Part 11

                Penyeimbangan




      Kami     berada ditempat yang sangat indah dan
teduh. Sebuah taman yang c...
sekolah, kearah Selatan yang berbanding terbalik dengan
rumahku yang berada di Utara. Dia masih memandangiku,
menatapku da...
Mengejarku dengan begitu gesit dan menampakkan dirinya
padaku.”

       “Aku menjerit, berlarian dan menjauh dari rumah.
M...
itu adalah cerita horror Dad dan Mom.” Suaraku berbisik
datar. “Saat itu juga aku tahu keluarga Smith bukanlah
keluarga ka...
Tatapan itu sangat lembut, tenang tapi tidak
membuatku tahu apa yang sedang dipikirkannya. Dia
bertanya mengenai kedua ora...
Tiba-tiba.” Suaraku parau, pikiranku menerawang jauh –
aku mencoba untuk tidak mengungkitnya kepada siapapun,
kenangan bur...
jarak. Tidak baik pembasmi berdekatan dengan vampire
kan?” Dan ia mengerang.

       “Aku tidak setuju dengan katakutanmu ...
Aku tidak bisa menceritakan sejauh ini lagi. Terlalu sulit
bagimu dan mungkin bagimu ini adalah alasan terkuat untuk
mengh...
“Bagaimana dengan keluargamu? Apa yang terjadi
pada kalian?” Tanyaku, akhirnya. Matthew tetap kaku, tapi
kali ini sedikit ...
dari kehadiranmu. Kedua orangtuaku dan Eve saat itu belum
terbiasa dengan berburu. Dan kehidupan itu berlanjut
hingga aku,...
vampire yang sama dengan kami, masa lalu keluargaku dan
Lucca nyaris sama. Tapi Julia berhasil menyadarkannya.
Begitulah. ...
keabadiannya nanti. Intinya, jika kami harus mengubah
manusia, itu hanya karena manusia itu sangat
membutuhkannya.”

     ...
“Apa kau percaya dengan cinta?” Ia kembali
mencondongkan tubuhnya dan tersenyum menggoda
padaku. Aku menggelengkan kepala....
menjadi vampire paling beradab seantero ini.” Ungkapnya.
Aku kembali normal. Ada yang bisa aku debat lagi dengan
‘kenormal...
“Bagaimana akan hausnya dahaga? Seberapa besarkah
darah begitu penting?” Tanyaku, retoris. Aku menyadarkan
Matthew dari la...
“Vampir dalam kawanan hitam, sudah tentu vampire
yang masih liar. Vampire yang tidak bisa melepaskan
manusia sebagai mangs...
“Ada apa?” Dia menarik sebelah lenganku dan aku
menatapnya. Tubuh tingginya berdiri disebelahku.

       “Apa-apaan ini? A...
“Kakekmu, bisa dibilang begitu.” Suaranya berat.
Tubuhku gemetar saat ia menceritakan kenangan dulu yang
pernah kubaca dib...
tentang kesalahan yang telah dilakukan ibuku. Dan saat itu,
tiba-tiba sesuatu terlintas olehku.

       “Dan apakah… Ia ma...
kepalaku. Aku berusaha berkali-kali menarik nafas dalam-
dalam, dan memejamkan mata sejenak. Tubuh tingginya
masih berdiri...
“Ibuku hanya menceritakan sepenggal cerita tentang
sejarah pembasmi. Bagaimana pembasmi bermusuhan
dengan vampire dan hal-...
Makan malam paling special yang pernah ku lalui
bersama dengan keluargaku. Mesin mobil patroli punya
ayahku terdengar, ia ...
“Well,” Aku mulai gugup. “Ada, tapi aku tidak
menerimanya..” Aku memberikan senyuman pada mata-
mata yang sedang menatapku...
tertawa kecil. Aku cemberut dan mulai kesal dengan tawa
mereka yang mengejekku.

       “Aku tidak menyukainya, jadi untuk...
“Oke, bagus. Bagus sekali, Dear. Aku harap memang
begitu. Kau bisa menyikapinya dengan baik.” Gumam Dad
santai. Tentu apa ...
bukanlah topic menyenangkan. Dad memandangiku sejenak
lalu kembali menonton TV.

       “Buruk, kami belum menemukan apa-a...
Sebelum aku benar-benar memejamkan mata, aku
memikirkan kata-katanya siang tadi. Mengingatnya jelas dan
terus memikirkanny...
Part 12

                 Sinar Matahari




       Pagi yang cerah hadir menyinari kamarku dengan
cahaya matahari yang in...
“Lusa keluarga Lomax akan kemari.” Dad
membuatku tersedak sesaat lalu memasang wajah terkejut
menatapnya.

      “Apa? Mak...
Berani bertaruh, para vampire pasti mencari cara agar
terlihat normal dan seperti melahap habis masakan manusia.
Ku geleng...
“Ada apa, Glad? Kau sudah lama tidak
meneleponku?” Sindirku. Glad mendesah dan sedikit
mengerutu. Tapi aku mengabaikannya,...
“Yah,     aku      menyukainya      dan     pernah
mengungkapkannya. Tapi dia menolakku. Makanya ku pikir
dia menceritakan...
“Bagaimana dengan Mr. Cool Guy-mu?”

       Ia mengucapnya dengan nada sindiran yang terdengar
menjijikkan. Aku mendesah.
...
Seperti biasa, menyalakan laptopku, melihat email
yang masuk dan membalasnya. Bisa ku tebak, pasti dari Brit.
Aku merinduk...
malamnya. Dia terkejut melihatku dan kembali duduk
dimeja makan.

      “Kau belum tidur?” Suaranya memecahkan
keheningan ...
“Ada hasilnya?” Aku masih menatapnya penuh
senyum.

       “Yeah. Kali ini aku yakin, itu bukan perbuatan
manusia, Dear. K...
“Ya, tentu saja. Tapi,” Dad menahan suaranya. “Kami
memindahkanmu ke New Jersy karena kami tidak mau
semua itu menjadikanm...
“Apa? Kenapa?” Aku mendekatinya, dan Dad
menatapku heran. Wajahku sama herannya dengan tatapan
Dad padaku. Aku tergelak.

...
“Apa yang terjadi? Dia sudah memaafkanmu?” Jen
membuka suara terlebih dahulu sebelum aku memulainya.
Aku tersenyum renyah....
“Apa Adam yang mengatakannya?” Matanya masih
mengamati Glad dan Adam dengan seksama, tidak berpaling
padaku.

      “Well,...
Jen begitu antusias, ia tersenyum begitu manis dan
bersahabat. Dan aku, hanya melambaikan tangan dan sedikit
menyinggungka...
Part 13

                Port Diamond




      “Katakan padaku.” Tubuhnya yang berkelap-kelip
bagai berlian memandangiku ...
tubuhnya yang menggiurkan bagiku membuatku terpana dan
lupa akan kehadirannya yang tiba-tiba dikamarku.

       “Apa?” Aku...
membuatmu marah padaku. Aku menunggu hari ini dan
sepertinya aku tidak bisa menundanya.”

       “Tidak, aku tidak marah.”...
“Sinar matahari yang terlalu menyengat, panas dan
menyentuh kulit dengan sedikit sakit, itu akan memberikan
efek warna kul...
“Dad? Hay, pagi...” Aku tersenyum simpul,
memalingkan wajahku dari jendela agar Dad tidak curiga dan
memandangiku. “Yah, a...
disebelah Steve yang sedang menceritakan tentang mobil
barunya. Aku mengangkat bahuku, memandangi Glad yang
berseri-seri.
...
menjawab lima soal dalam waktu singkat, dan itu
membuatku harus berpikir keras mengingat rumus dan
menghitungnya dengan be...
Aku dan Jen bersemangat, sudah lama aku tidak
memakan makanan Italia, dulu saat aku masih di New Jersy
aku sering memakann...
“Kau benar. Ya, baiklah. Tidak apa-apa. Ada gunanya
juga informasi memalukan itu untukmu, Jen.” Glad
mengangguk pelan dan ...
Glad mendengarkan saranku, dia mengajak kami
berpindah ke beberapa butik untuk menemukan gaun yang
diinginkannya. Sesekali...
“Maaf, aku sedang melihat toko antik disana. Eh, tapi
aku serius, kau sangat cocok dengan gaun itu.” Aku berusaha
membuatn...
berlapis kayu coklat dengan ornament hewan, ada juga jam
burung hantu sedang bertengger didahan pohon yang
kayunya hitam.
...
Kami menuju taman yang dipenuhi pohon-pohon
besar, dan makin lama makin masuk kedalam hutan
belantara yang gelap serta ras...
Aku ingat sekarang, sosok ini mirip dengan yang ada
dimimpiku, sosok yang besar, gelap dan tidak terlihat
wajahnya ini. Ak...
ketakutan. Kami sudah berada didalam mobilnya, selain
dirinya aku melihat saudara laki-lakinya yang lain, Joan
Jackson. Di...
“Aku pergi bersama teman-temanku. Dan seharusnya
mengantar Jen pulang, dan sekarang mobilku dibawa Joan.
Sepertinya aku pe...
Tatapan itu begitu dingin dan masih tetap memandang lurus
kejalan. Dan aku kembali terpesona sesaat.

       “Lalu, apa ad...
Part 14

   Museum




Moonlight Shading
       66
Aku    tiba dengan selamat dirumahku, dia tidak
menuruniku tepat didepan rumahku, hanya sedikit menjauh
beberapa rumah dar...
Tangannya yang lembut dan dingin masih menyentuh
rambutku dengan pelan, tubuhnya semakin condong
padaku, tatapannya begitu...
tersenyum. Kami berdua berdiri tepat didepan pintu
penumpangnya, saling berpandangan. Matthew mengamati
wajahku yang masih...
Kutinju bahu kanannya, “Aku pembasmi muda.
Membunuh atau nafsu akan vampire-vampir belum
menggiurkanku. Masih terlalu dini...
Sebelum masuk aku melihat mobilnya melaju dengan
cepat dan sudah menghilang dari tempat tadi. Tubuhku
masih gemeteran dan ...
rumah dengan langkah gontai, langkahku cepat menuju
dapur. Kuabaikan sepasang mata yang menatapku heran.
Langkahku cepat, ...
penjelasan tentang Matthew dan Joan yang tiba-tiba
menolongku.

       “Oh.” Dad terkesiap. Kudengar langkah turun dari
ta...
dan kuncinya sebelum melangkah ke meja makan dan
menyantap makan malam.

      “Mom bilang kau ke Port Diamond? Sudah pula...
“Mom, kau mengejutkanku.” Aku kembali
membereskan peralatan makan malam. “Aku ingin cepat
beristirahat, tubuhku memerlukan...
indah yang pernah terjadi selama aku memimpikannya
adalah hari ini.

      Aku bangun agak siang, Dad membangunkanku
denga...
mewah dan besar tapi didalamnya terdapat kenangan buruk
untuk banyak orang dan terlebih untuk sang pemilik
museum ini.

  ...
“Tidak yakin, Dad.” Jawabku.            Dad    masih
menyanggaku dengan kedua tangannya.

       “Dad, kau menciumnya? Bau...
membuatku merasa mual dan pusing karena aku belum
terbiasa dengan keadaan ini – setelah melihat jejak aneh yang
tempo hari...
“Ada apa? Apa yang terjadi padamu?” Suara khawatir
Dad membuatku meringis. Dad masih cemas memandangiku
dan tetap merangku...
“Dirumah keluarga Lomax. Mereka mengundang kita
makan malam disana.”

      “Benarkah? Bagus kalau begitu.” Aku tersenyum ...
Wajahku murung aku melepaskan genggaman tanganku yang
memeluk lengan Dad dan kembali duduk. Wajah ibuku
tidak tersenyum ju...
hutan ini berusaha mencari sosok makhluk besar itu.
Makhluk besar dan menyeramkan itu berada dihadapanku,
begitu nyata dan...
berdaya dan lemah. Dan Matthew hanya melihatku jauh
disana, tertawa dan meninggalkanku. Dan makhluk jahat
serta jelek ini,...
yang terburu-buru menaiki tangga, lalu mulai membuka
pintu kamarku.

     Mom dan Dad, wajah mereka khawatir dan pucat,
Mo...
manisnya lalu pudar dengan membayangkan kembali mimpi
burukku. Berkali-kali aku berusaha menenangka diriku.
Berusaha memik...
Pagi    itu aku masih memikirkan mimpi buruk
beberapa hari lalu. Dan yang terakhir dan yang terburuk
adalah semalam. Sudah...
“Mimpi buruk, dan.. Sepertinya aku tidak ingin
menceritakannya…. Saat ini.” Aku berujar gugup, sedikit
enggan bercerita. K...
Tubuh sempurnanya bersandar pada bumper mobil
Porsche silvernya, dengan kemeja biru muda yang ditutupi
dengan sweater puti...
birunya yang menyipit memandangiku, walau aku sudah
duduk disampingnya. Dia masih menatapku yang sedangkan
aku mengabaikan...
padaku. Tapi aku TIDAK. Aku tidak mau tersiksa
lagi… menjauhlah !!!


       Matthew meremaskan kertas itu, hingga kertas ...
Memang, untuk belajar atau berdiskusi, mengerjakan
tugas dan laporan atau ujian, tentu otakuku ini masih
berkemampuan untu...
terdiam sebelum duduk dibangku, aku masih berdiri
memandangnya hingga Glad menarik tanganku.

       “Duduklah, Vic.” Glad...
Adam yang tidak        benar-benar   membuatku      untuk
mendengarnya.

       Mengikuti pelajaran sejarah disiang hari m...
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Moonlight shading 2
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Moonlight shading 2

1,925 views
1,773 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,925
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
6
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Moonlight shading 2

  1. 1. Part 11 Penyeimbangan Kami berada ditempat yang sangat indah dan teduh. Sebuah taman yang cukup luas, yang dikelilingi pohon-pohon tinggi yang menjulang keatas. Begitu sejuk, tenang dan nyaman untuk berada lama ditempat ini. Taman itu terbagi menjadi tiga bagian, yang pertama terdapat tempat untuk berolahraga sepak bola yang cukup luas, lalu bagian kedua arena bermain anak-anak kecil yang dilengkapi dengan beberapa mainan yang dulu pernah ku mainkan saat seusianya. Lalu bagian terakhir, bagian yang sekarang sedang ku duduki. Bagian untuk tempat duduk, mengobrol yang dilengkapi dengan meja bundarnya. Jaraknya cukup jauh dari Moonlight Shading 8
  2. 2. sekolah, kearah Selatan yang berbanding terbalik dengan rumahku yang berada di Utara. Dia masih memandangiku, menatapku dalam dan tidak bisa ku mengerti maksudnya. Dia mulai mencondongkan tubuhnya lagi. “Kau bisa menjelaskannya padaku sekarang.” Pintanya dengan masih mengingat pembicaraan terakhir kami. Aku mulai merinding, mulai mengingat kembali tentang memori lama itu. “Yah, aku pernah membunuh.” Suaraku parau, sebelah alisku kuangkat. “Sepuluh tahun lalu. Dan selama ini ingatan itu adalah traumatic bagiku. Seperti mimpi buruk setiap hari.” Dan kini suaraku mulai melemah. Matthew kembali mencondongkan tubuhnya padaku. Wajahnya kaget namun tidak membelalakan matanya padaku. Aku meraih kedua tanganku dan kudekap erat-erat. Sekujur tubuhku gemetaran. Trauma yang sudah lama kusimpan dalam-dalam hingga susah payah kulupakan, kini, didepan makhluk tak bernyawa nan tampan ini aku harus membukanya kembali. “Saat itu aku masih tujuh tahun. Untuk pertama kalinya aku mencium aroma lain. Aroma bukan manusia, seperti yang biasanya bisa ku ciumi.” Aku menggenggamkan kedua tanganku kuat. “Aroma itu kuat, penuh dengan nafsu membunuh dan.. Aku merasakan aroma itu mendekatiku. Moonlight Shading 9
  3. 3. Mengejarku dengan begitu gesit dan menampakkan dirinya padaku.” “Aku menjerit, berlarian dan menjauh dari rumah. Malam itu aku sendirian, dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Makhluk aneh itu mendekatiku, mengejar dan menginginkan darahku hanya itu yang ku tahu. Dan saat itulah aku baru mengetahui diriku yang sebenarnya, aku membunuhnya dengan kedua tanganku.” Aku menundukkan kepala dan masih menerawang kenangan itu. Matthew masih memandangiku. “Bagaimana kau membunuhnya?” “Tidak tahu, aku tidak mengingatnya. Yang kutahu, saat setelah makhluk itu tak bernyawa lagi kedua orangtuaku menemukanku jauh dari rumah. Mereka melihatku.” Aku kembali gemetaran. “Dad bilang, aku jadi lebih berbeda. Aku jadi lebih menyeramkan dan sangat dingin menatap, penuh nafsu membunuh. Begitulah. Saat itu aku masih kecil, jadi, semuanya yang terjadi padaku adalah tahap awal yang merupakan bagian penyesuaian diri dari manusia menjadi pembasmi, karena dalam diriku terlalu banyak campuran darah..” Aku kembali mengingat memori itu. Aku meringis. Matthew menyentuh tanganku. Dingin. “Diusia itu juga, aku mengetahui ibu kandungku juga seorang pembasmi setengah manusia, yang awalnya kukira Moonlight Shading 10
  4. 4. itu adalah cerita horror Dad dan Mom.” Suaraku berbisik datar. “Saat itu juga aku tahu keluarga Smith bukanlah keluarga kandungku. Tapi, aku tidak benar-benar menganggapnya serius.” “Maksudmu, Nyonya Smith tahu siapa kau dan ibu kandungmu?” wajahnya terlihat kaget. “Ya. Mom dan Dad kenal dengan ibu kandungku. Mereka orangtua angkat yang dipercayai untuk merawatku oleh ibu kandungku. Mereka mengenalnya dan mengetahui kehidupan ibu kandungku.” Aku tersenyum tipis padanya. Dia mulai mengerti pembicaraan itu. Wajahnya kembali normal, tenang dan santai. Tangannya tidak lagi bersedekap, diletakkannya di atas meja dalam keadaan terbuka. “Itu sebabnya, kau bisa hidup damai dengan siapapun, karena kemampuanmu. Kau memiliki darah beberapa makhluk. Kau hebat.” Suara merdu bergumam kagum. “Yah, mungkin saja.” Sahutku enteng. “Tapi itu adalah pengalaman pertama dan terakhirku melihat ibu kandungku, sehingga aku berada di New Jersy selama sepuluh tahun ini.” Aku menatapnya, memandanginya penuh kagum dan tetap terpesona. Dia kembali menyandarkan tubuhnya ke bangku. Mulai memandangiku yang tidak kumengerti arti tatapan itu. Moonlight Shading 11
  5. 5. Tatapan itu sangat lembut, tenang tapi tidak membuatku tahu apa yang sedang dipikirkannya. Dia bertanya mengenai kedua orangtuaku, baginya sangat sulit menjaga jati dirinya dihadapan manusia. Tapi aku menjelaskan, kedua orangtuaku sudah mengetahuinya sejak aku masih bayi, mereka tetap merawatku dan menyayangiku seperti anaknya sendiri. “Lalu apa yang terjadi di New Jersy?” Pertanyaannya mengejutkanku. Tubuhku bergidik, tanganku gemetar dan wajahku tertunduk kebawah, memandangi tanah coklat yang berumput. “Sesuatu terjadi. Ini mengenai apa yang seharusnya terjadi pada jenisku.” Wajahku mendongak, memandanginya begitu lembut dan suaraku serak. Matthew tenang. “Apa itu?” “Perubahan fisik.” “Apa itu selalu terjadi pada kaummu?” “Yah, begitulah.” “Dan kemudian?” “Aku menunjukkan apa yang tidak seharusnya ku lakukan. Bukan disengaja, tapi itu terjadi begitu cepat dan… Moonlight Shading 12
  6. 6. Tiba-tiba.” Suaraku parau, pikiranku menerawang jauh – aku mencoba untuk tidak mengungkitnya kepada siapapun, kenangan buruk yang harus tertanam dalam-dalam. Aku memejamkan mata sesaat, menghirup nafas dalam-dalam dan kembali membuka mataku. Wajahnya tidak pernah berpaling dariku, ia masih memandangiku begitu dalam dan dingin. Dan penuh keingintahuan. “Apa rahasia terbesarmu?” Suaranya memecahkan keheningan kami. Aku mengangkat bahuku. Mendesah. “Banyak.” Aku memalingkan pandangan darinya. Menatap sekeliling yang bagiku lebih indah daripada berusaha menjawab pertanyaannya. Matthew mengepal tangannya kuat-kuat. “Katakan padaku, salah satunya.” Aku memalingkan wajahku, menatapnya nanar dan menggigit bibirku. Tatapannya serius. “Akan kukatakan semuanya. Pertama, aku takut pada dirimu. Takut karena kau adalah vampire yang tidak seharusnya kudekati.” Jari-jarinya mengentakkan meja, membuatku menelan ludah berkali-kali. “Kedua, aku takut pada apa yang akan kuhadapi. Aku masih belum mengerti tentang kenyataan yang harus ku alami. Dan mengenai kedekatan kita..” Suaraku tertahan, “Sebaiknya kita menjaga Moonlight Shading 13
  7. 7. jarak. Tidak baik pembasmi berdekatan dengan vampire kan?” Dan ia mengerang. “Aku tidak setuju dengan katakutanmu yang tidak beralasan.” Tukas Matthew, menyeringai. “Tentu saja ini beralasan.” Bantahku. Ia menyipitkan matanya, menatapku garang. Aku tergelak. Sayup-sayup ku lihat dia tersenyum sinis, tubuhnya tetap bersandar tenang tapi wajahnya kaku. “Tidak untukku. Kau pengecualian, karena kaulah rahasia terbesarku.” Tatapan matanya berubah, menjadi dingin, kaku dan tajam. Tubuhnya menghadap kearahku dengan tegap. Aku beberapa kali menggerutu padanya, tapi ia mengabaikannya. Aku mencondongkan tubuhku. “Boleh aku bertanya?” Ia menganggukkan kepalanya dan tersenyum padaku, menggoda. “Apa yang terjadi padamu?” Matthew menatapku lembut, bibirnya mengerucut, kedua tangannya berpelukkan diatas meja taman. “Umumnya vampire menciptakan vampire lainnya dengan hanya menggigit. Tapi kami; Evelyn, Aku, dan Julia, kami berbeda. Kami adalah makhluk eksperimen, begitulah. Moonlight Shading 14
  8. 8. Aku tidak bisa menceritakan sejauh ini lagi. Terlalu sulit bagimu dan mungkin bagimu ini adalah alasan terkuat untuk menghindariku.” Matthew melemahkan suaranya. Membuat tatapannya lembut. “Dan aku tidak ingin itu terjadi. Membuatmu menjauhiku.” Gertaknya. Matanya tajam, rahangnya mengatup keras. Tubuhnya bersandar pada bangkunya, menatapku dengan tatapan yang tak aku mengerti. Alisku berkerut, mengerucutkan bibirku padanya. “Kau terlalu egois. Tidak semuanya bisa kau minta dengan mudah sesuai keinginanmu.” Tukasku, akhirnya setelah berdiam diri selama beberapa detik. Matthew tertawa. “Itu tidak berlaku bagiku. Jelas sekali, kau pengecualian.” “Tidak denganku.” Sergahku dengan nada tidak sependapat dengannya. Matthew mengerang. Rahangnya mengatup kuat, matanya tajam dan dingin. Aku tergelak dan bergidik. Kami diam sesaat. Aku tidak mengerti apa yang dipikirkannya. Pikiranku menebak tapi tetap tidak tahu. Aku memilih tidak melanjutkannya. Moonlight Shading 15
  9. 9. “Bagaimana dengan keluargamu? Apa yang terjadi pada kalian?” Tanyaku, akhirnya. Matthew tetap kaku, tapi kali ini sedikit tersenyum renyah padaku. Dia mulai berpikir, harus dimulai dari mana dan bagaimana untuk menceritakannya. Akhirnya bola matanya kembali menatapku. “Kedua orangtuaku, mereka telah hidup ratusan tahun lamanya mungkin juga beribu-ribu tahun. Dan setelah lama menantikan anak, lahirlah Evelyn. Gadis cantik yang tumbuh dengan sempurna. Rambutnya pirang panjang, tubuhnya begitu sempurna bagi wanita lainnya dan wajahnya sangat cantik. Sosok anak yang didambakan Lionel dan Camille.” Dia masih memandangiku, tatapannya dingin dan dalam. “Camille, ibuku saat itu belum menjadi vampire. Dia hanya manusia bodoh yang tidak tahu bahaya apa yang didepannya. Setelah Evelyn lahir, Lionel belum mengubahnya. Sejak itulah Lionel dan Camille terobsesi dengan makhluk eksperimental.” Matthew menghela nafas. Matanya merah menyala, tangannya mengepal kuat dan rahangnya mengatup kuat. “Eve, begitu aku memanggilnya. Dia orang yang paling berusaha untuk tidak tersentuh manusia, karena baginya manusia hanya menyusahkan, dan juga menghindar Moonlight Shading 16
  10. 10. dari kehadiranmu. Kedua orangtuaku dan Eve saat itu belum terbiasa dengan berburu. Dan kehidupan itu berlanjut hingga aku, dan Julia lahir.” Wajahnya tetap sama, tidak ada ekspresi sedih, senang atau apa pun. Yang ada hanya senyum manisnya yang menggoda itu. Aku pun kembali dibuat terpesona olehnya. “Evelyn bertemu dengan Joan, pada tahun 1820 di Spanyol. Saat itu Joan hanya manusia biasa, yang membuatnya tertarik adalah Joan hampir mati karena perang yang terjadi di kotanya, Joan tidak punya pengalaman apa pun tentang bertarung tapi dia demi membalaskan kematian orangtuanya berani menempuh perang hingga hampir mati. Itulah sebabnya Joan jadi sosok vampire yang kuat dan paling berani mengambil resiko. Eve melihatnya tidak berdaya, terkapar dan menatap Eve saat dia hendak menolong masyarakat disana. Eve tersentuh dengan tatapan penuh cinta dari Joan.” “Sejak itulah, Eve dan Joan sudah sangat dekat dan mulai berhubungan. Eve menyelamatkan hidupnya, dan Joan juga menyayangi Eve lebih dari seorang penyelamat. Joan berjuang cukup keras untuk mendapatkan Eve.” Wajahnya tersenyum sekilas. Aku tergelak. “Julia, dia memulai pemburuannya dengan pangerannya saat kami berada di Alaska. Lucca adalah Moonlight Shading 17
  11. 11. vampire yang sama dengan kami, masa lalu keluargaku dan Lucca nyaris sama. Tapi Julia berhasil menyadarkannya. Begitulah. Tidak terlalu special, kata Julia baginya masa lalu yang sama tidak terlalu menyenangkan.” Dia kembali menyandarkan tubuhnya ke bangku. Aku mengamati setiap gerak-geriknya. Mengamati tatapannya yang berubah, bahasa tubuhnya dan suaranya. Semua tampak indah. “Lalu apa yang kalian lakukan? Cukup mengigit leher saja? Dan pernahkah kau melakukannya, atau setidaknya anggota keluargamu yang lainnya?” “Yah, kurang lebih begitu. Kami menyebarkan racun yang bisa menolong setidaknya. Dan sejak Lionel dan Camille menciptakan kami, sejak itu mereka tidak pernah lagi menggigit manusia hanya untuk dijadikan abadi, tidak karena memang tidak ada yang menginginkannya. Sedangkan aku dan Julia, kami mulai diajarkan dengan berburu hal yang lain.” Matthew kembali tersenyum padaku. Kedua tangannya bersedekap didadanya. Dan memandangiku dengan tatapan lembutnya – yang kembali menggodaku. “Bagaimana jika ada yang menginginkannya? Apa kalian akan melakukannya?” desakku ingin tahu. Matthew tertawa. “Bisa iya, bisa tidak.” Matthew bersedekap, “Tergantung bagaimana masalahnya dan keterbutuhan akan Moonlight Shading 18
  12. 12. keabadiannya nanti. Intinya, jika kami harus mengubah manusia, itu hanya karena manusia itu sangat membutuhkannya.” “Dan tidak bisa kau lakukan pada selain manusia?” “Tidak. Terlebih lagi untuk kaummu.” Kami terdiam, saling berpandangan. Wajahnya yang sempurna tampak sekali berkilauan dibawah langit yang tidak bersinar. Wajah tampannya, kulit putihnya dan suara merdunya begitu menggodaku hingga rasanya aku begitu menginginkannya lebih daripada biasanya. Aku terkesiap untuk pertanyaan selanjutnya. “Dan apa yang terjadi padamu?” “Padaku?” Aku mengangguk pelan. “Tidak ada.” “Apa maksudmu tidak ada?” Aku masih memandanginya ingin tahu. Wajah yang luar biasa sempurna itu masih menatapku datar. “Begitulah. Sesuatu yang berharga tidak mudah untuk ditemui.” Wajahnya kaku, tubuh sempurnanya membeku dan senyumnya pun sinis. Moonlight Shading 19
  13. 13. “Apa kau percaya dengan cinta?” Ia kembali mencondongkan tubuhnya dan tersenyum menggoda padaku. Aku menggelengkan kepala. “Entahlah.” Acuhku. “Aku bahkan terkejut mendengar seorang vampire mempertanyakan cinta padaku.” Matthew tertawa terbahak-bahak. Sesuatu yang bagiku aneh menjadi bahan lelucon baginya. Aku memandanginya, melihat wajahnya yang putih dan keras itu tertawa terbahak-bahak. Seakan sadar dengan ketidaksukaanku Matthew terhenti. “Kau kira vampire tidak bisa berperasaan?” Tanyanya, skeptic. “Tidak.” Jujurku. Matthew meringis. “Vampir memang mati pada semua organnya, tapi vampire juga bisa berpikir logika layaknya manusia dan berperasaan. Dan ingat vampire mengenal arti cinta juga, Victoria sayang..” Jawabnya dengan menggoda. Aku tergelak. “Kalian belajar menjadi normal?” Aku, skeptic. Mathhew tergelak. “Yah. Kami hidup berdampingan dengan manusia. Ada baiknya jika kami mengikuti pola hidup mereka. Kami Moonlight Shading 20
  14. 14. menjadi vampire paling beradab seantero ini.” Ungkapnya. Aku kembali normal. Ada yang bisa aku debat lagi dengan ‘kenormalan’ vampire dan keluarganya yang memang mereka belajar bagiamana ‘normal’ itu. Kami terdiam. Matthew memandangiku lekat-lekat dan aku memalingkan wajahku. “Vampir beradab?” Tanyaku, skeptic. “Yah. Vampire yang tidak lagi memangsa manusia. Berburu darah hewan sebagai pemuas dahaga. Itu kudapat langsung dari Lionel. Dia menginginkan…keluarganya berubah.” Ungkap Matthew, menerawang seakan-akan semua itu tampak jelas dihadapannya. “Berubah?” Tanyaku, skeptic. Matthew bergeming. Selama dua detik dia terbelalak lalu berubah setenang mungkin. “Tidak memangsa manusia.” Ucapnya lagi, “Dan sekarang menjadi suatu kebiasaan bagi kami. Hidup normal, jauh lebih menyenangkan.” Aku anggukan kepalaku. Sesuatu merasuki kepala Matthew, pikirannya seperti terganggung oleh sesuatu yang sedang kami bicarakan. Matthew tidak sadar aku memperhatikannya. Gerakannya biasa, tapi wajahnya tidak. Alisnya bertaut, bibirnya gemetaran. Moonlight Shading 21
  15. 15. “Bagaimana akan hausnya dahaga? Seberapa besarkah darah begitu penting?” Tanyaku, retoris. Aku menyadarkan Matthew dari lamunannya. “Sama seperti manusia. Jika lapar, kau makan, jika haus, kau minum. Tapi kami beda, darahlah yang kami butuhkan, bukan makanan. Darah sangat menyegarkan dahaga kami.” Ungkap Matthew, terkesiap. “Dan dengan darah manusialah kami akan semakin kuat, kami tidak akan lemah. Darah manusia menguatkan vampire. Berbeda dengan binatang, kami butuh banyak binatang untuk bisa merasa puas dengan ukuran binatang yang sangat besar.” Sambungnya. Kami terdiam. Aku bergidik, pembicaraan yang tidak normal, membicarakan apa yang diminum atau yang dimakan vampire bukanlah topic ringan – ungkapku, dalam hati. “Apa semua vampire beradab seperti kalian?” Tanyaku – ingin tahu. Matthew mengangkat bahunya. “Tidak semuanya.” Akuinya enggan, bahunya terkulai, “Dalam kaumku, ada dua jenis vampire. Kawanan putih dan kawanan hitam. Dan keluarga kami masuk dalam kawanan putih, kawanan yang memangsa binatang liar sebagai pengganti manusia. Dan tentunya kami masih dalam pengawasan pembasmi. Moonlight Shading 22
  16. 16. “Vampir dalam kawanan hitam, sudah tentu vampire yang masih liar. Vampire yang tidak bisa melepaskan manusia sebagai mangsanya.” Lanjut Matthew. Kami terdiam selama beberapa menit. Aku masih penasaran dengan kehidupan ‘normal’ yang sedang dilakukan keluarganya. “Sebenarnya kami tahu teori ini dari… Pembasmi.” Ucapnya, mengejutkanku. Aku terbelalak sesaat. “Maksudnya?” “Seorang pembasmi mengajarkan pada Lionel bagaimana hidup beradab. Dan Lionel menerapkannya dalam kehidupan kami.” Ungkapnya, lagi. Aku tergelak. Penasaran dengan apa dan siapa yang dimaksudkannya. Pembasmi membantu keluarga mereka? – tanyaku, dalam hati. “Siapa dia?” Tuntutku. Matthew bergeming. “Kau mengenalnya, ibumu.” Aku mengerang, mulai berdiri dan meninggalkan dia duduk disana. Aku mengabaikan panggilannya. Langkahku cepat dan darah dalam tubuhku mengalir deras. Aku menuju Jeepku dan dia mengejarku. Moonlight Shading 23
  17. 17. “Ada apa?” Dia menarik sebelah lenganku dan aku menatapnya. Tubuh tingginya berdiri disebelahku. “Apa-apaan ini? Apa ini maksudmu dari awal, membicarakan ibuku?” Teriakku. Aku agak berteriak padanya, dan ia masih menyentuh lenganku. Dia berdiri dihadapanku, tersenyum dan memeluk wajahku dengan kedua tangannya. “Dengar, kami mengenal keluargamu dengan baik. Kau berhak untuk tahu. Kami hidup beratus-ratus tahun dengan semua jenis vampire, termasuk ibumu. Pembasmi yang paling berani hidup dengan kami.” Dia tersenyum. Aroma nafasnya bisa ku cium sekarang dan itu membuatku terpesona sesaat. Aku tergelak. Pernyataannya membuatku bingung dan penuh tanya. “Apa maksudmu?” Ia menatapku ragu, rahangnya mengatup keras dan tatapan matanya dingin. “Keluargamu, sebelum ibumu, Debby lahir. Merekalah keluarga pertama yang menciptakan pembasmi. Mereka membunuh vampire-vampir yang melanggar aturan untuk tidak memangsa manusia. Saat itu, di suatu tempat di Italia, vampire-vampir memutuskan untuk tidak lagi hidup memangsa manusia, kami membuat perkumpulan. Tapi sayang beberapa melanggarnya. Moonlight Shading 24
  18. 18. “Kakekmu, bisa dibilang begitu.” Suaranya berat. Tubuhku gemetar saat ia menceritakan kenangan dulu yang pernah kubaca dibuku. “Dia memang memiliki kemampuan hebat, ia menikahi seorang manusia, nenekmu. Kedua makhluk tersebut yang entahlah bagaimana mereka bertemu, tapi mereka saling mencinta. Seorang pembasmi murni bukanlah vampire, yang dapat mengubah kehidupan makhluk lain. Sejak itulah beberapa anggota keluarga pembasmi lainnya melahirkan seorang pembasmi sebagai pembasmi berdarah campuran dengan kehebatan yang berbeda. Dan ibumu, Debby..” Tatapannya lembut, rahangnya tidak lagi sekeras sebelumnya. “Dia wanita paling cantik yang pernah kutemui. Cantiknya sama dengan ibuku, begitu lembut dan mempesona. Dan ia melakukan kesalahan, setidaknya dalam aturan dunia supranatural kita yang dibuat oleh ayahnya sendiri.” Ia melepaskan lenganku, wajahnya berpaling dariku, dan ia menerawang. Rahangnya mengatup rapat, sorot matanya begitu keras dan tajam. “Apa? Kesalahan apa yang kau maksud?” “Ia menikahi seorang vampire yang… Tidak seharusnya dinikahi oleh ibumu.” Suaranya mencekam. Bulu kudukku berdiri, tubuhku membeku dan gemetar. Ia memandangiku, tatapannya dingin dan dalam. Aku tahu Moonlight Shading 25
  19. 19. tentang kesalahan yang telah dilakukan ibuku. Dan saat itu, tiba-tiba sesuatu terlintas olehku. “Dan apakah… Ia mati karena..” “Sudah, hentikan. Terlalu banyak hal yang menekanmu hari ini. Kau tertekan.” Aku mengerang, menjauhinya dan membelakanginya. “Jawab pertanyaanku, apa ia dibunuh oleh… Ayahku?” Dan aku membalikkan tubuhku, menghadapnya, dan memandanginya tajam. wajahnya sempat tertunduk, lalu kembali mendongak memandangiku. Dan ia menganggukkan kepalanya. Tubuhku lemas, kakiku tak kuat menahan tubuhku dan air mataku berlinang. Ia meraihku dalam pelukkannya. “Victoria, sudahlah. Sebaiknya kau pulang, lebih baik kau istirahat sekarang. Ini salahku.” Wajah tampannya terlihat sendu, ada guratan menyesal. “Kumohon, jangan merasa bersalah. Aku berharap kau mau mengatakan banyak hal lagi padaku. Yang kau ketahui.” Aku memohon. Ia tidak menjawab, hanya memandangiku tanpa arti. Ia mengantarku hingga aku duduk didalam Jeepku, merebahkan tubuhku, dan menyadarkan Moonlight Shading 26
  20. 20. kepalaku. Aku berusaha berkali-kali menarik nafas dalam- dalam, dan memejamkan mata sejenak. Tubuh tingginya masih berdiri disebelahku, memandangiku penuh khawatir. “Matthew, jangan salahkan dirimu.” Pintaku. Aku tidak menyalahinya. Aku rasa Matthew memang mengetahui sesuatu dan aku layak mengetahuinya. Aku terus memaksanya. “Tentu tidak, hanya saja...” Suaranya tertahan, pandangannya memandangi bagian dalam mobilku, pikirannya menerawang. “Tidak seharusnya aku mengatakannya.” Imbuhnya. Menyesal dan lirih. Aku menggelengkan kepalaku. Ku gigit bibirku. Menatap Matthew geram. “Dengar, suatu hari aku juga akan mengetahuinya. Dan mungkin memang harus kuketahui darimu.” Matanya kembali memandangiku, dengan punggung tangannya ia membelai lembut wajahku. “Tidak hari ini. Tidak dengan kondisi seperti ini. Kurasa apa yang kuceritakan tadi baru kau ketahui, Debby tidak menerangkan secara detailnya kan?” Bisiknya. Sebelah tangannya masih mengelus lembut rambutku. Aku diam. Moonlight Shading 27
  21. 21. “Ibuku hanya menceritakan sepenggal cerita tentang sejarah pembasmi. Bagaimana pembasmi bermusuhan dengan vampire dan hal-hal pribadinya.” Jawabku, jujur. Semua tulisan ibuku yang kubaca terekam dalam benakku. Jelas cerita detail tentang pembasmi baru kudengar dari Matthew. Matthew masih mengelus lembut rambutku, tatapannya sendu, bibirnya mengerucut ingin mengatakan sesuatu tapi diurungkannya. Kami terdiam. “Jangan salahkan dirimu, Matthew. Aku tahu, kau pasti bisa mengungkapkan lebih.” Ucapku. Matthew bergeming, tapi tidak bicara. Ditatapnya aku lekat-lekat. Setelah merasa lebih baik, aku meninggalkannya dan berlalu dengan Jeepku. Ia mengijikanku untuk meninggalkannya lebih dulu. Kulirik dari kaca spionku tubuh tingginya tidak bergerak saat Jeepku sudah berlalu jauh. Aku terus menenangkan diriku. Mom sudah berada dirumah, sedang membereskan barang-barangnya dikamar. Sore itu aku menyiapkan makan malam, dan juga menyuci. Aku memasukkan beberapa pakaian kotor punyaku, dan kedua orangtuaku. Aku memasukkannya kedalam mesin, lalu memasukkan beberapa sendok rinso, lalu memutar timer untuk memutarnya. Dan kembali kedapur menyiapkan supjagung, daging sapi dan juga saus tomat. Moonlight Shading 28
  22. 22. Makan malam paling special yang pernah ku lalui bersama dengan keluargaku. Mesin mobil patroli punya ayahku terdengar, ia memarkirnya dalam bagasi dan memasuki rumah. Meletakkan semua perlengkapan kepolisiannya dan juga kunci mobil dimeja depan lalu membersihkan diri selama hampir setengah jam. Saat makan malam kami tidak seperti biasa, ibuku menceritakan tentang perjalanannya seminggu ini, tentang promo-tour bukunya yang mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat di Florida, dan juga penjualan bukunya yang baru dua bulan lalu dirilis disana. Ibuku sangat bersemangat, hingga aku dan ayahku hanya memandanginya saja kami tidak mengeluarkan satu suarapun hanya mengangguk saja. “Dear, bagaimana sekolahmu?” Dad akhirnya mengeluarkan suaranya yang lantang itu. “Baik, menyenangkan. Sepertinya aku akan senang tinggal disini.” Aku tersenyum padanya. Dia menganggukkan kepalanya dan kembali menatapku. Bagian lain dalam hidupku yang penuh dengan segala misteri hidup vampire ku telan mentah-mentah. “Apa ada seseorang yang... Yang mengajakmu kencan?” Pertanyaannya membuatku menatapnya penuh tanya. Kulirik ibuku juga menatapku dan menungguku untuk menjawabanya. Moonlight Shading 29
  23. 23. “Well,” Aku mulai gugup. “Ada, tapi aku tidak menerimanya..” Aku memberikan senyuman pada mata- mata yang sedang menatapku ini. Mom menyipitkan matanya. “Kenapa? Memangnya siapa dia?” Pertanyaan ini tidak bisa tidak ku jawab kali ini, dan aku tidak boleh berbohong. “Adam Sanders... Dia mengajakku malam ini untuk.. Dinner. Dan aku menolaknya, dengan sangat sopan dan baik-baik.” Suaraku kembali memelan dan melemah. Dengan penuh was-was aku melirik Mom dan Dad. Dad dan Mom memandangiku tercengang. Lalu Mom dan Dad tertawa berbarengan membuatku mengernyit bingung. “Ada apa, Mom? Dad? Mengapa kalian tertawa?” “Dear, Adam adalah salah satu anak yang paling tampan yang pernah kami kenal, mungkin. Keluarga Sanders sangat baik dan menarik. Tapi kau... Kau baru saja menolak kencan dengan putra satu-satunya itu?” Nada suara Dad skeptic. Kepalanya menggeleng beberapa kali. Mom juga menganga lebar padaku. “Kau pasti telah menghancurkan hatinya, Dear. Kau sudah mematahkan gairah remajanya...” Dan Dad kembali Moonlight Shading 30
  24. 24. tertawa kecil. Aku cemberut dan mulai kesal dengan tawa mereka yang mengejekku. “Aku tidak menyukainya, jadi untuk apa aku menerima ajakannya. Aku tidak suka berhubungan dengan seseorang yang memang tidak membuatku tertarik padanya. Sudahlah, kalian membuatku nampak bodoh.” Aku memalingkan wajahku ke ruang lainnya yang bisa membuatku tidak memandangi orangtuaku yang sedang menertawakanku. “Maaf, Dear. Hanya saja…” Dad masih tertawa kecil padaku. “Tidak biasanya aku mendengar Adam ditolak. Sayangnya satu-satunya perempuan yang menolaknya adalah putriku. Well, aku tidak tahu akan seperti apa reaksi wajahnya begitu bertemu denganmu atau kami.” Nada suara Dad biasa-biasa saja. Aku juga menanggapinya dengan santai. “Aku rasa Adam harus belajar untuk menerima. Dia harus terbiasa ditolak, mungkin.” Jawabku santai. “Oke, terserah saja. Asal kau bisa tetap berhubungan baik. Jangan sampai hanya karena ini, hubungan kalian…” “Tidak, Dad. Aku tidak seanak kecil Adam. Aku akan lebih dewasa daripada dia, kecuali dia yang menghidar dariku.” Jawabku memotong ucapan Dad. Dad terdiam sesaat. Moonlight Shading 31
  25. 25. “Oke, bagus. Bagus sekali, Dear. Aku harap memang begitu. Kau bisa menyikapinya dengan baik.” Gumam Dad santai. Tentu apa yang Dad katakan sebelumnya adalah kenyataan, tuan muda satu-satunya dalam keluarga Sanders sedang hancur karena penolakkanku. Dan jika orangtuanya tahu, maka aku akan masuk dalam daftar kebencian anaknya karena menolak ajakan makan malamnya. Aku bergegas menyelesaikan makan malamku, aku memasang wajah cemberut pada mereka. Setelah puas menertawakanku, kami menonton pertandingan baseball di TV. Tidak ada yang menjagokan dari masing-masing kubu, kami hanya menghabiskan waktu untuk menonton bersama. Aku melihat Dad sangat bersemangat menontonnya, karena baseball adalah olahraga favoritnya. Saat itu ku tahu, bahwa ayahku bercita-cita menjadi atlit baseball namun karena kedua orangtuanya tidak mengijinkannya makanya Dad memilih menjadi polisi mengikuti jejak didalam keluarganya. Aku lebih bangga dengannya yang menjadi polisi daripada atlit baseball. Aku teringat dengan kasus yang sedang terjadi belakangan ini, kasus yang sedang diusut oleh Dad. “Dad, bagaimana dengan kasus pembunuhan itu?” Aku memulainya percakapan yang sebenarnya topiknya Moonlight Shading 32
  26. 26. bukanlah topic menyenangkan. Dad memandangiku sejenak lalu kembali menonton TV. “Buruk, kami belum menemukan apa-apa.” Sesaat Dad terdiam. “Semua barang bukti masih tersimpan rapi dikantor, tapi jejak pelakunya belum bisa kami temukan.” “Sabtu ini aku ingin ke museum, kalau boleh?” Aku menawarkannya, Dad memandangiku lagi. “Benarkah? Bagus kalau begitu. Kita bisa pergi bersama.” Ajaknya kali ini dengan bersemangat. Mom tidak melarangku, karena dia tahu itu tidak perlu. Setelah berjam-jam menonton acara baseball yang kini mulai membosankan, aku memilih untuk tidur dan mengistirahatkan sejenak badanku ini. Aku menaiki tangga dan meninggalkan orangtuaku yang masih bersemangat untuk menontonnya hingga selesai. Aku melakukan ritual kecil sebelum tidur, seperti menggosokkan gigiku, mengganti bajuku dengan kaos pendek usang dan celana panjang yang berbahan tebal karena malam di Townsville selalu dingin dan membuatku harus memakai celana panjang yang ku bawa dari New Jersy. Selesai semuanya aku melompat kekasur dan membalut tubuhku dengan selimut tebal. Moonlight Shading 33
  27. 27. Sebelum aku benar-benar memejamkan mata, aku memikirkan kata-katanya siang tadi. Mengingatnya jelas dan terus memikirkannya. Kenyataan yang sangat pahit harus mengetahui sekilas tentang keluargaku. Entah aku harus percaya atau tidak, merekalah harapanku untuk mengetahuinya, sejarah keluargaku. Aku berharap suatu hari akan ada kesempatan besar untuk bertemu dengan kedua orangtuanya, yang hidupnya sudah jauh lebih lama dari Matthew. Moonlight Shading 34
  28. 28. Part 12 Sinar Matahari Pagi yang cerah hadir menyinari kamarku dengan cahaya matahari yang indah. Aku bersemangat bangkit dari kasur dan mulai membersihkan diri lalu bersiap untuk berangkat ke sekolah. Sarapan sudah siap, kami melahapnya bersama seperti biasanya. Dad juga sudah siap dengan seragamnya yang coklat itu, juga dengan jaketnya dan jas hujannya – yang seharusnya tidak digunakannya hari ini. Dan Mom hanya berencana menetap dirumah dan membersihkan rumah yang selama ini belum ku kerjakan. Moonlight Shading 35
  29. 29. “Lusa keluarga Lomax akan kemari.” Dad membuatku tersedak sesaat lalu memasang wajah terkejut menatapnya. “Apa? Makan malam maksudmu, Dad?” “Yah, aku mengundangnya. Ini sudah beberapa kali kami lakukan. Berkumpul bersama.” Dad memandangku heran. Aku kembali melahap semua sarapan dan menyelesaikannya sebelum kembali tersedak. Tak lama Dad melangkah pergi dan mesin mobil patrolinya sudah hilang dibagasi rumah kami. Sesaat aku memandangi rumah ku yang mungil ini. Memang ruang makan kami cukup luas, dan rumah kami juga tidak terlalu sempit mengingat jumlah mereka yang cukup banyak akan berada didalamnya. Mom menyadarkanku dari lamunanku, lalu aku bergegas berangkat sebelum akhirnya aku akan terlambat. Aku terus memikirkan rencana Dad mengundang semua anggota Lomax makan malam. Makan malam? – tanyaku – dalam hati. Ku gelengkan kepalaku perlahan. Membayangi sekumpulan vampire melahap masakan manusia dengan tanpa beban berat yang padahal mereka tidak mampu menahannya. Moonlight Shading 36
  30. 30. Berani bertaruh, para vampire pasti mencari cara agar terlihat normal dan seperti melahap habis masakan manusia. Ku gelengkan lagi kepalaku, membayangi tubuh sempurna mereka duduk anggun di sofa kami. Berdiri dengan pose indah layaknya model yang sedang pemotretan. Terlalu indah untuk rumah mungilku – seruku dalam hati. Aku berharap makhluk yang sangat sempurna itu ada disana, sedang menyandarkan dirinya di mobilnya dan menatapku. Menanti kehadiranku. Tapi itu tidak terjadi, bahkan semua saudaranya juga tidak ada semua hari itu semua anak keluarga Lomax tidak sekolah. Aku melalui hari ini dengan sangat membosankan, seperti biasa berkumpul dengan teman-teman, makan bersama, mengikuti semua pelajaran lalu akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Baru kusadari aku merindukannya lagi, seperti beberapa hari yang lalu. Baru masuk kedalam rumah telepon berdering, Mom bilang telepon untukku. Dari Glad. “Hay..” Suaranya begitu pelan “Hay juga..” Dan aku menjawabnya dengan tenang. Aku berusaha untuk terdengar biasa saja dan datar-datar saja. Bisa aku dengar hembusan nafas Gald. Seakan tidak terjadi apa-apa diantara kami. Moonlight Shading 37
  31. 31. “Ada apa, Glad? Kau sudah lama tidak meneleponku?” Sindirku. Glad mendesah dan sedikit mengerutu. Tapi aku mengabaikannya, menganggap gerutuannya tidaklah penting. “Yah, aku tahu.” Dia terdiam sebentar. “Victoria, aku mau.. Aku ingin minta maaf.” Suara penyesalannya kembali terdengar. Aku tercengang. “Untuk apa? Maksudku, beberapa hari ini kita tidak mengobrol jadi kau tidak melakukan kesalahan apa pun , kan?” Aku masih bingung dengan permintaan maafnya – yang sepertinya mulai kupahami akan sikap cemburunya padaku terhadap Adam. Dia menghela nafas. “Kau ingat, kita bertengkar beberapa minggu lalu karena Adam. Waktu itu setelah pelajaran Mr. Kemps.” Dia mengingatkanku dan aku menganggukkan kepalaku. “Glad, dengar waktu itu aku..” “Sudahlah, itu tidak penting. Maksudku, itu salahku. Aku menuduhmu menarik perhatiannya dan ingin membuatku cemburu. Maafkan aku.” Dan Glad semakin menyesal. Suaranya sedih dan memohon. “Maksudmu? Kau dan dia.. Dulu..” Moonlight Shading 38
  32. 32. “Yah, aku menyukainya dan pernah mengungkapkannya. Tapi dia menolakku. Makanya ku pikir dia menceritakannya padamu dan ingin membuatku cemburu, maafkan aku. Aku sangat kekanak-kanakkan kan?” Dan suara itu kembali tertawa. Aku terkekeh sendiri. Glad melakukan hal yang sama. Kami tertawa renyah selama beberapa lama. “Yah, sedikit. Tidak apa-apa, santai saja.” Aku berusaha untuk tidak terdengar marah dan kesal. Glad menghela nafas lega. “Well, dia mengajakku makan malam dengannya.” Kini aku yakin dia mengucapkannya dengan malu-malu dan wajahnya memerah. Aku sangat kagum dengan kejantanan Adam yang mulai membuka hatinya. Kami melanjutkan obrolan itu dengan Glad meminta pendapatku mengenai pakaiannya malam ini. Aku harus mengecewakannya kali ini, karena pikiran tentang aku begitu mengenal dunia wanita sangat jauh dari dugaannya, Glad terkejut karena aku tidak mengerti apa yang harus dikenakannya. Dia dengan bijaksana mau mengakhiri pembicaraan tentang penampilannya malam ini. Obrolan kami berlanjut hingga membicarakan aku dan Matthew, yang sebenarnya tidak pernah luput dari pendengarannya. Moonlight Shading 39
  33. 33. “Bagaimana dengan Mr. Cool Guy-mu?” Ia mengucapnya dengan nada sindiran yang terdengar menjijikkan. Aku mendesah. “Well, ia baik-baik saja, nona.” “Ayolah, pasti banyak yang terjadi kan? Apa ia sering berkunjung kerumahmu? Apa kalian berkencan?” “Hey, hey, hey Glad. Tenanglah. Bukan seperti yang kau bayangkan. Tidak seperti itu.” “Oh, yang benar saja.” “Ya.” Aku mengerutkan dahi, bingung dengan apa yang harus aku katakan padanya. Tidak mungkin kuceritakan semua yang kami bicarakan. Tentang obrolan makhluk supernatural yang secara logika manusia tidak mungkin adanya. Aku tentu tidak akan menceritakannya. Aku terdiam namun aku memberinya isyarat bahwa Mom sedang mendengarkan semuanya dan mungkin dia akan kembali menatapku tajam sekali. Kami mengakhiri pembicaraan itu, aku menutup teleponnya dan menaiki tangga menuju kamarku. Moonlight Shading 40
  34. 34. Seperti biasa, menyalakan laptopku, melihat email yang masuk dan membalasnya. Bisa ku tebak, pasti dari Brit. Aku merindukannya, begitulah yang ku tulis dihalaman terakhir dari emailku. Malam itu aku sedang berperang melawan tugas makalah yang diberikan oleh guru sejarah dan juga bahasa inggris yang membosankan itu. Berjam-jam aku harus berhadapan dengan laptopku, dan dengan sepuluh jari yang kumiliki aku harus mengetik dan menulisnya menuangkan apa yanga da didalam otakku. Aku sesekali memalingkan wajahku dari laptop, karena aku tidak betah berlama-lama didepannya dan kerana juga radiasi yang terjadi. Aku mengingatnya, pembicaraan terakhir kami, ditaman, dengan tubuhnya yang sempurna itu dia menyulapku dengan memujanya dalam hati. Aroma tubuhnya yang bagaikan bunga serta nafasnya yang sangat wangi, harum dan begitu lembut membuatku menginginkannya hadir saat ini. Aku tahu, detik ini aku mulai gila karenanya, tapi aku menikmatinya, aku senang bisa bersamanya dan mengobrol dengannya. Suara ayahku menyadarkanku dari lamunanku, ia baru saja tiba pulang agak larut. Ibuku sudah terlelap saat ia datang, aku turun dan membantunya menyiapkan makan Moonlight Shading 41
  35. 35. malamnya. Dia terkejut melihatku dan kembali duduk dimeja makan. “Kau belum tidur?” Suaranya memecahkan keheningan diantara kami. Suara Dad lantang dan parau. Wajahnya terlihat kusut dan muram. “Belum, masih mengerjakan tugas.” Aku memberikannya piring, sendok dan gelas agar Dad bisa mulai memakannya. Dad mulai melahapnya, bahkan terlihat sangat rakus. Aku menemaninya, Dad tidak makan lama, ia menatapku. “Kau kembalilah mengerjakan PR-mu. Aku bisa melakukannya, Dear.” Dia tersenyum padaku lalu mengusap lembut rambutku yang panjang ini dengan sebelah tangannya. “Tidak, aku sudah berjam-jam didepan laptop. Rasanya mataku butuh istirahat dulu. Bagaimana harimu, Dad?” Aku memegangi tangannya kali ini. Hal yang paling ingin aku lakukan, dan baru ku lakukan kali ini padanya. “Lumayan, tidak buruk. Kami masih menjaga TKP dari kondisi awal, dan kami juga masih memeriksa barang bukti.” Suaranya datar, wajahnya masih kusut dan sedikit kesal sendiri. Moonlight Shading 42
  36. 36. “Ada hasilnya?” Aku masih menatapnya penuh senyum. “Yeah. Kali ini aku yakin, itu bukan perbuatan manusia, Dear. Kami menemukan jejak kaki yang aneh, bukan jejak kaki manusia.” Dad masih menggenggam erat tanganku. Tubuhku menegang dan wajahku kaku. “Tapi itu bisa saja jejak kaki hewan, Dad?” “Menurutmu, hewan apa yang bisa menghabisi nyawa dua orang manusia ditengah malam tanpa sisa? Hewan apa yang hanya membutuhkan darah mereka saja?” Tuduh Dad dengan memekik. Aku mengerjap kaku. Aku terkejut Dad bisa memiliki analisis sendiri tentang kasus ini. Kedua mata kami bertemu, pandangannya berharap aku mengatakan dugaannya benar, tapi aku mengelaknya, aku menggelengkan kepalaku lemah. “Well, lusa aku akan menemanimu. Dan kita buktikan saja, apakah dugaanmu benar. Tapi kuminta, kali ini jangan sampai ada orang lain. Kau masih ingatkan kondisiku jika aku mencium aroma lain yang bukan manusia, apalagi jika dugaanmu benar ini adalah makhluk lain. Aku akan cukup sensitif, Dad.” Aku mengingatkannya sekarang. Moonlight Shading 43
  37. 37. “Ya, tentu saja. Tapi,” Dad menahan suaranya. “Kami memindahkanmu ke New Jersy karena kami tidak mau semua itu menjadikanmu berubah, seperti dulu.” Ucap Dad, dengan nada enggannya. “Aku mengerti, Dad. Jika tidak, aku tidak akan bertahan hingga sepuluh tahun lamanya.” Aku tersenyum padanya. Kutinggalkan ia sendirian didapur, aku kembali kekamarku dan memilih untuk tidur karena rasa kantuk yang ku rasakan. Hari itu langit masih cerah, sinar matahari kembali menyinariku dan membangunkanku dari tidurku. Aku melakukan ritual kecil sebelum turun kebawah, mandi, mengganti pakaian kaos usang dan celana panjang tebal dengan kaos lengan panjang berwarna hitam dan jeans biru. Aku menuruni anak tangga dengan semangat, aku ingat mala mini keluarga Lomax akan makan malam dengan kami, walau aku masih saja tertawa dalam hati membayangkan mereka makan seperti layaknya manusia. Tapi saat itu aku mendengarnya. “Lomax tidak jadi datang malam ini.” Dad membuatku berdiam diri seperti patung dihadapannya. Aku berdiri layaknya patung – diam tak bergerak. Moonlight Shading 44
  38. 38. “Apa? Kenapa?” Aku mendekatinya, dan Dad menatapku heran. Wajahku sama herannya dengan tatapan Dad padaku. Aku tergelak. “Mereka sedang ada urusan tak terduga. Dan mereka yang akan mengundang kita ke rumahnya jika urusan mereka selesai.” Dad menarik tanganku menyuruhku duduk dan melahap sarapanku. Aku terdiam, menikmati sarapanku dengan enggan walau sarapannya lenyap dari piring sekalipun tetap membuatku masih bertanya-tanya kemanakah keluarga Lomax pergi. Dad masih mengawasiku dengan tatapan penuh tanyanya. Aku mencoba tersenyum manis, meredakan keheranannya. Begitu tiba di sekolah, seperti yang tadi pagi ku dengar mengenai keluarga Lomax yang sedang berpergian itu adalah nyata. Ini sudah dua hari sejak terakhir kalinya aku bertemu dan berbicara dengannya. Mobil itu, tubuh sempurnanya dan juga aroma nafasnya yang membuatku tergila-gila padanya tidak ada, tidak berbekas di sekolah. Dan seperti hari sebelumnya, aku melewatinya dengan membosankan. Walau sekarang agak berbeda, karena Glad telah bersahabat lagi denganku. Kami mengobrol dan juga duduk bersama saat dikelas Matematika. Jen memandangku penuh tanya, ia berbisik disaat pelajaran sejarah. Moonlight Shading 45
  39. 39. “Apa yang terjadi? Dia sudah memaafkanmu?” Jen membuka suara terlebih dahulu sebelum aku memulainya. Aku tersenyum renyah. “Yah, lebih tepatnya kami saling memaafkan. Ini hanya karena salah paham. Dan sebaiknya kau tidak membahasnya didepannya, lagi. Sampai kapanpun. Oke?” Aku berbisik, agar tidak terdengar oleh Glad. Jen tertawa sesaat. “Wow, jadi itu benar? Ia menyukai tuan muda yang terlihat jelas ia menyukaimu.” “Oh, tidak,” “Yah, tentu saja.” Tubuhku condong pada Jen dan memandanginya begitu dalam. Jen tergelak. “Dengar, Adam mengajakknya makan malam. Besok mereka akan makan malam bersama.” Aku kembali berbisik. Dan kali ini Jen memasang kedua matanya untuk menatap pasangan baru itu. Glad dan Adam sejak kemarin memang sudah mulai berdekatan. Kadang Adam memegangi tangannya dan begitu juga sebaliknya. Sejak mereka dekat, Adam belum berbicara denganku. Moonlight Shading 46
  40. 40. “Apa Adam yang mengatakannya?” Matanya masih mengamati Glad dan Adam dengan seksama, tidak berpaling padaku. “Well, bukan tapi Glad yang mengatakannya.” “Apa Adam pernah mengajakmu makan malam, sebelum Glad?” Matanya sekarang menatapku, dahinya mengerut, bibirnya mengerucut dan tubuhnya condong padaku. Dan aku hanya memandangi Jen dengan sikap canggung dan kikuk. “Well, sepertinya kau akan mengecewakannya, lagi. Jika dia tahu tentang itu.” Kali ini Jen memberikan pendapatnya yang sama sekali tidak ingin kudengar. “Kalau begitu, terima kasih sudah mengingatkanku.” Erangku sinis. Jen tertawa geli. Wajahku berpaling dari Jen, memandangi sekeliling yang sekarang tampak tidak indah, seindah dulu dengan kehadirannya yang begitu mempesona. Kami menuju kafetaria, mengistirahatkan pikiran dari segala tugas dan pelajaran yang menyita banyak waktu. Marco dan Lucas menghampiri kami. Begitu juga Adam, Glad dan Anne. “Hay, Vic.. Hay, Jen.” Moonlight Shading 47
  41. 41. Jen begitu antusias, ia tersenyum begitu manis dan bersahabat. Dan aku, hanya melambaikan tangan dan sedikit menyinggungkan senyuman diwajahku. “Vic, kudengar polisi menemukan jejak baru?” Suara lantang Marco mengejutkanku, aku berpaling memandangi wajahnya yang begitu lembut dan manis – ala meksiko itu. “Yah, sepertinya begitu.” “Jejak apa itu?” Dan Adam menimpalinya, sorot matanya begitu bersahabat tapi tidak tersenyum padaku. “Entahlah, hanya jejak kaki yang belum pasti.” Aku menaikkan bahuku, dan memalingkan wajahku. Jen ia lebih tertarik berbicara dengan Marco daripada mendengarkan pembicaraan kami. Dan siang itu berakhir dengan buruk, aku kembali sendirian – karena semua temanku sedang sibuk dengan pasangan mereka masing-masing. Kembali mengerjakan tugas dirumah dan menyiapkan makan malam lalu memajamkan mata jika tubuhku sudah lelah. Membosankan. Moonlight Shading 48
  42. 42. Part 13 Port Diamond “Katakan padaku.” Tubuhnya yang berkelap-kelip bagai berlian memandangiku penuh senyum, aroma Moonlight Shading 49
  43. 43. tubuhnya yang menggiurkan bagiku membuatku terpana dan lupa akan kehadirannya yang tiba-tiba dikamarku. “Apa?” Aku masih terpesona, setengah mengangkat bahu. Dan ia menyeringai lembut, matanya berseri-seri indah membuatku kagum padanya. “Katakan padaku kau tidak marah. Saat aku mengatakan rahasia terbesarku. Saat aku menceritakan tentang … ibumu.” Jelasnya tertahan. Aku mengerti apa yang dimaksudnya, tapi aku memilih diam dan menatapnya lembut. Ia mendekatiku yang masih terbaring dikasur dengan selimut tebal menutupi sebagian tubuhku. Langkahnya tidak terdengar hingga aku yakin Dad dan Mom pasti tidak tahu ada seorang laki-laki vampire yang tampan dikamarku. “Tidak, aku tidak marah. Hanya saja..” Aku mendekatinya, menyentuh tubuhnya yang berkelap-kelip indah dan membuat kulit putih pucatnya terlihat kemerahan dihadapanku. “Kau tidak sopan menganggapku sebagai rahasia terbesarmu.” Dan ia tertawa, aku meringis. Ia meraih tanganku dan menggenggamnya. “Tapi itu kenyataannya. Kau lihat, aku datang kemari karena aku mengkhawatirkanmu. Aku takut ucapanku Moonlight Shading 50
  44. 44. membuatmu marah padaku. Aku menunggu hari ini dan sepertinya aku tidak bisa menundanya.” “Tidak, aku tidak marah.” Punggung tangannya menyentuh wajahku, begitu dingin dan lembut. Tatapan mataku memandangi langit, langit cukup cerah beberapa hari belakangan ini. “Apa karena matahari kau tidak masuk sekolah?” Tanyaku berbisik. Dan ia tersenyum. Menawan dan berkilauan. Aku terkesan sekaligus terpesona. Pesonanya membuatku sedikit kagum akan sosok dirinya yang sempurna ini. “Tentu saja, matahari. Dengar, hari ini pun aku tidak bisa kesekolah. Aku harus ‘bersenang-senang’.” Suaranya santai dan tertawa kecil sendiri. Dahiku mengerut, menggigit bibirku dan menatapnya bingung, dan sepertinya ia mengerti maksudku. “Aku akan berburu, dengan Joan dan Lucca.” Lanjutnya berbisik padaku. Kilauan yang membuat kulit putih pucatnya menjadi kemerahan baru pertama kali aku lihat. Sebelumnya kulitnya tidak merah sama sekali, tetap putih pucat dan menawan. “Kulitmu, tidak putih pucat seperti biasanya. Sedikit kemerah-merahan. Kenapa?” Tanyaku dengan wajah bingung. Aku masih menyentuh kulitnya yang kemerahan itu. Moonlight Shading 51
  45. 45. “Sinar matahari yang terlalu menyengat, panas dan menyentuh kulit dengan sedikit sakit, itu akan memberikan efek warna kulit kami – vampire – jadi kemerahan seperti ini.” Jelasnya berbisik padaku. “Waktu itu, sinar tidak terlalu panas. Sedikit dedaunan menghalaunya secara langsung menyentuuh kulitku.” Lanjutnya memandangiku lembut dan manis. Aku memberikannya senyuma manisku. “Oh,” aku berseru datar. Dan aku kembali mendudukkan diriku dikasur. Tubuhnya tidak lagi berkelap- kelip indah dengan sedikit kemerahan. Langit telah berubah menjadi tak menyinari kamarku lagi, tampak mendung tapi tidak akan hujan. “Kuharap aku punya banyak kesempatan untuk mengenalmu. Jika kau mengijinkannya.” Kedua tangannya memeluk wajahku, wajah kami berhadapan – begitu dekat hingga tidak ada jarak diantara kami. Sesaat tubuhku kaku aku membiarkannya mencoba meraih bibirku dan Dad menggagalkannya. “Victoria, bangunlah..” Langkahnya mengejutkan kami, membuka mataku dan membuat Matthew menghilang dari hadapanku dengan gerakan kilatnya. “Vicky, sedang apa kau?” Dad menatapku heran. Posisiku condong pada ujung kasur dengan mata tertutup. Aku berusaha tersenyum, mengalihkan perhatian Dad. Moonlight Shading 52
  46. 46. “Dad? Hay, pagi...” Aku tersenyum simpul, memalingkan wajahku dari jendela agar Dad tidak curiga dan memandangiku. “Yah, aku akan segera… Berangkat, Dad.” Dan langsung menuju kamar mandi dengan segera. Dengan sikap yang terburu-buru yang aneh sekali. Pagi yang tidak lagi secerah kemarin, begitu mendung disekolah membuatku tidak berhenti tersenyum – karena aku merasa langit begitu cerah walau hujan akan turun. Aku masih membayangkan tubuhnya yang kelap- kelip indah bagai berlian berdiri dihadapanku dan hampir menciumku. Aroma nafasnya, tubuhnya yang putih dan tinggi berdiri dihadapanku serta suaranya yang lembut bagaikan suara penyanyi yang sedang mendendangkan alunan music klasik begitu nyata dalam benakku. Mataharilah yang membuatku tidak melihatnya kemarin dan kemarin lusa, dan itulah alasannya, ia tidak bisa menampakkan diri dalam keadaannya yang berkelap-kelip di sekolah. Glad menghampiri kami, membuyarkan lamunanku tentangnya. “Hay, sore ini aku ingin ke Port Diamond. Kalian mau ikut?” Glad tersenyum saat itu. Jen dan aku sesaat saling memandang. Kami tercengang. “Boleh, pasti menyenangkan. Sudah lama aku belum jalan-jalan kesana.” Jen kembali tersenyum dan duduk Moonlight Shading 53
  47. 47. disebelah Steve yang sedang menceritakan tentang mobil barunya. Aku mengangkat bahuku, memandangi Glad yang berseri-seri. “Dan, kau Victoria?” Aku tergelak. Memandangi Glad dan Jen secara bergantian. “Kau ikut?” Tanya Glad lagi. “Aku.. Aku.. Tentu, boleh aku akan ikut.” Dan sekarang aku duduk disebelah Glad. Ku lihat Adam memandangiku dan tersenyum. Aku membalasnya. Sebelum masuk kekelas berikutnya aku mengirimkan pesan pendek lewat handphone ke nomor ibuku. Mom, hari ini aku akan pulang malam. Jen dan Glad mengajakku ke Port Diamond. Sampai bertemu di rumah, Love You.. Tak lama laporan pengiriman pun berhasil aku kembali memasukkan handphoneku kedalam saku. Mengikuti pelajaran Fisika saat ini adalah neraka untukku, pelajaran yang memerlukan intelegensi tingkat tinggi membuatku menyerah. Butuh waktu lama untuk Moonlight Shading 54
  48. 48. menjawab lima soal dalam waktu singkat, dan itu membuatku harus berpikir keras mengingat rumus dan menghitungnya dengan benar. Aku menyelesaikannya, walau susah aku harus menjawab dengan benar karena soal- soal itu merupakan nilai tambahan karena nilaiku jelek untuk ujian minggu lalu. Kulihat Jen dan Glad sudah menungguku, kami menyusun rencana hari itu Jen tidak membawa mobilnya jadi dia satu tumpangan denganku karena arah jalan kami tidak terlalu jauh. Kami melajukan mobil dengan cepat, butuh waktu empat puluh lima menit untuk tiba di Port Diamond dari sekolah kami. Kami melewati banyak gedung-gedung tua dan kuno sepanjang jalan, Jen banyak mengenalkan gedung- gedung tua itu padaku. Walau sudah memasuki bulan kedua selama aku tinggal disini, aku masih belum mengenal jelas bagaimana kota ini dan juga keindahannya. Kami tiba di Port Diamond, dan kami menuju salah satu restoran Italia yang sangat besar disana lalu kami memarkirkan mobil kami. “Aku lapar, kita makan dulu saja.” Glad menjelaskan maksud kedatangan kita di restoran ini. “Aku yang traktir.” Wajah kami mulai lega, mengingat aku hanya membawa beberapa lembar uang dan sedang tidak berniat menghabiskannya di Port Diamond. Moonlight Shading 55
  49. 49. Aku dan Jen bersemangat, sudah lama aku tidak memakan makanan Italia, dulu saat aku masih di New Jersy aku sering memakannya di sekolah bersama-sama dengan temanku. Glad memesankan pizza khas Italia dengan ukuran pan yang besar, aku dan Jen saling memandang kami tidak sedang selapar itu. Saat menunggu pizza itu datang Glad mengungkapkan maksud tujuan kami datang ke Port Diamond. “Apa? Membeli gaun?” Jen setengah teriak dan mencondongkan tubuhnya kearah Glad. “Untuk makan malam dengan Adam?” “Yah, untuk.. Tunggu dulu, kau tahu dari mana?” Glad memandangiku geram dan wajahnya terlihat kesal. Aku sudah mengingatkan Jen untuk berpura-pura tidak tahu apapun, tapi ia melanggarnya. Aku menatapnya geram. “Maaf, tapi aku kan hanya cerita pada Jen saja.” Aku berusaha merayunya. “Sungguh.” Aku menyakinkannya. “Kukira kita sudah berjanji.” Wajah cantik Glad tampak kecewa. “Oh, ayolah.” Jen mendesah pelan. “Apa salahnya? Lagipula, bagus juga aku tahu. Aku kan bisa membantumu mencari solusi mengenai gaunmu itu.” Jen merayu Glad. Aku memberikan cengiran datar. Moonlight Shading 56
  50. 50. “Kau benar. Ya, baiklah. Tidak apa-apa. Ada gunanya juga informasi memalukan itu untukmu, Jen.” Glad mengangguk pelan dan setuju. Dan Glad pun kembali tersenyum. Tak lama berselang, pelayan membawakan pizza pesenan kami, dengan cepat kami mengambil potongan- potongan pizza itu dan mulai melahapnya dengan rakus. Butuh waktu satu jam lebih untuk bisa menghabiskannya. Dan butuh waktu setengah jam untuk mengistirahatkan diri karena kekenyangan. Glad mengajak kami melihat kedalam sebuah butik pakaian yang sangat mewah, melihat selera berpakaiannya yang mewah aku menebak Glad termasuk dalam daftar ‘anak yang memiliki orangtua kaya dan dengan bebasnya bisa memakai uangnya dengan sesuka hati’, itulah satu kalimat panjang yang cukup menggambarkan dirinya. Dia meminta saran kami begitu dia memilih beberapa potong gaun yang bagus. Tapi dari sepuluh gaun yang diambilnya, tidak satupun yang membuatnya tertarik. Aku memberikan saran. “Well, Glad.. Aku rasa kau harus menemukan gaun yang bagus, tidak mahal, tapi sederhana.” Aku berusaha tidak menguruinya. “Karena menurutku, pria suka wanita yang tidak terlalu mewah dalam berpakaian.” Berusaha sekali aku memasang wajah biasa-biasa saja. Moonlight Shading 57
  51. 51. Glad mendengarkan saranku, dia mengajak kami berpindah ke beberapa butik untuk menemukan gaun yang diinginkannya. Sesekali aku dan Jen bergantian memberinya masukan dan pendapat. Dan Glad mengikutinya, tak lama Glad menemukannya gaun yang cocok dengannya dan begitu sempurna ditubuhnya yang sangat padat dan berisi itu. Gaun itu sesuai dengannya, bahannya lembut, modelnya pun tidak terlalu terbuka, dan sangat cocok dipakainya. Dia tersenyum manis sambil memandanginya, dan dia tidak henti-hentinya memuji dirinya. “Bagaimana? Apa cocok?” Glad bertanya pada Jen dengan nada senang. Wajah Jen memandang datar. “Yah, bagus. Aku rasa Adam juga akan menyukainya, iya kan Vic?” Jen menyenggolkan tangannya padaku, aku sedang melihat satu toko antik yang tidak jauh dari butik ini. “He – eh, apa?” aku tergelak bingung. “Oh, gaun itu. Yah, gaun itu.. Sempurna..” seruku dengan wajah yang tidak menyakinkan. “Apa yang sedang kau lihat, Vic?” Glad mulai kesal aku tidak memberikan komentar yang cukup bagus – mungkin – baginya. Moonlight Shading 58
  52. 52. “Maaf, aku sedang melihat toko antik disana. Eh, tapi aku serius, kau sangat cocok dengan gaun itu.” Aku berusaha membuatnya tidak tersinggung. Dan dia tersenyum mendengarnya dariku. “Oke. Aku ambil ini.” Sahut Glad, senang. “Maaf, jika kalian tidak keberatan.. Aku ingin mampir ke toko antik itu. Sepertinya sangat menarik.” Aku menunjukkan jari telunjukku pada toko antic itu dengan wajah memelas. “Baiklah, tapi jangan lama. Sebentar lagi sore.” Gald akhirnya menyerah. “Baiklah, kita bertemu di parkiran.” “Oke.” Sahutku. Aku keluar dari butik, melangkah kakiku ke toko antik itu. Jaraknya memang lumayan jauh, tapi masih bisa kugapai dengan kedua kakiku ini. Aku menyebrang karena letaknya berada diseberang jalan dari posisiku berjalan, toko itu tidak terlalu ramai. Ada beberapa orang didalamnya, dan semuanya sedang melihat-lihat barang antic yang tua. Toko ini menjual barang antic ratusan tahun lamanya. Kayu-kayu coklat yang umurnya cukup tua dari bentuk sebenarnya. Ada kaca Moonlight Shading 59
  53. 53. berlapis kayu coklat dengan ornament hewan, ada juga jam burung hantu sedang bertengger didahan pohon yang kayunya hitam. Aku baru beberapa menit, hanya melihat koleksi barang antik yang dimilikinya toko ini, lumayan lengkap. Aku tertarik melihat-lihat, karena menurutku barang antic menyimpan banyak kenangan. Memang terasa unik, bergaya kolosial, modelnya sangat kuno, harganya mahal, tapi sangat orisinil. Lalu aku memutuskan keluar dari toko itu, saat itu aku mulai merasakan hawa yang berbeda. Angin bertiup lebih kencang daripada sebelumnya, aku mulai menggigil dan dengan kedua tanganku aku memeluk tubuhku sendiri. Saat itulah aku melihat sesosok misterius berdiri diseberang jalan, sosok itu memandangiku dengan sorot mata tajam dan hanya sekilas saja, lalu pergi dengan cepatnya. Tanpa aku sadarai, aku mengikutinya, langkahnya begitu cepat dan aku harus menyesuaikannya. Semakin lama langkahku terlihat seperti berlari, dia melangkah terlalu cepat hingga aku benar-benar berlari. Angin semakin kencang bertiup, tubuhku mulai kedinginan dan menusuk kulitku. Sudah lama aku tidak merasakan hal ini sejak aku mulai terbiasa dengan hadirnya Lomax dalam kehidupanku. Moonlight Shading 60
  54. 54. Kami menuju taman yang dipenuhi pohon-pohon besar, dan makin lama makin masuk kedalam hutan belantara yang gelap serta rasa dinginnya semakin menusukku. Sesekali makhluk itu menoleh padaku, dan kembali melangkah kali ini langkahnya pelan dan lembut. Aku terhenti, karena dia mulai berhenti dan membalikkan badannya menghadapku. Aku menegang saat itu, tidak bisa melihat wajahnya, karena tertutup oleh topinya yang lebar. Sekarang dia mendekatiku, pelan dan semakin mendekat. Kesunyian hutan, tidak terdengarnya kicauan burung, dan gelapnya hutan membuat tubuhku bergemetar hebat. Tubuhku membeku, rahangku mengatup rapat dan aku mengunci mulutku begitu rapat. Aku melangkah mundur perlahan, lalu semakin lama aku semakin mundur. Dan dengan cepatnya dia berada dihadapanku, aku bisa menciumi aroma tubuhnya dan juga nafasnya. Sangat berbeda, aku tidak tahu bagaimana menggambarkan aroma tubuhnya itu, tidak bagus dan juga tidak buruk. Konsentrasiku buyar, dia memegangi tanganku, sentuhannya lebih dingin daripada sentuhan Matthew padaku, aku mengerang kesakitan karena dia menyentuhku dengan begitu keras. Aku berteriak, sangat kencang, tapi tidak ada yang mendengarkanku dan dia semakin mengencangkan pegangannya. Moonlight Shading 61
  55. 55. Aku ingat sekarang, sosok ini mirip dengan yang ada dimimpiku, sosok yang besar, gelap dan tidak terlihat wajahnya ini. Aku berusaha melepaskan diri, berhasil aku menginjakkan kakinya dan aku langsung mengambil langkah untuk berlari. Dengan gerakkan cepatku, aku berusaha lari secepatnya tapi gerakkannya lebih cepat lagi. Aku terjatuh kini dia mulai menyejajarkan tubuhnya padaku. Saat itulah, aku melihat gerakkan cepat khasnya. Sosok sempurna yang sangat kukagumi itu mendorong makhluk itu agar menjauh dariku, sosok sempurna itu tergeletak bersama makhluk aneh itu dan lalu keduanya terlibat perkelahian yang cukup sengit. Gerakan keduanya sama-sama cepat dan kasar. Matthew terus saja bisa menghindari sosok itu, dan makhluk itu juga terus mengejar Matthew sampai akhirnya Matthew membuat makhluk itu terpelanting jauh membentur dahan pohon yang besar dan tinggi dan membuat makhluk itu tersungkur ke tanah, dengan cepat sosok sempurna itu – Matthew – mendekatiku. Aku langsung berdiri dibelakangnya, dan dia membawaku lari sangat cepat. Tak kulihat lagi sosok yang menyeramkan itu. Gerakkannya sama cepatnya dengan gerakan Matthew. Matthew langsung membawaku ke masuk ke mobilnya. Gerakannya sangat cepat dan kasar, terkesan juga terburu-buru. Padahal langkahku gontai dan masih histeris Moonlight Shading 62
  56. 56. ketakutan. Kami sudah berada didalam mobilnya, selain dirinya aku melihat saudara laki-lakinya yang lain, Joan Jackson. Dia menatap dingin padaku, aku hanya menundukkan kepala, takut. Dia mulai menyalakan mesin mobilnya, aku menghentikannya. “Tunggu, aku bawa mobil.” Ucapku sambil menyentuh tangannya – menghalanginya menyalakan mesin. Dia memandangiku. Terbelalak. “Apa?” Wajahnya bingung sesaat. Diam dan berpikir sejenak. “Biar aku yang membawanya, kita antarkan dia pulang dulu saja.” Joan menawarkan bantuannya pada Matthew, dan Matthew menerimanya. Dengan cepat Matthew menyalakan mesin mobil, mengemudikan mobil dengan sangat cepatnya. Saat itulah tubuh Joan yang sangat besar dan tinggi melangkah begitu cepat membawa mobilku dan dia menunggu Matthew bergerak. Aku mengambil handphoneku dan aku mengirim pesan singkat untuk Jen. “Kau menghubungi siapa?” Suara lantangnya mengagetkanku. Aku nyaris menjatuhkan handphone-ku. Moonlight Shading 63
  57. 57. “Aku pergi bersama teman-temanku. Dan seharusnya mengantar Jen pulang, dan sekarang mobilku dibawa Joan. Sepertinya aku perlu meminta maaf padanya. Atau mengatakan sesuatu yang bisa menjelaskan kondisiku ini.” Aku berusaha menjelaskannya dengan cepat dan gugup, dan memandanginya. Wajahnya tetap memandang lurus ke depan bersamaan dengan mengendarai mobilnya. “Apa yang kau bilang? Jangan katakan kau bertemu denganku.” Pekiknya. “Tentu tidak, entahlah. Aku sedang berpikir.” Aku kembali menekankan tombol-tombol itu lalu mengirimnya ke nomor Jen, kemudian laporan pengiriman berhasil. Aku memandanginya lagi, dia begitu nyata dihadapanku. “Well, kalau aku boleh tahu. Tadi itu... Makhluk apa? Sepertinya bukan manusia, atau apa begitu. Aku tidak tahu.” Aku sangat gemetaran, melihat gayanya membawa mobil membuatku sangat ketakutan. Dan dia tidak menoleh kearahku. “Aku tidak tahu, sepertinya dia tidak bermaksud membunuhmu, atau entahlah belum jelas. Ia hanya vampire biasa, aku tidak bisa membaca pikirannya. Pikirannya sulit sekali kumengerti, ia menggunakan kelemahanmu yang tidak bisa berdekatan dengan vampire itu untuk melukaimu.” Moonlight Shading 64
  58. 58. Tatapan itu begitu dingin dan masih tetap memandang lurus kejalan. Dan aku kembali terpesona sesaat. “Lalu, apa ada yang menyuruhnya? Maksudku apa mungkin ini unsur kesengajaan?” Aku mengerang bingung setelah mendengarnya menjawab pertanyaanku sebelumnya. “Sudahlah, sekarang kau buat dirimu merasa nyaman selagi aku menyetir dan tolong… Jangan bicarakan makhluk itu dulu. Oke!” Suaranya terdengar galak olehku. Aku terpaku memandangnya dan mulai ketakutan teramat sangat. “Baiklah, tapi kau berhutang padaku. Banyak sekali.” Dan dia tidak menjawabnya, dia tetap mengendarai mobil dengan sangat serius. Dan aku tetap konsentrasi berpegangan agar tidak terlempar keluar dari mobil ini. Dalam benakku, sosok yang besar, gelap dan tidak terlihat wajahnya ini. Sosok yang pernah hadir dalam mimpiku, begitu jelas dan sangat menakutkan ternyata lebih seram kenyataannya daripada mimpi. Moonlight Shading 65
  59. 59. Part 14 Museum Moonlight Shading 66
  60. 60. Aku tiba dengan selamat dirumahku, dia tidak menuruniku tepat didepan rumahku, hanya sedikit menjauh beberapa rumah dari rumahku. Sebelum membiarkan aku turun, dia memandangiku. Aku menyambut lembut tatapan yang sangat ku rindui ini, aroma tubuhnya yang masih sama, tubuhnya yang masih putih, tinggi dan juga suaranya pun masih sama semuanya. Dia menyentuh rambut panjangku, mengelusnya lembut dan menyiumi rambutku. “Matthew, jelaskan padaku apa yang terjadi?” “Makhluk ini tidak bisa kukenali. Pikirannya tidak bisa kubaca. Aku hanya mengenali baunya.” Wajahnya terlihat tidak percaya pada dirinya sendiri. Aku merasa kasihan melihatnya. “Lalu, apa yang harus kulakukan? Apa ia akan mengejarku?” “Tenang, ia tidak akan mengejarmu lagi.” “Kau yakin?” “Yakin.” Janjinya. Moonlight Shading 67
  61. 61. Tangannya yang lembut dan dingin masih menyentuh rambutku dengan pelan, tubuhnya semakin condong padaku, tatapannya begitu lembut dan indah. “Kalau bisa, lain kali jangan ceroboh. Jangan pergi sendirian. Jangan dekati bahaya.” Ujarnya, menyarankan. Suaranya mencekam. Aku hanya menganggukkan kepala, memandanginya dengan lembut, menggigit bibirku, mencoba meraba-raba tangannya yang dingin. “Kau bilang kau sedang berburu. Lalu...” Suaraku tertahan – tidak mau membayangkan kembali apa yang baru saja terjadi padaku. “Yah, tentu saja.” Matthew mengakui, lalu suaranya tertahan sendiri. “Saat aku baru saja turun dari gunung, aku menciumi aroma berbeda. Makhluk ini vampire yang penuh dengan nafsu membunuh. Nafasnya berat dan panjang, tapi pikirannya kompleks jadi aku tidak bisa membacanya.” Suaranya gugup. Aku menggenggam erat kedua tanganku sendiri. Beberapa bagian tubuhku masih gemetaran. Wajahku kembali tenang dan normal, tatapanku memandangi rumahku yang sudah menyala terang berderang ditengah kegelapan. “Pulanglah dan jangan kau pikirkan tentang peristiwa tadi. Tenangkan dirimu.” Pintanya lembut. Lalu dia membiarkan aku turun, menatapku dengan lembut dan Moonlight Shading 68
  62. 62. tersenyum. Kami berdua berdiri tepat didepan pintu penumpangnya, saling berpandangan. Matthew mengamati wajahku yang masih pias, tubuhku gemetaran. Tidak menenangkanku dalam waktu singkat. Aku bahkan masih mengira – nyaris mati seketika – bahaya itu tetap akan terjadi lagi. “Tenang saja, dia tidak akan datang lagi. Aku yakin. Aku akan datang padamu jika dia datang lagi. Percayalah.” Ucapnya, meyakinkanku. Wajahku masih pucat pasi, tubuhku gemetar. “Benarkah?” entah mengapa aku masih ragu dan ketakutan. “Ya. Kenapa?” Kugelengkan kepalaku. Aku menghela nafas dalam- dalam. Kelegaan terdalam diriku, aku tahu Matthew tidak akan pernah berbohong. Kembali hatiku berdesir. Walau sempat berada disituasi gawat, aku senang Matthew disana menolongku. “Kau takut?” Matthew berekspresi tidak percaya, alisnya sebelah terangkat, “Baru kali ini kulihat pembasmi ketakutan karena vampire asing.” Moonlight Shading 69
  63. 63. Kutinju bahu kanannya, “Aku pembasmi muda. Membunuh atau nafsu akan vampire-vampir belum menggiurkanku. Masih terlalu dini untukku, merasakan hausnya membunuh.” “Tapi…” “Aku bahkan sudah lupa kenangan itu. Rasanya… Membunuh.” Aku tercekat. Matthew bergeming dan terlihat menyesal. “Maafkan aku.” Ucapnya lirih. Sebelah tangannya mengelus lembut pipiku, aku meringis kedinginan. Matthew memindahkan tangannya, mengelus lembut puncak kepalaku. Kualihkan pandanganku pada Joan. Sosoknya sedang mengawasi keadaan sekitar rumahku. Tatapan matanya seakan siap menerkam siapa saja yang terlihat olehnya. Sangat menakutkan. “Sampaikan terima kasihku pada Joan. Aku tidak tahu akan seperti apa nasibku tanpa kalian.” Pintaku, masih memandangi aksi Joan. “Tidak perlu. Joan sangat tahu kau menghargai tindakannya.” Ungkap Matthew. “Trims.” Moonlight Shading 70
  64. 64. Sebelum masuk aku melihat mobilnya melaju dengan cepat dan sudah menghilang dari tempat tadi. Tubuhku masih gemeteran dan aku masih belum menenangkan diri akibat peristiwa yang terjadi hari ini. Teleponku bordering. “Glad?” Tanyaku, tercekat. “Yah, ini aku. Aku sangat khawatir denganmu. Kau tiba-tiba saja pulang…” “Yah, maafkan aku. Tiba-tiba saja sesuatu… Menimpaku.” Potongku. Glad terdengar kaget. “Kau baik-baik saja?” “Yah, aku baik-baik saja.” “Kau dimana?” “Dirumah.” “Oke. Istirahatlah. Dan, oh ya, Jen bersamaku. Dia juga sangat khawatir. Kita ketemu lagi besok di sekolah.” Ucapnya, terburu-buru. Sepertinya Glad sedang dalam perjalanan. “Oke, bye..” kututup teleponku segera. Hari sudah malam, lampu didepan rumahku sudah menyala sepertinya ibuku ada didalam. Aku memasuki Moonlight Shading 71
  65. 65. rumah dengan langkah gontai, langkahku cepat menuju dapur. Kuabaikan sepasang mata yang menatapku heran. Langkahku cepat, tubuhku gemetar. Secepat mungkin aku masuk dapur, ku teguk segelas air hingga habis tak bersisa. “Dear?” Panggil Dad, mengejutkanku. Aku terperangah. Gelasku nyaris jatuh jika tidak ku pegang kuat- kuat. “Dad?” Pekikku, nyaris teriak. Tubuhku bergetar, jantungku berdetak dengan cepat hingga nyaris mencuat keluar dari dalam tubuhku. “Yah, memangnya kau kira siapa.” Akui Dad. Alisnya bertaut, matanya mengamati gerakanku seksama. “Sesuatu terjadi? Kau baik-baik saja, Dear?” Tanya Dad, ragu-ragu. “Yah. Hmmph,,tidak juga sih.” Akuiku gugup. Dad tampak bingung. Wajahnya mengernyit padaku dengan tatapannya menyipit padaku. “Apa?” “Hanya masalah remaja.” Dustaku. Kupikir Dad pasti akan sangat khawatir jika ku ceritakan sejujurnya. Aku belum siap dengan semua penjelasan, terlebih lagi dengan Moonlight Shading 72
  66. 66. penjelasan tentang Matthew dan Joan yang tiba-tiba menolongku. “Oh.” Dad terkesiap. Kudengar langkah turun dari tangga. Mom sedang menuju dapur. Matanya sama seperti Dad sebelumnya, tatapan khawatir. “Kau sudah pulang?” Tanyanya lembut. Aku hanya tersenyum sebentar padanya. Tentu dengan tubuh yang gemetar. Berusaha tenang dan memelankan detak jantungku. “Yah, aku tidak ingin berlama-lama ditempat itu. Dad dan Mom pulang cepat hari ini?” Aku mendekati Mom. Dia menoleh sesaat lalu kembali memasak, makan malam hari ini adalah pasta dan roti. Dad kembali duduk didepan tv. “Yah, kami sedang tidak terlalu sibuk, Dear. Kau duduk saja, lalu kita makan dulu. Setelah itu kau istirahat, ok.” Mom mendorongku duduk dibangku dan kembali memasak. Setelah menunggunya selama beberapa menit, masakannya sudah berada dimeja. Aku menghirup dalam-dalam aroma masakan buatan ibuku, lalu mengambil beberapa sendok lalu mulai melahapnya perlahan karena masih panas. Saat itu mobil patroli Dad tiba, memasukkannya kedalam bagasi lalu menutup bagasi dan masuk kedalam. Meletakkan topi, jaket Moonlight Shading 73
  67. 67. dan kuncinya sebelum melangkah ke meja makan dan menyantap makan malam. “Mom bilang kau ke Port Diamond? Sudah pulang?” Suaranya melenyapkan perhatianku pada pastaku. Aku hanya menganggukkan kepala. “Kami hanya melihat-lihat saja, dan aku terdampar sebentar di toko buku. Sepertinya aku akan kembali kesana.” Aku tetap memperhatikan pastaku – yang sekarang mulai masuk ke mulutku. Aku mengunyahnya. Aku mengalihkan perhatianku dan orangtuaku dengan sikap santai yang dibuat- buat. Jika saja bisa tanpa makhluk aneh lagi – ucapku sendiri. Berusaha tenang, santai dan tidak terburu-buru, agar mereka tidak mencurigaiku dan kembali bertanya-tanya padaku tentang hari ini. “Dear, besok kau mau berangkat jam berapa?” Alisnya bertemu, sekilas matanya menatapku. “Terserah, aku akan mengikutimu.” Aku menyelesaikan makan malam lebih cepat, meletakkan piring dan gelasku di wastafel lalu menyucinya. Dad dan Mom memandangiku, mereka melihat gerakkanku yang terburu- buru. “Kau buru-buru, Dear?” Mom menyentuh pundakku, aku terkejut dan memandangnya. Moonlight Shading 74
  68. 68. “Mom, kau mengejutkanku.” Aku kembali membereskan peralatan makan malam. “Aku ingin cepat beristirahat, tubuhku memerlukannya.” Dan aku tidak memandang wajahnya yang sedang menatapku. Selesai semuanya aku meninggalkan mereka, menaiki tangga dengan pelan tidak terburu-buru sehingga mengakibatkan kecurigaan besar pada mereka dan mulai masuk kamar. Aku mengambil semua peralatan mandi, mengambil kaos tidurku dan celananya, masuk kekamar mandi. Mulai menyirami tubuhku dengan air panas lalu menyabuninya, aku juga menyuci rambutku dengan sampo lalu menggosokkan gigiku dan terakhir mengganti pakaianku dengan kaos lengan pendek usang dan celana panjang yang tebal dan kembali ke kamar. Aku mulai melompat ke kasur, masih memandangi jendela dan teringatlah semuanya. Makhluk aneh itu, gerakkan cepatnya Matthew, ciuman lembutnya dirambutku dan wangi nafasnya yang hari ini kunikmati. Entah senang, takut, bahagia dan lega aku rasa semuanya bercampur aduk, sosoknya yang kurindukan telah kembali hadir dihadapanku dan menolongku. Aku tersenyum sendirian, tak lama kemudian aku mulai membalut tubuhku dengan selimut mematikan lampu dan memejamkan mata. Dan akhirnya memimpikannya, mimpi Moonlight Shading 75
  69. 69. indah yang pernah terjadi selama aku memimpikannya adalah hari ini. Aku bangun agak siang, Dad membangunkanku dengan lembut. Aku bangun dengan lunglai. Dan sedikit melambat aku memulai langkahku kekamar mandi, mengganti kaos usang dan celana panjang ku dengan kaos lengan pendek berkerah yang ku tutupi dengan jaket hitamku dan celana jeans biruku. Begitu aku melangkah keluar rumah, udara dingin dan sejuk yang ku rindukan menyerangku. Aku bahagia. Dad sudah menungguku, hari ini Dad akan mengendarai Jeepku itu artinya aku terbebas dari pekerjaan yang membutuhkan konsisten dalam menyetir dengan kedua tanganku. Perjalanan yang kami tempuh cukup jauh, paling dekat satu jam perjalanan dan paling lama bisa dua-tiga jam, karena museum berada di tengah kota sehingga kemacetan dalam kota membuatnya menjadi lebih jauh. Aku memandangi pemandangan indah itu, pohon- pohon tinggi itu banyak disepanjang jalan ini, orang-orang dihari sabtu ini masih ada yang sibuk dengan urusannya, serta udara yang sejuk ini yang membuatku semangat membantu Dad. Kami tiba di museum bermasalah itu – begitulah aku menyebutnya, dari luar bangunan kokoh ini sangat elegan, Moonlight Shading 76
  70. 70. mewah dan besar tapi didalamnya terdapat kenangan buruk untuk banyak orang dan terlebih untuk sang pemilik museum ini. Kami mulai memasuki museum, setelah peristiwa museum sempat tutup selama seminggu tapi sekarang museum itu sudah bekerja seperti sebelumnya, tidak ada yang perlu diperhatikan masih banyak pengunjung yang berdatangan walau ku yakin salah satu alasannya adalah berita mengenai tewasnya para satpam itu. Dad mengajakku ke TKP, ditempat itu ku lihat pola posisi mereka yang ditandai dengan garis putih yang membentuk posisi terakhir para korban. Aku mulai merinding, mencium aroma lain yang ku yakin bukan manusia dan juga hewan. Aku mulai menatap Dad, aku ingat dengan pernyataannya mengenai pelaku kejahatan ini dan sepertinya itu benar. Sekali cium saja aku sudah bisa merasakan sisa-sisa kehadiran mereka. Bau anyir yang menyesakkan penciumanku memusingkanku. Selain itu bau busuk yang asing tapi sangat jelas pada hidungku juga nyaris membuatku mual. Dad mengkhawatirkanku. “Kau baik-baik saja?” Moonlight Shading 77
  71. 71. “Tidak yakin, Dad.” Jawabku. Dad masih menyanggaku dengan kedua tangannya. “Dad, kau menciumnya? Bau busuk sekali. Aku rasa aku belum mencium bau busuk seperti ini.” Ungkapku. Wajahku masih tampak mengernyit dengan bau busuk yang tercium jelas. Dad berusaha mengendus-endus, wajahnya tampak penasaran dengan penciumannya sendiri. “Tidak. Aku hanya mencium bau anyir ini. Bau mayat ini, Dear.” Jawab Dad. Aku merinding. Hanya aku yang menciumnya, Dad bahkan tidak mampu menciumnya. Berarti ini memang bau dari makhluk lain. “Memang kau menciumnya? Seperti apa?” “Busuk. Sangat busuk. Entahlah aku tidak tahu bagaimana menggambarkannya.” Jelasku, ragu-ragu. Aku yakin dengan penciumanku. Dan tetap sama. Busuk yang amat sangat. Dad mengijinkan aku melihat beberapa barang bukti, ada baju satpam yang penuh dengan darah, peralatan mereka yang juga berdarah dan aku kembali menciumi sisa-sisa kehadiran makhluk itu. Aku melangkah keluar, Dad mengikutiku. Aku tidak tahan berada didalam merasakan sisa-sia kehadiran mereka yang mengusikku. Aku sangat terganggu dengan aroma busuk yang tercium olehku, dan itu Moonlight Shading 78
  72. 72. membuatku merasa mual dan pusing karena aku belum terbiasa dengan keadaan ini – setelah melihat jejak aneh yang tempo hari pernah Dad ceritakan. Jejak itu memang bukan jejak manusia atau hewan, dan itu memberikan reaksi yang berbeda padaku. “Ada apa? Apa yang kau rasakan, Dear?” Wajahnya kini mulai cemas, aku memandanginya dan memeluk wajahnya dengan kedua tanganku. “Dad, dugaanmu benar. Ini bukan perbuatan manusia atau binatang.” Aku menatapnya yakin – Dad masih menatapku cemas. “Kau tidak usah mengkhawatirkan aku.” Sesaat aku memalingkan wajahku, Dad memelukku erat. “Trims, Dear.” Ucap Dad dengan wajah lega, suara tulus dan sikapnya tenang. “Sudahlah, sebaiknya kita pulang.” Aku mulai tidak tahan dengan kondisi tempat ini. “Aku mulai mual, Dad.” Tanganku ditariknya – dan Dad memegangiku dengan merangkul pinggangku dan menuntunku masuk kedalam mobil. Kami tidak bisa lama-lama di museum itu, kondisiku mulai tidak bisa dikendalikan. Didalam mobil aku berusaha untuk menenangkan diri, menarik nafas dalam-dalam lalu kembali memejamkan mataku. Aku yakin Dad kini sedang menatapku kebingungan. Moonlight Shading 79
  73. 73. “Ada apa? Apa yang terjadi padamu?” Suara khawatir Dad membuatku meringis. Dad masih cemas memandangiku dan tetap merangkul bahuku. “Tenang saja, aku tidak apa-apa. Ini karena aroma jahat yang tersisa di museum itu. Dan karena aku tidak terbiasa makanya ini terjadi padaku.” Aku kembali memejamkan mata sebelum tiba dirumah, kondisiku mulai stabil dan tenang. Dad masih terus merangkulku dan menuntutnku berjalan perlahan. Kulihat wajah Mom panic, dia menuntunku duduk diruang keluarga. “Kau tidak apa-apa?” Tanyanya. Aku hanya menganggukkan kepala. Mom mengambilkan air mineral dan meminumkannya padaku. Dad masih berdiri dihadapanku – dengan kedua tangannya yang menopang dirinya di pinggangnya. “Sebaiknya kita batalkan saja makan malam hari ini.” Wajahnya berhadapan langsung dengan Mom, Mom mulai panic sekarang. “Tapi, kita tidak bisa..” “Dad, malam ini kita akan makan malam dimana?” Suara parauku membuatnya kembali memandangiku. Dad memperhatikanku dengan seksama, berpikir sejenak hingga membuatku jengkel. Moonlight Shading 80
  74. 74. “Dirumah keluarga Lomax. Mereka mengundang kita makan malam disana.” “Benarkah? Bagus kalau begitu.” Aku tersenyum dan mataku berbinar-binar. Dad mengernyit. Mom mulai panic. “Tidak, kita tidak akan datang. Kau akan dirumah, istirahat dan kami akan menemanimu.” Kembali sifat polisinya yang tidak kusukai muncul saat ini. Aku mengerang. Dad mengabaikan sikapku yang mengerang. Mom bersikap sama. Wajahnya galak dan geram dengan sikap keras kepalaku. “Aku baik-baik saja, sungguh. Lihatlah.” Aku berputar-putar lincah dan mulai melangkah ke dapur lalu balik lagi berdiri dihadapan Dad. Mom memandangiku penuh tanya. “Ayolah, jangan mengecewakan mereka. Ini pasti menyenangkan.” Rayuku dengan nada merengek. Aku memeluk tangannya, merayunya dan berharap dia mengabulkannya. Mom mendesah. Dad masih mengernyit. “Tidak, Philip bilang pada Lionel kita akan datang besok atau lain waktu. Katakan saja hari ini kita tidak bisa datang.” Perintah Mom, Mom menoleh padaku. “Dear, aku tidak mau sesuatu terjadi padamu. Melihat kondisimu tadi, aku khawatir. Jangan abaikan dirimu. Ok, bagaimana?” Moonlight Shading 81
  75. 75. Wajahku murung aku melepaskan genggaman tanganku yang memeluk lengan Dad dan kembali duduk. Wajah ibuku tidak tersenyum juga tidak marah tapi aku mulai kesal dengan pernyataannya. “Ok, kau setuju. Phil, lakukanlah. Dan kau, gadisku kembali kekamarmu dan istirahatlah.” Suara perintahnya sangat menusuk perasaanku. Aku mengikuti perintah ibuku, kembali kekamar, mandi, mengganti pakaianku dengan kaos dan celana tidurku lalu mulai terbaring tak berdaya diatas kasur dan membungkusnya dengan selimut. Beberapa detik sebelum tidur aku masih terus memikirkan semua aroma busuk dan hal-hal misterius yang terjadi padaku. Dan akhirnya aku bermimpi. Kali ini mimpi yang paling buruk, aku berada disebuah hutan belantara, gelap, pohon-pohon tinggi mengintariku dan sesosok besar dan tinggi memandangiku. Aku tersadar, peristiwa di Port Diamond terulang, aku mulai panic, mengambil langkah seribu berusaha menjauh dari sesosok yang mulai mengejarku hingga aku tidak tahu kemana kakiku ini berlari. Aku terus berlari, kakiku lemah dan aku mulai kelelahan, aku berusaha berlari dengan nafas terengah-engah dan akhirnya terjatuh, aku berada dibagian terdalam hutan belantara yang gelap ini. Mataku samar-samar dalam gelap Moonlight Shading 82
  76. 76. hutan ini berusaha mencari sosok makhluk besar itu. Makhluk besar dan menyeramkan itu berada dihadapanku, begitu nyata dan begitu besar hingga tubuhku kaku dan menegang. Aku berteriak, sangat kencang tapi tidak ada yang menolongku, jantungku berdetak sangat kencang membuatku sakit dan terus memeganginya. Tangannya mencekik leherku, dan makhluk itu tertawa, keras dan begitu keras lalu aku menangis. Aku mencium aroma tubuh yang kukenal, dan tubuhnya berada jauh dibelakang tubuh makhluk itu, tapi dia tidak melangkah maju untuk menolongku. Dia hanya melihat, lalu tersenyum puas dan kini tertawa , tawanya hampir sama dengan tawa makhluk ini. Aku mulai bingung, tangisku semakin deras, aku memanggil namanya tapi dia tidak bergeming. Matthew… Tolong aku…. Dia tetap tertawa, ku lihat mulutnya bergerak hingga aku tahu apa yang coba diucapkannya. Matilah kau... Kau pikir kau bisa berdekatan denganku? Menjauhlah dari hidupku… Aku terpaku, benar-benar pasrah dan terus menangis. Tidak meronta-ronta karena cekikkan tangan makhluk ini, mendengar ucapannya aku benar-benar tidak Moonlight Shading 83
  77. 77. berdaya dan lemah. Dan Matthew hanya melihatku jauh disana, tertawa dan meninggalkanku. Dan makhluk jahat serta jelek ini, semakin senang dan tertawa lebar dengan cekikkannya dileherku. Tangannya dingin, sehingga cekikkan itu terasa menyakitan sekali. Perih dan pilu sekali di kulitku. Dan aku hanya bisa menangis dan berteriak. Kali ini aku berusaha meronta-ronta, berusaha melepaskan cekikkannya, berusaha menendangkan kedua kakiku yang melayang di udara untuk mengenai tubuhnya. Namun nihil, makhluk itu kuat dan kokoh sekali. Tawa puasnya menyayat hatiku. Tangisku semakin keras dan deras. Sentuhan dinginnya dileherku membuat sekujur tubuhku lemas dan tak berdaya. Aku seperti kehabisan udara untuk bernafas. Tidak ada daya untuk berusaha melepaskan diriku dari cekikan ini. Bahkan tubuhku saja pasrah dan diam. Perlahan mataku mulai menutup, aku lemah dan menyerah. Aku terperanjat bangun, berteriak dengan lengkingan tinggi, nafasku masih terengah-engah sama saat didalam mimpi. Aku berkeringat, bajuku basah. Kulihat dijendela, langit masih gelap aku yakin ini belum pagi. Kudengar langkah Moonlight Shading 84
  78. 78. yang terburu-buru menaiki tangga, lalu mulai membuka pintu kamarku. Mom dan Dad, wajah mereka khawatir dan pucat, Mom memelukku, mengelus rambutku dan merapikannya, Dad menyalakan lampu dan melihat ekspresi burukku yang membuatnya semakin khawatir. “Dear, kau tidak apa-apa?” wajah Mom penuh khawatir dan terus menatapku. Aku hanya memandangnya. “Dear, kau bermimpi buruk lagi? Sayang, apa mimpi yang sama?” Aku menggelengkan kepala. “Bukan.. Ini.. Jauh lebih buruk.. Kalian.. Apa yang kalian lakukan.. Disini?” Aku mulai terbata-bata. Dad dan Mom, duduk dihadapanku memegangi tanganku. “Dear, kau berteriak. Teriakanmu lebih keras dari sebelumnya. Kau tidak ingat?” “Tidak, aku.. Yah, aku memang berteriak, tapi.. Aku tidak sadar nyatanya aku juga berteriak..” Aku mulai mengontrol diriku. Aku menarik nafas dalam-dalam, memejamkan mata sejenak dan berusaha untuk kembali tidur. Pikiranku menerawang tak karuan, membayangkan senyuman Moonlight Shading 85
  79. 79. manisnya lalu pudar dengan membayangkan kembali mimpi burukku. Berkali-kali aku berusaha menenangka diriku. Berusaha memikirkan sesuatu hal lain yang bisa menenangkanku. “Tidurlah. Coba tenangkan dirimu. Kami akan menemanimu disini, Dear.” Pinta Mom cemas. Tangannya mengelus lembut rambutku. Dad memandangiku lembut dan mencium keningku. Aku mengikuti apa yang mereka pinta. Mennenangkan diri dan mencoba tidur kembali. Mom dan Dad masih menemaniku, saat mataku sudah tertutup mereka masih ada dikamarku, menyentuhku dan menenangkanku hingga aku mulai merasa nyaman, mereka akan meninggalkanku. Part 15 Amarah Moonlight Shading 86
  80. 80. Pagi itu aku masih memikirkan mimpi buruk beberapa hari lalu. Dan yang terakhir dan yang terburuk adalah semalam. Sudah dua kali aku bermimpi buruk tentang Matthew, dan sekalipun aku tidak memberitahukan pada orangtuaku. Aku bingung, harus memulai darimana, dari pengakuan bahwa mereka vampire, bahwa mereka telah menyiksaku dan aku memimpikan Matthew belakangan ini. Aku menggelengkan kepala, melihat Mom menyiapkan sarapan dan Dad yang sekarang sudah duduk dihadapanku dengan Koran didepan wajahnya yang dibaca dengan sangat seksama. “Kau sudah disini?” Dad membuyarkan lamunanku. Aku tergelak. “Yah, aku rasa sepertinya mimpi itu mempengaruhiku.” Aku meneguk susu coklatku tanpa melihat Dad yang sudah duduk dihadapanku. Dad kembali membaca koran paginya. “Kau bermimpi apa, Dear?” Mom kembali ke meja makan, meletakkan sarapan dan menatapku. Aku bergidik. Moonlight Shading 87
  81. 81. “Mimpi buruk, dan.. Sepertinya aku tidak ingin menceritakannya…. Saat ini.” Aku berujar gugup, sedikit enggan bercerita. Kulahap sarapanku. Kumakan dengan tenang dengan pikiran yang sebenarnya tidak setenang sikapku. Aku terus memikirkan Matthew. Apa yang akan kulakukan saat bertemu dengannya, nanti. Tentang tanggapannya terhadap mimpi burukku. “Belakangan ini kau suka bermimpi aneh. Apa itu wajar?” Dad melipat korannya dan memandangiku dengan tatapan tajam yang membuatku takut. Aku mengkeret dari posisi dudukku. “Tidak wajar sih, tapi mimpi kan memang begitu Dad. Selalu datang tanpa diundang. Aku bahkan tidak bisa menekan tombol untuk diberikan mimpi indah terus.” Ocehku sambil mengunyah sarapanku. Masih usahaku untuk menenangkan diriku. Dad mengernyitkan dahinya. “Tidak lucu.” Seru Dad sinis dan meneguk kopi hangatnya. Aku mengabaikannya dengan terus melahap sarapanku dengan santai yang kubuat-buat. Pagi itu terlewatkan sangat cepat, Dad sudah berangkat kekantornya, Mom sudah memulai membersihkan taman. Dan aku siap berangkat sekolah dan bertemu dengan Matthew untuk meminta penjelesan. Moonlight Shading 88
  82. 82. Tubuh sempurnanya bersandar pada bumper mobil Porsche silvernya, dengan kemeja biru muda yang ditutupi dengan sweater putih membuatnya terlihat sangat tampan. Tubuhnya yang tinggi memandangku dari kejauhan dan begitu juga saudaranya. Aku meninggalkan mereka diparkiran, menuju kafetaria sebelum masuk pelajaran Biologi dan menenangkan diri. Jen menghampiriku. “Sedang apa kau?” Jen merangkul bahuku, menyadarkanku dari lamunanku. “Tidak sedang apa-apa.” Dustaku. “Sebaiknya kita masuk kelas, kau ingat kita ada tes.” Jen mengajakku mengikuti pelajaran yang tidak ingin kulewati, sebenarnya. Sepanjang jalan dia menanyakan beberapa hal yang aku yakin aku tidak mendengarkannya. Dia tertarik untuk mengetahui cerita makan malam Glad dengan Adam sabtu kemarin, sedangkan aku ingin sekali melupakan hari itu. Secepatnya. Begitu kami masuk ke kelas, aku tergelak kaku dan mematung selama beberapa detik. Matthew duduk disana, dibangku dan meja yang sama denganku. Ini alasan aku tidak tertarik dengan Biologi hari ini. Pelan-pelan aku mendekati meja menyebalkan itu, berusaha duduk manis dengan sikap biasa-biasa saja. Mata Moonlight Shading 89
  83. 83. birunya yang menyipit memandangiku, walau aku sudah duduk disampingnya. Dia masih menatapku yang sedangkan aku mengabaikannya. “Kau kenapa?” Dia berbisik, aroma nafasnya membuatku merinding. “Bukan urusanmu.” Ucapku sinis. Kulirik Matthew, wajahnya tergelak kaget. “Apa sesuatu terjadi, ya?” suaranya merdu dan pelan sekali. Wajahnya terlihat cemas. Membuatku sulit untuk bicara sinis, lagi. Aku mengambil secarik kertas, menuliskannya kata-kata yang ingin kuucapkan tapi tertahan di tenggorokkanku yang rasanya sekarang seperti tercekik olehku sendiri. Aku berjaga-jaga, agar tidak ketahuan oleh Mr. Doney, yang saat ini sedang menerangkan tentang makhluk- makhluk yang tidak punya tulang dan yang punya tulang serta akan memberikan tes diakhir penjelasannya. Aku memberikan kertas itu padanya. Kulihat alisnya bertemu, dan mengerutkan dahi. Tulisanku begitu membuatnya marah. Aku mohon, jangan mendekatiku lagi.. Cukup sampai disini kau merasakan ketertarikanmu Moonlight Shading 90
  84. 84. padaku. Tapi aku TIDAK. Aku tidak mau tersiksa lagi… menjauhlah !!! Matthew meremaskan kertas itu, hingga kertas itu tidak seputih dan selembut biasanya. Kertas itu mengkerut dan tersobek-sobek. Gigi-giginya gemertak, hingga aku bisa mendengarnya dan aku tahu aku sangat jahat padanya. Tapi pikirku, ini yang terbaik ini yang seharusnya terjadi. Kami tidak boleh berdekatan, aku malaikat pencabut nyawanya, aku bisa saja berbahaya dan mungkin sebaliknya. Dan yang membuat keyakinanku begitu kuat, kami tidak boleh jatuh cinta. Walaupun aku tidak tahu, apakah ini cinta tapi aku tidak mau hal itu terjadi bahkan tidak boleh terlintas dalam benakku. Aku harus menghindari mahakarya sempurna ini. Pandanganku tetap lurus, memandang Mr. Doney dengan serius, hingga apa yang terucapnya begitu nyata dalam otakku. Aku bisa mencerna semua ucapannya dengan normal, biasanya aku tidak benar-benar menggunakan kemampuan otakku untuk mendengarkan penjelasan dari setiap pembelajaran, karena sebenarnya orang sepertiku – pembasmi – memiliki otak dan pemikiran untuk hal lain. Moonlight Shading 91
  85. 85. Memang, untuk belajar atau berdiskusi, mengerjakan tugas dan laporan atau ujian, tentu otakuku ini masih berkemampuan untuk melakukan hal-hal itu. Dan mungkin, akan melebihi kecerdasan manusia. Sayangnya, aku memilih untuk tidak terlalu menonjol. Semua makhluk magis bisa melakukannya, dan mungkin juga makhluk sempurna dan rupawan disampingku juga melakukannya – jelas sekali, dia kan bukan sekali melewati masa sekolah – karena vampire mudah sekali belajar dan memahami. Kekuatan ‘otak’ makhluk-makhluk seperti kami tidak permanen. Kami bisa benar-benar tampak pintar dengan otak normal layaknya manusia, tapi kami special, kami berbeda tentu kami memiliki ruang lebih dan standar lebih dalam intelegensis. Dan jenisku, lebih memilih memakai kemampuan intelegensis ini dalam hal-hal yang berhubungan dengan ketidak normalan itu juga. Selesai pelajaran Biologi dan juga tesnya, aku melangkah cepat menuju kafetaria. Walau tidak tertarik untuk makan, tapi kurasa aku membutuhkannya setidaknya meneguk air mineral yang baik untuk tubuh. Aku memandang ke belakang, sosok rupawan tapi berbahaya ini berada dibelakangku, masih memandangiku. Sejenak aku Moonlight Shading 92
  86. 86. terdiam sebelum duduk dibangku, aku masih berdiri memandangnya hingga Glad menarik tanganku. “Duduklah, Vic.” Glad masih memegangi tanganku dan aku menurut. “Kau mau makan apa?” “Tidak, aku hanya mau minum…. Air mineral saja, please.” Aku memang perlu minum, dan kulihat Glad memesankannya untukku. Aku masih memandangi Matthew, matanya pun masih memandangiku dengan penuh amarah yang tertahan. Namun, sekilas bayangan mimpi buruk yang pernah kualami kembali datang, seakan-akan mengingatkan diriku untuk tetap pada pendirianku, ya meninggalkannya. Aku tertawa sendiri, geli dengan pernyataanku akan kedeketan kami, kami tidak pernah seintim itu – omelku sendiri. Memang beberapa kali kami cukup menarik perhatian orang-orang di sekolah, tapi itu tidak bisa dibilang intim. Dan hubungan kami juga, hanya sebatas teman ngobrol saja – jika obrolan mengenai eksistensi kami termasuk kedalam obrolan normal. Setelah meneguk beberapa kali, aku bangkit dan mulai menuju kelas bahasa inggris bersama teman-temanku. Saat itulah, tawa Glad dan Jen terdengar jelas – mereka sangat senang membahas acara makan malam Glad dengan Moonlight Shading 93
  87. 87. Adam yang tidak benar-benar membuatku untuk mendengarnya. Mengikuti pelajaran sejarah disiang hari meredakan pikiranku yang melayang dan samar-samar. Aku berusaha tetap focus denga pelajaran hingga aku bisa merasa tenang dan sejenak melupakan Matthew dan mimpi burukku tentangnya. Aku menuju parkiran, dan kembali tubuhku kaku ditempat aku berdiri. Tubuh tinggi dan sempurnya itu bersandar pada Jeepku. Masih tidak tersenyum, masih memandangiku penuh amarah dan masih menegang seperti pertama kali. Tajam. Dingin. Dan aku mendekat. “Ada apa? Sepertinya aku tidak punya urusan denganmu. Bukankah aku sudah bilang…” Suaraku terpotong, dia menempelkan jari telunjuknya dibibirku. Dingin. “Baiklah, aku akan menjelaskannya. Itu kan yang kau mau?” Bola matanya masih penuh dengan amarah saat memandangiku. Aku membeku. “Bukan, penjelasan yang kuminta.” Bantahku. “Lalu?” Moonlight Shading 94

×