Laporan akhir daniele tegar

  • 504 views
Uploaded on

Laporan Akhir PPL di SMAN Plus 7 Bengkulu 2014

Laporan Akhir PPL di SMAN Plus 7 Bengkulu 2014

More in: Education
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
No Downloads

Views

Total Views
504
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
36
Comments
0
Likes
1

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. LAPORAN AKHIR PROGRAM PENGALAMAN LAPANGAN (PPL II) PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DENGAN MEDIA KOMPUTER UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KIMIA SISWA KELAS XII IPA 1 SMA PLUS NEGERI 7 KOTA BENGKULU (Classroom Action Research) Oleh : DANIELE TEGAR ABADI LADY SAPUTRA A1F010014 UNIT PROGRAM PENGALAMAN LAPANGAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS BENGKULU 2014
  • 2. HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN AKHIR PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN (PPL II) DI SMA PLUS NEGERI 7 KOTA BENGKULU Oleh Nama : Daniele Tegar Abadi Lady Saputra NPM : A1F010014 Prodi : Pendidikan Kimia Disetujui dan disahkan oleh :
  • 3. KATA PENGANTAR Alhamdulillah, puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan akhir PPL di SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu ini tepat pada waktunya. Laporan ini merupakan salah satu syarat bagi setiap mahasiswa FKIP prodi Pendidikan Kimia untuk menyelesaikan studinya sehingga kelak dari pengalaman ini dapat menambah pengalaman dan wawasan dalam proses pembelajaran didalam kelas. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih atas bantuan seluruh pihak yang telah mambantu dan memberi dukungan serta bimbingan dalam pelaksanaan kegiatan yang sudah dilaksanakan, antara lain: 1. Ibu Dra. Yulinarsyah selaku Guru Pamong PPL II Pada program studi Pendidikan Kimia di SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu. 2. Ibu Salastri Rohiat, M.Pd. selaku dosen pembimbing PPL II program Studi Pendidikan Kimia di SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu. 3. Ibu Hj. Nismah, M.Pd selaku Kepala SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu. 4. Kedua orang tua yang selalu memberikan dukungan dan motivasi. 5. Bapak dan Ibu Guru SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu. 6. Tim Unit PPL FKIP Universitas Bengkulu 7. Teman – teman seperjuangan yang telah bersama-sama melaksanakan PPL di SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu. 8. Seluruh siswa SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu, khususnya seluruh siswa-siswi XII ipa 5 SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu tahun ajaran 2013/2014. terima kasih atas dukungan dan kerjasamanya. InsyaAllah, bantuan dan dukungan yang diberikan mendapat imbalan pahala setimpal dari-Nya. Penulis berharap semoga Laporan ini dapat berguna dan bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan. Bengkulu, Januari 2014 Penulis
  • 4. DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL.............................................................................. 1 HALAMAN PENGESAHAN................................................................ 2 KATA PENGANTAR............................................................................ 3 DAFTAR ISI........................................................................................... 4 DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………...... 5 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah.............................................................. 6 B. Tujuan Pembuatan Laporan......................................................... 7 C. Manfaat........................................................................................ 8 BAB II HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengenalan Lapangan dan Refleksi ............................................. 9 B. Mengajar Terbimbing dan Refleksi............................................. 20 C. Mengajar Mandiri dan Refleksi................................................... 23 D. Kegiatan Non Akademik dan Refleksi........................................ 24 E. Masalah Pembelajaran yang dipecahkan Praktikan dengan PTK 25 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan.................................................................................. 36 B. Saran............................................................................................ 36 DAFTAR PUSTAKA............................................................................. 37 LAMPIRAN-LAMPIRAN
  • 5. DAFTAR LAMPIRAN 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 2. Silabus 3. Visi dan Misi SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu 4. Program Semester 5. Program Tahunan 6. Denah sekolah SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu
  • 6. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyaraktan dan kebangsaan. Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan, salah satu usaha perbaikan proses pembelajaran di sekolah yang dapat dilakukan adalah dengan memahami perilaku siswa dalam belajar. Setiap manusia pada hakikatnya membutuhkan pendidikan. Zanti Arbi dan Syahru (1992: 16-23) berpendapat bahwa pendidikan adalah suatu proses interaksi manusiawi antara pendidik dengan subjek didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Proses pendidikan berlangsung dalam lingkungan tertentu dengan menggunakan bermacam- macam tindakan yang disebut sebagai alat pendidikan. Ada beberapa factor yang berperan dalam pendidikan, yaitu : (1) tujuan, (2) pendidik, (3) subjek didik, (4) isi/materi, (5) cara/ metode dan alat (6) situasi lingkungan. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi yang ada pada manusia yang dikenal dengan SDM dan IMTAQ yakni melalui kegiatan pengajaran. Kegiatan-kegiatan tersebut diselenggarakan di semua satuan dan jenjang pendidikan yang meliputi wajib belajar pendidikan sembilan tahun, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Pendidik harus mempunyai kepercayaan diri bahwa ia mampu memberikan arahan dan bimbingan kepada para siswanya. Sampai saat ini, masih banyak siswa yang beranggapan dan berpendapat bahwa pelajaran kimia merupakan salah satu mata pelajaran yang sulit. Sehingga sudah menjadi hal yang biasa jika di dalam kelas ketika mata pelajaran kimiaberlangsung sebagian besar siswa sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Hal inilah yang menyebabkan rendahnya motivasi siswa terhadap mata pelajaran kimia. Keadaan ini akan berdampak pada nilai dan hasil belajar siswa menjadi tidak tuntas. Karena siswa belum mampu mencapai kompetensi individual yang diperlukan untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Selain itu, siswa juga pada umumnya belum sampai pada tingkat pemahaman.
  • 7. Siswa baru mampu mempelajari (menghafal) fakta, konsep, prinsip, hukum, teori, dan gagasan inovatif lainnya pada tingkat ingatan, mereka belum dapat menggunakan dan menerapkannya secara efektif dalam pemecahan masalah sehari-hari. Hal ini terjadi karena guru belum optimal memberdayakan seluruh potensi siswa. Selain faktor diatas, rendahnya motivasi siswa juga dapat disebabkan karena dalam proses pembelajaran guru tidak menggunakan strategi atau pendekatan pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Usaha untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan proses belajar mengajar dan pembelajaran di sekolah terus menerus dilaksanakan, salah satunya dengan adanya mata kuliah lapangan seperti praktik mengajar di sekolah secara langsung yang biasa dikenal dengan PPL. Program Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan suatu program dalam pendidikan prajabatan guru yang dirancang untuk melatih para calon guru agar menguasai kemampuan keguruan yang utuh dan terpadu sehingga setelah melakukan pendidikan mereka siap secara mandiri mengemban tugas sebagai guru. Program ini merupakan salah satu program akademis yang wajib dilaksanakan oleh mahasiswa FKIP Universitas Bengkulu 1.2 Tujuan Pembuatan Laporan Tujuan pembuatan laporan ini adalah untuk melaporkan rangkaian kegiatan yang telah praktikan dilaksanakan di SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu baik itu kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan akademik, kegiatan administrasi, kegiatan non akademik serta halhal yang diperoleh praktikan selama praktik lapangan. Selain itu juga untuk mengetahui sejauh mana mahasiswa mampu berinteraksi dengan lingkungan sekolah dimana ia di tempatkan, baik berkenaan dengan hubungannya dengan sesama perangkat sekolah dan terutama mengenai kemampuannya dalam manyampaikan materi di kelas. Dalam hal ini juga mencakup bagaimana kemampuan mahasiswa tersebut dalam menyusun perangkat pembelajaran, yaitu berupa rencana pelaksanaan pembelajaran, model dan metode pembelajaran yang akan diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar. Adapun tujuan dari pelaksanan Program Pengalaman Lapangan (PPL) itu sendiri adalah: a. Memberikan pengalaman kepada mahasiswa dalam bidang pembelajaran dan manajerial di sekolah, dalam rangka melatih dan mengembangkan kompetensi keguruan atau kependidikan
  • 8. b. Memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mempelajari, mengenal dan menghayati permasalahan, lembaga kependidikan baik yang terkait dengan proses pembelajaran maupun kegiatan administrasi sekolah. c. Memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang telah dikuasai ke dalam kehidupan nyata di sekolah d. Meningkatkan hubungan kemitraan antara FKIP UNIB dengan Dinas Diknas, Depag, Sekolah, dan lembaga terkait lainnya. 1.3. Manfaat 1. Bagi Mahasiswa a) Menambah pemahaman dan penghayatan mahasiswa tentang proses pengajaran dan pendidikan di sekolah. b) Memperoleh pengalaman tentang cara berpikir dan bekerja secara interdisipliner sehingga dapat memahami adanya keterkaitan ilmu dalam mengatasi permasalahan pendidikan yang ada di sekolah. c) Memperoleh daya penalaran dalam melakukan penelaahan, perumusan dan pemecahan masalah pendidikan yang ada di sekolah. d) Memperoleh pengalamn dan keterampilan untuk melaksanakan pembelajaran dan kegiatan manajerial di sekolah. e) Memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk dapat berperan sebagai motivator, dinamisator, dan membantu pemikiran sebagai problem solver. 2. Bagi Sekolah a) Memperoleh kesempatan untuk dapat andil dalam menyiapkan calon guru atau tenaga kependidikan yang professional. b) Mendapatkan bantuan pemikiran, tenaga, ilmu dan teknologi dalam merencanakan serta melaksanakan pengembangan sekolah. 3. Bagi FKIP Universitas Bengkulu a) Memperoleh umpan balik dari pelaksanaan PPL di sekolah/ lembaga guna pengembangan kurikulum dan iptek yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. b) Memperoleh berbagai sumber belajar dan menemukan berbagai permasalahan unruk pengembangkan penelitian dan pendidikan
  • 9. c) Terjalin kerjasama yang baik dengan pemerontah daerah dan instansi terkait untuk pengembangan Tri Darma Peguruan Tinggi. BAB II HASIL DAN PEMBAHASAN 2.1 Pengenalan Lapangan dan Refleksi 2.1.1 Pengenalan Lapangan Pelaksanaan kegiatan pengenalan lapangan dilakukan agara mahasiswa peserta PPL dapat mengenal serta mengakrabkan diri dengan lingkungan sekolah. Pengenalan lapangan ini berupa observasi yang meliputi keadaan fisik dan nonfisik. Observasi fisik dilakukan terhadap fasilitas dan lingkungan sekolah, sedangkan observasi non fisik berupa interaksi antara mahasiswa dengan guru, siswa, karyawan, dan masyarakat lingkungan sekolah. Kegiatan orientasi PPL meliputi : 1. Penyerahan mahasiswa calon PPL dari unit PPL dan dosen pembimbing lapangan kepada sekolah SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu 2. Pengarahan kepala sekolah wakil kepala sekolah SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu mengenai tata peraturan yang harus ditaati di SMA tersebut 3. Pengenalan tata letak sekolah dan fasilitas sekolah 4. Informasi mengenai kegiatan akademik 5. Informasi akademis sekolah, misalnya, daftar hadir sekolah, daftar hadir guru, daftar hadir karyawan-karyawan SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu dan lain-lain 6. Informasi mengenai kegiatan ekstrakurikuler sekolah Adapun tujuan dari observasi tersebut adalah : 1. Mahasiswa mengenal lingkungan tempat mahasiswa berada 2. Mahasiswa dapat beradaptasi dan menjalin komunikasi dengan pihak sekolah 3. Mahasiswa dapat informasi yang berkaitan dengan :
  • 10. a. Keadaan fisik dan non fisik sekolah b. Kegiatan administrasi c. Kegiatan akademik d. Kegiatan ekstrakulikuler e. Hubungan sosial dan lingkungan sekolah 2.1.2 Refleksi Tentang Pengenalan Lapangan Hal baru yang kami dapatkan selaku mahasiswa ppl, yaitu lingkungan, dan suasana baru yang membuat kami semakin sukacita dalam melaksanakan kegiatan Praktik Lapangan ini. Selain itu praktikan merasa ada kesan tersendiri sewaktu mengikuti kegiatan PPL di SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu, salah satunya adalah keramahtamahan para dewan guru, karyawan serta sopan santun siswa siswi SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu tersebut. Selain itu yang menjadi pusat perhatian mahasiswa adalah lingkungan sekolah yang tertata rapi dan indah serta kedisiplinan seluruh dewan guru, karyawan dan siswa-siswi akan peraturan yang ada sangat ditaati. Dari hubungan masyarakat, terlihat bahwa hubungan kekeluargaan masih sangat kental di SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu, selain itu juga proses dalam pembelajaran siswasiswinya mudah dalam memahami materi pelajaran yang mahasiswa sampaikan terutama kelas yang diajarkan. Kepandaian siswa-siswi ini tidak hanya paham akan materi tapi keaktifan dan argumen-argumen yang disampaikan secara kritis membuat mahasiswa PPL bukan berhadapan dengan siswa tetapi teman mahasiswa ketika berdiskusi. Dan siswa-siswi sangat menghargai dan menghormati kami sebagai guru PPL sebagai mana mereka menganggap guru mereka sendiri baik itu pada kegiatan pembelajaran maupun diluar pembelajaran. Secara umum kondisi fisik dan non fisik SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu sudah baik Dengan adanya pengenalan lapangan, mahasiswa bisa berpikir bagaimana cara untuk mengatasi masalah yang akan terjadi. Seperti contoh, dengan adanya jadwal piket maka setiap mahasiswa diberi jadwal piket untuk membantu guru-guru piket di SMA Plus Negeri 7
  • 11. Kota Bengkulu. Adapun hasil dari observasi-orientasi di SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu terangkum dalam data-data sebagai berikut: 2.1.3 Kegiatan Akademik Kegiatan belajar mengajar di SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu sudah berjalan dan berlangsung dengan cukup baik. Dilihat dari output yang dihasilkan bahwa SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu siap mencetak generasi penerus bangsa yang mampu bersaing baik dalam masyarakat maupun dalam melanjutkan ke perguruan tinggi. Para lulusan SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu juga mampu beradaptasi serta bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Konsep pengajaran yang diterapkan oleh guru sesuai dengan kurikulum yang ada yaitu KTSP, sesuai dengan hasil dari observasi yang dapat dirincikan sebagai berikut: 1. Perangkat Pembelajaran : a. Satuan pelajaran (SP), disusun berdasarkan konsep/ sub konsep yang akan disampaikan. b. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dirancang oleh guru berdasarkan konsep/ sub konsep. c. Silabus berpedoman pada ketentuan Diknas yang disesuaikan dengan kurikulum KTSP dan nilai Budaya dan Karakter Bangsa (BKB). 2. Perilaku siswa a) Perilaku siswa di dalam kelas. Siswa belajar secara aktif di dalam kelas apabila penyampaian materi pembelajaran dapat menarik perhatian dan minat. Mereka sering bertanya untuk hal-hal yang mereka anggap kurang jelas, terutama seusai guru menjelaskan materi di depan kelas. Suasana mulai ramai dan kurang kondusif terjadi pada pertengahan pelajaran. Ini disebabkan oleh kejenuhan yang datang atau materi yang sulit mereka pahami. Mereka cenderung mengalihkan rasa bosan dengan mengobrol di dalam kelas atau mengerjakan hal-hal lain yang tidak berkaitan dengan materi pelajaran. b) Perilaku siswa di luar kelas. Santun terhadap guru dan orang-orang yang lebih tua di sekolah. Bahkan para siswa memiliki kebiasaan untuk menyapa dan menyalami guru-guru baik secara kebetulan atau sengaja mereka temui. Beberapa siswa sudah memanfaatkan waktu luang dengan kegiatan positif seperti membaca buku diperpustakaan atau
  • 12. membahas materi pelajaran bersama teman-teman pada saat jam istirahat berlangsung. Tetapi tidak sedikit juga yang meluangkan waktunya untuk berkumpul menurut organisasi yang digelutinya, misalnya OSIS dan ekstrakulikuler lain ataupun sekedar bercengkrama dengan teman-teman yang lain. 2.1.4 Kegiatan Administrasi 1. Pengelolaan daftar hadir guru SMA Negeri Plus 7 Kota Bengkulu memiliki tenaga pengajar guru berjumlah 80 orangyang terdiri dari 65 orang guru tetap dan 15 orang guru Bantu. Pengelolaan daftar hadir guru menjadi tanggung jawab TU dibawah wewenang kepala sekolah. Informasi guru yang tidak hadir diperoleh dari guru piket. 2. Daftar Hadir Siswa Jumlah ruang kelas di SMA Negeri Plus 7 Kota Bengkulu adalah 27 dengan 9 ruang kelas X, 9 ruang kelas XII yang terbagi menjadi 5 ruang kelas IPA dan 4 kelas IPS, 9 ruang kelas XII dengan 5 ruang kelas IPA dan 4 ruang kelas IPS Untuk pengelolaan daftar hadir siswa diserahkan pada masing-masing kelas melaporkan siswa yang tidak hadir pada hari itu, kemudian guru piket menatat kedalam buku absensi siswa. 3. Jumlah Guru dan Siswa Jumlah Guru : 80 Orang Jumlah Siswa : 827 Orang 2.1.5 Masalah Pembelajaran yang Dihadapi Guru Masalah Pembelajaran yang dihadapai guru tentunya sudah biasa dihapai oleh guru tersebut, yaitu masalah pengorganisasian lingkungan siswa. Banyak siswa yang masih Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tidak pernah terlepas dari kendala-kendala. Kendala-kendala itu timbul dari faktor internal maupun eksternal siswa. Biasanya kendala yang paling banyak dihadapi oleh seorang guru adalah dalam pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas dirasa cukup sulit karena sebanyak itu jumlah anak maka sebanyak itu juga sikap anak yang timbul. Keterampilan dalam pengelolaan sangat penting, karena apabila seorang guru tidak dapat mengelola kelas dengan baik maka berlangsungnya kegiatan belajar mengajarakan terganggu. Setelah praktikan mengobservasi kegiatan guru pamong mengajar, praktikan dapat mengambil kesimpulan bahwa pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru
  • 13. sudah baik, walaupun pada awal ada beberapa siswa yang kurang konsentrasi.Hal ini dapat diatasi oleh guru dengan caramenarik perhatian siswa tersebut terhadap pelajaran. 2.1.6 Kegiatan Non Akademik 1. Sarana dan Prasarana Sekolah a) Kondisi Fisik Sekolah SMA Negeri Plus 7 kota Bengkulu dengan kodisi fisik sekolah dijabarkan sebagai berikut: Nama Sekolah : SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu Luas Bangunan : 1.175 M2 Luas Pekarangan : 28.603 M2 Luas Tanah (Bersertifikat) : 29.778 M2/No. AM. 289381 Daya Listrik (Ada/Tidak Ada): Ada Kapasitas : 2200 Watt/220 Volt No Sarana/Prasarana Kondisi Urut B RR RMD 1RUANG a. Ruang Kelas V b. Ruang Guru V c. Ruang Kep.Sekolah V d. Ruang TU V e. Ruang BP V f. Ruang Perpustakaan V g.Ruang Keterampilan V h. WC/KM V I. Ruang Jaga V j. Gudang V 2RUANG LAB a. Lab.Kimia V b. Lab.Biologi V c. Lab Bahasa V d. Lab.Komputer V 3Alat Kantor/P.PEND a. Komputer b. Mesin Tik V c. Mesin Stensil V d. Brangkas e. OHP f. Telepon V g. Televisi h. Tipe Recorder V I. Alat Kesenian V j. Olah Raga V k. IPS 4Alat Keterampilan a. Elektro Ket RB Jlh 21 2 1 1 1 1 9 1 1 1 1 1 V V V V V 11 2 2 1 7 2 3 2
  • 14. b. Otomotif Keterangan : B : Baik RR : Rusak Ringan RMD : Rusak Masih Dapat Diperbaiki RB : Rusak Berat 2. Potensi siswa Jumlah siswa/i di SMA Negeri Plus 7 kota Bengkulu adalah 827 orang, yang terdiri dari 397 siswa putera dan 430 siswa puteri dengan rincian sebagai berikut: 295 orang siswa/i kelas X 303 orang siswa/i kelas XI 229 orang siswa/i kelas XII Prestasi Akademik Sekolah yang diperoleh oleh SMA Negeri Plus 7 kota Bengkulu dalam tiga tahun terakhir, yaitu: Juara I Juara 3 Juara 2 1/23/2010 Renang gaya kupu kupu Renang gaya bebas Renang Gaya Punggung 1/23/2010 Renang Gaya Dada 1/23/2010 Renang Gaya Dada 1/23/2010 Renang Gaya Bebas Renang gaya kupu kupu Renang Gaya Punggung 1/23/2010 Band 2/15/2010 Lomba Paskibra Juara 3 Juara 1 Juara 1 Kejurnas Gokasi 2/15/2010 TERBUKA 3 2/15/2010 Hasia Karya Hipa Action 2/15/2010 LCT Goya Ryu Karate Argamakmur Spot Centre Nasional Piala Propinsi Piala Propinsi Piala Juara 2 2/19/2010 Design poster Spot Centre Propinsi Piala Juara 1 Juara 2 2/17/2010 Futsal 4/14/2010 Volly Putri Unihas Sma N 1 Propinsi Piala Piagam Juara 1 4/22/2010 LCT Stain Kota Piala Juara 2 Jura 1 Juara 2 SMA Plus Negeri 7 Propinsi PIagam SMA Plus N 7 Bengkulu SMA Plus N 7 BeNGKULU Sma Plus N7 Bengkulu Propinsi Propinsi Propinsi Piagam Piagam Piagam SMA Plus N MAN 1 Bengkulu Propinsi SMA Piala Piala
  • 15. Juara II 4/22/2010 PMR STAIN Kota Piala Juara III Praga Pendidikan 4/22/2010 Remaja STAIN Kota Piala Juara III 4/22/2010 Desain Kotak Sampah STAIN Kota Piagam Stain Stain Stain Stain Stain Dinas Kota Dinas Kota Dinas Kota Tingkat SMA Kota Kota Kota Kota Kota Propinsi Propinsi Propinsi SMA Piagam Piagam Piagam Piagam Piala Piagam Piagam Piagam Piagam Juara III Juara III Juara III Juara III Juara III Juara III Juara 2 Juara 2 Juara III 4/22/2010 4/22/2010 4/22/2010 5/2/2010 4/22/2010 10/30/2010 11/15/2010 11/15/2010 12/5/2010 Drama Aksi Bersih Pensi Drama PMR Cerpen Yel yel Drama Konseling Water Roket Juara III 12/29/2010 LCC UUD NRI TH 1945 SMA Kota Piala Juara I 12/29/2010 LCC UUD NRI TH 1945 MKKS Kota Piala
  • 16. Juara Umum Juara 1 Juara 1 Juara 2 Juara III Juara II 2/19/2012 2/19/2012 2/19/2012 2/19/2012 2/19/2012 2/19/2012 Juara III Kuarda Bengkulu Kuarda Bengkulu Kuarda Bengkulu Kuarda Bengkulu Kuarda Bengkulu SMA 5 Kota Kota Kota Kota Kota Kota Piala Piala Piala Piala Piala Piala 2/19/2012 Debat SMA 5 Kota Piala Juara III Juara III Juara III Juara I Juara 3 Juara 3 2/19/2012 2/19/2012 3/12/2012 3/12/2012 3/23/2011 3/23/2011 SMA 5 SMA 3 SMA 2 SMA 2 Dinkes Bengkulu BDINKES Kota Kota Kota Kota Propinsi Propinsi Piala Piala Piala Piala Piala Piala Juara 1 5/23/2011 Pik.KRR Juara 1 Jaara 1 Juara 3 Juara Umum Juara 3 Juara 3 Juara 2 Juara 3 5/23/2011 miniatur perkemahan LCT S.Asemorai HUT SMA n 2 BENGKULU HUT SMA N 1 HUT SMA N 1 Kota SMA SMA Piala Piala Piala Hut Grace Horizon Hotel BKKBN SMKN.1 Bengkulu Hut SMA Muh.4 SMKN.1 Bengkulu SMA kota SMA SMA SMA Piala SMA N 5 SMA Piala SMA N 5 SMA Piala Juara 1 Juara 2 10/20/2011 10/24/2011 11/25/2011 10/15/2011 Pramuka Kuarda Heking Putra Ponering Putra Drama Pramuka Tata Upacara Penegak Mading Story Telling Putra Basket Pidato Bahasa Inggris Tarko Pidato Bulan Peduli HIV Lomba Mading Renang Poster Genre Baskrt Putra Jati Cup Basket Putra Basket Putra 2/13/2012 Storry Telling 13//02/201 2 Pasukan 8 Piala PIala Piala
  • 17. Juara 2 Juara 1 Juara 2 Juara 3 Juara 3 Futsal 2/18/2012 Basket Putra 2/24/2012 Pasikan 8 Juara 2 Propinsi Propinsi Propinsi Piala Piala Piala Basket Putra Scrabble Tk.SMA SMAPA FIESTA CUP X Pgsdexpo Cup Propinsi Propinsi Piala Piala Pelajar Tangkas 13/2012 SMA N Sma N 5 SMA N 2 Bengkulu Diknas Kota Kota Piala Juara 2 Juara 3 10/22/2012 Olompiade Pasar Modal 10/24/2012 Pasukan 8 Diknas Kota SMA 6 Propinsi Kota piala Piala Juara 3 Juara 1 Juara 1 10/21/2012 Juara III Basket 10/4/2012 akting monolog 11/9/2012 Juara I Mading SMA N 6 UMB UNIB Kota kota Kota Piala Piala Piala SMA N Pondok Kelapa Kota Piala Juara III Juara III Futsal Juara III 11/1/2012 Mading Sesumatra UMB Propinsi Piala Juara II 11/1/2012 Futsal Muhhammadiyah 4 Kota Piala kwartir daerah provinsi Bengkulu kota Piala juara II 2325/08/2013 grafity putri 3. Potensi guru SMA Negeri Plus 7 Kota Bengkulu memiliki tenaga pengajar (guru) berjumlah 80 orang yang terdiri dari 65orang guru tetap dan 15 orang guru bantu. 4. Potensi karyawan
  • 18. Jumlah Staf TU dan Karyawan di SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu adalah 12 Orang yang terdiri dari No Nama 1 Penata Muda Tingkat 1 2 Penata Muda 3 Pengatur muda 4 Satpam 5 Penjaga Sekolah 6 Kebersihan 7 Penjaga malam 8 Penjaga perpustakaan 9 Penjaga UKS 5. Perpustakaan Jumlah 2 Orang 2 Orang 1 Orang 1 Orang 1 Orang 1 Orang 1 Orang 1 Orang 2 Orang Di SMA Negeri Plus 7 kota Bengkulu terdapat satu perpustakaan yang berisi buku pelajaran, baik IPA, koran, majalah, jurnal, maupun buku – buku pelajaran yang bersifat umum, serta dilengkapi dengan berbagai meja dan beberapa kursi. 6. LAB IPA Lab IPA di SMA Negeri Plus 7 kota Bengkulu terbagi menjadi 3 yakni LAB Kimia, Fisika Dan Biologi. LAB tersebut dalam keadaan baik dengan sarana dan prasarana yang cukup lengkap. 7. LAB Bahasa Lab Bahasa di SMA Negeri Plus 7 kota Bengkulu sudah baik dengan sarana dan prasarana yang cukup lengkap. 8. Bimbingan Konseling (BK) Ruang BK berada tepat disamping ruang guru piket SMA Plus Negeri 7 kota Bengkulu. Terdapat ruang BK dengan tiga orang petugas. Bimbingan diberikan 1 JP setiap minggu untuk setiap kelas. Bimbingan konseling untuk siswa yang bermasllah sudah ditangani dengan baik oleh guru BK dan guru BK sendiri telah bekerja seoptimal mungkin. 9. Bimbingan Belajar Di SMA Plus Negeri 7 kota Bengkulu bimbingan belajar telah dilakukan cukup baik oleh guru per mata pelajaran, khususnya anak kelas XII telah diadakan bimbingan belajar untuk mempersiapkan UN setelah pulang sekolah. 10. Ekstrakulikuler yang ada di SMK Negeri 2 Kota Bengkulu adalah:
  • 19. NO JENIS EKSTRAKURIKULER NAMA PEMBINA NAMA PELATIH 1 Pramuka Aupin, M.Pd. Syafrudin Zulin 2 Paskibra Dhani Anggarista, A.Ma Obie A, Lusi A. 3 Drumband Fatmawati, SH. Agus Hidayat 4 PMR/UKS Ponikem, S.Pd. Rita Sugiarti 5 PIK KRR - Eva Setia Trisilia, SE. 6 Renang - Drs. Samsuari 7 Basket Ball - Helik Firmansyah 8 Bulu Tangkis - Drs. Ali Basyar 9 Sepak Bola/Futsal - King Dedes, S.Pd. 10 Kimia Science Club - Yulinarsyah, S.Pd. 11 Fisika Science Club - Feggy Amriani, M.Pd.Si 12 Biologi Science Club - Haulan, S.Pd. 13 Matematika Science Club - Yarmawati, S.Pd. 14 English Science Club 15 Komputer - Evan Yulistian, S.Kom. 16 KIR - Gunawan Agung s., S.Pd. 17 Seni Tari - Mely Yanti, S.Pd 18 Seni Musik/Musik Dol - Harmis Lelyaeni, S.Pd. 19 Seni Theater 20 Risma Eva Parnida, S.Pd. Vina Apriola, M.Pd. Dra. Husnah Rusli, M.Pd. Denis Muhammad Yepan, S.Pd.I Widya Y. Ekstrakulikuler yang terdapat di sekolah sudah berjalan dengan baik dibantu oleh guru yang membimbing siswa dalam kegiatan ekstrakulikuler tersebut, seperti: Voli, Sepak Bola, Basket, Paskibra, Seni Tari, Seni Theater, Seni Musik (Musik Dol), Tari Kreasi, PMR/UKS, SKR, dan English Club. 11. Organisasi dan Fasilitas OSIS Kegiatan OSIS di SMA Plus Negeri 7 kota Bengkulu aktif, memilki ruangan tersendiri dengan fasilitas yang cukup memadai di bawah pengawasan guru pembimbing.
  • 20. 12. Organisasi dan Fasilitas UKS Organisasi dan Fasilitas UKS di SMA Plus Negeri 7 kota Bengkulu Sudah berjalan dengan baik di bawah pengawasan guru pembimbing dan ruangan UKS dalam keadaaan baik, memilki ruang perawatan, dan dilengkapi dengan obat-obatan untuk P3K 13. Administrasi ( Karyawan, Sekolah, Siswa, Guru) Berbagai administrasi yang ada di SMA Plus Negeri 7 kota Bengkulu sudah baik. Baik itu kinerja karyawan, keadaan fisik dan nonfisik sekolah, dan sebagainya. 14. Koperasi Siswa Koperasi siswa tidak ada, yang ada hanya KPN. Sehingga untuk berbelanja kebutuhan siswa seperti Alat tulis, makanan atau minuman siswa harus ke kantin atau keluar dari sekolah. 15. Tempat Ibadah Berhubung siswa dominan beragama islam, maka SMA Plus Negeri 7 kota Bengkulu memiliki tempat ibadah yaitu berupa mushola yang besar dan permanen untuk melaksanakan kegitan ibadah khususnya sholat dan kegiatan keagamaan yang lain. 16. Kesehatan Lingkungan Keadaan lingkungan sudah cukup baik, bersih, dan tertata rapi dengan penerapan kedisiplinan yang tinggi untuk menjaga kebersihan. 17. Kantin Kantin SMA Plus Negeri 7 kota Bengkulu terletak di belakang kelas X, di dekat LAB Bahasa dan di dekat ruang BK. Kantin tersusun memanjang dengan berbagai jajanan. Kantin digunakan tidak hanya oleh siswa, tapi juga oleh guru dan karyawan sekolah. 18. Parkir SMA Plus Negeri 7 kota Bengkulu memiliki lahan parkir yang cukup luas dan digunakan untuk lahan parkir guru, staf, dan siswa. 2.2Mengajar Terbimbing dan Refleksi 2.2.1 Mengajar Secara Terbimbing Setelah selesai kegiatan observasi atau pengenalan lapangan maka memasuki tahap pelatihan dasar mengajar secara terbimbing yang dimulai tanggal 26 september . Pada tahap ini praktikan berlatih mengintegrasikan berbagai kemampuan keguruan secara utuh di kelas dibawah bimbingan guru pamong dan dosen pembimbing dengan pendekatan supervise klinis. Kemampuan keguruan yang seharusnya dipraktikkan di kelas adalah keterampilan
  • 21. dasar mengajar yang telah didapat praktikan pada perkuliahan micro teaching (PPL-1). Keterampilan dasar mengajar tersebut meliputi : 1. Keterampilan bertanya dasar dan bertanya lanjut 2. Keterampilan memberikan penguatan 3. Keterampilan memberikan variasi 4. Keterampilan menjelaskan 5. Keterampilan membuka dan menutup pelajaran 6. Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil 7. Keterampilan mengelola kelas 8. Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan. Berhasil atau tidaknya kegiatan mengajar tergantung pada kesiapan seorang guru untuk mengajar, karena di dalamnya terjadi proses interaksi mentransfer ilmu dan proses perubahan tingkah laku kearah yang positif sehingga anak didik menjadi lebih baik , dewasa dan bertanggung jawab. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan diperlukan persiapan yang matang. Pada pelatihan keterampilan dasar mengajar inilah akan dilatih segala sesuatu yang menyangkut hal diatas. Dengan berpedoman pada silabus yang telah dibuat sekolah sesuai dengan kurikulum KTSP, praktikan mempersiapkan desain dan perangkat pembelajaran yaitu Rencana Pelaksanaan Pengajaran yang selanjutnya dikonsultasikan dengan guru pamong dan dosen pembimbing. Dari hasil konsultasi/bimbingan tersebut praktikan mengetahui desain dan perangkat pembelajaran yang cocok dan benar sesuai dengan kondisi penalaran siswa serta praktikan merasa lebih siap untuk praktik mengajar dikelas. Setelah melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas yangdibimbing langsung oleh guru pamong dan dan dosen pembimbing, kemudian diadakan balikan guna mengevaluasi pelaksanaan pengajaran yang baru saja praktikan lakukan di kelas. Dalam kegiatan ini guru pamong dan dosen pembimbing menyebutkan kekurangan atau kelemahan yang dilakukan praktikan saat kegiatan belajar mengajar berlangsung yang tentunya harus diperbaiki agar proses belajar mengajar selanjutnya menjadi lebih baik, serta mendiskusikan hal-hal yang harus dipertahankan dalam kegiatan belajar mengajar tersebut. Selain itu praktikan juga diberikan motivasi dan masukan-masukan oleh guru pamong dan dosen pembimbing guna meningkatkan kemampuan praktikan dalam mengajar dikelas selanjutnya. Kendala yang dihadapi pada saat mengajar mandiri ini ialah adanya beberapa siswa yang masih ribut/mengganggu teman lainnya pada saat proses belajar mengajar berlangsung dan tidak meperhatikan presentasi teman-teman lainnya.
  • 22. 2.2.2 Refleksi Mengajar secara Terbimbing Ada delapan keterampilan dasar mengajar yang harus praktikan integerasikan pada pelaksanaan dasar mengajar di SMA Plus Negeri 7 kota Bengkulu, diantaranya, sebagai berikut : 1. Keterampilan bertanya dasar dan bertanya lanjut 2. Keterampilan memberikan penguatan 3. Keterampilan memberikan variasi 4. Keterampilan menjelaskan 5. Keterampilan membuka dan menutup pelajaran 6. Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil 7. Keterampilan mengelola kelas 8. Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan. Peran guru pamong dan dosen pembimbing sangat dibutuhkan dalam membantu praktikan merefleksikan keterampilan dasar mengajar tersebut. Guru pamong meminta praktikan meningkatkan pelaksanaan beberapa keterampilan dasar saja dari delapan ketrampilan dasar mengajar yang ada, namun harus disesuaikan dengan materi dan metode yang digunakan dalam setiap pertemuan. Kemudian guru pamong mengamati praktikan dalam menerapkan keterampilan dasar mengajar ketika praktik mengajar di kelas. Selanjutnya setelah praktikan selesai mengajar, guru pamong memberikan bimbingan dan perbaikan-perbaikan terhadap kekurangan yang dilakukan praktikan dalam melaksanakan praktik mengajar di kelas. Praktikan menyadari sepenuhnya kekurangan-kekurangan yang telah dilakukan ketika praktik mengajar sehingga praktikan masih banyak membutuhkan bimbingan dari guru pamong. Pada tahap ini praktikan berlatih mengintegrasikan berbagai kemampuan keguruan secara utuh di kelas dibawah bimbingan guru pamong dan dosen pembimbing dengan pendekatan supervise klinis. Adapun bimbingan supervise klinis dari guru pamong dan dosen pembimbing terhadap praktikan difokuskan dalam hal : 1. Persiapan Mengajar Dalam hal ini, sebelumnya praktikan diminta menyiapkan desain dan perangkat pengajaran sesuai dengan materi atau pokok bahasan kimia kelas XII yang akan disampaikan dengan berpedoman pada silabus mata pelajaran kimia kelas XII yang digunakan di SMA Plus Negeri 7 kota Bengkulu. Dari perangkat pengajaran yang telah disiapkan tersebut kemudian dikoreksi oleh guru pamong dan diberikan masukan serta praktikan diajak berdiskusi membahas kesiapannya tampil dikelas nantinya.
  • 23. 2. Penerapan Keterampilan dasar mengajar secara terintegrasi Selain itu, praktikan diminta juga menentukan keterampilan dasar yang akan dikontrakkan di kelas nantinya. Dari keterampilan dasar tersebut kemudian didiskusikan mengenai cocok tidaknya diintegrasikan dengan materi yang akan disampaikan. Dan pada akhirnya praktikan, guru pamong dan dosen pembimbing menyepakati keterampilan dasar yang cocok yang akan dilatihkan dalam kegiatan belajar mengajar. 3. Pengelolaan proses belajar mengajar dan dampaknya terhadap siswa Setelah praktikan dinyatakan siap dengan desain dan perangkat pengajarannya serta menguasai keterampilan dasar mengajar yang akan dilaksanakan, praktikan dipersilahkan berlatih langsung mengajar dikelas dengan didampingi oleh guru pamong dan dosen pembimbing. Selesai mengajar, praktikan diberi evaluasi mengenai proses pengajaran dikelas oleh guru pamong. Dari evaluasi tersebut, praktikan mendapat masukan yaitu lebih meningkatkan keterampilan pengelolaan kelas dan volume suara dalam kelas.yang sangat berarti bagi pengembangan keterampilan mengajar. Masukan yang disampaikan akan mengungkapkan kelemahan praktikan saat mengajar disertai alternatif pemecahan masalah. Pada masa terbimbing ini mahasiswa akan dibimbing untuk melaksanakan kegiatan kegiatan praktikum, yaitu membimbing siswa melaksnakan praktikum pada mata pelajaran fisika. Setelah pelaksanaan mengajar secara terbimbing praktikan kemudian melaksanakan pelatihan mengajar secara mandiri. Tahapan pelatihan mengajar secara mandiri ini ialah mengajar dan memberikan penilaian kepada siswa melalui tugas-tugas dan ulangan harian dan remedi. Kendala yang dihadapi praktikan adalah pada saat proses belajar mengajar berlangsung dan beberapa siswa yang ribut dan menganggu temannya yang lain sehingga pada saat praktikan menjelaskan materi tidak tersampaikan dengan baik. Oleh karena itu, dapat praktikan refleksikan sebagai calon guru sebaiknya praktikan harus tegas dalam menegur atau memberi hukuman kepada siswa yang mengganggu tersebut sehingga kegaduhan dalam kelas dapat cepat teratasi. Kendala lain yang dihadapai praktikan ialah ketika pemberian penilaian kepada siswa melalui ulangan harian ada beberapa siswa yang memperoleh nilai rendah tidak mau mengikuti kegiatan remedial yang praktikan adakan. Untuk itu adanya bimbingan dengan guru pamong dapat memberikan solusi mengatasi masalah pada pelaksanaan mengajar terbimbing.
  • 24. 2.3 Mengajar Mandiri dan Refleksi 2.3.1 Mengajar Secara Mandiri Pelatihan dasar mengajar secara mandiri ini, dimulai tanggal 07 Nopember – Desember 2013, dan khusus bagi praktikan difokuskan mengajar di kelas XII IPA 5 dan XII IPA 3. Pada tahap ini praktikan dituntut dapat berlatih secara mandiri dalam menerapkan dan mengintegrasikan kemampuan keguruan dalam situasi nyata, pengayaan konteks dan mengasah kemampuan refleksi. Kegiatan yang dilaksanaakan pada pelatihan keterampilan mengajar secara mandiri ini, praktikan diberi kesempatan mengajar di kelas tanpa diawasi secara langsung oleh guru pamong dan dosen pembimbing. Pada pelatihan keterampilan mengajar mandiri ini praktikan mencoba memantapkan lagi kegiatan yang dilakukan sebelumnya (pada saat mengajar terbimbing) dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang praktikan lakukan pada pelatihan keterampilan mengajar secara terbimbing. Di samping itu praktikan mencoba melakukan pendekatan persuasif pada siswa sehingga memudahkan praktikan dalam mengelolah kelas maupun berkomunikasi. Selain mengajar mandiri, praktikan juga diberi kesempatan untuk membimbing kegiatan praktikum dan merencanakan serta menilai hasil dari proses belajar mengajarnya yang telah praktikan laksanakan. Pada tahap ini, guru pamong dan dosen pembimbing hanya memberikan masukan terhadap hal-hal sangat perlu mendapat perhatian oleh praktikan dalam kegiatan pembelajaran dan memberikan solusi ketika praktikan menemui hambatan atau masalah. 2.3.2 Refleksi Mengajar Secara Mandiri Pada tahap pelatihan mandiri ini, praktikan sudah tidak didampingi oleh guru pamong pada saat mengajar di dalam kelas. Tetapi persiapan-persiapan yang dilakukan sebelum mengajar harus tetap di konsultasikan dengan guru pamong. Praktikan tetap membutuhkan masukan dari guru pamong maupun teman sesama praktikan. Untuk meningkatkan keterampilan dalam mengajar praktikan juga mendapat masukan dari siswa. Pada dasarnya tahap ini merupakan tahap akhir kegiatan PPL. Praktikan diberi kesempatan berlatih secara mandiri untuk menerapkan secara utuh dan terintegrasi segala kemampuan keguruan dalam situasi nyata di sekolah menengah, pengayaan konteks, dan mengasah kemampuan refleksi. Fokus materi pembimbingan ditujukan pada pengembangan kemampuan professional guru, yakni kemampuan membuat persiapan mengajar, penguasaan
  • 25. keterampilan, pengelolaan proses belajar- mengajar, penampilan diri sendiri dan dampaknya terhadap siswa. Kreativitas praktikan sangat dituntut dalam pelaksanaan pelatihan mandiri. Hal ini dilakukan agar siswa tidak bosan dengan pengajaran yang dilakukan. Dalam pelatihan mandiri praktikan perlu mengembangkan pengetahuan tentang materi pelajaran dan psikologi bagi seorang guru, karena setiap kelas tidak terlepas dari permasalahan siswa yang hiper aktif, non aktif dll. Pada tahap mandiri ini, mahasiswa praktikan juga diberi kesempatan membuat alat penilaian berupa test yang di berikan kepada siswa setelah selesainya menyampaikan materi atau satu pokok bahasan. Hal ini dilakukan selain untuk mengetahui keberhasilan praktikan dalam mengajar juga untuk mengidentifikasi kesulitan siswa dalam belajar. 2.4 Kegiatan Non Akademik dan Refleksi 2.4.1 Kegiatan Non Akademik Dalam kegiatan non akademik banyak dilakukan pada SMA Plus Negeri 7 kota Bengkulu ini. Salah satu kegiatan rutin yang dilakukan yaitu kegiatan olahraga rutin setiap 1x dalam seminggu yang diadakan dihari sabtu. Selain itu masih banyak lagi kegiatan non akademik yang lain diantaranya Paskibraka, Sepak bola, Bola voli, Bola basket, PMR, dan lain-lainnya. Dan Seluruh kegiatan ini memiliki dana dan angggaran sendiri dari donatur kesiswaan. Setiap siswa harus memilih dan mengikuti satu kegiatan non akademik tersebut serta tidak boleh pindah dipertengahan tahun. Jika siswa memiliki bakat dan kemampuan maka siswa boleh memilih 2 kegiatan non akademik tersebut. Kegiatan ini bertujuan untuk menyalurkan bakat dan mengembangkan potensi siswa. 2.4.2 Refleksi Kegiatan Non Akademik Dalam kegiatan non akademik yang mahasiswa sebutkan diatas, semuanya berjalan dengan baik dan mempunyai jadwal tersendiri setiap kegiatan dan diluar jam sekolah. Dalam hal ini siswa juga ikut berperan dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut. Tetapi tidak semua kegiatan yang bisa mahasiswa ikuti karena keterbatasan waktu. 2.5 Masalah Pembelajaran yang dipecahkan Praktikan dengan PTK 2.5.1Masalah Pembelajaran Yang Dihadapi Guru
  • 26. Berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap guru kimia SMA Plus Negeri 7 kota Bengkulu, diketahui bahwa kurikulum yang digunakan di SMA Plus Negeri 7 kota Bengkulu adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dari hasil observasi diketahui bahwa secara keseluruhan dalam proses belajar mengajar, guru tidak terlalu mendapatkan kesulitan yang begitu berarti karena semua permasalahan yang ditemui masih bisa diatasi. Namun terdapat materi pelajaran yang dirasakan sulit bagi siswa materi kimia unsur. Hal ini diketahui dengan rendahnya hasil belajar siswa pada materi tersebut. Rendahnya hasil belajar siswa disebabkan karena faktor masalah belajar yakni kurangnya antusias siswa terhadap proses belajar mengajar dikarenakan penggunaan metode dan model pembelajaran yang monoton. Selain itu juga dikarenakan oleh rendahnya penguasaan materi pada siswa. Selain itu, setelah melakukan observasi pada tahap pelatihan mengajar terbimbing dan tahap pelatihan mengajar mandiri masalah yang di hadapi pratikan pada saat proses pembelajaran sedang berlangsung adalah adanya sebagian siswa yang mengeluh dan merasa bosan jika pembelajaran hanya dengan menggunakan metode ceramah yang membuat proses pembelajaran menjadi kurang efektif. 2.5.2 Pemecahan Masalah Berdasarkan masalah tersebut, maka praktikan mencoba menerapkan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran CONTEXTUAL TEACHING LEARNING dengan media Komputer. 1. Landasan teori a. Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) Model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antar materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata. Hal ini mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapnnya dalam kehidupan sehari-hari. Ada tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual dikelas. Ketujuh komponen tersebut antara lain : 1. Konstruktivisme (Constructivism)
  • 27. Konstruktivisme merupakan landasan berfikir pembelajaran kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata, yang intinya bahwa pengetahuan seseorang itu hanya dapat dibangun oleh dirinya sendiri dan bukannya diberikan oleh orang lain yang siap diambil dan diingat. 2. Bertanya (Questioning) Bertanya adalah induk dari strategi pembelajaran kontekstual, awal dari pengetahuan, jantung dari pengetahuan, dan aspek penting dari pembelajaran. Bertanya adalah suatu strategi yang digunakan secara aktif oleh siswa untuk menganalisis dan mengeksplorasi gagasan-gagasan. Pertanyaan-pertanyaan spontan yang diajukan siswa dapat digunakan untuk merangsang siswa berfikir, berdiskusi dan berspekulasi. 3. Menemukan (Inquiry) Inkuiri pada dasarnya adalah suatu ide yang kompleks, yang berarti banyak hal, bagi banyak orang, dalam banyak konteks. Inkuiri menekankan bahwa mempelajari sesuatu itu dapat dilakukan lebih efektif melalui tahapan inkuiri sebagai berikut, yaitu: mengamati, menemukan dan merumuskan masalah, mengajukan dugaan jawaban (hipotesis), mengumpulkan data, menganalisis data, dan membuat kesimpulan. 4. Masyarakat Belajar (Learning Community) Masyarakat belajar, yang esensinya bahwa belajar itu dapat diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain. Kerja kelompok, diskusi kelompok, dan pengerjaan proyek secara berkelompok adalah contoh membangun masyarakat belajar. 5. Pemodelan (Modeling) Komponen pembelajaran kontekstual selanjutnya adalah pemodelan. Maksudnya, dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Pemodelan dapat berbentuk demonstrasi, pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar. Pemodelan, adalah pembelajaran yang dilakukan dengan memberikan model/contoh. Model bisa berupa benda, cara, metoda kerja, cara/prosedur kerja, atau yang lain, yang bisa ditiru oleh siswa. 6. Refleksi (Reflection) Refleksi merupakan cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan dimasa lalu. Siswa mendapatkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau
  • 28. revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima (Komalasari, 2013:12). 7. Penilaian sebenarnya (Authentic Assessment) Authentic assessment adalah prosedur penilaian pada pembelajaran kontekstual. Assessmen adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Authentic assessment merupakan pengukuran pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh siswa, penilaian produk serta pemberian tugas-tugas yang relevan dan kontekstual (Aqib, 2013:8). b. Media Komputer Pembelajaran berbasis komputer (CAI) merupakan pembelajaran secara langsung dengan melibatkan komputer untuk mempresentasikan bahan ajar dalam suatu model pembelajaran yang interaktif. Pemanfaatan komputer dalam proses belajar mengajar di sekolah diharapkan dapat meningkatkan efektifitas proses pembelajaran khususnya pada mata pelajaran kimia. Keuntungan pembelajaran berbasis komputer yaitu : 1. Komputer dapat mengakomodasi siswa yang lamban menerima pelajaran. 2. Komputer dapat merangsang siswa untuk mengerjakan latihan, melakukan kegiatan laboratorium atau simulasi. 3. Memberi kesempatan lebih baik dalam mendukung pembelajaran individu sesuai kemampuan siswa. 4. Dapat berhubungan dengan peralatan lain seperti compact disc, video tape dan lain lain (Arsyad, 2009:55). 2. Rumusan Masalah Bagaimanakah hasil belajar kimia siswa di kelas XII IPA 1 SMA Plus Negeri 7 kota Bengkulu Dengan menerapkan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning dengan Media Komputer ? 3. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah hasil belajar kimia siswa di kelas XII IPA 1 SMA Plus Negeri 7 kota Bengkulu Dengan menerapkan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning dengan Media Komputer
  • 29. 4. Manfaat Penelitian 1) Bagi siswa  Untuk meningkatkan keaktifan siswa dan kerja sama dalam kelompok terutama dalam proses pembelajaran kimia sehingga dapat meningkatkan hasil belajar kimia siswa.  Untuk meningkatkan kemampuan berpikir siswa dalam mesmecahkan masalah dalam pembelajaran kimia. 2) Bagi Guru Untuk menambah pengalaman guru untuk menggunakan variasi dari berbagai strategi pembelajaran dan diharapkan dapat memberikan informasi kepada guru lain mengenai penerapan model pembelajaran CTL dengan Media Komputer membantu guru dalam memecahkan masalah dalam pembelajaran khusunya Kimia. 3) Bagi sekolah Diharapkan dapat memberikan sumbangan dan gambaran pemikiran dalam hal perbaikan proses pembelajaran melalui penerapan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning dengan Media Komputer pada pembelajaran kimia untuk meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah khususnya bagi sekolah tempat penelitian. 4) Bagi peneliti Sebagai pengalaman dan bekal pengetahuan dalam kegiatan belajar mengajar dengan penerapan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning dengan Media Komputer 5. Instrumen yang digunakan Dalam penelitian ini digunakan instrumen sebagai berikut: a. Lembar tes Tes digunakan untuk mengukur pemahaman konsep dan kemampuan berfikir kritis siswa terhadap materi pembelajaran yang telah diberikan. Tes diberikan setiap akhir proses pembelajaran setiap siklus. 6. Prosedur Penelitian
  • 30. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas dengan dua siklus dimana tiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: (1) tahap perencanaan tindakan, (2) tahap pelaksanaan tindakan, (3) tahap observasi dan, (4) tahap refleksi (Arikunto, 2006).  Siklus 1 a. Tahap Perencanaan tindakan Pada tahap ini perencanaan pembelajaran disusun sebagai berikut: 1. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pokok bahasan hukum faraday. 2. Menyiapkan Lembar Diskusi Siswa (LDS). 3. Membangun struktur kognitif siswa 4. Menyiapkan soal postest siklus 1 b. Tahap Pelaksanaan tindakan Pelaksanaan tindakan 1 dilakukan dikelas XII IPA 1. Pelaksanaan tindakan dilakukan sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun. c. Tahap observasi Tahap observasi merupakan tahap untuk mengamati pelaksanaan tindakan dalam proses pembelajaran. d. Tahap refleksi Refleksi terhadap pembelajaran dengan menggunakan model Contextual Teaching and Learning dengan Media Komputer terhadap guru dan kegiatan siswa sehingga diketahui apa yang belum tercapai pada proses pembelajaran. Berdasarkan hasil evaluasi yang diperoleh, masalah-masalah atau kelemahan yang muncul selama proses pembelajaran dapat diperbaiki pada siklus ke II.  Siklus II Pada pelaksanaan siklus II ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan pembelajaran pada siklus I, yang urutan kegiatannya ialah sebagai berikut: a. Tahap perencanaan tindakan Adapun kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah melakukan perbaikan kesalahan pada siklus I dengan mempersiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran, membuat LDS, mempersiapkan alat dan bahan ajar yang dibutuhkan dan mempersiapkan alat evaluasi yang diperlukan. b. Tahap pelaksanaan tindakan
  • 31. Pada tahap ini melaksanakan tindakan sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah dibuat. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara berkelompok dan lama kegiatan pembelajaran yang dilakukan adalah 2x45 menit. c. Tahap observasi Tahap observasi merupakan tahap untuk mengamati pelaksanaan tindakan dalam proses pembelajaran. d. Tahap refleksi Refleksi terhadap pembelajaran dengan menggunakan model Contextual Teaching and Learning dengan Media Komputer. dilakukan terhadap guru dan kegiatan siswa sehingga diketahui apa yang telah tercapai pada proses pembelajaran. Hasil evaluasi pada siklus II ini dapat digunakan untuk perbaikan pada penelitian selanjutnya. 7.Teknik analisa data Data tes dianalisa berdasarkan kriteria ketuntasan belajar klasikal, dimana proses belajar mengajar secara klasikal dikatakan tuntas apabila 80% siswa memperoleh ≥75. Ketuntasan belajar dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 1. Rata-rata nilai X=ΣX N Keterangan: ΣX= Jumlah nilai yang diperoleh X = Nilai rata-rata N = Jumlah siswa 2. Persentase ketuntasan belajar siswa KB = NS x 100% N Keterangan: KB = Ketuntasan belajar klasikal NS = Jumlah siswa yang mendapat nilai ≥67 N = Jumlah siswa Data kegiatan guru dan siswa dianalisis dengan menggunakan analisa data secara deskriptif berdasarkan hasil penilaian guru,(Sudjana, 1989). 8. Deskripsi hasil dan pembahasan a. Deskripsi Hasil
  • 32. Dari hasil penelitian yang telah digunakan dengan menerapkan pembelajaran dengan model Contextual Teaching and Learning dengan Media Komputer Siswa Kelas XII IPA 1 di SMAN Plus Negeri 7 Kota Bengkulu, maka diperoleh hasil sebagai berikut:  SIKLUSI Pada siklus I pembelajaran Kimia pada materi laju reaksi pokok bahasan menentukan persamaan laju reaksi menggunakan 2 kategori penilaian, yaitu: nilai post test dan LDS. Dari kedua penilaian tersebut dianalisis menjadi nilai akhir siswa dan digunakan untuk memperoleh nilai ketuntasan belajar klasikal berdasarkan jumlah siswa yang memperoleh nilai 65 keatas. Nilai post test Post test dilakukan diakhir pembelajaran dengan jumlah 2 soal berbentuk uraian (essay). Dari data tersebut diketahui bahwa siswa yang memperoleh nilai 75 ke atas adalah sebanyak 8 siswa dari 28 siswa. Dengan persentase ketuntasan belajar sebesar 30,76 % b. Nilai laporan Nilai laporan berupa LDS (Lembar Diskusi Siswa) yang didalamnya terdapat beberapa permasalahan yang harus dipecahkan siswa secara berkelompok berkenaan dengan materi ajar. Dari hasil LDS diketahui bahwa jumlah siswa yang memperoleh nilai 65 ke atas adalah 28 dari 28 siswa. Dengan persentase ketuntasan belajar sebesar 100 %. c. Nilai akhir Nilai akhir dihitung berdasarkan nilai post test dan laporan yang masing-masing nilai dihitung presentasenya (post test dikalikan 75%, laporan dikalikan 25 %). Dari nilai akhir tersebut dianalisis untuk mendapatkan data rata-rata skor dan ketuntasan belajar klasikal. Nilai rata-rata skor pada siklus I dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel. 1 Tabel nilai rata-rata skor Siklus Jumlah siswa Jumlah nilai siswa Nilai rata-rata (X) I (N) 28 (ΣX) 1635 62,88 Tabel. 2 Tabel presentase ketuntasan belajar siswa Siklus Jumlah Jumlah siswa yang Persentase ketuntasan siswa mendapatkan nilai ≥ belajar klasikal
  • 33. I 28 75 8 30,76 % Dilihat dari tabel diatas menunjukkan bahwa pembelajaran pada siklus I belum mencapai ketuntasan belajar klasikal karena menurut wawancara yang dilakukan terhadap guru kimia SMA Plus Negeri 7 Bengkulu, diketahui bahwa kurikulum yang digunakan di SMA Plus Negeri 7 Bengkulu adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dimana kriteria keberhasilan dan ketuntasan belajar di SMA Plus Negeri 7 Bengkulu secara klasikal dikatakan berhasil jika 85% siswa memperoleh nilai 75 ke atas.  Refleksi siklus I Berdasarkan hasil pengamatan menggunakan lembar tes berupa nilai laporan (LDS) disimpulkan bahwa pada siklus 1 siswa sudah mulai memperhatikan penjelasan dari guru tentang materi pelajaran yang akan disampaikan, siswa sudah mulai bekerja sama dalam mengerjakan lembar kerja yang diberikan. Sedangkan dari nilai posttest baru 30,76% siswa yang sudah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal, dimana kriteria keberhasilan dan ketuntasan belajar di SMA Plus Negeri 7 Bengkulu secara klasikal dikatakan berhasil jika 85% siswa memperoleh nilai 75 ke atas.  Siklus II Pada siklus II pembelajaran Kimia pada materi Termokimia pokok bahasan Entalpi Pembentukan menggunakan 2 kategori penilaian, yaitu: nilai post test dan LDS. Dari kedua penilaian tersebut dianalisis menjadi nilai akhir siswa dan digunakan untuk memperoleh nilai ketuntasan belajar klasikal berdasarkan jumlah siswa yang memperoleh nilai 75 keatas. a. Nilai post test Post test dilakukan diakhir pembelajaran dengan jumlah 2 soal berbentuk uraian (essay). Dari data tersebut diketahui bahwa siswa yang memperoleh nilai 65 ke atas adalah sebanyak 25 siswa dari 28 siswa. Dengan persentase ketuntasan belajar sebesar 88,46%. b. Nilai laporan Nilai laporan berupa LKS (Lembar kerja siswa) yang didalamnya terdapat beberapa permasalahan yang harus dipecahkan siswa secara berkelompok berkenaan dengan
  • 34. materi ajar. Dari hasil LKS diketahui bahwa jumlah siswa yang memperoleh nilai 65 ke atas adalah 25 dari 28 siswa. Dengan persentase ketuntasan belajar sebesar 100 %. c. Nilai akhir Nilai akhir dihitung berdasarkan nilai post test dan laporan yang masing-masing nilai dihitung presentasenya (post test dikalikan 75%, laporan dikalikan 25 %). Dari nilai akhir tersebut dianalisis untuk mendapatkan data rata-rata skor dan ketuntasan belajar klasikal. Nilai rata-rata skor pada siklus I dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel. 3 Tabel nilai rata-rata skor Siklus Jumlah siswa Jumlah nilai siswa Nilai rata- (N) (ΣX) rata (X) 28 1899 I 73,03 Dilihat dari tabel diatas menunjukkan bahwa pembelajaran pada siklus II diketahui bahwa rata-rata skor siswa meningkat ± 3,22 yakni dari 62,88 pada siklus I menjadi 73,03 pada siklus II. Sedangkan untuk presentase ketuntasan belajar siswa dapat dilihat pada tabel.8 Tabel. 4 Tabel presentase ketuntasan belajar siswa Siklus Jumlah siswa yang Persentase siswa I Jumlah mendapatkan nilai ≥ 65 ketuntasan belajar 28 25 klasikal 88,46 %  Refleksi siklus II Dari hasil refleksi analisis observasi siswa pada siklus II aspek-aspek observasi siswa diketahui bahwa aktivitas siswa lebih baik daripada siklus 1 dimana nilai ketuntasan belajar secara klasikal meningkat dari 71,875% menjadi 88,46%. 9. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan terlihat bahwa penggunaan model pembelajaran model Contextual Teaching and Learning dengan Media Komputer di kelas XII IPA 1 SMA Plus Negeri 7 Bengkulu berdampak positif terhadap hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya rata-rata skor dan presentase ketuntasan klasikal seperti yang terlihat pada tabel 5 dan 6.
  • 35. Tabel 5. Nilai rata-rata skor pada siklus I dan siklus II Uraian Rata-rata Skor Siklus I 62,88 Siklus II 73,03 Keterangan Meningkat 10,15 Seperti yang terlihat pada hasil tersebut, diketahui bahwa terjadi peningkatan pada ratarata skor siswa maupun ketuntasan belajar klasikal antara siklus I dan siklus II. Untuk ratarata skor meningkat 10,15point, yakni dari 62,88 menjadi 73,03. Tabel 6. Presentase ketuntasan belajar siswa secara klasikal pada siklus I dan siklus II No Siklus Presentase ketuntasan klasikal Keterangan 1 I 30,76 % Meningkat 2 II 88,46% 57,7% Sedangkan untuk presentase ketuntasan belajar klasikal meningkat 57,7%, yaitu dari 30,76% menjadi 88,46%. Dari data yang diperoleh tersebut menunjukkan bahwa proses pembelajaran dengan menggunakan model Contextual Teaching and Learning dengan Media Komputer mempunyai pengaruh yang baik terhadap hasil belajar siswa yakni ditunjukkan dengan meningkatnya nilai ketuntasan belajar siswa. Meningkatnya ketuntasan belajar siswa ini disebabkan oleh model Contextual Teaching and Learning dengan Media Komputer yang turut mendukung pembelajaran ini. Dimana guru membentuk kelompok siswa dimana melalui kelompok ini sesama anggota kelompok dapat berdiskusi antara satu dengan yang lainnya (sharing) yang memberikan kontribusi yang besar dalam melakukan bimbingan terhadap temannya yang kurang mengerti, hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Nurhadi (2002) bahwa pembagian kelompok yang heterogen, siswa pandai dapat mengajari yang lemah, yang tahu memberi tahu yang belum tahu. Siswa yang mempunyai kemampuan rendah atau sedang akan lebih cepat mengajukan pertanyaan kepada temannya sendiri yang memiliki kemampuan lebih dan mngerti. Dengan demikian proses pembelajaran akan berjalan dengan lebih baik. Dengan demikian berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu kelas XII IPA 1 dapat diketahui bahwa pembelajaran dengan menggunakan model Contextual Teaching and Learning dengan Media Komputer memberikan hasil belajar yang lebih baik dari pada dengan metode ceramah. Dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa pada tiap siklus, maka dapat dinyatakan bahwa siswa telah mampu beradaptasi dengan
  • 36. baik terhadap model Contextual Teaching and Learning dengan Media Komputer. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model Contextual Teaching and Learning dengan Media Komputer pada materi hukum faraday dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XII IPA 1 SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu. . BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Setelah melaksanakan kegiatan PPL di SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu, praktikan menyimpulkan bahwa: 1. Kegiatan PPL merupakan wahana yang sangat tepat dalam menyiapkan tenaga pendidikan yang professional, khususnya bagi calon guru. 2. Kegiatan PPL merupakan suatu program yang sangat efektif dan efisien bagi mahasiswa keguruan untuk meningkatkan kualitas sebagai pendidik yang profesional
  • 37. 3. SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu merupakan salah satu sekolah yang bisa dikatakan unggul yang ada di Kota Bengkulu. Dengan kualitas dan disiplin yang tinggi sehingga menjadi tempat yang sangat baik bagi mahasiswa dalam mengaplikasikan teori-teori yang didapat di perkuliahan. 4. Peran guru pamong dan dosen pembimbing sangat menentukan keberhasilan praktikan dalam melaksanakan PPL. 5. Penerapan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning dengan Media Komputer dapat meningkatkan hasil belajar kimia siswa kelas XII IPA 1 SMA Plus Negeri 7 Kota Bengkulu. Hal ini terlihat dari peningkatan ketuntasan klasikal pada siklus I 30,76% dan pada siklus II meningkat menjadi 88,46%. 3.2 Saran 1. Tingkatkan komunikasi dan kerja sama antara guru pamong dan dosen pembimbing secara intensif memberikan bimbingan kepada praktikan sehingga praktikan dapat mengikuti pelaksanaan PPL ini dengan sebaik- baiknya dan sesuai dengan apa yang diharapkan 2. Agar praktik pengalaman lapangan (PPL) ini berjalan dengan lancar, sebaiknya praktikan menyiapkan penguasaan materi yang diajarkan, fisik dan mental secara baik 3. Untuk lebih memperlancar jalannya proses belajar mengajar sebaiknya fasilitas pendidikan lebih dilengkapi 4. Penggunaan metode dan media pembelajaran sebaiknya lebih bervariatif DAFTAR PUSTAKA Aqib, Zainal. 2007. Membangun Profesionalisme Guru dan Pengawas Sekolah. Bandung : Cv.Yrama Widya Arikunto, Suharsimi. 2002. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan ( Edisi Revisi ). Jakarta: Rineka Cipta Depdiknas. 2003. Kurikulum Kimia 2004 Standar Kompetensi Mata pelajaran Kimia. Jakarta: Dinas Pendidikan Nasional Purba, Michael.2006. Kimia untuk SMA kelas XII. Jakarta: Erlangga Unit Program Pengalaman Lapangan (UPPL). 2010. Buku Panduan Praktik Pengalaman Lapangan. Bengkulu.Unib