HUKUM JUAL BELI KREDITDALAM ISLAMHUKUM PERKREDITANMacam-Macam Praktek Perkreditan.Diantara salah satu bentuk perniagaan ya...
dibolehkannya perkreditan.Dalil kedua: Hadits riwayat „Aisyah radhiaalahu „anha.                                          ...
At Tirmizy dan lain-lain, maka penafsirannya yang lebih tepat ialah apa yang dijelaskan olehIbnul Qayyim dan lainnya([1]) ...
‫عْاء. سّاٍ ه غ لن‬Dari sahabat Jabir radhiallahu „anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam telahmelakna...
penjual, sedangkan ia belum menerima bahan makanan yang ia beli, kemudian ia menjualnyakembali kepada orang lain seharga 1...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Hukum jual beli kredit dalam

994 views
855 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
994
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
9
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Hukum jual beli kredit dalam

  1. 1. HUKUM JUAL BELI KREDITDALAM ISLAMHUKUM PERKREDITANMacam-Macam Praktek Perkreditan.Diantara salah satu bentuk perniagaan yang marak dijalankan di masyarakat ialah dengan jual-beli dengan cara kredit.Dahulu, praktek perkreditan yang dijalankan di masyarakat sangat sederhana, sebagaikonsekwensi langsung dari kesederhanaan metode kehidupan mereka. Akan tetapi pada zamansekarang, kehidupan umat manusia secara umum telah mengalami kemajuan dan banyakperubahan.Tidak pelak lagi, untuk dapat mengetahui hukum berbagai hal yang dilakukan oleh masyarakatsekarang, kita harus mengadakan study lebih mendalam untuk mengetahui tingkat kesamaanantara yang ada dengan yang pernah diterapkan di zaman Nabi shallallahu „alaihi wa sallam.Bisa saja, nama tetap sama, akan tepai kandungannya jauh berbeda, sehingga hukumnyapunberbeda.Adalah kesalahan besar bagi seorang mujtahid ketika hendak berijtihad, hanya berpedomankepada kesamaan nama, tanpa memperhatikan adanya pergeseran atau perkembangan makna dankandungannya.Diantara jenis transaksi yang telah mengalami perkembangan makna dan penerapannya adalahtransaksi perkreditan.Dahulu, transaksi ini hanya mengenal satu metode saja, yaitu metode langsung antara pemilikbarang dengan konsumen. Akan tetapi di zaman sekarang, perkreditan telah berkembang danmengenal metode baru, yaitu metode tidak langsung, dengan melibatkan pihak ketiga.Dengan demikian pembeli sebagai pihak pertama tidak hanya bertransaksi dengan pemilikbarang, akan tetapi ia bertransaksi dengan dua pihak yang berbeda:Pihak kedua: Pemilik barang.Pihak ketiga: Perusahaan pembiayaan atau perkreditan atau perbankan. Perkreditan semacan inibiasa kita temukan pada perkreditan rumah (KPR), atau kendaraan bermotor.Pada kesempatan ini, saya mengajak para pembaca untuk bersama-sama mengkaji hukum keduajenis perkreditan ini.Hukum Perkreditan LangsungPerkreditan yang dilakukan secara langsung antara pemilik barang dengan pembeli adalah suatutransaksi perniagaan yang dihalalkan dalam syari‟at. Hukum akad perkreditan ini tetap berlaku,walaupun harga pembelian dengan kredit lebih besar dibanding dengan harga pembelian dengancara kontan. Inilah pendapat -sebatas ilmu yang saya miliki-, yang paling kuat, dan pendapat inimerupakan pendapat kebanyakan ulama‟. Kesimpulan hukum ini berdasarkan beberapa dalilberikut:Dalil pertama: Keumuman firman Allah Ta‟ala: . ‫282 :حسقةلا‬“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu‟amalah tidak secara tunai untuk waktuyang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (Qs. Al Baqarah: 282)Ayat ini adalah salah satu dalil yang menghalalkan adanya praktek hutang-piutang, sedangkanakad kredit adalah salah satu bentuk hutang, maka dengan keumuman ayat ini menjadi dasar
  2. 2. dibolehkannya perkreditan.Dalil kedua: Hadits riwayat „Aisyah radhiaalahu „anha. . ‫ٍيلع قفدم‬“Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam membeli sebagian bahan makanan dari seorang yahudidengan pembayaran dihutang, dan beliau menggadaikan perisai beliau kepadanya.” (Muttafaqun„alaih)Pada hadits ini, Nabi shallallahu „alaihi wa sallam membeli bahan makanan dengan pembayarandihutang, dan sebagai jaminannya, beliau menggadaikan perisainya. Dengan demikian hadits inimenjadi dasar dibolehkannya jual-beli dengan pembayaran dihutang, dan perkreditan adalahsalah satu bentuk jual-beli dengan pembayaran dihutang.Dalil ketiga: Hadits Abdullah bin „Amer bin Al „Ash radhiallahu „anhu. ‫أى س عْل اهلل ص لى اهلل ع ل ٍَ ّ ع لن أهشٍ أى ٌ جِض ج ٍ شب ل بل ع جذ اهلل ث ي عوشّ ّل ٍظ ع ٌذً ب ظِش ل بل‬ ّ‫ف أهشٍ ال ٌ جً ص لى اهلل ع ل ٍَ ّ ع لن أى ٌ ج زبع ظِشا إل ى خشّج ال و صذق ف بث زبع ع جذ اهلل ث ي عوش‬ْ‫ل اهلل ص لى اهلل ع ل ٍَ ّ ع لن. سّاٍ أحوذ ال ج ع ٍش ث بل ج ع ٍشٌ ي ّث بألث عشح إل ى خشّج ال و صذق ث أهش س ع‬ً ً‫ّأث ْ داّد ّال ذاسل ط ًٌ ّح غ ٌَ األل جب‬“Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam memerintahkanku untuk mempersiapkan suatupasukan, sedangkan kita tidak memiliki tunggangan, Maka Nabi memerintahkan Abdullah binAmer bin Al „Ash untuk membeli tunggangan dengan pembayaran ditunda hingga datangsaatnya penarikan zakat. Maka Abdullah bin Amer bin Al „Ashpun seperintah Rasulullahshallallahu „alaihi wa sallam membeli setiap ekor onta dengan harga dua ekor onta yang akandibayarkan ketika telah tiba saatnya penarikan zakat. Riwayat Ahmad, Abu Dawud, AdDaraquthni dan dihasankan oleh Al Albani.Pada kisah ini, Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam memerintahkan sahabat Abdullah bin„Amer Al „Ash untuk membeli setiap ekor onta dengan harga dua ekor onta dengan pembayarandihutang. Sudah dapat ditebak bahwa beliau tidak akan rela dengan harga yang begitu mahal,(200 %) bila beliau membeli dengan pembayaran tunai. Dengan demikian, pada kisah ini, telahterjadi penambahan harga barang karena pembayaran yang ditunda (terhutang).Dalil keempat: Keumuman hadits salam (jual-beli dengan pemesanan).Diantara bentuk perniagaan yang diijinkan syari‟at adalah dengan cara salam, yaitu memesanbarang dengan pembayaran di muka (kontan). Transaksi ini adalah kebalikan dari transaksikredit. Ketika menjelaskan akan hukum transaksi ini, Nabi shallallahu „alaihi wa sallam tidakmensyaratkan agar harga barang tidak berubah dari pembelian dengan penyerahan baranglangsung. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam hanya bersabda:ٍَ ‫هي أ ع لف ف ل ٍ غ لف ف ً و ٍل هع لْم ّّصى هع لْم إل ى أجل هع لْم. ه ز فك ع ل‬“Barang siapa yang membeli dengan cara memesan (salam), hendaknya ia memesan dalamtakaran yang jelas dan timbangan yang jelas dan hingga batas waktu yang jelas pula.”(Muttafaqun „Alaih)Pemahaman dari empat dalil di atas dan juga lainnya selaras dengan kaedah dalam ilmu fiqih,yang menyatakan bahwa hukum asal setiap perniagaan adalah halal. Berdasarkan kaedah ini,para ulama‟ menyatakan bahwa: selama tidak ada dalil yang shahih nan tegas yangmengharamkan suatu bentuk perniagaan, maka perniagaan tersebut boleh atau halal untukdilakukan.Adapun sabda Nabi shallallahu „alaihi wa sallam: . ‫ٍسيغّ يرمسدلا ٍاّس‬“Barang siapa yang menjual jual penjualan dalam satu penjualan maka ia hanya dibenarkanmengambil harga yang paling kecil, kalau tidak, maka ia telah terjatuh ke dalam riba.” Riwayat
  3. 3. At Tirmizy dan lain-lain, maka penafsirannya yang lebih tepat ialah apa yang dijelaskan olehIbnul Qayyim dan lainnya([1]) , bahwa makna hadits ini adalah larangan dari berjual beli dengancara „inah. Jual beli „Innah ialah seseorang menjual kepada orang lain suatu barang denganpembayaran dihutang, kemudian seusai barang diserahkan, segera penjual membeli kembalibarang tersebut dengan dengan pembayaran kontan dan harga yang lebih murah.Hukum Perkreditan SegitigaAgar lebih mudah memahami hukum perkreditian jenis ini, maka berikut saya sebutkan contohsingkat tentang perkreditan jenis ini:Bila pak Ahmad hendak membeli motor dengan pembayaran dicicil/kredit, maka ia dapatmendatangi salah satu showrom motor yang melayani penjualan dengan cara kredit. Setelah iamemilih motor yang diinginkan, dan menentukan pilihan masa pengkreditan, ia akan dimintamengisi formulir serta manandatanganinya, dan biasanya dengan menyertakan barang jaminan,serta uang muka.([2]) Bila harga motor tersebut dangan pembayaran tunai, adalah Rp10.000.000,-, maka ketika pembeliannya dengan cara kredit, harganya Rp 12.000.000,- ataulebih.Setelah akad jual-beli ini selesai ditanda tangani dan pembelipun telah membawa pulang motoryang ia beli, maka pembeli tersebut berkewajiban untuk menyetorkan uang cicilan motornya ituke bank atau ke PT perkreditan, dan bukan ke showrom tempat ia mengadakan transkasi danmenerima motor yang ia beli tersebut.Praktek serupa juga dapat kita saksikan pada perkreditan rumah, atau lainnya.Keberadaan dan peranan pihak ketiga ini menimbulkan pertanyaan di benak kita: mengapa pakAhmad harus membayarkan cicilannya ke bank atau PT perkreditan, bukan ke showrom tempatia bertransaksi dan menerima motornya?Jawabannya sederhana: karena Bank atau PT Perkreditannya telah mengadakan kesepakatanbisnis dengan pihak showrom, yang intinya: bila ada pembeli dengan cara kredit, maka pihakbank berkewajiban membayarkan harga motor tersebut dengan pembayaran kontan, dengankonsekwensi pembeli tersebut dengan otomatis menjadi nasabah bank, sehingga bank berhakmenerima cicilannya. Dengan demikian, seusai pembeli menandatangani formulir pembelian,pihak showrom langsung mendapatkan haknya, yaitu berupa pembayaran tunai dari bank.Sedangkan pembeli secara otomatis telah menjadi nasabah bank terkait.Praktek semacam ini dalam ilmu fiqih disebut dengan hawalah, yaitu memindahkan piutangkepada pihak ketiga dengan ketentuan tertentu.Pada dasarnya, akad hawalah dibenarkan dalam syari‟at, akan tetatpi permasalahannya menjadilain, tatkala hawalah digabungkan dengan akad jual-beli dalam satu transaksi. Untuk mengetahuidengan benar hukum perkreditan yang menyatukan antara akad jual beli dengan akad hawalah,maka kita lakukan dengan memahami dua penafsiran yang sebanarnya dari akad perkreditansegitiga ini.Bila kita berusaha mengkaji dengan seksama akad perkreditan segitiga ini, niscaya akan kitadapatkan dua penafsiran yang saling mendukung dan berujung pada kesimpulan hukum yangsama. Kedua penafsiran tersebut adalah:Penafsiran pertama: Bank telah menghutangi pembeli motor tersebut uang sejumlah Rp10.000.000,- dan dalam waktu yang sama Bank langsung membayarkannya ke showrom tempatia membeli motornya itu. Kemudian Bank menuntut pembeli ini untuk membayar piutangtersebut dalam jumlah Rp 13.000.000,-. Bila penafsiran ini yang terjadi, maka ini jelas-jelas ribanasi‟ah (riba jahiliyyah). Dan hukumnya seperti yang disebutkan dalam hadits berikut: ‫عي جبث ش ل بل: ل عي س عْل اهلل ص لى اهلل ع ل ٍَ ّ ع لن آو ل ال شث ب ّهْول َ ّو بر جَ ّ شبُذٌ َ، ّل بل: ُن‬
  4. 4. ‫عْاء. سّاٍ ه غ لن‬Dari sahabat Jabir radhiallahu „anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam telahmelaknati pemakan riba (rentenir), orang yang memberikan/membayar riba (nasabah),penulisnya (sekretarisnya), dan juga dua orang saksinya. Dan beliau juga bersabda: “Mereka itusama dalam hal dosanya.” (Muslim)Penafsiran kedua: Bank telah membeli motor tersebut dari Show Room, dan menjualnya kembalikepada pembeli tersebut. Sehingga bila penafsiran ini yang benar, maka Bank telah menjualmotor yang ia beli sebelum ia pindahkan dari tempat penjual yaitu showrom ke tempatnyasendiri, sehingga Bank telah menjual barang yang belum sepenuhnya menjadi miliknya. Sebagaisalah satu buktinya, surat-menyurat motor tersebut semuanya langsung dituliskan dengan namapembeli tersebut, dan bukan atas nama bank yang kemudian di balik nama ke pembeli tersebut.Bila penafsiran ini yang terjadi, maka perkreditan ini adalah salah satu bentuk rekasaya riba yangjelas-jelas diharamkan dalam syari‟at. َ‫عي اث ي ع جبط س ضً اهلل ع ٌَ ل بل ل بل س عْل اهلل ص لى اهلل ع ل ٍَ ّ ع لن: هي اث زبع ط عبهب ف ال ٌ ج ع‬‫ر ى ٌ م ج ضَ. ل بل اث ي ع جبط: ّأح غت و ل شًء ث و ٌضل خ ال ط عبم. ه ز فك ع ل ٍَح‬“Dari sahabat Ibnu „Abbas radhiallahu „anhu, ia menuturkan: Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnyakembali hingga ia selesai menerimanya.” Ibnu „Abbas berkata: “Dan saya berpendapat bahwasegala sesuatu hukumnya seperti bahan makanan.” (Muttafaqun „alaih)Pendapat Ibnu „Abbas ini selaras dengan hadits Zaid bin Tsabit t berikut: ،‫ف لوب ا ع زْج ج زَ ل ٌ ف غً ل م ٍ ًٌ سجل ف أعطبً ً ث َ سث حب عي اث ي عوش ل بل: اث ز عذ صٌ زب ف ً ال غْق‬ :‫ح غ ٌب، ف أسدد أى أ ضشة ع لى ٌ ذٍ، ف أخز سجل هي خ ل فً ث زساعً، ف بل ز فذ ف إرا صٌ ذ ث ي ث بث ذ ف مبل‬ ‫ ً ِى أى ر جبع ال غ لع ح ٍث ر ج زبع‬e ‫ال ر ج عَ ح ٍث اث ز ع زَ ح زى ر حْصٍ إل ى سح له ف إى س عْل اهلل‬ ‫ّال حبو نح زى ٌ حْصُب ال زجبس إل ى سحبل ِن. سّاٍ أث ْ داّد‬“Dari sahabat Ibnu Umar ia mengisahkan: Pada suatu saat saya membeli minyak di pasar, danketika saya telah selesai membelinya, ada seorang lelaki yang menemuiku dan menawar minyaktersebut, kemudian ia memberiku keuntungan yang cukup banyak, maka akupun hendakmenyalami tangannya (guna menerima tawaran dari orang tersebut) tiba-tiba ada seseorang daribelakangku yang memegang lenganku. Maka akupun menoleh, dan ternyata ia adalah Zaid binTsabit, kemudian ia berkata: “Janganlah engkau jual minyak itu di tempat engkau membelinyahingga engkau pindahkan ke tempatmu, karena Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallammelarang dari menjual kembali barang di tempat barang tersebut dibeli, hingga barang tersebutdipindahkan oleh para pedagang ke tempat mereka masing-masing.” (Riwayat Abu dawud danAl Hakim)([3])Para ulama‟ menyebutkan beberapa hikmah dari larangan ini, di antaranya ialah, karenakepemilikan penjual terhadap barang yang belum ia terima bisa saja batal, karena suatu sebab,misalnya barang tersebut hancur terbakar, atau rusak terkena air dll, sehingga ketika ia telahmenjualnya kembali, ia tidak dapat menyerahkannya kepada pembeli kedua tersebut.Dan hikmah kedua: Seperti yang dinyatakan oleh Ibnu „Abbas t ketika muridnya yang bernamaThawus mempertanyakan sebab larangan ini:.‫ل لذ الث ي ع جبط: و ٍف ران؟ ل بل: ران دساُن ث ذساُن ّال ط عبم هشجأ‬Saya bertanya kepada Ibnu „Abbas: “Bagaimana kok demikian?” Ia menjawab: “Itu karenasebenarnya yang terjadi adalah menjual dirham dengan dirham, sedangkan bahan makanannyaditunda.”([4])Ibnu Hajar menjelaskan perkatan Ibnu „Abbas di atas dengan berkata: “Bila seseorang membelibahan makanan seharga 100 dinar –misalnya- dan ia telah membayarkan uang tersebut kepada
  5. 5. penjual, sedangkan ia belum menerima bahan makanan yang ia beli, kemudian ia menjualnyakembali kepada orang lain seharga 120 dinar dan ia langsung menerima uang pembayarantersebut, padahal bahan makanan yang ia jual masih tetap berada di penjual pertama, makaseakan-akan orang ini telah menjual/ menukar (menghutangkan) uang 100 dinar denganpembayaran/harga 120 dinar. Dan sebagai konsekwensi penafsiran ini, maka larangan ini tidakhanya berlaku pada bahan makanan saja, (akan tetapi berlaku juga pada komoditi perniagaanlainnya-pen).”([5])Dengan penjelasan ini, dapat kita simpulkan bahwa pembelian rumah atau kendaraan denganmelalui perkreditan yang biasa terjadi di masyarakat adalah terlarang karena merupakan salahsatu bentuk perniagaan riba.SolusiSebagai solusi dari perkreditan riba yang pasti tidak akan diberkahi Allah, maka kita dapatmenggunakan metode perkreditan pertama, yaitu dengan membeli langsung dari pemilik barang,tanpa menyertakan pihak ketiga. Misalnya dengan menempuh akad al wa‟du bis syira‟ (janjipembelian) yaitu dengan meminta kepada seorang pengusaha yang memiliki modal agar iamembeli terlebih dahulu barang yang dimaksud. Setelah barang yang dimaksud terbeli danberpindah tangan kepada pengusaha tersebut, kita membeli barang itu darinya denganpembayaran dicicil/terhutang . Tentu dengan memberinya keuntungan yang layak.Dan bila solusi pertama ini tidak dapat diterapkan karena suatu hal, maka saya menganjurkankepada pembaca untuk bersabar dan tidak melanggar hukum Allah Ta‟ala demi mendapatkanbarang yang diinginkan tanpa memperdulikan faktor keberkahan dan keridhaan ilahi. Tentunyadengan sambil menabung dan menempuh hidup hemat, dan tidak memaksakan diri dalampemenuhan kebutuhan. Berlatihlah untuk senantiasa bangga dan menghargai rizqi yang telahAllah Ta‟ala karuniakan kepada kita, sehingga kita akan lebih mudah untuk mensyukuri setiapnikmat yang kita miliki. Bila kita benar-benar mensyukuri kenikmatan Allah, niscaya AllahTa‟ala akan melipatgandakan karunia-Nya kepada kita: . ‫7 ميٍاسةإ‬“Dan ingatlah tatkala Tuhanmu mengumandangkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pastiKami akan menambah (ni‟mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) makasesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Qs. Ibrahim: 7)Dan hendaknya kita senantiasa yakin bahwa barang siapa bertaqwa kepada Allah denganmenjalankan perintah dan meninggalkan larangan, niscaya Allah akan memudahkan jalan keluaryang penuh dengan keberkahan.‫ٌّ شصل َ هي ح ٍث ال ٌ ح ز غت ّهي ٌ زك اهلل ٌ ج عل لَ هخشجب‬“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Qs. At Thalaq: 2-3)Dahulu dinyatakan oleh para ulama‟: َ‫اهلل خ ٍشا ه ٌَهي ر شن ش ٍ ئب هلل عْ ض‬“Barang siapa meninggalkan suatu hal karena Allah, niscaya Allah akan menggantikannyadengan sesuatu yang lebih baik.”Wallau Ta‟ala a‟alam bisshowab.

×