Bab ii disiplin

5,368 views
5,134 views

Published on

0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
5,368
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
45
Actions
Shares
0
Downloads
103
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Bab ii disiplin

  1. 1. 16 BAB II DISIPLIN DIRI SISWA DAN GAYA PENERAPAN DISIPLIN OLEH PENDIDIK A. Disiplin 1. Pengertian Disiplin Secara etimologis, istilah disiplin berasal dari bahasa Latin “disciplina” yang menunjuk kepada kegiatan belajar dan mengajar. Syamsu Yusuf (1989: 24), mengemukakan pengertian disiplin sebagai berikut. a. Disiplin diartikan sebagai peraturan, order, patokan-patokan tentang perilaku, norma dan hukuman. b. Disiplin merupakan ketaatan terhadap peraturan, norma, atau patokan- patokan (standars). c. Disiplin diartikan sebagai cara mendidik (melatih) individu agar berperilaku sesuai dengan norma atau peraturan yang berlaku dalam lingkungan atau yang diterima masyarakat. Mengacu pada pengertian yang diungkapkan Syamsu Yusuf maka dapat disimpulkan, dalam pelaksanaan disiplin akan senantiasa merujuk kepada norma, peraturan, dan patokan-patokan yang menjadi unsur penentu perilaku. Adanya unsur pengontrolan terhadap perilaku supaya individu berperilaku sesuai norma dan dapat diterima di masyarakat. Selanjutnya Lindgren (Yusuf, 1989: 21) mengemukakan tiga pengertian mengenai disiplin. a. Punishment (hukuman), hal ini berarti anak perlu dihukum (bila salah). b. Control by enforcing obidience or orderly conduct, hal ini berarti individu memerlukan seseorang yang mengontrol, mengarahkan dan membatasi tingkah lakunya. Individu dipandang tidak mampu mengarahkan, mengontrol dan mambatasi tingkah lakunya sendiri. c. Training that correct and strengthness, implikasi dari pengertian ini bahwa tujuan disiplin adalah self discipline (disiplin diri), dalam arti tujuan latihan adalah memberi kesempatan kepada individu untuk melakukan sesuatu berdasarkan pengarahan dan kontrol dirinya.
  2. 2. 17 Sependapat dengan Lindgren yang menyatakan tujuan disiplin adalah disiplin diri, Hurlock (1978 dalam Meitavani 2008: 11) mengemukakan “discipline is training in self control or education (teaching children what they should or should not do). It also means training that molds, strengthens, or perfects children to follow the rules”. Disiplin diartikan sebagai cara untuk melatih individu dalam hal kontrol diri atau melatih individu mengenai apa yang boleh dan tidak boleh mereka perbuat sesuai dengan peraturan yang berlaku di masyarakat. Kesimpulan dari pengertian-pengertian disiplin yang telah dipaparkan yaitu, disiplin adalah upaya sadar individu untuk melaksanakan dan menaati peraturan, tata tertib serta norma yang berlaku dalam masyarakat dan dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab. 2. Pengertian Disiplin Diri Disiplin siswa di sekolah khususnya dalam menaati peraturan, merupakan bentuk disiplin yang dilaksanakan oleh seorang siswa guna memperlancar proses belajar mengajar. Siswa yang memiliki disiplin yang baik akan memperlihatkan perilaku yang sesuai dengan peraturan yang ada dengan penuh rasa tanggungjawab. Disiplin bukan sekedar mematuhi aturan (norma) tetapi kesadaran mematuhi norma yang berlaku. Disiplin secara umum banyak dikaitkan dengan peraturan-peraturan yang harus ditaati, tetapi disiplin seperti itu sifatnya eksternal karena adanya tekanan dari luar. Disiplin yang baik adalah yang sifatnya internal yaitu disiplin disertai tanggungjawab dan kesadaran, disiplin menjadi self control
  3. 3. 18 (kontrol diri) atau self discipline (disiplin diri). Disiplin diri merupakan disiplin yang datang atas kesadaran siswa untuk mematuhi norma-norma yang berlaku. Perkins (Unaradjan, 2003: 4) menyatakan, disiplin diri adalah upaya yang sadar dan bertanggungjawab dari seseorang untuk mengatur, mengendalikan dan mengontrol tingkah laku dan sikap hidupnya agar seluruh keberadannya tidak merugikan orang lain dan dirinya sendiri. Disiplin diri yang mempunyai makna demikian merupakan tanda atau manifestasi dari kematangan pribadi seseorang, dapat dikatakan disiplin diri adalah bagian integral dari kematangan pribadi. Kematangan pribadi adalah salah satu tahap kehidupan manusia yang dicapai oleh seseorang, berkat pembinaan dan pendidikan dari sejumlah pihak. Sebagai penentu tercapai tidaknya kematangan adalah orang tua, para pendidik, tokoh-tokoh masyarakat, serta pribadi yang bersangkutan. Disiplin diri adalah bagian dari kematangan pribadi, maka faktor-faktor yang sama atau pihak-pihak yang sama mempunyai andil dalam pembentukan disiplin diri. William A, Kelly (Unaradjan 2003: 26) mengatakan “Discipline must include training in cooperation”, sebaiknya kehendak untuk menciptakan disiplin diri berasal dari pendidik dan peserta didik (siswa). Pernyataan William A, Kelly dapat disimpulkan, kerja sama antara pendidik dan peserta didik sangatlah diperlukan. Disiplin diri merupakan kecenderungan diri yang positif, yaitu disiplin yang didasarkan pada kontrol dari dalam diri sendiri. Disiplin diri sebagai kekuatan internal mendorong individu untuk mentaati suatu peraturan atau norma atas dasar kemauan atau pertimbangan sendiri akan makna dan manfaat norma. Disiplin diri terbentuk melalui proses internalisasi terhadap kontrol luar atau
  4. 4. 19 batasan-batasan norma yang berlaku dengan lingkungannya. Siswa yang telah berhasil menginternalisasi kontrol dari luar atau tata nilai, berarti telah mampu menyerap dan menjiwai nilai-nilai (norma). Siswa mampu menaati suatu peraturan tanpa merasa terpaksa atau karena ikut-ikutan, tetapi didorong oleh niat dari dalam dirinya. Siswa yang memiliki disiplin diri, tidak hanya mampu mentaati peraturan-peraturan dari luar, akan tetapi cenderung mampu untuk mengatur dirinya, atau mengarahkan diri untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Syamsu Yusuf (1989) menyatakan, siswa yang memiliki disiplin diri dalam belajar dengan sendirinya akan memiliki karakteristik perilaku yang sangat mendukung kelancaran belajar, yang pada gilirannya akan mendukung prestasi belajar. Siswa yang memiliki disiplin belajar yang sedang dan rendah cenderung memiliki perilaku yang kurang mendukung kelancaran siswa yang bersangkutan. 3. Tujuan Disiplin Sekolah Berkenaan dengan tujuan disiplin sekolah, Maman Rachman (Tu’u, 2004: 35-36) mengemukakan tujuan disiplin sekolah sebagai berikut. a. Memberi dukungan bagi terciptanya perilaku yang tidak menyimpang. b. Membantu siswa memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan. c. Untuk mengatur keseimbangan keinginan individu satu dengan individu lainnya. d. Menjauhi siswa melakukan hal-hal yang dilarang oleh sekolah. e. Mendorong siswa melakukan hal-hal yang baik dan benar.
  5. 5. 20 f. Siswa belajar hidup dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik, positif dan bermanfaat baginya serta lingkungannya, kebiasaan baik menyebabkan ketenangan jiwanya dan lingkungannya. Selanjutnya Brown dan Brown (www.azamsite.com) mengemukakan pentingnya disiplin dalam proses pendidikan dan pembelajaran untuk mengajarkan hal-hal sebagai berikut. a. Rasa hormat terhadap otoritas/kewenangan. Disiplin akan menyadarkan setiap siswa tentang kedudukannya, baik di kelas maupun di luar kelas, misalnya kedudukannya sebagai siswa yang harus hormat terhadap guru dan kepala sekolah atau personil sekolah lainnya. b. Upaya untuk menanamkan kerja sama. Disiplin dalam proses belajar mengajar dapat dijadikan sebagai upaya menanamkan kerjasama, baik antara siswa, siswa dengan guru, maupun siswa dengan lingkungannya. c. Kebutuhan untuk berorganisasi. Disiplin dapat dijadikan sebagai upaya menanamkan dalam diri setiap siswa mengenai kebutuhan berorganisasi. d. Rasa hormat terhadap orang lain. Dengan ada dan dijunjung tingginya disiplin dalam proses belajar mengajar, setiap siswa akan mengetahui dan memahami tentang hak dan kewajibannya, serta akan menghormati dan menghargai hak dan kewajiban orang lain.
  6. 6. 21 e. Kebutuhan untuk melakukan hal yang tidak menyenangkan. Melalui disiplin, siswa dipersiapkan untuk mampu menghadapi hal-hal yang kurang atau tidak menyenangkan dalam kehidupan pada umumnya dan dalam proses belajar mengajar pada khususnya. 4. Unsur-unsur Disiplin Knoff (Unaradjan, 2003: 11) menyatakan, untuk membuat seseorang menjadi disiplin maka dilakukan suatu intervensi disiplin. Menurut Knoff, pendisiplinan berhubungan erat dengan tingkah laku siswa yang menyimpang atau salah. Tingkah laku yang menyimpang adalah tingkah laku seperti yang terlihat dan dinilai oleh orang lain, seperti guru ataupun petugas administrasi sekolah yang biasanya berada dalam posisi yang lebih otoriter (Charles dalam Unaradjan, 2003: 11). Terdapat beberapa hal penting yang harus dipertimbangkan dalam memberikan pelatihan untuk mendisiplinkan anak, Hurlock (1978 : 84) mengemukakan empat unsur pokok disiplin, yaitu: a. Peraturan Peraturan adalah pola yang ditetapkan untuk berbuat atau bertingkah laku, tujuannya adalah membekali siswa dengan pedoman perilaku yang disetujui dalam situasi dan kelompok tertentu. Peraturan memiliki dua fungsi penting yaitu, fungsi pendidikan, sebab peraturan merupakan alat memperkenalkan perilaku yang disetujui anggota kelompok kepada siswa, dan fungsi preventif karena peraturan membantu mengekang perilaku yang tidak diinginkan.
  7. 7. 22 Peraturan dianggap efektif apabila setiap pelanggaran atas peraturan mendapat konsekuensi yang setimpal, apabila tidak maka peraturan tersebut akan kehilangan maknanya. Peraturan yang efektif dapat membantu seorang siswa agar merasa terlindungi sehingga siswa tidak perlu melakukan hal-hal yang tidak pantas. Isi setiap peraturan harus mencerminkan hubungan yang serasi diantara anggota keluarga, memiliki dasar yang logis untuk membuat berbagai kebijakan, dan menjadi model perilaku yang harus terwujud di dalam keluarga. Proses penentuan setiap peraturan dan larangan bagi siswa bukan merupakan sesuatu yang dapat dikerjakan seketika dan berlaku untuk jangka panjang, peraturan dapat diubah agar dapat disesuaikan dengan perubahan keadaan, pertumbuhan fisik, usia dan kondisi saat ini di dalam keluarga. b. Hukuman Hukuman berasal dari kata latin punier yang berarti menjatuhkan hukuman kepada seseorang karena suatu kesalahan, perlawanan atau pelanggaran sebagai ganjaran atau pembalasan. Tersirat di dalamnya bahwa kesalahan, perlawanan atau pelanggaran ini disengaja, dalam arti siswa mengetahui perbuatan itu salah tetapi tetap melakukannya. Tidak cukup hanya dengan mengetahui peraturan saja, tetapi harus disertai dengan pengertian terhadap arti dari peraturan selengkapnya. Tujuan hukuman menurut Hadisubrata (1988 dalam Tu’u 2004: 56) yaitu untuk mendidik dan menyadarkan siswa bahwa perbuatan yang salah mempunyai akibat yang tidak menyenangkan. Hukuman diperlukan juga untuk mengendalikan
  8. 8. 23 perilaku disiplin, tetapi hukuman bukan satu-satunya cara untuk mendisiplinkan anak atau siswa. Hukuman memiliki tiga fungsi, (a) menghalangi pengulangan tindakan, (b) mendidik, sebelum siswa mengerti peraturan, siswa dapat belajar tindakan tersebut benar atau salah dengan mendapat hukuman, (c) memberi motivasi untuk menghindari perilaku yang tidak diterima di masyarakat. c. Penghargaan Istilah penghargaan berarti setiap bentuk penghargaan atas hasil yang baik. Penghargaan tidak hanya berbentuk materi tetapi dapat juga berbentuk pujian, kata-kata, senyuman atau tepukan di punggung. Penghargaan mempunyai tiga peranan penting yaitu, (a) penghargaan mempunyai nilai mendidik, (b) penghargaan berfungsi sebagai motivasi untuk mengulangi perilaku yang disetujui secara sosial, dan (c) penghargaan berfungsi untuk memperkuat perilaku yang disetujui secara sosial, dan tiadanya penghargaan akan melemahkan perilaku. d. Konsistensi Konsistensi berarti tingkat keseragaman atau stabilitas. Konsistensi harus menjadi ciri semua aspek disiplin. Konsistensi dalam peraturan yang digunakan sebagai pedoman perilaku, diajarkan dan dipaksakan dalam hukuman yang diberikan kepada siswa yang tidak menyesuaikan pada standar, dan dalam penghargaan bagi siswa yang menyesuaikan. Konsistensi mempunyai tiga fungsi yaitu, (a) mempunyai nilai mendidik yang besar, (b) konsistensi mempunyai nilai motivasi yang kuat untuk melakukan tindakan yang baik di masyarakat dan menjauhi tindakan buruk, dan yang terakhir
  9. 9. 24 (c) konsistensi membantu perkembangan siswa untuk hormat pada aturan-aturan dan masyarakat sebagai otoritas. Siswa yang telah berdisiplin secara konsisten mempunyai motivasi yang lebih kuat untuk berperilaku sesuai dengan standar sosial yang berlaku dibanding dengan siswa yang berdisiplin secara tidak konsisten. Masalah umum yang muncul dalam disiplin adalah tidak konsistennya penerapan disiplin. Terdapat perbedaan antara tata tertib yang tertulis dengan pelaksanaan di lapangan, begitupun dalam sanksi atau hukuman ada perbedaan antara pelanggar yang satu dengan yang lainnya. Ketidakkonsistennya penerapan disiplin akan membingungkan siswa, diperlukan sikap konsisten dan konsekuen guru dan orang tua dalam implementasi disiplin. Soegeng (1994 dalam Tu’u 2004: 56) mengatakan, “Dalam menegakkan disiplin bukanlah ancaman atau kekerasan yang diutamakan, yang diperlukan adalah ketegasan dan keteguhan di dalam melaksanakan peraturan, hal itu merupakan modal utama dan syarat mutlak untuk mewujudkan disiplin”. Penerapan peraturan sekolah dan sanksi terhadap siswa yang melanggar peraturan sekolah harus dilakukan secara konsisten dan konsekuen. Artinya tidak berubah-ubah sesuai keadaan dan tidak bertindak semena-mena, tindakan yang diambil harus sesuai dengan apa yang dikatakan dan disusun dalam peraturan yang berlaku. Menurut Harris Clemes dan Reynold Bean (2001 dalam Tu’u 2004: 61), pentingnya sikap konsisten ini disebabkan sebagai berikut. 1) Sikap konsisten menunjukkan penerapan disiplin tidaklah main-main, berlaku sesuai ucapan atau aturan yang ada.
  10. 10. 25 2) Penerapan aturan dan hukuman yang konsisten sangat besar pengaruhnya pada siswa, dibandingkan keseimbangan dan hukuman yang kejam. 3) Sikap konsisten akan menolong dan membuat siswa merasa terlindungi. 4) Penerapan disiplin yang konsisten akan menghasilkan ketertiban yang baik. 5) Sikap tidak konsisten akan mengkhawatirkan siswa, sebab mereka tidak tahu tindakan apa yang akan diberikan bagi yang melanggar. 6) Sikap tidak konsisten dapat menimbulkan perlawanan dan kemarahan siswa. 5. Jenis-jenis Disiplin Disiplin dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu internal dan eksternal. Disiplin eksternal disebut sebagai disiplin negatif, sedangkan disiplin internal disebut sebagai disiplin yang positif. Hal senada juga dikemukakan oleh Hurlock (1978: 82), ada dua konsep mengenai disiplin, yaitu disiplin positif dan disiplin negatif. Disiplin positif sama artinya dengan pendidikan dan bimbingan karena menekankan pertumbuhan di dalam diri yang mencakup disiplin diri (self discipline) yang mengarah dari motivasi diri sendiri, dimana dalam melakukan sesuatu (mentaati aturan dan norma) harus datang dari kesadaran diri sendiri. Disiplin negatif berarti pengendalian dengan kekuasaan luar yang biasanya dilakukan secara terpaksa dan dengan cara yang kurang menyenangkan atau dilakukan karena takut hukuman (punishment). Kendati demikian, disiplin tidak muncul begitu saja melainkan hasil belajar, yaitu proses interaksi dengan lingkungan. Disiplin akan tumbuh apabila dilatih dan dibina dengan cara pendidikan dan pembiasaan yang diterapkan melalui keteladanan yang dimulai sejak dini. Perilaku disiplin yang dilakukan
  11. 11. 26 oleh siswa diartikan sebagai ketaatan terhadap peraturan dan norma berdasarkan kendali diri (internal control), diartikan juga sebagai eksternal control yang telah terinternalisasikan pada diri siswa. Disiplin negatif adalah ketaatan yang didasarkan pada kendali dari luar. Berdasarkan uraian-uraian, maka disimpulkan terdapat dua jenis disiplin. Pertama, disiplin yang positif yang diterapkan melalui pendidikan dan bimbingan, disiplin lebih menekankan pada perkembangan diri siswa yang dimulai dari diri sendiri dan mengarah kepada perilaku pengendalian diri siswa itu sendiri. Kedua, disiplin negatif yakni disiplin yang diterapkan melalui hukuman, dimana siswa akan melakukan kedisiplinan karena unsur keterpaksaan. Secara visual, kedua kecenderungan disiplin tersebut dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 2.1. Kecenderungan Disiplin (Yusuf, 1989:25) Gambar kecenderungan disiplin menunjukkan siswa dipengaruhi oleh norma yang harus ditaati. Bila perilaku siswa berdasarkan internal control, maka Norma Peraturan Perilaku Internal Control Siswa Disiplin Positif Disiplin Negatif Norma Eksternal Control
  12. 12. 27 perilaku yang terjadi merupakan disiplin secara positif. Sebaliknya, apabila perilaku yang terjadi dipengaruhi oleh eksternal control maka disiplin yang terjadi adalah disiplin negatif. 6. Faktor-faktor yang mempengaruhi Disiplin Perilaku disiplin terbentuk dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor keluarga, masyarakat dan sekolah (Tu’u, 2004: 13). Sesuai dengan pendapat Eddi Kalsid (Mintarsih, 2002: 13), faktor-faktor yang mempengaruhi disiplin, antara lain. a. Pendidikan di keluarga sebagai matra vertikal. Para orangtua diharapkan memberikan contoh atau menjadi panutan pelaksanaan norma-norma. b. Pendidikan di sekolah sebagai matra diagonal. Para guru diharapkan memberikan atau menuntut siswa lewat pengayaan pengetahuan, penguasaan dan kemampuan analisis terhadap norma sehingga siswa mempunyai wawasan memadai tentang norma yang berlaku. c. Pendidikan di masyarakat sebagai matra horisontal. Masyarakat diharapkan dapat menjadi mitra bertukar pikiran dalam memajukan pendidikan. B. Penerapan Disiplin Siswa Melalui Disiplin Sekolah dan Disiplin Kelas 1. Disiplin Sekolah Penanaman disiplin dimaksudkan supaya siswa mampu mengendalikan dan mengarahkan dirinya sesuai dengan norma-norma dan peraturan yang berlaku dalam kelompoknya baik keluarga, sekolah maupun masyarakat. Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang sangat strategis untuk menanamkan dan
  13. 13. 28 mengajarkan kedisiplinan. Sekolah merupakan tempat kelanjutan pendidikan disiplin yang sudah dilaksanakan keluarganya. Sekolah didirikan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang lebih baik, untuk itu diperlukan upaya konkret dari berbagai pihak seperti kepala sekolah, guru bidang studi, guru Bimbingan dan Konseling dan pihak sekolah lainnya untuk menempatkan disiplin ke dalam prioritas program pendidikan di sekolahnya. Disiplin sekolah apabila dikembangkan dan diterapkan dengan baik, konsisten dan konsekuen akan berdampak positif bagi kehidupan dan perilaku siswa. Disiplin dapat mendorong siswa belajar secara konkret dalam praktek hidup di sekolah tentang hal-hal positif, melakukan hal-hal yang lurus dan benar, serta menjauhi hal-hal negatif. Siswa dapat belajar beradaptasi dengan lingkungan yang baik dengan pemberlakuan disiplin, sehingga muncul keseimbangan diri dalam hubungan dengan orang lain, dengan kata lain disiplin menata perilaku seseorang dalam hubungannya di tengah-tengah lingkungannya. Dasar pembentukan disiplin sekolah adalah sebagai berikut. a. Dengan disiplin yang muncul karena kesadaran diri, siswa berhasil dalam belajarnya. Siswa yang kerap kali melanggar ketentuan sekolah pada umumnya terhambat optimalisasi potensi dan prestasinya. b. Tanpa disiplin yang baik, suasana sekolah dan juga kelas menjadi kurang kondusif bagi kegiatan pembelajaran. Disiplin memberi dukungan lingkungan yang tenang dan tertib bagi proses pembelajaran.
  14. 14. 29 c. Disiplin merupakan jalan bagi siswa untuk sukses dalam belajar dan kelak ketika bekerja. Kesadaran pentingnya norma, aturan dan ketaatan merupakan prasyarat kesuksesan seseorang. Seorang siswa yang berusaha menata dirinya terbiasa dengan hidup tertib, teratur, menaati peraturan dan norma yang berlaku di sekolah serta kegigihan dalam belajar, potensi dan prestasinya akan tumbuh dan berkembang optimal. Disiplin yang diterapkan dengan baik di sekolah akan memberi andil bagi pertumbuhan dan perkembangan prestasi siswa. Penerapan disiplin sekolah akan mendorong, memotivasi dan memaksa para siswa bersaing meraih prestasi. Penerapan disiplin akan mempengaruhi keberhasilan pembelajaran. Manfaat dan kegunaan disiplin akan terasa baik oleh guru, siswa, dan tenaga kependidikan lainnya dalam proses pembelajaran di sekolah, hal ini terjadi jika disiplin benar- benar dilakukan, akan tetapi apabila disiplin tidak dilaksanakan secara benar, maka akan menyebabkan terjadinya pelanggaran disiplin. Pelanggaran disiplin akan berakibat negatif bagi hasil pembelajaran itu sendiri. 2. Disiplin Kelas Disiplin kelas merupakan bagian yang penting dalam dinamika kelas. Disiplin kelas diartikan sebagai usaha mencegah terjadinya pelanggaran- pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan yang telah disetujui bersama dalam melaksanakan kegiatan kelas, agar pemberian hukuman pada seorang atau sekelompok orang dapat dihindari. Disiplin kelas diartikan juga sebagai suasana tertib dan terpaut, akan tetapi penuh dinamika dalam melaksanakan program kelas terutama dalam mewujudkan proses belajar mengajar
  15. 15. 30 Dikemukakan oleh Wikipedia (www.azamsite.com) tujuan disiplin sekolah adalah untuk menciptakan keamanan dan lingkungan belajar yang nyaman terutama di kelas. Di dalam kelas, jika seorang guru tidak mampu menerapkan disiplin dengan baik maka siswa mungkin menjadi kurang termotivasi dan memperoleh penekanan tertentu, dan suasana belajar menjadi kurang kondusif untuk mencapai prestasi belajar siswa. C. Penerapan Disiplin oleh Pendidik 1. Gaya Penerapan Disiplin oleh Pendidik Menurut Hurlock (1978: 93) teknik penerapan disiplin dapat dibagi menjadi tiga macam, yakni disiplin otoritarian, disiplin permisif, dan disiplin demokratis. a. Disiplin demokratis Pendekatan disiplin demokratis dilakukan oleh guru dengan memberi penjelasan, diskusi dan penalaran untuk membantu siswa memahami mengapa siswa diharapkan mematuhi dan mentaati peraturan yang ada. Penerapan disiplin demokratis menekankan aspek edukatif bukan sanksi hukuman. Sanksi hukuman dapat diberikan kepada yang melanggar atau menolak tata tertib, akan tetapi hukuman dimaksudkan sebagai upaya menyadarkan, mengoreksi dan mendidik. Penerapan disiplin demokratis berusaha mengembangkan disiplin yang muncul atas kesadaran diri, sehingga siswa memiliki disiplin diri yang kuat dan mantap. Siswa yang berhasil mematuhi dan menaati disiplin, maka akan diberikan pujian dan penghargaan. Penerapan disiplin oleh guru dalam disiplin demokratis, kemandirian dan tanggungjawab siswa dapat berkembang.
  16. 16. 31 Disiplin individu menjadi prasyarat terbentuknya kepribadian yang unggul dan sukses. Disiplin sekolah menjadi prasyarat terbentuknya lingkungan yang kondusif bagi kegiatan dan proses pendidikan, oleh karena itu kepala sekolah, para guru dan orang tua perlu terlibat dan bertanggungjawab membangun disiplin siswa dan disiplin sekolah. Para siswa diharapkan berhasil dibina dan dibentuk menjadi individu yang unggul dan sukses dengan keteribatan dan tanggungjawab pihak sekolah serta orang tua siswa. Keunggulan dan kesuksesan terwujud dikarenakan sekolah berhasil menciptakan lingkungan yang kondusif bagi kegiatan dan proses pendidikan. Siswa terpacu untuk mengoptimalkan potensi dan prestasi siswa. b. Disiplin otoritarian Penerapan disiplin oleh guru dalam disiplin otoritarian, peraturan dibuat sangat ketat dan rinci, siswa harus mematuhi dan menaati peraturan yang telah disusun dan berlaku di sekolah. Siswa akan menerima sanksi atau hukuman yang berat apabila gagal menaati dan mematuhi peraturan yang berlaku, sebaliknya apabila berhasil mematuhi peraturan maka siswa kurang mendapat penghargaan dikarenakan hal itu sudah dianggap kewajiban. Disiplin otoritarian berarti pengendalian tingkah laku berdasarkan tekanan, dorongan, pemaksaan dari luar diri seseorang. Hukuman dan ancaman kerapkali dipakai oleh guru untuk memaksa, menekan dan mendorong siswa supaya mematuhi dan menaati peraturan. Siswa tidak diberi kesempatan bertanya mengapa disiplin harus dilakukan dan apa tujuan disiplin itu, siswa hanya berpikir kalau harus wajib mematuhi dan menaati peraturan yang berlaku di sekolah.
  17. 17. 32 Siswa yang mendapatkan penerapan disiplin otoritarian di sekolahnya dapat menjadi orang yang patuh dan taat pada aturan yang berlaku, tetapi merasa tidak bahagia, tertekan dan tidak aman. Siswa terlihat baik tetapi dibaliknya ada ketidakpuasan, pemberontakan dan kegelisahan. Siswa dapat juga menjadi stres dikarenakan harus terlihat baik, patuh, taat tetapi kurang merasa kurang bebas, kurang mandiri dan berbuat sesuatu hanya sekedar untuk memuaskan pihak lain (pihak sekolah). Perbuatan siswa hanya karena keterpaksaan dan ketakutan menerima sanksi, bukan berdasarkan kesadaran diri. Siswa perlu dibantu untuk memahami arti dan manfaat disiplin itu bagi dirinya, supaya ada kesadaran yang baik tentang disiplin. c. Disiplin permisif Penerapan disiplin oleh guru dalam disiplin permisif, siswa dibiarkan bertindak menurut keinginannya kemudian dibebaskan untuk mengambil keputusan sendiri dan bertindak sesuai dengan keputusan yang diambilnya. Siswa yang berbuat sesuatu dan ternyata membawa akibat melanggar norma atau aturan yang berlaku, tidak diberi sanksi atau hukuman. Dampak teknik permisif berupa kebingungan dan kebimbangan, penyebabnya karena siswa tidak tahu mana yang tidak dilarang dan mana yang dilarang atau bahkan siswa menjadi takut, cemas, dan dapat juga menjadi agresif serta liar tanpa kendali. 2. Penanggulangan Disiplin oleh Pendidik Penanggulangan masalah disiplin yang terjadi di sekolah menurut Singgih Gunarsa (1981 dalam Tu’u 2004: 57), dapat dilakukan melalui tahapan preventif, represif dan kuratif.
  18. 18. 33 a. Preventif Langkah preventif merupakan langkah-langkah yang diambil untuk mencegah siswa berbuat hal-hal yang dikategorikan melanggar tata tertib sekolah. Secara positif langkah ini untuk mendorong siswa mengembangkan ketaatan dan kepatuhan terhadap tata tertib sekolah. Langkah preventif di antaranya sebagai berikut. 1) Para pendidik dan siswa diminta untuk berkomitmen mematuhi dan menaati tata tertib sekolah. 2) Memanfaatkan kesempatan upacara bendera untuk meyakinkan siswa bahwa disiplin individu sangat penting bagi keberhasilan sekolah dan pengembangan kepribadian yang baik. 3) Membentuk kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler agar banyak waktu siswa dimanfaatkan untuk kegitan yang positif. 4) Secara berkala guru mengadakan razia terhadap barang yang dipakai dan dibawa siswa ke sekolah. 5) Mengadakan pendekatan personal terhadap siswa-siswa yang diamati berpotensi bermasalah dalam disiplin. 6) Kepala sekolah dan guru-guru memberi teladan yang baik tentang perilaku disiplin dalam ketaatan dan kepatuhan. 7) Menerapkan disiplin sekolah secara konsisten dan konsekuen. 8) Memberi penghargaan kepada siswa yang berprestasi di sekolah maupun di luar sekolah. 9) Meminta siswa menjaga nama baik sekolah terutama di dalam dan di luar
  19. 19. 34 sekolah. 10) Pendidik bekerjasama dengan orang tua dalam penerapan disiplin sekolah. b. Represif Langkah represif merupakan langkah yang diambil untuk menahan perilaku melanggar disiplin seringan mungkin, atau untuk menghalangi pelanggaran yang lebih berat lagi. Langkah represif juga merupakan langkah untuk menindak dan menghukum siswa yang melanggar disiplin sekolah. Tindakan yang diberikan dapat berupa nasihat dan teguran lisan, teguran tertulis, dan hukuman disiplin ringan, sedang atau berat (sesuai dengan sanksi yang ditetapkan). Sanksi disiplin yang diberikan harus manusiawi dan memperhatikan martabat siswa. Pendisiplinan manusiawi menurut Prijodarminto (1994 dalam Tu’u 2004: 59) sebagai berikut. 1) Dilakukan secara objektif, mempertimbangkan motivasi pelanggaran yang dilakukan. 2) Harus dapat menunjukkan kesalahan, kekeliruan atau kekhilafan yang telah diperbuat. 3) Harus menunjukkan ketentuan yang berlaku yang telah dilanggar. 4) Hukuman yang dikenakan harus setimpal dengan kesalahan yang diperbuat sehingga dirasakan adil. 5) Teknik pendisiplinan tidak merendahkan martabat seseorang di mata yang lain. 6) Tindakan pendisiplinan harus bersifat mendidik atau memperbaiki.
  20. 20. 35 7) Tindakan displin yang dilakukan dalam suasana yang tidak emosional. c. Kuratif Langkah kuratif merupakan upaya memulihkan, memperbaiki, meluruskan atau menyembuhkan kesalahan-kesalahan dan perilaku-perilaku salah yang bertentangan dengan disiplin sekolah. Siswa yang melanggar ketentuan sekolah dan telah diberi sanksi disiplin, perlu dibina dan dibimbing oleh para pendidik. Guru bimbingan dan konseling, wali kelas dan bidang ketertiban atau kesiswaan sangat berperan penting dalam hal ini. Kesalahan tidak hanya dengan pemberian hukuman, tetapi dilanjutkan dengan pembinaan dan pendampingan. Siswa dibantu untuk memperbaiki diri dan mengubah tingkah lakunya yang salah. Siswa yang melanggar disiplin dikarenakan problem internal yang terdapat di dalam dirinya, perlu secara khusus dibina dan dibimbing agar mengalami pemulihan dan penyembuhan. 3. Penerapan Disiplin oleh Guru Bimbingan dan Konseling Bimbingan dan konseling merupakan pelayanan dari, untuk, dan oleh manusia memiliki pengertian yang khas. Yusuf (2006: 30-34) mengartikan bimbingan sebagai proses pemberian bantuan (process of helping) kepada siswa agar mampu memahami potensi diri dan lingkungannya, menerima diri, mengembangkan dirinya secara optimal, dan menyesuaikan diri secara positif dan konstruktif terhadap tuntutan norma kehidupan (agama dan budaya) sehingga mencapai kehidupan yang bermakna (berbahagia), baik secara personal maupun sosial. Suherman (2000: 87) menyimpulkan, bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada setiap individu agar dapat mencapai perkembangan secara
  21. 21. 36 optimal, dengan melalui proses pengenalan, pemahaman, pengarahan, perwujudan serta penyesuaian diri baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya. Sedangkan konseling menurut Syaodih (2004: 236) merupakan proses helping atau bantuan dari konselor (helper) kepada individu yang membutuhkan bantuan (konselee), yang berlangsung dalam situasi tatap muka. Bimbingan dan konseling dalam konteks sekolah di SMA, merupakan upaya pemberian bantuan kepada individu (siswa) yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya siswa dapat memahami dirinya dan dapat bertindak wajar sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan di SMA, keluarga, dan masyarakat serta kehidupan pada umumnya (Juntika dan Sudianto, 2005: 9). Disiplin memiliki dua arti yang berbeda tetapi mempunyai hubungan yang berarti (Astried, 2005: 45). Pertama dapat diartikan sebagai suatu pemaksaan otoritas dari luar terhadap individu agar berperilaku seperti yang diinginkan, sedangkan yang lain mendefinisikan sebagai upaya latihan untuk mengontrol diri. Pemaksaan otoritas biasannya dibarengi dengan pemberian sanksi atau hukuman kepada yang tidak mentaatinya, oleh karena itu apabila disiplin diartikan seperti itu, maka konselor tidak perlu memainkan perannya. Apabila disiplin diartikan sebagai upaya pengembangan disiplin, maka konselor perlu memainkan peranannya, seperti yang diungkapkan Yusuf (1989) “Apabila disiplin ditafsirkan sebagai upaya pendidikan mental dan pengembangan kontrol dari dalam, jika ada penyimpangan perilaku dipandang sebagai gejala maladjustment, maka konselor harus memainkan peranannya dalam disiplin tersebut”.
  22. 22. 37 Disiplin tidak lagi dipandang sebagai pemaksaan konformitas atau pemberian hukuman, akan tetapi sebagai tipe reduksi yang bertujuan untuk membantu individu supaya: 1. memahami emosi dan perasaannya, dan 2. mengarahkan kembali individu ke arah perilaku baru setelah mengalami penyimpangan perilaku. Terdapat tiga fungsi konseling dalam situasi kedisiplinan (Yusuf, 1989: 40-41), yaitu: a. Rehabilitasi. Siswa dibantu untuk merehabilitasi atau memperbaiki perilakunya yang menyimpang. b. Prevention. Siswa dibantu untuk mengembangkan dirinya agar memiliki pribadi yang sehat, dalam hal ini khususnya pribadi yang memiliki disiplin diri. Berkembangnya disiplin diri pada diri siswa, berarti konseling telah berfungsi untuk mencegah terjadinya penyimpangan perilaku pada diri individu. c. Membantu siswa agar memiliki persepsi yang wajar, dan mau menerima otoritas luar. Siswa dibantu agar memahami dan menerima otoritas luar sebagai suatu realita yang tidak bisa dipungkiri keberadaanya. Siswa juga dibantu untuk memahami tata nilai yang berlaku, sehingga siswa mampu untuk menyesuaikan diri secara tepat dengan tata nilai tersebut. Pelayanan guru bimbingan dan konseling hendaknya berjalan secara efektif membantu siswa mencapai tujuan-tujuan perkembangannnya dan mengatasi permasalahannya termasuk membimbing para siswa untuk berperilaku disiplin, disinilah dirasakan perlunya pelayanan bimbingan dan konseling disamping kegiatan pengajaran. Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan peran yang dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi
  23. 23. 38 berbagai permasalahan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Permasalahan mencakup permasalahan yang terjadi di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Manfaat bimbingan dan konseling yang dilakukan oleh guru bimbingan konseling cukup penting bagi seorang siswa untuk mengatasi berbagai permasalahan termasuk dalam mengatasi permasalahan pribadi siswa. 4. Penerapan Disiplin oleh Guru Bidang Studi Keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari cara guru mengajar dan siswa belajar. Proses pembelajaran akan berhasil dan berdaya guna secara efektif apabila dilaksanakan dengan baik dan berdisiplin tinggi. Penerapan disiplin akan mempengaruhi keberhasilan pembelajaran. Manfaat dan kegunaan disiplin akan terasa baik oleh guru, siswa, dan tenaga kependidikan lainnya dalam proses pembelajaran di sekolah, hal ini terjadi jika disiplin benar-benar dilakukan. Akan tetapi, apabila disiplin tidak dilaksanakan secara benar, maka akan menyebabkan terjadinya pelanggaran disiplin. Pelanggaran disiplin akan berakibat negatif bagi hasil pembelajaran. Guru sebagai pendidik mempunyai peranan penting dalam mengembangkan disiplin siswa. Tanggung jawab pokok guru bukan hanya membantu siswa menguasai informasi dan keterampilan baru, namun sebenarnya guru memiliki tanggung jawab yang lebih dari itu. Guru membimbing siswa agar memiliki pemahaman tentang peraturan atau norma-norma dan dapat berperilaku sesuai dengan peraturan atau norma tersebut. Yusuf (1989: 60) mengemukakan beberapa hal yang perlu menjadi perhatian guru yaitu:
  24. 24. 39 a. Guru hendaknya menjadi model bagi siswa Guru hendaknya berperilaku yang mencerminkan nilai-nilai moral, sehingga guru menjadi figure central bagi siswa dalam menterjemahkan nilai-nilai tersebut dalam perilakunya. Guru sebagai model, berarti telah menterjemahkan nilai-nilai moral pada dirinya, seperti berlaku jujur, berdisiplin diri dalam melaksanakan tugas, rajin belajar, dan bersikap optimis dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup. b. Guru hendaknya memahami dan menghargai pribadi siswa 1) Guru hendaknya memahami bahwa setiap siswa itu memiliki kelebihan dan kekurangannya. 2) Guru mau menghargai pendapat siswa. 3) Guru hendaknya tidak mendominasi siswa. 4) Guru hendaknya tidak mencemooh siswa. 5) Guru memberikan pujian kepada siswa yang berperilaku atau berprestasi baik. c. Guru memberikan bimbingan kepada siswa 1) Mengembangkan iklim kelas yang bebas dari ketegangan dan yang bernuansa membantu perkembangan siswa. 2) Memberikan informasi tentang cara-cara mengembangkan disiplin diri. 3) Mengadakan dialog dengan siswa tentang tujuan dan manfaat peraturan yang ditetapkan sekolah. 4) Membantu siswa untuk mengembangkan kebiasaan yang baik. 5) Membantu mengembangkan sikap positif siswa terhadap disiplin. 6) Membantu siswa yang mengalami masalah.
  25. 25. 40 7) Memberikan informasi tentang nilai-nilai yang berlaku, dan mendorongnya agar berperilaku sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Hasil penelitian Putrie Astried (2005) secara empirik menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara penerapan disiplin oleh guru bidang studi dengan disiplin diri siswa di sekolah yaitu sebesar 17,97%. Hasil penelitian dinyatakan, penerapan disiplin oleh guru bidang studi sebagai salah satu faktor internal atau turut mempengaruhi pencapaian disiplin diri siswa di sekolah. Seorang guru harus mampu menumbuhkan disiplin dalam diri siswa, terutama disiplin diri. Guru harus mampu melakukan hal-hal sebagai berikut (www.akhmadsudrajat.wordpress.com). a. Membantu siswa mengembangkan pola perilaku untuk dirinya. Setiap siswa berasal dari latar belakang yang berbeda, mempunyai karakteristik yang berbeda dan kemampuan yang berbeda pula. Guru harus mampu melayani berbagai perbedaan tersebut, agar setiap siswa dapat menemukan jati dirinya dan mengembangkan dirinya secara optimal. b. Membantu siswa meningkatkan standar prilakunya karena siswa berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda. Terdapat siswa yang mempunyai standar prilaku yang sangat rendah, maka harus dapat diantisipasi oleh setiap guru dan berusaha meningkatkannya, baik dalam proses belajar mengajar maupun dalam pergaulan pada umumnya. c. Menggunakan pelaksanaan aturan sebagai alat. Di setiap sekolah terdapat aturan-aturan umum, baik aturan-aturan khusus maupun aturan umum. Peraturan-peraturan harus dijunjung tinggi dan
  26. 26. 41 dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, agar tidak terjadi pelanggaran- pelanggaran yang mendorong perilaku negatif atau tidak disiplin. 5. Penerapan Disiplin oleh Pimpinan Sekolah Setiap sekolah perlu mempunyai aturan atau tata tertib dalam upaya pembentukan, pembinaan dan pengembangan kedisiplinan. Peranan tata tertib disekolah adalah mengatur kehidupan para pelajar, baik yang bersifat kurikuler maupun ekstrakurikuler. Banyak diantara para pelajar yang melanggar tata tertib sekolah, maka pihak sekolah perlu membuat strategi untuk mengurangi jumlah pelanggaran serta dapat mengukur jenis pelanggarannya. Tata krama dan tata tertib atau peraturan sekolah adalah semua ketentuan yang mengatur kehidupan sekolah sebagai rambu-rambu bagi siswa dalam bersikap dan bertingkah laku, berucap, bertindak dan melaksankan kegiatan sehari-hari di sekolah dalam rangka menciptakan iklim dan kultur sekolah yang dapat menunjang kegiatan pembelajaran yang efektif. Tata tertib sangat bermanfaat dalam mendisiplinkan siswa untuk membiasakannya dengan standar perilaku yang sama dan diterima oleh siswa lain dalam ruang lingkupnya. Diharapkan tidak ada diskriminasi dan rasa ketidakadilan pada para siswa yang ada di lingkungan sekolah, di samping itu dengan adanya tata tertib para siswa tidak dapat lagi bertindak dan berbuat sesuka hatinya.
  27. 27. 42 D. Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Siswa pada usia Sekolah Menengah Atas pada umumnya dalam usia belasan tahun, yang merupakan masa remaja. Hurlock (1992: 206) menyatakan, “awal masa remaja berlangsung kira-kira dari 13 tahun sampai 16 atau 17 tahun, dan akhir masa remaja bermula dari usia 16 atau 17 tahun sampai 18 tahun, yaitu usia matang secara hukum”. Pada usia ini siswa masih dalam masa transisi atau pancaroba, baik fisik, sosial, maupun emosional dan pada kondisi yang rawan. Siswa perlu mendapatkan pembinaan dengan baik dari orang tua ketika di dalam keluarga, dan guru saat peserta didik berada di sekolah. Dengan demikian, diharapkan siswa tidak terjerumus pada perilaku yang menyimpang dari norma yang berlaku di masyarakatnya dan self disciplin selalu ada pada diri mereka. Menurut teori perkembangan moral Hurlock, para pelajar SMA yang tengah berada masa remaja menduduki fase kedua yaitu perkembangan konsep moral. Pada waktu anak mencapai remaja, kode moralnya sudah mulai terbentuk, walaupun masih akan berubah apabila harus tunduk pada tekanan sosial yang kuat. Apabila perubahan terjadi, perubahan biasanya melibatkan pergeseran dalam penekanan. Pergeseran umumnya menjurus ke arah moralitas konvensional atau moralitas kelompok sosial orang dewasa. Di tengah-tengah terbentuknya kode moral, remaja terkadang melakukan pelanggaran-pelanggaran misalnya dalam hal kedisiplinan, hal itu wajar terjadi karena kode moral belum terbentuk secara matang dan masih mengalami perkembangan ke arah kedewasaan. Pelanggaran- pelanggaran tidak serta merta hilang dengan sendirinya tanpa pengarahan nilai moral pada pelaku pelanggaran (Hurlock, 1978: 81).
  28. 28. 43 Disiplin merupakan sikap perilaku yang terbentuk dari kebiasaan- kebiasaan seseorang terhadap lingkungan. Lingkungan disini adalah keluarga, sekolah (pendidikan formal) dan masyarakat, serta implementasi dari sikap disiplin pun berlaku di lingkungan-lingkungan tersebut. Disiplin selalu dianggap perlu bagi perkembangan siswa karena dapat memenuhi beberapa kebutuhan, yaitu rasa percaya diri, motivasi, kebahagiaan, dan pengendalian perilaku. Adapun unsur-unsur disiplin mencakup beberapa hal pokok diantaranya peraturan, konsistensi tehadap peraturan tersebut, hukuman, dan penghargaan. Hurlock (Unaradjan, 2003:46) menyatakan, tingkah laku yang sesuai dengan standar nilai yang berlaku di masyarakat dapat dilihat sebagai tingkah laku yang bermoral. Hurlock juga menyatakan, minat psikologis yang pertama-tama dalam perkembangan moral terpusat pada disiplin. Perilaku disiplin merupakan hal terbaik yang dapat digunakan untuk meyakinkan, siswa akan belajar untuk menjadi masyarakat yang taat akan peraturan-peraturan dan hukum. Perilaku disiplin temasuk dalam ranah psikomotor atau perilaku, sedangkan perkembangan moral termasuk dalam ranah kognitif. Perilaku disiplin bukanlah suatu perilaku yang dapat benar-benar dikatakan sebagai perilaku moral, karena suatu tingkah laku disiplin merupakan bagian yang lebih kecil dari perilaku moral. Suatu tindakan moral selalu di persyarati oleh argumentasi moral. Tindakan dari seseorang yang tidak didasari oleh argumentasi moral bukanlah tindakan moral. Perilaku disiplin dapat disebut sebagai perilaku moral apabila perilaku tersebut sudah dilandasi oleh keyakinan bahwa hal yang dilakukannya adalah benar. Dengan perkataan lain, individu sudah memiliki suatu disiplin diri.
  29. 29. 44 Perilaku patuh dan penyesuaian pada aturan yang dilandasi oleh disiplin diri akan tetap dilakukan meskipun sudah tidak ada tekanan dari lingkungan. Kaitan antara perkembangan moral dengan perilaku disiplin adalah, siswa mengetahui yang baik dan benar, meyakini dan merasakan mana yang akan dilakukannya, kemudian menampilkan tingkah laku yang sesuai, yaitu tingkah laku disiplin. Upaya menumbuhkan kesadaran kedisiplinan bagi siswa di sekolah, terhadap norma sekolah yang lebih baik, diperlukan suatu usaha yang mendorong peningkatan pada kesadaran siswa. Salah satu diantara upaya yang perlu dilakukan adalah dengan mengadakan penelitian yang bermanfaat bagi peningkatan menumbuhkembangkan kesadaran kedisiplinan.

×