Your SlideShare is downloading. ×
tugas akhir mata kuliah standar belajar matematika
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Introducing the official SlideShare app

Stunning, full-screen experience for iPhone and Android

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply

tugas akhir mata kuliah standar belajar matematika

1,102
views

Published on

Published in: Education

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,102
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
56
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. DIKTAT STRATEGI BELAJAR MATEMATIKA DISUSUN OLEH: Nama: DEA NINDRIA IMANSARI NPM: 111 300 32 KELAS: 1A- MIPA PENDIDIKAN MATEMATIKA/MIPA DOSEN PENGAMPU : HARYANTO M.SiSEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA (STKIP-PGRI) BANDAR LAMPUNG 2011 1
  • 2. BAB 1LATAR BELAKANG A. Pendahuluan Didalam suatu proses belajar mengajar tercangkup komponen, pendekatan, dan berbagai metode mengajaran yang dikembangkan dalam proses tersebut. Tujuan utama diselenggarakan proses belajar adalah demi terapainya tujuan pembelajaran. Dan ujuan tersebut salah satunya adalah keberhasilan siswa dalam belajar dalam rangka pendidikan baik dalam suatu mata pelajaran maupun pendidikan pada umumnya. Jika guru terlibat didalamnya dengan segala macam metode yang dikembangkan maka yang berperan sebagai pengajar berfungsi sebagai pemimpin belajar atau fasilitator belajar, sedangkan siswa berperan sebagai pelajar atau individu yang belajar. Usaha-usaha guru dalam proses tersebut utamanya adalah membelajarkan siswa agar tujuan umum maupun tujuan khusus prooses belajar itu tercapai. B. Pengertian Strategi Belajar Mengajar adalah pola-pola umum kegiatan guru - anak didik dlm perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan mempelajari Strategi Belajar Mengajar berarti setiap guru mulai memasuki suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik. Interaksi yg bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan, diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan. Guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajaran secara sistematis dgn memanfaatkan segala sesuatu guna kepentingan pembelajaran. Sehingga bahan pelajaran yang disampaikan guru dapat difahami dan diaplikasikan siswa dengan tuntas. 2
  • 3. C. Tujuan Pembelajaran Umum: Agar mahasiswa/calon guru/guru memahami berbagai strategi belajar mengajar serta mampu memilih dan melaksanakan strategi belajar mengajar. Khusus:  Membekali mahasiswa teori-teori, konsep-konsep strategi belajar mengajar  Membekali mahasiswa teknik-teknik yang dipergunakan dalam strategi belajar mengajar  Membekali mahasiswa agar memiliki sikap kritis terhadap pemikiran, teori dan fenomena dalam interaksi belajar mengajar, serta mampu menganalisisnya.  Mahasiswa dapat mendeskripsikan konsep pembaharuan dalam cara belajar mengajar, dan pengembangan paradigma baru pendidikan D. INTERAKSI DIDALAM KELASPada hakekatnya belajar metematika adalah berfikir dan berbuat atau mengerjakan matematika. Disinilahmakna dari strategi pembelajaran matematika adalah strategi pemblajaran aktif, yang ditandai oleh duafaktor yaitu: a. Interaksi optimal antara seluruh komponen dalam proses belajar mengajar, di antaranya antara dua komponen utama yaitu guru dan siswa. b. Berfungsi secara optimal seluruh “sense” yang meliputi indera, emosi, karsa, karya, dan nalar. Hal itu dapat berlangsung antara lain jika proses itu melibatkan aspek visual, audio, maupun teks. E. PEMBELAJARAN YANG AKTIF, KREATIF, EFEKTIF, dan MENYENANGKAN PROSES PEMBELAJARAN Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran; (4) teknik 3
  • 4. pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; dan (6) model pembelajaran. Berikut adalahpenjelasannya. 1. Pendekatan BelajarPendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadapproses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yangsifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatarimetode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya,pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yangberorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatanpembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategipembelajaran.Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategidari setiap usaha, yaitu : Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah: 1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik. 2. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif. 3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran. 4. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan. 2. Strategi Pembelajaran 4
  • 5. Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dansiswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien Kemp (Wina Senjaya,2008) . Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkanbahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategipada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalamsuatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan kedalam dua bagian, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individuallearning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan carapengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif danstrategi pembelajaran deduktif.Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakanberbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan ofoperation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something”(Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakanuntuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata danpraktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yangdapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah;(2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7)brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya. 3. Metode Pembelajaranmetode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengandemikian,teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalammengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramahpada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yangtentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yangjumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakanteknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanyatergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridormetode yang sama. Beberapa metode mengajar :1. Metode Ceramah Yang dimaksud dengan ceramah ialah penerangan dan penuturan secara lisan. Dalam pelaksanaan ceramah untuk menjelaskan uraiannya, pengajar dapat menggunakan alat bantu seperti gambar-gambar. Tetapi metode utama, berhubungan antara pengajar dengan pembelajar ialah berbicara. Peranan dalam metode ceramah adalah mendengarkan dengan teliti dan mencatat pokok-pokok penting yang dikemukakan oleh pengajar.2. Metode Tanya Jawab 5
  • 6. Dalam penggunaan metode mengajar di dalam kelas, tidak hanya Guru saja yangsenantiasa berbicara seperti halnya dengan metode ceramah. melainkan mencakuppertanyaan pertanyaan dan penyumbang ide-ide dari pihak siswa. Cara mengajar yang serupaini dapat dibedakan dalam dua jenis ialah :metode tanya jawab dan metode diskusi Perbedaan pokok antara kedua metode ituterletakdalam :1) Corak pertanvaan yang diajukan oleh Guru.Pada hakikatnya metode tanya-jawab berusaha menanyakan apakah murid telah mengtahuifakta-fakta tertentu yang sudah diajarkan. Dalam hal lain siswa juga bermaksud inginmengetahui tingkat-tingkat proses pemikiran murid. Melalui metode tanya-jawab Guru inginmencari jawaban yang tepat dan faktual.2) Sifat pengambilan bagian yang diharapkan dari pihak siswaSebaliknya dengan metode diskusi, Guru mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang agakberlainan sifatnya. Di sini Guru merangsang siswa menggunakan fakta-fakta yang dipelajariuntuk memecahkan suatu persoalan. Pertanyaan seperti ini biasanya tidak mempunyaijawaban yang tepat dan tunggal, melainkan lebih dari sebuah jawaban. Dari penjelasantersebut kita ketahui bahwa metode, tanya-jawab mempunyai wilayah yang saling mencakupdengan metode diskusi, sehingga kadang-kadang sukar dibedakan, apakah yang sedangdipakai oleh Guru dalam suatu kelas. Tetapi lepas dari kenyataan bahwa kedua metode inisering sukar dibedakan, akan tetapi tujuan dan teknik masing-masing cukup mempunyaiperbedaan yang besar sehingga dalam uraian ini seyogyanya dibedakan.Penggunaan Metode Tanya JawabUntuk memberikan gambaran tentang wajar atau tidaknya penggunaan metode tanya-jawab,berikut ini akan disajikan suatu kejadian dalam kelas. Dalam tiap kejadian akan diikutidengan analisis mengenai aspek pokok pelajaran itu dan sejauh manakah kewajaranpenggunaan metode tanya-jawab.Ilustrasi penggunaan metode tanya jawab di kelas1. Melanjutkan pelajaran yang lalu2. Menyelingi pembicaraan untuk mendapatkan kerjasama siswa3. Memimpin pengamatan atau pemikiran siswaKelebihan metode tanya Jawab :1. Kelas lebih aktif karena anak tidak sekedar mendengarkan saja.2. Memberikan kesempatan kepada anak untuk bertanya sehingga Guru mengetahui hal-halyang belum dimengerti oleh siswa.3. Guru dapat mengetahui sampai sejauh mana penangkapan siswa terhadap segala sesuatuyang diterangkan.Kelemahan metode tanya Jawab:1. Dengan tanya-jawab kadang-kadang pembicaraan menyimpang dari pokok persoalan biladalam mengajukan pertanyaan, siswa menyinggung hal-hal lain walaupun masih ada 6
  • 7. hubungannya dengan pokok yang dibicarakan. Dalam hal ini sering tidak terkendalikan sehingga membuat persoalan baru. 2. Membutuhkan waktu lebih banyak.3. Metode diskusi Metode diskusi adalah suatu cara mengajar yang dicirikan oleh suatu keterikatan pada suatu topik atau pokok pernyataan atau problem dimana para peserta diskusi dengan jujur berusaha untuk mencapai atau memperoleh suatu keputusan atau pendapat yang disepakati bersama. Diskusi sebagai metode pembelajaran lebih cocok dan diperlukan apabila guru hendak: a.memanfaatkan berbagai kemampuan yang ada pada siswa b.memberi kesempatan pada siswa untuk mengeluarkan kemampuannya c.mendapatkan balikan dari siswa apakah tujuan telah tercapai d.membantu siswa belajar berpikir secara kritis e.membantu siswa belajar menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman-teman f.membantu siswa menyadari dan mampu merumuskan berbagai masalah sendiri maupun dari pelajaran sekolah g.mengembangkan motivasi untuk belajar lebih lanjut. Kegiatan siswa dalam pelaksanaan metode diskusi sebagai berikut: a.Menelaah topik/pokok masalah yang diajukan oleh guru atau mengusahakan suatu problem dan topik kepada kelas. b.Ikut aktif memikirkan sendiri atau mencatat data dari buku-buku sumber atau sumber pengetahuan lainnya, agar dapat mengemukakan jawaban pemecahan problem yang diajukan. c.Mengemukakan pendapat baik pemikiran sendiri maupun yang diperoleh setelah membicarakan bersama-sama teman sebangku atau sekelompok. d.Mendengar tanggapan reaksi atau tanggapan kelompok lainnya terhadap pendapat yang baru dikemukakan. e.Mendengarkan dengan teliti dan mencoba memahami pendapat yang dikemukakan oleh siswa atau kelompok lain. f.Menghormati pendapat teman-teman atau kelompok lainnya walau berbeda pendapat. 7
  • 8. g.Mencatat sendiri pokok-pokok pendapat penting yang saling dikemukakan teman baik setuju maupun bertentangan. h.Menyusun kesimpulan-kesimpulan diskusi dalam bahasa yang baik dan tepat. i.Ikut menjaga dan memelihara ketertiban diskusi. j.Tidak bertujuan untuk mencari kemenangan dalam diskusi melainkan berusaha mencari pendapat yang benar yang telah dianalisa dari segala sudut pandang.4. Metode demonstrasi Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memeragakan suatu proses kejadian. Metode demonstrasi biasanya diaplikasikan dengan menggunakan alat – alat bantu pengajaran seperti benda – benda miniatur, gambar, perangkat alat – alat laboratorium dan lain – lain. Akan tetapi, alat demonstrasi yang paling pokok adalah papan tulis dan white board, mengingat fungsinya yang multi proses. Dengan menggunakan papan tulis guru dan siswa dapat menggambarkan objek, membuat skema, membuat hitungan matematika, dan lain – lain peragaan konsep serta fakta yang memungkinkan.5. Metode karyawisata / pengalaman kerja Metode karyawisata/widyawisata adalah cara penyajian dengan membawa siswa mempelajari materi pelajaran di luar kelas. Karyawisata memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar, dapat meransang kreativitas siswa, informasi dapat lebih luas dan aktual, siswa dapat mencari dan mengolah sendiri informasi. Tetapi karyawisata memerlukan waktu yang panjang dan biaya, memerlukan perencanaan dan persiapan yang tidak sebentar.6. Metode penugasan Pembelajaran dengan menggunakan metode penugasan berarti guru memberi tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Tugas yang diberikan guru dapat berupa masalah yang harus dipecahkan dan prosedurnya tidak diberitahukan. Metode penugasan ini dapat mengembangkan kemandirian siswa, merangsang untuk belajar lebih banyak, membina disiplin dan tanggung jawab siswa, dan membina kebiasaan mencari dan mengolah sendiri informasi. Kekurangan metode ini terletak pada sulitnya mengawasi mengenai kemungkinan siswa tidak bekerja secara mandiri7. Metode ekspermen laboratorium Metode eksperimen adalah cara penyajian pelajaran dengan menggunakan percobaan. Dengan melakukan eksperimen, siswa menjadi akan lebih yakin atas suatu hal daripada hanya menerima dari guru dan buku, dapat memperkaya pengalaman, mengembangkan sikap ilmiah, dan hasil belajar akan bertahan lebih lama dalam ingatan siswa. Metode ini paling tepat apabila digunakan untuk merealisasikan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri atau pendekatan penemuan. 8
  • 9. Beberapa saran untuk mengadakan eksperimen. 1. Menerangkan sejelas-jelasnya tujuan- tujuan pelajaran pada siswa, sehingga siswa mengetahui pertanyaan yang perlu dijawab dengan eksperimen. 2. Membicarakan bersama dengan siswa prosedur atau langkah-langkah yang dianggap sebaik-baiknya untuk memecahkan rnasalah dalam eksperimen, serta bahan- bahan yang diperlukan, variabel yang perlu dikontrol dan hal-hal yang perlu dicatat. 3. Menolong siswa untuk memperoleh bahan-bahan yang diperlukan. 4. Setelah eksperimen selesai siswa membandingkan hasilnya dengan hasil eksperimen orang lain dan mendiskusikan bila ada perbedaan-perbedaan atau kekeliruan-kekeliruan.8. Metode bermain peran / simulasi Pembelajaran dengan metode bermain peran adalah pembelajaran dengan cara seolah – olah berada dalam suatu situasi untuk memperoleh suatu pemahaman tentang suatu konsep. Dalam metode ini siswa berkesempatanm terlibat secara aktif sehingga akan lebih memahami konsep dan lebih lama mengingat, tetapi memerlukan waktu lama. 4. teknik pembelajaran Definis Teknik Pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri. Beberapa teknik pembelajaran : a. Teknik Menjelaskan Menjelaskan merupakan salah satu bagian penting dalam proses kegiatan belajar mengajar. Karena teknik ini sangat perlu dikuasai guru, namun dengan guru senantiasa membatasi diri agar tidak terjebak ke ceramah murni yang menghilangkan peranan siswa kecuali hanya mendengarkan atau bahkan hanya mendengarkan yang dikemukakan guru. b. Teknik Bertanya Ada pepatah dalam pengajaran: “Question is the heart of the teaching”, artinya “Pertanyaan adalah jantungnya pengajaran”. Dengan demikian, pengajaran tanpa bertanya adalah pengajaran yang gersang. Untuk menggunakan tanya jawab, perlu diketahui tujuan mengajukan pertanyaan, jenis dan tingkat pertanyaan, serta teknik mengajukan pertanyaan. c. Diskusi Teknik diskusi perlu dikembangkan sebagai salah satu bentuk kegiatan yang menunjang pada keterampilan hidup (life skill) yang berkaitan dengan kemempuan umum yang harus dimiliki setiap warga masyarakat, karena life skill itu lebih berfokus pada pengembangan kemampuan siswa untuk bersosialisasi, berinteraksi sosial, dan keterampilan-keterampilan hidup lainnya dalam masyarakat. d. Penemuan Terbimbing 9
  • 10. Dalam menggunakan metode penemuan terbimbing, peranan guru adalah menyatakan persoalan, kemudian membimbing siswa untuk menemukan penyelesaian dari persoalan itu dengan perintah-perintah atau dengan lembar kerja. Siswa mengikuti petunjuk dan menemukan sendiri penyelesaiannya. Penemuan terbimbing biasanya dilakukan dengan bahan yang dikembangkan pembelajarannya secara induktif. Guru harus yakin benar bahwa bahan yang ditemukan sungguh secara matematis dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. e. Pemecahan Masalah Sebagian besar ahli pendidikan matematika mengatakan bahwa masalah merupakan pertanyaan yang harus dijawab atau direspon. Mereka menyatakan juga bahwa tidak semua pernyataan otomatis akan menjadi masalah. Suatu pertanyaan akan menjadi masalah hanya jika pertanyaan itu menunjukkan adanya suatu tantangan yang tidak dapat dipecahkan oleh suatu prosedur rutin yang sudah diketahui oleh pelaku. 5. Taktik Pembelajaran taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat) Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran.BAB 3 10
  • 11. BEBERAPA MODELPEMBELAJARAN MATEMATIKA 1. Model penemuan terbimbingPenemuan adalah terjemahan dari discovery. Menurut Sund ”discovery adalah proses mentaldimana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip”. Proses mental tersebutialah mengamati, mencerna, mengerti, mengolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan,mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya (Roestiyah, 2001:20).Sedangkan menurut Jerome Bruner ”penemuan adalah suatu proses, suatu jalan/cara dalammendekati permasalahan bukannya suatu produk atau iten pengetahuan tertentu”. Dengandemikian di dalam pandangan Bruner, belajar dengan penemuan adalah belajar untukmenemukan, dimana seorang siswa dihadapkan dengan suatu masalah atau situasi yangtampaknya ganjil sehingga siswa dapat mencari jalan pemecahan (Markaban, 2006:9).Model penemuan terbimbing menempatkan guru sebagai fasilitator. Guru membimbing siswadimana ia diperlukan. Dalam model ini, siswa didorong untuk berpikir sendiri, menganalisissendiri sehingga dapat ”menemukan” prinsip umum berdasarkan bahan atau data yang telahdisediakn guru (PPPG, 2004:4).Model penemuan terbimbing atau terpimpin adalah model pembelajaran penemuan yang dalampelaksanaanya dilakukan oleh siswa berdasarkan petunjuk-petunjuk guru. Petunjuk diberikanpada umumnya berbentuk pertanyaan membimbing (Ali, 2004:87).Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa model penemuan terbimbing adalah modelpembelajaran yang dimana siswa berpikir sendiri sehingga dapat ”menemukan” prinsip umumyang diinginkan dengan bimbingan dan petunjuk dari guru berupa pertanyaan-pertanyaan yangmengarahkan. Menurut Markaban (2006:11-15) Di dalam model penemuan ini, guru dapatmenggunakan strategi penemuan yaitu secara induktif, deduktif atau keduanyaDengan penjelasan diatas model penemuan yang dipandu oleh guru ini kemudian dikembangkandalam suatu model pembelajaran yang sering disebut model pembelajaran dengan penemuanterbimbing. Pembelajaran model ini dapat diselenggarakan secara individu dan kelompok. Modelini sangat bermanfaat untuk mata pelajaran matematika sesuai dengan karakteristik matematikatersebut. Guru membimbing siswa jika diperlukan dan siswa didorong untuk berpikir sendirisehingga dapat menemukan prinsip umum berdasarkan bahan yang disediakan oleh guru dansampai seberapa jauh siswa dibimbing tergantung pada kemampuannya dan materi yang sedangdipelajari (Markaban, 2006:15).Peran guru dalam penemuan terbimbing sering diungkapkan dalam Lembar Kerja Siswa (LKS). 11
  • 12. LKS ini biasanya digunakan dalam memberikan bimbingan kepada siswa menemukan konsepatau terutama prinsip (rumus, sifat) (PPPG, 2003:4).Perlu diingat bahwa model ini memerlukan waktu yang relatif banyak dalam pelaksanaannya,akan tetapi hasil belajar yang dicapai tentunya sebanding dengan waktu yang digunakan.Pengetahuan yang baru akan melekat lebih lama apabila siswa dilibatkan secara langsung dalamproses pemahaman dan ‟mengkonstuksi‟ sendiri konsep atau pengetahuan tersebut (PPPG,2004:5).Sebagai suatu metode pembelajaran dari sekian banyak metode pembelajaran yang ada,penemuan terbimbing menempatkan guru sebagai fasilitator, guru membimbing siswa jikadiperlukan. Dalam metode ini, siswa didorong untuk berpikir sendiri, menganalisis sendiri,sehingga dapat „menemukan‟ prinsip umum berdasarkan bahan atau data yang telah disediakanguru. Sampai seberapa jauh siswa dibimbing, tergantung pada kemampuannya dan materi yangsedang dipelajari.Dengan metode ini, siswa dihadapkan kepada situasi untuk menyelidiki secara bebas danmenarik kesimpulan. Terkaan, intuisi, dan mencoba-coba (trial and error) hendaknyadianjurkan. Guru bertindak sebagai penunjuk jalan, ia membantu siswa agar mempergunakanide, konsep, dan keterampilan yang sudah mereka pelajari sebelumnya untuk mendapatkanpengetahuan yang baru. Pengajuan pertanyaan yang tepat oleh guru akan merangsang kreativitassiswa dan membantu mereka dalam „menemukan‟ pengetahuan yang baru tersebut. Metode inimemerlukan waktu yang relatif banyak dalam pelak-sanaannya, akan tetapi hasil belajar yangdicapai tentunya sebanding dengan waktu yang digunakan. Pengetahuan yang baru akan melekatlebih lama apabila siswa dilibatkan secara langsung dalam proses pemahaman dan „meng-konstruksi‟ sendiri konsep atau pengetahuan tersebut. Metode ini bisa dilakukan baik secaraperseorangan maupun kelompok. Beberapa materi seperti menemukan rumus luas lingkaran,dalil Phytagoras, volume tabung, dan sebagainya sangat terbantu dalam menanamkan konsepmatematika. Dengan metode Penemuan Terbimbing guru bisa meminimalisir bentuk-bentuk ‟pe-ngumuman‟ saja dari rumus tersebut, tetapi lebih pada upaya siswa yang diarahkan menemukankonsep itu dibawah bimbingan guru.Secara sederhana, peran siswa dan guru dalam metode penemuan terbimbing ini dapatdigambarkan sebagai berikut.Penemuan Terbimbing Peran Guru Peran SiswaSedikit bimbingan -menyatakan persoalan - menemukan pemecahanBanyak bimbingan -menyatakan persoalan - mengikuti petunjuk -memberikan bimbingan - menemukan penyelesaian 12
  • 13. Agar pelaksanaan Metode Penemuan Terbimbing ini berjalan dengan efektif, beberapa langkahyang mesti ditempuh oleh guru Matematika adalah sebagai berikut:a. Merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan data secukupnya.Perumusannya harus jelas, hindari pernyataan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yangditempuh siswa tidak salah.b. Dari data yang diberikan guru, siswa menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisisdata tersebut. Dalam hal ini, bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang diperlukan saja.Bimbingan ini sebaiknya me-ngarahkan siswa untuk melangkah ke arah yang hendak dituju,melalui pertanyaan-pertanyaan, atau LKS.c. Siswa menyusun konjektur (prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukannya.d. Bila dipandang perlu, konjektur yang telah dibuat oleh siswa tersebut diperiksa oleh guru. Halini penting dilakukan untuk meyakinkan kebenaran prakiraan siswa, sehingga akan menuju arahyang hendak dicapai.e. Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur tersebut, maka verbalisasikonjektur sebaiknya diserahkan kepada siswa untuk me-nyusunnya. Di samping itu perlu diingatpula bahwa induksi tidak menja-min 100% kebenaran konjektur.f. Sesudah siswa menemukan apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal latihan atausoal tambahan untuk memeriksa apakah hasil penemuan itu benarLangkah-langkah Model Pembelajaran Penemuan TerbimbingMenurut Markaban (2006:16) agar pelaksanaan model pembelajaran penemuan terbimbing iniberjalan dengan efektif, beberapa langkah yang mesti ditempuh oleh guru matematika adalahsebagai berikut :a. Merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan data secukupnya.Perumusannya harus jelas, hindari pernyataan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yangditempuh siswa tidak salah.b. Dari data yang diberikan guru, siswa menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisisdata tersebut. Dalam hal ini, bimbingan ini sebaiknya mengarahkan siswa untuk melangkahkearah yang hendak dituju, melalui pertanyaan-pertanyaan, atau LKS.c. Siswa menyusun konjektur (prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukannya. 13
  • 14. d. Bila dipandang perlu,konjektur yang telah dibuat oleh siswa tersebut diatas diperiksa olehguru. Hal ini penting dilakukan untuk menyakinkan prakiraan siswa, sehingga akan menuju arahyang hendak dicapai.e. Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur, maka verbalisasi konjektursebaiknya diserahkan juga kepada siswa untuk menyusunnya.f. Sesudah siswa menemukan apa yang dicari hendaknya guru menyediakn soal latihan atau soaltambahan untuk memeriksa apakah penemuan itu benar.Memperhatikan langkah-langkah model pembelajaran penemuan terbimbing diatas dapatdisampaikan kelebihan dan kekurangan yang dimlikinya.Kelebihan model pembelajaran penemuan terbimbing adalah sebagai berikut :a. Siswa dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran yang disajikan.b. Menumbuhkan sekaligus menanamkan sikap inguiry (mencari-temukan).c. Mendukung kemampuan problem solving siswa.d. Memberikan wahana interaksi antar siswa, maupun siswa antar guru, dengan demikian siswajuga terlatih untuk menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar.e. Lama membekas karena siswa dilibatkan dalam proses menemukannya.Sedangkan kekurangannya sebagai berikut :a. Untuk materi tertentu, waktu yang tersita lebih lama.b. Tidak semua siswa dapat mengikuti pelajaran dengan cara ini. Dilapangan, beberapa siswamasih terbiasa dan mudah dimengerti dengan model ceramah.c. Tidak semua topik cocok disampaikan dengan model ini. 2. Model pemecahan masalah A. Pengertian Strategi belajar mengajar dengan model pembelajaran pemecahan masalah menekankan pada terselesaikannya suatu masalah secara menalar. Proses ini berlangsung secara bertahap, mulai dari menerima stimulus dari lingkungan sampai pada memberi respons yang tepat terhadap masalah yang ada. 14
  • 15. B. Karakteristik Penyelesaian Masalah Penyelesaian masalah dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain : 1. Penyelesaian masalah berdasarkan pengalaman masa lampau, dalam hal ini penyelesaian masalah kurang (tidak) rasional. 2. Penyelesaian masalah secara intuitif, masalah diselesaikan tidak berdasarkan akal, tetapi berdasarkan intuisi atau firasat. 3. Penyelesaian masalah dengan cara trial error, penyelesaian masalah dilakukan dengan coba-coba, percobaan yang dilakukan tidak berdasar hipotesis tetapi secara acak. 4. Penyelesaian masalah secara otoritas. Penyelesaian masalah dilakukan berdasarkan kewenangan seseorang. 5. Penyelesaian masalah secara meta fisik. Masalah-masalah yang dihadapi dalam dunia empirik diselesaikan dengan prinsip-prinsip yang bersumber pada dunia supranatural/dunia mistik/dunia gaib. 6. Penyelesaian masalah secara ilmiah ialah penyelesaian masalah secara rasional melalui proses deduksi dan induksi.Penyelesaian masalah dalam strategi belajar mengajar disini ialah penyelesaian masalah secarailmiah atau semi ilmiah. Guru memilih bahan pelajaran yang memiliki permasalahan, materipelajaran tidak terbatas hanya pada buku teks disekolah tetapi dapat diambil dari sumber-sumberlingkungan yang ada. Pemilihan materi seperti itu memerlukan beberapa kriteria sebagai berikut: 1. Bahan yang dipilih bersifat conflict issue atau kontroversial. Bahan seperti itu dapat direkam dari peristiwa-peristiwa konkret dalam bentuk audo visual atau kliping atau disusun sendiri oleh guru. 2. Bahan yang dipilih bersifat umum sehingga tidak terlalu asing bagi siswa 3. Bahan tersebut mencakup kepentingan orang banyak dalam masyarakat 4. Bahan tersebut mendukung tujuan pengajaran dan pokok bahasan dalam kurikulum sekolah 5. Bahan tersebut merangsang perkembangan kelas yang mengarah pada tujuan yang dikehendaki 6. Bahan tersebut menjamin kesinambungan pengalaman belajar siswa. 7. 3. Model pembelajaran kooperatifPembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerjasamadiantara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri: untuk memuntaskan materi belajarnya, siswa belajar dalam kelompok secara bekerja sama kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah 15
  • 16. jika dalam kelas terdapat siswa-siswa yang heterogen ras, suku, budaya, dan jenis kelamin, maka diupayakan agar tiap kelompok terdapat keheterogenan tersebut. penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok daripada perorangan.Tujuan Pembelajaran Kooperatif Hasil belajar akademik , yaitu untuk meningkatkan kinerja siswa dalm tugas-tugas akademik. Pembelajaran model ini dianggap unggul dalam membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang sulit. Penerimaan terhadap keragaman, yaitu agar siswa menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai macam latar belakang. Pengembangan keterampilan social, yaitu untuk mengembangkan keterampilan social siswa diantaranya: berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, memancing teman untuk bertanya, mau mengungkapkan ide, dan bekerja dalam kelompok.Fase-fase Model Pembelajaran Kooperatif :Fase Indikator Aktivitas Guru1 Menyampaikan tujuan dan Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin memotivasi siswa dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa2 Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan3 Mengorganisasikan siswa ke Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya dalam kelompok-kelompok membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok belajar agar melakukan transisi efisien4 Membimbing kelompok Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat bekerja dan belajar mengerjakan tugas5 Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya6 Memberikan penghargaan Guru mencari cara untuk menghargai upaya atau hasil belajar siswa baik individu maupun kelompok. Beberapa kegiatan kelompok yang dikemukakn oleh beberap ahli antara lain slavin(1985),lazarowitz (1988),atau sharan (1990) antar lain sbagai berikut:1. Circle of Learning 16
  • 17. Belajar bersama ini dikemukaan Johnson & Johnson pada tahun 1987(Krismanto, 2000) dengan langkah-langkah berikut.a. Beberapa orang (5 – 6) dengan kemampuan akademik yang bervariasi(mixed abilities group) berkumpul bersama.b. Mereka saling berbagi pendapat dan saling membantu dengan kewajibansetiap anggota harus benar-benar memahami jawaban atau penyelesaiantugas yang diberikan kepada kelompok tersebut.c. Pertanyaan atau permintaan bantuan kepada guru dilakukan hanya jikamereka sudah benar-benar kehabisan akal.Hal yang juga dianggap penting dalam model ini adalah adanya salingketergantungan dalam arti positif, adanya interaksi tatap muka di antaraanggota, keterlibatan anggota sangatlah diperhitungkan, dan selainmenggunakan keterampilan pribadi juga mengembangkan keterampilankelompok.2. Grup Penyelidikan (Group Investigation)Grup Penyelidikan (Group Investigation) digagas oleh Lazarowitz dkk, 1988(Krismanto, 2000). Model ini menyiapkan siswa dengan lingkup studi yangluas dan berbagai pengalaman belajar untuk memberikan tekanan padaaktivitas positif siswa. Ada empat karakteristik pada model ini.a. Kelas dibagi ke dalam sejumlah kelompok (grup).b. Kelompok siswa dihadapkan pada masalah dengan berbagai aspeknyayang dapat meningkatkan daya keingintahuan dan daya salingketergantungan positif di antara mereka.c. Di dalam kelompok, siswa terlibat dalam komunikasi aktif untukmeningkatkan keterampilan cara belajar.d. Guru bertindak selaku sumber belajar dan pimpinan tak langsung,memberikan arah dan klarifikasi hanya jika diperlukan, dan menciptakanlingkungan belajar yang kondusif.Siswa terlibat dalam setiap tahap kegiatan:a. mengidentifikasi topik dan mengorganisasi diri dalam “kelompokpeneliti”,b. merencanakan tugas-tugas yang harus dipelajari,c. melaksanakan investigasi,d. menyiapkan laporan,e. menyampaikan laporan akhir, danf. mengevaluasi proses dan hasil kegiatan.3. Co-op co-opKegiatan ini dikemukakan Kagan, 1985.a (Krismanto, 2000). Seperti halnyagrup penyelidikan, Co-op co-op berorientasi pada tugas pembelajaran yangkompleks. Para siswa mengendalikan diri mereka sendiri tentang apa dan 17
  • 18. bagaimana mempelajari bahan yang ditugaskan. Siswa dalam suatu tim(kelompok) menyusun proyek yang dapat membantu tim lain. Setiap siswamempunyai topik mini yang harus diselesaikan dan setiap tim memberikankontribusi yang menunjang tercapainya tujuan kelas. Struktur ini memerlukancara dan keterampilan bernalar yang cukup tinggi, termasuk menganalisis danmelakukan sintesis bahan yang dipelajari. Langkahnya adalah:a. diskusi kelas untuk seluruh siswa,b. seleksi atau penyusunan tim siswa untuk mempelajari atau menyelesaikantugas tertentu,c. seleksi tim untuk memilih topik,d. seleksi topik mini (oleh angota kelompok di dalam kelompok/timnya olehmereka sendiri),e. penyiapan topik mini, presentasi topik mini, persiapan presentasi tim,f. presentasi tim, dang. evaluasi oleh siswa dengan bimbingan guru.4. JigsawPertama kali dikembangkan oleh Aronson dkk, 1978 (Krismanto, 2000).Langkah-langkah pada model ini adalah sebagai berikut.a. Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok dengan 4 – 6 orang pada setiapkelompok. Setiap kelompok oleh Aronson dinamai kelompok jigsaw(gigi gergaji). Pelajaran dibagi dalam beberapa bagian sehingga setiapsiswa mempelajari salah satu bagian pelajaran tersebut.b. Semua siswa dengan bagian pelajaran yang sama belajar bersama dalamsebuah kelompok dan dikenal sebagai “counterpart group” atauKelompok Ahli (KA).c. Dalam setiap KA siswa berdiskusi dan mengklarifikasi bahan pelajarandan menyusun sebuah rencana bagaimana cara mereka mengajarkannyakepada teman mereka sendiri.d. Jika sudah siap, siswa kembali ke kelompok jigsaw mereka, danmengajarkan bagian yang dipelajari masing-masing kepada temannyadalam kelompok jigsaw tersebut. Hal ini memberikan kemungkinansiswa terlibat aktif dalam diskusi dan saling komunikasi baik di dalamgrup jigsaw maupun KA. Keterampilan bekerja dan belajar secarakooperatif dipelajari langsung di dalam kegiatan pada kedua jenispengelompokan. Siswa juga diberikan motivasi untuk selalumengevaluasi proses pembelajaran mereka.5. Numbered Heads Together (NHT)NHT digagas Kagan 1985. b (Krismanto, 2000) dengan tahap kegiatanberikut.a. Siswa dikelompokkan menjadi kelompok, masing-masing 4 orang. Setiap 18
  • 19. anggota diberi satu nomor 1, 2, 3, atau 4.b. Guru menyampaikan pertanyaan atau tugas.c. Guru memberitahu siswa untuk berembug sehingga setiap anggota timmemahami jawaban tim. Guru menyebut salah satu nomor dari 1, 2, 3,atau 4, dan siswa dengan nomor yang disebutkan guru yang harusmenjawab.d. Tanggapan dari teman lainnya.e. KesimpulanSetiap tim terdiri dari siswa yang berkemampuan bervariasi: satuberkemampuan tinggi, dua sedang, dan satu rendah. Di sini ketergantunganpositif juga dikembangkan dan yang kurang terbantu oleh yang lebih. Yangberkemampuan tinggi bersedia membantu meskipun mungkin mereka tidakdipanggil untuk menjawab. Bantuan yang diberikan dengan motivasitanggung jawab atau nama baik kelompok. Yang paling lemah diharapkansangat antusias dalam memahami permasalahan dan jawabannya karenamereka merasa merekalah yang akan ditunjuk guru untuk menjawab.6. Team Assisted/ Accelarated Instruction (TAI).Slavin (1985) menyatakan (Krismanto, 2000) telah mengembangkan modelini dengan beberapa alasan. Pertama, model ini mengkombinasikankeampuhan kooperatif dan program pengajaran individual. Kedua, model inimemberikan tekanan pada efek sosial dari belajar kooperatif. Ketiga, TAIdisusun untuk memecahkan masalah dalam program pengajaran, misalnyadalam hal kesulitan belajar siswa secara individual. Model ini jugamerupakan model kelompok berkemampuan heterogen. Berikut inilangkahnya.a. Setiap siswa belajar pada aspek khusus pembelajaran secara individual.b. Anggota tim menggunakan lembar jawab yang digunakan untuk salingmemeriksa jawaban teman satu tim, dan semua bertanggung jawab ataskeseluruhan jawaban pada akhir kegiatan sebagai tanggung jawabbersama.c. Diskusi terjadi pada saat siswa saling mempertanyakan jawaban yangdikerjakan teman satu timnya.7.Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams-Games-Tournaments (TGT)TGT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok –kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jeniskelamin dan suku kata atau ras yang berbeda. Guru menyajikan materi, dan siswa bekerja dalamkelompok mereka masing – masing. Dalam kerja kelompok guru memberikan LKS kepadasetiap kelompok. Tugas yang diberikan dikerjakan bersama – sama dengan anggotakelompoknya. Apabila ada dari anggota kelompok yang tidak mengerti dengan tugas yang 19
  • 20. diberikan, maka anggota kelompok yang lain bertanggungjawab untuk memberikan jawaban ataumenjelaskannya, sebelum mengajukan pertanyaan tersebut kepada guru.Akhirnya untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai pelajaran, makaseluruh siswa akan diberikan permainan akademik. Dalam permainan akademik siswa akandibagi dalam meja – meja turnamen, dimana setiap meja turnamen terdiri dari 5 sampai 6 orangyang merupakan wakil dari kelompoknya masing – masing. Dalam setiap meja permainandiusahakan agar tidak ada peserta yang berasal dari kelompok yang sama. Siswa dikelompokkandalam satu meja turnamen secara homogen dari segi kemampuan akademik, artinya dalam satumeja turnamen kemampuan setiap peserta diusahakan agar setara. Hal ini dapat ditentukandengan melihat nilai yang mereka peroleh pada saat pre-test. Skor yang diperoleh setiap pesertadalam permainan akademik dicatat pada lembar pencatat skor. Skor kelompok diperoleh denganmenjumlahkan skor – skor yang diperoleh anggota suatu kelompok, kemudian dibagi banyaknyaanggota kelompok tersebut. Skor kelompok ini digunakan untuk memberikan penghargaan timberupa sertifikat dengan mencantumkan predikat tertentu.Menurut Slavin pembelajaran kooperatif tipe TGT terdiri dari 5 langkah tahapan yaitu : tahappenyajian kelas (class precentation), belajar dalam kelompok (teams), permainan (geams),pertandingan (tournament), dan perhargaan kelompok ( team recognition). Berdasarkan apa yangdiungkapkan oleh Slavin, maka model pembelajaran kooperatif tipe TGT memiliki ciri – cirisebagai berikut.a) Siswa Bekerja Dalam Kelompok – Kelompok Kecilb) Games Tournament .Kelebihan model pembelajaran kooperatif ini adalah: Melatih sisiwa mengungkapkan atau menyampaikan gagasan atau idenya Melatih siswa untuk menghargai pendapat atau gagasan orang lain Menumbuhkan rasa tanggung jawab socialSedangkan kekurangaannya antara lain: Kadang hanya beberapa siswa yang aktif dalam kelompok Kendala teknis,misalnya masalah tempat duduk kadang sulit atau kurang mendukung untuk diatur kegiatan kelompok Agak memakan banyak waktu8.student teams-achievment division (STAD) 20
  • 21. Bagian esensial dari model ini adalah adanya kerjasama anggota kelompok dan kompetensi dankompetisi antar kelompok.Siswa bekerja di kelompok untuk belajar dari temannya serta„mengajar‟ temannya 4. Model pembelajaran kontekstual Contextual teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yangmenekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penh ntuk dapat menemukan materi yangdipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswauntuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.Ada tiga hal yang harus dipahami. Pertama CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswauntuk menemukan materi, kedua CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antaramateri yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, ketiga mendorong siswa untuk dapatmenerapkan dalam kehidupan.Terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatanCTL. 1. Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge) 2. Pembelajaran untuk memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge) 3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge) 4. Mempraktikan pengetrahuan dan pengalaman tersebut (applying knomledge) 5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) Bentuk Pembelajaran dalam Metode Kontekstual1. Mengaitkan (Relating)Dalam hal ini guru menggunakan strategi relating apabila ia mengkaitkan konsep baru dengansesuatu yang sudah dikenal siswa. Jelasnya, mengkaitkan apa yang sudah diketahui siswa denganinformasi baru.2. Mengalami (Experiencing)Merupakan inti pembelajaran kontekstual dimana mengkaitkan berarti menghubungkaninformasi baru dengan pengalaman maupun pengetahuan informasi baru dengan pengalamansebelumnya. Pembelajaran bisa terjadi dengan lebih cepat ketika siswa memanfaatkan(memanipulasi) peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.3. Menerapkan (Applying)Ketika siswa menerapkan konsep dalam aktivitas belajar memecahkan masalahnya, guru dapatmemotivasi siswa dengan memberikan latihan yang realistik dan relevan. 21
  • 22. 4. Kerja sama (Cooperating)Siswa yang bekerja sama secara kelompok biasanya mudah mengatasi masalah yang komplekdengan sedikit bantuan ketimbang siswa yang bekerja secara individual. Pengalaman bekerjasama tidak hanya membantu siswa mempelajari bahan pembelajaran tetapi konsisten dengandunia nyata.5. Mentransfer (Transferring)Fungsi dan peran guru dalam konteks ini adalah menciptakan bermacam-macam pengalamanbelajar dengan fokus pada pemahaman bukan hapalanKelebihan dan KelemahanSuatu metode pembelajaran mempunyai kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Demikianpula dengan metode pembelajaran kontekstual.1. Kelebihan:• Peserta didik mampu menghubungkan teori dengan kondisi di lapangan yang sebenarnya.• Peserta didik dilatih agar tidak tergantung pada menghapal materi• Melatih peserta didik untuk berpikir kritis dalam meghapdapi suatu permasalahan• Melatih peserta didik untuk berani menyampaikan argumen, bertanya, serta menyampaikanhasil pemikiran• Melatih kecakapan interpersonal untuk berhubungan dengan orang lain.2. Kelemahan:• Membutuhkan waktu lama dalam pelaksanaannya• Membutuhkan banyak biaya 5. Missouri mathematic project (MMP) . Metode Missouri Mathematics Project (MMP)Sebelum melihat MMP, ada baiknya kita mengingat dahulu Struktur Pengajaran Matematika(SPM) karena antara MMP dan SPM hampir sama.Secara sederhana tahapan kegiatan dalam SPM adalah sebagai berikut:a. Pendahuluan (7‟): apersepsi, revisi, motivasi, introduksi.b. Pengembangan (10‟): pembelajaran konsep/prinsip.c. Penerapan (23‟): pelatihan penggunaan konsep/prinsip, pengembangan, skill, evaluasid. Penutup (5‟): penyusunan rangkuman, penugaan.Adapun Metode MMP yang secara empiris melalui penelitian, dikemas dalam struktur yanghampir sama dengan SPM dengan urutan langkah adalah sebagai berikut (Winarno, 2000):model Missouri Mathematics Project (MMP) memuat 5 langkah berikut. 22
  • 23. 1. Pendahuluan atau Reviewa. Membahas PRb. Meninjau ulang pelajaran lalu yang berkait dengan materi baruc. Membangkitkan motivasi2. Pengembangana. Penyajian ide baru sebagai perluasan konsep matematika terdahulub. Penjelasan, diskusi demonstrasi dengan contoh konkret yang sifatnya piktorial dan simbolik3. Latihan Dengan Bimbingan Gurua. Siswa merespon soalb. Guru mengamatic. Belajar kooperatif4. Kerja MandiriSiswa bekerja sendiri untuk latihan atau perluasan konsep pada langkah 25. Penutupa. Siswa membuat rangkuman pelajaran, membuat renungan tentang hal-hal baik yang sudahdilakukan serta hal-hal kurang baik yang harus dihilangkan.b. Memberi tugas PR.Contohnya adalah sebagai berikut, yaitu untuk topik memfaktorkan persamaan kuadrat.1. Pendahuluan atau Reviewa. Membahas PR, hal ini tergantung pada ada tidaknya PR.b. Meninjau ulang pelajaran lalu yang berkait dengan materi baru.Contohnya dengan meminta siswa menjabarkan: (x+2)(x+3); (x−3)(x+3); (x)(x+3). Gurumemantau pekerjaan siswa serta memperbaiki kesalahan yang ada.c. Membangkitkan motivasi, misalnya dengan menyatakan bahwa pengetahuan memfaktorkanini sangat sering digunakan dalam kegiatan menggambar grafik fungsi kuadrat. 23
  • 24. 2. Pengembangana. Penyajian ide baru sebagai perluasan konsep matematika terdahulu.b. Penjelasan, diskusi demonstrasi dengan contoh konkret yang sifatnya piktorial dan simbolik.Alternatif langkahnya:a. Minta seorang siswa menjelaskan mengapa (x + 2)(x + 3) = x2 + 5x + 6?Ajukan pertanyaan: ”Dari mana bilangan 6 didapat?”; serta ”Dari mana bilangan 5 didapat?”b. Guru dapat membantu dengan diagram perkalian suku dua.c. Informasikan bahwa proses dari bentuk perkalian diubah ke bentuk penjumlahan disebutmenjabarkan; sedangkan proses kebalikannya disebut memfaktorkan.3. Latihan dengan bimbingan guru (siswa merespon soal, guru mengamati dan membantu dimana perlu, siswa dapat berdiskusi dengan teman lainnya).Alternatifnyaa. Meminta siswa memfaktorkan x2+7x+10; x2−7x+6; x2+9x; dan x2−25.b. Guru berkeliling untuk memantau pekerjaan siswa serta melakukan tanya jawab di manaperlu.4. Kerja MandiriSiswa bekerja sendiri untuk latihan atau perluasan konsep pada langkah 2.5. Penutupa. Siswa membuat rangkuman pelajaran, membuat renungan tentang hal-hal baik yang sudahdilakukan serta hal-hal kurang baik yang harus dihilangkan.b. Memberi tugas PR. 24
  • 25. 6. Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)Model pembelajaran adalah model pembelajaran yang menekankan pada penguasaan konsepdan/atau perubahan perilaku dengan mengutamakan pendekatan deduktif, dengan ciri-cirisebagai berikut: (1) transformasi dan ketrampilan secara langsung; (2) pembelajaran berorientasipada tujuan tertentu; (3) materi pembelajaran yang telah terstuktur; (4) lingkungan belajar yangtelah terstruktur; dan (5) distruktur oleh guru. Guru berperan sebagai penyampai informasi, dandalam hal ini guru seyogyanya menggunakan berbagai media yang sesuai, misalnya film, taperecorder, gambar, peragaan, dan sebaganya. Informasi yang disampaikan dapat berupapengetahuan prosedural (yaitu pengetahuan tentang bagaimana melaksanakan sesuatu) ataupengetahuan deklaratif, (yaitu pengetahuan tentang sesuatu dapat berupa fakta, konsep, prinsip,atau generalisasi). Kritik terhadap penggunaan model ini antara lain bahwa model ini tidak dapatdigunakan setiap waktu dan tidak untuk semua tujuan pembelajaran dan semua siswa.Tahapan atau sintaks model pembelajaran langsung menurut Bruce dan Weil (1996), sebagaiberikut: Orientasi. Sebelum menyajikan dan menjelaskan materi baru, akan sangat menolong siswa jika guru memberikan kerangka pelajaran dan orientasi terhadap materi yang akan disampaikan. Bentuk-bentuk orientasi dapat berupa: (1) kegiatan pendahuluan untuk mengetahui pengetahuan yang relevan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa; (2) mendiskusikan atau menginformasikan tujuan pelajaran; (3) memberikan penjelasan/arahan mengenai kegiatan yang akan dilakukan; (4) menginformasikan materi/konsep yang akan digunakan dan kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran; dan(5) menginformasikan kerangka pelajaran. Presentasi. Pada fase ini guru dapat menyajikan materi pelajaran baik berupa konsep-konsep maupunketerampilan. Penyajian materi dapat berupa: (1) penyajian materi dalam langkah-langkah kecilsehingga materi dapat dikuasai siswa dalam waktu relatif pendek;(2) pemberian contoh-contohkonsep; (3) pemodelan atau peragaan keterampilan dengan cara demonstrasi atau penjelasanlangkah-langkah kerja terhadap tugas; dan (4) menjelaskan ulang hal-hal yang sulit. Latihan terstruktur Pada fase ini guru memandu siswa untuk melakukan latihan-latihan. Peran guru yang pentingdalam fase ini adalah memberikan umpan balik terhadap respon siswa dan memberikanpenguatan terhadap respon siswa yang benar dan mengoreksi respon siswa yang salah. Latihan terbimbing Pada fase ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih konsep atauketerampilan. Latihan terbimbing ini baik juga digunakan oleh guru untuk mengases/menilaikemampuan siswa untuk melakukan tugasnya. Pada fase ini peran guru adalah memonitor danmemberikan bimbingan jika diperlukan. 25
  • 26.  Latihan mandiriPada fase ini siswa melakukan kegiatan latihan secara mandiri, fase ini dapat dilalui siswa jikatelah menguasai tahap-tahap pengerjaan tugas 85-90% dalam fase bimbingan latihan.. Latar Belakang Filosofi dan Psikologis CTL1. Latar belakang FilosofisCTL banyak dipengarhi oleh filsafat konstruktivisme yang mulai digagas oleh Mark Baldwin danselanjutnya dikembangkan oleh Jean Piaget. Piaget berpendapat, bahwa sejak kecil setiap anaksudah memiliki struktur kognitif yang kemudian dinamakan “skema”. Skema terbentuk karenapengalaman, dan proses penyempurnaan skema itu dinamakan asimilasi dan semakin besarpertumbuhan anak maka skema akan semakin sempurna yang kemudian disebut dengan prosesakomodasi.Pendapat Piaget tentang bagaimana sebenarnya pengetahuan itu terbentuk dalam strukturkognitif anak, sangat berpengaruh terhadap beberapa model pembelajaran, diantaranya modelpembelajaran kontekstual.. menurut pembelajaran kontekstual, pengetahuan itu akan bermaknamanakala ditemukan dan dibangun sendiri oleh siswa.2. Latar belakangPsikologisDipandang dari sudut psikologis, CTL berpijak pada aliran psikologis kognitif. Menurut aliranini proses belajar terjadi karena pemahaman individu akan lingkungan. Belajar bukanlahperistiwa mekanis seperti keterkaitan stimulus dan respon. Belajar melibatkan proses mentalyang tidak tampak seperti emosi, minat, motivasi, dan kemampuan atau pengalaman.Ada yang perlu dipahami tentang pbelajar dalam konteks CTL. 1. Belajar bukanlah menghafal, akan tetapi proses mengkontruksi pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki 2. Belajar bukan sekedar mengumnpulkan fakta yang lepas-lepas. 3. Belajar adalah proses pemecahan masalah 4. Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang dari yang sederhana menuju yang kompleks 5. Belajar pada hakikatnya adalah menangkap pengetahuan dari kenyataan.C. Perbedaan CTL dengan Pembelajaran KonvensioanalNO Perbedaan CTL dengan Pembelajaran Konvensioanal CTL Pembelajaran Konvensional1 Siswa sebagai subjek belajar Siswa sebagai objek belajar 26
  • 27. 2. Siswa belajar melalui kegiatan Siswa lebih banyak belajar secara individu kelompok 3. Pembelajaran dikaitkan dengan Pembelajaran bersifat teoritis dan abstrak kehidupan nyata 4 Kemampuan didasarkan atas Kemampuan diperoleh dari latihan-latihan pengalaman 5 Tujuan akhir kepuasan diri Tujuan akhir nilai atau angka 6 Prilaku dibangun atas kesadaran Prilaku dibangun oleh factor dari luar 7 Pengetahuan yang dimiliki Pengetahuan yang dimiliki bersifat absolute individu berkembang sesuai dan final, tidak mungkin berkembang. dengan pengalaman yang dialaminya 8 Siswa bertanggungjawab dalam Guru penentu jalannya proses pembelajaran memonitor dan mengembangkan pembelajaran 9 Pembelajaran bisa terjadi dimana Pembelajaran terjadi hanya di dalam kelas saja 10 Keberhasilan pembelajaran dapat Keberhasilan pembelajaran hanya bisa diukur dengan berbagai cara diukur dengan tes D. Peran Guru dan Siswa dalam CTL Setiap siswa mempunyai gaya yang berbeda dalam belajar. Perbedaan yang dimiliki siswa tersebut dinamakan sebagai unsure modalitas belajar. Menurut Bobbi Deporter ada tiga tipe gaya belajar siswa, yaitu tive visual, auditorial dan kinestis. Tipe visual adalah gaya belajar dengan cara melihat, sedang tipe auditorial adalah tipe belajar dengan cara menggunakan alat pendengarannya, dan tipe kinestetis adalah tipe belajar dengan cara bergerak. Sehubungan dengan hal itu, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bagi setiap guru manakala menggunakan pendekatan CTL.1. Siswa harus dipandang sebagai individu yang sedang berkembang2. setiap anak memiliki kecenderungan untuk belajar hal-hal yang baru dan penuh tantangan 27
  • 28. 3. belajar bagi siswa adalah proses mencari keterkaitan atau keterhubungan antara hal-hal yang baru dengan hal-hal yang sudah diketahui4. belajar bagi anak adalah proses penyempurnaan skema yang telah ada. E. Asas-Asas CTL CTL sebagi suatu pendekatan pembelajaran memiliki 7 asas. Asas-asas ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL 1. Konstruktivisme Adalah proses pembangunan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. 2. Inkuiri Adalah proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berfikir secara sistematis. Proses inkuiri dilakukan dalam beberapa langkah:1. Merumuskan masalah2. Mengajukan hipotesis3. Mengumpulkan data4. Menguji hipnotis berdasarkan data yang ditemukan5. Membuat kesimpulan 3. Bertanya (Questioning) Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu; sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berfikir. Dalam suatu pembelajaran yang produktif kegiatan bertanya akan sangat berguna untuk: a) menggali informasi dan kemampuan siswa dalam penguasaan materi pelajaran b) membangkitkan motvasi siswa untuk belajar c) merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuat d) memfokuskan siswa pada suatu yang diinginkan e) membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sesuatu 4. Masyarakat Belajar (Learning Community) Konsep Masyarakat Belajar (Learning Community) dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain. Dalam kelas CTL, asas ini dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. 5. Pemodelan (Modeling) Merupakan proses pembelajarn dengan memperagakan sesuatu sebagai conto yang dapat ditiru oleh setiap siswa. 6. Refleksi (Reflection) Merupakan proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilalui.1. 7. Penilaian Nyata (Authentic Assessment) 28
  • 29. Adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. F. Pola dan Tahapan Pembelajaran CTL a. Pola Pembelajaran Konvensional untuk mencapai tujuan kompetensi, guru menerapkan strategi pembelajaran sebagai berikut: Siswa disuruh untuk membaca buku tentang pasar Guru menyampaikan materi pelajaran Guru memberikan kesempatan pada siswa untk bertanya Guru mengulas pokok-pokok materi pelajaran yang telah disampaikan dan dilanjutkan dengan kesimpulan Guru melakukan post-tes Guru menugaskan kepada siswa untuk membuat karangan sesuai dengan tema “pasar” Model pembelajaran diatas jelas bahwa sepenhnya ada pada kendali guru. b. Pola Pembelajaran CTL untuk mencapai tujuan kompetensi, guru menerapkan strategi pembelajaran sebagai berikut:1. Pendahuluan2. Inti3. Penutup Pada CTL untuk mendapatkan kemampuan pemahaman konsep, anak mengalami langsung dalam kehidupan nyata di masyarakat. Kelas bukanlah tempat untuk mencatat atau menerima informasi dari guru, akan tetapi kelas digunakan untuk saling membelajarkan. Untuk itu ada beberapa catatan dalam penerapan CTL sebagai suatu strategi pembelajaran, yaitu sebagai berikut:1. CTL adalah model pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara penuh, baik fisik maupun mental.2. CTL memandang bahwa belajar bukan menghafal, akan tetapi proses berpengalaman dalam kehidupan nyata.3. Kelas dalam pembelajaran CTL bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi, akan tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan mereka di lapangan. Materi pelajaran ditemukan oleh siswa sendiri, bukan hasil pemberian dari orang lain BAB 4 CERAMAH 29
  • 30. PengertianMetode ceramah yang dimaksud disini adalah ceramah dengan kombinasi metodeyang bervariasi. Mengapa disebut demikian, sebab ceramah dilakukan denganditujukan sebagai pemicu terjadinya kegiatan yang partisipatif (curah pendapat,disko, pleno, penugasan, studi kasus, dll). Selain itu, ceramah yang dimaksud disiniadalah ceramah yang cenderung interaktif, yaitu melibatkan peserta melaluiadanya tanggapan balik atau perbandingan dengan pendapat dan pengalamanpeserta. Media pendukung yang digunakan, seperti bahan serahan (handouts),transparansi yang ditayangkan dengan OHP, bahan presentasi yang ditayangkandengan LCD, tulisan-tulisan di kartu metaplan dan/kertas plano, dll.DISKUSI UMUM (DISKUSI KELAS)PengertianMetode ini bertujuan untuk tukar menukar gagasan, pemikiran, informasi/pengalaman diantara peserta, sehingga dicapai kesepakatan pokok-pokok pikiran(gagasan, kesimpulan). Untuk mencapai kesepakatan tersebut, para pesertadapat saling beradu argumentasi untuk meyakinkan peserta lainnya. Kesepakatanpikiran inilah yang kemudian ditulis sebagai hasil diskusi. Diskusi biasanyadigunakan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari penerapan berbagai metodelainnya, seperti: penjelasan (ceramah), curah pendapat, diskusi kelompok,permainan, dan lain-lain.CURAH PENDAPAT (BRAINSTORMING) 30
  • 31. PengertianMetode curah pendapat adalah suatu bentuk diskusi dalam rangka menghimpungagasan, pendapat, informasi, pengetahuan, pengalaman, dari semua peserta.Berbeda dengan diskusi, dimana gagasan dari seseorang dapat ditanggapi(didukung, dilengkapi, dikurangi, atau tidak disepakati) oleh peserta lain, padapenggunaan metode curah pendapat pendapat orang lain tidak untuk ditanggapi.Tujuan curah pendapat adalah untuk membuat kompilasi (kumpulan) pendapat,informasi, pengalaman semua peserta yang sama atau berbeda. Hasilnyakemudian dijadikan peta informasi, peta pengalaman, atau peta gagasan (mindmap)untuk menjadi pembelajaran bersama.DISKUSI KELOMPOKPengertianSama seperti diskusi, diskusi kelompok adalah pembahasan suatu topik dengancara tukar pikiran antara dua orang atau lebih, dalam kelompok-kelompok kecil,yang direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Metode ini dapatmembangun suasana saling menghargai perbedaan pendapat dan jugameningkatkan partisipasi peserta yang masih belum banyak berbicara dalam 31
  • 32. diskusi yang lebih luas. Tujuan penggunaan metode ini adalah mengembangkankesamaan pendapat atau kesepakatan atau mencari suatu rumusan terbaikmengenai suatu persoalan.Setelah diskusi kelompok, proses dilanjutkan dengandiskusi pleno. Pleno adalah istilah yang digunakan untuk diskusi kelas atau diskusiumum yang merupakan lanjutan dari diskusi kelompok yang dimulai denganpemaparan hasil diskusi kelompok.BERMAIN PERAN (ROLE-PLAY)PengertianBermain peran pada prinsipnya merupakan metode untuk „menghadirkan‟ peranperanyang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu „pertunjukan peran‟ di dalamkelas/pertemuan, yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar pesertamemberikan penilaian terhadap . Misalnya: menilai keunggulan maupunkelemahan masing-masing peran tersebut, dan kemudian memberikan saran/alternatif pendapat bagi pengembangan peran-peran tersebut. Metode ini lebihmenekankan terhadap masalah yang diangkat dalam „pertunjukan‟, dan bukan padakemampuan pemain dalam melakukan permainan peran.SIMULASI 32
  • 33. PengertianMetode simulasi adalah bentuk metode praktek yang sifatnya untukmengembangkan ketermpilan peserta belajar (keterampilan mental maupunfisik/teknis). Metode ini memindahkan suatu situasi yang nyata ke dalamkegiatan atau ruang belajar karena adanya kesulitan untuk melakukan praktek didalam situasi yang sesungguhnya. Misalnya: sebelum melakukan praktekpenerbangan, seorang siswa sekolah penerbangan melakukan simulasipenerbangan terlebih dahulu (belum benar-benar terbang). Situasi yang dihadapidalam simulasi ini harus dibuat seperti benar-benar merupakan keadaan yangsebenarnya (replikasi kenyataan).Contoh lainnya, dalam sebuah pelatihanfasilitasi, seorang peserta melakukan simulasi suatu metode belajar seakan-akantengah melakukannya bersama kelompok dampingannya. Pendamping lainnyaberperan sebagai kelompok dampingan yang benar-benar akan ditemui dalamkeseharian peserta (ibu tani, bapak tani, pengurus kelompok, dsb.). Dalamcontoh yang kedua, metode ini memang mirip dengan bermain peran. Tetapidalam simulasi, peserta lebih banyak berperan sebagai dirinya sendiri saatmelakukan suatu kegiatan/tugas yang benar-benar akan dilakukannya.SANDIWARA 33
  • 34. PengertianMetode sandiwara seperti memindahkan „sepenggal cerita‟ yang menyerupaikisah nyata atau situasi sehari-hari ke dalam pertunjukkan. Penggunaan metode iniditujukan untuk mengembangkan diskusi dan analisa peristiwa (kasus). Tujuannyaadalah sebagai media untuk memperlihatkan berbagai permasalahan pada suatutema (topik) sebagai bahan refleksi dan analisis solusi penyelesaian masalah.Dengan begitu, rana penyadaran dan peningkatan kemampuan analisisdikombinasikan secara seimbang.DEMONSTRASIPengertianDemonstrasi adalah metode yang digunakan untuk membelajarkan pesertadengan cara menceritakan dan memperagakan suatu langkah-langkahpengerjaan sesuatu. Demonstrasi merupakan praktek yang diperagakan kepadapeserta. Karena itu, demonstrasi dapat dibagi menjadi dua tujuan: demonstrasiproses untuk memahami langkah demi langkah; dan demonstrasi hasil untukmemperlihatkan atau memperagakan hasil dari sebuah proses.Biasanya, setelahdemonstrasi dilanjutkan dengan praktek oleh peserta sendiri. Sebagai hasil,peserta akan memperoleh pengalaman belajar langsung setelah melihat, 34
  • 35. melakukan, dan merasakan sendiri. Tujuan dari demonstrasi yang dikombinasikandengan praktek adalah membuat perubahan pada rana keterampilan.PRAKTEK LAPANGANPengertianMetode praktik lapangan bertujuan untuk melatih dan meningkatkan kemampuanpeserta dalam mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yangdiperolehnya. Kegiatan ini dilakukan di „lapangan‟, yang bisa berarti di tempatkerja, maupun di masyarakat. Keunggulan dari metode ini adalah pengalamannyata yang diperoleh bisa langsung dirasakan oleh peserta, sehingga dapatmemicu kemampuan peserta dalam mengembangkan kemampuannya. Sifatmetode praktek adalah pengembangan keterampilan.MPINGANPERMAINAN (GAMES)Pengertian 35
  • 36. Permainan (games), populer dengan berbagai sebutan antara lain pemanasan(ice-breaker) atau penyegaran (energizer). Arti harfiah ice-breaker adalah„pemecah es‟. Jadi, arti pemanasan dalam proses belajar adalah pemecah situasikebekuan fikiran atau fisik peserta. Permainan juga dimaksudkan untukmembangun suasana belajar yang dinamis, penuh semangat, dan antusiasme.Karakteristik permainan adalah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan(fun) serta serius tapi santai (sersan). Permainan digunakan untuk penciptaansuasana belajar dari pasif ke aktif, dari kaku menjadi gerak (akrab), dan dari jenuhmenjadi riang (segar). Metode ini diarahkan agar tujuan belajar dapat dicapaisecara efisien dan efektif dalam suasana gembira meskipun membahas hal-halyang sulit atau berat.Sebaiknya permainan digunakan sebagai bagian dari prosesbelajar, bukan hanya untuk mengisi waktu kosong atau sekedar permainan.Permainan sebaiknya dirancang menjadi suatu „aksi‟ atau kejadian yang dialamisendiri oleh peserta, kemudian ditarik dalam proses refleksi untuk menjadihikmah yang mendalam (prinsip, nilai, atau pelajaran-pelajaran). Wilayahperubahan yang dipengaruhi adalah rana sikap-nilai. BAB 5 CONTOH RENCANA PEMBELAJARAN Besaran dan satuanKelas : XWaktu : 45 menitModel Pembelajaran : CTLMetode : EksperimenStandar kompetensi:Menerapkan konsep besaran fisika dan pengukurannyaKompetensi dasar:Mengukur besaran fisika (massa, panjang, dan waktu). 36
  • 37. Indikator: 1. Siswa membandingkan pengukuran massa dengan indera dan neraca 2. Siswa mensimulasikan cara mengukur massa suatu benda. 3. Siswa menemukan konsep massa. 4. Siswa menghitung massa jenis suatu benda.Alat dari kit guru: Kit neraca Bola dan balok Botol airMateri:Massa dapat dimaknai dengan berbagai definisi, bergantung pada proses pembelajarannya.Massa dapat didefinisikan sebagai ukuran jumlah zat bila dalam proses pembelajarannya harusmenunjukkan bahwa dengan bertambahnya jumlah zat akan menambah massanya. Pendefinisianseperti ini memberikan konsekuensi implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Orangmembeli bahan bakar gas (elpiji) diukur dengan cara ditimbang. Elpiji dalam sebuah tabungdikatakan masih penuh bila massanya besar, sedangkan jika habis massanya akan ringan. Inilaharti pentingnya mempelajari massa agar dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.Persiapan pembelajaran:Sebelum masuk kelas, guru menyiapkan bola besi dan balok kayu. Balok kayu dibuat sedikitlebih berat dibanding bola besi. Alat ini digunakan untuk membangkitkan motivasi di awalpembelajaran.Kegiatan Pembelajaran:Waktu Peran Perkembangan Pembelajaran Alat bantu5‟ MM Pendahuluan Bola besi dan balok kayu MM Siswa diminta untuk mengobservasi bola dan balok kayu. 37
  • 38. G Hasil observasi dilaporkan dan ditulis di papan tulis. MM “Apakah yang anda rasakan pada tangan G kanan dan kiri sama? Apa bedanya? MM Betulkah bola besi lebih berat dari pada balok kayu?” G Siswa diminta mengamati berat kedua benda yang dibandingkan dengan neraca. Apakah ada pertanyaan? Mengapa ada perbedaan antara membandingkan massa kedua benda menggunakan tangan dan neraca? Manakah yang lebih tepat digunakan sebagai alat ukur massa?35‟ M Penyusunan Opini: Kit neraca, air dalam botol G Siswa diminta memberikan penjelasan mengukur massa dengan neraca. MM Kegiatan inti: MM Kepada siswa diberikan kit neraca dan air MM dalam botol. MM 1. Siswa diminta merangkai neraca. G 2. Siswa diminta menimbang air yang volumenya 50 ml. G 3. Siswa diminta menimbang air yang volumenya 100 ml. 4. Siswa diminta mencatat datanya. 5. Siswa diminta memprediksikan massa air yang volumenya 150 ml dan 38
  • 39. 200 ml. 6. Siswa diminta mengukur massa air yang volumenya 150ml dan 200 ml.Diskusi: 1. Salah satu kelompok diminta menulis data di papan tulis. 2. Berdasarkan data yang ditulis di papan tulis, siswa diajak untuk mendefinisikan massa. 3. Mendiskusikan pengaruh pemanasan terhadap massa zat.Kegiatan 2: 1. Berdasarkan tabel yang telah diperoleh, bagaimana hubungan antara massa dan volume air? 2. Digambar dalam bentuk grafik (sumbu x volume, sumbu y massa), berapa gradiennya! 3. Gradien itu apa, gradien ini dinamakan massa jenis? 4. Siswa diminta memformulasikan massa jenis 5. Siswa diajak mendiskusikan makna massa jenis! 6. Siswa diajak menghitung massa jenis suatu benda lain. 7. Massa suatu zat adalah khas untuk zat itu, sehingga definisi massa diperbaiki!Siswa diajak mengenal besaran-besaran 39
  • 40. dasar yang lain selain massa. Siswa diajak mengenal besaran volume, yang diturunkan dari besaran pokok panjang. Pemecahan masalah: Setiap besaran memiliki alat ukur. Besaran terdiri atas besaran pokok dan besaran turunan. Penerapan konsep: Bagaimana cara mengukur jumlah gas dalam tabung elpiji?5‟ G Kegiatan Pemantapan: Siswa diminta menunjukkan alat ukur massa selain neraca yang ada di lingkungan mereka. Siswa diminta mengidentifikasi alat-alat ukur besaran pokok lain yang biasa digunakan di lingkungannya.Keterangan:MM : Kegiatan utama dilakukan oleh murid-murid (diskusi murid-murid)G : Kegiatan utama dilakukan oleh guruM : Kegiatan dilakukan tanya jawab guru muridPenilaianPenugasan: Membuat deskripsi tentang kegiatan pengukuran massa yang terjadi di pasartradisional di lingkungannya.Kriteria penilaianNo. Aspek Skor Bobot Skor Maksimal 40
  • 41. 1. Kelengkapan: a. lengkap (data + gambar) 3 b. agak lengkap (data) 2 5 15 c. kurang lengkap (gambar) 12. Kesesuaian: a. sesuai 3 b. agak lengkap 2 5 15 c. tidak lengkap 1Skore Nilai (Nilai perolehan x bobot) + (Nilai perolehan x bobot) = 30Skore Anak (Nilai perolehan x bobot) + (Nilai perolehan x bobot) = 10 3Penilaian kedua aspek dilakukan melalui Evaluasi Keterampilan Proses SainsObservasiTuliskan hasil pengamatan anda tentang bola besi dan balok kayu dalam percobaan ini!Mengajukan pertanyaanPertanyaan apa saja yang ada dalam pikiranmu saat mengamati hasil penimbangan bola besi danbalok kayu menggunakan neraca?Merancang percobaanBagaimanakah prosedur merangkai kit neraca agar siap digunakan untuk menimbang?MengkomunikasikanTuliskan data hasil pengamatanmu pada kertas yang tersedia di meja masing-masing!PrediksiBerapa massa air jika volume air sebanyak 150 ml?Interpretasi data 41
  • 42. Apa yang terjadi bila jumlah air dalam wadah ditambah?Inferensi (Kesimpulan sementara)Berdasarkan data yang telah anda interpretasikan, kesimpulan apakah yang dapat kaliantemukan?KesimpulanSetelah mengetahui massa jenis, apakah yang dimaksud dengan massa itu?Penilaian aspek kognitifMengingat:Faktor apakah yang mempengaruhi besar kecilnya massa air?Memahami:Mengapa pemanasan suatu benda dapat mengubah massa jenisnya?Menerapkan:Mengapa saat membeli elpiji di toko kita harus menimbangnya lebih dahulu?Menganalisis:Mengapa ikan di danau sekitar kutub masih tetap hidup meskipun danau tersebut tertutup olehes?Menilai:Benarkah konsep berikut ini, berikan alasan pendapat anda! Meskipun besi yang dipanaskanakan muai, namun massa jenisnya tetap karena pertambahan volume besi diikuti denganpertambahan massa besi tersebutMencipta:Bagaimanakah prosedur untuk menunjukkan bahwa benda yang dipanaskan massanya tidakberubah?Penilaian aspek psikomotorik 42
  • 43. Selama siswa melakukan percobaan, guru menilai keterampilan kerja siswaPenilaian aspek apektifSelama siswa melakukan diskusi, dinilai ketekunannya, kerjasamanya, dan kepatuhannya dalammelaksanakan tugas.PembahasanRencana Program Pembelajaran (RPP) yang dirancang ini memenuhi hakekat CTL, antara lain: 1. Konstruktivisme, siswa dihadapkan pada pengalaman kongkrit membandingkan massa dua benda yang diukur dengan tangan dan neraca. Berdasarkan hasil observasinya siswa dapat diajak untuk mengenali faktor yang mempengaruhi keadaan suatu benda. 2. Tanya Jawab, kegiatan pembelajaran mulai dari pendahuluan, inti sampai dengan penutup selalu dilakukan tanya jawab antara guru dengan siswa. Pertanyaan dari guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, sedangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru. 3. Inkuiri, merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan/ konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Siklus inkuiri meliputi; observasi, tanya jawab, hipotesis, pengumpulan data, analisis data, kemudian disimpulkan. Definisi massa ditemukan oleh siswa selama proses pembelajaran melalui kegiatan ilmiah. 4. Komunitas belajar, adalah komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, bekerja dengan masyarakat. Identitas MM diharapkan selama proses kegiatan pembelajaran guru tidak mendominasi kelas, tetapi Tanya jawab antar siswa antar kelompok siswa dapat berjalan lancer. 5. Pemodelan, dalam pembelajaran ini, guru mendemontrasikan suatu kinerja (mengukur massa) agar siswa dapat mencontoh, belajar atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn mengukur massa air yang volumenya sudah ditentukan lebih dahulu. Guru mengarahkan siswa supaya tidak melakukan hal yang sebaliknya yaitu memaksakan untuk mengisi air ke dalam suatu wadah agar massanya sebesar x gram. Ini dilakukan untuk memberikan contoh bekerja ilmiah yang benar, membedakan antara variabel bebas (mengisi air ke dalam suatu wadah) untuk mendaatkan variable terikat (massa air yang teramati melalui neraca. 6. Refleksi, yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum 43
  • 44. diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Dalam pembelajaran ini siswa diberi kesempatan untuk membadingkan hasil pembelajaran ini dengan fakta yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari (membeli elpiji). Siswa yang sudah memahami konsep massa, akan meminta penjual menimbang elpiji sebelum dibawa pulang, tidak hanya percaya dengan segel yang ada pada tabung gas.7. Penilaian otentik, prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. RPP ini dilengkapi dengan instrumen penilaian yang menyeluruh, mulai dari saat melakukan kegiatan pembelajaran sampai dengan setelah pembelajaran itu selesai. 44