Your SlideShare is downloading. ×
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

BAB II

18,819

Published on

Published in: Business, Technology
0 Comments
4 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
18,819
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
371
Comments
0
Likes
4
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. 14 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Belajar Mengajar Belajar adalah suatu bentuk perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan yang diperoleh (Mudjiono dan Dimyati, 2007). Pendapat yang sama disampaikan Gagne (dalam Hasbullah, 2006) yang menyatakan belajar adalah suatu proses yang menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku pada suatu organisme sebagai akibat pengalaman. Tingkah laku yang baru itu misalnya tidak tahu menjadi tahu, timbulnya pengertian-pengertian baru, perubahan dalam sikap dan karakter, kebiasaan-kebiasaan, ketrampilan, kesanggupan menghargai orang lain, perkembangan-perkembangan sikap sosial, emosional, dan pertumbuhan jasmaniah. Dalam belajar, individu membutuhkan orang lain yang bertindak sebagai pengajar, yaitu seseorang yang menyampaikan pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya kepada individu yang belajar (siswa). Mengajar merupakan usaha kegiatan mengorganisasikan lingkungan dalam hubungannya dengan siswa dan bahan pengajaran sehingga menimbulkan proses belajar pada diri siswa (Zain. dkk, 2006). Dalam pengertian ini guru dituntut untuk dapat berperan sebagai organisator kegiatan belajar siswa, yang mampu memanfaatkan lingkungan, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Jika dilihat dari individu yang belajar, proses belajar bersifat intern, sedangkan proses pembelajaran bersifat ekstern (datang dari luar diri) yang sengaja dirancang dan bersifat rekayasa. Dengan demikian,
  • 2. 15 dalam tulisan ini mengajar tidak diartikan sempit sebagai penyampaian pengetahuan atau pengalaman yang dimiliki guru kepada siswa, tetapi kegiatan pengajaran diidentikkan dengan pembelajaran. Pembelajaran merupakan upaya untuk membelajarkan siswa. Dengan kata lain, pembelajaran adalah kegiatan memilih, menetapkan, dan mengembangkan pendekatan yang optimal untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan (Mudjiono dan Dimyati, 2006) B. Teori Belajar Konstruktivisme Teori belajar konstruktivisme merupakan salah satu teori belajar dalam psikologi pendidikan. Secara sederhana konstruktivisme beranggapan bahwa pengetahuan itu merupakan konstruksi (bentukan) dari sesuatu yang diketahui. Penganut konstruktivisme berpendapat bahwa guru tidak dapat begitu saja memberikan pengetahuan kepada siswanya. Belajar tidak hanya meniru atau mencerminkan apa yang diajarkan atau yang dibaca, melainkan menciptakan pengertian (Bettencourt dalam Suparno, 2001). Bagi kaum konstruktivis, mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke murid, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Mengajar berarti partisipasi dengan pelajar dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi. Agar pengetahuan yang diberikan bermakna, siswa sendiri yang harus memproses informasi yang diterima, menstrukturnya kembali dan mengintegrasikannya dengan pengetahuan yang dimilikinya. Adapun prinsip-prinsip konstruktivisme menurut Suparno (2001) adalah sebagai berikut :
  • 3. 16 1. Pengetahuan dibangun oleh siswa secara aktif 2. Tekanan dalam proses belajar terletak pada siswa 3. Mengajar adalah membantu siswa belajar 4. Tekanan dalam proses belajar lebih pada proses bukan pada hasil akhir 5. Kurikulum menekankan partisipasi siswa. 6. Guru adalah fasilitator. Berdasarkan prinsip-prinsip diatas, maka belajar adalah suatu kegiatan siswa secara aktif, dimana siswa membangun sendiri pengetahuannya dari hasil belajar yang dilakukan baik secara pribadi maupun sosial. C. Strategi Peta Konsep a. Pengertian Peta Konsep Peta konsep adalah suatu gambar (visual) yang tersusun atas konsep- konsep yang saling berkaitan sebagai hasil dari pemetaan konsep. Menurut Novak (dalam Kadir, 2007), pemetaan konsep adalah suatu proses yang melibatkan identifikasi konsep-konsep dari suatu materi pelajaran dan pengaturan konsep-konsep tersebut dalam suatu hirarki, mulai dari yang paling umum, kurang umum dan konsep-konsep yang lebih spesifik. Peta konsep digunakan untuk menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep-konsep dalam bentuk proposisi-proposisi. Proposisi merupakan dua atau lebih konsep yang dihubungkan oleh kata-kata dalam suatu unit semantik (Muhaemin, 2006). George Posner dan Alan Rudnitsky (dalam Busan, 2007) menyatakan bahwa peta konsep mirip peta jalan, namun peta konsep menaruh perhatian
  • 4. 17 pada hubungan antar ide-ide, bukan hubungan antar tempat. Peta konsep bukan hanya meggambarkan konsep-konsep yang penting melainkan juga menghubungkan antara konsep-konsep itu. Dalam menghubungkan konsep- konsep itu dapat digunakan dua prinsip, yaitu diferensiasi progresif dan penyesuaian integratif. Menurut Ausubel dalam Hudojo et al (2002) diferensiasi progresif adalah suatu prinsip penyajian materi dari materi yang sulit dipahami. Sedang penyesuaian integratif adalah suatu prinsip pengintegrasian informasi baru dengan informasi lama yang telah dipelajari sebelumnya. Oleh karena itu belajar bermakna lebih mudah berlangsung, jika konsep-konsep baru dikaitkan dengan konsep yang inklusif. Menurut Muhaemin (2006), penggunaan peta konsep dalam pendidikan dapat diterapkan untuk berbagai tujuan, antara lain: (a) Menyelidiki apa yang telah diketahui siswa, (b) Menyelidiki cara belajar siswa, (c) Mengungkapkan konsepsi yang salah pada siswa, dan (d) Alat evaluasi. Di samping itu menurut Magno (dalam Kadir, 2007), peta konsep dapat digunakan sebagai rangkuman dari suatu materi pelajaran untuk siswa, sebagai petunjuk dari guru selama interaksi di kelas, atau sebagai petunjuk bagi siswa tentang konsep-konsep utama dan konsep-konsep baru yang harus dipelajari. Pemahaman siswa dalam menentukan hubungan keterkaitan antara satu konsep dengan konsep yang lain saling berhubungan akan sangat membantu siswa dalam mempelajari materi bahan kimia dalam keseharian. Ciri-ciri peta konsep menurut Dahar yang dikutip Erman dalam Trianto (2007) sebagai berikut:
  • 5. 18 1) Peta konsep (pemetaan konsep) adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsep-konsep dan proposisi-proposisi suatu bidang studi, apakah itu bidang studi fisika, kimia, biologi, matematika dan lain-lain. Dengan membuat sendiri peta konsep siswa “melihat” bidang studi itu lebih jelas, dan mempelajari bidang studi itu lebih bermakna. 2) Suatu peta konsep merupakan suatu gambar dua dimensi dari suatu bidang studi atau suatu bagian dari bidang studi. Ciri inilah yang memperlihatkan hubungan-hubungan proposisional antara konsep-konsep. Hal inilah yang membedakan belajar bermakna dari belajar dengan cara mencatat pelajaran tanpa memperlihatkan hubungan antara konsep- konsep. 3) Dalam peta konsep, untuk menyatakan hubungan antara konsep-konsep, tidak semua konsep memiliki bobot yang sama. Ini berarti bahwa ada beberapa konsep yang lebih inklusif dari pada konsep-konsep lain. 4) Peta konsep bersifat hirarki. Bila dua atau lebih konsep digambarkan di bawah suatu konsep yang lebih inklusif, terbentuklah suatu hirarki pada peta konsep tersebut. b. Jenis-jenis Peta Konsep Menurut Nur (2000) dalam Trianto (2007) peta konsep ada empat macam yaitu: pohon jaringan (network tree), rantai kejadian (events chain), peta konsep siklus (cycle concept map), dan peta konsep laba-laba (spider concept map).
  • 6. 19 1) Pohon Jaringan. Ide-ide pokok dibuat dalam persegi empat, sedangkan beberapa kata lain dihubungkan oleh garis penghubung. Kata-kata pada garis penghubung memberikan hubungan antara konsep-konsep. Pada saat mengkonstruksi suatu pohon jaringan, tulislah topik itu dan daftar konsep-konsep utama yang berkaitan dengan topik itu. Daftar dan mulailah dengan menempatkan ide-ide atau konsep-konsep dalam suatu susunan dari umum ke khusus. Cabangkan konsep-konsep yang berkaitan itu dari konsep utama dan berikan hubungannya pada garis-garis itu. Pohon jaringan cocok digunakan untuk memvisualisasikan sesuatu yang menunjukan informasi sebab-akibat, hirarki, prosedur yang bercabang, istilah-istilah yang berkaitan yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan- hubungan. 2) Rantai Kejadian. Peta konsep rantai kejadian dapat digunakan untuk memberikan suatu urutan kejadian, langkah-langkah dalam suatu prosedur, atau tahap-tahap dalam suatu proses. Misalnya dalam melakukan eksperimen. Rantai kejadian cocok digunakan untuk memvisualisasikan tahap-tahap suatu proses, langkah-langkah dalam suatu prosedur serta suatu urutan kejadian 3) Peta Konsep Siklus Dalam peta konsep siklus, rangkaian kejadian tidak menghasilkan suatu hasil akhir. Kejadian akhir pada rantai itu menghubungkan kembali ke kejadian awal. Seterusnya kejadian akhir itu menhubungkan kembali ke
  • 7. 20 kejadian awal siklus itu berulang dengan sendirinya dan tidak ada akhirnya. Peta konsep siklus cocok diterapkan untuk menunjukan hubungan bagaimana suatu rangkaian kejadian berinteraksi untuk menghasilkan suatu kelompok hasil yang berulang-ulang. 4) Peta Konsep Laba-laba Peta konsep laba-laba dapat digunakan untuk curah pendapat. Dalam melakukan curah pendapat ide-ide berasal dari suatu ide sentral, sehingga dapat memperoleh sejumlah besar ide yang bercampur aduk. Banyak dari ide-ide tersebut berkaitan dengan ide sentral namun belum tentu jelas hubungannya satu sama lain. Kita dapat memulainya dengan memisah- misahkan dan mengelompokkan istilah-istilah menurut kaitan tertentu, sehingga istilah itu menjadi lebih berguna dengan menuliskannya di luar konsep utama. Peta konsep laba-laba cocok digunakan untuk memvisualisasikan sesuatu yang tidak menurut hirarki kecuali berada dalam suatu kategori, kategori yang tidak paralel serta hasil curah pendapat c. Manfaat Peta Konsep Dalam Pembelajaran Pembelajaran dengan menggunakan peta konsep mempunyai banyak manfaat diantaranya menurut Ausubel dalam Hudojo et al (2002) menyatakan dengan jaringan konsep yang digambarkan dalam peta konsep, belajar menjadi bermakna karena pengetahuan/informasi “baru” dengan pengetahuan terstruktur yang telah dimiliki siswa tersambung sehingga menjadi lebih mudah terserap siswa. Sedangkan menurut Williams dalam
  • 8. 21 Basuki (2000) menuliskan bahwa peta konsep dapat dijadikan sebagai alat untuk mengetahui pemahaman konseptual seseorang. Dengan mengacu pada peta konsep maka guru dapat membuat suatu program pengajaran yang lebih terarah dan berjenjang, sehingga dalam pelaksanaan proses belajar mengajar dapat meningkatkan daya serap siswa terhadap materi yang diajarkan. Peningkatan daya serap siswa berdasarkan menyampaikan jenjang materi yang terstruktur dapat membuat siswa akan lebih kuat lagi memorinya dan akan lebih mudah mengaplikasikan konsep- konsep yang telah dipelajarinya. d. Cara Menyusun Peta Konsep Menurut Arends dalam Trianto (2007), langkah-langkah untuk menciptakan suatu peta konsep adalah sebagai berikut: 1) Mengidentifikasi ide pokok atau prinsip yang melingkupi sejumlah konsep. 2) Mengidentifikasi ide-ide atau konsep-konsep sekunder yang menunjang ide utama 3) Menempatkan ide utama di tengah atau di puncak peta tersebut 4) Mengelompokkan ide-ide sekunder di sekeliling ide utama yang secara visual menunjukan hubungan ide-ide tersebut dengan ide utama. D. Media Komputer Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari medium yang secara harfia berarti perantara ataupun pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan pengirim ke penerima pesan. Banyak batasan yang
  • 9. 22 diberikan orang tentang media. Asosiasi teknologi dan komunikasi pendidikan (Association of Education and Communication Tecnology/AECT) di Amerika, membatasi media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/informasi (Arsyad, 2002). Gagne (1970) dalam Asyad (2002) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Media adalah semua bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan atau menyebarkan ide, gagasan atau pendapat sehingga ide, gagasan atau pendapat yang dikemukakan itu sampai kepada penerima yang dituju. (Sulistiyono, 2008) Menurut Asosiasi Pendidikan Nasional (National Education Association/NEA) dalam Arsyad (2002), media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio visual serta peralatannya. Media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar dan dibaca. Apa pun batasan yang diberikan, ada persamaan di antara batasan tersebut yaitu bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi. Apabila media komunikasi seperti radio, televisi, rekaman dan lain sebagainya, membawa pesan atau informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengarang maka media itu disebut media pembelajaran (Arsyad, 2002). Salah satu fungsi media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi kondisi dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh seorang guru. Penggunaan media
  • 10. 23 pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologi terhadap siswa ( Arsyad, 2002) Levied an Lentz (dalam Arsyad, 2002 ) membagi media menjadi 4 bagian, yaitu : 1. Fungsi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran. 2. Fungsi afektif Media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (membaca) teks yang bergambar. 3. Fungsi kognitif Media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar. 4. Fungsi kompensatoris Media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali. Media pembelajaran membawa serta membangkitkan rasa senang atau gembira bagi siswa dan memperbaharui semangat mereka, membantu mereka
  • 11. 24 memantapkan pengetahuan para siswa serta menghidupkan pelajaran Ibrahim (dalam Arsyad, 2002). Dewasa ini pemanfaatan komputer tidak sebatas digunakan di dalam perusahaan-perusahaan, perbankkan, tetapi sudah memasuki dunia pendididkan. Pengajaran dengan batuan media komputer merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh para ahli sejak beberapa dekade yang lalu, karena dengan bantuan komputer proses pengajaran berjalan lebih interaktif dan membantu terwujudnya pembelajaran yang mandiri. Dengan adanya perkembangan teknologi komputer, maka metode pendidikan juga berkembang, sehingga proses pengajaran dengan bantuan komputer maju terus menuju kesempurnaannya. Sebagai media pembantu tambahan dalam belajar, pemanfaatan komputer meliputi penyajian informasi isi materi pelajaran, latihan, atau kedua-duanya (Arsyad, 2002) E. Materi Bahan Kimia dalam Makanan Menurut Rahardjo,dkk (2008), bahan tambahan makanan yang diijinkan digunakan pada makanan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.722/menkes/1988 yang diperkuat dengan Peraturan Menteri Kesehatan No.1168/menkes/1999 antara lain disebutkan bahwa yang termasuk Bahan Tambahan Pangan (BTP) terdiri dari 11 golongan yaitu: 1. Antioksidan (untuk mencegah/ menghambat oksidasi) 2. Antikempal (untuk mencegah mengempalnya makanan yang berupa bubuk) 3. Pengatur keasaman (untuk mengasamkan, menetralkan, dan mempertahankan derajat keasaman makanan) 4. Pemanis buatan (zat yang dapat menimbulkan rasa manis pada makanan yang hampir bahkan tidak memiliki nilai gizi)
  • 12. 25 5. Pemutih dan pematang tepung (mempercepat proses pemutihan untuk memperbaiki mutu pemanggangan) 6. Pengemulsi, pemantap, dan pengental (untuk membantu terbentuknya sistem dispersi yang homogen pada makanan) 7. Pengawet (untuk mencegah / menghambat kerusakan oleh mikroba) 8. Pengeras (untuk memperkeras / mencegah melunaknya makanan) 9. Pewarna (untuk memperbaiki / memberi warna pada makanan) 10. Penyedap rasa dan aroma (untuk memberikan, menambah, mempertegas rasa dan aroma) 11. Sequesteran (untuk mengikat ion logam yang ada pada makanan) Dalam kehidupan keseharian kita, di antara bahan tambahan pangan tersebut yang paling sering digunakan adalah pewarna, pengawet, pemanis, penyedap,dan pengaroma. Untuk itu dalam penelitian ini yang digunakan hanya bahan pewarna, pemanis, pengawet, penyedap dan pengaroma. a. Bahan Pewarna Bila ditinjau dari asalnya, pewarna makanan digolongkan menjadi tiga yaitu: pewarna alami, identik dengan pewarna alami, dan pewarna sintetik (Saktiyono, 2007) 1) Pewarna alami Pewarna alami adalah pigmen-pigmen yang diperoleh dari bahan nabati, hewani, bakteri dan algae. Pigmen tersebut antara lain : a) Antosianin (oranye, merah biru) b) Karotenoid (kuning merah dan oranye)
  • 13. 26 c) Klorofil (warna hijau sampai hijau kotor) Contoh tumbuhaan yang di gunakan: a) Daun suji untuk warna hijau b) Kunyit untuk warna kuning c) Daun jati untuk warna merah Kekurangan pewarna alami : a) Konsentrasi pigmen rendah b) Sering memberikan rasa yang khas yang tidak diinginkan c) Warna yang dihasilkan kurang stabil d) Keseragaman warna kurang baik (Saktiyono, 2007) 2) Pewarna Identik Alami Pewarna identik alami adalah pigmen yang dibuat secara sintetik tetapi struktur kimianya mirip dengan pewarna alami. Contohnya, santoxantin (merah), apokaroten (merah oranye), dan betakaroten (oranye sampai kuning). Penggunaan pewarna identik alami hanya boleh dalam konsentrasi tertentu, kecuali beta karoten yang boleh digunakan dalam jumlah tidak terbatas (Handono, 2007) 3) Pewarna Sintetik Pewarna sintetik adalah pewarna yang dibuat (disintesis) oleh manusia. Beberapa kelebihan pewarna sintetik antara lain, warnanya seragam, tajam, mengembalikan warna asli yang mungkin hilang selama proses pengolahan, melindungi zat-zat vitamin yang peka terhadap cahaya selama penyimpanan, dan hanya diperlukan dalam jumlah sedikit.
  • 14. 27 Seiring dengan meluasnya pemakaian pewarna sintetik, sering terjadi penyalahgunaan pewarna pada makanan. Sebagai contoh, digunakannya pewarna tekstil untuk makanan sehingga membahayakan konsumen. Zat pewarna tekstil dan pewarna cat biasanya mengandung logam berat, seperti: arsen, timbal, dan raksa sehingga bersifat racun. Beberapa contoh pewarna sintetik : Sunsetyellow FCF (orange), Carmoisine (merah), Brilliant Blue FCF (biru), (Handono, 2007 ) Penggunaan Boraks atau Pijer (www.e-dukasi.net) dapat menyebabkan : a) Kanker kulit b) Kanker otak c) Gangguan pada hati Gambar 1. Penyalahgunaan Boraks Sumber : www.e-dukasi.net b. Bahan Pemanis Bahan pemanis adalah bahan kimia yang ditambahkan pada makanan atau minuman yang berfungsi untuk memberikan rasa manis.
  • 15. 28 Berdasarkan asalnya pemanis di bagi menjadi dua yaitu pemanis alami dan pemanis buatan Mahardika (2002) 1) Pemanis alami Sumber pamanis alami antara lain berasal dari gula pasir, gula merah, gula aren, dan gula batu. Selain memberikan rasa manis, gula adalah penyumbang kalori yang baik karena mengandung gizi untuk tubuh manusia, tetapi gula dapat menyebabkan berbagai masalah baru bagi orang-orang tertentu, terutama mereka yang kelebihan kalori, kegemukan, menyebabkan kerusakan pada gigi, dan sangat berbahaya bagi penderita diabetes. 2) Pemanis buatan Pemanis buatan atau pemanis sintetik memiliki rasa manis beberapa kali lipat manisnya dari gula tetapi memiliki kalori yang rendah sehingga pemanis buatan lebih aman digunakan bagi penderita diabetes. Tingkat kemanisan relatif dari berbagai bahan pemanis di tunjukan pada Tabel 1. TABEL 1: Tingkat kemanisan relatif dari berbagai bahan pemanis* No Bahan pemanis Kemanisan relatif 1 Sukrosa (gula tebu) 100 2 Glukosa (gula darah) 74 3 Siklamat 3.500 4 Sakarin 50.000 5 Aspartam 20.000 7 Laktosa (gula susu) 16 8 Fruktosa 173 *Kemanisan relatif terhadap sukrosa dengan nilai 100 Sumber : Rahardjo. dkk, 2008
  • 16. 29 Suatu produk makanan atau minuman yang menggunakan pemanis buatan seharusnya mencantumkan jenis dan jumlah pemanis yang digunakan. Penggunaan bahan pemanis atau batasan pemakaian bahan pemanis dalam makanan harus mengacu pada tetapan WHO yang dikenal dengan ADI (aceeptable daily intake) dan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 722/menkes/per/IX/ 1988 tentang batasan maksimum penggunaan bahan kimia dalam makanan seperti tertera pada Tabel 2. TABEL 2: Batasan penggunaan bahan pemanis pada makanan dan minuman Bahan Pemanis Batasan Permenkes per kg Batasan ADI bobot badan per kg makanan Sakarin 50 mg – 300 mg 0 – 5 mg Siklamat 500 mg – 3000 mg 0 – 50 mg Sorbitol 5 g – 300 g – Aspartam – 0 – 40 mg Acesulpame K – 0 – 9 mg Sumber : Rahardjo. dkk, 2008 Dampak penggunaan pemanis 1) Dampak Positif a) Pemanis dapat di gunakan dalam berbagai produk makanan dan minuman. b) Pemanis dapat meningkatkan cita rasa dan aroma c) Pemanis buatan dapat membantu dalam manajemen mengatasi kelebihan berat badan, kontrol glukosa darah dan kesehatan gigi. 2) Dampak Negatif a) Pemanis sintetis dipasarkan sebagai satu produk diet, tapi ini sama sekali bukanlah produk untuk diet. Kenyataannya, ini dapat
  • 17. 30 menyebabkan berat tubuh bertambah karena dapat membuat kecanduan karbohidrat. b) Pemanis sintetis adalah bahan kimia beracun yang dapat merubah kimiawi pada otak dan sungguh mematikan bagi orang yang menderita parkinson. c) Aspartam menyebabkan tumor, kejang-kejang, serta merusak syaraf (www.ehponline.org) c. Bahan Pengawet Bahan pengawet adalah bahan kimia yang dapat mencegah atau menghambat proses fermentasi (pembusukan), pengasaman, atau peruraian lain terhadap makanan yang disebabkan oleh mikroorganisme sehingga makanan tidak mudah rusak atau menjadi busuk. Pengawet ada dua jenis yaitu pengawet alami dan pengawet buatan (Saktiyono, 2004) 1) Pengawet alami Bahan pengawet alami telah dikembangkan sejak ratusan tahun lalu, seperti garam dapur, gula, cuka, dan lada (Saktiyono, 2004). Ikan laut biasa diawetkan dengan cara pengasinan. Garam dapur biasanya digunakan untuk mengawetkan daging dan ikan agar tidak mudah busuk. Garam dapur berfungsi untuk menghambat pembiakan bakteri seperti mikroorganisme clostridium botulinum. Jika bakteri ini berkembang biak pada makanan akan menghasilkan racun yang dapat meracuni daging.
  • 18. 31 2) Pengawet sintetik Bahan pengawet bersifat karsinogen, untuk itu batasan penggunaan bahan pengawet sebaiknya sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 722/menkes/per/IX/ 88 terdapat pada Tabel 3. TABEL 3: Batasan penggunaan bahan pengawet Bahan pengawet Batasan Permenkes per kg makanan Asam Benzoat 600 mg – 1000 mg Asam Sorbat 500 mg – 3000 mg Asam Propionat 2g–3g Natrium Nitrit 50 mg – 125 mg Natrium Nitrat 50 mg – 500 mg Sumber : Rahardjo. dkk, 2008 Akhir-akhir ini banyak terjadi penyalahgunaan bahan pengawet, misalnya formalin. Penggunaan formalin untuk mengawetkan tahu dan mie basah (www.e-dukasi.net) dapat menyebabkan : a) Kanker paru-paru c) Gangguan pada jantung b) Gangguan pada alat pencernaan d) Gangguan pada ginjal, dll. Gambar 2. Penyalahgunaan Formalin (Sumber : www.e-dukasi.net) Sehubungan dengan teka-teki yang sering muncul menyangkut keamanan penggunaan bahan pengawet dalam produk makanan, maka dalam Tabel 4. disajikan beberapa bahan pengawet dan pemanfaatannya
  • 19. 32 serta efek sampingnya sebagai bahan kajian keamanan beberapa pengawet yang banyak digunakan oleh industri pangan TABEL 4: Pengaruh beberapa bahan pengawet terhadap kesehatan Bahan pengawet Produk Pangan Pengaruh Terhadap Kesehatan Sulfur dioksida Sari buah, cider, buah Mempercepat serangan asma, (SO2) kering, kacang kering, mutasi genetik, kanker dan sirup, acar alergi Natrium propionat Produk roti dan tepung Migrain, kelelahan, kesulitan tidur Natrium metasulfat Produk roti dan tepung Alergi kulit Asam sorbat Produk jeruk, keju, pikel Pelukaan kulit dan salad BHA Daging babi segar, Menyebabkan penyakit hati minyak sayur, dan kanker Sumber : Rahardjo. dkk, 2008 d. Bahan Penyedap dan Pemberi Aroma Menurut Permenkes RI No.722/menkes/Per/IX/88,“Penyedap rasa dan aroma, dan penguat rasa adalah bahan tambahan pangan yang dapat memberikan, menambah atau mempertegas rasa dan aroma” 1) Penyedap a) Penyedap alami Bahan-bahan yang termasuk dalam golongan ini ada yang diperoleh dari alam berupa rempah-rempah (misalnya: bawang putih, bawang bombay, pala, merica, serai, daun salam, dan daun pandan) (Rahardjo. dkk, 2008) b) Penyedap sintetik Penyedap sintetik yang sangat populer di masyarakat adalah vetsin atau MSG (Monosodium Glutamat). Monosodium Glutamat merupakan
  • 20. 33 garam natrium dari asam glutamat yang secara alami terdapat dalam protein nabati maupun hewani. Keunikan dari MSG adalah bahwa meskipun tidak mempunyai cita rasa, tetapi dapat membangkitkan cita rasa komponen-komponen lain yang terkandung dalam bahan makanan. Sifat yang semacam itu disebut dengan taste enhancer (penegas rasa). TABEL 5: Bahan yang menambah atau mempertegas rasa No Nama Bahan DM/kg BB 1 L.Asam glutamat 0 − 120 mg 2 Monosodium glutamat 0 − 120 mg 3 Monopotasium glutamate − 4 Kalsium dhidrogen di-L-glutamat 0 − 120 mg Sumber : Rahardjo. dkk, 2008 Peranan MSG: a) Menyedapkan daging: hidrolisis protein dlm mulut, meninngkatkan cita rasa dengan mengurangi rasa yang tidak diinginkan b) Meningkatkan rasa asin, memperbaiki keseimbangan cita rasa lebih sensitif Efek samping penyedap a) Monosodium Glutamat: menyebabkan CRS (Chines Restaurant Sindrom) yang ditandai dengan gejala kesemutan pada punggung, leher, rahang bawah, wajah berkeringat, sesak dada, dan kepala pusing ) b) Monopotasium glutamat : menyebabkan mual, muntah, dan kejang perut, berbahaya bagi penderita gagal ginjal
  • 21. 34 c) Sodium glutamat : tidak boleh digunakan pada pangan bayi dan anak-anak, dan penderitan asam urat (Saktiyono, 2004). 2) Pengaroma a) Pengaroma alami Pengaroma alami merupakan zat pemberi aroma yang berasal dari bahan segar atau ekstrak dari bahan alami, contoh beberapa pengaroma alami ; bumbu, minyak esensial dan turunannya, sari buah ekstrak tanaman atau hewan (ekstrak kopi, coklat, vanili) b) Pengaroma sintetis Beberapa contoh pengaroma sintetis disajikan pada Tabel 6 TABEL 6. Senyawa pembentuk aroma Senyawa Sifat aroma Penggunaan Asetaldehid Tajam, aroma buah Penyedap buah apel metoksi etil asetat Aroma susu,dan tumbuhan Penyedap buah; vanili Alil sinamat Bau menyerupai bumbu Penyedap berry, anggur manis dengan rasa buah Bornil Bau dan rasa seperti Penyedap mint alkohol kamfer/mint, lime, dan nut sumber : www.e-dukasi.net F. Materi Sistem Pencernaan Makanan Sistem pencernaan adalah sistem organ dalam hewan multisel yang menerima makanan, mencernanya menjadi energi dan nutrien, serta mengeluarkan sisa proses tersebut (Saktiyono, 2004). Pada dasarnya sistem pencernaan makanan dalam tubuh manusia dibedakan atas proses penghancuran makanan yang terjadi dalam mulut hingga lambung, proses penyerapan sari-sari makanan yang terjadi di dalam usus, serta proses pengeluaran sisa-sisa makanan melalui anus (Rahardjo.dkk, 2008)
  • 22. 35 Menurut Riyanto (2007), susunan sistem pencernaan pada manusia meliputi : 1. Kelenjar ludah 2. Parotis 3. Submandibularis (bawah rahang) 4. Sublingualis (bawah lidah) 5. Rongga mulut 6. Tekak / Faring 7. Lidah 8. Kerongkongan / Esofagus 9. Pankreas 10. Lambung 11. Saluran pankreas 12. Hati 13. Kantung empedu 14. Usus dua belas jari (duodenum) 15. Saluran empedu 16. Usus tebal / Kolon 17. Kolon datar (tranverse) 18. Kolon naik (ascending) 19. Kolon turun (descending) 20. Usus penyerapan (ileum) 21. Sekum 22. Umbai cacing 23. Poros usus / Rektum GAMBAR 3: Sistem pencernaan manusia 24. Anus Sumber : Riyanto, 2007
  • 23. 36 a. Rongga Mulut Mulut merupakan saluran pertama yang dilalui makanan. Pada rongga mulut dilengkapi alat pencernaan dan kelenjar pencernaan untuk membantu pencernaan makanan. Di dalam rongga mulut terdapat : 1) Gigi Gigi berfungsi untuk memotong, mengoyak, dan menggiling makanan menjadi partikel yang kecil-kecil 2) Lidah Lidah memiliki peran mengatur letak makanan di dalam mulut serta mengecap rasa makanan. b. Esofagus (Kerongkongan) Kerongkongan merupakan saluran yang menghubungkan antara rongga mulut dengan lambung. Pada ujung saluran esophagus setelah mulut terdapat daerah yang disebut faring. Pada faring terdapat klep, yaitu epiglotis yang mengatur makanan agar tidak masuk ke trakea (tenggorokan). Di kerongkongan terdapat gerakan peristaltik sehingga makanan dapat berjalan menuju lambung GAMBAR 4: Proses penelanan Sumber : Riyanto, 2007
  • 24. 37 c. Lambung Dinding lambung disusun oleh otot-otot polos yang berfungsi menggerus makanan secara mekanik melalui kontraksi otot-otot tersebut. (Saktiyono, 2004). Selain pencernaan mekanik, pada lambung terjadi pencernaan kimiawi dengan bantuan senyawa kimia yang dihasilkan lambung. Senyawa kimiawi yang dihasilkan lambung seperti pada Tabel 7. TABEL 7: Senyawa kimiawi yang dihasilkan lambung Senyawa Kimia Fungsi Asam HCl Mengaktifkan pepsinogen menjadi pepsin. Sebagai disinfektan, serta merangsang pengeluaran hormon sekretin dan kolesistokinin pada usus halus Renin Mengendapkan protein pada susu (kasein) dari air susu (ASI). Hanya dimiliki oleh bayi. Pepsin Mengubah protein menjadi molekul pepton Mukus Melindungi dinding lambung dari kerusakan akibat asam HCl. Sumber : Rahardjo. dkk, 2008 Hasil penggerusan makanan di lambung secara mekanik dan kimiawi akan menjadikan makanan menjadi bubur yang disebut bubur kim GAMBAR 5: Penampang dinding lambung Sumber : www.harunyahya.com
  • 25. 38 d. Usus Halus Usus halus terbagi menjadi 3 bagian yaitu duodenum (± 25 cm), jejunum (± 2,5 m), serta ileum (± 3,6 m). Pada usus halus hanya terjadi pencernaan secara kimiawi, dengan bantuan senyawa kimia yang dihasilkan oleh usus halus serta senyawa kimia dari kelenjar pankreas yang dilepaskan ke usus halus (Aryulina, 2004) Pada Tabel 8 disajikan beberapa senyawa yang dihasilkan oleh usus halus TABEL 8: Senyawa yang dihasilkan oleh usus halus Senyawa Kimia Fungsi Disakaridase Menguraikan disakarida menjadi monosakarida Erepsinogen Erepsin yang belum aktif diubah menjadi erepsin. Erepsin mengubah pepton menjadi asam amino. Sambungan Tabel 8 Senyawa Kimia Fungsi Hormon Sekretin Merangsang kelenjar pankreas mengeluarkan senyawa kimia yang dihasilkan ke usus halus Hormon CCK Merangsang hati untuk mengeluarkan cairan empedu (Kolesistokinin) ke dalam usus halus. Sumber : Riyanto, 2007 Pencernaan makanan secara kimiawi pada usus halus terjadi pada suasana basa, prosesnya adalah sebagai berikut : 1. Makanan yang berasal dari lambung dan bersuasana asam akan dinetralkan oleh bikarbonat dari pankreas. 2. Makanan yang kini berada di usus halus kemudian dicerna sesuai kandungan zatnya. Makanan dari kelompok karbohidrat akan dicerna oleh amilase pankreas menjadi disakarida. Disakarida kemudian diuraikan oleh
  • 26. 39 disakaridase menjadi monosakarida, yaitu glukosa. Glukosa hasil pencernaan kemudian diserap usus halus, dan diedarkan ke seluruh tubuh oleh peredaran darah. 3. Makanan dari kelompok protein setelah di lambung dicerna menjadi pepton, maka pepton akan diuraikan oleh enzim tripsin, kimotripsin, dan erepsin menjadi asam amino. Asam amino kemudian diserap usus dan diedarkan ke seluruh tubuh oleh peredaran darah. 4. Makanan dari kelompok lemak, pertama-tama akan dilarutkan (diemulsifikasi) oleh cairan empedu yang dihasilkan hati menjadi butiran- butiran lemak (droplet lemak). Droplet lemak kemudian diuraikan oleh enzim lipase menjadi asam lemak dan gliserol. Asam lemak dan gliserol kemudian diserap usus dan diedarkan menuju jantung oleh pembuluh limfe (Riyanto, 2007) GAMBAR 6: Banyak villi di usus halus meningkatkan luas permukaan Sumber : Riyanto, 2007
  • 27. 40 e. Usus Besar (Kolon) Kolon memiliki panjang 1,5 meter dan berbentuk seperti huruf U terbalik. Usus besar dibagi menjadi 3 daerah, yaitu : kolon asenden, kolon transversum, dan kolon desenden (saktiyono, 2007). Fungsi kolon adalah : 1. Menyerap air selama proses pencernaan, tempat dihasilkannya vitamin K, dan vitamin H (Biotin) 2. Membentuk massa feses 3. Mendorong sisa makanan hasil pencernaan (feses) keluar dari tubuh (Saktiyono, 2007). f. Rektum dan Anus Anus merupakan lubang tempat pembuangan feses dari tubuh. Sebelum dibuang lewat anus, feses ditampung terlebih dahulu pada bagian rektum. Apabila feses sudah siap dibuang maka otot spinkter rektum mengatur pembukaan dan penutupan anus (Saputra, 2008) GAMBAR 7: Usus besar manusia Sumber : Riyanto, 2007
  • 28. 41 g. Organ Yang Berhubungan Dengan Saluran Pencernaan 1. Kelenjar Ludah Ada 3 kelenjar ludah pada rongga mulut. Ketiga kelenjar ludah tersebut menghasilkan ludah setiap harinya sekitar 1 sampai 2,5 liter ludah. Kandungan ludah pada manusia adalah : air, mucus, enzim amilase, zat antibakteri, dll. Fungsi ludah adalah melumasi rongga mulut serta mencerna karbohidrat menjadi disakarida. Saat mengunyah makanan, lidah memindah mindahkan posisi makanan untuk diletakkan di antara gigi. Proses mengunyah makanan adalah bagian dari pencernaan mekanik. Pencernaan mekanik adalah proses memecah makanan secara fisik menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Hasil proses mencernaan secara mekanik akan dilanjutkan dengan pencernaan kimiawi. Pencernaan kimiawi adalah proses perubahan susunan molekul makanan dengan bantuan kerja enzim. 2. Pankreas senyawa kimia yang dihasilkan kelenjar pankreas ditunjukkan pada Tabel 9. TABEL 9: Senyawa kimia yang dihasilkan kelenjar pankreas Senyawa Kimia Fungsi Bikarbonat Menetralkan suasana asam dari makanan yang berasal dari lambung Enterokinase Mengaktifkan erepsinogen menjadi erepsin serta mengaktifkan tripsinogen menjadi tripsin. Tripsin mengubah pepton menjadi asam amino.
  • 29. 42 Tabel 9 Sambungan Senyawa Kimia Fungsi Amilase Mengubah amilum menjadi disakarida Lipase Mencerna lemak menjadi asam lemak dan gliserol Tripsinogen Tripsin yang belum aktif. Kimotripsin Mengubah peptone menjadi asam amino Nuklease Menguraikan nukleotida menjadi nukleosida dan gugus pospat Hormon Insulin Menurunkan kadar gula dalam darah sampai menjadi kadar normal Hormon Glukagon Menaikkan kadar gula darah sampai menjadi kadar normal Sumber : Riyanto, 2007 3. Hati Hati merupakan organ terbesar kedua di tubuh setelah kulit, Terletak dalam rongga perut dibawah diafragma. Hati berfungsi sebagai organ tempat pengolahan dan penyimpanan nutrien yang diserap dari usus halus untuk dipakai oleh sebagian tubuh lainnya, hati juga berperan dalam menetralisasi dan mengeluarkan zat toksik melalui empedu (Saktiyono, 2004) 4. Empedu Empedu berbentuk buah pir yang dapat menyimpan sekitar 50 ml cairan empedu yang dibutuhkan tubuh untuk proses pencernaan. Organ ini terhubungkan dengan hati dan duodenum melalui saluran empedu (Saputra, 2008)
  • 30. 43 G. Dampak Zat Aditif Bagi Kesehatan Makanan-makanan yang dikomsumsi manusia seringkali mengandung bahan pengawet, pemanis, pewarna,penyedap, dan pengaroma buatan. Selain itu, kita juga mengkonsumsi hewan ternak dan tumbuh-tumbuhan yang berkembang biak dengan pakan atau pupuk yang berasal dari bahan kimia. Ketika manusia memakan makanan dengan bahan-bahan kimia tersebut, secara bertahap toksin- toksin akan menumpuk pada organ tubuh dan dalam waktu singkat akan menyerang sel-sel tubuh dan sistem kekebalan tubuh Makanan yang dimakan setiap hari akan meninggalkan zat aditif pada permukaan dinding usus. Tumpukan zat aditif akan mengendap dari waktu ke waktu yang akan menyebabkan bahan beracun. Selanjutnya bahan beracun tersebut akan lepas ke dalam sistem peredaran darah sehingga menghasilkan racun dalam darah. sirkulasi yang berulang (penumpukan yang terus menerus) merupakan sumber timbulnya berbagai penyakit, antara lain : kanker, tumor, jerawat, stroke, penyakit jantung, flek- flek pada wajah, haid tidak normal, penuaan dini, penyakit liver (hati), penyakit maag (lambung), penyakit kulit dan alergi, sulit tidur (Riyanto, 2007). Untuk itu kita perlu mengkonsumsi makanan yang baik untuk tubuh, adapun cirri –ciri makanan yang sehat adalah : a) Memenuhi empat sehat lima sempurna ( nasi, sayur, lauk, buah,dan susu) b) Tidak mengandung zat tambahan yang disalahgunakan pada makanan (misalnya, formalin ) c) Tidak menggunakan zat tambahan pangan secara berlebihan (Saktiyono, 2007)
  • 31. 44 H. Pengajaran dengan Pendekatan Konvensional Pengajaran menggunakan pendekatan konvensional dalam penelitian ini adalah proses pengajaran yang dilakukan dalam suatu pertemuan melalui tahapan- tahapan sebagai berikut : a. Kegiatan Pendahuluan 1) Guru mengucapkan salam 2) Guru melakukan apersepsi dan memberikan motivasi a) Guru membawa kemasan makanan ringan cha-cha b) Guru mengambil 2 buah isi makanan ringan cha-cha dari kemasan, lalu menunjukkan ke siswa dan bertanya kepada siswa, “apa beda makanan ringan cha-cha yang satu dengan yang lainnya?”(siswa menjawab warnanya), Mengapa diberi warna yang berbeda-beda? (siswa menjawab agar menarik) c) Guru memberikan penguatan dengan berkata “ya pemberian pewarna pada makanan berfungsi untuk menarik konsumen” d) Guru bertanya kembali “kalian pernah memperhatikan komposisi makanan dalam kemasan?”(siswa menjawab ya/tidak), guru kemudian berkata “komposisi makanan terdapat dibalik kemasan makanan tersebut” e) Agar lebih jelas, guru meminta satu orang siswa membacakan komposisi makanan ringan cha-cha f) Selanjutnya guru berkata “nah untuk mengetahui bahaya atau tidaknya bahan kimia yang terdapat pada makanan kemasan ini, hari ini kita akan
  • 32. 45 mempelajari bahan kimia dalam makanan dan efeknya terhadap kesehatan” b. Kegiatan Inti 1) Guru menjelaskan materi bahan kimia dalam makanan 2) Guru memberikan contoh bahan kimia dalam makanan 3) Guru memberikan kesempatan bertanya 4) Guru memberikan latihan untuk dikerjakan siswa c. Kegiatan Penutup 1) Guru membimbing siswa membuat kesimpulan 2) Guru memberikan PR kepada siswa sebagai latihan di rumah 3) Guru mengucapkan salam I. Pengajaran Terpadu Dengan Strategi Peta Konsep Dengan bantuan Media Komputer Pengajaran terpadu pada tema bahan kimia dalam keseharian menggunakan strategi peta konsep dengan bantuan media komputer meliputi langkah-langkah sebagai berikut : a. Pendahuluan 1) Guru mengucapkan salam 2) Guru melakukan apersepsi dan memberikan motivasi a) Guru membawa kemasan makanan ringan cha-cha b) Guru mengambil 2 buah isi makanan ringan cha-cha dari kemasan, lalu menunjukkan ke siswa dan bertanya kepada siswa, “apa beda makanan ringan cha-cha yang satu dengan yang lainnya?”(siswa
  • 33. 46 menjawab warnanya), Mengapa diberi warna yang berbeda-beda? (siswa menjawab agar menarik) c) Guru memberikan penguatan dengan berkata “ya pemberian pewarna pada makanan berfungsi untuk menarik konsumen” d) Guru bertanya kembali “kalian pernah memperhatikan komposisi makanan dalam kemasan?” (siswa menjawab ya/tidak), guru kemudian berkata “komposisi makanan terdapat dibalik kemasan makanan tersebut” e) Agar lebih jelas, guru meminta satu orang siswa membacakan komposisi makanan ringan cha-cha f) Selanjutnya guru berkata “nah untuk mengetahui bahaya atau tidaknya bahan kimia yang terdapat pada makanan kemasan ini, hari ini kita akan mempelajari bahan kimia dalam makanan dan efeknya terhadap kesehatan” b. Kegiatan Inti 1) Guru menjelaskan materi bahan kimia dalam keseharian menggunakan peta konsep dengan media komputer, saat menjelaskan guru mengaitkan pelajaran bahan kimia dalam makanan dengan konsep biologi yaitu sistem pencernaan 2) Guru memberikan kesempatan bertanya 3) Guru membentuk 8 kelompok yang terdiri dari 4-5 siswa 4) Guru membagikan beberapa kemasan produk makanan ke siswa (misalnya, leo kripik kentang, gerry salut , cha-cha, riches nabati)
  • 34. 47 5) Guru memberikan lembar kerja siswa untuk dikerjakan siswa 6) Guru meminta beberapa perwakilan siswa menuliskan hasil pekerjaannya di papan tulis, kemudian guru membahasnya bersama-sama siswa c. Penutup 1) Guru membimbing siswa membuat kesimpulan 2) Guru memberikan PR kepada siswa sebagai latihan di rumah 3) Guru mengucapkan salam

×