi 5 kriteria tersebut) dan indikator kompetensi(tanda-tanda tercapainya kompetensi) disusun setelah diyakini kemampuan manayang telah layak digolongkan sebagai kompetensi.Prinsip-prinsip yang digunakan dalam mengembangkan Kurikulum 2004 adalahsebagai berikut:1. Peningkatan keimanan, budi pekerti luhur, dan penghayatan nilai-nilai budaya.2. Keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinestetika.3. Penguatan integritas nasional4. Perkembangan pengetahuan dan teknologi informasi.5. Pengembangan kecakapan hidup.6. Pilar pendidikan: belajar untuk memahami, belajar untuk berbuat kreatif, belajar untuk hidup dalam kebersamaan, dan belajar untuk membangun dan mengekspresikan jati diri yang dilandasi ketiga pilar sebelumnya.7. Komprehensif dan berkesinambungan.8. Belajar sepanjang hayat. 142
  • 152. 9. Diversifikasi kurikulum sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.Seluruh prinsip pengembangan kurikulum ini untuk mendukung pertumbuhansiswa melalui proses belajar-mengajar ini dapat digambarkan pada gambar pohonberikut ini.Prinsip-prinsip pelaksanaan:1. Kesamaan memperoleh kesempatan.2. Berpusat pada anak.3. Pendekatan menyeluruh dan kemitraan.4. Kesatuan dalam kebijakan dan keberagaman dalam pelaksanaan.(Sumber: Kurikulum 2004: Kerangka Dasar, Jakarta: Depdiknas, 2003).Kurikulum 2006Perbandingan Kurikulum 2004 (KBK) dan Kurikulum 2006 (KTSP) disajikanpada tabel berikut ini. 143
  • 153. Tabel 6.9 Perbandingan Kurikulum 2004 dan 2006 ASPEK Kurikulum 2004 Kurikulum 20061. Format Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Standar Kompetensi + Hasil Belajar (SD), Indikator, Materi Kompetensi Dasar Pokok2. Definisi Hasil belajar siswa yang berdampak Hasil belajar (dampaknyakompetensi (outcome), berupa karya, unjuk kerja, dan kurang diperhatikan) perilaku Definisi kompetensi tak jelas / tak ada3. Dasar pemilihan Hasil inovasi, evaluasi kurikulum, studi Polesan dokumen Kurikulumkompetensi banding kurikulum + implementasi 2004 negara2 lain, tradisi sekolah4. Pendekatan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Kurikulum Berbasispengembangan Kompetensi (KBK)kurikulum5. Contoh hasil ● Proyek PPSP 8 IKIP Tidak merujuk ke hasil-hasilinovasi ● CBSA: 1980 – 1994 berbagai inovasi ● Pendidikan luar biasa ● Jaringan kurikulum ● MBS: 1999 – kini ● Pendidikan HAM ● Kurikulum muatan lokal ● Kerja sama dengan instansi & lembaga internasional6. Contoh hasil riset Beragam riset Pusat Penelitian & Pusat Tidak merujuk ke hasil-hasil Kurikulum Balitbang, meta-analisis riset7. Silabus Unsur-unsur penting untuk PBM Unsur-unsur = Kurikulum Contoh-contoh lebih terinci 2004 Contoh seperti satpel8. Kalender 220 hari belajar per tahun 204 – 228 hari per tahunpendidikan9. Penilaian Penentuan standar kelulusan Masih sama Ujian Nasional: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika. Bentuk soal: Pilihan 144
  • 154. ASPEK Kurikulum 2004 Kurikulum 2006 ganda10. Akuntabilitas Puskur Balitbang bekerja sama dengan “Panitia ad hoc” 15 orang Ditjen Dikdasmen11. Ruang lingkup Lebih jelas karena ada indikator Kabur karena tak adakompetensi & “Mengikat” komitmen pengembangan UN indikatormateri “Tak mengikat” komitmen12. Materi Sebagian besar materikurikulum Kurikulum 2004 ada dalam Kurikulum 200613. Pendekatan Kelas I dan II Kelas I – IIItematik di SDData pada tabel ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan mendasar antaraKurikulum 2004 dan Kurikulum 2006.Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) jenjang pendidikan dasar danmenengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman padastandar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulumyang dibuat oleh BSNP. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsipberikut.1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan. 145
  • 155. 2. Beragam dan terpadu Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi.3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis, dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.5. Menyeluruh dan berkesinambungan Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.6. Belajar sepanjang hayat Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum 146
  • 156. mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal dan informal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.Seluruh prinsip pengembangan kurikulum ini untuk mendukung pertumbuhansiswa melalui proses belajar-mengajar ini dapat digambarkan pada gambar pohonberikut ini. 147
  • 157. PERKEMBANGAN MATA PELAJARAN DARI MASA KE MASAPada bab ini dikemukakan tentang perkembangan mata-mata pelajaran padaumumnya selalu muncul pada kurikulum dari masa ke masa.Pendidikan Moral:Pendidikan moral dalam sejarah kurikulum Indonesia cenderung ditekankan danmengalami perubahan dari zaman ke zaman.● Pada kurikulum pertama setelah kemerdekaan, yaitu Kurikulum 1947, pendidikan moral berdiri sendiri sebagai satu mata pelajaran, yang diberi nama “Didikan Budi Pekerti” yang diajarkan sejak kelas I SD. Isi atau materinya bersumber pada nilai moral tradisional dalam tradisi atau adat- istiadat, yang cenderung amat dipengaruhi sopan santun atau tata krama masyarakat Jawa.● Pada Kurikulum 1964, pendidikan budi pekerti digabungkan dengan Pendidikan Agama dengan nama Pendidikan Agama / Budi Pekerti. Asumsi di balik penggabungan ini adalah perlunya keserasian antara nilai-nilai moral yang bersumber dari agama dan nilai-nilai moral yang bersumber dari tradisi atau adat-istiadat. Diharapkan tidak terjadi konflik nilai antara nilai-nilai moral yang berasal dari dua sumber ini.● Namun, kemudian Departemen Agama tidak setuju dengan mengajukan keberatan secara lisan. Nama mata pelajaran dengan garis miring dapat diartikan Pendidikan Agama atau Budi Pekerti. Akibatnya, seakan-akan sekolah dapat memilih Pendidikan Agama atau Budi Pekerti. Dikhawatirkan Pendidikan Budi Pekerti dapat dianggap bisa menggantikan Pendidikan Agama. Karena keberatan ini, dalam Kurikulum 1968 Pendidikan Agama menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri sedangkan budi pekerti dimasukkan sebagai bagian Pendidikan Kewargaan Negara yang dianggap tidak sekadar mencakup Ilmu Bumi, Sejarah Indonesia, dan Civics. 148
  • 158. ● Dalam Kurikulum 1975, pendidikan moral mengalami perkembangan baru dengan menjadi bidang studi yang berdiri sendiri dengan nama Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Sebenarnya, PMP menjadi bidang studi tersendiri hanya merupakan legitimasi dari perkembangan sebelumnya melalui penerbitan buku pelajaran Pendidikan Moral Pancasila yang telah dipakai di sekolah-sekolah dari SD s.d. sekolah menengah tingkat atas (SMA dan sekolah kejuruan).● Bidang Studi PMP dipertahankan pada Kurikulum 1984 dan Kurikulum 1994. Pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004 nama bidang studi ini menjadi Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dan pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 nama bidang studi ini menjadi Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang lebih menekankan demokrasi, khususnya demokrasi Pancasila.Pendidikan Agama● Pada Kurikulum 1947 Pendidikan Agama menjadi satu mata pelajaran tersendiri yang diajarkan dari kelas III s.d. kelas VI SD. Namun, di Sumatera Pendidikan Agama diajarkan sejak kelas I SD.● Pada Kurikulum 1964 Pendidikan Agama dagabungkan dengan Didikan Budi Pekerti dengan nama mata pelajaran Pendidikan Agama / Didikan Budi Pekerti yang diajarkan sejak kelas I SD.● Pada Kurikulum 1968 unsur budi pekerti dimasukkan ke dalam Pendidikan Kewargaan Negara dan Pendidikan Agama kembali menjadi mata pelajaran tersendiri. Kedudukan Pendidikan Agama sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri dipertahankan pada kurikulum-kurikulum selanjutnya s.d. KTSP 2006.● Pada umumnya pada sistem SD di Indonesia Pendidikan Agama diajarkan oleh guru khusus Pendidikan Agama, bukan oleh guru kelas. Kalau tak ada guru khusus agama, Pendidikan Agama diajarkan oleh guru kelas. 149
  • 159. Bahasa● Dalam sejarah kurikulum Indonesia, bahasa Indonesia mendapatkan kedudukan dan peran yang amat penting. Sejak Kurikulum 1947 s.d. KTSP 2006 bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri.● Sejak Kurikulum 1947 s.d. Kurikulum 1968, sekolah dasar dibedakan menjadi dua, yaitu sekolah yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dari kelas I s.d. VI dan sekolah yang menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar pada kelas I s.d. kelas III sejak kelas I s.d. VI ada tambahan mata pelajaran, yaitu mata pelajaran Bahasa Daerah. Pada golongan sekolah yang terakhir ini, bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran tersendiri sejak kelas III.● Namun, sejak Kurikulum 1975 bahasa daerah sebagai mata pelajaran tersendiri tidak dicantumkan lagi dalam struktur program kurikulum nasional. Bahasa daerah merupakan bagian bidang studi Bahasa Indonesia, khusus bagi sekolah-sekolah yang memerlukan bahasa daerah. Khusus bagi daerah yang memerlukan pendidikan bahasa daerah, disediakan waktu 2 jam pelajaran seminggu dari kelas I sampai dengan kelas VI.● Berdasarkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2002, ada kebijakan baru mengenai penggunaan bahasa pengantar. Pada Kurikulum 1947 s.d. Kurikulum 1994 bahasa pengantar di sekolah adalah bahasa Indonesia. Namun, sejak KBK 2004 dan kemudian dipertahankan pada KTSP 2006, selain bahasa Indonesia sekolah dapat memilih bahasa asing seperti bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Kini banyak sekolah national plus dan sekolah berstandar internasional di perkotaan memilih bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Gejala yang sama terjadi juga pada perguruan tinggi. Universitas tertentu yang menetapkan kebijakan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Alasan utama penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar tampaknya kepentingan siswa yang akan melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Faktor pendorong lain adalah demi membekali siswa dengan keterampilan berbahasa Inggris yang semakin dibutuhkan perusahaan-perusahaan asing di Indonesia. Faktor umum lainnya 150
  • 160. adalah semakin dibutuhkannya keterampilan berbahasa Inggris dalam dunia kerja dan kehidupan sehari-hari.Berhitung / Matematika● Rencana Pelajaran 1947 yang disebut saja Kurikulum 1947 dan Rencana Pelajaran Terurai atau disebut saja Kurikulum 1952 dalam mata pelajaran Berhitung menekankan keterampilan berhitung lisan dan tertulis serta hafalan, yaitu hitungan angka dan hitungan soal, dan pembentukan sikap hemat. Kecuali pembentukan sikap hidup hemat penekanan pada Kurikulum 1947 pada dasarnya sama dengan rencana pelajaran atau kurikulum Holandsch Inlandscheschool (HIS) pada zaman penjajahan Belanda.● Rencana Pendidikan atau Kurikulum 1964 menekankan: Sifat berhitung praktis fungsional bagi kehidupan dan keperluan masyarakat Memupuk dan mengembangkan sikap rasional dan ekonomis Kemampuan berpikir rasional, logis, dan kritis dalam memecahkan soal- soal yang dihadapi anak dalam kehidupan sehari-hari kini dan di masa mendatang.● Kurikulum 1968 menekankan sifat berhitung yang sama dengan Rencana Pendidikan atau Kurikulum 1964. Pada kedua kurikulum ini masih ada hitungan angka tetapi lebih ditekankan latihan penguasaan empat operasi berhitung, yaitu penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian yang fungsional dalam kehidupan anak sehari-hari.● Pada periode Pelita I tampaknya belum ada niat memperkenalkan Matematika modern. Yang ditekankan adalah pembaharuan kurikulum dan metode mengajar di sekolah dasar. Upaya meningkatkan penerapan metode yang berorientasi kepada belajar aktif dilakukan oleh Ibu Dr Supartinah Pakasi dari IKIP Malang di sekolah laboratorium IKIP Malang yang dikaitkan dengan proyek Pembaharuan Kurikulum dan Metode Mengajar (PKMM) di sekolah dasar. Dalam rangka upaya ini, Ibu Pakasi menyusun satu seri buku pelajaran Berhitung dengan judul “Belajar berhitung dengan i-in dan a-an”. Dalam buku 151
  • 161. ini digunakan metode yang relatif baru yang berbeda dengan buku-buku pelajaran yang dipakai di sekolah-sekolah.● Pada tahun 1970 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan membeli hak penerbitan buku ini untuk kelas I SD. Dalam kata pengantar Menteri P dan K Mashuri, SH pada buku ini terdapat satu “kesalahan teknis” kecil melalui pernyataan bahwa “Buku Berhitung ini sengaja disusun dengan maksud agar dapat menjadi rintisan pengantar ke suasana pengajaran matematika modern.” Sebenarnya yang disajikan dalam buku ini adalah pelajaran berhitung tradisional dengan pendekatan belajar aktif tanpa ada hubungan apa pun dengan matematika modern. Dalam kenyataan, “kesalahan teknis” ini menjadi titik awal diperkenalkannya Matematika baru di sekolah dasar. Muncul kecaman terhadap “kesalahan teknis” ini dan karena itu buku berhitung ini tidak dilanjutkan untuk kelas-kelas berikutnya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan kebijakan menyusun seri baru buku pelajaran matematika modern yang merupakan saduran Entebbe Mathematics Series”. (Edisi awal seri buku ini disusun oleh “Entebbe Mathematics Workshop” dan diterbitkan oleh Silver Burdett Company, Morristown, New Yersey untuk “The African Education Program of Educational Services Inc.”, Watertown, Massachusetts, 1964 – 1969).● Karena buku Belajar Berhitung untuk kelas I telah terlanjur dicetak dalam jumlah besar dan diedarkan, seri buku matematika baru dimulai dari kelas II dan untuk kelas I disusun paling akhir setelah buku untuk kelas VI selesai. Dengan digunakannya seri buku matematika baru ini, dalam praktik Berhitung telah mulai ditinggalkan beberapa tahun sebelum lahir Kurikulum 1975.● Kurikulum 1975 memberi legitimasi penerapan matematika modern. Kebijakan memasukkan matematika modern ke dalam Kurikulum 1975 membuat Indonesia melangkah maju mengejar ketertinggalan dalam ilmu pengetahuan modern. Lebih dari berhitung, melalui matematika modern ini, anak-anak antara lain dapat: Belajar berpikir matematis sehingga dapat ikut serta menemukan fakta dan ide matematis, dalam arti mengetahui dan memahami unsur-unsur 152
  • 162. matematika dalam lingkungannya, memahami ide-ide fundamental tentang bilangan, pengukuran, dan bangun-bangun, serta memahami bahasa dan hubungan matematika. Menghargai matematika. Terampil dalam komputasi. Dalam penerapan matematika modern ini walaupun berhitung merupakan salah satu unsur, peran berhitung yang praktis dan fungsional dalam kehidupan sehari-hari bagi anak kian memudar.● (Sumber: Anwar Jasin. 1987, Pembaharuan Kurikulum Sekolah Dasar Sejak Proklamasi Kemerdekaan, Jakarta: Balai Pustaka, halaman 256 – 258).Ilmu Pengetahuan Alam Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dalam sejarah kurikulum kita pada awalnya terpisah-pisah dalam mata-mata pelajaran dengan nama Ilmu Tumbuh- tumbuhan, Ilmu Hewan dan Tubuh Manusia, kemudian muncul dengan nama Ilmu Hayat dan Ilmu Alam, lalu menjadi bidang studi (broad field of subject matters) Pengetahuan Alamiah dan terakhir Ilmu Pengetahuan Alam.● Kedudukan dan peran IPA dalam kurikulum kita cenderung mirip, bukan hanya sebagai alat untuk mengembangkan pengetahuan tentang gejala-gejala alam serta sikap ilmiah dan kritis, termasuk menghilangkan kepercayaan tahyul tetapi juga sebagai alat untuk mengembangkan sikap kagum kepada Sang Maha-Pencipta atau kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di samping itu, IPA juga menekankan pentingnya segi praktis pengetahuan alam dalam kehidupan sehari-hari guna membantu anak mengatasi masalah praktis yang menyangkut gejala atau kejadian alam dalam kehidupan sehari-hari. (Jasin Anwar, 1987).● Pada Kurikulum 1968, kepada IPA diberikan peran atau beban yang lebih berat karena di samping perannya pada kurikulum-kurikulum sebelumnya, juga diberi peran memupuk dan mengembangkan rasa sayang kepada sesama makhluk, alam sekitar, dan dengan demikian memupuk dan mengembangkan rasa cinta kepada tanah air, serta memupuk dan mengembangkan kegiatan 153
  • 163. kerja dan daya cipta dalam mengeksploitasi dan menguasai kekayaan alam untuk kehidupan masyarakat. Pada prinsipnya, peran-peran ini diteruskan pada Kurikulum 1975 (Jasin Anwar, 1987) dan kurikulum selanjutnya.● Pada Kurikulum 1947 IPA mulai diajarkan sejak kelas IV (Ilmu Hayat) sedangkan Ilmu Alam sejak kelas V. Pada Kurikulum 1964 terjadi perubahan penting karena IPA diajarkan dari kelas I s.d. kelas VI. Ini diteruskan pada Kurikulum 1968, Kurikulum 1975, dan Kurikulum 1984. Pada Kurikulum 1994 tradisi ini terputus karena pelajaran IPA kembali diajarkan sejak kelas III, bukan kelas I, seperti pada Kurikulum 1947. Pada KTSP atau Kurikulum 2006 tradisi ini dikembalikan lagi karena IPA kembali diajarkan sejak kelas I walaupun di kelas I – III IPA diajarkan bersama-sama dengan mata pelajaran lain dengan pendekatan tematik.● Dilihat dari segi alokasi waktu jam pelajaran per minggu tampak kecenderungan penambahan jumlah jam pelajaran IPA dari kurikulum ke kurikulum dan mencapai puncaknya pada Kurikulum 1994 (IPA diajarkan dari kelas III – VI dengan alokasi waktu berturut-turut 3 – 6 – 6 – 6 - 6). Namun, pada Kurikulum 2006 terjadi penurunan karena alokasi waktu untuk IPA pada kelas IV – VI masing-masing turun menjadi 4 jam pelajaran.● Dibandingkan dengan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dapatlah dikatakan bahwa ada kecenderungan memberi porsi jam pelajaran yang hampir sama antara IPA dan IPS dari Kurikulum 1947 s.d. Kurikulum 1968. Namun, sejak Kurikulum 1975 s.d. Kurikulum 2006 jatah jam pelajaran bagi IPA cenderung sedikit lebih banyak daripada IPS. Hal ini menggambarkan pandangan bahwa untuk mengejar ketertinggalan dalam perkembangan Iptek, mata pelajaran IPA perlu lebih ditekankan daripada IPS.● Pendekatan pengembangan kurikulum IPA menunjukkan perkembangan. Kurikulum IPA 1947 s.d. 1975 dikembangkan dengan pendekatan materi atau pendekatan konsep. Namun, dalam Kurikulum 1984 mulai diterapkan pendekatan keterampilan proses (process skill approach) yang lebih menekankan pengembangan keterampilan-keterampilan ilmiah daripada materi atau konsep IPA dan sebagai konsekuensinya hanya dipilih konsep- 154
  • 164. konsep esensial saja. Pendekatan keterampilan proses yang dimulai dari rintisan dan uji coba mata pelajaran IPA pada Pusat Kurikulum Balitbang Dikbud akhirnya diterima sebagai pendekatan umum dalam pengembangan mata-mata pelajaran lain dalam Kurikulum 1984. Faktor lain yang mendukung adopsi pendekatan pengembangan ini adalah mulai terlihat kemajuan dalam proyek rintisan cara belajar siswa aktif dan supervisi guru yang dilakukan Pusat Kurikulum yang dimulai di Cianjur lalu berkembang ke 8 daerah di Indonesia dan akhirnya menyebar ke seluruh Indonesia.● Dalam pengembangan KBK / Kurikulum 2004 pendekatan pengembangan kurikulum IPA mengikuti pendekatan pengembangan yang ditempuh Pusat Kurikulum, yaitu pendekatan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi (competence-based curriculum development approach). Pendekatan yang sama diteruskan dalam pengembangan KTSP / Kurikulum 2006.Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dalam sejarah kurikulum kita pada awalnya terpisah-pisah dalam mata-mata pelajaran dengan nama Ilmu Bumi, Sejarah, dan kemudian muncul dengan nama Pendidikan Kemasyarakatan (Kurikulum 1968) yang terdiri dari Ilmu Bumi, Sejarah, dan kemudian berganti nama menjadi Pendidikan Kewargaan Negara Negara yang mencakup Ilmu Bumi, Sejarah Indonesia, dan Civics, lalu menjadi bidang studi (broad field of subject matters) dengan nama Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) pada Kurikulum 1975, yang menggabungkan aspek masa lampau, wilayah geografis, dan kegiatan hidup manusia. Dasar penggabungan dalam IPS ini adalah karena masalah yang dihadapi anak atau warga negara tidaklah terpisah-pisah secara tegas seperti yang yang dilakukan dalam sistem kurikulum mata pelajaran terpisah sebelumnya. Pada Kurikulum 1975, Pendidikan Kewargaan Negara atau Civics dipisahkan dari IPS dan menjadi bidang studi yang berdiri sendiri dengan nama Pendidikan Moral Pancasila (PMP). 155
  • 165. ● Ada 2 fungsi IPS dalam Kurikulum 1975, yaitu: (1) membina pengetahuan, kecerdasan, dan keterampilan yang bermanfaat bagi perkembangan dan kelanjutan pendidikan siswa, terutama kemampuan menelaah masalah- masalah kemasyarakatan secara ilmiah, dan (2) membina sikap-sikap yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.● Pada Kurikulum 1947 IPS mulai diajarkan sejak kelas III (Ilmu Bumi) sedangkan Sejarah sejak kelas IV. Pada Kurikulum 1964 terjadi perubahan penting karena IPS diajarkan dari kelas I s.d. kelas VI. Ini diteruskan pada Kurikulum 1968. Pada Kurikulum 1975 pelajaran IPS kembali diajarkan sejak kelas III. Pada Kurikulum 1984 walaupun IPS tetap diajarkan sejak kelas III namun terjadi perubahan penting karena Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) diajarkan sejak kelas I SD. Pada Kurikulum 1994, PSPB telah dihapuskan dan IPS sebagai bidang studi tetap diajarkan sejak kelas III. Pada KTSP atau Kurikulum 2006 IPS kembali diajarkan sejak kelas I walaupun di kelas I – III IPS diajarkan bersama-sama dengan mata pelajaran lain dengan pendekatan tematik.● Pendekatan pengembangan kurikulum IPS menunjukkan perkembangan. Kurikulum IPS 1947 s.d. 1975 dikembangkan dengan pendekatan materi. Namun, dalam Kurikulum 1984 mulai diterapkan pendekatan keterampilan proses (process skill approach) yang lebih menekankan pengembangan keterampilan-keterampilan IPS daripada materi pokok IPS dan sebagai konsekuensinya hanya dipilih materi pokok saja. Pada kurikulum ini gagasan- gagasan IPS yang baik hasil pengemgangan melalui proyek rintisan cara belajar siswa aktif dan supervisi guru yang dilakukan Pusat Kurikulum di Cianjur mewarnai isi kurikulum IPS.● Dalam pengembangan KBK / Kurikulum 2004 pendekatan pengembangan kurikulum IPS mengikuti pendekatan pengembangan yang ditempuh Pusat Kurikulum, yaitu pendekatan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi. Pendekatan yang sama diteruskan dalam pengembangan KTSP / Kurikulum 2006. Dalam Kurikulum 2006 aspek kependudukan yang ada pada Kurikulum 2004 dihapuskan dalam mata pelajaran IPS. 156
  • 166. Olahraga dan KesehatanPerkembangan mata pelajaran ini dapat dilihat pada tabel berikut ini.Tabel 7.1 Perkembangan nama serta pemisahan / penggabungan olahraga dankesehatan dalam sejarah kurikulum serta alokasi waktunyaKurikulum Nama Mata Pelajaran Alokasi Waktu dari kelas I - VITahun ...1947 Gerak Badan 3-3-3-3-3-3 Kebersihan dan Kesehatan 1-1-1-1-1-11964 Pendidikan Jasmani / 3-3-4-4-4-4 Kesehatan1968 Pendidikan Olahraga 2-2-3-3-3-31975 Olahraga dan Kesehatan 2-2-3-3-3-31984 Olahraga dan Kesehatan 2-2-3-3-3-31994 Pendidikan Jasmani dan 2-2-2-2-2-2 Kesehatan2004 Pendidikan Jasmani Kelas I – II diajarkan secara tematik dan kelas III - VI 2 jam. Kesehatan masuk ke Sains2006 Pendidikan Jasmani Kelas I – III diajarkan secara tematik dan kelas IV - VI 4 jam. Kesehatan masuk ke IPA● Olahraga dan Kesehatan selalu ada dari Kurikulum 1947 s.d. Kurikulum 2006 dan diajarkan dari kelas I s.d. VI walaupun ada perubahan berupa pemisahan atau penggabungan olahraga dan kesehatan. Hal ini menunjukkan bahwa 157
  • 167. olahraga dan kesehatan tetap dipandang penting dalam pendidikan anak untuk mencapai keharmonisan antara perkembangan jasmani dan rohani.● Pada Kurikulum 1975 fungsi olahraga pendidikan adalah meningkatkan pertumbuhan biologis dan fisiologis, kesegaran jasmani dan kesehatan, ketangkasan dan keterampilan, pengetahuan dan kecerdasan, serta perkembangan emosi dan sosial.● Pada Kurikulum 2006 fungsi Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan diperluas sampai kepada pembentukan dasar karakter moral seperti tampak tujuan yang dijabarkan berikut ini. Tujuan Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan adalah agar peserta didik memiliki kemampuan: 2. Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih 3. Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik. 4. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar 5. Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai- nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan 6. Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerja sama, percaya diri dan demokratis 7. Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain dan lingkungan 8. Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif. 158
  • 168. Kesenian● Perkembangan mata pelajaran ini dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 7.2 Perkembangan nama serta pemisahan / penggabungan kesenian dalam sejarah kurikulum serta alokasi waktunyaKurikulum Nama Mata Pelajaran Alokasi Waktu dari kelas I - VITahun ...1947 Menggambar Kelas V – VI 2 jam Seni Suara 2-2-3-3-3-31964 Pendidikan Kesenian 2-2-4-4-4-4 Unsur-unsur: Seni Suara / Musik, Seni Lukis / Rupa, Seni Tari, Seni Sasra / Drama1968 Pendidikan Kesenian 2-2-4-4-4-41975 Kesenian 2-2-3-4-4-4 Terdiri dari Seni Musik, Seni Rupa, dan Seni Tari. Sastra dimasukkan ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia.1984 Pendidikan Kesenian 2-2-3-3-3-31994 Kerajinan Tangan dan 2-2-2-2-2-2 Kesenian2004 Kerajinan Tangan dan Kelas I – II diajarkan secara tematik Kesenian dan kelas III - VI 4 jam.2006 Seni Budaya dan Kelas I – III diajarkan secara tematik Keterampilan dan kelas IV - VI 4 jam.● Kesenian selalu ada dari Kurikulum 1947 s.d. Kurikulum 2006 dan diajarkan dari kelas I s.d. VI, kecuali pada Kurikulum 1947 hanya Menggambar yang diajarkan pada kelas V dan VI, walaupun ada perubahan berupa pemisahan 159
  • 169. atau penggabungan dengan Keterampilan. Hal ini menunjukkan bahwa kesenian tetap dipandang penting dalam pendidikan anak.● Tujuan Pendidikan Kesenian pada Kurikulum 1975 adalah memperkuat kepribadian nasional, memperkuat kebangsaan nasional, memperkuat kesatuan nasional, menggali kesenian daerah untuk memperkaya kesenian Indonesia, dan menanggulangi pengaruh kebudayaan asing yang tidak cocok dengan kebudayaan Indonesia.● Tujuan Pendidikan Seni Budaya pada Kurikulum 2006 terangkum dalam tujuan mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan, yaitu agar peserta didik memiliki kemampuan: 1. Memahami konsep dan pentingnya seni budaya dan keterampilan 2. Menampilkan sikap apresiasi terhadap seni budaya dan keterampilan 3. Menampilkan kreativitas melalui seni budaya dan keterampilan 4. Menampilkan peran serta dalam seni budaya dan keterampilan dalam tingkat lokal, regional, maupun global.Keterampilan● Perkembangan mata pelajaran ini dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 7.3 Perkembangan nama serta pemisahan / penggabungan keterampilan dalam sejarah kurikulum serta alokasi waktunyaKurikulum Nama Mata Pelajaran Alokasi Waktu dari kelas I - VITahun ...1947 Pekerjaan Tangan 1-1-3-3-3-3 Pekerjaan Keputrian - - - 1-2-21964 Pendidikan Keprigelan 2-2-5-5-5-51968 Pendidikan Kesejahteraan 2-2-4-4-4-4 Keluarga 2-2-5-5-5-5 Agraria: pertanian, Pendidikan Kejuruan peternakan, dan perikanan 160
  • 170. Kurikulum Nama Mata Pelajaran Alokasi Waktu dari kelas I - VITahun ... Teknik: pekerjaan tangan dan perbengkelan1975 Keterampilan Khusus 2-2-4-4-4-41984 Keterampilan Khusus 2-2-4-4-4-41994 Kerajinan Tangan dan 2-2-2-2-2-2 Digabungkan dengan Kesenian Kesenian2004 Kerajinan Tangan dan Kelas I – II diajarkan secara Kesenian tematik dan kelas III - VI 4 jam.2006 Seni Budaya dan Keterampilan Kelas I – III diajarkan secara tematik dan kelas IV - VI 4 jam. Nama Kesenian menjadi Seni Budaya● Keterampilan selalu ada dari Kurikulum 1947 s.d. Kurikulum 2006 dan diajarkan dari kelas I s.d. VI, walaupun ada perubahan berupa pemisahan atau penggabungan dengan Kesenian. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan tetap dipandang penting dalam pendidikan anak.● Ruang lingkup Keterampilan dalam Kurikulum 1975 mencakup 6 bidang, yaitu Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, pertanian, peternakan, perikanan, teknik & kerajinan, dan jasa. Fungsinya adalah sebagai dasar untuk pengembangan bakat dan kesukaan (hobi) serta dapat sekadar sarana membantu orang tua untuk mencari nafkah.● Tujuan Keterampilan pada Kurikulum 2006 terangkum dalam tujuan mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan seperti yang telah dikemukakan terdahulu. 161
  • 171. Dari seluruh uraian pada bab ini dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: Terjadi penambahan mata pelajaran dalam sejarah kurikulum SD. Jumlah mata pelajaran kemudian dikurangi pada Kurikulum 1975 s.d. Kurikulum 2006, namun jika diamati isi (volume) mata pelajaran tampak ada penambahan materi yang amat meningkat pada Kurikulum 1975. Walaupun Kurikulum 1984 dimaksudkan untuk mengurangi beban Kurikulum 1975, tampaknya upaya mengurangi materi ini belum terjadi secara signifikan. Kurikulum 1994 yang dimaksudkan untuk mengurangi beban materi Kurikulum 1984 ternyata belum cukup berhasil. Materi masih terlalu banyak sehingga pada tahun 1998 diterbitkan Suplemen Kurikulum 1994. Kurikulum 2004 dan 2006 tampaknya cukup berhasil mengurangi materi kurikulum melalui penekanan kompetensi siswa. Namun, tampaknya justru terjadi peralihan ke ekstrim yang lain, yaitu terjadinya kepadatan kompetensi. Padatnya materi atau padatnya kompetensi tetap membebani siswa dalam belajar. Walaupun terjadi perubahan nama mata pelajaran dan desain kurikulum, mata-mata pelajaran yang selalu ada dan bertahan dalam sejarah kurikulum SD di Indonesia adalah: Pendidikan moral atau pendidikan kewarganegaraan Pendidikan agama Bahasa Indonesia Berhitung / matematika Ilmu pengetahuan alam Ilmu pengetahuan sosial Olahraga dan kesehatan Kesenian Keterampilan 162
  • 172. PERKEMBANAN KOMPONEN KURIKULUM DARI MASA KE MASABerdasarkan paparan tentang komponen kurikulum pada bab-bab sebelumnya,terutama pada Bab IV s.d. Bab VI, pada bab ini dikemukakan tentangperkembangan komponen kurikulum dari masa ke masa.Seperti telah dikemukakan pada Bab IV, pada umumnya kurikulum paling tidakmengandung 6 komponen, yaitu tujuan, materi atau bahan, metode atau kegiatanbelajar, sumber belajar yang terdiri dari alat, bahan, sumber, (alat) penilaian, danalokasi waktu. Tujuan Sumber Materi belajar UNSUR KURIKULUM Alokasi Kegiatan waktu belajar PenilaianBelajar tentang dan belajar dariDari pengamatan terhadap paparan komponen-komponen kurikulum padaberbagai kurikulum ini, khususnya dari mata pelajaran IPA dari segi materi ataubelajar tentang apa (learning about) dan dari segi kompetensi atau kemampuanyang diperoleh dari belajar tentang apa (learning from), kecenderungan umumnyadisajikan pada tabel berikut ini. 163
  • 173. Tabel 8.1 Kecenderungan penekanan materi atau kemampuan / kompetensi pada kurikulum IPA Kurikulum Learning about Learning from 1968 Materi lebih dominan Kemampuan ilmiah ada tapi kurang ditekankan 1975 Materi lebih Kemampuan ilmiah ada tapi dominan kurang ditekankan 1984 Materi = konsep Keterampilan proses esensial lebih ditekankan 1994 Materi masih padat Kemampuan ditekankan melalui kegiatan belajar yang lebih dominan 2004 Materi sedikit Kompetensi ditekankan 2006 Materi lebih sedikit Kompetensi ditekankan = Simbol ini menggambarkan keluasan atau sebesar apa penekanan (aksentuasi) Perbandingan komponen kurikulum Amatilah tabel berikut ini yang menggambarkan komponen kurikulum dalam sejarah kurikulum di Indonesia! Tabel 8.2 Perbandingan komponen Kurikulum 1947 s.d. 2006No Kurikulum Tujuan Materi Desain Metode / Sumber Penilaian Bentuk kegiatan belajar penyajian belajar1 Kurikulum Nasional Tersendiri Separated Didaktik- - - Naratif 1947 metodik2 Kurikulum Nasional Tersendiri Separated Didaktik- Alat - Naratif 164
  • 174. No Kurikulum Tujuan Materi Desain Metode / Sumber Penilaian Bentuk kegiatan belajar penyajian belajar 1952 & metodik institusion al3 Kurikulum Nasional Tersendiri Separated Didaktik- - - Naratif 1964 & metodik institusion al4 Kurikulum Nasional, Tersendiri Separated Gambaran Alat - Naratif 1968 institusion (“Bahan”) KBM al, kurikuler, instruksion al5 Kurikulum Ibid Tersendiri Broad-fields Hanya Alat, Teknik & Matriks: 1975 (Pokok sebutkan sumber alat GBPP Bahasan & metode bahan penilaian; (kata / Sub-Pokok mengajar pedoman konsep) Bahasan) penilaian6 Kurikulum Ibid Tersendiri Broad-fields; Metode Alat, Alat Matriks: 1984 (Pokok konsep mengajar bahan, penilaian; GBPP Bahasan & esensial & contoh sumber pedoman (contoh Sub-Pokok kegiatan penilaian kegiatan: Bahasan) & belajar naratif) dalam contoh kegiatan belajar7 Kurikulum Ibid Tersendiri Broad-fields Daftar - - Matriks: 1994 (Pokok & integrated kegiatan GBPP, Bahasan & belajar terutama Sub-Pokok Daftar Bahasan) & kegiatan: dalam daftar naratif kegiatan belajar 165
  • 175. No Kurikulum Tujuan Materi Desain Metode / Sumber Penilaian Bentuk kegiatan belajar penyajian belajar8 Kurikulum Nasional, Dalam Broad-fields - - Indikator Silabus 2004 institusion kompetensi / strand & kompetens (pengganti al, dasar, hasil integrated i GBPP) kelompok belajar, disusun mapel, indikator, guru kurikuler, materi pokok instruksion al9 Kurikulum Ibid Dalam Broad-fields - - - Silabus 2006 kompetensi / strand & disusun dasar integrated guru Tabel ini menunjukkan hal-hal berikut ini. • Kurikulum 1947 s.d. 1968 berisi 3 komponen, yaitu tujuan, materi, dan metode atau kegiatan belajar dalam rumusan didaktik-metodik. Pada Kurikulum 1952 terkadang komponen alat dimasukkan dalam kolom Contoh dan Penjelasan sedangkan pada Kurikulum 1968 terkadang alat digabungkan dengan kegiatan. Komponen sumber belajar dan penilaian tak dicantumkan. • Kurikulum 1975 s.d. 1984 berisi 5 komponen, yaitu tujuan, materi, metode / kegiatan belajar, dan sumber belajar (alat, bahan, dan / atau sumber), dan alat penilaian.. • Kurikulum 1994 berisi 3 komponen, kecuali sumber belajar yang dimasukkan ke dalam pedoman proses belajar-mengajar dan alat penilaian yang dibahas dalam pedoman penilaian. • Sebagai kurikulum berbasis kompetensi, komponen Kurikulum 2004 terdiri dari 4 komponen, yaitu tujuan dan materi yang terkandung dalam standar kompetensi, kompetensi dasar (dan hasil belajar untuk SD), dan materi pokok serta indikator kompetensi yang menggambarkan ruang lingkup materi dan dapat dijadikan acuan membuat alat penilaian. Sebagai 166
  • 176. suatu kurikulum yang lengkap, komponen-komponen kurikulum, yaitu tujuan (kompetensi), materi (kompetensi dasar), dan indikator tinggal diambil dari dokumen kurikulum nasional, sedangkan kegiatan belajar, alat penilaian, dan sumber belajar ditentukan oleh guru. Semua komponen yang lengkap tersebut tercantum dalam silabus yang disusun guru. • Kurikulum 2006 pada prinsipnya sama dengan Kurikulum 2004. Perbedaannya adalah pada Kurikulum 2006, indikator dan materi pokok tidak dicantumkan. Indikator harus disusun oleh guru dalam penyusunan silabus.Tabel ini menunjukkan pula hal-hal lain berikut ini. • Dari segi tujuan, sejarah kurikulum memperlihatkan pencantuman hirarki tujuan yang semakin lengkap, mulai dari tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional (jenjang sekolah), tujuan kurikuler per kelompok mata pelajaran dan tujuan mata pelajaran sampai dengan tujuan instruksional (pengajaran). • Dari segi materi, dari Kurikulum 1947 – 1975 materi yang harus diajarkan dicantumkan tersendiri di bawah topik “Bahan” dan kemudian topik “Pokok Bahasan & Sub-Pokok Bahasan, terlepas dari tujuan dan kegiatan belajar. Pada Kurikulum 1984, materi dicantumkan tersendiri pada topik “Pokok Bahasan & Sub-Pokok Bahasan, yang dijabarkan dalam kolom Uraian. Pada kolom Uraian ini materi dijabarkan dan diuraikan dan disertai pula dengan gambaran atau contoh kegiatan belajar. Pada Kurikulum 1994, materi dicantumkan tersendiri pada topik “Pokok Bahasan & Sub-Pokok Bahasan serta terjabarkan pada daftar kegiatan belajar. Pada Kurikulum 2004, materi tergambar dalam kompetensi dasar, hasil belajar (SD), indikator, dan materi pokok. Sedangkan, pada Kurikulum 2006, materi tergambar dalam kompetensi dasar. • Dari segi bagaimana kurikulum didesain, kita mengenal tahapan ciri mata pelajaran yang unsur-unsur materinya diajarkan secara terpisah (separated subject matters) tanpa dikaitkan satu sama lain. Misalnya, untuk Bahasa 167
  • 177. Indonesia pada Kurikulum SD 1968, Bercakap-cakap, Mengarang, Membaca, Pengetahuan Bahasa, dan Menulis diajarkan secara terpisah tanpa saling dikaitkan atau dihubungkan. Untuk IPA, Ilmu Hayat, Ilmu Alam, dan Ilmu Kimia diajarkan secara terpisah tanpa saling dikaitkan. Desain separated subject matters ini tampak menonjol dari Kurikulum 1947 s.d. Kurikulum 1968. Sejak Kurikulum 1975, mulai diterapkan desain broad-fields of subject matters atau bidang studi untuk menampung semakin banyak mata pelajaran yang dituntut masuk ke dalam kurikulum. Dengan demikian, bidang studi IPA terdiri dari Ilmu Hayat dan Ilmu Alam. Bidang studi IPS terdiri dari Ilmu Bumi, Sejarah Indonesia, Ekonomi, Kependudukan, dan Politik. Matematika terdiri dari Berhitung (Aritmatika), Aljabar, Ilmu Ukur, dan Statistik. Di SD unsur-unsur materi tiap bidang studi mulai diintegrasikan, meskipun masih tampak ciri unsur materi.• Pada Kurikulum 1984 desain broad-fields lebih diintegrasikan melalui upaya pemilihan dan penentuan konsep esensial atau materi pokok. Pada Kurikulum 1994 desain broad-fields masih dominan namun semakin diintegrasikan melalui rincian kegiatan belajar. Ciri desain integrated of subject matters (terintegrasi, terpadu) mulai tampak menonjol pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, dan relatif tampak pula pada mata pelajaran IPA dan IPS di SD. Pada Kurikulum 2004 desain broad-fields lebih diintegrasikan melalui penerapan strand (unsur-unsur pokok suatu mata pelajaran) dan penekanan kompetensi dasar, bukan materi, serta untuk SD penerapan pendekatan tematik di kelas I dan II. Ciri integrated tampak jelas pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan bahasa asing lainnya, dan secara relatif pada mata pelajaran Matematika, IPA, dan IPS di SD. Desain Kurikulum 2006 tak berbeda dengan desain Kurikulum 2004. Penyebutan mata pelajaran IPA Terpadu dan IPS Terpadu belum mencerminkan desain integrated.• Dari segi metode mengajar atau kegiatan belajar, dari Kurikulum 1947 s.d. Kurikulum 1964 metode mengajar tak dicantumkan secara eksplisit tetapi 168
  • 178. tercermin dalam ketentuan didaktik-metodik atau contoh dan penjelasan, sedangkan pada Kurikulum 1968 dalam gambaran kegiatan belajar- mengajar. Pada Kurikulum 1975 metode mengajar dicantumkan pada kolom tersendiri, sedangkan pada Kurikulum 1984 metode mengajar dicantumkan pada kolom tersendiri dan tercermin pula pada contoh kegiatan belajar yang disarankan. Pada Kurikulum 1994, metode mengajar tak dicantumkan dalam kolom tersendiri, namun tergambar jelas pada contoh kegiatan belajar. Pada Kurikulum 2004, metode mengajar dan kegiatan belajar tak dicantumkan karena dokumen kurikulum nasional hanya terdiri dari standar kompetensi dan kompetensi dasar, hasil belajar, indikator, dan materi pokok dan standar isi. Demikian pula, pada Kurikulum 2006, metode mengajar dan kegiatan belajar tak dicantumkan karena dokumen nasional hanya terdiri dari standar kompetensi dan kompetensi dasar.• Dari segi sumber belajar, Kurikulum 1947 – 1964 tak mencantumkan sumber belajar. Pada Kurikulum 1968 terkadang dicantumkan pula alat yang perlu digunakan pada judul Kegiatan / Alat, pada Kurikulum 1975 dicantumkan alat dan sumber bahan, pada Kurikulum 1984 dicantumkan alat, bahan, dan sumber. Pada Kurikulum 1994, alat, bahan, dan sumber tak dicantumkan secara eksplisit tapi tergambar dalam kegiatan belajar. Pada Kurikulum 2004 dan 2006 sumber belajar tak dicantumkan karena harus ditentukan guru dalam silabus.• Dari segi (alat) penilaian, Kurikulum 1947 – 1968 tak mencantumkan alat penilaian. Pada Kurikulum 1975 dicantumkan teknik dan alat penilaian dan dijabarkan pada pedoman penilaian. Pada Kurikulum 1984 dicantumkan alat penilaian dan dijabarkan pada pedoman penilaian. Pada Kurikulum 1994, alat penilaian tak dicantumkan. Seluruh penilaian dibahas dalam pedoman penilaian. Pada Kurikulum 2004 alat penilaian tak dicantumkan karena harus ditentukan guru dalam silabus berdasarkan indikator kompetensi yang dicantumkan dalam kurikulum nasional. Pada Kurikulum 2006, indikator kompetensi dihapuskan dan diserahkan kepada guru untuk menyusunnya. 169
  • 179. • Dari segi penyajian, Kurikulum 1947 – 1968 disajikan secara naratif berupa uraian vertikal ke bawah. Sejak Kurikulum 1975 mulai diperkenalkan penyajian kurikulum dalam bentuk matriks, dalam format GBPP (Garis-garis Besar Program Pengajaran). Bentuk sajian ini diteruskan ke Kurikulum 1984. Penyajian Kurikulum 1994 mulai kembali lagi ke bentuk naratif. Namun pada Kurikulum 2004, penyajian kembali ke bentuk matriks, bukan dalam format GBPP, tapi dalam format Kompetensi Dasar, Hasil Belajar (SD), Indikator, dan Materi Pokok. Format GBPP secara tak langsung tercermin dalam format silabus yang harus diisi oleh guru. Pada Kurikulum 2004 format tersebut disederhanakan ke dalam matriks 2 kolom, yaitu Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. 170
  • 180. KRONOLOGI PERKEMBANGAN KURIKULUM: PENGEMBANG & CIRI-CIRI KURIKULUMDilihat dari segi landasan hukum pengembangan kurikulum dapatlah disimpulkanberikut ini. Landasan hukum perubahan kurikulum cenderung mengacu kepada Pancasila dan UUD 1945, kecuali pada Kurikulum 1964 yang amat dipengaruhi pandangan politik Nasakom dan Manipol Usdek pada masa itu. Namun, kemudian terjadi koreksi pada Kurikulum 1968 dan dimantapkan pada Kurikulum 1975 dan kurikulum-kurikulum selanjutnya. Kurikulum 1947 lahir melalui instruksi menteri, namun Kurikulum 1964 dan 1968 hanya melalui kata pengantar. Kurikulum 1975, 1984, dan 1994 lahir melalui keputusan menteri, namun Kurikulum 2004 lahir melalui kata pengantar. Kurikulum 2006 lahir melalui keputusan menteri. Kurikulum 1984 dan 2004 lahir atas tuntutan baru dalam undang-undang pendidikan yang baru. Kurikulum 1994, 2004, dan 2006 mengacu juga kepada peraturan pemerintah, di samping mengacu pula kepada undang-undang. Dalam sejarah kurikulum tampaknya landasan hukum dari konstitusi s.d. keputusan menteri cenderung semakin lengkap. Perubahan kurikulum merupakan keputusan politik karena kurikulum dipandang sebagai salah satu wahana strategis untuk merealisasi keputusan politik.Dilihat dari segi unsur-unsur kurikulum, pada prinsipnya tampak pendekatanpengembangan kurikulum pada 5 kurikulum berorientasi kepada kegiatan belajarsedangkan hanya 3 kurikulum yang berorientasi kepada tujuan. Amati diagramberikut ini! 171
  • 181. Setelah ditelaah berbagai aspek kurikulum dari Bab I s.d. Bab VIII, dapatlahdisimpulkan tentang kronologi perkembangan kurikulum di Indonesia, dalam halini ditinjau dari kurikulum SD sebagai fokus bahasan, yaitu tentang pengembangdan ciri-ciri kurikulum. Tabel 9.1 Kronologi Perkembangan Kurikulum di Indonesia Tahun Kurikulum Keterangan 1947 Rencana Kurikulum pertama di Indonesia setelah Pelajaran 1947 kemerdekaan. Pada dasarnya masih ada kemiripan dengan kurikulum HIS. Istilah kurikulum masih belum digunakan. Sementara istilah yang digunakan adalah Rencana Pelajaran 1954 Rencana Masih sama dengan kurikulum sebelumnya, Pelajaran 1954 yaitu Rencana Pelajaran 1947 1964 Rencana Dasar pendidikan nasional: Pancasila & Pendidikan Manipol Usdek dan introduksi sistem 172
  • 182. Tahun Kurikulum Keterangan 1964 Pancawardhana 1968 Kurikulum Kurikulum terintegrasi pertama di Indonesia. 1968 Beberapa mata pelajaran, seperti Sejarah, Ilmu Bumi, dan beberapa cabang ilmu sosial mengalami fusi menjadi Ilmu Pengetahuan Sosial. Beberapa mata pelajaran, seperti Ilmu Hayat, Ilmu Alam, dan sebagainya mengalami fusi menjadi Ilmu Pengetahun Alam (IPA) atau yang terkadang disebut Sains. 1975 Kurikulum Kurikulum ini disusun dengan kolom-kolom 1975 yang sangat rinci. 1984 Kurikulum Kurikulum ini merupakan penyempurnaan 1984 dari kurikulum 1975 1994 Kurikulum Kurikulum ini merupakan penyempurnaan 1994 dari kurikulum 1984 2004 Kurikulum Kurikulum ini belum diterapkan di seluruh Berbasis sekolah di Indonesia. Beberapa sekolah telah Kompetensi dijadikan uji coba dalam rangka proses (KBK) pengembangan kurikulum ini. 2008 Kurikulum KBK sering disebut sebagai jiwa KTSP, Tingkat Satuan karena KTSP sesungguhnya telah Pendidikan mengadopsi KBK. (KTSP) Kurikukulum ini dikembangkan oleh BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan).(Sumber: Rosita Oktaviani padahttp://rositaoktavianirusma.blogdetik.com/2009/11/07/sejarah-kurikulum-indonesia/) 173
  • 183. Pengembang / penyusun kurikulum Tabel 9.2 Penyusun kurikulum-kurikulum di Indonesia Tahun Kurikulum Pengembang / penyusun kurikulum 1947 Rencana Panitia Penyelidik Pengajaran (Ketua Pelajaran 1947 Menteri Ki Hadjar Dewantara dan sekretaris Soeganda Poerbakawatja). Anggota: para ahli pendidikan, pejabat Kementerian PP dan K, guru berpengalaman, wakil perguruan swasta, PGRI, dan lembaga pemerintah lainnya. Jumlah 50 orang. Hampir semuanya tokoh pendidikan di Yogyakarta, kecuali beberapa tokoh dari Jakarta, a.l. Prof Sarwono dan Prof Soepomo. Dalam pelaksanaan tuas panitia ini terdiri dari 2 komisi, yaitu Komisi Penyelidik dan Komisi Pekerja yang anggotanya tumpah tindih bisa pada kedua komisi. 1954 Rencana Tak disebut di sini karena belum ditemukan Pelajaran 1954 dokumen pendukung. 1964 Rencana Bagian Isi Pendidikan pada Direktorat Pendidikan Pendidikan Prasekolah, Sekolah Dasar, dan 1964 Sekolah Luar Biasa sebagai koordinator memanfaatkan lembaga-lembaga struktural Departemen Pendidikan Dasar dan Kebudayaan. Untuk mengintegrasikan semua bahan kurikulum yang disusun dibentuk satu kelompok kerja beranggota sekitar 30 orang yang anggotanya mewakili 174
  • 184. Tahun Kurikulum Pengembang / penyusun kurikulum lembaga yang bersangkutan dan secara ex officio diketuai Kepala Bagian Isi Pendidikan. Turut dilibatkan pula Inspeksi Pendidikan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar dari provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, beberapa Kepala Inspeksi TK/SD kabupaten yang berpengalaman dalam pembaharuan pendidikan keterampilan di daerah percontohan kewajiban belajar (Pasuruan dan Tasikmalaya), Departemen Olahraga, Direktorat Pendidikan Kesenian, dan Departemen Agama.1968 Kurikulum Direktorat Pendidikan Prasekolah, Sekolah 1968 Dasar, dan Sekolah Luar Biasa, dalam hal ini Dinas Pendidikan Sekolah Dasar. Untuk pengolahan menjadi draft terakhir dibentuk kelompok kerja yang sebagian besar anggotanya terdiri dari mantan anggota kelompok kerja penyusun Rencana Pendidikan 1964.1975 Kurikulum Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana 1975 Pendidikan BP3K (Balitbang Dikbud) Depdikbud. Dibentuk Tim Penyusunan Kurikulum (sekitar 50 orang) yang terdiri dari 3 komponen, yaitu Tim Pengarah, Tim Pengembang Bidang Studi, dan Tim Sanctioning.1984 Kurikulum Pengembangan Pengembangan Kurikulum 175
  • 185. Tahun Kurikulum Pengembang / penyusun kurikulum 1984 dan Sarana Pendidikan Balitbang Dikbud Depdikbud1994 Kurikulum Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana 1994 Pendidikan Balitbang Dikbud Depdikbud2004 Kurikulum Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas Berbasis Kompetensi (KBK)2008 Kurikulum Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Tingkat Satuan yang pada dasarnya sama dengan KBK Pendidikan 2004; hanya membuat perbaikan / perubahan (KTSP) seperlunya. 176
  • 186. Ciri Utama Kurikulum Tabel 9.3 Ciri Utama Kurikulum-kurikulum di Indonesia Kurikulum Ciri UtamaRencana Pelajaran Lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia1947 yang berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain.Rencana Pelajaran dipusatkan pada program pancawardhana yaituPendidikan 1964 pengembangan moral, kecerdasan, emosional, kerigelan dan jasmani.Kurikulum 1968 Perubahan struktur kurikulum dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Pelajaran diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan serta pengembangan fisik yang sehat dan kuat .Kurikulum 1975 Menekankan tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan efektif. Metode dan materi dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI, yang dikenal dengan istilah satuan pelajaran.Kurikulum 1984 Menekankan pendekatan keterampilan proses dalam cara belajar siswa aktif. Walaupun kurikulum ini menekankan pendekatan proses tapi tujuan tetap penting.Kurikulum 1994 1) Penerapan sistem caturwulan. 2) Berorientasi kepada materi pelajaran/isi. 3) Bersifat populis: Memberlakukan satu sistem kurikulum inti untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Daerah dapat mengembangkan kurikulum muatan lokal sesuai dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar. 4) Pendekatan belajar aktif dalam proses belajar- 177
  • 187. Kurikulum Ciri Utama mengajar. 5) Menekankan pengembangan konsep dan keterampilan memecahkan masalah.Kurikulum • Menekankan ketercapaian kompetensi siswa baik secaraBerbasis individual maupun seluruh kelas.Kompetensi 2004 • Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman. • Pendekatan belajar aktif dalam proses belajar-mengajar. • Penggunaan lingkungan dan beragam sumber belajar. • Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar • Penilaian menekankan proses dan hasil belajar dalam pengembangan kompetensi.Kurikulum Tingkat Kelanjutan KBK 2004. Perbedaannya, sekolah diberiSatuan Pendidikan kewenangan penuh dalam menyusun rencana pendidikannya(KTSP) 2006 dengan mengacu pada standar yang ditetapkan, mulai dari tujuan, visi-misi, struktur dan muatan kurikulum, beban belajar, kalender pendidikan hingga pengembangan silabus.(Sumber: ephanlazok.wordpress.com/2010/01/14/perkembangan-kuriklum-indonesia-dari-1947-2006/) 178
  • 188. REFLEKSI PERKEMBANGAN KURIKULUM SD DI INDONESIABerdasarkan paparan dan uraian dari Bab I s.d. Bab IX, dikemukakan sejumlahkesimpulan dan pandangan yang dapat dijadikan sebagai bahan refleksi tentangperkembangan kurikulum sekolah dasar di Indonesia.Pendidikan pada zaman penjajahan Belanda tampak berciri diskriminatif daneksploitatif, membedakan-bedakan sistem persekolahan dan anak-anak sesuaidengan garis keturunan sesuai dengan strategi penjajah untuk melanggengkankekuasaan di tanah jajahan melalui politik divide et impera. Pada masapendudukan Jepang, walaupun singkat sistem persekolahan disederhanakan dansistem sekolah dasar dijadikan satu dengan lama belajar 6 tahun. Di alamkemerdekaan, sistem pendidikan terus diperbaiki dan diperbaharui. Dari segikurikulum telah dilakukan pergantian kurikulum dalam kurun waktu yangberbeda; ada yang panjang dan ada yang amat singkat.Perubahan kurikulum tampaknya ditentukan oleh faktor perubahan politik(khususnya yang bersifat ideologis), faktor pembangunan dan ekonomi, faktorperkembangan ilmu dan teknologi serta perkembangan dan kebutuhanmasyarakat, faktor adaptasi dengan tuntutan baru, dan faktor perlunyamenerapkan hasil-hasil pembaharuan atau inovasi.Dari segi jumlah mata pelajaran secara sepintas tampak ada pengurangan jumlahmata pelajaran dari Kurikulum 1947 s.d. Kurikulum 2006 karena diterapkannyadesain bidang studi atau broad fields of subject matters. Namun, jika dilihat darikeluasan dan kedalaman isi berbagai mata pelajaran tampaknya adakecenderungan bertambahnya beban belajar bagi siswa.Kurikulum 1975 menandainya melonjaknya beban belajar per mata pelajarandibandingkan dengan isi Kurikulum 1947, 1964, dan 1968 yang relatif sesuaidengan kemampuan “pikul” siswa SD. Prinsip beban belajar yang tidak terlaluberat bagi siswa yang dipertahankan pada tiga kurikulum terdahulu ternyata“jebol” pada Kurikulum 1975. Salah satu faktor yang mungkin menjadi penyebab 179
  • 189. adalah kurangnya antisipasi dan perkiraan para pengembang kurikulum waktumenyusun pokok dan subpokok bahasan yang berciri judul atau topik tanparincian. Faktor penyebab lainnya adalah perasaan para pengembang seolah-olah“wajib” memasukkan materi yang telah ada pada buku-buku pelajaran yang telahterbit selama Repelita I dalam kurun waktu pelaksanaan Kurikulum 1968.Sejarah perkembangan kurikulum memperlihatkan bahwa perubahan dan tuntutanzaman mengakibatkan meningkatnya materi yang diajarkan kepada siswa.Walaupun telah ditempuh kiat penerapan desain broad-fields, penerapanpendekatan tematik pada kelas I s.d. III, penekanan kegiatan belajar dankompetensi, materi pelajaran cenderung masih banyak, mengakibatkan semakinpadatnya materi. Walaupun materi tampak berkurang pada Kurikulum 2004 dan2006, terlihat kecenderungan masih padatnya kompetensi yang harusdikembangkan dalam diri siswa. Kecenderungan ini menuntut hal-hal yangmelebihi kapasitas belajar siswa, dan membebani siswa secara berlebihan.Masalah ini melanggar hak asasi anak untuk beristirahat, bermain, berekreasi, danberkarya seni budaya. (Lihat UU Perlindungan Anak).Non multa sed multum. Yang lebih penting adalah mutu belajar, bukan banyaknya materi yang dipelajari. 180
  • 190. Tampaknya pengembang kurikulum belum berani memangkas materi pelajarandan kompetensi yang tak terlalu urgen dan relevan. Tampaknya pengembangkurikulum masih menganut pandangan keliru, bahwa semakin banyak dansemakin sering anak belajar semakin cerdas anak. Pandangan ini bertolakbelakang dengan hasil riset, terutama tes internasional, yang menandaskan bahwasemakin lama anak belajar ternyata anak tidak semakin cerdas. Prestasi belajaranak justru tergantung dari ketepatan metode mengajar atau kegiatan belajar yangditerapkan. Karena itu, pendekatan belajar aktiflah yang seharusnya digalakkandalam melaksanakan tiap kurikulum baru. Anekaragam kompetensi siswa takmungkin bertumbuh-kembang dalam diri siswa melalui pola mengajar satu arahyang didominasi ceramah, pengerjaan soal, dan tes tertulis. Anekaragamkompetensi siswa hanya dapat dicapai melalui penerapan belajar aktif.Dua gambar ini memperlihatkan perbedaan guru yang masih mengajar secaratradisional dan guru yang telah pendekatan belajar aktif. Apa makna perbedaanantara kedua guru ini, dilihat dari perbedaan bentuk dan besarnya mulut, telinga,dan mata? 181
  • 191. Pembinaan profesional guru dalam menerapkan pendekatan belajar aktif selaluterkendala oleh masih dominannya penerapan bentuk tes tertulis, terutama pilihanganda (multiple choice test) yang diterapkan sejak tengah 1980-an dalamEBTANAS dan diteruskan sampai dengan Ujian Nasional dewasa ini. Selama 40tahun kita berpilihan ganda ria tanpa menyadari bahwa faktor inilah yangmemerosotkan mutu pendidikan kita. Guru-guru di seluruh dunia cenderungmenganut prinsip kerja teaching to test (mengajar sesuai dengan tuntutan tes,tuntutan ujian nasional). Jika kita tidak menggunakan faktor penggertak (triggerfactor) melalui penerapan alat penilaian praktik unjuk kerja dan alat penilaiankarya (hasil kerja) siswa, seperti English conversation, berpidato, memimpin lagu,percobaan / eksperimen IPA, penulisan karya ilmiah, problem-solving dalammatematika, dan portofolio dalam ujian nasional, upaya “raksasa” membina gurumenerapkan belajar aktif sama seperti menggantang asap. Apalagi, jika kitaterpeleset mengikuti usul penghapusan ujian nasional oleh para penentang ujiannasional, guru-guru, terutama guru berstatus PNS akan “tidur”, dan mimpi kitameningkatkan mutu pendidikan hanyalah tinggal mimpi untuk 50 tahun ke depan. 182
  • 192. Jika evaluasi melalui UN hanya mengandalkan bentuk tes tertulis terutama pilihan ganda, terjadi pengurangan atau reduksi penilaian kompetensi yang dituntut kurikulum. 183
  • 193. Jika evaluasi melalui UN mengadopsi juga bentuk penilaian yang berciri belajar aktif seperti penilaian unjuk kerja (praktik) dan hasil karya siswa, terjadi peningkatan kompetensi yang dituntut kurikulum.Kurikulum berbasis kompetensi akhirnya diterapkanSetelah mengkaji perkembangan literatur, kurikulum, buku panduan, dan bukupelajaran negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, danSingapura, perkembangan anutan pendekatan pengembangan kurikulum dinegara-negara maju dapat digambarkan berikut ini. Bagan 10.1 Perkembangan anutan pendekatan pengembangan kurikulum di negara-negara maju Kurun Waktu Pendekatan Pengembangan Kurikulum 1910-an s.d. tengah 1960-an 1. Pendekatan berbasis materi (content-based approach)Akhir 1960an s.d tengah 1980-an 2. Pendekatan berbasis kompetensi (competence - based approach) dan pendekatan belajar tuntas (mastery learning approach)Akhir 1980-an s.d. awal 1990-an 3. Pendekatan berbasis outcome (outcome - based approach) Tengah 1990-an s.d. sekarang 4. Pendekatan berbasis standar (standard - based approach)Sejarah perkembangan kurikulum di Indonesia memperlihatkan bahwapendekatan berbasis materi dilaksanakan sejak masa penjajahan Belanda,diteruskan sampai ke alam kemerdekaan, dan baru ditinggalkan pada tahun 2004. 184
  • 194. Padahal, negara-negara maju telah meninggalkan pendekatan berbasis materi padatengah 1960-an (pada waktu di Indonesia terjadi G30S/PKI). Baru pada tahun2004 kita beralih ke pendekatan berbasis kompetensi setelah ketinggalan selamasekitar 40 tahun. Pendekatan berbasis kompetensi ini dianut Pusat KurikulumBalitbang Depdiknas setelah melewati pengalaman panjang pengembangankurikulum secara profesional sejak awal 1970-an sampai awal 2000-an.Dengan diterapkannya pendekatan ini, dapatlah ditampung berbagai hasil inovasikurikulum yang dilakukan Pusat Kurikulum, seperti eksperimentasi model PPSP(Proyek Perintis Sekolah Pembangunan) pada tahun 1975 s.d. 1984 di 8 IKIP(Padang, Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Malang, Surabaya, dan UjungPandang), inovasi pendidikan IPA, inovasi Pembinaan Profesional dan CBSA(Cara Belajar Siswa Aktif) di SD di sejumlah kabupaten/kota di berbagai provinsi,pengembangan pendidikan luar biasa, TK, dan anak berbakat, pengembanganjaringan kurikulum di berbagai provinsi, dan keterlibatan Pusat Kurikulum dalampengembangan muatan lokal keterampilan di Lampung, serta pengembangan dandiseminasi MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) SD, yang mencakup manajemensekolah, PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan),serta partisipasi masyarakat.Pada awalnya, ada pengembang kurikulum yang tertarik pada gagasan untuklangsung meloncat ke menerapkan kompetensi berupa outcome (hasil belajarsiswa yang berdampak) atau pendekatan berbasis outcome. Namun, gagasan itubelum dilanjutkan dengan uji coba di lapangan. Dalam penerapan kurikulumberbasis kompetensi masih diterapkan standar kelulusan belajar minimal ataukriteria kelulusan minimal untuk menentukan seorang siswa lulus ulangan suatumata pelajaran atau harus menempuh tes remedial. Dalam penerapan sistemevaluasi seperti ini, seorang siswa yang tak lulus tes harus diajarkan guru denganmetode atau kegiatan belajar yang berbeda (remedial teaching) sebelum siswa itumengikuti tes remidial. Dalam pelaksanaan di sekolah tampaknya pengajaranremidial ini tidak dilakukan dan guru langsung memberi tes remedial setelah jedawaktu tertentu. 185
  • 195. Sistem evaluasi seperti ini pernah diterapkan pada sekolah-sekolah PPSP pada 8IKIP yang menerapkan sistem modul dengan pendekatan belajar tuntas (masterylearning). Jika seorang siswa tidak lulus tes, ia mengikuti pengajaran remidial dankemudian tes remidial. Namun, pendekatan seperti ini tampaknya cocok dengankurikulum berbasis materi yang lebih dominan menekankan ranah kognitif ataupengetahuan. Pengetahuan yang dipelajari siswa dapat langsung dites untukmengetahui sejauh mana penguasaan siswa terhadap pengetahuan itu. Namun,untuk pengembangan kompetensi diperlukan waktu yang lebih panjang dan gurumembimbing siswa sambil memberikan umpan balik. Selain itu, dalam penilaiandigunakan portofolio hasil kerja siswa. Hasil penilaian akhir pendekatankompetensi adalah melaporkan posisi siswa dalam rentang penguasaankompetensi. Karena itu, penggunaan standar atau kriteria ketuntasan minimaltidak relevan diterapkan dalam kurikulum berbasis kompetensi. (Lihat juga BelenS, Kompetensi, Indikator & Penilaian dalam Belajar Aktif KTSP, 2008).Dari learning about ke learning from yang tidak hanya berakhir pada kompetensi tapi bertransformasi kepada kebijaksanaan yang amat penting dalam hidup 186
  • 196. Belajar aktif dalam pendekatan kompetensi lebih menekankan know how daripadaknow what, namun pada era ledakan Iptek dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, tampaknya know where akan lebih menuntut perhatian danpenekanan. Ledakan informasi yang luar biasa melalui jaringan internet menuntut pembekalan siswa mencari di mana terdapat informasi itu (know where) untuk meningkatkan know what dan know how. Selain itu belajar know where berarti juga pentingnya konteks belajar yang mendorong siswa gemar belajar.Roda-roda dalam “weker” kita belum semuanya berputarSistem pendidikan itu ibarat weker yang berfungsi dengan lancar dan efektif jikasemua rodanya berputar untuk menggerakkan jarum jam. Salah satu kelemahanstrategis yang selalu terulang dalam pembenahan sistem pendidikan Indonesia danpeningkatan mutu pendidikan adalah dibenahinya “roda-roda” tertentu tetapidilalaikan perbaikan “roda-roda” yang lain. Kita membenahi “roda” kurikulum.“roda” pengadaan jumlah guru yang memadai, “roda” pembangunan gedung danprasarana sekolah lainnya, serta “roda” pengadaan alat peraga dan alat praktikum.Namun, kita melalaikan perbaikan “roda” pengembangan kemampuan profesionalguru, kepala sekolah, dan pengawas, “roda” pendanaan kebutuhan proses belajar- 187
  • 197. mengajar, “roda” kesejahteraan guru, “”roda” peningkatan mutu lembagapendidikan guru.Untuk mensinergikan perputaran “roda-roda weker” pendidikan, diperlukankonsistensi kebijakan, profesionalisme dalam mengurus pendidikan, keberanianmelakukan terobosan, dan kerendahan hati mengikuti panggilan hati untukberpihak kepada anak didik. 188
  • 198. Daftar Pustaka1. Belen S (2005). Apa, Mengapa, dan Bagaimana Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Jakarta: Ditjen Dikdasmen Depdiknas2. Belen S (2005). Silabus dalam KBK (Kurikulum 2004), Jakarta: Ditjen Dikdasmen Depdiknas3. Belen S (2008). “Sejarah perkembangan kurikulum di Indonesia: Masih menyisakan sederet masalah”, artikel pada Buku Agenda Penerbit Erlangga 2008, Jakarta: Penerbit Erlangga4. Belen S (2008). Kompetensi, Indikator & Penilaian dalam Belajar Aktif KTSP, Jakarta: Kegiatan Peningkatan Wawasan Keagamaan (PWK) Ditjen Mandikdasmen Depdiknas5. BSNP (2006). Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta: BSNP6. Depdikbud (1976). Kurikulum Sekolah Dasar 1975: GBPP, Buku I: Ketentuan- ketentuan Pokok, Jakarta: Balai Pustaka7. Depdikbud (1976). Kurikulum Sekolah Dasar 1975: GBPP, Buku II.F: Bidang Studi Ilmu Pengetahuan Alam, Jakarta: Balai Pustaka8. Depdikbud (1976). Kurikulum Sekolah Dasar 1975: GBPP, Buku III.A.2: Model Satuan Pelajaran, Jakarta: Balai Pustaka9. Depdikbud (1976). Kurikulum Sekolah Dasar 1975: GBPP, Buku III.A.1: Pedoman Khusus, Jakarta: Balai Pustaka10. Depdikbud (1993). Kurikulum Pendidikan Dasar: GBPP Kelas IV Sekolah Dasar (SD), Jakarta: Depdikbud (Lapiran II Kepmendikbud No. 060/U/1993 Tanggal 25 Februari 1993)11. Depdikbud (1993). Kurikulum Pendidikan Dasar: Landasan, Program, dan Pengembangan, Jakarta: Depdikbud12. Depdiknas (2001). Kurikulum Berbasis Kompetensi: Kebijaksanaan Umum Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta: Depdiknas13. Depdiknas (2003). Kurikulum 2004: Kerangka Dasar, Jakarta: Depdiknas14. Depdiknas (2003). Kurikulum 2004: Naskah Akademik, Jakarta: Depdiknas15. Depdiknas (2003). Kurikulum 2004: Standar Kompetensi Mata Pelajaran Sains Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah, Jakarta: Depdiknas 189
  • 199. 16. Depdiknas (2006). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Peraturan Mendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Peraturan Menteri No. 24 Tahun 2006 – Pelaksanaan Permen No. 22 dan 23, Jakarta: Depdiknas17. Direktorat Pendidikan Dasar / Prasekolah, Departemen Pendidikan Dasar dan Kebudayaan (1964). Rencana Pendidikan Sekolah Dasar 1964, Jakarta.18. Direktorat Pendidikan Prasekolah / Sekolah Dasar / SLB Ditjen Pendidikan Dasar Depdikbud (1968). Kurikulum Sekolah Dasar 1968, Jakarta19. Djojonegoro Wardiman (1996). Lima Puluh Tahun Perkembangan Pendidikan Indonesia, Jakarta: Balitbang Depdikbud20. Dokumen-dokumen yang relevan dari Kurikulum 1952, Kurikulum 1968, Kurikulum 1975, Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, Kurikulum 2004, Kurikulum 2006 pada Pusat Dokumentasi Pusat Kurikulum Balitbang Kemdiknas, Jakarta21. ephanlazok.wordpress.com/2010/01/14/perkembangan-kurikulum- indonesia-dari-1947-2006/22. Foto-foto dari Tropenmuseum yang diambil dari internet23. Hasibuan YY & Belen S (1979). Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum, Buku I Teori & Praktik, Buku II Studi Analisa Kurikulum SD 1968, Buku III Studi Analisa Kurikulum SD 1975, IKIP Malang24. http://singlawas.blogspot.com/2008_11_01_archive.htmlhttp://www.ngobr olaja.com/showthread.php?t=11965925. http://www.uang-kuno-indonesia.com/2010_04_01_archive.html26. http://www.uni.edu/~bian/curri/day%20three%20curriculum.ppt: R.W. Tyler, Basic principles and instruction. (Chicago: University of Chicago Press, 1949.27. Jasin Anwar (1987). Pembaharuan Kurikulum Sekolah Dasar sejak Proklamasi Kemerdekaan, Jakarta: Balai Pustaka28. Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (1952). Rencana Pelajaran Terurai untuk Sekolah Rakyat III dan VI Tahun, Jakarta.29. Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (1954). Dasar Pendidikan dan Pengajaran, Jakarta. 190
  • 200. 30. Marzano Robert J & Kendall John S (1996). A Comprehensive Guide to Designing Standards-Based Districts, Schools, and Classroonms, Virginia: ASCD & Colorado: McRel.31. National Institute for Educational Research (NIER) (1999). An International Comparative Study of School Curriculum, Tokyo : NIER.32. Pusat Kurikulum Balitbang Depdikbud (1984). Kurikulum 1984 SD (Sekolah Dasar): Landasan, Program, dan Pengembangan, Jakarta.33. Pusat Kurikulum Balitbang Depdikbud (1985). Kurikulum 1984: Pedoman Proses Belajar-Mengajar, Jakarta.34. Pusat Kurikulum Balitbang Depdikbud (1986). Kurikulum Sekolah Dasar (SD): Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Bidang Studi Ilmu Pengetahuan Alam, Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas.35. Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas (2001). Kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi), Edisi Agustus 2003, Jakarta.36. Ramli Murni, “Primary School System in Java Before and Under Japanese Occupation (1940 – 1944)”, Bandung: International Journal of History Education No 1. Vol. XI, June 2010.37. Ryzki Wiryawan M yang diambil dari P. Swantoro, Dari Buku ke Buku, Gramedia : 2002, Keluarga EX-HIK Yogyakarta, Gema Edisi Yubileum, Forum Komunikasi keluarga Ex-HIK: 198738. Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak39. Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas http: //id.wikipedia.org/wiki/Hollandsch-Inlandsche_School 191