Sebuah cerita pendek (cerpen) yang terinspirasi oleh kisah nyata                                     semburan lumpur Lapin...
itu. Dari kejauhan, aku melihat anak-anak, termasuk anakku, begituriang gembira. Mereka nampak sangat bahagia.     Trit..t...
lumayan besar karena salah satu jaringan LSM internasional,sehingga gaji yang aku terima pun lebih tinggi daripada staf LS...
perjalanan dari Bandara Juanda ke sekretariat Posko korban lumpuryang lokasinya tak jauh dari pusat semburan lumpur.     “...
sekolah. Anak-anak korban lumpur itu bukan hanya kehilanganteman tapi juga indahnya masa anak-anak. Mereka tentu tidak bis...
muncul dari perbincangan-perbincangan dengan pengelola poskokorban lumpur. Banyak cerita-cerita yang lebih mengenaskan dan...
sampai akhir hayatnya tidak ada bantuan untuk Mbok Jumik” ujarHamdi.    Aku terdiam. Mulutku seakan terkunci. Bagaimana ti...
Dan cerita-cerita mengenaskan itu tidak berhenti hingga disitu.Ada cerita mengenaskan tentang seorang bayi usia 3,5 bulan ...
lumpur    itu   sudah     tidak   layak    huni   bagi   manusia.     Alih-alihmemindahkan penduduk dari kawasan berbahaya...
Tak terasa taxi menghantarkanku di depan pintu rumah. Istridan anakku menyambut dengan suka cita. “Ayah pulang” teriakanak...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Cerpen anak+sejuta+lumpur (1)

1,770

Published on

Sebuah cerita pendek (cerpen) yang terinspirasi oleh kisah nyata
semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur

Published in: Entertainment & Humor
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,770
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
22
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Cerpen anak+sejuta+lumpur (1)

  1. 1. Sebuah cerita pendek (cerpen) yang terinspirasi oleh kisah nyata semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur **** Anak Sejuta Lumpur Oleh : Firdaus Cahyadi “Lingkaran kecil, lingkaran kecil, lingkaran besar,” teriak anak-anak di Taman Kanak-kanak Al-Maun, Bogor, Jawa Barat. Merekatampak riang gembira bermain bersama teman-teman dangurunya. Tidak ada raut muka berduka di wajah-wajah mereka. TKini adalah salah satu TK yang ada di kompleks perumahan tempatkutinggal. Anakku pun bersekolah di TK ini. Untuk ukuran masyarakatkebanyakan, TK ini cukup mahal. TK ini diperuntukan bagi merekaanak-anak yang keluarganya dari kelas menengah-atas. Sudahbarang tentu tidak ada anak dari keluarga miskin di TK ini. Hari ini, adalah hari pertama anakku masuk TK. Jadi akumenyempatkan diri untuk menunggui anakku hingga pulangsekolah. Beberapa orang tua anak juga tampak melakukan halyang sama. Hanya saja, aku menungguinya agak jauh dari sekolah.Aku menunggu di sebuah masjid yang ada di kompleks sekolah TK
  2. 2. itu. Dari kejauhan, aku melihat anak-anak, termasuk anakku, begituriang gembira. Mereka nampak sangat bahagia. Trit..trit…Dan handphoneku pun berbunyi. Direkturku menelpondari kantor. “Adi, kamu ada dimana sekarang?” Tanya MbakDevianti, “Besok kamu harus berangkat ke Porong, Sidoarjo, JawaTimur untuk memberikan pelatihan penggunaan media socialselama seminggu untuk kawan-kawan di Posko korban lumpurLapindo, gimana, siap ‘kan?” Saya berpikir sejenak. Hmm..Sidoarjo. Di tempat itu sayapernah tinggal beberapa saat sebelum mendapatkan pekerjaan diJakarta. Kini tempat itu telah hancur lebur karena semburan lumpur.“Iya..iya Mbak..saya siap,” jawabku, “Jam berapa pesawat dariJakartanya, Mbak?” “Besok kamu berangkat jam 10.00 pagi,” jawab Mbak Deviantisingkat, “Ok, thanks ya.” Percakapan di telpon pun terputus.Memberikan pelatihan kampanye, termasuk menggunakan mediasocial di internet, adalah salah satu pekerjaanku. Aku bekerja disebuah organisasi non-pemerintah atau sering disebut sebagaiLembaga Swadaya Masyarakat (LSM). LSM tempatku bekerja
  3. 3. lumayan besar karena salah satu jaringan LSM internasional,sehingga gaji yang aku terima pun lebih tinggi daripada staf LSM-LSM lainnya. Dari segi pendapatan pun, aku masuk kedalam kelasmenengah-atas. Waktu pun berlalu, sekolah TK sudah usai. Anak-anak punberhamburan keluar, termasuk anakku. Aku pun segeramenghampiri anakku. “Gimana Firli, suka sekolah di sini?” tanyakukepadanya, “Iya, ayah, Firli suka” jawabnya. Dan kami pun menujumobil Baleno untuk menuju rumah. *** Waktu menunjukan jam 08.00 pagi, setalah berpamitankepada anak dan istriku, aku berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta. Jika jalanan tidak macet, Bogor menuju Bandara ditempuhdalam waktu sekitar 1,5 jam. Dan Alhamdulillah, jalanan Jakartatidak begitu macet, hingga taxi yang aku tumpangi dapat sampaike Bandara tepat waktu. Setelah check in dan boarding, aku danseorang temanku, Alamsyah, segera bergegas menuju pesawat. Tidak ada sesuatu yang baru selama perjalanan dari Jakartake Bandara Juanda, Surabaya. Hal yang baru justru ketika
  4. 4. perjalanan dari Bandara Juanda ke sekretariat Posko korban lumpuryang lokasinya tak jauh dari pusat semburan lumpur. “Gila bau apaan nih?” Tanya Alamsyah setengah berteriak.Begitu memasuki Jalan Raya Porong, Sidoarjo, memang terciumaroma yang begitu menyengat. Aroma seperti telur busuk. “Iniaroma dari lumpur Lapindo,” jawab Pak Manto, sopir taxi yangmenghantarkanku dari Bandara Juanda, “sejak muncul semburanlumpur Lapindo, di sepanjang jalan ini memang muncul aromabusuk seperti ini” Aku pun menyempatkan diri melihat sekeliling jalan rayaPorong, Sidoarjo. Sebuah hamparan lumpur yang luas. “Dulu didaerah itu ada rumah penduduk, pabrik, tempat ibadah dansekolah,” ujar Pak Manto, “Namun, sekarang sudah tenggelam olehlumpur Lapindo” Ya lumpur Lapindo. Tanggal 29 Mei 2006 semburan lumpurLapindo mulai muncul di kawasan ini. Semburan lumpur ini tidakhanya meluluhlantakan rumah dan tanah tapi juga harapan wargayang menjadi korban. Banyak berita di Koran yang menuliskanbahwa banyak anak-anak korban lumpur yang terpaksa putus
  5. 5. sekolah. Anak-anak korban lumpur itu bukan hanya kehilanganteman tapi juga indahnya masa anak-anak. Mereka tentu tidak bisalagi mandi di sungai, karena air sungai telah tercemar oleh lumpurLapindo. Sekolah tempat mereka berkumpul dengan teman-temansebayanya pun telah tenggelam. Mendadak aku jadi ingat anakku.“Oh, betapa sedihnya anakku jika itu terjadi menimpanya,”gumamku dalam hati. “Sudah sampai mas,” ujar Pak Manto menyadarkan aku darilamunan. “Wow,.cepat banget” kataku. “Eh..cepat, lama ini,melamun aja sih loe” ujar Alamsyah dengan logat Jakartanya yangbegitu kental. Setelah membayar ongkos taxi, kamipun bergegasmasuk sekretariat Posko Korban lumpur. “Selamat datang mas,” ujar Hamdi, coordinator dari PoskoKorban lumpur, “Seadanya ya, maklum kita adalah korban lumpur” .Meskipun ada duka yang mendalam di raut wajah mereka, merekatetap ramah menyambut tamu. “Oh, ga apa-apa” jawabku. Pelatihan penggunaan media social untuk kampanyedilakukan di malam hari selama seminggu. Tidak ada hal yangberbeda dalam sesi pelatihannya. Hal baru dan berbeda justru
  6. 6. muncul dari perbincangan-perbincangan dengan pengelola poskokorban lumpur. Banyak cerita-cerita yang lebih mengenaskan danitu tidak pernah muncul di Koran, majalah, televisi atau portal beritaonline. Salah satu cerita mengenaskan itu tentang kisah Mbok Jumik.Ia adalah salah satu korban lumpur yang pernah tinggal di PasarPorong. Pada suatu hari, Mbok Jumik merasakan sakit yang luarbiasanya di perutnya. Keluarganya pun segera membawanya keRumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sidoarjo. Pihak rumah sakitmengatakan bahwa Mbok Jumik harus dirawat. Namun, karenaketiadaan biaya akhirnya Mbok Jumik kembali dibawa kepengunsian Pasar Baru Porong. Ia dirawat dengan pengobatantradisional. Dan akhirnya, Mbok Jumik meninggal di pengungsiankorban lumpur. Kawan-kawan Posko korban lumpur pun telah menyebarkanberita ini dan meminta dukungan pendanaan untuk perawatanMbok Jumik. Permohonan dukungan dan bantuan itu disebarkanmelalui berbagai cara, salah satunya melalui internet. “Namun,
  7. 7. sampai akhir hayatnya tidak ada bantuan untuk Mbok Jumik” ujarHamdi. Aku terdiam. Mulutku seakan terkunci. Bagaimana tidak, diJakarta terjadi banjir dukungan terhadap Prita Mulyasari melawanpelayanan Rumah Sakit OMNI Internasional. Di Porong, ada seorangibu yang kesulitan membayar RSUD, hingga akhir hayatnya justrutidak ada satupun yang memberikan dukungan. “Kemana kelasmenengah yang digembar-gemborkan Bank Dunia? Kemana pulalembaga amil zakat yang mengklaim terpercaya dalammenyalurkan bantuan” gumamku dalam hati. Hatiku seperti disayat –sayat mendengar cerita tentang MbokJumik itu. Aku adalah bagian dari kelas menengah di Indonesia.Kehidupanku jauh lebih mapan daripada para korban lumpur. Tapiaku tidak berbuat apa-apa ketika ada seorang korban lumpur yangmengerang kesakitan dan tidak bisa membayar biaya rumah sakitumum. Ini adalah dosaku sebagai bagaian kelas menengah yangangkuh di negeri ini. “Maafkan aku Mbok Jumik,” ucapku dalamhati, “Aku dan kelas menengah lainnya tidak pernah peduliterhadap penderitaan panjangmu.”
  8. 8. Dan cerita-cerita mengenaskan itu tidak berhenti hingga disitu.Ada cerita mengenaskan tentang seorang bayi usia 3,5 bulan yangharus meninggal dunia. Bayi itu bernama Aulia Nadira Putri.Rumahnya tak jauh dari pusat semburan lumpur Lapindo. Iameninggal dunia karena diduga terlalu banyak menghirup gasberacun lumpur Lapindo. Sedih, marah dan kecewa bercampur baur ketika Hamdimenceritakan kisah pilu Aulia Nadira Putri ini. Seorang bayi yang takberdosa pun harus meninggal dunia karena gas beracun lumpurLapindo. Padahal, jika ia bisa memilih, ia tentu tidak akan memilihuntuk dilahirkan di kawasan dekat semburan lumpur Lapindo. Jikabisa memilih, bayi Aulia Nadira Putri tentu memilih di lahirkan ditempat lain, yang udara dan lingkungan hidupnya masih sehat. Cerita tentang Aulia Nadira Putri ini kembali menyetak hatiku.Tak terasa air mataku pun jatuh. Aku membayangkan jika ini terjadipada anakku. Dan sekali lagi aku merasa berdosa atas kematianAulia Nadira Putri. Harusnya aku sebagai kelas menengah ikutmendesak pemerintah untuk segera memindahkan semuapenduduk dari kawasan semburan lumpur. Kawasan semburan
  9. 9. lumpur itu sudah tidak layak huni bagi manusia. Alih-alihmemindahkan penduduk dari kawasan berbahaya semburn lumpurLapindo. Pemerintah justru memiliki ide untuk menjadikan kawasanitu sebagai kawasan wisata geologi. Bahkan sebuah perusahaanyang dikaitkan dengan munculnya semburan lumpur justruberencana melakukan pengeboran lagi di Sidoarjo. *** Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Sudah seminggu akutinggal di Porong, Sidoarjo. Berbaur dengan masyarakat korbanlumpur. Mengalami sendiri perihnya penderitaan warga dan jugamendengar berbagai cerita pilu yang tak pernah muncul di mediamassa. Namun, hari ini aku akan meninggalkan itu semua.Meninggalkan udara dengan aroma busuk yang menyengat diPorong, Sidoarjo. Selama di perjalanan pikiranku masih melayang di kawasanPorong, Sidoarjo. Kisah pilu yang dialami Mbok Jumik dan AuliaNadira Putri masih membebani pikiran dan hatiku. Orang-orangyang tak berdosa itu telah menjadi korban. Ya, korbanketidakpedulian Negara dan kita semua.
  10. 10. Tak terasa taxi menghantarkanku di depan pintu rumah. Istridan anakku menyambut dengan suka cita. “Ayah pulang” teriakanakku sambil memelukku. Akupun memeluk anakku, denganpikiran yang masih melayang ke kisah pilu Aulia Nadira Putri. Diperumahan ini anakku dan anak-anak lainnya nampak sehat danceria. Namun, tidak bagi anak-anak di Porong, Sidoarjo sana.Keceriaan anak-anak Porong telah terampas. Bahkan, kini setiaphari keselamatan mereka terus terancam akibat sejak semburanlumpur Lapindo muncul di kawasannya. Mereka anak-anak yangtidak berdosa, namun harus menderita. Dan kita kelas menengahyang ada di kota sepertiku menutup mata dan telinga atas realitakehidupan mereka.

×